NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Guuzen Tasuketa Bishoujo ga Naze ka Ore ni Natsuite Shimatta ken ni Tsuite Volume 3 Chapter 3

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 3

Justru Karena Sangat Mencintai dan Menghargaimu

"......Hei. Hina."


Sebuah suara yang hangat, yang tanpa sadar membuatku ingin terus mendengarkannya. Suara yang memanggil namaku itu lambat laun terdengar semakin jelas, dan di saat yang sama, aku juga bisa merasakan pundakku sedang diguncang-guncang dengan pelan.


Rei-kun sedang memanggilku.


Seingatku......aku sempat terbangun sekali di dalam taksi, lalu ketiduran lagi, ya.


Entah mengapa, rasanya aku sempat bermimpi hal yang membuatku kesal. Tapi, sekarang perasaanku sangat nyaman. Memang benar, waktu yang dihabiskan dengan menempel dan tidur di dekat Rei-kun adalah yang terbaik.


Kalau dipikir-pikir, posisi ini adalah posisi tidur di pangkuan. Sebab, tidak mungkin aku salah mengenali sensasi dari paha Rei-kun.


Dengan kata lain, bantal terbaik saat ini sedang berada di bawah kepalaku. Kalau aku bangun, bantal ini pasti akan disingkirkan......jadi, demi bisa berbantal paha Rei-kun sedikit lebih lama lagi, pilihan satu-satunya di sini adalah pura-pura tidur.


"Benar-benar imut, ya. Tapi, kakiku sudah mulai kesemutan, nih......"


Jemari yang menyisir rambutku dengan lembut rasanya sangat nyaman. Elusan Rei-kun adalah yang terbaik, jadi rasanya aku ingin terus berada di sini selamanya......tapi batas waktu untuk tidur di pangkuan itu memang datangnya lebih cepat dari perkiraan, ya.


Lewat kepalaku, aku bisa merasakan paha Rei-kun yang sedikit gemetaran. Aku tahu dia pasti lelah setelah berjalan ke sana kemari, tapi......sebentar saja lagi. Tolong bertahanlah selama 5 menit, tidak......sekitar 2 jam lagi.


"Kalau sudah begini......mau bagaimana lagi. Ini jalan terakhir. Aku akan menyentuhmu sedikit......maafkan aku, ya."


Mungkin karena sudah kehabisan kesabaran menghadapi diriku yang menunjukkan tekad pantang mundur ini, Rei-kun bergumam dengan nada suara yang terdengar terdesak.


Wajar saja kan kalau jantungku berdegup kencang mendengar kata "menyentuh"?


J-jadi......di bagian mana dia berniat menyentuhku? Kaki? Atau dada?


Ugh......aku jadi gugup. Bukannya aku tidak suka disentuh, malah sebenarnya aku sangat menyambutnya dengan senang hati, tetapi memikirkan kalau aku akan berada di posisi pasif yang menerima perlakuan itu, entah mengapa membuatku merasa tidak tenang dan gelisah.


Ah, setelah dipikir-pikir, tubuhku rasanya jadi agak panas...... Meskipun aku sudah mempersiapkan hati dan berjaga-jaga seperti ini, tubuhku pasti akan tetap merasa kegirangan begitu menerima sentuhan jemari Rei-kun. Habisnya, aku sangat suka disentuh oleh Rei-kun. Memikirkan kalau aku akan dibuat merasa ketagihan saat digerayangi oleh jemarinya yang panjang dan lentur itu, membuatku merasa penuh harapan......っ.


"......Ah, ng."


"Bangun~"


"Hyan, ng......di situ......"


"Kalau tidak bangun, bakal aku urek-urek, lho~"


Saat bagian bantalan jarinya memijat-mijat dan memilin dengan lembut, aku tidak mampu lagi mempertahankan kepura-puraanku dan tanpa sadar langsung merespons.


Sentuhan menggelitik yang mengusap ke arah atas membuatku merinding hingga pinggangku refleks terangkat, dan aku tidak punya pilihan selain bertahan dengan cara membenamkan wajahku ke perut Rei-kun.


"Sudah bangun, toh."


"......Belum bangun."


"Kalau begitu, mari kita urek-urek terus sampai bangun."


Begitu jarinya masuk tepat sampai ke lubang telinga, aku langsung mengangkat bendera putih tanda menyerah. Rasanya terlalu geli dan nikmat sampai aku tidak bisa menahannya lagi.


"Ahn, ah, ah......aku sudah bangun. Lebih dari itu adalah pelanggaran!"


Karena Rei-kun menyerang bagian dalam telingaku dengan begitu gigih, mau tidak mau aku harus segera mundur menyelamatkan diri.


Benar-benar......curang ya. Mengapa hanya dengan memainkan telinga saja bisa membuatku merasa senikmat ini? Bahkan jika memperhitungkan kalau telingaku memang sensitif, ini tetap saja aneh. Apa jemari Rei-kun itu sejenis senjata pembuat nikmat?


"Maaf ya sudah membangunkanmu. Kakiku benar-benar sudah mencapai batasnya."


"Bagiku tidur di pangkuan memang menyenangkan, tapi sebaiknya kamu jangan memaksakan diri."


"Aku juga maunya begitu. Tapi saat mau kusingkirkan, entah siapa ada seseorang yang terus memelukku erat-erat dan tidak mau melepaskannya."


Begitu rupanya.


Untuk saat ini, mari kita puji diriku yang sedang tertidur tadi. Sikap yang tetap keras kepala tidak ingin berpisah dari Rei-kun itu benar-benar sangat luar biasa. 


Good job.


"Habisnya tidur di pangkuan Rei-kun itu nyaman sekali, sih. Mencoba untuk memisahkannya itu adalah tindakan yang tidak baik."


"Memangnya paha laki-laki ada peminatnya, apa?"


"Peminatnya banyak sekali tahu. Tidak berlebihan jika dikatakan kalau pangkuan Rei-kun sudah ditetapkan sebagai kelas paling premium sejak zaman purba."


"Itu jelas berlebihan."


Aku sangat suka pangkuan Rei-kun. Kalau aku menoleh sedikit, di sana juga ada otot perut yang kencang dan proporsional, jadi rasanya sangat menguntungkan.


Makanya, itu sama sekali tidak berlebihan, lho.


"Apa kesemutannya sudah reda? Aku ingin cepat-cepat rebahan lagi."


"Sebelum itu, cepat ganti bajumu dulu. Kalau dipakai tidur begitu nanti bajunya bisa kusut."


Alasan aku diusir dari pangkuannya adalah karena kakinya kesemutan, jadi jika kesemutannya sudah hilang, sudah sewajarnya kan kalau aku kembali ke sana.


Menghadapi diriku yang berniat begitu, Rei-kun langsung memasang barikade dan menyuruhku untuk berganti pakaian.


Ah, kalau dipikir-pikir, aku memang masih mengenakan yukata, ya. Karena aku sudah mendapatkan barang yang sangat bagus, aku harus merawatnya dengan baik.


Oleh karena itu......aku menjulurkan kedua lenganku lebar-lebar ke arah Rei-kun.


"Apa? Minta gendong?"


"Kamu boleh membantu melepaskannya untukku, lho."


"......Kamu sadar tidak dengan apa yang kamu katakan?"


"Iya. Silakan, langsung saja kupas pakaian ini tanpa ragu."


"Dengar ya, tolong miliki rasa malu sedikit saja, napa."


"......Kamu tidak mau melepaskannya? Ini kesempatan emas untuk memastikan apakah di balik yukata ini aku telanjang atau tidak, lho?"


