Chapter 9: Ada Tomat,
dan Juga Kentang Lho
Kami berteleportasi ke ibu kota
Punosis Territory... atau lebih tepatnya, desa wilayah? Pokoknya, tempat itu
berada di atas sebuah bukit kecil yang tidak jauh dari jalan setapak yang hanya
sekadar dinamai jalan raya. Untungnya, awan hujan sepertinya telah berlalu
meninggalkan Punosis Territory, dan tetesan air hujan yang tertinggal di rumput
dan bunga-bunga berkilau gemerlap di bawah cahaya matahari yang mengintip di
antara celah-celah awan.
Di tengah angin hangat bercampur
kelembapan khas sehabis hujan, tercium aroma rerumputan.
Aroma kampung halaman yang
dirindukan.
"Di sinilah Punosis
Territory?"
Tia, yang memeluk erat
pinggangku, melihat ke sekeliling lalu bertanya padaku.
"Tempat yang tidak ada
apa-apanya sampai bikin mau tertawa, kan?"
Sejauh mata memandang, yang
terlihat hanyalah hamparan warna hijau menyebalkan.
Segala penjuru dikelilingi oleh
gunung-gunung dan hutan, dan di dataran sempit yang dibuka terdapat beberapa
permukiman yang terpencar.
Ada sebuah danau yang agak besar,
sebuah sungai, dan selebihnya hanyalah ladang pertanian.
"Tidak kok. Kurasa ini
tempat bagus yang dikelilingi oleh alam. Lecty juga berpikir begitu, kan?"
"Iya! Kalau di sini,
sepertinya akan ada banyak hal yang bisa dimakan daripada di Royal
Capital!"
"B-benar juga,
ya...?"
Tia mengangguk
kebingungan pada Lecty yang entah kenapa bersiap untuk situasi bertahan hidup
(survival).
Jika sudah menikah nanti,
tentu saja aku tidak berniat membuat mereka kesulitan mencari makan, tapi
kalaupun terjadi krisis pangan darurat, Lecty sepertinya bisa bertahan hidup
dengan tangguh.
"Rasanya hijaunya
jadi semakin bertambah dibanding saat aku datang ke sini dulu, tapi apa cuma
perasaanku saja ya..."
"A-aku juga tidak
tahu..."
Ada kemungkinan tempat
yang sepuluh tahun lalu dulunya adalah ladang, sekarang sudah ditinggalkan
karena tidak ada lagi orang yang bisa mengurusnya dan menjadi lahan terlantar.
Saat aku tinggal di sini dulu aku tidak begitu memikirkannya, tapi jangan-jangan
situasi Punosis Territory ini sebenarnya sudah separah itu...?
Lily melipat kedua
tangannya di depan dada sambil bergumam, "Hmm..."
Itu adalah gestur
familier yang biasa Lily tunjukkan saat sedang berpikir keras. Jangan-jangan
dia sedang memikirkan masa depan Punosis Territory...? Kalau benar begitu, dia
adalah istri masa depan yang bisa diandalkan.
Namun, kupikir kita tidak harus
memikirkan hal-hal yang rumit sekarang.
"Ayo kita berangkat. Kalau
terlalu lambat, kita tidak akan sempat untuk persiapan makan malam Ibu."
Ibu, yang memegang kendali dapur
keluarga Punosis kami, terkadang sudah mulai memasak untuk makan malam sejak
pukul tiga sore jika waktunya memungkinkan. Beliau adalah orang yang tidak
menoleransi kompromi apa pun dalam urusan memasak. Begitu beliau tahu tentang
kedatangan Tia dan kawan-kawan, beliau pasti akan mengerahkan seluruh
kemampuannya untuk menyuguhkan hidangan yang jauh lebih istimewa dari biasanya.
Aku sangat menantikan masakan Ibu
setelah sekian lama. Di Royal Capital aku memang sempat menghadiri jamuan
keluarga Duke, perayaan kesembuhan Yang Mulia Raja, bahkan makan malam bersama Yang
Mulia Raja sendiri, tapi entah kenapa rasanya hal itu tidak begitu membekas di
ingatanku, mungkin karena masakan Ibu jauh lebih enak. Makanan mewah belum
tentu selalu menjadi makanan yang enak, ya.
"Hugh, kamu terlihat senang
sekali. Apa kamu merindukan kampung halamanmu?"
