Chapter 4
Tuan Putri Ular Besar
"Kau ini,
ternyata punya sifat adik juga, ya."
"Mau
kubasmi?"
Di tengah
hiruk-pikuk peserta yang keluar-masuk ruang tunggu, saat kulihat ada celah, aku
menyapa Akari.
Namun, yang
kudapat hanyalah tatapan tajam penuh kejengkelan dan jawaban yang cukup
mengancam.
Rupanya, meski
aku sudah mencoba memilih waktu yang tepat, suasana hati Akari masih cukup
buruk.
"Apakah
Kura-san punya kakak?"
"Tidak
punya."
"Ah,
maksudku peserta dari Akademi Libel itu."
Saat aku menjawab
pertanyaan Gareth sembari menimpali ucapan Akari, gadis itu dengan sigap
mengayunkan pedangnya yang masih tersarung dengan kuat ke arahku.
"Akademi
Libel, ya? Itu kedengarannya cukup merepotkan."
"Ya,
dia benar-benar mirip sekali deng――aduh, maaf. Aku sadar tadi terlalu memaksa, bisa tolong
kendurkan kekuatannya?"
Aku berhasil
menahan pedang itu dengan teknik menangkap bilah pedang (shinken-shirahadori),
tapi tekanan yang terus diberikan membuatku sadar kalau ini gawat. Aku pun
buru-buru meminta maaf.
Rupanya, melihat
reaksi Akari, keberadaan kakaknya adalah topik yang sangat sensitif baginya.
Kalau
diingat-ingat, saat kami bertemu di koridor tadi, dia menunjukkan aura membunuh
yang luar biasa.
Jika aku tidak
datang menengahi, mungkin mereka sudah baku hantam di sana.
Yah, kalau bukan
karena Akari yang lebih dulu turun tangan, kemungkinan besar akulah yang harus
baku hantam dengan Kura-san.
"……Yah,
terlepas dari apakah dia benar-benar kakak Akari atau bukan, orang macam apa
dia? Dia belum
bertanding, kan?"
"Orang
berbahaya."
Aku
menjawab pertanyaan Gareth dengan singkat. Mungkin ini yang dinamakan 'buah
jatuh tidak jauh dari pohonnya'.
Penampilan
yang cantik namun menyeramkan, percakapan yang seringkali tidak nyambung, dan
sifatnya yang tiba-tiba menantang orang bertarung—tidak bisa tidak, aku merasa
dia memang mengalirkan darah yang sama dengan Akari.
Berkat
bertemu Akari sebelumnya, aku bisa memahami tindakan anehnya sampai batas
tertentu, jika tidak, mungkin kejadian tadi sudah jadi trauma tersendiri
buatku.
…………Apakah semua
klan dari Timur adalah penggila perang?
"Tepat
sekali, Senior. Kau benar-benar mengerti."
"…………"
Entah karena
setuju dengan penilaiku, Akari mengangguk-angguk. Mengabaikannya, aku bertukar
pandang dengan Gareth tanpa suara.
Apa yang akan
terjadi kalau kukatakan bahwa maksudku adalah dia sangat mirip denganmu?
Apakah
aku akan dibelah dua beneran?
"……Yah,
bagaimanapun juga, dia adalah orang yang lebih baik dihindari."
"Aku jadi
merasa takut……"
"Percayalah,
dia memang menakutkan."
Aku mempertegas
pada Gareth yang bergumam ketakutan membayangkan lawan yang belum pernah ia
temui.
Bukan hanya
kemampuan fisik Kura-san yang tinggi, tetapi juga jumlah energi roh yang tak
terduga—kekuatan yang kurasa dimiliki oleh petarung kelas atas.
Aku sama sekali
tidak ingin bertarung melawannya.
"Wanita itu
akan kubasmi, jadi Senior tidak perlu khawatir."
Mungkin karena
perasaanku terpancar di wajah, Akari menatapku dengan mata tajam sambil
memegang sarung pedangnya. Bagi seseorang yang tidak ingin berurusan dengan
Kura-san sepertiku, itu pernyataan yang sangat melegakan.
Namun, terpilih
di kompetisi adalah soal keberuntungan. Semoga saja Akari yang berhadapan
dengannya, dan semoga aku tidak terpilih di kompetisi yang sama dengannya.
"……Bagaimanapun
juga, tembok Akademi Libel memang tinggi, ya."
Di ujung
pandangan Gareth, layar menampilkan naga putih dan roh-roh kecil yang mengamuk
ke sana kemari bersama Yuma.
"Kuat
sekali, ya……"
Di tengah
festival ini, para pengguna roh dari berbagai sekolah menunjukkan aksi mereka,
tapi memang harus diakui, Yuma Schlaft, Ketua OSIS Akademi Libel, yang paling
menonjol.
"Pantas saja
dia yang dipilih menjadi Ketua OSIS. Kemampuan dasarnya memang beda
kelas."
"Ya, dia
tidak punya celah sama sekali."
Bukan karena dia
memiliki kemampuan roh yang aneh, tapi Yuma adalah pengguna roh tipe all-rounder
dengan kemampuan dasar yang luar biasa tinggi.
Dalam Festival
Penampilan Roh Agung ini, di mana setiap peserta harus berhadapan dengan lawan
di berbagai situasi, kemampuan itu menjadi keuntungan mutlak.
"Kalau kau
bisa membuat kontrak dengan roh, kau juga bisa jadi seperti itu, kan?"
"Terserah
kau saja."
Saat aku membalas
ucapan Gareth dengan nada kesal, sinyal akhir kompetisi berbunyi. Seperti
dugaan, Akademi Libel yang dipimpin Yuma meraih juara pertama, sementara
Akademi Yutrea berakhir di posisi ketiga. Hasil yang kurang memuaskan.
"Selisih
poinnya mulai melebar, ya."
"Begitulah."
Aku
mengangguk pada Gareth sambil menatap papan skor. Meski kami masih bertahan di posisi kedua, selisih
poin terus bertambah.
Juara bertahan
memang tidak main-main. Bahkan saat sekolah lain meraih posisi pertama, Akademi
Libel hampir selalu berada di tiga besar, membuat posisi mereka tidak
tergoyahkan.
"Aku ingin
setidaknya sekali meraih posisi pertama di sini."
Aku
bergumam sambil menatap papan skor. Selisih poinnya bukan berarti mustahil
dikejar, tapi jika tidak segera diperkecil, festival ini mungkin berakhir
sebelum kami bisa menyusul.
"Dan kalau
kita bisa membuat Akademi Libel jadi juru kunci, selisihnya akan tertutup
seketika."
"Kalau itu
bisa dilakukan, kita tidak akan sesusah ini."
Aku
tersenyum kecut menanggapi Gareth. Jika kami juara satu dan mereka juru kunci, poin memang akan tertutup. Tapi
ini bergantung pada performa sekolah lain juga; itu di luar kendali kami.
"Lelahnya……"
"Parah
banget……"
Saat kami
mengobrol, Lily dan Seria kembali ke ruang tunggu dengan wajah kelelahan.
"Selamat
datang kembali, Lily, Seria."
Gareth
mencoba menyemangati mereka, tapi mungkin karena terlalu lelah, keduanya tidak
membalas dengan baik dan malah menghempaskan diri ke sofa.
"Pria itu,
ada apa dengannya!? Padahal sudah kupisahkan dari rohnya, kenapa kekuatannya
tidak menurun sama sekali!?"
"Menyebalkan……"
Suara amarah
Seria dan keluhan Lily bergema di ruang tunggu, membuat peserta lain menatap
mereka dengan tatapan iba.
"Kenapa hal
seperti ini selalu terjadi saat giliranku……"
"Sudahlah,
kau sudah berjuang keras."
Aku menghibur
Lily yang tampak menyesal sambil mengalihkan pandangan ke layar. Dadu telah
dilempar, kompetisi dan lokasi telah ditentukan.
"Lokasinya
di Makam Roh Moga. Kompetisinya adalah Crown Capture……"
Ringkasnya, ini
adalah perlombaan mencari mahkota yang tersembunyi di labirin yang dipenuhi
roh-roh berbahaya. Aku tidak mau ikut……
『Kompetisi kali
ini akan berakhir segera setelah tim pertama mendapatkan mahkota. Semua tim
selain yang juara satu akan dianggap sebagai peringkat terbawah.』
"Oh."
"…………"
Gareth
mengeluarkan suara kaget, dan aku pun menyipitkan mata mendengar penjelasan
itu.
Apakah ini yang
disebut 'bicarakan setan, maka dia akan muncul'?
Agak terasa
terlalu kebetulan, tapi ini adalah kesempatan bagi kami untuk mengejar poin
dari Akademi Libel. Aku berharap Misha ikut serta demi kemenangan yang pasti,
tapi…………
"………Kenapa
aku!?"
Aku meratap
melihat sarung tangan yang bersinar di tanganku. Kenapa selalu aku yang
terpilih di saat-saat krusial seperti ini?
"Hmm, aku
juga terpilih."
"Ah, aku
juga."
Melihat ke arah
suara itu, Gareth dan Akari rupanya juga terpilih. Setidaknya, aku lega karena
tidak sendirian.
"Semuanya,
mohon bantuannya."
"Tuh dengar,
Gareth."
"Ke mana
perginya semangatmu yang tadi?"
Aku menepuk bahu
Gareth sambil menyindirnya setelah Misha memberi dukungan, namun Gareth
membalas dengan tatapan bosan.
"Sudah
kulupakan."
Mungkin itu tadi
hanya dorongan sesaat. Lagipula, dengan rekan sehebat Gareth dan Akari, aku
tinggal serahkan saja pada mereka――――.
"Senior,
semangat! Aku mendukungmu!"
"……Ah,
serahkan saja padaku."
Mendapat dukungan
dengan mata yang berbinar-binar dari Leia, aku memejamkan mata sejenak, lalu
memberikan senyum yang mungkin terlihat agak kaku.
"Hei."
"Tidak,
maksudku, lihatlah……"
Aku mengalihkan
pandangan dari tatapan tajam Gareth sambil mencari alasan.
Bahkan jika itu
berasal dari kesalahpahaman, setelah mendapat dukungan seperti itu dari adik
kelas, aku tidak punya pilihan selain berusaha.
"……Yah,
setidaknya punya niat untuk berusaha itu hal yang bagus."
"Senior, ayo
cepat pergi."
Aku meninggalkan
ruang tunggu bersama Gareth yang mendesah panjang, mengikuti Akari.
*****
"Masa cuma
kita yang pesertanya dari luar akademi yang berjumlah satu orang?"
"Memangnya
mungkin seperti itu?"
Seperti perkiraan
Gareth, saat melihat sekeliling, ternyata setiap sekolah memiliki sekitar dua
sampai tiga peserta.
Yah, tentu saja
situasi yang terlalu menguntungkan seperti itu tidak akan―――.
"Eh,
Aleas-kun juga ikut?"
Aku berbalik
dengan kecepatan maksimal saat mendengar suara yang menakutkan itu.
Di sana, gadis
cantik yang kukenal, Tsukikage Kura, sedang tersenyum ke arahku.
"…………"
"Ara, kau
membuatku sedih kalau menatapku dengan wajah seperti itu."
Rupanya
perasaanku terlalu jelas terlihat di wajah.
Sama seperti
sebelumnya, dia mengucapkan kalimat yang sama sekali tidak sinkron dengan
ekspresinya.
"Begitu,
jadi ini orangnya……"
"…………"
Di sampingku,
Gareth mengangguk seolah mengerti, sementara Akari di sampingnya sudah
mencengkeram gagang pedangnya, siap untuk menebas kapan saja.
"Tenanglah,
Akari. Kau tidak perlu terburu-buru, nanti aku akan menebasnya dengan
benar."
"―――!!"
"Hentikan,
jangan terpancing provokasinya."
Aku menahan
tangan Akari yang refleks hendak mencabut pedangnya dengan tangan yang sudah
diperkuat energi roh.
Jika membuat
keributan di sini, kami bisa langsung didiskualifikasi. Itu yang harus
dihindari.
"Benar kata
Kura-san. Kalau mau menghajar, lakukan saja nanti saat kompetisi. Tidak perlu
terburu-buru sekarang."
"…………Benar
juga. Kau benar, Senior."
Mendengar
ucapanku, Akari menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Maaf,
itu tidak seperti diriku."
"Minta maaf
pun masih tidak seperti dirimu."
Akari menyikut
rusukku setelah aku berkata begitu. Sepertinya dia sudah kembali ke mode
biasanya.
"Hebat juga
ya."
"Aku butuh
Akari untuk tampil maksimal di kompetisi nanti."
Aku menjawab
bisikan Gareth. Aku butuh Akari dalam kondisi prima agar aku bisa lebih santai.
"Anak itu
sepertinya sangat menyukaimu, ya."
