Penerjemah: Randika Rabbani
Proffreader: Randika Rabbani
Chapter 6
【Situasi Kencan Idaman】
Bahkan di Distrik Perbelanjaan Noir sekalipun, ada sebuah tempat yang luar biasa ramai. Bar terbesar di Corntzel──Perjamuan Peri.
Charl dan Chrono telah tiba di depan pintu masuknya.
"Waa, aku selalu pengen coba ke sini."
"Apa ada anggur rahasia?"
"Aku sih agak tertarik sama minumannya juga."
Charl menggenggam tangan Chrono.
"Hei. Ayo kita masuk pura-pura jadi sepasang kekasih."
Lalu, Chrono sesaat memasang wajah cemberut. Dengan tatapan matanya yang buruk itu, dia terlihat seperti akan membunuh orang kapan saja, tapi Charl mengabaikannya dan berkata.
"Nggak usah pasang wajah nggak suka gitu, dong."
"Bukan begitu. Kupikir kita akan pura-pura jadi teman."
"Pura-pura jadi teman? Chrono-kun bisa ngelucu juga, ya."
Mungkin mengira itu lelucon, Charl tersenyum riang.
"Kenapa harus pura-pura jadi kekasih?"
"Perjamuan Peri lagi populer jadi tempat kencan sekarang~ Aku mau menikmati suasananya, dong."
"Umu. Begitu, ya."
Kepada Chrono yang sepertinya belum sepenuhnya yakin, Charl berkata.
"Chrono-kun, malu, ya?"
"Tidak."
Chrono menjawab dengan wajah yang sangat serius.
"Ini adalah bidang keahlianku."
Ahahahahaha, Charl tertawa sambil memegangi perutnya.
"Chrono-kun, kamu yang terbaik! Kalau gitu."
Menautkan jari-jarinya, Charl menggandeng tangan Chrono layaknya sepasang kekasih.
"Ayo kita kencan totalitas."
Charl dan Chrono pun melewati pintu bar.
Didalamnya sangat ramai, makhluk dari berbagai ras berkumpul mengelilingi meja bundar, menikmati minuman dan hidangan. Semuanya asik mengobrol, dan berbagai percakapan memenuhi seisi kedai.
"Chrono-kun, suka kencan yang kayak gimana?"
"Kencan yang kusuka..."
Seketika, Chrono mulai berpikir dengan ekspresi yang sangat berat.
Sementara Charl terus menatap wajahnya dan menunggunya, dia akhirnya angkat bicara.
"Pertanyaan yang sulit."
"Nggak usah dipikir terlalu serius juga, kan. Kalau aku sih, punya banyak loh~ Misalnya, di restoran, pelayannya tanpa sengaja tersan──"
"Charl, di depanmu."
"Eh?"
Saat Charl melihat ke depan, seorang pelayan wanita yang membawa enam gelas besar di kedua tangannya sedang berjalan mendekat.
Tepat setelah itu, pelayan wanita tersebut menginjak buah apel yang jatuh di lantai dan kehilangan keseimbangan.
Gelas-gelas terlepas dari tangannya dan melayang di udara. Anggur yang diisi sampai penuh pun tumpah, dan menyirami Charl bersama dengan gelas-gelas tersebut.
"Kya."
Secara refleks bersiaga, Charl memejamkan matanya.
Dia yakin akan tersiram anggur, tapi sampai kapan pun sensasi itu tidak kunjung terasa.
"Kamu tidak apa-apa?"
Saat Charl membuka matanya, Chrono telah menangkap keenam gelas besar itu dengan gemilang. Entah bagaimana prinsipnya, tapi tidak ada setetes pun anggur yang tumpah.
(Gawat! Gawat! Ini gawat banget~!!)
Tiba-tiba, antusiasme di dalam hati Charl meledak.
(Yang barusan! Situasi kencan idaman pertamaku, waktu di restoran, pelayannya tanpa sengaja tersandung dan aku hampir tersiram minuman, lalu pacarku menangkapnya dengan santai!!!)
Sementara Charl kegirangan, Chrono mengembalikan gelas-gelas itu kepada pelayan wanita dan menerima ucapan terima kasih.
"Chrono-kun, hebat ya. Bisa menangkap gelas sebanyak itu sekaligus."
"Kamu menyuruhku pura-pura jadi kekasihmu, kan."
Chrono menjawab dengan santai seolah itu bukan hal yang besar.
"A, apa aku pernah cerita soal kencan idamanku?"
"Aku kan Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa."
Ahahaha, Charl tertawa. Meski kalau dipikir-pikir itu adalah hal yang wajar, tapi dia sama sekali tidak menganggapnya serius.
"Kamu lucu ya, Chrono-kun. Padahal aku nggak pernah kasih tahu hal kayak gitu, tahu."
"Ini bukan lelucon."
Menanggapi Chrono yang memasang wajah datar, Charl tertawa seolah mengatakan itu adalah lelucon yang sangat lucu.
"Un, un. Kalau gitu, lakuin lebih banyak lagi hal yang kayak pacar ya."
Dengan nada manja seolah menggoda, Charl berkata begitu.
"Ayo duduk."
"Un!"
Mereka berdua duduk di meja bundar terdekat.
Lalu, pelayan wanita itu datang. Itu adalah pelayan yang hampir menumpahkan anggur tadi.
"Ini adalah koktail peri kebanggaan toko kami. Silakan dinikmati."
Pelayan wanita itu meletakkan sebuah gelas yang cantik di atas meja.
Itu adalah koktail yang berisi banyak jeli bundar berwarna-warni yang mirip seperti bola kaca.
"Anu, kami masih belum pesan──"
"Dia bilang ini sebagai tanda terima kasih untuk yang tadi. Charl suka bola kaca sampai menjadikan itu katalis sihir, 'kan. Kupikir kamu akan menyukainya."
Seketika, hati Charl berdegup kencang.
(Kenapa!? Situasi kencan idaman keduaku, saat lagi ada di toko terus ada minuman yang mirip bola kaca kesukaanku, pacarku diam-diam memberikannya sebagai hadiah kejutan!!?)
Karena preferensi yang sangat spesifik itu terkabulkan, antusiasme Charl semakin meningkat. Dengan semangat yang sama, dia menatap koktail peri tersebut, dan menyadari suatu hal.
"Sedotannya ada dua!"
"Pertanyaan bodoh. Kalau kita ini kekasih."
Chrono mengatakannya dengan percaya diri. Dia sama sekali tidak merasa malu untuk meminumnya berdua secara bersamaan.
"U, un. Bener juga. Kalau kencan, hal kayak gini biasa biasa~"
Berkata demikian, Charl menatap lurus ke arah sedotan itu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah bibir Chrono.
"Ada apa?"
Chrono yang telah menyentuh sedotan ringan dengan bibirnya, berkata demikian.
"Kamu tidak haus?"
(Tetap aja, nggak mungkin! Malu banget, kan...!)
Pipi Charl diwarnai rona merah karena malu.
(Tapi... aku yang minta dari awal. Kalau aku nolak, suasananya bakal canggung, ya...)
