NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Maou no Kyoushitsu- Nishuume Kyoushi wa Seito o Nido to Shinasenai Volume 1 Chapter 2

Bab II


──Sihir dan Tuhan memiliki hubungan yang sangat erat.

 

Seribu tahun yang lalu. Melalui Holy Lily selaku sang wakil, Tuhan menganugerahkan kekuatan-Nya kepada lima orang raja.

 

Kekuatan itu disebut dengan Sihir, sebuah kemampuan yang diizinkan untuk menggunakan sebagian kecil dari kekuatan Tuhan.

 

Namun di sisi lain, kekuatan tersebut mutlak tidak akan pernah bisa digunakan oleh siapa pun selain sang raja.

 

Oleh karena itu, setelah mendapatkan izin dari Tuhan, para raja menyublimasikan kekuatan tersebut menjadi sebuah Teknik.

 

Dengan kata lain, menjadikannya sesuatu yang dapat digunakan oleh para bawahan mereka.

 

Hal itulah yang kabarnya menjadi awal mula dari terciptanya ilmu sihir.

Lily Garden, sebuah lembaga pendidikan penyihir wanita yang konon didirikan oleh Holy Lily.

 

Sekolah tersebut terletak di sebuah kota bernama Celeste, yang berada agak jauh dari pusat Kerajaan Sanctia.

 

Singkatnya, Celeste adalah sebuah kota tempat ilmu sihir dan sejarah saling berbaur menjadi satu.

 

Seolah menunjukkan betapa eratnya hubungan antara sihir dan Tuhan, di pusat kota tampak berjejer fasilitas-fasilitas milik gereja yang bersejarah.

 

Namun, kenyataannya bangunan-bangunan itu semua telah diperkuat menggunakan ilmu sihir.

 

Walau ilmu sihir adalah sesuatu yang sulit dikatakan telah tersebar luas ke masyarakat umum, tetapi di kota ini sihir terbilang sebagai hal yang cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Jika area pusat kota dianggap sebagai area gereja.

 

Di sebelah timur merupakan area komersial tempat perdagangan berkembang dengan pesat.

 

Di sebelah barat merupakan area tempat tinggal para bangsawan.

 

Dan di sebelah selatan, terbentang area tempat tinggal rakyat jelata yang dihiasi pemandangan pedesaan yang subur.

 

Kemudian, Lily Garden sendiri terletak di area bagian utara jika dilihat dari arah kota.

 

Sekolah yang sekaligus merupakan kastel raksasa dan gereja itu dikelilingi oleh hutan yang sangat luas di sekitarnya.

 

Salah satu ciri khasnya yang mencolok adalah seragam sekolah mereka yang berupa pakaian putih bersih, yang mengingatkan pada jubah pendeta.

 

Bisa dibilang mereka tampak seperti para biarawati yang taat, tetapi sebenarnya mereka adalah para calon penyihir.

 

Sihir merupakan sebuah prinsip sihir untuk mengayunkan sebagian dari

kekuatan Tuhan.

 

Tidak sedikit orang yang memiliki pemikiran bahwa semakin dalam iman seseorang kepada Tuhan, maka semakin sukses pula dirinya sebagai seorang penyihir. Bahkan konon pada zaman dahulu, tidak ada perbedaan sama sekali antara seorang pendeta dan seorang penyihir.

 

Karena itulah, sangat wajar dalam artian tertentu jika pakaian seorang penyihir menjadi mirip dengan seorang pendeta.

 

Di sekolah yang seperti itulah──

 

"…………"

 

Theo menatap pemandangan yang terbentang di hadapannya dengan ekspresi tercengang.

 

Dia seharusnya sudah mati.

 

Di tangan pria berkacamata sebelah itu.

 

Kepala Theo seharusnya sudah ditelan dan dimakan oleh chimera, dia pasti sudah mati.

 

──Namun, jika memang begitu, pemandangan apa ini sebenarnya?

