NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 2 Chapter 3

Chapter 10

Di Balik Tirai


"Eh? Tachibana-san tidak ada di sini?" Hayasaka bertanya.

Saat itu kami sedang berada di gudang olahraga.

Aku baru saja membereskan bola sepak yang digunakan pada jam pelajaran tadi.

"Tachibana-san baru saja keluar membawa tiang gawang."

"Begitu, ya."

Hayasaka, yang masih mengenakan baju olahraga, menoleh ke sekeliling sebelum menutup pintu agar tidak terlihat dari lapangan.

"Jangan-jangan, kamu sedang merencanakan sesuatu yang tidak-tidak, ya?"

"Habisnya, belakangan ini kita hampir tidak pernah bertemu," ucap Hayasaka dengan wajah merajuk.

"Kita berdua sama-sama sibuk dengan festival budaya, kan."

"Kirishima-kun kan panitia pelaksana. Penanggung jawab panggung untuk pesta penutupan, kan?"

Setiap tahun, pesta penutupan akan mengadakan kontes pasangan terbaik.

Pasangan pria dan wanita akan berlomba lari tiga kaki atau kuis panel untuk membuktikan seberapa kuat ikatan mereka sebagai kekasih.

Ada pula mitos bahwa pasangan yang menang dalam kontes itu pasti akan berakhir di pelaminan.

"Acara itu sangat meriah, lho. Apalagi itu panggung penutup festival budaya."

"Aku cuma bagian pengurus panggung saja."

Aku hanya bertugas merakit panggungnya, sementara konsep acaranya ditangani oleh tim lain.

"Kalau begitu, Kirishima-kun sedang kosong pada hari itu, kan?"

"Bisa dibilang begitu."

Hayasaka tampak gelisah, lalu berkata dengan malu-malu, "Kalau begitu... aku ingin sekali ikut kontes pasangan itu... bersama kamu..."

"Bagaimana, ya? Kupikir itu cukup sulit."

"Ah, iya juga, ya! Ikut kontes itu sama saja dengan mengumumkan kepada semua orang kalau kita berpacaran... Kalau aku melakukan itu, aku tidak bisa mendekati Senior, dan itu akan menyusahkanmu juga, kan."

Hayasaka meminta maaf karena sudah bicara aneh-aneh.

"Sebelum itu, bukannya kelas Hayasaka juga sibuk?"

"Benar juga, sih."

Aku dan Hayasaka berada di kelas yang sama.

Meskipun aku dibebaskan dari kegiatan kelas karena menjadi panitia festival budaya, Hayasaka—yang dikenal rajin di kelas—justru menjadi kunci dari rencana acara mereka.

"Kafe cosplay itu kesannya terlalu pasaran, ya."

"Semua orang sangat mengandalkan Hayasaka."

"Iya. Aku juga diminta untuk menjaga toko dan melayani pelanggan saat pesta penutupan..."

Secara jadwal, mengikuti kontes pasangan terbaik memang mustahil.

"Sebenarnya aku sudah tahu, tapi entah kenapa aku malah berharap bisa ikut. Mungkin aku terbawa suasana festival budaya. Lihat deh, suasana sekolah jadi agak melayang, kan?"

"Yah, ini memang musimnya cinta."

Entah bisa disebut keajaiban festival budaya atau apa, cinta bersemi di setiap sudut sekolah.

"Aku dengar Hayasaka juga sedang didekati banyak orang."

"Cuma sedikit, kok."

"Apa tidak apa-apa kalau kamu pulang sampai larut?"

"Tidak apa-apa. Aku cuma sering ditembak atau dimintai kontak, seperti biasa."

"Padahal ada siswi yang heboh bilang kalau Hayasaka ditembak oleh siswa kelas tiga yang keren..."

"Eh, siapa ya? Semua wajah mereka terlihat sama bagiku... Eh!"

Tiba-tiba Hayasaka tampak mendapat ide, matanya berkilau seketika.

"Ya, dia keren sekali! Aku jadi penasaran apa jadinya kalau aku berpacaran dengan dia!"

Hayasaka, aktingmu tetap saja buruk.

Sudah jelas sekali kalau dia hanya ingin membuatku cemburu.

Aku sempat bingung harus berbuat apa, tapi melihat Hayasaka yang seperti itu justru membuatku gemas. Jadi, aku pun ikut berakting dengan akting yang sama buruknya.

"Ja-jangan begitu dong~. Kalau kamu bilang begitu, aku jadi cemas~."

"Kirishima-kun, kau benar-benar cemburu buta, ya."

Hayasaka tersenyum puas. Aku mengira dia akan melanjutkan aktingnya untuk membuatku cemburu, tapi Hayasaka justru mendekat dan mencengkeram seragam olahragaku dengan kedua tangannya.

"Hehehe, tenang saja."

Sambil berkata begitu, dia menempelkan dahinya ke dadaku. Benar-benar mudah sekali dirayu.

Aku yang sudah bersiap untuk lanjut berakting jadi tidak berkutik.

"Selama Kirishima-kun menyukaiku, dan terus mengelus kepalaku seperti ini, aku tidak akan pergi ke mana-mana."

Sesuai permintaannya, aku mengelus kepala Hayasaka.

"Suka yang ini. Elus lagi~."

Hayasaka bermanja-manja sesuai suasana hatinya.

Kurasa meski tidak dielus pun dia tidak akan pergi ke mana-mana. Aku merasa Hayasaka sangat menggemaskan.

"Tenang saja, ya. Pacarku cuma Kirishima-kun seorang. Siswa lain sama sekali tidak penting bagiku."

Saat mengatakan itu, entah kenapa Hayasaka menjauhkan wajahnya dan menatapku dengan tatapan redup.

"Tapi... kalau soal itu, bukannya Kirishima-kun lebih parah?"

"Kenapa?"

"Aku meski disapa atau ditembak orang lain, aku cuma diam saja. Tapi, Kirishima-kun tidak begitu, kan?"

"Eh?"

"Aku tahu, lho."

Ekspresi Hayasaka lenyap, membuat keringat dingin menetes di punggungku.

Hubunganku dengan Tachibana-san seharusnya mustahil ketahuan. Kami hanya bertukar pesan saat di rumah, dan tidak pernah pergi berdua lagi sejak ke taman bermain.

