NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Toshiue Osananajimi to Saikai Shitara ~ Shimai de Ore no Toriai ga Hajimatta. Docchi ga Iika ~ Tameshite Miru? Volume 2 Chapter 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 2

Kenyataan Tidak Berjalan Seperti Film Romantis

【Sudut Pandang Momo-nee】


Piriiriii—


"Hmm..."


Suara alarm kecil berbunyi pelan. Meski disebut pagi, sekarang baru menunjukkan pukul sembilan.


"Uuuh~ tidurku nyenyak sekali."


Cuacanya cerah tanpa awan. Dari celah tirai biru, cahaya terang masuk seolah menyambut awal hari dengan segar.


Tirai renda putih yang baru kubeli akhir-akhir ini juga terlihat berkilau dan lucu.


Hal-hal kecil seperti menaruh sesuatu yang imut di sekitarku begini benar-benar bisa memperbaiki suasana hati setiap hari. Aku juga sudah jadi orang dewasa ya...


Sebenarnya akhir-akhir ini, sambil kuliah aku juga mulai bekerja paruh waktu di sebuah kafe.


Biasanya dua atau tiga jam pada malam hari di hari kerja, tapi kadang di akhir pekan aku mendapat giliran dari pagi sampai sore.


Karena itu, hari libur penuh seperti hari ini terasa sangat menyenangkan sejak tadi malam.


Hari ini aku ada janji menonton film bersama Shin-chan.


Jarang sekali Shin-chan yang mengajakku lebih dulu dengan mengatakan, "Bagaimana kalau kita nonton film?"


Sejak aku dewasa, ini pertama kalinya dia mengajakku seperti itu, jadi aku sangat senang.


Tentu saja tidak mungkin aku menolak. 


Dia bilang akan makan siang dulu, jadi aku juga akan makan sesuatu yang ringan.


Sambil memikirkan itu, aku menuju ruang tamu, dan di atas meja makan ada pesan dari Miu-chan.


[Untuk Onee-chan♡ Hari ini aku pergi ke taman bermain bersama Sana! Makan malam juga akan kumakan di luar ya~! Tunggu oleh-olehnya juga♩ Oh ya, aku sudah membuat onigiri jadi tinggal dipanaskan saja! Dari adikmu tercinta♡]


"Fufu, Miu-chan lucu sekali."


Tanpa sadar senyum muncul di wajahku. Padahal dia pasti berangkat pagi sekali, tapi ternyata dia bahkan menyiapkan makan siang untukku.


Saat kubuka kulkas, di depanku ada dua onigiri bulat.


Tanpa rumput laut atau taburan apa pun, hanya dua onigiri putih bulat yang diletakkan manis di atas piring berbentuk hati.


"Seperti biasa, bumbunya cuma garam ya... fufu."


Onigiri buatan Miu-chan memang sejak dulu sangat asin.


Dan ukurannya juga kecil serta imut.


Karena tangannya sangat kecil, katanya dia hanya bisa membuat ukuran seperti ini.


Hanya membayangkan dia membuatnya dengan sungguh-sungguh saja rasanya membuat hatiku hangat.


Kadang dia membuat onigiri seperti ini, dan saat sedang semangat dia juga membuat telur dadar gulung.


Katanya untuk latihan menjadi pengantin.


Sambil memikirkan itu, aku langsung menggigitnya.


"Am... eh? Rasanya garamnya lebih pas sedikit."


Beberapa waktu lalu, sering kali terlalu asin sampai sulit dihabiskan...Tapi onigiri hari ini rasanya pas sekali.


Apa ada perubahan ya...?


Tapi memang begitulah belajar memasak.


Ternyata dia juga diam-diam berusaha...


Aku juga harus berusaha supaya tidak kalah.


Sementara aku memikirkan itu, tanpa sadar waktu sudah mendekati pukul sepuluh.


"Ah, gawat... aku harus mandi."


Padahal tadi malam aku sudah mandi, tapi di hari penting seperti hari ini aku ingin seluruh tubuhku harum, jadi aku berencana membersihkan diri dengan teliti dan bersiap sebaik mungkin.


Soalnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi... atau semacam itu.


◆◇◆


"Haa~ rasanya enak sekali♩"


Kenapa mandi saat hari masih terang terasa senyaman ini ya?


Kepala yang setengah mengantuk tadi juga jadi segar, dan rasanya pandanganku terbuka lebar.


Sebelum kulitku kering, aku pakai body milk favoritku ini dulu...


Aroma mawar manis menggelitik hidungku.


