Chapter 2
Kebingungan x
Kontak
Sebuah kota
satelit yang sepi, tiga stasiun dari stasiun terdekat dari sekolah.
Pojokan
kawasan pusat perbelanjaan jadul yang seolah mengabaikan era Heisei.
Kamar di
apartemen kayu berlantai dua yang sudah tua adalah istana keluarga Sato.
Begitu
memasuki area pekarangan, dari lantai dua... kamar keluarga Sato, terdengar
suara dering telepon bocor keluar, dan bibi berbadan gempal yang tinggal di
sebelah sedang memelototi ke arah sini.
Aku dengan
panik menaiki tangga besi yang sudah berkarat dan penuh lubang.
Begitu
sampai di lantai dua, si bibi sebelah mengerutkan kening sambil melemparkan
duri kata-kata, "Udah sepuluh menit bunyi terus lho."
Seriusan?
Manusia
mana sih yang ngasih panggilan cinta menggebu-gebu begini?
Aku
membungkuk kepada bibi sebelah lalu melompat masuk ke dalam rumah.
Lalu,
seolah mencabutnya, aku mengangkat gagang telepon di lorong dan menanyai si
penelepon dengan nada bicara yang tidak menyembunyikan rasa kesal.
"Halo
halo, halo siapa nih?!"
"Oh,
akhirnya diangkat juga! Ini aku! Papamu yang paling kau banggakan!"
"Kamu
rupanya, kakek keparat!"
Pelaku
panggilan cinta menggebu-gebu itu adalah ayahku, Naoyuki Sato.
Fakta itu
membuat kejengkelan yang tercampur dalam nada bicaraku semakin pekat.
"Begini
ya, Papa juga tahu kan kalau kedap suara rumah kita ini tipis banget? Kalau
nggak diangkat, tunggu sebentar terus telepon lagi dong. Bikin repot tetangga
tahu!"
"Hahaha!
Maaf-maaf. Tiba-tiba Papa pengen banget denger suara kamu!"
"Nggak
usah ngomong hal menjijikkan begitu deh."
"Mana
ada hal yang menjijikkan. Mengkhawatirkan satu-satunya anak lelaki tercinta
adalah hal yang wajar bagi orang tua. Gimana? Kamu sehat-sehat saja? Sekolahnya
seru?"
Ah, gawat.
Ini tuh
situasi itu.
Situasi
yang sama persis saat anak menyembunyikan laporan buruk dari orang tua.
Pengalaman
hidupku memberitahu hal itu.
Om tua satu
ini, padahal umurnya sudah lewat pertengahan 40-an, tapi masih punya sifat
keanak-anakan.
Pasti
karena sampai sekarang dia masih suka mengejar-ngejar dinosaurus atau
semacamnya.
Pokoknya,
telepon kayak gini mendingan langsung diputus saja.
"Yaps,
aku sehat dan seru kok. Oke, urusannya kan udah selesai. Selamat malam~"
"Tunggu
tunggu tunggu! Sebentar! Jangan dimutuss! Kalau diputus, nanti Papa telepon
lagi lho! Papa bakal telepon terus sampai diangkat! Selain pengen denger suara
kamu, sebenarnya hari ini Papa ada hal penting yang mau dibicarakan!"
Cih. Licik
banget.
Aku nggak
mau dipelototi tetangga sebelah lagi.
Tadi aku
sempat berpikir untuk mencabut kabel teleponnya, tapi rasanya itu sudah
keterlaluan.
...Mau
gimana lagi, sih.
"Kira-kira
begitu orangnya. Jadi, apa?"
"Yah...
soalnya... begitulah."
"Apaan
sih. Hal separah itu sampai susah diomongin?"
"Bukannya
susah diomongin sih, tapi kalau harus dibahas secara serius rasanya jadi risih.
Atau harus dibilang malu, yaー."
"Jijik.
Aku nggak mau denger suara cowok paruh baya yang lagi malu-malu kucing. Cepat
ngomong. Paling-paling kamu mau minta maaf karena ngabisin duit di rekening
Nenek buat penggalian lagi, kan? Hal nggak jelas kayak gitu."
"Sebenarnya
Papa nikah lagi."
"Tuh
kan. Udah kuduga pasti hal kayak—haaaaaah!?!"
Karena
saking terkejutnya, teriakan melengking keluar dari tenggorokanku.
