Chapter 7
Aku Tidak Masalah
Menjadi Pacar Keduamu
Di suatu pagi
awal Agustus, aku menaiki kereta ekspres menuju Hakone.
Kami pergi ke
sana untuk kegiatan kamp musim panas Klub Riset Misteri.
Anggotanya
terdiri dari aku dan Tachibana-san, lalu sebagai special thanks ada
Hayasaka-san, Sakai-san, dan Senior Yanagi. Dari klub manga ada Yamanaka-kun
yang bertugas mengurus storyboard dan penyutradaraan. Ditambah Ketua
OSIS Maki sebagai sutradara, dan Miki-sensei sebagai penasihat. Singkatnya, ini
adalah kumpulan anggota yang terasa seperti dikumpulkan hanya untuk memenuhi
jumlah orang saja.
"Senior, apa
tidak apa-apa?"
Aku bertanya pada
Senior Yanagi yang duduk di kursi deretan dua di sebelahku.
"Padahal
kamu masih harus belajar untuk ujian masuk."
"Libur dua
sampai tiga hari itu bukan masalah besar. Lagipula, aku juga membawa alat
belajarku."
Ditambah lagi,
ucap Senior dengan wajah yang sedikit malu-malu.
"Aku ingin
membuat kenangan manis dengan Hikari-chan."
Senior memanggil Tachibana-san dengan nama depannya,
"Hikari-chan".
Sementara itu, Tachibana-san duduk di dua kursi di depan
kami berdampingan dengan Hayasaka-san. Mereka sedang asyik mengobrol seru
membahas naskah film pendek yang akan kami ambil gambarnya nanti.
"Naskah yang ditulis Tachibana-san bagus juga,
ya."
"Benarkah
begitu?"
"Apa ide
Maki-kun untuk menjadikan Kirishima-kun sebagai mayat di adegan awal?"
"Itu karena
aku sendiri yang ingin seperti itu."
"Bukankah
perlakuannya terlalu menyedihkan?"
"Ketua klub
seperti dia, memang hanya berguna kalau dijadikan mayat saja."
Mendengar itu,
aku merasa dia bicara terlalu kejam. Tapi, baguslah kalau Hayasaka-san dan
Tachibana-san bisa akur.
"Kirishima,
terima kasih ya."
"Tidak,
yang merencanakan ini kan Maki."
"Tetap
saja, terima kasih."
Alasan
sebenarnya Senior pindah sekolah adalah Tachibana-san.
Sebagai
tunangan, mereka memang bertemu sebulan sekali, tapi mereka hampir tidak punya
waktu untuk berduaan. Sepertinya
dia ingin menjalani kehidupan sehari-hari bersama sebelum mereka menikah nanti.
"Awalnya,
aku juga hanya bertemu dengannya karena disuruh orang tua. Kesan pertamaku, dia
gadis yang sangat dingin," ujar Senior.
Aku sedikit
panik, takut orangnya bisa mendengar apa yang dia katakan.
Namun,
Tachibana-san sepertinya sedang senang karena camilan yang dia beli di stasiun
rasanya enak, sehingga dia terus mengobrol dengan Hayasaka-san. Dalam hal seperti ini, mereka
berdua benar-benar siswi SMA biasa.
"Tapi
setelah beberapa kali bertemu, kesanku berubah. Dia berniat menerima perjodohan
itu demi ibunya. Karena ibunya membesarkannya seorang diri, dia tidak ingin
membiarkan ibunya bersusah payah. Cukup kuno, bukan?"
Sangat
jarang Senior membicarakan hal sepribadi ini denganku.
Aku sudah
bisa membayangkan apa yang akan dia katakan selanjutnya, dan entah kenapa, aku
tidak ingin mendengarnya. Aku berharap ada seseorang yang memotong percakapan
kami, tapi kursi Sakai dan Yamanaka-kun agak jauh, dan Miki-chan serta Maki
yang berada di satu kursi di depan kami malah tidak terlihat batang hidungnya
sejak tadi.
"Lalu, saat
aku sadar..."
Senior akhirnya
mengatakannya.
"Aku sudah
jatuh cinta padanya."
Refleks,
aku memperhatikan Hayasaka-san di depan. Aku tidak ingin dia mendengar ucapan
Senior. Untungnya, Hayasaka-san sedang menghentikan gerobak penjualan di kereta
dan membeli banyak camilan. Seberapa banyak sih dia mau makan?
Senior
Yanagi mencintai Tachibana-san tanpa memedulikan status mereka sebagai
tunangan.
Mendengarnya
langsung membuat situasinya terasa sangat nyata.
Sebuah
bentuk segiempat yang benar-benar sempurna telah terbentuk.
"Senior,
bukankah sebaiknya kamu masuk Klub Riset Misteri?"
"Aku
urungkan saja. Aku juga menyesal kepindahanku ke sini sedikit terlalu
memaksa."
"Tapi
sepulang sekolah, kami berdua saja, lho."
"Kalau
dengan Kirishima, aku tenang. Kamu bukan tipe yang akan melakukan hal aneh pada
perempuan, kan?"
"Tentu
saja."
Senior tidak tahu
kalau di antara aku dan Tachibana-san ada "kartu as" berupa janji
masa kecil, dan sampai baru-baru ini pun kami sempat memainkan permainan yang
sedikit berisiko di ruang klub.
Senior
mempercayaiku tanpa syarat. Tapi, aku sedang menyimpan rahasia darinya.
"Ini adalah
cinta bertepuk sebelah tangan. Aku hanya ingin berada di dekatnya barang
sedikit saja."
Senior hendak
melanjutkan ucapannya, tapi dia memutuskan untuk diam dan memandangi
pemandangan dari jendela kereta.
Tanpa sadar,
Tachibana-san dan Hayasaka-san sudah menjadi tenang. Rupanya, mereka mulai
serius menyantap camilan yang dibeli tadi.
Aku memakai earphone
dan mendengarkan musik.
Beberapa saat
kemudian, Hayasaka-san dan Tachibana-san beranjak dari kursi dan berjalan ke
arah kami.
"Ada
apa?" tanyaku setelah melepas earphone.
Hayasaka-san
menjawab, "Kami mau pergi mencari gerobak penjualan di kereta lain.
Soalnya, kami ingin makan es krim juga."
"Eh?
Bukannya tadi kalian sudah makan banyak? Kalau makan sebanyak itu, nanti jadi
gemu—"
"Kirishima-kun,
ada yang kamu katakan?"
"Tidak,
tidak ada."
Tachibana-san
tidak mengucapkan sepatah kata pun dan pergi mencari gerobak penjualan itu.
Setelah mereka
berdua pergi ke gerbong sebelah, Senior berucap, "Aku tahu dia tidak
menyukaiku."
"Sampai dia
menyukaimu?"
"Ya. Kalau
dia bilang dia tidak bisa disentuh oleh pria, maka aku akan menunggunya sampai
dia bisa disentuh olehku. Aku akan tetap berada di sampingnya tanpa
mengganggunya. Sebesar itulah aku mencintainya. Memanfaatkan status tunangan
ini memang terasa sedikit tidak keren, sih."
Senior dan aku
adalah kutub yang berlawanan.
Senior berusaha
mencintai gadis yang paling dia sukai tanpa kompromi. Di sana tidak ada rasa
menyerah, tidak ada rasa takut akan cinta bertepuk sebelah tangan yang berakhir
sia-sia.
Di sisi lain, aku
menyangkal fantasi cinta sejati dan mengafirmasi jalur realita yang
"kedua". Pemikiranku memang tidak berubah, tapi melihat Senior, aku
jadi paham kenapa semua orang mendambakan cinta sejati. Rasanya sedikit
menyilaukan.
"Pasti akan
berhasil, kok."
Aku mengatakannya
dari lubuk hati terdalam.
Sejak tahu bahwa
tunangan Tachibana-san adalah Senior Yanagi, aku sudah merelakannya di dalam
hati.
Memang benar, aku
pernah merasakan ketertarikan dari Tachibana-san. Tapi, ada terlalu banyak
faktor yang terlibat, seperti urusan keluarga dan hubunganku dengan Senior
Yanagi.
Karena itulah,
sebelum kamp musim panas, aku dan Tachibana-san sempat membicarakan hubungan
kami.
Dan
sekarang, kami bahkan sudah jarang mengobrol.
"Tachibana-san dan Senior pasti akan berjalan
lancar."
"Terima
kasih, Kirishima, kamu memang pria yang baik. Kalau ada masalah, katakan saja
padaku. Aku akan melakukan apa pun. Lagipula, kita ini rekan yang pernah saling
menyelamatkan nyawa."
