Prolog
Janji Seorang Pria Konon Seberat Senilai Ribuan Emas
Sebuah
janji itu adalah hal yang sangat penting.
Penting...
atau lebih tepat jika diekspresikan sebagai hal yang berharga?
Aku
sendiri tidak terlalu paham perbedaan antara penting dan berharga,
tetapi rasanya frasa itu jauh lebih pas.
Soalnya,
frasa "orang yang berharga" rasanya memberikan penekanan tingkat
kepentingan yang lebih tinggi ketimbang sekadar "orang yang penting".
Mengenai Nanami? Tentu saja Nanami adalah orang yang penting sekaligus berharga
bagiku.
Tidak,
bukannya aku ingin bermain kata-kata soal penting atau berharga... melainkan
ini soal apa hal yang paling penting di atas segalanya dari sebuah janji.
Langsung
ke kesimpulannya saja, aku berpikir bahwa menepati janji adalah hal yang paling
penting melebihi apa pun. Pada janji yang diingkari, keharusan berharga mana
lagi yang tersisa di dalamnya?
Dalam
artian seperti itu, janji adalah hal yang unik. Janji itu sendiri sudah
berharga, tetapi tindakan menepatinya adalah hal yang paling penting... Lalu,
sekali saja diingkari, hal itu tidak akan bisa diperbaiki lagi. Dalam artian
tidak dapat diperbaiki lagi, janji itu persis seperti waktu.
Aku
malah bermain kata-kata lagi, tapi ini sepertinya lebih ke pembahasan rekam
jejak, ya. Semakin sering sebuah janji ditepati, semakin bertumpuk pula rasa
kepercayaan yang terbangun. Atau lebih tepatnya, keandalan? Ataukah dua-duanya?
Kalau terus-menerus membahas perbedaan kata seperti ini, orang-orang mungkin
bakal menganggapku cerewet. Aku sendiri kurang paham perbedaan antara
kepercayaan dan keandalan.
Apakah
kepercayaan itu digunakan untuk masa lalu, sedangkan keandalan digunakan untuk
masa depan...? Keandalan itu masa depan, rimbanya agak mirip... ah, ini tidak
ada hubungannya.
Janji
itu... adalah hal yang harus ditepati. Menepati juga berarti menjaga. Janji
harus dijaga dari rintangan-rintangan yang berpotensi membuatnya teringkari
atau tidak bisa ditepati.
Seberapa
banyak janji yang sudah kubuat hingga saat ini, lalu seberapa banyak janji yang
bakal kuingkari di masa depan, dan janji seperti apa yang kelak tidak akan
sanggup kujaga?
Di
dunia ini, janji bertebaran di mana-mana. Dunia ini terbentuk dari janji—di
mana ya aku pernah melihat kalimat itu? Kalau tidak salah di salah satu manga.
Kenyataan
bahwa aku dan Nanami mulai berpacaran dan melanjutkan hubungan ini pun
merupakan salah satu bentuk janji. Kenyataan bahwa Ayah dan Ibu menikah pun
adalah hasil dari sebuah janji bernama surat nikah.
Di
masa depan nanti, aku dan Nanami juga pasti akan membuat janji besar semacam
itu... menurutku. Walau ini terlalu cepat dan kami harus memperkuat landasan
hidup kami terlebih dahulu, sih.
Justru
karena itulah, aku... kami berdua menepati janji dengan sangat disiplin pada
liburan kali ini.
Menyangkut
masa depan dan menggabungkan berbagai hal lainnya... kami berdua berjanji tidak
akan... melampaui batas saat hanya tinggal berduaan. Lagipula, pikirkan pihak
penginapan yang telah memberi kami tempat menginap, orang tua kami, hingga
kakek dan nenek yang telah mendukung kami. Jika sampai melanggar janji, kami
tidak akan punya muka lagi di hadapan mereka.
Ya,
kami berhasil menjaga janji dengan mereka sampai akhir tanpa cela.
...Eh?
Bukankah kemarin kalian berada di ambang batas yang sangat berbahaya?
Kalau
yang itu kan, bukannya masih aman? Lagipula kami tidak melakukannya secara
paksa, kami benar-benar menjaga akal sehat, dan pada akhirnya tidak terjadi
apa-apa, jadi bukankah itu bagus?
Meskipun
baru saja menepati janji, aku merasa diriku seperti orang bermuka dua yang
licik, dan ini murni pembenaran atas hasil akhir belakangan. Sungguh, aku
sendiri bingung sedang bicara apa. Namun memang benar ada momen yang berbahaya,
tetapi meski begitu janji tersebut tetap kami tepati. Daripada merendahkan
diri, hal itu justru adalah sesuatu yang patut dibanggakan.
Begitulah,
kami berdua benar-benar merasakan pentingnya sebuah janji... Namun sebenarnya
saat ini, kami sedang berada dalam kondisi yang agak membingungkan.
