〈2〉
★★★
Keesokan harinya. Dua orang gadis datang ke kamarku.
Omong-omong, Shigei-san tidak datang. Saat aku hampir merasa sedih karena
mengira dia tidak tertarik dengan kegiatan seperti ini, Seika-san memberitahuku
kebenaran yang sangat lugas.
"Dia tidak akan datang kalau tidak ada
camilan."
Yah, aku rasa ada benarnya juga.
Di atas meja, perlengkapan untuk membuat chigiri-e
sudah siap lengkap, dan saat melihatnya, Doguchi-san langsung berbinar-binar.
Meskipun set itu cukup sederhana, hanya terdiri dari kertas alas, kertas washi
berwarna, kertas origami, dan lem pati.
"Ini, kamu yang menyiapkan semuanya?"
"Iya. Tapi kertas origami, kertas washi, dan lem
sudah ada di rumah. Kertas alasnya saja yang kubeli di toko serba ada."
Kemarin, sambil mengantar Shigei-san, aku mampir ke mal
untuk membelinya. Kertas washi dan lem memang sudah tersedia di rumah, dan
untuk kertas origaminya, aku bisa mendaur ulang sisa saat membuat jamur Nobuel
waktu itu.
"Oh! Sudah mulai buat, ya!"
Seika-san dengan cepat menemukan kertas alasnya. Aku sudah menempel sedikit
sebagai contoh.
Aku
menyobek kertas origami cokelat dan menatanya membentuk gulungan. Mereka berdua
menunjukkan wajah seperti orang yang sedang jijik.
"Ini……
kau, ya."
"Padahal di sebelahnya ada gambar sketsa beruang
yang lucu, kan?"
Gulungan cokelat di tengah. Gambar beruang yang
disederhanakan di pinggir.
"Beruangnya
kugambar agar Doguchi-san yang menempelnya. Anggap saja
ini sebagai kolaborasi."
"Bagiku ini bukan kolaborasi, tapi...
'kol-bodoh'!"
"Ahaha."
Aku tidak memedulikannya, aku menyobek kertas origami
berwarna gandum dan menaruhnya sedikit demi sedikit di bawah gulungan itu.
"Hm? Loh?"
Selanjutnya, aku menggunting kertas berwarna sedikit
lebih gelap menjadi bentuk garis. Aku menaruhnya melintang di antara
potongan-potongan warna gandum tadi. Itu untuk menunjukkan bayangan pada
jagung. Begitu tersambung, akhirnya mereka berdua paham gambaran
keseluruhannya.
"So-soft
ice cream, ya."
"Jangan
bikin kaget dong~"
Keduanya
benar-benar terjebak.
"Mana
mungkin di acara seru-seruan bareng begini aku membuat sesuatu yang aneh
seperti itu."
"……"
"……"
Loh? Bukannya harusnya mereka setuju? Yah, lupakan saja.
"Ini soft ice cream rasa cokelat yang dimakan
Seika-san saat kencan di mal kemarin. Di sampingnya, aku akan membuat sosok
Seika-san sendiri."
Oh, kata Doguchi-san.
"Lalu satu lagi, Shigei-san di belakang
Seika-san."
"Itu jarak yang pas buat dia langsung mengincar soft
ice cream-ku, kan?"
Kurasa jika dia sendiri yang ada di sana, dia pasti akan
langsung mengincarnya.
"Dengan ada beruang di depan dan Hinano yang
mengincar dari belakang…… aku cuma bisa membayangkan masa depan di mana
semuanya dimakan habis, lho?"
"Lagian, Koutsu ke mana? Kok nggak ada?"
"Aku di sekitar sini, di langit, semacam foto bust-up
hitam putih."
"Itu mah artinya kamu sudah dimakan duluan dan
mati!? Itu mah foto untuk upacara kematian, tahu!"
"Yah, aku tidak bisa membiarkan Seika-san pergi
sendirian."
"Kousei……!"
"Jangan senang dulu, Seika!"
"Ahaha. Doguchi-san, semangat sekali ya."
"Ini salah siapa!"
Setelah selesai memarahi, Doguchi-san terengah-engah
sambil memegang bahunya. Sepertinya dia kelelahan.
"Tapi, serius mau buat itu?"
Seika-san bertanya dengan nada serius. Aku tersenyum kecut dan menggelengkan kepala.
"Tentu saja untuk pemula, menggambar orang itu
agak berat. Ini hanya sampel supaya kalian tahu cara membuatnya. Lagipula, ini
sekadar iseng buat kejutan saja."
Tapi ternyata leluconku garing. Ternyata hal-hal yang
agak "jorok" itu memang tidak cocok untuk gadis-gadis. Ke depannya,
aku akan menahan diri.
Untuk saat ini, aku mencoba mengoperasikan smartphone-ku
untuk memperbesar gambar yang sudah kudapatkan dari internet, tapi...
"Tetap saja, beruang ya."
Doguchi-san tampak keberatan.
"Memangnya tidak suka?"
"Bukan tidak suka sih…… tapi rasanya kalau aku =
beruang, itu bakal jadi imej yang melekat, dan itu rasanya kurang sreg."
"Hmm."
Entah mengerti atau tidak.
"Tapi untuk awal-awal, sebaiknya mulai dari
hewan yang disederhanakan, bunga, atau yang semacam itu saja, bukan?"
"Ya, itu sih mungkin benar, tapi…… misalnya
pemandangan, apa tidak bisa?"
Ah, begitu ya. Bukankah dia memang suka dengan alam. Tapi
kalau pemandangan...
"Warna-warnanya bakal jadi rumit, lho…… Apa ada
jenis pemandangan tertentu yang kamu suka?"
"Nenekku dari pihak ibu itu petani, dan kalau sore
hari, matahari yang merah merona menyinari sawah dengan indah."
"Wah, kedengarannya bagus! Pemandangan khas Jepang
sekali!"
"Kamu mengerti, ya! Rasanya emosional sekali, ya,
sawah dan matahari terbenam itu!"
"Aku juga pernah membuat sesuatu yang bertema
seperti itu, semacam taman kecil atau diorama, waktu itu."
"Wah, taman kecil! Padahal aku sendiri orangnya
kikuk sampai model kit-ku saja berdebu dan membusuk!"
"Eh, sayang sekali. Bawa saja ke sini lain kali. Aku
akan mengajarimu dengan teliti sampai kamu bisa, mari kita kerjakan
bersama."
"……! I-iya."
Doguchi-san menunduk dengan malu-malu karena suatu
alasan, lalu menjawab dengan suara pelan.
Hm? Ada apa? Saat aku baru bertanya-tanya, kali ini
Seika-san menyusup di antara aku dan Doguchi-san, lalu mendorong bahu kami
dengan kuat hingga jarak kami menjauh.
"Ke-kenapa, Seika-san?"
"……Terlalu dekat."
Dia mengatakannya dengan nada masam, lalu tanpa jeda, dia
menanduk tulang selangkaku. Gots-gots. Cukup gigih, dan lumayan sakit
juga.
Aku tidak tahan lagi dan mencari alasan, "Aku akan
membuatkan teh tambahan," lalu terpaksa mengungsi sementara ke lantai
bawah.
"Jangan
macam-macam, ya?"
"Aku
tahu. Aku tidak akan sampai berbuat sejauh itu, mencuri pacar sahabat
sendiri."
Aku
mengatakannya, tapi di dalam hati aku percaya Chika tidak akan melakukan hal
seperti itu.
Namun, senyum Kousei tadi memang curang. Saat aku merasa tersentuh melihatnya begitu antusias seperti anak kecil, tiba-tiba dia memberikan senyum lembut itu ke arahku. Kekuatan penghancur yang dimiliki oleh senyuman yang tidak punya niat apa pun selain ingin membuat orang lain senang dengan hasil karyanya.
Kalau menerima
serangan itu mentah-mentah, wajar saja kalau ia sampai terhuyung-huyung.
Bagi tipe seperti
aku atau Chika, karena sudah muak dengan niat terselubung para lelaki, sosok
yang tulus tanpa motif tersembunyi seperti dia menjadi titik kelemahan kami.
Sebaliknya,
Hinano mungkin tipe yang akan baik-baik saja menghadapi hal itu.
"Yah, aku paham kenapa kamu sampai menyayanginya
seolah dia adalah permata."
"Gerrr..."
"Tenang, tenang."
Setelah pundaknya diusap oleh Chika, dia dengan enggan
menarik kembali gigi taringnya.
"Tapi... melihat orang yang begitu tulus
dimanfaatkan dan disakiti, rasanya benar-benar muak."
"Eh?"
"Hei, bukannya tadi kamu bilang ingin membalaskan
dendamnya meski hanya sedikit?"
"Ah, iya... soal itu aku masih berpikiran sama,
tentu saja."
Mungkin karena aku terlalu larut dalam kebahagiaan,
pembicaraan ini terasa melompat-lompat.
Namun, di tengah kebahagiaan kami yang sudah saling
mencintai ini, aku tidak boleh lupa. Kousei masih memiliki luka di hatinya.
"Karena dia orang yang begitu baik padaku juga, aku
tidak akan membantu hanya karena dia pacarmu atau demi keadilan semata. Aku
ingin membantunya sebagai sesama teman."
"Terima kasih. Kamu bisa diandalkan."
"Meski begitu, aku masih belum melihat cara yang
tepat... mungkin ada baiknya berkonsultasi dengan Ria."
"Ah, masuk akal juga."
"Dia itu paham sekali soal hal-hal apa saja yang
bisa melukai hati laki-laki, kan?"
Aku tidak yakin dengan penilaian itu. Tapi, memang benar
dia lebih mungkin memberikan ide cemerlang dibandingkan anggota grup kami yang
bahkan tidak punya banyak teman laki-laki.
"Mungkin sebaiknya kita bayar dia dengan menyertakan
kewajiban menjaga kerahasiaan."
"Ah, itu mungkin benar."
Ria, terlepas dari kami, tidak terlalu dekat dengan
Kousei, jadi sulit untuk memohon atas dasar perasaan saja. Dia cukup realistis,
tapi di sisi lain, keuntungan jika menggunakan uang dan kontrak adalah dia
tidak mungkin berkhianat.
"Apa kita akan melangkah hanya berdua saja?"
"Hmm, tidak, jangan. Aku sudah berjanji dengan
Kousei untuk mendiskusikan apa pun sebelum bertindak. Membuatnya cemas dengan
bergerak diam-diam tidak akan baik untuk anak itu."
"..."
"Kenapa?"
"Tidak, cuma... kamu benar-benar suka banget ya sama
dia."
"Berisik. Dia segalanya buatku."
Akhirnya, kami memutuskan untuk menikmati waktu
menyenangkan sejenak, dan setelah perasaan Kousei tenang, kami baru akan
mengajaknya berdiskusi soal "ayolah, mari kita balas dendam".
Setelah Kousei kembali, kelas chigiri-e dimulai
dengan sungguh-sungguh.
Chika membuat pemandangan sawah sebisa mungkin, dan aku
membuat bentuk disederhanakan dari foto corgi lucu yang sudah kusematkan di bookmark.
Kousei menggerakkan pensil hitamnya dengan gesit, membentuk sketsa untuk kami
berdua.
"Wah, sudah kuduga, gambarmu memang bagus ya."
Chika tampak kagum. Aku sendiri sudah tahu karena pernah
melihatnya menggambar beberapa kali sebelum kami berpacaran.
Mungkin kemampuannya dalam memahami ruang, atau mungkin
otaknya memang bekerja dengan cara yang berbeda dariku. Tentu saja, usaha
kerasnya sendiri juga tidak sedikit.
"Gambar yang realistis bisa digambar kalau berlatih.
Tapi kalau artistik, sepertinya butuh bakat."
"Kousei punya bakat yang unik, kok. Terlalu unik,
malah. Siapa tahu suatu saat nanti karyanya bakal dihargai?"
"Mungkin seperti dua ribu tahun lagi saat 'Pabrik
Kutsuzawa' digali dari lapisan tanah, lalu ditemukan Nobuel... dan para ahli
beranggapan ini adalah patung dewa di zaman tersebut?"
Aku dan Chika tertawa. Aku membayangkan para profesor
hebat dua ribu tahun lagi mengerutkan kening sambil menggerakkan sepeda
miniatur dan menggilas jamur.
Kousei yang tetap bekerja sambil mengobrol akhirnya
menyelesaikan sketsanya. Dia mengangkat wajahnya, merasa sudah cukup, lalu
memberikan kertas alas kepada kami masing-masing.
"Silakan tempelkan kertas yang sudah disobek di atas
gambar itu, sesuaikan juga warnanya."
Aku hendak mengambil kertas origami berwarna gandum untuk
bulu corgi, tapi tanganku dicegat oleh Kousei.
"Untuk bagian Seika-san, lebih baik gunakan kertas
washi."
Saat aku menatapnya untuk bertanya kenapa, Kousei sedikit
menyobek kertas washi itu untuk memperagakannya.
"Oh? Wah. Terasa lebih lembut ya."
"Ya. Karena seratnya lebih halus, ini akan lebih
bisa mengekspresikan tekstur bulu yang asli."
Setelah berkata begitu, Kousei menoleh ke arah Chika.
"Untuk bagian awan milik Doguchi-san, mungkin kertas
washi lebih baik. Tapi untuk sawah yang garisnya tegas, kurasa lebih baik
memotong kertas origami dengan gunting."
"Ternyata dalam juga ya dunia ini."
Kata Chika dengan nada kagum.
"Tentu saja tidak ada jawaban yang pasti, jadi cara
terbaik adalah menikmatinya sesuka hati."
Begitulah Kousei menutup penjelasannya sambil tersenyum
lebar. Saat melihat tangannya, dia menggambar sketsa Sanada Yukimura yang
terlihat sangat keren. Dia pasti berniat menjualnya. Dia ternyata cukup
perhitungan, ya. Bagian itu juga terasa manis di mataku.
Sebelum mulai bekerja dengan serius, aku merogoh tas
dan mengeluarkan tripod fleksibel. Itu benda kecil untuk menaruh ponsel atau
kamera digital. Karena Kousei menatapku dengan heran, aku menjelaskan
tujuannya.
"Mumpung sedang ada kesempatan, aku ingin
merekam proses pembuatan ini dan mengunggahnya sebagai video."
"Ah, begitu ya."
"Bisa dibilang ini sebagai 'pancingan', atau
langkah awal untuk mendukung kanalmu nanti."
Meski kanalnya sendiri belum dibuka, aku ingin bisa
mempromosikannya tepat saat kanal itu jadi.
Setelah terkejut sejenak, Kousei tersenyum manis padaku.
"Aku akan bilang kalau sketsanya dibuat oleh seorang
guru, dan dengan samar aku akan mengisyaratkan keberadaanmu."