Namun, saat di stasiun terakhir waktu itu, ada seseorang yang memotret kami saat sedang berciuman. Jangan-jangan itu──.

"Hei, Kirishima-kun."

Hayasaka menatapku dengan tatapan kosong.

"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku, kan?"

"T-tidak, itu, soal yang tadi..."

"……Aku tidak ingin dianggap sebagai gadis yang 'berat', jadi aku tidak bertanya."

Hayasaka mencengkeram seragamku lebih kuat.

"Kenapa Kirishima-kun melakukan hal itu? Aku sampai tidak bisa tidur memikirkannya."

"Ma-mari kita tenang dulu."

"Kamu sedang akrab dengan seseorang yang sangat cantik, ya. Tanpa bilang padaku, di belakangku, padahal aku masih ada di sini, padahal aku akan melakukan apa pun, dan menerima apa pun dengan senang hati..."

"Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi──"

"Bukan, dia bukan tipe yang cantik. Lebih tepatnya... lucu, ya..."

"Lucu? Yah, saat berduaan saja, aku memang lebih sering menganggapnya lucu..."

"Dia sangat energik."

"Energik, ya?"

"Lebih muda darimu..."

"Lebih muda? Lebih muda, lebih muda, ah, adik kelas!"

Di saat itulah aku baru sadar.

"Apa yang kamu maksud itu Hamanami!"

Dia adalah siswi kelas satu di panitia pelaksana festival budaya yang bekerja bersamaku. Namanya Hamanami Megumi.

Meskipun adik kelas, dia sangat cekatan dan sering mengkritikku. Aku pun menjelaskan soal Hamanami kepada Hayasaka.

"Semua yang kubicarakan dengannya itu cuma soal festival budaya. Dia itu wakil ketua panitia meskipun baru kelas satu. Jadi dia sering memberiku arahan. Semuanya cuma urusan administratif atau jadwal saja."

"Begitu, ya..."

Cahaya kembali muncul di mata Hayasaka.

"Begitu, ya... pantas saja, pantas saja!"

"Maaf, aku juga tidak menjelaskan apa-apa."

"Tidak apa-apa, ternyata aku salah paham. Karena kamu selalu bersama gadis manis, aku jadi agak cemas. Aku bodoh banget, ya, padahal Kirishima-kun tidak mungkin melakukan hal seperti itu."

Hayasaka tersenyum lebar sambil memelukku seolah merasa bersalah.

"Kirishima-kun tidak mungkin menyakitiku, kan. Tadi pagi aku sempat ragu, tapi untungnya aku tidak jadi membawa pisau dapur."

"Ah, ya."

Barusan dia bicara hal yang mengerikan dengan santai! Tapi sudahlah──.

"Hayasaka, meskipun ini gudang olahraga, ini tetap sekolah, lho."

"Tidak apa-apa. Sebagai hadiah karena aku sudah berusaha keras belakangan ini."

Sambil berkata begitu, dia mendongak.

Seperti biasa, dia memang manja.

Aku pun mencium bibir lembutnya sesuai keinginannya.

Hayasaka menekan bibirnya lebih dalam seolah meminta lebih.

Namun, segera terdengar suara siswi lain dari luar gudang yang memanggilnya, membuat kami buru-buru melepaskan diri.

"Aku harus pergi."

Hayasaka hendak keluar, tapi dia berbalik dan berkata, "Kita sepasang kekasih yang sungguhan, kan?"

"Tentu saja."

"Kalau begitu──"

Hayasaka memasang ekspresi yang sangat menggoda.

"Setelah festival budaya selesai dan kita punya waktu luang, mari kita lakukan apa yang dilakukan orang lain. Mari lakukan hal yang dilakukan pasangan kekasih pada umumnya. Janji, ya?"

Setelah mengatakan itu, dia keluar dari gudang.

──Hal yang dilakukan orang lain.

Hal yang dimaksud Hayasaka kemungkinan besar adalah tindakan orang dewasa.

Kurasa siswa SMA pun sudah banyak yang melakukannya.

Namun bagiku, itu adalah masalah besar yang perlu kupikirkan matang-matang.

Tapi sebelum itu──.

"Sudah selesai?"

Seorang gadis muncul dari balik kotak lompat dengan wajah tanpa dosa. Itu Tachibana-san.

Benar. Saat kami sedang berduaan di gudang, Hayasaka masuk. Itulah sebabnya Tachibana-san bersembunyi.

"Apa itu 'hal yang dilakukan pasangan kekasih' yang dibicarakan Hayasaka? Bukan cuma ciuman, kan?"

Tachibana-san bertanya sambil memiringkan kepalanya.

"Entahlah, apa ya."

Aku pun menggelengkan kepala pura-pura tidak tahu.

Tachibana-san adalah "anak kecil" dalam hal cinta yang baru belajar dari komik shoujo.

Ditambah lagi, dia gadis dari keluarga terpandang yang bahkan punya tunangan.

Wajar saja jika dia tidak tahu soal hal-hal melampaui ciuman. Kalau memang begitu, ya sudah.

Aku heran apa yang dia lakukan selama pelajaran pendidikan kesehatan, tapi dia memang gadis yang benci belajar.

Pasti pikirannya melayang saat jam pelajaran.

"Ya sudahlah."

Tachibana-san berkata, "Lagipula Hayasaka-san, sepertinya dia akan hancur kalau tidak ada Shirou-kun."

"Apakah itu hal yang baik?" Tachibana-san bertanya padaku. "Bukankah Shirou-kun juga ingin lebih banyak berciuman dengan Hayasaka-san?"

"Itu... bagaimana ya bilangnya... aku dan Hayasaka itu──"

"Tidak apa-apa. Aku tidak peduli."

Dia benar-benar tidak peduli. Dia tidak menanyakan situasi hubunganku dengan Hayasaka, dan tampak tidak tertarik.

"Tapi, begini ya."

Tachibana-san mencengkeram dada seragamku dengan satu tangan, lalu menarik wajahku mendekat.

Dia menempelkan bibirnya yang tipis ke bibirku. Setelah melepaskannya, dia tersenyum nakal.

"Menimpa."