Sambil berjalan menuju mansion,
Tia yang melongok melihat ekspresi wajahku bertanya padaku.
Gawat, sepertinya ekspresiku
terpampang jelas di wajahku lagi.
"B-bukan karena merindukan
atau bagaimana sih... Tapi, aku menarik kembali ucapanku soal tempat ini yang
tidak ada apa-apanya, Tia. Masakan Ibu adalah yang paling enak dari semua
masakan yang kumakan di Royal Capital. Hanya itu satu-satunya hal yang bisa
dibanggakan dari Punosis Territory."
"S-seriusan... Apa kamu
seorang Brocon (kompleks saudara)?*
"B-bukan begitu! Sumpah demi
apa pun, masakan Ibu itu enak banget. Kan, Lily?"
"Meminta pendapatku tentang
rasa makanan yang kukan makan sepuluh tahun lalu rasanya agak merepotkan...
Tapi, kurasa benar juga. Selama tinggal di Punosis Territory, aku merasa selalu
menantikan waktu setiap kali jam makan tiba."
"Hooo. Masakan ya..."
Tia mengetukkan jari telunjuknya
di bibir sambil menunjukkan gestur seolah sedang memikirkan sesuatu.
Tia dan yang lainnya pasti juga
akan menyukai masakan Ibu.
Melihat kepribadian Ibu, masalah
mertua dan menantu sepertinya tidak akan terjadi, tapi hubungan antara
calon-calon istriku dan Ibu tentu akan jauh lebih baik jika terjalin
keharmonisan. Akan luar biasa jika makanan bisa menjadi pemicu untuk mempererat
hubungan mereka.
"Umm, seperti apa orangnya
Ibu Tuan Hugh itu?"
"Biar kulihat ya..."
Aku berpikir sejenak menanggapi
pertanyaan Lecty. Menjelaskan kepribadian ibu sendiri rasanya cukup sulit, tapi
untuk kasus ibuku, itu bahkan jauh lebih sulit lagi.
...Namun, jika harus diungkapkan
dengan kata-kata.
"Beliau adalah orang yang
unik dalam arti yang bagus, kurasa."
"「O-orang yang unik dalam arti yang
bagus?」"
Tia dan Lecty memiringkan kepala
mereka secara bersamaan.
Lily, yang mungkin
samar-samar mengingatnya, mengeluarkan suara seolah mengerti, "Ah..."
Ibu, Rain Punosis, tidak
begitu mahir mengekspresikan emosi lewat wajah atau suara, dan selalu memasang
ekspresi datar tanpa ekspresi. Kalau cuma itu saja, beliau mungkin hanya akan
dianggap sebagai orang yang ketus, tapi Ibu punya keunikan tersendiri. Karena
emosinya tidak terpancar di wajah atau suaranya, beliau mengekspresikan
emosinya melalui gerakan tubuh dan kata-kata.
Kalau sedang senang,
beliau akan melompat-lompat untuk menunjukkan rasa senangnya, dan kalau sedih,
beliau akan bersimpuh lemas sambil menangis tersedu-sedu. Karena berjiwa
pelawak, beliau selalu berusaha membuat orang lain terhibur, dan beliau juga
sangat suka menjahili aku atau Ayah.
Meskipun kepribadiannya
begitu, beliau adalah ibu luar biasa yang membesarkanku dengan penuh kasih
sayang dan perhatian.
Jadi ya, ibuku adalah
orang yang unik dalam arti yang bagus.
"Yah, anggap saja itu
kejutan setelah kalian bertemu nanti."
Biarkan mereka melihatnya sendiri
secara langsung daripada aku menjelaskannya lewat kata-kata. Aku jadi sedikit
penasaran bagaimana reaksi Tia dan Lecty saat berinteraksi dengan Ibu tanpa
diberi informasi awal terlebih dahulu.
Sambil berjalan dan mengobrol,
kami akhirnya tiba di mansion keluarga Punosis—rumah kami.
Meskipun disebut mansion, tempat
ini adalah rumah dua lantai bergaya kayu yang berukuran kecil, sangat berbeda
dari mansion megah milik keluarga Puridy atau para bangsawan lainnya. Halaman
tamannya pun sempit, bahkan lebih dari separuh areanya dijadikan kebun sayur
oleh Ibu untuk menanam bahan-bahan masakan.
