NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Gyaru no Jitensha o Naoshitara Natsuka Reta Volume 1 Chapter 1


1

★★★

Suara dentuman keras terdengar.

Diikuti oleh pekikan panik seorang wanita, "Woaah!"

Aku menoleh dan mendapati seorang wanita yang sedang menaiki sepeda hampir terjungkal bersama kendaraannya.

Sepertinya dia mencoba naik ke trotoar dari sudut yang miring, entah karena kehilangan keseimbangan atau ban depannya yang selip. Situasinya tampak sangat gawat.

"Bahaya!" pikirku.

Tubuhku bergerak sendiri, dan aku berlari ke arah sepeda itu dengan kecepatan yang tidak mungkin kulakukan dalam keadaan normal.

Aku memeluk keranjang depan sepeda itu dan menariknya, berusaha memiringkannya ke arah trotoar. Kaki wanita itu juga berhasil menapak, membuat sepedanya kembali seimbang dan tegak.

"A-apa kamu tidak apa-apa?"

"Makasih, beneran ketolong banget! Ternyata Kutsuzawa-kun larinya kenceng juga, ya!"

Mendengar suaranya yang penuh semangat, aku yang tadinya hanya fokus pada sepeda akhirnya menoleh ke pemiliknya.

Riasan matanya berkilau, mempertegas bentuk matanya yang tajam dan cantik meski tampak sedikit galak.

Hidungnya mancung dan rapi, sementara bibirnya dipoles lipstik merah muda yang tidak terlalu mencolok.

Tiga tindik barbel perak di telinganya memberikan kesan yang cukup agresif.

Ini pertama kalinya aku melihat wajahnya sedekat ini, tapi kurasa dia salah satu anggota grup gyaru di kelasku.

Namanya kalau tidak salah...

"Doguchi-san, ya?"

"Hah?"

Seketika, sang gyaru itu mengangkat satu alisnya, berusaha mengintimidasiku.

Seram sekali.

"Aku Mizoguchi Seika. Doguchi itu teman aku."

"Ah, begitu ya. Ma-maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf."

Gawat.

Aku salah sebut nama.

Hal-hal kecil seperti ini sering kali jadi pemicu perundungan, seperti yang sering diberitakan di TV dan internet.

Aku baru saja masuk SMA, belum punya teman sama sekali.

Kalau sampai harus berurusan dengan grup gyaru yang menduduki kasta tertinggi di kelas, tamat sudah riwayat kehidupan sekolahku.

"Terus, kamu itu..."

"Ayah, Ibu. Maafkan anakmu ini yang harus pergi lebih dulu."

"Hah!? Kamu mau mati?"

Suara Mizoguchi yang terdengar sangat bingung membuatku terkejut.

Kalau diperhatikan baik-baik, dia tidak memiliki tatapan licik yang lembap dan menjijikkan seperti orang-orang yang biasanya melakukan perundungan.

"Enggak tahu kenapa, tapi kamu lucu juga, ya... eh, bukan itu maksudnya. Karena aku sudah kasih tahu namaku, setidaknya perkenalkan dirimu juga dong? Aku merasa jadi orang bodoh kalau cuma aku yang sebut nama."

Ternyata dia tipe orang yang memedulikan etika.

Memang benar, sudah salah sebut nama, setelah dia memperkenalkan diri dan aku malah pergi begitu saja, itu sungguh tidak sopan.

"Ehm, namaku Kutsuzawa Kousei."

"Kou... sei."

"Ah, kalau kanjinya, 'Kou' dari kesehatan, dan 'Sei' dari hidup."

Terkadang ada yang membacanya 'Yasuo', tapi sebenarnya aku cukup menyukai namaku ini.

Nama panggilannya 'Seika' juga terdengar bagus, meski aku sedikit penasaran dengan kanjinya.

Tapi kalau elite loner sepertiku yang bertanya, mungkin akan dianggap menjijikkan olehnya.

Ugh. Cuma karena bantu sedikit pas dia hampir jatuh, masa iya langsung mau panggil nama depan? Menjijikkan! Yuk, kita bully saja dia, pikirku berandai-andai.

"Ayah, Ibu, maafkan anakmu ini yang harus pergi lebih dulu."

"Kenapa dari tadi kamu sedikit-sedikit mau mati sih?"

Mizoguchi mengeluarkan suara kesal.

Tapi tentu saja aku tidak bisa bilang kalau aku sedang terkena delusi ketakutan karena takut di-bully olehnya.

Lagipula, tidak ada gunanya lagi kita terus mengobrol.

Hal terbaik adalah pergi sebelum aku memberikan kesan buruk.

Toh, aku tidak mungkin memanggil nama depannya seumur hidupku.

"Ehm, kalau begitu, aku duluan ya."

"Ah, iya. Makasih ya sudah bantu."

Ternyata Mizoguchi tidak semenakutkan yang kukira kalau diajak bicara.

Tapi ya sudahlah, tidak masalah.

Lagipula, kemungkinan besar kita tidak akan berurusan lagi setelah ini...

Clank!

Suara aneh membuatku menoleh.

Mizoguchi sedang mencoba menjalankan sepedanya, tapi sepeda itu tertahan seolah-olah dipaku ke tanah.

"Waduh, sial banget. Kayaknya rantainya lepas!"

Ah, oke.

Lupakan apa yang baru saja kupikirkan.

Sepertinya aku masih harus berurusan dengannya.

"Itu... ehm, perlu kubantu perbaiki?"

"Serius!? Kamu bisa benerin?"

Dia menatapku dengan mata berbinar-binar.

Aku memberikan peringatan "mungkin" sebelum kembali ke sisinya.

Aku menurunkan standar sepeda dan memeriksa kondisinya.

Rantai berwarna hitam itu terlepas bersih dari roda belakang.

Aku berdiri, memegang setang, dan mengubah operan gigi ke posisi satu.

Aku mengeluarkan sarung tangan dari dalam tas dan memakainya.

Kemudian, aku memasangkan rantai yang lepas itu ke gigi paling luar dan paling kecil di roda belakang.

Aku menarik bagian rantai yang kendur ke arah setang dan memasangkannya ke gigi roda depan sampai benar-benar pas.

Dengan satu tangan menarik rantai perlahan, tangan lainnya memutar pedal ke arah berlawanan.

Krack-krack—suara putaran yang normal terdengar.

Beres.

"Keren! Kutsuzawa-kun, kamu dewa ya!"

Kalau hal sekecil ini saja sudah disebut dewa, semua bengkel sepeda di kota ini pasti sudah jadi kuil.

"Eh, boleh aku posting di Twister nggak?"

Saat kulihat, ternyata sedari tadi Mizoguchi merekam videonya.

Jari-jarinya yang dihiasi seni kuku berpola kelopak bunga tampak sibuk memainkan smartphone.

"Ehm..."

"Wajahmu nggak kelihatan kok. Lagipula ini akun pribadi, jadi aman, lah."

Aku tidak tahu apa yang membuat itu aman, tapi setelah dia mendesak dengan "Boleh ya?", aku hanya bisa mengangguk.

Sudah nasibnya kaum loner tidak bisa menolak kalau orang yang populer terus mendesak.

Meskipun aku merasa payah, yah, mungkin ini hanya akun untuk teman-temannya saja.

Yang merespons pun pasti hanya teman-temannya.

Seharusnya tidak akan terjadi apa-apa.

"Ah, ya ampun. Salah lagi. Ya sudahlah, aman kok."

Terdengar seperti sesuatu yang sangat tidak tenang.

Tapi... tidak, tidak, harusnya aman.

Lagipula, video orang memperbaiki sepeda tidak mungkin jadi masalah, kan?

Aku benci diriku yang penakut dan terlalu banyak berpikir ini.

Ya sudahlah.

Kali ini, saatnya untuk benar-benar pergi.

"Kalau begitu aku duluan. Rantainya sudah cukup tua, kalau ada waktu lebih baik diganti saja."

Setelah memberikan nasihat terakhir, aku langsung melenggang pergi dengan santai.

...Seharusnya begitu.

"Rumah Kutsuzawa-kun dekat?"

Ternyata jalan pulang kami searah, dan Mizoguchi mengikutiku begitu saja.

Dia tampak kesusahan mengayuh sepeda pelan-pelan atau menuntunnya agar sesuai dengan langkah kakiku.

Kudengar pria populer biasanya akan menyesuaikan langkahnya dengan kecepatan jalan wanita, tapi itu bukan urusanku.

Sebenarnya, aku mencoba memberitahu secara tersirat, "Kamu bisa duluan saja," tapi Mizoguchi sama sekali tidak peka.

"Ehm, yah, masih dalam jangkauan jalan kaki, sih."

Lagipula, ada apa ini?

Apa dia benar-benar mau mengikutiku sampai ke rumah?

Seram sekali!

Apa tujuannya?

Rumahku hanyalah bengkel kecil.

Tidak ada barang berharga, tidak ada yang menarik.

Apa dia mau menggunakan kaki tangannya untuk mengincar tabungan atau uang sakuku yang tak seberapa itu...

"Enak ya. Aku sebenarnya mau pindah ke dekat sekolah juga, tapi semuanya serba mendadak, jadi nggak sempat milih dengan tenang."

"Memangnya kalau kamu bersuara sekali, dua puluh orang akan berkumpul?"

Kalau itu terjadi, bengkel di rumahku pasti tidak akan tahan.

Padahal yang bekerja di sana kebanyakan cuma kakek-kakek.

"Hah? Eh, nggak butuh sebanyak itu, lah. Apartemenku kecil kok. Paling cuma empat orang?"

"Empat orang. Memangnya itu sudah cukup?"

"Ya, yah... mereka semua kan berotot, jadi segitu cukup lah, ya?"

"Berotot!?"

"Kamu kaget banget. Kenapa sih?"

"Ayah, Ibu, maafkan anakmu ini yang harus per..."

"Itu sudah cukup, ya!"

Mizoguchi memotong kalimat andalanku.

Hening sejenak.

Pintu masuk gang dari jalan raya besar sudah terlihat.

Itu adalah kawasan perumahan tempat penduduk setempat tinggal.

Di bagian dalamnya ada beberapa bengkel kecil yang berkumpul, dan salah satunya adalah rumahku.

"Itu... aku belok ke sana. Kalau begitu, permisi."

"Eh. Aku belum pernah lewat sini. Ya habisnya, aku baru pindah pas masuk SMA, jadi belum tahu banyak tempat di sini."

"Ehm."

Serius, orang ini?

Dia benar-benar mau ikut sampai ke depan rumah?

Jangan bercanda, aku takut dia punya rencana aneh.

Apa yang harus kulakukan?

Haruskah aku menjebaknya?

Bilang saja aku ada barang yang tertinggal di sekolah.

Ya, itu ide bagus.

Saat aku sedang berpikir,

"...Kayaknya nggak enak kalau aku ikut sampai ke depan rumahmu. Di sini saja, deh. Makasih ya buat hari ini, beneran terbantu banget."

Sebelum aku sempat melaksanakan rencanaku, Mizoguchi sudah mengalah.

Apa mungkin ekspresiku yang terlihat terganggu terbaca olehnya?

Jangan-jangan ini akan jadi penyebab perundungan... sudahlah, cukup.

Membayangkan masa depan negatif hanya akan membuat suasana hatiku buruk.

Akhirnya, dia melambaikan tangan ke arah belakang sambil mengayuh sepedanya pulang.

"Capeknya."

Aku baru saja berbicara cukup lama dengan tipe orang yang biasanya berusaha kuhindari untuk sekadar bertatapan mata.

Aku ingin cepat sampai di rumah dan beristirahat.

☆☆☆

Aku tidak bermaksud menyombongkan diri, tapi di kelas, aku adalah salah satu orang yang paling mencolok.

Bagaimanapun, penampilanku sangat bagus.

Memanfaatkan kelebihan itu, saat ini aku bekerja sebagai model pembaca.

Bahkan ada agensi yang mengajakku jadi model profesional setelah lulus SMA.

Aku juga berusaha keras untuk tetap cantik, mulai dari belajar make-up dan fashion.

Aku menjaga bentuk tubuh agar tetap ideal.

Aku tipe orang yang menjaga jarak dengan anak laki-laki, jadi tidak pernah ada gosip aneh tentangku.

Maksudku, aku bahkan belum pernah punya pacar.

Tapi, terlepas dari pria atau wanita, biasanya selalu ada orang di sekitarku saat berada di kelas.

'Populer' mungkin bukan kata yang tepat, tapi ya begitulah kira-kira.

Aku tidak berpikir atau menargetkan untuk membuat semua pria tergila-gila.

Tapi hanya ada satu orang di kelas yang tidak pernah ada dalam ingatanku saat mata kami bertemu.

Kutsuzawa Kousei.

Padahal aku baru tahu nama depannya hari ini.

Anak laki-laki yang dikategorikan sebagai yanki (anak populer) di kelas biasanya mencoba mendekatiku karena motif tersembunyi.

Atau sekadar ingin status sebagai teman gyaru.

Bahkan anak-anak yang dikategorikan sebagai loner (pendiam) juga terkadang masih suka melirik-lirik, meski mereka terlihat menolak.

Tapi hanya Kutsuzawa-kun yang benar-benar tidak peduli.

Saat jam istirahat, dia selalu sibuk menulis sesuatu di buku catatannya dengan khusyuk.

Atau mencari sesuatu di smartphone-nya.

Pada dasarnya dia loner, tapi tidak ada aura kesedihan sedikit pun di sekitarnya.

Rasanya dia benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri.

Sekali saja, aku pernah diam-diam lewat di belakangnya untuk melihat apa yang dia tulis.

Itu luar biasa.

Gambar teknik—entah apa namanya—tergambar dengan sangat detail.

Cara dia menambahkan garis-garis baru dengan presisi seperti mesin benar-benar terlihat seperti sihir.

Sejak saat itu, aku jadi sangat tertarik pada Kutsuzawa-kun.

Sebagai alasan, aku bisa bilang sedang meneliti ekosistem pria yang tidak terpesona padaku untuk mencari tahu penyebabnya.

Pekerjaanku tidak secara langsung menuntutku untuk merayu pria.

Pembaca majalahku hampir 100% wanita.

Tapi, mengingat banyak pembaca yang ingin memikat seseorang, perspektif pria tidak boleh diremehkan.

Jadi, ini adalah penelitian dan riset.

Meskipun aku sudah menyiapkan alasan pembenaran seperti itu, kurasa pada akhirnya aku terpikat pada gambar teknik yang indah itu.

Aku terpikat pada gerakan jari-jarinya yang lincah dan halus saat membuatnya.

Serta pada profil sampingnya yang sama sekali tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya.

Di sana ada sebuah dunia.

Dunia yang tidak kuketahui.

Mungkin aku hanya ingin melihatnya sedikit.

Karena itu...

"Akhirnya sampai."

Setelah berpisah, aku segera memarkir sepeda di pinggir jalan.

Aku diam-diam mengikutinya dengan berjalan kaki, mencoba sneaking agar tidak ketahuan.

Hingga akhirnya sampai di rumah Kutsuzawa-kun.

"Gila, parah banget. Aku benar-benar jadi stalker."

Tidak ada ruang untuk membela diri.

Kalau aku diperiksa polisi sekarang, aku yakin akan terlihat sangat mencurigakan.

Tapi.

Aku juga merasa senang bisa datang ke sini.

Rumah Kutsuzawa-kun ternyata bengkel kecil.

Di papan nama yang ujungnya berkarat kemerahan, tertulis besar "Bengkel Kutsuzawa", dan di bawahnya ada nomor telepon.

Ada juga tulisan yang menunjukkan layanan mereka, seperti pengerjaan kayu dan resin.

Di bawahnya lagi, ada papan kayu gantung bertuliskan, "Menerima Pembuatan Furnitur Kreatif".

〼? (Simbol kuno untuk 'ada').

Tempat tinggalnya sepertinya ada di sebelah bengkel, dan shutter bengkel itu sendiri masih tertutup rapat.

Tapi sepertinya ada pekerja di dalam, karena terdengar suara dentuman bernada tinggi dari jendela yang terbuka.

Di lantai dua rumahnya, saat aku mendongak, tampak bayangan orang bergerak di balik tirai.

Apa dia sedang berganti baju?

Tidak, tidak.

Ini sudah melewati batas stalker dan masuk ke kategori mesum.

Sudahlah, pulang saja hari ini.

Kalau sampai ketahuan Kutsuzawa-kun, aku pasti malu sampai mati.

Kalau itu sampai terjadi, aku juga harus bilang: Ayah, Ibu, maafkan anakmu yang pergi lebih dulu~ kan?