Situasinya mulai berada di titik keseimbangan yang berbahaya.

Perasaan Hayasaka terhadapku semakin intens.

Belakangan ini, dia sangat ingin melakukan "apa yang dilakukan pasangan kekasih pada umumnya".

Selama persiapan festival budaya mungkin masih aman, tapi aku bisa membayangkan dia akan menuntut keputusan dariku suatu saat nanti.

Di sisi lain, Tachibana-san pada dasarnya bersikap dingin dan bisa menahan diri.

Namun, dia juga bisa menjadi emosional, tajam, atau terkadang mendadak kehilangan logika, sehingga banyak bagian yang sulit ditebak.

Bagaimanapun juga, aku harus bisa menyembunyikan hubungan antara aku dan Tachibana-san dari Hayasaka dengan sempurna.

Kalau begitu, suara rana ponsel di peron stasiun tadi membuatku cemas.

Siapa gerangan orang yang memegang foto ciumanku dengan Tachibana-san?

Sambil memikirkan hal itu, saat sedang merakit panggung sepulang sekolah──.

"Rajin sekali, ya."

Hamanami Megumi menyapa. Siswi kelas satu panitia pelaksana festival budaya.

Gadis yang memberikan kesan mungil.

Meski memiliki wajah modern dengan poni asimetris, sifatnya sangat serius, bahkan merangkap sebagai anggota komite disiplin.

"Senpai, kau cocok juga ya mengencangkan baut itu."

Dia memegang map di dadanya, mungkin untuk memeriksa progres pekerjaan.

"Entah kenapa, melihat Hamanami membuatku tenang."

"Ada apa tiba-tiba?"

"Karena Hamanami benar-benar menjalani hidup sebagai siswi SMA yang normal."

Dia gadis yang sangat normal dan modern. Dia tidak hancur secara mental, dan tidak menusuk perasaanku dengan intuisi tajamnya.

"Hei, ayo bicara lebih banyak lagi."

"Eh? Aku sama sekali tidak paham alur pembicaraannya. Senpai, apa kau baik-baik saja?"

"Hamanami, betapa senangnya punya seseorang yang bisa menanggapi leluconku dengan benar."

"Apa maksudnya itu? Di sekeliling Kirishima-senpai, bukannya cuma ada orang-orang yang suka melucu (boke)?"

"Benar juga, ya."

Meskipun aku membuat pilihan amoral, Hayasaka atau Tachibana-san tidak pernah menegurku. Justru mereka malah senang atau menuntut lebih.

"Sekarang rasanya seperti dikelilingi tiga orang yang suka melucu. Aku senang kalau ada yang menanggapi (tsukkomi). Hei Hamanami, tolong tanggapi aku lebih sering lagi."

"Eh, rasanya gawat sekali, dan aku tidak bisa melakukan hal seperti itu."

"Aku memang orang yang gawat, dan aku butuh orang yang bisa mengatakan itu padaku!"

"Jangan tiba-tiba menaikkan tensi bicara, Senpai benar-benar sudah gila, ya!"

"Rasanya lega sekali, akal sehatmu sangat melegakan. Yang kubutuhkan sekarang adalah seseorang yang bisa menyangkal diriku, seseorang yang bisa memarahiku..."

"Aku takut dengan emosimu itu, Senpai!"

"Lagi! Maki aku! Katakan kalau aku ini yang terburuk!"

"Menyebalkan sekali~, tolong bersikaplah yang benar!"

Aku dipukul oleh Hamanami dengan mapnya. Rasanya luar biasa.

"Sekolah saja sudah semeriah ini, apa yang akan terjadi kalau panitia pelaksana seperti kita tidak bersikap serius!"

Pendapat yang biasa saja itu justru terdengar melegakan bagi diriku saat ini. Aku menarik napas, lalu bertanya setelah merasa tenang.

"Jadi, ada masalah apa?"

"Kelas kelas tiga yang mendaftarkan diri membuka kafe, ternyata aslinya berniat membuka klub kabaret."

"Sebagai panitia pelaksana, mari kita tindak tegas. Festival budaya harus dijalankan dengan sehat."

Sebagai reaksi dari hubungan yang tidak sehat, aku mencari sesuatu yang menyegarkan. Manusia memang membutuhkan mekanisme kompensasi.

"Kita tidak boleh menunggu masalah terjadi baru bertindak. Demi kesuksesan festival budaya, kita harus menjaga kesopanan."

"Cara berpikirmu itu luar biasa, Hamanami."

"Sudahlah dengan gaya bicaramu itu."

Hamanami menempelkan tangannya di dadaku.

"Dengan ini, mulai hari ini aku dan Senpai akan tetap tinggal sampai akhir setiap hari untuk berpatroli. Semua orang sudah kehilangan akal sehat. Kalau sampai terjadi hal-hal tidak senonoh di sekolah, sudah terlambat."

"Kenapa harus aku?"

"Hanya Senpai saja panitia pelaksana yang cuma santai-santai merakit panggung."

"Iya juga, sih."

Dengan begitu, aku pun menjadi pihak yang menindak perilaku tidak sehat. Sungguh ambivalen.

"Sebagai permulaan, bagaimana kalau Senpai yang memperingatkan dan membimbing Tachibana Hikari-san?"

"Eh?"

"Kalian kan terlihat dekat."

Tiba-tiba pembicaraan beralih ke Tachibana-san, membuatku tersentak.

"Ke-ke-kenapa kau tahu aku dekat dengan Tachibana-san?"

"Karena Kirishima-senpai kan satu klub misteri dengannya."

"Ah, iya, benar."

Benar juga. Sepertinya sarafku sedang terlalu tegang.

"Tapi kenapa harus menegur Tachibana-san?"

"Kelas mereka kan mengadakan rumah hantu. Rupanya mereka menambahkan elemen teka-teki menjadi permainan meloloskan diri. Meloloskan diri dari rumah hantu."

Sepertinya hasil observasi taman bermain membuahkan hasil.

"Itu sih tidak masalah, tapi cara mereka mengumpulkan pelanggan yang bermasalah."

"Memangnya seperti apa?"

"Hadiah dari keberhasilan meloloskan diri sepertinya adalah Tachibana-senpai."