Senior tersenyum
ramah.
Tidak apa-apa.
Sejak awal, aku sudah sadar kalau aku tidak bisa menjalin hubungan dengan orang
yang paling aku sukai. Apa pun alasannya, hasilnya akan tetap sama.
Karena segala
sesuatunya berjalan sesuai perkiraan, aku tidak perlu merasa sedih. Aku bisa
melepaskan semuanya dengan bersih, dan tidak akan ada penyesalan yang tersisa.
Aku sama sekali tidak keberatan; malah aku merasa bersyukur bisa berhenti dari
situasi rumit seperti mencintai gadis yang sudah memiliki tunangan.
"Omong-omong
Kirishima, dari tadi kamu terus memakan Pocky itu."
"Ah, yang
ini ya."
Aku membelinya di
toko stasiun untuk teman perjalanan. Kantong perak kecil itu berserakan di atas
pangkuanku.
"Apa tidak
terlalu banyak?"
"Rasanya
hambar, jadi seperti tidak merasa makan apa pun."
Senior mengambil
satu batang Pocky dan memakannya.
"Tidak,
rasanya biasa saja seperti cokelat."
"Begitukah?
Entah kenapa rasanya kurang memuaskan. Apa jangan-jangan bagian biskuitnya
tidak lembap? Ya, harus lembap. Kalau tidak lembap, rasanya kurang. Aku mau
lebih, mau lebih lagi..."
"Kirishima?"
Mengabaikan
tatapan heran Senior, aku terus memakan Pocky yang terasa kurang memuaskan itu.
◇
"Hanya
karena tunangannya adalah Senior, kau menyerah terlalu cepat, bukan?" ujar
Maki.
"Tidak juga,
aku juga sangat dibantu oleh Senior Yanagi sejak SMP, jadi aku mengerti
perasaan Kirishima. Tapi, Tachibana adalah cinta pertamamu, kan?"
"Memang
benar begitu, sih."
Malam
hari, aku berendam di pemandian terbuka bersama Maki.
Hari pertama,
kami sama sekali tidak melakukan pengambilan gambar. Kami hanya pergi ke museum, makan bakpao
onsen, berkeliling Hakone, dan bersenang-senang. Lalu setelah makan malam di
penginapan, sekarang kami sedang berendam di pemandian air panas.
"Dari
yang kudengar sih," lanjut Maki.
"Sepertinya
bisa saja kalau kau minta Tachibana untuk membatalkan pertunangannya, kan?
Sudah kau coba?"
"Belum, dan
aku tidak berniat mengatakannya."
"Kenapa?"
"Rasanya
sangat tidak bertanggung jawab."
Memang
benar ada janji masa kecil di antara aku dan Tachibana-san. Jika aku memanfaatkannya, ada kemungkinan
Tachibana-san akan memilihku karena terbawa emosi sesaat. Tapi...
"Kalau
pertunangannya dibatalkan, kehidupan keluarga Tachibana-san tidak akan sama
lagi. Itu akan memengaruhi masa depannya."
Saat
Tachibana-san sadar nanti, dia mungkin akan menyesalinya.
"Ya ampun,
itu kan cuma cinta anak SMA. Kau terlalu memikirkan masa depan."
"Tapi ini
hal penting."
Aku tidak ingin
membuat Tachibana-san tidak bahagia.
"Lagipula,
aku tidak bisa mengkhianati Senior."
"Yah, kalau
itu keputusanmu, ya sudah. Lagipula, sepertinya Tachibana dan Senior
juga terlihat cocok."
Saat berkeliling Hakone, Tachibana-san terus berjalan di
samping Senior.
Bahkan saat makan malam di lantai tatami penginapan, dia
secara sukarela duduk di samping Senior. Itu tindakan yang tidak terpikirkan
dari Tachibana-san yang biasanya dingin, bahkan Senior Yanagi pun sampai
terkejut.
"Jangan-jangan, kau yang menjauhkan Tachibana dari
dirimu?"
"Kami berdua
yang memutuskan untuk melakukannya."
"Wah wah...
benarkah ada hal seperti itu?"
"Aku sudah
memutuskan."
Itu terjadi
sekitar satu minggu yang lalu.
Saat liburan
musim panas dimulai, Klub Riset Misteri tidak melakukan kegiatan sama sekali.
Namun hari itu,
aku dan Tachibana-san berkumpul di ruang klub.
Untuk
memikirkan skenario film pendek yang akan diambil saat kamp.
Setelah
sekian lama, Tachibana-san masih terlihat cocok dengan seragamnya, terlihat
segar, dan benar-benar seperti gadis musim panas. Aku sempat tergoda untuk
merasakan cinta yang penuh energi seperti iklan minuman isotonik, tapi kami
segera berdebat.
"Aku
maunya anagram."
"Tidak,
tidak, Tachibana-san. Di sini harus menggunakan narrative trick."
Itu
tentang teknik misteri yang digunakan untuk film pendek tersebut.
Aku dan
Tachibana-san memiliki hobi yang sama. Seperti radio tengah malam atau novel misteri.
Tapi
detailnya berbeda. Kalau soal radio, Tachibana-san suka Nippon
Broadcasting, sedangkan aku Bunka Broadcasting. Dan kalau soal misteri, dia anagram, aku narrative
trick.
"Aku
tidak mau kalau bukan anagram."
Anagram
yang disukai Tachibana-san adalah teknik yang menggunakan huruf.
Teknik di
mana muncul untaian huruf yang tidak bermakna, lalu saat huruf-huruf itu
ditukar, terungkaplah fakta penting dalam cerita.
"Tapi Tachibana-san, bagaimana caranya menggunakan
anagram di dalam video?"
"Pertama-tama,
siapkan orang mabuk."
"Ceritanya
akan terasa inovatif."
"Di dalam
cerita, orang mabuk itu akan terus mabuk. Lalu dia terus berteriak seperti
meracau, 'Eshi uku sasu yudon'."
"Eshiuku
sasuyudon?"
"Kalau
disusun ulang, menjadi Endo Shuusaku. Pelaku aslinya adalah Endo
Shuusaku, dan orang mabuk itu sebenarnya sudah menebak pelakunya sejak awal.
Penonton pasti akan merasa tertipu, 'Sialan!', begitu, kan?"
"Apa benar
begitu?"
"Judulnya
'Detektif Mabuk', ya."
Memang itu teknik
anagram, tapi Tachibana-san ternyata lebih ponkotsu (ceroboh/bodoh) dari
yang kukira.
"Tidak,
sebaiknya jangan itu."
"Kenapa?
Orang mabuk itu punya masa lalu yang menyedihkan, dulu dia bekerja di
perusahaan ternama tapi kalah dalam persaingan karier, dicampakkan kekasihnya,
lalu mulai minum obat tidur dan alkohol secara bersamaan—"
Tachibana-san
mulai menjelaskan pengaturan cerita yang tidak perlu mendetail.
"Tidak,
Tachibana-san, teknik anagram di karya video tetap saja kurang berdampak."
"Kalau
begitu, narrative trick yang disukai Ketua juga tidak akan bisa
dilakukan kecuali dalam bentuk novel."
"Tentu saja
kalau triknya seperti gadis yang menyebut dirinya 'aku' (maskulin) atau pria
tua yang bertingkah muda. Tapi untuk karya yang memutar balik urutan waktu, ada
contoh film yang sukses besar."
Inti dari narrative
trick adalah memanfaatkan kesalahpahaman penonton. Dan saat kebenaran
terungkap, penonton akan tersentak saat menyadari kesalahpahaman mereka
sendiri.
"Jadi
kesimpulannya, kita tampilkan mayat di adegan awal."
"Pertama,
jatuhkan mayat. Aturan dasar misteri, ya."
"Tepat
sekali. Setelah itu, dengan begini dan begitu..."
"Mm-hmm."
"Lalu jadi
begini, dan pelakunya adalah..."
"Oh, begitu,
begitu."
"Begitulah
ceritanya."
"Hmm. Yah,
mungkin untuk video pendek itu sudah cukup bagus."
Tachibana-san mencatat ringkasan cerita tersebut.
"Oke, kita pakai narrative trick. Sebagai
gantinya, nama karakter dan detail lainnya biar aku yang urus."
"Baiklah."
Begitulah arah naskah film pendek kami ditentukan.
Masalahnya adalah
setelah itu.
"Ketua,
mumpung kita berkumpul, mari lakukan ini."
Tachibana-san
menunjukkan buku catatan cinta itu lagi.
