Chapter 18
Karena Lemah
Sepulang sekolah, aku berjalan pulang bersama Tachibana-san.
Napasnya mengepul putih di udara, dan pipinya tampak dingin.
Mantel pea coat abu-abu dengan syal kotak-kotak off-white
miliknya benar-benar cocok dengan suasana musim dingin.
Namun──.
"Tachibana-san, kamu lagi kesal, ya?"
"Kamu sadar juga, ternyata."
Tachibana-san tidak menatapku, ia mengatakannya dengan wajah
merajuk.
"Kita
kan pacaran, setidaknya gandengan tanganlah."
Sejak
tadi, Tachibana-san terus membenturkan tangannya yang ia masukkan ke dalam saku
mantel ke punggung tanganku yang berada di sampingnya.
"Ya, ini kan
jalanan pulang sekolah."
"Memangnya
kenapa? Tidak masalah, kan?"
"Apa aku
harus memasukkan tanganku ke saku mantelmu? Sempit, tahu."
"Justru
itu bakal lebih hangat."
"Bukankah
biasanya cewek yang masuk ke saku cowok?"
"Shirou-kun
kan tidak pakai mantel."
"Ya sudah,
nanti saja kalau aku sudah pakai mantel."
"Kamu keras
kepala sekali, sih."
Tachibana-san
mengangkat sebelah alisnya, lalu menabrakkan tubuhnya ke tubuhku seolah sedang
marah.
Aku mendorongnya
balik, dan kami pun saling bersinggungan dengan canggung.
"Ayo
gandengan tangan."
"Tunggu,
jangan terburu-buru."
"Tangan
Shirou-kun kelihatan dingin."
"Tenang
saja. Peredaran darahku lumayan lancar, kok."
"Aku
tidak suka caramu mencari alasan untuk menghindar."
"Tapi──."
Aku
menoleh ke belakang dan berucap.
"Ada
penontonnya, nih."
Sekumpulan
siswi kelas satu yang berjalan di belakang kami menatap ke arah sini dengan
wajah penuh rasa ingin tahu.
Suara
mereka yang antusias terdengar jelas.
"Tachibana-senpai
ternyata imut banget~"
"Mereka
masih tetap mesra seperti biasa, ya."
"Kira-kira
mereka bakal ciuman lagi nggak, ya?"
Ciuman panas dari
Tachibana-san setelah kami memenangkan kejuaraan pasangan di panggung festival
budaya benar-benar memberikan dampak yang besar.
Sekarang, hanya
dengan berjalan berdua saja, kami selalu jadi pusat perhatian dan bahan
pembicaraan.
"Kalau kita
pegangan tangan di sini, malu dong."
"Jangan
pedulikan hal seperti itu lagi sekarang."
"Bilang
sih begitu, tapi..."
"......Aku
mampir ke minimarket."
Mengetahui
aku tidak berniat menggandeng tangannya, suasana hati Tachibana-san makin
memburuk.
Demi menenangkan
suasana hatinya, aku membelikan Yukimi Daifuku kesukaannya di
minimarket.
Saat kami baru
keluar toko dan mulai berjalan, aku mencoba menyodorkannya, tapi Tachibana-san
tetap memasukkan tangannya ke saku dan tidak mau menerima.
Lalu, dengan
wajah cemberut, ia membuka mulutnya kecil-kecil.
"Enggak, itu
malah lebih memalukan daripada pegangan tangan......"
Aku
menoleh ke belakang lagi.
Karena
kumpulan siswi kelas satu itu juga mampir ke minimarket, mereka masih ada di
belakang kami, menatap ke arah sini dengan tatapan penuh harap.
"Ya sudah,
kalau begitu lupakan saja."
Tachibana-san
membuang muka.
"Kamu selalu
saja memedulikan pandangan orang lain."
"Maaf."
"Aku lebih
suka kalau kita bisa lebih santai dan apa adanya."
Memang benar,
dari sudut pandang Tachibana-san, situasi setengah-setengah seperti ini
bukanlah seleranya. Pada dasarnya, dia adalah gadis yang jujur dan bertindak
sesuai kata hatinya.
Aku telah membuat kepribadian Tachibana-san menjadi
terdistorsi.
"Yang salah
itu aku, ya."
Aku sedikit
merenung. Lalu, meski tidak bisa disebut sebagai tekad yang besar, aku membuat
keputusan kecil.
Aku menusuk Yukimi
Daifuku itu dengan tusukan plastik, lalu mendekatkannya ke mulut
Tachibana-san.
"Boleh?"
"Iya. Memang
benar, memikirkan pandangan orang sampai tidak bisa melakukan ini-itu itu
rasanya salah. Lagipula, aku lebih senang kalau Tachibana-san bisa tetap
menjadi dirinya sendiri."
"Kalau
begitu..."
Tachibana-san
membuka mulut kecilnya sembari sedikit merona.
"A~a."
"Iya,
a~a."
Aku menyuapkan Yukimi
Daifuku itu ke mulutnya. Kemudian, ia menyuapiku satu lagi dengan gerakan
"a~a".
Tentu saja,
reaksi "Kyaaa!" yang diharapkan langsung terdengar dari arah
belakang.
