〈1〉
★★★
Suara dentuman
keras terdengar.
Diikuti oleh
pekikan panik seorang wanita, "Woaah!"
Aku menoleh dan
mendapati seorang wanita yang sedang menaiki sepeda hampir terjungkal bersama
kendaraannya.
Sepertinya dia
mencoba naik ke trotoar dari sudut yang miring, entah karena kehilangan
keseimbangan atau ban depannya yang selip. Situasinya tampak sangat gawat.
"Bahaya!"
pikirku.
Tubuhku bergerak
sendiri, dan aku berlari ke arah sepeda itu dengan kecepatan yang tidak mungkin
kulakukan dalam keadaan normal.
Aku memeluk
keranjang depan sepeda itu dan menariknya, berusaha memiringkannya ke arah
trotoar. Kaki wanita itu juga berhasil menapak, membuat sepedanya kembali
seimbang dan tegak.
"A-apa kamu
tidak apa-apa?"
"Makasih,
beneran ketolong banget! Ternyata Kutsuzawa-kun larinya kenceng juga, ya!"
Mendengar
suaranya yang penuh semangat, aku yang tadinya hanya fokus pada sepeda akhirnya
menoleh ke pemiliknya.
Riasan matanya
berkilau, mempertegas bentuk matanya yang tajam dan cantik meski tampak sedikit
galak.
Hidungnya mancung
dan rapi, sementara bibirnya dipoles lipstik merah muda yang tidak terlalu
mencolok.
Tiga
tindik barbel perak di telinganya memberikan kesan yang cukup agresif.
Ini pertama
kalinya aku melihat wajahnya sedekat ini, tapi kurasa dia salah satu anggota
grup gyaru di kelasku.
Namanya kalau
tidak salah...
"Doguchi-san,
ya?"
"Hah?"
Seketika, sang gyaru
itu mengangkat satu alisnya, berusaha mengintimidasiku.
Seram sekali.
"Aku
Mizoguchi Seika. Doguchi itu teman aku."
"Ah, begitu
ya. Ma-maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf."
Gawat.
Aku salah sebut
nama.
Hal-hal kecil
seperti ini sering kali jadi pemicu perundungan, seperti yang sering
diberitakan di TV dan internet.
Aku baru saja
masuk SMA, belum punya teman sama sekali.
Kalau sampai
harus berurusan dengan grup gyaru yang menduduki kasta tertinggi di
kelas, tamat sudah riwayat kehidupan sekolahku.
"Terus, kamu
itu..."
"Ayah, Ibu.
Maafkan anakmu ini yang harus pergi lebih dulu."
"Hah!? Kamu
mau mati?"
Suara Mizoguchi
yang terdengar sangat bingung membuatku terkejut.
Kalau
diperhatikan baik-baik, dia tidak memiliki tatapan licik yang lembap dan
menjijikkan seperti orang-orang yang biasanya melakukan perundungan.
"Enggak tahu
kenapa, tapi kamu lucu juga, ya... eh, bukan itu maksudnya. Karena aku sudah
kasih tahu namaku, setidaknya perkenalkan dirimu juga dong? Aku merasa jadi
orang bodoh kalau cuma aku yang sebut nama."
Ternyata
dia tipe orang yang memedulikan etika.
Memang
benar, sudah salah sebut nama, setelah dia memperkenalkan diri dan aku malah
pergi begitu saja, itu sungguh tidak sopan.
"Ehm, namaku
Kutsuzawa Kousei."
"Kou...
sei."
"Ah, kalau
kanjinya, 'Kou' dari kesehatan, dan 'Sei' dari hidup."
Terkadang ada
yang membacanya 'Yasuo', tapi sebenarnya aku cukup menyukai namaku ini.
Nama panggilannya
'Seika' juga terdengar bagus, meski aku sedikit penasaran dengan kanjinya.
Tapi kalau elite
loner sepertiku yang bertanya, mungkin akan dianggap menjijikkan olehnya.
Ugh. Cuma
karena bantu sedikit pas dia hampir jatuh, masa iya langsung mau panggil nama
depan? Menjijikkan! Yuk, kita bully saja dia, pikirku berandai-andai.
"Ayah, Ibu,
maafkan anakmu ini yang harus pergi lebih dulu."
"Kenapa dari
tadi kamu sedikit-sedikit mau mati sih?"
Mizoguchi
mengeluarkan suara kesal.
Tapi tentu saja
aku tidak bisa bilang kalau aku sedang terkena delusi ketakutan karena takut
di-bully olehnya.
Lagipula, tidak
ada gunanya lagi kita terus mengobrol.
Hal terbaik
adalah pergi sebelum aku memberikan kesan buruk.
Toh, aku tidak
mungkin memanggil nama depannya seumur hidupku.
"Ehm, kalau
begitu, aku duluan ya."
"Ah, iya.
Makasih ya sudah bantu."
Ternyata
Mizoguchi tidak semenakutkan yang kukira kalau diajak bicara.
Tapi ya sudahlah,
tidak masalah.
Lagipula,
kemungkinan besar kita tidak akan berurusan lagi setelah ini...
—Clank!
Suara aneh
membuatku menoleh.
Mizoguchi sedang
mencoba menjalankan sepedanya, tapi sepeda itu tertahan seolah-olah dipaku ke
tanah.
"Waduh, sial
banget. Kayaknya rantainya lepas!"
Ah, oke.
Lupakan apa yang
baru saja kupikirkan.
Sepertinya aku
masih harus berurusan dengannya.
"Itu... ehm,
perlu kubantu perbaiki?"
"Serius!?
Kamu bisa benerin?"
Dia
menatapku dengan mata berbinar-binar.
Aku memberikan
peringatan "mungkin" sebelum kembali ke sisinya.
Aku
menurunkan standar sepeda dan memeriksa kondisinya.
Rantai
berwarna hitam itu terlepas bersih dari roda belakang.
Aku
berdiri, memegang setang, dan mengubah operan gigi ke posisi satu.
Aku
mengeluarkan sarung tangan dari dalam tas dan memakainya.
Kemudian,
aku memasangkan rantai yang lepas itu ke gigi paling luar dan paling kecil di
roda belakang.
Aku
menarik bagian rantai yang kendur ke arah setang dan memasangkannya ke gigi
roda depan sampai benar-benar pas.
Dengan satu
tangan menarik rantai perlahan, tangan lainnya memutar pedal ke arah
berlawanan.
Krack-krack—suara putaran yang normal
terdengar.
Beres.
"Keren!
Kutsuzawa-kun, kamu dewa
ya!"
Kalau hal sekecil
ini saja sudah disebut dewa, semua bengkel sepeda di kota ini pasti sudah jadi
kuil.
"Eh,
boleh aku posting di Twister nggak?"
Saat kulihat,
ternyata sedari tadi Mizoguchi merekam videonya.
Jari-jarinya yang
dihiasi seni kuku berpola kelopak bunga tampak sibuk memainkan smartphone.
"Ehm..."
"Wajahmu
nggak kelihatan kok. Lagipula ini akun pribadi, jadi aman, lah."
Aku tidak tahu
apa yang membuat itu aman, tapi setelah dia mendesak dengan "Boleh
ya?", aku hanya bisa mengangguk.
Sudah
nasibnya kaum loner tidak bisa menolak kalau orang yang populer terus
mendesak.
Meskipun aku
merasa payah, yah, mungkin ini hanya akun untuk teman-temannya saja.
Yang merespons
pun pasti hanya teman-temannya.
Seharusnya tidak
akan terjadi apa-apa.
"Ah, ya
ampun. Salah lagi. Ya
sudahlah, aman kok."
Terdengar
seperti sesuatu yang sangat tidak tenang.
Tapi...
tidak, tidak, harusnya aman.
Lagipula,
video orang memperbaiki sepeda tidak mungkin jadi masalah, kan?
Aku benci
diriku yang penakut dan terlalu banyak berpikir ini.
Ya sudahlah.
Kali ini, saatnya
untuk benar-benar pergi.
"Kalau
begitu aku duluan. Rantainya sudah cukup tua, kalau ada waktu lebih baik
diganti saja."
Setelah
memberikan nasihat terakhir, aku langsung melenggang pergi dengan santai.
...Seharusnya
begitu.
"Rumah
Kutsuzawa-kun dekat?"
Ternyata jalan
pulang kami searah, dan Mizoguchi mengikutiku begitu saja.
Dia tampak
kesusahan mengayuh sepeda pelan-pelan atau menuntunnya agar sesuai dengan
langkah kakiku.
Kudengar pria
populer biasanya akan menyesuaikan langkahnya dengan kecepatan jalan wanita,
tapi itu bukan urusanku.
Sebenarnya, aku
mencoba memberitahu secara tersirat, "Kamu bisa duluan saja," tapi
Mizoguchi sama sekali tidak peka.
"Ehm, yah,
masih dalam jangkauan jalan kaki, sih."
Lagipula, ada apa
ini?
Apa dia
benar-benar mau mengikutiku sampai ke rumah?
Seram sekali!
Apa tujuannya?
Rumahku hanyalah
bengkel kecil.
Tidak ada
barang berharga, tidak ada yang menarik.
Apa dia
mau menggunakan kaki tangannya untuk mengincar tabungan atau uang sakuku yang
tak seberapa itu...
"Enak
ya. Aku sebenarnya mau pindah ke dekat sekolah juga, tapi semuanya serba
mendadak, jadi nggak sempat milih dengan tenang."
"Memangnya
kalau kamu bersuara sekali, dua puluh orang akan berkumpul?"
Kalau itu
terjadi, bengkel di rumahku pasti tidak akan tahan.
Padahal yang
bekerja di sana kebanyakan cuma kakek-kakek.
"Hah? Eh,
nggak butuh sebanyak itu, lah. Apartemenku kecil kok. Paling cuma empat
orang?"
"Empat
orang. Memangnya itu sudah cukup?"
"Ya, yah...
mereka semua kan berotot, jadi segitu cukup lah, ya?"
"Berotot!?"
"Kamu kaget
banget. Kenapa sih?"
"Ayah, Ibu,
maafkan anakmu ini yang harus per..."
"Itu sudah
cukup, ya!"
Mizoguchi
memotong kalimat andalanku.
Hening sejenak.
Pintu masuk gang
dari jalan raya besar sudah terlihat.
Itu adalah
kawasan perumahan tempat penduduk setempat tinggal.
Di bagian
dalamnya ada beberapa bengkel kecil yang berkumpul, dan salah satunya adalah
rumahku.
"Itu... aku
belok ke sana. Kalau begitu, permisi."
"Eh. Aku
belum pernah lewat sini. Ya habisnya, aku baru pindah pas masuk SMA, jadi belum
tahu banyak tempat di sini."
"Ehm."
Serius, orang
ini?
Dia benar-benar
mau ikut sampai ke depan rumah?
Jangan bercanda,
aku takut dia punya rencana aneh.
Apa yang harus
kulakukan?
Haruskah aku
menjebaknya?
Bilang
saja aku ada barang yang tertinggal di sekolah.
Ya, itu
ide bagus.
Saat aku
sedang berpikir,
"...Kayaknya
nggak enak kalau aku ikut sampai ke depan rumahmu. Di sini saja, deh. Makasih
ya buat hari ini, beneran terbantu banget."
Sebelum
aku sempat melaksanakan rencanaku, Mizoguchi sudah mengalah.
Apa
mungkin ekspresiku yang terlihat terganggu terbaca olehnya?
Jangan-jangan
ini akan jadi penyebab perundungan... sudahlah, cukup.
Membayangkan
masa depan negatif hanya akan membuat suasana hatiku buruk.
Akhirnya,
dia melambaikan tangan ke arah belakang sambil mengayuh sepedanya pulang.
"Capeknya."
Aku baru
saja berbicara cukup lama dengan tipe orang yang biasanya berusaha kuhindari
untuk sekadar bertatapan mata.
Aku ingin
cepat sampai di rumah dan beristirahat.
☆☆☆
Aku tidak
bermaksud menyombongkan diri, tapi di kelas, aku adalah salah satu orang yang
paling mencolok.
Bagaimanapun,
penampilanku sangat bagus.
Memanfaatkan
kelebihan itu, saat ini aku bekerja sebagai model pembaca.
Bahkan
ada agensi yang mengajakku jadi model profesional setelah lulus SMA.
Aku juga
berusaha keras untuk tetap cantik, mulai dari belajar make-up dan fashion.
Aku
menjaga bentuk tubuh agar tetap ideal.
Aku tipe
orang yang menjaga jarak dengan anak laki-laki, jadi tidak pernah ada gosip
aneh tentangku.
Maksudku,
aku bahkan belum pernah punya pacar.
Tapi, terlepas
dari pria atau wanita, biasanya selalu ada orang di sekitarku saat berada di
kelas.
'Populer'
mungkin bukan kata yang tepat, tapi ya begitulah kira-kira.
Aku tidak
berpikir atau menargetkan untuk membuat semua pria tergila-gila.
Tapi
hanya ada satu orang di kelas yang tidak pernah ada dalam ingatanku saat mata
kami bertemu.
Kutsuzawa
Kousei.
Padahal
aku baru tahu nama depannya hari ini.
Anak
laki-laki yang dikategorikan sebagai yanki (anak populer) di kelas
biasanya mencoba mendekatiku karena motif tersembunyi.
Atau
sekadar ingin status sebagai teman gyaru.
Bahkan
anak-anak yang dikategorikan sebagai loner (pendiam) juga terkadang
masih suka melirik-lirik, meski mereka terlihat menolak.
Tapi
hanya Kutsuzawa-kun yang benar-benar tidak peduli.
Saat jam
istirahat, dia selalu sibuk menulis sesuatu di buku catatannya dengan khusyuk.
Atau
mencari sesuatu di smartphone-nya.
Pada
dasarnya dia loner, tapi tidak ada aura kesedihan sedikit pun di
sekitarnya.
Rasanya
dia benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri.
Sekali
saja, aku pernah diam-diam lewat di belakangnya untuk melihat apa yang dia
tulis.
Itu luar
biasa.
Gambar
teknik—entah apa namanya—tergambar dengan sangat detail.
Cara dia
menambahkan garis-garis baru dengan presisi seperti mesin benar-benar terlihat
seperti sihir.
Sejak saat itu,
aku jadi sangat tertarik pada Kutsuzawa-kun.
Sebagai alasan,
aku bisa bilang sedang meneliti ekosistem pria yang tidak terpesona padaku
untuk mencari tahu penyebabnya.
Pekerjaanku tidak
secara langsung menuntutku untuk merayu pria.
Pembaca majalahku
hampir 100% wanita.
Tapi, mengingat
banyak pembaca yang ingin memikat seseorang, perspektif pria tidak boleh
diremehkan.
Jadi, ini adalah
penelitian dan riset.
Meskipun aku
sudah menyiapkan alasan pembenaran seperti itu, kurasa pada akhirnya aku
terpikat pada gambar teknik yang indah itu.
Aku terpikat pada
gerakan jari-jarinya yang lincah dan halus saat membuatnya.
Serta pada profil
sampingnya yang sama sekali tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya.
Di sana ada
sebuah dunia.
Dunia yang tidak
kuketahui.
Mungkin aku hanya
ingin melihatnya sedikit.
Karena itu...
"Akhirnya
sampai."
Setelah berpisah,
aku segera memarkir sepeda di pinggir jalan.
Aku diam-diam
mengikutinya dengan berjalan kaki, mencoba sneaking agar tidak ketahuan.
Hingga akhirnya
sampai di rumah Kutsuzawa-kun.
"Gila,
parah banget. Aku benar-benar jadi stalker."
Tidak ada
ruang untuk membela diri.
Kalau aku
diperiksa polisi sekarang, aku yakin akan terlihat sangat mencurigakan.
Tapi.
Aku juga merasa
senang bisa datang ke sini.
Rumah
Kutsuzawa-kun ternyata bengkel kecil.
Di papan nama
yang ujungnya berkarat kemerahan, tertulis besar "Bengkel Kutsuzawa",
dan di bawahnya ada nomor telepon.
Ada juga tulisan
yang menunjukkan layanan mereka, seperti pengerjaan kayu dan resin.
Di bawahnya lagi,
ada papan kayu gantung bertuliskan, "Menerima Pembuatan Furnitur
Kreatif".
〼? (Simbol kuno
untuk 'ada').
Tempat tinggalnya
sepertinya ada di sebelah bengkel, dan shutter bengkel itu sendiri masih
tertutup rapat.
Tapi
sepertinya ada pekerja di dalam, karena terdengar suara dentuman bernada tinggi
dari jendela yang terbuka.
Di lantai
dua rumahnya, saat aku mendongak, tampak bayangan orang bergerak di balik
tirai.
Apa dia
sedang berganti baju?
Tidak,
tidak.
Ini sudah
melewati batas stalker dan masuk ke kategori mesum.
Sudahlah, pulang
saja hari ini.
Kalau sampai
ketahuan Kutsuzawa-kun, aku pasti malu sampai mati.
Kalau itu sampai
terjadi, aku juga harus bilang: Ayah, Ibu, maafkan anakmu yang pergi lebih
dulu~ kan?
"Fufu."
