NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Epilog

Epilog


"Tidak disangka Theo-kun yang itu bisa bertarung sampai sejauh itu ya~"

 

Puncak gunung yang menyuguhkan pemandangan seisi kota Celeste.

 

Gedung Lily Garden tampak terlihat sekecil biji kacang di bawah sana.

 

Pria Misterius melepas kerudung hitamnya, menanggalkan topengnya, lalu mengekspos wajahnya ke sekeliling.

 

Secara usia penampilan, dia terlihat berada di kisaran empat puluh tahunan.

 

Sebuah paras wajah yang seolah menjadi wadah instan bagi konsentrasi rasa licik, ketidakpedulian, serta kebusukan.

 

Meski bentuk wajahnya terhitung rapi, senyuman tipis yang terpasang di wajahnya justru membuat dirinya tidak terlihat berbeda dari seorang penipu. Dan satu fitur yang paling mencolok dari dirinya adalah kacamata tunggal yang dikenakannya.

 

Pria misterius──pria berkacamata tunggal itu bergumam pelan sambil menyentuh dagunya.

 

"Tidak disangka Ophelia-chan pun bisa ditumbangkan dengan semudah ini. Jika situasinya demikian, tampaknya aku harus sedikit menyusun ulang strategi pertempuranku ya~ Aku sempat mengira memisahkan Taman Ketujuh dengan Queen Anemone Blackwood saja sudah lebih dari cukup…… tapi jika Theo-kun tidak ikut dipisahkan, jalannya diskusi dipastikan tidak akan bisa berjalan."

 

Pria berkacamata tunggal memunggungi kota Celeste, lalu mulai melangkah pergi.

 

Sambil terus menyunggingkan sebuah senyuman tipis, namun memancarkan aura yang teramat jahat.

 

"Semakin berskala besar, maka jalannya rencana dipastikan akan menjadi semakin baik. Jangankan membuat tangan para guru tidak bisa menjangkaunya, hilangnya satu atau dua orang murid pun dipastikan akan bisa dikubur tanpa kejelasan dengan sangat mudah~"

 

"──Kalau begitu, mari kita picu meletusnya peperangan sekalian."

 

Sambil meluapkan sebuah tawa tipis yang kejam, pria berkacamata tunggal itu meloloskan diri lenyap dari puncak gunung.

 

Mengenai ke mana langkah kakinya bergerak, mutlak tidak ada satu pun orang yang mengetahuinya selain dirinya sendiri.

 

---

 

Satu minggu telah berlalu sejak insiden serangan massal terhadap Lily Garden meletus.

 

Kondisi Lily Garden kini telah berhasil memulihkan hari-hari biasa mereka secara total.

 

Saat Theo menatap ke bawah dari jendela ruang persiapan pelajaran yang berada di lantai dua, para murid tampak sedang menikmati obrolan mereka dengan ceria di atas hamparan rumput halaman sekolah. Meskipun insiden serangan massal kemarin menyisakan beberapa murid yang terluka, untuk saat ini atmosfer kedamaian yang nyata terlanjur menyelimuti tempat tersebut.

 

Untuk kasus insiden kali ini, sama seperti yang terjadi pada Putaran Pertama, Ophelia berakhir dijadikan sebagai satu-satunya kambing hitam sumber dari seluruh malapetaka yang ada.

 

Fakta bahwa Theo melayangkan laporan yang demikian memang memegang andil, tetapi keahlian dari Kepala Sekolah Anemone Blackwood dalam mengendalikan situasi terhitung jauh lebih besar.

 

Berkat rekam jejaknya yang telah berhasil melahirkan banyak murid berprestasi yang luar biasa di Kerajaan Sanctia, Anemone memegang pengaruh yang teramat dominasi di dalam negeri ini.

 

Jika Anemone melayangkan klaim bahwa Ophelia adalah pihak yang hitam, maka klaim tersebut dipastikan akan langsung lolos secara mutlak.

 

Melalui hal tersebut, seluruh urusan berhasil diselesaikan dengan sangat bersih secara persis layaknya Putaran Pertama.