Tanpa jeda,
dinding tipis yang memisahkan ruangan ini dengan sebelah digebrak kencang dari
sisi luar.
Aku
berteriak menyampaikan permintaan maaf atas protes tetangga sebelah, lalu
mengonfirmasi ulang kepada Ayah di ujung telepon.
"Ni-ni-nikah?!
Nikah maksudnya nikah beneran?! Kapan?! Terus emangnya kamu udah punya pacar,
kok aku nggak dibilangin?!"
"Iya.
Wanita yang kukenal di tempat penggalian kali ini."
"Di
Fukuoka, ya? Kamu kan baru ke sana sekitar dua bulan lalu?!"
"Sebagai
anak SMA mungkin kamu belum paham, tapi api cinta terkadang berkobar secara
tiba-tiba."
Seriusan?
Kalau berkobar, dalam waktu dua bulan bisa langsung sampai menikah, gitu?
Nggak masuk
akal. Maksudku, ngeri banget. Apa yang bisa kamu ketahui dari seseorang cuma
dalam waktu dua bulan.
Apakah itu
artinya, menjadi dewasa adalah hal yang tahu soal itu?
"Jadi
kamu telepon buat ngasih tahu kabar itu. Terserah sih sama hidup Papa, dan aku
nggak masalah siapa pun pilihan Papa—"
"Nah,
kalau kamu ngomong begitu Papa jadi senang. ...Tapi tentu saja selain ngasih
tahu itu, hal yang pengen Papa bicarakan hari ini bukan cuma itu."
"Maksudnya?"
"Yang
mau Papa bicarakan adalah soal Tsukiko... anak bawaan istri baru."
"Anak
bawaan, berarti dia bawa anak!"
"Bukannya
aneh juga di umur Papa dan dia sekarang. Papa kan juga punya kamu."
"Ya,
ya benar juga sih. Berarti aku bakal punya saudara dong."
"Begitulah.
Nah, anak bawaan itu, anak cewek kelas 2 SMA sama kayak kamu, adik tiri... eh
kakak tiri? Yah karena kamu lahir bulan April, berarti adik tiri ya. Adik tiri
bernama Shigure... mulai hari ini akan tinggal di rumah itu."
"Tunggu
duluuuuuuー?!?!?"
Dindingnya
bergetar lagi karena hantaman.
Aku meminta
maaf sekali lagi.
Tapi
sisa-sisa kebingunganku membuat permohonan itu sama sekali tidak tulus.
"Hiromichi,
suaramu berisik banget. Bikin repot tetangga tahu."
"Yang
paling menderita di dunia saat ini tuh aku, tahu! Apa-apaan?! Tiba-tiba nikah,
terus anak bawaannya cewek seumuran, dan mulai hari ini tinggal di rumah ini?!
Nggak masuk akal, nggak masuk akal! Lagian katanya mau tinggal di apartemen
ini, tapi mana ada kamar kosong, kamarnya nggak ada!"
Apartemen
ini tipe 1DK.
Jumlah
ruangannya lumayan banyak untuk ukuran apartemen kayu tua, tapi semuanya kecil.
Kamar tidur
sekaligus ruang makan/dapurku, dan gudang berkedok kamar Ayah yang disekat
pintu geser.
Keduanya
sudah penuh terisi.
Sama sekali
tidak ada ruang untuk menampung orang baru.
"Kalau
begitu, bereskan kamar Papa dan suruh dia pakai itu. Barang-barang di sana
silakan dibuang semua kecuali barang peninggalan Mendiang Mama."
"Dibuang
pun tetap kesempitan. Enam tatami ditinggali dua orang bapak dan anak. Kalau
cewek, barang bawaannya pasti banyak."
"Hm?
Oh, kamu salah paham. Yang akan tinggal di rumah itu mulai hari ini cuma
Shigure, adik tirimu itu saja. Tsukiko akan ikut dengan Papa pergi ke
Amerika."
Ha? Eh?
Haaaaaah!?
"Yah,
sebenarnya tadinya Papa berniat membawa Tsukiko dan Shigure balik ke sana, tapi
profesor yang dulu ngebantu Papa pas kuliah maksa banget. Jadi Papa harus
bantu-bantuan penggalian di Amerika. Sebentar lagi waktu keberangkatan
pesawatnya, jadi Papa sempat mikir gimana kalau kamu nggak ngangkat telepon
tadi. Shigure sudah waktunya dalam perjalanan ke sana. Untung nggak papasan,
ya. Haha."
