Chapter 5:
Rambut Simfoni Tujuh Warna
Keesokan paginya, aku
mendapati diriku dipaku di atas tempat tidur bagaikan disalib.
Lengan kiriku dijadikan
bantal oleh Lugh, dan lengan kananku dijadikan bantal oleh Lily.
Sepanjang malam lenganku menjadi
sangat kesemutan hingga mati rasa, sehingga aku sama sekali tidak bisa
menggerakkannya.
Kalau ditanya bagaimana ini bisa
terjadi, sebenarnya setelah itu kesalahpahaman Lugh memang segera teratasi,
tetapi saat mendengar bahwa aku dan Lugh akan tidur bersama, Lily tiba-tiba
berkata, "Kalau begitu, hari ini aku juga akan tidur di sini, ya."
"Kalau membiarkanmu berduaan
saja dengan Hugh, entah apa yang akan kalian berdua lakukan."
"Muu~ Lily juga sama saja,
kan~?"
"...Yah, memang sih. Karena
itu, bagaimana kalau kita saling mengawasi. Dengan begitu kita berdua bisa tenang,
kan?"
"Masuk akal!"
Apanya yang masuk akal.
Suasananya tidak
memungkinkan bagiku untuk bilang ingin tidur sendirian, sehingga akhirnya kami
bertiga tidur bersama seperti ini.
Sinar matahari pagi yang
lembut masuk melalui jendela dan menerangi seisi kamar. Aku harus segera bangun
untuk bersiap-siap dan sarapan sebelum Nona Plum datang menjemput, tapi...
"Hugh, aku shuuuka
bangeeet..."
"Ufufu, aku
mhencintaimu, suwamiku..."
Kedua gadis cantik itu
menempelkan tubuh mereka padaku sambil mengigau bahagia.
Kalau soal Lugh sih, ini
sudah biasa. Dipeluk hampir setiap malam sejak masuk Royal Academy, wajar saja
kalau aku sudah terbiasa. Tentu
saja jantungku tetap berdebar, tapi aku masih bisa menahannya.
Tapi, kalau Lily aku tidak
sanggup.
Aroma manis seperti buah persik,
dan sensasi empuk namun kenyal yang terus-menerus menempel di pinggang kananku.
Maaf saja pada Lugh, tapi rangsangannya terlalu kuat. Ini sama sekali bukan
sesuatu yang bisa ditahan oleh tubuh remaja pria berusia lima belas tahun yang
sangat sehat.
Aku harus entah bagaimana berlari
ke toilet sebelum mereka berdua menyadarinya...! Namun, kedua lenganku
dijadikan bantal oleh mereka berdua, ditambah lagi mati rasa sehingga tak bisa
digerakkan sama sekali! Apa ini akhir dari segalanya...!?
Toh suatu saat nanti kami akan
menikah, jadi mungkin tidak apa-apa kalaupun mereka melihatnya, dan bukan
berarti aku tidak percaya diri. Tapi, ini beda urusan. Yang memalukan tetaplah
memalukan. Atau lebih tepatnya, stimulasi lebih dari ini berisiko menyebabkan
'ledakan'. Aku harus menghindari hal itu dengan cara apa pun...!
Meski ada sedikit risiko,
pertama-tama aku harus membangunkan mereka berdua.
Setelah rasa kebas di lenganku
hilang dan bisa digerakkan, aku akan mencari waktu yang pas dan pergi ke toilet
dengan lagak senatural mungkin. Ya, cuma itu satu-satunya cara.
Berpikir demikian, tepat saat aku
hendak bersuara untuk membangunkan mereka,
"Tuan Hugh, Anda sudah bangun!? Nona Lily dan Nona Lugh tidak ada di
kamar mereka!"
Pintu kamar dibuka dengan kasar, dan Lecty yang wajahnya pucat pasi melesat
masuk ke dalam kamar!
Dan apa yang disaksikannya adalah pemandangan kami bertiga tidur berjejer di
ranjang ukuran King. Lecty melebarkan mata Amethyst-nya dan tubuhnya kaku
mematung.
"A-anu, Lecty... Ini ada berbagai alasan yang mendalam..."
Sementara aku mati-matian mencari
kata-kata untuk menjelaskan, wajah Lecty perlahan-lahan menjadi semakin merah
padam.
...Ah, dia pasti salah paham nih.
"M-mmmaaf saya
menggangguuuu!"
"T-tunggu dulu Lecty!
Dengarkan penjelasanku..."
BAM, pintu pun ditutup.
Sepertinya akan sangat sulit
untuk meluruskan kesalahpahaman ini...
