NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 3 Chapter 1

Chapter 18

Karena Lemah


Sepulang sekolah, aku berjalan pulang bersama Tachibana-san.

Napasnya mengepul putih di udara, dan pipinya tampak dingin.

Mantel pea coat abu-abu dengan syal kotak-kotak off-white miliknya benar-benar cocok dengan suasana musim dingin.

Namun──.

"Tachibana-san, kamu lagi kesal, ya?"

"Kamu sadar juga, ternyata."

Tachibana-san tidak menatapku, ia mengatakannya dengan wajah merajuk.

"Kita kan pacaran, setidaknya gandengan tanganlah."

Sejak tadi, Tachibana-san terus membenturkan tangannya yang ia masukkan ke dalam saku mantel ke punggung tanganku yang berada di sampingnya.

"Ya, ini kan jalanan pulang sekolah."

"Memangnya kenapa? Tidak masalah, kan?"

"Apa aku harus memasukkan tanganku ke saku mantelmu? Sempit, tahu."

"Justru itu bakal lebih hangat."

"Bukankah biasanya cewek yang masuk ke saku cowok?"

"Shirou-kun kan tidak pakai mantel."

"Ya sudah, nanti saja kalau aku sudah pakai mantel."

"Kamu keras kepala sekali, sih."

Tachibana-san mengangkat sebelah alisnya, lalu menabrakkan tubuhnya ke tubuhku seolah sedang marah.

Aku mendorongnya balik, dan kami pun saling bersinggungan dengan canggung.

"Ayo gandengan tangan."

"Tunggu, jangan terburu-buru."

"Tangan Shirou-kun kelihatan dingin."

"Tenang saja. Peredaran darahku lumayan lancar, kok."

"Aku tidak suka caramu mencari alasan untuk menghindar."

"Tapi──."

Aku menoleh ke belakang dan berucap.

"Ada penontonnya, nih."

Sekumpulan siswi kelas satu yang berjalan di belakang kami menatap ke arah sini dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Suara mereka yang antusias terdengar jelas.

"Tachibana-senpai ternyata imut banget~"

"Mereka masih tetap mesra seperti biasa, ya."

"Kira-kira mereka bakal ciuman lagi nggak, ya?"

Ciuman panas dari Tachibana-san setelah kami memenangkan kejuaraan pasangan di panggung festival budaya benar-benar memberikan dampak yang besar.

Sekarang, hanya dengan berjalan berdua saja, kami selalu jadi pusat perhatian dan bahan pembicaraan.

"Kalau kita pegangan tangan di sini, malu dong."

"Jangan pedulikan hal seperti itu lagi sekarang."

"Bilang sih begitu, tapi..."

"......Aku mampir ke minimarket."

Mengetahui aku tidak berniat menggandeng tangannya, suasana hati Tachibana-san makin memburuk.

Demi menenangkan suasana hatinya, aku membelikan Yukimi Daifuku kesukaannya di minimarket.

Saat kami baru keluar toko dan mulai berjalan, aku mencoba menyodorkannya, tapi Tachibana-san tetap memasukkan tangannya ke saku dan tidak mau menerima.

Lalu, dengan wajah cemberut, ia membuka mulutnya kecil-kecil.

"Enggak, itu malah lebih memalukan daripada pegangan tangan......"

Aku menoleh ke belakang lagi.

Karena kumpulan siswi kelas satu itu juga mampir ke minimarket, mereka masih ada di belakang kami, menatap ke arah sini dengan tatapan penuh harap.

"Ya sudah, kalau begitu lupakan saja."

Tachibana-san membuang muka.

"Kamu selalu saja memedulikan pandangan orang lain."

"Maaf."

"Aku lebih suka kalau kita bisa lebih santai dan apa adanya."

Memang benar, dari sudut pandang Tachibana-san, situasi setengah-setengah seperti ini bukanlah seleranya. Pada dasarnya, dia adalah gadis yang jujur dan bertindak sesuai kata hatinya.

Aku telah membuat kepribadian Tachibana-san menjadi terdistorsi.

"Yang salah itu aku, ya."

Aku sedikit merenung. Lalu, meski tidak bisa disebut sebagai tekad yang besar, aku membuat keputusan kecil.

Aku menusuk Yukimi Daifuku itu dengan tusukan plastik, lalu mendekatkannya ke mulut Tachibana-san.

"Boleh?"

"Iya. Memang benar, memikirkan pandangan orang sampai tidak bisa melakukan ini-itu itu rasanya salah. Lagipula, aku lebih senang kalau Tachibana-san bisa tetap menjadi dirinya sendiri."

"Kalau begitu..."

Tachibana-san membuka mulut kecilnya sembari sedikit merona.

"A~a."

"Iya, a~a."

Aku menyuapkan Yukimi Daifuku itu ke mulutnya. Kemudian, ia menyuapiku satu lagi dengan gerakan "a~a".

Tentu saja, reaksi "Kyaaa!" yang diharapkan langsung terdengar dari arah belakang.

"Senang rasanya."