"Senang rasanya."
Tachibana-san tersenyum puas.
"Nah, sekarang mau pegangan tangan?"
Aku langsung memasukkan tanganku ke saku mantelnya.
Tachibana-san tampak terkejut, namun segera menggenggam
tanganku erat. Genggamannya jauh lebih kuat dari yang kubayangkan, dan aku tahu
dia sangat senang. Tapi──.
"Shirou-kun, mau lebih."
"Mau apa?"
"Aku sayang kamu."
Detik berikutnya, Tachibana-san menarik dasiku dengan tangan
yang satu lagi, menarik wajahku mendekat, lalu menciumku. Bibirnya yang dingin terkena udara musim
dingin menempel kuat di bibirku.
Sepasang
matanya yang sebening kelereng seolah berkata, hal seperti ini sudah wajar,
kan?
Dari belakang,
sorak-sorai penuh kegembiraan dari para siswi kelas satu membahana.
"Tachibana-san, kamu terlalu royal memberikan fanservice."
"Kalau
tidak sampai segininya, tidak seru."
"Dasar,
ini seperti drama saja."
Gadis
yang cantik, dan apa pun yang dilakukannya selalu terlihat indah. Dan──.
"Shirou-kun,
ayo lari."
Tiba-tiba saja
dia mengatakan itu. Saat kutanya alasannya, dia hanya menjawab, "Entahlah,
lagi pengen saja."
Tachibana-san
mengeluarkan tangannya dari saku, lalu mulai berlari sambil tetap menggenggam
tanganku.
Aku pun ikut
berlari. Entah kenapa, para siswi kelas satu di belakang kami juga ikut berlari
mengejar.
Seolah-olah
seorang sutradara film baru saja meneriakkan "Action!", teater masa
muda aku dan Tachibana-san mulai berputar layaknya pita film yang sedang
dimainkan.
◇
Sejak hari
berikutnya, Tachibana-san berhenti merasa sungkan. Dia menjadi pacar yang
benar-benar jujur dan totalitas.
Dia menungguku di
depan gerbang sekolah saat berangkat dan pulang, datang ke mejaku saat jam
istirahat, dan sering memakai baju olahraga milikku hingga dia terus-menerus
mencium aroma baju itu.
"Semuanya
bilang aku bodoh."
"Pacar yang
bucin, ya?"
"Iya."
Tachibana-san
mengangguk sambil tersenyum ceria.
"Apa aku
sebucin itu pada Shirou-kun?"
"Bagaimana
dengan dasi yang kamu pakai itu?"
"Punya
Shirou-kun."
"Tas yang
kamu gendong itu?"
"Punya
Shirou-kun."
"Sekarang
mau apa?"
"Mau
ciuman."
Kami mampir ke
kedai crepe sepulang sekolah dan memakannya di jalanan.
Tachibana-san
mengambil krim yang menempel di sudut bibirku dengan jarinya lalu menjilatnya,
kemudian tertawa puas.
Kami yang sudah
berlari ini tidak bisa dihentikan oleh siapa pun.
Kami berfoto di purikura,
memakai gantungan kunci pasangan, dan kalau bilang mau belajar bareng, kami
malah pergi ke McD dan akhirnya cuma mengobrol sepanjang waktu.
Saat kami
berboncengan sepeda dan berteriak "Waaa!" di sepanjang tanggul
sungai, masa muda kami terasa semakin terakselerasi.
Suasana hatiku
persis seperti lagu up-tempo dari band rock yang terngiang-ngiang di
dalam kepala.
Kami pergi ke
taman bermain dan naik bianglala, pergi ke kafe dan meminum kopi dengan krim
yang menumpuk seperti parfait, hingga pergi ke bursa buku bekas untuk
kencan yang terkesan sedikit intelektual.
"Hari ini
aku mau karaoke."
"Aku payah
kalau nyanyi, lho."
"Aku suka
kok suara nyanyian Shirou-kun."
Lalu, saat kami
benar-benar sampai di tempat karaoke, panggungnya justru dikuasai oleh
Tachibana-san yang pandai bermusik, sementara aku hanya memukul tamborin
sepanjang waktu.
Saat aku protes,
"Aku cuma jadi tukang tamborin, ya?", Tachibana-san tanpa alasan yang
jelas langsung memelukku dan bilang, "Suka."
Pada malam kami
pergi melihat hujan meteor, Tachibana-san menyelinap keluar dari apartemennya
tanpa sepengetahuan ibunya.
Dia
tampak sangat bersemangat, menjadikannya sosok pacar yang paling romantis dan
imut.
Lalu, sejak saat
itu, Tachibana-san mulai populer di kalangan siswi lain.
Dulu, dia punya
citra sulit didekati karena penampilannya yang keren.
Namun, setelah
panggung festival budaya, terungkap bahwa dia hanyalah gadis biasa yang sedang
jatuh cinta, sehingga semua orang mulai bersikap ramah padanya.
Teman-teman
siswi sering menggodanya dengan sebutan si cewek bucin.
"Aku
nggak terima."
Tachibana-san
berucap dari balik ponsel.
Malam
itu, aku sedang meneleponnya dari atas tempat tidur.