"Aku ingin
mencoba banyak hal lainnya."
"Tidak."
"Ketua,
tidak seru."
"Aku adalah
pria yang bisa mengatakan tidak pada hal yang tidak boleh dilakukan."
"Oh begitu.
Baiklah, aku tidak akan memintanya lagi."
Seperti
biasa, Tachibana-san bersiap pulang dan hendak meninggalkan ruang klub.
Biasanya,
di saat seperti ini aku akan menghentikannya dan permainan dimulai, tapi karena
aku tidak menghentikannya, Tachibana-san berbalik di ambang pintu dan menatapku
tajam.
"Ketua,
benar-benar tidak mau melakukannya?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Tidak perlu
dijelaskan pun kau sudah tahu, kan?"
"Apa tidak
boleh jika aku punya tunangan? Siapa yang memutuskan itu?"
"Aku tidak
akan termakan jebakan itu."
Tachibana-san bukan lagi anak kecil yang naif soal cinta.
Dia sudah tahu banyak hal.
"...Apa karena tunanganku adalah Senior yang berharga
bagi Ketua?"
"Kurang
lebih begitu."
Untuk
sesaat, kami saling menatap dalam diam.
Selama
ini, kami berpura-pura tidak peka terhadap berbagai hal dan menikmati hubungan
ambigu di antara kami berdua. Tapi, hal itu tidak bisa diabaikan lagi. Seperti
saat hari mulai senja dan harus pulang ke rumah, waktu bermain-main dengan
ambiguitas itu pun berakhir.
Tachibana-san
tidak bisa mengkhianati ibunya.
Aku tidak
bisa mengkhianati Senior Yanagi.
Karena itu,
kesimpulannya cuma satu.
"Aku pun
merasa tidak enak pada Yanagi-kun. Aku pernah berpikir, andai saja aku bisa
mencintainya, andai saja aku bisa menyentuhnya."
Tapi, lanjut
Tachibana-san, "Aku, ternyata hanya bisa disentuh oleh Ketua, dan hanya
dengan Ketua jantungku bisa berdebar. Dulu aku sudah merelakannya dan
menganggap ini takdir, tapi Ketua berbeda, ya."
"Maafkan
aku."
"Tidak
apa-apa... tapi, saat kecil dulu, Ketua menyukaiku, kan?"
"Cinta
pertama pada akhirnya akan berakhir."
"Begitu, ya.
Ketua tidak akan memilihku dengan mengorbankan segalanya di sekitarmu,
ya."
"Yah, aku
pun sebenarnya tidak suka dengan Ketua," ujar Tachibana-san.
"Aku cuma
penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta."
"Aku
pulang," ucap Tachibana-san lalu meninggalkan ruangan.
Namun
sebelum benar-benar pergi, dia berbalik dan berkata dengan ekspresi ceria.
"Tidak
apa-apa. Janji masa kecil, kenangan yang kita buat berdua, akan kuanggap tidak
pernah ada."
"Selamat
tinggal, Kirishima-kun yang sangat memikirkan Senior."
◇
Cinta pertama itu
memang sudah polanya untuk tidak pernah terkabul. Karena itulah...
"Mungkin itu
memang yang terbaik," ujar Maki. Aku dan Maki sudah berendam cukup lama.
"Tapi,
bagaimana dengan Hayasaka?"
"Sepertinya
dia masih belum menyerah pada Senior..."
Dia bilang akan
berusaha.
"...Tapi,
menurutku itu mustahil."
Hayasaka-san
bukan tipe yang bisa merayu pria yang sudah memiliki tunangan.
"Yah,
benar juga. Dia bukan tipe perampas orang lain."
Dengan kata lain,
secara alami kombinasi antara aku dan Hayasaka-san akan terbentuk.
"Ini
terdengar seperti sebuah skenario yang direncanakan."
"Memang
itu tujuannya. Aku memang merencanakannya agar jadi seperti ini."
"Sesuatu
akan berakhir di tempat yang seharusnya, ya."
"Proses
itu penting."
Meski
akhirnya kami harus menjadi "pilihan kedua", tetap saja diperlukan
pembenahan hati dan kepuasan diri bahwa kita sudah melakukan semua yang kita
bisa untuk yang "pertama", dan tidak menyisakan penyesalan.
Bagi diriku, bagi Hayasaka-san, dan pastinya bagi
Tachibana-san juga.
"Kamp ini
adalah upacara pendewasaan untuk tujuan itu."
"Manusia
akan menjadi orang yang berbeda setelah mengalami sesuatu. Jadi ini adalah
inisiasi?"
Saat kamp
berakhir, kombinasi aku dan Hayasaka-san, serta Senior dan Tachibana-san
seharusnya sudah terbentuk dengan rapi.
Tapi, apa benar
akan berjalan semulus itu? tanya Maki.
"Perasaan
manusia itu bukan puzzle. Mungkin saja tidak semuanya bisa tersusun
dengan rapi."
◇
"Kalau
begitu, ayo kita mulai!" Maki memberi aba-aba sambil merekam dengan kamera
rumahan.
Pagi hari setelah
tiba di Hakone, pengambilan gambar film pendek yang merupakan tujuan utama kami
pun dimulai.
"Sudah
tidak diragukan lagi, seratus persen dia sudah mati."
Tachibana-san
yang mengenakan sarung tangan karet meletakkan tangannya di leherku.
Aku
berperan sebagai mayat di pemandian umum.
"Tapi,
apa dia benar-benar sudah mati? Hiyah, hiyah!"
Tachibana-san
memerankan karakter yang berbahaya. Senang melihatnya terlihat menikmati peran
itu, tapi kurasa ada perasaan pribadi yang diselipkan dalam kepalan tangannya
yang memukulku.
Selanjutnya, aku disiram shower air panas. Ini adalah upaya untuk mengacaukan
perkiraan waktu kematian. Tapi karena ini syuting, bukankah air biasa saja
cukup?
"Panas? Yah,
tidak panas, kan? Soalnya, kau sudah mati, kan? Ufufufu!"
Sebagai
penyelesaian, aku dimasukkan ke dalam karung beras industri dan dijatuhkan dari
lereng di belakang penginapan.
"Oke,
cut!!"
Suara Maki
menggema, dan pengambilan gambar untuk adegan pertama pun selesai.
"Kamu tidak
apa-apa?"
Saat istirahat,
Hayasaka-san berlari menghampiriku.
Di halaman
belakang penginapan, aku duduk di kursi lipat sambil memeriksa bagian tubuh
yang terbentur saat berguling di lereng tadi. Sedikit sakit, tapi tidak sampai
memar.
"Apa adegan
tadi itu narrative trick-nya?"
"Ya. Kalau
dimulai dari adegan itu, penonton pasti berpikir Tachibana-san membunuhku,
kan?"
Tapi pelaku
aslinya orang lain, dan Tachibana-san hanya membantu membereskan mayatnya. Dari
titik ini, Tachibana-san akan melakukan pembunuhan lebih lanjut untuk
melindungi pelaku asli, yaitu Senior Yanagi.
"Tachibana-san
hebat juga bisa menulis naskah. Meski selera penamaan karakternya sedikit
misterius."
"Nama
peranku Kiriyama Kirinji, kurasa itu karena aku suka band bernama
Kirinji."
"Kalau
begitu, kenapa nama peran Yanagi-kun adalah Ishikura Morishi?"
"Mungkin itu
julukan pemain sepak bola favorit Senior. Meski sudah pensiun, ada pemain tim
nasional Jepang yang dipanggil Morishi."
Sakai adalah
Wakui Siabata (Shea Butter), Yamanaka-kun adalah Tezukayama Beribou (Baret).
"Kenapa
namaku Muneko? Aku tidak merasa punya kaitan dengan itu."
"Ngomong-ngomong,
Tachibana-san pernah menyebut Hayasaka-san sebagai gadis yang dadanya
besar."
"Cuma
aku yang 'Mune' (dada)? Aku tidak terima!"
Hayasaka-san
marah dengan nada bercanda. Tapi wajahnya segera kembali tenang.
Pandangannya
tertuju pada Senior Yanagi. Di kejauhan, dia sedang bersama Tachibana-san.
Tachibana-san
tidak bisa membuka tutup botol, jadi Senior membukakannya lalu memberikannya.
Entah kenapa,
suasana di antara mereka terlihat sangat manis.
"Kamu suka
Senior Yanagi?" tanyaku.
Hayasaka-san
mengangguk pelan.