Dengan wajah memerah merona, Charl dengan takut-takut mendekatkan bibirnya ke arah sedotan.
"Sepertinya kamu tidak suka, ya."
"Eh?"
"Kalau begini bagaimana?"
Chrono mengambil sendok, menyendok jeli bundar dari koktail tersebut, lalu perlahan-lahan mengarahkannya ke bibir Charl.
Bagi Charl, pemandangan itu terlihat berkilauan, dan jantungnya seolah tertembus peluru.
(Apa... ini! Apa ini...!? Situasi kencan idaman ketigaku, waktu aku malu buat minum berdua pakai dua sedotan, pacarku malah ngelakuin hal yang lebih memalukan yaitu nyuapin aku...!!!)
Karena tiga situasi kencan idaman yang terjadi berturut-turut, emosi Charl benar-benar meledak, dan dia dibawa melayang ke alam mimpi.
"Apa kamu juga tidak menyukai ini?"
Charl tersipu malu.
"Malu sih... tapi."
Sambil tersipu malu, dia berkata.
"Karena terlalu malu, mungkin aku sudah kehilangan akal sehatku."
Aaan, Charl membuka mulutnya, dan memakan jeli bundar dari sendok Chrono.
"Enak."
Dia lalu menempelkan bibirnya di sedotan, dan meminum koktail tersebut.
"Charl. Apa kamu tertarik dengan arena pertarungan?"
"Nnn...! Uhuk... Uhuk...!!"
Seolah tersedak, Charl terbatuk berulang kali.
"A, aneh banget, masuk ke tempat yang salah... Kenapa kamu bisa tahu?"
"Bukan begitu. Pelayan tadi yang memberiku tiket ini sebagai rasa terima kasih. Sepertinya di bar ini ada arena pertarungan bawah tanah."
Chrono memperlihatkan tiket arena pertarungan bawah tanah itu.
"Ah, begitu, ya... Un, aku mau aku mau~ Arena pertarungan bawah tanah di sini tuh tempat kencan yang populer banget loh, tiketnya cepat banget habis."
"Kalau begitu kita beruntung."
Charl berdiri dan mengambil gelasnya.
"Ayo pergi! Pertandingannya mau mulai."
Charl dan Chrono berjalan ke bagian dalam bar.
Mereka menunjukkan tiket kepada penjaga di depan pintu, lalu masuk ke dalam. Saat menuruni tangga, mereka tiba di ruang yang jauh lebih berisik.
Ada panggung di bagian tengah yang lebih rendah, dengan kursi penonton yang mengelilinginya agar orang-orang bisa menonton dari atas. Semua tempat duduk dirancang untuk dua orang, dan semua penonton datang berpasangan.
Charl dan Chrono duduk di kursi yang ditentukan dalam tiket.
"Ngomong-ngomong, kamu mau ngapain di Akademi Noir?"
Saat Chrono menoleh, Charl melanjutkan.
"Tadi, kamu bilang itu pertanyaan bodoh, 'kan."
"Aku ingin mencari teman."
"...Teman?"
Mungkin karena itu jawaban yang tidak terduga, mata Charl membulat.
Kepada Charl yang terkejut, Chrono mengangkat satu jari telunjuknya, dan menyunggingkan senyum penuh percaya diri.
"100 orang."
Ahahaha~ Charl tertawa lagi.
"Tapi ya, Chrono-kun. Kalau begitu, aneh 'kan kalau kamu belum punya 100 orang?"
"Kenapa?"
"Kamu kan Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa?"
Dengan senyum seolah menggoda, Charl berkata begitu.
"Menurut Charl bagaimana?"
"Gimana, ya?" Dia memiringkan kepalanya.
"Kalau aku pakai kekuatan kemahatahuan dan kemahakuasaan, mulai sekarang Charl akan menganggapku sebagai teman. Sebuah sihir yang tidak akan pernah bisa dilepaskan tanpa kamu menyadari adanya kejanggalan."
Ucap Chrono.
"Ah~... Kayaknya itu beda, deh."
"Bagiku juga, teman itu bukan hal yang seperti itu. Karena itulah aku menginginkannya."
"Hmm, masuk akal! Pembangunan karaktermu sempurna!"
Charl yang terkesan, bertepuk tangan dengan riuh. Dia tidak pernah bermimpi kalau Chrono benar-benar Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa.
"Sepertinya belum mulai, jadi aku mau beli makanan dulu."
"Aku akan ikut."
"Nggak usah, nggak usah. Chrono-kun tunggu sini aja."
Setelah mengatakan itu, Charl pergi ke arah konter.
Namun, dia tidak pergi ke konter, melainkan berhenti di tengah jalan dan memantau keadaan Chrono dari belakang.
Setelah melihatnya duduk dengan tenang, Charl meninggalkan lantai penonton dan mulai mencari sesuatu.
Tangga. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Charl menuruni tangga tersebut.
Itu adalah lantai untuk para petarung yang bertanding di arena. Saat dia berjalan menyusuri lorong, ada sebuah pintu di ujungnya.
"Ini pasti ruang tunggu petarung."
Charl dengan tenang menyentuh pintu tersebut.
"Sedang apa di sini?"
Bahu Charl tersentak.
Yang menegurnya dari belakang adalah penjaga keamanan. Seorang pria berbadan tegap yang seluruh tubuhnya dibalut baju zirah.
"Maaf. Aku tersesat──"
"Jangan bohong!!"
Alasan Charl ditepis oleh penjaga keamanan itu dengan suara yang mengancam.
"Mana ada orang yang tersesat di lorong yang jelas begini! Akan kuserahkan ke Pengadilan Sihir!!"
"T-Tunggu sebentar! Kalau cuma karena hal kayak gini sampai masuk pengadilan, itu namanya berlebihan, kan...!!"
"Kalau begitu, cepat mengaku mau ngapain kamu di sini."
Mendengar tuntutan penjaga keamanan itu, Charl hanya bisa menunduk dan diam.
"──Aku ingin bertarung di arena pertarungan ini."
Sebuah suara bergema dari belakang penjaga keamanan tersebut.
Mata Charl membulat. Yang berdiri di sana adalah Chrono.
"Aku kuat."
Chrono pasti mengatakan hal itu untuk membantunya.
Penjaga keamanan itu menghela napas dengan kesal.
"Pulang sana, Nak. Kami sudah punya cukup petarung untuk bertanding di arena."
"Kalau begitu, tidak masalah kalau aku mengalahkan petarung itu, kan."
"Hei. Kalau kau terus ngomong yang tidak masuk akal──"
Pintu ruang tunggu terbuka dengan keras.
Dari dalam, muncul seorang petarung dengan luka besar di wajahnya yang membawa pedang besar.
"Sejak tadi kudengar-dengar, ternyata kau hanya seorang siswa yang meremehkan kami."
"M-Maaf, Tuan Dinos. Akan segera kuusir mereka... Ugh...!"
Dinos dengan kasar mendorong penjaga keamanan itu menjauh. Dia sampai terjatuh ke lantai.
