Chapter 17
Mari
Berbagi
Kontes Pasangan Terbaik adalah ajang untuk menentukan
sepasang kekasih paling mesra di sekolah.
Peserta ditantang dengan berbagai macam hal. Ada
pasangan yang memamerkan kemesraan, namun ada juga yang justru bertengkar
karena salah satunya lupa hari ulang tahun pasangan. Acara ini selalu
berlangsung meriah setiap tahunnya.
Tahun ini, ada delapan pasang kekasih yang
berpartisipasi.
Aku naik ke atas panggung sambil menarik tangan
Hayasaka-san yang memakai kostum beruang.
Kategori komedi diisi oleh aku dan Hayasaka-san si
beruang, serta Yoshimi-kun dan Tachibana-san si hantu.
Hayasaka-san dan Tachibana-san sebenarnya punya nilai
jual yang cukup tinggi. Namun, isi di dalam kostum beruang itu tidak diketahui,
dan Tachibana-san pun membiarkan rambut hitamnya terurai menutupi wajah
sehingga pesona cantiknya sama sekali tidak terlihat.
Karena itulah, perhatian penonton akhirnya tertuju pada
pasangan sungguhan.
Melihat wajah pasangan kekasih yang biasanya tidak
ditunjukkan kepada siswa lain, penonton ada yang sampai menggeliat karena
gemas, ada pula yang bersorak meledek.
Beberapa siswa populer di sekolah juga ikut serta.
Contohnya, seorang siswi kelas satu yang terkenal sebagai
perusak hubungan di klub musik ringan.
Dia
tipe gadis twin-tail yang terkesan licik. Dia sudah membuat banyak pria
jatuh cinta, memicu pertengkaran antara vokalis dan gitaris yang membuat band
mereka bubar. Gadis itu kini berdiri di atas panggung bersama seorang siswa
pria kelas tiga.
Apakah akhirnya dia sudah menetap dengan satu pria? Atau,
mustahil gadis itu puas dengan satu pria saja; banyak orang menatapnya dengan
pandangan skandal, berpikir kalau tidak aneh jika mereka malah bertengkar hebat
di panggung ini.
Ada juga pasangan dengan kombinasi yang mengejutkan.
Seorang pria yang tampak membosankan dan seorang
gadis yang mencolok.
Begitu mereka naik ke panggung, terdengar bisikan,
"Eh, mereka pacaran?"
Gadis itu sering bergonta-ganti warna rambut dan
roknya pun pendek, sedangkan si pria tipe yang sangat serius dan sepertinya
jauh dari urusan asmara. Mungkin ini adalah contoh nyata bahwa gadis yang
mencolok ternyata bisa bersikap lembut kepada pria yang membosankan, atau
mungkin pria itu sebenarnya bisa memimpin dengan caranya sendiri. Apa
pun itu, melihat mereka saja sudah membuat hati terasa hangat.
Melihat ini, aku jadi berpikir bahwa setiap orang
memiliki kisah asmaranya sendiri.
Saat sedang memikirkan hal itu, ketua komite pelaksana
festival budaya menempelkan pengeras suara ke mulutnya dan mengumumkan
pembukaan Kontes Pasangan Terbaik. Tepuk tangan meriah pun bergemuruh.
"Pertama, seperti biasa, kuis kecocokan!"
Ini adalah kuis sistem panel.
Di atas meja yang disiapkan di panggung terdapat flip
chart dan pena. Jika jawaban keduanya sama, mereka mendapat satu poin.
Ketua komite pelaksana berseru dengan lantang.
"Pertanyaan pertama, di manakah tempat kenangan
kalian berdua?"
Pertanyaan pertama saja sudah cukup sulit.
Aku dan Hayasaka-san sudah sering pergi berdua, jadi ada
terlalu banyak kandidat tempat yang bisa dipilih untuk menyamakan jawaban.
"Kalau begitu, silakan buka jawabannya!"
Waktu habis, dan kami membuka flip chart
masing-masing. Yang kutulis adalah──.
"Sekolah."
Pada akhirnya, karena bingung memilih yang mana, aku
malah menulis jawaban seperti ini……
Ngomong-ngomong,
yang ditulis Hayasaka-san adalah──.
"Pemandian
Air Panas Hakone."
Meski
saat itu kami pergi bersama yang lain dalam kegiatan kamp penelitian, kalau
dipikir-pikir, itu memang pengalaman menginap pertama kami.
Aku merasakan tatapan tajam dari dalam kostum beruang
itu.
"Tidak, aku terlalu banyak berpikir. Karena
tempat terlama kita menghabiskan waktu bersama adalah sekolah, makanya aku
pikir begitu…… dan……
anu…… maaf."
Benar
juga. Gadis-gadis sangat menghargai momen peringatan seperti perjalanan pertama
atau hal semacam itu. Aku bersalah karena tidak bisa menyamakan jawaban itu,
tapi, ini kan sulit!
Faktanya, cukup banyak pasangan yang jawabannya tidak
cocok.
Namun, ada juga pasangan yang menjawab dengan tepat.
Tachibana-san
dan Yoshimi-kun. Tempat kenangan mereka berdua adalah──.
"Di dalam sumur."