"Fufu."

Ternyata mengobrol dengannya cukup menyenangkan juga.

"Kou... sei. Kutsuzawa Kousei. Mungkinkah dia sebenarnya..."

★★★

Keesokan paginya, saat aku sampai di sekolah, kelas sedang ramai.

Biasanya aku tidak terlalu peduli, tapi entah mengapa hari ini aku punya firasat buruk.

Aku bertanya kepada Yokokura-san, teman sebangku yang pendiam, apa yang terjadi.

"Katanya, ada anak laki-laki yang tiba-tiba muncul di akun kerja Twister-nya Mizoguchi-san dan bikin geger. Padahal selama ini dia nggak pernah sekalipun memposting tentang pria."

"..."

Mari kita tunggu saja.

Belum tentu itu aku.

Tapi setelah melihat layar smartphone yang ditunjukkan Yokokura-san, kepalaku terasa pening.

Di sana ada video saat aku memperbaiki sepeda Mizoguchi, dengan tulisan berhias emoji: 'Dibenerin sama cowok sekelas. Bisa bener secepet ini nggak keren banget, ya? Jadi pengen (ngagumin).'.

Mungkin maksudnya tidak terlalu dalam, tapi ada simbol hati di akhir kalimat yang terus bergerak secara teratur.

Ini tidak bisa dibiarkan. Jangan gerak, dong!

"Apa mungkin pacarnya?"

Ini sangat gawat.

Setelah selama ini tidak pernah ada postingan tentang pria, akan sulit jika orang tidak curiga.

Kata 'mengagumi' itu merujuk pada keahlianku yang seolah seperti dewa—sesuatu yang tidak bisa dia lakukan sendiri.

Jadi itu sama sekali berbeda dengan kekaguman dalam konteks percintaan.

Tapi, aku tidak mungkin bisa menjelaskan hal itu ke setiap orang.

"Kamu nggak apa-apa? Wajah Kutsuzawa-kun pucat banget?"

"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Aku cuma merasa sarapanku mau keluar dari mulut saja."

"Menurutku orang normal akan bilang itu 'nggak apa-apa' yang beneran nggak apa-apa."

Yokokura-san menatapku dengan cemas.

Dia orang baik.

Padahal kami hanya bicara sesekali saja.

Sementara itu, di kelas yang sedang ribut membicarakan kami, suasana makin memanas.

"Hei, bukannya dulu kamu dapat nilai 5 di pelajaran prakarya?"

"Hah? Apa hubungannya prakarya sama sepeda? Lagian, kalau aku beneran pacarnya Mizoguchi, pasti sudah aku pamerin dari tadi."

"Bener juga. Tapi dia nulis 'anak sekelas', jadi pasti salah satu dari kita di sini."

"Cowok-cowok pada kebelet banget, deh. Menjijikkan."

Gawat.

Ini gawat.

Pengadilan penyihir sudah dimulai.

Apakah ini yang dilakukan para siswa yang akan memikul masa depan negara hukum kita?

Memalukan.

Meskipun begitu, aku harus menghilangkan keberadaanku.

Kalau sampai aku yang tertuduh, mungkin aku benar-benar akan "pergi lebih dulu".

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka lebar.

Rambut medium hair berwarna ash gray yang terang seperti perak bergoyang.

Anak laki-laki di kelas langsung menoleh seolah terhipnotis.

Aku pun melihatnya.

Tentu saja, ekspresiku tidak akan terlihat seperti mereka yang sedang melamun.

Tidak, tunggu.

Dia seharusnya cukup peka dengan situasi, kan?

Meski auranya sedikit beda, dia bersekolah di sekolah unggulan sepertiku.

Kepalanya tidak terlihat bodoh.

Tolonglah.

Pengadilan penyihir ini tidak akan membuatku kalah selama dia tidak bicara yang aneh-aneh.

"Ah! Kutsuzawa-kun! Makasih ya buat kemarin. Sepedaku jadi lancar banget, sudah kayak baru lagi."

"............"

Aha~ suara kekalahanku~.

Setelah itu.

Mizoguchi menjelaskan kronologinya ke seluruh kelas, dan untungnya aku selamat.

Mengingat tipe elite loner sepertiku dan dia sangat jauh berbeda, mereka percaya kalau itu hanyalah pertemuan kebetulan.

Ya sudahlah, setidaknya dengan ini aku bisa kembali ke kehidupan awalku.

Bagi dia, tidak ada alasan untuk berurusan denganku lagi, begitu juga sebaliknya.

Mungkin teman-teman sekelas juga akan melupakan kejadian ini minggu depan.

Ya, kupikir begitu.

"Kutsuzawa-senpai, biasanya makan siang di mana? Sebagai ucapan terima kasih kemarin, aku yang traktir deh. Hehe."

Gaya bicaranya yang aneh khas perempuan.

Lagipula, luar biasa sekali dia bisa mengajak bicara orang yang baru ditemuinya kemarin seperti itu.

Tidak, sungguh, tanpa bermaksud menyindir, aku baru sadar kalau orang seperti inilah yang menghidupkan komunitas.

"Ehm, aku... aku bawa bekal."

"Eh? Kutsuzawa-kun... ya, kan? Bisa masak?"

Tiba-tiba muncul seseorang berambut hitam bob dengan potongan two-tone merah muda yang modis dari samping Mizoguchi.

Kalau tidak salah, dia orang yang selalu bersama Mizoguchi.

Orang yang namanya sempat tertukar denganku di awal.

Jadi,

"Kali ini benar Doguchi-san, kan?"

"Apa maksudnya 'kali ini benar'!? Memangnya kamu pernah ketemu sama yang palsu!?"

Aku tanpa sadar salah bicara.

Mizoguchi meledak tawa dan bertepuk tangan dengan keras.

Begitulah, akhirnya aku terpaksa makan siang bersama mereka.

Meskipun bahasa Jepangnya agak aneh, tapi itu mewakili perasaanku yang sejujurnya.

Meja-meja di sekitarku disambungkan satu per satu, dan dalam sekejap tempat itu berubah menjadi ramai.

Omong-omong, Yokokura-san yang duduk di sebelahku segera menyingkir.

Aku mengerti.

Aku mengerti banget.

Dia pasti merasa tertekan oleh aura orang populer itu.

Kalau bisa, aku pun ingin kabur.

"Wah, hebat ya. Ada telur gulung, ayam goreng, apa ini salad tuna dan timun pakai mayones? Terus nasinya... suwiran ikan kembung?"

"Ikan hokke, sih. Sonoda-san ternyata bisa masak, ya?"

Orang lain yang ikut bergabung adalah Sonoda Ria-san.

Rambutnya berwarna cokelat, tapi dia terlihat jauh lebih kalem dibanding dua orang lainnya.

Tindiknya pun cuma satu.

Ah, tidak, mungkin perasaanku saja yang sudah mulai mati rasa.

"Iya. Pacarku itu rewel banget soal masakan rumah."

Entah bagaimana, aku merasa dia populer dengan cara yang berbeda dari dua orang tadi, tapi ternyata dia memang sudah punya pacar.

"Ria itu penanggung jawab bagian 'bitch' di grup kami."




Mizoguchi berkata dengan nada yang sedikit merendah. Rupanya dia masih melanjutkan peran sebagai senior yang aneh itu.

Sonoda-san membalas dengan wajah kesal, "Diamlah, Baki-Virgin."

"Baki-Virgin?"

Entah mengapa, aku teringat pada es lilin yang keras.

Doguchi-san menjelaskan, "Itu singkatan dari 'Baki-Baki Virgin'. Seika adalah penanggung jawab kemurnian di grup kami."

Wah, luar biasa. Meski ada laki-laki di sini, mereka tetap santai membicarakan hal-hal vulgar. Inilah kasta tertinggi.

Mungkin saja, itu karena aku memang tidak dianggap sebagai lawan bicara untuk hal-hal seperti itu.

"Berisik, ah. Suatu saat nanti, aku benar-benar akan jatuh cinta, kok. Tipe yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang jalang."

"Iya, iya," sahut Mizoguchi menanggapi perkataan Sonoda-san dengan acuh tak acuh.

Tentu saja mereka bertiga bisa memilih laki-laki sesuka hati. Aku sempat merasa paranoid dan mengira mereka mungkin meremehkanku di dalam hati, karena aku adalah orang yang menjalani hidup tanpa sentuhan perempuan.

Tapi ternyata, Mizoguchi juga senasib denganku. Aku merasa terselamatkan.

Namun, tidak seperti diriku yang memang sudah nasibnya begini, dia pasti memilih untuk sendiri karena standarnya yang sangat tinggi.

"Bagaimana denganmu, Kutsuzawa-kun? Punya pacar?"

Wah, pertanyaan mematikan. Jika aku tidak mendengar percakapan Mizoguchi tadi, mungkin aku sudah merasa tenggorokanku kering karena paranoia.

"Aku juga belum pernah punya," jawabku.

"Begitu, ya."

Yah, memang terlihat dari penampilanku, kan?

"Tapi Kutsuzawa-kun, kamu bisa bicara dengan cukup normal, ya."

"Ehm... apakah aku harus lebih gugup dan mulai menari-nari?"

"Tidak perlu menari, dong."

"Lagipula, kenapa tidak bicara lebih sering? Kamu menarik, tahu. Bukannya sayang sekali?"

"Yah..."

Jujur saja, aku bisa bicara setara dengan mereka bertiga karena aku sudah merasa cukup putus asa. Aku tidak mungkin bisa menolak ajakan makan siang dari tiga gadis kasta tertinggi di kelas ini, jadi aku hanya bisa menerimanya.

Aku mencoba bicara seadanya agar tidak melakukan kesalahan, tapi takut dianggap membosankan atau malah dibenci karena salah bicara. Apapun hasilnya, aku yang berada di hierarki terendah hanyalah budak dari keinginan ketiga dewi ini. Karena itu, aku hanya bisa pasrah.

"Aku lebih nyaman bekerja sendirian," kataku.

"Bekerja?"

"Ah, maksudku, aku sering membuat sesuatu sebagai hobi."

"Wah, kamu tipe yang suka kerajinan tangan, ya."

"Begitulah. Aku seorang agen pengrajin."

"Agen pengrajin itu artinya sudah beda lagi, tahu."

Percakapan yang tidak ada gunanya. Karena semua bekal sudah habis, aku merasa ini saatnya untuk bubar.

Mereka pun berdiri dan mulai membawa meja mereka. Aku juga ikut membantu membawanya.

Tiba-tiba, seorang laki-laki datang menghampiri. Dia dengan sedikit memaksa mengambil kursi yang hendak kubawa, lalu bergabung ke arah Mizoguchi.

Mizoguchi mengucapkan terima kasih dengan lirih kepadanya.

Ah, aku ingat. Dia adalah cowok tampan yang sering terlihat berinteraksi dengan grup gyaru ini.

Dia memiliki kulit putih mulus seperti idola Korea dan gaya rambut short mash yang populer, yang memberikan kesan bulat pada kepalanya.

Saat dia menoleh ke arahku, laki-laki tampan itu memasang ekspresi tajam.

☆☆☆

Setelah wali kelas selesai di sore hari, Kutsuzawa-kun segera meninggalkan kelas dengan terburu-buru. Mungkin hanya aku yang menyadarinya.

Keahliannya sebagai penyendiri memang bukan main-main. Seperti yang dikatakan Chika, dia sebenarnya menarik kalau diajak bicara, jadi harusnya dia lebih aktif berinteraksi dengan teman sekelas.

Tapi setelah lewat libur Golden Week, kelompok di kelas sudah terbentuk, jadi mungkin sudah terlambat sekarang.

"Kalau dia masuk grup kita..."

Tidak, itu malah makin sulit. Aku tidak se-tidak peka itu.

Aku benar-benar menyesali kesalahan postingan di Twister dan menyebarkannya di kelas. Aku benar-benar lupa.

Kalau kelompok seperti kami mendekati orang seperti dia, orang sekitar malah akan merasa risih. Mungkin mereka tidak mau melihat orang yang dianggap kastanya lebih rendah darinya menjadi naik kelas?

Hah, menyebalkan. Memangnya kenapa kalau seseorang mau berteman dengan siapa pun?

Aku tidak bisa berteman dengan Kutsuzawa-kun? Itu bukan salahku, bukan salah Kutsuzawa-kun, tapi karena pihak ketiga yang tidak ada urusannya sama sekali.

Memikirkan hal itu, aku jadi sangat marah.

"Mizoguchi," panggil sebuah suara.

Aku menoleh. Di sana berdiri cowok tampan dengan gaya rambut mash, Miyasaka.

Menyebalkan sekali. Padahal aku sudah memasang aura "jangan ajak bicara" sambil berjalan lebih dulu, tapi dia malah mengikutiku.

Lagipula, kapan dia sadar kalau gaya rambut mash itu tidak cocok dengan tekstur rambutnya?

"Apa?" tanyaku.

"Mau pulang bareng? Katanya ada kedai takoyaki baru buka di dekat stasiun. Bagaimana? Aku traktir, deh."

"Tidak mau. Aku tidak punya alasan untuk ditraktir olehmu."

Aku mengatakannya sedingin mungkin, lalu pergi menuju tempat sepeda tanpa menoleh lagi.

Aku benci orang yang tidak punya apa-apa selain wajah tampannya. Mungkin ini semacam kebencian terhadap sesama.

Tiba-tiba, wajah Kutsuzawa-kun terlintas di pikiranku.

Bisa membuat gambar teknik yang sehebat itu—maksudku, rasa hormatku muncul karena dia punya sesuatu yang bisa membuatnya begitu fokus.

Dunianya sendiri, ya. Apakah suatu saat nanti aku akan menemukannya juga?

Atau aku hanya akan menjalani hidup dengan mengandalkan wajah cantikku saja?

Saat mulai mengayuh sepeda, entah kenapa aku malah berbelok di jalan pintas menuju rumahnya.

Hari ini shutter bengkelnya terbuka. Aku sempat merasa panik.

Kalau sampai dipergoki oleh karyawan yang tidak kukenal, aku akan kesulitan memberikan alasan. Aku tidak mungkin bilang kalau aku sedang menguntit anak dari pemilik bengkel ini.

Coba aku lewat pelan-pelan saja dengan sepeda. Lalu, aku akan mengintip ke dalam sedikit.

Tidak... itu benar-benar perilaku seorang penguntit. Tapi karena sudah sampai di sini, ya sudah.

Diam-diam. Sangat pelan sambil meliuk-liuk.

Di sana, aku melihatnya. Wajah Kutsuzawa-kun yang berkeringat dan bersinar terkena sinar matahari terbenam yang masuk dari jendela bengkel.

Di atas meja kerjanya, dia dengan hati-hati menjalankan pahat berkali-kali pada balok kayu.

Dia melilitkan handuk putih di kepalanya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan matanya hanya fokus pada pahat serta balok kayu yang sedang dikerjakannya.

Aku menahan napas. Ban sepedaku berhenti berputar sepenuhnya, dan kedua kakiku menapak kuat di atas aspal.

Aku tidak bisa memalingkan pandangan. Aku ingin membawa pulang pemandangan ini.

Saat aku memikirkan hal konyol itu, secara tidak sadar aku mengeluarkan ponsel dan menyalakan kamera.

Cekrek.

"!? Eh!?"

Kutsuzawa-kun menoleh ke arahku dengan mata terbelalak sampai hampir keluar. Ah, celaka.

"Mi... Mizoguchi-san!? Apa yang kamu lakukan? Eh? Hah?"

Tentu saja dia akan bereaksi begitu.

"Ti... tidak. Ini bukan penguntitan atau memotret diam-diam, kok."

Gawat. Bagaimana pun caranya, aku terlihat seperti penguntit dan pelaku pemotretan ilegal.

Benar-benar, kenapa aku melakukan hal bodoh seperti ini?




"S-sudah, pokoknya aku pergi dulu!"

Aku hanya bisa kabur. Aku buru-buru mengayuh sepeda yang masih kutumpangi, lalu...

――Krak!

Suara nyaring terdengar. Dengan perasaan cemas, aku melihat ke roda belakang dan ternyata rantainya lepas lagi.

Ah, ya sudahlah. Tamat sudah. Aku saking malunya sampai tidak bisa mengangkat wajah.

"Ehm. Seenggaknya, biarkan aku memperbaiki rantainya... tapi setelah itu, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"

Setelah dipersilakan, aku duduk di kursi pabrik sementara Kutsuzawa-kun mengambilkan minuman dari kulkas kantor.