Tachibana-san tersenyum puas.

"Nah, sekarang mau pegangan tangan?"

Aku langsung memasukkan tanganku ke saku mantelnya.

Tachibana-san tampak terkejut, namun segera menggenggam tanganku erat. Genggamannya jauh lebih kuat dari yang kubayangkan, dan aku tahu dia sangat senang. Tapi──.

"Shirou-kun, mau lebih."

"Mau apa?"

"Aku sayang kamu."

Detik berikutnya, Tachibana-san menarik dasiku dengan tangan yang satu lagi, menarik wajahku mendekat, lalu menciumku. Bibirnya yang dingin terkena udara musim dingin menempel kuat di bibirku.

Sepasang matanya yang sebening kelereng seolah berkata, hal seperti ini sudah wajar, kan?

Dari belakang, sorak-sorai penuh kegembiraan dari para siswi kelas satu membahana.

"Tachibana-san, kamu terlalu royal memberikan fanservice."

"Kalau tidak sampai segininya, tidak seru."

"Dasar, ini seperti drama saja."

Gadis yang cantik, dan apa pun yang dilakukannya selalu terlihat indah. Dan──.

"Shirou-kun, ayo lari."

Tiba-tiba saja dia mengatakan itu. Saat kutanya alasannya, dia hanya menjawab, "Entahlah, lagi pengen saja."

Tachibana-san mengeluarkan tangannya dari saku, lalu mulai berlari sambil tetap menggenggam tanganku.

Aku pun ikut berlari. Entah kenapa, para siswi kelas satu di belakang kami juga ikut berlari mengejar.

Seolah-olah seorang sutradara film baru saja meneriakkan "Action!", teater masa muda aku dan Tachibana-san mulai berputar layaknya pita film yang sedang dimainkan.

Sejak hari berikutnya, Tachibana-san berhenti merasa sungkan. Dia menjadi pacar yang benar-benar jujur dan totalitas.

Dia menungguku di depan gerbang sekolah saat berangkat dan pulang, datang ke mejaku saat jam istirahat, dan sering memakai baju olahraga milikku hingga dia terus-menerus mencium aroma baju itu.

"Semuanya bilang aku bodoh."

"Pacar yang bucin, ya?"

"Iya."

Tachibana-san mengangguk sambil tersenyum ceria.

"Apa aku sebucin itu pada Shirou-kun?"

"Bagaimana dengan dasi yang kamu pakai itu?"

"Punya Shirou-kun."

"Tas yang kamu gendong itu?"

"Punya Shirou-kun."

"Sekarang mau apa?"

"Mau ciuman."

Kami mampir ke kedai crepe sepulang sekolah dan memakannya di jalanan.

Tachibana-san mengambil krim yang menempel di sudut bibirku dengan jarinya lalu menjilatnya, kemudian tertawa puas.

Kami yang sudah berlari ini tidak bisa dihentikan oleh siapa pun.

Kami berfoto di purikura, memakai gantungan kunci pasangan, dan kalau bilang mau belajar bareng, kami malah pergi ke McD dan akhirnya cuma mengobrol sepanjang waktu.

Saat kami berboncengan sepeda dan berteriak "Waaa!" di sepanjang tanggul sungai, masa muda kami terasa semakin terakselerasi.

Suasana hatiku persis seperti lagu up-tempo dari band rock yang terngiang-ngiang di dalam kepala.

Kami pergi ke taman bermain dan naik bianglala, pergi ke kafe dan meminum kopi dengan krim yang menumpuk seperti parfait, hingga pergi ke bursa buku bekas untuk kencan yang terkesan sedikit intelektual.

"Hari ini aku mau karaoke."

"Aku payah kalau nyanyi, lho."

"Aku suka kok suara nyanyian Shirou-kun."

Lalu, saat kami benar-benar sampai di tempat karaoke, panggungnya justru dikuasai oleh Tachibana-san yang pandai bermusik, sementara aku hanya memukul tamborin sepanjang waktu.

Saat aku protes, "Aku cuma jadi tukang tamborin, ya?", Tachibana-san tanpa alasan yang jelas langsung memelukku dan bilang, "Suka."

Pada malam kami pergi melihat hujan meteor, Tachibana-san menyelinap keluar dari apartemennya tanpa sepengetahuan ibunya.

Dia tampak sangat bersemangat, menjadikannya sosok pacar yang paling romantis dan imut.

Lalu, sejak saat itu, Tachibana-san mulai populer di kalangan siswi lain.

Dulu, dia punya citra sulit didekati karena penampilannya yang keren.

Namun, setelah panggung festival budaya, terungkap bahwa dia hanyalah gadis biasa yang sedang jatuh cinta, sehingga semua orang mulai bersikap ramah padanya.

Teman-teman siswi sering menggodanya dengan sebutan si cewek bucin.

"Aku nggak terima."

Tachibana-san berucap dari balik ponsel.

Malam itu, aku sedang meneleponnya dari atas tempat tidur.

