Bab III
"Selamat pagi, Proteus-sensei!"
Di ruang guru pada pagi hari, para
pengajar tampak berkumpul bersama.
Dokumen dan buku-buku yang menumpuk
tinggi di atas meja menjadi pembatas yang membuat sebagian besar wajah para
guru tidak terlihat.
Di tengah situasi itu, tepat di saat Theo
menduduki kursi pribadinya di ruang guru, seorang guru perempuan di sebelah
kursinya langsung menyapa.
Penampilannya benar-benar terlihat
seperti seorang biarawati yang patuh.
Jubah putih bersih membungkus tubuhnya
hingga ke ujung kaki,
memperlihatkan garis lekuk badannya.
Di balik mantel jubah putihnya, terdapat
wajah kekanak-kanakan yang tidak jauh berbeda dari para murid, membuat wajahnya
terlihat mungil.
Ukuran tubuhnya yang kecil mengingatkan
pada seekor binatang kecil,
tetapi di sisi lain, tonjolan lembut yang
mendorong pakaiannya ke depan justru memancarkan keberadaan yang lebih
mencolok.
Guru perempuan itu melangkah semakin
dekat ke arah Theo, seolah-olah dia hendak membicarakan sesuatu yang bersifat
rahasia.
Namun, dadanya yang besar justru menabrak
tumpukan dokumen di atas meja hingga membuatnya berantakan. "Ma-maaf,
maaf!" ucap guru perempuan itu dengan panik sambil memunguti dokumen dan
meminta maaf kepada orang-orang di sekitarnya.
Jika itu adalah orang lain, tindakan
tersebut pasti akan memicu cibiran, tetapi khusus untuk guru perempuan yang
satu ini, pemandangan semacam itu bukanlah hal yang langka.
Karena semua orang tahu bahwa dia teramat
ceroboh; dia sering kali tersandung di tempat yang tidak ada tanjakan sama
sekali, atau menumpahkan tumpukan dokumen. Guru-guru yang lain hanya
mengawasinya dengan pandangan yang hangat.
Namanya adalah Ophelia Gardener.
Sama seperti Theo, dia adalah seorang
guru baru yang mulai mengajar sejak musim semi tahun ini.
Sekilas, dia memang tampak kurang
cekatan, tetapi fakta bahwa Kepala
Sekolah merekrutnya membuktikan bahwa
kemampuannya tidak perlu diragukan lagi.
Setelah selesai merapikan segalanya untuk
sementara, Ophelia mulai berbicara dengan suara yang pelan bersahut-sahutan.
"Hari ini Anda datang agak
terlambat, ada apa? Walau jam kerja memang belum dimulai dan saya rasa tidak
ada masalah, tapi…… Proteus-sensei selalu datang di waktu yang sangat longgar,
jadi saya menjadi penasaran."
"Aku sedikit kesiangan. Karena
mempersiapkan pelajaran, aku baru tidur larut malam."
"Ah, aku mengerti. Karena asrama
staf pengajar berada di dalam lingkungan sekolah, kita jadi sering lengah,
ya."
Ophelia mengangguk-angguk setuju.
Di dalam lingkungan Lily Garden, tidak
hanya terdapat gedung sekolah saja, melainkan juga asrama staf pengajar serta
asrama putri untuk para murid.
Walau demikian, hampir tidak ada murid
dari kelas Theo yang tinggal di asrama putri.
Hal itu karena murid-murid yang
bersekolah di Lily Garden ini adalah putri-putri dari kaum bangsawan ternama,
sehingga mereka memilih untuk menyewa atau memiliki properti sendiri di kota
Celeste untuk berangkat ke sekolah.
Namun, alasan Theo terlambat bukanlah
karena dia sedang mempersiapkan pelajaran.
Melainkan karena dia sedang menuliskan
daftar informasi mengenai para murid serta rentetan ajang yang seharusnya
terjadi sepanjang satu tahun ini.
Pada Putaran Pertama, sebagai hasil dari
pengalamannya melewati peperangan, fisik Theo jauh lebih terlatih jika
dibandingkan dengan kondisinya saat ini. Dia telah menciptakan banyak sihir
khusus perang dan menyimpannya sebagai stok.
Namun, di Putaran Kedua sekarang, segala
hal yang diperolehnya dalam peperangan di Putaran Pertama telah lenyap tanpa
sisa.
Oleh karena itu, bagi Theo yang sedang
menjalani Putaran Kedua ini, hal yang paling dibutuhkannya adalah informasi
dari Putaran Pertama.
Memanfaatkan
informasi ini demi menyelamatkan para muridnya. Dan orang pertama yang akan
dipilihnya adalah──
Di saat Theo sedang tenggelam dalam
pemikirannya.
"Gardener-sensei, Proteus-sensei,
selamat pagi."
Tiba-tiba dari arah bagian dalam ruang
guru, seorang wanita tua anggun berambut putih berjalan mendekat.
Di jarinya terpasang sebuah cincin dengan
permata berukuran besar, tetapi anehnya benda itu sama sekali tidak memberikan
kesan pamer.
Dia mengenakan jubah pendeta putih bersih
yang elegan, dan di samping kursi pribadinya tampak sebuah tongkat khotbah
diletakkan.
Seorang penyihir yang mempertahankan gaya
penampilan tradisional yang telah berlangsung sejak zaman dahulu.
Wanita
tua itu──Kepala Sekolah, Anemone Blackwood, berucap bersamaan dengan sebuah
senyuman.
"Aku rasa pelajaran yang
sesungguhnya akan dimulai secara efektif minggu ini, jadi jika ada hal yang
menyulitkan kalian, silakan sampaikan saja, ya. Aku menaruh harapan besar pada
kalian berdua."
"I-tidak, kalau untuk Proteus-sensei
mungkin memang begitu, tapi kalau saya yang seperti ini……"
"Kamu terlalu rendah hati. Gadis
berbakat dari keluarga Gardener bukankah sangat terkenal? Seorang berkarakter
mulia yang tidak menyerah pada diskriminasi ras iblis dan rela mengulurkan
tangan kepada mereka. Jika berbicara tentang penyihir pemulih khusus ras iblis,
tidak ada orang yang tidak mengenalmu."
"Te-terima kasih banyak. S-saya
merasa sangat terhormat!"
Dengan penuh semangat, Ophelia
membungkukkan kepalanya
dalam-dalam.
Namun karena energinya terlampau
berlebihan, kepalanya justru membentur meja hingga dia berakhir memegangi
dahinya sambil mengerang, "Uuuu~~".
"Untuk
Proteus-sensei juga sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, ya. Walau kamu
memiliki banyak julukan seperti 《Genius Sihir Modern》,
tetapi berkat teori sihir generasi baru yang kamu kembangkan, segala jenis
industri kini telah berubah. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kamu telah
mengubah dunia. Tolong kerahkan seluruh kekuatanmu itu tanpa ragu di Lily
Garden ini."
"……Baik."
"Kalau begitu, mohon bantuannya,
ya."
Anemone pun pergi meninggalkan tempat itu
dengan senyuman yang terus terukir hingga akhir.
Begitu sosok wanita tua itu tidak lagi
terlihat, Ophelia mengembuskan napas panjang.
"……Fiuh, menegangkan sekali, ya.
Tidak disangka kalau Kepala Sekolah sendiri yang akan menyapa kita secara
langsung. Tempat kerja ini
benar-benar luar biasa."
"Ya."
Theo pun mengangguk setuju akan hal itu.
Sebab, Anemone Blackwood adalah seorang
guru yang namanya sangat tersohor dalam hal teori mendidik penyihir.
Dari bawah naungannya, entah sudah berapa
banyak penyihir terkenal yang berhasil dilahirkan.
Pemimpin Penyihir Istana saat ini,
petualang yang menyandang gelar terkuat, hingga bangsawan penting yang memegang
urusan pemerintahan Kerajaan Sanctia, semuanya adalah murid-murid yang menerima
bimbingan langsung dari Anemone.
Julukan
yang disematkannya adalah 《Ratu》. Dia adalah seorang penyihir yang mendidik
murid-murid dengan pengaruh yang teramat penting bagi negara ini, sampai-sampai
orang-orang menjulukinya sebagai penguasa di balik layar secara setengah
bercanda.
Bahkan
setelah mereka lulus sekarang, murid-muridnya masih terus berdatangan ke 《Lily
Garden》 untuk sekadar memberikan salam.
Walau sudah mundur dari garis depan,
Anemone tetaplah sosok yang tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para
penyihir.
Alasan Theo bisa menjadi guru di Lily
Garden pada Putaran Pertama juga sebagian besar berkat pengaruh dari Anemone.
Namun untuk saat ini, politik yang
mengitari dunia luar semacam itu benar-benar sama sekali tidak penting baginya.