"……Yah,
mungkin dia lebih menyukaiku daripada menyukaimu."
Kura
tersenyum lebar saat aku membalasnya. Aku bermaksud menyindirnya sedikit, tapi
sepertinya dia malah senang.
"Fufu,
sampai bertemu lagi nanti."
"Tidak,
terima kasih. Saya menolak."
Aku menolak
ajakan Kura sebelum dia pergi.
Aku benar-benar
tidak ingin bertemu dengannya lagi, dan kalau bisa, aku berharap ada orang lain
yang mengalahkannya sebelum dia bertemu denganku.
『Selanjutnya,
kami akan memulai perpindahan. Mohon para peserta menunggu di tempat.』
Bersamaan dengan
itu, teleportasi ke Makam Roh Moga dimulai. Aku menjangkau Yorishiro-ku
agar bisa langsung bergerak begitu sampai………… eh.
"…………"
"Ada apa,
Rourke? Wajahmu pucat sekali?"
Di tengah cahaya
silau dari teknik teleportasi, aku mengucapkan sebuah fakta dengan suara
bergetar.
"……Hah?"
Melihat ekspresi
Gareth yang tercengang adalah hal terakhir yang kulihat sebelum pandanganku
tertutup sepenuhnya oleh cahaya.
*****
"Eh?"
"Ada apa,
Lily?"
"Ini……"
Lily memungut
benda dari sofa yang biasa digunakan Rourke sebagai Yorishiro berbentuk
gulungan.
"Kenapa
benda sepenting ini ada di sini!? Kontrak sederhana kan keahliannya,
bukan!?"
"Kalau
diingat-ingat, dia tadi sempat memeriksa roh yang disegel di Yorishiro…
jangan-jangan dia lupa membawanya?"
"Tidak
mungkin dia melakukan kesalahan sebodoh itu……"
"……Artinya,
Senior Rourke sedang tidak bersenjata?"
Keheningan yang
berat menyelimuti ruang tunggu setelah Leia mengonfirmasi hal tersebut.
Rourke Aleas adalah petarung all-rounder yang
memadukan ilmu pedang dengan berbagai macam ilmu roh.
Itu adalah
satu-satunya hal yang jelas tentang kemampuannya. Bahwa dia melupakan Yorishiro-nya……
"Jangan-jangan
dia akhirnya akan mengeluarkan kekuatan aslinya?"
Suara Kei Tralus
memecah keheningan. Di
tengah kebingungan semua orang, dia berbicara dengan tenang.
"Ini
adalah pertandingan penting yang menentukan kemenangan festival. Aku tidak
percaya dia akan menghadapinya tanpa strategi. Kalian yang pernah
melihat pertandinganku dengannya pasti tahu, kan?"
"I-itu, memang…… tapi……"
"Mari kita
percaya padanya."
Saat peserta lain
masih ragu, suara tenang Misha terdengar.
"Seperti
yang dikatakan Kei Tralus, Rourke Aleas bukanlah orang bodoh yang bertarung
tanpa rencana, dan bukan pula pengecut yang menyerah sebelum pertandingan
dimulai."
Misha menatap
sekeliling.
"Mari kita
percaya dan saksikan apa yang akan dia lakukan."
"…………"
Mendengar
kata-kata Misha, Leia menggenggam tangannya erat, menatap layar dengan tekad
untuk menyaksikan aksi senior yang dikaguminya.
*****
"Bagaimana
ya caranya untuk mengundurkan diri dari kompetisi ini?"
Tiba di Makam Roh
Moga, aku menanyakan hal itu pada diriku sendiri dengan wajah serius.
Sepertinya aku
harus menggunakan batu penyegel untuk dilindungi oleh roh dan dievakuasi dari
labirin ini.
"Tidak,
rasanya tidak enak kalau langsung mundur…… tapi, situasi ini sudah tidak bisa
diajak kompromi lagi……"
Situasinya
terburuk. Ternyata teleportasi ini dilakukan secara personal, dan aku terjebak
sendirian di labirin yang penuh dengan roh liar dan peserta elit dari berbagai
sekolah.
Apalagi,
aku lupa membawa Yorishiro-ku, jadi aku benar-benar tanpa senjata.
Aku
memang bisa membuat kontrak sementara dengan roh liar, tapi tanpa hubungan
dengan roh saat ini, aku bahkan tidak bisa mengeluarkan bola api kecil.
Dalam
kondisi ini, aku bahkan mungkin kalah melawan roh liar yang mendekat, apalagi
peserta dari sekolah lain. Mungkin roh liar yang menyerang tanpa ampun justru
lebih berbahaya.
Situasinya
benar-benar terjepit. Tapi……
"Tunggu
dulu……"
Aku memikirkan
kembali tujuan kompetisi ini.
Tujuannya adalah
mengambil mahkota, dan pertarungan hanyalah alat.
Artinya, selama
aku bisa menghindari musuh dan menemukan mahkotanya, peluang menang masih ada.
Masih terlalu dini untuk menyerah.
"Kalau
begitu………"
Aku memusatkan
kesadaran untuk melacak energi roh di sekitar.
"Baik,
ke sana……"
Seperti
dugaan, aku mendeteksi beberapa energi roh yang berkeliaran di dekat sini.
Aku pun
mulai bergerak dengan sangat hati-hati, menuju arah dengan reaksi energi roh
paling minim.
Dengan
begitu, aksi pengintaianku pun dimulai.
*****
"Ugh…… ah……"
"……Masih mau lanjut?"
Akari menanyakan hal itu sembari menancapkan pedang di
tenggorokan peserta dari Akademi Krust yang terkapar di tanah.
Di sisinya, terlihat sesosok roh yang tubuhnya telah
terbelah menjadi dua, sementara si peserta sendiri menderita luka sayatan yang
merembeskan darah di bahu hingga ke dadanya.
Tidak perlu ditanya lagi, jelas bahwa peserta yang roh
kontraknya telah dikalahkan dan dirinya sendiri menderita luka serius tidak
mungkin bisa melanjutkan pertarungan.
"……Ku……so!"
Peserta itu menggerutu penuh penyesalan lalu melepaskan Batu
Penyegel yang diberikan kepadanya.
Sesaat kemudian, muncul sesosok roh yang tampak seperti
ksatria dengan baju zirah lengkap.
Roh itu dengan sigap menggendong peserta yang tumbang, lalu
berlari menuju arah yang sepertinya merupakan jalan keluar.
"…………"
Akari memandangi kepergian mereka dengan raut wajah tidak
tertarik, lalu menyarungkan pedangnya dan mulai berjalan kembali.
"Selanjutnya…… mungkin lewat sini."
Setelah berjalan
beberapa saat, Akari sampai di sebuah persimpangan.
Ia memeriksa
energi roh di sekitarnya dan memilih jalan yang mengarah ke tempat yang
memiliki reaksi energi roh.
Namun……
『Gaaaaaaa!』
"……Haa."
Menghela napas
karena ternyata pemilik energi roh itu bukan seorang peserta melainkan roh liar
yang menghuni labirin, ia kembali mencabut pedangnya.
Yang muncul
adalah Rock Drake, roh tingkat menengah berbentuk seperti kadal dengan
cangkang luar keras yang menyerupai batu.
Karena spesies
ini memang menyukai gua dan tempat berbatu, kehadirannya di sini tidaklah aneh,
tapi……
"Bukankah
ini terlalu banyak?"
『Gwoooooooo!』
Raungan terdengar
tepat saat Akari, yang sudah berhadapan dengan tiga Rock Drake
sebelumnya, bergumam demikian.
Sambil
memperhatikan Rock Drake yang melancarkan serangan serudukan dengan
memanfaatkan tubuhnya yang keras, Akari melompat dan mendarat di punggung
monster itu, lalu mengubah posisi pegangan pedangnya menjadi Reverse Grip.
"Cangkang Rock
Drake itu keras, serangan biasa tidak akan mempan, tapi……!"
『Ga!?』
Pedang Akari yang
diarahkan dengan presisi menembus celah cangkang dan menghujam daging di
dalamnya.
"Serangan
dari dalam adalah kelemahan mutlakmu."
『Gwoooooooo!?』
Seiring dengan
kata-kata itu, Akari mengalirkan energi roh ke bilah pedangnya.
Seketika itu
juga, api biru menyembur dari tubuh yang tertutup cangkang tersebut, dan Rock
Drake itu pun musnah dengan teriakan terakhir.
"……Benar-benar,
ada terlalu banyak roh di sini."
Termasuk Rock
Drake yang baru saja dikalahkan, Akari telah menyingkirkan enam roh liar
dan dua peserta sejauh ini.
"……Merepotkan
sekali."
Ia ingin segera
menuju ke tempat Kura, tetapi karena terlalu banyaknya roh liar dan
ketidakmampuannya dalam teknik pelacakan, Akari tidak bisa mengidentifikasi
mana energi roh yang merupakan miliknya.
Untuk saat ini,
ia hanya mendatangi setiap reaksi energi roh yang tertangkap sensornya, namun
ia tak kunjung menemukannya.
Andai saja wanita
itu memanggil roh kontraknya, setidaknya ia bisa melacaknya berdasarkan skala
energi rohnya, tapi sejauh ini, entah karena menghindari pertempuran atau
alasan lain, setiap reaksi energi roh terasa seragam dan sulit dibedakan.
"Yah, mau
bagaimana lagi, harus mencarinya satu per satu di sekitar…… hm?"
Karena
pertarungan telah usai, Akari mulai melakukan pelacakan lagi dan menyadari tiga
reaksi energi roh yang sedang mendekat ke arahnya.
Dilihat dari cara
geraknya, itu bukan roh. Berarti itu adalah peserta.
Dan jika energi
roh yang menyertainya bukan roh kontrak, maka setidaknya ada dua orang atau
lebih.
"……Bagaimana ya?"
Menghadang atau mundur? Setelah ragu sejenak, Akari memutuskan.
"Yah,
rasanya tidak benar kalau aku lari."
Sambil
berkata begitu, Akari bersiap dengan pedangnya menghadapi lawan yang datang
dari depan.
Secara
logis, jika kemungkinan harus melawan banyak orang sekaligus, pilihan terbaik
adalah mundur untuk bergabung dengan rekan-rekannya dan menyerang bersama
bertiga. Namun, Akari tidak punya niat untuk mundur di sini.
"Nah,
apa yang akan muncul, ya?"
Saat
Akari bergumam menunggu, suara langkah kaki mulai terdengar.
Saat ia
memicingkan mata ke depan, terlihat seekor roh besar berbentuk kadal dengan
sisik abu-abu, Ash Lizard, sedang berlari membawa dua orang pria dan
wanita yang mengenakan seragam yang tampak seperti milik Akademi Drakonia.
"Drakonia……"
Begitu
melihat musuh, Akari yang telah memperkuat tubuhnya dengan energi roh langsung
merendahkan posisi untuk menyerang, namun ia menyadari keanehan pada penampilan
mereka.
"……Luka?"
Karena
tempatnya remang-remang, ia tidak menyadarinya di awal, tetapi jika
diperhatikan dengan teliti, sisik abu-abu Ash Lizard tersebut banyak
yang terkelupas dan darah menetes darinya.
Selain
itu, dua orang di atasnya pun tampak terluka dengan seragam yang robek di
sana-sini, dan napas mereka terengah-engah.
Tampaknya
mereka sedang dalam perjalanan mundur setelah bertarung dengan seseorang.
"Pendatang
baru!?"
"Padahal
situasinya sedang gawat sekarang……"
"Aku
sebenarnya tidak suka memanfaatkan situasi orang lain, tapi……"
Menghadapi dua
orang yang berteriak dengan wajah penuh keputusasaan saat ia menghalangi jalan
mereka, Akari merasa sedikit bersalah.
Namun, karena
tidak punya alasan untuk melepaskan mereka, ia melompat dengan kuat, melewati Ash
Lizard, dan mengayunkan pedangnya ke arah keduanya.
"Ku!"
Peserta wanita di
antara mereka dengan sigap mengarahkan tombak yang dipegangnya seperti perisai,
menahan pedang Akari dengan gagang tombaknya.
"Haa!"
"Ups."
Tombak itu
diayunkan secara menyapu, membuat Akari terlempar. Ia mendarat di tanah dengan satu putaran di
udara dan bersiap menyerang lagi――.
"Sial,
kami tidak punya waktu untuk meladenimu sekarang! Minggir!!"
Saat
Akari mengerutkan kening karena tidak mengerti maksud mereka, peserta wanita
itu berteriak dengan nada panik.
"Kalau
begitu, silakan singkirkan aku dengan paksa."
"Bukan
waktunya untuk bertarung sesama peserta! Lagipula, jika kau tetap di sini, kau
juga akan―――!!"
