NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no Imouto to Kiss wo Shita Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Iblis Kecil x Striptis


"Ah, jariku mulai pegal. Kalau jumlahnya sebanyak ini, lumayan repot juga ya...."

Selagi membiarkan Shigure menyiapkan air mandi, aku sibuk memasukkan sampah-sampah yang dikeluarkan dari kamar ayahku ke dalam kantong di pintu masuk. Ini kulakukan demi menyiapkan ruang hidup untuk Shigure.

Karena dia bilang semua barang selain peninggalan ibu boleh dibuang, aku tanpa ampun langsung memasukkan sisanya ke kantong sampah. Sayangnya, pakaian tak bisa asal dilempar masuk begitu saja.

Memang bisa dijadikan sampah mudah terbakar, tapi memotongnya sekecil mungkin sudah jadi aturan di daerah ini.

Bermodalkan gunting jahit yang sepertinya peninggalan ibu, aku memotong-motong baju ayah yang semuanya bermotif dinosaurus jadi serpihan. Pekerjaan itu akhirnya selesai saat pangkal jariku mulai terasa mati rasa.

Sayangnya, yang selesai baru urusan baju.

"Masih ada gorden rupanya."

Ini dia bos besar yang baru saja digali dari dalam lemari.

Bakal capek banget kalau harus membongkar benda ini.

Lantaran jariku sudah benar-benar kelelahan, aku mengambil napas sejenak sambil memandangi tumpukan sampah yang menggunung di pintu masuk.

Ada sampah mudah terbakar, sampah tidak mudah terbakar, sampai sampah ukuran besar. Macam-macam pokoknya.

Bahkan ada juga figurin dinosaurus koleksi si ayah.

Sepertinya lebih baik aku minta tolong Shigure buat bawa barang-barang ini ke toko loak nanti.

Siapa tahu bisa bantu nambahin uang belanja walau cuma sedikit.

Saat aku sedang menyusun rencana tersebut, Shigure yang sedari tadi membersihkan kamar mandi tiba-tiba memanggilku.

"Kakak, Kakak! Gawat!"

"Ada apa? Jangan-jangan kamu nggak tahu cara memanaskan air mandinya ya?"

"Nggak kok. Di rumahku sebelumnya juga pakai balance kettle, jadi nggak masalah."

"Terus apa dong?"

"Begini lho, Kak. Aku baru sadar, ternyata di rumah ini nggak ada ruang ganti bajunya!"

Ah.

Kalau dipikir-pikir, kamar mandi di rumah ini memang terhubung langsung sama lantai kayu di dapur.

Dapur dan ruang tengah kami tidak punya penyekat, apalagi ruang tengah itu tempat tidurku. Intinya, kamar mandi itu terhubung langsung dengan kamarku.

Karena selama ini isinya cuma cowok, aku sama sekali tak pernah memedulikannya dan lupa. Tapi, ini jelas MASALAH BESAR.

Tunggu dulu.

"Kayaknya ada rel gorden di plafon depan kamar mandi, kan?"

"Eh... ah. Iya. Ada kok. Tapi nggak ada gordennya lho?"

"Kalau begitu, pas banget ini bisa dipakai kan?"

Aku memungut gorden yang awalnya mau kubuang di pintu masuk.

Kalau bisa dipakai, aku bakal sangat terbantu karena tak perlu repot memotong-motongnya. Tapi pertanyaannya, apa bisa?

Aku kembali ke ruang tengah, lalu menggantungkannya di rel gorden untuk mengecek panjangnya.

Hmmm, agak kependekan sih.

Lebarnya sih aman, tapi ujung bawahnya ngatung sekitar 40 sentimeter dari lantai.

Yah, tapi cukuplah buat menutupi.

"Seenggaknya panjangnya sampai lutut, dan karena warnanya gelap, kayaknya nggak bakal tembus pandang. Untuk hari ini, kamu bisa tahan pakai ini dulu kan?"

"Kalau aku sih nggak masalah, tapi Kakak sendiri nggak apa-apa nih?"

"Hm? Aku kan cowok, jadi nggak terlalu merhatiin hal-hal begituan."

"Hoho~u?"

Seketika itu juga, ekspresi Shigure berubah jadi nakal ala koakuma seperti tadi.

Senyum yang sama sekali tak akan pernah ditunjukkan oleh Haruka.

Senyuman itu sukses membuat bulu kudukku sedikit merinding.

"A-apa-apaan senyum nyengir penuh maksud terselubung itu?"

"Nggak kok, nggak. Kalau nggak ada masalah ya bagus deh. Karena air mandinya sudah panas, aku mandi duluan ya!"

"Silakan, silakan~."

Aku melambaikan tangan dengan santai, lalu kembali ke ruang tengah dan menyalakan TV.

