Chapter 1
Hubungan Baru di Tempat Kerja Paruh Waktu
Setelah
perjalanan menginap kami selesai dengan selamat dan rasa lelah pascaliburan
telah hilang, libur musim dingin yang panjang kini tinggal tersisa beberapa
hari lagi.
Selama
rentang waktu tersebut, kami menghabiskan hari-hari dengan cukup santai...
seperti memberikan laporan perjalanan, memeriksa apakah tugas sekolah musim
dingin sudah selesai, hingga melakukan kencan libur musim dingin. Akan tetapi,
tepat di penghujung libur musim dingin ini, masih ada satu acara penting yang
tersisa.
Acara
itu adalah...
"M...
Mulai hari ini mohon bimbingannya, nama saya Barato Nanami deshuu~. Senang
berkeja shama kalian!!"
Ah,
lidahnya terpeleset.
Entah
karena tidak menyadari lidahnya yang terpeleset atau bagaimana, Nanami tetap
membungkukkan kepalanya secara mendalam. Tidak, mungkin saja dia sebenarnya
merasa malu lalu membungkuk untuk menutupinya.
Dari
sekeliling terdengar suara tepuk tangan meriah, diselingi dengan suara ucapan
selamat datang dari yang lainnya. Aku pun ikut bertepuk tangan menyesuaikan
irama.
Ya,
mulai hari ini Nanami resmi bekerja paruh waktu. Terlebih lagi, di tempat kerja
yang sama denganku.
Tampak
Manajer dan istrinya, Yuu-senpai, serta hari ini Shouichi-senpai juga hadir.
Mereka semua bertepuk tangan pelan sembari menatap Nanami dengan raut wajah
yang hangat dan menggemaskan.
Bagi
kalangan pekerja dewasa, libur musim dingin memang sudah berakhir, tetapi bagi
para siswa, libur musim dingin masih berlangsung sepenuhnya...
Pihak
restoran menyampaikan bahwa hari ini kondisinya cukup longgar sehingga ada
waktu luang untuk mengajari Nanami, jadi dia mulai bekerja sejak hari ini.
Kalau
terlalu sibuk, nanti tidak ada waktu untuk mengajarinya,
begitu tutur kata Manajer. Mempertimbangkan hal-hal semacam itu adalah sudut
pandang khas orang dewasa yang matang.
Saat
menegakkan kepalanya kembali, Nanami tersenyum malu-malu. Tampaknya dia memang
merasa agak malu karena lidahnya terpeleset tadi. Pipinya tampak merona merah.
Saat
mata kami bertatapan, Nanami menjulurkan lidahnya sedikit. Aku mengacungkan
jempol secara halus sebagai tanda thumbs up guna menyampaikannya bahwa
semua baik-baik saja.
Nah,
mengenai alasan mengapa Nanami mulai bekerja paruh waktu... tentu saja
jawabannya adalah demi uang. Meskipun terlihat sebagai hal yang sudah
sepatutnya, hal ini sangatlah penting. Uang adalah hal yang sangat vital. Dan
kondisi keuangan kami... jujur saja, sudah makin menipis.
Bagaimanapun
juga, setelah melewati perjalanan karya wisata tahun lalu, perayaan Natal,
hingga liburan berdua kemarin... pengeluaran sehari-hari jadi terasa cukup
menguras dompet.
Meskipun
sempat mendapatkan banyak tambahan dana dari uang hadiah tahun baru, tetap saja
pengeluaran untuk perjalanan liburan tergolong sangat besar. Kami juga membeli
oleh-oleh dan semacamnya.
Sekali
lagi ditegaskan, uang adalah hal yang sangat penting. Karena itulah Nanami juga
memutuskan untuk mulai bekerja paruh waktu.
『...Dengan
begini kita jadi pasangan suami istri yang sama-sama bekerja ya, habisnya kalau
jadi ibu rumah tangga sepenuhnya kan agak sulit...』
『...Rumah
tangga sepenuhnya? Tapi kan kita belum menikah, lagipula kalau di masa depan
Nanami menginginkannya, jadi ibu rumah tangga sepenuhnya pun...』
『...Bantah
dong!! Itu kan cuma bercanda!!』
Sedikit
sebelum dia mulai bekerja paruh waktu, percakapan bernada gurauan seperti itu
sempat terucap olehnya.
Tidak,
tapi itu agak sulit ditangkap sebagai gurauan, kan.
Sepertinya
dia menggunakan istilah pasangan suami istri yang sama-sama bekerja
karena kami bekerja paruh waktu bersama di tempat yang sama, tetapi aku malah
menanggapisnya secara serius sebagai pembicaraan masa depan. Kenyataan bahwa
dia marah dengan raut wajah yang sedikit malu-malu menjadi sebuah kenangan yang
manis.
Ngomong-ngomong,
tidak ada alasan khusus mengapa kami memilih tempat kerja paruh waktu yang
sama, melainkan murni karena sebelumnya kami sempat membicarakan hal tersebut
secara sepintas.
Manajer
restoran juga sedang kekurangan tenaga kerja, dan beliau menyampaikan bahwa
beliau sangat bersyukur jika ada anak muda yang bertambah.
Shouichi-senpai
juga tidak bisa terlalu sering mengambil shift jika ada kegiatan klub...
jadi kedatangan Nanami memiliki peranan kuat sebagai penutup celah atau semacam
tenaga bantuan.
Kalau
dipikir-pikir, apakah Shouichi-senpai bakal tetap melanjutkan kerja paruh waktu
setelah lanjut ke perguruan tinggi nanti, ya? Mungkin karena ada pertimbangan
terkait hal tersebut juga, makanya beliau menyetujui kedatangan Nanami.
Meskipun
begitu, soal ibu rumah tangga sepenuhnya... ya. Di keluargaku, kedua orang
tuaku sama-sama bekerja, sedangkan Tomoko-san kelihatannya fokus sebagai ibu
rumah tangga... walau aku pernah mendengar cerita sepintas kalau beliau
terkadang juga mengambil pekerjaan tertentu.
Apakah
di masa depan kami berdua memang bakal sama-sama bekerja, ya? Bagi Nanami
sendiri, ketimbang menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, dia memiliki cita-cita
ingin menjadi guru sekolah sehingga kemungkinan besar dia bakal tetap bekerja.
Kalimat
seperti "Mana yang lebih penting, pekerjaan atau aku?"
terkadang bisa dilihat di manga-manga lama, tetapi rasanya kesempatan untuk
mendengar kalimat seperti itu dari mulut Nanami sangatlah kecil. Bagaimanapun
juga, manusia membutuhkan uang hanya untuk sekadar bertahan hidup.
Sampai
beberapa waktu lalu aku menjalani hidup tanpa terlalu menyadari hal tersebut,
tetapi belakangan ini aku mulai merasakan dengan kuat betapa berharga dan
pentingnya uang.
Yah,
mungkin karena aku mulai menggunakan uang untuk hal-hal yang tidak pernah
kubeli sebelumnya. Seperti liburan, misalnya. Selain itu, fakta bahwa aku mulai
bekerja paruh waktu juga memberikan pengaruh yang besar. Karena menggunakan
uang yang dihasilkan dari keringat sendiri, tentu saja rasanya jadi jauh lebih
merasuk ke dalam diri.
Sungguh,
aku sangat menghormati para orang dewasa yang bekerja setiap hari untuk mencari
nafkah.
...Terkadang,
ada rasa ingin mencoba didesak dengan kalimat "Mana yang lebih penting,
pekerjaan atau aku?" sekali saja. Lalu tentu saja aku akan menjawab "Tentu
saja Nanami"... tidak, tapi bukankah hal itu malah terasa merepotkan?
Memikirkan
hal-hal aneh malah bisa memicu munculnya tanda bahaya, jadi sebaiknya
kuhentikan saja.
Begitulah
alur ceritanya, berawal dari Nanami yang sempat berucap bahwa dirinya harus
mulai bekerja paruh waktu... aku pun mengenalkan tempat kerja paruh waktuku
kepadanya.
Mengenalkan...
walau jika dikatakan mengenalkan, aku sebenarnya tidak melakukan hal yang
muluk-muluk. Restoran masakan Barat ini pada awalnya juga dikenalkan kepadaku
oleh Shouichi-senpai. Pasangan suami istri Manajer juga merupakan orang-orang
yang sangat baik.
Lagipula,
keberadaan Nanami sudah diketahui oleh semua orang di sini. Mereka sangat baik
saat menyiapkan masakan waktu Natal lalu... sungguh, aku sangat berutang budi
pada mereka.
"Wah,
kalau ada anak muda yang bergabung, suasana tempat kerja jadi terasa makin
semarak, ya."
"Bukankah
Yuu-senpai juga masih muda?"
"Kekuatan
anak usia belasan tahun yang sangat segar itu tidak ada tandingannya, tahu~ Aku
juga harus menyerap energi muda mereka... Yeay, Nana-chan, mulai hari ini mohon
bimbingannya ya~☆"
"Nao-chan~
aku juga mohon bimbingannya ya~♪"
Bukankah
tadi ada kata-kata yang tidak bisa diabaikan begitu saja?
Mengesampingkan
kecemasanku, Yuu-senpai mendekati Nanami sembari merentangkan kedua tangannya
dengan gembira. Sebaliknya, Nanami pun merentangkan kedua tangannya dalam
posisi siap menyambut dengan sempurna.
Bagaikan
tersedot ke dalam pelukan tersebut, Yuu-senpai memeluk Nanami dengan erat.
Tentu saja, Nanami juga melingkarkan tangannya ke punggung Yuu-senpai dan
membalas pelukan itu dengan erat.
Karena
mereka berdua memiliki ukuran dada yang sangat besar, tindakan saling memeluk
itu menciptakan pemandangan yang amat luar biasa. Bagi orang-orang tertentu,
pemandangan itu mungkin terlihat seperti sesuatu yang ingin mereka jepit di
antaranya.
Entah
mengapa Shouichi-senpai yang ada di sampingku tampak mengangguk-angguk setuju.
Jangan-jangan, beliau memang ingin terjepit di antaranya?
Masing-masing
dari mereka mengenakan pakaian yang disediakan oleh restoran... apakah bisa
disebut seragam? Mereka mengenakan seragam yang sama, dihiasi celemek dengan
warna yang berbeda.
Celemek
berhiaskan logo kecil di satu titik itu bergoyang, dan rok di bawahnya ikut
bergoyang menyelaraskan gerakan. Ngomong-ngomong, Nanami memiliki logo bunga,
sedangkan Senpai memiliki logo bintang.
Kalau
tidak salah, untuk pekerja wanita diberikan pilihan untuk memakai rok atau
celana panjang, tetapi hari ini mereka berdua seperti sudah janjian karena
sama-sama mengenakan rok.
