Chapter 6
Revolusi Segi
Empat
Dua minggu sebelum libur musim panas dimulai, Maki berucap.
"Ayo kita adakan kamp musim panas."
Itu terjadi di ruang klub setelah pelajaran berakhir di pagi
hari.
Pemicunya adalah guru bahasa Inggris bernama Miki-chan, yang
sedang berpacaran dengan Maki. Saat kami menghidupkan kembali Klub Misteri yang
hampir dibubarkan, kami meminjam namanya sebagai pembina klub. Rupanya,
Miki-chan kena omel di rapat guru karena Klub Misteri dianggap tidak punya
catatan kegiatan.
"Kalau mau
kamp, kita mau ngapain?"
"Kita bikin
video misteri terus diunggah ke internet. Dengan begitu, itu sudah cukup jadi
bukti kegiatan, kan? Lagipula, kita bisa menginap di penginapan pemandian air
panas secara gratis."
Maki menunjukkan
situs web sebuah penginapan air panas kuno lewat tabletnya.
"Tujuannya
buat promosi. Kalau kita bikin film pendek berlatar penginapan itu dan
mengunggahnya ke situs video, kita bisa menginap gratis. Musim panas itu off-season
dan kamar-kamarnya kosong, jadi ini kesempatan pas."
Ide itu biasanya
ditujukan untuk klub film mahasiswa.
Sebagai ganti
menginap gratis, kami harus membuat video promosi.
"Jadi
begitu, ayo kita bikin Onsen Mystery."
"Gak
mau."
"Kenapa?!"
"Ya repot,
lah."
"Dengar ya,
kalau kita gak bikin catatan kegiatan, ruang klub ini bakal disita."
"Itu gawat
juga."
"Kalau
begitu, ya mau gak mau harus dilakukan, kan?"
Maki sangat
bersemangat. Sepertinya dia ingin mencoba menjadi sutradara film sekali saja.
Dia bilang sudah meminta tolong pada Yamanaka-kun dari Klub Manga untuk membuat
storyboard.
"Untuk
pemerannya, ayo kita ajak orang-orang yang terlihat cocok."
"Kalau
naskahnya?"
"Tachibana
saja, kan? Dia
terlihat ahli dalam hal kreatif seperti itu."
"Ya sudah,
nanti coba kubicarakan pelan-pelan padanya."
"Kok
ragu-ragu gitu? Ada sesuatu terjadi?"
"Gak ada
apa-apa."
"Ngomong-ngomong,
belakangan ini Tachibana tidak masuk sekolah, ya."
"Dia sedang
ikut kompetisi piano, katanya akan absen sampai selesai."
Itu benar adanya.
Namun kenyataannya, hubungan antara aku dan Tachibana-san sedang tidak baik
belakangan ini.
Sejak aku menolak
ciumannya, mood Tachibana-san jadi sangat buruk.
"Memang ada
apa-apanya, kan?"
Maki menyeringai
saat mengucapkannya. Firasatnya tajam di saat yang tidak tepat.
"Tapi ya,
tidak masalah kalau hubunganmu dengan Tachibana memburuk. Toh, kamu sudah punya
asuransi dengan gadis nomor satu yang diidamkan semua orang."
Maki
melirik ke luar gedung sekolah. Di kejauhan, di dekat gerbang belakang,
Hayasaka-san sedang berdiri.
"Mau
pulang bareng, kan?"
"Begitulah."
Aku
berdiri dan bersiap untuk pulang.
"Sekarang
mungkin tidak masalah, tapi lama-lama kamu bakal dalam masalah besar."
Maki mengucapkan
hal yang penuh teka-teki.
"Apa
maksudmu?"
"Aku tidak
bisa mengatakannya. Tapi nanti kamu akan segera tahu."
Paling-paling
dia mendengar sesuatu dari Miki-chan.
"Ya sudah,
ayo kita lakukan kamp musim panas. Kalau tidak, ruang klub kita bakal disita."
"Benar
juga."
Namun,
ada satu hal yang mengganjal. Jika kami membuat film pendek...
"Aku
kebagian peran apa?"
"Kirishima,
aktingmu kelihatan buruk, sih."
Maki berpikir
sejenak lalu menjawab.
"Peran mayat
saja sepertinya cocok."
"Aku ini
ketua klub, lho," gumamku dalam hati sambil berimajinasi.
Di atas lantai
kayu yang remang-remang, Tachibana-san yang mengenakan Yukata akan
membunuhku secara perlahan, saksama, dan dengan sangat lembut.
"Yah,
mungkin itu tidak terlalu buruk."
"Kurangi
delusi menyimpangmu itu."
◇
Memprioritaskan
pasangan nomor satu.
Itu adalah aturan
yang kami tetapkan saat memutuskan untuk berpacaran sebagai "nomor
dua", dan baik aku maupun Hayasaka-san sangat memahami hal itu. Namun,
terkadang ada saatnya kendali itu lepas, dan sepertinya kali ini Hayasaka-san
sedang mengalaminya.
"Maaf soal yang waktu itu. Aku sebenarnya sudah lama ingin
mengatakannya..."
Di tengah
perjalanan pulang, Hayasaka-san meminta maaf. Soal ujian perasaan dengan
Tachibana-san beberapa hari lalu.
"Aku jadi bersaing dengan Tachibana-san. Entahlah, aku merasa tidak mau kalah."
"Apa kamu
sadar dasi itu punyaku dari awal?"
"Iya.
Soalnya Kirishima-kun biasanya pakai dasi meski musim panas, tapi waktu itu
kamu tidak memakainya."
Omong-omong,
kancing baju bagian atas pun sudah kututup rapat.
"Padahal aku
harus menahan diri. Tapi saat itu, aku tetap merasa cemburu. Maaf ya."
Karena wajahnya
terlihat sangat lesu, aku meraih tangan Hayasaka-san.
"Kirishima-kun."
Wajah
Hayasaka-san jadi cerah.
Hanya
dengan berpegangan tangan seperti ini saja, dia sudah bahagia. Itu hal yang
menyenangkan, dan di saat yang sama, aku merasa aneh karena menyadari
tindakanku memberikan pengaruh besar padanya.
"Di
masyarakat, cemburu dianggap sebagai emosi yang tidak baik."
Terutama
dalam hal percintaan. Sering terdengar ucapan bahwa pria yang cemburu itu
memalukan atau semacamnya.
"Tapi,
bukankah itu emosi yang sangat alami?"
Keinginan untuk
memonopoli, keinginan untuk menjadi sosok yang spesial, itu pasti ada dalam
diri setiap orang.
"Aku cemburu
karena aku menyukaimu."
Mungkin kalau
sudah dewasa nanti aku bisa berpikir dengan cara yang berbeda, tapi untuk
sekarang, aku belum sanggup.
"Tapi aku
cemburu pada gadis nomor satu, lho? Aku sudah mengganggu kalian, kan?"
"Kita berdua
masih terlalu menyepelekan rasa suka 'nomor dua' di dalam hati."
Meskipun kita
berpacaran sebagai nomor dua, kita tetaplah pasangan yang saling menyukai.
Emosi itu sangat kuat dan terkadang sulit untuk dikendalikan dengan baik.
"Cemburu
adalah bukti bahwa kita saling suka."
"Apa
Kirishima-kun juga cemburu?"
"Saat
Hayasaka-san pergi futsal, aku merasa tidak ingin kamu pergi. Padahal dia itu
pasangan nomor satu bagimu. Waktu kamu memberi tanda bahwa jadi nomor dua saja
cukup, itu terasa menyakitkan."
"Aku
senang."
Hayasaka-san
menatap wajahku saat mengatakannya.
