NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Guuzen Tasuketa Bishoujo ga Naze ka Ore ni Natsuite Shimatta ken ni Tsuite Volume 3 Chapter 4

 Penerjemah: Miru-chan

Proffreader: Miru-chan


Chapter 4

Musim Panas yang Belum Berakhir

Libur musim panas sudah hampir berakhir.


Karena kami telah menyelesaikan semua tugas libur musim panas sejak bulan Juli, kami tidak perlu merasa panik sekarang.


Bekerja keras di awal demi menikmati musim panas secara terencana ternyata sangat membuahkan hasil. Ini semua juga berkat Hina.


"Rei-kun, mau berbagi es krim denganku?"


"Tentu... eh, tapi ini kan tipe cup?"


Saat aku sedang bersantai dan bermalas-malasan di sofa, Hina datang membawa es krim. Sudah menjadi kebiasaannya yang menggemaskan untuk langsung duduk di sampingku dan menempel dengan sangat rapat.


Di hari musim panas yang terik seperti ini, es krim yang dimakan di dalam ruangan ber-AC tidak mungkin tidak enak. Karena itu, aku berniat menerimanya dengan senang hati dan menatap Hina untuk mengambil bagianku. Namun, di luar dugaan, apa yang dipegangnya ternyata adalah sebuah es krim cup. Karena dia bilang ingin berbagi, kupikir es krimnya adalah tipe yang bisa dipatahkan menjadi dua atau berisi beberapa buah yang bisa dibagi... Tapi kalau begini, bagaimana cara membaginya?


Rasa penasaran itu hanya terlintas sesaat. Begitu melihat cup dan sendok yang disodorkan, serta ekspresi Hina yang menunggu sambil membuka mulut untuk disuapi, aku langsung memahami semuanya.


"Aam."


"Ahmm. Enyak fekali."


Saat aku mengarahkan sendok berisi es krim yang kusendok ke mulut Hina, dia melahapnya dengan lahap, lalu mulai melelehkan dan menikmatinya di dalam mulut dengan ekspresi yang tampak sangat lezat.


Setelah memastikan dia selesai mengunyah, aku pun ikut memakan satu suapan. Rasa vanila yang pekat langsung menyebar di dalam mulut, membuat pipiku hampir saja mengendur karena terlalu menikmati rasasanya.


Aku merasa sangat terkesan karena berciuman secara tidak langsung seperti ini pun sekarang sudah terasa biasa saja. Dulu, saking tegangnya, aku sering sampai tidak bisa merasakan rasa makanannya, tetapi sepertinya sekarang aku sudah mulai terbiasa.


"Libur musim panas sebentar lagi akan berakhir, ya."


"Benar juga. Berkat dirimu, aku bisa melewati musim panas yang menyenangkan. Terima kasih, ya."


"Sama-sama."


Aku menanggapi dan mengiyakan obrolan santai yang dia utarakan sambil memakan es krim.


Sebagai musim, musim panas masih akan berlangsung sedikit lebih lama lagi, tetapi musim panas dalam arti liburan sekolah akan segera berakhir. Mengingat kembali... ini benar-benar musim panas yang sangat padat.


Begitu libur musim panas tiba, kami langsung tinggal bersama, aku menyatakan cinta dan kami mulai berpacaran, bahkan aku sudah bertemu dengan orang tuanya. Kencan di festival kembang api, termasuk insiden Hina yang bertindak nekat malam itu serta percakapan jujur kami saat saling mengutarakan isi hati, benar-benar menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa kulupakan.


Dalam hubungan yang tetap menjaga batasan ini, terkadang aku dibuat pusing oleh Hina yang suka menguji batas kemampuan menahanku... namun hari-hari yang sangat bahagia terus berlanjut.


(Jika aku memberi tahu diriku yang dulu sebelum masuk SMA tentang keadaanku yang sekarang, dia pasti tidak akan memercayainya.)


Meskipun dulu aku sangat sadar ingin mengubah citra diri saat masuk SMA, aku sama sekali tidak pernah bermimpi akan mendapatkan kekasih, bahkan sampai tinggal bersama seperti ini. Namun, saat merunut kembali semua kenangan ini, semuanya dihiasi dengan Hina sebagai pusatnya.


Sungguh, aku sangat berterima kasih kepadanya.


"Apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?"


"Ah, tidak. Aku hanya sedang mengenang kembali bahwa ada banyak hal yang terjadi selama libur musim panas ini."


"Kenanganku juga penuh dengan Rei-kun."


"Aku pun penuh dengan dirimu, Hina."


Karena Hina yang tersenyum lembut terlihat sangat menggemaskan, aku spontan menciumnya.


Tentu saja, itu adalah kecupan manis yang terasa seperti rasa vanila.


"Tapi, musim panas kita belum berakhir, lho?"


"Ah, benar, laut ya. Baju renang Hina... aku jadi tidak sabar."


Aku sempat terhanyut dalam kenangan, padahal masih ada agenda musim panas yang tersisa. Kami memang telah menjadwalkan untuk pergi ke laut di akhir libur musim panas.


"Kenapa waktu itu kita menjadwalkannya di akhir, ya? Kupikir sekarang masih musimnya, bukankah sedikit lebih awal juga tidak apa-apa?"


"Kalau terlalu awal, sepertinya akan sangat ramai. Jika di akhir musim panas, suasananya akan sedikit lebih tenang, jadi Rei-kun juga bisa menikmatinya dengan santai."


"Benar juga. Di waktu-waktu seperti sekarang, biasanya banyak orang yang sudah tidak punya waktu luang lagi untuk bermain."


Meskipun jawaban orang bisa berbeda-beda saat memikirkan hal yang identik dengan musim panas, pasti banyak yang akan menjawab laut. Bisa dibayangkan dengan mudah betapa ramainya pantai oleh keluarga dan pasangan begitu musim pantai dibuka.


Dengan menggeser jadwal dari masa paling puncak ke akhir musim panas, apakah suasananya akan menjadi sedikit lebih tenang?


Yah, kupikir ini adalah waktu yang tepat bagi orang-orang yang tidak mengerjakan tugas libur musim panas secara terencana untuk mulai merasa panik... tetapi mempertimbangkan hal itu dalam menyusun rencana menunjukkan tingkat perhatian yang sangat tinggi.


"Maaf, ya. Sudah membuatmu repot memikirkan hal ini."


"Aku juga merasa gugup kalau ada terlalu banyak orang, jadi jangan dipikirkan."


"Lagipula, aku memang tidak terlalu ingin memperlihatkan baju renang Hina kepada orang lain. Serangan pesona tanpa pandang bulu itu bisa membuat banyak pria terpikat."


"Apakah Rei-kun juga akan terpikat olehku?"


"Aku? Kalau aku sih sudah terlambat untuk diselamatkan."


Karena aku pernah menemani Hina saat mencoba pakaian, aku sudah tahu seberapa besar daya hancur yang dimiliki oleh wujud Hina dalam balutan baju renang.


Bayangkan saja dia berjalan dengan pakaian seperti itu di tepi pantai. Sudah pasti semua pria yang berpapasan dengannya akan menoleh, melihatnya untuk kedua atau ketiga kalinya, dan jika beruntung, mereka akan menghampirinya untuk menyapa, atau dengan kata lain, menggodanya.


Oleh karena itu, aku tidak ingin memperlihatkan baju renang Hina yang luar biasa imut itu kepada orang lain. Muncul rasa ingin memilikinya sendiri yang membuatku ingin dia hanya memperlihatkannya kepadaku saja.


Dari sudut pandang itu, aku sangat setuju untuk pergi setelah suasananya lebih tenang.


"Ngomong-ngomong, kita tidak pergi ke kolam renang, ya. Padahal dulu kamu bilang ingin pergi, kan? Apakah tidak apa-apa?"


"Ah, benar juga, kita tidak pergi, ya. Apakah Rei-kun ingin pergi?"


"Aku sih tidak masalah. Aku memang ingin melihat baju renang Hina, tapi kalau aku meminta, kamu pasti mau memakainya kapan saja, kan?"


"Tentu saja. Katakan saja kapan pun, aku bersedia melepas pakaian untukmu."


Aku sangat penasaran apakah kata "melepas" di sini bermakna harfiah atau sekadar ungkapan kiasan untuk membantu dengan sungguh-sungguh, tetapi mari kesampingkan hal itu terlebih dahulu. Berbahaya jika aku terlalu memancingnya dan dia malah nekat melakukannya dalam arti harfiah.


Pergi berkencan dengan Hina memang menyenangkan, tetapi karena di luar sangat panas, wajar saja jika kami jadi ingin menghabiskan waktu sambil bermalas-malasan di dalam rumah seperti ini.


Asalkan bersama Hina, menghabiskan waktu dengan cara biasa saja sudah cukup. Meskipun tidak ada sesuatu yang spesial, setiap hari terasa membahagiakan.


"Kolam renang kan ada yang memiliki fasilitas air hangat, jadi kalau memang mau pergi, kita bisa ke sana kapan saja. Kita tidak perlu terburu-buru."


"Tapi, musim dibukanya pantai biasanya hanya sampai akhir Agustus, kan?"


"Itu juga salah satu alasannya. Lagipula, begitu libur musim panas berakhir, sekolah akan dimulai kembali. Jadi, mari kita ukir kenangan musim panas yang indah sebelum itu terjadi."


Kalau kolam renang sih tidak masalah, tetapi untuk laut, jika melewatkan kesempatan ini rasanya kita harus menunggu sampai tahun depan.


Aku harus benar-benar meresapi kebahagiaan karena bisa membuat kenangan yang luar biasa di akhir libur musim panas ini...!


"Pergi ke laut dan perjalanan wisata pemandian air panas... aku jadi tidak sabar, ya."


"...Perjalanan wisata pemandian air panas itu baru pertama kali kudengar, lho."


"Soalnya aku baru mengatakannya sekarang."


Ucap Hina sambil memasang wajah bangga yang jenaka. Tampaknya sebuah rencana telah berkembang di luar sepengetahuanku.


Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa apa pun akan terasa menyenangkan asalkan bersama Hina, jadi tidak ada masalah... Namun, akan gawat kalau dia menyusun rencana yang mengabaikan segalanya seperti memperpanjang libur musim panas atau cuti sekolah secara sepihak. Jadi untuk jaga-jaga, aku harus menanyakan detailnya.


"Perjalanan wisata pemandian air panas itu rencananya berapa malam?"


"Rencananya 3 hari 2 malam. Karena awalnya kita memang berniat pergi ke laut, aku juga sekalian mencari informasi tentang tempat penginapan. Kebetulan ada penginapan pemandian air panas yang sudah lama membuatku penasaran, jadi mumpung ada kesempatan, aku menggabungkannya menjadi perjalanan wisata pemandian air panas."


"Begitu, ya. Terima kasih banyak sudah mencari tahu berbagai hal."


"Sama-sama. Tempat itu terkenal dengan pemandian air panas terbukanya, jadi pasti menyenangkan!"


Pemandian air panas terbuka, ya...


Tentu saja aku menantikannya, tetapi aku juga sedikit cemas kalau-kalau Hina akan bertindak nekat lagi.


"Tapi, kenapa 3 hari 2 malam dan bukan 2 hari 1 malam? Apakah kita akan pergi ke laut di kedua hari itu?"


"Jika Rei-kun bilang ingin melihat baju renangku 2 hari berturut-turut, aku tidak keberatan, sih... Tapi untuk agendanya, aku memikirkan hal lain."


"Karena Hina sudah bersusah payah memikirkan berbagai rencana, mari kita lakukan apa yang ingin kamu lakukan."


Tentu saja wujud Hina dalam balutan baju renang sangat kunantikan, dan ada keinginan juga di dalam hati untuk menikmatinya dua hari berturut-turut. Namun, Hina yang memakai baju renang pasti memiliki daya serang yang sangat tinggi. 


Jika 2 hari berturut-turut, mental dan fisikku mungkin tidak akan sanggup bertahan. Lagipula, karena ini adalah perjalanan wisata pemandian air panas, tidak ada salahnya jika ada waktu untuk menikmati perjalanan dengan santai.


Yah, meskipun aku tidak tahu apakah rencana yang dipikirkan Hina itu adalah sesuatu yang bisa dinikmati dengan santai atau tidak.


"Ngomong-ngomong, rencana seperti apa itu?"


"Rahasia. Silakan menantikannya di hari H nanti."


"Baiklah. Aku akan menantikannya."


Sampai saat ini pun aku sudah menganggap musim panas ini sangat padat, tetapi tampaknya kenangan kami masih akan terus bertambah.


Berkat dirinya, sepertinya aku bisa melewatkan musim panas yang membara ini sampai detik-detik terakhir.



"Laut, lho, laut! Ini benar-benar membuat bersemangat, ya!"


"Benar juga."


Sebuah acara besar yang akan menutup musim panas kami.


Kami telah tiba untuk berenang di laut sekaligus menikmati perjalanan wisata pemandian air panas selama tiga hari dua malam.


Penginapan yang dipesan oleh Hina terletak tepat di samping pantai tempat orang-orang bisa berenang. Lautan bahkan sudah terlihat dari jalan menuju penginapan, membuat Hina sudah merasa sangat bersemangat sejak awal.


"Kita sudah sampai, ya!"


"Jadi ini penginapan yang membuatmu penasaran itu, Hina."


"Penginapan Pemandian Air Panas 'Towa'. Konon asal-usul namanya bermakna untuk memperdalam ikatan dengan orang terkasih secara abadi. Karena itulah, tempat ini tampaknya sangat populer bagi para kekasih atau pasang suami istri untuk mengukir kenangan bersama."


Seperti yang diharapkan dari tempat yang katanya membuat dia penasaran, dia benar-benar telah mencari tahu informasinya dengan sangat mendalam.


Hanya karena fakta bahwa kami berdua mengunjungi penginapan dengan asal-usul nama seperti itu, entah mengapa perasaan bahagia langsung membuncah di dalam dada. Namun, kami baru saja tiba di penginapan. Masih terlalu dini untuk merasa puas.


Setelah melakukan proses check-in, kami menyempatkan diri sejenak untuk mengagumi kamar tamu yang indah dan berkelas serta teras yang menghadap ke tepi pantai. Setelah itu, kami merapikan barang bawaan sedikit dan langsung bergegas menuju pantai.


"Akhirnya kita sampai di sini, ya."


"Benar-benar sampai, ya."