Meskipun
ukurannya cukup pendek, karena tertutup oleh celemek, rancangannya tergolong
sangat aman meskipun banyak bergoyang.
"Aah...
energi keliatannya sedang terserap..."
"Duh,
bicara apa sih~"
Sosok
mereka yang saling memeluk sembari tertawa gembira itu sekilas terlihat
bagaikan sepasang kakak beradik.
Bukannya wajah mereka berdua mirip, sih. Hanya saja Yuu-senpai bertipe kuro-gyaru (gal berkulit gelap), sedangkan Nanami bertipe shiro-gyaru (gal berkulit putih bersih)...
Persamaan
di antara mereka berdua adalah sama-sama seorang gal.
Mungkin
karena hal itulah, mereka berdua kelihatan seperti sepasang gal
bersaudara. Padahal kalau Saya-chan tahu, dia bisa-bisa marah. Namun karena
mereka saling memeluk, kesan itu jadi terasa makin kuat.
"Umu,
Youshin-kun... bagaimana kalau kita berdua juga berpelukan?"
"Tidak
mau. Lagipula kalaupun kita melakukannya sekarang, bukankah sudah sangat
terlambat?"
Pelukan
tadi itu kan pelukan salam guna menyambut anggota baru. Kalau aku dan Shouichi-senpai
yang berpelukan... atas dasar apa coba?
Jika
ingin melakukannya, harusnya di hari pertama aku mulai bekerja paruh waktu
seperti Nanami, atau saat beliau meminta maaf setelah pertandingan waktu itu.
Bagaimanapun juga, itu sudah cerita yang sangat lama.
"Yah,
benar juga. Aku sendiri tidak punya hobi memeluk sesama pria... Lagipula kalau
mau memeluk, wanita imut jauh lebih berharga dan memuaskan untuk dipeluk."
"Di
zaman sekarang, ucapan seperti itu bukankah bisa bikin orang marah?"
"Aah,
tidak apa-apa, ini kan cuma obrolan di antara kita saja. Selama tidak diucapkan
ke hadapan dunia luar, tidak akan ada masalah."
Yah,
benar juga sih. Ini murni obrolan di antara kami saja. Meskipun pelukannya
kutolak, Shouichi-senpai tidak terlihat berkecil hati dan tetap tertawa santai.
Tapi
ngomong-ngomong, pelukan mereka berdua lama sekali ya... masih belum lepas
juga.
"Tapi
jujur saja, tempat ini benar-benar jadi jauh lebih semarak. Keberadaan wanita
imut saja sudah cukup membuat hati senang."
"Yah,
memang jadi makin semarak, sih. Tapi ngomong-ngomong Senpai, hari ini tidak ada
latihan? Bagaimana dengan turnamen musim dinginnya?"
"Di
turnamen kami berakhir sebagai runner-up dengan sangat tipis. Walau
gagal meraih juara pertama... tetap saja, itu adalah pertarungan yang sangat
memuaskan. Bisa dibilang masa-masa SMA-ku ditutup dengan hasil yang sangat
indah."
"Ooh,
selamat ya. Lain kali, bagaimana kalau kita semua mengadakan pesta
perayaan?"
Posisi
runner-up itu sangat luar biasa, kan?
Aku
memang tidak begitu paham soal bola basket, tetapi memiliki teman yang berhasil
mengukir prestasi di tingkat nasional memberikan sensasi yang rasanya unik.
Mendengar
tawaran perayaan dariku, Shouichi-senpai tertawa gembira dengan raut wajah
malu-malu. Kemudian, beliau merentangkan tangannya yang besar sembari
menyipitkan mata seolah sedang mengenang sesuatu.
"Dengan
ini aku resmi pensiun dari bola basket SMA... Walau kelak akan menjadi pemain
profesional, di saat yang sama aku juga berniat mempelajari banyak hal di
perguruan tinggi. Sisa libur musim dingin ini ingin kumanfaatkan untuk membalas
budi pada restoran yang telah merawatku ini."
Ini
adalah hal yang sempat kudengar sepintas sebelumnya, tetapi sebenarnya Senpai
berasal dari keluarga kaya raya yang bahkan tidak perlu bekerja paruh waktu
sama sekali. Namun demi membantu restoran yang didirikan oleh teman masa
kecilnya yaitu pasangan Manajer, beliau memilih untuk mulai bekerja paruh waktu
di sini bersama Yuu-senpai.
Mungkin
di balik hal itu ada sejarah panjang yang tidak diketahui olehku.
"Tapi
ngomong-ngomong, kamu tidak apa-apa, Youshin-kun? Nao-nee... kalau dibiarkan
bakal terus-terusan menempel pada Barato-kun, lho."
"Sebenarnya
agak kurang bagus, sih... Tapi ngomong-ngomong Shouichi-senpai, ternyata Senpai
memanggil Yuu-senpai dengan sebutan 'Nao-nee', ya. Agak mengejutkan. Kukira
bakal memanggil dengan nama biasa."
"...Yah,
karena hubungan kami sudah sangat lama. Tentu saja tidak bisa disamakan seperti
cara memanggil orang-orang di sekolah."
Dinamika
hubungan khas teman masa kecil seolah kembali terlihat di sini.
Shouichi-senpai
saat bekerja paruh waktu di restoran ini terasa berbeda dari sosok Senpai di
sekolah maupun sosok Kapten klub bola basket... Beliau terlihat memiliki sisi
kepolosan yang tersisa dari masa kecilnya.
Apakah
karena Senpai yang biasanya bersikap sebagai orang yang lebih tua di tempat
lain, di restoran ini justru masuk ke dalam kategori yang lebih muda?
Di
saat yang sama ketika merasakan rasa keakraban, aku juga merasakan sensasi unik
seperti ada keanehan atas perbedaannya dengan sosok beliau di sekolah. Yah,
bukan hal yang buruk, sih.
"Ayo,
ayo, Nanami, Yuu-senpai... sebentar lagi kita harus bersiap-siap, lho."
"Eeh~?
Aku masih ingin memeluk Nana-chan sebentar lagi, tahu. Biarkan aku menikmati
dada empuk ini... Walau biasanya ini milik Mai-chan... tapi ini empuk
banget..."
"Tidak...
Nao-chan juga luar biasa kok... tapi sepertinya Nao-chan ukurannya lebih besar
dariku, kan...? Baru pertama kali ini... aku didekap sampai tenggelam begini...
Apakah ini... perasaan seorang bayi...?"
Hei,
kalian berdua jangan mendadak membuka pintu ke alam lain dong? Karena makin
berbahaya kalau dibiarkan, aku memaksa memisahkan mereka berdua secara setengah
dipaksa.
Terasa
seolah-olah ada suara kretek-kretek seperti perekat kain yang dilepas
saat tubuh mereka berdua terpisah. Walau itu cuma perasaanku saja, sih.
Mereka
berdua berucap "Aah..." sembari merentangkan kedua tangan,
menggerak-gerakkannya seakan masih merindukan tubuh satu sama lain dengan raut
enggan berpisah.
"Sialan...
tubuh seindah itu direbut kembali oleh Mai-chan... Padahal itu dada terbaik...
aku kena netorare..."
"Belum
tidur bareng dan lagipula dari awal ini milikku... bukan, maksudku ini kan
milik Nanami sendiri, dan lagipula milik Yuu-senpai juga besar kan... Tolong
biarkan aku fokus memilih poin mana yang harus disanggah, Yuu-senpai."
"Iya,
iya~ Mau bagaimana lagi, kalau begitu... ayo kita berempat bersiap-siap. Eh?
Kalau berempat bukankah kita bisa membentuk Empat Penguasa Surgawi (Shitenno)?"
Ini
dari manga pertarungan mana, coba? Empat Penguasa Surgawi katanya... Lagipula,
Nanami kan murid baru yang baru saja bergabung, apa tidak apa-apa langsung
masuk Empat Penguasa Surgawi? Apakah anggota yang lama tidak bakal marah?
"A-Aku...
apakah sebaiknya mengaku sebagai yang paling lemah di antara Empat Penguasa
Surgawi?"
"Tidak
usah disahuti, Nanami. Lagipula kenapa kamu bisa tahu hal-hal seperti
itu?"
Pacarku
ternyata jauh lebih antusias dari dugaanku.
Mungkin
dia tahu hal seperti ini karena pengaruh dariku juga, sih... tetapi aku tidak
ingat pernah mengatakan hal semacam itu padanya. Kapan ya aku pernah
mengucapkannya?
"Ah,
kalau ini aku dengar dari Kotoha-chan..."
Ternyata
salah. Padahal aku sudah telanjur merasa agak malu.
Saat
aku memiringkan kepala bingung, Nanami menyampaikannya dengan raut serba salah,
sehingga membuatku makin malu saja. Untuk saat ini karena sedang bekerja paruh
waktu, mari bersikap pura-pura tidak tahu saja.
"Sudah,
sudah, kalian berdua. Selama kerja paruh waktu tidak boleh bersikap seperti
sepasang kekasih, ya~ Dilarang bekerja sambil bermesraan, tidak boleh
mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan, ya~"
"Apakah
kalimat itu pantas diucapkan oleh Yuu-senpai yang sampai tadi terus-terusan
memeluk Nanami...?"
"Kalau
yang tadi itu kan pengisian energi sebelum bekerja, jadi boleh dong~ Mulai
sekarang kita fokus bekerja!! Selama bekerja, kalian harus lupa kalau kalian
itu sepasang kekasih dan fokus menyelesaikan pekerjaan, paham?"
Sembari
mengucapkan hal itu, beliau memasang senyuman seolah menantang 'memangnya
kalian bisa?'. Dengan senyum provokatif yang terkembang di wajahnya,
Yuu-senpai menutupi mulutnya dengan raut jahil.
...Apakah
ini jangan-jangan bentuk kejengkelannya karena tadi kupaksa pisahkan dari
Nanami? Dewasa sekali... atau lebih tepatnya Anda sendiri kan tadi sangat
menikmatinya.
Namun
meski begitu, jika dipikirkan secara normal, apa yang dikatakan beliau adalah
kebenaran yang sah. Walau cuma kerja paruh waktu, selama menerima bayaran,
posisi kami sama saja seperti pekerja profesional.
Jika
demikian, seperti yang dikatakan Yuu-senpai, kami tidak boleh mengabaikan
pekerjaan gara-gara bermesraan seperti sepasang kekasih saat jam kerja. Namun,
mengabaikan kenyataan bahwa kami sedang berpacaran saat bekerja itu...
"Ah,
kalau begitu bagaimana kalau selama kerja paruh waktu kita saling memanggil
dengan nama keluarga saja?"
