Epilog: Aku Ingin Membuat Para Heroin Bahagia
Aku memutuskan untuk tinggal di dunia
game ini untuk beberapa saat.
Alasannya karena aku ingin meningkatkan tingkat kebahagiaan milik Lena dan Haruru menjadi lebih tinggi lagi.
"Pagi, Haruto-kun!"
Di jalan menuju sekolah saat berangkat,
aku kebetulan berpapasan dengan Haruru yang sedang tersenyum ceria.
Ekspresi negatif yang diperlihatkannya
kemarin sore sudah sirna sepenuhnya. Apakah suasana hatinya sudah menjadi
plong, ataukah dia murni hanya sedang menyembunyikannya saja.
"Ah, iya, selamat pagi."
"Haruto-kun belakangan ini hebat,
ya."
"Apanya?"
"Soal belajar. Dulu kamu secara
mutlak tidak pernah mengerjakan PR, tetapi belakangan ini kamu mengerjakannya
dengan benar, kan."
"Ah, ya, begitulah."
"Apakah PR Teori Sihir Terapan untuk
hari ini juga sudah kamu kerjakan?"
Saat pertama kali terlempar ke dunia ini
dulu, aku memang tidak mengerjakan tugas, tetapi semenjak itu aku selalu
mengerjakannya dengan benar. Tentu saja bagian untuk pelajaran hari ini pun
sudah selesai dengan sempurna.
"Sudah kok."
"Begitu, ya. Seperti dugaan……"
Haruru entah mengapa tampak tersenyum
kecut.
"Apakah terjadi sesuatu?"
"Hmm…… Bagiku itu terlampau sulit,
jadinya aku tidak mengerjakan PR-nya, sih. Ditambah lagi, karena adanya urusan
keluarga, aku tidak kunjung bisa meluangkan waktu untuk belajar…… Ah, rasanya
suram sekali karena pasti akan dimarahi saat pelajaran nanti."
Haruru memegangi kepalanya sendiri.
"Ah, lagipula orang sepertiku ini
memang payah, ya. Mau bagaimana pun tidak akan ada satu orang pun yang bersedia
menolongku."
Gawat.
Bagian dari sesosok 【Malaikat Kegelapan】
miliknya sudah mulai keluar ke permukaan. Sebuah rasa rendah diri terhadap diri
sendiri, dipadukan dengan adanya asumsi bahwa tidak ada satu orang pun yang
bersedia menganggap dirinya berharga. Ini adalah pola tipikal yang biasa
dialami oleh heroin dengan tipe malaikat kegelapan.
"Hei, Haruto-kun. Aku memelihara
sebuah permintaan, nih."
Haruru yang tadinya memegangi kepala
mendadak menaikkan wajahnya lalu menatap lekat ke arahku.
"Maukah kamu mengerjakan tugasnya demi
menggantikan diriku? Tolong, bantulah aku♡"
Imut sekali. Seperti dugaan dari seorang
gadis paling cantik nomor satu di akademi. Tanpa sengaja hal itu membuatku
menjadi ingin memberikan pertolongan.
Terutama
untuk tipe 【Malaikat Kegelapan】,
keinginan di dalam dirinya untuk diperlakukan secara berharga terhitung sangat
kuat.
Singkatnya, tindakan yang seharusnya
kuambil adalah mengerjakan tugas demi menggantikan posisi Haruru…… tentu saja
bukan hal yang seperti itu. Karena aku sudah melewati serangkaian kegagalan
berulang kali di dalam game, jadi aku memahaminya.
"Tidak boleh. Aku tidak bisa
mengerjakan tugas demi menggantikanmu."
"Ufufu, terima kasih…… eh,
bertaaaaahn!? Aku ditolak!? Ataukah pendengaranku yang salah, nih?"
"Mohon maaf. Pendengaranmu tidak
salah, aku memang nyata mengatakan hal yang demikian."
Haruru mengatupkan bibirnya secara rapat,
lalu dalam sekejap mata ekspresi wajahnya berubah menjadi teramat sedih.
"Tolong jangan memasang raut wajah
yang tampak sedih seperti itu, dong. Meskipun aku tidak bisa mengerjakannya
demi menggantikanmu…… karena aku akan mengajarimu saat jam istirahat makan
siang nanti, mari kita kerjakan bersama-sama. Pelajaran Teori Sihir Terapan
baru akan dimulai pada waktu siang hari, jadi jika kita mengerjakannya saat jam
istahat makan siang, hal itu pasti akan keburu."
