NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Chapter 9

Bab IX


──Ini adalah ingatan masa lalu.

 

Kisah dari masa yang teramat lampau, jauh sebelum Xue menginjakkan kaki di Lily Garden.

 

---

 

"Xue-sama, apakah Anda baik-baik saja?"

 

Saat masih kecil, Xue terus melakukan perjalanan ke berbagai tempat bersama rombongan ras iblis.

 

Meski tidak memiliki sosok yang bisa disebut sebagai orang tua, dia tidak merasa kesepian. Orang-orang dewasa itu selalu berada di sisinya dan memperlakukannya dengan teramat santun. Ras iblis memang tidak disambut dengan baik di mana pun mereka pergi, tetapi setiap hari terasa menyenangkan layaknya petualangan di dalam sebuah cerita.

 

Namun, orang-orang dewasa itu tampaknya memendam rasa cemas terhadap situasi mereka.

 

Biasanya, saat Xue sudah tertidur lelap. Kadang karena tidak bisa tidur, dia terbangun dan memasang telinganya rapat-rapat. Dia ingat betul suara-suara menegangkan milik mereka yang bergema saat itu.

 

"Sampai kapan kita harus membawa Xue-sama dalam perjalanan ini? Kita harus segera menemukan tempat di mana dia bisa hidup dengan tenang."

 

"Mereka sangat gigih. Kita harus mencari tempat yang benar-benar bisa menjamin keamanan Xue-sama."

 

"Apakah kamu pernah mendengar rumor tentang keluarga Amaryllis? Meskipun mereka adalah bangsawan ras manusia, kabarnya mereka bersedia menerima ras iblis seperti kita. Sebaiknya kita menyelinap ke sana."

 

"Tapi mereka itu ras manusia! Bagaimana jika suatu saat mereka mengkhianati kita──"

 

Di siang hari, para ras iblis yang terlihat sangat akrab itu akan mulai bertengkar mengenai urusan Xue begitu malam tiba.

 

Xue membenci hal itu. Dia selalu memejamkan mata sambil berdoa agar pertengkaran mereka bisa segera berakhir.

 

"Xue-sama, apa pun yang terjadi, tolong jangan pernah katakan kepada siapa pun bahwa Anda adalah ■■■■■■."

 

Tampaknya, keputusan akhirnya berhasil disepakati di antara para ras iblis dewasa. Rombongan ras iblis itu segera bergerak menuju ke wilayah kekuasaan keluarga Amaryllis.

 

Tepat sebelum memasuki wilayah tersebut.

 

Seorang wanita yang bertindak sebagai pelayan sekaligus perwakilan dari rombongan ras iblis, berucap dengan nada suara yang tidak biasa dan kaku.

 

Biasanya dia selalu memancarkan aura lembut layaknya seorang kakak perempuan, tetapi khusus hari itu, dia merangkai kata dengan ekspresi wajah yang teramat serius.

 

"Bahkan kepala keluarga Amaryllis sekalipun tidak tahu bahwa Anda adalah ■■■■■■. Mohon jangan pernah menggunakan kekuatan Anda. Kekuatan Xue-sama terlalu mencolok."

 

"Aku tidak keberatan, tapi…… bagaimana dengan semuanya?"

 

"Kita akan berbohong sedikit untuk bisa menyelinap masuk. Xue-sama cukup berpura-pura menjadi putri dari salah satu keluarga ras iblis ternama. Kami akan bertindak sebagai pelayan Anda. Dengan begitu, perannya tidak akan jauh berbeda dari kenyataan sehingga akan lebih mudah dimainkan. Kami juga tidak akan mudah memperlihatkan celah. Namun, jika hanya ada seorang anak kecil sendirian, ada kemungkinan mereka akan meremehkan kita. Oleh karena itu."

 

"Oleh karena itu?"

 

"Meskipun terkesan teramat lancang, saya berniat untuk berpura-pura menjadi ibu dari Xue-sama. J-jika Anda tidak menyukainya, saya akan segera meminta orang lain untuk menggantikan saya──"

 

"Tidak, aku justru merasa sangat senang!"

 

Akibat rasa senang yang teramat sangat, Xue bersorak gembira lalu melompat memeluknya.

 

Bisa bersama dengan wanita yang selalu menyayanginya layaknya seorang adik perempuan sendiri, mutlak merupakan hal yang paling membahagiakan baginya.

 

Meski lingkungan tempat tinggal mereka sedikit berubah, hubungan yang hangat itu tetap terjaga.

 

---

 

"Xue, apakah kamu sudah mulai terbiasa?"

 

Kepala keluarga Amaryllis ternyata adalah seorang pria ras manusia yang berhati lembut.

 

Dia bahkan bisa dikategorikan sebagai pihak paling bersahabat terhadap ras iblis di kalangan kaum bangsawan. Walau memegang status sebagai ras manusia, dia bersedia mengundang ras iblis ke wilayahnya dan membiarkan mereka semua menetap di sana. Meski tidak memiliki uang yang berlimpah, tempat itu terasa damai dan benar-benar menjadi surga yang aman bagi ras iblis.

 

"Ya, Ayah. Karena semuanya memperlakukanku dengan sangat baik."

 

Sang kepala keluarga tersenyum simpul.

 

"Tapi maafkan aku ya, Xue. Kamu pasti tidak suka kan harus memanggil orang sepertiku dengan sebutan Ayah."

 

"Tidak, aku……"

 

"Tidak apa-apa, katakan saja yang sejujurnya. Hanya saja, aku mendengar bahwa kamu dan ibumu adalah ras iblis…… dan berharap bisa membangkitkan kembali klan kalian. Secara pribadi, aku juga berharap ras iblis bisa bangkit kembali. Kondisi saat ini di mana ras iblis menerima diskriminasi adalah urusan yang aneh. Namun demi kebangkitan itu, kita harus mendatangi pesta kaum ras manusia demi mengumpulkan banyak dukungan."

 

Sambil berucap demikian, sang kepala keluarga berlagak konyol demi menghibur.

 

"Pada saat itulah, nama keluarga Amaryllis dipastikan akan sangat berguna. Biar bagaimanapun, sebelum aku mengambil alih kepemimpinan, keluarga ini merupakan sebuah klan ternama. Walau saat ini hampir seluruh asetnya sudah habis terjual."

 

Melihat wujud sang kepala keluarga yang seperti itu membuat dada Xue terasa berdenyut sakit.

 

Sebab, mereka diizinkan tinggal di tempat ini murni karena sebuah kebohongan.

 

Namun jika dia menyuarakan kebenaran, Xue dipastikan harus merelakan kehidupan yang hangat ini. Dia tidak boleh membiarkan tempat yang telah didapatkan oleh semuanya dengan susah payah ini berakhir hilang hanya karena keputusannya sendiri, alhasil dia selalu memilih untuk terdiam.

 

Namun, kehidupan yang seperti itu mutlak tidak bertahan lama.

 

"Xue-sama, segeralah melarikan diri!"

 

Pelayan ras iblis yang biasanya bertindak sebagai sosok ibu bergegas merangsek masuk ke dalam kediaman keluarga Amaryllis.

 

Malam buta. Di kota tempat kedediaman mereka berada, kobaran api sudah tersulut di berbagai tempat.

 

Para ras iblis berlarian panik, terus menerima serangan dari ras manusia.

 

Penyebab kenapa situasi mengerikan ini bisa sampai pecah bersumber dari sebuah rumor.

 

Bahwa di kota ini, sosok ■■■■■■ sedang bersembunyi.

 

Sosok tersebut merupakan sebuah keberadaan yang terkutuk, sekaligus sebuah pusaka emas yang sangat diinginkan oleh sebagian orang hingga membuat mereka tergila-gila.

 

Di dalam kota, para petualang yang diselimuti oleh nafsu keserakahan pribadi tampak mengamuk secara membabi buta.

 

Kemalangan mereka bertambah karena para elit ras iblis yang biasanya bertugas menjaga kota sedang pergi melakukan penugasan jarak jauh bersama dengan kepala keluarga Amaryllis. Dan fakta bahwa rumor tersebut memang merupakan sebuah kenyataan.

 

"Xue-sama, Anda adalah harapan terbesar kami! Bagai mana pun caranya, Anda wajib tetap bertahan hidup!"

 

Sambil membiarkan tangannya ditarik oleh sang pelayan ras iblis, Xue berlari sekuat tenaga.

 

Namun, para petualang mutlak tidak akan sudi membiarkan Xue dan yang lainnya lolos begitu saja.

 

"Hei, di sebelah sana juga ada!"

 

Suara para petualang menghantam punggung mereka, memaksa Xue dan yang lainnya untuk semakin mempercepat gerakan kaki dan tangan mereka.

 

Namun tepat setelah itu, sebuah anak panah melesat menusuk kaki sang pelayan. Genggaman tangannya dari Xue terlepas, membuatnya tersandung lalu ambruk lemas ke atas permukaan tanah.

 

Xue berbalik dengan panik berniat untuk kembali, tetapi teriakan sang pelayan menahan gerakannya.

 

"Tinggalkan orang sepertiku lalu cepatlah lari! Jika Anda sampai tewas di tempat ini──"

 

"Ahahaha, kamu tidak akan lari, kan? Lagipula para ras iblis yang terhormat kan sangat berhati lembut."

 

Sosok yang mencengkeram leher sang pelayan secara kasar ternyata adalah seorang biarawati jubah putih.