Tujuan utama Theo sekarang adalah membuat
murid-muridnya menjadi kuat demi menyelamatkan mereka. Selain hal itu, semuanya
hanyalah urusan sepele.
Dan dia sudah menentukan murid pertama
yang akan dipilihnya.
"Kalau begitu, berikutnya kita akan
mulai dari dasar sihir sekaligus sebagai bentuk pengulangan."
Ruang kelas Taman Ketujuh.
Di saat Theo menuliskan kata-kata di
papan tulis lalu berbalik, para murid Taman Ketujuh tampak sudah berkumpul
lengkap secara keseluruhan.
Beberapa hari telah berlalu sejak
pelajaran yang sesungguhnya dimulai.
Namun, di setiap pelajaran apa pun,
tampaknya sekitar setengah dari jumlah murid tidak fokus mengikuti kelas.
Ada yang mendengarkan sambil menahan
kantuk dengan menguap, bahkan ada pula yang menelungkupkan tubuhnya di atas
meja sambil tidur lelap.
Mengenai Isabella, walau dia terjaga,
tetapi tampaknya dia tidak tertarik pada pelajaran; dia memalingkan wajahnya
dan menatap pemandangan di balik jendela.
"Proses pembangunan sihir telah
disempurnakan seiring berjalannya sejarah…… apakah ada di antara kalian yang
bisa menjawabnya?"
"Ya, saya."
Satu-satunya orang yang mengangkat
tangannya dengan tegak hanyalah Karina.
Pembangunan sihir adalah dasar dari
segala dasar. Murid-murid yang lain sebenarnya sudah paham, tetapi mereka
tampaknya tidak berniat untuk menjawab.
Begitu Theo menunjuknya, Karina berucap
dengan gugup sambil memasang ekspresi wajah yang tegang.
"……Pertama,
sihir dikatakan sebagai sebuah fenomena yang memanfaatkan kebijaksanaan Tuhan.
Yang dimaksud dengan kebijaksanaan Tuhan adalah prinsip dunia ini…… dengan kata
lain, hukum yang menetapkan prosedur seperti apa yang harus dilalui agar sihir
dapat aktif. Dalam istilah sihir, hal itu disebut dengan 《Formula
Sihir》."
Pada awalnya dia tampak mencuri-curi
pandang ke arah Theo untuk membaca situasi, tetapi cara bicara Karina menjadi
semakin lancar seiring kalimat yang dirangkainya.
"Sihir
akan aktif dengan cara menyalurkan mana ke dalam 《Formula
Sihir》. Namun, jika proses pembangunan sihir dijabarkan
secara lebih mendetail, prosesnya terbagi menjadi tiga tahap besar.
Tahap
pertama, 《Koneksi》 untuk terhubung dengan Tuhan.
Tahap
kedua, 《Perolehan》
untuk memasukkan kebijaksanaan Tuhan…… dengan kata lain formula sihir, ke dalam
otak penyihir.
Dan
tahap ketiga, 《Pelepasan》
untuk memanifestasikan sihir dengan cara menyalurkan mana ke dalam formula
sihir."
Ya. Hal itulah yang menjadi alasan kenapa
sihir dan Tuhan dikatakan memiliki hubungan yang teramat erat.
Sihir tidak akan pernah bisa tercipta
tanpa adanya keberadaan Tuhan.
Sebab sejak zaman dahulu, manusia telah
menguasai fenomena supranatural dengan cara memperoleh kebijaksanaan dari
Tuhan.
"……Namun, jika ketiga tahap ini
dilakukan secara mentah-mentah, waktu yang dibutuhkan akan terlampau sangat
lama. Kabarnya bahkan ada sihir yang membutuhkan waktu hingga beberapa hari
sampai bisa aktif. Oleh karena itu, dalam sejarah sihir, fokus utamanya adalah
bagaimana cara mempersingkat waktu tersebut."
Karina terus menjawab dengan tekun,
tetapi perhatian Theo justru terarah kepada murid-murid yang lain.
Gadis
berambut seputih es yang memiliki sepasang tanduk dan perawakan bagaikan
boneka──Xue, tampak mendengarkan sambil
mengangguk-angguk patuh.
Gadis
berambut putih yang memancarkan kilau bagaikan matahari dan memberikan kesan
teramat polos──Iris, tampak berpura-pura sedang mencatat, tetapi yang
digambarnya di buku pelajaran hanyalah coretan asal.
Putri
Ketujuh berambut merah muda dengan gaya konde dua──Momo, tampaknya tidak
tertarik pada pelajaran dan sedang sibuk memainkan jarinya sendiri.
Dan
putri bangsawan berambut merah yang menyala bagaikan api──Isabella, menatap
pemandangan di balik jendela dengan ekspresi bosan. Namun sesekali dia melirik
ke arah sini, lalu dengan cepat melemparkan kembali pandangannya ke luar
jendela. Dia pasti tetap mendengarkan pelajaran.
Tanpa memedulikan fakta bahwa Karina yang
sedang berbicara, inilah pemandangan kelas Taman Ketujuh yang seperti biasanya.
Hanya sebagian kecil murid yang memiliki
motivasi. Kumpulan anak-anak bermasalah yang masing-masing memiliki kendala
pribadi, meski mereka diberkahi bakat sihir yang luar biasa masif.
Sosok
kelompok itulah yang menjadi kelas yang diampu oleh Theo, 《Taman
Ketujuh》.
Tanpa memedulikan pemikiran Theo
tersebut, Karina terus melanjutkan penjelasannya.
"Mengenai upaya mempersingkat waktu
sihir itu…… metode yang diambil berbeda-beda di setiap generasi.
Pertama, pada sihir generasi pertama,
para penyihir melakukan ketiga
tahap tadi dengan cara mempersembahkan
tarian atau ritual kepada Tuhan.
Pada
sihir generasi kedua, tarian dan ritual disederhanakan menjadi 《Eskalasi
Mantra》, dan berkontribusi pada percepatan sihir dengan
cara mempersembahkan korban kepada Tuhan.
Pada
generasi ketiga, terjadi sebuah inovasi besar. Karena metode untuk memasukkan 《Formula
Sihir》 ke dalam otak penyihir sejak awal telah berhasil
diciptakan, sehingga sihir dapat aktif dengan melewatkan tahap pertama dan
tahap kedua. Dan walau sihir selama beberapa ratus tahun terakhir ini sempat
mandek di generasi ketiga, tetapi beberapa tahun yang lalu akhirnya generasi
keempat──"
"──Anu,
bisakah kita akhiri saja sampai di sini?"
Dan di sana.
Sosok yang memotong pembicaraan adalah
Isabella.
Isabella melontarkan kalimat itu dengan
ekspresi wajah yang dipenuhi oleh rasa muak.
"Sampai kapan Anda berniat untuk
terus melanjutkan hal yang teramat mendasar dari segala dasar seperti ini?
Memang benar kalau saya sendiri yang bilang kalau kami adalah kelas murid-murid
buangan, tapi tindakan ini sudah terlampau sangat meremehkan kami. Mustahil
kami tidak tahu hal sepele seperti ini, kan?"
Setelah berkata demikian dengan nada
mencemooh, Isabella merapikan buku pelajarannya lalu bangkit berdiri.
Karina berdiri dengan panik sambil
berkata.
"Tu-tunggu
dulu, Isabella! Bukankah kita semua sudah sepakat? Setidaknya selama satu
minggu pertama kita akan mengikuti pelajaran dengan benar──"
"Ujung-ujungnya, orang ini juga
tidak ada bedanya dari guru-guru yang lain, kok. Walau harus seorang diri, aku
mutlak harus menjadi kuat. Aku tidak punya waktu luang untuk menghabiskan waktu
yang sia-sia di kelas yang seperti ini."
Kalimat terakhirnya entah mengapa
terdengar seolah-olah dia sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Hanya dengan mengatakan hal itu secara
sepihak, Isabella langsung melangkah pergi meninggalkan ruang kelas.
Karina menundukkan kepalanya dengan lesu
ke arah Theo.
"……Maafkan saya, nanti saya akan
menasihati Isabella."
"Tidak, tidak apa-apa. Karena sejak
awal aku sudah memperkirakan hal ini akan terjadi."
"……Sejak awal?"
Karina memiringkan kepalanya dengan
bingung, tetapi Theo tidak berniat untuk memberikan penjelasan.
Rentetan kejadian hingga titik ini sama
persis dengan yang terjadi pada
Putaran Pertama.
Murid-murid Taman Ketujuh perlu mengulang
segalanya dari dasar kembali.
Sebab meskipun mereka merasa sudah
memahaminya, dasar mereka sebenarnya belum terbentuk dengan benar.