Minuman sari leci. Beruntung sekali. Itu minuman kesukaanku. Tapi, bukan saatnya memikirkan hal itu!

"Ehm, pertama-tama, kenapa kamu tahu rumahku?"

"Ah, itu. Sebenarnya aku baru saja pindah dari kota sebelah, jadi aku belum hafal daerah sini."

Berpikirlah, ayo berpikir. Aku harus mengarang alasan sekuat tenaga!

"Aku cuma ingin berkeliling sekitar sini. Pas lagi lewat, aku melihat plang 'Pabrik Kutsuzawa'. Nama marganya unik, kan? Jadi aku pikir, 'Eh, jangan-jangan ini rumah Kutsuzawa-kun?'"

"……Begitu rupanya."

Alasanku masuk akal, harusnya begitu. Kutsuzawa-kun sepertinya tidak curiga, kurasa. Harus kutekan terus!

"Makanya kemarin aku sebenarnya cuma ingin mengikuti jalan pulang untuk memastikan apakah ini benar rumahmu."

Padahal kenyataannya, setelah melihatnya menunjukkan wajah kesal, aku pura-pura pergi tapi malah menguntitnya diam-diam untuk memastikan.

"Kenapa? Entah ini rumahku atau bukan, sepertinya tidak ada hubungannya dengan Mizoguchi-san."

Memang benar, sih!

"Habisnya, aku penasaran. Seperti teka-teki silang yang tidak bisa kita cari tahu jawabannya."

Aku pikir alasanku agak dipaksakan, tapi Kutsuzawa-kun malah membuka mulutnya.

"Ah... aku paham. Rasanya memang tidak nyaman, ya."

Dia setuju denganku. Syukurlah. Mungkin dia juga suka teka-teki.

"Baiklah, kalau itu sudah terjawab... kenapa kamu diam-diam mengintip dan memotretku?"

"Ah, itu."

Ya, tentu saja. Itu pertanyaan yang wajar.

"Soalnya, kamu kelihatan hebat."

"Hebat?"

"Ya. Mungkin aneh kalau aku yang bilang, tapi melihat betapa fokusnya kamu bekerja sampai-sampai kamu tidak sadar kalau sedang diintip, itu keren."

"Eh!? Jadi waktu itu kamu memotretku!?"

"Hah?"

"Aku kira kamu memotret benda yang sedang aku buat."

"Eh!? A-ah, begitu."

Ternyata ada jalan keluar seperti itu.

Aduh, memalukan sekali. Apakah itu sama saja dengan bilang kalau aku memotretnya karena dia terlihat tampan?

Aku bisa disalahpahami... atau mungkin, itu bukan kesalahpahaman?

Aku membuka ponsel dan memilih foto itu di galeri.

Di dalam pabrik tua yang disinari matahari terbenam, ada seorang anak laki-laki yang menatap karyanya dengan sorot mata yang luar biasa serius.

Aku berhasil menangkap momen saat kilau perak pahatnya bersinar. Cantik sekali.

Wajah Kutsuzawa-kun sebenarnya tidak terlalu ganteng, hanya sedikit di atas rata-rata. Tapi di foto ini, dia benar-benar terlihat indah.

Mungkin kedengarannya aneh, tapi itu karena jiwanya yang bersinar. Cahaya yang hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar mengerjakan apa yang mereka cintai dengan sepenuh hati.

"Hei, bukannya aku jadi kelihatan jelas sekali di situ!? Sa-setidaknya jangan unggah itu..."

Wajah Kutsuzawa-kun tampak kebingungan. Ada kesan sedikit ketakutan di sana. Mungkinkah dia juga tidak suka kalau video perbaikan sepeda kemarin diunggah ke media sosial?

Dia mungkin tidak bisa menolaknya. Lingkunganku isinya tipe orang yang blak-blakan, jadi mungkin dia merasa tertekan.

Apalagi karena aku salah mengunggahnya ke akun kerja, jadi banyak yang melihatnya.

"Tenang saja, aku tidak akan mengunggah ini ke Twista."

Begitu mendengarnya, wajahnya langsung terlihat lega. Ah, benar dugaanku.

Tentu saja begitu. Bagi orang yang punya dunianya sendiri dan punya sesuatu yang sangat ia tekuni, menjalani hari dengan tenang di kelas jauh lebih penting daripada berurusan dengan orang sepertiku.

"……Hah."

Eh? Kenapa dadaku terasa sedikit nyeri seperti ditusuk?

"Itu... sejujurnya, aku akan senang kalau kamu menghapusnya..."

"Eh?"

Aku menolak dalam hati secara refleks. Foto se-emo ini, mungkin aku tidak akan bisa memotretnya lagi. Tidak, bukan berarti aku tertarik dengan fotografi. Tapi wajar saja, kan, kalau orang awam ingin menyimpan foto bagus?

"Aku janji tidak akan menyalahgunakannya. Benaran. Karena fotonya bagus banget, sayang kan kalau dihapus?"

"Tidak, kamu meminta persetujuan padaku... tapi kalau aku sendiri yang bilang jangan dihapus karena fotonya bagus, bukankah itu terdengar menjijikkan?"

"Ah, iya. Itu, sih... jadi, tetap tidak boleh ya?"

"……Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi selama tidak diunggah ke media sosial, silakan. Asal jangan dibuat jadi meme aneh-aneh juga."

"Aku tidak akan melakukan itu! Kamu anggap aku orang macam apa?"

Meski aku berkata begitu, aku memang seorang penguntit dan punya catatan mengunggah video ke akun lain. Ya, kalau aku jadi Kutsuzawa-kun, aku juga akan waspada tingkat tinggi.

Aku benar-benar minta maaf, Kutsuzawa-kun. Dan terima kasih sudah mengizinkanku menyimpan fotonya.

★★★

Pada akhirnya, karena terus didesak, aku mengizinkan fotoku tersimpan di ponselnya.

Aku tidak punya keberanian untuk bersikeras memintanya menghapus foto itu... Aku memang payah.

"Kalau begitu, aku kembali bekerja ya."

"Kerja."

Aku menatap potongan kayu yang baru saja mulai kupahat. Sebenarnya tidak buru-buru, tapi aku mengatakannya agar dia mau pulang.

Tetap saja... meski tidak bisa dibilang seperti minyak dan air, kami sama sekali tidak punya kecocokan. Kami hidup di dunia yang berbeda.

"Hei, hei. Sekarang lagi bikin apa?"

Serius? Dia masih terus mengejarku? Dia benar-benar punya jarak sosial yang jauh berbeda denganku. Gals itu luar biasa.

Aku kebingungan, lalu mengangkat kotak kardus di sampingku dan meletakkannya di atas meja.

"Wah! Keren banget! Ini kelinci? Yang ini katak. Eh, serius? Kamu bisa bikin gajah juga!? Gila! Kamu bisa jadi Harta Karun Nasional, tahu!"

Dia terlalu berlebihan hanya untuk ukiran kayu hewan.

"Lucu banget, imut sekali. Matanya juga detail. Wah, wah. Wah!"

Dia mengambil satu per satu, melihat dari bawah, dan menusuk-nusuknya dari samping.

Padahal tata kramanya, kita harus memastikan dulu pada perajinnya sebelum menyentuh karya, karena mungkin cat atau pernisnya masih basah, atau sedang menunggu lem kering. Tapi yah, karena ini dia, mau bagaimana lagi.

"Ada Oda Nobunaga juga."

"Oda Nobunaga!? Di situasi seperti ini malah Oda Nobunaga!?"

"Ini dia."

Aku mengambilnya dari kardus lain.

Aku menjadikannya motif lukisan yang paling terkenal, saat dia duduk dengan wajah tenang, jadi seharusnya mudah dikenali.

Aku bahkan mengukir detail ikat pinggang kimononya dan memberikan kesan tiga dimensi.

"Serius Nobunaga!! Lucu banget!"

Mizoguchi-san tertawa terbahak-bahak sambil memotretnya dengan ponsel, lalu jempolnya bergerak dengan kecepatan luar biasa. Aku punya firasat buruk.

"Mizoguchi-san? Jangan-jangan kamu mengunggahnya ke Twista?"

"Ah! Maaf, kamu tidak suka ya?"

"Yah, kalau bisa, jangan."

"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Sudah terlanjur kuunggah."

Dahsyat sekali generasi media sosial ini. Berbagi sudah seperti bernapas.

Mungkin, tidak, pastinya dia tidak punya niat jahat. Justru karena tidak ada niat jahatlah, itu jadi merepotkan. Sepertinya sebaiknya aku tidak memperlihatkan karyaku padanya.

"Aku cek sebentar. Wajahku atau rumahku tidak ikut terpotret, kan?"

Aku mencari di ponsel. Eh, nama akunnya... saat aku sedang bingung, jari-jari ramping terulur dari samping dan mengetik dengan cepat. Saat aku melihat ke samping, wajah Mizoguchi-san tepat di dekatku.

Matanya yang tajam dan hidung mancung yang indah. Barisan giginya yang terlihat dari bibir yang tersenyum juga sangat rapi.

Ah, ternyata dia benar-benar cantik kalau sedang diam. Aku hampir terpana dan buru-buru menjauh.

Aku mengalihkan perhatian ke layar ponsel.

Unggahan paling atas adalah foto Nobunaga, dengan tulisan, 'Nobunaga buatan Kutsuzawa-kun.

Kenapa dia memutuskan bikin Nobunaga itu misteri, tapi kualitasnya gila banget,' lengkap dengan emoji yang bertebaran.

Sudah ada balasan, kemungkinan akun bernama Chika yang sepertinya adalah teman Mizoguchi-san, mengirim sekitar sepuluh emoji tertawa.

Sekarang ada balasan lagi, mungkin dari Sonoda-san, 'Sayang sekali kalau bakat ini terpendam'. Tidak, tolong pendam saja. Orang yang bisa membuat hal seperti ini jumlahnya ribuan.

Aku merasa sedikit pusing dan mematikan ponsel. Saat aku hendak memasukkannya ke saku, Mizoguchi-san melayangkan protes.

"Wah, bahkan tidak scroll sekali pun? Kamu tidak tertarik dengan kehidupan pribadiku, ya?"

Yah, karena kalau aku menggali kicauan lamanya, pasti hanya kehidupan yang penuh dengan dunia gals, dan aku akan bingung harus merespons apa.

"Ini akun pribadi, kan?"

"Iya. Yang kemarin kuunggah itu akun kerja."

"Ehm. Kamu seorang model, ya?"

"Ya. Lebih tepatnya model majalah. Akun ini punya banyak pengikut dari luar sekolah."

Jadi video perbaikan sepeda itu benar-benar menarik banyak perhatian orang.

"Itu... apakah aku jadi di-bully oleh para penggemarmu?"

"Eh? Enggak, kok. Pengikutku kebanyakan perempuan. Mereka cuma merasa, 'Oh, ternyata dia cuma ngetwit tentang cowok terampil di kelasnya',"

"Syukurlah. Aku takut kalau sampai terjadi seperti pagi ini."

"Itu karena cowok-cowok saja yang bodoh, mikirnya selalu ke sana. Tapi, aku minta maaf ya sudah merepotkanmu."

"Ah, tidak apa-apa."

Kalau merasa begitu, aku berharap dia tidak usah menwit tentangku meski di akun pribadi.

"Akun pribadi itu... apakah orang yang seperti jamur shiitake itu juga tahu?"

"Shiitake... maksudmu Miyasaka! Shiitake!! Ahahahaha, aku tidak memberitahunya, hahahaha."

Mizoguchi-san tertawa lagi. Bagiku itu sama sekali bukan hal yang lucu.

Tapi setidaknya, sepertinya tidak akan ada masalah berarti. Aku teringat ekspresinya saat menyela saat makan siang. Sepertinya dia memang mengincar Mizoguchi-san.

Luar biasa, ya. Bisa sampai rela dibenci teman sekelas demi cinta, aku benar-benar tidak paham jalan pikirannya.

Saat aku sedang memikirkan itu, Mizoguchi-san sepertinya sudah kehilangan minat pada cowok itu dan kembali menatap meja.

"Tapi, ini lucu banget, ya."

"Nobunaga?"

"Uhuk. Jangan bicara aneh saat aku mau minum. Maksudku katak, kelinci, dan anjing ini."

Penyebutan kata 'anjing' membuatku sedikit terhibur. Padahal dia terlihat seperti gadis yang berantakan, ternyata dia suka anjing.

"Enak ya, aku ingin memajangnya di kamar. Enak ya, imut sekali. Lirik, lirik."

"……Itu sudah ada yang punya, jadi tidak bisa."

Meski sulit menolak orang yang ceria, untuk yang satu ini aku tidak bisa.

"Aku akan memberikannya kepada anak-anak di panti asuhan. Ini bagian dari kegiatan amal acara lingkungan setempat yang diikuti oleh para pedagang di kota ini."

"Wah, maaf banget. Benar-benar minta maaf."

"Ah, tidak."

Dia tampak sedih, malah aku yang jadi panik. Tapi, gadis cantik saat sedang murung pun tetap terlihat cantik, curang sekali.

"Kalau mau, bagaimana kalau aku buatkan yang lain?"

Tanpa sadar, aku mengucapkannya sendiri. Aku sendiri sangat terkejut...

"Eh? Serius? Boleh?"

Sorot matanya yang berbinar membuat keterkejutanku luluh begitu saja.

"Yah, jangan yang tingkat kesulitannya terlalu tinggi, ya."

"Wow. Serius? Terima kasih. Ah, aku bayar ya. Harganya berapa?"

"Eh?"

Sejujurnya, aku tidak menyangka tawaran itu akan keluar darinya.

"Ah, wajah itu. Kamu pikir aku tipe yang minta gratisan, ya? Aku juga bekerja paruh waktu, jadi aku tahu kalau hal seperti itu harus diselesaikan dengan benar. Aku memang berniat membelinya dari awal."

"Ma-maaf. Aku cuma tidak menyangka."

Dia sudah memikirkannya bahkan sejak dia bercanda sebelumnya. Aku jadi lebih menghargainya.

Sebelumnya aku curiga dia adalah orang aneh yang mengumpulkan foto orang yang anti-sosial.

Hanya saja, aku merasa segan jika harus mengambil uang dari teman sekelas.

"Kalau begitu, mungkin lain kali kalau ada sesuatu, tolong bantu aku, ya."

"Jadi hitungannya satu utang budi, ya?"

"Ya, kira-kira begitu."

"Oke. Asal bukan utang yang mengharuskanku jadi penjamin pinjaman ya!"

"Hahaha. Karena di drama, pabrik rumahan biasanya bangkrut gara-gara utang lalu presidennya gantung diri, ya!"

"Jangan bilang begitu dengan ceria! Beneran deh, kamu lucu banget."

Di sana, Mizoguchi-san tampak baru menyadari sesuatu.

"Eh, iya! Lupa. Kemarin aku mau mentraktir makan di kantin sebagai ucapan terima kasih, tapi gara-gara Kutsuzawa-kun bawa bekal, jadi batal. Aku harus membalas utang itu."

"Ah. Bukankah makan bersama kemarin sudah dianggap sebagai ucapan terima kasih?"

"Itu membuat kami terlihat jahat sekali, kan?"

Memang benar kalau dipikir-pikir. Kami, gadis-gadis kasta atas, makan bersama dengan cowok anti-sosial seperti dirimu, begitu kira-kira.

"Sekolah Kabakura Pribadi."

Mungkin mereka bisa untung kalau menggunakannya sebagai bisnis.

"Hah?"

"Bukan apa-apa. Lagipula ini pekerjaanku, jadi kemarin itu aku cuma memasang rantai saja, tidak perlu terlalu dipikirkan."

"Tidak. Faktanya, saat itu aku benar-benar tertolong. Lagipula seperti yang kubilang tadi, jangan jual murah keahlianmu. Benaran. Di pekerjaanku saja ada orang yang berpikir karena cuma memotret atau cuma difoto, semua orang bisa melakukannya jadi gratis saja."

"Ah, itu keterlaluan ya. Untuk makeup saja perlu waktu lama untuk menguasai keahliannya, tidak mungkin bisa jadi cantik tanpa usaha."

"Kan, kan, kan!? Serius, kamu bisa mengerti!"

"Yah, aku juga melakukan pengecatan. Aku juga membuat boneka dan figur."

"Figur..."

"Ada apa?"

"Ah, tidak. Ya, benar juga. Nobunaga juga boneka."

"Ah, wajahnya juga aku yang cat."

Bagaimanapun, kalau dia sampai bicara begitu, aku akan mengandalkannya.

"Kalau begitu, lain kali tolong traktir aku makan."

