〈3〉
☆☆☆
Dan…… tanggal satu September. Liburan
musim panas yang panjang dan menyenangkan itu usai, memaksa kami untuk kembali
menatap realita.
"Aaaah. Aku malas sekali pergi ke sekolah."
Saat bertemu di pagi hari, Seika-san mengeluarkan suara
layaknya zombi. Suhu udara yang masih sepanas puncak musim panas membuat
keringat berkilau di lehernya. Melihat itu, aku jadi teringat momen saat kami
saling mencurahkan kasih sayang tepat dua malam lalu. Malam itu pun kami
sama-sama bermandikan keringat…… ah, lupakan. Jangan memikirkan hal itu sejak pagi-pagi begini.
"Yah,
tapi setidaknya kita sudah benar-benar puas bermain sepanjang liburan musim
panas ini, kan?"
"Memang benar sih, tapi tetap saja……"
Itu beda lagi ceritanya. Justru karena liburan musim
panas kemarin terlalu menyenangkan, kesenjangan saat harus kembali ke rutinitas
terasa sangat menyiksa.
"Mulai sekarang kita harus bangun jam yang sama dan
berangkat sekolah jam yang sama lagi, ya."
"Yah, aku mengerti perasaanmu, tapi……"
Suara alarm di ponselku pagi ini benar-benar menyiksa.
Aku baru menyadari betapa bahagianya bisa tidur sampai terbangun secara alami.
Aku mengeluarkan kipas angin mini dari tas dan
menyalakannya. Hembusan angin kecil terasa, dan Seika-san langsung mendekat
dengan wajah seperti hantu kelaparan. Kami berjalan dengan posisi bahu yang
saling bersentuhan. Panas sekali.
"Ngomong-ngomong."
"Ya?"
"Hubungan kita ini…… apa perlu kita beritahu
teman-teman sekelas?"
"Ah."
Aku belum memikirkan sejauh itu. Sepertinya aku dan dia
sama-sama belum bisa mengalihkan pikiran dari mode liburan musim panas.
"Seika-san sendiri, inginnya bagaimana?"
"Hmm, bagaimana, ya…… kurasa biasa saja tidak
apa-apa, bukan? Menyembunyikannya itu aneh, tapi memamerkannya juga salah.
Lagipula, itu merepotkan, sih."
Begitu, ya.
"Kalau begitu, mari kita lakukan itu saja. Mari kita
bersikap alami seperti sekarang ini."
"……Boleh?"
Yah, hubungan kita ini bakal dianggap sebagai pasangan
dari kasta yang berbeda, dilihat dari kacamata umum. Biasanya,
pihak yang sering jadi bahan omongan adalah orang yang kurang populer seperti
diriku.
"Tapi sebenarnya, jarak kedekatan kita di kelas pun
sudah seperti teman yang sangat akrab. Aku rasa tidak akan ada banyak perubahan
meski kita umumkan."
Setelah insiden pengusiran pria hidung belang waktu itu,
aku dan Seika-san memang sudah menjadi teman yang sering mengobrol di dalam
kelas, dan itu adalah fakta yang diketahui oleh teman-teman sekelas kami.
"Memang benar sih. Tapi, ada tembok raksasa di
antara hubungan teman lawan jenis dan hubungan pacaran, tahu."
Begitukah? Padahal waktu insiden pria hidung belang itu,
kami seolah-olah dijadikan seperti selebritas saja.
Ternyata semua orang memang penasaran dengan siapa yang
hubungannya hanya sebatas teman dan siapa yang akan berkembang menjadi sepasang
kekasih.
Aku sendiri tidak pernah tertarik dengan kisah cinta
teman sekelas yang bahkan jarang kuajak bicara, jadi aku tidak terlalu peka
soal itu.
Bagaimanapun juga. Menurut sudut pandang mereka…… seorang laki-laki yang kurang populer dan sedikit terasing di kelas,
berhasil menaklukkan gadis paling populer di kasta kelas. Inilah yang disebut
dengan kisah sukses yang mudah memancing kecemburuan.
"……Tiba-tiba perutku jadi sakit."
"Hei, hei."
Seika-san mengelus perutku dengan lembut. Rasanya agak
geli saat dia menggosok-gosoknya dengan gerakan memutar. Saat aku berusaha
menghindar, gilirannya dia yang mencubit-cubit pipiku dengan gemas. Tidak, itu
sih dia cuma ingin menyentuhku saja.
Sambil bercanda seperti itu, kami pun sampai di depan
gerbang sekolah. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku ke sini.
"Oh, bukannya itu Ria dan Aine?"
Dua punggung dengan gaya yang sangat gal
terlihat di depan. Rambut
milik Sanagata-san sudah berubah setengahnya menjadi warna merah. Pewarnaan
yang sangat mencolok.
"Boleh
kita susul?"
"Eh?
I-iya, silakan."
Kami
berjalan sedikit lebih cepat dengan bahu yang masih saling bersentuhan. Begitu
menyusul mereka,
"Yo!
Sudah lama tidak bertemu!"
Seika-san
menyapa. Mereka berdua berbalik dengan wajah sedikit terkejut.
"Oh, bukannya itu Seika? Dan juga Kutsuzawa."
"Selamat pagi. Sonoda-san juga."
"Yup. Sudah lama, ya~"
Meski sebenarnya aku sudah bertemu Sonoda-san sekali saat
liburan musim panas. Terima kasih banyak atas bantuannya waktu itu.
"……Tapi ngomong-ngomong, kalian berdua beneran
pacaran, ya?"
Sanagata-san mengangkat satu alisnya saat melihat jarak
kedekatanku dan Seika-san yang terlalu dekat. Eh? Apa mereka sudah tahu?
"Seika sudah melapor padaku, kok. Lagipula…… atmosfer kalian
berdua sudah benar-benar pasangan banget. Biarpun
tidak diberitahu pun, aku rasa aku sudah bisa menebaknya."
B-begitukah? Aku sendiri sama sekali tidak menyadarinya……
apa memang bisa ketahuan dari atmosfer atau semacamnya?
"Lagipula,
atmosfer Kutsuzawa-kun sendiri sudah berubah drastis, tahu."
Eh. Aku sendiri tidak merasa begitu.
"Sejujurnya, kalian…… sudah 'itu', kan?"
Sebuah
bom atom dari Sanagata-san.
"Eh!?"
"Wa!?"
"Batu?"
Sonoda-san
memasang wajah bingung saat mendengar suara kami yang terkejut. Lagipula, kami
terlalu kaget sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata yang benar.
"N-no
comment!!"
Seika-san
berteriak. Kurasa reaksi itu saja sudah cukup untuk membuat semuanya
ketahuan. Tapi, meskipun mencurigakan, selama kami tidak mengaku, itu tidak
akan menjadi bukti yang pasti.
"Hmm……"
Tatapan Sanagata-san menjadi tajam. Apa dia bertekad untuk membuat kami mengaku? Andai saja keseriusan ini dia tunjukkan saat sedang ujian…… ah. Benar juga, bisa pakai cara itu.
"Kalau
terlalu memaksa, mulai sekarang aku tidak akan membantumu belajar untuk ujian
maupun mengerjakan PR lagi, ya?"
Aku mengancamnya.
"Hah!?"
Efeknya sangat luar biasa. Sanagata-san seketika berubah
sikap, menampilkan senyum yang ramah,
"Ih, jangan begitu dong, Kutsuzawa-sensei. Mana
mungkin aku meragukan kata-kata sahabatku sendiri. Aku tadi cuma bercanda,
kok."
"Heh, kau ini……"
Menanggapi Sonoda-san yang memotong pembicaraan, dia
memelototinya dengan tajam.
"Hei Ria, sudahlah. Tidak mungkin Seika dan
Kutsuzawa-sensei melakukan perbuatan asusila seperti itu, kan? Tahu diri
sedikit."
Sonoda-san yang dijadikan kambing hitam hanya bisa
memukul bahu Sanagata-san dengan santai. Suara buk yang terdengar tadi
cukup keras, ya.
☆☆☆
Tadi benar-benar bahaya, tapi untungnya kami berhasil
lolos. Semua berkat inisiatif Kousei.
Namun, aku tidak menyangka dia bisa mendeteksi hubungan
fisik kami hanya dengan insting misteriusnya. Memang hebat, Aine yang hidup
murni hanya berdasarkan insting. Tidak bisa diremehkan.
"Fiuh. Tangga ini benar-benar melelahkan."
"Ya, kan? Apalagi kalau sudah lama tidak
menaikinya."
Kami berempat berjalan dengan santai menuju kelas 1-2.
Meski begitu, Kousei tetap berjalan setengah langkah di belakang kami.
"Woi. Halo semuanya~."
Aku menyapa sambil memasuki ruang kelas. Orang-orang dari kelompok lain
membalas dengan ceria,
"Halo
juga~. Sanagata-san, Sonoda-san~."
Aku suka dengan kelas kami ini. Meski ada
kelompok-kelompok kecil, tidak ada perselisihan antarkubu sama sekali. Tapi,
mengabaikan Kousei begitu saja tidak bisa dibiarkan. Lagipula dia pacarku……
"Eh?"
Saat menoleh, Kousei yang tadi ada di sana sudah
menghilang.
"Kalau Kousei-kun, dia meluncur masuk seperti
menjahit bayangan tadi."
"Gerakannya seperti ahli bela diri, ya."
Kebiasaan itu sudah mendarah daging, menghilangkan
keberadaan. Begitu juga dengan teknik Shadow Walk-nya. Yah, termasuk
hal-hal seperti inilah yang membuat Kousei tetap menjadi dirinya sendiri.
Biarkan saja mengalir apa adanya.
"……"
Aku mengedarkan pandangan ke seisi kelas. Ya, tidak banyak yang berubah. Yang paling mencolok penampilannya hanyalah Aine yang
mengubah warna rambutnya, dan…… Hamamura-san. Dari sini
saja aku bisa melihat sekelompok anak laki-laki yang agak culun terus melirik
ke arahnya.
Yah, wajar saja, sih. Dia berada dalam jangkauan yang
terasa mungkin bagi mereka. Teman-teman sekelas pun tahu kalau dulunya dia
adalah gadis yang cenderung suram.
"Wah. Itu Hamamura-san, ya? Kamu yang memolesnya,
ya, Seika?"
"Memoles, ya? Bisa dibilang begitu, sih……"
Kalau dibahasakan, mungkin begitu. Tapi, bagiku pribadi,
aku hanya merasa telah membantu mengubah penampilannya saja.
Kekuatan mental dan kesadaran diri yang jauh lebih
penting dari itu, dia sudah memilikinya sejak awal. Menyebut diriku
"memolesnya" rasanya terlalu sombong. Sebaliknya, justru aku yang
berulang kali dibuat terstimulasi olehnya.
"……"
Kousei berjalan melewati sisinya dengan tenang, lalu
duduk di kursinya sendiri. Saat itu, mereka berdua sempat mengangguk kecil
sebagai salam. Maksudku, kapan pacarku itu pindah ke sana? Dia benar-benar
ninja.
Saat itulah, seseorang masuk dari belakang kami. Ketika
menoleh, aku beradu pandang langsung dengan seorang wanita paruh baya bertubuh
empuk seperti Hinano.
"Itu Oota-sensei! Sudah lama tidak bertemu!"
Rasanya memang jarang sekali bertemu guru selama liburan.
"Oota-sensei, sudah lama~."
"Oota-cchi, kau tambah gemuk, ya?"
Ria ikut menyapa…… dan Aine yang bicara sembarangan
langsung dipukul kepalanya dengan buku daftar hadir. Benar-benar anak yang tidak bisa
belajar dari kesalahan.
"Iya,
iya. Cepat duduk di tempat masing-masing."
Atas desakan guru, kami pun duduk. Tepat setelah itu,
Chika juga memasuki kelas, jadi aku mengangkat tangan sedikit untuk menyapanya.
"Hampir saja telat, ya, Horaguchi-san?"
"Maafkan aku."
Setelah interaksi itu, Oota-sensei menepuk tangan.
"Sekarang
semuanya sudah hadir, ya."
Eh?
Seingatku, Miyasaka belum datang. Tapi, guru langsung memberikan keterangan
tambahan.
"Miyasaka-kun absen hari ini karena urusan
keluarga…… kalau begitu, mari kita pindah ke aula olahraga."
Begitu ya, dia absen.
……Mendengar kata urusan keluarga, bayangan tentang
neneknya yang jatuh pingsan karena heatstroke langsung terlintas di
kepalaku.
"Seika-san."
Tanpa sadar, Kousei sudah berdiri di dekatku. Dia menatapku dan menggeleng pelan. Benar juga. Tidak ada gunanya
mencemaskan sesuatu sekarang. Lagipula, anggota kelas yang lain sudah mulai
bergerak, jadi kami tidak boleh ketinggalan.
Setelah mendengar pidato panjang yang membosankan
dari kepala sekolah, kami kembali ke ruang kelas. Setelah berbagi pengumuman
singkat dari Oota-sensei…… acara hari ini selesai. Libur akhir
pekan pun tiba, dan pelajaran resmi dimulai pada hari Senin.
"Kousei."
Setelah kelas dibubarkan, aku langsung bergabung dengan
pacarku. Kami berdua pergi menemui Hamamura-san untuk menanyakan kabar.
Katanya, alasan absennya Miyasaka adalah karena ada acara
doa bagi kerabatnya…… sepertinya dia tidak jatuh ke dalam situasi buruk yang
kami khawatirkan. Namun,
"Jika itu Shu-chan yang dulu, kurasa dia tidak akan
membiarkan dirinya absen hanya untuk itu."
