〈2〉
☆☆☆
Perkemahan yang menyenangkan akhirnya berakhir. Setelah
menaruh kotak pendingin yang kini terasa ringan ke dalam bagasi, kami semua
mengucapkan salam perpisahan kepada pasangan pengelola perkemahan.
Saat mereka membalas dengan senyuman ramah yang meminta
kami datang lagi, aku pun menjawab bahwa kami pasti akan kembali jika ada
kesempatan.
Sesaat setelah mobil melaju, kami sempat mengobrol
tentang sungai, langit, dan ikan. Namun, entah sejak kapan, semua orang
selain aku dan Papa tertidur.
Chika sudah bilang sejak pagi kalau dia kurang tidur
karena terlalu bersemangat, dan Hina sudah tertidur di cottage sebelum kami
naik mobil karena kekenyangan.
Kousei... entahlah, aku tidak pernah menganggapnya
sebagai orang yang hobi tidur.
"Mungkin dia kelelahan secara mental," ujar
Papa.
Aku pun berpikir, apa benar ada sesuatu yang membuatnya
lelah?
Paling hanya saat melaporkan hubungan kami kepada Papa.
Tapi, Papa pun langsung menerimanya dengan mudah.
Apakah itu benar-benar melelahkan?
Aku sedikit ragu, tapi sudahlah. Jika dia memang lelah,
membiarkannya tidur adalah pilihan terbaik.
Sebagai gantinya, sekarang aku ingin menikmati waktu
berdua saja dengan Papa.
"Tanggal 30 nanti, aku akan memanggang kue. Aku
sudah janji diajari oleh Kousei dan Hina."
Aku sempat memikirkan kejutan, tapi melihat Papa yang
berani mengambil langkah maju membuatku sangat senang. Saking senangnya, aku
tidak bisa menahannya lagi. Lagipula, untuk urusan kejutan, masih ada masalah
cincin yang belum selesai.
"Begitu ya, Kousei-kun ternyata pandai memasak
juga."
"..."
Hm? Apakah Papa memanggil Kousei dengan namanya? Padahal
tadi pagi, dia masih memanggilnya Kutsuzawa-kun. Begitu juga saat barbekyu
siang tadi... hmm?
"Nee, Papa."
"Dia benar-benar anak yang tulus."
Suara kami bertabrakan. Meski masih menyisakan sedikit
tanda tanya, aku jauh lebih senang mengetahui Papa juga mengakui kebaikan
Kousei. Wajahku tak sengaja menyunggingkan senyum.
"Iya, kan? Dia pacar terbaik di dunia."
"Yah, awalnya aku sempat bertanya-tanya tipe pria
seperti apa yang akan kau pilih, tapi sebagai seorang ayah, kau telah memilih
tipe yang paling bisa membuatku tenang."
"Eh? Apa maksudnya itu?"
Sambil tersenyum tipis, aku melirik profil samping Papa.
Kupikir dia hanya menggodaku, tapi ekspresinya terlihat sangat serius. Aku pun
ikut menarik senyumku. Terkena cahaya matahari senja, cincin pernikahan di jari
manis tangan kiri Papa yang memegang setir tampak berkilau. Ah, pikirku.
Sejak berpisah rumah, dia jarang memakainya dan lebih sering menjadikannya
kalung. Namun sekarang, cincin itu berada di tempat asalnya. Hal itu membuat
hatiku semakin berdebar kencang.
"Aku juga... merasa seperti diselamatkan
olehnya."
"Eh?"
"Aku ingin percaya bahwa yang menggerakkan hati
manusia selalu adalah ketulusan dan kasih sayang. Pemikiran yang naif, bukan?
...Ah, lupakan saja. Jangan dipikirkan."
"Eh!? Apa sih, serius?"
Aku penasaran setengah mati. Dia tiba-tiba bicara puitis,
lalu seolah memberi isyarat bahwa dia dipengaruhi oleh sesuatu dari Kousei.
Lagipula.
"Kalian berdua sempat mengobrol sesuatu?"
Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin telepon Kousei ke
Akina-san selama itu. Lagi pula, tidak ada alasan baginya untuk pergi ke bawah
bukit. Itu artinya, dia pasti pergi ke arah kolam pemancingan di balik bukit
itu. Tebakanku mulai muncul sekarang.
"...Sedikit."
"Bicara apa?"
"Hanya disadarkan betapa dia sangat
menyayangimu."
"Ya ampun, maksudnya apa sih?"
Kalau sudah dibilang begitu, aku jadi makin ingin tahu.
Aku masih ingin mendesak lebih jauh, tapi...
"Silau ya."
Aku hanya bisa terdiam.
"Turunkan saja sun visor-nya."
Pegunungan yang tadinya menutupi kini menghilang, dan
sinar matahari sore langsung masuk ke dalam mobil. Aku pun
merasa silau dan segera menurunkannya.
"Bukan soal sinar matahari itu."
"Hm?"
"Tidak... aku hanya berpikir mungkin tidak ada
salahnya bagiku untuk berjuang sedikit lagi. Meski terasa memalukan, meski
mungkin akan membuatnya marah, atau membuatnya menangis."
"Ah, itu kan..."
Itu adalah kalimat yang diucapkan Kousei.
Ternyata benar, mereka berdua benar-benar bicara dari
hati ke hati di tempat yang tidak kuketahui. Tidak, mungkin lebih tepatnya
mereka sudah saling menumpahkan isi hati.
Aku ingin terus mengejarnya, tapi apakah itu tidak sopan?
Seperti halnya ada hal-hal yang hanya bisa dibicarakan sesama wanita, mungkin
pria pun punya hal serupa.
"Seika, Kousei-kun adalah anak yang tidak boleh kau
khianati seumur hidupmu."
"Iya, tentu saja. Tanpa dibilang pun aku sudah
tahu."
"Begitu ya. Benar juga. Mungkin kau jauh lebih
mengerti daripada aku."
Aku sedikit mencondongkan tubuh dari jok dan menoleh ke
kursi belakang. Hina-no yang menguasai barisan kursi kedua sendirian sedang
mengunyah-ngunyah dalam tidurnya. Mungkin dalam mimpinya pun dia sedang makan.
Di belakangnya, aku melihat wajah tidur Kousei yang
tampak sangat nyenyak sambil bersandar di bahu Chika. Mulutnya sedikit terbuka,
tampak konyol. Dia sangat menggemaskan sampai aku ingin menciumnya sekarang
juga.
"Iya. Bukan cuma Kousei, semua orang yang ada di
sini sekarang adalah orang-orang penting bagiku."
Aku tidak ingin mengkhianati siapa pun seumur hidupku,
dan aku juga tidak ingin dikhianati. Tentu saja, itu berlaku juga untuk Papa.
Maka dari itu...
"Nanti di pesta pernikahan aku dan Kousei, aku akan
mengundang semua orang yang kusayangi. Jadi, Papa siapkan setelan tuxedo-mu
ya?"
Aku sengaja memancingnya dengan nada sok berkuasa. Kukira
dia akan marah dan bilang aku masih sepuluh tahun terlalu dini, tapi...
Papa justru tampak terkejut, lalu dia tertawa lepas,
seolah itu hal yang sangat lucu. Tawanya benar-benar meledak.
"Eh? Apa itu bagian yang lucu!?"
"Mm~ berisik."
Hina-no yang memarahiku, bukan Papa, membuatku tak bisa
menahan tawa.
Setelah mengantar semua si tukang tidur sampai ke
rumah masing-masing, Papa mengantarku ke apartemen.
"Sampai jumpa tanggal 30," ucapnya sebelum
pergi.
Jika dilihat secara objektif, itu mungkin salam
perpisahan yang singkat untuk momen kebersamaan ayah dan anak setelah sekian
lama. Tapi bagiku, itu adalah kata-kata yang sangat
membahagiakan sampai aku ingin menari. Benar-benar nyata, bukan mimpi, kami
akan menghabiskan hari jadi pernikahan sebagai keluarga.
Sebelum berangkat, pikiranku dipenuhi kecemasan dan
harapan, seperti badai yang berkecamuk. Namun, hasil akhirnya ternyata yang
terbaik. Aku sangat senang sudah mengumpulkan keberanian. Dan mungkin... apa
pun yang dibicarakan Kousei kepada Papa juga memberikan dampak yang sangat
positif. Tapi, apa isinya?
"Penasaran sih, tapi mungkin memang lebih baik tidak
tahu."
Aku pernah mendengar dari Ria bahwa pria punya saat-saat
di mana mereka ingin terlihat keren. Saat seperti itu, lebih baik membiarkan
mereka sendirian.
Aku memasukkan makan malam yang kubeli di minimarket
dalam perjalanan pulang ke dalam kulkas. Karena makan siang tadi cukup berat,
aku memilih mi tsukimi tororo soba.
Setelah mandi, aku tidak langsung kembali ke kamar dan
malah menghabiskan waktu di ruang tamu. Kalau
aku merebahkan diri di tempat tidur, aku pasti langsung tertidur. Tadi di mobil
aku tidak mengantuk karena bicara dengan Papa, tapi ternyata aku cukup lelah.
"...Terhadap grup Takeya, rantai kedai gyudon
besar, beredar rumor di media sosial bahwa Takeya memalsukan jumlah nenek-nenek
di luar negeri dan melakukan impor ilegal kakek-kakek untuk menambah jumlah
karyawan kontrak. Seorang pengangguran yang tinggal di Kota Yokonaka ditangkap
atas dugaan manipulasi bisnis..."
Televisi yang terus menyala menyiarkan berita yang
tidak penting. Isinya sama sekali tidak masuk ke otakku, tapi suara penyiar
wanita yang tenang perlahan membawaku ke alam mimpi...
"Aku pulang~"
"...!"
Gawat. Aku hampir tertidur. Aku bahkan tidak
mendengar Mama membuka kunci pintu.
"Oh, selamat datang."
"Eh? Apa kau menungguku? Lagipula... bukankah kau
makan bersama Masahide-san tadi?"
"Iya."
Ada jeda sebelum menyebut nama Papa, emosi apa yang
terkandung di sana? Apakah Mama iri karena hanya aku yang bisa bermanja dengan
Papa? Kalau iya, padahal dia hanya perlu bersikap jujur saja. Atau sebaliknya,
apakah dia merasa waspada? Karena jika aku diambil oleh Papa, Mama akan
sendirian.
...Mungkin keduanya. Pasti
ada emosi kompleks yang bergejolak di dalam hati Mama. Jika sampai
harus terjerat kerumitan seperti itu, bukankah lebih baik dia izin kerja dan
ikut saja tadi? Namun, kata-kata yang sudah sampai di tenggorokan itu kutelan
kembali.
"Aku sudah beli soba. Ayo makan."
"Oh, terima kasih. Aku lapar sekali, ini sangat
membantu."
"Tadi rencananya mau masak sesuatu?"
Saat diperhatikan, Mama membawa tas belanja. Sepertinya
dia baru saja belanja. Sial, aku lupa memberitahu kalau aku sudah beli makan.
Mama menggelengkan kepala.
"Ya, aku tadinya berpikir membuat sesuatu yang
simpel... tapi karena aku lelah, kalau ada makanan yang sudah jadi, itu lebih
baik."
Sambil berkata begitu, dia memasukkan bahan makanan yang
dibeli ke kulkas. Melihat bahan-bahan itu, aku menyadarinya. Itu bahan untuk hamburg,
makanan kesukaan Papa.
Aku diserang perasaan aneh yang menyesakkan dada.
Ingin menggaruk dada, tenggorokan, padahal tidak gatal sama sekali.
Kenapa? Kenapa kau tidak bisa jujur dengan perasaan tulus
ini? Kenapa harus disembunyikan di depan Papa? Apakah harga diri yang
menghalangi? Kenapa keluarga harus sampai bersaing seperti ini? Apakah mengakui
perasaan jujur berarti kalah?
"Fuuuuh..."
Aku mengembuskan napas panjang. Hampir saja aku meledak.
Mama yang mengeluarkan dua porsi makan malam dari kulkas
duduk di meja.
"Ada apa?"
Sambil menuangkan saus ke atas soba di wadah, dia
bertanya. Sepertinya dia sadar aku terlihat ingin mengatakan sesuatu.
"..."
Aku tidak bisa lagi menunggu Mama yang selalu tidak bisa
jujur karena terhalang harga diri yang aneh. Aku harus bergerak. Maka, aku pun
memberitahunya.
"Mama."
"Hm?"
"Tanggal 30 nanti, Papa akan datang ke rumah
kita."
"Eh!?"
Karena terkejut, Mama menjatuhkan kemasan saus ke dalam
wadah soba, menenggelamkannya. Meski begitu, aku tak mempedulikannya.
"Kenapa tiba-tiba!? Kau yang memintanya?"
Dia mendesakku. Aku menekan perasaanku dan mengangguk
tenang.
"Kenapa sampai seperti itu..."
"Kenapa, ya... karena aku tidak suka keadaan yang
sekarang. Apa Mama sudah puas dengan keadaan yang sekarang?"
"...Itu..."
Mama menghindar dari tatapanku dengan raut wajah tidak
enak. Sikap itu membuatku kesal. Di bawah meja, aku mengepalkan tanganku
erat-erat.
"Aku akan bicara terus terang. Setelah punya
pasangan seperti Kousei, aku jadi mengerti... paling baik itu jujur kepada
orang yang dicintai. Jika kau memendam perasaanmu dalam-dalam, meski kau
sembunyikan, suatu saat dia akan menyadari dan datang menjemputmu. Itu adalah
pemikiran yang terlalu naif."
"..."
"Tapi, ada juga orang yang menerima sifat manja
seperti itu... saat aku lepas kendali, Kousei datang menjemputku. Seperti yang
Mama tahu, kejadian di bulan Mei itu. Dan sekarang, Mama juga. Papa mencoba
untuk datang menjemput kita. Tapi ingat, Kousei maupun Papa tidak datang tanpa
perjuangan. Mereka datang setelah mengatasi rasa takut akan ditolak, disakiti,
atau dipermalukan."
Jangan
anggap itu hal yang wajar. Kousei melakukan itu bahkan saat kami
belum pacaran. Kita harus menyadari betapa berharganya hal itu. Tentu saja Papa
juga. Tidak ada undang-undang yang mewajibkan seorang suami untuk datang
menjemput.
"..."
"Aku pernah mendiamkan orang yang sudah susah payah
mengejarku sampai sejauh itu. Tapi, di saat terakhir, saat aku tahu hubungan
kami benar-benar akan berakhir, aku akhirnya bisa jujur dan memohon padanya.
Aku nyaris tidak lulus... tidak, mungkin itu adalah nilai belas kasihan karena
kemurahan hati Kousei."
Aku tertawa mengejek diri sendiri. Mama masih
menggigit bibir bawahnya, tanpa sedikit pun melembutkan ekspresinya.
"Bagaimana dengan Mama? Mau menyembunyikannya
lagi? Padahal sebenarnya sangat mencintainya, tapi mau
menyembunyikan perasaan itu?"
"Aku tidak bermaksud begitu..."
Aku benar-benar hampir meledak. Tidak, aku sudah
meledak.
"Sudahlah, tidak usah begitu!! Kenapa
Mama beli bahan hamburg kesukaan Papa!? Mama pasti berharap kalau-kalau
dia akan makan di sini, jadi Mama buru-buru belanja dan pulang, kan!?"
"...!"
"Kenapa Mama menyembunyikannya!? Kenapa tidak mau
mengakui perasaan itu!?"
"Aku tidak sama sepertimu dan Kousei! Aku sudah
pernah merusaknya sekali! Karena diriku, hubungan itu hancur!"