"Tunggu!
Nggak ada untung-untungnyac! Kepalaku beneran jadi panik gini! Eh? Tinggal
berdua sama cewek seumuran, tinggal serumah berduaan aja gitu?! Di rumah ini?!
Nggak mungkin, nggak mungkin!"
Waduh,
gagang teleponnya kerasa jijik, dan keringat di tanganku deras banget!
"Kenapa
kamu segitunya panik, bukan kayak anak perawan aja."
"Aku
memang masih perawanー! Keturunanmu ini masih perawan suci yang kinclongー! Jangan
terlalu tinggi berekspektasi, ini anakmu sendiri, bego!"
"O-Oh.
Begitu, ya. Ya sudahlah. Kan dia itu adikmu, hadapi saja dengan santai."
"Adik
tiri yang wajahnya aja belum pernah kulihat dan baru pertama kali ketemu itu
benar-benar murni seratus persen orang lain, tahu! Ah beneran nggak masuk akal.
Nggak sanggup. Ampuni aku. Bilangin cewek itu sekarang juga buat cepetan pulang
ke rumah asalnya."
"Ah,
gawat. Pengumuman boarding sudah mulai. Ya sudah, Papa berangkat ya! Pulang ke
sana mungkin sekitar setahun lagi, jadi akur-akur ya sama Shigure! Cinta kalian
semuaー!"
"Woi!
Tunggu, pembicaraannya belum sela──"
"Klik!
Tut, tut, tut..."
"A-A-A-...
Papa keparat ituuuuuu----!!!!"
Aku
berteriak, lalu membanting gagang teleponnya.
Tentu saja
protes dinding dari tetangga sebelah dibalas dengan kekuatan penuh, tapi aku
sudah tidak peduli lagi.
Kepalaku
benar-benar kacau sampai rasanya otak di dalam tengkorakku berputar-putar tidak
keruan.
Aku bahkan
tidak sanggup berdiri dan langsung lemas mendudukkan diri di lantai.
...Bukan,
ini gawat banget, gawat. Ini benar-benar gawat.
Meskipun
status di kependudukan jadi adik, tapi tiba-tiba tinggal serumah dengan cewek
seumuran.
Apalagi
orang dewasa malah bilang tidak akan pulang selama setahun.
Dari dulu
sebenarnya aku sudah curiga, jangan-jangan om tua itu sudah tidak waras.
Apakah dia
tidak punya yang namanya rasa moralitas?
Lagipula,
bukan kemarin sore atau hari ini lagi, tapi ini hari-H-nya langsung...!?
...Sebenarnya
aku bukannya tidak senang kalau Ayah menikah lagi.
Mau
bagaimana lagi, sejak Mama meninggal, dialah yang merawatku sendirian.
Karena Ayah
yang seperti itu telah menemukan pasangan baru, aku pun ingin memberkatinya.
Tapi──,
"Ini
mah hancur lebur..."
Apa-apaan
ini. Biarkan aku merayakannya dengan perasaan yang lebih tenang dong, Papa
keparat.
Sebuah
helaan napas panjang terlepas.
Ini
bagaikan lelucon yang buruk.
Dan yang
lebih parahnya lagi, lelucon buruk ini sedang berlangsung secara nyata sekarang
juga.
Bahkan saat
aku sedang duduk begini, adik tiri yang wajahnya belum pernah kulihat itu
tampaknya sedang mendekati rumah ini.
Kalau
begitu, aku tidak bisa terus-terusan lemas begini.
"Pokoknya
aku harus merapikan kamar sebelum anak bernama Shigure itu datang."
Bukan cuma
kamar Ayah, tapi ruang tamu yang sudah jadi sarangku ini juga harus dibereskan.
Kasurnya
adalah tipe kasur lipat yang dibiarkan terus terusan, pakaian berserakan di
mana-mana, dan majalah manga khusus dewasa pinjaman dari Takeshi juga
tergeletak begitu saja.
Aku tidak
boleh menyambut seorang gadis di dalam gua setan ini.
Tindakan
itu pasti melanggar hukum.
Saat aku
mencoba bangkit berdiri—pada saat itulah.
Bel pintu
berbunyi, menandakan kedatangan tamu.
"Gh...!"
U-Udah
datang, ya?