Memang benar. Meski absen di hari pertama tidaklah
masalah, tetap saja sulit membayangkan Miyasaka pergi ke acara doa keluarga.
"Setidaknya, syukurlah. Tadinya aku berpikir……"
Kousei hendak bicara, tapi mulutnya tertutup di tengah
jalan. Dia pasti hendak melontarkan spekulasi yang tidak diinginkan, dan
sejujurnya, aku pun merasakan hal yang sama. Hamamura-san tersenyum pahit,
"Nenek sudah sehat kok. Hanya saja kakinya sakit
saat terjatuh…… jadi masih dalam tahap perawatan."
Begitu ya. Tidak terjadi apa-apa setelah itu. Yah, meski
"kaki sakit" pada orang tua bisa jadi masalah di kemudian hari,
setidaknya untuk saat ini kita tidak perlu khawatir berlebihan.
"……Bukan cuma Nenek, tapi Shu-chan sendiri mungkin
kondisinya lebih parah dari yang kita duga."
"Mungkin saja. Aku rasa obsesi berlebihannya
terhadap urusan rumah itu juga semacam bentuk kesadaran untuk menebus
dosa."
Hamamura-san mengangguk.
Itu adalah kemajuan pesat dibandingkan saat dia bahkan
tidak menyadari kesalahannya. Tapi sekarang, giliran penderitaan untuk
menghadapi kenyataan itu sendiri, ya.
Mamaku pasti juga memiliki konflik batin yang sama
terhadap Papa…… meski begitu, dalam kasus kami, Papa pun tidak
seratus persen tidak bersalah.
Dibandingkan dengan itu, kasus kali ini…… tidak
mungkin Nenek punya kesalahan apa pun, seratus persen kesalahan Miyasaka. Rasa
bersalahnya pasti luar biasa besar.
"Itu…… Miyasaka, apakah dia bisa berkomunikasi
dengan baik dengan Hamamura-san?"
"Eh?"
"Maksudku,
aku takut dia malah mengurung diri dalam cangkangnya sendiri."
Kekhawatiran
Kousei membuatku sadar kalau dia benar-benar orang yang berpengalaman.
Hamamura-san
melembutkan pipinya dengan senyum haru,
"Iya,
itu baik-baik saja. Seperti saat liburan musim panas kemarin, dia bekerja
sama dengan keluargaku untuk membantu Nenek."
"Begitu ya. Syukurlah."
Tentu saja dia akan bicara, ya. Atau mungkin, situasi di
mana dia tidak punya pilihan lain selain berbicara dengan orang di sekitarnya
adalah hal yang baik bagi Miyasaka.
"Tapi, saat bicara dengan kami pun, aku selalu
merasakan atmosfer rasa bersalah yang masih tersisa."
Ya, itu wajar saja. Rasanya seperti…… seseorang yang
mengejar mimpi dengan sombong dan pergi ke ibu kota, tapi kemudian pulang
dengan kekalahan.
"……Aku berharap saat nenek selesai berobat,
perasaannya bisa sedikit lebih positif."
"Benar juga. Kita hanya bisa mendoakan yang
terbaik."
"Kalau ada yang bisa kami bantu, katakan saja. Aku tidak merasa ini tidak ada hubungannya denganku……"
"Tepat sekali. Kita sudah naik di perahu yang
sama."
Aku tidak tahu apa yang bisa kami lakukan, tapi……
"Iya, terima kasih banyak."
Setelah membungkuk sekali, Hamamura-san meninggalkan
kelas. Sepertinya Yokokura-san sedang menunggunya di depan pintu. Kami juga
harus menyusul kelompok gal yang sedang menunggu kami.
★★★
Awal pekan tiba, pelajaran normal akhirnya dimulai
kembali.
Miyasaka juga masuk sekolah dengan benar hari ini.
Setidaknya aku lega.
Tapi, jika mengingat masa-masa festival olahraga, aku
tidak pernah membayangkan hari di mana aku harus mengkhawatirkannya seperti
ini. Hidup memang penuh kejutan.
Di permukaan, Miyasaka tidak terlihat banyak berubah. Dia
masih bercengkerama dengan teman sekelas pria yang memang akrab dengannya.
Melihat dia menyapa Hamamura-san duluan pun sudah menjadi
pemandangan yang mengharukan bagi aku dan Seika. Meski ada konflik batin atau
hal-hal yang terpendam, dia mulai berani menghadapi orang-orang di sekitarnya
yang harus dia hargai.
Dia bisa bicara di sekolah, di tempat yang terlihat orang
lain, tanpa merasa malu. Itu adalah langkah maju yang sangat baik. Kami berdua
sepakat soal itu.
Walaupun,
"Entah kenapa…… aku merasa posisiku mulai
tersisihkan."
Yokokura-san yang duduk di sebelahku tampak merasakan
krisis eksistensi yang berbeda.
Yah, sepertinya satu anggota klub manga lainnya ada
di kelas sebelah, jadi dia bisa bergabung dengan mereka secara fleksibel.
"Lagipula, Kutsuzawa-kun, kenapa kau berlagak
seperti orang di 'sisi itu'? Bukankah kau seharusnya ada di sisi sana?"
"Sisi ini" atau "sisi sana",
penggolongan itu sangat kasar, ya.
"Meski kau bilang begitu, tidak mungkin aku bisa
menghapus aura suram yang sudah kubangun selama ini secara instan."
"Begitukah? Bukankah anak laki-laki SMA yang
mendapatkan pacar kelas atas seharusnya merasa bangga dan ingin terlahir
kembali?"
"Hmm."
Memang ada orang yang ingin pamer, tapi kurasa itu malah
akan terlihat menyedihkan karena masih terjebak dalam jiwa suramnya.
"……Kami lebih memilih bersikap alami."
"Hmm. Bagus juga, ya, yang seperti itu."
"Begitukah?"
"Ya. Terasa punya ruang, dan membumi."
Aku senang mendengar penilaian itu. Meski hanya
angan-angan anak muda, kami benar-benar sudah mempertimbangkan hingga ke
jenjang pernikahan.
"Apa
kau benar-benar…… berubah?"
Orang-orang sering menanyakan itu, tapi aku sendiri
tidak merasakannya. Hanya saja,
"Kalau memang begitu, itu semua berkat
Seika-san."
Soal itu, aku tidak ragu sedikit pun.
Terakhir kali aku bertemu Yokokura-san adalah pertengahan
liburan musim panas. Sejak saat itu, kami telah melewati banyak kesulitan
bersama. Meski mungkin terdengar sombong, aku rasa aku telah tumbuh sebagai
pribadi.
"Bagus, ya. Cinta, ya. Kutsuzawa-kun dan Riko-chan. Rasanya hanya aku yang tertinggal."
Sejujurnya, jika bukan karena keajaiban pertemuan
kembali dengan Seika-san, mungkin sampai sekarang aku pun hanya akan menonton
percintaan orang lain seperti Yokokura-san.
"Hai, duduk. Kita mulai pelajarannya."
Guru mata pelajaran berikutnya masuk ke kelas dan
memberikan instruksi dengan nada malas. Beberapa siswi yang berdiri mengobrol
di dekat meja teman mereka langsung bubar kembali ke tempat duduk. Sudah lama
sekali sejak terakhir kali aku melihat pemandangan seperti ini.
Pelajaran pagi berakhir. Saat bel berbunyi, orang di
depanku mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meregangkan tubuhnya yang kaku.
"Fiuh."
Aku pun merasa ingin melakukan peregangan. Tapi
sebelumnya,
"Kousei."
Seika-san datang ke mejaku. Biasanya dia makan siang
bersama kelompok gal-nya, tapi hari ini sedikit berbeda.
"Iya, iya. Tunggu sebentar, ya."
Aku mengobrak-abrik tas dan mengeluarkan bekal.
Reika-san yang bolak-balik ke kamar Seihide-san
selama akhir pekan tentu lelah, jadi aku memutuskan untuk membuatkan bekal untuk
Seika-san juga selama hari ini dan besok. Dia sangat berterima kasih, tapi
sebenarnya…… karena dia sedang tidak ada di rumah pada hari Minggu, aku dan
Seika-san malah melakukan hal yang agak "panas" untuk kedua kalinya. Aku jadi merasa bersyukur
sekaligus tidak enak hati.
"Terima
kasih. Ayo makan bareng."
"Ya, tentu."
Dari kelompok gal, Sanagata-san sepertinya
pergi ke kelas lain, jadi hanya ada Horaguchi-san dan Sonoda-san yang menunggu.
Aku pun bergabung dengan mereka. Aku meminjam meja dan kursi milik
Sanagata-san.
"Sanagata-san itu……"
"Ah, soal itu…… dia punya banyak teman tanpa alasan.
Dia suka pergi ke sana kemari."
"Lihat saja, gadis itu bodoh, kan? Tapi dia ceria
dan tidak punya muka dua. Jadi, dia cepat akrab dengan siapa saja."
"Lalu, meski dia menyeberang antar kelompok, tidak
ada suasana yang aneh. Karena dia bodoh."
Aku merasa itu adalah bentuk pujian baginya. Meski terdengar agak kasar.
Tapi begitu ya. Informasi mengenai calon korban dari
Miyasaka yang kalah telak itu pun didapat lewat Sanagata-san. Mungkin itu
informasi yang dia kumpulkan dari kelompok lain, atau mungkin dia memang kenal
dengan orangnya langsung.
"Sudahlah, lupakan soal Aine. Ayo makan, aku lapar
sekali."
Horaguchi-san benar. Karena jadwal pelajaran kedua kami
adalah olahraga, seluruh kelas tampak kelelahan.
"Maksudku, bulan September masih puncak musim
panas, kan? Kami tadi disuruh main basket di aula."
"Benar-benar seperti sauna, ya."
"Serius, jangan pakai kurikulum bulan September
dengan standar zaman Showa lagi."
Mungkin bagi para petinggi negara, September di masa
kecil mereka belum sepanas ini.
"Anak laki-lakinya di lapangan main bola,
kan?"
Aku mengangguk.
"Kalian kelelahan, kan?"
"Iya. Benar-benar kehilangan arah permainan
sepak bola kami sendiri."
"Sudah lama sekali aku tidak mendengar kalimat
itu."
Tuan rumah sepak bola saat ini sedang dalam performa
bagus, lagipula.
Sambil mengobrol tidak jelas, kami membuka kotak
bekal. Aku membukanya dalam dua tingkat, lauk dan nasi.
"Wah……
terlihat enak."
Horaguchi-san mengintip dari seberang meja, tapi
"Punya Seika-san juga isinya sama, kok."
Aku menunjuk kursi di sebelahku.
Seika-san juga sudah selesai membuka bekalnya, dia
mengecek lauk dengan mata berbinar.
"Yes!
Chashu buatan Kousei!"
"Wah,
beneran! Itu enak banget, tahu."
Ternyata
resepku disukai, aku senang. Eh, bukannya Horaguchi-san juga pernah
mencicipinya sekali?
"Wah……
ada telur chashu, salad stik kepiting, potongan ikan salmon, dan…… tumis
cumi dan seledri, ya."
Sonoda-san,
yang juga bisa memasak, mengatakannya dengan nada tenang.
"Semuanya buatan sendiri?"
"Ya. Yah, ini kan hari pertama."
Aku membuatnya dengan penuh kasih sayang dan nutrisi
lengkap. Baik aku maupun Seika-san harus menjaga stamina.
"Hehehe. Pacarku memang tidak ada celahnya sama
sekali."
Seika-san tertawa bahagia. Dia mulai menggunakan
sumpitnya pada potongan ikan salmon.
"Tulangnya juga sudah kucabut."
"Hmm, benar-benar tidak ada celah. Aku harus mencari
pacar yang seperti ini juga."
Sonoda-san ternyata masih mencari pacar, ya.
Saat kami sedang mengobrol, Seika-san mengambil satu
gigitan.
"Enak banget……!"
Sepertinya dia puas. Aku pun
memakan masakanku sendiri, dan rasanya membuatku tersenyum. Ya, ini adalah
hasil terbaik. Berikutnya, chashu-nya. Saat aku hendak mengambilnya, ada
tatapan tajam dari seberang meja.
"……Kau mau?"
"Ya!!"
Horaguchi-san, memangnya kamu orang yang begitu?
Tiba-tiba, aku melihat Seika-san menjauhkan kotak
bekalnya dengan cepat. Sepertinya dia menunjukkan keinginan untuk tidak
berbagi. Ternyata persahabatan masa kecil bisa kalah oleh telur chashu.
"Kalau begitu, ini satu."
"Asyik!"
Sebelum sempat selesai bicara, sudah diambil duluan.
Bahkan di tengah kekacauan itu, seperempat telur matang ikut terpotong sumpit
dan diambil.
Ini seperti ciuman tidak langsung…… ah,
lupakan saja.
"Sonoda-san, bagaimana kalau satu?"
"Eh? Boleh?"
Tidak tega membiarkannya sendirian.
"Terima kasih. Ambil juga sesuatu dari bekal
kusem."
Dia membalas kebaikan dengan memberikan asparagus gulung bacon.
Garam dari bacon-nya pas, asparagusnya lembut, sangat enak. Sonoda-san
pun ternyata sangat pandai memasak.
"Ya. Chashu-nya, bumbunya meresap sekali.
Enak."
"Ah. Rasanya seperti biasa. Ini sudah layak dijual
di restoran."
Mereka berdua memujiku habis-habisan. Agak malu, tapi
senang. Entah kenapa Seika-san pun ikut merasa bangga.
