Chapter
10
Di
Balik Tirai
"Eh? Tachibana-san tidak ada di sini?"
Hayasaka bertanya.
Saat itu kami sedang berada di gudang olahraga.
Aku baru saja membereskan bola sepak yang digunakan
pada jam pelajaran tadi.
"Tachibana-san baru saja keluar membawa tiang
gawang."
"Begitu, ya."
Hayasaka, yang masih mengenakan baju olahraga,
menoleh ke sekeliling sebelum menutup pintu agar tidak terlihat dari lapangan.
"Jangan-jangan, kamu sedang merencanakan sesuatu
yang tidak-tidak, ya?"
"Habisnya, belakangan ini kita hampir tidak
pernah bertemu," ucap Hayasaka dengan wajah merajuk.
"Kita berdua sama-sama sibuk dengan festival budaya,
kan."
"Kirishima-kun kan panitia pelaksana. Penanggung
jawab panggung untuk pesta penutupan, kan?"
Setiap tahun, pesta penutupan akan mengadakan kontes
pasangan terbaik.
Pasangan pria dan wanita akan berlomba lari tiga kaki
atau kuis panel untuk membuktikan seberapa kuat ikatan mereka sebagai kekasih.
Ada pula mitos bahwa pasangan yang menang dalam kontes
itu pasti akan berakhir di pelaminan.
"Acara itu sangat meriah, lho. Apalagi itu panggung penutup
festival budaya."
"Aku
cuma bagian pengurus panggung saja."
Aku hanya bertugas merakit panggungnya, sementara konsep
acaranya ditangani oleh tim lain.
"Kalau begitu, Kirishima-kun sedang kosong pada hari
itu, kan?"
"Bisa dibilang begitu."
Hayasaka tampak gelisah, lalu berkata dengan malu-malu,
"Kalau begitu... aku ingin sekali ikut kontes pasangan itu... bersama
kamu..."
"Bagaimana, ya? Kupikir itu cukup sulit."
"Ah, iya juga, ya! Ikut kontes itu sama saja dengan
mengumumkan kepada semua orang kalau kita berpacaran... Kalau aku melakukan
itu, aku tidak bisa mendekati Senior, dan itu akan menyusahkanmu juga,
kan."
Hayasaka meminta maaf karena sudah bicara aneh-aneh.
"Sebelum itu, bukannya kelas Hayasaka juga
sibuk?"
"Benar juga, sih."
Aku dan Hayasaka berada di kelas yang sama.
Meskipun aku dibebaskan dari kegiatan kelas karena
menjadi panitia festival budaya, Hayasaka—yang dikenal rajin di kelas—justru
menjadi kunci dari rencana acara mereka.
"Kafe cosplay itu kesannya terlalu pasaran,
ya."
"Semua orang sangat mengandalkan Hayasaka."
"Iya. Aku juga diminta untuk menjaga toko dan
melayani pelanggan saat pesta penutupan..."
Secara jadwal, mengikuti kontes pasangan terbaik memang
mustahil.
"Sebenarnya aku sudah tahu, tapi entah kenapa aku
malah berharap bisa ikut. Mungkin aku terbawa suasana festival budaya. Lihat
deh, suasana sekolah jadi agak melayang, kan?"
"Yah, ini memang musimnya cinta."
Entah bisa disebut keajaiban festival budaya atau apa,
cinta bersemi di setiap sudut sekolah.
"Aku dengar Hayasaka juga sedang didekati banyak
orang."
"Cuma sedikit, kok."
"Apa tidak apa-apa kalau kamu pulang sampai
larut?"
"Tidak apa-apa. Aku cuma sering ditembak atau
dimintai kontak, seperti biasa."
"Padahal ada siswi yang heboh bilang kalau Hayasaka
ditembak oleh siswa kelas tiga yang keren..."
"Eh, siapa ya? Semua wajah mereka terlihat sama
bagiku... Eh!"
Tiba-tiba Hayasaka tampak mendapat ide, matanya berkilau
seketika.
"Ya, dia keren sekali! Aku jadi penasaran apa
jadinya kalau aku berpacaran dengan dia!"
Hayasaka, aktingmu tetap saja buruk.
Sudah jelas sekali kalau dia hanya ingin membuatku
cemburu.
Aku sempat bingung harus berbuat apa, tapi melihat
Hayasaka yang seperti itu justru membuatku gemas. Jadi,
aku pun ikut berakting dengan akting yang sama buruknya.
"Ja-jangan begitu dong~. Kalau kamu bilang
begitu, aku jadi cemas~."
"Kirishima-kun, kau benar-benar cemburu buta,
ya."
Hayasaka tersenyum puas. Aku mengira dia akan melanjutkan
aktingnya untuk membuatku cemburu, tapi Hayasaka justru mendekat dan
mencengkeram seragam olahragaku dengan kedua tangannya.
"Hehehe, tenang saja."
Sambil berkata begitu, dia menempelkan dahinya ke dadaku.
Benar-benar mudah sekali dirayu.
Aku yang sudah bersiap untuk lanjut berakting jadi
tidak berkutik.
"Selama Kirishima-kun menyukaiku, dan terus mengelus
kepalaku seperti ini, aku tidak akan pergi ke mana-mana."
Sesuai permintaannya, aku mengelus kepala Hayasaka.
"Suka yang ini. Elus lagi~."
Hayasaka bermanja-manja sesuai suasana hatinya.
Kurasa meski tidak dielus pun dia tidak akan pergi ke
mana-mana. Aku merasa Hayasaka sangat menggemaskan.
"Tenang saja, ya. Pacarku cuma Kirishima-kun
seorang. Siswa lain sama sekali tidak penting bagiku."
Saat mengatakan itu, entah kenapa Hayasaka menjauhkan
wajahnya dan menatapku dengan tatapan redup.
"Tapi... kalau soal itu, bukannya Kirishima-kun
lebih parah?"
"Kenapa?"
"Aku meski disapa atau ditembak orang lain, aku cuma
diam saja. Tapi, Kirishima-kun tidak begitu, kan?"
"Eh?"
"Aku tahu, lho."
Ekspresi Hayasaka lenyap, membuat keringat dingin menetes
di punggungku.
Hubunganku dengan Tachibana-san seharusnya mustahil
ketahuan. Kami hanya bertukar pesan saat di rumah, dan tidak pernah pergi
berdua lagi sejak ke taman bermain.