Ternyata
mengobrol dengannya cukup menyenangkan juga.
"Kou... sei.
Kutsuzawa Kousei. Mungkinkah dia sebenarnya..."
★★★
Keesokan paginya,
saat aku sampai di sekolah, kelas sedang ramai.
Biasanya aku
tidak terlalu peduli, tapi entah mengapa hari ini aku punya firasat buruk.
Aku bertanya
kepada Yokokura-san, teman sebangku yang pendiam, apa yang terjadi.
"Katanya,
ada anak laki-laki yang tiba-tiba muncul di akun kerja Twister-nya
Mizoguchi-san dan bikin geger. Padahal selama ini dia nggak pernah sekalipun
memposting tentang pria."
"..."
Mari kita tunggu
saja.
Belum tentu itu
aku.
Tapi setelah
melihat layar smartphone yang ditunjukkan Yokokura-san, kepalaku terasa
pening.
Di sana ada video
saat aku memperbaiki sepeda Mizoguchi, dengan tulisan berhias emoji: 'Dibenerin
sama cowok sekelas. Bisa bener secepet ini nggak keren banget, ya? Jadi pengen (ngagumin).'.
Mungkin
maksudnya tidak terlalu dalam, tapi ada simbol hati di akhir kalimat yang terus
bergerak secara teratur.
Ini
tidak bisa dibiarkan. Jangan gerak, dong!
"Apa mungkin
pacarnya?"
Ini sangat gawat.
Setelah selama
ini tidak pernah ada postingan tentang pria, akan sulit jika orang tidak
curiga.
Kata 'mengagumi'
itu merujuk pada keahlianku yang seolah seperti dewa—sesuatu yang tidak bisa
dia lakukan sendiri.
Jadi itu sama
sekali berbeda dengan kekaguman dalam konteks percintaan.
Tapi, aku
tidak mungkin bisa menjelaskan hal itu ke setiap orang.
"Kamu
nggak apa-apa? Wajah Kutsuzawa-kun pucat banget?"
"Nggak
apa-apa, nggak apa-apa. Aku cuma merasa sarapanku mau keluar dari mulut
saja."
"Menurutku
orang normal akan bilang itu 'nggak apa-apa' yang beneran nggak apa-apa."
Yokokura-san
menatapku dengan cemas.
Dia orang baik.
Padahal kami
hanya bicara sesekali saja.
Sementara itu, di
kelas yang sedang ribut membicarakan kami, suasana makin memanas.
"Hei,
bukannya dulu kamu dapat nilai 5 di pelajaran prakarya?"
"Hah? Apa
hubungannya prakarya sama sepeda? Lagian, kalau aku beneran pacarnya Mizoguchi,
pasti sudah aku pamerin dari tadi."
"Bener juga.
Tapi dia nulis 'anak sekelas', jadi pasti salah satu dari kita di sini."
"Cowok-cowok
pada kebelet banget, deh. Menjijikkan."
Gawat.
Ini
gawat.
Pengadilan
penyihir sudah dimulai.
Apakah
ini yang dilakukan para siswa yang akan memikul masa depan negara hukum kita?
Memalukan.
Meskipun
begitu, aku harus menghilangkan keberadaanku.
Kalau
sampai aku yang tertuduh, mungkin aku benar-benar akan "pergi lebih
dulu".
Tiba-tiba, pintu
kelas terbuka lebar.
Rambut medium
hair berwarna ash gray yang terang seperti perak bergoyang.
Anak laki-laki di
kelas langsung menoleh seolah terhipnotis.
Aku pun
melihatnya.
Tentu saja,
ekspresiku tidak akan terlihat seperti mereka yang sedang melamun.
Tidak,
tunggu.
Dia
seharusnya cukup peka dengan situasi, kan?
Meski
auranya sedikit beda, dia bersekolah di sekolah unggulan sepertiku.
Kepalanya
tidak terlihat bodoh.
Tolonglah.
Pengadilan
penyihir ini tidak akan membuatku kalah selama dia tidak bicara yang aneh-aneh.
"Ah!
Kutsuzawa-kun! Makasih ya buat kemarin. Sepedaku jadi lancar banget, sudah
kayak baru lagi."
"............"
Aha~ suara
kekalahanku~.
Setelah itu.
Mizoguchi
menjelaskan kronologinya ke seluruh kelas, dan untungnya aku selamat.
Mengingat tipe elite
loner sepertiku dan dia sangat jauh berbeda, mereka percaya kalau itu
hanyalah pertemuan kebetulan.
Ya sudahlah,
setidaknya dengan ini aku bisa kembali ke kehidupan awalku.
Bagi dia, tidak
ada alasan untuk berurusan denganku lagi, begitu juga sebaliknya.
Mungkin
teman-teman sekelas juga akan melupakan kejadian ini minggu depan.
Ya, kupikir
begitu.
"Kutsuzawa-senpai,
biasanya makan siang di mana? Sebagai ucapan terima kasih kemarin, aku yang
traktir deh. Hehe."
Gaya bicaranya
yang aneh khas perempuan.
Lagipula, luar
biasa sekali dia bisa mengajak bicara orang yang baru ditemuinya kemarin
seperti itu.
Tidak, sungguh,
tanpa bermaksud menyindir, aku baru sadar kalau orang seperti inilah yang
menghidupkan komunitas.
"Ehm, aku...
aku bawa bekal."
"Eh?
Kutsuzawa-kun... ya, kan? Bisa masak?"
Tiba-tiba muncul
seseorang berambut hitam bob dengan potongan two-tone merah muda yang
modis dari samping Mizoguchi.
Kalau tidak
salah, dia orang yang selalu bersama Mizoguchi.
Orang
yang namanya sempat tertukar denganku di awal.
Jadi,
"Kali
ini benar Doguchi-san, kan?"
"Apa
maksudnya 'kali ini benar'!? Memangnya kamu pernah ketemu sama yang
palsu!?"
Aku tanpa sadar
salah bicara.
Mizoguchi
meledak tawa dan bertepuk tangan dengan keras.
Begitulah,
akhirnya aku terpaksa makan siang bersama mereka.
Meskipun bahasa
Jepangnya agak aneh, tapi itu mewakili perasaanku yang sejujurnya.
Meja-meja di
sekitarku disambungkan satu per satu, dan dalam sekejap tempat itu berubah
menjadi ramai.
Omong-omong,
Yokokura-san yang duduk di sebelahku segera menyingkir.
Aku
mengerti.
Aku
mengerti banget.
Dia pasti merasa
tertekan oleh aura orang populer itu.
Kalau bisa, aku
pun ingin kabur.
"Wah, hebat
ya. Ada telur gulung, ayam goreng, apa ini salad tuna dan timun pakai mayones?
Terus nasinya... suwiran ikan kembung?"
"Ikan hokke,
sih. Sonoda-san ternyata bisa masak, ya?"
Orang lain yang ikut bergabung adalah Sonoda Ria-san.
Rambutnya berwarna cokelat, tapi dia terlihat jauh lebih
kalem dibanding dua orang lainnya.
Tindiknya pun
cuma satu.
Ah, tidak,
mungkin perasaanku saja yang sudah mulai mati rasa.
"Iya. Pacarku itu rewel banget soal masakan
rumah."
Entah bagaimana, aku merasa dia populer dengan cara yang
berbeda dari dua orang tadi, tapi ternyata dia memang sudah punya pacar.
"Ria itu penanggung jawab bagian 'bitch' di grup kami."
Mizoguchi
berkata dengan nada yang sedikit merendah. Rupanya dia masih melanjutkan peran sebagai senior
yang aneh itu.
Sonoda-san membalas dengan wajah kesal, "Diamlah,
Baki-Virgin."
"Baki-Virgin?"
Entah mengapa,
aku teringat pada es lilin yang keras.
Doguchi-san
menjelaskan, "Itu singkatan dari 'Baki-Baki Virgin'. Seika adalah
penanggung jawab kemurnian di grup kami."
Wah, luar biasa.
Meski ada laki-laki di sini, mereka tetap santai membicarakan hal-hal vulgar.
Inilah kasta tertinggi.
Mungkin saja, itu
karena aku memang tidak dianggap sebagai lawan bicara untuk hal-hal seperti
itu.
"Berisik,
ah. Suatu saat nanti, aku benar-benar akan jatuh cinta, kok. Tipe yang tidak
mungkin bisa dilakukan oleh seorang jalang."
"Iya,
iya," sahut Mizoguchi menanggapi perkataan Sonoda-san dengan acuh tak
acuh.
Tentu saja mereka
bertiga bisa memilih laki-laki sesuka hati. Aku sempat merasa paranoid dan
mengira mereka mungkin meremehkanku di dalam hati, karena aku adalah orang yang
menjalani hidup tanpa sentuhan perempuan.
Tapi ternyata,
Mizoguchi juga senasib denganku. Aku merasa terselamatkan.
Namun, tidak
seperti diriku yang memang sudah nasibnya begini, dia pasti memilih untuk
sendiri karena standarnya yang sangat tinggi.
"Bagaimana
denganmu, Kutsuzawa-kun? Punya pacar?"
Wah, pertanyaan
mematikan. Jika aku tidak mendengar percakapan Mizoguchi tadi, mungkin aku
sudah merasa tenggorokanku kering karena paranoia.
"Aku juga
belum pernah punya," jawabku.
"Begitu,
ya."
Yah,
memang terlihat dari penampilanku, kan?
"Tapi
Kutsuzawa-kun, kamu bisa bicara dengan cukup normal, ya."
"Ehm...
apakah aku harus lebih gugup dan mulai menari-nari?"
"Tidak perlu
menari, dong."
"Lagipula,
kenapa tidak bicara lebih sering? Kamu menarik, tahu. Bukannya sayang
sekali?"
"Yah..."
Jujur saja, aku
bisa bicara setara dengan mereka bertiga karena aku sudah merasa cukup putus
asa. Aku tidak mungkin bisa menolak ajakan makan siang dari tiga gadis kasta
tertinggi di kelas ini, jadi aku hanya bisa menerimanya.
Aku mencoba
bicara seadanya agar tidak melakukan kesalahan, tapi takut dianggap membosankan
atau malah dibenci karena salah bicara. Apapun hasilnya, aku yang berada di
hierarki terendah hanyalah budak dari keinginan ketiga dewi ini. Karena itu,
aku hanya bisa pasrah.
"Aku lebih
nyaman bekerja sendirian," kataku.
"Bekerja?"
"Ah,
maksudku, aku sering membuat sesuatu sebagai hobi."
"Wah, kamu
tipe yang suka kerajinan tangan, ya."
"Begitulah.
Aku seorang agen pengrajin."
"Agen
pengrajin itu artinya sudah beda lagi, tahu."
Percakapan yang
tidak ada gunanya. Karena semua bekal sudah habis, aku merasa ini saatnya untuk
bubar.
Mereka pun
berdiri dan mulai membawa meja mereka. Aku juga ikut membantu membawanya.
Tiba-tiba,
seorang laki-laki datang menghampiri. Dia dengan sedikit memaksa mengambil
kursi yang hendak kubawa, lalu bergabung ke arah Mizoguchi.
Mizoguchi
mengucapkan terima kasih dengan lirih kepadanya.
Ah, aku
ingat. Dia adalah cowok tampan yang sering terlihat berinteraksi dengan grup gyaru
ini.
Dia
memiliki kulit putih mulus seperti idola Korea dan gaya rambut short mash
yang populer, yang memberikan kesan bulat pada kepalanya.
Saat dia menoleh
ke arahku, laki-laki tampan itu memasang ekspresi tajam.
☆☆☆
Setelah wali
kelas selesai di sore hari, Kutsuzawa-kun segera meninggalkan kelas dengan
terburu-buru. Mungkin hanya aku yang menyadarinya.
Keahliannya
sebagai penyendiri memang bukan main-main. Seperti yang dikatakan Chika, dia
sebenarnya menarik kalau diajak bicara, jadi harusnya dia lebih aktif
berinteraksi dengan teman sekelas.
Tapi setelah
lewat libur Golden Week, kelompok di kelas sudah terbentuk, jadi mungkin
sudah terlambat sekarang.
"Kalau dia
masuk grup kita..."
Tidak, itu malah
makin sulit. Aku
tidak se-tidak peka itu.
Aku
benar-benar menyesali kesalahan postingan di Twister dan menyebarkannya di
kelas. Aku benar-benar lupa.
Kalau
kelompok seperti kami mendekati orang seperti dia, orang sekitar malah akan
merasa risih. Mungkin mereka tidak mau melihat orang yang dianggap kastanya
lebih rendah darinya menjadi naik kelas?
Hah,
menyebalkan. Memangnya kenapa kalau seseorang mau berteman dengan siapa pun?
Aku tidak
bisa berteman dengan Kutsuzawa-kun? Itu bukan salahku, bukan salah
Kutsuzawa-kun, tapi karena pihak ketiga yang tidak ada urusannya sama sekali.
Memikirkan hal
itu, aku jadi sangat marah.
"Mizoguchi,"
panggil sebuah suara.
Aku menoleh. Di
sana berdiri cowok tampan dengan gaya rambut mash, Miyasaka.
Menyebalkan
sekali. Padahal aku sudah memasang aura "jangan ajak bicara" sambil
berjalan lebih dulu, tapi dia malah mengikutiku.
Lagipula, kapan
dia sadar kalau gaya rambut mash itu tidak cocok dengan tekstur
rambutnya?
"Apa?"
tanyaku.
"Mau pulang
bareng? Katanya ada kedai takoyaki baru buka di dekat stasiun. Bagaimana? Aku
traktir, deh."
"Tidak mau.
Aku tidak punya alasan untuk ditraktir olehmu."
Aku mengatakannya
sedingin mungkin, lalu pergi menuju tempat sepeda tanpa menoleh lagi.
Aku benci orang
yang tidak punya apa-apa selain wajah tampannya. Mungkin ini semacam kebencian
terhadap sesama.
Tiba-tiba, wajah
Kutsuzawa-kun terlintas di pikiranku.
Bisa membuat
gambar teknik yang sehebat itu—maksudku, rasa hormatku muncul karena dia punya
sesuatu yang bisa membuatnya begitu fokus.
Dunianya sendiri,
ya. Apakah suatu saat nanti aku akan menemukannya juga?
Atau aku hanya
akan menjalani hidup dengan mengandalkan wajah cantikku saja?
Saat mulai
mengayuh sepeda, entah kenapa aku malah berbelok di jalan pintas menuju
rumahnya.
Hari ini shutter
bengkelnya terbuka. Aku sempat merasa panik.
Kalau
sampai dipergoki oleh karyawan yang tidak kukenal, aku akan kesulitan
memberikan alasan. Aku tidak mungkin bilang kalau aku sedang menguntit anak
dari pemilik bengkel ini.
Coba aku lewat
pelan-pelan saja dengan sepeda. Lalu, aku akan mengintip ke dalam sedikit.
Tidak... itu
benar-benar perilaku seorang penguntit. Tapi karena sudah sampai di sini, ya
sudah.
Diam-diam. Sangat pelan sambil meliuk-liuk.
Di sana, aku melihatnya. Wajah Kutsuzawa-kun yang
berkeringat dan bersinar terkena sinar matahari terbenam yang masuk dari
jendela bengkel.
Di atas meja
kerjanya, dia dengan hati-hati menjalankan pahat berkali-kali pada balok kayu.
Dia melilitkan
handuk putih di kepalanya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan matanya hanya
fokus pada pahat serta balok kayu yang sedang dikerjakannya.
Aku menahan
napas. Ban sepedaku berhenti berputar sepenuhnya, dan kedua kakiku menapak kuat
di atas aspal.
Aku tidak bisa
memalingkan pandangan. Aku ingin membawa pulang pemandangan ini.
Saat aku
memikirkan hal konyol itu, secara tidak sadar aku mengeluarkan ponsel dan
menyalakan kamera.
Cekrek.
"!?
Eh!?"
Kutsuzawa-kun
menoleh ke arahku dengan mata terbelalak sampai hampir keluar. Ah, celaka.
"Mi...
Mizoguchi-san!? Apa yang kamu lakukan? Eh? Hah?"
Tentu
saja dia akan bereaksi begitu.
"Ti...
tidak. Ini bukan penguntitan atau memotret diam-diam, kok."
Gawat. Bagaimana pun caranya, aku terlihat
seperti penguntit dan pelaku pemotretan ilegal.
Benar-benar,
kenapa aku melakukan hal bodoh seperti ini?
"S-sudah,
pokoknya aku pergi dulu!"
Aku hanya bisa
kabur. Aku buru-buru mengayuh sepeda yang masih kutumpangi, lalu...
――Krak!
Suara nyaring
terdengar. Dengan perasaan cemas, aku melihat ke roda belakang dan ternyata
rantainya lepas lagi.
Ah, ya sudahlah.
Tamat sudah. Aku
saking malunya sampai tidak bisa mengangkat wajah.
"Ehm.
Seenggaknya, biarkan aku memperbaiki rantainya... tapi setelah itu, bolehkah
aku menanyakan sesuatu?"
Setelah
dipersilakan, aku duduk di kursi pabrik sementara Kutsuzawa-kun mengambilkan
minuman dari kulkas kantor.