Saat peserta
wanita itu hendak melanjutkan kata-katanya kepada Akari yang menolak untuk
minggir, sesuatu terjadi.
Tiba-tiba, semua
orang di sana merasa seolah-olah tubuh mereka tenggelam ke dasar laut yang
dalam, membuat mereka membeku sesaat.
"Tekanan
ini……"
Akari, yang
mengenali sensasi ini, segera memanggil roh kontraknya begitu ia bisa bergerak
kembali. Ia
mengabaikan dua orang di depannya dan mengalihkan kesadarannya ke sekeliling.
Peserta
dari Akademi Drakonia, yang menyadari bahwa perhatian Akari tidak lagi tertuju
pada mereka, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Mereka
memberi instruksi pada Ash Lizard untuk memanjat dinding labirin dan
berlari melewatinya.
"Maaf
ya, gantikan kami menghadapi monster itu!"
"Siapa
yang kau panggil monster?"
『!?』
Hanya
sekejap. Begitu suara dingin yang menusuk seperti es itu bergema, Ash Lizard
menuruti insting bertahan hidupnya dan melompat menendang dinding.
Di saat
para pemilik roh pun masih terkejut dengan gerakan mendadak tersebut, dinding
tempat Ash Lizard tadi merayap tiba-tiba retak.
"Na!"
Disusul
oleh guncangan yang menggetarkan seluruh labirin, dinding tersebut runtuh
dengan suara gemuruh. Dari balik reruntuhan, sesosok naga-ular bersisik putih
muncul.
『Shyaaaaaaa!』
Mata ular
tajam yang bersinar misterius, tubuh yang tertutup sisik putih murni yang
berkilauan di tengah labirin yang suram, dan lima leher panjang yang menjulur
dari tubuhnya. Penampilannya tampak terkutuk namun sekaligus terasa agung.
"Orochi……"
Dihadapkan
dengan roh yang benar-benar layak disebut monster, Akari menyebutkan namanya
dengan perasaan sedikit tertekan.
"Sudah
selesai main petak umpetnya?"
Suara
dingin itu bergema kembali. Salah satu dari lima kepala Orochi mengayun dengan
kuat, melemparkan sesuatu yang ia gigit di mulutnya.
Saat
Akari mengalihkan pandangan ke benda yang jatuh berdebam ke tanah, ia melihat
roh Wyvern yang sudah mencapai batasnya dan hampir terkirim kembali.
"Kuso……"
"……!"
Di
samping peserta pria yang menggertakkan gigi karena frustrasi melihat Wyvern-nya,
peserta wanita itu memasang wajah penuh kebencian sambil mengacungkan
tombaknya.
"……Ara,
Akari. Kau ada di sana, ya."
Gadis yang
mengenakan seragam Akademi Libel perlahan muncul dari balik tubuh Orochi.
Begitu menyadari keberadaan Akari, Tsukikage Kura tersenyum.
"Kura!"
"Tunggulah
di sana sebentar. Aku
akan segera membereskan ini dan menemanimu."
"!
Jangan meremehkanku!!"
Melihat
sikap Kura yang seolah menganggap mereka tidak ada, para peserta Akademi
Drakonia berteriak marah dan melancarkan serangan.
"Bodoh
ya."
Bersamaan
dengan ejekan Akari terhadap tindakan mereka, Orochi yang berada di belakang
Kura bergerak.
Orochi
menangkis serangan tombak yang diarahkan ke Kura dengan menggerakkan ekornya
seperti dinding.
Ia
kemudian mengayunkan ekornya untuk memukul mundur peserta lain yang mencoba
merapal sihir dari arah belakang.
『Shya!』
『Gii…… ga……!?』
Selanjutnya, saat Ash Lizard mencoba menerkam, Orochi
menggigitnya dengan tiga rahangnya, mengunci gerakannya di udara.
Ash Lizard berusaha melawan, namun gerakannya perlahan melemah hingga akhirnya ia memutar bola matanya dan tak lagi bergerak.
"Sudah menyerah sekarang?"
"Ugh... keparat..."
Saat Akari menodongkan pedangnya ke leher peserta Akademi
Krust yang terkapar di tanah, tatapan si peserta tertuju pada sosok Orochi yang
memancarkan cahaya energi roh dari mulutnya.
"……Baiklah. Aku menyerah."
"Bagus, itu keputusan bijak."
Menyadari bahwa satu tembakan dari energi roh yang terkumpul
di mulut Orochi bisa merenggut nyawanya, peserta Akademi Drakonia itu saling
bertukar pandang lalu menggunakan Batu Penyegel untuk mundur dari
kompetisi.
"Nah, kalau begitu... hup."
"Cih!"
Setelah melepas kepergian peserta Akademi Drakonia dan
hendak kembali menatap adiknya, Kura melompat menghindar dengan mulus saat
melihat bilah pedang yang entah sejak kapan sudah berada tepat di depan
matanya.
"Habisi dia."
『Gaaaa!』
Akari sudah membaca gerakan serangan kejutan tersebut, namun
Kura dengan santai menghindarinya dan memberikan perintah singkat pada Orochi.
Roh kontraknya pun dengan sigap melepaskan gumpalan energi
roh berkonsentrasi tinggi yang tadi tidak jadi ditembakkan ke peserta lain,
kini diarahkan langsung kepada Akari.
"!"
Cahaya kehancuran
yang mendekat seketika menelan pandangan Akari.
*****
Sementara
berbagai energi roh, besar maupun kecil, terus muncul dan menghilang di seluruh
penjuru labirin, aku—Rourke Aleas—yang sedang melakukan Sneaking tanpa
pernah sekalipun terlibat pertarungan, kini terdiam sambil mengucurkan keringat
dingin.
"Siapa sih
yang bikin keributan seheboh ini? Ngeri banget..."
Aku
menggumam ketakutan setiap kali mendengar suara ledakan dan getaran labirin
yang berulang kali terjadi.
Aku tidak
tahu siapa pelakunya, tapi sepertinya ada pengguna roh yang sangat kuat sedang
bertarung di tempat yang tidak terlalu jauh dari sini.
Haruskah
aku menggunakannya?
Meskipun
jaraknya cukup jauh dari pusat pertempuran, tekanan yang terasa di kulit
membuat opsi untuk menyerah terlintas di kepalaku.
"Enggak,
rasanya aneh banget kalau aku menyerah di situasi begini..."
Memalukan
rasanya jika harus terlihat menggunakan Batu Penyegel padahal aku tidak
terluka atau sedang dalam situasi kritis yang nyata.
Yah,
kenyataannya memang dari awal aku sudah berada di situasi kritis sih...
"......Sepertinya
aku tidak punya pilihan selain lanjut."
Untungnya,
meskipun ada reaksi energi roh di sekitar, jaraknya masih cukup untuk
menghindari kontak langsung.
Kalaupun aku
diincar, selama bukan roh bertipe kecepatan, aku yakin bisa melarikan diri
dengan berlari sekuat tenaga.
"Pokoknya,
aku harus tetap waspada dengan pergerakan di sekitar..."
Tanpa mematikan
kemampuan pelacakanku, aku terus maju menembus labirin sambil memantau dinamika
energi roh di sekeliling.
"......Hm?"
Saat aku terus
bergerak menjauhi setiap reaksi energi roh, aku tiba-tiba berhenti dan
merasakan keganjilan pada satu reaksi yang berada tak jauh dari posisiku.
"Energi roh
ini..."
Setelah mengamati
sejenak, aku mendapatkan keyakinan akan keganjilan yang kurasakan, lalu bimbang
antara harus memeriksanya atau tidak.
"Ah, tapi ya
sudahlah..."
Arah reaksi
energi roh itu sangat dekat dengan lokasi di mana dua peserta sedang bertarung
sengit saat ini. Jika aku asal mendekat, bisa saja aku terkena imbas
pertarungan tersebut...
"Jangan jadi
pengecut, Rourke!"
Aku menepuk
pipiku sendiri untuk menyemangati diri. Meski tidak rela, aku adalah salah satu
perwakilan Akademi Yutrea, jadi aku tidak bisa terus-terusan gemetar dan lari
hanya karena tidak membawa Yorishiro.
"......Oke,
ayo pergi... ah."
Begitu
membulatkan tekad, aku mencoba menuju medan pertempuran yang suara dentumannya
masih terdengar, namun terlambat menyadari reaksi energi roh yang ternyata
sudah mendekat dari belakang.
Saat aku
buru-buru menoleh, tanah berderit keras dan dari sana muncul sesosok roh yang
tampak seperti campuran antara tanaman bertaring dan reptil.
Roh kayu
tingkat tinggi, Hell Plant. Sepertinya dia memang menghuni labirin ini,
dan dengan mata tunggalnya, dia menatap tajam ke arahku.
『............』
"............"
Di tengah
keheningan yang menyesakkan, aku perlahan mundur selangkah demi selangkah tanpa
memalingkan pandangan, berusaha agar tidak memprovokasi Hell Plant itu.
『............』
Aku
berhasil membuka jarak beberapa langkah dengan cara itu, dan aku sempat menaruh
harapan tipis bahwa roh ini mungkin cukup tenang meski penampilannya
mengerikan―――――.
『Gwoooooooo!!』
"Sudah
kuduga bakal beginiii!!"
Begitu
aku melangkah menjauh sekitar sepuluh langkah, Hell Plant itu sepertinya
kehilangan kesabarannya dan meraung, yang langsung kujawab dengan berlari
sekuat tenaga.
*****
"Begitu
aku merasakan energi roh yang besar dan datang kemari, aku tidak menyangka
ternyata kalian."
"......Gareth-senpai."
Saat
cahaya dan guncangan mereda, pemandangan yang menyambut Akari ketika membuka
mata adalah Gareth yang tengah bersiaga dengan Magic Sword-nya di tengah
kepulan debu dan pecahan es, bersama Beowulf yang berjaga di sampingnya.
"Bukan
main."
"Padahal
tadi hampir saja berbahaya."
Kura memberikan
pujian setelah melihat serangan Orochi berhasil ditahan, yang dibalas Gareth
dengan senyum kecut sembari menyapu debu di sekitarnya dengan pedang.
Meskipun sudah
membuat pertahanan ganda dengan dinding es milik Beowulf, lengannya yang
menerima benturan masih terasa mati rasa. Kalau serangan itu mengenai sasaran
secara langsung, habislah sudah.
"Kura-san,
apakah kau terluka?"
"Tidak,
terima kasih."
"Sama-sama."
Gareth sedikit
terkejut mendengar Akari mengucapkan terima kasih dengan jujur, lalu ia kembali
mengalihkan pandangan ke arah Kura dan Orochi.
Dihadapkan dengan
sepuluh mata ular yang melotot dan aura roh yang mengerikan, Gareth hanya bisa
tertawa getir sambil mengucurkan keringat dingin.
Tidak peduli
bagaimana melihatnya, lawannya berada di tingkatan yang lebih tinggi.
Setidaknya dari
segi kualitas roh, lawan jelas jauh di atas.
Gareth tidak bisa
tidak berpikir bahwa mereka mungkin sudah melampaui kelas tertinggi dan hampir
mencapai tingkat dewa, yang membuatnya berpikir untuk melarikan diri sesegera
mungkin.
Dia memang masuk
ke sini untuk membantu Akari, tapi memenangkan kompetisi ini tidak mengharuskan
mereka mengalahkan Kura. Sebaliknya, menghindari pertarungan justru bisa
menjadi kunci kemenangan.
"Akari."
"Gareth-senpai,
pergilah."
Gareth baru saja
akan menyarankan untuk mundur, namun seolah bisa membaca pikirannya, Akari
memotong pembicaraan untuk mengakhirinya.
"Tapi..."
"Aku harus
menebas wanita itu di sini."
"............"
Entah apa yang
terjadi di antara mereka, tapi pasti ada dendam mendalam.
Gareth bisa
merasakan tekad yang tak tergoyahkan dari setiap kata-kata yang diucapkan
Akari, membuatnya terdiam.
"......Apakah
kau punya peluang menang?"
"Setidaknya,
aku tidak berniat kalah."
Akari
berkata demikian, tapi apakah dia bisa menang jika bertarung sendirian?
Memang
dia tidak tahu seberapa kuat Akari sebenarnya, tapi melawan Kura yang
mengendalikan Orochi di depannya, harapan untuk menang rasanya sangat tipis.
"......Sialan
dia."
Selain
itu, Gareth masih mengkhawatirkan satu peserta Akademi Yutrea lainnya yang
tidak ada di sini: Rourke Aleas.
Seorang
pengguna roh unik yang tidak memiliki roh kontrak, namun kekuatannya berada di
level puncak akademi.
Sialnya,
di kompetisi ini, dia melakukan kecerobohan yang luar biasa dengan lupa membawa
Yorishiro yang berisi roh untuk kontrak sederhana.