Namun, saat di stasiun terakhir waktu itu, ada seseorang
yang memotret kami saat sedang berciuman. Jangan-jangan itu──.
"Hei, Kirishima-kun."
Hayasaka menatapku dengan tatapan kosong.
"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku,
kan?"
"T-tidak, itu, soal yang tadi..."
"……Aku tidak ingin dianggap sebagai gadis yang
'berat', jadi aku tidak bertanya."
Hayasaka mencengkeram seragamku lebih kuat.
"Kenapa Kirishima-kun melakukan hal itu? Aku sampai
tidak bisa tidur memikirkannya."
"Ma-mari kita tenang dulu."
"Kamu sedang akrab dengan seseorang yang sangat
cantik, ya. Tanpa bilang padaku, di belakangku, padahal aku masih ada di sini,
padahal aku akan melakukan apa pun, dan menerima apa pun dengan senang
hati..."
"Mungkin kamu tidak akan percaya, tapi──"
"Bukan, dia bukan tipe yang cantik. Lebih
tepatnya... lucu, ya..."
"Lucu? Yah, saat berduaan saja, aku memang lebih
sering menganggapnya lucu..."
"Dia sangat energik."
"Energik, ya?"
"Lebih muda darimu..."
"Lebih muda? Lebih muda, lebih muda, ah, adik
kelas!"
Di saat itulah aku baru sadar.
"Apa yang kamu maksud itu Hamanami!"
Dia adalah siswi kelas satu di panitia pelaksana festival
budaya yang bekerja bersamaku. Namanya Hamanami Megumi.
Meskipun adik kelas, dia sangat cekatan dan sering
mengkritikku. Aku pun menjelaskan soal Hamanami kepada Hayasaka.
"Semua yang kubicarakan dengannya itu cuma soal
festival budaya. Dia itu wakil ketua panitia meskipun baru kelas satu. Jadi dia
sering memberiku arahan. Semuanya cuma urusan administratif atau jadwal
saja."
"Begitu, ya..."
Cahaya kembali muncul di mata Hayasaka.
"Begitu, ya... pantas saja, pantas saja!"
"Maaf, aku juga tidak menjelaskan apa-apa."
"Tidak apa-apa, ternyata aku salah paham. Karena
kamu selalu bersama gadis manis, aku jadi agak cemas. Aku bodoh banget, ya,
padahal Kirishima-kun tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
Hayasaka tersenyum lebar sambil memelukku seolah merasa
bersalah.
"Kirishima-kun tidak mungkin menyakitiku, kan. Tadi
pagi aku sempat ragu, tapi untungnya aku tidak jadi membawa pisau dapur."
"Ah, ya."
Barusan dia bicara hal yang mengerikan dengan santai!
Tapi sudahlah──.
"Hayasaka, meskipun ini gudang olahraga, ini
tetap sekolah, lho."
"Tidak apa-apa. Sebagai hadiah karena aku sudah
berusaha keras belakangan ini."
Sambil berkata begitu, dia mendongak.
Seperti biasa, dia memang manja.
Aku pun mencium bibir lembutnya sesuai keinginannya.
Hayasaka menekan bibirnya lebih dalam seolah meminta
lebih.
Namun, segera terdengar suara siswi lain dari luar
gudang yang memanggilnya, membuat kami buru-buru melepaskan diri.
"Aku harus pergi."
Hayasaka hendak keluar, tapi dia berbalik dan
berkata, "Kita sepasang kekasih yang sungguhan, kan?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu──"
Hayasaka memasang ekspresi yang sangat menggoda.
"Setelah festival budaya selesai dan kita punya
waktu luang, mari kita lakukan apa yang dilakukan orang lain. Mari lakukan hal
yang dilakukan pasangan kekasih pada umumnya. Janji, ya?"
Setelah mengatakan itu, dia keluar dari gudang.
──Hal yang dilakukan orang lain.
Hal yang dimaksud Hayasaka kemungkinan besar adalah
tindakan orang dewasa.
Kurasa siswa SMA pun sudah banyak yang melakukannya.
Namun bagiku, itu adalah masalah besar yang perlu
kupikirkan matang-matang.
Tapi sebelum itu──.
"Sudah selesai?"
Seorang gadis muncul dari balik kotak lompat dengan wajah
tanpa dosa. Itu Tachibana-san.
Benar. Saat kami sedang berduaan di gudang, Hayasaka
masuk. Itulah
sebabnya Tachibana-san bersembunyi.
"Apa itu 'hal yang dilakukan pasangan kekasih' yang
dibicarakan Hayasaka? Bukan
cuma ciuman, kan?"
Tachibana-san
bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Entahlah, apa ya."
Aku pun menggelengkan kepala pura-pura tidak tahu.
Tachibana-san adalah "anak kecil" dalam hal
cinta yang baru belajar dari komik shoujo.
Ditambah lagi, dia gadis dari keluarga terpandang yang
bahkan punya tunangan.
Wajar saja jika dia tidak tahu soal hal-hal melampaui
ciuman. Kalau memang begitu, ya sudah.
Aku heran apa yang dia lakukan selama pelajaran
pendidikan kesehatan, tapi dia memang gadis yang benci belajar.
Pasti pikirannya melayang saat jam pelajaran.
"Ya sudahlah."
Tachibana-san berkata, "Lagipula Hayasaka-san,
sepertinya dia akan hancur kalau tidak ada Shirou-kun."
"Apakah
itu hal yang baik?" Tachibana-san bertanya padaku. "Bukankah
Shirou-kun juga ingin lebih banyak berciuman dengan Hayasaka-san?"
"Itu...
bagaimana ya bilangnya... aku dan Hayasaka itu──"
"Tidak
apa-apa. Aku tidak peduli."
Dia
benar-benar tidak peduli. Dia tidak menanyakan situasi
hubunganku dengan Hayasaka, dan tampak tidak tertarik.
"Tapi, begini ya."
Tachibana-san mencengkeram dada seragamku dengan satu
tangan, lalu menarik wajahku mendekat.
Dia menempelkan bibirnya yang tipis ke bibirku.
Setelah melepaskannya, dia tersenyum nakal.
"Menimpa."
◇
Situasinya mulai berada di titik keseimbangan yang
berbahaya.
Perasaan Hayasaka terhadapku semakin intens.