Tachibana-san suka membiarkan sambungan telepon tetap aktif agar kami bisa saling mendengarkan napas satu sama lain saat tertidur.

"Semuanya bilang aku cewek pencemburu. Padahal sama sekali tidak, tahu."

"Sakai bilang dia jadi susah ngajak ngobrol Kirishima karena Tachibana-san terus menatapnya dengan pandangan tajam."

"......"

Terdengar suara gesekan dari seberang telepon. Aku bisa membayangkan Tachibana-san yang meringkuk di dalam futon dengan pakaian tidur, memasang wajah merajuk.

"......Shirou-kun yang salah karena membuatku cemburu."

"Gara-gara aku?"

"Hari ini pun, kamu kelihatan asyik mengobrol dengan cewek-cewek lain."

Belakangan ini, siswi-siswi di kelasku sering sekali mendekatiku. Tapi──.

"Itu karena mereka menunggu reaksimu, tahu."

Saat siswi lain mengajakku bicara, Tachibana-san yang datang ke kelas akan melihatnya dari kejauhan.

Saat siswi lain menyenggol atau melakukan kontak fisik denganku, Tachibana-san yang sudah tak tahan akan mendekat dan berkata dengan wajah cemas, "Padahal dia Shirou-kun-ku...".

Teman-teman siswi yang melihat sisi Tachibana-san yang berbeda dari biasanya akan kegirangan dan berkata, "Imut banget~", lalu mengelus kepalanya untuk menenangkan.

Bagian itu sudah jadi satu paket.

"Semuanya jahat."

"Itu tandanya kamu disayangi."

Meski begitu, Tachibana-san masih tampak tidak terima.

"Kalau begitu, bicara sama mereka boleh saja, tapi janji satu hal ya."

"Apa?"

"Jangan biarkan cewek lain menyentuhmu. Saat melihat Shirou-kun bersentuhan dengan cewek lain... dadaku terasa sesak... rasanya mau nangis."

Cara bicara Tachibana-san yang terasa lebih serius dari biasanya membuat dadaku pun terasa sesak.

"Oke, aku mengerti."

Padahal kupikir kalau aku terus menghindar dari godaan siswi-siswi itu, justru Tachibana-san yang akan terus-terusan digoda.

"Ya sudah, aku mau tidur."

"Selamat tidur."

"Jangan putuskan teleponnya, ya."

Tepat saat Tachibana-san mengatakan itu, dia tiba-tiba berucap, "Eh, malam ini ternyata harus diputus."

"Aku hampir lupa. Hari ini kan giliran Hayasaka-san."

Suasana pacar masa muda yang ceria telah hilang dari suara Tachibana-san, benar-benar kembali ke sosoknya yang keren seperti dulu. Lalu, ia berkata dengan sangat tenang.

"Kamu ada di sana, kan? Hayasaka-san. Sekarang, di sana."




Kenapa aku harus berakhir menelepon Tachibana-san saat berada di dalam futon yang sama dengan Hayasaka-san?

Alasannya kembali ke kejadian sore itu.

Saat sepulang sekolah.

"Hari ini giliranku."

Begitu aku sampai di ruang klub Riset Misteri di gedung sekolah lama, Hayasaka-san sedang duduk di sofa.

"Sebenarnya ini jatah Tachibana-san, tapi sepertinya dia sibuk latihan karena kompetisi piano sudah dekat."

Jadi, dia meminta tukar jadwal denganku, lanjut Hayasaka-san.

"Maaf ya, tiba-tiba begini. Aku memutuskan sepihak tanpa bertanya dulu."

Setelah mengatakan itu, Hayasaka-san berucap "Ah," lalu tersenyum canggung.

"Eh, bukankah aku tidak perlu meminta maaf?"

"Ya. Bersikaplah lebih tegas. Hadapi saja."

"Hmm, iya ya. Benar juga."

Setelah mengangguk, Hayasaka-san berucap dengan nada sedikit jenaka.

"Kirishima-kun, apa aturan mengenai aku dan Tachibana-san?"

"Mutlak."

Itulah perjanjian di antara kami bertiga.

Hari itu, saat festival budaya, hubungan "terlarang" antara aku dan Tachibana-san terbongkar.

Dan reaksi Hayasaka-san setelah mengetahui segalanya sungguh di luar dugaan.

"Mari kita bagi."

Dia mengusulkan agar aku dibagi antara Hayasaka-san dan Tachibana-san.

Dan Tachibana-san pun menyetujuinya. Aku tidak mengerti apa yang dirasakan oleh kedua gadis itu.

Bagaimanapun, untuk pembagian ini, Hayasaka-san dan Tachibana-san membuat empat aturan.

Pertama, Kirishima Shirou harus menuruti perkataan Hayasaka Akane dan Tachibana Hikari.

Kedua, Hayasaka Akane dan Tachibana Hikari harus berbagi Kirishima Shirou secara adil.

Ketiga, Hayasaka Akane dan Tachibana Hikari tidak boleh saling mendahului.