"Oke. Besok, ya. Ah, besok hari Sabtu. Sayang sekali. Kutsuzawa-kun, besok ada rencana?"

"Tidak. Pekerjaan untuk panti asuhan sepertinya selesai hari ini, jadi besok kosong."

"Kalau begitu, besok jam sebelas siang kita bertemu di depan pintu keluar empat Ivan Mall."

"Eh?"

Sebelum aku selesai bicara, dia sudah memutuskannya.

"Oke, diputuskan! Aku pulang dulu ya. Maaf sudah memotret diam-diam. Ah, terima kasih jusnya."

Dia segera keluar pabrik, naik sepeda, melambaikan tangan padaku, dan pergi secepat kilat. Dia benar-benar orang yang seperti badai.

"Hari ini benar-benar hari yang luar biasa."

Sambil mandi, aku merenungkan hari ini. Kemarin aku secara tidak sengaja membantu Mizoguchi-san, dan karena media sosialnya, sekolah jadi heboh pagi ini, dan aku jadi pusat perhatian tahun ini.

Setelah itu, aku makan siang bersama teman-temannya. Sudah lama sekali aku tidak makan bersama siapa pun di sekolah.

Hanya saja, karena aku sudah memancing kebencian dari si jamur yang mengincar Mizoguchi-san, aku tadinya berpikir untuk tidak terlibat lebih jauh karena aku tidak mau terjerat masalah... tapi entah kenapa Mizoguchi-san justru menyelinap masuk dan memotretku.

Kalau dipikir-pikir lagi, itu tindakan yang tidak terduga, tapi karena itu benar-benar terjadi, mau bagaimana lagi.

"Kalau saja aku bersikap lebih dingin."

Karena aku merasa berhutang budi padanya, secara ekstrem aku bisa saja bilang jangan pernah berhubungan denganku lagi. Tapi aku tidak melakukannya. Itu bukan karena aku pengecut. Aku rasa, aku hanya senang.

Bukan karena dipuji oleh gadis tercantik di kelas, bukan itu. Tapi karena dia menatap karyaku dengan mata yang begitu berbinar dan merasa senang seperti anak kecil.

Aku teringat anak kecil yang pernah kubuatkan figur, matanya persis seperti itu. Wajah itu, kebahagiaan itu, adalah asal mula bakatku. Membuat sesuatu itu sendiri memang menyenangkan, tapi kalau hanya itu, rasanya ada yang kurang.

Akan jauh lebih menyenangkan kalau bisa berbagi kegembiraan melalui benda tersebut dengan seseorang. Mizoguchi-san memiliki mata yang persis dengan yang mengajarkan hal itu padaku.

"Figur, ya. Coba kubuat lagi setelah sekian lama."

Spatula untuk figur sepertinya masih kusimpan di suatu tempat. Apa kawat aluminium ada di pabrik? Tidak, bisa beli di toko serba ada. Catnya... apa ya yang bagus? Nanti kucari tahu. Ah, tidak, aku harus membuat permintaan Mizoguchi-san dulu. Meskipun sepertinya dia belum memutuskan.

"Kousei! Ibu mau nonton drama suspens jam sembilan, cepat keluar!"

Suara keras Ibu terdengar. Ah, sudah jam segini. Terlalu lama berendam.

Tapi, kenapa makhluk yang disebut ibu begitu suka drama suspens? Setiap hari menonton cerita pembunuhan, apa tidak stres?

☆☆☆

Uwaaa. Sudah kulakukan. Aku tadi mengajak dia secara spontan, tapi sejujurnya seumur hidupku ini pertama kalinya aku pergi bermain berduaan dengan cowok.

Setelah tenang, aku jadi sangat malu. Tidak... lebih memalukan lagi masalah ketahuan memotret diam-diam tadi.

Aku terus memainkan ponsel dan melihat foto itu lagi.

Tetap terlihat indah. Matahari terbenam dan keringat, matanya yang seolah lupa untuk berkedip, dan kilau perak yang bersinar.

Kutsuzawa-kun khawatir aku akan mengunggah foto ini ke Twista, tapi bahkan tanpa diperingatkan pun, mungkin, tidak, aku pasti tidak akan mengunggahnya. Aku ingin ini jadi rahasia buatku saja.

Bukan karena melebih-lebihkan, tapi aku bisa merasakan misteri seperti pandai besi yang diam-diam menempa pedang legendaris di pegunungan terpencil.

Ya, tidak ada gunanya bersikap sok di kamar sendiri. Aku harus jujur.

"Aku terpana. Hampir saja aku tersedot ke dalamnya. Apalagi tahu itu untuk anak-anak panti asuhan, dia ini sebenarnya apa? Ingin membuatku mati karena gemas?"

Padahal bulan Mei, tapi udaranya panas seperti musim panas, aku sampai merinding.

"Ternyata ada ya, dunia milik orang itu sendiri."

Aku tersesat ke sana. Aku tertarik ke dalamnya.

"……"

Bahkan saat melihat foto saja, aku terus terpaku. Handuk di kepalanya terlihat keren. Di balik kaus, dia ternyata berotot? Begitu ya.

Karena bahan dan produknya besar dan berat. Mungkin dia melakukan itu karena hobinya, tapi dia benar-benar serius melakukannya.

"Aku jadi minder."

Aku sendiri bahkan hampir tidak pernah membantu pekerjaan rumah. Padahal sewaktu kecil, aku sudah banyak merepotkan kedua orang tuaku.

Ah, aku benar-benar buruk. Karena aku bekerja dan punya uang saku sendiri, aku pikir itu sudah cukup. Padahal Kutsuzawa-kun, selain membantu keluarganya, dia juga berjuang tanpa pamrih untuk anak-anak.

Aku keluar kamar menuju dapur.

"Ma, sesekali boleh aku yang mencuci piring?"

"Eh? Kenapa tiba-tiba. Sudah selesai, kok. Jam sembilan ada drama suspens."

"……"

Besok setelah selesai makan, aku akan langsung mengatakannya. Aku memutuskan itu dan kembali ke kamar.

Lalu, ponsel di meja menyala.

Ah, benar juga, aku tidak tahu nomor atau alamat Kutsuzawa-kun. Bagaimana kalau besok dia tidak datang atau sakit?

Yah, kalau begitu nanti kudatangi rumahnya saja.

Sekarang, aku memeriksa notifikasi. Ternyata pesan dari Chika.

'Yah, si Kutsuzawa itu lucu banget, ya.'

Di pesan itu ada stiker beruang yang tertawa terbahak-bahak. Nobunaga yang tiba-tiba muncul di linimasa, ya, itu memang tipe yang disukai Chika. Tapi.

'Bukan cuma lelucon sekali saja, percakapan sehari-harinya pun sudah lucu.'

Aku teringat percakapan di pabrik beberapa jam lalu.

'Ah, begitu ya. Jadi ke depannya kamu akan berhubungan dengannya?'

Tanganku berhenti sejenak membaca balasan Chika. Ke depannya, ya.

'Hmm. Tidak tahu. Yang jelas, besok kita jadi janjian makan di mal.'

'Serius?'

'Iya. Sebagai ucapan terima kasih karena dia sudah memperbaiki sepedaku.'

'Hee. Itu kencan di mal, dong.'

Kencan. Ternyata dari sudut pandang objektif itu dianggap kencan, ya. Belakangan ini pergi bersama teman atau orang tua juga disebut begitu, jadi definisinya makin luas.

Tapi meski begitu, dalam kasus ini... karena pria dan wanita yang baru kenal pergi bermain ke mal saat libur, rasanya lebih dekat ke arti aslinya.

'Mungkin ini bukan urusanku, tapi... bagaimana dengan kasus yang itu?'

'Kamu berlebihan. Ini tidak lebih dari sekadar ucapan terima kasih.'

Lagipula, mungkin saja... jangan-jangan Kutsuzawa-kun adalah... tidak, informasinya masih terlalu sedikit dan kondisinya masih belum bisa dipastikan.

Karena terlalu mencari, mungkin aku salah mengira kemiripan kecil sebagai bukti.

'Hmm. Kalau kamu bilang begitu sih tidak apa-apa. Tapi jangan sampai terbawa emosi seperti biasanya, ya.'

'Aku tidak akan begitu. Cuma mentraktir makan siang saja.'

Chika ini, sebenarnya menganggap aku orang seperti apa?

'Begitu ya. Yah, setidaknya makan saja tidak akan bikin kamu mengamuk. Oke, istirahatlah demi besok.'

'Oke. Selamat malam.'

Aku melemparkan ponsel ke atas tempat tidur, lalu menoleh ke arah lemari. Besok. Apakah sebaiknya aku memakai pakaian yang lebih tenang agar terlihat serasi dengan Kutsuzawa-kun? Aku segera menggelengkan kepala saat memikirkan itu. Tidak, itu tidak mungkin.

Aku hanya berterima kasih pada teman sekelas yang sudah membantuku. Chika bicara sembarangan soal kencan, makanya aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Aku harus pergi dengan pakaian yang kusukai. Kalau dia tidak suka, ya sudah. Sebaliknya, kalau dipuji... yah... mungkin... aku akan merasa sedikit senang.

Aku menyusun pakaian untuk besok di kepalaku, dan langsung memutuskan. Aku berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.

★★★

Jam sepuluh empat puluh lima, sampai di lokasi. Sudah lama sekali aku tidak ke Ivan Mall, jadi aku harus melihat papan petunjuk untuk mencari pintu keluar empat.

Jalan lagi hampir lima menit. Gawat, gawat. Aku salah arah dan malah memutar. Jam sepuluh lima puluh dua.

Sesampainya di tempat janjian, Mizoguchi-san sudah datang. Atasan tanpa lengan berwarna hitam yang memperlihatkan kulit di sekitar pinggang, dengan tulisan bahasa Inggris warna emas.

Bawahannya celana jeans denim dengan efek rusak berwarna biru muda pucat. Dia menyampirkan tas selempang putih. Wah, aku jadi malas menyapanya. Malas sekali, aku takut.

"Ah! Kutsuzawa-kun!"

Saat menoleh, dia bahkan memakai kacamata hitam. Benar-benar penampilan seorang gals. Rambut ash-gray yang mendekati perak itu melambai saat dia menoleh. Ujung rambutnya tampak dikeriting.

 Kesannya sedikit lebih lembut daripada biasanya. Meski pakaiannya bergaya gals, tapi rambutnya lembut. Mungkin itu teknik 'hasushi' (penyeimbang) yang disengaja. Teknik yang legendaris, yang kabarnya hanya boleh dilakukan oleh pakar mode.

"Selamat pagi. Sepertinya aku membuatmu menunggu, aku merasa tidak enak."

"Tidak, kok. Aku juga baru sampai."

Entah kenapa, tidak ada kesan kencan sama sekali. Terus terang, tipe kami sangat berbeda. Kurasa orang di sekitar sini juga tidak ada yang salah paham kalau kami ini pasangan manis.

"Ayo pergi."

"Hei, hei. Bagaimana penampilan hari ini?"

Wah. Dia menanyakan itu padaku? Bukankah jawaban apa pun akan membuatku malu?

"……Gals, ya."

"Itu sih aku tahu. Maksudku, apakah ini cocok, atau apakah aku terlihat imut, fase itu lho."

Tanpa sadar, kami ternyata sudah sampai di fase pertempuran yang menegangkan itu. Padahal aku bahkan belum siap sama sekali.

"Itu, Mizoguchi-san cantik, jadi aku rasa apa pun yang kamu pakai akan terlihat cocok."

"……"

Mizoguchi-san terdiam seolah terkejut, lalu tersenyum malu-malu dengan gembira. Wah, dia benar-benar manis.

Padahal dia pasti sudah sering dipuji, tapi apakah dia selalu terlihat sebahagia ini setiap kali mendengarnya? Tidak, rasanya ada yang berbeda.

Dia bukan tipe yang suka memamerkan pesona di depan laki-laki. Saat si jamur itu membantu membawakan meja, dia hanya memberikan ucapan terima kasih yang dingin dan singkat.

Kalau dipikir-pikir, sosoknya yang periang di pabrik kami dan senyum malu-malunya sekarang mungkin adalah momen yang langka.

"Terima kasih. Kamu juga, Kutsuzawa-kun, pakaian kasual itu terlihat bagus."

Aku mengenakan kaus polo dan celana jins, pakaian yang bisa ditemukan di mana saja di dunia ini.

Aku sempat bingung memilihnya, tapi aku tidak ingin terlihat seperti orang yang sok keren, jadi akhirnya aku datang dengan gaya biasanya.

"Syukurlah. Tadinya aku sempat ragu mau pakai baju motif Nobunaga."

"Motif Nobunaga!? Aku sangat ingin melihatnya, tapi sepertinya bukan untuk hari ini, sih."

Sambil berbincang dengan akrab, kami berdua melewati pintu otomatis mal. Mizoguchi-san merentangkan tangannya lebar-lebar dan berkata, "Ah, sejuknya."

Kami berjalan di dalam mal selama hampir sepuluh menit, tapi aku tidak mendapatkan tatapan tajam yang kutakuti.

Aku sempat berpikir, karena kombinasi kami yang tidak seimbang, mungkin orang-orang akan melihat kami lalu memberikan tatapan mengejek ke arahku.

Aku terlalu banyak berpikir. Mal itu dipenuhi banyak orang, dan mereka tidak seburuk itu sampai harus mencampuri urusan orang lain. Mungkin karena aku terlalu rendah diri, aku jadi terlalu sadar diri.

Bukti bahwa akulah orang yang merasa paling tidak pantas berjalan bersama Mizoguchi-san. Sebenarnya, jika bukan karena alasan dia merasa berhutang budi padaku, kami tidak mungkin berjalan bersama di bawah sinar matahari seperti ini.

"Bagaimana? Mau ke arcade dulu?"

"Tidak, aku tidak suka pachinko."

"Kamu anggap aku orang macam apa? Aku bahkan belum pernah masuk ke pojok sana."

Lagipula, kenapa di arcade ada mesin pachinko atau slot, ya?

"Ayo foto purikura."

"Tangkap udang? Pakai jaring..."

"Hahaha, mau kupukul kamu?"

"Maaf."

Sepertinya aku kelewatan bercanda. Sejujurnya, aku tidak suka purikura. Itu adalah mesin yang menjadi sarang orang-orang yang ceria.

Tapi Mizoguchi-san yang tidak peduli dengan perasaanku langsung mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku kuat-kuat.

Wah, tangan perempuan ternyata sekecil ini, ya. Saat aku sedang berpikir begitu, aku sudah diseret ke arcade di dalam mal dalam sekejap.

Beberapa menit kemudian, Mizoguchi-san menatap hasil cetakan purikura kami...

"Hihihi, aduh, gawat. Perutku kram karena tertawa."

Tentu saja dia tertawa melihat hasil purikuraku. Ini pengalaman pertama seumur hidup, aku merasa lebih gugup daripada saat berada di bilik foto formal.

Apalagi saat dia mendesak, "Ayo tersenyum, tersenyum," dari samping, aku terpaksa tertawa, tapi hasilnya jadi senyuman yang sangat canggung. Kalau hanya itu, mungkin bisa dibilang foto orang yang sedang gugup, tapi...

"Bagaimana dengan foto yang matanya jadi aneh begini? Aku tidak butuh fotonya!"

"Berhenti, jangan bicara begitu sekarang. Ah, hahahahaha."

Ya. Dengan senyum aneh itu, dia malah memperbesar bagian matanya saja, jadi wajahku terlihat sangat mengerikan.

Meski aku menolak, Mizoguchi-san sambil tertawa terbahak-bahak langsung menekan tombol cetak. Hasilnya sampai sekarang.

Foto berdua monster yang menyedihkan dan wanita cantik ini benar-benar membuang-buang sumber daya.

"Ayo, pergi sekarang. Ini sudah hampir jam dua belas, kalau mengantre dari sekarang bakal lama."

Mal di hari Sabtu sangat ramai. Aku tidak bisa membayangkan harus menunggu berapa puluh menit di gerai populer.

Aku yang biasanya menyendiri sudah mulai merasa pusing karena keramaian. Maaf untuk Mizoguchi-san, tapi aku ingin cepat makan siang lalu pulang.

"Tunggu, tunggu. Sekali lagi. Kali ini yang serius. Yang tidak pakai efek."

"Kalau begitu, bukankah pakai kamera ponsel saja cukup?"

"Hmm. Purikura itu kan diambil sebagai kenang-kenangan kalau kita sudah jadi teman."

Teman. Apakah kami bisa dianggap sebagai teman?

Tidak punya teman saja sudah membuatku menjadi penyendiri, apalagi tiba-tiba berteman dengan seorang gals.

