NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Gyaru no Jitensha o Naoshitara Natsuka Reta Volume 4 Chapter 2


☆☆☆

Perkemahan yang menyenangkan akhirnya berakhir. Setelah menaruh kotak pendingin yang kini terasa ringan ke dalam bagasi, kami semua mengucapkan salam perpisahan kepada pasangan pengelola perkemahan.

Saat mereka membalas dengan senyuman ramah yang meminta kami datang lagi, aku pun menjawab bahwa kami pasti akan kembali jika ada kesempatan.

Sesaat setelah mobil melaju, kami sempat mengobrol tentang sungai, langit, dan ikan. Namun, entah sejak kapan, semua orang selain aku dan Papa tertidur.

Chika sudah bilang sejak pagi kalau dia kurang tidur karena terlalu bersemangat, dan Hina sudah tertidur di cottage sebelum kami naik mobil karena kekenyangan.

Kousei... entahlah, aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang hobi tidur.

"Mungkin dia kelelahan secara mental," ujar Papa.

Aku pun berpikir, apa benar ada sesuatu yang membuatnya lelah?  

Paling hanya saat melaporkan hubungan kami kepada Papa. Tapi, Papa pun langsung menerimanya dengan mudah.

Apakah itu benar-benar melelahkan?

Aku sedikit ragu, tapi sudahlah. Jika dia memang lelah, membiarkannya tidur adalah pilihan terbaik.

Sebagai gantinya, sekarang aku ingin menikmati waktu berdua saja dengan Papa.

"Tanggal 30 nanti, aku akan memanggang kue. Aku sudah janji diajari oleh Kousei dan Hina."

Aku sempat memikirkan kejutan, tapi melihat Papa yang berani mengambil langkah maju membuatku sangat senang. Saking senangnya, aku tidak bisa menahannya lagi. Lagipula, untuk urusan kejutan, masih ada masalah cincin yang belum selesai.

"Begitu ya, Kousei-kun ternyata pandai memasak juga."

"..."

Hm? Apakah Papa memanggil Kousei dengan namanya? Padahal tadi pagi, dia masih memanggilnya Kutsuzawa-kun. Begitu juga saat barbekyu siang tadi... hmm?

"Nee, Papa."

"Dia benar-benar anak yang tulus."

Suara kami bertabrakan. Meski masih menyisakan sedikit tanda tanya, aku jauh lebih senang mengetahui Papa juga mengakui kebaikan Kousei. Wajahku tak sengaja menyunggingkan senyum.

"Iya, kan? Dia pacar terbaik di dunia."

"Yah, awalnya aku sempat bertanya-tanya tipe pria seperti apa yang akan kau pilih, tapi sebagai seorang ayah, kau telah memilih tipe yang paling bisa membuatku tenang."

"Eh? Apa maksudnya itu?"

Sambil tersenyum tipis, aku melirik profil samping Papa. Kupikir dia hanya menggodaku, tapi ekspresinya terlihat sangat serius. Aku pun ikut menarik senyumku. Terkena cahaya matahari senja, cincin pernikahan di jari manis tangan kiri Papa yang memegang setir tampak berkilau. Ah, pikirku. Sejak berpisah rumah, dia jarang memakainya dan lebih sering menjadikannya kalung. Namun sekarang, cincin itu berada di tempat asalnya. Hal itu membuat hatiku semakin berdebar kencang.

"Aku juga... merasa seperti diselamatkan olehnya."

"Eh?"

"Aku ingin percaya bahwa yang menggerakkan hati manusia selalu adalah ketulusan dan kasih sayang. Pemikiran yang naif, bukan? ...Ah, lupakan saja. Jangan dipikirkan."

"Eh!? Apa sih, serius?"

Aku penasaran setengah mati. Dia tiba-tiba bicara puitis, lalu seolah memberi isyarat bahwa dia dipengaruhi oleh sesuatu dari Kousei.

Lagipula.

"Kalian berdua sempat mengobrol sesuatu?"

Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin telepon Kousei ke Akina-san selama itu. Lagi pula, tidak ada alasan baginya untuk pergi ke bawah bukit. Itu artinya, dia pasti pergi ke arah kolam pemancingan di balik bukit itu. Tebakanku mulai muncul sekarang.

"...Sedikit."

"Bicara apa?"

"Hanya disadarkan betapa dia sangat menyayangimu."

"Ya ampun, maksudnya apa sih?"

Kalau sudah dibilang begitu, aku jadi makin ingin tahu.

Aku masih ingin mendesak lebih jauh, tapi...

"Silau ya."

Aku hanya bisa terdiam.

"Turunkan saja sun visor-nya."

Pegunungan yang tadinya menutupi kini menghilang, dan sinar matahari sore langsung masuk ke dalam mobil. Aku pun merasa silau dan segera menurunkannya.

"Bukan soal sinar matahari itu."

"Hm?"

"Tidak... aku hanya berpikir mungkin tidak ada salahnya bagiku untuk berjuang sedikit lagi. Meski terasa memalukan, meski mungkin akan membuatnya marah, atau membuatnya menangis."

"Ah, itu kan..."

Itu adalah kalimat yang diucapkan Kousei.

Ternyata benar, mereka berdua benar-benar bicara dari hati ke hati di tempat yang tidak kuketahui. Tidak, mungkin lebih tepatnya mereka sudah saling menumpahkan isi hati.

Aku ingin terus mengejarnya, tapi apakah itu tidak sopan? Seperti halnya ada hal-hal yang hanya bisa dibicarakan sesama wanita, mungkin pria pun punya hal serupa.

"Seika, Kousei-kun adalah anak yang tidak boleh kau khianati seumur hidupmu."

"Iya, tentu saja. Tanpa dibilang pun aku sudah tahu."

"Begitu ya. Benar juga. Mungkin kau jauh lebih mengerti daripada aku."

Aku sedikit mencondongkan tubuh dari jok dan menoleh ke kursi belakang. Hina-no yang menguasai barisan kursi kedua sendirian sedang mengunyah-ngunyah dalam tidurnya. Mungkin dalam mimpinya pun dia sedang makan.

Di belakangnya, aku melihat wajah tidur Kousei yang tampak sangat nyenyak sambil bersandar di bahu Chika. Mulutnya sedikit terbuka, tampak konyol. Dia sangat menggemaskan sampai aku ingin menciumnya sekarang juga.

"Iya. Bukan cuma Kousei, semua orang yang ada di sini sekarang adalah orang-orang penting bagiku."

Aku tidak ingin mengkhianati siapa pun seumur hidupku, dan aku juga tidak ingin dikhianati. Tentu saja, itu berlaku juga untuk Papa. Maka dari itu...

"Nanti di pesta pernikahan aku dan Kousei, aku akan mengundang semua orang yang kusayangi. Jadi, Papa siapkan setelan tuxedo-mu ya?"

Aku sengaja memancingnya dengan nada sok berkuasa. Kukira dia akan marah dan bilang aku masih sepuluh tahun terlalu dini, tapi...

Papa justru tampak terkejut, lalu dia tertawa lepas, seolah itu hal yang sangat lucu. Tawanya benar-benar meledak.

"Eh? Apa itu bagian yang lucu!?"

"Mm~ berisik."

Hina-no yang memarahiku, bukan Papa, membuatku tak bisa menahan tawa.

Setelah mengantar semua si tukang tidur sampai ke rumah masing-masing, Papa mengantarku ke apartemen.

"Sampai jumpa tanggal 30," ucapnya sebelum pergi.

Jika dilihat secara objektif, itu mungkin salam perpisahan yang singkat untuk momen kebersamaan ayah dan anak setelah sekian lama. Tapi bagiku, itu adalah kata-kata yang sangat membahagiakan sampai aku ingin menari. Benar-benar nyata, bukan mimpi, kami akan menghabiskan hari jadi pernikahan sebagai keluarga.

Sebelum berangkat, pikiranku dipenuhi kecemasan dan harapan, seperti badai yang berkecamuk. Namun, hasil akhirnya ternyata yang terbaik. Aku sangat senang sudah mengumpulkan keberanian. Dan mungkin... apa pun yang dibicarakan Kousei kepada Papa juga memberikan dampak yang sangat positif. Tapi, apa isinya?

"Penasaran sih, tapi mungkin memang lebih baik tidak tahu."

Aku pernah mendengar dari Ria bahwa pria punya saat-saat di mana mereka ingin terlihat keren. Saat seperti itu, lebih baik membiarkan mereka sendirian.

Aku memasukkan makan malam yang kubeli di minimarket dalam perjalanan pulang ke dalam kulkas. Karena makan siang tadi cukup berat, aku memilih mi tsukimi tororo soba.

Setelah mandi, aku tidak langsung kembali ke kamar dan malah menghabiskan waktu di ruang tamu. Kalau aku merebahkan diri di tempat tidur, aku pasti langsung tertidur. Tadi di mobil aku tidak mengantuk karena bicara dengan Papa, tapi ternyata aku cukup lelah.

"...Terhadap grup Takeya, rantai kedai gyudon besar, beredar rumor di media sosial bahwa Takeya memalsukan jumlah nenek-nenek di luar negeri dan melakukan impor ilegal kakek-kakek untuk menambah jumlah karyawan kontrak. Seorang pengangguran yang tinggal di Kota Yokonaka ditangkap atas dugaan manipulasi bisnis..."

Televisi yang terus menyala menyiarkan berita yang tidak penting. Isinya sama sekali tidak masuk ke otakku, tapi suara penyiar wanita yang tenang perlahan membawaku ke alam mimpi...

"Aku pulang~"

"...!"

Gawat. Aku hampir tertidur. Aku bahkan tidak mendengar Mama membuka kunci pintu.

"Oh, selamat datang."

"Eh? Apa kau menungguku? Lagipula... bukankah kau makan bersama Masahide-san tadi?"

"Iya."

Ada jeda sebelum menyebut nama Papa, emosi apa yang terkandung di sana? Apakah Mama iri karena hanya aku yang bisa bermanja dengan Papa? Kalau iya, padahal dia hanya perlu bersikap jujur saja. Atau sebaliknya, apakah dia merasa waspada? Karena jika aku diambil oleh Papa, Mama akan sendirian.

...Mungkin keduanya. Pasti ada emosi kompleks yang bergejolak di dalam hati Mama. Jika sampai harus terjerat kerumitan seperti itu, bukankah lebih baik dia izin kerja dan ikut saja tadi? Namun, kata-kata yang sudah sampai di tenggorokan itu kutelan kembali.

"Aku sudah beli soba. Ayo makan."

"Oh, terima kasih. Aku lapar sekali, ini sangat membantu."

"Tadi rencananya mau masak sesuatu?"

Saat diperhatikan, Mama membawa tas belanja. Sepertinya dia baru saja belanja. Sial, aku lupa memberitahu kalau aku sudah beli makan.

Mama menggelengkan kepala.

"Ya, aku tadinya berpikir membuat sesuatu yang simpel... tapi karena aku lelah, kalau ada makanan yang sudah jadi, itu lebih baik."

Sambil berkata begitu, dia memasukkan bahan makanan yang dibeli ke kulkas. Melihat bahan-bahan itu, aku menyadarinya. Itu bahan untuk hamburg, makanan kesukaan Papa.

Aku diserang perasaan aneh yang menyesakkan dada. Ingin menggaruk dada, tenggorokan, padahal tidak gatal sama sekali.

Kenapa? Kenapa kau tidak bisa jujur dengan perasaan tulus ini? Kenapa harus disembunyikan di depan Papa? Apakah harga diri yang menghalangi? Kenapa keluarga harus sampai bersaing seperti ini? Apakah mengakui perasaan jujur berarti kalah?

"Fuuuuh..."

Aku mengembuskan napas panjang. Hampir saja aku meledak.

Mama yang mengeluarkan dua porsi makan malam dari kulkas duduk di meja.

"Ada apa?"

Sambil menuangkan saus ke atas soba di wadah, dia bertanya. Sepertinya dia sadar aku terlihat ingin mengatakan sesuatu.

"..."

Aku tidak bisa lagi menunggu Mama yang selalu tidak bisa jujur karena terhalang harga diri yang aneh. Aku harus bergerak. Maka, aku pun memberitahunya.

"Mama."

"Hm?"

"Tanggal 30 nanti, Papa akan datang ke rumah kita."

"Eh!?"

Karena terkejut, Mama menjatuhkan kemasan saus ke dalam wadah soba, menenggelamkannya. Meski begitu, aku tak mempedulikannya.

"Kenapa tiba-tiba!? Kau yang memintanya?"

Dia mendesakku. Aku menekan perasaanku dan mengangguk tenang.

"Kenapa sampai seperti itu..."

"Kenapa, ya... karena aku tidak suka keadaan yang sekarang. Apa Mama sudah puas dengan keadaan yang sekarang?"

"...Itu..."

Mama menghindar dari tatapanku dengan raut wajah tidak enak. Sikap itu membuatku kesal. Di bawah meja, aku mengepalkan tanganku erat-erat.

"Aku akan bicara terus terang. Setelah punya pasangan seperti Kousei, aku jadi mengerti... paling baik itu jujur kepada orang yang dicintai. Jika kau memendam perasaanmu dalam-dalam, meski kau sembunyikan, suatu saat dia akan menyadari dan datang menjemputmu. Itu adalah pemikiran yang terlalu naif."

"..."

"Tapi, ada juga orang yang menerima sifat manja seperti itu... saat aku lepas kendali, Kousei datang menjemputku. Seperti yang Mama tahu, kejadian di bulan Mei itu. Dan sekarang, Mama juga. Papa mencoba untuk datang menjemput kita. Tapi ingat, Kousei maupun Papa tidak datang tanpa perjuangan. Mereka datang setelah mengatasi rasa takut akan ditolak, disakiti, atau dipermalukan."

Jangan anggap itu hal yang wajar. Kousei melakukan itu bahkan saat kami belum pacaran. Kita harus menyadari betapa berharganya hal itu. Tentu saja Papa juga. Tidak ada undang-undang yang mewajibkan seorang suami untuk datang menjemput.

"..."

"Aku pernah mendiamkan orang yang sudah susah payah mengejarku sampai sejauh itu. Tapi, di saat terakhir, saat aku tahu hubungan kami benar-benar akan berakhir, aku akhirnya bisa jujur dan memohon padanya. Aku nyaris tidak lulus... tidak, mungkin itu adalah nilai belas kasihan karena kemurahan hati Kousei."

Aku tertawa mengejek diri sendiri. Mama masih menggigit bibir bawahnya, tanpa sedikit pun melembutkan ekspresinya.

"Bagaimana dengan Mama? Mau menyembunyikannya lagi? Padahal sebenarnya sangat mencintainya, tapi mau menyembunyikan perasaan itu?"

"Aku tidak bermaksud begitu..."

Aku benar-benar hampir meledak. Tidak, aku sudah meledak.

"Sudahlah, tidak usah begitu!! Kenapa Mama beli bahan hamburg kesukaan Papa!? Mama pasti berharap kalau-kalau dia akan makan di sini, jadi Mama buru-buru belanja dan pulang, kan!?"

"...!"

"Kenapa Mama menyembunyikannya!? Kenapa tidak mau mengakui perasaan itu!?"

"Aku tidak sama sepertimu dan Kousei! Aku sudah pernah merusaknya sekali! Karena diriku, hubungan itu hancur!"