 

Bagi Theo pribadi, fakta bahwa hari penyerangan Lily Garden bergeser satu hari lebih cepat, keterlibatan Ophelia sebagai anggota Gereja Ortodoks, serta detik-detik kematian Ophelia merupakan rentetan urusan yang berada di luar batas perkiraannya.

 

Secara khusus untuk poin kedua, itu adalah sebuah informasi rahasia yang mutlak tidak berhasil didapatkannya pada masa "Putaran Pertama" lalu.

 

Sebab pada Putaran Pertama, Theo berhasil menyadari gerak-gerik mencurigakan dari Ophelia sejak tahap awal, lalu membereskannya dengan cepat sebelum sempat melebar menjadi sebuah insiden besar. Dampaknya tentu membuat tragedi penculikan Xue tidak pernah meletus sejak awal.

 

Dan meski hari-hari biasa sudah berhasil direbut kembali sesuai dengan ekspektasi miliki Theo, namun.

 

Hanya ada satu permasalahan saja yang masih belum kunjung bisa diselesaikannya hingga saat ini.

 

"……Jadi apa hal yang ingin kamu tanyakan?"

 

Tepat di saat Theo memalingkan tubuhnya ke belakang, sesosok murid tampak sedang berdiri menghadap ke arahnya di dalam ruang persiapan pelajaran yang remang-remang.

 

Paras cantik menyerupai sebuah patung dewi. Rambut pirang yang berkilau indah. Meskipun dia menderita luka luar yang parah pada insiden satu minggu lalu, kemungkinan besar berkat keberadaan Xue yang ahli dalam sihir pemulih di arena pertempuran waktu itu, seluruh lukanya saat ini sudah terlihat pulih secara total.

 

Gadis tersebut──Karina Rudbeckia mengangkat pandangan matanya, lalu melayangkan pertanyaan secara tenang.

 

"Sebenarnya, sejak di titik mana segalanya mulai berjalan sesuai dengan rencana milik Sensei?"

 

Nada suara Karina terdengar sangat sunyi, tetapi entah mengapa ada secercah amarah yang merembes di balik kalimatnya.

 

Di dalam ruang persiapan pelajaran saat ini hanya menyisakan mereka berdua saja, Theo dan Karina.

 

Sebab sebelumnya Karina sempat meminta waktu agar bisa menanyakan suatu hal secara berdua saja dengannya.

 

Namun mengenai apa urusan yang dibawa oleh Karina, sebagian besar jalurnya sudah berhasil diprediksi oleh Theo sejak awal.

 

"……Di saat Xue sedang dibawa pergi diculik, Sensei terlihat sudah bisa menebak di mana lokasi keberadaannya secara pasti."

 

Itu pasti merujuk pada momen di saat Theo memimpin kelompok Karina menuju ke gubug persembunyian milik Ophelia waktu itu.

 

Di seberang kegelapan yang remang-remang, Karina memasang ekspresi wajah yang teramat serius.

 

"Alasan kenapa hal selevel itu bisa dilakukan murni karena sejak awal Sensei memang sengaja memasang familiar demi mengawasi pergerakan Ophelia Gardener. Tapi jika situasinya demikian, Sensei seharusnya juga sudah bisa mendeteksi fakta pengkhianatan miliknya sejak tahap awal."

 

"Kalimatmu terkesan berputar-putar tanpa arah. Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?"

 

"Sebenarnya apa hal yang sedang kamu sembunyikan dari kami?"

 

Ekspresi wajah Karina terlanjur kuyup oleh keyakinan mutlak.

 

"Aku tidak percaya jika Sensei sengaja membiarkan situasi memburuk tanpa adanya alasan yang jelas! Kamu pasti memendam sebuah rencana tertentu, kan! Karena itulah kamu sengaja memilih diam membiarkan seluruh insiden ini meletus sejak awal!"

 

"Walau asumsismu memang tepat, apa kamu berpikir aku akan sudi menumpahkannya kepadamu?"

 

"……Ya. Karena itulah, izinkan aku untuk menggunakan hak istimewa ini."