Apa mereka hanya sedang bermain-main dengan karakter
hantu itu?
Setelah itu pun, Tachibana-san dan Yoshimi-kun terus
menjawab dengan benar menggunakan lelucon hantu. Bahkan──.
"Anjing atau kucing, pilih mana?"
"Laut atau gunung, kalau musim panas pergi ke mana?"
Mereka bahkan menyamakan jawaban untuk pertanyaan
kecocokan yang biasa seperti itu.
Mungkinkah Yoshimi-kun dan Tachibana-san sebenarnya
sangat cocok?
Di saat yang sama, aku berpikir, kalau mereka benar-benar
menang, apa Tachibana-san sudah gila?
Di sisi lain, aku dan Hayasaka-san babak belur.
Kami memang lebih memahami satu sama lain dibanding
sebelumnya, hanya saja karena aku berusaha menyesuaikan jawaban dengan
Hayasaka-san, dan dia pun melakukan hal yang sama, jawaban kami justru tidak
sinkron.
"Majalah manga favoritmu?"
Untuk pertanyaan yang kubuat bersama Hamanami ini, aku
menjawab Jump yang dibaca Hayasaka-san, sementara Hayasaka-san menjawab Spirits
yang aku sukai.
Kami saling memikirkan perasaan satu sama lain, tapi
malah meleset seperti kancing baju yang salah masuk lubang. Sepertinya itu
sangat menggambarkan keadaan kami saat ini.
"Kirishima dan beruang itu, kecocokannya parah
banget, ya."
Suara penonton terdengar. Mungkin tidak suka dianggap
tidak akur, Hayasaka-san si beruang mengangkat papan tulis ke arahku.
"Marah."
Dia mengayunkan lengannya dengan kencang lalu menunjuk
pasangan Yoshimi-kun dan Tachibana-san. Sepertinya dia tidak mau kalah.
Situasi mulai kacau.
"Berikutnya, segmen situasi pengakuan cinta yang
bikin baper!"
Ini bukan lagi kuis, melainkan sistem penilaian oleh
juri.
Juri yang bertugas adalah ketua dari setiap klub, yang
mungkin tidak terlalu paham soal cinta, tapi setidaknya mereka akan memberikan
penilaian.
"Di segmen ini, setiap pasangan akan memeragakan
adegan pengakuan cinta. Jika berhasil membuat juri baper, poin akan
ditambahkan. Karena kami hanya ingin melihat adegan manis, kreasi bebas pun
diperbolehkan!"
Setelah penjelasan selesai, setiap pasangan
memeragakannya secara bergantian.
Khususnya, adegan pengakuan cinta dari siswi kelas satu
yang merupakan perusak hubungan itu benar-benar luar biasa.
Tak disangka, gadis itu yang menyatakan cinta lebih dulu.
Itu terjadi saat band yang diisinya tampil di sebuah live
house kecil. Karena amatir, penontonnya hanyalah orang-orang yang berkaitan
dengan sekolah.
Saat sedang bernyanyi, gadis itu melihat siswa pria kelas
tiga yang akhirnya menjadi pacarnya duduk di bangku penonton. Mereka belum
pernah bicara sama sekali, dan penampilannya pun biasa saja. Namun, dia merasa
pria inilah orangnya.
Setelah lagu selesai, gadis itu menunjuk pria tersebut
dan berkata.
"A-a-aku! Aku akan jadi pacarmu!"
Saat peragaan itu selesai, penonton menjadi sangat heboh.
Adegan itu sangat dramatis.
Maki, ketua OSIS yang bertugas sebagai komentator,
memberikan komentar sok kritikus.
"Ini bagus sekali. Poinnya ada pada kalimat 'akan
jadi pacarmu'. Dia tidak menunggu konfirmasi keinginan pihak lawan. Itu sangat
seperti idol, dan cocok dengan karakter gadis yang banyak disukai pria.
Jika ditanya apakah itu arogan, jawabannya tidak. Dia terlihat panik saat
mengucapkannya. Ini adalah bentuk ungkapan perasaan tidak ingin pria itu
diambil orang lain, yang menurut saya sangat menggemaskan. Ya, saya puas."
Akhirnya, tiba giliran Yoshimi-kun dan Tachibana-san.
Karena mereka tidak berpacaran, mereka harus melakukan pengakuan cinta kreasi
bebas.
Apa yang akan mereka lakukan? Aku menonton mereka dengan
cemas.
Setelah berhadapan dengan Tachibana-san cukup lama,
Yoshimi-kun berkata, "Tetap saja tidak bisa."
Tentu saja. Lawannya adalah sosok yang penampilannya
benar-benar horor. Tidak mungkin dia bisa menyatakan cinta. Namun, alasan
Yoshimi-kun tidak menyatakan cinta ternyata bukan itu.
"Maaf karena merusak suasana, tapi aku punya gadis
yang kucintai, jadi meski bercanda, aku tidak bisa menyatakan cinta pada orang
selain dia. Maksudku……"
Yoshimi-kun meminta maaf kepada penonton, lalu berkata.