 

Biarawati jubah putih itu mencekik leher sang pelayan murni mengandalkan tenaga.

 

Melihat suara erangan udara yang terengah-engah keluar dari mulut sang pelayan, sang biarawati justru memperlihatkan seringai lebar.

 

"Sia-sia saja mencoba menyembunyikannya. Karena aku sudah mengetahuinya. Bahwa kamu adalah ■■■■■■."

 

"…………-"

 

"Bagi seorang penyihir, itu adalah kekuatan yang sangat diinginkan hingga membuat mereka tergila-gila. Jika berhasil diteliti, entah berapa besar nilai keuntungan yang bisa dilahirkan. Jika kamu berani melarikan diri, kamu tahu sendiri kan apa akibatnya~?"

 

"Xue…… jan…… gan percaya…… cepat la…… ri……"

 

"Ja-jangan……!"

 

Xue menggelengkan kepalanya secara perlahan.

 

Dia tidak sanggup mempercayai realitas yang tersaji tepat di hadapan matanya. Jika dia tidak menyerah, maka sang pelayan akan tewas. Pelayan yang sejak dirinya masih kecil selalu menyayanginya layaknya seorang adik perempuan sendiri.

 

Namun, meski dia memilih untuk menyerah, mutlak tidak ada jaminan bahwa biarawati jubah putih itu akan melepaskan sang pelayan.

 

Bagaimana bisa dia mempercayai wanita yang telah membantai rekan-rekan ras iblisnya satu per satu dengan kejam ini.

 

──*Xue-sama, saat harapan besar kita berhasil terwujud nanti, mohon pimpinlah kami.*

 

──*Anda pasti akan menjadi sosok ■ yang teramat lembut dan luar biasa. Aku sudah tidak sabar menantikan momen itu tiba.*

 

──*Aku sangat menyayangkanmu, Xue-sama.*

 

Rentetan kata-kata dari sang pelayan terus bangkit kembali di dalam kepalanya berulang kali.

 

Mengingat hal tersebut membuat Xue tidak memiliki pilihan untuk tidak bertarung.

 

"Lepaskan dia."

 

Xue menegaskan hal itu dengan tegap, lalu menyampaikan niat bertarungnya yang mutlak kepada para spirit di sekelilingnya.

 

Murni hanya karena fakta bahwa dirinya adalah ■■■■■■, persiapan bagi serangan para spirit langsung selesai dalam sekejap.

 

"Aku mutlak tidak akan pernah membiarkan rekanku ditinggalkan! Lepaskan tanganmu darinya!"

 

Tepat di saat teriakan Xue bergema, sihir langsung aktif tanpa jeda sedikit pun.

 

Permukaan tanah meninggi seiring dengan tsunami es yang menyembur keluar, menelan sang biarawati jubah putih dalam sekejap mata. Sang pelayan terjatuh ke atas tanah sambil terbatuk-batuk, tetapi para petualang di sekitar tidak tinggal diam.

 

Mereka kembali menjulurkan tangan demi menjadikannya sebagai sandera──

 

"Aku tidak akan membiarkannya!"

 

Murni hanya karena teriakan Xue yang kembali bergema, pijakan kaki para petualang langsung membeku total.

 

Sihir tanpa rapalan mutlak. Sebuah mahakarya dewa di dalam area yang tidak akan pernah bisa dicapai oleh penyihir normal pada umumnya berhasil diselesaikan dengan mudah, Xue segera menarik tangan sang pelayan untuk melarikan diri.

 

"Tidak apa-apa. Aku pastikan akan menyelamatkan semuanya. Jadi, mari kita melarikan diri bersama dengan yang lainnya."

 

"Xue-sama……"

 

Mendengar deklarasi kuat dari Xue membuat sang pelayan mengulas sebuah senyuman simpul.

 

Benar. Dia tidak akan membiarkan apa pun lenyap. Sebab Xue adalah ■■■■■■. Dia pasti memiliki kekuatan yang memadai untuk menyelamatkan seluruh rekannya.

 

Jika begitu kenyataannya, maka mengerahkan kekuatan tersebut secara penuh adalah tugas milik Xue──

 

"──Memangnya, kamu pikir aku akan membiarkan pemikiran selembek itu terjadi, hah?!"

 

Sebuah hantaman suara aneh menyerupai gemuruh petir yang melintas. Suara itu terdengar sangat pendek dan tajam.

 

Saat berbalik ke arah belakang, tubuh sang pelayan baru saja ditembus oleh sebuah sihir sebelum akhirnya ambruk lemas ke tanah. Sebuah lubang besar tercipta di dadanya, dan darah segar langsung menyembur keluar dalam jumlah masif. Sepasang mata milik sang pelayan terlanjur kosong. Itu adalah sebuah kematian instan yang jelas.

 

"……………………Eh?"

 

Dia tidak paham maksudnya. Dia tidak sanggup memahami realitas ini.

 

Di saat Xue menggerakkan kepalanya yang kaku secara perlahan, sang biarawati jubah putih tampak berjalan mendekat ke arah sini.

 

Sekitar dua puluh persen dari wajahnya terlanjur tertutupi oleh es. Namun, langkah kakinya terlihat sangat mantap secara pasti, mengindikasikan bahwa dia tidak menerima luka fatal.

 

"……Ke-kenapa bisa? Padahal aku sudah menghentikanmu……!"

 

"Mana mungkin serangan selevel itu bisa membuatku tidak bisa bergerak~ Tapi, serangan tadi terhitung efektif, lho. Karena itu, aku akan memberikan sebuah hukuman untukmu. Hei, semuanya bawa mereka ke sini~"

 

"…………Hah?"

 

Tepat setelah biarawati jubah putih itu memberikan komando, para petualang menyeret jajaran ras iblis yang telah diikat rapat.

 

Semuanya berada dalam kondisi babak belur, dipenuhi oleh aliran darah segar hingga mengonfirmasi bagian tubuh yang tidak terluka saja sudah menjadi urusan yang teramat sulit untuk dilakukan.

 

Di bawah langit malam. Bersamaan dengan latar belakang kediaman yang hangus terbakar hebat, sang biarawati jubah putih menyeringai kejam.

 

"Sebenarnya karena aku sudah menduga hal seperti ini bisa saja terjadi, aku sudah mempersiapkannya, lho~ Xue-sama, sebuah tontonan eksekusi yang diperuntukkan khusus saat kamu berniat untuk melawan."

 

"……A-apa yang berniat kamu lakukan?"

 

"Tentu saja hukuman~ Bagi anak nakal yang berani melawan, sebuah hukuman mati terhitung sangat dibutuhkan, kan?"

 

Para petualang menjatuhkan para ras iblis ke atas tanah di bawah kaki mereka, lalu mengangkat pedang masing-masing dengan tinggi.

Meskipun tidak ada satu patah kata pun yang terucap, Xue sudah bisa memahami apa yang hendak dilakukan oleh wanita itu.

 

"……Mo-mohon hentikan! Mereka semua tidak ada hubungannya! Aku yang salah! Aku tidak peduli apa yang akan terjadi pada diriku, jadi──"

 

"Jangan membuatku mengulang kalimat yang sama berkali-kali, dasar iblis lamban. Bukankah sudah kukatakan kalau ini adalah hukuman?"

 

"──Jadi, Xue-sama. Semua ini terjadi murni karena kamu berani melawanku, tahu?"

 

Biarawati jubah putih itu menyunggingkan senyuman simpul.

 

Pada detik berikutnya, seolah kalimat itu menjadi aba-aba, pedang para petualang berayun turun secara serempak dan menebas putus kepala para ras iblis di tempat.

 

Darah segar menyembur deras, membasahi dan mewarnai wajah Xue secara bertubi-tubi dengan cairan yang hangat. Saat dia menyeka wajah menggunakan tangan yang gemetaran, telapak tangannya telah memerah pekat oleh darah.

 

"……Tidak."

 

Logikanya baru mulai mengejar realitas yang tersaji.

 

Namun, mana mungkin dia bisa menerima kenyataan yang seperti ini.

 

"……Tidak, tiiiidakkk, TIDAAAKKKKK!"

 

Sebenarnya apa salah yang telah dilakukan oleh Xue dan yang lainnya.

 

Mereka hanya hidup secara biasa. Lalu kenapa mereka harus menerima nasib yang seperti ini.

 

Dia sudah tidak sudi lagi melihatnya. Dunia yang teramat kejam ini.

 

Dilukai oleh orang lain, maupun melukai orang lain, dia sudah membenci segalanya.

 

Jika harus melihat dunia yang seperti ini──dia merasa lebih baik mengurung diri di dalam "cangkang" selamanya.

 

"TIDAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!"

 

Sambil meluapkan jeritan histeris, Xue membuang segala hal dari dalam dirinya.

 

Benar-benar persis layaknya sebongkah mayat hidup. Jangankan untuk melawan, untuk bertarung pun dia sudah tidak memiliki kemampuan lagi.

 

Setelah peristiwa ini, Xue dibawa pergi oleh biarawati jubah putih itu dan dipaksa menjalani hari-hari yang menyerupai neraka.

 

Bagi wanita itu, masa-masa itu disebut sebagai hari-hari penuh kasih sayang layaknya kepada adik sendiri. Namun realitasnya, tubuh Xue terus diotak-atik setiap hari atas nama penelitian sihir di dalam laboratorium milik biarawati jubah putih tersebut.

