NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 1 Chapter 6

Chapter 6

Revolusi Segi Empat


Dua minggu sebelum libur musim panas dimulai, Maki berucap.

"Ayo kita adakan kamp musim panas."

Itu terjadi di ruang klub setelah pelajaran berakhir di pagi hari.

Pemicunya adalah guru bahasa Inggris bernama Miki-chan, yang sedang berpacaran dengan Maki. Saat kami menghidupkan kembali Klub Misteri yang hampir dibubarkan, kami meminjam namanya sebagai pembina klub. Rupanya, Miki-chan kena omel di rapat guru karena Klub Misteri dianggap tidak punya catatan kegiatan.

"Kalau mau kamp, kita mau ngapain?"

"Kita bikin video misteri terus diunggah ke internet. Dengan begitu, itu sudah cukup jadi bukti kegiatan, kan? Lagipula, kita bisa menginap di penginapan pemandian air panas secara gratis."

Maki menunjukkan situs web sebuah penginapan air panas kuno lewat tabletnya.

"Tujuannya buat promosi. Kalau kita bikin film pendek berlatar penginapan itu dan mengunggahnya ke situs video, kita bisa menginap gratis. Musim panas itu off-season dan kamar-kamarnya kosong, jadi ini kesempatan pas."

Ide itu biasanya ditujukan untuk klub film mahasiswa.

Sebagai ganti menginap gratis, kami harus membuat video promosi.

"Jadi begitu, ayo kita bikin Onsen Mystery."

"Gak mau."

"Kenapa?!"

"Ya repot, lah."

"Dengar ya, kalau kita gak bikin catatan kegiatan, ruang klub ini bakal disita."

"Itu gawat juga."

"Kalau begitu, ya mau gak mau harus dilakukan, kan?"

Maki sangat bersemangat. Sepertinya dia ingin mencoba menjadi sutradara film sekali saja. Dia bilang sudah meminta tolong pada Yamanaka-kun dari Klub Manga untuk membuat storyboard.

"Untuk pemerannya, ayo kita ajak orang-orang yang terlihat cocok."

"Kalau naskahnya?"

"Tachibana saja, kan? Dia terlihat ahli dalam hal kreatif seperti itu."

"Ya sudah, nanti coba kubicarakan pelan-pelan padanya."

"Kok ragu-ragu gitu? Ada sesuatu terjadi?"

"Gak ada apa-apa."

"Ngomong-ngomong, belakangan ini Tachibana tidak masuk sekolah, ya."

"Dia sedang ikut kompetisi piano, katanya akan absen sampai selesai."

Itu benar adanya. Namun kenyataannya, hubungan antara aku dan Tachibana-san sedang tidak baik belakangan ini.

Sejak aku menolak ciumannya, mood Tachibana-san jadi sangat buruk.

"Memang ada apa-apanya, kan?"

Maki menyeringai saat mengucapkannya. Firasatnya tajam di saat yang tidak tepat.

"Tapi ya, tidak masalah kalau hubunganmu dengan Tachibana memburuk. Toh, kamu sudah punya asuransi dengan gadis nomor satu yang diidamkan semua orang."

Maki melirik ke luar gedung sekolah. Di kejauhan, di dekat gerbang belakang, Hayasaka-san sedang berdiri.

"Mau pulang bareng, kan?"

"Begitulah."

Aku berdiri dan bersiap untuk pulang.

"Sekarang mungkin tidak masalah, tapi lama-lama kamu bakal dalam masalah besar."

Maki mengucapkan hal yang penuh teka-teki.

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi nanti kamu akan segera tahu."

Paling-paling dia mendengar sesuatu dari Miki-chan.

"Ya sudah, ayo kita lakukan kamp musim panas. Kalau tidak, ruang klub kita bakal disita."

"Benar juga."

Namun, ada satu hal yang mengganjal. Jika kami membuat film pendek...

"Aku kebagian peran apa?"

"Kirishima, aktingmu kelihatan buruk, sih."

Maki berpikir sejenak lalu menjawab.

"Peran mayat saja sepertinya cocok."

"Aku ini ketua klub, lho," gumamku dalam hati sambil berimajinasi.

Di atas lantai kayu yang remang-remang, Tachibana-san yang mengenakan Yukata akan membunuhku secara perlahan, saksama, dan dengan sangat lembut.

"Yah, mungkin itu tidak terlalu buruk."

"Kurangi delusi menyimpangmu itu."

Memprioritaskan pasangan nomor satu.

Itu adalah aturan yang kami tetapkan saat memutuskan untuk berpacaran sebagai "nomor dua", dan baik aku maupun Hayasaka-san sangat memahami hal itu. Namun, terkadang ada saatnya kendali itu lepas, dan sepertinya kali ini Hayasaka-san sedang mengalaminya.

"Maaf soal yang waktu itu. Aku sebenarnya sudah lama ingin mengatakannya..."

Di tengah perjalanan pulang, Hayasaka-san meminta maaf. Soal ujian perasaan dengan Tachibana-san beberapa hari lalu.

"Aku jadi bersaing dengan Tachibana-san. Entahlah, aku merasa tidak mau kalah."

"Apa kamu sadar dasi itu punyaku dari awal?"

"Iya. Soalnya Kirishima-kun biasanya pakai dasi meski musim panas, tapi waktu itu kamu tidak memakainya."

Omong-omong, kancing baju bagian atas pun sudah kututup rapat.

"Padahal aku harus menahan diri. Tapi saat itu, aku tetap merasa cemburu. Maaf ya."

Karena wajahnya terlihat sangat lesu, aku meraih tangan Hayasaka-san.

"Kirishima-kun."

Wajah Hayasaka-san jadi cerah.

Hanya dengan berpegangan tangan seperti ini saja, dia sudah bahagia. Itu hal yang menyenangkan, dan di saat yang sama, aku merasa aneh karena menyadari tindakanku memberikan pengaruh besar padanya.

"Di masyarakat, cemburu dianggap sebagai emosi yang tidak baik."

Terutama dalam hal percintaan. Sering terdengar ucapan bahwa pria yang cemburu itu memalukan atau semacamnya.

"Tapi, bukankah itu emosi yang sangat alami?"

Keinginan untuk memonopoli, keinginan untuk menjadi sosok yang spesial, itu pasti ada dalam diri setiap orang.

"Aku cemburu karena aku menyukaimu."

Mungkin kalau sudah dewasa nanti aku bisa berpikir dengan cara yang berbeda, tapi untuk sekarang, aku belum sanggup.

"Tapi aku cemburu pada gadis nomor satu, lho? Aku sudah mengganggu kalian, kan?"

"Kita berdua masih terlalu menyepelekan rasa suka 'nomor dua' di dalam hati."

Meskipun kita berpacaran sebagai nomor dua, kita tetaplah pasangan yang saling menyukai. Emosi itu sangat kuat dan terkadang sulit untuk dikendalikan dengan baik.

"Cemburu adalah bukti bahwa kita saling suka."

"Apa Kirishima-kun juga cemburu?"

"Saat Hayasaka-san pergi futsal, aku merasa tidak ingin kamu pergi. Padahal dia itu pasangan nomor satu bagimu. Waktu kamu memberi tanda bahwa jadi nomor dua saja cukup, itu terasa menyakitkan."

"Aku senang."

Hayasaka-san menatap wajahku saat mengatakannya.