"Aku orang yang cukup pemalu. Jadi, meski selalu
bersama gadis yang kusukai itu, aku tidak pernah bisa menyampaikan perasaanku
selama sepuluh tahun ini. Aku justru malah berpura-pura tidak peduli.
Benar-benar bodoh, ya. Tapi, setelah berdiri di panggung ini dan melihat semua
orang begitu serius soal cinta, aku merasa harus memperjelas perasaanku."
Yoshimi-kun menggaruk kepalanya, lalu berkata ke arah
penonton di lapangan, mungkin menujukan perkataannya pada satu gadis di sana.
"Setelah panggung ini selesai, aku akan mengatakan
kata-kata yang tidak bisa kuucapkan selama sepuluh tahun."
"Luar biasa," komentar Maki lagi.
"Kata-kata yang tidak bisa ia ucapkan itu sangat
sederhana, hanya dua suku kata. Saya tidak akan menebaknya karena itu tidak
sopan. Bagi orang biasa, itu mungkin kata-kata yang ringan, tapi baginya itu
sulit. Mungkin mereka punya hubungan yang sangat dekat, sering bertengkar, tapi
menyimpan perasaan berharga di dalam hati. Ya, ini luar biasa. Terima kasih
atas hidangannya."
Terakhir adalah giliranku dan Hayasaka-san.
"Boleh bebas, kok."
Hayasaka-san mengangkat papan tulis. Itu pilihan yang
bijak. Tidak mungkin kami menampilkan adegan tidak sehat yang sebenarnya kami
alami di atas panggung ini.
Karena ini kreasi dadakan, tidak ada waktu untuk
memikirkan situasi. Kalau begitu, satu-satunya cara untuk membuat pengakuan
yang berkesan adalah dengan kata-kata. Sebuah kalimat dramatis.
Di atas panggung, aku berhadapan dengan Hayasaka-san dan
mengucapkannya dengan penuh percaya diri.
"Aku menyukaimu sebesar beruang musim
semi."
Itu adalah pengakuan sastrawi sepenuh jiwa. Sejak
SMP, aku selalu ingin menyatakan cinta dengan kalimat ini. Tak disangka bisa
kugunakan di panggung. Tapi──.
Eh? Kenapa suasananya jadi begini?
Aula sepertinya
menjadi sunyi. Mengapa?
Semua orang menatapku dengan wajah seolah berkata,
"Maksudnya apa?"
Hei, ke mana perginya antusiasme tadi?
"Wah, wah, ini tidak bisa dibiarkan."
Maki mendesah sambil berkomentar.
"Kalian mungkin bingung, tapi pengakuan pemuda ini
adalah adaptasi dari kalimat dalam sebuah karya sastra. Singkatnya, ini adalah
produk dari kesadaran diri yang berlebihan; dia merasa keren karena bisa
mengatakan kalimat favoritnya kepada seorang gadis. Karena di dalam karyanya
kalimat itu terdengar puitis dan humoris, dia membawanya begitu saja ke dunia
nyata. Saya mengerti perasaannya. Saat SMP, saya juga pernah berimajinasi
seperti itu di tengah malam. Tapi jika dilakukan sekarang, saya
justru merasa malu dan merinding sendiri."
Sialan.
Sepertinya aku benar-benar gagal. Tapi, kecenderungan
seperti ini sudah menjadi takdirku sejak dulu, tidak ada gunanya mengeluh
sekarang.
Aku justru ingin pulang, minum bir Heineken sambil
merebus pasta, lalu mencari kucing di gang belakang. Tentu saja "mencari
kucing" hanyalah metafora, aku boleh melakukannya atau tidak.
Saat aku sedang berimajinasi ala "beruang musim
semi" dan mencoba lari dari kenyataan, bahuku ditepuk oleh si beruang.
Papan tulisnya hanya berisi satu kalimat.
"Jangan menyerah."
Dihibur justru terasa lebih menyakitkan daripada
dimarahi.
Sialan.
Sejak saat itu, aku dan Hayasaka-san terus berada di
posisi terbawah. Sementara yang memimpin adalah pasangan Tachibana dan Yoshimi.
Yoshimi-kun terlihat sangat serius ingin memenangkan kontes ini.
"Yoshimi-kun, bukankah kau menyukai orang
lain?"
Aku tidak sengaja menegur Yoshimi-kun.
"Benar sih," jawab Yoshimi-kun.
"Tapi aku benar-benar akan menang."
"Hei, bagaimana dengan Hamanami?"
Tadi dia tidak bilang begitu.
Namun, Yoshimi-kun menjawab dengan santai.
"Itu urusan lain. Kalau menang, mungkin aku bisa
menciumnya, kan? Sebagai pria, wajar dong ingin melakukan itu dengan orang
cantik seperti Tachibana-senpai?"
Dia bahkan berkata, "Kirishima-senpai, sebaiknya kau
serius juga."
"Kalau tidak, Tachibana-senpai akan kurebut,
lho."
◇
Saat seseorang mencoba lari, kita jadi ingin mengejarnya.
Itulah
intisari cinta, snob effect. Setelah menerima saran Tachibana-san,
Yoshimi-kun berhasil memikat perhatian Hamanami. Sekarang, giliran
Tachibana-san yang berniat menggunakan snob effect itu.