―――Apakah dia baik-baik saja?
Karena kemampuan fisiknya tinggi, kupikir dia tidak akan
mudah dikalahkan selama terus menghindar, tapi kecemasan itu tetap tak bisa
hilang.
Bahkan ada kemungkinan dia sudah menyerah dan mundur dari
kompetisi karena merasa tidak sanggup tanpa Yorishiro. Malah kemungkinan
itu jauh lebih besar.
Jika Rourke sudah mundur, berarti yang tersisa hanya dia dan
Akari. Jika begitu, masuk akal jika
dia menyerahkan Akari di sini dan pergi mencari mahkota, tapi―――.
"......Senpai?"
Saat Gareth
perlahan menyiagakan pedangnya, Akari memanggil, yang dijawab Gareth dengan
sebuah senyuman.
"Maaf, tapi
sebagai pria dari keluarga Orott, aku tidak bisa meninggalkan seorang gadis
sendirian."
"Itu
berbahaya."
"Kau ini,
bisa-bisanya bicara begitu. Kau sendiri, jangan sampai jadi beban ya."
Sembari saling
melontarkan candaan, mereka memasuki posisi tempur. Kura, yang sedari tadi diam
memperhatikan, akhirnya melangkah maju.
"Sepertinya
kalian sudah menentukan keputusan."
Begitu Kura
bergumam, salah satu kepala Orochi mendekat ke arahnya dan memuntahkan sebilah
pedang dari mulutnya.
"Baiklah,
maju saja sekalian."
Tanpa ragu, Kura
meraih gagang pedang yang dimuntahkan Orochi dan mengarahkan ujungnya ke arah
mereka berdua dengan tatapan menantang.
"......"
Setelah ucapan
Kura, keheningan yang menyesakkan menyelimuti area tersebut. Di tengah
ketegangan yang seolah bisa pecah kapan saja, saat itu akhirnya tiba.
Suara kerikil
yang jatuh ke tanah menjadi sinyal, dan sosok ketiga pengguna roh tersebut
lenyap seketika.
Menggema di dalam
labirin, ketiga orang yang memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata itu mulai
beradu pedang dengan kecepatan tinggi.
『Shyaaaa!』
『Gwoooo!』
『......』
Sesaat kemudian,
roh kontrak mereka pun ikut bergerak menyusul tuannya.
Beowulf, yang
memegang pedang es di mulutnya, bergerak lincah menendang dinding dan
langit-langit labirin untuk menyerang Orochi.
Akari dan roh
yang mirip dengannya mengikuti dari belakang, menyelimuti bilah pedang mereka
dengan api biru.
Menanggapi
keduanya, Orochi merespons dengan empat kepalanya, sementara satu kepala
lainnya mundur ke belakang untuk mengamati situasi dari atas.
『Shya!』
『!......Guga!』
Beowulf
menghindari aliran air bertekanan tinggi yang dimuntahkan dari mulut Orochi
dengan gesit, namun sesaat kemudian ia dihantam oleh tandukan kepala Orochi di
bagian rusuknya hingga terpelanting.
『Shya!』
Kelima kepala
Orochi masing-masing memiliki kemampuan berpikir dan bisa saling berbagi
pikiran.
Karena instruksi
dari kepala yang mengamati situasi, empat kepala lainnya mampu melakukan
serangan, pertahanan, penghindaran, hingga dukungan kepada tuannya dengan
sangat presisi.
"Hahaha!
Menyenangkan sekali!"
Kura tertawa
dengan ekspresi yang menunjukkan betapa dia menikmati pertarungan ini sembari
menangkis serangan yang dilancarkan ke arahnya satu demi satu.
"Ha!"
Akari menyerang
dari samping, namun Kura dengan tenang menangkisnya dengan pedang miliknya
sendiri, lalu mengalihkan pandangan ke arah pedang sihir yang diayunkan dari
atas.
"Hup."
"Jangan
harap bisa kabur."
Kura melompat
mundur untuk menghindari serangan susulan, namun Gareth segera melakukan
pengejaran.
Ia mencoba
melepas sebagian kekuatan Magic Sword-nya dan melepaskan tebasan yang
diselimuti petir ungu―――.
"Guh!?"
Saat Gareth
hendak mengayunkan pedangnya, ekor Orochi menyambar dari titik buta dan
menghantamnya ke tanah sebelum dia sempat menghindar.
"Ya ampun,
terlalu protektif."
Kura sempat
menggerutu karena campur tangan Orochi yang dianggapnya sebagai gangguan, lalu
mengayunkan pedangnya ke belakang.
"......!"
Di sana, Akari
yang mencoba menyerang dari belakang terkejut melihat serangan Kura yang tak
terduga, meski ia berhasil menahannya.
"Gerakan
yang tidak buruk. Kau sudah berkembang, Akari."
"Diam
kau!"
Mendengar
kata-kata kakaknya, Akari meradang dan merapal ilmu roh, melepaskan api biru
dari tangannya. Melihat
api biru yang mendekat, Kura mundur selangkah tanpa panik.
Sesaat
kemudian, aliran air dalam jumlah besar menyembur dari Orochi, memadamkan api
biru tersebut dan terus melaju ke arah Akari.
"Segitu
saja?!"
Akari
menyelimuti pedangnya dengan api biru kembali dan sekali tebas, ia menguapkan
air dalam jumlah besar yang mendekat.
"Celah!"
"!"
Di tengah
kepulan uap yang menutupi pandangan, Kura muncul di depan mata bagaikan
teleportasi. Akari tidak bisa merespons dan terkena tebasan di bagian bahunya.
"......Heh."
Kura
mengagumi sensasi ringan saat menebas adiknya tanpa ampun, lalu menangkis
serangan balasan dari Akari yang datang dari titik buta.
"Jadi
kau juga bisa menggunakan bayangan (clone)."
"Cih!"
Mendecakkan
lidah karena kakaknya yang terlalu percaya diri, Akari mencoba mengayunkan
pedangnya dengan sekuat tenaga, namun tiba-tiba hawa dingin yang luar biasa
menusuk tulangnya.
Salah
satu kepala Orochi yang memposisikan diri lebih tinggi dari empat kepala
lainnya membuka mulutnya lebar-lebar dan melepaskan energi roh berkepadatan
tinggi yang telah dikumpulkan di dalam mulutnya.
"Menghindar!!"
Sebelum
Gareth selesai berteriak, Akari menghindar, dan Orochi melepaskan cahaya dengan
suara dentuman bernada tinggi.
"......!"
Sementara
Akari ketakutan melihat kekuatan cahaya yang mampu menembus tanah dengan mudah,
Orochi terus memuntahkan cahaya tersebut sambil menyapu kepalanya.
Dikejar
oleh aliran cahaya yang datang untuk memburu mangsanya, Akari, Gareth, dan
roh-roh mereka berhenti menyerang dan fokus untuk menghindar.
Meskipun
Orochi mengayunkan cahayanya dengan kekuatan yang cukup untuk menghancurkan
labirin, pada akhirnya, seluruh anggota Akademi Yutrea berhasil menghindar.
"Fufufu,
sayang sekali ya?"
『Syu~』
『Syururu』
Kura
tertawa kecil, sementara kepala Orochi yang melepaskan cahaya mengeluarkan asap
dari mulutnya, dan kepala yang lain berdecak seolah kesal.
"Wanita
itu, sombong sekali..."
"Faktanya
memang begitu, kan."
Di
samping Akari yang kesal, Gareth menjawab dengan senyum kecut.
Sudah
pasti Orochi tidak terlihat kelelahan, dan hal yang sama berlaku untuk Kura.
Jelas sekali dia masih menyimpan kekuatan yang sangat besar.
"Rencananya
adalah menggunakan roh kita untuk menahan ular raksasa itu dan kita berdua
mengalahkan sang kakak, tapi kakaknya sendiri sangat kuat dan ular itu tidak
bisa ditahan."
Sambil
bergumam, Gareth berpikir bahwa mereka benar-benar berada di jalan buntu.
Sebagai
premis dasar, perbedaan tingkatan antara Beowulf dan Orochi terlalu jauh.
Seperti yang diduga, menyerahkannya pada Beowulf adalah tugas yang terlalu
berat.
『Grrrr!』
"Jangan
merajuk, ini tidak bisa dihindari."
Beowulf
menggeram, seolah bisa membaca isi hati Gareth. Gareth tersenyum kecut sambil
mengelus kepala roh kontraknya untuk menenangkannya.
"Nah,
apakah akhirnya harus mundur?"
"Aku
tidak akan pernah mundur."
Saat
Gareth bertanya setengah bercanda, Akari langsung menjawab dengan ekspresi
kesal.
Dia sudah
tahu jawabannya, tapi sepertinya dia memang tidak ada niat untuk menarik diri.
Saat
Gareth mulai berpikir untuk mengerahkan kekuatan penuh Magic Sword-nya,
Akari membuang napas dan menempelkan pedangnya ke tangannya sendiri.
"Kon."
『............』
Begitu
Akari memanggil, roh kontraknya, Kon, mendekat dengan senyum menyeringai di
sudut bibirnya.
"Tunggu, apa
yang ingin kau lakukan?"
"Aku akan
menahan Orochi dengan rohku."
Begitu
mengucapkannya, Akari menekan pedangnya ke tangan dengan keras hingga terluka.
Tanpa memedulikan
Gareth yang terbelalak terkejut, Akari menghantamkan tangannya yang berlumuran
darah ke tanah dengan kuat.
"......Kon.
Manifestasi."
Bersamaan dengan
teriakan Akari, sosok Kon diselimuti oleh cahaya keemasan.
"Ini
adalah..."
"Ara."
Di tengah energi
roh yang melonjak tajam, lima ekor raksasa berwarna keemasan muncul dari balik
cahaya tersebut.
"Ini...!?"
"......Rubah
iblis (Yōko)."
Saat Gareth
berseru terkejut, Kura langsung menyadari identitasnya, sementara Kon muncul
dalam wujud rubah raksasa yang diselimuti bulu keemasan.
Memancarkan aura
agung yang tidak kalah dari Orochi, Kon menatap ular naga di depannya sambil
mengibaskan kelima ekornya.
『Gwoooooo!!』
『Shyaaaa!!』
Dua raungan yang
mengguncang labirin.
Orochi mengakui
Kon sebagai lawan yang sepadan dan mulai mengalirkan energi roh ke tubuh
raksasanya sambil menatap tajam rubah iblis itu.
"Haa,
haa..."
"Kau
baik-baik saja?"
"......Fufu,
jujur saja ini agak berat."
Ketika
Gareth bertanya pada Akari yang berlutut dengan napas terengah-engah dan
keringat bercucuran, jawaban lemah itulah yang ia dapatkan.
Saat
Gareth baru saja akan merasa takjub dengan kondisinya, suara Kura terdengar
dari belakang.
"Kau
membuat kontrak dengan roh yang sangat luar biasa. Sayangnya, sepertinya kau
sendiri belum bisa mengendalikannya sepenuhnya."
"Bukannya
kau juga sama saja?"
Sembari saling
melempar tatapan tajam, Gareth meminta penjelasan kepada Akari tentang apa yang
mereka maksud.
"Orochi
aslinya adalah roh yang memiliki delapan kepala dan ekor. Saat ini, karena
kekuatannya sendiri yang kurang, dia hanya dalam wujud lima kepala."
"Begitu.
Lalu, untuk bagianmu?"
"......"
"Hei."
"......Karena
kekuatanku yang kurang, dari sembilan ekor yang seharusnya dimiliki Kon, aku
hanya bisa menumbuhkan lima."
"......Begitu
ya."
Gareth menelan
kata-kata yang mungkin bisa membuatnya terbunuh jika diucapkan, yaitu
"kalian berdua sama saja", dan kembali mengarahkan pandangan ke arah
Orochi dan Kon.
Sangat menakutkan
membayangkan bahwa keduanya bahkan belum dalam wujud sempurna.
Sayangnya, dalam
hal bakat sebagai pengguna roh, dia harus mengakui bahwa dirinya tidak akan
bisa menyamai kakak beradik ini.
"Sudah
kubilang, meskipun kau melepaskan kekuatan rubah iblis itu, situasinya tidak
akan berubah."
Sesuai dengan
ucapan Kura, kelima kepala Orochi mulai mengumpulkan energi roh di mulut
mereka.
Apakah itu aliran
air bertekanan tinggi, peluru cahaya, atau sinar? Gareth dan Beowulf
bersiap-siap saat melihat Orochi bersiap melancarkan serangan.
"Hah."
Di tengah situasi
tersebut, Akari tertawa mengejek karena merasa sudah tidak tahan lagi, lalu
menantang kakaknya.
"Jangan
sombong kau, dasar wanita tua."