 

Dan penderitaan itu terus berlanjut hingga Xue berhasil meloloskan diri dari laboratorium akibat berbagai kebetulan yang saling tumpang tindih.

 

 

"Sensei, Sensei!"

 

Tepat di saat Theo akhirnya berhasil menginjakkan kaki di gedung sekolah, kondisi sekitar telah berubah menjadi pemandangan yang mengenaskan.

 

Berbagai sudut gedung sekolah tampak hancur berantakan, dipenuhi oleh tubuh para petualang yang tidak sadarkan diri serta bangkai monster yang terkapar di mana-mana.

 

Di tengah situasi itu, Karina berlari mendekat. Di sampingnya tampak Isabella, Momo, dan Iris. Setidaknya mereka berempat berada dalam kondisi aman tanpa adanya luka luar yang berarti.

 

Begitu berhasil mendekat ke sisi Theo, Karina langsung melayangkan suara.

 

"Sensei…… akhirnya, akhirnya kami menemukanmu. Tapi, situasinya benar-benar terlampau buruk. Kami memang berhasil melindungi murid dari kelas lain dari terkaman para penyerang, tetapi setengah dari jumlah mereka berhasil meloloskan diri. Keberadaan Xue dan Gardener-sensei pun sama sekali tidak bisa ditemukan…… ada kemungkinan, Xue telah dibawa pergi oleh mereka."

 

Karina menggigit bibirnya dengan kesal seiring dengan untaian kalimat yang dilontarkannya.

 

Dia dipastikan sedang merasa bertanggung jawab atas meletusnya situasi ini.

 

Namun seperti yang dikatakan oleh Karina, pemandangan yang tertangkap oleh ruang penglihatan memang merupakan sebuah tragedi yang buruk.

 

Gedung sekolah hancur lebur. Meski tidak melihatnya secara langsung, jumlah korban luka dipastikan sangat banyak. Salah satu murid bahkan hilang diculik tanpa diketahui keberadaannya. Ini merupakan sebuah insiden besar yang terhitung langka di dalam sejarah Lily Garden.

 

Singkatnya, jika ditarik kesimpulan──

 

"Sejauh ini tampaknya berjalan lancar."

 

Tepat di saat Theo bergumam lirih layaknya sedang berbicara pada diri sendiri, Karina langsung membelalakkan matanya dengan lebar.

 

Perbatasan luar Lily Garden memang diselimuti oleh sihir jebakan, tetapi untuk area dalam Lily Garden dia sengaja melepas familiarnya.

 

Dan seluruh informasi tersebut berada di dalam genggaman tangannya secara mutlak.

 

Fakta bahwa para petualang melancarkan serangan pada hari kedua, serta keterlibatan Ophelia dengan organisasi tersebut memang berada di luar perkiraan, tetapi sisa hal lainnya masih berada di dalam batas prediksinya.

 

Murid di luar Taman Ketujuh mungkin menerima banyak luka, tetapi fakta bahwa tidak ada korban jiwa merupakan sebuah hasil pencapaian yang luar biasa.

 

Theo melangkahkan kakinya pergi sambil menegaskan.

 

"Ikut aku, Karina, Isabella. Kita akan mengejar para petualang itu sekarang juga."

 

"Mo-mohon tunggu sebentar! Di bagian mana yang berjalan lancar?! Ada banyak orang yang terluka, lho!"

 

"Ya, aku tahu. Tapi jika Xue sampai dibawa pergi sepenuhnya, situasi dipastikan akan menjadi semakin memburuk. Cepat gerakkan kaki kalian terlebih dahulu."

 

"Hal itu memang benar, tapi……!"

 

Meskipun Karina berniat untuk memprotesnya lebih jauh, dia akhirnya memilih untuk tidak merangkai kata lagi.

 

Di sisi lain, Isabella tampak mengernyitkan alisnya.

 

"Sensei, apa kamu sebenarnya tahu apa yang sedang terjadi?"

 

"Ophelia Gardener telah berkhianat. Saat ini, dia dipastikan sedang berusaha meloloskan diri dari Celeste bersama dengan Xue. Dalam kurun waktu beberapa jam ke depan, dia akan lenyap dari kota ini. Sebelum hal itu terjadi, kita akan merebutnya kembali."

 

"Kamu bahkan sudah mengetahuinya sampai sejauh itu……?"

 

Isabella membelalakkan matanya sedikit karena terkejut.

 

Namun, tindakan ini mutlak bukan merupakan urusan yang patut dipuji, melainkan sebuah hal yang pantas untuk dicela.

 

Sebab, itu artinya Theo sengaja membiarkan insiden ini pecah padahal dia mengetahui segalanya sejak awal.

 

Semua ini, dilakukan murni demi satu orang murid bernama Xue.

 

 

"Hei, ini berbeda dari informasi yang kami terima, kan!"

 

Di dalam sebuah gubuk kayu tua, suara bentakan dari para petualang terdengar bergema.

 

Gubuk itu tampaknya sudah tidak pernah digunakan lagi selama bertahun-tahun. Lapisan debu yang tebal tampak memenuhi permukaan lantai. Atapnya pun dipenuhi lubang, membuat kondisi lantainya setengah lapuk akibat rembesan air hujan.

 

Kedua lengan dan kaki Xue tampak terikat erat oleh tali. Namun, tidak ada peralatan khusus pengunci sihir yang terpasang di tubuhnya.

 

Di dalam ruangan, kelompok petualang tampak memasang posisi mengepung Ophelia.

 

Para petualang melayangkan tatapan tajam ke arah Ophelia.

 

"Berdasarkan informasi dari organisasi kalian, tidak seharusnya ada penyihir yang sanggup bertarung dengan becus di Lily Garden! Tapi begitu dijalankan, apa-apaan ini! Pasukan monster yang kalian kirimkan hancur lebur di tangan satu orang guru, dan rekan-rekan kami justru ditumbangkan murni hanya oleh para murid!"

 

"Aku juga tidak tahu kalau Proteus-sensei ternyata sanggup bertarung sampai sejauh itu, tahu~ Tapi mengenai rekan kalian yang ditumbangkan oleh murid, bukankah itu karena kalian sendiri yang terlalu sampah?"

 

Ophelia membalasnya dengan sebuah senyuman yang memicu kekesalan.

 

"Lagipula karena target utama sudah berhasil didapatkan, bukankah seharusnya kita lebih bersenang-senang? Asalkan kita berhasil meloloskan diri dari tempat ini, imbalan yang sudah dijanjikan dipastikan akan langsung kuberikan."

 

"Lalu bagaimana dengan rekan-rekan kami yang tertinggal di Lily Garden!"

 

"Lupakan saja mereka. Dengar, ada pepatah yang mengatakan kalau melihat masa depan itu jauh lebih baik daripada melihat masa lalu, kan?"

 

"Kamu pikir kami akan menerima alasan semacam itu!"

 

Para petualang melayangkan protes secara bersahut-sahutan, tetapi Ophelia hanya sebatas mengangkat bahunya.

 

"Yah, jika kalian memang ingin pergi menolong mereka silakan saja secara bebas, sih~ Tapi mana yang lebih penting? Uang di masa depan, atau rekan kalian yang sulit untuk diselamatkan itu?"

 

"Hal itu, adalah……"

 

"Nah, sudah diputuskan, kan~ Kalau begitu, mari kita segera pergi meninggalkan Celeste!"

 

Ophelia menepukkan kedua tangannya dalam satu sentakan, lalu memalingkan wajahnya ke arah sini.

 

Namun begitu melihat ekspresi wajah Xue, wajah Ophelia langsung berkerut secara tidak menyenangkan.

 

"Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu? Jangan-jakkan kamu berniat mengatakan kalau kamu tidak mau ikut denganku~?"

 

"Tentu saja…… iya!"

 

Xue berteriak sekuat tenaga.

 

Namun, senyuman wanita itu mendadak membeku seiring dengan ekspresi wajahnya yang berubah menjadi dingin.

 

"Yah, sewajarnya memang begitu ya~ Tapi, apa kamu berpikir kalau kamu memiliki hak untuk menolak?"

 

Ophelia menyunggingkan sebuah senyuman distorsi.

 

"Atau, apakah sebaiknya aku membuatmu mengingat kembali masa lalu saja?"

 

"-"

 

Dalam sekejap mata, Ophelia sudah mendekat tepat di hadapannya sambil mengangkat tongkat khotbahnya tinggi-tinggi.

 

Pemandangan kekerasan di masa lalu seketika bangkit kembali di dalam kepala Xue.

 

Hanya karena hal itu saja. Murni hanya karena hal itu, logika Xue langsung membeku hingga membuat dirinya tidak sanggup merapalkan sihir sama sekali.

 

Pada detik berikutnya, hantaman tongkat khotbah yang diayunkan oleh Ophelia langsung menghempaskan tubuh Xue ke atas lantai. Dampak benturan membuat udara terdorong keluar dari paru-parunya, memaksanya terengah-engah kritis demi mencari oksigen. Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya hampir meluapkan jeritan histeris.

 

"Xue-chan benar-benar sangat lembut ya~ Padahal aku bertindak seperti ini, kamu tetap tidak bisa menyerangku."

 

Ophelia menjambak rambut berwarna es milik Xue untuk mengangkat paksa wajah gadis itu.