Aku tidak terlalu suka parfum, jadi aku lebih menyukai body cream atau body milk yang wanginya lembut seperti ini.


"Hmm, hari ini gaya rambut apa ya..."


Sambil memikirkan itu, aku mengeringkan rambutku.


Karena rambut hitamku model bob, variasi gayanya memang tidak terlalu banyak...


Kadang sisi rambutnya kujepit supaya terlihat manis, atau kuikat ke belakang.


Ngomong-ngomong, Shin-chan sepertinya suka kalau rambut diikat. Aku ingat waktu festival kembang api dia bilang itu lucu.


Mungkin rambutku juga sudah cukup kering. Sekarang waktunya mulai berdandan.


Saat aku memikirkan hal itu dengan santai──


Ting tong—


Eh? Kalau tidak salah Shin-chan baru akan datang pukul satu siang. Dia bilang akan makan siang dulu, jadi pasti bukan dia.


Sekarang jam berapa sih...


Eh, sudah jam dua belas!? Tanpa sadar aku menghabiskan dua jam hanya untuk mandi dan merawat tubuh.


Padahal aku biasanya tidak begini...


Aku melilitkan handuk mandi di tubuhku dan buru-buru menuju pintu depan.


Jarang ada orang datang pada jam seperti ini, jadi mungkin Miu-chan lupa membawa sesuatu...?


Ting tong—


"Iyaaa...! Tunggu sebentar, aku keluar sekarang!"


Klik—


"Eh...? Shin...chan?"


◆◇◆


【Sudut Pandang Shintarou】


Karena hari ini aku ada janji kencan dengan Momo-nee, sejak pagi aku sudah bersemangat.


Dan karena terlalu tidak sabar, aku malah tiba di rumah Momo-nee lebih dari satu jam lebih awal dari jadwal.


"Hmm... ya sudah, aku tunggu santai saja deh."


Meski merasa agak tidak enak karena seperti terburu-buru, karena hubungan kami sudah dekat aku pikir dia pasti memaklumi, lalu seperti biasa aku menekan bel.


Lalu dari balik pintu terdengar suara Momo-nee.


(Hari ini Momo-nee pakai baju seperti apa ya... tidak sabar.)


Dengan penuh harapan, aku menunggu pintu terbuka.


Klik—


"Ah, selamat pagi, Momo-nee..."


Yang muncul menyambutku bukan Momo-nee yang sudah siap, melainkan Momo-nee tanpa riasan dan hanya mengenakan selembar handuk mandi.


"A-anu, maaf... aku datang terlalu cepat dari jadwal!"


"Tidak apa-apa kok! Aku juga minta maaf, persiapanku sedikit terlambat..."


Dia mempersilahkanku masuk dengan lambaian tangan.


Dia menahan bagian dada handuknya agar tidak terlepas, tapi jujur saja rasanya hampir saja terjatuh.


Lebih dari itu, membuka pintu dengan penampilan seperti itu terlalu lengah, bukan?


Bagaimana kalau orang aneh yang datang?


"M-Momo-nee, jangan membuka pintu cuma pakai handuk begini! Bagaimana kalau yang datang orang aneh!?"


"Ah... iya juga... aku kira tadi Miu-chan..."


"Tunggu, berarti Momo-nee membukanya tanpa melihat siapa yang datang!?"


"A-anu... iya..."


Ini bukan masalah ceroboh lagi.


"Ayo, duduk saja yang nyaman."


Momo-nee langsung mengganti topik.


Orang ini... apa dia benar-benar mengerti sih.


Sambil berkata akan cepat bersiap, dia duduk di depan meja rias dan mulai berdandan dengan tergesa-gesa.


Entah kenapa dia masih memakai handuk saja.


Aku duduk di tempat tidur dan diam-diam memperhatikan Momo-nee bersiap dari belakang.


(Kalau handuk itu jatuh sekarang, apa yang bakal terjadi ya...)


Susah mengalihkan pandangan…


Lebih baik cari kegiatan sambil menunggu...


"Eh? Tetes mataku ke mana ya..."


Sambil berkata tidak menemukannya, Momo-nee mulai mondar-mandir ke seluruh ruangan.


Dengan penampilan seperti itu malah membuatku bingung...


Yah, tapi kalau memang hilang tidak bisa dihindari. Aku bantu mencarinya.


"Coba lihat di bawah tempat tidur? Mungkin jatuh di sekitar sini."


Aku berjongkok dan mengintip ke bawah tempat tidur.


Di sisi seberang, Momo-nee juga ikut berjongkok dan melihat ke arahku melalui celah.