"Kirishima-kun
cemburu padaku, aku senang. Entah kenapa ya, apa aku aneh?"
"Tidak, itu
tidak apa-apa. Aku juga senang saat tahu Hayasaka-san cemburu padaku."
Mungkin,
berpacaran sebagai sesama nomor dua berarti satu paket dengan rasa cemburu pada
nomor satu.
Hubungan yang
sedikit menyimpang seperti itulah yang kami miliki.
"Hei
Kirishima-kun, aku ingin kamu lebih cemburu lagi."
Ucap
Hayasaka-san.
"Saat
futsal, tubuh kami sering bersentuhan, lho."
"Tunggu
dulu."
"Kami pernah
jatuh bersama sampai tubuh kami menumpuk."
"Aku
tidak mau dengar lebih lanjut."
"Saat
pahaku terbentur, dia menyentuhku dengan lembut sambil bertanya, 'Tidak
apa-apa?'"
"Cukup
sampai di situ."
"Setiap kali
itu terjadi, aku merasa senang."
"Terserah
lah, aku mengerti, tapi ya cukup!"
"Kirishima-kun,
bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Aku rasanya
hampir mati."
Hayasaka-san
adalah pacarku, aku bisa memeluk dan menciumnya. Hayasaka-san pun menginginkan
hal itu. Namun, gadis itu—gadis yang seharusnya menyukaiku—malah merasa bahagia
saat bermain dengan pria lain. Hal itu cukup rumit.
Tapi, itulah
artinya berpacaran sebagai sesama nomor dua.
Setiap kali aku
terbakar cemburu dan merintih, Hayasaka-san tertawa dengan riang.
"Saat
Kirishima-kun bermesraan dengan Tachibana-san, aku juga merasakan hal yang
sama."
"Maaf."
"Tidak
apa-apa. Karena inilah hubungan kita, kan? Ini bukti bahwa kita memang benar-benar saling
suka, kan? Hei Kirishima-kun, aku juga ingin cemburu. Ingin lebih banyak
lagi."
Karena
Hayasaka-san memintanya, aku pun menceritakan kejadian di hari hujan yang
sebelumnya tidak sempat kuceritakan.
"Aku pernah
diminta Tachibana-san untuk melakukan Wall-don."
"Kamu
melakukannya?!"
"Iya.
Dia bilang jantungnya berdebar."
"Jangan
lakukan hal seperti itu dengan enteng!"
"Wajah
Tachibana-san sangat dekat, jantungku juga ikut berdebar."
"Terserah
lah, aku mengerti, tapi ya cukup!"
Meskipun cemburu,
Hayasaka-san tampak menikmatinya. Jadi, giliran aku yang membalas dengan
menceritakan episode bermesraan dengan Tachibana-san.
"Di ruang
musik sebelah, dia selalu memainkan lagu yang pernah kubilang kusukai."
"Itu pasti
kebetulan! Itu cuma asumsimu saja, Kirishima-kun!"
"Saat
jam makan siang, kami bertukar lauk bekal di ruang klub."
"Sudah,
aku tidak mau dengar lagi..."
"Sepertinya
Tachibana-san sudah mengunduh semua album band yang kusukai."
"Itu, aku
juga akan mendengarkannya!"
Setiap kali aku
menceritakan tentang Tachibana-san, Hayasaka-san menggenggam tanganku dengan
erat, memejamkan mata, atau bergelayut di lenganku. Setelah itu, kami saling
pamer episode bermesraan dengan pasangan nomor satu masing-masing, cemburu satu
sama lain, hingga kami kelelahan.
"Berpacaran
sebagai sesama nomor dua itu melelahkan, ya."
Ucap
Hayasaka-san.
"Tapi,
karena pasangannya adalah Tachibana-san, aku memaafkannya. Kalau kamu melakukan
hal itu dengan gadis lain—"
"Kalau
kenapa?"
"Hmm, aku
mungkin tidak akan marah pada Kirishima-kun. Tapi aku akan marah pada gadis
itu. Aku akan bilang, 'Jangan ganggu pacarku, ya'."
"Hayasaka-san
terlalu baik padaku."
Ehehe, Hayasaka-san tertawa.
"Tapi
Kirishima-kun, kamu cukup akrab ya dengan Tachibana-san."
"Soal
itu..."
Aku menceritakan
semuanya. Tentang Tachibana-san yang sudah punya tunangan. Dan
tentang Tachibana-san yang tidak ada niat untuk putus dengan tunangannya
tersebut.
Jika begitu, berarti aku hanya punya Hayasaka-san. Namun──.
"Ngomong-ngomong, Hayasaka-san."
"Aku tahu.
Kamu khawatir aku akan merasa kasihan pada Kirishima-kun lalu sengaja mengalah
pada pasangan nomor satu, kan? Tidak apa-apa, kok."
Aku tahu
Kirishima-kun tidak suka hal seperti itu, ucap Hayasaka-san.
"Aku tidak
ingin melakukan hal yang tidak disukai Kirishima-kun. Jadi, aku tidak akan sengaja membiarkan diriku
ditolak oleh si nomor satu. Aku
akan melakukan apa yang Kirishima-kun harapkan. Aku berharap hal itu terjadi.
Karena aku adalah pacar Kirishima-kun. Aku ingin jadi pacar yang baik untuk
Kirishima-kun. Kalau ada hal yang ingin kamu lakukan, bilang ya. Kalau ada hal
yang tidak disukai, bilang ya. Aku akan melakukan semuanya, aku akan
memperbaiki semuanya."
"A-ah,
iya."
"Kalau sudah
libur musim panas, ayo kita banyak kencan, ke pantai, melihat kembang api, dan
festival musim panas!"
Hayasaka-san bicara dengan nada yang sangat ceria.
"Setelah
itu, liburan musim panas nanti kita jadi pasangan yang beneran, ya. Kita buat
kenangan yang beneran. Lakukan hal yang dilakukan orang lain pada umumnya. Biar
cuma nomor dua, jadikan aku pacar yang beneran, ya. Kalau sama Kirishima-kun,
aku benar-benar tidak keberatan kok. Kamu selalu baik, membantuku saat aku
kesulitan, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun,
Kirishima-kun."
Hayasaka-san
menggenggam tanganku dengan erat. Aku merasakan tekanan yang cukup berat, tapi
karena ekspresinya tersenyum dengan ceria, kurasa ini memang hal yang wajar...
"Hei
Kirishima-kun, kita ini pacaran, kan?"
"Y-ya."
"Kalau
begitu, lakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan pada Tachibana-san
kepadaku juga."
"Maksudmu
Wall-don atau Elbow-don yang kuceritakan tadi?"
Un, Hayasaka-san mengangguk mantap.
"Boleh saja,
tapi mau di mana? Mau
balik ke sekolah pakai ruang klub?"
Di sana
tercium aroma Tachibana-san, jadi aku kurang suka, Hayasaka-san menggeleng.
"Terus di
mana?"
"Aku ingin
ke kamarku, tapi hari ini ada Ibu di rumah."
Kenapa dia
mengkhawatirkan hal itu?
"Oh iya,
bukankah ada kuil di dekat sini?"
Memang
ada kuil yang jarang dikunjungi orang. Di balik halamannya ada hutan lindung
yang pepohonannya lebat. Ada
rumor kalau malam hari, pasangan sering melakukan hal-hal seperti itu di sana.
"Itu terlalu
tidak sopan, kan. Lagipula, takutnya ada yang melihat."
Begitu ya, ucap
Hayasaka-san sambil menunjukkan ekspresi malu-malu.
"Membuat
jantung berdebar, ya."
◇
"Lihat aku
saja."
Aku memosisikan
Hayasaka-san di depan pohon cedar yang besar, lalu melakukan Wall-don.