"Kirishima-kun cemburu padaku, aku senang. Entah kenapa ya, apa aku aneh?"

"Tidak, itu tidak apa-apa. Aku juga senang saat tahu Hayasaka-san cemburu padaku."

Mungkin, berpacaran sebagai sesama nomor dua berarti satu paket dengan rasa cemburu pada nomor satu.

Hubungan yang sedikit menyimpang seperti itulah yang kami miliki.

"Hei Kirishima-kun, aku ingin kamu lebih cemburu lagi."

Ucap Hayasaka-san.

"Saat futsal, tubuh kami sering bersentuhan, lho."

"Tunggu dulu."

"Kami pernah jatuh bersama sampai tubuh kami menumpuk."

"Aku tidak mau dengar lebih lanjut."

"Saat pahaku terbentur, dia menyentuhku dengan lembut sambil bertanya, 'Tidak apa-apa?'"

"Cukup sampai di situ."

"Setiap kali itu terjadi, aku merasa senang."

"Terserah lah, aku mengerti, tapi ya cukup!"

"Kirishima-kun, bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Aku rasanya hampir mati."

Hayasaka-san adalah pacarku, aku bisa memeluk dan menciumnya. Hayasaka-san pun menginginkan hal itu. Namun, gadis itu—gadis yang seharusnya menyukaiku—malah merasa bahagia saat bermain dengan pria lain. Hal itu cukup rumit.

Tapi, itulah artinya berpacaran sebagai sesama nomor dua.

Setiap kali aku terbakar cemburu dan merintih, Hayasaka-san tertawa dengan riang.

"Saat Kirishima-kun bermesraan dengan Tachibana-san, aku juga merasakan hal yang sama."

"Maaf."

"Tidak apa-apa. Karena inilah hubungan kita, kan? Ini bukti bahwa kita memang benar-benar saling suka, kan? Hei Kirishima-kun, aku juga ingin cemburu. Ingin lebih banyak lagi."

Karena Hayasaka-san memintanya, aku pun menceritakan kejadian di hari hujan yang sebelumnya tidak sempat kuceritakan.

"Aku pernah diminta Tachibana-san untuk melakukan Wall-don."

"Kamu melakukannya?!"

"Iya. Dia bilang jantungnya berdebar."

"Jangan lakukan hal seperti itu dengan enteng!"

"Wajah Tachibana-san sangat dekat, jantungku juga ikut berdebar."

"Terserah lah, aku mengerti, tapi ya cukup!"

Meskipun cemburu, Hayasaka-san tampak menikmatinya. Jadi, giliran aku yang membalas dengan menceritakan episode bermesraan dengan Tachibana-san.

"Di ruang musik sebelah, dia selalu memainkan lagu yang pernah kubilang kusukai."

"Itu pasti kebetulan! Itu cuma asumsimu saja, Kirishima-kun!"

"Saat jam makan siang, kami bertukar lauk bekal di ruang klub."

"Sudah, aku tidak mau dengar lagi..."

"Sepertinya Tachibana-san sudah mengunduh semua album band yang kusukai."

"Itu, aku juga akan mendengarkannya!"

Setiap kali aku menceritakan tentang Tachibana-san, Hayasaka-san menggenggam tanganku dengan erat, memejamkan mata, atau bergelayut di lenganku. Setelah itu, kami saling pamer episode bermesraan dengan pasangan nomor satu masing-masing, cemburu satu sama lain, hingga kami kelelahan.

"Berpacaran sebagai sesama nomor dua itu melelahkan, ya."

Ucap Hayasaka-san.

"Tapi, karena pasangannya adalah Tachibana-san, aku memaafkannya. Kalau kamu melakukan hal itu dengan gadis lain—"

"Kalau kenapa?"

"Hmm, aku mungkin tidak akan marah pada Kirishima-kun. Tapi aku akan marah pada gadis itu. Aku akan bilang, 'Jangan ganggu pacarku, ya'."

"Hayasaka-san terlalu baik padaku."

Ehehe, Hayasaka-san tertawa.

"Tapi Kirishima-kun, kamu cukup akrab ya dengan Tachibana-san."

"Soal itu..."

Aku menceritakan semuanya. Tentang Tachibana-san yang sudah punya tunangan. Dan tentang Tachibana-san yang tidak ada niat untuk putus dengan tunangannya tersebut.

Jika begitu, berarti aku hanya punya Hayasaka-san. Namun──.

"Ngomong-ngomong, Hayasaka-san."

"Aku tahu. Kamu khawatir aku akan merasa kasihan pada Kirishima-kun lalu sengaja mengalah pada pasangan nomor satu, kan? Tidak apa-apa, kok."

Aku tahu Kirishima-kun tidak suka hal seperti itu, ucap Hayasaka-san.

"Aku tidak ingin melakukan hal yang tidak disukai Kirishima-kun. Jadi, aku tidak akan sengaja membiarkan diriku ditolak oleh si nomor satu. Aku akan melakukan apa yang Kirishima-kun harapkan. Aku berharap hal itu terjadi. Karena aku adalah pacar Kirishima-kun. Aku ingin jadi pacar yang baik untuk Kirishima-kun. Kalau ada hal yang ingin kamu lakukan, bilang ya. Kalau ada hal yang tidak disukai, bilang ya. Aku akan melakukan semuanya, aku akan memperbaiki semuanya."

"A-ah, iya."

"Kalau sudah libur musim panas, ayo kita banyak kencan, ke pantai, melihat kembang api, dan festival musim panas!"

Hayasaka-san bicara dengan nada yang sangat ceria.

"Setelah itu, liburan musim panas nanti kita jadi pasangan yang beneran, ya. Kita buat kenangan yang beneran. Lakukan hal yang dilakukan orang lain pada umumnya. Biar cuma nomor dua, jadikan aku pacar yang beneran, ya. Kalau sama Kirishima-kun, aku benar-benar tidak keberatan kok. Kamu selalu baik, membantuku saat aku kesulitan, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun."

Hayasaka-san menggenggam tanganku dengan erat. Aku merasakan tekanan yang cukup berat, tapi karena ekspresinya tersenyum dengan ceria, kurasa ini memang hal yang wajar...

"Hei Kirishima-kun, kita ini pacaran, kan?"

"Y-ya."

"Kalau begitu, lakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan pada Tachibana-san kepadaku juga."

"Maksudmu Wall-don atau Elbow-don yang kuceritakan tadi?"

Un, Hayasaka-san mengangguk mantap.

"Boleh saja, tapi mau di mana? Mau balik ke sekolah pakai ruang klub?"

Di sana tercium aroma Tachibana-san, jadi aku kurang suka, Hayasaka-san menggeleng.

"Terus di mana?"

"Aku ingin ke kamarku, tapi hari ini ada Ibu di rumah."

Kenapa dia mengkhawatirkan hal itu?

"Oh iya, bukankah ada kuil di dekat sini?"

Memang ada kuil yang jarang dikunjungi orang. Di balik halamannya ada hutan lindung yang pepohonannya lebat. Ada rumor kalau malam hari, pasangan sering melakukan hal-hal seperti itu di sana.

"Itu terlalu tidak sopan, kan. Lagipula, takutnya ada yang melihat."

Begitu ya, ucap Hayasaka-san sambil menunjukkan ekspresi malu-malu.

"Membuat jantung berdebar, ya."

"Lihat aku saja."

Aku memosisikan Hayasaka-san di depan pohon cedar yang besar, lalu melakukan Wall-don.

