NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Gyaru no Jitensha o Naoshitara Natsuka Reta Volume 3 Chapter 1


〈1〉

☆☆☆

Malam hari, tepat di hari Kousei mengajakku pergi ke festival kembang api empat hari lagi.

"Chika~, ini sudah pasti gol, kan?"

Aku tidak bisa memendamnya sendirian, jadi aku kembali berkonsultasi dengan malaikat penasihat, Chika-el. Maksudku, aku hanya ingin dia membenarkan dugaanku.

"……Yah, kurasa begitu."

"Benar, kan? Benar, kan?"

Ternyata, kalau dilihat dari sudut pandang pihak ketiga seperti Chika, ini memang sudah level pasti, ya! Kalau begitu…… kami saling menyukai. Empat hari lagi, aku akan ditembak. Ah, tidak, tepatnya aku yang sudah menembaknya duluan, jadi aku hanya tinggal menunggu jawabannya saja.

"Kutsu-zawar tidak akan repot-repot mengajakmu ke festival kembang api hanya untuk menolakmu. Akan lucu kalau dia membuatmu hancur lebur di sana lalu bilang 'kembang api yang menyedihkan'," ucap Chika.

"Jangan lucu-lucuan! Kousei-ku bukan anak yang seperti itu. Dia itu murni, baik hati, dan kenyal-kenyal!"

"Entah apa hubungannya dengan kenyal-kenyal…… tapi memang benar dia orang baik. Aku jadi bisa tenang berhenti menjadi penjagamu."

"Penjaga, katanya."

Tidak, selama beberapa bulan terakhir, aku memang sudah sering meneleponnya seperti ini untuk curhat soal Kousei. Ya, aku benar-benar berhutang budi padanya.

"……Terima kasih, ya. Selama hampir tiga bulan ini."

"Hm."

"Kalau tidak ada Chika, mungkin aku sudah menyerah. Lagipula, setelah kejadian 'kabur' itu, kalau kau tidak memberitahuku alamatnya, kemungkinan besar hubungan kami sudah terputus begitu saja."

Bahkan jika aku berhasil merapikan perasaanku dan ingin kembali mendekatinya, mungkin saja saat itu Kousei sudah menutup hatinya rapat-rapat. Terutama setelah mendengar traumanya, aku merasa dia benar-benar hebat karena mau datang ke rumahnya. Kurasa itu semua terjadi karena waktu intervensi Chika yang sangat tepat.

"Jangan pikir kau bisa mendapatkan apa pun dengan memujiku. Tapi…… mendengar semua ceritamu, sepertinya keputusanmu membeli ukiran kayu saat itu punya peran besar."

Dalam interaksi singkat sampai kencan di mal pertama kali itu, memang benar bagian itulah yang paling menyentuh perasaannya. Namun, tetap saja, apa yang dilakukan Chika sangatlah besar.

"Lagipula, kau sudah merasa menang, tapi dia belum benar-benar menyatakan cinta, kan? Baru sembilan puluh persen kemungkinan saja."

"Tidak, tidak. Festival kembang api, cuma berdua. Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa."

"……Misalnya, dia minta izin untuk membuat patung seukuran aslimu karena ingin memamerkannya."

"……"

Mungkinkah pola itu terjadi? Mengingat itu Kousei. Siapa tahu? Tidak, mungkin saja dia menganggap pembicaraan penting itu adalah hal semacam itu.

"T-tidak, tidak, tidak. Setidaknya, jangan sampai itu terjadi."

"Meskipun aku sendiri yang bilang, tapi membayangkan hal itu benar-benar mungkin terjadi adalah ciri khas Kutsuzawa."

"Uuuugh. Bilang saja itu tidak mungkin terjadi~. Kalau ternyata aku salah paham dan itu malah hal lain, aku bisa langsung ambruk di tempat."

Hatiku bisa patah. Mungkin, tidak, aku pasti akan menangis. Menangis tersedu-sedu. Tapi meski begitu, tidak ada pilihan untuk menyerah, sih.

"Kalau begitu, karena tidak bisa dinalar lagi, sergap saja dia."

"Akan kulakukan, itu sudah pasti."

Menyerangnya. Jika dia sebodoh itu, aku tidak bisa lagi memikirkan ciuman pertama yang romantis.

Tidak, aku rasa hal itu tidak akan terjadi. Aku ingin percaya begitu. Tapi terkadang Kousei memang punya cara yang luar biasa untuk meleset dari harapan.

"Ya sudah, empat hari lagi, kan? Apa pun itu, sampai saat itu kau harus menunggu dengan tenang, kan?"

"Iya, rencananya begitu. Tidak apa-apa, kan, dengan cara itu?"

"Kurasa. Pihak sana juga mungkin butuh persiapan mental…… kalau itu memang benar-benar pengakuan cinta."

"Masih saja kau mengatakannya. Semuanya akan baik-baik saja."

Sial. Padahal aku ingin merasa tenang, tapi Chika malah mengungkit kemungkinan-kemungkinan buruk hingga membuatku harus meyakinkan diriku sendiri.

"Kalau begitu sampai nanti. Terima kasih sudah mendengarkan."

"Jangan ngambek. Tadi aku salah bicara."

"……"

"……Kutsuzawa belakangan ini sering mencuri pandang padamu, dan dia jadi bisa tersenyum dengan sangat natural. Selain itu, sudah pasti kau telah memenangkan kepercayaannya yang luar biasa setelah keributan ini. Tanpa diragukan lagi, dia pasti sudah menyukaimu."

"B-benarkah?"

Dia mencuri pandang padaku. Aku memang merasa kami sering bertatapan di kelas, tapi aku pikir itu hanya khayalanku saja. Aku tidak ingin terlalu berharap agar tidak kecewa, tapi ternyata benar, ya.

"Singkatnya…… selamat karena sudah selesai dengan cinta bertepuk sebelah tanganmu."

Karena dia mengatakannya dengan lembut, tiba-tiba sesuatu yang panas naik dari dalam dadaku. Seiring dengan itu, air mata mengalir begitu saja.

"……Terima kasih, Chika. Terima kasih, sahabatku."

"Hentikan. Memalukan."

"Kau adalah cupid kami…… Malaikat Agung Chika-el."

"Akan kuputuskan pertemanan kita, sialan."

Meskipun terdengar marah, suaranya mengandung tawa yang lembut.

★★★

Dua hari telah berlalu.

Hari ini, semua karyawan yang tersisa pergi mengirim barang dan langsung pulang, sehingga pabrik sudah kosong sekitar pukul empat sore. Kesempatan emas. Kamarku sudah penuh dengan barang.

Aku membawa perlengkapan seni patung dan turun ke lantai satu. Ada peralatan berbahan logam, jadi aku harus berhati-hati agar tidak menjatuhkannya. Hanya karena itu saja, keringat sudah merembes di dahiku. Melihat kondisi ini, mungkin di dalam pabrik pun udara sangat pengap.

Meskipun jalanku lambat seperti siput, aku berhasil sampai di meja kerja pabrik dengan selamat. Aku menggelar perlengkapan yang tadi kupeluk di dada. "Baiklah," aku memantapkan tekad.

Aku mulai membuat wajah pada ujung kawat aluminium dengan tanah liat. Membulatkannya, lalu menambahkan sedikit tanah liat. Pada titik ini, bentuknya terlihat seperti permen lolipop, tapi perlahan aku membentuknya menyerupai tengkorak. Setelah meratakannya, aku mulai mengganti spatula untuk membentuk mata, hidung, mulut, hingga telinga.

"……Benar, fotonya."

Aku menggunakan ponsel untuk mencari foto idola junior yang kutemukan di internet. Itu adalah foto yang diambil saat acara dan dipublikasikan secara umum. Tentu saja meniru mentah-mentah itu tidak baik, tapi aku hanya menggunakannya sebagai referensi.

"Ya. Mirip juga, ternyata."

Aku memilih anak yang paling mirip dengan Seika-san saat masih kecil. Meskipun ingatanku tentang masa kecil Seika-san samar, bisa dibilang dia adalah sosok yang paling mirip dengan bayanganku tentang Seika-san versi kecil. Ini juga sangat membantu untuk meniru kerangka dan proporsi tubuh anak kecil.

Aku memperbesar gambar untuk mengamati tubuhnya dengan saksama. Mungkin karena anak ini tumbuh lebih cepat, dadanya sedikit menonjol, tapi kurasa saat itu dada Seika-san pastilah rata. Bahkan sekarang pun, dadanya tidak terlalu besar.

Aku menambahkan kawat untuk badan serta anggota gerak dan menyambungkannya……

"Waduh. Tangan dan kakinya kecil sekali."

Aku memotongnya cukup banyak. Tubuh anak kecil ternyata benar-benar sekecil itu.

"Dengan tubuh sekecil ini, kau berhasil melewati masa pengobatan yang panjang, ya."

Tentu saja, mungkin postur tubuhnya tidak persis sama dengan idola junior ini, tapi kurasa tubuhnya kurang lebih seperti itu. Dia sudah berjuang sekeras itu.

"Seika-san……"

Tiba-tiba air mataku hampir tumpah. Aku merasa dia begitu berharga. Seika-san pernah bilang dia "mencintaiku", dan kini aku bisa memahami perasaan itu dengan sangat baik. Penderitaan dan rasa sakit orang lain terasa seperti milik sendiri, dan aku bahkan merasa bersyukur atas keseharian yang bisa kami lalui dengan tawa setelah melewati masa sulit itu. Saat dia merangkul traumaku, dia pasti merasakan hal yang sama.

Aku menempelkan tanah liat sedikit demi sedikit. Setelah bentuk tubuh dasarnya jadi, aku menjauh sejenak ke bagian belakang pabrik. Aku mengambil oven yang kuizinkan untuk ditaruh di pojok ruangan lalu menyiapkannya. Sejak menerima permintaan yang berkaitan dengan Seika-san, aku mulai membuat figur lagi, dan oven ini aku dapatkan dari Menu-kari saat itu.

Pakaiannya bukan pakaian penuh rumbai seperti yang dipakai idola junior itu, melainkan aku ubah menjadi piyama. Tingkat kesulitannya berkurang, tapi aku tetap membuat kerutan dan bayangannya dengan teliti tanpa membuang waktu.

Selesai. Aku memanaskannya di oven hingga mengeras.

"Hhh."

Tahap terakhir. Pengecatan. Pertama, aku menggunakan cat enamel untuk memberikan garis-garis dalam. Kalau karakter dua dimensi, mungkin tidak perlu, tapi kali ini adalah manusia tiga dimensi, jadi memberikan garis akan membuatnya terlihat lebih bervolume.

Harus dilakukan dengan sangat teliti. Seolah aku sedang merawat orang aslinya.

Aku akan meniupkan kehidupan ke dalamnya.

Tak lama, pengecatan selesai, dan figur Seika-san saat masih SD, yaitu figur Sei-chan, telah rampung.

"Berha……sil!"

Penyelesaian figur ini berarti selesainya hadiah syukuran atas kesembuhannya.

Seolah energinya terkuras habis, aku terduduk lemas di tempat.

Aku berhasil menyelesaikannya tepat waktu sebelum hari festival kembang api.

"Seika-san……"

Selama waktu itu, hampir tidak ada saat di mana aku tidak memikirkannya. Tentu saja, aku ingin bertemu dengannya.

Namun, Seika-san pasti sedang mempersiapkan diri untuk kencan kami. Sama seperti gaun yang ia pakai waktu itu.

"Sedikit lagi."

Karena itu, aku pun harus memberikan seluruh usahaku.

Aku menopang figur yang sudah jadi itu dengan hati-hati seolah ia adalah anak burung, lalu kembali ke rumah dan menaiki tangga.

Di atas diorama yang sudah kusiapkan di kamarku, aku meletakkan figur Sei-chan dengan perlahan. Aku memasangnya dengan sangat hati-hati pada dudukan panjang berwarna tanah.

Setelah penataan selesai, aku memandangi keseluruhannya dari atas.

Sebuah hutan yang ditumbuhi kristal perak. Awalnya aku ingin memberikan suasana yang lebih suram, tapi aku memilih pepohonan yang tidak terlalu menonjol dengan dedaunan berwarna cerah. Bayangannya adalah sebuah lapangan di hutan yang diterangi matahari.

Lalu di lapangan itu, ada komposisi seorang wanita yang menggandeng tangan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu adalah Sei-chan saat masih sakit yang kubuat tadi. Ekspresinya tampak bingung, namun kakinya tidak berhenti melangkah.

Yang menarik Sei-chan dengan sedikit memaksa adalah Seika-san saat ini. Dia mengenakan gaun hitam, sama seperti Kururu-chan.

Ini adalah pesan dan restu dariku bahwa kelak di masa depan, dia bisa menjadi pahlawan yang kuat dan manis yang dulu hanya bisa dia kagumi.

"Aku bisa membuat apa yang ingin kubuat."

Tanpa terpaku pada pemandangan fantasi, aku mendesainnya hanya untuk syukuran kesembuhannya, khusus untuk dirinya.

"Dengan membawa ini."

Aku, Kousei Kutsuzawa, akan menyatakan cinta pada Seika Mizo-guchi.

☆☆☆

Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. Setelah itu, tidak ada lagi pertukaran pesan di antara kami berdua, selain pesan terakhir yang menentukan waktu dan tempat pertemuan di hari festival kembang api. Terkadang, akun yang baru dibuat Kousei memberikan tanda 'suka' pada postingan Twista-ku, jadi aku tahu dia masih memikirkanku.

Bukan berarti salah satu dari kami meminta untuk tidak saling menghubungi sampai hari-H. Tapi karena kami berdua tidak tahu harus bicara apa, situasi menjadi seperti ini secara alami.

Lagipula, jika kami bertemu dalam kondisi canggung sekarang, mungkin aku sendiri yang malah akan menyatakan cinta duluan. Bahkan mungkin saja aku malah menciumnya.

Jadi, karena itulah, aku menunggu di rumah…… atau setidaknya itulah niatku.

Karena sangat khawatir, sepulangnya dari urusan di depan stasiun, aku tanpa sadar membelokkan sepeda ke tikungan itu. Apa yang sedang dia lakukan, ya? Apakah dia sedang merenung sendirian lagi? Kekhawatiran itu…… hanyalah alasan, sebenarnya aku sendiri yang merasa kesepian.

Tapi, aku tidak berniat membunyikan bel dan benar-benar bermain ke rumahnya. Aku berpura-pura seolah tidak sengaja lewat saat pulang. Berharap bisa melihat wajahnya sekali saja. Alasan yang setengah hati…… ah, aku ingat. Ini sama dengan alasan yang kubuat saat menguntitnya bulan Mei lalu. Apa yang kulakukan pun sama. Aku tertawa kecil pada diriku sendiri.

Aku sampai di depan rumahnya dan menatap kamar Kousei dari bawah. Kupikir itu saja sudah cukup. Tapi, lampu kamarnya tampak mati…… mungkin dia sedang keluar. Sayang sekali. Saat aku hendak memutar sepeda untuk kembali, aku menyadari daun pintu pabriknya terbuka sedikit.

Tidak mungkin. Tidak mungkin situasi yang sama seperti bulan Mei terulang kembali. Meski berpikir begitu, aku tetap memarkir sepeda dan mengintip dari balik pintu.

Dan di sana……

Seolah déjà vu, dia ada di sana. Dunia milik Kousei sendiri.

Tatapan matanya begitu serius. Handuk yang dililitkan di kepalanya menempel di dahi karena keringat. Ujung jarinya bergerak tanpa keraguan sedikit pun, terus-menerus bekerja.

Tanah liat? Ah, mungkin itu figur. Apakah dia mengerjakan permintaan seseorang? Atau…… hadiah untukku lusa nanti. Aku tidak bermaksud narsis, tapi kurasa itu kemungkinan keduanya. Itu juga keinginanku agar itu benar-benar untukku.

Mungkin sudut matahari telah bergeser, atau awan yang bergerak. Sinar matahari senja masuk ke dalam pabrik melalui jendela sisi barat. Di dalam cahaya itu, keringat yang mengalir di pipi Kousei berkilau.

Indah sekali. Dunia milik Kousei sendiri. Sama seperti hari itu di bulan Mei, dia kembali memikat hatiku tanpa ampun.

Tanpa sadar aku mengulurkan tangan ke dalam tas…… lalu perlahan menggelengkan kepala. Aku akan menjadi orang yang bisa melihatnya kapan saja tanpa perlu mengintip secara sembunyi-sembunyi. Yah…… meskipun saat ini aku sedang menjadi pengintip.

Pada akhirnya, setelah dua menit menikmati pemandangan itu, aku menaiki sepedaku. Sampai akhir, Kousei tidak pernah sekali pun mengangkat wajahnya. Sesekali dia hanya melihat ponsel yang diletakkan di meja kerja. Mungkin itu bahan referensinya. Selain itu, dia benar-benar fokus menggerakkan peralatannya dengan sepenuh hati.

Begini saja sudah cukup. Sambil mengayuh sepeda kembali ke jalan, aku menyadari bahwa rasa sepi di dadaku menghilang secara ajaib.

Setelah sampai di rumah, Mama juga sudah pulang dari tempat penugasannya.




