NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Interlude III

Interlude III


──Ini adalah ingatan dari "Putaran Pertama".

 

---

 

"……Apakah itu benar? Mengenai kabar tersebut."

 

"Ya, benar."

 

Sebuah pos penjagaan yang berada di dekat tembok pembatas kota.

 

Saat Theo melayangkan pertanyaan bersamaan dengan nada suara yang gemetaran, sang penjaga gerbang kota hanya bisa mengangguk kuat-kuat bersamaan dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh ketegangan.

 

Setelah mengutarakan rasa terima kasih, Theo melangkah keluar meninggalkan pos penjagaan dengan langkah kaki yang linglung. Namun akibat informasi yang baru saja didengarnya dari sang penjaga gerbang kota, logika berpikir milik Theo telah lumpuh secara total.

 

Satu minggu telah berlalu sejak dia mengonfirmasi langsung jenazah milik Xue.

 

Sepanjang kurun waktu tersebut, Theo terus menyisir segala bentuk jejak peninggalan yang berkaitan dengan Xue.

 

Mulai dari untaian kata milik Xue, barang bawaan, surat-surat, sosok yang biasa bertukar sapa dengan Xue, hingga jajaran saksi mata yang melihat langsung lokasi tempat di mana Xue mengembuskan napas terakhirnya. Alasan kenapa dia mencari informasi secara menggebu-gebu murni demi menemukan jawaban atas satu keraguan yang mengusik pikirannya.

 

──*Amaryllis-sama tampaknya terus bertahan di lini depan hingga saat-saat terakhir. Demi menyembuhkan para prajurit sekutu serta penduduk desa yang menjadi medan pertempuran.*

 

──*Lalu, dia juga sempat mengobati prajurit musuh yang terluka parah…… namun tepat setelah pertolongan pertama selesai diberikan, dia justru dibunuh olehnya.*

 

Seorang ksatria kota sempat menceritakan kronologi mengenai detik-detik kematian Xue seperti itu.

 

Namun, satu keraguan tetap mendekam di dalam dada.

 

Bagaimana bisa seorang prajurit yang terluka parah dan baru saja menerima pertolongan pertama sanggup membunuh Xue secara harfiah?

 

Andai saja lukanya sudah sembuh total mungkin situasinya akan berbeda, tetapi dia tidak yakin seorang prajurit biasa yang terluka parah akan sanggup menghabisi nyawa Xue.

 

Berdasarkan hasil penyelidikan selama beberapa hari terakhir ini, dia bahkan berhasil mendapatkan kesaksian bahwa prajurit tersebut menderita luka yang teramat parah hingga untuk mengayunkan senjata saja dipastikan akan sangat sulit.

 

Meskipun demikian, berkat kesaksian dari penjaga gerbang kota barusan, segalanya kini telah berhasil dipahami.

 

Mengenai penyebab asli yang merenggut nyawa Xue.

 

---

 

"Hei! Jangan berjalan dengan linglung begitu, Anak Muda!"

 

Mungkin karena Theo melangkah sambil terus menundukkan wajahnya, tubuhnya mendadak dihantam oleh seorang pria berbadan kekar dari arah depan hingga membuatnya membentur dinding sebelum akhirnya ambruk lemas ke atas permukaan tanah. Theo bahkan sudah tidak memiliki sisa tenaga murni hanya untuk sekadar bangkit berdiri kembali. Orang-orang di kota pun terus melintas begitu saja tanpa sudi melirik ke arah Theo sedikit pun.

 

Tanpa disadarinya, rintik hujan mulai turun dari langit.

 

Embusan hujan perlahan menjadi semakin deras, hingga akhirnya berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur bumi.

 

Penduduk kota bergegas masuk berlindung ke dalam gedung, menyisakan Theo seorang diri yang terus menundukkan wajahnya di dalam gang sempit perkotaan sambil membiarkan tubuhnya kuyup diguyur hujan.

 

"……Bukankah ini semua, adalah salahku."

 

──*Pilihan untuk menyelamatkan mereka, mutlak tidak boleh diambil!*

 

──*Bukankah sosok yang telah mengajarkan hal semacam itu kepadaku adalah Sensei sendiri?*

 

Xue terbunuh murni karena dia mempercayai idealisme kosong milik Theo dari lubuk hatinya yang paling dalam.

 

Oleh karena itu, fakta bahwa Xue tewas merupakan kesalahan yang dipikul oleh Theo.

 

Namun, tindakan yang telah diperbuat oleh Theo mutlak tidak hanya sebatas hal itu saja.

 

Alasan kenapa prajurit yang terluka parah tersebut sanggup membunuh Xue.

 

Sebab Theo telah menciptakan sebuah teori sihir generasi keempat.

 

Teori sihir generasi keempat, jika dijelaskan secara sederhana merupakan sebuah teknologi sihir yang membuat siapa pun sanggup mengaktifkan sihir asalkan dibekali oleh kepemilikan mana.

 

Dampaknya memicu peredaran peralatan sihir secara luas, membuat siapa pun kini bisa menyentuh ilmu sihir dengan mudah.

 

Benar. Siapa pun kini menjadi sanggup untuk mengaktifkan sihir. Anak-anak yang tidak mengenal ilmu sihir, lansia, bahkan prajurit yang terluka parah sekalipun, sanggup melakukannya dengan sangat mudah asalkan hanya sebatas mengaktifkannya saja.

 

Karena itulah, Xue berakhir terbunuh.

 

Murni oleh teori sihir yang dikembangkan oleh tidak lain adalah Theo sendiri.

 

"Ha…… haha…… ahahaha! Ahahaha!"

 

Sambil tertawa terbahak-bahak secara histeris, Theo menatap ke arah langit malam yang diguyur hujan.

 

Lelucon konyol macam apa ini. Sebenarnya apa-apaan semua ini.

 

Dia sempat mengira bahwa umat manusia akan bisa diselamatkan. Menjadi lebih praktis, menjadi lebih mudah. Namun hasil akhir yang dilahirkannya justru merupakan kematian dari sang murid sendiri.

 

Theo terlanjur menjadi seorang peneliti yang buta akan dunia luar.

 

Dia sama sekali tidak mengetahui dampak seperti apa yang akan dilahirkan di dalam dunia nyata akibat teori sihir yang dikembangkannya sendiri.

 

Di kemudian hari, Theo baru akan menyadari.

 

Bahwa akibat dari teori sihir generasi keempat, peperangan justru menjadi pecah secara jauh lebih radikal dari sebelumnya.

 

Dan setelah momen ini, sosok Theo Proteus akan menjadi semakin hancur secara mendalam.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close