Tachibana-san
suka membiarkan sambungan telepon tetap aktif agar kami bisa saling
mendengarkan napas satu sama lain saat tertidur.
"Semuanya bilang aku cewek pencemburu. Padahal sama sekali tidak, tahu."
"Sakai
bilang dia jadi susah ngajak ngobrol Kirishima karena Tachibana-san terus
menatapnya dengan pandangan tajam."
"......"
Terdengar
suara gesekan dari seberang telepon. Aku bisa membayangkan Tachibana-san yang
meringkuk di dalam futon dengan pakaian tidur, memasang wajah merajuk.
"......Shirou-kun
yang salah karena membuatku cemburu."
"Gara-gara
aku?"
"Hari ini
pun, kamu kelihatan asyik mengobrol dengan cewek-cewek lain."
Belakangan ini,
siswi-siswi di kelasku sering sekali mendekatiku. Tapi──.
"Itu karena
mereka menunggu reaksimu, tahu."
Saat siswi lain
mengajakku bicara, Tachibana-san yang datang ke kelas akan melihatnya dari
kejauhan.
Saat siswi lain
menyenggol atau melakukan kontak fisik denganku, Tachibana-san yang sudah tak
tahan akan mendekat dan berkata dengan wajah cemas, "Padahal dia
Shirou-kun-ku...".
Teman-teman siswi
yang melihat sisi Tachibana-san yang berbeda dari biasanya akan kegirangan dan
berkata, "Imut banget~", lalu mengelus kepalanya untuk menenangkan.
Bagian itu sudah
jadi satu paket.
"Semuanya
jahat."
"Itu
tandanya kamu disayangi."
Meski begitu,
Tachibana-san masih tampak tidak terima.
"Kalau
begitu, bicara sama mereka boleh saja, tapi janji satu hal ya."
"Apa?"
"Jangan
biarkan cewek lain menyentuhmu. Saat melihat Shirou-kun bersentuhan dengan
cewek lain... dadaku terasa sesak... rasanya mau nangis."
Cara bicara
Tachibana-san yang terasa lebih serius dari biasanya membuat dadaku pun terasa
sesak.
"Oke, aku
mengerti."
Padahal kupikir
kalau aku terus menghindar dari godaan siswi-siswi itu, justru Tachibana-san
yang akan terus-terusan digoda.
"Ya sudah,
aku mau tidur."
"Selamat
tidur."
"Jangan
putuskan teleponnya, ya."
Tepat saat
Tachibana-san mengatakan itu, dia tiba-tiba berucap, "Eh, malam ini
ternyata harus diputus."
"Aku hampir
lupa. Hari ini kan giliran Hayasaka-san."
Suasana pacar
masa muda yang ceria telah hilang dari suara Tachibana-san, benar-benar kembali
ke sosoknya yang keren seperti dulu. Lalu, ia berkata dengan sangat tenang.
"Kamu ada di sana, kan? Hayasaka-san. Sekarang, di sana."
◇
Kenapa aku harus
berakhir menelepon Tachibana-san saat berada di dalam futon yang sama dengan
Hayasaka-san?
Alasannya kembali
ke kejadian sore itu.
Saat sepulang
sekolah.
"Hari ini
giliranku."
Begitu aku sampai
di ruang klub Riset Misteri di gedung sekolah lama, Hayasaka-san sedang duduk
di sofa.
"Sebenarnya
ini jatah Tachibana-san, tapi sepertinya dia sibuk latihan karena kompetisi
piano sudah dekat."
Jadi, dia meminta
tukar jadwal denganku, lanjut Hayasaka-san.
"Maaf ya, tiba-tiba begini. Aku memutuskan sepihak tanpa bertanya dulu."
Setelah
mengatakan itu, Hayasaka-san berucap "Ah," lalu tersenyum canggung.
"Eh,
bukankah aku tidak perlu meminta maaf?"
"Ya.
Bersikaplah lebih tegas. Hadapi saja."
"Hmm, iya
ya. Benar juga."
Setelah
mengangguk, Hayasaka-san berucap dengan nada sedikit jenaka.
"Kirishima-kun,
apa aturan mengenai aku dan Tachibana-san?"
"Mutlak."
Itulah perjanjian
di antara kami bertiga.
Hari itu, saat
festival budaya, hubungan "terlarang" antara aku dan Tachibana-san
terbongkar.
Dan reaksi
Hayasaka-san setelah mengetahui segalanya sungguh di luar dugaan.
"Mari kita
bagi."
Dia mengusulkan
agar aku dibagi antara Hayasaka-san dan Tachibana-san.
Dan Tachibana-san
pun menyetujuinya. Aku tidak mengerti apa yang dirasakan oleh kedua gadis itu.
Bagaimanapun, untuk pembagian ini, Hayasaka-san dan
Tachibana-san membuat empat aturan.
Pertama,
Kirishima Shirou harus menuruti perkataan Hayasaka Akane dan Tachibana Hikari.
Kedua, Hayasaka
Akane dan Tachibana Hikari harus berbagi Kirishima Shirou secara adil.
Ketiga, Hayasaka
Akane dan Tachibana Hikari tidak boleh saling mendahului.