"Eh?"
Atas
usulanku, mata Yuu-senpai langsung membulat melotot. Dengan ekspresi terkejut
dan bingung, beliau mengalihkan pandangannya ke arah Nanami. Aku pun ikut
mengalihkan pandangan ke arah Nanami, dan...
"Memang
benar, mungkin itu ide yang bagus juga, ya. Kalau memanggil pakai nama
panggilan, ujung-ujungnya pasti bakal terbawa ke suasana seperti biasa... Yup,
selama jam kerja saling memanggil pakai nama keluarga sepertinya ide yang
bagus."
Dengan
raut wajah yang tampak gembira, Nanami menyetujui usulanku. Suara bisikannya
yang bergumam bahwa hal itu justru terasa segar menyampai ke telingaku.
Segar...?
Apa maksudnya, ya?
Tapi
yah, karena dia sudah menyetujuinya, jadi tidak masalah... pikirku. Namun eh?
Entah mengapa reaksi yang muncul dari arah lain justru di luar dugaan.
"Eh?
Eh? Eh? Beneran tidak apa-apa? Kalian berdua kan sepasang kekasih, kenapa tidak
saling panggil nama? Padahal kan bekerja bersama? Aku tidak bermaksud begitu,
lho..."
Tidak,
kenapa Anda selaku orang yang menyuruh kami agar tidak mencampuradukkan urusan
pribadi dan pekerjaan justru yang malah panik, coba? Tidak, ini bukan begitu.
Ini bukan karena kami sedang bertengkar atau ada perselisihan, melainkan murni
karena kagum pada usulannya...
Kepada
Yuu-senpai yang panik secara aneh tersebut, kami menjelaskan dengan sopan
hingga akhirnya beliau bisa mengerti. Tampaknya Senpai sempat salah sangka dan
mengira aku marah gara-gara usulanku untuk memanggil dengan nama keluarga.
Mana
mungkin aku marah cuma gara-gara hal seperti itu... Tidak usah sepanik itu.
Urusan panggilan nama keluarga pun selesai dengan begini...
"Ah,
kalau begitu... Yuutari-senpai, mulai hari ini mohon bimbingannya, ya.
Shibetsu-senpai... kalau untuk Senpai sih seperti panggilan biasanya, ya."
"Aah,
mohon bimbingannya juga, Barato-kun. Kalau ada hal yang tidak kamu ketahui,
tanyakan saja apa pun padaku."
Kepada
Nanami yang kembali membungkukkan kepala, Shouichi-senpai membalasnya dengan
senyuman ramah... namun Yuu-senpai justru tidak memberikan respons sama sekali.
Eh?
Ada apa dengannya?
Saat
kulihat, tubuhnya tampak bergetar... gemetaran secara halus?
Lalu,
sembari memasang raut wajah seakan dilanda keputusasaan, beliau ambruk terduduk
dari lututnya. Bukan ke lantai, melainkan ambruk ke atas kursi, jadi
kelihatannya beliau masih memiliki sedikit kesadaran. Atau lebih tepatnya,
kenapa beliau sampai memasang raut wajah seputus asa itu, sih?
"Nana-chan
yang tadinya begitu ramah... memanggilku dengan nama keluarga... entah
kenapa... terasa amat menyayat hati. Apa-apaan ini, apakah seperti ini rasanya
kena netorare...?"
"Kenapa
orang yang pertama kali mencetuskan justru yang paling kena dampaknya,
sih?"
"Ah,
tidak boleh begitu lho, Yuutari-senpai. Selama jam kerja, tolong panggil aku Barato,
ya."
"Nanami...
jangan memberinya serangan pamungkas tanpa ampun begitu, dong... Yuu-senpai
sampai kelihatan mau menangis tuh."
Mungkin
beliau tidak menyangka kalau dipanggil dengan nama keluarga bakal memberikan
dampak sebesar ini.
Nanami
sendiri tampak sedikit serba salah. Walau sambil serba salah, dia tetap
memberikan serangan pamungkas, sih.
Penyesalan
memang selalu datang terlambat. Yuu-senpai sepertinya berniat bekerja dengan
menjaga hubungan ramah yang pas bersama Nanami, tetapi malah tercipta jarak di
antara mereka. Atau lebih tepatnya, ucapan Yuu-senpai sebelumnya soal dilarang
bermesraan saat jam kerja... bukannya membuat Nanami marah, kan?
Bukan,
kan?
Di
saat Yuu-senpai bersiap-siap sembari mengalami berbagai kecamuk batin, Nanami
mulai diajari pekerjaan olehnya.
"Oh
iya, aku harus mengucapkannya sekali lagi..."
Pada
saat itu, Nanami seolah menyadari sesuatu lalu mengarahkan pandangannya ke atas
sejenak... kemudian memutar tubuhnya setengah lingkaran dan memperagakan gestur
bagaikan memberi hormat padaku.
Ada
apa gerangan?
Saat
pertanyaan itu terlintas di dalam benakku... Nanami tertawa gembira sembari
memiringkan kepalanya sedikit dan mulai membuka suara.
"Mulai
hari ini mohon bimbingannya ya, Misumai-senpai?"
Tak
disangka, aku pun dipanggil dengan sebutan Senpai olehnya.
Tidak,
memang benar sih... di tempat kerja paruh waktu ini aku memang bekerja sedikit
lebih awal darinya... tapi aku dipanggil Senpai? Seniornya Nanami, ya...
...Kerja
paruh waktu memang yang terbaik.
Saat
aku sedang memikirkan hal semacam itu, Yuu-senpai yang sedang bersiap-siap
secara diam-diam mendadak menegur, "Dilarang bermesraan!!".
Baik,
maafkan saya... Nanami yang ikut ditegur pun menjulurkan lidahnya sedikit, lalu
kembali ke samping Yuu-senpai.
Karena
mulai dari sini adalah jam kerja... mari mengerjakannya dengan benar.
Saat
mataku bertatapan dengan Shouichi-senpai, kami berdua sama-sama menyunggingkan
senyum tawar.
Nah...
karena ini adalah hari pertama Nanami bekerja paruh waktu, mari berusaha sebaik
mungkin.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Mendengar
satu, memahami sepuluh.
Ada
ungkapan seperti itu.
Intinya,
frasa ini sering kali digunakan untuk merujuk pada orang yang saat mendengarkan
penjelasan di tahap awal, langsung mampu memahami keseluruhan isi secara
sempurna.
Pada
dasarnya hal itu merupakan wujud dari keunggulan seseorang, dan meskipun ada
keinginan untuk bisa menjadi sosok seperti itu, pada kenyataannya hal itu tidak
berjalan dengan mudah.
Aku
sendiri sudah mengerahkan segalanya hanya untuk bisa mendengar satu dan
memahami satu, sehingga bisa dibilang aku adalah orang biasa pada umumnya.
Yah,
terkadang walau sudah mendengar satu, memahami satu pun aku tidak sanggup...
tapi sepertinya hal itu dialami oleh semua orang juga, kan.
Mendengar
satu, lalu merasa seakan sudah memahami satu. Kemudian tanpa sadar langsung
melompat maju sampai ke sepuluh. Hal itulah yang pasti menjadi pemicu timbulnya
kesalahpahaman maupun perselisihan.
Namun,
jika di dekat kita ada sosok yang mampu mendengar satu dan langsung memahami
sepuluh... lantas apa yang akan dirasakan oleh seseorang? Apakah orang itu akan
merasa iri, ataukah malah terpacu untuk tidak mau kalah?
Mengenai
diriku? Hal yang kurasakan kali ini... sepertinya adalah rasa hormat.
"Selamat
datang, apakah untuk empat orang? Silakan menuju ke meja sebelah sini~"
Tidak
perlu dikatakan lagi... sosok yang mampu mendengar satu dan memahami sepuluh
itu adalah Nanami.
Hari
ini nasib kami kurang beruntung, karena sejak jam makan siang suasana restoran
terus menerus berada dalam kondisi yang cukup sibuk, sehingga proses mengajari
Nanami oleh Yuu-senpai tidak berjalan dengan begitu cepat...
Namun
Nanami sudah bisa mencatat pesanan sendirian, hingga mengarahkan dan melayani
para pelanggan.
Terlebih
lagi...
"Ooh,
ada apa ini? Apakah ada anak baru yang bergabung?"
"Ya.
Saya Barato Nanami yang mulai bekerja sejak hari ini. Mohon bimbingannya,
ya."
"Ooh,
bagus sekali. Cantik banget. Biar tidak bosan kalau cuma lihat Nao-chan
saja."
"Hei,
Pelanggan... bicara apa barusan? Ada masalah dengan Nao-chan ini, huh?"
"A-Ah...
bukan, bukan begitu. Karena tipenya berbeda jadi terasa segar... lihat deh,
kalau tiap hari makan Katsudon pasti bosan, kan? Sesekali ingin makan
yang segar-segar..."
"Siapa
yang kamu sebut berlemak dan berminyak, huh...?"
"Saya
baru pertama kali ini dibilang tipe yang segar, lho."
...Dan
begitulah, percakapan dengan pelanggan tetap pun sudah terlihat sangat
terbiasa. Rasanya sulit dipercaya kalau ini adalah hari pertamanya bekerja.
Sangat berbeda jauh dengan hari pertamaku mulai bekerja paruh waktu.
Namun,
aku tidak bisa terus-terusan mengaguminya saja. Aku juga harus berusaha keras
agar tidak kalah dari Nanami. Aku tidak boleh memperlihatkan penampilan
menyedihkan yang hanya akan menjadi beban.
"Shibetsu-kun,
sudah lama sekali tidak kelihatan, ya. Apakah turnamennya sudah selesai dengan
lancar?"
"Ya,
beberapa hari lalu... sudah selesai dengan lancar. Ah, untuk hari ini apakah
pesanan seperti biasanya?"
"Seperti
biasanya...? Kamu masih ingat pesananku yang seperti biasanya?"
"Ya,
tentu saja. Hotplate Napolitan tanpa bawang bombai dan kopi. Kopinya
disajikan setelah makan, tanpa gula tetapi pakai susu, kan?"
Shouichi-senpai
juga, padahal ini pertama kalinya beliau kembali bekerja paruh waktu setelah
pulang dari turnamen, tetapi interaksinya dengan pelanggan tetap sudah begitu
terbiasa. Atau lebih tepatnya, luar biasa sekali beliau bisa mengingatnya
secara normal begitu.
Padahal
sebelumnya beliau sempat bilang kalau tidak begitu pandai dalam pelajaran
sekolah, tetapi kapasitas kemampuannya tinggi sekali, ya.