"O-oh,
jadi semacam teasing ya?"
Kousei
tampak agak cemas. Dia terlihat imut, jadi aku mengusap pipinya.
"Sudah kubilang kan, penonton kanalku kebanyakan
perempuan."
Kurasa, bahkan jika mereka tahu dia pacarku, kebanyakan
akan memberikan ucapan selamat.
"Mungkin ada penonton laki-laki, tapi karena aku
tidak menjual imej idol, kurasa tidak masalah."
Chika juga ikut mendukung dari samping. Kousei menatap
kami dengan wajah bertanya-tanya, dan aku mengangguk. Faktanya, hal yang paling
memicu amarah penonton itu adalah perasaan dikhianati. Dalam kasusku, aku tidak
pernah bersikap centil atau mengeluarkan kata-kata yang memikat laki-laki.
Bahkan, mungkin sudah terlihat jelas kalau aku justru merasa terganggu oleh
mereka.
"Bagaimana kalau kalian buat konferensi pers
pertunangan saja? Ceritakan semuanya dari awal bertemu sampai pernyataan cinta.
Pasti meledak penontonnya!"
"Eh!?"
Kousei mengeluarkan suara aneh. Niatnya membuat kanal
kerajinan, tapi kalau tiba-tiba harus membuka privasi layaknya artis, tentu
saja dia akan ketakutan. Aku sendiri juga merasa sedikit malu.
"Yah, mungkin aku hanya akan memberikan perkenalan
ringan seperti, 'Dia ini orang yang sudah berjanji untuk masa depanku~', tapi
tidak akan membongkar semuanya secara telanjang bulat. Tenang saja."
"Itu... tidak bisa dibilang ringan, tahu..."
Hm? Loh? Begitukah?
Aku memiringkan kepala melihat Kousei yang tampak
kebingungan.
Setelah mulai dikerjakan, chigiri-e ternyata
sangat menyenangkan. Kertas yang aku sobek sendiri menjadi bahan untuk
menyelesaikan sebuah gambar. Aku merasakan kepuasan tersendiri dari situ.
Meski ada sketsa pensil hitam, Kousei membuatnya sangat
minimalis, dan yang terpenting, penempatan warna yang detail harus kulakukan
sendiri, jadi ini sangat menantang. Kalau dipikir-pikir, ini bantuan yang
sangat pas. Memang pacarku yang terbaik.
"Rasanya sedikit berbeda dengan menyusun jigsaw
puzzle..."
Chika bergumam. Dengan ekspresi serius, dia membuat garis
pematang sawah tanpa mengangkat wajahnya.
"Rasanya seperti membuat kepingannya sendiri, ya.
Meski merasa salah, ternyata itu malah memberikan sentuhan yang tak
terduga."
Kousei menyambung. Dia pun tidak mengangkat wajahnya,
tangannya sedang memotong kertas origami emas yang tidak mengkilap. Dia pasti
sedang membuat koin Rokumonsen yang sangat kecil. Tingkat kesulitannya
jelas berbeda. Tapi... selain tingkat kesulitan, tidak ada bedanya. Kami
bertiga membuat apa yang kami suka secara terpisah. Namun, entah kenapa aku
merasa kami bertiga berbagi rasa kebersamaan yang tak terlukiskan.
Mungkin lain kali, kami berempat—termasuk Hinano—bisa
mencoba membuat satu gambar besar bersama.
Aku sempat berpikiran begitu, tapi seiring aku larut
dalam pekerjaan, aku melupakannya.
Tak ada yang bicara, bahkan kami tidak menyadari
keheningan itu sendiri. Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Akhirnya,
kesadaranku terganggu oleh suara beep elektronik.
"...Oh,
oh. Sudah waktunya ya?"
Chika bereaksi seperti orang baru bangun tidur.
Sepertinya dia tidak langsung paham kenapa pengatur waktu itu berbunyi. Aku pun
mungkin berada dalam kondisi yang sama. Buktinya, Kousei menatap kami berdua
sambil tersenyum tipis.
"Mari kita makan siang."
Mendengar kata-kata Kousei, barulah aku menyadari rasa
lapar. Saat aku menghentikan perekaman ponsel dan melihat penunjuk waktu, jarum
jam tepat menunjukkan pukul dua belas siang.
Saat turun ke bawah, Haru-san yang masih tidur saat kami
datang ternyata sudah bangun dan sedang menonton televisi dengan santai.
Sepertinya sedang tayang prakiraan cuaca siang hari.
"Di berbagai wilayah terjadi suhu panas ekstrem.
Saat bepergian, jangan hanya minum air, tetapi siapkan juga tablet
garam..."
Ya. Aku sudah tahu, tapi di luar sana benar-benar bagai
neraka. Kalau bisa, yang paling aman adalah tetap berada di rumah keluarga
Kutsuzawa sampai sore hari.
"Ah, selamat pagi. Eh, sudah siang ya. Kepalaku
terasa berat karena terlalu banyak tidur."
Haru-san sepertinya menikmati libur musim panas dengan
sangat mewah.
Kami membalas sapaannya lalu duduk di meja. Hanya Kousei
yang pergi ke dapur. Ah, tidak, mungkin aku harus membantunya.
"Ada yang bisa kubantu?"
"Ah, iya. Tolong pecahkan telur dan kocok di
mangkuk."
Kousei akhir-akhir ini sesekali berbicara dengan bahasa
kasual padaku. Aku merasa senang.
Sambil tersenyum kecil, aku mulai membantunya memasak.
Saat Seika-san sedang mengocok telur, aku mengambil wadah
plastik berisi potongan bawang bombai dan chashu dari kulkas. Chashu
itu buatanku sendiri, direndam dalam saus yang sudah berkali-kali
kusempurnakan. Siang ini, aku berencana menggunakan semuanya untuk membuat nasi
goreng yang mewah.
"Wow!
Chashu spesial, nih. Ko-chan, minta satu gigitan dong~"
Seperti dugaanku dari Kakak. Matanya tajam sekali.
"Enak
ya?"
Doguchi-san
juga tampak tertarik.
"Sangat
enak. Sausnya punya rasa yang hanya bisa dibuat oleh Kousei."
"..."
"Kousei-kun, aku juga minta sedikit ya~"
Si rakus itu menambah pengikut. Saat itulah, aku
merasakan tatapan mata. Saat menoleh ke samping, Seika-san juga menatapku
dengan wajah penuh harap. Ah, infeksi itu menyebar dalam sekejap.
Aku menghela napas, membuka wadah plastik itu, melepaskan
ikatan benang, dan mengeluarkan blok daging babi ke atas talenan.
"Wah, wanginya enak sekali."
Para hantu kelaparan dari neraka telah berkumpul. Aku
memotongnya dua kali untuk mendapatkan dua irisan. Saat aku mengambil piring
kecil dari lemari dan memberikannya, para hantu itu kembali ke meja ruang tamu.
Saat aku memotongkan untuk Seika-san, dia membuka
mulutnya dan meminta sambil berkata, "Aa-n". Sambil tersenyum kecut,
aku menyuapinya dengan tangan. Dia menerimanya dengan lidah, menutup mulut, dan
terakhir dia mengisap jariku sedikit.
Sensasi yang belum pernah kurasakan itu membuat
punggungku merinding. Bahaya. Gawat sekali yang barusan.
"Kenapa?"
Dia ternyata tidak sadar. Sepertinya dia benar-benar
tidak punya maksud lebih selain menjilat saus yang menempel di jariku. Namun,
ciuman di jariku tadi menjadi pemicunya...
"Kousei?"
Dengan tangan satunya, aku menangkup wajah kecil
Seika-san. Ujung jariku menyentuh daun telinganya. Anting-anting
dengan nuansa tenang yang baru-baru ini dia pakai bergoyang pelan. Kelopak
matanya tertutup perlahan. Eyeliner-nya dirias dengan rapi. Saat
menurunkan pandangan, aku melihat bibir yang lembap dan kenyal. Hari ini dia
memakai lipstik berwarna merah muda yang cerah.
"..."
Aku memiringkan wajah perlahan... dan di balik wajah
Seika-san, aku menemukan empat pasang mata yang menatap dari kursi penonton
VIP.
"Ah."
Kepalaku mendingin seketika. Di mana aku berada, apa
yang sedang kulakukan, dan siapa lagi yang ada di sini—semuanya lenyap dari
pikiranku. Seika-san yang membuka mata dengan bertanya, "Hm?", juga
mengikuti arah pandanganku dan menemukan kedua hantu kelaparan itu. Seketika,
dia merasa malu dan menunduk.
"Ah, tidak, tidak. Jangan pedulikan kami."
Mana bisa begitu.
"Lagipula, mana chashu-nya?"
"Sudah tidak ada~ habis."
Doguchi-san dengan wajah yang tampak sangat senang
meniru gaya bicara Shigei-san untuk menggodaku.
"...Apa kalian mau aku tidak kasih makan
siang?"
"Ah, maaf, maaf. Aku tidak akan mengatakannya
lagi."
Kami pun mengakhiri makan siang yang penuh keributan.
Di sesi sore, chigiri-e milik Seika-san selesai. Untuk pemula, hasilnya cukup
bagus. Dia tampak sangat bangga, jadi saat aku mengusap kepalanya untuk memuji,
dia tersenyum semakin lebar dan terlihat sangat imut.
Karya milikku juga hampir selesai. Ada seorang pelanggan
tetap yang merupakan pecinta sejarah berusia 40-an tahun. Kalau dia tertarik,
aku berencana memberikannya dengan harga murah sebagai bentuk terima kasih atas
dukungannya selama ini. Tapi, karena terkadang dia berkata
"interpretasinya salah" lalu mengabaikannya, jika itu terjadi, aku
akan memajangnya di toko saja.
"Wah, cuma aku yang belum selesai. Menyesal
sekali."
"Dasar pemula yang serakah."
Mengesampingkan cara bicaranya, aku setuju dengan
Seika-san. Tapi, bagian yang sudah jadi sebenarnya sudah level penghargaan atas
perjuangan, dan seleranya tidak buruk sama sekali. Aku sudah mengatakannya
berulang kali untuk menyemangatinya, tapi dia tetap tidak bisa mengejar
kecepatan kerjanya. Memang sulit sekali, ya. Apalagi banyak warna yang
kompleks.
Meski begitu, membuat apa yang ingin kita buat adalah
yang terbaik, dan meluangkan banyak waktu untuk itu adalah kenikmatan
tersendiri. Sesuatu yang kita buat dengan menghabiskan banyak waktu akan terasa
sangat berharga.
"Kelanjutannya... mungkin pertengahan libur
Obon."
"Oh, kamu mau mudik?"
"Iya. Ke Ibaraki. Aku bisa melihat pemandangan
aslinya, jadi aku akan mencoba mengingatnya dengan jelas saat pulang
nanti."
Ah, itu hebat. Kamu bisa mengambil foto, dan yang
terpenting, itu akan memotivasimu.
"Koutsu, kamu pulang?"
"Hmm. Keluarga ayah ada di sini, dan keluarga
ibu ada di Kamakura, jadi kami cukup sering bertemu. Mereka juga bilang tidak
perlu memaksakan diri datang saat macet, jadi tahun ini aku mungkin tidak
pulang."
"..."
Doguchi-san tampak merasa lega. Dia juga tahu kalau
Seika-san tahun ini tidak bisa mudik ke mana pun. Dia mungkin merasa lega
setelah tahu aku akan bisa berada di sisinya sepanjang libur Obon.
"..."
Mataku bertemu dengan Seika-san. Melihat senyumnya yang
sedih, perhatianku pasti sudah ketahuan.
...Kalau terjadi perang dingin di rumah, tentu saja bagi
seorang anak, pulang ke rumah orang tua mana pun pasti akan menimbulkan
masalah, jadi lebih baik menahan diri.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di antara suami istri
itu, jadi mungkin aku salah paham... tapi aku merasa sedikit marah.
Senin keesokan harinya. Karena libur Obon akan dimulai
akhir pekan ini, langkah para karyawan yang berjalan di jalanan tampak ringan.
Meski begitu, ini adalah pembicaraan yang tidak terlalu relevan bagi kami yang
sudah menikmati liburan musim panas.
...Yah, mungkin alasan utamanya adalah karena keluarga
kami satu-satunya yang tidak bisa mudik tahun ini. Selain itu, Mama juga punya
jadwal kerja seperti biasa. Sepertinya dunia logistik tidak mengenal liburan
Obon atau tahun baru.
Tapi, ada hal baiknya juga. Akhirnya aku bisa berduaan
saja dengan Kousei yang baru saja menjadi pacarku.
Tentu saja, mengadakan acara laporan dan terima kasih
kepada Chika dan teman-teman yang membantu hingga kami berpacaran adalah sebuah
kewajiban. Karena aku ingin menjadi pasangan yang diberkati dan didukung oleh
orang-orang di sekitar kami. Aku tidak ingin langsung menutup diri di dunia
kami sendiri hanya karena sudah berpacaran.
Jadi, dua hari ini benar-benar waktu yang diperlukan...
tapi aku juga sudah merindukan waktu berdua saja. Meski terdengar serakah.
Dan karena akhirnya hal itu bisa terwujud di hari ketiga
ini, aku tidak bisa lagi menahan diri.
"Kousei~, n~"
Aku memeluk Kousei dari samping saat dia duduk di sofa,
lalu memajukan bibirku untuk meminta ciuman.
Aku sudah mengulangi hal yang sama berkali-kali sejak
tadi, tapi aku tidak pernah bosan.
Kami bertukar ciuman ringan hanya dengan sentuhan bibir,
lalu aku mengunyah pipi kenyalnya.
Kelembutannya benar-benar tidak tertahankan. Saat aku
mengunyahnya dengan hati-hati agar tidak digigit, pipinya sedikit mengeras. Itu
karena Kousei tersenyum dan sudut mulutnya terangkat.
"Geli."
Dia memiringkan wajah dan melarikan diri. Ah, padahal aku
ingin menikmatinya sedikit lagi.
"Kousei, ada saus pasta di pipimu?"
Pasta makan siang tadi, Kousei makan pasta krim bulu
babi, dan aku makan saus daging.
"Bohong. Kamu sudah menciumku berkali-kali, mana
mungkin masih ada."
Grrr. Dia sudah pintar, ya. Padahal saat makan soft
ice cream, dia tertipu mentah-mentah.
"Sudahlah, biarkan aku mengunyah pipimu."
"Wah!?"
Aku menyerangnya dan mendorong Kousei ke atas sofa. Lalu,
dengan cepat aku berpindah ke sisi lain dan meletakkan kepalanya di atas
pangkuanku. Pillow lap yang sangat agresif telah selesai.