A-aneh juga situasi ini...


Suka tidak suka, pandanganku jadi tertarik ke sana.


Bukan berarti aku tidak suka sih. Perhatianku terus tertuju pada bagian dadanya yang terlihat hampir meledak, tapi ini jelas bukan saatnya melihat.


"Ah! Ketemu!"


Momo-nee langsung mencoba masuk ke bawah tempat tidur. Meski celahnya tidak cukup besar untuk seluruh tubuh, rasanya kalau dipaksa mungkin bisa.


Tapi sayangnya karena tubuh Momo-nee terlalu berisi di bagian tertentu, sepertinya tidak mungkin.


Dia berusaha keras mengulurkan tangannya ke arah tetes mata itu...


Padahal kalau dari sisiku pasti lebih cepat. Kalau dia memintaku, aku pasti mengambilkannya.


Sambil memikirkan itu, rasa jahilku muncul sedikit dan aku terus memperhatikan Momo-nee yang terlihat begitu lucu hingga sulit mengalihkan pandangan...


Lalu akhirnya, handuk yang menahan tekanan itu kalah dan terlepas begitu saja.


"Y-yah! Shin-chan jangan lihat... hadap sana!"


"Eh! O-oke! Aku menghadap ke sana!"


  DUK!


"Aduh!"


Aku yang kaget itu, seperti biasa, langsung membenturkan keningku ke rangka tempat tidur.


Apakah ini yang disebut karma?


"Shin-chan, kamu nggak apa-apa? Ah, ini bukan saatnya buat begini ya…… Kita harus buru-buru!"


Uuuh……


◆◇◆


Setelah itu, kami memperhatikan persiapan Momo-nee untuk beberapa saat lagi, dan akhirnya tiba dengan selamat di bioskop yang terhubung langsung dengan stasiun.


Memang ada sedikit masalah di perjalanan, tapi sepertinya kami masih punya waktu lebih dari cukup sebelum film dimulai.


Bahkan bisa dibilang waktu kami masih tersisa lumayan banyak.


Ngomong-ngomong, pilihan filmnya kuserahkan pada Momo-nee. Katanya itu kejutan sampai kami tiba.


"Shin-chan, dulu kamu bilang kalau kamu nggak terlalu suka film romantis, ya?"


Ahh... waktu kami pernah mengadakan acara nonton film bersama, sepertinya aku memang pernah bilang begitu...


"Bukan berarti aku nggak suka sih. Kalau sama Momo-nee, rasanya apa pun bakal menyenangkan. Kalau nonton sama cowok sih rasanya berat..."


"Eh, serius? Syukurlah♩ Soalnya film yang kita tonton hari ini ternyata film romantis♩"


Entah kenapa aku memang sudah punya firasat begitu. Ini kan semacam kencan juga...


"Karena ini kencan yang spesial, aku pikir film cinta yang bikin deg-degan mungkin lebih cocok~"


Ternyata Momo-nee juga memikirkan hal yang sama.


Jadi ini memang benar-benar kencan ya...kalau begitu, berarti ini bakal jadi kencan pertama yang benar-benar layak dalam hidupku.


Dua orang lawan jenis pergi menonton film romantis berdua saja, bukannya itu biasanya cuma dilakukan pasangan?


"Ayo main di game center sana buat menghabiskan waktu."


Kata Momo-nee sambil menggandeng lenganku.


Orang ini benar-benar tidak sadar diri atau bagaimana sih, tiap saat selalu menempelkan dadanya begini. Ditambah lagi, pakaian hari ini juga lumayan berbahaya.


Karena tadi keluar rumah dengan terburu-buru, aku nggak terlalu memperhatikannya, tapi dia memakai camisole abu-abu berbahan seperti rajutan musim panas dengan cardigan tipis di luarnya. Warnanya merah muda lembut dan terlihat manis. Dipadukan dengan celana denim ketat, keseluruhan gayanya terlihat cukup kasual.


Ditambah lagi, tas selempang kecilnya membentuk garis yang melintas di antara dadanya dengan sempurna.


Benar-benar licik ya... rasanya seperti perwakilan orang yang jago cari perhatian. Sekilas, pakaiannya memang tidak terlalu terbuka dan terlihat cukup dewasa...


Tapi tatapanku benar-benar terkunci pada belahan dadanya.


Seolah berkata "silakan lihat", belahan yang cukup dalam itu tampak mengintip ke arahku dalam sudut yang cuma bisa kulihat.


Camisole berbahaya begini curang banget...


"Lihat Shin-chan, gantungan kunci ini lucu ya."