Padahal
majalah khususnya aja belum sempat dibereskan!
Atau
jangan-jangan, karena tadi ribut-ribut, bibi sebelah datang melabrak.
Atau
mungkin petugas NHK atau koran.
Po-Pokoknya
aku harus cek dulu.
Aku akan
tentukan tindakan berdasarkan siapa tamunya.
Memikirkan
hal itu, aku melihat ke lubang intip di pintu, dan...
"──────...
Eh?"
Aku
terperanjat bisu.
Semua hal
yang dari tadi memenuhi otak kecilku—apa yang harus dikerjakan, apa yang wajib
diselesaikan, apa yang harus dipikirkan—semuanya terbang begitu saja sampai
pikiranku menjadi kosong melompat.
Kakiku
kehilangan pijakan seolah gravitasi bumi lenyap.
Pemandangan
di balik pintu dalam sekejap membekukan seluruh pikiran dan emosiku.
Tentu saja,
mau bagaimana lagi.
Orang yang
berada di balik pintu itu adalah...
Kekasihku
yang baru saja berpisah di stasiun tadi—Saikawa Haruka.
Ke-Kenapa?
Kenapa
Haruka ada di depan rumahku?
Apalagi di
saat yang tidak tepat seperti ini.
Aku bahkan
belum memberitahu Haruka di mana letak rumahku.
Dia memang
tahu stasiun terdekatnya, tapi dia seharusnya tidak tahu karena aku belum
pernah membawanya ke sini.
Dia
mengikutiku dari belakang? Tidak, Haruka naik kereta duluan. Itu tidak mungkin.
Kalau
begitu, kenapa sekarang Haruka bisa ada di sini...?
Aku
berpikir keras di tengah kebingungan.
Sambil
berpikir, Haruka di dalam jendela kecil mulai tampak kebingungan dan gelisah.
Dia melihat
bolak-balik antara ponselnya dan lingkungan sekitar, menunjuk papan nama jalan
seolah memastikannya, lalu bergerak dengan resah.
Ekspresi
ceria yang biasa dia tunjukkan telah hilang, digantikan oleh raut wajah yang
tampak tak berdaya.
Hal itulah
yang mengembalikan kewarasanku.
──Tidak
boleh.
Membuat
kekasihku menunjukkan wajah seperti itu, sebenarnya apa yang sedang kulakukan.
Kenapa
Haruka sampai datang ke rumah. Bukankah hal semacam itu tinggal ditanyakan
langsung kepada orangnya.
Pokoknya
aku harus segera keluar.
Aku membuka
kunci yang tadi kukunci dengan tangan ke belakang saat pulang, lalu...
"Ma-Maaf
ya. Pintunya langsung kubuka! Bu-..."
Aku
membukanya sambil meminta maaf.
Pintunya
terbuka,
namun,
di hadapan
Haruka saat itu, aku kembali kehilangan kata-kata.
"Ah!
Kamu benar-benar sudah di rumah, ya. Syukurlah. Aku sempat panik, mengira salah
kamar tadi."
"............"
Bukan.
Hal itu
tidak akan kelihatan dari lubang intip, tapi begitu melihatnya langsung dengan
mata kepalaku sendiri, aku baru sadar.
Anak yang
meluapkan senyum lega di depanku ini bukanlah Haruka.
Gaya
rambutnya, bentuk wajahnya, pinggangnya yang tinggi, semuanya benar-benar mirip
bagai pinang dibelah dua. Memang mirip banget, tapi—
Tatapan
matanya saat menatapku berbeda.
Sorot mata
Haruka saat melihatku jauh lebih berbinar.
Cukup
dengan satu hal itu saja, aku tahu kalau dia adalah orang yang berbeda dari
Haruka.
Begitu
menyadari hal itu, berbagai hal yang tadinya tak terlihat karena rasa panikku
kini mulai kelihatan dengan jelas.
Kalau
diperhatikan baik-baik, pakaiannya pun sama sekali berbeda dari Haruka.
Di balik
kardigan berwarna cerah itu, yang terlihat bukanlah jas blazer serikat sekolah
Seiun tempat kami bersekolah, melainkan baju pelaut alias seifuku.
Sepatu yang
dipakainya pun bukan sepatu kets seperti biasa, melainkan sepatu pantofel loafers.
Ditambah
lagi ada koper besar di belakangnya serta kantong supermarket yang tergantung
di satu tangannya.
