〈1〉
☆☆☆
Malam
hari, tepat di hari Kousei mengajakku pergi ke festival kembang api empat hari
lagi.
"Chika~,
ini sudah pasti gol, kan?"
Aku
tidak bisa memendamnya sendirian, jadi aku kembali berkonsultasi dengan
malaikat penasihat, Chika-el. Maksudku, aku hanya ingin dia membenarkan
dugaanku.
"……Yah, kurasa begitu."
"Benar, kan? Benar, kan?"
Ternyata, kalau dilihat dari sudut pandang pihak
ketiga seperti Chika, ini memang sudah level pasti, ya! Kalau begitu…… kami saling
menyukai. Empat hari lagi, aku akan ditembak. Ah, tidak, tepatnya aku yang
sudah menembaknya duluan, jadi aku hanya tinggal menunggu jawabannya saja.
"Kutsu-zawar
tidak akan repot-repot mengajakmu ke festival kembang api hanya untuk
menolakmu. Akan lucu kalau dia membuatmu hancur lebur di sana lalu bilang
'kembang api yang menyedihkan'," ucap Chika.
"Jangan lucu-lucuan! Kousei-ku bukan anak yang
seperti itu. Dia itu murni, baik hati, dan kenyal-kenyal!"
"Entah apa hubungannya dengan kenyal-kenyal…… tapi memang benar dia orang baik. Aku jadi bisa tenang berhenti menjadi
penjagamu."
"Penjaga, katanya."
Tidak, selama beberapa bulan terakhir, aku memang
sudah sering meneleponnya seperti ini untuk curhat soal Kousei. Ya, aku
benar-benar berhutang budi padanya.
"……Terima kasih, ya. Selama hampir tiga bulan
ini."
"Hm."
"Kalau tidak ada Chika, mungkin aku sudah
menyerah. Lagipula, setelah kejadian 'kabur' itu, kalau kau tidak memberitahuku
alamatnya, kemungkinan besar hubungan kami sudah terputus begitu saja."
Bahkan jika aku berhasil merapikan perasaanku dan ingin
kembali mendekatinya, mungkin saja saat itu Kousei sudah menutup hatinya
rapat-rapat. Terutama setelah mendengar traumanya, aku merasa dia benar-benar
hebat karena mau datang ke rumahnya. Kurasa itu semua terjadi karena waktu
intervensi Chika yang sangat tepat.
"Jangan pikir kau bisa mendapatkan apa pun dengan
memujiku. Tapi……
mendengar semua ceritamu, sepertinya keputusanmu membeli ukiran kayu saat itu
punya peran besar."
Dalam
interaksi singkat sampai kencan di mal pertama kali itu, memang benar bagian
itulah yang paling menyentuh perasaannya. Namun, tetap saja, apa yang dilakukan
Chika sangatlah besar.
"Lagipula,
kau sudah merasa menang, tapi dia belum benar-benar menyatakan cinta, kan? Baru
sembilan puluh persen kemungkinan saja."
"Tidak,
tidak. Festival kembang api, cuma berdua. Tidak
mungkin tidak terjadi apa-apa."
"……Misalnya, dia minta izin untuk membuat patung
seukuran aslimu karena ingin memamerkannya."
"……"
Mungkinkah pola itu terjadi? Mengingat itu Kousei. Siapa
tahu? Tidak, mungkin saja dia menganggap pembicaraan penting itu adalah hal
semacam itu.
"T-tidak, tidak, tidak. Setidaknya, jangan
sampai itu terjadi."
"Meskipun aku sendiri yang bilang, tapi
membayangkan hal itu benar-benar mungkin terjadi adalah ciri khas
Kutsuzawa."
"Uuuugh. Bilang saja itu tidak mungkin terjadi~.
Kalau ternyata aku salah paham dan itu malah hal lain, aku bisa langsung
ambruk di tempat."
Hatiku bisa patah. Mungkin, tidak, aku pasti akan
menangis. Menangis tersedu-sedu. Tapi meski begitu, tidak ada pilihan untuk
menyerah, sih.
"Kalau begitu, karena tidak bisa dinalar lagi,
sergap saja dia."
"Akan kulakukan, itu sudah pasti."
Menyerangnya. Jika dia sebodoh itu, aku tidak bisa lagi
memikirkan ciuman pertama yang romantis.
Tidak, aku rasa hal itu tidak akan terjadi. Aku ingin
percaya begitu. Tapi terkadang Kousei memang punya cara yang luar biasa untuk
meleset dari harapan.
"Ya sudah, empat hari lagi, kan? Apa
pun itu, sampai saat itu kau harus menunggu dengan tenang, kan?"
"Iya, rencananya begitu. Tidak apa-apa, kan, dengan
cara itu?"
"Kurasa. Pihak sana juga mungkin butuh persiapan
mental…… kalau itu memang benar-benar pengakuan cinta."
"Masih saja kau mengatakannya. Semuanya akan
baik-baik saja."
Sial. Padahal aku ingin merasa tenang, tapi Chika malah
mengungkit kemungkinan-kemungkinan buruk hingga membuatku harus meyakinkan
diriku sendiri.
"Kalau begitu sampai nanti. Terima kasih sudah
mendengarkan."
"Jangan ngambek. Tadi aku salah bicara."
"……"
"……Kutsuzawa belakangan ini sering mencuri pandang
padamu, dan dia jadi bisa tersenyum dengan sangat natural. Selain itu, sudah
pasti kau telah memenangkan kepercayaannya yang luar biasa setelah keributan
ini. Tanpa diragukan lagi, dia pasti sudah menyukaimu."
"B-benarkah?"
Dia mencuri pandang padaku. Aku memang merasa kami sering
bertatapan di kelas, tapi aku pikir itu hanya khayalanku saja. Aku tidak ingin
terlalu berharap agar tidak kecewa, tapi ternyata benar, ya.
"Singkatnya……
selamat karena sudah selesai dengan cinta bertepuk sebelah tanganmu."
Karena
dia mengatakannya dengan lembut, tiba-tiba sesuatu yang panas naik dari dalam
dadaku. Seiring dengan itu, air mata mengalir begitu saja.
"……Terima kasih, Chika. Terima kasih,
sahabatku."
"Hentikan. Memalukan."
"Kau adalah cupid kami…… Malaikat Agung
Chika-el."
"Akan kuputuskan pertemanan kita, sialan."
Meskipun terdengar marah, suaranya mengandung tawa
yang lembut.
★★★
Dua hari telah berlalu.
Hari ini, semua karyawan yang tersisa pergi mengirim
barang dan langsung pulang, sehingga pabrik sudah kosong sekitar pukul empat
sore. Kesempatan emas. Kamarku sudah penuh dengan barang.
Aku membawa perlengkapan seni patung dan turun ke lantai
satu. Ada peralatan berbahan logam, jadi aku harus berhati-hati agar tidak
menjatuhkannya. Hanya karena itu saja, keringat sudah merembes di dahiku.
Melihat kondisi ini, mungkin di dalam pabrik pun udara sangat pengap.
Meskipun jalanku lambat seperti siput, aku berhasil
sampai di meja kerja pabrik dengan selamat. Aku menggelar perlengkapan yang
tadi kupeluk di dada. "Baiklah," aku memantapkan tekad.
Aku mulai membuat wajah pada ujung kawat aluminium dengan
tanah liat. Membulatkannya, lalu menambahkan sedikit tanah liat. Pada titik
ini, bentuknya terlihat seperti permen lolipop, tapi perlahan aku membentuknya
menyerupai tengkorak. Setelah meratakannya, aku mulai mengganti spatula untuk
membentuk mata, hidung, mulut, hingga telinga.
"……Benar, fotonya."
Aku menggunakan ponsel untuk mencari foto idola junior
yang kutemukan di internet. Itu adalah foto yang diambil saat acara dan
dipublikasikan secara umum. Tentu saja meniru mentah-mentah itu tidak baik,
tapi aku hanya menggunakannya sebagai referensi.
"Ya. Mirip juga, ternyata."
Aku memilih anak yang paling mirip dengan Seika-san saat
masih kecil. Meskipun ingatanku tentang masa kecil Seika-san samar, bisa
dibilang dia adalah sosok yang paling mirip dengan bayanganku tentang Seika-san
versi kecil. Ini juga sangat membantu untuk meniru kerangka dan proporsi tubuh
anak kecil.
Aku memperbesar gambar untuk mengamati tubuhnya
dengan saksama. Mungkin karena anak ini tumbuh lebih cepat, dadanya
sedikit menonjol, tapi kurasa saat itu dada Seika-san pastilah rata. Bahkan
sekarang pun, dadanya tidak terlalu besar.
Aku menambahkan kawat untuk badan serta anggota gerak dan
menyambungkannya……
"Waduh. Tangan dan kakinya kecil sekali."
Aku memotongnya cukup banyak. Tubuh anak kecil ternyata
benar-benar sekecil itu.
"Dengan tubuh sekecil ini, kau berhasil melewati
masa pengobatan yang panjang, ya."
Tentu saja, mungkin postur tubuhnya tidak persis sama
dengan idola junior ini, tapi kurasa tubuhnya kurang lebih seperti itu. Dia
sudah berjuang sekeras itu.
"Seika-san……"
Tiba-tiba air mataku hampir tumpah. Aku merasa dia begitu berharga. Seika-san pernah bilang dia
"mencintaiku", dan kini aku bisa memahami perasaan itu dengan sangat
baik. Penderitaan dan rasa sakit orang lain terasa seperti milik sendiri, dan
aku bahkan merasa bersyukur atas keseharian yang bisa kami lalui dengan tawa
setelah melewati masa sulit itu. Saat dia merangkul traumaku, dia pasti
merasakan hal yang sama.
Aku menempelkan tanah liat sedikit demi sedikit. Setelah
bentuk tubuh dasarnya jadi, aku menjauh sejenak ke bagian belakang pabrik. Aku
mengambil oven yang kuizinkan untuk ditaruh di pojok ruangan lalu
menyiapkannya. Sejak menerima permintaan yang berkaitan dengan Seika-san, aku
mulai membuat figur lagi, dan oven ini aku dapatkan dari Menu-kari saat itu.
Pakaiannya bukan pakaian penuh rumbai seperti yang
dipakai idola junior itu, melainkan aku ubah menjadi piyama. Tingkat
kesulitannya berkurang, tapi aku tetap membuat kerutan dan bayangannya dengan
teliti tanpa membuang waktu.
Selesai. Aku memanaskannya di oven hingga mengeras.
"Hhh."
Tahap terakhir. Pengecatan. Pertama, aku menggunakan cat
enamel untuk memberikan garis-garis dalam. Kalau karakter dua dimensi, mungkin
tidak perlu, tapi kali ini adalah manusia tiga dimensi, jadi memberikan garis
akan membuatnya terlihat lebih bervolume.
Harus dilakukan dengan sangat teliti. Seolah aku
sedang merawat orang aslinya.
Aku akan meniupkan kehidupan ke dalamnya.
Tak lama, pengecatan selesai, dan figur Seika-san saat
masih SD, yaitu figur Sei-chan, telah rampung.
"Berha……sil!"
Penyelesaian figur ini berarti selesainya hadiah syukuran
atas kesembuhannya.
Seolah energinya terkuras habis, aku terduduk lemas di
tempat.
Aku berhasil menyelesaikannya tepat waktu sebelum hari
festival kembang api.
"Seika-san……"
Selama waktu itu, hampir tidak ada saat di mana aku tidak
memikirkannya. Tentu saja, aku ingin bertemu dengannya.
Namun, Seika-san pasti sedang mempersiapkan diri untuk
kencan kami. Sama seperti gaun yang ia pakai waktu itu.
"Sedikit lagi."
Karena itu, aku pun harus memberikan seluruh usahaku.
Aku menopang figur yang sudah jadi itu dengan hati-hati
seolah ia adalah anak burung, lalu kembali ke rumah dan menaiki tangga.
Di atas diorama yang sudah kusiapkan di kamarku, aku
meletakkan figur Sei-chan dengan perlahan. Aku memasangnya dengan sangat
hati-hati pada dudukan panjang berwarna tanah.
Setelah penataan selesai, aku memandangi keseluruhannya
dari atas.
Sebuah hutan yang ditumbuhi kristal perak. Awalnya
aku ingin memberikan suasana yang lebih suram, tapi aku memilih pepohonan yang
tidak terlalu menonjol dengan dedaunan berwarna cerah. Bayangannya adalah
sebuah lapangan di hutan yang diterangi matahari.
Lalu di lapangan itu, ada komposisi seorang wanita
yang menggandeng tangan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu adalah Sei-chan
saat masih sakit yang kubuat tadi. Ekspresinya tampak bingung, namun kakinya
tidak berhenti melangkah.
Yang menarik Sei-chan dengan sedikit memaksa adalah
Seika-san saat ini. Dia mengenakan gaun hitam, sama seperti Kururu-chan.
Ini adalah pesan dan restu dariku bahwa kelak di masa
depan, dia bisa menjadi pahlawan yang kuat dan manis yang dulu hanya bisa dia
kagumi.
"Aku bisa membuat apa yang ingin kubuat."
Tanpa terpaku pada pemandangan fantasi, aku
mendesainnya hanya untuk syukuran kesembuhannya, khusus untuk dirinya.
"Dengan membawa ini."
Aku, Kousei Kutsuzawa, akan menyatakan cinta pada Seika
Mizo-guchi.
☆☆☆
Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. Setelah itu,
tidak ada lagi pertukaran pesan di antara kami berdua, selain pesan terakhir
yang menentukan waktu dan tempat pertemuan di hari festival kembang api.
Terkadang, akun yang baru dibuat Kousei memberikan tanda 'suka' pada postingan
Twista-ku, jadi aku tahu dia masih memikirkanku.
Bukan
berarti salah satu dari kami meminta untuk tidak saling menghubungi sampai
hari-H. Tapi karena kami berdua tidak tahu harus bicara apa, situasi menjadi
seperti ini secara alami.
Lagipula,
jika kami bertemu dalam kondisi canggung sekarang, mungkin aku sendiri yang
malah akan menyatakan cinta duluan. Bahkan mungkin saja aku malah menciumnya.
Jadi,
karena itulah, aku menunggu di rumah…… atau setidaknya itulah niatku.
Karena
sangat khawatir, sepulangnya dari urusan di depan stasiun, aku tanpa sadar
membelokkan sepeda ke tikungan itu. Apa yang sedang dia lakukan, ya?
Apakah dia sedang merenung sendirian lagi? Kekhawatiran itu…… hanyalah alasan, sebenarnya aku sendiri
yang merasa kesepian.
Tapi, aku tidak berniat membunyikan bel dan
benar-benar bermain ke rumahnya. Aku berpura-pura seolah tidak sengaja lewat
saat pulang. Berharap bisa melihat wajahnya sekali saja. Alasan yang setengah hati…… ah,
aku ingat. Ini sama dengan alasan yang kubuat saat menguntitnya
bulan Mei lalu. Apa yang kulakukan pun sama. Aku tertawa kecil pada diriku
sendiri.
Aku sampai di depan rumahnya dan menatap kamar Kousei
dari bawah. Kupikir itu saja sudah cukup. Tapi, lampu kamarnya tampak mati……
mungkin dia sedang keluar. Sayang sekali. Saat aku hendak memutar sepeda untuk
kembali, aku menyadari daun pintu pabriknya terbuka sedikit.
Tidak mungkin. Tidak mungkin situasi yang sama seperti
bulan Mei terulang kembali. Meski berpikir begitu, aku tetap memarkir sepeda
dan mengintip dari balik pintu.
Dan di sana……
Seolah déjà vu, dia ada di sana. Dunia milik Kousei
sendiri.
Tatapan matanya begitu serius. Handuk
yang dililitkan di kepalanya menempel di dahi karena keringat. Ujung
jarinya bergerak tanpa keraguan sedikit pun, terus-menerus bekerja.
Tanah liat? Ah, mungkin itu figur. Apakah dia mengerjakan
permintaan seseorang? Atau……
hadiah untukku lusa nanti. Aku tidak bermaksud narsis, tapi kurasa itu
kemungkinan keduanya. Itu juga keinginanku agar itu benar-benar untukku.
Mungkin
sudut matahari telah bergeser, atau awan yang bergerak. Sinar matahari senja
masuk ke dalam pabrik melalui jendela sisi barat. Di dalam cahaya itu, keringat
yang mengalir di pipi Kousei berkilau.
Indah sekali. Dunia milik Kousei sendiri. Sama seperti
hari itu di bulan Mei, dia kembali memikat hatiku tanpa ampun.
Tanpa sadar aku mengulurkan tangan ke dalam tas……
lalu perlahan menggelengkan kepala. Aku akan menjadi orang yang bisa melihatnya
kapan saja tanpa perlu mengintip secara sembunyi-sembunyi. Yah…… meskipun saat ini aku
sedang menjadi pengintip.
Pada akhirnya, setelah dua menit menikmati pemandangan
itu, aku menaiki sepedaku. Sampai akhir, Kousei tidak pernah sekali pun
mengangkat wajahnya. Sesekali dia hanya melihat ponsel yang diletakkan di meja
kerja. Mungkin itu bahan referensinya. Selain itu, dia benar-benar fokus
menggerakkan peralatannya dengan sepenuh hati.
Begini saja sudah cukup. Sambil mengayuh sepeda kembali
ke jalan, aku menyadari bahwa rasa sepi di dadaku menghilang secara ajaib.
Setelah sampai di rumah, Mama juga sudah pulang dari tempat penugasannya.
"Barangnya
sudah sampai."