Aku
akan sangat bersyukur jika kamu menganggap permainan kata-kataku yang
berlebihan sejak tadi disebabkan oleh hal tersebut.
Mengapa
begitu? Karena pentingnya menepati janji ini... mendadak goyah dari akarnya. Apalagi,
hal itu digoyahkan oleh sosok yang kepadanya kami mengikrarkan janji tersebut.
『...Kalian
ini, kenapa malah menepati janjinya secara polos begitu, sih...?』
Kalau
dikatakan hal seperti ini, siapa pun pasti bakal bingung.
"Eeeeeh...?"
"Kakek...
seriusan bilang begitu...?"
Atas
satu kalimat yang diucapkan tanpa beban tersebut, aku menganga sangat lebar
hingga rasanya rahangku mau lepas, lalu tanpa sadar mengerang bingung.
Nanami
pun kelihatan sangat heran dan tidak habis pikir atas kalimat tersebut. Namun,
sosok yang melontarkan kalimat itu dari balik telepon pun memasang raut wajah
heran yang tak kalah dari Nanami.
"Anu...
apakah Kakek mencurigai kami? Kami tidak berbohong, kok."
『...Ah,
soal itu Kakek paham. Kakek tahu kamu bukan tipe orang yang suka berbohong...
jadi Kakek tidak curiga. Justru karena Kakek tidak curiga makanya Kakek heran,
kenapa kalian malah menepati janji itu secara polos begitu...』
Di
tengah-tengah pembicaraan, suara yang sangat nyaring terdengar dari balik
ponsel.
Plaakk!
Suara
tebasan yang seakan membelah udara.
Yup,
itu adalah suara Kakek Nanami yang baru saja digampar oleh Nenek. Kecepatan
tangannya luar biasa, setidaknya aku sendiri sampai melewatkan momen tersebut.
Ini adalah versi kebalikan dari frasa jika bukan aku yang melihatnya pasti
bakal terlewat. Aku benar-benar tidak bisa melihatnya.
Hal
yang kupahami hanyalah hasil akhir bahwa beliau telah dipukul, dan itu pun
kupahami berdasarkan suara dan gerakannya.
『...Ooi,
apa-apaan kamu ini?!』
『...Apanya
yang 'apa-apaan'! Bukannya memuji anak muda yang sudah menepati janji, malah
mencelanya!』
『...Siapa
yang mencela, aku cuma tercengang tahu! Kenapa mereka benar-benar menepati
janji itu, sih. Aku terlalu kagum sampai-sampai malah jadi kaget sendiri!』
『...Janji
itu memang diciptakan untuk ditepati, tahu!! Lagipula, sebelum mereka berangkat
liburan kan kamu sendiri yang merepotkan mereka dengan terus-menerus menyuruh
mereka menjaga batas!!』
Aah,
pertengkaran suami istri meletus di balik telepon.
Tidak,
apakah hal ini bisa disebut pertengkaran suami istri?
Aku
dan Nanami saling bertatapan, lalu menyunggingkan senyum tawar.
Jadi,
mengenai apa yang sedang kami lakukan saat ini... kami sedang mengadakan sesi
laporan liburan kepada Kakek dan Nenek Nanami. Lokasinya berada di kamar
Nanami, dan kami sedang melakukan panggilan video lewat ponsel dengan mereka
berdua.
Mengapa
kami melakukan hal semacam ini... mungkin ada yang bertanya-tapa, tetapi
alasannya murni karena beliau bilang ingin mendengar ceritanya secara langsung.
Saat
liburan telah berakhir dan rasa enggan mulai menyelimuti karena libur musim
dingin tinggal tersisa sedikit lagi, permintaan tersebut datang bukan hanya
untuk Nanami, melainkan jika berkenan, aku pun diminta untuk ikut.
Tentu
saja aku boleh menolaknya, tetapi dari pihakku sendiri, aku ingin menyampaikan
rasa terima kasih secara langsung atas dorongan dan dukungan mereka untuk
liburan kami, jadi aku menyetujuinya.
Lagipula,
Kakek Nanami kan dulu sempat bilang padaku untuk membuktikannya lewat tindakan,
bukan sekadar kata-kata. Tindakan lebih penting daripada kata-kata, begitu kan.
Justru
karena itulah aku menepati janji kami, dan sesuai dengan ucapan beliau, aku
menyampaikan apa yang terjadi secara jujur... sampai batas tertentu.
Sampai
batas tertentu saja, ya. Tidak mungkin kan, aku bilang kalau aku mandi berdua
bersama Nanami, atau ketidaksengajaan berpapasan di pemandian air panas tadi
pagi. Soal hal itu saja kami tidak mengatakannya kepada orang tua kami.
Karena
kami tidak melakukan hal yang tidak-tidak, kikiranya pasti bakal aman... tetapi
siapa sangka, jawaban yang kembali justru kata-kata di luar dugaan seperti
tadi.