Ini...
Yah, mau
bagaimana lagi, bahkan untukku yang otaknya pas-pasan ini pun tahu kalau
kemungkinan situasinya cuma ada satu.
"Um,
ada apa ya? Apa ada sesuatu di wajahku?"
"...Jangan-jangan,
kamu... Shigure-chan?"
"Iya!
Salam kenal. Aku Oeyama Shigure. Ah, sekarang sudah jadi Sato Shigure,
ya."
"Anak
Tsukiko Sato, dan mulai hari ini aku adalah adik tiri Onii-san."
"Mohon
bantuannya, ya. Onii-san."
Betul.
Tanpa
diduga, adik tiriku ternyata mirip banget sama pacar sendiri.
× × ×
Pernikahan
ayah yang mendadak.
Kehidupan
tinggal serumah berduaan saja dengan adik tiri.
Aku dibuat
kewalahan dan pontang-panting oleh gejolak yang dibawa oleh telepon Ayah, tapi
ah, semua itu ternyata cuma hiburan semata dari sang iblis.
Dibandingkan
dengan kenyataan mengejutkan yang muncul di detik-detik terakhir.
Dibandingkan
dengan kenyataan bahwa sang adik tiri... adalah kembaran dari kekasihku.
Masa iya...
separah itu.
Jujur saja
ini sudah keterlaluan. Keterlaluan banget. Gak boleh, pokoknya gak boleh. Ini
benar-benar gak boleh!
Tinggal
serumah dengan cewek yang mirip banget sama Haruka, padahal aku sudah punya
pacar bernama Haruka.
Keterlaluan
banget.
Aku bisa
merasakan niat jahat dari suatu entitas antah berantah.
Sebenarnya
bagaimana caraku menghadapi kenyataan seperti ini...?!
"Um,
kamu sudah dengar soal kedatanganku hari ini, kan?"
Saat aku
berdiri melongo dengan emosi yang sudah terkuras habis akibat rentetan kejutan,
cewek yang mirip banget sama Haruka itu menegurku dengan nada cemas.
"Ah,
y-ya. Dengar, sudah dengar kok. ...Barusan."
"Barusan!?
Cepat banget, ya. Tapi bagus deh kalau pesannya sudah tersampaikan. Um, boleh
kutahu nama Onii-san juga?"
"Padahal
Mama sudah sempat kasih tahu, tapi aku lupa."
"E-Etto,
...Sato Hiromichi."
"Hiromichi,
-kun?"
"Tolong
jangan panggil begitu... aku bakal senang kalau kamu nggak manggil gitu."
Cara
panggilan yang sama persis kayak Haruka itu... bahaya banget.
Begitu aku
melayangkan protes, dia memasang ekspresi penasaran lalu menerimanya,
"Kalau gitu panggil Onii-san aja deh. Aku juga lebih gampang
manggilnya."
"Nah,
karena salam kenalan kita sudah selesai, boleh ya aku masuk ke dalam
rumah?"
"Ah,
sebentar, tunggu dulu."
"Eh?
Kenapa memangnya?"
Gawat.
Aku tadi
membukanya karena mengira itu Haruka, tapi bagian dalam rumah masih belum
dibereskan.
Aku gak
boleh membiarkannya masuk sekarang.
Makanya aku
langsung spontan memblokade jalan di depan pintu masuk.
"Seperti
yang kubilang tadi, aku baru dapat infonya dadakan banget jadi bagian dalam
rumah masih berantakan. Boleh tolong tunggu sebentar di sini?"
"Eh,
ya ampun, cuma gitu doang? Nggak usah sungkan-sungkan kali. Lagian kita ini kan
kakak beradik yang bakal tinggal bareng mulai hari ini. Kalau soal beres-beres,
aku juga bakal bantuin kok. Permisi yaー"
"Eh,
tu--tunggu sebentar!"
Dia
menerobos blokadeku begitu saja dan nyelonong masuk ke dalam rumah.
Mana
mungkin cowok pengecut sepertiku bisa mendorong balik cewek yang baru pertama
kali ketemu dengan menyentuh tangannya, jadi tidak ada cara buat mencegah
penyusupan ini.
Apalagi
memegang pundak mungilnya lalu menariknya kembali, itu jelas mustahil.