"Barangnya sudah sampai."

Sebuah kotak kecil dengan logo situs belanja daring diletakkan di atas meja ruang tamu. Ah, syukurlah. Karena sudah menentukan tanggal pengiriman, seharusnya barang itu sampai hari ini, tapi karena sampai sore tidak kunjung datang, aku tidak sabar dan memutuskan untuk pergi keluar lebih dulu.

"……Yukata?"

"Ya. Tolong bantu aku, ya."

Aku membuka kotak itu dan mengeluarkan yukata dari dalamnya. Warnanya biru muda dengan motif bunga-bunga putih yang tampak menari-nari.

Setelah membersihkan diri dengan shower, Mama membantuku memakainya. Karena dulu saat masih kecil dia juga yang sering memakaikannya, tangannya tampak sangat terampil. Aku harus minta diajari caranya suatu saat nanti.

"Nah, sudah."

"Terima kasih! Mama."

Aku masuk ke kamarku dan memeriksa penampilan di cermin. Mencoba mengangkat lengan kiri dan kanan. Berputar sekali, bagian belakang pun terlihat sempurna.

"Oke! Oke, oke!"

Ini adalah satu set yukata yang langsung kucari dan kutemukan di hari aku diajak pergi. Entah memilih warna hijau zamrud yang disukai Kousei atau gaun putih yang dia puji saat kencan dulu. Saat sedang berselancar di situs belanja daring mencari salah satu dari itu, aku tidak sengaja menemukannya. Aku langsung merasa "Ini dia!" dan setelah melihat detailnya, tertulis bahwa itu adalah bunga Ivy.

Setelah mencari tahu makna bunga itu…… aku langsung memesannya secepat kilat.

"Kousei……"

Saat mengintipnya bulan Mei lalu, aku hanya merasa dia keren. Tapi sekarang, aku tahu bahwa sumber gairahnya itu berasal dari kebaikan dan ketulusan hatinya. Dan itu adalah inti yang sempat dibuat redup oleh orang-orang bodoh…… namun tetap tidak mati di dalam dadanya. Aku menghormatinya. Sebagai manusia.

Aku juga harus tampil dengan persiapan matang.

Dia bilang penampilan ini adalah karunia, bukan hasil curang. Aku akan membusungkan dada, menjadikannya senjata, dan memolesnya lebih jauh lagi, supaya Kousei terpesona padaku melebihi kembang api yang ada di langit.

Aku pun segera mulai memilih riasan dan hiasan rambut yang paling cocok dengan yukata ini.

★★★

Lalu sampailah hari festival kembang api.

Cuacanya cerah sekali. Hanya ada angin hangat yang bertiup dari arah barat daya, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan sama sekali.

Pukul enam lewat tiga puluh menit sore. Saat aku berusaha menenangkan detak jantung yang terus bergemuruh, Seika-san datang dengan berjalan kaki. Untuk sesaat, mataku tercuri oleh penampilannya yang cantik dalam balutan yukata.

"Menunggu lama?"

Suaranya hampir tenggelam oleh kebisingan di depan stasiun. Dia dan aku sama-sama gugup. Karena ini pertemuan pertama kami sejak empat hari lalu saat dia bilang "mencintaiku". Dan kami berdua sadar bahwa hari ini akan menjadi titik balik hubungan kami.

"La-lama tidak bertemu."

Suaraku juga nyaris pecah.

Aku menatap penampilannya sekali lagi. Yukata cantik dengan motif bunga putih yang bermekaran di atas warna biru muda. Obi perak metalik yang lembut. Di kakinya, dia mengenakan bakiak kayu (geta) jenis ukon dengan alas hitam dan tali merah.

Cantik sekali. Untuk sesaat, aku merasa ingin mundur. Apakah aku benar-benar akan menyatakan cinta hari ini pada orang secantik ini? Jelas sekali kami tidak sepadan. Mungkin sebaiknya aku membatalkannya saja……

"Kousei?"

Ada sensasi hangat di telapak tanganku. Tanpa kusadari, Seika-san sudah menggenggam tanganku.

"Ayo? Nanti keretanya ketinggalan."

Aku dan Seika-san melewati gerbang tiket. Tepat saat itu, pengumuman kedatangan kereta terdengar.

"Gawat, gawat."

Seika-san menuruni tangga menuju peron dengan bakiak yang belum terbiasa ia pakai. Tanpa sadar posisi kami berbalik, aku yang sudah sampai di bawah duluan, lalu menarik tangannya untuk mengawalnya.

Namun, kereta itu sebenarnya baru datang sekitar dua menit lagi dan berhenti tepat waktu. Sepertinya kami tidak perlu terburu-buru sampai seperti itu.

"Huh. Sejuknya."

AC di dalam gerbong kereta terasa sangat kencang. Tingkat keterisian penumpang mungkin sekitar tujuh puluh persen. Meskipun jalur ini menuju Danau Sawami tempat festival kembang api diadakan, karena hari ini hari kerja, tampaknya tidak terlalu penuh.

"Maaf ya, tadi agak telat."

"Tidak apa-apa."

Penampilan Seika-san. Memakai yukata, ditambah berjalan dengan bakiak yang tidak nyaman. Wajar saja kalau butuh waktu.

"Seharusnya tadi kita kumpul di rumah Kousei saja, lalu aku nebeng di boncengan sepeda."

Dia sendiri yang mengusulkan untuk bertemu di stasiun karena alasan agar tidak terlalu terlihat seperti kencan, tapi sepertinya dia tidak menyangka akan kerepotan sampai seperti ini.

"……Memakai yukata ternyata cukup merepotkan."

"Iya. Dan, um, itu sangat cantik."

Tanpa diduga, pujian itu meluncur dengan lancar. Mungkin karena itu memang yang kurasakan dari lubuk hati terdalam.

"Benar, kan? Aku langsung jatuh cinta saat melihatnya secara daring. Bunga putih ini katanya bunga Ivy. Bukankah manis?"

Yang kupuji cantik adalah Seika-san, tapi karena malu, aku membiarkan dia tetap pada kesalahpahamannya.

"Iya, terlihat seperti kembang sepatu putih. Sangat cocok untukmu."

"Hm, terima kasih. Makna bunganya juga indah sekali, makanya aku pilih."

Makna bunga. Aku harus mencarinya nanti. Mungkin bisa jadi bahan obrolan.

"Kousei juga keren. Ini jinbei? Motif anjing Shibanya lucu sekali."

Seika-san menusuk pola anjing Shiba di dekat lengan atasku dengan ujung jarinya yang putih dan ramping. Kalau dipikir-pikir, belakangan ini dia sudah tidak memakai kuteks yang mencolok. Apakah karena dia sudah mulai bergandengan tangan denganku? Aku baru menyadarinya sekarang. Hal seperti inilah yang membuatku sadar, mungkin masih banyak usaha dan perhatian tersembunyi yang ia lakukan tanpa aku sadari.

Aku sangat menyayanginya. Jika aku melepaskan orang sehebat ini, aku pasti akan sangat menyesal.

Tanpa sadar, aku sudah menggenggam tangan Seika-san dengan kedua tanganku. Melihat matanya yang tampak penasaran, aku tersadar. Saat hendak menarik tangan,

"Hm? Mau gandengan? Boleh kok."

Seika-san yang salah paham malah menggenggam tanganku. Aku mengeluarkan suara tunggal yang menunjukkan aku pria yang tidak populer, seperti "A, u".

"Karena aku jarang sekali ke daerah sini, pemandangannya terasa segar, ya."

Setelah berkata begitu, Seika-san mulai memandang pemandangan dari balik jendela kereta. Aku nyaris terpesona melihat profil wajahnya, lalu sedikit menurunkan pandangan. Di bahunya, bunga Ivy yang tadi dia ceritakan tertangkap oleh mataku.

Dengan tangan yang tidak sedang bergandengan, aku diam-diam memainkan ponselku.

Aku mengetik 'Makna bunga Ivy'. Hasil pencarian langsung muncul.

'Cinta abadi. Setia. Persahabatan. Pernikahan. Takkan berpisah meski maut memisahkan.'

Kepalaku terasa pening. Aku tidak menyangka bisa tetap berdiri tegak.

Yukata yang ia beli khusus untuk hari ini. Bunga yang makna bunganya sudah ia cari tahu, lalu dia beri tahu namanya padaku.

Merasakan tatapan, aku segera mengangkat wajah, dan Seika-san buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan. Dia tampak seperti orang yang sedang memperhatikan pemandangan di luar, tapi ada kesan akting yang tidak bisa ia sembunyikan.

Ini…… bukankah ini sama saja dengan dia sudah menyatakan cinta duluan? Tidak, karena dia sudah bilang "mencintaiku" empat hari yang lalu, ini sudah terjadi sejak saat itu.

Aku mengikuti langkahnya memandang ke jendela kereta. Namun, tidak ada pemandangan yang masuk ke kepalaku. Aku hanya bisa merasakan suhu tubuhnya yang tersambung melalui tangan kananku.

Festival kembang api Danau Sawami.

Biasanya diadakan sekitar minggu pertama bulan Agustus, dan bahkan di hari kerja pun selalu ramai pengunjung. Bisa dibilang ini festival kembang api yang cukup populer di tingkat nasional. Alasan kepopulerannya, tak lain adalah keindahan kembang api yang terpantul di permukaan danau. Konon, pengunjung dari luar prefektur pun datang hanya untuk melihat ini.

Kami sampai di lokasi sekitar pukul tujuh kurang.

Karena kereta yang kami tumpangi cukup kosong, aku sempat lengah dan berpikir tahun ini mungkin tidak terlalu ramai, tapi begitu keluar stasiun dan berjalan menuju lokasi, aku langsung kewalahan oleh kerumunan orang.

"J-Ware juga masuk ke stasiun ini, ya. Pasti itu jalur utamanya," analisis Seika-san.

Benar juga, sepertinya stasiun ini mengangkut orang dalam jumlah yang tidak bisa dibandingkan dengan jalur lokal yang hanya berjalan di dalam kota Sawamigawa. Selain itu, ada hukum misterius di mana warga lokal justru jarang pergi ke acara seperti ini.

"Tapi kalau lihat Twista, katanya tahun ini jauh lebih baik. Kalau parah, katanya bisa sampai tidak bisa bergerak begitu turun dari stasiun."

"Waduh."

Meskipun kesadaranku akan kerumunan orang sudah mulai membaik, kalau sampai seperti itu, aku tidak tahu lagi.

"Mungkin karena panas…… dan katanya baru saja dibangun hotel bertingkat di dekat sini, jadi banyak orang yang menginap di sana untuk menonton."

"Ah, begitu ya. Kalau tujuan utamanya adalah kembang api di permukaan danau, memang lebih mudah menonton dari sana."

"Iya……"

"……"

Gawat, percakapannya terputus. Saat melirik ke samping, ternyata dia juga sedang melihat ke arahku, lalu dia sedikit tersipu dan menunduk. Apa mungkin masalah makna bunga tadi masih terbawa? Meski begitu, alih-alih melepaskan, tangan kami tetap bergandengan. Di antara jemariku yang kasar, jemari putihnya yang ramping menyusup tanpa celah. Gandengan ala kekasih. Sejak hari kencan di mal, gaya gandengan ini sudah jadi hal yang lumrah di antara kami.

"……Masih bisa berjalan dengan lancar, ya."

"Iya."

Percakapan kami sangat buruk. Seika-san juga terlihat sangat gugup. Ya, memang wajar begitu. Sudah empat hari sejak pengakuan cinta dan percobaan ciuman itu. Ditambah lagi, hari ini dia sudah menyampaikan perasaannya secara tidak langsung. Setelah melihat kembang api, rencananya kami berdua akan berbicara berdua saja di rumah Seika-san…… dia pasti sudah menebak bahwa di sanalah aku akan memberikan jawaban atas pengakuan cintanya.

"Hya!?"

Tiba-tiba Seika-san memekik kecil. Kemudian dia berbalik dengan sorot mata yang penuh amarah. Eh? Eh? Aku pun mengejar arah pandangannya.

Tangan mungil sedang menarik-narik yukata Seika-san. Saat melihat ke bawah, ada seorang anak perempuan berusia tiga atau empat tahun.

Melihat itu, amarah Seika-san langsung mereda, ekspresinya berubah menjadi aneh, seperti orang yang ingin marah tapi juga ingin tertawa.

"Ma-maafkan saya!"

Mungkin itu ayahnya atau ibunya, dia menarik tangan anaknya dan melepaskannya dari Seika-san.

"Bunga~."

Suara anak itu terdengar kecewa. Sepertinya dia tertarik dengan motif bunga putih di yukata Seika-san lalu mencoba meraihnya.

Ayahnya yang menggendong anak itu meminta maaf dengan canggung, lalu sedikit menjauh dari barisan. Ibunya pun menunduk hormat lalu mengejar mereka.

"A-ahaha. Kukira tadi ada peleceh."

Tatapan mata Seika-san tadi memang tajam sekali.

"Memangnya masih ada orang seperti itu, ya?"

Aku sering mendengar desas-desus tentang adanya orang seperti itu di tempat acara seperti ini.

Jika seandainya Seika-san disentuh oleh orang seperti itu…… membayangkannya saja membuat perasaanku menjadi suram, dan seketika kemarahan muncul. Tidak boleh. Aku tidak mau itu terjadi.

Tanpa kusadari, aku sudah bergeser ke belakangnya secara diagonal untuk melindunginya. Tapi posisinya agak sulit, hingga tangan kami yang bergandengan terlepas.

"Kousei……"

Seika-san terkekeh.

"Cemburu?"

Aku mengangguk pelan. Malu sekali sampai tidak berani menatap wajahnya. Jari-jarinya terulur ke wajahku, membelai pipiku dengan lembut.

"Kalau begitu, peluk pinggangku?"

Seika-san menempelkan tubuhnya di dekat pinggangku. Tangan belakangku jadi bebas…… aku memeluk pinggangnya dengan canggung.

Dia segera mengambil tanganku dan menyesuaikan posisinya. Alih-alih di pinggang, tanganku kini berada di samping pinggulnya. Lenganku berada di posisi diagonal di atas daging pinggulnya. Ada sensasi lembut yang kenyal di bagian dalam lenganku. Sambil terus bersentuhan seperti itu, kami berjalan maju dengan sangat pelan di tengah kerumunan. Bukan sekadar ungkapan klasik dalam manga, tapi kurasa hidungku bisa saja mimisan sekarang.

"Kousei, apakah kamu…… suka anak kecil?"

Apa karena anak kecil tadi?

"Aku memang belum tahu bagaimana cara menghadapinya…… tapi setidaknya, melihat mereka kurasa mereka manis. Seperti bayi."

"Bayi."

Dia menirukan perkataanku…… dan aku jadi tersadar akan masa depanku bersama Seika-san.

A-apa yang sedang kupikirkan? Pengakuan cintaku bahkan belum berhasil. Atau lebih tepatnya, bahkan jika pengakuan itu berhasil, itu masih urusan masa depan yang sangat jauh……

"Ah."

Barisannya berhenti. Dan orang-orang di depan kami mulai menyebar ke samping. Jalanan besar sepertinya ditutup untuk kendaraan, dan orang-orang berkerumun di sepanjang jalan itu.

"Karena masih ada waktu, ayo kita lihat kedai jajanan."

Seseorang di dekat kami berkata pada pasangannya. Informasi itu membuat perutku berbunyi "kruu~". Seika-san tertawa dan membelai pipiku lagi. Syukurlah. Suasananya tidak jadi canggung.

"Ayo kita lihat juga."

Kedai-kedai berderet di sepanjang jalan. Melihat makanan yang menebarkan aroma menggoda itu, perutku berbunyi sekali lagi.

Yakisoba, takoyaki, sosis bakar. Hanya aromanya saja sudah membuatku sangat lapar. Saat aku sedang membandingkan kedai yang satu dengan yang lain, aku mendengar suara tawa kecil dari samping.

"Habisnya…… kamu manis sekali."

"Eh?"

Kenapa? Padahal aku hanya mencari makan malam.

"Seperti Hinano."

"Eeh!?"

Itu agak berlebihan.

"Kamu belum makan apa-apa?"

"Iya. Kupikir kalau pergi ke festival, aku ingin makan jajanan pasar seperti tepung-tepungan itu."

"Memang benar sih. Aku tadi sudah makan sandwich sedikit."

Mungkin karena diet supaya tidak makan terlalu banyak. Dilihat dari sisi keuangan maupun sebagai model yang harus menjaga bentuk tubuh, makan besar di kedai pinggir jalan memang tidak disarankan.

"Ah, tapi. Aku ingin makan takoyaki. Bagaimana kalau kita bagi dua?"

"Boleh."

Karena Seika-san hendak mengeluarkan dompet,

"Ah, biar aku yang bayar," tolakku.

"Eh? Tidak apa-apa. Aku juga memakannya setengah, jadi uangnya juga setengah. Itu baru namanya adil, kan?" ucap Seika-san sambil memajukan bibirnya.

"Ta-tapi, hari ini kencan yang aku ajak, jadi……"

Ini hari yang spesial. Mungkin merasa harus bersikap jantan adalah pola pikir kuno, tapi aku tetap ingin pamer sedikit. Apalagi kalau sedang berhadapan dengan gadis yang kusukai.