Kalau
begini sih, wajar saja kalau kami jadi kebingungan.
"Apa
yang dikatakan Nenek memang benar kok, tentu saja kami menepati janji
itu..."
『...Mana
ada benar atau tidak benarnya! Padahal itu liburan cuma berduaan saja, lho?
Tidak ada pengawasan orang tua sama sekali, kan? Mumpung merasa bebas, tidak
ada salahnya kan kalau agak kelewat batas sedikit, atau malah bablas
sekalian...』
『...Hentikan
cara bicaramu yang tidak sopan itu, Dasar Kakek-kakek Tua!!』
Ah,
beliau dipukul Nenek lagi. Kali ini pukulan beliau agak lambat jadi aku pun
bisa melihatnya... tapi bukan itu masalahnya. Beliau dipukul dengan cukup
santai dan beruntun.
Lagipula,
gaya bicara Nenek juga berbeda jauh dari kesan pertama. Beliau dulu sempat
bilang kalau beliau lulusan sekolah putri bangsawan, dan saat pertama kali
berbicara pun kesannya jauh lebih anggun. Bukannya beliau yang sekarang
terkesan kasar, sih. Hanya saja, gaya bicaranya sudah jauh lebih santai dan
lepas.
Kakek
yang dipukul pun sepertinya tidak mengalami dampak apa pun, dan kalau bukan
perasaanku saja, beliau justru malah terlihat menikmati hal tersebut.
Hanya
saja Nanami, yang melihat interaksi mereka berdua, tampak merasa heran dan
geleng-geleng kepala.
"Kakek
dan Nenek... terlalu bersemangat..."
"...Mereka
bersemangat, ya?"
Sepertinya,
dugaan bahwa beliau terlihat menikmati hal itu memang bukan sekadar perasaanku
saja. Menurut penilaian Nanami, pihak Nenek pun tampaknya ikut bersemangat.
Yah,
mereka kan pasangan suami istri, jadi interaksi seperti itu pasti terasa
menyenangkan bagi mereka.
"Aku
juga sebenarnya tidak tahu, sih... Kakek ternyata lumayan suka lelucon yang
agak tidak sopan begitu... Katanya berbicara dengan Youshin tanpa perlu ada
yang disembunyikan itu terasa sangat menyenangkan."
『...Nanami-chan,
itu salah paham tahu. Soal lelucon dewasa begitu kan pada dasarnya semua orang
memang suka.』
"Aku
tidak berniat membantahnya, sih, tapi bukankah itu tergantung situasi dan
kondisinya...?"
Subjek
pembicaraannya terlalu luas.
Aku
sendiri tidak akan mengucapkannya atas inisiatif sendiri, walau kalau
mendengarnya kadang ikut tertawa juga, sih. Soal tergantung situasi dan
kondisi... yah untuk situasi saat ini, rasanya diucapkan pun tidak masalah,
kan.
Tampaknya
ini adalah salah satu sisi dari Kakek yang belum pernah diketahui oleh Nanami
sendiri. Soal hal ini, rasanya jejak-jejaknya memang sudah sempat terlihat
sedikit saat kami berbincang sebelumnya.
"Terkesan
aneh kalau diucapkan, tapi Kalian berdua benar-benar terlihat sangat rukun,
ya..."
"Apakah
itu yang biasa disebut semakin sering bertengkar semakin rukun? Aku sendiri
tidak menyangka kalau Kakek dan Nenek ternyata serukun ini dalam hal seperti
ini."
『...Kami
ini sudah jadi suami istri tanpa pernah berpisah sampai di usia tua begini,
tahu. Rasa sungkan satu sama lain itu mana ada lagi di saat-saat seperti
sekarang.』
『...Kalau
dari pihak saya, rasanya tidak masalah kalau Anda bisa sedikit lebih tahu
sungkan, lho.』
『...Lihat
kan? Dingin sekali, ya, Istriku ini.』
Di
balik layar ponsel, interaksi yang mirip dengan pasangan komedian terus
berlanjut. Melihat hal tersebut, Nanami sampai memegang kepalanya seakan sedang
menahan rasa pusing.
"Ngomong-ngomong,
apa sih rahasia keharmonisan rumah tangga Anda berdua?"
Kata-kata
itu meluncur begitu saja dari mulutku murni karena rasa ingin tahu, atas
keharmonisan yang berbeda dari orang tuaku maupun orang tua Nanami. Namun
menanggapi kata-kataku tersebut... eh?
Keduanya
mendadak memasang raut wajah yang tampak serba salah.
『...Harmonis...
harmonis ya. Apakah yang seperti ini bisa disebut harmonis?』
『...Bagaimana
ya? Kami sendiri sudah tidak tahu sudah berapa kali bertengkar. Jika dibilang
harmonis sampai ke tingkat yang tenang dan damai, rasanya masih sangat jauh
dari itu...』
...Tampaknya
bagi mereka berdua, kehidupan rumah tangga mereka tidak bisa dibilang harmonis
secara konvensional. Disebut tidak bisa dibilang tenang, memangnya kehidupan
seperti apa yang telah mereka jalani selama ini, ya?