Setelah itu, Lugh dan Lily yang
terbangun karena suara Lecty dan suara bantingan pintu kuminta untuk kembali ke
kamar mereka masing-masing, dan aku entah bagaimana berhasil melindungi
martabatku sebagai seorang pria. Yah, mungkin saja mereka berdua hanya
berpura-pura tidak menyadarinya, tapi tidak ada cara untuk memastikannya.
Untuk saat ini, aku
berganti pakaian dan bersiap-siap.
Sampai kemarin aku masih
mengenakan seragam Royal Academy, tapi mulai hari ini aku memakai pakaian
perjalanan biasa. Jika memakai seragam di tempat yang jauh dari Royal Capital,
itu akan terlihat sangat mencolok.
Setelah selesai berganti
pakaian dan keluar ke lorong, kulihat sarapan sedang dibawa masuk ke kamar
Lecty. Karena Lily masih bersiap-siap, sepertinya sarapan disiapkan di kamar
Lecty yang sudah bangun lebih dulu.
Aku ingin meluruskan
kesalahpahaman tadi, mungkin sebaiknya aku berbicara dengan Lecty sebelum
sarapan...
Sambil mengangguk menyapa
staf penginapan yang sedang menyiapkan sarapan, aku masuk ke kamar Lecty. Lecty
sedang duduk di ujung sofa, dan langsung berdiri begitu melihatku.
"A, s-selamat pagi, Tuan Hugh!"
Lecty menundukkan kepalanya, tubuhnya dibalut gaun one-piece berwarna
lavender muda.
Rambut biru mudanya yang memancarkan aura menyegarkan, dipadukan dengan
warna ungu muda yang memberikan kesan rapi dan menawan, sangat cocok untuk
Lecty.
"Um, Tuan Hugh...?"
"Ah, maaf. Selamat pagi, Lecty."
Aku yang tanpa sadar terpana melihat kecantikannya, buru-buru menjawab
Lecty.
"Ehem, boleh aku duduk?"
"T-tentu saja!"
Mendapat persilaan, aku duduk di sofa yang berhadapan dengan Lecty. Lecty
juga kembali duduk di sofanya, namun ia tampak gelisah dan tidak tenang. Apa dia masih memikirkan kejadian tadi?
"Itu... Maafkan saya karena
sudah mengganggu tadi! Maksud saya, karena Tuan Hugh, Nona Lily, dan Nona Lugh
suatu saat nanti akan menikah, saya seharusnya sudah membayangkan bahwa hal-hal
semacam itu mungkin saja terjadi, dan kelalaian saya dalam berpikir...!"
"Tidak, tidak! Itu salah
paham, Lecty. Kami sama sekali tidak melakukan hal-hal yang tidak
senonoh."
...Meski kalau diingat-ingat lagi
rasanya tidak sepenuhnya bersih dari 'hal semacam itu', tapi setidaknya bukan
kejadian seperti yang Lecty bayangkan.
"B-begitu ya."
"Syukurlah kau
mengerti."
"Ya. Menghasilkan
keturunan adalah tugas Bangsawan, kan. Itu bukan sesuatu yang tidak
senonoh!"
Dia sama sekali tidak
mengerti...!!
Pada akhirnya, setelah
aku menjelaskan dengan sangat sabar dan hati-hati bahwa benar-benar tidak
terjadi apa-apa, Lecty akhirnya paham.
---
"Kurasa sudah
waktunya aku melamar Lecty."
Aku mengonsultasikan hal itu
kepada Lily dalam perjalanan menuju kota berikutnya.
Waktu itu adalah saat kami
selesai makan siang di dekat sebuah sungai kecil, sekalian mengistirahatkan
kuda-kuda penarik kereta.
Setelah makan siang, Lugh dan
Lecty langsung turun ke sungai.
Di meja yang disiapkan oleh Nona
Plum, hanya tersisa aku dan Lily, jadi ini saat yang tepat untuk berbicara.
Omong-omong, hari ini Lily mengenakan gaun one-piece berwarna navy blue.
Warnanya yang tenang dan memberikan kesan sejuk sangat cocok dengan aura
dewasanya.
"............Baru sekarang?"
Mendengar perkataanku, Lily menatapku dengan pandangan sinis setengah
tertutup.
...Yah, jujur saja aku sendiri juga berpikir begitu.
Ini adalah kebiasaan burukku. Sejak Lecty menyatakan perasaannya padaku, aku
malah membiarkan situasinya mengambang tanpa kejelasan. Aku belum memberikan
jawaban yang pasti padanya.