Saat itu, aku merasa ada tatapan mata. Dari kelompok lain
di kelas yang sedang makan. Ah, aku baru ingat, terakhir kali aku makan bersama
Seika-san dan kelompoknya adalah…… bulan Mei. Meski kadang kami berinteraksi,
pertukaran lauk dan suasana yang seakrab ini pasti terlihat tidak biasa bagi
mereka.
"……"
"Kousei? Ada apa?"
Seika-san menatapku dengan wajah polos.
"Ah, tidak. Aku sedang berpikir besok harus
masak apa."
Aku membicarakan hal lain dari apa yang kupikirkan.
Tatapan seperti itu tidak lagi menggangguku seperti dulu, dan aku merasa bisa
bersikap alami.
"Masakan enak ini buat besok lagi, ya? Asyik,
aku jadi ingin punya 'Kut-tsu' di rumahku sendiri."
"Satu rumah satu Kousei Kutsuzawa, ya."
Sudah seperti robot rumah tangga saja.
"Untuk besok, mari kita buat chicken nanban
sebagai menu utama."
"Asyik!"
Seika-san sangat gembira.
"Kut-tsu, kau tidak bisa membelah diri?"
"Ah, bagikan ke tempatku juga."
Mereka masih terus saja bicara……
Yah, senang rasanya kemampuan memasakku diakui. Itu
adalah salah satu dari dua keahlian terbesarku selain membuat kerajinan tangan.
Setelah itu, kami menghabiskan waktu makan siang dengan
ramai sampai akhirnya ludes.
――Lalu, insiden itu terjadi.
Saat aku hendak berdiri dari kursi, Seika-san membentuk
bibirnya menjadi huruf "O". Saat aku bertanya dengan tatapan mata
tentang apa yang terjadi,
"Kousei, ada bumbu chashu di bibirmu."
Jari Seika-san terulur. Saat aku menerimanya, dia
menggerakkan jari di bibirku. Seolah menghapus bumbu itu, dia membawanya ke
bibirnya sendiri dan menjilatnya……
"Kyyaaa!!"
Seketika, jeritan girang meledak di sekitar kami.
Ah, benar juga. Seluruh kelas sedang memperhatikan
kami. Ini adalah efek samping dari hilangnya rasa risih terhadap tatapan orang
lain…… mungkin kami terlalu bersikap alami.
"Tuh, kan!"
"Aku sudah curiga sejak lama!"
"Ini sudah pasti benar, kan!"
Dalam sekejap, kami dikelilingi oleh para siswi. Mata
mereka berbinar-binar, sedikit menakutkan.
"Ah, sial. Mood liburan musim panas masih belum
hilang."
Karena aku memang tidak berniat menutupinya,
kemungkinan besar hal ini akan terbongkar cepat atau lambat. Tapi kalau bisa,
aku berharap ini terbongkar perlahan tanpa harus membuat keributan besar
seperti ini. Apakah itu sebuah kemewahan?
"Eh! Benarkah!? Benarkah!?"
"Apa yang terjadi?"
"Katanya Mizoguchi-san berciuman dengan
Kutsuzawa-kun."
Aku tidak melakukannya. Kenapa dalam sepuluh detik
saja ceritanya sudah ditambah-tambah?
"Woaa!"
"Jadi benar mereka jadian saat liburan musim
panas!"
"Gaaah, seriusan!"
Bahkan anak laki-laki mulai ikut ribut dari jauh. Meski
tidak ada yang berani menembus barikade para siswi, aku sempat bertatap mata
dengan beberapa siswa laki-laki.
Banyak anak laki-laki di kelas kami yang mungkin sudah
menyerah mengejar Seika-san dan pindah ke target lain seperti Miyasaka, tapi……
mereka tidak terlihat menunjukkan kebencian. Sepertinya kejutan murni lebih
dominan, dan salah satu dari mereka bertanya dengan gerakan bibir,
"Seriusan?", lalu aku mengangguk pelan.
Sejak saat itu, situasi menjadi kacau karena aku sama
sekali tidak bisa mendengar siapa bicara apa. Setidaknya,
tekanan dari gerombolan siswi yang mengelilingi kami luar biasa. Aku
bisa merasakan tekad kuat mereka untuk tidak beranjak sampai rasa penasaran
mereka terpuaskan.
"T-tunggu sebentar, kalian semua……"
Padahal waktu istirahat tinggal sedikit, tapi situasi
sudah sangat kacau. Seika-san pun tampak panik karena dialah pemicu insiden
ini.
Saat itu, Horaguchi-san menepuk tangannya. Suara tepukan
tangan yang kering. Entah kenapa pipinya sedikit mengembang.
"Iya, iya. Tidak akan terdengar kalau kalian semua
bicara bersamaan. Kita bukan Pangeran Shotoku."
Setelah menenangkan mereka,
"Karena itu…… mulai sekarang akan diadakan
pengumuman pertunangan. Reporter, silakan bertanya bergantian."
Kenapa Horaguchi-san punya obsesi begitu kuat terhadap
pengumuman pertunangan ini? Lagipula, apa dia tersenyum tipis karena dia merasa
bisa melakukan hal ini?
"Oke. Pertama, calon pengantin pria. Sebutkan nama
dan umur."
"Tidak, kalian kan sudah tahu. Itu
berlebihan."
Karena kami berada di kelas yang sama, kami seusia
kecuali jika ada yang tidak naik kelas.
………………
…………
……
Setelah itu. Sampai bel istirahat berbunyi, kami
diberondong pertanyaan.
Meski begitu, karena teman sekelas sudah tahu bahwa kami
adalah teman masa kecil yang bertemu kembali, ditambah lagi kami sudah terlihat
akrab sejak insiden pria hidung belang, keributannya tidak sampai menjadi luar
biasa.
"Yah, kupikir ada perkembangan yang lebih
dramatis."
Ada juga yang berkomentar jujur seperti itu. Tentu
saja, aku tidak mungkin menceritakan trauma pribadiku atau masalah keluarga
Seika-san, jadi wajar saja mereka merasa begitu.
Hanya saja, bagian tentang kelas tata rias membuat para
siswi sangat gembira. Mereka menyukai usaha maksimal yang kulakukan untuk
Seika-san.
"Sejujurnya, membuatkan panggung untuk seseorang
yang disukai…… itu benar-benar bikin hati berdebar, ya."
Mendengar pendapat Sonoda-san, para siswi mengangguk
setuju.
Yah, memang agak sulit untuk memuji diri sendiri,
tapi setidaknya rasa penasaran mereka sudah terpuaskan.
Demikianlah. Kemajuan hubungan kami akhirnya diketahui
oleh seluruh kelas.
☆☆☆
Setelah menyelesaikan "hukuman" yang disebut
sebagai pengumuman pertunangan, aku akhirnya bisa bernapas lega. Di karya
fiksi, biasanya ada adegan pamer kemesraan, tapi kami punya banyak masalah yang
tidak bisa diceritakan.
Perkembangan dramatis yang dinantikan semua orang……
sebenarnya ada, sih. Pengakuan cinta yang luar biasa indah, drama perdamaian
antara Mama dan Papa. Tapi tentu saja, itu bukan untuk dipublikasikan, biarlah
kami saja yang tahu.
Chika berkata dengan penuh semangat,
"Termasuk hal-hal itu, ini rasanya seperti
pengumuman pertunangan selebritas!"
Yah, mungkin benar juga, karena mereka pun pasti punya
informasi rahasia yang tidak diketahui media.
Aku tahu dia ingin mengatakan bahwa ketidaknyamanan
karena tidak bisa bicara ini adalah inti dari pengumuman pertunangan, tapi……
bagiku, cukup sekali ini saja.
Apapun itu, setidaknya sekarang aku bisa hidup tanpa
perlu khawatir akan godaan laki-laki lain. Kalau dipikir-pikir, keuntungan
memiliki pacar ternyata cukup besar, ya.
"Tapi, apa benar dia jadian sama Kutsuzawa?"
"Iya, kan. Seharusnya aku juga punya peluang."
Bisik-bisik anak laki-laki terdengar tipis.
Tidak ada peluang, dasar bodoh. Selain Kousei, tidak ada
kesempatan lagi.
Yah, wajar saja mereka berpikir begitu karena mereka
tidak tahu soal figur maupun penyakitnya, dan hanya menganggap kami teman masa
kecil.
Ah, aku ingin mengatakannya pada mereka. Tapi aku juga
tidak punya kewajiban untuk berbagi masalah pribadi seperti itu.
Lalu, guru mata pelajaran berikutnya masuk ke kelas. Aku
melirik sekilas ke arah pojok kelas…… ke arah
tempat Miyasaka. Dia sedang menatap ke luar jendela dengan melamun. Yah, saat
kami bertemu di liburan musim panas, aku sudah memberitahunya soal hubunganku
dengan Kousei, jadi aku mengerti kalau dia tidak tertarik. Tapi
sepertinya bukan itu saja, dia bahkan terlihat tidak menyadari suasana di dalam
kelas.
"Apa dia benar-benar baik-baik saja?"
Aku bergumam pelan dan kembali menghadap ke depan.
Sungguh. Saat sedang bersemangat dia sangat menyebalkan,
tapi kenapa saat sedang terpuruk dia bisa sampai seperti itu?
"Hai~. Karena ini hari pertama semester dua…… kita
akan adakan kuis mendadak!"
Hah!?
Aku tidak mengerti apa maksud dari "karena
itu". Seluruh kelas langsung bersorak protes. Namun di
tengah keriuhan itu, Miyasaka tetap melamun seolah jiwanya tidak ada di sana.
Pulang sekolah setelah sekian lama. Rasa kebebasan ini
sungguh melegakan.
Liburan musim panas memang menyenangkan, tapi kebebasan
setelah menanggung stres itu jauh lebih luar biasa.
"Oke! Kalau begitu, ayo kita pergi main!"
Aku mengajak yang lain, tapi.
Baka sedang kencan dengan pacarnya. Ria juga ada urusan
keluarga, jadi hanya Chika yang tersisa. Yah, artinya kami memang
"kelompok biasa" yang satu ini.
"Meski begitu, besok kita masih harus sekolah,
lho."
Aku tahu. Kami pun tidak terpikir untuk pergi jauh-jauh,
cukup di sekitar stasiun saja.
Saat kami sedang merencanakan itu, ponsel Kousei berbunyi
menandakan pesan masuk. Setelah mengutak-atik ponselnya sebentar, dia
mengerutkan kening dengan wajah tidak enak hati.
"Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut."
Waduh. Apa dia juga ada urusan keluarga?
"Kenapa?"
Saat Chika bertanya,
"Aku harus menjemput Paman. Sepertinya dia terlalu
sering berlatih Tekalympic sampai harus pergi ke tukang urut."
Begitu jawaban yang kuterima. Ah, saat melakukan olahraga
itu memang harus dalam posisi condong ke depan yang ekstrem, ya.
"Sepertinya dia menyesal kalah di turnamen
sebelumnya, jadi dia berlatih setiap hari. Sekitar empat jam setiap hari."
Benar-benar pemborosan hidup yang luar biasa.
Lagipula, itu sudah terjadi sejak turnamen saat liburan
musim panas, jadi bisa dihitung sudah berapa lama dia menyiksa leher dan
pinggangnya.
"Meguru mengancam akan mencoretnya dari kartu
keluarga jika dia tidak berhenti, jadi akhirnya dia menguranginya, tapi saat
itu tubuhnya sudah kaku semua."
"Anak yang mengancam orang tuanya dengan kartu
keluarga itu cara yang baru, ya."
Chika berkata dengan nada terheran-heran. Kousei
tersenyum kecut.
"……Hari ini sepertinya tidak ada keluarga di sana
yang bisa menjemputnya, jadi pilihannya jatuh padaku. Mau bagaimana lagi, aku
akan pergi."
"N-nanti dulu. Tukang urut itu jauh tidak?"
"Tidak terlalu. Dari stasiun ke arah selatan…… lewat
rumah Shigei-san sedikit."
Kalau begitu, tidak terlalu jauh.
"……"
"……"
Aku
bertukar pandang dengan Chika. Ingin melihat sesuatu yang mengerikan—mungkin
istilah itu terlalu kasar—tapi rasa penasaran kami tidak terbendung.
"Hei, boleh kami ikut?"
"Eh? Tidak ada yang menarik di sana, lho? Aku hanya
menemani dari tempat praktik ke stasiun saja."
Ya, biasanya memang begitu. Tapi kurasa, Pamanmu sendiri
adalah sosok yang menarik. Setidaknya itulah yang kudengar dari rumor.
"……Yah, terserah sih. Tapi orangnya agak aneh, jadi
bersiaplah, ya?"
"Iya."
"Oke."
Tentu saja.
Kousei yang tidak paham niat kami tampak bingung, lalu
dia mulai memandu jalan dengan ragu-ragu. Kami berjalan menuruni bukit ke arah
selatan dari sekolah.
"Pulangnya nanti menanjak, jadi akan melelahkan,
lho?"
Secara tidak langsung dia menyarankan kami untuk batal
ikut, tapi…… yah, di depan rasa penasaran yang meluap, masalah sepele seperti
itu tidak ada artinya. Baik Chika maupun aku menjawab dengan kompak.
"Kami tidak apa-apa."
Setelah percakapan itu, kami berjalan menuruni bukit
dalam diam. Bukan karena suasana canggung…… hanya karena cuaca yang terlalu
panas.