Kalau
aku, jangankan orang yang baru ditemui lagi setelah sekian lama, pelanggan
tetap pun sepertinya tidak akan sanggup kuingat secara mendalam sampai sedetail
itu. Lebih-lebih lagi, bukankah sebagian besar orang juga akan seperti itu?
Apakah
Shouichi-senpai juga termasuk tipe orang yang mampu mendengar satu dan langsung
memahami sepuluh?
Yah,
mau bagaimana lagi, aku harus meniti jalanku sendiri secara tekun step-by-step.
Tidak ada gunanya juga bersikap patah semangat, iri hati, ataupun cemburu.
Segala
sesuatu harus diawali selangkah demi selangkah. Lagipula seseorang pernah
berkata bahwa langkah pertama adalah hal yang paling krusial. Yup, mari
kerjakan apa yang bisa kulakukan dengan sepenuh tenaga.
"Misumai-kun
akhirnya jadi senior juga, ya. Tidak disangka bisa punya junior seimut
itu."
"Eh?
A-Ah... iya juga, ya."
Saat
sedang membakar kembali semangatku, salah satu pelanggan tetap menyapaku. Saat
membawakan makanan atau saat mengurus pembayaran kasir memang terkadang aku
diajak berbincang...
Namun
disapa secara mendadak seperti ini rasanya baru pertama kali terjadi padaku.
"Barato-san
pekerjaannya begitu cekatan sampai tidak terlihat seperti baru hari pertama
kerja. Dia juga tidak canggung sama sekali, jadi aku sendiri harus belajar
darinya dan lebih merapatkan kesiagaan."
"Ah
tidak, tidak, Misumai-kun juga sudah berusaha dengan sangat baik, kok. Tidak
pernah ada kesalahan pesanan, dan pelayanan pelangganmu juga sangat sopan.
Terima kasih untuk selalu melayani dengan baik, ya."
...Rasanya
sangat malu saat dipuji secara terang-terangan dan diucapi terima kasih seperti
ini.
Namun
begitu ya, kerja keras yang kuupayakan selama bekerja paruh waktu ternyata
tidak sia-sia... Rasa gembira karena bisa merasakan pertumbuhan diri meski
sedikit ini membuat hati hangat. Mungkin hal inilah yang dinamakan sebagai
kepuasan sejati dalam bekerja.
"Tapi
yah, Misumai-kun... kalau dilihat-lihat, rasanya kamu terlalu sering
memerhatikan si anak baru itu, lho."
...Eh?
"Jangan-jangan,
kamu tidak menyadarinya?"
Saat
diucapi begitu oleh sang pelanggan tetap, aku mengangguk pelan. Pelanggan tetap
itu menghela napas geleng-geleng kepala dengan senyum tawar, sembari
mengarahkan pandangan penuh rasa hangat yang menggemaskan padaku.
Saat
aku menunjuk diriku sendiri seakan mengonfirmasi, beliau mengangguk
berkali-kali. Apakah aku sesering itu memerhatikannya...?
Gawat,
itu benar-benar di luar kesadaranku. Padahal aku sama sekali tidak berniat
melakukan hal itu dan merasa sudah bekerja dengan benar...
...Ngomong-ngomong,
memangnya terlihat seperti apa?
Saat
kucoba bertanya kepada sang pelanggan tetap, tampaknya setiap kali ada
kesempatan, mataku pasti menyempatkan diri untuk melirik ke arah Nanami.
Katanya
itu bukan tipe tatapan yang terus-menerus menatap tajam dan terkunci di satu
titik. Namun benar-benar jenis tatapan yang... melirik sekilas demi sekilas,
hanya bisa disadari oleh orang-orang yang jeli saja.
Sama
sekali, sungguh, betul-betul di luar kesadaranku.
Setelah
diberitahu begitu, rasanya jadi makin malu saja. Yang bener saja, mulai
sekarang aku harus lebih berhati-hati... karena kalau dibiarkan, pekerjaan
bisa-bisa jadi terbengkalai...
Padahal
Yuu-senpai juga sempat mengkhawatirkan hal ini, jadi aku harus bersikap
profesional. Begitulah, aku pun menyampaikan permohonan maaf kepada sang
pelanggan tetap. Namun pelanggan tetap itu hanya tertawa memaklumi dan
memaafkanku.
"Aah,
tapi ya mau bagaimana lagi... Hal itu kan wajar saja. Habisnya..."
Kata
wajar saja. Setelah kalimat itu diucapkan, ada jeda menggantung yang
sengaja dibuatnya sejenak.
Eh?
Jangan-jangan hubunganku dan Nanami sudah ketahuan? Bahwa kami berdua sedang
berpacaran. Padahal seingatku aku tidak pernah memancarkan atmosfer seperti
itu...
"Kamu
suka padanya, kan? Pada Barato-san. Kalau bekerja paruh waktu bersama gadis
yang disukai, tanpa sadar mata pasti bakal terus mengikutinya, kan. Aku
mengerti kok, mengerti sekali."
Ah,
ternyata bukan.
Tidak,
sebenarnya kalaupun hubungan pacaran kami ketahuan juga tidak akan jadi masalah
sih... tetapi entah mengapa ada bagian dari diriku yang merasa lega karena hal
itu tidak terbongkar.
Meskipun
merasa sedikit lega, tetapi malah muncul kesalahpahaman jenis lain yang lahir
di sini.
"Tidak,
sebenarnya kalau soal itu..."
"Sudah,
sudah, tidak usah buru-buru dijelaskan. Aku tahu kok. Kalau ada gadis seimut
itu jadi junior di tempat kerja, siapapun pasti bakal jatuh cinta pada
pandangan pertama, kan."
Sembari
menyeringai jahil menggoda, dan dengan sorot mata yang menyiratkan semacam rasa
gemas hangat... kalimat yang diucapkannya secara tidak langsung tepat sasaran
pada tempatnya.
Tembakan
jatuh cinta pada pandangan pertama itu, dalam artian tertentu memang
benar adanya, sih. Walau itu sudah cerita yang sangat lama.
Bahkan
saat aku hendak menyanggah, ada semacam tekanan kuat yang membuatku tidak bisa
menyampaikan sanggahan. Atau lebih tepatnya, di dalam kepala sang pelanggan
tetap sepertinya sudah terbangun sebuah alur cerita sendiri.
Merusak
alur cerita tersebut... rasanya seperti merusak impian seseorang sehingga
membuatku merasa enggan. Lagipula, meruntuhkan alur cerita yang sudah telanjur
terbentuk di dalam pikiran seseorang itu sangatlah sulit.
Prosesnya
persis seperti kasus tuduhan palsu. Sesuatu yang sudah diyakini benar oleh diri
sendiri meski tanpa bukti dasar, akan sangat sulit dipatahkan pemikirannya
meskipun dibantah oleh pihak lawan.
Untuk
mematahkannya, diperlukan bukti nyata yang bisa dilihat dengan mata
telanjang... Namun menyajikan bukti bahwa aku tidak menyukainya, atau
bukti bahwa aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama adalah hal yang
terlampau sulit.
Dan
yang paling utama, karena aku memang menyukai Nanami... aku tidak ingin
menyajikan hal-hal semacam itu.
Yah,
lagipula tidak ada dampak buruk yang nyata juga... biarkan saja seperti ini.
Mumpung ada kesempatan, mari kucoba tanyakan hal yang sangat membikin
penasaran.
"...Apakah
saya semudah itu dibaca?"
Karena
belakangan ini hal itu beberapa kali sempat diucapkan padaku, aku penasaran
bagaimana sudut pandang pelanggan tetap melihatku. Bagaimana impresi dari pihak
ketiga... aku ingin tahu.
Tidak,
karena aku mudah dibaca makanya hal seperti itu diucapkan padaku, jadi
sebenarnya tidak ada gunanya juga untuk mengonfirmasi. Namun tetap saja, ada
sisi diriku yang enggan mengakui betapa mudahnya kepribadianku untuk dibaca.
Sembari
menutupi area mulut sedikit dan memelankan suara untuk bertanya... sang
pelanggan tetap menjawab dengan senyuman yang sangat cerah bahwa aku memang
sangat mudah dibaca.
Jawaban
spontan tanpa ada keraguan sama sekali. Begitu ya... batinku sembari
memasang pandangan jauh menerawang padahal masih berada di tengah jam kerja.
"Lagipula,
reaksimu terhadap Nao-chan berbeda jauh sekali, lho. Saat sedang bekerja paruh
waktu, kamu sama sekali tidak pernah mengikuti Nao-chan dengan pandangan
matamu, kan."
Mendapatkan
teguran lanjutan setelah baru saja merenungi kenyataan bahwa aku mudah dibaca
benar-benar terasa bagaikan pukulan bertubi-tubi.
Tapi
memang benar sih, kalau dipikir-pikir lagi, aku memang tidak pernah
memerhatikan Yuu-senpai dengan cara seperti itu...
Tidak,
kalimatku barusan agak buruk. Kalau dikatakan seperti itu, kesannya jadi
seolah-olah Yuu-senpai tidak memiliki daya tarik sama sekali. Ini tipe ucapan
yang kalau sampai terdengar bisa bikin beliau marah.
Bahkan
aku yang terkadang disebut tidak memiliki kepekaan rasa kepada selain Nanami
pun setidaknya paham akan hal semacam itu.
Namun...
aku ini ternyata memang semudah itu dibaca, ya.
Sama
sekali tidak pernah terlintas di benakku kalau di hari pertama Nanami bekerja
paruh waktu, sang pelanggan tetap bisa menerawang begitu banyak hal dari
diriku.
Padahal
tadinya kukira bakal dimarahi, tetapi dipandang dengan tatapan hangat seperti
itu justru terasa makin memalu-malukan. Setidaknya selama jam kerja paruh
waktu, mungkin aku harus lebih menahan diri lagi.
"Tapi
coba deh, kamu lihat ke sana..."
Sembari
meneguhkan kembali kesiapanku, aku mengarahkan pandangan ke titik yang ditunjuk
oleh sang pelanggan tetap. Di sana ada Nanami, tetapi bukan hanya Nanami
seorang...
Shouichi-senpai
sedang memberikan penanganan dan bantuan untuk Nanami. Tampaknya ada hal yang
tidak dimengerti olehnya, dan tindakan Senpai yang secara sigap langsung turun
tangan membantu itu benar-benar membuktikan buah dari pengalamannya yang sudah
lama bekerja.
Seandainya
aku sudah sedikit lebih terbiasa dan tidak sedang berbincang dengan pelanggan
tetap, apakah aku juga bisa memberikan bantuan secepat itu? Tidak, sepertinya
agak sulit untukku, ya?
"Gadis
bertipe pendiam seperti dia itu biasanya malah bisa dengan mudah disambar oleh
pria tampan seperti Shibetsu-kun, lho... Walau melihatnya begitu saja juga
sudah terasa menghangatkan hati, sih..."