"Eh? Bersama? Murni hanya berduaan
saja bersama Haruto-kun?"
"Ah, nggak……"
Gawat. Lawan bicaraku adalah gadis paling
cantik nomor satu di akademi. Dia mungkin berpikir kalau aku mengajaknya karena
memelihara landasan pikiran yang mesum.
"Jika memang tidak menyukai kondisi
yang hanya berduaan saja, kita tinggal mengajak orang lain juga……"
"Nggak, murni hanya berdua saja
sudah beneran cukup, kok!"
"……Eh?"
"Ah, habisnya, jika ada orang lain,
konsentrasiku pasti akan menjadi buyar nanti."
"Ah, memang nyata benar apa yang
kamu katakan, ya."
Baguslah jika Haruru sudah berhasil
memelihara gairah untuk mengerjakannya.
Kami membuat janji untuk segera
menyelesaikan makan siang dengan cepat, lalu saling menunggu di ruang belajar
mandiri yang ada di perpustakaan.
Fakta bahwa aku memilih untuk tidak
mengerjakan tugas demi menggantikan posisinya, melainkan meluncurkan usulan
untuk belajar bersama sebenarnya memelihara sebuah alasan. Hal itu adalah demi
menciptakan waktu untuk dihabiskan berduaan bersama gadis paling cantik nomor
satu di akademi…… tentu saja murni bukan hal yang seperti itu.
Seseorang
dengan tipe 【Malaikat Kegelapan】
memelihara sifat ketergantungan. Jika kamu melakukan segala hal secara
terlampau berlebihan demi dirinya, tingkat ketergantungan tersebut akan menjadi
semakin menguat. Jika kamu memilih untuk mengambil jarak setelah kondisi yang
seperti itu tercipta, dia kali ini akan berubah menjadi seorang yandere dan
menuntun rute menuju ke arah Bad End.
Karena
itulah, tanpa perlu mendepaknya, and tanpa perlu memanjakannya secara terlampau
berlebihan, memberikan dukungan demi memicu kemandirian dirinya sembari tetap
memperlakukannya secara berharga adalah hal yang semestinya dilakukan. Itulah
kunci utama untuk menuntun heroin tipe 【Malaikat
Kegelapan】 menuju ke arah Happy End.
***
"Aaahn, bagian yang sebelah sini aku
beneran tidak paham, nih…… bagi diriku hal ini terlampau mustahil."
Jam istirahat makan siang. Setelah kami
berdua menyelesaikan sesi makan siang masing-masing, persis seperti yang
dijanjikan, aku mendampingi Haruru mengerjakan tugasnya di dalam ruang belajar
mandiri perpustakaan.
Haruru dengan gampang langsung
melontarkan keluhan pendek, lalu menaikkan wajah untuk menatapku yang sedang
duduk di sampingnya.
Dihadapi dengan pandangan mata yang
seolah memohon pertolongan bagai seekor anak anjing seperti itu, tanpa sengaja
aku menjadi ingin mengerjakannya demi menggantikan posisinya. Namun aku menahan
gairah tersebut kuat-kuat, and memfokuskan diri murni hanya untuk memberikan
arahan petunjuk saja.
"Teori Sihir Terapan untuk bagian
yang satu ini landasan logikanya memang rumit, sehingga siapa pun pasti akan
merasa kesulitan untuk memahaminya, kok. Namun jangan cemas. Coba lihat, arti
untuk bagian yang sebelah sini adalah……"
Aku memberikan penjelasan mengenai
landasan logikanya menggunakan cara yang sebisa mungkin paling mudah dipahami.
"Karena itulah jika mengacu pada
landasan logika yang tadi, jawaban untuk yang satu ini akan menjadi terlihat,
kan."
"Ah, begitu, ya!"
Raut wajah miliknya yang tadinya tampak
mendung, dalam sekejap mata langsung berubah menjadi cerah seolah sedang
dihujani oleh pancaran sinar mentari. Dan kemudian, dia menggerakkan penanya
secara fokus tanpa memikirkan hal lain demi menuliskan jawaban sampai selesai.
Setelah melewati serangkaian pengulangan
hal yang serupa selama beberapa kali, tidak lama kemudian Haruru akhirnya
berhasil menyelesaikan seluruh soal pertanyaan yang ada.
