〈1〉
☆☆☆
"Mama!?"
Aku
bergegas lari ke bawah, ke tempat Mama yang terjatuh. Ujung
kakiku menyentuh sesuatu yang keras. Sepertinya itu botol minum kosong yang
terlempar karena tersepak, lalu berguling dan naik ke atas karpet. Aku bahkan
tidak sempat melihatnya, aku hanya fokus pada satu hal.
"Mama! Mama!"
Aku sampai di sisinya dan mencoba mengguncang
bahunya...... lalu tanganku berhenti tiba-tiba. Benar
juga, bukannya tidak baik memindahkan orang dalam kondisi seperti ini?
Eh, lalu aku harus bagaimana? Denyut nadi? Napas? Aku
harus memeriksanya. Tapi, kalau ternyata sudah berhenti? Apa yang harus
kulakukan?
Kepalaku terasa kosong melompong.
Tepat saat itu.
"Ugh,
ugh..."
Tubuh
Mama bergerak. Seperti sedang melakukan push-up, dia mencoba menopang
tubuh dengan tangannya untuk bangkit.
"Mama! Apa tidak apa-apa kalau bergerak?"
"......Aku cuma merasa pening sebentar. Tidak
apa-apa."
Syukurlah. Kesadarannya juga masih jernih.
Setelah itu, aku membantu Mama berdiri dan mendudukkannya
di lantai. Dia bisa menjawab dengan jelas, dan dia sendiri bilang tidak ada
keanehan pada tubuhnya.
Begitu merasa sedikit lega, air mataku pun tumpah. Namun
tak lama kemudian,
"Aku harus pergi kerja."
Mama mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Tidak,
dia bahkan tidak cuma bicara, dia mulai mengerahkan tenaga pada kakinya,
mencoba untuk berdiri.
"Tunggu, ti-tidak boleh! Bisa saja Mama mengidap
suatu penyakit!"
"Tidak apa-apa. Kamu terlalu berlebihan."
Aku tidak mengerti kenapa dia bisa seoptimis itu!
Terkadang sifat kuat Mama seperti ini memang menyelamatkanku, tapi kuharap dia
bisa melihat waktu dan situasinya.
Tidak, tenanglah. Kalau aku ikut emosional, aku tidak
akan bisa menghentikannya. Saat seperti ini, aku harus berpikir tenang seperti
Kousei.
......Ya, benar. Aku harus bicara begini.
"Kalau Mama memaksakan diri lalu pingsan di tempat
kerja, kan memalukan? Belum lagi Mama malah merepotkan orang lain."
Sebenarnya aku tidak ingin bicara begini. Tapi untuk
orang yang mementingkan pandangan orang lain dan punya harga diri tinggi
seperti Mama, cara ini kemungkinan besar paling ampuh.
Faktanya, efeknya terasa instan; dia mulai mengerang
kecil sambil berpikir. Sekaranglah saatnya untuk mendesak.
"Mama kan sudah masuk kerja tanpa bolos selama masa
sibuk sampai kemarin."
"......"
"Untuk sementara, coba istirahat dulu, nanti kita
pikirkan lagi?"
"......Baiklah."
Meskipun nadanya terdengar sedikit merajuk, setidaknya
dia setuju. Tanpa sempat menarik napas lega, aku segera berpikir. Selama waktu
ini, aku harus menyiapkan rencana untuk membawanya ke rumah sakit supaya dia
tidak bisa kabur.
Tapi, itu mustahil kalau cuma sendirian. Kalau aku bilang
mau panggil ambulans, Mama pasti akan menolak mentah-mentah. Jadi, aku harus
memanggil taksi sampai ke bawah apartemen...... ah benar, aku juga harus
mencari rumah sakit. Lalu, aku harus menelepon tempat kerjanya, atau perusahaan
penyalur tenaga kerjanya, ya?
Hal-hal yang harus kulakukan berputar-putar di kepalaku,
dan bebannya perlahan menghancurkan hatiku. Tiba-tiba, aku menyadari ujung
jariku sedikit gemetar.
Aku menyuruh Mama untuk terus beristirahat, lalu kembali
ke kamarku. Aku
meraih ponsel di atas meja...... dan wajah Kousei-lah yang pertama kali
terlintas di pikiranku. Pacar yang kubanggakan, yang meski terlihat tidak bisa
diandalkan, tapi selalu siap membantu saat benar-benar dibutuhkan.
"......Halo."
Setelah
dua kali nada sambung, terdengar suara Kousei yang baru bangun tidur. Mendengar
betapa polosnya suaranya, air mata yang tadi sudah kuhapus kini kembali
mengalir.
"Seika-san?"
"......Kousei."
Mendengar
suaraku yang menangis, aku tahu suasananya berubah meski hanya lewat telepon.
"Ada
apa?"
Suaranya
rendah dan tenang.
"Mama......
Mama jatuh pingsan."
"Bagaimana
dengan ambulans?"
Padahal
kupikir dia akan lebih terkejut, tapi Kousei tetap tenang. Mungkin karena
telepon pagi-pagi dan suaraku yang menangis, dia sudah punya firasat.
"Sekarang
sudah tenang. Kesadarannya juga jernih. Tapi, aku takut kalau dia
menolak."
"......Aku mengerti. Untuk sementara, aku akan
segera ke sana."
Mendengar kata-katanya, aku merasa lega lebih dari yang
kubayangkan. Kousei akan datang. Meski dia bukan dokter atau apa pun, hanya itu
saja sudah membuat beban berat di dadaku terasa lenyap seketika.
"Seika-san, selama menunggu, tolong perhatikan
kondisi Reika-san baik-baik. Jangan diberi rangsangan apa pun. Lalu, kalau
kondisinya tiba-tiba berubah, jangan ragu untuk panggil ambulans."
"U-un."
"Aku akan segera ke sana dalam 10 menit!"
Hanya itu yang dia katakan, lalu Kousei menutup
teleponnya.
Aku bergegas kembali ke ruang tamu dan tetap berada di
sisi Mama. Wajahnya terlihat biasa. Denyut nadinya tidak tampak tidak teratur.
Fokus matanya pun tepat.
......Aku bisa mengamati kondisinya lebih tenang daripada
tadi. Kata-kata Kousei ada pengaruhnya. Aku merasa betapa kuatnya dukungan itu,
seolah dia sudah ada di sini untuk mendampingiku meski sebenarnya belum.
"Mama......"
"Tidak apa-apa. Kalau aku istirahat, nanti juga
membaik."
"Mama libur kerja hari ini, ya?"
"......"
"Mama."
"......Ya, mungkin begitu. Mau bagaimana lagi."
"Lalu, sebenarnya aku ingin panggil ambulans."
"Terlalu berlebihan! Aku tidak mau. Nanti
seisi apartemen tahu, kan!"
Memangnya kenapa!? Aku hampir saja berteriak, tapi
kutahan kuat-kuat. Jangan beri rangsangan. Kata-kata Kousei kembali terngiang,
dan aku berhasil menahannya. Membahas ambulans ternyata memang tidak boleh. Itu
hanya akan membuatnya bersemangat secara sia-sia.
"Tapi ayo kita ke rumah sakit? Bisa saja ini gejala
penyakit."
"......"
"Mama."
Mama memalingkan wajahnya dariku seolah hendak melarikan
diri.
"Masahide-san apakah......"
"Eh?"
"Hmm, tidak, tidak apa-apa. Katanya mau ke rumah
sakit, tapi kita kan harus cari Unit Gawat Daruratnya dulu......"
Saat Mama bicara sampai di situ, tiba-tiba bel pintu
berbunyi. Aku bergegas lari ke arah interkom. Air mataku hampir
jatuh lagi. Dia sudah datang. Kulihat jam, sudah sekitar delapan menit sejak
tadi. Aku tidak menyangka dia benar-benar datang bahkan belum sampai 10 menit.
"Kousei!"
"Maaf membuatmu menunggu."
Kousei luar biasa. Dia
terlihat seperti karakter hebat.
Aku segera menekan tombol buka kunci dan membiarkan
Kousei masuk.
"Kousei-kun, kamu panggil dia?"
"Un. Dia datang secepat kilat setelah aku
telepon!"
Suaraku meninggi karena gembira. Melihatku yang seperti
itu, Mama tersenyum sedikit sedih. Nama "Masahide" yang tadi sempat
terucap oleh Mama. Seperti halnya Kousei yang menjadi pahlawan bagiku, bagi
Mama......
Tidak, lupakan itu dulu.
Aku menyambut Kousei yang sudah naik ke lantai tujuh. Dia pasti datang dengan terburu-buru. Rambutnya berantakan karena
bangun tidur, dan penampilannya dengan kaus belel serta celana sweatpants......
mungkin dia bahkan belum sempat ganti baju tidur.
"Kousei!"
Meski begitu, bagiku dia adalah rekan yang andal dan
kekasih tercinta yang bersedia menghadapi masalah sulit ini bersamaku.
Saat aku tak sengaja memeluk dadanya, dia mendekap
tubuhku dengan lengan yang kuat. Hanya itu saja sudah membuatku merasa tenang
kembali. Tangan yang melingkar di kepalaku mengusap rambutku dengan lembut.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja."
Setelah menikmati pelukan itu selama sepuluh detik penuh,
Kousei mendorong bahuku dengan lembut.
"Jadi......
bagaimana kondisi Reika-san?"
"Ah,
un. Kesadarannya jernih, dan sepertinya dia tidak merasa sakit."
Aku
masuk ke ruang tamu sambil menjelaskan kondisinya. Ternyata
Mama sedang duduk sambil memegang hidungnya.
"A-apa
yang terjadi!?"
"Jangan
teriak. Hidungku...... cuma terbentur saja."
Benar
juga, dia tadi jatuh telungkup dengan keras, mungkin tangannya tidak sempat
menahan. Jadi wajahnya yang terbentur. Tadi tidak apa-apa, tapi sepertinya
hidungnya mulai berdarah.
Saat
itu, Kousei melangkah melewatiku dan mendekati Mama dengan sigap. Di tengah
jalan, dia mengambil empat lembar tisu dari kotak tisu, lalu berjongkok di
sampingnya.
"Sebaiknya
jangan menengadah. Bisa saja ada sesuatu di dalam otak."
"Aduh, Kousei-kun juga jangan berlebihan."
Mama mencoba tersenyum, tapi karena melihat ekspresi
serius Kousei, dia menarik kembali senyumnya dan menuruti perintah itu. Dia
menempelkan tisu yang diberikan ke hidungnya untuk menyerap darah.
Tepat saat itu, ponsel Kousei berdering. Dia mengangkatnya dalam satu nada dering,
"Halo. Un. Un. Aku mengerti, terima kasih."
Dia mengakhiri percakapan singkat itu.
"Ada rumah sakit dengan UGD yang reputasinya bagus
di dekat sini. Sebelum keluar rumah, aku sudah minta tolong Ibu untuk
menghubungkan mereka."
"Eh?"
"Itu rumah sakit ramah yang menyarankan kita untuk
datang bahkan untuk kekhawatiran kecil sekalipun. Bahkan saat paman saya dibawa
karena ada kacang tersangkut di lubang hidungnya, mereka menanganinya tanpa
sedikit pun mengejek."
Itu luar biasa. Benar-benar menenangkan. Lagipula,
paman Kousei itu......
Sambil berpikir begitu,
"Halo. Ya, saya ingin pesan satu taksi sekarang.
Alamatnya di Distrik Higashi......"
Kousei menelepon ke suatu tempat. Ke mana tepatnya, dari
isi yang terdengar sayup-sayup, itu adalah perusahaan taksi. Begitu ya, dia
mungkin mencarinya dengan cepat saat menunggu lampu merah lalu menyimpan
nomornya.
"Katanya taksi bisa datang dalam lima menit."
"......"
"......"
Baik aku maupun Mama sama-sama terkejut dengan kecekatan
dan persiapan tenangnya sampai tidak bisa berkata apa-apa. Situasi ini
sepenuhnya dikendalikan oleh Kousei.
"Reika-san, saya akan menggendong Anda, silakan
naik. Kalau Anda menggerakkan tubuh dan merasa sakit atau ada yang tidak
nyaman, segera katakan."
"A, ya, baik."
Mama bahkan sampai bicara dengan bahasa formal. Eh, luar
biasa. Ini benar-benar Kousei, kan? Orang yang sama dengan
si manja yang lembut dan menggemaskan itu...... kan?
Mengabaikan kebingunganku, Kousei menundukkan
pinggangnya di depan Mama sesuai ucapannya. Mama pun
melingkarkan tangannya di leher Kousei untuk naik, dan setelah memastikan itu,
Kousei berdiri perlahan-lahan.
"Bagaimana? Posisi Anda sudah berubah, kan?"
"E, ya. Sepertinya tidak apa-apa."
Mendengar itu, Kousei menunjukkan ekspresi lega. Hanya
dengan melihatnya, aku tahu dia benar-benar mengkhawatirkan Mama dengan
sungguh-sungguh.
"Kalau begitu, mari kita berjalan perlahan.
Seika-san, tolong bawa tas Reika-san, lalu ambil sepatu dan buka pintu masuk
untuk menunggu."
"A, u, un."
"Ah, tunggu, kartu asuransinya?"
"Ada di dompet. Tidak apa-apa."
Kousei mengangguk sekali mendengar jawaban Mama dan
mulai berjalan. Luar biasa, dia benar-benar tenang. Bahkan soal kartu asuransi
pun dia ingat.
Ups. Aku tidak boleh melongo terus. Aku segera
bergerak seperti yang diperintahkan Kousei. Sambil
menahan pintu masuk dengan tangan, aku menunggu Kousei keluar. Tak lama
kemudian, saat mereka berdua sampai di lorong, aku menutup pintu.
"Seika-san, kuncinya?"
"Ah."
Aku buru-buru menguncinya. Saat menyusul mereka berdua,
giliran dia berkata,
"Seika-san, silakan pergi duluan untuk memanggil
lift."
"Ah! U, un."
Benar. Aku harus bertindak selangkah lebih maju. Aku
benar-benar tidak bisa bersikap tenang sama sekali. Sebaliknya, Kousei bisa
melihat situasi dengan sangat baik, seolah dia punya banyak mata.
......Tidak, aku akan menyesalinya nanti. Pokoknya,
aku harus bergerak sesuai instruksi. Maaf sekali, aku terpaksa menahan lift
untuk menunggu kedatangan Kousei yang menggendong Mama.
Saat sampai di lantai bawah, aku menemukan taksi hitam
dari balik kaca pintu masuk.
Saat kami mendekat, sopir membukakan pintu kursi
belakang. Kousei berjongkok membelakangi pintu. Mama pindah dari punggung
Kousei ke kursi.
Aku juga ikut masuk di sebelahnya, lalu Kousei duduk di
kursi penumpang. Begitu dia memberi tahu nama rumah sakit kepada sopir, taksi
pun berangkat. Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, taksi tiba di
tujuan.
Hasil pemeriksaan medis dan tes sederhana mendiagnosis
bahwa kondisi ini disebabkan oleh anemia dan kelelahan yang menumpuk. Kousei,
yang duduk di sampingku di bangku tunggu, memeluk pinggangku dengan lembut. Aku
menempelkan pipi di dadanya dan menangis sedikit.
Lalu, setelah menunggu sekitar satu setengah jam lagi.
Hasil pemeriksaan MRI yang dilakukan sebagai tindakan pencegahan juga
menyatakan tidak ada kelainan.
"Syukurlah. Syukurlah."
Kousei pun mengucapkannya dengan suara yang keluar dari
lubuk hatinya yang terdalam. Dia benar-benar mengkhawatirkan Mama dengan kadar
rasa cemas yang sama denganku. Dia anak yang baik. Mungkin karena merasa lega,
rasa sayang yang amat dalam padanya meluap-luap.
"Kousei, terima kasih, terima kasih banyak."
Kousei mengusap kepalaku dengan tangan satunya,
berlawanan dengan tangan yang memeluk pinggangku. Cara dia mengusap rambutku
seperti sedang menyisir, aku suka sekali. Aku tahu dia benar-benar
menyayangiku.
Tak lama kemudian, Mama kembali. Dia sudah mengganti baju
rumah sakitnya dengan pakaian pribadi.
"Maaf menunggu."
"Sudah tidak apa-apa?"
"Ya...... syukurlah aku memeriksakan diri. Aku
merasa sangat lega setelah tahu tidak ada apa-apa."
Mungkin sikapnya yang keras menolak rumah sakit tadi
karena dia merasa cemas. Karena kesadarannya sempat hilang walau sesaat, tentu
saja itu menakutkan. Tapi begitu dia diperiksa dan dinyatakan tidak ada
kelainan, meski terdengar plin-plan, dia bilang dia senang.
"Saya sudah menghubungi perusahaan penyalur
tenaga kerjanya."
"Terima kasih, Kousei-kun. Maaf sudah
merepotkanmu."
"Tidak apa-apa."
Kousei merendah, tapi justru itulah yang membuatku
berpikir dia memang sangat luar biasa.
"Kousei, kamu benar-benar sangat bisa
diandalkan."
"Betul. Maaf mengatakan ini, tapi aku sampai
berpikir, apa ini benar-benar Kousei-kun?"
Mama ikut menimpali sambil tertawa. Kousei hanya membalas dengan
senyum kecut.
Kami
duduk di sofa depan loket pembayaran menunggu antrean, dan saat nama kami
dipanggil, kami menyelesaikan pembayaran lalu pulang ke rumah.
Aku
mengajak Kousei untuk makan siang bersama, tapi dia menolak dengan halus,
bilang bahwa sebaiknya hari ini tidak usah membuat Mama merasa tidak enak hati.
Meski aku agak berat hati, kurasa dia benar. Lagipula Mama yang suka pamer itu
pasti akan berusaha terlalu keras kalau harus memasakkan makanan untuk Kousei
yang sudah berjasa, jadi kupikir itu keputusan yang tepat.
Mama,
yang akhirnya harus mengambil libur tidak terencana, langsung tertidur lelap
setelah makan siang. Dengan kelelahan karena kerja lembur dan rasa lega karena
kecemasannya soal kesehatan ternyata tidak terbukti, dia tidur dengan sangat
nyenyak.
Sedangkan
aku...... mungkin aku anak durhaka, tapi aku sudah ingin bertemu Kousei lagi.
Atau lebih tepatnya, sekarang setelah semuanya tenang, sosok Kousei yang keren
tadi terus terputar di kepalaku berulang-ulang tanpa henti.
Sejujurnya,
aku bahkan sampai berimajinasi hal-hal yang tidak bisa kukatakan dengan
kata-kata.
"Dia
benar-benar keren. Lagipula, Kousei memang ikemen (pria tampan),
kan."
Kalau
aku mengatakannya pada Hinano atau yang lainnya, mungkin mereka cuma akan
tertawa sinis, tapi wajah seriusnya tadi, ekspresi cemasnya demi Mama—kalau
bisa, aku ingin membingkai semuanya dan memajangnya untuk terus dipandangi.
"Yah,
karena kepribadiannya sudah yang terbaik, sebenarnya wajahnya bagaimana pun
tidak masalah sih."
Hah, aku menghela napas panjang. Ini benar-benar berat.
"Lagipula, mustahil sekali. Sampai kemarin saja,
setiap ada waktu luang, aku selalu bilang Kousei, Kousei. Hari ini aku dibuat
jatuh cinta lebih dalam lagi, apa itu diperbolehkan?"
Jujur saja, kalau tiba-tiba sekarang dia datang dan tanpa
basa-basi bilang "ingin melakukannya", bukannya menolak, aku mungkin
malah akan dengan senang hati menerimanya.
"Habisnya, bagaimana bisa ada pacar yang menelepon
sebelum jam enam pagi dan datang menemuiku dalam hitungan menit? Bagaimana bisa
ada orang yang menggantikanku yang sedang kebingungan dan melakukan segalanya
untuk orang yang kusayangi?"
Aku memeluk boneka Kousei di dalam dadaku dengan erat.
"Aku benar-benar tidak akan melepaskannya meski
sampai mati."
Aku jatuh cinta setengah mati. Aku suka. Aku benar-benar
suka. Dia keren dan bisa diandalkan, tapi dia juga lucu dan membuatku ingin
melindunginya. Dia
adalah sekumpulan daya tarik. Itu curang, benar-benar curang.
Aku berbaring miring di atas tempat tidur.
......Haruskah aku pergi membeli skin? Lagipula
hasil pendapatan Yuletube juga sudah masuk.
"Mungkin besok saja."
Begitu mengatakannya dengan lantang, wajahku makin terasa
panas. Gawat. Mungkin tingkat keronaanku sudah bisa membuatku ikut Tekalympic.
Saat itu.
Ponselku bergetar, memberitahu ada pesan dari Rain yang
masuk. Aku sudah melaporkan kejadian hari ini pada Chika dan Hinano, dan mereka
membalas dengan mendoakan kesembuhan Mama.
Jadi mungkin......
"Begitu rupanya. Syukurlah kalau tidak ada apa-apa.
Tapi lain kali, kalau ada kejadian seperti ini, tolong hubungi aku lebih
cepat."
Benar saja, itu dari Papa. Untuk sesaat, amarahku meluap.
Kalau aku menghubungimu lebih cepat, lalu apa yang bisa kamu lakukan? Berapa
lama waktu yang dibutuhkan dari Yokonaka sampai ke sini? Bahkan kalau kamu
datang setelah selesai bekerja, semuanya sudah selesai, kan? Kousei sudah
membereskan semuanya!
"............Fuu. Tenanglah."
Seperti halnya Mama, Papa juga bekerja keras untuk
menghidupi aku. Tidak adil kalau membandingkannya dengan Kousei yang masih
pelajar dan sedang libur musim panas.
Tapi
tetap saja...... tidak bisa terus-terusan berjauhan begini. Kalau seandainya
terjadi sesuatu pada Papa, kebalikan dari kejadian ini, kami juga tidak bisa
langsung datang, kan?
Hah, aku menghela napas panjang.
"Apa yang harus kukatakan pada Mama?"
Bagaimanapun, dia sudah menunjukkan rasa cemasnya. Tapi
sepertinya dia tidak berniat datang kemari untuk melihat kondisinya. Aku memang
sudah ditegur.