Sebuah kotak kecil dengan logo situs belanja daring
diletakkan di atas meja ruang tamu. Ah, syukurlah. Karena sudah menentukan
tanggal pengiriman, seharusnya barang itu sampai hari ini, tapi karena sampai
sore tidak kunjung datang, aku tidak sabar dan memutuskan untuk pergi keluar
lebih dulu.
"……Yukata?"
"Ya. Tolong bantu aku, ya."
Aku membuka kotak itu dan mengeluarkan yukata dari
dalamnya. Warnanya biru muda dengan motif bunga-bunga putih yang tampak
menari-nari.
Setelah
membersihkan diri dengan shower, Mama membantuku memakainya. Karena
dulu saat masih kecil dia juga yang sering memakaikannya, tangannya tampak
sangat terampil. Aku harus minta diajari caranya suatu saat nanti.
"Nah, sudah."
"Terima kasih! Mama."
Aku masuk ke kamarku dan memeriksa penampilan di cermin. Mencoba mengangkat lengan kiri dan kanan. Berputar sekali, bagian
belakang pun terlihat sempurna.
"Oke! Oke, oke!"
Ini adalah satu set yukata yang langsung kucari dan
kutemukan di hari aku diajak pergi. Entah memilih warna hijau zamrud yang
disukai Kousei atau gaun putih yang dia puji saat kencan dulu. Saat sedang
berselancar di situs belanja daring mencari salah satu dari itu, aku tidak
sengaja menemukannya. Aku langsung merasa "Ini dia!" dan setelah
melihat detailnya, tertulis bahwa itu adalah bunga Ivy.
Setelah mencari tahu makna bunga itu…… aku langsung memesannya secepat kilat.
"Kousei……"
Saat mengintipnya bulan Mei lalu, aku hanya merasa dia
keren. Tapi sekarang, aku tahu bahwa sumber gairahnya itu berasal dari kebaikan
dan ketulusan hatinya. Dan itu adalah inti yang sempat
dibuat redup oleh orang-orang bodoh…… namun tetap tidak mati di dalam dadanya.
Aku menghormatinya. Sebagai manusia.
Aku juga harus tampil dengan persiapan matang.
Dia bilang penampilan ini adalah karunia, bukan hasil
curang. Aku akan membusungkan dada, menjadikannya senjata, dan memolesnya lebih
jauh lagi, supaya Kousei terpesona padaku melebihi kembang api yang ada di
langit.
Aku pun segera mulai memilih riasan dan hiasan rambut
yang paling cocok dengan yukata ini.
★★★
Lalu sampailah hari festival kembang api.
Cuacanya cerah sekali. Hanya ada angin hangat yang
bertiup dari arah barat daya, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan sama
sekali.
Pukul
enam lewat tiga puluh menit sore. Saat aku berusaha menenangkan detak jantung
yang terus bergemuruh, Seika-san datang dengan berjalan kaki. Untuk
sesaat, mataku tercuri oleh penampilannya yang cantik dalam balutan yukata.
"Menunggu lama?"
Suaranya hampir tenggelam oleh kebisingan di depan
stasiun. Dia dan aku sama-sama gugup. Karena ini pertemuan pertama kami sejak
empat hari lalu saat dia bilang "mencintaiku". Dan kami berdua sadar
bahwa hari ini akan menjadi titik balik hubungan kami.
"La-lama tidak bertemu."
Suaraku juga nyaris pecah.
Aku menatap penampilannya sekali lagi. Yukata cantik
dengan motif bunga putih yang bermekaran di atas warna biru muda. Obi perak
metalik yang lembut. Di kakinya, dia mengenakan bakiak kayu (geta) jenis
ukon dengan alas hitam dan tali merah.
Cantik sekali. Untuk sesaat, aku merasa ingin mundur.
Apakah aku benar-benar akan menyatakan cinta hari ini pada orang secantik ini?
Jelas sekali kami tidak sepadan. Mungkin sebaiknya aku membatalkannya saja……
"Kousei?"
Ada sensasi hangat di telapak tanganku. Tanpa kusadari,
Seika-san sudah menggenggam tanganku.
"Ayo? Nanti keretanya ketinggalan."
Aku dan Seika-san melewati gerbang tiket. Tepat saat itu,
pengumuman kedatangan kereta terdengar.
"Gawat, gawat."
Seika-san menuruni tangga menuju peron dengan bakiak yang
belum terbiasa ia pakai. Tanpa sadar posisi kami berbalik, aku yang sudah
sampai di bawah duluan, lalu menarik tangannya untuk mengawalnya.
Namun, kereta itu sebenarnya baru datang sekitar dua
menit lagi dan berhenti tepat waktu. Sepertinya kami tidak perlu terburu-buru
sampai seperti itu.
"Huh. Sejuknya."
AC di dalam gerbong kereta terasa sangat kencang.
Tingkat keterisian penumpang mungkin sekitar tujuh puluh persen. Meskipun jalur
ini menuju Danau Sawami tempat festival kembang api diadakan, karena hari ini
hari kerja, tampaknya tidak terlalu penuh.
"Maaf ya, tadi agak telat."
"Tidak apa-apa."
Penampilan Seika-san. Memakai yukata, ditambah berjalan
dengan bakiak yang tidak nyaman. Wajar saja kalau butuh waktu.
"Seharusnya tadi kita kumpul di rumah Kousei saja,
lalu aku nebeng di boncengan sepeda."
Dia sendiri yang mengusulkan untuk bertemu di stasiun
karena alasan agar tidak terlalu terlihat seperti kencan, tapi sepertinya dia
tidak menyangka akan kerepotan sampai seperti ini.
"……Memakai yukata ternyata cukup merepotkan."
"Iya. Dan, um, itu sangat cantik."
Tanpa diduga, pujian itu meluncur dengan lancar. Mungkin karena itu memang yang kurasakan dari lubuk hati terdalam.
"Benar, kan? Aku langsung jatuh cinta saat
melihatnya secara daring. Bunga putih ini katanya bunga Ivy. Bukankah
manis?"
Yang kupuji cantik adalah Seika-san, tapi karena
malu, aku membiarkan dia tetap pada kesalahpahamannya.
"Iya, terlihat seperti kembang sepatu putih. Sangat
cocok untukmu."
"Hm, terima kasih. Makna bunganya juga indah sekali,
makanya aku pilih."
Makna bunga. Aku harus mencarinya nanti. Mungkin bisa
jadi bahan obrolan.
"Kousei juga keren. Ini jinbei? Motif anjing
Shibanya lucu sekali."
Seika-san menusuk pola anjing Shiba di dekat lengan
atasku dengan ujung jarinya yang putih dan ramping. Kalau dipikir-pikir,
belakangan ini dia sudah tidak memakai kuteks yang mencolok. Apakah karena dia
sudah mulai bergandengan tangan denganku? Aku baru menyadarinya sekarang. Hal
seperti inilah yang membuatku sadar, mungkin masih banyak usaha dan perhatian
tersembunyi yang ia lakukan tanpa aku sadari.
Aku sangat menyayanginya. Jika aku melepaskan orang
sehebat ini, aku pasti akan sangat menyesal.
Tanpa sadar, aku sudah menggenggam tangan Seika-san
dengan kedua tanganku. Melihat matanya yang tampak penasaran, aku tersadar.
Saat hendak menarik tangan,
"Hm? Mau gandengan? Boleh kok."
Seika-san yang salah paham malah menggenggam tanganku.
Aku mengeluarkan suara tunggal yang menunjukkan aku pria yang tidak populer,
seperti "A, u".
"Karena aku jarang sekali ke daerah sini,
pemandangannya terasa segar, ya."
Setelah berkata begitu, Seika-san mulai memandang
pemandangan dari balik jendela kereta. Aku nyaris terpesona melihat profil
wajahnya, lalu sedikit menurunkan pandangan. Di bahunya, bunga Ivy yang tadi
dia ceritakan tertangkap oleh mataku.
Dengan tangan yang tidak sedang bergandengan, aku
diam-diam memainkan ponselku.
Aku mengetik 'Makna bunga Ivy'. Hasil pencarian langsung muncul.
'Cinta
abadi. Setia. Persahabatan. Pernikahan. Takkan berpisah meski
maut memisahkan.'
Kepalaku terasa pening. Aku tidak menyangka bisa tetap
berdiri tegak.
Yukata yang ia beli khusus untuk hari ini. Bunga yang
makna bunganya sudah ia cari tahu, lalu dia beri tahu namanya padaku.
Merasakan tatapan, aku segera mengangkat wajah, dan
Seika-san buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan. Dia tampak seperti orang
yang sedang memperhatikan pemandangan di luar, tapi ada kesan akting yang tidak
bisa ia sembunyikan.
Ini……
bukankah ini sama saja dengan dia sudah menyatakan cinta duluan? Tidak, karena
dia sudah bilang "mencintaiku" empat hari yang lalu, ini sudah
terjadi sejak saat itu.
Aku mengikuti langkahnya memandang ke jendela kereta.
Namun, tidak ada pemandangan yang masuk ke kepalaku. Aku hanya bisa merasakan
suhu tubuhnya yang tersambung melalui tangan kananku.
Festival kembang api Danau Sawami.
Biasanya diadakan sekitar minggu pertama bulan
Agustus, dan bahkan di hari kerja pun selalu ramai pengunjung. Bisa dibilang
ini festival kembang api yang cukup populer di tingkat nasional. Alasan
kepopulerannya, tak lain adalah keindahan kembang api yang terpantul di
permukaan danau. Konon, pengunjung dari luar prefektur pun datang hanya untuk
melihat ini.
Kami sampai di lokasi sekitar pukul tujuh kurang.
Karena kereta yang kami tumpangi cukup kosong, aku sempat
lengah dan berpikir tahun ini mungkin tidak terlalu ramai, tapi begitu keluar
stasiun dan berjalan menuju lokasi, aku langsung kewalahan oleh kerumunan
orang.
"J-Ware juga masuk ke stasiun ini, ya. Pasti
itu jalur utamanya," analisis Seika-san.
Benar juga, sepertinya stasiun ini mengangkut orang dalam
jumlah yang tidak bisa dibandingkan dengan jalur lokal yang hanya berjalan di
dalam kota Sawamigawa. Selain itu, ada hukum misterius di mana warga lokal
justru jarang pergi ke acara seperti ini.
"Tapi kalau lihat Twista, katanya tahun ini jauh
lebih baik. Kalau parah, katanya bisa sampai tidak bisa bergerak begitu turun
dari stasiun."
"Waduh."
Meskipun kesadaranku akan kerumunan orang sudah mulai
membaik, kalau sampai seperti itu, aku tidak tahu lagi.
"Mungkin
karena panas…… dan katanya baru saja dibangun hotel bertingkat di dekat sini,
jadi banyak orang yang menginap di sana untuk menonton."
"Ah,
begitu ya. Kalau tujuan utamanya adalah kembang api di permukaan danau, memang
lebih mudah menonton dari sana."
"Iya……"
"……"
Gawat,
percakapannya terputus. Saat melirik ke samping, ternyata dia juga sedang
melihat ke arahku, lalu dia sedikit tersipu dan menunduk. Apa mungkin masalah
makna bunga tadi masih terbawa? Meski begitu, alih-alih melepaskan, tangan kami
tetap bergandengan. Di antara jemariku yang kasar, jemari putihnya yang ramping
menyusup tanpa celah. Gandengan ala kekasih. Sejak hari kencan di mal, gaya
gandengan ini sudah jadi hal yang lumrah di antara kami.
"……Masih
bisa berjalan dengan lancar, ya."
"Iya."
Percakapan
kami sangat buruk. Seika-san juga terlihat sangat gugup. Ya, memang wajar
begitu. Sudah empat hari sejak pengakuan cinta dan percobaan ciuman itu.
Ditambah lagi, hari ini dia sudah menyampaikan perasaannya secara tidak
langsung. Setelah melihat kembang api, rencananya kami berdua akan berbicara
berdua saja di rumah Seika-san…… dia pasti sudah menebak bahwa di sanalah aku
akan memberikan jawaban atas pengakuan cintanya.
"Hya!?"
Tiba-tiba Seika-san memekik kecil. Kemudian dia berbalik
dengan sorot mata yang penuh amarah. Eh? Eh? Aku pun mengejar arah
pandangannya.
Tangan mungil sedang menarik-narik yukata Seika-san. Saat
melihat ke bawah, ada seorang anak perempuan berusia tiga atau empat tahun.
Melihat itu, amarah Seika-san langsung mereda,
ekspresinya berubah menjadi aneh, seperti orang yang ingin marah tapi juga
ingin tertawa.
"Ma-maafkan saya!"
Mungkin itu ayahnya atau ibunya, dia menarik tangan
anaknya dan melepaskannya dari Seika-san.
"Bunga~."
Suara anak itu terdengar kecewa. Sepertinya dia tertarik
dengan motif bunga putih di yukata Seika-san lalu mencoba meraihnya.
Ayahnya yang menggendong anak itu meminta maaf dengan
canggung, lalu sedikit menjauh dari barisan. Ibunya pun menunduk hormat lalu
mengejar mereka.
"A-ahaha. Kukira tadi ada peleceh."
Tatapan mata Seika-san tadi memang tajam sekali.
"Memangnya masih ada orang seperti itu, ya?"
Aku sering mendengar desas-desus tentang adanya orang
seperti itu di tempat acara seperti ini.
Jika seandainya Seika-san disentuh oleh orang seperti
itu…… membayangkannya saja membuat perasaanku menjadi suram, dan seketika
kemarahan muncul. Tidak boleh. Aku tidak mau itu terjadi.
Tanpa kusadari, aku sudah bergeser ke belakangnya secara
diagonal untuk melindunginya. Tapi posisinya agak sulit, hingga
tangan kami yang bergandengan terlepas.
"Kousei……"
Seika-san terkekeh.
"Cemburu?"
Aku mengangguk pelan. Malu sekali sampai tidak berani
menatap wajahnya. Jari-jarinya terulur ke wajahku, membelai pipiku dengan
lembut.
"Kalau begitu, peluk pinggangku?"
Seika-san menempelkan tubuhnya di dekat pinggangku. Tangan belakangku jadi bebas……
aku memeluk pinggangnya dengan canggung.
Dia segera mengambil tanganku dan menyesuaikan
posisinya. Alih-alih di pinggang, tanganku kini berada di samping pinggulnya.
Lenganku berada di posisi diagonal di atas daging pinggulnya. Ada sensasi
lembut yang kenyal di bagian dalam lenganku. Sambil terus bersentuhan seperti
itu, kami berjalan maju dengan sangat pelan di tengah kerumunan. Bukan sekadar
ungkapan klasik dalam manga, tapi kurasa hidungku bisa saja mimisan sekarang.
"Kousei,
apakah kamu…… suka anak kecil?"
Apa karena anak kecil tadi?
"Aku memang belum tahu bagaimana cara
menghadapinya…… tapi setidaknya, melihat mereka kurasa mereka manis. Seperti bayi."
"Bayi."
Dia
menirukan perkataanku…… dan aku jadi tersadar akan masa depanku bersama
Seika-san.
A-apa yang sedang kupikirkan? Pengakuan cintaku
bahkan belum berhasil. Atau lebih tepatnya, bahkan jika pengakuan itu berhasil,
itu masih urusan masa depan yang sangat jauh……
"Ah."
Barisannya berhenti. Dan orang-orang di depan kami
mulai menyebar ke samping. Jalanan besar sepertinya ditutup untuk kendaraan,
dan orang-orang berkerumun di sepanjang jalan itu.
"Karena masih ada waktu, ayo kita lihat kedai
jajanan."
Seseorang di dekat kami berkata pada pasangannya.
Informasi itu membuat perutku berbunyi "kruu~". Seika-san tertawa dan
membelai pipiku lagi. Syukurlah. Suasananya tidak jadi canggung.
"Ayo kita lihat juga."
Kedai-kedai berderet di sepanjang jalan. Melihat makanan
yang menebarkan aroma menggoda itu, perutku berbunyi sekali lagi.
Yakisoba, takoyaki, sosis bakar. Hanya aromanya saja
sudah membuatku sangat lapar. Saat aku sedang membandingkan kedai yang satu
dengan yang lain, aku mendengar suara tawa kecil dari samping.
"Habisnya……
kamu manis sekali."
"Eh?"
Kenapa? Padahal aku hanya mencari makan malam.
"Seperti Hinano."
"Eeh!?"
Itu agak berlebihan.
"Kamu belum makan apa-apa?"
"Iya. Kupikir kalau pergi ke festival, aku ingin
makan jajanan pasar seperti tepung-tepungan itu."
"Memang benar sih. Aku tadi sudah makan sandwich
sedikit."
Mungkin karena diet supaya tidak makan terlalu banyak.
Dilihat dari sisi keuangan maupun sebagai model yang harus menjaga bentuk
tubuh, makan besar di kedai pinggir jalan memang tidak disarankan.
"Ah, tapi. Aku ingin makan takoyaki. Bagaimana kalau
kita bagi dua?"
"Boleh."
Karena Seika-san hendak mengeluarkan dompet,
"Ah, biar aku yang bayar," tolakku.
"Eh? Tidak apa-apa. Aku juga memakannya
setengah, jadi uangnya juga setengah. Itu baru namanya adil, kan?" ucap
Seika-san sambil memajukan bibirnya.
"Ta-tapi, hari ini kencan yang aku ajak,
jadi……"
Ini hari yang spesial. Mungkin merasa harus bersikap
jantan adalah pola pikir kuno, tapi aku tetap ingin pamer sedikit. Apalagi
kalau sedang berhadapan dengan gadis yang kusukai.