Gadis yang satu ini aslinya tidak
memelihara otak yang bodoh, sih, ya. Karena dia sempat bilang kalau tidak
kunjung bisa meluangkan waktu untuk belajar akibat adanya urusan keluarga, dia
pasti sedang dilanda oleh beraneka ragam hal yang berat.
"Horeee! Semuanya beneran sudah
selesai!!"
"Oh, benar juga. Baguslah kalau
begitu, ya."
"Ini semua adalah berkat Haruto-kun!
Terima kasih, ya!"
"Uwoh……!"
Tolong hentikan tindakan mendadak
memelukku seperti ini secara tiba-tiba, dong. Aroma yang wangi dipadukan dengan
adanya sensasi kelembutan daging yang terasa nyata.
Jantungku rasanya mau meledak karena
tidak sanggup menahannya.
……Terlebih lagi, tempat ini adalah
perpustakaan, lho.
"A-Anu, soal itu…… area sekeliling
sedang menatap kita menggunakan pandangan mata yang aneh, lho."
"Ah, beneran, toh. Mohon maaf~"
Sembari menjulurkan lidahnya sedikit, dia
tersenyum manis. Jika sedang berada dalam kondisi yang seperti ini, dia memang
nyata memancarkan pesona bagai seorang gadis malaikat, ya.
Sebuah pembawaan sikap yang bisa memicu
lahirnya salah paham bahwa kami memelihara hubungan yang teramat akrab. Dia
sepertinya juga merupakan seorang genius yang bisa memangkas jarak bersama area
sekeliling secara tidak sadar, sih, ya.
***
Haruru berhasil mengamankan kondisinya
setelah mengumpulkan tugas
Teori Sihir Terapan secara aman pada saat
pelajaran siang hari tadi.
Saat jam pulang sekolah tiba, ketika aku
sedang melangkah turun melewati anak tangga dengan niat untuk pulang ke rumah,
suara Haruru terdengar memanggilku dari arah belakang.
"Untuk hari ini beneran terima kasih
banyak, ya."
"Sama-sama."
Haruru memamerkan ekspresi senyuman yang
teramat lebar. Bisa melihat senyuman yang seperti itu membuatku sedikit merasa
gembira.
"Omong-omong mengenai dirimu yang
kemarin sempat bilang sedang menantang suatu hal, apakah hal itu berjalan
dengan lancar?"
"Iya, sekarang pun aku beneran
sedang berada di tengah-tengah sesi menantangnya, lho."
"Begitu, ya. Berjuanglah dengan
keras, ya."
"Ah…… iya."
Entah kenapa warna kulit wajahnya berubah
menjadi merah pekat.
Terlebih lagi, dia mendadak memalingkan
pandangan matanya dariku secara terburu-buru.
"Kalau begitu, aku melangkah duluan,
ya."
Apakah baru saja terjadi suatu hal yang
memalukan baginya?
──Sembari
sosok punggung dari gadis cantik bertubuh kecil itu melangkah pergi menjauh,
aku murni hanya memandangnya dengan memelihara rasa heran di dalam hati.
"Kalian tampaknya sudah menjadi
semakin akrab saja, ya."
"Fuakh……"
Mendadak diajak berbicara oleh Lena dari
arah belakang membuat tubuhku hampir saja meloncat ke atas karena terkejut.
Nggak, mungkin tubuhku aslinya memang nyata sudah sempat meloncat ke atas
sejauh beberapa sentimeter, sih.
"Ah, ternyata Lena, toh. Hubungan
kami bukan yang seperti itu, kok. Karena Haruru sepertinya sedang menantang
suatu hal, jadi aku berpikir untuk memberikan dukungan saja, lho."
"Menantang terhadap hal apa?"
"Entahlah…… mengenai hal itu dia
memang nyata tidak bersedia mengatakannya secara jelas kepadaku, sih."
"Huuumn…… ya sudahlah, pokoknya
tolong berhati-hatilah, ya."
"Berhati-hati terhadap hal apa yang
dimaksud?"
"Jika kamu terus-menerus terpikat
oleh gadis-gadis yang imut, kamu kelak akan dianggap sebagai seorang pria yang
mesum oleh orang lain, lho."
"Aku tidak sedang terpikat oleh
mereka, kok."