"Iya. Aku hanya melihat Kirishima-kun."

Hayasaka-san memelukku tanpa ragu, menekan seluruh tubuhnya padaku. Sejak masuk ke halaman kuil, Hayasaka-san sudah benar-benar siap.

'Soalnya sudah lama sekali kita tidak berdua saja,' katanya. Mungkin ini adalah dampak dari persaingannya dengan Tachibana-san.

"Lagipula Hayasaka-san, aku berkeringat banyak, lho."

Meski berada di bawah bayang-bayang pohon, cuacanya cukup panas. Karena ini musim di mana suara tonggeret terdengar berisik, kemejaku sudah basah kuyup oleh keringat. Tapi Hayasaka-san tidak tampak peduli.

"Aku juga berkeringat, kok."

Ucapnya sambil tidak mau melepaskan pelukan. Keringat kami bercampur, hingga rasanya batasan di antara kami berdua hampir menghilang.

"Wall-don, sepertinya aku cukup menyukainya."

"Bukan, sebenarnya bukan seperti ini caranya."

"Begitu ya?"

"Biasanya dilakukan secara tiba-tiba, lalu si gadis akan malu-malu dan memalingkan wajah."

Ini adalah sesuatu untuk menikmati jarak yang ambigu.

"Kalau begitu, sekarang giliranku melakukan Neck-eat."

Hayasaka-san menarik dasiku hingga wajah kami mendekat. Detik berikutnya, Hayasaka-san mencium bibirku, lalu memasukkan lidahnya. Tangan yang tadi memegang dasi akhirnya melingkar ke punggungku, membuat kami berciuman sambil berpelukan.

Karena ciuman itu berlangsung lama, air liur menetes dari sudut bibirku.

"Aku, sepertinya suka juga dengan Neck-eat."

"Beda jauh, tahu."

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Tachibana-san?"

"Tidak, aku kan belum pernah berciuman dengan Tachibana-san."

"Aku ingin dibandingkan dengan Tachibana-san. Kalau kamu membandingkannya, mungkin rasanya akan sangat nikmat."

Hayasaka-san, bukankah kamu makin lama makin aneh?

"Hei, bandingkan dong. Bagaimana rasanya Wall-don dengan Tachibana-san?"

"Tachibana-san itu... memang mahir."

"Apakah jantungmu berdebar?"

"...Berdebar."

"Begitu ya."

Tidak apa-apa kok, ucap Hayasaka-san dengan ekspresi ceria.

"Banyak hal yang sudah kamu lakukan dengan Tachibana-san sesuai yang tertulis di buku catatan Klub Misteri, kan? Ada hal lain lagi?"

Karena ditanya Hayasaka-san, aku berpikir sejenak lalu menjawab.

"Ada yang namanya Ear-mimi Mystery."

Itu adalah permainan di mana kami saling menempel, membisikkan judul karya di telinga, dan menebak penulisnya. Aku tidak bisa bilang kalau aku pernah saling menjilat telinga dengan Tachibana-san. Terutama tidak bisa kukatakan pada Hayasaka-san yang kondisinya sedang "menyala" seperti ini.

"Ayo lakukan itu."

"Hayasaka-san, kamu kan jarang membaca misteri."

"Kalau begitu pakai buku materi bahasa Indonesia saja."

Sambil tetap berdiri, kami menyilangkan wajah untuk berbisik di telinga.

"Botchan."

"Natsume Soseki."

"Chuumon no Ooi Ryouriten."

"Miyazawa Kenji."

Setelah menebak beberapa kuis, Hayasaka-san memiringkan kepalanya.

"Ini, apanya yang menarik?"

"Pasti bakal jadi begini, ya."

Mulai dari Ear-mimi Mystery sampai permainan yang tidak boleh menggunakan tangan, menarik atau tidaknya bergantung pada selera pemainnya, atau dengan kata lain, bergantung pada daya imajinasi Tachibana-san.

"Bukankah ini permainan agar pria dan wanita jadi akrab? Harus bagaimana ya?"

Melihat Hayasaka-san yang bingung, aku terpaksa menceritakan apa yang dilakukan Tachibana-san.

"Ini tuh, saat perasaan mulai memuncak, rasanya jadi ingin saling berpelukan, lalu jadi saling menjilat telinga. Tidak, itu cuma imajinasi saja. Dengan Tachibana-san juga tidak sampai sejauh itu."

"Telinga, ya..."

Hayasaka-san melingkarkan tangannya ke belakang leherku. Lalu dia berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke telingaku. Di saat itulah, atmosfer Hayasaka-san berubah.

"Begitu ya, jadi begitu rupanya... Aku bodoh sekali."

Matanya sayu dan sudut bibirnya tersenyum curiga.

"Kita kan pacaran, ya. Lagipula kita tidak butuh permainan untuk jadi akrab lagi."

"Hayasaka-san?"

"Tidak perlu pura-pura pakai permainan segala. Tidak perlu tipu daya seperti itu lagi."

Saat mengucapkannya, Hayasaka-san mulai menjilati telingaku.

Remnya benar-benar sudah hancur.

Hayasaka-san secara terang-terangan menekan dadanya ke arahku. Sambil melakukannya, sepertinya dia semakin bergairah, napasnya perlahan menjadi kasar.

"Hei Kirishima-kun, bagaimana?"

"Bagaimana apanya—"

"Dibandingkan dengan Tachibana-san, bagaimana?"

Tidak, aku berbohong, "Aku tidak pernah melakukan hal ini dengan Tachibana-san."

"Tidak apa-apa, bayangkan saja lalu bandingkan."

"...Lidah Hayasaka-san lebih panas, basah, dan lebih nikmat. Dibandingkan Tachibana-san."

Dibandingkan Tachibana-san. Mendengar kata itu, napas Hayasaka-san yang menerpa telingaku dipenuhi dengan rasa bahagia.

Seluruh tubuhnya yang menekan tubuhku menyampaikan perasaan bahagianya.

Jujur, Tachibana-san lebih mahir, lebih rapi, dan mungkin karena kecocokanku dengannya sangat luar biasa, sensasi fisiknya lebih nikmat.

Tapi Hayasaka-san, meskipun canggung, dia berusaha keras dan sungguh-sungguh, memberikan kepuasan secara mental. Ada rasa puas karena begitu disukai oleh seorang gadis.

"Hei, jilat telingaku juga."

Aku menyingkap rambutnya lalu menjilati telinganya. Tubuh Hayasaka-san bergetar.

"Ah... n, ah... ya... aahn!"

"Hayasaka-san, suaramu."

"Habisnya, aku tidak bisa menahannya."

Terpancing oleh desahan Hayasaka-san, aku pun merasa aneh.

Aku terus menjilati telinga Hayasaka-san dengan gigih. Karena aku tahu Hayasaka-san menyukainya, aku jadi kebablasan.

Dan saat aku memasukkan lidahku jauh ke dalam telinganya, Hayasaka-san mengeluarkan suara yang lebih kencang lagi.

Kakinya berjinjit, dan keringat mengalir di sepanjang paha yang terlihat dari roknya. Dan mungkin, bukan hanya keringat saja.

"Hayasaka-san, sudah ya."

Kurasa sudah cukup. Kami bermesraan secara langsung melebihi apa pun sebelumnya. Namun.

"Kirishima-kun, ayo lakukan lebih lagi."