Wah, aku lagi hoki berat nih.

Karena tak perlu lagi memotong gorden, acara bersih-bersih ini pun resmi selesai.

Tinggal giliran aku yang mandi, lalu tidur.

Hari paling melelahkan dalam hidupku ini akhirnya usai juga.

Memang masih banyak hal yang harus dipikirkan, tapi untuk saat ini, syukurlah semuanya sudah beres.

Aku menghela napas lega, duduk di ruang tengah, lalu menonton acara variety show yang biasa kuputar begitu saja.

Saat aku sedang asyik menonton, di sudut pandanganku terlihat sepasang kaki ramping dari balik celah bawah gorden depan kamar mandi. Tepat pada saat itu, aku melihat momen ketika dia melepas kaus kakinya dan bertelanjang kaki.

"..............."

Tunggu, tunggu, kenapa jantungku malah berdebar kencang begini?!

Cuma kelihatan kaki, kan! Cewek kan udah biasa pamer kaki telanjang di mana-mana!

Di jalan kek, di sekolah kek. Bukan pemandangan langka, tahu!

Kalau aku sampai ciut dan buang muka cuma gara-gara hal sepele begini, kelihatan banget aku ini cowok pecundang.

Ayo, fokus ke TV, fokus! Saat aku memaksakan rasa gengsiku yang tipis itu...

Sresek...

Rok yang dipakai Shigure merosot dari kakinya dan jatuh ke lantai dengan suara pelan.

"Ughhhh!!!!"

Detik itu juga, aku mengutuk kecerobohanku sendiri.

Jaraknya cuma 40 sentimeter dari lantai.

Memang sih, bagian pentingnya nggak kelihatan sama sekali. Kalau dibandingin sama cewek sekolah yang ngelipet rok sampai pamer paha, harusnya tingkat tereksposurnya jauh lebih parah di sana.

Namun, gerakan kaki seputih salju dan pakaian yang berjatuhan ke lantai itu menyampaikan satu fakta yang sangat nyata. Di balik gorden sana, seorang gadis yang punya wajah sama persis dengan Haruka sedang menanggalkan pakaiannya satu per satu!

...GAWAT, INI SIH BENAR-BENAR SALAH PERHITUNGAN!

Singkatnya, aku tak memperhitungkan seberapa liar daya imajinasiku dalam melengkapi sisa pemandangan dari celah 40 sentimeter itu!

Sial, harus gimana nih?! Apa aku kabur ke kamar si ayah di balik pintu geser itu sekarang juga?

Nggak, nggak bisa. Tempat itu sekarang sudah jadi kamarnya Shigure.

Lagian habis makan tadi dia baru saja membereskan barang-barang pribadinya, masa aku main nyelonong masuk tanpa izin?

A-apa aku sembunyi di toilet aja sekalian?!

Di saat aku sedang berpikir keras, dari celah gorden itu terlihat kedua tangan Shigure meluncur turun di sepanjang kakinya.

Dan aku melihat momen ketika dia menarik turun sebuah kain putih kecil.

Aku langsung menjatuhkan diri dan menenggelamkan wajah ke atas meja lipat.

Suara debar jantungku begitu berisik sampai rasanya gendang telingaku mau pecah dari dalam.

--Oke, aku putuskan. Aku bersumpah. Besok.

Besok aku PASTI pergi ke toko perkakas buat beli gorden baru!

Pastinya gorden yang panjangnya sampai nyapu lantai! Pokoknya harus beli, biarpun dunia kiamat besok!

"Anoo... permisi, Kak?"

"Uwah! A-ada apa?!"

Aku buru-buru mengangkat wajah, dan melihat Shigure mengintip dari balik ujung gorden dengan raut keheranan.

"Kenapa Kakak panik begitu?"

"A-aku nggak panik kok! Cuma kaget aja karena tiba-tiba dipanggil pas lagi ngantuk berat! Terus, ada apa?"

"Maaf ya ganggu istirahatnya. Boleh minta tolong ambilin sampo dan kondisioner dari dalam koperku nggak? Aku lupa bawanya ke dalam."

"E-emangnya boleh kubuka? Kopernya?"

"Boleh kok. Pakaian dalam dan lain-lainnya sudah kumasukkan ke kamar, jadi santai aja."

"O-oke, ngerti."

Seakan ingin kabur dari tatapan Shigure, aku melangkah masuk ke kamarnya dan mengambil dua botol berwarna merah muda dari koper yang diletakkan di dekat dinding.

Setelah mengambil napas panjang beberapa kali untuk menenangkan diri, aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk pura-pura tenang dan kembali ke ruang tengah. Aku menyerahkan kedua botol itu pada Shigure, lalu setelah mengucapkan terima kasih, dia langsung tersenyum lebar dengan makna terselubung.