Mama memukul meja dengan kedua tangannya. Sumpit terjatuh dan mengeluarkan bunyi ketukan ringan di lantai.

"Kalau hancur... tinggal diperbaiki saja, kan?"

"Eh?"

"Kalau hancur, bukan berarti semuanya berakhir, kan?"

"Dengar ya... itu berbeda dengan Kousei memperbaiki figur."

Beberapa hari lalu, Kousei memperbaiki figur Kururu kesayanganku yang sudah lama kubicarakan. Aku ingat Mama melihat perubahannya dan sangat terkesan.

"Hubungan antarmanusia tidak semudah memperbaiki benda."

"Beda. Itu tidak mudah."

Tanpa sadar aku membantah. Kata-kata itu keluar secara refleks.

"Berapa banyak latihan yang harus Kousei lakukan untuk mendapatkan keahlian itu? Pernah lihat tangannya? Kapalan dan kulitnya menebal. Bahkan kalau memegang benda panas pun dia hampir tidak merasa."

Meski lucu karena dia ternyata tidak tahan panas, sih.

"Aku menarik kata-kataku yang bilang itu mudah. Tapi tetap saja, memperbaiki hubungan manusia dengan memperbaiki benda..."

"Ternyata, menurutku tidak ada bedanya."

Sekali lagi, aku membantahnya dengan tenang. Ini pun refleks. Tapi lebih dari itu, ini adalah ketulusan hatiku.

"Mungkin ini asumsi yang mustahil, tapi seandainya Kousei tidak punya keahlian memperbaiki figur, apa menurutmu dia akan menyerah? Tidak, aku yakin dengan semangat dan usaha, dia akan berhasil memperbaikinya. Ujung-ujungnya, itu adalah perasaan. Menurutku, tidak ada bedanya dengan memperlakukan manusia. Cukup perlakukan dengan penuh kasih, teliti, tidak menyerah, dan saling berhadapan."

Mama tertegun dengan mulut sedikit terbuka, seolah baru mendengar hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia tampak tidak punya kata-kata untuk membantah.

"Benda itu... saat aku bersama Kousei, aku jadi tahu bahwa mereka pasti akan membalas. Jika dipoles, mereka berkilau; jika diperhatikan detailnya, akan ada jiwa di dalamnya. Jika dirawat dengan baik, mereka akan tetap ada selama bertahun-tahun atau puluhan tahun. Sebaliknya, jika dibuat asal-asalan, mereka tidak akan disayangi dan akan diperlakukan seenaknya. Jika dibiarkan begitu saja, mereka akan cepat rusak."

Jadi, bukankah hubungan antarmanusia juga sama?

"..."

"Kalau itu barang berharga, kan... akui saja. Jangan dibuang. Poleslah. Kalau rusak, perbaiki. Mama..."

Aku sudah memutuskan untuk tidak menangis, tapi air mata tak terbendung mengalir di pipiku. Dalam pandanganku yang kabur, aku melihat Mama juga menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Lalu, dengan suara terisak,

"...Apa aku... bisa melakukannya?"

Mendengar kata-kata itu... tubuhnya tampak sangat kecil. Aku tidak bisa menahan diri lagi, aku berdiri dengan semangat dan memeluk Mama.

"Bisa! Ayo kita lakukan! Papa justru yang ingin datang! Mama hanya perlu jujur! Sampaikan perasaan Mama! Seperti memperbaiki harta berharga, sampaikan dengan penuh kasih sayang, itu saja pasti sudah cukup..."

Mama mengangguk berkali-kali di dalam pelukanku. Mungkin, tanpa harus diberitahu pun, Mama tahu apa yang harus dilakukan. Dia tahu tidak ada cara lain selain jujur.

"Mama."

"...Seika."

Terima kasih ya. Aku akan berusaha. Tersirat semangat yang kuat dari kata-katanya.

Kami berdua berpelukan untuk waktu yang lama. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bermanja seperti ini dengan Mama, dan saat aku mulai tenang, rasanya sedikit geli.

Aku pikir membujuk Papa akan lebih sulit, tapi ternyata itu justru lancar. Sebaliknya, membujuk Mama ternyata jauh lebih melelahkan. Lagipula, dia sudah menandai kalender dengan lingkaran merah, tapi masih saja berlagak, "Bagi diriku, aku tidak peduli." Dasar tsundere yang aneh. Benar-benar membuatku mengeluarkan tenaga di luar rencana. Dasar Mama yang menyusahkan.

Apakah ini yang disebut kehabisan tenaga? Saat aku merebahkan diri ke tempat tidur, kesadaranku langsung memudar, dan kakiku bergerak sedikit. Apa itu tadi, efek jerky atau apalah... kupikir aku sempat memikirkan sesuatu saat akan jatuh tertidur, tapi tanpa perlawanan berarti, aku langsung berkelana ke alam mimpi.

Saat aku terbangun oleh suara, sinar matahari masuk melalui celah gorden. Saat memeriksa ponsel di samping bantal, waktu sudah lewat pukul enam pagi. Dan di layar utama, ada notifikasi dari Rain. Rupanya tadi malam, Kousei, Chika, dan Hina masing-masing mengirim pesan yang isinya meminta agar aku menyampaikan terima kasih kepada Papa atas tumpangan mobilnya.

Aku mengerjapkan mata. Kurasa aku sempat bermimpi, tapi aku tidak ingat apa.

"Oke, karena sudah bangun, sekalian mengantar Mama."

Aku menggelengkan kepala untuk mengusir sisa-sisa mimpi yang tidak jelas itu. Saat aku berdiri sambil meregangkan tubuh, otot-ototku terasa tertarik. Waa, kemejaku menempel di tubuh. Aku berkeringat. Apa aku tidur tanpa menyalakan AC?

Saat masuk ke ruang tamu, Mama sedang mengisi botol minum dengan teh di dapur.

"Selamat pagi."

Saat kusapa, dia menatap wajahku lalu ke arah jam secara bergantian. Lalu membalas dengan "Selamat pagi" dengan nada yang sedikit ketus. Sepertinya, setelah satu malam berlalu, dia merasa malu karena sudah menangis tersedu-sedu di depan putrinya.

"Apa aku membangunkanmu?"

"Tidak. Kurasa itu karena kemarin aku tidur cepat."

Ditambah lagi, aku tidur sangat nyenyak sampai pagi tanpa terbangun sekalipun. Sepertinya kelelahanku sudah hilang.

"...Terkadang enak juga makan bersama."

Aku masuk ke dapur, berdiri di sebelah Mama, dan menyiapkan roti panggang untuk diriku sendiri.

Aku meminta mesin pemanggang roti bekerja dua kali lipat, dan kami berdua sarapan dengan akur. Saat kami sedang melamun melihat acara berita pagi.

"Oh, Kamakura."

Penyiar sedang menyampaikan prakiraan cuaca dari depan kuil yang memiliki patung Buddha besar. Khas saluran lokal, ya.

Ngomong-ngomong, kakek-nenek Kousei dari pihak ibu tinggal di Kamakura, ya?

"Hortensia."

"Hm?"

Tiba-tiba Mama menggumamkan kata misterius. Ah, apakah itu karena Kamakura? Pikirku, lalu dia lanjut.

"Kemarin kan kau tanya, kan? Tentang bunga kesukaan."

Mama berkata seolah sambil lalu, tanpa mengalihkan pandangan dari TV.

"Ah, iya. Mama masih ingat."

Itu terjadi... malam sebelum hari di mana Mama pingsan, bukan? Aku bertanya karena untuk ide cincin, tapi sepertinya saat itu dia sangat lelah dan sikapnya dingin.

"Bunga kesukaanku, hortensia."

"Begitu... ya. Terima kasih."

Kalau begitu aku harus cari tahu apakah ada bunga kering hortensia, pikirku sambil hanyut dalam duniaku sendiri, sampai aku sadar akan tatapannya. Tanpa kusadari, Mama sudah berpaling dari TV ke arahku.

"Eh? Apa?"

Aku sedikit terkejut.

"Ya, kau masih kecil waktu itu, jadi wajar tidak ingat."

Hm? Maksudnya apa?

"Dulu kita pernah pergi jalan-jalan ke Kamakura bertiga bersama Masahide-san."

"Eh? Benarkah? Aku tidak ingat."

Kira-kira umur berapa ya? Sebelum penyakit itu ketahuan? Apa itu saat aku masih bayi?

"...Hortensia-nya cantik. Kebetulan pas musim hujan. Kau waktu itu mencoba menyentuh siput."

"Tunggu, sudahlah. Jangan bahas masa-masa saat aku belum ingat apa-apa."

Jangan-jangan ini aksi balas dendam kecil-kecilan? Semalam aku sudah bicara terlalu berlebihan, ya? Kalau sampai berperang total dengan ibu yang tahu luar-dalam diriku, aku tidak akan punya kesempatan menang.

Saat aku pucat pasi ketakutan, Mama malah terkikik.

"Tapi... sudah sepuluh tahun lebih berlalu sejak itu, ya. Pantas saja aku pun bertambah tua."

Dalam sekejap, senyumannya berubah menjadi penuh nostalgia. Matanya bahkan terpejam. Mungkin dia sedang membayangkan hari-hari bahagia bertiga di balik kelopak matanya.

"..."

Sebentar lagi, pasti. Kita bisa merebutnya kembali. Saat aku ingin mengatakannya, suara ceria terdengar dari TV. Sepertinya acara berita beralih ke segmen perkenalan video hewan peliharaan dari pemirsa.

"Waduh! Gawat! Aku harus cepat!"

Ah. Jika biasanya, ini waktunya aku harus sudah ada di depan meja rias.

"Soal cucian piring, biar aku yang kerjakan."

"Oh ya? Tolong ya!"

Sambil menghabiskan sisa roti panggang dengan susu, Mama bergegas keluar dari ruang tamu dengan langkah cepat.

Dengan sedikit hasil yang didapat, pagi yang sibuk itu pun berlalu.

★★★

Siang harinya, aku datang ke apartemen Seika-san. Rupanya, desain cincinnya sudah ditetapkan.

Saat menekan interfon, pintu segera terbuka dan Kousei muncul. Matanya tampak berbinar-binar.

"Ini dia, hortensia! Lihatlah bunga hortensia!"

"Tiba-tiba sekali, ya."

Aku tidak tahu harus merespons apa saat dia mengatakannya tepat di depan pintu.

"Ah, maaf. Panas, ya? Ayo masuk, masuk."

Bukan itu intinya. Namun karena memang benar di luar sedang panas, aku memutuskan untuk menerima kebaikannya.

Setelah diantar kembali ke ruang tamu, aku menikmati teh dingin sampai keringatku perlahan mulai mereda.

"Terima kasih banyak atas bantuannya kemarin. Aku sampai tertidur saat perjalanan pulang..."

Kelihatannya aku telah membebankan tugas menemani Masahide-san yang kelelahan sepenuhnya kepadanya. Menurut Ibu, kalau semua orang tertidur saat menyetir, pengemudi juga bisa mengantuk dan itu cukup berbahaya.

"Tidak apa-apa. Kamu sudah membantu membawakan barang-barang berat, jadi jangan dipikirkan. Lagipula..."

"Lagipula?"

"Ah, bingung juga ya."

"Hm?"

Sepertinya dia merasa bimbang untuk menceritakannya padaku.

"Coba lihat, Kousei sudah bicara sesuatu pada Papa, kan? Sepertinya Papa jadi bersemangat untuk tanggal 30 nanti."

"Ah, itu..."

Ternyata pembicaraannya mengarah ke sana. Karena ada janji rahasia antar pria, aku tidak bisa menceritakan detailnya secara gamblang.

"Aku tidak melakukan hal yang besar, kok."

Meskipun aku menjawab begitu, aku sendiri merasa jawaban itu terdengar hambar. Seika-san sepertinya tidak sepenuhnya percaya, tapi dia hanya tertawa kecil dan tidak berniat mendesakku. Rasa lega yang kurasakan hanya bertahan sesaat.

"Pokoknya, Kousei memang pacar terbaik, deh!"

Dia merangkak mendekat di atas sofa... karena dia mengenakan kemeja dengan potongan terbuka hari ini, aku bisa melihat sekilas bra berwarna merah muda lembut yang ia pakai.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan ke atas. Namun, tepat saat itu, Seika-san mencuri ciuman dari bibirku.

Kemudian dengan luwes, ia duduk di atas pangkuanku. Kaki jenjangnya yang mulus terlihat dari balik celana pendeknya. Saat aku menggendongnya tempo hari, aku tahu kulitnya sangat lembut hingga membuat jemariku meleleh. Aku ingin menyentuhnya lagi. Aku ingin merasakan kulit yang lembut dan hangat itu dengan seluruh telapak tanganku.

Aku...

Entah bagaimana, dengan mengerahkan kekuatan akal sehat, aku mendorong bahu Seika-san. Aku bisa melihat ekspresi kecewa di wajahnya.

"Aku bisa kehilangan kendali kalau begini terus."

Di rumah yang sedang tidak ada Reika-san ini, jika ia terus melakukan kontak fisik dengan kecepatan seperti ini, aku pasti akan menyerah.

Seika-san sedikit menggembungkan pipinya. Dia memelukku lagi dan berbisik di telingaku.

"Jadi, rasa sayangmu masih dalam batas yang bisa ditahan ya?"

Dia menggodaku dengan nada bicara yang menantang. Jika bicara soal rasa sayang sampai tidak tertahankan... meteran itu sebenarnya sudah lama melampaui batas. Namun saat ini, masalah antara Masahide-san dan Reika-san adalah prioritas utama. Kurasa dia menyadari bahwa itulah yang kupikirkan, tetapi mungkin lebih baik jika aku mengatakannya dengan jelas.

"...Sejujurnya."

"Eh?"

"Aku sudah sangat mencintaimu sampai tidak bisa lebih lagi."

"......!"

"Tapi, ini adalah masa yang sangat penting bagi Seika-san, tidak, bagi keluargamu. Tidak boleh melakukan ini sambil setengah hati atau memendam kekhawatiran. Justru karena Seika-san begitu berharga, aku harus menahan diri sekarang."

"Ah, i-iya, begitu ya."

"Iya."

"Kalau begitu... bagaimana kalau Mama dan Papa sudah berbaikan?"

"Saat itu terjadi... kurasa aku sudah tidak bisa menahan diri lagi. Aku terlalu mencintaimu sampai-sampai alasan bahwa aku masih SMA atau ini masih terlalu dini, tidak akan bisa menghalangiku lagi."

Pertemuan dan dialog dengan Masahide-san itu, aku tidak mungkin bisa melakukannya jika bukan karena perasaanku pada Seika-san. Yang menggerakkanku hanyalah keinginan sederhana untuk melindungi senyumnya. Keinginan itu memberiku kekuatan yang terasa tak terbatas.

"Kousei..."

Mungkin awalnya dia hanya mencoba menggodaku, tapi karena aku menjawab dengan sangat serius di luar dugaannya, dia mungkin merasa terkejut.

Matanya berkaca-kaca dengan bibir yang sedikit terbuka. Jika aku tidak sedang percaya diri berlebihan... kurasa dia merasa tersentuh.

Namun jika aku menciumnya lagi sekarang, kurasa aku tidak akan bisa berhenti. Aku menampar kedua pipiku sendiri dengan suara nyaring. Saat aku membuka mata, Seika-san tampak terkejut.