Mama memukul meja dengan kedua tangannya. Sumpit terjatuh
dan mengeluarkan bunyi ketukan ringan di lantai.
"Kalau hancur... tinggal diperbaiki saja, kan?"
"Eh?"
"Kalau hancur, bukan berarti semuanya berakhir,
kan?"
"Dengar ya... itu berbeda dengan Kousei
memperbaiki figur."
Beberapa hari lalu, Kousei memperbaiki figur Kururu
kesayanganku yang sudah lama kubicarakan. Aku ingat Mama melihat perubahannya
dan sangat terkesan.
"Hubungan antarmanusia tidak semudah memperbaiki
benda."
"Beda. Itu tidak mudah."
Tanpa sadar aku membantah. Kata-kata
itu keluar secara refleks.
"Berapa banyak latihan yang harus Kousei lakukan
untuk mendapatkan keahlian itu? Pernah lihat tangannya? Kapalan dan kulitnya
menebal. Bahkan kalau memegang benda panas pun dia hampir tidak merasa."
Meski lucu karena dia ternyata tidak tahan panas, sih.
"Aku menarik kata-kataku yang bilang itu mudah. Tapi
tetap saja, memperbaiki hubungan manusia dengan memperbaiki benda..."
"Ternyata, menurutku tidak ada bedanya."
Sekali lagi, aku membantahnya dengan tenang. Ini pun
refleks. Tapi lebih dari itu, ini adalah ketulusan hatiku.
"Mungkin ini asumsi yang mustahil, tapi seandainya
Kousei tidak punya keahlian memperbaiki figur, apa menurutmu dia akan menyerah?
Tidak, aku yakin dengan semangat dan usaha, dia akan berhasil memperbaikinya.
Ujung-ujungnya, itu adalah perasaan. Menurutku, tidak ada bedanya dengan
memperlakukan manusia. Cukup perlakukan dengan penuh kasih, teliti, tidak
menyerah, dan saling berhadapan."
Mama tertegun dengan mulut sedikit terbuka, seolah baru
mendengar hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia tampak tidak punya
kata-kata untuk membantah.
"Benda itu... saat aku bersama Kousei, aku jadi tahu
bahwa mereka pasti akan membalas. Jika dipoles, mereka berkilau; jika
diperhatikan detailnya, akan ada jiwa di dalamnya. Jika dirawat dengan baik,
mereka akan tetap ada selama bertahun-tahun atau puluhan tahun. Sebaliknya,
jika dibuat asal-asalan, mereka tidak akan disayangi dan akan diperlakukan
seenaknya. Jika dibiarkan begitu saja, mereka akan cepat rusak."
Jadi, bukankah hubungan antarmanusia juga sama?
"..."
"Kalau itu barang berharga, kan... akui saja.
Jangan dibuang. Poleslah. Kalau rusak, perbaiki. Mama..."
Aku sudah memutuskan untuk tidak menangis, tapi air
mata tak terbendung mengalir di pipiku. Dalam pandanganku yang kabur, aku
melihat Mama juga menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Lalu, dengan suara terisak,
"...Apa aku... bisa melakukannya?"
Mendengar kata-kata itu... tubuhnya tampak sangat kecil. Aku tidak bisa menahan diri lagi, aku berdiri dengan semangat dan
memeluk Mama.
"Bisa! Ayo kita lakukan! Papa justru yang ingin
datang! Mama hanya perlu jujur! Sampaikan perasaan Mama! Seperti memperbaiki
harta berharga, sampaikan dengan penuh kasih sayang, itu saja pasti sudah
cukup..."
Mama mengangguk berkali-kali di dalam pelukanku. Mungkin,
tanpa harus diberitahu pun, Mama tahu apa yang harus dilakukan. Dia tahu tidak
ada cara lain selain jujur.
"Mama."
"...Seika."
Terima kasih ya. Aku akan berusaha. Tersirat semangat
yang kuat dari kata-katanya.
Kami berdua berpelukan untuk waktu yang lama. Sudah lama
sekali sejak terakhir kali aku bermanja seperti ini dengan Mama, dan saat aku
mulai tenang, rasanya sedikit geli.
Aku pikir membujuk Papa akan lebih sulit, tapi ternyata
itu justru lancar. Sebaliknya, membujuk Mama ternyata jauh lebih melelahkan.
Lagipula, dia sudah menandai kalender dengan lingkaran merah, tapi masih saja
berlagak, "Bagi diriku, aku tidak peduli." Dasar tsundere yang aneh.
Benar-benar membuatku mengeluarkan tenaga di luar rencana. Dasar Mama yang
menyusahkan.
Apakah ini yang disebut kehabisan tenaga? Saat aku
merebahkan diri ke tempat tidur, kesadaranku langsung memudar, dan kakiku
bergerak sedikit. Apa itu tadi, efek jerky atau apalah... kupikir aku
sempat memikirkan sesuatu saat akan jatuh tertidur, tapi tanpa perlawanan
berarti, aku langsung berkelana ke alam mimpi.
Saat aku terbangun oleh suara, sinar matahari masuk
melalui celah gorden. Saat memeriksa ponsel di samping bantal, waktu sudah
lewat pukul enam pagi. Dan di layar utama, ada notifikasi dari Rain. Rupanya
tadi malam, Kousei, Chika, dan Hina masing-masing mengirim pesan yang isinya
meminta agar aku menyampaikan terima kasih kepada Papa atas tumpangan mobilnya.
Aku mengerjapkan mata. Kurasa aku sempat bermimpi, tapi
aku tidak ingat apa.
"Oke, karena sudah bangun, sekalian mengantar
Mama."
Aku menggelengkan kepala untuk mengusir sisa-sisa mimpi
yang tidak jelas itu. Saat aku berdiri sambil meregangkan tubuh, otot-ototku
terasa tertarik. Waa, kemejaku menempel di tubuh. Aku berkeringat. Apa
aku tidur tanpa menyalakan AC?
Saat masuk ke ruang tamu, Mama sedang mengisi botol minum
dengan teh di dapur.
"Selamat pagi."
Saat kusapa, dia menatap wajahku lalu ke arah jam secara
bergantian. Lalu membalas dengan "Selamat pagi" dengan nada yang
sedikit ketus. Sepertinya, setelah satu malam berlalu, dia merasa malu karena
sudah menangis tersedu-sedu di depan putrinya.
"Apa aku membangunkanmu?"
"Tidak. Kurasa itu karena kemarin aku tidur
cepat."
Ditambah lagi, aku tidur sangat nyenyak sampai pagi tanpa
terbangun sekalipun. Sepertinya kelelahanku sudah hilang.
"...Terkadang enak juga makan bersama."
Aku masuk ke dapur, berdiri di sebelah Mama, dan
menyiapkan roti panggang untuk diriku sendiri.
Aku meminta mesin pemanggang roti bekerja dua kali lipat,
dan kami berdua sarapan dengan akur. Saat kami sedang melamun melihat acara
berita pagi.
"Oh, Kamakura."
Penyiar sedang menyampaikan prakiraan cuaca dari depan
kuil yang memiliki patung Buddha besar. Khas saluran lokal, ya.
Ngomong-ngomong, kakek-nenek Kousei dari pihak ibu
tinggal di Kamakura, ya?
"Hortensia."
"Hm?"
Tiba-tiba Mama menggumamkan kata misterius. Ah,
apakah itu karena Kamakura? Pikirku, lalu dia lanjut.
"Kemarin kan kau tanya, kan? Tentang bunga
kesukaan."
Mama berkata seolah sambil lalu, tanpa mengalihkan
pandangan dari TV.
"Ah, iya. Mama masih ingat."
Itu terjadi... malam sebelum hari di mana Mama pingsan,
bukan? Aku bertanya karena untuk ide cincin, tapi sepertinya saat itu dia
sangat lelah dan sikapnya dingin.
"Bunga kesukaanku, hortensia."
"Begitu... ya. Terima kasih."
Kalau begitu aku harus cari tahu apakah ada bunga kering
hortensia, pikirku sambil hanyut dalam duniaku sendiri, sampai aku
sadar akan tatapannya. Tanpa kusadari, Mama sudah berpaling dari TV ke arahku.
"Eh? Apa?"
Aku sedikit terkejut.
"Ya, kau masih kecil waktu itu, jadi wajar tidak
ingat."
Hm? Maksudnya apa?
"Dulu kita pernah pergi jalan-jalan ke Kamakura
bertiga bersama Masahide-san."
"Eh? Benarkah? Aku tidak ingat."
Kira-kira umur berapa ya? Sebelum penyakit itu
ketahuan? Apa itu saat aku masih bayi?
"...Hortensia-nya cantik. Kebetulan pas musim hujan.
Kau waktu itu mencoba menyentuh siput."
"Tunggu, sudahlah. Jangan bahas masa-masa saat aku
belum ingat apa-apa."
Jangan-jangan ini aksi balas dendam kecil-kecilan?
Semalam aku sudah bicara terlalu berlebihan, ya? Kalau sampai berperang total
dengan ibu yang tahu luar-dalam diriku, aku tidak akan punya kesempatan menang.
Saat aku pucat pasi ketakutan, Mama malah terkikik.
"Tapi... sudah sepuluh tahun lebih berlalu sejak
itu, ya. Pantas saja aku pun bertambah tua."
Dalam sekejap, senyumannya berubah menjadi penuh
nostalgia. Matanya bahkan terpejam. Mungkin dia sedang membayangkan hari-hari
bahagia bertiga di balik kelopak matanya.
"..."
Sebentar lagi, pasti. Kita bisa merebutnya kembali. Saat
aku ingin mengatakannya, suara ceria terdengar dari TV. Sepertinya acara berita
beralih ke segmen perkenalan video hewan peliharaan dari pemirsa.
"Waduh!
Gawat! Aku harus cepat!"
Ah. Jika biasanya, ini waktunya
aku harus sudah ada di depan meja rias.
"Soal
cucian piring, biar aku yang kerjakan."
"Oh
ya? Tolong ya!"
Sambil
menghabiskan sisa roti panggang dengan susu, Mama bergegas keluar dari ruang
tamu dengan langkah cepat.
Dengan
sedikit hasil yang didapat, pagi yang sibuk itu pun berlalu.
★★★
Siang harinya, aku datang ke apartemen Seika-san. Rupanya, desain cincinnya sudah
ditetapkan.
Saat menekan interfon, pintu segera terbuka dan Kousei
muncul. Matanya tampak berbinar-binar.
"Ini dia, hortensia! Lihatlah
bunga hortensia!"
"Tiba-tiba sekali, ya."
Aku tidak tahu harus merespons apa saat dia mengatakannya
tepat di depan pintu.
"Ah, maaf. Panas, ya? Ayo masuk, masuk."
Bukan itu intinya. Namun karena memang benar di luar
sedang panas, aku memutuskan untuk menerima kebaikannya.
Setelah diantar kembali ke ruang tamu, aku menikmati teh
dingin sampai keringatku perlahan mulai mereda.
"Terima kasih banyak atas bantuannya kemarin. Aku
sampai tertidur saat perjalanan pulang..."
Kelihatannya aku telah membebankan tugas menemani
Masahide-san yang kelelahan sepenuhnya kepadanya. Menurut Ibu, kalau semua
orang tertidur saat menyetir, pengemudi juga bisa mengantuk dan itu cukup
berbahaya.
"Tidak apa-apa. Kamu sudah membantu membawakan
barang-barang berat, jadi jangan dipikirkan. Lagipula..."
"Lagipula?"
"Ah, bingung juga ya."
"Hm?"
Sepertinya dia merasa bimbang untuk menceritakannya
padaku.
"Coba lihat, Kousei sudah bicara sesuatu pada Papa,
kan? Sepertinya Papa jadi bersemangat untuk tanggal 30 nanti."
"Ah, itu..."
Ternyata pembicaraannya mengarah ke sana. Karena ada
janji rahasia antar pria, aku tidak bisa menceritakan detailnya secara
gamblang.
"Aku tidak melakukan hal yang besar, kok."
Meskipun aku menjawab begitu, aku sendiri merasa
jawaban itu terdengar hambar. Seika-san sepertinya tidak sepenuhnya percaya,
tapi dia hanya tertawa kecil dan tidak berniat mendesakku. Rasa lega yang
kurasakan hanya bertahan sesaat.
"Pokoknya, Kousei memang pacar terbaik,
deh!"
Dia merangkak mendekat di atas sofa... karena dia
mengenakan kemeja dengan potongan terbuka hari ini, aku bisa melihat sekilas
bra berwarna merah muda lembut yang ia pakai.
Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke atas. Namun,
tepat saat itu, Seika-san mencuri ciuman dari bibirku.
Kemudian dengan luwes, ia duduk di atas pangkuanku. Kaki
jenjangnya yang mulus terlihat dari balik celana pendeknya. Saat aku
menggendongnya tempo hari, aku tahu kulitnya sangat lembut hingga membuat
jemariku meleleh. Aku ingin menyentuhnya lagi. Aku ingin merasakan kulit yang
lembut dan hangat itu dengan seluruh telapak tanganku.
Aku...
Entah bagaimana, dengan mengerahkan kekuatan akal sehat,
aku mendorong bahu Seika-san. Aku bisa melihat ekspresi kecewa di wajahnya.
"Aku bisa kehilangan kendali kalau begini
terus."
Di rumah yang sedang tidak ada Reika-san ini, jika ia
terus melakukan kontak fisik dengan kecepatan seperti ini, aku pasti akan
menyerah.
Seika-san sedikit menggembungkan pipinya. Dia memelukku lagi dan berbisik di telingaku.
"Jadi, rasa sayangmu masih dalam batas yang bisa
ditahan ya?"
Dia menggodaku dengan nada bicara yang menantang.
Jika bicara soal rasa sayang sampai tidak tertahankan... meteran itu sebenarnya
sudah lama melampaui batas. Namun saat ini, masalah antara
Masahide-san dan Reika-san adalah prioritas utama. Kurasa dia menyadari bahwa
itulah yang kupikirkan, tetapi mungkin lebih baik jika aku mengatakannya dengan
jelas.
"...Sejujurnya."
"Eh?"
"Aku sudah sangat mencintaimu sampai tidak bisa
lebih lagi."
"......!"
"Tapi, ini adalah masa yang sangat penting bagi
Seika-san, tidak, bagi keluargamu. Tidak boleh melakukan ini sambil setengah
hati atau memendam kekhawatiran. Justru karena Seika-san begitu
berharga, aku harus menahan diri sekarang."
"Ah, i-iya, begitu ya."
"Iya."
"Kalau begitu... bagaimana kalau Mama dan Papa sudah
berbaikan?"
"Saat itu terjadi... kurasa aku sudah tidak bisa
menahan diri lagi. Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai alasan bahwa aku masih
SMA atau ini masih terlalu dini, tidak akan bisa menghalangiku lagi."
Pertemuan dan dialog dengan Masahide-san itu, aku tidak
mungkin bisa melakukannya jika bukan karena perasaanku pada Seika-san. Yang
menggerakkanku hanyalah keinginan sederhana untuk melindungi senyumnya.
Keinginan itu memberiku kekuatan yang terasa tak terbatas.
"Kousei..."
Mungkin awalnya dia hanya mencoba menggodaku, tapi karena
aku menjawab dengan sangat serius di luar dugaannya, dia mungkin merasa
terkejut.
Matanya berkaca-kaca dengan bibir yang sedikit terbuka. Jika aku tidak sedang percaya diri berlebihan... kurasa dia merasa
tersentuh.
Namun jika aku menciumnya lagi sekarang, kurasa aku
tidak akan bisa berhenti. Aku menampar kedua pipiku sendiri dengan suara
nyaring. Saat aku membuka mata, Seika-san tampak terkejut.
