NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Watashi Ni-banme no Kanojo de Ii kara Volume 3 Chapter 9

Chapter 26

Yang Paling Kusukai


Dua puluh lima Desember, siang hari.

Aku mengenakan jaket down dan sepatu sneakers putih, lalu melangkah keluar rumah.

Udaranya dingin, angin bertiup sampai telingaku terasa sakit. Meski suhu sedang rendah, langit tampak cerah dan sepertinya salju tidak akan turun.

Di tanganku ada dua kantong kertas. Itu adalah kado Natal yang kupilih bersama adikku. Sarung tangan untuk Hayasaka-san, dan syal untuk Tachibana-san. Aku mengikuti saran adikku.

"Kado seperti ini memang paling aman. Kamu cukup beli yang sedikit lebih bagus dari biasanya dan berikan padanya. Itu pasti barang yang akan dipakai, tapi kalau mereka menerima merek berkualitas bagus yang jarang mereka beli sendiri, mereka pasti senang, kan? Tidak perlu sok tampil beda."

Kami pergi ke pusat perbelanjaan bersama, tapi karena adikku pun pemalu, dia malah bersembunyi di balik punggungku saat kami masuk ke toko merek ternama.

Pada akhirnya, aku yang menjelaskan situasinya kepada pramuniaga dan membeli barang sesuai saran mereka.

"Aku yakin ini jauh lebih baik daripada kalau Kakak pilih sendiri."

Aku membelikan cream soda di lantai restoran untuk adikku yang benar-benar tidak bisa diandalkan itu.

Punya uang berarti bisa melakukan lebih banyak hal untuk orang lain. Aku merasa senang karena telah bekerja paruh waktu.

Satu-satunya hal istimewa yang kulakukan menjelang Natal hanyalah memilih kado itu; hari-hari lainnya berlalu begitu saja.

Tachibana-san, seperti biasa, izin dari sekolah karena kompetisi sudah dekat. Sementara Yanagi-senpai, yang menyuruhku datang untuk melihat "Tachibana-san yang sebenarnya" saat Natal, tampak tidak berniat mengambil tindakan apa pun sampai saat itu tiba.

Lalu Hayasaka-san, yang bilang ingin mengakhirinya saat Natal, perlahan mulai menjauh dariku dengan sangat tenang.

Karena Tachibana-san sibuk, hari-hari ini terus menjadi "hari Hayasaka-san", tapi ada pesan dari Hayasaka-san yang bilang bahwa tidak apa-apa kalau kami tidak bertemu. Tidak ada kesan memaksakan diri seperti biasanya.

Dia juga tersenyum tenang di kelas dan tidak lagi bersikap ramah berlebihan kepada para pria.

"Aku sudah mengisi jadwal kerja paruh waktu di tanggal dua puluh empat dan dua puluh lima. Karena tanggal dua puluh lima aku pulang lebih awal, ayo kita kencan mulai sore, ya?"

Hayasaka-san benar-benar menjadi gadis biasa. Dia tidak hancur dan tidak sakit mental.

Dia seperti laut yang tenang setelah badai berlalu.

Begitulah, tanggal dua puluh lima pun tiba. Aku membawa dua kado itu dan pertama-tama menuju ke tempat Tachibana-san berada.

Sebuah pesta Natal yang diadakan oleh pihak piano, bersama keluarga serta teman-teman mereka.

Tachibana-san yang tidak kukenal.

Yanagi-senpai menyuruhku datang melihat Tachibana-san di sana agar aku menyerah. Aku tidak berniat datang.

Jika Tachibana-san tidak ingin memperlihatkan sisi dirinya yang dari kalangan kelas atas kepadaku, maka aku tidak perlu repot-repot menontonnya. Namun, aku memutuskan untuk tetap datang.

Aku hanya ingin membuatnya bahagia. Tachibana-san sangat sedih karena tidak bisa menghabiskan Natal bersamaku, jadi kupikir jika aku datang sebagai kejutan dan memberikan kado, dia pasti akan tersenyum.

Aku bermaksud memanfaatkan undangan dari Yanagi-senpai seperti itu. Tapi──.

"Kenapa aku harus ikut?!"

Hamanami berteriak di dalam kereta.

"Mana mungkin aku bisa masuk ke hotel mewah sendirian."

"Dasar payah!"

"Yah, mau bagaimana lagi, ini kan Natal."

"Yang tadi itu cuma kecelakaan!"

Hamanami memasang wajah kesal.

"Ya sudahlah, lagipula Yoshimi-kun sedang mengikuti training camp."

Yoshimi-kun sedang serius mengejar prestasi di kejuaraan nasional basket, dan klub basketnya mulai mengikuti training camp sejak tanggal dua puluh lima.

Sepertinya Natal Hamanami dan Yoshimi-kun akan dirayakan di hari yang lain.

"Aku juga sudah membantumu memilih kado, kan."

Hamanami menghubungiku karena ingin dibantu memilih kado untuk Yoshimi-kun. Karena itu, kami berkeliling toko sejak siang, dan sekalian saja dia ikut sampai ke tempat pesta di hotel itu.

"Ya sudah, terserahlah."

Ujar Hamanami.