Itu sepertinya bukan soal saling menjilat telinga, melainkan hal yang lebih jauh lagi.

Pandangan mata Hayasaka-san sudah tidak fokus.

"Tidak, bukankah aturannya cuma sampai ciuman—"

"Aku tidak butuh aturan seperti itu lagi. Bukankah aku pacar Kirishima-kun?"

"Ya."

"Tapi, saat Tachibana-san memakai dasi Kirishima-kun, atau memakai earphone-mu, aku memikirkan sesuatu."

"Apa?"

"Apa artinya menjadi pacar, ya? Apa kalau sudah menyatakan cinta itu artinya jadi pacar? Tapi waktu itu, tidak ada bedanya antara aku dan Tachibana-san. Padahal seharusnya aku pacarnya, tapi aku terus kalah."

"Tidak seperti itu."

"Tapi ya memang begitu, kan? Soalnya aku tidak melakukan hal yang biasanya dilakukan pacar."

Hayasaka-san meraih tanganku lalu membawanya ke dadanya.

Karena sedari tadi menempel, Hayasaka-san juga basah kuyup oleh keringat, rambutnya yang basah terlihat sangat sensual, dan pakaian dalamnya pun sedikit tembus pandang.

Saat tanganku tanpa sadar menyentuh gundukan itu, Hayasaka-san menunjukkan ekspresi yang sangat bahagia.

"Tidak, tunggu dulu. Taruhlah kita melakukan apa yang biasa dilakukan pacar, tapi ini kan di luar?"

"Justru itu bagus, kan?"

Hayasaka-san mengatakannya sambil menekan bagian di antara kakinya ke arah pahaku.

"Aku ingin Kirishima-kun ingat kalau aku pernah jadi pacarmu. Jadi, aku ingin melakukan banyak hal yang hanya pernah dilakukan denganku saja."

Hayasaka-san terdengar sangat serius.

"Aku, ingin melakukannya sekarang di sini. Aku tidak memaksakan diri, kok. Habisnya, sedari tadi aku..."

Tubuhku panas dan gelisah, ucap Hayasaka-san dengan suara yang hampir menghilang.

"Kirishima-kun tidak mau?"

Aku mencoba berpikir. Namun, saat merasakan tubuh Hayasaka-san yang menempel, aku pun luluh.

"...Mau, tapi."

"Boleh kok. Lakukan saja apa pun yang Kirishima-kun inginkan."

Kemeja yang berantakan, kaki putih yang terlihat dari balik rok.

"Sentuh seluruh tubuhku. Aku ingin kamu tidak meninggalkan satu titik pun yang belum kamu sentuh."

Pipi Hayasaka-san merona panas.

Aku mengerahkan tenaga pada tangan yang kuletakkan di atas gundukan dadanya. Meski terhalang kain, sensasinya terasa sangat nyata.

"Ah, Kirishima-kun..."

Suara pilu itu lolos, dan switch dalam diriku pun menyala.

Hayasaka-san bereaksi dengan menarik. Dia mengubah ekspresinya dan mengeluarkan suara yang menggoda.

Pinggang, paha, aku menyentuhnya satu per satu.

"Kirishima-kun... nnn..."

Aku mencium Hayasaka-san yang merengek.

Ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya dan reaksinya.

Aku jadi ingin melihat lebih banyak lagi, jadi aku menyentuh tubuh Hayasaka-san. Ingin melihat lebih banyak.

Sosoknya yang kacau yang hanya ditunjukkan padaku, aku ingin melihatnya lebih, lebih banyak lagi.

Karena berpikiran begitu, dan karena ingin mendengar suara yang belum pernah kudengar, aku akhirnya mencoba memasukkan tanganku ke dalam roknya.

"Apa boleh?"

"Iya. Aku sudah tidak..."

Saat itulah.

Di dalam tas yang tergeletak di tanah, ponselku bergetar sambil mengeluarkan bunyi.

"Tunggu sebentar."

Hayasaka-san berjongkok dan mengulurkan tangan ke tasnya.

"Aku matikan dayanya. Aku tidak ingin diganggu sama sekali setelah ini."

Setelah berkata begitu, tepat saat dia mengeluarkan ponsel dan melihat layarnya, Hayasaka-san membeku.

"Hayasaka-san?"

Meski kupanggil, dia hanya menatap layar ponselnya dengan lekat.

Aku mengintip layar ponselku sekilas.

Aha, begitu ya.

Jadi, ini yang dimaksud dengan "masalah besar" oleh Maki. Sebagai ketua OSIS—dan yang paling penting dia juga alumni dari SMP yang sama sekaligus saling kenal—Maki pasti sudah mendengar kabar ini lebih dulu.

Aku pun memeriksa ponselku sendiri.

Pesan yang isinya persis seperti yang didapat Hayasaka-san ternyata masuk juga ke ponselku.

Pesan itu dikirim oleh Senior Yanagi, orang yang paling disukai oleh Hayasaka-san.

“Aku bakal pindah ke sekolahnya Kirishima, jadi mohon bantuannya, ya!”

"Menyebalkan sekali, sih!"

Di koridor penghubung saat jam istirahat siang, Maki menggerutu dengan wajah masam.

"Tiba-tiba datang langsung jadi pusat perhatian dan digandrungi banyak orang, itu curang banget, tahu. Padahal aku harus jadi ketua OSIS dan mengumpulkan popularitas sedikit demi sedikit, tapi dia malah langsung menyalip di hari pertama pindah. Siapa yang tidak makan hati coba?"

Begitu pindah, Senior Yanagi langsung menjadi buah bibir di seluruh penjuru sekolah. Intinya, dia memang sangat segar dan keren.

"Jangan bicara begitu. Kamu sendiri juga banyak dibantu olehnya waktu di SMP dulu, kan?"

"Aku tahu itu, tahu! Tapi masalahnya, aku ini! Ketua OSIS yang terhormat ini! Malah diperlakukan seperti barang pelengkap oleh adik kelas perempuan! Mereka bilang, 'Kakak kenal dengan Senior Yanagi, ya? Kalau begitu ayo main bareng, ajak Senior Yanagi juga ya'. Bisa-bisanya ada kejadian seperti ini?"

Begitu orang-orang tahu kalau aku juga akrab dengan senior, aku langsung diberondong berbagai pertanyaan oleh para siswi. Mulai dari apa makanan kesukaan senior, musik apa yang dia dengarkan, sampai apakah dia sudah punya pacar atau belum.

"Padahal dia sempat masuk youth team tapi terpaksa menyerah dari sepak bola karena cedera. Narasi tragis begitu jelas jadi nilai tambah yang kuat, karena perempuan kan suka drama tragis. Hei, Kirishima, kamu mau ke mana?"

"Aku sudah janji dengan senior untuk memandunya keliling gedung sekolah."

"Kamu pun ikut-ikutan jadi pengikut Senior Yanagi juga, ya!"

Meninggalkan Maki yang terus merengek, aku melangkah menuju ruang kelas murid tahun ketiga.

Karena postur tubuhnya yang tinggi, aku bisa langsung menemukannya dengan mudah.

"Yo, Kirishima."

Senior Yanagi melihatku lalu berjalan menghampiri.

Saat kami berjalan menyusuri koridor bersama, semua mata langsung tertuju pada senior. Aku yang berjalan di sebelahnya bahkan sampai merasa seolah-olah ikut menjadi orang populer. Aku memandunya keliling sekolah sambil menjelaskan, "Ini ruang audio visual," atau "Di sebelah sana itu kantin."