Justru karena itulah dia sengaja
membawakan pelajaran ini, tetapi tepat seperti dugaan, Isabella langsung keluar
meninggalkan kelas. Pada Putaran Pertama, dia masih ingat betul bahwa dirinya
baru bisa mengajar dengan benar setelah membangun hubungan yang tulus dengan
susah payah.
Namun, jika dia menggunakan metode yang
sama persis seperti di Putaran Pertama, waktu yang tersisa akan terlampau
sangat lama.
Demi mendobrak situasi yang seperti ini,
"……Aku tidak punya pilihan selain
menggunakan cara yang sedikit agresif, ya."
Saat Theo menatap ke arah jendela kelas,
di sana terpantul bayangan dirinya yang sedang memasang ekspresi wajah yang
teramat dingin.
◇
Isabella sedang bermimpi.
Sebuah mimpi buruk yang sudah tidak
terhitung lagi berapa kali mendatangi tidurnya.
Keluarga
bangsawan agung Lumiere adalah silsilah keluarga penyihir ternama yang
menyandang gelar 《Matahari》.
Ada beberapa sihir yang menjadi simbol
dari keluarga Lumiere tersebut.
Dimulai
dari 《陽炎(Flare)》 tingkat menengah yang sekarang bahkan sudah
digunakan oleh para penyihir di seantero negeri, hingga sihir tingkat tertinggi
《天撃(Stella Dust)》
yang bahkan disebut-sebut sebagai sihir inheren.
Dan setiap anggota dari keluarga Lumiere
adalah kaum elite sebagai seorang penyihir.
Isabella pun tidak terkecuali; dia
sanggup menguasai sihir tingkat dasar dengan jauh lebih cepat jika dibandingkan
dengan saudara-saudaranya yang terdahulu.
Kemampuannya itu langsung tersebar luas
di pesta-pesta ajang sosial, hingga membuat anak-anak bangsawan seusianya
maupun orang-orang dewasa di sekitarnya menyanjung sosok Isabella.
Mereka bilang dia adalah anak ajaib, sama
seperti saudara-saudaranya yang lain. Keluarga Lumiere dipastikan akan tetap
aman dan sejahtera.
Namun, situasi mulai berubah drastis
sejak dia masuk ke sekolah dan mulai mempelajari sihir secara intensif.
Dia hampir sama sekali tidak bisa
mengaktifkan sihir tingkat menengah.
Alasannya langsung diketahui saat itu
juga. Karena jumlah total mana yang tertidur di dalam tubuh Isabella terlampau
sangat sedikit.
Kapasitas mana miliknya hanya sebatas
akan langsung habis setelah dia melepaskan beberapa tembakan sihir tingkat
menengah yang berada di
Rank
terendah sekalipun. Sebaliknya, sihir 《Matahari》 yang menjadi
keahlian dari keluarga Lumiere seluruhnya
membutuhkan jumlah mana yang sangat besar.
Dan kapasitas penyimpanan mana adalah
sebuah bakat bawaan lahir.
Kapasitas itu tidak akan pernah bisa
bertambah secara drastis seiring pertumbuhan usia.
Meski begitu, Isabella tetap terus
berjuang keras.
Dia berpikir bahwa jika dia terus
mengasah kemampuan sihirnya hingga ke tingkat ekstrem, mungkin dia akan bisa
mengaktifkan sihir dengan jumlah konsumsi mana yang lebih sedikit.
Namun,
setelah satu tahun berlalu, terhadap dirinya yang tetap tidak sanggup menguasai
satu pun sihir milik keluarga Lumiere yang menyandang gelar 《Matahari》,
kalimat yang dilontarkan oleh sang ayah adalah.
──Sudah
cukup. Aku kecewa kepadamu──
"……Benar-benar buruk, ya."
Salah satu kamar di asrama putri Lily
Garden.
Isabella membuka kelopak matanya di atas
tempat tidur.
Saat dia bangkit berdiri sambil
menggelengkan kepalanya yang terasa berat, yang tertangkap oleh penglihatannya
adalah kamarnya sendiri yang sudah biasa dilihatnya.
Buku-buku tampak berjajar memenuhi
seluruh dinding, dan di atas meja pun barang-barang tergeletak secara
berantakan.
Di atas lantai, pakaian-pakaian tampak
dilemparkan begitu saja secara asal setelah dilepas.
Berbeda dari rumah kediaman keluarganya
yang merupakan seorang bangsawan, urusan kebutuhan sehari-hari harus
dilakukannya seorang diri. Namun, meski Isabella sudah tinggal di asrama ini
selama sekitar dua tahun, kemampuannya dalam mengurus rumah tangga tidak
kunjung membaik.
Alasan kenapa saat ini dia masih bisa
bertahan hidup dengan layak hanyalah karena mereka membagi tugas rumah tangga
menggunakan sistem piket.
Isabella bangkit berdiri, lalu mengambil
seragam sekolahnya dan mulai memasukkan lengannya ke dalam baju.
Saat melirik ke arah jendela, di sana
terpantul bayangan dirinya yang sedang berada di tengah-tengah proses berganti
pakaian.
Rambut merah yang menyala bagaikan api.
Mata yang sedikit terangkat tajam hingga memberikan tekanan kepada orang-orang
di sekitarnya tanpa bisa dicegah.
Dada
besar yang sanggup menarik perhatian para pria di pesta-pesta ajang sosial.
Pinggangnya memang masih menyisakan lekukan, tetapi pada bagian perutnya
terdapat sedikit──benar-benar hanya sedikit lemak yang menumpuk.
Hal itu memang tidak memberikan pengaruh
apa pun pada kemampuannya sebagai seorang penyihir, tetapi Isabella juga
merupakan seorang gadis remaja.
Fakta
bahwa lingkar perutnya terasa sedikit tebal adalah sesuatu yang──
"Selamat pagiii! Apakah
Isabella-chan sudah bangun?!"
Bram!
Sosok yang membuka pintu dan melangkah
masuk dengan penuh semangat adalah seorang gadis berambut putih dengan sedikit
sentuhan warna emas yang tipis.
Seluruh
tubuhnya tampak memancarkan energi penuh semangat yang bersinar bagaikan
matahari. Seorang gadis yang tampaknya sangat cocok digambarkan dengan kata
polos atau anggun──Iris, melemparkan
senyuman yang teramat ceria ke arah sini.
"Ah, ternyata sudah bangun, ya.
Sarapan pagi sudah siap, jadi bagaimana kalau kita makan bersama? ……Eh, ada
apa?"
"……Anu, bukankah aku sudah sering
bilang untuk tidak masuk sembarangan ke kamarku? Aku yakin sudah mengunci
pintunya, tapi bagaimana cara kamu membukanya?"
Isabella bergegas menempelkan seragam
sekolah ke tubuhnya demi menyembunyikan badannya dengan panik.
Di dalam dekapan kedua lengannya, dadanya
tampak tertekan hingga berubah bentuk, tetapi situasi saat ini tidak
memedulikan hal itu. Bagian tepi pakaian dalamnya pasti sudah terlihat oleh
Iris.
Iris tampak bersedekap dengan wajah yang
bangga.
"Fufufu, jika kamu berpikir hal
selevel itu bisa menghentikanku, maka kamu masih terlalu naif. Aku tahu lebih
banyak tentang sekolah ini jika dibandingkan dengan kalian semua, tahu? Membuka
satu atau dua kunci adalah urusan yang teramat mudah!"
"……Itu kan karena hanya Iris-senpai
saja yang tinggal kelas di antara
kita?"
"Tega sekali kamu mengatakan hal
sesedih itu?!"
Iris berteriak dengan mata yang
berkaca-kaca.
Namun, hal itu adalah sebuah kenyataan
yang sudah diketahui oleh semua orang.
Di
Lily Garden, pembagian kelas dilakukan menggunakan unit bernama 《Garden》.
Mulai
dari murid tahun pertama hingga tahun ketiga, mereka dibagi berdasarkan urutan
nilai prestasi dari 《Garden Pertama》
hingga 《Garden Kelima》
yang menempati peringkat tertinggi. Dengan kata lain, total ada lima belas
kelas yang tersedia.
Akan
tetapi, kelas 《Taman Ketujuh》
yang ditempati oleh Isabella dan yang lainnya adalah sebuah kelas yang baru
saja didirikan tiga tahun yang lalu.
Sebuah kelas eksperimental yang
dikumpulkan murni hanya berdasarkan keputusan sepihak dari Kepala Sekolah,
tanpa memedulikan latar belakang keluarga, silsilah darah, usia, maupun
asal-usul kelahiran mereka.
Di Taman Ketujuh, baik sebelum maupun
sesudahnya, tidak ada angkatan lain selain angkatan Isabella dan yang lainnya.
Karena Isabella tidak memiliki kemampuan
sihir yang memadai, untuk bisa masuk ke sekolah sihir ternama ini, dia tidak
punya pilihan selain menyusup ke dalam kelas pengecualian tersebut.