"Nfufufu~. Terima kasih banyak ya, Kakak~"

"A-apaan sih muka kayak gitu?"

"Nggak apa-apa kok~. Nggak ada apa-apa~♪"

Setelah mengatakannya, Shigure kembali menyembunyikan diri di balik gorden.

Segera setelah itu, terdengar suara rentetan pintu kamar mandi yang dibuka lalu ditutup kembali.

Aku kembali ke meja lipatku dan menghela napas panjang.

...Sebenarnya apa sih maksud senyumannya barusan?

Wajah yang diciptakan persis sama seperti Haruka.

Tapi, dengan senyuman aneh yang mustahil ditunjukkan oleh Haruka.

Saat bayangan senyuman itu kembali terlintas di pikiranku, ucapan Shigure sebelumnya langsung terngiang-ngiang layaknya kaset rusak.

"Kalau aku sih nggak masalah, tapi Kakak sendiri nggak apa-apa nih?"

Jangan-jangan, si Shigure itu sudah tahu kalau aku bakal bereaksi begini?

Dia sudah sadar bakal dijadikan bahan imajinasi liarku, tapi sengaja nggak menghentikannya?!

...Bulu kudukku langsung merinding hebat.

Sesuatu dalam diriku sedang membunyikan alarm tanda bahaya.

Jangan bilang, anak itu sebenarnya....

"Nggak, nggak, nggak. Jangan ambil kesimpulan sepihak dulu."

Terlalu cepat menilai orang lain cuma bermodalkan imajinasi liar itu tindakan yang tak baik.

Benar sekali.

Bukankah sejak hari ini Shigure sudah berusaha membuka diri padaku, orang asing yang mendadak jadi kakaknya?

Asumsiku barusan sepertinya agak terlalu paranoid.

Aku menepis firasat buruk yang melintas di benakku, lalu memutuskan untuk belajar mandiri demi mengalihkan pikiran.

Aku mengeluarkan buku catatan di atas meja lipat dan mulai mempersiapkan pelajaran untuk besok.

Isilah waktu luang dengan belajar. Tak ada ruginya mau sebanyak apa pun kamu belajar.

Itu adalah satu-satunya wejangan berharga yang pernah diajarkan oleh si ayah brengsek itu.

Begitu berhadapan dengan buku catatan, pikiranku tak lagi melayang ke hal-hal yang tak perlu.

Berkat tenggelam dalam pelajaran, aku perlahan-lahan mulai mendapatkan ketenanganku kembali.

Tak lama kemudian, Shigure yang sudah selesai mandi pun kembali ke ruang tengah.

"Haaah~. Segarnya~, hari ini aku banyak berkeringat karena perjalanan jauh. Kakak udah boleh mandi kok."

"Oh, kalau gitu aku mandi sekarang deh."

Sampai dia memanggilku, aku sama sekali tak sadar kalau Shigure sudah keluar dari kamar mandi.

Ternyata belajar itu memang ampuh.

Hanya untuk kali ini saja, rasanya aku harus berterima kasih pada si ayah brengsek. Aku pun melepas posisi sila dan berdiri.

Dan, --aku langsung membeku.

Dalam sekejap mata, seluruh aliran darah di tubuhku seakan membeku hingga membuatku tak bisa bergerak.

Namun, sedetik kemudian, wajahku memanas seolah-olah hendak menyemburkan api.

Jelas saja! Tentu saja aku bakal begini!

Soalnya, begitu aku mengangkat wajah, Shigure berdiri tepat di hadapanku dengan berbalut selembar handuk mandi saja!

"A-AAAPA-APAAN PENAMPILANMU ITU, WOYYYYY?!?!"

Tanpa sadar, aku refleks berteriak histeris.

Akan tetapi, Shigure malah memiringkan kepalanya dengan tatapan polos.




"Gimana sih, namanya juga habis mandi, ya emang gini yang wajar kan? Kakak juga pasti gitu, kan?"

"Kalau di rumah sendiri sih iya, tapi di sini kan--!"

"Di sini kan sudah jadi rumahku juga?"

"Oh iya! Benar juga sih! Tapi bukan gitu, tetep aja cepetan pakai baju! Lagian biarpun kita ini saudara kandung yang sedarah, di umur segini mana ada yang begini coba?!"

"Memang sih kita berdua harus berusaha saling mendekatkan diri, tapi kalau begini sih namanya kebablasan total...!"

"Pffft, ----bhuahaha, Ahaha, Ahahaha!"

Tiba-tiba Shigure membungkukkan badannya dan tertawa terbahak-bahak. A-apa-apaan. Ada apa dengan cewek ini?

"Apa yang lucu coba?!"

"Tenang aja kali. Nih, lihat. Aku pakai kamisol kok di dalamnya."