Minuman sari
leci. Beruntung sekali. Itu minuman kesukaanku. Tapi, bukan saatnya memikirkan
hal itu!
"Ehm,
pertama-tama, kenapa kamu tahu rumahku?"
"Ah, itu.
Sebenarnya aku baru saja pindah dari kota sebelah, jadi aku belum hafal daerah
sini."
Berpikirlah, ayo
berpikir. Aku harus mengarang alasan sekuat tenaga!
"Aku
cuma ingin berkeliling sekitar sini. Pas lagi lewat, aku melihat plang 'Pabrik
Kutsuzawa'. Nama marganya
unik, kan? Jadi aku pikir, 'Eh, jangan-jangan ini rumah Kutsuzawa-kun?'"
"……Begitu
rupanya."
Alasanku masuk
akal, harusnya begitu. Kutsuzawa-kun sepertinya tidak curiga, kurasa. Harus
kutekan terus!
"Makanya
kemarin aku sebenarnya cuma ingin mengikuti jalan pulang untuk memastikan
apakah ini benar rumahmu."
Padahal
kenyataannya, setelah melihatnya menunjukkan wajah kesal, aku pura-pura pergi
tapi malah menguntitnya diam-diam untuk memastikan.
"Kenapa?
Entah ini rumahku atau bukan, sepertinya tidak ada hubungannya dengan
Mizoguchi-san."
Memang benar,
sih!
"Habisnya,
aku penasaran. Seperti teka-teki silang yang tidak bisa kita cari tahu
jawabannya."
Aku pikir
alasanku agak dipaksakan, tapi Kutsuzawa-kun malah membuka mulutnya.
"Ah... aku
paham. Rasanya memang tidak nyaman, ya."
Dia setuju
denganku. Syukurlah. Mungkin dia juga suka teka-teki.
"Baiklah,
kalau itu sudah terjawab... kenapa kamu diam-diam mengintip dan
memotretku?"
"Ah,
itu."
Ya, tentu saja.
Itu pertanyaan yang wajar.
"Soalnya,
kamu kelihatan hebat."
"Hebat?"
"Ya. Mungkin
aneh kalau aku yang bilang, tapi melihat betapa fokusnya kamu bekerja
sampai-sampai kamu tidak sadar kalau sedang diintip, itu keren."
"Eh!? Jadi
waktu itu kamu memotretku!?"
"Hah?"
"Aku kira
kamu memotret benda yang sedang aku buat."
"Eh!? A-ah,
begitu."
Ternyata ada
jalan keluar seperti itu.
Aduh, memalukan
sekali. Apakah itu sama saja dengan bilang kalau aku memotretnya karena dia
terlihat tampan?
Aku bisa
disalahpahami... atau mungkin, itu bukan kesalahpahaman?
Aku
membuka ponsel dan memilih foto itu di galeri.
Di dalam
pabrik tua yang disinari matahari terbenam, ada seorang anak laki-laki yang
menatap karyanya dengan sorot mata yang luar biasa serius.
Aku
berhasil menangkap momen saat kilau perak pahatnya bersinar. Cantik sekali.
Wajah
Kutsuzawa-kun sebenarnya tidak terlalu ganteng, hanya sedikit di atas
rata-rata. Tapi di foto ini, dia benar-benar terlihat indah.
Mungkin
kedengarannya aneh, tapi itu karena jiwanya yang bersinar. Cahaya yang hanya
dimiliki oleh orang yang benar-benar mengerjakan apa yang mereka cintai dengan
sepenuh hati.
"Hei,
bukannya aku jadi kelihatan jelas sekali di situ!? Sa-setidaknya jangan unggah itu..."
Wajah
Kutsuzawa-kun tampak kebingungan. Ada kesan sedikit ketakutan di sana.
Mungkinkah dia juga tidak suka kalau video perbaikan sepeda kemarin diunggah ke
media sosial?
Dia mungkin tidak
bisa menolaknya. Lingkunganku
isinya tipe orang yang blak-blakan, jadi mungkin dia merasa tertekan.
Apalagi
karena aku salah mengunggahnya ke akun kerja, jadi banyak yang melihatnya.
"Tenang
saja, aku tidak akan mengunggah ini ke Twista."
Begitu
mendengarnya, wajahnya langsung terlihat lega. Ah, benar dugaanku.
Tentu saja
begitu. Bagi orang yang punya dunianya sendiri dan punya sesuatu yang sangat ia
tekuni, menjalani hari dengan tenang di kelas jauh lebih penting daripada
berurusan dengan orang sepertiku.
"……Hah."
Eh? Kenapa dadaku
terasa sedikit nyeri seperti ditusuk?
"Itu...
sejujurnya, aku akan senang kalau kamu menghapusnya..."
"Eh?"
Aku
menolak dalam hati secara refleks. Foto se-emo ini, mungkin aku tidak akan bisa
memotretnya lagi. Tidak, bukan berarti aku tertarik dengan fotografi. Tapi
wajar saja, kan, kalau orang awam ingin menyimpan foto bagus?
"Aku janji
tidak akan menyalahgunakannya. Benaran. Karena fotonya bagus banget, sayang kan kalau dihapus?"
"Tidak,
kamu meminta persetujuan padaku... tapi kalau aku sendiri yang bilang jangan
dihapus karena fotonya bagus, bukankah itu terdengar menjijikkan?"
"Ah,
iya. Itu, sih... jadi, tetap tidak boleh ya?"
"……Aku
tidak tahu harus bilang apa, tapi selama tidak diunggah ke media sosial,
silakan. Asal jangan dibuat jadi meme aneh-aneh juga."
"Aku
tidak akan melakukan itu! Kamu anggap aku orang macam apa?"
Meski aku
berkata begitu, aku memang seorang penguntit dan punya catatan mengunggah video
ke akun lain. Ya, kalau aku
jadi Kutsuzawa-kun, aku juga akan waspada tingkat tinggi.
Aku benar-benar
minta maaf, Kutsuzawa-kun. Dan terima kasih sudah mengizinkanku menyimpan
fotonya.
★★★
Pada akhirnya,
karena terus didesak, aku mengizinkan fotoku tersimpan di ponselnya.
Aku tidak punya
keberanian untuk bersikeras memintanya menghapus foto itu... Aku memang payah.
"Kalau
begitu, aku kembali bekerja ya."
"Kerja."
Aku menatap
potongan kayu yang baru saja mulai kupahat. Sebenarnya tidak buru-buru, tapi
aku mengatakannya agar dia mau pulang.
Tetap saja...
meski tidak bisa dibilang seperti minyak dan air, kami sama sekali tidak punya
kecocokan. Kami hidup di dunia yang berbeda.
"Hei, hei.
Sekarang lagi bikin apa?"
Serius? Dia masih
terus mengejarku? Dia
benar-benar punya jarak sosial yang jauh berbeda denganku. Gals itu luar biasa.
Aku
kebingungan, lalu mengangkat kotak kardus di sampingku dan meletakkannya di
atas meja.
"Wah!
Keren banget! Ini kelinci? Yang ini katak. Eh, serius? Kamu bisa bikin gajah juga!? Gila! Kamu bisa jadi
Harta Karun Nasional, tahu!"
Dia terlalu
berlebihan hanya untuk ukiran kayu hewan.
"Lucu
banget, imut sekali. Matanya juga detail. Wah, wah. Wah!"
Dia mengambil
satu per satu, melihat dari bawah, dan menusuk-nusuknya dari samping.
Padahal tata
kramanya, kita harus memastikan dulu pada perajinnya sebelum menyentuh karya,
karena mungkin cat atau pernisnya masih basah, atau sedang menunggu lem kering.
Tapi yah, karena ini dia, mau bagaimana lagi.
"Ada Oda
Nobunaga juga."
"Oda
Nobunaga!? Di situasi seperti ini malah Oda Nobunaga!?"
"Ini
dia."
Aku mengambilnya
dari kardus lain.
Aku menjadikannya
motif lukisan yang paling terkenal, saat dia duduk dengan wajah tenang, jadi
seharusnya mudah dikenali.
Aku bahkan
mengukir detail ikat pinggang kimononya dan memberikan kesan tiga dimensi.
"Serius
Nobunaga!! Lucu banget!"
Mizoguchi-san
tertawa terbahak-bahak sambil memotretnya dengan ponsel, lalu jempolnya
bergerak dengan kecepatan luar biasa. Aku punya firasat buruk.
"Mizoguchi-san?
Jangan-jangan kamu mengunggahnya ke Twista?"
"Ah! Maaf,
kamu tidak suka ya?"
"Yah, kalau
bisa, jangan."
"Maaf, aku
benar-benar minta maaf. Sudah
terlanjur kuunggah."
Dahsyat
sekali generasi media sosial ini. Berbagi sudah seperti bernapas.
Mungkin,
tidak, pastinya dia tidak punya niat jahat. Justru karena tidak ada niat jahatlah, itu jadi
merepotkan. Sepertinya sebaiknya aku tidak memperlihatkan karyaku padanya.
"Aku cek
sebentar. Wajahku atau rumahku tidak ikut terpotret, kan?"
Aku mencari di
ponsel. Eh, nama akunnya... saat aku sedang bingung, jari-jari ramping terulur
dari samping dan mengetik dengan cepat. Saat aku melihat ke samping, wajah
Mizoguchi-san tepat di dekatku.
Matanya yang
tajam dan hidung mancung yang indah. Barisan giginya yang terlihat dari bibir
yang tersenyum juga sangat rapi.
Ah, ternyata dia benar-benar cantik kalau sedang diam. Aku
hampir terpana dan buru-buru menjauh.
Aku mengalihkan perhatian ke layar ponsel.
Unggahan paling atas adalah foto Nobunaga, dengan tulisan,
'Nobunaga buatan Kutsuzawa-kun.
Kenapa dia memutuskan bikin Nobunaga itu misteri, tapi
kualitasnya gila banget,' lengkap dengan emoji yang bertebaran.
Sudah ada balasan, kemungkinan akun bernama Chika yang
sepertinya adalah teman Mizoguchi-san, mengirim sekitar sepuluh emoji tertawa.
Sekarang ada balasan lagi, mungkin dari Sonoda-san, 'Sayang
sekali kalau bakat ini terpendam'. Tidak, tolong pendam saja. Orang yang bisa
membuat hal seperti ini jumlahnya ribuan.
Aku merasa sedikit pusing dan mematikan ponsel. Saat aku
hendak memasukkannya ke saku, Mizoguchi-san melayangkan protes.
"Wah, bahkan tidak scroll sekali pun? Kamu tidak
tertarik dengan kehidupan pribadiku, ya?"
Yah, karena kalau aku menggali kicauan lamanya, pasti hanya
kehidupan yang penuh dengan dunia gals, dan aku akan bingung harus merespons
apa.
"Ini akun
pribadi, kan?"
"Iya. Yang
kemarin kuunggah itu akun kerja."
"Ehm.
Kamu seorang model, ya?"
"Ya.
Lebih tepatnya model majalah. Akun ini punya banyak pengikut dari luar
sekolah."
Jadi
video perbaikan sepeda itu benar-benar menarik banyak perhatian orang.
"Itu...
apakah aku jadi di-bully oleh para penggemarmu?"
"Eh? Enggak,
kok. Pengikutku kebanyakan perempuan. Mereka cuma merasa, 'Oh, ternyata dia
cuma ngetwit tentang cowok terampil di kelasnya',"
"Syukurlah.
Aku takut kalau sampai terjadi seperti pagi ini."
"Itu karena
cowok-cowok saja yang bodoh, mikirnya selalu ke sana. Tapi, aku minta maaf ya
sudah merepotkanmu."
"Ah, tidak
apa-apa."
Kalau merasa
begitu, aku berharap dia tidak usah menwit tentangku meski di akun pribadi.
"Akun
pribadi itu... apakah orang yang seperti jamur shiitake itu juga tahu?"
"Shiitake...
maksudmu Miyasaka! Shiitake!! Ahahahaha, aku tidak memberitahunya,
hahahaha."
Mizoguchi-san
tertawa lagi. Bagiku itu sama sekali bukan hal yang lucu.
Tapi setidaknya,
sepertinya tidak akan ada masalah berarti. Aku teringat ekspresinya saat
menyela saat makan siang. Sepertinya dia memang mengincar Mizoguchi-san.
Luar biasa, ya.
Bisa sampai rela dibenci teman sekelas demi cinta, aku benar-benar tidak paham
jalan pikirannya.
Saat aku sedang
memikirkan itu, Mizoguchi-san sepertinya sudah kehilangan minat pada cowok itu
dan kembali menatap meja.
"Tapi,
ini lucu banget, ya."
"Nobunaga?"
"Uhuk.
Jangan bicara aneh saat aku mau minum. Maksudku katak, kelinci, dan anjing
ini."
Penyebutan
kata 'anjing' membuatku sedikit terhibur. Padahal dia terlihat seperti gadis
yang berantakan, ternyata dia suka anjing.
"Enak
ya, aku ingin memajangnya di kamar. Enak ya, imut sekali. Lirik, lirik."
"……Itu
sudah ada yang punya, jadi tidak bisa."
Meski
sulit menolak orang yang ceria, untuk yang satu ini aku tidak bisa.
"Aku akan
memberikannya kepada anak-anak di panti asuhan. Ini bagian dari kegiatan amal
acara lingkungan setempat yang diikuti oleh para pedagang di kota ini."
"Wah, maaf
banget. Benar-benar minta maaf."
"Ah,
tidak."
Dia tampak sedih,
malah aku yang jadi panik. Tapi, gadis cantik saat sedang murung pun tetap
terlihat cantik, curang sekali.
"Kalau mau,
bagaimana kalau aku buatkan yang lain?"
Tanpa sadar, aku
mengucapkannya sendiri. Aku sendiri sangat terkejut...
"Eh? Serius?
Boleh?"
Sorot matanya
yang berbinar membuat keterkejutanku luluh begitu saja.
"Yah, jangan
yang tingkat kesulitannya terlalu tinggi, ya."
"Wow.
Serius? Terima kasih. Ah, aku bayar ya. Harganya berapa?"
"Eh?"
Sejujurnya, aku
tidak menyangka tawaran itu akan keluar darinya.
"Ah, wajah
itu. Kamu pikir aku tipe yang minta gratisan, ya? Aku juga bekerja paruh waktu,
jadi aku tahu kalau hal seperti itu harus diselesaikan dengan benar. Aku memang
berniat membelinya dari awal."
"Ma-maaf.
Aku cuma tidak menyangka."
Dia sudah
memikirkannya bahkan sejak dia bercanda sebelumnya. Aku jadi lebih
menghargainya.
Sebelumnya aku
curiga dia adalah orang aneh yang mengumpulkan foto orang yang anti-sosial.
Hanya saja, aku
merasa segan jika harus mengambil uang dari teman sekelas.
"Kalau
begitu, mungkin lain kali kalau ada sesuatu, tolong bantu aku, ya."
"Jadi
hitungannya satu utang budi, ya?"
"Ya,
kira-kira begitu."
"Oke.
Asal bukan utang yang mengharuskanku jadi penjamin pinjaman ya!"
"Hahaha.
Karena di drama, pabrik rumahan biasanya bangkrut gara-gara utang lalu
presidennya gantung diri, ya!"
"Jangan
bilang begitu dengan ceria! Beneran deh, kamu lucu banget."
Di sana,
Mizoguchi-san tampak baru menyadari sesuatu.
"Eh, iya!
Lupa. Kemarin aku mau mentraktir makan di kantin sebagai ucapan terima kasih,
tapi gara-gara Kutsuzawa-kun bawa bekal, jadi batal. Aku harus membalas utang
itu."
"Ah.
Bukankah makan bersama kemarin sudah dianggap sebagai ucapan terima
kasih?"
"Itu membuat
kami terlihat jahat sekali, kan?"
Memang
benar kalau dipikir-pikir. Kami, gadis-gadis kasta atas, makan bersama dengan
cowok anti-sosial seperti dirimu, begitu kira-kira.
"Sekolah
Kabakura Pribadi."
Mungkin
mereka bisa untung kalau menggunakannya sebagai bisnis.
"Hah?"
"Bukan
apa-apa. Lagipula ini pekerjaanku, jadi kemarin itu aku cuma memasang rantai
saja, tidak perlu terlalu dipikirkan."
"Tidak.
Faktanya, saat itu aku benar-benar tertolong. Lagipula seperti yang kubilang
tadi, jangan jual murah keahlianmu. Benaran. Di pekerjaanku saja ada orang yang
berpikir karena cuma memotret atau cuma difoto, semua orang bisa melakukannya
jadi gratis saja."
"Ah,
itu keterlaluan ya. Untuk makeup saja perlu waktu lama untuk menguasai
keahliannya, tidak mungkin bisa jadi cantik tanpa usaha."
"Kan,
kan, kan!? Serius, kamu bisa mengerti!"
"Yah, aku
juga melakukan pengecatan. Aku juga membuat boneka dan figur."
"Figur..."
"Ada apa?"
"Ah, tidak. Ya, benar juga. Nobunaga juga boneka."
"Ah, wajahnya juga aku yang cat."