"……Baiklah. Terima kasih, traktiranmu."
Seika-san sepertinya memahami perasaanku dan langsung
mengalah.
"Terima kasih kembali."
"Kenapa kamu yang berterima kasih?"
Aku tertawa. Tapi bagiku ini tetap sebuah "terima
kasih". Memang benar aku ingin pamer jantan, tapi ini juga bentuk rasa
syukur atas kejadian empat hari lalu. Meski jajanan tepung tidak akan pernah
cukup untuk membalas kebaikannya yang telah menyelamatkan hatiku.
Aku membeli satu bungkus isi dua belas, lalu menggunakan
tepi jalan di tempat parkir terdekat sebagai kursi. Aku mengambil handuk bekas
dari tas dan membentangkannya di tepi jalan itu untuk tempat duduk Seika-san.
Dia tersenyum kecil dan berkata, "Kamu perhatian sekali."
Setelah takoyaki, aku menghabiskan yakisoba dan sosis
bakar dengan lahap. Seika-san ternyata cukup banyak makan juga.
Setelah makan, Seika-san membelikan teh di mesin penjual
otomatis di dekat sana. Karena dia bilang, "Biar ini aku saja yang
bayar," aku menerimanya dengan terima kasih. Kalau aku terlalu berusaha
terlihat keren sampai membuatnya merasa tidak enak, itu malah jadi sia-sia.
"Huh. Kenyang sekali."
Seika-san sedikit meluruskan kakinya. Mungkin istirahat
sejenak setelah makan.
"Rasanya akhirnya jadi normal juga, ya."
"Normal?"
"Tadi kita berdua terasa agak kaku, kan."
"Ah, ya. Kurasa begitu."
Bagiku, acara besar dalam hidupku masih menanti
setelah ini. Memikirkan hal itu, rasanya aneh bisa kembali ke apa yang disebut
"normal" oleh Seika-san sekarang.
"Bagiku, kita yang seperti ini justru jauh lebih
baik."
"Iya, aku setuju."
"Kalau begitu. Untuk saat ini, ayo nikmati
festivalnya."
"Tentu saja."
Benar-benar aneh. Rasa gugup akan pernyataan cinta
itu tentu tidak hilang begitu saja. Namun selain itu, muncul emosi positif
bahwa aku akan rugi kalau tidak menikmati waktu ini bersamanya.
Apakah itu artinya aku perlahan mulai tumbuh dewasa……?
Atau karena Seika-san orangnya?
"Ayo, ayo? Ada permainan melempar gelang."
Seika-san berdiri dan mengulurkan tangannya. Saat aku
mendongak, cahaya lampu oranye dari kedai memantul di rambut peraknya hingga
berkilauan. Aku sempat terpesona sejenak melihatnya.
☆☆☆
Perasaanku aneh sekali.
Empat hari lalu, aku sudah menyatakan cinta pada
Kousei dengan perasaan yang melampaui kata "suka".
Hari ini pun, aku sudah memberi tahu makna bunga Ivy
dan menyatakan cinta lewat cara tersirat. Dan mungkin
di akhir kencan ini, Kousei akan memberikan jawabannya padaku.
Hari yang begitu penting. Seharusnya aku merasa jauh
lebih tidak santai, dan kalau aku yang dulu, mungkin aku sudah takut dan
melarikan diri, atau malah jadi panik dan mendesak Kousei untuk memberikan
jawaban.
Apakah aku juga perlahan mulai tumbuh dewasa……? Atau
karena lawan bicaranya Kousei?
Keyakinan mutlak bahwa Kousei yang begitu menyayangiku
tidak mungkin akan melakukan hal yang paling menyakitiku. Aku juga punya
kebanggaan bahwa aku telah merangkul hatinya. Singkatnya…… tidak mungkin aku
akan ditolak. Aku percaya itu.
Mungkin itulah sebabnya aku bisa menikmati saat ini.
"Ah, sayang sekali. Karena masuk enam dari sepuluh,
pilih camilan yang ini, ya. Pilih yang kamu suka."
Paman penjual kedai menghibur Kousei dan menunjuk ke
sudut jajanan pasar.
Melihat Kousei yang membungkukkan punggung sambil memilih
donat kecil, rasanya dadaku sesak.
"Paman. Aku juga mau main!"
"Oke, satu kali lagi, tiga ratus yen."
Aku membayar tiga ratus juta yen dan menerima
gelang-gelang itu. Fokus, fokus. Aku cukup atletis, jadi seharusnya aku bisa
melakukan hal semacam ini.
Kousei menatapku dengan cemas sambil menggigit donat
kecilnya. Aku tidak boleh kalah.
"Hap, hop, tap."
Setelah memasukkan lemparan pertama, aku akan langsung
memasukkan sisanya. Dalam hal seperti ini, momentum itu penting.
Aku bisa melakukannya. Saat aku berpikir begitu,
"Hachi!"
Tepat sebelum aku melempar, si botak penjual kedai itu
bersin dengan sangat sengaja. Sial. Momentumku terputus.
Aku tidak panik dan menyusun kembali strategiku. Kali ini
aku mengambil waktu lebih lama. Fokus, fokus.
"Hap."
Gelang itu masuk dengan sempurna ke tiang. Bagus.
Kalau dia melakukan itu lagi, aku pasti akan protes bahwa itu disengaja, tapi
sepertinya dia tidak akan melakukannya dua kali berturut-turut. Jadi sementara
itu……
"Hop! Ah!"
Aku terburu-buru melemparnya. Gelang itu tersangkut
sedikit di tiang, tapi karena gaya sentrifugal, gelang itu terlepas dan terbang
ke arah yang tidak terduga. Ke arah tempat Kousei berdiri. Saat aku berpikir,
"Gawat!", Kousei menepis gelang yang terbang itu. Bukan memukulnya ke
bawah, tapi gerakannya terasa tidak alami. Gelang itu…… mengenai kepala botak
si Paman dengan telak.
"Aduh!"
"……"
Kousei dengan tenang bergeser ke arah penonton lain,
bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Paman itu pun segera menoleh, tapi
dia tidak tahu siapa yang memukulnya, atau apakah gelang itu mengenai tiang
tenda alih-alih orang.
Dia benar-benar melakukannya, anak itu. Aku jadi makin
jatuh cinta.
Paman penjual itu mengusap bagian belakang kepalanya
dengan cemberut. Ya, itu kebetulan. Kebetulan kau bersin tadi, dan kebetulan
gelang yang ditepis Kousei mengenai kepalamu. Wah, kebetulan itu menakutkan,
ya.
"Hihi."
Perasaanku jadi rileks, dan aku berhasil memasukkan semua
gelang yang tersisa ke tiang. Paman itu tidak lagi mengganggu. Dia mungkin tahu
kalau dia melakukan itu lagi, aku pasti akan protes. Tapi, karena dia sudah
berhasil menggagalkanku mendapatkan yang sempurna, mungkin dia memang seorang
ahli.
"Luar biasa, Seika-san!"
Kousei terlihat senang dengan polosnya. Yah, melihat
senyum manisnya ini dan melihat kejadian gelang mengenai kepalanya tadi, aku
sudah merasa impas.
"Ya, kau hebat juga, Nona."
Tidak tulus sekali.
"Iya. Ini adalah perangkat lunak game untuk hasil
semi-sempurna."
Aku menerima kantong plastik hitam. Dari siluetnya, aku
bisa tahu ada sesuatu yang berbentuk persegi panjang di dalamnya.
"Oh, oh. Terima kasih."
Hadiah sempurna seharusnya adalah konsol Burai Station,
jadi ini memang kualitas yang jauh lebih rendah, tapi mendapatkan game seharga
tiga ratus yen tetap saja beruntung. Apa aku terlalu kejam karena sempat
berpikir dia Paman pelit? Ternyata dia cukup dermawan juga.
Aku dan Kousei meninggalkan kedai dan pindah ke tempat
yang diterangi lampu jalan yang terang. Kousei menatap kantong plastik itu
dengan mata berkilauan. Dia bukan tipe yang sering main game, tapi kalau itu
game baru, sepertinya dia tetap tertarik.
"Ayo
buka cepat!"
"Ya,
ya, tenanglah. Kousei-kun."
Aku perlahan melepas selotip di mulut kantong plastik.
Leher Kousei bergoyang ke kanan dan kiri, mencoba mengintip ke dalam. Kenapa
kau bisa semanis itu?
"Oke, sekarang akhirnya."
"Ya!"
Aku memasukkan tangan ke dalam kantong, mencengkeram
kotak game itu, dan
"Tiga, dua, satu……"
Aku menghitung mundur untuk menggoda. Lalu.
"Nol!!"
Aku menariknya keluar seketika.
Aku melihat mata Kousei yang penuh harapan. Tepat saat
itu, suara kembang api pertama yang meluncur ke langit terdengar. Aku mendengar
sorak-sorai di sekitarku.
Aku mengangkat game itu ke depan agar terlihat jelas,
lalu memeriksa paketnya.
Tulisannya
adalah: 'Temple Fighters 2'.
Sudut mulut Kousei seketika turun, dan cahaya di matanya
menghilang. Suara dentuman besar kembang api meledak bergema di sekitar.
Berpikir pasti ada kesalahan, aku membalikkan kemasannya.
'Sekuel dari game pengalaman Nirvana yang paling
ekstrem akhirnya muncul! Karakter-karakter tingkat harta nasional juga ikut
serta!'
Slogan itu langsung tertangkap mataku. Di gambar
sampulnya, tampak kuil-kuil sedang saling pukul. Aku mengangkat wajah dan
melihat Kousei di depanku. Dia perlahan memalingkan muka.
Suara kembang api yang meluncur ke langit kembali
terdengar, hyuurururu~.
"Si botak ituuuuuuuu!!"
Saat kembang api kedua meledak di langit malam,
teriakanku terdengar hampir bersamaan.
★★★
Saat kami sedang membuang-buang waktu dalam hidup
kami, tanpa disadari pertunjukan kembang api yang sebenarnya sudah dimulai.
Satu demi satu, kecebong cahaya meluncur ke langit gelap, lalu meledak menjadi
bunga-bunga.
"Gawat. Seika-san, sepertinya sekarang bukan
saatnya untuk bermain dengan game sampah yang menyebalkan itu."
"O-oh. Sebaiknya kita juga segera menuju ke
dekat danau……"
Di situlah kami baru menyadari kenyataannya. Artinya,
tempat-tempat strategis sudah sepenuhnya habis ditempati orang lain.
Yah, sedari tadi aku memang merasa kalau area di sekitar
kedai jajanan terasa sangat sepi. Ternyata selama semua orang sibuk mengamankan
tempat terbaik sebelum kembang api diluncurkan, kami malah asyik makan dan
bermain sampai lupa waktu.
"……Maafkan aku."
"Kenapa minta maaf?"
"Tidak. Seharusnya aku lebih memperhatikan keadaan
sekitar tadi……"
"Hmm. Kalau soal itu, aku juga sama, kan? Ini bukan
tanggung jawab Kousei saja."
"Tapi."
Saat aku masih bersikeras menyalahkan diri sendiri, jari
telunjuk Seika-san menekan hidungku.
"Lagipula……
bukankah tadi menyenangkan? Makan, main lempar gelang. Soal hadiahnya…… yah,
anggap saja itu bahan tertawaan."
"Seika-san……"
"Aku tahu kamu merasa tidak enak karena ingin
semuanya berjalan sempurna. Tapi, kalau bersamamu, pada dasarnya apa pun terasa
menyenangkan bagiku? Karena……"
Apa lanjutan dari kata "karena" itu? Tidak, hal
itu pasti harus kusampaikan sendiri. Karena dia sudah memberikan petunjuk…… bahkan jawaban itu
berkali-kali padaku.
"Lagipula, kita masih bisa melihat kembang apinya
dari sini, kan? Hanya karena keunggulannya adalah pantulan di permukaan danau,
bukan berarti kita tidak bisa menikmatinya kalau tidak melihat itu."
Seika-san menyemangatiku dengan berkata begitu. Ah,
wanita ini benar-benar luar biasa, bukan?
Namun, aku tidak boleh terus-terusan mengandalkan
kebaikannya. Jika kencan yang aku tawarkan sebagai pemandu ini berakhir dengan
aku yang disemangati, itu sungguh memalukan.
Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari posisi
yang setidaknya masih memungkinkan.
"Ah."
Di pangkal pohon jalanan, ada secuil lahan tanah yang
kosong.
"Bagaimana kalau kita ke sana? Ada ruang yang cukup
untuk aku menggendongmu di pundak."
"Ge-gendong di pundak!?"
Suara Seika-san terdengar sangat terkejut. Ah, gawat.
Aku terlalu memikirkan cara untuk menebus kesalahan sampai pandanganku
menyempit. Jika aku menggendongnya di pundak, berarti di antara, ah, kakinya……
"Maaf, lupakan saja kata-kataku."
"Ayo kita ke sana."
Seika-san memotong ucapanku dan berkata begitu. Dia
meraih tanganku, lalu berjalan menuju pohon tersebut. Be-benarkah? Padahal aku
sendiri yang mengusulkannya, tapi justru aku yang malah ragu. Namun, Seika-san
terus melangkah dengan mantap hingga akhirnya kami sampai.
"Bungkukkan badanmu."
"E-eh, ba-baik."
Seika-san juga sepertinya malu karena dia mengatakannya
dengan nada yang agak kaku. Lagipula, pada akhirnya aku tetap dia yang
mengurus, ya. Sambil berpikir bahwa aku tidak akan pernah menang melawannya,
aku berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepala, layaknya seorang ksatria
yang bersumpah setia pada sang putri.
Seika-san menunggangi pundakku dari belakang. Lewat kain
yukatanya, paha bagian dalamnya yang lembut dan hangat menjepit pipiku dari
kedua sisi. Tercium aroma sabun yang samar.
Seolah menepis semua keraguan, aku mengerahkan tenaga
pada lutut dan berdiri.
"O-oh!?"
Mungkin karena takut, Seika-san menjepit kakinya lebih
erat. Lalu, kedua tangannya mencengkeram daguku. Kepalaku terasa pening. Aku
merasakan kehadiran Seika-san di seluruh wajahku. Tadi posisinya sama dengan
memegang pinggulnya saat berjalan, dan sekarang kepalaku berada di antara
kakinya. Jika polisi masa muda melihat ini, hukuman seratus pukulan saja tidak
akan cukup.
"Wah, hebat, hebat. Kelihatan, Kousei."
Sembari berkata begitu, dia tampak menggeledah
tasnya. Dia merogoh-rogoh barang yang terjepit di antara perutnya dan
kepalaku…… mungkin dia mengambil ponselnya. Aku merasa pusat
gravitasinya sedikit naik. Dia menegakkan punggungnya untuk memotret permukaan
danau.
Untuk beberapa saat, dia tampak fokus memotret dan
merekam video tanpa suara. Sesekali aku mendengar gumamannya yang bilang,
"Cantik sekali." Tanganku dan kakiku mulai gemetar, tapi aku berusaha
sekuat tenaga untuk menahannya.
Saat itulah, tiba-tiba aku merasa sedang diperhatikan.
Aku mencoba menggerakkan leherku sedikit. Mataku bertemu dengan seorang pria.
Namun, pria itu segera membuang muka.
"Ah."
Aku menatap kaki Seika-san. Kaki cantik yang menyembul
sedikit dari balik yukatanya. Seketika itu juga, perasaanku menjadi tidak
nyaman.
"Seika-san, aku akan menurunkankanmu."
"Eh? Kenapa?"
Tanpa menjawab, aku perlahan merendahkan pinggangku.
Begitu tubuhku turun hingga mendekati tanah, sampai ke posisi berlutut satu
kaki, Seika-san turun dari pundakku.
"Apa kamu merasa lelah?"
"……"
Aku mengangguk samar, lalu merangkul pinggang Seika-san
dan menuntunnya untuk berjalan. Meski dia bertanya dengan bingung,
"Benar-benar kenapa sih?", aku tidak bisa menjawab dan terus
melangkah. Pokoknya, aku ingin segera menjauh dari tempat itu.
Aku sendiri tidak menyangka akan merasa seburuk ini.
Keinginan untuk memiliki, rasa cemburu. Ah, benar-benar tidak tertolong lagi.
Aku ingin segera menyatakan cinta dan menjadikannya milikku seorang. Aku ingin
menjadi satu-satunya miliknya. Aku sadar pikiran ini sangat menjijikkan, tapi
aku tidak bisa menghentikannya.
"Wajahmu kelihatan seram, Kousei?"
"Maafkan aku."
"Apa aku melakukan sesuatu?"
"Ah! Bu-bukan begitu!"
Aku telah membuatnya salah paham. Setelah bersikap
impulsif dan membiarkan kaki Seika-san dilihat orang lain, sekarang aku malah
membuatnya cemas.
Aku sebenarnya tidak ingin memberi tahu Seika-san kalau
"kakinya tadi dilihat orang", tapi jika aku diam saja dan malah
menimbulkan salah paham, aku tidak punya pilihan selain bicara.
"Itu…… saat menggendongmu tadi, kaki Seika-san
sedikit terlihat…… dan
pria-pria di sekitar sana……"
"Ah,
begitu."
"Maafkan
aku! Aku kurang berpikir panjang!"
"Kamu
terlalu memikirkannya. Lagipula, kalau pakai rok seragam, kakinya jauh lebih
kelihatan. Jujur saja, kalau harus peduli dengan tatapan seperti itu setiap
saat, wanita tidak akan bisa hidup dengan tenang."
"……"
Tetap saja. Aku tidak suka.
"Kamu cemburu?"
"Iya."