"Hei, Bocah. Kau tahu apa yang sedang kau katakan, kan."
Dinos mengancam.
"Aku cuma perlu mengalahkanmu, kan?"
Dengan wajah yang seolah sangat tersinggung, Dinos memelototinya.
"Nyali yang bagus. Kalau kau bisa mengalahkanku, kuserahkan jadwal giliranku hari ini. Meskipun itu sangat tidak mungkin!!!"
Dalam satu lompatan, Dinos mendekati Chrono dan mengayunkan pedang besarnya dengan sekuat tenaga ke bawah. Tekanan angin yang ditimbulkannya membuat dinding retak, dan lantai pun terbelah hebat.
Serangan mematikan itu dihindari Chrono dengan santai, lalu dia menyentuh pedang besar tersebut.
Dalam sekejap, pedang besar itu hancur berkeping-keping, dan di saat yang bersamaan, kejutan dahsyat mengguncang seluruh tubuh Dinos.
"Guh... Gah...!! Ti... Dak... Mung... Kin......"
Lututnya tertekuk, lalu dia langsung tumbang di tempat.
Chapter 7
【Raja Arena Pertarungan Bawah Tanah】
Arena pertarungan bawah tanah. Panggung.
Yang berdiri di sana adalah seorang pria wasit. Dia mengenakan setelan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu.
Setelah menatap jamnya, wasit mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke arah kursi penonton.
"Semuanya, terima kasih sudah menunggu lama!! Kalau begitu, acara utama hari ini akan segera dimulai!!!"
Wasit menunjuk gerbang barat dengan tangannya.
"Yang muncul dari gerbang barat, petarung pendatang baru, Chrono Granvephius!! Seorang super rookie yang berhasil mengalahkan si pedang tangguh Dinos yang kaya akan pengalaman, meski itu tidak resmi!!!"
Chrono muncul dari gerbang barat.
Tatapan para penonton seketika tertuju padanya.
"Kalau ngomongin Dinos si pedang tangguh, dia itu monster yang bisa mengayunkan pedang raksasa yang lebih besar dari tubuhnya pakai satu tangan, kan."
"Orang itu dikalahkan sama pria yang kelihatannya lemah lembut begitu..."
"Kelihatannya sih tangan kosong, tapi seni bela diri macam apa yang dia pakai...?"
"Masa depannya boleh juga, tapi cuma untuk hari ini saja lawannya terlalu berat, ya."
Selanjutnya, wasit menunjuk gerbang timur dengan tangannya.
"Dan! Yang muncul dari gerbang timur, raja absolut arena pertarungan bawah tanah ini, Luke Avidee!!! Sang legenda yang belum pernah kalah dengan rekor 77 pertarungan, 74 menang, 0 kalah, 3 seri, cerita macam apa yang akan dia perlihatkan malam ini~!!"
Saat Luke muncul dari gerbang timur, kursi penonton pun bersorak sorai.
Dia adalah pria berwajah kasar yang rambut panjangnya diikat ke belakang. Di tangan kanannya dia memegang pedang panjang biasa, dan tubuhnya dibalut baju zirah.
Chrono dan Luke sama-sama melangkah maju, lalu berhenti dengan wasit di antara mereka.
"Semoga mas itu bisa pulang dengan selamat, ya."
Dari belakang Charl yang sedang memberikan tatapan cemas di kursi penonton, penjaga keamanan yang tadi menegurnya.
"...Itu, maksudnya apa?"
Tanya Charl.
"Pedang Raja Luke itu pedang sihir kutukan. Di masa lalu, pedangnya sudah membuat tujuh petarung cacat permanen. Kalau lawannya lemah, dia nggak akan menggunakan kekuatan itu, tapi karena abang itu kelewat kuat, dia tidak akan kasih ampun."
"Masa sih...!"
Kecemasan dengan cepat menyebar di wajah Charl.
Awal mula dari semua ini adalah Charl yang sembarangan masuk ke lorong terlarang.
"Kudengar kau mengalahkan Dinos dan ikut serta secara dadakan."
Kepada Chrono yang berhadapan dengannya, Luke berkata demikian.
"Apa kau sebegitu inginnya bertarung denganku."
"Kalau mau dibilang dengan tepat, bukan begitu."
Sesaat, Luke mengerutkan kening.
"Kalau begitu, uang, kah."
"Ada seseorang yang ingin kujadikan teman."
Seolah tersinggung, Luke memelototi Chrono.
"Apa kau sedang bercanda?"
"Uang, kekuatan, maupun status sebagai raja, terlalu sepele dibandingkan dengan teman. Setidaknya bagiku."
"...Aku mengerti."
Itu adalah ekspresi dingin yang seolah sudah menyerah pada Chrono.
Seakan menjadikannya sebagai aba-aba, pria wasit itu mengayunkan tangannya dengan lebar.
"Kalau begitu, Chrono Granvephius melawan Luke Avidee!!! Pertarungaaaaaaan dimulaaaaaai!!!"
Yang bergerak tanpa jeda sedikit pun adalah sang Raja Luke. Saat dia mengangkat pedang panjangnya, aura tidak menyenangkan seperti ular menyelimuti pedang itu. Kekuatan pedang sihir kutukan telah aktif.
"Memang benar kami para petarung adalah orang-orang yang hidup di bayang-bayang! Tapi, kami bangga dengan pertarungan ini! Siapa pun yang menghinanya, tidak akan kumaafkan!!"
"Itu salah paham."
"Sudah terlambat untuk menarik kembali kata-katamu!!"
Luke mengayunkan pedang sihir ularnya secara menyamping.
Lintasan pedangnya benar-benar meliuk-liuk bagaikan ular yang merayap, dan secara bersamaan menyerang Chrono.
Tidak ada celah sedikit pun untuk menghindar, dan semua tebasan itu menghantam Chrono secara langsung.
Lalu, pedang sihir ular itu hancur berkeping-keping.
"Apa...!!?"
Melihat pedang kesayangannya yang hancur berantakan dan Chrono yang tidak terluka sama sekali, mata Luke membulat.
"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Daripada pertarungan kalian yang tak lebih dari sekadar perjudian, teman itu jauh lebih luar biasa dan patut dibanggakan."
Sesaat, Luke tampak bingung. Tapi, perlahan amarahnya mulai mendidih.
"...Kau...!!! Menghina kebanggaan kami dengan hal semacam itu──"
Boonng! bersamaan dengan suara seperti batu yang dihancurkan, tinju Chrono telah bersarang di perut Luke.
"Gah... Ah... Hah..."
Darah menyembur keluar dari mulutnya.
Chrono mengangkat tubuh Luke dengan ringan.
"Hal semacam itu?"
Tatapan dingin Chrono menusuknya.
Hanya ada sedikit amarah yang tersirat, tapi hanya dengan itu saja tubuh Luke tidak bisa berhenti gemetar.
Level mereka berbeda. Luke dipaksa memahami hal itu dalam sekejap.
"Kamu juga punya teman, 'kan. Apa teman itu adalah hal semacam itu?"