"Iya. Aku
hanya melihat Kirishima-kun."
Hayasaka-san
memelukku tanpa ragu, menekan seluruh tubuhnya padaku. Sejak masuk ke halaman
kuil, Hayasaka-san sudah benar-benar siap.
'Soalnya sudah
lama sekali kita tidak berdua saja,' katanya. Mungkin ini adalah dampak dari
persaingannya dengan Tachibana-san.
"Lagipula
Hayasaka-san, aku berkeringat banyak, lho."
Meski berada di
bawah bayang-bayang pohon, cuacanya cukup panas. Karena ini musim di mana suara
tonggeret terdengar berisik, kemejaku sudah basah kuyup oleh keringat. Tapi
Hayasaka-san tidak tampak peduli.
"Aku juga
berkeringat, kok."
Ucapnya sambil
tidak mau melepaskan pelukan. Keringat kami bercampur, hingga rasanya batasan
di antara kami berdua hampir menghilang.
"Wall-don,
sepertinya aku cukup menyukainya."
"Bukan,
sebenarnya bukan seperti ini caranya."
"Begitu
ya?"
"Biasanya
dilakukan secara tiba-tiba, lalu si gadis akan malu-malu dan memalingkan
wajah."
Ini adalah
sesuatu untuk menikmati jarak yang ambigu.
"Kalau
begitu, sekarang giliranku melakukan Neck-eat."
Hayasaka-san
menarik dasiku hingga wajah kami mendekat. Detik berikutnya, Hayasaka-san
mencium bibirku, lalu memasukkan lidahnya. Tangan yang tadi memegang dasi
akhirnya melingkar ke punggungku, membuat kami berciuman sambil berpelukan.
Karena ciuman itu
berlangsung lama, air liur menetes dari sudut bibirku.
"Aku,
sepertinya suka juga dengan Neck-eat."
"Beda jauh,
tahu."
"Bagaimana
kalau dibandingkan dengan Tachibana-san?"
"Tidak,
aku kan belum pernah berciuman dengan Tachibana-san."
"Aku ingin dibandingkan dengan Tachibana-san. Kalau kamu membandingkannya, mungkin
rasanya akan sangat nikmat."
Hayasaka-san,
bukankah kamu makin lama makin aneh?
"Hei, bandingkan dong. Bagaimana rasanya Wall-don
dengan Tachibana-san?"
"Tachibana-san itu... memang mahir."
"Apakah
jantungmu berdebar?"
"...Berdebar."
"Begitu
ya."
Tidak
apa-apa kok, ucap Hayasaka-san dengan ekspresi ceria.
"Banyak
hal yang sudah kamu lakukan dengan Tachibana-san sesuai yang tertulis di buku
catatan Klub Misteri, kan? Ada hal lain lagi?"
Karena
ditanya Hayasaka-san, aku berpikir sejenak lalu menjawab.
"Ada yang namanya Ear-mimi Mystery."
Itu adalah permainan di mana kami saling menempel,
membisikkan judul karya di telinga, dan menebak penulisnya. Aku tidak bisa
bilang kalau aku pernah saling menjilat telinga dengan Tachibana-san. Terutama tidak bisa kukatakan pada
Hayasaka-san yang kondisinya sedang "menyala" seperti ini.
"Ayo lakukan
itu."
"Hayasaka-san,
kamu kan jarang membaca misteri."
"Kalau
begitu pakai buku materi bahasa Indonesia saja."
Sambil tetap
berdiri, kami menyilangkan wajah untuk berbisik di telinga.
"Botchan."
"Natsume
Soseki."
"Chuumon no
Ooi Ryouriten."
"Miyazawa
Kenji."
Setelah menebak
beberapa kuis, Hayasaka-san memiringkan kepalanya.
"Ini, apanya
yang menarik?"
"Pasti bakal
jadi begini, ya."
Mulai dari
Ear-mimi Mystery sampai permainan yang tidak boleh menggunakan tangan, menarik
atau tidaknya bergantung pada selera pemainnya, atau dengan kata lain,
bergantung pada daya imajinasi Tachibana-san.
"Bukankah
ini permainan agar pria dan wanita jadi akrab? Harus bagaimana ya?"
Melihat
Hayasaka-san yang bingung, aku terpaksa menceritakan apa yang dilakukan
Tachibana-san.
"Ini tuh,
saat perasaan mulai memuncak, rasanya jadi ingin saling berpelukan, lalu jadi
saling menjilat telinga. Tidak, itu cuma imajinasi saja. Dengan Tachibana-san
juga tidak sampai sejauh itu."
"Telinga,
ya..."
Hayasaka-san
melingkarkan tangannya ke belakang leherku. Lalu dia berjinjit dan mendekatkan
wajahnya ke telingaku. Di saat itulah, atmosfer Hayasaka-san berubah.
"Begitu ya,
jadi begitu rupanya... Aku bodoh sekali."
Matanya sayu dan
sudut bibirnya tersenyum curiga.
"Kita kan
pacaran, ya. Lagipula kita tidak butuh permainan untuk jadi akrab lagi."
"Hayasaka-san?"
"Tidak perlu
pura-pura pakai permainan segala. Tidak perlu tipu daya seperti itu lagi."
Saat
mengucapkannya, Hayasaka-san mulai menjilati telingaku.
Remnya benar-benar sudah hancur.
Hayasaka-san secara terang-terangan menekan dadanya ke
arahku. Sambil melakukannya, sepertinya dia semakin bergairah, napasnya
perlahan menjadi kasar.
"Hei
Kirishima-kun, bagaimana?"
"Bagaimana
apanya—"
"Dibandingkan dengan Tachibana-san, bagaimana?"
Tidak, aku berbohong, "Aku tidak pernah melakukan hal
ini dengan Tachibana-san."
"Tidak apa-apa, bayangkan saja lalu bandingkan."
"...Lidah Hayasaka-san lebih panas, basah, dan lebih
nikmat. Dibandingkan Tachibana-san."
Dibandingkan Tachibana-san. Mendengar kata itu, napas
Hayasaka-san yang menerpa telingaku dipenuhi dengan rasa bahagia.
Seluruh tubuhnya
yang menekan tubuhku menyampaikan perasaan bahagianya.
Jujur,
Tachibana-san lebih mahir, lebih rapi, dan mungkin karena kecocokanku dengannya
sangat luar biasa, sensasi fisiknya lebih nikmat.
Tapi
Hayasaka-san, meskipun canggung, dia berusaha keras dan sungguh-sungguh,
memberikan kepuasan secara mental. Ada rasa puas karena begitu disukai oleh
seorang gadis.
"Hei, jilat
telingaku juga."
Aku menyingkap
rambutnya lalu menjilati telinganya. Tubuh Hayasaka-san bergetar.
"Ah... n, ah... ya... aahn!"
"Hayasaka-san,
suaramu."
"Habisnya,
aku tidak bisa menahannya."
Terpancing oleh
desahan Hayasaka-san, aku pun merasa aneh.
Aku terus
menjilati telinga Hayasaka-san dengan gigih. Karena aku tahu Hayasaka-san
menyukainya, aku jadi kebablasan.
Dan saat aku
memasukkan lidahku jauh ke dalam telinganya, Hayasaka-san mengeluarkan suara
yang lebih kencang lagi.
Kakinya
berjinjit, dan keringat mengalir di sepanjang paha yang terlihat dari roknya.
Dan mungkin, bukan hanya keringat saja.
"Hayasaka-san,
sudah ya."
Kurasa sudah
cukup. Kami bermesraan secara langsung melebihi apa pun sebelumnya. Namun.
"Kirishima-kun,
ayo lakukan lebih lagi."