"Tapi, kepindahan ini mendadak sekali, ya?"

"Sekolah yang dulu kupilih kan cuma karena dekat dengan tempat latihan youth team saja."

Kalau dipikir-pikir, sekolahnya yang dulu memang cukup jauh.

"Sekolah itu juga tidak cocok untuk persiapan ujian, jadi aku ingin secepatnya pindah ke sekolah unggulan yang aksesnya lebih mudah."

"Apalagi sebentar lagi ada kursus musim panas, ya. Tapi, apa Senior benar-benar tidak menyesal soal sepak bola?"

"Tidak, kok. Orang seperti aku ini ada banyak sekali di luar sana. Lagipula Kirishima, bukankah sudah berulang kali kukatakan untuk tidak usah pakai bahasa formal padaku?"

"Ah, tapi tetap saja rasanya sulit."

Saat kami sedang asyik mengobrol, tiba-kira aku menyadari Sakai sedang berdiri di koridor dengan gaya suramnya yang biasa.

"Kamu anak baru bernama Yanagi yang pindah ke sini, kan?"

Sakai sama sekali tidak merasa takut atau sungkan saat berhadapan dengan Senior Yanagi. Orang-orang di sekitar kami bahkan sampai sedikit terkejut melihatnya.

"Ada urusan sebentar."

"Ada apa, ya?"

"Yah, sebenarnya yang punya urusan bukan aku, sih."

Saat aku memperhatikan, ternyata Hayasaka-san sedang mengintip situasi dari balik punggung Sakai.

Sakai langsung mendorong punggung Hayasaka-san agar maju ke depan.

"Oh, Hayasaka-chan."

Senior Yanagi mengangkat sebelah tangannya.

Wajah Hayasaka-san langsung memerah padam dalam sekejap.

"Halo!"

Dia menyapa dengan lantang. Tak lama kemudian, dia juga menoleh ke arahku.

"Kirishima-kun, halo!"

Sepertinya, kalau berhadapan langsung dengan orang yang paling disukainya, Hayasaka-san akan menjadi jauh lebih ceroboh dari biasanya.

"Senior, ternyata kamu sedang dipandu keliling sekolah oleh Kirishima-kun, ya!"

"Hayasaka-chan, kamu kenapa?"

Senior Yanagi memiringkan kepalanya kebingungan.

"Wajahmu merah sekali, lho."

"Soalnya hari ini panas sekali!"

"Dan gerak-gerikmu juga agak kaku."

"I-iya, ya. Entahlah, mungkin karena rasanya aneh melihat Senior ada di sekolah. Ahaha."

Sambil terus mengobrol, Hayasaka-san perlahan-lahan mulai bisa menguasai dirinya.

Setelah dia kembali bersikap normal, aku pun membuka suara.

"Hayasaka-san, bagaimana kalau kamu saja yang memandu senior keliling sekolah?"

"Eh? Aku?"

"Ujianku yang kemarin dapat nilai merah, jadi aku harus mempersiapkan diri untuk ujian susulan."

"Mana mungkin Kirishima-kun bisa dapat nilai merah? Ah—"

Hayasaka-san sepertinya langsung menangkap maksudku, dia pun mengeraskan ekspresinya untuk meyakinkan diri.

"I-iya, benar juga. Biar aku saja yang memandu. Aku akan berusaha keras!"

"Kalau begitu, aku duluan ya."

Aku mengangkat dua jariku dengan santai dan berniat untuk langsung pergi dari sana. Namun...

"Jangan dingin begitu, dong. Ayo kita keliling bertiga saja."

Senior Yanagi langsung merangkul pundakku.

"Kalau soal belajar, nanti biar aku yang mengajarimu, seperti waktu kita SMP dulu."

Bukan hanya itu, senior kemudian berbisik pelan di dekat telingaku.

"Kirishima, kamu sebenarnya suka dengan Hayasaka-chan, kan?"

"Tidak, mana ada begitu."

"Jangan malu-malu begitu, serahkan saja semuanya padaku."

Diserahkan bagaimana, padahal aku dan Hayasaka-san sebenarnya punya hubungan yang sangat erat sebagai sesama nomor dua. Tapi karena senior tidak tahu apa-apa soal itu, dia langsung berseru, "Kalau begitu, mohon bantuannya ya, Hayasaka-chan!"

Akhirnya, kami bertiga berakhir dengan berjalan berkeliling melihat-lihat gedung sekolah.

Hayasaka-san berjalan dengan kaku di depan kami berdua.

"Menurutku, kamu punya peluang besar dengannya, Kirishima."

"Kenapa Senior bisa berpikir begitu?"

"Lihat saja itu, Hayasaka-chan terlihat sangat salah tingkah, kan? Dia pasti menganggapmu sebagai seorang pria."

Senior Yanagi ternyata benar-benar tidak peka.

Waktu zaman SMP dulu juga begitu. Saat pulang sekolah, kami pernah bersama-sama makan es krim di depan minimarket, dan anak-anak perempuan di sekitar terus memberikan tatapan penuh kekaguman. Melihat hal itu, senior malah berkata padaku...

"Kirishima, ternyata kamu populer sekali, ya."

Jelas-jelas yang mereka lihat itu bukan aku.

Sejak dulu orang yang keren itu selalu senior, dan sampai sekarang pun masih tetap begitu.

Saat Hayasaka-san yang bersikap malu-malu berjalan di sebelah senior yang bertubuh tinggi, mereka berdua terlihat sangat serasi.

Murid-murid lain yang melihat pemandangan itu pun pasti akan langsung mahfum, berpikir kalau pasangannya adalah Hayasaka-san, maka itu adalah hal yang wajar.

Begitu sosok orang yang paling disukai oleh Hayasaka-san mendadak menjadi nyata di depan mata, aku entah kenapa merasa Hayasaka-san menjadi sangat jauh. Tapi, memang beginilah yang seharusnya terjadi sejak awal. Karena itu, aku berbisik dengan suara sangat pelan agar tidak terdengar oleh senior.

"Aku akan selalu mendukungmu, kok."

Hayasaka-san langsung mengepalkan tangannya dengan erat sambil menunjukkan senyuman manisnya yang biasa.

"Iya, aku akan berusaha keras!"

"Kelihatan murung sekali, sih. Sudah seperti berandal saja."

Ucap Sakai.

Itu terjadi di tempat parkir sepeda. Karena entah kenapa aku sedang tidak bersemangat untuk kembali ke kelas, aku memutuskan untuk membolos pelajaran, dan di sanalah dia menemukanku.

"Ada urusan apa?"

"Yamanaka dari Klub Manga tadi mencarimu. Dia bilang disuruh Maki untuk membuat storyboard film pendek, tapi dia bingung naskahnya bagaimana."

Itu soal kamp musim panas Klub Misteri.

"Kalau soal naskah, sepertinya nanti Tachibana-san yang akan bertanggung jawab. Begitu dia kembali dari kompetisi, aku akan memberitahunya."

Kupikir urusan kami sudah selesai, tetapi Sakai masih tetap berdiri di sana sambil terus menyeringai.

"Belakangan ini Akane benar-benar ceroboh sampai-sampai aku tidak tega melihatnya."

"Ternyata bahasan utamanya yang itu, ya?"