Saat aku tinggal di sini dulu,
hal itu terasa begitu lumrah sehingga aku tidak pernah mempertanyakannya
sedikit pun, tapi kalau dipikirkan sekarang, seorang istri bangsawan yang
menghancurkan separuh taman mansion demi dijadikan kebun sayur rumah tangga adalah
tindakan yang cukup rock alias pemberani bagi seorang Ibu.
"Umm, di sinilah rumahku.
Tempatnya memang sempit untuk ukuran mansion seorang bangsawan..."
Sambil merasa sedikit malu, aku
memperkenalkan rumah itu kepada calon-calon istriku. Lily memang pernah datang
ke sini waktu kecil, tapi kesan yang dirasakannya pasti akan berbeda antara
dulu dan sekarang. Keluarga kerajaan atau para Marquis mungkin akan menganggap
ukurannya sekecil kandang anjing... Saat aku merasa cemas memikirkan hal itu,
"Rumah dengan ukuran seperti
ini justru terasa lebih hangat karena kita bisa tinggal bersama-sama!"
"Punya mansion yang terlalu
luas justru merepotkan perawatannya saja, jadi kurasa ukuran ini sangat
ekonomis dan bagus."
"Menurutku, halaman dengan
kebun sayur di rumah itu terlihat sangat indah!"
Masing-masing dengan pendapat
mereka, ketiganya tampaknya menyukai tempat ini, membuatku merasa lega. Aku
belum tahu bagaimana masa depan nanti, tapi sepertinya tidak akan ada masalah
jika kelak aku harus tinggal di rumah ini bersama mereka berdua...
...Hanya saja, karena Ayah dan
Ibu juga tinggal di sini, dan mungkin jumlah anggota keluarga akan bertambah
seiring berjalannya waktu, rumah ini memang akan terasa sempit. Mungkin aku
harus mulai mempertimbangkan opsi untuk melakukan renovasi atau membangun rumah
baru di lokasi lain.
Yah, masa depan toh belum ada
satu pun yang bisa dipastikan.
"Aku pulang."
"「「「K-kami ikut masuk...!」」」"
Tia, Lily, dan Lecty
mengucapkan salam bersamaan dengan ekspresi tegang. Bersama mereka bertiga, aku
melangkahkan kaki masuk ke rumahku untuk pertama kalinya dalam kurun waktu
sekitar lima bulan. Aroma kayu dan rempah-rempah yang sudah familier menyambut
indra penciumanku. Rasanya benar-benar seperti kembali ke rumah.
Mendengar suara kami,
terdengar suara langkah kaki berpatan dari arah ruang makan dapur di sisi kanan
pintu masuk.
Dan sosok yang muncul
mengintip dari balik pintu adalah Ibu.
Rambut hitam panjang yang
terurai hingga pinggang, serta sehelai rambut Ahoge yang melompat berdiri
lancip di atas kepalanya. Wajahnya
yang rapi tanpa menyiratkan usia tampak begitu awet muda.
"Selamat datang kembali,
Ibu."
Saat aku menyapa, Tia dan Lecty
di sebelahku membelalakkan mata karena terkejut.
Mereka pasti mengira Ibu adalah
adik perempuanku. Orang-orang
yang baru pertama kali bertemu sering kali salah mengira kami sebagai kakak
beradik.
Ibu menatap lurus dan
mengamati Tia dan kawan-kawan dengan saksama tanpa ekspresi.
Tak lama kemudian, tanpa
menggerakkan otot wajahnya sedikit pun,
"Good job" (Kerja bagus)
Beliau mengacungkan jempol ke arahku.
Apa pantas menjadikan kalimat itu
sebagai sambutan pertama untuk anak yang baru pulang setelah sekian lama...?!
Mengingat kembali kejadian
sekitar lima bulan lalu.
Ibu adalah orang yang
mengantarkanku berangkat dalam perjalanan ke Royal Capital setelah aku
terlanjur berbohong kepada Ayah bahwa Skill-ku adalah Pyrogenesis/Ignite, dan
saat melepasku beliau sempat menaikkan standar kepulanganku dengan berkata,
"Nanti kalau pulang, pastikan bawa istri bersamaku ya?"