Itu sepertinya
bukan soal saling menjilat telinga, melainkan hal yang lebih jauh lagi.
Pandangan mata
Hayasaka-san sudah tidak fokus.
"Tidak,
bukankah aturannya cuma sampai ciuman—"
"Aku
tidak butuh aturan seperti itu lagi. Bukankah aku pacar Kirishima-kun?"
"Ya."
"Tapi, saat
Tachibana-san memakai dasi Kirishima-kun, atau memakai earphone-mu, aku
memikirkan sesuatu."
"Apa?"
"Apa artinya
menjadi pacar, ya? Apa kalau sudah menyatakan cinta itu artinya jadi pacar?
Tapi waktu itu, tidak ada bedanya antara aku dan Tachibana-san. Padahal
seharusnya aku pacarnya, tapi aku terus kalah."
"Tidak
seperti itu."
"Tapi
ya memang begitu, kan? Soalnya aku tidak melakukan hal yang biasanya dilakukan
pacar."
Hayasaka-san
meraih tanganku lalu membawanya ke dadanya.
Karena
sedari tadi menempel, Hayasaka-san juga basah kuyup oleh keringat, rambutnya
yang basah terlihat sangat sensual, dan pakaian dalamnya pun sedikit tembus
pandang.
Saat
tanganku tanpa sadar menyentuh gundukan itu, Hayasaka-san menunjukkan ekspresi
yang sangat bahagia.
"Tidak,
tunggu dulu. Taruhlah kita melakukan apa yang biasa dilakukan pacar, tapi ini
kan di luar?"
"Justru
itu bagus, kan?"
Hayasaka-san
mengatakannya sambil menekan bagian di antara kakinya ke arah pahaku.
"Aku ingin
Kirishima-kun ingat kalau aku pernah jadi pacarmu. Jadi, aku ingin melakukan
banyak hal yang hanya pernah dilakukan denganku saja."
Hayasaka-san
terdengar sangat serius.
"Aku, ingin
melakukannya sekarang di sini. Aku tidak memaksakan diri, kok. Habisnya, sedari tadi aku..."
Tubuhku
panas dan gelisah, ucap Hayasaka-san dengan suara yang hampir menghilang.
"Kirishima-kun
tidak mau?"
Aku mencoba
berpikir. Namun, saat merasakan tubuh Hayasaka-san yang menempel, aku pun
luluh.
"...Mau,
tapi."
"Boleh kok.
Lakukan saja apa pun yang Kirishima-kun inginkan."
Kemeja yang
berantakan, kaki putih yang terlihat dari balik rok.
"Sentuh
seluruh tubuhku. Aku ingin kamu tidak meninggalkan satu titik pun yang belum
kamu sentuh."
Pipi Hayasaka-san
merona panas.
Aku mengerahkan
tenaga pada tangan yang kuletakkan di atas gundukan dadanya. Meski terhalang
kain, sensasinya terasa sangat nyata.
"Ah,
Kirishima-kun..."
Suara pilu itu
lolos, dan switch dalam diriku pun menyala.
Hayasaka-san
bereaksi dengan menarik. Dia mengubah ekspresinya dan mengeluarkan suara yang
menggoda.
Pinggang, paha,
aku menyentuhnya satu per satu.
"Kirishima-kun...
nnn..."
Aku mencium
Hayasaka-san yang merengek.
Ekspresi
yang belum pernah kulihat sebelumnya dan reaksinya.
Aku jadi
ingin melihat lebih banyak lagi, jadi aku menyentuh tubuh Hayasaka-san. Ingin
melihat lebih banyak.
Sosoknya
yang kacau yang hanya ditunjukkan padaku, aku ingin melihatnya lebih, lebih
banyak lagi.
Karena
berpikiran begitu, dan karena ingin mendengar suara yang belum pernah kudengar,
aku akhirnya mencoba memasukkan tanganku ke dalam roknya.
"Apa
boleh?"
"Iya.
Aku sudah tidak..."
Saat
itulah.
Di dalam
tas yang tergeletak di tanah, ponselku bergetar sambil mengeluarkan bunyi.
"Tunggu
sebentar."
Hayasaka-san
berjongkok dan mengulurkan tangan ke tasnya.
"Aku
matikan dayanya. Aku tidak ingin diganggu sama sekali setelah ini."
Setelah
berkata begitu, tepat saat dia mengeluarkan ponsel dan melihat layarnya,
Hayasaka-san membeku.
"Hayasaka-san?"
Meski
kupanggil, dia hanya menatap layar ponselnya dengan lekat.
Aku mengintip
layar ponselku sekilas.
Aha, begitu ya.
Jadi, ini yang
dimaksud dengan "masalah besar" oleh Maki. Sebagai ketua OSIS—dan
yang paling penting dia juga alumni dari SMP yang sama sekaligus saling
kenal—Maki pasti sudah mendengar kabar ini lebih dulu.
Aku pun memeriksa
ponselku sendiri.
Pesan yang isinya
persis seperti yang didapat Hayasaka-san ternyata masuk juga ke ponselku.
Pesan itu dikirim
oleh Senior Yanagi, orang yang paling disukai oleh Hayasaka-san.
“Aku bakal
pindah ke sekolahnya Kirishima, jadi mohon bantuannya, ya!”
◇
"Menyebalkan
sekali, sih!"
Di koridor
penghubung saat jam istirahat siang, Maki menggerutu dengan wajah masam.
"Tiba-tiba
datang langsung jadi pusat perhatian dan digandrungi banyak orang, itu curang
banget, tahu. Padahal aku harus jadi ketua OSIS dan mengumpulkan popularitas
sedikit demi sedikit, tapi dia malah langsung menyalip di hari pertama pindah.
Siapa yang tidak makan hati coba?"
Begitu
pindah, Senior Yanagi langsung menjadi buah bibir di seluruh penjuru sekolah.
Intinya, dia memang sangat segar dan keren.
"Jangan
bicara begitu. Kamu sendiri juga banyak dibantu olehnya waktu di SMP dulu,
kan?"
"Aku tahu
itu, tahu! Tapi masalahnya, aku ini! Ketua OSIS yang terhormat ini! Malah
diperlakukan seperti barang pelengkap oleh adik kelas perempuan! Mereka bilang,
'Kakak kenal dengan Senior Yanagi, ya? Kalau begitu ayo main bareng, ajak
Senior Yanagi juga ya'. Bisa-bisanya ada kejadian seperti ini?"
Begitu
orang-orang tahu kalau aku juga akrab dengan senior, aku langsung diberondong
berbagai pertanyaan oleh para siswi. Mulai dari apa makanan kesukaan senior,
musik apa yang dia dengarkan, sampai apakah dia sudah punya pacar atau belum.
"Padahal dia
sempat masuk youth team tapi terpaksa menyerah dari sepak bola karena
cedera. Narasi tragis begitu jelas jadi nilai tambah yang kuat, karena
perempuan kan suka drama tragis. Hei, Kirishima, kamu mau ke mana?"
"Aku sudah
janji dengan senior untuk memandunya keliling gedung sekolah."
"Kamu pun
ikut-ikutan jadi pengikut Senior Yanagi juga, ya!"
Meninggalkan Maki
yang terus merengek, aku melangkah menuju ruang kelas murid tahun ketiga.
Karena postur
tubuhnya yang tinggi, aku bisa langsung menemukannya dengan mudah.
"Yo,
Kirishima."
Senior Yanagi
melihatku lalu berjalan menghampiri.
Saat kami
berjalan menyusuri koridor bersama, semua mata langsung tertuju pada senior.
Aku yang berjalan di sebelahnya bahkan sampai merasa seolah-olah ikut menjadi
orang populer. Aku memandunya keliling sekolah sambil menjelaskan, "Ini
ruang audio visual," atau "Di sebelah sana itu kantin."