"Ah... Itu, maksudku......"
Luke tidak mengerti maksudnya. Siswa naif yang sampai tadi masih mengatakan hal-hal manis, tiba-tiba berubah drastis.
(Orang ini... Kenapa tiba-tiba begini? Dia gila...)
Kalau dia tidak memberikan jawaban yang memuaskan, dia akan dibunuh. Luke berpikir seperti itu.
"T-Teman-teman sesama petarungku juga bangga dengan pertarungan ini. Makanya, aku marah waktu kamu menghinanya."
"Apa?"
Tatapan Chrono menjadi semakin tajam. Karena hawa membunuh yang luar biasa itu, Luke bahkan tidak bisa bernapas.
(G-Gagal, ya...)
Karena terlalu ketakutan, dia memejamkan mata.
"Kamu sangat peduli pada temanmu, ya."
Chrono menurunkan Luke dengan lembut.
Kaki Luke gemetar hebat, dan dia ambruk di tempat karena tidak sanggup berdiri.
"Pertandingan selesaaai!!! Pemenangnyaaaaaaa, Chrono Granvephiuuuuuuuuuuuuus!!!"
Bersamaan dengan deklarasi kemenangan wasit, sorak sorai yang memekakkan telinga meledak dari kursi penonton. Kemenangan besar sang rookie.
Di arena pertarungan bawah tanah, antusiasme luar biasa yang mungkin hanya terjadi setahun sekali kini tengah berpusar.
"Chrono-kun!!"
Charl melompat turun dari kursi penonton dan berlari menghampiri Chrono. Kemudian, dia langsung memeluknya dengan penuh semangat.
"Hebat banget, Chrono-kun! Bisa ngalahin raja! Kenapa? Kok kamu bisa sekuat itu?"
"Pertanyaan yang filosofis, ya."
"Eh?"
Mungkin karena tidak mengerti maksudnya, Charl memasang wajah bingung.
"Ayo kita keluar mumpung masih ada kesempatan. Bakal repot kalau masalah kita berada di tempat terlarang tadi diungkit lagi."
"Ah, bener juga."
Charl dan Chrono berjalan menuju gerbang barat. Tapi, di tengah jalan Charl berhenti.
"Maaf. Chrono-kun, bisa tunggu satu menit aja?"
"Tidak apa-apa."
Charl berlari menghampiri Luke yang terjatuh, dan membicarakan sesuatu dengannya. Setelah beberapa saat, dia kembali ke sisi Chrono.
"Maaf bikin nunggu. Ayo jalan~"
Mereka berdua pun meninggalkan bar dan beranjak pulang.
Chapter 8
【Dua Orang yang Mirip】
Charl dan Chrono berjalan menyusuri jalan utama distrik perbelanjaan.
Aroma lezat melayang di sekitar sana. Ada banyak restoran di sekitarnya.
"Hei, Chrono-kun. Apa kamu lapar? Sebagai tanda terima kasih karena udah nolongin aku, aku traktir, deh."
"Sayangnya aku tidak punya waktu. Aku harus pulang sebelum jam 8."
"Ada urusan, ya?"
"Aturan sekolah."
"Eh?"
Sesaat, Charl menatap Chrono dengan wajah bingung.
"Di aturan sekolah Akademi Noir tertulis begitu, 'kan. Harus pulang sebelum jam 8 malam."
"Eh~ Nggak ada yang nepatin aturan itu kali. Lagian, guru juga nggak bakal ngomong apa-apa kalau lihat murid di malam hari."
"Tapi, aturan tetaplah aturan."
"Nggak mau. Nggak apa-apa 'kan. Ayo main bentar lagi~"
Sambil meraih lengan Chrono, Charl memohon padanya.
"Kamu 'kan Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa, pasti bisa diakalin, 'kan?"
Sambil bercanda, Charl bersikeras.
"Bahkan kalau ada koin emas yang jatuh, Charl tidak akan mencurinya, 'kan?"
"Eh? Un. Aku bakal serahin ke Pengadilan Sihir."
"Manusia tidak akan melakukan semua hal yang bisa mereka lakukan. Tidak melakukannya, terkadang lebih mustahil daripada tidak bisa melakukannya."
Hmm, Charl memiringkan kepalanya.
"Kalau diomongin secara gampang, maksudnya apa?"
"Itu masalah kepribadian."
Mendengar itu, "Ahahaha~" Charl tertawa.
"Chrono-kun, agak mirip temanku, deh. Sahabat karibku."
Entah bagaimana, gadis itu menatap ke kejauhan, seolah merindukan masa lalu.
Suasananya sedikit berbeda dari yang tadi. Dia memancarkan kemauan yang jernih dan ketenangan.
"Walaupun orangnya udah meninggal, sih."
"Begitu, ya."
"Ah, maaf ya. Tiba-tiba aku ngomong yang aneh-aneh."
Seolah mencoba menutupi kecanggungannya, Charl tersenyum.
"Apa dia sebegitu miripnya?"
"Un. Walaupun sifat sehari-harinya beda banget, tapi bagian yang keras kepala ngejalanin aturan kayak barusan itu."
"Aku ingin bertemu dengannya."
Saat Chrono mengatakan itu, "Un," Charl membalasnya dengan tenang.
"...Boleh aku cerita?"
Tanya Charl.
"Aku pengen cerita sama seseorang, tapi nggak ada siapa-siapa..."
"Akan kudengarkan."
Saat Chrono menjawab, Charl melonggarkan ekspresinya dengan lega.
"Namanya Lyca. Lyca Endymion. Aku sama Lyca pertama kali ketemu waktu aku umur 7 tahun──"
Charl mulai bercerita dengan tenang.
Chapter 9
【Dibimbing oleh Bulan Purnama】
Delapan tahun yang lalu.
Kota netral Corntzel. Panti Asuhan Gereja Saint Harkemas.
Seorang gadis kecil sedang menangis. Dia berambut pirang dan bermata biru, serta mengenakan pakaian biarawati. Dia adalah Charl Arlian.
"Ara? Tikus Tanah. Kenapa kamu menangis?"
Yang datang menghampirinya adalah seorang gadis seumuran dengan Charl bernama Milia.
"Ch-Charl bukan Tikus Tanah..."
"Masa, sih? Tapi itu cocok banget buatmu. Tikus Tanah jelek yang buta."
Milia tertawa mengejek.
"A-Aku bisa lihat, kok! Cuma mataku agak rabun aja!"
Dengan mata berkaca-kaca, Charl membela dirinya mati-matian.
"Kalau begitu, ikut aku sebentar."
Milia menggenggam tangan Charl, dan menariknya dengan paksa.
"S-Sakit! Jangan ditarik, Milia-chan!"
Mengabaikan protes Charl, Milia terus berjalan. Tak lama kemudian, mereka berdua tiba di halaman panti asuhan.
"Tikus Tanah menangis gara-gara kehilangan jimat untuk berdoa, 'kan."
"...Kok tahu?"
"Aku sudah cariin buatmu."