Ke arah yang ditunjuk Momo-nee, ada gantungan kunci squishy anjing Shiba gemuk.


Anjing Shiba itu berguling-guling bersama benda-benda yang mirip permata berkilau. Kelihatannya cukup absurd dan agak lucu.


Aku nggak begitu mengerti selera Momo-nee, tapi karena dia terlihat sangat menginginkannya, mungkin akan kuambilkan.


...Hmm. Kebetulan sekali, ini tipe permainan yang harus menyendok benda.


"Serahkan saja padaku."


Sebenarnya, dari dulu aku cukup jago soal beginian. Lagi pula, satu kali main cuma seratus yen. Harga yang cukup ramah.


Aku pasti bakal mendapatkannya dalam lima ratus yen.


Pertama-tama, aku memasukkan seratus yen.


Anggap saja pemanasan dulu... sambil menggerakkan capit ke arah anjing Shiba yang berguling-guling itu.


"Oh... bagus! Dapat satu!... Yes! Berhasil!"


Dengan bunyi gakon, anjing Shiba gemuk itu jatuh ke lubang pengambilan hadiah.


Apa ini, gampang banget.


"Wahh~... Shiba ini gembul banget, lucu sekali..."


"Hehe, bisa dapat dalam sekali coba, mungkin aku memang jenius."


"Kamu memang jenius! Makasih Shin-chan♩ Aku bakal menjaganya baik-baik."


Mungkin karena terlalu senang, dia kembali melingkarkan lengannya ke tanganku sambil menggosok-gosokkan tubuhnya.


Uuh~ kalau dia sesenang ini, rasanya aku jadi ingin mengambilkan lebih banyak lagi... hehe.


Jujur saja, karena mendapatkannya jauh lebih mudah dari perkiraanku, rasanya malah jadi agak mengecewakan.


Tapi entah kenapa aku juga jadi sedikit malu.


Momo-nee tersenyum lebar sambil tertawa riang, sampai-sampai orang-orang di sekitar mulai melirik kami. Mungkin kami memang terlalu menempel.


"Fufu, kalau kita bermesraan seperti ini, nanti orang-orang bisa salah mengira kita pasangan lho♡ Lihat, orang-orang di sana juga memperhatikan kita banget."


Yah, kalau sedekat ini wajar saja dilihat orang... tapi kami bukan tontonan.


"Su-sudah hampir waktunya, ayo pergi."


Dan begitu, kami pun meninggalkan game center.


◆◇◆


【Sudut Pandang Momo-nee】


Film yang akan kami tonton hari ini adalah Mata Kimi ni Aetara (Kalau Aku Bisa Bertemu Denganmu Lagi), film yang sedang ramai dibicarakan di kalangan para pelajar.


Sebuah kisah cinta tentang seorang gadis yang bertemu kembali dengan anak laki-laki yang pernah ditemuinya di masa lalu, lalu saat mereka dewasa, keduanya jatuh cinta sekali lagi.


Saat melihat iklannya di televisi, entah kenapa aku merasa itu sangat mirip dengan diriku sekarang, sampai tanpa sadar aku mengaitkannya dengan diriku sendiri. 


Sejak saat itu aku jadi penasaran sekali. Lalu di saat seperti itu, kebetulan Shin-chan mengajakku pergi, jadi aku langsung memutuskannya saat itu juga.


Ngomong-ngomong, squishy anjing Shiba yang tadi didapatkan Shin-chan di game center ini...


Kenyal sekali dan rasanya sangat nyaman saat disentuh.


Aku benar-benar senang karena dia mendapatkannya untukku... mungkin ini akan menjadi harta berhargaku.


"Oh iya, Momo-nee mau minum apa?"


"Eh? Hmm... jus jeruk saja mungkin."


"Kalau begitu aku juga pesan jus jeruk deh."


Shin-chan memesan dengan cekatan, bahkan sekalian memesan punyaku.


"Ah, biar aku yang bayar..."


"Yang ini biar aku saja yang bayar~ serahkan padaku."


Saat aku masih mengeluarkan dompet, ternyata dia bahkan sudah menyelesaikan pembayarannya. Sementara aku melamun sambil berpikir kalau lucu juga dia memilih jus jeruk yang sama denganku.


Sebagai seseorang yang lebih tua, rasanya aku sedikit sungkan.


"Eh, tapi..."


"Lihat, antrian kasir mulai ramai. Kita harus cepat ambil pesanan lalu pindah."


"Setidaknya kita bagi dua saja."