"Tapi,
kepindahan ini mendadak sekali, ya?"
"Sekolah
yang dulu kupilih kan cuma karena dekat dengan tempat latihan youth team
saja."
Kalau
dipikir-pikir, sekolahnya yang dulu memang cukup jauh.
"Sekolah itu
juga tidak cocok untuk persiapan ujian, jadi aku ingin secepatnya pindah ke
sekolah unggulan yang aksesnya lebih mudah."
"Apalagi
sebentar lagi ada kursus musim panas, ya. Tapi, apa Senior benar-benar tidak
menyesal soal sepak bola?"
"Tidak,
kok. Orang seperti aku ini ada banyak sekali di luar sana. Lagipula Kirishima,
bukankah sudah berulang kali kukatakan untuk tidak usah pakai bahasa formal
padaku?"
"Ah, tapi
tetap saja rasanya sulit."
Saat kami sedang
asyik mengobrol, tiba-kira aku menyadari Sakai sedang berdiri di koridor dengan
gaya suramnya yang biasa.
"Kamu anak
baru bernama Yanagi yang pindah ke sini, kan?"
Sakai sama sekali
tidak merasa takut atau sungkan saat berhadapan dengan Senior Yanagi. Orang-orang di sekitar kami bahkan
sampai sedikit terkejut melihatnya.
"Ada urusan
sebentar."
"Ada apa,
ya?"
"Yah,
sebenarnya yang punya urusan bukan aku, sih."
Saat aku
memperhatikan, ternyata Hayasaka-san sedang mengintip situasi dari balik
punggung Sakai.
Sakai langsung
mendorong punggung Hayasaka-san agar maju ke depan.
"Oh,
Hayasaka-chan."
Senior Yanagi
mengangkat sebelah tangannya.
Wajah
Hayasaka-san langsung memerah padam dalam sekejap.
"Halo!"
Dia menyapa
dengan lantang. Tak lama kemudian, dia juga menoleh ke arahku.
"Kirishima-kun,
halo!"
Sepertinya, kalau
berhadapan langsung dengan orang yang paling disukainya, Hayasaka-san akan
menjadi jauh lebih ceroboh dari biasanya.
"Senior,
ternyata kamu sedang dipandu keliling sekolah oleh Kirishima-kun, ya!"
"Hayasaka-chan,
kamu kenapa?"
Senior Yanagi
memiringkan kepalanya kebingungan.
"Wajahmu
merah sekali, lho."
"Soalnya
hari ini panas sekali!"
"Dan
gerak-gerikmu juga agak kaku."
"I-iya, ya.
Entahlah, mungkin karena rasanya aneh melihat Senior ada di sekolah.
Ahaha."
Sambil terus
mengobrol, Hayasaka-san perlahan-lahan mulai bisa menguasai dirinya.
Setelah dia
kembali bersikap normal, aku pun membuka suara.
"Hayasaka-san,
bagaimana kalau kamu saja yang memandu senior keliling sekolah?"
"Eh?
Aku?"
"Ujianku
yang kemarin dapat nilai merah, jadi aku harus mempersiapkan diri untuk ujian
susulan."
"Mana
mungkin Kirishima-kun bisa dapat nilai merah? Ah—"
Hayasaka-san
sepertinya langsung menangkap maksudku, dia pun mengeraskan ekspresinya untuk
meyakinkan diri.
"I-iya,
benar juga. Biar aku saja yang memandu. Aku akan berusaha keras!"
"Kalau
begitu, aku duluan ya."
Aku
mengangkat dua jariku dengan santai dan berniat untuk langsung pergi dari sana.
Namun...
"Jangan
dingin begitu, dong. Ayo kita keliling bertiga saja."
Senior
Yanagi langsung merangkul pundakku.
"Kalau
soal belajar, nanti biar aku yang mengajarimu, seperti waktu kita SMP
dulu."
Bukan
hanya itu, senior kemudian berbisik pelan di dekat telingaku.
"Kirishima,
kamu sebenarnya suka dengan Hayasaka-chan, kan?"
"Tidak, mana
ada begitu."
"Jangan
malu-malu begitu, serahkan saja semuanya padaku."
Diserahkan
bagaimana, padahal aku dan Hayasaka-san sebenarnya punya hubungan yang sangat
erat sebagai sesama nomor dua. Tapi karena senior tidak tahu apa-apa soal itu,
dia langsung berseru, "Kalau begitu, mohon bantuannya ya,
Hayasaka-chan!"
Akhirnya,
kami bertiga berakhir dengan berjalan berkeliling melihat-lihat gedung sekolah.
Hayasaka-san
berjalan dengan kaku di depan kami berdua.
"Menurutku,
kamu punya peluang besar dengannya, Kirishima."
"Kenapa
Senior bisa berpikir begitu?"
"Lihat
saja itu, Hayasaka-chan terlihat sangat salah tingkah, kan? Dia pasti
menganggapmu sebagai seorang pria."
Senior
Yanagi ternyata benar-benar tidak peka.
Waktu
zaman SMP dulu juga begitu. Saat pulang sekolah, kami pernah bersama-sama makan
es krim di depan minimarket, dan anak-anak perempuan di sekitar terus
memberikan tatapan penuh kekaguman. Melihat hal itu, senior malah berkata padaku...
"Kirishima,
ternyata kamu populer sekali, ya."
Jelas-jelas yang
mereka lihat itu bukan aku.
Sejak dulu orang
yang keren itu selalu senior, dan sampai sekarang pun masih tetap begitu.
Saat Hayasaka-san
yang bersikap malu-malu berjalan di sebelah senior yang bertubuh tinggi, mereka
berdua terlihat sangat serasi.
Murid-murid lain
yang melihat pemandangan itu pun pasti akan langsung mahfum, berpikir kalau
pasangannya adalah Hayasaka-san, maka itu adalah hal yang wajar.
Begitu sosok
orang yang paling disukai oleh Hayasaka-san mendadak menjadi nyata di depan
mata, aku entah kenapa merasa Hayasaka-san menjadi sangat jauh. Tapi, memang
beginilah yang seharusnya terjadi sejak awal. Karena itu, aku berbisik dengan
suara sangat pelan agar tidak terdengar oleh senior.
"Aku akan
selalu mendukungmu, kok."
Hayasaka-san
langsung mengepalkan tangannya dengan erat sambil menunjukkan senyuman manisnya
yang biasa.
"Iya, aku
akan berusaha keras!"
◇
"Kelihatan
murung sekali, sih. Sudah seperti berandal saja."
Ucap Sakai.
Itu terjadi di
tempat parkir sepeda. Karena entah kenapa aku sedang tidak bersemangat untuk
kembali ke kelas, aku memutuskan untuk membolos pelajaran, dan di sanalah dia
menemukanku.
"Ada urusan
apa?"
"Yamanaka
dari Klub Manga tadi mencarimu. Dia bilang disuruh Maki untuk membuat storyboard
film pendek, tapi dia bingung naskahnya bagaimana."
Itu soal
kamp musim panas Klub Misteri.
"Kalau soal naskah, sepertinya nanti Tachibana-san yang
akan bertanggung jawab. Begitu dia kembali dari kompetisi, aku akan
memberitahunya."
Kupikir urusan kami sudah selesai, tetapi Sakai masih tetap
berdiri di sana sambil terus menyeringai.
"Belakangan ini Akane benar-benar ceroboh sampai-sampai
aku tidak tega melihatnya."
"Ternyata
bahasan utamanya yang itu, ya?"
"Waktu
praktik memasak kemarin kami membuat kue kering, apa Akane sudah memberikan
punyamu?"
