Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
~Kekalahan Kedua~
Es Serut dengan Sirup Manis
Ada pepatah yang mengatakan, "Pertengkaran suami istri bahkan anjing pun tak mau ikut campur."
Kurang lebih artinya, "Biarkan saja, itu bukan urusanmu." Tapi sebagai penyuka anjing, menurutku sejak awal jangan sampai anjing disuruh menghadapi hal seperti itu.
"Nukumizu-kun, kamu sudah mau pergi?"
Begitu jam homeroom berakhir, saat aku hendak buru-buru keluar kelas, Yanami memanggilku.
"Aku mau ke toilet sebentar. Yanami-san duluan saja."
Meninggalkan Yanami yang tampak masih ingin mengatakan sesuatu, aku segera meninggalkan ruang kelas.
Sepulang sekolah nanti, Koharu-san akan diundang ke ruang klub, lalu akan diadakan rapat strategi untuk 'Operasi Menciptakan Fakta Bahwa Sakurai-kun dan Koharu Sudah Resmi Bersama.'
Namun, aku sengaja tidak akan menghadiri rapat itu. Tentu saja ini bukan karena aku kabur. Aku hanya bersedia menjadi pihak yang disalahkan demi mencegah timbulnya keretakan di antara sepasang sahabatku.
Aku mengganti sepatu dengan sepasang sepatu cadangan yang kusembunyikan di lemari peralatan kebersihan toilet, lalu keluar sekolah melalui gerbang utama yang biasanya tidak pernah kugunakan.
Agar lebih aman lagi, aku bahkan meninggalkan sepedaku di sekolah dan memilih pulang naik kereta. Tentu saja aku tidak menggunakan Stasiun Aichi Daigaku-mae yang biasa kupakai untuk berangkat sekolah, melainkan naik dari Stasiun Minami-Sakae yang berjarak satu stasiun.
Loker sepatu, gerbang sekolah, hingga stasiun terdekat. Dengan mengubah semuanya, aku benar-benar bisa melebur ke dalam keramaian Kota Toyohashi.
Dengan kondisi lutut Yanami yang sedang cedera, mustahil dia bisa mengejarku—
Aku yang sudah benar-benar lengah terlambat menyadari suara langkah kaki yang berlari mendekat.
—Pengejar?!
Saat aku buru-buru hendak berlari, sebuah tangan yang kuat mencengkeram bahuku.
"Nukumizu-kun? Sedang apa kamu di tempat seperti ini?"
"...Hokobaru-senpai?"
Ternyata yang berdiri di sana adalah Hokobaru-senpai, mengenakan pakaian olahraga.
Sepertinya ia sedang berlari mengelilingi area sekitar; keningnya tampak sedikit dipenuhi keringat.
"Eh... aku mau pulang. Kalau Senpai sendiri sedang apa?"
Hokobaru-senpai menyibakkan rambut panjangnya.
"Aku sedang membangun stamina untuk persiapan ujian masuk universitas. Bagaimana kalau kamu juga ikut? Berlari itu menyenangkan, lho."
"Eh... aku harus cepat pulang..."
Aku tidak boleh berlama-lama di sini.
Bagaimanapun juga, tak jauh dari sini ada restoran udon. Kalau aroma kuah kaldunya tercium, bisa-bisa Yanami muncul begitu saja.
"Kalau begitu kenapa kamu malah berjalan di sini? Bukannya kamu biasanya berangkat naik sepeda?"
"Yah... entahlah, hari ini rasanya ingin naik kereta..."
Melihatku menjawab dengan gugup, Hokobaru-senpai menurunkan suaranya.
"Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi karena permintaan yang pernah kuberikan padamu?"
"Ah, bukan. Ini urusan lain."
...Yah, sebenarnya juga tidak sepenuhnya urusan lain.
Tanpa sepengetahuan Sakurai-kun, rencana untuk menciptakan "fakta yang sudah terlanjur terjadi" sedang berjalan.
Kalau dipikir-pikir, pasangan Himemiya ternyata cukup beruntung ya. Hubungan mereka berkembang tanpa perlu melalui semua kesulitan seperti ini....
"Kalau begitu saya pergi dulu. Keretanya sebentar lagi datang."
Aku mengatakannya sambil mulai berjalan, tetapi Senpai tetap berjalan di sampingku.
"Maaf ya, aku malah menyeretmu ke urusan yang aneh. Koharu memang kelihatannya tenang, tapi kalau sudah mengambil keputusan dia bisa bertindak nekat. Sebagai orang yang lebih tua, aku agak khawatir dia akan bertindak terlalu jauh."
"Begitu ya... Ah, lampunya merah."
...Kenapa orang ini terus mengikutiku?
Bagaimanapun juga, Hokobaru Hibari adalah sosok yang sangat mencolok. Padahal aku sedang kabur dari Yanami dan Koharu-san. Kalau jadi pusat perhatian begini malah repot.
Begitu lampu berubah hijau, aku langsung berlari, tetapi Hokobaru-senpai terus mengikuti di belakangku.
"Kenapa Senpai ikut lari juga?!"
"Kebetulan aku memang sedang berlari. Tidak usah dipikirkan."
Justru aku yang jadi kepikiran. Sulit sekali melepaskannya. Saat akhirnya tiba di stasiun, napasku sudah hampir habis.
"Ada apa? Hari ini kondisi tubuhmu sedang kurang bagus?"
"A-akhir-akhir ini aku memang jarang lari...."
Sambil tersenyum kaku kepada Hokobaru-senpai yang masih tampak segar sambil merapikan rambutnya, aku mengeluarkan kartu IC.
Baiklah, tinggal naik kereta saja—
"Eh, Nukumizu-kun! Kalau sudah baca pesanku, bilang dong kalau sudah dibaca."
Sambil melambaikan ponselnya, Yanami menuruni tangga stasiun.
"...Yanami-san, kenapa kamu ada di sini?"
"Kan aku sudah bilang lewat pesan. Aku mau jemput Koharu-chan."
Sial. Jadi tadi dia memang mengirim pesan....
Kalau begitu—
Saat aku mengalihkan pandangan ke belakang Yanami, tepat pada saat itu siswi-siswi SMA Ayame sedang keluar melewati gerbang tiket.
"Maaf sudah menunggu, Nukumizu-kun—... Hah? Hibari?!"
Melihat teman masa kecilnya yang seharusnya tidak mungkin berada di sini, senyum Koharu-san berubah menjadi ekspresi bingung.
"Nukumizu-kun... kenapa kamu membawanya...?"
"Hah? Bukan! Sama sekali bukan begitu! Iya kan, Senpai?"
Hokobaru-senpai, yang juga tampak kebingungan, perlahan mengangguk ke arahku.
"...Begitu rupanya. Jadi memang seperti itu ya, Nukumizu-kun."
"Makanya bukan begitu! Senpai sendiri yang tiba-tiba ikut mengikutiku, kan?!"
Tatapan Yanami dan Koharu-san seolah sedang menghakimiku.
Gawat. Mereka benar-benar salah paham.
Aku pun memasang senyum pasrah, lalu mengucapkan kalimat yang belakangan ini sudah sangat sering kuucapkan.
"Kalau begitu... mumpung sudah begini, bagaimana kalau kita semua minum teh bersama?”
◇
Mereka berpindah ke sebuah taman hijau di dekat stasiun, dan acara minum teh yang menyenangkan pun dimulai.
Pada hari kerja, taman itu sepi dari pengunjung. Angin sore yang sejuk berembus melewati gazebo tempat mereka berkumpul.
Pohon-pohon pinus yang mengelilingi gazebo menjulurkan dahan-dahan besar hingga nyaris menyentuh tanah, menciptakan pemandangan yang terasa seperti berasal dari dunia lain.
...Tidak, mungkin situasi dikelilingi tiga gadis seperti ini memang benar-benar dunia lain.
Barangkali tubuhku yang asli sedang terbaring di ranjang rumah sakit sambil bermimpi, sementara Kaju sedang mengupaskan apel untukku—
"Nukumizu-kun, sebenarnya sejauh apa yang sudah kamu ceritakan ke Senpai?"
Yanami yang terasa begitu nyata untuk ukuran mimpi menatapku tajam sambil menyeruput café au lait.
"Yah... kurang lebih garis besarnya saja..."
"Nukumizu-kun, memang aku minta bantuanmu, tapi bukan berarti kamu boleh menceritakannya sesuka hati."
Koharu-san, yang memegang jus apel, menggembungkan pipinya dengan manis sebagai protes.
Kalau dibilang aku yang membocorkan rahasia, memang ada benarnya. Tapi itu juga karena keadaan di luar kendaliku. Jadi paling-paling aku cuma salah dua puluh persen.
Dengan kata lain, aku tidak terlalu bersalah. 80% sisanya jelas menjadi tanggung jawab Hokobaru-senpai.
Senpai meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Koharu-san.
"Koharu, cobalah pahami perasaan Nukumizu-kun. Mungkin dia terlalu khawatir sampai tidak bisa terus diam."
"Lho, kok jadinya terdengar seperti aku sengaja membocorkannya? Bukan begitu, kan?!"
Yanami yang sudah menghabiskan café au lait-nya membalik-balik botol kosong itu.
"Nukumizu-kun memang terlalu ringan mulut. Coba deh sedikit introspeksi."
"Makanya bukan begitu. Waktu kita di restoran keluarga kemarin, Senpai juga ada di sana."
Mendengar itu, wajah Koharu-san berubah.
Hokobaru-senpai perlahan menggeleng.
"Aku hanya melihat kalian, tidak mendengar pembicaraan kalian. Tapi kalau Koharu sampai menemui kalian berdua, berarti memang ada maksud tertentu, bukan?"
Pertanyaan yang terdengar santai itu langsung membuat wajah Koharu-san menegang.
"...Apa kamu datang untuk menghentikanku?"
"Tidak. Aku mendukung kalian berdua. Aku sungguh berharap semuanya berjalan lancar."
Keduanya saling menatap tanpa berkata apa-apa. Sementara itu Yanami sedang asyik melahap roti selai.
...Suasananya jadi serius begini.
Karena rasanya aku tidak ada hubungannya dengan pembicaraan ini, bolehkah aku pulang?
Saat aku diam-diam bergeser duduk di sebelah Yanami, ia menyobek sedikit rotinya lalu menyodorkannya kepadaku.
Bukan begitu maksudku.
"Kurasa kita malah mengganggu ya? Sebaiknya kita pulang saja."
"Tapi roti ini oleh-oleh dari Koharu-chan, lho. Siapa tahu nanti dapat yang kedua."
Yanami...benar-benar gadis yang bisa dibeli hanya dengan satu roti selai.
Akhirnya kami berdua hanya bisa duduk berdampingan sambil mengunyah roti dan menyaksikan perkembangan pembicaraan dua orang yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku.
"Rotiku kok nggak ada selainya?"
"Nih, ambil saja dari rotiku."
Memang selai stroberi tetap yang terbaik. Marmalade yang dulu Yanami berikan dalam jumlah banyak itu sampai sekarang belum habis-habis....
"...Jadi kamu memang sudah memutuskannya, ya, Hibari."
Yang memecah keheningan adalah Mizushima Koharu.
Hokobaru-senpai tersenyum alami tanpa sedikit pun terlihat tertekan.
"Ya. Kalau selama ini justru aku yang membuatmu sungkan, maafkan aku."
"Terima kasih, Hibari."
Oh. Sepertinya masalah mereka sudah selesai.
Rotiku juga sudah habis, jadi sekarang kami bisa—
"Kalau begitu akhir pekan nanti kita bisa pergi berlima!"
Koharu-san mengumumkannya dengan ceria.
...Eh? Berlima berarti Hokobaru-senpai juga ikut?
Terlepas dari apakah aku memang termasuk hitungan atau tidak, tujuan perjalanan ini adalah menciptakan "fakta yang sudah terjadi", lho.
"Oh, kalian mau pergi berlibur? Jadi seperti apa strateginya?"
Hokobaru-senpai tampak sangat tertarik.
Tolonglah, Koharu-san. Setidaknya bungkus penjelasannya sedikit supaya terdengar lebih halus.
"Begini, aku berpikir untuk membuat Hiro-kun lengah, lalu hanya kami berdua yang sengaja ketinggalan kereta terakhir."
...Langsung to the point.
Tapi tunggu. Kalau Senpai menegur rencana itu sekarang, mungkin strateginya akan diubah.
Sambil berharap begitu, aku memperhatikan reaksinya.
Hokobaru-senpai malah menyibakkan rambutnya sambil mengangguk kagum.
"Begitu rupanya. Jadi langsung menentukan kemenangan dalam satu langkah. Ide yang bagus."
...Benar juga. Orang ini dulu memang langsung mengusulkan pergi ke pemandian air panas.
Saat aku mengutuk takdir yang tak bisa kuhindari, Koharu-san bertepuk tangan.
"Terus ya, sekarang tinggal menentukan tujuan wisatanya. Sebenarnya aku punya satu tempat yang terpikir..."
"Aku!"
Yanami langsung mengangkat tangan.
"Bagaimana kalau Osaka? Ada takoyaki, okonomiyaki, dan makanan enak lainnya."
Osaka.
Kota yang identik dengan wisata kuliner berbahan tepung.
Aku mulai khawatir dompet Koharu-san akan terkuras. Sambil menyilangkan tangan, Hokobaru-senpai berkata,
"Bukan ide yang buruk. Tapi bagaimana cara menahan Hiroto sampai kereta terakhir?"