"Waktu praktik memasak kemarin kami membuat kue kering, apa Akane sudah memberikan punyamu?"

"Belum ada."

Padahal dia sempat bilang dengan wajah gembira kalau ingin memberikannya kepada senior. Tampaknya keberadaanku sama sekali tidak masuk ke dalam pandangannya.

"Lalu, apa dia berhasil memberikannya dengan baik?"

"Mana mungkin bisa berhasil. Kali ini dia malah tersandung kakinya sendiri lalu jatuh tersungkur."

Begitu melihat punggung senior, dia langsung berlari bermaksud memberikan kue kering itu, tetapi malah berakhir jatuh mengenaskan di tengah jalan.

Sakai bilang, setelah itu Hayasaka-san langsung menangis sesenggukan di pelukannya sambil meratap, "Aku ini memang payah banget".

"Aku juga jadi repot karena harus menemaninya melakukan banyak hal."

Mulai dari menemaninya pergi ke kelas senior, sampai menemaninya menyapa senior di jalan waktu pulang sekolah.

"Tapi begitu sudah sampai di depan kelasnya, dia cuma bisa berdiri komat-kamit tidak jelas. Dan waktu mencoba menyapa di jalan pulang, dia cuma bisa berteriak, 'Sampai jumpa!', setelah itu langsung berjalan melewatinya begitu saja."

"Itu memang sangat khas Hayasaka-san."

Dan kemudian...

"Dia kelihatan benar-benar sangat menyukai senior, ya. Memang rasanya berbeda kalau yang dihadapi itu adalah orang nomor satu."

"Dan di sini ada satu pria nomor dua yang sedang meratapi nasibnya sambil patah hati."

"Kamu ke sini cuma sengaja mau mengejekku, ya?"

"Bisa dibilang begitu."

Tapi bukan hanya itu saja, lanjut Sakai.

"Akane bukannya melupakanmu begitu saja, lho, Kirishima."

"Benarkah?"

"Dia malah sangat mengkhawatirkanmu. Orang yang membuat Akane bisa ikut bermain futsal lagi itu kamu, kan, Kirishima?"

Itu benar. Selama ini aku selalu merahasiakannya, tetapi karena sekarang fakta bahwa aku dan Senior Yanagi sebenarnya saling kenal sudah terungkap, semuanya jadi ikut terbongkar.

"Akane sempat bergumam sendiri lagi waktu itu. Dia bilang, 'Hanya karena dia orang nomor satu, aku malah membuat Kirishima-kun melakukan hal yang kejam, maaf, maaf'. Dia bahkan sampai hampir menangis karena takut kamu membencinya."

"Padahal itu kan hal yang kulakukan atas kemauanku sendiri..."

Sama seperti Hayasaka-san yang sengaja meninggalkan sepayung berdua agar aku bisa menjadi lebih akrab dengan Tachibana-san.

Sama seperti apa yang dipikirkan oleh Hayasaka-san, aku pun hanya ingin melihat Hayasaka-san bisa hidup bahagia.

"Kalau menurut analisisku, Akane sekarang sedang dilanda kebingungan."

"Masa, sih? Kesanku dia malah kelihatan jadi lebih bersemangat setelah orang yang paling disukainya ada di dekatnya."

"Itu karena Akane sedang berusaha menghargaimu, dia memaksa dirinya untuk mengikuti skenario yang sudah kamu buat sejak awal. Begitu orang nomor satu datang, maka orang nomor satu harus diprioritaskan. Karena hubunganmu dengan Tachibana-san juga sudah berjalan dengan baik, dia berpikir kalau dia juga harus bergerak maju mendekati senior."

Coba kamu pikirkan baik-baik, dia itu Akane, lho? Ucap Sakai.

"Setelah membangun berbagai macam kedekatan denganmu, apa kamu pikir dia bisa langsung berubah pikiran begitu saja saat orang nomor satu yang selama ini sudah dia lupakan tiba-tiba muncul di dekatnya? Otaknya pasti sedang hampir jebol karena kebingungan."

"Padahal dia tidak usah memedulikan pria nomor dua seperti aku ini juga tidak apa-apa."

"Bukankah itu berarti aturan urutan yang kalian buat di awal sudah berubah di dalam diri Akane?"

"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?"

"Maksudku, kalau kamu mau bergerak dengan agresif, Akane pasti akan memilih untuk pergi bersamamu."

"Dengar ya..."

"Hmm. Jadi Kirishima tetap tidak mau mengubah aturan itu, ya? Kalau begitu, tidak apa-apa kan kalau aku yang menjodohkan Akane dengan Yanagi-kun?"

"Eh?"

"Orang yang mendukung hubungan cinta mereka kan bukan cuma pria nomor dua saja. Aku ini juga temannya, lho. Boleh kulakukan, kan?"

Karena Sakai terus mencoba memancingku, aku pun akhirnya menjawab, "Lakukan saja sesukamu."

"Sok kuat sekali, sih. Awas ya kalau nanti malah menyesal~"

Dukungan cinta yang diberikan oleh Sakai langsung menunjukkan efeknya tepat setelah sekolah usai.

Saat aku sedang menjadi orang terakhir yang tersisa di dalam ruang kelas, Hayasaka-san berjalan menghampiriku dengan wajah yang dipenuhi senyuman riang.

"Aku baru saja diajak oleh senior, lho! Dia mengajakku untuk pergi bersama ke toko panci kue yang baru buka!"

"...Baguslah kalau begitu."

Ini pasti hasil kerja keras Sakai yang punya keberanian besar untuk meminta tolong langsung pada senior. Senior adalah tipe orang yang tidak akan bisa menolak jika dimintai tolong oleh adik kelas perempuan. Tebakan Sakai benar-benar jitu.

"Akhirnya kamu bisa pergi kencan berdua saja dengan orang yang paling kamu sukai, ya."

"Iya, makanya Kirishima-kun juga harus ikut pergi bersama kami, ya!"

"Eh?"

Apa-apaan yang dia katakan ini, pikirku.

Namun, Hayasaka-san mengatakannya dengan wajah yang benar-benar bersih tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Habisnya, aku tidak akan bisa kalau tidak ada Kirishima-kun! Kamu harus selalu ada di sebelahku, ya!"

Apa yang dikatakan Sakai mungkin memang ada benarnya.

Hayasaka-san sekarang benar-benar sudah kehilangan arah.

"Kenapa Senior dan Kirishima-kun bisa menjadi sangat akrab begitu, sih?"

Hayasaka-san bertanya, dan senior pun langsung menjawabnya.

"Waktu zaman SMP dulu, ada acara perkemahan rekreasi yang diadakan oleh pemerintah daerah. Kami harus memasak di dalam gunung dan bermalam di dalam tenda selama satu malam."

Kami bertiga sedang berada di dalam toko panci kue.

Meskipun Sakai sudah merencanakan hal ini agar Hayasaka-san bisa berduaan dengan senior, tetapi agenda pergi berdua itu tidak pernah terwujud. Hayasaka-san bilang dia ingin aku ikut bersamanya sebagai penenang batinnya, dan senior pun sudah mengirimkan pesan padaku sejak hari sebelumnya.

“Sepertinya Hayasaka-chan memang punya perasaan padaku! Aku tadi diminta oleh anak bernama Sakai untuk mengajak Hayasaka-chan pergi, tapi begitu kuajak, Hayasaka-chan langsung bertanya apa boleh mengajak Kirishima-kun juga. Nanti di lokasi aku akan membantumu, serahkan saja semuanya padaku, ya!”