Aku tidak punya waktu atau keinginan untuk berdalih.
Seika-san tersenyum puas, lalu mengusulkan,
"Ayo pulang?"
"Eh, tapi. Kembang apinya masih……"
"Tidak apa-apa, tadi berkat Kousei aku sudah puas
melihatnya. Bagaimana kalau nanti kita lihat foto-foto yang diambil tadi
berdua?"
"……"
"Kalau pulang terlalu larut dan kena jam sibuk
kereta, nanti malah benar-benar bisa jadi korban pelecehan."
Seketika, dadaku terasa panas membara. Aku tidak mau. Aku
benar-benar tidak mau itu terjadi.
"Ayo kita pulang."
"Un."
Seika-san tampak sangat senang. Dia
memeluk lenganku lebih erat dan mempercepat langkah.
"Hati-hati."
Aku mengikuti langkahnya agar tidak tertinggal, dan
begitulah kami berjalan sampai ke stasiun. Kembang api masih terus meledak di
langit, sepertinya bahkan belum setengah dari jumlah yang direncanakan.
Sebelum masuk ke bangunan stasiun, kami menoleh
sekali lagi untuk merekam pemandangan kembang api yang mekar di langit malam ke
dalam ingatan kami.
"Sepertinya tahun ini ini yang terakhir,
ya."
"Eh? Belum tentu begitu, kan?"
Masih ada banyak festival kembang api lainnya. Kalau
kita pergi sedikit lebih jauh……
"Siapa tadi yang bilang rasa posesifnya
meluap-luap?"
"Ugh."
"Lagipula, sepertinya sifat berhati-hatimu
sedikit menular padaku? Entah kenapa, aku jadi merasa enggan pergi ke
tempat-tempat yang suasananya ramai dan rawan keamanan seperti ini."
Itu…… entah harus senang atau merasa bersalah.
"……Karena Seika-san itu cantik, melakukan manajemen
krisis adalah hal yang wajib menurutku."
Pada akhirnya, aku menjawab sesuai dengan rasa posesifku
sendiri. Tentu saja, itu bukan bohong.
"Fufu."
Seika-san tertawa kecil, lalu bertanya,
"Cantik, ya. Menurut pandanganmu, secantik
apa?"
Dia bertanya dengan senyum nakal. Aku memang sudah pernah
memuji penampilannya beberapa kali, tapi ini pertama kalinya dia bertanya
seperti ini.
"……Yang paling cantik sepanjang hidupku."
Itu adalah kejujuranku tanpa kepalsuan. Aku sendiri tidak
tertarik pada selebriti, tapi aku yakin meskipun sekarang aku menyalakan TV,
aku tidak akan menemukan wanita yang lebih cantik dari Seika-san. Setidaknya
bagi aku yang juga mengenal keindahan hatinya.
"Lebih cantik dari kembang api tadi?"
"……Sepertinya jenis kecantikannya berbeda."
Ah. Aku malah menjawabnya dengan serius. Seika-san mengerucutkan bibirnya. Memang beginilah aku.
"Ca-cantik. Lebih dari kembang api mana pun, aku
hanya terus memperhatikan Seika-san."
Aku sadar aku terus mengucapkan kalimat yang membuat gigi
ngilu, tapi aku tidak ingin membohongi Seika-san.
"Yah, memang sedikit meleset dari sasaran, tapi
anggap saja sebagai cadangan."
Berbeda dengan kata-katanya, Seika-san tersenyum bahagia.
"Keretanya sudah mau datang. Ayo?"
Dia mengajakku sambil mengayunkan tangan kami yang masih
tertaut. Kereta lokal yang sudah tua tampak berjalan mendekat dari kejauhan.
Begitu sampai kembali di Sawamigawa, entah mengapa aku
merasa lega. Seika-san pun tampaknya merasakan hal yang sama, dia menarik napas
dalam-dalam tanpa alasan, mengisi paru-parunya dengan udara kota kelahiran
kami.
"Pakai sepeda, kan?"
"Iya."
Kami berdua pergi ke tempat parkir sepeda kota dan
menarik sepedaku keluar. Setelah berjalan melewati depan stasiun, tak lama
kemudian kami berboncengan. Pada saat ini, percakapan kami jauh berkurang.
"……Bolehkah aku mampir sebentar ke rumahku?"
"U-un."
Setelah percakapan itu, keheningan menyelimuti kami
selama hampir lima menit. Tangan Seika-san melingkar di perutku. Tangan yang
terlihat lembut namun melingkupiku sepenuhnya dengan kasih sayang. Tangan yang
sempat lepas saat kami naik sepeda tadi, kini bisa tertaut kembali memberikan
kebahagiaan. Namun, hal ini tidak akan berlangsung selamanya jika aku tidak
melakukan apa-apa. Jika aku ingin terus menggenggam tangan ini selamanya……
"Kousei, kelewatan?"
"Ah."
Saat aku memperhatikan sekeliling, ternyata kami sudah
melewati tikungan menuju rumahku. Aku sedikit berkeringat. Malu sekali.
Bagaimana bisa aku tersesat di jalan menuju rumah sendiri.
Saat aku berpikir begitu, tangan Seika-san merambat dari
perut ke arah dadaku. Rasanya sangat sensual hingga jantungku berdegup kencang.
"Kamu gugup sekali, ya. Sampai salah jalan."
Seika-san mengatakannya dengan nada menggoda setelah
merasakan detak jantungku lewat telapak tangannya. Tapi berbeda dengan nada
bicaranya, suaranya sedikit gemetar. Sepertinya dia juga merasakan hal yang
sama.
Detik demi detik, kami berdua menyadari bahwa momen itu
semakin dekat.
"A-ahahaha. Se-sedikit, aku tidak punya ruang di
pikiranku."
Itu memalukan, tapi aku bisa tertawa.
Aku berbalik arah menuju rumah. Setelah memintanya
menunggu di depan rumah, aku bergegas naik ke lantai dua tanpa sempat menyapa
"aku pulang", dan mengambil kotak plastik yang berisi diorama kado
kesembuhan itu. Sejenak, aku menempelkan dahi ke kotak itu sambil berdoa.
"Tolong aku."
Sebagai pengecut seperti biasanya, sepertinya aku tidak
bisa melangkah maju tanpa bantuan hadiah.
Namun, entah itu doa atau apa pun, tidak masalah. Hanya
untuk hari ini. Aku harus mengerahkan seluruh keberanianku.
☆☆☆
Saat aku melihat Kousei masuk ke dalam rumah, ponsel di
dalam tasku bergetar.
Begitu layar kuperiksa, sebuah pesan dari Rain masuk.
'Segera pulang', katanya. Eh!? Ini dari Mama…… bagaimana ini? Padahal
seharusnya Mama pulang larut malam ini, jadi aku sudah berencana untuk
mendengarkan cerita Kousei di rumahku.
Gawat, bagaimana ini. Jantungku berdegup kencang seperti
genderang perang di dalam dadaku, dan keringat dingin bercucuran. Skenario
terburuk melintas di pikiranku. Karena kami tidak bisa menemukan tempat untuk
berdua saja, kami akan kehilangan kesempatan untuk menyatakan cinta. Kousei
akan patah semangat, perlahan hubungan kami jadi canggung…… dan lama-kelamaan, meskipun
aku datang ke rumahnya, dia akan sering tidak ada……
"Tidak, tidak bisa, aku bisa mati."
Sudah sejauh ini, aku tidak akan membiarkan bad
ending seperti itu terjadi.
Namun, kepalaku menjadi kosong, dan aku tidak bisa
memikirkan solusi yang bagus.
Di tengah kebingunganku, Kousei sudah kembali. Dia
langsung menyadari keadaanku dan berlari mendekat. Dia membawa kotak kardus
kecil, tapi dia meletakkannya di depan pintu masuk dan bertanya,
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Ah, anu."
"Tidak apa-apa kok."
Kousei menggenggam tanganku. Genggamannya jauh lebih kuat
dari dugaanku…… hanya dengan itu aku merasa tenang dan mendapatkan kembali
ketenanganku.
"Mama katanya sudah mau pulang. Jadi, anu."
Kousei tersenyum tipis, dan dengan tangan yang satunya,
dia membelai kepalaku.
"……Ayo kita coba pergi ke taman."
Suaranya lembut. Aku mengangguk pelan.
Kousei memasukkan kardus itu ke keranjang depan
sepedanya, lalu meletakkan tasku di atasnya. Dan kami berangkat lagi. Taman itu
tidak jauh. Kami sampai dalam waktu singkat.
"Syukurlah. Tidak ada orang."
Maksudku, tidak ada orang setiap kali aku datang ke
sini. Rasanya seolah tempat ini dibuat hanya untuk kami berdua.
"Sebagai warga Distrik Timur, penurunan populasi
ini memang mengkhawatirkan, tapi khusus untuk hari ini, aku bersyukur."
"Fufu."
Rasa cemas yang tadi menghilang. Skenario
terburuk bisa kuhindari.
Kousei kembali membelikan jus leci di mesin penjual
otomatis. Isinya 500 mililiter, jadi pas kalau diminum berdua.
Kami duduk bersebelahan di bangku yang sudah sangat akrab
bagi kami.
"……Maaf ya. Seharusnya kamu ingin bicara di tempat
yang sejuk, kan?"
"Tidak. Kalau sudah berkeringat sampai sini, sama
saja. Lagipula."
"Lagipula?"
"Taman ini punya ikatan yang sangat kuat, rasanya
seperti takdir kalau akhirnya kita kembali ke sini lagi."
"Benar juga."
Kami berdua tertawa bersama.
Setelah saling melemparkan senyum, keheningan segera
menyusul. Aku bisa merasakan kegugupan Kousei. Aku bisa melihat tangannya
gemetar. Saat aku hendak memanggilnya, dia tiba-tiba berdiri dengan tegak.
Kemudian dia kembali dengan kotak kardus tadi dari keranjang sepedanya dan
duduk lagi di bangku.
Dia meletakkannya di tanah, menjepitnya dengan kaki, dan
mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sepertinya dia membungkusnya dengan sangat
rapat menggunakan bahan pelindung. Akhirnya, apa yang dia keluarkan dengan
kedua tangannya adalah……
"Itu…… Hutan Kristal Perak."
Di dalam kotak plastik itu, kristal perak tumbuh tersebar
di antara tanah, hutan, dan pepohonan. Mungkin karena ada glitter-nya, beberapa
di antaranya berkilauan terkena cahaya lampu taman. Cantik sekali.
Kousei memutar diorama pemandangan fantasi itu. Di sisi
lain, tampak replika tempat terbuka, yang menyerupai alun-alun di tengah hutan.
Hanya ada tunggul pohon dan beberapa kristal perak
kecil. Dan di tengah-tengahnya…… ada aku. Rambut perak yang sama dengan
kristalnya. Memakai gaun hitam. Ah, aku sadar. Desainnya sama dengan yang
dipakai Kururu-chan.
Lalu, figur yang menyerupai diriku saat ini sedang
menarik tangan seorang gadis kecil. Ini…… hm? Ah, apakah ini juga aku? Mengenakan piyama, dengan
ekspresi bingung dan terkesan lemah.
"Diriku
yang dulu sakit-sakitan, ditarik oleh diriku yang sekarang sudah tumbuh?"
"Iya. Seika-san telah mengatasi hambatan penyakitmu
dan tumbuh menjadi sekuat ini. Sampai bisa menyelamatkanku. Itu adalah kekuatan
yang terpupuk selama perjuangan melawan penyakit."
Kousei meletakkan diorama itu di atas bangku agar
terlihat lebih jelas.
"Saat di kelas tata rias, aku sudah menyampaikannya
lewat kata-kata, tapi aku merasa ada yang kurang. Kecantikan Seika-san bukan
hanya bakat sejak lahir. Kekuatan untuk bisa mengandalkan orang lain,
kelembutan yang sensitif terhadap rasa sakit orang lain, semuanya, semuanya
adalah kecantikan yang terangkum menjadi satu."
"Kousei……"
"Anak-anak bilang kamu cantik dan keren. Aku
pikir itu bukan hanya karena penampilan luar, tapi karena mereka peka merasakan
kekuatan dan kelembutan yang terpancar dari dalam. Aku tidak percaya orang yang
hanya berwajah cantik tanpa isi bisa menarik perhatian sebanyak itu. Miyasaka
mungkin punya penampilan yang bagus, tapi tidak ada yang mengikutinya, kan? Benar. Bahkan tantangan hari festival olahraga itu pun tidak bisa
dibandingkan dengannya. Tidak mungkin dia sama denganmu. Kenapa kamu meremehkan
dirimu sendiri sampai seperti itu?"
"Tu-tunggu sebentar."
Bicara dengan kecepatan tinggi. Mungkin ini pertama
kalinya aku mendengar Kousei bicara sebanyak ini.
"Seorang wanita terbaik yang kukenal, tidak
menyadari pesonanya sendiri."
"Eh?"
Aku merasakan arah pembicaraan sedikit berubah. Aku
melihat Kousei mengepalkan tangannya erat-erat. Aku tertusuk oleh tatapan
matanya yang kuat. Ekspresi yang kulihat di bawah sinar matahari terbenam di
pabrik itu.
Ah, tanpa kusadari, aku sudah bisa dipandang dengan
kesungguhan yang setara dengan kecintaan Kousei pada membuat sesuatu. Sejenak,
aku melupakan situasinya dan berpikir seperti itu.
"Selama membuat ini, aku terus memikirkan Seika-san.
Aku ingin bertemu, ingin sekali bertemu. Aku berkali-kali berpikir untuk pergi
ke dekat apartemenmu. Berpikir, apakah aku bisa melihat wajahmu walau sekali
saja."
"Kousei……"
"Tapi aku menahannya. Aku merasa tidak bisa
menyampaikan perasaanku sepenuhnya kalau belum membuat hadiah kesembuhan ini,
memberikannya, lalu baru setelah itu."
Kousei menatap mataku sekali lagi, kali ini dari depan.
"Bahwa bisa bertemu delapan tahun lalu, dan bahwa
kamu sembuh dan datang menemuiku lagi…… aku tidak tahu bagaimana harus
berterima kasih…… aku menganggap ini sebagai kebahagiaan terbesar dalam
hidupku."
Pandanganku
sudah kabur, membuat wajahnya sulit terlihat.
"Terima
kasih telah bertemu denganku. Terima kasih telah sembuh dan datang menemuiku.
Terima kasih telah menjemputku setiap pagi. Terima kasih telah banyak bicara
denganku. Terima kasih telah memberikan nilai pada apa yang kubuat."
Seharusnya
aku yang berterima kasih. Semuanya, semuanya.
"Terima kasih telah marah untukku. Terima kasih
telah datang menjengukku. Terima kasih telah mengajakku kencan. Terima kasih
telah menungguku sampai aku bisa menyebutmu teman."
Kousei…… Kousei……
Kousei.
"Terima kasih telah memberanikan diri untuk
ciuman tidak langsung, dan ciuman di pipi. Terima
kasih telah menceritakan kegelisahanmu. Terima kasih telah mengandalkanku.
Terima kasih…… benar-benar terima kasih telah menyelamatkanku."
"Kousei……!"
Dadaku terasa sesak. Tanpa sadar, air mata sudah mengalir
di pipiku.
Kousei menarik napas dalam-dalam. Mata yang serius dan
menghanyutkan itu. Mata yang kukagumi delapan tahun lalu, tiga bulan lalu, kini
menatapku tepat sasaran.
"Aku, Kutsuzawa Kousei…… sangat mencintai Mizoguchi
Seika."
"Ah……!"
Dia mengatakannya. Kata-kata yang ingin kudengar
selamanya. Kata-kata yang selalu kumimpikan.
"Maukah kamu menjadi kekasihku!"
Pada akhirnya, dia menarik tubuhku dengan erat, memelukku
sampai terasa sakit.
Sebenarnya aku pun ingin bicara banyak, tapi napasku
terasa sesak hingga hanya dua suku kata yang bisa kuucapkan. Oleh karena itu,
sambil menempelkan pipiku di bahunya,
"Ya."
Aku menjawabnya. Singkat saja, namun aku menanamkan
segenap perasaan dan tekadku untuk masa depan di dalamnya. Setelah itu, kami
berdua menangis tersedu-sedu sampai tidak tahu lagi apa yang terjadi, sambil
terus berpelukan erat satu sama lain.
★★★
Seika-san sedikit merapikan riasannya, lalu menoleh ke
arahku. Dia tetap terlihat cantik meski wajahnya basah oleh air mata. Saat kami
sedang begini, aku jadi kagum pada diriku sendiri karena bisa tetap tenang
selama ini di depan wanita secantik dia.
"Hei, Kousei."
"Ya?"
"Sejak kapan kamu mulai menyukaiku?"
"……Jujur saja, aku tidak tahu. Tapi aku baru
benar-benar menyadarinya setelah kejadian empat hari lalu."
Kalau dipikir-pikir, itu juga terjadi di tempat ini.
Benar-benar deh, aku tidak akan pernah bisa melupakan jasa taman ini seumur
hidupku.
"Hmm. Kalau aku sih sudah sejak delapan tahun yang
lalu, tahu?"
"……Aku memang pernah berharap kalau itu benar, tapi
apa itu berarti cinta pertamamu adalah aku?"
"……Memangnya kenapa?"
Bahkan cara dia menyembunyikan rasa malunya dengan
berpura-pura kesal saja terlihat manis, aku benar-benar sudah tergila-gila
padanya.
"Lagipula, kamu bilang aku menyelamatkanmu, tapi
dari sudut pandangku, kaulah yang sudah menyelamatkanku jauh di masa lalu.
