Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 2
Tidak Masalah Meski Berada dalam Mode Festival yang Tak Tertandingi
Kami berjalan santai menyusuri jalanan yang dipadati oleh stan festival. Aroma sedap yang menguar dari stan-stan makanan terus menggoda perut kami yang lapar.
Sementara itu, stan-stan permainan seolah membangkitkan kembali jiwa anak-anak dalam diri... membuatku tak tahan untuk tidak menghentikan langkah.
"Hina, apa kamu sering pergi ke festival seperti ini?"
"Aku? Dulu pernah bersama keluarga, tapi seingatku terakhir kali aku ikut acara seperti ini waktu masih SD. Kalau dipikir-pikir, ini festival pertama setelah sekian lama bagi diriku."
"Begitu, ya. Kalau begitu, kita harus menikmatinya sepuas mungkin."
"Tentu saja! Aku akan menikmatinya dengan seluruh tenagaku!"
Sosoknya yang mendengus penuh tekad seraya membusungkan dada terlihat sangat menggemaskan.
Ini adalah festival pertama setelah sekian lama bagi diriku dan Mikami-san. Sekaligus menjadi festival pertama kami sebagai sepasang kekasih. Pokoknya, aku ingin kami bersenang-senang dan menjadikannya sebuah kenangan yang indah.
"Nah, dari mana kita akan memulainya?"
"Kita kelilingi tempat-tempat yang ingin kamu kunjungi dulu saja."
"Kalau begitu, aku terima tawaranmu... Hm, enaknya ke mana, ya?"
Ada banyak hal yang memikat mata... namun tingkat antusiasme Mikami-san jauh melebihi diriku. Pandangannya bergerak ke sana kemari dengan penuh rasa ingin tahu. Dia menarik tanganku dan bersiap menerobos ke arah tujuannya dengan kekuatan yang membuatku ragu apakah dia benar-benar sedang memakai geta.
"Rei-kun, lihat, ada permen kapas! Kita harus membelinya."
Mikami-san yang menemukan stan permen kapas langsung heboh dan menarik-narik tanganku dengan bersemangat.
Yah, berhubung tadi mendapat uang jajan tambahan dari Ibu, kupikir tidak ada salahnya jika hari ini kami makan, minum, dan bermain sepuasnya... tapi dia energik sekali, ya.
Melihat sosoknya yang begitu bersinar terkadang membuatku takut karena pikiranku bisa mendadak eror lagi. Mikami-san dalam balutan yukata benar-benar sangat elok dan imut... setiap gerak-geriknya sungguh tidak baik untuk kesehatan jantungku.
"Permen kapas, ya? Klasik sekali."
"Bagaimana kalau untuk permulaan kita borong saja semuanya?"
"Jangan, dong. Sisakan juga untuk pengunjung yang lain."
"Siap~"
Tiba-tiba menyatakan ingin memborong semuanya tentu saja mengejutkan, tapi untungnya dia penurut. Bahaya juga jika kebiasaan keras kepalanya kambuh di sini; bisa-bisa modal yang akan kami gunakan untuk bersenang-senang seharian ini habis hanya demi menukar tumpukan permen kapas yang tidak akan sanggup dibawa oleh kedua tangan...
Makanan atau barang yang disajikan di acara seperti ini memang menggunakan "harga festival"... bisa dibilang harganya agak kurang ramah bagi dompet pelajar. Jika dibandingkan dengan minimarket atau supermarket yang jelas lebih murah, memang tidak ada apa-apanya, tapi aku tidak akan mengatakan hal yang merusak suasana seperti itu. Hal-hal semacam inilah yang justru membuat festival menjadi sebuah kenangan yang berkesan.
"Nih, pergi dan belilah."
"Aku yang beli?"
"Di dunia ini, kalau ada gadis yang imut dan cantik jelita seperti kamu yang pergi membeli, biasanya penjualnya akan refleks memberikan bonus secara cuma-cuma, lho. Siapa tahu ukuran permen kapasmu bakal dibuat jadi lebih besar?"