Yah, karena di dalamnya aku mengenakan pakaian dalam dengan benar, tentu saja aku tidak telanjang. Melihat Rei-kun yang memalingkan wajah dariku dengan pipi yang sedikit memerah seperti itu terasa sangat imut.


Meski begitu, aku tidak sedang bermaksud menggodanya. Di dalam hati aku sempat berpikir kalau dilepas oleh Rei-kun pun tidak apa-apa......tetapi untuk hari ini, mari kita ampuni dia saja dahulu.


Karena yukata akan terlihat lebih indah jika lekuk tubuh tidak terlalu menonjol, aku mengenakan pakaian dalam yang agak ketat untuk menekan bagian dada, dan sejujurnya modelnya sama sekali tidak imut. Meskipun aku sama sekali tidak keberatan jika pakaian ini dilepas olehnya, tetapi memperlihatkan sosokku dalam balutan pakaian dalam yang tidak imut rasanya agak membuatku ragu......jadi untuk kali ini, aku sangat keberatan.


"Anu......kalau begitu untuk urusan melepas pakaiannya, tolong dijadwalkan lain kali saja, ya."


"Memangnya reservasi begitu perlu, ya?"


"Tentu saja perlu. Aku akan mempersiapkan diri baik-baik agar selalu siap kapan pun kamu mau melepaskannya."


"......Ah, iya. Boleh deh, kalau begitu......"


Silakan lakukan kapan saja kamu mau. Aku akan menanti saat-saat itu dengan sepenuh hati.


"Kalau begitu, aku ganti baju dulu, ya. Ah, atau lebih baik aku ganti baju di sini saja?"


"Cepat sana pergi."


"Iya~ Nanti kita mandi bareng, terus tidur bareng, ya!"


"Iya, aku paham, makanya cepat......? Hei, barusan kamu bilang apa?"


"Kalau begitu, aku panggil lagi kalau air mandinya sudah siap, ya."


Setelah berhasil mendapatkan jaminan lisan yang bagus tentang mandi bersama......mari kita berganti pakaian.


Aku memang suka dipangku oleh Rei-kun, tetapi aku tidak hanya ingin merasakan kebahagiaan lewat kepala saja, melainkan dengan seluruh tubuhku.


Kalau begitu, aku pasti akan dijadikan seperti guling olehnya......tetapi aku sama sekali tidak keberatan akan hal itu.



Gawat juga......


Gara-gara asal menjawab tadi, keadaannya malah jadi begini......aku benar-benar teledor.


Saat aku menyadarinya, semuanya sudah terlambat. Ingin meralatnya pun dia tidak mau mendengarkan, dan memikirkan Mikami-san yang pergi menyiapkan air mandi dengan begitu gembira, rasanya sulit untuk menganggap ucapan tadi tidak pernah ada. Bahkan jika aku membuat 1001 alasan, bisa dibayangkan dengan mudah kalau dia akan berkelit ke sana kemari dengan berbagai cara untuk menutup jalan kaburku.


"......Rei-kun. Air mandinya sudah siap, lho."


"Anu......aku cuma mau memastikan saja, apa kita benar-benar harus mandi bareng?"


"Harus, dong. Lagipula Rei-kun......tadi sudah bilang mau mandi bareng, kan?"


"Ugh......kalau kamu bilang begitu, aku jadi tidak bisa membantah."


Hmm, sudah kuduga akan begini. Mau seberapa keras pun aku beralasan kalau tadi hanya asal menjawab, fakta bahwa aku telah menyetujuinya tidak akan pernah berubah.


"Ayo, cepat masuk."


"Hei, jangan menarik-narik begitu, dong."


"Ayo cepat. Buruan. Tolong lakukan dengan sigap, ya."


Mikami-san yang mencoba menyeretku ke ruang ganti seperti itu ternyata sangat bertenaga.


Jangan-jangan staminanya sudah pulih setelah beristirahat sebentar tadi......



"Hei......setidaknya, boleh tidak kita ganti baju terpisah?"


"Apa kamu bisa berjanji tidak akan kabur?"


"Sepertinya agak berat."


"Tidak akan kubiarkan kabur. Lagipula, ini kan bukan pertama kalinya kita mandi bareng. Apa yang harus dimalukan?"


"Bukan begitu, rasa malu itu tidak akan hilang cuma karena kita sudah sering melakukannya, tahu."


Teori aneh dari mana itu, yang menganggap rasa malu akan hilang begitu saja kalau sudah punya pengalaman? Wajar saja kan kalau aku merasa malu mandi bareng anak perempuan lawan jenis yang secantik dia?


"Waktu kita pakai baju renang dulu saja tidak apa-apa, kan. Kali ini aku juga akan menutupi tubuhku dengan handuk mandi dengan benar, jadi tenang saja."


"Kalau begitu sih......boleh saja, ya?"


Padahal sebenarnya tidak boleh.


Melihat ekspresi Mikami-san yang tampak kebingungan, aku tahu kalau itu adalah kompromi maksimal yang bisa dia berikan. Meskipun aku sulit memahami teorinya yang menganggap semuanya aman-aman saja asal ditutupi.


"Ya sudah, kalau begitu kamu masuk duluan saja."


"Aku tidak akan tertipu oleh trik itu, ya. Kalau aku masuk duluan, Rei-kun pasti akan langsung kabur."


Bagaimana bisa dia tahu?


Untuk urusan begini dia benar-benar sangat tajam. Tampaknya dia benar-benar berniat untuk mandi bersama apa pun yang terjadi.


"Kalau begitu, tidak apa-apa kan kalau aku yang masuk duluan?"


"Kalau begitu sih boleh."


"Ya sudah kalau begitu. Tapi sebagai gantinya, pastikan kamu masuk dengan menutupi tubuhmu pakai handuk mandi, ya."


"......Apa itu kode yang artinya aku harus masuk dalam keadaan telanjang?"


"Bukan! Tolong berhentilah menggodaku."


"Aku tidak keberatan, kok."


Benar-benar......dia sama sekali tidak boleh diberi celah sedikit pun. Tapi, tindakan nekat seperti itu memang sudah menjadi ciri khas seorang Mikami Hina. Sepertinya aku harus membawa handuk kecil juga untuk menutup mata nanti......


"Nah, aku mau ganti baju dulu, jadi sana pergi dulu sebentar."


"......Boleh aku tonton?"


"Memangnya kamu pikir aku bakal bilang boleh?"


"Iya!"


Senyuman yang luar biasa cerah. Atau jangan-jangan, dia bakal memelintir kata-kataku lagi dan menganggapnya sebagai jawaban boleh seperti biasa......


Bagaimanapun juga, hal itu tetap tidak bisa kuizinkan. Kalau hal semacam itu dibiarkan lolos, kami pasti sudah sejak lama berganti pakaian bersama.


Pacarku ini, rasanya akan sangat membantu jika dia bisa sedikit tahu diri dalam berbagai hal......tapi apa itu permintaan yang mustahil, ya?


Yah, tapi kalau diberi umpan sedikit, dia pasti akan langsung menurut. Aku pun merasa sudah sedikit paham bagaimana cara menjinakkan Mikami-san.


"Ah~ padahal tadi aku sempat berpikir ingin sekalian mencucikan rambutmu, tapi sepertinya anak nakal yang cuma bisa egois begini tidak perlu diberi hadiah, ya."


"Silakan ganti pakaianmu pelan-pelan, ya."


Begitu aku mengatakan hal itu, dia langsung keluar dari ruang ganti dengan sangat cepat.


Mudah sekali dijinakkan, imut pula. Kalau begitu, sebaiknya aku masuk duluan saja untuk bersiap-siap.