Setelah
berjalan sekitar sepuluh menit, kami sampai di tempat yang bernama 'Koyabu
Bone-setting Clinic'. Entah kenapa tempat ini terasa familiar. Apa tempat ini
benar-benar bisa dipercaya?
"Ah,
Paman."
Kousei mengangkat tangan ke arah pria paruh baya yang
berdiri di depan klinik. Orang di seberang sana pun membalas sapaan itu.
"Itukah rumor……"
"Paman yang gila itu?"
Sambil berbisik-bisik, kami mengamati sosok tersebut
dengan saksama. Dia pria dengan kacamata bulat dan wajah yang tampak lembut. Sedikit mirip dengan
Yoshiki-san…… mungkin? Pakaiannya juga polo shirt dan jin biasa. Sekilas, dia
terlihat seperti "paman-paman" pada umumnya.
"Hei, ayo kita ke sana."
"Setuju."
Kousei sepertinya sedang memperkenalkan kami, jadi ayo
kita bergabung.
"S-selamat siang."
"Salam kenal."
Saat kami menyapa, Paman menyipitkan mata di balik
kacamata bulatnya dan tersenyum.
"Siang. Terima kasih sudah menjaga Kousei selama
ini."
Hmm. Normal sekali. Sedikit pun tidak terlihat
tanda-tanda keanehan.
"Nama saya Kutsuzawa Shiro. Saya adiknya
Yoshiki."
Ah, benar juga. Tadi kupikir wajahnya memang agak
mirip.
Kami pun memperkenalkan diri kembali. Rasanya agak malu
mengaku sebagai pacar Kousei, tapi Paman Shiro memberikan restu dengan biasa
saja.
"……Kalau begitu, ayo kita jalan saja."
"Ya. Paman, apa bisa jalan sendiri?"
"Tentu saja, belum separah itu."
Katanya, lalu Paman memunggungi kami. Di bagian punggung polo
shirt-nya, terdapat lambang hidung besar.
"Ah……"
Itu
logo Tekalympic. Aku bertukar pandang dengan Chika.
Dia bersikap seperti orang normal, tapi sepertinya
jati dirinya akhirnya terungkap juga. Orang yang memakai baju seperti itu
sebagai pakaian sehari-hari tidak mungkin orang yang waras.
"Aduh. Lututku juga sakit, nih."
"Sungguh. Sampai seniat itu dengan olahraga seperti
itu. Bukankah usia Paman sudah tidak muda lagi?"
Jangan bicara seolah-olah kalau masih muda, kecanduan
olahraga itu bisa dimaklumi.
Paman berjalan menanjak dengan langkah lambat. Kousei
meletakkan tangannya di punggung Paman dengan lembut. Terlihat sekali dia
sedang merawatnya dengan baik. Sambil melihat pemandangan yang menghangatkan
hati itu, kami mengikuti mereka dari belakang.
……Tapi lambang hidung itu terus saja mengganggu
pikiranku.
"Fiuh. Ayo istirahat sebentar di suatu tempat. Aku
traktir sesuatu."
Setelah sampai di puncak bukit dan kembali ke depan
stasiun, Paman melontarkan tawaran itu.
"Serius? Beruntung sekali!"
Chika sangat gembira. Yah, kami memang terpanggang sinar
matahari selama mengikuti langkah Paman yang seperti kura-kura. Kousei juga
terlihat lega, jadi kurasa kami tidak perlu sungkan untuk menerima tawarannya.
Kami pun menuju restoran keluarga yang pernah kami
kunjungi dulu. Karena jam tanggung, restoran itu sangat sepi. Karena disuruh
duduk di mana saja, kami memilih meja di sudut.
"Ngomong-ngomong, aku belum makan siang hari
ini."
"Begitu, ya?"
"Ya. Aku akan pesan makanan ringan. Kalian bebas
pesan apa pun yang kalian mau."
Kata Paman sambil membuka menu. Bukan melalui layar
sentuh atau kode QR, di sini masih menggunakan menu kertas.
"Aku akan pesan set mini parfait dan kopi. Rasa
cokelat."
Karena ditraktir Paman, dia malah pesan yang mewah.
"Kalau begitu, aku boleh pesan itu juga?"
Karena Paman mengangguk, Chika juga memesan set parfait.
Aku pun ikut memesan hal yang sama. Untungnya ada rasa stroberi, cokelat, dan
matcha, jadi kami bisa memesan tiga rasa yang berbeda. Tapi, kami datang hanya
karena rasa penasaran, apa boleh menerima keramahan seperti ini?
Paman menekan tombol panggil pelayan. Mungkin karena sedang senggang, pelayan wanita datang dalam hitungan
detik.
"Set mini parfait dan kopi…… rasa stroberi, cokelat,
dan matcha masing-masing satu."
Kousei memesan untuk kami.
"Kalau saya…… nasi anak-anak dan bir
botol."
……Serius orang ini.
"Paman, kalau pinggang sakit, sebaiknya jangan minum
alkohol."
Bukan itu masalahnya, Kousei.
Pelayan itu tersenyum kaku,
"Emm…… nasi anak-anak hanya untuk pelanggan di bawah
tingkat sekolah dasar……"
"Begitu, ya. Gawat."
Kurasa pelayan itu merasa sepuluh kali lebih bingung
daripada Paman.
"Kalau begitu, bir botol dan………… bir botol."
Dasar
pemabuk.
Apa-apaan
paman ini? Ternyata selain pola baju polo-nya, dia benar-benar bukan
orang yang waras.
Akhirnya, Paman memesan burger untuk makan siangnya yang
terlambat. Omong-omong, dia menahan diri untuk tidak minum bir. Karena Kousei
mengancam pinggangnya akan makin sakit.
★★★
Kami saling berbagi parfait dan menikmati semua rasa.
Setelah makan, saat aku sedang mengusap perut, aku menyadari Paman sedang
menatapku lekat-lekat dari sebelah.
"Hm? Ada apa?"
"Kousei, apakah sekarang kau sedang sibuk?"
Sekarang, yang dimaksud bukan saat ini juga, tapi
beberapa hari ke depan.
"Karena sekolah sudah mulai. Aku punya waktu luang
setelah sekolah dan akhir pekan."
Ada kencan dengan Seika-san, jadi aku tidak mau
mengurangi waktu itu…… tapi kalau dilihat dari nada bicaranya.
"Jangan-jangan, Paman ingin aku menemanimu
terus?"
Pikirku, tapi Paman menggeleng pelan.
"Tidak, mulai besok istriku akan mengantar
jemput dengan mobil. Jadi bukan soal itu."
Seika-san dan Horaguchi-san yang mendengar percakapan
kami tampak bingung.
"Sebenarnya, ada seorang nenek yang kukenal di
tukang urut…… lututnya sakit dan dia kesulitan untuk berdiri."
Ah, aku mulai mengerti arah pembicaraannya.
"Aku ingin minta tolong pada Kousei untuk membuat
alat bantu berdiri."
"Begitu, ya. Kalau itu pekerjaannya…… tentu saja,
aku mau."
"Syukurlah. Karena dia ingin ukuran yang lebih kecil
dari barang yang dijual di toko, satu-satunya cara adalah dengan memesan
khusus."
Furnitur pesanan seperti itu memang serahkan saja pada
bengkel kota. Paman spesialis resin, jadi mungkin agak sulit baginya. Lagipula
pinggangnya sedang bermasalah, jadi dia tidak bisa bekerja untuk sementara
waktu.
"Kalau begitu besok, pergilah ke rumahnya dan ukur
dimensinya."
"Iya, aku mengerti."
Saat aku mengangguk, Horaguchi-san di seberang meja
berkomentar,
"Wah. Meskipun aku sudah tahu, ternyata Kut-tsu
benar-benar sudah bekerja sebagai profesional, ya."
Dia terlihat kagum. Memang benar, ini pertama kalinya
Horaguchi-san dan Seika-san melihat proses di mana klien benar-benar datang dan
Kousei langsung menuju lokasi.
"Kousei……
keren sekali……!"
Seika-san
memujiku dengan wajah yang terpesona.
Aku
jadi malu dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"……Nanti kirimkan detailnya padaku. Termasuk
namanya."
"Oke. Kalau begitu, ayo kita pergi."
Seika-san dan yang lain mengangguk. Waktunya bubar.
Kami berdiri mengikuti Paman yang membawa bon
pembayaran.
Rumah Paman berada satu stasiun dari Sungai Sawami. Kalau
dibilang bengkel kedua keluarga Kutsuzawa sih berlebihan, tapi mereka memang
melakukan produksi berbasis plastik.
Setelah mengantarnya sampai di sana dengan selamat, aku
dan Seika-san pun pulang. Omong-omong, karena tidak enak menyuruh Horaguchi-san
turun di tengah jalan, kami berpisah di dalam kereta.
"Wah, tidak disangka pekerjaan datang dari jalur
yang tak terduga."
"Iya. Apalagi furnitur ramah lansia dan alat
bantu perawatan seperti itu baru mulai kami kerjakan juga."
"Oh, ya? Berarti itu seperti pucuk dicinta ulam pun
tiba, ya."
Aku mengangguk.
Di bawah langit senja, apartemen Seika-san mulai terlihat
dari kejauhan.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok."
"Iya. Setelah sekolah, mari kita pergi bersama
Paman."
Seika-san juga ikut. Horaguchi-san sepertinya tidak bisa
karena ada urusan.
Kami berpisah hari itu…… dan keesokan harinya setelah
sekolah, kami menuju depan stasiun.
Paman
sudah menunggu, jadi kami bergabung dan pergi ke rumah klien. Untungnya dekat
dengan stasiun, jadi kami sampai sebelum Paman mulai mengeluh sakit.
Rumah
yang agak tua. Ada papan nama tergantung di pilar gerbang batu. Tertulis
"Noda".
Menggantikan
Paman yang sepertinya sulit untuk membungkuk, aku menekan bel di bawah papan
nama. Modelnya cukup tua, sepertinya tidak ada fungsi monitor.
"……"
Setelah
menunggu sebentar,
"Iya, siapa ya?"
Suara seorang wanita terdengar.
"Kami dari Kutsuzawa Manufacturing. Kami datang
karena ada permintaan pembuatan alat."
"Ah, ya ya. Mohon tunggu sebentar."
Telepon terputus, satu menit, dua menit berlalu. Pintu
geser depan terbuka. Sosok yang mengintip dari dalam adalah seorang nenek
berambut putih. Usianya mungkin mendekati 80 tahun.
"Ah, aduh. Maaf ya, sudah menyusahkan sampai datang
ke sini."
Noda-san tersenyum lembut pada Paman. Kemudian, dia
melihat aku dan Seika-san, lalu tersenyum dengan cara yang sama.
"Ayo, silakan masuk."
Noda-san membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah. Kami
pun ikut masuk. Kami dibawa ke ruang tamu,
"Sekarang, saya buatkan teh dulu, ya."
"Ah,
tidak perlu repot-repot."
Ini bukan sekadar basa-basi, aku benar-benar tidak
enak. Meski di dalam rumah, dia memakai tongkat dan terlihat
susah berjalan.
"Kemarin saya agak ceroboh…… terkena heatstroke,
sampai jatuh terhuyung-huyung."
Nenek…… kurasa dia sengaja bersikap ceria agar kami tidak
khawatir saat melihat ekspresi aku dan Seika-san. Dia orang yang baik.
……Tunggu,
sepertinya aku pernah mendengar kejadian cedera itu baru-baru ini. Seika-san
pun tampak terkejut. Tepat saat itu, terdengar suara pintu geser depan terbuka.
"Nenek, apa ada orang datang?"
Suara itu……
Terdengar langkah kaki yang ringan. Orang yang masuk
ke ruang tamu adalah,
"Mi-Miyasaka!? Hamamura-san juga!?"
"Mizoguchi!?"
"Kutsuzawa-kun juga!"
Mereka berdua terbelalak, kurasa wajah kami pun sama
terkejutnya.
"Apa? Apa kalian kenal dengan cucu saya?"
Paman bertanya dengan suara santai.
"Emm…… kami teman sekelas, Miyasaka dan Noda……"
"Noda itu nama gadis Mamaku."
Miyasaka sendiri yang menjawab. Begitu ya, ternyata
kasusnya seperti itu. Dunia ini sempit sekali. Atau Sungai Sawami yang terlalu
kecil? Dan Miyasaka memanggil ibunya dengan sebutan "Mama".
"Kami datang berdua dengan Shu-chan untuk melihat
kondisi Nenek."
"Lalu…… tidak disangka, kenapa kalian sampai di
sini."
Sepertinya Miyasaka masih merasa bingung.
Seika-san menjelaskan tujuan kami datang secara singkat.
Ternyata mereka berdua sudah mendengar kalau "hari ini akan ada tukang
furnitur datang", jadi mereka tidak terlalu terkejut akan hal itu.
"……Begitu ya. Tidak disangka, paman yang terkadang
ditemui di tukang urut itu adalah Wakil Presiden Kutsuzawa Manufacturing."
Hamamura-san pasti terkejut dengan betapa sempitnya
Sungai Sawami, sama sepertiku.
Setelah itu, kami meminum teh buatan Hamamura-san dan
mulai mengukur dimensi. Kamar tidur Nenek agak sempit, jadi benar saja kalau
barang produksi pabrikan akan terlihat mengganggu. Kami
mengukur panjang tangannya dan menggambar sketsa desain dengan cepat. Semua
orang kecuali Paman ikut mengintip desainku.
"Keahlianmu memang luar biasa, ya."
Hamamura-san memuji mewakili yang lain, tapi aku
merasa tidak melakukan sesuatu yang hebat, jadi aku merasa agak malu.