"Nah, mari kita kembali ke topik utama. Tadi kita bicara soal hortensia, kan?"

"Ah, iya, benar sekali."

Meski suasana manis itu belum sepenuhnya hilang, kami berdua mencoba mengalihkan pikiran.

"Bunga kesukaan Mama. Katanya itu kenangan saat kami pergi liburan ke Kamakura waktu aku masih terlalu kecil sampai-sampai tidak ingat."

"Ah, bunga itu pasti mekar dengan indah di musim hujan, ya."

"Itu kampung halaman keluarga ibu Akina-san, kan?"

Aku mengangguk, lalu bertanya, "Kira-kira hortensia di mana yang kita lihat dulu? Kalau tahu, mungkin kita bisa memasukkan pemandangan di sekitarnya... ah, benar juga, karena ini cincin, kita cuma bisa memasukkan bunganya saja."

Aku sempat ingin memberikan saran yang lebih berkembang, tapi mengingat ukuran benda yang akan dibuat, aku membatalkannya.

"Bagaimana kalau kita lihat album foto dulu?"

Begitu mengatakannya, dia bangkit dari pangkuanku dan menuju meja samping di ruang tamu. Rasanya lega, tapi entah kenapa ada sedikit rasa sepi.

Dia menarik pintu kayu dan mengambil beberapa buku yang tersusun di dalamnya. Sampul keras dengan desain rumit itu menarik perhatian. Saat kembali, dia tidak duduk di pangkuanku, melainkan di sampingku dan membukanya di atas meja.

"Wah, lucu sekali."

Ada banyak foto Seika-san saat masih kecil. Mulai dari bayi hingga masa balita. Setiap kali melihat satu per satu fotonya, bibirku melengkung membentuk senyum. Seika-san sering sekali menyentuh wajahku dengan tangannya, tapi pipi Seika-san di dalam foto itu tampak jauh lebih lembut.

Aku mencoba membelai pipi Seika-san yang duduk di sampingku dengan lembut. Memang lembut, tapi karena bentuk wajahnya yang oval sempurna, tidak ada lemak berlebih di sana. Sayang sekali.

Seika-san tampaknya mengerti arti dari ekspresiku dan merengut.

"Kamu, jangan-jangan punya hobi seperti itu ya?"

"Jangan bahas lagi. Nanti kuremas lagi lho."

Itu adalah kata-kata yang tidak pas diucapkan sekarang. Padahal aku baru saja bilang akan menahan diri.

"...Kamu, mau meremasnya?"

"T-tidak. Itu salah bicara."

Aku merasa bersalah pada Seika-san yang sudah memberanikan diri menonjolkan dadanya, tapi jika kami kembali ke suasana romantis, topik utamanya tidak akan selesai.

"Jadi, foto Kamakura-nya ada di mana..."

"Sepertinya ada di sini. Kayaknya foto liburan dan acara-acara dikumpulkan jadi satu."

Buku ketiga yang dibuka Seika-san sepertinya yang dimaksud. Foto-foto yang kulihat tadi kebanyakan di rumah atau rumah sakit. Sepertinya foto-foto itu sudah dikategorikan, dan foto-foto ini disembunyikan agar tidak terlalu sering dilihat oleh Seika-san.

"Hm... ah! Ini bukannya yang itu?"

Sepertinya dia menemukannya. Aku juga ikut mengintip tangan Seika-san.

Di sana terlihat pasangan Reika-san dan Masahide-san yang tampak lebih muda dan rupawan, serta bayi berwajah bulat di dalam kereta dorong yang didorong Reika-san.

"Ah, ini kan waktu aku masih bayi."

Seika-san bergumam seolah mengeluh karena tidak mungkin ingat momen itu.

"Ini... di sekitar kuil yang terkenal. Tempat ini jadi objek wisata."

Tempat itu juga tidak terlalu jauh dari rumah kakek dari pihak ibu.

"Bisa dibuat seperti ini tidak, ya?"

Warna biru pucat yang mendekati warna air. Dan warna ungu yang cukup jelas. Jika dua warna itu dikombinasikan, pasti akan sangat indah.

Aku mencari bunga hortensia kering di ponselku. Namun, aku mendapati fakta yang menyedihkan.

"Bunga berwarna biru di musim hujan sepertinya sulit dijadikan bunga kering."

Aku tahu ada bunga yang cocok dan tidak cocok dijadikan bunga kering. Sial sekali.

"Eh? Ah, iya benar juga. Tapi kalau yang mekar di musim gugur bisa, sih. Ah, tapi..."

Warnanya terlalu hijau, rasanya tidak cocok. Kami berdua saling bertukar pandang dengan wajah masam.

"Mau bagaimana lagi ya. Cari kandidat lain?"

Suara Seika-san terdengar sangat berat hati untuk menyerah. Namun, aku terdiam sejenak untuk berpikir. Sulit rasanya untuk langsung beralih ke rencana lain, mengingat bunga ini adalah kesukaan Reika-san dan punya kenangan keluarga. Seika-san pun sebenarnya masih terlihat belum ingin menyerah.

"Ah."

Benar juga. Tidak ada kewajiban untuk menggunakan bunga kering yang asli.

"Kenapa? Tiba-tiba dapat ide bagus?"

Aku mengangguk.

"Bentuknya memang tidak akan jadi bunga asli lagi... tapi bagaimana kalau kita buat seperti seni kertas sobek (chigirie), di mana origami dipotong seukuran kelopak bunga? Setelah itu kita beri sedikit warna dengan kuas."

Aku menjelaskan ide yang baru saja muncul. Seika-san mendengarkan dengan ekspresi yang makin cerah, dan setelah selesai, dia mengangguk berkali-kali.

"Bagus sekali! Aku juga punya pengalaman seni kertas sobek, sepertinya bisa melakukannya dengan baik!"

"Jadi kita buat bunga tiruan dari kertas. Kita tetap menggunakan konsep bunga hortensia, hanya mengubah bahannya saja."

"Iya! Ide yang brilian!"

Dia hendak memelukku... tapi mungkin teringat kata-kataku tadi, Seika-san hanya menggenggam tanganku. Aku merasa bersalah karena telah menghambat sifat manjanya yang polos itu, tapi sejujurnya... aku merasa tertolong. Belakangan ini, kontak fisik dari Seika-san memang sulit dihentikan jika sudah dimulai.

"Tapi, waktunya tinggal empat hari lagi. Membuat kelopak dan kue. Apa sempat?"

Keduanya adalah pekerjaan yang belum biasa dilakukan Seika-san. Kecemasan itu tentu saja masih ada. Namun.

"...Pasti bisa. Karena lihat, kita punya sekutu yang bisa diandalkan, kan?"

"Eh? Ah, maksudmu meminta bantuan Chika lagi?"

"Ya. Ayo kita minta bantuan mereka."

Dulu aku pasti akan menolak karena merasa tidak enak hati, tapi sekarang aku percaya mereka tidak akan keberatan jika dimintai bantuan. Tentu saja, aku akan memikirkan hadiah sebagai tanda terima kasih nanti.

"Untuk kelopak bunganya, mungkin Horaguchi-san bisa memanfaatkan pengalaman seni kertas sobeknya."

"Dan untuk membuat kue, kita akan mengandalkan pengalaman Hina dalam membuat kue."

Kami berdua saling tersenyum dan mengangguk. Jika tidak bisa dilakukan sendiri, lakukan berdua. Jika berdua tidak bisa, lakukan bersama-sama. Bagi kami, itu sudah cukup.

Seika-san meminta bantuan mereka lewat Rain, dan mereka langsung menjawab setuju. Aku tidak bilang kalau aku sempat terharu saat membaca pesan Horaguchi-san yang bilang, "Kenapa tidak ajak dari tahap diskusi!"

Untuk hari ini, kami pergi ke Ivan Mall untuk membeli bahan-bahan. Karena biaya perkemahan sudah dibayar lunas oleh Masahide-san, kantong kami cukup longgar. Ditambah lagi, ada pemasukan dari hasil YouTube Seika-san dan imbalan dari permintaan pribadi yang kukerjakan, jadi sekarang kami punya dana yang cukup.

"Pertama, kita beli origami dulu."

"Iya. Kita hanya akan memakai warna tertentu, jadi kalau cuma mengandalkan stok di rumah, sepertinya tidak cukup."

Kami pergi ke toko 100 yen lagi. Saat naik eskalator, aku melihat rok panjang yang dikenakan Seika-san. Aku merasa lega karena dia tidak memakai celana pendek seperti baju rumahan tadi. Ternyata, rasa posesifku cukup kuat juga.

"...Tempat ini penuh kenangan juga ya."

"Eh?"

"Lihat, aku pernah membuat kekacauan di sini, dan kencan balas dendam kita juga di sini."

"Ah, begitu ya."

Jadi maksudnya mall ini.

"Kita juga pernah dibantu di sekolah make-up di sini, ya."

Dan sekarang, kami datang untuk membeli bahan kerajinan yang mungkin akan mempengaruhi masa depan keluarga Mizoguchi. Memang ini bisa disebut takdir.

"Terlepas dari kekacauan pertama, semuanya berjalan lancar. Mungkin ini bisa dianggap sebagai keberuntungan."

"Haha, tapi yang pertama pun... kurasa itu diperlukan agar kita bisa bersatu."

"Ugh, lega mendengarnya."

Karena kami baru saja sampai di atas eskalator, aku menyusulnya satu langkah dan merangkul pinggangnya. Kontak fisik seperti ini, kurasa masih wajar.

"Fufu."

"A-ada apa?"

"Tadinya kamu merasa malu dengan gaya berpakaian gal dan sangat peduli dengan tatapan orang lain, tapi sekarang kamu sudah bisa merangkulku dengan alami, seolah menunjukkan pada semua orang bahwa wanita ini milikmu."

"Ugh. Aku tidak bermaksud memamerkannya."

Walaupun, sejujurnya ada sedikit perasaan ingin menyombongkan diri bahwa pacarku adalah yang terbaik.

"Ahaha."

Seika-san menyandarkan kepalanya ke bahuku.

"Kita berdua benar-benar sudah tumbuh dewasa, ya."

"Iya."

Musim panas ini telah membuat kami semakin kuat. Meskipun musim panas tahun ini sangat menyiksa karena rekor panasnya, kurasa ini adalah kesempatan yang pas untuk mencairkan es yang kami bawa masing-masing.

Saat kembali ke rumah, kami langsung sibuk melakukan pekerjaan sampingan di kamarku. Berbeda dengan kencan singkat di mall yang terasa tenang, kami mengerjakan pekerjaan yang sangat membosankan ini dalam diam.

Tadi aku bilang kertas sobek, tapi aku membatalkannya. Lebih baik dipotong menjadi beberapa milimeter dengan gunting, lalu sudut-sudutnya dipotong hingga membentuk oval kecil agar terlihat lebih menarik dan efisien.

Aku mulai melukis bagian tengah kelopak bulat itu dengan cat putih menggunakan kuas kecil.

Bunga hortensia memang terlihat biru atau ungu jika dilihat dari jauh, tetapi sebenarnya pangkal kelopaknya sering kali berwarna putih.

"..."

"..."

Seika-san yang memotong kertas, dan aku yang menjalankan kuas. Hanya suara gunting "ceklek-ceklek" yang terdengar di ruangan. Pikiranku tenggelam dalam lautan pemikiran.

Tadi aku sempat mencari tahu, bunga hortensia memiliki arti "cinta yang sabar" dan "ketidakkonsistenan." Ternyata alasan bunga ini mengandung arti yang berlawanan adalah karena warnanya berubah tergantung pada kualitas tanah tempat ia tumbuh.

Aku sempat berpikir untuk mengganti temanya karena arti yang kedua terdengar kurang baik, tapi Seika-san tidak bimbang sedikit pun.

"Karena masa depan yang tidak stabil itulah, kita harus memenangkan arti yang pertama dengan kehendak kita sendiri."

Begitulah katanya.

Kurasa hal itu juga berlaku bagi kami. Agar bunga dengan warna yang diinginkan terus mekar, kita harus terus merawat tanahnya agar tetap dalam kondisi ideal. Agar tidak ada rasa yang goyah, dan agar kita bisa terus menyimpan cinta yang sabar.

Saat itu, pengatur waktu berbunyi. Pukul lima sore. Batas waktu telah tiba.

"Ternyata tidak selesai dalam hari ini saja ya."

Terutama bagian kuas yang sangat detail membuatku cukup kewalahan.

Namun, ini bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan asal-asalan.

Sebaliknya, aku harus melukis dengan detail seolah-olah mencurahkan jiwa ke dalamnya.

"Maaf ya, aku membebankan bagian yang membutuhkan ketelitian padamu. Tapi aku benar-benar tidak bisa melukis tiga dimensi seperti ini."

Dia tampak sedih karena tidak bisa membantu, jadi aku membelai kepalanya dengan lembut untuk menghiburnya.

Sebenarnya, sejak pertengahan, pekerjaan menggunting Seika-san sudah jauh lebih cepat sehingga dia hanya menungguku menyelesaikannya.

"Tapi besok kalau Chika datang membantu, sepertinya akan selesai tepat waktu, ya?"

"Iya. Tapi seperti yang kubilang tadi, memasukkan kertas ke dalam cincin membutuhkan proses pelapisan (coating), jadi butuh ketelitian. Kita juga harus menyiapkan cadangan kalau ada yang gagal."

"Uuu, gurunya galak sekali."

Seika-san merebahkan diri membentuk huruf X. Aku memperingatkannya agar tidak mengangkat lutut karena bisa memperlihatkan celana dalamnya.

☆☆☆

Keesokan paginya, aku dan Kousei pergi ke rotari depan stasiun untuk menjemput Chika.

Karena ingin fokus bekerja hari ini, kami memutuskan untuk membeli makanan jadi untuk makan siang, namun setelah Chika berkata, "Ayo kita dukung Takeya," akhirnya kami membeli bento di kedai gyudon.

"Tadi beritanya harga saham mereka sempat turun karena rumor itu, ya?"

Aku ingat pernah mendengar berita semacam itu. Kurasa orang yang menyebarkan rumor itu hanya menganggapnya sebagai iseng belaka. Padahal di era yang penuh dengan kesalahan di media sosial seperti sekarang, kasus seperti ini sering terjadi secara berkala.

"Kalian juga punya saluran sendiri, jadi hati-hati ya."

Aku dan Kousei mengangguk. Saat itu juga, mesin tiket kosong. Padahal baru pukul sebelas, tapi pengunjungnya sudah cukup ramai.

Setelah melihat sekeliling toko lagi, Chika tertawa kecut, "Ternyata tidak butuh dukungan kita, ya."

"Yah, bagi para bapak-bapak yang menggunakan toko seperti ini, mereka tidak peduli apakah pelayannya karyawan kontrak, paruh waktu, atau bagian dari pemalsuan."

Sepertinya mereka hanya mencari harga murah, kecepatan, dan rasa yang konsisten.

"Ngomong-ngomong, sepertinya semua pegawai di toko ini adalah kakek-nenek lokal."

"Kakek-nenek lokal... ekspresi yang luar biasa ya."

Chika tertawa mendengar pilihan kata Kousei saat melakukan pembayaran tap di bagian bawah mesin.