"Seperti
yang kubayangkan. Dia sangat
lembut dan perhatian. Tapi, Tachibana-san selalu ada di sampingnya, ya."
"Tachibana-san curang, ya," ujar Hayasaka-san.
"Disukai
oleh Senior dan juga Kirishima-kun. Rasanya dia memang gadis nomor satu yang terlahir dengan
segalanya."
"Ada
banyak juga yang menyukai Hayasaka-san."
"Mungkin
saja, tapi kalau dibandingkan dengan Tachibana-san, tetap saja berbeda.
Tachibana-san itu istimewa. Hei,
apa kau tahu hari ulang tahun Tachibana-san?"
"Satu
Januari."
"Ya, Tachibana-san adalah orang yang lahir di awal
tahun. Tidak bisa disalip. Tidak ada yang bisa mengalahkannya."
Tapi aku akan berusaha, ucap Hayasaka-san sambil mengepalkan
tangan di depan wajahnya.
"Aku pasti
akan membuat Senior menoleh padaku."
Sampai baru-baru
ini, perasaan sukanya yang bercampur aduk sempat membuatnya panik. Sekarang,
melihat bahwa tunangan Tachibana-san adalah Senior Yanagi rupanya menjadi
terapi kejut yang membuatnya bangkit kembali. Namun...
"Tidak perlu
memaksakan diri. Lagipula... kamu kan bukan tipe yang seperti itu."
"Jangan
khawatir. Memang biasanya aku mungkin tidak akan bisa. Tapi kali ini
berbeda."
"Kenapa?"
"Aku sedikit
tidak suka dengan Tachibana-san."
Itu kata-kata
yang cukup keras untuk ukuran Hayasaka-san.
"Soalnya,
Tachibana-san tidak berniat putus dengan Senior, tapi terus memberi harapan
pada Kirishima-kun."
Sepertinya dia
tidak suka melihat pacarnya (atau orang yang dia sukai) diperlakukan dengan
rendah.
"Jadi, kali
ini aku tidak akan mengalah. Sedikit rasa kompetitif, lah. Ahaha, rasanya aku
seperti gadis yang jahat, ya. Tapi tenang saja, aku pasti bisa. Lebih baik
kalau Senior putus dengan Tachibana-san, itu juga bagus untuk Kirishima-kun,
kan? Serahkan saja padaku."
Perasaan
Hayasaka-san saat ini sepertinya berpusat pada hubungan aku dan Tachibana-san.
Apa dia tidak
kehilangan jati dirinya sendiri? Sedikit mengkhawatirkan.
"Ah,
Tachibana-san sedang bermesraan dengan Senior."
Kalau dilihat,
Tachibana-san sedang menyeka keringat di dahi Senior Yanagi dengan sapu tangan.
Hayasaka-san
menatapnya sejenak, lalu menoleh padaku dan berkata, "Hei Kirishima-kun,
ayo kita berciuman."
"Eh?"
"Aku ingin
berciuman di sini sekarang juga, supaya tidak ketahuan orang lain."
Menurutku itu ide
yang buruk, tapi ekspresi Hayasaka-san yang terasa begitu emosional membuatku
sadar kalau aku tidak bisa menghindar darinya.
"Dua orang
itu saja sudah seperti itu, kan? Bagaimana kalau kita juga berciuman?"
Mata Hayasaka-san
terlihat sangat serius.
Karena takut ada
yang mendengar pembicaraan kami, aku pun buru-buru mencium Hayasaka-san.
"Melakukan
hal buruk itu menyenangkan, ya."
Ekspresi
Hayasaka-san tampak begitu menggoda. Keadaannya semakin mengarah ke arah yang
tidak baik.
Namun,
wajahnya segera kembali tampak seperti gadis remaja yang polos, lalu dia
berkata dengan ceria.
"Aku akan
melakukannya. Sebagai kekasih kedua, aku akan menjalankan tugasku sampai
akhir."
◇
Pengambilan
gambar selesai sebelum matahari terbenam.
Menjelang
malam, proses penyuntingan kasar pun selesai dan kami memutuskan untuk
mengadakan pemutaran film pendek tersebut. Pria bernama Maki ini, pantas saja
dia Ketua OSIS, kerjanya cepat sekali.
Kami
memproyeksikan film itu ke layar untuk perjamuan di ruangan besar.
Setelah
adegan tadi, kami merekam banyak adegan lain, dan selama itu pula Hayasaka-san
berusaha mendekati Senior Yanagi.
“Aku
akan berusaha.”
Meskipun
dia berkata begitu, Hayasaka-san memang canggung, mudah gugup, dan akhirnya
tidak bisa melakukan apa-apa.
Dia terus meminta
maaf padaku, “Maafkan aku, maafkan aku.”
Sekarang, di atas
lantai tatami ruangan besar itu, Hayasaka-san duduk di sampingku. Di depan
kami, Senior duduk, dan di sampingnya, Tachibana-san duduk bersimpuh.
"Oke, kita
mulai!"
Maki memberi
perintah dan mematikan lampu ruangan.
Yamanaka-kun
mengoperasikan laptop, dan pemutaran film pendek pun dimulai.
Tepat setelah
judul “Penalaran Air Panas Detektif Tendangan Memutar Q” muncul, kredit
bertuliskan “Sutradara: Maki Shota” terpampang besar-besar, memancing
tawa kami.
Aku tidak melihat
ke layar, aku terus memandangi Tachibana-san yang duduk di depan. Rambutnya
diikat ke atas, memperlihatkan tengkuknya yang putih.
"Mereka
memanfaatkan penginapan ini dengan baik, jadi menurutku ini tidak buruk sebagai
promosi."
"Begitu,
ya."
Senior Yanagi dan
Tachibana-san bercakap-cakap dengan suara pelan.
Film pendek
berdurasi lima belas menit itu segera mencapai klimaks. Itu adalah adegan
terakhir di mana kemampuan akting Tachibana-san memukau semua orang saat
syuting.
Tachibana-san
melindungi pelaku asli, Senior Yanagi. Setelah itu dibongkar oleh Maki yang
berperan sebagai detektif, sebelum menyerahkan diri ke polisi, dia menyatakan
cinta pada Senior Yanagi.
Aktingnya begitu
meyakinkan sehingga semua orang yang ada di sana merasa seolah-olah
Tachibana-san benar-benar menyatakan cinta pada Senior Yanagi. Senior Yanagi
pun tampak terharu.
Aku ingin
melihatnya sekali lagi dengan saksama di layar ini.
Dan tepat sebelum adegan terakhir itu dimulai...
Hayasaka-san menggenggam tanganku.
“Ada aku di sini,” seolah itulah yang ingin dia
sampaikan.
Memanfaatkan ruangan yang gelap, aku menggenggam balik
tangan Hayasaka-san.
Di layar, Tachibana-san terlihat dengan wajah yang penuh
kesedihan. Bibirnya yang tipis bergerak.
"Aku menyukai Ishikura Morishi. Apa pun yang terjadi,
selamanya, aku akan selalu menyukainya."
Ishikura Morishi yang diperankan oleh Senior mendengar hal
itu dan meneteskan air mata, "Terima kasih."
Ekspresi dan dialog mereka telah melampaui batas akting.
Tachibana-san tampak menyatakan cinta dengan tulus, dan
Senior tampak membalasnya.
Setelah film pendek itu berakhir, yang tersisa hanyalah
sensasi yang tertinggal seperti setelah menonton film romantis.
Jadi itu jawaban Tachibana-san, ya.
Aku menerima pesan darinya melalui layar itu, lalu
menyimpannya di lubuk hatiku yang terdalam.
◇
Soal
kembang api, selera setiap orang memang berbeda.
Hayasaka-san
menyukai kembang api yang penuh warna, sementara Tachibana-san menyukai yang
sederhana.
Malam itu, kami
bermain kembang api di halaman tengah penginapan.
Miki-sensei yang
menyiapkannya untuk menjadi penutup kenangan musim panas kami.
Kami
masing-masing memegang kembang api dan menatap percikan apinya.
Tanpa
sadar, kami sudah terbagi menjadi beberapa pasangan.
Tachibana-san
dengan Senior Yanagi, Sakai dengan Yamanaka-kun, Miki-sensei dengan Maki, serta
Hayasaka-san denganku.
"Senang
rasanya akhirnya selesai," ujar Hayasaka-san.
“Penalaran Air Panas Detektif Tendangan Memutar Q.”
"Ngomong-ngomong, judulnya memang seperti itu,
ya."
"Padahal adegan Tachibana-san bilang cinta ke Senior
itu mencuri perhatian semua orang."