Urutannya terasa salah, seperti menyerbu kastil raja iblis padahal menara empat dewa surgawi masih berdiri.

"……Baiklah. Tapi kali ini, tolong jangan buang-buang kertas lagi."

Kami pun mengambil foto untuk kedua kalinya. Aku sangat gugup saat Mizoguchi-san memeluk bahuku.

Pikiran kotor bahwa dadanya mungkin akan menyentuhku sempat lewat, tapi dia menaruh tasnya di bahu sisi bahuku untuk menjaganya secara halus.

Begitu ya, dia seorang gals tapi ternyata tipe yang menjaga diri.

Kami meninggalkan arcade dan memutuskan untuk makan siang. Karena gerai makanannya terlalu ramai, kami pergi ke food court. Di sini juga sangat ramai.

"Mau makan apa?"

Aku mencari gerai yang terlihat paling murah.

Ada gerai 'Hanakara Udon'. Aku menunjuk gerai itu, lalu Mizoguchi-san sepertinya menyadari keenggananku.

"Boleh makan di restoran yang lebih mahal, kok. Aku punya uang, sedikit."

Katanya begitu. Tapi sebenarnya aku punya alasan lain selain merasa segan.

"Tidak. Di sana kita tidak perlu mengantre lama."

Di restoran lain, biasanya kita diberi bel untuk menunggu pesanan, tapi di 'Hanakara', sistemnya adalah pelanggan membawa nampan sendiri, memesan, menerima udon, lalu mengambil gorengan di sepanjang jalur menuju kasir. Jadi, waktu tunggunya jauh lebih cepat.

"Begitu ya. Kalau begitu, ayo ke sana."

Mizoguchi-san tidak harus mengikutiku, tapi dia tetap mengantre bersamaku. Hari ini panas, jadi aku memilih udon dingin.

Dia juga menyarankanku mengambil tempura, jadi aku memesan tempura telur setengah matang.

"Wah, telur setengah matang ya. Itu enak, lho."

"Iya. Mizoguchi-san, tempura ayam, ya? Sehat sekali."

Sambil membicarakan hal-hal sepele, kami menunggu giliran di kasir.

"Bayarnya digabung."

Saat Mizoguchi-san menunjuk nampanku dan nampannya, kasir pria muda itu menatap kami dengan terkejut sebelum mengiyakan.

Tentu saja begitu. Seorang gals cantik mentraktir cowok penyendiri yang payah seperti diriku, hubungan macam apa ini?

Setelah selesai makan, kami duduk di kursi untuk istirahat. Mizoguchi-san mengeluarkan semacam buku purikura dari tasnya dan menyimpan foto kami tadi.

Aku juga mendapatkan setengahnya, tapi sejujurnya aku bingung harus memperlakukannya bagaimana.

"Ah, iya. Aku hampir lupa. Ayo tukaran nomor ponsel."

Mizoguchi-san menggoyang-goyangkan ponselnya. Tidak disangka ponselnya tidak penuh dengan dekorasi. Simpel dengan hanya gantungan ring.

"Ah, iya."

"Tadi malam, kalau kamu tidak datang, aku pikir harus pergi ke rumahmu. Repot sekali, kan?"

"Ah. Tentu saja aku tidak akan melupakan janji."

Karena aku takut kalau terjadi sesuatu.

"Tapi aku memaksa mengajakmu kemarin, kan? Jadi aku pikir tidak apa-apa kalau kamu tidak datang."

Kalau kamu sadar, tolong hentikan kebiasaan itu.

Bagaimanapun, kami bertukar nomor. Sekalian juga bertukar alamat akun Rain (aplikasi pesan).

"Menjangkau Bintang."

"Ah, pakai kanji ya? Iya, seperti Star Bridge."

"Menjangkau Bintang."

Frasa itu, entah kenapa terdengar familiar di suatu tempat.

"……Ada apa?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Namanya bagus sekali."

"……Terima kasih."

Mizoguchi-san menatapku dengan curiga seolah sedang menyelidiki. Namun, aku tetap tidak bisa mengingat apa yang mengganjal di pikiranku.

Setelah makan siang, kami berkeliling di dalam mal. Karena dia sepertinya tidak punya rencana setelah ini, mungkin dia juga bosan kalau langsung pulang.

Aku pun merasa tidak enak kalau langsung pulang setelah ditraktir, seolah-olah dia sudah tidak berguna bagiku.

Selain itu, meski tidak suka keramaian, aku mulai terbiasa dengan Mizoguchi-san. Dia bukan orang jahat.

Masalah media sosial dan kejadian di kelas memang merepotkan, dan dia membuatku kaget saat memotret diam-diam, tapi dia benar-benar bukan orang jahat.

Dia membalas kebaikanku soal sepeda, dan dia bersikeras tidak mau memberikan ukiran kayu secara gratis.

Dia orang yang menjunjung tinggi harga diri.

"Boleh kita berkeliling di toko pernak-pernik?"

"Kamu ingin membeli sesuatu?"

"Tidak. Ukiran kayu yang mau aku minta padamu, aku masih bingung mau membuat apa. Sekadar referensi saja."

Kalau ada barang lucu, bukankah lebih cepat kalau dia membelinya saja? Tapi ukiran kayu sulit ditemukan, jadi mungkin dia ingin membuatnya sesuai keinginan.

Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke toko.

"Ah, gaun itu, terlihat bagus, kan?"

"Kamu bertanya padaku, ya..."

Aku tidak tahu soal fashion perempuan. Tunggu, bukannya tadi mau lihat pernak-pernik? Dia malah terpaku di toko pakaian perempuan. Yah, mungkin itu juga karena pekerjaannya.

"Model, ya."

"Hm? Kamu tertarik? Mau mencoba mendaftar?"

"Eh!? Bercandamu keterlaluan. Maksudku... ternyata kamu memang suka pakaian, ya."

"Ya. Yah, aku suka."

"Pekerjaan impian?"

"Bagaimana, ya. Kalau dilihat-lihat, pekerjaan membuat barang milik Kutsuzawa-kun lebih terlihat seperti pekerjaan impian."

"Ah, itu sudah pasti. Aku paling bahagia saat sedang membuat sesuatu."

"Keren ya, bisa mengatakannya dengan lantang."

"Mizoguchi-san tidak bisa mengatakannya dengan lantang?"

"Apa yang kusuka... apakah itu yang terbaik? Entah kenapa, aku merasa aku melakukannya karena wajahku lumayan dan postur tubuhku bagus, karena aku sudah punya modal yang lebih dari orang lain..."

Dia bicara seolah itu bukan dirinya sendiri, kurasa dia sendiri belum memahami hatinya.

Tanpa sadar, kami sudah duduk di sofa di tengah lorong mal.

"Tapi, kamu bicara sendiri kalau wajah dan postur tubuhmu bagus, ya."

"Hmm, mungkin gadis-gadis imut yang populer di kalangan pria akan bilang, 'Eee, tidak begitu kok~'. Tapi aku tidak suka itu. Kalau cantik, ya cantik. Kenapa tidak jujur saja?"

Benar, dia bukan tipe orang yang cocok merendah untuk menarik perhatian pria.

"Apa menurutmu aku juga tidak manis?"

"Aku tidak tahu manis atau tidak, tapi aku lebih suka cara berpikir Mizoguchi-san."

"Te... terima kasih."

Dia mengerucutkan bibirnya dan mengucapkannya dengan dingin. Menurutku, saat dia menunjukkan sisi seperti ini, dia justru terlihat manis. Biasanya dia terlihat tangguh, tapi sebenarnya dia pemalu.

"Jangan menatapku terus!"

Sepertinya aku tanpa sadar nyengir ke arahnya. Dia menekan pipiku, kukunya menusuk. Mungkin itu kuku palsu, terasa cukup lembut.

Mizoguchi-san sengaja terbatuk dan mengalihkan pembicaraan. Aku diam saja karena takut kalau aku menggoda dia yang seperti pria tua, pembicaraan ini tidak akan pernah berakhir.

"Apakah Kutsuzawa-kun sejak awal sudah pandai membuat barang?"

"Tentu tidak. Tanganku sering teriris. Garis-garisnya juga berantakan. Satu per satu semuanya melalui trial and error."

"Benar juga, ya. Aku dari awal riasanku langsung bagus, atau kalaupun salah sedikit tidak terlalu terlihat karena wajah asliku lumayan... singkatnya, aku tidak pernah gagal sampai harus berjuang mati-matian untuk terus melakukannya."

"Maksudmu, keseriusan kita berbeda?"

"Ya. Kalau ditanya apakah aku punya hasrat untuk bangkit dari kegagalan dan ingin menjadi lebih baik seperti Kutsuzawa-kun, ternyata tidak."

"Misalnya, apakah kalau tekstur kulit bawaanmu membuat makeup tidak menempel, kamu tidak akan berusaha keras untuk makeup?"

"Ya, tepat sekali. Pasti begitu. Aku pasti akan menggunakan makeup natural dan pakaian yang malas, lalu membuat alasan bahwa aku tidak berusaha, dan melarikan diri. Aku orang yang menyedihkan seperti itu."

"……Hmm. Menurutku tidak apa-apa, kok. Aku sendiri banyak melarikan diri dari berbagai hal. Kebetulan saja aku menemukan sesuatu yang bisa aku tekuni dengan cepat tanpa melihat bakat. Untuk bidang lain yang tidak menarik minatku, aku bahkan tidak ingin berusaha sedetik pun."

Aku tersenyum padanya.

"Tidak perlu terburu-buru. Mungkin kamu akan menemukan hal lain yang kamu sukai, atau di suatu saat, kamu mungkin bisa lebih mencintai pekerjaan model. Kita masih siswa SMA, kan."

Aku sedikit merasa seperti sedang menceramahinya, tapi saat melihat senyum lega Mizoguchi-san, aku pun merasa lega. Aku tidak suka melihat orang ceria seperti dia terlihat murung.

☆☆☆

Entah siapa yang memulai, suasana terasa sudah berakhir, dan kami kembali ke pintu keluar empat.

Tapi, aku benar-benar curhat habis-habisan. Tanpa sadar aku mengeluarkan keluhan yang manja. Benar-benar bukan gayaku.

Tapi, Kutsuzawa-kun menyemangatiku dengan sungguh-sungguh. Setelah meluapkan semuanya, aku takut dia akan kecewa atau merasa terganggu, tapi sama sekali tidak begitu.

Dia baik sekali. Melihatnya memasang wajah khawatir saat aku sedang murung membuat hatiku terasa ringan.

Secara ajaib, seperti yang dikatakan Kutsuzawa-kun, aku bisa merasa lebih positif untuk terus berjalan tanpa harus terburu-buru.

Mungkin aku akan menemukan hal lain yang disukai, atau mungkin akan ada saatnya aku benar-benar bisa menganggap pekerjaan model adalah pekerjaan impian saat terus melakoninya, ya.

"Baiklah, terima kasih atas traktiran hari ini."

"Ya. Yah, rasanya justru aku yang merepotkanmu, mengajakmu window shopping... dan curhat soal hidup."

"Tidak sama sekali. Hari ini menyenangkan."

"Begitu ya, kalau kamu bilang begitu, usahaku mengajakmu tidak sia-sia."

"Sekarang tinggal ukiran kayunya. Beri tahu aku kalau sudah memutuskan mau membuat apa. Kalau Imamagawa Yoshimoto, aku bisa langsung membuatnya, atau kalau mau, sekalian kain kafannya pun bisa."

"Eh, soal itu..."

Dia mulai bicara yang tidak-tidak, jadi aku buru-buru memotongnya.

Pria ini tidak punya rasa hormat pada jenderal perang zaman Sengoku, ya. Apa dia punya dendam? Tidak, itu tidak penting sekarang.

Aku menarik napas panjang. Aku menguatkan tekad dalam hati.

"Ada anime lama judulnya 'Magical Crusader', di situ ada karakter namanya Kururu."

Aku bertaruh. Ini tekad yang sama seperti melompat dari panggung kuil Kiyomizu.

Terlalu terburu-buru, dan seharusnya aku membangun hubungan lebih dekat dulu, tapi aku ingin segalanya menjadi jelas.

Setelah melihat dia ragu saat membaca kanjiku tadi, aku tidak bisa menahan diri. Aku tidak bisa menghentikan harapan bahwa mungkin saja ini dia.

Apakah Kutsuzawa-kun...

"Ah, ada ya anime seperti itu. Seingatku aku pernah membuatnya dulu. Meski berupa figur."

Dia tidak menggunakan bahasa formal, mungkin karena dia bukan sedang bicara padaku, tapi sedang mengingat masa lalunya.

Tapi aku tidak peduli dengan nada bicaranya, pandanganku berkunang-kunang karena gembira. Apakah aku menang taruhan?

Benarkah, Kutsuzawa-kun adalah Kou-chan?

"Dulu aku cukup kecanduan membuat figur, jadi aku membuat banyak hal. Sepertinya di antaranya ada karakter bernama Kururu..."

Tenang. Belum ada bukti konkret. Sedikit lagi.

"Hehe, lalu figur yang kamu buat itu bagaimana?"

"Eh? Ah, seingatku... kuberikan pada seseorang. Kalau tidak salah, anak yang sedang di rumah sakit."

"……!"

Benarkah. Benar begitu. Kou-chan. Ternyata dia benar-benar Kou-chan. Akhirnya aku menemukannya. Tidak, aku tidak menyangka bisa bertemu lagi.

Tentu saja, aku pindah ke sini karena berharap bisa bertemu, tapi setengah dari diriku sudah menyerah karena menganggapnya mustahil secara realistis.

Tapi, aku menemukannya. Apa sebaiknya aku memasukkan sepuluh ribu yen ke kotak amal kuil agar doaku terkabul? Aku ingin berpose kemenangan.

"Kou-cha—"

"Soal figur itu, anak bernama Meguru yang kuberi pertama kali sangat senang. Dampaknya begitu kuat, jadi aku tidak terlalu ingat pada orang lain."

…………Hah?

"Yah, sudah hampir sepuluh tahun yang lalu, jadi wajar kalau tidak ingat, haha. Jadi, kita buat karakter Kururu itu saja, kan?"

"……tidak."

"Eh?"

"Tidak mau! Kou-chan bodoh!"

Karena sedih dan sakit hati, sebelum aku sadar, aku berteriak sekeras-kerasnya.

Aku langsung berlari menuju tempat parkir sepeda, memutar kunci sepedaku, dan langsung menaikinya seolah melompat.

Aku tidak mau berada di sini lagi. Bodoh sekali. Hanya aku... hanya aku yang secara sepihak menganggapnya berharga...

"……!!"

Saat mulai mengayuh sepeda, kecepatanku meningkat drastis dan menjauhi mal. Tanpa memedulikan rasa pegal di kaki, aku terus mengayuh sampai akhirnya sampai di rumah.

Ibu belum pulang kerja. Tepat sekali. Aku benar-benar ingin sendiri saat ini.

Aku merebahkan diri di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar dan terisak. Sambil menangis, aku teringat saat pertama kali bertemu dengan Kou-chan.

Saat masih kecil, fisikku sangat lemah. Karena sering masuk-keluar rumah sakit, aku hampir tidak punya teman di sekolah dan bisa dibilang masa kecilku sangat kesepian.

Dukungan emosional terbesarku saat itu adalah anime. Meskipun sekarang tidak terlalu sering, dulu aku menonton banyak sekali genre.

Salah satu yang paling kusukai adalah genre magical girl. Sepertinya, aku pun memiliki kepekaan layaknya anak perempuan pada umumnya.

Berkat langganan streaming yang dibayarkan Ayah, aku menonton banyak sekali judul. Di antara semuanya, ada satu karakter yang sangat memikat hatiku, yaitu Kururu-chan dari Magical Crusade.

Dia sama sepertiku, fisiknya lemah dan sering dirawat di rumah sakit. Namun, kemampuan sihirnya adalah yang terkuat di antara karakter lainnya.

Setiap teman-temannya dalam kesulitan, dia selalu memaksakan diri untuk datang membantu. Begitu pertempuran berakhir, dia akan pingsan kembali.

Jujur saja, aku sangat mengaguminya. Bukan karena romansa karakter terkuat yang bernasib malang, melainkan karena kekuatan hatinya.

Dulu, aku sangat benci harus pergi ke rumah sakit setiap kali kondisi tubuhku menurun. Namun, Kururu-chan bisa menerima ketidaknyamanan itu demi orang lain.

Mungkin itu memberikan pengaruh besar dalam hidupku. Aku mulai menghormati orang yang mampu bertindak demi orang lain meski harus mengorbankan dirinya sendiri.