Matahari yang bersinar terik, angin laut yang berembus nyaman, dan pasir pantai yang hangat menyambut kedatangan kami. Hal ini membuat semangat Hina langsung melonjak drastis, hingga tingkat keimutannya seolah-olah berlipat ganda menjadi pangkat dua setengah karena saking antusiasnya.


Karena cuacanya sangat bagus dan sangat cocok untuk pergi ke pantai, terlihat beberapa pengunjung yang sedang berenang. Namun, jika dibandingkan dengan puncak musim liburan, suasananya memang terasa lebih tenang, sehingga tampaknya kami tidak akan merasa pusing karena kerumunan orang.


Hati rasanya berdebar gembira karena sepertinya kami bisa menikmati waktu tanpa perlu memedulikan pandangan orang lain. Mungkin aku pun sudah tidak bisa mengomentari tingkah Hina karena aku sendiri juga sudah merasa sangat bersemangat.


"Kalau begitu, mari kita berkumpul di sini setelah selesai berganti pakaian renang."


"Oke. Aku akan menantikan baju renangmu, Hina."


"Tentu saja. Aku akan membuat Rei-kun terpesona, sampai-sampai kamu secara tidak sadar merasa ingin membawaku ke balik bayangan batu karang."


"Itu... bakal merepotkan, sih."


Rasanya jantungku seperti tertembak oleh kedipan mata yang diarahkan Hina dengan sangat sempurna.


Wujud Hina dalam balutan baju renang sudah tidak perlu dipertanyakan lagi pasti akan sangat merangsang dan penuh dengan daya hancur. Jika dia membuat pernyataan seperti itu, aku mungkin benar-benar akan menjadi ingin membawanya ke balik bayangan batu karang. Namun, aku harus berusaha keras agar tidak memikirkan hal-hal yang aneh.


Kira-kira sampai sejauh mana aku bisa menahan serangan penuh dari Hina yang ditambah dengan kekuatan pesona laut ini... yang ada hanyalah rasa cemas.


Sambil membawa debaran jantung yang berlipat ganda itu, aku menyelesaikan pergantian pakaian di ruang ganti pondok pantai. Aku memakai celana renang, lalu mengenakan jaket hoodie antiair di atasnya, dan selesai sudah.


Untuk barang bawaan, selain barang-barang yang diperlukan, semuanya kusimpan di dalam loker agar bisa bergerak dengan leluasa. Barang-barang yang diperlukan tampaknya juga ada yang disewakan, jadi jika nanti kami membutuhkan payung pantai untuk beristirahat, kami tinggal menyewanya sesuai kebutuhan.


Setelah menyelesaikan persiapan, aku melangkah keluar dan langsung disambut oleh sengatan sinar matahari musim panas. Meskipun ini sudah akhir bulan Agustus, tampaknya hari-hari yang terik masih akan terus berlanjut. 


Selain itu, karena sinar matahari sekuat ini, kami harus berhati-hati agar kulit tidak terbakar matahari. Akan gawat jika kulit mengalami kerusakan akibat terbakar matahari sehingga kami tidak bisa menikmati pemandian air panas yang sudah dinanti-nantikan. Oleh karena itu, aku tidak boleh lalai dalam melakukan perawatan kulit.


Meskipun aku memakai jaket hoodie antiair, aku tidak boleh lengah dan harus mengoleskan tabir surya juga.


"Rei-kun, maaf membuatmu menunggu."


"Ah, iya..."


"Bagaimana? Apakah kamu jadi ingin membawaku ke balik bayangan batu karang?"


"...No comment. Tapi, kamu kelihatan sangat imut, lho."


Mendengar suara Hina, aku mengangkat wajah dan menoleh ke arahnya, lalu secara tidak sadar menelan ludah.


Dia memakai bikini putih model one-shoulder—baju renang yang kupilihkan saat menemaninya berbelanja dulu. Warnanya tenang dan tidak mencolok, tetapi mungkin karena pembawaan orang yang memakainya memang bagus, wujudnya terlihat begitu indah hingga membuat mataku sulit beralih.


Meski tidak sampai ingin membawanya ke balik bayangan batu karang... tetap saja aku jadi merasa salah tingkah.


Untung saja baju renang ini mencerminkan seleraku yang cenderung tenang. Jika dia datang dengan baju renang yang berfokus penuh untuk menyerang dan memiliki potongan kain yang minim, situasinya mungkin akan menjadi gawat bagiku.


"Punya Rei-kun juga bagus, kok. Keren sekali."


"Baju renang pria kan hampir semuanya mirip?"


"Tidak juga, lho. Kamu keren sekali sampai rasanya aku yang ingin membawamu ke balik bayangan batu karang."


"...Tolong jangan lakukan itu."


Sudah kuduga. Godaannya benar-benar berada di kecepatan penuh dan memiliki daya serang yang sangat tinggi.


Aku harus berhati-hati agar tidak terhanyut oleh ritme Hina, entah dengan cara mengabaikannya secara halus atau berkelit dengan lihai.


"Lagipula, berani sekali kamu langsung memamerkan kulit seperti ini. Hati-hati terbakar matahari, lho."


"Iya. Agar tidak terbakar matahari, tolong oleskan tabir suryanya dengan sangat teliti, ya."


"...Jangan-jangan, aku yang harus mengoleskannya?"


"Tentu saja, itu sudah sewajarnya, kan? Kamu harus mengoleskannya ke seluruh tubuh tanpa terlewat sedikit pun...!"


Hina langsung tampil terbuka penuh tanpa mengenakan pakaian luaran atau apa pun. Itu memang sangat khas dirinya, sih, tetapi aku ingin dia tetap berhati-hati terhadap sengatan matahari musim panas.


Karena pemikiran itulah aku menegurnya untuk melakukan perawatan kulit. Namun, entah mengapa tugas mengoleskan tabir surya justru jatuh kepadaku. Memang wajar, sih... dan aku tidak keberatan untuk mengoleskannya, tetapi kalau harus ke seluruh tubuh tanpa terlewat sedikit pun, itu jelas mustahil bagiku.


"Kalau begitu, mari kita sewa tenda dulu. Lagipula nanti kita pasti akan menggunakannya, jadi lebih baik punya 1, kan?"


"Apakah itu berarti, alih-alih di balik bayangan batu karang, kamu ingin membawaku ke dalam tenda yang panas dan pengap?"


"Dengar ya... bisa tidak stop mengalihkan pikiranmu ke arah sana?"


"Jangan dipikirkan."


Pikirkan, dong!


Astaga... dia selalu saja menggodaku seperti itu.


Sejak kapan dia berubah menjadi anak senakal ini? Tidak, sejak awal dia memang tipe anak yang seperti ini, yang akan melakukan apa saja demi memaksakan keinginannya...


Aku ingin dia mengampuniku dari godaan-godaan yang mengarah ke hubungan orang dewasa... tetapi percuma saja, dia tidak akan mau mendengarkanku meskipun aku mengatakannya.


"Hina, kurangi hal-hal seperti itu dan mari kita nikmati lautnya dengan benar."


"Aku mengerti, kok. Asalkan bersama Rei-kun, apa pun pasti menyenangkan."


"Hei, jangan memelukku begitu. Panas, tahu."


"Jangan dipikirkan~"


Begitu aku mulai melangkah untuk pergi menyewa tenda, Hina berlari kecil mendekat ke sampingku, lalu langsung mengunci lengan dan memeluk tanganku erat-erat.


Meskipun terasa menyenangkan karena ada sesuatu yang empuk tertekan ke lenganku, hal ini membuatku sulit berjalan dan yang terpenting, rasanya panas. Namun, protesku langsung dimentahkan oleh senjata pamungkasnya: "Jangan dipikirkan".


Sifatnya yang suka memaksa ini... entah mengapa membuatku berpikir bahwa Hina memang harus seperti ini.


Langit biru. Laut biru. Pasir pantai yang putih dan kulit yang putih. Sengatan cuaca dan hawa panas ini... benar-benar terasa seperti musim panas yang sesungguhnya.


Kami menyewa tenda dan payung pantai di pondok pantai, lalu mulai menata tempat peristirahatan kami terlebih dahulu. Tenda sunshade yang kami sewa adalah tipe otomatis yang langsung terbuka dalam sekali tekan, jadi persiapannya selesai dengan cepat tanpa perlu rakitan yang rumit.


Begitu merasakannya sendiri, aku baru menyadari betapa membantunya fasilitas sewa ini. Bagi pelajar seperti kami yang tidak bisa menyetir mobil, barang-barang berukuran besar seperti tenda, payung pantai, atau ban renang akan sangat merepotkan untuk dibawa. 


Memang lebih baik jika bisa menyediakannya sendiri sejak awal, tetapi rasanya agak enggan untuk membeli dan mengumpulkan barang-barang dari nol jika waktu penggunaannya saja sangat terbatas. Namun, berkat fasilitas sewa di pondok pantai, kami bisa mendapatkannya langsung di tempat tanpa masalah. Dengan kemudahan ini, wajar saja jika banyak orang yang tetap menyewanya meskipun harganya agak mahal.


"Ternyata ukurannya lebih besar dari perkiraan, ya."


"Benar, ruangannya masih terasa longgar meskipun digunakan untuk kita berdua beristirahat."


"Benar juga. Tampaknya kegiatan istirahat kita akan berjalan dengan sangat lancar."


Kami saling mengutarakan pendapat sambil memandangi tenda yang sudah berdiri tegak.


Terlepas dari kegiatan istirahat seperti apa yang ingin dia lancarkan, untuk saat ini kami harus melakukan persiapan sebelum bersenang-senang di laut... tetapi jujur saja, aku merasa gugup.


Mengoleskan tabir surya. Di bawah terik matahari yang menyengat, hal ini adalah sesuatu yang lumrah. Namun, mengoleskannya ke tubuh orang lain—terlebih lagi ke tubuh seorang gadis—tetap saja membuat jantungku berdebar-debar meskipun dia adalah kekasihku sendiri.


"Ayo, Rei-kun juga cepat masuk ke dalam."


"Iya, iya, aku tahu."


Tanpa memedulikan kegugupanku, aku ditarik masuk ke dalam tenda. Tanpa membuang waktu sedetik pun, bagian pintu masuk yang terbuka langsung ditutup rapat... dan sebuah ruang tertutup pun tercipta.


Karena ini adalah tenda tipe full-close yang bisa digunakan untuk berganti pakaian, bagian dalamnya memang terbukti ampuh untuk menghalau sengatan matahari sekaligus menutup pandangan orang-orang di sekitar. Namun, entah mengapa aku merasa pintu keluar masuknya seperti sedang dijaga ketat oleh Hina. Rasanya seperti ada tekanan misterius yang berbunyi: jika kamu ingin keluar dari sini, kalahkan aku terlebih dahulu...


"Nah, silakan oleskan tabir suryanya. Ah, atau apakah lebih baik menggunakan sun oil saja?"


"Sebenarnya kamu ingin kulitmu terbakar matahari atau tidak, sih?"


"Jika Rei-kun bilang ingin menikmati bekas baju renang yang terbentuk akibat terbakar matahari, aku akan berusaha keras untuk membuat kulitku menjadi cokelat."


"...Yah, kupikir Hina akan tetap terlihat imut dan tampak sehat meskipun kulitmu kecokelatan... tapi karena kulitmu aslinya putih bersih dan indah, lebih baik lindungi saja."


"Ehehe, begitu ya. Kalau begitu, agar kulit putih bersih kesukaan Rei-kun ini tidak mengalami kerusakan, kamu harus mengoleskannya ke seluruh tubuh tanpa terlewat sedikit pun, ya."


Mau tabir surya ataupun sun oil, pada akhirnya semua keputusan tetap diserahkan sepenuhnya kepadaku, ya.


Aku mencoba membayangkan Hina yang mendapatkan kulit sawo matang yang eksotis berkat efek dari sun oil. Jujur saja, bayangan itu memang terlihat memikat, tetapi Hina tetap paling cocok dengan kulitnya yang putih bersih hingga rasanya bisa membuat orang terkesan saat melihatnya. Jika dipaksa memilih di antara dua pilihan itu, aku lebih ingin dia melindungi kulitnya dengan baik menggunakan tabir surya.


"Kalau begitu... silakan. Silakan lakukan apa saja yang kamu suka pada seluruh tubuhku."


"Dengar... sekadar mengingatkan, aku hanya akan mengoleskan tabir surya, lho. Tidak akan ada tindakan yang lebih dari itu."


"Kira-kira bagaimana, ya? Kita tidak bisa menjamin kalau pikiran Rei-kun tidak akan berubah, lho?"


Hina langsung berbaring telungkup dan melonggarkan bikininya untuk memperlihatkan punggungnya. 


Seperti biasa, dia sama sekali tidak ragu untuk menanggalkan pakaian—sebuah keberanian yang patut diacungi jempol. Mataku langsung terpaku pada lekuk tubuhnya, mulai dari punggungnya yang mulus dan indah yang terpampang nyata hingga ke garis pinggangnya. Memang benar, jika disuguhi pemandangan seperti ini, pikiranku bisa langsung berubah seketika. Aku harus meneguhkan iman...!


"Ada apa? Di sini sudah siap sedia, lho."


"Ah, baiklah... aku sentuh, ya."


Sudah menjadi rahasia umum kalau Hina yang sudah memulai tidak akan mau mendengarkan bantahan. Jika aku terus mematung di sini, dia mungkin akan melanggar aturan dengan langsung bangkit berdiri dalam kondisi bikini yang masih terlepas. Jadi, aku tidak punya waktu untuk terus mengulur waktu dengan alasan belum siap mental atau semacamnya.


Aku menuangkan gel tabir surya ke tangan lalu meratakannya. Mengenai tabir surya, aku memang tidak terlalu paham secara mendalam, tetapi aku tahu ada beberapa jenis yang tersedia. Aku juga tahu di antaranya ada tipe semprot (spray) yang bisa diaplikasikan dengan praktis. Namun, alasan Hina sengaja menyiapkan tipe gel yang harus diratakan dengan tangan pasti sengaja dilakukan demi menggiring situasi ke arah ini.


"Hiaaa!"


"Maaf, apakah masih terlalu dingin?"


Padahal aku sudah menghangatkannya terlebih dahulu dengan menggosokkannya di tanganku sebelum mengoleskannya, jadi kupikir tidak akan sepesis itu. Namun, suara erangan yang mendesah telanjur lolos dari mulutnya dan sukses membuat jantungku berdebar.


Aku tahu dia tidak sengaja, tetapi jika dia terus mengeluarkan suara seperti itu, aku jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikiran macam-macam.


Pokoknya, aku harus fokus mengoleskannya tanpa memikirkan apa pun.