Tachibana-san sedang berjongkok bersama Senior di tempat
yang agak jauh sambil bermain kembang api senko-hanabi. Mereka terlihat seperti sepasang
kekasih yang sedang berebut bola api.
"Entah
kenapa, rasanya tidak ada celah untuk masuk ke sana," ucap Hayasaka-san.
"Awalnya,
aku pikir Tachibana-san melakukan itu untuk memancing rasa cemburumu,
Kirishima-kun. Tapi, selama kamp ini, mereka bahkan tidak saling menatap,
kan?"
"Benar
juga."
"Sepertinya
dia sudah kehilangan minat pada Kirishima-kun."
"Mungkin
begitu."
Tepat saat itu,
percakapan Tachibana-san dan Senior terdengar.
"Kantong
sampahnya ada di sini," ujar Tachibana-san sambil menarik ujung baju
Senior.
Mereka tidak
bersentuhan kulit.
Tapi, bagi
Tachibana-san, itu sudah termasuk tindakan yang maju. Senior juga menyadarinya;
meski terkejut, dia tampak terharu.
"Hikari-chan,
bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar setelah ini? Sepertinya ada jalan
setapak di sekitar sini."
"Boleh."
Keduanya menjadi
semakin akrab.
Aku tidak sanggup
lagi melihatnya, jadi aku mengalihkan pandangan ke kembang api di tanganku.
"Kenapa
ya?" tanya Hayasaka-san yang berada di sampingku.
"Kenapa
Tachibana-san tidak memilih Kirishima-kun? Kenapa dia melakukan hal yang
menyakitkan di depan mata Kirishima-kun? Kenapa... eh?"
Air mata menetes
jatuh dari mata Hayasaka-san. Dia sendiri tampak terkejut menyadari hal itu.
"Aneh ya,
apa aku sedih karena Tachibana-san tidak membahagiakan Kirishima-kun? Apa aku
sedih karena hanya Tachibana-san yang bisa membahagiakan Kirishima-kun? Meski
Tachibana-san sudah berada di samping Senior, Kirishima-kun masih tetap
menatapnya, apa itu yang membuatku sedih... aku sendiri pun tidak tahu."
Setelah menghapus
air matanya, Hayasaka-san tampak sangat lelah.
Dengan
mata yang kosong, dia bahkan tidak bisa lagi menutupi ekspresinya.
"Tapi,
aku akan berusaha. Aku benar-benar akan berusaha. Lihatlah, aku akan
berusaha."
Hayasaka-san
mengulanginya seperti orang yang sedang mengigau.
"Aku ingin
menjadi kekasih yang baik untuk Kirishima-kun. Kekasih kedua yang baik. Karena
itulah aku ingin berguna untukmu, aku ingin membantumu, Kirishima-kun,
Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun."
"Hei,
Hayasaka-san."
Aku memotong
perkataannya.
"Kembang
apinya sudah padam."
"...Ah, iya
benar."
Cahaya kembali
muncul di mata Hayasaka-san.
Aku mengambil
kembang api yang sudah usang itu, menyalakan yang baru, lalu memberikannya
padanya.
Di tengah
kegelapan malam, bunga api warna-warni memancarkan cahayanya. Cahaya yang
intens namun terasa menyedihkan itu tampak seperti perasaan kami yang mudah
berubah.
Aku menyukai
Tachibana-san.
Aku menyukai
Hayasaka-san.
Aku juga menyukai
Senior Yanagi.
Aku tidak ingin
menjalin cinta yang terkekang oleh norma masyarakat.
Aku tidak ingin
menjalin cinta yang dicela oleh orang lain.
Perasaan yang
muncul satu demi satu itu semuanya nyata, namun di sisi lain, sangat
kontradiktif.
Semuanya tidak
mungkin terwujud. Namun, perasaan ini tidak bisa dijelaskan.
Tapi kurasa,
itulah cinta, itulah manusia.
Banyak perasaan
yang meletup-letup, berubah warna, berubah bentuk, dan terbakar di sana-sini.
Itulah sebabnya tindakan dan keinginan orang yang sedang jatuh cinta menjadi
tidak konsisten, tidak logis, namun tetap bertahan dalam kontradiksi,
sampai-sampai jadi membingungkan.
Mungkin,
cinta yang konsisten dan logis tidak pernah ada di dunia ini.
Kami
hanyalah terbawa oleh perasaan nyata di hari itu, tersesat di sana-sini, merasa
bimbang, dan terkadang sampai melupakan perasaan asli kami, atau tidak sadar
bahwa perasaan kami telah berubah dari masa lalu dan akhirnya tertinggal.
Hayasaka-san pun
sama. Itulah kenapa dia bingung.
"Hayasaka-san,
maafkan aku. Aku ingin meminta maaf."
"Kenapa?"
"Kamu bukan
gadis yang seharusnya dijadikan kekasih kedua."
Kamu adalah gadis
yang seharusnya menjalani cinta yang murni.
Namun, aku malah
membiarkanmu melakukan ini dan membuatmu tidak stabil.
"Tidak
juga," Hayasaka-san menggeleng.
"Aku
bukan gadis baik. Saat kamu bilang ingin kita berpacaran sebagai sesama
'kekasih kedua' karena kamu juga tidak ingin melakukan hal yang murni, aku
justru merasa senang. Aku ini gadis yang buruk."
"Meskipun
begitu, Hayasaka-san yang sekarang sangat kebingungan. Kurasa kamu sendiri juga
tahu."
"Iya,
ya," Hayasaka-san menunduk dengan lesu.
"Apa yang
harus kulakukan?"
"Sepertinya
kamu harus menata perasaanmu kembali."
"Apa
Kirishima-kun sudah menata perasaanmu?"
"...Aku
sudah merelakan Tachibana-san."
Saat aku
mengatakan itu, Hayasaka-san menunjukkan wajah terkejut, lalu tampak sedikit
senang, namun segera berubah menjadi bingung.
"Eh? Apa aku
boleh senang? Rasanya tidak boleh, tapi rasanya senang..."
Matanya kembali
kosong.
"Maaf.
Rasanya, tidak bisa. Aku... aku kembali ke kamar dulu ya."
Setelah berkata
begitu, dia kembali ke dalam penginapan.
Aku bermain senko-hanabi
sendirian untuk beberapa saat.
Tak lama
kemudian, kembang apinya habis, dan kami semua mulai beres-beres.
"Kirishima,
aku bantu ya."
Senior
yang membawa ember mendekat dengan senyum yang mengembang.
"Ada
kabar baik?"
Saat aku
bertanya, Senior menggaruk hidungnya dengan malu-malu.
"Aku
merasa, meski hanya sedikit, aku sudah mulai akrab dengan Hikari-chan."
"Baguslah."
"Bagaimana
denganmu dan Hayasaka-chan, Kirishima? Kalian terlihat cukup akrab."
Tepat saat Senior bertanya, ponselku bergetar.
Aku melirik layarnya sekilas.
“Datanglah ke kamar.”
Itu pesan dari Hayasaka-san.
Aku menjawab Senior, tapi sambil tetap memperhatikan
Tachibana-san yang berada tidak jauh dari sana.
"Hubunganku dengan Hayasaka-san baik-baik saja. Malam ini, aku akan membicarakan
hal penting dengannya."
Suaraku
sengaja dikeraskan. Namun, Tachibana-san tetap fokus beres-beres dengan wajah
datar.
Meski
bilang sudah merelakan Tachibana-san, aku tetap mengharapkan reaksi darinya. Di
saat itulah, perasaan kontradiktif itu masih tersisa di dalam diriku. Itulah
kekuatan cinta.
Tapi, aku
ingin menempatkan segala sesuatu di tempat yang seharusnya.
◇
Karena bukan
musim liburan dan tidak ada tamu, penginapan memberikan satu kamar untuk dua
orang.
Pembagian
kamarnya adalah aku dengan Senior, Maki dengan Yamanaka-kun, Hayasaka-san
dengan Tachibana-san, serta Sakai dengan Miki-sensei.
Dengan kata lain,
kamar yang dimaksud Hayasaka-san adalah kamar yang ditempatinya bersama
Tachibana-san.
Namun,
Tachibana-san tidak ada karena sedang pergi jalan-jalan dengan Senior.
"Hayasaka-san."
"...Masuklah."
Hayasaka-san yang
mengenakan yukata sedang duduk sendirian di kursi lantai.
"Aku buatkan
teh, ya," Hayasaka-san menuangkan air panas ke teko untuk membuat teh
hijau.
Aku duduk di
depannya, lalu meminum teh dalam diam.