Setelah berganti pakaian duluan dan membersihkan badan, aku langsung berendam di dalam bak mandi. Rasanya seluruh rasa lelah yang menumpuk sepanjang hari ini langsung sirna seketika.


Mungkin karena menggunakan sabun mandi cair atau garam pencuci ganti, airnya menjadi putih keruh dan aromanya sangat harum.


Aku tidak tahu apakah Mikami-san masih memiliki sedikit rasa malu untuk memperlihatkan tubuhnya, atau apakah ini murni bentuk kepeduliannya kepadaku. Namun, begitu masuk dan berendam di dalam air, bagian tubuh tidak akan terlihat dengan jelas, dan hal ini sangat membantu menjaga kesehatan mentalku.


Bagaimanapun juga, memikirkan bahwa kami akan saling berhadapan atau bahkan menempel di dalam bak mandi yang sama, sudah pasti akan membuat jantungku berdebar kencang. Jika airnya jernih, aku yakin kepalaku akan langsung pusing karena kepanasan dalam hitungan detik.


Biar kupertegas berkali-kali, hanya karena bagian penting sudah ditutupi dengan handuk, bukan berarti rasa malu itu hilang begitu saja. Oleh karena itu, sabun mandi ini tidak hanya memberikan efek relaksasi, tetapi juga sangat bagus untuk mencegah pandangan yang tembus pandang.


Saat aku sedang menikmati aroma sabun mandi sambil menggoyang-goyangkan permukaan air hingga memercik pelan, terdengar suara dari arah ruang ganti.


Baguslah, tampaknya dia tidak mencoba mengintip dan berganti pakaian dengan benar setelah jeda beberapa saat.


Umpan yang kupasang tadi sepertinya sangat efektif. Sekarang tinggal masalah apakah dia benar-benar masuk dengan menutupi tubuhnya dengan benar atau tidak...... tetapi untuk hal itu, aku tidak punya pilihan selain memercayainya.


"Maaf membuatmu menunggu."


Suara yang agak teredam terdengar dari balik pintu, lalu pintu pun terbuka perlahan. Untuk saat ini aku bisa bernapas lega karena dia tampaknya melilitkan handuk mandi, tetapi tetap saja, mandi bersama lawan jenis yang secantik ini membuatku tidak bisa tenang.


Karena handuk mandi sama sekali tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuh, bagian-bagian yang menonjol khas anak perempuan membuatku benar-benar bingung harus mengarahkan pandangan ke mana. 


Untuk sementara, aku menenggelamkan diri ke dalam air yang keruh demi menenangkan pikiran.


"Bagaimana menurutmu tentang sabun mandi ini? Aromanya harum, lalu produk ini juga bagus karena punya efek relaksasi dan bisa mempercantik kulit, lho?"


"Ah, pantas saja rasanya......"


"Dengan begini, kulit Rei-kun akan menjadi kenyal dan mulus, lalu setelah itu aku akan menikmatinya sepuasnya."


Entah mengapa, cara bicaranya terdengar seperti sedang menyiapkan bahan masakan. Meskipun kata menikmati itu sendiri tidak sepenuhnya salah, sih. Bagian yang agak menakutkan adalah bagaimana cara dia akan menikmatinya nanti.


"Kalau begitu, sesuai janji, tolong cucikan, ya. Aku minta seluruh tubuh tanpa terlewat sedikit pun."


"......Aku hanya mau mencucikan rambutmu saja, tahu."


"Jahat sekali! Jangan pelit begitu, dong. Setidaknya, tolong bilaskan bagian depan saja......っ"


"Bukannya biasanya setidaknya bagian punggung, ya? Nggak, dua-duanya tidak akan kulakukan. Bersihkan sendiri badanmu."


Permintaan aneh macam apa itu, yang meminta setidaknya bagian depan saja? 


Aneh sekali, kan. Kalaupun ada permintaan seperti itu, bukankah seharusnya 'tolong bilaskan punggungku'?


Kali ini aku tidak terbawa suasana dan berhasil menolaknya dengan benar. Karena dia suka menyelipkan hal-hal ekstrem tanpa ekspresi, dan berkaca dari keteledoranku yang memicu situasi ini, aku berniat untuk tidak melewatkan setiap kata yang diucapkannya barang satu kata pun.


"Baiklah. Karena tekad Rei-kun tampaknya sudah bulat, mau bagaimana lagi. Sebagai gantinya, biarkan aku yang membilas punggung Rei-kun."


"Aku sudah membersihkan badanku, kok."


"Tega sekali......っ. Kalau begitu, setidaknya bagian depan saja......っ"


Ada apa dengan ini? Jebakannya terlalu besar sampai-sampai aku merasa tidak mungkin akan terperangkap. Atau jangan-jangan dia benar-benar berpikir trik itu akan berhasil?


Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar bersyukur karena sudah membersihkan badan terlebih dahulu.


"Daripada bicara omong kosong begitu, lebih baik cepat bersihkan badanmu lalu berendam di dalam air. Kalau tubuhmu kedinginan, kamu bisa masuk angin, lho."


"......Aku akan melakukannya. Handuk mandinya akan agak terbuka sedikit, jadi jangan marah, ya? Kalau mau melihatnya juga boleh, kok?"


"......Aku akan memejamkan mata."


"Sayang sekali."


Dia memberitahuku terlebih dahulu seperti ini benar-benar sangat membantu. Sebab jika dia tiba-tiba membuka handuk mandinya tepat di hadapanku......aku pasti akan sangat kebingungan.


Mungkin karena aku menutup mata dan memblokir indra penglihatan, suara-suara yang menggema di dalam kamar mandi jadi terdengar dengan sangat jelas.


Suara shower, suara gesekan saat dia membersihkan badan, hingga hembusan napas tipis Mikami-san, semuanya malah menjadi semakin jelas di dalam pikiranku.


Benar-benar terasa canggung dan tidak nyaman.


Oleh karena itu, aku kembali menyelam ke dalam air sambil membuat gelembung-gelembung untuk mengalihkan perhatian.



"Hum~ huum~ hummm~"


Hina-san yang sedang membersihkan dirinya sambil bersenandung kecil tampak sangat gembira. Hal itu mau tidak mau membuatku tersadar bahwa tubuh telanjangnya sedang berada tepat di dekatku.


Jantungku berdebar begitu kencang dan berdegup dengan sangat berisik, tetapi entah apa yang sedang dirasakan oleh Mikami-san saat ini. Apakah dia berniat menggodaku? Atau dia memang tidak peduli jika tubuhnya dilihat olehku? Sejak sebelum kami berpacaran pun selalu begitu, jarak yang dia pangkas di antara kami rasanya benar-benar ekstrem......


Dia benar-benar mirip seperti kereta api yang hilang kendali.


"Rei-kun."


"......Ada apa?"


"Saat Rei-kun membersihkan badan, dari bagian mana kamu mulai mencucinya?"


Pertanyaan yang tiba-tiba itu tanpa sadar membuatku terdiam. Sebab, aku langsung menaruh curiga tentang niat apa yang tersembunyi di balik pertanyaan tersebut.


Apakah ini sebuah jebakan? Jika aku salah menjawab, apakah akan terjadi sesuatu yang memalukan setelah ini? Atau......apakah dia hanya menanyakannya murni sebagai pertanyaan biasa yang timbul dari rasa penasaran?


Karena tidak bisa membuka mata, aku tidak bisa membaca ekspresi wajah Mikami-san, dan hal itu membuatku kebingungan harus merespons bagaimana.


"Tidak ada maksud yang mendalam, kok. Ini cuma tes psikologi kecil-kecilan. Katanya, bagian tubuh yang pertama kali dicuci bisa menunjukkan kepribadian atau hal yang menjadi fokus perhatian orang tersebut, lho."