"Yah, kupikir ini langkah yang benar. Pasti kau juga memikirkan perasaan Tia dan aku, kan?"
"Itu sih memang
benar..."
Aku memang tidak bisa
memberikannya jawaban sampai aku memperjelas hubunganku dengan Tia dan Lily.
Tapi, seandainya aku bisa
bertindak sedikit lebih pintar, aku pasti tidak perlu membuat Lecty menunggu
selama ini.
Sudah hampir dua bulan berlalu
sejak hari di katedral di mana Lecty menciumku. Rasanya aku sudah membuatnya
menunggu terlalu lama. Bahkan tidak aneh jika dia sudah kehilangan kesabaran
dan perasaannya padaku sejak lama.
Ketika kuceritakan hal itu pada
Lily, ia menghela napas dengan ekspresi seolah tak habis pikir.
"Seberapa sering pun aku
mengajaknya, tidak mungkin dia mau ikut pulang ke kampung halaman pria yang
tidak dia sukai, kan? Rosalie juga ada di Academy, jadi dia punya alasan untuk
menolak jika mau. Lecty itu anak yang bisa mempertimbangkan hal-hal seperti
itu, lho."
"I-itu benar juga..."
"Ya. Dan aku rasa dia juga
tidak sedang berpura-pura baik demi perasaan kami. Buktinya, coba lihat ke
sana."
Ujung pandangan Lily.
Di sungai kecil yang terletak
sedikit di bawah tempat kami duduk, Lecty sedang bermain air dengan riang
bersama Lugh. Sama sekali tidak ada kesan bahwa dia terpaksa ikut bersama kami.
"——Hei, kalian berdua! Kalau
mau masuk ke sungai, ganti pakai baju renang dulu!"
Menyadari pakaian Lugh dan Lecty
yang hampir basah kuyup, Lily buru-buru berseru memperingatkan.
Jika perjalanan lancar, kabarnya
kami akan tiba di kota berikutnya dalam waktu sekitar tiga jam, jadi masih ada
banyak waktu sebelum matahari terbenam. Mengingat jadwal perjalanan kami ke
depannya, lebih baik membiarkan kuda beristirahat lebih lama. Karena itu, kami
memutuskan untuk berganti pakaian renang dan bermain air di sungai.
Aku mengambil baju renang dari
barang bawaan yang disiapkan oleh keluarga Puridy (kenapa mereka sampai
menyiapkan baju renang?), lalu berganti pakaian di bawah naungan pohon di dekat
situ. Ketiga gadis itu berganti pakaian di dalam kereta kuda, tapi dari
tempatku yang agak jauh ini pun aku bisa mendengar suara mereka bersenda gurau
dengan gembira.
Seperti apa ya pakaian renang
mereka bertiga? Karena kemungkinan besar Lily yang memilihnya, sudah pasti itu
akan terlihat cocok untuk mereka. Kalau Lugh misalnya... tunggu sebentar.
Bagaimana dengan pakaian renang
Lugh...?
"Hugh, maaf membuatmu
menunggu!"
Lugh, yang sepertinya paling
cepat selesai berganti pakaian, membuka pintu kereta dan melompat keluar.
Aku sempat melihat Lily dan
Lecty, yang sepertinya masih berganti pakaian, buru-buru menutup pintunya.
...Tapi karena itu hanya sedetik, itu masih batas aman. Aku tidak melihat
apa-apa...
Aku mengalihkan kembali
perhatianku pada Lugh yang ada di depanku... dan,
"Bagaimana, Hugh? Apa
cocok...?"
Di depanku berdiri seorang gadis
cantik dan manis dengan rambut perak yang menjuntai hingga sepinggang.
Dia mengenakan pakaian renang
bergaya one-piece berwarna putih. Eksposur kulit yang tidak terlalu berlebihan
memberikan kesan sederhana dan sopan, tetapi rumbai-rumbai (frill) yang
digunakan secara melimpah sangat menonjolkan keimutannya.
Entah kenapa ada terlalu banyak
informasi yang masuk di kepalaku...
"Maaf, biarkan aku mencerna
ini dulu. Pertama, pakaian renang itu sangat imut. Kau terlihat seperti peri
dan itu sangat cocok untukmu."
"Benarkah!? Ehehe, dipuji
oleh Hugh membuatku malu."
"...Lalu, ada apa dengan
rambutmu itu?"
Saat aku bertanya, Tia
menggoyangkan rambutnya tertiup angin sambil berkata, "Ini?"
Rambut peraknya berkilauan
memantulkan cahaya matahari.