"Tempat sosial para wanita dan pria terhormat seperti itu pasti sangat asing bagi Kirishima-senpai, kan."

Kereta tiba. Kami turun di stasiun tepat di pusat kota.

Setelah berjalan sedikit, kami tiba di kawasan yang sangat elegan sampai-sampai aku tidak percaya ada tempat setenang ini di tengah kota. Mungkin karena dekat dengan Istana Kekaisaran.

Hotel itu berdiri di tengah kegelapan senja. Kami melangkah masuk ke dalam area hotel. Logo berwarna keemasan.

"Hamanami, di mana kita ini?"

"Senpai, kamu ini bodoh seperti biasanya, ya. Lihat saja pasti tahu, ini sudah jelas kelas atas."

Mobil berwarna hitam berhenti. Doorman dengan sarung tangan putih dan postur yang tegak membuka pintu mobil, lalu membawa koper milik tamu. Kami melirik pemandangan itu sambil diam-diam menyelinap masuk ke dalam lewat pintu masuk.

Hal yang menyambut pandanganku adalah lampu chandelier yang besar. Lantai yang berbunyi tok-tok saat diinjak pasti terbuat dari marmer.

"Sepertinya tempat acaranya ada di lantai dua."

"Senpai, surat undangannya terbalik."

Di bawah lampu chandelier, kami menaiki tangga besar menuju lantai dua. Karpet merah terbentang, menyerap suara langkah kaki kami.

Kami menemukan tempat acaranya. Pesta sepertinya sudah dimulai, dan kami hendak langsung masuk.

Namun, seorang petugas mengarahkan kami bahwa tempat penitipan barang ada di sebelah sana.

"Senpai, kamu seperti orang udik yang baru pertama kali ke kota saja."

"Hamanami juga sama saja, kan."

Kami menitipkan jaket dan barang-barang selain kado untuk Tachibana-san di penitipan, lalu masuk ke ruangan tempat acara berlangsung.

Ruangan itu bukan tipe ballroom yang mencolok. Cukup luas dengan dekorasi yang sederhana.

Desain yang ringkas dan elegan membuatnya terasa tenang, menunjukkan kemewahan yang sesungguhnya.

Di dekat pintu masuk, berderet gelas-gelas yang berkilauan diterangi lampu tidak langsung. Ini adalah pesta berdiri, dan piring-piring pun sudah disiapkan.

Dua sisi dinding ruangan berbentuk huruf L yang dilapisi kaca, memperlihatkan taman yang sedang diterangi lampu.

"Eh, bukankah itu Tachibana-senpai?"

Ucap Hamanami.

Ada sebuah grand piano diletakkan di sudut ruangan, dan Tachibana-san tampak sedang mengobrol dengan beberapa teman di sekitarnya. Untuk sesaat, aku tidak yakin apakah itu benar-benar Tachibana-san atau bukan.

Sebab rambutnya disanggul ke atas, mengenakan gaun terusan berwarna chic dengan renda di bagian bahu, serta perhiasan. Dia tampak sangat dewasa.

"Semuanya mengenakan gaun pesta, ya."

Hamanami melihat pakaiannya sendiri.

Karena tujuan utamanya adalah berbelanja denganku, dia hanya memakai hoodie.

Pakaian itu sangat cocok dengan karakternya yang imut, tapi tentu saja tidak sesuai dengan suasana tempat ini, begitu pula denganku.

"Aku rasa hoodie Hamanami sangat berwarna dan keren, kok."

"Tidak perlu menghiburku seperti itu."

Ngomong-ngomong, semua pria di ruangan ini mengenakan jas.

"Ayo, berikan kadonya saja lalu kita pulang."

"Ayo lakukan itu."

Tepat saat kami hendak mendekat.

Tachibana-san duduk di kursi grand piano dan mulai memainkannya secara iseng.

Kemudian, seorang teman gadis duduk di sebelahnya dan mereka mulai bermain piano duet.

Yanagi-senpai, dengan setelan jas dan celana panjang, tampak tersenyum hangat melihat mereka dari dekat.




"Wah, aku tidak menyangka dunia seperti ini benar-benar ada ya."

"Katanya kalau serius mendalami piano klasik itu butuh banyak biaya, jadi kalau orang-orang di sini berkumpul, ya wajar saja kalau situasinya seperti ini."

Percakapan sepasang pria dan wanita di dekat kami terdengar. Usia mereka kira-kira sepantaran denganku, dan mereka sedang membicarakan rencana menghabiskan libur akhir tahun. Mulai dari merayakan tahun baru di luar negeri, dan hal-hal semacam itu.

"Menurutku, pergi ke Kyoto bersama pacar dengan uang hasil kerja paruh waktu itu pilihan yang bagus, kok."

"Hamanami, kamu memang baik ya."

"Habisnya, raut wajahmu tadi seperti anak hilang."

Satu-satunya orang yang bisa kusapa di sini hanyalah Tachibana-san, tapi Tachibana-san tampak sudah sangat menyatu dengan dunia ini. Tentu saja, kalau aku memanggilnya, Tachibana-san pasti akan menoleh padaku tanpa memedulikan rambut dan gaun indahnya, tapi bagaimana dengan pandangan orang lain?