"Nah, mari kita kembali ke topik utama. Tadi kita
bicara soal hortensia, kan?"
"Ah, iya, benar sekali."
Meski suasana manis itu belum sepenuhnya hilang, kami
berdua mencoba mengalihkan pikiran.
"Bunga kesukaan Mama. Katanya itu kenangan saat kami
pergi liburan ke Kamakura waktu aku masih terlalu kecil sampai-sampai tidak
ingat."
"Ah, bunga itu pasti mekar dengan indah di musim
hujan, ya."
"Itu kampung halaman keluarga ibu Akina-san,
kan?"
Aku mengangguk, lalu bertanya, "Kira-kira hortensia
di mana yang kita lihat dulu? Kalau tahu, mungkin kita bisa memasukkan
pemandangan di sekitarnya... ah, benar juga, karena ini cincin, kita cuma bisa
memasukkan bunganya saja."
Aku sempat ingin memberikan saran yang lebih berkembang,
tapi mengingat ukuran benda yang akan dibuat, aku membatalkannya.
"Bagaimana kalau kita lihat album foto dulu?"
Begitu mengatakannya, dia bangkit dari pangkuanku dan
menuju meja samping di ruang tamu. Rasanya lega, tapi entah kenapa ada sedikit
rasa sepi.
Dia menarik pintu kayu dan mengambil beberapa buku yang
tersusun di dalamnya. Sampul keras dengan desain rumit itu menarik perhatian.
Saat kembali, dia tidak duduk di pangkuanku, melainkan di sampingku dan
membukanya di atas meja.
"Wah, lucu sekali."
Ada banyak foto Seika-san saat masih kecil. Mulai dari
bayi hingga masa balita. Setiap kali melihat satu per satu fotonya, bibirku
melengkung membentuk senyum. Seika-san sering sekali menyentuh wajahku dengan
tangannya, tapi pipi Seika-san di dalam foto itu tampak jauh lebih lembut.
Aku mencoba membelai pipi Seika-san yang duduk di
sampingku dengan lembut. Memang lembut, tapi karena bentuk wajahnya yang oval
sempurna, tidak ada lemak berlebih di sana. Sayang
sekali.
Seika-san tampaknya mengerti arti dari ekspresiku dan
merengut.
"Kamu, jangan-jangan punya hobi seperti itu
ya?"
"Jangan bahas lagi. Nanti kuremas lagi lho."
Itu adalah kata-kata yang tidak pas diucapkan sekarang.
Padahal aku baru saja bilang akan menahan diri.
"...Kamu, mau meremasnya?"
"T-tidak. Itu salah bicara."
Aku merasa bersalah pada Seika-san yang sudah
memberanikan diri menonjolkan dadanya, tapi jika kami kembali ke suasana
romantis, topik utamanya tidak akan selesai.
"Jadi, foto Kamakura-nya ada di mana..."
"Sepertinya ada di sini. Kayaknya foto liburan dan
acara-acara dikumpulkan jadi satu."
Buku ketiga yang dibuka Seika-san sepertinya yang
dimaksud. Foto-foto yang kulihat tadi kebanyakan di rumah atau rumah sakit.
Sepertinya foto-foto itu sudah dikategorikan, dan foto-foto ini disembunyikan
agar tidak terlalu sering dilihat oleh Seika-san.
"Hm... ah! Ini bukannya yang itu?"
Sepertinya dia menemukannya. Aku juga ikut mengintip
tangan Seika-san.
Di sana terlihat pasangan Reika-san dan Masahide-san yang
tampak lebih muda dan rupawan, serta bayi berwajah bulat di dalam kereta dorong
yang didorong Reika-san.
"Ah, ini kan waktu aku masih bayi."
Seika-san bergumam seolah mengeluh karena tidak mungkin
ingat momen itu.
"Ini... di sekitar kuil yang terkenal. Tempat ini
jadi objek wisata."
Tempat itu juga tidak terlalu jauh dari rumah kakek dari
pihak ibu.
"Bisa dibuat seperti ini tidak, ya?"
Warna biru pucat yang mendekati warna air. Dan warna ungu
yang cukup jelas. Jika dua warna itu dikombinasikan, pasti akan sangat indah.
Aku mencari bunga hortensia kering di ponselku. Namun,
aku mendapati fakta yang menyedihkan.
"Bunga berwarna biru di musim hujan sepertinya sulit
dijadikan bunga kering."
Aku tahu ada bunga yang cocok dan tidak cocok dijadikan
bunga kering. Sial sekali.
"Eh? Ah, iya benar juga. Tapi kalau yang mekar di
musim gugur bisa, sih. Ah, tapi..."
Warnanya terlalu hijau, rasanya tidak cocok. Kami berdua
saling bertukar pandang dengan wajah masam.
"Mau bagaimana lagi ya. Cari kandidat lain?"
Suara Seika-san terdengar sangat berat hati untuk
menyerah. Namun, aku terdiam sejenak untuk berpikir. Sulit rasanya untuk
langsung beralih ke rencana lain, mengingat bunga ini adalah kesukaan Reika-san
dan punya kenangan keluarga. Seika-san pun sebenarnya masih terlihat
belum ingin menyerah.
"Ah."
Benar juga. Tidak ada kewajiban untuk menggunakan bunga
kering yang asli.
"Kenapa?
Tiba-tiba dapat ide bagus?"
Aku
mengangguk.
"Bentuknya
memang tidak akan jadi bunga asli lagi... tapi bagaimana kalau kita buat
seperti seni kertas sobek (chigirie), di mana origami dipotong seukuran
kelopak bunga? Setelah itu kita beri sedikit warna dengan kuas."
Aku
menjelaskan ide yang baru saja muncul. Seika-san
mendengarkan dengan ekspresi yang makin cerah, dan setelah selesai, dia
mengangguk berkali-kali.
"Bagus sekali! Aku juga punya pengalaman seni kertas
sobek, sepertinya bisa melakukannya dengan baik!"
"Jadi kita buat bunga tiruan dari kertas. Kita tetap
menggunakan konsep bunga hortensia, hanya mengubah bahannya saja."
"Iya! Ide yang brilian!"
Dia hendak memelukku... tapi mungkin teringat kata-kataku
tadi, Seika-san hanya menggenggam tanganku. Aku merasa bersalah karena telah
menghambat sifat manjanya yang polos itu, tapi sejujurnya... aku merasa
tertolong. Belakangan ini, kontak fisik dari Seika-san memang sulit dihentikan
jika sudah dimulai.
"Tapi, waktunya tinggal empat hari lagi. Membuat
kelopak dan kue. Apa sempat?"
Keduanya adalah pekerjaan yang belum biasa dilakukan
Seika-san. Kecemasan itu tentu saja masih ada. Namun.
"...Pasti bisa. Karena lihat, kita punya sekutu yang
bisa diandalkan, kan?"
"Eh? Ah, maksudmu meminta bantuan Chika lagi?"
"Ya. Ayo kita minta bantuan mereka."
Dulu aku pasti akan menolak karena merasa tidak enak
hati, tapi sekarang aku percaya mereka tidak akan keberatan jika dimintai
bantuan. Tentu saja, aku akan memikirkan hadiah sebagai tanda terima kasih
nanti.
"Untuk kelopak bunganya, mungkin Horaguchi-san bisa
memanfaatkan pengalaman seni kertas sobeknya."
"Dan untuk membuat kue, kita akan mengandalkan
pengalaman Hina dalam membuat kue."
Kami berdua saling tersenyum dan mengangguk. Jika
tidak bisa dilakukan sendiri, lakukan berdua. Jika berdua tidak bisa, lakukan
bersama-sama. Bagi kami, itu sudah cukup.
Seika-san meminta bantuan mereka lewat Rain, dan mereka
langsung menjawab setuju. Aku tidak bilang kalau aku sempat terharu saat
membaca pesan Horaguchi-san yang bilang, "Kenapa tidak ajak dari tahap
diskusi!"
Untuk hari ini, kami pergi ke Ivan Mall untuk membeli
bahan-bahan. Karena biaya perkemahan sudah dibayar lunas oleh Masahide-san,
kantong kami cukup longgar. Ditambah lagi, ada pemasukan dari hasil YouTube
Seika-san dan imbalan dari permintaan pribadi yang kukerjakan, jadi sekarang
kami punya dana yang cukup.
"Pertama, kita beli origami dulu."
"Iya. Kita hanya akan memakai warna tertentu, jadi
kalau cuma mengandalkan stok di rumah, sepertinya tidak cukup."
Kami pergi ke toko 100 yen lagi. Saat
naik eskalator, aku melihat rok panjang yang dikenakan Seika-san. Aku merasa
lega karena dia tidak memakai celana pendek seperti baju rumahan tadi.
Ternyata, rasa posesifku cukup kuat juga.
"...Tempat ini penuh kenangan juga ya."
"Eh?"
"Lihat, aku pernah membuat kekacauan di sini, dan
kencan balas dendam kita juga di sini."
"Ah, begitu ya."
Jadi maksudnya mall ini.
"Kita juga pernah dibantu di sekolah make-up
di sini, ya."
Dan sekarang, kami datang untuk membeli bahan kerajinan
yang mungkin akan mempengaruhi masa depan keluarga Mizoguchi. Memang ini bisa
disebut takdir.
"Terlepas dari kekacauan pertama, semuanya berjalan
lancar. Mungkin ini bisa dianggap sebagai keberuntungan."
"Haha, tapi yang pertama pun... kurasa itu
diperlukan agar kita bisa bersatu."
"Ugh, lega mendengarnya."
Karena kami baru saja sampai di atas eskalator, aku
menyusulnya satu langkah dan merangkul pinggangnya. Kontak fisik seperti ini,
kurasa masih wajar.
"Fufu."
"A-ada apa?"
"Tadinya kamu merasa malu dengan gaya berpakaian gal
dan sangat peduli dengan tatapan orang lain, tapi sekarang kamu sudah bisa
merangkulku dengan alami, seolah menunjukkan pada semua orang bahwa wanita ini
milikmu."
"Ugh. Aku tidak bermaksud memamerkannya."
Walaupun, sejujurnya ada sedikit perasaan ingin
menyombongkan diri bahwa pacarku adalah yang terbaik.
"Ahaha."
Seika-san menyandarkan kepalanya ke bahuku.
"Kita berdua benar-benar sudah tumbuh dewasa,
ya."
"Iya."
Musim panas ini telah membuat kami semakin kuat. Meskipun
musim panas tahun ini sangat menyiksa karena rekor panasnya, kurasa ini adalah
kesempatan yang pas untuk mencairkan es yang kami bawa masing-masing.
Saat kembali ke rumah, kami langsung sibuk melakukan
pekerjaan sampingan di kamarku. Berbeda dengan kencan singkat di mall yang
terasa tenang, kami mengerjakan pekerjaan yang sangat membosankan ini dalam
diam.
Tadi aku bilang kertas sobek, tapi aku membatalkannya.
Lebih baik dipotong menjadi beberapa milimeter dengan gunting, lalu
sudut-sudutnya dipotong hingga membentuk oval kecil agar terlihat lebih menarik
dan efisien.
Aku mulai melukis bagian tengah kelopak bulat itu dengan
cat putih menggunakan kuas kecil.
Bunga hortensia memang terlihat biru atau ungu jika
dilihat dari jauh, tetapi sebenarnya pangkal kelopaknya sering kali berwarna
putih.
"..."
"..."
Seika-san yang memotong kertas, dan aku yang menjalankan
kuas. Hanya suara gunting "ceklek-ceklek" yang terdengar di ruangan.
Pikiranku tenggelam dalam lautan pemikiran.
Tadi aku sempat mencari tahu, bunga hortensia memiliki
arti "cinta yang sabar" dan "ketidakkonsistenan." Ternyata
alasan bunga ini mengandung arti yang berlawanan adalah karena warnanya berubah
tergantung pada kualitas tanah tempat ia tumbuh.
Aku sempat berpikir untuk mengganti temanya karena arti
yang kedua terdengar kurang baik, tapi Seika-san tidak bimbang sedikit pun.
"Karena masa depan yang tidak stabil itulah, kita
harus memenangkan arti yang pertama dengan kehendak kita sendiri."
Begitulah katanya.
Kurasa hal itu juga berlaku bagi kami. Agar bunga dengan
warna yang diinginkan terus mekar, kita harus terus merawat tanahnya agar tetap
dalam kondisi ideal. Agar tidak ada rasa yang goyah, dan agar kita bisa terus
menyimpan cinta yang sabar.
Saat itu, pengatur waktu berbunyi. Pukul lima sore. Batas
waktu telah tiba.
"Ternyata tidak selesai dalam hari ini saja
ya."
Terutama bagian kuas yang sangat detail membuatku cukup
kewalahan.
Namun, ini bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan
dengan asal-asalan.
Sebaliknya, aku harus melukis dengan detail seolah-olah
mencurahkan jiwa ke dalamnya.
"Maaf ya, aku membebankan bagian yang membutuhkan
ketelitian padamu. Tapi aku benar-benar tidak bisa melukis tiga dimensi
seperti ini."
Dia tampak sedih karena tidak bisa membantu, jadi aku
membelai kepalanya dengan lembut untuk menghiburnya.
Sebenarnya, sejak pertengahan, pekerjaan menggunting
Seika-san sudah jauh lebih cepat sehingga dia hanya menungguku
menyelesaikannya.
"Tapi besok kalau Chika datang membantu,
sepertinya akan selesai tepat waktu, ya?"
"Iya. Tapi seperti yang kubilang tadi,
memasukkan kertas ke dalam cincin membutuhkan proses pelapisan (coating),
jadi butuh ketelitian. Kita juga harus menyiapkan cadangan kalau ada yang
gagal."
"Uuu, gurunya galak sekali."
Seika-san merebahkan diri membentuk huruf X. Aku
memperingatkannya agar tidak mengangkat lutut karena bisa memperlihatkan celana
dalamnya.
☆☆☆
Keesokan paginya, aku dan Kousei pergi ke rotari
depan stasiun untuk menjemput Chika.
Karena ingin fokus bekerja hari ini, kami memutuskan
untuk membeli makanan jadi untuk makan siang, namun setelah Chika berkata,
"Ayo kita dukung Takeya," akhirnya kami membeli bento di kedai
gyudon.
"Tadi beritanya harga saham mereka sempat turun
karena rumor itu, ya?"
Aku ingat pernah mendengar berita semacam itu. Kurasa
orang yang menyebarkan rumor itu hanya menganggapnya sebagai iseng belaka.
Padahal di era yang penuh dengan kesalahan di media sosial seperti sekarang,
kasus seperti ini sering terjadi secara berkala.
"Kalian juga punya saluran sendiri, jadi
hati-hati ya."
Aku dan Kousei mengangguk. Saat itu juga, mesin tiket
kosong. Padahal baru pukul sebelas, tapi pengunjungnya sudah cukup ramai.
Setelah melihat sekeliling toko lagi, Chika tertawa
kecut, "Ternyata tidak butuh dukungan kita, ya."
"Yah, bagi para bapak-bapak yang menggunakan
toko seperti ini, mereka tidak peduli apakah pelayannya karyawan kontrak, paruh
waktu, atau bagian dari pemalsuan."
Sepertinya mereka hanya mencari harga murah,
kecepatan, dan rasa yang konsisten.
"Ngomong-ngomong, sepertinya semua pegawai di
toko ini adalah kakek-nenek lokal."
"Kakek-nenek lokal... ekspresi yang luar biasa
ya."
Chika tertawa mendengar pilihan kata Kousei saat
melakukan pembayaran tap di bagian bawah mesin.