"Jadi begini, kudengar Kak
Lucas sudah menceritakan situasiku pada Nona Plum."
"Eh? Benarkah?"
"Iya. Ah! Dengar ya, Hugh. Kak Lucas jahat banget, tahu? Katanya dia
menjelaskan situasiku pada Nona Plum karena toh aku tidak akan bisa terus
menyembunyikan identitas asliku! Padahal aku bisa menyembunyikannya dengan
baik, kok! Ihhh, Kak Lucas keterlaluan banget, sih!"
"Ah... Iya, ya."
Ada banyak hal yang ingin kukatakan pada Tia yang sedang marah-marah itu,
tapi karena takut malah memancing masalah baru, aku memutuskan untuk
menyetujuinya saja. Seperti yang diharapkan dari Kakak Ipar. Dia benar-benar
memahami adiknya dengan baik.
"Terus ya, aku konsultasi dengan Lily, dan katanya selama perjalanan
aku tidak perlu lagi berpura-pura menjadi anak laki-laki. Lagipula, kalau aku
menyapa orang tua Hugh dengan wujud anak laki-laki, nanti mereka kaget,
kan."
"Yah, itu memang benar. Begitu ya, jadi karena itu kau memanjangkan
rambutmu."
"Iya! Kalau warnanya pirang pasti akan terlihat sangat mencolok, jadi
aku mencoba memanjangkannya dengan warna perak! Bagaimana? Apa cocok?"
"Tentu saja."
Meskipun aku sudah terbiasa dengan rambut perak saat ia menjadi Lugh,
perubahan panjangnya membuat auranya benar-benar berbeda.
Kesan boyish yang samar-samar ada sebelumnya kini lenyap tak berbekas, hanya
menyisakan pesona feminin yang memikat.
Ditambah dengan pakaian
renangnya, perasaanku terhadap Tia terasa akan meluap.
"Omong-omong, Magic Item itu luar biasa, ya. Bisa dengan bebas
memanjangkan atau mengubah warna rambut seperti itu."
Liontin berbentuk bulan
purnama dan mahkota bunga yang menggantung di leher Tia.
Gaya dan warna rambutnya
diatur menggunakan liontin tersebut.
Di dunia ini tidak ada
sihir yang biasanya ada di cerita fantasi, tetapi sebagai gantinya terdapat
Skill dan Magic Item yang cara kerjanya hampir mirip. Kalau Skill sudah tidak
perlu dipertanyakan lagi kehebatannya, tapi Magic Item juga merupakan hal yang
sangat menakjubkan.
"Panjang dan
warnanya bisa diatur sesuka hati, lho? Lihat, bisa seperti ini!"
Saat Tia menyentuh
liontinnya, rambutnya mulai memanjang-memendek berulang kali dan berkedip-kedip
memancarkan tujuh warna berbeda.
...Ya, itu kelihatan menjijikkan,
jadi tolong hentikan, oke?
Sembari menunggu warna rambut Tia
kembali normal, pintu kereta terbuka, dan Lecty serta Lily yang telah berganti
pakaian renang turun.
"M-maaf membuat Anda menunggu!"
Lecty menatapku dengan malu-malu,
pipinya bersemu merah.
"Um... Bagaimana, menurut
Anda...?"
Tentu saja dia meminta pendapatku
tentang pakaian renangnya. Pakaian renang Lecty adalah bikini berwarna lavender
muda, dengan kain pareo tipis berwarna biru muda—sama seperti warna
rambutnya—yang melilit pinggangnya. Bikininya dihiasi dengan pita kecil; aura
transparan dan pesona keimutan yang modest sangat cocok untuk Lecty.
"A-ah. Kau terlihat sangat
imut. Kurasa itu sangat cocok untukmu, Lecty."
Sebenarnya aku ingin memujinya
lebih banyak, tapi aku menyesali perbendaharaan kataku yang terbatas. Meskipun
begitu, Lecty sepertinya senang mendengarnya, dan ia tersenyum manis mekar
layaknya kuncup bunga.
"Ufufu. Saya senang mendengarnya, Tuan Hugh. Terima kasih banyak.
Rasanya usaha saya untuk sedikit memberanikan diri ini membuahkan hasil."
Pakaian renang model bikini memang terlihat cukup berani untuk Lecty yang
biasanya pemalu.
Dia adalah gadis yang sama yang meminta maaf padaku karena rasa percaya
dirinya yang rendah saat aku tidak sengaja melihatnya telanjang dulu.
Mampu mengenakan bikini berarti dia mulai memiliki kepercayaan diri pada
dirinya sendiri.