Tiba-tiba, Yoshimi-kun mengatakan akan memenangkan Kontes
Pasangan Terbaik bersama Tachibana-san.
"Jangan-jangan, kau disuruh oleh
Tachibana-san?"
Yoshimi-kun menggaruk kepalanya.
"Karena
dia banyak membantuku, aku ingin membalas budinya. Aku ada di
pihak Tachibana-san sekarang."
"Hamanami tidak akan mengerti penjelasan itu."
"Dia pasti paham."
Meski memiliki gadis yang disukai, memenangkan kontes
bersama senior cantik sebenarnya tidak baik di mata umum. Itu melanggar prinsip
cinta sejati. Namun──.
"Menurutku, cinta itu bukan soal baik atau
buruk."
Yoshimi-kun mengatakan bahwa ia menyadari hal itu setelah
berdiri di atas panggung ini.
"Menyukai seseorang itu terdengar seperti emosi
positif, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu. Ini adalah kekuatan yang
sangat besar, tak terkendali, dan tak terjelaskan—seperti perasaanku yang tidak
bisa kusampaikan meski sudah sepuluh tahun bersamanya. Ini bukan tentang
dimensi benar atau salah."
Karena itu, dia tidak ragu untuk menang bersama
Tachibana-san.
"Cinta adalah emosi yang kuat, dan kekuatan perasaan
itulah segalanya. Gadis dari band tadi, orang-orang bilang dia nakal atau suka
bermain-main, tapi kenyataannya dia menjalani kisah cinta yang sangat dramatis
dan terbaik, kan? Mungkin, semua cinta itu yang terbaik dan terkuat."
Mungkin, apa yang dikatakan Yoshimi-kun itu benar.
Cinta adalah emosi yang telanjang, terkadang kasar
dan tak terjelaskan. Kita menjadi kacau karena mengabaikan aturan, konsistensi,
atau kebenaran. Justru karena itulah, cinta menjadi singkat, memiliki keindahan
sesaat, dan manusia merasakan betapa berharganya cinta itu.
"Di kontes yang mempertarungkan emosi kuat
seperti ini, aku akan merasa tidak enak pada semua orang kalau aku tidak
serius."
"Kau ini di tempat aneh malah jadi atletis
ya!"
"Selain itu, berpasangan dengan senior cantik
seperti Tachibana-senpai di acara seperti ini, jujur saja, itu membuat
semangatku naik."
Yoshimi-kun memang masih remaja pria yang jujur. Apa pun
itu, dia tampak serius mengejar kemenangan. Dia menyingsingkan lengan bajunya
dan kembali ke sisi Tachibana-san.
Aku sedang bingung harus berbuat apa saat tangan
beruang menepuk bahuku.
"Mari kita menang."
Jika kami menang, Tachibana-san dan yang lainnya
tidak akan menang. Itu berarti akhir yang bahagia bagi Hamanami dan juga aku.
"Tapi, jika melakukan itu……"
Saat kami sedang bicara, pembawa acara memanggil kami
untuk segmen berikutnya.
"Kerja sama cinta, Futari-baori yang
panas!"
Ini adalah permainan di mana gadis berada di belakang
pria dan menyuapinya Oden.
Karena Hayasaka-san memakai kostum beruang, dia tidak
bisa melakukan Futari-baori. Jadi, dia menutup mata dan masuk ke
belakangku.
"Hayasaka-san, sepertinya kau sedang marah,
ya?"
Tepat setelah dimulai, Daikon panas ditekan dengan kuat
ke dahiku.
Hayasaka-san ingin menang. Tapi dia marah karena aku
tidak tegas. Oden itu dimasak dengan baik.
"Tapi, apakah benar jika kita yang menang? Maksudku,
panas, panas, panas!"
Kali ini, Chikuwa ditekan ke pipiku.
"Jangan pakai Ganmodoki juga, dong. Bukan
karena panas, tapi kuahnya bakal meresap ke kacamataku."
Pada akhirnya, Ganmodoki itu ditekan ke
kacamataku.
Segmen berikutnya adalah "Uji Pemahaman".
Segmen ini menguji seberapa jauh si gadis memahami pria pasangannya.
"Pertama dari hal dasar. Sebutkan tanggal ulang
tahun pasangan kalian!"
Aku menulis ulang tahunku di flip chart dan
menelungkupkannya. Hayasaka-san juga menulis ulang tahunku. Saat dibuka
bersamaan, keduanya tertulis 1 April, jadi kami benar.
Sejak saat itu, intuisi Hayasaka-san sangat tajam. Dia
menjawab segalanya dengan benar. Mulai dari merek kopi favoritku, merek dompet
yang kupakai, sampai posisi tidurku pun ia tahu.
"Soal berikutnya! Pria, tulislah tiga poin yang
membuat gadis ini jatuh cinta padamu! Gadis, tulislah tiga poin yang kamu sukai
dari pria ini!"
Ini lebih ke arah seberapa jauh pria memahami perasaan
gadisnya, ya, pikirku sambil menulis tiga poin.
"Serius, pekerja keras, serius dalam cinta."
Rasanya memalukan menulis itu sendiri seolah memuji diri
sendiri. Tapi, ternyata jawabannya cocok.