Dulu aku berpikir ingin mencoba melakukan pillow lap
jika punya pacar, tapi aku tidak menyangka pillow lap pertamaku akan
se-paksaan ini.
Namun, setelah itu Kousei menjadi tenang dan membiarkanku
mengusap pipi dan rambutnya.
"...Rambutmu ternyata agak kasar ya."
"Begitu ya. Ayah dan Kakek juga punya rambut kaku. Mungkin aku tidak akan botak."
Aku pernah mendengar bahwa kakek dari pihak ayah itu
penting. Jadi dalam kasus ini, kemungkinan Kousei tidak akan botak cukup
tinggi.
"Tidak masalah, aku tidak akan meninggalkanmu
meskipun kamu botak."
"Fufu. Syukurlah."
Aku terus menyentuh pipinya yang tersenyum. Kousei
menyandarkan tubuhnya dengan lemas.
Dia seperti anjing Golden Retriever yang sudah tua
dan tenang.
Saat aku terus meremas-remasnya seperti menguleni adonan,
tiba-tiba.
"Ah."
Jari yang kucubit terlepas. Saat
kulihat, Kousei sedang menggembung seperti ikan buntal.
"Ka."
"Ka?"
"Imut sekali!! Kenapa kamu begitu imut!?"
Aku memiringkan kepala dan menghujani wajah Kousei dengan
ciuman.
Tiga kali berturut-turut di dahi seolah menempelkan
stempel.
Turun ke dekat kelopak mata. Sekali
di pangkal hidung dan dahi.
Lalu berkali-kali di kedua pipi.
Terakhir, aku menyedot bibirnya, mengunyah bibir atasnya,
lalu bibir bawahnya.
Kousei yang mengangkat kepala untuk menghindari sesak
napas, kini kupeluk erat di dadaku. Napasnya yang terengah-engah terasa
menggelitik.
Tak lama kemudian, Kousei tampaknya menemukan sudut yang
nyaman untuk bernapas dan berhenti bergerak.
Dia memelukku seolah menempelkan telinganya di dada
kiriku.
"..."
"..."
Jeda sejenak. Seranganku pun mereda.
"...Hangat."
"Ya."
Jantungku berdegup kencang, tapi entah kenapa hatiku
penuh dengan kebahagiaan, dan aku merasa tidak malu secara mengejutkan.
Mungkin karena konfigurasinya sama dengan hari itu
saat aku memeluknya untuk menyembuhkan lukanya. Rasa sayang itu mengalahkan
segalanya.
"Seika-san."
"Hm?"
"Aku sayang padamu."
Jantungku berdegup kencang. Curang sekali kalau
tiba-tiba begitu. Perasaan sayang yang lembut itu seketika berubah menjadi
cinta yang membara.
"Fufu, detak jantungmu cepat sekali."
"Ini! Jangan bermain dengan jantungku!"
Aku mencubit pipi kanannya dan menariknya.
"Sakit, sakit."
Yah, tapi.
"Aku juga sayang padamu, Kousei."
Sekali lagi, kami menempelkan bibir tanpa rasa bosan.
Setelah itu, sepertinya kami berdua tertidur di sofa
tanpa disadari.
Saat Mama pulang di sore hari, kami dibangunkan dengan
suara yang terdengar tak percaya.
"Jadi seharian ini kalian cuma bermesraan dan
bermalas-malasan?"
"Ya, kira-kira begitu."
Seharusnya kami menonton bisbol SMA di TV, tapi jangankan
jalannya pertandingan, sekolah mana yang menang pun aku tidak tahu. Sejujurnya,
aku tidak menontonnya.
Tapi secara pribadi, hari yang kuhabiskan dengan terus
bersentuhan dan merasakan kebahagiaan ini bisa dibilang sangat bermakna. Jadi,
aku sama sekali tidak menyesal...
"Pembukaan kanal Kousei dan penyuntingan
video-ku."
Aku lupa, ya. Padahal dia datang dengan alasan itu.
"Haa~. Masih ada waktu sampai makan malam,
selesaikan sekarang."
"Baik."
"Kousei-kun juga mau makan malam di sini, kan?"
"Eh? Tidak usah. Tidak enak kalau merepotkan."
Sebagai orang yang sudah diberi tempat untuk bermesraan
selama lebih dari setengah hari, mungkin Kousei merasa sungkan jika harus makan
malam juga. Tapi, Mama sangat memaksa.
"Jangan dipikirkan. Sebelumnya Seika juga pernah
disuguhi makanan di rumahmu, dan kita juga sudah banyak merepotkanmu. Ya kan?
Makanlah di sini."
Sepertinya Mama bicara soal kejadian delivery
sushi saat aku mencari Kousei waktu itu.
Tentu saja itu soal menjaga etika... tapi bagi Mama,
mungkin itu juga soal menjaga muka.
Pada akhirnya, Kousei tidak bisa menolak kekuatan Mama
dan menyetujuinya tanpa sadar.
Aku merasa kasihan, tapi memikirkan prospek bisa makan
malam bersama, aku tidak bisa menolak.
Maaf ya, Kousei. Aku pacar yang mementingkan keinginan
sendiri. Tapi aku sangat menyukaimu, sangat menyukaimu, sampai-sampai aku ingin
terus bersamamu sedetik lebih lama.
Kousei pergi ke koridor meninggalkan ruang tamu. Mungkin
untuk menelepon Akina-san dan memberitahunya kalau dia tidak makan malam di
rumah.
Saat kembali, wajahnya tampak sedikit lelah. Sepertinya
dia baru saja dimarahi. Saat melihat jam, waktu sudah melewati pukul lima.
Kalau Akina-san sudah mulai menyiapkan makan malam... aku
bisa mengerti perasaan ingin memarahi karena seharusnya memberi tahu lebih
awal.
"Ehm, ayo kita buka kanalnya dulu."
"Iya."
Setelah menenangkan diri, kami duduk berdampingan di
sofa. Aku meminjam ponsel Kousei dan mengoperasikannya sedikit.
Yah, dia tidak butuh bantuan teknis, atau mungkin
kalau diajari dia bisa melakukannya sendiri. Tapi karena
aku yang mengajak, aku merasa ingin melakukannya untuknya. Selain itu, aku
ingin membiasakan diri agar kami bisa menyentuh ponsel masing-masing secara
alami.
Apakah aku punya niat tersembunyi untuk mencari tahu
kesukaannya dari riwayat pencarian? ...Tidak bisa dibilang tidak ada. Hmm, aku
benar-benar berada di jalur pacar yang posesif, ya.
"Ternyata lumayan mudah ya."
"Yah, kalau sulit, budaya siaran tidak akan semaju
ini."
Meski begitu, karena YouTube adalah perusahaan
asing, ada bagian-bagian di mana antarmuka penggunanya terasa kurang ramah.
"Sampai sekarang aku memang belum pernah menyentuh
sisi ini. Terima kasih banyak untuk semuanya."
Yah, wajar saja kalau Kousei selama ini menghindari
tempat di mana dia bisa bersentuhan dengan komentar anonim.
Kalau dipikir-pikir, mungkin dia punya semacam alergi
terhadap Twista.
Waktu awal-awal dulu, dia bahkan tidak terlalu sering
mengecek akunku... eh, tunggu. Bahaya, sakelar yandere-ku hampir aktif
lagi.
Aku menenangkan diri lalu lanjut ke langkah berikutnya.
Aku mengatur pengaturan supaya lebih mudah digunakan.
Kousei memperhatikannya tepat di sampingku.
Pipi kenyalnya menyentuh pipiku, dan aku merasa tenang
lagi.
Aku membalas teknik tingkat tinggi darinya yang
bermanja-manja sambil mengintip itu dengan menggesekkan pipi. Hangat, lembut,
bahagia.
Saat itu, aku merasakan tatapan mata. Saat aku mendongak
dari ponsel, Mama sedang menatap kami dengan tatapan yang sangat gemas. Ah,
rasanya memalukan sekali dilihat orang tua saat bermesraan.
Aku berlagak melakukan peregangan untuk menyembunyikan
rasa malu, lalu menjauh sedikit dari Kousei.
"Kalau begitu, ayo coba unggah videonya."
"Eh? Akhirnya?"
Tidak bisa dibilang "akhirnya" juga sih. Tapi,
bagi Kousei, mungkin perasaannya seperti itu.
Aku menuju meja PC di sudut ruang tamu. Kousei juga ikut mengekor di belakang sambil memegang ponsel dengan
kedua tangannya.
Aku masuk ke akun Kousei dari PC lalu mengunggah
beberapa video pendek.
Itu adalah video yang dia ambil di rumah, isinya
barang dagangan atau karya hobinya selama dua puluh detik, diperlihatkan dari
depan, belakang, dan samping.
"Oh, oh. Di sini juga sudah muncul."
Kousei mengeceknya lewat ponsel.
Dia mengeluarkan suara yang terdengar seperti campuran
antara kekaguman dan tawa.
Senyumnya berkilau seperti balita yang baru diberi
mainan.
Sambil merasa tenang melihatnya, aku memberi tahu Chika
dan Hinano di grup bahwa kanal Kousei sudah dibuka.
"Ah!
Sudah ada dua tayangan! Hebat!"
"Maaf, kurasa itu Hinano dan Chika. Barusan mereka
langsung membacanya."
Mulut Kousei terkatup membentuk huruf "o".
Wajah konyolnya itu terlihat sangat menggemaskan, sampai-sampai aku melupakan
tatapan Mama dan menghujani dia dengan ciuman lagi.
Beberapa hari setelah berpacaran. Kami sedang berada di
masa jaya, tapi kalau harus mencari masalah, itu adalah...
...Tidak punya uang.
Siaran video kami, berkat pendekatan Seika-san kepada
para penggemarnya, sudah dimulai dengan lancar, tapi belum cukup untuk
mendapatkan keuntungan.
Gaji dari membantu pekerjaan di pabrik pun tidak akan
cair sampai akhir bulan.
Uang yang terlanjur kuhabiskan untuk festival dan biaya
produksi perayaan kesembuhan sangat terasa efeknya. Tabungan untuk berkemah
juga terasa berat.
Selain biaya partisipasi kami, biaya untuk Doguchi-san
kami tanggung berdua dengan Seika-san sebagai bentuk terima kasih.
Karena Shigei-san juga ikut, kami harus mengestimasi
biaya bahan barbeku dengan cukup tinggi.
Seika-san juga sedang kekurangan uang.
Dia sendiri menghabiskan banyak biaya untuk membeli yukata
dan hiasan rambut, ditambah lagi tabungan kemah yang sama sepertiku memberikan
pukulan telak.
Karena keadaan itulah, kami sedang meringkuk di rumah.
Yah, musim panas tahun ini panasnya luar biasa, jadi
mungkin justru lebih baik tetap di rumah.
"Kira-kira ada pekerjaan paruh waktu yang bagus
tidak ya?"
Kami duduk di sofa berdua sambil menatap layar PC.
"Pekerjaan untuk anak SMA benar-benar sedikit
ya."
Membagikan tisu, dapur dan pelayan restoran...
"Kalau sudah dapat uang dari streaming,
jadinya merasa sia-sia kalau harus bekerja kasar."
Kalau uang yang didapat dari melakukan apa yang kita suka
di video lebih besar daripada gaji pekerjaan yang melelahkan, tentu saja jadi
begitu.
Bagiku juga, kalau bisa hidup dari pekerjaan pabrik saja,
itu akan jadi yang terbaik.
Tiba-tiba, saat kami sedang mengeluh dan berusaha lari
dari kenyataan untuk bekerja.
"Kousei~"
Suara Ibu terdengar dari pintu depan. Eh? Bukannya jam
segini dia seharusnya jaga toko?
"Iya~"
Aku beranjak dari ruang tamu. Di sana, di samping Ibu,
ada wajah yang tak terduga.
"Yokokura-san
dan... Hamamura-san?"
Benar.
Mereka adalah duo klub manga yang itu.
Yokokura-san
dengan kacamata yang sudah familiar, dan Hamamura-san... sampai-sampai aku
tidak mengenalinya sejenak karena dia berdandan dengan gaya yang modis.
Warna
rambutnya memang tidak berubah, tapi ujung rambutnya sedikit dikeriting,
membuatnya terlihat bergaya.
Pakaiannya
adalah celana jin lebar dan blus lengan lima perempat, gaya yang disebut
"gaya massal", tapi suasananya jauh berbeda dari yang dulu.
Punggungnya
yang bungkuk pun sepertinya sudah agak membaik.
"Halo."
"Ah, halo.
Eh, maaf?"
Aku menatap wajah Mama.
"Tadi dia datang berkunjung ke toko. Dia pelanggan yang sering datang, loh, wanita yang sering membeli
barang-barang bertema samurai itu. Katanya, dia ibunya wanita itu."
Mama menunjuk Yokokura-san dengan telapak tangannya.
Wanita pelanggan setia yang membeli pernak-pernik
samurai... maksudnya wanita penyuka sejarah itu? Wah. Kalau dipikir-pikir,
bentuk matanya memang mirip. Aku sama sekali tidak menyadarinya. Jadi,
dia adalah ibu dari Yokokura-san. Dunia ini sempit sekali, ya.
"Sebenarnya aku tahu ibuku sering pergi ke toko
milik Kutsuzawa-kun."
"Eh? Begitu ya?"
"Iya. Tapi karena merasa tidak enak, aku jadi tidak
bilang apa-apa."
Memang sih. Jaraknya terasa canggung, ya. Kalau diberi
tahu bahwa ibu dari teman sekelas yang sesekali kuajak bicara adalah pelanggan
setia, aku pun bingung harus menunjukkan ekspresi seperti apa. Sekarang pun aku
sedang bingung.
Namun, karena mereka datang meski tahu situasinya akan
terasa canggung, berarti...
"Sebentar, anak ini..."
Yokokura-san dengan lembut mendorong pinggang
Hamamura-san yang berdiri di sebelahnya.
Yah, sudah jelas, kan. Entah mereka ingin menghubungiku
atau Seika-san, kalau ingin menjalin kontak, mereka memang harus datang
sendiri.
...Nanti aku akan minta izin pada Seika-san supaya bisa
bertukar kontak dengan mereka berdua.
"Mama, aku kembali ke toko ya."
Tepat saat aku hendak menanyakan keperluan mereka berdua,
Mama berkata begitu lalu keluar dari pintu depan. Sepertinya dia bisa membaca
suasana dengan sangat baik.
"Jangan lupa sajikan teh untuk mereka ya?"
Dia tidak lupa memperingatkanku, ya.
Setelah menjawab dengan mengangkat bahu, aku mengajak
mereka masuk.
"Silakan masuk."
Begitu masuk ke ruang tamu,
"Wah!"