 

Karina mengeluarkan sebuah kartu hitam dari balik seragam sekolahnya.

 

Benda itu merupakan kartu khusus yang didapatkan berdasarkan peraturan kelas yang ditetapkan oleh Theo.

 

──*Sebagai gantinya, bagi murid yang berhasil menduduki peringkat pertama akan diberikan sebuah hak istimewa.*

 

──*Jangankan pembebasan dari urusan tugas harian maupun tugas tambahan, aku bahkan bersedia mewujudkan satu permohonan apa pun yang kalian inginkan.*

 

Sosok murid yang pertama kali berhasil dinobatkan sebagai murid berprestasi adalah Karina.

 

Sambil menggenggam hak perintah mutlak yang bahkan wajib dipatuhi oleh Theo sekalipun, Karina memberikan deklarasi.

 

"Kukatakan bahwa kartu ini telah diselimuti oleh efek sihir tertentu. Namun bagi penyihir selevel Sensei, menghancurkan efek tersebut dipastikan akan menjadi urusan yang mudah, dan belum tentu pula kamu akan menuturkan kebenaran yang asli. Tapi, jika Sensei memang merupakan sosok yang menghargai peraturan kelas yang dibuatnya sendiri, mohon beritahu aku."

 

"──Sensei, sebenarnya apa hal yang sedang kamu sembunyikan? Kenapa kamu sengaja memilih diam melihat situasi memburuk sampai sejauh itu baru bertindak?!"

 

Sambil terus memusatkan sepasang matanya secara lurus ke arah sini, Karina menyodorkan kartu hitam di tangannya.

 

Sesuai dengan perkiraannya, sihir sumpah memang tertanam di dalam kartu ini, tetapi jika Theo berniat menyiapkan langkah antisipasi sejak awal, menghancurkan efek sihirnya merupakan urusan yang teramat mudah bagi dirinya.

 

Oleh karena itu, Theo sebenarnya tidak memiliki urgensi untuk menuturkan kebenaran yang asli.

 

Namun mengenai tindakan apa yang harus diambilnya jika alur cerita bergulir ke arah titik percabangan ini, keputusannya sudah selesai ditentukan sejak awal.

 

"Sebab aku datang dari masa depan."

 

Sepasang mata Karina seketika membelalak dengan teramat lebar.

 

Dia tahu betul bahwa keputusan yang diambilnya saat ini merupakan sebuah keputusan yang konyol.

 

Namun, secercah kelemahan terakhir yang mendekam di dalam lubuk hatinya terlanjur tidak membiarkan dirinya untuk terus menyembunyikan kebenaran di hadapan Karina.

 

"Aku mengetahui segala rentetan tragedi yang akan pecah setelah ini. Di masa depan nanti, kalian semua dipastikan akan tewas secara total. Oleh karena itu, aku memiliki urgensi untuk memaksa kalian menjadi kuat secepat mungkin. Demi tujuan itulah aku sengaja membiarkan situasi memburuk sejak awal. Murni untuk memberikan sebuah ujian nyata bagi kalian."

 

"Bicara…… apa kamu, Sensei?"

 

"Karina, itulah kebenaran asli yang teramat ingin kamu ketahui."

 

Theo memusatkan sepasang matanya secara lurus menatap Karina.

 

Realitasnya, Karina justru memasang ekspresi wajah yang dilingkupi oleh kebingungan yang teramat sangat.

 

Hingga akhirnya dia menundukkan pandangan matanya, lalu melayangkan suara bersamaan dengan nada suara dingin yang teramat jarang ditunjukkannya selama ini.

 

"……Aku merasa kecewa. Tidak disangka Sensei akan melontarkan kebohongan sekonyol itu di hadapanku."

 

"……Begitu ya."

 

"Lalu, andai saja kalimat yang baru saja disuarakan oleh Sensei memang merupakan sebuah kebenaran yang nyata, aku tetap akan merasa kecewa kepada dirimu. Karena jika sesuai dengan ucapanmu…… itu artinya murni hanya demi menyelamatkan nyawa kami saja, kamu sengaja mengabaikan tindakan Ophelia Gardener. Urusan semacam itu mutlak tidak akan pernah bisa dimaafkan! Apa kamu tidak memikirkan ada berapa banyak orang yang harus terluka akibat meletusnya insiden ini!"