"Rasanya,
jadi tenang," ujar Hayasaka-san.
"Mari
lanjutkan pembicaraan tadi."
"Benar
juga."
Aku mengangguk,
lalu mengatakan apa yang ingin kusampaikan tadi.
"Aku sudah
merelakan Tachibana-san. Jadi..."
Mari menjadi
kekasih yang resmi.
Itulah tempat di
mana segala sesuatu seharusnya berada. Tachibana-san dengan Senior, aku
dengan Hayasaka-san. Itulah kombinasinya.
Namun, tepat sebelum aku mengucapkannya, Hayasaka-san
memotong.
"—Tidak boleh."
Nada suaranya lembut, namun menyimpan keinginan yang kuat.
"Karena itu
hanya bentuk kebaikan hatimu saja."
"Tapi,
memang benar aku menyukai Hayasaka-san."
"Aku tahu.
Tapi tidak boleh. Rasa suka itu, tidak cukup."
Dia bilang dia
sudah memikirkannya saat berada di kamar.
"Kalau
Kirishima-kun yang biasanya, kamu tidak akan menyerah sekarang. Karena Senior
dan Tachibana-san baru bertunangan, dan mereka bahkan belum berpegangan
tangan."
Apa yang
dikatakan Hayasaka-san benar. Jika dipikirkan secara rasional, ini belum
saatnya untuk menyerah.
Jika aku menyerah
sekarang, itu adalah cinta yang dramatis namun bersifat self-indulgent.
Menurutku, jauh lebih tulus jika bersabar dan menunggu kesempatan berikutnya.
Tidak
baik menjadi nekat saat berada dalam kesulitan.
Kebahagiaan
seharusnya ada di balik kesabaran dan ketenangan itu.
"Ini
salahku, ya," ujar Hayasaka-san.
"Karena aku
seperti ini, makanya kamu mencoba merelakan Tachibana-san, kan?"
Benar. Melihat
Hayasaka-san yang seolah hancur perlahan membuatku tidak sanggup lagi.
"Tapi, ini
juga salah Kirishima-kun."
"Salahku?"
"Hatiku
hancur karena Kirishima-kun. Tapi bukan karena kita hanya 'nomor dua'. Bukan
itu masalahnya."
"Lalu,
bagian mana dari diriku yang salah?"
"Kalau cinta
'nomor satu'-mu tidak terwujud, kita akan bersama, kan?"
"Iya,
benar."
"Tapi
Kirishima-kun, kalau cinta dengan Tachibana-san tidak terwujud, rasanya kamu
akan pergi entah ke mana."
Itulah yang
membuatnya cemas.
"Bahkan jika
kita menjadi kekasih resmi, sepertinya kamu akan terus memikirkan Tachibana-san
di dalam hatimu."
"Jadi
begitu yang kamu rasakan, ya."
"...Iya."
Setelah merelakan
Tachibana-san, bagaimana aku akan menjalani hari-hariku memikirkannya? Itu
masalah yang sulit bagiku pun.
"Rasanya aku
akan sendirian. Kirishima-kun, Senior, semuanya akan diambil oleh
Tachibana-san."
"Aku
menyukai Hayasaka-san."
"Kalau
begitu, buatlah aku percaya."
Hayasaka-san
berdiri.
Lalu dia berjalan
menuju futon yang sudah tergelar di lantai dan duduk di sana.
"Buat aku
percaya kalau saat cinta nomor satu itu tidak terwujud, kamu akan benar-benar
datang padaku. Buat aku tenang bahwa saat cintaku tidak terwujud, kamu akan
menjadi 'asuransi'-ku. Kalau begitu, aku akan bisa berusaha. Aku akan bisa
mengejar orang nomor satu yang aku sukai."
Dia merentangkan
kedua tangannya, memintaku untuk mendekat.
Ekspresi
Hayasaka-san tampak sangat kesepian. Aku pun berjalan ke atas futon dan memeluknya.
Karena
Hayasaka-san punya kebiasaan memeluk saat tidur, aku pikir itu akan menenangkan
perasaannya.
Namun.
Hayasaka-san
terus memelukku erat, lalu dia menjatuhkan diri ke belakang.
Posisinya jadi
seolah-olah aku yang mendorongnya jatuh.
"Hayasaka-san?"
"Hei
Kirishima-kun, kita ini pacaran, kan?"
"Iya."
"Kita ini
pacaran yang benar, kan?"
"Tentu
saja."
"Kalau
begitu, mari lakukan apa yang dilakukan orang lain."
Itu mungkin
sesuatu yang lebih dari sekadar berciuman.
"...Aku
ingin menjadi kekasih yang benar-benar."
Meskipun bagian
dada yukata-nya terbuka, Hayasaka-san tidak mencoba merapikannya.
"Aku juga,
tergantung situasi dan waktu, bisa kehilangan akal sehat."
"Aku ingin
kamu kehilangan akal sehat. Aku ingin kamu menunjukkan bahwa kamu benar-benar
menyukaiku."
Aku menelan
ludah.
'Nomor dua'
memang berharga, tapi ada 'nomor satu' di atasnya. Itulah kenapa aku membuat
aturan untuk hanya sebatas ciuman.
Namun,
dipikir-pikir sekarang, mungkin dengan tidak melakukan lebih, aku justru
membuat Hayasaka-san cemas. Menghadapi seorang gadis dengan sungguh-sungguh
mungkin artinya seperti ini, dan mungkin selama ini aku justru melarikan diri
dari hal itu.
"Apa kamu
yakin?"
"Iya,
yakin."
"Kalau kita
melakukan ini, mungkin ada sesuatu yang berubah secara drastis."
"Iya. Aku
bodoh, jadi mungkin nanti Kirishima-kun akan jadi nomor satuku."
Hayasaka-san
tersenyum dengan wajah yang tampak kesulitan.
Memang benar,
jika sudah melampaui batas, urutan rasa suka itu bisa saja tertukar.
Mungkin aku pun
bisa jadi begitu. Kalau diingat lagi, sepertinya aku secara tidak sadar
menghindari hal ini karena takut Tachibana-san tidak lagi menjadi yang nomor
satu.
"Kalau itu
terjadi, bolehkah aku memanjakan diri pada kebaikanmu nanti?"
"Tentu."
"Nanti kalau
aku jadi pacar nomor satu, aku akan jadi sangat 'berat', lho?"
"Tidak
apa-apa."
"...Kirishima-kun."
Dia
memejamkan mata dan mengangkat dagunya.
Aku
membiarkan tubuhku menyatu dengan Hayasaka-san, bersiap untuk berciuman. Aku mencoba meluapkan perasaan yang selama
ini kutahan ke tubuh Hayasaka-san. Aku merasakan suhu tubuhnya, detak
jantungnya, dan kelembutannya.
Tepat pada saat
itu.
Pintu kamar
tiba-tiba terbuka.
Kami berdua
terkejut dan melihat ke arah pintu. Aku berusaha mencari alasan, tapi orang
yang pertama kali membuka mulut adalah Tachibana-san.
"Sedang
apa kalian?"
Ucapnya
dengan ekspresi yang sedikit bingung.
"Itu,
futon milikku, lho."
◇
Aku dan
Hayasaka-san duduk dengan sopan di atas futon.
Tidak
jauh dari sana, Tachibana-san duduk dengan kaki yang tidak beraturan.
Canggung
sekali.
Timing-nya
buruk sekali, Tachibana-san kembali di saat yang tidak tepat, dan terjadilah
situasi seperti ini.
"Bukankah
kamu tadi bilang mau jalan-jalan dengan Senior?"
"Ada
seseorang yang mengatakan sesuatu seolah-olah ingin didengar olehku," ucap
Tachibana-san dengan wajah datar.
"Lagipula,
apa kamu menjalin hubungan seperti itu dengan Hayasaka-san?"
"Bukan
begitu," jawab Hayasaka-san tanpa ragu.
"Begitu,
ya."
"...Karena
aku punya orang lain yang aku sukai."
"Kalau
begitu, bukankah seharusnya kamu tidak melakukan hal seperti itu? Kalian tadi
mau berciuman, kan?"
Mendengar
kata-kata Tachibana-san, Hayasaka-san terdiam.
Lalu, setelah
jeda sejenak, dia menjawab, "Latihan."
"Aku
berlatih dengan Kirishima-kun."
"Cara
bicaramu seperti sudah sering melakukannya."
"Iya, aku
sering melakukannya. Karena
ini latihan. Berulang kali, berulang kali, aku sering melakukannya."
