NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenchi Zennou no Ou, Okotoba ga Kanchigai Sareru ~Tomodachi ga Hoshikute Gakuin ni Haitta dake nanoni, Sekaijuu de Hijou Jitai ga Sengen Sarete Shimatta~ V1 Chapter 5

 Penerjemah: Randika Rabbani

Proffreader: Randika Rabbani


Chapter 5

【Pertemuan Kembali】

Akademi Noir. Ruang Kelas 8.

Setelah kelas hari itu selesai, Carlo menyapa Chrono.

"Yo Chrono~ Ayo pulang."

"Dengan senang hati."

"Gaya bicaramu agak unik, ya."

Dalam satu hari ini, Chrono dan Carlo yang sudah akrab, memutuskan untuk pulang sekolah berdua. Mereka berjalan di sepanjang jalan utama Distrik Perbelanjaan Noir, tempat paling ramai di kota netral Corntzel, sambil berbincang-bincang ringan.

"Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan mencari temannya?"

Mendengar itu, Chrono tidak menjawab dan hanya menatap balik ke arah Carlo.

"Ada apa?"

"Kupikir Carlo bisa dengan mudah berteman."

"Yaah, bisa jadi aku memang tipe yang seperti itu, sih."

Carlo tertawa sedikit canggung.

"Mungkin, butuh waktu yang lama."

"Apa ada orang yang kelihatannya bagus? Kalau aku nggak masalah, aku akan bantu."

Ucapnya dengan nada ceria.

Tiba-tiba Chrono berhenti berjalan.

"Kali ini ada apa lagi?"

"Aa───hhh!!!"

Suara manis bernada kaget bergema.

Saat Carlo menoleh, di sana ada Charl Arlian, seorang gadis berambut pirang yang sedang menunjuk ke arah Chrono.

"Tuh kan bener Chrono-kun! Kenapa kenapa? Gimana bisa? Seragam itu, dari Akademi Noir, kan?"

"Aku pindah sekolah."

"Eh~ Gitu yaa. Gawat. Kebetulannya luar biasa!!"

Meskipun terkejut dengan pertemuan kembali yang tiba-tiba itu, Charl tertawa dengan gembira.

"Tunggu sebentar. Kalau kamu bareng Carlo-kun, berarti kalian sekelas?"

"Benar."

"Kalau gitu, kita sama dong!"

Mendengar itu, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Chrono.

"Hari ini──"

"Cuacanya bagus, 'kan. Kalau begini, bawaannya jadi pengen pergi ke padang rumput, ya~"

Sebelum Chrono sempat bertanya, Charl berkata dengan nada ringan. Sepertinya dia bolos.

"Etto..."

Tampak belum bisa mengikuti situasinya, Carlo menatap mereka berdua.

"Kalian saling kenal?"

"Un. Belum lama ini kami bertemu~"

"Hee. Di mana? Charl-chan kan selama ini selalu ada di Corntzel."

"Ah...!"

Seolah ingin berkata 'Gawat', Charl berseru.

"Ada apa? Ada sesuatu yang nggak beres?"

"Itu rahasia, 'kan. Ya 'kan, Chrono-kun."

Seakan memohon, Charl mengintip wajah Chrono.

"Nggak, nggak, Charl-chan. Jangan libatkan Chrono. Lagipula pasti biasanya bukan hal yang penting."

"Eh~ Apaan tuh, jahat banget, kan? Kadang-kadang bisa jadi hal yang penting, tahu!"

Membembungkan pipinya dengan cemberut, Charl protes.

"Kamu tidak usah terlalu memikirkannya, Chrono."

Ucap Carlo kepada Chrono.

"Artinya, dadu yang aku lempar adalah dia."

"Hah?"

Seakan tidak mengerti maksudnya, wajah Carlo dipenuhi keraguan.

(TL/N : Disini dibagian pas Carlo baru kenal sama Chrono, Carlo nanya "Kalau cuma untuk mencari teman, di akademi mana pun nggak masalah, kan?", terus dibales sama Chrono kayak gini, "Sama seperti melempar dadu, dan mengikuti angka yang keluar." kira kira gitu.)

"Aku? Dadu?"

Sambil memiringkan kepalanya, Charl menunjuk dirinya sendiri.

"Yah, apa pun itu terserah, sih. Ups. Aku ada tempat yang harus aku kunjungi, jadi aku pamit dulu. Sampai jumpa."

"Un. Dah~"

Carlo berbelok dari jalan utama dan berlari dengan tergesa-gesa.

"Makasih, Chrono-kun. Sudah bantu menyamakan cerita."

"Lautan pohon itu sepertinya sekarang sudah menjadi wilayah kekuasaan Raja Iblis Golroars. Kalau ketahuan masuk tanpa izin, pasti akan jadi masalah."

"Itu berlaku buat Chrono-kun juga, loh. Kita jadi samaan ya."

Lalu, Charl tertawa.

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu pindah sekolah?"

"Tadinya aku berniat melempar dadu."

Sambil mengangguk-angguk, Charl mendengarkan dengan serius.

"Saat aku bangun, kalau orang yang pertama kali kutemui mencoba memanfaatkanku, aku akan menghancurkan kubu orang itu. Kalau bertemu penebang kayu, aku akan membangun ulang rumahnya. Kalau bertemu pemburu, aku akan memasak hidangan. Kalau bertemu pelajar, aku akan pergi ke akademi. Dan──"

"Terus kamu datang ke Akademi Noir. Kamu ini beneran semangat, ya!"