 

"Aku tahu, kok. Kamu sebenarnya masih takut untuk bertarung, kan? Hebat sekali ya~ kamu tetap mengingat janji yang kita buat dulu. Karena kamu tahu betul kan apa akibatnya jika berani melawanku~"

 

"Ja-jangan……"

 

"Ahahaha! Dengar, apa gunanya mencoba melarikan diri? Seberapa jauh pun kamu berlari, semuanya akan menjadi sia-sia saja~ Karena kamu tidak akan pernah bisa membalas serangan."

 

Sambil membiarkan pantatnya tetap menyentuh lantai, Xue bergerak mundur demi mencoba melarikan diri.

 

Namun, tidak ada ruang untuk melarikan diri di dalam ruangan yang sempit ini. Punggungnya langsung terbentur dinding dalam sekejap. Sebuah situasi yang teramat kritis. Xue menjulurkan lengannya berniat untuk melancarkan sihir ke arah Ophelia, mencoba melayangkan instruksi kepada para spirit.

 

"……Ah."

 

Namun, tidak ada satu patah kata pun yang kembali keluar dari mulutnya.

 

Murni hanya karena memikirkan niat untuk menyerang saja sudah membuat kepalanya menjadi putih total dan tubuhnya gemetaran.

 

Di saat yang sama, memori masa lalu kembali bangkit di dalam kepala.

 

Setelah dibawa pergi oleh wanita ini dulu, Xue kerap dipukuli murni karena berbagai alasan sepele.

 

Dia dipukuli karena wanita itu benci melihatnya menangis. Dia dipukuli karena wanita itu tidak suka dengan gaya bicaranya. Dia dipukuli murni karena suasana hati wanita itu sedang buruk. Saat dia muntah akibat dipukuli, dia kembali dipukuli karena dianggap mengotori ruangan.

 

Hingga akhirnya, meski lawannya bukan wanita ini sekalipun, tubuhnya dipastikan akan langsung gemetaran murni hanya karena memikirkan niat untuk melancarkan sihir serangan.

 

Menerima pukulan saja sudah terasa teramat sakit, alhasil dia menjadi takut untuk membuat orang lain merasakan rasa sakit yang sama.

 

Kutukan tersebut terlanjur mendekam erat di seujung tubuhnya hingga saat ini.

 

"Kalau begitu, mari kita pergi."

 

Ophelia menarik paksa tubuh Xue untuk mengangkatnya.

 

Namun, dia tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Pada akhirnya dia hanya bisa pasrah diseret begitu saja layaknya sebuah barang dagangan──

 

Tepat pada saat itu.

 

"───!"

 

Hawa mana dalam jumlah masif mendadak terasa. Sensasi merinding yang teramat mengerikan seketika menembus seujung punggung.

 

Sesuatu akan segera terjadi. Dan hal itu sudah merebak sangat dekat tanpa bisa dihindari lagi.

 

*Set!* Ophelia mendadak mengangkat wajahnya seolah terpelanting. Senyuman yang menghiasi wajahnya tampak membeku secara tidak wajar.

 

Sesaat kemudian, seberkas cahaya yang teramat silau langsung menutupi seluruh ruang penglihatan bersamaan dengan gaung suara gemuruh yang dahsyat.

 

 

Waktu sedikit berputar mundur ke belakang.

 

Saat mereka melangkah keluar dari Lily Garden hari masih terhitung siang, tetapi sore hari telah menyambut ketika kelompok Theo memasuki area hutan. Ditambah lagi dengan kondisi langit yang mendung. Suasana hutan yang lebat terlanjur dipenuhi oleh kegelapan yang pekat persis layaknya malam hari.

 

Saat ini, Theo sedang menyusir jejak para petualang yang membawa pergi Xue bersama dengan Karina dan Isabella.

 

Lokasi keberadaan Ophelia berhasil dipastikan karena dia sengaja melepas familiar untuk membuntutinya. Theo melangkah menembus hutan secara lincah tanpa adanya keraguan sedikit pun.

 

"……Di sebelah sana ya."

 

Entah sudah seberapa jauh mereka melangkah menerobos area hutan bagian dalam.

 

Begitu sampai di sebuah area tebing yang memiliki sudut pandang luas, sebidang gubuk kayu tampak berdiri terisolasi di titik yang dituju oleh pandangan mata Theo.

 

Gubuk tersebut berada di bawah posisi dikepung oleh pasukan monster.

 

Tepat di saat Theo melayangkan instruksi menggunakan tangan kepada Karina, Karina langsung menuruni tebing lalu mendekati gubuk secara diam-seribu bahasa. Tugas Karina bertindak sebagai penyerang bebas. Sebab hal itulah pembagian tugas yang sudah mereka sepakati bersama sebelumnya.

 

Dan sosok yang ditugaskan untuk melancarkan serangan pembuka tidak lain adalah.

 

"…………-"

 

Isabella sedang berdiri di atas tebing bersamaan dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh ketegangan.

 

Kondisinya terus seperti itu sejak dia ditunjuk untuk memegang kendali atas serangan pembuka.

 

Hal itu terhitung wajar. Karena perintah yang diberikan oleh Theo kepadanya mutlak bukan merupakan sebuah serangan pembuka biasa.

 

Sambil terus memusatkan sepasang mata ke arah gubuk bersamaan dengan ekspresi wajah yang serius, Isabella bergumam lirih.

 

"Sensei…… apa kamu benar-benar berpikir kalau aku sanggup melakukan hal semacam itu?"

 

Nada suara Isabella terdengar gemetaran. Sambil terus menundukkan wajahnya, dia melanjutkan untaian kalimat yang lemah.

 

"……Aku tahu kalau serangan kejutan itu terhitung efektif. Tapi, apa benar-benar tidak apa-apa jika aku yang melakukannya? Perintah yang kamu berikan itu adalah sihir tingkat tertinggi milik keluarga Lumiere, lho? Aku bahkan tidak pernah mendengar kalau Ayah sekalipun pernah berhasil mengaktifkannya. Ditambah lagi sebelumnya kamu melarangku menggunakan sihir tingkat tinggi, tapi kenapa sekarang──"

 

"Bicara-bicara kamu hari ini terkesan sangat cerewet ya. Bukankah kamu sudah berjanji untuk mematuhi segala perintahku?"

 

"Tapi!"

 

Isabella mencoba memprotesnya. Theo mengembuskan napas panjang lalu menegaskan.

 

"Aku memang melarangmu menggunakan sihir tingkat tinggi. Tapi itu adalah ketentuan untuk saat ini. Suatu saat nanti kamu pasti harus menghadapinya. Hari ini, aku hanya sebatas memperlihatkan masa depan yang seharusnya kamu capai nanti."

 

"……Masa depan?"

 

"Lagi pula, kamu terlalu merendahkan kemampuan dirimu sendiri. Memang benar ada banyak poin dari dirimu yang masih belum memadai. Stamina fisikmu baru setara manusia normal, dan mana milikmu pun terhitung tidak seberapa. Segalanya masih berada dalam kondisi mentah."

 

Theo mengutarakannya bersamaan dengan nada suara yang dingin, tetapi untaian kalimat berikutnya terasa teramat lembut hingga membuat dirinya sendiri terkejut.

 

"Tapi khusus untuk urusan kontrol sihir, aku bersedia memberikan nilai yang memadai untukmu. Kudengar kamu sudah mulai biasa menyelesaikan tugas harian memanfaatkan sihir…… normalnya, keahlian itu tidak akan bisa dikuasai dalam kurun waktu sependek itu. Kamu tahu mana milikmu tidak memadai, dan karena itulah kamu terus berusaha keras sejak saat itu, kan?"

 

"──Aku sendiri yang akan menjaminnya. Aku percaya kalau kamu pasti bisa melakukannya. Jadi jangan ragu dan kerahkan seluruh kemampuanmu, Isabella Lumiere."

 

Theo mengarahkan sepasang matanya secara lurus.

 

Menanggapi hal itu membuat pipi Isabella seketika memerah padam. Sudut bibirnya bergerak-gerak secara tidak beraturan akibat rasa senang yang melanda.

 

Hingga akhirnya, dia menepuk kedua pipinya sendiri dalam satu sentakan demi memusatkan fokus kembali.

 

Secercah keraguan kini telah sirna secara total dari sepasang mata Isabella. Dia memejamkan mata demi mengumpulkan fokus konsentrasi. Theo yang berdiri di sampingnya berucap secara tenang.

 

"Kamu tidak perlu mencemaskan urusan mana. Aku yang akan memberikan bantuan tepat di sampingmu. Hal yang sama juga berlaku untuk urusan Xue. Ophelia dipastikan akan melindunginya sekuat tenaga. Fokuskan seluruh pikiranmu murni pada rapalan dan kontrol sihir saja."

 

"……Ya, aku paham."

 

"Kalau begitu mulailah begitu persiapannya selesai."

 

Tepat setelah Theo menyuarakannya, Isabella menarik napas dalam-dalam layaknya sedang melakukan penyelarasan napas.

 

Sambil memejamkan mata, Isabella menarik napas dalam.

 

Ruang penglihatannya berubah menjadi hitam pekat, membuat suara napasnya sendiri serta deru angin hutan terdengar bergaung dengan sangat keras secara janggal.

 

Jika seorang diri, dia dipastikan akan ragu bahkan murni hanya untuk mencobanya saja.