Yang bisa
kulakukan sekarang adalah setidaknya menyembunyikan majalah dewasa sebelum dia
sempat menemukannya.
Makanya aku
panik mengejarnya, tapi sudah terlambat. Di lorong rumah kami yang panjangnya
cuma sekitar satu meter itu, mustahil bisa menyusul kalau gerak awammu sudah
telat sejak awal.
Begitu
masuk ke ruang keluarga, dia langsung menatap ke bawah ke arah majalah dewasa
kubaca yang tergeletak terbuka begitu saja—lalu,
"....Pft."
Gyaaa.
Dia ketawa!
Barusan dia jelas-jelas ketawa! Pakai dengusan hidung! Seolah-olah sedang
merendahkan makhluk tingkat rendah!
Aaaaaah~~~...
aku ingin jadi kerang aja.
"Ah,
maaf ya. Aku kan terbiasa hidup berdua saja sama Mama, jadi hal begini
benar-benar lewat dari pikiranku. Ya benar juga sih, ini kan rumah cowok, jadi
pasti ada barang-barang yang nggak mau dilihat cewek. Ini keteledoranku. Maaf
ya, bikin kamu menanggung malu yang nggak perlu."
"....Kalau
kamu paham, aku terbantu banget, yah."
Kebaikan
hatinya justru terasa menyakitkan.
"Hmm,
kalau gitu urusan beres-beres kamar kuserahkan sama Onii-san aja, ya. Selama
itu aku mau masak makan malam dulu. Onii-san juga belum makan malam, kan?"
"Ah.
...Terima kasih."
"Aku
lumayan jago masak, lho, jadi boleh banget kalau mau berharap banyak."
Ucapannya
selesai, dia mengeluarkan apron atau celemek merah muda berpola kotak-kotak
dengan hiasan rumbai dari koper, mengenakannya, lalu berdiri di dapur berlantai
kayu.
Sambil
merapikan ruangan, aku mengintip ke arah dapur dari sudut mata. Sesuai klaimnya
yang mengaku jago masak, gerakan tangannya benar-benar terampil.
Suara
potongan sayur yang berbunyi secara ritmis.
Suara kuah
sup yang mendidih kotok-kotok.
Senandung
kecil yang sesekali terdengar imut.
Pemandangan
itu terlihat persis seperti Haruka yang sedang berdiri di dapur, sampai-sampai
jantungku berdegup kencang—
Tunggu, ya?
Apakah aku ini, apa aku ini cowok brengsek...?
Asal
mukanya sama, siapa pun boleh gitu?
Ini adalah
lamunan yang berbahaya banget.
Menumpuk
bayangan Haruka, sang kekasih yang tak tergantikan, kepada sang adik tiri.
Apa ujung
dari lamunan semacam itu.
Bagaimana
pun juga, akhirnya cuma ada kehancuran.
Tapi,
karena kemiripannya keterlaluan banget, bayangan itu jadi tumpang tindih tanpa
bisa dicegah.
Katanya di
dunia ini ada tiga orang kembar yang wajahnya mirip dengan kita, tapi seberapa
besar probabilitas dua orang di antaranya berkumpul di lingkup pergaulanku yang
sempit ini?
Bahkan
rasanya aku perlu mempertimbangkan opsi untuk pindah rumah sendirian. Iya,
beneran deh.
Nah, di
saat aku sedang berpikir keras begitu.
Dia
berbicara padaku sambil tetap membelakangi posisinya yang sedang memasak.
"Ngomong-ngomong,
Onii-san baru tahu soal diriku barusan banget, ya. Dari Ayah."
"Iya.
Diberitahu mepet banget kalau Shigure-san bakal tinggal di sini mulai hari
ini."
"Ahaha.
Pasti kaget banget, ya. Soalnya mendadak banget hari ini."
"Bukannya
kaget lagi tahu. Ayah tua keparat itu emang kelewatan. Milih orang kayak gitu
bikin ibu Shigure bakal sengsara banget. Sumpah."
"...Kita
memang masih canggung, tapi dia sekarang juga ibu tirimu lho."
Seketika
itu juga, aku merasakan "ketajaman" yang belum pernah kudengar
sebelumnya dari nada suaranya.
Saat aku
mengangkat pandangan yang tadinya tertuju ke lantai untuk bersih-bersih, dia
sedang menatapku dari atas dengan alis bertaut dan ekspresi tidak suka.
Eh,
jangan-jangan dia marah?
