NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 3 Chapter 4.5

Chapter 21.5

Ujian Kelulusan Sakai Aya


Sepulang sekolah, aku sedang mengobrol di kamar Akane Hayasaka.

Karena Kirishima sedang sibuk dengan pekerjaan paruh waktunya, sepertinya Akane memanggilku untuk mengusir rasa sepi itu. Meski begitu, Akane adalah salah satu dari sedikit temanku, dan dia juga menyuguhkan teh serta camilan yang lezat, jadi kurasa itu bisa dimaafkan.

"Jadi, bagaimana dengan Yanagi-kun?"

"……Dia sering sekali meminta saran soal Tachibana-san. Aku tidak bisa bilang apa-apa, jadi aku hanya mendengarkannya saja."

Sepertinya Yanagi-kun sering menelepon Akane di malam hari. Saat membayangkan Akane yang sedang memakai piyama sehabis mandi, menelepon anak laki-laki yang disukainya dengan perasaan gugup, aku merasa dia sungguh menggemaskan.

"Sepertinya ada peluang, ya."

Bagi seorang pria, saat meminta saran percintaan, sering kali itu adalah langkah awal dengan maksud, "Kalau aku gagal cinta, boleh aku pergi ke arahmu saja?" Tentu saja, tidak selalu begitu, tapi yang pasti, dia memiliki kesan positif terhadapnya.

"Lalu, bagaimana dengan Kirishima?"

"Eh? A-a-apa!?"

Akane hampir menyemburkan teh dari cangkirnya. Akane menganggapku sebagai gadis yang suram dan tidak peka terhadap percintaan.

"Ke-kenapa tiba-tiba Kirishima-kun!? A-aku tidak bilang apa pun pada Aya-chan, kan?"

"Iya. Tapi kamu menyukainya, kan?"

"Ke-kenapa kamu bisa tahu~?"

"Eh, kamu pikir aku tidak tahu?"

Akane akhirnya menyerah dan menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi. Aku sedikit terkejut dengan isinya. Aku memang sudah tahu sampai tingkat tertentu, tapi tidak menyangka mereka sudah sampai pada tahap berbagi rahasia seperti itu.

"Tapi ya, aku rasa aku ingin lulus dari Kirishima-kun."

"Kenapa?"

"Soalnya, Kirishima-kun tidak memilihku. Percuma saja jika aku terus menyukainya. Tahu, kan, pepatah yang bilang kalau orang yang tidak datang saat ditunggu itu sama saja dengan orang yang sudah mati?"

"Omonganmu serem sekali?"

"Lagipula," lanjut Akane.

"Aku cuma menyusup paksa ke dalam hubungan antara Tachibana-san dan Kirishima-kun yang saling menyukai. Jadi, untuk saat ini perasaanku masih berantakan dan hanya bisa melakukan ini, tapi aku berpikir kalau aku harus segera lulus dari Kirishima-kun."

"Begitu ya? Kalau begitu, biar aku yang mengujimu. Kita lihat apakah kamu bisa benar-benar lulus atau tidak. Anggap saja ini ujian kelulusan."

"Kedengarannya menarik!"

Akane menunjukkan semangat yang misterius sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

"Kalau begitu, pinjam ponselmu."

"Untuk apa?"

"Menghapus alamat Kirishima."

"Ti-tidak boleh!!"

Akane memeluk ponselnya seolah melindunginya, lalu berkata, "Aku akan kesusahan kalau tidak bisa menghubunginya sekarang, itu buat nanti saja!" Yah, ada benarnya juga.

Kalau begitu, aku mengalihkan pandangan ke lembar survei rencana masa depan yang diletakkan di atas meja. Kolom untuk universitas negeri sains sudah dilingkari, tapi nama universitas spesifiknya belum diisi.

"Kalau tidak salah, Kirishima bilang dia ingin masuk universitas di Tokyo karena tidak mampu jika harus hidup mandiri……"

Aku mengambil pulpen dan menghadap ke meja.

"Akane-chan, pergilah ke universitas yang jauh."

Aku berkata begitu dan hendak menuliskan nama universitas di Kyoto. Namun──.

"Ti-tidak boleh!!"

Akane kembali melakukan perlawanan.