"Tachibana-san bisa didapatkan? Hebat sekali itu..."

"Bukan begitu maksudnya," Hamanami berkata dengan tenang. "Itu hak untuk ikut kontes pasangan terbaik bersama Tachibana-senpai."

Tampaknya para siswa pria menjadi sangat antusias karenanya. Ada mitos bahwa pemenang kontes itu akan menikah di masa depan.

"Menurutku tidak baik menjadikan gadis sebagai hadiah. Karena ini masalah yang agak sensitif, sulit untuk mengatakannya secara resmi, jadi tolong Kirishima-senpai yang bilang ke Tachibana-senpai untuk menghentikannya."

"Tapi bukankah itu masih batas wajar?"

Aku menjawab tanpa membawa urusan pribadi.

"Kalau dia ikut dengan kostum hantu, itu kan cuma lelucon. Lagipula, kontes pasangan terbaik kan biasa saja kalau pria ikut dengan pria lain sebagai candaan. Bukankah hantu juga dalam ruang lingkup itu?"

"Tidak bisa. Meskipun hantu, dia tetap Tachibana-senpai. Kalau nanti orang-orang menyerbu rumah hantu demi hadiahnya, akan terjadi kekacauan."

Belakangan ini, popularitas Tachibana-san di seluruh sekolah meningkat drastis.

"Lagipula, pacarnya ternyata cuma pacar palsu, kan?"

"Ah, itu ya."

Kerabat Senior Yanagi berpura-pura menjadi pacar agar Tachibana-san tidak didekati pria aneh.

Senior Yanagi sendiri sangat berhati-hati dan tidak memberi tahu siapa pun soal pertunangannya.

"Setelah tahu dia single, para pria jadi sangat bersemangat. Siswa kelas saya saja sengaja pergi ke kelas dua untuk melihat Tachibana-senpai."

Akan gawat kalau terjadi kecelakaan di lapangan, kata Hamanami. Yah, secara pribadi pun, aku tidak ingin melihat Tachibana-san ikut kontes pasangan terbaik dengan pria lain.

"Baiklah, aku akan bicara padanya. Apa ada masalah lain?"

"Ada satu lagi," kata Hamanami. "Ada kelas dua yang membuka kafe cosplay, kan?"

"Itu kelas saya. Meskipun saya sama sekali tidak ikut campur."

"Sepertinya mereka menyiapkan kostum dengan pakaian yang agak terbuka."

Yang langsung terbayang di kepalaku adalah Hayasaka. Aku bisa membayangkan wajahnya yang tertawa bingung saat diminta oleh teman-temannya.

"Tapi kita tidak ada rencana untuk menegur mereka. Setiap tahun pasti ada yang melakukannya, dan tidak pernah ada masalah."

"Begitu ya. Tapi, mungkin ada gadis yang merasa terpaksa memakai kostum yang tidak diinginkannya demi mengikuti teman-temannya. Sebagai panitia, bukankah sebaiknya kita tegur?"

"Benar juga. Tapi kalau ada gadis seperti itu──"

Hamanami berpikir sejenak.

"Bukankah Senpai satu kelas dengannya? Kenapa Senpai tidak membantu gadis itu saja?"

Setelah mulai mengunci sekolah bersama Hamanami, aku sadar satu hal: di musim festival budaya ini, semua orang jauh lebih lepas kendali dari yang kubayangkan.

"Pasangan yang tadi lari terburu-buru itu, bajunya berantakan, kan?"

"……Memangnya latihan apa yang mereka lakukan di gimnasium?"

"Ayo segera kunci pintunya."

Beberapa hari setelah kami mulai melakukan itu, aku mengetuk pintu ruang OSIS.

Tidak ada tanda-tanda orang di sekitar ruang OSIS.

Karena ruangannya berada di gedung lama, sama seperti ruang klub misteri.

Hanya Ketua OSIS, Maki, yang ada di dalam.

Semua anggota lain sepertinya sedang keluar.

Maki terus memeriksa dokumen anggaran festival budaya.

Dia terlihat santai, tapi pekerjaannya sangat cepat.

"Jarang sekali Kirishima datang ke sini."

"Ada perlu sedikit," jawabku.

"Dulu kau bilang ingin membuat rencana menjadikan OSIS sebagai YouTuber, kan?"

"Memangnya kenapa?"

"Di mana peralatan untuk itu?"

"Seharusnya ada di suatu tempat di ruangan ini──"

Aku mencari-cari di ruang OSIS yang berantakan.

Membuka rak, memasukkan kepala ke bawah meja.

Dan benda itu segera ditemukan.

Dimasukkan ke dalam kantong sampah besar.

Peralatan itu disiapkan dengan asumsi anggota OSIS akan tampil di kamera.

Berkat ide mendadak Maki, anggaran yang cukup besar telah digelontorkan.

Karena Maki cerdas, dia segera menyadari maksudku.

"Kirishima, itu untuk Hayasaka, ya?"

"Ya, begitulah."

Tadi siang saat istirahat, kelas kami sedang menyiapkan kafe cosplay.

Saat itu, Hayasaka diperlakukan seperti boneka, dipaksa memakai berbagai macam baju sesuai keinginan teman-temannya.

Pelayan, telinga kucing—karena mereka ingin menjadikan Hayasaka sebagai daya tarik utama, kostumnya cenderung terbuka.

Karena kebijakan kelasnya adalah kafe cosplay, tidak ada yang bisa menentangnya.

Hayasaka memasang senyum ramah seperti biasanya, tapi sesekali ekspresinya terlihat sangat gelap.

Dia sebenarnya tidak suka melakukan hal seperti itu.

"Tidak mungkin menyuruh Hayasaka memiliki karakter yang bisa menolak orang lain sekarang."

"Benar juga. Tapi kalau aku yang menyuruhnya berhenti, juga aneh."

Jadi, aku menyusun rencana.

"Apa tidak apa-apa kalau Kirishima yang membantu?"

"Tidak masalah, kan?"

"Bukankah nanti perasaan Hayasaka jadi gawat lagi?"

Memang benar, jika aku membantunya, ada kecenderungan Hayasaka akan membiarkan perasaan "suka"-nya meledak.

"Aku tidak tahu bagaimana situasi kalian sekarang."