Belakangan ini, dia sangat ingin melakukan "apa yang
dilakukan pasangan kekasih pada umumnya".
Selama persiapan festival budaya mungkin masih aman, tapi
aku bisa membayangkan dia akan menuntut keputusan dariku suatu saat nanti.
Di sisi lain, Tachibana-san pada dasarnya bersikap dingin
dan bisa menahan diri.
Namun, dia juga bisa menjadi emosional, tajam, atau
terkadang mendadak kehilangan logika, sehingga banyak bagian yang sulit
ditebak.
Bagaimanapun juga, aku harus bisa menyembunyikan hubungan
antara aku dan Tachibana-san dari Hayasaka dengan sempurna.
Kalau begitu, suara rana ponsel di peron stasiun tadi
membuatku cemas.
Siapa gerangan orang yang memegang foto ciumanku dengan
Tachibana-san?
Sambil memikirkan hal itu, saat sedang merakit panggung
sepulang sekolah──.
"Rajin sekali, ya."
Hamanami Megumi menyapa. Siswi kelas satu panitia
pelaksana festival budaya.
Gadis yang memberikan kesan mungil.
Meski memiliki wajah modern dengan poni asimetris,
sifatnya sangat serius, bahkan merangkap sebagai anggota komite disiplin.
"Senpai, kau cocok juga ya mengencangkan baut
itu."
Dia memegang map di dadanya, mungkin untuk memeriksa
progres pekerjaan.
"Entah kenapa, melihat Hamanami membuatku
tenang."
"Ada apa tiba-tiba?"
"Karena Hamanami benar-benar menjalani hidup sebagai
siswi SMA yang normal."
Dia gadis yang sangat normal dan modern. Dia tidak
hancur secara mental, dan tidak menusuk perasaanku dengan intuisi tajamnya.
"Hei, ayo bicara lebih banyak lagi."
"Eh? Aku sama sekali tidak paham alur
pembicaraannya. Senpai, apa kau baik-baik saja?"
"Hamanami, betapa senangnya punya seseorang yang
bisa menanggapi leluconku dengan benar."
"Apa maksudnya itu? Di sekeliling Kirishima-senpai,
bukannya cuma ada orang-orang yang suka melucu (boke)?"
"Benar juga, ya."
Meskipun aku membuat pilihan amoral, Hayasaka atau
Tachibana-san tidak pernah menegurku. Justru mereka malah senang atau menuntut
lebih.
"Sekarang rasanya seperti dikelilingi tiga orang
yang suka melucu. Aku senang kalau ada yang menanggapi (tsukkomi). Hei
Hamanami, tolong tanggapi aku lebih sering lagi."
"Eh, rasanya gawat sekali, dan aku tidak bisa
melakukan hal seperti itu."
"Aku memang orang yang gawat, dan aku butuh orang
yang bisa mengatakan itu padaku!"
"Jangan tiba-tiba menaikkan tensi bicara, Senpai
benar-benar sudah gila, ya!"
"Rasanya lega sekali, akal sehatmu sangat melegakan.
Yang kubutuhkan sekarang adalah seseorang yang bisa menyangkal diriku,
seseorang yang bisa memarahiku..."
"Aku takut dengan emosimu itu, Senpai!"
"Lagi! Maki aku! Katakan kalau aku ini yang
terburuk!"
"Menyebalkan sekali~, tolong bersikaplah yang
benar!"
Aku dipukul oleh Hamanami dengan mapnya. Rasanya luar
biasa.
"Sekolah saja sudah semeriah ini, apa yang akan
terjadi kalau panitia pelaksana seperti kita tidak bersikap serius!"
Pendapat yang biasa saja itu justru terdengar melegakan
bagi diriku saat ini. Aku menarik napas, lalu bertanya setelah merasa tenang.
"Jadi, ada masalah apa?"
"Kelas kelas tiga yang mendaftarkan diri membuka
kafe, ternyata aslinya berniat membuka klub kabaret."
"Sebagai panitia pelaksana, mari kita tindak tegas.
Festival budaya harus dijalankan dengan sehat."
Sebagai reaksi dari hubungan yang tidak sehat, aku
mencari sesuatu yang menyegarkan. Manusia memang membutuhkan mekanisme
kompensasi.
"Kita tidak boleh menunggu masalah terjadi baru
bertindak. Demi kesuksesan festival budaya, kita harus menjaga kesopanan."
"Cara berpikirmu itu luar biasa, Hamanami."
"Sudahlah
dengan gaya bicaramu itu."
Hamanami menempelkan tangannya di dadaku.
"Dengan ini, mulai hari ini aku dan Senpai akan
tetap tinggal sampai akhir setiap hari untuk berpatroli. Semua orang sudah
kehilangan akal sehat. Kalau sampai terjadi hal-hal tidak senonoh di sekolah,
sudah terlambat."
"Kenapa harus aku?"
"Hanya Senpai saja panitia pelaksana yang cuma
santai-santai merakit panggung."
"Iya juga, sih."
Dengan begitu, aku pun menjadi pihak yang menindak
perilaku tidak sehat. Sungguh ambivalen.
"Sebagai permulaan, bagaimana kalau Senpai yang
memperingatkan dan membimbing Tachibana Hikari-san?"
"Eh?"
"Kalian kan terlihat dekat."
Tiba-tiba
pembicaraan beralih ke Tachibana-san, membuatku tersentak.
"Ke-ke-kenapa
kau tahu aku dekat dengan Tachibana-san?"
"Karena Kirishima-senpai kan satu klub misteri
dengannya."
"Ah, iya, benar."
Benar juga. Sepertinya sarafku sedang terlalu tegang.
"Tapi kenapa harus menegur Tachibana-san?"
"Kelas mereka kan mengadakan rumah hantu. Rupanya
mereka menambahkan elemen teka-teki menjadi permainan meloloskan diri.
Meloloskan diri dari rumah hantu."
Sepertinya hasil observasi taman bermain membuahkan
hasil.
"Itu sih tidak masalah, tapi cara mereka
mengumpulkan pelanggan yang bermasalah."
"Memangnya seperti apa?"
"Hadiah dari keberhasilan meloloskan diri sepertinya
adalah Tachibana-senpai."
"Tachibana-san bisa didapatkan? Hebat sekali
itu..."
"Bukan begitu maksudnya," Hamanami berkata
dengan tenang. "Itu hak untuk ikut kontes pasangan terbaik bersama
Tachibana-senpai."