Keempat, jika ada
yang melanggar, akan ada penalti dan penalti itu wajib dilaksanakan.
Aku tidak
memiliki hak untuk menolak. Sejak hari terakhir festival budaya, aku menjadi
pacar salah satu dari mereka pada hari yang telah ditentukan.
Hari ini
sebenarnya adalah jatah Tachibana-san, namun berubah menjadi jatah
Hayasaka-san.
"Jadi, kita
mau melakukan apa?" tanya Hayasaka-san.
"Pertama,
kita harus putuskan mau pergi ke mana."
Karena aku dan
Tachibana-san sudah diakui oleh semua orang sebagai pasangan resmi, setiap kali
aku melakukan sesuatu dengan Hayasaka-san, kami harus menghindari perhatian
orang. Belakangan ini, kami pergi berkencan ke tempat yang jauh agar tidak
bertemu siswa sekolah yang sama. Namun──.
"Hari ini,
aku ingin di sekolah saja."
"Mumpung
hari ini jatah Kirishima-kun jadi pacarku. Waktu perjalanan itu sayang sekali.
Aku ingin bersama selama mungkin."
"Ya sudah,
kalau tempatnya di sini, terus mau ngapain?"
"Main
game."
"Game
apa?"
"Berjalan
memutari gedung sekolah sambil berpegangan tangan."
Tunggu, tunggu,
tunggu──.
"Meski sudah
pulang sekolah, masih banyak siswa yang tertinggal, tahu?"
"Iya, sih.
Kalau ada yang melihat, aku bakal jadi gadis jahat yang menggoda cowok milik
orang lain. Tachibana-san kan lagi populer banget di antara para siswi, kalau
ketahuan, aku pasti bakal dihujat habis-habisan."
Dan aku pun akan
dihujat lebih parah sebagai cowok tukang selingkuh.
"Makanya ini
disebut game."
Hayasaka-san
berucap ceria dengan ekspresi polos.
"Kita
berusaha agar tidak ketahuan. Berjalan memutari gedung sambil merasa deg-degan."
"Bukan
begitu, tapi......"
"Tenang
saja, kalau situasinya sudah gawat, aku akan segera melepaskan tanganmu."
Kalau begitu,
mungkin itu cukup aman. Saat aku sedang menyimulasikan hal itu di kepala,
Hayasaka-san memasang senyum jahil.
"Hei
Kirishima-kun, apa aturan mengenai aku dan Tachibana-san?"
"Mutlak."
"Ehehe. Aku
suka bagian dirimu yang seperti itu, Kirishima-kun."
◇
Aku berjalan
menyusuri gedung sekolah sambil berpegangan tangan dengan Hayasaka-san. Namun,
tidak ada ruang bagiku untuk menikmati sensasi itu.
Setiap kali suara
siswa yang sedang beraktivitas klub terdengar dari lapangan, aku merasa gugup
memikirkan apakah mereka bisa melihat kami dari sana atau tidak.
"Kirishima-kun,
sudah paham aturannya?"
"Tenang
saja. Ayo cepat selesaikan."
Aturan yang
dibuat Hayasaka-san sederhana.
Sekolah kami
memiliki gedung baru dan gedung lama, dengan koridor penghubung yang terletak
di sisi timur dan barat. Kami hanya boleh berpegangan tangan di lantai dua.
Dengan kata lain, kami mulai dari ruang klub Riset Misteri di gedung lama,
menyentuh pintu kelas di ujung setiap gedung, dan berjalan memutar membentuk
persegi.
"Gampang,
kan? Hampir tidak ada orang di gedung lama."
"Sebagai
gantinya, aku naikkan tingkat kesulitannya satu level, ya."
"Ehehe."
Hayasaka-san
menunduk malu. Atas usulnya, satu aturan ditambahkan.
"Aturannya
adalah harus berciuman di tengah koridor penghubung."
"Soalnya,
kalau tidak begitu──"
Saat kami sedang
membicarakan hal itu.
Seorang siswa
laki-laki keluar dari kelas yang berada tepat di depan kami.
"A-a-a-a,
bagaimana ini, Kirishima-kun!"
"Tenang,
matanya buruk. kacamatanya tidak pas ukurannya."
Siswa itu sempat
menoleh ke arah sini, namun tidak menunjukkan reaksi apa pun dan berbelok di
koridor sebelumnya.
"Hayasaka-san,
kalau segugup itu, kenapa harus main game begini?"
"Soalnya......"
Hayasaka-san
memasang wajah merajuk.
"Aku juga
ingin sekali saja merasakan menjadi pacar di sekolah. Aku ingin merasakan
menjadi pacar siswa SMA biasa dengan Kirishima-kun."
Kalau sudah
mendengar itu, aku tidak mungkin menolak.
Hayasaka-san
selama ini terus memandangi teater masa muda aku dan Tachibana-san yang sudah
diakui sekolah.
"Bukan cuma
lantai dua, kita ke lantai satu juga, yuk?"
"Boleh?"
Ekspresi
Hayasaka-san menjadi ceria.
"Ya. Hal
seperti itu, tidak masalah."
"Iya! Terima
kasih, Kirishima-kun!"