Pada saat itu, apa yang sebenarnya harus kukatakan pada
Mama yang memanggil nama Papa dengan penuh harap......
★★★
Keesokan harinya. Aku mengunjungi kediaman Mizoguchi
setelah diundang oleh Reika-san, lebih tepatnya oleh Seika-san.
Mereka tampak sangat berterima kasih, sampai-sampai aku
merasa malu.
Waktu itu sejujurnya aku sedang dalam kondisi tidak
sadar, atau mungkin karena adrenalin situasi darurat, sehingga situasi di mana
aku harus melakukan sesuatu itulah yang memicu kekuatan yang lebih besar dari
diriku yang biasanya.
Jika dalam kondisi normal, aku mungkin akan lebih
canggung.
Meski begitu, aku tidak mungkin menolaknya, jadi aku
datang kemari...... tapi. Entah kenapa, Seika-san sudah ada di lorong depan
kamar 707. Begitu melihatku, dia berlari ke arahku. Eh? Eh?
"Kousei~!"
Ini baru sekitar satu hari sejak kemarin pagi, tapi apa
dia tidak terlalu merindukanku? Saat aku sedang memikirkan komentar tajam
untuknya, Seika-san sudah mendekat dengan cepat, dan tak lama kemudian dia
sudah di depan mataku. Lalu, dia melompat ke dadaku.
"Woa. Ada apa?"
Aku mundur beberapa langkah untuk menahan tubuh
kekasihku.
"Hmm, entahlah. Entah kenapa."
Aku tidak mengerti maksud "entah kenapa" itu.
"Kousei,
cium, ayo cium."
"Sebentar, ini masih di lorong."
Kami berada tepat di depan kamar 703. Aku terus
mendorong tubuh Seika-san perlahan sambil memeluknya dengan ringan. Rasanya
seperti sedang bergulat sumo.
"Ya~"
"Memangnya kenapa?"
Hari ini dia sedang dalam mode manja kekanak-kanakan
yang membuat karakternya hancur total. Entah sudah berapa lama sejak terakhir
kali dia seperti ini.
Seingatku, mungkin sejak hari pertama aku menjemputnya di
rumahnya dulu, atau sekitar hari berikutnya.
Seika-san memintaku untuk menciumnya sambil
melompat-lompat kecil. Karena dia tampak hampir kehilangan keseimbangan, aku
refleks menaruh tanganku di bawah bokongnya yang sedang melompat, lalu
menggendongnya ke atas.
"Ah."
Seketika itu juga, tubuh kami menjadi sangat rapat
seperti sedang menggendong anak kecil. Tapi tentu saja, Seika-san bukan anak
kecil.
Lenganku menyentuh langsung kulit bagian dalam pahanya
yang tersembunyi di balik celana pendek.
Telapak tanganku bahkan mencengkeram bokongnya yang
terbalut kain, sementara bagian paha dalamnya terasa langsung di kulitku.
Keduanya terasa begitu lembut sampai-sampai membuat akal sehatku meleleh.
"Kousei~"
Seika-san terus menekan tubuhnya lebih dalam ke
arahku...... karena menganggap situasi ini berbahaya, aku berlari menyusuri
lorong dengan gaya lari ninja, meminimalisir guncangan pada kaki.
Kamar 707 sudah sangat akrab bagiku. Sepertinya pintunya
tidak dikunci, karena kenopnya berputar dengan mudah saat aku memutarnya.
Sekalipun Seika-san punya berat badan normal, tetap saja
menggendongnya dengan satu tangan terasa berat.
Aku berusaha sekuat tenaga sambil menahan pintu dengan
punggungku agar tidak mengenai dirinya, lalu meluncur masuk ke ruang masuk.
"Kamu berusaha supaya kepalaku tidak terbentur.
Lembut sekali. Aku suka."
Setelah mengatakan itu, dia langsung membungkam bibirku. Ti-tidak, jangan. Otakku serasa mendidih. Tanganku masih merasakan
tekstur paha dan bokongnya.
Bagian bawah perutku pun tertekan oleh area
selangkangannya, dan di atas semua itu, aku bisa merasakan bibirnya yang
lembut......
"Seika~ apakah Kousei-kun sudah datang~?"
Suara yang menjadi penyelamat. Aku segera menurunkannya
ke atas lantai kayu dengan penuh rasa syukur. Dia menatapku dengan wajah tidak
puas.
Aku mengusap kepalanya dengan lembut, lalu menyapa
Reika-san di ruang tamu, "Halo~ maaf mengganggu."
Sejujurnya......
tadi sangat berbahaya. Bagian "itu" milikku sudah benar-benar
mengeras. Seika-san tidak terlalu paham soal hal-hal pria seperti itu, jadi
kurasa dia tidak sadar. Setidaknya, aku berharap begitu.
"............"
Tidak, tunggu. Apa dia menatap ke bawah!? Pandangannya
benar-benar tertuju ke bawah, dan tidak bergeser sedikit pun. Itu namanya
menatap tajam.
Aku diam-diam menjepitnya di antara paha bagian dalam
agar tidak terlihat menonjol. Tak lama kemudian, Seika-san mengangkat wajahnya.
Meski dia tersenyum malu-malu, dia menatapku dari bawah.
Pesona seksinya yang kuat membuat kepalaku pening.
"A-ayo pergi. Reika-san sedang menunggu."
Aku memaksakan diri mengubah topik dan mendorong
punggungnya. Bahkan punggungnya yang ramping itu sangat memancarkan aura
kewanitaan yang kental, membuatku semakin membungkuk ke depan.
......Sial, aku ceroboh. Sampai saat ini, aku selalu bisa
menahan nafsu seperti ini di depan Seika-san. Ah, tunggu, bukankah aku pernah
tidak sengaja menyentuh dadanya saat insiden dugaan lolicon dulu?
Kalau dipikir-pikir, berarti pertahananku memang
perlahan-lahan mulai runtuh.
Aku pernah berjanji akan mengatakannya sendiri jika aku
tidak bisa lagi menahan rasa sayang pada Seika-san. Meski sudah berjanji
begitu, sejujurnya, aku hampir kalah oleh nafsu murni sebelum janji itu
terwujud.
Aku jadi sadar bahwa aku juga seorang pria. Ini adalah
hal yang sering kurasakan selama berhubungan dengan Seika-san, tapi kali ini
rasanya jauh berbeda dari sebelumnya. Secara halus, bisa dibilang aku bahkan
punya keinginan untuk langsung menerkamnya saat ini juga.
Tapi, tidak boleh. Karena ini adalah momen yang akan
diingat seumur hidup oleh kami berdua, aku harus memperlakukannya dengan sangat
hati-hati.
Mungkin aku akan ditertawakan lagi karena menjadi seorang
romantis, tapi aku ingin menciptakan suasana yang sempurna dan menjadikannya
pengalaman pertama yang indah.
Karena itulah, ini masih terlalu dini. Menerkamnya secara
mendadak dan melukainya adalah hal yang mutlak dilarang. Di hari dengan kontak fisik seintens hari ini, aku harus berjuang
mati-matian untuk menahan diri.
Dengan tekad baja, aku terus memikirkan hal itu
sambil mencoba menekan "serigala" di dalam diriku.
☆☆☆
Aku duduk di sofa sambil menunggu masakan Mama selesai.
Padahal aku sangat berterima kasih pada Kousei atas kejadian ini dan ingin
membantu memasak sebagai ucapan terima kasih. Tapi Mama bersikeras ingin
melakukannya sendiri, jadi aku tidak bisa membantah.
"Sebentar lagi selesai, tunggu ya."
"Ah, iya. Terima kasih banyak."
Kousei menundukkan kepala dengan sopan sambil tetap
duduk. Aku melirik sekilas ke arah di antara kedua kakinya.
Sudah tenang rupanya. Aku tidak terlalu paham soal
fisiologi pria, tapi ternyata hal itu bisa mengecil dengan cukup cepat, ya.
Tadi, perasaanku meledak dan aku kembali bersikap manja
seperti anak kecil, tapi di tengah-tengah itu aku menyadarinya. Kousei—bagian
"itu"—sedang tegang.
Setelah menyadari hal itu, ketakutan atau keragu-raguanku
justru lenyap, dan aku malah jadi semakin ingin maju. Mungkin itu insting.
Demi bisa bersatu dengan pria yang kucintai, rasa
malu—yakni akal sehat—akhirnya terkubur. Insting reproduksi benar-benar luar
biasa.
Namun, begitu gelombang itu mereda, akal sehat sepertinya
mulai kembali. Maksudku, situasinya jadi seperti ini.
"......"
"......"
Memalukan sekali. Dan canggung.
Sepertinya, Kousei juga sadar bahwa aku sudah kembali
tenang. Tapi karena merasa tidak enak untuk membahasnya, dia jadi diam seribu
bahasa.
Ini semua salah Kousei, tahu. Dia membuat wanita yang
sudah jatuh hati padanya semakin tergila-gila, tapi dia sendiri tidak mau
mengambil tindakan.
Malah, jangan-jangan dia bahkan tidak sadar kenapa aku
sampai kehilangan akal sehat hingga bertingkah seperti anak kecil?
Dia mungkin berpikir, "Aku hanya melakukan apa yang
bisa kulakukan," dan soal hubungan intim, dia pasti terlalu memikirkan
suasana atau waktu yang tepat. Yah, aku senang dia peduli, tapi aku sudah tidak
sabar dan rasanya ingin menyerangnya duluan.
"Nah, sudah selesai. Seika, tolong bawa ini ke
sana."
Suara ceria Mama menghapus suasana canggung tadi. Saat
aku berdiri, Kousei juga ikut berdiri.
"Tidak, tidak perlu, Kousei-kun duduk saja."
"Eh? Tapi tidak enak rasanya."
Ah, anak ini benar-benar tidak paham. Dia
tidak tahu seberapa besar rasa terima kasih Mama dan aku kepadanya.
Aku berjalan ke depan Kousei dan menekan bahunya dengan
lembut agar dia duduk kembali.
Kemudian, aku langsung menuju dapur. Aku bolak-balik
dengan tangkas mengantarkan piring-piring berisi masakan yang sudah jadi.
Kousei akhirnya menyerah dan duduk manis di sofa sambil memperhatikan makanan
yang dihidangkan.
"I-ini mewah sekali, ya."
Meski masih terbawa suasana canggung tadi, dia mencoba
memulai percakapan. Aku mengangguk dan berkata,
"Mama dan aku sangat berterima kasih padamu,
tahu."
Aku menekankan bahwa perlakuan VIP ini adalah hal yang
wajar.
"Betul sekali~ kamu datang secepat itu di jam
selarut itu, bahkan mengatur segalanya dari rumah sakit sampai taksi."
Mama, yang membawa piring besar terakhir, meletakkannya
di tengah meja lalu duduk di sebelahku.
"Ahaha, tapi mungkin aku sedikit berlebihan,
ya."
"Apa yang kamu bicarakan? Itu kan pemikiran setelah
kejadian."
Aku sedikit kesal. Dia terlalu meremehkan apa yang sudah
dilakukannya. Bahkan dia berpikir seolah-olah dia menilai dari hasil akhirnya.
"Lagipula, kalau bicara soal berlebihan, aku yang
meneleponmu jam enam pagi cuma karena anemia saja jauh lebih berlebihan,
kan?"
"Betul sekali. Kousei-kun, bisa mengatakan 'ternyata
berlebihan' setelah semuanya berakhir adalah hal yang sangat membahagiakan.
Tenaga dan uang yang dikeluarkan untuk itu, di depan kesehatan, hanyalah hal
sepele."
Itu adalah kebaikan Kousei, sekaligus kelemahannya.
Kerendahan hati yang tidak mau menyombongkan
pencapaiannya sendiri itu, kalau berlebihan, justru membuat orang di sekitarnya
merasa kesepian.
Padahal untuk kejadian seperti ini, aku ingin dia berdiri
tegak dan menerima rasa terima kasih kami dengan bangga.
"Lagipula Mama, awalnya Mama menolak pergi ke rumah
sakit, kan? Tapi setelah Kousei datang, Mama jadi patuh."
"Sebentar, Seika!"
Aku sedikit membalasnya. Aku kesal karena saat aku yang
membujuknya, dia sama sekali tidak menggubris, tapi dia justru patuh pada
ucapan Kousei.
Kousei tertawa lepas. Kami pun ikut tertawa bersamanya.
Setelah lima belas menit menghabiskan hidangan, Mama yang
selesai beristirahat mulai mencuci piring. Di
tengah suara air mengalir, samar-samar terdengar gumaman lagu kecil.
"Entah kenapa, Reika-san terlihat sangat
bersemangat, ya?"
Kousei berbisik padaku. Suasana canggung setelah aku
menyadari "bagian itu" milik Kousei tadi sudah sirna ditelan suasana
kekeluargaan, dan sekarang semuanya kembali normal. Ada rasa sayang sekaligus
lega.
"Sebenarnya..."
Setelah aku tidak tahu harus bicara apa kepada Mama
kemarin, karena merasa lelah, aku nekat mengirim pesan balasan ke Rain agar
Papa bicara langsung pada Mama. Tak disangka, ternyata Papa benar-benar
menelepon Mama.
Saat aku menjelaskan hal itu, Kousei tersenyum getir,
"Reika-san... ternyata dia masih mencintainya,
ya."
Dia menatap punggung Mama yang sedang mencuci piring.
"Un... saat dia pingsan tadi, dia tanpa sadar
memanggil nama Papa."
"Begitu, ya."
Selain itu, fakta bahwa Papa menelepon berarti dia juga
masih...
Kekhawatiranku bahwa Papa mungkin akan membuang Mama
ternyata hanyalah firasat buruk belaka. Masih ada harapan. Pasti ada.
"Karena itu, aku berpikir bisakah kita memanggil
Papa ke sini pada peringatan pernikahan nanti?"
Kousei menoleh ke arahku. Matanya terlihat penuh semangat
dan kuat. Aku berpikir lagi betapa aku sangat mengandalkannya dan jatuh cinta
padanya, dan tentu saja, itu adalah hal yang sangat kuinginkan.
★★★
Sesampainya di rumah, aku mandi dengan santai. Wangi
parfum yang menempel dari Seika-san perlahan menghilang. Hari ini benar-benar
melelahkan.
Dengan pakaian yang sedikit terbuka dan terus menempel
padaku seperti tadi, bahkan pria tipe herbivora sepertiku pun pasti akan
terbangkitkan instingnya. Kuharap mulai besok dia bisa lebih tenang... kan?
Selain perkembangan hubunganku dengan Seika-san, ada satu
masalah lain yang muncul. Masahide-san dan Reika-san.
Jujur saja, dalam posisiku sebagai pacar putrinya, aku
tidak tahu seberapa jauh aku boleh atau harus ikut campur... sulit untuk
menilainya.
Katakanlah dengan kasar, bagaimanapun juga aku adalah
orang asing. Ada kemungkinan mereka berpikir seperti itu. Untuk Reika-san, kami
sering berinteraksi, dan aku merasa sudah mendapatkan kepercayaannya melalui
kejadian ini. Tentu saja, aku tidak melakukannya demi niat tersembunyi seperti
itu.
Di sisi lain, Masahide-san baru sekali aku temui.
Lagipula, saat itu aku dan Seika-san bahkan belum berpacaran.
"Fuu."
Aku menggosok rambut yang sudah dicuci dengan handuk,
lalu melihat cermin kamar mandi. Wajahku tampak lesu. Yah, dari awal memang aku
jarang punya tampang yang terlihat tegas.
Rencana Seika-san untuk memanggil Masahide-san ke
apartemen di Sawamigawa pada hari peringatan pernikahan nanti. Tentu saja, aku
tidak menentangnya. Tapi kalau dia bisa datang dengan mudah hanya dengan satu
ajakan, mereka mungkin tidak akan berakhir dalam status pisah rumah sejak awal.
Namun di saat yang sama, memang benar seperti kata
Seika-san, masih ada harapan. Kalau mereka benar-benar sudah tidak peduli,
mereka tidak akan repot-repot menelepon meskipun terjadi sesuatu yang gawat.
Aku keluar dari kamar mandi, mengeringkan tubuh, lalu
memakai kaus dan celana sweatpants.
...Karena aku pergi ke rumah sakit dengan pakaian ini,
aku merasa malu setengah mati di tengah jalan. Meski rambut yang berantakan
karena bangun tidur sudah dirapikan Seika-san menggunakan sisir saat menunggu
tadi.
Begitu masuk ruang tamu, Ayah dan Ibu duduk berdampingan
sambil menonton televisi. Mereka tidak berpelukan erat seperti aku dan
Seika-san, tapi ada jarak yang pas di antara mereka. Rasanya seolah sudah hal
wajar jika suhu tubuh pasangannya berada di dekat mereka. Mungkin bagian luar
paha mereka saling bersentuhan.
"Ah, sudah keluar? Ayah mau masuk duluan?"
Sambil berkata begitu, Ibu mulai mendorong punggung
suaminya. Sebelum acara suspense jam sembilan dimulai, dia pasti ingin
segera mengirim Ayah ke kamar mandi. Meski diperlakukan begitu, kepercayaan dan
kasih sayang di antara mereka tidak pernah goyah. Bahkan sebagai anak, aku
yakin mereka akan saling melindungi meskipun harus mempertaruhkan nyawa.
"Hm? Kousei?"
Ibu menyadari aku sedang melamun menatap mereka berdua,
lalu bertanya lewat tatapan matanya, "Ada apa?"
Apa... yang harus kulakukan? Mereka adalah pasangan model
yang sukses menjalani hidup. Pasti, tidak, aku yakin kalau aku bertanya, mereka
akan memberikan saran yang bermanfaat.
Tapi, meski aku adalah pacarnya, apakah sopan untuk
mengoceh tentang masalah rumah tangga orang lain, apalagi dalam situasi yang
sangat sensitif... ah, benar juga. Asalkan bukan rahasia, tidak apa-apa, kan?
Bukankah kita pernah berjanji saat mulai berpacaran untuk selalu mendiskusikan
apa pun sebelum bertindak?
Aku meninggalkan kedua orang tuaku yang tampak penasaran
dan kembali ke kamar untuk menelepon Seika-san. Begitu aku menceritakan
pemikiranku, dia berkata,
"Itu bagus. Karena ada contoh nyata di dekat kita,
harusnya kita bisa menyadarinya lebih cepat."
Sejenak aku penasaran, bagaimana dengan orang tua
Dokuguchi-san atau Shigei-san? Tapi aku segera menepisnya, itu bukan urusanku
sebagai orang luar.
"Akan aku bicarakan ya."
"Un. Nanti ceritakan padaku juga, ya."
"Ya, tentu saja."
Meski singkat, kami mengakhiri percakapan itu. Aku segera
bergegas kembali ke lantai satu. Sepertinya Ayah sedang mandi, jadi Ibu
sendirian di ruang tamu.
"Ada apa? Mau teh?"
"Tidak, aku hanya ingin konsultasi."
Aku melirik televisi sekilas, acara suspense-nya
baru saja akan dimulai. Adegan pembukanya, ada pria yang ditusuk dari
belakang...
"Ah, ini? Tidak apa-apa, besok bisa nonton di
streaming kok."
Sesuai ucapannya, Ibu mematikan televisi. Dia tampaknya
langsung sadar kalau konsultasiku cukup serius. Wajahku terlihat sangat jelas,
ya? Aku meraba pipiku sendiri.
"Fufu. Aku mengerti, wajar saja. Aku kan
ibumu."
Sepertinya dia bukan cuma sadar aku punya masalah, tapi
juga sadar kalau aku bingung karena dia bisa menebak pikiranku. Aku benar-benar
tidak bisa mengalah darinya.
Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum
bicara.
"............Sebenarnya, orang tua Seika-san sedang
mengalami masalah."
Begitu saja, aku menceritakan kondisi keluarga pacarku
dengan sedikit rasa bersalah. Tentu saja, karena aku juga hanya mendengar dari
cerita Seika-san, aku hanya menyampaikan poin-poin pentingnya saja.
Selama itu, Ibu mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Tentang retaknya hubungan mereka karena kebijakan
pengobatan Seika-san delapan tahun lalu. Lalu tahun ini, permintaan Reika-san
yang dominan mengenai masa depan Seika-san, dan konflik yang memperparah
keretakan itu. Serta keputusan mereka untuk saling menjaga jarak.
Namun, harapan untuk mencairkan hubungan itu belum padam.
Karena itu, mereka berencana memanggil Masahide-san ke apartemen Seika-san pada
hari peringatan pernikahan nanti. Tentu saja itu mengandung arti
lebih dari sekadar "datang bermain".
Setelah mendengar semuanya, Ibu meletakkan tangannya
di dagu sambil berkata, "Hmm." Di arah pandangannya, sepertinya Ayah
sudah selesai mandi, dia berdiri dengan ekspresi yang sama seriusnya.
"Begitu ya... aku sebenarnya juga bisa memahami
perasaan Reika-san."
"Maksudnya?"
"Karena kalau sudah merasa tertinggal dalam
pendapatan atau merasa ada perbedaan dalam status sosial, pasti akan muncul
perasaan seperti itu."
Suami yang berpenghasilan cukup sebagai direktur, dan
istri yang bekerja sebagai ibu rumah tangga di toko yang menyatu dengan
perusahaan. Biasanya, aku tidak pernah memikirkan siapa yang lebih unggul atau
rendah di antara mereka berdua. Karena aku sadar,
"Ayah dan Ibu punya peran yang berbeda."
"Benar. Terima kasih Ayah sudah bekerja keras
mencari uang."
"Ibu yang mengurus rumah, anak-anak, dan di waktu
luang juga menjaga toko. Tidak ada yang bisa kulakukan selain berterima
kasih."
Ibu dan Ayah berkomunikasi menembus diriku yang berdiri
di tengah mereka.
"Meski sudah paham, bagi orang yang cenderung
melihat ke luar... mendengar ceritamu, sepertinya ibunya punya harga diri yang
cukup tinggi."
"Apakah itu artinya mereka bukan partner yang saling
mendukung, tapi justru menjadi rival untuk menentukan siapa yang lebih
unggul?"