Meski
begitu, keberhasilan mereka untuk tetap bersama dalam jangka waktu yang sangat
panjang pasti memiliki alasan tersendiri.
『...Yah,
walau terkesan klise, mungkin jawabannya adalah saling berkompromi pada hal-hal
yang bisa dikompromikan? Pada awalnya memang terasa baik-baik saja, tapi kalau
sudah bersama dalam waktu lama, hal-hal yang bikin kesal pasti bakal
bermunculan.』
『...Benar
sekali. Mulai dari selera makanan, cara mandi, hingga penggunaan kamar mandi...
Jika hal-hal kecil yang tak terhitung jumlahnya itu tidak dikompromikan,
semuanya tidak akan berjalan lancar...』
Kompromi,
ya.
Bagi
kami yang sekarang, kata itu terasa belum begitu merasuk ke dalam benak.
Rasanya tidak ada hal yang membuat aku dan Nanami harus saling berkompromi
sejauh itu...
...Apakah
soal melakukan hal-hal mesum atau tidak itu termasuk ke dalam bentuk kompromi?
Mendadak
merasa penasaran, aku melirik pelan ke arah Nanami, dan Nanami pun ikut melirik
ke arahku secara bersamaan. Sepertinya memikirkan hal yang sama, kami merasa
agak canggung dan langsung memalingkan pandangan seketika.
Kompromi...
kompromi, ya. Selama ini aku tidak terlalu menyadarinya, tapi apakah kelak
bakal ada momen di mana kami harus melakukannya secara sadar?
Saat
kami berdua sedang merasakan kecanggungan satu sama lain seperti itu, di balik
layar ponsel pun Kakek melirikkan matanya pelan ke arah Nenek.
Semangat
yang ada sampai tadi mendadak seperti runtuh begitu saja...?
Melihat
gerakan tersebut, baik aku maupun Nanami sama-sama memiringkan kepala bingung.
Atau lebih tepatnya, Nenek yang ada di balik ponsel pun ikut memiringkan
kepalanya.
『...Ah,
tapi bagaimanapun juga... mmm...』
Cara
bicaranya mendadak terasa agak ragu-ragu dan tidak lugas. Sulit dipercaya kalau
beliau adalah orang yang sama dengan yang melontarkan berbagai hal dengan
sangat lugas sampai beberapa saat yang lalu.
Kakek
menyilangkan tangannya beberapa kali, mengubah posisi silangan kakinya,
melirik-lirik ke arah Nenek... lalu menggaruk-garuk kepalanya dengan kencang
sebelum akhirnya menghembuskan napas seakan telah memantapkan tekad.
Sebuah
helaan napas panjang... atau lebih tepatnya terkesan seperti semacam teknik
pernapasan.
『...Jika
ada satu hal yang paling penting di atas segalanya... Jawabannya hanyalah untuk
tidak pernah mengkhianati wanita yang telah dicintai.』
Pipi
Kakek yang mengucapkan kalimat tunggal tersebut merona merah sampai-sampai bisa
terlihat jelas meskipun hanya lewat layar ponsel. Beliau memasang raut wajah
yang terkesan cemberut dan tidak senang...
Mendengar
hal tersebut, Nenek yang tadinya memperlihatkan ekspresi berbeda kini
menyunggingkan senyuman yang sangat lembut. Kedua pipinya yang tersenyum hangat
itu pun merona merah tipis. Beliau kemudian melangkah pelan mendekati Kakek,
lalu duduk kembali di sampingnya.
Sembari
merasa agak malu-malu, beliau menumpukkan tangannya di atas tangan Kakek secara
perlahan.
『...Saya
pun sama, tidak akan pernah mengkhianati pria yang telah saya cintai.』
『...Baguslah
kalau begitu.』
Meskipun
balasannya terdengar sangat acuh tak acuh, Nenek yang merasa gembira atas
jawaban tersebut justru makin memperdalam senyumannya. Rasanya seolah-olah ada
bunga-bunga yang bermekaran di sekitar mereka...
Tunggu,
jangan mendadak berubah jadi sangat menggemaskan begini dong, kalian berdua... Dan
barusan tadi mereka melakukan hal yang mirip seperti pertengkaran, tetapi kali
ini... suasana mesra rasanya mulai tercipta di balik layar ponsel.
Tidak,
bukannya mereka secara eksplisit sedang bermesraan, sih. Hanya saja entah
mengapa, suasana di sekitarnya... membuat mulutku mendadak terasa manis.
Apakah
ini cuma perasaanku saja? Perasaanku saja mungkin, tapi dalam berbagai artian
ini terasa amat manis.