Aku menarik
tangan Hayasaka-san dan mulai berjalan.
Saat terlihat ada
kemungkinan tatapan dari jendela luar, kami berjalan sejajar dengan jarak agar
terlihat seperti sekadar berjalan berdampingan meski tetap berpegangan tangan.
Saat ada tatapan dari depan, kami berjalan maju-mundur dan menyembunyikan tangan
yang saling menggenggam di belakang.
"Hebat,
hebat banget kamu, Kirishima-kun!"
Hayasaka-san
mendekat dengan gembira.
"Hei,
sekarang ini sudah bukan level berpegangan tangan lagi, tahu!"
Bukannya
sekadar bergandengan, dia hampir memelukku. Payudaranya menjepit siku lenganku,
paha kami menempel erat, dan dia menempelkan wajahnya begitu dekat sampai
embusan napas hangatnya terasa menembus seragamku.
"Kalau
tidak sedikit menjaga jarak, kita tidak akan bisa mengelabui orang lain."
"Ayo
cepat lewat koridor penghubungnya~"
"Dia
sama sekali tidak mendengarkan."
Aku
menyeretnya sampai ke koridor penghubung, bersembunyi di balik bayangan pilar,
dan melakukan ciuman misi. Aku memeluk bahu Hayasaka-san dan menempelkan bibir
selama beberapa detik──.
"Oke,
ayo pergi."
Namun──.
"Enggak,
masih mau lagi......"
Hanya
dengan ciuman singkat, Hayasaka-san tidak mau melepaskanku.
Matanya
berkaca-kaca, pipinya memerah, dan dia benar-benar sudah masuk ke mode itu.
Agar aku
tidak bisa kabur, Hayasaka-san berjinjit, melingkarkan tangannya di tengkukku,
dan berciuman seolah sedang terengah-engah. Kalau sudah begini, aku tidak punya
pilihan. Lidah Hayasaka-san yang panas dan basah masuk ke dalam mulutku. Saat
aku membalas lilitan lidahnya, Hayasaka-san menghisapnya dengan kuat.
Karena dia
menempel erat, aku bisa merasakan suhu tubuh dan kelembutan tubuhnya.
"Aku suka ini...... Kirishima-kun, aku suka
kamu......"
Akhirnya, setelah
berciuman lebih dari lima menit, Hayasaka-san melepaskanku.
Saat bibir kami
terlepas, benang saliva tipis membentang. Embusan napas putih Hayasaka-san
terasa sangat lembap.
"Jangan
keterusan menikmati situasi berbahaya seperti ini."
"Ehehe."
Hayasaka-san
tersenyum puas.
Setelah memutari
lantai satu, akhirnya kami memasuki bagian lurus di lantai dua gedung baru.
"Soal
kejadian saat jam istirahat tadi, aku mendengarnya, lho."
Saat istirahat
siang, di belakang kelas, para siswi sedang membicarakan tipe pria idaman
mereka.
Saat giliran
Hayasaka-san, dia berteriak lantang.
"Aku suka
Kirishima-kun!"
Aku
kaget, tapi semua orang justru terlihat lega. Karena Kirishima Shirou adalah
milik Tachibana Hikari, jawaban Hayasaka-san dianggap sebagai metode ala idol
untuk menghindari pertanyaan dengan menyukai sosok yang mustahil dimiliki. Itu
adalah apa yang diharapkan semua orang, dan Hayasaka-san tetap menjadi ikon
kemurnian di kelas.
"Saat
menolak pernyataan cinta orang lain pun, kamu selalu membawa-bawa namaku,
kan?"
Maksudnya, setiap
kali dia dipanggil seseorang untuk ditembak, dia selalu menjawab seperti itu.
"Maaf ya.
Aku sudah ada orang lain yang kusukai."
"Siapa?"
"Kirishima-kun."
"Ah,
pacarnya Tachibana-san itu ya... ya sudah, setidaknya aku tahu kamu tidak ada
niat berpacaran denganku."
Kira-kira seperti
itu.
"Hal seperti
itu tidak baik, tahu."
"Habisnya,
itu kan kenyataan."
Lagi pula, tambah Hayasaka-san dengan wajah cemberut.
"Aku pun
ingin mengatakan dengan jelas kalau aku menyukai orang yang kusukai."
"Hayasaka-san......"
Saat kami
membicarakan hal itu, kami sampai di ujung gedung baru. Dan tepat saat aku
hendak menyentuh pintu kelas terakhir.
"Hayasaka-san,
ini gawat."
Seseorang
hendak keluar dari balik pintu itu. Suara percakapan dan tanda pintu yang
hendak terbuka terdengar jelas dari balik kaca buram.
"Ini
benar-benar tidak bisa. Aku akan melepaskanmu."
Jika
berpapasan langsung, tidak ada lagi yang bisa ditutupi.
Namun──.
"Enggak
mau."
"Tunggu,
Hayasaka-san!?"
"Aku tidak
mau melepaskan tangan Kirishima-kun."
Hayasaka-san
menggenggam tanganku kuat-kuat dan tidak mau beranjak dari sana.
"Ini gawat,
tahu."
"Aku juga
pacar Kirishima-kun. Aku juga menyukaimu. Aku juga serius."