"Nngh, ah... a-ahh..."


"Dengar ya, aku akan sangat terbantu kalau kamu tidak mengeluarkan suara aneh seperti itu..."


"Hyaaa, habisnya, nngh... biarpun kamu bilang begitu, ahh... jari-jari Rei-kun rasanya terlalu enak... nngh..."


"Iya, iya, syukurlah kalau begitu."


"Ah, di situ... luar biasa..."


Setiap kali ujung jariku menelusuri kulit lembut Hina, tubuhnya sedikit tersentak dibarengi dengan desahan yang menggoda.


Setiap kali gel yang licin itu kuratakan, suaranya justru semakin lama semakin membesar. Aku sampai cemas kalau-kalau suaranya terdengar hingga ke luar tenda. Namun, karena dia tampaknya sama sekali tidak berniat menahan suaranya, aku memilih untuk terus melanjutkan pekerjaan ini dengan pikiran kosong agar bisa cepat selesai.


Kalau dipikir-pikir, jika hanya mendengar suaranya saja, orang-orang pasti akan mengira kami benar-benar sedang melakukan "hal itu". Pemikiran tersebut justru membuatku semakin merasa gerah secara mental.


Tiba-tiba saja aku teringat situasi di dalam ruang ganti saat kami memilih baju renang dulu, yang suasananya mirip seperti ini.


Punggungnya sensitif, ya? Kalau aku menggoda bagian itu sekalian dengan telinganya, apakah aku bisa mendengar suara yang lebih indah lagi? ...Ah, apa-apaan pikiranku ini.


Jika aku sampai mencobanya, itu sama saja dengan masuk ke dalam perangkap Hina. Aku tidak perlu sengaja menyalakan tombol mode serius dari pihakku sendiri.


"Nah, sudah selesai untuk bagian ini."


"Haa... haa... Tapi, bagian kaki dan sisi depan belum diolesi, lho."


"Hal semacam ini kan biasanya minta tolong dioleskan pada bagian yang tidak bisa dijangkau oleh tangan sendiri? Untuk bagian yang bisa dijangkau sendiri, silakan lakukan sendiri."


"Aku menolak."


"Kenapa, coba?"


"Itu karena... jika dioleskan oleh Rei-kun, rasanya jauh lebih enak dan membuatku bisa merasakan kebahagiaan."


"Kamu ini ya..."


"Tidak boleh, ya?"


"Guh... tidak, boleh."


Saat dimintai tolong dengan suara yang begitu manis dan meleleh seperti itu, suasananya benar-benar membuatku sulit untuk menolaknya dengan tegas. Namun, entah bagaimana aku berhasil mengumpulkan tekad untuk tetap menolak.


Melihat Hina yang menatapku dengan mata yang berkaca-kaca sambil memiringkan kepalanya dengan manis, aku hampir saja keceplosan mengatakan "boleh". Beruntung aku masih bisa menahan diri di detik-detik terakhir.


"Aku sudah menduga kalau Rei-kun pasti akan berkata 'boleh' seperti itu."


"...Eh? Tunggu, jangan-jangan di kepalamu itu dihitung sebagai persetujuan? Tolong stop memanipulasi pendengaranmu, ya?"


"Kalau begitu, sesuai dengan rencana awal, tolong oleskan dengan teliti ke seluruh sudut tubuh... sampai ke bagian dalam baju renang juga, ya."


"...Tidak, mungkin, ya. Kulit di balik baju renang kan tidak akan terbakar matahari."


"...Tolong lakukan dengan sangat teliti, demi mempertimbangkan kemungkinan baju renang ini hanyut terhempas oleh ombak."


"...Seterusnya silakan lakukan sendiri. Aku tunggu di luar."


Sambil meninggalkan kata-kata itu, aku melangkah keluar dari tenda terlebih dahulu.


Entah mengapa kepalaku sudah terasa agak pusing. Aku harus berhati-hati agar tidak terkena sengatan panas.


Padahal ini seharusnya hanyalah persiapan awal sebelum kami bisa menikmati laut dengan sepuasnya, tetapi entah mengapa aku merasa konsentrasi dan tenagaku langsung terkuras habis.


Siapa yang menyangka kalau hanya dengan mengoleskan tabir surya saja bisa menghabiskan stamina mentalku sampai sejauh ini... Seperti biasa, Hina tampaknya selalu berada dalam mode kecepatan penuh.


"Padahal katanya mau mengoleskannya ke seluruh tubuh..."


"Aku tidak pernah bilang begitu. Kalau sampai sejauh itu, jelas sudah melewati batas, kan?"


"Batasan itu ada justru untuk dilewati."


"...Tolong batasi juga keinginanmu untuk menggodaku demi kesenanganmu sendiri."


"Aku akan mempertimbangkannya dengan baik."


"Kalau kamu keterlaluan, aku bisa langsung KO dan kehabisan tenaga untuk bermain di laut bersamamu, lho. Kamu tidak apa-apa?"


"...Kalau itu, aku keberatan. Karena aku ingin mengukir lebih banyak kenangan indah bersama Rei-kun."


Jika dia berpikir demikian, aku ingin dia sedikit mengerem serangan gencarnya... Tapi di sisi lain, sifat seperti itulah yang justru menjadi ciri khas Hina. Ini benar-benar dilema yang pelik.


Terlepas dari hal itu, karena perlindungan terhadap sinar matahari saat ini sudah siap, mari kita beralih ke kegiatan bermain di laut... 


Tapi, sebaiknya kita melakukan apa dulu, ya?


Menentukan apa yang harus dimainkan ternyata sangat membingungkan.


Yah, jika bingung menghadapi situasi seperti ini, biasanya aku tinggal melemparkan pilihannya kepada Hina. 


Berdasarkan prinsipnya yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu luang walau sedetik pun, dia pasti akan langsung memutuskannya saat itu juga. Meskipun jika dia mulai mengatakan hal-hal yang melewati batas lagi, aku akan langsung menolaknya.


"Kita mau mulai dari mana dulu? Bagaimana kalau langsung berenang di laut seperti biasa?"


"Aku setuju dengan itu, tapi Rei-kun... apakah kamu tidak melupakan sesuatu?"


"Apa?"


"Sebelum masuk ke dalam laut, kita harus melemaskan otot-otot tubuh dengan baik terlebih dahulu."


"Ah, benar juga. Melakukan gerakan pemanasan memang wajib sebelum berenang."


Bisa gawat kalau aku langsung berenang begitu saja lalu mendadak mengalami kram kaki dan tenggelam.


Melakukan gerakan pemanasan dengan teliti demi mencegah cedera adalah hal yang wajib, baik saat berada di laut maupun di kolam renang.


Yah, kalau hanya mendengar ucapannya tadi, itu memang terdengar seperti peringatan yang wajar. Namun, niat terselubung Hina sudah terbaca dengan sangat jelas.


"Silakan, tolong lemaskan otot-otot tubuhku."


"Biarpun kamu minta dilemaskan... aku harus melakukan apa, coba?"


"Bantu aku meregangkan tubuh. Tolong dorong, tarik, atau pijat bagian sana-sini agar semuanya bisa meregang."


"Bisa lakukan sendiri tidak, sih?"


"Itu tidak mungkin. Sebagai gantinya, nanti saat giliran Rei-kun melakukan peregangan, aku yang akan membantumu mendorong."


Begitu rupanya. Dia benar-benar bersikeras ingin melibatkan diriku.


Jujur saja, pertahanan mentalku sudah cukup terkikis akibat urusan mengoleskan tabir surya tadi sehingga aku ingin sedikit menenangkan diri. Namun, Hina tampaknya sama sekali tidak berniat mengendurkan serangan gencarnya.


Padahal aku belum menyatakan setuju, tetapi Hina sudah langsung duduk di depanku dan memamerkan punggungnya tanpa pertahanan. Dia duduk dengan kaki terbuka lebar dan sudah dalam posisi bersiap, benar-benar sudah siap sedia untuk didorong.


"Haa, baiklah, aku mengerti. Kalau terasa sakit, bilang, ya."


"Silakan, raba dan belai saja sesuka hatimu."


Ini benar-benar gerakan peregangan, kan?


Aku sampai dibuat bingung mengenai apa sebenarnya yang sedang diinginkan oleh Hina... Tapi yang jelas, melakukan pemanasan dengan benar demi mencegah cedera adalah hal yang mutlak diperlukan. Jadi, dengan perlahan aku menempelkan kedua tanganku pada punggungnya dan mulai mendorongnya secara perlahan.


"Nngh... fhh..."


"Wah... lentur sekali..."


Desahan napasnya lolos bersamaan dengan doronganku pada punggungnya. Tubuh Hina yang lembut langsung terlipat dengan sempurna layaknya seorang atlet senam lantai. Jika diperhatikan baik-baik, kakinya juga terbuka hampir 180 derajat. Mengingat dia bisa menempelkan bagian tubuh atasnya ke lantai dalam posisi seperti itu, kelenturan tubuhnya benar-benar luar biasa. Itu adalah keahlian yang sama sekali tidak akan bisa kutiru.


Lagipula... kalau tubuhnya selentur itu, dia tidak butuh bantuanku, kan? Bahkan saat kedua tanganku hanya menempel tanpa memberikan tenaga sedikit pun, dia bisa mempertahankan posisi tersebut dengan mudah. Keberadaanku di sini benar-benar hanya sebagai pajangan.


"Ngomong-ngomong... apakah aku memang dibutuhkan di sini?"


"Tentu saja butuh. Aku akan sangat terbantu jika kamu mau menempelkan seluruh tubuhmu dan mendorong dengan lebih kuat."


"Bagaimana lagi aku harus mendorongnya?"


"Gunakan tekad... bukan, maksudku, gunakan cinta."


Dia pikir semuanya bisa diselesaikan asalkan ada tekad dan cinta, ya.


Untuk sementara, aku mencoba mendorongnya ke arah depan dan juga ke arah samping, tetapi aku sama sekali tidak merasakan adanya urgensi untuk membantunya. Kelenturan tubuhnya benar-benar menakjubkan. Saking lenturnya, aku sampai tidak tahu apakah otot-ototnya sudah benar-benar lemas atau belum.


"Fuu... terima kasih banyak. Berkat Rei-kun, otot-ototku sudah lemas dengan sempurna."


"Ah, iya... syukurlah kalau begitu."


"Berikutnya giliran Rei-kun, ya. Mari kita lakukan dengan teliti agar tidak cedera."


Kenapa anak ini bersemangat sekali kalau menyangkut urusan membantu gerakan pereganganku?


Karena dia terlihat sangat imut, aku ingin dia mengampuniku... Namun, percuma saja melarangnya, dan fakta bahwa dia tidak bisa dihentikan bukanlah hal yang baru pertama kali ini terjadi.


Haa... apa boleh buat. Anggap saja ini sebagai hal yang memang diperlukan dan mari bersiap menghadapinya.


"Kalau begitu, aku minta tolong... tapi tubuhku tidak selentur dirimu, Hina. Jadi tolong jangan mendorong terlalu kuat, ya?"


"Aku tidak akan melakukan hal-hal yang nekat, kok. Aku hanya ingin mencoba apakah tubuhmu bisa dilipat menjadi dua atau tidak."


"Dengar ya... itu bukan lagi cedera, tapi bisa membuatku mati, jadi tolong jangan lakukan."


Aku tahu betul kalau kelenturan tubuhku biasa-biasa saja. Tubuhku tidak akan bisa tertekuk sejauh itu, dan jika dipaksa, aku pasti akan melawan dengan sekuat tenaga.


"Kalau begitu, aku dorong, ya. Jangan menahan napas."


"Guh..."


"Masih bisa, kan? Mari kita berusaha sedikit lagi."


"Ti-tidak bisa... badanku bisa hancur..."


"Manusia tidak akan hancur semudah itu, kok."


Meskipun posisiku sudah mentok dan tidak bisa menekuk lebih jauh lagi ke depan, dia tetap saja mendorongku tanpa memedulikan protesku.


Jika melakukan peregangan sendiri, kita pasti akan berhenti begitu mulai merasakan rasa sakit. Namun, aku paham kalau bantuan orang lain memang bisa membuat otot lebih lemas karena dorongan itu tidak akan berhenti. Meski begitu, yang namanya sakit tetap saja sakit.


"Masih bisa bertahan, kan?"


"Jangan... bicara sembarangan."


"Kalau begitu... permisi."


Melihat tubuhku yang sudah tidak bisa menekuk lebih jauh lagi, dia tidak berniat untuk menyerah begitu saja, melainkan terus mendorongku dengan kuat.


Kemudian, lengan Hina menjalar dengan lembut ke depan, dan aku bisa merasakan kehangatan yang empuk dan panas di seluruh bagian punggungku.


Ini sih... mau tidak mau mengartikannya kalau dia sedang memelukku dari belakang dan menggunakan seluruh berat tubuhnya untuk mendorongku.


"Aduh, duh, duh... Hei, ada yang terasa menempel, lho?"


"Iya, karena aku memang sengaja menempelkannya, jadi jangan dipikirkan."


Meskipun aku menyinggung soal keempukan di punggungku yang terasa nyata di tengah rasa sakit, dia tentu saja mementahkannya dengan kalimat "jangan dipikirkan".


Dalam posisi menindihku seperti itu, dia bahkan mencoba mendorongku dengan memanfaatkan gaya pegas. Akibatnya, punggungku menjadi...


"Sepertinya sudah tidak bisa lebih jauh lagi, ya."


"Menyerah..."


"Bolehkah aku memelukmu seperti ini sedikit lebih lama lagi?"


"Rasanya sakit, panas, dan yang terpenting, iman serta rasionya bisa goyah, jadi tidak boleh."


"...Jangan dipikirkan."


Meskipun dorongannya sudah berhenti, dia tidak mau beranjak dari posisinya yang menindihku.


Serangan terhadap akal sehatku yang dilancarkan melalui kulit lembut yang menempel dengan sangat rapat masih terus berlangsung. Kulit yang saling bersentuhan dan suhu tubuh dari dua orang. Jantungku berdegup dengan sangat kencang akibat serangan beruntun dari Hina. Ditambah lagi dengan sengatan matahari musim panas yang tercurah tanpa ampun.


"Panas... gerah sekali..."


"Benar juga, ya."


"Kalau kamu juga berpikir begitu, bisa tolong menjauh dariku?"


"Itu sih perkara yang berbeda. Jadi jangan dipikirkan."


Suasana tampaknya masih akan terus terasa panas, bukan, tampaknya akan semakin membara...