Tampaknya para siswa pria menjadi sangat antusias
karenanya. Ada mitos bahwa pemenang kontes itu akan menikah di masa depan.
"Menurutku tidak baik menjadikan gadis sebagai
hadiah. Karena ini masalah yang agak sensitif, sulit untuk mengatakannya secara
resmi, jadi tolong Kirishima-senpai yang bilang ke Tachibana-senpai untuk
menghentikannya."
"Tapi bukankah itu masih batas wajar?"
Aku menjawab tanpa membawa urusan pribadi.
"Kalau dia ikut dengan kostum hantu, itu kan cuma
lelucon. Lagipula, kontes pasangan terbaik kan biasa saja kalau pria ikut
dengan pria lain sebagai candaan. Bukankah hantu juga dalam ruang lingkup
itu?"
"Tidak bisa. Meskipun hantu, dia tetap
Tachibana-senpai. Kalau nanti orang-orang menyerbu rumah hantu demi hadiahnya,
akan terjadi kekacauan."
Belakangan ini, popularitas Tachibana-san di seluruh
sekolah meningkat drastis.
"Lagipula, pacarnya ternyata cuma pacar palsu,
kan?"
"Ah, itu ya."
Kerabat Senior Yanagi berpura-pura menjadi pacar agar
Tachibana-san tidak didekati pria aneh.
Senior Yanagi sendiri sangat berhati-hati dan tidak
memberi tahu siapa pun soal pertunangannya.
"Setelah tahu dia single, para pria jadi
sangat bersemangat. Siswa kelas saya saja sengaja pergi ke kelas dua untuk
melihat Tachibana-senpai."
Akan gawat kalau terjadi kecelakaan di lapangan, kata
Hamanami. Yah, secara pribadi pun, aku tidak ingin melihat Tachibana-san ikut
kontes pasangan terbaik dengan pria lain.
"Baiklah, aku akan bicara padanya. Apa ada masalah
lain?"
"Ada satu lagi," kata Hamanami. "Ada kelas
dua yang membuka kafe cosplay, kan?"
"Itu kelas saya. Meskipun saya sama sekali tidak
ikut campur."
"Sepertinya mereka menyiapkan kostum dengan
pakaian yang agak terbuka."
Yang langsung terbayang di kepalaku adalah Hayasaka.
Aku bisa membayangkan wajahnya yang tertawa bingung saat diminta oleh
teman-temannya.
"Tapi kita tidak ada rencana untuk menegur mereka.
Setiap tahun pasti ada yang melakukannya, dan tidak pernah ada masalah."
"Begitu ya. Tapi, mungkin ada gadis yang merasa
terpaksa memakai kostum yang tidak diinginkannya demi mengikuti teman-temannya.
Sebagai panitia, bukankah sebaiknya kita tegur?"
"Benar juga. Tapi kalau ada gadis seperti
itu──"
Hamanami berpikir sejenak.
"Bukankah Senpai satu kelas dengannya? Kenapa Senpai
tidak membantu gadis itu saja?"
◇
Setelah mulai mengunci sekolah bersama Hamanami, aku
sadar satu hal: di musim festival budaya ini, semua orang jauh lebih lepas
kendali dari yang kubayangkan.
"Pasangan yang tadi lari terburu-buru itu,
bajunya berantakan, kan?"
"……Memangnya latihan apa yang mereka lakukan di
gimnasium?"
"Ayo segera kunci pintunya."
Beberapa hari setelah kami mulai melakukan itu, aku
mengetuk pintu ruang OSIS.
Tidak ada tanda-tanda orang di sekitar ruang OSIS.
Karena ruangannya berada di gedung lama, sama seperti
ruang klub misteri.
Hanya Ketua OSIS, Maki, yang ada di dalam.
Semua anggota lain sepertinya sedang keluar.
Maki terus memeriksa dokumen anggaran festival
budaya.
Dia terlihat santai, tapi pekerjaannya sangat cepat.
"Jarang sekali Kirishima datang ke sini."
"Ada perlu sedikit," jawabku.
"Dulu kau bilang ingin membuat rencana menjadikan
OSIS sebagai YouTuber, kan?"
"Memangnya kenapa?"
"Di mana peralatan untuk itu?"
"Seharusnya ada di suatu tempat di ruangan
ini──"
Aku mencari-cari di ruang OSIS yang berantakan.
Membuka rak, memasukkan kepala ke bawah meja.
Dan benda itu segera ditemukan.
Dimasukkan ke dalam kantong sampah besar.
Peralatan itu disiapkan dengan asumsi anggota OSIS akan
tampil di kamera.
Berkat ide mendadak Maki, anggaran yang cukup besar
telah digelontorkan.
Karena Maki cerdas, dia segera menyadari maksudku.
"Kirishima, itu untuk Hayasaka, ya?"
"Ya, begitulah."
Tadi siang saat istirahat, kelas kami sedang menyiapkan
kafe cosplay.
Saat itu, Hayasaka diperlakukan seperti boneka, dipaksa
memakai berbagai macam baju sesuai keinginan teman-temannya.
Pelayan, telinga kucing—karena mereka ingin menjadikan
Hayasaka sebagai daya tarik utama, kostumnya cenderung terbuka.
Karena kebijakan kelasnya adalah kafe cosplay,
tidak ada yang bisa menentangnya.
Hayasaka memasang senyum ramah seperti biasanya, tapi
sesekali ekspresinya terlihat sangat gelap.
Dia sebenarnya tidak suka melakukan hal seperti itu.
"Tidak mungkin menyuruh Hayasaka memiliki karakter
yang bisa menolak orang lain sekarang."
"Benar juga. Tapi kalau aku yang menyuruhnya
berhenti, juga aneh."
Jadi, aku menyusun rencana.
"Apa tidak apa-apa kalau Kirishima yang
membantu?"
"Tidak masalah, kan?"
"Bukankah nanti perasaan Hayasaka jadi gawat
lagi?"
Memang benar, jika aku membantunya, ada kecenderungan
Hayasaka akan membiarkan perasaan "suka"-nya meledak.
"Aku tidak tahu bagaimana situasi kalian
sekarang."
"Tahapannya sudah bukan tahap yang bisa diceritakan
pada orang lain."
"Bahkan padaku?"
"Ya."
"Hebat juga ya kalian!"
Maki mendesah, tapi suaranya terdengar kagum.