"Eh!?"
"Eeeh!?"
Tiga gadis itu mengeluarkan suara terkejut secara
bersamaan.
Yah, kalau dipikir-pikir itu wajar saja. Mereka berdua
yang tidak tahu apa-apa soal hubungan kami pasti kaget, dan Seika-san sendiri
pasti tidak menyangka kalau aku akan membawa dua orang dari klub manga kembali
ke rumah.
Butuh waktu beberapa menit sampai kekacauan itu mereda.
Setelah mendengar alasan kedatangan mereka berdua,
Seika-san mengangguk pelan.
"Jadi begitu. Kalian ingin menghubungi Kousei, tapi
sebenarnya ingin berkonsultasi denganku."
Yah, aku sudah bisa menebaknya setengah jalan. Lagipula,
aku tidak bisa membayangkan Hamamura-san punya urusan penting denganku.
"Apa tidak apa-apa kalau aku ikut
mendengarkan?"
"Ah, itu, iya. Karena kami juga ingin mendengar
pendapat laki-laki."
Kalau mereka bilang begitu, tentu saja boleh. Sejujurnya,
sedih juga rasanya kalau harus diusir ke kamar sendiri di rumahku sendiri.
"Lalu? Eh, tunggu sebentar. Hamamura-san,
penampilanmu sudah jauh lebih manis ya."
"A-ah, terima kasih."
Hamamura-san tampak senang saat dipuji oleh Seika-san.
Meski kata "guru" mungkin terlalu berlebihan, kami memang punya
hubungan di mana aku sering memberikan berbagai saran padanya.
"Riko-chan benar-benar berusaha keras, tahu."
Yokokura-san juga mengangguk-angguk setuju. Kalau
dipikir-pikir, mungkin dia adalah eksistensi yang sama bagi Seika-san seperti
Doguchi-san bagi kita. Sahabat yang mengawasi cinta, menyemangati, dan
terkadang memberikan teguran keras.
"Iya. Kalau begini, si Miyasaka itu... eh, tidak,
lupakan. Aku rasa peluangnya cukup besar."
Aku sangat paham dengan kata-kata yang sempat diucapkan
Seika-san tadi.
Hamamura-san adalah orang yang sangat baik, dan ditambah
lagi dia mulai merawat penampilannya... mungkin Seika-san berpikir dia bisa
mendapatkan laki-laki yang lebih baik daripada itu. Sejujurnya, aku pun
berpikir begitu.
Namun,
"Benarkah!?"
Melihat betapa bahagianya dia, rasanya ikut campur lebih
jauh hanya akan dianggap sebagai tindakan tidak perlu.
"Dari sudut pandang Kousei sebagai laki-laki, apa
menurutmu dia terlihat manis?"
Killer pass dari
Yokokura-san datang meluncur. Ah, bagaimana ini. Aku melirik
Seika-san sekilas. Dia membalas dengan senyum kecut. Tatapannya seolah ingin
berkata bahwa dia tidak akan cemburu dalam situasi seperti ini. Kalau begitu,
baiklah.
"Iya. Menurutku, dia sudah sangat cukup untuk
menarik perhatian Miyasaka."
Meski berkata begitu, rasanya tetap saja tidak enak, ya.
Laki-laki itu, merasa dirinya siapa, sih. Aku sudah pernah memikirkannya
sebelumnya... benar kata pepatah, dalam cinta, siapa yang jatuh cinta lebih
dulu dialah yang kalah.
"Berhasil! K-kalau begitu..."
"Iya. Sekarang saatnya kamu menyatakan
perasaan."
"Hik."
Hamamura-san seketika menjadi ciut.
Dia memang tidak menyia-nyiakan usaha untuk menjadi
cantik, dan dia punya kekuatan untuk itu. Tapi, menyatakan cinta jelas butuh
keberanian yang berbeda. Bahkan aku, yang saat itu kondisinya sudah pasti
diterima, ingat betul betapa besarnya energi yang kukeluarkan sampai-sampai
rasanya jiwaku terkuras habis.
"A-apa tidak bisa kalau dia yang mendekat
duluan?"
"Hmm. Aku juga tidak terlalu tahu banyak tentang
Miyasaka... jadi aku tidak bisa memastikannya."
Seika-san memulainya dengan kalimat seperti itu.
"Lagipula, meski dia sangat pemilih soal wajah,
bukankah bagi laki-laki rasanya agak canggung kalau harus melihat teman masa
kecilnya dengan sudut pandang berbeda?"
Bahkan, ada kemungkinan dia tidak bisa melihatnya sebagai
objek cinta tidak peduli secantik apa pun dia. Terlalu kejam untuk disampaikan,
jadi aku menahan diri.
"Uuu. Jadi tetap saja aku yang harus
bergerak..."
Berusaha keras untuk berubah, dan sekarang harus
mengumpulkan keberanian juga. Benar-benar tidak adil bagi pihak yang jatuh
cinta duluan. Saat itu,
"Ngomong-ngomong... kalian berdua, apa kalian sedang
berpacaran?"
Mendapat serangan balik yang tak terduga, aku hampir
terjungkal. Aku menatap Seika-san. Karena dia memberi isyarat mata bertanya,
"Tidak apa-apa, kan?", aku mengangguk. Hamamura-san sudah begitu
terbuka mengungkapkan isi hatinya, rasanya tidak enak kalau kami tetap
merahasiakannya.
"Iya, kami berpacaran."
Seika-san menjawab dengan nada serius. Aku melihat
Yokokura-san membuka mulutnya lebar-lebar karena terkejut.
"...Jangan-jangan rumor di kelas itu benar ya?
Padahal kami pikir itu cuma kemungkinan kecil."
"Iya. Benar sekali. Kami sudah saling mengungkapkan
perasaan dan mulai berpacaran."
Aku pun mengatakannya dengan tegas.
Kalau diingat-ingat, ini pertama kalinya aku memberi tahu
orang selain keluarga. Aku tidak menyangka orang pertama yang tahu adalah
mereka berdua.
"Iri sekali..."
Suara Hamamura-san terdengar benar-benar tulus. Memang
benar, perasaan yang saling tersampaikan itu adalah keajaiban yang luar biasa.
"T-tapi itu! Siapa yang menyatakan cinta
duluan!?"
Yah, ada satu orang yang posisinya benar-benar santai di
sini, ya. Tertekan oleh tatapan mata di balik kacamatanya yang tidak
menyembunyikan naluri sebagai penyuka gosip, kami akhirnya menceritakan garis
besar kejadiannya.
Setelah selesai mendengarkan, mereka berdua mengeluarkan
suara kagum yang terdengar konyol.
"Benar-benar takdir ya."
"Hebat sekali. Seperti di dunia drama atau
anime. Penantian delapan tahun yang terwujud..."
Aku tidak berniat menceritakan detail masa kecil
sampai sejauh itu, tapi sepertinya Seika-san malah makin bersemangat. Yah,
tidak ada yang perlu disembunyikan, jadi tidak masalah. Hanya terasa memalukan
saja.
"Sudahlah, lupakan soal kami."
"Ah, benar juga. Topik utamanya adalah..."
"Iya. Soal aku, kan?"
Meski sempat menyimpang sedikit,
"Setelah mendengar kisah cinta kalian yang
indah, aku jadi merasa harus berjuang juga!"
Kalau Hamamura-san mendapatkan sedikit keberanian
darinya, berarti usaha kami tidak sia-sia.
Tapi dia benar-benar orang yang kuat, ya. Cinta
Miyasaka itu sejujurnya terasa lebih seperti mencari trofi daripada cinta
tulus, dan masih belum jelas ke mana arahnya. Meskipun begitu... andai aku
berada di posisinya, aku pasti sudah menyerah sejak awal.
"Tentang kencan. Kalau aku mengajaknya... apa
menurut kalian dia akan merasa terganggu?"
"Hmm. Menurutku, pertama-tama tunjukkan padanya
betapa cantiknya dirimu sekarang."
Aku pun setuju. Miyasaka pasti akan menilai dari
penampilan dulu, jadi dia harus disadarkan bahwa Hamamura telah berubah menjadi
seseorang yang layak untuk bersaing di level yang sama.
...Rasanya tetap tidak enak, sih. Bahwa anak yang
begitu lembut dan manis ini harus sampai merendahkan diri demi disukai oleh
laki-laki seperti Miyasaka.
"Sebenarnya, seberapa sering Hamamura-san dan
Miyasaka bicara saat hari biasa?"
"Ehm. Sekarang kan libur musim panas, jadi
hampir nol..."
Ah, ini sudah berada di ambang keterasingan. Kalau
kondisinya begini, meminta bertemu tiba-tiba sepertinya tidak akan mendapat
jawaban positif. Dan tentu saja kalau tidak bertemu, dia tidak akan tahu
perubahan Hamamura. Hmm. Atau mungkin ada cara agar dia bisa tahu tanpa harus
bertemu langsung?
"...Bagaimana kalau mengunggah foto saat sedang
bersama di Twista milik Seika-san?"
"Maksudnya?"
"Karena ini Miyasaka, aku yakin dia pasti mengecek SNS
kelompok elit di kelas. Kalau dia melihat ada gadis cantik yang belum pernah
dia lihat di sana, bukankah dia akan tertarik?"
Prediksinya adalah, dia akan terpikat oleh penampilannya
dan munculnya gadis baru yang akrab dengan Seika-san (si elit kelas), artinya
gadis itu bisa dijadikan 'trofi'. Kalau bisa mengunggahnya dengan cara agar dia
menyadari bahwa itu adalah Hamamura, itu adalah skenario terbaik.
"Masuk akal. Bisa meminjam pamor Mizoguchi-san
sekaligus memamerkan perubahan image."
Yokokura-san juga tampak kagum dan mengangguk
berulang kali.
"Tapi apa tidak apa-apa? Kalau aku sih tidak
masalah..."
Maksud Seika-san kemungkinan besar adalah masalah yang
menimpaku bulan Mei lalu. Tentang ekses yang muncul saat
kelompok kasta tertinggi kelas berinteraksi dengan orang 'bayangan' seperti
kami.
Hamamura-san tampak ragu sejenak, tapi kemudian
mengangguk dengan tatapan penuh tekad. Sepertinya kekhawatiran atau konfirmasi
lebih lanjut sudah tidak diperlukan lagi.
Setelah kami semua berdiskusi dan menetapkan arahnya,
"...Baiklah. Kalau begitu, ayo kita ambil
fotonya."
Kami pun keluar rumah menuju jalanan. Panas sekali.
Serangan ganda dari sinar matahari langsung dan pantulan panas aspal membuat
keringat langsung bercucuran.
"Cepat selesaikan yuk."
Sambil berkata begitu, Seika-san menyerahkan ponsel
padaku. Lalu dia pergi ke samping Hamamura-san, memiringkan tubuhnya, dan
memberikan peace sign ke samping. Hamamura-san, meskipun tampak bingung,
tersenyum ringan dan ikut tertangkap kamera, lalu aku menekan tombol rana.
-- Klik.
Dengan suara elektronik yang hambar, terciptalah foto
"Kebetulan bertemu teman sekelas di jalan". Kalimat yang disertakan
adalah, 'Kebetulan bertemu teman sekelas, karena dia sudah berubah jadi cantik
aku sampai tidak mengenalinya sama sekali'. Ditambah lagi, 'Sepertinya dia
belajar dari video makeup-ku. Sebagai model amatir, aku senang sekali'.
Mungkin teman sekelas yang tidak pernah berinteraksi
tidak akan menyadarinya, tapi teman masa kecilnya, Miyasaka, harus
menyadarinya. Itu adalah rencana matang yang kami susun selama sepuluh menit.
"Kalau sampai dia tidak menyadari bahwa itu
Riko-chan, tinggalkan saja dia. Si jamur itu."
Lucu sekali mendengar Yokokura-san mengatakan hal yang
kami berdua pikirkan tapi tidak enak untuk diucapkan. Yah, sebenarnya aku dan
Seika-san juga setuju sepenuhnya.
"...Sisanya, kita lihat reaksinya nanti."
Kalau tidak ada apa-apa, mungkin kita pikirkan langkah
selanjutnya. Kalau dia sadar gadis di foto itu adalah Hamamura tapi, seperti
kata Seika-san, dia merasa malu untuk mendekat, itu masih mending. Tapi kalau
dia tidak sadar dan tidak ada reaksi, aku benar-benar menyarankan untuk
berhenti saja.
Akhirnya hari itu selesai. Hamamura-san berterima kasih
berkali-kali pada kami sebelum pulang.
Beberapa saat setelah mengantar mereka pulang.
Setelah melihat tekad yang begitu kuat, aku pun ikut termotivasi, dan pencarian
kerja paruh waktu terasa lebih serius dari sebelumnya. Bertekad bulat bahwa
yang terbaik adalah bekerja bersama Seika-san, tapi kalau terpaksa, aku akan
melakukannya sendiri pun tidak apa-apa.
Saat membuka halaman baru situs lowongan kerja,
tiba-tiba muncul iklan film animasi yang menjadi alasan aku sangat membutuhkan
uang.
"Ah, muncul lagi."
Seika-san bergumam. Sebenarnya, film animasi ini
adalah spin-off dari 'Magical Crusaders' yang dibuat mengikuti tren
kebangkitan film lama, dan konon Kururu-chan menjadi pemeran utamanya. Sekarang
sedang tayang, tapi kontennya konon menuai pro dan kontra. Aku tidak tahu
detailnya karena aku dan Seika-san sepakat untuk menutup akses informasi demi
menghindari spoiler.
"Kalau saja aku sadar lebih awal, aku sudah bisa
menontonnya sebelum menghamburkan uang."
"Benar. Tapi saat filmnya ramai dibicarakan, aku
tidak punya余裕 (ruang pikiran) untuk memikirkannya..."
Aku tidak bisa menahan rasa sesal dan berharap kalau
saja aku lebih sering melihat situs berita. Sebagai orang yang kehilangan余裕 tersebut, aku membawa penyesalan itu bersama dengan rasa bersalah yang
ringan.
Melihat wajahku yang murung, Seika-san menggenggam
wajahku dengan kedua tangannya lalu memberiku ciuman lembut.
"Ini adalah masa di mana menjaga perasaan Kousei
seratus miliar kali lebih penting, jadi lupakan saja. Jangan dipikirkan.
Oke?"
Meskipun dia menasihatiku sambil memainkan pipiku, masa
tayang filmnya hampir habis, jadi aku tidak bisa tidak merasa cemas.
"Lagipula, kalau terburuknya, kita bisa menontonnya
lewat layanan sewa beberapa bulan lagi."
"..."
Dia bicara begitu, tapi aku tahu dia pasti penasaran
juga.