Dan saat dia masuk melalui jalur itu, di
dalam ruang kelas sudah ada senpai yang usianya satu tahun di atasnya ini.
Berdasarkan
rumor yang beredar, Iris aslinya berada di kelas lain, tetapi setelah tinggal
kelas, nilainya terlampau sangat rendah hingga tidak bisa ditangani oleh kelas
mana pun, alhasil dia didepak ke 《Taman Ketujuh》.
"……Hmm? Isabella-chan, kenapa kamu
menatapku dengan pandangan kasihan begitu?"
"Tidak, aku hanya berpikir…… padahal
Senpai pasti sudah melewati masa-masa yang sulit, tapi kamu hebat ya bisa
menyembunyikannya dan tetap bertingkah ceria."
"Eh, apakah aku melewati masa-masa
yang sulit? Apakah situasiku saat ini aneh kalau aku bersikap ceria?"
"Senpai, kamu tidak perlu
memedulikan rumor sekejam itu. Setidaknya,
aku akan selalu berada di pihakmu."
"Apakah ada rumor sekejam itu yang
disebarkan orang-orang tentangku?!"
"Kalau begitu, mari kita
pergi."
"Tunggu sebentar?! Siapa, siapa yang
menyebarkan rumor itu?!"
Di saat dia selesai menjahili Iris,
Isabella juga sudah selesai berganti pakaian mengenakan seragam sekolahnya.
Saat Isabella melangkah menuju ruang
makan, di sana terbentang pemandangan yang menyerupai sebuah rumah boneka.
Sebuah panorama yang benar-benar bagaikan
cerita dongeng.
Di atas meja panjang yang mewah, berjejer
peralatan makan yang masing-masing memperlihatkan keindahan desainnya, dan di
berbagai sudut ruang makan tampak dihiasi oleh bunga-bunga yang cantik.
Kelopak bunganya terlihat segar, tidak
ada satu pun yang layu.
Sebuah taman buatan yang sempurna tanpa
adanya setitik debu maupun
kotoran apa pun.
Inilah asrama putri khusus untuk Taman
Ketujuh.
Dan di sana, seorang murid perempuan
rupanya telah selesai mempersiapkan sarapan pagi.
"Isabella, akhirnya kamu bangun
juga."
"……Kamu selalu bangun cepat seperti
biasanya ya."
Kecantikan bagaikan patung dewi. Rambut
panjang emasnya diikat menjadi satu di bagian belakang.
Gadis
murid teladan yang berada di ujung pandangannya──Karina, sedang mengantarkan
sarapan pagi sambil mengenakan celemek.
Dia meletakkan piring yang dihiasi oleh
roti serta sayur-sayuran segar yang berwarna-warni di atas meja di hadapan
Isabella.
Penampilan Karina terlihat sangat rapi.
Apakah dia baru saja mandi dengan air
dingin sejak pagi hari, rambut emasnya tampak basah dan lembap.
Sangat bertolak belakang dari Isabella
yang baru bangun tidur dengan
rambut acak-acakan.
Menyadari arah pandangan mata Isabella,
Karina tersenyum simpul sambil menyentuh rambutnya.
"Sebenarnya hari ini saya kembali
bangun terlalu pagi. Jadi saya menyempatkan diri untuk berlari sedikit sejak
pagi hari. Karena itulah saya juga mandi dengan air dingin."
"Berlari sejak pagi hari…… hebat
sekali kamu bisa melakukan hal semacam itu."
"Rasanya sangat menyegarkan, lho.
Bagaimana kalau Isabella juga mencobanya?"
"Mana mungkin aku mau."
Hanya dengan membayangkannya saja,
Isabella rasanya sudah ingin
muntah dan merinding.
Walau harus berpura-pura sekalipun, sulit
untuk mengatakan bahwa Isabella adalah tipe orang yang bisa bangun pagi. Di
waktu pagi hari,
pikirannya bahkan sering kali tidak bisa
berjalan dengan baik.
Dan sebelum membahas hal itu, kemampuan
fisik Karina memang sudah tidak normal.
Padahal dia adalah seorang penyihir,
tetapi fisiknya benar-benar murni milik seorang prajurit.
Walau dibantu oleh sihir, dia sanggup
menyelesaikan lari maraton penuh dengan santai.
Tubuh sehat yang tampak kencang dan
proporsional itu terlihat dengan sangat jelas bahkan dari balik pakaiannya.
Bukannya Isabella tidak merasa iri, tetapi dia mutlak tidak akan sudi jika
harus berlari sejak pagi hari demi mendapatkan bentuk tubuh yang seperti itu.
"……Tapi kalau dipikir-pikir, jumlah
kita sekarang benar-benar sudah sangat berkurang ya. Waktu kita masih murid
tahun pertama dulu, kita bahkan tidak bisa menggunakan meja seluas ini."
"Benar juga, ya. Asrama putri pun
dulunya bukan hanya di tempat ini saja."
Saat Isabella bergumam sambil menduduki
bagian tengah meja, mata
Karina juga tampak menyipit seolah sedang
merindukan masa lalu.
Saat
ini hanya ada lima orang murid yang tersisa di 《Taman
Ketujuh》, tetapi situasinya tidaklah seperti ini sejak
mereka masih menjadi murid
tahun pertama.
Di tahun pertama dulu, jumlah murid
mencapai puluhan orang dan terbagi ke dalam beberapa kelompok.
Namun menjelang naik ke tahun ketiga,
mereka perlahan-lahan mengundurkan diri satu per satu karena alasan pribadi dan
hal lainnya.
Sering kali di saat dia berpikir bahwa
dirinya sudah mulai akrab dengan seseorang, pada minggu berikutnya guru akan
memberi tahu bahwa murid tersebut "telah mengundurkan diri".
Karena seluruh murid yang keluar selalu
pergi begitu saja secara sepihak tanpa berkonsultasi dengan siapa pun terlebih
dahulu, alasan kenapa mereka mengundurkan diri pun tidak pernah diketahui.
Meski begitu, Isabella bisa memahami
perasaan mereka yang pergi berlalu tanpa menyampaikan alasan pengunduran diri
tersebut.
Sebab, para murid yang masuk ke kelas
Taman Ketujuh ini, sebagian besar adalah mereka yang dianggap sebagai anak-anak
bermasalah.
Para murid yang dikumpulkan tanpa
memedulikan latar belakang keluarga, silsilah darah, usia, maupun asal-usul
kelahiran mereka.
Hal itu, mutlak bukanlah dalam artian
yang positif.
Itu berarti mereka adalah orang-orang
yang tidak akan terpilih di tempat lain jika pintu masuk tidak dibuka selebar
itu.
Di kelas Taman Ketujuh ini, setiap orang
datang dengan menggantungkan "harapan terakhir" mereka.
Oleh karena itu, di saat hati mereka
telah patah dan memutuskan untuk mengundurkan diri, Isabella merasa dirinya
juga tidak akan sudi untuk membeberkan isi hatinya yang seperti itu kepada
orang lain.
"Ngomong-ngomong, bagaimana menurut
kalian?"
Di sana, sosok yang ikut memotong
pembicaraan adalah Iris.
Sambil mengulurkan tangannya ke arah
sarapan pagi milik Isabella, Iris mencoba untuk mengambilnya secara sepihak.
Saat Isabella menepis tangannya dengan
bunyi *plak*, Iris menggembungkan pipinya dengan ekspresi tidak puas.
Karina memiringkan kepalanya.
"Bagaimana menurut kami…… apakah
maksudmu tentang Sensei? Kalau saya, saya justru merasa cemas apakah kita sudah
membuat Sensei marah karena sikap kita yang tidak sopan."
"Urusan yang satu itu bukankah sudah
tidak perlu dibahas lagi."
Isabella memotong kalimat Karina lalu
berucap dengan nada mencemooh.
Sebelumnya, dia sempat bertengkar dengan
Karina gara-gara dirinya keluar dari kelas Theo. Ujung-ujungnya, dia mengalah
pada bujukan
Karina dan memutuskan untuk tetap
menghadiri kelas selama satu minggu pertama sesuai dengan janji awal mereka.
"Tapi, kalau aku, entah mengapaaa
merasa kalau orang itu agak mencurigakan, tahu."
"Mmmmmm," Iris memasang
ekspresi wajah yang tampak kebingungan.
"Sebab, dia itu kan Theo Proteus
yang terkenal itu, lho? Bukankah sangat aneh kenapa orang seperti dia mau
menjadi seorang guru?"
"……Kalau soal itu, memang benar
sih."
"Jangan-jangan, dia sebenarnya suka
dengan gadis-gadis kecil?"
"Kalau itu aku tidak tahu."