 

Namun saat ini Theo sedang mendampinginya tepat di sisi ruangan. Jika situasinya demikian, seberapa jauh pun tingkat kesulitannya, Isabella pasti akan bisa melangkah maju.

 

Isabella membelalakkan matanya dengan lebar.

 

Sepasang mata miliknya saat ini murni hanya mencerminkan sosok gubuk yang menjadi titik berkumpulnya para petualang yang menjadi target utamanya.

 

Kemudian, Isabella menggores lengannya menggunakan bilah pedang tongkat, membiarkan darah segar menetes membasahi permukaan tanah seraya merapalkan kalimatnya. Sebuah sihir yang mayoritas penyihir bahkan tidak akan pernah sanggup menggapainya sepanjang hidup mereka.

 

"──Aku, di tempat ini…… memohon kepada wujudmu!"

 

Tepat di saat Isabella memulai rapalannya, pijakan kakinya bersinar terang seiring dengan terciptanya sebuah lingkaran sihir. Cahaya kilatan petir menyembur keluar dari lingkaran sihir, berkedip secara intens.

 

Ilmu sihir telah melintasi sejarah panjang demi disempurnakan. Hasilnya adalah kemunculan sihir generasi keempat yang membuat siapa pun bisa menggunakan sihir asalkan dibekali oleh kepemilikan mana.

 

Kalau begitu, apakah ilmu sihir dari masa kuno telah punah secara total? Jawabannya adalah mutlak tidak.

 

Memang frekuensi penggunaannya telah menurun akibat tingkat kepraktisannya yang buruk, tetapi sihir dari masa kuno tetap terus digunakan hingga saat ini.

 

Teori sihir generasi kedua. Sebuah sihir yang aktif melalui kombinasi rapalan serta penyerahan Kurban kepada dewa. Keunggulannya adalah daya rusak yang teramat masif yang didapatkan berkat koneksi dengan dewa.

 

Dan untuk urusan kurban, darah penyihir merupakan opsi yang paling lazim, dan syarat itu sudah diselesaikannya sejak awal.

 

"……Aku, di tempat ini, mempersembahkan kepada wujudmu!"

 

Tepat di saat Isabella melanjutkan rapalannya, sebuah tekanan berat yang menyerupai pelipatan gravitasi bumi mendadak datang menerjang. Tubuhnya berderak memicu rasa sakit yang hebat.

 

Sebab tubuh sekecil ini dipaksa menahan seluruh bobot kekuatan dewa secara langsung.

 

Jika dia adalah penyihir biasa, dia dipastikan sudah hancur lebur terkena dampak dari kekuatan ini.

 

Tulang-tulangnya berderit hebat, memaksanya hampir meluapkan jeritan histeris. Dia tidak sanggup mengendalikan kekuatan dewa yang terus turun menghujani dirinya. Isabella memuntahkan darah segar dari mulutnya, secara refleks menjatuhkan lututnya ke atas tanah akibat hampir hancur tertekan, namun──

 

"──Tenanglah, Isabella."

 

Dalam sekejap, tekanan berat itu mendadak menjadi ringan. Kekuatan dewa yang menghujani dirinya mendadak berada di bawah kendali secara instan. Dan mengenai siapa sosok yang berhasil melakukannya, Isabella tidak perlu bersusah payah melakukan konfirmasi lagi.

 

Saat menggerakkan pandangan matanya ke arah samping, Theo ternyata sudah berdiri mendampinginya tepat di sisi ruangan. Lengannya tampak menempel di punggung Isabella, melakukan intervensi langsung terhadap formula sihir.

 

Sambil memamerkan keahlian luar biasa yang mutlak tidak akan bisa ditiru oleh penyihir normal meski mereka membalikkan tubuh sekalipun, Theo berucap bersamaan dengan nada suara yang teramat tenang.

 

"Jangan menahan kekuatannya secara langsung dari arah depan, Isabella. Coba kendalikan dengan menggunakan impresi mengalirkan kekuatannya agar tetap tertahan di tempat ini."

 

Sambil berucap demikian, Theo terus melakukan intervensi terhadap sihir demi memberikan contoh nyata. Kekuatan dewa yang menghujani mereka dialirkan di sepanjang lingkaran sihir dengan menjadikan tubuh mereka sebagai titik pusatnya, menciptakan sebuah lingkaran kilatan petir seraya menyebarkan tekanan udara ke sekeliling.

 

……Luar biasa.

 

Sebuah keahlian tingkat tinggi yang seharusnya baru bisa diselesaikan melalui kerja sama dari beberapa orang penyihir sekaligus. Theo sanggup menyelesaikannya seorang diri, seraya menyerahkan kendali kontrol kepada Isabella secara perlahan.

 

Isabella tentu tidak akan sanggup melakukannya jika seorang diri, tetapi situasi berubah total berkat adanya bantuan dari Theo. Secara perlahan, dia mulai mendominasi kekuatan masif yang meluap di sekelilingnya. Begitu ruang penglihatannya dipenuhi oleh lingkaran kilatan petir dan kekuatan telah memenuhi tempat ini secara mutlak, Isabella kembali membuka mulutnya.

 

"Wahai wujud kuno yang berasal dari asal mula! Dewa yang bertindak melindungi kami dari atas langit……!"

 

Masing-masing untaian kata merupakan sebuah bait suci yang mengandung kekuatan dewa. Sambil merapalkannya seolah sedang mengukirnya menggunakan seluruh fokus konsentrasi, Isabella mengarahkan pedang tongkatnya ke arah gubuk yang menjadi target.

 

"Dengan menggunakan satu hantaman bintang…… berikan kehancuran mutlak kepada musuhku!"

 

Apakah karena akhirnya menyadari aliran hawa mana dalam jumlah masif yang membubung tinggi ke arah langit, Ophelia dan para petualang bergegas melangkah keluar dari dalam gubuk.

 

Jika mereka dibekali sedikit waktu lagi, semuanya dipastikan akan bisa meloloskan diri dari tempat ini.

 

Namun segalanya sudah terlambat. Sisanya, mereka hanya bisa pasrah menerima hantaman kekuatan ini menggunakan tubuh mereka sendiri.

 

Hal yang dirapalkan oleh Isabella merupakan sebuah teknik sihir yang sejak masa kuno kerap dijuluki sebagai 'Hantaman Dewa'. Kontrol kekuatan dewanya terikat oleh tingkat kesulitan yang teramat tinggi, sebuah sihir yang seharusnya baru bisa dikuasai oleh penyihir hebat setelah menghabiskan waktu selama bertahun-tahun.

 

Isabella tidak menyadarinya, tetapi keahlian ini merupakan secercah dari bakat orisinal yang bersemayam di dalam dirinya sendiri. sebuah kontrol sihir tingkat tertinggi di dunia yang dalam kurun waktu dua tahun ke depan akan membuat dirinya diakui sebagai seorang pahlawan.

 

Meskipun berada dalam kondisi tidak sempurna akibat adanya bantuan, Isabella sanggup menyusun dan melepaskannya dalam percobaan pertama.

 

Satu sihir yang menduduki peringkat atas di dalam sembilan klasifikasi rank sihir. Nama dari teknik tersebut adalah sihir Rank kedua──

 

"Stardust──"

 

"──Strike!!!"

 

Tepat di saat kalimat itu dilontarkan dari mulut Isabella, rentetan lingkaran sihir tampak tercipta saling tumpang tindih di area langit di atas gubuk. Benar-benar persis menyerupai sebuah menara raksasa yang menjulang tinggi menggapai langit.

 

Sesaat kemudian, sebuah hantaman kekuatan dewa langsung diayunkan turun ke bawah bersamaan dengan suara gemuruh yang dahsyat.

 

Dampak gelombang kejut seketika menghancurkan lanskap pemandangan hutan secara total, persis layaknya gempa bumi dan bencana puting beliung yang meletus secara serempak di satu titik.

 

Pepohonan yang tersentuh oleh kilauan cahaya dewa langsung lenyap tak berbekas, dan permukaan tanah pun terhempas hancur hingga ke akarnya. Embusan angin kencang ikut menerjang Isabella yang bertindak sebagai pelepas sihir, memaksanya bergegas merunduk di atas tanah secara panik.

 

Meskipun demikian, serangan itu tetap tidak sanggup menangkap seluruh musuh secara serempak. Apakah karena berhasil menghindar di saat-saat terakhir sebelum dampak Stardust Strike meletus, Ophelia tampak merangkak keluar dari balik lanskap hutan yang hancur dalam posisi mendekap tubuh Xue, lalu bergegas melarikan diri menuju ke area hutan bagian dalam yang lebih jauh.

 

Di sisi lain, pasukan monster telah hancur lebur secara total. Di kalangan petualang pun sudah tidak ada satu orang pun yang tersisa dalam kondisi sanggup bertarung.

 

"Sudah cukup. Kerja bagus, Isabella."

 

Theo melemparkan tatapan mata ke arah sini sesaat, lalu memusatkan pandangannya ke arah depan tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.

 

"Sisanya serahkan kepada Karina. Karena kali ini merupakan area keahlian milik gadis itu."

 

---

 

"Ahahaha! Apakah orang-orang itu sudah tidak waras?! Mereka sengaja melepaskan tembakan sihir meski kamu berada di sana, lho!"

 

Sambil berada dalam kondisi lengan dan kaki yang terikat rapat, Xue mendengarkan jeritan yang diluapkan oleh Ophelia.