Dengan tarif pelajar sekitar 1.400 yen, uang sebanyak itu
sebenarnya masih bisa dibayar. Tapi kalau aku membayar itu, sisa uangku saat
pulang nanti bisa membuatku ketar-ketir kalau harus makan di luar. Masih ada
sepuluh hari sampai akhir bulan saat gaji turun, dan hidup dengan gaya
"sudah tamat" selama itu membuatku cemas.
Aku dan Seika-san punya pendapatan meski masih pelajar,
tapi tetap saja ada batasnya. Kalau ditanya bagaimana cara mendapatkan dana
tambahan...
"Aku akan minta pada Ayah agar memberi uang muka
gaji untuk pekerjaan berikutnya..."
"Jangan, serius. Konten filmnya tidak akan berubah
meski kamu menontonnya kapan pun."
Itu memang benar, tapi.
"Yah, aku hanya berpikir mumpung ada kesempatan
untuk kencan menonton film."
Bicara
soal berpacaran, ya kencan. Bicara soal kencan, asosiasi paling sederhana
adalah bioskop. Tapi karena sudah menjadi standar, berarti kegiatan itu hampir
tidak pernah gagal.
"Yah,
memang benar kalau bisa kencan nonton film meski dengan gaya jadul aku pasti
mau... kalau begitu, nanti saja kalau cuaca sudah sejuk dan ada uang, ajak aku
ya. Dan tentu saja harus bayar masing-masing, ya? Jangan sungkan! Penghasilanku
sendiri lebih besar darimu."
Ugh. Tepat sekali. Aku memang tidak bisa mengalahkan
pendapatan ganda dari pekerjaan model dan streaming-nya.
"Jadi ya, anggap saja kali ini tidak berjodoh.
Anggap saja sudah takdir."
Saat percakapan itu hampir mencapai titik temu,
ponselku bergetar di atas meja dan nada dering mulai berbunyi. Hm? Ayah dan Ibu
sedang di toko, Kakak juga di kamarnya... dan kecil kemungkinan itu Meguru. Aku
tidak punya orang lain yang terpikirkan.
"Aneh. Seharusnya aku tidak punya teman."
"Itu juga perlu dipertanyakan sih."
Yah, tanpa banyak bicara, aku mengambilnya. Di layar
tertulis 'Toko Hobi'.
"Ah! Mungkin hasil kompetisinya!"
Aku buru-buru menekan tombol panggil.
"Halo."
"Halo. Apa benar ini ponsel Saudara Kutsuzawa
Kousei?"
"I-iya, benar."
Aku menjawab dengan tidak sabar dan penuh semangat.
"Ah, lama tidak bicara."
"Iya, sudah lama sekali."
"Ehm, apa sekarang ada waktu?"
"Ya, ada."
Meskipun salam formal itu membuatku tidak sabar, aku
berusaha bersabar.
"Tentu kamu sudah tahu tujuannya... hasil kompetisi
beberapa hari lalu sudah keluar."
"Iya!"
Tahun lalu, tidak ada telepon masuk. Maksudnya, mereka
hanya menelepon orang-orang yang memenangkan penghargaan. Berarti,
"Kali ini, karya Saudara Kutsuzawa Kousei, , telah
terpilih untuk menerima Chaos Design Award."
Ternyata begitu.
Aku merasa pusing karena semangat dan kegembiraan.
Rasanya seperti berdiri di atas awan. Aku hanya merasa mengirim karya ke
kompetisi sebagai hobi. Tapi saat benar-benar mendapatkan penghargaan, aku
diliputi perasaan bahagia dan tidak bisa bersikap tenang.
"B-benarkah Nobuel milikku yang menang?"
Meski tidak mungkin bohong, aku tetap saja memastikannya.
"Ya. Kelasnya hampir bulat suara setuju. Katanya
seperti mimpi yang terlihat saat sedang demam."
J-jadi aku benar-benar menang.
"Selanjutnya, kami akan mengirimkan sertifikat
dan hadiah uang, jadi silakan datang ke toko kami."
Dan ternyata, aku bisa mewujudkan keinginan untuk
mengajak Seika-san menonton film. Tapi untuk itu... aku harus pergi lagi ke
toko fisik di Yokonaka Timur. Aku menghela napas panjang.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Kousei menempelkan
kartu IC-nya ke gerbang tiket seolah sedang memejamkan mata, lalu berlari ke
arahku. Hatiku terasa panas. Dengan perasaan penuh kasih sayang, aku memeluk
Kousei dengan erat.
"Pintar, kamu pintar sekali. Kamu bisa melewati
gerbangnya sendiri."
Aku mengusap kepalanya yang menyandar di bahuku.
Sepasang ibu-ibu yang lewat menatap Kousei dengan tatapan
aneh. Biarkan saja, setiap orang punya urusan masing-masing. Aku sempat merasa
sedikit marah, tapi kalau dilihat secara objektif... seorang gyaru yang
memeluk erat dan memuji-muji seorang anak introvert yang baru saja lewat
gerbang tiket terdengar sangat misterius, jadi wajar saja mereka menatapnya.
Namun, karena aku tidak punya hobi untuk terus
dipertontonkan, aku menarik tangan Kousei dan turun ke peron. Peron 1 arah
Yokonaka Timur. Tempat di mana Kousei gagal berangkat saat ingin pergi
mendukung pamannya hari itu. Ngomong-ngomong, aku hampir lupa...
"Kousei, tentang Tekalympic..."
"Tidak apa-apa. Ada Seika-san. Kalaupun bertemu,
abaikan saja. Tidak apa-apa."
Iya, sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu.
Aku merapatkan tubuhku pada Kousei yang berusaha keras
meyakinkan dirinya sendiri. Aku menggenggam tangannya dengan
erat dan terus mengirimkan doa agar dia berjuang.
Akhirnya kereta datang. Aku mengamati wajah samping
Kousei seolah ingin melubanginya. Kalau sepertinya tidak sanggup, aku akan
langsung menghentikannya. Aku tidak akan melewatkan tanda sekecil apa pun.
Itulah tekadku.
"Tidak apa-apa? Kereta berikutnya juga tidak
masalah, lho? Atau karena hari ini sudah bisa lewat gerbang tiket itu sudah
kemajuan besar, jadi..."
"Tidak. Aku akan pergi."
Hati ini terasa perih melihat ketegarannya. Adakah
cara untuk berbagi beban rasa sakit dan takutnya agar sedikit saja berkurang?
"Setelah sampai di sana, ada Yoshiki-san dan
yang lain, jadi mari berjuang."
Kousei mengangguk mantap. Tak lama kemudian,
pengumuman keberangkatan terdengar. Mungkin mereka juga bingung apakah kami
akan naik atau tidak.
Kousei melangkah dengan mantap. Satu langkah, dua
langkah masuk ke dalam kereta, dan akhirnya seluruh tubuhnya sudah di dalam.
Aku pun buru-buru menyusulnya.
Segera setelah itu,
"Pintu akan ditutup."
Suara pengumuman tanpa intonasi terdengar, dan pintu
menutup di belakang kami.
Saat duduk di kursi, aku merapatkan tubuh seolah
merangkul lengan Kousei dan menatap wajah sampingnya. Meski
wajahnya menegang karena tegang, dia tidak sepucat tadi sampai hampir muntah.
Saat dia menyadari tatapanku, dia tersenyum, meski terlihat lemah.
Setelah telepon tadi, kami menceritakan keadaannya
pada seluruh keluarga Kutsuzawa. Setelah diskusi yang matang, semua sepakat
untuk menghormati keinginan Kousei untuk "pergi" dan mempercayainya.
Dan aku terpilih untuk menemani. Apakah aku orang yang tepat? Daripada merasa cemas, perasaan ingin
mendukungnya dari dekat jauh lebih besar, jadi aku langsung setuju.
Yoshiki-san dan Haru-san sudah berangkat lebih dulu
ke stasiun Yokonaka Timur dengan mobil. Agar kalau terjadi sesuatu, dia bisa
berlari ke mobil pribadi yang sudah biasa dia tumpangi, bukan kereta api.
Akina-san, yang terpaksa tinggal sendirian menjaga
toko, sempat mengerutkan kening dan berkata, "Mungkin masih terlalu
dini." Ketakutan itu sangat beralasan. Tapi aku juga berpikir, untungnya
seluruh keluarga lengkap dan aku pun mendukungnya dari dekat. Keinginan
orangnya sendiri kuat, ditambah ada hadiah berupa penghargaan. Hari ini,
syarat-syarat yang menguntungkan sudah terpenuhi.
Dan akhirnya.
"Cepat atau lambat, tidak ada yang tahu, bahkan
dirinya sendiri. Tapi satu-satunya yang pasti adalah dia harus
melampauinya suatu saat nanti."
Keputusan itu diambil berdasarkan kata-kata Yoshiki-san.
Tanpa sadar, kami sampai di stasiun sebelum Yokonaka
Timur. Tubuh Kousei sedikit menegang. Dia pun berdiri dari kursinya. Aku pun
mengikuti tanpa bertanya.
Kami berjalan ke depan pintu keluar dan menunggu berdiri
selama satu stasiun.
Akhirnya kami sampai di Yokonaka Timur. Begitu pintu
terbuka, Kousei melompat keluar seolah melompat pergi. Tanganku yang
digenggamnya pun ikut tertarik. Aku melihat wajah terkejut seorang wanita yang
masuk dari peron, dan detik berikutnya kami sudah berpapasan.
"Kousei."
Aku mengusap lengan Kousei yang berhenti di tengah peron
dengan lembut.
Entah bagaimana aku mengerti perasaannya. Karena takut,
dia ingin menyelesaikannya secepat mungkin. Baginya, berjalan perlahan menuju
pintu yang terbuka justru membutuhkan keberanian lebih besar.
Kousei menarik napas dalam-dalam dan mendapatkan kembali
ketenangannya. Dengan suara kecil dia berkata, "Ayo
pergi", dan dia sendiri mulai melangkah.
Begitu keluar dari stasiun, aku melihat mobil
keluarga Kutsuzawa terparkir di area putar. Aku
melambaikan tangan sedikit. Haru-san di kursi penumpang membalas lambaian
tanganku. Mobil itu berangkat menuju jalan raya. Mereka berputar untuk pergi ke
area di mana gedung-gedung apartemen itu berada.
Kami pun berjalan ke sana. Di sepanjang jalan, aku terus
menyemangati Kousei di dalam hati, yang berjalan sambil menunduk seolah
menyembunyikan wajahnya.
Dan... kami sampai di gedung tujuan dengan sangat mudah
sampai-sampai rasanya antiklimaks. Kami melewati pintu dan masuk ke area mesin
penjual otomatis di samping lift. Aku mendudukkan Kousei di bangku plastik
sederhana dan memeluk wajahnya di dadaku.
"Kamu hebat. Kamu hebat sekali."
Kousei pun membalas pelukanku.
"Seika-san."
"Hm?"
"Aku sayang padamu."
"Fufu. Aku juga."
Aku terus mengusap kepalanya sampai Kousei tenang.
Saat naik ke lantai empat, manajer toko langsung
menyadari kedatangan kami. Dia mengangkat satu tangan memberi salam yang ramah.
Aku membalas dengan anggukan. Dia menghilang ke balik konter.
Pasti untuk mengambil barang yang akan diberikan padaku.
Kami yang merasa canggung melihat-lihat isi toko.
Periode pameran karya kompetisi sudah lama berakhir, dan rak-rak kini dipenuhi
barang dagangan biasa seperti model plastik dan cat.
"Oh, oh. Jadi begini penampilan aslinya."
Seika-san tentu saja baru pertama kali melihatnya, dan
dia tampak terpesona dengan koleksi barang yang mendalam itu.
"Begitu ya, pamerannya sudah selesai lima hari yang
lalu, jadi..."
"Iya."
"Lalu di mana Nobuel?"
"Ada di rumah. Tidak, tepatnya di toko."
"Kapan?"
"Saat Ayah sedang ada pekerjaan di sini, dia
membawanya pulang."
Benar-benar terima kasih. Kalau sendirian, aku pasti
tidak akan sanggup mengambilnya karena keadaan fisikku yang buruk meski sudah
dibantu oleh semua orang hari ini.
"Pamerannya memang sudah selesai, tapi penjuriannya
memakan waktu sampai kemarin."
Manajer yang kembali ikut bergabung dalam percakapan
kami. Di sekitar dadanya, dia memegang tabung hitam dengan tangan kanan dan
amplop putih dengan tangan kiri.
"Ah."
Mungkin itu adalah sertifikat penghargaan dan sejumlah
uang tunai. Aku meluruskan punggungku. Manajer toko meletakkan benda-benda itu
di atas konter, lalu mendorongnya ke arahku dengan gerakan lembut. Dia
mengulurkan tangan dan sedikit membungkuk, seolah sedang bercanda.
"Selamat atas pencapaian Anda kali ini."
"Ah, iya. Terima kasih banyak."
Setelah itu, kami mengobrol sebentar.
Dia bercerita bahwa patung Phoenix itu yang meraih juara
umum, sementara karya 'Nobuel' milikku berhasil masuk peringkat ketiga
berdasarkan pemungutan suara populer dari pelanggan. Karena hal itu, ditambah
dengan Chaos Design Award, jumlah hadiah uang yang kuterima jadi sedikit lebih
banyak. Mungkin karena efek kompetisi tersebut, toko hari ini juga ramai sekali
pengunjung.
Aku membungkuk ringan untuk pamit. Saat hendak pergi, dia
melontarkan kata-kata, "Datang lagi, ya," yang kujawab dengan
senyuman samar. Sejujurnya, aku pribadi juga berharap bisa datang lagi suatu
saat nanti.
Aku turun ke lantai satu dan kembali duduk di bangku yang
sama seperti tadi. Aku bisa merasakan gelombang kebahagiaan karena memenangkan
penghargaan itu perlahan surut. Sebagai gantinya, emosi lain mulai muncul
sedikit demi sedikit.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Ah, iya. Berbicara dengan manajer tadi sudah cukup
mengalihkan pikiranku."
Hanya saja... hari itu, aku bertemu dengan Mochida-kun
dan Shiraishi-kun tepat setelah keluar dari gedung ini. Meskipun aku tahu ini
konyol, aku tidak bisa menepis rasa takut. Berada di situasi yang sama bukan
berarti hasilnya akan sama. Lagipula, kemungkinan besar hal itu tidak akan
terjadi lagi. Namun...
"……"
"……"
Aku juga merasa tidak enak pada Seika-san. Padahal dia
sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghadapinya dan menyelamatkanku, tapi
sepertinya kondisiku masih belum stabil.
"Habisnya, aku kesal sekali."
"Eh?"