 

Taman tempat bunga-bunga mekar dengan indahnya. Para murid perempuan yang tampak seperti biarawati yang taat. Gedung sekolah tua yang bersejarah. Jika sesuai dengan ingatan Theo, semua ini seharusnya sudah lenyap tanpa sisa saat peperangan dimulai.

 

Namun, semuanya telah kembali seperti semula.

 

"…………"

 

Dengan langkah yang gontai, Theo berjalan maju.

 

Para murid perempuan yang berpapasan dengannya tampak menyapa,

tetapi Theo tidak memiliki ketenangan sama sekali untuk membalas sapaan mereka.

 

Dirinya seolah-olah sedang berada di dalam dunia mimpi.

 

Namun, hal itu sangatlah wajar.

Sebab setelah dia memastikannya kepada sesama rekan guru, hari ini benar-benar merupakan hari upacara pembukaan sekolah pada empat tahun yang lalu.

 

Di sisi lain, walau mungkin terkesan sebagai metode yang klasik, dia

juga sudah memastikan hal itu dengan cara mencubit pipinya sendiri sekuat tenaga.

 

Hasilnya, dia hanya merasakan rasa sakit semata.

 

Jika demikian, kemungkinan besar ini bukanlah di dalam sebuah mimpi.

 

……Apakah ada kemungkinan bahwa ingatan tentang kematian itu yang justru merupakan sebuah mimpi?

 

Dengan kata lain, kemungkinan bahwa sampai sesaat yang lalu dia sedang memimpikan kejadian selama empat tahun ke depan, dan baru saja terbangun dari mimpi tersebut?

 

Dia baru terpikir akan hal ini sekitar sepuluh menit yang lalu.

 

Untuk situasi saat ini, hal itulah yang memiliki kemungkinan paling tinggi.

 

Hanya saja sepanjang pengetahuan Theo, tidak ada sihir yang sanggup memperlihatkan sebuah mimpi yang terasa sangat nyata hingga bertahun-tahun lamanya.

Jika sihir semacam itu memang ada, kemampuannya sudah mencapai ranah Sihir legendaris yang sebagian besar telah punah.

 

Namun, hal itu masih jauh lebih masuk akal untuk dipercaya jika dibandingkan dengan kemungkinan lain yang terlampau konyol.

 

Demi memastikan hal tersebut, Theo pun melangkah menuju ke suatu tempat.

 

Dan di saat melihat pemandangan di tempat itu, Theo menjadi tidak bisa mempercayai semua perkiraannya sendiri lagi.

 

Anggaplah jika ingatan Theo memang benar, dan hari upacara pembukaan sekolah yang pertama kali dialaminya disebut sebagai 'Putaran Pertama'.

 

Pada Putaran Pertama, Karina sedang mengoleskan kembali Sihir Pelindung seorang diri secara sembunyi-sembunyi pada pedang-pedang yang ada di dalam gudang senjata tempat latihan di belakang gedung sekolah.

 

Dalam latihan pelajaran, mata pisau sering kali diberi 'pelindung' agar para murid tidak terluka.

 

Namun, jika digunakan berulang kali, sihir pelindung itu akan terkikis habis layaknya mata pisau yang menjadi tumpul.

Oleh karena itu, sihir pelindung perlu dioleskan kembali secara berkala, tetapi tugas ini aslinya bukanlah pekerjaan milik Karina yang merupakan murid tahun ketiga.

 

Biasanya murid tahun pertama yang bertanggung jawab atas tugas itu sekaligus sebagai ajang untuk melatih sihir mereka.

 

Karena itulah, Theo masih mengingatnya dengan sangat jelas betapa terkejutnya dia saat kebetulan mengunjungi tempat latihan dan melihat pemandangan Karina yang sedang mengoleskan kembali sihir pelindung seorang diri.

 

──Andaikata pada Putaran Kedua ini pun, pemandangan yang tersaji di hadapannya ternyata tetap sama persis.

 

"Lho? Sensei, ada apa?"

 

"……Tidak, bukan apa-apa."

 

Gudang senjata di tempat latihan.

 

Tepat seperti di dalam ingatan Theo, Karina sedang mengoleskan kembali sihir pelindung pada pedang-pedang tua.