Meski aku tidak terlalu ingin mengingat kejadian waktu itu, tapi
dibandingkan saat itu, tubuh Lecty terasa lebih berisi.
Tulang rusuknya tidak lagi terlalu menonjol, dan entah perasaanku saja, tapi
payudaranya juga terlihat membesar...
"Hyuuugh~? Sebenarnya bagian mana dari Lecty yang sedang kau
perhatikan~?"
"I-itu salah paham, Tia! Aku
sama sekali tidak menatap dada Lecty dengan pikiran mesum!"
"Kayaknya perkataanmu
barusan justru menjerumuskanmu sendiri, Hugh!?"
Sebenarnya perasaanku lebih mirip
seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan kesehatan putrinya, tapi memang benar
kalau aku menatap dadanya.
Aku akan rela dipukul pelan-pelan
oleh Tia yang sedang menggembungkan pipinya cemberut.
Terlepas dari masalah itu.
"Umm... Apa yang sedang Lily
lakukan?"
Di belakang Lecty. Lily, yang
sejak tadi menahan napas dan bersembunyi di balik punggung Lecty, tersentak
kaget dan bahunya bergetar mendengar suaraku.
Lalu dengan takut-takut, Lily
mengintip dari balik punggung Lecty, hanya memperlihatkan wajahnya.
"I-itu... Saat memilihnya,
aku sangat bersemangat dan berpikir ingin membuatmu takluk, tahu? Tapi, pas
benar-benar dipakai, rasanya terlalu berani, atau mungkin aku malah jadi merasa
malu..."
Lily bergumam dengan pipi merah
merona.
L-Lily sampai semalu itu,
sebenarnya baju renang macam apa yang dipakainya...!?
"Nona Lily, Anda sudah
repot-repot mengganti pakaian, ayo tunjukkan pada Tuan Hugh?"
"Ukh... B-baiklah."
Didesak oleh Lecty, Lily
membulatkan tekadnya dan memperlihatkan penampilannya dalam balutan baju renang
kepadaku.
Baju renang miliknya adalah
bikini triangle berwarna merah wine. Desainnya sangat sederhana, dan jika hanya
melihat pakaiannya saja, kurasa tidak sebegitu beraninya hingga membuatnya
merasa sangat malu.
Namun, yang memakainya adalah
Lily, seorang gadis dengan proporsi tubuh yang bahkan bisa mengalahkan model
gravure. Ukurannya juga mungkin sedikit kekecilan untuknya. Buah dadanya yang
tidak muat di bikini yang terlihat hampir robek itu seolah-olah akan meluap
keluar.
"I-itu. Bagaimana
kesanmu...?"
"Sangat er... maksudku,
sangat mempesona!"
Hampir saja. Aku hampir saja
bilang 'sangat erotis'.
Kata 'erotis' terlalu terus
terang untuk dijadikan komentar. Aku tidak yakin apakah aku berhasil
menyembunyikannya dari Tia yang menatapku dengan tajam, tapi kurasa masih aman.
"B-begitu ya. Syukurlah
kalau begitu..."
Lily bergumam sambil
memutar-mutar ujung rambutnya dengan jari. Sudut bibirnya sedikit melengkung,
terlihat senang. Fakta bahwa Lily mengenakan pakaian renang yang berani hanya
untuk menunjukkannya padaku, bukan untuk orang lain, membuat jantungku berdebar
kencang sejak tadi.
Tentu saja aku juga
berpikir pakaian renang Tia dan Lecty sangat menawan, tapi penampilan Lily
memiliki daya hancur yang melebihi mereka. ...Tidak, ini harus disebut sebagai
sihir yang menyedot pandangan!
"Muu~ Hugh mesum! Ayo cepat ke sungai!"
"B-benar sekali! Tuan Hugh,
mari kita pergi!"
Aku yang tak bisa melepaskan
pandanganku dari Lily akhirnya ditarik oleh Tia dan Lecty, dan berhasil
membebaskan diri dari sihir itu. H-hampir saja. Sedikit lagi dan aku akan
kehilangan akal sehat dan harga diriku.
Sambil mengembuskan napas lega,
aku melangkah masuk ke sungai kecil itu dituntun oleh mereka berdua.
"Dingin!?"
Air sungainya ternyata jauh lebih dingin dari bayanganku.
Bahkan di bagian terdalam,
kedalamannya hanya selututku. Sepertinya tidak bisa untuk berenang, tapi karena
suhu airnya dingin, mungkin kedalaman segini sudah pas.
Airnya sangat jernih, dan riaknya
memantulkan cahaya matahari dengan menyilaukan.