Seketika itu juga, dunia di depanku terasa gelap karena
mengira dia sudah bosan dengan sifatku yang menyedihkan ini. Namun, Seika-san
tidak menatapku; dia sedang menatap tajam ke kejauhan.
"Saat kita sedang bahagia seperti ini, sebenarnya
aku tidak mau memikirkan orang-orang tidak penting yang merusak suasana
itu..."
Aku tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraannya.
"Ayo
kita balas dendam, Kousei."
"Eh?"
"Kamu sudah berusaha keras. Padahal baru seminggu
berlalu sejak kejadian itu, tapi kamu sudah bisa sampai ke sini naik kereta.
Kamu bilang ingin menerima lukamu pelan-pelan, tapi kamu sudah melangkah sejauh
ini."
Seika-san mengakuinya. Lagipula, memang benar, kan?
Dia adalah orang yang sudah berjanji tidak akan pergi meski aku memperlihatkan
sisi diriku yang paling memalukan sekalipun. Aku harus lebih mempercayainya.
"Tapi, duri yang tertancap itu memang masih
terus memberikan rasa sakit. Yah, itu wajar saja. Kalau semua masalah bisa
langsung selesai begitu saja, tidak akan ada orang di dunia ini yang menderita
trauma."
"Iya."
"Setelah memikirkan itu... lalu kenapa
orang-orang yang menancapkan duri itu malah bisa hidup dengan tenang?"
Wajah Seika-san terlihat semakin sengit.
"Yoshiki-san yang punya tanggung jawab besar sampai
harus meninggalkan toko, lalu Haru-san dan Akina-san juga dibuat khawatir...
Apa keluarga yang baik ini melakukan kesalahan?"
Jadi begitu, ide balas dendam itu muncul karena hal
tersebut.
...Sejujurnya, aku juga merasakan amarah yang sama
seperti Seika-san. Ada perasaan bahwa hidupku telah dirusak oleh mereka. Mereka
menanamkan ingatan buruk sampai-sampai aku kesulitan hanya untuk datang ke
Yokonaka Timur dengan kereta, dan jika aku tidak bertemu Seika-san, aku pasti
masih akan membekukan ingatan itu dan tetap berada di dalam kegelapan.
Balas dendam. Aku tidak bisa menyangkal kalau ada
keinginan untuk melakukannya jika itu memungkinkan. Tapi aku tidak terpikir
cara untuk membalasnya, dan andai pun dia punya rencana, aku tidak ingin
membiarkan dia melewati jalan yang berbahaya. Ini
bukan hal yang harus kulakukan dengan menanggung risiko besar.
"……"
Tapi.
Andai nanti suatu hari rasa sakit ini sudah tidak
lagi terasa, fakta bahwa aku membiarkan diri ini diinjak-injak tidak akan
pernah bisa diubah kecuali aku menimpanya dengan balas dendam. Menyerah kalah.
Setelah dikatakan seperti itu oleh Seika-san, fakta bahwa hatiku sangat
terguncang menunjukkan bahwa aku memang merasa tidak terima. Harga
diri dan martabatku masih terluka. Selain itu.
"Begitu... ya. Orang-orang
berhargaku juga secara tidak langsung ikut tersakiti. Tidak, bahkan sampai
sekarang hal itu masih berlanjut."
Seperti kata Seika-san, dampaknya bahkan sudah
menyebar sampai ke keluargaku yang tidak tahu apa-apa. Ini benar-benar tidak
masuk akal.
"Mari kita lakukan."
Meskipun aku belum punya rencana konkret atau apa
pun. Mungkin saja hasilnya tidak akan berjalan lancar.
Seperti kata Seika-san. Kita tidak boleh terus-terusan
jadi pihak yang dirugikan. Aku akan mencoba memikirkan sesuatu dengan cara yang
tidak membahayakan Seika-san maupun keluargaku.
Melihatnya tersenyum lebar, aku pun berusaha sekuat
tenaga untuk menampilkan senyum yang menantang.
"Ahaha, wajahmu aneh!"
Aku malah ditertawakan. Benar-benar tidak keren sama
sekali.
Keesokan harinya. Pertama, ada kabar gembira lainnya.
Seika-san menerima pesan di Rain dari Hamamura-san. Isinya, 'Tadi pagi, aku
bisa bertemu dengannya. Aku berpura-pura seolah tidak sengaja lewat di depan
rumahnya, tapi kurasa dia memang datang untuk memastikan!' katanya. Untuk saat
ini, rintangan pertama—masalah apakah Miyasaka akan menyadari Hamamura-san yang
sudah mengubah penampilannya—telah terlewati. Setelah ini, strateginya adalah
membuat dia sadar, mendekat, lalu di saat yang tepat, mengajaknya kencan.
Melihat dia berhasil memenangkan pertempuran
pertamanya—seorang kawan seperjuangan yang secara kebetulan berada di
persimpangan hidup yang besar di waktu yang sama—aku pun merasa sangat
terinspirasi. Ini benar-benar berita yang membakar semangat di pagi
hari.
Sekarang giliranku untuk berjuang. Dengan semangat
yang berkobar, aku pergi ke restoran keluarga di depan Stasiun Sawamigawa. Aku,
Seika-san, serta Doguchi-san dan Sonoda-san dari Yokonaka sudah berkumpul di
sana.
"Halo~"
Sonoda-san melambaikan tangannya dengan santai. Aku
membungkuk hormat padanya.
Aku memang sesekali berinteraksi dengannya lewat Twista
milik Seika-san, tapi di kelas, aku hanya bicara dengannya beberapa kali saja.
Aku tidak sampai merasa canggung, tapi karena isi
pembahasannya cukup serius, aku merasa sedikit gugup.
"Maaf ya, sudah merepotkanmu untuk datang
jauh-jauh."
Seika-san berterima kasih padanya.
"Tidak apa-apa, kok. Kan aku punya tiket langganan
tahunan."
Ah, seingatku Doguchi-san juga punya tiket yang sama.
Meskipun ada beberapa bulan libur, apakah tetap lebih murah kalau beli tiket
satu atau dua bulanan?
Sonoda-san menatapku dengan pandangan yang penuh arti
saat aku duduk di seberangnya.
Sepertinya dia sudah tahu keadaanku melalui Seika-san.
Seika-san dan Doguchi-san sama-sama menjamin bahwa "jika dimintai tolong
sebagai pekerjaan, dia bukan tipe orang yang akan melanggar kewajiban
kerahasiaan." Bagiku pun, mengandalkan belas kasihan kenalan lewat
Seika-san rasanya kurang aman, jadi lebih baik melakukan ini sebagai hubungan
kontrak yang profesional.
"Jadi, yah, aku sudah bicara juga sama Chika tentang
ini?"
Langsung ke topik utama.
"Menurutku, hal yang paling melukai harga diri anak
laki-laki SMA adalah keadaan di mana mereka melihat orang yang mereka anggap
lebih rendah dari dirinya ternyata sudah punya pacar yang imut lebih
dulu."
"A, ah."
Sebagai seorang laki-laki, aku sangat memahami psikologi
itu.
"Jadi dalam artian tertentu, bisa dibilang kamu
sudah membalas setengah dari perbuatan mereka."
Mendengar itu, Seika-san memasang wajah masam.
"Jadi, kebahagiaan adalah bentuk balas dendam
terbaik, ya... tapi tetap saja."
"Yah, cara yang paling damai adalah membiarkannya
sampai di situ saja. Kalau mau melangkah lebih jauh, ya tidak mungkin tanpa
risiko, kan?"
"Itu... iya. Kalau sampai membahayakan Seika-san dan
yang lain, aku akan menyerah."
Itu mutlak. Aku sudah mencapai kesepakatan dengan
Seika-san soal itu. Meskipun dia tampak tidak begitu setuju, sih.
"Bukan, bukan begitu. Maksudku,
bukan karena Kutzsawa-kun, tapi karena aku yang akan menjadi pelakunya."
"Eh?"
Aku terpaku mendengar kata-katanya yang di luar dugaan.
Sonoda-san minum tehnya sekali, lalu berkata:
"Akan kuceritakan dari awal."
Sepertinya dia akan menjelaskannya secara kronologis.
"Kemarin, saat Seika meminta pendapatku, kebetulan
banget aku lagi makan ramen sama Chika."
"Ah, iya."
"Lalu, Riria yang menyusun strateginya dalam
sekejap, dan aku yang bergerak sebagai pendukungnya, pertama-tama kami berhasil
menemukan papan pengumuman sekolah itu."
Doguchi-san juga ikut dalam percakapan.
"Bukankah itu tidak akan ditemukan dengan pencarian
sederhana?"
"Riria lumayan jago soal hal-hal yang berkaitan
dengan PC, tahu." Seika-san menambahkan.
Tidak terlalu mengejutkan juga, sih. Rasanya dulu aku
pernah dengar dia bilang ingin masuk ke dunia pemrograman saat mengobrol di
kelas.
"Lalu, kami menyamar menjadi murid di papan
pengumuman itu dan menulis kalau kami bisa melakukan goukon (pesta
kencan) dengan anak dari SMA elit di dekat sini."
Doguchi-san tampak sedikit senang. Ujung jarinya
mengetuk-ngetuk gelas minuman.
"Dengan begitu, kita pancing mereka agar sampai ke
akun rahasiaku. Nah, di Timeline itu, aku menyebarkan beberapa kicauan
yang seolah-olah sedang mengatur kencan antara murid SMA elit itu dengan murid
dari sekolah laki-laki tempat Kutzsawa-kun bersekolah dulu."
Sonoda-san melanjutkan lagi.
"Setelah itu, kita tinggal menunggu targetnya
terpancing."
Dia membuat gerakan tangan seperti menarik pancing.
"Tapi bukankah itu sulit kalau kita tidak tahu akun
targetnya?"
Menanggapi keraguan Seika-san, Sonoda-san mengangguk.
"Aku ingin mendengar nama dan ciri-ciri mereka dari
Kutzsawa-kun."
Memang kecil kemungkinan mereka menggunakan nama asli
sebagai akun, tapi sepertinya banyak juga yang menggunakan pelesetan nama.
Selain itu, kalau kita tahu hobi dan kesukaan mereka,
seharusnya bisa dilacak dari isi kicauannya, katanya.
"Kalau mau memastikan, akan lebih lancar kalau ada
orang dalam yang membantu..."
"Mochida-kun dan Shiraishi-kun, kan? Apa tidak bisa
minta bantuan mereka?"
Seika-san menyebutkan nama-nama itu sambil menatap ke
langit-langit.
"Tidak, hmm."
"Kenapa tidak bisa? Bukannya kamu bilang mereka itu
'putih' (orang baik)?"
"Mochida-kun sepertinya punya adik yang suka
sejarah, dan ukiran kayu yang kuberikan sepertinya masih disimpan oleh adiknya.
Kalau Shiraishi-kun, dia bahkan tidak kuberi apa-apa."
Saat aku mengecek akun Twista Mochida-kun dengan perasaan
takut-takut belum lama ini, dia memang mengunggah foto ukiran kayu yang
kuberikan. Mungkin dia baru ingat keberadaan benda itu setelah bertemu
denganku.
Sedangkan Shiraishi-kun, dia baru sekelas denganku sejak
kelas tiga, jadi kami jarang berinteraksi.
Berdasarkan hal itu, sudah pasti mereka orang baik.
Tapi, meskipun mereka orang baik, bukan berarti aku bisa
meminta tolong pada mereka... atau lebih tepatnya, kepercayaan itu belum sampai
ke tahap itu.
Lagi pula, meskipun mereka bukan pelakunya, bukan berarti
mereka tidak mungkin menjadi orang yang menulis di papan pengumuman itu.
Setelah menceritakan situasinya,
"Ah, tapi kita bisa melacaknya dari akun orang-orang
itu. Kasih tahu saja ya."
Kata Sonoda-san. Aku tidak tahu apakah mereka masih
sekelas dengan para berandal itu dan Haizuka, atau sudah berbeda kelas, tapi
memang sangat mungkin mereka masih berinteraksi.
Saat bertemu di Yokonaka Timur waktu itu, setidaknya
mereka sempat menyebut nama Haizuka.
Aku mengeluarkan ponsel, masuk ke Twista, lalu mengakses
akun Mochida-kun dan menunjukkannya pada Sonoda-san.
"Oke, ini akan mempermudah segalanya."
Dia tersenyum lembut, tapi memikirkan apa yang akan dia
lakukan, keberaniannya membuatku sedikit ngeri.
"Tapi sebenarnya, kalau pun berhasil memancing
mereka keluar, kita mau apa? Tidak mungkin kita mengumpulkan orang lalu
menghajar mereka, kan?"
Aku tahu dia marah demi diriku, tapi Seika-san juga
terlihat menakutkan. Tapi rencana itu termasuk dalam kategori jalan berbahaya,
jadi aku menolaknya.
Saat aku hendak menyela, Doguchi-san menegur,
"Bodoh."
"Kalau kalian melakukan hal yang membuat kalian
tertangkap, justru malah berantakan, kan."
"Ya, sih."
"Yah, yang paling realistis adalah membiarkan mereka
menunggu tanpa kejelasan di cuaca panas seperti ini. Lalu, saat mereka sudah
'matang', kita pura-pura lewat secara kebetulan sebagai pasangan, lalu
memamerkan kemesraan sambil lewat?"
"Tidak, itu... kalau kebetulan jadinya terlalu
dibuat-buat. Kalau mereka sadar kalau itu semua direncanakan oleh kalian,
mungkin mereka malah akan marah balik."
Memang benar. Kalau aku tiba-tiba lewat di saat yang
tepat ketika mereka gagal mendapatkan goukon, itu terlalu mencurigakan.
"Kalau mau pamer, kenapa tidak umumkan pertunangan
kalian di saluran kalian saja?"
Doguchi-san
benar-benar suka dengan ide itu, ya. Seingatku dia juga bilang begitu saat
acara chigirie.
"Tidak
bisa. Tidak ada alurnya. Sangat kecil kemungkinan laki-laki SMA
biasa menonton saluran model majalah."
Sekalipun kami mengumumkan pertunangan, kalau mereka
tidak melihatnya, tidak ada gunanya membuat mereka menyesal.
Kecuali kalau ada orang dalam yang menyebarkan hubungan
antara aku dan Seika-san ke mereka. Tanpa alur itu, aku rasa mereka tidak akan
pernah sampai ke sana.
Lagipula, karena mereka menyerang dari zona aman
anonimitas, aku rasa balas dendam pun harus memanfaatkan aspek keamanan
anonimitas itu sepenuhnya. Tidak adil kalau cuma kita yang menanggung
risikonya.