Berkata demikian, Milia menunjukkan jimat itu. Jimat itu berbentuk liontin bundar dengan permata di tengahnya.
"Eh? M-Makasih, Milia-chan."
Saat Charl mengucapkan terima kasih, Milia menyeringai.
"Hei, Tikus Tanah. Ayo kita bermain. Di sini ada satu jimat lagi. Ini aku lempaar~"
"Ah!"
Milia melempar kedua jimat itu ke halaman.
"Satu di antaranya palsu. Kalau matamu benar-benar bisa melihat, kamu pasti bisa mengambil jimatmu sendiri. Kalau kamu berhasil, aku nggak bakal manggil kamu Tikus Tanah lagi."
"B-Beneran?"
Dengan senyum penuh kedengkian, Milia mengangguk dengan kuat.
"Tidak boleh lihat dari dekat. Dari situ, coba tebak mana jimatmu."
Charl menatap kedua jimat yang jatuh di tanah secara bergantian. Matanya memang sudah rabun sejak lahir, dan pandangannya kabur, tapi dia bisa melihat kalau warna permatanya berbeda.
Satu berwarna merah, dan satu berwarna biru. Jimat Charl berwarna biru.
"Aku tahu, kok."
Charl lalu menunjuk jimat berwarna biru.
"Kalau gitu, cobalah ambil."
Mengangguk kecil, Charl berjalan mendekat. Tepat ketika dia tiba di posisi di mana dia bisa meraih jimat biru itu kalau dia mengulurkan tangannya, tanah di bawahnya runtuh.
"Kyaaa!!"
Sebuah lubang dalam terbuka di tanah, dan Charl pun terjatuh ke dalamnya. Itu adalah jebakan lubang.
"Ara sayang sekali? Tebakanmu salah. Lagipula, dua-duanya memang salah, sih."
Milia menatap ke dalam lubang dari luar dan berkata.
"Matamu memang buta, ya. Lubang itu cocok banget buat Tikus Tanah. Ya 'kan, semuanya juga berpikir begitu?"
Gadis-gadis yang mengenakan pakaian biarawati berdatangan, dan mulai menatap Charl dari atas bersama Milia.
"Benar banget. Menyedihkan banget."
"Aku punya ide bagus. Karena dia Tikus Tanah, gimana kalau kita kubur dia aja?"
"Ara, ide bagus. Ide yang lumayan bagus."
Berkat usulan dari seorang gadis, Milia dan yang lainnya mulai memasukkan tanah dengan sekop, dan mengubur lubang tersebut.
"T-Tidak mau! Kenapa? Kenapa kalian menguburku? Tolong!"
"Nggak masalah, kan. Kamu kan Tikus Tanah."
Dengan cepat, tubuh Charl terkubur oleh tanah. Saat dia dikubur sampai batas di mana dia hanya bisa bernapas melalui mulutnya dengan susah payah, dia mencium bau aneh. Bau menyengat yang rasanya seakan membakar hidungnya.
"Hei, apa ini? Bau aneh? Hei, apa ada benda aneh yang masuk?"
Gadis-gadis itu tidak menjawab pertanyaan Charl dan malah terkikik.
"Ah, capeknya. Semuanya, ayo kita minum teh."
"Ide bagus, ayo kita ke sana."
Suara gembira Milia dan kawan-kawannya semakin lama semakin menjauh dari telinga Charl.
"Tunggu. Hei, semuanya, tunggu dulu! Ini aneh! Tolong! Tolong aku!"
Charl berteriak, tapi tidak ada yang datang menolong.
Matanya mulai terasa perih.
"Sakit! Apa ini! Perih di mata. Racun...? Hei, ini gas beracun! Tolong! Keluarkan aku! Keluarkan!!!!"
Charl terus-menerus berteriak minta tolong dengan putus asa.
Saking sakitnya, dia merasa matanya akan hancur, dan pandangannya berkunang-kunang. Napasnya juga sesak, dan kepalanya sakit. Dan kematian terlintas di kepalanya.
Meskipun begitu, Milia dan kawan-kawannya tidak kembali. Orang dewasa baru menyadarinya, dan Charl baru diselamatkan tiga jam setelah dia jatuh ke dalam lubang itu.
"Semuanya merundungku."
"Maafkanlah mereka. Saat kita mengampuni dosa orang lain, kita bisa menyentuh hati Tuhan."
Charl berkonsultasi dengan pendeta gereja, tapi jawaban yang diterimanya selalu seperti itu.
"Apa semua orang merundungku gara-gara aku anak yatim piatu?"
"Tuhan memberikan cobaan kepada manusia. Kalau kamu merasa menderita, itu pasti cobaan yang diberikan Tuhan."
Charl menggigit bibirnya, dan air matanya berlinang.
Ajaran Tuhan adalah sesuatu yang sama sekali tidak bisa dipahami olehnya yang masih kecil.
"Kenapa aku nggak punya ibu dan ayah?"
"Itu karena kamu adalah anak Tuhan. Oleh karena itu, percayalah pada Tuhan. Niscaya, kamu akan diselamatkan."
Charl terdiam.
Mungkin karena menganggap Charl sudah tidak memiliki masalah lagi, pendeta itu berbalik pergi.
"Kalau begitu, ini sudah waktunya berdoa, aku pergi dulu. Kamu juga besok mulai ikutlah berdoa."
Meninggalkan kata-kata itu, pendeta tersebut keluar dari ruangan.
"...Anak Tuhan..."
Dengan perasaan frustasi, Charl bergumam.
Lalu, dia bangun dan melihat ke luar jendela.
Bulan purnama bersinar terang.
"Cantik..."
Seakan dipanggil, Charl berlari ke luar kamar.
Aturannya tidak boleh keluar tanpa izin dari pendeta. Tapi, Charl melanggar perintah itu.
(Aku mau pergi ke tempat di mana bulan itu kelihatan paling cantik)
Di bawah cahaya bulan, dia berjalan tertatih-tatih sendirian di jalanan malam.
Tempat yang dia tuju adalah sebuah dataran tinggi di Corntzel. Dengan napas terengah-engah, dia menaiki tangga yang panjang dan curam, lalu tiba di sana.
Tempat di mana dia bisa melihat pemandangan kota Corntzel. Dari sini, bulan purnama pasti kelihatan jelas. Begitu dia berpikir dan mendongak ke langit malam, rasa sakit yang tajam menyerang matanya.
"Ah... Ugh...!!"
Karena rasa sakit yang luar biasa, hanya suara erangan yang keluar dari mulutnya.
Pandangannya berkunang-kunang, dan rasa sakitnya membuat kepalanya terasa berputar. Dia hanya bisa meringkuk di tanah, dan menunggu rasa sakit itu mereda.
Tak lama kemudian, rasa sakitnya mulai berkurang. Pandangannya tidak lagi berkunang-kunang, dan Charl menghela napas lega.
Lalu, dia berbaring telentang dan melihat ke langit malam. Sambil melihat bulan, dia berpikir kalau matanya akan membaik setelah beristirahat sebentar.
Tapi, bulan tidak terlihat di matanya.