Entah karena alasan yang tidak terduga, Charl sepertinya menjadi sangat antusias.

"Tidak juga. Kalau mau dibilang, aku malah kurang motivasi."

"Masa, sih~?"

Kemudian, Charl berhenti dan menunjuk sebuah gang.

"Boleh lewat sini? Rumah Chrono-kun ke arah mana?"

"Arahnya sudah benar."

"Kalau gitu, ayo pergi~"

Mereka berdua berjalan menyusuri gang sempit.

Berbeda dengan jalan utama, di sana remang-remang dan sama sekali tidak ada orang.

"Kalau gitu, kamu sudah mutusin mau ngapain di Akademi Noir?"

"Pertanyaan bodoh."

"Apa apa? Mau ngapa──"

Senyuman Charl seketika lenyap, dan dia mengarahkan pandangan tajamnya ke depan.

"T-Tolong aku...!!"

Seorang lelaki tua sedang diserang oleh pria bertubuh besar. Pisau tajam diayunkan ke bawah dengan sekuat tenaga.

Charl berlari dengan kecepatan seolah terbang, dan menerobos masuk di antara keduanya. Tangan Charl yang memeluk lelaki tua itu untuk melindunginya pun tersayat, dan darah merah berceceran.

"Apa-apaan kau, Wanita! Mau mati, ya!!"

Pria bertubuh besar itu berniat menusukkan pisaunya ke arah Charl yang jatuh tersungkur.

Chrono mencengkeram pergelangan tangannya.

"Sangat tidak bisa dipahami, orang yang bahkan tidak bisa melakukan kebangkitan meremehkan nyawa."

"Oi."

Dengan tatapan tajam, pria bertubuh besar itu memelototi Chrono.

"Lepaskan. Aku akan membunuhmu duluan."

"Kenapa kau mengucapkan hal yang tidak mungkin?"

Pria bertubuh besar itu mengerahkan seluruh tenaganya, tapi Chrono sama sekali tidak bergeming.

"Aku adalah Sang Maha Tahu dan Maha Kuasa."

"Omong kosong!!!"

Bersamaan dengan teriakan marahnya, sebatang tanduk tumbuh dari dahi pria bertubuh besar itu. Ototnya mengeras dan membesar, hingga pakaiannya terkoyak hancur.

Wujudnya berubah menjadi makhluk berbulu perak, dengan cakar tajam dan bersayap.

"Apa ini? Tanduk ogre, tubuh werewolf, dan sayap demon. Campuran...?"

Melihat perubahan wujud pria bertubuh besar itu, Charl bergumam keheranan.

"Apanya yang Maha Tahu dan Maha Kuasa! Ha! Kuhancurkan kau!!"

Pria bertubuh besar itu mencengkeram kepala Chrono dengan tangannya yang bebas, dan dengan mengandalkan tenaga fisiknya, dia menekannya ke bawah.

"Tidurlah."

Chrono memukul perut pria bertubuh besar itu dengan tinjunya. Tubuh pria yang melengkung membentuk huruf V itu terlempar ke udara sejenak, lalu ambruk di gang.

"Hebat..."

Melihat Chrono yang mengalahkan pria bertubuh besar itu dalam sekejap, Charl merasa kagum.

"Kakek, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang terluka?"

Gadis itu menyapa lelaki tua tersebut.

"O-Oh. Terima kasih, ya, Nak. Berkat kalian aku selamat."

Lelaki tua itu menundukkan kepalanya.

"Kakek, jenggotnya hebat banget loh. Mantap!"

Dengan riang Charl menunjuk jenggot panjang lelaki tua itu.

"O-Oh. Ini jenggot kebanggaanku."

Dengan sedikit tersipu, lelaki tua itu tertawa.

"Di Corntzel, keamanan di area gang memang agak buruk. Meskipun memutar, sebaiknya berjalan di jalan utama saja."

Charl dan Chrono mengantar lelaki tua itu sampai ke jalan utama.

"Dadah, kakek berjenggot. Hati-hati di jalan ya~"

Charl melambaikan tangannya lebar-lebar kepada lelaki tua yang pergi menjauh.

"Ngomong-ngomong, Chrono-kun nggak terluka?"

Berbalik dengan cepat, Charl menatap serius ke arah Chrono.

"Bukankah yang tersayat itu Charl."

"Ah~"

Charl lalu menunjukkan tangan kirinya yang tersayat pisau. Luka itu dengan cepat menutup, dan akhirnya menghilang sepenuhnya. Padahal dia tidak menggunakan sihir sama sekali.

"Ini rahasia, ya."

Meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, dia berkata dengan nada menggoda.

"Tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga rahasia."

Padahal manusia, lalu kenapa dia memiliki kemampuan penyembuhan alami sehebat itu. Chrono menjawabnya tanpa bertanya lebih lanjut tentang keadaannya.

"Kalau gitu, aku mau Chrono-kun yang bisa jaga rahasia ini temenin aku sebentar ke suatu tempat, boleh?"

"Mau pergi ke mana?"

Charl tersenyum menggoda, lalu berkata dengan nada menggoda.

"Tem, pat o, rang de, wa, sa~"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close