Kami membeli empat porsi, termasuk untuk Hinano yang sudah menunggu di rumah Kousei. Dia sempat meminta porsi spesial besar (tokumori), tapi aku dengan tegas hanya memesankan porsi besar (oomori).

Ngomong-ngomong, aku memberikan uang untuk membayar gyudon itu kepada Chika nanti. Tentu saja, porsi Hinano juga kami yang traktir. Chika sempat menolak, tapi akhirnya dia menerimanya.

Sesampainya di rumah keluarga Kutsuzawa, kami langsung menuju pabrik. Karena hari ini Sabtu, tempat ini kosong. Terima kasih karena telah mengizinkan kami menggunakan tempat ini. Kami tidak perlu khawatir soal bau, atau lebih tepatnya, karena bau kayu di sini sudah sangat kuat, tidak akan ada bedanya apa pun yang kami lakukan.

"Kalau begitu, aku dan Hina yang akan memotong, jadi Kousei dan Chika tolong cat bunganya ya."

"Dimengerti."

"Oke~ nanti kalau sudah selesai memotong sesuai target~"

"Ya, tolong tunggu sambil makan, ya."

Karena memotong lebih cepat, setelah mencapai target tertentu, pekerjaan ini sudah cukup dilakukan satu orang. Rencananya mereka akan makan gyudon setelah selesai. Hinano akan mendapatkan peran utama dalam membuat kue setelah ini, jadi dia sudah dijadwalkan untuk menjadi asisten pengajar bersama Kousei.

Setelah sepakat, semua mulai bekerja. Hinano menyelesaikan bagiannya dengan sangat cepat dan langsung kembali ke rumah utama keluarga Kutsuzawa. Keberaniannya untuk bersantai di rumah orang yang baru ditemuinya dua kali itu sungguh luar biasa. Aku saja dulu merasa sedikit sungkan saat pertama kali datang.

"Apakah cat putih ini terlalu pekat?"

"Coba kulihat. Ah, kurasa segitu sudah cukup."

Kousei dan Chika bekerja berdampingan di bagian pengecatan. Kedua orang ini juga sudah akrab sekali. Akrab sampai-sampai aku merasa sedikit was-was.

Sepuluh menit kemudian. Bersama dengan hasil kerja kemarin, sudah terkumpul kelopak bunga sebanyak satu telapak tangan. Empat kelopak dikumpulkan dan direkatkan menjadi satu set. Jika dimasukkan secara terpisah, orang tidak akan tahu itu hortensia, jadi kami membuat mahkota bunga yang mirip dengan aslinya.

Setelah merekatkannya dengan lem, kami meratakan gel putih bernama top coat di atasnya. Saat aku mengomentari bahwa itu terlihat seperti lem, dia menjawab bahwa ada juga yang menggunakan lem biasa sebagai pengganti, aku pun sedikit terkejut.

Intinya, tujuannya adalah melindunginya seperti membran agar cairan resin tidak meresap ke dalam, jadi cairan lem pun bisa berfungsi untuk itu.

"Jika ada bagian yang tidak rata, warnanya bisa meresap dan membuatnya tampak transparan."

Katanya ada karya seni yang justru memanfaatkan hal itu untuk memberikan keunikan, tapi itu sudah tingkat ahli, jadi tidak ada hubungannya denganku.

"Bagaimana?"

"Ada gelembung udara di sekitar sini."

"Ah, oke."

Kami menyingkirkannya dengan sabar menggunakan alat misterius bernama emboss heater. Rasanya seperti sedang membuang busa saat memasak. Gelembung itu terus muncul jika kita lengah.

Karena gelembung yang tersisa akan membuat tampilan setelah mengeras menjadi sangat buruk, kami harus sangat berhati-hati.

Meskipun kami pikir kami sudah sangat berhati-hati... yang pertama gagal karena ada satu kesalahan.

Kami mencoba lagi tanpa menyerah. Kali ini pelapisannya sempurna.

"Baik, mari kita masukkan."

Percobaan kedua. Momen ini benar-benar membutuhkan perhatian ekstra. Jangan sampai keringat yang mengalir di pipiku jatuh ke cairan resin. Mungkin seharusnya aku menyiapkan bandana.

Aku memasukkannya dengan sangat hati-hati agar empat kelopak bunga tidak bengkok atau patah.

"Fuu."

Satu selesai. Tiga set lagi. Aku tidak memikirkan gelembung udara karena akan disingkirkan nanti. Yang penting bentuk bunganya tidak hancur dan terlihat jelas dari luar.

"Semangat."

Kousei berbisik menyemangati. Dia pasti ingin ikut membantu, tapi dia menahan diri dan terus memperhatikanku.

Akhirnya, semuanya masuk dengan hasil yang memuaskan. Gelembung udara juga dibersihkan dengan teliti sebelum akhirnya dicek oleh sang ahli.

"......Ya, tidak masalah. Mari kita keraskan."

"Berhasil!"

Ups. Masih terlalu dini untuk merayakannya.

Aku kembali fokus dan mengambil lampu UV.

………………

…………

……

Dan akhirnya.

Proses pengerasan selesai.

Aku mengeluarkannya dari cetakan, membersihkan bagian pinggirnya (bary), dan memolesnya. Akhirnya tiba giliran penilaian akhir Kousei.

"......"

"......"

Lama sekali. Aku mengelap keringat di pipiku dengan handuk. Kousei memutar-mutar cincin itu dengan ekspresi serius sambil menyipitkan mata.

Akhirnya.

"Ya, sempurna. Hasilnya sudah layak diberikan kepada orang lain."

Begitu mendengar kata-kata itu.

"Yesss!!"

Kebahagiaan meledak di dalam dadaku, dan aku langsung melompat di tempat.

Aku memeluk Kousei, dan dia membalas pelukanku sambil meletakkan cincin itu di tengah meja kerja dengan aman. Luar biasa.

Dia bisa membaca tindakanku yang terburu-buru dan menanggapinya dengan tenang.

"Kerja bagus."

Dia mengelus kepalaku sambil memberikan pujian.

"Hehehe~"

Saat aku melemaskan tubuh, perutku berbunyi. Ah, jam berapa sekarang?

Saat melihat jam dinding pabrik, sudah lewat pukul tiga sore. Wow, rasanya seperti melintasi waktu.

"Ayo makan gyudon."




"Tadi, ke mana Chika pergi?"

Sosoknya tidak terlihat. Karena terlalu fokus, aku bahkan tidak tahu kapan dia pergi.

"Dia sedang makan duluan, kok."

Kousei menunjuk ke arah rumah utama. Jadi dia beristirahat di sana, ya. Yah, setelah tugas mengecat selesai, memang tidak ada lagi yang bisa dia lakukan di sini.

"Kousei, terima kasih ya. Kamu sudah menemaniku dan menahan diri sampai sejauh ini."

Rasa bersalah terselip dalam suaraku. Namun, Kousei menggelengkan kepalanya perlahan.

"Aku ingin makan bersama Seika-san, kok."

Melihatnya mengatakannya dengan senyuman malu-malu itu membuat rasa sayangku meluap-luap. Dia bersikap seolah menunggu itu adalah keinginannya sendiri agar aku tidak merasa sungkan. Lagipula, dia lucu sekali.

Hatiku terasa penuh. Di sepanjang jalan singkat menuju rumah utama, aku memeluk lengannya erat-erat.

Ngomong-ngomong, saat masuk ke dalam, Chika sedang asyik berbincang tentang kedai gyudon dengan Haru-san, sementara Hinano tertidur di sofa. Benar-benar sudah menganggap rumah ini seperti rumah sendiri.

Setelah makan, aku akhirnya berhasil menyelesaikan cincin yang satu lagi. Namun, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Meskipun sekali coba langsung berhasil, mengejar kualitas membuat kami kehilangan waktu sampai selarut ini. Aku jadi kagum sendiri betapa berat dan butuhnya kesabaran melakukan hal yang biasa dilakukan Kousei dengan santai. Kurasa ini hanya bisa dilakukan jika ada rasa cinta.

Selalu terima kasih ya, Kousei.

Dan satu hal lagi.

"Hina, maaf ya. Padahal kamu sudah datang jauh-jauh."

Pada akhirnya, hari ini kami tidak sempat berlatih membuat kue sama sekali. Aku merasa telah membuang waktu berharganya. Namun...

"Nggak apa-apa kok. Gyudon-nya enak, dan membuat ohagi tadi juga seru dan lezat."

Dia mulai bicara hal-hal misterius. Aku menoleh ke arah Haru-san dan Akina-san.

"Habisnya, Hina-chan kelihatan bosan dan kasihan. Jadi Ibu membelikan kacang merah."

Di samping Haru-san yang menjelaskan, Akina-san dengan lembut mengelus kepala Hinano. Benar-benar anak yang disayangi, ya.

"Bagaimana dengan Temple Fighters? Kalau bosan, kalian boleh memainkannya, lho?"

"Eh?"

Kali ini, tiba-tiba saja kekasih tercintaku yang berdiri tepat di sampingku mengeluarkan topik yang sama sekali tidak kuketahui. Aku refleks memeriksa ponselku. Benar saja, di Rain grup, Kousei mengirim pesan:

"Kalau kalian senggang, ada game sampah menarik di kamarku. Silakan mainkan kalau mau. Game itu ada di rak ketiga, paling depan. Oh ya, jangan hapus datanya ya."

Dan ada balasan dari Chika:

"Temple Fighters 2 ya? Kelihatannya seru, aku coba ya."

Kapan dia mengirimnya? Atau lebih tepatnya, begitu ya.

Saat aku sedang sibuk, Kousei mengirim pesan untuk memperhatikan kedua orang itu. Bisa dibilang itu adalah bentuk bantuannya untukku.

Tapi entah kenapa, aku tidak bisa langsung berterima kasih. Malah, aku punya firasat buruk.

Saat sedang memikirkan itu, terdengar langkah kaki seseorang menuruni tangga.

"Ooo-i, Seika. Sudah selesai?"

Chika menampakkan wajahnya.

"Kutsu-kun, game itu seru sekali. Pinjamkan padaku ya."

Ternyata dia benar-benar kecanduan. Firasatku terbukti.

"Eh~? Itu benar-benar tidak pantas, tidak boleh lho~."

Reaksi Hinano normal. Orang seharusnya memang begitu. Tapi, mungkin game itu memang game sampah magis yang sanggup memikat hati orang-orang tertentu.

"Yah, jangan bilang begitu. Oh, Seika-san. Bukankah lebih baik kamu berikan saja koleksi game untuk penyebaran ajaran milikmu itu kepada Horaguchi-san?"

"Aku tidak punya koleksi untuk penyebaran ajaran, ya!"

Bagaimana bisa pacarku sendiri melakukan pencemaran nama baik?

"Eh? Seika-chan, kamu beli sendiri game itu?"

Haru-san menanggapi dengan serius.

"Serius kamu, Seika? Kamu niat banget, ya."

Chika pun ikut-ikutan.

"Ugaaaa!"

Aku butuh waktu sekitar tiga menit untuk meluruskan kesalahpahaman yang meluas itu. Dasar Kousei.

Yah, aku putuskan untuk berpikir positif bahwa Hina dan Chika setidaknya menikmati waktu mereka.

Lagipula, aku tidak bisa marah karena akulah yang mengundang mereka tapi malah membiarkan mereka menunggu.

★★★

Minggu berikutnya. Kami berkunjung ke rumah Shigei-san untuk membuat kue bersama berempat. Horaguchi-san sempat bilang, "Aku nggak perlu ikut, kan?", tapi aku ingin kami semua bekerja sama sampai akhir.

Lagi pula, semakin banyak penguji rasa, semakin bagus. Membiarkan Shigei-san memakannya sendirian juga membuatku khawatir dengan berat badannya.

"Nah, cetakannya harus dipasang dengan pas, ya~."

Kami mengalasi cetakan kue dengan kertas roti yang sudah dipotong bulat, lalu melingkarkan potongan kertas serupa di bagian sampingnya.

Horaguchi-san bilang ini seperti kerajinan tangan, dan tebakannya cukup tepat. Memasak dan kerajinan tangan memang punya banyak kemiripan.

Setelah berpacaran dengan Seika-san, aku baru sadar kalau memasak juga punya kemiripan dengan memakai make-up.

Setelah cetakan siap, kami lanjut membuat spons kuenya. Kami memanaskan mentega dan susu, menuangkan gula ke dalam telur kocok, lalu mengocoknya dengan mixer.

Meski gerakan kami masing-masing masih kaku, Seika-san yang mempraktikkan dan Shigei-san yang mengajar terlihat sangat senang.

Hanya karena adonan telur sedikit terciprat, kami sudah berteriak "Kya!", dan saat tepung terigu sedikit beterbangan, kami langsung terbatuk-batuk.

Sebenarnya... aku merasa tidak ada yang bisa kuajarkan, jadi aku malah jadi pengangguran di sini. Ternyata Shigei-san bukan cuma ahli makan, tapi juga cukup mahir dalam membuat kue. Mungkin inilah yang namanya "semakin disukai, semakin ahli".

"Duduk saja, yuk."

Horaguchi-san menunjuk sofa di ruang tamu dengan jempolnya. Orang ini benar-benar tidak punya rasa sungkan kalau bertamu ke rumah orang lain.

Omong-omong, orang tua Shigei-san sedang pergi ada urusan. Padahal aku saja sudah merasa tidak enak karena masuk ke rumah saat pemilik rumah tidak ada, tapi perilaku Horaguchi-san begitu percaya diri. Aku suka kepribadiannya yang seperti itu.

"...Fuh. Lekukan di tempat duduk Hinano masih saja parah, ya."

Sungguh, dia benar-benar tidak punya rasa sungkan.

Aku pun ikut duduk di sampingnya. Yah, memang benar rasanya ada perbedaan tinggi di tempat Horaguchi-san duduk.

"Kau tahu tidak? Ayah Hina itu kurus kering, lho. Ibunya juga tidak gemuk sama sekali."

Karena dapur sedang bising, sepertinya mereka tidak mendengar percakapan kami. Tapi tetap saja.

"Yah, kita berdua juga sama-sama memanjakannya karena dia imut dan empuk, jadi kita tidak bisa menyalahkan orang lain."

"Mau bagaimana lagi. Kalau tidak diberi makan, dia akan menunduk dengan wajah yang terlihat sangat kesepian."

Shigei-san itu punya wajah yang agak mirip anjing, matanya bulat, dan punya pesona yang unik. Kalau anak seperti itu memasang wajah sedih seperti anjing Shiba yang ditinggal sendirian di rumah, aku pasti langsung luluh dan bilang, "Iya, iya, makan saja." Tapi kalau memikirkan kesehatannya, memang harus dibatasi.

"Bicara soal keluarga... orang tua Kutsu-kun terasa sangat normal, ya. Begitu juga kakak perempuanmu. Seperti keluarga inti tradisional Jepang."

"Mungkin begitu. Omong-omong, apa kamu suka hal-hal seperti itu karena terasa nostalgia?"

"Oh, kamu paham sekali, ya. Kita ternyata cukup cocok."

"Dalam hal seni, selera kita memang cocok. Sepertinya kamu juga menyukai Temple Fighters."

"Ah, game itu. Terima kasih sudah meminjamkannya. Aku langsung memainkannya sampai tamat saat pulang. Aku sudah menyelesaikan story mode-nya."