"Kalau pergi jauh, kalian tidak akan bertemu, jadi kamu pasti bisa segera melupakannya, kan?"

"Aku tidak akan lupa! Bukan begitu…… anu, e-ekonomiku juga tidak terlalu baik, jadi rasanya lebih baik jangan hidup mandiri, atau bagaimana ya……"

"……Begitu ya."

Saat aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, mataku tertuju pada gantungan kunci karakter game yang dipajang di atas rak buku. Itu monster yang lucu, tapi Akane tidak memainkan game tersebut.

"Itu apa?"

"Kirishima-kun yang mengambilkannya untukku di pusat permainan."

Detik berikutnya, aku meraih gantungan kunci itu dan berniat membuangnya ke tempat sampah. Namun, lenganku langsung dicengkeram oleh kedua tangan Akane sambil berteriak, "Jangan!!"

"Kenapa kamu melakukan hal jahat seperti itu!? Itu kan gantungan kunci kenang-kenangan dengan Kirishima-kun!?"

Dia mengatakan hal itu dengan wajah yang hampir menangis. Padahal tadi dia bilang ingin lulus darinya, apa dia sudah menjadi orang lain?

Aku mencoba mendekati bantalnya saat melihat tiket bioskop di sana, tapi Akane langsung mengerang "Fuguuu" dan memelukku, menjepitku dengan jurus full nelson.

Setelah itu, kami terus bergulat, tapi pada akhirnya aku merasa lelah di tengah jalan. Kami pun kembali duduk di kursi lantai dan menikmati waktu minum teh kami.

"……Akane-chan, kamu benar-benar berniat menyerah pada Kirishima?"

"A-aku berniat!"

Aku bertanya-tanya mulut siapa yang sebenarnya bicara, tapi sepertinya dia memang berusaha dengan caranya sendiri.

"Tahu tidak, aku kan tidak suka kalau dipandang dengan tatapan mesum oleh laki-laki……"

"Padahal tubuhmu seperti itu, ya."

"Aya-chan!"

Wajah Akane memerah padam. Aku hanya berkata "iya, iya" sambil memintanya melanjutkan cerita.

"Jadi, aku mulai bekerja paruh waktu di tempat yang banyak laki-lakinya untuk mengatasi rasa takut itu."

"Di mana?"

"Maid Cafe!"

"……Entah kenapa, itu terasa sangat klasik, ya."

"Ja-jangan bilang itu kuno!"

Bukankah tren masa kini lebih ke arah konsep kafe yang unik?

"Ta-tapi jangan salah paham. Aku juga memakai telinga anjing, lho."

"Apa kombinasi atribut itu benar?"

Sepertinya Akane belum memberi tahu Kirishima kalau dia bekerja di Maid Cafe.

"Aku merasa masih agak bergantung sedikit pada Kirishima-kun."

"Iya, sedikit sekali, ya."

"Karena aku selalu dibantu oleh Kirishima-kun, aku ingin mencoba menyelesaikannya sendiri. Aku tidak bisa terus-terusan bergantung selamanya."

Memang benar, jika Akane bisa menghilangkan rasa tidak nyamannya terhadap pria-pria yang menaruh harapan padanya, pilihan percintaannya mungkin akan meluas dan ketergantungannya pada Kirishima akan hilang.

"Tapi, apa perlu sampai segitiga itu?"

Aku meletakkan cangkir dan berdiri.

"Aku tidak merasa Akane-chan kalah dari Tachibana-san, kok."

"Eh?"

"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Aku lelah karena keributan tadi."

"Ma-maaf ya."

"Tidak apa-apa, sudah lama sekali sejak terakhir kali aku merasa sesenang ini."

Aku bersiap-siap untuk pulang, mengenakan mantel, dan hendak keluar kamar. Akane menarik lengan bajuku dan bertanya dengan ragu-ragu, "Nee-nee, Aya-chan."

"……Jadi, bagaimana hasil ujian kelulusan Kirishima-ku?"

Aku melakukan peregangan leher, lalu berteriak dengan suara lantang yang tidak seperti biasanya.

"TIDAK LULUS, TAU!!"



Previous Chapter | ToC | Nnext Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close