Isabella langsung memotongnya dengan
tegas, tetapi hal itu memang
sebuah misteri.
Theo Proteus. Rasanya kecil kemungkinan
ada penyihir yang tidak mengetahui nama itu.
Pencapaian utama Theo yang paling masif
adalah keberhasilannya dalam menciptakan ilmu 'Sihir Generasi Baru' yang
revolusioner.
Sebelum Theo mempublikasikan sihir
tersebut, ilmu sihir merupakan sesuatu yang hanya diizinkan untuk digunakan
oleh sebagian kalangan seperti kaum bangsawan saja.
Sebaliknya,
'Sihir Generasi Baru' ciptaan Theo, meski tentu saja memiliki batasan
tertentu──telah membuat siapa pun kini bisa memanfaatkan sihir asalkan mereka
memiliki mana. Pengaruh sosial yang ditimbulkannya benar-benar teramat luar
biasa.
Karena saat ini masih berada dalam masa
transisi, Theo sendiri pun kemungkinan belum memahami seluruh dampak yang
terjadi akibat penemuannya tersebut.
Namun, sektor produksi, transportasi,
konstruksi, hingga medis, segala jenis industri saat ini sedang mengalami
perubahan akibat terpengaruh oleh sihir tersebut.
Di dalam lingkungan masyarakat kaum
bangsawan yang masih mempertahankan gaya kolot memang ada pihak yang menganggap
remeh 'Sihir Generasi Baru' ini, tetapi di kalangan akademisi sihir ternama,
ada pula pihak yang memprediksi bahwa sihir ini memiliki potensi untuk
mengguncang keseimbangan militer antarnegara.
Rakyat jelata mungkin memang tidak
tertarik pada nama seorang peneliti sihir, tetapi jika dia adalah seorang
penyihir, sosoknya kini telah menjadi keberadaan yang diketahui oleh semua
orang.
Kenapa penyihir yang sehebat itu justru
memilih untuk menjadi seorang guru?
"Jangan-jangan, dia juga akan
langsung mengundurkan diri dalam waktu dekat ya. Guru yang sebelumnya kan juga
langsung mengundurkan diri dalam sekejap."
"Kalau soal itu, saya rasa tidak ada
yang perlu dikhawatirkan."
Sosok yang menjawab keraguan Iris adalah
Karina.
Sambil mengelap peralatan makan yang
telah dicuci menggunakan selembar kain, Karina mengulas sebuah senyuman.
"Saat berbicara dengannya, dia tidak
tampak seperti orang yang datang ke sini karena terpaksa. Saya rasa kecemasan
itu tidak akan terjadi."
"Eh?! Karina-chan, apakah kamu sudah
berbicara berdua saja dengan Sensei?!"
"Ya, benar…… tapi, ini sungguh tidak
disangka. Saya tidak mengira kalau
Senpai akan menaruh minat yang begitu
besar kepada Sensei."
Saat Karina memiringkan kepalanya dengan
bingung, Iris membusungkan dadanya dengan wajah yang bangga.
"Fuh, tentu saja itu sudah jelas,
kan? Dia itu kan peneliti sihir yang super terkenal, lho? Orang kaya, lho?
Kalau menikah dengannya, aku tidak perlu bekerja lagi seumur hidup?! Viva hidup
numpang!"
"Ja-jadi itu alasannya……"
"Aku sudah menyerah untuk menjadi
penyihir yang sukses! Sebagai gantinya, aku akan mencari seseorang yang sanggup
menafkahiku seumur hidup! Viva hidup santai!"
"Be-begitu ya. Karena itu adalah
kebebasan Senpai sendiri, aku rasa tidak apa-apa, tapi……"
"Bicara-bicara, Karina-chan. Apakah
kamu tidak berniat untuk menafkahi seorang gadis?"
"Perempuan juga boleh?!"
Karina berteriak dengan ekspresi wajah
yang teramat terperangah.
Bagi Iris, asalkan ada orang yang
bersedia menafkahinya, mau menikah atau tidak, hal itu sama sekali bukan
masalah baginya.
Namun di saat itu, Isabella bangkit
berdiri dari kursinya.
"……Lho? Isabella-chan, kamu sudah
mau pergi?"
"Karena aku sudah selesai makan.
Lagipula, anak itu pasti belum bangun saat ini. Jadi aku akan pergi untuk
membangunankannya."
Dengan gaya yang memotong pembicaraan
Iris begitu saja, Isabella melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
Alasan kenapa dia bisa bersikap demikian
adalah karena sejak awal dia memang tidak memiliki minat sama sekali terhadap
keberadaan yang bernama guru.
Bongkahan batu permata bakat yang
dikumpulkan murni berdasarkan keputusan sepihak dari Kepala Sekolah di sekolah
sihir ternama ini.
Mendengar rumor tersebut, para guru pada
awalnya memang datang dengan menaruh harapan besar pada mereka.
Namun, setelah melihat kemampuan Isabella
dan yang lainnya, mereka langsung merasa kecewa, tidak memberikan pelajaran
dengan becus, hingga akhirnya mendadak mengundurkan diri begitu saja.
──Aku
kecewa kepadamu.
Orang dewasa semuanya sama saja, mereka
sama persis seperti pria itu.
Walau
sosok itu adalah sang 《Genius Sihir Modern》
sekalipun.
"Aku masuk ya, kamu sudah
bangun?"
Tok, tok, dia mengetuk
pintu kamar.
Namun, tidak ada jawaban sama sekali.
Isabella mengembuskan napas panjang
secara perlahan sambil
melangkah
masuk ke dalam kamar──
"……Uwah."
Menyaksikan ruangan yang teramat
berantakan hingga tidak ada ruang untuk melangkahkan kaki, dia spontan
meluapkan suaranya.
Tempat itu tampak dipenuhi oleh
pakaian-pakaian menggemaskan yang dihiasi dengan banyak sekali renda.
Barang-barang berwujud bungkusan hadiah
yang kemungkinan besar merupakan pemberian orang lain juga tampak menumpuk
bagaikan gunung. Di antaranya bahkan ada pula barang yang belum dibuka sama
sekali.
Namun, jika mengingat siapa pemilik dari
kamar ini, situasi semacam itu bisa dikatakan sebagai hal yang sangat wajar.
Sebab, dia adalah Putri Ketujuh dari
Kerajaan Sanctia ini. Bagi dirinya, menerima hadiah dari orang lain merupakan
urusan yang sudah menjadi makanan sehari-hari.
Sang
Putri Ketujuh──Momo Sanctia, sedang tertidur lelap di atas tempat tidur sambil
mengeluarkan suara napas yang menggemaskan.
Namun, saat Isabella melangkah mendekati
tempat tidur, Momo langsung membuka kelopak matanya secara kilat.
"Nnh~ selamat pagi. Apakah sudah
waktunya sarapan?"
"Ya, semua orang sudah selesai
kecuali kamu, Momo."
"Baiklah,
kalau begitu──engh."
Saat bangkit berdiri, Momo merentangkan
kedua lengannya lebar-lebar seolah hendak memperlihatkan tubuhnya yang tanpa
pertahanan.
Sebuah pose yang benar-benar menyerupai
gerakan 'angkat tangan'.
Walau tahu hal itu akan berakhir sia-sia,
Isabella mencoba untuk bertanya demi memastikannya.
"Momo, kamu kan sudah menjadi murid
tahun ketiga, apakah kamu tidak berniat untuk berganti pakaian sendiri?"
"Eh~ Momo harus ganti baju sendiri?
Padahal kan ada Isabella-chan di sini?"
"Aku ini bukan pelayanmu,
tahu."
"Tapi, kamu kan teman masa kecilnya
Momo?"
Karena merasa lelah, Momo menurunkan
kedua lengannya lalu memiringkan kepala kecilnya dengan anggun dan
menggemaskan.
Sepasang mata besar yang bulat dan
sanggup memikat siapa pun yang melihatnya.
Isabella tahu betul sudah ada berapa
banyak orang yang berakhir dibuat tunduk dan hancur akibat tatapan mata itu.
Sang Putri Egois yang Penuh Sihir. Sebab
hal itulah yang menjadi julukan bagi dirinya di dalam istana kerajaan.
Dan di saat yang sama, dia juga tahu
bahwa seberapa keras pun dia berbicara, keinginan gadis itu tidak akan pernah
bisa berubah.
"……Baiklah, angkat lenganmu."
"Horeee! Aku sangat suka
Isabella-chan."
"Aku tidak merasa terlalu senang
meskipun mendengarnya dari mulutmu."
"Eh~ padahal ini adalah bentuk
ungkapan kasih sayang terbaik dari Momo, lho."
Momo mengerucutkan bibirnya dengan
ekspresi merajuk.