"……Baiklah. Terima kasih, traktiranmu."

Seika-san sepertinya memahami perasaanku dan langsung mengalah.

"Terima kasih kembali."

"Kenapa kamu yang berterima kasih?"

Aku tertawa. Tapi bagiku ini tetap sebuah "terima kasih". Memang benar aku ingin pamer jantan, tapi ini juga bentuk rasa syukur atas kejadian empat hari lalu. Meski jajanan tepung tidak akan pernah cukup untuk membalas kebaikannya yang telah menyelamatkan hatiku.

Aku membeli satu bungkus isi dua belas, lalu menggunakan tepi jalan di tempat parkir terdekat sebagai kursi. Aku mengambil handuk bekas dari tas dan membentangkannya di tepi jalan itu untuk tempat duduk Seika-san. Dia tersenyum kecil dan berkata, "Kamu perhatian sekali."

Setelah takoyaki, aku menghabiskan yakisoba dan sosis bakar dengan lahap. Seika-san ternyata cukup banyak makan juga.

Setelah makan, Seika-san membelikan teh di mesin penjual otomatis di dekat sana. Karena dia bilang, "Biar ini aku saja yang bayar," aku menerimanya dengan terima kasih. Kalau aku terlalu berusaha terlihat keren sampai membuatnya merasa tidak enak, itu malah jadi sia-sia.

"Huh. Kenyang sekali."

Seika-san sedikit meluruskan kakinya. Mungkin istirahat sejenak setelah makan.

"Rasanya akhirnya jadi normal juga, ya."

"Normal?"

"Tadi kita berdua terasa agak kaku, kan."

"Ah, ya. Kurasa begitu."

Bagiku, acara besar dalam hidupku masih menanti setelah ini. Memikirkan hal itu, rasanya aneh bisa kembali ke apa yang disebut "normal" oleh Seika-san sekarang.

"Bagiku, kita yang seperti ini justru jauh lebih baik."

"Iya, aku setuju."

"Kalau begitu. Untuk saat ini, ayo nikmati festivalnya."

"Tentu saja."

Benar-benar aneh. Rasa gugup akan pernyataan cinta itu tentu tidak hilang begitu saja. Namun selain itu, muncul emosi positif bahwa aku akan rugi kalau tidak menikmati waktu ini bersamanya.

Apakah itu artinya aku perlahan mulai tumbuh dewasa……? Atau karena Seika-san orangnya?

"Ayo, ayo? Ada permainan melempar gelang."

Seika-san berdiri dan mengulurkan tangannya. Saat aku mendongak, cahaya lampu oranye dari kedai memantul di rambut peraknya hingga berkilauan. Aku sempat terpesona sejenak melihatnya.

☆☆☆

Perasaanku aneh sekali.

Empat hari lalu, aku sudah menyatakan cinta pada Kousei dengan perasaan yang melampaui kata "suka".

Hari ini pun, aku sudah memberi tahu makna bunga Ivy dan menyatakan cinta lewat cara tersirat. Dan mungkin di akhir kencan ini, Kousei akan memberikan jawabannya padaku.

Hari yang begitu penting. Seharusnya aku merasa jauh lebih tidak santai, dan kalau aku yang dulu, mungkin aku sudah takut dan melarikan diri, atau malah jadi panik dan mendesak Kousei untuk memberikan jawaban.

Apakah aku juga perlahan mulai tumbuh dewasa……? Atau karena lawan bicaranya Kousei?

Keyakinan mutlak bahwa Kousei yang begitu menyayangiku tidak mungkin akan melakukan hal yang paling menyakitiku. Aku juga punya kebanggaan bahwa aku telah merangkul hatinya. Singkatnya…… tidak mungkin aku akan ditolak. Aku percaya itu.

Mungkin itulah sebabnya aku bisa menikmati saat ini.

"Ah, sayang sekali. Karena masuk enam dari sepuluh, pilih camilan yang ini, ya. Pilih yang kamu suka."

Paman penjual kedai menghibur Kousei dan menunjuk ke sudut jajanan pasar.

Melihat Kousei yang membungkukkan punggung sambil memilih donat kecil, rasanya dadaku sesak.

"Paman. Aku juga mau main!"

"Oke, satu kali lagi, tiga ratus yen."

Aku membayar tiga ratus juta yen dan menerima gelang-gelang itu. Fokus, fokus. Aku cukup atletis, jadi seharusnya aku bisa melakukan hal semacam ini.

Kousei menatapku dengan cemas sambil menggigit donat kecilnya. Aku tidak boleh kalah.

"Hap, hop, tap."

Setelah memasukkan lemparan pertama, aku akan langsung memasukkan sisanya. Dalam hal seperti ini, momentum itu penting.

Aku bisa melakukannya. Saat aku berpikir begitu,

"Hachi!"

Tepat sebelum aku melempar, si botak penjual kedai itu bersin dengan sangat sengaja. Sial. Momentumku terputus.

Aku tidak panik dan menyusun kembali strategiku. Kali ini aku mengambil waktu lebih lama. Fokus, fokus.

"Hap."

Gelang itu masuk dengan sempurna ke tiang. Bagus. Kalau dia melakukan itu lagi, aku pasti akan protes bahwa itu disengaja, tapi sepertinya dia tidak akan melakukannya dua kali berturut-turut. Jadi sementara itu……

"Hop! Ah!"

Aku terburu-buru melemparnya. Gelang itu tersangkut sedikit di tiang, tapi karena gaya sentrifugal, gelang itu terlepas dan terbang ke arah yang tidak terduga. Ke arah tempat Kousei berdiri. Saat aku berpikir, "Gawat!", Kousei menepis gelang yang terbang itu. Bukan memukulnya ke bawah, tapi gerakannya terasa tidak alami. Gelang itu…… mengenai kepala botak si Paman dengan telak.

"Aduh!"

"……"

Kousei dengan tenang bergeser ke arah penonton lain, bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Paman itu pun segera menoleh, tapi dia tidak tahu siapa yang memukulnya, atau apakah gelang itu mengenai tiang tenda alih-alih orang.

Dia benar-benar melakukannya, anak itu. Aku jadi makin jatuh cinta.

Paman penjual itu mengusap bagian belakang kepalanya dengan cemberut. Ya, itu kebetulan. Kebetulan kau bersin tadi, dan kebetulan gelang yang ditepis Kousei mengenai kepalamu. Wah, kebetulan itu menakutkan, ya.

"Hihi."

Perasaanku jadi rileks, dan aku berhasil memasukkan semua gelang yang tersisa ke tiang. Paman itu tidak lagi mengganggu. Dia mungkin tahu kalau dia melakukan itu lagi, aku pasti akan protes. Tapi, karena dia sudah berhasil menggagalkanku mendapatkan yang sempurna, mungkin dia memang seorang ahli.

"Luar biasa, Seika-san!"

Kousei terlihat senang dengan polosnya. Yah, melihat senyum manisnya ini dan melihat kejadian gelang mengenai kepalanya tadi, aku sudah merasa impas.

"Ya, kau hebat juga, Nona."

Tidak tulus sekali.

"Iya. Ini adalah perangkat lunak game untuk hasil semi-sempurna."

Aku menerima kantong plastik hitam. Dari siluetnya, aku bisa tahu ada sesuatu yang berbentuk persegi panjang di dalamnya.

"Oh, oh. Terima kasih."

Hadiah sempurna seharusnya adalah konsol Burai Station, jadi ini memang kualitas yang jauh lebih rendah, tapi mendapatkan game seharga tiga ratus yen tetap saja beruntung. Apa aku terlalu kejam karena sempat berpikir dia Paman pelit? Ternyata dia cukup dermawan juga.

Aku dan Kousei meninggalkan kedai dan pindah ke tempat yang diterangi lampu jalan yang terang. Kousei menatap kantong plastik itu dengan mata berkilauan. Dia bukan tipe yang sering main game, tapi kalau itu game baru, sepertinya dia tetap tertarik.

"Ayo buka cepat!"

"Ya, ya, tenanglah. Kousei-kun."

Aku perlahan melepas selotip di mulut kantong plastik. Leher Kousei bergoyang ke kanan dan kiri, mencoba mengintip ke dalam. Kenapa kau bisa semanis itu?

"Oke, sekarang akhirnya."

"Ya!"

Aku memasukkan tangan ke dalam kantong, mencengkeram kotak game itu, dan

"Tiga, dua, satu……"

Aku menghitung mundur untuk menggoda. Lalu.

"Nol!!"

Aku menariknya keluar seketika.

Aku melihat mata Kousei yang penuh harapan. Tepat saat itu, suara kembang api pertama yang meluncur ke langit terdengar. Aku mendengar sorak-sorai di sekitarku.

Aku mengangkat game itu ke depan agar terlihat jelas, lalu memeriksa paketnya.

Tulisannya adalah: 'Temple Fighters 2'.

Sudut mulut Kousei seketika turun, dan cahaya di matanya menghilang. Suara dentuman besar kembang api meledak bergema di sekitar. Berpikir pasti ada kesalahan, aku membalikkan kemasannya.

'Sekuel dari game pengalaman Nirvana yang paling ekstrem akhirnya muncul! Karakter-karakter tingkat harta nasional juga ikut serta!'

Slogan itu langsung tertangkap mataku. Di gambar sampulnya, tampak kuil-kuil sedang saling pukul. Aku mengangkat wajah dan melihat Kousei di depanku. Dia perlahan memalingkan muka.

Suara kembang api yang meluncur ke langit kembali terdengar, hyuurururu~.

"Si botak ituuuuuuuu!!"

Saat kembang api kedua meledak di langit malam, teriakanku terdengar hampir bersamaan.

★★★

Saat kami sedang membuang-buang waktu dalam hidup kami, tanpa disadari pertunjukan kembang api yang sebenarnya sudah dimulai. Satu demi satu, kecebong cahaya meluncur ke langit gelap, lalu meledak menjadi bunga-bunga.

"Gawat. Seika-san, sepertinya sekarang bukan saatnya untuk bermain dengan game sampah yang menyebalkan itu."

"O-oh. Sebaiknya kita juga segera menuju ke dekat danau……"

Di situlah kami baru menyadari kenyataannya. Artinya, tempat-tempat strategis sudah sepenuhnya habis ditempati orang lain.

Yah, sedari tadi aku memang merasa kalau area di sekitar kedai jajanan terasa sangat sepi. Ternyata selama semua orang sibuk mengamankan tempat terbaik sebelum kembang api diluncurkan, kami malah asyik makan dan bermain sampai lupa waktu.

"……Maafkan aku."

"Kenapa minta maaf?"

"Tidak. Seharusnya aku lebih memperhatikan keadaan sekitar tadi……"

"Hmm. Kalau soal itu, aku juga sama, kan? Ini bukan tanggung jawab Kousei saja."

"Tapi."

Saat aku masih bersikeras menyalahkan diri sendiri, jari telunjuk Seika-san menekan hidungku.

"Lagipula…… bukankah tadi menyenangkan? Makan, main lempar gelang. Soal hadiahnya…… yah, anggap saja itu bahan tertawaan."

"Seika-san……"

"Aku tahu kamu merasa tidak enak karena ingin semuanya berjalan sempurna. Tapi, kalau bersamamu, pada dasarnya apa pun terasa menyenangkan bagiku? Karena……"

Apa lanjutan dari kata "karena" itu? Tidak, hal itu pasti harus kusampaikan sendiri. Karena dia sudah memberikan petunjuk…… bahkan jawaban itu berkali-kali padaku.

"Lagipula, kita masih bisa melihat kembang apinya dari sini, kan? Hanya karena keunggulannya adalah pantulan di permukaan danau, bukan berarti kita tidak bisa menikmatinya kalau tidak melihat itu."

Seika-san menyemangatiku dengan berkata begitu. Ah, wanita ini benar-benar luar biasa, bukan?

Namun, aku tidak boleh terus-terusan mengandalkan kebaikannya. Jika kencan yang aku tawarkan sebagai pemandu ini berakhir dengan aku yang disemangati, itu sungguh memalukan.

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari posisi yang setidaknya masih memungkinkan.

"Ah."

Di pangkal pohon jalanan, ada secuil lahan tanah yang kosong.

"Bagaimana kalau kita ke sana? Ada ruang yang cukup untuk aku menggendongmu di pundak."

"Ge-gendong di pundak!?"

Suara Seika-san terdengar sangat terkejut. Ah, gawat. Aku terlalu memikirkan cara untuk menebus kesalahan sampai pandanganku menyempit. Jika aku menggendongnya di pundak, berarti di antara, ah, kakinya……

"Maaf, lupakan saja kata-kataku."

"Ayo kita ke sana."

Seika-san memotong ucapanku dan berkata begitu. Dia meraih tanganku, lalu berjalan menuju pohon tersebut. Be-benarkah? Padahal aku sendiri yang mengusulkannya, tapi justru aku yang malah ragu. Namun, Seika-san terus melangkah dengan mantap hingga akhirnya kami sampai.

"Bungkukkan badanmu."

"E-eh, ba-baik."

Seika-san juga sepertinya malu karena dia mengatakannya dengan nada yang agak kaku. Lagipula, pada akhirnya aku tetap dia yang mengurus, ya. Sambil berpikir bahwa aku tidak akan pernah menang melawannya, aku berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepala, layaknya seorang ksatria yang bersumpah setia pada sang putri.

Seika-san menunggangi pundakku dari belakang. Lewat kain yukatanya, paha bagian dalamnya yang lembut dan hangat menjepit pipiku dari kedua sisi. Tercium aroma sabun yang samar.

Seolah menepis semua keraguan, aku mengerahkan tenaga pada lutut dan berdiri.

"O-oh!?"

Mungkin karena takut, Seika-san menjepit kakinya lebih erat. Lalu, kedua tangannya mencengkeram daguku. Kepalaku terasa pening. Aku merasakan kehadiran Seika-san di seluruh wajahku. Tadi posisinya sama dengan memegang pinggulnya saat berjalan, dan sekarang kepalaku berada di antara kakinya. Jika polisi masa muda melihat ini, hukuman seratus pukulan saja tidak akan cukup.

"Wah, hebat, hebat. Kelihatan, Kousei."

Sembari berkata begitu, dia tampak menggeledah tasnya. Dia merogoh-rogoh barang yang terjepit di antara perutnya dan kepalaku…… mungkin dia mengambil ponselnya. Aku merasa pusat gravitasinya sedikit naik. Dia menegakkan punggungnya untuk memotret permukaan danau.

Untuk beberapa saat, dia tampak fokus memotret dan merekam video tanpa suara. Sesekali aku mendengar gumamannya yang bilang, "Cantik sekali." Tanganku dan kakiku mulai gemetar, tapi aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.

Saat itulah, tiba-tiba aku merasa sedang diperhatikan. Aku mencoba menggerakkan leherku sedikit. Mataku bertemu dengan seorang pria. Namun, pria itu segera membuang muka.




"Ah."

Aku menatap kaki Seika-san. Kaki cantik yang menyembul sedikit dari balik yukatanya. Seketika itu juga, perasaanku menjadi tidak nyaman.

"Seika-san, aku akan menurunkankanmu."

"Eh? Kenapa?"

Tanpa menjawab, aku perlahan merendahkan pinggangku. Begitu tubuhku turun hingga mendekati tanah, sampai ke posisi berlutut satu kaki, Seika-san turun dari pundakku.

"Apa kamu merasa lelah?"

"……"

Aku mengangguk samar, lalu merangkul pinggang Seika-san dan menuntunnya untuk berjalan. Meski dia bertanya dengan bingung, "Benar-benar kenapa sih?", aku tidak bisa menjawab dan terus melangkah. Pokoknya, aku ingin segera menjauh dari tempat itu.

Aku sendiri tidak menyangka akan merasa seburuk ini. Keinginan untuk memiliki, rasa cemburu. Ah, benar-benar tidak tertolong lagi. Aku ingin segera menyatakan cinta dan menjadikannya milikku seorang. Aku ingin menjadi satu-satunya miliknya. Aku sadar pikiran ini sangat menjijikkan, tapi aku tidak bisa menghentikannya.

"Wajahmu kelihatan seram, Kousei?"

"Maafkan aku."

"Apa aku melakukan sesuatu?"

"Ah! Bu-bukan begitu!"

Aku telah membuatnya salah paham. Setelah bersikap impulsif dan membiarkan kaki Seika-san dilihat orang lain, sekarang aku malah membuatnya cemas.

Aku sebenarnya tidak ingin memberi tahu Seika-san kalau "kakinya tadi dilihat orang", tapi jika aku diam saja dan malah menimbulkan salah paham, aku tidak punya pilihan selain bicara.

"Itu…… saat menggendongmu tadi, kaki Seika-san sedikit terlihat…… dan pria-pria di sekitar sana……"

"Ah, begitu."

"Maafkan aku! Aku kurang berpikir panjang!"

"Kamu terlalu memikirkannya. Lagipula, kalau pakai rok seragam, kakinya jauh lebih kelihatan. Jujur saja, kalau harus peduli dengan tatapan seperti itu setiap saat, wanita tidak akan bisa hidup dengan tenang."