Rasanya, seolah-olah aku adalah benda asing di tempat ini.

Kami masih berdiri di dekat pintu masuk ruangan, di mana terdapat sebuah meja seperti meja pajangan. Di atas meja itu diletakkan berbagai kado Natal, mungkin untuk ditukar nanti atau memang sudah saling bertukar.

Karena sudah banyak riset demi mencari kado Natal sebelumnya, aku jadi tahu.

Syal yang kubeli untuk Tachibana-san adalah merek yang mungkin masih terjangkau oleh kantong anak SMA yang bekerja paruh waktu—meskipun aku sudah berusaha tampil maksimal—tapi deretan kantong kertas merek ternama di atas meja itu semuanya berada di luar jangkauan finansialku.

"Kalau mereka menerima merek berkualitas bagus yang jarang mereka beli sendiri, mereka pasti senang, kan?"

Kado yang kubawa melenceng jauh dari definisi kado yang menyenangkan bagi lawan bicara menurut adikku.

Barang yang kusiapkan bukanlah barang berkualitas tinggi bagi orang-orang di ruangan ini, apalagi barang bermerek. Meski benar itu adalah barang yang tidak mereka beli sehari-hari, maknanya sudah benar-benar berbeda.

Aku memandang sekeliling ruangan, lalu menjatuhkan pandangan pada sepatu sneakers putihku yang kotor, kemudian mengembuskan napas panjang.

"Senpai, kita tidak boleh di sini. Ayo kita pulang saja."

"Benar juga."

Aku meletakkan kado yang kusiapkan untuk Tachibana-san di atas meja itu, lalu hendak beranjak keluar.

Tepat saat itu.

"Sedang apa kamu di sini?"

Adik Tachibana-san, Miyuki-chan, berdiri di sana. Seperti Tachibana-san, dia menata rambutnya dengan gaya roll-up dan mengenakan gaun terusan dengan warna berbeda.

"Jangan dekati Kakakku."

Miyuki-chan menatapku tajam.

"Senpai, sepertinya kamu dibenci, ya? Memangnya kamu melakukan apa?"

Karena Hamanami bertanya, aku menjawab, "Tidak ada yang terlalu spesial, kok."

"Dulu aku pernah membuat Tachibana-san berpura-pura menjadi anak SD dan memanggilku Kakak Shiro—"

"Itu sudah tidak masuk akal sejak awal!"

"Lalu saat itu, aku sedang menjadi pria yang langsung 'terbang' kalau melihat rambut twin-tail dan baju renang sekolah—"

"Apa perlu aku yang jelaskan? Itu namanya lolicon."

"Terus, aku mencoba menjahili Hikari-chan (anak SD)—"

"Standar etikamu terlalu rendah!"

"Lalu aksi itu dilihat oleh Miyuki-chan (anak SMP)."

"Itu trauma! Benar-benar anarki!"

"Aku sepenuhnya di pihak adikmu," ujar Hamanami sambil bergeser ke sisi Miyuki-chan.

Mungkin memang Miyuki-chan yang merasa ketakutan setelah diperlihatkan adegan semacam itu.

Matanya sedikit berkaca-kaca, tangannya gemetar, dan meski sedang berhadapan denganku, dia sedikit memiringkan tubuhnya, mengambil posisi agar bisa melarikan diri kapan saja.

"Astaga, sebenarnya mereka menganggapku sebagai apa, sih?"

"Tentu saja sebagai lolicon."

Hadeh, Hamanami benar-benar tidak kenal ampun.

"Kakakku sudah memiliki tunangan. Jangan melakukan hal aneh dan jangan menggodanya."

Setelah berkata begitu, Miyuki-chan mengambil kantong kertas kado yang tadi kutaruh di meja, lalu berjalan menuju kotak sampah di luar ruangan.

Sambil memasang wajah kesulitan dan ragu-ragu berkali-kali, dia memasukkan kantong kertas itu dengan sangat hati-hati ke dalam kotak sampah.

Dia benar-benar payah dalam menunjukkan rasa benci pada orang lain. Aku jadi berpikir, dia memang benar-benar adik dari Tachibana Hikari.

"Ce-cepat pulang!"

Mungkin dia sadar bahwa tindakannya sendiri tidak sopan. Miyuki-chan tampak jelas sedang bingung. Karena aku tidak ingin membuatnya semakin kacau, aku meminta maaf dengan berkata, "Maaf ya," lalu meninggalkan tempat itu.

Di luar, hari sudah benar-benar gelap.

Aku menoleh ke arah hotel itu. Tempat yang sangat jauh. Aku tahu dari media sosial bahwa ada orang-orang yang hidup dengan gaya mewah.

Namun, saat melihatnya langsung di depan mata, celah di antara kami ternyata jauh lebih besar dari bayanganku.

Mereka yang ada di sana mungkin adalah orang-orang yang baik. Jika tahu aku merasa tidak percaya diri, mereka pasti akan menghiburku dengan sangat elegan.

"Senpai, ayo pergi sekarang."

Hamanami menarik lengan bajuku dan mendesak untuk pergi ke stasiun.