"Yah, bisa dibilang begitu. Dan karena tidak bisa
mengungguli dalam hal penghasilan, dia berusaha mengurus rumah dan anak
sendirian. Lalu mulai melarang orang lain ikut campur..."
Jadi itu akar masalah dari insiden rumah sakit delapan
tahun lalu. Rasanya ini seperti cerita pembuktian identitas. Bukan pembagian
peran yang alami, melainkan pertahanan mati-matian atas peran sendiri. Tidak
ada ruang untuk kelonggaran atau perhatian di sana.
"Menurutku itu bukan karena ibunya orang yang
spesial, tapi bisa terjadi pada pasangan mana pun jika keseimbangannya sedikit
goyah."
Aku mencoba menggantinya ke posisiku dengan Seika-san.
Dalam hal penghasilan saat ini, aku kalah dari Seika-san.
Soal penampilan, apalagi. Karena aku terlalu sering manja akibat trauma itu,
jumlah bantuan mental yang kuterima mungkin seimbang.
...Eh? Apakah ada untungnya Seika-san berpacaran
denganku? Aku jadi memikirkan hal itu.
Belakangan ini kemampuan memasaknya juga meningkat, dan
kalau dia menyusulku dalam hal membuat sesuatu... kalau aku sampai
memikirkannya sampai ke sana... begitu ya. Rival untuk menentukan siapa yang
unggul. Aku jujur bisa mengerti psikologi yang membuat orang salah sangka
seperti itu.
Dalam situasi seperti itu, kalau ada satu bidang yang
dirasa tidak akan kalah, sudah pasti dia akan terpaku di sana. Bagi Reika-san,
status itu adalah "Istri yang baik dan Ibu yang baik". Jadi mungkin
itu alasan dia memonopoli urusan mengasuh anak.
"Rasanya... menyedihkan, ya."
Mungkin awalnya bukan rivalitas, melainkan keinginan
untuk melakukan yang terbaik demi pasangan. Tapi karena hasilnya sedikit, atau
karena pasangan justru lebih unggul, keraguan akan makna eksistensinya pun
muncul.
"Pernikahan itu... sulit."
Ayah bergumam. Mungkin, hanya karena aku tidak melihatnya
saat masih kecil, ada saat-saat di mana mereka berdua tidak bisa saling
mengerti. Tiba-tiba aku terpikir hal itu.
"Kousei."
Begitu namaku dipanggil, aku menatap wajah Ibu. Alisnya
tampak melengkung sedih.
"Jujur saja, kami juga tidak tahu apa yang harus
dilakukan agar orang tua Seika-san bisa berbaikan."
Ya, benar juga. Pasti setiap pasangan punya keseimbangan
dan cara penyelesaian masing-masing. Metode yang berhasil untuk orang tua tidak
menjamin akan menjadi jawaban bagi Reika-san dan Masahide-san.
"Tapi cuma satu."
"Eh?"
"Kalau nanti kamu tidak punya pilihan selain ikut
campur... gunakanlah anak sebagai tameng."
Ibu mengubah nadanya menjadi sedikit lebih ringan. Eh, maksudnya bagaimana? Aku
bingung.
"Maksudnya, jadikan alasan 'karena Seika-chan akan
sedih' sebagai poin utama dalam menyerang."
Menyerang... ini bukan perang. Tapi mungkin memang
harus menghadapinya dengan tekad untuk bertarung. Sekalipun hanya sebagai
pacar, jika aku berniat mencampuri urusan rumah tangga orang lain.
"Yah, setengahnya bercanda sih. Tapi setengahnya
serius."
"Eh,
begitukah."
"Maksud
Ibu begini. Kousei, berpikirlah tentang Seika-chan, tentang kebahagiaannya
sebagai prioritas utama, lalu bertindaklah berdasarkan hal itu."
Apakah
itu saja cukup?
"Tadi
Ibu bilang kami saja tidak tahu, kan? Kamu pun pasti tidak akan tahu. Dan
meski terdengar dingin, sebenarnya mendapatkan jawaban itu adalah tugas mereka
sendiri. Berusaha membimbing mereka bisa dianggap arogan, dalam arti
tertentu."
Jadi, Ibu menyimpulkan.
"Jika sudah sampai di titik itu, berikan semangat
agar mereka mencari jawaban demi Seika-chan."
Ku-kuat sekali. Tapi mungkin itu benar. Aku tidak mungkin
memberikan saran kehidupan pernikahan sebagai anak kecil yang minim pengalaman.
Kalau begitu, mungkin lebih jujur jika aku mengatakan, "Aku tidak tahu
soal pernikahan, tapi jangan buat orang yang paling kusayangi ini sedih."
"Soal pasangan itu, pada akhirnya semuanya
tergantung pada seberapa besar perasaan yang tersisa di antara mereka. Hanya
itu."
Ayah berkata dengan tenang.
Mungkin bukan soal aku anak kecil atau minim pengalaman,
melainkan karena tidak ada seorang pun yang bisa memberikan saran akurat atau
mendorong perubahan. Ini adalah hal yang bertolak belakang, tapi misalnya jika
ada orang yang menyuruhku putus dengan Seika-san sekarang, aku tidak akan
pernah melakukannya. Tidak peduli apakah orang itu adalah ahli cinta tingkat
tinggi atau anak yang lebih kecil dariku, itu tidak ada hubungannya.
"...Kousei. Apapun yang terjadi, lindungilah
Seika-san. Bahkan jika mereka berdua membuat pilihan yang tidak sesuai dengan
kehendaknya, kamu tetap harus berada di sisinya. Tetaplah menyayanginya. Bahkan
dalam skenario terburuk, bersiaplah untuk memberikan kasih sayang yang cukup
untuk kalian berdua."
Ayah yang biasanya tidak banyak bicara, sampai mengatakan
sejauh ini. Mungkin dia selalu memperhatikan, meskipun terlihat tidak peduli.
Dia sadar bahwa aku sudah memikirkan pernikahan dengan Seika-san dengan sangat
serius, dan secara tidak langsung dia memberitahuku untuk menjadi keluarga
baginya jika sudah saatnya tiba. Dia memberikan saran yang sangat berat.
"Jangan sampai salah menilai apa yang paling
berharga."
Ayah menutupnya dengan kalimat itu. Mungkin itu semacam
sikap dingin. Sikap seolah siap melepaskan Masahide-san atau Reika-san jika
sudah dirasa tidak bisa diselamatkan. Melakukan
itu demi melindungi hati orang yang paling berharga bagiku.
Dingin. Tapi di saat yang sama, aku rasa itu tidak bisa
dihindari. Karena pada saat orang tua membuat keputusan seperti itu, berarti
mereka sudah mengutamakan perasaan mereka sendiri daripada perasaan
anak-anaknya. Pihak yang lebih dulu bersikap dingin adalah orang tuanya.
Aku memang berpikir begitu, tapi tentu saja aku tidak
ingin Masahide-san dan yang lainnya berakhir seperti itu. Itu hanyalah skenario
terburuk. Aku berdoa agar situasi itu tidak pernah terjadi, dan di sudut
hatiku, aku masih berpikiran positif bahwa mereka berdua mungkin belum sampai
ke titik itu karena masih memiliki perasaan satu sama lain.
"Ayah... Ibu... terima kasih. Aku jadi menyadari
banyak hal. Akan kupikirkan lagi baik-baik sendiri."
Aku benar-benar bersyukur bisa berkonsultasi tanpa
harus merasa malu. Jika aku masih dalam kondisi dengan luka hati yang membeku,
mungkin aku tidak akan bisa melakukan ini. Sambil
kembali merasakan syukur pada Seika-san, aku pun kembali ke kamarku.
Begitu aku menelepon lewat Rain, Seika-san langsung
menjawab dalam satu nada dering. Cepat sekali. Namun sayangnya, aku tidak
mendapatkan ide revolusioner untuk memperbaiki hubungan mereka... atau lebih
tepatnya, aku menceritakan apa adanya bahwa tidak ada hal yang semudah itu di
dunia ini, meski merasa tidak enak hati.
"Hah, yah, ya sudahlah. Seandainya saja ada tips
bagaimana orang-orang seperti Yoshiki-san bisa rukun, tapi kalau Mama bisa
mempraktikkannya dengan jujur, tidak akan jadi sesulit ini dari awal."
"Yah, betul juga. Asumsinya adalah keakraban seperti
Ayah dan Ibu, lalu mungkin ada trik untuk mempertahankannya..."
"Tapi itu tidak berguna untuk orang tuaku,
ya."
Jika diibaratkan dengan karya kreatif, itu seperti
mencoba menyatukan metode untuk merawat barang yang sudah jadi dengan metode
untuk memperbaiki barang yang sudah hancur. Karena sadar akan hal itu, mungkin
orang tuaku juga tidak bisa menemukan solusi yang konkret. Mereka kan pasangan
yang bahkan tidak pernah retak sedikit pun.
Tapi tentu saja, aku tidak bisa mengatakan ini pada
Seika-san, namun dalam hal menerima saran tentang kesiapan menghadapi skenario
terburuk, bagi diriku itu adalah hasil yang besar.
"Pokoknya, aku ingin memastikan niat Papa, atau
sebenarnya apakah perasaan seperti yang dikatakan Yoshiki-san itu masih tersisa
atau tidak."
"Aku setuju. Lagipula aku juga belum memberikan
salam yang pantas."
Sepertinya Seika-san sudah melaporkan bahwa kami
mulai berpacaran, sih. Tapi itu tetap merupakan hal yang harus dilakukan dengan
bertatap muka secara langsung.
Tanpa premis atau posisi yang jelas sebagai pacar,
akan sulit bagiku untuk ikut campur saat situasi genting.
"Papa pasti akan mengambil cuti musim panas yang
terlambat kapan-kapan, jadi aku pikir aku akan mencoba bertemu saat itu. Nanti
aku akan mencoba mengirim pesan Rain."
Suara Seika-san sedikit bergetar. Seandainya saja ini
bukan di telepon, aku pasti bisa menggenggam tangannya atau memeluknya.
"……Ahaha, aku juga sudah lama tidak bertemu
dengannya, jadi sedikit gugup."
Seika-san mengatakan bahwa terakhir kali mereka bertemu
adalah pada malam ketika kami berpapasan di depan toko bambu itu, yaitu hari di
mana aku pertama kali bertemu Masahide-san.
Dan……
dia pasti tidak bisa berhenti memikirkannya. Bahwa dengan menggerakkan situasi
sendiri, mungkin saja segalanya akan berbelok ke arah yang buruk.
"Besok……
boleh aku manja lagi?"
"Tentu,
tentu saja."
Meski
akal sehatku sepertinya akan diuji lagi, aku tidak punya pilihan lain.
Keesokan
harinya.
Aku
kembali berjuang melawan naluri pria saat memeluk Seika-san yang berpakaian
tipis di kamarku. Belahan dadanya yang mengintip dari kemeja yang sedikit
terbuka itu sangat menggoda. Karena benda itu menekan dadaku, akal
sehatku pun terkikis habis.
Kenapa makhluk yang disebut pria bisa seperti ini di
saat-saat seperti sekarang? Sambil memikirkan hal itu, aku tidak mengendurkan
pelukanku pada tubuhnya. Tentu saja bukan karena nafsu, melainkan karena aku
ingin menenangkan hatinya.
Pada akhirnya, tadi malam Seika-san juga belum bisa
memantapkan hatinya. Baru pagi tadi dia datang ke rumahku, kami menyusun draf
pesan bersama, lalu mengirimkannya berdua. Setelah makan siang tadi dan kembali
ke kamar, ada balasan masuk ke ponselnya. Isinya menyetujui pertemuan tersebut,
termasuk aku di dalamnya. Mengenai tanggalnya, mereka akan memberi kabar lebih
lanjut begitu jadwalnya sudah ditentukan.
"Puji aku, puji aku. Kousei."
"Un. Pintar, pintar."
Aku menepuk-nepuk punggungnya dengan tangan yang
melingkar di sana.
"Kepalanya?"
"Iya, iya."
Tangan lainnya mengusap kepalanya dengan lembut.
Perlahan-lahan, api nafsu itu padam, dan kehangatan yang tenang—seolah sedang
menyayangi anak kecil—memenuhi dadaku.
"……Aku, apa aku benar-benar pecundang?"
"Hm?"
"Bahkan belum masuk ke inti masalah, baru tahap
membuat janji untuk bertemu saja, aku sudah tidak bisa mengirim pesan Rain
sendirian seperti ini."
Mendengar hal yang tidak terduga itu, aku sempat
terpaku sejenak. Namun, aku segera teringat kata-katanya dulu.
"……Seika-san, saat aku menceritakan kejadian di
SMP dulu, bukankah kamu bilang kalau kita tidak perlu memedulikan pandangan
orang lain soal kuat atau lemahnya kita? Itu semua tergantung pada seberapa
serius orang itu."
Seika-san mengangkat wajahnya dari bahuku.
"Bagi Seika-san, masalah keluarga adalah hal
yang sangat penting. Kamu ingin mengambil tindakan, tapi kamu tidak ingin
sedikit pun segalanya berakhir buruk."
"……Un."
"Ada harapan dan ketakutan secara bersamaan,
membuatmu sulit melangkah maju maupun mundur. Kamu jadi seperti itu karena kamu
sangat, sangat serius."
Aku menempelkan pipiku ke pipinya. Dia menggesekkan
wajahnya padaku. Benar-benar deh, beberapa hari ini dia mode anak anjing
sekali.
Ngomong-ngomong, soal itu, dia bilang, "Ini salahmu
karena membuatku jatuh cinta lagi." Sepertinya setelah kegemparan anemia
Reika-san waktu itu, sahamku naik jauh lebih tinggi dari yang kukira.
"Begitu, ya. Aku sampai lupa apa yang kupikirkan
sendiri. Kalau soal diri sendiri, memang susah melihatnya secara objektif,
ya."
"Hahaha. Yah, memang begitu, kan."
Tapi tidak apa-apa. Saat aku merendahkan diri, Seika-san
yang akan menarikku. Sebaliknya pun begitu. Kami hanya perlu saling
memperhatikan, dan menarik tali kekang satu sama lain saat mulai terlalu
menyalahkan diri sendiri.
Tanpa dikomando, bibir kami bertemu. Itu adalah ciuman
lembut yang menenangkan.
Sore hari. Saat aku hendak mengantar Seika-san pulang
ke apartemennya, ponselnya bergetar. Setelah mengoperasikannya sebentar,
"Dari Papa."
Dia mengatakannya dengan suara yang terkejut.
Masahide-san adalah orang yang sangat sibuk, dia mungkin tidak menyangka akan
mendapat balasan hari ini juga. Sejujurnya, aku pun tidak menyangka.
Seika-san meletakkan ponselnya di atas meja kerja
sementara layar obrolan Rain masih terbuka. Aku mendekat dengan posisi
berlutut.
"Tanggal 23 sampai 25 bulan ini, aku ambil cuti
pengganti libur musim panas."
Sebuah jawaban yang singkat.
Aku sama sekali tidak tahu seluk-beluk dunia hiburan,
tapi... ah benar, bukankah penyiar televisi atau sejenisnya sering bilang
"libur [nama bulan] yang terlambat" dan mengambil cuti panjang di
saat orang lain tidak libur? Mungkin orang-orang di posisi atas punya kebiasaan
seperti itu juga. Tidak, ah, itu tidak penting sekarang.
"Lima hari sebelum tanggal 7, peringatan pernikahan
kita..."
Kalau dihitung mundur, memang begitu. Jika mereka
bertemu di hari terakhir tanggal 25, hanya tersisa lima hari. Tanggal 30...
kalau jadwalnya sudah penuh, apakah dia bisa membatalkan jadwal di saat-saat
terakhir begitu?
Seika-san sepertinya memikirkan kemungkinan itu juga,
dia menggigit bibir bawahnya dengan ringan.
"Balasannya..."
Sebelum aku sempat bertanya "apa yang harus
dilakukan", pesan Masahide-san lainnya menyusul.
"Tanggal 24, Ayah akan membawa kalian berkemah.
Ayah dengar kalian ingin pergi."
Hm?
"Ini..."
"Un. Sepertinya dia mendengarnya dari Mama."
"Kalau begitu, hari saat Mama pingsan, kalian bicara
cukup lama?"
"Sepertinya... begitu, ya."
Cahaya harapan bersinar terang. Cahaya itu juga
bersemayam di mata Seika-san, sampai-sampai aku hampir terpesona melihatnya.
"Ini, bisa berhasil."
"Un, bisa, pasti bisa!"
Tunasnya tampak segar sekali.
Mata indah Seika-san menjadi lembap, dan tak lama
kemudian, tetesan air mata sedikit tumpah. Aku memeluk tubuhnya. Aku merasa
sangat menyayanginya sampai-sampai kepalaku kembali mendidih.
Sedikit disayangkan Masahide-san dan Reika-san tidak
melihat air mata ini. Putri kalian mencintai kalian sedemikian rupa, sampai
bisa menangis hanya karena cahaya harapan sekecil ini. Kalian harus
membalasnya, kalau tidak, itu namanya bohong.
Sambil memeluk Seika-san yang menangis tersedu-sedu di
dadaku, meski tahu dia tidak bisa mendengarnya, aku melihat ke luar jendela ke
arah distrik Yokonaka yang jauh dan memikirkan hal itu.
☆☆☆
Malam itu juga, aku menceritakan segalanya kepada Chika
dan Hinano melalui Rain. Masih ada beberapa hari lagi, dan aku sempat khawatir
kalau-kalau mereka tidak bisa mengosongkan jadwal... tapi.
"Yosh! Kita harus berterima kasih pada Paman.
Tadinya kupikir mungkin harus menunggu sampai musim gugur, tapi kalau diantar
pakai mobil sampai lokasi, itu cerita lain."
"Ne~ Kalau pergi ke gunung sih mungkin sejuk, tapi
panasnya di perjalanan itu yang jadi kendala, kan~"
Mereka membalas dengan antusias. Katanya tidak mungkin
ada jadwal lain. Yah, nasib anak-anak di minggu terakhir libur musim panas
memang biasanya dibiarkan begitu saja. Lagipula itu hari kerja.
"Besok, ayo kita susun jadwal detailnya. Rumahku
besok pagi ada dokter gigi, jadi jam dua siang saja, bagaimana?"
Chika benar-benar tidak bisa membendung rasa
penasarannya. Mungkin karena ada sesuatu yang menyenangkan untuk dinanti di
sore hari setelah perasaan murung gara-gara dokter gigi.
"Aku juga tidak masalah~ Tempatnya?"
"Rumah Kousei."
"Dimengerti."
"Oke. Besok aku berangkat jalan kaki ya~"
!?
"Hinano, Kousei baru saja dengan senang hati
bilang kalau kakinya sudah makin kuat dan fisiknya sudah makin bugar, jadi...
tidak perlu sungkan begitu."
Meski aku menulis begitu, aku juga bukan orang yang
akan mengantar jemput, jadi rasanya aneh seolah aku asal bicara mewakili
Kousei.
"Bukan begitu~ Papaku marah karena berat badanku
naik terlalu banyak~ Padahal kurasa beratku masih proporsional~"
Kalau itu proporsional, mungkin cuma pas buat seleksi
masuk murid baru sumo.
Tapi yah, setidaknya itu bukan karena sungkan,
syukurlah. Di dalam grup, aku ingin menghindari perasaan sungkan seperti itu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan
Kutsuzawa-kun?"
Hinano bertanya. Mungkin dia merasa aneh karena dia
satu-satunya yang diam di grup Rain.
"Dia sedang kerja. Sedikit demi sedikit, pesanan
pembuatan aksesori lewat YouTube mulai masuk."
Dia dengan polosnya bilang itu berkat Seika-san, tapi
sebenarnya bukan cuma itu. Di lingkaran pengikutku, reputasinya memang bagus
karena ulasan jujur.
"Dia bersemangat sekali bilang mau beli daging
enak."
"Ooh!
Daging♪ Daging♪"
Hinano-chan
kegirangan.
"Nanti jangan dimarahi Ayahmu lagi loh?"
Chika-chan
menyiram air dingin.
"Muu."
"Yah, kalau porsi nasinya dikurangi, harusnya tidak
apa-apa."
Aku memberikan bantuan. Saat itu juga, pesan dari Kousei
muncul. Sepertinya
pekerjaannya sudah selesai.
"Kalian,
bicara soal apa... Shigei-san berjalan!? Ternyata ada pola seperti itu
ya!?"
Dia terkejut dengan keterlambatan dua putaran.
Keesokan harinya. Kami berkumpul sesuai jadwal dan mulai
membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan sampai hari H.
Sesuai daftar itu, pertama kami memastikan reservasi
tempat perkemahan. Kami sempat bicara, kalau tempat yang awalnya diincar sudah
penuh, harus mencari kandidat lain, tapi ternyata itu hanya kekhawatiran yang
tidak perlu.
Yah, libur Obon sudah lewat, dan anak-anak juga sedang
santai menghabiskan sisa liburan musim panas, jadi mungkin tidak banyak
keluarga atau kelompok yang berkemah sekarang.
Lalu, fakta bahwa Papa akan ikut mengantar juga menjadi
salah satu alasan kenapa reservasi berjalan lancar. Tingkat kepercayaan kalau
ada orang dewasa yang mengawasi api dibandingkan hanya anak-anak itu beda jauh.
"Soal belanja, hari sebelumnya saja, ya?"
"Un, kalau terlalu cepat, nanti sayur atau dagingnya
takut rusak~"
Hinano memang sensitif kalau soal makanan.
"Oh iya, katanya ada sungai di dekat sana. Jadi
katanya bisa pengalaman menangkap ikan."
"Eh? Aku tidak dengar soal itu."
Mata Chika berbinar. Seolah dia ingin bilang,
"Kalau ada yang menarik begitu, kenapa tidak bilang dari awal!" Lho?
Tapi.
"Memangnya tidak kutulis?"
Aku memeriksa ulang daftar rencana, ternyata memang
lupa kutulis. Ah, benar juga. Aku berpikir ingin memutuskannya setelah
mendengar pendapat semua orang, tapi malah lupa.