"……"

Tetap saja. Aku tidak suka.

"Kamu cemburu?"

"Iya."

Aku tidak punya waktu atau keinginan untuk berdalih. Seika-san tersenyum puas, lalu mengusulkan,

"Ayo pulang?"

"Eh, tapi. Kembang apinya masih……"

"Tidak apa-apa, tadi berkat Kousei aku sudah puas melihatnya. Bagaimana kalau nanti kita lihat foto-foto yang diambil tadi berdua?"

"……"

"Kalau pulang terlalu larut dan kena jam sibuk kereta, nanti malah benar-benar bisa jadi korban pelecehan."

Seketika, dadaku terasa panas membara. Aku tidak mau. Aku benar-benar tidak mau itu terjadi.

"Ayo kita pulang."

"Un."

Seika-san tampak sangat senang. Dia memeluk lenganku lebih erat dan mempercepat langkah.

"Hati-hati."

Aku mengikuti langkahnya agar tidak tertinggal, dan begitulah kami berjalan sampai ke stasiun. Kembang api masih terus meledak di langit, sepertinya bahkan belum setengah dari jumlah yang direncanakan.

Sebelum masuk ke bangunan stasiun, kami menoleh sekali lagi untuk merekam pemandangan kembang api yang mekar di langit malam ke dalam ingatan kami.

"Sepertinya tahun ini ini yang terakhir, ya."

"Eh? Belum tentu begitu, kan?"

Masih ada banyak festival kembang api lainnya. Kalau kita pergi sedikit lebih jauh……

"Siapa tadi yang bilang rasa posesifnya meluap-luap?"

"Ugh."

"Lagipula, sepertinya sifat berhati-hatimu sedikit menular padaku? Entah kenapa, aku jadi merasa enggan pergi ke tempat-tempat yang suasananya ramai dan rawan keamanan seperti ini."

Itu…… entah harus senang atau merasa bersalah.

"……Karena Seika-san itu cantik, melakukan manajemen krisis adalah hal yang wajib menurutku."

Pada akhirnya, aku menjawab sesuai dengan rasa posesifku sendiri. Tentu saja, itu bukan bohong.

"Fufu."

Seika-san tertawa kecil, lalu bertanya,

"Cantik, ya. Menurut pandanganmu, secantik apa?"

Dia bertanya dengan senyum nakal. Aku memang sudah pernah memuji penampilannya beberapa kali, tapi ini pertama kalinya dia bertanya seperti ini.

"……Yang paling cantik sepanjang hidupku."

Itu adalah kejujuranku tanpa kepalsuan. Aku sendiri tidak tertarik pada selebriti, tapi aku yakin meskipun sekarang aku menyalakan TV, aku tidak akan menemukan wanita yang lebih cantik dari Seika-san. Setidaknya bagi aku yang juga mengenal keindahan hatinya.

"Lebih cantik dari kembang api tadi?"

"……Sepertinya jenis kecantikannya berbeda."

Ah. Aku malah menjawabnya dengan serius. Seika-san mengerucutkan bibirnya. Memang beginilah aku.

"Ca-cantik. Lebih dari kembang api mana pun, aku hanya terus memperhatikan Seika-san."

Aku sadar aku terus mengucapkan kalimat yang membuat gigi ngilu, tapi aku tidak ingin membohongi Seika-san.

"Yah, memang sedikit meleset dari sasaran, tapi anggap saja sebagai cadangan."

Berbeda dengan kata-katanya, Seika-san tersenyum bahagia.

"Keretanya sudah mau datang. Ayo?"

Dia mengajakku sambil mengayunkan tangan kami yang masih tertaut. Kereta lokal yang sudah tua tampak berjalan mendekat dari kejauhan.

Begitu sampai kembali di Sawamigawa, entah mengapa aku merasa lega. Seika-san pun tampaknya merasakan hal yang sama, dia menarik napas dalam-dalam tanpa alasan, mengisi paru-parunya dengan udara kota kelahiran kami.

"Pakai sepeda, kan?"

"Iya."

Kami berdua pergi ke tempat parkir sepeda kota dan menarik sepedaku keluar. Setelah berjalan melewati depan stasiun, tak lama kemudian kami berboncengan. Pada saat ini, percakapan kami jauh berkurang.

"……Bolehkah aku mampir sebentar ke rumahku?"

"U-un."

Setelah percakapan itu, keheningan menyelimuti kami selama hampir lima menit. Tangan Seika-san melingkar di perutku. Tangan yang terlihat lembut namun melingkupiku sepenuhnya dengan kasih sayang. Tangan yang sempat lepas saat kami naik sepeda tadi, kini bisa tertaut kembali memberikan kebahagiaan. Namun, hal ini tidak akan berlangsung selamanya jika aku tidak melakukan apa-apa. Jika aku ingin terus menggenggam tangan ini selamanya……

"Kousei, kelewatan?"

"Ah."

Saat aku memperhatikan sekeliling, ternyata kami sudah melewati tikungan menuju rumahku. Aku sedikit berkeringat. Malu sekali. Bagaimana bisa aku tersesat di jalan menuju rumah sendiri.

Saat aku berpikir begitu, tangan Seika-san merambat dari perut ke arah dadaku. Rasanya sangat sensual hingga jantungku berdegup kencang.

"Kamu gugup sekali, ya. Sampai salah jalan."

Seika-san mengatakannya dengan nada menggoda setelah merasakan detak jantungku lewat telapak tangannya. Tapi berbeda dengan nada bicaranya, suaranya sedikit gemetar. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama.

Detik demi detik, kami berdua menyadari bahwa momen itu semakin dekat.

"A-ahahaha. Se-sedikit, aku tidak punya ruang di pikiranku."

Itu memalukan, tapi aku bisa tertawa.

Aku berbalik arah menuju rumah. Setelah memintanya menunggu di depan rumah, aku bergegas naik ke lantai dua tanpa sempat menyapa "aku pulang", dan mengambil kotak plastik yang berisi diorama kado kesembuhan itu. Sejenak, aku menempelkan dahi ke kotak itu sambil berdoa.

"Tolong aku."

Sebagai pengecut seperti biasanya, sepertinya aku tidak bisa melangkah maju tanpa bantuan hadiah.

Namun, entah itu doa atau apa pun, tidak masalah. Hanya untuk hari ini. Aku harus mengerahkan seluruh keberanianku.

☆☆☆

Saat aku melihat Kousei masuk ke dalam rumah, ponsel di dalam tasku bergetar.

Begitu layar kuperiksa, sebuah pesan dari Rain masuk. 'Segera pulang', katanya. Eh!? Ini dari Mama…… bagaimana ini? Padahal seharusnya Mama pulang larut malam ini, jadi aku sudah berencana untuk mendengarkan cerita Kousei di rumahku.

Gawat, bagaimana ini. Jantungku berdegup kencang seperti genderang perang di dalam dadaku, dan keringat dingin bercucuran. Skenario terburuk melintas di pikiranku. Karena kami tidak bisa menemukan tempat untuk berdua saja, kami akan kehilangan kesempatan untuk menyatakan cinta. Kousei akan patah semangat, perlahan hubungan kami jadi canggung…… dan lama-kelamaan, meskipun aku datang ke rumahnya, dia akan sering tidak ada……

"Tidak, tidak bisa, aku bisa mati."

Sudah sejauh ini, aku tidak akan membiarkan bad ending seperti itu terjadi.

Namun, kepalaku menjadi kosong, dan aku tidak bisa memikirkan solusi yang bagus.

Di tengah kebingunganku, Kousei sudah kembali. Dia langsung menyadari keadaanku dan berlari mendekat. Dia membawa kotak kardus kecil, tapi dia meletakkannya di depan pintu masuk dan bertanya,

"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"

"Ah, anu."

"Tidak apa-apa kok."

Kousei menggenggam tanganku. Genggamannya jauh lebih kuat dari dugaanku…… hanya dengan itu aku merasa tenang dan mendapatkan kembali ketenanganku.

"Mama katanya sudah mau pulang. Jadi, anu."

Kousei tersenyum tipis, dan dengan tangan yang satunya, dia membelai kepalaku.

"……Ayo kita coba pergi ke taman."

Suaranya lembut. Aku mengangguk pelan.

Kousei memasukkan kardus itu ke keranjang depan sepedanya, lalu meletakkan tasku di atasnya. Dan kami berangkat lagi. Taman itu tidak jauh. Kami sampai dalam waktu singkat.

"Syukurlah. Tidak ada orang."

Maksudku, tidak ada orang setiap kali aku datang ke sini. Rasanya seolah tempat ini dibuat hanya untuk kami berdua.

"Sebagai warga Distrik Timur, penurunan populasi ini memang mengkhawatirkan, tapi khusus untuk hari ini, aku bersyukur."

"Fufu."

Rasa cemas yang tadi menghilang. Skenario terburuk bisa kuhindari.

Kousei kembali membelikan jus leci di mesin penjual otomatis. Isinya 500 mililiter, jadi pas kalau diminum berdua.

Kami duduk bersebelahan di bangku yang sudah sangat akrab bagi kami.

"……Maaf ya. Seharusnya kamu ingin bicara di tempat yang sejuk, kan?"

"Tidak. Kalau sudah berkeringat sampai sini, sama saja. Lagipula."

"Lagipula?"

"Taman ini punya ikatan yang sangat kuat, rasanya seperti takdir kalau akhirnya kita kembali ke sini lagi."

"Benar juga."

Kami berdua tertawa bersama.

Setelah saling melemparkan senyum, keheningan segera menyusul. Aku bisa merasakan kegugupan Kousei. Aku bisa melihat tangannya gemetar. Saat aku hendak memanggilnya, dia tiba-tiba berdiri dengan tegak. Kemudian dia kembali dengan kotak kardus tadi dari keranjang sepedanya dan duduk lagi di bangku.

Dia meletakkannya di tanah, menjepitnya dengan kaki, dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sepertinya dia membungkusnya dengan sangat rapat menggunakan bahan pelindung. Akhirnya, apa yang dia keluarkan dengan kedua tangannya adalah……

"Itu…… Hutan Kristal Perak."

Di dalam kotak plastik itu, kristal perak tumbuh tersebar di antara tanah, hutan, dan pepohonan. Mungkin karena ada glitter-nya, beberapa di antaranya berkilauan terkena cahaya lampu taman. Cantik sekali.

Kousei memutar diorama pemandangan fantasi itu. Di sisi lain, tampak replika tempat terbuka, yang menyerupai alun-alun di tengah hutan. Hanya ada tunggul pohon dan beberapa kristal perak kecil. Dan di tengah-tengahnya…… ada aku. Rambut perak yang sama dengan kristalnya. Memakai gaun hitam. Ah, aku sadar. Desainnya sama dengan yang dipakai Kururu-chan.

Lalu, figur yang menyerupai diriku saat ini sedang menarik tangan seorang gadis kecil. Ini…… hm? Ah, apakah ini juga aku? Mengenakan piyama, dengan ekspresi bingung dan terkesan lemah.

"Diriku yang dulu sakit-sakitan, ditarik oleh diriku yang sekarang sudah tumbuh?"

"Iya. Seika-san telah mengatasi hambatan penyakitmu dan tumbuh menjadi sekuat ini. Sampai bisa menyelamatkanku. Itu adalah kekuatan yang terpupuk selama perjuangan melawan penyakit."

Kousei meletakkan diorama itu di atas bangku agar terlihat lebih jelas.

"Saat di kelas tata rias, aku sudah menyampaikannya lewat kata-kata, tapi aku merasa ada yang kurang. Kecantikan Seika-san bukan hanya bakat sejak lahir. Kekuatan untuk bisa mengandalkan orang lain, kelembutan yang sensitif terhadap rasa sakit orang lain, semuanya, semuanya adalah kecantikan yang terangkum menjadi satu."

"Kousei……"

"Anak-anak bilang kamu cantik dan keren. Aku pikir itu bukan hanya karena penampilan luar, tapi karena mereka peka merasakan kekuatan dan kelembutan yang terpancar dari dalam. Aku tidak percaya orang yang hanya berwajah cantik tanpa isi bisa menarik perhatian sebanyak itu. Miyasaka mungkin punya penampilan yang bagus, tapi tidak ada yang mengikutinya, kan? Benar. Bahkan tantangan hari festival olahraga itu pun tidak bisa dibandingkan dengannya. Tidak mungkin dia sama denganmu. Kenapa kamu meremehkan dirimu sendiri sampai seperti itu?"

"Tu-tunggu sebentar."

Bicara dengan kecepatan tinggi. Mungkin ini pertama kalinya aku mendengar Kousei bicara sebanyak ini.

"Seorang wanita terbaik yang kukenal, tidak menyadari pesonanya sendiri."

"Eh?"

Aku merasakan arah pembicaraan sedikit berubah. Aku melihat Kousei mengepalkan tangannya erat-erat. Aku tertusuk oleh tatapan matanya yang kuat. Ekspresi yang kulihat di bawah sinar matahari terbenam di pabrik itu.

Ah, tanpa kusadari, aku sudah bisa dipandang dengan kesungguhan yang setara dengan kecintaan Kousei pada membuat sesuatu. Sejenak, aku melupakan situasinya dan berpikir seperti itu.

"Selama membuat ini, aku terus memikirkan Seika-san. Aku ingin bertemu, ingin sekali bertemu. Aku berkali-kali berpikir untuk pergi ke dekat apartemenmu. Berpikir, apakah aku bisa melihat wajahmu walau sekali saja."

"Kousei……"

"Tapi aku menahannya. Aku merasa tidak bisa menyampaikan perasaanku sepenuhnya kalau belum membuat hadiah kesembuhan ini, memberikannya, lalu baru setelah itu."

Kousei menatap mataku sekali lagi, kali ini dari depan.

"Bahwa bisa bertemu delapan tahun lalu, dan bahwa kamu sembuh dan datang menemuiku lagi…… aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih…… aku menganggap ini sebagai kebahagiaan terbesar dalam hidupku."

Pandanganku sudah kabur, membuat wajahnya sulit terlihat.

"Terima kasih telah bertemu denganku. Terima kasih telah sembuh dan datang menemuiku. Terima kasih telah menjemputku setiap pagi. Terima kasih telah banyak bicara denganku. Terima kasih telah memberikan nilai pada apa yang kubuat."

Seharusnya aku yang berterima kasih. Semuanya, semuanya.

"Terima kasih telah marah untukku. Terima kasih telah datang menjengukku. Terima kasih telah mengajakku kencan. Terima kasih telah menungguku sampai aku bisa menyebutmu teman."

Kousei…… Kousei…… Kousei.

"Terima kasih telah memberanikan diri untuk ciuman tidak langsung, dan ciuman di pipi. Terima kasih telah menceritakan kegelisahanmu. Terima kasih telah mengandalkanku. Terima kasih…… benar-benar terima kasih telah menyelamatkanku."

"Kousei……!"

Dadaku terasa sesak. Tanpa sadar, air mata sudah mengalir di pipiku.

Kousei menarik napas dalam-dalam. Mata yang serius dan menghanyutkan itu. Mata yang kukagumi delapan tahun lalu, tiga bulan lalu, kini menatapku tepat sasaran.

"Aku, Kutsuzawa Kousei…… sangat mencintai Mizoguchi Seika."

"Ah……!"

Dia mengatakannya. Kata-kata yang ingin kudengar selamanya. Kata-kata yang selalu kumimpikan.

"Maukah kamu menjadi kekasihku!"

Pada akhirnya, dia menarik tubuhku dengan erat, memelukku sampai terasa sakit.

Sebenarnya aku pun ingin bicara banyak, tapi napasku terasa sesak hingga hanya dua suku kata yang bisa kuucapkan. Oleh karena itu, sambil menempelkan pipiku di bahunya,




"Ya."

Aku menjawabnya. Singkat saja, namun aku menanamkan segenap perasaan dan tekadku untuk masa depan di dalamnya. Setelah itu, kami berdua menangis tersedu-sedu sampai tidak tahu lagi apa yang terjadi, sambil terus berpelukan erat satu sama lain.

★★★

Seika-san sedikit merapikan riasannya, lalu menoleh ke arahku. Dia tetap terlihat cantik meski wajahnya basah oleh air mata. Saat kami sedang begini, aku jadi kagum pada diriku sendiri karena bisa tetap tenang selama ini di depan wanita secantik dia.

"Hei, Kousei."

"Ya?"

"Sejak kapan kamu mulai menyukaiku?"

"……Jujur saja, aku tidak tahu. Tapi aku baru benar-benar menyadarinya setelah kejadian empat hari lalu."

Kalau dipikir-pikir, itu juga terjadi di tempat ini. Benar-benar deh, aku tidak akan pernah bisa melupakan jasa taman ini seumur hidupku.

"Hmm. Kalau aku sih sudah sejak delapan tahun yang lalu, tahu?"

"……Aku memang pernah berharap kalau itu benar, tapi apa itu berarti cinta pertamamu adalah aku?"

"……Memangnya kenapa?"

Bahkan cara dia menyembunyikan rasa malunya dengan berpura-pura kesal saja terlihat manis, aku benar-benar sudah tergila-gila padanya.