 

Dia tampaknya sudah mengoleskan sihir itu berulang kali. Terlihat banyak pedang yang tergeletak berserakan di atas lantai. Dan bentuk sihir yang terukir pada semua pedang tersebut tampak sedikit tidak sempurna.

Yang dimaksud dengan bentuk sihir adalah pola dari formula sihir.

 

Semakin rapi pola dari formula sihir tersebut, maka sihir akan memiliki efek yang kuat, dan semakin hancur polanya, maka sihir akan kehilangan efeknya──dan skenario terburuknya, sihir tidak akan bisa aktif.

 

Dengan kata lain, merapikan bentuk sihir bisa dikatakan sebagai dasar dari segala dasar.

 

Namun, sihir yang digambar oleh Karina sama sekali tidak bisa dikatakan rapi.

 

"Anu…… bisakah Anda berpura-pura tidak melihatnya?"

 

"Eh?"

 

"Fakta bahwa saya sedang berlatih di sini."

 

Apakah Karina menangkap suatu arti dari tatapan mata Theo, wajahnya tampak menjadi sedikit memerah dan dia menundukkan kepalanya.

 

"Sungguh memalukan, padahal saya sudah menjadi murid tahun ketiga tetapi saya masih tidak mahir dalam menggambar sihir…… Karena itulah, saya selalu berlatih di sini, tapi…… anu, kemampuan saya tidak kunjung meningkat."

 

"Ah, aku tahu."

"Eh?"

 

"……Karena aku sudah memahami dengan baik informasi mengenai murid-murid yang akan kuampu."

 

Kalimat itu telanjur lolos dari mulutnya begitu saja, sehingga dia segera menambahkan penjelasan agar tidak menimbulkan kecurigaan yang aneh.

 

Gadis bernama Karina Rudbeckia ini, satu tahun kemudian akan memiliki kemampuan yang luar biasa hingga dipuji sebagai Titisan Holy Lily. Namun untuk saat ini, meski dia memiliki bakat yang teramat masif, sosoknya belum menjadi seseorang yang namanya dikenal di seantero negeri.

 

Dia tidak pandai dalam pekerjaan sihir yang mendetail, tetapi sangat mahir dalam menggerakkan tubuhnya.

 

Dia hanyalah salah satu dari sekian banyak gadis biasa yang bisa ditemukan di mana saja.

 

"Saat melakukan latihan sihir, sebaiknya kamu menghapus seluruh formula sihir yang lama terlebih dahulu."

 

Tanpa disadari, kalimat seperti itu justru terlontar begitu saja dari mulut Theo.

 

"Kamu menimpa formulanya secara langsung pada beberapa pedang, kan? Itu adalah teknik tingkat tinggi. Suatu saat nanti hal itu memang akan diperlukan, tapi jika kamu ingin menguasainya terlebih dahulu, kamu harus mereset semuanya. Setelah itu, buatlah jumlah mana yang kamu salurkan menjadi konstan. Jumlah mana pada pedang-pedang ini semuanya tidak beraturan. Lalu sisanya──ada apa?"

 

"Tidak, anu…… saya hanya sedikit terkejut."

 

"Terkejut?"

 

Saat Theo bertanya balik dengan membeo, Karina mengangguk.

 

"Saya tahu rumor tentang Sensei. Namun, saat kita pertama kali bertemu hari ini, kesan yang saya tinggalkan berbeda dari rumor yang beredar. Saya sempat mengira, anu…… kalau Anda tidak menginginkan pekerjaan mengajar ini."

 

"Apakah aku terlihat seperti orang yang terpaksa datang ke sini?"

 

"Karena di dalam mata Anda sempat bercampur emosi yang menyerupai rasa permusuhan…… Tidak, itu adalah ucapan yang tidak sopan dari saya. Tolong lupakan saja."

 

"Tidak……"

 

Penilaian dari Karina memang tepat.

Di dalam ingatan Theo, sampai beberapa jam yang lalu dirinya masih berada di medan perang.

 

Memang benar ada kemungkinan kalau dia hanya sedang bermimpi.