"...Hah?"

Shigure dengan santainya membuka lebar-lebar handuk mandinya. Di balik handuk itu, dia memang memakai kamisol dan celana pendek.

Aku cuma bisa melongo dibuatnya. Melihat mukaku yang cengoh, Shigure malah makin menjadi-jadi tertawanya.

"Ahahaha. Harusnya kan kelihatan dari tali kamisolnya? Lucu banget deh. Kakak pasti kebanyakan baca manga mesum ya~. Biarpun saudara tiri, mana ada coba cewek di dunia nyata yang muncul cuma pakai selembar handuk di depan cowok yang baru ditemuinya hari ini♪"

Shigure terus tertawa sampai bahunya berguncang-guncang.

Ya, dengan senyuman licik dan jahil yang sama sekali tak mirip dengan Haruka.

B-bocah ini, ternyata emang...!

"K-kamu ini ya..., becanda juga ada batasnya tahu...!"

"Yee, kan cuma bercanda dikit doang. Anggap aja kayak gigitan manja anak kucing. Yah, walau Kakak sendirian yang heboh banget sampai mikir ke mana-mana sih."

"...Kalau aku heboh sendiri terus terjadi hal yang tak terduga gimana coba? Aku memang lumayan percaya diri kalau aku ini cowok penakut, tapi bukan berarti bisa menjamin seratus persen lho."

"Aha Jadi nggak percaya diri sama kontrol diri sendiri nih? Jujur banget sih. Tapi tenang aja."

"Atas dasar apa coba?"

"Soalnya..."

Shigure memungut selembar selebaran yang tadi kutaruh di atas meja lipat untuk mencoret-coret, lalu melemparkannya ke udara.

Seketika itu juga,

Dengan tendangan memutar yang sangat presisi dan tajam, dia menebas dua selebaran yang melayang halus di udara tersebut hingga terbelah dua.

"Kayak nya aku jauh lebih kuat dari Kakak deh"

"..............."

"Kalau Kakak berminat, boleh kok mencoba menyerangku. Aku bakal melayani Kakak dengan sepenuh tenaga♪"

Shigure mengangkat paha mulusnya dari balik celah celana pendek yang ketat, lalu menepuknya seolah ingin memamerkannya.

Plak! Suara tepukan nyaring itu menegaskan keberadaan otot-otot yang terlatih dengan sempurna.

Gerakan dan daya hancur itu jelas milik seseorang yang menguasai seni beladiri.

Singkatnya, ya, singkat cerita...

Shigure sengaja mengerjai dan mempermainkanku--dengan kesadaran penuh bahwa dia punya kekuatan tempur yang sanggup membantai diriku tanpa ampun.

Rasa merinding yang merayapi punggungku tadi ternyata bukan cuma firasat belaka. Sekarang hal itu sudah terbukti secara sah dan meyakinkan!

"Gaya-gayaan pakai bilang 'agak memaksakan diri' segala. Kamu ternyata cuma pura-pura polos ya, Bangsat?!"

"Nggak pura-pura kok, nyan."

"Kelihatan banget pura-puranya, Bego!"

Ah, sudah tak diragukan lagi. Secara tampilan luar dia memang mirip sekali dengan Haruka yang polos dan ceria, tapi isi dalamnya benar-benar wujud yang berbeda total!

Tadi dia mengibaratkan dirinya sendiri seperti anak kucing yang menggigit manja, tapi penganalogian itu tepat sasaran.

Kucing punya naluri alami untuk tidak langsung membunuh mangsanya yang lebih lemah, melainkan mempermainkan dan menyiksanya terlebih dahulu sampai puas.

Menepuk tanpa mengeluarkan cakar, atau menggigit kecil tanpa menusukkan taringnya. Oalah. Mirip banget memang.

"Dari dulu aku pengin banget punya saudara yang lebih tua. Kakak laki-laki atau perempuan yang mau menampung semua kemanjaan adik imutnya. Jadi, tolong manjakan aku sepuasnya ya, Kakak♪"

Senyuman manis penuh dengan niat busuk yang tidak akan pernah bisa ditunjukkan oleh Haruka yang polos.

Fix. Anak ini tipe pembully.

Gawat. Ini benar-benar gawat. Gimana jadinya kalau seorang sadis kayak gini sampai tahu tentang Haruka, atau tahu kalau aku punya pacar yang mukanya jiplakan persis sama kayak dia?

Pasti bisnis ini tak akan berakhir baik-baik saja.

Bisa kubayangkan dia bakal makin bertingkah seenaknya dengan memanfaatkan kemiripan mukanya itu...!

Membayangkan masa depan yang sudah terbayang jelas di depan mata, aku tak sanggup menyembunyikan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang belakang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close