"Lihat, Hugh! Ada
ikan!"
Di tempat yang Tia tunjuk, di
balik batu besar di dasar sungai, terlihat seekor ikan air tawar. Karena airnya
jernih, siluet ikan itu terlihat dengan jelas. Sekilas ukurannya cukup besar.
Mungkin sekitar lima belas sentimeter.
"Kelihatannya lezat, ya,
Lecty."
"Ya. Mari kita tangkap untuk
makan malam."
"Um!"
Mata Tia dan Lecty berbinar-binar
saat mereka perlahan mendekati ikan itu. Makan malam nanti mungkin sudah
disiapkan dengan layak di penginapan di kota berikutnya, tapi karena mereka
terlihat bersenang-senang, ya sudahlah.
Agar tidak mengganggu mereka
berdua, aku berjalan agak menjauh dan menoleh ke belakang.
Ternyata, Lily sedang berdiri di
pinggir sungai kecil, tampak kebingungan harus melakukan apa.
Meski penampilannya dalam balutan
pakaian renang itu berbahaya untuk dilihat, aku tak bisa berpura-pura tidak
melihatnya.
"Ada apa, Lily? Kau tidak
masuk ke sungai?"
"Um, sungai ini, tidak
dalam, kan...?"
"Oh, iya. Seperti yang kau
lihat, cuma selututku saja."
Jadi tidak perlu takut.
Daripada mengatakan hal itu, aku
mengulurkan tanganku kepada Lily.
Lily memegang tanganku dan dengan
ragu-ragu melangkahkan kakinya ke dalam sungai.
"Kya, dingin...!"
Rupanya dinginnya air melebihi
ekspektasinya. Lily memberikan reaksi yang sama denganku dan memeluk erat
tubuhku. Dengan kain yang menutupi tubuhnya jauh lebih sedikit dari biasanya,
aku bisa langsung merasakan sensasi kulit putih mulusnya yang kenyal, membuat
jantungku terus berdebar kencang tanpa henti.
Kudengar batas jumlah detak
jantung seseorang seumur hidupnya sudah ditentukan.
Kalau detaknya secepat ini,
mungkin besok jantungku akan tertidur selamanya dengan tenang.
"M-maafkan aku. A-aku tidak
bermaksud untuk manja begini, tapi um, aku kurang pandai berenang..."
"T-tidak apa-apa. Jangan
dipikirkan. Kau aman, ada aku di sisimu."
Bahkan di sungai dangkal seperti
ini, seseorang bisa saja tenggelam karena suatu hal.
Karena itu, aku akan mengawasi
Lily dengan sangat hati-hati. Bukan berarti aku ingin puas melihatnya pakai
baju renang lho, sungguh. Ini semua murni demi keselamatannya.
Tepat saat aku memikirkan hal
itu,
"Hugh! Ikannya kabur ke arahmu!"
"Tolong tangkap ikannya, Tuan Hugh!"
Ikan yang gagal ditangkap oleh Tia dan Lecty berenang menuju ke arahku. Aku
secara refleks menceburkan tanganku ke dalam air, tapi ikan itu berenang
melewati selangkanganku dan menuju ke arah Lily.
"Eh, jangan, kyaaa!?"
Lily yang terkejut melihat ikan itu melangkah mundur dan terpeleset batu di
dasar sungai!
"Lily!"
Aku secara refleks mengulurkan tanganku ke arah Lily.
Namun, tangan kananku hanya menyerempet area dadanya dan tidak sempat
meraihnya.
BYURR... air memercik, dan Lily jatuh terduduk di dasar sungai. Untungnya,
kepalanya tidak terbentur, dan ia hanya memekik pelan,
"Diingiiiin..."
Sepertinya dia tidak
mengalami luka yang serius.
Aku menghela napas lega, lalu
tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Tangan kananku yang terulur untuk
menyelamatkan Lily ternyata sedang menggenggam sesuatu yang terasa seperti
kain. Ketika aku mengangkatnya untuk melihat, ternyata itu adalah bikini merah
wine...?
Kenapa baju renang Lily ada di
sini? Seharusnya kain ini menutupi payudara montok Lily dengan erat... kan.
Tetesan air yang terpental dari
kulitnya yang kencang mengalir menuruni payudaranya yang besar dan indah,
tempat urat-urat nadi samar-samar terlihat. Rambutnya yang basah menempel di
kulitnya dengan menggoda, dan mata Lily berkaca-kaca sementara pipinya memerah
merona.
Tidak ada kain yang menutupi
dadanya.