"Bukan
cuma Ibu, tapi aku juga. Dari tadi kamu manggil aku 'Shigure-san', tapi tolong
hentikan itu. Panggil saja aku Shigure tanpa abal-abal, kan kamu
kakaknya."
"I-,
Iya... itu..."
"Kira-kira
menurutmu cuma kamu sendiri yang merasa kesulitan menghadapi situasi langsung
jadi kakak beradik gini, Onii-san?"
"Eh."
"Aku
juga sebenarnya setengah mati berusaha, tahu. Nggak adil banget kalau cuma kamu
sendiri yang mau santai."
"......!"
...Begitu
ya. Ya jelaslah ya.
Mana
mungkin ada orang yang bisa langsung terima dan bilang "oh siap
paham" begitu diberi tahu kalau orang yang baru pertama kali ketemu bakal
jadi keluarga mulai hari ini.
Apalagi
pihak sana adalah seorang cewek. Kecemasan yang dia rasakan pasti jauh
melampaui diriku yang cowok ini.
Tapi dia
berusaha mencairkan suasana meski lewat hal-hal kecil.
Dia mencoba
mendekatiku dengan niat sebaik mungkin.
Tapi malah
aku sendiri kelakuannya kayak gimana?
Dari tadi
yang dipikirkan cuma keluh kesah soal kepentingan dan kecemasan diri
sendiri...tahu!
"Uwoooohhhh~~!!"
"Ehh!?
Eh, ada apa sih Onii-san!? Tiba-tiba nampar pipi sendiri kencang banget, uwah
merah banget itu!
Seberapa
kuat coba kamu namparnya tadi!?"
"Ah,
sudahlah, aku sudah tidak apa-apa."
"Nggak
kelihatan baik-baik saja di bagian mananya pun!? Apa itu semacam serangan ayan
atau apa!?"
"Pokoknya,
aku baik-baik saja."
Cukup pas
buat menyadarkan diriku yang super pengecut ini.
Tentu saja,
akan jauh lebih gampang kalau urusan pendekatan diserahkan sepenuhnya ke orang
lain lalu kita tinggal dibimbing jalan.
Tapi bukan
begitu cara seorang kakak bersikap.
Yah, karena
aku belum pernah jadi kakak sebelumnya jadi ini cuma asumsi batinku saja, tapi
kalaupun harus jadi kakak aku gak mau jadi kakak yang menyedihkan seperti itu.
Makanya,
"Maaf
ya. Mulai sekarang aku bakal lebih peka kok. Shi-, Shigure."
"......!
Iya!"
Walau
sedikit salah tingkah, tapi aku berhasil mengucapkannya dengan benar.
Ternyata
memanggil nama depan cewek secara langsung tanpa embel-embel itu bikin grogi
juga.
Tapi
melihat senyuman Shigure yang kelihatan senang dan entah kenapa sedikit lega,
aku merasa usahanya tadi tidak sia-sia.
Yah,
senyuman Shigure itu tetep aja mirip banget sama Haruka, yang sukses bikin
dadaku berdegup kencang sih.
Tapi ini
masalahku sendiri. Aku cuma harus membiasakannya.
Menolak
Shigure dengan alasan ini adalah hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan.
Hal itu
bakal jadi tindakan yang amat sangat tidak sopan, baik kepada Haruka maupun
kepada Shigure.
"Nah,
karena makan malamnya sudah siap, boleh tolong keluarkan meja chabudai-nya,
Onii-san?"
"Serahkan
padaku. Shigure."
"Ooh.
Di kesempatan kedua ini kamu sudah mulai terbiasa, ya~ Pertahankan gaya itu
biar raga dan jiwamu segera sepenuhnya jadi Onii-san-ku lalu manjakan adik
imutmu ini sepuasnya, ya~"
Shigure
mengubah senyumannya yang tadinya amat mirip Haruka menjadi senyuman bak iblis
kecil yang tidak mungkin keluar dari diri Haruka.
Senyuman
itu terasa sangat natural baginya.
Tentu saja,
hal itu membuktikan kalau anak ini jelas-jelas bukanlah Haruka.
Aku
merasakan kelegaan yang tenang di dalam dada berkat fakta tersebut.
...Yah, kalau ditarik kesimpulan, rasa lega itu ternyata adalah salah paham yang luar biasa besar.



Post a Comment