Kupikir itu adalah bentuk
dorongan semangat dengan cara Ibu agar aku tidak buru-buru pulang dengan mudah,
tapi rupanya,
"Kupikir Hugh setidaknya akan membawa pulang satu orang. Membawa sampai
tiga orang, benar-benar anakku."
Ibu melipat kedua tangannya sambil mengangguk-angguk paham. Beliau rupanya
benar-benar serius menyuruhku membawa pulang seorang istri. Sebenarnya
menganggap anaknya sendiri sebagai apa.
"E-eum...?"
Tia dan kawan-kawan terdiam kebingungan menghadapi gaya bicara Ibu yang
santai.
"Yah, silakan duduk dulu untuk ngobrol."
Aku mengajak calon-calon istriku dan Ibu untuk pindah ke ruang santai.
Ayah dan kepala pelayan Selvas rupanya sedang tidak ada di rumah, jadi Ibu
yang menyiapkan teh herbal. Teh yang diseduh dari tanaman herbal yang ditanam
sendiri oleh Ibu di kebun sayurnya rasanya sangat luar biasa, jadi mereka
bertiga pasti akan menyukainya.
Sekarang, di sofa ruang santai, aku dan Ibu duduk berdampingan, sementara di
seberang kami berturut-turut duduk Tia, Lily, dan Lecty. Ketiganya duduk dengan
ekspresi tegang dan bahkan belum menyentuh teh herbal di hadapan mereka. Ibu
menatap mereka dengan tatapan tanpa ekspresi yang tidak bisa ditebak emosinya.
Bagi mereka bertiga, tatapan itu
mungkin terlihat seperti sedang dijeli oleh Ibu.
Meskipun aku tahu persis bahwa
sama sekali tidak ada niat seperti itu dari goyangan rambut Ahoge di atas
kepalanya (rambut itu akan sering bergoyang jika hatinya sedang bagus), meminta
mereka untuk langsung merasakannya pada pertemuan pertama tentu saja adalah hal
yang terlalu kejam.
"E-eum, orang ini adalah Ibuku. Rain Punosis."
"Yeah, Peace-peace."
Ibu memasang ekspresi datar sambil berpose double peace (dua buah simbol
perdamaian dengan jari).
Ya, ini adalah hari biasa bagi beliau.
"「I-iya,
peace-peace...?」"
Tia dan Lecty, yang mungkin mengira itu adalah salam khas keluarga Punosis,
memasang ekspresi bingung lalu meniru Ibu dengan membuat simbol peace di kedua
tangan mereka.
Memang menggemaskan, tapi kalian
tidak perlu memaksakan diri menirunya, tahu!
Lily sepertinya sempat ragu, tapi
ia diam-diam membentuk jarinya menjadi huruf 'V' di atas pangkuannya. Kalau
ditanya apakah aku ingin melihat Lily melakukan double peace sambil merasa
malu, jawabannya tentu saja iya, aku tidak bisa menyangkalnya.
"E-eum. Salam kenal! Aku—"
Tia mencoba menyebutkan namanya, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.
Lucretia. Ryuug. Tia.
Dia pasti sedang bingung harus memperkenalkan diri dengan nama yang mana. Selama di perjalanan kami sempat
berdiskusi beberapa kali, tapi keputusan akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada
Tia.
Tak lama kemudian, dengan
ekspresi seolah membulatkan tekad, Tia mengatupkan bibirnya lalu menyentuh
kalung yang menggantung di lehernya. Rambut Tia seketika berubah warna dari
perak menjadi keemasan dalam sekejap mata.
"Aku Lucretia von Ries.
Putri ketujuh dari negara ini! Aku menjalin hubungan dengan Hugh atas dasar pernikahan! Ibu mertua,
berikan Hugh untukku!"
Ucap Lucretia sambil
membungkuk hormat.
Kupikir Ibu akan terkejut
begitu tahu Lucretia adalah anggota keluarga Royalty...? Sambil memikirkan hal
itu aku melirik ke arah Ibu, dan mendapati beliau sedang menyilangkan jari
telunjuk dari kedua tangannya di depan wajah.
"Tidak boleh."
"Eh—!?"
Lucretia terkejut dan
langsung berdiri dari duduknya mendengar penolakan yang tak terduga itu.
Tanpa mengubah ekspresinya
sedikit pun, Ibu menjelaskan alasannya dengan tenang.