Kami membeli empat porsi, termasuk untuk Hinano yang
sudah menunggu di rumah Kousei. Dia sempat meminta porsi spesial besar (tokumori),
tapi aku dengan tegas hanya memesankan porsi besar (oomori).
Ngomong-ngomong, aku memberikan uang untuk membayar
gyudon itu kepada Chika nanti. Tentu saja, porsi Hinano juga kami yang traktir.
Chika sempat menolak, tapi akhirnya dia menerimanya.
Sesampainya di rumah keluarga Kutsuzawa, kami langsung
menuju pabrik. Karena hari ini Sabtu, tempat ini kosong. Terima kasih karena
telah mengizinkan kami menggunakan tempat ini. Kami tidak perlu khawatir soal
bau, atau lebih tepatnya, karena bau kayu di sini sudah sangat kuat, tidak akan
ada bedanya apa pun yang kami lakukan.
"Kalau begitu, aku dan Hina yang akan memotong, jadi
Kousei dan Chika tolong cat bunganya ya."
"Dimengerti."
"Oke~ nanti kalau sudah selesai memotong sesuai
target~"
"Ya, tolong tunggu sambil makan, ya."
Karena memotong lebih cepat, setelah mencapai target
tertentu, pekerjaan ini sudah cukup dilakukan satu orang. Rencananya mereka
akan makan gyudon setelah selesai. Hinano akan mendapatkan peran utama dalam
membuat kue setelah ini, jadi dia sudah dijadwalkan untuk menjadi asisten
pengajar bersama Kousei.
Setelah sepakat, semua mulai bekerja. Hinano
menyelesaikan bagiannya dengan sangat cepat dan langsung kembali ke rumah utama
keluarga Kutsuzawa. Keberaniannya untuk bersantai di rumah orang yang baru
ditemuinya dua kali itu sungguh luar biasa. Aku saja dulu merasa sedikit
sungkan saat pertama kali datang.
"Apakah cat putih ini terlalu pekat?"
"Coba kulihat. Ah, kurasa segitu sudah cukup."
Kousei dan Chika bekerja berdampingan di bagian
pengecatan. Kedua orang ini juga sudah akrab sekali. Akrab sampai-sampai aku
merasa sedikit was-was.
Sepuluh menit kemudian. Bersama dengan hasil kerja
kemarin, sudah terkumpul kelopak bunga sebanyak satu telapak tangan. Empat
kelopak dikumpulkan dan direkatkan menjadi satu set. Jika dimasukkan secara
terpisah, orang tidak akan tahu itu hortensia, jadi kami membuat mahkota bunga
yang mirip dengan aslinya.
Setelah merekatkannya dengan lem, kami meratakan gel
putih bernama top coat di atasnya. Saat aku mengomentari bahwa itu
terlihat seperti lem, dia menjawab bahwa ada juga yang menggunakan lem biasa
sebagai pengganti, aku pun sedikit terkejut.
Intinya, tujuannya adalah melindunginya seperti membran
agar cairan resin tidak meresap ke dalam, jadi cairan lem pun bisa berfungsi
untuk itu.
"Jika ada bagian yang tidak rata, warnanya bisa
meresap dan membuatnya tampak transparan."
Katanya ada karya seni yang justru memanfaatkan hal itu
untuk memberikan keunikan, tapi itu sudah tingkat ahli, jadi tidak ada
hubungannya denganku.
"Bagaimana?"
"Ada gelembung udara di sekitar sini."
"Ah, oke."
Kami menyingkirkannya dengan sabar menggunakan alat
misterius bernama emboss heater. Rasanya seperti sedang membuang busa
saat memasak. Gelembung itu terus muncul jika kita lengah.
Karena gelembung yang tersisa akan membuat tampilan
setelah mengeras menjadi sangat buruk, kami harus sangat berhati-hati.
Meskipun kami pikir kami sudah sangat berhati-hati...
yang pertama gagal karena ada satu kesalahan.
Kami mencoba lagi tanpa menyerah. Kali ini pelapisannya
sempurna.
"Baik, mari kita masukkan."
Percobaan kedua. Momen ini benar-benar membutuhkan
perhatian ekstra. Jangan sampai keringat yang mengalir di pipiku jatuh ke
cairan resin. Mungkin seharusnya aku menyiapkan bandana.
Aku memasukkannya dengan sangat hati-hati agar empat
kelopak bunga tidak bengkok atau patah.
"Fuu."
Satu selesai. Tiga set lagi. Aku tidak memikirkan
gelembung udara karena akan disingkirkan nanti. Yang penting bentuk bunganya
tidak hancur dan terlihat jelas dari luar.
"Semangat."
Kousei berbisik menyemangati. Dia pasti ingin ikut
membantu, tapi dia menahan diri dan terus memperhatikanku.
Akhirnya, semuanya masuk dengan hasil yang memuaskan.
Gelembung udara juga dibersihkan dengan teliti sebelum akhirnya dicek oleh sang
ahli.
"......Ya, tidak masalah. Mari kita keraskan."
"Berhasil!"
Ups. Masih terlalu dini untuk merayakannya.
Aku kembali fokus dan mengambil lampu UV.
………………
…………
……
Dan akhirnya.
Proses pengerasan selesai.
Aku mengeluarkannya dari cetakan, membersihkan bagian
pinggirnya (bary), dan memolesnya. Akhirnya tiba giliran penilaian akhir
Kousei.
"......"
"......"
Lama sekali. Aku mengelap keringat di pipiku dengan
handuk. Kousei memutar-mutar cincin itu dengan ekspresi serius sambil
menyipitkan mata.
Akhirnya.
"Ya, sempurna. Hasilnya sudah layak diberikan
kepada orang lain."
Begitu mendengar kata-kata itu.
"Yesss!!"
Kebahagiaan meledak di dalam dadaku, dan aku langsung
melompat di tempat.
Aku memeluk Kousei, dan dia membalas pelukanku sambil
meletakkan cincin itu di tengah meja kerja dengan aman. Luar biasa.
Dia bisa membaca tindakanku yang terburu-buru dan
menanggapinya dengan tenang.
"Kerja bagus."
Dia mengelus kepalaku sambil memberikan pujian.
"Hehehe~"
Saat aku melemaskan tubuh, perutku berbunyi. Ah, jam
berapa sekarang?
Saat melihat jam dinding pabrik, sudah lewat pukul tiga
sore. Wow, rasanya seperti melintasi waktu.
"Ayo makan gyudon."
"Tadi, ke
mana Chika pergi?"
Sosoknya tidak terlihat. Karena terlalu fokus, aku bahkan
tidak tahu kapan dia pergi.
"Dia sedang makan duluan, kok."
Kousei menunjuk ke arah rumah utama. Jadi dia
beristirahat di sana, ya. Yah, setelah tugas mengecat selesai, memang tidak ada
lagi yang bisa dia lakukan di sini.
"Kousei, terima kasih ya. Kamu sudah menemaniku dan
menahan diri sampai sejauh ini."
Rasa
bersalah terselip dalam suaraku. Namun, Kousei menggelengkan kepalanya
perlahan.
"Aku ingin makan bersama Seika-san, kok."
Melihatnya mengatakannya dengan senyuman malu-malu itu
membuat rasa sayangku meluap-luap. Dia bersikap seolah menunggu itu adalah
keinginannya sendiri agar aku tidak merasa sungkan. Lagipula, dia lucu sekali.
Hatiku terasa penuh. Di sepanjang jalan singkat menuju
rumah utama, aku memeluk lengannya erat-erat.
Ngomong-ngomong, saat masuk ke dalam, Chika sedang asyik
berbincang tentang kedai gyudon dengan Haru-san, sementara Hinano tertidur di
sofa. Benar-benar sudah menganggap rumah ini seperti rumah sendiri.
Setelah makan, aku akhirnya berhasil menyelesaikan cincin
yang satu lagi. Namun, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Meskipun sekali coba langsung berhasil, mengejar kualitas membuat kami
kehilangan waktu sampai selarut ini. Aku jadi kagum sendiri betapa berat dan
butuhnya kesabaran melakukan hal yang biasa dilakukan Kousei dengan santai.
Kurasa ini hanya bisa dilakukan jika ada rasa cinta.
Selalu terima kasih ya, Kousei.
Dan satu hal lagi.
"Hina, maaf ya. Padahal kamu sudah datang
jauh-jauh."
Pada akhirnya, hari ini kami tidak sempat berlatih
membuat kue sama sekali. Aku merasa telah membuang waktu berharganya. Namun...
"Nggak apa-apa kok. Gyudon-nya enak, dan membuat
ohagi tadi juga seru dan lezat."
Dia mulai bicara hal-hal misterius. Aku menoleh ke arah
Haru-san dan Akina-san.
"Habisnya, Hina-chan kelihatan bosan dan kasihan.
Jadi Ibu membelikan kacang merah."
Di samping Haru-san yang menjelaskan, Akina-san dengan
lembut mengelus kepala Hinano. Benar-benar
anak yang disayangi, ya.
"Bagaimana
dengan Temple Fighters? Kalau bosan, kalian boleh memainkannya, lho?"
"Eh?"
Kali ini, tiba-tiba saja kekasih tercintaku yang berdiri
tepat di sampingku mengeluarkan topik yang sama sekali tidak kuketahui. Aku
refleks memeriksa ponselku. Benar saja, di Rain grup, Kousei mengirim pesan:
"Kalau kalian senggang, ada game sampah menarik di
kamarku. Silakan mainkan kalau mau. Game itu ada di rak ketiga, paling depan. Oh ya, jangan hapus datanya
ya."
Dan ada
balasan dari Chika:
"Temple
Fighters 2 ya? Kelihatannya seru, aku coba ya."
Kapan dia mengirimnya? Atau lebih tepatnya, begitu
ya.
Saat aku sedang sibuk, Kousei mengirim pesan untuk
memperhatikan kedua orang itu. Bisa dibilang itu adalah bentuk bantuannya
untukku.
Tapi entah kenapa, aku tidak bisa langsung berterima
kasih. Malah, aku punya firasat buruk.
Saat sedang memikirkan itu, terdengar langkah kaki
seseorang menuruni tangga.
"Ooo-i, Seika. Sudah selesai?"
Chika menampakkan wajahnya.
"Kutsu-kun, game itu seru sekali. Pinjamkan padaku
ya."
Ternyata dia benar-benar kecanduan. Firasatku terbukti.
"Eh~? Itu benar-benar tidak pantas, tidak boleh
lho~."
Reaksi Hinano normal. Orang seharusnya memang begitu.
Tapi, mungkin game itu memang game sampah magis yang sanggup memikat hati
orang-orang tertentu.
"Yah, jangan bilang begitu. Oh, Seika-san.
Bukankah lebih baik kamu berikan saja koleksi game untuk penyebaran ajaran
milikmu itu kepada Horaguchi-san?"
"Aku tidak punya koleksi untuk penyebaran ajaran,
ya!"
Bagaimana bisa pacarku sendiri melakukan pencemaran nama
baik?
"Eh? Seika-chan, kamu beli sendiri game itu?"
Haru-san menanggapi dengan serius.
"Serius kamu, Seika? Kamu niat banget, ya."
Chika pun ikut-ikutan.
"Ugaaaa!"
Aku butuh waktu sekitar tiga menit untuk meluruskan
kesalahpahaman yang meluas itu. Dasar Kousei.
Yah, aku putuskan untuk berpikir positif bahwa Hina dan
Chika setidaknya menikmati waktu mereka.
Lagipula, aku tidak bisa marah karena akulah yang
mengundang mereka tapi malah membiarkan mereka menunggu.
★★★
Minggu berikutnya. Kami berkunjung ke rumah Shigei-san
untuk membuat kue bersama berempat. Horaguchi-san sempat bilang, "Aku
nggak perlu ikut, kan?", tapi aku ingin kami semua bekerja sama sampai
akhir.
Lagi pula, semakin banyak penguji rasa, semakin bagus.
Membiarkan Shigei-san memakannya sendirian juga membuatku khawatir dengan berat
badannya.
"Nah, cetakannya harus dipasang dengan pas,
ya~."
Kami mengalasi cetakan kue dengan kertas roti yang sudah
dipotong bulat, lalu melingkarkan potongan kertas serupa di bagian sampingnya.
Horaguchi-san bilang ini seperti kerajinan tangan, dan
tebakannya cukup tepat. Memasak dan kerajinan tangan memang punya banyak
kemiripan.
Setelah berpacaran dengan Seika-san, aku baru sadar kalau
memasak juga punya kemiripan dengan memakai make-up.
Setelah cetakan siap, kami lanjut membuat spons kuenya.
Kami memanaskan mentega dan susu, menuangkan gula ke dalam telur kocok, lalu
mengocoknya dengan mixer.
Meski gerakan kami masing-masing masih kaku, Seika-san
yang mempraktikkan dan Shigei-san yang mengajar terlihat sangat senang.
Hanya karena adonan telur sedikit terciprat, kami sudah
berteriak "Kya!", dan saat tepung terigu sedikit beterbangan, kami
langsung terbatuk-batuk.
Sebenarnya... aku merasa tidak ada yang bisa kuajarkan,
jadi aku malah jadi pengangguran di sini. Ternyata Shigei-san bukan cuma ahli
makan, tapi juga cukup mahir dalam membuat kue. Mungkin inilah yang namanya
"semakin disukai, semakin ahli".
"Duduk saja, yuk."
Horaguchi-san menunjuk sofa di ruang tamu dengan
jempolnya. Orang ini benar-benar tidak punya rasa sungkan kalau bertamu ke
rumah orang lain.
Omong-omong, orang tua Shigei-san sedang pergi ada
urusan. Padahal aku saja sudah merasa tidak enak karena masuk ke rumah saat
pemilik rumah tidak ada, tapi perilaku Horaguchi-san begitu percaya diri. Aku
suka kepribadiannya yang seperti itu.
"...Fuh. Lekukan di tempat duduk Hinano masih saja
parah, ya."
Sungguh, dia benar-benar tidak punya rasa sungkan.
Aku pun ikut duduk di sampingnya. Yah, memang benar
rasanya ada perbedaan tinggi di tempat Horaguchi-san duduk.
"Kau tahu tidak? Ayah Hina itu kurus kering, lho.
Ibunya juga tidak gemuk sama sekali."
Karena dapur sedang bising, sepertinya mereka tidak
mendengar percakapan kami. Tapi tetap saja.
"Yah, kita berdua juga sama-sama memanjakannya
karena dia imut dan empuk, jadi kita tidak bisa menyalahkan orang lain."
"Mau bagaimana lagi. Kalau tidak diberi makan, dia
akan menunduk dengan wajah yang terlihat sangat kesepian."
Shigei-san itu punya wajah yang agak mirip anjing,
matanya bulat, dan punya pesona yang unik. Kalau anak seperti itu memasang
wajah sedih seperti anjing Shiba yang ditinggal sendirian di rumah, aku pasti
langsung luluh dan bilang, "Iya, iya, makan saja." Tapi kalau
memikirkan kesehatannya, memang harus dibatasi.
"Bicara soal keluarga... orang tua Kutsu-kun terasa
sangat normal, ya. Begitu juga kakak perempuanmu. Seperti keluarga inti
tradisional Jepang."
"Mungkin begitu. Omong-omong, apa kamu suka hal-hal
seperti itu karena terasa nostalgia?"
"Oh, kamu paham sekali, ya. Kita ternyata cukup
cocok."
"Dalam hal seni, selera kita memang cocok. Sepertinya kamu juga menyukai
Temple Fighters."
"Ah, game itu. Terima kasih sudah meminjamkannya.
Aku langsung memainkannya sampai tamat saat pulang. Aku sudah menyelesaikan
story mode-nya."
"Secepat itu!?"
Kami tertawa bersama.