Tentu saja, karena kain itu
sekarang berada di tanganku.
Darah seketika surut dari
wajahku.
Sedetik kemudian,
"KYAAAAAAAAAAAAA!!!"
Jeritan Lily bergema di sepanjang
aliran sungai kecil itu.
---
Tiga Jam Kemudian...
Setelah selesai bermain air di
sungai, kami kembali berguncang di dalam kereta kuda. Tia dan Lecty yang duduk
di kursi seberang tampaknya sudah kelelahan bermain; mereka berdua tertidur
lelap saling bersandar satu sama lain.
Di dekat kaki mereka,
seekor ikan sungai berenang dengan bosan di dalam ember berisi air.
Sepertinya mereka berniat
membawanya ke penginapan untuk dimasak nanti.
Karena Tia dan Lecty
sudah tertidur, hanya aku dan Lily yang tersisa terjaga di dalam kereta kuda
ini. Mengingat kejadian tadi, suasananya jadi luar biasa canggung...! Meskipun
aku sudah meminta maaf dengan tulus dan dimaafkan, setiap kali melihat Lily, pemandangan
tadi mau tak mau terus terbayang di benakku.
...Tidak, tidak, tidak
boleh! Kalau kuingat-ingat terus, aku bisa terjebak dalam pikiranku sendiri.
Tubuh anak laki-laki
berusia lima belas tahun yang sedang berada di puncak pubertas ini sungguh
terlalu sensitif.
Apa sebaiknya aku
menggunakan Skill untuk menghapusnya dari ingatanku!?
"...Hei."
Ditegur secara tiba-tiba
oleh Lily, aku refleks tersentak kaget dan hampir melompat.
"Y-ya!? A-ada apa...?"
"Jangan-jangan, kau sedang
mengingat kejadian tadi, ya?"
"Ugh..."
Tepat sasaran. Aku seketika
kehilangan kata-kata.
Lily menyandarkan sikunya di
bingkai jendela, lalu menopang dagu sambil menatapku dengan mata zamrudnya.
Seolah menikmati reaksiku, senyum simpul mengembang di bibirnya.
"Tidak apa-apa, lho? Kau
boleh mengingatnya sebanyak yang kau mau. Dilihat payudaranya bukanlah hal yang
besar. Lagipula, kau dan aku toh akan menikah. Setelah menikah nanti, kau bisa
melihatnya sepuasnya."
"Tidak, tidak mungkin bisa
kulihat sepuasnya juga, kan... Kalau dipikir secara logis, suami yang kapan
saja dan di mana saja menuntut, 'Tunjukkan payudaramu!' itu normalnya sangat
menyebalkan, kan?"
"............Kalau itu kau,
masih bisa kutolerir sedikit."
"Sedikit, ya. ...Lagi
pula."
Aku mengamati ekspresi Lily
dengan saksama. Dia berpura-pura bersikap tenang, tapi jika dilihat lebih
dekat, pipinya tampak merona dan matanya bergerak gelisah. Sepertinya Lily
sendiri pun belum sepenuhnya tenang dari keterkejutannya.
"Um, sekali lagi, aku
benar-benar minta maaf soal tadi. Kalau Lily mau, aku akan benar-benar
melupakan kejadian itu."
"Itu tidak boleh.
Sebaliknya, kau harus mengingatnya terus. Kalau tidak, aku cuma rugi karena
sudah telanjur dilihat."
Rugi karena dilihat... Itu sangat
khas Lily, atau entahlah... Yah, memang sih, kalau aku menghapus ingatan dan
melupakannya sendirian, mungkin itu artinya hanya aku yang merasa lega...
"Lagi pula, aku sedikit
senang melihatmu panik begitu. Habisnya, kukira kau hanya menyukai dada yang
kecil."
"Tidak, bukan
begitu..."
Bukan... saat aku hampir
mengatakan hal itu, tatapanku secara tidak sadar beralih pada dua gadis yang
sedang tertidur di depanku.
Tentu saja, aku tidak memutuskan
menyukai seseorang hanya dari ukuran dadanya. Namun, secara kecenderungan,
gadis yang kebetulan kusukai memang memiliki ukuran yang terbilang sederhana.
"...Jangan-jangan, kau
memang memikirkan hal itu, ya?"
Saat aku bertanya, Lily terdiam,
berhenti menopang dagu, dan membetulkan posisi duduknya.
Kemudian dia bergeser sedikit ke
arahku, dan menyodokkan sikunya keras-keras ke pinggangku.
"Aku benci Suami yang tidak
peka, tahu?"
"Saya sungguh minta
maaf."