Di flip chart Hayasaka-san tertulis──.
"Sifat seriusnya, sifat pekerja kerasnya, sifatnya
yang serius dalam cinta."
Kami mendapat poin, tapi Hayasaka-san terus membalik flip
chart-nya.
"Suka kacamatanya, punggungnya yang ternyata lebar,
sifatnya yang sedikit ceroboh."
Lembar demi lembar terus dibuka.
"Keterampilannya menggunakan tangan, dasinya
yang serasi, kebiasaannya membaca buku, pengetahuannya yang luas tentang
hal-hal yang tidak kuketahui, kebiasaannya menyamakan kecepatan langkah tanpa
disadari──."
Aku sadar, memang begitu adanya.
Seperti kata Yoshimi-kun, menyukai seseorang adalah emosi
yang kuat. Kita bisa dengan mudah menyebutkan seratus kebaikan orang yang kita
sukai dengan penuh semangat.
Mungkin selama ini aku masih mencoba melarikan diri dari
emosi kuat itu. Meski secara lahiriah berharap disukai gadis, jauh di lubuk
hati, mungkin aku ketakutan.
Aku harus menghadapi perasaan ini lebih jauh.
Tachibana-san
ingin kemenangannya dicegah. Dia ingin melihatku berjuang sekuat tenaga karena
tidak ingin dia direbut orang lain. Dan Hayasaka-san ingin menang bersamaku.
Tidak
ada alasan bagiku untuk tidak mengincar kemenangan.
Namun, keraguanku mungkin karena aku merasa ini terlalu
curang.
Situasi ini terlalu menguntungkan. Jika menang, aku bisa
menjaga perasaan Hayasaka-san dan Tachibana-san sekaligus.
Dan karena Yanagi-senpai akan menyadari bahwa yang ada di
dalam kostum itu adalah Hayasaka-san, kemungkinan besar dia tidak akan
mencurigai hubunganku dengan Tachibana-san.
Tetap menjaga Hayasaka-san sambil berpacaran dengan
Tachibana-san, dan tetap berteman baik dengan Yanagi-senpai.
Itu benar-benar bisa terwujud.
Apa yang kulakukan di mata umum memang brengsek dan
buruk. Aku tidak akan mencari alasan.
Aku ingin melanjutkan cinta yang fana dengan
Tachibana-san dalam waktu yang terbatas.
Aku tidak ingin melepas cinta yang sedikit tidak sehat
dengan Hayasaka-san. Dan aku tidak ingin merusak persahabatan dengan
Yanagi-senpai.
Selama ini, aku bergerak seolah semua ini bukan salahku,
dengan alasan karena Tachibana-san yang melakukannya atau Hayasaka-san yang
memaafkanku.
Tapi bukan begitu. Ini adalah keinginanku, dan aku harus
bertanggung jawab atas diriku sendiri.
Karena itu, dengan tekad bulat, aku harus menyelesaikan
rencana ini.
"Hayasaka-san, mari kita lakukan."
"Ya!"
Kami menunjukkan perlawanan yang luar biasa.
Kami menjadi yang pertama dalam perlombaan ketahanan
menggendong Hime-dakko (menggendong ala putri) sambil memakai kostum,
dan mengumpulkan banyak poin di kompetisi lain.
Ada kalanya perasaan kami tidak sinkron, namun ada
kalanya kami sangat seirama.
Kurasa, itulah cinta.
"Jika bisa menjadi yang pertama di kompetisi ini,
kita menang!"
Hayasaka-san melompat-lompat dengan gembira.
Terakhir adalah lomba lari tiga kaki. Dimulai dari
panggung, mengelilingi lapangan, lalu kembali ke panggung. Pita finis sudah
disiapkan di sana.
Pasangan yang memulai dengan baik adalah pemimpin
klasemen sementara, Yoshimi-kun dan Tachibana-san.
Kami, yang berada di posisi kedua dan mencoba membalikkan
keadaan, sempat tertinggal. Ternyata sulit berlari memakai kostum, dan
Hayasaka-san sempat tersandung saat turun dari panggung.
"Kamu tidak apa-apa?"
Hayasaka-san mengangguk, lalu berdiri dengan cepat dan
menghadap ke depan.
Kami berpegangan pundak, dan aku berlari sambil
berseru, "Satu, dua, satu, dua." Seharusnya,
pasangan kekasih akan digoda penonton karena mereka sangat dekat, tapi
pasanganku adalah beruang.
Pasangan Yoshimi-kun yang memimpin juga tidak terlihat
serasi secara visual karena pasangannya adalah hantu.
Namun, mereka sangat seirama dan melesat maju. Mereka
tampak sangat cocok, dan aku sedikit tidak suka.
Ya, aku tidak suka.
Tachibana-san, melakukan hal seperti memancing rasa
cemburu bukanlah gayamu.
Aku tidak mau kalah.
Aku dan Hayasaka-san maju dengan kecepatan kami sendiri.
Pasangan yang terburu-buru mulai jatuh atau berhenti karena ritmenya kacau.
Kami menyalip mereka satu demi satu.
Tachibana-san sepertinya sulit berlari karena rok gaunnya
yang panjang.