Untuk saat ini, sebelum masuk ke dalam laut, rasanya aku ingin beristirahat sejenak sambil makan es krim.


Setelah tubuhku berhasil dihangatkan berkat gerakan pemanasan teliti di bawah pengawasan Hina-sama, kami menyempatkan diri untuk minum air demi mencegah sengatan panas. Dan kini, akhirnya kami siap untuk masuk ke dalam laut.


Sembari menyandarkan tubuh pada ban renang yang kami sewa, aku sedang menikmati momen mengapung dan terombang-ambing di dalam air yang sejuk, ketika tiba-tiba air memercik tepat ke arah wajahku dari samping.


Tentu saja, sudah tidak perlu ditanyakan lagi, itu adalah serangan dari Hina. Dengan ekspresi yang tampak gembira, dia menyendok air dengan kedua tangannya lalu menyiramkannya ke arahku.


Ini adalah interaksi klasik yang identik dengan laut. Karena itulah, aku pun membaca situasi dan melancarkan serangan balasan.


"Jangan harap aku akan diam saja setelah diserang, ya."


"Ah, kamu membalas ya~ Mode pistol air!"


Sungguh aneh rasanya. Padahal kami hanya saling menyiramkan air, tetapi entah mengapa hati ini bisa terasa begitu gembira. Asalkan bersama Hina, apa pun pasti terasa menyenangkan, dan aku bisa bersenang-senang layaknya anak kecil.


Sembari berusaha keras menghindari tembakan dari pistol air yang tercipta dari kedua telapak tangannya yang dirapatkan dan didorong dengan kuat, aku mencari celah untuk membalasnya dari waktu ke waktu. 


Di saat seperti itu, Hina tiba-tiba menenggelamkan dirinya ke dalam air. Karena memakai ban renang, aku tidak bisa ikut menyelam. Aku pun menunggu dia muncul kembali ke permukaan sambil menebak-nebak dari mana dia akan menampakkan diri.


"Byurrr!"


"Uwaa, mengagetkan saja..."


"Ehehe, permisi ya~"


Tiba-tiba saja Hina muncul tepat di hadapanku. Karena dia langsung menyusup masuk ke dalam ban renangku, posisi kami menjadi sangat dekat dan tubuhnya terasa begitu empuk.


Kami berakhir dalam posisi saling berpelukan dari depan, membuatku merasa agak malu hingga refleks memalingkan wajah.


"Anu, Hina-san?"


"Iya, jangan dipikirkan."


"...Padahal aku belum mengatakan apa-apa, lho."


"Soalnya kamu kelihatan seperti ingin memintaku menjauh. Jadi, jangan dipikirkan."


Seperti biasa, dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menempelkan tubuhnya kepadaku. Bahkan jika aku ingin melarikan diri pun, ban renang ini sudah terisi oleh tubuh kami berdua sehingga kontak fisik yang erat sudah tidak bisa dihindari lagi. Ditambah lagi, Hina memelukku erat-erat seolah ingin mengunci pergerakanku, membuat metode meloloskan diri seperti mengangkat ban renang atau menyelam ke dalam air menjadi mustahil untuk dilakukan. 


Karena sudah kehabisan akal, aku tidak punya pilihan selain pasrah menerima Hina yang terus membenamkan dan mengesek-gesekkan kepalanya dengan manja ke dadaku.


Untuk sementara, karena akan berbahaya jika aku terus menatapnya secara langsung, aku mengalihkan pandangan ke arah pantai. Di sana, aku melihat sekelompok orang sedang bermain memecahkan semangka.


"Kamu sedang melihat ke mana? Apakah sedang mencari gadis yang imut?"


"Gadis yang imut kan sudah ada di sini, jadi persediaanku sudah cukup. Maksudku lihat di sana... mereka sedang bermain memecahkan semangka, dan tampaknya seru sekali."


Padahal kekasih seimut ini berada tepat di sampingku, mana mungkin aku melirik gadis lain. Bisa-bisanya dia berkata begitu setelah melancarkan serangan bertubi-tubi dan membuatku terpaku padanya.


"Kalau bicara soal laut, permainan itu memang wajib, ya. Karena kita hanya berdua, suasananya mungkin tidak akan seheboh mereka, tapi bagaimana kalau kita juga mencobanya?"


"Eh, apa... jangan-jangan kamu membawa semangka?"


"Iya. Ukurannya agak kecil, sih, tapi aku menyiapkannya dengan baik, lho."


"Hebat juga kamu bisa membawanya tanpa ketahuan olehku. Apakah dari awal kamu memang berniat melakukannya?"


"Karena ini kan kegiatan klasik. Lagipula... ini adalah kesempatan emas bagiku untuk menutup matamu secara legal."


Tolong berhenti mengatakan hal-hal mengerikan dengan wajah polos begitu. Apa-apaan maksudnya dengan menutup mata secara legal itu.


"Kalau begitu, mari kita lakukan setelah berenang sebentar lagi. Menutup mata... bukan, maksudku memecahkan semangkanya."


"Tidak, jangan dipikirkan."


"Aku membalas kata 'jangan dipikirkan'-mu itu dengan 'jangan dipikirkan' juga!"


Meskipun aku ragu apakah situasi saat ini bisa disebut sebagai berenang, kira-kira permainan memecahkan semangka seperti apa yang akan kami lakukan nanti...


Sebenarnya aku ingin menolaknya, tetapi karena dia membalas penolakanku dengan kata pamungkasnya lagi, aku hanya bisa mempersiapkan mentalku baik-baik...



Setelah menikmati waktu berenang di laut (?), kami pun kembali ke tepi pantai. Sebuah semangka dengan ukuran yang pas untuk dimakan berdua telah disiapkan di atas tikar piknik, dan kini tiba saatnya mataku ditutup.


"Bagaimana? Apakah kelihatan?"


"Sama sekali tidak kelihatan apa-apa."


"Baguslah. Itu berarti, boleh saja kan kalau aku memanfaatkan pandangan Rei-kun yang terhalang ini untuk melakukan apa pun sesuka hatiku?"


"Tentu saja tidak boleh, tahu!"


"...Cuma bercanda, kok. Kalau begitu, silakan berputar di tempat, hmm... pokoknya berputarlah berkali-kali sampai kamu merasa pusing."


Meskipun ucapannya tadi tidak terdengar seperti candaan... tapi sudahlah. Untuk sementara, aku mengikuti instruksinya dengan berputar beberapa kali di tempat hingga kehilangan indra penunjuk arah.


Normalnya, permainan ini membutuhkan arahan suara dari beberapa orang untuk menuntun kita menuju letak semangka. Namun, karena kali ini kami hanya melakukannya berdua, aku tidak punya pilihan selain bergerak dengan mengandalkan suara Hina sebagai satu-satunya pemandu.


"Nah, silakan jalan lurus ke depan... Benar seperti itu. Bagus sekali."


Aku melangkah maju perlahan-lahan mengikuti tuntunan suara Hina.


Mungkin karena kepalaku masih agak pusing, aku merasa cemas apakah aku benar-benar berjalan lurus atau tidak. Namun, berdasarkan responsnya, tampaknya aku sudah berjalan dengan benar.


"Tolong menghadap ke kanan sedikit."


"Begini?"


"Ah... maksudku ke sebelah kiri dari sudut pandang Rei-kun."


"Kalau begitu ke arah sini... segini cukup?"


"Sedikit lagi."


"...Bagaimana kalau begini?"


"Sempurna. Silakan jalan lurus, tetap lurus ya... Ya, berhenti di situ."


"...Apakah ini benar-benar sudah pas? Kamu tidak sedang menuntunku ke tempat yang salah, kan?"


"Sudah benar, kok. Percayalah kepadaku."


Meskipun dia berkata demikian, entah mengapa aku merasa suaranya terdengar tepat dari arah depanku.


Pada tahap akhir permainan memecahkan semangka, kita harus mengayunkan tongkat ke arah bawah. Jadi, merasakan adanya hawa keberadaan seseorang tepat di depan kita sebenarnya adalah hal yang sangat berbahaya. Namun, apakah dalam situasi seperti ini aku benar-benar boleh mengangkat tongkat untuk memukul semangkanya?


"Kalau begitu, karena tongkat itu berbahaya, tolong lepaskan dari tanganmu."


"Hah?"


"Ya, tongkatnya disita."


"Hei, apa-apaan ini?"


"Nah, sekarang tolong buat lingkaran dengan kedua lenganmu seperti ini... lalu persempit lingkarannya."


Begitu aku menggerakkan tanganku yang kosong setelah tongkatnya direbut sesuai instruksinya, aku kembali merasakan kehangatan suhu tubuh.


Saat aku mempersempit lingkaran lengan itu, keempukan yang baru saja kurasakan di dalam laut tadi kini sudah berada di dalam dekapanku.


"Ya, sekarang silakan bisikkan kata-kata cinta."


"...Aku mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu."


Apa-apaan ini? Aku kan cuma memeluk Hina dan membisikkan kata cinta? Lagi pula, baru tahu ada permainan memecahkan semangka yang tongkatnya sampai disita segala...


"Ini hadiah untuk Rei-kun yang sudah melakukannya dengan baik."


Cup, sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirku.


Meski mataku tertutup, aku langsung tahu kalau aku baru saja dicium. Sebenarnya aku sangat meragukan bagian mana dari diriku yang dianggap "melakukannya dengan baik"... tapi entah mengapa hal itu jadi tidak penting lagi bagiku.


"Boleh aku minta tambah?"


"Tentu, jangan dipikirkan."


Saat aku menggeser penutup mataku, wajah Hina yang tampak sangat bahagia langsung terpampang di sana. Maka wajar saja jika aku spontan menciumnya sekali lagi.


Kalau dirunut kembali, dia sendiri yang memulainya duluan. Jadi dia tidak boleh protes kalau aku membalasnya.


Ngomong-ngomong, semangkanya sendiri ternyata berada di arah yang berlawanan. Kami benar-benar mengabaikan aturan permainan dan bahkan tidak berhasil mendekati semangkanya sama sekali... tapi anggap saja ini rahasia kita berdua kalau aku sempat berpikir bahwa cara seperti ini pun tidak ada salahnya.


Setelah menikmati permainan memecahkan semangka versi orisinal yang sama sekali tidak menoleh ke arah semangkanya, sekarang kami sedang beristirahat di kursi pantai sewaan yang disiapkan di samping tenda. 



Aku memakan camilan semangka yang pada akhirnya berhasil dipecahkan dan menunaikan tugasnya itu dengan lahap.


Mungkin karena sudah cukup lama dibiarkan di bawah terik matahari, buahnya sudah menjadi agak hangat. Meski begitu, makan semangka di pantai tetap memberikan kesan yang istimewa. Ukurannya memang agak kecil, tetapi sudah lebih dari cukup untuk dimakan berdua, daging buahnya padat dan rasanya sangat manis. 


Tidak hanya itu, jika mengingat kembali perjuangan yang harus dilewati sebelum akhirnya bisa mencicipi semangka ini... ya, rasanya benar-benar luar biasa enak.


"Ada apa dengan wajah serius itu? Apakah semangkanya tidak enak karena tidak dingin? Mau kubelikan es batu?"


"Ah, tidak usah. Ini sudah sangat enak, kok."


Pada akhirnya, sosok yang memberikan pukulan terakhir pada semangka ini adalah Hina.


Kami sempat bergantian beberapa kali untuk memakai penutup mata dan memegang tongkat. Namun, saat giliranku yang memakai penutup mata dan Hina yang memberikan arahan, aku tidak pernah sekalipun berhasil mencapai posisi semangkanya.


Alasannya... yah, kalian pasti sudah bisa menebaknya. Bisa dibilang, satu-satunya kesempatan emas adalah saat Hina yang memakai penutup mata dan aku yang bertugas memberikan arahan suara. Namun, seperti yang sudah diduga... mana mungkin Hina mau mendengarkan arahanku dengan patuh...


Dia mendiskualifikasi hampir seluruh suara panduanku, lalu meredam jarak dan menerjang ke arahku dengan kecepatan yang membuatku ragu apakah dia benar-benar sedang ditutup matanya atau tidak, dan itu terjadi beberapa kali.


Karena berpikir demikian, aku sengaja diam dan menunggu tanpa bersuara. Namun, dia malah berakhir menjadi bersemangat dan mengira sedang diberi treatment pengabaian. 


Sungguh gawat dan penuh konotasi mesum jika seorang gadis cantik mengatakan hal seperti itu dalam kondisi mata tertutup. Karena tidak bisa lagi membiarkannya begitu saja, aku pun pasrah menerima terjangan darinya.


Pada akhirnya, dia malah bilang sesuatu tentang bisa merasakan hawa keberadaanku, lalu tanpa perlu aku bersuara pun dia sudah bisa menebak posisiku, melemparkan tongkatnya, dan langsung menerjang ke arahku. Bahkan saat aku mencoba kabur pun dia tetap bisa mengejarku dengan akurat, membuatku benar-benar tidak berkutik.


Tanpa disadari, permainan ini sudah bukan lagi memecahkan semangka, melainkan berubah menjadi permainan di mana Hina menerjang ke arahku dengan mata tertutup.


Bagaimana bisa dia tahu posisiku dalam kondisi mata tertutup begitu? Apa dia itu anjing?


Pengalaman dikejar-kejar oleh gadis cantik berbaju renang dengan mata tertutup mungkin menjadi situasi yang diidam-idamkan oleh para pria... tapi untuk saat ini, aku sudah merasa sangat kenyang.


Nah... begitulah kira-kira permainan penuh canda tawa yang kami lalui sebelum akhirnya bisa menyantap semangka ini. Rasa lezatnya jadi berlipat ganda karena ada faktor perjuangan, ditambah lagi ada efek bonus karena memakannya bersama orang yang kusukai. Biarpun tidak dingin, rasanya tetap luar biasa istimewa.


Sambil menikmati semangka manis yang penuh kesan istimewa ini, aku melirik ke arah Hina di sebelahku yang juga sedang asyik mengunyah semangkanya.


Apa pun yang dia lakukan selalu terlihat menawan. Aku benar-benar pria yang sangat beruntung karena bisa menikmati pemandangan kekasih secantik ini dalam balutan baju renang.


"......Anu, kalau terus-terusan dipandangi begitu, aku jadi malu."


"Maaf, aku tadi sempat terpesona."


"Kalau alasannya begitu, silakan pandangi aku sampai matamu bolong."


"Tidak akan sampai segitunya juga, sih."


"Kebetulan di sana ada tenda yang pas, jadi menurutku membawaku masuk ke dalam sana adalah pilihan yang sangat bagus."