"……Kalau begitu, kami akan buatkan dengan ukuran
ini."
Setelah mendapat konfirmasi akhir dari Nenek, dia
menjawab dengan senyum lembut, "Tolong ya." Kaki dan pinggangnya
sepertinya sudah melemah sejak sebelum jatuh, jadi aku ingin membuatnya sekokoh
mungkin agar bisa digunakan bahkan setelah dia pulih.
Aku menyimpan desainnya dan melirik Paman dan
Seika-san. Saatnya berpamitan. Saat kami berdiri,
"Kalau begitu, kami pamit dulu. Terima kasih
banyak."
Paman menundukkan kepala, dan aku pun mengikuti.
"Soal produknya…… Kousei, kira-kira kapan
selesai?"
Paman bertanya, jadi aku berpikir sebentar.
Untungnya, saat ini tidak ada proyek lain yang sedang kukerjakan……
"Mungkin sampai akhir pekan."
Saat aku menjawab begitu, Nenek tertawa dengan
senang.
Setelah itu, Noda-san ingin mengantar kami sampai
depan, tapi karena tidak tega, kami memintanya untuk cukup berpamitan di ruang
tamu. Kami membuka pintu geser dan keluar.
Aku mengangguk kecil pada Hamamura-san dan
mengarahkan pandangan sekilas pada Miyasaka. Itu sudah cukup sebagai salam,
lalu aku memunggungi rumah keluarga Noda……
"Ah……!"
Miyasaka berseru. Meski hanya suara tunggal, suaranya
bergema cukup keras, membuat semua orang berhenti bergerak. Saat aku menoleh,
mata kami bertemu langsung. Artinya, dia sedang menatapku.
"……"
"……"
Kami saling memandang cukup lama. Lalu secara
tiba-tiba, Miyasaka mengalihkan pandangan dariku. Tampak seolah ada sesuatu
yang mengganjal atau sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"…………"
Berbagai imajinasi berkelebat di kepalaku. Hal yang
ingin dia katakan atau pikirkan tentang diriku.
Mungkin saja kami akan berselisih lagi. Mungkin aku
akan merasa tidak enak, atau membuatnya merasa tidak enak. Apakah
karena ketakutan itu Miyasaka memilih diam?
Namun setelah berpikir panjang,
"……Paman, Seika-san. Silakan jalan duluan."
Tanpa sadar aku mengatakan hal itu. Hanya insting…… tapi aku merasa sekarang adalah titik baliknya. Dan aku harus memilih untuk
melangkah masuk. Apalagi setelah aku berceramah panjang lebar, aku tidak bisa
kembali menjadi pengamat dalam masalah ini.
"K-Kousei……"
Seika-san menatapku dengan cemas. Bagaimanapun, dia
adalah lawan yang sudah sering berselisih denganku, dan kami bukanlah teman.
Dia pasti khawatir kalau kami berdua saja, masalah lain akan muncul. Tapi, aku
bukan lagi orang lemah yang hanya bisa menerima apa kata orang. Saat aku
mengisyaratkan dengan mata bahwa "Aku baik-baik saja",
"…………Aku mengerti. Paman, ayo jalan duluan."
Dia menyerahkan keputusan ini padaku.
Paman mungkin juga merasa penasaran, tapi dia tidak
banyak bicara dan meninggalkan rumah keluarga Noda bersama Seika-san.
"……"
"……"
"……"
Hanya aku, Miyasaka, dan Hamamura-san yang tersisa.
Sejenak aku berpikir apakah harus meminta Hamamura-san keluar, tapi…… saat itu
aku melihat dia menggenggam tangan Miyasaka. Miyasaka pun tidak menolak, bahkan
membalas genggamannya. Begitu ya, mungkin ini kondisi yang sama dengan aku dan
Seika-san saat menghadapi trauma.
Aku menarik napas dalam-dalam,
"……Ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku,
kan?"
Aku memulainya lebih dulu.
Miyasaka mengangguk pelan sambil membuang muka dariku.
"Aku juga………… ingin melakukan………… sesuatu."
Suaranya
sangat tipis dan terbata-bata. Tidak terbayangkan dari Miyasaka yang dulu
sombong. Tapi, "ingin melakukan sesuatu" itu…… agak kurang jelas. Aku
menatap wajah Hamamura-san, tapi dia tidak berniat membuka mulut. Hanya matanya
yang berkata "tolong dengarkan dia". Jadi aku menunggu dengan sabar.
"…………Saat membuat alat bantu itu…… bolehkah aku…… ikut
membantu."
Ah, begitu ya.
"Aku rasa kamu sudah dengar dari Riko…… ini
salahku…… karena aku…… bodoh."
Suaranya
bergetar. Aku melihat Hamamura-san mendekatkan tubuhnya padanya.
"……"
Aku
membeku karena tidak tahu harus bilang apa. Miyasaka yang itu, dengan jujur
mengakui kesalahannya dan menyesal. Benar-benar seperti orang yang
berbeda.
Lalu, sepertinya dia salah menangkap maksud diamku,
"……M-maaf. Dulu aku……"
Karena dia meminta maaf, aku makin terkejut dan membeku.
Tapi di dalam kepalaku, aku melengkapi maksud Miyasaka yang terbata-bata itu.
Intinya, dia mengira aku diam karena marah. Memang benar
aku benci dengan perkataannya yang kasar waktu itu…… tapi aku sudah
membalasnya, dan aku tidak menyimpan dendam apa-apa.
"Tidak, bukan begitu. Maksudmu, kamu ingin membantu
membuat alat bantu itu…… kan?"
Saat aku bertanya begitu, Miyasaka tampak lega.
"A-ah, ya. Aku tahu ini permintaan yang berat,
tapi…… aku ingin…… aku ingin melakukan sesuatu."
Ada
ketulusan dalam suaranya.
Tiba-tiba
aku teringat…… saat aku mengungkapkan perasaanku pada Seihide-san.
Yah,
memang sulit membandingkan diriku dengan seseorang yang punya pengaruh di dunia
hiburan, tapi terlepas dari itu, meminta maaf dan memohon sesuatu pada orang
yang pernah bermasalah dengan kita di masa lalu…… adalah hal yang berat.
"……"
Tidak
disangka. Tidak disangka aku akan menjadi bos terakhir bagi seseorang. Hidup
ini memang aneh, pikirku di sudut pikiran. Tapi untuk saat ini,
"…………Boleh saja. Aku tidak bisa membiarkanmu
melakukan pemotongan kayu, tapi aku akan mengajarimu pengecatan akhirnya."
Aku memberitahunya. Itu adalah langkah yang tidak
membutuhkan keahlian khusus.
"Agar kayu tetap awet, cat adalah hal yang wajib.
Ini bukan pekerjaan yang membutuhkan keahlian tingkat tinggi, tapi aku ingin
kau melakukannya dengan sabar dan teliti."
Saat aku menjelaskan kepentingannya,
"Bisa?"
Saat aku bertanya begitu, Miyasaka mengangguk. Ada
kekuatan di matanya. Sepertinya dia bisa fokus mengerjakannya selama
berjam-jam.
"Kalau begitu, silakan. Aku akan kabari jadwalnya
nanti."
Setelah mengatakan itu, aku memunggungi mereka.
"……Terima kasih banyak, Kutsuzawa-kun."
Hanya itu yang dikatakan Hamamura-san.
Aku merasakan keberadaannya yang seolah menyokong
Miyasaka, tapi aku tidak menoleh.
Yah, ini bukan soal belas kasihan, tapi aku juga baru
saja mengalami pertentangan yang menghabiskan tenaga. Sosok seperti itu tidak
ingin dilihat oleh orang lain selain keluarganya.
……Sebaliknya, aku merasa Hamamura-san sudah sepenuhnya
menjadi keluarga bagi Miyasaka, sosok yang sangat berharga baginya. Itulah yang
kupikirkan.
☆☆☆
Aku mendengar akhir dari cerita itu dari Kousei yang
menyusul belakangan.
Sungguh mengejutkan bahwa Miyasaka meminta maaf pada
Kousei, tapi itu adalah bukti bahwa dia benar-benar berusaha untuk berubah.
Benar-benar perubahan yang luar biasa.
"Apa pembicaraannya sudah selesai?"
Paman bertanya dengan lembut. Aku terkejut melihat betapa
perhatiannya dia dengan menjauh agar tidak menguping urusan Miyasaka.
"Ya. Akhirnya kita sepakat kalau cucu dari nenek itu
yang akan membantu proses pengecatan terakhir."
Kousei memberitahukan intinya saja tanpa membahas
privasi. Paman mengangguk dengan ramah.
Tepat saat itu, sebuah mobil masuk ke area bundaran
stasiun dan membunyikan klakson dengan pelan.
"Ah,
jemputan sudah datang. Itu istriku."
Di
kursi kemudi duduk seorang wanita yang sangat cantik. Sekilas,
dia tampak muda seolah baru berusia seumuran putrinya. Dia menunduk hormat pada
kami, dan kami pun membalasnya.
……Ngomong-ngomong, ini cerita yang kudengar dari Haru-san
nanti.
Keluarga Kutsuzawa sepertinya secara berkala melahirkan
"anak-anak dengan selera unik", dan konon ada mitos bahwa anak-anak
seperti itu entah kenapa selalu menikah dengan orang yang sangat cantik.
Kousei mungkin termasuk tipe itu, jadi meskipun agak aneh
membicarakan istri cantik sendiri, aku berharap bisa ketularan
keberuntungannya.
"Kalau begitu, kalian berdua. Terima kasih,
ya."
Paman melangkah menuju bundaran. Lalu, langkahnya
terhenti.
"Oh iya, hampir lupa. Aku membawa camilan sebagai
ucapan terima kasih. Makanlah berdua."
Paman mengaduk-aduk tasnya dan mengeluarkan kantong
plastik. Kousei menerimanya, tapi wajahnya sulit diartikan. Apa ini…… camilan yang tidak
disukai Kousei?
"Sampai jumpa. Sampaikan salamku untuk orang
tuamu."
Orang tua Kousei adalah kakak kandung Paman, seharusnya
dia bisa bicara sendiri, kan?
Paman mengangkat tangan sedikit sebagai perpisahan
sebelum masuk ke kursi penumpang mobil.
Dia sempat meringis saat membungkuk, sepertinya
pinggangnya masih bermasalah. Mengingat penyebabnya, aku jadi agak sulit untuk
bersimpati.
"Ayo kita pulang juga."
"Ya."
Sambil mulai berjalan, aku terus melirik kantong
plastik yang dibawa Kousei.
"Ah, yang ini? Rasanya tidak enak, lho."
Ternyata benar tidak enak. Lagi pula, dia sampai tahu
isinya apa.
Kousei membuka kantong tersebut dan mengeluarkan
bungkusnya.
Di tengah
kemasannya ada karakter jagung yang memiliki tangan dan kaki sedang memegang
tombak bambu.
Desainnya benar-benar aneh.
Di sekelilingnya ada gambar manusia jagung lain yang
melarikan diri membelakangi si Tombak Bambu.
"Benar
saja, ternyata Shingari Corn."
"Shingari……
Corn……"
Gawat.
Camilan apa ini? Aku belum pernah melihatnya. Di mana mereka menjualnya?
"Ini adalah 'Pertempuran Mundur di Titik Terakhir:
Rasa Kepahitan Hari Itu'."
Hari itu hari apa, sih?
Kousei membukakan bungkusnya. Di dalamnya ada sekitar
empat kemasan kecil. Dia memberiku satu. Gambarnya sama persis dengan
bungkus yang besar.
"……"
Aku membukanya dalam diam. Tidak ada bau aneh, kurasa
aman. Aku mengambil
satu biji. Warnanya kuning pucat seperti camilan jagung biasa. Tapi, ada bubuk
misterius yang menaburinya.
"Ini
aman dimakan, kan?"
"Ya.
Aku sudah sering dipaksa mencicipinya."
Kalau begitu, baiklah……
Aku memasukkannya ke mulut. Gigitan pertama terasa
seperti camilan rasa plum, tapi kemudian rasa pahit misterius menyusul. Asam
dan pahit. Ah, inilah rupanya "rasa kepahitan".
"Hmm~"
Tidak sampai harus dimuntahkan, tapi.
"Benar-benar terasa tidak enak, kan?"
Ah, ya, seperti itulah. Tidak enak dengan konsisten.
Bukan karena rasanya aneh, tapi justru karena kombinasi bahan-bahannya memang
dirancang untuk jadi tidak enak.
"Sepertinya camilan ini dikembangkan khusus
sebagai hukuman dalam game…… tapi tidak laku. Paman membelinya secara pribadi
dari produsen yang memproduksinya dalam skala kecil."
"Kenapa Paman terus membelinya?"
"Bagi Paman, rasanya enak."
Serius? Selera makannya juga aneh?
Entahlah, bagian dirinya yang tampak seperti orang normal
justru membuatku merasa "sayang sekali", tapi akarnya memang
kegilaan. Bagaimana Paman bisa bertahan hidup sampai usia itu, ya?
Ya sudahlah, aku menyimpan sisa bungkus Shingari Corn
itu ke dalam tas. Aku harus memberikannya pada Aine yang bodoh itu untuk
dimakan.
Dan mungkin Hina juga untuk eksperimen. Aku penasaran,
mana yang lebih hebat: jangkauan makan Hina yang luas, atau rasa tidak enak
yang konsisten ini. Aku jadi tidak sabar.