"Nggak apa-apa kok. Lagi pula aku juga sering ditraktir makan malam sama Momo-nee. Segini mah murah."


"Eeh... tapi..."


"Untuk hal seperti ini, Momo-nee boleh manja kok."


"...Makasih. Lain kali biar aku yang bayar ya."


Kurasa kali ini aku akan menerima kebaikannya saja. Kalau terus memaksa juga nanti malah terlihat menyebalkan.


Sementara kami berbicara, di tangan Shin-chan sudah ada dua jus jeruk dan popcorn ukuran L. Semuanya ditaruh bersama di atas wadah yang besar.


"Mau kubawakan salah satunya...?"


"Nggak apa-apa kok~ Nggak berat sama sekali, biar aku yang bawa."


"Makasih untuk semuanya."


Padahal cuma percakapan kecil yang biasa saja, kenapa rasanya bisa sebahagia ini?


Saat melihat sekeliling, tiba-tiba aku berpikir... mungkin di mata orang lain kami terlihat seperti pasangan sungguhan...


Padahal cuma berada di sisinya saja, tapi hatiku terasa begitu penuh.


Saat ini, aku benar-benar menyayangi waktu seperti ini.


"Momo-nee, kursi kita nomor berapa ya?"


"Hmm... baris keenam, nomor lima dan enam."


"Ada, ada, di sini."


"Ramai juga ya."


Dari yang kulihat, tempat itu sudah dipenuhi pasangan dan suami istri.


"Orang-orang yang datang nonton, semuanya pasangan ya?"


"Mm, sepertinya begitu. Selain itu mungkin ada juga yang sudah menikah."


"Oh iya juga... aku baru pertama kali nonton film romantis di bioskop, jadi rasanya agak malu."


Shin-chan menunduk dengan malu sambil menyandarkan tubuhnya dalam-dalam ke kursi.


Bagian seperti inilah yang lucu... akhir-akhir ini melihatnya saja rasanya menenangkan.


Aku diam-diam duduk di samping Shin-chan. Padahal jaraknya tidak terlalu dekat, tapi mungkin karena suasananya, entah kenapa aku jadi sadar akan keberadaannya.


"Momo-nee, mau makan popcorn?"


"Mm, aku ambil sedikit."


"Nih, aku juga minta tisu basah biar habis makan bisa bersihin tangan."


"Shin-chan... kalau begini sih kamu bakal populer sama cewek."


"Hehe, kalau soal beginian aku lumayan paham."


Curang. Padahal seharusnya akulah yang menyiapkan hal seperti itu. Rasanya seperti sedang dikawal dengan manis.


Tanpa kusadari dia sudah bisa melakukan hal seperti ini...


Kadang-kadang Shin-chan terlihat seperti pria dewasa.


Mungkin cuma karena dia berusaha terlihat keren di depanku. Tapi bagaimanapun juga, perhatian kecil seperti ini memang kelemahan wanita.


Padahal aku juga akan senang kalau dia lebih banyak memanjakan diri padaku.


"Wah... sudah gelap. Sebentar lagi mulai ya."


Lampu ruangan meredup dan iklan sebelum film utama mulai diputar di layar.


"Momo-nee nanti jangan-jangan nangis karena terharu ya."


Dia menoleh sambil tersenyum padaku.


Apa dia sedang menggodaku?


"Menggoda orang yang lebih tua itu nanti ada hukumannya."


Sebagai balasan, aku berbisik di telinganya.


Seperti dugaanku, Shin-chan langsung jadi sangat malu.


Hehe, dia terlalu lucu sampai rasanya aku bisa jadi aneh sendiri.


"Momo-nee, sudah mulai lho, fokus dong."


"Sst... Shin-chan juga."


Di layar bioskop, dua orang yang baru bertemu kembali setelah sekian lama saling bersandar seolah mencoba merebut kembali waktu yang sempat berhenti.


Sambil memakan masakan buatan sang heroine yang dibuat dengan sepenuh hati, mereka mengobrol dengan suasana bahagia yang meski malu-malu, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Shin-chan juga makan masakanku dengan lahap ya… Padahal aku cuma sering membuat karaage dan kari...


Sambil memikirkan itu, aku melirik Shin-chan.


Dia menonton dengan sangat serius.


Aku tahu dia tidak terlalu suka genre seperti ini, tapi ternyata dia menikmatinya dan itu membuatku lega.


Lalu saat itu—


"Malam ini... mau menginap?"


Suara heroine masuk ke telingaku. Sepertinya aku terlalu sibuk memperhatikan Shin-chan sampai tidak fokus pada film.