"Hugh adalah pewaris berharga dari keluarga Punosis. Meskipun kamu
keluarga Royalty, aku tidak akan membiarkannya masuk ke keluarga lain sebagai
pengantin pria. Kalau kamu yang datang ke sini sebagai pengantin wanita, baru
boleh."
"Aku datang! Aku akan
menjadi istri Hugh! Aku akan menjadi Lucretia Punosis!"
"Baguslah."
Ibu membuat lingkaran besar di
atas kepalanya menggunakan kedua tangan dengan ekspresi puas. Mampu menunjukkan
sikap kurang ajar semacam itu bahkan setelah mendengar bahwa Lucretia adalah
anggota Royalty sungguh khas gaya Ibu. Yah, dari awal memang pembicaraannya
adalah tentang Tia yang akan datang bergabung ke keluarga ini, sih.
"Yattaaa!"
Tia mengangkat kedua tangannya,
mengekspresikan kegembiraannya dengan seluruh tubuhnya.
Melihat sosoknya yang
seperti itu, Ibu bergumam pelan.
"Mirip sekali dengan
Lutiana-sama."
"Eh?"
Mendengar ucapan tak terduga itu,
aku yang tadinya sedang menatap Tia dengan penuh rasa gemas langsung menoleh
panik ke arah Ibu.
Kenapa nama ibu Tia bisa
tiba-tiba muncul di sini...!?
Tia juga membelalakkan matanya,
lalu mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya kepada Ibu.
"Apa Ibu kenal dengan beliau...!?
"Ya. Dulu saat aku bekerja di sebuah restoran di Royal Capital, beliau
sering diam-diam datang bersama Yang Mulia Raja. Beliau sepertinya sangat menyukai masakanku."
"M-mana mungkin ada
kebetulan seperti itu..."
Aku benar-benar terkejut
dengan hubungan yang tidak disangka-sangka ini.
Fakta bahwa Ibu pernah
bekerja di restoran umum di Royal Capital dan bertemu dengan Ayah di sana
memang pernah kudengar dari Roan-san, teman Ayah masa Royal Academy yang juga
merupakan Wakil Komandan Kesatria Kerajaan... tapi...
Tidak disangka kalau
restoran umum tempatnya bekerja itu sering dikunjungi secara diam-diam oleh Yang
Mulia Raja dan Nona Lutiana. Dunia ini terasa begitu sempit, atau harus kukatakan apa ya.
"Lutiana-sama sempat
mengajakku untuk menjadi koki di istana kerajaan, tapi aku menolaknya karena
itu bertepatan dengan hari setelah aku dilamar oleh suamiku, Mike."
"S-seriusan..."
"B-hal seperti itu
benar-benar terjadi...!?
Menolak tawaran dari seorang
Imperial Consort (Side Wife) terdengar sangat mirip dengan gaya Ibu, tapi itu
berarti jika lamaran Ayah terlambat sehari saja, mungkin saat ini Ibu sudah
bekerja sebagai koki di istana kerajaan. Jika itu terjadi, tentu saja pernikahannya
dengan Ayah tidak akan pernah ada, dan aku pun tidak akan pernah lahir ke dunia
ini.
"R-rasanya aku jadi bisa
merasakan takdir, ya?"
"B-benar juga, ya."
Aku dan Tia saling bertukar
pandang, menyunggingkan senyum di sudut bibir masing-masing.
Ibu yang saling mengenal mungkin
adalah hal yang lumrah di pedesaan yang komunitasnya sempit, tapi jika
mengingat itu terjadi di Royal Capital yang padat penduduknya, ditambah
perbedaan status antara Ibu yang saat itu adalah Rakyat biasa dan Nona Lutiana
sebagai seorang Side Wife, aku sungguh tidak ingin menyebutnya sekadar sebagai
kebetulan belaka.
Aku bahkan sempat memikirkan hal
romantis seperti jangan-jangan aku dan Tia memang ditakdirkan untuk bertemu.
"Ehem. Bolehkah aku juga
ikut memberi salam sekarang?"
Lily berdeham kecil seolah
memperingatkan aku dan Tia yang sedang saling tatap, lalu membungkuk hormat
kepada Ibu dengan gestur sempurna selayaknya seorang Bangsawan lady seperti
biasanya.