 

Kalimat yang dilontarkan oleh Karina merupakan sebuah kebenaran yang mutlak.

 

Tepat seperti yang dikatakannya. Seberapa banyak pun orang yang harus menerima luka, atau bahkan harus berakhir dijadikan sebagai kurban sekalipun, menyelamatkan nyawa para murid seperti Karina merupakan jalan hidup yang telah dipilih secara mutlak oleh Theo Proteus di dalam Putaran Kedua ini.

 

Dan dia sudah mengetahuinya sejak awal. Di saat dia membulatkan tekad untuk menyelamatkan Karina dan yang lainnya bahkan meski dirinya harus berakhir dijuluki sebagai seorang Raja Iblis sekalipun, sosok Karina dipastikan akan bertindak sebagai batu sandungan terbesar bagi rencananya.

 

Sebab Karina Rudbeckia adalah sosok Saintess di masa depan. Sebuah wujud reinkarnasi dari Saintess Lily yang pada kurun waktu seratus tahun lalu telah berhasil menyegel sosok Raja Iblis secara mutlak.

 

Pihak yang memiliki kapasitas untuk menghadang jalannya rencana milik sang Raja Iblis, mutlak tidak ada opsi lain selain gadis di hadapannya ini.

 

"……Lain kali mohon beritahu aku kebenaran yang asli ya, Sensei."

 

Sambil melangkahkan kakinya pergi keluar dari dalam ruangan, Karina memalingkan kepalanya sesaat demi memperlihatkan ekspresi wajah yang kuyup oleh rasa sedih.

 

"Sebab aku pasti akan bisa bertindak menjadi kekuatan yang berguna bagi diri Sensei."

 

Paras wajah terakhir yang ditunjukkannya sebelum menghilang adalah sebuah senyuman simpul yang dipenuhi rasa pilu.

 

---

 

"Anu…… Sensei, ada apa?"

 

Ruang kelas saat waktu pulang sekolah tiba.

 

Di tengah pancaran cahaya mentari senja yang menyelinap masuk ke dalam ruangan, Xue memiringkan kepalanya secara heran.

 

Wajah maupun tubuh milik Xue sama sekali tidak menyisakan adanya luka luar yang berarti, penampilannya saat ini benar-benar terlihat persis layaknya hari-hari biasa saja.

 

Sihir pemulih miliknya merupakan sebuah teknik yang aktif menggunakan konversi dari energi kehidupan miliknya sendiri, alhasil teknik itu mutlak tidak bisa digunakannya untuk mengobati luka di tubuhnya sendiri. Meskipun demikian, murni karena fakta bahwa dirinya adalah keturunan sedarah dari Raja Spirit, tingkat kecepatan pemulihan energi kehidupan miliknya berada di tingkat yang tidak masuk akal. Walau tidak dibekali efek instan, sebagian besar lukanya dipastikan sudah akan pulih total murni hanya dengan melewati waktu satu malam saja.

 

Namun. Ada satu hal dari dirinya saat ini yang mutlak tidak bisa dikategorikan sebagai hari-hari biasa saja.

 

"Ah~ Xue?"

 

"Ya…… ada apa, Sensei?"

 

"……Kenapa kamu menduduki area paha milikku?"

 

Benar. Sosok tempat yang dijadikan sebagai pijakan duduk bagi Xue saat ini tidak lain adalah paha milik Theo.

 

Di dalam ruang kelas hanya menyisakan mereka berdua saja. Jumlah kursi kosong lain pun terhitung masih ada banyak di sekeliling ruangan.

 

Meskipun ketentuannya demikian, Xue justru tetap memilih untuk menduduki area paha milik Theo.

 

Secara postur tubuh, ukuran fisik Xue memang tidak berbeda jauh jika dibandingkan dengan murid dari divisi sekolah dasar.