Bagaimanapun,
kalau dia sampai bicara begitu, aku akan mengandalkannya.
"Kalau
begitu, lain kali tolong traktir aku makan."
"Oke. Besok,
ya. Ah, besok hari Sabtu. Sayang sekali. Kutsuzawa-kun, besok ada
rencana?"
"Tidak.
Pekerjaan untuk panti asuhan sepertinya selesai hari ini, jadi besok
kosong."
"Kalau
begitu, besok jam sebelas siang kita bertemu di depan pintu keluar empat Ivan
Mall."
"Eh?"
Sebelum aku
selesai bicara, dia sudah memutuskannya.
"Oke,
diputuskan! Aku pulang dulu ya. Maaf sudah memotret diam-diam. Ah,
terima kasih jusnya."
Dia segera keluar pabrik, naik sepeda, melambaikan tangan
padaku, dan pergi secepat kilat. Dia benar-benar orang yang seperti badai.
"Hari
ini benar-benar hari yang luar biasa."
Sambil
mandi, aku merenungkan hari ini. Kemarin aku secara tidak sengaja membantu
Mizoguchi-san, dan karena media sosialnya, sekolah jadi heboh pagi ini, dan aku
jadi pusat perhatian tahun ini.
Setelah itu, aku
makan siang bersama teman-temannya. Sudah lama sekali aku tidak makan bersama
siapa pun di sekolah.
Hanya saja,
karena aku sudah memancing kebencian dari si jamur yang mengincar
Mizoguchi-san, aku tadinya berpikir untuk tidak terlibat lebih jauh karena aku
tidak mau terjerat masalah... tapi entah kenapa Mizoguchi-san justru menyelinap
masuk dan memotretku.
Kalau
dipikir-pikir lagi, itu tindakan yang tidak terduga, tapi karena itu
benar-benar terjadi, mau bagaimana lagi.
"Kalau saja
aku bersikap lebih dingin."
Karena aku merasa
berhutang budi padanya, secara ekstrem aku bisa saja bilang jangan pernah
berhubungan denganku lagi. Tapi aku tidak melakukannya. Itu bukan karena aku
pengecut. Aku rasa, aku hanya senang.
Bukan karena
dipuji oleh gadis tercantik di kelas, bukan itu. Tapi karena dia menatap karyaku dengan mata
yang begitu berbinar dan merasa senang seperti anak kecil.
Aku
teringat anak kecil yang pernah kubuatkan figur, matanya persis seperti itu.
Wajah itu, kebahagiaan itu, adalah asal mula bakatku. Membuat sesuatu itu
sendiri memang menyenangkan, tapi kalau hanya itu, rasanya ada yang kurang.
Akan jauh
lebih menyenangkan kalau bisa berbagi kegembiraan melalui benda tersebut dengan
seseorang. Mizoguchi-san memiliki mata yang persis dengan yang mengajarkan hal
itu padaku.
"Figur,
ya. Coba kubuat lagi setelah sekian lama."
Spatula untuk
figur sepertinya masih kusimpan di suatu tempat. Apa kawat aluminium ada di
pabrik? Tidak, bisa beli di toko serba ada. Catnya... apa ya yang bagus? Nanti
kucari tahu. Ah, tidak, aku harus membuat permintaan Mizoguchi-san dulu.
Meskipun sepertinya dia belum memutuskan.
"Kousei! Ibu
mau nonton drama suspens jam sembilan, cepat keluar!"
Suara keras Ibu
terdengar. Ah, sudah jam segini. Terlalu lama berendam.
Tapi, kenapa
makhluk yang disebut ibu begitu suka drama suspens? Setiap hari menonton cerita
pembunuhan, apa tidak stres?
☆☆☆
Uwaaa. Sudah
kulakukan. Aku tadi mengajak dia secara spontan, tapi sejujurnya seumur hidupku
ini pertama kalinya aku pergi bermain berduaan dengan cowok.
Setelah tenang,
aku jadi sangat malu. Tidak... lebih memalukan lagi masalah ketahuan memotret
diam-diam tadi.
Aku terus
memainkan ponsel dan melihat foto itu lagi.
Tetap
terlihat indah. Matahari terbenam dan keringat, matanya yang seolah lupa untuk
berkedip, dan kilau perak yang bersinar.
Kutsuzawa-kun
khawatir aku akan mengunggah foto ini ke Twista, tapi bahkan tanpa
diperingatkan pun, mungkin, tidak, aku pasti tidak akan mengunggahnya. Aku
ingin ini jadi rahasia buatku saja.
Bukan
karena melebih-lebihkan, tapi aku bisa merasakan misteri seperti pandai besi
yang diam-diam menempa pedang legendaris di pegunungan terpencil.
Ya, tidak
ada gunanya bersikap sok di kamar sendiri. Aku harus jujur.
"Aku
terpana. Hampir saja aku tersedot ke dalamnya. Apalagi tahu itu untuk anak-anak
panti asuhan, dia ini sebenarnya apa? Ingin membuatku mati karena gemas?"
Padahal bulan
Mei, tapi udaranya panas seperti musim panas, aku sampai merinding.
"Ternyata
ada ya, dunia milik orang itu sendiri."
Aku tersesat ke
sana. Aku tertarik ke dalamnya.
"……"
Bahkan saat
melihat foto saja, aku terus terpaku. Handuk di kepalanya terlihat keren. Di balik
kaus, dia ternyata berotot? Begitu ya.
Karena
bahan dan produknya besar dan berat. Mungkin dia melakukan itu karena hobinya, tapi dia benar-benar serius
melakukannya.
"Aku jadi
minder."
Aku sendiri
bahkan hampir tidak pernah membantu pekerjaan rumah. Padahal sewaktu kecil, aku
sudah banyak merepotkan kedua orang tuaku.
Ah, aku
benar-benar buruk. Karena aku bekerja dan punya uang saku sendiri, aku pikir
itu sudah cukup. Padahal Kutsuzawa-kun, selain membantu keluarganya, dia juga
berjuang tanpa pamrih untuk anak-anak.
Aku
keluar kamar menuju dapur.
"Ma,
sesekali boleh aku yang mencuci piring?"
"Eh? Kenapa
tiba-tiba. Sudah selesai, kok. Jam sembilan ada drama suspens."
"……"
Besok
setelah selesai makan, aku akan langsung mengatakannya. Aku memutuskan itu dan kembali ke kamar.
Lalu, ponsel di
meja menyala.
Ah, benar juga,
aku tidak tahu nomor atau alamat Kutsuzawa-kun. Bagaimana kalau besok dia tidak
datang atau sakit?
Yah, kalau begitu
nanti kudatangi rumahnya saja.
Sekarang, aku
memeriksa notifikasi. Ternyata pesan dari Chika.
'Yah, si
Kutsuzawa itu lucu banget, ya.'
Di pesan
itu ada stiker beruang yang tertawa terbahak-bahak. Nobunaga yang tiba-tiba
muncul di linimasa, ya, itu memang tipe yang disukai Chika. Tapi.
'Bukan cuma
lelucon sekali saja, percakapan sehari-harinya pun sudah lucu.'
Aku teringat
percakapan di pabrik beberapa jam lalu.
'Ah, begitu ya. Jadi ke depannya kamu akan
berhubungan dengannya?'
Tanganku berhenti sejenak membaca balasan Chika. Ke
depannya, ya.
'Hmm. Tidak tahu. Yang jelas, besok kita jadi janjian makan
di mal.'
'Serius?'
'Iya. Sebagai
ucapan terima kasih karena dia sudah memperbaiki sepedaku.'
'Hee. Itu kencan di mal, dong.'
Kencan. Ternyata dari sudut pandang objektif itu dianggap
kencan, ya. Belakangan ini pergi bersama teman atau orang tua juga disebut
begitu, jadi definisinya makin luas.
Tapi meski begitu, dalam kasus ini... karena pria dan wanita
yang baru kenal pergi bermain ke mal saat libur, rasanya lebih dekat ke arti
aslinya.
'Mungkin ini bukan urusanku, tapi... bagaimana dengan kasus
yang itu?'
'Kamu berlebihan.
Ini tidak lebih dari sekadar ucapan terima kasih.'
Lagipula, mungkin
saja... jangan-jangan Kutsuzawa-kun adalah... tidak, informasinya masih terlalu
sedikit dan kondisinya masih belum bisa dipastikan.
Karena terlalu
mencari, mungkin aku salah mengira kemiripan kecil sebagai bukti.
'Hmm. Kalau kamu
bilang begitu sih tidak apa-apa. Tapi jangan sampai terbawa emosi seperti
biasanya, ya.'
'Aku
tidak akan begitu. Cuma mentraktir makan siang saja.'
Chika
ini, sebenarnya menganggap aku orang seperti apa?
'Begitu
ya. Yah, setidaknya makan saja tidak akan bikin kamu mengamuk. Oke,
istirahatlah demi besok.'
'Oke.
Selamat malam.'
Aku
melemparkan ponsel ke atas tempat tidur, lalu menoleh ke arah lemari. Besok.
Apakah sebaiknya aku memakai pakaian yang lebih tenang agar terlihat serasi
dengan Kutsuzawa-kun? Aku segera menggelengkan kepala saat memikirkan itu.
Tidak, itu tidak mungkin.
Aku hanya
berterima kasih pada teman sekelas yang sudah membantuku. Chika bicara
sembarangan soal kencan, makanya aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Aku harus
pergi dengan pakaian yang kusukai. Kalau dia tidak suka, ya sudah. Sebaliknya,
kalau dipuji... yah... mungkin... aku akan merasa sedikit senang.
Aku menyusun
pakaian untuk besok di kepalaku, dan langsung memutuskan. Aku berbaring di
tempat tidur dan memejamkan mata.
★★★
Jam sepuluh empat
puluh lima, sampai di lokasi. Sudah lama sekali aku tidak ke Ivan Mall, jadi
aku harus melihat papan petunjuk untuk mencari pintu keluar empat.
Jalan lagi hampir
lima menit. Gawat, gawat. Aku salah arah dan malah memutar. Jam sepuluh lima
puluh dua.
Sesampainya di
tempat janjian, Mizoguchi-san sudah datang. Atasan tanpa lengan berwarna hitam
yang memperlihatkan kulit di sekitar pinggang, dengan tulisan bahasa Inggris
warna emas.
Bawahannya celana
jeans denim dengan efek rusak berwarna biru muda pucat. Dia menyampirkan tas
selempang putih. Wah, aku jadi malas menyapanya. Malas sekali, aku takut.
"Ah!
Kutsuzawa-kun!"
Saat menoleh, dia
bahkan memakai kacamata hitam. Benar-benar penampilan seorang gals. Rambut ash-gray yang mendekati
perak itu melambai saat dia menoleh. Ujung rambutnya tampak dikeriting.
Kesannya sedikit lebih lembut daripada
biasanya. Meski pakaiannya bergaya gals, tapi rambutnya lembut. Mungkin itu
teknik 'hasushi' (penyeimbang) yang disengaja. Teknik yang legendaris, yang
kabarnya hanya boleh dilakukan oleh pakar mode.
"Selamat
pagi. Sepertinya aku membuatmu menunggu, aku merasa tidak enak."
"Tidak,
kok. Aku juga baru sampai."
Entah kenapa,
tidak ada kesan kencan sama sekali. Terus terang, tipe kami sangat berbeda. Kurasa orang di sekitar sini juga tidak ada yang
salah paham kalau kami ini pasangan manis.
"Ayo
pergi."
"Hei, hei.
Bagaimana penampilan hari ini?"
Wah. Dia
menanyakan itu padaku? Bukankah jawaban apa pun akan membuatku malu?
"……Gals,
ya."
"Itu sih aku
tahu. Maksudku, apakah ini cocok, atau apakah aku terlihat imut, fase itu
lho."
Tanpa sadar, kami
ternyata sudah sampai di fase pertempuran yang menegangkan itu. Padahal aku
bahkan belum siap sama sekali.
"Itu,
Mizoguchi-san cantik, jadi aku rasa apa pun yang kamu pakai akan terlihat
cocok."
"……"
Mizoguchi-san
terdiam seolah terkejut, lalu tersenyum malu-malu dengan gembira. Wah, dia
benar-benar manis.
Padahal dia pasti
sudah sering dipuji, tapi apakah dia selalu terlihat sebahagia ini setiap kali
mendengarnya? Tidak, rasanya ada yang berbeda.
Dia bukan tipe
yang suka memamerkan pesona di depan laki-laki. Saat si jamur itu membantu
membawakan meja, dia hanya memberikan ucapan terima kasih yang dingin dan
singkat.
Kalau
dipikir-pikir, sosoknya yang periang di pabrik kami dan senyum malu-malunya
sekarang mungkin adalah momen yang langka.
"Terima
kasih. Kamu juga, Kutsuzawa-kun, pakaian kasual itu terlihat bagus."
Aku mengenakan
kaus polo dan celana jins, pakaian yang bisa ditemukan di mana saja di dunia
ini.
Aku sempat
bingung memilihnya, tapi aku tidak ingin terlihat seperti orang yang sok keren,
jadi akhirnya aku datang dengan gaya biasanya.
"Syukurlah.
Tadinya aku sempat ragu mau pakai baju motif Nobunaga."
"Motif
Nobunaga!? Aku sangat ingin melihatnya, tapi sepertinya bukan untuk hari ini,
sih."
Sambil
berbincang dengan akrab, kami berdua melewati pintu otomatis mal. Mizoguchi-san
merentangkan tangannya lebar-lebar dan berkata, "Ah, sejuknya."
Kami
berjalan di dalam mal selama hampir sepuluh menit, tapi aku tidak mendapatkan
tatapan tajam yang kutakuti.
Aku
sempat berpikir, karena kombinasi kami yang tidak seimbang, mungkin orang-orang
akan melihat kami lalu memberikan tatapan mengejek ke arahku.
Aku
terlalu banyak berpikir. Mal itu dipenuhi banyak orang, dan mereka tidak
seburuk itu sampai harus mencampuri urusan orang lain. Mungkin karena aku
terlalu rendah diri, aku jadi terlalu sadar diri.
Bukti
bahwa akulah orang yang merasa paling tidak pantas berjalan bersama
Mizoguchi-san. Sebenarnya, jika bukan karena alasan dia merasa berhutang budi
padaku, kami tidak mungkin berjalan bersama di bawah sinar matahari seperti
ini.
"Bagaimana? Mau ke arcade dulu?"
"Tidak, aku
tidak suka pachinko."
"Kamu anggap
aku orang macam apa? Aku bahkan belum pernah masuk ke pojok sana."
Lagipula, kenapa
di arcade ada mesin pachinko atau slot, ya?
"Ayo
foto purikura."
"Tangkap
udang? Pakai jaring..."
"Hahaha, mau
kupukul kamu?"
"Maaf."
Sepertinya aku
kelewatan bercanda. Sejujurnya, aku tidak suka purikura. Itu adalah mesin yang
menjadi sarang orang-orang yang ceria.
Tapi
Mizoguchi-san yang tidak peduli dengan perasaanku langsung mencengkeram
pergelangan tanganku dan menarikku kuat-kuat.
Wah, tangan
perempuan ternyata sekecil ini, ya. Saat aku sedang berpikir begitu, aku sudah
diseret ke arcade di dalam mal dalam sekejap.
Beberapa menit
kemudian, Mizoguchi-san menatap hasil cetakan purikura kami...
"Hihihi,
aduh, gawat. Perutku kram karena tertawa."
Tentu saja dia
tertawa melihat hasil purikuraku. Ini pengalaman pertama seumur hidup, aku
merasa lebih gugup daripada saat berada di bilik foto formal.
Apalagi saat dia
mendesak, "Ayo tersenyum, tersenyum," dari samping, aku terpaksa
tertawa, tapi hasilnya jadi senyuman yang sangat canggung. Kalau hanya itu,
mungkin bisa dibilang foto orang yang sedang gugup, tapi...
"Bagaimana
dengan foto yang matanya jadi aneh begini? Aku tidak butuh fotonya!"
"Berhenti,
jangan bicara begitu sekarang. Ah, hahahahaha."
Ya. Dengan senyum
aneh itu, dia malah memperbesar bagian matanya saja, jadi wajahku terlihat
sangat mengerikan.
Meski aku
menolak, Mizoguchi-san sambil tertawa terbahak-bahak langsung menekan tombol
cetak. Hasilnya sampai sekarang.
Foto berdua
monster yang menyedihkan dan wanita cantik ini benar-benar membuang-buang
sumber daya.
"Ayo,
pergi sekarang. Ini sudah hampir jam dua belas, kalau mengantre dari sekarang
bakal lama."
Mal di
hari Sabtu sangat ramai. Aku tidak bisa membayangkan harus menunggu berapa
puluh menit di gerai populer.
Aku yang
biasanya menyendiri sudah mulai merasa pusing karena keramaian. Maaf untuk
Mizoguchi-san, tapi aku ingin cepat makan siang lalu pulang.
"Tunggu,
tunggu. Sekali lagi. Kali ini yang serius. Yang tidak pakai efek."
"Kalau
begitu, bukankah pakai kamera ponsel saja cukup?"
"Hmm.