"Ehe tidak... kamu bilang aku cantik?"
"Iya, yukata itu sangat cocok untukmu, dan kamu kelihatan teramat imut."
"Anu... iya, aku mengerti, tapi kalau dipuji bertubi-tubi begitu aku jadi malu...~"
Aku menyerahkan uang kepada Mikami-san dan menyuruhnya pergi membeli. Bagaimanapun juga, ini adalah dunia di mana orang berparas menawan selalu diuntungkan. Entah teori itu benar atau tidak, sih. Untuk sementara, aku mengawasi momen belanjanya dari dekat.
Setelah bertukar sepatah dua patah kata dengan penjual, Mikami-san kembali ke arahku dengan wajah gembira sambil membawa permen kapas yang berukuran besar. Bagaimanakah hasil eksperimen tadi...?
"Luar biasa! Seperti yang Rei-kun katakan, aku benar-benar diberi bonus! Lihat ini, permen kapasnya besar sekali!"
"Oh... ternyata trik itu benar-benar manjur, ya. Hebat."
Padahal tadinya aku hanya sekadar iseng, tapi ternyata hal seperti itu memang ada. Apakah ini yang dinamakan hak istimewa orang berparas menawan?
Jika melihat situasi ini, sepertinya kita bisa sering-sering mengharapkan bonus, jadi untuk urusan belanja selanjutnya biarkan Mikami-san saja yang maju.
"Ah, tapi... dipuji imut atau cantik oleh orang lain tidak ada apa-apanya. Aku justru paling bahagia kalau yang mengatakannya itu Rei-kun, lho?"
"...Oh, ya?"
"Iya! Jadi, tolong katakan hal itu lebih banyak lagi, ya? Dan juga, berikan aku bonusnya."
Bisa-bisanya dia mengatakan hal seperti itu tanpa rasa malu... Namun, mengetahui bahwa akulah yang nomor satu baginya, jujur saja membuatku senang. Dan bisa-bisanya dia menuntut bonus dariku dengan wajah tanpa dosa, benar-benar luar biasa.
Yah, aku memang berniat untuk memberikan perlakuan khusus yang teramat banyak hingga kata "bonus" saja tidak akan cukup untuk menggambarkannya.
"Nah, ini untukmu."
"Apa? Kamu mau membaginya denganku?"
"Tentu saja. Karena ini sangat besar, mari kita makan berdua. Atau lebih tepatnya, biarkan aku menyuapimu."
"Ternyata itu rencanamu."
"Ayo, bilang 'Aaa~'."
Anak ini... dia sengaja ingin menyuapiku dengan dalih berbagi permen kapas. Aku sampai kagum melihat betapa lihai dan pintarnya dia saat bermanja-manja seperti ini.
Saat gumpalan permen kapas disodorkan ke depan mulutku, aku langsung menggigit, menarik, dan merobeknya dengan bibir. Mungkin karena bagian yang kuambil ternyata lebih besar dari perkiraan, dia harus berusaha keras mengulumnya seolah sedang menyedot gumpalan bulu yang empuk itu agar bisa masuk sepenuhnya ke dalam mulut. Sosoknya saat melakukan itu terlihat teramat menggemaskan.
"Ahmm... manis dan enak, ya."
"Pfft..."
"Ada apa? Kenapa kamu mendadak tertawa?"
"Tidak... cuma berpikir kalau kamu baru saja menumbuhkan kumis yang imut."
"Eh, tunggu... jangan tertawa saja, cepat bersihkan!~"
Mikami-san kini tampak memiliki kumis megah yang terbuat dari sisa permen kapas. Protesnya dengan wajah polos saat aku refleks tertawa justru membuatnya kelihatan semakin imut dan menggelikan.
Karena dia mulai merengut akibat aku yang tidak bisa berhenti tertawa, aku pun membersihkan kumis itu menggunakan jariku.