Aku dan Hayasaka-san mulai paham triknya dan perlahan
berakselerasi.
Mungkin karena kesadaran dan tubuh kami sinkron, kami
berlari dengan sangat alami. Rasanya kami bahkan lebih cepat dari biasanya. Aku
bisa merasakan angin.
Di lintasan ada penonton, dan aku melihat Yanagi-senpai.
"Semangat!"
Senpai memberi kami dukungan.
Jika kami menang, Yanagi-senpai pasti akan senang. Dia
pasti tidak ingin melihat Tachibana-san menang bersama pria lain.
Karena Senpai pasti tahu yang ada di dalam kostum itu
adalah Hayasaka-san, dia juga tidak akan mencurigai hubunganku dengan
Tachibana-san.
Pasangan yang menang akan menikah di masa depan.
Kupikir bagus jika aku dan Hayasaka-san mendapatkan mitos
itu.
Semua berjalan sesuai rencana.
Setelah ini, aku hanya perlu menyembunyikan hubunganku
dengan Tachibana-san sampai lulus. Aku pasti akan melakukannya.
Pasangan Yoshimi-Tachibana yang berlari di depan
berhenti.
Tachibana-san
akhirnya menginjak ujung gaunnya sendiri.
Aku dan
Hayasaka-san menyalip mereka dan berakselerasi lebih jauh.
Tidak ada lagi pasangan yang berlari di depan kami.
Kami terus berakselerasi, melampaui perasaan dan
kesadaran, berlari ke atas panggung, memutus pita finis, dan kami berdua jatuh
bersimpuh dengan tangan menumpu ke lantai panggung. Nafas kami terengah-engah,
melelahkan sekali.
Tapi, kami berhasil. Kami benar-benar melakukannya.
Pasangan lain menyusul naik ke panggung.
Pasangan Yoshimi-Tachibana tiba di urutan kedua.
Tachibana-san yang biasanya berwajah dingin tampak
kepanasan setelah berlari dan mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi
wajahnya. Melihat itu, aku menyadari ada sesuatu yang ganjil.
Kaki yang menyembul dari balik rok gaunnya memakai sandal
kayu Takageta yang tinggi.
Jika Tachibana-san yang sudah tinggi memakai sandal
seperti itu, dia seharusnya lebih tinggi daripada Yoshimi-kun.
"Apa-apaan ini?"
Yoshimi-kun pun sepertinya menyadarinya, lalu dengan
bingung dia melepas wig rambut panjang hantu itu.
Wajah yang terpampang di sana adalah──.
Hamanami.
Dia menunduk dengan malu-malu.
Karena dia berada di dalam kostum itu sejak awal, itu
artinya dia mendengar pengakuan Yoshimi-kun secara langsung di depan wajahnya
sendiri.
"Aku dipanggil lewat pengeras suara, dan
Tachibana-senpai menyuruhku, 'Gantikan aku jadi hantu'……"
"Ternyata benar, aku merasa napas kita sangat
seirama."
Yoshimi-kun memasang ekspresi puas.
Sepertinya, di tengah perlombaan tadi, dia sudah mulai
menyadari kalau pasangannya bukanlah Tachibana-san.
"Aku juga diminta oleh Tachibana-senpai. Katanya,
anggap saja hantu itu sebagai Hamanami……"
"B-begitu, ya……"
Keduanya sudah tahu perasaan satu sama lain. Namun, mereka bahkan tidak sanggup saling menatap. Tidak,
mungkin justru karena sudah tahu, mereka jadi tidak bisa berani menatap mata
satu sama lain.
"Yoshimi, tadi kan kau bilang ada kata-kata yang
tidak bisa kauucapkan selama sepuluh tahun itu, coba katakanlah."
"Ah,
soal itu…… entah kenapa, tetap saja rasanya memalukan……"
Mereka
berdua benar-benar membuat geregetan, menggemaskan, dan membuat siapa pun ingin
mendukung mereka. Semangatlah──.
Tapi, ini bukan saatnya memikirkan itu!
Hantu itu adalah Hamanami. Kalau begitu, di mana
Tachibana-san?
Dengan perasaan cemas, aku menatap sosok beruang yang
sedang menumpukan kedua tangan ke atas panggung sambil terengah-engah.
Karena dia kelelahan dan menundukkan kepala, kostum
beruang itu perlahan melorot, hingga akhirnya benar-benar terlepas. Sosok yang
muncul tentu saja──.
Tachibana-san.
Keringat membanjiri tubuhnya, dan rambutnya yang basah
kuyup menempel di pipinya yang putih.
Kemudian, setelah menarik napas sejenak, dia berkata.
"…………Panas."
◇
Melihat seorang gadis cantik muncul dari dalam kostum,
suasana aula langsung meledak.
Para penonton segera menganggapku dan Tachibana-san
sebagai pasangan kekasih sungguhan.
Masih segar dalam ingatan mereka bagaimana Tachibana-san
menggunakan tumpukan flip chart untuk menyebutkan seratus hal yang dia
sukai dariku.
Pasangan yang awalnya dikira hanya sebagai penghibur
kategori komedi, ternyata di balik kostumnya adalah pria dan wanita sungguhan.