"Kalau sudah dewasa nanti, Senpai juga pasti bisa bersikap percaya diri di tempat seperti ini."

"Apa benar begitu?"

Justru aku merasa, saat dewasa nanti, dinding pembatas itu akan terasa jauh lebih tinggi. Kalau masih kecil, mungkin aku tidak akan merasakan apa-apa.

Aku teringat saat masih mendengarkan suara piano Tachibana-san dari balik dinding ruang klub.

Maki pernah bilang padaku kalau aku ini seperti Jay Gatsby.

Kisah seorang pria yang meminum alkohol sambil memandang lampu rumah gadis yang dicintainya dari seberang tepi sungai. Ada jurang pemisah yang besar antara pria dan wanita itu.

Kurasa sekarang aku bisa mengerti perasaan Gatsby. Tapi──.

"Hei Hamanami, aku bukannya merasa rendah diri atau mengasihani diri sendiri, kok."

"Begitu ya?"

Aku tahu Tachibana-san tidak peduli dengan pandangan orang lain atau reputasi.

Jika kusapa, Tachibana-san pasti akan mengobrol denganku seperti biasa tanpa memedulikan sekelilingnya.

Aku juga bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa merayakan tahun baru dengan pergi ke Kyoto menggunakan uang hasil kerja paruh waktu bersama pacar itu lebih baik daripada pergi ke luar negeri.

Aku tidak berniat sok keren, jadi aku pun tidak ragu untuk menyerahkan kado itu.

"Aku hanya berpikir, apa gunanya melakukan hal itu di sana."

"Begitu rupanya."

"Kalau aku," Hamanami berkata dengan wajah polos, "Daripada Senpai yang banyak berpikir, aku lebih suka Senpai yang bertindak bodoh seperti berciuman di atas panggung festival budaya atau Senpai yang seorang lolicon."

"Aku juga merasakan hal yang sama."

Dan mungkin, Tachibana-san juga begitu.

Aku berpisah dengan Hamanami di stasiun.

Setelah itu, saat sendirian di dalam kereta sambil menatap pemandangan malam dari jendela, aku sadar bahwa aku benar-benar dikalahkan oleh Yanagi-senpai. Kenyataannya, aku memang merasa cukup terpukul.

Kemudian, aku sampai di stasiun transit, keluar dari gerbang tiket, berjalan di tengah keramaian, dan tiba di bawah layar besar di alun-alun stasiun tempat kami berjanji untuk bertemu.

Saat aku sedang menghabiskan waktu dengan memainkan ponsel—

"Ehehe."

Punggungku dicolek jari seseorang. Saat menoleh, Hayasaka-san sedang tertawa dengan pipi yang memerah karena kedinginan.

Napasnya terlihat mengepul di udara. Lalu, Hayasaka-san menatap wajahku dan berkata dengan suara ceria.

"Jadi, ayo kita mulai. Kencan Natal terakhir kita!"

Acara utama di tanggal dua puluh lima adalah bersama Hayasaka-san.

"Serahkan semua rencana kencannya padaku. Ada sesuatu yang sudah lama ingin kulakukan."

Beberapa hari lalu, Hayasaka-san berkata begitu sambil tertawa.

Lalu pada malam hari di hari itu, setelah kami bertemu, aku dibawa ke sebuah restoran keluarga biasa.

Memang enak, tapi hari ini adalah Natal, jadi kupikir tidak masalah jika kami sedikit bergaya lebih mewah.

Tapi──.

"Tidak, di sini saja. Aku ingin di sini!"

Hayasaka-san tertawa saat membuka menu dengan tampak sangat bahagia.

"Kirishima-kun, kamu harus makan yang banyak dan mengisi tenagamu, ya. Hari ini kita akan bermain sampai pagi."

Saat itu, wajah Hayasaka-san memerah padam.

"Bu-bukan maksudnya seperti itu! Maksudku kita bermain seperti biasa sampai pagi..."

"Aku mengerti, kok."

Sepertinya Hayasaka-san punya rencana kencan ideal yang sudah lama ia inginkan, dan konsepnya adalah melakukan hal itu malam ini. Omong-omong, dia tidak memberitahuku isinya.

Mungkin, itu adalah hal yang sangat sehat.

Hayasaka-san mengenakan sweter turtleneck dengan rok panjang, tidak memperlihatkan kulitnya sama sekali.

Bukan anak nakal, melainkan gaya berpakaian anak baik-baik.

Setelah kami memesan makanan, kami bertukar kado. Hayasaka-san langsung membuka bungkusannya, memakai sarung tangan itu, dan tampak sangat senang.

"Aku senang sekali. Aku memang ingin sarung tangan yang sedikit bagus. Susah sekali kalau harus beli sendiri."

Reaksi yang kuharapkan.

"Tapi ini pasti pegawai tokonya yang pilih, kan?"

"Kok tahu?"

"Habisnya, Kirishima-san tidak mungkin punya selera sebagus ini."

Sambil berkata begitu, Hayasaka-san menempelkan sarung tangan itu ke pipinya dan terus tersenyum.

Ngomong-ngomong, kado yang diberikan Hayasaka-san untukku adalah topi rajut. Saat aku memakainya, Hayasaka-san kembali senang dan berkata, "Kirishima-kun jadi terlihat imut~."