Mendengar
kata-kata provokatif itu, giliran Tachibana-san yang terdiam.
"Apa-apaan
itu," dia tampak jelas terlihat tidak senang.
Saat ini,
di kamar ini, emosi tajam yang sangat berbeda dari hubungan kami bertiga selama
ini sedang muncul.
Alasan
Hayasaka-san tentang 'latihan berpacaran' itu tidak buruk. Sepertinya dia
mencoba menjaga perasaan cinta 'nomor satu'-ku, mencoba mengurangi dampak
kerusakan karena kepergok sedang berciuman.
Namun, dia jelas
sedang menusuk perasaan Tachibana-san dengan kata-katanya.
Tachibana-san pun tidak tinggal diam.
"Yah, terserah Ketua mau berciuman dengan siapa
pun."
"Itu benar. Karena Tachibana-san sudah punya Senior
Yanagi, kan?"
Melalui kata-kata
dan tatapan mata, mereka berdua saling meluapkan emosi.
"Tapi tetap
saja, Hayasaka-san, kamu latihan berciuman, ya."
"Iya."
"Kalau aku,
tidak akan melakukannya hanya untuk latihan."
"Tachibana-san,
ternyata kamu kekanak-kanakan, ya."
Hayasaka-san
tampak lebih agresif dari biasanya. Dari sudut pandangnya, Senior Yanagi dan
aku seolah diambil oleh Tachibana-san, mungkin itu yang membuatnya bersikap
ofensif.
Tapi
Tachibana-san bukan tipe yang diam saja saat dikatai.
"Kalau
begitu, coba tunjukkan padaku kalian berciuman."
Tiba-tiba dia
berkata seperti itu.
"Eh?"
"Tunjukkan
padaku ciuman dengan Ketua. Bisa, kan?"
Bahkan
Hayasaka-san pun tampak terguncang mendengar itu.
Aku pun
tidak punya keinginan untuk menunjukkan ciumanku pada orang lain, jadi aku pun
bingung.
"Tachibana-san,
kamu tidak apa-apa melihat kami berciuman?" tanya Hayasaka-san sambil
tampak gelisah.
"Aku tidak
apa-apa. Seperti yang Hayasaka-san katakan, aku sudah punya tunangan. Ini sama
saja seperti belajar."
Dan lagi, lanjut
Tachibana-san, "Rasa sukaku hanya ada satu. Tidak ada dua atau tiga. Jadi, meski melihat orang lain berciuman, tidak
akan ada perasaan apa pun yang muncul. Karena aku tidak akan melakukan cinta
yang tidak setia."
Sebuah kalimat
dengan sindiran tajam.
Ekspresi
Hayasaka-san tidak berubah, tapi dia tampak sangat tersinggung.
"Kirishima-kun,
ayo lakukan."
Dia berkata
begitu, lalu berlutut dan mendekatkan wajahnya padaku.
"Tunggu
sebentar, Hayasaka-san."
"Karena
Tachibana-san ingin melihat, mari kita tunjukkan padanya."
"Tidak, ini
sudah keterlaluan..."
Aku menoleh ke
arah Tachibana-san. Suhu ekspresinya jauh lebih dingin dari biasanya.
"Ketua,
tunjukkan padaku. Kalian selalu melakukannya, kan?"
Ucapnya enteng.
Tidak ada celah bagi seorang pria untuk menyela di tengah benturan emosi dua
gadis ini.
Sebelum aku
sempat mengatakan apa pun lagi, Hayasaka-san mencengkeram kerah bajuku dengan
kedua tangannya.
Sudah tidak ada
jalan untuk melarikan diri.
"Tachibana-san,
lihatlah baik-baik, ya."
Hayasaka-san
menempelkan bibirnya ke bibirku.
Awalnya, ciuman
itu terasa ragu-ragu, seolah dia sadar tengah ditonton oleh seseorang. Namun,
saat Hayasaka-san melirik Tachibana-san dan mendapati ekspresinya tidak berubah
sedikit pun, dia mulai menekan bibirnya lebih agresif dan mengubah sudut ciuman
kami.
Ini bukan lagi
ciuman karena disaksikan orang lain, melainkan ciuman yang sengaja
dipertontonkan.
Tidak, bukan itu
juga.
Ini adalah ciuman
untuk memprovokasi Tachibana-san.
Aku pun
meresponsnya. Kupeluk Hayasaka-san erat dan kumasukkan lidahku ke dalam
mulutnya. Hayasaka-san tampak terkejut sesaat, tetapi segera membalas dengan
memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.
"Kirishima-kun,
beri aku air liurmu."
Hayasaka-san
sudah benar-benar lepas kendali, ekspresinya tampak begitu ekstasi.
Aku melirik ke
samping untuk mengintip reaksi Tachibana-san.
Aku ingin dia
cemburu.
Sambil terus
berciuman dengan Hayasaka-san, itulah yang kupikirkan.
Tachibana-san masih memasang wajah datar seperti biasanya. Tapi...
“Tunjukkan
lebih lagi.”
Matanya berbicara
seperti itu. Dan aku pun tersadar.
Tachibana-san
ingin merasa cemburu. Seperti yang selalu kulakukan saat aku terus
memperhatikan media sosialnya dulu...
Ciuman ini adalah
manifestasi perasaan kami bertiga di tempat ini.
Aku ingin
Tachibana-san merasakan apa yang kurasakan. Aku ingin dia merasa cemburu
padaku, seperti aku yang terus dihantui rasa cemburu. Seperti keinginanku untuk
merebutnya dari sang pacar selama ini, aku ingin Tachibana-san pun punya
keinginan untuk merebutku.
Di saat ini,
Hayasaka-san bukan sekadar "kekasih kedua". Sebagai kekasihku, dia
sedang memamerkan kemesraan ini di depan Tachibana-san. Dia sedang menyatakan
bahwa akulah kekasihnya, sekaligus melampiaskan semua perasaan terpendam yang
selama ini ia pikul. Mungkin ini juga bentuk balas dendam karena dia harus
menjadikan Senior, orang yang paling ia cintai, sebagai tunangannya.
Tachibana-san
meminta kami berciuman karena dia ingin menguji perasaannya sendiri. Dia memang
bengkok. Sekarang, meskipun dia menatap kami dengan wajah tanpa ekspresi,
jemarinya sedang memilin-milin helai rambutnya. Itu adalah salah satu dari
sedikit kebiasaan Tachibana-san yang muncul saat hatinya sedang tidak tenang.
Kami menghabiskan
waktu di mana emosi berputar layaknya badai, seolah kami sedang demam tinggi.
Dan ketika waktu
itu berlalu, orang pertama yang tersadar adalah Hayasaka-san.
"...Aku
benar-benar bodoh."
Entah karena malu
berciuman di depan orang lain, atau karena membenci diri sendiri karena telah
melampiaskannya pada Tachibana-san.
Wajah
Hayasaka-san memerah padam saat ia merapikan yukata-nya yang berantakan.
"Aku akan
pergi mendinginkan kepala sebentar."
Setelah berkata
begitu, dia hendak meninggalkan ruangan, lalu memanggil Tachibana-san.
"...Hal
seperti tadi, itu hanya karena aku yang memintanya secara sepihak.
Kirishima-kun hanya menemaniku latihan. Semuanya hanya karena aku yang
memaksakan diri, Kirishima-kun tidak salah apa-apa."
Tachibana-san
tidak menjawab.
Hayasaka-san
menunduk dalam, tidak sanggup mengangkat wajahnya.
"...Tachibana-san,
jangan coba-coba melakukan latihan seperti ini. Hal semacam ini hanya dilakukan
oleh gadis nakal."
Setelah itu, dia
melangkah cepat keluar dari ruangan.
Kini hanya
tersisa aku dan Tachibana-san.
Tachibana-san
mulai membuat teh dengan teko seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Ketua mau
juga?"
"Ah,
ya."
Suasananya
terlalu normal, sampai-sampai waktu yang baru saja berlalu terasa seperti
kebohongan.
Mungkin itu hanya
mimpi di tengah malam musim panas.
Setelah itu,
tanpa ada percakapan lebih lanjut, aku menghabiskan tehku dan bersiap kembali
ke kamarku.
"Kalau
begitu, aku permisi. Sampai jumpa besok."
Apa semua ini
akan dianggap tidak pernah terjadi? pikirku.
Biarkan malam
ini saja, anggap semua ini tidak pernah ada. Anggap ini hanya sebuah kesalahan.
Namun, tepat saat
aku berdiri, Tachibana-san mencengkeramku.