Purikura itu kan diambil sebagai kenang-kenangan kalau kita sudah jadi
teman."
Teman. Apakah
kami bisa dianggap sebagai teman?
Tidak punya teman
saja sudah membuatku menjadi penyendiri, apalagi tiba-tiba berteman dengan
seorang gals.
Urutannya terasa
salah, seperti menyerbu kastil raja iblis padahal menara empat dewa surgawi
masih berdiri.
"……Baiklah.
Tapi kali ini, tolong jangan buang-buang kertas lagi."
Kami pun
mengambil foto untuk kedua kalinya. Aku sangat gugup saat Mizoguchi-san memeluk
bahuku.
Pikiran
kotor bahwa dadanya mungkin akan menyentuhku sempat lewat, tapi dia menaruh
tasnya di bahu sisi bahuku untuk menjaganya secara halus.
Begitu
ya, dia seorang gals tapi ternyata tipe yang menjaga diri.
Kami meninggalkan
arcade dan memutuskan untuk makan siang. Karena gerai makanannya terlalu ramai,
kami pergi ke food court. Di sini juga sangat ramai.
"Mau makan
apa?"
Aku mencari gerai
yang terlihat paling murah.
Ada gerai
'Hanakara Udon'. Aku menunjuk gerai itu, lalu Mizoguchi-san sepertinya
menyadari keenggananku.
"Boleh
makan di restoran yang lebih mahal, kok. Aku punya uang, sedikit."
Katanya
begitu. Tapi sebenarnya aku
punya alasan lain selain merasa segan.
"Tidak. Di
sana kita tidak perlu mengantre lama."
Di restoran lain,
biasanya kita diberi bel untuk menunggu pesanan, tapi di 'Hanakara', sistemnya
adalah pelanggan membawa nampan sendiri, memesan, menerima udon, lalu mengambil
gorengan di sepanjang jalur menuju kasir. Jadi, waktu tunggunya jauh lebih cepat.
"Begitu ya.
Kalau begitu, ayo ke sana."
Mizoguchi-san
tidak harus mengikutiku, tapi dia tetap mengantre bersamaku. Hari ini panas,
jadi aku memilih udon dingin.
Dia juga
menyarankanku mengambil tempura, jadi aku memesan tempura telur setengah
matang.
"Wah,
telur setengah matang ya. Itu enak, lho."
"Iya. Mizoguchi-san, tempura ayam, ya? Sehat
sekali."
Sambil membicarakan hal-hal sepele, kami menunggu giliran di
kasir.
"Bayarnya digabung."
Saat Mizoguchi-san menunjuk nampanku dan nampannya, kasir
pria muda itu menatap kami dengan terkejut sebelum mengiyakan.
Tentu saja begitu. Seorang gals cantik mentraktir cowok
penyendiri yang payah seperti diriku, hubungan macam apa ini?
Setelah selesai
makan, kami duduk di kursi untuk istirahat. Mizoguchi-san mengeluarkan semacam
buku purikura dari tasnya dan menyimpan foto kami tadi.
Aku juga
mendapatkan setengahnya, tapi sejujurnya aku bingung harus memperlakukannya
bagaimana.
"Ah, iya.
Aku hampir lupa. Ayo tukaran nomor ponsel."
Mizoguchi-san
menggoyang-goyangkan ponselnya. Tidak disangka ponselnya tidak penuh dengan
dekorasi. Simpel dengan hanya gantungan ring.
"Ah,
iya."
"Tadi malam,
kalau kamu tidak datang, aku pikir harus pergi ke rumahmu. Repot sekali,
kan?"
"Ah. Tentu
saja aku tidak akan melupakan janji."
Karena aku takut
kalau terjadi sesuatu.
"Tapi aku
memaksa mengajakmu kemarin, kan? Jadi aku pikir tidak apa-apa kalau kamu tidak
datang."
Kalau kamu sadar,
tolong hentikan kebiasaan itu.
Bagaimanapun,
kami bertukar nomor. Sekalian juga bertukar alamat akun Rain (aplikasi pesan).
"Menjangkau
Bintang."
"Ah, pakai
kanji ya? Iya,
seperti Star Bridge."
"Menjangkau
Bintang."
Frasa itu, entah
kenapa terdengar familiar di suatu tempat.
"……Ada
apa?"
"Tidak.
Tidak ada apa-apa. Namanya bagus sekali."
"……Terima
kasih."
Mizoguchi-san
menatapku dengan curiga seolah sedang menyelidiki. Namun, aku tetap tidak bisa
mengingat apa yang mengganjal di pikiranku.
Setelah
makan siang, kami berkeliling di dalam mal. Karena dia sepertinya tidak punya
rencana setelah ini, mungkin dia juga bosan kalau langsung pulang.
Aku pun
merasa tidak enak kalau langsung pulang setelah ditraktir, seolah-olah dia
sudah tidak berguna bagiku.
Selain itu, meski
tidak suka keramaian, aku mulai terbiasa dengan Mizoguchi-san. Dia bukan orang
jahat.
Masalah media
sosial dan kejadian di kelas memang merepotkan, dan dia membuatku kaget saat
memotret diam-diam, tapi dia benar-benar bukan orang jahat.
Dia membalas
kebaikanku soal sepeda, dan dia bersikeras tidak mau memberikan ukiran kayu
secara gratis.
Dia orang
yang menjunjung tinggi harga diri.
"Boleh
kita berkeliling di toko pernak-pernik?"
"Kamu ingin
membeli sesuatu?"
"Tidak.
Ukiran kayu yang mau aku minta padamu, aku masih bingung mau membuat apa.
Sekadar referensi saja."
Kalau ada barang
lucu, bukankah lebih cepat kalau dia membelinya saja? Tapi ukiran kayu sulit
ditemukan, jadi mungkin dia ingin membuatnya sesuai keinginan.
Aku
mengangguk dan mengikutinya masuk ke toko.
"Ah,
gaun itu, terlihat bagus, kan?"
"Kamu
bertanya padaku, ya..."
Aku tidak
tahu soal fashion perempuan. Tunggu, bukannya tadi mau lihat pernak-pernik? Dia malah terpaku di toko pakaian
perempuan. Yah, mungkin itu juga karena pekerjaannya.
"Model,
ya."
"Hm?
Kamu tertarik? Mau mencoba mendaftar?"
"Eh!?
Bercandamu keterlaluan. Maksudku...
ternyata kamu memang suka pakaian, ya."
"Ya. Yah,
aku suka."
"Pekerjaan
impian?"
"Bagaimana,
ya. Kalau dilihat-lihat, pekerjaan membuat barang milik Kutsuzawa-kun lebih
terlihat seperti pekerjaan impian."
"Ah, itu
sudah pasti. Aku paling bahagia saat sedang membuat sesuatu."
"Keren ya,
bisa mengatakannya dengan lantang."
"Mizoguchi-san
tidak bisa mengatakannya dengan lantang?"
"Apa yang
kusuka... apakah itu yang terbaik? Entah kenapa, aku merasa aku melakukannya
karena wajahku lumayan dan postur tubuhku bagus, karena aku sudah punya modal
yang lebih dari orang lain..."
Dia bicara seolah
itu bukan dirinya sendiri, kurasa dia sendiri belum memahami hatinya.
Tanpa sadar, kami
sudah duduk di sofa di tengah lorong mal.
"Tapi, kamu
bicara sendiri kalau wajah dan postur tubuhmu bagus, ya."
"Hmm,
mungkin gadis-gadis imut yang populer di kalangan pria akan bilang, 'Eee, tidak
begitu kok~'. Tapi aku tidak suka itu. Kalau cantik, ya cantik. Kenapa tidak
jujur saja?"
Benar, dia bukan
tipe orang yang cocok merendah untuk menarik perhatian pria.
"Apa
menurutmu aku juga tidak manis?"
"Aku tidak
tahu manis atau tidak, tapi aku lebih suka cara berpikir Mizoguchi-san."
"Te...
terima kasih."
Dia mengerucutkan
bibirnya dan mengucapkannya dengan dingin. Menurutku, saat dia menunjukkan sisi
seperti ini, dia justru terlihat manis. Biasanya dia terlihat tangguh, tapi
sebenarnya dia pemalu.
"Jangan
menatapku terus!"
Sepertinya aku
tanpa sadar nyengir ke arahnya. Dia menekan pipiku, kukunya menusuk. Mungkin
itu kuku palsu, terasa cukup lembut.
Mizoguchi-san
sengaja terbatuk dan mengalihkan pembicaraan. Aku diam saja karena takut kalau
aku menggoda dia yang seperti pria tua, pembicaraan ini tidak akan pernah
berakhir.
"Apakah
Kutsuzawa-kun sejak awal sudah pandai membuat barang?"
"Tentu
tidak. Tanganku sering teriris. Garis-garisnya juga berantakan. Satu per
satu semuanya melalui trial and error."
"Benar juga, ya. Aku dari awal riasanku langsung bagus,
atau kalaupun salah sedikit tidak terlalu terlihat karena wajah asliku
lumayan... singkatnya, aku tidak pernah gagal sampai harus berjuang mati-matian
untuk terus melakukannya."
"Maksudmu, keseriusan kita berbeda?"
"Ya. Kalau ditanya apakah aku punya hasrat untuk
bangkit dari kegagalan dan ingin menjadi lebih baik seperti Kutsuzawa-kun,
ternyata tidak."
"Misalnya, apakah kalau tekstur kulit bawaanmu membuat makeup
tidak menempel, kamu tidak akan berusaha keras untuk makeup?"
"Ya, tepat
sekali. Pasti begitu. Aku pasti akan menggunakan makeup natural dan
pakaian yang malas, lalu membuat alasan bahwa aku tidak berusaha, dan melarikan
diri. Aku orang yang menyedihkan seperti itu."
"……Hmm.
Menurutku tidak apa-apa, kok. Aku sendiri banyak melarikan diri dari berbagai hal. Kebetulan saja aku menemukan sesuatu yang
bisa aku tekuni dengan cepat tanpa melihat bakat. Untuk bidang lain yang tidak
menarik minatku, aku bahkan tidak ingin berusaha sedetik pun."
Aku tersenyum
padanya.
"Tidak perlu
terburu-buru. Mungkin kamu akan menemukan hal lain yang kamu sukai, atau di
suatu saat, kamu mungkin bisa lebih mencintai pekerjaan model. Kita masih siswa
SMA, kan."
Aku sedikit
merasa seperti sedang menceramahinya, tapi saat melihat senyum lega
Mizoguchi-san, aku pun merasa lega. Aku tidak suka melihat orang ceria seperti
dia terlihat murung.
☆☆☆
Entah siapa yang
memulai, suasana terasa sudah berakhir, dan kami kembali ke pintu keluar empat.
Tapi, aku
benar-benar curhat habis-habisan. Tanpa sadar aku mengeluarkan keluhan yang
manja. Benar-benar bukan gayaku.
Tapi,
Kutsuzawa-kun menyemangatiku dengan sungguh-sungguh. Setelah meluapkan
semuanya, aku takut dia akan kecewa atau merasa terganggu, tapi sama sekali
tidak begitu.
Dia baik sekali.
Melihatnya memasang wajah khawatir saat aku sedang murung membuat hatiku terasa
ringan.
Secara ajaib,
seperti yang dikatakan Kutsuzawa-kun, aku bisa merasa lebih positif untuk terus
berjalan tanpa harus terburu-buru.
Mungkin aku akan
menemukan hal lain yang disukai, atau mungkin akan ada saatnya aku benar-benar
bisa menganggap pekerjaan model adalah pekerjaan impian saat terus melakoninya,
ya.
"Baiklah,
terima kasih atas traktiran hari ini."
"Ya. Yah,
rasanya justru aku yang merepotkanmu, mengajakmu window shopping... dan
curhat soal hidup."
"Tidak sama
sekali. Hari ini menyenangkan."
"Begitu ya,
kalau kamu bilang begitu, usahaku mengajakmu tidak sia-sia."
"Sekarang
tinggal ukiran kayunya. Beri tahu aku kalau sudah memutuskan mau membuat apa.
Kalau Imamagawa Yoshimoto, aku bisa langsung membuatnya, atau kalau mau,
sekalian kain kafannya pun bisa."
"Eh, soal
itu..."
Dia mulai bicara
yang tidak-tidak, jadi aku buru-buru memotongnya.
Pria ini tidak
punya rasa hormat pada jenderal perang zaman Sengoku, ya. Apa dia punya dendam?
Tidak, itu tidak penting sekarang.
Aku menarik napas
panjang. Aku menguatkan tekad dalam hati.
"Ada anime
lama judulnya 'Magical Crusader', di situ ada karakter namanya Kururu."
Aku bertaruh. Ini
tekad yang sama seperti melompat dari panggung kuil Kiyomizu.
Terlalu
terburu-buru, dan seharusnya aku membangun hubungan lebih dekat dulu, tapi aku
ingin segalanya menjadi jelas.
Setelah melihat
dia ragu saat membaca kanjiku tadi, aku tidak bisa menahan diri. Aku tidak bisa
menghentikan harapan bahwa mungkin saja ini dia.
Apakah
Kutsuzawa-kun...
"Ah, ada ya
anime seperti itu. Seingatku aku pernah membuatnya dulu. Meski berupa
figur."
Dia tidak
menggunakan bahasa formal, mungkin karena dia bukan sedang bicara padaku, tapi
sedang mengingat masa lalunya.
Tapi aku tidak
peduli dengan nada bicaranya, pandanganku berkunang-kunang karena gembira.
Apakah aku menang taruhan?
Benarkah,
Kutsuzawa-kun adalah Kou-chan?
"Dulu aku
cukup kecanduan membuat figur, jadi aku membuat banyak hal. Sepertinya di antaranya ada
karakter bernama Kururu..."
Tenang.
Belum ada bukti konkret. Sedikit lagi.
"Hehe,
lalu figur yang kamu buat itu bagaimana?"
"Eh? Ah,
seingatku... kuberikan pada seseorang. Kalau tidak salah, anak yang sedang di
rumah sakit."
"……!"
Benarkah. Benar begitu. Kou-chan. Ternyata dia benar-benar
Kou-chan. Akhirnya aku menemukannya. Tidak, aku tidak menyangka bisa bertemu
lagi.
Tentu saja, aku pindah ke sini karena berharap bisa bertemu,
tapi setengah dari diriku sudah menyerah karena menganggapnya mustahil secara
realistis.
Tapi, aku menemukannya. Apa sebaiknya aku memasukkan sepuluh
ribu yen ke kotak amal kuil agar doaku terkabul? Aku ingin berpose kemenangan.
"Kou-cha—"
"Soal figur itu, anak bernama Meguru yang kuberi
pertama kali sangat senang. Dampaknya begitu kuat, jadi aku tidak terlalu ingat
pada orang lain."
…………Hah?
"Yah, sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, jadi wajar
kalau tidak ingat, haha. Jadi,
kita buat karakter Kururu itu saja, kan?"
"……tidak."
"Eh?"
"Tidak
mau! Kou-chan bodoh!"
Karena
sedih dan sakit hati, sebelum aku sadar, aku berteriak sekeras-kerasnya.
Aku
langsung berlari menuju tempat parkir sepeda, memutar kunci sepedaku, dan
langsung menaikinya seolah melompat.
Aku tidak
mau berada di sini lagi. Bodoh sekali. Hanya aku... hanya aku yang secara
sepihak menganggapnya berharga...
"……!!"
Saat
mulai mengayuh sepeda, kecepatanku meningkat drastis dan menjauhi mal. Tanpa
memedulikan rasa pegal di kaki, aku terus mengayuh sampai akhirnya sampai di
rumah.
Ibu belum
pulang kerja. Tepat sekali. Aku benar-benar ingin sendiri saat ini.
Aku
merebahkan diri di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar dan
terisak. Sambil menangis, aku
teringat saat pertama kali bertemu dengan Kou-chan.
Saat masih kecil,
fisikku sangat lemah. Karena sering masuk-keluar rumah sakit, aku hampir tidak
punya teman di sekolah dan bisa dibilang masa kecilku sangat kesepian.
Dukungan
emosional terbesarku saat itu adalah anime. Meskipun sekarang tidak terlalu
sering, dulu aku menonton banyak sekali genre.
Salah satu yang paling kusukai adalah genre magical girl.
Sepertinya, aku pun memiliki
kepekaan layaknya anak perempuan pada umumnya.
Berkat langganan streaming
yang dibayarkan Ayah, aku menonton banyak sekali judul. Di antara semuanya, ada
satu karakter yang sangat memikat hatiku, yaitu Kururu-chan dari Magical
Crusade.
Dia sama
sepertiku, fisiknya lemah dan sering dirawat di rumah sakit. Namun, kemampuan
sihirnya adalah yang terkuat di antara karakter lainnya.
Setiap
teman-temannya dalam kesulitan, dia selalu memaksakan diri untuk datang
membantu. Begitu pertempuran berakhir, dia akan pingsan kembali.
Jujur saja, aku
sangat mengaguminya. Bukan karena romansa karakter terkuat yang bernasib
malang, melainkan karena kekuatan hatinya.