"Apakah…… memangnya benar
begitu?"
Lena menatapku menggunakan pandangan mata
yang memicing tajam
(Jito-me). Apakah tanpa adanya kesadaran
mandiri, diriku selama ini memang nyata sudah terlanjur terpikat oleh mereka?
Aku harus berhati-hati, nih.
"Karena aku harus pergi ke bak bunga
belakang gedung sekolah seperti biasanya untuk menyiram tanaman, aku izin pamit
undur diri di tempat ini, ya."
"Ah, iya. Sampai jumpa besok,
ya."
"Baik, selamat tinggal."
Setelah keluar dari gedung sekolah, Lena
melangkah untuk berjalan menuju ke arah bak bunga belakang gedung sekolah.
Sembari memandangi sosok punggung
miliknya yang melangkah dengan gestur tubuh yang anggun, aku memikirkannya di
dalam hati.
Baik Lena maupun Haruru, aku ingin
membuat mereka merasakan tingkat kebahagiaan yang jauh lebih tinggi lagi.
Diriku murni hanya sebatas karakter
figuran belaka. Karena itulah, memelihara pemikiran untuk membuat banyak heroin
menjadi bahagia alih-alih murni hanya sebatas satu orang saja, hal itu mungkin
merupakan sebuah pola pikir yang teramat sombong bagiku.
Namun, sebagai seorang penggemar berat
“Magi-Ama”, aku tetap ingin membuat para heroin menjadi bahagia.
──Sekali
lagi, aku memantapkan pemikiran itu di dalam lubuk hatiku.
"Salam kenal!" atau "Lama
tidak berjumpa!"
Kepada para pembaca sekalian, terima
kasih banyak karena sudah bersedia membaca karya yang satu ini!
Karya ini berhasil mendapatkan
Penghargaan Spesial pada ajang Kontes
Kakuyomu ke-10. Dan setelah sekitar satu
tahun berlalu sejak penerimaan penghargaan tersebut, proses penerbitannya
akhirnya bisa terwujud secara nyata.
Rasanya panjang sekali……
Meskipun cerita komedi romantis (romcom)
yang membawa karakternya masuk ke dalam dunia game sudah ada sampai sekarang,
tetapi karya ini berhasil mendapatkan penghargaan karena dinilai segar berkat
adanya konsep komedi romantis yang bergerak bolak-balik antara dunia nyata dan
dunia game…… namun,
"Mari kita buat karya ini menjadi
jauh lebih menarik lagi!" Di bawah
cambukan semangat yang tegas dari pihak
editor penanggung jawab (Bohong, kok. Beliau memberikan banyak saran dengan
teramat lembut.
Aku murni hanya memelihara rasa terima
kasih saja), aku sudah berjuang keras untuk melakukan revisi, revisi, dan
revisi.
Berkat hal tersebut, aku merasa percaya
diri bahwa kisah ini sudah mengalami evolusi yang teramat pesat dibandingkan
dengan versi versi web (Web Novel). Jika Anda bisa menikmatinya, hal itu sudah
merupakan berkah yang paling terbaik bagi seorang penulis.
Dan jika Anda merasa cerita ini menarik,
aku akan melompat gembira jika Anda berkenan untuk mengekspresikan perasaan
tersebut melalui media sosial (SNS) dan sejenisnya. Aku pasti akan melakukan
pencarian mandiri (ego-search), kok. (Tertawa).
Mohon bantuannya, ya.
Selanjutnya adalah bagian ucapan terima
kasih.
Kepada Tomo-sensei yang sudah menggambar
beraneka ragam karakter secara telaten. Terima kasih banyak atas ilustrasinya
yang teramat menawan! Imut sekali! Para heroinnya benar-benar imut!! Semangatku
langsung dibuat membara! Aku murni hanya memelihara rasa terima kasih yang
teramat sangat besar!!
Dan seperti yang sudah kutuliskan tadi,
kepada pihak editor penanggung jawab yang sudah memberikan beraneka ragam
saran. Terima kasih banyak!
Terakhir, kepada para pembaca sekalian
yang teramat sangat kuanggap berharga. Benar-benar terima kasih banyak!! Aku
mencintai kalian semua~!
Kalau begitu, mari kita berjumpa lagi
nanti, ya.
Juni 2026, Haran Tsumugu



Post a Comment