Melihat
sosok Nanami dan Shouichi-senpai yang sedang berdiri berdampingan melayani
pelanggan, sang pelanggan tetap memasang pandangan jauh menerawang.
Bagi
diriku pribadi, tidak ada pemikiran khusus saat melihat mereka berdua berdiri
berdampingan, tetapi tatkala orangnya berganti, sudut pandang pun ikut berubah.
Pelanggan
tetap... beliau memasang pandangan menerawang begitu, apakah jangan-jangan
beliau memiliki kenangan buruk terkait hal semacam itu?
"Barato-san
kelihatan seperti tipe gadis yang agak polos dan sederhana tetapi sebenarnya
cantik, jadi kalau mereka berdua bersanding, rasanya seperti pasangan pria
tampan dan wanita cantik yang bahkan bisa jadi ikon kebanggaan restoran ini,
ya. Terasa membuat jiwa jadi muda kembali."
Tampaknya
di dalam benak sang pelanggan tetap, mereka berdua terlihat seperti sepasang
kekasih. Bagiku yang mengetahui kebenarannya, ucapan itu hanya bisa kubalas
dengan senyum tawar.
Namun
yah, Nanami dikira tipe gadis yang polos dan sederhana, ya...
Aku
sekali lagi memasukkan penampilan Nanami hari ini ke dalam jangkauan
penglihatanku. Pakaiannya memang seragam restoran dan celemek, tetapi dia
mengenakan kacamata bulat yang berukuran cukup besar. Penampilannya benar-benar
terlihat bagaikan seorang ketua murid yang rajin dan tekun. Rambutnya diikat
rapi ke belakang menjadi satu jalinan kepang, sembari memperlihatkan dahi yang terbuka
sepenuhnya. Melihat dahi Nanami terbuka begitu terasa sangat segar.
Berbeda
dari gaya gal seperti biasanya, maupun gaya anggun memesona yang
terkadang dikenakannya saat kencan.
Kalau
harus diungkapkan dengan kata-kata... mungkin bisa disebut gaya berpenampilan
yang rajin dan tekun? Atau gaya berpenampilan untuk bekerja?
"Pelanggan
yang mengincar Shibetsu-kun saja ada banyak, jadi tingkat persaingan untuk
mendapatkannya itu sangat tinggi, tahu... Kalau kamu lengah, bisa-bisa Barato-san
malah jadi suka pada Shibetsu-kun, lho?"
...Eh?
Mendengar
ucapan itu, aku mendadak kehilangan kata-kata.
Tidak,
aku tahu betul kalau hal itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Begitu
ya, kalau dilihat dari sudut pandang pihak ketiga bakal jadi seperti itu, ya.
Tidak
perlu mengkhawatirkan hal itu... sebenarnya aku ingin
menjawab begitu, tetapi kalau diucapkan, rasanya malah akan terdengar seolah
aku sangat percaya diri dan kelewat keperdaya oleh rasa percaya diri sendiri,
dan yang paling utama, daya persuasifnya sangat lemah.
Setidaknya,
sudah pasti bahwa aku tidak lebih tampan ketimbang Shouichi-senpai. Terlebih
dalam kasusku, karena aku bukan tipe orang yang memiliki rasa percaya diri pada
penampilan fisik sendiri, jujur saja terasa sulit untuk membantahnya. Tatkala
aku memikirkan bagaimana harus merespons... kata-kata secara alami berhenti
keluar dari mulutku.
Mungkin
menganggap reaksimu yang terdiam itu lahir dari rasa minder... sang pelanggan
tetap menepuk bahuku pelan, lalu mengacungkan jempolnya secara mantap.
"Tenang
saja, pria itu yang penting bukan wajahnya. Asal ada semangat dan tekad kuat, Barato-san
pasti bakal berpaling melihatmu kok."
"Ha...Hahh...?"
Tidak,
yah, aku paham maksud baiknya, tapi entah kenapa rasanya seperti sedang dihina
secara telak. Walau beliau sebenarnya tidak bermaksud mengejekku, sih.
Yah,
kalau dibandingkan dengan Senpai... mau bagaimana lagi, ya.
"Aku
akan mendukungmu, Misumai-kun. Semoga kamu bisa berpacaran dengan Barato-san,
ya."
"Aku
juga bakal mendukungmu. Sebagai wujud dukungan itu... bagaimana kalau kita
tambah pesanan lagi?"
Dengan
senyuman yang sangat cerah, kata-kata penyemangat dan dukungan dari para
pelanggan tetap datang bertubi-tubi.
Suara-suara
ini mungkin merupakan hasil dari kerja keras yang kualami selama bekerja paruh
waktu di sini, sih.
Tapi
harus bagaimana ini, rasanya ada rasa bersalah yang sangat besar, atau lebih
tepatnya aku jadi ingin pulang saja.
Mohon
maaf, sebenarnya kami sudah berpacaran. Nanami itu pacarku.
Aku
sempat berpikir untuk mengungkapkan hal itu, tetapi sepertinya kalau kukatakan
sekarang pun mereka tidak akan percaya. Bisa-bisa aku malah disuruh untuk
menghadapi kenyataan.
Paling
parahnya, aku bisa dikira sebagai orang yang berhalusinasi atau terganggu
jiwanya.
Aku
yang tidak bisa menyuarakan kebenaran hanya bisa menyampaikan ucapan terima
kasih "Saya akan berusaha keras..." kepada sang pelanggan tetap,
sembari mencatat pesanan tambahan lalu mundur masuk ke area dapur.
Sama
sekali tidak pernah menyangka kalau aku bakal mendengarkan obrolan asmara
semacam itu di tempat kerja paruh waktu. Walau ini adalah kisah kesalahpahaman
yang agak melenceng, sih.
Di
hari pertama Nanami bekerja paruh waktu, sebuah atribut baru tersemat pada
diriku. Yaitu sosok siswa SMA yang sedang dimabuk asmara, jatuh cinta pada
pandangan pertama kepada junior yang baru masuk kerja paruh waktu...
Kenapa
jalannya cerita bisa jadi begini, coba.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
"Kenapa
situasinya bisa jadi selucu itu, sih?"
"Tidak,
sungguh... selain lucu... kasihan juga pada Youshin-kun, tapi memang
benar-benar lucu..."
"Sama
sekali tidak lucu, tahu... Tidak, kalau dilihat dari sudut pandang pihak ketiga
memang mungkin kelihatan lucu, sih..."
Setelah
bekerja sejak pagi hari, para pelanggan telah pulang, dan di dalam restoran
yang kini sudah kosong kami mengambil waktu istirahat siang. Yang biasa disebut
sebagai makan siang karyawan.
Di
tengah-tengah waktu istirahat itu, saat kuceritakan kisah dari pelanggan tetap
tadi, Yuu-senpai dan Shouichi-senpai malah mulai berkomentar bahwa hal itu
sangat lucu... Memang lucu sih kalau dipikir-pikir.
Sementara
itu Nanami sendiri, tampaknya tidak begitu menaruh perhatian besar pada topik
tersebut dan justru sangat antusias dengan makanan jatah kerjanya yang
pertama... atau bahkan mungkin sedang merasa sangat tersentuh.
Masakan
restoran ini sebenarnya sudah pernah dimakan oleh Nanami sebelumnya. Seperti
saat kami makan bersama di dalam restoran sewaktu kencan, atau saat dibawakan
bungkus makanan pada hari Natal.
Oleh
karena itu, tadinya kukira dia tidak akan merasakan sensasi yang begitu segar
lagi, tetapi tampaknya menyantap makanan jatah kerja di sela-sela waktu bekerja
adalah pengalaman pertama baginya, sehingga rasanya terasa sangat istimewa.
Selain
itu, dia juga sempat bergumam bahwa makan masakan jatah kerja begini terasa
seperti gaya hidup orang dewasa. Aku bisa paham sedikit hal itu.
Entah
mengapa, padahal cuma sekadar makan siang biasa, menyantap makanan jatah kerja
membuat perasaan mendadak merasa seperti orang dewasa. Mungkin karena ini
adalah makan siang setelah menyelesaikan pekerjaan. Rasanya seakan-akan menjadi
seorang pekerja profesional sungguhan.
Yah,
walaupun pilihan menunya tidak terlalu berkesan dewasa, sih.
Nanami
memesan omurice, sementara aku memesan spaghetti Napolitan.
Yuu-senpai memesan risotto, dan Shouichi-senpai menyantap katsu curry
porsi besar.
Di
saat yang lain memesan hidangan berbasis nasi, hanya aku seorang yang memilih
mie. Tidak, cuma karena lagi ingin makan saja, kok...
"Apakah
aku tidak bilang kalau aku ini berpacaran dengan Youshin... maksudku
Misumai-senpai?"
"Ah,
ternyata kamu masih terus melanjutkan panggilan itu, ya. Padahal kalau cuma
saat jam istirahat begini, bukannya tidak apa-apa kalau memanggil seperti
biasa?"
"Kalau
tidak dibiasakan secara total di dalam restoran, takutnya nanti malah ketahuan
dan keceplosan."
Kalau
alasannya begitu, sepertinya tidak masalah juga, sih.
Tampaknya
Nanami memang sedang menikmati permainan panggilan nama keluarga di dalam
restoran ini.
Daripada
mengerjakannya dengan terpaksa, menikmatinya memang merupakan jalan yang paling
baik. Hanya saja entah mengapa, ada sedikit ganjalan atau hal yang mengusik
pikiranku dari obrolan tadi...
Apa
ya? Rasanya seperti ada duri kecil yang menyangkut di tenggorokan.
Saat
aku memiringkan kepala bingung, Nanami yang sedang menyuap omurice ke
dalam mulutnya ikut memiringkan kepalanya sedikit.
"Misumai-se~npai,
apakah Senpai menyukaiku~?"
"Ya
jelaslah, aku kan memang menyukai Nanami..."
"Tidak,
tidak, di sini mari kita gunakan panggilan 'Barato-san...'. Mari pakai setelan
alur cerita di mana Senpai bakal dibuat gugup dan serba salah saat kubilang
begitu."
Setelan
alur cerita apa-apaan itu.
Atau
lebih tepatnya, rasanya teramat aneh kalau sekarang aku mendadak memanggilnya
"Barato-san". Selain aneh... ada rasa canggung dan kesepian
tersendiri...
Tetapi
aku memang pernah menyuarakan panggilan "Barato-san" itu dari
mulutku, sih. Seingatku aku memanggilnya begitu saat... benar-benar di
pertemuan yang paling pertama.
Kenapa
dulu kami beralih ke panggilan nama depan, ya?