Perasaan yang kamu rasakan empat hari lalu itu, aku sudah merasakannya sejak
delapan tahun yang lalu."
I-itu…… lumayan berat juga, ya.
"Aku punya pengalaman lebih lama, tahu. Kamu mungkin
baru sangat menyukaiku, tapi aku…… a-aku mencintaimu. Pola bunga pada baju yang
kupakai ini adalah pola bunga dengan bahasa bunga 'pernikahan', dan aku
mengenakan warna putih yang pernah kamu puji, jadi aku adalah wanita yang
sangat gembira bisa mengenakannya untukmu."
"Manis sekali. Kamu terlalu menggemaskan."
"……Dengar ya, cintaku ini berat, lho? Aku baru tahu
saat bertemu kembali denganmu, tapi sepertinya aku punya sisi yandere.
Sekalipun kamu membuangku, aku akan kembali lagi."
Apa dia boneka kutukan?
"Bahkan kalau kamu bilang ingin putus, aku akan
tetap memohon padamu."
Aku memeluk Seika-san dengan erat. Dadaku
terasa mau pecah karena perasaan sayang yang meluap.
"Aku tidak akan pernah putus. Aku akan terus menjaga
dan memilikimu di sisiku selamanya. Seperti Seika-san yang memikirkanku, aku
juga sangat mencintaimu."
"Hah? Aku jauh lebih mencintaimu. Aku memeluk
bonekamu setiap malam saat tidur. Aku mengumpulkan berbagai barang berwarna
hijau zamrud kesukaanmu. Aku bahkan mengecat rambutku."
Jadi, highlight rambutnya juga demi aku, ya.
"Saat kamu mengamuk dan datang menjemputku, aku
menangis karena terlalu senang, dan karena kamu bilang senang bisa bertemu
denganku lagi, aku tidak bisa lagi menahan perasaanku. Hanya sekadar mengobrol
di supermarket dekat rumah pun bagiku sudah seperti kencan, kerja sama kita
saat lomba lari juga bisa diandalkan, dan Nobunaga adalah sainganku."
Seika-san kembali hampir menangis. Aku pun ikut terbawa
suasana.
"Saat kamu demam, kamu lucu sekali sampai membuatku
gemas, dan ada hari-hari di mana aku tidak bisa tidur karena cemas kamu tidak
segera mengakui kita sebagai teman."
"Maafkan aku."
"Tidak apa-apa. Tidak
apa-apa."
Dia memelukku balik dengan erat.
"Sebagai gantinya, saat kamu mengakuinya, aku terus
menari-nari di kamarku. Saat aku menemukanmu di depan Takeya, aku sangat
senang. Termasuk saat kelas tata rias setelahnya, aku sadar kamu benar-benar
menghargaiku."
"Seika-san……"
"Aku sudah mencintaimu sejak delapan tahun lalu, dan
setelah bertemu kembali, aku semakin, semakin mencintaimu…… Jadi, Kousei,
kumohon. Aku tidak bisa jatuh cinta lagi selain ini. Aku tidak akan bisa
bertemu orang yang kucintai lebih dari ini. Karena itu."
Seika-san, mungkin karena tidak bisa lagi menyampaikannya
lewat kata-kata, perlahan memejamkan matanya.
☆☆☆
Empat hari lalu, aku ingin melakukan ini. Ingin
mencurahkan semua perasaanku dan menciumnya. Aku telah mendewasakan hasrat itu
selama empat hari.
Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku memejamkan
mata dan perlahan mengangkat daguku ke arah Kousei. Di tengah kegelapan,
tangannya menyentuh pipiku. Bantalan jarinya sedikit kasar. Dengan tangan
inilah dia membuat diorama tadi, ya.
"Seika-san."
Dipanggil namaku di saat terakhir…… lalu sesuatu yang hangat dan lembut menempel tepat di bibirku. Aku
tidak sengaja membuka mata. Kousei juga sedikit membuka matanya. Pandangan kami
bertemu. Iris cokelat dan pupil hitam. Alis yang ternyata dirawat dengan cukup
rapi. Hidung mancungnya yang menyentuh pipiku. Mengambil pelajaran dari
kegagalanku, sepertinya dia memiringkan wajahnya sedikit. Aku jadi ingin
menyentuh pipinya yang kenyal, jadi aku pun menyentuh wajahnya dengan tanganku.
Masih terasa lembut seperti biasanya.
Apa yang kulihat, apa yang kusentuh, semuanya hanyalah
Kousei. Seluruh dunia seolah hanya berisi dirinya. Kousei-ku yang tercinta.
Tak lama kemudian, bibirnya lepas dari bibirku. Seketika
itu juga, wajahku terasa sejuk. Mata yang tadinya menatap miring ke arahku kini
menemukan bulan di langit malam. Bulan purnama yang bulat sempurna.
"……Luar biasa."
Ucap Kousei dengan linglung. Hari ini aku memakai lipstik
yang tidak mudah luntur, jadi tidak ada jejak ciuman yang tertinggal di bibir
Kousei, tapi ini bukan sekadar khayalan atau ilusi yang kuinginkan. Sensasinya
benar-benar tertinggal.
"……Ya. Rasanya aku hampir dimakan oleh Kousei."
"Eh?"
"Sepertinya seluruh dunia dipenuhi oleh
dirimu."
"Itu……
aku sedikit mengerti. Aku pun tidak bisa merasakan apa pun selain
Seika-san."
"Benar, kan? Sampai lupa kalau kita ini sedang di
luar."
Seringkali aku melihat pasangan yang bermesraan di tempat
umum dan berpikir, "Memangnya mereka tidak lihat sekitar ya?". Tapi
sekarang aku mengerti. Memang akan jadi seperti itu. Karena rasanya terlalu
nikmat dan terlalu bahagia.
Kousei tiba-tiba menoleh ke sekeliling. Hanya ada seekor
tonggeret yang tidur di dahan pohon, bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaan
orang lain.
"Apa tidak apa-apa di taman ini?"
"Apa jangan-jangan taman ini akan dibongkar karena
tidak ada pengunjung? Itu merepotkan. Kenangan kita terlalu banyak di
sini."
Kami berdua harus membicarakan hal-hal yang tidak relevan
agar jantung kami tidak meledak.
Setelah menjawab dengan asal, Kousei meneguk habis jus
leci di botol plastik yang kami minum berdua. Pasti dia haus karena gugup. Tapi
entah kenapa, aku merasa sedikit kesal. Ciuman denganku malah dibilas dengan
jus.
"Hei."
Saat dia selesai minum, aku mencondongkan tubuh dan
mendekatkan wajahku ke wajah Kousei. Jantungku belum tenang, tapi aku tidak
bisa melawan hasratku.
"Aku juga ingin…… mencoba menciummu. Ciuman yang
tadi terlalu canggung dan hampir seperti adu jotos."
Kousei sedikit memalingkan wajah karena malu, lalu
kembali menatapku…… dan mengangguk pelan.
Aku memiringkan wajahku sedikit, lalu mengecup bibirnya
seperti burung yang mematuk. Ah, ini gawat. Aku bisa benar-benar ketagihan.
Meski sadar akan hal itu, aku tidak bisa berhenti, dan malah melancarkan
serangan kedua dan ketiga ke bibir Kousei. Terasa kenyal, lembut, dan beraroma
leci.
Napas kami mulai terengah-engah. Ingin lagi dan lagi, aku
menciumnya dengan penuh gairah, menggerakkan bibir kami agar saling
bergesekan……
"Feh, Seika-fan. Sebentar."
Kousei yang sepertinya sesak napas dengan lembut
mendorong bahuku. Gawat, aku terlalu agresif.
"Hah, hah. Kita bisa melakukannya lagi nanti."
Mendengar kata-kata Kousei yang menenangkan, aku
tersadar.
"O-oh, iya ya. Aku
sudah bisa berpacaran dengan Kousei, kan? Besok pun
aku masih pacarmu, kan?"
"Kenapa bertanya begitu sekarang? Justru kalau besok
kamu bilang kita bukan pacaran lagi, aku yang akan syok dan pingsan."
"Ya, itu sih benar, tapi…… karena masa cintaku
bertepuk sebelah tangan terlalu lama. Aku jadi sulit mempercayainya begitu
saja. Tapi, ya benar. Iya, kan. Aku dan Kousei sudah saling mencintai."
"Ya."
Aku memastikan sekali lagi dengan gigih. Sepertinya besok
pun aku akan memastikannya lagi. Mendengarnya dengan kata-kata, memastikannya
dengan bibir. Meski begitu, rasanya masih seperti mimpi.
"Kousei, apa kamu mencintaiku?"
"Ya."
"Sangat mencintaiku?"
"Ya."
"Jangan cuma bilang 'ya', katakan kalau kamu
cinta."
"……A-aku cinta. Sangat cinta."
"Nfufu~"
Tawa aneh keluar dari mulutku, dan untuk menutupi rasa
maluku, aku menyembunyikan wajahku dengan menempelkan dahi ke bahu Kousei.
Terasa kasar, tapi hangat.
"Tolong jangan suruh aku mengatakannya terus. Aku
malu."
"Padahal tadi kamu menyatakan cinta dengan begitu
penuh gairah, malah jadi aneh kalau malu sekarang."
"……Sekarang kalau dipikir dengan tenang, rasanya
wajahku seperti mau terbakar."
Kousei mengipasi wajahnya sendiri dengan tangan.
"Kalau ada kompetisi wajah merah, aku pasti sudah
juara."
Mendengar monolognya itu, aku baru sadar. "Ah".
Aku melupakannya. Padahal aku penasaran sekali.
"He-hei,
soal hidung yang itu."
"Ah!!"
"Waaa!! Ke-kenapa?"
Suara keras yang tiba-tiba itu membuat jantungku serasa
mau berhenti. Kousei
dengan panik mengecek ponselnya.
"Jam
8.40…… jam malamku jam 9. Karena empat hari lalu aku sempat membuat kehebohan
dengan menghilang."
"O-oh.
Begitu, ya."
Respon
yang wajar bagi keluarga.
"……Seika-san."
Kepada Kousei yang terlihat merasa bersalah, aku pun
berkata,
"Ya. Hari ini sampai di sini dulu, ya."
Aku yang mengatakannya duluan.
★★★
Setelah mengirim pesan kepada Ibu bahwa aku akan pulang
setelah mengantar Seika-san, jam malamku diperpanjang secara khusus hingga
pukul 9.30.
Jadi, sekarang aku berjalan pelan menuntun sepedaku
menyusuri jalan menuju apartemennya.
"……Entah kenapa, kurasa pernyataan cinta kita tadi
cukup aneh, ya."
"Begitu…… ya. Aku menyatakan cinta saat statusnya
sudah pasti…… tidak, apa itu bisa disebut jawaban dari pernyataan cinta?"
"Entahlah. Kalau punyaku, itu terjadi di tengah
luapan emosi. Bukan seperti pernyataan cinta remaja yang manis, tapi lebih
seperti menunjukkan kalau aku adalah pendukung setiamu."
Seika-san juga sepertinya tidak bisa mengungkapkannya
dengan baik lewat kata-kata dan menggelengkan kepalanya dengan kesal.
"Tapi berkat itu, aku sangat, sangat
terselamatkan."
Meski begitu, memang nuansanya berbeda dari pernyataan
cinta yang biasa terlihat di karya fiksi.
"Apalagi, tadi kamu juga mencoba menciumku, jadi aku
tahu kalau itu berbeda dari kasih sayang keluarga biasa."
"U-uwaaa. Itu juga karena aku lepas kendali."
Seika-san cenderung menangkap emosi yang mendahului
logika secara negatif, tapi menurutku ada hal-hal yang terselamatkan justru
karena itu. Aku tahu bahwa suasana seperti itu jauh lebih baik beratus-ratus
kali lipat daripada tempat yang penuh tipu muslihat tanpa ada emosi yang
terlihat.
Tapi ya.
"Apa ciuman hari ini sudah tepat waktunya?"
"Hm? Kenapa?"
"Bukankah ciuman pertama seharusnya setelah kita
benar-benar menyampaikan perasaan satu sama lain dengan baik? Bagi kita berdua,
ini adalah kenangan pertama dalam hidup…… ya kan?"
Saat
mengatakannya, rasa cemas muncul hingga aku tidak sengaja bertanya.
"Ya
jelas dong. Memangnya orang yang tadi melakukan adu jotos itu terlihat seperti
orang berpengalaman?"
Wajahnya sedikit kesal. Aku meminta maaf.
"Tapi kalau begitu, seharusnya bukan di situasi yang
seolah-olah aku sedang melindungi diriku yang lemah ini…… ah tapi, apa taman
bukan tempat yang tepat karena kurang romantis? Harusnya yang lebih
indah."
Saat aku baru akan bicara lebih jauh, tawa Seika-san
terdengar. Hahaha, dia tertawa sambil mendongakkan dagunya.
"Eh? Kenapa tertawa?"
Mendengar pertanyaanku yang bingung, Seika-san
berkata,
"Tidak, ternyata benar ya kalau anak laki-laki itu
sebenarnya sangat romantis."
Dia mengatakan sesuatu yang tidak jelas apakah itu sebuah
jawaban atau bukan.
"……Coba pikirkan dari sudut pandang yang berbeda.
Saat aku sedang menderita dan meronta-ronta, lalu kamu bilang kalau kamu bisa
mendapatkan kedamaian sedikit saja dengan ciuman dariku, dan lalu itu
benar-benar dilakukan, apa kamu akan menyesal?"
"Tentu saja tidak!"
Jika dengan ciuman pertamaku bisa memberikan ketenangan
bagi hati Seika-san, penyesalan apa yang akan ada?
……Ah.
"Itulah maksudku. Bagiku, tidak ada penyesalan sama
sekali saat memberikan ciuman pertamaku sebagai cara untuk menunjukkan kalau
aku adalah pendukungmu yang tidak akan pernah mengkhianatimu saat kamu sedang
menderita."
Lampu depan mobil yang melintas di jalur berlawanan
menyinari profil samping wajah Seika-san. Di dalam senyumnya yang tenang,
terlihat tekad yang kuat. Kata-kata "aku mencintaimu" tidak akan
keluar begitu saja dengan santai. Saat itu, dia benar-benar berniat mendukungku
bahkan jika harus memberikan segalanya.
"Lagi pula. Ciuman di taman hari ini sudah lebih
dari cukup indah. Itu adalah tempat kenangan kita, tidak ada orang yang datang,
dan itu adalah dunia yang hanya milik kita berdua."
Seika-san menatapku dengan sudut matanya sambil tetap
tersenyum tenang.
"……Bahkan jika melihat pemandangan satu juta dolar
pun, kalau dengan orang yang tidak cocok, ya tetap tidak akan bisa. Di mana,
atau situasinya seperti apa, jauh lebih penting siapa orang yang melakukannya,
jadi kamu harus lebih percaya diri."
"I-iya."
Percaya diri, ya.
"Bukan bermaksud sombong, tapi aku ini populer,
tahu? Orang seperti aku tidak melirik pria lain dan terus mengejarmu. Itu
artinya kamu adalah anak laki-laki yang menarik."
"Begitukah? Penampilanku biasa saja, punya sedikit
uang, tapi tidak bisa bicara hal yang lucu."
"Tidak, poin terakhir itu benar-benar harus kamu
percayai. Kurasa kamulah yang paling menarik di sekolah kita."
Kurasa tidak begitu.
"Bagaimanapun, aku tidak mau kalau bukan kamu.
Sebaliknya, kalau orangnya adalah kamu, suasana yang sedikit berbeda pun tidak
masalah. Jadi, tidak perlu terlalu memikirkan suasana atau situasi. Sebaliknya,
aku lebih benci kalau kamu terlalu banyak berpikir sampai tidak mau
menciumku."
"Be-begitukah ya?"
"Ya. Aku ingin melakukannya 30 kali sehari. Tidak
mungkin kalau harus repot-repot membuat suasana setiap saat, kan?"
"Ti-tiga puluh kali."
Banyak sekali.
"Aku senang sekali kamu menghargaiku, tapi aku ingin
kamu menyentuhku dengan sama santainya. Bukan hanya tubuh, tapi juga hati,
ya?"
Menyentuh dengan hati. Terlalu
abstrak, aku jadi harus berpikir.
"Untuk saat ini…… kata-kata formal itu."
"Eh?"
"Bagaimana kalau kita ubah?"
"Ugh. Tapi rasanya sudah terbiasa."
"Apa yang kamu bicarakan, ayo. Coba panggil aku
Seika tanpa embel-embel."
"Tidak, rasanya."
Seika-san ya tetap Seika-san.
"……"
Dia menatapku dengan tajam. Suara roda sepeda yang
berputar.
Ini…… rasanya dia tidak akan membiarkanku kalau belum
mengucapkannya.
"……Se-Seika."
"……!"
"Tolong jangan terlihat malu setelah menyuruhku
mengatakannya."
Akhirnya, aku mendapat persetujuan dengan syarat bahwa
aku akan terbiasa menggunakan bahasa kasual perlahan-lahan.
☆☆☆
Aku merasa sudah berjalan cukup pelan, tapi kami sampai
di apartemen hanya dalam lima menit.
Masih kurang bicara. Tentang masa depan, tentang masa
lalu.
Masih kurang mendengar. Kata-kata "aku
mencintaimu".
Masih kurang menyampaikan. Perasaan "aku
mencintaimu".
Aku sendiri pun heran. Padahal kami sudah saling
menyampaikannya begitu banyak.
Meskipun sudah mendengar dan mengatakannya sampai
berkali-kali. Namun panas di dalam dada masih belum padam.