Aku kehilangan
keseimbangan dan jatuh terlentang. Tachibana-san ikut jatuh menimpaku, lalu
duduk di atas perutku sambil mencengkeram kerah bajuku dengan kedua tangannya.
"Aku merasa
sangat kesal."
Ucap
Tachibana-san dengan wajah serius.
Untuk pertama
kalinya, dia melepaskan emosinya; dia benar-benar marah.
Lalu,
Tachibana-san menciumku. Ciumannya begitu penuh tenaga sampai-sampai gigiku
melukai bagian dalam bibirku, menyebabkannya berdarah. Aku refleks menarik
diri.
Rasa darah
menyebar di dalam mulutku.
"Maaf. Tapi
aku tidak tahu bagaimana harus mengatur kekuatannya. Ini pertama kalinya, aku
belum pernah latihan atau semacamnya."
Sambil berkata
begitu, Tachibana-san menempelkan bibirnya lagi. Berulang kali, terus-menerus.
Itu adalah ciuman
yang menyakitkan.
Setelah puas
melampiaskan ciuman kasar itu, Tachibana-san bangkit duduk.
"Aku
merasa seperti gadis nakal."
Ekspresinya
tampak puas.
"Tachibana-san,
hal seperti ini tidak baik. Bagaimana dengan Senior Yanagi..."
"Cukup."
Tachibana-san
memotong kata-kataku.
"Sudahlah,
tidak perlu bahas itu lagi. Kalau kamu benar-benar memikirkan Yanagi-kun, kalau
kamu memang ingin menjauh dariku, seharusnya kamu tidak perlu mengambil gambar
film pendek seperti itu."
"Apa
maksudmu?"
"Percuma
saja berpura-pura tidak tahu. Kamu pasti menyadarinya."
Di tengah suasana
yang tidak bisa dibantah itu, aku terdiam.
Tachibana-san
menatap mataku lekat-lekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Suara
detak jam terdengar di ruangan.
Di tengah
waktu yang seolah terhenti itu, aku akhirnya menyerah.
"...Kamu
menggunakan teknik anagram."
Tachibana-san
tersenyum seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang berbuat nakal,
"Tuh kan, akhirnya tersampaikan juga."
Ya, film pendek itu mengandung pesan lain di dalamnya.
Itu adalah
pernyataan cinta dari Tachibana-san untukku.
Bukan untuk
Senior.
◇
Nama karakter
dalam naskah yang ditulis Tachibana-san semuanya terdengar sedikit aneh.
Kiriyama Kirinji,
Wakui Shea Butter, Tezukayama Beribou.
Jika ingin
menyembunyikan daun, sembunyikanlah di dalam hutan.
Hanya ada satu
nama yang benar-benar memiliki maksud tertentu.
Ishikura Morishi.
Jika
huruf-hurufnya disusun ulang—
Kirishima Shirou.
Di dalam cerita,
Tachibana-san menyatakan cinta pada Ishikura Morishi yang diperankan oleh
Senior.
"Aku
menyukai Ishikura Morishi. Apa pun yang terjadi, selamanya, aku akan selalu
menyukainya."
Karena diucapkan
dengan begitu serius, semua orang mengira itu adalah perasaan Tachibana-san
yang sebenarnya terhadap Senior Yanagi di dunia nyata. Namun, di telingaku,
kalimat itu terdengar seperti ini:
“Aku menyukai
Kirishima Shirou. Apa pun yang terjadi, selamanya, aku akan selalu
menyukainya.”
Dengan kata lain,
dia sedang menyatakan cinta padaku sambil berakting seolah-olah dia sedang
mencintai Senior.
Tachibana-san mungkin adalah seorang jenius dalam hal cinta.
◇
Tachibana-san masih duduk di atasku. Ekspresinya tampak
begitu senang.
"Shirou-kun,
kamu memang benar-benar mencintaiku, kan?"
Semua perasaanku
telah terbaca olehnya.
"Aku juga
mencintaimu sampai mati, Shirou-kun. Kamu tahu itu, kan? Seberapa pun dinginnya
aku padamu, seberapa pun akrabnya aku dengan Yanagi-kun, kamu tetap tenang,
kan? Kamu tidak pernah curiga sedikit pun, kan?"
Tachibana-san
mengusap tubuhku dengan kedua tangannya.
"Tidak boleh
melakukan ini, aku punya tunangan."
"Kamu masih
ingin menjadi kohai yang baik, ya."
"Tapi, sudah terlambat," ucap Tachibana-san.
"Jika kamu benar-benar memedulikan Yanagi-kun, jika
kamu memang ingin menolak perasaanku, seharusnya kamu tidak perlu merekam film
pendek itu. Setidaknya kamu seharusnya mengubah naskah atau nama karakternya.
Kamu tidak melakukannya karena jauh di lubuk hatimu, kamu menginginkanku. Kamu
ingin aku terus mencintaimu, bukan? Benar, kan? Hei, apakah kamu senang melihat
adegan itu? Apa kamu merasa senang
saat tahu kalau kamu dicintai lebih dari Senior?"
Aku merasa sangat
senang.
Ya ampun,
Tachibana-san benar-benar sosok yang merepotkan. Dia membongkar semua
kepura-puraanku dan menunjukkan segala kelicikan yang kusembunyikan di dasar
hatiku. Dan dia menerima diriku yang lemah itu apa adanya.
Saat itu, aku
dipenuhi oleh kesenangan yang luar biasa karena mendapatkan kasih sayang yang
begitu spesial dari Tachibana-san, sampai-sampai aku tidak memedulikan orang
lain lagi.
"Maaf karena
tadi kasar padamu."
Tachibana-san
menelusuri bibirku dengan jarinya.
"Aku
melakukannya dengan sengaja karena aku kesal."
"Aku sudah
menduganya."
"Boleh aku
melakukannya sekali lagi?"
Bahkan sebelum
aku menjawab, Tachibana-san sudah menempelkan bibirnya lagi.
Ciuman kali ini
terasa sangat lembut. Dimulai dari sentuhan tipis, lalu setelah bibir kami
menyatu, lidah Tachibana-san perlahan masuk.
Bagian dalam
kepalaku terasa mati rasa.
Tachibana-san
menjilati luka di bibirku yang tadi terkena giginya dengan lembut.
"Rasanya ada
darah."
"Ini tidak
sehat."
"Sudah
berapa kali kamu berciuman dengan Hayasaka-san?"
"Tak
terhitung jumlahnya."
"Menyebalkan."
Setelah itu, kami
berciuman berkali-kali.
Sampai-sampai
napas kami terengah-engah.
Saat dia
menjauhkan wajahnya, ekspresi Tachibana-san tampak sangat puas.
"Hei
Shirou-kun, apakah kamu menyukai Hayasaka-san?"
Saat menanyakan
itu, Tachibana-san entah mengapa menoleh ke arah pintu menuju lorong.
Tatapannya seolah menembus ke sisi lain pintu itu. Aku tidak bisa berkata
apa-apa.
"Ah,
sudahlah," Tachibana-san kembali menatapku.
"Baiklah.
Aku akan membiarkanmu mendapatkan apa pun yang kamu mau."
Ucap
Tachibana-san.
"Aku akan
tetap menjadi tunangan Yanagi-kun."
—Kamu tidak ingin
mengkhianati Senior yang kamu cintai, dan kamu tidak ingin mengambil tanggung
jawab menghancurkan keluargaku, kan?
"Dan
Shirou-kun, silakan tetap bersama Hayasaka-san."
—Kalau tidak,
Hayasaka-san akan hancur, dan kamu tidak ingin menjadi pria yang menyakiti hati
seorang gadis, kan?
"Kamu ingin
bermesraan dengan Senior yang kamu sukai, bersikap baik pada gadis yang
menyukaimu, dan sekaligus menjadikan gadis cinta pertamamu sebagai milikmu.
Benar, kan? Tidak perlu menyembunyikannya."
Keinginan egois
yang tidak mungkin bisa kuucapkan itu.
"Aku akan
mewujudkan semuanya. Bersikaplah manis pada Senior, bermesraanlah dengan
Hayasaka-san. Meski begitu, aku akan tetap menjadi milikmu. Aku akan tetap
tutup mulut."
Karena itu...
"Mari kita
lakukan banyak hal buruk secara sembunyi-sembunyi dari semua orang."
Terakhir,
Tachibana-san tersenyum ceria, mengangkat dua jarinya, dan berbisik.
"Tidak
apa-apa, aku tak masalah menjadi kekasih keduamu."
Bersambung…



Post a Comment