"Kalau Tokyo atau Osaka, kereta terakhir masih ada lewat jam sepuluh malam, jadi agak susah."
Benar kata Koharu-san. Karena Toyohashi dilalui Shinkansen, akses transportasinya terlalu bagus.
Yanami kembali mengangkat tangan.
"Kalau daerah pegunungan bagaimana? Misalnya Okumikawa."
"Itu juga bagus. Tapi kalau masih di Prefektur Aichi, orang tuanya bisa menjemput naik mobil. Jadi mungkin lebih baik ke luar prefektur. Misalnya... daerah pegunungan... yang suasananya bagus...."
Ia berkali-kali melirik ke arahku.
Apa dia ingin aku ikut memberi usul?
"Kalau begitu... Nagano bagaimana? Jalan-jalan di dataran tinggi."
"Kalau begitu sekalian mendaki gunung juga bagus."
Hokobaru-senpai tampak bersemangat. Lagipula di Nagano ada banyak burung yang tidak bisa ditemukan di daerah sini.
Lumayan juga.
Saat aku merasa puas dengan usulku sendiri, Yanami menyenggolku dengan siku.
"...Kamu mau bikin lututku rusak lagi?"
Demi Sakurai-kun. Korbankan saja lututmu.
Saat aku dan Yanami masih saling berdebat, Koharu-san menunduk sambil bergumam sendiri.
"Nagano ya... memang latar anime itu juga sih... sebenarnya cocok... tapi kalau sehari pulang-pergi bakal capek karena perjalanannya jauh... tapi..."
...Entah kenapa agak menyeramkan. Tapi sejak tadi memang kelihatannya dia ingin mengatakan sesuatu.
Jangan-jangan...
"Koharu-san, memang ada tempat yang sebenarnya ingin kamu datangi?"
"Eh? Sebenarnya ada satu tempat yang memenuhi semua syarat...."
Koharu-san mulai gelisah.
Hokobaru-senpai mengernyit sambil berpikir.
"Jauh dari Toyohashi, kereta terakhirnya relatif lebih awal, dan ada alasan untuk tetap berada di sana hingga menjelang kereta terakhir karena wisata atau acara... apakah benar ada tempat seperti itu?"
Kalau tempat seperti itu...yang terlintas di kepalaku cuma desa terpencil penuh kutukan.
Melihat kami semua kebingungan, Koharu-san menyodorkan ponselnya.
"Ada kok! Tempat seperti itu memang ada!"
Di layar terlihat peta dengan Kota Takayama, Prefektur Gifu, tepat di tengahnya.
Pusat wilayah Hida.
"Kalau ke sini, kereta terakhirnya lebih awal. Terus kalau berhasil mengajak Hiro-kun ke daerah pinggiran kota, otomatis tidak ada lagi kendaraan untuk pulang, kan?"
Hokobaru-senpai mengangguk serius.
"Sebagai tempat wisata juga kelas satu. Tapi kita tetap butuh alasan supaya Hiroto mau datang ke sini."
Memang benar Takayama terkenal sebagai kota wisata. Namun untuk siswa SMA melakukan perjalanan sehari ke sana terasa agak terlalu kuno.
Walaupun...kalau Shikiya-san sih cocok.
Hida Takayama yang bersalju...perjalanan perselingkuhan...lumayan juga.
Saat lamunanku melayang ke mana-mana, aku melihat gantungan karet karakter anime yang tergantung di tas Koharu-san.
Kalau tidak salah...anime karakter itu memang berlatar di Takayama.
"...Ziarah anime."
Kata-kata itu keluar begitu saja tanpa kusadari.
Ketiga gadis itu langsung menatapku.
"Maksudmu berkeliling kuil dan tempat suci?"
Hokobaru-senpai bertanya dengan wajah bingung.
Koharu-san menggeleng.
"...Hibari, Nukumizu-kun baru saja memberikan usul yang luar biasa."
Ia berdeham kecil sebelum mulai menjelaskan.
"Kalau kita mengunjungi lokasi yang menjadi latar anime, itu disebut seichi junrei atau ziarah anime. Kota Takayama adalah latar anime Atenaru Mono. Jadi maksud Nukumizu-kun adalah kita tidak usah banyak alasan lagi dan langsung pergi melakukan ziarah anime."
Aku tidak pernah bilang sejauh itu.
"Aku paham soal ziarah anime. Tapi memang sampai perlu pergi jauh-jauh ke Takayama?"
Karena Hokobaru-senpai masih belum mengerti, Koharu-san semakin bersemangat menjelaskan.
"Ada banyak teori soal asal-usul budaya ziarah anime. Bahkan ada yang bilang bermula dari sebuah OVA yang mengambil latar di depan Stasiun Toyohashi. Tapi yang pertama kali benar-benar dikenal masyarakat luas adalah sebuah kuil di Prefektur Saitama. Nah, salah satu contoh sukses awal kerja sama antara anime dan pemerintah daerah pada awal tahun 2010-an adalah—Takayama!"
Ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan dengan sangat cepat.
"Keberhasilan itu membuat orang sadar bahwa kasus di Saitama bukan pengecualian. Bisa dibilang sejak saat itu konsep ziarah anime benar-benar mengakar. Jadi kalau membahas ziarah anime, Takayama adalah salah satu tempat yang wajib dikunjungi! Pokoknya kita harus ke sana!"
Setelah selesai berbicara tanpa jeda, Koharu-san meluruskan punggungnya lalu kembali berdeham.
"...Kurasa itulah yang ingin dikatakan Nukumizu-kun."
Tidak. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu.
Orang ini ternyata benar-benar paham soal ziarah anime.
Jangan-jangan dia sebenarnya otaku berat?
Aku melirik Yanami. Wajahnya benar-benar menunjukkan kalau dia tidak mengerti apa pun.
"Jadi... maksudnya apa? Atenaru Mono?"
Padahal Koharu-san baru saja menjelaskannya.
Saat aku bingung melihat daya tangkap Yanami yang rendah, Koharu-san mengangkat tangan dengan semangat.
"Kalau Atenaru Mono, di rumahku ada DVD-nya. Kakakku kan otaku."
Eh, enak sekali.
Aku sempat tergoda ingin meminjamnya. Hokobaru-senpai lalu menyilangkan kaki sambil mengangguk.
"Ah benar. Kakak laki-laki Koharu memang suka anime. Kalau tidak salah Koharu juga pernah sekali—"
"Hibari?"
Koharu-san langsung memotongnya dengan nada tajam.
Sebenarnya apa yang pernah terjadi di masa lalu?
Hokobaru-senpai segera mengembalikan pembicaraan ke topik utama.
"Maaf. Jadi intinya, kita mengajak Hiroto pergi dengan alasan melakukan ziarah anime, begitu?"
"Ya. Dulu aku dan Hiro-kun juga menonton Atenaru Mono bersama. Kalau ke sana, mungkin kami bisa kembali seperti dulu...."
Koharu-san menggenggam erat gantungan yang tergantung di tasnya. Melihat ekspresinya yang seolah menyimpan tekad besar, aku memutuskan untuk tidak menyela.
Kalau sudah sampai sejauh ini...Tidak ada pilihan selain terus maju.
"...Nukumizu-kun, sebenarnya maksudnya bagaimana?"
"Yah... nanti aku jelaskan. Nih, makan ini dulu."
Aku menyodorkan sebatang Black Thunder kepada Yanami yang masih belum mengerti, lalu rapat strategi kembali dilanjutkan.
Sabtu pagi mereka akan berkumpul di Stasiun Toyohashi.
Siang harinya mereka akan menikmati ziarah anime seperti wisatawan biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Lalu, setelah sengaja meninggalkan Sakurai-kun dan Koharu-san, tiga orang lainnya akan pulang ke Toyohashi dengan kereta terakhir.
Setelah seluruh rencana selesai disusun, Koharu-san memandang kami satu per satu.
"Peralatan yang diperlukan untuk menjalankan rencana akan aku siapkan sendiri. Bagaimana? Semua setuju?"
Yanami bertanya dengan wajah serius.
"Cuma mau memastikan... kita tetap makan Takayama Ramen, kan?"
"Iya, sudah masuk jadwal kok. Nukumizu-kun juga tidak masalah, kan?"
"Aku sih tidak keberatan, tapi..."
Hokobaru-senpai menutup mata sambil berpikir.
Benarkah tidak apa-apa melibatkan orang ini dalam rencana menjodohkan Sakurai-kun dan Koharu-san?
"Senpai juga tidak keberatan? Mungkin rasanya kurang enak karena kita harus menipu Sakurai-kun...."
Mendengar pertanyaanku, Hokobaru-senpai perlahan membuka matanya.
"Ada satu hal dari pembicaraan tadi yang ingin kutanyakan terlebih dahulu."
Tatapannya sangat serius. Aku menelan ludah.
Hokobaru-senpai membungkukkan badan sedikit ke depan, lalu bertanya,
"—Apa itu OVA?”
◇
Akhir pekan, hari Sabtu.
Dari Stasiun Toyohashi, kami berganti-ganti kereta lokal dan kereta ekspres selama sekitar tiga setengah jam, hingga akhirnya tiba di Kota Takayama—tempat yang bahkan lebih jauh daripada Tokyo.
Takayama adalah kota yang terletak di bagian utara Prefektur Gifu. Kawasan pusat kotanya yang masih mempertahankan jalan-jalan kuno dijuluki "Kyoto Kecil di Hida."
Begitu keluar dari bangunan Stasiun Takayama, aku langsung meregangkan tubuh lebar-lebar.
"Fuuh... akhirnya sampai juga."
"Perjalanannya panjang ya. Apalagi setelah lewat Nagoya, rasanya jauh sekali."
Orang yang ikut meregangkan badan di sampingku adalah Sakurai Hiroto.
Sekaligus calon korban dari rencana Mizushima Koharu untuk menciptakan "fakta yang sudah terjadi."
Memikirkan bahwa sebuah rencana kejahatan sedang disusun di tanah Gifu sementara Sakurai-kun masih tersenyum polos membuat dadaku terasa sesak.
...Meski begitu, harus kuakui.
Aku sangat bersemangat.
Ziarah anime. Pemandangan yang pernah kulihat di anime kini berada tepat di depanku. Selama teknologi saat ini belum memungkinkan kita masuk ke dunia anime atau light novel, pengalaman ini boleh dibilang merupakan perjalanan ke dunia lain yang paling nyata.
Aku ingin segera berkeliling kota, tetapi menunggu para gadis selesai merapikan riasan pun terasa seperti bumbu yang semakin menambah antusiasme.
"Maaf ya, Koharu tiba-tiba mengajakmu."
Mungkin karena melihatku gelisah, Sakurai-kun salah paham dan meminta maaf.
"Aku juga memang ingin sekali datang ke sini. Ini pertama kalinya aku melakukan ziarah anime, jadi aku tidak sabar."
"Kalau begitu aku lega."
Sambil melihat poster kolaborasi di pusat informasi wisata, Sakurai-kun mengangguk kagum.
"Jadi benar ya, anime itu memang berlatar di Takayama. Waktu nonton dulu aku sama sekali tidak memperhatikannya."
"Kalau tidak salah, Sakurai-kun juga sudah pernah menonton anime ini, kan?"
"Soalnya Koharu suka. Bahkan dulu Koharu pernah kos—"
"Kami datang—!"
Koharu-san berlari menghampiri dengan penuh semangat lalu langsung memegang Sakurai-kun.
"Hiro-kun! Yang itu rahasia, ya?!"
"Maaf. Kupikir kalau ke Nukumizu-kun tidak apa-apa."
Tidak boleh.
Tolong jangan menaruh kepercayaan aneh seperti itu padaku.
Hokobaru-senpai keluar dari stasiun sambil tersenyum melihat kedua orang itu bermesraan.
"Memangnya kenapa? Sampai sekarang aku masih sesekali melihat foto itu."
"Hibari, kamu belum menghapus foto itu?!"
Saat aku sedang menikmati percakapan santai yang terasa seperti adegan dalam light novel bertema keseharian, Yanami muncul sambil mengunyah kerupuk dengan suara kriuk-kriuk.
Dasar... dia sudah mulai makan lagi.
"Tunggu sebentar, Nukumizu-kun. Dengarkan dulu penjelasanku."
"Silakan."
Yanami menelan kerupuknya, lalu menyodorkan sebungkus kerupuk miso.
"Ada teori kalau makanan khas daerah itu termasuk konsep chisan-chishō... jadi makan di tempat asalnya nggak gampang bikin gemuk. Makanya."
Chisan-chishō...Jadi maksudnya, gemuknya ditinggal di daerah asal makanan itu?
"Kurasa aku mengerti. Silakan dimakan sepuasnya."
"...Nukumizu-kun, barusan kamu menyerah sama aku, ya? Padahal aku masih sanggup."
Aku tahu dia masih sanggup makan. Tapi dibanding perut Yanami, tempat suci anime jauh lebih penting.
Perjalanan ziarah anime kami baru saja dimulai.
◇
Beberapa menit berjalan kaki ke arah timur dari stasiun, terdapat sebuah kawasan pertokoan yang tertata rapi.
Tujuan pertama ziarah kami adalah seekor patung maneki-neko yang berdiri di sana.
"...Asli."
Aku tak sadar bergumam.
Di sampingku, Koharu-san juga mengangguk.
"...Iya. Yang asli. Hiro-kun, tolong fotokan!"
Benar. Inilah maneki-neko yang muncul di opening Atenaru Mono.