"Bukan
begitu, masalah kita jadi 'berbagi' ini semua karena kesalahanku, dan aku
berniat melakukan apa pun demi kalian berdua, tapi hal ini kurasa tidak akan
baik bagi Hayasaka-san..."
Tentu saja tidak
ada waktu untuk berdebat, pintu terbuka tanpa ampun.
Dan orang yang
keluar dari kelas itu adalah──.
Seorang wanita
dewasa yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Di sana,
Hayasaka-san berseru kaget.
"I-ibu?"
Ah, benar juga,
hari ini adalah hari konsultasi tiga pihak. Hayasaka-san pasti melupakannya,
tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu.
"Akane,
cowok yang di sebelah itu siapa?"
Ibu Hayasaka-san
bertanya sambil menatap tangan kami yang bertautan.
"I-ibu, itu,
anu, ini, anu, anu──."
Hayasaka-san
menjawab dengan mata yang berputar-putar panik.
"P-p-p-pacar!
Pacarku, Kirishima-kun! Kami sedang berpacaran!"
Kalau sudah
begini, aku juga tidak punya pilihan lain.
"Halo, saya
Kirishima Shirou, pacarnya. Salam kenal."
◇
Selebihnya
terjadi dalam sekejap mata.
Bertemu dengan ibu Hayasaka-san. Diundang ke apartemennya.
Makan malam bersama. Karena mengobrol terlalu lama, hari sudah larut. Akhirnya
aku menginap. Meminjam seragam olahraga ayah yang sedang bertugas di luar kota.
Tidur di tempat tidur kamar kakak perempuannya yang sudah pindah rumah setelah
bekerja. Hayasaka-san yang memakai piyama menyelinap keluar dari kamarnya dan
masuk ke tempat tidur tempatku berbaring. Ada panggilan masuk dari
Tachibana-san. Begitulah, situasi canggung tercipta di mana aku menelepon
Tachibana-san sambil tidur seranjang dengan Hayasaka-san.
"Terima
kasih ya sudah mau datang."
Ucap
Hayasaka-san sambil memelukku. Dia berada di bawah bantal, seluruh kepalanya
tersembunyi di dalam futon, dan menempelkan wajahnya di dadaku.
"Aku rasa
Ibu senang karena aku sudah punya pacar."
"Tapi,
apakah tidak apa-apa?"
Hubungan aku dan
Tachibana-san adalah rahasia umum.
"Mungkin
nanti dia mendengar macam-macam dari teman-temannya."
"Bisa
diatasi kok. Tinggal bilang saja kalau Kirishima-kun sudah putus dengan
Tachibana-san."
Hayasaka-san
mengeluarkan wajahnya dari futon dan berucap.
"Tachibana-san,
tidak apa-apa, kan?"
"Tidak
apa-apa."
Jawab Tachibana-san dari balik ponsel.
Untuk menjaga keadilan dalam pembagian, mereka sering
melakukan pertukaran informasi seperti ini. Sepertinya banyak aturan yang
mereka buat, tapi hanya sedikit yang diberitahukan padaku.
"Aku tidak mau mengganggu, aku tutup teleponnya
ya."
Namun, Tachibana-san tampak ragu dan bicara dengan
terbata-bata.
"......Itu, Hayasaka-san."
"Tenang saja."
Jawab Hayasaka-san.
"Aturan dilarang mendahului, aku mengerti kok."
"......Ya sudah, selamat tidur."
Suara dari ponsel menghilang.
Detik berikutnya, Hayasaka-san mencoba membuka ritsleting
seragam olahragaku di dalam futon.
"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, tahan sebentar,
Hayasaka-san."
"Apa?"
"Barusan, Tachibana-san bilang soal aturan dilarang
mendahului──."
"Itu artinya kita dilarang melakukan hubungan fisik
terakhir antara pacar biasa. Kalau sampai titik sebelum itu, semuanya boleh,
tahu?"
"Hah, benarkah!?"
Sepertinya ada kesepakatan yang dibuat di belakangku.
"Tapi,
tumben sekali Tachibana-san mengizinkannya. Padahal kalaupun dibilang tidak
sampai 'terakhir', dia sendiri terlalu malu untuk melakukan apa pun."
"Aku tidak
bisa pergi ke rumah keluarga Kirishima-kun, kan?"
Tachibana-san
sudah datang ke rumahku lebih dulu dan akrab dengan ibuku sebagai pacarku.
Sebagai gantinya, Hayasaka-san setidaknya sudah tidak bisa masuk ke rumahku
dengan status pacar.
"Jadi itu
yang dikorbankan oleh Tachibana-san?"
"Ya."
Jadi, tambah
Hayasaka-san sambil menempelkan bibirnya ke dadaku.
"Mari kita
lakukan semuanya sampai batas terakhir."
"Tapi
ibu tidur di kamar sebelah, kan?"
"Tenang
saja, dia kalau sudah tidur tidak akan bangun sampai pagi."
"Lagipula,
melakukan hal seperti ini di kamar kakakmu..."
"Sudahlah,
lupakan hal itu."
Tatapan mata
Hayasaka-san menjadi kosong.