 

Saat ini, Ophelia sedang memacu seekor monster menembus area hutan bersamaan dengan kecepatan yang teramat gila demi melarikan diri.

 

Baru sekitar sepuluh menit berlalu sejak mereka berlari. Namun jarak mereka dari lokasi kejadian tadi terlanjur terpisah sangat jauh. Kondisi Xue sendiri saat ini terus dibawa layaknya sebuah barang bawaan saja.

 

Dampak serangan tadi menyisakan banyak luka di tubuh sang monster. Meski begitu, makhluk tersebut tetap mematuhi instruksi Ophelia secara setia. Walau darah segar tampak menyembur setiap kali kaki dan tangannya digerakkan, monster itu terus memacu larinya sekuat tenaga tanpa memedulikan nyawanya sendiri.

 

Namun, Ophelia justru tertawa terbahak-bahak seolah sudah meyakini kemenangan mutlaknya.

 

"Tapi sayang sekali ya~! Padahal tinggal selangkah lagi untuk bisa menangkapmu kembali. Mustahil mengejar monster menggunakan kuda di dalam hutan yang dipenuhi oleh area berbatu ini, dan kaki manusia pun mutlak tidak akan bisa mengimbangi kecepatan lari monster! Nah, mari kita langsung pergi keluar dari wilayah Celeste──"

 

Kalimat tersebut mutlak tidak sanggup diselesaikan oleh Ophelia hingga akhir.

 

Alasannya sederhana. ──Dari arah atas kepala mereka, seorang gadis mendadak melompat turun sambil menyiapkan kepalan tinjunya sekuat tenaga.

 

"Haaaaahhhhhhh!"

 

Gadis itu melayangkan tinjunya bersamaan dengan sebuah teriakan histeris.

 

Namun di saat bersamaan, Ophelia tampaknya berhasil mendeteksi sesuatu lalu bergegas melompat turun meninggalkan punggung monster.

 

Sesaat kemudian, kepalan tinju yang kehilangan sasarannya itu bersarang telak menghantam tubuh sang monster.

 

*Bugh!* Tepat di saat satu pukulan tersebut menembus tubuh sang monster, makhluk itu langsung terlempar jauh bersamaan dengan gaung suara hantaman yang teramat dahsyat.

 

Tidak berhenti di situ, area yang menjadi titik hantaman sang gadis mendadak amblas runtuh seiring dengan kabut debu tanah yang membubung tinggi ke udara. Dampaknya tentu membuat Xue yang berada di atas punggung monster ikut terlempar jatuh ke atas tanah.

 

Begitu kabut debu tanah sirna dari pandangan, sosok yang menampakkan dirinya di tempat itu adalah seorang gadis berambut pirang yang memancarkan aura layaknya seorang dewi perang. Karina Rudbeckia sedang berdiri tegap sambil menyiapkan kuda-kuda kepalan tinjunya.

 

"Karina-san!"

 

"Xue, sekarang kamu sudah aman, lho."

 

Mendengar Xue yang secara refleks memanggil namanya membuat Karina mengulas sebuah senyuman simpul demi menenangkan sang sahabat. Dia bergegas memotong tali pengikat yang melilit tubuh Xue dengan cepat, lalu berdiri menghadang di depan Xue demi melindunginya.

 

"……Ngomong-ngomong, ternyata ada satu orang yang menyusul ke sini ya~"

 

Setelah berhasil mendaratkan kakinya di atas tanah, Ophelia bangkit berdiri secara perlahan.

 

"Karina Rudbeckia. Bakat orisinal ilmu sihirmu sebenarnya menduduki tingkat kelas satu. Sayang sekali ya kamu terlahir sebagai rakyat jelata~"

 

"Jika berkat hal itu saat ini aku sanggup menyelamatkan sahabatku sendiri, maka hal itu mutlak bukan merupakan sebuah masalah."

 

Menanggapi sindiran dari Ophelia tersebut, Karina membalasnya bersamaan dengan sikap yang tegap. Sambil mengamati area sekeliling secara waspada, Ophelia berucap.

 

"Tapi bagaimana caranya kamu bisa mengetahui lokasi tempat ini~? Berdasarkan hasil penyelidikanku, keahlian sihirmu seharusnya paling-paling hanya sebatas sihir Physical Enhance saja, tapi…… ah, jadi guru itu ya."

 

Tampaknya berhasil memikirkan sebuah jawaban membuat Ophelia menarik kesimpulan sendiri.

 

"Penyandang gelar Genius Sihir Modern Theo Proteus, jika gurunya adalah pria itu maka hal selevel ini pasti bisa diselesaikan dengan mudah ya~ Tampaknya dia sengaja melepas familiar miliknya di berbagai tempat sejak awal.”

 

Untaian kata yang dilontarkan Ophelia layaknya sebuah gumaman merupakan hal yang pertama kali didengar oleh Xue.

 

Namun sebelum Xue sempat memotong pembicaraan, Ophelia memiringkan kepalanya.

 

"Tapi, Ludbeckia-san, apakah hanya ada kamu sendiri?"

 

"……Apa maksudmu?"

 

"Maksudku, apakah orang yang berhasil sampai ke tempat ini hanya kamu seorang."

 

Ophelia menyeringai lebar.

 

"Ahahaha! Benar juga ya~ Orang yang sanggup mengejar ke sini murni dengan berlari dari tempat tadi hanya kamu yang memiliki kemampuan fisik luar biasa~ Hantaman sihir yang tadi pun pasti milik Proteus-sensei. Bukankah saat ini dia sedang terkapar lemas karena telah menghabiskan seluruh tenaganya~?"

 

"…………"

 

Karina sama sekali tidak memberikan jawaban.

 

Namun, sikap diamnya justru terkesan mengiyakan dugaan tersebut.

 

Tampaknya menarik kesimpulan yang sama membuat Ophelia tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

 

"Ahahaha! Apakah Proteus-sensei sedang bercakap serius~? Mengirim satu orang murid yang bahkan tidak bisa menggunakan sihir dengan becus demi menghadapiku? Dia pintar melucu ya~"

 

"──Kalau begitu, Sensei tidak keberatan kan jika anak ini kubunuh saja."

 

Wajah Ophelia berkerut seiring dengan amarah yang dipancarkannya secara terang-terangan.

 

Tepat setelah itu, Ophelia mengeluarkan sebatang jarum dari balik baju biarawati jubah putihnya.

 

Jarum tersebut memancarkan kilauan merah pekat yang janggal. Meski tidak tahu benda apa itu, secara insting bisa disadari bahwa ada banyak formula sihir yang tertanam secara tumpang tinhdih di dalamnya.

 

Sambil menusukkan jarum tersebut ke lehernya sendiri, Ophelia mengumumkan.

 

"Bangkitlah, wahai Raja Iblis dari Ras Demon Beast."

 

"──Awaken."

 

Seketika, tubuh Ophelia berdenyut hebat.

 

Gelombang mana dalam jumlah masif mendadak bertiup kencang, menggetarkan udara sekitar.

 

Xue maupun Karina sama sekali tidak sanggup berdiri dan terpaksa merunduk di atas tanah.

 

Embusan angin kencang membuat pohon raksasa bergoyang hebat, mematahkan ranting-rantingnya lalu menerbangkannya ke sekeliling.

 

Wujud Ophelia kini sudah tidak menyisakan bentuk manusia lagi.

 

Wujudnya benar-benar persis menyerupai jajaran monster yang dipaksa masuk ke dalam satu tubuh manusia.

 

Sepasang tanduk tumbuh di kepalanya layaknya sebuah mahkota, dan ujung rambutnya bergerak-gerak menyerupai ular. Taring yang buas tampak terlihat dari mulutnya, dan sebatang ekor menjulur keluar dari balik celah pakaian jubah putihnya.

 

"──────"

 

Sensasi merinding yang teramat mengerikan seketika menjalar di seujung punggung.

 

Para spirit di dalam hutan langsung memekikkan peringatan secara serempak, seiring dengan logikanya yang ikut menyadari bahaya tersebut.

 

Makhluk itu terlarang. Ini bukan lagi urusan bisa menang atau tidak. Dia adalah sebuah keberadaan yang mutlak tidak boleh dijadikan sebagai lawan bertarung.

 

"Apakah kalian tahu mengenai Raja Iblis dari ras demon beast~?"

 

Sambil memancarkan gelombang mana yang teramat dahsyat, Ophelia menyeringai kejam.

 

"Kalian paham kan jika kusebut kekuatan itu? Ada beberapa kemampuan yang dimiliki oleh Raja Iblis dari ras demon beast, tetapi yang paling lazim ada hai dua. Pertama adalah kekuatan mengendalikan monster. Dan yang kedua adalah──"

 

"Xue, ayo pergi!"

 

Keputusan yang diambil oleh Karina terbilang sangat cepat.

 

Sebelum Ophelia selesai merangkai kalimatnya, Karina bergegas mendekap tubuh Xue lalu meloloskan diri dalam satu sentakan memanfaatkan sihir Physical Enhance yang tampaknya sudah disiapkannya sejak awal.

 

Suara hantaman angin kencang bergaung keras di telinga seiring dengan lanskap pemandangan yang berputar dengan sangat cepat.

 

Namun, meski jarak mereka sudah terpisah jauh dari Ophelia, suara wanita itu tetap terdengar dengan sangat jelas.