Dalam ziarah anime, memotret lokasi dengan sudut yang sama persis seperti di anime adalah salah satu kesenangan terbesar.
Sambil menunggu Koharu-san selesai berfoto, Yanami mulai mengunyah sesuatu di sampingku.
"Itu apa? Sate daging sapi?"
"Daging sapi Hida luar biasa... mulutku sekarang penuh cita rasa lokal...."
Yanami mengunyah dengan wajah penuh kebahagiaan.
Syukurlah, asupan kalori khas daerahnya berjalan lancar.
Tak lama kemudian, sesi foto Sakurai dan Koharu pun selesai.
Aku langsung mengeluarkan ponsel.
Baiklah. Pertama-tama, foto dengan sudut yang sama seperti opening—
Namun tepat saat membidik, sosok Yanami yang sedang mengamati maneki-neko masuk ke layar.
"Yanami-san, aku mau memotret."
"Iya boleh kok. Mau aku pose?"
Sambil memegang sosis, Yanami memasang pose aneh.
Bukan itu maksudku. Minggirlah.
Karena tidak ada pilihan, aku pun memotret foto Yanami yang sama sekali tidak kuinginkan. Saat itu Hokobaru-senpai mengulurkan tangan.
"Biar aku saja yang memotret. Kalian berdua berdirilah di sana."
"Terima kasih banyak, Senpai! Ayo, Nukumizu-kun!"
Foto berdua...Lebih tidak kuinginkan lagi.
Setelah sesi foto yang tak kuinginkan selesai, Yanami menusukku dengan tusuk sosisnya.
"Nanti kirim fotonya juga ya."
"Eh? Tunggu dulu. Soalnya tadi sudah kuhapus, jadi harus kukembalikan dulu—"
"Kenapa dihapus?!"
Ya... kenapa ya. Karena Yanami mulai marah, aku buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Senpai, Sakurai-kun dan yang lain ke mana?"
"Oh, di toko produk lokal itu ada sesuatu yang disebut buku ziarah anime. Mereka sedang menulis pesan kenang-kenangan di sana."
Oh. Itu memang terasa seperti kegiatan ziarah anime.
Saat hendak masuk lebih dalam ke toko, Yanami menarik lenganku.
"Nukumizu-kun, kalau kita ikut masuk malah mengganggu, kan?"
"Iya. Biarkan mereka berdua saja."
Melihat ke bagian belakang toko, Sakurai-kun dan Koharu-san sedang tersenyum sambil membaca sebuah buku di sudut yang dipenuhi poster dan merchandise anime.
Memang rasanya tidak pantas menyela mereka.
...Kalau dipikir-pikir, mereka benar-benar seperti pasangan biasa. Tanpa harus menciptakan "fakta yang sudah terjadi", bukankah akan lebih baik kalau mereka terus akur seperti ini?
Sambil memikirkan hal itu, kami meninggalkan lokasi pertama dan menuju tempat berikutnya.
Tak lama kemudian, sebuah jembatan terlihat di depan.
Kalau tidak salah...Itu Jembatan Kajibashi.
"Eh, di sana ada toko dango!"
Aku segera menghentikan Yanami yang hendak berlari.
"Tunggu dulu. Jembatan itu juga muncul di opening anime. Bahkan mungkin ini lokasi paling fotogenik selama perjalanan kali ini."
"Oh begitu. Kalau begitu... dango—"
Aku kembali menghentikannya sambil memperlihatkan tangkapan layar opening di ponsel.
"Yanami-san, tenang dulu. Kita cari dulu sudut yang sama seperti di anime. Kalau langsung naik jembatannya, rasa harunya jadi berkurang."
"Hah... ribet."
Yanami memang tetap saja jujur. Namun soal ziarah anime, dia benar-benar pemula. Aku harus membimbingnya.
"Dengar ya. Inti ziarah anime adalah merasakan jejak para karakter di dalam pemandangan sehari-hari. Kita harus lebih dulu melihat pemandangan yang mereka lihat. Dengan begitu kita bisa benar-benar merasakan dunia dalam karya itu."
"Kan mereka cuma karakter anime. Mana ada 'benar-benar' segala...."
Ya. Yanami baru saja mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak boleh diucapkan.
Aku menarik napas panjang sebelum berbicara setenang mungkin.
"Dengar. Begitu kita datang melakukan ziarah anime, kita sudah menjadi bagian dari dunia anime itu. Tidak berlebihan kalau dibilang kita juga termasuk salah satu tokohnya."
"Aku tidak ingat pernah memberi izin ikut jadi pemeran. Koharu-chan, bilang sesuatu dong."
Koharu-san menggeleng dengan wajah serius.
"—Nukumizu-kun benar."
"...Eh?"
Ternyata ada orang yang benar-benar mengerti.
Koharu-san mengeluarkan gantungan karakter Karasudani-kun, tokoh utama Atenaru Mono, lalu memotretnya bersama pemandangan sekitar.
"Karena sudah jauh-jauh datang, kita harus serius. Dari tadi aku bahkan bernapas sambil berpikir... mungkin udara yang kuhirup ini adalah udara yang pernah dihembuskan Karasudani-kun. Malah tadi rasanya aku sempat melihat orangnya."
Koharu-san...benar-benar penggemar berat ziarah anime. Dan yang dia katakan agak menyeramkan.
Aku yang tadi merasa hubungan kami sedikit lebih dekat langsung menjaga jarak lagi.
Kami memutar cukup jauh hingga seluruh Jembatan Kajibashi terlihat jelas.
"Oooh...."
Aku dan Koharu-san berseru bersamaan.
Rasa haru tidak bisa dijelaskan dengan logika. Pemandangan yang selama ini hanya ada di anime kini benar-benar terbentang di depan mata.
Yang bisa kulakukan hanyalah menyerahkan diri pada keajaiban itu dan bersyukur bisa menjadi bagian dari dunia tersebut.
"Aku beli gohei mochi. Nih, buatmu."
Yang menghancurkan suasana haru itu adalah Yanami yang datang sambil membawa gohei mochi di kedua tangannya.
Sambil mengunyah penuh semangat, ia menyodorkan satu batang kepadaku.
"...Ini kok ada bekas gigitan? Kamu tadi sudah makan ya?"
"Katanya di Gifu memang desainnya begini. Nih, makan saja."
Kalau memang begitu di Gifu, ya sudahlah.
Begitu kugigit, rasa miso kenari yang kaya langsung memenuhi mulutku.
"Belinya di mana?"
"Di seberang jembatan besar tadi. Satu jembatan diapit toko dango dan gohei mochi. Jembatan yang mewah."
...Jadi dia sudah menyeberangi jembatannya duluan.
Entah kenapa aku jadi kesal karena didahului.
"Eh, di sana ada pasar pagi. Kita makan apa?"
"Tunggu dulu. Pasar pagi itu harus dimasuki dari sisi seberang supaya sama seperti di opening."
Yanami menghela napas panjang lalu mendorong punggungku.
"Ayo. Anggap saja para tokohnya juga pernah masuk dari arah sini. Cepat."
Hmm...
Ada benarnya juga. Tidak semua hal bisa dipahami hanya dengan mengikuti apa yang terlihat di layar.
"Kelihatannya Yanami-san mulai mengerti ziarah anime ya."
"Iya iya, ngerti kok. Wah, ada mitarashi dango tabur kinako juga. Permisi! Minta dua tusuk yang biasa sama dua tusuk yang pakai kinako!"
"Jangan sekalian belikan punyaku juga, dong."
Mitarashi dango khas Takayama ternyata menggunakan saus kecap yang ringan. Rasanya berbeda dengan yang di Toyohashi.
Namun jumlah dango per tusuknya lima buah, bukan empat, sehingga terasa akrab bagiku.
...Ngomong-ngomong, satu butir sudah dimakan Yanami.
Saat aku menyerahkan sisa gohei mochi yang tidak sanggup kumakan ke perut Yanami, Koharu-san menarik Sakurai-kun lalu berlari.
"Hiro-kun! Bukannya itu tempat minum yang dilewati Karasudani-kun di opening?"
"Entahlah. Bukankah desainnya agak berbeda? Menurutmu bagaimana, Nukumizu-kun?"
Sakurai-kun menoleh kepadaku.
Hanya karena itu tempat minum bukan berarti aku otomatis tahu.
"Hmm... tempat minum di anime bentuknya sederhana dan tegak, tipe yang jarang ditemukan di taman. Yang sekarang memang sudah baru. Belakangan ini banyak yang berbentuk huruf L terbalik supaya ramah pengguna kursi roda. Yang ini masih tegak dan bahannya resin. Mungkin karena keterbatasan ruang atau menyesuaikan pemandangan. Sayangnya resin lebih cepat rusak, jadi mestinya materialnya dipilih yang lebih bagus."
"Oh...."
"..."
Lho. Kenapa setelah bertanya mereka malah terlihat mundur begitu?
Aku memutar keran tempat minum itu. Air yang keluar sangat dingin, seolah matahari terik di luar hanyalah ilusi.
Air ini memiliki kelembutan air lunak sekaligus sensasi mineral khas air keras. Benar-benar nikmat diminum.
Air yang telah mengalir melewati perut Pegunungan Hida membawa sejarah Pegunungan Alpen Utara.
Dengan kata lain...
Di dalam mulutku sekarang terdapat satu lagi Hida.
Pernyataan itu sama sekali tidak berlebihan. Meski pemandangan dalam anime berubah, tempat ini tetap hidup seperti dulu.
"Nukumizu-kun, gantian."
Yanami mendorongku ke samping lalu langsung meneguk air itu tanpa henti.
Haa...baik sejarah Hida Takayama maupun rasa haru karena anime...
Di hadapan perut Yanami, semuanya diperlakukan sama saja.
Sambil melirik Yanami yang terus meneguk air dan Koharu-san yang sibuk memotret dengan riang, aku hanya memandangi aliran sungai yang sejak dulu tak pernah berubah.
◇
Hokobaru Hibari duduk di bangku yang berada di tepi jalan, lalu menyilangkan kaki jenjangnya yang terbalut celana denim.
Sinar matahari bulan Juli mengingatkannya bahwa musim panas telah benar-benar tiba, tetapi bagi Hokobaru, kehangatan itu justru terasa menyenangkan.
Angin yang membawa aroma sungai berembus pelan, mengayunkan rambutnya dengan lembut.
"Nih, Hiba-nee."
Dari arah datangnya angin, Sakurai Hiroto menyodorkan segelas es café au lait.
Hokobaru mengucapkan terima kasih sambil menerimanya, lalu Sakurai duduk di sebelahnya sembari menyeka keringat dengan saputangan.
"Hiro-kuuun! Tangga tempat Karasudani-kun duduk sudah nggak ada!"
"Jangan lari-lari terus, nanti berbahaya!"
Melihat Koharu melambaikan kedua tangannya dengan riang, Sakurai membalas lambaian itu.
"Koharu kelihatannya senang sekali ya."
"Dia memang sudah lama menyukai Atenaru Mono. Gantungan karakter itu juga hadiah darimu, kan?"
"...Iya. Ternyata dia masih menyimpannya."
Sambil memandangi Koharu yang berlari ke sana kemari, Sakurai bergumam pelan.
Hokobaru sempat hendak mengisap minumannya melalui sedotan, tetapi tidak jadi melakukannya.
"—Selama ini dia selalu membawanya ke mana-mana."
Sakurai terdiam. Hokobaru pun melanjutkan,
"Cobalah lebih memperhatikan Koharu."
Nada bicaranya terdengar biasa saja, tetapi ada duri yang tak bisa disembunyikan. Sakurai memutar es batu di dalam gelasnya sebelum menjawab.
"...Aku memang berniat begitu. Tapi sedikit demi sedikit, semakin banyak hal tentang Koharu yang tidak kuketahui."
"Itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan. Berarti kau kurang berusaha mengenalnya."
"Aku benar-benar menyayanginya, dan aku juga berusaha memahaminya."
Kembali, Koharu melambai dari kejauhan.
Sakurai membalas lambaian itu.
"Kalau begitu... apakah kau juga ingin Koharu memahami dirimu?"
Tangan Sakurai yang hendak diturunkan berhenti.
"Koharu juga ingin mengenalmu. Dia ingin memahami siapa dirimu sebenarnya. Hargailah perasaannya itu."
"...Kalau dia tahu, memangnya kenapa?"
Sambil tetap tersenyum, ia menurunkan tangannya dan menatap gelas di tangannya.
"Aku ini orang yang membosankan. Selama ini aku cuma berpura-pura terlihat menarik."
"Itulah yang ingin diketahui Koharu. Bahwa Hiroto sebenarnya hanyalah pria biasa yang tidak istimewa."
Hokobaru menyibakkan rambutnya, lalu akhirnya menyeruput café au lait melalui sedotan. Lehernya yang jenjang bergerak perlahan beberapa kali.
Koharu kembali melambaikan tangan. Namun kali ini Sakurai tidak menyadarinya. Sebagai gantinya, Hokobaru yang membalas lambaian itu.
"Aku tidak memintamu berubah seketika. Tapi... kurasa kalian juga tidak punya banyak waktu."
"...Mungkin benar."
Sakurai mengangkat kepalanya dan hendak melambaikan tangan kepada Koharu.
Namun Koharu sudah membelakanginya, sedang menunjuk ke suatu tempat di sepanjang sungai bersama Nukumizu dan yang lainnya.