Jika aku pulang sekarang, aku yakin aku pasti akan
berguling-guling di tempat tidur seperti serangga aneh.
"Kalau begitu……"
Aku tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal.
"Seika-san."
"Hm?"
"Tentang kelanjutan cerita tadi."
"Eh?"
Seharusnya tidak punya banyak waktu lagi, tapi Kousei
sepertinya masih ingin membicarakan sesuatu.
"Tadi kamu bilang jangan terlalu sungkan padamu,
tapi bagimu juga sama, ya? Seperti saat main pingpong, tidak masalah meski kamu
tidak pakai riasan atau pakai baju olahraga, kan?"
"Ah……"
Ternyata dia memikirkan hal itu.
"Tentu saja aku senang sekali kalau pacarku tampil
cantik, tapi kalaupun seandainya tidak, aku tetap akan menyukaimu. Itu sudah
pasti."
"Kousei……"
Memang benar saat pernyataan cinta tadi, hampir tidak ada
bagian yang menyinggung penampilanku. Mungkin hanya saat dia memberikan
diorama. Setelah itu, semuanya tentang sifat di dalam diriku, tindakanku selama
ini, dan usahaku yang dia hargai.
"Jika seandainya Seika-san terjebak dalam
pertempuran dan wajahmu terluka, aku tidak akan berubah sedikit pun……"
"Tunggu, tunggu, tunggu. Tidak ada pertempuran.
Ini abad 21, tahu."
Aku tidak sengaja memotongnya, tapi Kousei tersenyum
tipis. Sepertinya itu benar-benar hanya lelucon.
"Fufu. Bagaimanapun, tolong jangan terlalu
sungkan, Seika-san. Aku tidak akan merasa kecewa hanya karena hal kecil.
Silakan kumpulkan poin sebanyak-banyaknya."
"Ahaha, masih ingat saja pembicaraan itu."
"……"
"……"
Keheningan turun di sana. Lobi apartemen hanya berdua. Seorang karyawan baru saja lewat dengan tergesa-gesa.
"……Aku mencintaimu. Seika-san dalam kondisi apa
pun."
"Aku juga. Bagianmu yang manis, yang jujur, yang
lucu, yang baik, yang tulus, yang keren, yang lucu. Semuanya, semuanya. Begitu
pula bagianmu yang terkadang menanggung semuanya sendirian, atau saat sedang
pemalu."
Kelebihan sangat kucintai, dan kekurangan terasa sangat
menggemaskan.
"Aku pun tidak akan membencimu sekecil apa pun
kekuranganmu. Tapi……"
Kousei meletakkan tangannya di bahuku saat kami berdiri
berhadapan.
"Tapi satu hal saja…… kumohon. Jangan mengkhianatiku. Kalau aku
dikhianati oleh Seika-san, aku tidak akan pernah bisa bangkit lagi."
Suaranya
gemetar. Dia berhenti menggunakan bahasa formal, pasti karena dia
memperlihatkan sisi terdalam hatinya.
Tekad
yang sudah lama membeku kini menjadi semakin kuat.
"Ya.
Apa pun yang terjadi, aku tidak akan mengkhianatimu. Supaya tidak timbul
kesalahpahaman, kalau ada apa-apa, mari kita selalu bicarakan berdua, ya?"
"Ya."
"Dan
lagi, bagiku itu mustahil sekali, tapi bagaimana dengan selingkuh? Kalau
itu membuatmu cemas, kapan pun kamu boleh memeriksa ponselku."
"Eh!? Boleh?"
"Ya. Lagipula aku tidak punya teman pria, dan tidak
akan mencari teman baru."
Aku sama sekali tidak merasakan perlunya itu. Sebaliknya,
aku hanya bisa memikirkan dampak negatifnya.
"Tapi rasanya, itu seperti tidak percaya."
Tidak memeriksa ponsel adalah bukti kepercayaan.
Memeriksanya berarti meragukan. Ya, ada banyak sudut pandang, dan cara
merasakannya berbeda bagi setiap orang, mungkin tidak ada jawaban yang benar……
"Sepertinya aku tipe orang yang tidak peduli
dengan hal itu."
"Kalau begitu, milikku juga kapan saja boleh!
Padahal aku sendiri tidak punya teman, jadi tidak ada apa-apa juga."
Fufufu, akhirnya dia mengatakannya.
Bagiku mungkin tidak akan pernah meragukan Kousei
berselingkuh, tapi bisa memeriksa ponsel kapan saja itu rasanya menyenangkan.
Karena aku bisa memeriksa apa yang dia lakukan saat tidak bertemu denganku.
Mungkin aku akan membuat jurnal pengamatan Kousei.
"Lagipula, kurasa kita akan selalu
bersama-sama."
"Benar."
Bahkan sekarang, padahal waktunya sudah habis, kami masih
saja bicara seperti ini. Sulit untuk berpisah, dan aku yakin meski berpisah
dengan berat hati, kami akan langsung ingin bertemu lagi.
Bagaimanapun juga, selama liburan musim panas, kurasa
kita akan bertemu setiap hari. Aku tidak merasa sanggup menahan tidak bertemu
dengannya walau sehari.
Saat itu terjadi. Ponsel di dalam saku celana Kousei
berbunyi dengan nada dering Rain. Kousei memasang wajah masam. Aku pun mengecek
waktu di ponselku, jam 9.15. Akhirnya sudah waktunya. Waktu tambahan yang
diberikan karena kemurahan hati pun sudah habis.
"……Kalau begitu aku pergi."
"Ya…… ah, tunggu."
"Eh?"
Menuju
Kousei yang wajahnya terkejut, aku berjinjit dan perlahan mencium bibirnya. Hanya
bersentuhan ringan. Meskipun begitu, aku merasa dipenuhi oleh zat Kousei.
Dengan ini, kurasa aku bisa bertahan sampai besok.
"Selamat malam. Nanti kita Rain lagi."
"……Ya, ya. Aku menunggumu."
Meninggalkan Kousei yang belum sepenuhnya pulih dari
keterkejutannya, aku pun menuju lift.
★★★
Dengan mengayuh sepeda secepat mungkin, aku sampai di
rumah dua menit sebelum jam malam. Mendengar suara pintu terbuka, Ibu dan Kakak
segera keluar dari ruang tamu. Mereka terlihat lega. Rupanya insiden menghilang
empat hari lalu masih membekas.
"Aku pulang. Maaf telat."
"Tidak apa-apa. Ini kan demi keselamatan
Seika-chan."
Ibu sejak kejadian itu tampak sangat menyukai Seika-san,
dan selama empat hari ini dia selalu bertanya dengan berisik, "Apa dia
tidak datang bermain?", dan akhirnya aku pun mengaku kalau aku
mengundangnya ke festival kembang api empat hari kemudian.
"Apa kamu benar-benar mengantarnya sampai ke
apartemen?"
"Ya."
Aku menjawab sambil melepas sepatu. Suara kursi mandi
yang digeser terdengar dari arah kamar mandi. Ayah sepertinya sedang mandi. Aku
juga akan mandi nanti. Badanku lengket oleh keringat dan air mata.
"Hei, Kousei."
Kakak menghilangkan ekspresi khawatirnya dan bertanya
dengan nada menggoda. Aku hanya merasakan firasat buruk.
"Bagaimana kencan dengan Seika-san?"
Ternyata benar. Ya, aku mengerti kenapa dia penasaran.
"……Ya. Menyenangkan."
Menjawab dengan aman dan tidak mencolok. Suatu
saat nanti aku pasti akan melaporkan hubungan kami yang sudah maju, tapi saat
ini aku masih ingin meresapi sisa-sisa kenangan.
"Bibirmu, terkena lipstik, ya?"
Meresapi…… ehhhhhhhh!?
"Bo-bohong! Dia bilang dia memakai lipstik yang
tidak mudah luntur!"
Aku dengan panik melihat cermin yang tergantung di
dinding di atas rak sepatu. Di sana ada bibirku seperti biasa. Tidak ada
lipstik warna aprikot miliknya yang menempel di mana pun…… tidak
ada.
"……"
"Kousei, serius?"
"Kousei…… apa sudah melakukannya dengan
Seika-chan?"
U-uwaaaaaa.
Ceroboh. Bodoh.
Karena
pernah melakukan kesalahan yang sama saat di pipi sebelumnya, aku jadi terlalu
sensitif.
Seandainya
pun ada warnanya, masih bisa beralasan minum dari botol plastik yang sama
setelah Seika-san minum, atau alasan lain meski terdengar dipaksakan. Setelah
meluapkan kepanikan seperti ini, sudah tidak bisa lagi.
"Begitu
ya. Ya. Baguslah. Aku juga tenang kalau itu Seika-san."
"Benar.
Aku tenang kalau Seika-chan. Ibu sebenarnya juga berharap kalau akhirnya akan
seperti itu."
Eh? Tak
disangka, mereka berdua ternyata tenang. Padahal aku mengira mereka bakal heboh
berteriak-teriak.
"Hm? Ah. Apa kamu pikir mereka akan sangat
terkejut?"
"Iya."
"Yah, mau bagaimana lagi. Dari luar pun sudah
terlihat jelas kalau Seika-san sangat tergila-gila padamu. Jadi, ini tinggal
masalah kapan kamu menyadari perasaanmu sendiri saja."
Eh? Be-begitukah? Jadi, dari sudut pandang orang sekitar,
tindakan dan ucapanku sudah sampai di level yang menunjukkan kalau aku secara
tidak sadar juga menyukai Seika-san? Ti-tidak. Tentu saja sebagai sahabat aku
sangat menyayanginya, tapi……
"Iya, kan. Melihat Kousei pergi sekolah dengan
begitu bersemangat saja sudah jelas. Pasti karena ada gadis yang disukainya
yang menarik hatinya……"
Ibu sedikit berkaca-kaca.
"Ibu sungguh bersyukur Seika-chan ada di sekolah
itu. Dia menemukan Kousei dan memperhatikannya……"
Aku pun merasakan hal yang sama dari lubuk hatiku
terdalam. Betapa beruntungnya aku. Rasanya aku rela jika dibilang
keberuntunganku seumur hidup sudah habis demi hal ini.
"Kousei, apa pun itu, selamat ya."
"Selamat. Jaga dia baik-baik, ya? Gadis sebaik itu
tidak akan bisa kamu temukan lagi di tempat lain, lho?"
"Iya. Terima kasih. Aku mengerti."
Sungguh, kurasa aku sendiri adalah orang yang paling
mengerti akan hal itu.
Setelah itu, hening sejenak…… tatapan lembut dari
keduanya membuatku merasa sangat malu. Karena suasana menjadi canggung, aku pun
berkata,
"Aku akan mandi setelah Ayah selesai, ya."
Aku sedikit memaksa mengakhiri percakapan itu dan
melarikan diri ke lantai dua.
"Fufu. Apa besok kita masak nasi merah, ya?"
Saat kakiku melangkah di anak tangga, aku mendengar
ucapan Ibu yang membuat rasa maluku mencapai puncaknya.
Setelah mandi, aku melamun menatap kosong ke udara. Entah
kenapa, aku tidak punya semangat melakukan apa pun. Kencan kembang api,
pernyataan cinta, menangis sejadi-jadinya, lalu ciuman. Ini jelas sudah
melampaui kapasitas diriku. Kurasa hari ini batas kegiatanku sudah tercapai.
Maksudku.
"Ini bukan mimpi, kan?"
Meski kami sudah memastikan perasaan satu sama lain,
sesekali aku jadi kehilangan rasa nyata. Bisa berpacaran dengan orang yang
begitu cantik dan menawan seperti dia benar-benar di luar rencana hidupku.
Kalau aku menceritakan hal ini pada diriku yang di bulan April lalu, dia pasti
tidak akan percaya.
Memang klise, tapi aku mencoba mencubit pipiku. Pipi yang
sering disentuh Seika-san dengan gemas karena katanya kenyal. Jariku menusuk dan terasa sakit.
Ini…… bukan mimpi.
Saat
itu juga, ponsel di atas meja bergetar.
"Wua!"
Aku
benar-benar terkejut dengan suara getaran "vu-vu" itu. Mengabaikan
jantungku yang berdebar kencang, aku berdiri dari tempat tidur dan segera
menyambar ponselku. Tidak perlu memastikan siapa pengirimnya.
"Halo, Kousei?"
"Ya."
"Sekarang…… sedang apa?"
"Eh, anu. Tidak melakukan apa-apa."
Tepatnya, karena aku tidak bisa fokus pada apa pun, jadi
aku tidak melakukan apa-apa.
"……Ahaha. Aku juga."
Suara tawa yang keluar dari hidung Seika-san. Aku jadi
teringat napasnya di sela-sela ciuman kami tadi, membuat dadaku terasa panas
membara.
"……Entah kenapa, aku jadi ingin berciuman
lagi."
"Eh?"
"Soalnya saat mendengar suaramu di telingaku
tadi."
Begitu ya. Seperti yang kurasakan, Seika-san juga
rupanya.
"Tapi kita tidak bisa berciuman."
"Iya……"
"Bagaimana kalau kita tetap menelepon sampai
tidur?"
"Eh?"
Untungnya, ini adalah panggilan gratis lewat Rain.
"Tidak boleh, ya?"
"Bukan. Boleh saja, kok. Fufu."
Karena Seika-san tertawa, telingaku merasa bahagia, dan
aku pun ikut tertawa.
Keesokan paginya. Saat terbangun, panggilan Rain ternyata
sudah terputus entah sejak kapan. Mungkin Kousei yang mematikannya setelah tahu
aku tertidur. Panggilan Rain kadang putus secara misterius, jadi bisa saja itu
penyebabnya.
Kami membicarakan banyak hal yang tidak penting.
Tentang PR liburan musim panas, tentang Chika yang menuntut agar aku
mempersembahkannya manisan, tentang Hinano yang berat badannya naik dua
kilogram, tentang perusahaan penyalur tenaga kerja tempat Mama bekerja yang
asal-asalan, tentang suhu panas yang ekstrem tahun ini. Et cetera, et cetera.
Kurasa konten pembicaraannya tidaklah penting. Hanya
saja, suara tawa yang menyambut cerita konyolku terasa sangat berharga, dan
sahutan yang dia berikan dengan suaranya yang rendah dan tenang membuat hatiku
damai. Aku tidak ingin mengakhiri waktu itu, jadi kami terus berbicara.
Singkatnya, aku bahkan jatuh cinta pada suara dan
cara bicaranya. Ini sih, sudah tidak ada pilihan lain selain menikah.
"……Baiklah."
Hari ini Kousei akan datang ke rumahku. Katanya, tidak
enak kalau harus selalu menyuruh Seika-san yang datang. Itu artinya, aku harus
tampil sempurna sebelum dia datang. Pakaian dan riasan. Meski dia bilang aku
tidak perlu berlebihan pun dia tidak akan membenciku, tetap saja, hari setelah
pernyataan cinta haruslah spesial.
Aku mengenakan sweter rajut tanpa lengan dengan rok
panjang bermotif bunga. Tampilannya sedikit bergaya feminin yang anggun. Untuk
lipstik, aku sengaja memakai warna aprikot yang sama dengan tadi malam. Siapa
tahu dia teringat akan kejadian semalam dan jantungnya berdebar. Atau mungkin,
dia akan menciumku lagi. Ada harapan seperti itu juga, sih.
Tak lama, sebelum jam 10, bel pintu berbunyi. Saat
mengecek layar, tampak Kousei sedang menyeka keringat di dahinya dengan sapu
tangan. Gerakannya persis seperti salesman.
"Pagi. Aku bukakan pintunya sekarang."
"Tolong, ya."
Aku menekan tombol buka kunci dan pintu otomatis pun
terbuka.
Setelah menunggu sekitar tiga menit, Kousei naik.
Wajahnya terlihat merah padam seperti hampir mengeluarkan uap. Awalnya aku
berpikir kalau cuaca sedikit lebih dingin, mungkin kami bisa kencan di luar,
tapi sepertinya musim panas tahun ini tidak memberi kesempatan, ya.
Aku mengajaknya ke ruang tamu. Karena tadi sudah
menyalakan AC lebih dulu, udaranya cukup sejuk. Kousei mendongakkan dagunya
dengan kedua tangan merentang. Hampir semua orang melakukan pose ini saat
kepanasan, ya.
"Tenangkan dirimu dulu saja. Aku
ada semangka, nanti kupotongkan."
"Ah,
tidak perlu repot-repot."
Rasanya
sedikit lucu melihat Kousei yang memberikan jawaban kaku meski kami sudah
berpacaran.
Aku
memotong semangka seperempat potong yang kudinginkan di kulkas menjadi dua
bagian. Bagian kulitnya keras, jadi aku harus menekan dengan segenap berat
badanku untuk memotongnya. Aku menyajikannya di piring dengan garpu kecil
khusus semangka, selesai.
"Wah,
terima kasih."
Melihat
daging buah merah yang segar, mata Kousei berbinar. Semangka
sepertinya bagus juga untuk hidrasi. Sejak hari aku membuatkannya kari, aku
jadi tertarik pada memasak dan makanan, jadi saat senggang aku sering
melihat-lihat resep di ponsel.
"Aku juga punya oleh-oleh."
Kousei membawa kantong kertas yang besar. Aku sudah
menduga akan seperti ini, ternyata benar dia membawa oleh-oleh.
"Maaf jadi merepotkanmu."
"Tidak sama sekali. Malah
aku yang merasa tidak enak."
"Kenapa? Kurasa tidak ada alasan untuk merasa tidak
enak, kan?"
Dia anak yang aneh saat berbicara.
"Tidak……
isinya adalah semangka."