Dulu, aku sangat
benci harus pergi ke rumah sakit setiap kali kondisi tubuhku menurun. Namun,
Kururu-chan bisa menerima ketidaknyamanan itu demi orang lain.
Mungkin itu
memberikan pengaruh besar dalam hidupku. Aku mulai menghormati orang yang mampu
bertindak demi orang lain meski harus mengorbankan dirinya sendiri.
Hal itu
masih tidak berubah sampai sekarang. Suatu hari saat aku baru naik kelas dua
SD, sekolah mengadakan acara pemberian hadiah dari sukarelawan teman sekelas
untukku.
Aku
mendengarnya dari Chika yang membawakan lencana kaleng untukku. Gara-gara
kejadian itu, kami jadi akrab dan berteman sampai sekarang.
Aku ingat
ada beberapa gadis lain yang memberikan pernak-pernik kecil. Meski jumlahnya
sedikit, mereka menyisihkan uang jajan demi memberiku hadiah.
Aku
sangat berterima kasih. Meskipun sekarang aku sudah tidak lagi berhubungan
dengan mereka, aku sungguh berharap mereka semua bahagia karena memiliki hati
yang begitu lembut di usia sedini itu.
Hal itu saja
sudah membuatku sangat bersyukur dan merasa puas. Namun, kejutan terbesar
datang di akhir acara, karena katanya ada hadiah dari satu-satunya anak
laki-laki.
Aku
terkejut. Dia datang ditemani wali kelas dan beberapa gadis. Anak laki-laki itu
tampak pendiam dengan pakaian sederhana dan penampilan yang tidak mencolok sama
sekali.
Begitu melihatku,
anak laki-laki itu berkata, "Aku akan membuat sesuatu. Coba sebutkan benda
yang paling kamu sukai."
Aku membeku
karena permintaannya sama sekali tidak terbayangkan.
"Kou-chan
itu sangat terampil dengan tangannya. Dia sudah banyak berlatih, jadi dia bisa
membuat apa saja!" ujar salah satu gadis.
"Apa
saja?" tanyaku.
"Iya! Aku
saja dibuatkan Ripple-chan olehnya. Lihat ini."
Gadis itu menunjukkan layar ponselnya. Ripple-chan adalah
karakter setengah kucing dan manusia dari sekuel Magical Crusade.
Kualitas figur Ripple-chan yang ada di layar itu sangat luar
biasa. Setidaknya, itu benar-benar melampaui level karya anak sekolah dasar.
Sampai sekarang,
aku masih ingat rasa semangat yang kurasakan saat itu. Aku benar-benar berpikir
dia adalah seorang penyihir!
Aku tidak
menyangka anak seusiaku bisa membuat benda yang tampak seperti barang pabrikan.
Aku pun tanpa ragu meminta, "Kururu-chan! Tolong buatkan Kururu-chan dari Magical
Crusade!"
Aku
bahkan berpikir karena dia penyihir, dia bisa langsung mengeluarkan benda itu
seketika. Kou-chan mengangguk setuju dan memintaku menunjukkan referensi
gambarnya.
Dia
menatap buku komik aslinya dengan sangat serius selama beberapa saat.
"Iya, aku rasa aku bisa membuatnya. Tunggu satu minggu lagi, ya,"
ucapnya.
Aku ingat
sempat berpikir, "Kenapa? Apa dia tidak bisa langsung mengeluarkannya
setelah melihat gambarnya?" Anak kecil memang kadang konyol, ya.
Namun,
rasa tidak puas itu segera hilang. Kou-chan mengeluarkan buku sketsa dan mulai
menarik garis dengan kecepatan luar biasa.
Gadis-gadis lain,
bahkan guru kami, ikut mendekat karena penasaran. Aku pun turun dari tempat
tidur dan ikut bergabung.
Aku melihat
sebuah keajaiban di sana. Garis-garis yang tadinya tampak acak perlahan menyatu
hingga menjadi sosok Kururu-chan yang sempurna.
Aku
melihat proses itu dengan mata yang berbinar-binar. Minggu itu terasa sangat panjang bagi kami.
Aku terus
bertanya-tanya, apakah dia sudah selesai? Setelah tiga hari, aku sempat
berpikiran buruk bahwa dia mungkin melupakanku atau menunda pekerjaannya.
Sekarang
kalau diingat lagi, aku benar-benar egois. Padahal Kou-chan pasti mengerjakan itu di
sela-sela tugas sekolah dan membantu orang tuanya.
Dia tidak pernah
mengeluh sedikit pun karena sifatnya yang lembut. Hebatnya, dia bahkan
membawanya tepat di hari keenam.
Kou-chan
menempelkan plester di jarinya, tapi aku sama sekali tidak menyadarinya saat
itu. Ibu baru memberi tahu hal itu setelahnya.
Meskipun masih
anak-anak, aku merasa menyesal pada diriku di masa lalu karena tidak
memperhatikan hal itu. Tapi aku terlalu senang hingga terobsesi dengan figur
pemberiannya sampai lupa berterima kasih.
Benar-benar
payah, ya. Tapi Kou-chan sama sekali tidak marah melihat sikapku itu.
"Aku juga
menonton animenya untuk riset. Kururu-chan anak yang kuat, ya. Dia bertarung
demi kedamaian meski sedang melawan penyakitnya sendiri. Kalau aku, pasti sudah
menyerah."
Aku menoleh dan
akhirnya menatap Kou-chan dengan benar. Baru kali itu ada orang yang menyadari
kekuatan hati Kururu-chan, bukan hanya kekuatan sihirnya saja.
"Iya, kan!
Kururu-chan kuat dan keren sekali, ya!"
Sejak saat itu,
aku terus menceritakan pesona Kururu-chan dengan semangat karena akhirnya ada
orang yang bisa mengerti. Kou-chan mendengarkan dengan gembira dan sesekali menanggapi dengan
antusias.
Rasanya
kami terus mengobrol sampai perawat datang, dan itu adalah hari paling
menyenangkan selama aku dirawat. Setelah itu, Kou-chan datang menjenguk sekitar
seminggu sekali.
Tanpa
kusadari, aku lebih menantikan hari untuk bertemu dengannya dibandingkan siapa
pun. Aku benar-benar menghitung hari dengan jari.
Suatu
hari, saat aku mengeluh soal kondisiku, Kou-chan memberikan kata-kata yang
menjadi hartaku. "Sei-chan
sudah berjuang berkali-kali lipat lebih keras daripada kami, sama seperti
Kururu-chan. Jadi, kamu itu sangat kuat."
Aku yang selalu
dibilang lemah malah disebut kuat, jadi aku sempat cemberut karena mengira dia
sedang menggodaku.
"Ayahku
bilang, manusia akan menjadi kuat sesuai dengan penderitaan yang telah dilalui.
Jadi, Sei-chan yang sudah melewati banyak penderitaan pastilah sudah sangat
kuat."
Dia melanjutkan
dengan mata yang jujur tanpa ada kebohongan sedikit pun. Ada cahaya di matanya
yang menunjukkan bahwa dia benar-benar percaya pada kebenaran itu.
Saat itu aku
tertegun, tapi saat mengingatnya nanti, aku merasa sangat senang karena untuk
pertama kalinya aku bisa menerima diriku yang menderita penyakit. Namun, waktu
menyenangkan bersama Kou-chan tidak bertahan lama.
Kepindahan rumah
sakitku pun diputuskan. Sebenarnya ada pembicaraan untuk pindah ke rumah sakit
besar di Kota Yokonaka sejak awal.
Namun, karena Ibu
bersikeras ingin di rumah sakit lokal Kota Sawamigawa, itulah sebabnya aku
dirawat di sini. Aku sangat bersyukur bisa bertemu Chika dan Kou-chan karena
hal itu.
Sayangnya, dari
sisi medis, pengobatanku di sana berjalan lambat. Setelah pindah, aku
kehilangan kontak dengan Kou-chan dan itu terus menggangguku.
Bukan itu saja,
setelah berpisah, aku baru sadar bahwa itu adalah cinta pertama yang luar
biasa. Saat aku mulai bersekolah kembali, tidak ada anak laki-laki yang
setenang dan sebaik Kou-chan.
Barulah saat
melihat anak laki-laki kelas yang ribut seperti monyet, aku sadar bahwa aku
baru saja mengalami patah hati.
Dalam perjalanan
pulang dari mal, aku terus merenungkan teriakan dan perkataanku padanya. Aku
benar-benar tidak paham kenapa aku sampai seperti itu.
Apakah aku
melakukan sesuatu? Mungkin iya, tapi aku sama sekali tidak tahu apa salahku.
Aku teringat saat
sebelum Mizoguchi-san lari menjauh. Dia memanggilku "Kou-chan
bodoh".
Padahal sepanjang hari itu, dia selalu memanggilku dengan
sebutan Kutsuzawa-kun atau "kau". Kenapa hanya saat itu dia memanggil
nama depanku?
Lalu sebelum dia marah, dia bicara soal Meguru.
Jangan-jangan Mizoguchi-san mengenal Meguru?
Tidak mungkin, dia baru saja pindah tahun ini. Seandainya
pun kenal, itu bukan hal yang harus dipermasalahkan.
Aku sama sekali tidak tahu. Wajah Mizoguchi-san saat menangis terus terbayang di kepalaku.
Setelah sampai di
rumah, aku menerima pesan Rain darinya. Isinya hanya "Maaf".
Aku sempat
bertanya kenapa dia marah, tapi pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas. Lima hari
pun berlalu begitu saja.
Tentu saja kami
tidak bicara di sekolah, dan aku tidak punya keberanian untuk mengirim pesan
lagi. Waktu terus berlalu tanpa kejelasan.
Mungkin ini
kembali ke kehidupanku yang semula. Tapi tetap saja, hatiku terasa tidak
tenang.
Rasa bersalah
karena telah membuatnya menangis dan ketidaktahuanku akan alasannya membuatku
gelisah. Lebih dari itu, aku mulai merasa senang bisa punya teman lagi.
Kondisi di mana
aku membuat orang yang sudah memberiku harapan menjadi marah membuatku merasa
sangat tidak nyaman dan sedih.
"Ah."
Saat aku hendak
keluar kelas, aku hampir bertabrakan dengan Mizoguchi-san yang baru kembali
dari toilet. Sebelum aku sempat meminta maaf, dia sudah berjalan cepat
melewatiku.
Bukan terlihat
marah, wajahnya tampak sedih saat menatapku. Apakah kejadian minggu lalu
meninggalkan bayangan gelap baginya juga?
Kalau aku tidak
terlalu percaya diri, haruskah aku yang mengambil tindakan? Haruskah aku
mengejarnya?
Mengejar seorang
siswi tercantik di kelas? Meski akan diabaikan atau diejek sebagai penguntit
oleh seisi kelas? Apakah aku yang penakut ini mampu melakukannya?
Apakah aku harus
melakukan sejauh itu? Untuk
orang yang marah sendiri, pulang sendiri, dan mengabaikan pertanyaanku?
Di satu sisi aku
merasa begitu, tapi di sisi lain ada rasa bersalah yang mengganjal. Setiap hari
sebelum berangkat sekolah, aku memutuskan untuk bicara padanya, tapi aku selalu
pulang dengan mencari alasan untuk rasa takutku sendiri.
Namun, hari ini
adalah saatnya. Begitu
jam pulang sekolah berakhir, aku berdiri dengan sigap.
Dia juga
baru berdiri dan sepertinya akan pulang bersama Sonoda-san. Jika bisa, aku ingin bicara berdua saja,
tapi keadaan tidak memungkinkan.
Jika bicara
langsung dan ditolak, setidaknya itu sudah berakhir. Aku sudah menunaikan
kewajibanku.
Jika aku tidak
bersikap gigih, seharusnya teman-teman sekelas tidak akan mengejekku. Aku
menguatkan tekad dalam hati.
Tiba-tiba,
"Tunggu sebentar."
Ujung seragamku
ditarik hingga lututku hampir lemas. Saat menoleh, aku melihat Doguchi.
Dia
melemparkan sekaleng kopi kaleng padaku. Aku menangkapnya sambil berpikir ini
seperti adegan di dalam drama.
Kopi itu terasa
sangat dingin dan pas di telapak tanganku yang mulai panas. Meski baru awal
Juni, cuaca sangat panas dan tahun ini dipastikan akan menjadi musim panas yang
ekstrem.
"Aku bayar
ya."
"Nggak usah.
Lagian kita yang egois minta kamu datang ke sini, kan?"
"……Terima
kasih banyak atas traktirannya."
"Nah,
seperti yang mungkin sudah kamu tahu, soal Seika."
"Ya."
"Ah,
sejujurnya aku selalu memihak dia, jadi ada rasa kesal sedikit padamu."
Hie. Apakah ini benar-benar perundungan?
Apakah aku dibenci oleh mereka yang berada di kasta teratas? Meskipun aku
sering merasa takut sebelumnya, kali ini rasanya sungguhan. Skenario
terburuknya adalah aku berhenti sekolah, mengambil ujian kesetaraan, lalu masuk
universitas. Tidak, mungkin lebih baik tidak kuliah dan langsung bekerja di
pabrik saja.
……Aku benci
betapa cepatnya aku memikirkan cara untuk melarikan diri.
Tiba-tiba, wajah Doguchi-san sedikit melunak.
"Tapi ya,
aku juga mengerti kalau dari sudut pandang Kutsuzawa-kun, situasi ini sangat
tidak masuk akal."
"……"
Sepertinya
pembicaraan ini bisa berjalan dengan cukup rasional. Mungkin aku tidak akan
dipukul, kurasa.
"Emm, apakah
Doguchi-san tahu seluruh situasinya?"
"Iya. Kami
bersahabat sejak SD. Aku juga tahu saat dia masih lemah fisik dulu."
"……Lemah
fisik?"
Itu sulit
dibayangkan dari sosok Mizoguchi-san yang sekarang. Dia selalu tampak percaya
diri, ceria, dan energik... yah, meski belakangan ini dia tampak sangat lesu.
Doguchi-san
menatap wajahku lekat-lekat. Tatapannya tajam, seolah sedang menyelidiki
sesuatu. Aku merasa tertekan dan tanpa sadar mundur satu langkah.
"Tidak ada
yang bisa kamu ingat?"
"Meski
ditanya begitu……"
Sejujurnya, aku
sama sekali tidak paham. Aku tidak mengerti maksudnya. Kupikir dia akan
bercerita tentang masa lalu Mizoguchi-san, tapi sepertinya dia tidak berniat
melanjutkannya.
"Kutsuzawa-kun,
apa kamu pernah dibilang orang yang pelupa?"
"Keluarga
tidak pernah bilang begitu. Aku kan tidak punya teman……"
"Ah. Maaf
ya."
Permintaan
maafnya tidak terlalu membantu.
"Yah,
sisanya biar kalian berdua yang selesaikan. Nih."
Doguchi-san
memberikan secarik kertas. Itu adalah salinan peta.
"Lingkaran
merah itu rumah Seika."
Di lokasi
lingkaran merah pada peta itu, berdiri sebuah apartemen baru yang terlihat
cantik. Apakah dinding luarnya menggunakan ubin mosaik? Dari segi teknik
konstruksinya... tidak, sekarang bukan saatnya memikirkan itu.
Di lobi, aku
menekan nomor kamar yang diberitahu Doguchi-san dan memanggilnya. Kupikir
seharusnya aku membuat janji lewat Rain dulu, tapi menurut Doguchi-san,
"Dia itu penakut kalau sudah di saat penting. Kalau dikasih tahu duluan,
dia pasti kabur. Ini serangan mendadak, serangan mendadak." Jadi, aku
datang tanpa memberi kabar apa pun.
Satu kali
panggil, dua kali panggil. Saat aku hendak
berbalik karena mengira dia tidak ada di rumah, terdengar jawaban. Suara wanita, tenang dan rendah.
"Ya."
"Ah, emm.
Saya teman sekelas Seika-san, nama saya Kutsuzawa. Apakah Seika-san ada di
rumah?"
Aku berusaha
bicara dengan sopan meski gugup.
"Eh!? Kou...
Kutsuzawa-kun!?"
Eh, apa itu
dia sendiri? Biasanya
suara orang berubah sedikit lewat interkom, tapi aku benar-benar mengira itu
anggota keluarganya.
"Bagaimana
kamu bisa tahu tempat ini... ah, Chika ya. Benar-benar ikut campur."
"……Maaf.
Sepertinya dia merasa kasihan padaku dan mengulurkan bantuan."
"……Terserahlah,
masuk saja."
Saat panggilan
terputus, pintu otomatis di depanku terbuka. Keamanannya sangat ketat, ya. Jauh
berbeda dengan rumahku. Ingatanku melayang pada saat karyawan pria di rumahku
sedang mengobrak-abrik kotak P3K di ruang tamu. Dia bahkan tertawa tanpa rasa
bersalah sambil menunjukkan jarinya yang berdarah dan berkata, "Aduh,
kecerobohan kecil."
Aku naik ke
lantai tujuh dan mencari kamar 707. Bahkan saluran pembuangan di koridor tidak
ada kotorannya sama sekali. Kebersihan sehari-hari sangat dijaga. Di pabrik
kami, pernah ada kotoran kucing yang sudah mengeras... sudahlah, lupakan. Sejak
tadi pikiranku terus melantur ke hal-hal aneh. Itu berarti...