◇
Setelah mengunjungi beberapa lokasi ziarah anime di pusat kota, kami masuk ke sebuah kedai kopi yang berada di kawasan kota tua.
Alasan resminya tentu karena suasananya yang menarik.
Namun kenyataannya, tempat ini juga merupakan salah satu lokasi ziarah anime.
Di episode ketiga, ada adegan terkenal ketika sang tokoh utama menerima pengakuan sebuah rahasia dari heroine.
Dan meja yang sedang kami duduki sekarang adalah meja yang digunakan dalam adegan itu.
Aku menghirup aroma cokelat panas dengan krim (Wiener Cocoa) sambil diam-diam merasa terharu.
Jadi, inilah rasa minuman yang diminum Eri-tan di anime.
Saat aku menikmatinya perlahan, Yanami menatap isi cangkirku dengan wajah bingung.
"Jadi itu yang namanya Wiener Cocoa. Wiener...?"
Tolong. Jangan lanjutkan.
Saat aku hanya bisa berdoa dalam hati, Koharu-san tersenyum nakal.
"Nukumizu-kun, itu kan... yang itu ya?"
"Iya. Yang itu. Mau coba seteguk?"
...Eh. Mengajak pacar orang lain minum dari cangkirku mungkin agak berbahaya.
"Maaf, yang tadi—"
"Makasih! Aku coba ya."
Sebelum sempat menarik ucapanku, Koharu-san sudah mengambil cangkir itu.
"Jadi ini ya... cokelat yang aromanya pernah dihirup Karasudani-kun...."
Koharu-san memejamkan mata dengan wajah penuh kebahagiaan.
...Rasa haru kami ternyata sedikit berbeda.
"Makasih ya, Nukumizu-kun."
"Ah... sama-sama."
Ketika cangkir itu kembali ke tanganku, di sisi seberangnya tampak bekas lipstik Koharu-san.
...Apa benar tidak masalah meminum dari bekas yang sama di depan pacarnya?
"Eh... Sakurai-kun juga mau coba?"
"Kalau begitu aku juga mau."
Benar. Kalau pacarnya juga ikut minum dari cangkir yang sama, dosaku pasti ikut tersucikan.
Sambil merasakan aura NTR yang samar-samar, aku memperhatikan Sakurai-kun meminum cokelat itu.
"Enak ya. Kebetulan aku juga sedang agak lelah."
Saat aku menerima kembali cangkir itu, Yanami mendekat hingga tubuh kami hampir bersentuhan.
Panas. Tolong menjauh sedikit.
"...Segitu enaknya ya?"
"Memang enak. Tapi minuman ini juga punya makna khusus dalam ziarah anime—"
Sebelum selesai menjelaskan, Yanami mengulurkan tangan.
"Aku juga mau minum."
"Nggak mau. Nanti kamu habisin."
"Memang mau kuhabisin."
Bukan begitu caranya.
Yanami mulai cemberut. Akhirnya aku terpaksa memakai jurus pamungkas.
"Ngomong-ngomong, sudah ketemu tempat makan siang yang bagus?"
".......!"
"Ketemu! Ada beberapa restoran Takayama Ramen yang kelihatannya enak! Kalau mengikuti urutan ini, mungkin kita sempat mengunjungi semuanya sebelum tutup."
Mood Yanami langsung membaik.
Ia meletakkan ponselnya di tengah meja.
...Begitu ya. Dia memang berniat mendatangi semua restoran ramen di sekitar sini.
Saat aku bingung harus berkata apa, Sakurai-kun tersenyum.
"Memang semuanya kelihatan enak. Tapi kita juga ingin makan santai bersama, kan? Bagaimana kalau kita pilih satu restoran dulu?"
"...Harus pilih satu saja?"
Yanami memasang wajah seolah dunia telah kiamat.
Sakurai-kun berbicara dengan lembut agar ia tenang.
"Kalau begitu bagaimana dengan yang ini? Katanya restoran legendaris sejak zaman Showa, dan mereka juga punya wonton ramen. Kita makan di sini dulu, lalu setelah itu baru kita diskusikan lagi bersama."
Yanami akhirnya mengangguk pelan.
Sakurai-kun, aku jadi ingin merekrutmu sebagai petugas penanganan Yanami nomor dua.
Sambil memikirkan hal itu, aku kembali menghirup aroma Wiener Cocoa sepenuh dada.
◇
Semangkuk ramen panas diletakkan di atas meja.
"Silakan, satu mangkuk chūka soba."
Aku mengucapkan terima kasih lalu mengambil sumpit.
Kuamati semangkuk ramen di depanku.
Kuah kecapnya berwarna gelap, khas Takayama Ramen.
Saat kucicipi sesendok kuah, rasa kaldu ayam dan ikan yang sederhana meresap hangat ke seluruh tubuh. Rasanya ternyata lebih ringan daripada tampilannya.
Sangat sesuai dengan seleraku.
Baiklah, sekarang saatnya mencoba mi—
"Ahh... enak sekali!"
Yanami, yang sudah menghabiskan wonton ramen ukuran besar beserta nasi ukuran besar, meletakkan mangkuk kosongnya di atas meja.
...Sudah habis? Cepat sekali.
Ini benar-benar terlalu cepat. Koharu-san yang masih menyeruput wonton ramen ukuran kecil hanya bisa bergumam,
"...Eh?"
lalu membeku.
Sementara Hokobaru-senpai memuji cara makan Yanami dengan membandingkannya dengan seekor anjing Tosa milik tetangganya.
Ngomong-ngomong, nama anjing itu Musashimaru.
Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan, Yanami terus menatap mangkukku.
"Hmm... chūka soba yang sederhana juga kelihatannya enak...."
Tatap sesukamu. Tetap tidak akan kuberikan.
Aku mengabaikan tatapan lapar Yanami hingga menghabiskan seluruh ramenku, lalu meletakkan sumpit.
Hampir bersamaan, Sakurai-kun yang juga selesai menghabiskan wonton ramen ukuran sedang melihat ponselnya.
"Sepertinya kita masih sempat naik bus berikutnya."
Benar. Tujuan berikutnya adalah Hirayu Onsen di kawasan Okuhida Onsen, yang juga merupakan lokasi ziarah anime.
Perjalanan bus dari sini memakan waktu sekitar satu jam.
Memang cukup mewah untuk ukuran perjalanan sehari.
Namun menurut jadwal, kami seharusnya masih bisa pulang-pergi tepat waktu.
...Kalau semuanya berjalan sesuai rencana.
Begitu semua selesai makan, aku membuka pembicaraan dengan nada santai.
"Ngomong-ngomong... sebenarnya masih ada satu tempat lagi yang ingin kukunjungi."
Itulah tanda dimulainya operasi.
Wajah Hokobaru-senpai dan Koharu-san langsung menegang. Sementara itu Yanami sedang mengincar sisa kuah ramanku.
"Boleh saja. Memangnya ke mana?"
Hokobaru-senpai membuka peta lokasi ziarah anime.
Tempat yang kutunjuk adalah sebuah SMA yang berada di tepi sungai, agak jauh dari pusat kota. Sekolah itu merupakan tempat para tokoh anime bersekolah.
Boleh dibilang...Inilah lokasi ziarah terbesar.
Sakurai-kun yang ikut melihat peta tampak sedikit khawatir.
"Kita juga masih mau ke pemandian air panas, kan? Waktunya cukup ya?"
"Masih ada cadangan waktu. Kalau bus pulang dari pemandian kita naik yang sedikit lebih malam, seharusnya tidak masalah."
Hokobaru-senpai menjawab dengan tenang sambil menghabiskan segelas air.
"Tapi nanti kita jadi lebih malam sampai Toyohashi."
"Nggak apa-apa. Ibuku akan menjemput di stasiun. Aku juga ingin melihat sekolahnya."
Koharu-san ikut mendukung.
Sekarang giliran Yanami.
"Kalau begitu... makan malamnya bagaimana?"
Berita buruk. Yanami sama sekali belum sadar kalau operasi sudah dimulai.
"Yah... bagaimana kalau makan ekiben saja? Nanti kamu boleh mencicipi punyaku."
"Nukumizu-kun mau kasih? Kalau begitu tidak apa-apa."
...Aku tidak pernah bilang akan memberikannya.
Meski begitu, sekarang bukan saatnya memperdebatkan hal sekecil itu.
"Kalau begitu..."
"Mari lanjutkan ziarah anime... ke ronde berikutnya.”
◇
Sekitar dua puluh menit naik bus dari stasiun, berdirilah SMA Prefektur Shita yang terletak di tepi sungai.
Sekolah ini adalah SMA yang menjadi tempat para tokoh anime Atenaru Mono bersekolah. Karena hari itu hari Sabtu, hanya terlihat beberapa siswa yang sedang mengikuti kegiatan klub. Suasana sekolah pun sunyi dan tenang.
Kami berjalan di jalan setapak di antara gedung sekolah dan lapangan, memulai ziarah lokasi anime dengan tenang.
Berbeda dengan Tsuwabuki, lapangan sekolah ini berada di luar gerbang utama, sehingga kami bisa mendekati gedung sekolah dengan cukup dekat.
"Hei, ini benar-benar sekolah, ya."
Yanami berkata sambil mengunyah camilan kacang.
"Aku kira karena disebut tempat suci bakal ada papan atau semacamnya."
"Ini kan sekolah biasa. Kita harus berhati-hati supaya tidak mengganggu kehidupan para siswa dan warga sekitar."
"Ooh, begitu ya."
Mendengar percakapan itu, Koharu menyelip masuk di antara kami.
"Itu memang aturan dasar ziarah lokasi anime. Hanya dengan berpikir kalau Karasuya-kun setiap hari berjalan di jalan ini saja rasanya napasku jadi lebih lancar."
Orang ini benar-benar menyukai napas Karasuya-kun. Silakan saja hirup sepuasnya.
"Aku sih nggak begitu paham, tapi udaranya memang enak ya. Koharu-chan, mau kacang?"
"Mau, makasih. Ngomong-ngomong, di kalangan penggemar sekarang lagi ramai penelitian tentang panjang langkah Karasuya-kun..."
Kuserahkan Koharu yang sudah mulai bersemangat itu kepada Yanami, lalu menjauh sedikit dari mereka.
Kalau dilihat dari luar, orang yang semangatnya terlalu tinggi memang agak memalukan ya...
Saat sedang berjalan sambil berpura-pura tidak termasuk golongan itu, Hokobaru-senpai berbicara padaku.
"Aku tadinya mengira ziarah di lokasi anime ini hobi yang aneh, tapi ternyata cukup menarik."
"Kalau belum nonton animenya, bukannya susah menikmati?"
"Tidak juga. Melihat reaksimu dan Koharu membuatku sadar bahwa pemandangan biasa pun bisa terlihat berbeda tergantung cara memandangnya."
Angin kering dari lapangan menggoyangkan rambut Hokobaru-senpai.
Namun pandangannya bukan tertuju ke gedung sekolah, melainkan ke Sakurai yang sedang memperhatikan papan nama di dekat gerbang.
"...Apa memang tidak apa-apa kalau rencana ini tetap dilanjutkan?"
Pertanyaan yang terlambat.
Sambil merapikan rambut yang tertiup angin, Hokobaru-senpai membelakangiku.
"Bukankah memang itu tujuan kita datang ke sini?"
"Tapi entah kenapa aku masih setengah hati. Maksudku, rencana ini kan dari Koharu-san..."
"Soal membuat 'fakta yang sudah terjadi' itu sekarang tidak penting."
Melihatku tetap diam, ia melanjutkan.
"Hiroto harus benar-benar menghadapi Koharu dengan sungguh-sungguh. Kalau itu perlu dilakukan dengan kebohongan sekalipun, maka lakukanlah."
"...Bahkan dengan kebohongan."
Sebenarnya aku masih ragu.
Ragu menipu Sakurai, dan ragu melanjutkan semuanya. Karena keraguan itulah aku terus terbawa arus hingga akhirnya berada di sini.
"...Ada kenalan kakak perempuan yang jadi guru di SMA Ayame."
Tak perlu dijelaskan lagi. Yang kumaksud tentu Kak Shiratama.
Aku tidak sanggup menatap punggung Hokobaru-senpai dan mengalihkan pandangan.
"Jangan-jangan rumor tentang Koharu-san di SMA Ayame..."
"Maksudmu rumor tentang Koharu?"
Ia mengatakannya terus terang, seolah tidak peduli dengan keraguanku.
"Tidak ada gunanya memedulikan rumor yang belum tentu benar. Aku sudah melihat sendiri perasaan Koharu kepada Hiroto. Bagiku itu sudah cukup."
"Tapi..."
"Kalau memang ada sesuatu yang tidak bisa diceritakan, bawalah sampai ke liang kubur."
Aku kehilangan kata-kata.
Baru kali itu Hokobaru-senpai berbalik menghadapku. Lalu ia bertepuk tangan keras agar semua orang mendengar.
"Baiklah, semuanya. Ayo kita kembali. Aku juga sudah tidak sabar menikmati pemandian air panas."
◇
Sekitar satu jam menuju kawasan pemandian air panas.
Aku duduk di dalam bus sambil memandangi pemandangan di luar jendela melewati bahu Yanami yang duduk di sebelahku.
Pegunungan Hida tampak begitu hijau hingga menyejukkan mata.
Aku mencoba mengingat pegunungan Shinshiro yang kukunjungi musim panas tahun lalu, tetapi kenangan itu sudah terasa jauh dan samar.