Mulai hari berikutnya, Kousei mulai mengerjakan alat
bantu itu. Dia tampak merasa bersalah karena waktunya denganku jadi berkurang,
tapi aku menenangkannya dan memintanya untuk tidak memikirkannya. Bagiku juga,
urusan nenek itu harus diprioritaskan.
Setelah bertanya pada Hamamura-san lewat LINE…… ternyata
keluarga Miyasaka adalah pasangan pekerja, jadi Miyasaka sering dirawat oleh
neneknya sejak kecil.
Dilihat
dari usianya sekarang, dia pasti cucu yang lahir saat orang tuanya sudah
berumur, jadi neneknya pasti sangat menyayanginya. Untungnya, kasih sayang itu
tersampaikan pada Miyasaka. Sepertinya dia memang bisa kembali jadi orang baik.
"Untuk itu…… alat bantu ini adalah kuncinya."
Ujar
Kousei sambil memberi tanda pada kayu dengan pensil. Sambil merentangkan pita
pengukur dengan gerakan yang terampil, dia bertanya,
"Bagaimana
dengan Hamamura-san…… menurutmu?"
"Hmm. Aku tidak tahu persis perasaan Miyasaka,
tapi……"
Kurasa perasaannya pasti tidak buruk. Tapi mungkin,
Miyasaka tidak akan bisa melangkah maju sebelum menyelesaikan tanggung jawab
atas apa yang sudah dia perbuat.
"Yah, bagaimanapun juga, yang penting kerjakan dulu
alatnya."
"Benar juga."
Setelah itu, Kousei mulai fokus pada pekerjaannya. Kalau
sudah begitu, aku jadi merasa tidak enak karena tidak punya pekerjaan di dalam
bengkel.
Meskipun karyawan lain sedang fokus di meja masing-masing
dan sebenarnya tidak memperhatikanku.
Aku diam-diam keluar dan pergi ke arah rumah. Aku sempat
berpikir untuk menunggu sampai Kousei selesai, tapi dia pasti malah jadi tidak
fokus. Lebih baik aku pulang.
"Lagipula, mungkin lebih baik membiarkannya fokus
untuk sementara."
Lagipula hanya beberapa hari. Meski sedikit kesepian, aku
akan mengisi ulang energi cintaku saat berangkat-pulang sekolah atau jam
istirahat nanti.
Aku mengirim pesan LINE pada Kousei bahwa aku pulang
duluan. Dilihat dari situasinya, kurasa dia baru akan melihat pesanku setelah
selesai bekerja.
★★★
Dua hari berlalu. Sambil membagi waktu dengan tugas
sekolah dan lain-lain, pengerjaan dilakukan dengan super cepat…… dan akhirnya
bodi utamanya selesai.
"Fiuh. Selesai."
Melelahkan. Tapi di saat yang sama, ada rasa puas yang
menyenangkan.
"Kerja bagus. Hasilnya bagus sekali."
Karena prosesnya sudah hampir selesai, aku meminta
Seika-san untuk menemaniku. Bengkel sudah tutup, jadi tidak ada orang lain
selain kami.
Seika-san menyodorkan sebotol teh oolong. Aku menerimanya
dan meminumnya sampai habis. Aku tidak menyadarinya saat sedang bekerja, tapi
ternyata tenggorokanku sangat kering.
"Kousei, jangan sampai jatuh sakit karena heatstroke,
ya?"
"Ahaha. Di sini ada AC, jadi tenang saja……
mungkin."
Melihat ekspresi Seika-san yang tampak tidak yakin dengan
jawabanku, dia mengulurkan tangan. Dia mengambil handuk yang melilit
di kepalaku.
"Rambutmu jadi berantakan."
Sambil tertawa kecil, dia mengacak-acak rambutku.
"Aku akan mengubahnya jadi gaya Miyasaka."
Seika-san mulai mengumpulkan rambutku ke tengah untuk
mencoba membuat gaya bowl cut.
"J-jangan! Aku akan panggil polisi!"
"Polisi, katanya!"
Kami bercanda. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir
kali kami melakukan ini. Aku kemudian memeluk Seika-san dari depan.
"Aku menyelesaikannya dalam dua hari."
"Ya, terima kasih. Tapi aku kesepian."
Apakah aku harus meminta maaf? Pembuatan alat ini
dilakukan atas kesepakatan kami berdua. Tapi, perasaan kesepian itu memang
nyata.
"Aku juga. Padahal kita tidak benar-benar tidak bisa
bertemu selama dua hari ini."
Pipi lembutku dibungkus dengan kedua tangannya, lalu dia
menciumku dengan lembut.
"Benar-benar pasangan yang bucin, ya."
"Memang. Sekolah dan jalan menuju sekolah saja
tidak cukup bagiku."
Meski hubungan kami sudah diketahui orang lain, kami
tetap bersikap alami, tapi tetap harus tahu batasan norma. Ciuman seperti ini
atau bermesraan lebih dari itu hanya bisa dilakukan saat kami berdua saja.
Seakan berat untuk berpisah, Seika-san mencubit pipiku
dengan gemas.
"……Pokoknya, besok giliran Miyasaka, ya."
"Ya. Tapi karena harus menemani Nenek, dan supaya
tidak mengganggu pekerja pabrik yang lain, aku harus mengatur waktunya dengan
baik……"
Ada banyak kendala, ya. Kalau dilihat dari situasinya,
penyelesaian akhir mungkin baru akan rampung di akhir pekan.
Selama periode itu…… yah, Miyasaka bukan anak perempuan,
kurasa dia akan baik-baik saja meski pulang sedikit terlambat. Kalau sampai dia diganggu preman
dan mengalami nasib sial, ya anggap saja hari itu sedang kurang beruntung.
"Emm.
Menggunakan mesin sander sepertinya terlalu berisiko, jadi aku akan
siapkan ampelas tangan dan cat…… dan aku juga harus membuatkan panduan
tertulis."
Saat
aku sedang berpikir keras sambil memegang dagu, Seika-san tertawa kecil.
"Eh? Apa aku salah bicara?"
"Bukan, bukan begitu…… aku cuma merasa Kousei itu
benar-benar baik."
"Eh?"
"Soalnya,
orang itu bukannya pernah menyerangmu secara sepihak? Meskipun
alasannya demi Nenek dan Hamamura-san…… tetap saja, kau bisa begitu perhatian
pada orang lain."
Hmm, bagaimana ya.
"……Entahlah. Bagiku, bisa membuat orang berharga
tersenyum lewat karya adalah hal yang membahagiakan. Kalau aku bisa membantu
proses itu, aku sendiri juga senang."
Itulah tujuan utamaku. Lagipula, Miyasaka sudah meminta
maaf.
Dia menyesali masa lalunya dan berniat berubah.
Kalau begitu, aku tidak punya masalah lagi dengannya.
"Begitu, ya. Itu kan titik awal Kousei."
"Ya."
Figur Kururu-chan yang mempertemukanku dengan
Seika-san.
Aku ingin Miyasaka mengeluarkan kekuatan yang sama
seperti saat aku membuat figur itu untuk neneknya.
Dan jika aku bisa membantu, itu sudah cukup.
"Yah tapi…… kau memang baik, dan kau sekarang punya
ruang untuk menunjukkan kebaikan itu dengan alami."
Wah, hari ini aku terus dipuji. Tapi, perasaan tenang ini
sebagian besar juga karena hatiku sudah sangat terpenuhi sejak mendapatkan
pacar terbaik seperti dia.
"Apapun itu, mulai besok Miyasaka yang jadi bintang
utamanya. Sejauh mana dia bisa berusaha…… aku sendiri belum tahu."
"Tapi katanya tahap pengerjaannya tidak membutuhkan
keahlian khusus, kan?"
"Ya. Jadi, kurasa tidak akan sampai terjadi
kekacauan besar."
Kami berdua tertawa optimis.
Setelah itu, aku mengantar Seika-san ke apartemennya dan
tidur lebih awal malam itu.
☆☆☆
Kemarin malam kami tertawa bersama karena mengira
pekerjaan itu tidak butuh keahlian khusus dan tidak akan terjadi kekacauan,
tapi sekarang rasanya itu seperti kejadian yang sudah sangat lama sekali……
"Ah, tidak, tidak! Terlalu banyak dikikis! Cukup
haluskan permukaannya saja! Jangan sampai berlubang!"
Mungkin ini pertama kalinya aku mendengar Kousei
berteriak sekeras itu. Wajahnya benar-benar panik.
Dan Miyasaka yang jauh lebih panik,
"O-oh, begitu. Eh, jadi selanjutnya…… ah, uh,
catnya!"
"Tunggu, pakai wood filler dulu sebelum itu.
Ah, berbahaya!"
Kousei menarik Miyasaka tepat sebelum dia menendang
kaleng cat sampai tumpah.
Karena gerakan itu, Kousei tampak memeluk Miyasaka yang
bertubuh ramping dengan dada bidangnya yang terlatih.
"Fiuh! Fiuh!"
Yokokura-san yang datang untuk menonton langsung sampai
membuat kacamatanya berembun karena napasnya yang tertahan. Sepertinya sisi
"fujoshi"-nya terpancing.
Lagipula, situasi apa ini?
"Shu-chan…… sejak dulu memang kikuk."
Ah, iya. Aku sudah sadar akan hal itu.
"Lagipula, kau yang seperti itu beraninya
merendahkan Kousei?"
"Ugh……"
Mungkin karena tertusuk kebenaran yang telak, Miyasaka
tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dia tampak lemas, jadi Kousei menghela napas pelan untuk
mencairkan suasana.
"Sudahlah, tenang dulu. Ini bukan pekerjaan yang
sulit, kok."
Paman
mengucapkannya dengan suara yang sangat tenang. Hanya dengan itu, suasana di
tempat ini sedikit terasa lebih khidmat.
Kousei, meski
kelihatannya begitu, sepertinya nanti akan benar-benar bisa menjadi seorang
kepala perusahaan…… ah, tidak, rasanya itu terlalu dini untuk dipikirkan.
Setelah itu, Kousei terus mengawasi pekerjaan Miyasaka
dengan mata tajam. Meskipun kaleng-kaleng berisi cat sudah disingkirkan
jauh-jauh.
Yah, kalau sampai tumpah dalam jumlah sebanyak itu,
kerugiannya akan sangat besar dari sisi ekonomi maupun tenaga untuk
membersihkannya.
"Rencananya, hari ini dan besok kita selesaikan
pengamplasan dan penambalan, lalu lusa pengecatan dasar. Setelah itu baru
pengecatan akhir dan selesai."
Begitu Kousei menyampaikan jadwalnya lagi, aku bisa
melihat lengan Miyasaka menegang.
Sepertinya dia merasa terbebani dan ingin segera
menyelesaikan proses pengamplasan.
"……Karena boleh bekerja sampai hari Sabtu dan
Minggu, mari kita susun ulang jadwalnya sampai tahap itu saja."
Kousei sepertinya memutuskan untuk melonggarkan
jadwalnya. Yah, melihat kondisi Miyasaka yang seperti itu, memang seharusnya
begitu.
Dia menatap ke arah kami dengan alis bertaut, tampak
merasa bersalah. Yah, kalau akhir pekan tersita, dia jadi tidak bisa kencan.
Aku mengangkat tangan sebagai isyarat agar dia tidak perlu memikirkannya.
"Entah kenapa…… aku minta maaf."
Miyasaka
meminta maaf dengan suara yang nyaris menghilang.
Mungkin
dia bisa merasakan banyak hal dari interaksi kami tadi. Saat aku sedang bingung
harus berkata apa, Kousei menyahut.
"Tidak apa-apa. Aku dan Seika-san…… kami pasti akan
mendukung siapa pun yang berusaha demi keluarganya."
Kalimatnya singkat, tapi diucapkan dengan tegas.
Aku merasa sangat lega karena dia secara alami juga
membawa-bawa perasaanku ke dalam dukungannya.
"Benar. Setelah urusan ini selesai, aku dan Kousei
bisa bermesraan kapan pun kami mau. Kamu fokus saja pada nenekmu."
Aku pun menambahkan.
"Aku mengerti…… terima kasih."
Dia benar-benar menjadi jujur seolah terlahir kembali.
Jika dia yang sekarang, aku pun bisa mendukungnya. Berusahalah, berbakti pada
nenekmu.
………………
…………
……
Sejak saat itu, Miyasaka bekerja dalam diam. Hamamura-san
memandanginya dengan kedua tangan terkatup seolah sedang berdoa.
Sangat lucu melihat perbandingannya dengan Kousei yang
ekspresi wajahnya begitu jujur menunjukkan kesan, "Payah sekali, ya."
Entah kenapa, Kousei juga tidak sungkan sedikit pun kalau
berhadapan dengan Miyasaka.
Ngomong-ngomong, Yokokura-san tadi pulang sambil berkata,
"Aku baru saja mendapatkan ide komposisi karya yang luar biasa. Aku pulang
untuk berkarya." Benar-benar, sebenarnya dia ke sini untuk apa, sih?
"……Baik,
sudah tidak ada masalah."
Kousei,
yang sedang berlutut sambil memeriksa apakah setiap sudut alat bantu itu sudah
teramplas dengan rata, memberikan pengumuman itu.
Seketika itu juga, Miyasaka menghela napas panjang dan
terduduk lemas. Mungkin itu reaksi setelah konsentrasinya terlepas.
"Kamu tidak apa-apa, Shu-chan?"
Hamamura-san duduk di sampingnya dan menatap wajah
Miyasaka.
"A,
ah……"
Jawabannya
terdengar sedikit canggung. Hmm? Ada yang aneh……
Tadi
dibilang jarak antara Miyasaka dan Hamamura-san merenggang karena dia merasa
bersalah, tapi kelihatannya bukan hanya itu.