 

Ada kemungkinan kalau dia hanya sedang melihat ilusi yang diperlihatkan oleh sihir.

 

Namun, meskipun berbagai sensasi yang dirasakannya itu hanyalah sebuah mimpi, hal itu sudah lebih dari cukup untuk mengubah kepribadian Theo.

 

Akibat hal itu, cara bicara maupun auranya pun terus terbawa seperti saat berada di medan perang──tetap ketus dan kaku.

 

Saat berinteraksi dengan murid pada masa lalu, bagaimana sebenarnya sikap yang ditunjukkannya saat itu?

 

Sambil menelusuri untaian benang ingatannya, dia melontarkan kata-kata dengan terbata-bata.

 

"……Maaf…… aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja, aku agak sedikit terkejut."

 

Dia tidak bisa menilai mana yang merupakan kenyataan dan mana yang merupakan fiksi.

 

Sejujurnya, dia bahkan tidak tahu apakah gadis yang berada di hadapannya saat ini adalah sosok yang asli atau bukan.

 

Meski begitu, fakta bahwa dirinya bersyukur karena bisa bertemu sekali lagi dengan Karina──dengan murid-muridnya──adalah sebuah kenyataan yang mutlak tidak terbantahkan.

 

"Bukannya aku…… benci mengajar kalian. Bisa sekali lagi…… tidak, bisa menjadi guru kalian, aku benar-benar merasa sangat terhormat."

 

"Hal itu juga berlaku bagi saya. Bisa mengikuti kelas dari orang yang memiliki banyak julukan seperti Dia yang Mendekati Asal Mula Sihir dan Genius Sihir Modern, saya benar-benar merasa sangat terhormat."

 

"──Mohon bantuannya untuk satu tahun ke depan, Sensei."

 

Sambil berkata demikian, Karina menyunggingkan senyuman yang lembut.

 

……Ah.

 

Ini bukanlah pertama kalinya bagi Theo untuk mendengar kata-kata itu, kalimat tersebut.

 

Pada 'Putaran Pertama' saat menyambut hari pembukaan sekolah untuk pertama kalinya, Karina juga mengatakan hal yang sama persis saat itu.

Jika memang ini adalah mimpi yang diperlihatkan oleh sihir, apakah mungkin untuk membuat seseorang melontarkan kalimat yang sama persis di dunia nyata?

 

Hal seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan.

 

Kalupun hal itu memang bisa dilakukan, mimpi ini memiliki tingkat kemiripan yang teramat mutlak dengan 'Putaran Pertama'.

 

Fakta bahwa kemungkinan besar hal-hal yang dialami Theo pada

'Putaran Pertama' akan terjadi sekali lagi, tetap tidak akan berubah.

 

Dengan kata lain, entah karena dia melihat mimpi tentang masa depan, atau karena dia kembali ke masa lalu dari poros waktu masa depan.

 

──Jika dibiarkan seperti ini, satu setengah tahun kemudian, peperangan akan kembali pecah dan seluruh murid Theo akan tewas secara tragis.

 

Hal seperti itu mutlak tidak akan pernah boleh dibiarkan terjadi.

 

Jika demikian, apa yang harus dilakukan?

 

Menghentikan peperangan yang akan terjadi satu setengah tahun lagi?

 

Oleh seorang yang hanya berprofesi sebagai guru seperti Theo?

 

Hal itu adalah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Lagipula, selama tujuan dari pria berkacamata sebelah itu belum diketahui, tidak ada jaminan bahwa menghentikan peperangan akan menyelesaikan segalanya. Ada kemungkinan perselisihan akan pecah dalam bentuk yang lain.

 

Pada saat itu, murid-murid Theo pastilah akan ikut dipanggil.

 

Negara tidak mungkin akan membiarkan gadis-gadis yang bahkan sampai dipuji sebagai lima pahlawan itu begitu saja.

 

Tujuan utama Theo, bagaimanapun juga adalah demi menyelamatkan murid-muridnya.

 

Jika demikian, satu-satunya metode yang bisa diambil oleh Theo yang

berprofesi sebagai seorang guru hanyalah ada satu.