...Aah,
benar juga. Seingatku begini, karena kami berdua mulai berpacaran, Nanami
memintaku untuk memanggilnya dengan nama depan, dan sejak saat itulah aku
selalu memanggilnya Nanami-san.
Meski
begitu, prosesnya berjalan bertahap dari Barato-san menjadi Nanami-san, lalu
menjadi Nanami... Panggilan Barato-san yang kuucapkan itu durasinya benar-benar
cuma sekejap saja, ya.
Mengenakan
kembali panggilan Barato-san hanya di dalam restoran ini... rasanya seakan
membawa perasaan seperti melakukan penjelajahan waktu.
Apakah
ini seperti pepatah bahwa masa lalu tidak dapat diubah, tetapi masa kini bisa
diubah? Rasanya agak sedikit berbeda, sih.
"Ngomong-ngomong,
Nana-chan kan sebelumnya pernah datang ke restoran kita, jadi kukira bakal
ketahuan kalau dia itu pacarnya Mai-chan... tapi ternyata tidak ketahuan sama
sekali, ya."
...Aah,
begitu rupanya. Jadi keanehan yang mengusik pikiranku tadi ada di bagian situ.
Memang benar jika dipikir-pikir lagi, Nanami pernah datang untuk menjemputku,
kan.
Oleh
karena itu, kupikir setidaknya harusnya ada satu dua orang pelanggan tetap yang
pernah melihat sosok Nanami...
"Yah,
karena penampilan saya sekarang seperti ini. Tampaknya mereka tidak mengira
kalau saya adalah orang yang sama."
"Eeh~?
Masa bisa begitu, ya?"
"Lalu
yah, saat menjemput Youshin dulu saya tidak memperkenalkan diri. Nao-senpai
juga tidak pernah memanggil nama saya di depan para pelanggan."
Yuu-senpai
yang dipanggil Nao-senpai oleh Nanami... terasa agak membingungkan cara
penyebutannya. Bagaimanapun juga, Yuu-senpai tampak menyimpan perasaan yang
rumit.
Meskipun
sebelumnya dipanggil Nao-chan, tetapi demi menjaga ketegasan batas saat jam
kerja, setelah merengek berkali-kali akhirnya dicapai jalan tengah untuk
memanggilnya Nao-senpai.
Sedangkan
panggilan Nana-chan dari Yuu-senpai kepada Nanami berlanjut... atau setidaknya
tadinya kukira begitu, namun ternyata panggilan tersebut hanya berlaku khusus
saat jam istirahat saja. Selama jam kerja biasa, panggilannya adalah Barato-san
atau Nanami-san.
Yah,
karena ini urusan pekerjaan jadi mau bagaimana lagi, beliau akhirnya mengalah
meski pasrah. Tampak berkecewa rumit. Dipanggil Senpai memang menyenangkan,
tetapi terciptanya jarak rasanya menyedihkan... mungkin perasaan seperti itulah
yang dialaminya.
Aku
pun merasa senang dipanggil Senpai oleh Nanami, tetapi... dipanggil dengan nama
keluarga menyisakan sensasi jarak tersendiri, sehingga rasa sepi itu sedikit
melebihi rasa senang... atau mungkin posisinya sejajar.
"Begitu
ya, orang-orang ternyata tidak begitu menyadarinya, ya. Kalau aku menyapa
pelanggan pakai penampilan gaya seperti Nana-chan, apakah mereka juga tidak
bakal sadar, ya? Sepertinya bakal seru tuh."
"Kalau
Nao-nee sih mau pakai pakaian apa pun rasanya orang-orang bakal langsung sadar,
deh. Kulitmu kan eksotis cokelat begitu. Terlebih lagi, gerakanmu pada dasarnya
terlalu heboh..."
"Sibe-chan
jahat banget~? Masa gerakanku diabaikan seheboh itu...?"
Ucap
Yuu-senpai sembari mulai memperagakan pose-pose yang aneh dan ajaib.
Memang
benar, aku bisa memahami maksud ucapan Shouichi-senpai. Yuu-senpai pada
dasarnya bergerak dengan gesit dan cekatan, tetapi terkadang beliau memang suka
melakukan gerakan yang aneh dan aneh...
Seperti
mengambil pose aneh sambil memegang baki, atau saat berbincang dengan pelanggan
tetap, gestur tubuh dan tangannya terlihat unik dan agak riuh...
Kalau
begitu, meskipun beliau mencoba berpenampilan seperti Nanami, rasanya pelanggan
tetap akan langsung mengenalinya secara seketika.
Yah,
bukan berarti ada hal yang perlu disembunyikan juga, sih.
"Cih~...
Berarti tidak bisa bikin penampilan gaya bersaudara, ya... Tapi karena
Nana-chan sudah bergabung, aku jadi makin sabar menantikan kerja paruh waktu ke
depannya. Makin banyak hal yang bisa kita coba lakukan. Seperti cosplay,
contohnya."
"Apakah
hal semacam itu aman secara hukum...? Maksud saya terkait undang-undang hiburan
malam..."
"Aku
tidak bakal menyuruh pakai kostum yang aneh-aneh begitu, tahu?! Kamu mengira
aku ini orang seperti apa, sih?! Belakangan ini perlakuan Mai-chan padaku kok
rasanya makin kejam, ya?!"
"...Masa,
sih? Menurut saya tidak begitu, kok."
"Uuu...
Padahal aku sudah sering meminjamkan baju cosplay dan hal-hal lain untuk
Nana-chan... Aku kan sudah banyak menanam budi, harusnya kamu bisa sedikit
lebih lembut padaku dong."
Yah,
memang benar sih... untuk hal itu aku juga merasa berterima kasih, tetapi
kostum cosplay yang dipinjamkan ke Nanami itu kan seperti bunny girl,
cheerleader yang seksi, atau kostum perawat, kan?
Kalau
kudengar dari cerita, hanya saja belum sempat dipamerkan padaku, tampaknya
beliau meminjamkan bermacam-macam pakaian. Terutama yang condong seksi... atau
bahkan yang keterlaluan...
"Yuu-senpai...
Anda memang meminjamkan berbagai jenis kostum cosplay ke Nanami... tapi
bisakah dikurangi sedikit karena itu tidak baik untuk pendidikan Nanami?"
"Kukira
kamu bakal senang, ternyata malah dapat ceramah bagaikan dari seorang papa?!"
Papa
katanya.
Tidak,
aku kan bukan ayahnya Nanami....Tadi kami sedang membicarakan apa, ya? Harusnya
kan bukan soal cosplay, melainkan obrolan soal Nanami.
"Misumai-senpai,
apakah Senpai tidak ingin melihat diriku mengenakan kostum cosplay?"
"Tidak,
bukannya tidak ingin melihat... maksudku Na... Barato-san, setidaknya bisakah
kamu tidak usah menggunakan bahasa formal dan bicara dengan bahasa santai
saja...?"
"Eeh~?
Tapi kan Senpai adalah senior. Kalau tidak diperlakukan dengan sopan dan
santai... bukankah jadi tidak seperti karakter junior yang baik?"
Pacarku
yang satu ini benar-benar sedang menikmati peran.
Yah,
karena rasanya cukup segar jadi tidak masalah sih... tetapi saat kuingatkan
agar tidak terlalu berlebihan dalam bercanda, Nanami hanya menjulurkan lidahnya
sedikit sembari berbisik bahwa kami akan membicarakannya nanti malam.
Tampaknya
nanti malam dia akan menjelaskan alasan mengapa dia begitu bersemangat seperti
ini.
Kalau
dia mau menjelaskannya... yah, tidak masalah kalau begitu. Lagipula kalau
diteruskan berdebat di sini, sepertinya tidak akan ada kemajuan juga.
Dengan
perasaan yang separuh pasrah, mari kita nikmati saja sekalian dengan bersikap
tegar.
Sembari
memikirkan hal itu, kami melanjutkan makan siang agar bisa berusaha keras
kembali untuk pekerjaan di sore hari.
Shouichi-senpai,
Yuu-senpai, dan juga pasangan Manajer restoran... memperhatikan kami berdua
dengan tatapan hangat yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Hari
pertama Nanami bekerja paruh waktu diawali dengan munculnya kisah di antara
para pelanggan tetap bahwa aku telah jatuh cinta kepada junior yang menjadi
junior pertamaku di tempat kerja—sebuah awal mula bagaikan gelombang samudra
yang penuh dengan dinamika naik turun.
Yah,
hal itu memang separuhnya benar dan separuhnya lagi adalah kesalahpahaman...
Namun di masa mendatang, kisah ini akan menimbulkan berbagai dampak susulan
dalam bentuk yang tidak terduga...
Hanya
saja kami yang sekarang, sama sekali tidak memiliki cara untuk mengetahui hal
tersebut.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Ada
hal yang disebut sebagai roleplay.
Role
adalah peran, dan play adalah memainkan. Seperti yang tertera dari
kata-katanya, ini adalah istilah yang menunjukkan tindakan memainkan suatu
peran... Di dunia gim pun istilah seperti RPG (Role-Playing Game) adalah
hal yang sangat terkenal.
Setiap
orang dalam kehidupan sehari-hari selalu memainkan suatu peran... tentu saja
ini bukan obrolan yang muluk-muluk dan berlebihan bagaikan pementasan drama
teater, melainkan hal yang sama sekali tidak aneh.
Sebagai
contoh, dalam serial drama, anime, atau belakangan ini para pembuat konten
seperti VTuber (Virtual YouTuber), mereka memainkan peran yang
telah ditetapkan untuk menghibur kita.
Sosok
seperti VTuber pasti memiliki semacam pengaturan latar belakang, dan
kita menikmati celah antara peran yang sesuai pengaturan tersebut dengan sisi
kepribadian asli mereka di dunia nyata.
Aku
sendiri terkadang suka menontonnya. Seperti siaran langsung bermain gim.
Meskipun pengaturan karakternya jarang dimanfaatkan secara maksimal, sih.
Obrolan
jadi melenceng. Salah satu contoh dari memainkan peran semacam itu adalah
tindakan "junior" yang diciptakan oleh Nanami di tempat kerja paruh
waktu kali ini.
Masalahnya
adalah mengapa dia melakukan hal semacam itu. Segala sesuatu pasti memiliki
semacam alasan di baliknya. Justru karena adannya alasan itulah, sebuah
tindakan bisa lahir.
"Sebenarnya
ini bukan obrolan yang sekompleks itu, kok."
Sembari
tersenyum tawar sedikit, Nanami mengenang kembali hal-hal yang terjadi di
tempat kerja paruh waktu hari ini.
Hari
ini, sebagai perayaan atas hari pertama Nanami dan aku bekerja paruh waktu
bersama, meskipun waktunya sudah agak larut, kami berdua berjalan-jalan
menyusuri area kota di malam hari.