Penglihatannya yang memang sudah buruk, semakin memburuk akibat gas beracun yang dimasukkan saat dia dikubur di dalam tanah.
Saat menyadari hal itu, setetes air mata jatuh dari matanya.
"...Bodoh banget... Walaupun Tuhan itu orang tuaku, tapi Dia nggak mau menyelamatkanku..."
Air mata Charl mengalir deras.
Pendeta gereja menyebut Charl anak Tuhan, tapi Tuhan tidak pernah menyelamatkannya dari perundungan.
Maafkanlah. Ajaran itu menyuruhnya memaafkan siapa pun yang melakukan perbuatan jahat padanya, dan setiap saat dia hanya bisa menahan diri dengan menggigit bibirnya.
Tapi, dia sudah tidak tahan lagi.
"...Bulan pun, aku nggak bisa lihat..."
Saat dia mengatakannya, rasanya semakin menyedihkan, dan air matanya mengalir tanpa henti.
Dia merasa kalau dia akan terus menjadi buta, tidak akan ada yang menyelamatkannya, dan dia akan mati.
Sendirian.
"Kenapa kamu menangis?"
Sebuah suara terdengar tepat dari sebelahnya.
Saat dia menoleh, samar-samar terlihat bayangan seseorang. Seorang gadis kecil yang seumuran dengan Charl. Rambut perak panjangnya berkibar tertiup angin, dan matanya yang merah bersinar dengan cerah.
Namanya, Lyca Endymion.
"Aku..."
Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus berkata apa, dan kata-katanya tidak keluar.
Kemudian, Lyca berkata dengan lembut.
"Tidak apa-apa. Karena malam ini adalah bulan purnama. Bulan itu pasti akan menyembuhkan kesedihanmu dengan lembut."
Kalaupun bulan bisa menyembuhkan kesedihan, Charl yang sekarang tidak bisa melihatnya. Meskipun begitu, perasaan menyedihkan yang dirasakannya tadi perlahan memudar, dan dia merasakan kehangatan yang menyebar di dadanya.
Suara gadis itu, adalah suara paling lembut yang pernah didengar Charl selama ini.
"Aku sendirian."
Saat Charl menggumamkan kata-kata itu, "Un," gadis itu mengangguk dengan lembut. Padahal dia kelihatan seumuran dengan Charl, tapi Lyca sangat dewasa.
"Ibu dan ayah nggak ada. Katanya karena aku anak Tuhan. Tapi, mataku ssmakin lama makin memburuk, bahkan buat ngelihat bulan pun nggak bisa, Tuhan tetap tidak menyelamatkanku."
Kata-katanya mengalir deras seolah bendungan yang jebol, dan air mata jatuh dalam jumlah yang sama.
"Aku nggak peduli soal jadi anak Tuhan, aku cuma pengen ibu dan ayah..."
Lyca dengan lembut menghapus air mata yang mengalir di pipinya dengan ujung jarinya.
"Boleh aku lihat?"
Saat Charl mengangguk, gadis itu mendekatkan wajahnya dan menatap matanya.
Mata merah Lyca memancarkan cahaya. Hanya itu saja yang terlihat samar-samar oleh Charl yang penglihatannya memburuk.
"Namaku Lyca. Lyca Endymion. Kamu?"
"...Na, namaku Charl Arlian."
"Kalau begitu, Charl. Maukah kamu menjadi keluargaku?"
"...Eh?"
Tawaran yang tiba-tiba itu membuat pikiran Charl tidak bisa langsung memprosesnya.
"Aku juga sendirian. Kalau kamu memberiku darahmu, aku bisa menyembuhkan matamu. Tapi, sebagai gantinya, hanya ada satu hal, kamu akan menjadi monster sepertiku."
Dengan tenang, Lyca mulai bercerita.
Dari sana, taring tajam mengintip keluar. Monster yang haus akan darah. Charl perlahan-lahan menyadari identitas gadis itu.
"Itu berarti kamu membuang keimananmu pada Tuhan──"
"Aku mau!"
Tanpa menunggu penjelasannya selesai, Charl menyela.
"Soalnya cuma Lyca yang berbuat baik padaku. Kalau bisa sama kayak Lyca, jadi monster pun nggak apa-apa. Jadi, maukah kamu menjadikanku keluargamu?"
Lyca mengangguk kecil, dan berkata dengan lembut.
"Tolong diam sebentar, ya."
Dia mendekatkan mulutnya ke tengkuk Charl, dan menancapkan taringnya dengan perlahan.
Darah merah merembes sedikit, dan Lyca mulai mengisap darah itu.
"Nnn..."
Sesaat, Lyca mengerang tertahan.
Perlahan-lahan Charl mulai merasakan sesuatu yang aneh. Darahnya terasa panas, dan mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Bersamaan dengan itu, perubahan muncul di tubuhnya.
Di mulutnya tumbuh taring yang sama seperti Lyca, dan luka di tengkuknya menutup dalam sekejap.
Kemudian──
"Cantik..."
Matanya yang hampir sepenuhnya buta kini kembali melihat cahaya. Bulan purnama yang bersinar di langit malam terlihat dengan jelas.
"Aku pernah belajar di panti asuhan. Orang seperti Lyca itu disebut Vampir Leluhur, kan?"
Vampir Leluhur bisa menciptakan kerabatnya melalui tindakan mengisap darah. Karena Charl menjadi vampir, tubuh fisiknya menjadi tangguh, kemampuan penyembuhannya meningkat, dan penglihatannya pun pulih.
"Kamu tahu banyak, ya."
"Aku sekarang jadi kerabat Lyca, kan?"
Dengan tenang Lyca menggelengkan kepalanya dari sisi ke sisi.
"Bukan, ya?"
"Sudah kubilang, 'kan. Kita keluarga. Lalu, kalau boleh──"
Seakan sulit mengatakannya, Lyca terdiam sesaat.
"Kalau boleh?"
"Maukah kamu, berteman denganku?"
Kemudian, Charl tersenyum gembira.
"Kalau gitu, kita main apa~?"
Mungkin karena tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu, Lyca menatap Charl dengan wajah bingung.
"...Bagaimana, ya. Aku masih belum terlalu tahu permainan manusia."
"Biar aku yang ajarin! Petak umpet kayaknya seru... Ah!"
Seketika, seolah menyadari sesuatu, Charl berseru.
"Ada apa?"
"Maaf, ya. Hari ini aku harus pulang. Kalau ketahuan nggak ada di kamar, aku bisa dimarahin."
Meskipun dia melarikan diri karena putus asa, kalau dipikir-pikir lagi, keluar tanpa izin di tengah malam seperti ini akan membuatnya dimarahi habis-habisan. Tidak aneh kalau dia akan disuruh membersihkan kapel sebagai hukumannya.
"Aku mengerti."
"Besok lagi, ya. Ayo ketemu di sini."
"Aku tunggu, ya."
Charl berlari dengan sangat panik. Sambil mengawasi kepergiannya dengan lembut, Lyca meletakkan tangannya di dada, dan bergumam pelan.