"Oalah. Ternyata begitu, toh."


"Iya. Jadi kamu tidak perlu bersikap waspada begitu, kok."


"Hina sendiri percaya dengan hal-hal yang seperti itu?"


"Masalah percaya atau tidak itu urusan lain, yang jelas ini bisa dipakai sebagai bahan obrolan. Anak perempuan mendadak suka lho dengan topik-topik seperti ini."


"Oh, begitu ya."


"Iya. Jadi, dari mana Rei-kun mulai mencucinya?"


Rasanya aku memang pernah melihat tes psikologi sejenis itu. Meskipun aku merasa lega mendengarnya, aku jadi agak khawatir kalau jawaban tertentu malah memicu hasil diagnosis yang aneh. Yah, dipikirkan pun percuma, jadi sebaiknya aku jawab saja dahulu.


"Kalau aku...... kayaknya mulai mencuci dari tangan."


Sebenarnya aku tidak pernah sengaja memikirkan harus mulai mencuci dari bagian mana. Hanya saja, setelah menuangkan sabun mandi ke handuk kecil di tangan dan membuatnya berbusa, aku punya kecenderungan untuk langsung mengusap tangan, baru kemudian pindah ke lengan dan badan.


Kalau dipikir-pikir lagi, bisa jadi ini memang bentuk kebiasaan yang tidak kusadari.


"Begitu ya, pas sekali dengan kepribadian Rei-kun."


"Memangnya dari jawaban tadi, kamu bisa tahu apa?"


"Katanya, bagian yang pertama kali dicuci itu menunjukkan poin plus seseorang, alias bagian tubuh yang paling dia banggakan. Yah, entah hal itu benar atau tidak, sih."


"Tangan sebagai bagian yang paling dibanggakan...... rasanya kok kurang meyakinkan, ya."


"Masa, sih? Aku sendiri suka dengan tangan Rei-kun, lho. Soalnya, rasanya enak kalau disentuh di sana-sini pakai tangan Rei-kun."


"Tolong jaga caramu bicara, dong."


"Kan memang kenyataannya begitu."


Jangan bicara dengan nada yang penuh makna implisit begitu, dong.


Tapi, ya sudahlah...... berhubung dia sering memuji jari dan tanganku, dari lubuk hati yang terdalam aku merasa senang karena dia tulus tidak keberatan saat kusentuh.


"Ngomong-ngomong, kalau Hina sendiri biasanya mulai mencuci dari mana?"


"Wah, kamu penasaran, ya? Kalau aku terhitung sering mulai mencuci dari perut atau dada, sih...... tapi kalau mengikuti tes psikologi ini, rasanya agak memalukan karena seolah-olah aku sedang pamer kalau aku percaya diri dengan bentuk tubuhku."


Terdengar suara yang diwarnai sedikit rasa malu bergema di kamar mandi.


Anu...... memang aku yang bertanya, tapi tolong pikirkan juga perasaan orang yang mendengarnya, dong. Aku jadi ikut-ikutan merasa malu, tahu. Tapi, rasanya tebakan poin plus itu memang tidak salah untuknya.


"Tapi ya, tes psikologi seperti ini kan jenisnya ada banyak. Ada versi mirip yang katanya bisa membaca kepribadian atau mendeteksi masalah yang sedang dihadapi, jadi kebenarannya memang simpang siur. Anggap saja ini hiburan untuk bahan obrolan santai, jadi dinikmati saja sudah cukup, kan?"


"......Iya juga, sih."


Walaupun namanya tes psikologi, hasilnya tidak selalu akurat. Hasil tes kami berdua ini pun belum tentu benar, tetapi jika ini bisa dilewati sebagai bahan obrolan santai yang mengalir begitu saja, rasanya tidak masalah. Lagipula, berkat obrolan ini, keteganganku rasanya menjadi sedikit agak reda.


Setelah menunggu beberapa saat dalam kondisi seperti itu, suara tetesan air dari pancuran akhirnya berhenti. Karena dia sudah selesai membersihkan badan...... langkah selanjutnya tentu saja adalah masuk ke dalam bak mandi.


"Rei-kun, aku boleh masuk?"


"......Kalau aku bilang tidak boleh, bagaimana?"


"Tidak bagaimana-mana. Aku tetap akan masuk."


Yah, sudah terlambat juga kalau baru mau ragu untuk mandi bersama sekarang.


Mikami-san yang sedang dalam mode agresif begini tidak mungkin bisa dihentikan, dan kalaupun aku mendadak ciut lalu bilang tidak bisa, dia pasti tidak akan mau mendengarkan.


Meskipun ini bukan pertama kalinya kami berendam di bak mandi yang sama, tetap saja rasanya mendebarkan. Mandi bersama gadis yang terlewat cantik...... seberapa sering pun dilakukan, rasanya aku tidak akan pernah bisa terbiasa.


"Kalau begitu, aku masuk, ya."


Capok. Permukaan air bergoyang, dan kulitku bisa merasakan volume air yang berangsur-angsur naik. Kemudian, saat terdengar suara air yang meluap dari bak mandi, aku benar-benar tersadar secara nyata bahwa saat ini Mikami-san sedang berada tepat di hadapanku.


"Huft...... kehangatan airnya pas sekali, ya."


"Iya, benar."


"......Rei-kun mau memejamkan mata sampai kapan?"


Benar juga, sih. Meskipun aku tidak bisa menghindari rasa gugup, dengan air yang keruh begini posisiku seharusnya aman karena tidak akan tembus pandang. Lagipula, kalau aku terus-menerus menutup mata, aku malah tidak akan bisa menghentikan aksi nekat Hina-san nanti. Oleh karena itu, aku membuka mataku perlahan.


Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, tetapi tetap saja rangsangan visualnya terlalu kuat. Bahu dan wajahnya yang merona kemerahan karena efek air hangat, serta kulit indahnya yang tidak terendam air membuatku tidak sanggup menatapnya langsung, hingga tanpa sadar aku langsung mengalihkan pandangan. Namun justru karena itulah, mataku malah menangkap keanehan pada sebuah benda berwarna putih.


Sebuah benda mirip kain putih yang terlipat rapi di atas kursi mandi, mau tidak mau langsung menyita perhatianku dan tidak bisa kuabaikan.


"Anu...... Mikami-san?"


"Iya, ada apa?"


"Benda yang diletakkan di atas kursi sana itu apa, ya?"


"Handuk mandi. Apa kamu baru tahu benda seperti itu?"


"Aku tahu apa itu handuk mandi...... tapi, apa tadi benda itu memang sudah ada di sana?"


"Itu kan handuk yang tadi melilit tubuhku. Karena terasa mengganggu saat aku membersihkan badan, jadi aku lepas dan kutinggalkan begitu saja di sana."


Hmm...... begitu rupanya. Jadi aksi nekat itu rupanya sudah dilancarkan sejak tadi, toh.


Wah, wah...... bukankah ini gawat darurat namanya?


Begitu logikaku berhasil mencerna situasinya, kepalaku langsung menjadi kosong seketika. Aku menatap bergantian antara Mikami-san yang sedang tersenyum manis di depanku, dengan handuk mandi yang bertengger dengan tenang di atas kursi mandi. 


Di tengah kepanikan akibat serangan telak yang di luar perkiraan ini, tenggorokanku hanya bisa bergetar mengeluarkan suara tertahan tanpa bisa berkata-kata. Namun, Mikami-san sama sekali tidak memedulikan hal itu. Dia tampak sangat rileks dan bahkan dengan santainya melakukan peregangan tubuh, hingga belahan dadanya sesekali menyembul di atas permukaan air.