"Kirishima-kun, kamu memikirkan Tachibana-san lagi, ya?"

Ujar Hayasaka-san.

Setelah makan, kami berjalan menyusuri jalanan malam.

"Tenang saja."

Hayasaka-san menggandeng tanganku. Dia memakai sarung tangan yang kuberikan.

"Tachibana-san, pada akhirnya pasti akan memilih Kirishima-kun. Aku tahu karena kita sama-sama perempuan."

"Benarkah begitu?"

"Yanagi-senpai juga pasti tahu di lubuk hatinya yang terdalam. Bahwa hati Tachibana-san tidak akan berpindah. Makanya, dia curhat padaku tentang masalah cintanya, dan kadang mengeluh manja padaku."

Hayasaka-san bilang, kalau dia sudah menyerah pada Tachibana-san, dia mungkin akan datang padaku.

"Belakangan ini, aku sering merasakan suasana kalau Yanagi-senpai mulai tertarik padaku."

Hayasaka-san tampak bahagia.

Saat pertama kali bertemu, jika ada hal yang menyenangkan bersama Yanagi-senpai, dia sering bercerita padaku di hari berikutnya dengan wajah seperti ini.

Tapi, sekarang aku berpikir.

Rasa suka Yanagi-senpai pada Hayasaka-san hanyalah pilihan kedua. Dan yang paling dia sukai tetaplah Tachibana-san, yang sampai saat ini masih dia perebutkan denganku.

Hayasaka-san, baik bagiku maupun bagi Yanagi-senpai, hanyalah pilihan kedua.

Padahal dia begitu imut, begitu menarik, dan sebenarnya bisa menjadi sosok nomor satu bagi siapa pun.

Meski kondisinya seperti itu, karena sedikit diperlakukan baik oleh Yanagi-senpai, Hayasaka-san tetap tersenyum dengan tegar.

Aku merasakan perasaan yang sulit diungkapkan—

Lalu memeluk Hayasaka-san.

"Kenapa, Kirishima-kun?"

Aku tidak bisa menjawab. Pilihan kedua, itu adalah sesuatu yang kumulai sendiri.

"Ehehe."

Hayasaka-san membalas pelukanku.

"Aku senang Kirishima-kun baik sekali padaku."

Hayasaka-san melompat kecil di dalam pelukanku.

Hati kami benar-benar tidak sejalan. Tanpa sadar, aku memeluk Hayasaka-san karena perasaan kasihan. Tapi Hayasaka-san justru senang dan tertawa saat kupeluk.

Aku jadi merasa sedih karenanya, lalu memeluknya lebih erat. Hayasaka-san malah menggesekkan wajahnya ke dadaku dengan semakin bahagia.

"Tidak boleh~ Kirishima-kun, kita masih di pinggir jalan, lho~."

Setelah itu, Hayasaka-san membawaku ke bioskop untuk menonton tayangan all-night.

Kami menonton tiga film di sana.

Film pertama adalah film adaptasi manga yang sedang populer. Saat kubilang aku tidak tahu cerita aslinya, Hayasaka-san tertawa dan bilang dia juga tidak tahu. Sepertinya isi film yang kami tonton tidak masalah.

"Menarik, ya. Ada bagian yang aku tidak mengerti, jadi aku harus membaca manganya."

"Kamu masih saja rajin, ya."

Film kedua adalah drama kemanusiaan yang menghangatkan hati.

Di tengah-tengah, saat melewati jam dua belas malam, suara napas orang tidur terdengar dari sebelahku.

Aku mencoba mencolek pipinya untuk membangunkan, tapi Hayasaka-san menggelengkan kepala dengan mata mengantuk, lalu tertidur pulas dengan kepala bersandar di bahuku.

"Mengharukan ya."

"Apanya? End roll-nya?"

Setelah pemutaran selesai, Hayasaka-san mengangguk puas.

Film ketiga adalah film gangster. Karena sudah jam dua dini hari, tidak ada pilihan film lain.

Berkat tidur di film kedua, mata Hayasaka-san jadi segar kembali. Seperti anak kecil saja.

Dan setiap kali ada adegan tembak-menembak, dia menggenggam tanganku dengan erat.

Begitulah kami menonton film sepanjang malam.

Saat keluar dari bioskop, langit masih gelap gulita. Masih ada waktu sebelum kereta mulai beroperasi.

"Ayo jalan-jalan sebentar."

Karena Hayasaka-san bilang begitu, kami berjalan menyusuri pusat perbelanjaan yang sepi.

Berada di tempat yang biasanya ramai namun kini kosong, rasanya seperti pengalaman yang aneh.

Dan, tanggal dua puluh lima sudah benar-benar berakhir.

"Ayo kita akhiri hubungan kita di hari Natal nanti."

Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, tapi di dalam kepalaku, aku terus memikirkan perkataan Hayasaka-san beberapa hari lalu itu. Namun, sebanyak apa pun kupikirkan, kalimat itu hanya memiliki satu arti.

Lalu──.

"Boleh aku egois untuk terakhir kalinya?"