"Tahapannya sudah bukan tahap yang bisa diceritakan pada orang lain."

"Bahkan padaku?"

"Ya."

"Hebat juga ya kalian!"

Maki mendesah, tapi suaranya terdengar kagum.

"Baiklah. Aku akan menyuruh anggota OSIS lain membawa ini. Kalau dibilang ini kenang-kenangan dari OSIS, nama Kirishima tidak akan muncul."

Kebetulan seorang siswa sekretaris kelas satu kembali, dan atas perintah Maki, dia memanggul kantong sampah besar itu ke kelasku. Dengan ini harusnya sudah aman.

"Terima kasih."

"Tidak masalah."

"Tapi jangan sampai salah langkah, ya," kata Maki.

"Rasa 'suka' pria itu biasanya cukup ringan, kan?"

"Pada dasarnya memang mudah jatuh cinta."

"Karena rasa 'suka' gadis tidak mudah didapatkan, saat mereka benar-benar jatuh cinta, perasaannya biasanya sangat tulus. Itu memang hal yang membahagiakan, tapi kurasa itu perasaan yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan."

"Belakangan ini aku mulai merasakannya."

Aku tidak terikat dengan norma masyarakat, dan aku senantiasa mengejar bentuk cinta yang orisinal dengan tulus. Pendirian itu tidak pernah berubah. Aku tidak ingin memaksakan diriku ke dalam romansa seperti di film atau drama, lalu mengabaikan perasaan yang sebenarnya.

Namun, emosi mentah yang tidak terikat oleh cetakan apa pun adalah aliran kekuatan yang melampaui kebaikan dan kejahatan. Aku harus lebih berhati-hati mengenai hal itu.

"Kalau begitu, aku mau mengunci pintu gedung sekolah sekarang."

"Oh, oke. Kerja bagus."

"Maki, jangan pulang terlalu malam juga."

Setelah mengatakan itu, aku keluar dari ruang OSIS. Aku menghabiskan waktu terlalu lama mengobrol dengan Maki.

Gedung sekolah lama sudah benar-benar gelap.

Cahaya hijau dari lampu darurat mengingatkanku pada suasana rumah sakit. Suara langkah kakiku menggema, hita, hita.

Suasana koridor tua ini terasa terlalu mencekam. Tanpa sadar, aku mempercepat langkahku.

Aku melewati depan ruang kimia kedua. Saat melihat spesimen anatomi yang berjejer di balik kaca buram, aku langsung memalingkan wajah. Rasanya dingin sekali. Lalu.

──Aku merasa ada yang sedang memperhatikanku.

Begitulah perasaanku. Aku merasakan ada tatapan mata.

Aku merasa ada yang membuntuti. Begitu pikirku, aku menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa.

Gedung sekolah yang gelap memicu imajinasi tentang hal-hal yang tidak ada.

Saat itulah.

Dari ruang persiapan geografi, terdengar suara kari-kari, seolah ada yang sedang mencakar pintu dengan kuku.

Tepat saat aku tanpa sadar menghentikan langkahku──.

Sesuatu melompat keluar dan mendorongku hingga jatuh. Saat aku terjatuh ke belakang, sosok itu menindihku.

Itu manusia.

Di tangannya, kulihat senjata tajam yang berkilauan perak.

Aku tidak suka horor.

Saat SMP, aku pernah berkumpul di rumah Maki untuk menonton film horor bersama. Aku ingat terus menatap logo Sony di televisi, dan setelah filmnya selesai, aku berkata, "Tadi tidak terlalu menakutkan, ya."

Karena aku yang seperti itulah, wajar saja jika aku mengeluarkan jeritan simpel seperti "Gyaaa!", "Waaa!", "Haaa!" saat diserang oleh wanita berpakaian terusan putih kotor yang memegang pisau di gedung sekolah lama.

Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu. Rambutnya yang panjang terurai ke depan menutupi wajahnya.

Namun akhirnya, aku teringat pembicaraan tentang rumah hantu.

"……Begitu ya, Tachibana-san rupanya."

"Jawaban yang benar."

Dia menyingkirkan rambutnya, dan wajahnya terlihat. Namun, bahkan di bawah wajah itu, dia sudah memakai riasan yang menyeramkan.

"Kaget, ya?"

"Begitulah. Kau lumayan juga, ya."

Mendengar jeritanku, pintu ruang OSIS di kejauhan terbuka dan Maki menjengukkan kepalanya. Tapi sepertinya dia langsung mengerti situasinya dan kembali masuk.

"Tachibana-san, apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"

"Aku melihat Shirou-kun masuk ke gedung sekolah lama, jadi aku berniat mengejutkanmu."

Aku mengunjungi Maki sekitar satu jam yang lalu. Artinya, Tachibana-san telah bersiap-siap di dalam ruang persiapan geografi yang kosong selama itu. Di tengah kegelapan total. Mental macam apa itu?

"Tachibana-san, hanya untuk melakukan ini?"

"Yah, begitulah. Aku tidak bisa ikut kegiatan klub, dan tidak bisa pergi keluar juga."

Sejak hari di mana dia melanggar jam malam, ibunya membatasi kepergian Tachibana-san dengan ketat. Tentu saja kami tidak bisa bermain bersama di hari libur, dan di hari biasa pun dia langsung pulang setelah persiapan festival budaya selesai.

"Kita berdua sama-sama sibuk, jadi mau bagaimana lagi."

Tachibana-san tampak ragu sejenak sebelum berkata.

"Entah kenapa, aku merasa sedikit kesepian…… aku juga tidak begitu mengerti……"

Dia tampak bingung karena perasaan seperti itu muncul dalam dirinya sendiri.

"Karena itulah."

Dalam posisi masih menindihku, Tachibana-san menciumku tanpa keraguan.

Dia menempelkan bibirnya, memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, dan menyapu mulutku dengan sangat lembut serta ringan.

"Enak."

Tachibana-san memasang wajah puas.

Jika bukan karena riasan horor itu, pastilah itu ekspresi yang sangat manis.

"Kalau begitu, aku kembali dulu ya. Kalau tidak lengkap semua, kita tidak bisa bubar."