Keempat, jika ada yang melanggar, akan ada penalti dan penalti itu wajib dilaksanakan.

Aku tidak memiliki hak untuk menolak. Sejak hari terakhir festival budaya, aku menjadi pacar salah satu dari mereka pada hari yang telah ditentukan.

Hari ini sebenarnya adalah jatah Tachibana-san, namun berubah menjadi jatah Hayasaka-san.

"Jadi, kita mau melakukan apa?" tanya Hayasaka-san.

"Pertama, kita harus putuskan mau pergi ke mana."

Karena aku dan Tachibana-san sudah diakui oleh semua orang sebagai pasangan resmi, setiap kali aku melakukan sesuatu dengan Hayasaka-san, kami harus menghindari perhatian orang. Belakangan ini, kami pergi berkencan ke tempat yang jauh agar tidak bertemu siswa sekolah yang sama. Namun──.

"Hari ini, aku ingin di sekolah saja."

"Mumpung hari ini jatah Kirishima-kun jadi pacarku. Waktu perjalanan itu sayang sekali. Aku ingin bersama selama mungkin."

"Ya sudah, kalau tempatnya di sini, terus mau ngapain?"

"Main game."

"Game apa?"

"Berjalan memutari gedung sekolah sambil berpegangan tangan."

Tunggu, tunggu, tunggu──.

"Meski sudah pulang sekolah, masih banyak siswa yang tertinggal, tahu?"

"Iya, sih. Kalau ada yang melihat, aku bakal jadi gadis jahat yang menggoda cowok milik orang lain. Tachibana-san kan lagi populer banget di antara para siswi, kalau ketahuan, aku pasti bakal dihujat habis-habisan."

Dan aku pun akan dihujat lebih parah sebagai cowok tukang selingkuh.

"Makanya ini disebut game."

Hayasaka-san berucap ceria dengan ekspresi polos.

"Kita berusaha agar tidak ketahuan. Berjalan memutari gedung sambil merasa deg-degan."

"Bukan begitu, tapi......"

"Tenang saja, kalau situasinya sudah gawat, aku akan segera melepaskan tanganmu."

Kalau begitu, mungkin itu cukup aman. Saat aku sedang menyimulasikan hal itu di kepala, Hayasaka-san memasang senyum jahil.

"Hei Kirishima-kun, apa aturan mengenai aku dan Tachibana-san?"

"Mutlak."

"Ehehe. Aku suka bagian dirimu yang seperti itu, Kirishima-kun."

Aku berjalan menyusuri gedung sekolah sambil berpegangan tangan dengan Hayasaka-san. Namun, tidak ada ruang bagiku untuk menikmati sensasi itu.

Setiap kali suara siswa yang sedang beraktivitas klub terdengar dari lapangan, aku merasa gugup memikirkan apakah mereka bisa melihat kami dari sana atau tidak.

"Kirishima-kun, sudah paham aturannya?"

"Tenang saja. Ayo cepat selesaikan."

Aturan yang dibuat Hayasaka-san sederhana.

Sekolah kami memiliki gedung baru dan gedung lama, dengan koridor penghubung yang terletak di sisi timur dan barat. Kami hanya boleh berpegangan tangan di lantai dua. Dengan kata lain, kami mulai dari ruang klub Riset Misteri di gedung lama, menyentuh pintu kelas di ujung setiap gedung, dan berjalan memutar membentuk persegi.

"Gampang, kan? Hampir tidak ada orang di gedung lama."

"Sebagai gantinya, aku naikkan tingkat kesulitannya satu level, ya."

"Ehehe."

Hayasaka-san menunduk malu. Atas usulnya, satu aturan ditambahkan.

"Aturannya adalah harus berciuman di tengah koridor penghubung."

"Soalnya, kalau tidak begitu──"

Saat kami sedang membicarakan hal itu.

Seorang siswa laki-laki keluar dari kelas yang berada tepat di depan kami.

"A-a-a-a, bagaimana ini, Kirishima-kun!"

"Tenang, matanya buruk. kacamatanya tidak pas ukurannya."

Siswa itu sempat menoleh ke arah sini, namun tidak menunjukkan reaksi apa pun dan berbelok di koridor sebelumnya.

"Hayasaka-san, kalau segugup itu, kenapa harus main game begini?"

"Soalnya......"

Hayasaka-san memasang wajah merajuk.

"Aku juga ingin sekali saja merasakan menjadi pacar di sekolah. Aku ingin merasakan menjadi pacar siswa SMA biasa dengan Kirishima-kun."

Kalau sudah mendengar itu, aku tidak mungkin menolak.

Hayasaka-san selama ini terus memandangi teater masa muda aku dan Tachibana-san yang sudah diakui sekolah.

"Bukan cuma lantai dua, kita ke lantai satu juga, yuk?"

"Boleh?"

Ekspresi Hayasaka-san menjadi ceria.

"Ya. Hal seperti itu, tidak masalah."

"Iya! Terima kasih, Kirishima-kun!"

Aku menarik tangan Hayasaka-san dan mulai berjalan.