"Belum
ada."
Padahal dia
sempat bilang dengan wajah gembira kalau ingin memberikannya kepada senior.
Tampaknya keberadaanku sama sekali tidak masuk ke dalam pandangannya.
"Lalu, apa
dia berhasil memberikannya dengan baik?"
"Mana
mungkin bisa berhasil. Kali ini dia malah tersandung kakinya sendiri lalu jatuh
tersungkur."
Begitu melihat
punggung senior, dia langsung berlari bermaksud memberikan kue kering itu,
tetapi malah berakhir jatuh mengenaskan di tengah jalan.
Sakai bilang,
setelah itu Hayasaka-san langsung menangis sesenggukan di pelukannya sambil
meratap, "Aku ini memang payah banget".
"Aku juga
jadi repot karena harus menemaninya melakukan banyak hal."
Mulai dari
menemaninya pergi ke kelas senior, sampai menemaninya menyapa senior di jalan
waktu pulang sekolah.
"Tapi begitu
sudah sampai di depan kelasnya, dia cuma bisa berdiri komat-kamit tidak jelas.
Dan waktu mencoba menyapa di jalan pulang, dia cuma bisa berteriak, 'Sampai
jumpa!', setelah itu langsung berjalan melewatinya begitu saja."
"Itu memang
sangat khas Hayasaka-san."
Dan kemudian...
"Dia
kelihatan benar-benar sangat menyukai senior, ya. Memang rasanya berbeda kalau
yang dihadapi itu adalah orang nomor satu."
"Dan di sini
ada satu pria nomor dua yang sedang meratapi nasibnya sambil patah hati."
"Kamu ke
sini cuma sengaja mau mengejekku, ya?"
"Bisa
dibilang begitu."
Tapi bukan hanya
itu saja, lanjut Sakai.
"Akane
bukannya melupakanmu begitu saja, lho, Kirishima."
"Benarkah?"
"Dia malah
sangat mengkhawatirkanmu. Orang yang membuat Akane bisa ikut bermain futsal
lagi itu kamu, kan, Kirishima?"
Itu benar. Selama
ini aku selalu merahasiakannya, tetapi karena sekarang fakta bahwa aku dan
Senior Yanagi sebenarnya saling kenal sudah terungkap, semuanya jadi ikut
terbongkar.
"Akane
sempat bergumam sendiri lagi waktu itu. Dia bilang, 'Hanya karena dia orang
nomor satu, aku malah membuat Kirishima-kun melakukan hal yang kejam, maaf,
maaf'. Dia bahkan sampai hampir menangis karena takut kamu membencinya."
"Padahal
itu kan hal yang kulakukan atas kemauanku sendiri..."
Sama
seperti Hayasaka-san yang sengaja meninggalkan sepayung berdua agar aku bisa
menjadi lebih akrab dengan Tachibana-san.
Sama seperti apa
yang dipikirkan oleh Hayasaka-san, aku pun hanya ingin melihat Hayasaka-san
bisa hidup bahagia.
"Kalau
menurut analisisku, Akane sekarang sedang dilanda kebingungan."
"Masa,
sih? Kesanku dia malah kelihatan jadi lebih bersemangat setelah orang yang
paling disukainya ada di dekatnya."
"Itu
karena Akane sedang berusaha menghargaimu, dia memaksa dirinya untuk mengikuti
skenario yang sudah kamu buat sejak awal. Begitu orang nomor satu datang, maka
orang nomor satu harus diprioritaskan. Karena hubunganmu dengan Tachibana-san
juga sudah berjalan dengan baik, dia berpikir kalau dia juga harus bergerak
maju mendekati senior."
Coba kamu
pikirkan baik-baik, dia itu Akane, lho? Ucap Sakai.
"Setelah
membangun berbagai macam kedekatan denganmu, apa kamu pikir dia bisa langsung
berubah pikiran begitu saja saat orang nomor satu yang selama ini sudah dia
lupakan tiba-tiba muncul di dekatnya? Otaknya pasti sedang hampir jebol karena
kebingungan."
"Padahal dia
tidak usah memedulikan pria nomor dua seperti aku ini juga tidak apa-apa."
"Bukankah
itu berarti aturan urutan yang kalian buat di awal sudah berubah di dalam diri
Akane?"
"Sebenarnya
apa yang ingin kamu katakan?"
"Maksudku,
kalau kamu mau bergerak dengan agresif, Akane pasti akan memilih untuk pergi
bersamamu."
"Dengar
ya..."
"Hmm. Jadi
Kirishima tetap tidak mau mengubah aturan itu, ya? Kalau begitu, tidak apa-apa
kan kalau aku yang menjodohkan Akane dengan Yanagi-kun?"
"Eh?"
"Orang yang
mendukung hubungan cinta mereka kan bukan cuma pria nomor dua saja. Aku ini
juga temannya, lho. Boleh kulakukan, kan?"
Karena Sakai
terus mencoba memancingku, aku pun akhirnya menjawab, "Lakukan saja
sesukamu."
"Sok kuat
sekali, sih. Awas ya kalau nanti malah menyesal~"
Dukungan cinta
yang diberikan oleh Sakai langsung menunjukkan efeknya tepat setelah sekolah
usai.
Saat aku sedang
menjadi orang terakhir yang tersisa di dalam ruang kelas, Hayasaka-san berjalan
menghampiriku dengan wajah yang dipenuhi senyuman riang.
"Aku baru
saja diajak oleh senior, lho! Dia mengajakku untuk pergi bersama ke toko panci
kue yang baru buka!"
"...Baguslah
kalau begitu."
Ini pasti hasil
kerja keras Sakai yang punya keberanian besar untuk meminta tolong langsung
pada senior. Senior adalah tipe orang yang tidak akan bisa menolak jika
dimintai tolong oleh adik kelas perempuan. Tebakan Sakai benar-benar jitu.
"Akhirnya
kamu bisa pergi kencan berdua saja dengan orang yang paling kamu sukai,
ya."
"Iya,
makanya Kirishima-kun juga harus ikut pergi bersama kami, ya!"
"Eh?"
Apa-apaan yang
dia katakan ini, pikirku.
Namun,
Hayasaka-san mengatakannya dengan wajah yang benar-benar bersih tanpa ada
keraguan sedikit pun.
"Habisnya,
aku tidak akan bisa kalau tidak ada Kirishima-kun! Kamu harus selalu ada di
sebelahku, ya!"
Apa yang
dikatakan Sakai mungkin memang ada benarnya.
Hayasaka-san
sekarang benar-benar sudah kehilangan arah.
◇
"Kenapa
Senior dan Kirishima-kun bisa menjadi sangat akrab begitu, sih?"
Hayasaka-san
bertanya, dan senior pun langsung menjawabnya.
"Waktu zaman
SMP dulu, ada acara perkemahan rekreasi yang diadakan oleh pemerintah daerah. Kami harus memasak di dalam gunung
dan bermalam di dalam tenda selama satu malam."
Kami
bertiga sedang berada di dalam toko panci kue.
Meskipun
Sakai sudah merencanakan hal ini agar Hayasaka-san bisa berduaan dengan senior,
tetapi agenda pergi berdua itu tidak pernah terwujud. Hayasaka-san bilang dia
ingin aku ikut bersamanya sebagai penenang batinnya, dan senior pun sudah
mengirimkan pesan padaku sejak hari sebelumnya.
“Sepertinya
Hayasaka-chan memang punya perasaan padaku! Aku tadi diminta oleh anak bernama
Sakai untuk mengajak Hayasaka-chan pergi, tapi begitu kuajak, Hayasaka-chan
langsung bertanya apa boleh mengajak Kirishima-kun juga. Nanti di lokasi aku
akan membantumu, serahkan saja semuanya padaku, ya!”