"Hahaha, maaf, maaf. Aku lupa. Untuk sementara,
semuanya ikut, ya?"
"Tentu."
"Aku juga tidak masalah~"
Keduanya setuju. Kousei juga mengangguk pelan.
"Lalu, peralatan barbekyu dan sejenisnya ada di
sana, kan? Yang dibawa cuma arang saja?"
Gara-gara aku lupa menulis, Chika jadi sangat
berhati-hati. Yah, tapi melakukan cross-check memang penting supaya
tidak terjadi kejadian "ini tidak ada, itu tidak ada" di lokasi.
"Tapi ya..."
"Hm?"
Entah kenapa, suasana berubah seolah dia ingin
membicarakan hal yang tidak ada hubungannya dengan berkemah. Apa soal camilan?
"Seika, apa benar tidak apa-apa~? Padahal itu
pembicaraan penting, tapi rasanya malah jadi seperti sambilan berkemah~"
Ternyata bukan soal makanan. Sebaliknya, dia
mengkhawatirkanku. Maaf ya, Hinano.
"Un. Jujur, kalau tidak punya perasaan seperti itu,
bakal berat. Lagipula, kalian semua ada di sini, itu melegakan sekali."
Sebenarnya, meskipun ada rasa tenang karena dikelilingi
teman-teman, aku rasa saat tiba waktunya nanti, mulutku akan tetap terasa
berat, meskipun aku ingin mengatakannya dengan santai seolah itu hanya sambilan
berkemah. Bagaimanapun, ini adalah salah satu persimpangan terbesar dalam
hidup, pembicaraan yang sangat penting.
"……Seika-san."
Kousei menggenggam tanganku dengan erat. Un, aku masih
baik-baik saja. Aku membalas dengan anggukan,
"Nah. Sekarang mari kita pikirkan hal di depan mata
dulu. Untuk saat ini, soal belanja."
Aku mencoba mengeluarkan suara seceria mungkin untuk
mengembalikan suasana.
Setelah itu, kami mematangkan rencana belanja dan
lainnya, lalu bubar. Saat matahari mulai meredup, aku mengantar Hinano dan
Chika pulang.
Waktu berlalu dengan cepat... sehari sebelum berkemah.
Kami melakukan perjalanan untuk belanja bahan makanan.
Aku dan Kousei bertugas membeli daging. Daging sapi
yang enak, dan sosis yang mahal juga. Untuk hari ini, deposit yang tidak
kugunakan meskipun sedang bokek akan segera meledak!
"Oke, kalau begitu aku bagian sayuran."
Chika, yang meminjam "Star Bridge"
(sepeda), menaiki bodi peraknya. Dia akan menuju supermarket dekat apartemen
Hinano. Menurut info Mama Hinano, di sanalah mereka mendapatkan sayuran paling
segar dan enak.
Lalu, kami menuju supermarket besar yang terletak di
tepi pantai, lebih jauh ke timur dari rumah Kousei. Tempat ini kabarnya punya
reputasi daging terbaik, tapi karena sangat jauh, sepertinya akan menjadi
perjalanan panjang yang memakan waktu satu setengah jam pulang-pergi.
Omong-omong, titik kumpul hari ini adalah di rumah
Hinano. Hinano bilang tidak enak karena biasanya dia terus-terusan memakai
rumahku atau rumah Kousei. Tapi sebenarnya, dia pasti hanya ingin menghindari
belanja di tengah panasnya cuaca, jadi dia mencari alasan seperti menyiapkan
kotak pendingin untuk memenangkan hak tinggal di rumah.
"Yah, kalau begitu ayo kita berangkat."
"Un. Silakan di belakang."
Sudah agak lama ya, duduk di belakang Kousei. Dulu
aku sangat malu sampai-sampai hanya bisa melingkarkan tangan sedikit di
perutnya...
"Hap."
Hari ini, aku menempel rapat. Aku menempelkan payudaraku
di sekitar belikatnya agar dia sadar.
Tapi kalau menghadap ke depan, kalau kakinya tidak diatur
dengan benar, nanti malah mengenai roda belakang. Penemuan baru. Ini pertama
kalinya kami boncengan dengan posisi seperti ini.
"A-aku berangkat ya?"
Kousei yang sedikit malu itu lucu sekali. Padahal dia sudah pernah
meremasnya secara normal.
Tak
lama kemudian, sepeda melaju, dan aku memeluk punggungnya lebih erat lagi.
Setelah mengayuh selama sekitar 30 menit, jalanan mulai
memasuki turunan yang landai. Kousei mengerem sedikit demi sedikit sambil
menuruni jalan dengan perlahan.
Saat aku meletakkan dagu di bahunya dan melihat ke depan,
"Wah! Kelihatan lautnya!"
Warna biru laut yang terbentang menyaingi birunya langit.
Memantulkan cahaya matahari dengan gemerlap, namun tetap terlihat biru pekat.
Di atas garis cakrawala, tampak awan kumulus yang putih bersih.
"Laut bukannya hal yang biasa saja?"
"Tidak. Aku tidak pernah ke sini."
Kalau boleh jujur, tidak ada apa-apa di sini. Ada toko
selancar, atau toko alat pancing, tapi ya itu saja.
"Lagipula, melihat laut saja sudah lama sekali. Ini
pertama kalinya aku melihat laut di Sawamigawa."
"Begitu ya, waktu kecil juga?"
"Un. Soalnya aku terus-terusan dirawat di rumah
sakit."
Angin laut membelai rambutku, dan aroma pantai memenuhi
hidungku. Sedikit, aroma pelembut pakaian dari kemeja Kousei juga tercium.
Sebelum aku jadi melankolis,
"Ayo berangkat! Kereta Loli-zawa!" teriakku.
"Makanya, sudah! Bukan begitu! Ini!"
Kousei melipat lengannya seolah menggaruk punggung
sendiri, dan menyelipkan telapak tangannya di antara tulang belikat dan dadaku.
Aku jadi lumayan diremas dengan kuat.
"Hya!?"
Mendengar teriakanku, Kousei tertawa, "Ahaha." Dia segera menarik tangannya dan memegang kemudi lagi. Entah
dia memang berniat menjahiliku atau bukan, tapi telinganya merah padam.
"Dasar! Kousei mesum!"
Aku mencubit kedua pipinya dari belakang. Rasanya seperti aku yang sedang memegang kemudi.
"Ihihya. Bahaya, lho."
"Ahaha! Aku tidak dengar apa yang kamu
katakan!"
Sepeda boncengan kami meliuk-liuk di turunan.
Akhirnya keseimbangan benar-benar goyah, dan Kousei berhenti dengan menumpukan
kedua kakinya ke tanah. Aku terdorong ke depan karena inersia, dan wajahku
tertahan di otot trapezius Kousei.
"……!"
Kousei sepertinya sedang berusaha menahan beban,
otot-ototnya menonjol. Kekuatan itu seolah mendorong kembali pipiku. Tanpa
memedulikan situasi, jantungku berdegup kencang. Tidak, tidak, ini bukan
waktunya untuk itu.
Lalu, keseimbangan benar-benar pecah,
"Seika-san, pegangan yang kuat!"
Peringatan tajam Kousei melesat. Aku secara refleks melingkarkan tangan ke tubuh Kousei.
"Waaaaaaa!"
"Oaaaaaaa!"
Sialnya, sepertinya dari tempat kami tadi,
kemiringannya menjadi lebih curam. Dia tidak mungkin bisa memiringkan
sepedanya, dan kakinya yang menumpu tadi mungkin sedikit terpeleset, alhasil
kami terseret langsung oleh kemiringan itu, dan roda mulai berputar dengan
kencang.
"Gawat,
gawat, gawat! Cepat sekali!"
"Aku tahu!!"
Kousei menurunkan kakinya sekali lagi untuk melakukan rem
kaki. Tentu saja, rem sepedanya juga ditekan sekuat tenaga.
Aku juga melakukan rem kaki dari kursi belakang.
Apakah karena aku memakai sepatu kets hari ini, ini adalah kehendak langit? Uooooo.
Telapak kakiku terasa panas. Kuharap sol sepatuku tidak bolong.
"Aha, hahahaha."
Entah kenapa Kousei tiba-tiba jadi high dan mulai
tertawa.
"Sekarang kita pasti terlihat seperti
kelabang!"
Berkat kecepatan yang sedikit melambat, suara Kousei
terdengar jelas. Aku mencoba membayangkan sosok kami dari atas, lalu
berimajinasi. Memang, konyol sekali.
"Hahahahaha."
Aku juga tertawa.
Setelah memahami caranya, kami menggunakan rem kaki untuk
mengulang akselerasi dan deselerasi sampai berhasil menuruni turunan itu. Setiap kali sedikit berakselerasi, kami bersenang-senang seperti naik roller
coaster dan saling tertawa. Bahkan hal konyol seperti ini, jika
bersama Kousei, rasanya sangat menyenangkan.
Setelah sampai di ujung turunan, ada supermarket besar.
Tempat parkirnya luar biasa luas. Karena hari ini hari kerja, mungkin tidak
terlalu ramai, tapi kalau hari libur, kapasitas ini pasti sangat dibutuhkan.
"Fuu. Akhirnya sampai."
Kousei menyeka keringat yang menetes. Terima kasih atas
kerja kerasnya. Aku melihat jam di ponsel. Kalau dihitung dari waktu
berangkat...
"Rasanya kita sudah mengayuh sekitar 40 menit ya.
Terima kasih."
Kousei tersenyum kecil, lalu berjalan menuju gedung
supermarket. Aku berjalan di sampingnya dan masuk bersama. Kami disambut oleh
barisan troli belanja yang sangat besar. Ada tempat duduk untuk anak kecil,
benar-benar toko yang menargetkan keluarga.
"Ah, sejuk."
"Jadi hidup kembali, ya."
Begitu masuk ke dalam toko yang berpendingin udara, pipi
kami berdua mengendur.
Awalnya adalah bagian sayuran, tapi bagian ini kami
lewati. Tepat sebelum sampai ke bagian ikan segar, aku melihat kepala yang
tidak asing lagi. Kousei sepertinya juga menyadarinya,
"Eh? Harusnya rak pajangan jamur sudah lewat,
tapi..."
"Tidak, tidak. Eh, tapi lagi-lagi komposisinya
seperti ini, ya."
"Benar. Tidak lucu kalau dikira kita sedang
mengintip lagi... apa kita harus menyapa?"
Aku pun berpikir begitu, tapi pertemuan terakhir
suasananya sangat canggung dari awal sampai akhir. Sejujurnya, sulit untuk
diajak bicara. Kousei pun sepertinya merasakan hal yang sama, langkahnya
melambat. Haruskah kita tetap menjaga jarak agar tidak ketahuan...
"A"
"A"
Kenapa juga harus menoleh di saat seperti ini?
Miyazaka menyadari keberadaan kami, mulutnya sedikit
terbuka. Dia membeku karena terkejut dan berhenti melangkah.
Kami juga tidak mungkin mundur sekarang, kan? Saat melihat Kousei di samping,
wajahnya terlihat pasrah. Mau bagaimana lagi, hadapi saja.
"Yo, yo..."
"A, aa..."
Saat aku melontarkan sesuatu yang menyerupai salam,
sesuatu yang menyerupai salam pun kembali.
"……Ke-kebetulan sekali, ya."
Suara Kousei pun terdengar samar. Terakhir kali, dia
memang melontarkan kritik pedas atau semacam khotbah.
"A, aa... kalian juga..."
Dia pasti ingin melanjutkannya dengan "apakah sedang
belanja?", tapi sebelum itu, matanya tertuju ke bawah. Miyazaka kembali
membeku setelah melihat aku dan Kousei sedang bergandengan lengan. Sekejap aku
berpikir untuk melepaskannya, tapi toh kalau sekolah dimulai nanti juga pasti
ketahuan. Lagipula, Hamamura-san sepertinya tidak memberitahu Miyazaka bahwa
kami sudah mulai berpacaran. Yah, memang sudah seharusnya begitu sih.
"Entah kenapa aku sudah merasa begitu, tapi...
kalian berdua, benar-benar sudah sampai tahap itu, ya."
"Un. Kami pacaran."
Aku menyatakan dengan tegas. Tidak ada hal yang
memalukan.
Reaksi Miyazaka... jauh lebih tenang dari yang kukira.
Meskipun aku sendiri yang mengatakannya, baginya aku dulunya adalah
"target".
"……Begitu, ya."
Miyazaka hanya tersenyum lemas. Setelah sekali saja
menggelengkan kepala jamurnya,
"Di atas atau di bawah... aku benar-benar salah
secara mendasar."
Dia mengatakan hal itu. Dulu dirinya yang memutuskan
harga diri orang lain dengan tolok ukurnya sendiri. Bahwa dia tidak akan
dipilih olehku jika seperti itu, kini dia sudah bisa melihatnya secara
objektif... bagus sih, tapi sepertinya dia sudah terlepas dari beban terlalu
dalam, jadi malah terasa sedikit menakutkan.
"Eh, anu..."
Kousei juga tampak agak bingung.
Saat itu juga,
"Shu-chan."
Sebuah suara memanggil dari arah belakang Miyazaka.
Karena letaknya di sudut lorong, aku tidak bisa melihat sosoknya, tapi suara
ini.
"Hamamura-san?"
"Eh!?"
Mungkin suaraku terdengar, dia muncul dari sudut lorong.
Dia melihat kami berdua dengan wajah terkejut.
"Kutsuzawa-kun dan Mizoguchi-san... ke-kebetulan
ya."
Dia mengatakan hal yang sama dengan Kousei tadi.
"Riko. Aku, mau pergi ke tempat Nenek."
Miyazaka meninggalkan kata-kata itu lalu berpapasan
dengan Hamamura-san.
"Ah."
Dia pergi. Yah, tidak apa-apa karena kami juga bukan
hubungan yang bisa berbincang hangat.
"……"
"……"
"……"
Ada jeda canggung di antara kami bertiga. Aku agak
ragu, tapi
"Entah kenapa, si Miyazaka itu berubah ya?"
Aku memutuskan untuk memancing obrolan.
"Iya. anu, setelah kejadian di Yokonaka itu..."
Di sana Hamamura-san sempat ragu. Tapi seolah membulatkan
tekad, dia membuka mulut kembali.
"Sebenarnya neneknya Shu-chan pingsan."
"Eh..."
Mau tidak mau, aku teringat Mama.
"Apakah dia selamat?"
Saat Kousei bertanya dengan takut-takut, Hamamura-san
mengangguk.
"Sepertinya dia hampir terkena heatstroke."
Oh, bukan penyakit parah. Syukurlah. Tentu saja, aku
tidak meremehkan heatstroke ya.
"Neneknya pergi menemui wanita yang sudah ditipu
oleh Shu-chan, untuk meminta uangnya dikembalikan sebanyak apa pun..."
Itu adalah informasi yang membuat dadaku kembali sesak.
Karena dia mengatakan "minta dikembalikan", itu berarti dia tidak
marah uang yang diberikan cucunya hilang, tapi dia hanya kasihan cucunya
dianggap menyedihkan dan mengambil tindakan.
Kousei mendengarkan dengan wajah menahan rasa sakit. Yah,
pasti begitu. Dadaku juga terasa begitu sesak sampai rasanya hampir menangis.
"Sebenarnya, sekitar setengahnya sudah dikembalikan
dalam bentuk tas, tapi di perjalanan pulang dia pingsan."
Pasukan cadangan Minato, ternyata bukan orang yang buruk
juga!? Seandainya saja dia punya hati nurani sedari awal, aku ingin dia tidak
melakukannya sejak semula... tapi yah, Miyazaka yang terlalu bodohlah yang
paling bersalah di sini.
"......Mengenai apa yang terjadi pada Shu-chan di
Yokonaka, kupikir keluarga perlu tahu, jadi aku menceritakannya juga... tapi
kalau jadinya begini."
Hamamura-san mengatakannya dengan suara yang meredup,
tapi hal itu tidak bisa dihindari. Itu bukan jumlah uang yang bisa didiamkan,
dan terlebih lagi, menurutku perilaku bodoh Miyazaka tidak seharusnya ditutupi.
Bahkan kalau aku jadi dia, mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti
Hamamura-san.
"......Bagaimanapun juga. Shu-chan, sepertinya dia
merasa sangat terpuruk."
"Ah, yah..."
Kalau aku berada di posisi Miyazaka, itu sudah di level
di mana aku ingin menghilang saja. Mengejar-ngejar wanita lalu uangnya diperas
habis. Membuat neneknya harus pergi untuk mengambilnya kembali. Upaya itu malah
menjadi beban hingga neneknya jatuh sakit. Meskipun bagian terakhir itu kurasa
di luar dugaan Miyazaka sendiri.
"Di rumah Shu-chan, kedua orang tuanya bekerja.
Jadi, ibuku mulai membantu mengantar neneknya belanja."
Ditambah lagi, dia akhirnya harus bergantung pada teman
masa kecil yang awalnya dia jauhi sendiri, ya.
Wajar saja kalau dia jadi sependiam itu.
"Shu-chan juga selalu menemani, bukan?"
Pasti karena itulah hari ini dia datang sampai ke toko
ini. Karena toko ini memang memudahkan untuk berbelanja dalam jumlah banyak.
......Memang benar, Miyazaka masih bisa kembali. Atau
lebih tepatnya, mungkin dia sedang berjuang keras untuk bisa kembali.
Hamamura-san tampaknya memiliki pandangan yang sama,
"Aku tidak bisa memastikan akan jadi seperti apa dia
nantinya. Tapi, aku tidak bisa tidak berpikir kalau dia bisa kembali menjadi
Shu-chan yang baik hati seperti dulu... saat melihatnya berjalan sambil
menopang neneknya."
Dengan kalimat penutup itu, dia tersenyum lembut.
Senyuman penuh kasih yang bahkan membuatku yang sesama wanita pun terpesona.
Entah kenapa, Hamamura-san seolah telah mendapatkan versi yang lebih baik dari
dirinya... atau mungkin, insiden di Yokonaka itu menjadi titik balik yang
sangat besar bagi mereka berdua.
Setelah itu. Kami berpisah dengan Hamamura-san, lalu
berjalan santai mengelilingi bagian daging.
"Entah kenapa, kita sering sekali bertemu,
ya."
"Dua orang itu, ya. Tak menyangka kalau masalah
kesehatan keluarga mereka juga bisa sinkron."
"Benar juga. Syukurlah neneknya tidak apa-apa."
Benar, itu adalah keberuntungan di tengah musibah.
"Hamamura-san pasti memutuskan untuk mengawasinya
sampai keadaan tenang kembali."
"Mungkin saja. Tadi rasanya dia sudah melampaui
perasaan cinta atau semacamnya."
Aku merasa dia telah mencapai kondisi yang sama seperti
saat aku melihat Kousei yang sangat lemah dan kata "Aku mencintaimu"
meluncur begitu saja dari mulutku.
"Ah, benar juga. Sama seperti Seika-san, ada aura
suci yang terpancar darinya."
Apa benar aura seperti itu terpancar dariku?
Atau jangan-jangan, Kousei juga merasakan perubahan pada
Hamamura-san.
"Miyazaka, apa dia bisa bangkit kembali?"
"Pada akhirnya itu tergantung pada dirinya
sendiri... tapi, ada gadis yang begitu luar biasa mengawasinya. Menebus
kesalahan atau menunjukkan kasih sayang kepada neneknya, itu sudah mulai
terlihat melalui tindakannya."
Aku yakin dia pasti sedang menuju ke arah yang lebih
baik.
Dan firasatku mengatakan, kita pun akan mengemban peran
tertentu lagi. Hamamura-san yang bijaksana memberitahu keadaan batinnya tanpa
menutup-nutupi meskipun sempat ragu, itu semua karena dia mempercayai kita.
Dengan kata lain, kita sudah naik ke kapal yang sama sejauh ini.
"Bagaimanapun juga. Kurasa belum saatnya kita
melakukan sesuatu."
Mungkin terdengar dingin, tapi aku sendiri tidak punya
kelonggaran untuk mencampuri urusan orang lain.
"Benar juga. Sekarang, yang terpenting adalah...
Wagyu untuk Shigei-san."
Itu
dia. Cerita yang sangat konyol, tapi itulah kenyataannya.
Sambil
terus mengirim pesan kepada Hinano, kami membeli daging yang terlihat lezat
dalam jumlah besar, hingga hampir pingsan saat melihat total tagihannya. Di
jalan pulang, aku kembali merasa lemas melihat tanjakan di depan mata. Sambil
mengerutkan kening karena beratnya keranjang depan yang penuh sesak, Kousei
mendorong sepedanya dengan perlahan.
"Kita terlalu memanjakan Shigei-san, ya."
"Itu dia."
Tubuh bulat itu benar-benar memanfaatkan kita dengan
semaunya.
"Tapi, tampaknya Chika juga disuruh membeli banyak
sekali."
Chika juga, entah bagaimana, sebenarnya menyayangi
Hinano, bukan? Kalau dipikir-pikir, apakah pemimpin grup kita adalah anak itu?
Entah kenapa, aku merasa kurang sreg.
Kousei sedikit memanjangkan lehernya, mengintip layar
ponselku yang berjalan di sampingnya. Melihat gambar barang rampasan yang
diambil Chika, dia tertawa kecil.
"Yah, tapi Shigei-san juga makan sayur, jadi itu
sedikit melegakan."
Itu benar. Kalau ditambah dengan pilih-pilih makanan,
meskipun dia masih remaja, risiko kesehatan akan meningkat drastis.
"Dia memang makan sayur, tapi daging, ikan, makanan
manis, dan makanan pedas pun begitu. Dengan kata lain... semuanya dimakan
terlalu banyak."
Mempertahankan tubuh seperti itu tidak dilakukan tanpa
alasan.
"Kita sudah membeli sebanyak ini, tapi aku khawatir
jangan-jangan nanti dia masih bilang 'Kurang~'."
"Bisa jadi, sih."
Kemiringan jalan semakin curam. Saat Kousei mengerahkan
tenaga ke lengannya, pembuluh darah yang merayap di atas ototnya kembali
menonjol, dan aku sedikit tersentak.