Tachibana-san berdiri dengan ringan. Meskipun aku sempat berpikir kalau dia seharusnya tetap di sini sedikit lebih lama kalau memang kesepian, tapi inilah Tachibana-san.

"Festival budaya, sepertinya sedang berjuang keras, ya."

"Itu karena Shirou-kun yang bilang. Katamu, acara seperti ini harus dihargai."

Tachibana-san punya sisi patuh seperti anjing padaku.

"Sampai jumpa."

Setelah mengatakan itu, Tachibana-san berlari menuju gedung sekolah baru.

Aku menyusul kembali ke gedung sekolah baru beberapa saat kemudian.

"Senpai, kau lambat sekali. Sedang bermalas-malasan di mana, sih!"

Aku bergabung dengan Hamanami di ruang audiovisual yang menjadi markas panitia pelaksana.

Kami memutuskan agar Hamanami memeriksa lantai satu dan ruang kelas khusus, sementara aku memeriksa lantai dua dan tiga untuk mematikan lampu.

Aku mulai berkeliling dari kelas tiga yang ada di lantai tiga.

Karena ada beberapa kelas yang masih tertinggal, aku mendesak mereka untuk pulang.

Karena ujian sudah di depan mata, tidak ada kelas tiga yang terlalu serius dengan rencana festival budaya.

Meski begitu, mereka tetap tinggal setelah pulang sekolah mungkin karena rasa berat hati meninggalkan masa muda yang kian berlalu.

Malam di gedung sekolah yang menjadi larut karena persiapan festival budaya memiliki daya tarik yang misterius.

Perpaduan antara kesenangan dan sedikit rasa sepi, mirip seperti suasana kereta terakhir.

Aku turun ke lantai dua dan berkeliling ke kelas-kelas tahun kedua.

Terakhir, ada kelas yang lampunya masih menyala, jadi aku masuk ke dalam kelas itu.

Tepat saat aku mematikan lampu.

Aku dipeluk dari belakang. Tanpa perlu melihat, aku tahu siapa itu dari sensasi lembut yang kurasakan.

"Kirishima-kun……"

Suara manja dan napas panas yang menyesakkan menerpa punggungku.

Ini benar-benar Hayasaka-san saat saklarnya sedang menyala.

Malam musim gugur, gedung sekolah saat persiapan festival budaya, kelas yang hanya berduaan.

Cahaya bulan masuk dari jendela. Meskipun lampu dimatikan, tempat ini tidak gelap total.

Lengan Hayasaka-san yang memelukku dari belakang mengencang.

"Tadi kau keluar dari gedung sekolah lama bersama Tachibana-san, kan? Apa yang kalian lakukan?"

Pertanyaan yang membuatku bergidik.

Namun, dari cara Hayasaka-san menempel, aku tahu ini bukan situasi yang berbahaya.

"Tachibana-san bilang dia ingin membawa pulang buku yang dia taruh di ruang klub, jadi aku membukakan kuncinya."

Alasan yang lemah. Tapi sepertinya bagi Hayasaka-san, itu saja sudah cukup.

"Begitu ya. Kirishima-kun, kau memang tidak terlalu akur dengan Tachibana-san, ya."

"Selama masa persiapan festival budaya, klub misteri tidak berkegiatan, sih."

"Kau tahu tidak? Belakangan ini, saat Tachibana-san pulang, senpai diam-diam datang menjemputnya, lho."

Belakangan ini, Tachibana-san memang sengaja menyesuaikan waktu kepulangannya agar tidak bersamaku.

Mungkin dia tidak ingin orang lain melihatnya saat bersama senpai. Itu terasa sedikit memilukan. Tapi saat ini, daripada memikirkan hal itu──.

"Sebentar, Hayasaka-san."

"Tidak apa-apa."

Hayasaka-san berputar ke depan dan menggelayut padaku.

"Aku tahu perasaan yang ini."

"Terima kasih ya, Kirishima-kun."

Pandangan Hayasaka-san tertuju pada sudut kelas, ke arah kantong plastik yang dibawa dari ruang OSIS.

Wajah raksasa dari karakter beruang terlihat menyembul dari sana.

Itu adalah kostum maskot yang dibeli Maki dengan anggaran satu juta yen ketika dia meluncurkan rencana mengubah OSIS menjadi YouTuber.

Dia memunculkannya sebagai maskot sekolah, tapi jumlah penontonnya sama sekali tidak bertambah, dan rencana itu segera dibatalkan seolah tidak pernah ada.




"Orang OSIS bilang, boleh pakai kostum beruang ini di kafe cosplay, jadi mereka membawakannya untukku."

Hayasaka-san bilang, dia langsung mengangkat tangan dan ingin segera mengenakannya.

"Sebenarnya ada yang minta aku pakai baju lain, tapi aku bilang aku mau pakai kostum beruang lucu ini. Kalau bukan ini, aku tidak mau, dan akhirnya mereka setuju."

Rupanya, sudah diputuskan bahwa saat hari-H nanti, dia akan melayani pelanggan dengan memakai kostum beruang dari ujung kepala sampai kaki.

"Terima kasih ya. Padahal sebenarnya, aku tidak mau pakai kostum yang menonjolkan bagian dada."

"Yang membawakan barang ini ke sini kan pihak OSIS, bukan?"

"Bukan, ini semua berkat Kirishima-kun. Semua hal seperti ini terjadi karena Kirishima-kun."

Hayasaka-san kembali menempel padaku, lalu menyandarkan wajahnya ke tubuhku.

"Sebentar lagi, jangan-jangan kau juga akan menganggap langit cerah adalah berkat diriku."

"Ehehe. Saat istirahat siang tadi, kau lihat aku sedang kesusahan, kan? Saat itu, aku merasa Kirishima-kun pasti akan menolongku. Soalnya, itu kan Kirishima-kun."

Namun, dia berkata dengan nada nakal, "Tapi, tidak boleh cuma aku saja, ya."

"Karena orang yang paling disukai Kirishima-kun itu Tachibana-san."

Sambil berkata begitu, wajahnya terlihat sangat bahagia.

"Lagipula, Hayasaka-san, kau terlalu berani. Masih ada murid lain yang tertinggal di sekolah, tahu."

"Kalau begitu, ayo bersembunyi."