Lalu, keheningan sejenak menyelimuti kami. Di sela-sela
keheningan itu, oven berbunyi pertanda kue sudah matang. Tim masak berteriak
girang saat mengeluarkannya, lalu menjatuhkan cetakan kue itu ke atas talenan.
Berkali-kali suara gedebuk yang tumpul terdengar. Itu adalah proses yang
diperlukan agar uap panasnya hilang.
"Soal orang tua Seika, sejujurnya, aku sempat
berpikir itu tidak akan berhasil."
"..."
"Mereka berdua... sepertinya Reika-san awalnya masuk
ke agensi karena ingin menjadi penyanyi, tapi tidak berhasil. Katanya, itu
bermula saat dia terpikat pada ayahnya yang saat itu masih menjadi
manajernya."
"Begitu rupanya."
Mungkin analisisku terdengar tidak sopan, tapi mungkin
saja sifat keras Reika-san berasal dari ambisi masa mudanya yang tidak
tersalurkan. Yah, kurasa sekarang dia sudah jauh lebih lembut.
"Dia meyakinkan diri sendiri bahwa dia tidak gagal,
melainkan memilih untuk fokus pada keluarga. Tapi mungkin saja, di dalam lubuk
hatinya yang terdalam, dia belum bisa menerimanya. Seihide-san juga sama.
Karena menikah dengannya berarti membuat istrinya merelakan mimpinya, dia
mungkin tidak bisa terlalu keras padanya."
Itu semua hanya dugaanku saja, lanjutku sambil tersenyum
tipis.
"Tapi dia juga seorang elit yang hebat, kan? Dia
bukan tipe orang yang akan diam selamanya..."
Dia memang orang yang tenang, tapi melihat bagaimana
dia selalu menggunakan kata "dipertimbangkan" untuk memastikan jalan
keluar dari tuntutan putrinya, aku bisa merasakan ketangguhan orang yang
berhasil naik ke puncak di dunia hiburan yang kejam. Mungkin dia adalah orang
yang jauh lebih tangguh jika dia sudah serius, dibandingkan dengan Reika-san
yang lebih mudah ditebak.
"Pemicu ledakannya memang masalah pendidikan
Seika, tapi kurasa dasarnya memang sudah ada sejak lama. Makanya, saat pertama
kali dengar soal rencana mereka untuk pisah rumah, aku tidak terlalu terkejut. Meskipun
aku merasa tidak enak pada Seika."
"Jadi menurutmu itu tidak akan berhasil?"
"Hmm. Tapi sekarang ada kemungkinan "Ultra
C" yang bisa membalikkan keadaan."
"?"
"Itu kau. Atau lebih tepatnya, kau dan Seika. Aku
tidak menyangka Seika, yang didorong olehmu, akan bergerak seaktif ini. Dia itu
sebenarnya penakut dalam hal-hal penting, tapi kau lah yang
melengkapinya."
Punggungku ditepuk dengan keras. Horaguchi-san badannya
kecil, tapi tenaganya besar sekali. Omong-omong, aku ingat dia pernah
bilang kalau dia belajar karate sampai SMP.
"...Aku senang mendengarnya."
"Waktu hari kemah juga. Tidak mungkin
Seihide-san yang keras kepala itu langsung setuju begitu saja, kan? Pasti kau
yang membujuknya, bukan? Setelah barbeque, kau menyuruh Seika kembali ke
pondok, dan kalian mengobrol cukup lama, kan?"
Ternyata Horaguchi-san menyadarinya. Yah, memang
mustahil pembicaraanku dengan Ibu lewat telepon selama itu hanya untuk hal
biasa. Tapi, karena ada perjanjian rahasia...
"Aku hanya mengobrol sedikit layaknya
laki-laki," jawabku samar. Horaguchi-san hanya tertawa kecil, sepertinya
dia tidak berniat mengejar topik ini lebih jauh. Dia
sepertinya mengerti bahwa ada hal-hal yang lebih baik tidak dipertanyakan.
"...Apa ini akan berhasil?"
"Entahlah. Kita sudah menciptakan kesempatan untuk
Ultra C. Tapi pada akhirnya, ini adalah masalah antara mereka berdua. Kita
sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Sisanya... paling hanya mendorong
mereka jika mereka mulai ragu sebelum berdiskusi. Tapi hanya sampai di situ.
Pada akhirnya, kita hanya bisa menjaga mereka."
"Benar juga."
Pendapatnya sama dengan Ibu. Orang dewasa yang sudah
matang harus memutuskan masalah mereka sendiri.
Aku hanya berharap, semoga akhirnya bisa membuat
Seika-san tersenyum. Itu harapan tulusku.
"..."
Mungkin Horaguchi-san juga memikirkan hal yang sama
denganku. Dia sedikit mengernyit dan menatap ke udara kosong.
Lalu, saat keheningan kembali turun,
"Kutsuzawa-ku~n! Stroberinya mau didekor, nih~!
Kalau tidak cepat, nanti habis dimakan~!"
Suara santai Shigei-san terdengar dari dapur. Dia
benar-benar simbol kedamaian dan keseharian.
"Tidak mungkin habis, lah. Kamu mau mendekorasi
perutmu sendiri, ya?"
Horaguchi-san bangkit sambil membalas ucapan itu, lalu
berjalan ke arah dapur. Dia menoleh ke arahku sekali lagi, mengangkat bahu
dengan ekspresi yang sudah tidak terlihat kesal.
Dalam perjalanan pulang setelah mengantar Horaguchi-san
ke stasiun, aku mengunjungi Iwan Mall lagi. Tujuannya untuk berbelanja
tambahan.
Karena kami memutuskan untuk mendekorasi ruang tamu rumah
keluarga Mizoguchi, aku membeli berbagai macam ornamen dan bahan kue untuk
dipanggang pada hari-H. Seika-san sempat menawarkan untuk melihat kotak cincin,
tapi saat kuberi tahu bahwa aku sudah membuatkan satu dari kayu, dia langsung
memelukku erat-erat.
Setelah belanjaan selesai, hari ini pun akan segera
berakhir. Besok kami semua punya rencana untuk menyelesaikan sisa PR liburan
masing-masing, jadi sepertinya kami tidak akan bertemu... Sampai hari lusa,
tanggal 30. Hari yang sebenarnya.
Aku mampir ke rumahku untuk menyimpan bahan kue ke dalam
kulkas. Lalu, aku mengambil kotak cincin yang tadi kubicarakan dan kembali ke
luar. Saat kuberikan pada Seika-san, dia memujinya sangat imut. Aku memang
ingin memberikan dukungan dalam bentuk apa pun, dan aku fokus menyelesaikannya
dua hari terakhir ini. Pengorbananku tidak sia-sia.
Dalam perjalanan kembali ke apartemen Seika-san, karena
masih ada waktu, kami memutuskan untuk mampir ke taman itu. Padahal hari
Minggu, tapi taman itu benar-benar kosong. Kami duduk di bangku sambil
bergandengan tangan. Entah kenapa, kami berdua terdiam begitu saja.
Senja di akhir musim panas. Suara jangkrik Higurashi yang
terdengar sedih bersahutan. Serangga-serangga yang tadinya begitu semangat
hidup mulai berkurang jumlahnya, mau tidak mau membuat kami merasakan
berakhirnya musim ini.
"...Kira-kira, akan berhasil tidak, ya?"
Itu adalah pertanyaan yang sama persis dengan yang
kutanyakan pada Horaguchi-san tadi. Namun, aku menjawab,
"Aku yakin tidak apa-apa... Aku rasa peluang
kita masih cukup besar."
Aku
tidak memberikan jawaban yang sama dengan Horaguchi-san. Meskipun bisa dibilang
itu hanya harapan kosong, saat teringat wajah Seihide-san saat kami mengobrol
di pemancingan dulu, kata-kata itu keluar begitu saja. Tidak
apa-apa, pria itu mencintai Reika-san dan Seika-san. Aku sadar orang yang hidup
di dunia hiburan sudah terbiasa dengan akting, tapi tetap saja. Aku percaya
kalau kata-kata dan perasaan yang kami pertukarkan hari itu bukanlah
kebohongan.
"Ya, aku harap begitu. Tidak, aku percaya memang
begitu."
"...Oh ya."
"Hm?"
"Apa pun yang terjadi, aku selalu di pihakmu. Pasti.
Itu satu hal yang pasti."
Seperti bersumpah. Dengan kuat, aku memasukkan seluruh
perasaanku ke dalamnya.
"Kousei..."
Tubuh kami yang sedikit berkeringat menempel rapat. Tidak
ada panas yang membara seperti saat pertama kali kami berciuman di sini, tapi
ada kehangatan yang tersisa di lubuk hati, seperti bara api.
"...Terima kasih."
Di bawah langit yang mulai diwarnai warna biru tua malam
hari, di taman yang tidak ada siapa pun, aku terus memeluk bahunya yang kecil.
30 Agustus.
Pagi hari penentuan itu memiliki langit mendung, yang
tidak bisa dipastikan apakah akan cerah atau justru turun hujan.
Aku bangun jam tujuh. Setelah bersiap-siap dan selesai
sarapan, bel pintu rumah berbunyi. Karena sudah tahu siapa yang datang, aku
langsung keluar.
Gadis dengan rambut berwarna ash grey yang mendekati
warna perak itu berdiri di sana. Highlight warna hijau zamrud yang dia buat
khusus untukku terlihat indah dan terawat dengan baik. Saat terkena cahaya
matahari pagi, rambutnya berkilau indah.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi. Persiapan peralatan masaknya sudah
siap, kok."
"Terima kasih."
Dia melepas sandalnya yang sedikit mencolok dan masuk ke
rumah. Saat dia menaiki undakan, aku menarik tangannya, dan dia tertawa sambil
menunjukkan giginya yang manis.
Saat masuk ke ruang tamu, Ayah dan Ibu menoleh ke arah
kami. Mereka sedang menikmati waktu santai sebelum pergi bekerja. Seika-san
berkata dengan perasaan tidak enak,
"Selamat pagi. Maaf mengganggu pagi-pagi
begini."
"Selamat pagi... Tidak apa-apa, jangan
dipikirkan."
Sudah diputuskan sejak beberapa hari lalu kalau kuenya
akan dipanggang di rumahku. Dapur Mizoguchi akan dimonopoli oleh Reika-san yang
ingin membuat hidangan lezat. Jadi, kami meminjam dapur rumahku, lalu kuenya
akan dibawa dengan sepeda.
Kami memulainya pagi-pagi karena mempertimbangkan waktu
cadangan jika kue pertama gagal, serta waktu untuk mendekorasi ruang tamu rumah
Mizoguchi.
Tak lama kemudian, Ayah pergi ke pabrik lebih awal karena
ada persiapan apel pagi. Ibu sempat mengawasi pembuatan kue Seika-san sebentar,
lalu berangkat ke tokonya. Sebelum pergi, dia sempat menggenggam kedua tangan
Seika-san untuk menyemangatinya.
Setelah mengantar Ibu pergi, Seika-san tampak sedikit
berkaca-kaca. Untuk menyembunyikannya, dia berkata,
"Enak ya, waktu tempuh ke tempat kerja kalian cuma
nol menit~."
Ucapannya terdengar sedikit melenceng.
Seika-san bekerja dengan lancar seolah ini bukan kali
kedua dia membuat kue. Mungkin setelah kembali dari rumah keluarga Shigei, dia
terus membaca catatan proses pembuatan kuenya berulang kali, berlatih dalam
pikiran, dan melakukan usaha-usaha tersembunyi seperti itu.
Dia selalu bilang kalau mataku terlihat keren saat aku
serius membuat sesuatu, tapi matanya yang saat ini juga membuatku jatuh hati.
Berkreasi dan membuat kue. Demi senyum seseorang... kupikir tidak ada banyak
perbedaan dalam hal yang dibuat dengan niat seperti itu.
"Fuuh~."
Selesai. Sekali percobaan langsung berhasil. Hal yang
menakutkan tentang kue adalah kami tidak bisa mencicipi hasilnya, tapi karena
semua takaran, suhu, dan waktunya sudah dijalankan sesuai buku panduan, kurasa
tidak akan ada masalah.
"Kerja bagus."
"Ya. Kousei juga, terima kasih dukungannya."
Dia mengelus pipiku. Lalu,
"Ah, krimnya menempel di sini."
Dia menggodaku dengan senyum setengah mengejek. Aku
sedikit menunduk dan menyodorkan pipi yang satunya. Sebelum aku sempat bilang
"tolong bersihkan", bibir Seika-san sudah mematuk pipiku
berkali-kali.
"Apa punya ku juga ada?"
Seika-san memajukan bibirnya dan memejamkan mata sedikit.
Hari ini dia memakai lipstik warna merah muda. Tentu saja tidak ada noda putih
di mana pun. Tapi aku tidak berkata apa-apa, aku hanya menempelkan bibirku ke
bibirnya dengan lembut.
Setelah ini, jika kami pindah ke rumah Mizoguchi, ada
Reika-san yang melihat. Memikirkan mungkin ini adalah ciuman terakhir hari ini,
aku merasa berat untuk melepaskannya, jadi kami bertahan seperti itu cukup
lama.
Aku menyiapkan sarapan Kakak—atau mungkin lebih tepat
disebut sarapan sekaligus makan siang—lalu membungkusnya dengan plastik dan
menyimpannya di kulkas. Sebagai gantinya, aku mengeluarkan kue dengan hati-hati
dan memasukkannya ke dalam kotak kertas. Aku tidak lupa menyertakan pendingin
yang sudah disiapkan sebelumnya, lalu berangkat.
Seika-san
membawa kue itu di atas "Starbridge-go". Aku
memimpin jalan di depannya layaknya polisi pengawal estafet. Memastikan tidak
ada rintangan atau undakan. Meski ini bukan pertama kalinya aku mengantar karya
seni yang rapuh, aku selalu merasa gugup.
Memakan waktu dua kali lebih lama dari biasanya, kami
tiba di apartemen Seika-san.
Saat masuk, Reika-san menyambut kami. Dia memang ibu yang cantik, tapi hari ini dia berdandan lebih ekstra
lagi. Dia terlihat seperti kakak Seika-san yang terpaut usia
jauh.
"Terima kasih untuk hari ini..."
Namun, bertolak belakang dengan penampilannya yang modis,
di dalam hatinya dia pasti dipenuhi kecemasan. Suaranya terdengar lemah. Karena
menunjukkannya justru hanya akan membuatnya canggung, aku hanya membalas dengan
senyuman yang selembut mungkin.
"Baiklah, kalau begitu, biar saya yang memasang
ornamennya."
Kami memilih hiasan dinding berbentuk bintang. Tentu saja
itu disesuaikan dengan nama Seika-san, tapi dia sendiri tampak malu-malu.
Kami memasang pernak-pernik berbulu satu per satu. Di
kaitan yang menggantung di rel gorden, kami juga memasang hiasan berbentuk
bola. Saat kakiku gemetar karena berjinjit, Seika-san menusuk pinggangku,
"Nuhaah!"
Suara aneh keluar dari mulutku, dan kami berdua
ditertawakan oleh ibu dan anak itu.
"Eh, tunggu dulu, Seika-san, tidak adil kalau kamu
ikut tertawa."
Setelah kuberikan komentar itu, Reika-san kembali
tertawa. Mungkin ketegangannya sudah sedikit berkurang. Kalau begitu,
pengorbananku menjadi badut tidak sia-sia.
...Omong-omong, saat kelas make-up dulu, aku juga sempat
menjadi badut untuk membuat Seika-san rileks. Benar-benar
ibu dan anak yang mirip, pikirku sambil mengulurkan tangan lagi.