"......Masahide-san, apa benar hanya dengan
mentraktir barbekyu saja sudah cukup?"
Kousei, apa kamu masih memikirkannya?
Sebenarnya, dia sempat bilang "Aku akan membawa
bingkisan saat hari-H," tapi aku mencegahnya sekuat tenaga. Yah, bagi Kousei,
melapor hubungan dengan putri orang tua pria butuh keberanian yang besar, jadi
mungkin dia hanya ingin mendapatkan poin tambahan.
"Tidak apa-apa, kok. Papa bahkan bilang dia harus
berterima kasih pada Kousei atas kejadian Mama kemarin."
Aneh rasanya jika orang yang ingin berterima kasih malah
menerima bingkisan, kan?
Tapi yah, mentraktir barbekyu sebagai gantinya, apakah
itu pantas? Perasaanku campur aduk.
"Lagipula, sepertinya dia memang berniat membayari
semua biaya kemah kita."
Bukan berarti aku mengharapkan hal itu, sih. Sebagai
orang dewasa, Papa mungkin merasa canggung jika terus-menerus ditraktir oleh
anak-anak. Jadi, dia membiarkan kita memegang harga diri dengan membayar
barbekyu, sementara dia yang menanggung biaya lainnya. Kurasa seperti itulah
rencananya.
"Yah, yang paling penting adalah melaporkan
hubungan kita denganmu dengan benar, bukan?"
"Benar sekali."
Barang atau hadiah itu nomor dua. Kita
belum sampai pada tahap lamaran pernikahan, kan.
"Dan, setelah dia memberi restu..."
"Iya, benar. Tanggal 30, aku akan mengajak
mereka."
Kousei pun rencananya akan ada di sana. Setelah
melaporkan hubungan sebagai kekasih dan diakui bahwa kita bukan orang asing
lagi.
"......Kalau keadaan mendesak..."
"Eh?"
"Kalau keadaan mendesak, apa boleh aku ikut membantu
meyakinkan?"
"U-um."
Ternyata Kousei sudah sangat bisa diandalkan. Dalam arti
yang baik, dia tidak lagi merasa sungkan, dan malah memancarkan aura bahwa
dialah yang akan melakukan ini dan dialah yang akan melindungiku. Gejala itu
mungkin sudah ada sejak kelas tata rias, tapi sepertinya itu mekar sepenuhnya
saat dia membantu Mama.
Bagaimanapun juga. Dia imut, menarik, baik hati, dan kini
dia juga punya sifat yang bisa diandalkan, itu seperti iblis yang memegang gada
besi. Aku kembali memegang keyakinan, yang entah sudah keberapa kalinya, bahwa
aku benar-benar mendapatkan pacar terbaik.
Setelah sampai di ujung tanjakan, aku kembali naik ke
belakang sepeda Kousei. Dalam perjalanan tadi, meski karena momentum, aku
sempat meremas dadanya, tapi dia tetap memeluk punggungku dengan erat seperti
biasa.
Seolah-olah aku sudah mendapatkan restu sepenuhnya untuk
menyentuhnya. Meskipun begitu, kalau terlalu sering menyentuhnya saat bermain
dan saat momen penting tiba nanti kehilangannya kesegarannya, itu tidak sopan,
jadi aku akan menahannya sebentar.
Saat Seika-san akan menghadapi tantangan besar, aku tidak
lagi terlalu sering memikirkan hal-hal yang tidak senonoh seperti ini... Atau
lebih tepatnya, Seika-san sendiri tahu kalau aku sering memiliki pikiran jahat,
tapi dia sama sekali tidak menghentikan kontak fisik... bahkan intensitasnya
semakin meningkat dari hari ke hari.
Mungkin, aku terlalu berpikir sempit. Aku tidak tahu
bahwa cinta dan nafsu bisa berjalan beriringan. Yah, ini pertama kalinya aku berkencan
dengan wanita, jadi wajar saja jika aku tidak tahu dan tidak mengerti.
Karena aku menyayanginya, aku ingin menempelkan tubuhku
lebih banyak lagi. Jarak beberapa milimeter saat kita terpisah terasa
menjengkelkan. Atau sekat pakaian terasa mengganggu. Aku mulai merasa seperti
itu.
Namun. Bagaimanapun juga, semua itu menunggu urusan
Seika-san dan orang tuanya selesai. Masalah hubungan kita tidak boleh
dipikirkan sambil lalu dengan sikap yang tidak fokus.
Pertama, besok. Aku akan menjelaskan posisiku dengan
jelas, dan jika perlu, tanpa ragu aku akan menjadi penopang bagi Seika-san.
Jika perlu, bahkan jika aku harus dibenci oleh Masahide-san dan yang lainnya.
"Apapun yang terjadi, lindungilah Seika-san."
Itu adalah saran dari Ibu dan Ayah.
"Oke."
"Oke tidak oke. Jalanmu salah, Kousei."
"Eh?"
Ditegur oleh Seika-san dari belakang, aku kembali sadar
ke jalan mana aku berada sekarang. Aku hampir saja menuju rumah Seika-san. Ah,
benar juga. Hari ini tujuannya ke apartemen Shigei-san.
"Memalukan sekali."
Aku bergumam pelan agar tidak terdengar oleh Seika-san,
lalu memutar arah sepeda.
Akhirnya, pagi hari perkemahan pun tiba. Mama pergi bekerja dengan jadwal siang yang tak biasa. Dengan kata
lain, jika aku pergi saat Papa datang menjemput, aku bisa bertemu dengannya
saat dia mengantar keberangkatan.
Mungkin saja, Mama sengaja membuat jadwalnya seperti itu
hari ini. Meskipun dia tidak bisa bilang ingin ikut, mungkin dia hanya ingin
melihat wajahnya sekilas. Sangat tidak tegas. Meskipun aku mengerti
perasaannya, aku berharap dia bisa jujur pada diri sendiri.
"Bagaimana pulangnya? Apa aku akan diantar sampai
sini lagi?"
Sambil memoles eyeliner, dia bertanya tanpa
menoleh ke arahku. Entah dia hanya sekadar memastikan atau bagaimana. Padahal
jadwalnya siang, tapi dia sudah sangat bersemangat sejak pagi... yah, sudahlah.
"Ya, rencananya begitu. Kalau tidak ada masalah di
pekerjaan."
"Begitu."
Jawaban yang ketus. Dibuat-buat sekali. Aku menghela
napas kecil agar tidak terdengar.
Sekitar 15 menit kemudian, Papa mengirim pesan di Rain
bahwa dia sudah sampai. Dia pasti sudah menjemput Chika dan Hinano dari
Yokonaka. Rencananya menjemputku di sini, lalu terakhir menjemput Kousei dan
langsung menuju jalan raya tepi pantai.
"Mama, Papa sudah di bawah."
"......Ya."
"Tidak datang?"
"......"
Mereka merepotkan sekali. Seperti anak kecil saja.
"Ayo, pergi. Bukannya kamu sudah dandan untuk
itu?"
"Bukan karena itu..."
"Astaga! Papa sudah mencoba melangkah mendekat,
jadi!"
Entah sampai kapan dia akan bersikap seperti putri raja.
Padahal dia sudah datang sejauh ini, jika dia terus seperti ini, dia
benar-benar akan ditinggalkan. Bagian dari Mama ini sungguh tidak bisa
dimaafkan. Meskipun dia selalu bersikap kuat, di saat-saat krusial dia malah
jadi pengecut.
............Tidak, tunggu. Bukankah aku juga melakukan
hal yang sama pada Kousei, ya? Apakah ini yang disebut buah jatuh tidak jauh
dari pohonnya? Ah, aku tidak mau mewarisi sifat yang ini.
"Ayo!"
Aku meraih tangan Mama dan memaksanya berdiri. Lalu
menyeretnya sampai ke pintu depan.
"T-tunggu sebentar. Aku mengerti! Sakit,
sakit!"
Pada akhirnya, baru lima menit kemudian kami benar-benar
keluar gedung.
Mobil wagon hitam membunyikan klakson pelan. Pintu bagasi
langsung terbuka. Apakah aku harus memasukkan barang? Tapi sebelum itu.
Aku mendorong punggung Mama pelan. Berat sekali seperti
patung batu. Astaga! Sudah cukup.
"Ayo!"
Aku mendorong dengan kuat hingga dia terhuyung dua-tiga
langkah ke dekat kursi pengemudi. Papa pun sempat terlihat memalingkan
pandangan lewat jendela, tapi akhirnya dia menekan tombol dan menurunkan kaca
mobil.
"......"
"......"
Keheningan yang canggung. Chika dan Hinano di kursi
belakang juga menahan napas sambil mengamati.
Akhirnya. Papa mengalihkan pandangan dari mata Mama,
"Lama tidak bertemu, ya."
Sapaan yang canggung. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri
bahwa dia sudah melangkah maju. Tergantung bagaimana jawaban Mama, mungkin saja
ini akan menjadi komunikasi yang sempurna...
"Ya..."
Tentu saja tidak mungkin, ya.
Apa maksud "Ya" itu? Apakah dia anak SD yang
pemalu saat disapa paman jauhnya?
"Juni? Terakhir kali kita bertemu bulan Juni,
kan?"
"Ya. Karena urusan properti."
Benar, mereka memang bertemu beberapa bulan lalu
dengan alasan itu. Jadi sudah selama itu, ya.
"......"
"......"
Hening lagi. Aku ingin sekali masuk ke tengah-tengah
mereka, tapi aku menahannya sekuat tenaga. Hinano mungkin tidak apa-apa, tapi
Chika juga tidak suka situasi yang bertele-tele seperti ini, namun dia tetap
bersabar dan membiarkannya pada mereka berdua.
"......Apa kamu agak kurus?"
"......Ya. Karena sering menggerakkan tubuh."
Mama aslinya tidak gemuk, jadi mungkin dia memang jadi
agak kurus.
Dan kurasa itu bukan hanya karena pekerjaan.
"......Jaga dirimu, ya."
"......Kamu juga."
Setelah kalimat itu, keheningan kembali turun, dan seolah
tidak tahan lagi, Mama melangkah cepat melewatiku dan kembali ke pintu masuk.
Aku bisa saja menahan lengannya. Tapi kurasa hari ini
sudah cukup. Hal-hal sensitif seperti ini tidak boleh terburu-buru
dan mengharapkan hasil instan. Aku belajar banyak dari kejadian trauma Kousei.
"......Seika, barang bawaannya ditaruh di
belakang."
"Ah, ya."
Papa memang tetap tenang, bagaimanapun juga.
Sesuai instruksi, aku melemparkan tas ke bagian
belakang wagon, lalu berkeliling ke depan dan duduk di kursi penumpang.
Kami langsung berangkat. Aku melihat ke lantai tujuh
dari jendela. Mencari sosok Mama meskipun tahu tidak akan terlihat. Aku
berharap dia melihatku pergi.
Dulu, saat aku sehat dan sering berada di rumah, aku suka
menemani Mama melepas kepergian Papa bekerja. Jadi aku hanya ingin mengulang
hari-hari itu...
"Ah!"
Sesosok orang muncul di balkon sesaat. Rajut biru yang
kukenakan Mama tadi.
"Ada apa?"
Papa melirikku yang tiba-tiba berseru.
"Mama, sedang melepas kepergian kita."
"......Begitu, ya."
Ekspresi Papa tidak berubah, tapi dia mulai
mengetuk-ngetukkan jarinya di setir kemudi. Papa yang dulu suka bermain musik
punya kebiasaan ini saat sedang senang.
Aku tertawa kecil agar tidak ketahuan.
Orang tua kami dan Masahide-san saling bertegur sapa,
lalu Ibu menutup percakapan dengan, "Kalau begitu, kami titip Seika hari
ini." Saat tiba waktunya, aku masuk ke kursi belakang mobil wagon. Soal
bingkisan... aku tidak memberikannya, tapi entah sejak kapan Ayah dan Ibu sudah
menyiapkannya, dan Masahide-san menyimpan bingkisan itu di dasbor mobil.
"......Terima kasih banyak hari ini. Mohon
bantuannya."
Setelah duduk, aku kembali membungkuk sekali lagi.
"Ya, aku juga berpikir harus bicara padamu dalam
waktu dekat. Ini seperti pucuk dicinta ulam pun tiba."
Masahide-san tersenyum tenang padaku di baris ketiga
lewat kaca spion.
"Pertama, mengenai kejadian kesehatan istriku yang
buruk, terima kasih banyak sudah membantu."
"A-ah, tidak. Sama sekali tidak ada hal besar yang
kulakukan."
Mobil mulai berjalan pelan. Kita akan terus ke timur dan
melewati jalan raya tepi pantai.
"Jangan rendah diri begitu, istri dan putriku
sangat berterima kasih. Begitu juga denganku."
"Y-ya. S-sama-sama."
"......"
"......"
Apa yang harus kulakukan? Melaporkan hubungan dengan
Seika-san sekarang di sini, bukankah itu aneh? Setibanya di tujuan, mencari
waktu yang tepat, lalu bicara berdua dengan Seika-san adalah langkah yang
benar.
Lagipula, seharusnya aku berkonsultasi lebih baik
mengenai waktu yang tepat. Saat aku hampir menyesalinya,
"Kuts-kun, apa kamu membawa jaring ikan?"
Karena tidak suka keheningan, Dokuguchi-san mengajakku
bicara dari samping. Dia orang yang sangat peka terhadap situasi.
"Ya,
arang dan air juga."
Tugas pria seperti diriku adalah menyiapkan dan
memuat barang-barang berat atau besar. Tempat perkemahan meminjamkan alat
barbekyu, tapi arang harus disiapkan sendiri oleh pengunjung.
Sejak saat itu, percakapan mengalir antara
Dokuguchi-san, aku, dan Shigei-san di baris kedua. Aku bisa mendengar cerita
Seika-san dari kelas atas SD hingga SMP yang tidak kuketahui, dan itu sangat
segar.
Terkadang saat cerita berubah menjadi kegagalan
Seika-san, orang yang duduk di kursi penumpang berteriak, "Hei!", dan
suasana menjadi semakin meriah.
Aku juga tertarik dengan pekerjaan Masahide-san, tapi
sepertinya banyak yang tidak bisa dibicarakan karena kewajiban menjaga
kerahasiaan.
Jika jadwal acara idol yang dikelolanya bocor, itu
bisa mengancam keselamatan dirinya sendiri, bukan sekadar kata-kata kosong.
Saat aku mengeluarkan suara jujur, "Hie!", sepertinya itu terdengar
sangat tulus, dan tawa pecah di dalam mobil.
Aku mengamati ekspresi Masahide-san dari kaca spion
di tengah tawa itu. Dia tertawa memperlihatkan gigi putihnya. Syukurlah.
Sepertinya dia tidak peduli soal salam perkenalan hubungan kita yang belum
dilakukan.
Kalau begitu, mungkin tidak apa-apa mencari waktu yang
tepat saat sampai nanti. Saat aku sedang berpikir begitu,
"Oh, Interchange Hachioji. Sebentar lagi,
ya."
Seika-san yang duduk di kursi penumpang berkata dengan
suara yang sedikit bersemangat. Sepertinya setelah melewati ini, tujuan kita di
Tama sudah dekat. Aku baru pertama kali datang ke daerah ini, jadi tidak tahu
banyak.
"Paman sering datang ke sini, kan? Lewat
sini kalau mau ke pusat kota?"
Saat Dokuguchi-san bertanya, Masahide-san yang mengemudi
menjawab, "Ya."
"Ya, begitulah. Hanya saja di Yokonaka pun ada
banyak studio, dan ada rencana pemindahan kantor pusat... eh, itu
rahasia."
Aku tidak tahu apakah itu candaan atau serius, tapi dia
tersenyum tipis di kaca spion.
Begitu, ya. Tapi pusat kota. Meski dari Yokonaka ke
Sawamigawa saja jauh, apakah saat bekerja dia lebih jauh lagi? Jarak fisik mungkin tidak selalu berbanding lurus dengan jarak hati...
Tiba-tiba, aku berpikir. Seika-san tetap menekuni
dunia model meski merasa tidak suka menggunakan koneksi, mungkin bukan hanya
karena dia "ingin melakukannya", tapi juga untuk menjaga hubungan
dengan Masahide-san. Seika-san memang punya sisi yang sangat tekun, ya.
Dalam percakapan yang terus mengalir, setelah sekitar
20 menit terguncang di mobil, kami memasuki Tama.
Saat kami melewati jalan yang ditutupi dahan pohon
yang rimbun membentuk lengkungan, Dokuguchi-san terpesona. Dia benar-benar
menyukai hal-hal seperti ini. Yah, menurutku juga itu sangat emosional.
Beberapa menit kemudian, tujuan akhirnya terlihat. Di
ujung jalan lurus, pondok-pondok besar berdiri di antara hutan. Masahide-san
memarkir mobil di ruang parkir di dekat salah satu pondok.
Dokuguchi-san membuka pintu dengan antusias yang tak
tertahankan. Sambil memeluk ransel yang sempat terlupa di perutku, aku
menyusul.
"Wah."
Udaranya sejuk. Aroma hijau yang pekat dan hawa dingin
yang khas. Aku mendengar kicauan burung liar yang namanya pun tidak kuketahui.
"Aroma yang enak!"
"Wah, sejuk sekali~"
Seika-san dan Shigei-san yang turun belakangan tampaknya
sangat bersemangat. Mereka merentangkan tangan, mendongakkan dagu, dan
mengendus hidung.
Aku pun menarik napas dalam-dalam. Lalu mengejar
Dokuguchi-san yang berlari ke pondok.
Kami menyapa pengelola pondok bersama-sama dan saling
membungkuk.
Ternyata dikelola oleh sepasang suami istri, katanya
bisnis ini dimulai oleh sang suami yang pensiun dini beberapa tahun lalu.
Melihat mereka berdua saling menyandar dengan senyum tenang, entah kenapa aku
pun merasa tenang.
Dipandu oleh sang suami, kami masuk ke dalam pondok kayu.
Bau kayu. Aroma yang menyejukkan yang sering kuhirup di pabrik rumahku dan
masuk ke dalam hidung. Sepertinya bangunannya belum terlalu lama.
"Hmm. Terasa enak."
"Iya."
Seika-san dan Dokuguchi-san menarik napas dalam-dalam
pada waktu yang sama dan menikmati suasana udara di dalam ruangan. Lalu, saat
Seika-san menurunkan ranselnya ke karpet,
"Ah! Aku lupa ranselku di mobil!"
Dokuguchi-san panik. Menanggapi dia yang berbalik arah,
aku menunjukkan ransel yang kupeluk di perutku dengan menepuknya.
"O-oh, terima kasih, Kuts-kun."
Maksudku, apa kamu tidak menyadarinya sampai sekarang?
Seberapa terpesonanya kamu dengan alam? Sambil tertawa pahit, aku meletakkannya
di samping barang bawaan Seika-san.
"Nah, kalau begitu, ayo kita barbekyu?"
"Masih terlalu cepat. Belum jam sembilan,
tahu."
"Sebelum barbekyu, kita harus menangkap ikan.
Pengalaman menangkap Iwana."
Sepertinya tidak perlu reservasi, cukup berkumpul saat
waktunya tiba. Sepertinya pengelola pondok di daerah ini mengelolanya
bersama-sama, dan pengunjung bebas menggunakannya.
Rasanya sistem yang mengandalkan kebaikan orang ini
sangat puitis dan aku menyukainya.
"Apakah perlu baju renang?"
Dokuguchi-san ternyata kurang melakukan riset, ya. Seika-san pernah bilang kalau dia sering hanya bermulut besar saja.
"Tidak, sepertinya dangkal jadi tidak apa-apa.
Sepertinya tempat ini dikelola dengan cukup ketat."
"Eh. Seperti apa ya?"
"Yah, mungkin lebih cepat kalau kita lihat
langsung. Berikutnya katanya mulai jam setengah sepuluh, jadi ayo kita
istirahat sebentar lalu berangkat."
Seika-san yang sedang membolak-balik brosur yang
diberikan sang suami saat masuk ke ruangan berkata tanpa mendongak. Dia
sepertinya menemukan halaman yang berisi panduan menangkap ikan Iwana.
Karena itulah, kami membawa beberapa handuk, kaos ganti,
dan jaring ikan, lalu keluar.
Sang suami dan istri segera berlari mendekat.
"Iwana?"
"Iya. Kita bisa ikut tanpa persiapan apa pun,
kan?"
Aku bertanya sebagai perwakilan. Masahide-san sepertinya
harus mengirim email, jadi dia datang terlambat. Sulit sekali, sungguh.
Aku bertanya-tanya apakah ada hari di mana dia tidak
memikirkan pekerjaan sama sekali.
"Ya, ya. Ember dan jaring juga kami pinjamkan
secara gratis."
Kata sang suami. Saat mengatakan itu, dia melihat jaring
ikan yang kubawa dan tertawa pahit. Gadis-gadis itu juga tertawa,
"Hahaha." Jadi tidak perlu dibawa, ya. Aku tidak bisa menertawakan
Dokuguchi-san. Harusnya aku mencari tahu lebih lanjut.
Yah, karena sudah dibawa, kami memutuskan untuk
membawanya saja, dan kami pun mulai berjalan.
Setelah sedikit keluar dari hutan, kami sampai di jalan
aspal. Itu adalah jalan yang kami lewati dengan mobil tadi.
Kami berjalan lurus ke arah selatan.
"Langitnya luas sekali."
Karena tidak ada penghalang selain gunung, langit
terlihat sangat luas dan besar. Langit biru yang sangat biru. Deretan tiang
listrik pun terlihat jauh ke depan.
Diiringi suara jangkrik yang bergema, terdengar juga
suara air mengalir. Saat aku mengintip ke selokan, air yang sangat jernih
mengalir, dan ikan-ikan kecil berenang di dalamnya.
"Alam yang luar biasa."
"Ibaraki pun terasa seperti ini... tapi memang
tempat yang bagus."
Sambil membiarkan rambut two-tone merah
mudanya berkibar oleh angin sepoi-sepoi, Dokuguchi-san mendongak menatap
punggung bukit gunung.
"Kalau begitu sukanya, apa kamu sudah terpikir
untuk hidup di desa di masa depan?"