"Ya sudah. Paling buruk, Riria akan membiarkan
mereka berdiri menunggu dalam waktu lama sambil digantung harapannya, lalu kita
menontonnya dari tempat yang sejuk sambil bersenang-senang."
"Jangan-jangan, Chika yang paling antusias di
sini?"
"Yah, mungkin. Soalnya seru, kan? Melihat orang yang menyebalkan mengalami hal buruk."
Benar-benar orang yang jujur pada dirinya sendiri. Tapi,
sama seperti Seika-san, aku merasa kalau bisa hidup seujur itu, pasti rasanya
lebih sehat.
"Lalu kita rekam keadaan itu, dan mengunggahnya
secara anonim ke papan pengumuman."
Aku pun jadi ikut terbawa suasana.
Tentu saja wajahnya akan kuberikan sensor atau
sejenisnya. Tapi teman sekelas mungkin bisa mengenalinya jika melihatnya.
"Oh, bagus itu! Kutz-kun."
Doguchi-san tertawa. Gigi putihnya berkilau.
"Kalau di papan pengumuman, kita bisa menyelipkan
topik soal Kousei, lalu memancing mereka dengan bilang 'ada pacar yang imut
banget', mungkin itu akan menarik perhatian mereka."
"Ah, itu masuk akal. Aku tidak tahu apakah mereka
pelakunya, tapi bahkan kalau bukan, pasti kabar itu akan sampai ke telinga
mereka."
"……"
"……"
"Eh? Kenapa?"
Kedua orang di depanku memasang wajah terperangah.
"Tidak, Seika. Kamu sendiri yang bilang pacar
yang imut banget..."
"Hah!? I, tidak. Itu kan hanya kiasan
kata-kata."
"Hm? Bukankah Seika-san orang yang paling imut di
alam semesta, jadi tidak ada masalah, kan?"
Kenapa mereka mempermasalahkan hal sekecil itu?
"Beneran deh..."
"Emangnya Kutzsawa-kun tipe orang yang bicara begitu
di depan umum?"
Hm? Ah, begitu ya. Mengatakan hal seperti itu di depan
umum disebut noroke (pamer kemesraan), hal yang memalukan.
Hmm, tapi karena mereka berdua pun
menyusun rencana dengan asumsi bahwa Seika-san adalah pacar yang imut dan luar
biasa, kupikir tidak masalah jika aku mengucapkannya.
"Habislah! Kousei benar-benar ya, yang begitu-begitu
saja."
Seika-san tampak mengeluh, tapi suaranya terdengar manja.
Dia pun menyandarkan kepalanya ke bahuku dengan lembut.
"Uweeh. Padahal baru saja makan tiramisu."
Doguchi-san mengerucutkan bibir bawahnya.
Sonoda-san, karena pengalamannya yang luas, terlihat
tenang-tenang saja, tapi dia juga tampak ingin melanjutkan pembicaraannya.
Benar juga, hal-hal seperti itu sebaiknya dilakukan di
rumah nanti saja. Sekarang adalah tahap akhir dari diskusi ini.
"Yah... soal itu, nanti saja setelah mereka
benar-benar terpancing dan kita biarkan mereka menunggu, kita lihat situasinya
bagaimana."
Kesimpulan Sonoda-san. Kami bertiga mengangguk.
Sisanya bergantung pada kemampuan tangan wanita yang
memiliki ketenangan dan daya tarik yang tidak sesuai dengan usianya ini.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Kalau sudah di tangan
Riria, anak-anak laki-laki SMA yang masih polos itu semudah membalikkan telapak
tangan."
Doguchi-san melontarkan candaan ringan. Dia pun mendapat
cubitan kecil dari Sonoda-san.
"……Hadeh. Tapi yah, mereka juga pasti sedang
kekurangan kasih sayang, jadi kurasa akan lancar. Aku
yakin bisa memberikan kabar baik."
Sonoda-san berkata sambil tersenyum anggun. Orang
yang sudah sering melalui masa-masa sulit memang tidak mudah menjadi sombong,
ya.
"Kalau begitu, maaf, boleh kita bicara soal
uang?"
"Ah, iya."
"Apa kalian setuju?"
"Tentu saja. Sonoda-san yang menanggung risiko
terbesar, dan lagi, meskipun aku menyamar jadi anak perempuan untuk mendekati
mereka, aku tidak yakin bisa memancing mereka keluar. Aku rasa bayaran atas
jasamu sangatlah wajar."
"Oh?"
Sonoda-san mengeluarkan suara terkejut.
"Seika."
"Hm?"
"Kamu berhasil menangkap anak laki-laki yang hebat,
ya."
"Yup, dia pacarku yang terbaik."
Mendengar dia berkata begitu membuatku merasa malu
sekaligus senang. Sonoda-san tersenyum lembut, lalu,
"Untuk saat ini, tiga puluh ribu yen ya."
Dia mengangkat tiga jari tangan kirinya.
Berbeda dengan raut wajahnya yang lembut, bicaranya
langsung tajam soal uang.
Aku tidak tahu pasaran untuk permintaan seperti ini, tapi
kalau termasuk menanggung risiko saat gagal, mungkin angka segitu wajar.
"Baik... tiga puluh ribu yen."
Sonoda-san pasti tidak tahu, tapi uang hadiah kompetisi
yang kuterima kemarin jumlahnya tepat tiga puluh ribu yen.
Saat aku melirik Seika-san, dia mengangguk lebar.
Sebenarnya aku ingin mengajak dia nonton film dengan uang itu, sih.
"Silakan."
Aku mengambil tiga lembar sepuluh ribuan dari dompet
dan menyerahkannya padanya.
"Ya, diterima. Lalu ini..."
Satu lembar kembali ke tanganku. Eh? Saat aku menatapnya dengan bingung,
"Ini angpao dari aku untuk kalian berdua. Semoga
bahagia selamanya, ya."
Dia mengucapkannya dengan senyuman yang membuat siapa pun akan jatuh hati.
Sekarang aku
paham betul mengapa dia selalu punya pacar. Dan, aku pun jadi setengah yakin
kalau operasi ini akan berhasil. Dengan kawan-kawan dari sekolah laki-laki yang
sama tidak berpengalamannya denganku, mereka pasti akan langsung terpikat.
Setelah itu, Sonoda-san bilang dia akan segera mulai
menyiapkan semuanya, sementara Doguchi-san bilang dia masih di tengah-tengah
berkemas untuk pulang kampung, jadi keduanya pun pulang dengan kereta. Aku
sempat berpikir mungkin mereka sengaja melakukan itu karena ingin memberi kami
ruang. Terutama Doguchi-san, dia ternyata diam-diam punya sisi pengertian
seperti itu.
Sesampainya di rumah dan naik ke kamarku, aku dan
Seika-san berdiri berdampingan di depan lubang angin AC. Butuh waktu lama
sampai udaranya benar-benar dingin, ya. Kami juga menyalakan kipas angin, tapi
tetap saja tidak terlalu membantu.
"Sumpah deh, musim panas tahun ini benar-benar gila.
Pas keluar dari restoran tadi, aku sampai merasa sedikit pusing."
"Perbedaan suhunya lumayan ekstrem, sih. Sepertinya
banyak juga yang sampai kena gangguan saraf otonom."
"Aku mengerti rasanya."
Seika-san mengembuskan napas panjang. Ruangan sudah mulai
terasa sejuk, jadi kami akhirnya duduk di atas bantal.
"Apakah... akan berjalan lancar?"
"Hm? Maksudmu Riria?"
"Iya."
Meski pembicaraan ini terasa mendadak, dia menangkap
maksudku dengan tepat. Entah bagaimana, sudah tiga bulan sejak kami berteman,
dan berkat menghabiskan waktu bersama hampir setiap hari, mungkin kami jadi
bisa memahami tempo percakapan dan ritme satu sama lain tanpa harus disadari.
"Yah, meskipun begitu, dia itu wanita yang cakap.
Aku tidak khawatir sama sekali. Sebaliknya... malah..."
Seika-san menjeda kalimatnya di sana, lalu menoleh ke
arahku. Dia mencubit pipiku pelan.
"Aku khawatir kalau-kalau kamu yang mendadak ciut
nyali tepat sebelum eksekusi."
"Ugh."
Sambil pipiku dimainkan, aku mencoba jujur dengan
perasaanku sendiri. Namun, bahkan setelah rencana ini diputuskan dan mulai
berjalan, sampai di titik ini pun, tidak ada keraguan atau rasa takut dalam
diriku.
"Yah, yang kita lakukan ini skalanya kecil, sih.
Tidak terlalu besar atau berbahaya, jadi lebih mirip iseng daripada balas
dendam."
Kalau isinya keterlaluan, mungkin rasa bersalah akan
muncul, dan yang lebih penting, aku pasti akan mundur karena memikirkan
risikonya. Mengorbankan masa depanku, Seika-san, dan keluargaku demi
membersihkan masa lalu adalah hal yang keliru. Namun.
"Kalau cuma sampai level ini, kurasa aku punya hak
untuk membalas mereka."
Saat aku bergumam begitu, Seika-san mengiyakan dengan
mantap.
"Tentu saja kamu punya hak! Hidupmu telah mereka
ubah, ini bahkan belum seberapa!"
Memang benar, dan aku merasa kesal karena mereka menjadi
penyebab keluargaku dan Seika-san harus selalu khawatir. Memang benar kalau
hidupku telah berubah sampai-sampai aku memiliki trauma yang membuatku tidak
bisa naik kereta menuju arah Yokonaka dengan tenang. Namun,
"Ada apa?"
Menyadari aku ingin mengatakan sesuatu, Seika-san
mencondongkan wajahnya dari arah bawah.
"Aku tidak bisa menjelaskannya dengan
baik."
"Iya."
"Ada bagian yang menjadi penyebab aku harus
pindah sekolah..."
"Iya. Jadi, bukankah hidupmu telah mereka belokkan?
Harusnya kamu melakukan balas dendam yang lebih kejam lagi."
"Bukan begitu maksudku."
Aku melerai Seika-san yang mulai tersulut emosi lagi.
"Tentang pindah ke sekolah yang sekarang, bukannya
aku berterima kasih... tapi harus bilang apa ya? Malah sebaliknya, ini adalah
keputusan yang paling tepat."
"Hm?"
"Karena... aku bisa bertemu dengan Seika-san."
Mendengar itu, mata Seika-san membelalak, lalu dia
memprotes dengan suara lemah, "Jangan buat serangan mendadak begitu."
Dia bahkan menunduk dan menghindar dari tatapanku. Bukan maksudku untuk begitu,
tapi sepertinya aku malah membuatnya malu.
Aku berlutut dan memeluknya dari depan dengan lembut.
Melihat Seika-san yang memalingkan wajah karena malu justru membuatnya terlihat
imut, aku pun menempelkan pipiku di kepalanya. Rambut peraknya yang halus
menyentuh kulitku.
"Sudah pernah kubilang sebelumnya... soal aku
yang masuk rumah sakit juga."
"Iya."
"Hasilnya memang buruk dan berantakan sekali,
tapi justru karena rumah sakit itulah, aku bisa bertemu dengan Chika dan
dirimu... jadi, bisa dibilang rasa syukur, ya. Iya, perasaanku sama
sepertimu."
"Iya, ya. Kalau dipikir-pikir, strukturnya mirip
sekali."
Apakah ini yang disebut dengan nasib baik dan buruk
yang terjalin seperti tali? Hidup ini misterius; terkadang hal terbaik justru
terselip tepat di samping hal terburuk.
Kabar baik dari Sonoda-san sampai tepat di hari
berikutnya, saat matahari mulai terbenam.
Karena hari ini juga aku tidak punya uang, kami
menghabiskan waktu dengan percuma sambil menonton video anjing di Yurutube.
"Bohong, secepat itu?"
Itulah kata pertama Seika-san setelah melihat Rain,
lalu dia menyerahkan ponselnya padaku dengan wajah heran. Saat
kulihat, ada pesan dari 'Riria' yang bertuliskan, 'Sudah terpancing~'. Aku
langsung mengerti apa maksudnya.
Tak lama kemudian, telepon pun masuk.
"Ah, eh."
"Angkat saja. Aktifkan mode speaker, biar kita
bicara bertiga."
Aku melakukan apa yang dia perintahkan lalu meletakkan
ponsel di atas meja. Kami berdua merapatkan bahu dan menatap layar ponsel.
"Halo? Apa sekarang bisa bicara?"
Suara Sonoda-san terdengar segera.
"Ah, iya. Bisa."
"Eh? Kutzsawa-kun?"
"Aku juga di sini, lho."
"Oh, kalian berdua bersamaan ya. Jadi lebih
efisien."
Terdengar suara tawanya yang tampak senang.
"Nanti aku akan kirim screenshot-nya, tapi aku sudah
menemukan akun yang 90% kemungkinan adalah mereka. Setelah aku sedikit
mendekati mereka, ternyata mereka langsung terpancing."
"Wah..."
Seika-san terdengar sangat terkejut. Memang benar, aku
pun berpikir seberapa kekurangan kasih sayangnya mereka sampai semudah itu?
"Aku pikir bakal makan waktu lebih lama, jadi
sepertinya aku melakukan hal yang buruk pada kalian. Bagaimana kalau imbalannya
aku kembalikan sedikit?"
"Tidak, tidak perlu. Kami hanya bisa berterima kasih
pada Sonoda-san, jadi mohon terima saja sebagai tanda terima kasih kami."
Fakta bahwa dia menanggung risiko dan menggunakan
keahliannya adalah nyata. Bahwa mereka ternyata mudah sekali terpancing
hanyalah hasil akhirnya saja.
"...Fufu. Kamu benar-benar menganggap hal seperti
ini sebagai keahlian, ya?"
"Tentu saja. Karena aku sendiri tidak akan bisa
melakukannya."
"Begitu,
ya... Kutzsawa-kun. Kalau nanti kamu diputus oleh Seika, datanglah padaku.
Aku akan menghiburmu."
"Heh!!"
Seika-san berteriak marah. Aku yang mendengarnya tepat di
samping ponsel sampai telingaku berdenging.
"Tidak akan putus! Itu tidak mungkin terjadi! Kamu
ini benar-benar tidak bisa lengah sedikit pun! Benar-benar keputusan tepat
tidak memberitahumu Rain-nya Kousei!"
Dalam kasus ini, sempat muncul ide untuk menukar Rain
dengan Sonoda-san karena mungkin akan ada banyak koordinasi, tapi Seika-san
menolaknya dengan berkata, "Cukup lewat aku saja, kan?" Aku sempat
mengira dia cemburu, tapi ternyata itu benar adanya. Tidak, itu terlalu
berlebihan. Tadi itu pasti hanya candaan saja.
"Lagipula, Sonoda-san, bukankah sebelumnya kamu
bilang punya pacar?"