"Lama tak berjumpa,
Rain-sama. Aku Lily dari keluarga Marquis Puridy. Terima kasih banyak atas
bantuan besar Anda sepuluh tahun lalu. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan
Anda lagi."
"Ya, sudah lama ya. Aku juga
senang bisa bertemu denganmu."
Ibu mengangguk pelan, lalu...
"Apa kamu sudah bisa makan
tomat?"
Beliau melontarkan pertanyaan
susulan kepada Lily.
"Eh..."
Lily tampak kaget menghadapi
pertanyaan tak terduga itu. Dia sama sekali tidak menduga akan langsung ditanya
soal makanan yang tidak disukainya. Ibu benar-benar memiliki daya ingat yang
luar biasa soal makanan...
"T-tentu saja, Rain-sama.
Sebagai seorang lady, sudah sewajarnya bagiku untuk mengatasi kelebihan maupun
kekurangan dalam hal makanan."
Lily berkata demikian
sambil membusungkan dadanya dengan bangga. Kesan bahwa dia tidak menyukai
tomat... sepertinya memang tidak terlihat.
Di menu kafetaria Royal
Academy, tomat sering kali disajikan di atas salad, tapi aku sama sekali tidak
punya ingatan tentang Lily yang menyisihkan tomatnya saja.
"Bagus karena kamu menepati
janji. Kamu masih ingat kan kalau kubilang hilangkan pilih-pilih makananmu
kalau mau menjadi istri Hugh?"
"Eh?"
Aku tak kuasa menahan tanda tanya
karena tidak mengerti maksud dari ucapan Ibu. Apa maksudnya?
"Lily bilang dia ingin
menikah dengan Hugh, jadi aku membuat janji dengannya agar dia menghilangkan
pilih-pilih makanannya. Sepuluh tahun yang lalu."
"R-Rain-sama! Soal
pembicaraan itu—!"
...Umm—etto.
Lily yang duduk di seberang
menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menunduk.
Telinga yang mengintip di antara
rambut cokelat kemerahannya tampak memerah, menyaingi warna rambutnya.
Jika membedah cerita dari Ibu,
itu berarti Lily sudah menyukaiku sejak sepuluh tahun yang lalu, dan bahkan
sudah menyampaikan kepada Ibu bahwa dia ingin menikahiku...? Dan sebagai
balasannya, Ibu memberikan izin pernikahan dengan syarat Lily harus mengatasi
ketidaksukaannya pada tomat saat itu...?
Fakta bahwa pernikahanku sempat
ditimbang dengan tomat... ah, mari kita abaikan saja untuk sementara. Itu kan
cerita masa kecil, dan Ibu juga pasti tidak serius menganggapnya sebagai
pertukaran yang setara... mungkin.
Lebih penting lagi, ini soal
Lily.
Aku benar-benar sama sekali tidak
tahu kalau dia membuat janji seperti itu dengan Ibu.
"I-itu kan cerita masa
kecil! Waktu itu aku tidak punya kenalan anak laki-laki lain, dan kau yang
mengajariku berbagai permainan di alam bebas di saat hari-hariku hanya diisi
dengan les dan pelajaran membuatmu terlihat begitu berkilau, jadi... itu...
A-hal seperti itu wajar kan, ya!?"
"M-mawa... kalau dibilang
wajar, mungkin memang iya sih..."
Hal yang sama jika didengar dari
orang lain mungkin akan terdengar menggemaskan, tapi rasanya akan jadi berbeda
saat diri sendiri yang menjadi pelakunya. Kesimpulannya, bukankah Lily sebagai
istriku ini terlalu menggemaskan!?
"Lily jadi malu, lucu banget
ya."
"Nona Lily ternyata sudah
sangat menyukai Tuan Hugh sejak kecil, ya."
"J-jangan menggoda kami
berdua, ya!"
Tia dan Lecty yang duduk di kedua
sisi Lily ikut tersenyum hangat melihat reaksi menggemaskan Lily. Sementara aku
sendiri sibuk menahan sudut bibirku yang terus berkedut menahan rasa senang dan
malu yang luar biasa.
Meskipun banyak hal terjadi, aku
benar-benar bersyukur bisa menikah dengan Lily...
"G-giliran Lecty
selanjutnya...!"
"A, ah, iya...!"
Mungkin untuk menghindari
pembahasan yang lebih panjang, Lily mendesak Lecty untuk memberikan salamnya.