"Semangka?"
Saat Kousei mengeluarkan isinya dari kantong, itu
benar-benar sepotong semangka seperempat.
"Aku mengeluarkan semangka, lalu diberi semangka,
ini jadi mesin abadi."
"Bab 'Pedagang Semangka Tanpa Batas' pun
dimulai."
Duh, menakutkan sekali.
"Ngomong-ngomong, apa ini topik pembicaraan kita di
hari pertama setelah jadi kekasih?"
"Yah, bukankah ini khas kita berdua? Lagi pula,
telepon kita tadi malam juga seperti ini."
"Memang sih…… tapi rasanya seperti mimpi saja kalau
kemarin itu nyata."
"Eh?"
Kousei tertegun, lalu mulai tertawa kecil.
"Ugh. Tidak perlu tertawa."
"Maaf. Tapi ternyata kita memikirkan hal yang
sama."
"Eh? Kousei juga?"
"Aku sempat mencoba mencubit pipiku."
"Wua, klise."
Aku pun ikut tertawa. Mengetahui Kousei merasakan hal
yang sama membuat hatiku jauh lebih ringan.
"Kalau begitu…… mari kita buktikan kalau ini nyata
dan kita benar-benar berpacaran."
Mengatakan
itu, aku duduk di sebelah Kousei sambil menaruh semangkanya begitu saja. Aku
menatapnya dari bawah. Posisi duduk kami membuat Kousei sedikit lebih tinggi.
"……Kalau dilakukan sekarang, mungkin akan terasa
seperti semangka."
Sambil berkata begitu, Kousei mengelap sekitar mulutnya
dengan sapu tangan tadi, lalu perlahan meletakkan tangannya di bahuku. Saat aku
memiringkan wajah dan menunggunya dengan posisi menerima, dia pun mengecup
bibirku dengan singkat seperti ciuman burung.
"……Ini bukan mimpi. Aku sudah sampai di tahap di
mana berciuman dengan Seika-san menjadi hal yang wajar."
"Iya……
ini bukan mimpi."
Sensasi bibir yang nyata, rasa manis semangka.
Tidak ada suasana romantis, tapi ini sudah cukup. Aku
senang karena kami bisa dengan santai berciuman saat merasa gemas atau jatuh
cinta ketika sedang bersama.
Sambil melihat Kousei yang mengipasi wajahnya dengan
tangan karena malu, aku membayangkan hari-hari ke depan yang akan kami lalui.
Setelah menikmati semangka, Seika-san tiba-tiba berkata,
"Ngomong-ngomong."
"Aku sudah memberitahu Mama kalau kita berpacaran,
tidak apa-apa, kan?"
Ah, soal itu rupanya. Karena dia mengatakannya dengan
sungguh-sungguh, aku sempat berpikir hal yang aneh-aneh.
"Iya. Lagipula, keluargaku juga sudah tahu."
"Tentu saja. Lagipula, pergi berdua ke festival
kembang api saja sudah sangat mencurigakan, kan?"
Kalau dipikir-pikir dengan tenang sekarang, memang
benar begitu. Itu sama saja seperti mengumumkan kalau aku akan pergi
menyatakan cinta.
"Lalu, soal Papa……"
"Ugh."
Situasi bertemu dengan Ayah sang kekasih. Dalam karya
fiksi, biasanya karakter akan dimarahi atau dipukul.
"Hahaha, tidak perlu terlalu tegang. Kurasa Papa
tidak terlalu ketat soal hal itu."
"Kenapa kamu bisa yakin begitu?"
"Yah, karena profesinya, dia sudah tahu banyak
tentang hubungan pria dan wanita yang rumit. Kurasa dia hanya akan berpikir
kalau kita berpacaran dengan baik sebagai pasangan, itu sudah cukup
hebat."
"……Apa dunia hiburan memang tempat yang semenakutkan
itu?"
Aku memang sering mendengar rumornya.
"Yah, aku juga tidak tahu detailnya, dan kurasa
tidak semuanya seperti itu juga, sih."
Cara bicaranya yang tidak lugas membuat rasa
waspadaku semakin meningkat.
"A-anu. Sebelumnya aku pernah bilang akan
mendukungmu, tapi soal model…… atau dunia hiburan……"
"Ahaha. Tidak, tidak. Menakutkan soalnya."
Aku merasa lega. Di saat yang sama, aku terkejut dengan
rasa posesif yang bergejolak di dalam diriku.
"Apa kamu cemburu?"
"Iya."
Aku bahkan lupa menggunakan bahasa formal, hanya bisa
mengangguk.
"Begitu ya, kamu cemburu, ya."
Pipiku
dicubit dengan gemas. Lalu kepalaku dielus-elus. Gerakannya seperti sedang
membelai anjing kesayangan yang baru lama tidak bertemu, tapi aku membiarkannya
saja.
Lalu,
punggung jari yang kembali ke pipiku dengan lembut membelai bulu halus di sana.
"Jangan khawatir. Aku sadar akan penampilanku. Jadi,
manajemen risikoku cukup baik."
"Iya."
Aku bisa merasakannya. Dia punya aura yang membuat pria
lain tidak berani mendekat. Kecuali aku.
"Ngomong-ngomong, tadi kita bicara soal apa?"
"Tentang memberitahu Masahide-san atau tidak."
"Ah, iya. Jadi bagaimana? Kalau Kousei sendiri, kamu
sudah memberitahu Yoshiki-san, kan?"
"I-iya. Yah, bisa dibilang kalau Ibu dan Kakak tahu,
maka Ayah pasti tahu. Semacam speaker yang
tersambung terus."
"Ahaha."
Ini bukan hal yang lucu. Kurasa Meguru juga mungkin
sudah tahu, dan bisa jadi gosipnya sudah menyebar ke teman masa kecil Ibu yang
sudah mengenalku sejak kecil. Mengerikan sekali lingkungan lokal yang erat ini.
Yah, meski ada banyak untungnya juga, sih.
"Kalau begitu, boleh aku memberitahunya saat ada
waktu?"
"I-iya."
Mana mungkin aku bisa menolak. Jika percaya pada
kata-kata Seika-san, seharusnya tidak akan ada reaksi buruk, tapi…… Seika-san
seorang perempuan, dan terkadang kurang peka dengan perasaan pria.
Bagaimana perasaan seorang ayah yang putri tunggalnya
punya pacar untuk pertama kalinya?
……Untuk saat ini, aku harus menyiapkan kotak kue.
"Lalu selanjutnya. Aku ingin memberitahu Chika dan
Hinano juga."
"Ah, soal itu, iya."
Apalagi aku sangat berhutang budi pada Doguchi-san. Aku
bahkan merasa punya kewajiban untuk memberitahu bagaimana hasilnya.
"Syukurlah. Chika benar-benar orang yang berjasa
bagi kita. Dia sering sekali mendengarkan curhatanku. Sejak
zaman kamu masih terus memanggil 'Nobu-Nobu' dan sama sekali tidak
melirikku."
"A-ahahaha."
"Hinano juga sudah berusaha keras di kelas tata
rias. Dan dia juga sering makan camilan."
Kurasa poin "sering makan camilan" tidak
menambah poin keberhasilan. Kalau soal menambah berat badan, sih, mungkin ya.
"Benar. Bagaimana kalau kita buat pesta sekalian
untuk mengucapkan terima kasih sekaligus melaporkannya?"
"Itu ide yang bagus. Kalau kita membuat banyak kue,
sepertinya Shigei-san juga akan senang."
Hanya saja, aku ingin memberikan hadiah lain juga untuk
Doguchi-san. Sungguh, kalau bukan karenanya, mungkin kita tidak akan bisa
berpacaran sampai sekarang. Saat aku berpikir begitu,
"Tapi aku ingin menunjukkan rasa terima kasih pada
Chika secara terpisah. Soalnya dia tidak serakus Hinano."
Seika-san rupanya berpikir hal yang sama. Aku setuju
dengannya.
"……Apa ada sesuatu yang disukai Doguchi-san?"
"Seperti yang pernah kubilang, beruang atau
alam."
"Benar juga."
Ngomong-ngomong, seingatku dalam obrolan kami dulu,
dia pernah bilang ingin berkemah saat liburan musim panas.
"Bagaimana kalau berkemah? Seingatku dia pernah
bilang begitu sebelumnya."
"Ah, dia memang sering asal bicara begitu. Jadi,
kita yang harus mencari infonya."
"Termasuk repotnya mencari info, melakukan
semuanya untuknya sebagai hadiah juga ide yang bagus, ya."
"Iya, setuju."
Seika-san tampak tidak bisa menahan rasa antusiasnya
dan menggerak-gerakkan kakinya sambil duduk di sofa. Seperti anak kecil.
"Kalau begitu, ayo mulai!"
Menggunakan komputer di ruang tamu, kami mencari info
tentang berkemah.
Setelah satu jam mencari, diputuskan untuk menyewa cottage
untuk day-trip. Kondisinya tidak ketat, seperti tidak harus ada wali.
Biayanya relatif murah. Hari kerja siang hari sepertinya sepi. Dan kami
menemukannya di tempat yang relatif dekat. Ini jadi pertimbangannya.
Saat aku mengecek hari kosong Chika dan Hinano lewat
Rain, mereka bilang mereka hanya bermalas-malasan setiap hari, jadi aku segera
membuat janji untuk besok. Aku hanya menulis kalau aku ingin melaporkan sesuatu
di rumah, tapi dari Chika aku menerima pesan,
"Apaan tuh~"
Disertai stiker kucing hitam yang tersenyum licik, jadi
dia sudah sangat curiga. Hinano membalas,
"Oke, jadi aku hanya akan makan sedikit saja sebelum
ke sana."
Tentu saja, aku tidak memberitahu isi laporannya, juga
tidak bilang kalau ini pesta. Tapi entah kenapa dia sepertinya sadar kalau dia
akan diberi makanan. Terkadang aku takut padanya. Selain itu, kurasa meski dia
bilang makan sedikit, dia pasti akan makan siang dengan porsi besar.
Saat aku menyampaikan jawaban positif dari mereka berdua
kepada Kousei, dia tertawa dengan lega.
"Kalau begitu, mari kita beli kue di supermarket.
Ah, tidak. Mumpung kita ada waktu…… bagaimana kalau kita membuat puding
telur?"
"Eh?"
Pikiran itu langsung muncul. Hari di mana kita pergi ke
Timur itu, padahal kita bilang ingin memakannya, tapi akhirnya karena kejadian
itu rencana jadi batal. Kousei, rupanya dia masih memikirkannya, ya.
……Karena tidak ada alasan untuk menolak, mari kita ikuti
saja.
"Boleh juga. Bisa ajari aku caranya?"
"Iya!"
Jawaban yang jujur. Aku sampai ingin mengelus kepalanya.
"Kalau
begitu…… ayo jalan."
Saat
hendak berdiri…… balkon terlihat dari balik pintu kaca. Sinar matahari yang
terik membuat cucian yang dijemur pagi tadi terasa sudah kering. Selain
suara outdoor AC yang meniupkan angin samar, hampir tidak ada angin.
Ini……
"Jaraknya cuma satu menit jalan kaki, kok."
"Iya, be-benar juga."
Meski begitu, aku berharap tidak akan mati hanya karena
perjalanan dua menit pergi-pulang. Untuk berjaga-jaga, aku mengoleskan sunscreen
di wajah dan tanganku di depan pintu masuk, lalu gantian mengoleskannya ke
wajah Kousei. Wajahnya yang tertawa karena kegelian terlihat lucu.
"Padahal jaraknya cuma dekat, rasanya tidak enak
membuatmu repot."
"Yah, ini supaya kamu tidak menyesal saat usia 40
atau 50 tahun nanti, kan?"
"40, 50 ya. Kurasa Seika-san pasti akan tetap cantik
di usia segitu."
Kousei memang sering sekali bicara hal seperti itu
dengan santai.
"……30 tahun lagi, buktikan sendiri dengan
matamu."
"Iya……
eh, itu artinya."
"Aku
juga akan mengawasimu supaya wajahmu tidak penuh noda di usia 30 tahun
lagi."
Meski nadanya ringan, itu adalah pernyataan yang serius.
Bahwa 30 tahun lagi, aku pasti akan berada di sisinya.
Kousei memelukku dengan erat dari belakang. Dia mengeluh
sambil malu karena kami belum memakai sepatu, tapi aku tidak berniat
melepaskannya. Kami berciuman sekitar lima kali.
Hanya dalam dua menit aku berhasil tewas, berubah menjadi
zombie saat kembali, dan kami segera makan siang. Kami menghabiskan
bekal yang dibeli di supermarket berdua. Setelah makan, kami istirahat sebentar
lalu mulai membuat puding. Sambil melihat situs resep favorit Kousei, kami
mengikuti langkah-langkahnya.
Aku memasukkan susu ke dalam panci dan memanaskannya.
Sambil menunggu, aku memecahkan dua telur ke dalam mangkuk. Telur satu lagi
dipecahkan ke piring terpisah untuk memisahkan kuning dan putihnya. Sepertinya
hanya kuning telurnya yang dipakai. Aku mencampurkan ketiganya lalu menambahkan
gula.
Saat aku memasukkan sumpit dan mengaduknya, terdengar
suara sumpit yang mengetuk dasar mangkuk dengan ritme yang ceria. Ini cukup
menyenangkan.
"Peralatan pudingnya ada, kan?"
Kousei membelakangi kompor dan menatap lemari piring.
"Ah, iya. Karena tidak pernah dipakai, kurasa ada di
rak paling atas. Tunggu sebentar, aku ambil kursi……"
Sebelum sempat menyelesaikannya, Kousei membuka pintu
lemari, sedikit berjinjit, dan menjulurkan tangan ke rak paling atas. Ah, benar
juga. Dia bisa menjangkaunya.
Sepertinya dia sudah memegang benda yang dicari, otot
lengan atasnya yang memanjang dari lengan baju tampak sedikit menonjol, dan
urat-uratnya terlihat samar. Pemandangan itu entah kenapa terasa sangat
sensual, membuat jantungku berdegup kencang.
Tinggi badannya yang lebih dari 6 cm dariku, lengannya
yang kokoh mampu menjangkau meski dalam posisi sulit.
Dia anak laki-laki. Tentu saja aku tahu itu, dan sudah
merasakannya berkali-kali sebelumnya.
Namun, saat melihat bagian "laki-laki" dari
dirinya untuk pertama kalinya setelah kami resmi berpacaran, efeknya terasa
jauh lebih menggelegar dari yang kubayangkan.
A-apa suatu saat nanti aku akan dipeluk oleh lengan ini? Bukan level pelukan dari belakang seperti tadi…… tapi
pelukan yang sesungguhnya antara pria dan wanita, suatu saat nanti.
Di saat itu juga, aku baru sadar melihat situasiku dengan
tenang. Hari ini Mama bekerja paruh waktu sampai sore belum pulang. Hanya ada
kami berdua pria dan wanita yang saling bersandar sambil memasak. Tidak mungkin
tidak terjadi apa-apa.
Ti-tidak, tidak. Baru kemarin kami jadian, tidak mungkin
hal itu akan terjadi secepat ini. Ta-tapi, biasanya pasangan baru berpacaran
berapa lama ya, sampai akhirnya melakukan itu. Tidak harus mengikuti pasangan
lain, tapi hanya sebagai referensi. Ya, sekadar referensi.
……Akan kucari nanti saja.
"……Hm!? Seika-san!"
"Hya, hya! Ini pertama kalinya aku mencoba, jadi
tolong bimbing aku!"
"Aku tahu itu! Puding
pertama yang kamu buat ini hampir gosong!"
"Eh?"
"Aduh, ya ampun."
Kousei meletakkan wadah puding ke samping dan segera
mematikan api kompor. Susu yang seharusnya dipanaskan sampai 60 derajat sudah
hampir mendidih.
Ah, iya. Saat sedang berurusan dengan api, sebaiknya
jangan melamun yang tidak-tidak, ya.
Keesokan harinya. Untuk berangkat dari rumah jam
14.00, aku menyiapkan segalanya.
Aku memakai kemeja yang sedikit mencolok bagi
standarku, berwarna ungu dengan pola bintang kuning yang dipilihkan Seika-san
saat kami kencan di mall. Di bagian bawah, aku memakai knee support
untuk menutupi lututku. Di atasnya, aku memakai celana kargo hitam favoritku.
Bagus, pakaian sudah oke.
"Nah."
Aku hampir lupa memakai sunscreen. Aku sudah
memutuskan untuk membiasakan diri memakainya mulai hari ini.
Investasi untuk 30 tahun ke depan. Penampilanku saja
sudah jauh dari setara, jadi mengabaikan kemunduran penampilan di masa depan
adalah sebuah kelalaian. Karena Seika-san sudah memikirkan rencana sampai 30
tahun ke depan bersama, aku juga harus melakukan apa yang bisa kulakukan.
Aku mengoleskan krim putih itu dengan rata, oke mantap.
Aku mengetuk-ngetuk tanah dengan ujung kaki agar sepatu baru itu lebih nyaman.
Meskipun sudah mulai dipakai sejak kemarin, hari pertama berpacaran, rasanya
masih kaku.
"Aku berangkat!"
Semangatku meluap-luap. Aku melompat keluar rumah
seolah-olah sedang menari dan menaiki sepeda. Kondisiku hari ini benar-benar
bagus. Rasanya aku sanggup berlari sejauh apa pun.
………………
…………
……
Dan ternyata itu hanya perasaanku saja.
"Maaf ya, Kutsuzawa-kun."
"Fu-hyu. Ko-hyu. Su-sudah, tidak, apa-apa."