Perjalanan
pulang pertama kali dari tempat kerja paruh waktu sembari membicarakan
bagaimana dengan menu makan malam nanti. Rasanya sudah sangat lama sekali tidak
melewati jalan pulang yang hanya berduaan seperti ini.
Walau
pada kenyataannya kami memang sangat sering pulang berdua, sih. Namun entah
mengapa rasanya terasa nostalgia seakan sudah lama sekali tak dirasakan...
Apakah
karena rasanya mirip dengan jalan pulang dari sekolah? Karena sedang libur
musim dingin, jalan pulang semacam ini memang belakangan tidak ada.
Berbeda
juga dengan jalan pulang setelah selesai berlibur, ini adalah jalan pulang
setelah menyelesaikan sebuah pekerjaan...
Di
tengah suasana itu, kami berdua berjalan berdampingan. Angin malam terasa
dingin, seolah mendinginkan tubuh yang lelah setelah bekerja. Karena udara
masih sangat dingin, rasanya ingin musim semi segera tiba.
Musim
semi... kalau musim semi tiba, kami berdua akan naik ke kelas 3 SMA, ya.
Saat
aku sedang memikirkan hal-hal sentimental semacam itu, Nanami berjalan sedikit
lebih maju di depanku. Nanami yang melangkah sedikit ke depan, merentangkan
kedua tangannya pelan untuk menjaga keseimbangan. Kemudian, bagaikan seorang
atlet skating yang berputar, Nanami berbalik menghadap ke arahku lalu
berjalan mundur.
Karena
tumpukan salju masih tebal di sana-sini, aku merasa agak panik dan cemas
kalau-kalau Nanami bakal tersandung dan jatuh.
"Lihat
deh, kita berdua ini kan... langsung berpacaran secara instan, kan?"
"Ya,
yah... setelah menyatakan perasaan langsung berpacaran, dan setelah itu juga...
serba cepat, ya."
"Makanya
aku berpikir, kita berdua itu tidak sempat merasakan hubungan di masa sebelum
berpacaran, ya."
Hubungan
sebelum berpacaran... errm, maksudnya itu...
"...Maksudmu
masa-masa menjadi teman?"
"Nah,
itu dia. Kita tidak pernah melewati hal semacam itu, kan."
Memang
benar sih, hal itu tidak ada pada kami. Karena kami melompati hubungan
pertemanan dan langsung menjadi sepasang kekasih... kalau dikatakan melompat
jauh, memang benar-benar melompat jauh.
Memang
kudengar bagi sebagian orang, masa-masa seperti itu terasa sangat menyenangkan.
Namun, kalau dalam kondisi waktu itu kami memulainya dari pertemanan... rasanya
malah kami tidak akan bisa menjadi serapat dan seakrab ini.
Bagaimana
kenyataannya, ya? Apakah ada kasus di mana setelah menyatakan perasaan, lalu
memulai dari pertemanan, baru kemudian berkembang menjadi hubungan sepasang
kekasih?
"Makanya
di tempat kerja paruh waktu, aku ingin mencoba menjalani hubungan semacam itu.
Lagipula bermesraan saat jam kerja kan memang kurang baik."
Antara
paham dan tidak paham...
Apakah
ini berarti Nanami ingin membangun dinamika hubungan yang baru di tempat kerja
paruh waktu?
Tidak,
atau lebih tepatnya...
"Bukankah
memainkan hubungan semacam itu pun pada dasarnya kurang baik dilakukan saat jam
kerja?"
"Urusan
pekerjaan tentu saja akan kukerjakan dengan serius, kok... bagaimana ya
bilangnya, aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, tapi... emm..."
Sembari
memegangi kepala, Nanami tampak memeras otak dan berpikir keras. Sepertinya dia
sendiri pun belum bisa memformulasikannya ke dalam kata-kata dengan baik. Namun,
aku merasa sudah bisa memahaminya secara garis besar.
Dengan
kata lain, Nanami rupanya ingin mencoba merasakan masa-masa sebelum berpacaran
yang sering disebut sebagai periode paling menyenangkan... yaitu status lebih
dari teman, tapi tidak sampai berpacaran.
Bukan
berarti dia merasa tidak puas dengan hubungan kami saat ini, melainkan...
mungkin dia ingin mencoba hal baru sebagai semacam penyedap rasa dalam
hubungan.
Hanya
saja, kalau menjalani hidup secara biasa, hal seperti itu tentu sulit
dilakukan. Oleh karena itu, dia berpikir bahwa mumpung sekarang berada di
lingkungan baru, hal semacam itu sepertinya bisa diwujudkan. Karena kami sudah
terlanjur berpacaran, kami tentu tidak bisa melakukannya secara penuh... tetapi
jika di tempat kerja paruh waktu, ada banyak orang yang belum tahu tentang
hubungan kami.
Yah,
walau kalau bagi Manajer dan para Senior sih sudah sangat ketahuan.
Meski
begitu, hari ini pun pelanggan yang tidak tahu hubungan kami dan Nanami malah
menggoda dan memberi kami dukungan.
Secara
umum, katanya ada juga orang-orang yang memilih untuk merahasiakan hubungan
mereka berdua di tempat kerja. Mungkin ini adalah salah satu bentuk dari
tindakan semacam itu.
Sama
sekali tidak disangka bahwa usulannya untuk saling memanggil dengan nama
keluarga demi menjaga profesionalisme, ternyata berujung pada niat seperti ini.
Yah,
jika melihat dari cara bicara Nanami tadi, walau tidak bisa melakukannya secara
penuh, dia hanya ingin menikmati atmosfernya saja.
Menikmati
masa-masa menyenangkan lebih dari teman, tapi tidak sampai berpacaran
secara tiruan.
Kalau
dipikir-pikir secara tenang... kurasa dia memikirkan hal yang lumayan nekat dan
sembarangan juga, ya.
"Bukan
karena kamu jadi benci dengan hubungan pacaran kita, kan...?"
"Mana
mungkin begitu!"
Dia
membantahnya dengan sangat cepat.
Yah,
kalau begitu aku lega... atau lebih tepatnya, sebenarnya aku tidak
mengkhawatirkan hal itu, sih.
Kalau
tujuannya adalah mereset hubungan kami, sejak awal dia tidak akan memberikan
usulan semacam itu. Hanya saja, mengutarakannya kembali dalam bentuk kata-kata
itu penting. Makanya aku sengaja menyuarakan pertanyaan itu.
"Memang
benar sih... bermesraan di tempat kerja paruh waktu itu kurang baik..."
"Nah,
benar kan... Aku senang bisa bekerja bersama, tapi... kalau kewaspadaan kita
kendor, kita pasti bakal merepotkan orang-orang di sekitar..."
"Profesionalisme
itu penting, ya. Menjaga ketegasan sikap yang berbeda dari biasanya itu...
memang bisa kuterima alasannya."
"Lagipula,
di tempat kerja paruh waktu kan ada juga orang yang mengubah karakter
kepribadian mereka. Jadi melakukan sesuatu hanya di tempat itu saja bukannya
bukan hal yang aneh, kan?"
Itu
baru pertama kali kudengar. Mengubah karakter di tempat kerja paruh waktu,
ya... Kalau memang ada hal semacam itu, berarti ini bukan hal yang aneh?
Seandainya
kami bisa menahan diri dengan tetap menjadi diri kami sendiri, itu adalah hal
yang paling baik, tetapi jika hal itu mudah dilakukan maka kami tidak akan
kesulitan... atau lebih tepatnya, kami benar-benar tidak boleh menimbulkan
masalah dalam urusan pekerjaan.
Jadi
sebagai pemicu untuk menahan diri, selama jam kerja paruh waktu, aku dan Nanami
berpura-pura berada dalam kondisi tidak berpacaran... alias memainkannya dalam
sebuah peran. Karena itulah dinamakan roleplay. Ceritanya kembali lagi
ke topik awal.
Begitu
sudah terbiasa dengan pekerjaan, roleplay itu sebenarnya boleh saja
dihentikan. Kalau begitu, bukankah lebih baik dinikmati sekalian saja?
"Benar
juga... Di dalam restoran kita harus sadar untuk memanggil 'Barato-san'...
Karena bisa bekerja bersama, kita harus benar-benar bekerja dengan
serius..."
Mencari
uang itu hal yang berat.
Justru
karena berat, kita harus menaruh rasa hormat pada pekerjaan. Bersikap loyo dan
tidak fokus saat jam kerja adalah hal yang sama sekali tidak boleh terjadi. Oleh
karena itu, aku memutuskan untuk... menyetujui usulan Nanami tersebut.
Bagaimana
ya cara pasangan kekasih atau suami istri yang bekerja di tempat yang sama
dalam menjalani keseharian mereka? Apakah mereka saling menahan diri?
Aku
pernah mendengar bahwa pasangan suami istri guru tidak boleh ditempatkan di
sekolah yang sama... tapi karena belum pernah melihatnya sendiri, aku tidak
tahu apakah itu benar atau tidak. Namun, meskipun sudah lama sekali aku tidak
menyebut panggilan Barato-san, setelah dipikir-pikir lagi...
"Rasa
canggung saat memanggilnya terasa luar biasa sekali, ya..."
Walau
sebenarnya dari dulu pun aku belum pernah sering memanggilnya begitu.
Sejak
awal memang tidak ada kesempatan untuk memanggilnya seperti itu. Karena begitu
berpacaran, aku langsung memanggilnya Nanami-san.
"Iya
kan~? Aku juga rasa-rasanya mulutku bisa terkilir sampai terbiasa memanggil
Misumai-senpai."
"Ngomong-ngomong
Nanami, apakah kamu tidak merasa risih kalau kupanggil Barato-san?"
"Rasa
berjaraknya memang sedikit menyebalkan sih... tapi daripada pakai imbuhan -san,
bagaimana kalau langsung panggil nama keluarganya saja tanpa embel-embel?"
"Tanpa
embel-embel? Memanggil nama keluarga... tanpa imbuhan?"
"Kalau
Misumai-senpai yang memanggil sih tidak masalah~"
Ah,
permainan perannya sudah dimulai.
Bagi
diriku pribadi, dipanggil "Senpai" rasanya lumayan menyenangkan
juga... tetapi bagaimana dengan memanggil nama keluarga Nanami tanpa
embel-embel? Atau lebih tepatnya, tadi kan aku memanggil nama depannya tanpa
imbuhan, tapi sekarang hal itu mau diubah ke nama keluarga?
Barato...
tidak, orang-orang lain juga melakukan hal itu, sih. Namun, kalaupun harus
memanggilnya...
"Barato-senpai...?"