Aku
jadi ingin mengucapkan terima kasih atas hidangan manis ini (gochisousama).
Tolong jangan bermesraan dalam situasi seperti ini, dong. Rasanya jadi agak
canggung dengan nuansa yang berbeda.
Aku
dan Nanami saling bertatapan, lalu menyunggingkan senyum tawar sekali lagi.
"Meskipun
begitu... Kakek, tidak menyangka kamu bakal bilang hal yang sama ke Youshin..."
"Soal
yang tadi? Jangan-jangan Kakek juga bilang hal yang sama ke Nanami...?"
"Beliau
menanyakan apakah sampai menyelinap ke kamar untuk main belakang (yobai)...
Terus hampir saja... mana mungkin aku melakukannya, kan."
Bukankah
tadi ada salah ucap yang tidak bisa diabaikan begitu saja? Apa maksudnya hampir
saja? Lagipula, bukankah menyelinap ke kamar (yobai) itu hal yang
dilakukan oleh pria?
Padahal
aku cuma menyanggahnya di dalam hati, tetapi tampaknya kalimat itu terucap
keluar, sehingga Nanami merespons poin bahwa yobai adalah hal yang
dilakukan pria... lalu dia mulai menjelaskan pemikirannya tentang yobai
secara sungguh-sungguh.
Tidak,
bukan begitu, Nanami. Aku bukannya ingin memperluas topik itu, melainkan murni
cuma penasaran...
Tunggu,
aku tidak akan melakukan hal semacam itu kok, ya?
Di
zaman sekarang, menyelinap ke kamar seperti itu tentu tidak boleh, kan.
Setidaknya kalau dilakukan oleh pria.
Eh?
Kalau atas persetujuan bersama...? Tidak, tidak, tidak, bukan begitu maksudnya.
Atau lebih tepatnya, menyelinap ke kamar itu bagaimana caranya... bukan, bukan
itu...
Saat
melirik pelan ke arah ponsel, di balik layar masih terpancar atmosfer yang
terasa sedikit manis. Apakah ini yang dinamakan 'dunia milik berdua'...
pikirku, tetapi tiba-tiba.
『...Soal
menyelinap ke kamar itu, kalau sengaja tidur di kamar yang terpisah justru
efeknya bakal makin ampuh, lho...』
『...Hentikan
Bicara Seperti Itu!!』
Rasanya
seperti mendengar gema suara gong pertandingan.
Yup,
pertengkaran meletus kembali. Padahal rasanya sudah persis bertubi-tubi.
...Mumpung
ada kesempatan, mari kupastikan sekali lagi kepada Nanami.
"...Nanami,
sejauh mana kamu bercerita?"
"...Sejauh
mana apanya?"
"Mengesampingkan
soal menyelinap ke kamar dan semacamnya... soal... malam saat liburan..."
Aku
berbisik dengan volume suara yang tidak akan terdengar oleh mereka di balik
telepon. Kalau dipikir-pikir, rasanya lebih baik matikan suara panggilannya
saja, sih. Namun saat itu pikiranku tidak sampai ke sana.
Sejauh
mana... maksudnya adalah hal apa saja yang telah kami lakukan secara spesifik.
Seberapa rinci hal itu diceritakan olehnya. Mengonfirmasi ulang hal ini
sangatlah penting.
Saat
kupastikan kepada Nanami sebelum panggilan dimulai, dia bilang kalau dia tidak
bercerita soal kami mandi pemandian air panas bersama. Namun jika ada
kemungkinan terburuk... tidak menutup kemungkinan kalau dia tidak sengaja
memberi isyarat tipis.
Ini
murni pembahasan soal kemungkinan terburuk, di mana isyarat tipis yang tidak
disadari itu terlontar, dan... apakah mereka berdua di sini bermaksud
mencocokkan jawaban berdasarkan informasi dariku?
Rasanya
pertanyaan mereka memang sedalam dan serinci itu. ...Apakah ini cuma
pemikiranku yang berlebihan saja?
"...Bagaimana
kalau sekalian diungkapkan saja?"
Karena
bahaya jika terdengar, aku menyampaikannya kepada Nanami dengan sedikit
terselubung.
Apakah
sebaiknya kuberitahu Kakek dan Nenek kalau kami mandi bersama? Menurutku, jika
itu Kakek dan Nenek, mereka mungkin bakal memaklumi kalau kami mengatakannya...
Namun,
Nanami menggelengkan kepalanya pelan. Nanami tampaknya keberatan dengan hal
itu.
...Jika
dipikir-pikir kembali, hal itu terasa sangat wajar juga, sih.
"...Benar
juga ya, rasanya agak malu-malu dan bakal bikin mereka cemas juga, kan."
"...Bukan...
bukan cuma karena itu..."
"...Cuma
karena itu?"
"...Soal
hal itu tuh, aku ingin menjadikannya kenangan khusus untuk kita berdua
saja."