"Hmm. Tergantung pekerjaan sih. Tidak seperti
Kuts-kun, aku belum menentukan apa yang ingin kulakukan di masa depan. Aku
bahkan tidak tahu di mana dan akan melakukan apa nanti."
Benar juga ya. Meski ingin tinggal di desa, kalau
tidak ada pekerjaan, ya mustahil.
"Pekerjaan,
ya... Kalau melihat Paman, semangat kerjaku jadi hilang, loh~"
"Ah. Yah, itu kan pekerjaan yang spesial. Harus
memprioritaskan talent-nya."
Seika-san menjawab dengan senyum pahit.
Aku jadi tidak tahan untuk menoleh ke belakang. Sosok Masahide-san masih belum
terlihat.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku menikah dengan
Kuts-kun saja dan minta dinafkahi? Sebagai istri kedua."
"Eh!?"
"Heh!"
Lelucon yang buruk untuk perut. Seika-san mengancam
Dokuguchi-san yang tertawa terbahak-bahak, seolah ingin menggigitnya.
"Kalau begitu, aku jadi istri ketiga~"
"Kamu itu... paling jadi hewan peliharaan. Yang
biaya makannya mahal."
"Eh!? Kejam sekali~!"
Ramai sekali.
Tapi benar juga ya. Beberapa tahun lagi, teman masa kecil
yang akrab ini pasti tidak akan bisa bertemu sesering sekarang karena harus
melanjutkan sekolah atau bekerja. Lelucon tentang pernikahan itu mungkin
diucapkan karena sentimentil, akibat sempat memikirkan masa depan seperti itu
barang sejenak.
Menangkap ikan Iwana ternyata jauh lebih mudah daripada
dugaanku.
Ternyata mereka tidak menggunakan ikan liar, melainkan
ikan budidaya yang dipelihara di fasilitas buatan terdekat, lalu ikan-ikan
Iwana itu dilepas ke sungai. Setelah itu, agar tidak bisa kabur, area tersebut
dipagari dengan jaring. Pengunjung tinggal menangkap ikan di dalam area
tersebut.
"Entah kenapa, rasanya agak kejam, ya~"
"Iya, ini pertunjukan kekejaman."
Shigei-san dan Seika-san menimpali satu sama lain.
"Aku jarang melihat pertunjukan kekejaman seperti
ini... mungkin sekelas 'Teka-lympics' saja."
"Berhenti, jangan buat aku teringat hal itu."
Dokuguchi-san meninggalkan kalimat itu seperti kata-kata
terakhir, lalu menerjang masuk ke air dengan kaki telanjang dan mengejar ikan
ke arah jaring.
Ikan yang tak punya tempat pelarian itu ia tangkap dengan
kedua tangan lalu diangkat. Mungkin karena masih segar, ikan itu menggeliat
kuat seolah sedang mengejang.
"Wuaah. Gawat, gawat. Kuts-kun!"
Dipanggil begitu, aku spontan menyodorkan jaring.
Begitu ikan itu dimasukkan ke dalam, beratnya membuat tanganku sempat turun
sesaat.
"Kousei~! Sini juga~!"
Saat menoleh, Seika-san dan Shigei-san ada di sisi lain.
Mereka berdua melakukan cara yang sama dengan Dokuguchi-san untuk mengepung
ikan. Aku berjalan melewati air dangkal ke arah mereka.
"Wahahaha~! Licin sekali~!"
Shigei-san pun tumben-tumbennya aktif. Mengikuti gerakan ikan yang meronta, daging di lengan atasnya
bergoyang-goyang.
Aku mendekat dan mengambil ikannya. Seika-san
sepertinya baru saja menangkap ikan tepat di sampingnya, jadi aku menyodorkan
jaring ke arahnya juga.
"Berat!"
Tiga ekor ikan di dalam jaring, tentu saja terasa
berat. Apalagi ada ikan yang meronta keras tanpa mau menyerah, membuat asam
laktat menumpuk di lenganku dengan cepat.
"Kutsuzawa-kun."
Tiba-tiba ada suara dari arah tepi sungai. Itu
Masahide-san. Sepertinya dia akhirnya terbebas dari tugasnya. Dia mengangkat
ember. Begitu ya, maksudnya suruh masukkan ke sini.
"Terima kasih banyak."
Jujur saja, aku sangat terbantu. Kalau dibiarkan terus
begitu, aku cemas pegangan jaringnya akan bengkok. Atau mungkin jaringnya yang
robek.
"Ah, Papa! Akhirnya ganti baju."
Penampilan setelan jasnya tadi sudah berganti menjadi
polo shirt dan celana chino.
Pakaian yang tampak nyaman untuk bergerak. Namun,
jika dia ingin masuk ke air, dia harus menggulung ujung celananya agar tidak
basah.
Tapi sepertinya dia sendiri memang tidak berniat ikut
serta dalam "pertunjukan kekejaman" ini.
"Setelah menitipkan ikannya, bagaimana kalau
kita pergi ke bagian hulu sungai?"
Dia memberikan saran seperti itu.
Kalau diperhatikan lebih teliti, di dekatnya ada
joran dan kotak pendingin. Begitu ya, dia tipe yang itu rupanya.
"Oh, boleh juga. Aku juga kurang puas dengan
ikan budidaya yang lemah seperti ini. Paman, tolong pandu kami, ya."
Dokuguchi-san tersenyum dengan berani. Seika-san dan
Shigei-san yang datang menyusul pun sepertinya sudah paham arah pembicaraannya,
dan tidak ada yang keberatan.
"Tapi, apa boleh kita masuk lebih jauh ke
gunung?"
"Tadi aku bertanya pada pengelola, katanya di
sekitar sini tidak masalah. Karena hampir tidak ada pengunjung yang pergi ke
sana, katanya itu tempat tersembunyi."
Tempat tersembunyi itu pasti dalam artian memancing, ya.
Tapi, aku senang karena tidak ada orang. Bagaimanapun juga, tempat
"pertunjukan kekejaman" ini cukup ramai oleh pengunjung.
"Kalau tidak ada orang, ganti baju renang saja,
yuk."
"Setuju~"
Aku berusaha memasang wajah setenang mungkin, tapi di
dalam hatiku jantungku berdegup kencang.
Baju renang Seika-san... tubuh ramping dan lentur
yang selalu kupeluk itu akan terlihat dengan hanya tertutup sedikit kain. Tanpa
sadar aku menelan ludah.
"Kuts-kun, hidungmu mimisan, ya?"
"Apa!?"
Aku spontan memegang hidung. Tapi tidak ada bau darah dan
tidak ada rasa panas di dalam hidung. Ah, ini... sepertinya aku dikerjai.
"Apa!? Tadi dia bilang begitu! Bohong kan,
ahahaha."
"Jaman sekarang, musuh rendahan di manga pun
tidak akan bilang begitu! Apa!? Pfft! Ahahahaha!"
Aku ditertawakan habis-habisan oleh dua gadis itu.
Apa aku terlihat begitu aneh?
Saat aku melihat Masahide-san dengan pemikiran itu,
ada kerutan yang lebih dalam dari sekadar senyum basa-basi atau senyum pahit di
sudut mulutnya.
Ah, ternyata memang aneh ya. Tapi entah
kenapa, mendapat reaksi dari Masahide-san membuatku sedikit senang. Meski belum
bisa dibilang akrab sepenuhnya.
Kami menyerahkan lima ekor ikan yang tertangkap kepada
petugas, dan berpesan agar ikannya dibersihkan sebelum kami ambil sekitar waktu
makan siang. Setelah membayar 500 yen per ekor, kami meninggalkan area
pengalaman menangkap ikan.
Lalu, hanya aku yang pergi ke pondok lebih dulu untuk
berganti baju renang. Masahide-san tampaknya memang tidak
berniat masuk ke sungai, jadi dia tidak berganti baju. Saat keluar pondok, aku
dilihat dengan cukup telanjang bulat oleh ketiga gadis itu tanpa rasa sungkan.
Gawat, harusnya aku pakai kaos saja tadi.
"Wah, ternyata Kuts-kun, badannya lumayan juga
ya."
"Iya. Padahal tipe anak rumahan, tapi mengesankan,
ya~"
Suara kagum dari Dokuguchi-san dan Shigei-san.
Aku jadi malu dan memalingkan tubuh ke arah lain. Saat
itulah aku bertatapan langsung dengan Seika-san. Matanya yang melamun. Di sana,
aku merasa benar-benar melihat gairah hasrat... mungkin.
Saat dia menyadari tatapanku, dia menundukkan wajahnya
yang memerah,
"Ahaha... baju itu cocok untukmu, Kousei.
K-keren."
Dia memujiku dengan suara kecil.
"T-terima kasih banyak."
Wajahku pasti juga merah padam. Aku bisa merasakan
gelombang tawa nakal dari belakang, tapi aku tidak sanggup menoleh.
★★★
Aku berlari ke pondok seolah melarikan diri, lalu duduk
di depan ranselku sendiri.
G-gawat.
Tubuh telanjang Kousei. Luas kainnya sama saja dengan
pakaian dalam. Lengan atas yang kekar, otot dada yang sedikit menonjol, dan
otot perut yang samar-samar terlihat. Semuanya, semuanya terlihat jelas.
Aku selalu dipeluk oleh tubuh itu.
Karena dia selalu memakai baju, aku tidak pernah
memikirkannya sampai sejauh ini... tapi, tidak lama lagi, aku akan bersentuhan
dengan Kousei dalam kondisi tidak memakai baju seperti itu, ya.
"~~!"
Aku merasakan panas seperti magma di dalam tubuhku.
Otakku mulai melengkapi sensasi itu.
Dari kontak fisik
selama ini, tekstur kulitnya, suhu tubuhnya, semuanya berputar otomatis di
kepalaku.
Seolah-olah sensasi itu menyentuh sekujur tubuhku.
Tubuhku terasa sangat panas sampai aku tidak tahan.
Saat itulah, pintu pondok terbuka dengan suara klak-klak.
Suara percakapan Chika dan yang lainnya.
Tentu saja mereka berdua juga pasti berganti baju di
sini, jadi sudah pasti mereka akan masuk.
"Sekarang gawat..."
Aku menyambar ranselku dan mengungsi ke ruang ganti. Jika
mereka melihat wajahku sekarang, mereka pasti akan curiga. Bahwa aku sedang
memikirkan hal-hal mesum.
"Lho? Seika~?"
Hinano memanggilku dengan suara santai. Sambil menekan dada, aku menenangkan tubuhku dan berusaha memastikan
suaraku tidak bergetar.
"Aku ganti baju di ruang ganti!" jawabku.
"Eh~, kenapa~?"
Tentu saja, Hinano curiga. Padahal kami sudah
berteman dan ganti baju bersama sejak di kolam renang sekolah dasar. Wajar jika
dia menganggap aneh kelakuanku yang tiba-tiba ini.
Tapi saat itu,
"Hinano,"
Chika memanggil nama Hinano dengan nada bicara yang
menasihati.
"Dia pasti sedang bersiap-siap untuk
memperlihatkannya pada Kuts-kun, kan. Seperti mencukur bulu halus yang
tersisa."
"Ah, a~"
Refleks aku hampir berteriak "Bukan begitu!",
tapi aku menahannya. K
alau aku membiarkan mereka salah paham, aku bisa ganti
baju sendirian.
Padahal aku tidak punya bulu yang belum tercukur! Sialan! Eh... tidak ada, kan?
Aku melepas kemeja dengan cepat dan mengangkat lengan
di depan cermin.
Ketiak oke.
Kedua kaki juga sudah kuperiksa dengan teliti.
Bulu kaki juga oke.
Punggung juga sudah kucukur dibantu Mama kemarin, jadi
harusnya aman.
Bulu lengan juga tidak ada... iya! Aman,
aman.
Andaikata perawatan bulu halusnya kurang sempurna pun,
Kousei tidak akan kecewa karena hal seperti itu.
Aku tahu itu, tapi ada harga diri sebagai gadis, kan.
Ini pertama kalinya aku menunjukkan baju renang pada
pacar yang sangat kucintai, jadi tidak mungkin aku membiarkannya berantakan.
"Seika, ayo keluar~?"
"Eh?"
Cepat sekali ganti bajunya! Bukan, bukan itu. Aku yang terlalu lama melamun dan gelisah di sini.
"Tunggu
sebentar!"
Aku bergegas berganti pakaian renang. Sebelum memakai
bra... aku menyelipkan bantalan di dalamnya dengan pelan. Sial. Sialan. Aku
harus melakukan ini agar tidak kalah dari Chika. Lagipula, Kousei sesekali suka
mencuri pandang pada wanita yang lebih berisi. Meski kudengar pria melakukan
itu di luar kendali mereka.
"Belum selesai?"
"Aku datang!"
Aku mengenakan hoodie di atasnya dan berlari keluar
dari ruang ganti.
Kami semua masuk ke gunung. Jalan setapaknya sudah
tertata dengan baik. Ada tangga yang dibuat dengan menanam batang kayu ke
tanah, dan di tempat yang agak curam, ada tali yang dibentangkan.
Setelah berjalan sekitar lima menit, kami segera melihat
anak sungai. Arusnya sedikit lebih deras daripada yang di bawah.
"Sejuk sekali~"
Hinano, yang paling banyak berkeringat, berkata
dengan riang. Benar juga, mungkin karena percikan air yang menyatu dengan udara
sekitar, suhu di sini terasa lebih rendah.
"Di sekitar sini banyak lumut tumbuh. Hati-hati,
ya."
Kousei, yang berjalan di belakang Papa, memberi
peringatan setelah turun dari pijakan yang tinggi. Bersamaan dengan itu, dia
menarik tangan Hinano dan menurunkannya dengan hati-hati agar tidak jatuh.
"Entah kenapa, Kuts-kun jadi makin bisa diandalkan,
ya."
"Iya, mungkin kejadian Mama kemarin benar-benar
membuatnya bangkit."
Saat aku sedang mengobrol seperti itu dengan Chika,
"Dokuguchi-san."
Dia juga dipanggil oleh Kousei.
"O-oke. Tolong ya."
Chika berkata seolah sedang malu-malu, lalu dengan
patuh membiarkan Kousei membimbingnya.
Selanjutnya giliranku. Sambil menurunkan kaki
perlahan, aku menggunakan tangan Kousei yang kugenggam sebagai tumpuan untuk
menapakkan kaki. Benar saja, permukaannya agak licin.
"Pelan-pelan, ya."
Suaranya yang lembut membuat jantungku berdegup
kencang. Dan di saat itulah, perhatianku teralihkan, dan itu
adalah kesalahan. Saat menginjak batu berikutnya, sandal bawahku terasa licin.
"Kya!"
Rasa dingin menjalar ke punggungku, dan di saat yang
sama, tubuhku miring. Gawat!
Pandanganku sedikit naik, melihat langit di antara
pepohonan. Telapak kakiku hampir lepas dari permukaan tanah.
"Seika-san!"
Namun, aku tidak jatuh. Aku ditarik oleh tangan yang kuat
dan tubuhku ditangkap sepenuhnya. Seolah-olah aku hanyalah sebuah benda, dia
mengangkatku dengan mudah. Kakiku sedikit melayang.
Lalu, dia menurunkanku ke tanah dengan perlahan. Saat aku
mengembalikan pandanganku ke depan, aku melihat wajah serius Kousei. Dia
terlihat sangat keren sampai rasanya gawat.
Tangan kirinya yang menekan pantatku. Tangan kanannya
yang berpindah ke punggungku setelah menarik tanganku yang tadi digenggam. Aku
terhindar dari jatuh berkat pelukan dari dua lengan yang kekar ini.
"Kamu tidak apa-apa!?"
"Kamu baik-baik saja!?"
"Seika!"
Suara ketiga teman yang sudah jalan di depan terdengar
samar di telingaku, dan aku terus menatap sang pacar di depanku dengan tatapan
bodoh.
Aku merendam kakiku yang mungkin sedikit terkilir ke
dalam sungai, merasakan alirannya. Sekalian ingin mendinginkan rasa panas di
tubuhku, tapi itu sama sekali tidak membantu—seperti menyiram air ke atas api
yang berkobar.
Omong-omong, Chika dan Hinano sedang asyik mencari
kepiting, dan Papa sudah pergi sejak tadi untuk mencari spot memancing yang
bagus. Pada akhirnya, hanya Kousei yang menemaniku di samping. Yah, mungkin
mereka juga melakukannya karena ingin memberi kami privasi.
"..."
"..."
Aku melirik Kousei yang duduk di sampingku. Dia sedang
menatap aliran sungai dengan tatapan kosong. Apa cuma aku yang merasa tidak
tahan begini?
Aku berpikir seperti itu, tapi saat berjalan kemari tadi,
dia menggandengku sambil menempelkan tubuhnya rapat-rapat, dan aku merasa itu
bukan hanya untuk berjaga-jaga. Seperti efek jembatan gantung, kurasa ada
dorongan insting untuk memastikan ketenangan karena telah terlepas dari bahaya
melalui suhu tubuh satu sama lain.
Singkat kata, kurasa aku merasakan gairah hasrat yang
sama pada Kousei.
Berpelukan dalam kondisi nyaris telanjang seperti ini
benar-benar gawat. Rasanya akal sehatku akan terbakar habis. Sejujurnya, aku
bahkan sempat ingin menggosokkan tubuhku padanya.
Tiba-tiba, saat aku sedang melamun, tanpa kusadari
Kousei sedang menatapku seolah sedang mengamatiku.
"Baju renang..."
"Eh?"
"Apa kamu tidak akan melepas hoodie itu?"
"..."
Lagi-lagi dadaku terasa panas membara. Kamu itu...
itu sama saja dengan bilang kamu ingin melihatku setengah telanjang. Kamu paham
tidak?
"Kamu ingin melihatnya?"
"..."
"Iya."
Seandainya kami masih dalam status sahabat karib,
mungkin aku akan melepasnya dengan cukup mudah. Tentu saja, aku sudah menyukai
Kousei sejak dulu, jadi pasti ada rasa malu... tapi kurasa aku akan tetap
berani menunjukkannya sebagai pakaian yang memang terbuka.
Namun sekarang, kami terlalu sadar akan kegiatan
memperlihatkan dan melihat tubuh satu sama lain. Aku paham bahwa tatapannya
akan sepenuhnya bersifat seksual. Karena itulah, aku tidak bisa segera
menurunkan ritsleting hoodie-ku.
Namun,
"Bisa... tolong tunjukkan padaku? Kamu memakainya
untukku, kan?"
Jika dia bertanya begitu dengan nada yang sedikit tidak
percaya diri...
"...Tentu saja. Mau kutunjukkan pada siapa
lagi?"
Benar. Aku memakainya untuk membuat Kousei tergila-gila,
jadi tidak ada gunanya terus menutupi diri. Apalagi aku sudah berusaha maksimal
dengan memakai bantalan dada.
Aku menarik napas panjang. Wangi tanaman yang kaya dan
bau air yang memercik memenuhi indraku.
"...Jangan lihat ke sini."
"A, b-baik."
Dia menjawab dengan suara yang meninggi karena gugup,
lalu Kousei memunggungiku. Ada otot yang sedikit menonjol seperti benjolan di
sekitar tulang belikatnya. Luar biasa, anak laki-laki itu.
Yah... tidak adil kalau cuma aku yang tidak
memperlihatkan tubuhku. Iya, tidak adil. Jadi, ini juga demi memperbaiki
ketidaksetaraan. Ini adalah tindakan yang benar.
"...!"
Dengan satu tarikan napas, aku menurunkan ritsleting dan
melepas hoodie itu. Gerakanku sedikit kasar. Aku merasa seolah sedang melakukan
latihan untuk "kejadian yang sebenarnya". Mari berpikir positif.
Anggap saja ini pengalaman melakukan persiapan untuk melepas pakaian di depan
Kousei dan untuk Kousei.
Setelah melepasnya, aku menatap tubuhku sendiri untuk
memastikan sekali lagi. Bikini warna kuning. Karena desainnya simpel, bentuk
tubuh pemakainya jadi lebih menonjol. Karena dadaku tidak terlalu besar, aku
harus memikatnya dengan cara ini.
"Sudah... boleh lihat."
Saat aku memanggilnya, punggung Kousei tersentak, dan dia
berbalik perlahan ke arahku.
Aku tidak sanggup menatap matanya, jadi aku menunduk. Aku
sempat merasa ingin menutupi tubuhku dengan lengan secara impulsif, tapi aku
berusaha menahannya.
"S..."
"S?"
"Sangat... menawan."
Dia memujiku dengan suara pelan seperti nyamuk.
"K-katanya kamu yang mau lihat, kenapa malah kamu
yang malu begitu?"
"Y-ya, soalnya. Benar-benar sangat indah."
Aku melirik ke atas. Mata kami bertemu, sarat dengan
gairah. Sepertinya dia akan menciumku. Tapi sekarang, kalau kami sampai
berciuman dalam posisi di mana kulit bersentuhan seperti ini...
"Woi! Kuts-kun! Pinjamkan jaringnya!"
"Ada ikan di sini~!"
Tiba-tiba, suara keras Chika dan yang lainnya yang sedang
bermain lebih jauh di hulu sungai terdengar.
Suasana yang tadinya agak berbahaya langsung buyar. Jujur
saja, aku merasa lega. Tentu saja tidak boleh melakukan hal itu di tempat
seperti ini, tetapi akal sehatku sudah hampir meninggalkan tugasnya.
Kousei pun sepertinya merasakan hal yang sama; berkat
suara Chika dan yang lainnya, seolah hipnotisnya terlepas, tatapan matanya
kembali tenang. Kami saling berpandangan dan tertawa getir.
"Kita berdua sepertinya sedikit kehilangan fokus
akan lingkungan sekitar, ya."
"Iya. Tiap harinya, ya."
"Suatu saat nanti," kata Kousei, tapi kurasa
hari itu sudah di depan mata.
Hanya saja, sebelum itu, kurasa dia ingin melaporkan
semuanya pada Papa sebagai bentuk tanggung jawab.
Lebih tepatnya, setelah masalah keluargaku terselesaikan,
bagaimana pun akhirnya nanti. Kurasa Kousei sedang berpikir seperti itu.