Dan sekarang, senior duduk berhadapan dengan kami, sementara aku dan Hayasaka-san duduk bersebelahan. Kami baru saja selesai menghabiskan panci kue dan sedang menikmati kopi setelah makan.

Saat baru masuk ke toko tadi, senior terus-menerus mendesak agar aku dan Hayasaka-san duduk bersebelahan. Padahal aku sengaja memosisikan diri agar Hayasaka-san bisa duduk berhadapan langsung dengan senior supaya mereka lebih mudah mengobrol.

Perasaan kami bertiga benar-benar saling bertolak belakang, dan situasi ini pasti terasa sangat menyiksa bagi Hayasaka-san.

"Di acara perkemahan itu, aku dan Kirishima kebetulan mendapat giliran sebagai pasangan teman sekamar."

"Lalu, karena Senior berpikir sepertinya akan seru, kita malah mendirikan tenda di tengah gosong sungai, kan?"

Aku memotong cerita senior dan mengambil alih pembicaraan.

"Tapi di tengah malam, suara aliran air sungai mendadak menjadi sangat deras sampai membuatku terbangun. Tampaknya di hulu sedang turun hujan lebat, membuat debit air sungai meningkat drastis. Gosong sungainya menjadi semakin sempit karena air sudah naik sampai ke dekat tenda. Saat aku mencoba keluar untuk memeriksa situasi, aku malah tergelincir lalu hanyut ke dalam sungai yang sedang meluap."

"Kirishima-kun kan tidak bisa berenang, ya?"

"Senior langsung melompat ke dalam air dan menyelamatkanku."

"Hei, hei, kamu melewatkan bagian yang paling penting, tahu."

"Benarkah begitu?"

Hayasaka-san bertanya dengan nada bicara yang terdengar alami.

Di dalam toko panci kue ini, dia tidak bersikap ceroboh seperti biasanya, melainkan bisa menimpali percakapan dengan sangat baik.

Kehadiranku di sebelahnya mungkin memang memberikan pengaruh yang nyata untuknya.

Saat mendengarkan cerita senior, profil wajah Hayasaka-san dari samping benar-benar menunjukkan wajah seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

Namun, begitu lututku dan lutut Hayasaka-san tidak sengaja berbenturan di bawah meja, dia langsung menoleh ke arahku dengan wajah memerah malu. Setelah itu, dia akan langsung teringat kalau di depan kami ada senior, lalu mencoba bersikap setenang mungkin.

Isi kepalanya pasti sedang sangat sibuk.

Terkadang, dia menatapku dengan ekspresi wajah yang tampak kebingungan.

"Kenapa di saat aku sedang bersama dengan Senior Yanagi, Kirishima-kun juga harus ada di sini?"

Wajahnya seolah-olah sedang berbicara begitu.

Hayasaka-san tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini.

"Waktu Kirishima sedang tidur, aku sebenarnya sedang berada di luar tenda untuk merapikan barang-barang bawaan."

"Begitu terbangun dan melihat senior tidak ada, aku langsung panik dan berlari ke luar tenda. Di saat yang tidak tepat, ada sebatang kayu hanyut yang melintas, dan karena aku baru bangun tidur sekaligus tidak memakai kacamata, kayu itu terlihat seperti sosok senior yang sedang hanyut bagiku."

"Makanya dia langsung melompat ke dalam sungai untuk menyelamatkanku. Mana ada pria di dunia ini yang rela melompat ke dalam sungai meluap demi menyelamatkan orang lain padahal dia sendiri tidak bisa berenang."

"Tidak, Senior jauh lebih hebat. Karena Senior bisa menyelamatkan orang dari dalam sungai yang sedang meluap."

Senior hebat, Kirishima juga hebat.

Di depan Hayasaka-san, kami berdua malah saling melempar pujian. Di tengah pembicaraan, Hayasaka-san akhirnya hanya bisa menunjukkan senyuman basa-basi saja. Pikirannya pasti sudah benar-benar macet.

Perasaan suka kepada orang nomor satu dan orang nomor dua pasti sudah saling bertabrakan di dalam kepalanya.

"Karena rentetan kejadian itulah, aku dan Kirishima bisa dibilang sebagai sahabat yang sudah saling bertukar nyawa. Makanya waktu zaman SMP dulu kami sering sekali menghabiskan waktu bersama."

Setelah kami masuk ke SMA yang berbeda, hubungan kami memang sempat menjadi agak renggang, tetapi sekarang kami kembali berada di sekolah yang sama. Jadi, mengobrol santai seperti ini sebenarnya adalah hal yang sangat wajar bagi kami.

Namun, alasan kenapa situasi ini terasa sangat tidak nyaman adalah karena hubungan antara aku dan Hayasaka-san sendirilah yang tidak wajar dan tidak sehat sejak awal.

"Kalau begitu, aku duluan ya karena masih ada urusan lain."

Senior Yanagi bangkit berdiri dari kursinya.

"Sisa waktunya silakan kalian nikmati berdua saja dengan santai."

Setelah mengatakan hal itu, senior langsung membayar seluruh tagihan makanan kami lalu pergi begitu saja. Benar-benar langkah yang sangat taktis.

Padahal aku juga sedang mencari waktu yang pas agar Hayasaka-san dan senior bisa berduaan saja.

"Akhirnya malah berakhir seperti kencan kita yang biasanya, ya. Maaf, aku tidak bisa membantumu dengan baik."

Ucapku. Namun, Hayasaka-san hanya terus menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Ada apa?"

"...Aku yang seharusnya minta maaf. Malah mengajak Kirishima-kun ikut ke tempat di mana ada Senior Yanagi juga. Kalau dipikir-pikir dengan tenang, apa yang kulakukan ini benar-benar jahat sekali, ya."

"Tidak apa-apa, kok. Lagipula selama ini Hayasaka-san juga sudah melakukan banyak hal demi kebaikanku, kan?"

"...Aku tidak ingin membuat Kirishima-kun harus mengalami hal seperti ini."

"Aku ini memang benar-benar payah," ucap Hayasaka-san dengan wajah yang tampak menahan tangis.

"Kamu pasti sedang kelelahan, Hayasaka-san."

Setelah itu, Hayasaka-san kembali terdiam dalam waktu yang cukup lama sambil terus menundukkan kepalanya.

Di luar ruangan, hujan badai tiba-tiba turun dengan derasnya. Sambil bertumpu pada siku di atas meja, aku menatap ke arah luar jendela, memandangi suasana kota yang mulai basah diguyur air hujan.

Begitu hujan badai mereda dan berkas sinar matahari mulai mengintip dari balik celah gumpalan awan, Hayasaka-san akhirnya mengangkat wajahnya.

Kemudian, dengan seulas senyuman yang terasa sangat menyayat hati saat melihatnya, dia pun berkata.

"Aku— bakal menyatakan cintaku kepada Senior di hari upacara penutupan sekolah nanti."




Pengakuan cinta yang spekulatif sudah pasti akan berujung pada kegagalan.

Mungkin terasa dramatis, tapi itu sama saja seperti melempar handuk dan menyerah di tengah pertandingan.

Setelah upacara penutupan sekolah, aku duduk sendirian di bangku kelas.

Saat ini, Hayasaka-san sedang menuju kelas tiga untuk menyatakan cintanya kepada Senior.