 

"Jangan melarikan diri di saat orang sedang berbicara, dong~ Tapi, ini mungkin momen yang pas. Karena aku memang berniat memperlihatkannya kepada kalian setelah ini."

 

"──Nah, wahai anak-anakku yang manis. Tangkaplah mereka berdua!"

 

Tepat setelah pengumuman itu dilontarkan bersamaan dengan senyuman yang bejat.

 

Perut Ophelia mendadak robek terbuka. Sebuah kegelapan menyerupai bentuk bulan sabit tercipta di perutnya, dan sosok yang bermunculan dari dalam perut tersebut adalah jajaran monster berusia muda. Mereka menyembur keluar layaknya tsunami lalu menginjakkan kaki di atas tanah, wujud monster muda itu perlahan membesar dalam sekejap mata.

 

Xue hanya sebatas mengetahuinya dari literatur saja, tetapi hal ini dipastikan tidak salah lagi.

 

Inilah kemampuan kedua dari Raja Iblis dari ras demon beast yang hendak diucapkan oleh Ophelia tadi. Sumber penyebab kenapa dunia dipenuhi oleh monster. Monster Womb. Sebuah kemampuan orisinal untuk melahirkan monster dari ketiadaan.

 

"-. Gggrrr!"

 

Karina memacu larinya sekuat tenaga, tetapi meloloskan diri dari kejaran monster dalam jumlah tak terhitung merupakan urusan yang mustahil.

 

Kaki Karina terlilit hingga tubuhnya terguling hebat di atas permukaan tanah, membuat Xue terlempar keluar dari dalam dekapan lengannya. Tubuh Xue terguling di atas tanah hingga kepalanya terbentur berulang kali, membuat ruang penglihatan berputar hebat memicu rasa sakit.

 

"……Ah."

 

Saat dia mengangkat wajahnya bersamaan dengan suara yang terengah-engah, kepala Karina sudah berada di bawah injakan kaki Ophelia.

 

Karina terlihat berusaha melawan sekuat tenaga, tetapi seluruh tubuhnya ditahan rapat oleh monster hingga dia tidak bisa bergerak sedikit pun.

 

"Xue, cepat lari!"

 

Meskipun demikian, Karina tetap berteriak sekuat tenaga.

 

Alih-alih mempriorstaskan keselamatan dirinya sendiri, dia justru mendesak Xue untuk segera melarikan diri.

 

Pemandangan itu benar-benar persis menyerupai tragedi serangan massal yang pernah dialami oleh Xue pada masa lalu.

 

"Tinggalkan aku! Aku pasti bisa mengatasi situasi ini! Ayo! Cepat!"

 

"Kamu tidak akan lari, kan~"

 

Sambil menimpali kalimat tersebut, Ophelia menginjak kepala Karina semakin keras.

 

"Kamu masih ingat kan apa akibatnya jika berani melawan? Kemari, tundukkan kepalamu meminta maaf lalu menyerahlah, maka aku akan melepaskan anak ini. Karena sejak awal target utamaku adalah Xue-chan, lho."

 

"Cepat lari……! Jangan dengarkan perkataannya……!"

 

Suara dari kedua orang tersebut terlontar ke arah Xue secara serempak.

 

Secara tidak sadar, kedua kakinya langsung gemetaran hebat.

 

Akibat dari pilihan yang diambilnya sendiri, Karina saat ini sedang berada di ambang kematian.

 

Melarikan diri merupakan urusan yang mudah bagi Xue. Namun jika dia melakukannya, Karina dipastikan akan langsung dibunuh.

 

Lalu bagaimana jika dia memilih untuk menyerah. Namun, mutlak tidak ada jaminan bahwa Ophelia akan menepati janjinya. Dia tidak tahu apakah wanita itu benar-benar akan melepaskan Karina atau tidak.

 

Dan jika dia memilih bertarung, apa yang akan terjadi.

 

Ada banyak pilihan yang tersedia. Namun, tindakan yang bisa diambil oleh Xue hanya ada satu.

 

"……Ma-maaf…… aku…… tidak akan lari…… tolong…… lepaskan dia."

 

Xue menempelkan kepalanya ke atas tanah.

 

Dalam posisi tanpa pertahanan sedikit pun, Xue memohon di bawah kaki Ophelia.

 

Xue Amaryllis tidak bisa bertarung.

 

Sebab sejak masa yang teramat lampau, hatinya sudah terlanjur hancur total.

 

Karena itulah Xue memilih untuk berhenti melihat dunia. Dia memilih untuk mengurung diri di dalam cangkang.

 

Jika tidak melihat apa pun, jika tidak merasakan apa pun, maka hal itu sama saja dengan 'tidak merasakan sakit'.

 

Oleh karena itu, Xue memilih untuk tidak bertarung lalu menundukkan kepalanya.

 

"To-tolong, bawa aku pergi…… lepaskan Karina-san."

 

"Bicara…… apa kamu……!"

 

"Ahahaha! Ahahaha! Hahaha!"

 

Mendengar pilihan yang diambil oleh Xue membuat Ophelia tertawa terbahak-bahak secara histeris.

 

"Luar biasa, kamu benar-benar sangat lembut ya! Aku sampai terharu melihat pengorbanan milik Xue-chan! Kalau begitu, aku akan melepaskan Ludbeckia-san!"

 

Ophelia menjauhkan kakinya dari kepala Karina. Kemudian memerintahkan monster untuk membebaskannya.

 

Xue mengangkat wajahnya secara perlahan.

 

Urusannya berhasil tersampaikan. Karina akan selamat. Mengonfirmasi fakta tersebut membuat sudut bibirnya secara tidak sadar mengulas senyuman simpul──

 

"──Memangnya, kamu pikir aku akan berkata seperti itu, dasar booooodoh!"

 

*Jlep!*

 

Pada awalnya, dia tidak menyadari bahwa itu adalah suara dari tubuh Karina yang tertusuk.

 

Seekor ular mendadak melesat keluar dari balik jubah putih Ophelia, menusuk punggung Karina layaknya sebilah pedang. Tubuh Karina gemetaran hebat sebelum akhirnya ambruk lemas ke tanah tanpa sempat meluapkan suara.

 

Sasaat kemudian, darah segar dalam jumlah masif mengalir deras membasahi tubuh Karina.

 

Xue hanya bisa memandang peristiwa tersebut diam seribu bahasa bersamaan dengan pikiran yang linglung.

 

Logikanya tidak sanggup mengejar realitas. Padahal barusan, wanita itu bilang akan menyelamatkannya──

 

"Benar-benar, Xue-chan adalah anak yang malang ya. Padahal jika dipikirkan sedikit saja, kamu pasti tahu kalau aku tidak akan mungkin melepaskannya."

 

Ophelia menyunggingkan senyuman distorsi sambil menatap ke bawah ke arah sini.

 

Sambil memasang ekspresi wajah yang kejam, dia menginjak kepala Xue dengan keras.

 

"Nah, sekarang kamu sudah ingat kembali kejadian masa lalu, kan~? Jangan pernah berpikir untuk mencoba melarikan diri lagi dariku~!"

 

*Ulek!* Ophelia menekan kepala Xue ke atas tanah menggunakan kakinya secara bertubi-tubi.

 

Alasan kenapa Ophelia menyerang Karina, kemungkinan besar murni hanya didasari oleh urusan sepele semacam itu saja.

 

Namun murni karena alasan sekonyol itu, Karina saat ini sedang bergerak menuju ke arah kematian yang nyata.

 

"……Mo-mohon, hentikan."

 

Untaian kata meluap dari mulutnya bersamaan dengan suara yang terengah-engah.

 

"Hentikan…… akhiri…… segalanya……"

 

Itulah satu-satunya permohonan terakhir yang tersisa di dalam diri.

 

Dia sudah tidak sudi merasakan rasa sakit lagi. Jika begitu kenyataannya, dia hanya ingin segalanya segera diakhiri saja.

 

Tepat pada saat Xue menyuarakannya.

 

Secara mendadak, sebuah suara bergema dari arah sampingnya.

 

Sebuah suara guru yang teramat biasa didengarnya, sebuah suara yang seharusnya tidak mungkin berada di tempat seperti ini.

 

"──Xue, apakah permohonan yang kamu inginkan benar-benar hanya sebatas hal itu saja?"

 

………………Eh?

 

Xue mengedarkan pandangan ke sekeliling bersamaan dengan wajah yang teramat lelah.

 

Namun, sosok wujudnya tetap tidak bisa ditemukan di mana pun.

 

Saat menurunkan pandangan matanya secara perlahan, seekor tikus tampak berada tepat di dekat lengannya.

 

"Apakah kamu benar-benar ingin mengakhiri segalanya? Apakah kamu benar-benar tidak ingin melihat apa pun lagi. Apakah kamu benar-benar tidak keberatan untuk terus merunduk lemas di tempat seperti ini selamanya?"

 

Xue berhalusinasi melihat sosok Theo.

 

Sosok guru yang sedang menatap ke bawah ke arah sini bersamaan dengan sepasang mata yang dingin.

 

"Tentu saja tidak, kan. Dengar, bukankah sebelumnya kamu sudah mengatakannya kepadaku. Bahwa kamu ingin bisa bertarung. Bahwa kamu ingin mengubah dirimu sendiri yang tidak berguna ini. Bukankah hal itu merupakan keinginanmu yang sesungguhnya?"