"Tidak akan kubawa masuk, lho."


"......Begitu ya, sayang sekali. Kalau kamu berubah pikiran, pintu selalu terbuka kapan saja."


Bagaimana ya mengatakannya... suka memancing gairah seperti ini berulang kali adalah sisi mengerikan dari kekasihku yang satu ini.


Pada permainan memecahkan semangka tadi, aku sudah berkali-kali menerima serangan kontak fisik yang intim, jadi sebenarnya aku ingin dia menghentikan serangan yang lebih dari ini... tapi entah mengapa, dia malah bergeser mendekat secara perlahan seolah bisa membaca isi hatiku?


"Anu...... Hina-san?"


"Ada apa?"


"Kenapa kamu malah menjajah area tempat dudukku?"


"Tidak apa-apa, kan? Kursi pantai ini ukurannya lumayan besar, jadi masih sangat longgar kalau diduduki berdua."


"Secara fisik memang longgar, tapi secara mental aku sudah tidak punya ruang lagi, jadi tolong kembali ke tempatmu sana."


"Aku menolak."


Sambil berkata begitu, dia memaksakan diri mendekat lalu mulai bersantai dengan posisi bersandar di atasku. 


Hal ini membuatku heran untuk apa kami menyewa dua kursi pantai jika akhirnya begini, tetapi di sisi lain, aku merasa bahagia karena dia memercayakan seluruh tubuhnya kepadaku. Namun, di luar itu semua, bagaimanapun juga dia sedang memakai baju renang yang minim, sehingga ada banyak bagian kulit kami yang bersentuhan langsung, ditambah lagi ada berbagai hal yang tertekan ke tubuhku sehingga membuatku serbasalah.


Terjepit di antara Hina dan kursi pantai membuat posisiku jadi agak sulit bahkan hanya untuk memakan semangka.


Yah, untungnya karena ini baju renang, jadi tidak masalah kalaupun sedikit kotor... tapi ini benar-benar cara makan yang sangat tidak sopan.


Saat aku berusaha keras untuk terus memakannya, tangan Hina tiba-tiba menindih tanganku yang sedang memegang semangka. Belum sempat aku mencerna apa yang terjadi, dia sudah mulai melahap semangka yang sedang kumakan.


"Hei."


"Soalnya di depan mataku ada semangka yang kelihatan enak, jadi aku tidak tahan."


"Kan masih ada yang belum disentuh. Kalau mau makan, makan yang itu saja."


"......Karena yang ini rasanya kelihatan lebih enak, jadi jangan dipikirkan."


Kenapa harus begitu, sih.


Kalau masih mau makan, habiskan dulu potongan yang masih utuh. Tidak perlu sampai merebut semangka yang sedang kumakan seperti ini, kan?


Lagipula... gara-gara Hina melahap semangka tepat di atasku, entah mengapa ada banyak air semangka yang menetes ke wajahku.


"Rei-kun, mulutmu kotor, lho."


"Kalau kamu berpikir begitu, bisa tidak berhenti makan di situ?"


"Akan kubersihkan, jadi tidak ada masalah."


"Hei, sebentar......mph."


Dia menjulurkan lidahnya lalu mulai menjilatnya, dan setelah itu langsung mengunci bibirku. Ciuman manis beraroma semangka ini terasa begitu nikmat hingga membuatku ketagihan.


"Nng, phuaa...... Manis dan enak sekali. Mau tambah lagi."


"......Tidak boleh."


"Terima kasih banyak. Kalau begitu, selamat menikmati."


Lewat ciuman yang agresif itu, dia terus melumat bibirku sampai rasa manis semangkanya benar-benar hilang.


Begitu rasa manisnya memudar, dia akan menggigit semangkanya lagi untuk mengembalikan sensasi rasa semangka itu berulang kali. Ciuman manis yang meleleh beraroma semangka yang kami lakukan berulang kali itu terus berlanjut sampai potongan semangka yang tersisa habis tak bersisa.


Bahkan setelah semangkanya habis tereduksi, Hina masih tetap bertengger di atasku seperti sebelumnya.


Saat aku memintanya bergeser dengan lembut, jawaban yang kembali darinya sudah bisa ditebak, yaitu "jangan dipikirkan", dan karena dia benar-benar merebahkan seluruh berat badannya, posisiku yang terjepit di antara Hina dan kursi pantai pun masih terus berlanjut.


"......Apa kamu baru saja memikirkan sesuatu yang tidak sopan tentangku?"


"Tidak, sama sekali tidak."


"Kalau begitu baguslah...... Mengatakan hal yang tidak peka kepada seorang gadis itu sangat dilarang, lho."


Setelah memelototiku dengan tatapan tajam yang menggemaskan, dia menempelkan pipinya yang digembungkan ke dadaku lalu mengembuskan napas hingga mengempis kembali.


Melihat situasinya yang benar-benar santai dan bersandar penuh padaku, aku menggunakan istilah "merebahkan seluruh berat badannya", tetapi sebenarnya aku sama sekali tidak menganggap Hina berat.


Tidak...... kalau bilang sama sekali tidak, itu bohong, sih. Tanpa bermaksud menyebutkan bagian mananya, setidaknya memang ada bagian tertentu yang terasa lumayan berbobot.


Di samping hal itu, Hina justru termasuk dalam kategori ringan. Berkat kehidupan tinggal bersama, kami biasanya makan di meja yang sama sehingga aku tahu betul kalau dia makan dengan porsi yang cukup. Dengan pola makan yang sehat dan tanpa diet yang ekstrem, bentuk tubuhnya yang ideal ini pasti terwujud berkat hal itu. Bagian pinggangnya terlihat sangat ramping, berisi di bagian yang seharusnya berisi, dan ramping di bagian yang seharusnya ramping. Penampilannya dalam balutan bikini benar-benar terlihat sangat serasi dan indah.


"Hyaah!"


"Ah, maaf."


"Kalau kamu terus mengelusnya dengan cara yang mesum begitu, akan kubawa kamu masuk ke dalam tenda, lho."


Saat aku melingkarkan tangan ke pinggangnya, tubuhnya menyentak kaget. Sentuhan kulit ini... membuat jemariku seperti melekat erat dan enggan untuk lepas.


Kulitnya terasa halus dan kenyal, sebuah kelembutan yang khas dari seorang gadis, tetapi juga terasa kencang dan elastis. Namun, memiliki sentuhan kulit yang terlalu nyaman seperti ini juga bisa menjadi masalah. 


Kalau diteruskan, aku benar-benar bisa dibawa masuk ke dalam tenda, jadi sebisa mungkin aku ingin menghindari kontak fisik yang berlebihan. Sayangnya, meskipun aku tidak berinisiatif untuk menyentuhnya, Hina sendiri yang terus menempelkan berbagai bagian tubuhnya kepadaku, membuat siklus sebab-akibat ini menjadi sangat parah.


Yah, untuk saat ini, kalau aku membiarkannya melakukan apa pun sesuka hatinya sampai dia merasa puas, lama-lama dia juga akan tenang sendiri... Namun, baru saja aku berpikir naif seperti itu, sebuah ciuman kejutan langsung mendarat di bibirku.


"Nng...... ternyata masih manis, ya."


"Area di sekitar mulut setelah makan semangka memang entah mengapa jadi terasa manis, sih."


"Semangkanya enak sekali, ya. Buah yang identik dengan musim panas...... atau lebih tepatnya sayur? Yah, yang mana saja tidak masalah, kan. Meskipun ini hidangan klasik, ini pertama kalinya kita memakannya di musim panas ini, lho."


"Benar juga. Waktu masih tinggal di rumah orang tua dulu, ayah atau ibu sering membeli atau mendapatkannya dari orang lain, lalu disajikan sebagai camilan atau pencuci mulut setelah makan. Tapi kalau cuma kita berdua, rasanya agak enggan untuk sengaja membelinya sendiri."


Sebagai mahasiswa yang merantau sendiri... ah tidak, sekarang kami tinggal berdua, sih. Bagi kalangan mahasiswa, semangka adalah buah yang cukup sulit untuk dijangkau. 


Memang ada yang dijual dalam potongan kecil, tetapi rasanya kurang ekonomis, sedangkan untuk membeli satu buah utuh pun membutuhkan keberanian tersendiri. Jika dipikirkan dari sudut pandang itu, aku sangat berterima kasih kepada Hina yang sudah menyiapkan semangka berukuran kecil ini, dan kami pun bisa menikmatinya lewat berbagai cara.


"Kenapa semangka dalam bahasa Inggris disebut watermelon ya?"


"Maksudmu, padahal semangka tapi kenapa ada unsur melonnya? Sama seperti perdebatan antara buah atau sayur, posisinya memang serbanggung, ya."


Tadi Hina juga sempat ragu saat ingin menyebutkannya. Semangka memang sering memicu perbedaan pendapat tentang apakah dia termasuk kategori buah atau sayur, dan dalam bahasa Inggris pun disebut watermelon, jadi banyak hal yang terasa tidak pasti.


"Ngomong-ngomong, Rei-kun...... apa kamu suka melon?"


"Melon ya...... yah, aku suka, sih."


"Begitu, ya. Sebagai informasi, melon itu sepertinya merupakan bahasa gaul untuk merujuk pada payudara wanita...... terutama yang ukurannya besar. Kalau kamu mengatakan suka hal seperti itu di luar rumah, bisa-bisa dianggap sebagai pelecehan seksual, lho."


"Uhuk...... kamu menjebakku, ya!"


"Mana mungkin aku menjebakmu. Aku hanya memberi tahu karena kalau kamu tidak tahu, takutnya nanti bisa memicu salah paham."


Karena dia bertanya secara tiba-tiba, aku pun refleks menjawabnya dengan polos... tidak disangka ternyata ada jebakan fatal yang terpasang di sana.


Sengaja bertanya dengan cara seperti itu padahal sudah tahu maknanya, anak ini benar-benar punya sisi yang licik seperti iblis......


Hina menatapku sambil tersenyum jahil dan menyeringai. Aku sampai kagum bagaimana bisa dia melancarkan serangan sehalus ini hanya berawal dari asosiasi kata semangka. Di saat aku sedang terkesima, Hina tiba-tiba memelukku erat-erat dan menempelkan sepasang melonnya ke tubuhku.


"Punyaku mungkin agak terlalu minimalis untuk bisa disebut sebagai melon dalam arti yang sebenarnya...... tapi bagaimana menurut Rei-kun?"


"Apa pantas kamu menanyakan hal itu kepadaku sekarang?"


"Tolong beri tahu aku untuk referensi di masa depan."


"Referensi untuk apa?"


"Kalau Rei-kun bilang ukurannya kurang memuaskan untuk disebut melon, aku akan berusaha keras untuk menumbuhkannya. Bersama Rei-kun."


"......Jangan mencoba memancingku untuk menyentuhnya begitu, dong."


Membahas ukuran payudara seorang wanita adalah hal yang sangat tabu bagiku.


Meski begitu, jika dirasakan dari sensasi tekanan yang menempel saat ini, aku rasa dia memiliki aset yang cukup mengesankan, dan ukurannya sama sekali tidak bisa dibilang minimalis seperti yang dia katakan. Meskipun dia meminta jawaban untuk referensi di masa depan, aku tetap bingung harus berkomentar apa... tapi kalau boleh jujur, bukankah ukuran itu sebenarnya tidak penting?


"Jadi, bagaimana?"


"......Bukan masalah besar bagiku. Kalau itu milik Hina, aku suka berapa pun ukurannya."


"Meskipun bukan melon ukuran ekstra besar?"


"......Iya."


"Barusan kamu sempat ragu, ya?"


"Tidak ragu, kok."


Ukuran dada sama sekali tidak akan mengubah apa pun. Hina yang sekarang pun sudah sangat cantik dan menggemaskan, dan fakta itu pasti tidak akan berubah terlepas dari dadanya besar atau kecil.


Oleh karena itu, aku sama sekali tidak berpikir bahwa ukuran yang lebih besar itu lebih baik, jadi tolong berhenti menatapku dengan penuh curiga begitu.


Lagipula, ukuran yang sekarang pun sudah terhitung cukup besar, kan? Walaupun aku sendiri tidak tahu berapa ukuran rata-ratanya.


"Baiklah kalau begitu. Untuk sementara, akan kuingat baik-baik kalau Rei-kun suka melon."


"......Itu maksudnya melon yang mana?"


"Menurutmu yang mana?"


Maknanya akan sangat jauh berbeda tergantung apakah itu buah atau dada...... tapi melihat wajahnya yang tidak bisa berhenti menyeringai ini, dia pasti mengatakannya dalam arti yang kedua.


Yah...... sebagai seorang pria, aku juga tidak membencinya, jadi kurasa tidak apa-apa.


"Mengalihkan topik...... apa kamu suka kue?"


"......Apakah itu juga salah satu istilah gaul?"


"Apa kamu suka?"


"Hei."


"A-pa-ka-h ka-mu su-ka?"


"......Iya, suka."


Rasanya menakutkan ditanya seperti itu di tengah alur percakapan ini, dan karena dia tidak mau memberi tahu artinya, kemungkinan besar dugaanku benar. Namun, karena pada dasarnya aku memang suka kue, aku tidak punya pilihan selain menjawab demikian.


Senyuman yang tersungging di wajahnya benar-benar manis, sekaligus membuatku sadar bahwa ketidaktahuan itu terkadang bisa menjadi bumerang.


"Sebagai informasi, kue (cake) itu adalah bahasa gaul untuk bokong."


"......Sudah kuduga akan berakhir begitu."


"Rei-kun suka melon dan juga suka kue, ya. Menurutku itu preferensi (fetish) yang bagus."


"Yah, aku memang tidak membencinya...... tapi bukan berarti aku suka milik siapa saja, lho. Aku suka karena itu milik Hina."


"Mendengarnya membuatku senang. Mau meremasnya?"


"......Tidak mau."


"Tadi katanya suka?"


"Maksudku bukan ke arah sana...... lagipula, bukankah sudah kukatakan kalau hal seperti itu untuk saat ini masih belum boleh."


Tatapannya yang mendongak manja seolah sedang memohon hampir saja membuat pertahananku runtuh, tetapi seperti yang pernah kubicarakan dari hati ke hati sebelumnya, ini adalah batasan yang tidak bisa kunegosiasikan.


Bukan berarti aku boleh melakukan apa saja asalkan tidak sampai ke tahap akhir. Ada perbedaan makna yang besar antara Hina yang tidak sengaja menempelkannya padaku, dengan aku yang secara sukarela menyentuhnya terlebih dahulu.