"Karena ini yang terakhir..."
Seketika, Charl berhenti di tengah jalan, dan melambaikan tangannya lebar-lebar.
"Ada bilang sesuatu~?"
"Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa, kok."
"Begitu, ya~ Sampai jumpa~"
Berbalik arah lagi, Charl bergegas pulang ke panti asuhan.
Chapter 10
【Pertanyaan untuk Masa Lalu】
(Ini yang terakhir, ya. Kalimat yang aneh.)
Chrono, yang mendengarkan cerita Charl tentang pertemuannya dengan Lyca, merasa sangat terganggu dengan kata-kata itu.
Lyca dan Charl berteman selama tujuh tahun. Tapi, pada akhirnya, Charl juga tidak tahu apa arti dari kata-kata itu.
Bahkan kalau dia mau bertanya langsung pada Lyca, dia sudah meninggal. Tidak ada cara untuk memastikannya.
Benar, kalau saja Chrono bukan Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa──
"──Ini yang terakhir, apa maksudnya?"
Sambil mengambil posisi siap tempur, Lyca berbalik.
Sampai beberapa saat yang lalu, tidak ada siapa-siapa di dataran tinggi itu. Bahkan tidak ada tanda-tanda ada orang yang mendekat. Tapi pria itu──Chrono tiba-tiba muncul.
Sebagai seorang Vampir Leluhur, ini adalah pertama kalinya seumur hidup seseorang bisa menyelinap ke belakangnya dengan begitu mudah.
"Dadamu itu."
Chrono menunjuk Lyca.
"Kamu menancapkan pasak kecil ke jantungmu sendiri. Tepat setelah kamu menjadikan Charl sebagai kerabatmu barusan."
Hal ini tidak ada dalam cerita aslinya Charl. Chrono baru mengetahuinya setelah dia mengintervensi masa lalu secara langsung dan melihat Lyca yang sebenarnya.
"Benda itu membatasi kekuatan vampir. Kenapa kamu perlu melakukan hal semacam itu?"
Tindakan Lyca sangat tidak bisa dipahami. Itulah sebabnya, Chrono ingin tahu isi hatinya.
"Onii-san ini, datang dari mana?"
(TL/N : Disini kenapa manggil Onii-san atau kakak harusnya kebanyakan udah tahu, tapi gw jelasin singkat aja, Karena diwaktu ini Lyca lagi dalam wujud anak kecil (atau harusnya sedikit lebih muda dari Chrono) dan belum tahu namanya, dia pake sebutan Onii-san ke Chrono. Ini itu panggilan umum di Jepang untuk kakak laki-laki atau pemuda yang lebih tua.)
Tanpa menjawab pertanyaan Chrono, Lyca balik bertanya.
Sepertinya dia tidak bisa menebak siapa Chrono.
"Dari masa depan."
Mata Lyca membulat. Setelah itu, dia tertawa terbahak-bahak.
Dia dengan lembut menyentuh dada kirinya sendiri.
"Kenapa kamu ingin tahu soal hal di dada ini?"
"Tepatnya, rasa ingin tahu."
"Onii-san yang aneh. Aku nggak akan kasih tahu."
Dengan nada bicara yang lembut, Lyca menolaknya.
"Apapun yang terjadi?"
"Kalau besok kamu mau bermain denganku, aku mungkin akan mempertimbangkannya."
"Di mana?"
Lyca tersenyum dengan lembut.
"Di suatu tempat."
Tubuhnya berubah menjadi kabut merah, dan dalam sekejap menghilang dari dataran tinggi tersebut.
Bulan perlahan tenggelam, digantikan oleh matahari yang terbit di langit.
Cahaya matahari menyinari atap Akademi Noir.
Air mancur besar di tengah atap memantulkan cahaya, dan airnya berkilauan.
Di tepi air mancur, seorang siswi yang mengenakan seragam sedang duduk. Usia fisiknya mungkin sekitar 15 tahun. Rambut perak panjangnya dan matanya yang merah sangat berkesan.
"Lyca."
Dia menoleh ke arah suara itu berasal. Chrono berdiri di sana.
"Aku datang untuk bermain."
Karena Chrono mengatakannya tanpa ragu-ragu, Lyca pun terkejut.
"Kenapa bisa tahu kalau ini aku?"
Kemarin wujudnya anak kecil, hari ini wujudnya remaja. Pakaiannya pun berbeda. Bahkan dia tidak memberitahukan lokasinya. Meskipun begitu, Chrono bisa mendatanginya dengan sangat mudah. Hal itu mungkin terasa sangat aneh baginya.
"Aku adalah Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa."
Saat Chrono menjelaskannya dengan wajah serius, Lyca terkikik pelan.
"Seperti dugaanku, kamu memang orang yang suka ngomong hal-hal aneh, ya."
"Akhir-akhir ini banyak orang yang bilang hal serupa."
"Pasti begitu, kan."
Lalu, Lyca kembali terkikik pelan.
"Onii-san, namamu siapa?"
"Chrono Granvephius."
"Kalau gitu, Onii-san, maukah kamu mengantarku berkeliling akademi?"
Chrono mengenakan seragam Akademi Noir. Mungkin karena itulah dia tahu kalau Chrono adalah siswa.
"Kenapa kamu menanyakan namaku?"
"Aku nggak bilang mau manggil, kan."
Gadis itu tersenyum dengan lembut.
"Lyca bukan siswi Akademi Noir, ya."
"Penampilan ini cuma penyamaran. Tapi, aku berniat masuk sekolah di sini suatu hari nanti."
"Bagian mana yang ingin kamu lihat?"
"Aku dengar di sini ada perpustakaan besar."
Setelah mendengar itu, Chrono mengantarnya ke perpustakaan.
Di dalam bangunan berbentuk segi enam itu, rak-rak buku berjajar rapat, dan dipenuhi oleh sejumlah besar buku.
Tidak ada siapa-siapa di dalam. Hari ini adalah hari libur.
"Banyak banget, ya."
Dengan gembira Lyca mengedarkan pandangannya ke sekeliling rak buku.
Lalu, dia mengambil sebuah buku.
"Onii-san, maukah kamu mengajariku belajar?"
Sambil memegang buku dengan kedua tangannya, Lyca bertanya.
"Bukannya kita mau bermain?"
Lyca tersenyum dengan manis.
"Bermain sekolah-sekolahan."
"Aku mengerti."
Chrono dan Lyca duduk berdampingan di meja yang ada di dekat sana.
Mereka membuka buku tersebut. Judulnya adalah Pengadilan Sihir.
"Ada hal yang nggak aku mengerti di kasus-kasus Pengadilan Sihir, jadi aku mau mencari tahu."
"Apa itu?"
"Tahu soal Timbangan Abadi?"
Lalu, Chrono membuka-buka halaman buku tersebut.
"Ini."
"Hnn~"
Sambil menyipitkan matanya, Lyca membaca kata-kata di halaman itu.