"Baiklah. Aku akan menyuruh anggota OSIS lain
membawa ini. Kalau dibilang ini kenang-kenangan dari OSIS, nama Kirishima tidak
akan muncul."
Kebetulan seorang siswa sekretaris kelas satu kembali,
dan atas perintah Maki, dia memanggul kantong sampah besar itu ke kelasku.
Dengan ini harusnya sudah aman.
"Terima kasih."
"Tidak masalah."
"Tapi jangan sampai salah langkah, ya," kata
Maki.
"Rasa 'suka' pria itu biasanya cukup ringan,
kan?"
"Pada dasarnya memang mudah jatuh cinta."
"Karena rasa 'suka' gadis tidak mudah didapatkan,
saat mereka benar-benar jatuh cinta, perasaannya biasanya sangat tulus. Itu
memang hal yang membahagiakan, tapi kurasa itu perasaan yang jauh lebih besar
dari yang kita bayangkan."
"Belakangan ini aku mulai merasakannya."
Aku tidak terikat dengan norma masyarakat, dan aku
senantiasa mengejar bentuk cinta yang orisinal dengan tulus. Pendirian itu
tidak pernah berubah. Aku tidak ingin memaksakan diriku ke dalam romansa
seperti di film atau drama, lalu mengabaikan perasaan yang sebenarnya.
Namun, emosi mentah yang tidak terikat oleh cetakan
apa pun adalah aliran kekuatan yang melampaui kebaikan dan kejahatan. Aku harus
lebih berhati-hati mengenai hal itu.
"Kalau begitu, aku mau mengunci pintu gedung
sekolah sekarang."
"Oh, oke. Kerja bagus."
"Maki, jangan pulang terlalu malam juga."
Setelah mengatakan itu, aku keluar dari ruang OSIS. Aku
menghabiskan waktu terlalu lama mengobrol dengan Maki.
Gedung
sekolah lama sudah benar-benar gelap.
Cahaya hijau dari lampu darurat mengingatkanku pada
suasana rumah sakit. Suara langkah kakiku menggema, hita, hita.
Suasana koridor tua ini terasa terlalu mencekam. Tanpa
sadar, aku mempercepat langkahku.
Aku melewati depan ruang kimia kedua. Saat melihat
spesimen anatomi yang berjejer di balik kaca buram, aku langsung memalingkan
wajah. Rasanya dingin sekali. Lalu.
──Aku merasa ada yang sedang memperhatikanku.
Begitulah perasaanku. Aku merasakan ada tatapan mata.
Aku merasa ada yang membuntuti. Begitu pikirku, aku
menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa.
Gedung sekolah yang gelap memicu imajinasi tentang
hal-hal yang tidak ada.
Saat itulah.
Dari ruang persiapan geografi, terdengar suara kari-kari,
seolah ada yang sedang mencakar pintu dengan kuku.
Tepat saat aku tanpa sadar menghentikan langkahku──.
Sesuatu melompat keluar dan mendorongku hingga jatuh.
Saat aku terjatuh ke belakang, sosok itu menindihku.
Itu manusia.
Di tangannya, kulihat senjata tajam yang berkilauan
perak.
◇
Aku tidak suka horor.
Saat SMP, aku pernah berkumpul di rumah Maki untuk
menonton film horor bersama. Aku ingat terus menatap logo Sony di televisi, dan
setelah filmnya selesai, aku berkata, "Tadi tidak terlalu menakutkan,
ya."
Karena aku yang seperti itulah, wajar saja jika aku
mengeluarkan jeritan simpel seperti "Gyaaa!", "Waaa!",
"Haaa!" saat diserang oleh wanita berpakaian terusan putih kotor yang
memegang pisau di gedung sekolah lama.
Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu. Rambutnya yang
panjang terurai ke depan menutupi wajahnya.
Namun akhirnya, aku teringat pembicaraan tentang rumah
hantu.
"……Begitu
ya, Tachibana-san rupanya."
"Jawaban
yang benar."
Dia
menyingkirkan rambutnya, dan wajahnya terlihat. Namun, bahkan di bawah wajah
itu, dia sudah memakai riasan yang menyeramkan.
"Kaget,
ya?"
"Begitulah.
Kau lumayan juga, ya."
Mendengar
jeritanku, pintu ruang OSIS di kejauhan terbuka dan Maki menjengukkan
kepalanya. Tapi sepertinya dia langsung mengerti situasinya dan kembali masuk.
"Tachibana-san,
apa yang kau lakukan di tempat seperti ini?"
"Aku
melihat Shirou-kun masuk ke gedung sekolah lama, jadi aku berniat
mengejutkanmu."
Aku mengunjungi Maki sekitar satu jam yang lalu. Artinya,
Tachibana-san telah bersiap-siap di dalam ruang persiapan geografi yang kosong
selama itu. Di tengah kegelapan total. Mental macam apa itu?
"Tachibana-san, hanya untuk melakukan ini?"
"Yah, begitulah. Aku tidak bisa ikut kegiatan klub,
dan tidak bisa pergi keluar juga."
Sejak hari di mana dia melanggar jam malam, ibunya
membatasi kepergian Tachibana-san dengan ketat. Tentu saja kami tidak bisa
bermain bersama di hari libur, dan di hari biasa pun dia langsung pulang
setelah persiapan festival budaya selesai.
"Kita berdua sama-sama sibuk, jadi mau bagaimana
lagi."
Tachibana-san tampak ragu sejenak sebelum berkata.
"Entah kenapa, aku merasa sedikit kesepian…… aku juga tidak begitu mengerti……"
Dia tampak bingung karena perasaan seperti itu muncul
dalam dirinya sendiri.
"Karena itulah."
Dalam posisi masih menindihku, Tachibana-san menciumku
tanpa keraguan.
Dia menempelkan bibirnya, memasukkan lidahnya ke dalam
mulutku, dan menyapu mulutku dengan sangat lembut serta ringan.
"Enak."
Tachibana-san
memasang wajah puas.
Jika bukan karena riasan horor itu, pastilah itu ekspresi
yang sangat manis.
"Kalau begitu, aku kembali dulu ya. Kalau tidak
lengkap semua, kita tidak bisa bubar."
Tachibana-san berdiri dengan ringan. Meskipun aku sempat
berpikir kalau dia seharusnya tetap di sini sedikit lebih lama kalau memang
kesepian, tapi inilah Tachibana-san.