Saat terlihat ada kemungkinan tatapan dari jendela luar, kami berjalan sejajar dengan jarak agar terlihat seperti sekadar berjalan berdampingan meski tetap berpegangan tangan. Saat ada tatapan dari depan, kami berjalan maju-mundur dan menyembunyikan tangan yang saling menggenggam di belakang.

"Hebat, hebat banget kamu, Kirishima-kun!"

Hayasaka-san mendekat dengan gembira.

"Hei, sekarang ini sudah bukan level berpegangan tangan lagi, tahu!"

Bukannya sekadar bergandengan, dia hampir memelukku. Payudaranya menjepit siku lenganku, paha kami menempel erat, dan dia menempelkan wajahnya begitu dekat sampai embusan napas hangatnya terasa menembus seragamku.

"Kalau tidak sedikit menjaga jarak, kita tidak akan bisa mengelabui orang lain."

"Ayo cepat lewat koridor penghubungnya~"

"Dia sama sekali tidak mendengarkan."

Aku menyeretnya sampai ke koridor penghubung, bersembunyi di balik bayangan pilar, dan melakukan ciuman misi. Aku memeluk bahu Hayasaka-san dan menempelkan bibir selama beberapa detik──.

"Oke, ayo pergi."

Namun──.

"Enggak, masih mau lagi......"

Hanya dengan ciuman singkat, Hayasaka-san tidak mau melepaskanku.

Matanya berkaca-kaca, pipinya memerah, dan dia benar-benar sudah masuk ke mode itu.

Agar aku tidak bisa kabur, Hayasaka-san berjinjit, melingkarkan tangannya di tengkukku, dan berciuman seolah sedang terengah-engah. Kalau sudah begini, aku tidak punya pilihan. Lidah Hayasaka-san yang panas dan basah masuk ke dalam mulutku. Saat aku membalas lilitan lidahnya, Hayasaka-san menghisapnya dengan kuat.

Karena dia menempel erat, aku bisa merasakan suhu tubuh dan kelembutan tubuhnya.

"Aku suka ini...... Kirishima-kun, aku suka kamu......"

Akhirnya, setelah berciuman lebih dari lima menit, Hayasaka-san melepaskanku.

Saat bibir kami terlepas, benang saliva tipis membentang. Embusan napas putih Hayasaka-san terasa sangat lembap.

"Jangan keterusan menikmati situasi berbahaya seperti ini."

"Ehehe."

Hayasaka-san tersenyum puas.

Setelah memutari lantai satu, akhirnya kami memasuki bagian lurus di lantai dua gedung baru.

"Soal kejadian saat jam istirahat tadi, aku mendengarnya, lho."

Saat istirahat siang, di belakang kelas, para siswi sedang membicarakan tipe pria idaman mereka.

Saat giliran Hayasaka-san, dia berteriak lantang.

"Aku suka Kirishima-kun!"

Aku kaget, tapi semua orang justru terlihat lega. Karena Kirishima Shirou adalah milik Tachibana Hikari, jawaban Hayasaka-san dianggap sebagai metode ala idol untuk menghindari pertanyaan dengan menyukai sosok yang mustahil dimiliki. Itu adalah apa yang diharapkan semua orang, dan Hayasaka-san tetap menjadi ikon kemurnian di kelas.

"Saat menolak pernyataan cinta orang lain pun, kamu selalu membawa-bawa namaku, kan?"

Maksudnya, setiap kali dia dipanggil seseorang untuk ditembak, dia selalu menjawab seperti itu.

"Maaf ya. Aku sudah ada orang lain yang kusukai."

"Siapa?"

"Kirishima-kun."

"Ah, pacarnya Tachibana-san itu ya... ya sudah, setidaknya aku tahu kamu tidak ada niat berpacaran denganku."

Kira-kira seperti itu.

"Hal seperti itu tidak baik, tahu."

"Habisnya, itu kan kenyataan."

Lagi pula, tambah Hayasaka-san dengan wajah cemberut.

"Aku pun ingin mengatakan dengan jelas kalau aku menyukai orang yang kusukai."

"Hayasaka-san......"

Saat kami membicarakan hal itu, kami sampai di ujung gedung baru. Dan tepat saat aku hendak menyentuh pintu kelas terakhir.

"Hayasaka-san, ini gawat."

Seseorang hendak keluar dari balik pintu itu. Suara percakapan dan tanda pintu yang hendak terbuka terdengar jelas dari balik kaca buram.

"Ini benar-benar tidak bisa. Aku akan melepaskanmu."

Jika berpapasan langsung, tidak ada lagi yang bisa ditutupi.

Namun──.

"Enggak mau."

"Tunggu, Hayasaka-san!?"

"Aku tidak mau melepaskan tangan Kirishima-kun."

Hayasaka-san menggenggam tanganku kuat-kuat dan tidak mau beranjak dari sana.

"Ini gawat, tahu."

"Aku juga pacar Kirishima-kun. Aku juga menyukaimu. Aku juga serius."