Tanganku ditarik menuju ujung kelas, tepat di samping jendela. Hayasaka-san menarik tirai, dan kami pun bersembunyi di baliknya. Tatapan mata Hayasaka-san sudah meredup, dia sudah benar-benar "siap".

"Kirishima-kun, kau yang terbaik."

Setelah mengatakan itu, Hayasaka-san berjinjit dan menempelkan bibirnya ke bibirku.

"Tidak, aku bukan yang terbaik──"

Memang benar begitu.

Sebab, meski sedang berciuman dengan Hayasaka-san, sisa air liur Tachibana-san masih terasa di dalam mulutku.

Namun, Hayasaka-san tidak peduli dan tetap memasukkan lidahnya. Lembap, tebal, dan sangat panas.

Rasanya sungguh berbeda dengan sentuhan lidah Tachibana-san yang anggun dan lembut.

"Anak laki-laki lain semuanya terburuk. Mereka cuma melihat tubuhku dan menyuruhku pakai baju seperti itu. Tapi Kirishima-kun berbeda. Hanya Kirishima-kun yang berbeda. Makanya, kau yang terbaik."

"Tidak juga, aku pun sebenarnya sama saja."

Bahkan sekarang, aku membandingkan Tachibana-san dan Hayasaka-san.

Tubuh Hayasaka-san terasa lembut dan ingin kupeluk erat.

Tubuh Tachibana-san memiliki kepekaan yang tajam, dan aku ingin membuatnya kacau.

Namun, karena hati Hayasaka-san dan hatiku adalah hal yang berbeda, kami terus berakselerasi dalam ketidakselarasan.

"Tidak, Kirishima-kun berbeda. Kau berbeda dengan mereka. Aku tahu bagaimana anak laki-laki lain memandang tubuhku. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka melihatnya. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhnya. Tapi kalau Kirishima-kun, boleh, kan? Aku akan membiarkan Kirishima-kun melihatnya, menyentuhnya. Tidak, aku ingin kau melihatnya, aku ingin kau menyentuhnya. Hei, Kirishima-kun, kau boleh berbuat sesukamu pada tubuhku, jadikan aku mainan pun tidak masalah sama sekali. Hei, perlakukan aku seperti mainan, kau boleh berbuat apa saja padaku."

Sambil berkata begitu, Hayasaka-san mulai melepas jas sekolahnya.

Lalu, dia berucap dengan ekspresi yang tampak mabuk.

"……Ayo lakukan."

"Eh."

Jasnya jatuh ke lantai, disusul dengan sweater-nya. Aku memalingkan wajah, dan sambil melihat barang-barang itu jatuh, aku bertanya dengan bodohnya, "Melakukan apa?"

Apa yang ingin dia lakukan? Namun, Hayasaka-san hanya tersenyum tipis.

Hayasaka-san saat seperti ini tampak sangat memikat dan sensual.

"Di sini…… ayo kita lakukan."

Pita dasinya juga jatuh ke lantai. Hanya menyisakan kemeja yang terbuka di bagian dada dan rok.

"Hei, sentuhlah……"

Mendengar permintaannya, aku memeluk Hayasaka-san seolah ingin mengalihkan suasana. Namun──.

"Jari tangan kananmu, sedikit lebih ke atas."

Sesuai perintahnya, aku menggerakkan tangan kananku ke punggung Hayasaka-san, dan ujung jariku menyentuh kain kasar serta logam.

"Kalau digeser, gampang kok lepasnya."

Sesuai instruksinya, aku menggeser pengait dari balik blusnya.

Saat Hayasaka-san menggeliat, sehelai kain berwarna merah muda jatuh dari dalam kemejanya.

Itu bra-nya.

"T-tunggu sebentar, Hayasaka-san. Ini terlalu mendadak!"

Dia sudah bertindak terlalu jauh dan lepas kendali.

Namun, Hayasaka-san tidak mendengarkan perkataanku.

Dia menarik tanganku dan membawanya ke dadanya yang kini hanya dibalut kemeja.

Bagian dada Hayasaka-san yang tidak lagi tertutup apa pun terasa lebih besar dari yang kubayangkan. Kulit putih mulusnya tampak seperti gadis remaja, namun sangat menggoda.

Namun, tepat saat itu.

Suara percakapan beberapa siswa laki-laki terdengar dari koridor.

"Sepertinya Hayasaka-san masih ada di sini. Eh, lampunya mati. Tapi harusnya dia masih ada……"

"Serius? Kalau ada, kita minta ID pesannya saja."

"Kenapa tidak langsung nyatakan perasaan saja sekalian?"

Mereka berjalan ke arah sini.

Jujur saja, aku merasa lega.

"Hayasaka-san, ayo, cepat pakai kembali jasmu──"

Kataku. Namun.

"Semua laki-laki selain Kirishima-kun harusnya mati saja."

Hayasaka-san menatap dengan pandangan dingin dan tampak benar-benar terganggu.

"Selalu saja, bahkan di saat seperti ini mereka mengganggu……"

Lalu, Hayasaka-san tampak seperti baru mendapat ide, dan dia tertawa ceria.

"Hei, Kirishima-kun, ayo kita pamerkan pada mereka."

"Maksudmu apa!?"

"Kita pamerkan saat kita sedang melakukannya."

Hayasaka-san benar-benar telah jatuh ke dalam kegelapan. Inilah Black Hayasaka.

"Mereka sudah tahu aku ada di sini, tapi Kirishima-kun tidak apa-apa. Selama kau di dalam tirai."

"Tidak, justru kerusakan bagi Hayasaka-san yang lebih besar, kan?"

"Tidak apa-apa. Ayo kita buat mereka sadar, bahwa aku adalah gadis yang seperti ini."

Biasanya, jika ada orang yang datang, dia akan kembali sadar. Namun hari ini, dia justru melangkah lebih jauh. Semakin dalam.

"Biarkan saja mereka berharap seenaknya dan kecewa seenaknya."

Siswa-siswa laki-laki itu masuk ke dalam kelas sambil terus mengobrol.

Aku tahu mereka langsung tertegun saat melihat ke arah sini.

Wajar saja, karena di balik tirai, siluet yang tampak seperti Hayasaka-san sedang berpelukan dengan seorang pria.