"Ah, di sini. Tertulis di sini, hukuman yang dijatuhkan oleh Timbangan Abadi, akan membuat efeknya menjadi permanen. Putusan ini, hanya bisa dibatalkan oleh Pengadilan Sihir──"
Lyca membacakan kalimat tersebut, lalu bertanya pada Chrono.
"Ini maksudnya gimana, ya?"
"Maksudnya sesuai dengan yang tertulis. Kalau hukuman yang diberikan kepada pendosa adalah pemotongan lengan kanan, maka lengan kanan itu tidak akan pernah kembali untuk selamanya."
"Itu dia yang nggak kumengerti. Misalnya lengan kananku dipotong, itu bakal sembuh, lho."
Lyca adalah Vampir Leluhur. Kemampuan regenerasinya jauh lebih kuat dibandingkan ras mana pun, bahkan kalau tubuhnya hancur berkeping-keping, dengan seiring berjalannya waktu, tubuhnya akan kembali seperti semula.
"Timbangan Abadi itu adalah salah satu jenis sihir."
Chrono menjelaskan.
"Sihir itu baru aktif setelah melewati ritual bernama Pengadilan Sihir. Oleh karena itu, efeknya sangat luar biasa, dan abadi."
"...Maksudnya, pengadilan itu sendiri sudah menjadi sihir?"
"Begitulah."
"Baru tahu. Tapi, di buku ini juga, nggak ada penjelasannya, ya."
Lyca menundukkan pandangannya ke arah kata-kata di buku itu. Memang, tidak ada tulisan yang menyebutkan kalau Timbangan Abadi itu adalah sihir.
"Sepertinya hal ini tidak diajarkan secara detail kepada siswa."
"Onii-san, ternyata belajarmu rajin, ya. Nggak nyangka."
Lyca berkata seolah-olah kagum.
"Tapi, Pengadilan Sihir itu bagus, ya."
"Memangnya begitu?"
"Iya, dong. Kota netral Corntzel ini, bukan dikuasai oleh raja atau dewa, melainkan satu-satunya tempat yang diatur oleh hukum. Manusia, iblis, maupun ras naga, entah itu orang yang percaya Tuhan atau yang tidak percaya, aku rasa jawaban agar semuanya bisa hidup berdampingan dengan rukun itu ada di Pengadilan Sihir dan hukum yang berlaku."
Dengan tatapan lurus bagaikan sedang bermimpi, Lyca menceritakan hal itu.
"Makanya, aku mendambakan Corntzel dan datang ke sini. Mimpiku di masa depan adalah bekerja di Pengadilan Sihir sebagai Sage Hukum, dan membuat hukum yang ramah untuk lebih banyak orang lagi."
"Kamu ini orang yang aneh, ya, Lyca."
"Masa, sih?"
"Banyak iblis yang tidak suka diikat oleh aturan. Apalagi untuk ras yang berumur panjang."
"Makin panjang umurnya, makin banyak juga keterikatan yang harus ditanggung. Kampung halamanku isinya pertikaian terus, mau menang atau kalah pun ujungnya tragis. Aku udah capek dengan hal-hal yang kayak gitu."
Setelah mengatakan itu, Lyca menundukkan pandangannya dengan raut wajah murung.
"Tapi, pada akhirnya, aku memang iblis biasa seperti yang Onii-san bilang, lho."
Saat Chrono menanyakan maksudnya melalui tatapannya, Lyca berkata begini.
"Tindakan vampir untuk memperbanyak kerabatnya itu tindakan ilegal di Corntzel."
"Sekalipun untuk menyelamatkan Charl?"
Lyca mengangguk kecil.
"Alasan apa pun nggak akan bisa diterima. Makanya, sejujurnya, aku sempat ragu sedikit. Mau menjadikan anak itu kerabatku, atau membiarkannya mati."
"Tapi, kamu menyelamatkannya."
"Vampir Leluhur itu tidak punya orang tua. Mereka itu sendirian."
Sambil menelusuri tulisan dengan jarinya, Lyca berkata.
"Makanya, apa, ya? Waktu aku masih kecil, aku pernah mikir alangkah baiknya kalau ada seseorang di sampingku, dan menyelamatkanku. Gampangnya, ya begitulah, cuma keisengan semata."
"Benarkah begitu?"
"Iya. Makanya, sebenarnya aku harus ngelaporin ini ke Pengadilan Sihir, kan. Tapi, kalau aku ngelakuin itu, aku nggak akan bisa jadi Sage Hukum lagi."
Bagi Lyca yang datang ke Corntzel dengan tujuan menjadi Sage Hukum, ini adalah kenyataan yang sulit diterima.
"Tetaplah diam saja."
Saat Chrono mengungkapkan pandangannya dengan terus terang, mata Lyca membulat.
"Pengadilan Sihir juga tidak sempurna. Menolong orang lalu dihukum, justru itu yang salah."
"Justru Onii-san yang aneh. Aku dengar banyak manusia yang suka menaati aturan."
Setelah mengatakan hal itu, Lyca tiba-tiba seolah menyadari sesuatu, dia mendekatkan wajahnya ke tengkuk Chrono dan mengendusnya.
"Manusia, kan? Bau manusia."
Vampir sangat pandai membedakan aroma mangsa isap darahnya.
"Aku tipe orang yang menaati aturan, tapi memang aku tidak sekeras kepala Lyca."
"Itu, maksudnya apa?"
Lyca berkata dengan nada sedikit tersinggung. Chrono lalu menunjuk dada kiri Lyca.
"Pasak di jantung itu, adalah hukuman untuk dirimu sendiri karena telah melanggar hukum, kan?"
"...Iya."
"Kalau kamu tidak bisa memaafkan dirimu sendiri karena menyembunyikan hal itu, kamu pasti keras kepala."
"Onii-san ini orang yang mirip bulan, ya."
"Wajahku?"
Lyca tertawa kecil, seakan menahan tawa.
"Aku nggak bilang wajahmu bulat, kok. Kenapa tiba-tiba bilang begitu."
"Kukira itu muncul begitu saja."
"Para vampir percaya, kalau bulan selalu mengawasi mereka dengan baik."
"Aku mengerti."
Lalu, Lyca menutup buku tersebut. Setelah itu, dia berbalik lurus menghadap Chrono, dan menegakkan punggungnya dengan tegap.
"Boleh aku bersumpah padamu, Onii-san?"
"Tentang apa?"
"Katakan saja kalau kamu mengizinkanku. Sebenarnya aku ingin bersumpah pada bulan, tapi berhubung bulannya tidak akan muncul untuk sementara waktu, aku akan bersumpah pada Onii-san yang mirip bulan."
Chrono mengangguk.
"Kuizinkan."
"Aku pernah melanggar hukum sekali. Aku tidak akan pernah melaporkannya ke Pengadilan Sihir. Tapi, itu semua demi menyelamatkan anak kecil itu. Aku sendiri yang memberikan hukuman di dada ini. Ini adalah yang pertama dan yang terakhir. Lyca Endymion tidak akan pernah lagi melanggar hukum kota ini."
Sambil menatap lurus ke arah mata Chrono, Lyca menyatakan sumpahnya.






Post a Comment