Sesuai dengan perkataannya, tampaknya dia benar-benar tidak keberatan sama sekali meskipun tubuhnya dilihat olehku, dan saat ini dia sedang menikmati waktu berendamnya dengan begitu anggun.


"......Bukannya ini tidak sesuai dengan kesepakatan awal?"


"Apanya yang tidak sesuai?"


"Aku mengizinkanmu masuk karena kamu bilang akan menutupi tubuhmu dengan handuk mandi."


"Kan tadi sudah kututupi sampai sebelum masuk. Lagipula, aku memang bilang begitu, tetapi seingatku aku tidak pernah menjamin akan terus memakai handuk mandi itu sampai kita selesai berendam, lho."


"......Itu sih cuma alasan yang dicari-cari saja namanya."


"Itu kan tata krama. Aku hanya sedang mematuhi tata krama yang melarang kita memasukkan handuk atau sejenisnya ke dalam bak mandi."


"Itu kan tata krama di pemandian umum. Di bak mandi rumah sendiri mah tidak usah dipikirkan pusing-pusing, kan."


Memang benar, di fasilitas umum seperti pemandian umum, ada tempat-tempat yang melarang pengunjung memasukkan handuk agar airnya tidak kotor, tetapi ini kan di rumah. Memakai handuk di sini jangankan dilarang, malah sangat disarankan—atau lebih tepatnya, sudah seperti syarat minimal. Namun...... jika kuingat-ingat lagi percakapan kami tadi, dia memang berjanji akan memakainya, tetapi rasanya dia tidak pernah bilang akan terus memakainya sepanjang waktu.


Meski begitu, bagaimana bisa dia bertelanjang bulat dengan semudah ini...... anak ini sebenarnya ingin membuatku sekaku dan segugup apa lagi baru dia merasa puas?


"Sikap ksatria Rei-kun memang sangat menyenangkan, tetapi memejamkan mata bukankah membuat pertahananmu jadi agak sedikit longgar?"


"......Aku tidak bisa membantahnya."


"Kalau kamu membuka matamu dengan benar, mungkin kamu bisa mencegahnya, lho?"


Dia bicara begitu, tetapi kenyataannya aku seperti tidak punya pilihan lain.


Sebab, tidak mungkin juga kan aku menatapnya lekat-lekat saat dia sedang membuka handuk mandi dan membersihkan badannya. Aku berpikir bahwa menutup pandangan adalah jalan keluar terbaik, tetapi...... siapa sangka dia justru memanfaatkan momen saat aku tidak melihat untuk melancarkan strategi yang begitu berani ini......


"Ngomong-ngomong...... mau sampai kapan kamu terus memalingkan muka?"


"Nggak...... masalahnya aku tidak sanggup melihatnya langsung."


"Padahal kita sudah telanjur berhadapan begini, ayo perlihatkan wajahmu lebih dekat lagi."


Sosok Mikami-san yang sama sekali tanpa pertahanan dan begitu terbuka berada tepat di dekatku.


Berkat air yang keruh, tubuhnya memang tidak tembus pandang, tetapi pembawaan Mikami-san yang sedang bersantai dengan gembira membuat segalanya terasa sangat rawan. Terlalu rawan bahkan.


Kulitnya yang merona kemerahan tampak begitu seksi. Bergerak sedikit saja permukaan air akan bergoyang, sehingga fakta bahwa tubuhnya tersembunyi di dalam air pun tidak lantas membuatku bisa tenang. Namun, Mikami-san yang sedang dalam mode masa bodoh tanpa beban dengan santainya menggoyangkan badan hingga membuat riak gelombang di bak mandi, benar-benar membuatku senewen.


Dalam kondisi seperti itu, dipaksa untuk melihat ke arahnya pun, yang tidak bisa tetap saja tidak bisa.


"Ih, kalau begitu mau tidak mau aku harus memutarnya paksa ke sini."


"......っ!? Bodoh, jangan berdiri!"


"Kyaa!?"


Karena sudah tidak sabar, Mikami-san mengulurkan kedua tangannya ke arah wajahku...... dan mencoba untuk berdiri.


Dia sama sekali tidak ragu untuk mengangkat tubuhnya keluar dari bak mandi.


Namun, aku tidak bisa tinggal diam dan membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Secara refleks, tanganku langsung bergerak menahan kedua bahu Mikami-san.


(Kecil dan lembut......)


Saat bersentuhan dengan kulit telanjang seperti ini, ukuran tubuh anak perempuan yang kecil dan kelembutannya langsung tersalurkan ke tanganku, memicu gelombang ketegangan yang lebih hebat lagi.


Kemudian, wajah kami berdekatan hingga ujung hidung kami nyaris bersentuhan. Bulu matanya yang panjang, pipinya yang merona, dan wajahnya yang rupawan telanjur menyita perhatianku...... sampai sebuah kecupan ringan yang tiba-tiba mendarat di bibirku menyentakku kembali ke realitas.


"Aku juga tidak benci tindakan yang agak memaksa, kok. Ditahan seperti ini malah membuatku sangat berdebar-debar karena rasanya seperti sedang ditaklukkan."


"......Ah, maaf. Apa sakit?"


"Tidak apa-apa, kok. Malah kalau mau ditekan sampai rebah juga boleh."


Karena panik dan gerakannya refleks, sepertinya aku menggunakan tenaga yang lebih besar dari dugaan. Padahal dia memiliki tubuh anak perempuan yang rapuh dan seharusnya diperlakukan dengan lebih lembut, tetapi aku malah telanjur menggunakan otot.


Tepat di saat aku merasa bersalah dan sedang merenungi tindakanku, dia dengan wajah yang memerah justru merengek meminta yang lebih lagi. Hal itu membuatku ciut. Aku berniat melepas tangan yang bertumpu di bahu Mikami-san untuk mengambil jarak, tetapi gerakan Mikami-san yang merapatkan tubuhnya justru jauh lebih cepat.


Intinya, semuanya terasa sangat lembut. Aku tidak akan menyebutkan bagian apa, tetapi bagian yang membentur tubuhku itu terasa begitu empuk. Saat aku kembali terpaku, bibirku langsung dikunci, dan aku disudutkan hingga ke tepian bak mandi...... jika dibiarkan begini, situasi akan sepenuhnya menjadi panggung dominasi Mikami-san.


Aku mencoba sekuat tenaga untuk melawan dan meloloskan diri, memutar otakku yang sudah tidak bisa berpikir jernih untuk mencari akal. Mungkin setelah ini dia akan cemberut dan merajuk hebat, tetapi mau bagaimana lagi......


"Maaf, ya!"


"Ah, tungg......"


Aku berhasil mendorongnya balik, lalu dengan cepat melilitkan handuk kecil penutup mata yang kebetulan sedang kupegang untuk menutupi mata Mikami-san. Memanfaatkan celah singkat itu, aku langsung merangkak keluar dari bak mandi untuk melarikan diri. 


Sambil menyambar handuk dan pakaian ganti yang diletakkan menumpuk, aku berlari kencang menyelamatkan diri ke ruang tengah bahkan tanpa memedulikan tubuhku yang masih basah kuyup.


Aku langsung terduduk lemas sambil bersandar pada pintu yang baru saja kututup dengan hentakan keras.


Sebagai langkah waspada, aku mencoba memasang telinga baik-baik, tetapi satu-satunya hal yang terdengar hanyalah suara detak jantungku sendiri yang berdegup kencang dan berisik.


Untuk saat ini, aku bisa bernapas lega karena Mikami-san tidak mengejarku keluar dalam kondisi tanpa busana seperti itu...... namun, aku tetap terpaku di tempat itu untuk beberapa saat dalam keadaan linglung.