Yup,
sudah dipastikan kalau hal ini bakal dibawa sampai ke liang kubur. Mana ada
orang yang tega membocorkannya setelah dikatakan hal seperti itu? Tidak, tidak
akan ada. Kenangan khusus berdua. Bukankah itu memiliki nada yang sangat indah?
Meski
aku menyadari kalau diriku ini cukup materialistis, kalau begitu sudah
diputuskan untuk tidak melaporkannya. Yah, anggaplah kalaupun sampai ketahuan,
dari pihakku sendiri bukannya sedang melakukan hal yang tidak-tidak...
Tidak,
apakah hal itu termasuk hal yang tidak-tidak? Tapi kan, kami tidak melakukan
hal yang aneh-aneh...?
Yup,
sepertinya aku harus tenang dan memikirkannya baik-baik.
Untuk
saat ini, intinya kami tidak akan mengungkit masalah mandi bersama. ...Kenapa
rasanya ini mirip seperti tanda bahaya, ya? Tapi ini cuma perasaanku saja, kan?
Pasti tidak apa-apa, kan.
"Bagaimanapun
juga, mohon maaf karena kami tidak bisa memenuhi harapan Kakek dan
Nenek..."
『...Aah...
Youshin-kun, bisa bicara sebentar? Begini ya... sebutan seperti itu rasanya
agak kaku dan formal... jadi agak kepingin merasa lebih dekat, nih.』
"Eh?"
Padahal
aku berniat memanfaatkan atmosfer manis di sana untuk mengakhiri topik
pembicaraan ini... namun tampaknya waktu manis itu sudah langsung berakhir
seketika.
Padahal
aku berpikir mereka boleh saja bermesraan sedikit lebih lama lagi, tetapi aku
agak terkejut saat panah lain mendadak menancap dari sudut yang tajam.
"Kaku
dan formal... ya?"
『...'Kakek'
dan 'Nenek' itu kan sebutan di dongeng kuno, tahu. Bisakah kamu memanggil kami
dengan cara yang lebih akrab atau lebih santai sedikit?』
Beliau
mengatakan hal yang cukup berat bagi orang sepertiku.
Padahal
dengan sebutan tadi pun aku berniat menyalurkan rasa keakraban sekuat tenaga,
tetapi sayangnya hal itu sepertinya tidak tersampaikan.
...Tapi
yah, bagaimana pun juga rasanya agak sungkan kalau harus berbicara menggunakan
bahasa santai kepada Kakek dan Nenek Nanami. Jadi memang benar kalau terasa ada
sedikit jarak di antara kami.
Tampaknya
hal itulah yang membuat beliau merasa tidak puas...
『...Kalau
untukku, aku ingin kamu memanggilku Koutarou.』
『...Kalau
saya seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, tidak apa-apa lho kalau mau
memanggil Chizuru-chan?』
『...Kamu
ini... mana cocok panggil 'Chan' di usia yang sudah tua begini... 'Chan'
katanya...』
『...Lho,
tidak apa-apa kan. Saya kan juga seorang anak perempuan.』
Atas
ucapan tidak perlu dari Kakek yang mempertanyakan usia 'anak perempuan', tinju
Nenek kembali mendarat kencang.
Itu
adalah satu pukulan yang menghempaskan atmosfer manis sampai beberapa saat
lalu. Atau lebih tepatnya, interaksi ini rasanya memberikan sedikit perasaan déjÃ
vu, ya.
"...Apakah
memanggil Kakek dan Nenek menggunakan nama itu adalah hal yang lumrah?"
"...Rasanya
tidak terlalu lumrah, deh."
Benar
kan. Tapi entah mengapa, di balik layar ponsel mereka berdua mengarahkan
tatapan mata yang tampak penuh harapan ke arahku.
Yah,
tidak apa-apa deh.
"Kalau
begitu, saya akan memanggil Koutarou-san dan Chizuru-san, ya."
『...Ara
ara, apakah kamu tidak mau memanggilku dengan imbuhan 'Chan'?』
"Mohon
maaf untuk Chizuru-san, tetapi sebutan seperti itu khusus untuk Nanami
saja..."
Saat
kutolak dengan tegas, Chizuru-san menempelkan tangannya di pipi sambil berucap
"Ara ara", tetapi beliau tampak gembira. Koutarou-san menyunggingkan
senyum cengengesan yang terkesan mengejek dan menggoda.
Saat
ditatap dengan tatapan mata seperti itu sekali lagi... aku jadi merasa sedikit
malu.
"...Untuk
saat ini, laporan mengenai liburan pemandian air panasnya kira-kira seperti
itu, ya."
『...Begitu
ya, begitu ya. Yang penting liburannya menyenangkan, itu sudah lebih dari
cukup.』
Sambil
sedikit memalingkan pandangan, aku memutuskan untuk menyelesaikannya agar tidak
ada kebohongan atau celah ekstra yang terbongkar. Lagipula memang tidak ada
lagi materi yang perlu dibahas...