"Ada apa, Nukumizu-kun? Lagi terpikat melihatku?"
Yanami bercanda seperti biasanya, dan tentu saja kuabaikan.
"Menurutmu benar kita harus tetap melanjutkan ini?"
"...Maksudmu apa?"
Entah kenapa Yanami terlihat agak kesal, tapi itu pun kuabaikan.
Setelah memastikan Sakurai dan yang lain sedang mengobrol di kursi belakang, aku merendahkan suara.
"Rencana Koharu-san itu. Apa benar kita harus melaksanakannya?"
"...Dengar ya. Sakurai-kun sama sekali nggak nanya apa-apa."
"Hah? Maksudnya?"
Melihatku kebingungan, Yanami melanjutkan.
"Perjalanan sehari yang sejauh ini diputuskan mendadak. Tapi dia cuma bilang, 'Kalau Koharu ingin pergi ya ayo pergi,' tanpa bertanya apa pun. Menurutmu itu gimana?"
"Itu karena Sakurai baik."
"Perjalanan ini juga butuh biaya. Biasanya orang bakal tanya macam-macam, kan? Menuruti permintaan orang itu beda dengan tidak peduli."
...Bukankah aku juga sering diperlakukan seperti itu?
Apa cuma perasaanku saja?
Saat aku sedang mencari kata-kata, Yanami menghela napas.
"Waktu pemilihan ketua OSIS, kamu sempat bersama Sakurai-kun, kan? Waktu itu aku sadar."
Ia menyandarkan siku di bingkai jendela sambil melihat ke luar.
"...Tatapan mata Sakurai-kun kadang terasa sangat bening."
"Bening?"
Aku mengulanginya. Yanami mengangguk pelan.
"Rasanya seperti ada sesuatu yang tertinggal di suatu tempat."
Wajah sampingnya tampak begitu sendu. Entah kenapa aku sempat terpana melihat ekspresi itu. Lalu, seolah ingin menyangkal perasaanku sendiri, aku berkata,
"Kalau gara-gara ini hubungan mereka malah rusak, mereka bisa putus, lho."
Yanami tidak tampak terguncang sedikit pun. Dengan nada seolah itu sudah jelas, ia berkata,
"Mereka kan sudah saling suka sejak kecil, kan? Kalau begitu..."
Ia menatapku dengan mata sebening kaca.
"—Sudahi saja penderitaan mereka."
◇
Sinar matahari sore memasuki kamar Koharu.
Sakurai meletakkan penanya dan memandang senja di balik jendela.
Pukul lima sore.
Melodi sendu dari pengeras suara siaran darurat lingkungan mulai terdengar.
Sakurai Hiroto dan Mizushima Koharu.
Sejak mereka mulai bisa mengingat dunia, mereka telah mendengar melodi yang sama, dengan jumlah yang sama.
"Sudah sore ya."
"Iya. Kututup gordennya?"
Tanpa menunggu jawaban, Koharu berdiri lalu menutup gorden.
Meski hari biasa, seminggu sekali mereka selalu menghabiskan waktu bersama sepulang sekolah.
Itu adalah janji yang mereka buat ketika memutuskan masuk SMA yang berbeda. Meski baru tiga bulan menjadi siswa SMA, mereka belum pernah sekalipun melewatkannya.
Setelah Koharu kembali duduk di hadapannya, Sakurai membuka mulut.
"...Aku memutuskan resmi bergabung dengan OSIS."
Tangan Koharu yang hendak melanjutkan PR berhenti.
Ia memaksa tangannya bergerak, mencoretkan beberapa tulisan yang bahkan tidak berbentuk kata.
Lalu dengan suara pelan ia berkata,
"...Hibari yang jadi ketuanya, ya?"
"Hanya Hiba-nee sendirian tidak akan sanggup mengurus semuanya. Anggota lain memang hebat, tapi tetap saja butuh lebih banyak orang."
Padahal tidak ditanya, Sakurai terus berbicara. Karena Koharu diam, ia mulai gelisah lalu melanjutkan dengan hati-hati.
"...Kurasa mulai sekarang aku bakal pulang lebih malam. Jadi..."
"Jadi?"
Sakurai terdiam sesaat.
"Lagi pula... untuk sementara kita nggak bisa pulang bareng lagi. Maaf ya."
"Nggak apa-apa kok. Memang nggak bisa dihindari. Tapi pagi tetap bisa berangkat bareng seperti biasa, kan?"
Di tengah perjalanan menuju stasiun tempat Sakurai berganti kereta terdapat SMA tempat Koharu belajar.
Karena itu selama ini mereka selalu berangkat sekolah bersama setiap pagi. Mereka juga sebisa mungkin pulang bersama, tetapi Sakurai tidak suka membuat Koharu menunggu terlalu lama.
"...ya kan?"
Karena Sakurai tak kunjung menjawab, Koharu bertanya lagi.
Dengan wajah penuh rasa bersalah, Sakurai menjawab,
"Untuk sementara aku harus datang lebih pagi karena urusan OSIS."
"Kalau begitu aku juga akan berangkat lebih pagi."
Koharu hendak kembali mengerjakan PR, tetapi melihat sikap Sakurai, ia kembali mengangkat kepala.
"Nanti kamu ikut mobil ayahnya Hibari?"
Di daerah tempat tinggal mereka tidak ada jalur bus. Karena itu mereka harus naik sepeda atau diantar mobil sampai ke stasiun atau halte.
Dan kebetulan, SMA Koharu berada di dekat stasiun tempat Sakurai berganti kereta.
"Nggak. Aku tetap naik sepeda ke stasiun seperti biasa."
Sakurai memaksakan senyum lalu bercanda.
"...Soalnya aku agak nggak enak sama ayahnya Hiba-nee."
Begitu mengatakannya, ia langsung sadar.
Candaan itu sama sekali tidak lucu.
"Lagi pula... sampai semuanya tenang, mungkin aku berangkat sekolah sendiri dulu..."
Topeng senyumnya benar-benar telah runtuh.
Rasa bersalah. Perasaan tidak enak. Keraguan.
Koharu menerima semua emosi itu yang terpancar dari seluruh tubuh Sakurai. Namun ia tetap tersenyum sambil bertanya,
"Iya, aku mengerti. Kira-kira sampai kapan?"
"Eh... aku juga belum tahu. Nanti aku bakal sering menghubungimu."
"Makasih. Jangan terlalu memaksakan diri ya."
Dengan senyum yang tidak pernah hilang.
Dengan suara yang tetap lembut.
Koharu menatap ujung pena di atas buku catatannya yang akhirnya mulai membentuk huruf.
Ia sudah tahu. Sedikit demi sedikit, jarak di antara mereka akan semakin melebar.
Karena itu...ia akan terus mendekat.
Menariknya kembali sedikit demi sedikit.
Dan...ia telah memutuskan untuk terus berjuang sampai saat-saat terakhir.
◇
Air panas berwarna kekuningan yang agak keruh itu dengan lembut membungkus tubuhku yang sejak pagi terus berguncang di kereta dan bus.
"Ahh... rasanya semua pegal hilang..."
Andai saja semua beban pikiranku juga ikut larut ke dalam air ini....
Tujuan kami adalah Pemandian Air Panas Hirayu, Hirayu no Yu.
Pemandian umum yang berada beberapa menit berjalan kaki dari Terminal Bus Hirayu dan berdampingan dengan museum rakyat setempat.
Tempatnya sederhana, hanya memiliki pemandian terbuka yang dipisahkan antara pria dan wanita, tetapi kualitas air panasnya benar-benar pantas menyandang nama Okuhida Onsen-go.
Sakurai-kun meregangkan tubuh dengan pipi yang memerah karena panas.
"Benar-benar air panas yang enak. Syukurlah kita datang."
"Iya. Aroma belerangnya yang lembut dan kandungan mineralnya benar-benar terasa. Ini memang pemandian yang bagus."
Saat kuambil air kekuningan itu dengan telapak tangan, serpihan mineral air panas melayang-layang di atasnya.
Menikmati bunga di telapak tangan seperti ini ternyata juga ada seninya.
...Ups, sekarang bukan waktunya menikmati pemandian.
Operasi Fakta yang Sudah Terjadi milik Koharu-san sedang berlangsung.
Aku memang hanya kaki tangan yang setengah hati sehingga dosaku lebih ringan, tetapi tetap saja kami sedang bersekongkol menjebak Sakurai-kun.
Kalau keadaan berubah, akulah yang harus menolongnya.
Itulah alasan aku ikut dalam perjalanan ini. Kalau ada yang mengira aku ikut hanya karena bisa ziarah lokasi anime gratis, itu salah besar.
Pemandian pria dan wanita di sini berjauhan, jadi tak perlu khawatir pembicaraan kami terdengar.
Di pemandian terbuka ini hanya ada aku dan Sakurai-kun. Ini adalah kesempatan terakhir untuk memastikan perasaannya selama perjalanan ini.
Baiklah... mulai dengan percakapan biasa.
"—Nukumizu-kun, akhir-akhir ini gimana hubunganmu dengan Yanami-san?"
"Hah?"
Serangan pembuka yang sama sekali tak kuduga.
Hubunganku dengan Yanami? Maksudnya apa? Berat badannya?
"Ya... biasa saja sih. Nggak ada yang berubah."
Entah kenapa aku menjawab dengan canggung.
Saat itu air kekuningan di sekitarku bergelombang. Sakurai-kun mendekat dan menatapku seolah sedang menyelidiki.
"Aku mulai penasaran sejak pemilihan OSIS. Tentang hubungan kalian berdua."
Hubungan...
Kami cuma teman sesama anggota klub sastra.
Kebetulan juga sekelas. Itu saja.
"Cuma teman biasa. Lagi pula baru setahun sejak Yanami-san ditolak."
"Baru setahun?"
...Eh?
Saat kutoleh, mata Sakurai-kun ternyata jauh lebih serius daripada yang kuduga.
"Ya... maksudku... dia masih belum menganggap cowok lain sebagai laki-laki... atau mungkin dia juga belum ingin dipandang seperti itu...."
Aku menjawab terbata-bata.
"Hmm...."
Sakurai-kun mendongak ke langit.
"Baru satu tahun... ya."
Tatapan matanya seolah memandang ke tempat yang jauh.
Aku tak tahu harus berkata apa.
Ia kembali tersenyum.
"Kalau begitu satu pertanyaan lagi. Ada apa dengan Basori-chan?"
"...?! Kenapa tiba-tiba nanya begitu?!"
Aku buru-buru balik bertanya. Tanpa mengubah ekspresinya sedikit pun, Sakurai-kun berkata,
"Soalnya Basori-chan kelihatannya bukan tipe yang bakal menyatakan cinta lebih dulu."
"Kok kamu tahu?!"
Aku refleks berdiri.
Sakurai-kun hanya tersenyum lembut.
"Oh, jadi memang benar ya."
...Sial, aku kena jebakan. Ia memercikkan air ke bahunya.
"Akhir-akhir ini Basori-chan jadi jauh lebih lembut. Makanya kupikir pasti terjadi sesuatu."
"Kami juga belum pacaran. Jawabannya masih ditunda... ya begitulah."
"Begitu ya. Masuk lagi ke air. Nanti masuk angin."
...Benar juga.
Aku kembali berendam. Walaupun sudah musim panas, angin sore tetap terasa sejuk. Suara burung yang bening terdengar dari kejauhan.
Aku menenangkan diri lalu bertanya.
"Apa ada orang lain yang sadar soal aku dan Basori-san?"
"Orang lain?"
Melihat wajahnya yang heran, aku tanpa sadar keceplosan.
"Misalnya... Shikiya-san."
"Yumeko-san? Entahlah. Sulit membaca ekspresi orang itu."
Jawabnya santai. Namun sesaat kemudian ekspresinya sedikit berubah.
"...Apa kamu juga ada sesuatu dengan Yumeko-san?"
"Nggak ada."
Aku langsung membantah.
Memang tidak ada.
Melihat bintang bersama di pantai pada malam hari...
Memeluknya di tengah kota pada malam hari...
Semuanya cuma kebetulan. Sama sekali bukan hubungan pria dan wanita.
Sakurai-kun menatap wajahku cukup lama. Lalu ia memiringkan kepala dengan wajah khawatir.
"Kalau kamu ada masalah soal hubungan dengan orang lain, kapan saja boleh cerita padaku ya."
"Kalau begitu nanti aku mengandalkanmu."
Entah kenapa malah aku yang dikhawatirkan. Yang penting sekarang memastikan perasaan Sakurai-kun.
Baiklah, kutanya dengan santai.
"Kalau kamu sendiri... gimana dengan Koharu-san?"
...Sama sekali nggak terdengar santai.
Saat aku kecewa pada diriku sendiri, Sakurai-kun menatap langit dan bergumam.
"Sejak masuk SMA kami jadi lebih jarang bertemu. Mungkin itu membuatnya merasa cemas."
"Kalau begitu... perasaanmu pada Koharu-san...."
Sakurai-kun tersenyum kecil.
"Kalau aku tidak menyukainya, aku tidak mungkin datang sejauh ini."
...Ya juga. Kalau begitu, rencana ini memang sebaiknya dibatalkan. Tak perlu sampai menjebaknya begini.
Masih ada cara lain. Mengajaknya makan belut. Memakaikan telinga kucing. Atau berkonsultasi dengan Konuki-sensei...
...Tidak, yang terakhir jelas tidak boleh. Bagaimanapun juga aku harus mengaku.
Aku menarik napas panjang.
"Sebetulnya...."