"Aku
benar-benar gugup, ya."
Aku menarik napas
dalam-dalam. Akhirnya sampai, kamar 707. Jariku gemetar saat menekan bel. Aku
bahkan belum tahu kenapa dia marah.
Aku takut jika
tidak sadar, aku akan menginjak ranjau miliknya lagi. Haruskah aku mencari
alasan dan memahami jawaban benarnya sebelum membuka pintu ini?
Tunggu,
bukankah Doguchi-san bilang dia tahu segalanya? Haruskah aku bertanya
padanya...
"Tidak,
tidak bisa begitu."
Itu
mungkin ide buruk. Jika aku diam-diam menyelidiki dan dia mengetahuinya
nanti... Lagi pula, rasanya Doguchi-san tidak akan memberitahuku.
Dia pasti akan
menolak dengan berkata, "Kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan langsung
pada Seika." Jadi, aku tidak punya pilihan selain membulatkan tekad.
Eeei! Aku memejamkan mata dan menekan interkom.
"……"
Eh? Tidak ada tanda-tanda orang
bergerak di dalam. Padahal bunyi belnya pasti terdengar. Tidak mungkin dia
pergi, kan? Aku menekan sekali lagi, tetap tidak ada reaksi.
"……"
Eh? Jangan-jangan dia hanya
membukakan pintu otomatis di bawah lalu pergi keluar? Apa dia sekejam itu? Aku tidak merasa telah
melakukan kesalahan yang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.
Aku mencoba
meneleponnya. Secara kebetulan, ini adalah telepon pertama kami. Suara ringtone
terdengar tidak jauh dari tempatku. Itu lagu rock dari band gadis yang
populer. Sebelum lagu itu berakhir, teleponnya langsung dimatikan.
"……"
"……"
"Mizoguchi-san?
Apa kamu di sana?"
Mungkin
dia tepat di balik pintu. Di tempat setebal tiga milimeter. Mungkin dia membukakan pintu otomatis lobi
dan langsung menungguku di sini.
Itu berarti dia
punya niat untuk bicara. Tapi mungkin dia membeku saat belnya berbunyi.
Doguchi-san bilang dia penakut di saat penting, sepertinya itu tidak bohong.
"……Mungkin
sulit bagimu untuk bertatap muka? Kalau begitu... aku juga sama. Sejujurnya,
aku tidak tahu kenapa kita yang hampir jadi teman malah jadi begini. Apa aku
melakukan sesuatu? Apa kamu masih marah? Memikirkan semua itu membuatku takut
untuk bicara."
"……"
"Maaf, kalau
mengganggu, aku akan pulang. Aku tidak akan mengirim pesan Rain
lagi."
"Jangan!!"
"Eh?"
Dia memotongku
dengan suara tajam. Saat aku terkejut, pintu kamar terbuka ke arah luar. Aku
hampir saja tertabrak dan buru-buru mundur.
"Tunggu."
Mungkin karena
berteriak, suaranya sedikit serak. Rasanya ini pertama kalinya dalam waktu lama
aku melihat wajahnya secara langsung.
Dia tidak memakai
makeup. Pakaiannya juga santai, hanya kaus putih dan celana training
hitam, benar-benar pakaian rumah. Mizoguchi-san menunduk seolah menghindari
tatapanku. Mungkin tidak menatap lekat-lekat adalah etiket di sini.
"……Masuklah."
Dia mengundangku
dengan suara yang begitu kecil, sangat kontras dengan Mizoguchi-san yang
biasanya, lalu aku pun masuk ke rumahnya.
☆☆☆
Selama lima hari
ini, seolah-olah warna telah hilang dari dunia.
Apa pun yang
kumakan, rasanya langsung terlupakan, bahkan terkadang aku tidak ingat apa yang
sudah kumakan. TV dan video pun sama saja.
Aku bahkan tidak
sadar apakah aku benar-benar menontonnya atau tidak. Ibu sudah khawatir
berkali-kali, tapi aku hanya bisa menjawab "aku baik-baik saja."
Meski
begitu, aku tidak bisa bergerak. Seharusnya tidak begini. Setelah keajaiban
kami bisa bertemu lagi, seharusnya aku mencurahkan semuanya dan berteman
kembali... aku hanya bisa meratapi rencana indah yang tidak terwujud itu sambil
menangis.
Karena
setelah tenang, aku sadar bahwa dari sudut pandang Kutsuzawa-kun, situasi ini
sangat tidak masuk akal dan tidak adil.
Dia
menjawab karena ditanya, menceritakan kenangan masa lalu, lalu aku malah marah
besar dan kami berpisah dengan perasaan yang sangat buruk... ini sungguh...
Aku
dibenci. Aku tidak ingin memastikannya, jadi aku menghindari kontak. Itu hanya
penundaan. Aku tahu aku harus meminta maaf, dan aku tahu semakin aku menunda,
semakin buruk pandangannya terhadapku.
Namun,
aku takut ditinggalkan, dan dalam hati aku berharap dia akan datang dengan
lebih memaksa. Maksudku, apakah Kutsuzawa-kun tidak keberatan jika hubungannya
denganku putus?
Dia
bahkan tidak mengejarku meski aku menolaknya sedikit... aku bahkan berpikir hal yang
tidak tahu malu seperti itu. Padahal aku sendiri tidak memberi penjelasan apa
pun, jadi tidak mungkin dia bisa mendekat. Aku benar-benar merepotkan.
Namun...
dia datang demi wanita seperti ini. Tapi di sini pun, meski hatiku sangat senang dan ingin segera berlari
menemuinya, aku malah merasa takut. Aku baru berani saat hubungan kami berada di ambang kehancuran. Betapa
menyedihkannya diriku.
"Haa~"
Aku
mengambil botol teh Oolong dari kulkas dan menuangkannya ke gelas sambil
menghela napas pelan. Aku meletakkan gelas kami di atas nampan dan kembali ke
ruang tamu dengan perlahan.
Aku
meletakkan nampan di meja kaca dan duduk di sofa. Sofanya diatur membentuk
huruf L agar mudah menonton TV, bukan saling berhadapan, jadi aku duduk agak
miring di hadapannya.
Aku memperhatikan
profil samping Kutsuzawa-kun sekali lagi. Kalau dipikir-pikir, ada kemiripan. Begitu
ya, mungkin di suatu bagian otakku, aku sudah menyadarinya. Makanya aku
begitu terobsesi dengannya.
Wajah seriusnya
keren, tapi saat dia menggaruk pipinya dengan canggung, dia terlihat imut. Saat
aku menatapnya begitu saja, Kutsuzawa-kun perlahan menoleh ke arahku. Aku malu
dan langsung menunduk.
"……Kenapa
wajahmu dipalingkan?"
"Soalnya,
sekarang aku tidak pakai makeup."
Suaraku
bergetar. Tidak,
aku benar-benar tidak bisa bicara dengan baik.
"Tadi
aku jelek ya?"
Pria baik
seperti Kutsuzawa-kun tidak mungkin bilang "iya" setelah ditanya
seperti itu.
"Tidak, sama
sekali tidak."
"Lalu, apa
yang kamu pikirkan?"
"……Kalau
kujawab jujur, takutnya kamu merasa jijik."
"Katakan
saja."
Diriku yang
jijik, tahu! Kenapa aku begitu ingin dia mengatakannya?
"……Tampil
tanpa makeup seperti ini saja sudah tidak adil, menurutku."
"Maksudnya?"
"Itu...
ehem."
"Ya."
"Ternyata
kamu memang cantik."
"~~!"
Adrenalin terasa
menyembur di otakku seperti air mancur. Cantik, indah... selama ini pria mana
pun yang mengatakannya, aku selalu merasa "aku tahu" dan merasa risi
karena mereka terlalu kentara punya niat buruk. Apa ini? Aku ingin
berteriak.
"Mohon
jangan salah paham. Ini pertama kalinya aku mengatakannya pada seorang
gadis."
Jantungku
benar-benar terasa akan melompat.
"Ah, tidak.
Pernah, ya."
"Eh!?" Pada
siapa?
"Waktu kita
janjian di mal, ke Mizoguchi-san."
Itu aku! Benar, dia memang mengatakannya. Waktu
itu aku juga malu, tapi...
Tapi tunggu.
Waktu itu dia mengatakannya dengan santai, sementara sekarang dia merasa cemas
akan dianggap jijik... itu berarti, jarak kami memang sudah menjauh, ya. Dadaku
sakit sekali.
Tidak mungkin aku
merasa jijik saat dipuji oleh Kutsuzawa-kun, dan fakta bahwa aku membuatnya
merasa cemas seperti itu terasa begitu menyakitkan.
Mengabaikan
emosiku yang tidak stabil, Kutsuzawa-kun memiringkan gelasnya dan meminum teh
Oolong. Lalu dia menghadap ke arahku.
"Itu,
Mizoguchi-san."
"Hm?"
"Tentang
tujuan utamaku ke sini..."
"Ah, ya." Benar juga, dia pasti datang untuk
membahas itu.
"Sebenarnya, aku sudah sampai di sini, tapi sejujurnya
aku tidak tahu kenapa kamu marah waktu itu, jadi aku ingin mendengarnya
darimu."
"Begitu,
ya." Mustahil kamu bisa mengerti sendiri.
"Apa aku
melakukan sesuatu?"
"Bu-bukan,
kok!"
Aku juga harus
berani. Kutsuzawa-kun tetap datang meski aku terus mengabaikannya. Dia datang
tanpa meninggalkan wanita yang tidak masuk akal ini. Sekarang giliranku.
"……Tunggu
sebentar. Ada yang ingin kutunjukkan."
Hanya itu yang
kukatakan, lalu aku kembali ke kamarku. Aku membuka walk-in closet,
dan membawa kotak figur yang tersimpan di dalamnya dengan kedua tangan. Figur
Kururu-chan yang kudapat delapan tahun lalu.
Aku menarik napas panjang. Akhirnya aku akan menunjukkan ini. Dalam pikiranku, 90% yakin Kou-chan
adalah Kutsuzawa-kun, tapi belum 100%. Aku akan menjadikannya fakta sekarang.
Aku menekan jauh-jauh kemungkinan salah duga yang mungkin masih ada.
★★★
Saat
Mizoguchi-san meninggalkan ruang tamu, keheningan langsung menyelimuti. Suara
detak jam dinding terdengar begitu keras. Canggung sekali. Atau
jangan-jangan, rumah ini hanya ada Mizoguchi-san saja?
Saat aku mulai
cemas apakah ada hal yang salah, pintu ruang tamu terbuka dan dia kembali. Dia
membawa sesuatu di tangannya. Sebuah kotak transparan. Aku menahan napas saat
melihat isinya.
"……Figur itu. Itu... yang kubuat."
"Ternyata
benar... ternyata memang kamu."
"Wah,
nostalgia sekali. Boleh aku melihatnya dari dekat?"
Sebagai ganti
jawaban, Mizoguchi-san meletakkan kotak itu di atas meja. Figur seorang gadis
berambut hitam dengan gaun hitam. Aku ingat saat membuatnya dulu, aku sampai
harus menusuk jariku dengan kawat aluminium hingga harus memakai plester, tapi
aku membuatnya dengan penuh semangat. Karena itu menyenangkan. Dan karena aku
ingin dia senang.
"Ah,
warnanya memudar. Detailnya juga terlalu sederhana, ya. Aku ingat saat membuat
wajahnya, keringatku menetes dan aku panik. Wah, nostalgia sekali."
Seperti sedang
bermain game balap, aku menggoyangkan tubuh ke kiri dan kanan untuk
mengamati seluruh bagiannya. Tapi, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan.
Bukankah ini
kuberikan pada anak yang dirawat di rumah sakit? Namanya... Sei-chan. Klik.
Sinapsis di otakku tersambung.
"Sei-chan!? Ah! Yang membelah bintang (Sei-ka)!"
Aku ingat mendengar penjelasan itu saat menanyakan nama
aslinya di kamar rumah sakit dulu. Sinapsis terus tersambung, dan berbagai
kenangan muncul dari hipokampus secara beruntun.
Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari samping, melingkar di
leherku, dan aku ditarik dengan kekuatan luar biasa hingga tubuh hangatnya
menempel padaku.
Saat menoleh dengan terkejut, wajah Mizoguchi-san tepat di
depanku. Dia menangis. Air mata
berkilau terjalin di bulu matanya yang panjang. Mungkin terdengar kejam
mengatakan ini pada gadis yang sedang menangis, tapi... dia cantik.
"Kou-chan.
Kou-chan. Kita bertemu. Benar-benar
nyata, aku bisa bertemu lagi...!"
Sepertinya
dia sangat emosional, dia meletakkan dahinya di bahuku sambil terisak.
Eee... yah, menurutku ini kebetulan yang
luar biasa, tapi ingatanku mengatakan kami tidak menghabiskan waktu selama itu
hingga harus sampai pada reuni yang mengharukan ini. Mungkin sekitar sebulan, dan karena itu seminggu
sekali, praktis kami hanya bertemu sekitar empat kali.
Bagaimana ini? Haruskah aku menepuk punggungnya untuk
menenangkan?
Jangan sampai
dianggap pelecehan seksual... yah, kurasa dia bukan orang yang akan bicara
seperti itu.
Saat aku
ragu-ragu untuk mengulurkan tangan, aku menyadari tanganku gemetar dan itu
terasa memalukan. Itu level tangan perawan yang bisa dikenali hanya dari ujung
jarinya.
Pada akhirnya,
aku tidak punya keberanian. Aku hanya duduk terpaku saat dipeluk, menunggu dia tenang.
Mungkin sekitar
dua atau tiga menit. Terasa lebih lama, tapi jarum panjang jam dinding hanya
bergerak sedikit. Akhirnya, tubuh Mizoguchi-san perlahan menjauh dan wajahnya
yang menangis terlihat di depanku. Matanya merah dan bibirnya masih bergetar.
"Kamu
baik-baik saja?"
Dia
mengangguk pelan, lalu berbalik membelakangiku. Dia mengambil cermin tangan di
atas meja untuk memeriksa wajahnya.
"Emm,
haruskah aku keluar?"
"Tidak
usah. Kalau menangis setelah pakai makeup, aku akan terlihat lebih
jelek."
Dia
masih berencana menangis?
"Bukankah
tadi kamu bilang aku cantik sekali meski tanpa makeup?"
"Aku
tidak bilang 'sekali', tapi yah, iya."
Faktanya
adalah aku merasa dia cantik bahkan saat sedang menangis.
"Jadi,
gadis waktu itu adalah Sei... maksudku Mizoguchi-san, kan?"
"Nama."
"Eh?"
"Tadi
di interkom kamu memanggil Seika-san, dan barusan juga memanggil Sei-chan,
kenapa sekarang jadi kembali (formal)?"
Ujung
kalimatnya meninggi seperti anak kecil. Sangat kontras dengan gals
tangguh yang biasanya. Tentu saja aku punya pembelaan.
"Waktu
di interkom aku kira anggota keluargamu yang menjawab. Karena kesan suaranya berbeda. Panggilan Sei-chan
pun karena aku terbawa kenangan masa lalu... Mizoguchi-san juga."
"Nama!"
Karena dia
merajuk seperti anak kecil, aku lupa dengan situasinya dan wajahku sedikit
mengendur.
"Emm, kalau
begitu Seika-san?"
"……Untuk
sekarang, itu boleh."
Mungkin dia juga
masih terbawa kenangan masa kecil.
Setelah urusan
panggilan selesai, aku kembali menghadapnya. Masih ada hal yang harus
kubicarakan dan kutanyakan.
Namun,
sebelumnya.
"Pertama-tama...
maafkan aku karena melupakanmu sampai saat ini dan tidak menyadarinya. Karena
hal ini kamu marah, ya."
Aku menundukkan
kepala dalam-dalam di depannya.
Bagiku, dia
hanyalah orang yang sedikit akrab saat aku memberikan figur itu, tapi baginya,
itu memiliki arti yang jauh lebih besar.
Jika memikirkan
situasinya, dan melihat bagaimana Kururu-chan ini disimpan dengan baik, itu tak
terelakkan.
"Maafkan
aku."
Aku
menunduk lagi.
"Tidak, aku
juga minta maaf. Lagipula aku sendiri baru yakin saat di mal, kita hanya
bertemu beberapa kali saat kecil, dan aku hanya ingat nama panggilannya saja.
Tidak heran kamu lupa. Sungguh, maafkan aku."
Aku merasa lega
mendengar kata-katanya yang lembut.
"……Yah,
kalau kamu tidak menghubungkannya denganku sih tidak apa-apa, tapi aku syok
karena eksistensiku sendiri dilupakan."
Dia mengangkat
wajah. Dia tersenyum, tapi matanya tidak terlalu tertawa.
"Aku
benar-benar diselamatkan oleh kata-katamu, Kou-chan, dan aku selalu melihat
figur ini untuk bersemangat saat merasa lelah. Aku tidak pernah melupakan
Kou-chan. Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa. Aku kan cuma salah satu dari
banyak orang yang dibuatkan figur olehmu, kan?"