Namun, Isabella mengembuskan napas
panjang dengan pasrah, lalu menanggalkan pakaian tidur gadis itu.
Kulit tanpa setitik noda pun. Tonjolan
lembut dengan bentuk yang indah kini terekspos ke udara.
Pada awalnya pemandangan ini memang
sempat membuat jantungnya berdebar, tetapi sekarang dia sudah terbiasa. Dengan
tangkas Isabella memakaikan seragam sekolah ke tubuh Momo, lalu sambil menyisir
rambut merah mudanya di depan cermin, dia menatanya menjadi gaya konde dua
seperti biasanya.
Karena masuk ke asrama putri, Isabella
terpaksa harus mengurus kebutuhan sehari-harinya sendiri.
Walau demikian, bukan berarti dia menjadi
mahir dalam mengurus rumah tangga. Meskipun kemampuannya saat ini sudah jauh
lebih baik jika dibandingkan dengan masa-masa di rumah keluarganya dahulu, saat
segala sesuatunya selalu diserahkan kepada pelayan.
──Akan
tetapi, urusan merawat Momo adalah pengecualian.
Sebab, Momo mutlak tidak akan pernah
mengizinkan siapa pun selain Isabella, teman masa kecilnya, untuk merawat
dirinya.
Hal itu pulalah yang menjadi alasan
kenapa Iris tidak pergi untuk membangunkan Momo.
Dan setelah dua tahun berlalu sekarang,
bahkan tanpa melihat pun, Isabella sudah sanggup merawat Momo dengan baik.
"Nah, sudah selesai."
Beberapa puluh menit kemudian. Di dalam
cermin, terpantul sosok seorang gadis yang teramat menggemaskan.
Penampilannya memberikan kesan yang
manis, benar-benar bagaikan kue penuh gula yang diberi lapisan krim di atasnya.
Seragam sekolahnya tampaknya merupakan
pesanan khusus; berbeda dari milik Isabella, seragam Momo dihiasi dengan banyak
sekali renda.
Momo memutarkan tubuhnya sekali di depan
cermin, lalu mengangguk dengan wajah puas.
"Uhm, rasanya pas sekali.
Kemampuanmu sudah meningkat ya, Isabella-chan?"
"……Tatanan rambut yang baru saja
kuselesaikan ini, apa boleh kuhancurkan total sekarang?"
"Ih~ tentu saja itu cuma bercanda, tahu.
Berkat Isabella-chan, Momo bisa tetap bertahan hidup ♡"
Sambil berpose genit yang dibuat-buat,
Momo meminta maaf.
Tindakannya jelas-jelas sengaja dilakukan
untuk menarik perhatian, tetapi Isabella tidak punya waktu untuk menyayangkan
hal itu satu per satu.
Saat Isabella mengembuskan napas panjang,
Momo merapikan poni rambutnya dari berbagai sudut di depan cermin sambil
berkata.
"Bicara-bicara, apakah Isabella-chan
sudah mengobrolkan sesuatu dengan guru yang baru?"
"……Sungguh tidak disangka. Momo
ternyata ikut membicarakan hal itu juga."
"Eh~ habisnya kalau gurunya
berganti, pelajaran di kelas kan juga pasti
ikut berubah, bukan? Bagi Momo, sistem
pelajaran yang sekarang sebenarnya sudah bagus, tapi bagaimana kalau guru yang
baru nanti malah berjuang keras secara berlebihan~? Kalau sampai seperti itu
kan repot, bukan?"
Momo mengeluarkan suara manis yang
terkesan manja, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah sini.
Sebuah senyuman polos yang seolah sama
sekali tidak mengetahui setitik pun keburukan di dunia ini.
Namun, sepasang mata miliknya sama sekali
tidak sedang tertawa.
"Sebab, kita semua kan murid-murid
buangan yang sudah dicamkan menyerah oleh semua orang. Seberapa keras pun guru
itu berjuang, semuanya pasti akan berakhir sia-sia, bukan?"
Momo merentangkan kedua lengannya
lebar-lebar, lalu melemparkan senyuman seolah sedang meminta persetujuan.
Akan tetapi, hal itu memang sebuah
kenyataan.
Tepat seperti perkataan Momo, Isabella
dan yang lainnya adalah kelas murid buangan terendah yang bahkan sudah dilepas
oleh para guru.
Namun entah mengapa, tidak ada satu patah
kata pun yang sanggup keluar dari mulut Isabella.
Tepat pada saat itu.
"I-Isabella-chan!"
Iris muncul di depan pintu kamar dengan
ekspresi wajah yang panik.
Karena ada peraturan bahwa siapa pun
selain Isabella dilarang keras masuk ke dalam kamar Momo, Iris dengan patuh
tetap menahan kakinya agar tidak melangkah masuk ke dalam kamar.
Meski begitu, sambil memasang ekspresi
wajah yang dipenuhi oleh rasa cemas yang teramat sangat, Iris berteriak.
"Tolong segera datang ke sini!
Xu-Xue-chan sedang diserang oleh murid-murid yang lain!"
"Hen, tikan…… mohon hen,
tikan……!"
"Apa-apaan yang kalian lakukan,
hah?!"
Halaman belakang yang berada di gedung
sekolah Lily Garden.
Di tempat yang dikelilingi oleh
bunga-bunga yang berwarna-warni serta dialiri sebuah sungai kecil tersebut,
Isabella spontan berteriak begitu mendapati sosok murid perempuan yang sedang
berada di tengah pusaran masalah.
Gadis itu tampak sedang dikepung oleh
beberapa orang murid
perempuan.
Rambut panjang seputih es miliknya diikat
menjadi dua, dan poni rambutnya dibiarkan memanjang hingga menyembunyikan
wajahnya yang teramat cantik bagaikan sebuah boneka.
Ukuran tubuhnya tampak mungil menyerupai
murid sekolah dasar, dan dari balik lengan bajunya hanya terlihat ujung
tangannya saja yang menyembul dengan manis.
Seragam sekolah Lily Garden miliknya
ditambahkan sebuah tudung khusus berdasarkan pesanan tersendiri. Biasanya dia
selalu mengenakan tudung itu dalam-dalam hingga wajahnya tidak terlihat, tetapi
khusus saat ini tudung tersebut tampak terlepas, mengekspos wajahnya yang
menggemaskan ke udara.
Dan, terdapat satu ciri khas masif
lainnya.
Yaitu, sepasang tanduk yang tumbuh di
atas kepalanya.
Sebuah penampakan yang jelas-jelas
berbeda dari manusia normal pada umumnya.
Karena
dikepung, gadis milik Taman Ketujuh itu──Xue Amaryllis, tampak menyusutkan
badannya karena ketakutan sambil gemetaran.
Isabella bergegas menyelinap masuk demi
melindungi Xue, lalu melotot tajam ke arah murid-murid perempuan yang mengepung
mereka.
"Hentikan! Apa salah anak ini sampai
kalian memperlakukannya seperti ini?!"
"Dia itu kan ras iblis."
Salah satu murid perempuan melangkah maju
satu langkah ke depan.
Seorang gadis berambut emas yang memiliki
kecantikan yang terkesan dingin dan cerdas.
Namanya
kalau tidak salah adalah Valeria Rosenfeld. Dia seharusnya merupakan murid dari
kelas 《Garden Pertama》,
tempat berkumpulnya anak-anak berprestasi tinggi.
Valeria menatap ke bawah ke arah Xue
dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa dendam.
"Kalian pasti sudah tahu tentang
insiden yang dipicu oleh ras iblis di ibu kota satu minggu yang lalu, kan? Aku
baru saja menerima surat…… dan paman pribadiku tewas akibat insiden
tersebut!"
"Aku ikut berduka cita mendengarnya,
tapi anak ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian itu,
kan?!"
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia
tidak ada hubungannya? Bukankah semua orang sudah tahu kalau ras iblis yang
sudah di ambang kepunahan selalu saling bekerja sama satu sama lain?"
"A-aku, tidak, tahu, siapa
pelakunya……!"
"Cih, masih saja bisa bicara seperti
itu. Ras iblis dalam insiden di ibu kota kabarnya memiliki tanduk yang tumbuh
di kepala mereka, bukankah dia itu kenalanmu?"
"Kalau hal semacam itu dijadikan
alasan, maka segala sesuatunya bisa dikait-kaitkan, tahu!"
Pada masa lalu, ada banyak ras yang
mendiami benua ini.
Ras manusia yang kini mendominasi
sebagian besar wilayah benua juga merupakan salah satu di antaranya.
Di sisi lain, saat ini hanya ada lima ras
lain yang tersisa.
Ras peri, ras spirit, ras demigod, ras
naga, dan ras demon beast.
Semuanya merupakan ras yang dinilai
memiliki kekuatan yang teramat perkasa sejak zaman dahulu.