Aku pun merasa tertolong karena
sudah tidak punya kepercayaan diri untuk menahan diri lebih lama lagi.
"A-aku Lecty! T-Tuan Hugh
adalah teman sekelas di Royal Academy, dan um, saat aku sedang kesulitan,
beliau telah menolongku berkali-kali...!"
Meskipun terbata-bata, Lecty
menyampaikan latar belakang hidupnya, jalannya hingga saat ini, serta segenap
isi hatinya kepada Ibu. I-ini di sisi lain juga luar biasa memalukan...-!
"A-aku, sangat ingin terus
mendukung Tuan Hugh! Jadi, kumohon, sudikah Anda memberikan izin pernikahan
kami!"
Tolong mohon bantuannya! Lecty
menundukkan kepalanya.
Ibu yang mendengarkan perkataan
Lecty dengan tenang lalu melemparkan sebuah pertanyaan kepadanya.
"Ada makanan kesukaan?"
"Eh? Um, aku suka semua
makanan. Itu... sampai beberapa waktu lalu, aku hampir tidak pernah punya
kesempatan untuk makan makanan yang layak..."
Lecty menjawab Ibu sambil
menciutkan tubuhnya.
Kompleks masa kecilnya yang
tumbuh di daerah kumuh sepertinya masih tertanam kuat di dalam dirinya.
Namun, Lecty menceritakan hal itu
kepada Ibu tanpa menutup-nutupinya. Itu adalah sebuah langkah berani yang
dikerahkannya, dan keberanian itu pasti tersampaikan dengan baik kepada Ibu.
"Kalau begitu, mulailah
mencari makanan yang kamu sukai mulai sekarang. Aku sangat percaya diri dengan
masakanku."
"Umm...?"
Ibu membusungkan dadanya dengan
bangga sambil mendengus kecil (muhū). Dari sudut pandang Ibu, mungkin itu
adalah cara terbaik untuk menyemangati, tapi sepertinya itu tidak begitu
tersampaikan dengan baik kepada Lecty.
"A—to. Maksudnya, itu cara
Ibu untuk menyambutmu sebagai keluarga, Lecty."
"Ah..."
Begitu aku memberikan penjelasan
tambahan, mata Amethyst Lecty membelalak lebar, dan setetes air mata menetes
turun.
"Ah, m-maafkan aku. Itu, aku
merasa begitu lega sampai... Fufu! Bagus sekali, ya, Lecty."
Lily yang duduk di sebelah
memeluk Lecty dengan lembut.
Lecty mengangguk berkali-kali
sambil mengusap sudut matanya yang memerah, "Iya..."
Alasan air mata Lecty tentu saja
bukan sekadar karena merasa lega.
Ia kehilangan kedua orang tuanya
karena wabah penyakit dan berjuang bertahan hidup sendirian di daerah kumuh.
Bagi Lecty, kata 'keluarga'
pastilah memiliki arti yang sangat istimewa.
"Kalau sudah memutuskan, aku
harus segera mulai menyiapkan bahan-bahannya. Karena ini adalah pesta
penyambutan untuk semuanya, aku akan memasak dengan semangat yang lebih membara
dari biasanya."
Ibu bangkit dari sofa sambil
berucap penuh semangat, lalu bersiap melangkah menuju dapur. "A,
anuu!" Tia-lah yang memanggil untuk menghentikannya.
"B-biarkan aku ikut membantu
juga!"
"Eh, Tia, itu..."
Dapur adalah wilayah kekuasaan
Ibu.
Jangankan orang luar yang ingin
membantu, bahkan aku dan Ayah pun tidak diizinkan masuk ke sana. Aku sudah
sering mengatakan ingin membantu memasak sebelumnya, tapi tidak sekalipun aku
diizinkan menyentuh proses memasak beliau.
Kupikir Ibu juga akan menolak
tawaran Tia, namun,
"Boleh saja. Tapi, pelatihan
pengantin dariku sangat ketat. Apa kamu sanggup mengikuti?"
"A-aku akan berusaha!"
"Rain-sama, aku juga ingin
membantu."
"T-tolong biarkan aku
membantu juga!"
Menyusul Tia, Lily dan Lecty juga
ikut menawarkan diri untuk membantu.