Beberapa saat kemudian, kesadaranku akhirnya pulih dari kondisi linglung tadi. Meskipun sekarang sedang musim panas, membiarkan tubuh yang basah tetap telanjang tanpa dikeringkan bisa membuatku masuk angin setelah mandi.


Karena tidak tahu kapan Mikami-san akan keluar dari kamar mandi, aku bergegas memakai pakaian dengan terburu-buru, lalu membersihkan lantai yang sempat telanjur basah olehku.


Setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut dan mengempaskan tubuhku ke sofa, barulah terdengar suara dari arah ruang ganti.


"......Aku harus membicarakannya baik-baik dengannya."


Memang benar setelah resmi berpacaran akan ada banyak tahapan hubungan yang akan meningkat, tetapi Mikami-san ini melangkah terlalu terburu-buru. Bukannya aku sama sekali tidak tertarik dengan tahapan hubungan orang dewasa, tetapi...... aku punya janji dengan orang tua, dan dari lubuk hatiku yang terdalam, aku merasa ini masih terlalu dini bagi kami.


Mengenai hal tersebut, bagaimana sebenarnya isi pikiran Mikami-san? Perasaan seperti apa yang sebenarnya tersembunyi di balik berbagai tindakan agresifnya yang nekat itu?


Meskipun hal ini mungkin akan merusak sisa-sisa suasana indah dari kencan festival kembang api yang menyenangkan tadi, kami harus berdiskusi dengan serius dan menyamakan langkah kaki kami.


Oleh karena itu, pertama-masing aku harus mengajaknya duduk bersama untuk berbicara, tetapi pertanyaannya, apakah dia mau memenuhinya?


Akan gawat jadinya kalau dia telanjur merajuk hebat dan menutup telinga gara-gara aku mengingkari janji mencuci rambutnya, serta tidak menemaninya mandi sampai selesai.


Di tengah rasa cemas yang membuatku gelisah saat menunggunya, pintu ruang tengah perlahan-lahan terbuka.


Saat aku mengalihkan pandangan ke arah sana...... Mikami-san yang baru selesai mandi tampak menjulurkan kepalanya dan mengintip ke dalam dengan sikap yang ragu-ragu. Sama sekali tidak terlihat ada tanda-tanda kemarahan atau intimidasi di wajahnya.


Sama seperti diriku yang mengkhawatirkan reaksinya, tampaknya dia juga sedang membaca situasi untuk melihat bagaimana kondisiku saat ini.


"Hina, ke sini deh."


"......Ah, iya."


Aku menepuk-nepuk sofa di sampingku, memintanya untuk datang dan duduk di dekatku. Dia sempat menunjukkan reaksi bimbang sesaat, tetapi demi memenuhi panggilanku, Mikami-san segera melangkah cepat menuju sofa dan duduk dengan manis tepat di sebelahku.


Kemudian, seolah ingin memangkas jarak di antara kami berdua, dia bergeser perlahan lalu menyandarkan kepalanya dengan lembut di bahuku.


"Anu, soal kejadian di kamar mandi tadi...... apa kamu marah?"


"Aku tidak marah, kok."


Mikami-san bertanya dengan suara lirih yang menyiratkan rasa cemas. 


Tentu saja, dia pasti memiliki pemikiran tersendiri di dalam kepalanya. Aku tidak tahu dengan motif apa Mikami-san sampai melancarkan aksi nekat seperti itu. Namun, satu hal yang pasti, dia jelas tidak melakukannya dengan setengah hati.


Mau seberapa besar pun status kami yang sudah resmi berpacaran, mendesakku dengan cara seperti itu tetap membutuhkan keberanian sekaligus tekad yang besar.


Meski rasanya sehari-hari dia memang sering melakukan aksi nekat yang bikin heboh, tetapi di satu momen di dalam kamar mandi tadi, sorot mata Mikami-san benar-benar serius. Jika dibiarkan terus begitu, kami benar-benar bisa melewati batas. 


Mikami-san sering memujiku sebagai seorang ksatria yang sopan, tetapi setelah disuguhi penampilan seperti itu dan nafsu berahiku terus-menerus dipicu, tidak mungkin aku bisa diam saja tanpa bereaksi. Karena itulah aku memilih untuk melarikan diri.


Sebelum logikaku benar-benar terkikis habis. Sebelum aku telanjur lepas kendali dan menyerangnya.


Aku tidak tahu apakah itu...... adalah pilihan terbaik. Namun, satu hal yang pasti, Mikami-san pasti merasa syok. Dia sudah mengumpulkan keberaniannya dan menunjukkan tekad untuk mempersembahkan pengalaman pertamanya kepadaku.


Padahal dia sudah sejauh itu, tetapi aku malah————


"Maaf, ya. Padahal kamu sudah mengumpulkan keberanian."


"Benar-benar, deh. Rei-kun bodoh, penakut."


"......Disebut penakut juga tidak apa-apa."


Saat aku mendekap erat Mikami-san, dia memukul-mukul dadaku pelan sambil berusaha mendorongku balik. Tindakannya itu bahkan dilengkapi dengan bonus sundulan kepala.


Ada pepatah yang mengatakan bahwa pria yang melewatkan kesempatan emas di depan mata adalah pria yang memalukan, jadi wajar saja jika aku dicap sebagai pengecut. Aku akan menerima cemoohan itu dengan lapang dada. Namun, tidak apa-apa begini. Menjadi pengecut pun tidak masalah.


"Rei-kun, anu...... apa kamu tidak, ingin melakukannya?"


"......Tentu saja ingin. Aku juga laki-laki. Mana mungkin aku tidak ingin melakukannya."


"...... Kalau begitu,"


"Tapi, sekarang masih belum boleh."


Kalau ditanya ingin atau tidak, jawabannya tentu saja ingin. Ada kalanya aku memandang dirinya dengan tatapan seperti itu, dan mustahil aku tidak punya hasrat kepadanya.


Aku bahkan sering berfantasi bahwa jika punya pacar, suatu saat nanti kami pasti akan melakukan hal seperti itu. Aku ingin membela diri bahwa hal ini adalah bentuk kewajaran dari seorang anak laki-laki SMA yang sehat. Terlebih lagi, situasi kami sekarang adalah sepasang kekasih yang tinggal bersama dalam satu atap. Namun, membiarkan diri hanyut begitu saja dalam situasi seperti tadi rasanya tidak benar. Karena aku menyukai Mikami-san, sangat menyukainya, dan ingin menjaganya baik-baik, untuk poin yang satu ini aku tidak bisa berkompromi.


"Kenapa begitu?"


"Kenapa...... ya. Kalau aku menjelaskan alasannya, apa kamu mau menerimanya?"


"Mau menerima atau tidak, baru akan kuputuskan setelah mendengarnya. Tapi yang jelas, aku akan berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak menerimanya."


"Oh, begitu. Kalau begitu, aku harus berjuang ekstra agar kamu mau menerimanya, ya."


"Ini adalah pertarungan."


Aku tidak menyangka dia akan mendeklarasikan terlebih dahulu bahwa dia berniat menolak penjelasanku sebelum mendengarnya. Namun, setidaknya dia masih mau memasang telinga, dan itu sudah lebih dari cukup.


Pertama-masing, aku akan mengutarakan seluruh isi hatiku yang sejujurnya.


"Hina, aku sangat menyukaimu."


"ugh! A-apa-apaan ini mendadak sekali. Aku juga sangat menyukai Rei-kun, sih...... tapi kalau kamu mencoba mengelabuiku dengan kata-kata manis, aku tidak akan terpedaya, lho."


"Aku tidak sedang mencoba mengelabuimu, kok."