Hayasaka-san akhirnya menggunakan kata "terakhir".

"Boleh."

"Aku ingin cincin, mungkin."

Hayasaka-san mengucapkannya sambil memasang senyum yang tampak kesulitan.

"Sejak kecil, aku selalu mendambakan untuk diberi cincin oleh orang yang kucintai."

Karena masih pagi hari, tentu saja pusat perbelanjaan belum buka.

Jadi, kami masuk ke toko diskon yang buka dua puluh empat jam.

Di dalam toko yang sesak, cincin-cincin dijajarkan di dalam kotak kaca bersama parfum dan jam tangan.

Aku menyisakan uang untuk ongkos kereta pulang, lalu membelikan cincin dengan uang yang tersisa di dompetku. Itu bukan barang mewah.

Hanya cincin yang dimasukkan ke dalam kantong kertas tanpa kotak maupun kartu garansi.

Setelah keluar dari toko, kami sempat berjalan sebentar, tapi karena udara terlalu dingin, kami menunggu kereta pertama di stasiun.

Ruang tunggu peron terasa hangat dan tidak ada orang lain di sana.

Di sana, aku mengeluarkan cincin yang baru saja kubeli dari kantong kertas, melepas sarung tangan Hayasaka-san, lalu memasangnya di jari manis tangan kirinya.

"Ehehe."

Hayasaka-san menatap cincin itu dengan puas.

"Kirishima-kun sudah mengabulkan semua impianku."

Aku sudah sepenuhnya terhanyut oleh kesepian ruang tunggu stasiun ini.

Ini adalah tempat di mana orang-orang hanya duduk sebentar untuk pergi ke suatu tempat, tidak ada yang menetap di sini.

"Kencan hari ini, ini adalah hal yang kubayangkan ingin kulakukan dengan orang yang kucintai saat aku jadi mahasiswa nanti."

Sepertinya Hayasaka-san berpikir dia tidak akan jatuh cinta saat masih SMA, dan baru akan punya kekasih saat kuliah.

Lalu, apa yang kami lakukan hari ini adalah potongan kehidupan sehari-hari yang menyenangkan di masa depan itu.

"Ngobrol di restoran keluarga, nonton film semalaman, lalu saling bertukar kesan sambil mengucek mata yang mengantuk. Dan besoknya, kita bolos kuliah."

Hayasaka-san menceritakannya dengan ceria.

"Lalu, pacar dalam bayanganku itu tinggal sendiri, jadi kita pulang ke sana dan tidur bersama di tempat tidur yang kecil. Aku dipeluk di dadanya, dan merasa sangat bahagia."

"Tapi, ternyata tidak berjalan lancar ya," kata Hayasaka-san.

"Sebenarnya setelah nonton film, aku ingin melihat matahari terbit sambil berjalan kaki. Tapi karena dingin, kita malah masuk ke stasiun... dan aku malah merengek minta cincin..."




Hayasaka-san terdiam.

Aku juga terdiam sambil menatap lampu peron yang berkedip-kedip. Tak lama kemudian, sebuah kereta barang melintas.

Saat langit mulai memutih, Hayasaka-san berbisik, "Sungguh, semuanya tidak berjalan lancar ya."

"Aku tadinya berniat mengakhirinya hari ini. Hubungan Kirishima-kun dan Tachibana-san yang saling mencintai, lalu ada aku di tengahnya itu aneh. Aku sadar aku cuma jadi beban buat Kirishima-kun, dan aku merasa kewarasanku hampir hilang."

Rupanya, Hayasaka-san membayangkan bahwa setelah Natal berakhir, dia bisa merelakan segalanya.

Dia berencana mengatakannya dengan keren padaku, "Hiduplah selamanya dengan Tachibana-san!" lalu mengakhiri hubungan kami.

Tapi──.

"Tidak bisa, ternyata aku tidak sanggup."

Hayasaka-san menundukkan wajahnya.

"Habisnya, orangnya adalah Kirishima-kun. Saat membayangkan ingin jatuh cinta seperti apa saat kuliah nanti, semua orang dalam bayanganku adalah Kirishima-kun."

Aku tidak bisa melepaskanmu, aku tidak bisa mengakhirinya.

Meski wajahnya terhalang oleh rambut, aku bisa melihat air mata mengalir di pipinya.

"Maafkan aku, maafkan aku, Kirishima-kun, maafkan aku."

Aku tahu seharusnya aku tidak boleh mengatakan ini.

Ini adalah hal yang benar-benar terlarang, sesuatu yang sudah berusaha kusembunyikan, dan hal yang selama ini kami pura-pura tidak sadari.

Namun──.

Hayasaka-san menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu berkata di sela isak tangisnya.

"Aku paling menyukai Kirishima-kun. Karena itu, aku ingin menjadi kekasih yang normal denganmu."

Awal pekan itu, cuaca sangat dingin hingga permukaan jalanan kota membeku.

Karena itulah, aku memakai topi rajut pemberian Hayasaka-san saat berangkat sekolah.

Aku berpikir jika Tachibana-san melihatnya, dia pasti akan menatapku dengan tatapan curiga. Tapi kalaupun tidak kupakai, Hayasaka-san pasti akan memberikan senyum pahit sambil bertanya, "Padahal hari sedingin ini?"