"Bukan begitu, masalah kita jadi 'berbagi' ini semua karena kesalahanku, dan aku berniat melakukan apa pun demi kalian berdua, tapi hal ini kurasa tidak akan baik bagi Hayasaka-san..."

Tentu saja tidak ada waktu untuk berdebat, pintu terbuka tanpa ampun.

Dan orang yang keluar dari kelas itu adalah──.

Seorang wanita dewasa yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Di sana, Hayasaka-san berseru kaget.

"I-ibu?"

Ah, benar juga, hari ini adalah hari konsultasi tiga pihak. Hayasaka-san pasti melupakannya, tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu.

"Akane, cowok yang di sebelah itu siapa?"

Ibu Hayasaka-san bertanya sambil menatap tangan kami yang bertautan.

"I-ibu, itu, anu, ini, anu, anu──."

Hayasaka-san menjawab dengan mata yang berputar-putar panik.

"P-p-p-pacar! Pacarku, Kirishima-kun! Kami sedang berpacaran!"

Kalau sudah begini, aku juga tidak punya pilihan lain.

"Halo, saya Kirishima Shirou, pacarnya. Salam kenal."

Selebihnya terjadi dalam sekejap mata.

Bertemu dengan ibu Hayasaka-san. Diundang ke apartemennya. Makan malam bersama. Karena mengobrol terlalu lama, hari sudah larut. Akhirnya aku menginap. Meminjam seragam olahraga ayah yang sedang bertugas di luar kota. Tidur di tempat tidur kamar kakak perempuannya yang sudah pindah rumah setelah bekerja. Hayasaka-san yang memakai piyama menyelinap keluar dari kamarnya dan masuk ke tempat tidur tempatku berbaring. Ada panggilan masuk dari Tachibana-san. Begitulah, situasi canggung tercipta di mana aku menelepon Tachibana-san sambil tidur seranjang dengan Hayasaka-san.

"Terima kasih ya sudah mau datang."

Ucap Hayasaka-san sambil memelukku. Dia berada di bawah bantal, seluruh kepalanya tersembunyi di dalam futon, dan menempelkan wajahnya di dadaku.

"Aku rasa Ibu senang karena aku sudah punya pacar."

"Tapi, apakah tidak apa-apa?"

Hubungan aku dan Tachibana-san adalah rahasia umum.

"Mungkin nanti dia mendengar macam-macam dari teman-temannya."

"Bisa diatasi kok. Tinggal bilang saja kalau Kirishima-kun sudah putus dengan Tachibana-san."

Hayasaka-san mengeluarkan wajahnya dari futon dan berucap.

"Tachibana-san, tidak apa-apa, kan?"

"Tidak apa-apa."

Jawab Tachibana-san dari balik ponsel.

Untuk menjaga keadilan dalam pembagian, mereka sering melakukan pertukaran informasi seperti ini. Sepertinya banyak aturan yang mereka buat, tapi hanya sedikit yang diberitahukan padaku.

"Aku tidak mau mengganggu, aku tutup teleponnya ya."

Namun, Tachibana-san tampak ragu dan bicara dengan terbata-bata.

"......Itu, Hayasaka-san."

"Tenang saja."

Jawab Hayasaka-san.

"Aturan dilarang mendahului, aku mengerti kok."

"......Ya sudah, selamat tidur."

Suara dari ponsel menghilang.

Detik berikutnya, Hayasaka-san mencoba membuka ritsleting seragam olahragaku di dalam futon.

"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, tahan sebentar, Hayasaka-san."

"Apa?"

"Barusan, Tachibana-san bilang soal aturan dilarang mendahului──."

"Itu artinya kita dilarang melakukan hubungan fisik terakhir antara pacar biasa. Kalau sampai titik sebelum itu, semuanya boleh, tahu?"

"Hah, benarkah!?"

Sepertinya ada kesepakatan yang dibuat di belakangku.

"Tapi, tumben sekali Tachibana-san mengizinkannya. Padahal kalaupun dibilang tidak sampai 'terakhir', dia sendiri terlalu malu untuk melakukan apa pun."

"Aku tidak bisa pergi ke rumah keluarga Kirishima-kun, kan?"

Tachibana-san sudah datang ke rumahku lebih dulu dan akrab dengan ibuku sebagai pacarku. Sebagai gantinya, Hayasaka-san setidaknya sudah tidak bisa masuk ke rumahku dengan status pacar.

"Jadi itu yang dikorbankan oleh Tachibana-san?"

"Ya."

Jadi, tambah Hayasaka-san sambil menempelkan bibirnya ke dadaku.

"Mari kita lakukan semuanya sampai batas terakhir."

"Tapi ibu tidur di kamar sebelah, kan?"

"Tenang saja, dia kalau sudah tidur tidak akan bangun sampai pagi."

"Lagipula, melakukan hal seperti ini di kamar kakakmu..."

"Sudahlah, lupakan hal itu."

Tatapan mata Hayasaka-san menjadi kosong.