Ibu menerima tawaran mereka tanpa
menolak satu pun. E-eh...!?
"Ibu, aku juga ingin
membantu sesuatu—"
"Hugh tidak boleh."
"Eh..."
Ibu langsung menolak
mentah-mentah saat aku hendak bangkit dari sofa.
"Tugas Hugh adalah membuat perutmu kosong. Pergilah jalan-jalan atau semacamnya."
"Kami akan memasak makanan
yang enak untuk Hugh, jadi nantikan ya!"
"Y-ya."
Jika Tia sudah berkata begitu,
aku tidak punya alasan untuk mendebatnya lagi, kan? Meskipun aku sedikit merasa
cemas dengan hasil masakan tangan mereka... yah, selama ada Ibu, semuanya pasti
akan baik-baik saja. Mungkin.
"Kalau begitu, aku mau
jalan-jalan sebentar di sekitar sini."
Tidak ada hal yang bisa kulakukan
di rumah, dan jika aku terus mengawasi, Ibu dan yang lainnya pasti akan
kesulitan untuk memasak. Lebih baik aku menurut saja keluar rumah.
Diantar oleh pandangan Tia dan
yang lainnya, aku berjalan keluar tanpa tujuan yang pasti.
Pemandangan di Punosis Territory
sedikit mengalami perubahan dibandingkan sebelum aku berangkat ke Royal
Academy.
Salju yang menumpuk di
puncak-puncak gunung telah mencair, dan bulir-bulir gandum berwarna keemasan
tampak melambai-lambai di ladang yang tadinya berwarna kecokelatan.
Meskipun itu adalah pemandangan
musim panas yang seharusnya sangat kukenali, rasanya tetap terasa begitu
nostalgik.
Perasaan itu muncul pastinya
karena aku telah merasakan pengalaman hidup di Royal Capital. Hidup di Royal
Capital memang tidak buruk, tapi aku merasa kehidupan di sinilah yang paling
cocok untuk diriku.
"Bagaimanapun juga, slow life adalah yang terbaik."
Sambil bergumam seperti itu, tanpa sadar langkah kakiku membawaku menuju
hutan di bagian belakang mansion. Tempat
itu adalah area di mana aku berlari kesana-kamari seharian penuh semasa kecil.
Bisa dibilang itu adalah halaman belakang pribadiku.
Dan di sinilah tempat markas
rahasia buatanku berada.
Markas rahasia yang kubuat dengan
cukup serius, dibantu oleh Ayah dan kepala pelayan Selvas.
...Yah, tapi kalau sudah dibantu
oleh orang dewasa, apanya yang bisa disebut rahasia, tapi sudahlah.
Markas rahasia yang kukunjungi
untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar setengah tahun itu berdiri di
antara pepohonan dalam wujud yang tidak berubah dari sebelumnya. Aku memijakkan
kaki ke batang pohon yang biasa kudaki saat kecil, lalu membungkukkan pinggang
untuk masuk ke dalam.
Lily sempat menyebutnya sebagai
kandang anjing saat diajak ke sini sepuluh tahun lalu, tapi begitu masuk ke
dalam, langit-langitnya cukup tinggi sehingga bahkan aku yang sekarang tidak
perlu menundukkan kepala, dan luasnya cukup untuk membuatku bisa berbaring
merentangkan tangan dan kaki jika alas tidur digelar. Ini adalah hasil kerja
sama penuh semangat dari Ayah yang bertubuh besar.
"Lantai dasarnya masih
kokoh, sepertinya belum perlu diganti... eh?"
Sambil memeriksa tingkat
pelapukan kayu selama setengah tahun terakhir, mataku tanpa sengaja menangkap
sebuah benda aneh.
Sebuah meja yang kubuat
di dekat jendela.
Di atasnya, terdapat
sebuah buku catatan.
Kalau itu hanya buku
catatan biasa, aku mungkin akan berpikir kalau aku yang tertinggal di sana
sebelumnya.
Namun, aku bisa
memastikan dengan tegas bahwa itu bukan buku catatan biasa.
Sampul ungu muda yang
sedikit kotor, dengan motif bunga-bunga yang disulam menggunakan benang emas
kusam.
Buku dengan jilid rapi
itu sangat familier bagiku.
"Kenapa buku harian Lily
bisa ada di tempat seperti ini...?"



Post a Comment