"Lagipula, kamu bilang aku menyelamatkanmu, tapi dari sudut pandangku, kaulah yang sudah menyelamatkanku jauh di masa lalu. Perasaan yang kamu rasakan empat hari lalu itu, aku sudah merasakannya sejak delapan tahun yang lalu."

I-itu…… lumayan berat juga, ya.

"Aku punya pengalaman lebih lama, tahu. Kamu mungkin baru sangat menyukaiku, tapi aku…… a-aku mencintaimu. Pola bunga pada baju yang kupakai ini adalah pola bunga dengan bahasa bunga 'pernikahan', dan aku mengenakan warna putih yang pernah kamu puji, jadi aku adalah wanita yang sangat gembira bisa mengenakannya untukmu."

"Manis sekali. Kamu terlalu menggemaskan."

"……Dengar ya, cintaku ini berat, lho? Aku baru tahu saat bertemu kembali denganmu, tapi sepertinya aku punya sisi yandere. Sekalipun kamu membuangku, aku akan kembali lagi."

Apa dia boneka kutukan?

"Bahkan kalau kamu bilang ingin putus, aku akan tetap memohon padamu."

Aku memeluk Seika-san dengan erat. Dadaku terasa mau pecah karena perasaan sayang yang meluap.

"Aku tidak akan pernah putus. Aku akan terus menjaga dan memilikimu di sisiku selamanya. Seperti Seika-san yang memikirkanku, aku juga sangat mencintaimu."

"Hah? Aku jauh lebih mencintaimu. Aku memeluk bonekamu setiap malam saat tidur. Aku mengumpulkan berbagai barang berwarna hijau zamrud kesukaanmu. Aku bahkan mengecat rambutku."

Jadi, highlight rambutnya juga demi aku, ya.

"Saat kamu mengamuk dan datang menjemputku, aku menangis karena terlalu senang, dan karena kamu bilang senang bisa bertemu denganku lagi, aku tidak bisa lagi menahan perasaanku. Hanya sekadar mengobrol di supermarket dekat rumah pun bagiku sudah seperti kencan, kerja sama kita saat lomba lari juga bisa diandalkan, dan Nobunaga adalah sainganku."

Seika-san kembali hampir menangis. Aku pun ikut terbawa suasana.

"Saat kamu demam, kamu lucu sekali sampai membuatku gemas, dan ada hari-hari di mana aku tidak bisa tidur karena cemas kamu tidak segera mengakui kita sebagai teman."

"Maafkan aku."

"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa."

Dia memelukku balik dengan erat.

"Sebagai gantinya, saat kamu mengakuinya, aku terus menari-nari di kamarku. Saat aku menemukanmu di depan Takeya, aku sangat senang. Termasuk saat kelas tata rias setelahnya, aku sadar kamu benar-benar menghargaiku."

"Seika-san……"

"Aku sudah mencintaimu sejak delapan tahun lalu, dan setelah bertemu kembali, aku semakin, semakin mencintaimu…… Jadi, Kousei, kumohon. Aku tidak bisa jatuh cinta lagi selain ini. Aku tidak akan bisa bertemu orang yang kucintai lebih dari ini. Karena itu."

Seika-san, mungkin karena tidak bisa lagi menyampaikannya lewat kata-kata, perlahan memejamkan matanya.

☆☆☆

Empat hari lalu, aku ingin melakukan ini. Ingin mencurahkan semua perasaanku dan menciumnya. Aku telah mendewasakan hasrat itu selama empat hari.

Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku memejamkan mata dan perlahan mengangkat daguku ke arah Kousei. Di tengah kegelapan, tangannya menyentuh pipiku. Bantalan jarinya sedikit kasar. Dengan tangan inilah dia membuat diorama tadi, ya.

"Seika-san."

Dipanggil namaku di saat terakhir…… lalu sesuatu yang hangat dan lembut menempel tepat di bibirku. Aku tidak sengaja membuka mata. Kousei juga sedikit membuka matanya. Pandangan kami bertemu. Iris cokelat dan pupil hitam. Alis yang ternyata dirawat dengan cukup rapi. Hidung mancungnya yang menyentuh pipiku. Mengambil pelajaran dari kegagalanku, sepertinya dia memiringkan wajahnya sedikit. Aku jadi ingin menyentuh pipinya yang kenyal, jadi aku pun menyentuh wajahnya dengan tanganku. Masih terasa lembut seperti biasanya.

Apa yang kulihat, apa yang kusentuh, semuanya hanyalah Kousei. Seluruh dunia seolah hanya berisi dirinya. Kousei-ku yang tercinta.

Tak lama kemudian, bibirnya lepas dari bibirku. Seketika itu juga, wajahku terasa sejuk. Mata yang tadinya menatap miring ke arahku kini menemukan bulan di langit malam. Bulan purnama yang bulat sempurna.

"……Luar biasa."

Ucap Kousei dengan linglung. Hari ini aku memakai lipstik yang tidak mudah luntur, jadi tidak ada jejak ciuman yang tertinggal di bibir Kousei, tapi ini bukan sekadar khayalan atau ilusi yang kuinginkan. Sensasinya benar-benar tertinggal.

"……Ya. Rasanya aku hampir dimakan oleh Kousei."

"Eh?"

"Sepertinya seluruh dunia dipenuhi oleh dirimu."

"Itu…… aku sedikit mengerti. Aku pun tidak bisa merasakan apa pun selain Seika-san."

"Benar, kan? Sampai lupa kalau kita ini sedang di luar."

Seringkali aku melihat pasangan yang bermesraan di tempat umum dan berpikir, "Memangnya mereka tidak lihat sekitar ya?". Tapi sekarang aku mengerti. Memang akan jadi seperti itu. Karena rasanya terlalu nikmat dan terlalu bahagia.

Kousei tiba-tiba menoleh ke sekeliling. Hanya ada seekor tonggeret yang tidur di dahan pohon, bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaan orang lain.

"Apa tidak apa-apa di taman ini?"

"Apa jangan-jangan taman ini akan dibongkar karena tidak ada pengunjung? Itu merepotkan. Kenangan kita terlalu banyak di sini."

Kami berdua harus membicarakan hal-hal yang tidak relevan agar jantung kami tidak meledak.

Setelah menjawab dengan asal, Kousei meneguk habis jus leci di botol plastik yang kami minum berdua. Pasti dia haus karena gugup. Tapi entah kenapa, aku merasa sedikit kesal. Ciuman denganku malah dibilas dengan jus.

"Hei."

Saat dia selesai minum, aku mencondongkan tubuh dan mendekatkan wajahku ke wajah Kousei. Jantungku belum tenang, tapi aku tidak bisa melawan hasratku.

"Aku juga ingin…… mencoba menciummu. Ciuman yang tadi terlalu canggung dan hampir seperti adu jotos."

Kousei sedikit memalingkan wajah karena malu, lalu kembali menatapku…… dan mengangguk pelan.

Aku memiringkan wajahku sedikit, lalu mengecup bibirnya seperti burung yang mematuk. Ah, ini gawat. Aku bisa benar-benar ketagihan. Meski sadar akan hal itu, aku tidak bisa berhenti, dan malah melancarkan serangan kedua dan ketiga ke bibir Kousei. Terasa kenyal, lembut, dan beraroma leci.

Napas kami mulai terengah-engah. Ingin lagi dan lagi, aku menciumnya dengan penuh gairah, menggerakkan bibir kami agar saling bergesekan……

"Feh, Seika-fan. Sebentar."

Kousei yang sepertinya sesak napas dengan lembut mendorong bahuku. Gawat, aku terlalu agresif.

"Hah, hah. Kita bisa melakukannya lagi nanti."

Mendengar kata-kata Kousei yang menenangkan, aku tersadar.

"O-oh, iya ya. Aku sudah bisa berpacaran dengan Kousei, kan? Besok pun aku masih pacarmu, kan?"

"Kenapa bertanya begitu sekarang? Justru kalau besok kamu bilang kita bukan pacaran lagi, aku yang akan syok dan pingsan."

"Ya, itu sih benar, tapi…… karena masa cintaku bertepuk sebelah tangan terlalu lama. Aku jadi sulit mempercayainya begitu saja. Tapi, ya benar. Iya, kan. Aku dan Kousei sudah saling mencintai."

"Ya."

Aku memastikan sekali lagi dengan gigih. Sepertinya besok pun aku akan memastikannya lagi. Mendengarnya dengan kata-kata, memastikannya dengan bibir. Meski begitu, rasanya masih seperti mimpi.

"Kousei, apa kamu mencintaiku?"

"Ya."

"Sangat mencintaiku?"

"Ya."

"Jangan cuma bilang 'ya', katakan kalau kamu cinta."

"……A-aku cinta. Sangat cinta."

"Nfufu~"

Tawa aneh keluar dari mulutku, dan untuk menutupi rasa maluku, aku menyembunyikan wajahku dengan menempelkan dahi ke bahu Kousei. Terasa kasar, tapi hangat.

"Tolong jangan suruh aku mengatakannya terus. Aku malu."

"Padahal tadi kamu menyatakan cinta dengan begitu penuh gairah, malah jadi aneh kalau malu sekarang."

"……Sekarang kalau dipikir dengan tenang, rasanya wajahku seperti mau terbakar."

Kousei mengipasi wajahnya sendiri dengan tangan.

"Kalau ada kompetisi wajah merah, aku pasti sudah juara."

Mendengar monolognya itu, aku baru sadar. "Ah". Aku melupakannya. Padahal aku penasaran sekali.

"He-hei, soal hidung yang itu."

"Ah!!"

"Waaa!! Ke-kenapa?"

Suara keras yang tiba-tiba itu membuat jantungku serasa mau berhenti. Kousei dengan panik mengecek ponselnya.

"Jam 8.40…… jam malamku jam 9. Karena empat hari lalu aku sempat membuat kehebohan dengan menghilang."

"O-oh. Begitu, ya."

Respon yang wajar bagi keluarga.

"……Seika-san."

Kepada Kousei yang terlihat merasa bersalah, aku pun berkata,

"Ya. Hari ini sampai di sini dulu, ya."

Aku yang mengatakannya duluan.

★★★

Setelah mengirim pesan kepada Ibu bahwa aku akan pulang setelah mengantar Seika-san, jam malamku diperpanjang secara khusus hingga pukul 9.30.

Jadi, sekarang aku berjalan pelan menuntun sepedaku menyusuri jalan menuju apartemennya.

"……Entah kenapa, kurasa pernyataan cinta kita tadi cukup aneh, ya."

"Begitu…… ya. Aku menyatakan cinta saat statusnya sudah pasti…… tidak, apa itu bisa disebut jawaban dari pernyataan cinta?"

"Entahlah. Kalau punyaku, itu terjadi di tengah luapan emosi. Bukan seperti pernyataan cinta remaja yang manis, tapi lebih seperti menunjukkan kalau aku adalah pendukung setiamu."

Seika-san juga sepertinya tidak bisa mengungkapkannya dengan baik lewat kata-kata dan menggelengkan kepalanya dengan kesal.

"Tapi berkat itu, aku sangat, sangat terselamatkan."

Meski begitu, memang nuansanya berbeda dari pernyataan cinta yang biasa terlihat di karya fiksi.

"Apalagi, tadi kamu juga mencoba menciumku, jadi aku tahu kalau itu berbeda dari kasih sayang keluarga biasa."

"U-uwaaa. Itu juga karena aku lepas kendali."

Seika-san cenderung menangkap emosi yang mendahului logika secara negatif, tapi menurutku ada hal-hal yang terselamatkan justru karena itu. Aku tahu bahwa suasana seperti itu jauh lebih baik beratus-ratus kali lipat daripada tempat yang penuh tipu muslihat tanpa ada emosi yang terlihat.

Tapi ya.

"Apa ciuman hari ini sudah tepat waktunya?"

"Hm? Kenapa?"

"Bukankah ciuman pertama seharusnya setelah kita benar-benar menyampaikan perasaan satu sama lain dengan baik? Bagi kita berdua, ini adalah kenangan pertama dalam hidup…… ya kan?"

Saat mengatakannya, rasa cemas muncul hingga aku tidak sengaja bertanya.

"Ya jelas dong. Memangnya orang yang tadi melakukan adu jotos itu terlihat seperti orang berpengalaman?"

Wajahnya sedikit kesal. Aku meminta maaf.

"Tapi kalau begitu, seharusnya bukan di situasi yang seolah-olah aku sedang melindungi diriku yang lemah ini…… ah tapi, apa taman bukan tempat yang tepat karena kurang romantis? Harusnya yang lebih indah."

Saat aku baru akan bicara lebih jauh, tawa Seika-san terdengar. Hahaha, dia tertawa sambil mendongakkan dagunya.

"Eh? Kenapa tertawa?"

Mendengar pertanyaanku yang bingung, Seika-san berkata,

"Tidak, ternyata benar ya kalau anak laki-laki itu sebenarnya sangat romantis."

Dia mengatakan sesuatu yang tidak jelas apakah itu sebuah jawaban atau bukan.

"……Coba pikirkan dari sudut pandang yang berbeda. Saat aku sedang menderita dan meronta-ronta, lalu kamu bilang kalau kamu bisa mendapatkan kedamaian sedikit saja dengan ciuman dariku, dan lalu itu benar-benar dilakukan, apa kamu akan menyesal?"

"Tentu saja tidak!"

Jika dengan ciuman pertamaku bisa memberikan ketenangan bagi hati Seika-san, penyesalan apa yang akan ada?

……Ah.

"Itulah maksudku. Bagiku, tidak ada penyesalan sama sekali saat memberikan ciuman pertamaku sebagai cara untuk menunjukkan kalau aku adalah pendukungmu yang tidak akan pernah mengkhianatimu saat kamu sedang menderita."

Lampu depan mobil yang melintas di jalur berlawanan menyinari profil samping wajah Seika-san. Di dalam senyumnya yang tenang, terlihat tekad yang kuat. Kata-kata "aku mencintaimu" tidak akan keluar begitu saja dengan santai. Saat itu, dia benar-benar berniat mendukungku bahkan jika harus memberikan segalanya.

"Lagi pula. Ciuman di taman hari ini sudah lebih dari cukup indah. Itu adalah tempat kenangan kita, tidak ada orang yang datang, dan itu adalah dunia yang hanya milik kita berdua."

Seika-san menatapku dengan sudut matanya sambil tetap tersenyum tenang.

"……Bahkan jika melihat pemandangan satu juta dolar pun, kalau dengan orang yang tidak cocok, ya tetap tidak akan bisa. Di mana, atau situasinya seperti apa, jauh lebih penting siapa orang yang melakukannya, jadi kamu harus lebih percaya diri."

"I-iya."

Percaya diri, ya.

"Bukan bermaksud sombong, tapi aku ini populer, tahu? Orang seperti aku tidak melirik pria lain dan terus mengejarmu. Itu artinya kamu adalah anak laki-laki yang menarik."

"Begitukah? Penampilanku biasa saja, punya sedikit uang, tapi tidak bisa bicara hal yang lucu."

"Tidak, poin terakhir itu benar-benar harus kamu percayai. Kurasa kamulah yang paling menarik di sekolah kita."

Kurasa tidak begitu.

"Bagaimanapun, aku tidak mau kalau bukan kamu. Sebaliknya, kalau orangnya adalah kamu, suasana yang sedikit berbeda pun tidak masalah. Jadi, tidak perlu terlalu memikirkan suasana atau situasi. Sebaliknya, aku lebih benci kalau kamu terlalu banyak berpikir sampai tidak mau menciumku."

"Be-begitukah ya?"

"Ya. Aku ingin melakukannya 30 kali sehari. Tidak mungkin kalau harus repot-repot membuat suasana setiap saat, kan?"

"Ti-tiga puluh kali."

Banyak sekali.

"Aku senang sekali kamu menghargaiku, tapi aku ingin kamu menyentuhku dengan sama santainya. Bukan hanya tubuh, tapi juga hati, ya?"

Menyentuh dengan hati. Terlalu abstrak, aku jadi harus berpikir.

"Untuk saat ini…… kata-kata formal itu."

"Eh?"

"Bagaimana kalau kita ubah?"

"Ugh. Tapi rasanya sudah terbiasa."

"Apa yang kamu bicarakan, ayo. Coba panggil aku Seika tanpa embel-embel."

"Tidak, rasanya."

Seika-san ya tetap Seika-san.

"……"

Dia menatapku dengan tajam. Suara roda sepeda yang berputar.

Ini…… rasanya dia tidak akan membiarkanku kalau belum mengucapkannya.

"……Se-Seika."

"……!"

"Tolong jangan terlihat malu setelah menyuruhku mengatakannya."

Akhirnya, aku mendapat persetujuan dengan syarat bahwa aku akan terbiasa menggunakan bahasa kasual perlahan-lahan.

☆☆☆

Aku merasa sudah berjalan cukup pelan, tapi kami sampai di apartemen hanya dalam lima menit.

Masih kurang bicara. Tentang masa depan, tentang masa lalu.

Masih kurang mendengar. Kata-kata "aku mencintaimu".

Masih kurang menyampaikan. Perasaan "aku mencintaimu".

Aku sendiri pun heran. Padahal kami sudah saling menyampaikannya begitu banyak.