 

Sebut saja. Itulah keinginan milik Xue.

 

Dia membenci dirinya yang tidak bisa bertarung. Dia membenci dirinya yang tidak bisa melakukan apa pun.

 

Dia ingin mengubah dirinya yang seperti itu.

 

"……Tapi, bagi diriku…… hal itu mustahil."

 

Sebab saat ini pun, dia hanya bisa diam menyaksikan Karina yang bergerak menuju kematian tepat di hadapan matanya.

 

Tanpa bertarung, hanya bisa pasrah memohon.

 

Mana mungkin sosok Xue yang seperti ini bisa bertarung──

 

"Lalu apakah karena hal itu kamu memilih untuk menyerah? Mengurung diri di dalam cangkang lagi?"

 

"Kamu pasti sudah paham betul kalau hal itu bukan merupakan sebuah solusi, kan. Seberapa jauh pun kamu mengurung diri di dalam cangkang, pihak luar akan tetap terus mengusikmu. Selama kamu masih hidup, pilihan untuk tidak bertarung itu mutlak tidak akan pernah ada, lho."

 

"Kalau begitu, kamu pasti sudah tahu kan apa yang harus dilakukan setelah ini?"

 

"Merebutnya kembali. Hancurkan mereka. Demi mendapatkan masa depan yang kamu inginkan, bertarunglah secara total!"

 

"Cepat bangun dari mimpimu, Xue=Amaryllis! Sampai kapan kamu berniat terus merunduk lemas di tempat seperti ini!"

 

"…………………………Ah."

 

Sambil meluapkan suara seolah sedang membuang rasa pasrahnya terhadap dunia, Xue bangkit berdiri.

 

Tepat di hadapannya, Ophelia tampak membelalakkan matanya dengan lebar karena terkejut.

 

Mungkin karena adanya intervensi dari sihir tertentu, 'suara' tadi kemungkinan besar tidak terdengar oleh Ophelia.

 

Namun, Xue sudah tidak memedulikan urusan semacam itu lagi. Murni hanya 'suara' milik Theo saja yang kini menjadi pilar penyokong bagi seujung tubuh Xue.

 

Sebenarnya sejak kapan? Kenapa harus di momen seperti ini?

 

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kini murni hanya menjadi urusan sepele bagi Xue. Sambil berpegang teguh pada "suara" serta "kata-kata" milik Theo, Xue mengangkat wajahnya.

 

Hal yang dikatakan Theo memang merupakan sebuah kebenaran nyata. Dunia nyata berada di tempat itu. Seberapa jauh pun dia berpura-pura tidak melihatnya, dunia yang teramat kejam tetap tersaji nyata tepat di hadapan matanya.

 

Jika begitu kenyataannya, maka mengurung diri di dalam cangkang mutlak tidak akan menjadi sebuah solusi.

 

──Bertarunglah!

 

Insting Xue berteriak kuat.

 

Sosok wujud Ophelia di hadapannya mendadak terlihat tumpang tindih dengan jajaran orang-orang yang pernah menindas dirinya selama ini. Kepada wanita itu, kepada mereka semua, Xue menumpahkan seluruh isi hatinya.

 

"Mati saja."

 

Jika kalian terus menindas diriku.

 

Jika kalian terus menghalangi jalanku.

 

Jika kalian berani menginjak-injak hal berharga milikku.

 

"──Semuanya, semuanya, mati sajaaaa!!!"

 

Seketika, sebuah badai kekuatan yang teramat dahsyat berembus kencang dari seujung tubuh Xue.

 

Butiran air dalam jumlah tak terhitung mendadak tercipta di udara. Detik berikutnya wujud butiran air itu berubah menjadi es, memicu terciptanya sebuah amukan badai.

 

Seolah menyelaraskan gerakan tersebut, suara para spirit mulai menyentuh gendang telinganya. ──"Kami akan meminjamkan kekuatan, lho!" "Aroma tubuhnya sama seperti Sang Raja!" "Katakan saja apa yang kamu inginkan!"

 

"Terima kasih banyak. Kalau begitu, cepat pinjamkan kekuatan kalian kepadaku."

 

Sejak masih kecil, Xue memang sudah bisa mendengarkan suara dari para spirit. Para spirit akan membaca keinginan yang bersemayam di dalam hati Xue lalu mengaktifkan sihir secara sepihak.

 

Itulah fakta yang sebenarnya dari sihir tanpa rapalan mutlak.

 

Namun, Xue sendiri hampir tidak pernah menyahut suara mereka secara sadar sebelumnya. Sebab dia terlanjur takut jika kekuatan tersebut justru akan melukai banyak orang nanti.

 

Meski begitu, saat ini dia sudah tidak memiliki alasan untuk ragu lagi. Untuk pertama kalinya, Xue mengerahkan kekuatan tersebut bersamaan dengan adanya niat buruk. Sebuah kekuatan yang ditakuti oleh banyak orang, dan terkadang sampai dijuluki sebagai sebuah pusaka emas.

 

Xue adalah keturunan sedarah dari Raja Spirit.

 

Keturunan sedarah dari eksistensi paling buruk yang telah membantai ras manusia dalam jumlah terbesar. Sekaligus klan raja yang memegang tampuk kepemimpinan atas para spirit.

 

Itulah identitas asli yang dimiliki oleh Xue.

 

"Aku akan membunuh wanita itu sampai mati! Mohon pinjamkan kekuatan kalian kepadaku!"

 

"Berani sekali kamu menyuarakannya di hadapanku, haaaahhhh!!!"

 

Mendengar deklarasi dari Xue membuat amarah Ophelia meledak hebat. Sambil melayangkan perintah kepada monster, Ophelia ikut melepaskan sihir dari dirinya sendiri.

 

Sebuah sihir yang dirangkai berdasarkan teori sihir generasi keempat. Sebuah teknologi buatan Theo agar ras manusia sanggup meluncurkan tembakan sihir dalam kecepatan tertinggi.

 

Meskipun demikian.

 

"Pelepasan Formula Sihir: Ma──"

 

"Pelepasan Formula Sihir: Ice Breath"

 

Secara perhitungan pasti, Ophelia seharusnya merupakan pihak yang lebih cepat dalam merapalkan sihir. Baik pola pengobaran mana maupun proses pelepasan formula, seluruh keahlian yang dimiliki Ophelia berada di tingkat yang jauh lebih unggul.

 

Namun secara hasil nyata, sihir milik Xue justru berhasil termanifestasi lebih cepat. Itulah keunggulan mutlak yang dimiliki oleh sihir spirit.

 

Manusia bagaimanapun juga wajib menyusun formula sihir murni seorang diri. Namun, Xue sanggup meminjam kekuatan dari para spirit. Secara mutlak, tingkat kecepatan pelepasan sihir dipastikan akan dimenangkan oleh sihir spirit.

 

Tepat di hadapan telapak tangan yang diulurkan oleh Xue, hawa dingin yang teramat mengerikan seketika memusat rapat.

 

Dalam sekejap.

 

──*Wusss!* Energi hawa dingin langsung melesat membelah udara secara dahsyat.

 

Sambil menghancurkan pepohonan hutan serta mengeruk permukaan tanah, kilatan cahaya itu melesat menghilang ke arah kekosongan udara. Tembakan tersebut hanya sebatas menyeka bagian samping tubuh Ophelia dan tidak bersarang secara telak.

 

Namun murni hanya karena dampak dari sisa energinya saja, sebelah pipi Ophelia langsung tertutupi oleh es, jajaran monster yang mendekat membeku total, dan lanskap pemandangan hutan seketika berubah menjadi dunia perak yang membeku.

 

Tidak berhenti di situ, pijakan kaki Ophelia pun ikut membeku rapat di atas permukaan tanah.

 

"Kakiku……-!"

 

Ophelia berusaha keras menarik kakinya yang tertanam di dalam es sekuat tenaga. Namun celah waktu tersebut merupakan sebuah celah yang teramat fatal jika dilakukan di hadapan Xue yang sekarang.

 

Tampaknya menyadari sesuatu membuat Ophelia bergegas mengangkat wajahnya secara panik. Pada saat itu, Xue sudah mengaktifkan sihir berikutnya seraya memusatkan energi hawa dingin di tangannya.

 

Bersamaan dengan sebuah senyuman distorsi yang sakit, Xue memberikan deklarasi.

 

"Mulai sekarang, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh sahabatku lagi. Orang-orang yang berani melakukan hal semacam itu."

 

"──Semuanya, semuanya, akan kubunuh sampai mati!"

 

Ice Breath jarak nol.

 

Sambil melayangkan panggilan kepada seluruh spirit yang ada, Xue menghantamkan satu serangan terbesar tepat di hadapan mata Ophelia.

 

Dia merasa Ophelia sempat menyuarakan sesuatu yang menyerupai kalimat memohon ampun, tetapi dia tidak memiliki niat untuk menghentikan sihirnya.

 

Energi hawa dingin dilepaskan secara masif, mewarnai seluruh ruang penglihatan menjadi putih total. Bersamaan dengan gaung suara gemuruh dahsyat yang menyerupai gempa bumi, lanskap pemandangan tepat di hadapannya langsung terhempas hancur.

 

Begitu atmosfer kesunyian kembali menguasai tempat tersebut, sosok wujud Ophelia sudah lenyap tanpa menyisakan bekas sedikit pun.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close