"Koharu yang memaksa mengajak kita, kan?"
Sakurai-kun memotong ucapanku.
"Ya... memang begitu sih. Tapi...."
Ia menggeleng.
"Maaf ya. Aku tahu penyebabnya."
Eh? Dia sudah tahu? Padahal aku sendiri malah belum begitu paham. Memang Sakurai-kun luar biasa.
Ia merentangkan tangannya di dalam air.
"Akhir-akhir ini aku seperti menghindari Koharu. Setiap kali rasanya pembicaraan akan jadi serius, aku selalu mengalihkan topik."
"Kenapa?"
Mendengar pertanyaanku yang polos, ia sempat tersenyum pahit sebelum akhirnya berkata dengan wajah serius.
"...Aku takut."
"Takut dia akan mengajakmu putus."
"...Eh?"
Pengakuan yang sama sekali tak kusangka membuat kepalaku kacau.
Jadi...Sakurai-kun sama sekali tidak ingin putus. Sementara Koharu-san gelisah karena tidak tahu perasaannya.
Kalau begitu solusi yang benar.....Bukankah Koharu-san tinggal menjatuhkan Sakurai-kun saja?
Sip. Happy ending.
Di kepalaku bahkan sudah mulai terdengar lagu penutup anime.
"Begitu ya. Jadi kamu sama sekali nggak pernah ingin putus."
"Jadi selama ini aku terlihat seperti itu ya."
Ah. Sepertinya aku salah bicara.
Melihatku panik, Sakurai-kun tersenyum.
"Walaupun begini, aku benar-benar mencintai Koharu."
Ia mengatakannya dengan tegas. Lalu dengan wajah yang terasa jauh lebih lega, ia berkata,
"—Kurasa sudah saatnya aku juga memantapkan tekad."
"Ya."
Aku mengangguk sambil merendam bahu ke dalam air.
Mereka saling mencintai. Namun sama-sama dipenuhi kecemasan. Kalau begitu...
Mungkin rencana nekat Koharu-san memang pilihan yang benar. Itu adalah keputusan yang dipilih Koharu-san setelah mempertimbangkannya.
Aku hanya bisa mengawasi. Kalau nanti semuanya berantakan...
Ya, dipikirkan nanti saja.
Ngomong-ngomong, aku jadi sering mendapat acara mandi bersama Sakurai-kun. Kalau mengikuti jatah, berikutnya mungkin harus mengajak Ayano....
Sambil memikirkan hal bodoh seperti itu, aku memandang langit yang perlahan mulai gelap melalui kepulan uap air panas.
◇
Yanami Anna mendongakkan wajah ke arah uap panas dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Waaah... badan jadi rileks...."
Air panas keruh berwarna kuning kecokelatan yang menutupi seluruh tubuh membuat Yanami merasa benar-benar bebas.
Semua pemandian air panas seharusnya memakai air keruh seperti ini. Kalau suatu hari nanti aku jadi orang penting, bakal kubuat undang-undang seperti itu....
Sambil memikirkan hal konyol itu, Yanami mengalihkan pandangannya ke dua orang yang sedang berendam di sisi lain pemandian.
Hokobaru Hibari. Dan Mizushima Koharu.
Menurut penilaian Yanami, dua orang ini memiliki hubungan yang tidak sederhana dengan Sakurai Hiroto.
Yah, mereka memang teman masa kecil, jadi wajar saja. Namun melihat kedekatan Hokobaru dan Sakurai di Tsuwabuki yang bagaikan ikan dan air, jelas hubungan mereka tidak sesederhana itu.
Karena Koharu adalah pacar Sakurai, bahkan tidak berlebihan jika menyebut Hokobaru sebagai "kucing pencuri". Meski begitu, kedua gadis itu masih bisa mengobrol sambil tersenyum.
Di mata Yanami, pemandangan itu terasa aneh.
Percintaan bukan hanya soal hal-hal indah. Selama beberapa hari terakhir ia terus memikirkan perasaan Hokobaru yang membantu Sakurai dan Koharu.
Tetapi tetap saja ia tidak mengerti.
Benar-benar tidak mengerti.
"...Yah, Nukumizu-kun pasti bakal melakukan sesuatu."
Sambil memandang langit melalui uap air, Yanami setengah mendengarkan percakapan mereka.
Hokobaru menyiramkan air ke bahunya. Lalu memandang langit yang semakin redup.
Perjalanan kali ini hampir berakhir.
Setidaknya bagi semua orang... kecuali Sakurai dan Koharu. Apa yang akan terjadi pada malam yang mereka lalui berdua nanti bukan lagi urusannya.
"Waktunya memasang jebakan sudah pas?"
"Iya. Masih ada waktu. Nanti tinggal menyesuaikan di ruang ganti sebelum keluar."
Pertanyaan yang ia lontarkan hanya untuk menenangkan hati dibalas Koharu dengan nada santai.
Angin sepoi-sepoi membelai tengkuk Hokobaru.
"...Yakin?"
Tiba-tiba Koharu bertanya.
"Hm?"
"Maksudku... kamu benar-benar tidak apa-apa, Hibari?"
"Tidak."
Sesaat air di sekitar Koharu bergoyang.
Hokobaru menyeringai.
"—Kalau aku bilang tidak, memangnya kamu mau bagaimana?"
"Hibari..."
Koharu memercikkan air ke arahnya. Hokobaru merapikan rambutnya yang diikat, lalu berkata dengan tenang.
"Kalian sudah berpacaran. Ada atau tidak adanya 'fakta yang sudah terjadi' hanyalah hal sepele."
"Yang penting Hiroto dan kamu bisa saling berbicara dengan jujur."
"Itulah yang sebenarnya kamu inginkan, bukan?"
Setelah mengatakannya tanpa ragu, Hokobaru kembali merendam bahunya.
Kalau didengarkan baik-baik, terdengar suara burung dan ranting-ranting pohon bergesekan.
Pegunungan saat senja memang ramai. Waktu siang yang pergi dan malam yang datang saling bergantian tanpa henti.
Begitulah alam berjalan setiap hari, jauh sebelum manusia memasuki pegunungan ini.
"...Aku tidak sebaik yang kamu kira, Hibari."
"Aku juga."
Lamunan Hokobaru terputus.
Ia membalas memercikkan air ke arah Koharu.
Melihat kedua gadis itu bercanda, Yanami membiarkan tubuhnya mengapung di air.
Apa pun hasilnya, semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya. Sejak dulu, harapan dan kepasrahan memang selalu berdampingan.
"Wah... benar-benar meresap...."
Yanami bergumam pelan, seolah membiarkan air panas itu melarutkan bahkan isi hatinya.
◇
──Pukul 17.05. Akhirnya waktu untuk memulai operasi telah tiba.
Setelah selesai berganti pakaian, kami berkumpul di depan bangunan lalu mulai berjalan menuju terminal bus.
Langit di sebelah timur perlahan mulai diselimuti malam.
Saat hampir mencapai jalan raya, Yanami tiba-tiba berhenti.
"Ah, aku ketinggalan barang di pemandian!"
Sesuai isyarat Yanami, Koharu-san langsung angkat bicara.
"Gimana terus? Aku bawakan tasmu ya."
"Makasih. Aku balik sebentar kok, tunggu ya."
Sesuai rencana, Yanami menyerahkan tasnya kepada Koharu-san. Saat hendak kembali ke arah pemandian, ia melirik ke arahku.
...Hm? Giliran apa ini lagi? Koharu-san dan Hokobaru-senpai juga sedang menatapku.
"Eh... Yanami-san, aku ikut."
Benar juga. Aku memang harus menghilang di saat ini.
Memang rasanya tidak enak karena aku jadi terlihat selalu berpasangan dengan Yanami, tapi sekarang bukan waktunya mengeluh.
Begitu kami sudah berada di tempat yang tak terlihat oleh ketiganya, Yanami menoleh kepadaku.
"Terus kita sekarang harus ngapain ya?"
"Katanya, selagi mereka menahan Sakurai-kun, kita keluar lewat belakang bangunan ini."
Lalu berjalan menyusuri jalan menuju halte bus—bukan terminal, melainkan halte satu pemberhentian setelahnya. Rencananya dibuat sedetail mungkin agar tidak berpapasan dengan Sakurai-kun.
"Wah, di sini ada tangga bertingkat."
"Hati-hati lihat jalan."
Aduh, jangan keras-keras. Nanti ketahuan.
Aku mengulurkan tangan kepadanya.
"...Nukumizu-kun?"
"Ayo. Di sini ada selokan."
"Oh... oke..."
Entah kenapa Yanami bersikap begitu menurut, lalu menggenggam tanganku. Aku menariknya melewati belakang bangunan hingga kami tiba di jalan raya.
Kulihat jam tanganku.
Pukul 17.10.
Dari sini ke halte tujuan sekitar lima belas menit berjalan kaki. Bus berangkat pukul 17.32, jadi selama tidak ada masalah kami pasti sempat.
Aku memang sempat bimbang, tapi sekarang sudah tidak ada jalan mundur.
Saat hendak mempercepat langkah, tanganku tiba-tiba ditarik.
"Emm... Nukumizu-kun... tanganmu."
Tangan? Baru kusadari kami masih bergandengan tangan.
"Oh, maaf. Susah jalan ya."
Aku segera melepaskan tangannya lalu berjalan cepat. Kalau masih berlama-lama di sini lalu ketahuan, semua usaha akan sia-sia.
"Ayo, Yanami-san. Cepat. Bahaya kalau kita masih di sini."
Entah kenapa Yanami memandangku dengan wajah kesal.
"...Dasar bodoh."
Bruk.
Ia sengaja menyenggol bahuku lalu berlari kecil mendahuluiku.
...Kenapa malah aku yang dimaki?
Aku diam-diam mengusap telapak tanganku yang terasa agak lembap ke celana, lalu mengejarnya.
◇
Pukul 17.20.
Tiga orang yang tertinggal di depan pemandian kaki masih terus menunggu Yanami dan Nukumizu.
Sakurai memiringkan kepala sambil melihat ponselnya.
"...Aneh. Telepon Nukumizu-kun tidak bisa dihubungi."
"Aku juga tidak bisa menghubungi Yanami-san. Soalnya di pegunungan ya? Mungkin sinyalnya jelek."
Koharu menurunkan ponsel dari telinganya sambil menggeleng.
Hokobaru menyipitkan matanya memandang matahari sore, lalu melihat ke arah jalan.
"Jangan-jangan mereka mengira kita sudah menuju terminal bus, jadi mereka langsung ke sana lebih dulu."
"Tapi kalau mereka lewat sini, pasti ada yang melihat kan?"
Menanggapi pertanyaan masuk akal dari Sakurai, Hokobaru menunjuk bangunan beratap jerami.
"Dari belakang museum rakyat itu ada jalan tembus ke jalan raya. Mungkin mereka mengambil jalan pintas untuk menyusul kita."
Melihat Sakurai masih belum yakin, Hokobaru mengangkat bahu.
"Kalau begitu aku akan mengecek terminal bus. Kalian berdua tetap di sini."
Setelah berkata begitu ia pun pergi.
Sakurai memandangi punggungnya.
"...Hiro-kun, kenapa?"
"Bukan apa-apa. Kita juga cari mereka yuk."
"Hiro-kun tetap di sini saja. Kita tunggu kabar dari Hibari."
Koharu memegang tangan Sakurai yang hendak bergerak. Walau bingung dengan sikap Koharu yang begitu memaksa, Sakurai tetap menurut.
Sambil menahan rasa cemas, ia melihat sekeliling.
Tak lama kemudian ponselnya berdering.
Telepon dari Hokobaru.
"Halo? Ketemu mereka?"
"Tidak. Di sini juga tidak ada. Mereka belum kembali?"
Mendengar jawaban itu, Sakurai refleks melihat jam tangannya.
──17.25.
Lima menit lagi bus berangkat. Bahkan kalau berlari dari sini ke terminal pun butuh sekitar tiga menit.
Mereka tak bisa menunggu lebih lama.
"Koharu, sementara kita ke terminal dulu..."
"Jangan-jangan terjadi sesuatu di pemandian. Aku ke sana sebentar. Hiro-kun tunggu di sini."
Koharu memotong ucapannya lalu berbalik.
"──Tunggu."
Nada suara Sakurai yang tajam membuat langkah Koharu terhenti.
"Kenapa? Kalau tidak cepat nanti..."
"Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku?"
Bentuknya memang pertanyaan. Namun sebenarnya itu adalah konfirmasi.
Melihat ekspresi Koharu, Sakurai langsung menggenggam tangannya.
"Ayo. Waktunya sudah mepet kan."
"Tunggu..."
Dengan sikap yang jauh lebih memaksa dari biasanya, Sakurai mulai menariknya menuju terminal bus.
"Hiro-kun, kita harus menunggu mereka..."
"Sejak tadi semuanya bergerak tepat setiap lima menit, kan?"
Sambil berjalan, Sakurai mengirim pesan kepada Nukumizu.
"Kalau normal, pertama-tama pasti mengecek keadaan di pemandian. Tapi kalian sengaja tidak melakukannya sampai detik-detik terakhir."
"Itu..."
Kata-kata yang hendak diucapkan Koharu menghilang begitu saja.
Ia sadar. Sudah tidak bisa menutupinya lagi.
"...Maaf."
"Nanti saja bicaranya. Nukumizu-kun dan Yanami-san sekarang sudah ada di terminal, kan?"