Terlebih lagi, jas, rok, bahkan bra-nya tergeletak di lantai.

Hayasaka-san tersenyum tipis lalu melingkarkan tangannya di belakang leherku.

"Nngh…… nngh……"

Dengan sengaja, dia mengeluarkan suara saat mulai berciuman. Suhu di sekitar kami pun seolah meningkat.

Dengan tidak menahan suaranya, aku tahu gairah Hayasaka-san sendiri kian memuncak.

"Hei, isap lidahku."

Saat kulakukan seperti permintaannya, Hayasaka-san mulai menggeliat dengan wajah yang luluh.

"Ah, nngh, enak sekali…… beri aku air liurmu…… kumohon, berikan padaku……"

Hayasaka-san berjinjit, menjepit kakiku, dan menekan bagian paha dalamnya ke arahku.

Aku bisa mendengar siswa-siswa laki-laki itu menelan ludah.

"Hei, sentuhlah…… ini, sentuhlah……"

Tangan kananku diarahkan ke dalam kemeja putihnya. Dengan sedikit rasa takut akan sesuatu yang tidak diketahui, aku menyentuh gundukan dadanya.

Itu jauh lebih lembut dan ringan dari yang kubayangkan. Bentuknya berubah mengikuti gerakan tanganku. Kulitnya terasa lembap dan pas di genggamanku.

"Ah, ah…… di situ…… itu…… enak……"

Hayasaka-san sepertinya sudah tidak tahan lagi untuk berciuman, dia hanya terus menggeliat. Aku pun ikut bergairah.

Bukan karena sensasinya, tapi karena reaksi Hayasaka-san yang wajahnya kian memerah hanya karena aku sedikit mengubah cara menyentuhnya.

Saat aku menyentuh bagian yang menonjol dan mengeras, Hayasaka-san mengeluarkan suara melengking tinggi dan mencengkeramku erat.

Dia tampak hampir tidak sanggup berdiri, pipinya memerah karena panas. Kulitnya pun mulai berkeringat.

"Yang tadi, aku suka. Lagi…… lakukan lagi…… itu, enak sekali…… lagi……"

Sambil mengeluarkan suara manja, Hayasaka-san terus melangkah maju.

Di balik tirai, Hayasaka-san hanya mengenakan kemeja yang terbuka dan pakaian dalam bawahannya saja. Tubuhnya tampak lembut terpapar cahaya bulan. Dan──.

"……Yang di sini juga…… yang di sini juga…… terasa aneh……"

Dia menekan bagian antara kakinya ke pahaku. Aku bisa merasakan panasnya menembus pakaian dalam yang tipis itu.

Siswa laki-laki itu berkata, "W-waduh, gawat," lalu bergegas pergi dengan panik.

"Anak laki-laki itu selalu banyak bicara soal hal jorok, tapi giliran saatnya tiba, mereka malah lari. Tapi Kirishima-kun berbeda, kan? Kirishima-kun berbeda, bukan? Kirishima-kun itu──"

"Tidak, aku pun sebenarnya merasa agak takut, tahu."

Saat aku mengatakannya, Hayasaka-san tiba-tiba memasang wajah serius.

"……Kenapa?"

Jeda sesaat itu terasa menakutkan. Wajah manjanya hilang, ekspresinya seolah lenyap seketika.

Namun segera setelah itu, dia berkata "Ah," seolah teringat sesuatu, dan ekspresinya kembali ceria.

"Senang sekali! Kirishima-kun, ternyata kau memikirkanku sebegitu dalamnya, ya!"

"Eh?"

"Iya, kan? Kita tidak boleh melakukannya begitu saja! Lagipula kita masih anak SMA. Bahaya kalau terjadi apa-apa, kan? Kirishima-kun benar-benar pria yang memikirkan hal sampai sejauh itu."

Hayasaka-san menjadi emosional dan menekankan seluruh tubuhnya yang lembap ke arahku sambil berkata:

"Lain kali, aku akan menyiapkan segalanya agar kita bisa melakukannya sampai akhir."

Setelah memakaikan seragam pada Hayasaka-san dan membiarkannya pulang, aku menutup sekolah bersama Hamanami lalu pulang.

"Senpai, mampir ke minimarket sebentar, yuk."

Karena dia meminta begitu, aku memutuskan untuk membeli camilan bersamanya. Kami makan ayam goreng di tempat parkir minimarket.

"Kirishima-senpai ceroboh sekali, ya. Lutut, lututnya."

"Lutut?"

"Ada noda di sana."

"……Ah, sedikit basah. Mungkin tadi aku menumpahkan teh."

Aku teringat saat Hayasaka-san menekan bagian antara kakinya ke pahaku.

Jika dilihat dari standar masyarakat umum, hal seperti ini dianggap tidak sopan dan tidak baik.

Bersih, benar, dan indah.

Namun, karena hati kami bukanlah sebuah citra, ada sisi-sisi mentah seperti ini di dalamnya.

Hayasaka-san yang suci dan murni pun memiliki keinginan untuk melakukan hal semacam ini.

Jika dilihat apa adanya secara jujur, ada banyak hal yang tidak bisa disimpulkan dengan mudah seperti itu.

Aku melihat ke samping.

Hamanami pun sama saja. Adik kelas yang bergaya modern, ceria, serius, dan bertugas sebagai orang yang meluruskan situasi.

Namun, itu hanyalah citra yang kubuat sendiri tentang Hamanami, itu hanyalah keinginanku agar dia menjadi seperti itu.

Hamanami yang sebenarnya tidak bisa disederhanakan semudah itu.

"Hei, Hamanami."

Aku sudah menyadarinya sejak awal.

"Bisakah kau menghapusnya?"

"Menghapus apa?"

"Foto saat aku dan Tachibana-san berciuman."

Hamanami menatap wajahku lekat-lekat. Lalu dia memasukkan tiga potong ayam goreng ke mulutnya, mengunyahnya, dan berkata:

"Apa kau akan merasa kesulitan jika foto itu disebar ke semua orang?"

"Sangat kesulitan."

"Begitu ya. Jadi foto itu bisa digunakan untuk hal seperti itu, ya."

Kalau begitu, kata Hamanami.

"Katakan kalau kau menyukaiku."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close