"Dasar adik
yang kurang ajar."
Percakapan itu
menjadi sinyal, dan Orochi melepaskan peluru cahaya dari semua mulutnya ke arah
Akari.
『Gaaaa!』
Menghadapi
gerombolan peluru cahaya yang mendekat, Kon yang berada di belakang Akari
meraung.
Kon menyulut api
biru di kelima ekornya, menghubungkannya menjadi lingkaran api, lalu
melemparkannya seperti frisbee ke arah peluru cahaya yang ditembakkan
Orochi.
Saat bertabrakan,
api biru dan peluru cahaya tersebut menciptakan ledakan yang menelan seluruh
area hingga keduanya musnah.
"......!"
"Ups, aku
tidak akan membiarkanmu."
Di tengah asap
ledakan, Akari menyipitkan mata saat mendengar dentuman logam dari jarak dekat,
lalu melihat punggung Gareth yang menangkis pedang Kura.
"Minggir."
"Kau
duluan."
"!"
Kura merasakan
hawa dingin di bawah kakinya dan secara refleks melompat. Saat ia menoleh,
terlihat pilar es yang menjalar dari tanah tempatnya berdiri tadi, yang
kemudian digunakan untuk mengejar serangan susulan.
"Orochi."
『Shya!』
Orochi, yang
secara akurat melacak posisi Kura bahkan di dalam asap, menjulurkan kepalanya
untuk dijadikan pijakan oleh Kura, sambil menyemburkan cairan berwarna ungu ke
arah Beowulf yang mendekat.
『Grrr!』
Beowulf, yang
secara naluriah menyadari bahwa cairan itu bukan sesuatu yang boleh disentuh,
dengan cepat menendang pilar es untuk menjauh.
"Racun?!"
Gareth menyadari
itu adalah cairan beracun dan segera menggendong Akari yang tampak tidak mampu
bergerak, lalu mencoba melarikan diri.
"Ugh...
Gareth-senpai, jangan diguncang terlalu keras sekarang."
"Memangnya
ini waktunya bicara begitu!?"
Akari menahan
mulutnya dan wajahnya memucat saat menyampaikan permintaan tersebut. Gareth
berteriak sambil menghindari cairan beracun tersebut, merasa heran dengan
ketidakpekaan terhadap krisis yang ditunjukkan Akari.
『Guoooo!』
Namun, karena
harus menanggapi Kon yang menyerang, Orochi menghentikan pengejaran terhadap
Gareth dan kawan-kawan, lalu bersiap untuk bertahan dengan semua kepalanya.
Peluru cahaya,
cairan beracun, dan sapuan ekor dilepaskan oleh Orochi satu demi satu. Kon
membakar semuanya dengan api biru, menghindari ekor yang mendekat dengan
gerakan lincah, lalu membalas dengan menghantamkan kelima ekornya sekuat
tenaga.
"Apa dia
berniat menghancurkan tempat ini sampai habis?"
Gareth bergumam
sembari melihat langit-langit dan dinding di sekitar yang runtuh berjatuhan
akibat pertempuran kedua roh tersebut.
Para roh terus
mengeluarkan serangan berdaya ledak tinggi tanpa ragu, seolah-olah labirin ini
akan benar-benar runtuh jika pertarungan terus berlanjut. Saat Gareth bingung
harus melakukan apa, sesuatu melesat kencang tepat di sampingnya.
"Beowulf!"
『Vonn!』
Begitu Gareth
memanggil setelah menyadari bahwa sosok tersebut adalah roh kontraknya sendiri,
Beowulf segera berdiri dan menggonggong seolah mengatakan bahwa dia baik-baik
saja.
"Huu..."
Di tengah getaran
hebat dan reruntuhan akibat pertarungan sengit antara Kon dan Orochi, Kura
menghembuskan napas putih sambil mengayunkan lengannya yang tertutup es tipis.
Saat pecahan es menari di udara dan hancur, Kura tersenyum.
"Selanjutnya
aku tidak akan membiarkanmu kabur."
"Selanjutnya
pun aku tidak akan membiarkanmu melakukannya."
Gareth, yang
menyiagakan Magic Sword sambil menggendong Akari, menatap Beowulf yang
menggeram di sampingnya, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Kura yang
perlahan mendekat dengan pedang di tangan.
"Gareth-senpai,
aku juga..."
"Istirahatlah
dulu."
Tepat saat Gareth
membalas Akari yang sepertinya sudah cukup pulih untuk bicara, dan bersiap
menyambut Kura yang mendekat dengan Beowulf, sesuatu terjadi.
Bersamaan dengan
raungan keras, dinding di belakang Gareth runtuh, dan dari balik reruntuhan,
muncul sekumpulan tentakel yang menyerupai tanaman merambat.
"!!?"
Kejutan yang
sangat tidak terduga membuat mereka semua tertegun sejenak, namun di saat
berikutnya, mereka segera menghindar dan mengarahkan pandangan ke arah penyusup
tersebut.
『Gaaaaaaaaaaaa!!』
"Hell
Plant!?"
Saat perhatian
Gareth teralihkan pada roh kayu tingkat tinggi berbentuk mata tunggal yang
muncul, kejutan lain menyerangnya.
"Waaaaaahhhhh!"
『Gwoooooo!?』
"Rourke!?"
Di antara
banyaknya puing-puing yang terlempar saat Hell Plant masuk, entah kenapa
Rourke tampak melayang di udara bersama Rock Drake.
*****
Aku mendapatkan
sesuatu dari pengalaman mencoba membuat kontrak dengan banyak roh satu demi
satu di masa lalu.
Itu adalah,
apakah yang diperlukan untuk melakukan kontrak sederhana dengan roh liar?
Banyak pengguna
roh mungkin akan menjawab bahwa kuncinya adalah kepercayaan, tetapi jawaban itu
salah. Tentu saja, kepercayaan itu penting, tetapi mendapatkan kepercayaan dari
roh bukanlah hal yang mudah.
Jika roh tingkat
rendah, ego mereka masih sangat tipis sehingga kita bisa mengatasinya tanpa
perlu kepercayaan.
Sebaliknya, jika
berhadapan dengan roh tingkat tinggi, kita tidak akan bisa membentuk kontrak
kecuali jika kecocokan kita benar-benar luar biasa.
Dengan kata lain,
meskipun kepercayaan itu penting, jika ditanya apakah itu hal mutlak untuk
membentuk kontrak sederhana, jawabannya adalah tidak.
Lalu, apa yang
lebih penting dari itu? Jawabannya adalah keselarasan kepentingan.
Yang terpenting
adalah membuat roh tersebut merasa ingin membentuk kontrak sederhana, meskipun
mereka hanya berada di bawah kendali manusia untuk sementara.
"Larilah
lebih cepat! Apa kau mau mati, hah!?"
『Gwoooooooo!!』
Sambil memandangi
roh aneh yang mengejar dari belakang, aku terus berteriak ke arah Rock Drake
yang telah terikat kontrak sederhana denganku.
Mencoba melakukan
kontrak sederhana dengan Rock Drake, yang memiliki kecerdasan relatif tinggi di
antara roh tingkat menengah, adalah sebuah perjudian.
Untuk bertahan
hidup dari Hell Plant yang mendekat, aku menyadari bahwa melarikan diri dengan
kemampuan sendiri adalah hal yang mustahil.
Hasil dari
eksperimen nekatku untuk memaksakan kontrak dengan mengalirkan energi roh dalam
jumlah besar justru berhasil dengan mudah, di luar dugaanku.
『Gooooooo!!』
Alasan kontrak
sederhana ini berhasil semudah itu adalah karena keberadaan Hell Plant yang
mengejar kami.
Tanpa perlu aku
beri perintah, Rock Drake berlari sekuat tenaga sambil menyerap energi roh
dariku dan dirinya sendiri.
Sepertinya,
Hell Plant yang mengejar dari belakang benar-benar menakutkan baginya.
Ternyata,
baik manusia maupun roh, sama-sama merasa bahwa Hell Plant itu mengerikan,
pikirku sambil merasakan kedekatan aneh dengan Rock Drake. Tepat saat itu, aku
berteriak.
"Tunggu!
Jangan! Di depan itu jalan buntu!!"
Dengan
penglihatan yang telah diperkuat energi roh, aku menyadari bahwa jalan di depan
benar-benar buntu. Namun, sudah terlambat untuk memberitahunya.
『Gugo!?』
Rock
Drake menjerit seolah berkata, "Serius!?", tapi kami sudah terlanjur
memasuki jalan sempit itu, dan Hell Plant sudah mendekat tepat di belakang
kami.
Tidak
mungkin lagi untuk berbalik arah. Kalau begitu―――――.
"......Maju!
Terobos saja terus!!"
Aku berteriak.
Tidak ada pilihan lain selain terus maju.
Aku bisa melihat
Rock Drake tampak bimbang, tapi aku tidak peduli.
Bagi kami, kata
mundur tidak ada dalam kamus.
Lalu, di atas
punggung Rock Drake yang berlari sekuat tenaga menembus labirin mengikuti
perintahku, aku akhirnya melihat tembok yang menghalangi jalan di depan mata.
"Sekarang,
tempelkan dirimu di dinding!!"
『Guo!』
Mengikuti
perintahku, dia melompat dan menempel pada dinding di depan. Di saat yang sama,
aku melihat Hell Plant yang mengejar dari belakang.
"Rock
Shield!"
Karena
telah membentuk kontrak sederhana, aku kini bisa menggunakan ilmu roh tanah.
Aku
membentangkan dinding pertahanan tanah yang menutupi kami beserta Rock Drake
untuk bersiap menghadapi benturan.
Dan―――――.
『Gaaaaaaaaaaaa!!』
"Waaaaaahhhhh!"
『Gwoooooo!?』
Dinding
dan perisai tanah kami hancur lebur oleh Hell Plant yang menabrak kami, dan
karena guncangan tabrakan itu, kami terhempas ke sisi lain dinding.
"Rourke!?"
Mendengar
suara teman yang bisa diandalkan itu, aku secara refleks hendak memanggil
namanya, namun sesaat kemudian, dua sosok binatang buas raksasa yang sedang
mengamuk muncul di pandanganku.
"Kyaaaaaaa!?"
Sambil
berteriak histeris, aku langsung menyadari situasi. Ternyata merekalah
makhluk-makhluk berbahaya yang sedari tadi mengamuk di dalam labirin ini.
Gawat.
Aku benar-benar masuk ke tempat yang salah.
Sambil
panik, aku mendarat di tanah dan berpikir untuk segera kabur dari tempat ini,
namun pikiranku terputus karena bayangan yang menutupi pandanganku.
"Berani-beraninya
kau melakukan itu!"
"Apanya yang
apa!?"
Aku berteriak
sambil menghindar dari tebasan pedang yang diayunkan Kura dari atas kepala.
Memangnya apa yang sudah kulakukan!?
"Hup!"
"Uwaah!"
Sambil berpikir
demikian, aku terus menghindari tebasan demi tebasan yang dilepaskan secara
beruntun dengan jarak yang sangat tipis.
Namun, saat aku
merasa cemas karena pedang itu mendekat dengan kecepatan tinggi bahkan sebelum
aku sempat menggunakan ilmu roh, hawa dingin tiba-tiba mulai menyelimuti
kakiku. Ada apa lagi sekarang!?
"Rourke,
gunakan itu!"
『Gau!』
Aku sempat
waspada, tapi setelah mendengar suara yang menyusul kemudian, aku sadar bahwa
kekhawatiranku tidak beralasan.
Dinding
es muncul dari tanah, membatasi aku dan Kura. Aku tersenyum tipis saat melihat
pedang es yang tercipta dengan sempurna di sebelahku.
"Mantap!"
Aku
mengucapkan terima kasih kepada Gareth dan kawan-kawan, lalu menggenggam gagang
pedang es itu dan mengarahkannya ke arah Kura yang sedang berdiri di balik
dinding.
"Terbanglah
kau!!"
"Guh!?"
Sambil
mengalirkan energi roh, aku meluncurkan tusukan menembus dinding es.
Bilah es
itu menembus dinding dan menyerang Kura di sisi lainnya.
Kura,
yang sepertinya tidak menyangka akan diserang dari balik dinding, tampak
terkejut, namun ia dengan sigap menahan bilah es itu dengan pedangnya.
Meski
begitu, sepertinya dia tidak mampu menahannya sepenuhnya dan terhempas ke
belakang.
"Huu..."
Setelah
selamat dari krisis sesaat, aku membuang pedang es yang hancur itu dan mengatur
napas. Dengan pikiran yang jernih, aku mengamati situasi.
Akari
yang tampak lemas sedang digendong di punggung Gareth, yang memegang pedang
sihir bersama Beowulf yang menjaga tuannya.