"Secepat itu!?"

Kami tertawa bersama.

Lalu, keheningan sejenak menyelimuti kami. Di sela-sela keheningan itu, oven berbunyi pertanda kue sudah matang. Tim masak berteriak girang saat mengeluarkannya, lalu menjatuhkan cetakan kue itu ke atas talenan. Berkali-kali suara gedebuk yang tumpul terdengar. Itu adalah proses yang diperlukan agar uap panasnya hilang.

"Soal orang tua Seika, sejujurnya, aku sempat berpikir itu tidak akan berhasil."

"..."

"Mereka berdua... sepertinya Reika-san awalnya masuk ke agensi karena ingin menjadi penyanyi, tapi tidak berhasil. Katanya, itu bermula saat dia terpikat pada ayahnya yang saat itu masih menjadi manajernya."

"Begitu rupanya."

Mungkin analisisku terdengar tidak sopan, tapi mungkin saja sifat keras Reika-san berasal dari ambisi masa mudanya yang tidak tersalurkan. Yah, kurasa sekarang dia sudah jauh lebih lembut.

"Dia meyakinkan diri sendiri bahwa dia tidak gagal, melainkan memilih untuk fokus pada keluarga. Tapi mungkin saja, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia belum bisa menerimanya. Seihide-san juga sama. Karena menikah dengannya berarti membuat istrinya merelakan mimpinya, dia mungkin tidak bisa terlalu keras padanya."

Itu semua hanya dugaanku saja, lanjutku sambil tersenyum tipis.

"Tapi dia juga seorang elit yang hebat, kan? Dia bukan tipe orang yang akan diam selamanya..."

Dia memang orang yang tenang, tapi melihat bagaimana dia selalu menggunakan kata "dipertimbangkan" untuk memastikan jalan keluar dari tuntutan putrinya, aku bisa merasakan ketangguhan orang yang berhasil naik ke puncak di dunia hiburan yang kejam. Mungkin dia adalah orang yang jauh lebih tangguh jika dia sudah serius, dibandingkan dengan Reika-san yang lebih mudah ditebak.

"Pemicu ledakannya memang masalah pendidikan Seika, tapi kurasa dasarnya memang sudah ada sejak lama. Makanya, saat pertama kali dengar soal rencana mereka untuk pisah rumah, aku tidak terlalu terkejut. Meskipun aku merasa tidak enak pada Seika."

"Jadi menurutmu itu tidak akan berhasil?"

"Hmm. Tapi sekarang ada kemungkinan "Ultra C" yang bisa membalikkan keadaan."

"?"

"Itu kau. Atau lebih tepatnya, kau dan Seika. Aku tidak menyangka Seika, yang didorong olehmu, akan bergerak seaktif ini. Dia itu sebenarnya penakut dalam hal-hal penting, tapi kau lah yang melengkapinya."

Punggungku ditepuk dengan keras. Horaguchi-san badannya kecil, tapi tenaganya besar sekali. Omong-omong, aku ingat dia pernah bilang kalau dia belajar karate sampai SMP.

"...Aku senang mendengarnya."

"Waktu hari kemah juga. Tidak mungkin Seihide-san yang keras kepala itu langsung setuju begitu saja, kan? Pasti kau yang membujuknya, bukan? Setelah barbeque, kau menyuruh Seika kembali ke pondok, dan kalian mengobrol cukup lama, kan?"

Ternyata Horaguchi-san menyadarinya. Yah, memang mustahil pembicaraanku dengan Ibu lewat telepon selama itu hanya untuk hal biasa. Tapi, karena ada perjanjian rahasia...

"Aku hanya mengobrol sedikit layaknya laki-laki," jawabku samar. Horaguchi-san hanya tertawa kecil, sepertinya dia tidak berniat mengejar topik ini lebih jauh. Dia sepertinya mengerti bahwa ada hal-hal yang lebih baik tidak dipertanyakan.

"...Apa ini akan berhasil?"

"Entahlah. Kita sudah menciptakan kesempatan untuk Ultra C. Tapi pada akhirnya, ini adalah masalah antara mereka berdua. Kita sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Sisanya... paling hanya mendorong mereka jika mereka mulai ragu sebelum berdiskusi. Tapi hanya sampai di situ. Pada akhirnya, kita hanya bisa menjaga mereka."

"Benar juga."

Pendapatnya sama dengan Ibu. Orang dewasa yang sudah matang harus memutuskan masalah mereka sendiri.

Aku hanya berharap, semoga akhirnya bisa membuat Seika-san tersenyum. Itu harapan tulusku.

"..."

Mungkin Horaguchi-san juga memikirkan hal yang sama denganku. Dia sedikit mengernyit dan menatap ke udara kosong.

Lalu, saat keheningan kembali turun,

"Kutsuzawa-ku~n! Stroberinya mau didekor, nih~! Kalau tidak cepat, nanti habis dimakan~!"

Suara santai Shigei-san terdengar dari dapur. Dia benar-benar simbol kedamaian dan keseharian.

"Tidak mungkin habis, lah. Kamu mau mendekorasi perutmu sendiri, ya?"

Horaguchi-san bangkit sambil membalas ucapan itu, lalu berjalan ke arah dapur. Dia menoleh ke arahku sekali lagi, mengangkat bahu dengan ekspresi yang sudah tidak terlihat kesal.

Dalam perjalanan pulang setelah mengantar Horaguchi-san ke stasiun, aku mengunjungi Iwan Mall lagi. Tujuannya untuk berbelanja tambahan.

Karena kami memutuskan untuk mendekorasi ruang tamu rumah keluarga Mizoguchi, aku membeli berbagai macam ornamen dan bahan kue untuk dipanggang pada hari-H. Seika-san sempat menawarkan untuk melihat kotak cincin, tapi saat kuberi tahu bahwa aku sudah membuatkan satu dari kayu, dia langsung memelukku erat-erat.

Setelah belanjaan selesai, hari ini pun akan segera berakhir. Besok kami semua punya rencana untuk menyelesaikan sisa PR liburan masing-masing, jadi sepertinya kami tidak akan bertemu... Sampai hari lusa, tanggal 30. Hari yang sebenarnya.

Aku mampir ke rumahku untuk menyimpan bahan kue ke dalam kulkas. Lalu, aku mengambil kotak cincin yang tadi kubicarakan dan kembali ke luar. Saat kuberikan pada Seika-san, dia memujinya sangat imut. Aku memang ingin memberikan dukungan dalam bentuk apa pun, dan aku fokus menyelesaikannya dua hari terakhir ini. Pengorbananku tidak sia-sia.

Dalam perjalanan kembali ke apartemen Seika-san, karena masih ada waktu, kami memutuskan untuk mampir ke taman itu. Padahal hari Minggu, tapi taman itu benar-benar kosong. Kami duduk di bangku sambil bergandengan tangan. Entah kenapa, kami berdua terdiam begitu saja.

Senja di akhir musim panas. Suara jangkrik Higurashi yang terdengar sedih bersahutan. Serangga-serangga yang tadinya begitu semangat hidup mulai berkurang jumlahnya, mau tidak mau membuat kami merasakan berakhirnya musim ini.

"...Kira-kira, akan berhasil tidak, ya?"

Itu adalah pertanyaan yang sama persis dengan yang kutanyakan pada Horaguchi-san tadi. Namun, aku menjawab,

"Aku yakin tidak apa-apa... Aku rasa peluang kita masih cukup besar."

Aku tidak memberikan jawaban yang sama dengan Horaguchi-san. Meskipun bisa dibilang itu hanya harapan kosong, saat teringat wajah Seihide-san saat kami mengobrol di pemancingan dulu, kata-kata itu keluar begitu saja. Tidak apa-apa, pria itu mencintai Reika-san dan Seika-san. Aku sadar orang yang hidup di dunia hiburan sudah terbiasa dengan akting, tapi tetap saja. Aku percaya kalau kata-kata dan perasaan yang kami pertukarkan hari itu bukanlah kebohongan.

"Ya, aku harap begitu. Tidak, aku percaya memang begitu."

"...Oh ya."

"Hm?"

"Apa pun yang terjadi, aku selalu di pihakmu. Pasti. Itu satu hal yang pasti."

Seperti bersumpah. Dengan kuat, aku memasukkan seluruh perasaanku ke dalamnya.

"Kousei..."

Tubuh kami yang sedikit berkeringat menempel rapat. Tidak ada panas yang membara seperti saat pertama kali kami berciuman di sini, tapi ada kehangatan yang tersisa di lubuk hati, seperti bara api.

"...Terima kasih."

Di bawah langit yang mulai diwarnai warna biru tua malam hari, di taman yang tidak ada siapa pun, aku terus memeluk bahunya yang kecil.

30 Agustus.

Pagi hari penentuan itu memiliki langit mendung, yang tidak bisa dipastikan apakah akan cerah atau justru turun hujan.

Aku bangun jam tujuh. Setelah bersiap-siap dan selesai sarapan, bel pintu rumah berbunyi. Karena sudah tahu siapa yang datang, aku langsung keluar.

Gadis dengan rambut berwarna ash grey yang mendekati warna perak itu berdiri di sana. Highlight warna hijau zamrud yang dia buat khusus untukku terlihat indah dan terawat dengan baik. Saat terkena cahaya matahari pagi, rambutnya berkilau indah.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi. Persiapan peralatan masaknya sudah siap, kok."

"Terima kasih."

Dia melepas sandalnya yang sedikit mencolok dan masuk ke rumah. Saat dia menaiki undakan, aku menarik tangannya, dan dia tertawa sambil menunjukkan giginya yang manis.

Saat masuk ke ruang tamu, Ayah dan Ibu menoleh ke arah kami. Mereka sedang menikmati waktu santai sebelum pergi bekerja. Seika-san berkata dengan perasaan tidak enak,

"Selamat pagi. Maaf mengganggu pagi-pagi begini."

"Selamat pagi... Tidak apa-apa, jangan dipikirkan."

Sudah diputuskan sejak beberapa hari lalu kalau kuenya akan dipanggang di rumahku. Dapur Mizoguchi akan dimonopoli oleh Reika-san yang ingin membuat hidangan lezat. Jadi, kami meminjam dapur rumahku, lalu kuenya akan dibawa dengan sepeda.

Kami memulainya pagi-pagi karena mempertimbangkan waktu cadangan jika kue pertama gagal, serta waktu untuk mendekorasi ruang tamu rumah Mizoguchi.

Tak lama kemudian, Ayah pergi ke pabrik lebih awal karena ada persiapan apel pagi. Ibu sempat mengawasi pembuatan kue Seika-san sebentar, lalu berangkat ke tokonya. Sebelum pergi, dia sempat menggenggam kedua tangan Seika-san untuk menyemangatinya.

Setelah mengantar Ibu pergi, Seika-san tampak sedikit berkaca-kaca. Untuk menyembunyikannya, dia berkata,

"Enak ya, waktu tempuh ke tempat kerja kalian cuma nol menit~."

Ucapannya terdengar sedikit melenceng.

Seika-san bekerja dengan lancar seolah ini bukan kali kedua dia membuat kue. Mungkin setelah kembali dari rumah keluarga Shigei, dia terus membaca catatan proses pembuatan kuenya berulang kali, berlatih dalam pikiran, dan melakukan usaha-usaha tersembunyi seperti itu.

Dia selalu bilang kalau mataku terlihat keren saat aku serius membuat sesuatu, tapi matanya yang saat ini juga membuatku jatuh hati. Berkreasi dan membuat kue. Demi senyum seseorang... kupikir tidak ada banyak perbedaan dalam hal yang dibuat dengan niat seperti itu.

"Fuuh~."

Selesai. Sekali percobaan langsung berhasil. Hal yang menakutkan tentang kue adalah kami tidak bisa mencicipi hasilnya, tapi karena semua takaran, suhu, dan waktunya sudah dijalankan sesuai buku panduan, kurasa tidak akan ada masalah.

"Kerja bagus."

"Ya. Kousei juga, terima kasih dukungannya."

Dia mengelus pipiku. Lalu,

"Ah, krimnya menempel di sini."

Dia menggodaku dengan senyum setengah mengejek. Aku sedikit menunduk dan menyodorkan pipi yang satunya. Sebelum aku sempat bilang "tolong bersihkan", bibir Seika-san sudah mematuk pipiku berkali-kali.

"Apa punya ku juga ada?"

Seika-san memajukan bibirnya dan memejamkan mata sedikit. Hari ini dia memakai lipstik warna merah muda. Tentu saja tidak ada noda putih di mana pun. Tapi aku tidak berkata apa-apa, aku hanya menempelkan bibirku ke bibirnya dengan lembut.

Setelah ini, jika kami pindah ke rumah Mizoguchi, ada Reika-san yang melihat. Memikirkan mungkin ini adalah ciuman terakhir hari ini, aku merasa berat untuk melepaskannya, jadi kami bertahan seperti itu cukup lama.

Aku menyiapkan sarapan Kakak—atau mungkin lebih tepat disebut sarapan sekaligus makan siang—lalu membungkusnya dengan plastik dan menyimpannya di kulkas. Sebagai gantinya, aku mengeluarkan kue dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam kotak kertas. Aku tidak lupa menyertakan pendingin yang sudah disiapkan sebelumnya, lalu berangkat.

Seika-san membawa kue itu di atas "Starbridge-go". Aku memimpin jalan di depannya layaknya polisi pengawal estafet. Memastikan tidak ada rintangan atau undakan. Meski ini bukan pertama kalinya aku mengantar karya seni yang rapuh, aku selalu merasa gugup.

Memakan waktu dua kali lebih lama dari biasanya, kami tiba di apartemen Seika-san.

Saat masuk, Reika-san menyambut kami. Dia memang ibu yang cantik, tapi hari ini dia berdandan lebih ekstra lagi. Dia terlihat seperti kakak Seika-san yang terpaut usia jauh.

"Terima kasih untuk hari ini..."

Namun, bertolak belakang dengan penampilannya yang modis, di dalam hatinya dia pasti dipenuhi kecemasan. Suaranya terdengar lemah. Karena menunjukkannya justru hanya akan membuatnya canggung, aku hanya membalas dengan senyuman yang selembut mungkin.

"Baiklah, kalau begitu, biar saya yang memasang ornamennya."

Kami memilih hiasan dinding berbentuk bintang. Tentu saja itu disesuaikan dengan nama Seika-san, tapi dia sendiri tampak malu-malu.

Kami memasang pernak-pernik berbulu satu per satu. Di kaitan yang menggantung di rel gorden, kami juga memasang hiasan berbentuk bola. Saat kakiku gemetar karena berjinjit, Seika-san menusuk pinggangku,

"Nuhaah!"

Suara aneh keluar dari mulutku, dan kami berdua ditertawakan oleh ibu dan anak itu.

"Eh, tunggu dulu, Seika-san, tidak adil kalau kamu ikut tertawa."

Setelah kuberikan komentar itu, Reika-san kembali tertawa. Mungkin ketegangannya sudah sedikit berkurang. Kalau begitu, pengorbananku menjadi badut tidak sia-sia.

...Omong-omong, saat kelas make-up dulu, aku juga sempat menjadi badut untuk membuat Seika-san rileks. Benar-benar ibu dan anak yang mirip, pikirku sambil mengulurkan tangan lagi.