Mereka makan bersama, lalu kencan menginap ya...


Entah kenapa aku iri.


Kencan ideal seperti ini, suatu hari nanti aku juga ingin bersama Shin-chan berdua saja—


...berdua saja... ingin kencan menginap?


Barusan... aku memikirkannya tanpa ragu sama sekali, ya?


Akhir-akhir ini aku mulai semakin sering berpikir kalau mungkin perasaanku pada Shin-chan itu adalah cinta.


Bukan sekadar ingin menggoda teman masa kecil yang lebih muda, tapi mungkin aku ingin melangkah lebih jauh. Ingin mengenal lebih banyak sisi Shin-chan.


Ciuman saat perjalanan ke pemandian air panas dulu sepertinya dianggap sebagai "godaan" yang kelewatan karena aku sedang mabuk...


Tapi aku juga tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Dan kalau aku bertanya "apa pendapatmu tentang diriku?" juga cuma akan membuatnya bingung.


Mungkin bagi Shin-chan, aku hanyalah seorang "teman masa kecil yang lebih tua dan mudah diajak bicara"...


──Tapi setidaknya sedikit memperpendek jarak tidak masalah, kan?


Kalau cuma segini, pasti tidak akan membuat Shin-chan kesulitan...


Di atas sandaran tangan, aku perlahan mengaitkan kelingkingku dengan kelingking Shin-chan.


Kupikir dia akan langsung menariknya, tapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu dan hanya diam saja. Padahal cuma menyentuh kelingking, tapi terasa sangat hangat.


Apa dia mulai mengantuk? Lucu sekali seperti bayi.


Untuk sementara, mari menonton seperti ini saja.


Dalam suasana seperti ini, bersentuhan sedikit saja benar-benar membuat jantung berdebar.


"Mo-Momo-nee... anu, mungkin sudah waktunya..."


Begitu dia berbisik pelan agar hanya aku yang mendengarnya.


Rasanya bahkan belum sampai satu menit...


Karena merasa mungkin aku sudah berbuat hal buruk, aku mengintip wajah Shin-chan.


Pipinya merah sampai yang paling merah yang pernah kulihat, bahkan telinganya juga memerah. Mungkin cuma karena cahaya layar yang membuatnya terlihat merah.


"Maaf ya," hanya itu yang kukatakan sambil buru-buru melepaskan jari yang terjalin.


Apa suasananya jadi canggung ya...


Dan saat kusadari, kredit penutup film sudah mulai diputar.


Aku ini datang ke sini sebenarnya untuk apa sih...


Begitu film selesai, Shin-chan bertanya padaku.


"Momo-nee, gimana filmnya?"


Harus jawab apa ya? Soalnya cuma sekitar tiga puluh persen yang masuk ke kepalaku.


"Deg-degan banget, aku jadi ingin merasakan cinta seperti itu."


Mungkin kalau bilang seperti ini terdengar meyakinkan.


"Cinta seperti itu... ya? Tapi mereka berpisah di akhir lho."


"Eh, bukan! Bukan bagian itu..."


"Ah~ Momo-nee ternyata nggak nonton yaa!"


Kena telak! Shin-chan menusuk-nusuk bahuku sambil tertawa.


"Nggak kok~ Aku juga mengagumi kencan menginap."


"Yah, soalnya Momo-nee sibuk menggangguku terus, jadinya nggak bisa fokus nonton~"


"...?"


"Yang tadi itu apaan sih?"


"Yang tadi...?"


"Itu lho, waktu Momo-nee tiba-tiba mengaitkan kelingking."


"Itu... anuuu..."


Rasanya sampai seperti ada uap keluar dari kepalaku karena malu.


Diriku yang tadi jelas sangat aneh. Pasti suasana bioskop membuat perasaanku jadi aneh. Kalau diingat-ingat lagi rasanya aku ingin bersembunyi saja.


"Ah, bukan maksudku menggodamu."


Shin-chan melanjutkan.


"Sebenarnya... aku cuma mau bilang kalau aku nggak membencinya... tapi karena Momo-nee malah minta maaf... jadinya suasananya jadi canggung."


Aku terkejut...kupikir dia bakal menertawakanku.


Jadi... Shin-chan tidak membencinya ya.


"Tapi kalau melakukan hal seperti itu di bioskop, jadi susah fokus sih."


Memang benar, aku juga jadi tidak bisa fokus. Yang ini harus kurefleksikan.


"Maaf ya, Shin-chan... uu..."


"Ka-rena ituuu, jangan minta maaf lagiii~~"


Sambil tertawa, dia menepuk-nepuk kepalaku.