 

Oleh karena itu, Theo hanya merasakan sebuah bobot berat yang nyaman saja di pahanya.

 

Sambil memiringkan kepalanya dengan polos, Xue memberikan jawaban.

 

"Habisnya…… berada di dekat Sensei merupakan tempat yang paling membuatku merasa aman, lho. Apakah tidak boleh?"

 

"……Bukannya tidak boleh, sih."

 

"Ah, ini khusus untuk Sensei saja, lho? Sosok pria yang kuizinkan untuk memeluk tubuhku seperti ini."

 

Sebuah nada suara manis yang terdengar terengah-engah berbisik tepat di dekat lubang telinganya.

 

Xue menempelkan jemarinya di atas bibir, menyunggingkan sebuah senyuman misterius yang teramat tidak selaras jika dibandingkan dengan paras wajahnya yang masih polos belia.

 

Kerudung dari seragam sekolahnya tampak sudah terlepas sejak entah kapan, mengekspos sepasang tanduk di kepalanya yang biasanya selalu disembunyikannya rapat-rapat.

 

Pola sikapnya saat ini benar-benar persis seolah ingin menegaskan bahwa khusus kepada Theo yang menjadi tempat bagi kepercayaan mutlaknya saja, dia tidak keberatan untuk memperlihatkan seisi rahasia dari dirinya secara total.

 

Jika harus jujur, dia tidak tahu bagaimana cara yang tepat untuk memperlakukan gadis ini sekarang.

 

Namun, tingkat kepribadiannya saat ini jelas sudah berubah total jika dibandingkan dengan sosoknya yang tertutup dan pemalu pada masa lalu.

 

Tidak, atau jika harus dikatakan secara lebih mendalam, seujung kepribadiannya terlanjur mengalami distorsi hingga ke akarnya──

 

Tiba-tiba di sana.

 

Sambil menarik ujung lengan jubah milik Theo secara perlahan, Xue menatap wajah pria itu dari arah bawah bersamaan dengan sebuah senyuman simpul yang manis.

 

"Tapi Sensei, ternyata selama ini kamu terus berada di sisiku demi menjagaku ya."

 

"Di sisiku?"

 

"Maksudku saat insiden penyerangan waktu itu. Kamu terus menjagaku sejak awal, kan? Bahkan di saat kondisiku sedang berada di titik paling kritis sekalipun. Baru saja kamu juga sempat membicarakan hal itu bersama dengan Karina-san, kan?"

 

"-"

 

Mendengar kalimat yang dilontarkan dari mulut Xue seketika membuat Theo menahan napasnya secara refleks.

 

Mengenai bagaimana bisa gadis ini mengetahui informasi rahasia tersebut, tepat di saat dia berniat melayangkan pertanyaan, pergerakan dari Xue justru terlanjur bergerak jauh lebih cepat.

 

Gadis itu mendadak merubah posisinya menjadi berlutut tepat di atas paha Theo, memposisikan wajahnya agar saling berhadapan secara langsung dari jarak dekat.

 

Sudut pandang mata yang setara.

 

Theo hampir mematukan tubuhnya karena panik, tetapi begitu logikanya berhasil menemukan jawaban atas misteri tersebut, dia segera membuka mulutnya.

 

"……Para spirit, ya. Kamu meminta para spirit untuk membocorkan isi percakapanku bersama dengan Karina tadi, kan?"

 

"Ya. Walau kejadiannya murni tidak sengaja, sih. Tapi kamu tidak perlu cemas, Sensei. Karena aku paham betul kok, kalau Sensei sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun."

 

Keberadaan spirit tersebar di berbagai tempat. Biasanya mereka memang lebih memilih untuk hidup menetap di area yang diselimuti oleh hamparan alam yang luas, tetapi di dalam area sekolah ini pun bukan berarti keberadaan mereka tidak ada sama sekali. Xue dipastikan telah menyerap seluruh cerita rahasia tadi murni dari penuturan para spirit tersebut.