"……"
Hamamura-san
sedang mengelus bahu Miyasaka.
Karena
perbuatannya yang lembut dan penuh kasih sayang itu, telinga Miyasaka
perlahan-lahan memerah.
"Ti, tidak usah. Aku tidak apa-apa……"
Dia menepis tangan Hamamura-san dengan lemah.
Perlakuan itu sangat lembut, jauh dari bayangan saat dia meneriaki gadis itu
sendirian pada peristiwa pembuntutan waktu itu. Ini…… bagaimana ya? Kelihatannya seperti anak laki-laki yang
malu saat dimanja oleh ibunya, atau mungkin upaya menutupi rasa malu di depan
orang yang disukainya…… tapi, mengulik hal itu sepertinya masih terlalu dini.
Untuk saat ini, aku hanya bilang,
"Miyasaka,
antarkan dia pulang, ya?"
"I,
iya, aku tahu. Lagipula, jarak rumah kami saja tidak sampai dua puluh
meter……"
Langsung diantar secara otomatis, ya?
Aku melirik jam dinding di pabrik. Sudah lewat pukul enam sore. Suhu
udara pasti sudah mulai mending.
"Baiklah, untuk hari ini sampai di sini saja, ya. Di
akhir tadi kamu sudah mulai terbiasa, dan pengecatannya terlihat bagus. Jangan
lupa trik yang sudah kamu dapatkan itu."
Kousei memberikan kata-kata penyemangat dan pujian.
Miyasaka tersenyum dengan wajah yang sedikit tersipu. Mungkin saja dua orang
ini bisa akrab dengan cara yang tidak terduga.
……Seandainya Yokokura-san masih di sini, pasti dia akan
sangat kegirangan.
★★★
Mulai hari berikutnya, pekerjaan dilakukan secara tatap
muka antara aku dan Miyasaka. Itu adalah hasil keputusan para gadis yang tidak
ingin mengganggu dengan ikut mengantar pulang.
Lagipula, bagi mereka, hanya menonton saja pasti
membosankan. Mungkin mereka juga menilai aku dan Miyasaka tidak akan terlibat
keributan lagi.
……Meski begitu, sampai sekarang aku masih merasakan hal
yang aneh.
Miyasaka, yang dulunya sering sekali mengganggu, kini
datang ke pabrik rumahku dan bekerja berdua saja denganku.
Seolah bisa membaca pikiranku, Miyasaka, yang mungkin
secara tidak sadar juga memikirkan situasi saat ini, bergumam.
"…………Sejujurnya, aku mengira kamu akan
menolak."
Dia bergumam begitu tanpa menghentikan gerakannya.
"……Setelah mendengar cerita tentang nenekmu, aku
jadi paham. Aku pun sudah cukup banyak membuat keluargaku khawatir dan bersusah
payah."
Aku tidak berniat mengatakan bahwa aku mengerti
perasaannya dengan mudah.
"Begitu, ya…… kamu juga pernah melalui banyak
hal, ya."
"Ya. Kalau hidup, pasti semua orang punya masalahnya
masing-masing. Karena punya banyak masalah itulah…… kita bisa lebih peduli pada
masalah orang lain."
Bisa mendapatkan uluran tangan seperti sekarang pun,
karena aku pernah melalui banyak hal.
"…………Meski merasa kesal, sekarang aku jadi paham.
Alasan Mizoguchi memilih Kutsuzawa…… mungkin bukan hanya karena ikatan teman
masa kecil saja."
Topik
pembicaraannya agak melompat, tapi aku tidak menyanggah dan mengikuti alurnya.
"Mungkin
begitu. Posisi sebagai teman masa kecil memang bisa jadi sebuah keuntungan,
tapi kurasa itu saja tidak cukup jadi alasan untuk menghabiskan waktu bersama
ke depannya."
Kita
tidak boleh berpuas diri. Mungkin terdengar sombong, tapi figur Kururu-chan
hanyalah sebuah pemicu.
Seika-san
benar-benar melihat diriku yang sekarang, dan memilihku sebagai pendampingnya
di masa depan.
"Jadi,
bukan hanya soal penampilan luar, ya. Mempelajari fesyen, membuat gaya rambut
yang keren…… ternyata bukan itu intinya."
Ya,
kurasa begitu. Lagi pula, gaya rambutmu itu tidak terlalu keren, tahu?
"Kamu yang bertarung melawan para pria
pengganggu, dan aku yang lari. Kamu yang mencoba memperkaya hidup orang lain
lewat karya, dan aku yang hanya memikirkan diriku sendiri."
Tanpa sadar, Miyasaka sudah benar-benar menghentikan
pekerjaannya. Bahunya sedikit bergetar.
"……Benar kata Kutsuzawa. Yang kulihat saat itu
bukanlah sosok Mizoguchi sebagai individu, melainkan status hanya untuk
menghiasi diriku yang tidak punya apa-apa. Aku hanya peduli pada status
sosial……"
"Miyasaka……"
"Pada akhirnya aku hanya dimanfaatkan, bahkan sampai
membuat Riko dan nenek kesulitan……"
Miyasaka terdiam karena tidak mampu melanjutkan
kata-katanya.
"Payah…… benar-benar…… aku ini payah sekali."
"……"
Pengakuan itu terdengar sangat tiba-tiba…… kurasa
dia belum pernah mengatakannya pada siapa pun. Seharusnya dia tidak ingin
menunjukkan kelemahannya di depanku, tapi setelah mulai bicara, kata-katanya
mengalir deras seperti bendungan yang jebol. Ini adalah perasaan yang juga aku
kenali.
Namun, entah bagaimana…… rasanya masih terlalu dini untuk
bersedih.
"Belum. Belum ada yang berakhir."
"Eh?"
"Kamu sudah membayar biaya pelajaran yang mahal.
Kamu sudah membuat
orang-orang berharga kesulitan. Tapi, belum berakhir. Tidak ada
seorang pun yang meninggalkanmu, kan?"
Begitu. Mereka belum ditinggalkan oleh orang-orang
berharga. Karena itu.
"Kamu masih bisa memulai segalanya dari awal. Dan untuk itulah, kamu sekarang sampai berkeringat deras."
Suaraku sendiri pun mulai bergetar.
"Itu…… memang benar, tapi…… setelah
sejauh ini, entah kenapa aku merasa ini hanya bentuk kepuasan diri
sendiri."
"Kepuasan
diri?"
"Ya,
bukankah begitu? Hasil buatanmu sendiri pasti jauh lebih bagus dan lebih
cepat."
Begitu,
memang benar. Namun,
"Itu
adalah sesuatu yang membahagiakan, lho. Benda yang dibuat oleh seseorang dengan
sepenuh hati."
"……"
"Aku mungkin bisa membuat benda yang presisi
seperti barang produksi massal…… tapi aku tidak bisa membuat benda ini dengan
perasaan yang lebih dalam darimu."
Tentu saja, aku bersimpati pada neneknya meski aku
orang asing. Namun, tidak mungkin aku bisa memahami perasaan mendalam orang
terdekatnya.
"Kualitasnya tidak sampai buruk hingga
memengaruhi daya tahan, dan tidak selambat itu sampai harus dikeluhkan. Maka,
kamu harus melakukannya. Hal kecil seperti itu tidaklah penting…… yang jauh
lebih penting adalah fakta bahwa kamu membuatnya dengan memikirkan
nenekmu."
Sama seperti figur Kururu-chan. Jika bisa membuat sesuatu
yang menyentuh hati seseorang meski hasilnya belum sempurna, itulah yang harus
dilakukan.
"……"
Miyasaka memunggungi aku dan tidak menoleh. Bahunya
sedikit gemetar.
"……Aku mau ke toilet sebentar."
Aku hanya mengatakan itu lalu berdiri. Aku tidak ke
toilet di dalam pabrik, melainkan sengaja kembali ke rumah untuk menghabiskan
waktu sebentar sebelum kembali. Saat aku kembali, Miyasaka sudah mulai bersiap
untuk langkah selanjutnya. Meski sudut matanya sedikit merah, aku tidak
menyinggungnya.
"Besok libur, bagaimana kalau kita selesaikan
hari ini?"
Aku memberikan saran itu. Kurasa tidak masalah jika malam
Jumat ini pulang sedikit lebih larut.
Miyasaka mengangguk, lalu kami pun…… terus bekerja meski
matahari sudah terbenam. Miyasaka yang terus menggerakkan tangannya dalam diam
tampak lupa akan rasa laparnya.
Lalu, saat jarum jam hampir menunjuk pukul delapan malam.
"Ah, selesai……"
"Ya. Biar aku periksa sebentar."
Aku memeriksa keseluruhannya. Tidak ada bagian yang belum
dicat, dan sepertinya tidak ada noda yang tidak rata.
"Tidak masalah. Selesai. Besok, mari kita serahkan
pada nenek."
Begitu mendengar ucapanku, mata Miyasaka terbuka lebar,
lalu dia mengangkat kedua tangannya ke arah langit. Kepalan tangannya yang erat
bergetar. Seandainya bukan di depanku, mungkin dia sudah berteriak.
"……Kalau begitu, besok aku akan minta Paman
untuk mengantar dengan mobil."
Dia tidak perlu khawatir soal transportasi. Begitu
aku mengatakannya, Miyasaka sedikit mengalihkan pandangannya dariku,
"A,
ah. Itu…… anu."
Setelah terbata-bata.
"……Terima kasih."
Suaranya sangat pelan, tapi jelas sampai ke telingaku.
Aku hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, lalu berbalik memunggunginya. Saat
aku membuka kunci pintu masuk pabrik,
"Eh, apa itu? Hamamura-san?"
Aku mendapati seseorang yang seharusnya tidak ada di
sini.
Mendengar ucapanku, Miyasaka pun bergegas lari ke arah
pintu.
"Riko! K, kenapa jam segini! Distrik Timur ini jalannya sepi dan gelap sekali!"
Distrikku secara halus dihina, tapi sudahlah, kita
kesampingkan dulu. Memang benar hari sudah gelap, dan membiarkan seorang gadis
berjalan sendirian bukanlah hal yang terpuji.
"Ti, tidak apa-apa. Aku diantar mobil oleh
ayahku."
Hamamura-san menepi sedikit dan menoleh ke belakang.
Benar saja, ada satu mobil yang terparkir di jalan depan pabrik. Aku
bisa melihat Miyasaka mengembuskan napas lega.
"Karena Shu-chan mengirim LINE bahwa hari ini akan
selesai……"
Entah dia datang untuk merayakan, atau ingin melihat
hasilnya secepat mungkin.
"J, jangan repot-repot datang…… besok kan bisa melihatnya."
Miyasaka menolaknya dengan kasar. Aku paham
perasaannya, sih.
Mungkin, gadis itu menunggu di dalam mobil sampai
sekarang, dan dia bergegas begitu melihatku membuka pintu. Dia benar-benar
gadis yang tulus.
"……Hamamura-san, mau melihatnya?"
Aku mencoba menawarkan untuk mengantarnya masuk ke
pabrik, tapi.
"Ah, tidak perlu. Aku hanya menjemput Shu-chan
saja. Seperti kata Shu-chan, aku menantikannya bersama nenek
besok."
Senyumnya natural, tidak terlihat dipaksakan.
Ternyata tujuannya benar-benar hanya untuk menjemput.
"Kalau begitu, aku kembali ke mobil dulu. Selesaikan
persiapannya, lalu pulang, ya?"
Hamamura-san menyapa Miyasaka lalu mengangguk padaku
sebelum kembali ke mobil. Sementara Miyasaka pergi untuk mengambil tasnya yang
diletakkan di sudut pabrik. Saat aku hendak mulai membereskan barang, aku
menyadari Miyasaka berhenti di tengah jalan.
"……Hei."
Dia menyapaku. Ada apa? Apakah dia lapar dan ingin aku
memberinya makan, atau hal semacam itu?
"Di sekolah kita, boleh kerja paruh waktu,
kan?"
"Eh? Kerja paruh waktu?"
Aku ditanya hal yang sama sekali tak terduga. Meski tidak
paham tujuannya,
"Eh, kalau sudah mengajukan izin seharusnya boleh.
Lagipula aku juga dianggap membantu usaha keluarga, dan Seika-san juga
melakukannya."
Aku menjawab seadanya.
"Kamu…… mau kerja paruh waktu?"
"…………A, aku juga sudah merepotkan Riko. Sesuatu,
lah."
Saat aku masih terpaku mendengar jawaban yang di luar
dugaan itu, telinga Miyasaka perlahan memerah.
"Aah, jadi ini soal hadiah, ya?"
Miyasaka mengangguk pelan.
"Lalu soal kerja paruh waktu…… ah, tapi. Bukankah
ada uang yang sudah dikembalikan oleh nenek?"
"I, itu…… tapi uang yang sekali pakai untuk gadis
lain, rasanya tidak pantas kalau……"
Waduh,
terasa sedikit menjijikkan.
Yah,
setidaknya aku mengerti maksudnya. Tidak, tunggu. Artinya, Miyasaka memang
benar-benar memperlakukan Hamamura-san sebagai seorang gadis.
"Kalau kamu mau, bagaimana kalau bekerja di pabrik
kedua yang dijalankan oleh pamanku?"
"Eh?"
"Mencari tempat kerja yang memperbolehkan siswa SMA
sekarang pasti susah…… pamanku juga sudah tahu situasinya, jadi kalau kamu
tidak bisa datang karena harus menemani nenek, dia pasti bisa memaklumi."