Lalu ada
ular berkepala banyak dan rubah iblis berekor lima yang sedang mengamuk, Hell
Plant yang menatap kami dengan mata tunggalnya karena merasa mangsanya
bertambah, serta Rock Drake yang terkapar di tanah.
"......Ini
terlalu kacau."
"Rourke!"
Saat aku
mengerutkan kening karena situasi yang terlalu semrawut ini, Gareth
memanggilku.
"Hei,
bagaimana situasinya sekarang? Lagipula, kenapa Akari terlihat begitu
lemah?"
"Rubah iblis
itu adalah Kon, roh kontrak milik Tsukikage-san, sedangkan ular itu adalah
Orochi, roh kontrak lawan."
"Eh!?
Kau punya kontrak dengan roh seperti itu!? Curang!"
"Yeay."
"Bukan
saatnya bersikap begitu, kan?"
Gareth
memprotes kami, antara aku yang iri dan Akari yang memberikan tanda V dengan
wajah bangga. Benar juga sih.
"Meski
begitu, dengan kondisiku sekarang, aku tidak bisa banyak membantu."
Saat aku
mengatakan itu, Gareth yang memahami situasinya mengangguk dan mengalihkan
pandangan ke arah Rock Drake dan Hell Plant.
"Lalu,
bagaimana dengan kedua roh itu?"
"Aku
membuat kontrak dengan Rock Drake saat melarikan diri dari Hell Plant. Lalu,
kami sampai di sini sambil terus melarikan diri."
"......Jadi,
itu bukan di bawah kendalimu?"
『Gooooooo!!』
Saat
Gareth bergumam setelah memahami situasinya, Hell Plant meraung dan mulai
mengayunkan tentakelnya untuk menyerang musuh di sekitarnya secara membabi
buta.
"Kau membawa
makhluk yang keterlaluan ke sini, ya!?"
"Aku
juga tidak ingin melakukan ini!"
Aku
berteriak sambil menghindar. Aku bahkan tidak berniat datang ke tempat ini
sejak awal...... kenapa jadi begini?
"Apa
kau tidak membentuk kontrak sederhana dengannya?"
"Kalau bisa,
sudah kulakukan dari tadi."
Aku menjawab
pertanyaan Akari dengan ketus.
Roh setingkat itu
memiliki ego yang terlalu kuat, jadi jika mereka tidak menerimanya, aliran
energi roh pun akan ditolak mentah-mentah.
Sebenarnya aku
sempat mencobanya sebentar, tapi ditolak dalam sekejap. Sepertinya dia
benar-benar berniat memangsaku.
"Eh, padahal
kau bisa menjinakkan roh jahat, kan?"
"Tergantung
kecocokannya, tahu."
Aku menjawab
sambil menghindari tentakel yang kembali menyerang. Situasi seperti pertarungan
tiga arah ini sebenarnya ingin kuhindari, tapi......
『Shya!』
『Guo!?』
Raungan singkat
dari ular raksasa itu. Disusul oleh suara erangan rubah iblis yang sarat dengan
emosi keterkejutan.
Saat aku
mengalihkan pandangan, sepertinya rubah itu mengerang karena serangannya yang
menghantam tubuh ular itu dengan ekor berselimut api biru berhasil dihindari.
Orochi membelah
tubuhnya menjadi lima bagian tepat saat serangan itu mendarat, dan ular-ular
itu melata dengan cepat di tanah untuk berkumpul di bawah kaki Kura.
Saat ular-ular
itu melingkar untuk melindungi Kura, sedetik kemudian mereka kembali ke wujud
ular berkepala lima seperti saat pertama kali kami bertemu.
"Dia bisa
membelah diri juga?"
"Mungkin.
Aku sendiri tidak tahu detailnya, jadi aku tidak bisa memastikannya."
Akari menjawab
pertanyaanku sambil turun dari punggung Gareth. Sepertinya dia sudah
cukup pulih untuk bergerak.
"Kau sudah baik-baik saja?"
"Ya, terima kasih."
Akari berkata demikian, lalu kembali menggenggam pedangnya
dan membakar semangat juangnya.
"Suasananya makin seru, tapi...... situasi ini agak
merepotkan, ya."
Kura
bergumam sambil mengangkat lengannya ke arah Hell Plant yang mengamuk membabi
buta dan ke arah kami. Bersamaan dengan itu, energi roh Orochi melonjak
drastis, dan cahaya mengerikan mulai meluap dari mulutnya.
"Ini
gawat!"
"Kon!"
"Ada apa,
apa yang akan terjadi!?"
Saat aku bertanya
dengan firasat buruk, Kon mendekat dan dengan cepat membungkus kami dengan
ekornya lalu mulai berlari.
"Apa!?"
Sesaat kemudian,
cahaya aurora ditembakkan dari kelima mulut Orochi. Menghadapi aliran
kehancuran yang mendekat, aku hanya bisa melongo di dalam ekor yang berbulu
lembut itu.
"Apa-apaan
itu!"
"Itu sinar
kehancuran Orochi. Labirin ini pun jadi rusak karenanya."
"Tolong
tahan diri sedikit!"
Ini kan
kompetisi, tahu!
"Hindari!"
『Vofu!』
Saat aku mengamuk
karena kekejaman Kura, Akari memerintahkan Kon untuk menghindari cahaya yang
melenyapkan segalanya itu dengan sempurna.
『Ga』
Di sisi lain,
Hell Plant yang tidak memiliki kelincahan seperti Kon, tubuh raksasanya
ditembus oleh cahaya itu hingga hancur berkeping-keping dan terkapar di tanah.
"............"
Aku sama sekali
tidak bersalah, lagipula akulah yang diserang, tapi melihat Hell Plant terkapar
dalam kondisi yang mengerikan, rasa bersalah mulai muncul.
"......Yah,
pengganggu utamanya sudah bisa disingkirkan."
Sepertinya
mencapai batas serangan, Orochi berhenti menembakkan sinar sambil mengeluarkan
asap dari mulutnya.
Di bawah asap
yang dikeluarkan Orochi, Kura menatap kami dan Hell Plant yang hancur, lalu
mengangguk dengan enggan.
"Rasakan
itu."
"Jangan
memancing masalah."
Aku yang
dibebaskan dari ikatan ekor menegur Akari yang memprovokasi Kura, sambil
memeriksa ikatan energi roh dan merasa lega karena ikatan itu masih tersisa.
"......Kau baik-baik saja, Rock Drake?"
『Grrrr』
Rock Drake sepertinya berhasil selamat dari serangan itu,
terdengar dari suaranya yang lemah saat memanggilku sambil merayap di dinding.
Kulihat dia mengalami luka yang cukup parah hingga sebagian
cangkang luarnya terkoyak akibat terkena cahaya tersebut, menunjukkan betapa
tipisnya batas keselamatannya tadi.
"Kau masih
hanya menggunakan kontrak sederhana, ya?"
"......Apa
itu salah?"
"Bukan
salah, tapi menyebalkan. Tidak seperti saat kau jadi ketua OSIS, kau bahkan
tidak mengeluarkan roh pedang. Apa kau meremehkanku?"
"......"
Aku tidak bisa
membalas kata-kata Kura yang menunjukkan kemarahannya itu.
Sejak awal aku
memang tidak punya roh kontrak, dan kalau aku bilang aku lupa membawa Yorishiro
untuk roh pedang, apa yang akan terjadi?
"Rourke-senpai
malah yang memancingnya, kan."
"Diam
kau!"
Padahal aku baru
saja menegur Akari agar tidak memancing masalah, ternyata malah aku yang secara
alami terus memancingnya......
"Padahal
kami sudah bersusah payah mengeluarkan jurus pamungkas."
"Tidak,
meski kau bilang begitu......"
Aku
merasa kata-kataku semakin melemah karena fakta bahwa aku tidak sengaja
memancingnya meski Kura melontarkan keluhan yang bisa dibilang tidak masuk
akal.
"Kalau saja
kau tidak melupakan Yorishiro-mu......"
"Tidak ada
alasan yang bisa kubela."
Kenapa juga aku
sampai melupakannya? Apa aku bodoh? Tidak, apa aku memang bodoh......?
"Apa itu
berarti kau tidak berniat mengeluarkan kekuatan aslimu?"
"Ayo kabur.
Kalau begini terus, kita benar-benar dalam bahaya."
"Tidak
mau."
Saat aku
menyarankan untuk melarikan diri karena firasat buruk melihat Kura yang mulai
mengeluarkan aura mengancam, Akari langsung menolaknya mentah-mentah. Kenapa,
sih?
"Bukan tidak
mau, bodoh. Melawan makhluk seperti itu cuma membuang tenaga."
"Aku pasti
akan menghabisinya."
"Gareth!!"
"Sudah
kubilang begitu dari tadi, kan."
Saat aku
mengadu pada Gareth karena dia tidak bisa diajak bicara, jawaban yang kudapat
adalah kepasrahan.
Ternyata
Gareth juga tidak berniat melawan Kura yang mengendalikan roh mengerikan
seperti itu.
Yah,
mengingat ini adalah kompetisi di mana tidak ada kewajiban untuk melumpuhkan
lawan, itu adalah hal yang wajar.
Mungkin
dia hanya terpaksa ikut bertarung karena tidak bisa meninggalkan Akari yang
tidak punya niat untuk mundur.
"......Baiklah.
Kalau begitu, kau lawan saja dia. Aku akan mencari mahkota selama kau melakukan
itu."
"Memang itu
rencanaku sejak awal."
Saat aku
mengatakan itu, Akari menjawab seolah itu hal yang sudah pasti.
Dia sudah begitu
terobsesi untuk mengalahkan Kura sampai-sampai menang atau kalah dalam
kompetisi ini tidak lagi penting baginya.
"Bagaimana
denganmu, Gareth? Kau tetap di sini?"
"Ya, aku
akan tetap di sini."
"Gareth-senpai,
kau juga pergilah."
Akari mengatakan
itu pada Gareth yang memutuskan untuk tinggal.
Wajahnya bahkan
terlihat tersenyum, seolah dia lebih suka bertarung sendirian. Dasar maniak bertarung.
"Tidak,
tidak, kau tidak akan menang sendirian."
"Hah? Aku
pasti menang."
Akari membalas
kata-kata Gareth dengan urat nadi menonjol di dahinya.
"Hei,
tadi kau bahkan digendong oleh Gareth, kan?"
"Ugh."
Melihat
dia terdiam dengan ekspresi tidak nyaman karena sindiranku, sepertinya dia
sadar akan hal itu.
"Di sini,
diamlah dan biarkan senpai menolongmu, kouhai."
"Lagipula
aku juga ingin mendaratkan satu serangan."
"........."
Kami merasakan
keunggulan kecil saat melihat kouhai kami menatap dengan tatapan yang seolah
ingin mengatakan sesuatu tanpa suara. Yah, yang menolong adalah Gareth, bukan
aku, sih......
"Kalian
bebas menentukan rencana kalian sendiri di antara kalian, tapi......"
Saat aku baru
saja mengalihkan kesadaran untuk benar-benar keluar dari tempat ini dan mencari
mahkota, aku mencoba memperluas deteksi energi roh yang sempat dipersempit
untuk bertarung―――――.
"Aku
tidak akan membiarkanmu kabur, kan?"
"―――Gawat!?"
Hawa
dingin menusuk tulang belakangku. Meskipun instingku memberitahu adanya bahaya,
aku terlambat menyadari energi roh itu karena baru saja memperluas jangkauan
deteksiku.
『Shya!』
"Guaa!"
Muncul
dari tanah di bawah kaki Kon, seekor roh ular terbang ke arahku.
Aku
mencoba menangkis dengan lengan secara refleks, namun ular yang menggigit
lenganku itu langsung terhempas dari punggung Kon karena tekanan serangannya.
"Rourke!!"
"Kon!"
Gareth,
Beowulf, dan Kon atas perintah Akari bergerak dengan ekor mereka untuk mencoba
menyelamatkanku.
『Shyaaaaaaa!』
Namun,
untuk menghalangi bantuan tersebut, aliran air bertekanan tinggi ditembakkan
dari Orochi yang bangkit kembali.
Sinar
pemotong air yang benar-benar mampu membelah besi itu memaksa semua orang untuk
menghindar, dan aku terpisah dari rekan-rekanku.
Menyadari
bahwa tidak mungkin lagi menyelamatkanku setelah melakukan tindakan menghindar,
Akari langsung memberi perintah untuk menyerang Orochi.
"Enko
Katen Messhou!"
『Gwoooooo!』
Energi roh meluap
dari seluruh tubuh Kon bersama api biru, dan tak lama kemudian, matahari biru
raksasa tercipta di atas kepala.
Di tengah area
yang terselimuti cahaya biru itu, Kon melepaskan gumpalan energi roh yang
terkonsentrasi dengan api biru ke arah Orochi.