"Festival budaya, sepertinya sedang berjuang keras,
ya."
"Itu karena Shirou-kun yang bilang. Katamu, acara
seperti ini harus dihargai."
Tachibana-san punya sisi patuh seperti anjing padaku.
"Sampai jumpa."
Setelah mengatakan itu, Tachibana-san berlari menuju
gedung sekolah baru.
Aku menyusul kembali ke gedung sekolah baru beberapa saat
kemudian.
"Senpai, kau lambat sekali. Sedang bermalas-malasan
di mana, sih!"
Aku bergabung dengan Hamanami di ruang audiovisual yang
menjadi markas panitia pelaksana.
Kami memutuskan agar Hamanami memeriksa lantai satu dan
ruang kelas khusus, sementara aku memeriksa lantai dua dan tiga untuk mematikan
lampu.
Aku mulai berkeliling dari kelas tiga yang ada di
lantai tiga.
Karena ada beberapa kelas yang masih tertinggal, aku
mendesak mereka untuk pulang.
Karena ujian sudah di depan mata, tidak ada kelas
tiga yang terlalu serius dengan rencana festival budaya.
Meski begitu, mereka tetap tinggal setelah pulang
sekolah mungkin karena rasa berat hati meninggalkan masa muda yang kian
berlalu.
Malam di gedung sekolah yang menjadi larut karena
persiapan festival budaya memiliki daya tarik yang misterius.
Perpaduan antara kesenangan dan sedikit rasa sepi, mirip
seperti suasana kereta terakhir.
Aku turun ke lantai dua dan berkeliling ke kelas-kelas
tahun kedua.
Terakhir, ada kelas yang lampunya masih menyala, jadi aku
masuk ke dalam kelas itu.
Tepat saat aku mematikan lampu.
Aku dipeluk dari belakang. Tanpa perlu melihat, aku tahu
siapa itu dari sensasi lembut yang kurasakan.
"Kirishima-kun……"
Suara manja dan napas panas yang menyesakkan menerpa
punggungku.
Ini benar-benar Hayasaka-san saat saklarnya sedang
menyala.
◇
Malam
musim gugur, gedung sekolah saat persiapan festival budaya, kelas yang hanya
berduaan.
Cahaya bulan masuk dari jendela. Meskipun
lampu dimatikan, tempat ini tidak gelap total.
Lengan Hayasaka-san yang memelukku dari belakang
mengencang.
"Tadi kau keluar dari gedung sekolah lama
bersama Tachibana-san, kan? Apa yang kalian lakukan?"
Pertanyaan yang membuatku bergidik.
Namun, dari cara Hayasaka-san menempel, aku tahu ini
bukan situasi yang berbahaya.
"Tachibana-san bilang dia ingin membawa pulang
buku yang dia taruh di ruang klub, jadi aku membukakan kuncinya."
Alasan yang lemah. Tapi sepertinya bagi Hayasaka-san,
itu saja sudah cukup.
"Begitu ya. Kirishima-kun, kau memang tidak
terlalu akur dengan Tachibana-san, ya."
"Selama masa persiapan festival budaya, klub
misteri tidak berkegiatan, sih."
"Kau tahu tidak? Belakangan ini, saat
Tachibana-san pulang, senpai diam-diam datang menjemputnya, lho."
Belakangan ini, Tachibana-san memang sengaja
menyesuaikan waktu kepulangannya agar tidak bersamaku.
Mungkin dia tidak ingin orang lain melihatnya saat
bersama senpai. Itu terasa sedikit memilukan. Tapi saat ini, daripada
memikirkan hal itu──.
"Sebentar, Hayasaka-san."
"Tidak apa-apa."
Hayasaka-san berputar ke depan dan menggelayut padaku.
"Aku tahu perasaan yang ini."
"Terima kasih ya, Kirishima-kun."
Pandangan Hayasaka-san tertuju pada sudut kelas, ke arah
kantong plastik yang dibawa dari ruang OSIS.
Wajah raksasa dari karakter beruang terlihat
menyembul dari sana.
Itu adalah kostum maskot yang dibeli Maki dengan
anggaran satu juta yen ketika dia meluncurkan rencana mengubah OSIS menjadi
YouTuber.
Dia memunculkannya sebagai maskot sekolah, tapi jumlah penontonnya sama sekali tidak bertambah, dan rencana itu segera dibatalkan seolah tidak pernah ada.
"Orang OSIS bilang, boleh pakai kostum beruang
ini di kafe cosplay, jadi mereka membawakannya untukku."
Hayasaka-san bilang, dia langsung mengangkat tangan
dan ingin segera mengenakannya.
"Sebenarnya ada yang minta aku pakai baju lain,
tapi aku bilang aku mau pakai kostum beruang lucu ini. Kalau bukan ini, aku
tidak mau, dan akhirnya mereka setuju."
Rupanya, sudah diputuskan bahwa saat hari-H nanti,
dia akan melayani pelanggan dengan memakai kostum beruang dari ujung kepala
sampai kaki.
"Terima kasih ya. Padahal sebenarnya, aku tidak
mau pakai kostum yang menonjolkan bagian dada."
"Yang membawakan barang ini ke sini kan pihak
OSIS, bukan?"
"Bukan, ini semua berkat Kirishima-kun. Semua hal
seperti ini terjadi karena Kirishima-kun."
Hayasaka-san kembali menempel padaku, lalu menyandarkan
wajahnya ke tubuhku.
"Sebentar lagi, jangan-jangan kau juga akan
menganggap langit cerah adalah berkat diriku."
"Ehehe. Saat istirahat siang tadi, kau lihat aku
sedang kesusahan, kan? Saat itu, aku merasa Kirishima-kun pasti akan
menolongku. Soalnya, itu kan Kirishima-kun."
Namun, dia berkata dengan nada nakal, "Tapi, tidak
boleh cuma aku saja, ya."
"Karena orang yang paling disukai Kirishima-kun itu
Tachibana-san."
Sambil berkata begitu, wajahnya terlihat sangat
bahagia.
"Lagipula, Hayasaka-san, kau terlalu berani. Masih
ada murid lain yang tertinggal di sekolah, tahu."
"Kalau begitu, ayo bersembunyi."
Tanganku ditarik menuju ujung kelas, tepat di samping
jendela. Hayasaka-san menarik tirai, dan kami pun bersembunyi di baliknya.