Hal itu masih tidak berubah sampai sekarang. Suatu hari saat aku baru naik kelas dua SD, sekolah mengadakan acara pemberian hadiah dari sukarelawan teman sekelas untukku.

Aku mendengarnya dari Chika yang membawakan lencana kaleng untukku. Gara-gara kejadian itu, kami jadi akrab dan berteman sampai sekarang.

Aku ingat ada beberapa gadis lain yang memberikan pernak-pernik kecil. Meski jumlahnya sedikit, mereka menyisihkan uang jajan demi memberiku hadiah.

Aku sangat berterima kasih. Meskipun sekarang aku sudah tidak lagi berhubungan dengan mereka, aku sungguh berharap mereka semua bahagia karena memiliki hati yang begitu lembut di usia sedini itu.

Hal itu saja sudah membuatku sangat bersyukur dan merasa puas. Namun, kejutan terbesar datang di akhir acara, karena katanya ada hadiah dari satu-satunya anak laki-laki.

Aku terkejut. Dia datang ditemani wali kelas dan beberapa gadis. Anak laki-laki itu tampak pendiam dengan pakaian sederhana dan penampilan yang tidak mencolok sama sekali.

Begitu melihatku, anak laki-laki itu berkata, "Aku akan membuat sesuatu. Coba sebutkan benda yang paling kamu sukai."

Aku membeku karena permintaannya sama sekali tidak terbayangkan.

"Kou-chan itu sangat terampil dengan tangannya. Dia sudah banyak berlatih, jadi dia bisa membuat apa saja!" ujar salah satu gadis.

"Apa saja?" tanyaku.

"Iya! Aku saja dibuatkan Ripple-chan olehnya. Lihat ini."

Gadis itu menunjukkan layar ponselnya. Ripple-chan adalah karakter setengah kucing dan manusia dari sekuel Magical Crusade.

Kualitas figur Ripple-chan yang ada di layar itu sangat luar biasa. Setidaknya, itu benar-benar melampaui level karya anak sekolah dasar.

Sampai sekarang, aku masih ingat rasa semangat yang kurasakan saat itu. Aku benar-benar berpikir dia adalah seorang penyihir!

Aku tidak menyangka anak seusiaku bisa membuat benda yang tampak seperti barang pabrikan. Aku pun tanpa ragu meminta, "Kururu-chan! Tolong buatkan Kururu-chan dari Magical Crusade!"

Aku bahkan berpikir karena dia penyihir, dia bisa langsung mengeluarkan benda itu seketika. Kou-chan mengangguk setuju dan memintaku menunjukkan referensi gambarnya.

Dia menatap buku komik aslinya dengan sangat serius selama beberapa saat. "Iya, aku rasa aku bisa membuatnya. Tunggu satu minggu lagi, ya," ucapnya.

Aku ingat sempat berpikir, "Kenapa? Apa dia tidak bisa langsung mengeluarkannya setelah melihat gambarnya?" Anak kecil memang kadang konyol, ya.

Namun, rasa tidak puas itu segera hilang. Kou-chan mengeluarkan buku sketsa dan mulai menarik garis dengan kecepatan luar biasa.

Gadis-gadis lain, bahkan guru kami, ikut mendekat karena penasaran. Aku pun turun dari tempat tidur dan ikut bergabung.

Aku melihat sebuah keajaiban di sana. Garis-garis yang tadinya tampak acak perlahan menyatu hingga menjadi sosok Kururu-chan yang sempurna.

Aku melihat proses itu dengan mata yang berbinar-binar. Minggu itu terasa sangat panjang bagi kami.

Aku terus bertanya-tanya, apakah dia sudah selesai? Setelah tiga hari, aku sempat berpikiran buruk bahwa dia mungkin melupakanku atau menunda pekerjaannya.

Sekarang kalau diingat lagi, aku benar-benar egois. Padahal Kou-chan pasti mengerjakan itu di sela-sela tugas sekolah dan membantu orang tuanya.

Dia tidak pernah mengeluh sedikit pun karena sifatnya yang lembut. Hebatnya, dia bahkan membawanya tepat di hari keenam.

Kou-chan menempelkan plester di jarinya, tapi aku sama sekali tidak menyadarinya saat itu. Ibu baru memberi tahu hal itu setelahnya.

Meskipun masih anak-anak, aku merasa menyesal pada diriku di masa lalu karena tidak memperhatikan hal itu. Tapi aku terlalu senang hingga terobsesi dengan figur pemberiannya sampai lupa berterima kasih.

Benar-benar payah, ya. Tapi Kou-chan sama sekali tidak marah melihat sikapku itu.

"Aku juga menonton animenya untuk riset. Kururu-chan anak yang kuat, ya. Dia bertarung demi kedamaian meski sedang melawan penyakitnya sendiri. Kalau aku, pasti sudah menyerah."

Aku menoleh dan akhirnya menatap Kou-chan dengan benar. Baru kali itu ada orang yang menyadari kekuatan hati Kururu-chan, bukan hanya kekuatan sihirnya saja.

"Iya, kan! Kururu-chan kuat dan keren sekali, ya!"

Sejak saat itu, aku terus menceritakan pesona Kururu-chan dengan semangat karena akhirnya ada orang yang bisa mengerti. Kou-chan mendengarkan dengan gembira dan sesekali menanggapi dengan antusias.

Rasanya kami terus mengobrol sampai perawat datang, dan itu adalah hari paling menyenangkan selama aku dirawat. Setelah itu, Kou-chan datang menjenguk sekitar seminggu sekali.

Tanpa kusadari, aku lebih menantikan hari untuk bertemu dengannya dibandingkan siapa pun. Aku benar-benar menghitung hari dengan jari.

Suatu hari, saat aku mengeluh soal kondisiku, Kou-chan memberikan kata-kata yang menjadi hartaku. "Sei-chan sudah berjuang berkali-kali lipat lebih keras daripada kami, sama seperti Kururu-chan. Jadi, kamu itu sangat kuat."

Aku yang selalu dibilang lemah malah disebut kuat, jadi aku sempat cemberut karena mengira dia sedang menggodaku.

"Ayahku bilang, manusia akan menjadi kuat sesuai dengan penderitaan yang telah dilalui. Jadi, Sei-chan yang sudah melewati banyak penderitaan pastilah sudah sangat kuat."

Dia melanjutkan dengan mata yang jujur tanpa ada kebohongan sedikit pun. Ada cahaya di matanya yang menunjukkan bahwa dia benar-benar percaya pada kebenaran itu.

Saat itu aku tertegun, tapi saat mengingatnya nanti, aku merasa sangat senang karena untuk pertama kalinya aku bisa menerima diriku yang menderita penyakit. Namun, waktu menyenangkan bersama Kou-chan tidak bertahan lama.

Kepindahan rumah sakitku pun diputuskan. Sebenarnya ada pembicaraan untuk pindah ke rumah sakit besar di Kota Yokonaka sejak awal.

Namun, karena Ibu bersikeras ingin di rumah sakit lokal Kota Sawamigawa, itulah sebabnya aku dirawat di sini. Aku sangat bersyukur bisa bertemu Chika dan Kou-chan karena hal itu.

Sayangnya, dari sisi medis, pengobatanku di sana berjalan lambat. Setelah pindah, aku kehilangan kontak dengan Kou-chan dan itu terus menggangguku.

Bukan itu saja, setelah berpisah, aku baru sadar bahwa itu adalah cinta pertama yang luar biasa. Saat aku mulai bersekolah kembali, tidak ada anak laki-laki yang setenang dan sebaik Kou-chan.

Barulah saat melihat anak laki-laki kelas yang ribut seperti monyet, aku sadar bahwa aku baru saja mengalami patah hati.

Dalam perjalanan pulang dari mal, aku terus merenungkan teriakan dan perkataanku padanya. Aku benar-benar tidak paham kenapa aku sampai seperti itu.

Apakah aku melakukan sesuatu? Mungkin iya, tapi aku sama sekali tidak tahu apa salahku.

Aku teringat saat sebelum Mizoguchi-san lari menjauh. Dia memanggilku "Kou-chan bodoh".

Padahal sepanjang hari itu, dia selalu memanggilku dengan sebutan Kutsuzawa-kun atau "kau". Kenapa hanya saat itu dia memanggil nama depanku?

Lalu sebelum dia marah, dia bicara soal Meguru. Jangan-jangan Mizoguchi-san mengenal Meguru?

Tidak mungkin, dia baru saja pindah tahun ini. Seandainya pun kenal, itu bukan hal yang harus dipermasalahkan.

Aku sama sekali tidak tahu. Wajah Mizoguchi-san saat menangis terus terbayang di kepalaku.

Setelah sampai di rumah, aku menerima pesan Rain darinya. Isinya hanya "Maaf".

Aku sempat bertanya kenapa dia marah, tapi pesan itu hanya dibaca tanpa dibalas. Lima hari pun berlalu begitu saja.

Tentu saja kami tidak bicara di sekolah, dan aku tidak punya keberanian untuk mengirim pesan lagi. Waktu terus berlalu tanpa kejelasan.

Mungkin ini kembali ke kehidupanku yang semula. Tapi tetap saja, hatiku terasa tidak tenang.

Rasa bersalah karena telah membuatnya menangis dan ketidaktahuanku akan alasannya membuatku gelisah. Lebih dari itu, aku mulai merasa senang bisa punya teman lagi.

Kondisi di mana aku membuat orang yang sudah memberiku harapan menjadi marah membuatku merasa sangat tidak nyaman dan sedih.

"Ah."

Saat aku hendak keluar kelas, aku hampir bertabrakan dengan Mizoguchi-san yang baru kembali dari toilet. Sebelum aku sempat meminta maaf, dia sudah berjalan cepat melewatiku.

Bukan terlihat marah, wajahnya tampak sedih saat menatapku. Apakah kejadian minggu lalu meninggalkan bayangan gelap baginya juga?

Kalau aku tidak terlalu percaya diri, haruskah aku yang mengambil tindakan? Haruskah aku mengejarnya?

Mengejar seorang siswi tercantik di kelas? Meski akan diabaikan atau diejek sebagai penguntit oleh seisi kelas? Apakah aku yang penakut ini mampu melakukannya?

Apakah aku harus melakukan sejauh itu? Untuk orang yang marah sendiri, pulang sendiri, dan mengabaikan pertanyaanku?

Di satu sisi aku merasa begitu, tapi di sisi lain ada rasa bersalah yang mengganjal. Setiap hari sebelum berangkat sekolah, aku memutuskan untuk bicara padanya, tapi aku selalu pulang dengan mencari alasan untuk rasa takutku sendiri.

Namun, hari ini adalah saatnya. Begitu jam pulang sekolah berakhir, aku berdiri dengan sigap.

Dia juga baru berdiri dan sepertinya akan pulang bersama Sonoda-san. Jika bisa, aku ingin bicara berdua saja, tapi keadaan tidak memungkinkan.

Jika bicara langsung dan ditolak, setidaknya itu sudah berakhir. Aku sudah menunaikan kewajibanku.

Jika aku tidak bersikap gigih, seharusnya teman-teman sekelas tidak akan mengejekku. Aku menguatkan tekad dalam hati.

Tiba-tiba, "Tunggu sebentar."

Ujung seragamku ditarik hingga lututku hampir lemas. Saat menoleh, aku melihat Doguchi.

Dia melemparkan sekaleng kopi kaleng padaku. Aku menangkapnya sambil berpikir ini seperti adegan di dalam drama.

Kopi itu terasa sangat dingin dan pas di telapak tanganku yang mulai panas. Meski baru awal Juni, cuaca sangat panas dan tahun ini dipastikan akan menjadi musim panas yang ekstrem.




"Aku bayar ya."

"Nggak usah. Lagian kita yang egois minta kamu datang ke sini, kan?"

"……Terima kasih banyak atas traktirannya."

"Nah, seperti yang mungkin sudah kamu tahu, soal Seika."

"Ya."

"Ah, sejujurnya aku selalu memihak dia, jadi ada rasa kesal sedikit padamu."

Hie. Apakah ini benar-benar perundungan? Apakah aku dibenci oleh mereka yang berada di kasta teratas? Meskipun aku sering merasa takut sebelumnya, kali ini rasanya sungguhan. Skenario terburuknya adalah aku berhenti sekolah, mengambil ujian kesetaraan, lalu masuk universitas. Tidak, mungkin lebih baik tidak kuliah dan langsung bekerja di pabrik saja.

……Aku benci betapa cepatnya aku memikirkan cara untuk melarikan diri.

Tiba-tiba, wajah Doguchi-san sedikit melunak.

"Tapi ya, aku juga mengerti kalau dari sudut pandang Kutsuzawa-kun, situasi ini sangat tidak masuk akal."

"……"

Sepertinya pembicaraan ini bisa berjalan dengan cukup rasional. Mungkin aku tidak akan dipukul, kurasa.

"Emm, apakah Doguchi-san tahu seluruh situasinya?"

"Iya. Kami bersahabat sejak SD. Aku juga tahu saat dia masih lemah fisik dulu."

"……Lemah fisik?"

Itu sulit dibayangkan dari sosok Mizoguchi-san yang sekarang. Dia selalu tampak percaya diri, ceria, dan energik... yah, meski belakangan ini dia tampak sangat lesu.

Doguchi-san menatap wajahku lekat-lekat. Tatapannya tajam, seolah sedang menyelidiki sesuatu. Aku merasa tertekan dan tanpa sadar mundur satu langkah.

"Tidak ada yang bisa kamu ingat?"

"Meski ditanya begitu……"

Sejujurnya, aku sama sekali tidak paham. Aku tidak mengerti maksudnya. Kupikir dia akan bercerita tentang masa lalu Mizoguchi-san, tapi sepertinya dia tidak berniat melanjutkannya.

"Kutsuzawa-kun, apa kamu pernah dibilang orang yang pelupa?"

"Keluarga tidak pernah bilang begitu. Aku kan tidak punya teman……"

"Ah. Maaf ya."

Permintaan maafnya tidak terlalu membantu.

"Yah, sisanya biar kalian berdua yang selesaikan. Nih."

Doguchi-san memberikan secarik kertas. Itu adalah salinan peta.

"Lingkaran merah itu rumah Seika."

Di lokasi lingkaran merah pada peta itu, berdiri sebuah apartemen baru yang terlihat cantik. Apakah dinding luarnya menggunakan ubin mosaik? Dari segi teknik konstruksinya... tidak, sekarang bukan saatnya memikirkan itu.

Di lobi, aku menekan nomor kamar yang diberitahu Doguchi-san dan memanggilnya. Kupikir seharusnya aku membuat janji lewat Rain dulu, tapi menurut Doguchi-san, "Dia itu penakut kalau sudah di saat penting. Kalau dikasih tahu duluan, dia pasti kabur. Ini serangan mendadak, serangan mendadak." Jadi, aku datang tanpa memberi kabar apa pun.

Satu kali panggil, dua kali panggil. Saat aku hendak berbalik karena mengira dia tidak ada di rumah, terdengar jawaban. Suara wanita, tenang dan rendah.

"Ya."

"Ah, emm. Saya teman sekelas Seika-san, nama saya Kutsuzawa. Apakah Seika-san ada di rumah?"

Aku berusaha bicara dengan sopan meski gugup.

"Eh!? Kou... Kutsuzawa-kun!?"

Eh, apa itu dia sendiri? Biasanya suara orang berubah sedikit lewat interkom, tapi aku benar-benar mengira itu anggota keluarganya.

"Bagaimana kamu bisa tahu tempat ini... ah, Chika ya. Benar-benar ikut campur."

"……Maaf. Sepertinya dia merasa kasihan padaku dan mengulurkan bantuan."

"……Terserahlah, masuk saja."

Saat panggilan terputus, pintu otomatis di depanku terbuka. Keamanannya sangat ketat, ya. Jauh berbeda dengan rumahku. Ingatanku melayang pada saat karyawan pria di rumahku sedang mengobrak-abrik kotak P3K di ruang tamu. Dia bahkan tertawa tanpa rasa bersalah sambil menunjukkan jarinya yang berdarah dan berkata, "Aduh, kecerobohan kecil."

Aku naik ke lantai tujuh dan mencari kamar 707. Bahkan saluran pembuangan di koridor tidak ada kotorannya sama sekali. Kebersihan sehari-hari sangat dijaga. Di pabrik kami, pernah ada kotoran kucing yang sudah mengeras... sudahlah, lupakan. Sejak tadi pikiranku terus melantur ke hal-hal aneh. Itu berarti...