Lagipula, selama ini aku sudah sering menutup mata terhadap berbagai kebetulan yang sangat disengaja—seperti tidak sengaja menempel saat memeluk, atau tidak sengaja duduk di tempatku berada—jadi untuk yang satu ini, tolong ampuni aku.


Yah, Hina juga tidak benar-benar serius mengatakannya, jadi kupikir dia tidak akan merajuk biarpun aku menolaknya... tapi tetap saja, aku benar-benar angkat topi karena intensitas godaannya sama sekali belum surut...



Setelah puas bermain hingga lupa waktu, matahari terbenam yang indah pun perlahan tenggelam di balik lautan. Berkat usahaku yang entah bagaimana berhasil membujuk Hina—yang sempat merengek masih ingin bermain dengan staminanya yang tanpa batas—untuk mulai berkemas lebih awal, kami jadi bisa menikmati pemandangan fantastis ini dengan santai... Waktu-waktu yang tenang seperti ini ternyata terasa menyenangkan juga, ya.


Meski minim kata-kata, hati ini terasa begitu damai. Bobot kepala kekasihku yang sedang bersandar di bahuku sambil menggenggam tanganku terasa sangat nyaman.


Sosoknya saat bermain heboh dalam balutan baju renang memang terlihat sangat cantik dan menggemaskan, tetapi sosoknya yang sedang bersikap kalem seperti ini juga tidak kalah menawan.


"Suasananya syahdu sekali, ya."


"Benar."


"Menikmati angin malam sambil memandangi bulan sepertinya juga bagus. Bagaimana kalau setelah gelap nanti kita jalan-jalan santai sebentar?"


"Boleh juga."


Siang tadi kami sudah bermain sepuasnya di dalam laut, dan di malam hari nanti kami pasti bisa menikmati suasana dengan cara yang berbeda. Berjalan bertelanjang kaki di atas pasir pantai yang kini terasa dingin—berbanding terbalik dengan siang tadi—sambil mengobrol santai di bawah siraman cahaya bulan rasanya benar-benar mencerminkan aktivitas sepasang kekasih.


"Ah—setelah banyak bergerak begini perutku jadi lapar. Aku jadi tidak sabar ingin makan hidangan penginapan."


"Kita bisa makan banyak hidangan laut yang segar, ya. Aku juga sudah tidak sabar, nih!"


Makanan yang disajikan di penginapan tempat kami menginap memang terkenal dengan hidangan laut segarnya yang berlimpah. Meskipun makanan laut termasuk jenis kuliner yang bergantung pada selera masing-masing orang, kebetulan aku dan Hina sangat menyukainya.


Yakisoba yang kami makan di kedai pinggir pantai tadi siang memang terasa luar biasa dan berbeda dari biasanya, tetapi dari segi menu, hidangan penginapan ini jelas jauh lebih unggul. Aku benar-benar tidak sabar menantikan makan malam setelah kami kembali nanti.


"Setelah kita puas menikmati makan malam...... kamu sudah tahu kan kelanjutannya?"


"Ya. Jalan-jalan sebentar, lalu tidur lebih awal untuk bersiap besok."


"......Kamu sengaja mengatakannya, ya?"


Aku refleks terdiam melihat wajah cemberut Hina yang langsung melancarkan serangan tatapan mendongak.


Aku tahu kok apa maksudmu. Aku tahu kalau ada waktu... berendam di pemandian air panas yang sangat dinantikan oleh Hina-san.


Penginapan itu memiliki reputasi di mana semua kamarnya dilengkapi dengan pemandian air panas terbuka (rotenburo), sehingga kami bisa menikmati berendam kapan saja sesuka hati.


Di dalam kepala Hina, tampaknya agenda berendam bersama sudah menjadi hal yang mutlak.


"Kamu sudah berjanji akan memanjakanku sepuasnya di pemandian air panas, kan?"


"Tidak pernah."


"Pernah, kok."


"......Itu namanya rekayasa memori."


"Pemandian air panas terbuka yang hanya ada kita berdua...... ah, aku jadi tidak sabar."


Aku tidak merasa pernah mendengarnya.


Seingatku aku tidak pernah membuat janji seperti itu, tapi entah mengapa sekarang malah dianggap sebagai janji yang sah. Kalau Hina sudah menjadi seperti ini, dia pasti akan menghalalkan segala cara......


Biarpun aku mencoba masuk terpisah, dia toh pasti tidak akan mendengarkan, dan sudah bisa ditebak kalau dia malah akan menyelinap masuk begitu saja.


Jika dipikir dari sudut pandang itu, mungkin lebih baik aku mengizinkannya berendam bersama sejak awal agar aku bisa mengawasi pergerakan Hina-san... tapi ingatan tentang apa yang terjadi sebelumnya saat aku mencoba melakukan hal itu masih terekam jelas di otakku.


Kalau begitu...... apakah pilihan terakhirnya adalah bolos mandi?


Tidak mungkin, masa sudah jauh-jauh pergi liburan ke sumber air panas malah tidak berendam. Lagipula, ini setelah bermain di laut, jadi tentu saja aku ingin berendam di air panas. Dengan kata lain...... ini adalah situasi di mana aku terpaksa harus mengalah demi keadaan.


"......Kamu harus benar-benar mematuhi aturannya, ya?"


"Maksudmu etika?"


"Aturan."


Dia mulai lagi mencoba mengabaikan aturan demi mematuhi etika versinya sendiri......


Sebenarnya aku tidak melarang kami berendam bersama karena itu adalah keinginan kuat dari Hina, tetapi tentu saja aku menetapkan beberapa syarat. Maksud "mematuhi etika" versi Hina adalah tindakan nekat yang mengabaikan syarat-syarat tersebut secara total. Jadi, jika dia benar-benar berniat memprioritaskan etika versinya daripada aturan, maka agenda berendam bersama di pemandian terbuka terpaksa harus dibatalkan.


"Anu...... aku akan mematuhinya dengan benar, jadi tolong jangan terlihat sebegitu bingungnya."


"......Apakah kamu sengaja tidak memperjelas subjeknya agar bisa membohongiku?"


"......Wah, ternyata ada trik seperti itu, ya. Bagus juga. Boleh kuadopsi triknya?"


"......Tidak boleh."


Gawat, aku terlalu berlebihan dalam menganalisis situasinya. Kupikir dia sengaja hanya menggunakan kata kerja "mematuhi" agar aku salah paham dan mengira dia akan mematuhi aturan, sehingga nanti dia bisa berkelit dengan alasan "aku tidak pernah bilang begitu" lalu nekat menjalankan aksi mematuhi etika versinya. Namun, tampaknya dia sama sekali tidak berniat ke arah sana, dan aku malah berakhir seperti sedang mengajarkan trik baru kepadanya......


Hina pasti akan bisa menguasai trik-trik seperti ini dengan sangat lihai. Aku hanya bisa menghela napas pasrah meratapi hasil dari menggali kuburanku sendiri.


"Rei-kun, jangan begitu mendalam sedihnya, dong."


"Dihibur oleh sang dalang utama sama sekali tidak membuatku tenang, tahu......"


"Menyebutku dalang utama itu tidak sopan, lho."


Biarpun dia menggembungkan pipinya dan merajuk begitu, yang namanya dalang utama tetaplah dalang utama.


Normalnya, orang-orang tidak akan sampai pusing memikirkan apakah mereka akan masuk ke pemandian air panas atau tidak saat sedang berlibur di tempat wisata seperti ini.


"Kamu tidak perlu sewaspada itu, kan. Aku pasti akan menepati janjiku dengan benar, kok."


"......Yah, kalau begitu tidak apa-apa, sih."


"Kalau begitu, mari kita segera kembali ke penginapan. Kita bisa bersantai sampai tiba waktunya makan malam."


Sambil berkata demikian, Hina menggelayut di lenganku lalu merebahkan kepalanya dengan manis di bahuku. Dia langsung menarik-narik lenganku dengan kuat, mendesakku untuk bergegas.


Hina-san, kamu tidak perlu terburu-buru begitu karena penginapannya tidak akan lari kok...... tapi kurasa dia tidak akan mau mendengarkannya.



Kami pun kembali ke penginapan dan beristirahat sejenak. Aku sudah berganti pakaian dengan yukata yang telah disediakan agar bisa lebih rileks, tetapi entah mengapa aku merasa cemas dan tidak bisa tenang.


"Rei-kun, ada apa?"


"Tidak, rasanya memakai yukata begini membuatku agak canggung."


"Kalau tidak terbiasa memakainya memang akan terasa seperti itu, ya. Aku juga merasakan hal yang sama pada awal-awal acara festival kembang api waktu itu."


"Hina juga merasakannya, ya?"


"Iya. Tapi lama-kelamaan juga akan terbiasa, kok. Lagipula yukata yang disediakan oleh penginapan ini memang difungsikan sebagai pakaian santai dan baju tidur, jadi kalau sudah terbiasa pasti rasanya nyaman."


Yukata yang disediakan di penginapan ini tidak memiliki motif yang mencolok, warnanya tampak kalem dan termasuk jenis yang bisa digunakan baik untuk bersantai di kamar maupun untuk tidur.


Pakaian ini memang tidak memiliki kemewahan seperti yukata yang dipakai Hina saat kencan festival kembang api waktu itu, tetapi dia tetap terlihat cocok dan menggemaskan dalam balutan yukata jenis apa pun.


"Seingatku kita boleh berjalan-jalan di dalam area penginapan dengan memakai yukata, kan?"


"Iya. Tapi itu sifatnya hanya boleh dan tidak diwajibkan. Jadi kalau Rei-kun merasa tidak nyaman memakainya, kamu boleh saja kok berganti pakaian biasa?"


"Tidak, mumpung di sini aku mau pakai yukata saja. Hitung-hitung ini kan pakaian yang khas saat liburan di penginapan air panas."


Jika bicara soal kemudahan bergerak atau faktor kebiasaan, pakaian biasa memang jauh lebih unggul. Namun, karena saat ini kami sedang berada di penginapan air panas, memakai yukata yang serasi berdua akan membuat suasana liburan terasa lebih istimewa.


"Eh, kalau berjalan-jalan di dalam penginapan sih boleh, tapi bagaimana kalau keluar dari area penginapan?"


"Tergantung kebijakannya masing-masing, sih. Tapi sepertinya penginapan yang ini memperbolehkan tamu untuk keluar area dengan memakai yukata."


"Oh, begitu ya. Berarti kita bisa pergi jalan-jalan santai dengan pakaian seperti ini juga, dong?"


"Secara umum bisa, sih...... tapi untuk rencana jalan-jalan di pantai nanti, mungkin lebih baik kita berganti pakaian biasa saja untuk berjaga-jaga. Takutnya tidak sengaja kotor, kan kurang bagus."


"Benar juga, sih."


Kami sudah berjanji untuk jalan-jalan santai di tepi pantai sambil menikmati langit malam. Tadi aku sempat berpikir akan terasa lebih istimewa jika bisa berjalan-jalan dengan tetap memakai yukata... Namun, mengingat risiko terkena pasir atau air laut yang bisa membuatnya kotor, sepertinya berganti pakaian biasa adalah pilihan yang paling aman.


Aku tahu betul bagaimana sifat Hina. Dia pasti akan mendekati tepian air lalu mulai bermain kecipak-kecipuk air laut.


Saat aku sedang membayangkan sosok Hina yang bermain heboh seperti itu dengan perasaan hangat, tiba-tiba terdengar suara yang menggemaskan dari arah sampingku. Itu adalah suara perut seseorang yang sedang menjerit dengan lucunya.


"Waktu makan malam kurang sekitar lima belas menit lagi, ya."


"Rasanya tidak sabar, ya. Perutku sudah lapar sekali...... Ah, bunyinya keluar lagi."


"Perutku juga."


Begitu rasa lapar sudah mulai disadari, pikiran langsung terfokus penuh pada makanan.


Aku bahkan sampai berulang kali melirik ke arah jam dinding. Dengan dada yang berdebar penuh harapan, suara perut kami berdua menyanyikan sebuah lagu duet.


Setiap kali suara itu terdengar, kami saling bertatapan lalu tertawa bersama. Momen menunggu yang biasa saja seperti ini rasanya akan menjadi salah satu kenangan berharga dalam liburan air panas kami, dan hal itu membuatku merasa sangat bahagia.



Setelah bersantai sambil menahan rasa lapar, waktu makan malam yang dinanti-nantikan akhirnya tiba juga.


Mata Hina tampak berbinar-binar saat melihat staf penginapan menata dan menyajikan hidangan satu demi satu. Melihat hamparan hidangan mewah di depan mata saja sudah membuatku merasa bahagia, belum lagi aroma harum yang tercium samar membuatku benar-benar hampir kehilangan kendali.


Begitu semua hidangan sudah disajikan dengan lengkap, kami langsung duduk menghadap ke arah makanan.


"Tunggu sebentar. Aku ingin mengambil beberapa foto dulu."


"Benar juga."


Meskipun tanganku sudah tidak sabar ingin segera memegang sumpit, hidangan ini terlihat begitu mewah sehingga meluangkan waktu untuk menikmatinya lewat pandangan mata juga merupakan hal yang penting.


Ini bukan demi pamer di media sosial atau semacamnya, melainkan murni karena aku ingin menyimpannya sebagai kenangan.


Oleh karena itu, sebelum makanan ini disantap dan bentuknya berubah, aku mengabadikannya dalam bentuk foto terlebih dahulu. Tidak hanya itu, Hina tampaknya juga ingin mengambil foto selfie dengan latar belakang hidangan. Dia menggeser tubuhnya mendekat dan menjulurkan lengannya, berusaha menyesuaikan posisi agar aku juga masuk ke dalam jepretan kamera.


Setelah menemaninya berfoto sejenak, tampaknya dia sudah merasa puas, dan kini saatnya kami benar-benar menikmati hidangan mewah ini.


"Maaf membuatmu menunggu. Mari kita makan."


"Ya, selamat makan."


Kami menangkupkan kedua tangan dan mengucapkan selamat makan. Melihat pemandangan hidangan yang luar biasa di depan mata ini, aku sampai bingung harus mulai mencicipi dari mana. Namun, untuk suapan pertama, mari kita mulai dari sajian perahu (funamori) berisi berbagai jenis potongan ikan segar beserta kepalanya yang ditata dengan sangat megah ini.


"Enak banget......!"