Tatapan mata Hayasaka-san sudah meredup, dia sudah benar-benar
"siap".
"Kirishima-kun, kau yang terbaik."
Setelah mengatakan itu, Hayasaka-san berjinjit dan
menempelkan bibirnya ke bibirku.
"Tidak, aku bukan yang terbaik──"
Memang benar begitu.
Sebab, meski sedang berciuman dengan Hayasaka-san,
sisa air liur Tachibana-san masih terasa di dalam mulutku.
Namun, Hayasaka-san tidak peduli dan tetap memasukkan
lidahnya. Lembap, tebal, dan sangat panas.
Rasanya sungguh berbeda dengan sentuhan lidah
Tachibana-san yang anggun dan lembut.
"Anak laki-laki lain semuanya terburuk. Mereka cuma
melihat tubuhku dan menyuruhku pakai baju seperti itu. Tapi Kirishima-kun
berbeda. Hanya Kirishima-kun yang berbeda. Makanya, kau yang terbaik."
"Tidak juga, aku pun sebenarnya sama saja."
Bahkan
sekarang, aku membandingkan Tachibana-san dan Hayasaka-san.
Tubuh Hayasaka-san terasa lembut dan ingin kupeluk erat.
Tubuh Tachibana-san memiliki kepekaan yang tajam, dan aku
ingin membuatnya kacau.
Namun, karena hati Hayasaka-san dan hatiku adalah hal
yang berbeda, kami terus berakselerasi dalam ketidakselarasan.
"Tidak, Kirishima-kun berbeda. Kau berbeda
dengan mereka. Aku tahu bagaimana anak laki-laki lain memandang tubuhku.
Tapi aku tidak akan membiarkan mereka melihatnya. Aku tidak akan membiarkan
mereka menyentuhnya. Tapi kalau Kirishima-kun, boleh, kan? Aku akan membiarkan
Kirishima-kun melihatnya, menyentuhnya. Tidak, aku ingin kau melihatnya, aku
ingin kau menyentuhnya. Hei, Kirishima-kun, kau boleh berbuat sesukamu pada
tubuhku, jadikan aku mainan pun tidak masalah sama sekali. Hei, perlakukan aku
seperti mainan, kau boleh berbuat apa saja padaku."
Sambil berkata begitu, Hayasaka-san mulai melepas jas
sekolahnya.
Lalu, dia berucap dengan ekspresi yang tampak mabuk.
"……Ayo lakukan."
"Eh."
Jasnya jatuh ke lantai, disusul dengan sweater-nya.
Aku memalingkan wajah, dan sambil melihat barang-barang itu jatuh, aku bertanya
dengan bodohnya, "Melakukan apa?"
Apa yang ingin dia lakukan? Namun, Hayasaka-san hanya
tersenyum tipis.
Hayasaka-san saat seperti ini tampak sangat memikat dan
sensual.
"Di
sini…… ayo kita lakukan."
Pita dasinya juga jatuh ke lantai. Hanya menyisakan
kemeja yang terbuka di bagian dada dan rok.
"Hei, sentuhlah……"
Mendengar permintaannya, aku memeluk Hayasaka-san seolah
ingin mengalihkan suasana. Namun──.
"Jari tangan kananmu, sedikit lebih ke atas."
Sesuai perintahnya, aku menggerakkan tangan kananku ke
punggung Hayasaka-san, dan ujung jariku menyentuh kain kasar serta logam.
"Kalau digeser, gampang kok lepasnya."
Sesuai instruksinya, aku menggeser pengait dari balik
blusnya.
Saat Hayasaka-san menggeliat, sehelai kain berwarna
merah muda jatuh dari dalam kemejanya.
Itu bra-nya.
"T-tunggu sebentar, Hayasaka-san. Ini terlalu
mendadak!"
Dia sudah bertindak terlalu jauh dan lepas kendali.
Namun, Hayasaka-san tidak mendengarkan perkataanku.
Dia menarik tanganku dan membawanya ke dadanya yang
kini hanya dibalut kemeja.
Bagian dada Hayasaka-san yang tidak lagi tertutup apa
pun terasa lebih besar dari yang kubayangkan. Kulit putih
mulusnya tampak seperti gadis remaja, namun sangat menggoda.
Namun, tepat saat itu.
Suara percakapan beberapa siswa laki-laki terdengar dari
koridor.
"Sepertinya Hayasaka-san masih ada di sini. Eh,
lampunya mati. Tapi harusnya dia masih ada……"
"Serius? Kalau ada, kita minta ID pesannya
saja."
"Kenapa tidak langsung nyatakan perasaan saja
sekalian?"
Mereka berjalan ke arah sini.
Jujur saja, aku merasa lega.
"Hayasaka-san, ayo, cepat pakai kembali
jasmu──"
Kataku. Namun.
"Semua laki-laki selain Kirishima-kun harusnya mati
saja."
Hayasaka-san menatap dengan pandangan dingin dan tampak
benar-benar terganggu.
"Selalu saja, bahkan di saat seperti ini mereka
mengganggu……"
Lalu, Hayasaka-san tampak seperti baru mendapat ide, dan
dia tertawa ceria.
"Hei, Kirishima-kun, ayo kita pamerkan pada
mereka."
"Maksudmu apa!?"
"Kita pamerkan saat kita sedang melakukannya."
Hayasaka-san benar-benar telah jatuh ke dalam kegelapan.
Inilah Black Hayasaka.
"Mereka sudah tahu aku ada di sini, tapi
Kirishima-kun tidak apa-apa. Selama kau di dalam tirai."
"Tidak, justru kerusakan bagi Hayasaka-san yang
lebih besar, kan?"
"Tidak apa-apa. Ayo kita buat mereka sadar, bahwa
aku adalah gadis yang seperti ini."
Biasanya, jika ada orang yang datang, dia akan kembali
sadar. Namun hari ini, dia justru melangkah lebih jauh. Semakin dalam.
"Biarkan saja mereka berharap seenaknya dan kecewa
seenaknya."
Siswa-siswa laki-laki itu masuk ke dalam kelas sambil
terus mengobrol.
Aku tahu mereka langsung tertegun saat melihat ke arah
sini.
Wajar saja, karena di balik tirai, siluet yang tampak
seperti Hayasaka-san sedang berpelukan dengan seorang pria.