Apakah dia sama sekali tidak berpikir untuk membersihkannya sendiri? Atau jangan-jangan dia sengaja membiarkannya agar aku yang membersihkannya? Entahlah... tapi karena aku sudah disuguhi pemandangan yang indah, aku tidak akan berkomentar apa-apa.
"Sudah bersih. Ahm... manis dan lezat juga, ya."
"...Melakukan hal seperti itu dengan wajah tanpa dosa, menurutku itu curang."
"Ah... maaf. Tapi, bukankah ini sudah telat untuk dipermasalahkan?"
"Memang sih, tapi... rasanya sangat disayangkan kalau kamu melakukannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa."
Sisa kumis... maksudku permen kapas yang kubersihkan dari sekitar mulut Mikami-san tadi langsung kujilat habis dari jariku. Melihat hal itu, dia menyipitkan matanya dan menatapku lekat-lekat, menunjukkan rasa keberatannya.
Memang benar aku melakukannya secara tidak sadar, tetapi ciuman tidak langsung yang terjadi dengan begitu santai tampaknya kurang berkenan di hatinya, hingga membuat Mikami-san yang sedang tersipu malu itu menggembungkan pipinya dengan kesal.
"Kalau begitu, sekarang giliranku untuk membalas dendam. Serahkan permen kapasnya."
"O-Oh, ini."
"Nah, ayo bilang 'Aaa~'. Buka mulutmu lebar-lebar dan makan yang banyak!"
"Jangan didorong begitu, dong. Aku jadi susah makannya."
"Aku tidak peduli! Ayo, tumbuhkan juga kumis yang megah di mulutmu!~"
Mikami-san berniat membalas perbuatanku dengan menyuapiku permen kapas secara paksa. Permen kapas yang bergoyang tidak keruan itu membuatku sangat kesulitan untuk memakannya. Namun... rasanya tetap manis dan lezat.
"Apa kamu sudah puas?"
"Kenapa di mulutmu tidak terbentuk kumis sama sekali? Curang!"
Ucapnya kesal, lalu dia melampiaskannya dengan menggigit permen kapas itu dengan tidak sabaran.
Begitu dia menjauhkan mulutnya dari permen kapas... kumis megah itu kembali terbentuk di sekitar mulutnya, membuatku spontan tertawa terbahak-bahak lagi.
"Kenapa cuma aku saja yang begini, ini tidak adil!"
"Sudahlah, tidak apa-apa, kan? Lagipula kamu kelihatan imut. Bagaimana kalau kita keliling festival dengan kondisi begitu?"
"...Itu memalukan, jadi tolong bersihkan lagi."
Dia kembali menyodorkan mulutnya yang dipenuhi kumis putih itu ke arahku.
Aku pun membersihkannya kembali, menjilatnya lagi, membuatnya merengut lagi, lalu dia kembali menyodorkan permen kapas itu ke mulutku dengan kesal. Interaksi semacam itu terus berulang sampai permen kapasnya habis dan menyisakan sumpit bambunya saja.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan berkeliling stan festival sembari membiarkan diriku dituntun oleh Mikami-san.
Bagaimanapun juga, stan festival menyajikan banyak sekali godaan. Barang-barang yang biasanya tidak akan kulirik sama sekali kini terlihat begitu berkilau dan menarik, membuat tali dompet kami benar-benar longgar sepenuhnya.
"Rei-kun, lihat, ada yakisoba."
"Aromanya harum sekali, ya. Entah kenapa makanan seperti ini selalu kelihatan sangat lezat kalau di festival."
"Mau makan?"
"Mumpung lagi di sini, ayo kita beli."
Sebenarnya, jika dipikir-pikir lagi, daya tarik festival bisa hilang seketika, karena makanan yang dijual di stan festival menurutku tidak bisa dibilang sangat lezat. Harganya lebih mahal, dan rasanya pun biasa-biasa saja. Namun, atmosfer festival bertindak bagaikan bumbu penyedap; entah mengapa makanan-makanan itu jadi terlihat sangat lezat, aromanya yang menguar begitu menggoda, dan seluruh pancaindra kita seolah dimanjakan.