Dan sekarang,
senior duduk berhadapan dengan kami, sementara aku dan Hayasaka-san duduk
bersebelahan. Kami baru saja selesai menghabiskan panci kue dan sedang
menikmati kopi setelah makan.
Saat baru masuk
ke toko tadi, senior terus-menerus mendesak agar aku dan Hayasaka-san duduk
bersebelahan. Padahal aku sengaja memosisikan diri agar Hayasaka-san bisa duduk
berhadapan langsung dengan senior supaya mereka lebih mudah mengobrol.
Perasaan kami
bertiga benar-benar saling bertolak belakang, dan situasi ini pasti terasa
sangat menyiksa bagi Hayasaka-san.
"Di acara
perkemahan itu, aku dan Kirishima kebetulan mendapat giliran sebagai pasangan
teman sekamar."
"Lalu,
karena Senior berpikir sepertinya akan seru, kita malah mendirikan tenda di
tengah gosong sungai, kan?"
Aku memotong
cerita senior dan mengambil alih pembicaraan.
"Tapi di
tengah malam, suara aliran air sungai mendadak menjadi sangat deras sampai
membuatku terbangun. Tampaknya di hulu sedang turun hujan lebat, membuat debit
air sungai meningkat drastis. Gosong sungainya menjadi semakin sempit karena
air sudah naik sampai ke dekat tenda. Saat aku mencoba keluar untuk memeriksa
situasi, aku malah tergelincir lalu hanyut ke dalam sungai yang sedang
meluap."
"Kirishima-kun
kan tidak bisa berenang, ya?"
"Senior
langsung melompat ke dalam air dan menyelamatkanku."
"Hei, hei,
kamu melewatkan bagian yang paling penting, tahu."
"Benarkah
begitu?"
Hayasaka-san
bertanya dengan nada bicara yang terdengar alami.
Di dalam toko
panci kue ini, dia tidak bersikap ceroboh seperti biasanya, melainkan bisa
menimpali percakapan dengan sangat baik.
Kehadiranku di
sebelahnya mungkin memang memberikan pengaruh yang nyata untuknya.
Saat mendengarkan
cerita senior, profil wajah Hayasaka-san dari samping benar-benar menunjukkan
wajah seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Namun, begitu
lututku dan lutut Hayasaka-san tidak sengaja berbenturan di bawah meja, dia
langsung menoleh ke arahku dengan wajah memerah malu. Setelah itu, dia akan
langsung teringat kalau di depan kami ada senior, lalu mencoba bersikap
setenang mungkin.
Isi kepalanya
pasti sedang sangat sibuk.
Terkadang, dia
menatapku dengan ekspresi wajah yang tampak kebingungan.
"Kenapa
di saat aku sedang bersama dengan Senior Yanagi, Kirishima-kun juga harus ada
di sini?"
Wajahnya
seolah-olah sedang berbicara begitu.
Hayasaka-san
tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini.
"Waktu
Kirishima sedang tidur, aku sebenarnya sedang berada di luar tenda untuk
merapikan barang-barang bawaan."
"Begitu
terbangun dan melihat senior tidak ada, aku langsung panik dan berlari ke luar
tenda. Di saat yang tidak tepat, ada sebatang kayu hanyut yang melintas, dan
karena aku baru bangun tidur sekaligus tidak memakai kacamata, kayu itu
terlihat seperti sosok senior yang sedang hanyut bagiku."
"Makanya
dia langsung melompat ke dalam sungai untuk menyelamatkanku. Mana ada pria di
dunia ini yang rela melompat ke dalam sungai meluap demi menyelamatkan orang
lain padahal dia sendiri tidak bisa berenang."
"Tidak,
Senior jauh lebih hebat. Karena Senior bisa menyelamatkan orang dari dalam
sungai yang sedang meluap."
Senior
hebat, Kirishima juga hebat.
Di depan
Hayasaka-san, kami berdua malah saling melempar pujian. Di tengah pembicaraan,
Hayasaka-san akhirnya hanya bisa menunjukkan senyuman basa-basi saja.
Pikirannya pasti sudah benar-benar macet.
Perasaan
suka kepada orang nomor satu dan orang nomor dua pasti sudah saling bertabrakan
di dalam kepalanya.
"Karena
rentetan kejadian itulah, aku dan Kirishima bisa dibilang sebagai sahabat yang
sudah saling bertukar nyawa. Makanya waktu zaman SMP dulu kami sering sekali
menghabiskan waktu bersama."
Setelah
kami masuk ke SMA yang berbeda, hubungan kami memang sempat menjadi agak
renggang, tetapi sekarang kami kembali berada di sekolah yang sama. Jadi,
mengobrol santai seperti ini sebenarnya adalah hal yang sangat wajar bagi kami.
Namun,
alasan kenapa situasi ini terasa sangat tidak nyaman adalah karena hubungan
antara aku dan Hayasaka-san sendirilah yang tidak wajar dan tidak sehat sejak
awal.
"Kalau
begitu, aku duluan ya karena masih ada urusan lain."
Senior Yanagi
bangkit berdiri dari kursinya.
"Sisa
waktunya silakan kalian nikmati berdua saja dengan santai."
Setelah
mengatakan hal itu, senior langsung membayar seluruh tagihan makanan kami lalu
pergi begitu saja. Benar-benar langkah yang sangat taktis.
Padahal aku juga
sedang mencari waktu yang pas agar Hayasaka-san dan senior bisa berduaan saja.
"Akhirnya
malah berakhir seperti kencan kita yang biasanya, ya. Maaf, aku tidak bisa
membantumu dengan baik."
Ucapku. Namun,
Hayasaka-san hanya terus menundukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata
pun.
"Ada
apa?"
"...Aku yang
seharusnya minta maaf. Malah mengajak Kirishima-kun ikut ke tempat di mana ada
Senior Yanagi juga. Kalau dipikir-pikir dengan tenang, apa yang kulakukan ini
benar-benar jahat sekali, ya."
"Tidak
apa-apa, kok. Lagipula selama ini Hayasaka-san juga sudah melakukan banyak hal
demi kebaikanku, kan?"
"...Aku
tidak ingin membuat Kirishima-kun harus mengalami hal seperti ini."
"Aku ini
memang benar-benar payah," ucap Hayasaka-san dengan wajah yang tampak
menahan tangis.
"Kamu pasti
sedang kelelahan, Hayasaka-san."
Setelah itu,
Hayasaka-san kembali terdiam dalam waktu yang cukup lama sambil terus
menundukkan kepalanya.
Di luar
ruangan, hujan badai tiba-tiba turun dengan derasnya. Sambil bertumpu pada siku
di atas meja, aku menatap ke arah luar jendela, memandangi suasana kota yang
mulai basah diguyur air hujan.
Begitu
hujan badai mereda dan berkas sinar matahari mulai mengintip dari balik celah
gumpalan awan, Hayasaka-san akhirnya mengangkat wajahnya.
Kemudian,
dengan seulas senyuman yang terasa sangat menyayat hati saat melihatnya, dia
pun berkata.
"Aku— bakal menyatakan cintaku kepada Senior di hari upacara penutupan sekolah nanti."
◇
Pengakuan
cinta yang spekulatif sudah pasti akan berujung pada kegagalan.
Mungkin
terasa dramatis, tapi itu sama saja seperti melempar handuk dan menyerah di
tengah pertandingan.
Setelah
upacara penutupan sekolah, aku duduk sendirian di bangku kelas.
Saat ini,
Hayasaka-san sedang menuju kelas tiga untuk menyatakan cintanya kepada Senior.