『...Tujuan
utama yaitu dipanggil menggunakan nama sudah tercapai... Ini jadi cerita bagus
yang bisa kubawa sampai ke liang kubur.』
"Jangan
bicara begitu dong, mohon hiduplah yang lama."
『...Tentu
saja, aku tidak akan mati sebelum menghadiri pernikahan cucuku dan menggendong
cicit... Makanya, liburan pemandian air panas kali ini sebenarnya adalah
kesempatan yang sangat bagus, tapi ya...』
『...Kakek
masih belum menyerah juga, ya...?』
"Ucapannya
kontradiktif, lho... Padahal kami sudah membuktikannya lewat tindakan."
『...Manusia
itu terkadang memang melakukan tindakan yang kontradiktif, tahu.』
Aah...
begitu rupanya. Karena ada niat terselubung seperti itu, makanya beliau agak
sedikit kecewa saat kami menepati janji, ya. Walau bisa dibilang ini masih
terlalu cepat, sih.
Meski
begitu, fakta bahwa aku memanggil nama mereka dianggap sebagai pencapaian
tertentu yang membuat beliau merasa puas.
Yup,
dalam berbagai artian ini bagus. Bisa dibilang aku terselamatkan. Dengan
begini, laporan hari ini pun berakhir dengan selamat...
『...Tapi
ya... setidaknya begitu, lho. Walau tidak sampai 'main' (berhubungan badan),
setidaknya mandi bersama kan bisa dilakukan. Padahal penginapannya sudah
menyediakan pemandian terbuka (rotenburo) yang bagus di dalam kamar...』
『...Kakek...
bicara apa, sih. Kalau sampai mandi bersama, mana mungkin anak muda berdua bisa
menahannya, coba.』
Sepanjang
masa, kewaspadaan yang mengendur itu selalu saja terjadi di penghujung acara.
Itu terjadi karena kelengahan akibat menganggap hal-hal sudah hampir selesai...
sehingga timbulah celah.
Hal
itu tidak hanya berlaku untuk fisik saja, tetapi juga berlaku untuk kondisi
mental.
Dalam
ucapan yang terkesan heran dan pasrah tersebut, aku yakin tidak ada maksud
tersembunyi apa pun dari beliau. Mungkin itu murni ucapan yang terlontar tanpa
sengaja dan tanpa maksud apa-apa.
Justru
karena itulah, kalimat tersebut menjadi serangan yang sangat krusial dan
mematikan. Jika kata-kata itu diucapkan secara sadar, pasti tidak akan menjadi
masalah sebesar ini.
Padahal
kata-kata berorientasi yang diucapkan sebelumnya bisa diatasi dengan baik,
tetapi kenapa ya serangan tak sadar seperti ini justru selalu tepat sasaran
mengenai target? Apakah ini yang dinamakan sensor keinginan dalam bentuk lain?
Dan
serangan tak sadar tersebut, seolah-olah merenggut kesadaran aku dan Nanami
dalam sekejap... menciptakan keheningan yang sedikit aneh selama beberapa saat.
『...?』
Atas
serangan yang mendarat di area kosong tanpa pertahanan ini, serangan balasan
sama sekali tidak bisa dilakukan. Hanya ahli pertarungan tingkat tinggi saja
yang bisa merespons serangan mendadak.
Melihat
kami yang sampai tadi selalu memberikan tanggapan balasan berupa sanggahan saat
ada ucapan aneh mendadak diam tanpa kata, kedua orang di balik layar ponsel pun
kompak memiringkan kepala mereka bingung.
Melihat
sosok mereka yang seperti itu, aku batin...
Aah,
mereka berdua memang pasangan suami istri yang sudah lama hidup bersama, ya...
aku pun memikirkannya secara samar-samar seakan sedang melarikan diri dari
kenyataan.
Gerakan
mereka begitu tersinkronisasi. Bukankah kerja sama mereka sangat kompak?
Baik
aku maupun Nanami tidak mengatakan apa-apa... dan orang pertama yang menyadari
alasannya adalah Chizuru-san.
Sambil
tampak agak gembira, malu-malu, dan mengucapkan "Araa~",
beliau menutupi mulutnya dengan kedua tangan seakan ingin menyembunyikannya
dari kami.
Melihat
reaksi Chizuru-san tersebut, Koutarou-san mengerutkan alisnya dan menatap
dengan raut wajah curiga... lalu beliau mendadak menyadarinya.
Tepat
saat menyadarinya, beliau menatap ke arah Chizuru-san, lalu menatap ke arah
kami... Dan... menyunggingkan bibirnya.
Sama
sekali tidak ada niat untuk menyembunyikannya dari kami, itu murni senyuman
yang tampak sangat menikmati dan gembira... Senyuman yang menyimpan semacam
niat jahat di dalamnya.