Setiap kali menginginkan sesuatu, Mikami-san pasti akan meminta kepastian dariku terlebih dahulu seperti tadi.
Tampaknya dia melihat respons dariku untuk memutuskan apakah akan membeli satu porsi, dua porsi, atau membeli satu porsi untuk dimakan berdua.
Yah, sederhananya, dia sedang mengelompokkan makanan berdasarkan kategori: apakah makanan itu cocok untuk dipakai menyuapiku atau tidak.
Untuk makanan yang bisa dipegang dengan satu tangan dan mudah disantap sambil berdiri seperti permen kapas, dia cenderung hanya membeli satu porsi lalu kembali ke arahku. Terkadang dia juga menyerahkan makanan yang ingin dicobanya kepadaku, dan itu berarti makanan tersebut otomatis menjadi target untuk menyuapiku. Namun, untuk yakisoba, sepertinya agak sulit jika dimakan sambil berdiri. Untuk sementara sebaiknya kami amankan saja dulu, lalu nanti bisa kami santap dengan santai saat sudah berada di kursi berbayar.
Dompetku sudah kubawa dan kuberikan kepadanya, dan aku pun tahu ke mana dia pergi saat kami harus terpisah untuk berbelanja, jadi aku merasa tenang... Namun, melihat Mikami-san yang kembali dengan kedua tangan penuh membawa bungkusan yakisoba, aku refleks menatapnya dengan tatapan heran.
"Banyak sekali belanjaanmu. Apa ada varian yang sangat membuatmu penasaran?"
"Bukan begitu. Aku berniat membeli dua porsi seperti biasa, tapi penjualnya malah memberiku bonus yang sangat banyak. Apa kita sanggup menghabiskan semuanya, ya?"
"Hebat sekali... ini sih namanya diberi bonus lebih dari dua kali lipat. Benar-benar berkah orang cantik, ya."
"Diberi sebanyak ini malah membuatku bingung. Untung saja penjualnya memasukkannya ke dalam kantong plastik, tapi ini jadi barang bawaan yang cukup merepotkan, ya."
Mendapat bonus memang menguntungkan, tetapi membawa barang bawaan yang bertambah banyak saat kami ingin berjalan-jalan ke sana kemari tentu saja akan melelahkan.
Berjalan menyusuri jalanan festival memang membuat kami mudah tergoda oleh stan yang kebetulan terlihat oleh mata, tetapi mungkin ada baiknya jika kami memikirkan urutan stan yang akan dikunjungi. Sebaiknya kami menunda membeli makanan berat, dan mendatangi tempat-tempat yang ingin kami kunjungi terlebih dahulu.
"Sebelum barang bawaan kita semakin menumpuk, bagaimana kalau kita mencoba permainan menangkap ikan mas dulu?"
"Aku juga ingin mencoba permainan menembak dan mencetak cetakan permen!"
"Iya, iya, aku mengerti."
"Ah, lihat, ada yang menjual topeng! Ayo kita beli!"
"Topeng...?"
Padahal dia sudah menjadi siswi SMA, tetapi kemampuannya untuk menikmati hal-hal kekanak-kanakan seperti itu dengan mengerahkan seluruh tenaganya benar-benar luar biasa. Namun, tidak apa-apalah... hal seperti ini memang hanya bisa dilakukan saat kita terbawa oleh atmosfer festival di sekitar, dan karena hari ini aku ingin menuruti semua keinginannya, jadi tidak masalah.
"Rei-kun, menurutmu mana yang paling cocok untukku? Ah, bukankah ini karakter game yang tempo hari kita mainkan bersama?"
"Benar juga. Itu karakter yang kita pakai saat bermain racing game waktu itu."
Di antara deretan topeng hewan dan topeng karakter anime populer yang terpajang, kami mulai memilih-milih. Tampaknya ada topeng yang biasa dipasang di samping kepala, dan ada juga topeng yang memiliki lubang di bagian mata sehingga bisa dipakai langsung di wajah.
