NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Interlude I

Interlude I


Ini adalah ingatan pada Putaran Pertama.

 

"Sensei. Aku, ditawari untuk menjadi Penyihir Istana."

Lily Garden. Atap gedung sekolah.

 

Di tengah senja yang mewarnai dunia dengan warna jingga, Isabella berbalik sambil membiarkan angin menerbangkan rambut merahnya.

 

Di saat yang sama, mata yang sedikit terangkat tajam dan memberikan kesan tangguh itu juga diarahkan ke sini.

 

Namun, tatapan matanya tampak goyah oleh rasa cemas yang entah dari mana.

 

Dia terlihat gelisah, seolah sedang menahan diri menjelang sebuah

pengakuan paling penting dalam hidupnya.

 

Theo menyunggingkan senyuman yang lembut.

 

"Ya, aku tahu. Tampaknya itu adalah rekomendasi langsung dari Kepala Penyihir. Tapi, kenapa tiba-tiba membicarakan hal itu?"

 

"Dengar ya, anu, tentu saja aku bisa menjadi Penyihir Istana karena bakatku sendiri, tapi…… i-ini juga ada sedikit berkat bantuan Sensei, tahu. Tentu saja, sebagian besarnya adalah karena bakatku sendiri!"

 

"Ya, aku rasa itu semua karena bakat dan usaha kerasmu, Isabella. Benar-benar syukurlah kalau begitu."

 

"……Kat-katakan dong kalau ini sedikit berkat dirimu sendiri!"

 

Gadis itu melotot dengan ketus seolah sedang suasana hati yang buruk.

 

Sebagai Theo, dia tidak tahu kenapa dirinya dipelototi seperti itu, sehingga dia hanya bisa menjadi panik dan bingung.

 

"Eh, tapi, Isabella kan benar-benar sudah berjuang keras……"

 

"Ah, sudahlah! Benar-benar pria ini……!"

 

"Eh, aku, kenapa dimarahi?"

 

"Setidaknya, aku menganggap ini semua adalah berkat bantuanmu."

 

Wajah Isabella tampak memerah padam, hingga terlihat dengan sangat jelas bahkan di bawah sapuan cahaya senja.

 

"Hanya kamu satu-satunya yang mempercayaiku, kan? Karena berkat hal itulah, aku merasa bisa menjadi Penyihir Istana…… eh, ke-kenapa kamu malah menangis?!"

 

Karena merasa teramat bahagia mendengar perkataan Isabella, tanpa disadari air mata Theo menetes begitu saja.

Sambil menyeka air mata menggunakan lengan bajunya, Theo menunjukkan senyuman tipis.

 

"Tidak, Isabella yang dulu begitu protektif dan penuh masa pemberontakan sekarang bisa mengatakan hal seperti itu…… aku hanya merasa sedikit terkejut."

 

"Ber-berlebihan sekali. Aku tidak memberontak separah itu, kan? Aku kan murid yang patuh."

 

"…………"

 

"Kenapa malah diam saja!"

 

Isabella mengamuk dengan kesal.

 

Namun, Theo hanya bisa melemparkan pandangannya ke arah lain.

 

Sebab di antara murid-murid di kelas Tujuh, dia adalah salah satu yang paling merepotkan untuk diurus.

 

Isabella mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi tidak puas.

 

"Sudahlah, benar-benar Sensei ini…… tapi, aku akan repot kalau kamu menangis hanya karena hal sepele seperti ini. Karena aku, pasti akan menjadi penyihir yang jauh, jauh lebih hebat lagi."

 

"──Lihat saja nanti. Aku akan membuatmu bangga dan bisa memamerkanku kepada orang lain sebagai murid terbaikmu!"

 

Sambil memunggungi matahari terbenam, Isabella mengucapkannya bersamaan dengan sebuah senyuman deklarasi.

 

Senyumannya tampak tangguh, dan sikapnya pun terkesan angkuh.

 

Namun, pemandangan pada saat itu teramat indah hingga tanpa sadar sanggup memikat hati siapa pun yang melihatnya.

 

……Kamu, sejak dulu sudah menjadi murid kebanggaanku, kok.

 

Theo bergumam di dalam batinnya.

 

Namun, kesempatan untuk menyampaikan kalimat itu pada akhirnya tidak akan pernah sempat datang.

 

"……Ini, bohong, kan."

 

Dengan tatapan tercengang, Theo bergumam di hadapan sosok gadis itu.

 

Tempat itu adalah sebuah gereja di kota kecil. Pertempuran sengit pasti baru saja berkecamuk sampai beberapa jam yang lalu. Para ksatria dan infantri yang mengalami luka tembak parah tampak diangkut masuk secara bersahut-sahutan.

 

Dan di antara mereka, ada pula mayat-mayat yang sudah terlambat untuk ditolong.

 

Isabella berada di antara mayat-mayat tersebut, dibaringkan di dalam sebuah peti mati yang dihiasi dengan karangan bunga.

 

Sihir pengawet mayat tampaknya telah digunakan. Isabella menunjukkan ekspresi wajah yang damai, seolah-olah dirinya masih hidup. Namun, luka-lukanya teramat parah, hingga rasanya sulit untuk menemukan bagian tubuh yang tidak dilumuri oleh darah.

 

Tidak semua orang bisa mendapatkan perlakuan khusus berupa penggunaan sihir pengawet mayat.

 

Di masa perang, ini adalah sebuah bentuk pelayanan yang teramat istimewa. Hal itu mungkin karena dia telah mengukir pencapaian besar hingga sampai dijuluki sebagai bagian dari Lima Pahlawan.

 

"……Ini bohong!"

 

Justru karena mendengar rumor bahwa muridnya dipanggil ke medan perang dan tewas secara tragis, Theo sengaja datang ke tempat ini.

 

Namun, bukan berarti dia bisa menerima begitu saja akhir cerita yang mengenaskan seperti ini.

 

Pikirannya menjadi kacau balau. Di saat yang sama, percakapan dengan Isabella pada masa lalu kembali terngiang-ngiang di dalam benaknya.

──Lihat saja nanti. Aku akan membuatmu bangga dan bisa memamerkanku kepada orang lain sebagai murid terbaikmu!

 

"────────────────────!!!!"

 

Raungan tanpa kata seketika terlepas dari mulutnya tanpa disadari.

 

Guru macam apa ini. Genius sihir modern macam apa ini.

 

Padahal mengajarkan sihir yang sanggup membuat satu orang muridnya saja bertahan hidup, dirinya sama sekali tidak becus melakukannya.

Bagi Theo, ini adalah kematian pertama dari murid pertamanya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close