Meskipun sudah mendengar dan mengatakannya sampai berkali-kali. Namun panas di dalam dada masih belum padam.

Jika aku pulang sekarang, aku yakin aku pasti akan berguling-guling di tempat tidur seperti serangga aneh.

"Kalau begitu……"

Aku tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal.

"Seika-san."

"Hm?"

"Tentang kelanjutan cerita tadi."

"Eh?"

Seharusnya tidak punya banyak waktu lagi, tapi Kousei sepertinya masih ingin membicarakan sesuatu.

"Tadi kamu bilang jangan terlalu sungkan padamu, tapi bagimu juga sama, ya? Seperti saat main pingpong, tidak masalah meski kamu tidak pakai riasan atau pakai baju olahraga, kan?"

"Ah……"

Ternyata dia memikirkan hal itu.

"Tentu saja aku senang sekali kalau pacarku tampil cantik, tapi kalaupun seandainya tidak, aku tetap akan menyukaimu. Itu sudah pasti."

"Kousei……"

Memang benar saat pernyataan cinta tadi, hampir tidak ada bagian yang menyinggung penampilanku. Mungkin hanya saat dia memberikan diorama. Setelah itu, semuanya tentang sifat di dalam diriku, tindakanku selama ini, dan usahaku yang dia hargai.

"Jika seandainya Seika-san terjebak dalam pertempuran dan wajahmu terluka, aku tidak akan berubah sedikit pun……"

"Tunggu, tunggu, tunggu. Tidak ada pertempuran. Ini abad 21, tahu."

Aku tidak sengaja memotongnya, tapi Kousei tersenyum tipis. Sepertinya itu benar-benar hanya lelucon.

"Fufu. Bagaimanapun, tolong jangan terlalu sungkan, Seika-san. Aku tidak akan merasa kecewa hanya karena hal kecil. Silakan kumpulkan poin sebanyak-banyaknya."

"Ahaha, masih ingat saja pembicaraan itu."

"……"

"……"

Keheningan turun di sana. Lobi apartemen hanya berdua. Seorang karyawan baru saja lewat dengan tergesa-gesa.

"……Aku mencintaimu. Seika-san dalam kondisi apa pun."

"Aku juga. Bagianmu yang manis, yang jujur, yang lucu, yang baik, yang tulus, yang keren, yang lucu. Semuanya, semuanya. Begitu pula bagianmu yang terkadang menanggung semuanya sendirian, atau saat sedang pemalu."

Kelebihan sangat kucintai, dan kekurangan terasa sangat menggemaskan.

"Aku pun tidak akan membencimu sekecil apa pun kekuranganmu. Tapi……"

Kousei meletakkan tangannya di bahuku saat kami berdiri berhadapan.

"Tapi satu hal saja…… kumohon. Jangan mengkhianatiku. Kalau aku dikhianati oleh Seika-san, aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi."

Suaranya gemetar. Dia berhenti menggunakan bahasa formal, pasti karena dia memperlihatkan sisi terdalam hatinya.

Tekad yang sudah lama membeku kini menjadi semakin kuat.

"Ya. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan mengkhianatimu. Supaya tidak timbul kesalahpahaman, kalau ada apa-apa, mari kita selalu bicarakan berdua, ya?"

"Ya."

"Dan lagi, bagiku itu mustahil sekali, tapi bagaimana dengan selingkuh? Kalau itu membuatmu cemas, kapan pun kamu boleh memeriksa ponselku."

"Eh!? Boleh?"

"Ya. Lagipula aku tidak punya teman pria, dan tidak akan mencari teman baru."

Aku sama sekali tidak merasakan perlunya itu. Sebaliknya, aku hanya bisa memikirkan dampak negatifnya.

"Tapi rasanya, itu seperti tidak percaya."

Tidak memeriksa ponsel adalah bukti kepercayaan. Memeriksanya berarti meragukan. Ya, ada banyak sudut pandang, dan cara merasakannya berbeda bagi setiap orang, mungkin tidak ada jawaban yang benar……

"Sepertinya aku tipe orang yang tidak peduli dengan hal itu."

"Kalau begitu, milikku juga kapan saja boleh! Padahal aku sendiri tidak punya teman, jadi tidak ada apa-apa juga."

Fufufu, akhirnya dia mengatakannya.

Bagiku mungkin tidak akan pernah meragukan Kousei berselingkuh, tapi bisa memeriksa ponsel kapan saja itu rasanya menyenangkan. Karena aku bisa memeriksa apa yang dia lakukan saat tidak bertemu denganku. Mungkin aku akan membuat jurnal pengamatan Kousei.

"Lagipula, kurasa kita akan selalu bersama-sama."

"Benar."

Bahkan sekarang, padahal waktunya sudah habis, kami masih saja bicara seperti ini. Sulit untuk berpisah, dan aku yakin meski berpisah dengan berat hati, kami akan langsung ingin bertemu lagi.

Bagaimanapun juga, selama liburan musim panas, kurasa kita akan bertemu setiap hari. Aku tidak merasa sanggup menahan tidak bertemu dengannya walau sehari.

Saat itu terjadi. Ponsel di dalam saku celana Kousei berbunyi dengan nada dering Rain. Kousei memasang wajah masam. Aku pun mengecek waktu di ponselku, jam 9.15. Akhirnya sudah waktunya. Waktu tambahan yang diberikan karena kemurahan hati pun sudah habis.

"……Kalau begitu aku pergi."

"Ya…… ah, tunggu."

"Eh?"

Menuju Kousei yang wajahnya terkejut, aku berjinjit dan perlahan mencium bibirnya. Hanya bersentuhan ringan. Meskipun begitu, aku merasa dipenuhi oleh zat Kousei. Dengan ini, kurasa aku bisa bertahan sampai besok.

"Selamat malam. Nanti kita Rain lagi."

"……Ya, ya. Aku menunggumu."

Meninggalkan Kousei yang belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya, aku pun menuju lift.

★★★

Dengan mengayuh sepeda secepat mungkin, aku sampai di rumah dua menit sebelum jam malam. Mendengar suara pintu terbuka, Ibu dan Kakak segera keluar dari ruang tamu. Mereka terlihat lega. Rupanya insiden menghilang empat hari lalu masih membekas.

"Aku pulang. Maaf telat."

"Tidak apa-apa. Ini kan demi keselamatan Seika-chan."

Ibu sejak kejadian itu tampak sangat menyukai Seika-san, dan selama empat hari ini dia selalu bertanya dengan berisik, "Apa dia tidak datang bermain?", dan akhirnya aku pun mengaku kalau aku mengundangnya ke festival kembang api empat hari kemudian.

"Apa kamu benar-benar mengantarnya sampai ke apartemen?"

"Ya."

Aku menjawab sambil melepas sepatu. Suara kursi mandi yang digeser terdengar dari arah kamar mandi. Ayah sepertinya sedang mandi. Aku juga akan mandi nanti. Badanku lengket oleh keringat dan air mata.

"Hei, Kousei."

Kakak menghilangkan ekspresi khawatirnya dan bertanya dengan nada menggoda. Aku hanya merasakan firasat buruk.

"Bagaimana kencan dengan Seika-san?"

Ternyata benar. Ya, aku mengerti kenapa dia penasaran.

"……Ya. Menyenangkan."

Menjawab dengan aman dan tidak mencolok. Suatu saat nanti aku pasti akan melaporkan hubungan kami yang sudah maju, tapi saat ini aku masih ingin meresapi sisa-sisa kenangan.

"Bibirmu, terkena lipstik, ya?"

Meresapi…… ehhhhhhhh!?

"Bo-bohong! Dia bilang dia memakai lipstik yang tidak mudah luntur!"

Aku dengan panik melihat cermin yang tergantung di dinding di atas rak sepatu. Di sana ada bibirku seperti biasa. Tidak ada lipstik warna aprikot miliknya yang menempel di mana pun…… tidak ada.

"……"

"Kousei, serius?"

"Kousei…… apa sudah melakukannya dengan Seika-chan?"

U-uwaaaaaa. Ceroboh. Bodoh.

Karena pernah melakukan kesalahan yang sama saat di pipi sebelumnya, aku jadi terlalu sensitif.

Seandainya pun ada warnanya, masih bisa beralasan minum dari botol plastik yang sama setelah Seika-san minum, atau alasan lain meski terdengar dipaksakan. Setelah meluapkan kepanikan seperti ini, sudah tidak bisa lagi.

"Begitu ya. Ya. Baguslah. Aku juga tenang kalau itu Seika-san."

"Benar. Aku tenang kalau Seika-chan. Ibu sebenarnya juga berharap kalau akhirnya akan seperti itu."

Eh? Tak disangka, mereka berdua ternyata tenang. Padahal aku mengira mereka bakal heboh berteriak-teriak.

"Hm? Ah. Apa kamu pikir mereka akan sangat terkejut?"

"Iya."

"Yah, mau bagaimana lagi. Dari luar pun sudah terlihat jelas kalau Seika-san sangat tergila-gila padamu. Jadi, ini tinggal masalah kapan kamu menyadari perasaanmu sendiri saja."

Eh? Be-begitukah? Jadi, dari sudut pandang orang sekitar, tindakan dan ucapanku sudah sampai di level yang menunjukkan kalau aku secara tidak sadar juga menyukai Seika-san? Ti-tidak. Tentu saja sebagai sahabat aku sangat menyayanginya, tapi……

"Iya, kan. Melihat Kousei pergi sekolah dengan begitu bersemangat saja sudah jelas. Pasti karena ada gadis yang disukainya yang menarik hatinya……"

Ibu sedikit berkaca-kaca.

"Ibu sungguh bersyukur Seika-chan ada di sekolah itu. Dia menemukan Kousei dan memperhatikannya……"

Aku pun merasakan hal yang sama dari lubuk hatiku terdalam. Betapa beruntungnya aku. Rasanya aku rela jika dibilang keberuntunganku seumur hidup sudah habis demi hal ini.

"Kousei, apa pun itu, selamat ya."

"Selamat. Jaga dia baik-baik, ya? Gadis sebaik itu tidak akan bisa kamu temukan lagi di tempat lain, lho?"

"Iya. Terima kasih. Aku mengerti."

Sungguh, kurasa aku sendiri adalah orang yang paling mengerti akan hal itu.

Setelah itu, hening sejenak…… tatapan lembut dari keduanya membuatku merasa sangat malu. Karena suasana menjadi canggung, aku pun berkata,

"Aku akan mandi setelah Ayah selesai, ya."

Aku sedikit memaksa mengakhiri percakapan itu dan melarikan diri ke lantai dua.

"Fufu. Apa besok kita masak nasi merah, ya?"

Saat kakiku melangkah di anak tangga, aku mendengar ucapan Ibu yang membuat rasa maluku mencapai puncaknya.

Setelah mandi, aku melamun menatap kosong ke udara. Entah kenapa, aku tidak punya semangat melakukan apa pun. Kencan kembang api, pernyataan cinta, menangis sejadi-jadinya, lalu ciuman. Ini jelas sudah melampaui kapasitas diriku. Kurasa hari ini batas kegiatanku sudah tercapai. Maksudku.

"Ini bukan mimpi, kan?"

Meski kami sudah memastikan perasaan satu sama lain, sesekali aku jadi kehilangan rasa nyata. Bisa berpacaran dengan orang yang begitu cantik dan menawan seperti dia benar-benar di luar rencana hidupku. Kalau aku menceritakan hal ini pada diriku yang di bulan April lalu, dia pasti tidak akan percaya.

Memang klise, tapi aku mencoba mencubit pipiku. Pipi yang sering disentuh Seika-san dengan gemas karena katanya kenyal. Jariku menusuk dan terasa sakit. Ini…… bukan mimpi.

Saat itu juga, ponsel di atas meja bergetar.

"Wua!"

Aku benar-benar terkejut dengan suara getaran "vu-vu" itu. Mengabaikan jantungku yang berdebar kencang, aku berdiri dari tempat tidur dan segera menyambar ponselku. Tidak perlu memastikan siapa pengirimnya.

"Halo, Kousei?"

"Ya."

"Sekarang…… sedang apa?"

"Eh, anu. Tidak melakukan apa-apa."

Tepatnya, karena aku tidak bisa fokus pada apa pun, jadi aku tidak melakukan apa-apa.

"……Ahaha. Aku juga."

Suara tawa yang keluar dari hidung Seika-san. Aku jadi teringat napasnya di sela-sela ciuman kami tadi, membuat dadaku terasa panas membara.

"……Entah kenapa, aku jadi ingin berciuman lagi."

"Eh?"

"Soalnya saat mendengar suaramu di telingaku tadi."

Begitu ya. Seperti yang kurasakan, Seika-san juga rupanya.

"Tapi kita tidak bisa berciuman."

"Iya……"

"Bagaimana kalau kita tetap menelepon sampai tidur?"

"Eh?"

Untungnya, ini adalah panggilan gratis lewat Rain.

"Tidak boleh, ya?"

"Bukan. Boleh saja, kok. Fufu."

Karena Seika-san tertawa, telingaku merasa bahagia, dan aku pun ikut tertawa.

Keesokan paginya. Saat terbangun, panggilan Rain ternyata sudah terputus entah sejak kapan. Mungkin Kousei yang mematikannya setelah tahu aku tertidur. Panggilan Rain kadang putus secara misterius, jadi bisa saja itu penyebabnya.

Kami membicarakan banyak hal yang tidak penting. Tentang PR liburan musim panas, tentang Chika yang menuntut agar aku mempersembahkannya manisan, tentang Hinano yang berat badannya naik dua kilogram, tentang perusahaan penyalur tenaga kerja tempat Mama bekerja yang asal-asalan, tentang suhu panas yang ekstrem tahun ini. Et cetera, et cetera.

Kurasa konten pembicaraannya tidaklah penting. Hanya saja, suara tawa yang menyambut cerita konyolku terasa sangat berharga, dan sahutan yang dia berikan dengan suaranya yang rendah dan tenang membuat hatiku damai. Aku tidak ingin mengakhiri waktu itu, jadi kami terus berbicara.

Singkatnya, aku bahkan jatuh cinta pada suara dan cara bicaranya. Ini sih, sudah tidak ada pilihan lain selain menikah.

"……Baiklah."

Hari ini Kousei akan datang ke rumahku. Katanya, tidak enak kalau harus selalu menyuruh Seika-san yang datang. Itu artinya, aku harus tampil sempurna sebelum dia datang. Pakaian dan riasan. Meski dia bilang aku tidak perlu berlebihan pun dia tidak akan membenciku, tetap saja, hari setelah pernyataan cinta haruslah spesial.

Aku mengenakan sweter rajut tanpa lengan dengan rok panjang bermotif bunga. Tampilannya sedikit bergaya feminin yang anggun. Untuk lipstik, aku sengaja memakai warna aprikot yang sama dengan tadi malam. Siapa tahu dia teringat akan kejadian semalam dan jantungnya berdebar. Atau mungkin, dia akan menciumku lagi. Ada harapan seperti itu juga, sih.

Tak lama, sebelum jam 10, bel pintu berbunyi. Saat mengecek layar, tampak Kousei sedang menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan. Gerakannya persis seperti salesman.

"Pagi. Aku bukakan pintunya sekarang."

"Tolong, ya."

Aku menekan tombol buka kunci dan pintu otomatis pun terbuka.

Setelah menunggu sekitar tiga menit, Kousei naik. Wajahnya terlihat merah padam seperti hampir mengeluarkan uap. Awalnya aku berpikir kalau cuaca sedikit lebih dingin, mungkin kami bisa kencan di luar, tapi sepertinya musim panas tahun ini tidak memberi kesempatan, ya.

Aku mengajaknya ke ruang tamu. Karena tadi sudah menyalakan AC lebih dulu, udaranya cukup sejuk. Kousei mendongakkan dagunya dengan kedua tangan merentang. Hampir semua orang melakukan pose ini saat kepanasan, ya.

"Tenangkan dirimu dulu saja. Aku ada semangka, nanti kupotongkan."

"Ah, tidak perlu repot-repot."

Rasanya sedikit lucu melihat Kousei yang memberikan jawaban kaku meski kami sudah berpacaran.

Aku memotong semangka seperempat potong yang kudinginkan di kulkas menjadi dua bagian. Bagian kulitnya keras, jadi aku harus menekan dengan segenap berat badanku untuk memotongnya. Aku menyajikannya di piring dengan garpu kecil khusus semangka, selesai.

"Wah, terima kasih."

Melihat daging buah merah yang segar, mata Kousei berbinar. Semangka sepertinya bagus juga untuk hidrasi. Sejak hari aku membuatkannya kari, aku jadi tertarik pada memasak dan makanan, jadi saat senggang aku sering melihat-lihat resep di ponsel.

"Aku juga punya oleh-oleh."

Kousei membawa kantong kertas yang besar. Aku sudah menduga akan seperti ini, ternyata benar dia membawa oleh-oleh.

"Maaf jadi merepotkanmu."

"Tidak sama sekali. Malah aku yang merasa tidak enak."

"Kenapa? Kurasa tidak ada alasan untuk merasa tidak enak, kan?"

Dia anak yang aneh saat berbicara.

