Interlude III
──Ini
adalah ingatan dari "Putaran Pertama".
---
"……Apakah itu benar? Mengenai kabar
tersebut."
"Ya, benar."
Sebuah pos penjagaan yang berada di dekat
tembok pembatas kota.
Saat Theo melayangkan pertanyaan
bersamaan dengan nada suara yang gemetaran, sang penjaga gerbang kota hanya
bisa mengangguk kuat-kuat bersamaan dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh
ketegangan.
Setelah mengutarakan rasa terima kasih,
Theo melangkah keluar meninggalkan pos penjagaan dengan langkah kaki yang
linglung. Namun akibat informasi yang baru saja didengarnya dari sang penjaga
gerbang kota, logika berpikir milik Theo telah lumpuh secara total.
Satu minggu telah berlalu sejak dia
mengonfirmasi langsung jenazah milik Xue.
Sepanjang kurun waktu tersebut, Theo
terus menyisir segala bentuk jejak peninggalan yang berkaitan dengan Xue.
Mulai dari untaian kata milik Xue, barang
bawaan, surat-surat, sosok yang biasa bertukar sapa dengan Xue, hingga jajaran
saksi mata yang melihat langsung lokasi tempat di mana Xue mengembuskan napas
terakhirnya. Alasan kenapa dia mencari informasi secara menggebu-gebu murni
demi menemukan jawaban atas satu keraguan yang mengusik pikirannya.
──*Amaryllis-sama
tampaknya terus bertahan di lini depan hingga saat-saat terakhir. Demi
menyembuhkan para prajurit sekutu serta penduduk desa yang menjadi medan
pertempuran.*
──*Lalu,
dia juga sempat mengobati prajurit musuh yang terluka parah…… namun tepat
setelah pertolongan pertama selesai diberikan, dia justru dibunuh olehnya.*
Seorang ksatria kota sempat menceritakan
kronologi mengenai detik-detik kematian Xue seperti itu.
Namun, satu keraguan tetap mendekam di
dalam dada.
Bagaimana bisa seorang prajurit yang
terluka parah dan baru saja menerima pertolongan pertama sanggup membunuh Xue
secara harfiah?
Andai saja lukanya sudah sembuh total
mungkin situasinya akan berbeda, tetapi dia tidak yakin seorang prajurit biasa
yang terluka parah akan sanggup menghabisi nyawa Xue.
Berdasarkan hasil penyelidikan selama
beberapa hari terakhir ini, dia bahkan berhasil mendapatkan kesaksian bahwa
prajurit tersebut menderita luka yang teramat parah hingga untuk mengayunkan
senjata saja dipastikan akan sangat sulit.
Meskipun demikian, berkat kesaksian dari
penjaga gerbang kota barusan, segalanya kini telah berhasil dipahami.
Mengenai penyebab asli yang merenggut
nyawa Xue.
---
"Hei! Jangan berjalan dengan
linglung begitu, Anak Muda!"
Mungkin karena Theo melangkah sambil
terus menundukkan wajahnya, tubuhnya mendadak dihantam oleh seorang pria
berbadan kekar dari arah depan hingga membuatnya membentur dinding sebelum
akhirnya ambruk lemas ke atas permukaan tanah. Theo bahkan sudah tidak memiliki
sisa tenaga murni hanya untuk sekadar bangkit berdiri kembali. Orang-orang di
kota pun terus melintas begitu saja tanpa sudi melirik ke arah Theo sedikit
pun.
Tanpa disadarinya, rintik hujan mulai
turun dari langit.
Embusan hujan perlahan menjadi semakin
deras, hingga akhirnya berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur bumi.
Penduduk kota bergegas masuk berlindung
ke dalam gedung, menyisakan Theo seorang diri yang terus menundukkan wajahnya
di dalam gang sempit perkotaan sambil membiarkan tubuhnya kuyup diguyur hujan.
"……Bukankah ini semua, adalah
salahku."
──*Pilihan
untuk menyelamatkan mereka, mutlak tidak boleh diambil!*
──*Bukankah
sosok yang telah mengajarkan hal semacam itu kepadaku adalah Sensei sendiri?*
Xue terbunuh murni karena dia mempercayai
idealisme kosong milik Theo dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Oleh karena itu, fakta bahwa Xue tewas
merupakan kesalahan yang dipikul oleh Theo.
Namun, tindakan yang telah diperbuat oleh
Theo mutlak tidak hanya sebatas hal itu saja.
Alasan kenapa prajurit yang terluka parah
tersebut sanggup membunuh Xue.
Sebab Theo telah menciptakan sebuah teori
sihir generasi keempat.
Teori sihir generasi keempat, jika
dijelaskan secara sederhana merupakan sebuah teknologi sihir yang membuat siapa
pun sanggup mengaktifkan sihir asalkan dibekali oleh kepemilikan mana.
Dampaknya memicu peredaran peralatan
sihir secara luas, membuat siapa pun kini bisa menyentuh ilmu sihir dengan
mudah.
Benar. Siapa pun kini menjadi sanggup
untuk mengaktifkan sihir. Anak-anak yang tidak mengenal ilmu sihir, lansia,
bahkan prajurit yang terluka parah sekalipun, sanggup melakukannya dengan
sangat mudah asalkan hanya sebatas mengaktifkannya saja.
Karena itulah, Xue berakhir terbunuh.
Murni oleh teori sihir yang dikembangkan
oleh tidak lain adalah Theo sendiri.
"Ha…… haha…… ahahaha! Ahahaha!"
Sambil tertawa terbahak-bahak secara
histeris, Theo menatap ke arah langit malam yang diguyur hujan.
Lelucon konyol macam apa ini. Sebenarnya
apa-apaan semua ini.
Dia sempat mengira bahwa umat manusia
akan bisa diselamatkan. Menjadi lebih praktis, menjadi lebih mudah. Namun hasil
akhir yang dilahirkannya justru merupakan kematian dari sang murid sendiri.
Theo terlanjur menjadi seorang peneliti
yang buta akan dunia luar.
Dia sama sekali tidak mengetahui dampak
seperti apa yang akan dilahirkan di dalam dunia nyata akibat teori sihir yang
dikembangkannya sendiri.
Di kemudian hari, Theo baru akan
menyadari.
Bahwa akibat dari teori sihir generasi
keempat, peperangan justru menjadi pecah secara jauh lebih radikal dari
sebelumnya.
Dan setelah momen
ini, sosok Theo Proteus akan menjadi semakin hancur secara mendalam.



Post a Comment