Aku sendiri bukan tipe orang yang memiliki selera makan tingkat tinggi, jadi awalnya kupikir rasa makanan mewah atau segar tidak akan jauh berbeda dari biasanya. Namun, begitu mengunyah suapan pertama, aku langsung paham seperti inilah rasa dari ikan yang benar-benar segar. Dagingnya terasa sangat padat sekaligus kenyal, dengan cita rasa yang langsung meleleh di dalam mulut.


Sambil menikmati kelezatan aneka potongan sashimi seperti kakap merah (madai), marlin (buri), makarel (aji), dan udang manis (amaebi), aku melirik ke arah Hina. Dia juga tampak sangat bahagia menikmati makanannya.


Saat aku sedang menatapnya sambil berpikir betapa menggemaskannya dia saat makan dengan lahap dengan mata yang berbinar-binar, Hina mendongak dan mata kami pun saling bertemu.


"Rei-kun, ikan kakap merah batu (kinmedai) bumbu rebus ini juga enak banget, lho."


"Kamu sampai lahap begitu, ya."


"Habisnya rasanya enak banget, jadi wajar saja, kan. Lagipula, terus-terusan menatap orang yang sedang makan itu melanggar etika, lho."


"Soalnya kamu makan dengan kelihatan sangat menikmati, jadi aku refleks melihatnya."


"Hmph, kalau Rei-kun berniat merencanakan hal licik seperti itu, aku akan menghabiskan semua makanan ini sendirian selama kamu melamun, lho!"


Tindakan mengamati kekasihku yang menggemaskan ternyata langsung dicap sebagai rencana licik olehnya.


Pada dasarnya makanan ini disajikan dalam porsi untuk dua orang, jadi seharusnya tidak akan ada kejadian di mana salah satu dari kami kehabisan lauk... tapi kalau Hina yang melakukannya, dia mungkin benar-benar bisa menghabiskan semuanya sendirian.


Saat aku sedang berpikir demikian, tangannya tiba-tiba terjulur ke arah areaku.


"Hina-san? Tindakan itu kurang baik, lho?"


"Aku tidak peduli."


"Kalau sampai kepitingku yang diambil, aku tidak bisa tinggal diam, lho?"


"Serahkan saja dengan patuh. Rei-kun yang sibuk dengan rencana liciknya tidak butuh makanan ini."


"......Iya, iya, aku minta maaf."


"Kalau kamu benar-benar menyesal...... suapi aku."


"Eh?"


"Kalau kamu mau menyuapiku sambil bilang 'aa~n', aku akan memaafkanmu."


Ternyata tujuannya bukan karena hidangan itu sangat enak lalu dia ingin menambah sedikit lagi, melainkan dia memang berniat merampas kepitingku sejak awal dengan kedok memintaku menyuapinya. Benar-benar trik khas Hina-san.


Tapi ya sudahlah, jika ini berarti aku bisa melihat sosoknya yang menggemaskan saat makan banyak dari jarak yang paling dekat, dengan senang hati akan kupersembahkan makanan ini untuknya.


"......Ya sudahlah. Nih, aa~n."


"Aa~n...... Nyam, enak banget! Mau tambah lagi!"


"Anu...... Kamu memikirkan jatahku juga tidak, sih?"


"Jangan dipikirkan, dong."


Melihatnya begitu bersemangat karena terlalu enak sampai mengekspresikannya lewat gestur tangan dan tubuh memang luar biasa menggemaskan dan memanjakan mata, tapi bukankah pengorbanan untuk bisa melihat pemandangan itu terlalu besar?


Yah, lagipula makanan enak yang lain masih banyak, dan mengalah sedikit untuk memanjakannya setelah dia bertingkah jahil tadi anggap saja sebagai biaya wajib yang harus dikeluarkan.


"Nih."


"Nng...... Mau tambah lagi."


"Kepitingnya tidak boleh lagi. Aku juga ingin memakannya, tahu."


"......Pelit."


Sambil berkata begitu, aku segera menikmati kepiting itu sebelum semuanya dihabiskan oleh Hina.


Memang rasa enaknya yang luar biasa membuatku maklum kenapa dia ingin makan lagi... tapi tolong jangan melihatku dengan tatapan seiri itu, habiskan saja dulu porsi milikmu sendiri sana.



"Enak banget, ya. Perutku rasanya kenyang sekali."


"Kenyang banget~ Sesuai ekspektasi untuk tempat yang menjual hidangan laut segar sebagai daya tarik utamanya, rasanya benar-benar istimewa."


Makan malam yang meriah pun berakhir, dan hati kami dipenuhi oleh rasa bahagia.


Aku benar-benar menyadari bahwa makanan yang lezat saja sudah cukup untuk membuat hati terasa kaya.


Secara pribadi, aku sangat menyukai sajian sashimi yang menggunakan banyak ikan musiman.


Sajian lobster Jepang (Ise ebi) maupun kakap merah batu bumbu rebusnya benar-benar juara, dan momen ini menjadi waktu terbaik untuk menikmati hidangan laut sepuas hati.


"Nah...... karena makan malam sudah selesai, berarti sekarang saatnya waktu berendam yang sudah dinanti-nantikan, ya."


"......Benar."


"Kali ini jangan mencoba melarikan diri, ya?"


"Iya, aku tahu, kok."


Ini adalah waktu berendam di pemandian terbuka yang sudah dinantikan oleh Hina sejak tahap perencanaan liburan. Dia juga sudah berjanji akan mematuhi aturan, jadi aku tidak akan rewel lagi sekarang.


"Siapa yang mau masuk duluan? Ah, kalau mau masuk bersamaan juga aku tidak keberatan, lho?"


"......Hina-san?"


"......Cuma bercanda, kok. Aku masuk duluan, ya. Tolong beri jeda waktu sedikit sebelum kamu menyusul."


Astaga...... benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantung.


Karena ada fase berganti pakaian—atau lebih tepatnya fase menanggalkan pakaian—mana mungkin kami masuk ke ruang ganti secara bersamaan.


Hina pun bergegas menuju ruang ganti. 


Meskipun bilangnya cuma bercanda, dia tetap punya kelicikan untuk memanfaatkan peluang jika ada kesempatan, ya. Benar-benar Hina-san yang luar biasa. 


Singkatnya, mantap Hina.


"Sepertinya sudah aman, nih."


Setelah tidak terdengar lagi suara aktivitas dari dalam ruang ganti, aku menunggu sebentar lalu mengetuk pintu.


Aku sempat waspada jangan-jangan Hina sengaja menggunakan taktik jalan siput dengan melepas pakaiannya super lambat dan sengaja menungguku membukanya saat aku lengah karena mengira dia sudah selesai. Namun, tampaknya itu hanya ketakutan yang tak beralasan dari pihakku saja.


Nah, aku juga harus bergegas berganti pakaian dan menyusul ke sana. Kalau aku terlalu lamban, Hina yang sudah kehabisan kesabaran bisa saja datang menjemputku dengan wajah cemberut sambil hanya berbalut handuk mandi.


"Hina, boleh aku masuk?"


"Silakan!"


"......Benaran?"


"Benar-benar boleh!"


Untuk berjaga-jaga, aku memastikan sekali lagi di depan pintu yang terhubung dengan pemandian terbuka.


Sebenarnya akan lebih aman jika aku bersikap lebih waspada dan memperhitungkan segala macam trik yang mungkin akan dilancarkan Hina. Namun, jika terus begitu, ini hanya akan menjadi permainan kejar-kejaran yang tidak ada habisnya. Jadi, aku memilih memercayai Hina lalu membuka pintunya.


Saat melangkahkan kaki ke luar dengan hati-hati, hawa udara luar yang agak dingin langsung menyentuh kulitku. Ini juga merupakan sensasi khas yang membedakan pemandian terbuka dengan pemandian dalam ruangan.


"Rei-kun! Cepat ke sini!"


Di balik uap air panas yang membubung samar, Hina melambaikan tangannya sambil memanggilku.


Benar juga. Aku ingin segera menenggelamkan tubuh ke dalam air panas agar terasa hangat. Namun, seperti yang tertera pada papan peringatan, pemandian luar ruangan sangat dipengaruhi oleh udara luar sehingga memiliki perbedaan suhu yang cukup drastis dengan air kolam.


Agar tidak terkena sentakan suhu, aku harus menyiramkan air hangat ke tubuh terlebih dahulu untuk penyesuaian. Bahkan saat aku sedang bersiap-siap dengan saksama pun, Hina-san terus mendesakku untuk cepat-cepat. Begitu selesai membasuh diri dengan terburu-buru dan berjalan mendekat, Hina langsung menepuk-nepuk air kolam hingga berkecipak, memintaku duduk di sebelahnya.


Meskipun dia menyembunyikan tubuhnya di balik handuk mandi, bergerak terlalu heboh seperti itu bisa saja membuat handuknya terlepas, tapi seperti biasa, dia tidak peduli. Atau...... apa dia sengaja agar nanti bisa beralasan handuknya terlepas secara tidak sengaja? Atau, apa dia murni hanya ingin aku berada di sampingnya saja? Aku tidak tahu yang mana, tetapi karena akan terasa dingin jika terus-terusan terpapar udara luar, aku pun segera masuk ke dalam air.


Aku mengambil posisi duduk dengan memberi sedikit jarak dari Hina. Melihat hal itu, Hina-san langsung bergeser mendekat tanpa membuang waktu sampai bahu kami saling bersentuhan, lalu menatapku dengan cemberut.


Saat aku bergeser sedikit untuk memberi jarak, Hina langsung ikut bergeser mengikutiku.


Setelah mengulanginya beberapa kali...... tanpa disadari kami sudah mengitari kolam berbentuk oval itu sebanyak satu putaran penuh.


"Padahal tidak perlu sampai kabur begitu, kan."


"Biarpun kamu bilang begitu, kalau jantungku berdebar terlalu kencang begini, aku bisa cepat pusing karena kepanasan."


"Ah, pemandian terbuka itu berbeda dengan pemandian dalam ruangan karena uap panasnya tidak terperangkap, jadi katanya kita tidak akan mudah pusing. Makanya, tenang saja dan tetaplah di sebelahku."


"Ah, sebentar...... da...... dadamu......"


"Jangan dipikirkan!"


Dia sama sekali tidak peduli meskipun dadanya membentur lenganku, dan akhirnya aku pun berhasil diamankan dalam kuncian dekapannya.


Sosok Hina yang memamerkan fakta unik seputar pemandian terbuka dengan wajah bangga memang terlihat menggemaskan. Namun, meskipun dia menutupi tubuhnya dengan handuk mandi, berada dalam posisi menempel erat dengan sosoknya yang memiliki pertahanan rendah seperti ini membuat jantungku tidak bisa berhenti berdebar kencang.


Meski begitu, dia benar-benar menepati janjinya dengan baik kali ini, dan sama sekali tidak terlihat sedang mencoba mencari celah untuk melanggar aturan secara terang-terangan.


Jarak sekat dekat begini sebenarnya sudah berkali-kali kami alami sebelumnya, tetapi entah mengapa aku tetap saja dibuat salah tingkah dan serbasalah karena terlalu menyadarinya.


Meski begitu, tampaknya Hina memang murni hanya ingin menempel saja tanpa ada gelagat akan berbuat yang macam-macam lagi, dan dia terlihat sangat santai menikmati waktunya. Rasanya agak kesal juga kalau membayangkan hanya aku sendiri yang jantungnya berdebar menggila karena tegang. 


Yah, tapi mungkin ini salahku sendiri yang terlalu berlebihan dalam meresponsnya.


"Rei-kun, kamu terlalu tegang, lho."


"Memangnya ini gara-gara siapa, coba?"


"Kalau itu...... tentu saja gara-gara aku. Tapi, mumpung sedang menikmati pemandangan air panas yang berharga begini, sayang sekali kalau tidak dinikmati dengan santai tanpa harus bersikap kaku."


"......Kalau begitu, tolong jangan membuatku jantungan terus."


"Aku tidak begitu paham apa maksudmu, jadi jangan dipikirkan, ya."


Sambil berkata begitu, Hina-san makin mempererat dekapannya di lenganku. Rasanya sifat "jangan dipikirkan"-nya yang dikeluarkan tanpa ragu-ragu ini benar-benar tidak bisa kulawan. Namun, daripada dia harus menahan diri dan merasa sungkan secara berlebihan, aksi menyerempet batas seperti ini justru terasa sangat khas Hina dan entah mengapa malah membuatku merasa tenang.


"Rei-kun, bintang-bintangnya indah sekali, ya."


"Benar."


"Tadi karena hari sudah gelap kita tidak bisa menikmati pemandangan alam sekitar, tapi berendam di pemandian terbuka sambil mendongak menatap langit berbintang begini juga terasa sangat syahdu."


"Mewah sekali rasanya, ya."


Ini adalah sebuah pengalaman yang hanya bisa dirasakan justru karena berada di pemandian terbuka yang menyuguhkan nuansa lepas.


Kali ini suasananya di malam hari, tetapi jika waktu kunjungannya berbeda, pemandangan luar ruangan yang disajikan pun pasti akan berbeda. Itulah letak keistimewaan yang sesungguhnya dari sebuah pemandian terbuka.


Pemandangan matahari terbenam yang kami lihat dari tepi pantai sore tadi saja sudah sangat indah, jadi jika bisa melihatnya sambil berendam di pemandian terbuka seperti ini, pemandangannya pasti akan luar biasa menakjubkan.


"Jangan-jangan rencana untuk besok itu agenda maraton berendam di pemandian terbuka seharian penuh, ya?"


"......Wah, apa jangan-jangan kamu ini seorang jenius?"


"......Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya."


Hina memang benar-benar menantikan waktu berendam di pemandian terbuka ini, dan dia pasti sudah mencari tahu informasi tentang jenis pemandangan apa saja yang bisa dinikmati berdasarkan pembagian waktunya.


Oleh karena itu, aku sempat mengira kalau rencana tersembunyi untuk besok adalah hari santai untuk berendam di pemandian terbuka kapan pun kami mau. Namun, melihat reaksi Hina, sudah jelas tebakanku meleset.


Ini sama sekali bukan pemikiran yang jenius, jadi tolong berhenti menanggapi seolah-olah ide itu baru terpikirkan sambil menatapku dengan mata yang berbinar-binar. Memang aku sendiri yang memulainya, tetapi aku ingin hal itu dianggap tidak pernah ada saja.


"Itu rencana yang sangat memikat. Tapi, sayangnya bukan itu."


"Begitu ya, syukurlah."