 

Para spirit normalnya tidak akan pernah menaruh minat terhadap isi pembicaraan umat manusia, dan mutlak tidak akan sudi menjabarkan informasinya secara mendetail, tetapi ceritanya dipastikan akan bergeser secara total jika pihak yang melayangkan perintah adalah keturunan sedarah dari klan Raja Spirit sendiri.

 

Xue mengulas sebuah senyuman yang teramat manis.

 

"Para spirit hanya menjabarkannya kepadaku secara garis besarnya saja, sih…… tapi Sensei sengaja menyeret kami ke dalam situasi yang berbahaya murni demi kebaikan kami semua, kan?"

 

"……Ya."

 

"Kamu benar-benar mencemaskan keselamatan kami dari lubuk hatimu yang paling dalam, kan?"

 

"……Ya, begitulah."

 

Karena tidak tahu seberapa jauh isi informasi yang telah diserap oleh Xue dari para spirit, Theo hanya bisa menganggukkan kepalanya secara samar demi memberikan respons aman.

 

Namun jika melihat pola sikapnya saat ini, kisah mengenai dirinya yang melintasi waktu kembali dari masa depan tampaknya tidak berhasil tersampaikan kepada Xue.

 

Sebab jika gadis ini mengetahuinya, topik tersebut dipastikan akan menjadi urusan pertama yang akan dilontarkannya sejak awal.

 

Meskipun demikian, kenapa ya. Ada sebuah rasa janggal yang terasa teramat berbahaya di tempat ini.

 

Insting orisinal milik Theo mendadak membunyikan lonceng peringatan dalam skala masif di dalam kepala, tetapi segalanya terlanjur sudah berada di titik yang terlambat untuk disembuhkan.

 

*Set!* Xue merekahkah sebuah senyuman manis menyerupai kuntum bunga yang mekar secara instan.

 

Bersamaan dengan secercah kilauan cahaya berbahaya yang mendekam erat di dalam sepasang matanya seolah dia baru saja melintasi batas garis pembatas yang terlarang.

 

"Ufufu. Benar kan. Sensei ternyata terus memikirkan urusan kami sepanjang waktu ya. Kalau begitu, segalanya dipastikan akan menjadi aman."

 

"Aman?"

 

"Sebab aku merasa kalau aku akan bisa bekerja sama dengan diri Sensei setelah ini."

 

Xue memasang sebuah senyuman simpul yang teramat polos.

 

Murni sebuah senyuman──yang telah kuyup oleh distorsi rasa sakit yang mendalam.

 

"Sekarang aku sudah paham. Aku memang payah dalam urusan bertarung, tapi jika tujuannya demi melindungi semua orang, aku tidak keberatan untuk bertarung sekuat tenaga. Karena hal yang paling kubenci di dunia ini murni hanya di saat melihat orang-orang berhargaku harus menerima luka saja."

 

"Oleh karena itu, Sensei. Mari kita berjuang bersama-sama setelah ini."

 

"Jajaran orang-orang jahat yang berani melukai mereka──mari kita bunuh semuanya sampai mati tanpa tersisa sedikit pun ya?”




“……………………………………………………”

 

Menanggapi senyuman distorsi milik Xue, Theo memilih untuk memalingkan pandangan matanya, lalu menatap ke arah luar jendela kelas.

 

Di seberang jendela, langit senja tampak telah membara diwarnai oleh pancaran warna merah pekat yang menyala.

 

Sebuah pemandangan yang terasa teramat indah hingga memicu rasa muak di dalam dada.

 

Dia sempat mengira dirinya telah berhasil membuat Xue menjadi sanggup untuk bertarung.

 

Namun bertolak belakang dari ekspektasinya, menyusul tragedi yang menimpa Isabella sebelumnya, kenapa jalan ceritanya justru harus berakhir menjadi seperti ini?

 

Jawaban atas misteri di balik hal tersebut, secara mutlak terlanjur tidak kunjung berhasil dipahami bahkan oleh sosok Theo yang diagung-agungkan sebagai seorang genius sekalipun.

Epilog II


"Sensei, apa yang sedang kamu lakukan? Eh, benda apa itu? Monster? Tapi bentuknya agak sedikit berbeda dari yang lain ya."