"Aku benar-benar gugup, ya."

Aku menarik napas dalam-dalam. Akhirnya sampai, kamar 707. Jariku gemetar saat menekan bel. Aku bahkan belum tahu kenapa dia marah.

Aku takut jika tidak sadar, aku akan menginjak ranjau miliknya lagi. Haruskah aku mencari alasan dan memahami jawaban benarnya sebelum membuka pintu ini?

Tunggu, bukankah Doguchi-san bilang dia tahu segalanya? Haruskah aku bertanya padanya...

"Tidak, tidak bisa begitu."

Itu mungkin ide buruk. Jika aku diam-diam menyelidiki dan dia mengetahuinya nanti... Lagi pula, rasanya Doguchi-san tidak akan memberitahuku.

Dia pasti akan menolak dengan berkata, "Kalau ada yang mau ditanyakan, tanyakan langsung pada Seika." Jadi, aku tidak punya pilihan selain membulatkan tekad.

Eeei! Aku memejamkan mata dan menekan interkom.

"……"

Eh? Tidak ada tanda-tanda orang bergerak di dalam. Padahal bunyi belnya pasti terdengar. Tidak mungkin dia pergi, kan? Aku menekan sekali lagi, tetap tidak ada reaksi.

"……"

Eh? Jangan-jangan dia hanya membukakan pintu otomatis di bawah lalu pergi keluar? Apa dia sekejam itu? Aku tidak merasa telah melakukan kesalahan yang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu.

Aku mencoba meneleponnya. Secara kebetulan, ini adalah telepon pertama kami. Suara ringtone terdengar tidak jauh dari tempatku. Itu lagu rock dari band gadis yang populer. Sebelum lagu itu berakhir, teleponnya langsung dimatikan.

"……"

"……"

"Mizoguchi-san? Apa kamu di sana?"

Mungkin dia tepat di balik pintu. Di tempat setebal tiga milimeter. Mungkin dia membukakan pintu otomatis lobi dan langsung menungguku di sini.

Itu berarti dia punya niat untuk bicara. Tapi mungkin dia membeku saat belnya berbunyi. Doguchi-san bilang dia penakut di saat penting, sepertinya itu tidak bohong.

"……Mungkin sulit bagimu untuk bertatap muka? Kalau begitu... aku juga sama. Sejujurnya, aku tidak tahu kenapa kita yang hampir jadi teman malah jadi begini. Apa aku melakukan sesuatu? Apa kamu masih marah? Memikirkan semua itu membuatku takut untuk bicara."

"……"

"Maaf, kalau mengganggu, aku akan pulang. Aku tidak akan mengirim pesan Rain lagi."

"Jangan!!"

"Eh?"

Dia memotongku dengan suara tajam. Saat aku terkejut, pintu kamar terbuka ke arah luar. Aku hampir saja tertabrak dan buru-buru mundur.

"Tunggu."

Mungkin karena berteriak, suaranya sedikit serak. Rasanya ini pertama kalinya dalam waktu lama aku melihat wajahnya secara langsung.

Dia tidak memakai makeup. Pakaiannya juga santai, hanya kaus putih dan celana training hitam, benar-benar pakaian rumah. Mizoguchi-san menunduk seolah menghindari tatapanku. Mungkin tidak menatap lekat-lekat adalah etiket di sini.

"……Masuklah."

Dia mengundangku dengan suara yang begitu kecil, sangat kontras dengan Mizoguchi-san yang biasanya, lalu aku pun masuk ke rumahnya.

☆☆☆

Selama lima hari ini, seolah-olah warna telah hilang dari dunia.

Apa pun yang kumakan, rasanya langsung terlupakan, bahkan terkadang aku tidak ingat apa yang sudah kumakan. TV dan video pun sama saja.

Aku bahkan tidak sadar apakah aku benar-benar menontonnya atau tidak. Ibu sudah khawatir berkali-kali, tapi aku hanya bisa menjawab "aku baik-baik saja."

Meski begitu, aku tidak bisa bergerak. Seharusnya tidak begini. Setelah keajaiban kami bisa bertemu lagi, seharusnya aku mencurahkan semuanya dan berteman kembali... aku hanya bisa meratapi rencana indah yang tidak terwujud itu sambil menangis.

Karena setelah tenang, aku sadar bahwa dari sudut pandang Kutsuzawa-kun, situasi ini sangat tidak masuk akal dan tidak adil.

Dia menjawab karena ditanya, menceritakan kenangan masa lalu, lalu aku malah marah besar dan kami berpisah dengan perasaan yang sangat buruk... ini sungguh...

Aku dibenci. Aku tidak ingin memastikannya, jadi aku menghindari kontak. Itu hanya penundaan. Aku tahu aku harus meminta maaf, dan aku tahu semakin aku menunda, semakin buruk pandangannya terhadapku.

Namun, aku takut ditinggalkan, dan dalam hati aku berharap dia akan datang dengan lebih memaksa. Maksudku, apakah Kutsuzawa-kun tidak keberatan jika hubungannya denganku putus?

Dia bahkan tidak mengejarku meski aku menolaknya sedikit... aku bahkan berpikir hal yang tidak tahu malu seperti itu. Padahal aku sendiri tidak memberi penjelasan apa pun, jadi tidak mungkin dia bisa mendekat. Aku benar-benar merepotkan.

Namun... dia datang demi wanita seperti ini. Tapi di sini pun, meski hatiku sangat senang dan ingin segera berlari menemuinya, aku malah merasa takut. Aku baru berani saat hubungan kami berada di ambang kehancuran. Betapa menyedihkannya diriku.

"Haa~"

Aku mengambil botol teh Oolong dari kulkas dan menuangkannya ke gelas sambil menghela napas pelan. Aku meletakkan gelas kami di atas nampan dan kembali ke ruang tamu dengan perlahan.

Aku meletakkan nampan di meja kaca dan duduk di sofa. Sofanya diatur membentuk huruf L agar mudah menonton TV, bukan saling berhadapan, jadi aku duduk agak miring di hadapannya.

Aku memperhatikan profil samping Kutsuzawa-kun sekali lagi. Kalau dipikir-pikir, ada kemiripan. Begitu ya, mungkin di suatu bagian otakku, aku sudah menyadarinya. Makanya aku begitu terobsesi dengannya.

Wajah seriusnya keren, tapi saat dia menggaruk pipinya dengan canggung, dia terlihat imut. Saat aku menatapnya begitu saja, Kutsuzawa-kun perlahan menoleh ke arahku. Aku malu dan langsung menunduk.

"……Kenapa wajahmu dipalingkan?"

"Soalnya, sekarang aku tidak pakai makeup."

Suaraku bergetar. Tidak, aku benar-benar tidak bisa bicara dengan baik.

"Tadi aku jelek ya?"

Pria baik seperti Kutsuzawa-kun tidak mungkin bilang "iya" setelah ditanya seperti itu.

"Tidak, sama sekali tidak."

"Lalu, apa yang kamu pikirkan?"

"……Kalau kujawab jujur, takutnya kamu merasa jijik."

"Katakan saja."

Diriku yang jijik, tahu! Kenapa aku begitu ingin dia mengatakannya?

"……Tampil tanpa makeup seperti ini saja sudah tidak adil, menurutku."

"Maksudnya?"

"Itu... ehem."

"Ya."

"Ternyata kamu memang cantik."

"~~!"

Adrenalin terasa menyembur di otakku seperti air mancur. Cantik, indah... selama ini pria mana pun yang mengatakannya, aku selalu merasa "aku tahu" dan merasa risi karena mereka terlalu kentara punya niat buruk. Apa ini? Aku ingin berteriak.

"Mohon jangan salah paham. Ini pertama kalinya aku mengatakannya pada seorang gadis."

Jantungku benar-benar terasa akan melompat.

"Ah, tidak. Pernah, ya."

"Eh!?" Pada siapa?

"Waktu kita janjian di mal, ke Mizoguchi-san."

Itu aku! Benar, dia memang mengatakannya. Waktu itu aku juga malu, tapi...

Tapi tunggu. Waktu itu dia mengatakannya dengan santai, sementara sekarang dia merasa cemas akan dianggap jijik... itu berarti, jarak kami memang sudah menjauh, ya. Dadaku sakit sekali.

Tidak mungkin aku merasa jijik saat dipuji oleh Kutsuzawa-kun, dan fakta bahwa aku membuatnya merasa cemas seperti itu terasa begitu menyakitkan.

Mengabaikan emosiku yang tidak stabil, Kutsuzawa-kun memiringkan gelasnya dan meminum teh Oolong. Lalu dia menghadap ke arahku.

"Itu, Mizoguchi-san."

"Hm?"

"Tentang tujuan utamaku ke sini..."

"Ah, ya." Benar juga, dia pasti datang untuk membahas itu.

"Sebenarnya, aku sudah sampai di sini, tapi sejujurnya aku tidak tahu kenapa kamu marah waktu itu, jadi aku ingin mendengarnya darimu."

"Begitu, ya." Mustahil kamu bisa mengerti sendiri.

"Apa aku melakukan sesuatu?"

"Bu-bukan, kok!"

Aku juga harus berani. Kutsuzawa-kun tetap datang meski aku terus mengabaikannya. Dia datang tanpa meninggalkan wanita yang tidak masuk akal ini. Sekarang giliranku.

"……Tunggu sebentar. Ada yang ingin kutunjukkan."

Hanya itu yang kukatakan, lalu aku kembali ke kamarku. Aku membuka walk-in closet, dan membawa kotak figur yang tersimpan di dalamnya dengan kedua tangan. Figur Kururu-chan yang kudapat delapan tahun lalu.

Aku menarik napas panjang. Akhirnya aku akan menunjukkan ini. Dalam pikiranku, 90% yakin Kou-chan adalah Kutsuzawa-kun, tapi belum 100%. Aku akan menjadikannya fakta sekarang. Aku menekan jauh-jauh kemungkinan salah duga yang mungkin masih ada.

★★★

Saat Mizoguchi-san meninggalkan ruang tamu, keheningan langsung menyelimuti. Suara detak jam dinding terdengar begitu keras. Canggung sekali. Atau jangan-jangan, rumah ini hanya ada Mizoguchi-san saja?

Saat aku mulai cemas apakah ada hal yang salah, pintu ruang tamu terbuka dan dia kembali. Dia membawa sesuatu di tangannya. Sebuah kotak transparan. Aku menahan napas saat melihat isinya.

"……Figur itu. Itu... yang kubuat."

"Ternyata benar... ternyata memang kamu."

"Wah, nostalgia sekali. Boleh aku melihatnya dari dekat?"

Sebagai ganti jawaban, Mizoguchi-san meletakkan kotak itu di atas meja. Figur seorang gadis berambut hitam dengan gaun hitam. Aku ingat saat membuatnya dulu, aku sampai harus menusuk jariku dengan kawat aluminium hingga harus memakai plester, tapi aku membuatnya dengan penuh semangat. Karena itu menyenangkan. Dan karena aku ingin dia senang.

"Ah, warnanya memudar. Detailnya juga terlalu sederhana, ya. Aku ingat saat membuat wajahnya, keringatku menetes dan aku panik. Wah, nostalgia sekali."

Seperti sedang bermain game balap, aku menggoyangkan tubuh ke kiri dan kanan untuk mengamati seluruh bagiannya. Tapi, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan.

Bukankah ini kuberikan pada anak yang dirawat di rumah sakit? Namanya... Sei-chan. Klik. Sinapsis di otakku tersambung.

"Sei-chan!? Ah! Yang membelah bintang (Sei-ka)!"

Aku ingat mendengar penjelasan itu saat menanyakan nama aslinya di kamar rumah sakit dulu. Sinapsis terus tersambung, dan berbagai kenangan muncul dari hipokampus secara beruntun.

Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari samping, melingkar di leherku, dan aku ditarik dengan kekuatan luar biasa hingga tubuh hangatnya menempel padaku.

Saat menoleh dengan terkejut, wajah Mizoguchi-san tepat di depanku. Dia menangis. Air mata berkilau terjalin di bulu matanya yang panjang. Mungkin terdengar kejam mengatakan ini pada gadis yang sedang menangis, tapi... dia cantik.

"Kou-chan. Kou-chan. Kita bertemu. Benar-benar nyata, aku bisa bertemu lagi...!"

Sepertinya dia sangat emosional, dia meletakkan dahinya di bahuku sambil terisak.

Eee... yah, menurutku ini kebetulan yang luar biasa, tapi ingatanku mengatakan kami tidak menghabiskan waktu selama itu hingga harus sampai pada reuni yang mengharukan ini. Mungkin sekitar sebulan, dan karena itu seminggu sekali, praktis kami hanya bertemu sekitar empat kali.

Bagaimana ini? Haruskah aku menepuk punggungnya untuk menenangkan?

Jangan sampai dianggap pelecehan seksual... yah, kurasa dia bukan orang yang akan bicara seperti itu.

Saat aku ragu-ragu untuk mengulurkan tangan, aku menyadari tanganku gemetar dan itu terasa memalukan. Itu level tangan perawan yang bisa dikenali hanya dari ujung jarinya.

Pada akhirnya, aku tidak punya keberanian. Aku hanya duduk terpaku saat dipeluk, menunggu dia tenang.

Mungkin sekitar dua atau tiga menit. Terasa lebih lama, tapi jarum panjang jam dinding hanya bergerak sedikit. Akhirnya, tubuh Mizoguchi-san perlahan menjauh dan wajahnya yang menangis terlihat di depanku. Matanya merah dan bibirnya masih bergetar.

"Kamu baik-baik saja?"

Dia mengangguk pelan, lalu berbalik membelakangiku. Dia mengambil cermin tangan di atas meja untuk memeriksa wajahnya.

"Emm, haruskah aku keluar?"

"Tidak usah. Kalau menangis setelah pakai makeup, aku akan terlihat lebih jelek."

Dia masih berencana menangis?

"Bukankah tadi kamu bilang aku cantik sekali meski tanpa makeup?"

"Aku tidak bilang 'sekali', tapi yah, iya."

Faktanya adalah aku merasa dia cantik bahkan saat sedang menangis.

"Jadi, gadis waktu itu adalah Sei... maksudku Mizoguchi-san, kan?"

"Nama."

"Eh?"

"Tadi di interkom kamu memanggil Seika-san, dan barusan juga memanggil Sei-chan, kenapa sekarang jadi kembali (formal)?"

Ujung kalimatnya meninggi seperti anak kecil. Sangat kontras dengan gals tangguh yang biasanya. Tentu saja aku punya pembelaan.

"Waktu di interkom aku kira anggota keluargamu yang menjawab. Karena kesan suaranya berbeda. Panggilan Sei-chan pun karena aku terbawa kenangan masa lalu... Mizoguchi-san juga."

"Nama!"

Karena dia merajuk seperti anak kecil, aku lupa dengan situasinya dan wajahku sedikit mengendur.

"Emm, kalau begitu Seika-san?"

"……Untuk sekarang, itu boleh."

Mungkin dia juga masih terbawa kenangan masa kecil.

Setelah urusan panggilan selesai, aku kembali menghadapnya. Masih ada hal yang harus kubicarakan dan kutanyakan.

Namun, sebelumnya.

"Pertama-tama... maafkan aku karena melupakanmu sampai saat ini dan tidak menyadarinya. Karena hal ini kamu marah, ya."

Aku menundukkan kepala dalam-dalam di depannya.

Bagiku, dia hanyalah orang yang sedikit akrab saat aku memberikan figur itu, tapi baginya, itu memiliki arti yang jauh lebih besar.

Jika memikirkan situasinya, dan melihat bagaimana Kururu-chan ini disimpan dengan baik, itu tak terelakkan.

"Maafkan aku."

Aku menunduk lagi.

"Tidak, aku juga minta maaf. Lagipula aku sendiri baru yakin saat di mal, kita hanya bertemu beberapa kali saat kecil, dan aku hanya ingat nama panggilannya saja. Tidak heran kamu lupa. Sungguh, maafkan aku."

Aku merasa lega mendengar kata-katanya yang lembut.

"……Yah, kalau kamu tidak menghubungkannya denganku sih tidak apa-apa, tapi aku syok karena eksistensiku sendiri dilupakan."

Dia mengangkat wajah. Dia tersenyum, tapi matanya tidak terlalu tertawa.

"Aku benar-benar diselamatkan oleh kata-katamu, Kou-chan, dan aku selalu melihat figur ini untuk bersemangat saat merasa lelah. Aku tidak pernah melupakan Kou-chan. Tapi ya sudahlah, tidak apa-apa. Aku kan cuma salah satu dari banyak orang yang dibuatkan figur olehmu, kan?"