Terlebih lagi, jas, rok, bahkan bra-nya tergeletak di
lantai.
Hayasaka-san tersenyum tipis lalu melingkarkan
tangannya di belakang leherku.
"Nngh……
nngh……"
Dengan sengaja, dia mengeluarkan suara saat mulai
berciuman. Suhu di sekitar kami pun seolah meningkat.
Dengan tidak menahan suaranya, aku tahu gairah
Hayasaka-san sendiri kian memuncak.
"Hei, isap lidahku."
Saat kulakukan seperti permintaannya, Hayasaka-san mulai
menggeliat dengan wajah yang luluh.
"Ah,
nngh, enak sekali…… beri aku air liurmu…… kumohon, berikan padaku……"
Hayasaka-san
berjinjit, menjepit kakiku, dan menekan bagian paha dalamnya ke arahku.
Aku bisa mendengar siswa-siswa laki-laki itu menelan
ludah.
"Hei,
sentuhlah…… ini, sentuhlah……"
Tangan kananku diarahkan ke dalam kemeja putihnya. Dengan
sedikit rasa takut akan sesuatu yang tidak diketahui, aku menyentuh gundukan
dadanya.
Itu jauh lebih lembut dan ringan dari yang kubayangkan.
Bentuknya berubah mengikuti gerakan tanganku. Kulitnya terasa lembap dan pas di genggamanku.
"Ah,
ah…… di situ…… itu…… enak……"
Hayasaka-san
sepertinya sudah tidak tahan lagi untuk berciuman, dia hanya terus menggeliat.
Aku pun ikut bergairah.
Bukan
karena sensasinya, tapi karena reaksi Hayasaka-san yang wajahnya kian memerah
hanya karena aku sedikit mengubah cara menyentuhnya.
Saat
aku menyentuh bagian yang menonjol dan mengeras, Hayasaka-san mengeluarkan
suara melengking tinggi dan mencengkeramku erat.
Dia
tampak hampir tidak sanggup berdiri, pipinya memerah karena panas. Kulitnya pun
mulai berkeringat.
"Yang
tadi, aku suka. Lagi…… lakukan lagi…… itu, enak sekali…… lagi……"
Sambil mengeluarkan suara manja, Hayasaka-san terus
melangkah maju.
Di balik tirai, Hayasaka-san hanya mengenakan kemeja yang
terbuka dan pakaian dalam bawahannya saja. Tubuhnya tampak lembut terpapar
cahaya bulan. Dan──.
"……Yang di sini juga…… yang di sini juga…… terasa
aneh……"
Dia menekan bagian antara kakinya ke pahaku. Aku bisa
merasakan panasnya menembus pakaian dalam yang tipis itu.
Siswa laki-laki itu berkata, "W-waduh, gawat,"
lalu bergegas pergi dengan panik.
"Anak laki-laki itu selalu banyak bicara soal hal
jorok, tapi giliran saatnya tiba, mereka malah lari. Tapi Kirishima-kun
berbeda, kan? Kirishima-kun berbeda, bukan? Kirishima-kun itu──"
"Tidak, aku pun sebenarnya merasa agak takut,
tahu."
Saat aku mengatakannya, Hayasaka-san tiba-tiba memasang
wajah serius.
"……Kenapa?"
Jeda sesaat itu terasa menakutkan. Wajah manjanya hilang,
ekspresinya seolah lenyap seketika.
Namun segera setelah itu, dia berkata "Ah,"
seolah teringat sesuatu, dan ekspresinya kembali ceria.
"Senang sekali! Kirishima-kun, ternyata kau
memikirkanku sebegitu dalamnya, ya!"
"Eh?"
"Iya, kan? Kita tidak boleh melakukannya begitu
saja! Lagipula kita masih anak SMA. Bahaya kalau terjadi apa-apa, kan?
Kirishima-kun benar-benar pria yang memikirkan hal sampai sejauh itu."
Hayasaka-san menjadi emosional dan menekankan seluruh
tubuhnya yang lembap ke arahku sambil berkata:
"Lain kali, aku akan menyiapkan segalanya agar kita
bisa melakukannya sampai akhir."
◇
Setelah memakaikan seragam pada Hayasaka-san dan
membiarkannya pulang, aku menutup sekolah bersama Hamanami lalu pulang.
"Senpai, mampir ke minimarket sebentar, yuk."
Karena dia meminta begitu, aku memutuskan untuk membeli
camilan bersamanya. Kami makan ayam goreng di tempat parkir minimarket.
"Kirishima-senpai ceroboh sekali, ya. Lutut,
lututnya."
"Lutut?"
"Ada noda di sana."
"……Ah, sedikit basah. Mungkin tadi aku menumpahkan
teh."
Aku teringat saat Hayasaka-san menekan bagian antara
kakinya ke pahaku.
Jika dilihat dari standar masyarakat umum, hal
seperti ini dianggap tidak sopan dan tidak baik.
Bersih, benar, dan indah.
Namun, karena hati kami bukanlah sebuah citra, ada
sisi-sisi mentah seperti ini di dalamnya.
Hayasaka-san yang suci dan murni pun memiliki keinginan
untuk melakukan hal semacam ini.
Jika dilihat apa adanya secara jujur, ada banyak hal yang
tidak bisa disimpulkan dengan mudah seperti itu.
Aku melihat ke samping.
Hamanami pun sama saja. Adik
kelas yang bergaya modern, ceria, serius, dan bertugas sebagai orang yang
meluruskan situasi.
Namun, itu hanyalah citra yang kubuat sendiri tentang
Hamanami, itu hanyalah keinginanku agar dia menjadi seperti itu.
Hamanami yang sebenarnya tidak bisa disederhanakan
semudah itu.
"Hei, Hamanami."
Aku sudah menyadarinya sejak awal.
"Bisakah kau menghapusnya?"
"Menghapus apa?"
"Foto saat aku dan Tachibana-san berciuman."
Hamanami menatap wajahku lekat-lekat. Lalu dia memasukkan
tiga potong ayam goreng ke mulutnya, mengunyahnya, dan berkata:
"Apa kau akan merasa kesulitan jika foto itu disebar
ke semua orang?"
"Sangat kesulitan."
"Begitu ya. Jadi foto itu bisa digunakan untuk hal
seperti itu, ya."
Kalau begitu, kata Hamanami.
"Katakan kalau kau menyukaiku."



Post a Comment