Senyuman
itu mirip seperti senyuman seorang anak kecil yang baru saja menemukan mainan
baru. Bentuk senyuman yang menyimbolkan kejahatan yang polos... itu tidak
pudar, tetapi alih-alih menggunakan nada suara heran seperti tadi... beliau
melantunkan nada suara yang amat lembut.
『...Begitu,
ya...』
Mendengar
kata-kata itu, baik aku maupun Nanami sama-sama menggetarkan bahu dan tubuh
kami.
Jleg!—suara
yang seharusnya tidak terdengar itu seakan merasuk masuk ke telingaku.
『...Mandi...
bersama, ya... Tidak menyangka di belakang kami... Youshin-kun ternyata berani
juga, ya...』
"Bukan
begitu, Youshin tidak salah kok... Akh...!"
Ungkapan
membongkar rahasia sendiri saat membela benar-benar terjadi di sini.
Karena
tombak tuduhan diarahkan padaku, Nanami secara tidak sadar melontarkan
kata-kata untuk melindungiku. Hal itulah yang memang menjadi umpan dari Koutarou-san.
Beliau menyunggingkan senyum licik bagaikan seorang pemburu yang mangsanya baru
saja masuk ke dalam perangkap.
Ah,
beliau bahkan mengepalkan tangan tanda kemenangan (guts pose). Tolong
sembunyikan sedikit dong.
"...Izinkan
saya memberi penjelasan."
『...Umu,
Youshin-kun, silakan.』
Saat
aku mengangkat tangan pelan, aku ditunjuk dan dipilih persis seperti murid oleh
guru di sekolah.
Karena
harus menjelaskan hal ini dengan benar... aku pun menyerah dan menjelaskan apa
yang sebenarnya terjadi...
Tekad
untuk membawa rahasia ini sampai ke liang kubur sampai tadi entah melayang ke
mana. Atau lebih tepatnya, rasanya hal tadi memang benar-benar sebuah penanda.
Gara-gara
mengucapkan hal yang tidak perlu, akhirnya aku harus menjelaskannya seperti
ini. Yah, Nanami pun sepertinya sudah pasrah atau lebih tepatnya bisa menerima
hal ini. Bagaikan orang yang sudah menyerah, kami berdua menjelaskan kejadian
pada saat itu.
『...Jadi
artinya... kalian masuk ke pemandian terbuka kamar tanpa memakai baju renang,
sama-sama bertelanjang bulat secara penuh dan mandi bersama, tetapi tidak
menyentuh atau melakukan hal-hal yang tidak-tidak sama sekali...』
Setelah
mendengarkan penjelasan kami secara keseluruhan, Koutarou-san menyilangkan
tangan dan duduk bersila... beliau berpikir sejenak sebelum akhirnya membuka
suara secara perlahan.
Raut
wajahnya sangat serius tanpa ada main-main sedikit pun. Senyum mengejek yang
ada sampai beberapa saat lalu pun telah lenyap tak berbekas.
『...Jujur
saja... bukankah hal itu tidak masuk akal?』
Ah,
Chizuru-san yang ada di sampingnya ikut mengangguk setuju. Malahan, Koutarou-san
memasang raut senyum kaku yang belum pernah kulihat sebelumnya. Melihat beliau
memasang wajah seperti itu justru membuatku kaget.
『...Berpikir
secara akal sehat saja, ini rasanya sama sekali tidak memiliki daya tarik
konfirmasi sekelas bilang 'Kami masuk ke love hotel berdua, tapi kami tidak
melakukan apa-apa'.』
『...Atau
lebih tepatnya, saya justru ingin tahu bagaimana caranya kalian bisa
menahannya. Kalau Kakek sewaktu masih muda dulu, sudah pasti tidak akan sanggup
menahannya.』
『...Tentu
saja dong. Mandi bersama wanita yang dicintai, lho.』
"Uwah,
sialan, aku sama sekali tidak bisa membantahnya... Kalau di posisi sebaliknya
aku pun pasti tidak akan percaya... Tapi ini sungguhan terjadi... Mohon
percayalah pada kami..."
Apakah
perasaan tersangka yang dituduh tuduhan palsu dan berusaha menyuarakan
kebenarannya terasa seperti ini? Tapi yah, pada akhirnya... soal kami tidak
melakukan apa-apa itu berhasil dipercayai oleh mereka, sih.
『...Lalu,
Youshin-kun, bagaimana rasanya? Mandi bersama Nanami? Apa kesannya?』
『...Setidaknya
kalian sempat berciuman di tempat pemandian, kan? Walau tidak melakukan lebih
dari itu... iya kan?』
Sejak
saat itu, aku dan Nanami... habis-habisan diejek dan digoda oleh mereka
berdua...
Pada sesi laporan kepada Kakek dan Nenekku yang dijadwalkan di kemudian hari nanti... aku harus memastikan tidak ada kebohongan atau celah yang terbongkar lagi...



Post a Comment