Ditambah lagi dengan kejutan dramatis berupa kemenangan comeback
yang mereka raih, sorak-sorai penonton pun semakin membahana.
Tachibana-san mendengar sorakan itu dengan senyum tipis.
"……Ternyata, kitalah yang terbaik."
Wajahnya tetap terlihat dingin seperti biasanya.
Namun, ekspresinya tampak seperti seseorang yang sedang
mabuk kepayang hingga lupa diri.
Aku terlalu fokus mengejar skenario yang menguntungkan
diriku sendiri sampai melewatkan hal ini.
Seharusnya aku bisa menebaknya jika berpikir dengan
jernih.
Tachibana-san mendukung cinta antara Yoshimi-kun dan
Hamanami, sekaligus ingin mengikuti kontes ini bersamaku.
Karena itulah, Tachibana-san menyusun cara untuk
mewujudkan keduanya secara bersamaan.
Karena masuk ke dalam kostum beruang adalah tugas
bergilir bagi beberapa orang termasuk Hayasaka-san, dia tinggal meminjam kostum
itu saat bukan giliran Hayasaka-san.
Lalu, dia menyuruh Hamanami memakai sandal kayu Takageta,
mendandaninya sebagai hantu, dan menyuruhnya ikut kontes bersama Yoshimi-kun.
Trik pertukaran yang sederhana.
Itu mungkin dilakukan karena mereka tidak perlu
menunjukkan wajah maupun suara.
Karena ini Tachibana-san, mungkin awalnya dia berniat
tetap berada di dalam kostum beruang, ikut serta tanpa diketahui siapa pun,
lalu pulang membawa kenangan itu sendirian.
Satu-satunya kesalahan perhitungan adalah, terkadang isi
kepala Tachibana-san sendiri bisa menjadi sangat tidak waras.
Fokus matanya sudah tidak tepat.
Dia benar-benar kehilangan akal sehat karena kemenangan
ini.
"……Ternyata, kitalah yang terbaik."
Tachibana-san
bergumam tanpa tujuan. Profil samping wajahnya terlihat cantik hingga membuatku
merinding.
"……Kitalah
yang paling hebat."
"Tachibana-san,
sebaiknya kau tenang sedikit."
"……Hei
Tsukishiro-kun, aku dan Tsukishiro-kun adalah yang terbaik dan paling
hebat."
"Kita
benar-benar sudah bertindak terlalu jauh."
"……Kitalah
pasangan kekasih terbaik, tidak ada yang bisa mengejar kita, dan perasaan ini
yang paling nikmat."
Kata-kataku
tidak sampai pada Tachibana-san yang sudah mabuk dengan suasana ini.
Dia melepas badan kostum beruang itu, lalu berdiri
dengan gerakan lambat.
Benar-benar fatal.
Seharusnya ada banyak kesempatan untuk menyadarinya
lebih awal.
Hayasaka-san yang kikuk tidak mungkin bisa bergerak
selincah itu di dalam kostum, dan dia juga tidak mungkin bisa menebak posisi
tidurku.
Satu-satunya orang yang bisa menebak hal-hal
tentangku hanya dengan intuisi adalah Tachibana-san.
Jangan lupa pula, Tachibana-san adalah tipe orang
yang terlihat ramping di luar, padahal sebenarnya dia lebih berdada besar
daripada Hayasaka-san.
Namun, sekarang bukan saatnya menyesali masa lalu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya──.
Dari arah penonton, seruan untuk berciuman mulai
menggema.
Jika sampai melakukannya, masalah ini tidak akan selesai
dengan santai lagi, dan aku pun takkan punya alasan untuk mengelak.
Akan tetapi, Tachibana-san berjalan terhuyung-huyung
mendekatiku.
"Hei Tsukishiro-kun, ini adalah kita."
"Tachibana-san, jangan mabuk oleh suasana ini."
"Hanya aku yang dimiliki Tsukishiro-kun, dan hanya
Tsukishiro-kun yang kumiliki."
"Kembalilah ke akal sehatmu."
"Kitalah yang terbaik, tidak boleh selain kita,
hanya kita berdua."
"Iya, aku mengerti, jadi──."
"Terbaik."
Sebelum aku sempat memintanya berhenti, Tachibana-san
sudah memelukku. Dia menekanku hingga jatuh telentang ke atas panggung.
Tachibana-san menindihku, lalu menciumku.
Suara jeritan para gadis dan sorakan penonton yang
senang akan skandal ini menerjang bagaikan amukan badai.
Tachibana-san benar-benar sudah tidak terkendali, dia
terus menciumku menggunakan lidahnya dengan bebas seperti biasa.
Emosi bernama "menyukai seseorang" itu
tidak bisa dikendalikan dan mustahil untuk ditebak.
Itulah saat yang menentukan di mana rencana damai
yang kususun hancur berantakan.
Sembari
dicium oleh Tachibana-san, mataku melirik ke arah barisan paling depan
penonton.
Hayasaka-san sedang menatap ke arah kami dengan ekspresi tanpa emosi.
◇
"……Maaf."
"Bukan salahmu, Tachibana-san."
Malam itu, kami berjalan pulang berdua.