 

Ruang persiapan pelajaran.

 

Sebuah rak buku yang dipenuhi oleh rentetan buku ilmu sihir tampak berdiri memenuhi seisi ruang penglihatan.

 

Di bawah kondisi lingkungan yang demikian, Theo sedang mengamati sebuah botol kaca bersamaan dengan ekspresi wajah yang teramat serius.

 

Di dalam botol kaca tersebut, sesosok monster berukuran sebesar jari kelingking tampak bergerak berjalan ke sana kemari.

 

Tidak, jika harus dikatakan secara lebih tepat, makhluk itu adalah Chimera. Sebuah monster buatan yang sempat menampakkan wujudnya di medan pertempuran pada dunia Putaran Pertama lalu. Sesekali, makhluk itu meluapkan suara erangan seraya menggaruk bagian dalam botol kaca memanfaatkan kaki depannya, tetapi permukaan kaca tersebut sama sekali tidak menyisakan luka goresan sedikit pun.

 

Saat memalingkan tubuhnya ke belakang akibat adanya suara dari arah belakang, Isabella tampak sedang berdiri di tempat itu bersamaan dengan ekspresi wajah yang pasrah.

 

Theo melemparkan tatapan mata ke arahnya sesaat, lalu kembali memusatkan pandangannya ke arah botol kaca.

 

"Ya, aku sengaja mendapatkan izin khusus untuk mengelolanya demi agenda penelitian. Kamu tidak perlu cemas, makhluk ini sudah tidak berbahaya lagi."

 

"Bukannya aku mencemaskan hal itu, sih…… tapi kok bisa ya, kamu sampai berniat untuk meneliti benda semacam ini."

 

"Sebab ini merupakan sebuah sampel yang teramat penting."

 

Pada masa Putaran Pertama lalu, kesempatan untuk bisa mengamati sosok chimera secara mendetail terhitung hampir tidak pernah ada.

 

Keberadaan dari sosok chimera memegang silsilah hubungan yang erat dengan Gereja Ortodoks. Jika begitu kenyataannya, maka melakukan penelitian terhadap makhluk ini dipastikan mutlak tidak akan mendatangkan kerugian bagi dirinya.

 

Dan──sosok chimera kecil ini tidak lain merupakan hasil akhir dari detik-detik kematian Ophelia Gardener.

 

Tepat di saat Theo menanam sihir interogasi demi memaksa Ophelia menumpahkan informasi rahasia waktu itu, sebelum sempat menyuarakan informasi yang krusial, wujud Ophelia justru mendadak bermutasi berubah menjadi sosok chimera kecil ini.

 

Besar kemungkinan, efek tersebut sudah ditanam secara sepihak oleh Gereja Ortodoks sejak awal.

 

Sebuah sihir pengunci yang diatur agar aktif secara otomatis di saat Ophelia berada di ambang membocorkan informasi rahasia organisasi.

 

Berkat tindakan tersebut, jalur petunjuk yang mengarah menuju ke Gereja Ortodoks kini telah berakhir sirna secara total.

 

Satu-satunya peninggalan yang tersisa paling-paling hanya sebatas chimera kecil yang merupakan wujud orisinal dari Ophelia ini saja.

 

"……Lalu, apa ada suatu hal yang berhasil kamu ketahui dari hasil penyelidikanmu?"

 

"Ya."

 

"Eh, benarkah ada?"

 

Isabella membelalakkan matanya dengan lebar karena terperangah. Dia dipastikan sama sekali tidak menduga bahwa Theo akan berhasil mendapatkan sebuah pencapaian dari penelitian ini.

 

"Tapi, ini bukan merupakan sebuah informasi yang akan membuat perasaanmu menjadi nyaman setelah mengetahuinya."

 

"……Apa maksudnya?"

 

"Monster ini memang meluapkan suara erangan…… tapi dari hasil penelitian, suara erangan tersebut terbukti memiliki keselarasan yang persis dengan bahasa manusia. Terkadang, kosakata manusia bahkan ikut membaur di dalam suara erangannya."