Namun, perlakuan terhadap mereka berubah
secara drastis sejak peperangan seratus tahun yang lalu.
Sejak awal, populasi dari kelima ras
tersebut kabarnya memang terus mengalami penurunan, dan kekuatan negara mereka
pun perlahan-lahan mulai memudar.
Mungkin karena itulah, para raja mereka
memutuskan untuk bersekutu dan melancarkan serangan mendadak kepada ras manusia
yang sedang makmur berkembang.
Setiap raja dari ras mereka tidak hanya
merupakan penyihir yang teramat luar biasa, melainkan bahkan sanggup menguasai
tingkat Sihir secara sempurna.
Akibat hal itu, ras manusia kabarnya
sempat tersudut hingga ke titik ibu kota kerajaan sekalipun berhasil jatuh ke
tangan musuh.
Namun,
di tengah situasi kritis yang berada di ambang kehancuran total, sesosok 《Holy
Lily》 muncul menyelamatkan dunia, dan para raja dari
ras mereka akhirnya berakhir disegel di berbagai tempat.
Sejak
saat itu, negara mereka runtuh dan kelima ras tersebut kini dijuluki secara
serempak dengan sebutan 《Ras Iblis》.
Ras yang telah jatuh ke dalam kegelapan,
begitulah.
Oleh karena itu, perlakuan yang diterima
oleh Xue bukanlah hal yang langka.
Malahan, di dalam lingkungan masyarakat
kaum bangsawan tempat
Isabella tumbuh berkembang, perlakuan
semacam itu sudah dianggap sebagai hal yang sewajarnya.
──Namun,
Isabella tahu betul sepanjang dua tahun ini bahwa Xue
hanyalah seorang gadis yang teramat
lembut.
Saat Isabella melangkah maju satu langkah
ke depan, Karina dan Iris juga ikut merapatkan barisan di samping bahunya
seolah saling menyahuti.
"Tindakan ini sama sekali tidak
logis. Hal itu tidak bisa dijadikan sebagai bukti bahwa Xue adalah komplotan
dari sang pelaku."
"Kami tidak keberatan jika harus
menjadi lawan kalian, lho?"
Iris mengepalkan kedua tangannya sambil
melontarkan provokasi ke arah lawan.
Tepat di saat pipi Valeria tampak
berkedut dan dia hampir saja terpancing oleh provokasi tersebut.
"……Mo-mohon, hentikan. A-aku, tidak
apa-apa, kok."
Sosok yang menyelinap masuk ke bagian
tengah untuk melerai tidak lain adalah Xue sendiri.
Xue berusaha sekuat tenaga untuk mengulas
sebuah senyuman ke arah Isabella dan yang lainnya.
"Lu-luka ini, tidak sakit, kok, dan
pasti akan, langsung sembuh! Jadi, bertengkar, itu tidak boleh, ya?"
Sambil merentangkan tubuh kecilnya sekuat
tenaga, Xue berusaha
tersenyum lembut.
Lengan ramping miliknya tampak membengkak
memerah, tidak mungkin hal itu tidak terasa sakit.
Namun, Isabella juga tidak berniat untuk
menginjak-injak perasaan yang ditunjukkan oleh Xue.
"……Kalian beruntung, ya. Demi
menghormati Xue, kami akan mundur untuk kali ini."
Sambil melontarkan kalimat itu dari
posisi atas sekuat tenaga, Isabella membalikkan punggungnya.
Namun, mana mungkin Valeria akan tinggal
diam dan mundur begitu saja.
"Hah, kalian mau kabur? Apakah
kalian tidak tahu malu?!"
"Terserah apa katamu. Aku sudah
tidak berniat untuk meladeni kalian lagi. Sebelum melakukan hal itu, aku harus
mengobati luka Xue terlebih dahulu."
"Seperti yang diduga dari kelas
murid buangan Taman Ketujuh, ya. Kalian pasti takut pada kami, kan?"
"Makanya
aku bilang, provokasi selevel itu tidak akan──"
"Habisnya, tidak ada satu pun orang
yang waras di dalam kelas kalian,
kan?"
"…………Hah?"
Isabella berbalik dengan nada suara yang
berat dan mengancam.
Namun, Valeria terus melanjutkannya
bersamaan dengan sebuah tawa cemoohan.
"Benar, kan? Sebagai ras iblis, kamu
pasti sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kamu nekat datang ke
sekolah milik ras manusia. Tapi, kenapa kamu masih sengaja datang ke sini?
Bukankah
itu adalah tindakan yang teramat
bodoh?"
"Sekolah khusus ras iblis sudah
tidak ada lagi saat ini. Jika tidak datang ke tempat seperti ini, dia tidak
akan bisa menerima pendidikan, kamu sendiri juga pasti sudah tahu hal itu,
kan?!"
"Tapi tetap saja itu akan berakhir
sia-sia, bukan? Siapa juga yang mau mempekerjakan ras iblis meskipun dia
berhasil menguasai sihir? Kalau begitu, bukankah akan lebih menguntungkan jika
langsung mengundurkan diri secepatnya? Ah, ini bukan hanya berlaku untuk ras
iblis di sana saja, lho. Aku mengatakannya kepada kalian semua secara
keseluruhan."
Valeria berucap sambil menyeringai lebar.
"Kalian sudah mempelajari sihir
selama dua tahun, tapi seberapa hebat kemampuan yang sudah kalian miliki
sekarang? Bukankah sama sekali tidak ada perubahan? Kalau begitu, kenapa tidak
secepatnya mengundurkan diri saja? Rasanya sangat menjengkelkan jika harus
dianggap sebagai sesama lulusan dari sekolah yang sama dengan kalian."
Valeria melirik ke arah Karina sekilas.
"Seorang anak biasa yang berasal
dari desa pedalaman, yang sama sekali tidak bisa diharapkan memiliki silsilah
darah sihir."
Dia melirik ke arah Iris sekilas.
"Seorang bodoh yang sampai tinggal
kelas."
Dia melirik ke arah Xue sekilas.
"Seorang ras iblis yang bahkan tidak
memiliki kemampuan belajar yang waras."
Dan setelah menggerakkan lehernya seolah
hendak mencari sosok seseorang, Valeria tertawa mencemooh.
"Ah, benar juga, bukankah masih ada
satu orang lagi?"
"──Sang
Putri Egois yang Manja dan Mesum, yang tidak memiliki tempat di dalam istana
kerajaan dan hanya bisa sibuk meladeni para pria di sekitarnya."
Bugh!!!
Itu adalah suara hantaman yang keras saat
Isabella memukul wajah Valeria sekuat tenaga.
Valeria terlempar mundur dengan wajah
yang membengkak memerah padam.
Namun, reaksi tersebut tampaknya sudah
masuk ke dalam perkiraannya.
Valeria rupanya sudah bersiap menggenggam
tongkat sihirnya entah sejak kapan, dan dia tertawa sambil mengaktifkan sihir
di tangannya.
"Lalu, ada juga seorang produk gagal
yang sama sekali tidak bisa menahan diri, ya."
Begitu Valeria merapalkan nama sihirnya,
sihir tersebut langsung meledak menghantam tubuh Isabella hingga terlempar.
Terlambat satu ketukan, bentrokan massal
antara Garden Pertama dan
Taman Ketujuh pun akhirnya pecah
berkecamuk.
Dan mereka kalah.
Mereka dihajar habis-habisan hingga babak
belur tanpa ada perlawanan
yang berarti.
Di saat dia menyadarinya, air hujan
rupanya sudah mulai turun dari langit.
Sosok yang sanggup bertahan berdiri
hingga akhir hanyalah Isabella dan Karina. Namun karena anggota yang lain
bertumbangan dengan cepat, mereka akhirnya menerima hujan serangan
terkonsentrasi secara bersahut-sahutan, hingga sama sekali tidak bisa menjadi
lawan yang sepadan.
Di saat dia tergeletak menelungkup di
atas tanah, wajahnya perlahan-lahan mulai dipenuhi oleh lumuran lumpur.
"Ih~ bukankah tindakan kalian itu
benar-benar bo-bodoh?"
"……?"
Saat dia mengerahkan seluruh sisa
tenaganya untuk menatap ke arah atas setelah mendengar sebuah suara dari atas
kepalanya, sang Putri berambut merah muda tampak sedang berdiri di sana.
Menatap ke bawah ke arah dirinya dengan
tubuh yang basah kuyup, Isabella berbicara dengan mulut yang terasa asin oleh
lumuran darah.
"……Momo, dari mana saja kamu baru
muncul?"
"Habisnya~ Momo kan benci kalau
tubuhnya menjadi kotor. Dan Momo juga tidak suka dengan urusan seperti
bertengkar."