Beberapa
hari lalu, kami sempat mendiskusikan pengakuan ini sekali lagi di kafe.
"Rasanya
berat sekali," ucap Hayasaka-san sambil menatap cangkir tehnya.
"Aku
harus membagi diriku menjadi dua: aku saat bersama Senior, dan aku saat bersama
Kirishima-kun."
"Memang
sesulit itu, ya?"
"Di
depan Senior, aku berakting seolah-olah tidak punya kekasih. Tapi kenyataannya, ada Kirishima-kun.
Waktu Senior masih di sekolah lain, aku masih bisa mengatasinya, tapi sekarang
terasa berat sekali. Seolah-olah diriku ini akan terbelah jadi dua."
Sepertinya dia
merasa sangat kacau kalau kami bertiga sedang bersama.
"Aku
sepertinya tidak cocok jadi aktris, ya."
"Yah,
akting memang bukan keahlianmu."
Tanpa
mendengarkan jawabanku, Hayasaka-san terus merangkai kata-kata.
"Makanya,
aku akan menyatakan perasaanku."
"Kalau terus
begini, aku rasa aku bisa gila."
"Pengakuan
ini bukan berarti aku sengaja ingin ditolak, ini karena aku memang ingin
melakukannya. Jadi, ini bukan sesuatu yang harus Kirishima-kun benci,
kan?"
Aku tidak bisa
berkata apa-apa. Kalau Hayasaka-san sudah memutuskan sesuatu, ada kalanya dia
sangat keras kepala.
Lalu, di hari
upacara penutupan, aku pun menunggu hasil pengakuan Hayasaka-san. Tapi—
Kemungkinan
besar, pengakuan ini tidak akan berhasil.
Senior berpikir
kalau aku menyukai Hayasaka-san. Karena itu, demi aku, dia tidak akan pernah
menerima pengakuan Hayasaka-san. Orang itu memang tipe orang yang seperti itu.
Jujur saja, bagi
diriku, akan lebih menguntungkan jika Hayasaka-san ditolak. Dengan begitu, aku
pasti bisa berpacaran dengan salah satu dari mereka, entah Tachibana-san atau
Hayasaka-san.
Hayasaka-san
menjadi jaminan mutlak, sehingga probabilitas patah hatiku menjadi nol persen.
Terlebih lagi,
aku tidak perlu merelakan Hayasaka-san yang manis, manja, dan hobi memeluk itu
kepada orang lain.
Aku sungguh picik
karena memikirkan hal seperti itu.
Namun,
aku bangkit berdiri dan melangkah keluar kelas.
Aku
berniat untuk menghentikan pengakuan itu.
Aku ingin
Hayasaka-san bahagia. Jadi, meskipun itu tidak menguntungkan bagiku, pengakuan
yang tingkat keberhasilannya mendekati nol ini harus dihentikan.
Aku akan
mengatakan kepada Senior, "Aku sebenarnya menyukai orang lain."
Jika
kesalahpahaman itu sudah lurus, kemungkinan Senior akan jatuh cinta kepada
Hayasaka-san sangatlah besar.
Jika ditanya
kenapa aku sampai sejauh ini, mungkin jawabannya karena aku benar-benar
menyukai Hayasaka-san.
Aku menyukainya
sampai-sampai aku rela membantu hubungan cintanya dengan pria lain.
Tapi, mungkin
karena aku hanya orang kedua, makanya aku bisa membantunya sampai sejauh ini.
Seandainya aku
adalah orang pertama, aku pasti tidak akan sanggup memberikan dukungan dengan
kepala dingin. Aku merasa sedikit sedih memikirkan hal itu.
Saat sampai di
depan kelas tiga, aku menemukan Hayasaka-san.
Dia
berdiri di koridor sambil menempelkan tangan di dada dan menarik napas
dalam-dalam.
"Kirishima-kun,
ada apa?"
Tepat saat
Hayasaka-san menyadari keberadaanku.
Senior Yanagi
kebetulan keluar dari dalam kelas.
"Eh?"
Aku dan
Hayasaka-san berseru bersamaan.
Karena di
belakang Senior Yanagi, muncul sosok yang tidak terduga.
"Lho,
bukannya itu Ketua Klub?"
Itu
Tachibana-san. Sepertinya dia baru kembali dari kompetisi.
Lalu, dia
menatapku dan Hayasaka-san bergantian dengan ekspresi curiga.
"Ada
apa?"
"Bukan,
justru kenapa Tachibana-san ada di sini?"
Melihatku yang
tergagap, Senior Yanagi memiringkan kepalanya.
"Kirishima,
ada apa?"
"Senior, apa
kalian sudah saling kenal dengan Tachibana-san?"
"Oh."
Senior menggaruk
kepalanya sambil menatap Tachibana-san.
"Boleh kuberitahu?"
Saat Senior bertanya, Tachibana-san menjawab,
"Terserah." Dilihat dari cara mereka tidak menggunakan bahasa formal,
jelas mereka sudah saling kenal sejak lama.
Firasatku
buruk. Aku tidak ingin mendengarnya. Aku ingin lari dari sini sekarang juga. Ada hal-hal yang mungkin lebih
mudah diterima jika mendengarnya dari orang lain.
Tachibana-san
menatap ke arahku, namun tatapannya sedikit tertuju ke arah bawah. Berbeda dengan sikap dinginnya
yang biasa, dia tampak agak menyesal. Aku yakin firasatku benar.
Tolong,
beri aku waktu untuk menyiapkan mental.
Otakku
berputar cepat. Cara melarikan diri, cara berdalih, berikan aku waktu sedikit
saja—
Meski berpikir
begitu, Senior mengatakannya dengan santai.
"Dia
tunanganku."
"Eh?"
"Kami akan
menikah nanti."
Senior dan
Tachibana-san akan menikah.
Setelah
diberitahu hal seperti itu, harus apa aku menjawabnya?
"Maksudnya,
itu, ............ selamat, ya?"
"Masih
terlalu dini untuk mengucapkannya."
Perasaanku tidak
bisa mengejar situasi ini.
Tunangan yang
dimaksud Tachibana-san bersekolah di tempat lain ternyata adalah Senior Yanagi.
Lalu, apa yang
akan terjadi?
Apa yang harus
kulakukan?
Sebuah hubungan
empat sudut yang sempurna telah tercipta, apakah aku dan Tachibana-san berada
di titik diagonal?
Saat aku menoleh
ke samping, Hayasaka-san tersenyum dengan tenang.
Mungkin dia sudah
tidak bisa memikirkan apa pun lagi. Ekspresinya tampak seperti orang yang sudah
mencapai pencerahan. Jika sudah sampai tahap ini, mungkin justru lebih mudah
bagi dirinya.
"Ngomong-ngomong,
tadi Maki mengajakku sesuatu."
Senior kembali
dengan nada bicara biasanya.
"Katanya
kekurangan orang untuk syuting film pendek, kan? Baiklah, aku akan bantu di
kamp musim panas nanti. Hayasaka-chan juga ayo ikut."
Hayasaka-san
masih tetap tersenyum bak patung Buddha.
Aku
berusaha memikirkan sesuatu, tapi soal kamp musim panas atau apa pun itu, sama
sekali tidak masuk ke dalam kepalaku.
Untuk saat ini,
aku harus menata pikiranku.
Dalam situasi
seperti ini, melakukan kegiatan rutin yang biasa dilakukan adalah cara terbaik
untuk menenangkan hati.
Begitu sampai di
rumah, aku akan meraut pensil.
Saat kedua belas
pensil itu sudah runcing sempurna, aku seharusnya sudah bisa mendapatkan
kembali ketenanganku.
Ya, begitulah
pikirku.



Post a Comment