"Mereka nunggu di halte satu pemberhentian berikutnya."
"...Begitu ya. Benar-benar direncanakan matang."
Mendengar kata-kata sinis yang keluar dari mulutnya sendiri, Sakurai mengernyit.
...Lebih baik jangan bicara lagi.
Kadang kata-kata bisa melukai orang.
Sambil mengingatkan dirinya sendiri, ia terus berjalan.
Tak lama kemudian bangunan besar terminal bus mulai terlihat.
Saat mereka tiba di depan halte, bus menuju Takayama sudah menunggu. Melihat keduanya datang, Hokobaru yang berdiri di depan bus langsung berkata,
"Aku tidak bisa menghubungi mereka. Tas Yanami masih dibawa Koharu, bukan?"
Meski Hokobaru masih berusaha mempertahankan sandiwara, Koharu hanya menggeleng lemah.
"...Maaf, Hibari."
Melihat itu, Hokobaru langsung mengerti semuanya. Ia menghela napas panjang lalu menempelkan tangan ke dahinya.
"...Maaf. Aku tidak akan mencari alasan."
"Nanti saja bicaranya, Hiba-nee. Sekarang ayo naik bus."
Setelah penumpang yang turun selesai, Sakurai menyuruh keduanya naik.
Koharu yang sudah menginjak anak tangga bus menoleh dengan wajah hampir menangis.
"Emm... Hiro-kun."
"Iya. Aku tidak marah kok. Maaf ya, aku juga tidak pernah benar-benar membicarakan semuanya."
Sambil memaksakan senyum, Sakurai naik ke dalam bus.
Hokobaru dan Koharu duduk berdampingan.
Sakurai duduk di kursi seberang lorong.
Tak lama setelah ketiganya duduk, bus pun mulai berjalan.
Merasakan tatapan kedua gadis itu, Sakurai hanya memandang keluar jendela ke arah bangunan terminal yang perlahan menjauh.
...Sejujurnya kepalanya benar-benar kacau. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Semua orang sudah bersekongkol. Dan tampaknya mereka memang berniat meninggalkan hanya dirinya dan Koharu berdua.
Kalau Koharu ingin melakukan sesuatu padanya, ia tidak keberatan. Memang ia pantas menerimanya.
Tapi menyeret Nukumizu dan Yanami ke dalam semua ini tidaklah benar.
Melibatkan dua orang yang tidak ada hubungannya...
Sampai di situ Sakurai menggeleng.
Jangan melampiaskan kemarahan yang sebenarnya miliknya sendiri kepada orang lain.
Perasaan ini...adalah miliknya sendiri.
Dan mungkin, sesungguhnya ditujukan kepada dirinya sendiri.
『"Sebentar lagi tiba di Halte Otakiguchi - Depan Area Perkemahan. Bagi penumpang yang akan turun...』
Pengumuman terdengar di dalam bus.
Di halte itulah Nukumizu dan Yanami seharusnya naik.
Kira-kira wajah seperti apa yang akan mereka tunjukkan saat melihat dirinya berada di dalam bus?
Sambil membayangkan rasa bersalah mereka bercampur sedikit kenakalan, Sakurai memandang hijaunya pepohonan di luar jendela.
Namun—bus itu terus melaju, melewati halte tersebut tanpa berhenti.
◇
Pukul 17.22.
Aku mengalihkan pandangan dari tampilan digital jam tanganku, lalu menatap pepohonan rimbun yang tumbuh lebat di sepanjang trotoar.
Jadwal bus yang ingin kami naiki adalah... kalau tidak salah pukul 17.32.
Kalau berjalan biasa, lima menit saja sudah cukup untuk sampai ke halte. Namun, langkah Yanami mulai melambat.
"Lututmu sakit lagi?"
"Bukan, cuma agak lapar saja."
Jadi kalau lapar jalannya jadi lambat? Memangnya dia karakter game yang kena status kelaparan?
Yanami menghela napas lalu mengulurkan tangan kepadaku.
"Nukumizu-kun, tasku dong. Di dalamnya ada permen."
"Iya, iya."
Aku membuka ransel yang kubawa.
Selain tas palsu yang kami berikan kepada Koharu-san, aku juga membawa tas tangan Yanami. Begitu membuka tas itu, Yanami bergumam pelan.
"...Ini tas palsunya."
"Hah?"
Menurut rencana, tas palsu memang akan tetap dibawa Koharu-san sementara kami pulang.
Wajah Yanami langsung pucat. Ia mengobrak-abrik isi tas.
"Hah? Gimana dong? Soalnya handukku masuk ke tas yang asli, jadi ketuker semuanya..."
"Kalau begitu... minta dikembalikan minggu depan saja?"
"Tapi dompet, HP, sama tiket pulangku juga semuanya ada di tas itu?!"
Berarti Yanami sekarang tidak punya uang maupun tiket...
Begitu ya...
"Kalau begitu, Yanami-san terpaksa harus bermalam di sekitar sini."
"Nggak bakal dong?! Nukumizu-kun, kamu mau ninggalin aku?!"
Di benakku terlintas pepatah daripada mati kelaparan.
Saat sedang memikirkan solusi, Yanami tiba-tiba berbalik dan mulai berjalan kembali ke arah semula.
"Yanami-san, mau ke mana?"
"Mengambil tas yang kutitipkan ke Koharu-chan."
"Tunggu. Kalau begitu rencananya jadi berantakan."
"Memangnya yang lebih penting itu rencana atau aku harus tidur di alam terbuka?!"
Kalau disuruh memilih... mungkin rencananya. Lagi pula sekarang musim panas. Kurasa Yanami masih sanggup bertahan semalam.
Aku mengejarnya sambil melihatnya berjalan dengan kesal, tetapi langkahnya benar-benar lambat.
"Kalau begini kita tidak akan sempat. Lututmu memang masih sakit, kan?"
"Nggak sakit kok. Habis berendam air panas jadi sembuh."
...Ini gawat.
Apa "bom waktu" di lututnya akhirnya meledak gara-gara jalan pegunungan Hida?
"Ayo, tinggal sedikit lagi. Semangat."
"...Dengar ya, menurutku rencana ini memang dari awal sudah terlalu dipaksakan."
Entah kenapa Yanami malah melampiaskan kekesalannya kepadaku.
"Gimana ya... hitung-hitungan angkanya kurang pas. Masih belum matang. Terus soal... redundansi buat menghadapi masalah juga nggak diperhitungkan."
"Redundansi itu apa?"
Mendengar pertanyaanku, Yanami menatap langit dengan wajah serius.
"Kue mochi itu keras, tapi kalau dibakar jadi melar, kan? Mungkin ada hubungannya sama itu."
Kurasa sama sekali tidak ada hubungannya.
Rencana sudah gagal, Yanami lapar sekaligus membawa "bom lutut", apa sebaiknya kutinggalkan saja dia di sini...?
Sambil bimbang, kulihat jam tanganku.
Sekarang pukul 17.26.
"Busnya berangkat jam berapa tadi?"
"Jam 17.32, kan. Menurut perkiraan Yanami-chan, kita masih sempat kok."
Kalau begini, rencananya memang harus dibatalkan.
Tas juga masih dititipkan. Pertama-tama kami harus bertemu dulu dengan Sakurai-kun dan yang lain.
Saat kulihat layar ponsel, deretan panggilan tak terjawab dan pesan dari Sakurai-kun memenuhi layar. Menurut pesan terakhirnya, mereka sedang menuju terminal bus.
"...Eh? Ini beda dari rencana."
"Kenapa?"
Yanami mengusap keringat di dahinya sambil bertanya.
"Oh, Sakurai-kun dan yang lain katanya ada di terminal bus. Kita minta maaf saja lalu ambil kembali tasnya."
"Iya... benar nggak sih kalau tulang rawan hiu bagus buat sendi...?"
Sepertinya lutut Yanami benar-benar sudah hampir mencapai batas. Sambil terus menyemangatinya berjalan, akhirnya bangunan terminal bus mulai terlihat.
Bus yang sedang berhenti itu mungkin bus yang akan kami naiki.
Jam menunjukkan pukul 17.30. Tinggal dua menit sebelum berangkat. Benar-benar mepet.
Walaupun rencana gagal, sebelum sampai di Stasiun Takayama kami masih bisa memikirkan rencana berikutnya...
Sambil berpikir begitu, kami memasuki area parkir terminal bus. Tepat saat itu, bus yang berhenti di depan gedung mulai bergerak.
Eh?
Jangan-jangan bus yang tadi berhenti itu memang bus kami?
Tanpa sadar aku melihat papan tujuan pada bus yang melintas di samping kami.
"...Yanami-san, bus yang kita naiki tujuannya ke mana tadi?"
"Ke Bus Center Takayama, kan? Yang di depan stasiun."
Yanami mengipas-ngipaskan wajahnya dengan telapak tangan sambil melihat ke sekeliling.
"...Lho? Busnya mana?"
"Sepertinya... yang barusan pergi itu."
"Hah?!"
Yanami menyodorkan jam tangannya ke hadapanku.
"Kan belum jamnya?! Harusnya busnya masih ada, dong?"
"Iya juga. Hmm... kita lihat jadwalnya dulu."
Kami buru-buru menuju halte dan melihat papan jadwal.
Keberangkatan bus terakhir adalah...17.30.
Jam tanganku sekarang menunjukkan pukul 17.31.
"...Yanami-san. Bukankah yang jam 17.32 itu waktu keberangkatan dari halte berikutnya?"
"...Mungkin juga."
Ruang kosong di bawah angka 30 pada jadwal perlahan-lahan membuat kenyataan mulai terasa.
...Baiklah. Mari kita pastikan dulu situasi yang sedang kami hadapi.
1. Sakurai-kun dan Koharu-san menghubungi kami bahwa mereka menuju terminal bus.
2. Yanami memasukkan dompet, ponsel, dan barang-barang pentingnya ke dalam tas yang dititipkan kepada Koharu-san.
3. Aku dan Yanami ketinggalan bus terakhir.
Aku melihat ke sekeliling, tetapi tidak ada seorang pun yang kukenal. Toko suvenir juga sudah tutup, lampunya telah dimatikan.
Artinya...
4. Hanya aku dan Yanami yang tertinggal di kota pemandian air panas tua di Hida.
...Begitulah keadaannya.
Aku melirik wajah Yanami yang masih menatap papan jadwal tanpa berkedip.
Sepertinya akhirnya ia benar-benar memahami situasi.
Perlahan-lahan, dengan gerakan kaku, Yanami menoleh ke arahku.
"...Nukumizu-kun."
"I-iya!"
Entah kenapa aku sampai menjawab dengan bahasa yang sopan. Yanami kemudian mengulurkan telapak tangannya dengan ragu.
"Aku mau beli minuman. Pinjem uang dong.”
◇
Lima menit berjalan kaki dari terminal bus.
Di lorong sebuah penginapan pemandian air panas, sepasang pemuda dan pemudi berjalan berdampingan.
"Masakannya... enak ya."
"I-iya. Rasanya secara keseluruhan... enak."
Setelah bertukar percakapan yang canggung, keduanya melangkah menaiki tangga sambil ujung yukata mereka bergoyang.
Tak perlu dijelaskan lagi siapa mereka.
Aku, Nukumizu Kazuhiko, dan Yanami Anna.
Bahkan aku sendiri tidak bisa memahami situasi ini kalau tidak melihatnya dari sudut pandang orang ketiga.
"Nukumizu-kun, tadi kamu cuma nambah nasi sekali. Memangnya sudah kenyang?"
"Iya. Delapan puluh persen kenyang rasanya pas."
Sebagai catatan, di penginapan pemandian air panas nasi biasanya disajikan dalam sebuah ohitsu (wadah nasi kayu). Jadi yang dimaksud "nambah nasi" dalam percakapan kami tadi adalah meminta satu ohitsu lagi, bukan sekadar semangkuk nasi.
Mengapa aku dan Yanami bisa berendam di sumber air panas No. 1, lalu menikmati daging sapi Hida sambil mengenakan yukata?
Singkatnya, semua ini ditraktir oleh Koharu-san.
Setelah itu kami berhasil menghubungi Sakurai-kun, dan akhirnya kami menginap di ryokan yang sudah dipesan oleh Koharu-san.
Tentu saja, kamar yang dipesan hanya satu.
Dan...
"Nukumizu-kun, mana kunci kamarnya?"
"Eh... sebentar."
Aku mengeluarkan kunci dari lengan yukata, lalu membuka pintu.
Di tengah kamar...ada dua futon yang sudah digelar.
Aku terpaku menatap kedua futon yang berjajar itu. Yanami mengalihkan pandangan, lalu masuk ke dalam kamar.
"A-aku sikat gigi dulu ya."
Sementara Yanami berjalan canggung menuju wastafel, aku terus menatap kedua futon itu.
Jaraknya terlalu dekat. Bahkan selimutnya saling bertumpuk di ujungnya.
Tapi kalau langsung kupisahkan, nanti malah kelihatan seperti aku terlalu menyadarinya. Lagi pula, harus dipisahkan sejauh apa? Apa sebaiknya kugelar ulang di dua sudut kamar yang saling berseberangan...?
Kresak, kresak, kresak.
Di tengah pikiranku yang terus berputar, terdengar suara Yanami sedang menyikat gigi.
...Baiklah. Urusan futon nanti saja.
Aku duduk di kursi lantai, lalu menyalakan televisi.
Baru lewat pukul delapan malam. Masih terlalu awal untuk tidur. Acara yang sedang tayang berjudul "Forum Diskusi Jujur Anak Muda."