"Mengganggu
saja!"
『Gi!』
Aku yang terkapar
di tanah menghancurkan kepala roh ular yang menggigit lenganku hingga tewas,
lalu memanggil Rock Drake.
Sesaat kemudian,
sosok Orochi yang terkena serangan Kon diselimuti oleh api biru yang berkobar
hebat.
"Berhasil?"
"Jangan
katakan kalimat itu!"
Di tengah erangan
Orochi yang tubuhnya terbakar, aku berteriak pada Akari yang baru saja
mengucapkan kalimat terlarang itu. Itu adalah bendera kematian klasik.
"Itu hanya
kulitnya saja!!"
"Dia ganti
kulit!?"
Dan benar saja,
seperti yang diduga, yang terbakar habis hanyalah kulit hasil ganti kulit
Orochi.
Lalu, di mana
tubuh aslinya? Tanpa sempat menanyakan keraguan itu, tanah di depanku sedikit
menggelegak bersama getaran, dan dia meluncur ke arahku dengan cepat.
"Dia
datang dari bawah!!"
"Kon!
Mundur sekali saja!"
Mendengar
teriakan Gareth yang menunggangi Beowulf karena merasakan bahaya, di bawah
perintah Akari, Kon mencoba untuk mundur, namun sepertinya keputusannya sedikit
terlambat.
『Shya!』
『Gaaaa!』
Seolah
mengatakan "aku tidak akan membiarkanmu kabur", empat kepala yang
muncul dari tanah menjalar ke kaki Kon dan melilit tubuhnya, menahan gerakannya
sambil mencekik.
"Gareth!!"
"Aku
tahu!!"
Kepala
kelima yang muncul dari tanah sedikit terlambat dari empat kepala lainnya,
segera mengumpulkan cahaya kehancuran di mulutnya lagi untuk menghabisi Kon
yang tidak bisa bergerak.
"Aku
tidak akan membiarkanmu!!"
Sambil
berteriak, aku menempelkan tangan ke tanah dan mengaktifkan ilmu roh. Lima
pilar batu muncul di sekitarku dan ditembakkan dengan kecepatan tinggi ke arah
rahang Orochi yang hendak menembakkan sinar tersebut.
Di sisi
lain, Beowulf yang ditunggangi Gareth melompat dengan kuat sambil menaiki tubuh
Kon, lalu melompat ke atas kepala Orochi.
"Ooooooohhhhh!!"
『Gaaaa!』
Langkah
itu berlanjut dengan tebasan pedang sihir yang dialiri kilat dan kaki depan
Beowulf yang berselimut bilah es yang diayunkan.
『Gobaa!?』
Serangan
Gareth dan kawan-kawan serta ilmu rohku mendarat di Orochi di saat yang
bersamaan, secara paksa menutup mulut yang baru saja terbuka untuk melepaskan
cahaya.
Hasilnya,
gumpalan energi roh luar biasa besar yang kehilangan tempatnya meledak dengan
dahsyat di dalam mulutnya. Orochi yang matanya berbalik ke atas terjatuh ke
tanah dengan kepala yang lemas sambil memuntahkan asap dan darah.
"Kon!
Lepaskan!!"
『!』
Meski
Orochi tidak gentar meski satu kepalanya tumbang, rasa sakit itu rupanya
sedikit melonggarkan cengkeramannya.
Tanpa
menyia-nyiakan kesempatan itu, Kon mengikuti perintah Akari dan melepaskan diri
dari cengkeraman Orochi.
"Kerja sama
yang bagus."
"Terima
kasih banyak!!"
Aku mengaktifkan
ilmu roh menanggapi suara yang terdengar dari belakang.
Aku membuat pilar
batu di punggungku untuk menangkis pedang yang diayunkan secara mendatar, namun
bilah pedang Kura merobek pilar batu itu dan mendekati tubuhku.
"Ugh!"
Meski terkejut,
aku segera menendang tanah untuk mencoba menghindari tebasan, namun tidak bisa
menghindar sepenuhnya dan garis merah terukir di lengan kiriku.
『Gwoooo!』
"Hentikan!!"
"Mengganggu."
Rock
Drake yang merasakan bahayaku melompat dari dinding tempat dia menempel ke arah
Kura, namun terpotong menjadi dua oleh satu ayunan pedang yang dilakukan Kura
sambil berbalik.
Tanpa memedulikan
teriakanku untuk berhenti, Rock Drake dikirim kembali ke dunia roh.
"Apa kau
akhirnya berniat serius sekarang?"
"Justru kau
sendiri, salah satu kepala rekanmu meledak, tahu. Apa kau baik-baik saja?"
Aku bertanya
dengan nada provokatif meski merasa sangat putus asa karena kehilangan ikatan
setelah Rock Drake dikalahkan.
Mungkin tidak ada
gunanya menunjukkan kelemahan di depan wanita ini.
"Tidak ada
masalah, kok."
Kura menjawab
dengan tegas tanpa menunjukkan rasa cemas sedikit pun.
Faktanya, memang
benar begitu. Keberadaan Orochi yang kurasakan di punggungnya masih sangat kuat
meski kehilangan satu kepalanya.
"Lagi pula,
Aleas-kun, bisakah kau bertarung denganku dengan lengan seperti itu tanpa
memanggil roh?"
"............"
Aku terdiam tanpa
membalas pertanyaan itu. Lengan kiriku yang terkena tebasan pedang terus
mengeluarkan darah dan terasa panas, tak perlu dipikirkan lagi bahwa aku tidak
bisa menggunakannya seperti biasanya.
"Apa kau
masih tidak berniat mengeluarkan apa pun?"
Sepertinya dia
ingin aku segera menunjukkan kartu asku, tapi sayangnya. Sejak awal, aku memang
sudah menunjukkan semua yang kupunya.
"Meski sudah
sampai sejauh ini, kau masih pelit ya...... tidak, mungkin bagimu situasi ini
bahkan tidak bisa disebut terpojok?"
Situasi
ini benar-benar terpojok, tahu.
Sayangnya,
betapa pun terpojoknya aku, tidak ada apa pun yang bisa kukeluarkan. Karena aku
memang tidak punya apa-apa.
"Kalau
begitu, baiklah."
Seiring
dengan ucapan Kura, tanah di kakinya menggelegak, dan ular-ular seukuran
manusia muncul.
Sambil
mengendalikan ular-ular yang mungkin merupakan roh tingkat menengah itu, Kura
memberi tahu.
"Aku akan
menghancurkanmu di sini."
『Shya!』
Bersamaan dengan
deklarasi berbahaya itu, ular-ular itu meliukkan tubuh panjang mereka dan
menyerang secara serentak.
"Ugh!"
Sambil
mati-matian menghindari ular-ular yang mendekat untuk menggigit dengan taring
berkilauan, aku memutar otak.
"Hup!"
"!!"
Dengan suara
angin yang terpotong, tebasan yang dilepaskan Kura menyayat bahuku.
Darah segar
menari di udara dan rasa sakit yang tajam menjalar ke seluruh tubuh, namun aku
tidak berhenti bergerak dan terus menghindari serangan yang datang satu demi
satu.
"Gawat."
Situasi
ini benar-benar gawat. Meski aku mencoba menghadapi Kura dan sekian banyak roh
ini sendirian, aku tidak akan bertahan lama.
Bukannya tidak
ada jalan untuk menang, tapi dalam situasi seperti ini, langkah apa pun yang
kuambil pasti terasa kurang.
Sesuatu, pasti
ada cara di suatu tempat―――――!
"Ini sedikit
berisiko, tapi......"
Saat melakukan
deteksi yang terus kupanjangkan tanpa kusadari, aku menyadari "keberadaan
itu".
Setelah
menghindari bilah pedang Kura yang kembali mengayunku, aku segera mundur ke
belakang.
*****
"Aku tidak
akan membiarkanmu kabur."
Melihat Rourke
yang menyerah pada pertarungan dan mulai mundur dari tempat itu, Kura
melontarkan kata-kata penuh kejengkelan sambil mencoba mengejarnya―――.
"......?"
Di tengah jalan,
Kura menghentikan gerakannya. Itu bukan berarti dia menyerah mengejar Rourke.
Hanya saja,
karena Rourke tiba-tiba berhenti melangkah, Kura tidak punya alasan lagi untuk
mengejarnya lebih jauh.
"Akhirnya
kau berniat serius?"
"......Aku
memang sudah serius sejak awal, tahu."
"Pembohong."
Kura bergumam
bahwa padahal Rourke bahkan belum memanggil roh kontraknya.
Rourke hanya
menunjukkan senyum yang sulit diartikan, namun tidak membalas apa pun.
"Jadi,
bagaimana sekarang? Apa kau berniat mengeluarkan rohmu?"
"Aku
tidak berniat mengeluarkan roh kontrak, tapi―――"
Kura yang
sempat kecewa karena penolakan itu langsung memperketat kewaspadaannya saat
menyadari energi roh yang terkumpul di tangan kanan Rourke.
"Sebagai
gantinya, aku akan menghadapimu dengan yang satu ini."
"Itu......!!"
Bersamaan
dengan kata-kata itu, Rourke mengayunkan lengannya dengan kuat, dan seketika
kilauan hijau menyelimuti area sekitar.
『Gwoooooooo!!』
Bersamaan
dengan raungan yang menggema, sesosok roh aneh muncul dari dalam cahaya
tersebut.
"Hell
Plant!"
Roh kayu
tingkat tinggi, Hell Plant, yang seharusnya sudah tercabik-cabik oleh serangan
Orochi, kini berdiri tegak di sana.
"Mustahil,
padahal saat itu jelas-jelas......"
"Kau meremehkan daya hidup Hell Plant, ya."
Seolah menyahuti gumaman Rourke, Hell Plant melepaskan
tentakel seperti tanaman merambat ke arah ular dan Kura yang berada di depan
mata.
"!"
『Gia!?』
Kura berhasil menghindari tentakel itu dengan sigap, namun
roh-roh di sekitarnya tidak seberuntung itu; mereka tertangkap dalam sekejap,
energi roh mereka diisap, dan mereka pun terkirim kembali ke dunia roh.
"Tapi, apa gunanya membangkitkan Hell Plant
kembali......!?"
Kura hendak mengatakan bahwa itu hanya akan mengembalikan
situasi ke kondisi tiga arah, namun dia terbelalak saat melihat Rourke yang
berada di dekat Hell Plant tidak diserang sama sekali.
"Jangan
bilang kau membentuk kontrak sederhana!?"
"Tebakanmu
meleset."
Mustahil.
Membentuk kontrak dan mengendalikan roh liar tingkat tinggi yang sebuas itu
adalah hal yang mustahil.
Rourke
menyeringai sambil mengucurkan keringat di dahinya ke arah Kura yang matanya
terbelalak.
―――Reaksi
yang bagus. Sepertinya ini benar-benar di luar dugaannya.
Rourke
merasa puas dengan reaksi Kura, namun dia sendiri tidak dalam kondisi santai.
Dia baru
saja menghabiskan energi rohnya dalam jumlah besar hanya untuk memulihkan Hell
Plant.
Sambil
memprediksi bahwa konsumsi energi roh untuk mengendalikan Hell Plant dengan
kontrak sederhana, ditambah fakta bahwa lawannya adalah Orochi dan Kura, akan
membuat kondisinya benar-benar berada di ambang batas, Rourke meraung.
"Ini
pertandingan ulang. Berikan padanya segala yang kau punya!"
『Goooo!!』
Hell
Plant meraung di atas kepala Rourke, lalu mengikuti kehendak tuannya dengan
mengayunkan seluruh tentakel yang tumbuh dari tubuhnya ke arah Kura.
"Ugh!"
Kura
mencoba menangkis tentakel yang mendekat dengan pedangnya, namun dia segera
menyadari batas kemampuannya setelah memotong puluhan tentakel, lalu mengubah
strategi dari menangkis menjadi menghindar.
"Menyebalkan
sekali!"
Tubuh
Hell Plant yang beregenerasi memang lebih kecil dibandingkan saat pertama kali
muncul, dan belum sepenuhnya bangkit kembali, namun tingkat ancamannya
meningkat drastis.
Monster
yang tadinya hanya mengayunkan tentakel berdasarkan insting dan dorongan liar
itu kini menyerang dengan cerdik setelah mendapatkan Rourke sebagai tuannya.
Sekilas
terlihat seperti sebelumnya, di mana ia hanya mengayunkan tentakel tanpa pikir
panjang ke arah target, namun kenyataannya ia memberikan variasi kecepatan pada
tentakelnya, sesekali menyisipkan gerakan tipuan; serangan yang jauh lebih
licik dibandingkan saat ia masih liar.
"Orochi!"
『Shya!』
Aku tidak
bisa menang sendirian.