☆☆☆
Pukul lima sore. Satu jam lagi Papa akan datang. Kami
akan menjemput Chika dan Hinano di tengah jalan, lalu langsung menuju ke sini.
Sekarang masakannya sudah selesai. Aku mengatur tata
letak di meja, menyajikan semuanya... setelah itu, wajah Mama tiba-tiba berubah
cemas.
Mungkin saat memasak dia merasa teralihkan, tapi
sekarang, saat hanya menunggu saja, dia mulai membayangkan hal-hal buruk.
Aku diam-diam melihat Kousei. Dia biasanya terlihat
santai, tapi sepertinya kali ini dia juga sedang berusaha keras, karena dia
langsung paham maksudku dan mengangguk.
"Ah, iya. Bukankah tadi kita bicara soal jus untuk
Shigei-san yang kurang? Aku hampir lupa. Aku beli sebentar ya."
Hinano, maaf ya. Tapi alasannya terlalu meyakinkan, Mama
juga mendengarnya tanpa rasa curiga. Atau mungkin dia hanya tidak sadar karena
terlalu gugup.
"Kousei, ini uangnya."
"Ah, tidak apa-apa, aku pakai poin kartu saja."
Tanpa pikir panjang, Kousei langsung pergi. Dia memang
tidak pernah mau menerima uang kalau dibayar belakangan. Dia benar-benar anak
yang baik. Aku harus membalas kebaikannya nanti.
Bahkan Mama pun membiarkannya pergi begitu saja, dia
memang tidak sadar dengan sekelilingnya. Padahal biasanya dia pasti akan
memaksa Kousei menerima uangnya.
"..."
"Mama."
"Dia akan datang, kan?"
"Eh?"
"Se... Papa."
Dia terdengar ragu apakah harus memanggilnya
Seihide-san atau Papa. Tapi sekarang, aku ingin dia memanggilnya bukan sebagai
ayahku, tapi sebagai orang yang disukai Mama. Saat
kusampaikan itu, dia menjawab dengan malu-malu, "Baiklah, kalau
begitu."
"Seihide-san... dia benar-benar akan datang,
kan?"
Pertanyaan itu terdengar seperti luapan kecemasannya. Aku
hampir saja bertanya, "Baru tanya sekarang?", tapi kutahan.
"Ini, lihat pesannya."
Karena aku yang menjadi perantara dengan Papa, ada pesan
di ponselku. Aku menunjukkannya pada Mama. Padahal tadi pagi sudah kutunjukkan
juga.
...Ya, aku mengerti. Bukan berarti dia benar-benar
khawatir Papa tidak akan datang. Dia hanya sekadar ketakutan. Dia memang
penakut di saat-saat penting.
"Mama."
Aku menggenggam kedua tangannya. Pagi tadi Akina-san
melakukan ini padaku, dan aku merasa lebih tenang. Bukan berarti aku menirunya,
sih.
"...Karena aku sudah bicara jahat pada
Seihide-san."
"Ya."
Ada banyak hal yang dikatakannya, tapi yang paling utama
mungkin adalah kalimat, "Padahal kamu tidak pernah peduli sedikit pun
dengan urusan rumah."
Sebagai Ayah, dia sudah berusaha mencari tahu tentang
perawatan rumah sakitku, tapi semua usahanya sia-sia... Mungkin dia pikir,
tidak ada gunanya peduli karena hasilnya akan tetap sama.
Yah, wajar jika Mama yang tidak pernah membiarkannya ikut
campur urusan rumah yang mengatakan itu.
"Karena itu, Mama. Ayo kita minta maaf. Target hari
ini... pertama-tama, minta maaf dulu."
Bahkan jika merasa bersalah, harga diri sering kali
menghalangi kita untuk meminta maaf. Itu psikologi yang umum, tapi kalau selalu
diikuti, biasanya tidak akan berakhir baik.
"...Meminta maaf, ya."
"Ya. Kalau bicara jujur, mungkin aku juga berharap
bisa melangkah lebih jauh, tapi jangan terbebani dengan pikiran bahwa semuanya
harus selesai hari ini."
Melibatkan Kousei dan yang lainnya, lalu hasilnya hanya
satu langkah kecil, memang membuatku tidak enak hati.
Tapi memang benar tidak ada gunanya terburu-buru.
Jika bisa meminta maaf, kurasa itu bisa jadi awal agar Mama bisa bersikap jujur
di masa depan.
Karena itu.
"Mulai dari satu langkah dulu. Aku sendiri butuh
waktu lama sekali untuk bisa dekat dengan Kousei, sampai-sampai rasanya seperti
berjalan dengan kecepatan kura-kura."
Aku teringat kembali perjuanganku selama ini dan tertawa
kecut sendirian.
"Sama seperti Mama, aku juga melakukannya setelah
membuat kesalahan besar. Tapi sebaliknya, itu berarti setelah membuat kesalahan
pun, kita masih bisa memperbaikinya. Dan untuk itu, kita harus meminta maaf
dengan tulus. Bersikap jujur dan terbuka. Kurasa itulah yang paling
penting."
Pada akhirnya, pesanku tetap sama dengan yang sebelumnya.
Jujurlah. Hanya itu.
"Begitu, ya."
Mama juga bukannya lupa, aku rasa dia hanya ingin
didorong sekali lagi. Benar-benar membuat repot, ya.
Rasanya dia seolah kembali menjadi gadis muda biasa.
Kalau begitu, kenapa tidak sekalian pura-pura menjadi muda saja?
"Sekali lagi, seperti sedang jatuh cinta. Meski
pelan, jangan menyerah untuk mendekat, terus melangkah maju……"
Aku memeluk tubuh kecil yang entah sejak kapan tingginya
sudah melampaui tubuhku ini.
Dia bekerja sampai jatuh sakit, lalu menyadari betapa
berharganya seorang suami. Dia juga bisa beradu argumen
denganku dan mengungkapkan perasaan jujurnya dengan terus terang.
Mama sedikit demi sedikit mulai berubah. Dia sedang
berusaha keras melepaskan baju zirah kebanggaannya dan mencoba untuk saling
berhadapan apa adanya. Papa, tolonglah. Lihatlah Mama yang sekarang.
Aku menatap ke arah luar jendela, ke arah rumah Kousei,
seolah sedang berdoa.
★★★
Pesan Rain dari Seika-san yang berbunyi "Kamu sudah
boleh kembali" kuterima saat aku sedang belanja di supermarket dan memakan
es krim di area santap.
Begitu membaca pesan itu, aku buru-buru menghabiskan es
krim di cup-ku, membuang wadah dan sendoknya ke tempat sampah terdekat, lalu
keluar dari toko.
Mataku bertemu dengan pegawai supermarket kenalanku yang
sedang mengumpulkan keranjang belanja. Mungkin karena aku sendirian hari ini,
dia menatapku dengan wajah agak curiga.
Dia pasti tidak akan membayangkan kalau aku baru saja
akan menjadi saksi dalam titik balik besar kehidupan keluarga gadis yang selalu
datang bersamaku ini.
Perjalanan satu menit dengan berjalan kaki itu bukan
hanya isapan jempol, dan dengan sedikit mempercepat langkah, aku sampai di
apartemen dalam sekejap.
Aku membuka kunci pintu satu per satu dengan kunci yang
kutitipkan, lalu naik ke lantai tujuh. Begitu sampai di depan kamar 707,
"Ah."
Tiga orang—pria berjas, gadis dengan rambut dua warna
hitam-pink, dan gadis bertubuh bulat—sedang berada di depan pintu.
"Oh, Kutsu-kun. Tadi kamu keluar?"
"Halo,
Horaguchi-san. Juga Shigei-san dan Seihide-san."
Aku membalas sapaan mereka sambil mengangkat tas
belanja yang kubawa.
"Kupikir jusnya kurang, jadi aku sekalian beli
tadi."
Sambil berkata dengan nada agak jenaka, aku diam-diam
memperhatikan raut wajah Seihide-san.
Dia adalah orang yang pandai menjaga raut wajah
(poker face), jadi kalau dia menutupinya, aku benar-benar tidak bisa tahu...
tapi, ya, dia terlihat sedikit tegang.
Sepertinya mereka bertiga baru saja tiba di depan pintu.
Tentu saja Seihide-san seharusnya punya kunci, tapi entah kenapa aku merasa
harus membukakan pintu untuk mereka.
Aku membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan mereka
masuk lebih dulu sambil tetap memegang gagang pintu dari arah lorong.
"……"
"Paman~?"
Shigei-san yang sepertinya sudah tidak sabar ingin segera
melihat masakannya terus mendesak, tapi Seihide-san tampak sedikit membeku.
Apakah ini... giliran untuk memberikan dorongan yang
sempat kubicarakan dengan Horaguchi-san tadi? Saat aku berpikir begitu,
"Ayo! Paman! Tunjukkan semangatmu, kau kan
laki-laki!"
Horaguchi-san memukul punggung pria berjas itu dengan
suara yang cukup keras. Eh!? Jadi "dorongan" itu maksudnya secara
harfiah (fisik)?
"Aduh."
Seihide-san terhuyung dan akhirnya melangkah masuk ke
pintu masuk. Tidak, Horaguchi-san, itu benar-benar terlalu keras. Apa kamu
tidak punya rasa takut sama sekali?
Saat itu juga.
"Kousei-kun? Selamat datang. Terima kasih, ya."
Mungkin dia mendengar suara kunci terbuka dan datang
untuk menyambut kami dari ruang tamu. Reika-san muncul, dan pasangan suami
istri itu pun kini harus berhadapan muka secara langsung.
"Ah."
"Ah."
Keduanya mengeluarkan suara tunggal nyaris bersamaan.
Seihide-san pasti berniat mengatur napas dulu sebelum masuk ke ruang tamu.
Bagi Reika-san juga, karena waktu yang dijanjikan masih
lebih dari 20 menit lagi, mungkin dia belum benar-benar siap secara mental.
"……"
"……"
Keheningan menyelimuti ruangan.
"Halo, Tante~. Wah, baunya enak sekali."
Shigei-san memang hebat. Kenapa semua anggota kelompok
ini punya kepribadian yang begitu unik? Tidak, mungkin dalam kasusnya,
"utamakannya makanan" adalah prinsip yang tidak pernah goyah kapan
pun.
"Ah,
iya. Halo. Chika-chan juga... dan... Seihide-san."
"Ah,
ya."
Hanya
saja, karena "ruang waktu si tukang makan" bekerja dengan baik,
mereka berdua bisa saling bertukar sapa meski dengan canggung.
Lagipula,
meski aku tidak melihat kejadiannya, bukankah mereka juga sudah bertemu dan
bicara sebentar di pagi hari saat kemah? Kenapa poin pengalaman mereka seolah
di-reset? Aku jadi merasa heran sendiri.
"……Ayo masuk, semuanya."
Atas usul Horaguchi-san, semua orang akhirnya sadar kalau
mereka masih berdiri mematung di pintu masuk. Ya,
memang lebih baik masuk dengan cepat. Di luar panas.
Saat masuk ke ruang tamu, Seika-san pun terkejut
melihat semua peserta sudah berkumpul lengkap, mulutnya sampai sedikit terbuka.
Kami memanaskan kembali masakannya, dan acara pun dimulai
meski lebih awal dari jadwal.
Mereka terbagi menjadi tiga orang di meja sofa, dan tiga
orang keluarga Mizoguchi di meja kursi. Seika-san dengan lihai mengarahkan agar
kedua orang tuanya duduk di meja yang sama.
"Kalau begitu~. Terima kasih sudah datang hari ini.
Untuk merayakan rujuknya Paman Seihide dan Tante Reika... bersulang!"
Shigei-san yang memulai sapaannya...
Aku sama sekali tidak mendengar hal itu direncanakan.
Tidak, karena semua orang terdiam heran, sepertinya itu keputusan sepihaknya.
Keberanian yang luar biasa. Lagipula, proses rujuknya kan baru saja dimulai?
Seihide-san dan Reika-san hanya bisa tersenyum kecut. Sepertinya beban dan
ketegangan di antara mereka hilang dalam sekejap.
Seika-san terkadang menilai "Hina adalah
malaikat," dan mungkin itu ada benarnya. Karisma yang tulus, ceria, dan
karakter yang membuat orang lain mencintai serta memaafkannya. Itu adalah bakat
khusus miliknya. Bahkan dalam momen krusial ini pun, dia tetap menjadi dirinya
sendiri. Mungkin dia berpikir ingin berkontribusi lewat sesuatu, bukan karena
sengaja ingin mencairkan suasana. Dan sifat seperti itulah yang
mengundang senyum dan menenangkan suasana.
"Ahaha. Hina, bagus sekali! Ayo, bersulang!"
Horaguchi-san yang menyahut langsung membenturkan
gelasnya ke gelas milikku. Jus anggur di dalamnya bergoyang
sampai ke ambang batas yang berbahaya.
"Hati-hati, hati-hati."
Aku buru-buru meminumnya. Melihat
penampilanku,
"Kutsu-kun, kelihatan seperti karyawan kantoran
saja,"
ejek Horaguchi-san padaku. Semua orang ikut tertawa...
ketegangan di ruangan itu pun semakin mencair.
☆☆☆
Piring-piring besar berisi ayam goreng, kentang goreng,
dan tortilla yang mudah dimakan sudah tersaji di atas meja masing-masing.
Meja sebelah sana sepertinya sudah membentuk kubu aliansi
Hina VS Kousei & Chika, dan percikan api terlihat saat mereka memperebutkan
makanan. Padahal kalau dipikir secara logis, tinggal dibagi rata saja... tapi
Hina tidak akan mungkin puas dengan satu porsi, ya.
"……Hina-chan tetap saja seperti biasanya, ya."
"……Iya. Seharusnya aku memasak sedikit lebih
banyak."
"……"
Mama dan Papa mulai berbicara sedikit demi sedikit. Sikap
"bukan urusan kita" dari meja sebelah sana cukup membantu membuat
suasana di meja kami menjadi lebih santai.
"Ehm, jadi begini, Zatt ini merujuk pada kucing
milik Tom di kalimat sebelumnya, jadi..."
Kousei menirukan gaya guru bahasa Inggris kami di
sekolah. Benar-benar sangat mirip.
"Hahaha! Kutsu-kun, mirip sekali! Ahahaha!"
Chika tertawa terbahak-bahak, dan
"Aduh~, aku kan tidak tahu karena sekolah kita
beda~,"
keluh Hina-chan sendirian.
Mungkin awalnya mereka sengaja ingin menciptakan suasana
yang terisolasi dari meja kami, tapi sekarang mereka sudah benar-benar
menikmati waktu mereka.
"Mereka semangat sekali, ya."
"Ya. Aku iri dengan masa muda mereka."
"Mama dan Papa juga masih bisa, kok."
Percakapan pun semakin cair. Rasanya seperti teringat
kerabat yang pemalu saat berkunjung ke rumah nenek setiap tahun baru; awalnya
canggung, tapi perlahan-lahan mulai terbuka, dan saat waktunya pulang mereka
sudah akrab.
Sangat sulit rasanya untuk mulai bicara, tapi kalau sudah
di jalur yang benar, mereka bisa bicara seperti dulu lagi. Aku yakin mereka
berdua juga begitu.
Bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri, pasti
pernah ada masa-masa di mana mereka saling mencintai. Aku ingin mereka bisa
menurunkan pertahanan diri mereka sampai ke tingkat itu lagi.
"Seandainya kita juga... bertemu saat masih
mahasiswa..."
"……"
Apa yang ingin dia katakan setelah itu? Mungkin kalau
mereka sudah saling mengenal sejak mahasiswa, ikatan mereka akan lebih kuat.