Dari mana dia belajar hal seperti itu? Padahal cewek itu lemah terhadap tepukan di kepala.


Rasanya jadi aneh...


Biasanya selama ini akulah yang lebih tenang—kalau begini terus... aku benar-benar akan jatuh cinta padamu…


◆◇◆


Setelah keluar dari bioskop, sambil mengobrol tentang mau melakukan apa setelah ini, ternyata waktu sudah melewati sore hari.


Hari ini sepertinya Miu-chan juga pulangnya terlambat, jadi makan malam di luar juga sepertinya tidak masalah.


Mungkin aku coba tanya Shin-chan.


"Shin-chan, sebentar lagi perutmu juga pasti mulai lapar, kan? Waktunya juga pas, jadi aku kepikiran bagaimana kalau kita makan malam bersama?"


"Aku sih tentu saja oke! Ayo pergi makan sesuatu yang enak~!"


"Yay~♩ Kira-kira makan apa yaa?"


Makanan Jepang? Makanan Barat? Atau ramen juga enak ya~? Sambil mengobrol seperti itu saat kami berjalan──


Tiba-tiba ada seseorang yang penampilannya sangat mencolok berjalan cepat dari arah depan.


Dan sepertinya dia melambaikan tangan ke arah sini...


Siapa ya? Rasanya bukan tipe orang yang ada di lingkaran pertemananku...


"Senpaaai~ Yaho~ ketemu di tempat begini bikin kaget deh."


...Senpai? Apa dia juniornya Shin-chan?


"Ah, Kurosaki-san. Ketemu lagi sejak waktu itu."


"Aha, lucu juga. Jadi aku sekarang dipanggil Kurosaki-san ya."


Kurosaki-san... bahkan Miu-chan juga belum pernah menyebut nama itu.


"Ah, soalnya aku nggak tahu harus manggil apa, dan rasanya juga aneh kalau langsung pakai nama tanpa embel-embel, jadi kupanggil Kurosaki-san."


Mereka berdua mengobrol dengan akrab.


Agak sulit kalau aku ikut masuk ke percakapannya, jadi lebih baik diam saja... saat aku berpikir begitu,


"Senpai, ini kakaknya ya? Senang bertemu denganmu! Cantik banget... sampai aku nggak bisa berhenti lihat."


"Ah, senang bertemu juga...! Terima kasih sudah selalu menjaga dia...!"


Eh, salah...


Karena tiba-tiba disapa begitu, aku malah bereaksi seolah-olah benar-benar kakaknya.


Ah, astaga... padahal aku bukan kakaknya Shin-chan...


"Ehm, Kurosaki-san mau pergi ke mana setelah ini?"


Meninggalkan aku yang masih bingung, Shin-chan melanjutkan percakapannya.


Mungkin memang sulit memperkenalkanku karena aku bukan pacarnya, tapi setidaknya dia bisa mengoreksi soal kakak itu... hmm.


"Mau karaoke nih. Tuh, sama teman-teman di sana."


Saat kulihat, ada dua orang berdiri agak jauh, sama mencoloknya seperti Kurosaki-san.


Wah...mereka benar-benar gyaru...


Kuku mereka semua panjang sekali dan berkilauan. Lingkaran pergaulan Shin-chan ternyata luas juga...


"K-kalau begitu bukannya nggak enak bikin mereka nunggu? Kami juga harus pergi sekarang, sampai ketemu lagi ya, Kurosaki-san."


Begitu mengatakannya, Shin-chan langsung buru-buru meninggalkan tempat itu.


"Senang banget bisa ketemu kakaknyaaa!" atau semacam itu sambil membungkuk ringan, Kurosaki-san juga pergi dari sana.


A-apa barusan itu...


Aku mempercepat langkah kecil untuk menyusul Shin-chan yang berjalan di depan.


"Shin-chan, hubunganmu sama Kurosaki-san itu apa?"


Kelihatannya mereka tidak sedekat itu, jadi aku memberanikan diri bertanya. Daripada memikirkannya terus nanti dan malah jadi mengganggu.


"Kurosaki-san itu junior di sekolahku. Dan tadi itu baru kedua kalinya aku ngobrol dengannya. Kayaknya dia mengira hubungan aku sama Momo-nee itu kakak-adik... haha."


"Hmph, kalau begitu Shin-chan juga harusnya mengoreksi dia," kataku sambil sedikit memasang wajah cemberut.


"Kalau aku benar-benar punya kakak seperti ini, itu bakal terlalu sempurna sih, jadi kupikir nggak apa-apa dibiarkan begitu."