 

──Sihir bukanlah 'alat pembunuh'. Melainkan 'prinsip sihir untuk menyelamatkan orang'.

 

──Aku ingin kamu terus memegang teguh keyakinan itu.

 

Karena dia telah mengajarkan hal konyol semacam itu, murid-murid Theo akhirnya tewas secara tragis.

 

Jika demikian, sebaliknya mulai sekarang mereka hanya perlu bersiap-siap menghadapi peperangan yang akan disulut oleh pria berkacamata sebelah itu.

 

Tentu saja bukan hanya para murid, melainkan termasuk Theo sendiri.

"Bicara-bicara, Karina. Impianmu…… adalah 'menyelamatkan semua orang yang menderita dengan sihir', kan?"

 

"Ya, benar…… tapi bagaimana Anda bisa tahu tentang hal itu?"

 

"Seperti yang kukatakan tadi…… aku sudah memahami dengan baik informasi mengenai murid-murid yang akan kuampu. Karena itu ada satu hal yang ingin kutanyakan…… saat kamu meletakkan 'impian' dan 'nyawa' itu di atas timbangan, mana yang akan kamu pilih?"

 

Apakah akan berkorban demi impian?

 

Ataukah akan memilih untuk tetap hidup meski harus merelakan impian?

 

Sebuah pilihan dua arah yang dilontarkan tanpa adanya penjelasan premis maupun dasar apa pun.

 

Namun, meski begitu, Karina langsung menentukan jawabannya tanpa ada keraguan sedikit pun.

 

"Tentu saja impian. Karena itulah alasan kenapa saya diizinkan untuk ada di dunia ini."

 

"……Sudah kuduga kamu akan menjawab seperti itu."

 

Sebenarnya dia tidak ingin mendengar jawaban itu.

Namun di saat yang sama, dia juga sudah memiliki firasat kalau Karina pasti akan menjawab demikian.

 

"Besok kelas dimulai. Jangan sampai terlambat."

 

Setelah membuang cara bicara seorang guru yang lembut, Theo membalikkan punggungnya membelakangi Karina, lalu mulai melangkah maju ke depan.

 

Tekadnya kini telah bulat.

 

Karena dia mengajarkan bahwa sihir adalah 'prinsip sihir untuk menyelamatkan orang', murid-murid Theo akhirnya tewas.

 

Mereka terus memegang pemikiran yang naif di medan perang.

 

Oleh karena itu, dia tidak akan mengajarkan hal semacam itu lagi.

 

Dia akan membuat mereka membuang perasaan naif tersebut, dan

membuat mereka berfokus khusus pada pertempuran.

 

Karena, sihir adalah sebuah 'alat pembunuh' dan 'sesuatu yang digunakan untuk melukai lawan'.

 

Theo sudah merasakan hal itu sampai muak di dalam peperangan waktu itu.

 

Namun, jika hanya dilakukan dengan cara yang biasa, waktu yang tersisa dipastikan tidak akan sempat.

 

Tidak apa-apa meskipun dirinya harus dibenci oleh para murid. Tidak apa-apa meskipun dirinya harus dianggap sebagai orang yang keji. Tidak apa-apa meskipun dia harus menginjak-injak dan membuat mereka membuang impian berharga milik Karina maupun murid-murid lainnya.

 

Bukan.

 

──Selama dia masih ada, iblis-iblis baru akan terus bermunculan tanpa henti!

 

──Oleh karena itu, mari kita akhiri semuanya di sini!

 

──Dialah sang Raja Iblis, Theo Proteus!

 

Tidak apa-apa meskipun dirinya harus disebut sebagai Raja Iblis atau semacamnya.

 

Tidak peduli apa pun yang harus kulakukan, aku akan melatih mereka menjadi kuat dengan kecepatan tertinggi.

 

Karena bagaimanapun juga, aku hanya ingin murid-muridku tetap hidup.

 

Keesokan harinya.

 

Theo sedang berjalan melewati koridor menuju ruang kelas.