Masalah keluargaku. Perkembangan hubungan kami. Aku
benar-benar merasa dia sangat memprioritaskan keduanya, dan itulah mengapa dia
tidak bisa menjalankannya secara bersamaan.
"Ayo. Mari kita bergabung dengan mereka di
sana."
"Iya."
Aku mengikuti Kousei yang berdiri dan berjalan di tepi
sungai. Sambil sekuat tenaga menahan dorongan untuk menempelkan tubuhku ke
punggungnya yang kekar.
★★★
Menjelang siang. Kami kembali ke area pengalaman
menangkap ikan tadi. Energiku terkuras habis karena bermain di sungai, dan
perutku keroncongan.
Ngomong-ngomong, sepertinya tidak ada ikan yang cukup
besar di bagian tengah sungai tadi, jadi Masahide-san hanya memancing ikan-ikan
kecil lalu melepaskannya kembali.
Pilihannya adalah pergi lebih jauh ke hulu atau bersabar
di pemancingan di depan sini. Jelas dia ingin memilih yang pertama, tapi dia
menahan diri.
Lagipula, perlengkapan kami bukan untuk mendaki gunung,
jadi berbahaya. Terlebih lagi, kalau dia datang sebagai pendamping tapi malah
membiarkan anak-anak mengadakan barbekyu sendirian, itu malah jadi sia-sia.
Kami menerima ikan yang sudah dibersihkan, lalu pergi ke
samping pondok. Ternyata, pasangan pengelola sedang menyiapkan panggangan
barbekyu berkaki empat.
"Ah, terima kasih banyak."
Masahide-san dan aku berlari menghampiri dan membantu
mereka berdua. Tentu saja, kontraknya hanya "penyewaan alat
panggangan", jadi pengaturan seperti ini adalah kebaikan hati mereka.
Ternyata tanpa perlu bantuan pun, semuanya sudah hampir
selesai. Aku merasa bersyukur sekaligus tidak enak hati. Setelah kami semua
berterima kasih, mereka tertawa senang lalu pergi kembali ke tempatnya.
"Kalau nanti kita berkemah lagi, aku ingin memesan
tempat ini lagi," kataku, dan gadis-gadis itu mengangguk dengan antusias.
Apa pun itu, barbekyu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.
Sebelum daging dan ikan Iwana, kami menaruh sayuran yang sulit matang seperti
paprika, jamur shiitake, dan wortel ke atas panggangan—sayuran yang sudah kami
potong-potong sebelumnya di dapur pondok.
"Wanginya enak!"
Kami menunggu sekitar sepuluh menit sampai arangnya
panas, tapi hasil yang didapat sepertinya sepadan. Memang benar, tidak hanya
wanginya, rasanya pun jauh lebih enak daripada memanggang dengan kompor gas.
Shigei-san mengayunkan sumpit di tangannya yang bulat
menggemaskan dengan ragu-ragu. Begitu sayuran mulai matang, akhirnya bintang
utamanya muncul. Daging yang aku dan Seika-san cari selama satu setengah jam
tadi.
"Marbling-nya tetap bagus seperti biasa,
ya~"
Shigei-san memasang ekspresi terpesona. Dari kata
"seperti biasa", bisa ditebak bahwa dia mungkin menghabiskan waktu
kemarin dengan memandangi daging itu berkali-kali.
"Maaf ya, semuanya. Aku sampai ikut dijamu
seperti ini," ucap Masahide-san dengan senyum pahit. Matanya terlihat
lembut, mencerminkan sosok orang dewasa yang ikut bahagia melihat pertumbuhan
anak-anaknya. Dia sudah mengenal bukan hanya Seika-san, tapi juga Shigei-san
dan Dokuguchi-san sejak mereka kecil. Kalau anak-anak itu sudah besar dan
menyajikan hidangan dari bahan yang mereka siapkan sendiri, wajahnya pasti akan
jadi seperti itu juga. Yah, hanya aku yang hubungannya masih baru, jadi rasanya
sedikit canggung.
"Oke. Kita mulai dengan lidah sapi. Karena cepat
matang, jadi bisa cepat dimakan."
Dokuguchi-san menusukkan sumpit besi ke dalam kemasan,
lalu mencengkeram beberapa lembar daging lidah tipis sekaligus seperti
menyiduknya.
Dia membentangkannya di atas panggangan dengan gaya yang
gagah. Suara mendesis yang nikmat terdengar.
Aku membagikan piring kertas kepada semua orang, dan
kami mengoper botol saus yakiniku secara bergiliran.
"Sebenarnya, aku lebih suka lidah pakai perasan
lemon."
"Oh ya? Kalau di rumahku, pakai saus atau
garam."
Saat aku sedang mengobrol hal-hal yang tidak penting
dengan Dokuguchi-san seperti itu, Seika-san menggunakan sumpit besi tadi untuk
mengambil kalbi dan daging has dalam secukupnya, lalu menambahkannya ke atas
panggangan. Asap putih membumbung tinggi.
"Wahahaha~! Dagingnya banyak sekali~"
Shigei-san terlihat sangat senang. Baru saja aku
melihatnya menjepit lidah sapi yang sudah matang dengan sumpit kayu dan
mencelupkannya ke saus, sedetik kemudian dagingnya sudah hilang. Cepat. Gerakan
sumpitnya dari piring ke mulut benar-benar dahsyat.
"Kousei, mulai sekarang adalah perang."
"Eh?"
Aku menoleh karena tidak mengerti maksud sebenarnya dari
perkataan Seika-san,
"Hei, Hina. Itu terlalu cepat!"
Aku menoleh lagi ke arah panggangan karena teriakan marah
Dokuguchi-san. Ternyata dagingnya sudah berkurang hampir setengahnya. Apa
monster yōkai pemakan kalbi baru saja muncul?
"Masih ada, kok~, sebanyak ini~"
Dia
menambah stok daging seolah ingin membalas. Maksudku, kalau disuruh menunjuk
daging mentah pun... kalau dipanggang lalu dimakan, terus diambil lagi, aku
tidak akan pernah bisa mencicipinya seumur hidup.
Saat
itulah.
"Hinano-chan,"
Suara
tenang Masahide-san terdengar.
"Ayahmu
bilang padaku agar jangan membiarkanmu makan terlalu banyak."
"Ugh."
"Lagipula,
akan jauh lebih lezat kalau kita membaginya dengan adil dan makan bersama-sama.
Iya kan?"
Dia
menjelaskannya dengan sabar. Akhirnya, Shigei-san pun mengangguk kecil,
menyetujui rencana pembagian itu.
Dia
sebenarnya bukan anak jahat, jadi aku yakin dia tidak benar-benar berniat
memonopoli semuanya.
Dia hanya terlalu banyak bergerak di pagi hari dan
benar-benar merasa lapar.
Tapi tetap saja, Masahide-san memang orang yang bisa
diandalkan layaknya orang dewasa. Kalau hanya kami saja, mungkin kami tidak
akan bisa menegurnya dengan tegas karena Shigei-san begitu menggemaskan.
Lalu. Sepertinya aku terlalu lama menatapnya,
karena Masahide-san menoleh padaku.
"...Hm? Ada apa?"
"Tidak. Uh... jamur shiitake dan labu yang di sana
sepertinya sudah matang."
"Ah... terima kasih."
Masahide-san menjepit jamur shiitake dengan sumpit,
mencelupkannya ke saus, lalu menelannya bersama bir non-alkohol.
...Saatnya juga untukku, ya. Nanti saat makan sudah
selesai, aku akan meminta waktunya.
Saat aku menoleh ke arah Seika-san di sebelahku, dia
sepertinya paham maksudku dan mengangguk dengan mantap.
★★★
Sekitar satu jam kemudian. Akhirnya bahan makanan habis
dan api panggangan dipadamkan. Pada saat itu, Chika memberi kode padaku. Itu
adalah isyarat bahwa dia akan membereskan semuanya.
Aku
membalas dengan gerak bibir "Thank you".
"Hina, kumpulkan sampah plastiknya, kita bawa
pergi."
"Oke."
Karena sudah dibicarakan sebelumnya, Hinano pun patuh
dengan jujur.
"...Seika?"
Suara Papa sedikit kaku. Dari suasana di tempat itu,
sepertinya dia sadar kalau ini adalah pergerakan yang sudah direncanakan
sebelumnya. Yah, mungkin itu terlalu mencolok, ya.
"Ada yang ingin dibicarakan."
"..."
Dia pasti sudah menduga ini akan terjadi. Dia hanya
mengangkat bahu sedikit dan tidak terlihat terkejut sama sekali.
"Apa ini pembicaraan yang tidak bisa dilakukan kalau
ada Hinano-chan dan yang lainnya?"
"Bukan begitu juga sih."
Sebenarnya, karena mereka semua sudah tahu tentang
hubungan aku dan Kousei serta rencanaku, tidak masalah kalau mereka ada di
sini.
Hanya saja mereka berdua yang berinisiatif ingin
menyingkir supaya kami punya privasi.
Yah, terlepas dari masalah ulang tahun pernikahan, soal
pernyataan hubungan kami, kupikir itu adalah bentuk perhatian karena menurut
posisi Kousei, akan sulit dilakukan jika ada penonton.
"Anu...
sebelumnya, saya ingin meminta maaf karena baru bisa menyapa Bapak
sekarang."
Kousei bicara dengan nada ragu-ragu. Kupikir dia akan
memberikan basa-basi yang lebih lama, tapi... ah, sepertinya dia memang sedang
sangat gugup.
"Ah, begitu ya."
Papa langsung memahaminya.
"S-saya, sedang menjalin hubungan dengan putri
Bapak, Seika! Saya Kutsuzawa Kousei!"
"Oh, begitu. Aku tahu namamu, tapi..."
Aku hampir tertawa mendengarnya. Dia benar-benar payah
kalau sedang gugup. Papa juga tampak geli, terlihat dari sudut bibirnya yang
sedikit melengkung.
"Yah, karena aku sudah dengar dari Seika, aku tidak
terlalu terkejut... tapi mendengar langsung dari mulutmu sendiri, rasanya
melegakan."
Mendengar jawaban tenang dari Papa, ketegangan di tubuh
Kousei perlahan menghilang.
"Ah, iya. Sebenarnya saya ingin menyapa Bapak lebih
awal, tapi..."
"Tidak, jangan dipikirkan. Lagipula aku juga mungkin
tidak punya waktu luang saat itu."
Sedikit rasa kesal muncul dalam diriku; apakah Papa lebih
mementingkan pekerjaannya daripada menyapa pacar putrinya? Tapi aku menepis
perasaan itu untuk saat ini.
"Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, saya
menganggap Seika adalah orang yang akan saya temani seumur hidup. Mungkin di
mata Bapak, pemikiran saya ini terdengar tidak dewasa..."
"Tidak juga."
Papa menggelengkan kepalanya dengan tatapan serius.
"Justru aku baru sadar akhir-akhir ini... bahwa kita
harus memiliki semacam gairah yang kuat, entah itu kekanak-kanakan atau bahkan
menjurus ke arah fanatisme."
"Eh?"
"...Ah, lupakan saja. Aku bicara ngawur. Jangan
dipikirkan."
Kalau dia bicara soal Mama, seharusnya dia tidak perlu
menyembunyikan apa pun. Namun, dari sikapnya, aku bisa membaca niat sebenarnya.
Mungkin Papa sama seperti Kousei yang sempat menyimpan luka di masa lalu.
Sebagai keluarga sendiri, aku benar-benar tidak menyadarinya.
"...Apakah gairah itu... sudah Bapak biarkan
membeku?"
Sebelum aku sempat bicara, Kousei sudah menyuarakan apa
yang ada di pikiranku. Papa tampak terkejut dan matanya melebar.
"Sebelum bertemu Seika, saya pun sama. Tapi, meski
terasa memalukan, meski membuat marah atau menangis, saya rasa kita harus tetap
bicara. Kita harus percaya bahwa orang lain akan membalasnya... seperti yang
Bapak bilang, dengan gairah yang kuat."
"..."
"..."
Suasana menjadi canggung. Kousei menyadari hal itu dan
bersuara kecil, "Ah."
"M-maaf. Saya lancang sekali bicara sok tahu seperti
ini. Padahal saya tidak tahu situasinya secara mendalam."
Dia buru-buru meminta maaf pada Papa. Tapi, Papa tidak
diam karena marah menganggap Kousei lancang. Pasti ada sesuatu dari kata-kata
itu yang menyentuh perasaannya.
Mulai dari pemilihan rumah sakit delapan tahun lalu,
kepercayaan Papa perlahan memudar. Dia tidak bisa lagi menganggap Mama sebagai
orang yang akan membalas gairahnya. Sebaliknya, dia merasa jika dia
mengeluarkan gairah itu, ia justru akan memicu api besar dan menghanguskan
hubungan mereka sepenuhnya.
Maka dari itu, dia memilih untuk bersabar dan bersikap
dewasa agar hubungan itu tetap bertahan. Mungkin itulah yang dia pikirkan.
Namun pada akhirnya, dia tak sanggup menahannya dan kini hanya menjaga jarak
dengan kepala yang dingin.
Padahal, pasti masih ada percikan api yang tersisa di
dalam es itu. Untuk memberikan kembali gairah ke sana...
"Papa!"
Kali ini aku yang tidak sabar dan suaraku terdengar agak
parau. Papa yang tadi sedang bicara dengan Kousei menoleh ke arahku dengan
sedikit terkejut.
"Anu..."
Kata-kata selanjutnya tak bisa keluar. Tenggorokanku
terasa kering dan perih.
Bagaimana jika dia menolak? Apakah itu berarti aku harus
menyerah pada gairah untuk Mama? Apakah itu akan menjadi embusan terakhir yang
memadamkan apinya?
Tidak, aku tidak boleh menyerah. Mungkin aku tidak bisa
mengatakannya. Saat aku hampir menunduk, tangan besar yang hangat
menggenggam tanganku. Tanpa aku sadari, Kousei sudah ada di sampingku.
Tanpa bicara, dia menggenggam tanganku erat dan
mengangguk mantap. Seolah ingin menyampaikan bahwa dia akan selalu berada di
pihakku, apa pun yang terjadi.
Aku menghela napas panjang. Seolah tenggorokanku yang
kering kembali basah.
"Papa... tanggal 30 nanti. Kami akan mengadakan
pesta di apartemen Sawamigawa. Aku ingin Papa datang."
"...Hari jadi pernikahan, ya."
"Iya."
Kakiku terasa gemetar. Tapi aku berhasil mengatakannya,
Kousei! Aku ingin sekali melompat ke arahnya, tapi masih terlalu dini untuk
merayakannya. Aku menatap lurus ke mata Papa.
★★★
Dia sempat menatap langit sejenak, lalu mengembalikan
pandangannya pada Seika. Akhirnya, dia berbisik pelan.
"Begitu, ya."
Tangan Seika yang digenggamnya menegang. Jari-jarinya
terasa sedikit sakit.
"Aku akan mencoba mengatur waktuku."
Seketika, wajah Seika bersinar cerah.
"B-benarkah!?"
Dia terlalu bersemangat sampai-sampai tubuhku ikut
tertarik sedikit.
"Yah, aku akan mengusahakannya."
Seika terlihat polos dan bahagia, tapi aku sedikit cemas
dengan nuansa dari kata "mengusahakan" itu. Ditambah lagi,
ekspresinya tampak sedikit kaku.
"Janji ya? Pokoknya harus luang! Lagipula ini hari
jadi... ah, sudahlah."
Seika pasti ingin mengeluh, tapi dia menahannya. Mungkin
dia merasa Papa sudah bekerja keras demi mereka, atau dia tidak ingin merusak
suasana saat Papa sudah mulai menunjukkan sikap positif.
"Mama pasti akan senang sekali! Berhasil, Kousei,
kita berhasil!"
Dia melepaskan tanganku dan meminta tos. Saat aku
merespons, aku terus memperhatikan wajahnya dengan saksama. Dia tampak agak
kesepian, seolah sedang merelakan sesuatu. Jika perasaanku tidak salah, dia...
"Baiklah, aku akan pergi memancing di kolam
pemancingan sebentar."
Dengan nada santai, dia melakukan gerakan seolah sedang
mengayunkan joran. Mungkin dia masih merasa kurang puas karena hasil memancing
di sungai tadi tidak maksimal.
"Iya! Hati-hati ya. Tapi kalau di kolam pemancingan,
pasti aman lah."
Seika tertawa sendiri setelah mengatakannya. Dia sedang
sangat bersemangat.
Dia menyampirkan peralatan memancing yang tadi
ditinggalkannya di samping cottage, melambai pada kami, lalu menuruni lereng.
"Syukurlah. Padahal aku tidak menyangka dia akan
semudah itu mengiyakan. Apa mungkin Papa sebenarnya memang sudah berniat untuk
kembali?"
"Mungkin saja."
"Kousei?"
"Ah, bukan, itu pasti benar. Syukurlah. Segalanya bergerak ke arah yang lebih baik, kan?"
"Iya! Kalau kita bisa melewati rintangan ini, pasti
sebentar lagi semuanya akan membaik."
"..."
"..."
Seika menatapku dengan tatapan memohon. Aku mengelus
kepalanya dengan lembut. Sambil memegang dagunya, aku menyesuaikan posisinya
sedikit, lalu memiringkan kepala dan mengecup bibirnya. Chu, chu,
terdengar suara decapan kecil. Aku terus menciumnya sebagai bentuk apresiasi
karena dia sudah bekerja keras. Rasa lega setelah ketegangan dan kebahagiaan
yang kami bagi, Seika tidak kunjung melepaskanku...
"Dasar bodoh, jangan menekan! Berat tahu."
"Habisnya, aku tidak bisa lihat~"
Hm? Apa-apaan itu? Tadi aku merasa mendengar suara yang
seharusnya tidak ada di sini.
Aku membuka mata. Seika sepertinya juga merasakan
keanehan itu, pupil matanya melebar. Dia mengecup bibir atasku sekali lagi
sebelum menjauhkan wajahnya dengan berat hati.
Kemudian, kami berdua menoleh ke arah cottage secara
bersamaan.
Dari balik batang pohon besar, terlihat tubuh bulat dan
ujung rambut berwarna merah muda.
"Ah."
Aku
bertatapan dengan Shigei-san. Lalu dengan Horoguchi-san juga.
"A-apa yang kalian lakukan..."
Seika gemetar hebat. Ini pertanda gunung akan
meletus. Benar saja,
"Hey!!"
Dia meledak seketika itu juga.
Seika berlari mengejar mereka. Horoguchi-san lari
membelakangi kami, sementara Shigei-san lari dengan tertatih-tatih.
Anehnya, aku merasa cukup tenang. Mungkin karena aku
sudah bersiap bahwa suatu saat akan ada yang memergoki kami.
Tapi di sisi lain, mengintip itu tidak baik. Aku memutuskan untuk bergerak diam-diam. Aku memutar arah untuk
mencegat Horoguchi-san yang kemungkinan besar akan berlari memutari cottage.
Tak lama, aku menemukannya.
Dia berlari sambil menoleh ke belakang, tapi saat aku
berdiri menghadangnya, dia menyadari kehadiranku.
"Uwoaaaa!?"
Dia berteriak keras. Lalu, mungkin kakinya tersangkut
akar pohon atau rumput, dia sedikit terhuyung.
"Hati-hati!"
Refleks, aku menangkap tubuhnya. Dada yang jelas
lebih besar dari Seika itu mengenai bagian bawah ulu hatiku dengan empuk. Aku
menopang bahunya untuk mencegahnya jatuh.
"Anda tidak apa-apa?"
"U-un. Makasih."
Cara dia mengucapkan "makasih" mirip sekali
dengan Seika, sedikit manis. Memang benar mereka sahabat karib.
"Hey!! Kousei mesum!!"
Kenapa kebenciannya dialihkan kepadaku!?
Seika yang berlari ke arah kami langsung memisahkan aku
dan Horoguchi-san. Lalu, kepalanya menghantam dadaku. Ini lumayan sakit, lho.
"Sudah, hentikan."
"Tidak mau."
Meski begitu, dia tertawa. Seperinya dia mengerti
kalau tadi itu tindakan darurat.
Dia pasti hanya sedang bersemangat karena senang.
Mereka tidak benar-benar marah karena diintip.
Buktinya, saat aku memeluknya dengan lembut, dia jadi
tenang dan bermanja di dadaku.
"Syukurlah, sungguh."
"Iya."
Setelah melalui banyak hal, akhirnya kami memetik
hasil yang manis. Bermanja, berlarian... dia benar-benar terlihat seperti anak
kecil lagi. Dia sungguh sosok yang manis.
Saat aku mengangkat wajah, Horoguchi-san dan
Shigei-san yang baru saja sampai juga tersenyum melihat kami.
Aku berdiri diam sejenak sambil menatap punggung
ketiga orang yang masuk ke dalam cottage. Seika menyadari aku tidak mengikuti
dan menoleh ke belakang. Wajahnya terlihat bingung.
"Kousei?"
"Aku mau menelepon Ibu sebentar. Aku lupa memberi
kabar kalau aku sudah sampai dengan selamat."
Aku tertawa canggung, seperti orang yang akan
dimarahi.
"Oh, begitu. Ibu Akina memang orang yang cukup
pencemas, ya."
Dia sudah hafal betul dengan karakter ibuku. Yah,
itu memudahkan keadaan, jadi tidak masalah.
Aku tersenyum samar dan kembali menyusuri jalan tadi.
Seika dan yang lainnya tampaknya tidak curiga, "Kalau begitu, kami duluan
masuk ya," ucap mereka sambil berbalik lagi.
Aku menuruni lereng dan mengunjungi pondok tempat
kegiatan menangkap ikan tadi. Saat aku memberitahu petugas bahwa aku ada urusan
dengan kenalan di kolam pemancingan,
"Iya, silakan masuk. Kalau mau ikut memancing juga,
kami menyewakan joran," katanya dengan santai.
Kolam pemancingan itu terbuat dari beton tanpa
polesan, dengan eksterior yang sangat artifisial. Aku baru
pertama kali masuk, kupikir tempatnya akan lebih bernuansa alami. Mungkin kalau
memancing di laut akan berbeda.