Kura
secara jujur mengakui kekurangannya sambil terus menghindari tentakel dan
memanggil roh kontraknya, namun tidak ada tanda-tanda bantuan dari Orochi
seperti yang diharapkan.
『Shyaaaaaa!?』
『Gwoooo!』
Saat
dilihat, Orochi sedang terkekang karena ketiga kepalanya ditahan oleh ekor Kon,
sementara satu kepala sisanya sibuk bertarung melawan Akari.
Dalam
situasi seperti itu, sulit baginya untuk datang memberikan bantuan. Saat Kura
mengubah pola pikirnya untuk menghadapinya sendiri, dia menyadari sesuatu.
―――Di
mana pengguna roh pedang sihir itu?
Sebuah
pertanyaan muncul.
Dan
jawabannya terungkap melalui energi roh dan aura pembunuh yang meluap dari
belakangnya.
Tentakel
yang tak terhitung jumlahnya mendekat.
Di
antaranya, petir ungu menyambar, dan tentakel-tentakel itu terpental ke kanan
dan kiri seolah membuka jalan bagi sang raja.
"Pedang
Sihir Gram, lepaskan."
Helaan
napas terlepas. Gareth muncul dari balik jalinan tentakel, mengangkat pedang
sihirnya tinggi-tinggi dengan kilatan petir yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Jangan
sampai terkena serangan itu.
Saat Kura
mencoba menghindar secara naluriah, Gareth mengayunkan pedang sihirnya tanpa
ragu sedikit pun.
"Teknik Pamungkas: Thunder God's Cleave!"
Kilatan cahaya
menyilaukan yang bahkan tidak kalah dari sinar Orochi pun dilepaskan.
Tak lama
kemudian, percikan listrik menjalar di dalam labirin, diikuti oleh dentuman
keras yang menandakan kehancuran.
*****
"Hah,
hah......"
"Kau
benar-benar mengeluarkan semuanya, ya."
Aku menyapa
Gareth yang terengah-engah setelah melepaskan serangan penuh dengan pedang
sihir itu, sambil masih berada di atas punggung Hell Plant yang membawaku.
Saat aku
mengarahkan pandangan ke arah tempat Gareth mengayunkan pedangnya, tembok
labirin yang berubah menjadi tumpukan puing-puing menjadi saksi bisu betapa
dahsyatnya serangan tadi.
"Kalau aku
menahan diri sedikit saja...... aku merasa serangan itu malah akan ditangkis
olehnya."
"Ya, aku
setuju. Itu keputusan yang tepat."
Aku menyetujui
ucapan Gareth yang terbata-bata itu. Tidak salah lagi, pilihan untuk tidak
menahan diri adalah hal yang benar.
Yah, terlepas
dari itu, aku tidak bisa memungkiri rasa takut kecil saat melihat Gareth
mengeluarkan daya hancur yang bahkan melampaui Beowulf......
"......Apa
kau masih kuat?"
"Kalau hanya
untuk bertarung sedikit lagi, aku masih bisa."
Meskipun ia
berkata begitu, energi roh Gareth sudah hampir habis disedot oleh pedang sihir
tadi, dan ia sebenarnya sudah berada di ambang batas.
Dia mungkin masih
bisa bertarung, tapi itu hanya akan bertahan sejenak saja.
"Lagipula,
karena tadi sangat mendadak, aku tidak bisa memastikan arahnya dengan baik.
Apakah tadi sudah tepat?"
"Ya, tepat
sekali. Kau memang luar biasa."
Aku menarik
Gareth dengan paksa menggunakan tentakel dan memberinya perintah yang cukup
gila, tapi dia benar-benar berhasil melakukannya dengan sempurna. Satu kata:
luar biasa.
"Kalau
begitu, sisanya......"
"Kalian
tidak buruk juga."
Suara itu
terdengar menimpali ucapan Gareth. Saat aku menoleh, sosok Kura muncul di
pandanganku—seperti yang diduga, dia ternyata masih baik-baik saja.
Sekilas, seragam
yang ia kenakan tampak compang-camping akibat satu tebasan Gareth tadi.
Namun, meski ada
beberapa luka gores kecil di tubuhnya, tidak ada luka fatal yang bisa
membuatnya berhenti bertarung.
......Sebenarnya
tubuh macam apa yang dia miliki?
"Jujur saja,
aku sempat merasa ngeri. Sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi seperti
itu."
"Tapi
kelihatannya kau masih segar bugar."
Aku tidak
merasa dia berbohong, tapi......
"Pengguna
kontrak Orochi itu spesial."
"Apa
maksudnya itu? Itu terlalu overpowered, tahu......"
Aku bergumam
sambil menarik diri karena penjelasan Kura.
Aku ingin
bertanya selama satu jam penuh bagaimana caranya seseorang bisa membuat kontrak
dengan roh seperti itu.
"Tapi
aku benar-benar terkejut. Tidak menyangka kau akan membentuk kontrak sederhana
dengan Hell Plant."
"Itu
semua berkat dirimu."
Hell
Plant yang hampir mati setelah menerima serangan Orochi sebenarnya berusaha
menyelamatkan diri dengan masuk ke kondisi hibernasi untuk memulihkan tubuh.
Aku
memanfaatkan celah itu. Meski merupakan roh kayu tingkat tinggi yang seharusnya
mustahil untuk dikendalikan, situasinya akan sangat berbeda jika roh itu dalam
kondisi sekarat.
Karena
keselarasan kepentingan—aku yang membutuhkan kekuatan tempur, dan Hell Plant
yang membutuhkan energi roh untuk bangkit kembali—kami berhasil membentuk
kontrak sederhana.
Yah,
berkat itu energi rohku terkuras lebih dari perkiraan, tapi untungnya konsumsi
energi sebelumnya tidak terlalu besar, jadi aku masih bisa bertahan.
"Fufu,
sepertinya aku yang meremehkanmu."
"Yah,
aku kan sudah serius sejak awal."
Aku
mencoba menyampaikan secara tidak langsung bahwa ini adalah standar kekuatanku,
tapi...... melihat ekspresi Kura yang tampak menikmati pertarungan, sepertinya
pesanku tidak tersampaikan.
『Gwoooooo!!』
『Shyaaaaaa!!』
Raungan kedua roh
itu bergema. Tak lama kemudian, Kon terbang ke arah kami.
Aku mencoba
menggunakan tentakelku untuk menangkapnya seperti jaring, tapi sang rubah iblis
itu mendarat di belakang kami sambil memperbaiki posisi tubuhnya sendiri.
"Kerja
bagus, Tsukikage-san."
"Ular sialan
itu!"
Suara penuh
amarah terdengar dari atas kepala Kon. Saat aku melihat ke arah target makian
tersebut, sosok Orochi muncul dengan lima kepalanya yang mengintimidasi, entah
sejak kapan ia bangkit kembali.
Namun, sepertinya
ia tidak bisa melewati pertarungan melawan Kon tanpa luka; tubuh raksasa putih
yang memancarkan aura ketuhanan itu berlumuran darahnya sendiri, dan tekanan
aura yang ia pancarkan pun terasa jauh lebih lemah dibandingkan saat pertama
kali muncul.
"Sepertinya
kau juga dibuat kewalahan, ya? Mungkin kita berdua terlalu terbawa
suasana."
『Shya...』
Salah satu kepala
Orochi membalas Kura yang mengutarakan penyesalannya dengan nada pahit.
Entah apa yang
dia katakan, mungkin dia sedang berpikir bahwa hal itu memang benar adanya.
"Nah......
introspeksi diri sudah selesai. Bagaimana kalau kita lanjutkan ke ronde
terakhir?"
"Tentu, akan
kubalas kau."
"......Gareth."
"Tunggu,
belum saatnya."
Akari dan Kura
mulai membakar semangat juang mereka.
Saat kedua roh
kontrak mereka mulai mengalirkan energi roh sesuai keinginan tuannya, aku
memanggil Gareth dengan panik, namun jawaban yang kuinginkan tidak kunjung
datang.
Namun, alih-alih
jawaban, sebuah pengumuman dari roh bergema ke seluruh penjuru labirin.
『Pertandingan
berakhir! Pemenangnya adalah Akademi Yutrea!』
"Hah?"
"Eh?"
Pengumuman akhir
pertandingan yang tiba-tiba itu membuat kedua bersaudara itu terkejut.
Mengabaikan
mereka berdua, aku melakukan high-five dengan Gareth.
"Apa
maksudnya ini?"
"Lihat ke
belakang."
"......Eh!?"
Saat Kura
menoleh, sosok Beowulf muncul dengan mahkota di mulutnya dari balik tembok
labirin yang dihancurkan Gareth.
"Jadi
begitulah, kita bubar. Ayo pakai Batu Penyegel untuk kembali."
"Eh, tunggu
sebentar."
Saat aku hendak
pergi dengan santai dari tempat yang sudah tidak ada gunanya ini, tubuhku
diikat oleh ekor Kon. Yang seharusnya bilang "tunggu" itu aku, tahu!
"Bagaimana
caranya kau menemukan mahkota itu?"
"Sebelum
itu, bisa lepaskan ikatan ini?"
Lagipula, yang
menemukannya pasti Beowulf, jadi aku menatap Gareth selaku pemilik kontraknya,
tapi dia pun ternyata terikat dengan cara yang sama.
Melihat Gareth
menatapku dengan tatapan serius, aku bisa merasakan desakan kuat agar aku
segera menjelaskan semuanya. Aku menghela napas panjang sebelum mulai
bercerita.
"Pertama
kali aku merasa ada yang aneh itu sekitar sepuluh menit setelah pertandingan
dimulai, bukan? Saat aku terus melakukan deteksi energi roh, aku menyadari ada
reaksi energi roh yang sama sekali tidak bergerak. Baik saat kalian sedang
bertarung habis-habisan, maupun saat aku sedang melarikan diri dari Hell
Plant."
Jika merasakan
guncangan dan energi roh sebesar itu, manusia maupun roh pasti akan menunjukkan
pergerakan apa pun.
Namun, energi roh
itu tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan sama sekali.
"......Jadi
kau menebaknya dari situ?"
"Bukan
menebak dengan pasti. Tapi karena situasinya seperti itu, aku tidak punya
pilihan selain bertaruh."
"Lalu,
serangan pedang sihirnya tadi......"
Kura yang ikut
mendengarkan pembicaraan kami menyela dan bertanya. Gareth menjawab sebagai
gantinya.
"Tentu saja
targetnya juga dirimu, tapi tujuan utamanya adalah tembok di belakang. Yah, aku
sendiri bingung saat tiba-tiba ditarik bersama Beowulf oleh tentakel."
"Aku juga
melakukannya di ambang batas kekuatanku."
Hell Plant adalah
roh yang sulit diatur, dan aku sudah kewalahan mengatur serangan ke arah Kura
serta mengarahkan posisinya, sehingga aku tidak punya sisa tenaga untuk
melancarkan serangan terakhir.
Karena itulah
sosok Gareth sebagai orang yang melakukan serangan penutup sangat penting, dan
meski terkesan sedikit memaksa, aku tidak punya pilihan selain menariknya.
"Lalu,
sisanya aku hanya mengirim Beowulf ke bawah reaksi energi roh tersebut dan
berdoa. Yah, hasilnya seperti yang kalian lihat sendiri."
Sejujurnya, itu
adalah taruhan yang tidak menguntungkan dengan penuh keraguan tanpa bukti
konkret, tapi keberuntungan sedang berpihak pada kami.
"............"
"Jangan
terlihat tidak puas begitu. Kita sudah menang, kan?"
Aku
membalas Akari yang tersirat ingin mengalahkan kakaknya. Lagipula, masalah keluargamu itu bukan urusanku
sama sekali.
"Yah,
keluhanmu akan kudengar nanti. Sekarang ayo pulang."
"......Haa,
aku pikir aku yang akan menari di atas telapak tanganku, tapi ternyata aku yang
menari di atas telapak tanganmu."
Kura bergumam
sambil melepaskan perwujudan Orochi dengan helaan napas.
Bukan hal yang
sedrastis itu, sih, tapi karena aku tidak ingin disalahpahami dengan
menyangkalnya secara berlebihan, aku tidak mengatakan apa-apa dan mengeluarkan Batu
Penyegel untuk mundur.
"Hei, boleh
tanya satu hal terakhir?"
"Apa?"
Kura bertanya
padaku satu hal terakhir sebelum pergi.
"Kalau
seandainya reaksi energi roh itu bukan mahkota, apa yang akan kau
lakukan?"
"Ah, soal
itu―――――"
Aku yang sempat
bersiap-siap untuk pertanyaan yang menjebak akhirnya mengendurkan ketegangan
dan menjawabnya dengan nada yang sangat wajar.
"Tentu saja, aku akan menyerah."



Post a Comment