"Tidak…… isinya adalah semangka."

"Semangka?"

Saat Kousei mengeluarkan isinya dari kantong, itu benar-benar sepotong semangka seperempat.

"Aku mengeluarkan semangka, lalu diberi semangka, ini jadi mesin abadi."

"Bab 'Pedagang Semangka Tanpa Batas' pun dimulai."

Duh, menakutkan sekali.

"Ngomong-ngomong, apa ini topik pembicaraan kita di hari pertama setelah jadi kekasih?"

"Yah, bukankah ini khas kita berdua? Lagi pula, telepon kita tadi malam juga seperti ini."

"Memang sih…… tapi rasanya seperti mimpi saja kalau kemarin itu nyata."

"Eh?"

Kousei tertegun, lalu mulai tertawa kecil.

"Ugh. Tidak perlu tertawa."

"Maaf. Tapi ternyata kita memikirkan hal yang sama."

"Eh? Kousei juga?"

"Aku sempat mencoba mencubit pipiku."

"Wua, klise."

Aku pun ikut tertawa. Mengetahui Kousei merasakan hal yang sama membuat hatiku jauh lebih ringan.

"Kalau begitu…… mari kita buktikan kalau ini nyata dan kita benar-benar berpacaran."

Mengatakan itu, aku duduk di sebelah Kousei sambil menaruh semangkanya begitu saja. Aku menatapnya dari bawah. Posisi duduk kami membuat Kousei sedikit lebih tinggi.

"……Kalau dilakukan sekarang, mungkin akan terasa seperti semangka."

Sambil berkata begitu, Kousei mengelap sekitar mulutnya dengan sapu tangan tadi, lalu perlahan meletakkan tangannya di bahuku. Saat aku memiringkan wajah dan menunggunya dengan posisi menerima, dia pun mengecup bibirku dengan singkat seperti ciuman burung.

"……Ini bukan mimpi. Aku sudah sampai di tahap di mana berciuman dengan Seika-san menjadi hal yang wajar."

"Iya…… ini bukan mimpi."

Sensasi bibir yang nyata, rasa manis semangka.

Tidak ada suasana romantis, tapi ini sudah cukup. Aku senang karena kami bisa dengan santai berciuman saat merasa gemas atau jatuh cinta ketika sedang bersama.

Sambil melihat Kousei yang mengipasi wajahnya dengan tangan karena malu, aku membayangkan hari-hari ke depan yang akan kami lalui.

Setelah menikmati semangka, Seika-san tiba-tiba berkata, "Ngomong-ngomong."

"Aku sudah memberitahu Mama kalau kita berpacaran, tidak apa-apa, kan?"

Ah, soal itu rupanya. Karena dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh, aku sempat berpikir hal yang aneh-aneh.

"Iya. Lagipula, keluargaku juga sudah tahu."

"Tentu saja. Lagipula, pergi berdua ke festival kembang api saja sudah sangat mencurigakan, kan?"

Kalau dipikir-pikir dengan tenang sekarang, memang benar begitu. Itu sama saja seperti mengumumkan kalau aku akan pergi menyatakan cinta.

"Lalu, soal Papa……"

"Ugh."

Situasi bertemu dengan Ayah sang kekasih. Dalam karya fiksi, biasanya karakter akan dimarahi atau dipukul.

"Hahaha, tidak perlu terlalu tegang. Kurasa Papa tidak terlalu ketat soal hal itu."

"Kenapa kamu bisa yakin begitu?"

"Yah, karena profesinya, dia sudah tahu banyak tentang hubungan pria dan wanita yang rumit. Kurasa dia hanya akan berpikir kalau kita berpacaran dengan baik sebagai pasangan, itu sudah cukup hebat."

"……Apa dunia hiburan memang tempat yang semenakutkan itu?"

Aku memang sering mendengar rumornya.

"Yah, aku juga tidak tahu detailnya, dan kurasa tidak semuanya seperti itu juga, sih."

Cara bicaranya yang tidak lugas membuat rasa waspadaku semakin meningkat.

"A-anu. Sebelumnya aku pernah bilang akan mendukungmu, tapi soal model…… atau dunia hiburan……"

"Ahaha. Tidak, tidak. Menakutkan soalnya."

Aku merasa lega. Di saat yang sama, aku terkejut dengan rasa posesif yang bergejolak di dalam diriku.

"Apa kamu cemburu?"

"Iya."

Aku bahkan lupa menggunakan bahasa formal, hanya bisa mengangguk.

"Begitu ya, kamu cemburu, ya."

Pipiku dicubit dengan gemas. Lalu kepalaku dielus-elus. Gerakannya seperti sedang membelai anjing kesayangan yang baru lama tidak bertemu, tapi aku membiarkannya saja.

Lalu, punggung jari yang kembali ke pipiku dengan lembut membelai bulu halus di sana.

"Jangan khawatir. Aku sadar akan penampilanku. Jadi, manajemen risikoku cukup baik."

"Iya."

Aku bisa merasakannya. Dia punya aura yang membuat pria lain tidak berani mendekat. Kecuali aku.

"Ngomong-ngomong, tadi kita bicara soal apa?"

"Tentang memberitahu Masahide-san atau tidak."

"Ah, iya. Jadi bagaimana? Kalau Kousei sendiri, kamu sudah memberitahu Yoshiki-san, kan?"

"I-iya. Yah, bisa dibilang kalau Ibu dan Kakak tahu, maka Ayah pasti tahu. Semacam speaker yang tersambung terus."

"Ahaha."

Ini bukan hal yang lucu. Kurasa Meguru juga mungkin sudah tahu, dan bisa jadi gosipnya sudah menyebar ke teman masa kecil Ibu yang sudah mengenalku sejak kecil. Mengerikan sekali lingkungan lokal yang erat ini. Yah, meski ada banyak untungnya juga, sih.

"Kalau begitu, boleh aku memberitahunya saat ada waktu?"

"I-iya."

Mana mungkin aku bisa menolak. Jika percaya pada kata-kata Seika-san, seharusnya tidak akan ada reaksi buruk, tapi…… Seika-san seorang perempuan, dan terkadang kurang peka dengan perasaan pria.

Bagaimana perasaan seorang ayah yang putri tunggalnya punya pacar untuk pertama kalinya?

……Untuk saat ini, aku harus menyiapkan kotak kue.

"Lalu selanjutnya. Aku ingin memberitahu Chika dan Hinano juga."

"Ah, soal itu, iya."

Apalagi aku sangat berhutang budi pada Doguchi-san. Aku bahkan merasa punya kewajiban untuk memberitahu bagaimana hasilnya.

"Syukurlah. Chika benar-benar orang yang berjasa bagi kita. Dia sering sekali mendengarkan curhatanku. Sejak zaman kamu masih terus memanggil 'Nobu-Nobu' dan sama sekali tidak melirikku."

"A-ahahaha."

"Hinano juga sudah berusaha keras di kelas tata rias. Dan dia juga sering makan camilan."

Kurasa poin "sering makan camilan" tidak menambah poin keberhasilan. Kalau soal menambah berat badan, sih, mungkin ya.

"Benar. Bagaimana kalau kita buat pesta sekalian untuk mengucapkan terima kasih sekaligus melaporkannya?"

"Itu ide yang bagus. Kalau kita membuat banyak kue, sepertinya Shigei-san juga akan senang."

Hanya saja, aku ingin memberikan hadiah lain juga untuk Doguchi-san. Sungguh, kalau bukan karenanya, mungkin kita tidak akan bisa berpacaran sampai sekarang. Saat aku berpikir begitu,

"Tapi aku ingin menunjukkan rasa terima kasih pada Chika secara terpisah. Soalnya dia tidak serakus Hinano."

Seika-san rupanya berpikir hal yang sama. Aku setuju dengannya.

"……Apa ada sesuatu yang disukai Doguchi-san?"

"Seperti yang pernah kubilang, beruang atau alam."

"Benar juga."

Ngomong-ngomong, seingatku dalam obrolan kami dulu, dia pernah bilang ingin berkemah saat liburan musim panas.

"Bagaimana kalau berkemah? Seingatku dia pernah bilang begitu sebelumnya."

"Ah, dia memang sering asal bicara begitu. Jadi, kita yang harus mencari infonya."

"Termasuk repotnya mencari info, melakukan semuanya untuknya sebagai hadiah juga ide yang bagus, ya."

"Iya, setuju."

Seika-san tampak tidak bisa menahan rasa antusiasnya dan menggerak-gerakkan kakinya sambil duduk di sofa. Seperti anak kecil.

"Kalau begitu, ayo mulai!"

Menggunakan komputer di ruang tamu, kami mencari info tentang berkemah.

Setelah satu jam mencari, diputuskan untuk menyewa cottage untuk day-trip. Kondisinya tidak ketat, seperti tidak harus ada wali. Biayanya relatif murah. Hari kerja siang hari sepertinya sepi. Dan kami menemukannya di tempat yang relatif dekat. Ini jadi pertimbangannya.

Saat aku mengecek hari kosong Chika dan Hinano lewat Rain, mereka bilang mereka hanya bermalas-malasan setiap hari, jadi aku segera membuat janji untuk besok. Aku hanya menulis kalau aku ingin melaporkan sesuatu di rumah, tapi dari Chika aku menerima pesan,

"Apaan tuh~"

Disertai stiker kucing hitam yang tersenyum licik, jadi dia sudah sangat curiga. Hinano membalas,

"Oke, jadi aku hanya akan makan sedikit saja sebelum ke sana."

Tentu saja, aku tidak memberitahu isi laporannya, juga tidak bilang kalau ini pesta. Tapi entah kenapa dia sepertinya sadar kalau dia akan diberi makanan. Terkadang aku takut padanya. Selain itu, kurasa meski dia bilang makan sedikit, dia pasti akan makan siang dengan porsi besar.

Saat aku menyampaikan jawaban positif dari mereka berdua kepada Kousei, dia tertawa dengan lega.

"Kalau begitu, mari kita beli kue di supermarket. Ah, tidak. Mumpung kita ada waktu…… bagaimana kalau kita membuat puding telur?"

"Eh?"

Pikiran itu langsung muncul. Hari di mana kita pergi ke Timur itu, padahal kita bilang ingin memakannya, tapi akhirnya karena kejadian itu rencana jadi batal. Kousei, rupanya dia masih memikirkannya, ya.

……Karena tidak ada alasan untuk menolak, mari kita ikuti saja.

"Boleh juga. Bisa ajari aku caranya?"

"Iya!"

Jawaban yang jujur. Aku sampai ingin mengelus kepalanya.

"Kalau begitu…… ayo jalan."

Saat hendak berdiri…… balkon terlihat dari balik pintu kaca. Sinar matahari yang terik membuat cucian yang dijemur pagi tadi terasa sudah kering. Selain suara outdoor AC yang meniupkan angin samar, hampir tidak ada angin. Ini……

"Jaraknya cuma satu menit jalan kaki, kok."

"Iya, be-benar juga."

Meski begitu, aku berharap tidak akan mati hanya karena perjalanan dua menit pergi-pulang. Untuk berjaga-jaga, aku mengoleskan sunscreen di wajah dan tanganku di depan pintu masuk, lalu gantian mengoleskannya ke wajah Kousei. Wajahnya yang tertawa karena kegelian terlihat lucu.

"Padahal jaraknya cuma dekat, rasanya tidak enak membuatmu repot."

"Yah, ini supaya kamu tidak menyesal saat usia 40 atau 50 tahun nanti, kan?"

"40, 50 ya. Kurasa Seika-san pasti akan tetap cantik di usia segitu."

Kousei memang sering sekali bicara hal seperti itu dengan santai.

"……30 tahun lagi, buktikan sendiri dengan matamu."

"Iya…… eh, itu artinya."

"Aku juga akan mengawasimu supaya wajahmu tidak penuh noda di usia 30 tahun lagi."

Meski nadanya ringan, itu adalah pernyataan yang serius. Bahwa 30 tahun lagi, aku pasti akan berada di sisinya.

Kousei memelukku dengan erat dari belakang. Dia mengeluh sambil malu karena kami belum memakai sepatu, tapi aku tidak berniat melepaskannya. Kami berciuman sekitar lima kali.

Hanya dalam dua menit aku berhasil tewas, berubah menjadi zombie saat kembali, dan kami segera makan siang. Kami menghabiskan bekal yang dibeli di supermarket berdua. Setelah makan, kami istirahat sebentar lalu mulai membuat puding. Sambil melihat situs resep favorit Kousei, kami mengikuti langkah-langkahnya.

Aku memasukkan susu ke dalam panci dan memanaskannya. Sambil menunggu, aku memecahkan dua telur ke dalam mangkuk. Telur satu lagi dipecahkan ke piring terpisah untuk memisahkan kuning dan putihnya. Sepertinya hanya kuning telurnya yang dipakai. Aku mencampurkan ketiganya lalu menambahkan gula.

Saat aku memasukkan sumpit dan mengaduknya, terdengar suara sumpit yang mengetuk dasar mangkuk dengan ritme yang ceria. Ini cukup menyenangkan.

"Peralatan pudingnya ada, kan?"

Kousei membelakangi kompor dan menatap lemari piring.

"Ah, iya. Karena tidak pernah dipakai, kurasa ada di rak paling atas. Tunggu sebentar, aku ambil kursi……"

Sebelum sempat menyelesaikannya, Kousei membuka pintu lemari, sedikit berjinjit, dan menjulurkan tangan ke rak paling atas. Ah, benar juga. Dia bisa menjangkaunya.

Sepertinya dia sudah memegang benda yang dicari, otot lengan atasnya yang memanjang dari lengan baju tampak sedikit menonjol, dan urat-uratnya terlihat samar. Pemandangan itu entah kenapa terasa sangat sensual, membuat jantungku berdegup kencang.

Tinggi badannya yang lebih dari 6 cm dariku, lengannya yang kokoh mampu menjangkau meski dalam posisi sulit.

Dia anak laki-laki. Tentu saja aku tahu itu, dan sudah merasakannya berkali-kali sebelumnya.

Namun, saat melihat bagian "laki-laki" dari dirinya untuk pertama kalinya setelah kami resmi berpacaran, efeknya terasa jauh lebih menggelegar dari yang kubayangkan.

A-apa suatu saat nanti aku akan dipeluk oleh lengan ini? Bukan level pelukan dari belakang seperti tadi…… tapi pelukan yang sesungguhnya antara pria dan wanita, suatu saat nanti.

Di saat itu juga, aku baru sadar melihat situasiku dengan tenang. Hari ini Mama bekerja paruh waktu sampai sore belum pulang. Hanya ada kami berdua pria dan wanita yang saling bersandar sambil memasak. Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa.

Ti-tidak, tidak. Baru kemarin kami jadian, tidak mungkin hal itu akan terjadi secepat ini. Ta-tapi, biasanya pasangan baru berpacaran berapa lama ya, sampai akhirnya melakukan itu. Tidak harus mengikuti pasangan lain, tapi hanya sebagai referensi. Ya, sekadar referensi.

……Akan kucari nanti saja.

"……Hm!? Seika-san!"

"Hya, hya! Ini pertama kalinya aku mencoba, jadi tolong bimbing aku!"

"Aku tahu itu! Puding pertama yang kamu buat ini hampir gosong!"

"Eh?"

"Aduh, ya ampun."

Kousei meletakkan wadah puding ke samping dan segera mematikan api kompor. Susu yang seharusnya dipanaskan sampai 60 derajat sudah hampir mendidih.

Ah, iya. Saat sedang berurusan dengan api, sebaiknya jangan melamun yang tidak-tidak, ya.

Keesokan harinya. Untuk berangkat dari rumah jam 14.00, aku menyiapkan segalanya.

Aku memakai kemeja yang sedikit mencolok bagi standarku, berwarna ungu dengan pola bintang kuning yang dipilihkan Seika-san saat kami kencan di mall. Di bagian bawah, aku memakai knee support untuk menutupi lututku. Di atasnya, aku memakai celana kargo hitam favoritku.

Bagus, pakaian sudah oke.

"Nah."

Aku hampir lupa memakai sunscreen. Aku sudah memutuskan untuk membiasakan diri memakainya mulai hari ini.

Investasi untuk 30 tahun ke depan. Penampilanku saja sudah jauh dari setara, jadi mengabaikan kemunduran penampilan di masa depan adalah sebuah kelalaian. Karena Seika-san sudah memikirkan rencana sampai 30 tahun ke depan bersama, aku juga harus melakukan apa yang bisa kulakukan.

Aku mengoleskan krim putih itu dengan rata, oke mantap. Aku mengetuk-ngetuk tanah dengan ujung kaki agar sepatu baru itu lebih nyaman. Meskipun sudah mulai dipakai sejak kemarin, hari pertama berpacaran, rasanya masih kaku.

"Aku berangkat!"

Semangatku meluap-luap. Aku melompat keluar rumah seolah-olah sedang menari dan menaiki sepeda. Kondisiku hari ini benar-benar bagus. Rasanya aku sanggup berlari sejauh apa pun.

………………

…………

……

Dan ternyata itu hanya perasaanku saja.

"Maaf ya, Kutsuzawa-kun."

"Fu-hyu. Ko-hyu. Su-sudah, tidak, apa-apa."