Dia benar-benar masih mendendam. Telapak tanganku mulai berkeringat.

"Emm, apa yang harus kulakukan supaya kamu memaafkanku?"

"Elus aku."

"Hah?"

"Tadi kamu mau mengelus punggungku, kan? Itu."

Dia memperhatikannya ya. Dan lagi, dia minta diulangi.

"Hm."

Seika-san—bukan Mizoguchi—berdiri dan merentangkan kedua tangannya ke arahku.

"Se-serius mau melakukan ini?"

Aku ikut berdiri, tapi karena posisinya sama dengan tadi...

"Hm."

Mau tak mau kami harus berpelukan dan aku harus melingkarkan tangan ke punggungnya. Sebelum aku sempat ragu... waaaah.

Seika-san melompat masuk tanpa jeda. Aku tidak punya waktu untuk berpikir dan langsung memeluknya.

Wah, lembut. Aku pikir dia orang yang ramping, tapi ternyata dia gadis juga. Gawat. Jantungku berdetak dengan kecepatan yang belum pernah kudengar. Ah, tapi dada kiri Seika-san yang menempel di dada kananku juga berdetak dengan kencang. Tunggu... dada kiri?

Kelembutan ini, mungkinkah...

"Bagaimana? Ternyata dadaku lumayan berisi, kan?"

Dia mengatakannya sambil tertawa menantang, tapi wajahnya merah padam. Tubuhnya juga sedikit gemetar. Be-benar-benar tidak terbiasa, ya. Sama sepertiku. Kalau dipikir begitu, mungkin aku bisa sedikit tenang... tapi mana mungkin bisa tenang!




Eeei, aku harus mengelusnya. Karena itulah yang kami bahas tadi. Aku menggerakkan tanganku yang sedari tadi melingkar di punggungnya. Sesaat kemudian, jemariku menyentuh sesuatu seperti gundukan.

"Ah!"

Aduh, jangan mengeluarkan suara aneh seperti itu. Saat aku mencoba mengintip wajahnya, dia membuang muka karena malu. Berkat reaksi itu, aku akhirnya sadar bahwa itu adalah tali bra. Tentu saja, itu tubuh seorang gadis, jadi wajar jika dia mengenakan pakaian dalam. Meski secara teori aku tahu, menyentuhnya secara langsung dengan tanganku terasa sangat nyata.

Hidungku bisa mimisan. Tidak, bagian punggung tidak boleh. Aku memutuskan untuk mengubah taktik dan meletakkan tanganku di kepalanya yang berada dalam jangkauan. Kepalanya terasa bulat dan hangat. Saat aku mengelusnya pelan, tercium aroma harum dari rambutnya.

"Kepala..."

"Ti, tidak boleh ya?"

"Tidak kok, boleh saja. Rasanya nyaman."

Suaranya yang lembut mengguncang telingaku. Rasanya seperti ada magma yang mengalir ke dalam dadaku. Visi tentang diriku yang memeluk tubuh lunak namun rapuh ini secara paksa berlarian di dalam otakku. Bagian diriku yang biasanya tenang pun terkejut karena ternyata ada dorongan liar yang tertidur dalam diri seorang pria herbivora sepertiku.

Tanpa kusadari, aku sudah mengelus rambutnya, bukan lagi sekadar kepalanya. Meski diwarnai cukup keras, rambutnya tidak banyak yang rusak dan hampir tidak tersangkut di jari-jariku. Kurasa dia menghabiskan banyak waktu dan uang untuk merawat rambutnya.

Pasti bukan hanya rambut, tapi tubuh dan wajahnya pun mendapatkan perawatan yang tak terbayangkan oleh pria. Dan aku, diizinkan untuk menyentuhnya. Aku merasa pusing.

Aku menurunkan tanganku sekali lagi ke punggungnya. Aku ingin mencoba memeluknya dengan erat. Pasti dia tidak akan membencinya, kan?

"Seika-san."

Tepat saat jemariku hendak menyentuh pinggangnya yang ramping, terdengar suara gemerincing dari arah pintu masuk. Seika-san melepaskan diri dariku seperti orang yang tersengat listrik.

"Gawat! Mama pulang!"

Waduh. Kalau terlihat seperti ini, mungkin aku akan membuat ibunya teringat akan masa mudanya. Aku segera menjauh, merapikan kemejaku yang berantakan, lalu berdiri tegak menyambut sang pemilik rumah.

Pintu ruang tamu terbuka dan sang ibu masuk. Matanya yang sedikit tajam mirip dengan Seika-san. Usianya mungkin sekitar awal empat puluhan. Dia tidak terlihat terlalu terkejut saat melihat wajahku, mungkin karena dia sudah melihat sepatu di pintu masuk.

"Seika, itu temanmu?"

"Iya."

"Ah, halo. Maksud saya, sudah lama tidak bertemu. Saya teman sekelas Seika-san, nama saya Kutsuzawa Kousei."

"Kutsuzawa... Kousei-kun."

Wanita itu menatapku dengan wajah tegang. Kurasa dia tidak bermaksud memusuhiku, tapi sorot matanya jauh lebih tajam daripada Seika-san.

"Dulu saat Seika-san dirawat di rumah sakit, saya sempat beberapa kali menjenguk, dan saat itulah..."

Seharusnya kami pernah bertemu, tapi sejujurnya aku sama sekali tidak ingat. Jika aku ditatap sekuat ini, seharusnya aku tidak akan melupakannya. Yah, mungkin karena dulu dia menganggapku anak kecil, sedangkan sekarang aku hanyalah orang asing yang misterius dan menyelinap masuk ke rumah mereka saat pemiliknya tidak ada.

"A-ah! Kamu itu Kou-chan! Ibu juga ingin berterima kasih padamu!"

Nada bicaranya berubah drastis. Dia melangkah lebar-lebar ke arahku. Menakutkan, menakutkan. Ya, Seika-san benar-benar mirip ibunya.

"Terima kasih banyak sudah menjadi pendukung bagi Seika saat itu."

Jadi aku benar-benar menjadi pendukungnya, ya. Meskipun kurasa sebagian besar adalah berkat figur yang kubuat.

"Sebenarnya kami ingin berkunjung ke rumahmu untuk berterima kasih, tapi... setelah pindah rumah sakit dan berbagai hal terjadi, kami jadi sangat sibuk, ya?"

Ya? Sepertinya dia tidak perlu bertanya begitu. Namun, saat melihatnya terus bicara tanpa henti, aku hanya bisa tersenyum canggung. Rupanya dia menganggap jarak di antara kami sudah semakin dekat, sampai-sampai dia mulai berhenti menggunakan bahasa formal.

"Tidak apa-apa, saya melakukannya sekalian latihan membuat figur, jadi jangan dipikirkan."

"Oh, begitu? Senang mendengarnya."

Rasanya dia memang menunggu jawaban itu. Dia sangat berani, ya. Tapi bagi orang yang lebih tua, hal seperti itu mungkin tidak jarang terjadi.

"Tapi syukurlah, ya, Seika. Akhirnya kamu bisa bertemu dengan Kou-chan kesayanganmu yang selama ini kamu cari."

Kou-chan kesayangan? Ah, tunggu, "kesayangan"? Apa maksudnya!?

"Ma! Mama! Bukan begitu! Kou-chan bukan begitu! Ya, aku hanya ingin berterima kasih padanya, sama seperti Mama! Lagipula, saat aku pindah rumah sakit dulu, aku tidak sempat mengucapkannya dengan benar, kan?"

Ya? Lagi-lagi dia bertanya seperti itu.

"Tidak, tidak apa-apa. Saya tidak akan salah paham, kok."

"Ah..."

Aku mengatakannya agar dia tenang, tapi entah kenapa dia malah menatapku dengan mata berkaca-kaca. Apakah bibirnya yang sedikit terbuka itu ingin mengucapkan sesuatu?

"Ngomong-ngomong, karena kudengar kalian pindah ke sini saat masuk SMA, kupikir kalian benar-benar orang baru. Ternyata kalian hanya kembali ke sini, ya."

Karena itulah aku sama sekali tidak terpikir kalau kami mungkin pernah bertemu saat kecil. Memikirkan kembali kejadian di mal saat dia marah padaku, rasanya itu memang misi yang mustahil.

Aku merasa kagum karena dia sampai rela pindah ke sini hanya untuk berterima kasih atas kejadian masa lalu... tapi sepertinya bukan itu saja alasannya. Seika-san dan ibunya terlihat sedikit canggung.

"Yah, karena berbagai keadaan keluarga juga. Tentu saja, benar juga kalau kami ingin berterima kasih padamu jika bisa bertemu."

Sang ibu menjelaskan untuknya. Aku tidak tahu apa masalah keluarganya, tapi mungkin mereka memang berada dalam kondisi yang harus pindah. Jadi, mereka memilih Sawamigawa karena pernah tinggal di sini dan mungkin berharap bisa bertemu dengan orang yang ingin mereka beri ucapan terima kasih.

"Sekali lagi... benar-benar minta maaf. Dari sudut pandang Kou-chan, wajar saja jika kamu tidak tahu."

Setelah selesai menjelaskan semuanya, Seika-san sepertinya sudah bisa melihat situasinya dengan tenang. Tapi dia sudah meminta maaf berulang kali, dan aku sendiri tidak punya ganjalan apa pun. Seperti katanya, memang sulit untuk menyatukan ingatan antara Sei-chan dan Seika-san, tapi tetap saja aku merasa bersalah karena melupakan Sei-chan sepenuhnya.

"Selama lima hari ini juga... sikapku sangat buruk, kan?"

"Tidak, aku sudah mengerti perasaanmu."

Membayangkan orang yang kamu hormati selama bertahun-tahun ternyata tidak mengingatmu sama sekali pastilah sangat menyakitkan.

"Tapi pesan Rain pertama dariku bahkan hanya dibaca tanpa dibalas."

"Lain kali akan kubalas. Dengan hal-hal sepele... mungkin soal panglima perang."

"Kou-chan... terima kasih. Meskipun aku keberatan soal panglima perang."

Meski masih canggung, kami berdua tertawa bersama.

Tiba-tiba, terdengar dehaman yang dibuat-buat dari Mama. Maaf, Mama, aku hampir melupakannya.

"Apa kalian berdua sedang berpacaran?"

Tanpa sempat merasa gugup, Kou-chan langsung menyangkalnya. "Tidak, bukan begitu." Kenapa dia menjawab secepat itu? Bukankah dia terlalu tenang?

"Begitu? Padahal saat Mama masuk tadi, suasananya terasa agak romantis, kan?"

"Tidak, sama sekali tidak ada apa-apa."

"Sudah kubilang dia terlalu tenang, Kou-chan... itu membuatku sakit hati." Bukan berarti aku menyukainya, sih.

"Hanya saja, aku sempat menyentuh tubuhnya, tapi tanpa kesepakatan."

Dia sama sekali tidak tenang tadi, kan!?

"I-itu namanya pelecehan seksual! Tenanglah sedikit!"

"Pe-pelecehan seksual!? Kalau mendapat nama buruk seperti itu, aku tidak bisa... Ayah, Ibu, maafkan anakmu yang tidak berbakti ini."

"Kapan terakhir kali aku mendengar kalimat itu!?"

Aduh, kacau sekali. Mama tertawa lebar melihat kami. Sudah lama sekali aku tidak melihat senyum Mama yang seperti itu.

"Ahahaha. Haa, kalian lucu sekali. Tidak kusangka dia bisa bilang pada ibunya sendiri kalau 'tanpa kesepakatan'... ah, lucu sekali."

"Omong-omong, itu sebenarnya sudah ada kesepakatan, ya."

Aku harus menegaskan hal itu. Lagipula, akulah yang memeluknya duluan.

"Mama tahu, kok. Saat kamu membawa pria ke kamar berdua saja, itu berarti kamu punya perasaan..."

"Ah, sudah! Tidak perlu bicara yang tidak perlu!"

Saat aku dan Mama mulai berdebat, Kou-chan melirik jam. Melihat itu, kami pun diam. Saat dia berdiri, aku tahu waktunya sudah tiba.

"Ah, aku hampir lupa. Ini oleh-oleh. Kupikir makanan yang bisa habis lebih baik. Mungkin sudah dingin, sih."

"Wah, maaf merepotkanmu."

"Emm, ini Imagawayaki."

"Imagawa Yoshimoto!?"

Dia benar-benar membuatnya! Karena aku lengah, aku gagal menghentikan kegilaannya!

"Kamu bicara apa sih?"

Mama menatapku dengan tatapan seolah dia salah mendidikku, sambil mengeluarkan bungkusan putih dari kantong kertas.

"Ini Imagawayaki, kan?"

"Iya, karena mendadak, saya hanya bisa menyiapkan ini."

"Tidak, tidak. Harusnya kami yang berterima kasih padamu. Ayo, kamu juga."

"Eh? Ah, terima kasih."

"Iya. Tapi... apa kamu baik-baik saja, Seika-san? Kamu tiba-tiba bicara yang aneh-aneh."

"Kamu itu benar-benar tidak boleh berkhianat, tahu!"

Kenapa wajahmu bisa terlihat begitu bingung? Padahal kaulah sumber masalahnya.

"Yah... memang benar Imagawa Yoshimoto sudah lama tewas, dan kue ini juga sudah dingin, sih. Hahaha."

"Seleramu tajam sekali. Jangan tertawa."

Anak yang dulu begitu polos, kenapa sekarang jadi orang yang menarik seperti ini?

Kami sampai di lobi lantai satu apartemen, tapi aku masih enggan berpisah. Aku duduk di sofa umum dan memintanya untuk duduk di depanku. Waktu menunjukkan pukul enam tepat. Aku tahu menahannya lebih lama akan merepotkan, tapi kami masih kurang bicara.

"Tapi ya, saya terkejut. Sei-chan itu... ternyata sudah benar-benar sehat. Syukurlah."

"Yah, katanya gejalanya akan berkurang seiring bertambahnya usia."

"Kalau begitu... mungkin sudah terlambat, tapi saya ingin memberi hadiah perayaan kesembuhan. Yoshimoto seperti apa yang kamu inginkan?"

"Bisa tolong berhenti menganggap Yoshimoto sebagai standar?"

"Eh, soalnya tadi kamu sempat salah mengira Imagawayaki sebagai Yoshimoto."

"Itu karena Kou-chan! Waktu di mal!"

Sampai di sana, aku sedikit ragu. "Terlambat sih, tapi mulai sekarang aku harus memanggilmu apa? Kou-chan? Ko... Kousei?"

"Panggil sesukamu saja."

"Begitu, ya."

Sejujurnya, aku ingin memanggilnya Kou-chan, tapi panggilan itu selalu membuatku teringat kenangan masa kecil yang membuatku merasa lemah. Aku ingin menjadi diriku yang sekarang. Jadi, aku akan menjadi berani dan menjadi diriku sendiri.

"Kalau begitu, Kousei saja. Ah, tapi apa kamu lebih suka nada bicaraku yang lucu seperti dulu?"

Aku terkejut sendiri saat nada bicaraku berubah menjadi manja di akhir kalimat. Apakah aku benar-benar bisa mengeluarkan suara manja seperti ini? Tapi kalau dia menuntut hal seperti ini terus-menerus...

"Tidak, jadilah dirimu sendiri saja, Seika-san."

"Begitu ya."

"Lakukan saja seperti biasanya, jangan pedulikan hal kecil dan teruslah maju. Kamu kan seorang gals."

"Kamu seperti mengejekku, ya?"

"Tidak mungkin. Mana mungkin."

"Bagian mana yang kau sangkal? Bilang saja kalau kamu tidak mengejekku!"

"Eh?"

"Pulang sana! Bodoh! Okehazama!"

"Iya, iya."

Kousei berdiri. Aku merasa kesepian, tapi ini memang sudah waktunya dia pulang.

"Sampai jumpa besok."

"Iya."

"Ah, tunggu."

Saat berjalan beberapa langkah, Kousei menoleh ke arahku.

"Ada apa?"

"Aku senang kamu menjaga figur itu dengan baik. Meski nada bicara dan suasanamu berubah... bagiku kamu tetaplah gadis berhati lembut yang bisa menghargai pemberian orang lain. Baik Sei-chan maupun Seika-san. Jadi... aku senang bisa bertemu lagi."

Setelah mengatakan itu, Kousei melewati pintu otomatis. Saat aku menatap punggungnya dengan terpaku, aku bergumam, "Itu... curang sekali."

Aku tidak bisa lagi membohongi diriku sendiri.

――Aku memulai kembali babak kedua dari cinta pertamaku.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close