"Padahal sebelum kejadian ini pecah
pun kamu sudah tidak ada di tempat……"
Walau Isabella mengatakannya dengan
pasrah, Momo hanya memiringkan kepalanya seolah sedang berpura-pura tidak tahu.
Sangat menyebalkan.
Namun pada detik berikutnya, Momo
menjatuhkan lututnya ke atas permukaan tanah yang becek akibat air hujan.
Membiarkan seragam sekolah favoritnya
yang dipenuhi hiasan renda menjadi kotor total akibat lumuran lumpur dan air
hujan.
Padahal dia baru saja mengatakan kalau
dirinya benci menjadi kotor beberapa saat yang lalu.
"Tapi, terima kasih ya."
"…………"
"Terima kasih, Isabella-chan."
"……Ya."
Tangan Momo tampak bergerak mengusap
kepala Isabella dengan lembut secara perlahan.
Butiran air yang mengalir melewati
pipinya saat ini, dia sendiri tidak tahu apakah itu adalah air hujan ataukah
sesuatu yang lain.
──Aku
kecewa kepadamu.
Kalimat dari sang ayah terus berputar
berulang kali di dalam benaknya.
Fakta bahwa dirinya tidak memiliki bakat,
dia sudah tahu hal itu dengan sangat baik.
Fakta bahwa dirinya begitu lemah hingga
berakhir dilepas oleh para guru, dia juga sudah memahaminya.
Namun, dia tetap ingin menjadi kuat.
Demi melindungi hal-hal yang berharga
bagi dirinya.
Seperti sang ayah, asalkan dia sanggup
menguasai sihir matahari yang
teramat kuat dan dahsyat tersebut, dia
dipastikan akan bisa menjadi kuat. Bentuk "kekuatan" yang selama ini
terus diajarkan kepada Isabella adalah hal semacam itu.
Namun,
dirinya yang tidak diberkahi bakat, seberapa keras pun dia berjuang, seberapa
keras pun dia memberontak, dia mutlak tidak akan pernah bisa menggapai ranah
tersebut. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bagaimana caranya agar aku
bisa menguasai sihir yang kuat seperti ayah──
Di tengah situasi itu.
"…………"
Melalui suara langkah kaki yang menginjak
genangan air, dia menyadari bahwa ada seseorang yang sedang berjalan mendekat.
Jubah penyihir hitam yang mengingatkan
pada seorang pendeta.
Aura yang dipancarkan dari seluruh
tubuhnya terasa sangat tajam, dan
dia sedang menatap ke bawah ke arah sini
dengan sepasang mata yang dingin.
"Mengenaskan sekali."
Theo melontarkan kalimat itu dengan nada
suara yang ketus dan dingin.
"Kamu bilang kamu mutlak harus
menjadi kuat walau harus seorang diri, tapi kemampuanmu ternyata hanya sebatas
ini? Usaha keras yang luar biasa, ya."
"Apa yang kamu……!"
Isabella mengangkat wajahnya dengan penuh
emosi.
Namun akibat kalimat berikutnya yang
dilontarkan oleh Theo, Isabella seketika menjadi terpaku kaku.
"Bagaimana jika aku bilang kalau aku
sanggup membuatmu menjadi kuat?"
"Eh……"
"Jika kamu bersedia mempercayaiku,
aku akan membawamu menuju ke tempat yang tinggi. Sampai ke tingkat di mana
murid-murid dari Garden Pertama sekalipun tidak akan ada apa-apanya jika
dibandingkan denganmu. Jika kamu memang menginginkannya, aku bahkan bisa
menjadikanmu sebagai seorang Penyihir Istana."
"……Apakah kamu sedang
mempermainkanku?"
Menyaksikan kondisi Isabella yang
sekarang, siapa orang waras yang sanggup mengatakan bahwa dirinya bisa menjadi
seorang Penyihir Istana?
Namun di saat yang sama, kalimat itu
merupakan sesuatu yang mutlak
tidak akan pernah bisa diabaikan begitu
saja oleh Isabella.
Di saat Isabella sedang kebingungan untuk
menjawab, Theo membalikkan punggungnya.
"Mulai besok menghadirlah di kelas
dengan benar. Jika kamu melakukannya, kamu pasti akan memahami arti dari
kalimatku tadi."
Kata-kata yang dilontarkan oleh Theo
tersebut entah mengapa tertanam dengan sangat jelas di dalam kepalanya dan
tidak kunjung bisa
menghilang.
◇
Keesokan harinya.
Isabella dan yang lainnya sudah berkumpul
di dalam ruang kelas sejak awal.
Walau hal itu juga didasari oleh janji
yang telah dibuatnya bersama Karina, tetapi di atas segalanya, kalimat yang
diucapkan oleh Theo adalah hal yang paling mengusik pikirannya.
Selama ini dia sudah bersekolah di Lily
Garden selama dua tahun, tetapi kemampuan sihirnya tidak kunjung mengalami
perkembangan yang berarti. Jumlah latihan mandiri juga sudah ditambah, tetapi
tetap tidak ada yang berubah.
Padahal meskipun situasinya seperti itu,
Theo justru mengatakan bahwa dirinya bisa menjadi seorang Penyihir Istana
asalkan dia menghadiri kelas miliknya.
Hal itu benar-benar terdengar bagaikan
sebuah modus penipuan gaya baru.
Meski begitu, Isabella tetap tidak
sanggup memantapkan hatinya untuk menganggap hal itu sebagai penipuan dan
memilih membolos dari kelas.
Pelajaran tersebut dimulai tepat di jam
pertama pada waktu siang hari.
Tepat di waktu yang telah ditentukan,
Theo melangkah masuk ke dalam
ruang kelas Taman Ketujuh.
Padahal saat menyaksikannya di
tengah-tengah upacara pembukaan sekolah tempo hari auranya terasa agak lembut,
tetapi sekarang entah mengapa dia memancarkan hawa dingin mutlak nol derajat
yang bahkan sanggup membuat siapa pun menjadi ragu hanya untuk sekadar
mengajaknya berbicara.
"Aku sudah mengawasi kalian
sepanjang satu minggu ini, dan kemampuan kalian benar-benar sangat payah."
Begitu Theo membuka mulutnya, kalimat
dingin itulah yang langsung dilontarkannya secara ketus.
Ketegangan seketika langsung merayap
memenuhi seluruh isi ruang kelas secara serempak.
Sambil memasang ekspresi wajah yang
dingin, Theo mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas secara perlahan
sebelum kembali melanjutkan kalimatnya.
"Nilai prestasi kalian tahun lalu
berada di peringkat paling bawah. Kalian memang tampak melakukan sedikit
latihan sihir, tetapi jumlahnya sama sekali tidak memadai. Ditambah lagi kalian
malah membuat keributan dengan terlibat bentrokan massal dengan kelas lain……
apakah kalian benar-benar memiliki niat untuk belajar?"
Tidak ada satu pun orang yang sanggup
menjawab pertanyaan dari Theo.
Mereka hanya tahu bahwa diri mereka
memang payah. Meski begitu, justru karena mereka ingin menjadi kuat, mereka
memilih untuk menghadiri kelas ini.
Akan tetapi, kalimat berikutnya yang
dilontarkan oleh Theo benar-benar telah melompat jauh di luar batas perkiraan
Isabella.
"Hal
yang paling tidak dimiliki oleh kalian adalah rasa terancam. Oleh karena itu,
aku memutuskan untuk menetapkan sebuah 《Peraturan》 di
dalam ruang kelas ini."
Theo berucap secara tenang sambil
melangkahkan kakinya secara perlahan di atas podium.
Dia sama sekali tidak bisa memahami arti
dari pernyataan yang
dilontarkan oleh sang guru.
Namun, dia tidak sanggup melewatkan
setiap gerak-gerik dari pria itu dan terus mengikuti arah sosoknya menggunakan
pandangan matanya.
"Mulai sekarang, di dalam ruang
kelas ini, nilai prestasi adalah
segalanya. Bagi mereka yang unggul akan
diberikan berkah, sedangkan bagi mereka yang tertinggal akan diberikan hukuman.
Aku berjanji akan memberikan perlakuan khusus serta hak istimewa bagi mereka
yang berprestasi tinggi, dan sebaliknya, aku akan memberikan tugas hukuman
serta pembatasan hak bagi mereka yang menjadi murid terbelakang. Itulah
peraturan di dalam ruang kelas milikku."
Isabella tidak sanggup mencerna apa yang
sedang dibicarakan oleh Theo
saat ini.
Namun, di sepanjang tulang belakang
Isabella, sebuah sensasi merinding yang teramat dahsyat mendadak menjalar tanpa
bisa dicegah.
Sambil menyunggingkan sebuah senyum
cemoohan, Theo mengumumkan kalimatnya.
"Nah, kalau begitu mari kita mulai
pelajarannya."



Post a Comment