Dia segera ditemukan. Karena pengunjungnya hanya sekitar
empat orang di luar dirinya, jadi tidak perlu susah payah mencari. Dia sedang
duduk di tepi kolam sambil menjatuhkan kail, jadi dia juga langsung menyadari
keberadaanku. Aku berlari kecil menyeberang ke sisi seberang.
"Ada apa?"
"Ah, anu."
Ternyata aku hanya datang secara impulsif dan belum
berpikir bagaimana harus memulai pembicaraan. Aku baru menyadarinya sekarang. Rencanaku benar-benar nol.
Rasanya aku mulai mirip dengan Seika.
"..."
"..."
Saat aku sedang berpikir keras, dia menghela napas dari
hidungnya.
"Mau duduk?"
Dia menunjuk ke arah dekatnya. Di tepi kolam, ada
beberapa kursi lipat murah yang disandarkan di dinding dengan tulisan
"Silakan digunakan". Aku mengangguk, berlari mengambil satu, lalu
meletakkannya di sampingnya dan duduk di sana.
"..."
"Apakah
Bapak suka memancing?"
"Begitulah.
Awalnya hanya ikut-ikutan saja, tapi ternyata cukup sesuai dengan
kepribadianku."
Saat
senyum muncul di wajahnya yang tampan, kerutan dalam yang menandakan usia
tampak di sudut matanya. Aku pernah mendengar kalau dia tipe yang ingin
terlihat awet muda, jadi tentu saja aku tidak melakukan hal tidak sopan seperti
menatapnya lekat-lekat.
"Kamu... katanya seorang pengrajin, ya?"
"Ah, iya. Sebagai hobi sekaligus penghasilan... pada
akhirnya nanti akan menjadi mata pencaharian saya."
"Hebat. Di usiamu, aku bahkan tidak memikirkan masa
depan sama sekali."
"Itu hanya kebetulan saja. Karena keluarga saya yang
seperti itu dan saya sudah terbiasa dari kecil, ternyata menyenangkan.
Sesederhana itu saja."
Itu bukan kerendahan hati, itu kenyataan. Seandainya aku
lahir di keluarga yang berbeda... entah apa yang akan terjadi padaku. Mungkin
aku tidak akan menempuh jalan sebagai pengrajin.
"Tidak, itu termasuk bakat tersendiri."
Dia tersenyum tipis.
"Aku jadi tenang mempercayakan Seika padamu."
Dia berkata begitu. Di balik senyum yang terasa kaku itu,
aku merasakan semacam dinding pertahanan mental.
Aku menarik napas sedikit. Mengembuskannya perlahan...
lalu melangkah melampaui dinding itu.
"Jangan-jangan...
Bapak tidak berniat datang tanggal 30 nanti?"
Sebenarnya
ini alasan utama aku datang mengejarnya.
Dia...
tidak banyak mengubah ekspresinya. Mungkin dia sudah menduga pertanyaan
ini sejak aku datang ke sini.
Hening sejenak. Seekor ikan melompat di kolam.
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Entahlah. Waktu kita bicara soal janji tadi, mata
Bapak sama seperti mata Seika saat melihat aksesori yang harganya tidak
terjangkau baginya."
Mendengar jawaban itu, dia mendongak dan tertawa
"Hahaha". Suara tawanya lebih keras dari yang kubayangkan,
sampai-sampai pemancing lain terkejut dan menoleh ke arah kami.
"Wah, aku kalah... biasanya orang senang dibilang
mirip dengan putrinya..."
Dia berkata begitu, tapi melihat bibirnya yang sedikit
melonggar, dia pasti sebenarnya senang.
Kemudian, dia menggulung benang pancingnya dan
mengangkat joran. Sepertinya ini bukan pembicaraan yang bisa dilakukan sambil
lalu.
Setelah menghela napas kecil, dia melirik ke arahku.
"Butuh keberanian untuk curhat pada anak seumuran
putriku."
Aku bersiap mendengar apa yang akan dia katakan.
Mencurahkan isi hati kepada anak kecil yang jauh dari status dan usianya... aku
hanya bisa membayangkan, pasti harga dirinya banyak menghalangi.
Namun, dia berniat menanggalkan itu semua dan membuka
hatinya padaku. Aku mengepalkan tangan di atas lutut, memasang posisi
mendengarkan dengan sepenuh hati.
Melihat itu, dia tersenyum seolah sedikit lega.
Lalu, dia mulai membuka mulut.
"Aku merasa... tidak punya tempat lagi di
sana."
"Eh?"
"Aku mulai berpikir apakah aku masih dibutuhkan di
rumah itu."
"Rumah itu" yang dia maksud bukanlah apartemen
di Sawamigawa, melainkan kehidupan berkeluarga bersama istrinya dan Seika.
"Kenapa Bapak berpikir seperti itu?"
Itu tidak mungkin.
"Beberapa hari lalu, istriku pingsan, kan?"
"Eh? Ah, iya."
Aku ingin mengatakan "Untunglah tidak terjadi
apa-apa," tapi melihat kesedihan di wajahnya, aku mengurungkan niat.
"Itu mengejutkan."
"Iya."
Tentu saja. Meski mereka sedang pisah rumah, pasti
mengejutkan jika istri pingsan. Tapi sepertinya bukan hanya itu saja.
"...Bukan hanya soal istriku, tapi entah bagaimana,
rasanya terpukul karena orang pertama yang diandalkan Seika bukanlah aku."
"..."
Sebagai orang yang diandalkan pertama kali, aku merasa
tidak enak. Seolah mengerti suasana hatiku,
"Ah, bukan. Aku tidak bermaksud menyindirmu. Aku
sangat berterima kasih padamu. Itu adalah perasaan jujur dari hatiku."
Dia berkata begitu sambil melambaikan tangan.
"Hanya saja, aku merasa terkejut sendiri dengan
ketidakmampuanku sebagai seorang ayah."
Melihatnya yang memiringkan bibir dengan sinis, aku tidak
bisa setuju dengannya.
"Tidak seperti itu. Saya dipanggil karena rumah saya
dekat dan saya adalah pengangguran saat libur musim panas."
"..."
"Lagipula kalau ada apa-apa, saya masih bisa meminta
bantuan keluarga saya."
Sebenarnya, ibu sayalah yang menghubungi rumah sakit saat
itu.
"Sejujurnya aku tidak yakin dia memikirkannya sampai
sejauh itu. Seika yang itu..."
Dia menggelengkan kepala perlahan. Tapi itu informasi
yang sudah lama.
"Seika sudah jauh lebih tenang. Baik istri Bapak
maupun Horoguchi-san juga bilang begitu."
"Benarkah?"
Aku mengangguk mantap. Lalu mengembalikan topik ke
pembicaraan utama.
"Sudah pasti, seandainya Bapak ada di rumah saat
itu, saya tidak akan mungkin dipanggil."
"..."
"Lagi pula, istri Bapak pun. Katanya saat pingsan,
nama Bapaklah yang pertama kali dia panggil."
Aku pikir itu informasi yang sudah umum, tapi...
"B-benarkah?"
Dia terkejut sampai kaki kursinya menggeser tanah. Terdengar suara grrrr, dan ikan yang sedang berenang ke arah
sini pergi menjauh.
Aduh, gawat. Seika tidak memberitahunya karena memikirkan
perasaannya, ya? Kalau jadi runyam seperti ini... tidak, kalau sudah begini,
aku harus nekat.
"...Sepertinya begitu. Pasti, dia masih..."
Aku sadar sangat lancang jika harus mewakili perasaan
istrinya.
"..."
Lalu,
"Apakah tidak bisa kembali?"
Aku melompat melampaui posisi Seika dan mengatakannya.
"Kalau Bapak ingin diandalkan saat terjadi
sesuatu... tapi dari sisi mereka, kalau Bapak tidak ada di sisi mereka, mereka
juga tidak bisa mengandalkan siapa pun."
"..."
"Waktu itu, seandainya Bapak ada di sisi Seika,
betapa lega perasaannya."
"..."
"Lagi pula, saya repot kalau diandalkan sepenuhnya.
Waktu itu kebetulan tidak ada masalah serius, tapi kalau itu penyakit fatal,
saya tidak bisa memutuskan apa-apa."
Tentu saja saya akan melakukan apa yang saya bisa, tapi
bagaimanapun saya hanyalah anak usia 16 tahun. Saya tidak akan bisa menandingi
beratnya tanggung jawab seorang pria dewasa, seorang suami, sekaligus seorang
ayah seperti Bapak. Baik dari segi kesiapan maupun kemampuan bertanggung jawab.
"Begitu, ya. Meski kamu pacar putriku."
"Iya. Lagipula, Bapak lihat sendiri kan betapa
bahagianya Seika tadi? Tidak mungkin tidak ada tempat untuk Bapak."
Aku sadar sudah tidak bisa menahan diri, tapi dorongan
dari dalam dada terus meluap.
"Soal model itu pun, dia masih terus bimbang. Tapi
alasan dia bertahan bukan cuma karena dia suka pekerjaannya, saya rasa itu
karena ikatan dengan Bapak. Saya merasa begitu."
Seika sangat menyayangi Bapak. Dan dia menunggu hari di
mana keluarga bertiga bisa berkumpul kembali.
"Tahun ini dia tidak pulang kampung ke mana pun
karena dia menyayangi Bapak dan istrinya. Dia tidak ingin merusaknya karena
ulahnya sendiri."
"..."
"Kadang dia juga cerita tentang Bapak dengan
gembira. Dia sangat bersyukur Bapak bekerja untuk membiayai hidupnya."
Jika diingat, sejak pertemuan kembali di bulan Mei, aku
selalu merasakan kesetiaannya terhadap uang dan pekerjaan. Mungkin dasar dari
semua itu adalah rasa terima kasih kepada ayahnya yang tinggal jauh.
"Tidak mungkin Bapak dilupakan atau dianggap remeh.
Tidak mungkin tidak ada tempat untuk Bapak di sana."
Aku mengatakannya dalam satu tarikan napas. Dia tidak
bicara apa-apa sejak tadi. Dia hanya menatapku seolah terpaku. Aku sadar aku
bicara sepihak, tapi aku tidak bisa berhenti, seperti mesin yang overheat.
"Saya... waktu SMP, saya pernah mengalami kejadian
tidak menyenangkan di sekolah sampai tidak mau masuk sekolah."
Sambil diliputi gairah, mulutku terus bergerak.
Meski topik pembicaraannya melompat, dia tidak
memotong dan menatapku dengan mata serius. Dia mendengarkan kata-kataku sebagai
manusia yang sejajar, tidak meremehkanku karena masih anak-anak. Hal itu justru
membuatku semakin terpacu.
"Meski akhirnya saya bisa masuk SMA, tentu saja
saya tidak punya teman. Tapi suatu hari, saya bertemu dengan Seika."
Meski aku tidak tahu apakah pantas menceritakan hal ini,
aku terus merajut kata-kata.
"Awalnya... dia kasar, tidak bisa membaca suasana
orang seperti saya, sejujurnya saya pikir kami tidak akan cocok. Tapi... dia
memuji barang yang saya buat, memuji pekerjaan saya. Dengan sangat murni,
sangat lugu. Tanpa sadar, seolah saya sudah melupakan kenangan pahit saat SMP,
saya mulai menawarkan diri untuk membuatkan sesuatu untuknya."
"..."
"Mungkin
insting saya sudah tahu. Bahwa orang inilah yang akan
mengulurkan tangan untuk saya."
Aku mengepalkan tangan tanpa sadar. Aku bisa merasakan
sensasi telapak tangannya.
"Tapi Seika tiba-tiba menjauhkan saya. Setelah tahu
alasannya, saya bisa memahaminya, dan saya pun sadar saya telah bersikap acuh
tak acuh. Tapi saat itu, saya benar-benar bingung, dan sejujurnya saya sempat
berpikir untuk menyerah saja."
Tubuhku panas. Tenggorokanku kering.
"Tapi saya mengejarnya. Dan sekarang saya
benar-benar bersyukur karena telah melakukannya."
"..."
"Mungkin Bapak akan berpikir anak bau kencur seperti
saya bicara apa dengan satu pengalaman sukses ini... tapi saya pikir, pada
akhirnya kita harus menciptakan tempat kita sendiri. Saat SMP saya tidak bisa
melakukannya. Tapi berkat kesempatan di SMA, saya menemukan orang yang bisa
menjadi tempat saya pulang."
Karena panas musim panas dan gairah dari dalam tubuh,
pandanganku sedikit berkunang-kunang.
"Tapi lawan bicara juga manusia. Mereka tidak akan
mengulurkan tangan selamanya tanpa pamrih. Kita juga harus meraihnya. Tiga
bulan terakhir ini membuat saya sangat merasakannya."
Aku menelan sisa ludah di mulutku.
"Bapak tidak bisa meraihnya? Tangan Seika. Tidak ada anak yang selembut, sesetia, dan setulus dia di dunia ini.
Anak seperti itu sudah mengulurkan tangan sekuat tenaga ke arah Bapak."
"Itu... aku tahu."
"Kalau tahu! Tolong raihlah! Dia akan menjadi tempat
Bapak pulang. Jadilah tempatnya pulang. Seika sangat menyayangi Bapak!"
panas dengan begitu tiba-tiba, kepalaku sempat terasa
pening. Aku menapakkan kaki dengan kuat ke tanah agar tidak jatuh. Gigiku
terkatup rapat sampai terdengar bunyi gemeretak.
"Kumohon! Saya tidak meminta Bapak menyelesaikan
segalanya dalam sekejap! Setidaknya demi agar senyum di wajahnya tidak memudar!
Demi alasan itu saja sudah cukup untuk saat ini! Tanggal 30, tolong datanglah!
Kumohon!"
Kumohon, kumohon—aku meracau seperti peziarah yang sangat
taat.
Entah sudah berapa lama aku dalam posisi itu. Rasanya
seperti beberapa detik, tapi bisa juga beberapa menit. Sambil merasakan panas
terik matahari musim panas yang menyengat tengkukku...
Tak lama kemudian, terdengar helaan napas panjang. Dengan
takut-takut, aku mendongak, dan mendapati Masahide-san sedang mengoperasikan
ponselnya. Eh?
Apakah kata-kataku tadi begitu buruk sampai dia memilih
main ponsel? Keputusasaan mulai menyelimutiku.
"Halo. Ya, apa sekarang waktumu luang?"
Aku menatap Masahide-san dengan tatapan kosong saat dia
menempelkan ponsel ke telinganya. Apakah usahaku gagal? Apa tidak tersampaikan?
"...Tidak, ini urusan lain. Bisa dibilang urusan
pribadi. Maaf, tapi untuk pertemuan tanggal 30 nanti, aku ingin menyerahkannya
padamu sebagai penggantiku."
"Eh?"
Mungkin lawan bicaranya di telepon juga mengucapkan
"Eh?" sepertiku, tapi emosi yang terkandung di dalamnya pasti sangat
berbeda.
"Ya, maaf mendadak. Ada urusan yang... benar-benar
tidak bisa ditinggalkan. Urusan yang jika kulewatkan, mungkin akan kusesali
seumur hidup. Pokoknya... tolong ya."
Rasa bahagia. Rasa yang membuatku ingin berteriak, rasa
yang seolah meledak dari lubuk hatiku yang terdalam.
Masahide-san berpamitan pada lawan bicaranya dan
mematikan telepon. Setelah memasukkan ponsel ke dalam sakunya, dia mengembuskan
napas panjang lagi dan menatap langit.
"...Masahide-san."
"..."
"Terima kasih banyak!"
"Kau ini... luar biasa ya."
"Eh?"
"Di usiamu, tidak banyak pria yang bisa bicara
seberani ini di depan ayah kekasihnya."
"M-maafkan saya."
Dengan kepala yang perlahan mulai tenang, aku merenungi
perkataanku sendiri. Berbeda dengan suhu udara di luar, aku merasa
merinding dingin di sepanjang punggungku.
"Tadi saya benar-benar lepas kendali. Hanya demi
Seika-san, itu saja yang ada di pikiran saya. Saya benar-benar bertindak
gegabah."
Aku berniat meminta maaf sekali lagi, tapi Masahide-san
tersenyum tenang.
"Tidak, bagi dirimu, itu sudah benar."
Dia mengafirmasiku.
"Kousei-kun. Terima kasih karena telah memikirkan
putriku sebesar itu, dan terima kasih telah menendang pantatku."
Masahide-san tersenyum sinis.
"Astaga. Aku sudah terbiasa dengan lidah bercabang
para rubah tua di dunia hiburan... tapi menghadapi seseorang yang hanya
mengandalkan ketulusan dan semangat, tanpa kelicikan atau motif tersembunyi,
aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa."
Dia berdiri dari kursinya dan menatap mataku dengan
lurus.
"Bisakah kau rahasiakan dari Seika tentang
keraguanku tadi? Aku takut itu akan menyakitinya."
Untuk sesaat, janjiku dengan Seika untuk "sedapat
mungkin tidak ada rahasia" melintas di benakku. Tapi sudah terlambat, kan?
Aku sudah diam-diam menyelinap pergi untuk menghadapi Masahide-san sendirian.
Tentu saja, seperti yang dia katakan, aku melakukan itu karena aku berpikir
Seika mungkin akan terluka jika dia melihat keraguan ayahnya. Jadi dalam hal
ini, aku dan Masahide-san memiliki tujuan yang sama.
Maaf ya, Seika-san. Sambil
meminta maaf dalam hati, aku mengangguk. Lalu,
"Saya pun, tentang pembicaraan mengenai
Reika-san tadi... saya harap Bapak bersikap seolah tidak tahu apa-apa."
Aku mengajukan kesepakatan seperti itu.
"..."
"..."
Keheningan melanda sesaat, lalu,
"Fufu."
"Pft."
Hampir bersamaan, kami mengembuskan napas dari hidung.
Sebuah ikatan aneh, atau mungkin rasa bangga layaknya
pria yang berbagi rahasia, melintas di dadaku. Rasanya jarak antara aku dan
Masahide-san jauh lebih dekat daripada sebelum aku datang ke kolam pemancingan
ini.
"Sampai jumpa tanggal 30 nanti."
"Ya. Kalau aku tidak berjuang di sini, mungkin aku
tidak akan diundang ke pernikahan kalian nanti."
Aku tidak mengerti apa yang dia maksud dengan
"pernikahan" untuk sesaat, tapi melihat senyum jahil Masahide-san,
aku langsung paham. "Terlalu terburu-buru..." kataku, hampir saja.
"...Iya. Pasti akan saya undang semua orang yang
disayangi oleh saya dan Seika-san. Jadi... mohon hadir di antaranya."
Aku membalasnya dengan nada yang sedikit sombong.
Masahide-san tampak terkejut, lalu dia tertawa terbahak-bahak.
Berpikir bahwa lebih baik memberinya waktu sendirian, aku
meninggalkan kolam pemancingan tanpa dirinya.
Sepanjang jalan kembali ke cottage, perasaanku merasa
damai. Ada rasa puas setelah melakukan sesuatu dengan tuntas. Jika aku yang
dulu, aku pasti tidak akan mampu bertindak seberani itu, atau jika pun bisa,
aku pasti akan menyesalinya terus-menerus. Tapi sekarang, aku sendiri sedikit
terkejut karena tidak merasakan penyesalan sedikit pun.
Aku
menatap langit pedesaan yang cerah membentang jauh. Biru yang indah, tak kalah
dengan warna biru marine yang kulihat dari atas bukit Sawamigawa bersama
Seika-san. Aku berhenti sejenak untuk mengagumi pemandangan yang sejernih
suasana hatiku saat ini.
"...Semua hanya demi Seika-san."
Jujur saja, mungkin caraku agak licik.
Masahide-san bukannya sedang bertengkar hebat dengan
Seika-san sampai pisah rumah. Masalah sebenarnya terletak di antara dia dan
Reika-san. Namun, aku mengabaikan itu dan hanya mengandalkan kasih sayang
seorang ayah, lalu memaksanya dengan itu. Meminjam kata-katanya, aku hanya
mengandalkan ketulusan dan semangat.
Bagi Masahide-san, tinggal bersama Reika-san lagi mungkin
akan menyiksanya kembali. Pekerjaannya sibuk, dan hubungan rumah tangganya
retak. Dia memilih pisah rumah karena rasa sakit itu, tapi sekarang aku
memintanya untuk melangkah kembali ke arah itu.
Namun, apakah itu akan menjadi hari-hari yang menyakitkan
lagi atau akan ada perbaikan, itu tergantung pada mereka berdua. Memaksakan
perubahan di sana tentu terlalu berat bagiku. Ah, begitu ya. Benar seperti yang
dikatakan Ibu. Semuanya terasa masuk akal sekarang.
Jika begitu, pilihanku untuk terus maju hanya dengan
perasaan pada Seika-san adalah benar. Mungkin jika aku secara lancang terus
berceloteh tentang rencana perbaikan hubungan dengan Reika-san, dia justru akan
merasa risih.
"Jadi ini yang terbaik, ya."
Baik pendekatan maupun hasilnya. Yah, mungkin cara
bicaraku sedikit kasar atau sombong. Tapi itu pun bisa dimaafkan, mengingat
aku telah merasakan keputusasaan saat melihat Seika-san menderita di depan
mataku.
Aku jadi sedikit lebih tangguh, ya.
...Aku harus kembali. Seika-san pasti khawatir.
Saat itu, kulihat tiga sekawan teman masa kecilnya sedang
menuruni bukit. Begitu mereka melihatku, suara protes seperti "Ah, itu
dia!", "Astaga~", dan "Apa yang dia lakukan sih?"
terdengar meski jarak kami masih jauh. Ah, aku pasti akan dimarahi.
"Woi~! Kousei bodoh~! Ngapain bengong di tempat
seperti itu!"
Tuh kan, kena marah.
Meskipun begitu, aku sadar bibirku terus melengkung. Kebahagiaan karena ada orang yang khawatir dan memarahiku. Sambil meresapi hal itu, aku dengan senang hati menerima protes dari kekasih dan teman-temanku.



Post a Comment