Namun, hari-hari di mana aku terjepit di antara mereka berdua akan segera berakhir.

"Aku ingin kamu memilih salah satu, aku atau Tachibana-san."

Hari itu, Hayasaka-san berkata begitu.

"Aku terlanjur jatuh cinta pada Kirishima-kun. Aku tidak mau jadi yang kedua lagi, aku tidak mau berbagi lagi, aku ingin jadi kekasih yang normal."

Mungkin aku tidak akan dipilih. Aku sadar akan hal itu. Tapi, aku tidak bisa terus begini.

Hayasaka-san sudah mengatakannya.

Dan aku pun berniat untuk memilih.

Aku sadar sejak awal bahwa berbagi itu mustahil. Sudah jelas bahwa baik Hayasaka-san maupun Tachibana-san sebenarnya tidak menginginkan hal itu.

Inilah saatnya bagiku untuk bertanggung jawab atas kisah cinta yang kumulai.

Namun, kupikir jika aku bilang ingin memilih, Tachibana-san pasti akan menolak. Karena kondisi keluarganya, masa depan Tachibana-san denganku tidak bisa dipastikan. Hubungan yang "tidak normal" justru lebih menguntungkan baginya.

Faktanya, keresahan Tachibana-san saat ini bukan karena status kami yang saling berbagi, melainkan kebingungan akibat rasa bimbang yang muncul terhadap Yanagi-senpai.

Memberi tahu Tachibana-san bahwa aku harus memilih terasa begitu berat.

Saat aku sedang memikirkan hal itu dan tiba di depan gerbang sekolah—

"Shiro-kun!"

Tachibana-san yang bergaya Aoharu (seperti remaja musim semi) sudah menungguku dengan senyum merekah.

Suasana hatinya sedang sangat bagus, dan dia seolah tidak peduli dengan topi pemberian Hayasaka-san yang kupakai.

Padahal dia orang yang peka, tidak mungkin dia tidak sadar, tapi dia justru sedang dalam mood yang luar biasa baik.

"Biar aku saja yang gendong tasmu sampai ke kelas."

"Itu malah membuatku terlihat seperti menyuruhmu membawanya, kan."

"Tidak apa-apa, kok."

Tachibana-san menggendong tasku. Sepertinya dia ingin memakai barang apa pun milikku.

"Semua orang melihat kita, lho."

"Kalau begitu, kita harus pamer lebih banyak lagi."

Tachibana-san merangkul lenganku. Dia menempelkan seluruh tubuhnya padaku, sampai-sampai ada seseorang di sekitar kami yang berbisik, "Wah, mereka pasti sudah 'melakukannya' pas Natal kemarin," dan aku hanya bisa berpikir, wajar saja mereka berpikir begitu.

Tachibana-san tampak tidak peduli dengan komentar orang lain. Alasannya sederhana.

Aku melirik ke arah leher Tachibana-san.

Dia mengenakan syal merah.

"Shiro-kun pemalu ya."

Tachibana-san membenamkan mulutnya ke syal itu, lalu menghirup aromanya dengan bangga seolah sedang membuktikan sesuatu.

"Padahal kamu memberikan kado itu ke adikku, tapi malah pulang begitu saja."

Ternyata, Miyuki-chan akhirnya memberikan kado yang kutaruh di kotak sampah itu.

Namun, setelah kudengar ceritanya, Miyuki-chan tidak memberikannya karena merasa kasihan padaku, melainkan karena dia kalah debat oleh Tachibana-san.

Hari itu, setelah pesta berakhir, ternyata Tachibana-san menunggu di lobi hotel sepanjang waktu.

"Aku punya firasat kalau Shiro-kun akan datang."

Dua jam kemudian, Miyuki-chan menyerahkan kantong kertas berisi syal itu sambil berkata, "Tadi ada pria berkacamata datang. Aku lupa menitipkan kado ini."

Pada akhirnya, saat kami masuk ke gedung sekolah bersama di pagi hari, aku tidak sanggup mengatakan bahwa aku harus memilih.

Saat istirahat, maupun jam makan siang, aku tetap tidak bisa mengatakannya.

Melihat Tachibana-san duduk di kursinya dengan wajah bahagia sambil melilitkan syal pemberianku di lehernya, aku jadi tidak bisa berkata apa-apa.

Tachibana-san sepertinya memakai syal itu sepanjang hari.

Bahkan saat pelajaran berlangsung pun dia tetap memakainya.

Saat ditegur guru, bukannya menjawab "Saya kedinginan," dia malah menjawab dengan bangga, "Ini hadiah dari pacar saya," begitu cerita seorang siswi sekelasnya padaku. Katanya, dia bahkan menulis surat pernyataan maaf dengan senyum-senyum.

Aku tidak ingin merusak suasana hatinya.

Namun, karena sudah memutuskan untuk memilih salah satu, aku tidak punya pilihan lain.

Itu terjadi setelah pulang sekolah.

Hari ini adalah giliran Tachibana-san. Saat aku sampai di ruang klub, dia sudah menungguku sambil menyeduh kopi. Meskipun ruangan itu memiliki pemanas yang kuat, dia masih tetap memakai syal itu.