Seorang staf sedang mewawancarai seorang gadis yang tampaknya masih remaja di pinggir jalan.
『Berapa bulan setelah mulai pacaran kalian melakukan 'itu'?』
『Eh... malah dua bulan sebelum jadian? Soalnya ketinggalan kereta terakhir terus... ya kebawa suasana.』
Gelak tawa terdengar dari studio.
Aku segera mematikan televisi.
...Sial. Kenapa acara beginian tayangnya di saat seperti ini?
Memang televisi tidak baik untuk pendidikan.
"Kenapa? Nggak jadi nonton?"
"Ah... kayaknya sinyalnya jelek."
Aku menjawab asal untuk mengalihkan pembicaraan, lalu buru-buru melihat ponsel.
Pesan dari Kaju datang tanpa henti. Bahkan sampai sekarang masih terus berdatangan.
Seram.
Sebagai tambahan, Sakurai-kun sudah menelepon rumahku, sedangkan Hokobaru-senpai menelepon rumah Yanami.
Karena ceritanya kami menginap bersama teman yang sesama jenis, urusan dengan orang tua sudah aman.
Kalau soal adik perempuanku... aku tidak yakin.
Saat sedang menandai ratusan pesan dari Kaju sebagai sudah dibaca, sebuah notifikasi baru muncul di bagian atas layar.
Dari Koharu-san.
"Yanami-san, ada pesan dari Koharu-san."
"Ah, iya."
Aku menyerahkan ponsel kepada Yanami yang mengulurkan tangan melewati meja rendah.
Karena Koharu-san memegang ponsel Yanami, semua pesan untuk Yanami diteruskan lewat ponselku.
"Ugh... Ayah cerewet banget..."
Meninggalkan Yanami yang terus menggerutu, aku memutuskan untuk menyikat gigi.
Mungkin karena kadar gula darahnya sudah naik dan suasana hatinya membaik, Yanami kini memainkan ponsel sambil bersenandung pelan.
Aku sedikit lega dan berdiri di depan wastafel. Di sana kulihat sikat gigi bekas pakai yang berdiri di dalam gelas.
...
......Itu cuma sikat gigi biasa.
Iya, di minimarket juga dijual.
Aku menyikat gigi sambil mengosongkan pikiranku.
Kosongkan pikiran, aku.
...Ah, Yanami menyalakan televisi. Lalu langsung mematikannya lagi.
Selagi aku berjuang melawan pikiranku sendiri, gigiku pun selesai disikat hingga bersih.
Aku berkumur, lalu meletakkan gelas berisi sikat gigiku di samping gelas milik Yanami. Entah kenapa rasanya aneh melihat kedua gelas itu berdampingan.
Aku menarik napas panjang lalu kembali ke kamar.
Yanami masih sibuk menekan-nekan layar ponselku.
"Nukumizu-kun, gimana caranya nambah Summon Stone ini?"
Dasar. Dia memainkan gameku tanpa izin.
Aku hanya bisa menghela napas sambil melihat layar ponsel.
"Biasanya dikumpulin pelan-pelan lewat event ulang tahun atau semacamnya. Atau ya... beli pakai uang."
"Ooh... ternyata perlu keluar uang ya."
Yanami diam-diam menutupi layar ponsel.
Hm? Sikap itu jangan-jangan...
"Jangan bilang... kamu sudah pakai Summon Stone-ku?!"
"Soalnya ada tulisan peluang meningkat, terus gacha rerun, semuanya berkilau sih!"
Aku langsung merebut ponsel dari tangannya.
Sisa Summon Stone...0.
Serius? Padahal susah payah kukumpulkan.
Saat aku terkulai lesu, Yanami mencoba menghiburku.
"Tapi lihat deh... tadi dapat yang bintangnya banyak kok..."
"Hah? Dapat karakter ★5?"
Aku buru-buru membuka daftar karakter.
Tulisan merah "NEW" bermunculan di sana.
"Wah! Ini kostum spesial event Visconti! Serius bisa dapat?!"
Hebat juga Yanami. Perempuan ini memang beruntung dalam segala hal.....kecuali urusan percintaan.
"Memangnya sehebat itu?"
"Iya. Kukira sudah tidak mungkin bisa didapat lagi. Eh, ada beberapa karakter yang belum kupunya juga."
Ternyata Yanami punya bakat seperti ini.
Tunggu. Kalau begitu...
"Eh, Nukumizu-kun..."
"Benar juga! Berarti game yang lain juga bisa kamu gacha—"
Karena terlalu bersemangat, aku mengangkat wajah dari ponsel.
Begitu kulihat ke depan...sepasang mata bulat Yanami sudah berada sangat dekat di hadapanku.
Aku langsung membeku. Yanami tersenyum canggung.
"E-eh... bukannya kita jadi terlalu dekat... ya?"
"M-maaf!"
Aku buru-buru mundur, lalu duduk bersimpuh dengan posisi seiza sebagai tanda meminta maaf.
Sepertinya Yanami juga merasa sangat canggung.
Sambil membetulkan bagian dada yukatanya, ia menunduk malu dan memalingkan wajah ke arah lain.
Gawat. Suasananya langsung jadi canggung.
Aku harus mengangkat topik yang terdengar alami untuk mengubah suasana.
Hampir tanpa sadar, tanganku meraih remote televisi.
『Pernah didekati teman laki-laki saat hanya berdua dengannya. Yang menjawab 'Ya' sebanyak 42%—』
Klik.
Aku langsung mematikannya lagi.
...Suasananya malah jadi lebih canggung.
Harus bagaimana ini? Padahal sekarang bahkan belum pukul 8.30 malam. Tapi... tidur saja, ya.
Ya, itu saja.
Aku berdeham, lalu berbicara dengan nada serius.
"Yanami-san."
"I-iya!"
Yanami langsung menegakkan punggungnya.
"Hari ini kita capek, jadi tidur lebih awal saja ya."
"I-iya! Besok juga harus sarapan!"
Kami buru-buru berdiri dan mulai bersiap tidur.
Meski begitu, kami hampir tidak membawa barang apa pun, jadi sebenarnya tinggal masuk ke futon dan tidur saja.
Aku menghadap dinding untuk merapikan yukataku. Dari belakang terdengar suara Yanami juga sedang membetulkan yukatanya.
Entah kenapa rasanya aneh saat kami berdua sama-sama membuka ikat pinggang yukata.
Tidak, tidak. Berdua dengan Yanami sepulang sekolah bukanlah hal yang aneh.
Aku pernah membantu memasangkan kancing blusnya, bahkan pernah meminjamkan baju olahraga kepadanya.
Hanya saja kali ini tempatnya adalah sebuah kamar penginapan pemandian air panas, dan kami akan menghabiskan malam di sini sampai pagi.
Tentu saja...tidak mungkin terjadi sesuatu yang aneh.
Aku bisa memastikan itu.
Selama kami berdua sama-sama tidak punya niat seperti itu, kesalahan semacam itu secara fisik mustahil terjadi.
"Nukumizu-kun, aku sudah selesai..."
Entah kenapa Yanami duduk bersimpuh di atas futonnya.
Aku mengangguk tanpa berkata apa-apa, lalu ikut duduk bersimpuh di atas futonku.
...Tidak. Sudah, berhenti mencari-cari alasan. Seorang laki-laki dan perempuan kelas dua SMA berduaan di kamar penginapan. Tidak ada keluarga ataupun kenalan di sekitar.
Situasi ini jelas berbeda dengan saat aku memberi Yanami gula batu di ruang klub.
Aku pun memantapkan tekad.....lalu mengulurkan tangan.
Setelah memeluk bantal ke dada, aku berdiri.
"Kalau begitu, setelah aku keluar, tolong pastikan pintunya terkunci ya. Ponselku kutinggal di sini."
"Hah? Mau ke mana?"
Yanami menatapku dengan terkejut.
"Aku kepikiran tidur di kursi lobi saja. Kalau ada apa-apa, panggil aku."
"Lho, mana bisa begitu?!"
Eh? Kenapa dia malah marah?
Yanami menghela napas panjang seolah benar-benar kehabisan kata-kata.
"Sudahlah, tidur saja. Kamarnya cuma satu, jadi memang nggak ada pilihan lain."
"Ya sih..."
Saat aku masih ragu-ragu, Yanami menepuk-nepuk futonku.
"Lagi pula Koharu-chan sudah baik-baik mentraktir kita. Kalau nggak dipakai kan malah nggak enak."
"I-iya juga. Dari awal kan memang rencananya Sakurai-kun dan Koharu-san mau menciptakan fakta kalau mereka sudah..."
Begitu menyadari ucapanku, keheningan yang lebih dalam daripada pegunungan Hida langsung menyelimuti ruangan.
"............Ya sudah, tidur saja."
Baiklah. Anggap saja tadi tidak pernah terjadi.
Aku sudah terbiasa melakukan itu. Saat hendak menarik tali lampu, Yanami berseru pelan
"Jangan dimatiin semua... lampu kecilnya tetap nyala ya."
...Lampu kecil?
"Oh, lampu tidur? Begini?"
"Iya."
Ruangan yang gelap diterangi cahaya kecil berwarna jingga.
Aku pun berbaring dan menarik selimut musim panas hingga ke dada. Besok harus bangun pagi, jadi sebaiknya segera tidur.
Di balik kelopak mataku yang mulai terpejam, cahaya jingga kecil itu masih tampak.
"Yanami-san, jadi di rumahmu lampu ini disebut 'lampu kecil', ya?"
"...Di rumahku memang nyebutnya begitu."
Begitu ya. Kalau memang begitu, ya tidak masalah.
"Bukan bermaksud mengejek kok. Aku cuma jadi tahu kalau kamu lebih suka nggak terlalu gelap."
Tanpa berpikir panjang aku mengatakannya, lalu memejamkan mata.
Dari kejauhan terdengar suara air mengalir di dalam pipa. Sesekali terdengar tawa pelan dari kamar lain. Suara langkah kaki orang asing mendekat... lalu menjauh.
Saat kesadaranku perlahan tenggelam menuju tidur, Yanami bergumam pelan.
"...Kadang aku mimpi buruk."
Ucapan yang tiba-tiba itu membuatku membuka mata. Lampu kecil memancarkan cahaya jingga yang lembut.
"...Mimpi buruk?"
"Semua orang pergi entah ke mana. Terus aku yang masih kecil sendirian di tengah ladang bunga."
Setelah mengatakan itu, Yanami terdiam.
Di dalam kamar yang sunyi, hanya suara kecil yang kami buat berdua yang terdengar.
Suara gesekan futon.
Suara kain yukata.
Dan... suara napas kami.
Entah sudah berapa lama berlalu. Aku merasa Yanami sedang menunggu jawabanku, jadi aku membuka mulut.
"Hari ini... Yanami-san nggak sendirian."
Yanami menjawab pelan.
"...Iya."
Hanya percakapan sederhana itu.
Setelahnya kami tinggal memejamkan mata, dan ketika membukanya nanti pasti sudah pagi.
Ingatanku tentang malam itu terputus tepat setelah aku mulai mendengar suara napas tidur Yanami.
◇
Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, ditemani kicauan burung.
Di balik pandangan yang masih kabur, tampak langit-langit yang asing.
Dengan kepala yang masih mengantuk, aku mengingat kembali situasiku.
...Ternyata aku tidur cukup nyenyak. Padahal kalau di novel ringan, biasanya tokoh utama akan gugup sampai tidak bisa tidur semalaman.
Aku menoleh ke samping.
Yanami tampaknya juga baru bangun. Ia perlahan mengangkat tubuhnya dari futon. Dengan rambut yang acak-acakan dan mata yang masih mengantuk, ia bergumam pelan.
"...Sarapan."
Kalimat pertama yang keluar begitu bangun ternyata itu.
Entah kenapa aku merasa lega.
Aku berdiri lalu membuka tirai.
"Sebentar lagi waktunya sarapan. Memangnya lapar banget?"
Sambil mengusap matanya, Yanami mengangguk pelan.
"...Soalnya kemarin aku belum makan."
Padahal makan. Bahkan makan lebih banyak daripada siapa pun.
Yanami memandangi sekeliling kamar dengan tatapan kosong. Lalu ia membuka matanya sedikit lebih lebar dan menatapku.
"...Nukumizu-kun? Kok kamu ada di sini?"
"Kemarin kita ketinggalan bus, terus menginap di sini, ingat?"
"Oh... iya juga..."
Yanami menggaruk-garuk kepalanya beberapa saat. Lalu tiba-tiba seluruh tubuhnya tersentak.
"Hah?! Jadi yang itu cuma mimpi?! Mulainya dari mana?!"
"...Mimpi? Maksudnya... di dalam mimpimu memang terjadi apa?"
"Ya... itu..."
Wajah Yanami yang sedang menatapku langsung memerah.
Lalu...
"Itu dia masalahnya, Nukumizu-kun!"
Seketika ia melempar bantal ke arahku.
"Hah..."
Kenapa aku malah dimarahi? Benar-benar tidak masuk akal.
Meski begitu, sudah lama rasanya aku tidak tidur senyenyak ini. Mungkin karena aku tidak perlu khawatir Kaju mengigau lalu menyelinap masuk ke tempat tidurku.
Sambil membiarkan omelan Yanami masuk telinga kanan keluar telinga kiri, aku meregangkan tubuh lebar-lebar menghadap langit biru Hida.




Post a Comment