"Tapi, benar juga. Bohong
kalau kubilang aku tidak cemas. Soalnya, dari luar pun terlihat jelas kalau kau
sangat tergila-gila pada Tia. Aku terus merasa cemas memikirkan apakah aku akan
benar-benar dicintai sebagai Istri Ke-dua, dan apakah kehadiranku malah akan
mengganggumu dan Tia."
"............Maaf."
"Tidak apa-apa. Setidaknya
aku lega setelah tahu bahwa kau bisa cukup terangsang melihat dadaku."
"Cara merasa lega macam apa
itu...?"
"Ufufu. Lebih baik begitu
daripada terus merasa cemas, kan?"
"Yah, benar juga,
sih..."
Lily melingkarkan lengannya yang
ramping ke bahuku, dan perlahan memberikan tarikan pelan.
Membiarkan diriku terbawa
tarikannya, tubuhku perlahan miring hingga kepalaku bersandar pada paha Lily.
Terasa lembut, dengan kekenyalan yang pas, dan lebih dari segalanya, kehangatan
yang lembut itu terasa sangat nyaman.
"Dadaku tadi, bagaimana
menurutmu?"
"A-apa aku harus mengatakan
kesanku...!? Um, itu... sangat indah."
"Hanya itu?"
"B-besar, dan
sepertinya sangat enak untuk disentuh..."
"Lalu?"
"Lalu!? ...S-sangat
erotis."
Rasanya wajahku saking malunya
sampai mau meledak. Dari sela-sela jari saat aku refleks menutupi wajahku
dengan kedua tanganku, aku bisa melihat Lily yang memerah tersenyum puas.
Jangan-jangan ini adalah cara Lily membalas dendam untuk membuatku merasa sama
malunya seperti dirinya?
Kalau iya, rencananya sukses
besar. Dan sepertinya aku tidak akan pernah bisa melupakan payudara Lily untuk
selamanya. Aku pasti
akan sering teringat secara tiba-tiba, dan menghabiskan malam-malamku dengan
rasa frustrasi. Awas saja nanti kalau kita sudah menikah...
"...Omong-omong soal
Lecty."
"Dalam situasi
seperti ini?"
Aku kebingungan dengan
perubahan topik yang mendadak ini. Rupanya Lily sudah benar-benar puas
menikmati reaksiku. Sambil membelai lembut rambutku dengan ujung jarinya, ia
melanjutkan pembicaraan.
"Besok adalah
giliran Lecty duduk di sebelahmu, kan? Tapi, sepertinya perjalanan dengan
kereta kuda hanya akan berlangsung sampai siang hari saja."
"Ah, begitu, ya.
Jarak antara kota ini dengan kota berikutnya cukup dekat, ya..."
Jarak perjalanan dari
kota berikutnya ke kota setelahnya bahkan lebih pendek daripada hari ini. Lalu,
kota setelahnya lagi memiliki jarak tempuh yang pas-pasan; jika berangkat sejak
pagi buta, belum tentu bisa tiba sebelum matahari terbenam. Jika kami ingin
menghindari berkemah di luar ruangan, besok kami kemungkinan akan tiba di kota
pada siang hari dan langsung menginap di sana semalaman.
"Karena itu, besok
siang aku akan membiarkanmu berduaan saja dengan Lecty. Tia pasti juga akan bekerja sama, jadi bagaimana
kalau kalian berdua pergi berjalan-jalan keliling kota?"
"Boleh juga..."
Aku akan berkeliling melihat kota
bersama Lecty, lalu pada saat yang tepat aku akan memberikannya hadiah dan
melamarnya. ...Oke, mari kita lakukan dengan cara itu.
"Terima kasih sudah
mempertimbangkannya, Lily."
"Sebagai Istri Ke-dua, hal
ini sudah sepantasnya kulakukan. Tolong jaga Lecty baik-baik, ya?"
"Ya, serahkan padaku."
Mendengar jawabanku, Lily tersenyum lembut.
Entah mengapa, ekspresinya itu mengingatkanku pada sosok Ibuku di Punosis
Territory dan ibuku di kehidupan sebelumnya.
"Lily sepertinya akan jadi
ibu yang sangat perhatian, ya."
"............Mesum. 'Aku
akan membuatmu jadi seorang ibu', bukankah itu terlalu frontal?"
"Aku tidak bilang
begitu, aku tidak bilang begitu!"
Sepertinya butuh waktu
lebih lama bagi kami berdua untuk bisa keluar dari kondisi mental yang selalu
mengaitkan segala hal ke arah sana.



Post a Comment