Begitu aku duduk di sofa, Tachibana-san segera menghampiriku dengan semangat seperti anjing yang sedang mengibaskan ekor.

"Hari ini kita mau apa? Jalan-jalan? Aku tidak keberatan kalau kita hanya berdua saja di ruang klub ini. Malah, kurasa itu lebih baik!"

Tachibana-san menyandarkan kepalanya di bahuku.

Namun, saat kusampaikan percakapanku dengan Hayasaka-san dan keputusanku untuk memilih salah satu di antara mereka, ekspresinya perlahan memudar.

"Kenapa, kenapa kamu bilang begitu?"

Dia menjauhkan tubuhnya, menatapku dengan wajah seperti anak anjing yang tersesat dan kehujanan.

"Berbagi itu tidak apa-apa, kan? Shiro-kun juga lebih suka begitu, kan?"

Tachibana-san tampak terpukul, tapi dia tidak terlihat terkejut atau marah.

Mungkin dia sadar bahwa hari ini pasti akan datang.

"Bagaimana dengan rencana liburan kita?"

"Pilihannya bisa ditentukan setelah kita pulang liburan," kata Hayasaka-san saat itu. Karena dia sudah mendapatkan kado Natal, katanya.

"Kalau begitu... aku tidak akan bisa menikmatinya..."

Aku sudah memutuskan untuk memilih. Aku sempat berpikir untuk menyampaikannya setelah liburan selesai.

Namun, aku merasa tidak benar jika aku pergi liburan sementara dia baru tahu belakangan kalau aku pergi dengan perasaan seperti itu.

"Apa sebaiknya kita putuskan sebelum liburan?"

"Tidak mau. Aku ingin pergi liburan."

Tachibana-san berkata begitu dengan wajah sedih.

"Aku masih belum memutuskan apa-apa."

"Shiro-kun pasti akan memilih Hayasaka-san."

Itu karena Tachibana-san merasa tidak ada yang bisa dilakukan terhadap situasi keluarganya. Dia pikir aku akan memilih Hayasaka-san demi masa depannya.

"Hei, ayo kita bujuk Hayasaka-san. Kita lanjutkan saja berbagi, oke? Di depan orang lain, pacarmu Hayasaka-san saja tidak apa-apa. Prioritaskan Hayasaka-san saja, aku akan mengalah."

Aku masih belum memutuskan apa-apa. Meski kukatakan sekali lagi, Tachibana-san tetap tidak mengubah pemikirannya bahwa aku akan memilih Hayasaka-san.

"Aku tidak mau ini jadi liburan terakhir kita."

Tachibana-san mulai sedikit kacau.

"Shiro-kun, apa kamu benar-benar yakin? Bagaimana kalau kita bahkan tidak bisa pergi liburan?"

Katanya, ibunya menentang rencananya.

Ternyata, keluarga Tachibana memiliki kebiasaan menghabiskan tahun baru bersama keluarga.

Saat dia mencoba menerobos aturan itu dengan alasan ingin liburan bersama teman, adiknya ternyata mengadukan hal itu.

Bahwa dia akan pergi liburan dengan pria berkacamata yang bukan Yanagi-kun.

"Kenapa bisa ketahuan kalau aku pergi dengan Shiro-kun? Padahal aku tidak bilang apa pun pada adikku..."

Aku menatap buku catatan yang diletakkan di atas meja. Itu adalah rencana perjalanan untuk liburan ke Kyoto yang dibuat Tachibana-san di rumah.

Di sampulnya, dengan menggunakan pena warna-warni, tertulis kalimat besar:

'Perjalanan ke Kota Kuno yang Dikelilingi oleh Kasih Sayang Sepihak untuk Shiro-kun ~Shiro-kun akan menciumku seratus kali sehari~'

Aku memiringkan kepala, berpura-pura bingung kenapa hal itu bisa terbongkar.

"Pasti Shiro-kun bakal bilang 'keluarga itu harus akur' lalu membatalkan liburannya, kan? Kamu selalu tidak punya pendirian kalau sudah menyangkut masalah keluargaku."

Memang benar, aku cenderung ragu-ragu dalam hal semacam itu.

Tapi──.

"Ayo kita pergi liburan. Aku senang kamu membuatkan rencana perjalanan ini untukku."

"Sudah tidak mungkin."

"Aku yang akan mengurusnya."

"Kamu tidak bisa melakukan apa pun."

Tachibana-san berkata dengan pasrah. Sepertinya ada sesuatu mengenai masalah pertunangannya yang membuat ibunya merasa keberatan.

Namun──.

"Menurutku, ibu Tachibana-san bukan tipe orang yang tidak bisa diajak bicara."

"Shiro-kun bisa bicara begitu karena kamu tidak tahu apa-apa."

"Begitukah? Kalau begitu, aku sendiri yang akan meminta izin supaya kita bisa pergi liburan."

"Eh?"

Tachibana-san menatapku dengan wajah curiga. Lalu, seolah teringat sesuatu, matanya membelalak lebar.

"Shiro-kun, memangnya kamu kerja paruh waktu di mana!?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close