"Kenapa kamu bicara hal biasa seperti itu? Kita sudah sampai di tahap berbagi, kan? Kenapa cuma Kirishima-kun yang berusaha tetap tenang?"

"......Maaf."

"Bukan berarti aku ingin kamu minta maaf. Aku tidak berniat menyalahkanmu."

Sambil berkata begitu, Hayasaka-san mulai melepas kancing piyamanya.

"Waktu itu, kamu tidak mau melakukannya denganku, kan? Tapi itu karena Tachibana-san ada di dalam lemari, kan?"

"Ya."

"Bukan karena aku gadis yang tidak menarik, kan? Bukan berarti Kirishima-kun tidak menyukaiku sama sekali, kan?"

"Tentu saja tidak."

"Kalau begitu buktikan padaku. Kalau tidak, aku benar-benar tidak mengerti. Kata-kata saja sudah tidak bisa aku percayai. Aku baru saja memendekkan rokku, tahu. Supaya semua orang lebih memperhatikanku."

"Hal seperti itu, tidak baik."

"Iya, sih. Aku hanya merasa tidak nyaman karena dilihat dengan tatapan menjijikkan. Tapi kalau tidak begitu, aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah Kirishima-kun merasakan pesonaku atau tidak."

"Aku merasakan pesonamu, Hayasaka-san."

"Kalau begitu tunjukkan. Sentuh aku, buat aku yakin bahwa aku bukan gadis yang tidak berharga."

Ditambah lagi, ucap Hayasaka-san.

"Apa aturan mengenai aku dan Tachibana-san?"

"Mutlak."

Baiklah. Saat pembagian ini dimulai, aku sudah memutuskan untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan sebagai penebusan dosa atas situasi yang menyimpang ini.

Aku melepaskan akal sehatku dan meletakkan tangan di dada Hayasaka-san.

"Ah."

Hayasaka-san mengeluarkan napas manis.

Dari balik piyama, aku merasakan keberadaan putingnya. Begitulah. Aku sudah menyadarinya sejak dia masuk ke kamar. Piyama merah muda tipis itu, Hayasaka-san tidak memakai bra di dalamnya.

Saat aku mengusap putingnya dengan jari, mata Hayasaka-san yang tadinya kosong mulai berkaca-kaca dan ekspresinya meleleh.

"Kirishima-kun......"

Dia segera bermanja dan mendongakkan dagunya.

Aku mencium bibirnya yang berisi, sengaja mengeluarkan suara kecipak saliva. Entah karena suaranya, suhu tubuh Hayasaka-san meningkat drastis. Aku pun ikut terangsang oleh tubuhnya yang berkeringat.

Aku meraba gundukan besar di tanganku dari balik kain piyama yang lembut. Dengan satu genggamanku, bentuknya berubah secara menarik, dan tubuh Hayasaka-san bereaksi dengan cara yang menarik juga. Putingnya menonjol hingga terlihat dari balik kain, dan kulitnya mulai transparan karena keringat. Kelembapan di dalam futon meningkat.

"Kirishima-kun...... aku suka kamu, Kirishima-kun......"

Kami melepas pakaian satu sama lain, hanya menyisakan pakaian dalam, lalu berpelukan.

"Aku suka ini. Aku bisa merasakan suhu tubuh Kirishima-kun."

"Hayasaka-san juga sangat hangat."

Di malam musim dingin yang dingin, berpelukan dengan kulit yang saling bersentuhan di dalam tempat tidur terasa istimewa. Aku benar-benar bisa merasakan bahwa aku tidak sendirian. Ekspresi Hayasaka-san terlihat lebih bahagia dari sebelumnya.

Aku menyentuh kulit Hayasaka-san yang panas. Bahu, punggung, pinggang, aku merasakan gairah di bagian yang hanya tertutup satu lapis pakaian dalam. Kami berusaha menempel lebih erat dengan memasukkan kaki di antara paha.

"Kirishima-kun, ini......"

"Itu, maksudku, maaf."

"Tidak, cowok memang akan jadi seperti ini, kan? Karena Kirishima-kun merasakan pesonaku, makanya jadi seperti ini, kan?"

"Iya."

"Aku senang!"

Hayasaka-san memelukku erat dan mencium leher serta tulang selangkaku.

"Kirishima-kun boleh melakukan apa saja padaku. Selama tidak sampai 'akhir', gunakanlah tubuhku sesukamu. Hei, gunakan sesukamu. Kalau kamu bergairah, lampiaskan padaku, hei, lampiaskan."

Mendengar itu, aku menindih Hayasaka-san dan menyentuh dadanya. Hayasaka-san mengerang. Aku menjilat kulitnya yang mulus. Hayasaka-san menempelkan pinggulnya pada milikku dan mengeluarkan suara jeritan tertahan.

"Hayasaka-san, suaranya."

"Iya."

Hayasaka-san meraih tangan kiriku, memasukkan jari telunjukku ke mulutnya, dan mulai menjilatnya seperti dot. Dengan begitu, dia membungkam mulutnya sendiri. Saat aku memberi stimulasi pada putingnya, Hayasaka-san merintih dan menghisap jari telunjukku dengan kuat.