"Sudah tidak punya lagi~"
Apakah itu tren sekarang?
Setelah telepon berakhir, kami berdua terdiam sejenak.
Di layar PC, video menggemaskan antara anjing Shiba Inu
dan Samoyed sedang berputar, tapi... kami merasa seolah baru saja dilemparkan
ke medan perang dari ruang yang damai itu.
"...Apa kamu baik-baik saja? Hari penentuannya
datang lebih cepat dari perkiraan."
Bukannya aku ingin menunda-nunda, tapi goukon fiktif itu
sudah dijadwalkan untuk besok. Kalau menundanya terlalu aneh, mungkin akan
dicurigai, dan dari pihak sana, sepertinya mereka ingin memanfaatkan kesempatan
sebelum liburan musim panas berakhir. Mungkin ada rasa cemas kalau mereka akan
mendapat "sisa-sisa" setelah liburan usai.
"Tidak apa-apa. Rasanya seperti pergi ke dokter gigi
tanpa janji temu, lalu saat sampai di sana ternyata kosong dan dokter bilang
bisa langsung ditangani."
"Bukankah itu artinya tidak sepenuhnya baik-baik
saja? Tekadmu masih setengah matang, kan."
"U-ugh."
Tentu saja ini keputusanku sendiri, tapi aku
memperkirakan butuh setidaknya beberapa hari sampai mereka terpancing...
ternyata besok. Apa aku akan baik-baik saja? Rencananya aku hanya akan
mengawasi dari jauh, tapi kalau melihat wajah mereka nanti, apa aku tidak akan
berubah menjadi menyedihkan lagi? Seika-san saja sudah tidak masalah, tapi saat
hari-H nanti, akan ada Doguchi-san dan Sonoda-san. Kalau aku
mempermalukan diriku sendiri...
"Kousei."
Suara lembut Seika-san memanggil. Dia membuka kedua
lengannya. Sebelum aku bicara apa pun,
"Mau bermanja-manja?"
Dia memberikan penawaran penuh cinta yang sangat menarik
dan sulit untuk ditolak.
"...Iya."
Dengan malu-malu aku membungkukkan tubuh dan
mendekatinya. Lalu, dia mendekapku ke dalam pelukannya. Rasanya sangat nyaman
sampai aku takut akan menjadi manja.
Hangat. Lembut. Kedamaian yang sudah berkali-kali
kurasakan. Dia mengusap pipi dan kepalaku dengan lembut.
"Ayo berjuang. Ayo melangkah maju."
"Iya."
Aku membulatkan tekadku. Ada orang yang bilang balas
dendam tidak menghasilkan apa-apa, tapi menurutku itu hanya pemanis bibir.
Ada kalanya kita harus menunjukkan pada diri sendiri
bahwa kita tidak kalah, agar bisa bangkit. Maju... aku akan maju.
☆☆☆
Dan hari berikutnya pun tiba.
Tadi malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena
hasil balas dendamnya, tapi karena aku terlalu khawatir dengan Kousei.
Aku tidak menyesal telah menyarankan balas dendam... tapi
aku pikir kita masih punya waktu untuk persiapan mental. Riria, kau terlalu
kompeten sampai-sampai ini jadi masalah. Tidak, aku berterima kasih, sih.
Karena aku saja begini, pasti Kousei jauh lebih kurang
tidur. Sambil berpikir begitu, aku mengayuh sepeda menuju pabrik.
Lalu, aku menemukan pacarku yang baru saja keluar dari
pintu depan. Dia memakai topi yang ditarik rendah dan mengenakan masker.
Apa-apaan itu.
"Selamat pagi."
"Waa! S-selamat pagi."
Sepertinya dia tidak menyadariku. Mungkin karena topinya,
atau karena ketegangannya yang membuat fokusnya menyempit.
"Kenapa memakai itu?"
"...Karena wajahku sudah dikenali orang, jaga-jaga
saja."
Begitu ya. Tapi rencananya kita akan mengamati dari
lantai tiga Burger Queen yang menghadap ke arah alun-alun stasiun, jadi
menurutku akan baik-baik saja.
...Yah, mungkin dia memang ingin merasa aman. Tapi tetap
saja.
"Seperti pencuri."
"Ugh."
Ah, dia merasa tersinggung, ya? Tapi memang penampilannya
aneh. Kousei memasang wajah masam yang terlihat bahkan dari balik maskernya,
lalu membuka tasnya.
Yang ditariknya keluar adalah kacamata hitam berwarna
kekuningan. Dia melepas masker dan topinya, lalu menggantinya dengan kacamata
itu. Tunggu...
"Kamu beli itu?"
"Tidak. Aku meminjam milik Ayah. Sepertinya
itu barang lama."
Desain beberapa puluh tahun lalu, ya. Pantas saja terasa
kuno. Dilihat dari cara bicaranya, sepertinya Yoshiki-san juga sudah tidak
memakainya lagi.
"Apa aneh?"
"Bukan aneh sih... tapi kurasa itu juga tidak
cocok."
"Ugh."
"Hmm... jujur saja, menurutku itu justru membuatmu
makin mencolok."
Terus terang, dia terlihat seperti orang suram yang
berusaha keras bergaya lalu gagal. Bukannya mencolok, malah mungkin akan
ditertawakan.
"B-begitukah?"
"Mungkin cukup maskernya saja."
Atas saranku, Kousei melepas kacamata itu, menyimpannya
ke dalam tas, dan hanya memakai maskernya. Dia terlihat agak sedih, tapi aku
tidak bisa membiarkan pacarku terlihat norak dan ditertawakan orang lain.
Setelah melihat Kousei berhasil melewati gerbang tiket
dengan lebih lancar dari hari sebelumnya—seperti melihat bayi kerabat yang
akhirnya bisa berjalan sendiri—aku menunggu di peron sampai kereta datang. Saat
naik, Kousei tampak natural. Jika balas dendam ini selesai, mungkin dia bisa
naik kereta menuju arah Yokonaka sendirian.
Kami sampai di Yokonaka Timur pukul 12.52. Dari sana, kami bergerak menuju Burger Queen yang terhubung dengan
stasiun.
Kami memesan minuman dan duduk di kursi lantai tiga
dekat jendela.
Kursi-kursi tetap dipasang melengkung mengikuti kaca,
dan saat kami duduk berdampingan, pemandangan stasiun terhampar luas di depan
mata. Saat melihat ke bawah, kami juga bisa melihat kondisi
alun-alun.
"...Itu mereka. Haizuka dan kawan-kawan."
Suara Kousei terdengar agak kaku. Saat melihat ke arah
yang ditunjuknya, ada empat orang anak laki-laki. Semuanya terlihat berusaha
keras bergaya dengan pakaian trendi.
Lalu, Kousei tertawa kecil.
"Mereka memakai celana seperti itu... berdiri
seperti model saja."
Salah satu dari mereka memasukkan satu tangan ke saku
celana cropped motif kotak-kotak, sementara tangan lainnya dengan malas
memainkan ponsel.
Kenapa mereka memilih pakaian yang sulit dipakai begitu?
Terlebih lagi, mungkin karena belum terbiasa berdiri
dengan satu kaki ditekuk, dia sempat kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh
seperti mainan yajirobe tepat di depan mata kami.
"Pfft. Hahaha."
Kousei tertawa lepas. Rasa tegangnya entah ke mana.
Ada juga anak yang mengeluarkan cermin saku setiap
sepuluh detik untuk merapikan rambut, ada juga yang duduk jongkok berusaha
terlihat cool tapi malah tampak seperti sedang buang air.
Semuanya terasa begitu menyedihkan sampai aku tidak tega
melihatnya. Tapi itu hanya perasaanku, di sebelahku Kousei tertawa lebar.
Bahkan dia sampai mengeluarkan kamera digital dan
memotret berkali-kali. Maksudku, fakta bahwa dia menggunakan kamera digital,
bukan ponsel, menunjukkan seberapa serius dia.
Yah, aku sebenarnya sudah tahu kalau di dalam diri Kousei
tersimpan sisi yang cukup kejam.
Dia sangat gigih kalau sedang menjahili Miyasaka, dia
juga menyerang bapak-bapak pedagang kaki lima dengan santai. Bahkan saat
bermain Temple Fighters, dia tidak kenal ampun.
...Anak yang biasanya tenang memang punya sisi seperti
itu, ya.
"Ah, inspirasi kreatifku mulai muncul."
Dia mau membuat sesuatu...?
Tak lama kemudian, Chika dan Riria datang membawa nampan
makanan. Riria duduk di seberangku, Chika di seberang Kousei.
Chika menatap Kousei yang sedang girang memotret mantan
teman sekelasnya dengan tatapan jijik.
"Waduh, memalukan sekali. Rasa malu empati ini luar
biasa."
"K-Kutz?"
"Dia merapikan rambutnya lagi... padahal tidak ada
siapa-siapa. Fufu."
Dia tertawa sendiri atas leluconnya sendiri.
"Yah, mungkin dia sedang membuang perasaan
terpendamnya. Hidup juga butuh hari-hari seperti itu."
Riria tetap dingin seperti biasanya. Tapi cara bicaranya
seolah dia sendiri pernah mengalami hari seperti itu.
"Aku tidak tahu kalau balas dendam ternyata
semenyenangkan ini. Padahal di seminar 'Abyss' berkali-kali dibilang itu hal
penting, tapi aku malah mengabaikannya."
"Itu pasti jenis balas dendam yang sama sekali
berbeda. Lagi pula, kamu ikut seminar 'Abyss'? Chika juga ikut, kan, saat
SMP?"
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan agak memaksa.
Sebelum Kousei mabuk dalam balas dendam dan pergi terlalu jauh.
"Ah, iya, ikut. Tapi karena guru pembimbingnya, Pak
Pulpen Biru, mulai merayu murid, jadi aku keluar karena merasa jijik."
"Eh? Itu tidak baik, ya. Tidak
bisa mencari dan membalas dendam padanya?"
Gawat,
dia benar-benar sudah kecanduan balas dendam. Dia sudah
menjadi penghuni dunia yang jauh.
Saat aku hendak menyerah, ponsel Riria berbunyi.
"Oh, apa mereka sudah tidak sabar?"
Janjinya jam 13.00, tapi sudah lewat lebih dari lima
menit.
"Sepertinya begitu. Yah, serahkan padaku."
Hanya itu yang dia katakan, lalu Riria mengirim pesan
dengan kecepatan tinggi. Tentu saja menggunakan fitur DM Twista, dan dia tidak
memberikan informasi pribadinya sedikit pun.
"Oke. Dengan ini kita bisa membuat mereka menunggu
sekitar 30 menit lagi."
"B-bagaimana caranya?"
"Salah satu anggota goukon hari ini tiba-tiba sakit,
jadi aku mencarikan penggantinya. Aku kirim pesan kalau gadis pengganti ini
baru pertama kali ke Yokonaka Timur jadi aku harus menjemputnya. Aku minta
mereka tunggu sebentar. Sekalian aku kirim foto gadis penggantinya.
Ngomong-ngomong, itu foto gadis imut yang aku ambil dari internet lalu kuedit
dengan aplikasi. Hidungnya sedikit kupendekkan, matanya kikecilkan, dan bagian
dadanya kubuat lebih berisi."
Apakah dia iblis?
"Wajahnya diubah ke arah yang buruk? Bukannya dibuat
jadi cantik?"
Chika bertanya heran.
"Penampilan yang bisa dicapai + payudara besar.
Justru itu yang membuat mereka lebih semangat. Mereka akan salah paham mengira
targetnya berada dalam jangkauan."
Sebagai sesama wanita aku tidak begitu paham, tapi kalau
Riria yang bilang, pasti benar.
Benar saja, setelah DM-nya terkirim, mereka semua melihat
ponsel bersama-sama dan tertawa senang. Salah satu dari mereka bahkan
terang-terangan membuat bentuk gunung di depan dadanya dengan kedua tangan. Ih,
menjijikkan.
"Tiga puluh menit lagi! Matahari, ayo! Bakar mereka!
Kamu bisa! Panas lagi!"
Dia sudah seperti kakek-kakek petenis. Kapan Kousei-ku
yang manis kembali?
Sekitar dua puluh menit kemudian. Yah... bosan, ya.
Kousei akhirnya tenang dan menyesap es teh pesanannya. Wajah orang yang sudah
terlepas dari gangguan mungkin seperti ini.
"Mungkin ini hal paling lucu yang kutertawakan
tahun ini."
"Pasti."
Namun, raut wajahnya benar-benar cerah.
Mungkin sampai ke sini tadi, dia masih punya rasa cemas
yang besar.
Sampai-sampai dia berpikir perlu menutupi wajahnya.
Tapi begitu hal ini benar-benar dimulai, kekhawatiran itu
hilang, dan dia merasa puas melihat perilaku memalukan orang yang dia benci.
Mungkin ada yang bilang ini tidak sehat. Tapi
menurutku, aku setuju dengan Riria.
Jika bisa membuang emosi buruk yang menumpuk seperti
sedimen, itu justru sehat.
Lagipula, pihak yang dibuang emosinya adalah orang yang
menyebabkan perasaan itu muncul. Tidak merugikan siapa pun.
"Seika-san, Doguchi-san, terima kasih sudah
menemaniku."
Kousei berterima kasih pada kami satu per satu. Terakhir
dia menoleh ke Riria.
"Sonoda-san, terima kasih banyak atas bantuannya.
Berkat dirimu, aku merasa bisa melangkah maju satu langkah lagi."
"Iya. Tapi jangan dipikirkan. Aku juga sudah
menerima bayaranku. Oh, tentu saja kewajiban kerahasiaan pasti kujaga."
Lagipula, Riria tidak akan untung apa-apa dengan
menyebarkan masa lalu Kousei. Karena dia dingin, dia tipe orang
yang tidak akan melakukan hal yang tidak menguntungkan baginya.
Fuu, Kousei mengembuskan napas. Sepertinya hari ini
selesai sampai di sini. Mungkin nanti sesampainya di rumah, aku akan
memanjakannya lagi.
Aku menoleh ke arah jendela untuk melihat wajah bodoh
mereka sekali lagi. Lalu, pikiranku membeku melihat apa yang ada di sana.
...Ada pria-pria berotot yang sedang melilit empat orang
itu. Eh, apa? Hah?
"Ada apa?"
Mengikuti arah pandanganku yang membeku, Kousei juga
melihat ke jendela.
"Hah!?"
"Hei, itu..."
Perampokan? Sebelum aku bisa mengatakan dugaanku, Kousei
berseru,
"Orang-orang itu! Itu peraih medali emas dan perak
'Nasikonkapimpik' tahun lalu!"
Dia berkata begitu.



Post a Comment