☆☆☆

Pukul lima sore. Satu jam lagi Papa akan datang. Kami akan menjemput Chika dan Hinano di tengah jalan, lalu langsung menuju ke sini.

Sekarang masakannya sudah selesai. Aku mengatur tata letak di meja, menyajikan semuanya... setelah itu, wajah Mama tiba-tiba berubah cemas.

Mungkin saat memasak dia merasa teralihkan, tapi sekarang, saat hanya menunggu saja, dia mulai membayangkan hal-hal buruk.

Aku diam-diam melihat Kousei. Dia biasanya terlihat santai, tapi sepertinya kali ini dia juga sedang berusaha keras, karena dia langsung paham maksudku dan mengangguk.

"Ah, iya. Bukankah tadi kita bicara soal jus untuk Shigei-san yang kurang? Aku hampir lupa. Aku beli sebentar ya."

Hinano, maaf ya. Tapi alasannya terlalu meyakinkan, Mama juga mendengarnya tanpa rasa curiga. Atau mungkin dia hanya tidak sadar karena terlalu gugup.

"Kousei, ini uangnya."

"Ah, tidak apa-apa, aku pakai poin kartu saja."

Tanpa pikir panjang, Kousei langsung pergi. Dia memang tidak pernah mau menerima uang kalau dibayar belakangan. Dia benar-benar anak yang baik. Aku harus membalas kebaikannya nanti.

Bahkan Mama pun membiarkannya pergi begitu saja, dia memang tidak sadar dengan sekelilingnya. Padahal biasanya dia pasti akan memaksa Kousei menerima uangnya.

"..."

"Mama."

"Dia akan datang, kan?"

"Eh?"

"Se... Papa."

Dia terdengar ragu apakah harus memanggilnya Seihide-san atau Papa. Tapi sekarang, aku ingin dia memanggilnya bukan sebagai ayahku, tapi sebagai orang yang disukai Mama. Saat kusampaikan itu, dia menjawab dengan malu-malu, "Baiklah, kalau begitu."

"Seihide-san... dia benar-benar akan datang, kan?"

Pertanyaan itu terdengar seperti luapan kecemasannya. Aku hampir saja bertanya, "Baru tanya sekarang?", tapi kutahan.

"Ini, lihat pesannya."

Karena aku yang menjadi perantara dengan Papa, ada pesan di ponselku. Aku menunjukkannya pada Mama. Padahal tadi pagi sudah kutunjukkan juga.

...Ya, aku mengerti. Bukan berarti dia benar-benar khawatir Papa tidak akan datang. Dia hanya sekadar ketakutan. Dia memang penakut di saat-saat penting.

"Mama."

Aku menggenggam kedua tangannya. Pagi tadi Akina-san melakukan ini padaku, dan aku merasa lebih tenang. Bukan berarti aku menirunya, sih.

"...Karena aku sudah bicara jahat pada Seihide-san."

"Ya."

Ada banyak hal yang dikatakannya, tapi yang paling utama mungkin adalah kalimat, "Padahal kamu tidak pernah peduli sedikit pun dengan urusan rumah."

Sebagai Ayah, dia sudah berusaha mencari tahu tentang perawatan rumah sakitku, tapi semua usahanya sia-sia... Mungkin dia pikir, tidak ada gunanya peduli karena hasilnya akan tetap sama.

Yah, wajar jika Mama yang tidak pernah membiarkannya ikut campur urusan rumah yang mengatakan itu.

"Karena itu, Mama. Ayo kita minta maaf. Target hari ini... pertama-tama, minta maaf dulu."

Bahkan jika merasa bersalah, harga diri sering kali menghalangi kita untuk meminta maaf. Itu psikologi yang umum, tapi kalau selalu diikuti, biasanya tidak akan berakhir baik.

"...Meminta maaf, ya."

"Ya. Kalau bicara jujur, mungkin aku juga berharap bisa melangkah lebih jauh, tapi jangan terbebani dengan pikiran bahwa semuanya harus selesai hari ini."

Melibatkan Kousei dan yang lainnya, lalu hasilnya hanya satu langkah kecil, memang membuatku tidak enak hati.

Tapi memang benar tidak ada gunanya terburu-buru. Jika bisa meminta maaf, kurasa itu bisa jadi awal agar Mama bisa bersikap jujur di masa depan.

Karena itu.

"Mulai dari satu langkah dulu. Aku sendiri butuh waktu lama sekali untuk bisa dekat dengan Kousei, sampai-sampai rasanya seperti berjalan dengan kecepatan kura-kura."

Aku teringat kembali perjuanganku selama ini dan tertawa kecut sendirian.

"Sama seperti Mama, aku juga melakukannya setelah membuat kesalahan besar. Tapi sebaliknya, itu berarti setelah membuat kesalahan pun, kita masih bisa memperbaikinya. Dan untuk itu, kita harus meminta maaf dengan tulus. Bersikap jujur dan terbuka. Kurasa itulah yang paling penting."

Pada akhirnya, pesanku tetap sama dengan yang sebelumnya. Jujurlah. Hanya itu.

"Begitu, ya."

Mama juga bukannya lupa, aku rasa dia hanya ingin didorong sekali lagi. Benar-benar membuat repot, ya.

Rasanya dia seolah kembali menjadi gadis muda biasa. Kalau begitu, kenapa tidak sekalian pura-pura menjadi muda saja?

"Sekali lagi, seperti sedang jatuh cinta. Meski pelan, jangan menyerah untuk mendekat, terus melangkah maju……"

Aku memeluk tubuh kecil yang entah sejak kapan tingginya sudah melampaui tubuhku ini.

Dia bekerja sampai jatuh sakit, lalu menyadari betapa berharganya seorang suami. Dia juga bisa beradu argumen denganku dan mengungkapkan perasaan jujurnya dengan terus terang.

Mama sedikit demi sedikit mulai berubah. Dia sedang berusaha keras melepaskan baju zirah kebanggaannya dan mencoba untuk saling berhadapan apa adanya. Papa, tolonglah. Lihatlah Mama yang sekarang.

Aku menatap ke arah luar jendela, ke arah rumah Kousei, seolah sedang berdoa.

★★★

Pesan Rain dari Seika-san yang berbunyi "Kamu sudah boleh kembali" kuterima saat aku sedang belanja di supermarket dan memakan es krim di area santap.

Begitu membaca pesan itu, aku buru-buru menghabiskan es krim di cup-ku, membuang wadah dan sendoknya ke tempat sampah terdekat, lalu keluar dari toko.

Mataku bertemu dengan pegawai supermarket kenalanku yang sedang mengumpulkan keranjang belanja. Mungkin karena aku sendirian hari ini, dia menatapku dengan wajah agak curiga.

Dia pasti tidak akan membayangkan kalau aku baru saja akan menjadi saksi dalam titik balik besar kehidupan keluarga gadis yang selalu datang bersamaku ini.

Perjalanan satu menit dengan berjalan kaki itu bukan hanya isapan jempol, dan dengan sedikit mempercepat langkah, aku sampai di apartemen dalam sekejap.

Aku membuka kunci pintu satu per satu dengan kunci yang kutitipkan, lalu naik ke lantai tujuh. Begitu sampai di depan kamar 707,

"Ah."

Tiga orang—pria berjas, gadis dengan rambut dua warna hitam-pink, dan gadis bertubuh bulat—sedang berada di depan pintu.

"Oh, Kutsu-kun. Tadi kamu keluar?"

"Halo, Horaguchi-san. Juga Shigei-san dan Seihide-san."

Aku membalas sapaan mereka sambil mengangkat tas belanja yang kubawa.

"Kupikir jusnya kurang, jadi aku sekalian beli tadi."

Sambil berkata dengan nada agak jenaka, aku diam-diam memperhatikan raut wajah Seihide-san.

Dia adalah orang yang pandai menjaga raut wajah (poker face), jadi kalau dia menutupinya, aku benar-benar tidak bisa tahu... tapi, ya, dia terlihat sedikit tegang.

Sepertinya mereka bertiga baru saja tiba di depan pintu. Tentu saja Seihide-san seharusnya punya kunci, tapi entah kenapa aku merasa harus membukakan pintu untuk mereka.

Aku membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan mereka masuk lebih dulu sambil tetap memegang gagang pintu dari arah lorong.

"……"

"Paman~?"

Shigei-san yang sepertinya sudah tidak sabar ingin segera melihat masakannya terus mendesak, tapi Seihide-san tampak sedikit membeku.

Apakah ini... giliran untuk memberikan dorongan yang sempat kubicarakan dengan Horaguchi-san tadi? Saat aku berpikir begitu,

"Ayo! Paman! Tunjukkan semangatmu, kau kan laki-laki!"

Horaguchi-san memukul punggung pria berjas itu dengan suara yang cukup keras. Eh!? Jadi "dorongan" itu maksudnya secara harfiah (fisik)?

"Aduh."

Seihide-san terhuyung dan akhirnya melangkah masuk ke pintu masuk. Tidak, Horaguchi-san, itu benar-benar terlalu keras. Apa kamu tidak punya rasa takut sama sekali?

Saat itu juga.

"Kousei-kun? Selamat datang. Terima kasih, ya."

Mungkin dia mendengar suara kunci terbuka dan datang untuk menyambut kami dari ruang tamu. Reika-san muncul, dan pasangan suami istri itu pun kini harus berhadapan muka secara langsung.

"Ah."

"Ah."

Keduanya mengeluarkan suara tunggal nyaris bersamaan. Seihide-san pasti berniat mengatur napas dulu sebelum masuk ke ruang tamu.

Bagi Reika-san juga, karena waktu yang dijanjikan masih lebih dari 20 menit lagi, mungkin dia belum benar-benar siap secara mental.

"……"

"……"

Keheningan menyelimuti ruangan.

"Halo, Tante~. Wah, baunya enak sekali."

Shigei-san memang hebat. Kenapa semua anggota kelompok ini punya kepribadian yang begitu unik? Tidak, mungkin dalam kasusnya, "utamakannya makanan" adalah prinsip yang tidak pernah goyah kapan pun.

"Ah, iya. Halo. Chika-chan juga... dan... Seihide-san."

"Ah, ya."

Hanya saja, karena "ruang waktu si tukang makan" bekerja dengan baik, mereka berdua bisa saling bertukar sapa meski dengan canggung.

Lagipula, meski aku tidak melihat kejadiannya, bukankah mereka juga sudah bertemu dan bicara sebentar di pagi hari saat kemah? Kenapa poin pengalaman mereka seolah di-reset? Aku jadi merasa heran sendiri.

"……Ayo masuk, semuanya."

Atas usul Horaguchi-san, semua orang akhirnya sadar kalau mereka masih berdiri mematung di pintu masuk. Ya, memang lebih baik masuk dengan cepat. Di luar panas.

Saat masuk ke ruang tamu, Seika-san pun terkejut melihat semua peserta sudah berkumpul lengkap, mulutnya sampai sedikit terbuka.

Kami memanaskan kembali masakannya, dan acara pun dimulai meski lebih awal dari jadwal.

Mereka terbagi menjadi tiga orang di meja sofa, dan tiga orang keluarga Mizoguchi di meja kursi. Seika-san dengan lihai mengarahkan agar kedua orang tuanya duduk di meja yang sama.

"Kalau begitu~. Terima kasih sudah datang hari ini. Untuk merayakan rujuknya Paman Seihide dan Tante Reika... bersulang!"

Shigei-san yang memulai sapaannya...

Aku sama sekali tidak mendengar hal itu direncanakan. Tidak, karena semua orang terdiam heran, sepertinya itu keputusan sepihaknya. Keberanian yang luar biasa. Lagipula, proses rujuknya kan baru saja dimulai? Seihide-san dan Reika-san hanya bisa tersenyum kecut. Sepertinya beban dan ketegangan di antara mereka hilang dalam sekejap.

Seika-san terkadang menilai "Hina adalah malaikat," dan mungkin itu ada benarnya. Karisma yang tulus, ceria, dan karakter yang membuat orang lain mencintai serta memaafkannya. Itu adalah bakat khusus miliknya. Bahkan dalam momen krusial ini pun, dia tetap menjadi dirinya sendiri. Mungkin dia berpikir ingin berkontribusi lewat sesuatu, bukan karena sengaja ingin mencairkan suasana. Dan sifat seperti itulah yang mengundang senyum dan menenangkan suasana.

"Ahaha. Hina, bagus sekali! Ayo, bersulang!"

Horaguchi-san yang menyahut langsung membenturkan gelasnya ke gelas milikku. Jus anggur di dalamnya bergoyang sampai ke ambang batas yang berbahaya.

"Hati-hati, hati-hati."

Aku buru-buru meminumnya. Melihat penampilanku,

"Kutsu-kun, kelihatan seperti karyawan kantoran saja,"

ejek Horaguchi-san padaku. Semua orang ikut tertawa... ketegangan di ruangan itu pun semakin mencair.

☆☆☆

Piring-piring besar berisi ayam goreng, kentang goreng, dan tortilla yang mudah dimakan sudah tersaji di atas meja masing-masing.

Meja sebelah sana sepertinya sudah membentuk kubu aliansi Hina VS Kousei & Chika, dan percikan api terlihat saat mereka memperebutkan makanan. Padahal kalau dipikir secara logis, tinggal dibagi rata saja... tapi Hina tidak akan mungkin puas dengan satu porsi, ya.

"……Hina-chan tetap saja seperti biasanya, ya."

"……Iya. Seharusnya aku memasak sedikit lebih banyak."

"……"

Mama dan Papa mulai berbicara sedikit demi sedikit. Sikap "bukan urusan kita" dari meja sebelah sana cukup membantu membuat suasana di meja kami menjadi lebih santai.

"Ehm, jadi begini, Zatt ini merujuk pada kucing milik Tom di kalimat sebelumnya, jadi..."

Kousei menirukan gaya guru bahasa Inggris kami di sekolah. Benar-benar sangat mirip.

"Hahaha! Kutsu-kun, mirip sekali! Ahahaha!"

Chika tertawa terbahak-bahak, dan

"Aduh~, aku kan tidak tahu karena sekolah kita beda~,"

keluh Hina-chan sendirian.

Mungkin awalnya mereka sengaja ingin menciptakan suasana yang terisolasi dari meja kami, tapi sekarang mereka sudah benar-benar menikmati waktu mereka.

"Mereka semangat sekali, ya."

"Ya. Aku iri dengan masa muda mereka."

"Mama dan Papa juga masih bisa, kok."

Percakapan pun semakin cair. Rasanya seperti teringat kerabat yang pemalu saat berkunjung ke rumah nenek setiap tahun baru; awalnya canggung, tapi perlahan-lahan mulai terbuka, dan saat waktunya pulang mereka sudah akrab.

Sangat sulit rasanya untuk mulai bicara, tapi kalau sudah di jalur yang benar, mereka bisa bicara seperti dulu lagi. Aku yakin mereka berdua juga begitu.

Bagaimanapun mereka adalah pasangan suami istri, pasti pernah ada masa-masa di mana mereka saling mencintai. Aku ingin mereka bisa menurunkan pertahanan diri mereka sampai ke tingkat itu lagi.

"Seandainya kita juga... bertemu saat masih mahasiswa..."

"……"

Apa yang ingin dia katakan setelah itu? Mungkin kalau mereka sudah saling mengenal sejak mahasiswa, ikatan mereka akan lebih kuat.