"Kalau begitu baguslah...... tapi mumpung ada kesempatan, tolong katakan sekali lagi...... tidak, 2 kali lagi."


"Iya, iya, aku suka, aku suka."


"Coba katakan dengan lebih penuh cinta!"


Mikami-san yang sedang cemberut kembali memukul-mukul dadaku pelan.


Padahal aku berniat membicarakan hal yang serius, tetapi dia dengan hebatnya malah merusak ritme pembicaraan...... Namun, atmosfer yang biasa seperti ini...... secara tidak langsung sangat membantu meredakan keteganganku.


"Jadi...... begini. Justru karena aku sangat menyukaimu, aku jadi memikirkan tentang masa depan kita nanti......"


"Masa depan kita...... maksudnya?"


"Bagaimana kira-kira masa SMA yang akan kuhabiskan bersamamu nanti. Atau, mungkin ini terkesan terlalu cepat, tetapi secara samar aku juga memikirkan apakah kita nanti akan kuliah di universitas yang sama, hal-hal seperti itu."


"Itu...... masa depan yang indah sekali, ya. Kita harus benar-benar kuliah di universitas yang sama."


Meskipun kami baru saja mulai berpacaran, karena aku benar-benar tulus menyukainya, aku sampai ikut memikirkan masa depan kami nanti. Akan tetapi, jika kami terburu-buru melangkah ke hubungan intim, ada kemungkinan masa depan yang cerah itu akan hancur berantakan.


"Masa depan yang menyenangkan seperti itu bisa saja sirna seketika hanya karena satu kesalahan kecil yang terjadi."


"Kesalahan......"


Mikami-san pun pasti memahami hal ini.


Hubungan intim selalu membawa risiko. Alat kontrasepsi pun tidak selalu menjamin keberhasilan seratus persen.


Aku teringat kembali ucapan Ibu saat memarahiku tepat di hari ulang tahunku yang lalu, ketika rahasia tinggal bersama kami terbongkar. Jika terjadi sesuatu pada Mikami-san, aku masih berada di usia yang belum mampu memikul tanggung jawab. Dan peringatan itu tentu saja tidak hanya berlaku untuk kasus cedera atau penyakit saja.


Melainkan, poin inilah yang menjadi poin utamanya.


"Lagipula, izin bagi kita untuk tinggal bersama ini tidak diberikan tanpa syarat. Bukankah ada kesepakatan bahwa kita harus menjalani hubungan ini dengan penuh batasan dan kesopanan?"


"Itu...... memang benar, sih."


"Jalan menuju kelulusan SMA itu masih panjang, dan aku sendiri tidak tahu apakah kita benar-benar bisa mematuhinya sampai akhir. Namun, aku merasa harus menjaga Mikami-san dengan tingkat keseriusan setinggi itu."


Justru karena aku sangat menyukainya, aku ingin menjaganya baik-baik.


"Mungkin suatu saat nanti hari itu akan tiba sebelum kita lulus SMA, tetapi yang jelas hari itu bukanlah hari ini."


Sampai saat itu tiba...... tidak ada salahnya kan jika kami menggunakan waktu yang ada untuk lebih saling mengenal satu sama lain.


"Kita baru saja berpacaran, bahkan hari ulang tahun satu sama lain pun baru kita ketahui kemarin. Aku ingin meluangkan waktu secara perlahan untuk mengetahui lebih banyak hal tentangmu, baik hal yang kamu sukai maupun yang kamu benci."


"Hal itu...... berlaku untukku juga."


Saat sedang bersamanya, aku sering kali melupakan fakta bahwa kami baru saja mulai berpacaran. Kami baru resmi menjalin hubungan beberapa hari yang lalu, tepat di hari ulang tahunku.


"Sejak hari ulang tahunku, waktu yang berlalu bahkan belum genap seminggu. Jika dalam waktu sesingkat itu kita sudah melanggar janji dan kehilangan kepercayaan dari orang tua kita...... kehidupan tinggal bersama ini bisa saja disudahi saat ini juga."


"K-kalau hal itu sampai terjadi, aku akan sangat sedih dan bingung......"


"Benar, kan? Terlebih lagi...... jika kita sekali saja melewati batas itu, sudah bisa dipastikan kita tidak akan bisa menahan diri lagi ke depannya."


"A-apakah benar begitu, ya?"


Wajah Mikami-san merona kemerahan mendengar perumpamaan jika kami sampai melewati batas, dan dia tampak memainkan jari-jarinya dengan malu-malu.


Setidaknya, aku sangat tidak percaya diri bisa menahan nafsu jika sudah sekali mencicipinya...... dan melihat reaksinya sekarang, kemungkinan besar Mikami-san pun sama saja.


"Lagipula...... perubahan yang seperti itu pasti tidak akan bisa kita sembunyikan dari orang tua kita."


Memiliki pemikiran bahwa segalanya akan aman-aman saja dan tidak akan ketahuan selama kita tutup mulut hanya karena orang tua tidak ada di rumah, adalah pemikiran yang terlalu naif. Dan jika sampai ketahuan, itu adalah tindakan bodoh yang paling menghancurkan kepercayaan.


Dalam artian seperti itu pula, tindakan tersebut bisa saja menyia-nyiakan masa depan yang menanti kami.


"Makanya...... ya. Aku tidak tahu apakah caraku menyampaikannya sudah benar atau belum, tapi aku sangat menyukaimu, Hina. Kamu sangat berharga bagiku, dan aku ingin terus menghabiskan waktu bersamamu ke depannya...... karena itulah, aku berpikir kalau saat ini kita harus menahan diri."


Aku menatap Mikami-san, lalu mengusap rambutnya dengan lembut. Rambutnya yang sehabis mandi masih agak sedikit lembap, dan saat aku menyisirnya dengan jari, aroma sampo langsung menguar lembut.


Setelah aku mengusap kepalanya beberapa kali seperti itu, Mikami-san tiba-tiba menyundulkan kepalanya ke dadaku, mendekapku erat-erat, lalu mulai menarik napas dalam-dalam.


Meskipun sebelumnya dia sudah mendeklarasikan berniat menolak, apakah isi hatiku ini berhasil menyentuh perasaannya?


Dengan perasaan yang diselimuti sedikit rasa cemas, aku mengintip wajah Mikami-san yang sudah selesai menyundulku.


Ekspresi wajahnya tampak rumit, seperti perpaduan antara senang dan kesal...... yang benar yang mana, nih?


"Ehm...... itu maksudnya ekspresi wajah yang bagaimana?"


"Ini adalah ekspresi di mana aku merasa sangat disayangi oleh Rei-kun hingga membuatku tersenyum simpul dengan sendirinya, sekaligus ekspresi kesal kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal di kamar mandi tadi alih-alih malah melarikan diri."


"......Jangan minta hal yang mustahil, dong."


"Kalau kamu kabur dengan cara seperti itu, sudah pasti kan aku bakal jadi cemas dan berpikir jangan-jangan aku ini tidak punya daya tarik."


"Soal itu, aku benar-benar minta maaf. Tapi, tidak pernah sekalipun aku merasa Mikami-san tidak menarik. Selama ini pun aku sudah menahan diri setengah mati, dan yang tadi itu pun aku sudah benar-benar di batas kemampuan."


"......Kalau begitu, baiklah."


Aku merasa sangat bersalah karena pada akhirnya sempat membuat Mikami-san terluka, tetapi berdasarkan isi hatiku yang sebenarnya, dia pasti sudah bisa memahami sampai batas tertentu bahwa aku memang tidak boleh membiarkan diri hanyut begitu saja dalam situasi tadi.