Lagi pula, paman juga sempat bilang dia kekurangan
tenaga karena tidak bisa mengangkat barang berat.
"Paman
yang itu? Yang suka camilan aneh?"
"Ah,
Shingari Corn? Bisa makan sepuasnya, lho."
"Bukan itu. Sebaliknya. Paman itu…… kalau bisa minta
tolong untuk tidak menyajikannya, sih."
Waduh.
Padahal aku berharap dia bisa menghabiskan stoknya. Yah, masuk akal juga.
"Ya,
aku akan bicara baik-baik pada paman."
"K, kalau begitu…… bisa tolong bantu?"
Selesai.
Karena
detailnya akan dibicarakan saat bertemu langsung besok, hari ini kami bubar.
☆☆☆
Keesokan harinya. Karena hari Sabtu, sejak pagi-pagi
sekali kami pergi ke rumah Noda-san.
Nenek sudah bangun dan menyambut kami dengan hangat. Saat
kami masuk ke ruang tamu,
"Nah, begitulah."
Dia duduk perlahan. Miyasaka menghampirinya. Di
tangannya, tentu saja, ada alat bantu yang sudah selesai dibuat. Sepertinya dia
berniat langsung memberikannya.
Saat Kousei mengangguk, Miyasaka membalas dengan anggukan
kecil. Entah kenapa, rasanya mereka berdua sudah sedikit lebih akrab.
Menurut Hamamura-san, mereka bekerja berdua sampai larut
malam kemarin untuk menyelesaikannya, jadi mungkin mereka sempat mengobrol saat
itu.
"N-Nenek."
Sambil menahan suaranya yang sedikit bergetar, Miyasaka
menyodorkan alat bantu itu dengan kedua tangan.
"Ah,
Shu-chan. Aku sudah dengar. Jadi, Shu-chan yang membuatnya untukku?"
"Bukan, aku……"
Miyasaka menatap Kousei dengan pandangan memohon bantuan.
"……Miyasaka-kun bekerja sangat keras. Memang
kecepatan kerjanya tidak cepat, tapi dia mengecatnya dengan sangat, sangat
hati-hati. Alat bantu itu pasti akan awet, kok."
Kurasa itu bukan sekadar kebohongan manis. Ini menyangkut
keselamatan pengguna, jadi Kousei pasti tidak mungkin berkompromi.
"Begitu, ya. Terima kasih, ya, Shu-chan. Terima
kasih banyak."
Nenek menggenggam tangan Miyasaka dengan kedua tangannya
sendiri, mengucapkan terima kasih dengan suara yang nyaris menangis.
"Bukan begitu, Nenek…… ini semua karena
kesalahanku."
Suara Miyasaka juga terdengar serak menahan tangis.
"……"
Aku memberikan kode mata kepada Kousei dan Paman. Mereka
membalas dengan anggukan. Rasanya kurang pas jika kami masih berada di sini.
Merasakan suasana itu, Hamamura-san dengan lembut memandu
kami ke ruangan sebelah. Setelah itu, hanya dia yang kembali ke ruang tamu
tadi.
……Beberapa saat kemudian, ketika suara isak tangis
terdengar dari ruangan sebelah, Kousei dengan sigap mengeraskan volume obrolan
kami agar tidak terdengar.
Sebagai sesama laki-laki, mungkin inilah yang disebut
solidaritas.
Sekitar sepuluh menit kemudian, kami berpamitan dari
rumah Noda-san. Miyasaka dan Hamamura-san menghilang ke ruangan lain, tapi
Nenek keluar untuk mengantar kami.
Saat itu, dia memegang alat bantunya dan mencoba
mengangkat tubuhnya dengan mantap.
"Berkat ini, rasanya jadi sedikit lebih
ringan."
Dia memberikan senyuman yang manis. Kemudian, dia
menggenggam tangan Kousei dan tanganku secara bergantian.
"Tolong berteman baik dengan Shugo, ya."
Ucapnya dengan nada memohon. Terasa sekali betapa dia
sangat mencintai Miyasaka. Tapi maaf saja, kami sampai baru-baru ini masih
saling bermusuhan, lho.
Saat aku bingung harus menjawab apa,
"Ngomong-ngomong, di sela-sela jadwal berobat
Noda-san, dia akan bekerja paruh waktu di tempat saya."
Entah karena Paman bisa membaca situasi atau hanya
kebetulan, dia mengalihkan pembicaraan dengan halus.
"Wah, benarkah begitu!?"
"Iya. Saya sendiri, selain menjalani perawatan,
tidak boleh melewatkan latihan kompetisi, jadi kurasa prosesnya akan memakan
waktu."
Padahal, bolos saja tidak apa-apa. Lagipula, bukannya Tekalympics
itu sendiri bisa dianggap sebagai cara untuk membolos dari hidup?
"Jadi, akan sangat membantu jika ada orang yang bisa
mendukung saya selama masa itu."
"Syukurlah kalau begitu. Tolong jaga cucu saya,
ya."
Seperti kami, Nenek juga menjabat tangan Paman dengan
erat. Aku baru dengar soal pekerjaan paruh waktu ini, tapi kalau di tempat
kerja milik kenalan, Nenek pasti merasa tenang.
"Kalau begitu, kami permisi dulu."
Menyusul salam Kousei, kami pun membungkuk dan
meninggalkan kediaman Noda.
Tepat saat itu, Miyasaka dan Hamamura-san keluar.
Miyasaka menunduk untuk menyembunyikan matanya yang kemerahan, sementara
Hamamura-san membimbingnya dengan lembut.
"……!"
Miyasaka tidak berkata apa-apa. Atau mungkin sekarang dia
memang kesulitan untuk merangkai kata, dia hanya menundukkan kepala dalam-dalam
dalam diam.
Miyasaka…… entah kenapa, dia benar-benar terlahir
kembali. Meskipun
aku pada dasarnya hanya orang luar, aku tahu dia baru saja melewati salah satu
persimpangan hidupnya. Tentu saja, ke jalan yang benar.
Dia berterima kasih pada Nenek, Hamamura-san, dan Kousei.
Mungkin, dia juga berterima kasih atas ceramahku saat festival olahraga dulu.
Saat itu dia tidak paham, tapi Miyasaka yang sekarang
pasti mengerti.
"……Miyasaka……"
Kousei sempat memanggil namanya sekali, namun dia menelan
sisa kata-katanya. Aku tidak tahu apa yang ingin dia katakan.
"Baiklah, kami permisi. Miyasaka-kun, nanti soal
detail syarat kerjanya akan kukirim via LINE."
Dan kenapa pula Paman ini sudah bertukar LINE dengan
Miyasaka? Skill komunikasi macam apa itu?
Meskipun ada banyak fakta yang mengganjal, akhirnya kami
benar-benar meninggalkan kediaman Noda.
Kami berpisah dengan Paman di depan stasiun, lalu
berjalan berdua kembali ke Pabrik Kutsuzawa.
Waktu menunjukkan hampir pukul sebelas siang. Tanda-tanda
musim gugur masih jauh, cuaca terasa panas seolah membakar punggung.
"Tapi yah, dengan ini masalah selesai, ya."
"Untuk urusan Miyasaka dan neneknya, kurasa
begitu."
Ucapnya dengan nada yang tersirat.
"……Setelah menabung uang dari kerja paruh waktu,
dia sepertinya ingin membelikan sesuatu untuk Hamamura-san."
"Oh! Benarkah!? Itu artinya……"
"Iya. Dia bersikeras ingin menggunakan uang yang
dia hasilkan sendiri dari bekerja, bukan uang yang dikembalikan oleh
neneknya."
Itu semangat yang bagus.
"Dia juga khawatir karena uang itu sempat
digunakan untuk gadis lain sebelumnya."
"Ah, sedikit menjijikkan, sih. Tapi yah…… itu
artinya dia memang sudah menganggap Hamamura-san sebagai seorang gadis."
"Iya. Aku juga berpikiran begitu."
Kalau begitu……
"Perasaan Hamamura-san……"
"Iya. Kurasa pasti akan terbalaskan."
Syukurlah kalau begitu. Aku tidak ingin melihat gadis
sebaik itu menangis. Lagipula, Miyasaka yang sudah terlahir kembali pasti akan
menghargainya mulai sekarang.
Paman juga bilang akan membayar gajinya setiap hari.
Artinya, kalau tidak membeli barang yang terlalu mahal…… hari besarnya pasti
sudah dekat.
"Cinta yang bersemi, ya."
Memang benar, perasaan yang akhirnya bersambut itu sangat
berharga. Padahal aku sok senior, tapi sebenarnya kami sendiri baru pacaran
sekitar sebulan yang lalu.
Saat aku berpikir begitu, ponselku bergetar. Ada
pesan masuk di LINE, saat kubuka.
『Shu-chan bilang, kalau uang gajinya sudah cair, kita akan
pergi makan! Ini namanya kencan, kan!?』
Pesan itu datang dari Hamamura-san, ditulis dengan
semangat tanpa basa-basi. Jarang sekali.
『Ya, kurasa begitu. Syukurlah, selamat berjuang, ya.』
Aku membalasnya dengan perasaan hangat.
『Iya! Ini semua berkat Mizoguchi-san dan Kutsuzawa-kun! Shu-chan yang lembut telah
kembali!』
Setelah
itu, dengan panik dia mengirim pesan tambahan.
『Terima
kasih banyak!!』
Karena terlalu semangat, sepertinya dia lupa menuliskan
ucapan terima kasih di pesan pertama tadi. Menggemaskan sekali. Aku ingat betul
saat-saat melakukan hal yang ceroboh seperti itu.
Kousei menatapku dengan rasa penasaran, jadi
kuperlihatkan layar obrolannya. Setelah membaca sekilas, dia pun tersenyum
lebar.
"Wah, entah kenapa kita ini……"
"Iya."
"Sudah
jadi Cupid, ya. Kita membuat orang tua kita kembali bersama…… dan
sekarang Hamamura-san juga sepertinya akan berhasil."
"Ah, benar juga."
Kousei mengembuskan napas kecil dari hidungnya.
"Meskipun kita masih pemula, karena kita yang
menjodohkan mereka, sebagai senior kita harus memberikan contoh."
"Ahaha. Seishuu-san dan Reika-san justru senior
kita, kan?"
"Memang, tapi faktanya mereka pernah merepotkan
kita."
Kita harus tetap percaya diri. Bahwa kita adalah pasangan
terkuat.
"……Kalau begitu, sebagai senior yang baik……"
Kousei menggantung kalimatnya, lalu merangkul pinggangku
dengan lembut.
"Bagaimana kalau besok kita pergi kencan untuk
merayakan satu bulan kita berpacaran?"
"Eh?"
"Memang bukan tepat satu bulan sekali, sih."
Senyumnya terlihat antara malu-malu dan getir. Tapi
memang benar, kami mulai pacaran awal Agustus, dan sekarang awal September.
Kami sibuk dengan awal semester dua, jadi jarang punya kesempatan untuk itu.
"Ya, itu ide bagus! Ayo pergi! Ayo kita pergi setiap
bulan!"
"Bukankah setiap bulan itu berlebihan?"
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Karena kita adalah
mercusuar bagi adik-adik kelas. Kita harus terus bermesraan
sebanyak-banyaknya."
"Tidak, ada batasannya juga……"
"Sudahlah, ayo cepat. Kita pikirkan mau ke mana
besok."
"Wah! Jangan lari tiba-tiba!"
Kousei yang tadi merangkul pinggangku kehilangan
keseimbangan. Namun, ekspresi terkejutnya segera berubah menjadi ekspresi
jahil. Sepertinya dia mau diajak bermain. Memang dia pacar tersayangku.
"Soal mau ke mana sih bisa diatur, tapi soal kado
itu yang sulit."
Ucapnya sambil tertawa. Tentu saja, aku tidak mungkin
meminta kado setiap bulan, tapi sesekali aku ingin menerima, dan sesekali ingin
memberi.
"Bagaimana kalau begini? Buatkan aku boneka Papa dan
Mama. Setelah itu Hina dan Ria. Terakhir, sekalian buatkan boneka Aine yang
bodoh itu juga."
"Ah, ide bagus. Tapi kalau setiap kali kita punya
teman baru lalu kubuatkan boneka……"
"Kamar tidurku bakal penuh."
Kami tertawa berdua. Membayangkan
tempat tidur yang tertimbun boneka terdengar sangat lucu.
Meskipun pada kenyataannya, mungkin teman kami tidak akan
bertambah secepat itu. Lagipula, kami pasti akan sibuk bermesraan berdua saja.
"Bagaimana kalau kita minta izin Hamamura-san dulu
untuk membuatnya?"
"Ide
bagus."
"Bagaimana
dengan Miyasaka?"
"Sepertinya
tidak perlu."
"Hahahaha!"
Kami
berdua berjalan menuju Pabrik Kutsuzawa sambil membicarakan hal-hal sepele
seperti itu. Jalan pulang ini, pasti akan kami lewati bersama
berkali-kali lagi di masa depan. Selama SMA, tentu saja, sampai lanjut ke
universitas yang sama, bahkan setelah Kousei mewarisi perusahaan…… selamanya,
selamanya.
Kousei merapatkan tubuhnya. Aku pun membalasnya dengan
mendekat dan merangkul lengannya.
Meskipun musim puncak musim panas sudah lewat, cuaca
masih terasa begitu panas. Namun, tidak ada pilihan bagi kami untuk berpisah.
"Kousei! Ayo kita selalu bersama selamanya!!"



Post a Comment