Interlude I
Ini
adalah ingatan pada 『Putaran Pertama』.
"Sensei. Aku, ditawari untuk menjadi
Penyihir Istana."
Lily Garden. Atap gedung sekolah.
Di tengah senja yang mewarnai dunia
dengan warna jingga, Isabella berbalik sambil membiarkan angin menerbangkan
rambut merahnya.
Di saat yang sama, mata yang sedikit
terangkat tajam dan memberikan kesan tangguh itu juga diarahkan ke sini.
Namun, tatapan matanya tampak goyah oleh
rasa cemas yang entah dari mana.
Dia terlihat gelisah, seolah sedang
menahan diri menjelang sebuah
pengakuan paling penting dalam hidupnya.
Theo menyunggingkan senyuman yang lembut.
"Ya, aku tahu. Tampaknya itu adalah
rekomendasi langsung dari Kepala Penyihir. Tapi, kenapa tiba-tiba membicarakan
hal itu?"
"Dengar ya, anu, tentu saja aku bisa
menjadi Penyihir Istana karena bakatku sendiri, tapi…… i-ini juga ada sedikit
berkat bantuan Sensei, tahu. Tentu saja, sebagian besarnya adalah karena
bakatku sendiri!"
"Ya, aku rasa itu semua karena bakat
dan usaha kerasmu, Isabella. Benar-benar syukurlah kalau begitu."
"……Kat-katakan dong kalau ini
sedikit berkat dirimu sendiri!"
Gadis itu melotot dengan ketus seolah
sedang suasana hati yang buruk.
Sebagai Theo, dia tidak tahu kenapa
dirinya dipelototi seperti itu, sehingga dia hanya bisa menjadi panik dan
bingung.
"Eh, tapi, Isabella kan benar-benar
sudah berjuang keras……"
"Ah, sudahlah! Benar-benar pria
ini……!"
"Eh, aku, kenapa dimarahi?"
"Setidaknya, aku menganggap ini
semua adalah berkat bantuanmu."
Wajah Isabella tampak memerah padam,
hingga terlihat dengan sangat jelas bahkan di bawah sapuan cahaya senja.
"Hanya kamu satu-satunya yang
mempercayaiku, kan? Karena berkat hal itulah, aku merasa bisa menjadi Penyihir
Istana…… eh, ke-kenapa kamu malah menangis?!"
Karena merasa teramat bahagia mendengar
perkataan Isabella, tanpa disadari air mata Theo menetes begitu saja.
Sambil menyeka air mata menggunakan
lengan bajunya, Theo menunjukkan senyuman tipis.
"Tidak, Isabella yang dulu begitu
protektif dan penuh masa pemberontakan sekarang bisa mengatakan hal seperti
itu…… aku hanya merasa sedikit terkejut."
"Ber-berlebihan sekali. Aku tidak
memberontak separah itu, kan? Aku kan murid yang patuh."
"…………"
"Kenapa malah diam saja!"
Isabella mengamuk dengan kesal.
Namun, Theo hanya bisa melemparkan
pandangannya ke arah lain.
Sebab di antara murid-murid di kelas
Tujuh, dia adalah salah satu yang paling merepotkan untuk diurus.
Isabella mengerucutkan bibirnya dengan
ekspresi tidak puas.
"Sudahlah, benar-benar Sensei ini……
tapi, aku akan repot kalau kamu menangis hanya karena hal sepele seperti ini.
Karena aku, pasti akan menjadi penyihir yang jauh, jauh lebih hebat lagi."
"──Lihat
saja nanti. Aku akan membuatmu bangga dan bisa memamerkanku kepada orang lain
sebagai murid terbaikmu!"
Sambil memunggungi matahari terbenam,
Isabella mengucapkannya bersamaan dengan sebuah senyuman deklarasi.
Senyumannya tampak tangguh, dan sikapnya
pun terkesan angkuh.
Namun, pemandangan pada saat itu teramat
indah hingga tanpa sadar sanggup memikat hati siapa pun yang melihatnya.
……Kamu, sejak dulu sudah menjadi murid
kebanggaanku, kok.
Theo bergumam di dalam batinnya.
Namun, kesempatan untuk menyampaikan
kalimat itu pada akhirnya tidak akan pernah sempat datang.
"……Ini, bohong, kan."
Dengan tatapan tercengang, Theo bergumam
di hadapan sosok gadis itu.
Tempat itu adalah sebuah gereja di kota
kecil. Pertempuran sengit pasti baru saja berkecamuk sampai beberapa jam yang
lalu. Para ksatria dan infantri yang mengalami luka tembak parah tampak
diangkut masuk secara bersahut-sahutan.
Dan di antara mereka, ada pula
mayat-mayat yang sudah terlambat untuk ditolong.
Isabella berada di antara mayat-mayat
tersebut, dibaringkan di dalam sebuah peti mati yang dihiasi dengan karangan
bunga.
Sihir pengawet mayat tampaknya telah
digunakan. Isabella menunjukkan ekspresi wajah yang damai, seolah-olah dirinya
masih hidup. Namun, luka-lukanya teramat parah, hingga rasanya sulit untuk
menemukan bagian tubuh yang tidak dilumuri oleh darah.
Tidak semua orang bisa mendapatkan
perlakuan khusus berupa penggunaan sihir pengawet mayat.
Di
masa perang, ini adalah sebuah bentuk pelayanan yang teramat istimewa. Hal itu
mungkin karena dia telah mengukir pencapaian besar hingga sampai dijuluki
sebagai bagian dari 《Lima Pahlawan》.
"……Ini bohong!"
Justru karena mendengar rumor bahwa
muridnya dipanggil ke medan perang dan tewas secara tragis, Theo sengaja datang
ke tempat ini.
Namun, bukan berarti dia bisa menerima
begitu saja akhir cerita yang mengenaskan seperti ini.
Pikirannya menjadi kacau balau. Di saat
yang sama, percakapan dengan Isabella pada masa lalu kembali terngiang-ngiang
di dalam benaknya.
──Lihat
saja nanti. Aku akan membuatmu bangga dan bisa memamerkanku kepada orang lain
sebagai murid terbaikmu!
"────────────────────!!!!"
Raungan tanpa kata seketika terlepas dari
mulutnya tanpa disadari.
Guru macam apa ini. Genius sihir modern
macam apa ini.
Padahal mengajarkan sihir yang sanggup
membuat satu orang muridnya saja bertahan hidup, dirinya sama sekali tidak
becus melakukannya.
Bagi Theo, ini adalah
kematian pertama dari murid pertamanya.



Post a Comment