 

Ruang kelas yang diampu oleh Theo terletak di gedung sekolah lama, terpisah dari gedung utama Lily Garden.

 

Meskipun masih berfungsi dengan baik sebagai gedung sekolah, tempat itu terkesan jauh lebih sempit dan kurang megah jika dibandingkan dengan gedung utama yang dibangun belakangan.

 

Jika dinilai secara positif, bangunan itu terasa bersejarah, tetapi jika dinilai secara negatif, gedung itu hanyalah bangunan kuno yang usang.

……Pada akhirnya waktu tidak kembali, ya.

 

Dia sempat mempertimbangkan kemungkinan akan kembali ke poros waktu yang asli tepat saat tanggal berganti.

 

Namun, melihat Putaran Kedua ini masih terus berlanjut, tampaknya situasi ini akan bertahan untuk sementara waktu.

 

Jika demikian, Theo memang tidak punya pilihan lain selain bertindak sebagai seorang guru.

 

Semuanya demi menyelamatkan para muridnya.

 

Saat dia melirik sekilas ke arah jendela, di sana terpantul bayangan dirinya yang mengenakan pakaian sihir hitam.

 

Bagi penyihir, umumnya pria mengenakan jubah pendeta hitam, sedangkan wanita mengenakan jubah pendeta putih. Di Lily Garden ini pun tidak terkecuali, mereka mengikuti kebiasaan tersebut.

 

Begitu tiba di depan ruang kelas, Theo mengembuskan napas perlahan.

 

Hari ini adalah pelajaran pertama. Untuk membuat murid-murid menjadi kuat dengan kecepatan tertinggi, masa awal seperti inilah yang paling krusial.

 

Setelah mengalihkan pikirannya ke pola pikir dingin yang terasah di medan perang, Theo pun melangkah masuk ke dalam ruang kelas.

 

"……Ah. Benar juga, ya."

 

Tanpa sadar dia bergumam.

 

Justru karena telah mengalami Putaran Pertama, dia tahu betul.

 

Untuk membuat para murid menjadi kuat dengan kecepatan tertinggi, urusannya tidak sesederhana hanya dengan mengajarkan sihir saja.

 

Sebab di dalam ruang kelas ini, terdapat masalah mendalam yang jauh lebih mendasar daripada hal itu.

 

──Di dalam ruang kelas, hanya ada setengah dari jumlah murid yang hadir.

Waktu dimulainya pelajaran baru saja lewat.

 

Dengan kata lain, mereka terlambat, atau membolos, salah satu dari keduanya.

 

"Anu, Sensei. Anak-anak yang lain sebentar lagi pasti──"

 

Karina, salah satu murid yang hadir dengan tekun, berdiri dari kursinya

dengan sikap panik.

 

Namun tepat pada saat itu, pintu ruang kelas terbuka dengan suara keras.

 

Sosok yang masuk adalah seorang murid perempuan.

 

Rambut merah yang menyala bagaikan api. Mata yang sedikit terangkat tajam, memberikan kesan seolah dia sedang suasana hati yang buruk.

 

Dia adalah putri dari empat keluarga bangsawan agung, Isabella Lumiere.

 

Begitu melangkah masuk ke kelas dan mendapati sosok Theo di sana, mata Isabella seketika membelalak karena terkejut.

 

"Kamu terlambat, Isabella Lumiere."

 

"……Maaf, saya terlambat."

 

Isabella menundukkan kepalanya dengan patuh.

 

Namun, tepat setelah itu, Isabella mengangkat wajahnya lalu berucap dengan nada suara yang dingin.

 

Bersamaan dengan tatapan mata yang seolah tidak menaruh harapan apa pun.

 

"Tapi, Sensei juga tidak perlu memaksakan diri, kok. Anda sudah tahu tentang kami, kan?"

 

"Kami adalah kelas murid-murid buangan, Taman Ketujuh. Daripada Anda datang dengan menaruh harapan secara sepihak lalu merasa dikhianati dan akhirnya pergi meninggalkan kami, kami sama sekali tidak membutuhkan seorang guru sejak awal."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close