Beberapa hari lalu, kami sempat mendiskusikan pengakuan ini sekali lagi di kafe.

"Rasanya berat sekali," ucap Hayasaka-san sambil menatap cangkir tehnya.

"Aku harus membagi diriku menjadi dua: aku saat bersama Senior, dan aku saat bersama Kirishima-kun."

"Memang sesulit itu, ya?"

"Di depan Senior, aku berakting seolah-olah tidak punya kekasih. Tapi kenyataannya, ada Kirishima-kun. Waktu Senior masih di sekolah lain, aku masih bisa mengatasinya, tapi sekarang terasa berat sekali. Seolah-olah diriku ini akan terbelah jadi dua."

Sepertinya dia merasa sangat kacau kalau kami bertiga sedang bersama.

"Aku sepertinya tidak cocok jadi aktris, ya."

"Yah, akting memang bukan keahlianmu."

Tanpa mendengarkan jawabanku, Hayasaka-san terus merangkai kata-kata.

"Makanya, aku akan menyatakan perasaanku."

"Kalau terus begini, aku rasa aku bisa gila."

"Pengakuan ini bukan berarti aku sengaja ingin ditolak, ini karena aku memang ingin melakukannya. Jadi, ini bukan sesuatu yang harus Kirishima-kun benci, kan?"

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Kalau Hayasaka-san sudah memutuskan sesuatu, ada kalanya dia sangat keras kepala.

Lalu, di hari upacara penutupan, aku pun menunggu hasil pengakuan Hayasaka-san. Tapi—

Kemungkinan besar, pengakuan ini tidak akan berhasil.

Senior berpikir kalau aku menyukai Hayasaka-san. Karena itu, demi aku, dia tidak akan pernah menerima pengakuan Hayasaka-san. Orang itu memang tipe orang yang seperti itu.

Jujur saja, bagi diriku, akan lebih menguntungkan jika Hayasaka-san ditolak. Dengan begitu, aku pasti bisa berpacaran dengan salah satu dari mereka, entah Tachibana-san atau Hayasaka-san.

Hayasaka-san menjadi jaminan mutlak, sehingga probabilitas patah hatiku menjadi nol persen.

Terlebih lagi, aku tidak perlu merelakan Hayasaka-san yang manis, manja, dan hobi memeluk itu kepada orang lain.

Aku sungguh picik karena memikirkan hal seperti itu.

Namun, aku bangkit berdiri dan melangkah keluar kelas.

Aku berniat untuk menghentikan pengakuan itu.

Aku ingin Hayasaka-san bahagia. Jadi, meskipun itu tidak menguntungkan bagiku, pengakuan yang tingkat keberhasilannya mendekati nol ini harus dihentikan.

Aku akan mengatakan kepada Senior, "Aku sebenarnya menyukai orang lain."

Jika kesalahpahaman itu sudah lurus, kemungkinan Senior akan jatuh cinta kepada Hayasaka-san sangatlah besar.

Jika ditanya kenapa aku sampai sejauh ini, mungkin jawabannya karena aku benar-benar menyukai Hayasaka-san.

Aku menyukainya sampai-sampai aku rela membantu hubungan cintanya dengan pria lain.

Tapi, mungkin karena aku hanya orang kedua, makanya aku bisa membantunya sampai sejauh ini.

Seandainya aku adalah orang pertama, aku pasti tidak akan sanggup memberikan dukungan dengan kepala dingin. Aku merasa sedikit sedih memikirkan hal itu.

Saat sampai di depan kelas tiga, aku menemukan Hayasaka-san.

Dia berdiri di koridor sambil menempelkan tangan di dada dan menarik napas dalam-dalam.

"Kirishima-kun, ada apa?"

Tepat saat Hayasaka-san menyadari keberadaanku.

Senior Yanagi kebetulan keluar dari dalam kelas.

"Eh?"

Aku dan Hayasaka-san berseru bersamaan.

Karena di belakang Senior Yanagi, muncul sosok yang tidak terduga.

"Lho, bukannya itu Ketua Klub?"

Itu Tachibana-san. Sepertinya dia baru kembali dari kompetisi.

Lalu, dia menatapku dan Hayasaka-san bergantian dengan ekspresi curiga.

"Ada apa?"

"Bukan, justru kenapa Tachibana-san ada di sini?"

Melihatku yang tergagap, Senior Yanagi memiringkan kepalanya.

"Kirishima, ada apa?"

"Senior, apa kalian sudah saling kenal dengan Tachibana-san?"

"Oh."

Senior menggaruk kepalanya sambil menatap Tachibana-san.

"Boleh kuberitahu?"

Saat Senior bertanya, Tachibana-san menjawab, "Terserah." Dilihat dari cara mereka tidak menggunakan bahasa formal, jelas mereka sudah saling kenal sejak lama.

Firasatku buruk. Aku tidak ingin mendengarnya. Aku ingin lari dari sini sekarang juga. Ada hal-hal yang mungkin lebih mudah diterima jika mendengarnya dari orang lain.

Tachibana-san menatap ke arahku, namun tatapannya sedikit tertuju ke arah bawah. Berbeda dengan sikap dinginnya yang biasa, dia tampak agak menyesal. Aku yakin firasatku benar.

Tolong, beri aku waktu untuk menyiapkan mental.

Otakku berputar cepat. Cara melarikan diri, cara berdalih, berikan aku waktu sedikit saja—

Meski berpikir begitu, Senior mengatakannya dengan santai.

"Dia tunanganku."

"Eh?"

"Kami akan menikah nanti."

Senior dan Tachibana-san akan menikah.

Setelah diberitahu hal seperti itu, harus apa aku menjawabnya?

"Maksudnya, itu, ............ selamat, ya?"

"Masih terlalu dini untuk mengucapkannya."

Perasaanku tidak bisa mengejar situasi ini.

Tunangan yang dimaksud Tachibana-san bersekolah di tempat lain ternyata adalah Senior Yanagi.

Lalu, apa yang akan terjadi?

Apa yang harus kulakukan?

Sebuah hubungan empat sudut yang sempurna telah tercipta, apakah aku dan Tachibana-san berada di titik diagonal?

Saat aku menoleh ke samping, Hayasaka-san tersenyum dengan tenang.

Mungkin dia sudah tidak bisa memikirkan apa pun lagi. Ekspresinya tampak seperti orang yang sudah mencapai pencerahan. Jika sudah sampai tahap ini, mungkin justru lebih mudah bagi dirinya.

"Ngomong-ngomong, tadi Maki mengajakku sesuatu."

Senior kembali dengan nada bicara biasanya.

"Katanya kekurangan orang untuk syuting film pendek, kan? Baiklah, aku akan bantu di kamp musim panas nanti. Hayasaka-chan juga ayo ikut."

Hayasaka-san masih tetap tersenyum bak patung Buddha.

Aku berusaha memikirkan sesuatu, tapi soal kamp musim panas atau apa pun itu, sama sekali tidak masuk ke dalam kepalaku.

Untuk saat ini, aku harus menata pikiranku.

Dalam situasi seperti ini, melakukan kegiatan rutin yang biasa dilakukan adalah cara terbaik untuk menenangkan hati.

Begitu sampai di rumah, aku akan meraut pensil.

Saat kedua belas pensil itu sudah runcing sempurna, aku seharusnya sudah bisa mendapatkan kembali ketenanganku.

Ya, begitulah pikirku.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close