NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Zenchi Zennou no Ou, Okotoba ga Kanchigai Sareru ~Tomodachi ga Hoshikute Gakuin ni Haitta dake nanoni, Sekaijuu de Hijou Jitai ga Sengen Sarete Shimatta~ V1 Chapter 4

 Penerjemah: Randika Rabbani

Proffreader: Randika Rabbani


Chapter 4

【Teman】

Akademi Noir. Ruang Kelas 8.

Para siswa sedang ribut.

"Orang itu, siapa?"

"Woow, rambutnya putih bersih..."

"Kelihatan dewasa ya, apa dia benar-benar seumuran dengan kita?"

"Tapi, tatapan matanya agak menyeramkan, ya."

Perhatian tertuju pada Chrono yang masuk bersama wali kelas mereka, Marco.

"Semuanya, harap tenang."

Marco menaikkan kacamatanya dengan jari telunjuknya.

"Meskipun bukan pada waktunya, aku akan memperkenalkan murid pindahan. Chrono-kun, silakan perkenalkan diri. Tolong beri tahu nama dan rasmu."

Chrono melangkah maju satu langkah, lalu membuka mulutnya.

"Chrono Granvephius. Aku manusia."

Mendengar hal itu, para siswa kembali ribut.

"Manusia? Ada ya manusia dengan mata merah seperti itu~"

"Mirip vampir, kan."

"Eeh~ Kalau aku sih mikirnya dia kelihatan kayak manusia naga."

"Semuanya, harap tenang."

Saat Marco memberikan tekanan, para siswa kembali diam.

"Chrono-kun. Kursi paling belakang kosong, jadi silakan duduk di sana."

"Ya."

Sesuai instruksi, Chrono duduk di kursinya.

Di kursi sebelahnya, kerang warna-warni berserakan. Tapi, tidak ada orang yang duduk di sana. Mungkin orangnya sedang libur.

"Kalau begitu, mari kita mulai pelajarannya. Dari halaman 26 buku Teori Sihir II….──"

 

 

Satu jam kemudian──

Pelajaran selesai tanpa masalah, lalu jam istirahat. Para siswa sedang mengamati keadaan Chrono.

"Hei hei, mau coba sapa Chrono-kun?"

"Eh, hmm, tapi..."

Chrono memberikan tekanan pada seluruh kelas dengan tatapan tajamnya. Itu adalah tatapan mata yang membuat siapa pun berpikir kalau dia akan menyerang orang yang bertatapan dengannya.

"Seram, kan...?"

"...Iya. Suasana hatinya lagi buruk, kah?"

Murid pindahan di waktu yang tidak biasa. Teman-teman sekelasnya juga tertarik pada Chrono, dan ada banyak hal yang ingin mereka tanyakan.

Tapi, karena tekanan yang dipancarkan dari tatapannya, mereka mengurungkan niat untuk menyapanya.

Di tengah situasi itu, seorang siswa laki-laki mendekati Chrono.

"Yo, murid pindahan. Tatapanmu itu seperti sedang melihat musuh bebuyutan orang tuamu saja, ada apa?"

Rambutnya cokelat sedikit panjang, dengan wajah yang terlihat ramah. Dia tampak dewasa di dalam kelas, dan senyum segarnya sangat berkesan.

"Musuh bebuyutan orang tua...? Kelihatan begitu, kah?"

"Kalau kamu bilang habis melakukan pembunuhan sebelum berangkat sekolah pun aku percaya."

Saat siswa laki-laki itu tertawa bercampur candaan,

"Karena ini bukan hal yang perlu disembunyikan, aku akan mengatakannya."

Ucap Chrono.

"Eh...?"

"Wajahku ini memang kelihatan menyeramkan kalau sedang diam."

"Itu beneran bukan hal yang perlu disembunyikan, sih."

Saat siswa laki-laki itu mengatakan hal itu, Chrono sedikit menyunggingkan senyum.

"Aku Carlo. Carlo Ryan. Salam kenal."


Carlo duduk di kursi depan Chrono dengan santai.

"Ngomong-ngomong, kenapa Chrono pindah ke Akademi Noir?"

"Untuk mencari teman."

"Teman?"

Entah karena jawabannya tidak terduga, Carlo membulatkan matanya dengan penuh ketertarikan.

"Kalau cuma untuk mencari teman, di akademi mana pun nggak masalah, kan?"

"Sama seperti melempar dadu, dan mengikuti angka yang keluar."

"Hah? Kamu ini aneh, ya."

Mendengar cara bicara Chrono, tanpa sadar Carlo tertawa.

"Teman yang seperti apa yang kamu inginkan?"

Tanya Carlo dengan nada ringan.

"Tentu saja, akan lebih bagus kalau pandangannya sejalan."

"Selain pandangan hidup?"

"Hmm, ya."

Setelah menunjukkan gelagat berpikir sejenak, Chrono menjawab.

"Kalau bisa, lebih baik yang kuat."

"Itu omongan yang berbahaya lagi, ya."

"Teman yang lemah akan cepat mati. Aku ingin temanku berumur panjang."

"Nggak nggak, nggak bakal cepat mati juga, kali. Ya, kalau pergi ke medan perang tempat pasukan Kaisar Singa dan Raja Iblis saling bertarung sih mungkin bakal begitu."

"Kalau bisa, maksudku."

"Hmm. Memangnya kamu mau teman berapa banyak?"

Saat Carlo bertanya demikian, Chrono menjawab dengan wajah yang sangat serius.

"Aku berpikir, mungkin aku bisa dapat 100 orang."

"100 orang!? Buat apa kamu punya teman sebanyak itu!?"

Karena terlalu terkejut, suara Carlo menjadi membesar.

Chrono dengan wajah bingungnya,

"Kalau kita semua bermain bersama, pasti menyenangkan."

Dia mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sangat wajar.

"Yah, memang sih."

"Tuh, kan."

"Jangan pasang wajah sombong begitu."

Carlo memegang kepala Chrono yang terlihat bangga, dan mengacak-acak rambutnya.

Saat itu, terdengar suara dentang lonceng. Itu adalah bel persiapan.

"Ups. Selanjutnya latihan sihir, ya. Kalau begitu, sampai nanti."

"Ya."

Di tengah jalan menuju kursinya, Carlo menggumamkan sesuatu dengan ekspresi serius.

"100 orang ..."


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close