Tapi, pasangan yang berpacaran sejak mahasiswa pun banyak yang berakhir putus. Mungkin itu hanya menginginkan sesuatu yang tidak ada. Lagipula,

"Dengan perbedaan usia kita..."

Seperti yang Papa katakan, dengan perbedaan usia lima tahun, sulit bagi mereka untuk bertemu saat masih mahasiswa.

"Lagipula... aku masih ingat hari pertama kita bertemu di agensi."

Papa! Jadi dia ingin mendorongnya di sini? Bagus, ayo berjuang.

"Betapa keras kepalanya wanita itu,"

tambahnya. Eh!?

"Eh? Aku juga berpikir dia orang yang sok keren, tahu?"

Eh, apakah ini aman? Apa mereka akan bertengkar lagi? Kupikir begitu, tapi di sudut bibir mereka berdua tersungging senyum kecil.

"……Iya, ya. Meski bukan saat mahasiswa, pertemuan itu juga... tidak buruk juga, ya."

"……Iya."

Ternyata begitu. Meski sering saling mencela, pertemuan itu ternyata cukup berkesan bagi mereka. Omong-omong, aku sendiri belum pernah mendengarnya secara detail. Calon penyanyi dan manajer berbakat.

Bagaimana cara mereka memperpendek jarak di antara mereka?

Yah, simpan dulu saja untuk saat ini. Mumpung percakapan mereka sedang mengalir dengan baik.

"Bahasa Inggris itu hidup! Selalu berubah! Jangan salah paham!!"

Kousei berisik sekali. Lagipula itu guru yang menyebalkan saat sedang mode histeris dan melampiaskan amarah, kan? Dia bisa menirukannya dengan sangat baik.

"Hahahaha! Dia memang sering bilang begitu! Benar! Saat dia mulai tertekan, dia langsung histeris. Hahaha!"

"Aku kan bilang tidak mengerti~! Hmph! Aku ambil ayam goreng ini, ya~."

"Ah! Jangan! Ayam goreng juga itu hidup!"

Tidak mungkin, ayam goreng kan sudah mati. Lagipula, kalian benar-benar tidak melupakan kami, kan?

Meski mereka bertiga bertingkah sesuka hati, Mama dan Papa melihat mereka dengan tatapan lembut. Mungkin mereka merasa seolah tiba-tiba punya banyak anak.

"……Kousei-kun, dia anak yang baik, ya."

Tiba-tiba Papa mulai mengajakku bicara. Padahal baru saja dia sedang menirukan guru bahasa Inggris, apa itu yang membuatnya terpikirkan? Tapi aku segera tersadar dan mengangguk dengan mantap.

"Dia adalah anak yang baik dan lembut yang bisa menghadapi orang lain dengan tulus. Papa mungkin belum terlalu mengenalnya."

"Tidak. Aku tahu. Dia adalah anak yang teguh memegang prinsip. Aku sangat yakin setelah mendengar dia ingin menjadi pengrajin. Dia adalah tipe yang hampir tidak ada di industri tempatku bekerja."

Dia tersenyum sedikit menertawakan diri sendiri. Namun, dia segera menghilangkannya,

"Aku merasa malu karena sempat meragukan keberadaan anak sebaik itu. Yah... Reika, dan juga Seika. Aku minta maaf."

Dia menundukkan kepala sambil tetap duduk. Ah, ini tentang apa yang kuminta pada Papa di bundaran saat pertama kali bertemu Kousei. Dia benar-benar melakukannya.

Aku segera menoleh ke arah Mama. Dia tampak melamun. Salah! Aku segera menyenggol lengannya dengan siku. Sekaranglah saatnya.

"Mama."

Aku mengangguk kecil. Tapi bibirnya gemetar. Aku diam-diam menggenggam tangan Mama di bawah meja. Ayo, berjuanglah! Kalau melewatkan momen ini, Mama mungkin tidak akan bisa mengatakannya lagi. Kumohon...

Akhirnya, Mama pun.

"Seihide-san... aku juga, maafkan aku. Untuk banyak hal. Tidak, untuk semuanya. Meskipun kamu bekerja keras untuk menafkahi kami, aku justru mengatakan hal-hal yang meremehkanmu. Saat Seika dirawat di rumah sakit, aku menolak usulmu dan bahkan tidak meminta maaf. Aku bahkan mengatakan kalau kamu tidak mempedulikan keluarga."

Dia berhenti sejenak, lalu menundukkan tangan di atas meja.

"Aku sungguh minta maaf. Aku minta maaf telah menyakitimu."

Dengan suara bergetar, Mama menundukkan kepalanya dalam-dalam sampai keningnya nyaris menyentuh meja.

A-akhirnya. Momen yang kutunggu-tunggu benar-benar terjadi. Mama dan Papa, keduanya sudah berterus terang. Hal seperti ini ternyata bisa terjadi.

Aku mengawasi mereka berdua dengan perasaan melayang, seolah masih berada di dalam mimpi yang tidak nyata.

Mereka saling menatap mata, lalu dengan malu-malu memalingkan wajah, kemudian kembali menatap satu sama lain.

Tanpa kata, tanpa suara. Entah sejak kapan meja Kousei dan yang lainnya juga menjadi hening. Mereka pasti melihat Mama menundukkan kepala dalam-dalam.

"……"

"……"

Keheningan itu berlangsung selama satu putaran jarum jam detik, atau mungkin lebih lama.

Aku sebenarnya ingin menunggu sedikit lagi, tapi kalau terlalu lama, suasananya justru bisa jadi rusak.

Aku membulatkan tekad dan mengeluarkan dua kotak cincin kayu kecil dari saku rokku. Ini dia. Momennya sekarang.

"Mama, Papa."

Mereka berdua melihat ke arahku. Mama dengan raut wajah lega, Papa dengan tanda tanya di matanya. Aku meletakkan kotak itu di meja.

"Ini adalah..."

"Coba buka."

Karena aku yang memintanya, mereka masing-masing mengambil kotak kayu di depan mereka dan membuka tutupnya. Tentu saja, sepasang cincin itu ada di dalamnya.

Mama yang lebih dulu mengambil cincin itu dan berseru kagum.

"Sangat cantik. Ada kesan transparan..."

"Apakah ini bunga? Tidak... apakah ini kerajinan kertas?"

Papa juga mengintip cincin itu dari bawah sambil menerawangnya ke arah cahaya lampu.

"Ini."

Sepertinya Mama yang lebih dulu menyadarinya.

"Bunga Ajisai (Hydrangea)?"

Yah, mungkin karena Mama pernah ditanya soal bunga kesukaannya, dia jadi mudah menebak kalau aku membuatnya untuknya. Tapi, pasti karena rasa kasih sayang yang besar juga.




"Ajisai……"

Kira-kira, apakah Papa juga mengingatnya? Saat itu, Kousei membawakanku satu album foto dari bufet. Inisiatif yang bagus. Aku menerimanya, membolak-balik halamannya, dan menemukan foto yang dimaksud. Aku meletakkannya di atas meja dengan halaman itu tetap terbuka.

"Begitu, ya. Kamakura. Kita memang pernah ke sana, ya."

Papa menatap foto itu lekat-lekat……mungkin karena akhirnya benar-benar mengingatnya, dia memejamkan mata sejenak. Entah sedang memikirkan kenangan belasan tahun yang lalu.

"Saat itu kita bahagia sekali……Seika juga sehat, dan kita sempat bicara soal mengajakmu ke luar negeri kalau sudah besar nanti, ingat?"

"Apakah kita pernah bicara soal itu?"

"Lagipula……waktu itu aku bisa bersikap jauh lebih jujur padamu dibandingkan sekarang."

"……"

Papa tidak menjawab. Dia dengan lembut memasangkan cincin buatanku di jari manis tangan kanannya. Tepat bersanding dengan cincin kawinnya dengan Mama di jari manis tangan kiri.

Mama pun meniru, memegang cincin itu di tangannya. Namun, dia sempat berpikir sejenak……lalu menyerahkannya pada Papa dengan lembut. Papa seolah mengerti maksudnya, dia meraih tangan kanan Mama. Lalu, dia menyematkan cincin itu di jari manisnya.

Wajah Mama memerah. Dia benar-benar terlihat seperti kembali menjadi seorang gadis muda.

"Ahaha~, Tante Reika imut sekali~."

Tawa Hinano yang polos terdengar. Kurasa dia sama sekali tidak berniat mengolok-olok, tapi Mama justru semakin memerah dan menciut. Yah, kalau di depan Chika dan yang lainnya, rasanya memang agak memalukan kalau terus-terusan seperti ini.

"……Syukurlah kalau kalian suka. Ayo, kita makan kuenya."

Aku sengaja mengalihkan pembicaraan demi kebaikan mereka.

"Terima kasih, Seika. Akan kujaga baik-baik."

"Terima kasih. Ini jauh lebih membahagiakan daripada cincin mahal mana pun."

Papa dan Mama, entah karena terbawa suasana atau bukan, menjadi sangat jujur, jauh melampaui kebiasaan mereka. Aku berharap mereka bisa terus seperti ini, tapi di dunia orang dewasa, hal itu mungkin sulit. Karena kenyataannya, orang jujur sering kali dianggap bodoh dalam masyarakat.

Namun, di ruangan ini sekarang, tidak ada orang yang akan meremehkan kejujuran atau menganggapnya sebagai kelemahan. Aku ingin magic hour ini terus berlanjut sampai acara ini berakhir, atau setidaknya sampai hari ini usai.

"Ini kuenya."

Kousei entah sejak kapan sudah mengambil kue dari kulkas. Dia membuka kotaknya, membuang ice pack, dan membagikan piring untuk semua orang……semuanya dilakukan dengan sigap. Wah, pacar yang kompeten ini. Aku menyukainya.

"Silakan."

Kousei menyerahkan pisau kue kepada Papa. Kilauan perak memantulkan cahaya lampu ruangan. Papa memegangnya, lalu menatap kue itu sekali lagi. Sponge cake yang dilapisi krim putih sempurna dengan taburan stroberi yang melimpah di atasnya. Karya terbaikku.

"Terima kasih. Sepertinya Kousei-kun juga banyak membantu, ya?"

Kousei memejamkan mata dan menggeleng pelan. Dia memancarkan aura pelayan yang sangat cakap, padahal tadi dia baru saja menirukan guru bahasa Inggris.

"Saya hanya membuat kotak cincinnya saja. Sisanya, cincinnya sendiri, bahkan kuenya, semuanya Seika-san yang buat sendiri."

Mungkin dia merasa menambahkan kata "demi kalian" itu terlalu berlebihan, tapi tersirat jelas di balik ucapannya.

Aku merasa malu mendengarnya, lalu,

"Meski dibilang begitu, kuenya juga diajari Hina, dan cincinnya pun berkat bimbingan Kousei."

Ucapanku terdengar seperti orang yang sedang cemberut. Namun, baik Mama maupun Papa tertawa dengan raut wajah yang sangat lembut sambil berkata, "Terima kasih," secara bersamaan.

Di saat itulah.

"Tante. Ayo potong kuenya sama-sama,"

ujar Chika kepada Mama dengan nada menggoda. Mama yang tadi tersenyum lembut, kini menyembunyikannya dan bersikap sedikit marah, "Aduh, kamu ini!" Tapi Papa bangkit berdiri dan memberi kode pada Mama dengan matanya.

"Eh!? Benar-benar mau melakukannya?"

Mungkin Mama tidak menyangka Papa akan menanggapi saran setengah bercanda dari Chika. Namun, Papa tersenyum tipis dengan tatapan mata yang penuh kesungguhan seolah berkata, "Ayo kita lakukan."

Mungkin kalau sudah sampai sejauh ini, mereka punya mentalitas untuk melakukan apa pun yang bisa dilakukan. Biasanya dia pria yang sangat bijaksana, tapi terkadang dia bisa bersikap seperti ini. Mungkin sebenarnya dia agak mirip dengan Kousei……ya, mungkin saja?

"Reika."

"Ya, um."

Mama akhirnya menyerah dan berdiri, lalu Papa dengan lembut merangkul pinggangnya. Entah sejak kapan terakhir kali mereka melakukan kontak fisik sedekat ini. Seingatku, aku tidak pernah melihatnya sejak aku beranjak dewasa. Atau kuharap, mereka hanya tidak ingin memperlihatkannya di depanku saja.

"……"

"……"

Mereka berdua memegang gagang pisau kue dengan tangan yang saling bertumpuk. Bukan pisau mewah seperti di pesta pernikahan. Kuenya pun tidak sempurna seperti buatan profesional. Cincin di jari manisku pun hanya kerajinan tangan buatan putri mereka yang kikuk.

Tapi, Mama dan Papa tersenyum layaknya pasangan yang sedang merayakan pernikahan.

Waktu yang ramai berlalu dalam sekejap, pesta berakhir lewat pukul tujuh malam. Papa mengantar Chika dan Hinano kembali ke Yokonaka. Seharusnya aku, Kousei, dan Mama yang melepas mereka……tapi ternyata tidak. Mama memutuskan untuk ikut pergi. Pasti ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan. Mungkin Mama merasa tidak sanggup membiarkan momen magic hour ini berlalu begitu saja karena takut kejujuran mereka akan kembali terkubur.

Sambil melangkah santai mengikuti kedua orang dewasa yang sudah berjalan lebih dulu ke tempat parkir, kami berempat berjalan menyusuri koridor apartemen.

"Hah, kenyangnya~."

Hina mengusap perutnya yang besar. Imut seperti manatee. Tapi yah, dia terlalu banyak makan. Lagipula, Kousei dan Chika memberikannya setengah porsi kue. Terlalu dimanjakan.

"Hina, terima kasih untuk hari ini."

"Hmm~ tidak kok. Aku kan tidak melakukan apa-apa~."

"Tidak juga. Kamu mengajariku membuat kue dengan sangat teliti."

"Begitukah~," ucap Hina-chan dengan malu-malu. Padahal kenyataannya, dia memang jago mengajar. Kousei sampai menjamin kalau pengalaman Hina lebih banyak darinya dan menyerahkan sepenuhnya tugas itu di tengah jalan. Aku beruntung bisa diajari oleh guru yang ahli seperti itu.

"Lagipula, siulang tadi juga bagus, ya. Meskipun sedikit meleset, tapi itulah hak istimewa Shigei-san karena dia diizinkan melakukan itu."

"Eh~, jahat sekali~! Kutsuzawa-kun akhir-akhir ini jadi tidak lembut lagi~."

Kurasa itu tanda dia sudah tidak merasa canggung lagi. Lagipula, memberimu setengah porsi kue itu sudah cukup lembut, tahu?

"Chika juga, terima kasih, ya."

"Aku sendiri malah merasa tidak melakukan apa-apa."

"Tidak kok. Bukannya tadi kamu memberikan dorongan yang kuat pada Seihide-san? Itu sesuatu yang hanya bisa dilakukan dan dimaafkan kalau datang dari Horaguchi-san saja."

"Wah. Cara bicaramu itu terdengar seolah aku ini orang kasar."

"Memangnya benar, kan~?"

"Ini! Dasar daging tak berguna! Ini!"

Chika dan Hina bercanda satu sama lain. Kousei melihat pemandangan itu dengan senyum hangat.

Indah sekali pemandangan ini. Kebahagiaanku tertumpah di sini. Dikelilingi oleh sahabat-sahabat dan kekasihku……ah, bulan depan akan bertambah satu orang lagi di sini.