Pekerjaan bongkar-muat festival budaya membuat hari
benar-benar gelap saat kami hendak pulang. Begitu tiba di gerbang sekolah,
Tachibana-san muncul dari balik bayang-bayang.
Angin terasa dingin.
Musim gugur telah berlalu, dan tanda-tanda musim dingin
sudah mulai terasa.
"Saat menunggu Tsukishiro-kun, banyak orang yang
meledekku."
"Aku juga merasakannya."
Saat sedang membongkar panggung, banyak orang yang
memberikan ucapan selamat diiringi ledekan. Mereka tidak tahu keadaan kita yang
sebenarnya.
Aku dan Tachibana-san berpacaran. Pandangan semua orang
tentang hal itu sudah tidak bisa diubah lagi.
"Aku benar-benar tidak berniat melakukan hal seperti
ini. Aku tidak punya niat untuk keluar dari kostum itu."
"Aku tahu."
"Apa yang akan terjadi setelah ini, ya?"
"Aku tidak tahu."
Segala asumsi sebelumnya dan masa depan yang sempat
kupikirkan, semuanya jungkir balik. Perkiraan yang kubangun selama ini tidak
ada artinya lagi. Semuanya kembali ke titik nol.
Yanagi-senpai tidak berkata apa pun; dia hanya menatap
kami dari jauh, lalu menunduk dan pergi begitu saja.
Situasi Tachibana-san mungkin akan berubah drastis.
Namun,
profil samping wajah Tachibana-san tetap terlihat tenang.
"Mungkin,
begini saja sudah cukup bagiku."
"Kenapa?"
"Karena
aku tidak perlu lagi berbohong pada siapa pun. Aku tidak perlu lagi
menyembunyikan perasaanku."
Pada
akhirnya, akulah yang memaksa Tachibana-san. Aku memaksanya melakukan hal yang
tidak sesuai dengan jati dirinya. Ketimpangan itulah yang memicu kehancuran
ini.
"Aku
telah menyakiti orang lain……"
"Aku
juga."
"Bahkan
jika orang-orang membicarakan kita di belakang, aku tidak bisa berkata
apa-apa."
"Kalau
begitu, ya sudah," jawab Tachibana-san.
"Aku
sudah berpikir bahwa mungkin hal seperti ini memang akan terjadi."
"Tachibana-san,
kau ini sedikit destruktif, ya."
"Mungkin
begitu."
Tachibana-san
mengangkat syalnya hingga menutupi dagu seolah kedinginan.
Rambut
panjang yang berkilau, profil wajah sempurna yang tampak di tengah kegelapan
malam, serta seragam dan rok yang tampak rapi tanpa kerutan.
Meski
dalam situasi seperti ini, aku merasa seolah hanya ada kami berdua di dunia ini
bersama gadis sempurna ini. Aku mabuk oleh perasaan itu.
Namun,
setelah menyakiti begitu banyak orang, kami bingung harus berbuat apa. Kami
hanya bisa berjalan berdampingan.
Satu-satunya
yang bisa kugenggam adalah tangan Tachibana-san, dan mungkin satu-satunya
tangan yang bisa digenggam Tachibana-san hanyalah tanganku.
Entah kenapa, aku merasa seolah segalanya kini
berakselerasi menuju akhir.
"Tsukishiro-kun."
Saat tiba di alun-alun depan stasiun, Tachibana-san
berhenti melangkah.
Di ujung tatapannya yang tenang, berdiri seorang
gadis.
Itu Hayasaka-san.
Dia mendekat dan berdiri tepat di hadapan kami.
"Kirishima-kun……
Tachibana-san……"
Ucapnya
dengan nada yang enggan dan pandangan mata yang tertunduk.
"Kalian
berdua, melakukan hal seperti itu, ya…… Di saat aku tidak tahu, kalian terus
melakukannya, kan……"
"Maaf,"
ucapku.
Aku
mengira Hayasaka-san akan terluka parah, marah, atau menangis sedih.
Namun,
saat dia mengangkat wajahnya, ekspresinya bukan salah satu dari itu.
Dengan nada yang sedikit malu-malu dan tersipu, dia
berkata.
"Hei, mari kita bagi dua."
"Eh?"
"……Aku tidak sedang bicara pada Kirishima-kun."
"Ah, iya."
Maaf.
Hayasaka-san kemudian menoleh dan berkata, "Hei,
Tachibana-san."
Dengan wajah seperti anak kecil yang meminta untuk ikut
bermain, dia berkata.
"Ayo kita berbagi Kirishima-kun. Aku dan Tachibana-san. Apa
tidak…… boleh?"
Tidak,
tentu saja tidak boleh,
pikirku.
Apa
yang dikatakan Hayasaka-san itu berarti membagi satu pria untuk dua gadis.
Suasananya
seolah tidak peduli dengan kehendakku. Hal ini sudah melampaui dimensi
"tidak sehat"—aku bahkan tidak bisa membayangkan akan jadi hubungan
seperti apa ini.
Namun,
setelah terdiam selama beberapa detik, Tachibana-san menjawab.
"Boleh.
Mari kita berbagi Tsukishiro-kun berdua."
Bersambung…



Post a Comment