Bohong. Bahkan berbicara "tidak apa-apa" saja
aku sudah tidak sanggup.
Shigei-san yang duduk di bagasi memandang profil wajahku
dari belakang dengan cemas…… tapi aku tahu. Ada permen lunak di dalam mulutnya.
Yah, tidak masalah. Lagipula sudah terlambat jika berat badannya bertambah
beberapa gram, itu hanya kesalahan hitung. Ah, tapi seingatku dia pernah bilang
berat badannya naik dua kilogram kemarin.
Karena panas dan rasa putus asa, kepalaku sempat terasa
pusing.
Saat sampai di apartemen Seika-san, kondisiku sudah
sangat kelelahan seolah-olah aku sudah turun berat badan dua kilogram.
Begitu masuk ke ruang tamu, mataku langsung bertemu
dengan Reika-san. Ah,
ternyata dia ada di rumah…… tunggu? Eh? Aku tidak diberitahu. Bukankah aku dan
Seika-san akan membuat "deklarasi jadian" sekarang? Kenapa ibunya
juga ada di sini? Padahal aku sudah merencanakan urutannya mulai dari laporan
anak-anak dulu, terbiasa dengan suasana, baru memberi salam kepada orang tua. Rencanaku
jadi berantakan seketika.
"Se-selamat siang."
"Ya, selamat datang."
Dia membalas salamku sambil tersenyum lembut dengan sudut
matanya yang mengerut. Ah, iya. Seingatku, aku sudah mendengar hal ini dari
Seika-san. Jadi, fakta bahwa kami berpacaran sudah diketahui.
Jadi ini bentuknya adalah salam perkenalan resmi setelah
mereka semua sudah tahu, ya? Kalau begitu, seharusnya tidak masalah…… tapi
tetap saja, rasanya aku tetap gugup.
"Hei, rileks sedikit."
Seika-san menepuk lenganku pelan. Dia lalu mengarahkanku
untuk duduk di sofa.
"Tenang saja. Mereka tidak akan menentang
kita."
Sambil duduk di sebelahku, dia berbisik pelan untuk
menenangkanku. Apa aku benar-benar terlihat setegang itu?
Untuk saat ini, aku meneguk teh yang disuguhkan lalu
mengembuskan napas panjang. Sebelum acara dimulai, sudah direncanakan kalau aku
akan menyampaikan alasan memanggil mereka ke sini, yaitu melaporkan bahwa kami
sudah resmi berpacaran.
Aku menoleh ke samping, dan Seika-san memberikan anggukan
mantap padaku.
Ya, jangan terlalu terbebani. Semua orang yang ada di
sini adalah pihak yang mendukung kita.
"Anu…… alasan aku mengumpulkan kalian semua hari ini
adalah……"
"Kami
sudah resmi berpacaran."
Hah!?
"Aku
sudah tahu."
"Selamat, ya."
"Ternyata benar, ya~"
Nua!?
"Yah, kalau dikumpulkan secara resmi di waktu
seperti ini, bahkan Hinano pun bisa menebaknya."
I-itu mungkin benar, tapi apa reaksinya harus sesantai
ini?
"Bilang 'bahkan Hinano' itu jahat banget, lho~"
Shigei-san memprotes, tapi wajahnya tetap tersenyum.
Lalu, dia melanjutkan,
"Selamat ya, Seika. Meski aku tidak terlalu banyak
jadi tempat curhat soal asmaramu, aku selalu mendukungmu dan berharap semoga
semuanya berjalan lancar~"
Dia memberikan ucapan selamat seperti itu.
"Padahal aku yang tempat curhatnya habis-habisan.
Yah, mau bagaimana lagi, orang yang satu ini memang lambat sekali menyadari
perasaan."
"Aduh!"
Dari arah sofa yang sedikit miring, Doguchi-san
mengulurkan kakinya dan menendang ujung kakiku.
"Yah, sekarang aku paham kalau Koutsu juga punya
banyak urusan sendiri sampai tidak sempat memikirkan asmara. Tapi, saat masih
jadi teman pun, dia sudah sangat menghargai Seika, jadi aku merasa dia orang
yang bisa dipercaya."
Doguchi-san
menatapku lurus-lurus sambil tersenyum lembut. Reika-san
pun ikut menanggapi.
"……Benar. Kousei-kun adalah anak yang sangat baik.
Seika sendiri juga jadi lebih tenang dan tumbuh dewasa…… kalian pasti sedang
menjalani kisah cinta yang indah, ya."
Suaranya terdengar seperti menahan sesuatu yang ingin
meluap. Begitu ya. Aku terus saja memikirkan perasaan sang ayah, tapi tentu
saja seorang ibu pun pasti merasakan sesuatu. Kalau dipikir-pikir, Ibu di rumah
juga seperti itu.
Entah kenapa, perasaanku jadi haru. Sedikit lagi, aku
bisa saja menangis.
"Selamat untuk kalian berdua. Aku akan mendukung
kalian."
"Selamat, ya. Menurutku kalian pasangan yang
serasi."
Aku dan Seika-san saling bertatapan lalu tertawa. Kemudian, kami kembali menatap ke arah mereka.
"Terima
kasih!"
"Terima kasih banyak!"
Aku menyampaikan rasa syukur dengan suara lantang. Tanpa
kepura-puraan, murni dari lubuk hati yang paling dalam.
Aku mengambil cangkir berisi puding dari kulkas sesuai
jumlah orang yang hadir, lalu menyajikannya di depan mereka. Dua nampan,
masing-masing berisi lima buah. Jadi ada sepuluh puding semuanya, dibagikan
rata satu per orang, dan sisanya enam untuk Hinano.
"……Serius, jangan terlalu dipikirkan."
Chika berkata begitu pada Kousei. Sepertinya dia paham
betul niat di balik puding ini, sebagai pengganti puding Yokonakahoigashi yang
gagal ia santap serta sebagai bentuk permohonan maaf.
"Itu juga salah satunya…… tapi yang terpenting
adalah, aku ingin menjamu kalian semua dan menghabiskan waktu yang menyenangkan
bersama. Itulah
perasaanku yang sebenarnya."
"Betul
sekali. Selain itu, puding ini mudah dibuat, jadi bahkan aku yang pemula saja
bisa membuatnya."
Aku pun ikut membantu memberikan dukungan. Melihat itu,
Chika sepertinya memutuskan untuk tidak lagi bersikap serius.
"Begitu, ya…… Baiklah! Kalau begitu, mari kita
bersulang untuk merayakan babak baru kehidupan mereka berdua!"
Dia mengusulkan hal itu sambil mengangkat gelas
berisi jus.
"Ahaha. Memang memalukan, tapi ya sudahlah. Ayo,
Kousei."
Aku ikut terbawa suasana dan menyenggol Kousei yang ada
di sebelahku dengan siku. Untuk sesaat, dia terlihat seperti orang bingung yang
bertanya, "Eh, aku?", tapi kemudian sepertinya dia sudah membulatkan
tekad dan menggenggam gelasnya sendiri. Ia mengangkatnya di depan dada, lalu
memulai kata sambutan.
"Ehm. Sekali lagi, saya ingin mengumumkan bahwa
mulai saat ini, saya menjalin hubungan dengan Seika-san. Terima kasih banyak
karena kalian telah menjaga kami dengan hangat, dan telah membantu kami dalam
berbagai acara. Sungguh……"
"Kepanjangan! Bersulang!!"
"Eh!?"
"Bersulaaaang!!"
Semua gelas beradu, menghasilkan bunyi "ting"
yang nyaring dan menyejukkan.
Setelah bersulang, aku memeluk Kousei dari samping dengan
erat, karena dia tampak sedikit kesepian sambil meminum jusnya sedikit demi
sedikit.
Sudah hampir satu jam sejak acara dimulai. Mama sedang
pamit sebentar untuk membeli bahan makan malam.
Kami yang tersisa di sini, sambil menikmati puding dan
camilan sesuka hati, awalnya sempat ramai membicarakan toko kue di depan
stasiun atau tempat makan di dekat sini yang sama-sama menjual manisan.
"Jadi? Akhirnya, siapa yang menyatakan cinta
duluan~?"
Begitu topik yang aman sudah habis, permainan
"jadi-jadian media massa" pun akhirnya dimulai. Ya, aku memang belum
menceritakan hal ini pada Hinano. Wajar saja kalau dia penasaran.
"Soal pernyataan cinta itu…… sebenarnya aku yang
duluan, tapi jadinya agak spesial."
"Spesial?"
"Ah, itu. Bagaimana ya mengatakannya."
Aku menoleh ke arah Kousei di sebelahku, dan dia
mengangguk kecil dengan wajah malu-malu.
"Saat anak ini sedang merasa sangat sedih dan
menderita, aku ingin menunjukkan bahwa aku adalah sekutu setianya. Jadi, ada
bagian di mana aku mengatakannya karena terbawa suasana."
Yah, sebenarnya aku sendiri sama sekali tidak berencana
menyatakan cinta pada hari itu. Namun, karena ingin menyelamatkan hati Kousei,
dan di tengah alur itu Kousei mengatakan hal yang terlalu membahagiakan……
perasaanku pun meluap, dan sebelum aku sadari, kata-kata itu keluar begitu
saja.
"Jujur saja, kami berdua sama-sama menangis
tersedu-sedu, jadi kami sama sekali tidak dalam kondisi tenang, ya."
Kousei menambahkan keterangan.
"Ah, tapi. Meskipun terbawa suasana, isi kata-kataku
adalah kejujuran yang paling jujur."
"Soal itu, ya. Aku mengerti. Aku benar-benar
sangat bahagia…… sangat bahagia……"
Saat dipandang dengan mata yang sendu itu, perasaanku
saat itu bangkit kembali, dan tanpa sadar tatapanku tertuju ke bibirnya. Secara
alami, wajah kami pun mendekat……
"Hinano, itu masih terlalu dini untukmu."
Terdengar suara itu, dan kami pun terkejut lalu
menjauhkan diri. Saat menoleh, ternyata Chika sedang menutupi mata Hinano
dengan tangannya, sementara Hinano berusaha menyingkirkannya dengan tangan
kecilnya.
"Aku juga mau lihat~ Adegan ciuman Seika."
Waduh. Aku melakukan kesalahan lagi. Padahal aku belum
punya keberanian untuk memperlihatkan adegan ciuman. Kami benar-benar terbuai
sampai sesaat melupakan keberadaan sahabat kami.
"……Yah, kalau dilihat dari kondisinya, hubungan
kalian sepertinya berjalan lancar. Perjuanganku tidak sia-sia."
Ucap Chika setengah bercanda. Memang benar, aku
benar-benar merepotkannya.
"Oh iya soal itu. Aku dan Kousei sangat berterima
kasih pada Chika. Bagaimana kalau kita pergi berkemah kapan-kapan? Biar kami
yang bayar bagian Chika."
"Wah! Berkemah! Ayo, ayo!"
Chika bersemangat. Syukurlah, dia terlihat senang. Tapi
kemudian, dia melihat ke luar jendela.
"Tapi, mungkin lebih baik kalau cuacanya sudah
sedikit lebih sejuk. Akhir Agustus atau musim gugur pun tidak masalah."
Dia mulai bicara soal kenyataan. Yah, memang benar,
cuacanya sedang panas sampai taraf yang membahayakan nyawa. Meskipun ada
kemungkinan sisa panas di bulan September masih parah.
"Sebagai permulaan, kalau mau berterima kasih,
ajarkan kami itu. Chigiri-e (seni menempel kertas), kan?"
Ah, benar juga, sempat ada pembicaraan soal itu.
"Tentu saja. Persiapannya cepat, jadi mari kita
lakukan besok saja."
Kousei langsung menyetujuinya, dan rencana untuk besok
pun jadi.
Waktu yang menyenangkan berlalu begitu cepat, dan acara
pun berakhir. Aku mengantar Chika pulang, dan Kousei mengantar Hinano.
Setelah itu, aku berciuman perpisahan dengan Kousei dan
kembali ke rumah. Saat aku tiba, Mama baru saja menyelesaikan persiapan makan
malam dan baru saja duduk di sofa.
"Selamat datang. Apa sudah selesai dengan
Kousei-kun?"
Mama sepertinya mengira hubungan kami yang baru terjalin
ini akan membuat kami sulit berpisah dan membutuhkan waktu lebih lama.
"Ya, tidak apa-apa. Besok juga akan bertemu
lagi."
Kami sudah berteman cukup lama, dan meskipun butuh waktu
untuk menjadi teman yang resmi, selama masa itu kami sudah cukup sering
bersentuhan fisik, jadi kurasa kami lebih mampu menahan diri dibandingkan
pasangan baru lainnya. Yah, kalau dia ada di sini sekarang, tentu saja aku
ingin memeluknya lagi.
"Selain itu……"
Mama yang sedang duduk di sofa mencari remote TV,
menghentikan gerakannya dan menatapku. Entah mengapa, dia mungkin merasakan
suasana serius yang akan kusampaikan.
"Meskipun sekarang aku tidak terburu-buru, aku
berniat untuk bersamanya selama bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun ke
depan."
Itu hampir terdengar seperti pernyataan pernikahan. Aku
merasa mungkin terlalu dini mengatakannya di hari yang sama saat melaporkan
hubungan kami.
……Kira-kira apa jawaban Mama?
Apakah dia berpikir bahwa seorang anak yang belum terjun
ke masyarakat dan belum tahu gelombang kehidupan sedang membicarakan idealisme
yang naif? Dan sebenarnya, itu mungkin benar. Mungkin akan datang hari di mana
kita tidak bisa hanya mengandalkan "rasa suka". Atau mungkin akan
terjadi situasi di mana "rasa suka" itu goyah. Meskipun aku mungkin
bisa bertahan, mungkin saja perasaan pasanganku akan menjauh.
Namun. Saat ini, aku sangat yakin. Perasaanku bukan jenis
yang lemah, yang kalau hilang bisa digantikan dengan yang lain.
"…………Begitu, ya. Rasanya silau sekali."
Mama mengatakan sesuatu yang berbeda dari semua kata yang
kubayangkan. Wajahnya terlihat kesepian. Aku terkejut melihatnya karena tampak
sama seperti saat keputusan perceraiannya dengan Papa diumumkan. Detik
berikutnya, Mama tersenyum lembut.
"Seika. Kamu tidak apa-apa dengan itu."
Mungkin baru kali ini dia memanggilku "kamu"
(dengan sebutan Anata yang spesial). Itu menunjukkan bahwa dia
menghormatiku sebagai individu, dan memberikan kata-kata itu padaku. Aku bisa
merasakannya secara intuitif. Mama duduk bersila di sofa dan menatapku dari
depan. Aku pun memperbaiki posisi dudukku.
"Hidup ini terasa panjang tapi sebenarnya singkat.
Dalam hidup itu, sebenarnya tidak banyak orang yang bisa membuatmu berpikir
ingin menikah atau ingin bersamanya sampai mati. Bahkan, bisa menemukan satu
orang saja sudah terhitung beruntung."
Ya, mungkin memang begitu. Lagipula, tidak semua orang
yang ditemui bisa menjadi objek asmara.
"Banyak orang di dunia ini menikah hanya karena rasa
nyaman, karena usia pernikahan sudah mendesak, atau karena level sosial yang
dirasa setara."
Entah karena dia memikirkan seseorang secara spesifik
atau tidak, Mama menatap ke ruang kosong sejenak.
"Tapi……
kamu sudah menemukannya. Cinta yang sejati, bukan karena kompromi atau
kalkulasi."
Tentu saja, ada kasus di mana cinta sejati tumbuh saat
menjalani kehidupan bersama meskipun awalnya hanya kompromi. Tapi, aku menolak
rute itu. Jika diibaratkan dengan contoh universitas yang pernah kuberikan pada
Kousei, aku tidak butuh pilihan selain pilihan pertamaku.
"Jalani terus, Seika. Ikuti kata hatimu."
Mama menyipitkan matanya, seolah menatap sesuatu yang
sangat silau.
"Mama juga."
"Hm?"
"……Tidak ada apa-apa. Terima kasih. Aku akan selalu
menghargai Kousei. Dan aku akan membiarkan diriku dihargai. Aku akan
berusaha."
Mama mengangguk dengan lembut. Dia mungkin paham apa yang
sebenarnya ingin kukatakan.
……Mama juga, jangan menyerah soal Papa. Jalani terus
hubungan itu.
Aku menyimpannya dalam hati, kata-kata yang tidak sanggup
kuucapkan.
Tetapi, ini membuatku kembali merenung.
Benar juga. Hubungan kami tidak berakhir hanya karena
kami sudah menjadi sepasang kekasih. Kami harus terus melanjutkan hubungan ini.
Untuk itu, menurutku diperlukan usaha terus-menerus. Menghargai, dan dihargai.
Kalau hanya untuk waktu singkat mungkin mudah, tapi untuk selamanya pasti akan
sangat sulit.
Nyatanya, Mama dan Papa tidak bisa melakukannya. Sekarang
pun hubungan mereka sudah hampir hancur. Menjadi kekasih atau menjadi
suami-istri bukanlah garis finis yang menjamin segalanya. Justru mungkin itu
adalah titik awal di mana garis finisnya tidak terlihat. Betapa beratnya.
Namun, meskipun begitu, aku tidak merasa putus asa. Tiga bulan sejak aku bertemu kembali dengan Kousei. Kami saling mencintai, saling membantu, dan saling tertawa. Kami akan melanjutkannya. Menjalani perasaan ini, terus menyalakan cinta, dan berjalan bersama sampai ke garis finis yang tak terlihat itu.



Post a Comment