Tapi, pasangan yang berpacaran sejak mahasiswa pun banyak
yang berakhir putus. Mungkin itu hanya menginginkan sesuatu yang tidak ada.
Lagipula,
"Dengan perbedaan usia kita..."
Seperti yang Papa katakan, dengan perbedaan usia lima
tahun, sulit bagi mereka untuk bertemu saat masih mahasiswa.
"Lagipula... aku masih ingat hari pertama kita
bertemu di agensi."
Papa! Jadi dia ingin mendorongnya di sini? Bagus, ayo
berjuang.
"Betapa keras kepalanya wanita itu,"
tambahnya. Eh!?
"Eh? Aku juga berpikir dia orang yang sok keren,
tahu?"
Eh, apakah ini aman? Apa mereka akan bertengkar lagi? Kupikir begitu, tapi di sudut bibir mereka berdua tersungging senyum
kecil.
"……Iya, ya. Meski bukan saat mahasiswa,
pertemuan itu juga... tidak buruk juga, ya."
"……Iya."
Ternyata begitu. Meski sering saling mencela,
pertemuan itu ternyata cukup berkesan bagi mereka. Omong-omong, aku sendiri
belum pernah mendengarnya secara detail. Calon penyanyi dan manajer berbakat.
Bagaimana cara mereka memperpendek jarak di antara
mereka?
Yah, simpan dulu saja untuk saat ini. Mumpung percakapan mereka sedang mengalir dengan baik.
"Bahasa Inggris itu hidup! Selalu berubah! Jangan
salah paham!!"
Kousei berisik sekali. Lagipula itu guru yang menyebalkan
saat sedang mode histeris dan melampiaskan amarah, kan? Dia bisa menirukannya
dengan sangat baik.
"Hahahaha! Dia memang sering bilang begitu!
Benar! Saat dia mulai tertekan, dia langsung histeris. Hahaha!"
"Aku kan bilang tidak mengerti~! Hmph! Aku ambil
ayam goreng ini, ya~."
"Ah! Jangan! Ayam goreng juga itu hidup!"
Tidak mungkin, ayam goreng kan sudah mati. Lagipula,
kalian benar-benar tidak melupakan kami, kan?
Meski mereka bertiga bertingkah sesuka hati, Mama dan
Papa melihat mereka dengan tatapan lembut. Mungkin mereka merasa seolah
tiba-tiba punya banyak anak.
"……Kousei-kun, dia anak yang baik, ya."
Tiba-tiba Papa mulai mengajakku bicara. Padahal baru saja
dia sedang menirukan guru bahasa Inggris, apa itu yang membuatnya terpikirkan?
Tapi aku segera tersadar dan mengangguk dengan mantap.
"Dia adalah anak yang baik dan lembut yang bisa
menghadapi orang lain dengan tulus. Papa mungkin belum terlalu
mengenalnya."
"Tidak. Aku tahu. Dia adalah anak yang teguh
memegang prinsip. Aku sangat yakin setelah mendengar dia ingin menjadi
pengrajin. Dia adalah tipe yang hampir tidak ada di industri tempatku
bekerja."
Dia tersenyum sedikit menertawakan diri sendiri.
Namun, dia segera menghilangkannya,
"Aku merasa malu karena sempat meragukan
keberadaan anak sebaik itu. Yah... Reika, dan juga Seika. Aku minta
maaf."
Dia menundukkan kepala sambil tetap duduk. Ah, ini
tentang apa yang kuminta pada Papa di bundaran saat pertama kali bertemu
Kousei. Dia benar-benar melakukannya.
Aku segera menoleh ke arah Mama. Dia tampak melamun. Salah! Aku segera menyenggol lengannya dengan siku.
Sekaranglah saatnya.
"Mama."
Aku mengangguk kecil. Tapi bibirnya gemetar. Aku
diam-diam menggenggam tangan Mama di bawah meja. Ayo,
berjuanglah! Kalau melewatkan momen ini, Mama mungkin tidak akan bisa
mengatakannya lagi. Kumohon...
Akhirnya, Mama pun.
"Seihide-san... aku juga, maafkan aku. Untuk banyak hal. Tidak, untuk semuanya. Meskipun kamu bekerja keras
untuk menafkahi kami, aku justru mengatakan hal-hal yang meremehkanmu. Saat
Seika dirawat di rumah sakit, aku menolak usulmu dan bahkan tidak meminta maaf.
Aku bahkan mengatakan kalau kamu tidak mempedulikan keluarga."
Dia berhenti sejenak, lalu menundukkan tangan di atas
meja.
"Aku sungguh minta maaf. Aku minta maaf telah
menyakitimu."
Dengan suara bergetar, Mama menundukkan kepalanya
dalam-dalam sampai keningnya nyaris menyentuh meja.
A-akhirnya. Momen yang kutunggu-tunggu benar-benar
terjadi. Mama dan Papa, keduanya sudah berterus terang. Hal seperti ini
ternyata bisa terjadi.
Aku mengawasi mereka berdua dengan perasaan melayang,
seolah masih berada di dalam mimpi yang tidak nyata.
Mereka saling menatap mata, lalu dengan malu-malu
memalingkan wajah, kemudian kembali menatap satu sama lain.
Tanpa kata, tanpa suara. Entah sejak kapan meja Kousei
dan yang lainnya juga menjadi hening. Mereka pasti melihat Mama menundukkan
kepala dalam-dalam.
"……"
"……"
Keheningan itu berlangsung selama satu putaran jarum jam
detik, atau mungkin lebih lama.
Aku sebenarnya ingin menunggu sedikit lagi, tapi kalau
terlalu lama, suasananya justru bisa jadi rusak.
Aku membulatkan tekad dan mengeluarkan dua kotak cincin
kayu kecil dari saku rokku. Ini
dia. Momennya sekarang.
"Mama, Papa."
Mereka berdua melihat ke arahku. Mama dengan raut wajah
lega, Papa dengan tanda tanya di matanya. Aku meletakkan kotak itu di meja.
"Ini adalah..."
"Coba buka."
Karena aku yang memintanya, mereka masing-masing
mengambil kotak kayu di depan mereka dan membuka tutupnya. Tentu saja, sepasang
cincin itu ada di dalamnya.
Mama yang lebih dulu mengambil cincin itu dan berseru
kagum.
"Sangat cantik. Ada kesan transparan..."
"Apakah ini bunga? Tidak... apakah ini kerajinan
kertas?"
Papa juga mengintip cincin itu dari bawah sambil
menerawangnya ke arah cahaya lampu.
"Ini."
Sepertinya Mama yang lebih dulu menyadarinya.
"Bunga Ajisai (Hydrangea)?"
Yah, mungkin karena Mama pernah ditanya soal bunga kesukaannya, dia jadi mudah menebak kalau aku membuatnya untuknya. Tapi, pasti karena rasa kasih sayang yang besar juga.
"Ajisai……"
Kira-kira, apakah Papa juga mengingatnya? Saat itu,
Kousei membawakanku satu album foto dari bufet. Inisiatif yang bagus. Aku
menerimanya, membolak-balik halamannya, dan menemukan foto yang dimaksud. Aku
meletakkannya di atas meja dengan halaman itu tetap terbuka.
"Begitu, ya. Kamakura. Kita memang pernah ke sana,
ya."
Papa menatap foto itu lekat-lekat……mungkin karena
akhirnya benar-benar mengingatnya, dia memejamkan mata sejenak. Entah sedang
memikirkan kenangan belasan tahun yang lalu.
"Saat itu kita bahagia sekali……Seika juga sehat, dan
kita sempat bicara soal mengajakmu ke luar negeri kalau sudah besar nanti,
ingat?"
"Apakah kita pernah bicara soal itu?"
"Lagipula……waktu itu aku bisa bersikap jauh lebih
jujur padamu dibandingkan sekarang."
"……"
Papa tidak menjawab. Dia dengan lembut memasangkan cincin
buatanku di jari manis tangan kanannya. Tepat bersanding dengan cincin kawinnya
dengan Mama di jari manis tangan kiri.
Mama pun meniru, memegang cincin itu di tangannya. Namun,
dia sempat berpikir sejenak……lalu menyerahkannya pada Papa dengan lembut. Papa
seolah mengerti maksudnya, dia meraih tangan kanan Mama. Lalu, dia menyematkan
cincin itu di jari manisnya.
Wajah Mama memerah. Dia benar-benar terlihat seperti
kembali menjadi seorang gadis muda.
"Ahaha~, Tante Reika imut sekali~."
Tawa Hinano yang polos terdengar. Kurasa dia sama sekali
tidak berniat mengolok-olok, tapi Mama justru semakin memerah dan menciut. Yah,
kalau di depan Chika dan yang lainnya, rasanya memang agak memalukan kalau
terus-terusan seperti ini.
"……Syukurlah kalau kalian suka. Ayo, kita makan
kuenya."
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan demi kebaikan mereka.
"Terima kasih, Seika. Akan kujaga baik-baik."
"Terima kasih. Ini jauh lebih membahagiakan daripada
cincin mahal mana pun."
Papa dan Mama, entah karena terbawa suasana atau bukan,
menjadi sangat jujur, jauh melampaui kebiasaan mereka. Aku berharap mereka bisa
terus seperti ini, tapi di dunia orang dewasa, hal itu mungkin sulit. Karena
kenyataannya, orang jujur sering kali dianggap bodoh dalam masyarakat.
Namun, di ruangan ini sekarang, tidak ada orang yang akan
meremehkan kejujuran atau menganggapnya sebagai kelemahan. Aku ingin magic
hour ini terus berlanjut sampai acara ini berakhir, atau setidaknya sampai
hari ini usai.
"Ini kuenya."
Kousei entah sejak kapan sudah mengambil kue dari kulkas.
Dia membuka kotaknya, membuang ice pack, dan membagikan piring untuk
semua orang……semuanya dilakukan dengan sigap. Wah, pacar yang kompeten ini. Aku
menyukainya.
"Silakan."
Kousei menyerahkan pisau kue kepada Papa. Kilauan perak
memantulkan cahaya lampu ruangan. Papa memegangnya, lalu menatap kue itu sekali
lagi. Sponge cake yang dilapisi krim putih sempurna dengan taburan
stroberi yang melimpah di atasnya. Karya terbaikku.
"Terima kasih. Sepertinya Kousei-kun juga banyak
membantu, ya?"
Kousei memejamkan mata dan menggeleng pelan. Dia
memancarkan aura pelayan yang sangat cakap, padahal tadi dia baru saja
menirukan guru bahasa Inggris.
"Saya
hanya membuat kotak cincinnya saja. Sisanya, cincinnya sendiri, bahkan kuenya,
semuanya Seika-san yang buat sendiri."
Mungkin dia merasa menambahkan kata "demi
kalian" itu terlalu berlebihan, tapi tersirat jelas di balik ucapannya.
Aku merasa malu mendengarnya, lalu,
"Meski dibilang begitu, kuenya juga diajari Hina,
dan cincinnya pun berkat bimbingan Kousei."
Ucapanku terdengar seperti orang yang sedang
cemberut. Namun, baik Mama maupun Papa tertawa dengan raut wajah yang sangat
lembut sambil berkata, "Terima kasih," secara bersamaan.
Di saat itulah.
"Tante. Ayo potong kuenya sama-sama,"
ujar Chika kepada Mama dengan nada menggoda. Mama yang
tadi tersenyum lembut, kini menyembunyikannya dan bersikap sedikit marah,
"Aduh, kamu ini!" Tapi Papa bangkit berdiri dan memberi kode pada
Mama dengan matanya.
"Eh!? Benar-benar mau melakukannya?"
Mungkin Mama tidak menyangka Papa akan menanggapi saran
setengah bercanda dari Chika. Namun, Papa tersenyum tipis dengan tatapan mata
yang penuh kesungguhan seolah berkata, "Ayo kita lakukan."
Mungkin kalau sudah sampai sejauh ini, mereka punya
mentalitas untuk melakukan apa pun yang bisa dilakukan. Biasanya dia pria yang
sangat bijaksana, tapi terkadang dia bisa bersikap seperti ini. Mungkin
sebenarnya dia agak mirip dengan Kousei……ya, mungkin saja?
"Reika."
"Ya, um."
Mama akhirnya menyerah dan berdiri, lalu Papa dengan
lembut merangkul pinggangnya. Entah sejak kapan terakhir kali mereka melakukan
kontak fisik sedekat ini. Seingatku, aku tidak pernah melihatnya sejak aku
beranjak dewasa. Atau kuharap, mereka hanya tidak ingin memperlihatkannya di
depanku saja.
"……"
"……"
Mereka berdua memegang gagang pisau kue dengan tangan
yang saling bertumpuk. Bukan pisau mewah seperti di pesta pernikahan. Kuenya pun
tidak sempurna seperti buatan profesional. Cincin di jari manisku pun hanya
kerajinan tangan buatan putri mereka yang kikuk.
Tapi, Mama dan Papa tersenyum layaknya pasangan yang
sedang merayakan pernikahan.
Waktu yang ramai berlalu dalam sekejap, pesta berakhir
lewat pukul tujuh malam. Papa mengantar Chika dan Hinano kembali ke Yokonaka.
Seharusnya aku, Kousei, dan Mama yang melepas mereka……tapi ternyata tidak. Mama
memutuskan untuk ikut pergi. Pasti ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan.
Mungkin Mama merasa tidak sanggup membiarkan momen magic hour ini
berlalu begitu saja karena takut kejujuran mereka akan kembali terkubur.
Sambil melangkah santai mengikuti kedua orang dewasa yang
sudah berjalan lebih dulu ke tempat parkir, kami berempat berjalan menyusuri
koridor apartemen.
"Hah, kenyangnya~."
Hina mengusap perutnya yang besar. Imut seperti manatee.
Tapi yah, dia terlalu banyak makan. Lagipula, Kousei dan Chika memberikannya
setengah porsi kue. Terlalu dimanjakan.
"Hina, terima kasih untuk hari ini."
"Hmm~ tidak kok. Aku kan tidak melakukan
apa-apa~."
"Tidak juga. Kamu mengajariku membuat kue dengan
sangat teliti."
"Begitukah~," ucap Hina-chan dengan
malu-malu. Padahal kenyataannya, dia memang jago mengajar. Kousei sampai
menjamin kalau pengalaman Hina lebih banyak darinya dan menyerahkan sepenuhnya
tugas itu di tengah jalan. Aku beruntung bisa diajari oleh guru
yang ahli seperti itu.
"Lagipula, siulang tadi juga bagus, ya. Meskipun
sedikit meleset, tapi itulah hak istimewa Shigei-san karena dia diizinkan
melakukan itu."
"Eh~, jahat sekali~! Kutsuzawa-kun akhir-akhir ini
jadi tidak lembut lagi~."
Kurasa itu tanda dia sudah tidak merasa canggung
lagi. Lagipula, memberimu setengah porsi kue itu sudah cukup lembut, tahu?
"Chika juga, terima kasih, ya."
"Aku sendiri malah merasa tidak melakukan
apa-apa."
"Tidak kok. Bukannya tadi kamu memberikan dorongan
yang kuat pada Seihide-san? Itu sesuatu yang hanya bisa dilakukan dan dimaafkan
kalau datang dari Horaguchi-san saja."
"Wah. Cara bicaramu itu terdengar seolah aku ini
orang kasar."
"Memangnya benar, kan~?"
"Ini! Dasar daging tak berguna! Ini!"
Chika dan Hina bercanda satu sama lain. Kousei melihat
pemandangan itu dengan senyum hangat.
Indah sekali pemandangan ini. Kebahagiaanku tertumpah di
sini. Dikelilingi oleh sahabat-sahabat dan kekasihku……ah, bulan depan akan
bertambah satu orang lagi di sini.