"Kenapa kamu
bicara hal biasa seperti itu? Kita sudah sampai di tahap berbagi, kan? Kenapa
cuma Kirishima-kun yang berusaha tetap tenang?"
"......Maaf."
"Bukan
berarti aku ingin kamu minta maaf. Aku tidak berniat menyalahkanmu."
Sambil berkata
begitu, Hayasaka-san mulai melepas kancing piyamanya.
"Waktu itu,
kamu tidak mau melakukannya denganku, kan? Tapi itu karena Tachibana-san ada di
dalam lemari, kan?"
"Ya."
"Bukan
karena aku gadis yang tidak menarik, kan? Bukan berarti Kirishima-kun tidak menyukaiku sama
sekali, kan?"
"Tentu
saja tidak."
"Kalau
begitu buktikan padaku. Kalau tidak, aku benar-benar tidak mengerti. Kata-kata saja sudah tidak bisa aku
percayai. Aku baru saja memendekkan rokku, tahu. Supaya semua orang lebih
memperhatikanku."
"Hal seperti
itu, tidak baik."
"Iya, sih.
Aku hanya merasa tidak nyaman karena dilihat dengan tatapan menjijikkan. Tapi
kalau tidak begitu, aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah Kirishima-kun
merasakan pesonaku atau tidak."
"Aku
merasakan pesonamu, Hayasaka-san."
"Kalau
begitu tunjukkan. Sentuh aku, buat aku yakin bahwa aku bukan gadis yang tidak
berharga."
Ditambah lagi, ucap Hayasaka-san.
"Apa
aturan mengenai aku dan Tachibana-san?"
"Mutlak."
Baiklah.
Saat pembagian ini dimulai, aku sudah memutuskan untuk melakukan apa pun yang
mereka inginkan sebagai penebusan dosa atas situasi yang menyimpang ini.
Aku melepaskan
akal sehatku dan meletakkan tangan di dada Hayasaka-san.
"Ah."
Hayasaka-san
mengeluarkan napas manis.
Dari balik
piyama, aku merasakan keberadaan putingnya. Begitulah. Aku sudah menyadarinya
sejak dia masuk ke kamar. Piyama merah muda tipis itu, Hayasaka-san tidak
memakai bra di dalamnya.
Saat aku mengusap
putingnya dengan jari, mata Hayasaka-san yang tadinya kosong mulai berkaca-kaca
dan ekspresinya meleleh.
"Kirishima-kun......"
Dia segera
bermanja dan mendongakkan dagunya.
Aku mencium
bibirnya yang berisi, sengaja mengeluarkan suara kecipak saliva. Entah karena
suaranya, suhu tubuh Hayasaka-san meningkat drastis. Aku pun ikut terangsang
oleh tubuhnya yang berkeringat.
Aku meraba
gundukan besar di tanganku dari balik kain piyama yang lembut. Dengan satu
genggamanku, bentuknya berubah secara menarik, dan tubuh Hayasaka-san bereaksi
dengan cara yang menarik juga. Putingnya menonjol hingga terlihat dari balik
kain, dan kulitnya mulai transparan karena keringat. Kelembapan di dalam futon
meningkat.
"Kirishima-kun...... aku suka kamu,
Kirishima-kun......"
Kami melepas
pakaian satu sama lain, hanya menyisakan pakaian dalam, lalu berpelukan.
"Aku suka
ini. Aku bisa merasakan suhu tubuh Kirishima-kun."
"Hayasaka-san
juga sangat hangat."
Di malam
musim dingin yang dingin, berpelukan dengan kulit yang saling bersentuhan di
dalam tempat tidur terasa istimewa. Aku benar-benar bisa merasakan bahwa aku
tidak sendirian. Ekspresi Hayasaka-san terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.
Aku
menyentuh kulit Hayasaka-san yang panas. Bahu, punggung, pinggang, aku
merasakan gairah di bagian yang hanya tertutup satu lapis pakaian dalam. Kami berusaha menempel lebih erat dengan
memasukkan kaki di antara paha.
"Kirishima-kun,
ini......"
"Itu,
maksudku, maaf."
"Tidak,
cowok memang akan jadi seperti ini, kan? Karena Kirishima-kun merasakan pesonaku, makanya jadi seperti ini,
kan?"
"Iya."
"Aku
senang!"
Hayasaka-san
memelukku erat dan mencium leher serta tulang selangkaku.
"Kirishima-kun
boleh melakukan apa saja padaku. Selama tidak sampai 'akhir', gunakanlah
tubuhku sesukamu. Hei, gunakan sesukamu. Kalau kamu bergairah, lampiaskan
padaku, hei, lampiaskan."
Mendengar
itu, aku menindih Hayasaka-san dan menyentuh dadanya. Hayasaka-san mengerang.
Aku menjilat kulitnya yang mulus. Hayasaka-san menempelkan pinggulnya pada
milikku dan mengeluarkan suara jeritan tertahan.
"Hayasaka-san,
suaranya."
"Iya."
Hayasaka-san
meraih tangan kiriku, memasukkan jari telunjukku ke mulutnya, dan mulai
menjilatnya seperti dot. Dengan begitu, dia membungkam mulutnya sendiri. Saat
aku memberi stimulasi pada putingnya, Hayasaka-san merintih dan menghisap jari
telunjukku dengan kuat.