"Kalau aku sendiri sebenarnya merasa sangat sayang, lho. Kalau maraton seharian penuh mungkin agak mustahil, tetapi satu hari penuh yang dihabiskan untuk memuaskan diri berendam di sumber air panas sesuka hati...... membayangkannya saja sudah membuatku bahagia."


"Karena kita memang bisa masuk kapan saja dan sebanyak apa pun yang kita mau, sih."


Tidak ada batasan waktu ataupun batasan jumlah berapa kali kami boleh masuk, jadi meskipun sudah selesai berendam pun kami bisa masuk kembali berulang kali.


Meskipun terus-terusan berendam di dalam air itu mustahil, tetapi mengombinasikan waktu berendam dan waktu istirahat secara bergantian adalah hal yang sangat mungkin untuk dilakukan.


"Tapi, dengan langit berbintang sewarna-warni ini yang membentang luas, rasanya aku jadi ingin terus memandanginya seperti ini."


"Nanti kamu bisa pusing kepanasan, lho."


"Tidak akan kok. Efek menjaga kepala tetap dingin dan kaki tetap hangat itu sangat luar biasa."


"Jangan memaksakan diri begitu, ah."


"Kalau sampai terjadi apa-apa dan aku pusing, kan ada Rei-kun yang akan merawatku, jadi tidak ada masalah."


Aku sama sekali tidak paham di bagian mana yang dianggap tidak ada masalah. Mengurus seorang wanita biarpun dia adalah kekasihku sendiri memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, jadi kuharap dia berhenti berbuat nekat. Namun anehnya, aku sendiri merasa tidak akan cepat pusing kepanasan di sini.


Padahal dengan air yang hangat ditambah sosok Hina-san yang memikat, tidak heran jika sistemku langsung mengalami overheat. Namun, karena uap panasnya tidak terperangkap dan wajahku terus terpapar udara dingin, ternyata perbedaannya bisa menjadi sejauh ini......


Tetapi berkat hal itu, tampaknya aku harus menemaninya berendam dalam waktu yang cukup lama. Lengan yang dikunci erat dan tangan yang saling bertautan seolah berbicara dengan lantang bahwa dia belum mau melepaskanku dalam waktu dekat.


Momen manis yang dihabiskan berdua sambil bersandar dan mendongak menatap langit berbintang dengan rileks. Tidak peduli seberapa lama waktu yang akan dihabiskan, jangan dipikirkan...... begitulah kira-kira.



"Rei-kun, bintang-bintangnya indah sekali, ya."


"......Yah, karena kita cuma pindah tempat saja, langit berbintang yang kita lihat sebenarnya tidak berubah, sih."


"Hmph, jangan mengatakan hal yang merusak suasana begitu, dong."


"......Iya, iya, aku minta maaf."


Aku duduk di kursi yang disediakan di teras, mendongak menatap langit berbintang yang baru saja kami lihat dari pemandian terbuka tadi.


Hanya karena tempat melihatnya saja yang sedikit bergeser, keindahannya sama sekali tidak memudar. Namun, karena aku sadar telah mengatakan hal yang tidak peka, aku pun merenung sambil berusaha membujuk Hina-san yang sedang merajuk dengan pipi yang digembungkan.


"Tapi, angin malam setelah berendam begini rasanya nyaman sekali, ya."


"Benar sekali~"


Meskipun tidak sampai membuat pusing, kami berendam di pemandian terbuka dalam waktu yang cukup lama, sehingga embusan angin alami ini terasa meresap dan menyejukkan tubuh kami yang menghangat.


Hanya saja...... penampilanku yang sekarang terasa agak canggung. Baik dalam artian penampilanku sendiri, maupun penampilan Hina yang membuatku bingung harus mengarahkan pandangan ke mana.


"Kenapa kamu terlihat gelisah begitu?"


"Tidak...... rasanya memakai jubah mandi begini membuatku canggung."


Setelah yukata, sekarang aku kembali mengenakan jenis pakaian yang tidak biasa kupakai, membuat perasaanku menjadi agak aneh. Kejadiannya bermula saat aku selesai berendam dan berniat untuk berganti pakaian. Pakaian ganti milikku sudah lenyap tak bersisa tanpa jejak, dan sebagai gantinya, jubah mandi ini diletakkan sendirian di sana.


Saat aku kembali ke kamar dengan memakainya, Hina yang juga sudah mengenakan jubah mandi tampak menungguku dengan ekspresi yang sangat puas, jadi untuk sementara aku menuruti kemauannya, tapi......


"Anu~, Hina-san? Bisakah bagian dadanya agak sedikit ditutup?"


"Kalau bagian yang lebih terbuka lagi sih aku mau menerimanya."


"Kamu mendengarkanku tidak, sih?"


"Jangan dipikirkan, dong."


Aku mencoba menyarankan peningkatan pertahanan secara halus kepada Hina-san yang celahnya sedang sangat longgar ini, tetapi dia malah berniat melonggarkannya lebih jauh lagi. Akibatnya, daya serangannya pun justru menjadi makin terasah tajam.


Karena bingung harus mengarahkan pandangan ke mana, aku tidak punya pilihan selain membuang muka ke arah sembarang atau menatap langit berbintang demi menghindari tatapan langsung. Namun, jika aku melakukannya, dia malah akan merajuk dan marah karena merasa mata kami tidak saling bertemu, sehingga hal ini benar-benar menjadi siklus sebab-akibat yang merepotkan.


"Rei-kun tidak terlalu suka jubah mandi, ya?"


"Hmm, tidak buruk juga, sih, tapi memang rasanya masih belum terbiasa. Kalau Hina?"


"Aku suka, lho. Berbeda dengan mengeringkan badan memakai handuk mandi, pakaian ini membuat kedua tangan menjadi bebas. Jadi, di sela-sela itu aku bisa sambil mengeringkan rambut, melakukan perawatan kulit, dan memanfaatkan waktu secara efektif."


Oh, begitu rupanya.


Bagi sudut pandang wanita yang memiliki banyak urusan setelah selesai berendam, hal ini ternyata menjadi sebuah keuntungan tersendiri.


Maaf ya, karena sempat berprasangka buruk dan mengira kamu menyukainya sebagai kostum untuk menggodaku.


"Pakaian ini juga hangat dan bisa mencegah tubuh kedinginan setelah berendam. Pakaian ini benar-benar barang yang praktis karena kita bisa mengeringkan badan dulu baru kemudian berganti pakaian biasa, jadi aku ingin memakainya juga di rumah. Boleh aku membelinya?"


"Tidak boleh."


"Terima kasih banyak! Nanti akan kusiapkan juga yang untuk bagian Rei-kun, ya."


Padahal niatnya aku ingin menolak, tetapi entah mengapa malah dianggap memberikan izin.


Memakai jubah mandi di rumah, ya......


Sebenarnya akan merepotkan jika variasi pakaian minimnya untuk berkeliaran setelah selesai mandi jadi bertambah, tetapi sepertinya akan sulit untuk menghalangi niat belanjanya yang sudah bulat itu.


Yah, asalkan Hina merasa nyaman, kurasa tidak apa-apa, sih. Meskipun aku sangat berharap dia tidak memakainya dengan celah yang terlalu longgar.


Waktu sudah beranjak malam ketika suasana di sekitar benar-benar menggelap. Kami pergi menuju ke tepi pantai di malam hari, lalu berjalan-jalan santai sambil bergandengan tangan.


"Padahal siang tadi panas sekali, tapi malam hari udaranya terasa dingin, ya."


"Karena pasir pantai memang lebih cepat dingin, sih."


Telapak kaki telanjangku menapak di atas pasir pantai. Sensasinya terasa dingin dan nyaman, sangat berbeda dengan saat kami bermain di siang hari tadi. Namun, embusan angin lautnya juga terasa lebih kencang dari perkiraan, sehingga jika tidak waspada, tubuh bisa langsung kedinginan dalam sekejap.


"Hina, kamu tidak kedinginan?"


"Tidak apa-apa. Kalau nanti mulai kedinginan, aku akan meram...... meminjam jaket milik Rei-kun."


"Tadi kamu mau bilang merampas, ya?"


"Mana mungkin. Aku tidak akan melakukan hal sekejam itu, kok."


Apa benar begitu?


Jika menyangkut masalah menelanjangi pakaianku, dia sudah memiliki rekam jejak dan reputasi yang sangat terpercaya, sih......


Jadi dia sangat mungkin untuk benar-benar melakukannya. Yah, meskipun kalau sampai terjadi pun ujung-ujungnya pasti akan kupinjamkan juga, sih. Aku kan tidak mau kalau Hina sampai masuk angin.


"Tapi memang benar, udaranya agak terasa dingin, ya. Berhubung besok masih ada agenda, bagaimana kalau kita kembali setelah berjalan sedikit lagi?"


"Benar juga."


"Ah, mumpung sedang bertelanjang kaki, bolehkah aku menginjak ombak sebentar?"


"Boleh saja...... eh, maksudnya aku juga ikut?!"


Seperti sudah menjadi hal yang lumrah, aku langsung diseret menuju ke tepian ombak dalam kondisi tangan yang masih saling bertautan.


Kami berdiri tepat di batas bekas sapuan ombak di atas pasir pantai, merasakan ombak yang datang menyapu kaki kami sedikit demi sedikit lalu perlahan surut kembali.


"Dingin...... eh, tidak dingin? Malah terasa hangat...... ya?"


"Berbeda dengan pasir, air laut memang tidak mudah dingin, sih."


"Siang tadi waktu masuk ke laut rasanya dingin dan segar, tapi malam hari malah terasa hangat. Rasanya aneh juga, ya."


"Soalnya siang tadi terik mataharinya sangat kuat dan udaranya panas, sih."


Aku teringat kembali pada momen bermain di laut siang tadi.


Udaranya begitu panas dan menyengat, tetapi kami benar-benar bermain dengan sangat heboh sampai aku sendiri merasa kagum.


Saat sedang memandangi bulan dengan tenang dan merasakan sapuan ombak seperti ini, perasaan itu jadi terasa makin kuat.


"Laut tadi seru sekali, ya."


"Benar sekali~"


"Setelah seheboh itu, wajar saja kalau minimal ada satu atau dua bagian otot yang terasa pegal...... Oh ya, kalau Hina bagaimana? Tidak apa-apa?"


Aku teringat sebuah episode pada acara perayaan setelah ujian kapan hari, di mana Hina-san berolahraga secara berlebihan hingga berakhir tidak bisa bergerak karena seluruh ototnya pegal-pegal.


Berenang di laut maupun berlarian bertelanjang kaki di atas pasir pantai sama-sama menggunakan otot yang biasanya jarang digunakan, sehingga beban bagi tubuh pasti lumayan besar.


Aku jadi cemas apakah hal itu akan memengaruhi agendanya untuk besok atau tidak.


"Hina, kamu tidak akan sampai mengalami pegal-pegal parah hingga tidak bisa bergerak lagi seperti waktu itu, kan?"


"Khasiat sumber air panasnya tadi kan tertulis bisa untuk meredakan pegal otot dan memulihkan stamina, jadi mari kita berharap pada hal itu saja."


"Masuk akal juga."


Bermain dengan seluruh tenaga, lalu memulihkan rasa lelahnya di dalam pemandian air panas. Bisa dikatakan ini adalah bentuk perawatan maksimal agar tidak memengaruhi agenda di hari berikutnya.


"Meskipun begitu, kalau aku sampai mengalami pegal otot dan tidak bisa bergerak...... tenang saja, kita tinggal beralih ke rencana maraton berendam di pemandian terbuka yang digagas oleh Rei-kun."


"......Um, iya, benar juga, sih."


Rencana rahasia yang masih disembunyikan oleh Hina memang sangat kunantikan, tetapi memiliki rencana cadangan untuk berjaga-jaga jika terjadi situasi darurat tentu jauh lebih baik. Namun tetap saja, rencana maraton berendam di pemandian terbuka itu rasanya terlalu berat untuk kutanggung.


Aku hanya bisa berdoa dengan sungguh-sungguh semoga khasiat air panasnya bisa memulihkan rasa lelah dan meredakan pegal otot Hina-san secara maksimal.


Setelah dirasa cukup, kami menyudahi jalan-jalan santai kami lalu kembali ke penginapan untuk berganti pakaian dengan yukata.


Mungkin karena mode tubuh sudah dialihkan ke mode rileks, rasa lelah yang terkumpul sepanjang hari langsung menyerang sekaligus.


Di sela-sela melakukan persiapan sebelum mengakhiri hari seperti menyikat gigi, rasa kantuk mulai menyerangku dan juga Hina. Walaupun rasanya masih ingin menikmati momen liburan ini, tampaknya sudah tiba waktunya bagi kami untuk mengucapkan selamat tidur.


"Hina, ayo kita tidur sekarang."


"Benar juga, ya. Demi agenda besok, kita harus beristirahat dengan benar untuk memulihkan stamina."


Meskipun rasa lelah pada fisik sudah diredakan dengan berendam di air panas, bukan berarti seluruh rasa lelah bisa hilang begitu saja hanya dengan hal itu.


Tidur adalah hal yang mutlak untuk memulihkan stamina.


Saat menghabiskan waktu yang istimewa seperti ini, terkadang ada perasaan sayang jika harus tidur cepat. Namun, terjaga hingga larut malam lalu berakhir bangun kesiangan atau menjadi lemas karena kurang tidur justru akan menjadi hal yang paling disayangkan karena bisa merusak momen liburan. Jadi, merelakan waktu untuk beristirahat lebih awal juga merupakan hal yang penting.


"Mau tidur di sebelah mana?"


"Rei-kun boleh memilih duluan."


"Kalau begitu, aku yang di sini."


"Kalau begitu, aku juga di sini."


Dua buah futon tampak sudah digelar secara berjajar.


Tadinya aku berniat menanyakan kasur mana yang ingin dia pakai, tetapi tampaknya pertanyaanku itu benar-benar sebuah kebodohan.


Bukannya merapatkan celah di antara kedua kasur lantai lalu tidur berjajar secara pas, dia malah memilih tidur berdua di dalam satu kasur lantai yang sama.


Singkat kata...... semuanya berjalan seperti biasa.


"Kalau begitu, selamat tidur."


"Iya, selamat tidur."


Begitu aku memberikan ciuman selamat tidur, dia langsung mulai bernapas dengan teratur dan tertidur lelap layaknya seutas benang yang terputus.


Saat sedang memandangi wajah tidurnya yang tampak begitu damai dan menggemaskan, perlahan kelopak mataku sendiri pun mulai terasa berat...... dan dalam sekejap, aku sudah ikut berkelana menuju ke dunia mimpi.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close