Setiap kali aku melakukan sesuatu, tubuh Hayasaka-san menjadi semakin panas dan lunak.

Aku mencoba menjepit lidahnya yang basah oleh saliva dengan jariku.

Hayasaka-san, dengan ekspresi yang sudah benar-benar meleleh, mengeluarkan suara yang tidak berbentuk saat dia membiarkanku melakukan apa saja.

Aku menggunakan tangan yang bebas untuk menyentuh pakaian dalam Hayasaka-san. Bagian itu sudah sangat panas dan basah, bahkan dari balik pakaian dalam.

"Tidak apa-apa, aku tidak keberatan diperlakukan seperti mainan oleh Kirishima-kun."

Aku memasukkan tangan ke dalam pakaian dalam. Bagian itu sudah sangat basah, jadi hanya dengan menempelkan jari di lekukannya, jariku bergerak meluncur dengan halus.

Segera, suara desiran air yang vulgar mulai terdengar.

"Tidak mau...... memalukan...... aku tidak tahu malu......"

Sambil berkata begitu, Hayasaka-san menghisap jariku dengan kuat, mengeluarkan napas manis, dan mengangkat pinggulnya untuk menekan bagian itu ke jariku.

Pinggul Hayasaka-san gemetar kecil. Hisapannya pada jariku semakin kuat. Suara air terdengar semakin intens, interval kejangnya semakin pendek──sambil menekan wajahnya ke bantal, Hayasaka-san menghentakkan seluruh tubuhnya.

Aku senang karena gadis ini menyerahkan segalanya padaku.

Hayasaka-san memerah padam, air liur menetes dari sudut mulutnya, dan tubuhnya lemas. Sosok itu tampak begitu erotis sampai aku terangsang, lalu menindihnya dengan masuk di antara kakinya.

Karena Hayasaka-san sudah benar-benar siap, dia mengangkat pinggulnya dan menekannya ke milikku.

Kami menekan milik kami dengan naluri dari balik pakaian dalam.

"Jangan sampai 'akhir' ya, ini janji dengan Tachibana-san."

"Aku tahu."

"Tapi aku ingin...... aku ingin memberikan semuanya pada Kirishima-kun......"

"Aku juga menginginkan Hayasaka-san."

Tapi bagaimanapun, janji dengan Tachibana-san itu besar bagi kami, sebagai gantinya kami berciuman.

"Masukkan, masukkan ke dalam diriku."

Aku memasukkan lidahku ke dalam mulut Hayasaka-san.

"Buat lebih intens, lebih, lebih lagi."

Tindakan kompensasi.

Hayasaka-san menghisap lidahku yang keluar masuk dengan kuat sampai menimbulkan suara.

Pakaian dalam kami berdua semakin basah. Hayasaka-san memelukku erat dari bawah, menempelkan mulutnya ke bahuku seolah hendak menggigit. Lalu──.

"Kirishima-kun...... ini, luar biasa, Kirishima-kun...... luar biasa, Kirishima-kun, Kirishima-kun!"

Hayasaka-san menghentakkan pinggulnya berkali-kali mengikuti ritme.

Dan setelah mencium Hayasaka-san yang kembali lemas, aku mengulangi hal yang sama.

Saat suhu tubuh kami mendingin, hari sudah pagi.

"A-aku ganti pakaian dalam dulu ya."

Hayasaka-san berucap dengan malu-malu, menutupi ekspresinya dengan poni.

"Satu lagi, kita harus mencuci seprai sebelum ketahuan ibu."

Setelah Hayasaka-san keluar kamar, aku mengulurkan tangan ke ponsel di dekat bantal.

Aduh, aduh.

"Tachibana-san, tidak memutus teleponnya?"

"............"

Ada jeda sejenak, lalu suara Tachibana-san terdengar.

"Selamat pagi, Shirou-kun. Karena aku tertidur, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya aku membiarkan teleponnya tetap tersambung."

Kami berdua pasti punya banyak hal untuk dikatakan, tapi karena kami tidak tidur semalaman, pikiran kami tidak tertata dengan baik. Namun, aku menanyakan satu hal yang sudah lama ingin kutanyakan.

"Apa ini tidak apa-apa?"

"Apa?"

"Soal pembagian ini."

Waktu itu, Tachibana-san menyetujui usulan pembagian dari Hayasaka-san. Tapi karena itu permintaan Hayasaka-san, seharusnya Tachibana-san bisa menolaknya. Namun──.

"Aku tidak mungkin membiarkan Kirishima-kun memilih salah satu di sana."

"Kenapa?"

"Kamu pasti akan memilih Hayasaka-san. Karena Kirishima-kun itu baik hati──."

Setelah mengatakan itu, Tachibana-san mengoreksinya dengan berkata, "Bukan begitu."

Kamu pasti akan memilih Hayasaka-san. Karena──.

"Karena Kirishima-kun itu lemah."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close