Setiap kali aku
melakukan sesuatu, tubuh Hayasaka-san menjadi semakin panas dan lunak.
Aku mencoba
menjepit lidahnya yang basah oleh saliva dengan jariku.
Hayasaka-san,
dengan ekspresi yang sudah benar-benar meleleh, mengeluarkan suara yang tidak
berbentuk saat dia membiarkanku melakukan apa saja.
Aku menggunakan
tangan yang bebas untuk menyentuh pakaian dalam Hayasaka-san. Bagian itu sudah
sangat panas dan basah, bahkan dari balik pakaian dalam.
"Tidak
apa-apa, aku tidak keberatan diperlakukan seperti mainan oleh
Kirishima-kun."
Aku memasukkan
tangan ke dalam pakaian dalam. Bagian itu sudah sangat basah, jadi hanya dengan
menempelkan jari di lekukannya, jariku bergerak meluncur dengan halus.
Segera, suara desiran air yang vulgar mulai terdengar.
"Tidak mau...... memalukan...... aku tidak tahu
malu......"
Sambil berkata begitu, Hayasaka-san menghisap jariku dengan
kuat, mengeluarkan napas manis, dan mengangkat pinggulnya untuk menekan bagian
itu ke jariku.
Pinggul Hayasaka-san gemetar kecil. Hisapannya pada jariku semakin kuat. Suara air
terdengar semakin intens, interval kejangnya semakin pendek──sambil menekan
wajahnya ke bantal, Hayasaka-san menghentakkan seluruh tubuhnya.
Aku senang karena
gadis ini menyerahkan segalanya padaku.
Hayasaka-san
memerah padam, air liur menetes dari sudut mulutnya, dan tubuhnya lemas. Sosok
itu tampak begitu erotis sampai aku terangsang, lalu menindihnya dengan masuk
di antara kakinya.
Karena
Hayasaka-san sudah benar-benar siap, dia mengangkat pinggulnya dan menekannya
ke milikku.
Kami
menekan milik kami dengan naluri dari balik pakaian dalam.
"Jangan
sampai 'akhir' ya, ini janji dengan Tachibana-san."
"Aku
tahu."
"Tapi aku ingin...... aku ingin memberikan semuanya
pada Kirishima-kun......"
"Aku juga
menginginkan Hayasaka-san."
Tapi
bagaimanapun, janji dengan Tachibana-san itu besar bagi kami, sebagai gantinya
kami berciuman.
"Masukkan,
masukkan ke dalam diriku."
Aku memasukkan
lidahku ke dalam mulut Hayasaka-san.
"Buat
lebih intens, lebih, lebih lagi."
Tindakan
kompensasi.
Hayasaka-san
menghisap lidahku yang keluar masuk dengan kuat sampai menimbulkan suara.
Pakaian
dalam kami berdua semakin basah. Hayasaka-san memelukku erat dari bawah,
menempelkan mulutnya ke bahuku seolah hendak menggigit. Lalu──.
"Kirishima-kun...... ini, luar biasa,
Kirishima-kun...... luar biasa, Kirishima-kun, Kirishima-kun!"
Hayasaka-san
menghentakkan pinggulnya berkali-kali mengikuti ritme.
Dan setelah
mencium Hayasaka-san yang kembali lemas, aku mengulangi hal yang sama.
Saat suhu tubuh
kami mendingin, hari sudah pagi.
"A-aku ganti
pakaian dalam dulu ya."
Hayasaka-san
berucap dengan malu-malu, menutupi ekspresinya dengan poni.
"Satu lagi,
kita harus mencuci seprai sebelum ketahuan ibu."
Setelah
Hayasaka-san keluar kamar, aku mengulurkan tangan ke ponsel di dekat bantal.
Aduh, aduh.
"Tachibana-san, tidak memutus teleponnya?"
"............"
Ada jeda sejenak, lalu suara Tachibana-san terdengar.
"Selamat pagi, Shirou-kun. Karena aku tertidur, aku
tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya aku membiarkan teleponnya tetap
tersambung."
Kami berdua pasti
punya banyak hal untuk dikatakan, tapi karena kami tidak tidur semalaman,
pikiran kami tidak tertata dengan baik. Namun, aku menanyakan satu hal yang
sudah lama ingin kutanyakan.
"Apa ini
tidak apa-apa?"
"Apa?"
"Soal
pembagian ini."
Waktu itu,
Tachibana-san menyetujui usulan pembagian dari Hayasaka-san. Tapi karena itu
permintaan Hayasaka-san, seharusnya Tachibana-san bisa menolaknya. Namun──.
"Aku tidak
mungkin membiarkan Kirishima-kun memilih salah satu di sana."
"Kenapa?"
"Kamu pasti
akan memilih Hayasaka-san. Karena Kirishima-kun itu baik hati──."
Setelah
mengatakan itu, Tachibana-san mengoreksinya dengan berkata, "Bukan
begitu."
Kamu pasti akan
memilih Hayasaka-san. Karena──.
"Karena
Kirishima-kun itu lemah."



Post a Comment