"Tapi sungguh, syukurlah……soal rencana tinggal bersama itu."

"Ya."

Setelah kejadian itu, Mama dan Papa meninggalkan ruang tamu yang bising dan berbincang santai di balkon.

Bahkan sebagai anak, aku tidak menanyakan secara detail apa yang mereka bicarakan. Kurasa akan jadi hal yang tidak sopan kalau memaksakan diri untuk tahu.

"Yah, maksudku bukan tinggal bersama sih, melainkan pindah ke kamar lain di apartemen yang sama, kan? Paman Seihide juga masih terlalu ragu, ya."

Chika memang ceplas-ceplos, tapi kurasa untuk permulaan itu sudah cukup. Lagipula,

"Bagiku, mereka berdua bisa saling meminta maaf dengan jujur dan bisa kembali bicara secara alami seperti ini. Itu saja sudah menjadi pencapaian yang membuatku ingin berterima kasih pada Tuhan. Jika jarak fisik mereka bisa lebih dekat lagi setelah ini, aku benar-benar tidak bisa berharap lebih lagi."

Itu adalah perasaan yang tulus dan jujur.

"Besok, aku akan menanyakan ke perusahaan pengelola apartemen, kalau ada unit kosong di lantai yang sama, aku akan segera memesannya……"

"Kamu jadi sibuk ya. Serahkan urusan pindahan padaku."

Kousei memamerkan otot lengannya dengan percaya diri.

"Aku bagian mie perayaan pindahan ya~."

Hina-chan tetap konsisten.

"Kalau dia mulai goyah lagi, aku akan menendang bokongnya."

Chika memang bisa diandalkan.

Tanpa terasa, kami sudah sampai di tempat parkir. Sedan hitam perlahan keluar perlahan. Papa di kursi pengemudi, di sampingnya Mama dengan senyum malu-malu.

Tiba-tiba saja, aku sadar celah di hatiku telah terisi, air mata pun menetes keluar. Pemandangan yang sempat membuatku menyerah.

Tapi, kebahagiaan yang selalu kuimpikan dan kuinginkan, kini ada di sini.

"Terima kasih. Semuanya, benar-benar terima kasih."

★★★

Hanya aku yang tidak pulang, aku kembali bersama Seika ke ruangan yang kini kosong.

Dia terlihat enggan untuk berpisah, dan sepertinya Seika juga menginginkannya, dia bilang, "Aku tidak ingin sendirian sekarang."

Setelah pesta yang begitu ramai dan hasil terbaik yang dicapai, berada sendirian di tempat setelah acara usai pastilah terasa sangat sepi.

Mencuci piring, merapikan ornamen, kami baru bisa bernapas lega saat waktu menunjukkan hampir jam sembilan malam.

"Terima kasih atas kerja kerasmu."

"Sama-sama. Seika-san juga."

"……Apa benar kamu tidak perlu pulang?"

"Tadi aku sudah menghubungi Ibu, bilang kalau kami semua menginap di rumah Seika-san. Aku bilang ada Seihide-san dan yang lainnya, jadi tidak perlu khawatir."

"Anak nakal!"

Pembohong besar, ya. Tapi.

"Itu karena ini permintaan sang putri."

"Rayuan murahan~."

"Haha."

Aku mengatakannya dengan nada bercanda, tapi itu sungguhan. Aku ingin mengabulkan semua keinginan gadis ini.

Di kamarnya, kami duduk bersandar di tempat tidur, duduk bersebelahan. Bahkan PC tidak dinyalakan. Hening, dunia milik kami berdua saja.

Mengingat keributan tadi, aku memang tidak ingin meninggalkannya sendirian di sini. Aku tidak ingin Seika-san merasa kesepian lagi sedikit pun. Karena aku tahu dia sudah menahannya sampai hari ini.

Cinta yang meluap-luap membuat hidungku terasa perih. Seika-san menatapku.

Kupikir dia akan menertawakanku, "Kenapa kamu yang mau menangis?" Tapi dia justru menatapku dengan raut wajah haru, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku dengan lembut.

"Tidak menyangka... hari di mana kita bisa hidup bersama sebagai keluarga akan datang lagi."

"Ya."

"Dulu aku hampir menyerah."

Dia meraih tanganku, dan menjalin jari-jarinya di jari-jariku.

"Tapi, setelah bertemu Kousei lagi, mengalami banyak hal……aku pun jadi tenang dan bisa melihat berbagai hal dengan pandangan yang lebih luas……"

Beban di pundakku terasa semakin berat. Rasanya seluruh sisi tubuhku didekap olehnya.

"Mungkin saja, kalau aku berjuang dalam keadaan seperti bulan Mei lalu, hasilnya akan gagal. Aku rasa aku tidak akan bisa meyakinkan Mama."

Meski hubungan kami baru berjalan tiga bulan, aku yakin pengalaman sukses ini memberinya kepercayaan diri dan keyakinan dalam setiap kata yang dia ucapkan.

Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang dibicarakan Seika-san dan Reika-san……tapi kalau pengalaman dan hal-hal yang dia sadari saat bersamaku memberikan pengaruh yang baik, tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu.

Dan di saat yang sama, keberhasilanku meyakinkan Seihide-san juga karena aku telah tumbuh setelah mengalami berbagai hal.

Tentu saja, kasih sayang dan ketulusan terhadap Seika-san adalah yang utama, tapi kalau aku tidak ingat saran dari Ibu, yaitu untuk belajar mengandalkan orang lain, mungkin aku sudah mengatakan hal-hal yang tidak perlu.

Karena kami berdua telah tumbuh besar di musim panas ini, hasil terbaik pun bisa tercapai.

"……Tentu saja, pada akhirnya itu karena ikatan antara Seihide-san dan Reika-san masih tersisa."

"Ya. Itu benar. Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin keputusan untuk memberi waktu dan jarak itu juga ada benarnya."

Seika-san menyeka sudut matanya.

"Padahal sudah sejauh itu, padahal sudah begitu banyak waktu yang berlalu. Ternyata perasaan yang benar-benar tulus tidak akan hilang, ya."

Dengan tangan satunya yang tidak menggenggam tanganku, dia menggenggam erat kemeja di bagian dadanya.

"……Keluarga itu hebat, ya."

"Ya."

Ada ikatan yang terus terjaga tanpa pernah terputus seperti di rumahku. Ada pula ikatan yang kembali meski sempat terpisah oleh panas yang tak kunjung padam seperti di rumahnya.

Dan anak yang tumbuh di sana, mendambakan ikatan itu dan membuat keluarganya sendiri. Begitulah cara orang hidup.

"Hei, Kousei."

"Ya."

"Aku, sepertinya aku menemukan hal lain yang ingin aku lakukan selain menjadi model."

"Benarkah?"

"Ya. Jangan tertawa, dengarkan ya."

Bagaimana mungkin aku tertawa? Itu adalah mimpi baru dari kekasih yang kucintai. Aku akan mendukungnya. Membantunya. Mendukungnya. Dengan perasaan itu, aku menatap matanya.

Dan hal yang ingin dilakukan Seika-san adalah……

"……Menjadi istri."

"Eh?"

"Makanya, menjadi istri."

Sekali lagi, dia menggerakkan bibirnya dengan jelas. Dengan wajah yang sedikit memerah. Dia menceritakan mimpi itu padaku.

Aku yang sempat terkejut sesaat, perlahan mulai memahami maknanya, lalu,

"Fu, fufu. Ahahahaha."

Aku tertawa.

"Eh, tunggu! Sudah kubilang jangan tertawa!"

"Ah, maaf. Maafkan aku."

Aku menangkap kepalan tangan imutnya yang mencoba memukulku dengan kedua tanganku.

"Lagipula aku tahu, itu bukan gayaku, kan."

"Bukan, bukan itu."

Aku menariknya mendekat, kepalan tangannya dan tubuhnya sekaligus. Wajah kami sangat dekat.

"Aku pun memikirkan hal yang sama. Anak yang mendambakan keluarga, kini giliran dia yang membuat keluarganya sendiri. Tentang aktivitas manusia seperti itu."

Anak yang dimaksud di sini tentu saja aku dan Seika-san. Ayah dan Ibu, Seihide-san dan Reika-san. Aku sangat berharap bisa menyambungkan ikatan yang diwariskan dari keempat orang itu ke generasi berikutnya.

"Jadilah istriku."

"Kousei……!"

"Akan kujaga kau. Mencintaimu saja. Sebagai mahasiswa, kata-kataku mungkin masih lemah, tapi akan kubuktikan seumur hidupku."

Setetes air mata jatuh dari mata Seika-san. Butiran yang berkilau di bulu matanya yang panjang terlihat seperti permata. Air mata itu mengalir di wajahnya yang berbentuk oval nan cantik.

Ujung hidungnya yang mancung terlihat sedikit memerah, mungkin karena terharu. Bibirnya yang basah dan berbentuk indah terbuka sedikit dan gemetar.

Lalu, aku membelai rambut perak dan hijau zamrudnya yang indah, yang selalu membuatku terpesona,

"Aku tidak pernah menyangka akan mencintai seseorang sedalam ini. Saking cintanya, kadang aku menangis hanya dengan memikirkanmu. Apa dia kesepian di rumah sendirian? Apa dia sedang mengalami kesulitan lagi? Apa dia memendam masalah yang tidak bisa diceritakan lewat Rain? Saat itu, aku menyesal tidak berada di sisimu……lalu aku menangis."

Aku mencurahkan semua isi hatiku. Apakah aku terlalu memaksakan? Apakah aku terdengar menyebalkan? Aku bahkan memikirkan hal sepele seperti itu, apa aku akan menyakitimu? Aku yang penakut ini selalu memikirkan hal itu.

"Kou...sei."

Di sela isak tangisnya, Seika-san memanggil namaku. Setiap kali dia memanggil namaku, aku selalu bahagia, dan aku ingin dia terus memanggilku selamanya.

"Aku mencintaimu."

Karena cemas kata-kata saja tidak cukup, aku memeluk tubuhnya yang ramping dan lentur itu. Tangannya pun segera melingkar di punggungku.

Seolah kami memang ditakdirkan seperti ini sejak awal, kami berdua tanpa celah sedikit pun. Tapi aku ingin lebih. Ingin menjadi satu. Dorongan yang sempat kutahan kini menyerang kembali bagaikan gelombang pasang.

Seika-san mencium bibirku seolah ingin menabrakkan seluruh wajahnya. Intensitasnya sama seperti saat percobaan pertama kami.

Saat itu, hidung kami bertabrakan sampai aku terkejut dan menarik diri, tapi kali ini, meski hidung kami bertabrakan pun, kami tetap berciuman dalam-dalam.

Lama kelamaan kami kehabisan napas dan menjauhkan wajah. Saat aku menatap wajahnya dengan napas yang terengah-engah,

"Aku lebih mencintaimu."

Begitulah yang dia katakan padaku.

"Eh?"

"Aku yang lebih dulu menyukainya, lebih lama menyukainya, dan aku mencintainya. Saat Kousei tidak ada, aku juga sering menangis memikirkan Kousei, dan ingin menelepon karena ingin bertemu."

Ternyata dia sedang menandingi kata-kataku. Dengan nada manja dan cemberut.

"Makanya……baiklah. Aku berikan semuanya. Aku percaya semua kata-katamu. Dan aku juga akan menjagamu seumur hidupku. Terus mencintaimu saja."

Dia mengakhiri kalimatnya dengan gaya bicaranya yang ketus seperti biasanya. Dia malu, telinganya memerah. Orang seperti apa dia ini? Imut, kuat, kekanak-kanakan, sekaligus keibuan. Dia benar-benar membuatku terobsesi.

Aku meraih tangannya, berdiri, dan mengajaknya ke tempat tidur dengan lembut.

Tidak perlu ada kata-kata lagi setelah itu.

Tiba-tiba aku terbangun karena ada suara.

Saat aku memicingkan mata dalam keremangan, Seika-san sedang duduk setengah badan di tempat tidur. Sepertinya dia baru saja mengganti kemejanya, hanya mengenakan bra berwarna hijau zamrud.

"Ah, maaf. Membangunkanmu?"

"Tidak."

Aku hampir berpaling, tapi tadi malam kami sudah... tidak, lupakan saja.

Seika-san turun dari tempat tidur dengan lembut dan berdiri, tapi terlihat sangat goyah. Aku buru-buru menyusulnya dan menopang tubuhnya dari samping.

"Yah, rasanya masih ada yang berdenyut, semacam versi membran dari nyeri phantom?"

Semuanya jadi hancur deh... yah, aku jatuh cinta padanya termasuk karena sikapnya yang terus terang ini, jadi mau tidak mau harus menerimanya.

"Ke toilet?"

"Tidak. Karena haus."

Kalau begitu, aku menempatkan tanganku di bawah lutut dan punggungnya, lalu mengangkatnya dengan mantap.

"Wah, hebat. Putri duyung ya."

Ngomong-ngomong, ini pertama kalinya aku melakukannya. Senyum bahagianya terlihat imut. Rasanya aku semakin mencintainya setelah semalam.

Aku menggendongnya dan berjalan menuju ruang tamu. Begitu melangkah masuk ke ruangan, dari pintu kaca balkon, langit sebelum fajar terlihat. Gradasi oranye tipis perlahan mengikis warna biru tua dari arah timur.

"Indah..."

Seika-san berbisik. Aku membawanya mendekat ke jendela. Kami menikmati pemandangan itu sejenak, tapi karena lenganku mulai pegal, aku menurunkannya ke lantai kayu. Wajahnya terlihat agak tidak puas.

"Karena aku melakukan gerakan yang tidak biasa..."

"Oh, begitu ya. Aku juga menahan rasa sakit dengan mengerahkan kekuatan di tempat yang aneh. Sebentar lagi pasti ototku sakit."

"Seandainya aku bisa melakukannya dengan lebih baik."

"Ayo, jangan begitu. Ini kan pertama kalinya bagi kita berdua, jadi wajar kalau tidak mahir. Sama seperti ciuman, kita hanya perlu meningkatkan kemampuan kita berdua dari sini."

"U, um."

Apakah kebiasaan burukku muncul lagi? Sepertinya aku terlalu memikirkan hal romantis yang aneh.

Seika-san yang diturunkan ke lantai, datang ke sampingku dan menyandarkan tubuhnya padaku. Sambil merasakan suhu tubuhnya di lenganku, kami memandangi matahari yang perlahan terbit.

Pagi terakhir liburan musim panas telah tiba. Musim panas yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku akan segera berakhir.

Saat aku mulai diselimuti rasa melankolis itu, lengan kemejaku ditarik. Seika-san sedikit memajukan bibirnya dan berjinjit. Ah, hari ini kami belum melakukan "ciuman selamat pagi".

Aku menyentuhkan bibirku dengan lembut. Bukan ciuman intens seperti tadi malam, hanya ciuman ringan.

"……"

"……"

"Mulutmu bau!"

"Kamu juga!"

Oh iya, mulutku masih bau bangun tidur.

"Aduh. Jadi tidak romantis."

"Ahaha, yah, itu khas kita, kan?"

Aku ikut tertawa melihat Seika-san yang tertawa lebar memamerkan giginya.

Matahari akhir musim panas menyinari kami berdua dengan lembut.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close