Dia
benar-benar masih mendendam. Telapak tanganku mulai berkeringat.
"Emm, apa
yang harus kulakukan supaya kamu memaafkanku?"
"Elus
aku."
"Hah?"
"Tadi kamu
mau mengelus punggungku, kan? Itu."
Dia
memperhatikannya ya. Dan
lagi, dia minta diulangi.
"Hm."
Seika-san—bukan
Mizoguchi—berdiri dan merentangkan kedua tangannya ke arahku.
"Se-serius
mau melakukan ini?"
Aku ikut berdiri,
tapi karena posisinya sama dengan tadi...
"Hm."
Mau tak
mau kami harus berpelukan dan aku harus melingkarkan tangan ke punggungnya.
Sebelum aku sempat ragu... waaaah.
Seika-san
melompat masuk tanpa jeda. Aku tidak punya waktu untuk berpikir dan langsung
memeluknya.
Wah,
lembut. Aku pikir
dia orang yang ramping, tapi ternyata dia gadis juga. Gawat. Jantungku
berdetak dengan kecepatan yang belum pernah kudengar. Ah, tapi dada kiri
Seika-san yang menempel di dada kananku juga berdetak dengan kencang. Tunggu... dada kiri?
Kelembutan
ini, mungkinkah...
"Bagaimana?
Ternyata dadaku lumayan berisi, kan?"
Dia mengatakannya
sambil tertawa menantang, tapi wajahnya merah padam. Tubuhnya juga sedikit
gemetar. Be-benar-benar tidak terbiasa, ya. Sama sepertiku. Kalau
dipikir begitu, mungkin aku bisa sedikit tenang... tapi mana mungkin bisa
tenang!
Eeei, aku harus mengelusnya. Karena itulah
yang kami bahas tadi. Aku menggerakkan tanganku yang sedari tadi melingkar di
punggungnya. Sesaat kemudian, jemariku menyentuh sesuatu seperti gundukan.
"Ah!"
Aduh, jangan mengeluarkan suara aneh seperti
itu. Saat aku mencoba mengintip wajahnya, dia membuang muka karena malu. Berkat
reaksi itu, aku akhirnya sadar bahwa itu adalah tali bra. Tentu saja, itu tubuh
seorang gadis, jadi wajar jika dia mengenakan pakaian dalam. Meski secara teori
aku tahu, menyentuhnya secara langsung dengan tanganku terasa sangat nyata.
Hidungku bisa mimisan. Tidak, bagian punggung tidak boleh. Aku
memutuskan untuk mengubah taktik dan meletakkan tanganku di kepalanya yang
berada dalam jangkauan. Kepalanya terasa bulat dan hangat. Saat aku mengelusnya
pelan, tercium aroma harum dari rambutnya.
"Kepala..."
"Ti,
tidak boleh ya?"
"Tidak
kok, boleh saja. Rasanya nyaman."
Suaranya
yang lembut mengguncang telingaku. Rasanya seperti ada magma yang mengalir ke
dalam dadaku. Visi tentang diriku yang memeluk tubuh lunak namun rapuh ini
secara paksa berlarian di dalam otakku. Bagian diriku yang biasanya tenang pun
terkejut karena ternyata ada dorongan liar yang tertidur dalam diri seorang
pria herbivora sepertiku.
Tanpa
kusadari, aku sudah mengelus rambutnya, bukan lagi sekadar kepalanya. Meski
diwarnai cukup keras, rambutnya tidak banyak yang rusak dan hampir tidak
tersangkut di jari-jariku. Kurasa dia menghabiskan banyak waktu dan uang untuk
merawat rambutnya.
Pasti
bukan hanya rambut, tapi tubuh dan wajahnya pun mendapatkan perawatan yang tak
terbayangkan oleh pria. Dan aku, diizinkan untuk menyentuhnya. Aku merasa
pusing.
Aku
menurunkan tanganku sekali lagi ke punggungnya. Aku ingin mencoba memeluknya
dengan erat. Pasti dia tidak akan membencinya, kan?
"Seika-san."
Tepat
saat jemariku hendak menyentuh pinggangnya yang ramping, terdengar suara
gemerincing dari arah pintu masuk. Seika-san melepaskan diri dariku seperti
orang yang tersengat listrik.
"Gawat!
Mama pulang!"
Waduh. Kalau terlihat seperti ini,
mungkin aku akan membuat ibunya teringat akan masa mudanya. Aku segera menjauh,
merapikan kemejaku yang berantakan, lalu berdiri tegak menyambut sang pemilik
rumah.
Pintu ruang tamu
terbuka dan sang ibu masuk. Matanya yang sedikit tajam mirip dengan Seika-san.
Usianya mungkin sekitar awal empat puluhan. Dia tidak terlihat terlalu terkejut
saat melihat wajahku, mungkin karena dia sudah melihat sepatu di pintu masuk.
"Seika, itu
temanmu?"
"Iya."
"Ah, halo.
Maksud saya, sudah lama tidak bertemu. Saya teman sekelas Seika-san, nama saya
Kutsuzawa Kousei."
"Kutsuzawa... Kousei-kun."
Wanita itu menatapku dengan wajah tegang. Kurasa dia tidak bermaksud memusuhiku, tapi sorot
matanya jauh lebih tajam daripada Seika-san.
"Dulu saat
Seika-san dirawat di rumah sakit, saya sempat beberapa kali menjenguk, dan saat
itulah..."
Seharusnya kami
pernah bertemu, tapi sejujurnya aku sama sekali tidak ingat. Jika aku ditatap
sekuat ini, seharusnya aku tidak akan melupakannya. Yah, mungkin karena dulu
dia menganggapku anak kecil, sedangkan sekarang aku hanyalah orang asing yang
misterius dan menyelinap masuk ke rumah mereka saat pemiliknya tidak ada.
"A-ah! Kamu
itu Kou-chan! Ibu juga ingin berterima kasih padamu!"
Nada bicaranya
berubah drastis. Dia
melangkah lebar-lebar ke arahku. Menakutkan, menakutkan. Ya, Seika-san
benar-benar mirip ibunya.
"Terima
kasih banyak sudah menjadi pendukung bagi Seika saat itu."
Jadi aku
benar-benar menjadi pendukungnya, ya. Meskipun kurasa sebagian besar adalah
berkat figur yang kubuat.
"Sebenarnya
kami ingin berkunjung ke rumahmu untuk berterima kasih, tapi... setelah pindah
rumah sakit dan berbagai hal terjadi, kami jadi sangat sibuk, ya?"
Ya? Sepertinya dia tidak perlu
bertanya begitu. Namun, saat melihatnya terus bicara tanpa henti, aku hanya
bisa tersenyum canggung. Rupanya dia menganggap jarak di antara kami sudah
semakin dekat, sampai-sampai dia mulai berhenti menggunakan bahasa formal.
"Tidak
apa-apa, saya melakukannya sekalian latihan membuat figur, jadi jangan
dipikirkan."
"Oh, begitu?
Senang mendengarnya."
Rasanya dia
memang menunggu jawaban itu. Dia sangat berani, ya. Tapi bagi orang yang lebih
tua, hal seperti itu mungkin tidak jarang terjadi.
"Tapi
syukurlah, ya, Seika. Akhirnya kamu bisa bertemu dengan Kou-chan kesayanganmu
yang selama ini kamu cari."
Kou-chan
kesayangan? Ah, tunggu,
"kesayangan"? Apa maksudnya!?
"Ma!
Mama! Bukan begitu! Kou-chan bukan begitu! Ya, aku hanya ingin berterima kasih padanya, sama
seperti Mama! Lagipula, saat aku pindah rumah sakit dulu, aku tidak sempat
mengucapkannya dengan benar, kan?"
Ya? Lagi-lagi dia bertanya seperti
itu.
"Tidak,
tidak apa-apa. Saya tidak akan salah paham, kok."
"Ah..."
Aku
mengatakannya agar dia tenang, tapi entah kenapa dia malah menatapku dengan
mata berkaca-kaca. Apakah bibirnya yang sedikit terbuka itu ingin mengucapkan
sesuatu?
"Ngomong-ngomong,
karena kudengar kalian pindah ke sini saat masuk SMA, kupikir kalian
benar-benar orang baru. Ternyata
kalian hanya kembali ke sini, ya."
Karena itulah aku
sama sekali tidak terpikir kalau kami mungkin pernah bertemu saat kecil.
Memikirkan kembali kejadian di mal saat dia marah padaku, rasanya itu memang
misi yang mustahil.
Aku merasa kagum
karena dia sampai rela pindah ke sini hanya untuk berterima kasih atas kejadian
masa lalu... tapi sepertinya bukan itu saja alasannya. Seika-san dan ibunya
terlihat sedikit canggung.
"Yah, karena
berbagai keadaan keluarga juga. Tentu saja, benar juga kalau kami ingin
berterima kasih padamu jika bisa bertemu."
Sang ibu
menjelaskan untuknya. Aku tidak tahu apa masalah keluarganya, tapi mungkin
mereka memang berada dalam kondisi yang harus pindah. Jadi, mereka memilih
Sawamigawa karena pernah tinggal di sini dan mungkin berharap bisa bertemu
dengan orang yang ingin mereka beri ucapan terima kasih.
"Sekali
lagi... benar-benar minta maaf. Dari sudut pandang Kou-chan, wajar saja jika
kamu tidak tahu."
Setelah selesai
menjelaskan semuanya, Seika-san sepertinya sudah bisa melihat situasinya dengan
tenang. Tapi dia sudah meminta maaf berulang kali, dan aku sendiri tidak punya
ganjalan apa pun. Seperti katanya, memang sulit untuk menyatukan ingatan antara
Sei-chan dan Seika-san, tapi tetap saja aku merasa bersalah karena melupakan
Sei-chan sepenuhnya.
"Selama lima
hari ini juga... sikapku sangat buruk, kan?"
"Tidak, aku
sudah mengerti perasaanmu."
Membayangkan
orang yang kamu hormati selama bertahun-tahun ternyata tidak mengingatmu sama
sekali pastilah sangat menyakitkan.
"Tapi pesan Rain
pertama dariku bahkan hanya dibaca tanpa dibalas."
"Lain kali
akan kubalas. Dengan hal-hal sepele... mungkin soal panglima perang."
"Kou-chan...
terima kasih. Meskipun aku keberatan soal panglima perang."
Meski masih
canggung, kami berdua tertawa bersama.
Tiba-tiba,
terdengar dehaman yang dibuat-buat dari Mama. Maaf, Mama, aku hampir
melupakannya.
"Apa kalian
berdua sedang berpacaran?"
Tanpa sempat
merasa gugup, Kou-chan langsung menyangkalnya. "Tidak, bukan begitu."
Kenapa dia menjawab secepat itu? Bukankah dia terlalu tenang?
"Begitu?
Padahal saat Mama masuk tadi, suasananya terasa agak romantis, kan?"
"Tidak, sama
sekali tidak ada apa-apa."
"Sudah
kubilang dia terlalu tenang, Kou-chan... itu membuatku sakit hati." Bukan
berarti aku menyukainya, sih.
"Hanya saja,
aku sempat menyentuh tubuhnya, tapi tanpa kesepakatan."
Dia sama
sekali tidak tenang tadi, kan!?
"I-itu
namanya pelecehan seksual! Tenanglah sedikit!"
"Pe-pelecehan
seksual!? Kalau mendapat nama buruk seperti itu, aku tidak bisa... Ayah, Ibu,
maafkan anakmu yang tidak berbakti ini."
"Kapan
terakhir kali aku mendengar kalimat itu!?"
Aduh, kacau
sekali. Mama tertawa
lebar melihat kami. Sudah lama sekali aku tidak melihat senyum Mama yang
seperti itu.
"Ahahaha.
Haa, kalian lucu sekali. Tidak kusangka dia bisa bilang pada ibunya sendiri
kalau 'tanpa kesepakatan'... ah, lucu sekali."
"Omong-omong,
itu sebenarnya sudah ada kesepakatan, ya."
Aku harus
menegaskan hal itu. Lagipula, akulah yang memeluknya duluan.
"Mama tahu,
kok. Saat kamu membawa pria ke kamar berdua saja, itu berarti kamu punya
perasaan..."
"Ah, sudah!
Tidak perlu bicara yang tidak perlu!"
Saat aku
dan Mama mulai berdebat, Kou-chan melirik jam. Melihat itu, kami pun diam. Saat dia berdiri, aku
tahu waktunya sudah tiba.
"Ah, aku
hampir lupa. Ini oleh-oleh. Kupikir makanan yang bisa habis lebih baik. Mungkin
sudah dingin, sih."
"Wah, maaf
merepotkanmu."
"Emm, ini
Imagawayaki."
"Imagawa
Yoshimoto!?"
Dia
benar-benar membuatnya!
Karena aku lengah, aku gagal menghentikan kegilaannya!
"Kamu bicara
apa sih?"
Mama menatapku
dengan tatapan seolah dia salah mendidikku, sambil mengeluarkan bungkusan putih
dari kantong kertas.
"Ini
Imagawayaki, kan?"
"Iya, karena
mendadak, saya hanya bisa menyiapkan ini."
"Tidak,
tidak. Harusnya kami yang berterima kasih padamu. Ayo, kamu juga."
"Eh? Ah,
terima kasih."
"Iya.
Tapi... apa kamu baik-baik saja, Seika-san? Kamu tiba-tiba bicara yang
aneh-aneh."
"Kamu itu
benar-benar tidak boleh berkhianat, tahu!"
Kenapa wajahmu
bisa terlihat begitu bingung? Padahal kaulah sumber masalahnya.
"Yah...
memang benar Imagawa Yoshimoto sudah lama tewas, dan kue ini juga sudah dingin,
sih. Hahaha."
"Seleramu
tajam sekali. Jangan tertawa."
Anak yang dulu
begitu polos, kenapa sekarang jadi orang yang menarik seperti ini?
Kami sampai di
lobi lantai satu apartemen, tapi aku masih enggan berpisah. Aku duduk di sofa
umum dan memintanya untuk duduk di depanku. Waktu menunjukkan pukul enam tepat.
Aku tahu menahannya lebih lama akan merepotkan, tapi kami masih kurang bicara.
"Tapi ya,
saya terkejut. Sei-chan itu... ternyata sudah benar-benar sehat.
Syukurlah."
"Yah,
katanya gejalanya akan berkurang seiring bertambahnya usia."
"Kalau
begitu... mungkin sudah terlambat, tapi saya ingin memberi hadiah perayaan
kesembuhan. Yoshimoto seperti apa yang kamu inginkan?"
"Bisa tolong
berhenti menganggap Yoshimoto sebagai standar?"
"Eh, soalnya
tadi kamu sempat salah mengira Imagawayaki sebagai Yoshimoto."
"Itu karena
Kou-chan! Waktu di mal!"
Sampai di sana,
aku sedikit ragu. "Terlambat sih, tapi mulai sekarang aku harus
memanggilmu apa? Kou-chan? Ko... Kousei?"
"Panggil
sesukamu saja."
"Begitu,
ya."
Sejujurnya, aku
ingin memanggilnya Kou-chan, tapi panggilan itu selalu membuatku teringat
kenangan masa kecil yang membuatku merasa lemah. Aku ingin menjadi diriku yang sekarang. Jadi,
aku akan menjadi berani dan menjadi diriku sendiri.
"Kalau
begitu, Kousei saja. Ah, tapi apa kamu lebih suka nada bicaraku yang lucu
seperti dulu?"
Aku
terkejut sendiri saat nada bicaraku berubah menjadi manja di akhir kalimat. Apakah aku benar-benar bisa mengeluarkan
suara manja seperti ini?
Tapi kalau dia menuntut hal seperti ini terus-menerus...
"Tidak,
jadilah dirimu sendiri saja, Seika-san."
"Begitu
ya."
"Lakukan
saja seperti biasanya, jangan pedulikan hal kecil dan teruslah maju. Kamu kan seorang gals."
"Kamu
seperti mengejekku, ya?"
"Tidak
mungkin. Mana mungkin."
"Bagian mana
yang kau sangkal? Bilang
saja kalau kamu tidak mengejekku!"
"Eh?"
"Pulang
sana! Bodoh! Okehazama!"
"Iya,
iya."
Kousei berdiri.
Aku merasa kesepian, tapi ini memang sudah waktunya dia pulang.
"Sampai
jumpa besok."
"Iya."
"Ah,
tunggu."
Saat berjalan
beberapa langkah, Kousei menoleh ke arahku.
"Ada
apa?"
"Aku senang
kamu menjaga figur itu dengan baik. Meski nada bicara dan suasanamu berubah...
bagiku kamu tetaplah gadis berhati lembut yang bisa menghargai pemberian orang
lain. Baik Sei-chan maupun Seika-san. Jadi... aku senang bisa bertemu lagi."
Setelah
mengatakan itu, Kousei melewati pintu otomatis. Saat aku menatap punggungnya
dengan terpaku, aku bergumam, "Itu... curang sekali."
Aku tidak
bisa lagi membohongi diriku sendiri.
――Aku memulai
kembali babak kedua dari cinta pertamaku.
Illustrasi | ToC | Next Chapter



Post a Comment