 

"……Apakah itu artinya, makhluk yang kubunuh waktu itu juga sama?"

 

"Aku tidak tahu secara pasti. Poin ini baru sebatas satu kemungkinan saja. Belum bisa dikategorikan sebagai sebuah kepastian."

 

Theo sengaja menghindari penegasan secara mutlak. Meskipun demikian, paras wajah Isabella terlanjur memucat rapat akibat rasa cemas.

 

Makhluk yang telah dihabisi oleh Isabella kemarin memang murni berupa monster biasa. Walau ketentuannya demikian, Theo sama sekali tidak memiliki niat untuk menyembunyikan kemungkinan buruk ini dari hadapan Isabella dan yang lainnya selamanya.

 

Sebab demi melindungi keselamatan diri mereka sendiri, mereka wajib dipaksa untuk menjadi semakin terbiasa dalam urusan membunuh manusia setelah ini.

 

Bahan dasar pembuatan chimera, kemungkinan besar aktif memanfaatkan tubuh manusia sebagai wadahnya.

 

Rentetan chimera yang sempat menampakkan diri di dalam peperangan pada masa depan nanti pun dipastikan memegang prinsip pembuatan yang sama.

 

Lalu, sosok chimera yang telah berhasil merenggut nyawa Theo pada masa Putaran Pertama dulu juga──

 

"──────"

 

Tiba-tiba di sana.

 

Mendadak memikirkan suatu hal yang mengusik pikiran membuat Theo bergegas mengambil selembar kertas, lalu mulai menuliskan coretan kalimat secara membabi buta tanpa memedulikan sekeliling.

 

Isabella sempat melayangkan sepatah kata kepadanya, tetapi suara gadis itu terlanjur tidak kunjung berhasil menyentuh lubang telinganya lagi.

 

Chimera yang telah membunuh Theo pada masa Putaran Pertama dulu pun memegang tingkat kemungkinan yang tinggi merupakan wujud orisinal dari seorang manusia.

 

Dan pada saat itu, bukankah sang chimera sempat meluapkan sebuah suara tertentu?

 

Berdasarkan hasil pengamatan selama beberapa hari terakhir ini, proses penyelarasan antara kosakata yang diluapkan oleh chimera dengan bahasa manusia terhitung sudah selesai diselesaikannya.

 

Sambil bersusah payah mengingat kembali memori ingatan pada masa Putaran Pertama dulu, Theo menuliskan resonansi suara sang chimera lalu mulai menerjemahkannya satu per satu.

 

──S…… n…… s…… i…… t…… l…… n…… g.

 

Theo terbunuh pada masa Putaran Pertama, lalu melintasi waktu kembali ke masa Putaran Kedua tepat di hari upacara pembukaan sekolah digelar demi mengemban jabatan sebagai guru kembali.

 

Dia memang memendam rasa terima kasih atas keajaiban tersebut, seraya bersumpah untuk mendidik para muridnya sekali lagi──namun sebenarnya, dia mungkin seharusnya memikirkan misteri di balik hal tersebut secara lebih mendalam sejak awal.

 

──S…… n…… s…… i…… to…… lo…… ng.

 

Ada sebuah eksistensi yang sengaja merangkai seisi rencana di balik layar demi melempar sosok Theo kembali ke masa lalu.

 

Pada masa Putaran Pertama dulu, dia sempat mengira bahwa seluruh muridnya telah tewas secara total.

 

Namun dugaan tersebut merupakan sebuah kesalahan yang besar. Pada saat itu, fakta bahwa ada murid yang berhasil bertahan hidup secara nyata terlanjur ada.

 

Misteri tersebut akan langsung terungkap secara jelas jika dia berhasil memecahkan pesan rahasia yang diluapkan oleh sang chimera waktu itu.

 

──Sensei, tolong aku.

 

Sosok eksistensi yang sengaja memohon bantuan kepadaku lalu melemparkanku ke masa lalu, sosok yang bergerak memutar benang takdir di balik layar, bersemayam di dalam barisan para muridku sendiri.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close