Dengan
perasaan seolah-olah menjadi seorang adik tingkat, aku mencoba memperlakukan
Nanami sebagai seorang senior. Rasanya tidak terlalu canggung di mulut
ketimbang panggilan Barato-san yang tadi.
Seandainya
waktu kelahiranku berbeda beberapa bulan saja, mungkin aku akan menjadi adik
tingkatnya. Kalau hal itu terjadi, apakah Nanami akan tetap menyatakan
perasaannya padaku dengan cara yang sama?
...Memikirkan
pengandaian seperti itu tidak ada gunanya, sih.
Daripada
itu, entah mengapa Nanami mulai melompat-lompat kecil setelah aku memanggilnya Barato-senpai.
Memang
kelihatan imut, tetapi melompat-lompat di atas jalanan salju musim dingin
membuatku agak takut kalau-kalau dia bakal terpeleset.
"Ada
apa, Nanami?"
"Sekali
lagi! Katakan sekali lagi!"
Dia
memohon dengan gaya bagaikan anak kecil. Sembari mengangkat satu tangannya, dia
melompat-lompat kegirangan.
Sekali
lagi katanya... apakah panggilan senior yang tadi? Kalau dilihat dari momennya,
pasti tidak ada hal lain lagi.
"...Tidak
mau."
"Eeh,
kenapa?! Tidak apa-apa dong, kalau cuma menghitung pengalaman kerja paruh waktu
saja kan aku memang lebih senior!"
Pengalaman
kerja paruh waktu... memang benar sih kalau Nanami pernah melakukan berbagai
jenis pekerjaan paruh waktu.
Seperti
menjadi round girl, dan bukankah dia juga pernah melakukan berbagai
pekerjaan lainnya? Apakah hal itu menjadikannya... seorang senior?
"Kalau
begitu, sekali lagi saja... Barato-senpai?"
Meskipun
intonasi di akhir kalimatku sedikit naik, Nanami memejamkan matanya dan
menengadah dengan penuh penghayatan.
Entah
mengapa dia kelihatan sangat tersentuh, atau mungkin sedang meresapi
perasaannya...
"Itu
bagus... bagus banget, tapi..."
"Yah,
di tempat kerja paruh waktu kamu kan memang bukan seniorku..."
Melihat
Nanami yang terkulai lesu dengan bahu terhempas rasanya membuatku kasihan.
Di
saat yang sama, timbul pula rasa bersalah dalam diriku. Entah mengapa rasanya
seperti déjà vu... seingatku dulu pernah terjadi hal yang mirip seperti
ini.
Mungkin
karena dulu aku pernah memanggilnya "Guru", makanya saat menambahkan
kata "Senior" rasa canggung di mulutku tidak begitu besar. Walau
memanggilnya dengan nama keluarga tetap memegang porsi terbesar dari rasa
canggung tersebut, sih.
Sesuai
dengan perkataan Nanami, bagaimana kalau dicoba panggil langsung nama
keluarganya tanpa embel-embel saja?
"...Barato?"
Memanggil
dengan nama keluarga... adalah hal yang juga dilakukan oleh teman-teman sekelas
lainnya. Shouichi-senpai memanggil Nanami dengan sebutan Barato-kun, dan
Hitoshi pun memanggilnya Barato.
Kalau
sampai tidak mengizinkan panggilan nama keluarga saja... itu adalah tingkat
pengekangan yang terlalu berlebihan, dan lagipula hal semacam itu secara
realistis tidak mungkin dilakukan.
Oleh
karena itu, memanggil dengan nama keluarga sebenarnya adalah hal yang wajar dan
lumrah.
"Ada
apa, ya... Rasa canggungnya justru jauh lebih besar ketimbang panggil Barato-senpai
yang tadi."
Karena
aku sudah sangat terbiasa memanggil nama depannya tanpa embel-embel, kukira
memanggil nama keluarganya tanpa embel-embel bakal terasa mudah, bahkan tidak
akan menyisakan rasa canggung sedikit pun. Namun ternyata, ini adalah rasa
canggung yang paling kuat sejauh ini.
"Iya,
ada apa... Misumai-se~npai?"
Dengan
senyuman yang terkembang di wajahnya, Nanami langsung merespons seketika.
Suaranya terdengar sangat bermanja-manja, bagaikan seekor kucing yang menempel
erat. Apakah ini yang dinamakan dengan suara manja merayu?
Dia
mengeluarkan jenis suara yang biasanya tidak pernah dia gunakan. Ada apa
gerangan dengannya secara mendadak begini?
"Ada
apa denganmu... kok mendadak bermanja-manja begitu...?"
"Ehehe.
Maukah Senpai bergandengan tangan denganku? Misumai-senpai?"
Nanami
menyodorkan tangannya padaku dengan gesit. Tangan Nanami terbungkus sarung
tangan tipis penahan dingin. Hari ini memang dingin, sih.
Aku
menyambut tangan yang disodorkan itu dengan tanganku. Karena aku bukan tipe
orang yang suka memakai sarung tangan, hari ini aku tidak mengenakan apa-apa di
tanganku.
Oleh
sebab itu, tekstur dari sarung tangan yang dikenakan Nanami terasa secara
langsung di kulitku.
Sarung
tangan yang disentuh dari luar terasa dingin di permukaannya, mungkin karena
berfungsi menahan udara dingin agar tidak masuk ke dalam. Saat aku menggenggam
tangan itu perlahan, Nanami pun membalas genggamanku.
"Saat
dipanggil dengan nama keluarga, rasanya menyenangkan karena seolah-olah
hubungan kita baru akan dimulai dari awal, ya."
"Padahal
hubungan kita sudah melangkah jauh melebihi batas, kan?"
"Benarkah?
Bukankah masa depan hubungan kita masih sangat panjang? Kita bahkan belum
pernah melakukan hubungan intim, kan."
Padahal
di sekitar kami tidak ada orang lain, tetapi ketika dikatakan secara
blak-blakan begitu, justru aku yang jadi panik sendiri. Perasaan yang
bergejolak bagaikan ingin meledak ini kupaksa untuk ditahan sekuat tenaga.
Memang
benar sih, mungkin saja begitu... Memiliki arah langkah tujuan dan masa depan
adalah hal yang sangat baik... pikirku, sih.
"Untuk
melangkah sampai ke tahap itu, sepertinya masih butuh membuka lebih banyak
kualifikasi achievement, ya..."
"Padahal
kalau secara pribadi, aku merasa persyaratannya sudah terpenuhi, lho."
Sensasi
kontras dari panggilan nama keluarga yang tadi membuatku rasanya bisa kena
demam. Tidak, ini tidak ada hubungannya dengan cuaca dingin atau panas.
Sungguh, sejak perjalanan liburan itu, Nanami jadi makin berani dan berambisi
saja.
Kami
berdua kemudian melanjutkan langkah dalam keheningan sejenak... dengan tangan
yang tetap saling bergandengan.
"...Barato,
Barato-san... Nanami-san... Nanami..."
"Panggilan-panggilan
itu membuatku teringat... ngomong-ngomong kita belum pernah saling memanggil
dengan nama panggilan akrab, ya."
"Panggilan
akrab... memang belum pernah, sih... tapi bukannya hal itu justru tidak bisa
dilakukan di tempat kerja paruh waktu?"
"Eeeh~?
Padahal aku ingin Kamu mencoba memanggilku Nanamyan atau semacamnya."
Nama
panggilan akrab apa-apaan itu?! Tiba-tiba saja keluar tanpa ada hubungan sama
sekali... Eh? Karena "Nanami" makanya jadi "Nanamyan"?
Apakah
nama panggilan akrab boleh lebih panjang daripada nama aslinya?
Dan
yang paling mengusik pikiranku adalah...
"Kenapa
mendadak membicarakan soal nama panggilan akrab?"
"Yah,
lihat deh, ini kan di tempat kerja paruh waktu... tidak apa-apa kan kalau pakai
panggilan yang berbeda dari biasanya."
Tapi
kalau sampai "Nanamyan", bukankah itu kelewatan?
Sebenarnya
bagi Nanami, selain panggilan biasanya, panggilan apa pun tampaknya tidak
masalah baginya, tetapi kalau yang itu sih...
"Bukannya
itu malah bakal jadi situasi di mana kita sepenuhnya bermesraan di tempat kerja
paruh waktu?"
"Cih...
ternyata tetap tidak boleh, ya..."
Tampaknya
Nanami sendiri sudah mengira bahwa hal itu kemungkinan besar tidak boleh,
tetapi dia tetap mencobanya. Lagipula interaksi di tengah jam kerja paruh waktu
dengan panggilan "Nanamyan" dan "Misumai-senpai" itu...
...Tidak,
kalau begitu kan aku sendiri yang bakal terlihat seperti orang aneh yang
berbahaya. Dipanggil "Senior" oleh junior, sementara dirinya sendiri
memanggil adik tingkatnya dengan nama julukan imut. Rasanya seperti melanggar
semacam hukum.
"Kalau
Nanami sendiri, berniat memanggilku dengan sebutan apa?"
"Tentu
saja sebutan 'You-chan' seperti yang dipanggil oleh kakek-kakek pelanggan
tetap. Atau kalau versi orisinal dariku... Youcchi, atau Younyan?"
"...Di
tempat kerja paruh waktu, aku memutuskan untuk memanggilmu Barato-san saja,
ya."
Dengan
bibir yang sangat dikerucutkan, Nanami mengeluarkan suara tidak puas
"Eeeh~?".
Tidak,
habisnya, ya... kalau memberi sedikit toleransi sih panggilan You-chan masih
mendingan... Tapi untuk versi orisinal dari Nanami, jujur saja rasanya sungguh
tidak masuk akal.
Tampaknya
untuk urusan nama panggilan akrab seperti itu, selera Nanami agak sedikit
ajaib... atau lebih tepatnya, dia tidak keberatan meskipun itu adalah panggilan
yang memalukan.
Kalau
begitu, aku harus mengambil langkah sergap untuk menetapkannya secara tegas di
sini, karena kalau tidak, secara perlahan aku bisa terseret melakukan panggilan
nama akrab yang memalukan di tempat kerja paruh waktu.
Tidak,
aku yakin Manajer pasti tidak akan mengizinkannya... tetapi Yuu-senpai mungkin
saja bakal menganggapnya menarik dan malah mendukungnya...
Jadi
mohon maaf, benih-benih kecemasan ini harus kupotong sejak awal di sini.
Sembari
tetap bergandengan tangan dengan Nanami yang masih merajut bibirnya tidak puas,
di dalam hati aku menghela napas lega karena kepastian panggilan nama keluarga
untuk Nanami akhirnya berhasil ditetapkan.



Post a Comment