"Aduh, ngomongnya enak banget sih."


Shin-chan sekarang juga makin pandai menggoda.


"Ngomong-ngomong, Kurosaki-san benar-benar mencolok ya."


"Benar juga... rasanya dia benar-benar kebalikannya aku."


Rambutnya pink, kukunya berkilauan. Riasannya sih tidak terlalu tebal, tapi sekali lihat langsung terasa kalau dia gyaru.


"Entah kenapa di sekolahku memang banyak gyaru di angkatan bawah."


Aku juga belum pernah dengar dari Miu-chan, dan teman-teman Miu-chan juga kebanyakan gadis yang kelihatannya tenang, jadi aku sama sekali tidak tahu kalau ada gadis semencolok itu di sekolah Shin-chan. Mungkin karena mereka sedang pakai baju biasa, tapi bagian dadanya juga sangat ditonjolkan... apa di sekolah juga seperti itu ya...


Uuh... entah kenapa aku mulai sedikit khawatir.


"Begitu ya... lalu, Shin-chan suka nggak? Tipe gyaru seperti itu."


Tanpa sadar aku malah menanyakan hal yang tiba-tiba seperti itu.


"Eh, yah... bukan berarti aku nggak suka sih, tapi kalau ditanya itu tipe kesukaanku atau bukan..."


"Kalau ditanya tipe kesukaanmu...?"


"Aku suka tipe onee-san."


Lagi.


Sekarang dia bisa mengatakan hal seperti itu dengan santainya.


"Shin-chan, akhir-akhir ini rasanya kamu berubah ya?"


"Eh, berubah maksudnya..."


"Hmm, gimana ya... rasanya kamu sudah nggak semudah dulu untuk malu berlebihan, atau mungkin sudah lebih kebal saat berinteraksi dengan perempuan."


"Nggak juga sih... tapi dibanding dulu mungkin aku memang mulai terbiasa. Soalnya aku sudah banyak belajar macam-macam dari kalian kakak beradik!"


Memang sih...


Kalau dia bilang begitu aku jadi tidak bisa membalas apa-apa.


Belakangan ini aku berusaha agar tidak kelewatan, tapi dulu... aku memang sering melakukan kontak fisik dan terlalu sering menggodanya.


Tapi tetap saja...


Perkembangannya terlalu cepat, tahu?


"Kalau begitu sekarang kamu nggak bakal malu lagi apa pun yang dilakukan padamu?"


Karena sedikit merasa tidak puas, aku sengaja memasang sikap jahil lalu memeluk Shin-chan.


Sudah begini, aku juga tidak peduli lagi dengan pandangan orang lain.


"Tadi kamu bilang suka tipe onee-san kan, tapi aku juga onee-san, lho... bahkan onee-san dengan dada besar. Gimana? Suka?"


Aku menekankan tubuhku dengan kuat sampai dadaku terasa tertekan. Soalnya Shin-chan tadi melihat dada Kurosaki-san dengan serius.


Memang sih, kalau memakai baju yang begitu menonjolkan bagian dada, siapa pun mungkin bakal melihat. Tapi kalau dia melihat seperti itu saat aku ada di sampingnya, rasanya sedikit... tidak, sangat membuatku cemburu.


........Eh? Jangan-jangan aku keterlaluan saat menggodanya. Dia malah membeku dan berhenti bergerak...


Ah gawat...


"Maaf ya, Shin-chan... sampai sini saja... eh, tapi ini salah Shin-chan juga lho? Soalnya kamu bilang sudah terbiasa."


"Uuuuh... kalau ini sih aku benar-benar belum punya ketahanan..."


"Maaf, maaf, aku nggak akan melakukannya lagi... ya?"


"Uuuuh..."


"Ayo, kita makan terus pulang♩"


"Uuuuuuhhh~~!!"


"Shin-chan ini... benar-benar imut ya."


Saat dia bilang sudah terbiasa, aku sempat merasa sedikit kesepian dan jadi keras kepala, tapi... mungkin dia cuma berpura-pura kuat, karena Shin-chan sebenarnya tidak berubah sama sekali.


Dia memandangku seperti apa ya...


Suatu saat nanti aku ingin benar-benar menanyakannya.


Sampai saat itu, mungkin aku hanya bisa memastikan perasaannya dengan menggodanya seperti ini.


Begitulah...


Hari itu kami makan malam, lalu berpisah dengan tenang.


Apakah aku bisa jujur pada perasaanku sendiri atau tidak────


Itu masih cerita untuk sedikit waktu lagi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close