Bohong. Bahkan berbicara "tidak apa-apa" saja aku sudah tidak sanggup.

Shigei-san yang duduk di bagasi memandang profil wajahku dari belakang dengan cemas…… tapi aku tahu. Ada permen lunak di dalam mulutnya. Yah, tidak masalah. Lagipula sudah terlambat jika berat badannya bertambah beberapa gram, itu hanya kesalahan hitung. Ah, tapi seingatku dia pernah bilang berat badannya naik dua kilogram kemarin.

Karena panas dan rasa putus asa, kepalaku sempat terasa pusing.

Saat sampai di apartemen Seika-san, kondisiku sudah sangat kelelahan seolah-olah aku sudah turun berat badan dua kilogram.

Begitu masuk ke ruang tamu, mataku langsung bertemu dengan Reika-san. Ah, ternyata dia ada di rumah…… tunggu? Eh? Aku tidak diberitahu. Bukankah aku dan Seika-san akan membuat "deklarasi jadian" sekarang? Kenapa ibunya juga ada di sini? Padahal aku sudah merencanakan urutannya mulai dari laporan anak-anak dulu, terbiasa dengan suasana, baru memberi salam kepada orang tua. Rencanaku jadi berantakan seketika.

"Se-selamat siang."

"Ya, selamat datang."

Dia membalas salamku sambil tersenyum lembut dengan sudut matanya yang mengerut. Ah, iya. Seingatku, aku sudah mendengar hal ini dari Seika-san. Jadi, fakta bahwa kami berpacaran sudah diketahui.

Jadi ini bentuknya adalah salam perkenalan resmi setelah mereka semua sudah tahu, ya? Kalau begitu, seharusnya tidak masalah…… tapi tetap saja, rasanya aku tetap gugup.

"Hei, rileks sedikit."

Seika-san menepuk lenganku pelan. Dia lalu mengarahkanku untuk duduk di sofa.

"Tenang saja. Mereka tidak akan menentang kita."

Sambil duduk di sebelahku, dia berbisik pelan untuk menenangkanku. Apa aku benar-benar terlihat setegang itu?

Untuk saat ini, aku meneguk teh yang disuguhkan lalu mengembuskan napas panjang. Sebelum acara dimulai, sudah direncanakan kalau aku akan menyampaikan alasan memanggil mereka ke sini, yaitu melaporkan bahwa kami sudah resmi berpacaran.

Aku menoleh ke samping, dan Seika-san memberikan anggukan mantap padaku.

Ya, jangan terlalu terbebani. Semua orang yang ada di sini adalah pihak yang mendukung kita.

"Anu…… alasan aku mengumpulkan kalian semua hari ini adalah……"

"Kami sudah resmi berpacaran."

Hah!?

"Aku sudah tahu."

"Selamat, ya."

"Ternyata benar, ya~"

Nua!?

"Yah, kalau dikumpulkan secara resmi di waktu seperti ini, bahkan Hinano pun bisa menebaknya."

I-itu mungkin benar, tapi apa reaksinya harus sesantai ini?

"Bilang 'bahkan Hinano' itu jahat banget, lho~"

Shigei-san memprotes, tapi wajahnya tetap tersenyum. Lalu, dia melanjutkan,

"Selamat ya, Seika. Meski aku tidak terlalu banyak jadi tempat curhat soal asmaramu, aku selalu mendukungmu dan berharap semoga semuanya berjalan lancar~"

Dia memberikan ucapan selamat seperti itu.

"Padahal aku yang tempat curhatnya habis-habisan. Yah, mau bagaimana lagi, orang yang satu ini memang lambat sekali menyadari perasaan."

"Aduh!"

Dari arah sofa yang sedikit miring, Doguchi-san mengulurkan kakinya dan menendang ujung kakiku.

"Yah, sekarang aku paham kalau Koutsu juga punya banyak urusan sendiri sampai tidak sempat memikirkan asmara. Tapi, saat masih jadi teman pun, dia sudah sangat menghargai Seika, jadi aku merasa dia orang yang bisa dipercaya."

Doguchi-san menatapku lurus-lurus sambil tersenyum lembut. Reika-san pun ikut menanggapi.

"……Benar. Kousei-kun adalah anak yang sangat baik. Seika sendiri juga jadi lebih tenang dan tumbuh dewasa…… kalian pasti sedang menjalani kisah cinta yang indah, ya."

Suaranya terdengar seperti menahan sesuatu yang ingin meluap. Begitu ya. Aku terus saja memikirkan perasaan sang ayah, tapi tentu saja seorang ibu pun pasti merasakan sesuatu. Kalau dipikir-pikir, Ibu di rumah juga seperti itu.

Entah kenapa, perasaanku jadi haru. Sedikit lagi, aku bisa saja menangis.

"Selamat untuk kalian berdua. Aku akan mendukung kalian."

"Selamat, ya. Menurutku kalian pasangan yang serasi."

Aku dan Seika-san saling bertatapan lalu tertawa. Kemudian, kami kembali menatap ke arah mereka.




"Terima kasih!"

"Terima kasih banyak!"

Aku menyampaikan rasa syukur dengan suara lantang. Tanpa kepura-puraan, murni dari lubuk hati yang paling dalam.

Aku mengambil cangkir berisi puding dari kulkas sesuai jumlah orang yang hadir, lalu menyajikannya di depan mereka. Dua nampan, masing-masing berisi lima buah. Jadi ada sepuluh puding semuanya, dibagikan rata satu per orang, dan sisanya enam untuk Hinano.

"……Serius, jangan terlalu dipikirkan."

Chika berkata begitu pada Kousei. Sepertinya dia paham betul niat di balik puding ini, sebagai pengganti puding Yokonakahoigashi yang gagal ia santap serta sebagai bentuk permohonan maaf.

"Itu juga salah satunya…… tapi yang terpenting adalah, aku ingin menjamu kalian semua dan menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama. Itulah perasaanku yang sebenarnya."

"Betul sekali. Selain itu, puding ini mudah dibuat, jadi bahkan aku yang pemula saja bisa membuatnya."

Aku pun ikut membantu memberikan dukungan. Melihat itu, Chika sepertinya memutuskan untuk tidak lagi bersikap serius.

"Begitu, ya…… Baiklah! Kalau begitu, mari kita bersulang untuk merayakan babak baru kehidupan mereka berdua!"

Dia mengusulkan hal itu sambil mengangkat gelas berisi jus.

"Ahaha. Memang memalukan, tapi ya sudahlah. Ayo, Kousei."

Aku ikut terbawa suasana dan menyenggol Kousei yang ada di sebelahku dengan siku. Untuk sesaat, dia terlihat seperti orang bingung yang bertanya, "Eh, aku?", tapi kemudian sepertinya dia sudah membulatkan tekad dan menggenggam gelasnya sendiri. Ia mengangkatnya di depan dada, lalu memulai kata sambutan.

"Ehm. Sekali lagi, saya ingin mengumumkan bahwa mulai saat ini, saya menjalin hubungan dengan Seika-san. Terima kasih banyak karena kalian telah menjaga kami dengan hangat, dan telah membantu kami dalam berbagai acara. Sungguh……"

"Kepanjangan! Bersulang!!"

"Eh!?"

"Bersulaaaang!!"

Semua gelas beradu, menghasilkan bunyi "ting" yang nyaring dan menyejukkan.

Setelah bersulang, aku memeluk Kousei dari samping dengan erat, karena dia tampak sedikit kesepian sambil meminum jusnya sedikit demi sedikit.

Sudah hampir satu jam sejak acara dimulai. Mama sedang pamit sebentar untuk membeli bahan makan malam.

Kami yang tersisa di sini, sambil menikmati puding dan camilan sesuka hati, awalnya sempat ramai membicarakan toko kue di depan stasiun atau tempat makan di dekat sini yang sama-sama menjual manisan.

"Jadi? Akhirnya, siapa yang menyatakan cinta duluan~?"

Begitu topik yang aman sudah habis, permainan "jadi-jadian media massa" pun akhirnya dimulai. Ya, aku memang belum menceritakan hal ini pada Hinano. Wajar saja kalau dia penasaran.

"Soal pernyataan cinta itu…… sebenarnya aku yang duluan, tapi jadinya agak spesial."

"Spesial?"

"Ah, itu. Bagaimana ya mengatakannya."

Aku menoleh ke arah Kousei di sebelahku, dan dia mengangguk kecil dengan wajah malu-malu.

"Saat anak ini sedang merasa sangat sedih dan menderita, aku ingin menunjukkan bahwa aku adalah sekutu setianya. Jadi, ada bagian di mana aku mengatakannya karena terbawa suasana."

Yah, sebenarnya aku sendiri sama sekali tidak berencana menyatakan cinta pada hari itu. Namun, karena ingin menyelamatkan hati Kousei, dan di tengah alur itu Kousei mengatakan hal yang terlalu membahagiakan…… perasaanku pun meluap, dan sebelum aku sadari, kata-kata itu keluar begitu saja.

"Jujur saja, kami berdua sama-sama menangis tersedu-sedu, jadi kami sama sekali tidak dalam kondisi tenang, ya."

Kousei menambahkan keterangan.

"Ah, tapi. Meskipun terbawa suasana, isi kata-kataku adalah kejujuran yang paling jujur."

"Soal itu, ya. Aku mengerti. Aku benar-benar sangat bahagia…… sangat bahagia……"

Saat dipandang dengan mata yang sendu itu, perasaanku saat itu bangkit kembali, dan tanpa sadar tatapanku tertuju ke bibirnya. Secara alami, wajah kami pun mendekat……

"Hinano, itu masih terlalu dini untukmu."

Terdengar suara itu, dan kami pun terkejut lalu menjauhkan diri. Saat menoleh, ternyata Chika sedang menutupi mata Hinano dengan tangannya, sementara Hinano berusaha menyingkirkannya dengan tangan kecilnya.

"Aku juga mau lihat~ Adegan ciuman Seika."

Waduh. Aku melakukan kesalahan lagi. Padahal aku belum punya keberanian untuk memperlihatkan adegan ciuman. Kami benar-benar terbuai sampai sesaat melupakan keberadaan sahabat kami.

"……Yah, kalau dilihat dari kondisinya, hubungan kalian sepertinya berjalan lancar. Perjuanganku tidak sia-sia."

Ucap Chika setengah bercanda. Memang benar, aku benar-benar merepotkannya.

"Oh iya soal itu. Aku dan Kousei sangat berterima kasih pada Chika. Bagaimana kalau kita pergi berkemah kapan-kapan? Biar kami yang bayar bagian Chika."

"Wah! Berkemah! Ayo, ayo!"

Chika bersemangat. Syukurlah, dia terlihat senang. Tapi kemudian, dia melihat ke luar jendela.

"Tapi, mungkin lebih baik kalau cuacanya sudah sedikit lebih sejuk. Akhir Agustus atau musim gugur pun tidak masalah."

Dia mulai bicara soal kenyataan. Yah, memang benar, cuacanya sedang panas sampai taraf yang membahayakan nyawa. Meskipun ada kemungkinan sisa panas di bulan September masih parah.

"Sebagai permulaan, kalau mau berterima kasih, ajarkan kami itu. Chigiri-e (seni menempel kertas), kan?"

Ah, benar juga, sempat ada pembicaraan soal itu.

"Tentu saja. Persiapannya cepat, jadi mari kita lakukan besok saja."

Kousei langsung menyetujuinya, dan rencana untuk besok pun jadi.

Waktu yang menyenangkan berlalu begitu cepat, dan acara pun berakhir. Aku mengantar Chika pulang, dan Kousei mengantar Hinano.

Setelah itu, aku berciuman perpisahan dengan Kousei dan kembali ke rumah. Saat aku tiba, Mama baru saja menyelesaikan persiapan makan malam dan baru saja duduk di sofa.

"Selamat datang. Apa sudah selesai dengan Kousei-kun?"

Mama sepertinya mengira hubungan kami yang baru terjalin ini akan membuat kami sulit berpisah dan membutuhkan waktu lebih lama.

"Ya, tidak apa-apa. Besok juga akan bertemu lagi."

Kami sudah berteman cukup lama, dan meskipun butuh waktu untuk menjadi teman yang resmi, selama masa itu kami sudah cukup sering bersentuhan fisik, jadi kurasa kami lebih mampu menahan diri dibandingkan pasangan baru lainnya. Yah, kalau dia ada di sini sekarang, tentu saja aku ingin memeluknya lagi.

"Selain itu……"

Mama yang sedang duduk di sofa mencari remote TV, menghentikan gerakannya dan menatapku. Entah mengapa, dia mungkin merasakan suasana serius yang akan kusampaikan.

"Meskipun sekarang aku tidak terburu-buru, aku berniat untuk bersamanya selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun ke depan."

Itu hampir terdengar seperti pernyataan pernikahan. Aku merasa mungkin terlalu dini mengatakannya di hari yang sama saat melaporkan hubungan kami.

……Kira-kira apa jawaban Mama?

Apakah dia berpikir bahwa seorang anak yang belum terjun ke masyarakat dan belum tahu gelombang kehidupan sedang membicarakan idealisme yang naif? Dan sebenarnya, itu mungkin benar. Mungkin akan datang hari di mana kita tidak bisa hanya mengandalkan "rasa suka". Atau mungkin akan terjadi situasi di mana "rasa suka" itu goyah. Meskipun aku mungkin bisa bertahan, mungkin saja perasaan pasanganku akan menjauh.

Namun. Saat ini, aku sangat yakin. Perasaanku bukan jenis yang lemah, yang kalau hilang bisa digantikan dengan yang lain.

"…………Begitu, ya. Rasanya silau sekali."

Mama mengatakan sesuatu yang berbeda dari semua kata yang kubayangkan. Wajahnya terlihat kesepian. Aku terkejut melihatnya karena tampak sama seperti saat keputusan perceraiannya dengan Papa diumumkan. Detik berikutnya, Mama tersenyum lembut.

"Seika. Kamu tidak apa-apa dengan itu."

Mungkin baru kali ini dia memanggilku "kamu" (dengan sebutan Anata yang spesial). Itu menunjukkan bahwa dia menghormatiku sebagai individu, dan memberikan kata-kata itu padaku. Aku bisa merasakannya secara intuitif. Mama duduk bersila di sofa dan menatapku dari depan. Aku pun memperbaiki posisi dudukku.

"Hidup ini terasa panjang tapi sebenarnya singkat. Dalam hidup itu, sebenarnya tidak banyak orang yang bisa membuatmu berpikir ingin menikah atau ingin bersamanya sampai mati. Bahkan, bisa menemukan satu orang saja sudah terhitung beruntung."

Ya, mungkin memang begitu. Lagipula, tidak semua orang yang ditemui bisa menjadi objek asmara.

"Banyak orang di dunia ini menikah hanya karena rasa nyaman, karena usia pernikahan sudah mendesak, atau karena level sosial yang dirasa setara."

Entah karena dia memikirkan seseorang secara spesifik atau tidak, Mama menatap ke ruang kosong sejenak.

"Tapi…… kamu sudah menemukannya. Cinta yang sejati, bukan karena kompromi atau kalkulasi."

Tentu saja, ada kasus di mana cinta sejati tumbuh saat menjalani kehidupan bersama meskipun awalnya hanya kompromi. Tapi, aku menolak rute itu. Jika diibaratkan dengan contoh universitas yang pernah kuberikan pada Kousei, aku tidak butuh pilihan selain pilihan pertamaku.

"Jalani terus, Seika. Ikuti kata hatimu."

Mama menyipitkan matanya, seolah menatap sesuatu yang sangat silau.

"Mama juga."

"Hm?"

"……Tidak ada apa-apa. Terima kasih. Aku akan selalu menghargai Kousei. Dan aku akan membiarkan diriku dihargai. Aku akan berusaha."

Mama mengangguk dengan lembut. Dia mungkin paham apa yang sebenarnya ingin kukatakan.

……Mama juga, jangan menyerah soal Papa. Jalani terus hubungan itu.

Aku menyimpannya dalam hati, kata-kata yang tidak sanggup kuucapkan.

Tetapi, ini membuatku kembali merenung.

Benar juga. Hubungan kami tidak berakhir hanya karena kami sudah menjadi sepasang kekasih. Kami harus terus melanjutkan hubungan ini. Untuk itu, menurutku diperlukan usaha terus-menerus. Menghargai, dan dihargai. Kalau hanya untuk waktu singkat mungkin mudah, tapi untuk selamanya pasti akan sangat sulit.

Nyatanya, Mama dan Papa tidak bisa melakukannya. Sekarang pun hubungan mereka sudah hampir hancur. Menjadi kekasih atau menjadi suami-istri bukanlah garis finis yang menjamin segalanya. Justru mungkin itu adalah titik awal di mana garis finisnya tidak terlihat. Betapa beratnya.

Namun, meskipun begitu, aku tidak merasa putus asa. Tiga bulan sejak aku bertemu kembali dengan Kousei. Kami saling mencintai, saling membantu, dan saling tertawa. Kami akan melanjutkannya. Menjalani perasaan ini, terus menyalakan cinta, dan berjalan bersama sampai ke garis finis yang tak terlihat itu.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close