Berikutnya...... giliran aku yang mendengarkan pemikiran dan perasaan Mikami-san.


"Kira-kira begitulah garis besar perasaanku, kalau Hina sendiri bagaimana? Aku tidak berniat memaksakan perasaanku secara sepihak, dan aku juga tidak ingin membuatmu cemas...... jadi aku ingin tahu dengan jelas bagaimana perasaan Hina."


Aku memiliki pemikiranku sendiri, dan Mikami-san pun pasti memiliki pemikiran serta perasaannya sendiri. Mungkin saja ada perbedaan cara pandang, atau ada hal-hal yang ingin dilakukan dan tidak ingin dilakukan.


Karena ini adalah kesempatan untuk saling bicara dari hati ke hati, aku ingin dia mengutarakannya tanpa perlu sungkan.


"Aku mengerti. Kalau begitu...... pertama-tama mengenai pemikiran Rei-kun, karena hal itu didasari oleh keinginanmu untuk menjagaku dengan baik, aku tidak memiliki keluhan sama sekali."


Aku langsung merasa lega mendengar kata-kata pembuka yang diucapkan oleh Mikami-san. Meskipun aku tidak berniat memaksakan pemikiranku, akan terasa menyedihkan juga kalau ternyata apa yang kukatakan sama sekali tidak menyentuh hatinya.


"Rei-kun dan aku merasakan hal yang sama, dan kita akan menahan diri bersama-sama, kan?"


"Ya."


"Kalau begitu...... rasanya aku bisa berjuang bersamamu."


Batasan ini tidak dipaksakan kepada salah satu pihak saja. Kami berdua akan saling bekerja sama untuk menanti saat yang tepat itu tiba.


"Selama masa menanti itu, awas ya kalau kamu sampai melirik perempuan lain?"


"Tidak akan. Mau kapan pun, aku selalu tergila-gila padamu, Hina."


Baik selama ini, maupun untuk seterusnya. Hal itu mutlak tidak akan pernah berubah.


"Kalau begitu aku tenang...... Nah, selagi aku merasa tenang, bolehkah aku meminta satu hal lagi?"


"Boleh, kok."


Aku tidak ingin membuat Mikami-san merasa cemas. Jika ada hal yang dia inginkan dariku, dan hal itu bisa menghapus kecemasannya serta memberikan rasa aman, maka dengan senang hati aku akan mengabulkan permintaannya.


"Terima kasih banyak. Kalau begitu...... sejujurnya, aku ingin Rei-kun lebih menginginkanku lagi."


"Itu...... maksudnya bagaimana?"


"Jangan hanya dari pihakku saja, tapi aku ingin Rei-kun juga menunjukkan ungkapan cinta seperti ciuman atau pelukan dari pihakmu sendiri."


"Kalau hal itu bisa membuat Hina merasa tenang...... aku akan berusaha keras."


"Kalau ada kesempatan sedikit saja, tolong lakukan ya."


Memang benar, untuk urusan ungkapan cinta seperti ciuman atau pelukan, selama ini aku cenderung terlena dalam posisi pasif karena Mikami-san yang selalu agresif. Bukannya aku berniat untuk bersikap pasif, tetapi secara relatif mungkin di matanya terlihat seperti itu.


Aku harus lebih aktif menginginkan Mikami-san dari pihakku sendiri, menunjukkannya agar dia tahu bahwa perasaan ini bukanlah perasaan sepihak, dan membuatnya merasa tenang.


Tepat setelah membulatkan tekad tersebut, aku langsung memanfaatkan celah yang ada dengan mendaratkan kecupan di bibir Mikami-san, yang langsung disambutnya dengan tatapan mata yang menyipit bahagia.


"Kalau begitu...... deklarasi menolak penjelasan tadi sudah resmi dicabut, kan?"


"Tentu saja."


"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat bingung harus bagaimana kalau kamu sampai bilang aturan dan pintu geser ada untuk dilanggar jadi kamu tidak akan peduli."


"......Pintu geser tidak boleh dirusak tahu."


Dari cara bicaranya, kedengarannya seolah-olah kalau aturan yang dilanggar itu tidak apa-apa. Sebisa mungkin aku ingin dia mematuhi aturan juga, sih...... tapi untuk saat ini, fakta bahwa dia sudah mau menerima penjelasanku adalah hal yang paling utama.


Tepat di saat kukira masalah ini sudah selesai sepenuhnya, Mikami-san tiba-tiba menatapku dengan tatapan mata yang serius.


Padahal dia sudah mau menerima penjelasanku, tetapi ekspresinya seolah mengisyaratkan masih ada hal lain yang ingin dia katakan.


"Ehm...... itu maksudnya ekspresi wajah yang bagaimana lagi?"


"Ini adalah ekspresi wajah yang mengisyaratkan kalau aku ingin mencari tahu di mana letak garis batas yang jelas."


"......Maksudnya?"


"Ini adalah skenario terekstrem, tapi...... bukan berarti kita bebas melakukan apa saja asalkan tidak sampai melakukan hubungan intim yang sesungguhnya, kan?"


"Hubungan intim...... yah, tentu saja begitu."


Bukan berarti kami bebas melakukan apa saja asalkan tidak sampai kebablasan ke tahap akhir. Jika tindakan tanpa hukum seperti itu diizinkan, godaan dari Mikami-san pasti akan menjadi sesuatu yang sangat dahsyat.


Aku bersyukur dia bisa memahami hal itu, tetapi fakta bahwa dia memahaminya dan tetap ingin mencari tahu letak garis batasnya...... jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu yang tidak-tidak lagi.


"Kalau begitu, untuk kasus di kamar mandi tadi, dari titik mana situasi mulai dianggap melanggar batas?"


"......Ya jelas dari sejak kamu telanjang bulat, kan."


"Bahkan meskipun tubuhku tidak kelihatan karena airnya keruh oleh sabun mandi?"


"Bahkan meskipun tidak kelihatan."


Jika aksi nekat itu tidak terjadi, mungkin situasi masih bisa dikendalikan. Namun, tindakan bertelanjang bulat seperti itu jelas-jelas sudah melewati batas.


Itu adalah bentuk pelanggaran aturan berkedok mematuhi tata krama.


"Kalau tetap melilitkan handuk mandi, apa masih bisa ditoleransi?"


"Yah, itu sudah sangat di ujung batas."


"Lalu bagaimana kalau saat sudah melilitkan handuk mandi dengan benar, tapi handuknya tidak sengaja terlepas?"


"......Anu, tolong jangan mencoba menciptakan unsur ketidaksengajaan yang disengaja, ya?"


"Aku agak tidak paham apa maksudmu, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin."


Aku bisa merasakan tekadnya yang kuat untuk tidak menyerah begitu saja. Meskipun aku ingin dia mengampuniku, di saat yang sama aku juga berpikir bahwa ini memang sangat khas dirinya.


Serangan gencar dari Mikami-san yang tidak pernah absen mencari celah sepertinya masih akan terus berlanjut...... tapi demi menjalani hubungan yang penuh batasan dan kesopanan, kami memang harus mendiskusikannya dengan benar. Namun, sebelum memulai diskusi itu, aku ingin membuat janji sekali lagi dengannya.


"Hina."


"Ada apa?"


"Aku pasti akan membahagiakanmu. Karena itu, untuk saat ini mari kita menahan diri bersama-sama."


"Kalau kamu sudah bicara begitu, aku tidak bisa menolaknya, kan. Kalau begitu...... janji, ya?"


Bukan karena terbawa suasana atau arus sesaat, melainkan demi mempersiapkan momen yang tepat pada waktunya nanti.


Kami pun saling menautkan jari kelingking sebagai bentuk sumpah setia.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close