"Tapi sungguh, syukurlah……soal rencana tinggal
bersama itu."
"Ya."
Setelah kejadian itu, Mama dan Papa meninggalkan ruang
tamu yang bising dan berbincang santai di balkon.
Bahkan sebagai anak, aku tidak menanyakan secara detail
apa yang mereka bicarakan. Kurasa akan jadi hal yang tidak sopan kalau
memaksakan diri untuk tahu.
"Yah, maksudku bukan tinggal bersama sih, melainkan
pindah ke kamar lain di apartemen yang sama, kan? Paman Seihide juga masih
terlalu ragu, ya."
Chika memang ceplas-ceplos, tapi kurasa untuk permulaan
itu sudah cukup. Lagipula,
"Bagiku, mereka berdua bisa saling meminta maaf
dengan jujur dan bisa kembali bicara secara alami seperti ini. Itu saja sudah
menjadi pencapaian yang membuatku ingin berterima kasih pada Tuhan. Jika jarak
fisik mereka bisa lebih dekat lagi setelah ini, aku benar-benar tidak bisa
berharap lebih lagi."
Itu adalah perasaan yang tulus dan jujur.
"Besok, aku akan menanyakan ke perusahaan pengelola
apartemen, kalau ada unit kosong di lantai yang sama, aku akan segera
memesannya……"
"Kamu jadi sibuk ya. Serahkan urusan pindahan
padaku."
Kousei memamerkan otot lengannya dengan percaya diri.
"Aku bagian mie perayaan pindahan ya~."
Hina-chan tetap konsisten.
"Kalau dia mulai goyah lagi, aku akan menendang
bokongnya."
Chika memang bisa diandalkan.
Tanpa terasa, kami sudah sampai di tempat parkir. Sedan
hitam perlahan keluar perlahan. Papa di kursi pengemudi, di sampingnya Mama
dengan senyum malu-malu.
Tiba-tiba saja, aku sadar celah di hatiku telah terisi,
air mata pun menetes keluar. Pemandangan yang sempat membuatku menyerah.
Tapi, kebahagiaan yang selalu kuimpikan dan kuinginkan,
kini ada di sini.
"Terima kasih. Semuanya, benar-benar terima
kasih."
★★★
Hanya aku yang tidak pulang, aku kembali bersama Seika ke
ruangan yang kini kosong.
Dia terlihat enggan untuk berpisah, dan sepertinya Seika
juga menginginkannya, dia bilang, "Aku tidak ingin sendirian
sekarang."
Setelah pesta yang begitu ramai dan hasil terbaik yang
dicapai, berada sendirian di tempat setelah acara usai pastilah terasa sangat
sepi.
Mencuci piring, merapikan ornamen, kami baru bisa
bernapas lega saat waktu menunjukkan hampir jam sembilan malam.
"Terima kasih atas kerja kerasmu."
"Sama-sama. Seika-san juga."
"……Apa benar kamu tidak perlu pulang?"
"Tadi aku sudah menghubungi Ibu, bilang kalau
kami semua menginap di rumah Seika-san. Aku bilang ada Seihide-san dan yang
lainnya, jadi tidak perlu khawatir."
"Anak nakal!"
Pembohong besar, ya. Tapi.
"Itu karena ini permintaan sang putri."
"Rayuan murahan~."
"Haha."
Aku mengatakannya dengan nada bercanda, tapi itu
sungguhan. Aku ingin mengabulkan semua keinginan gadis ini.
Di kamarnya, kami duduk bersandar di tempat tidur,
duduk bersebelahan. Bahkan PC tidak dinyalakan. Hening, dunia milik kami berdua
saja.
Mengingat keributan tadi, aku memang tidak ingin
meninggalkannya sendirian di sini. Aku tidak ingin Seika-san merasa
kesepian lagi sedikit pun. Karena aku tahu dia sudah menahannya sampai hari
ini.
Cinta yang meluap-luap membuat hidungku terasa perih.
Seika-san menatapku.
Kupikir dia akan menertawakanku, "Kenapa kamu yang
mau menangis?" Tapi dia justru menatapku dengan raut wajah haru, lalu
menyandarkan kepalanya di bahuku dengan lembut.
"Tidak menyangka... hari di mana kita bisa hidup
bersama sebagai keluarga akan datang lagi."
"Ya."
"Dulu aku hampir menyerah."
Dia meraih tanganku, dan menjalin jari-jarinya di
jari-jariku.
"Tapi, setelah bertemu Kousei lagi, mengalami banyak
hal……aku pun jadi tenang dan bisa melihat berbagai hal dengan pandangan yang
lebih luas……"
Beban di pundakku terasa semakin berat. Rasanya seluruh
sisi tubuhku didekap olehnya.
"Mungkin saja, kalau aku berjuang dalam keadaan
seperti bulan Mei lalu, hasilnya akan gagal. Aku rasa aku tidak akan bisa
meyakinkan Mama."
Meski hubungan kami baru berjalan tiga bulan, aku yakin
pengalaman sukses ini memberinya kepercayaan diri dan keyakinan dalam setiap
kata yang dia ucapkan.
Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang dibicarakan Seika-san
dan Reika-san……tapi kalau pengalaman dan hal-hal yang dia sadari saat bersamaku
memberikan pengaruh yang baik, tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu.
Dan di saat yang sama, keberhasilanku meyakinkan
Seihide-san juga karena aku telah tumbuh setelah mengalami berbagai hal.
Tentu saja, kasih sayang dan ketulusan terhadap Seika-san
adalah yang utama, tapi kalau aku tidak ingat saran dari Ibu, yaitu untuk
belajar mengandalkan orang lain, mungkin aku sudah mengatakan hal-hal yang
tidak perlu.
Karena kami berdua telah tumbuh besar di musim panas ini,
hasil terbaik pun bisa tercapai.
"……Tentu saja, pada akhirnya itu karena ikatan
antara Seihide-san dan Reika-san masih tersisa."
"Ya. Itu benar. Kalau dipikir-pikir sekarang,
mungkin keputusan untuk memberi waktu dan jarak itu juga ada benarnya."
Seika-san menyeka sudut matanya.
"Padahal sudah sejauh itu, padahal sudah begitu
banyak waktu yang berlalu. Ternyata perasaan yang benar-benar tulus tidak akan
hilang, ya."
Dengan tangan satunya yang tidak menggenggam tanganku,
dia menggenggam erat kemeja di bagian dadanya.
"……Keluarga itu hebat, ya."
"Ya."
Ada ikatan yang terus terjaga tanpa pernah terputus
seperti di rumahku. Ada pula ikatan yang kembali meski sempat terpisah oleh
panas yang tak kunjung padam seperti di rumahnya.
Dan anak yang tumbuh di sana, mendambakan ikatan itu dan
membuat keluarganya sendiri. Begitulah cara orang hidup.
"Hei, Kousei."
"Ya."
"Aku, sepertinya aku menemukan hal lain yang ingin
aku lakukan selain menjadi model."
"Benarkah?"
"Ya. Jangan tertawa, dengarkan ya."
Bagaimana mungkin aku tertawa? Itu adalah mimpi baru dari
kekasih yang kucintai. Aku akan mendukungnya. Membantunya. Mendukungnya. Dengan
perasaan itu, aku menatap matanya.
Dan hal yang ingin dilakukan Seika-san adalah……
"……Menjadi istri."
"Eh?"
"Makanya, menjadi istri."
Sekali lagi, dia menggerakkan bibirnya dengan jelas. Dengan wajah yang sedikit
memerah. Dia menceritakan mimpi itu padaku.
Aku yang sempat terkejut sesaat, perlahan mulai memahami
maknanya, lalu,
"Fu, fufu. Ahahahaha."
Aku tertawa.
"Eh, tunggu! Sudah kubilang jangan tertawa!"
"Ah, maaf. Maafkan aku."
Aku menangkap kepalan tangan imutnya yang mencoba
memukulku dengan kedua tanganku.
"Lagipula aku tahu, itu bukan gayaku, kan."
"Bukan, bukan itu."
Aku menariknya mendekat, kepalan tangannya dan tubuhnya
sekaligus. Wajah kami sangat dekat.
"Aku pun memikirkan hal yang sama. Anak yang
mendambakan keluarga, kini giliran dia yang membuat keluarganya sendiri.
Tentang aktivitas manusia seperti itu."
Anak yang dimaksud di sini tentu saja aku dan Seika-san.
Ayah dan Ibu, Seihide-san dan Reika-san. Aku sangat berharap bisa menyambungkan
ikatan yang diwariskan dari keempat orang itu ke generasi berikutnya.
"Jadilah istriku."
"Kousei……!"
"Akan kujaga kau. Mencintaimu saja. Sebagai
mahasiswa, kata-kataku mungkin masih lemah, tapi akan kubuktikan seumur
hidupku."
Setetes air mata jatuh dari mata Seika-san. Butiran yang
berkilau di bulu matanya yang panjang terlihat seperti permata. Air mata itu
mengalir di wajahnya yang berbentuk oval nan cantik.
Ujung hidungnya yang mancung terlihat sedikit memerah,
mungkin karena terharu. Bibirnya yang basah dan berbentuk
indah terbuka sedikit dan gemetar.
Lalu, aku membelai rambut perak dan hijau zamrudnya
yang indah, yang selalu membuatku terpesona,
"Aku tidak pernah menyangka akan mencintai
seseorang sedalam ini. Saking cintanya, kadang aku menangis hanya dengan
memikirkanmu. Apa dia kesepian di rumah sendirian? Apa dia sedang mengalami
kesulitan lagi? Apa dia memendam masalah yang tidak bisa diceritakan lewat
Rain? Saat itu, aku menyesal tidak berada di sisimu……lalu aku menangis."
Aku mencurahkan semua isi hatiku. Apakah aku terlalu
memaksakan? Apakah aku terdengar menyebalkan? Aku bahkan
memikirkan hal sepele seperti itu, apa aku akan menyakitimu? Aku yang penakut
ini selalu memikirkan hal itu.
"Kou...sei."
Di sela isak tangisnya, Seika-san memanggil namaku.
Setiap kali dia memanggil namaku, aku selalu bahagia, dan aku ingin dia terus
memanggilku selamanya.
"Aku mencintaimu."
Karena cemas kata-kata saja tidak cukup, aku memeluk
tubuhnya yang ramping dan lentur itu. Tangannya pun segera melingkar di
punggungku.
Seolah kami memang ditakdirkan seperti ini sejak awal,
kami berdua tanpa celah sedikit pun. Tapi aku ingin lebih. Ingin menjadi satu.
Dorongan yang sempat kutahan kini menyerang kembali bagaikan gelombang pasang.
Seika-san mencium bibirku seolah ingin menabrakkan
seluruh wajahnya. Intensitasnya sama seperti saat percobaan pertama kami.
Saat itu, hidung kami bertabrakan sampai aku terkejut dan
menarik diri, tapi kali ini, meski hidung kami bertabrakan pun, kami tetap
berciuman dalam-dalam.
Lama kelamaan kami kehabisan napas dan menjauhkan wajah.
Saat aku menatap wajahnya dengan napas yang terengah-engah,
"Aku lebih mencintaimu."
Begitulah yang dia katakan padaku.
"Eh?"
"Aku yang lebih dulu menyukainya, lebih lama
menyukainya, dan aku mencintainya. Saat Kousei tidak ada, aku juga sering
menangis memikirkan Kousei, dan ingin menelepon karena ingin bertemu."
Ternyata dia sedang menandingi kata-kataku. Dengan
nada manja dan cemberut.
"Makanya……baiklah. Aku berikan semuanya. Aku percaya
semua kata-katamu. Dan aku juga akan menjagamu seumur hidupku. Terus
mencintaimu saja."
Dia mengakhiri kalimatnya dengan gaya bicaranya yang
ketus seperti biasanya. Dia malu, telinganya memerah. Orang seperti apa dia
ini? Imut, kuat, kekanak-kanakan, sekaligus keibuan. Dia benar-benar membuatku
terobsesi.
Aku meraih tangannya, berdiri, dan mengajaknya ke tempat
tidur dengan lembut.
Tidak perlu ada kata-kata lagi setelah itu.
Tiba-tiba aku terbangun karena ada suara.
Saat aku memicingkan mata dalam keremangan, Seika-san
sedang duduk setengah badan di tempat tidur. Sepertinya dia baru saja mengganti
kemejanya, hanya mengenakan bra berwarna hijau zamrud.
"Ah, maaf. Membangunkanmu?"
"Tidak."
Aku hampir berpaling, tapi tadi malam kami sudah...
tidak, lupakan saja.
Seika-san turun dari tempat tidur dengan lembut dan
berdiri, tapi terlihat sangat goyah. Aku buru-buru menyusulnya dan menopang
tubuhnya dari samping.
"Yah, rasanya masih ada yang berdenyut, semacam
versi membran dari nyeri phantom?"
Semuanya jadi hancur deh... yah, aku jatuh cinta padanya
termasuk karena sikapnya yang terus terang ini, jadi mau tidak mau harus
menerimanya.
"Ke toilet?"
"Tidak. Karena haus."
Kalau begitu, aku menempatkan tanganku di bawah lutut dan
punggungnya, lalu mengangkatnya dengan mantap.
"Wah, hebat. Putri duyung ya."
Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku melakukannya.
Senyum bahagianya terlihat imut. Rasanya aku semakin mencintainya setelah
semalam.
Aku menggendongnya dan berjalan menuju ruang tamu.
Begitu melangkah masuk ke ruangan, dari pintu kaca balkon, langit sebelum fajar
terlihat. Gradasi oranye tipis perlahan mengikis warna biru tua dari arah
timur.
"Indah..."
Seika-san berbisik. Aku membawanya mendekat ke
jendela. Kami menikmati pemandangan itu sejenak, tapi karena
lenganku mulai pegal, aku menurunkannya ke lantai kayu. Wajahnya terlihat agak
tidak puas.
"Karena aku melakukan gerakan yang tidak
biasa..."
"Oh, begitu ya. Aku juga menahan rasa sakit dengan
mengerahkan kekuatan di tempat yang aneh. Sebentar lagi pasti ototku
sakit."
"Seandainya aku bisa melakukannya dengan lebih
baik."
"Ayo, jangan begitu. Ini kan pertama kalinya bagi
kita berdua, jadi wajar kalau tidak mahir. Sama seperti ciuman, kita hanya
perlu meningkatkan kemampuan kita berdua dari sini."
"U, um."
Apakah kebiasaan burukku muncul lagi? Sepertinya aku
terlalu memikirkan hal romantis yang aneh.
Seika-san yang diturunkan ke lantai, datang ke sampingku
dan menyandarkan tubuhnya padaku. Sambil merasakan suhu tubuhnya di lenganku,
kami memandangi matahari yang perlahan terbit.
Pagi terakhir liburan musim panas telah tiba. Musim panas
yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku akan segera berakhir.
Saat aku mulai diselimuti rasa melankolis itu, lengan
kemejaku ditarik. Seika-san sedikit memajukan bibirnya dan berjinjit. Ah, hari
ini kami belum melakukan "ciuman selamat pagi".
Aku menyentuhkan bibirku dengan lembut. Bukan ciuman
intens seperti tadi malam, hanya ciuman ringan.
"……"
"……"
"Mulutmu bau!"
"Kamu juga!"
Oh iya, mulutku masih bau bangun tidur.
"Aduh. Jadi tidak romantis."
"Ahaha, yah, itu khas kita, kan?"
Aku ikut tertawa melihat Seika-san yang tertawa lebar
memamerkan giginya.
Matahari akhir musim panas menyinari kami berdua dengan
lembut.



Post a Comment