"Mumpung lagi di sini, bagaimana kalau kita memakai topeng yang serasi?"
"Topeng rubah adalah pilihan yang klasik, ya. Ayo kita pakai topeng yang serasi tapi berbeda warna."
"Boleh."
Kami akhirnya membeli dua buah topeng rubah tipe penutup mata.
Mikami-san memilih yang berwarna putih, sedangkan aku memilih yang berwarna hitam; serasi namun berbeda warna.
"Jarang sekali melihat Rei-kun memilihkan sesuatu dengan agresif begini. Jangan-jangan, kamu yang sebenarnya ingin memakai topeng ya?"
"Bukan, aku ingin memasangkannya padamu, Hina."
"Padaku?"
"Habisnya kamu terlalu cantik jelita, aku jadi tidak rela jika kamu dilihat oleh orang lain. Makanya aku berpikir untuk menyembunyikan wajahmu di balik topeng..."
Meskipun aku sendiri yang memulai pembicaraan tentang hak istimewa orang berparas menawan, tetapi pada akhirnya rasa ingin memilikinya sendirian sebagai kekasihku mendadak muncul.
Menurutku, membiarkan keimutan Mikami-san dinikmati oleh orang-orang di sekitar adalah bentuk pelayanan yang terlalu berlebihan. Cukuplah aku yang paling mengetahui keimutannya, dan aku ingin memonopolinya sendirian. Bagaimanapun juga... dia adalah hadiah ulang tahunku.
Rasa cemburu yang kekanak-kanakan, yang kutunjukkan dengan cara yang kekanak-kanakan pula. Aku sempat berpikir apakah dia akan menertawakanku karena aku berniat menyembunyikan kecantikannya meski hanya sedikit di balik sebuah topeng.
"Kalau alasannya begitu, apa boleh buat. Kalau begitu, Rei-kun juga harus menyembunyikan ketampananmu di balik topeng agar tidak dilihat oleh orang lain, ya?"
Ucap Mikami-san yang kini telah mengenakan topengnya sembari tersenyum simpul. Keimutan yang memancar dari dirinya tetap tidak bisa disembunyikan sepenuhnya meskipun dia sudah memakai topeng, dan itu sungguh luar biasa. Namun, perpaduan antara yukata, topeng rubah, dan Mikami-san... benar-benar sangat imut.
"Nah, karena aku sudah memakainya, Rei-kun juga harus cepat berubah menjadi rubah."
"Jangan terburu-buru... Bagaimana? Cocok tidak?"
"Sangat cocok untukmu. Pertahankan penampilan itu dan berusahalah agar ketampananmu tidak ketahuan oleh orang lain."
"Kamu sendiri, sembunyikan sedikit aura gadis cantik yang meluap-luap itu meski sudah terhalang topeng. Keimutanmu itu masih kelihatan jelas, tahu."
"Apa~ Rei-kun sendiri kelihatan tampan hanya dari area mulutnya saja, lho. Ayo pakai masker juga."
"Gak mau, nanti malah kelihatan seperti orang mencurigakan."
Bayangkan saja betapa anehnya visual seorang pria yang menyembunyikan wajah bagian atasnya dengan topeng dan bagian bawahnya dengan masker. Walau atmosfer festival saat ini mendukung untuk sedikit bertingkah konyol dan kemungkinan besar akan dimaklumi, tetapi gerakan ala orang mencurigakan seperti itu berpotensi besar membuat kami dilaporkan ke petugas keamanan.
"...Rei-kun mungkin berpikir kalau hanya aku saja yang mencolok, tapi Rei-kun sendiri juga lumayan menarik perhatian, tahu. Tadi ada cukup banyak anak perempuan yang curi-curi pandang kepadamu."
"Perasaanmu saja kali."
"Nggak, mereka benar-benar melihatmu. Kalau aku tadi tidak memasang tampang mengintimidasi, kamu pasti sudah diajak kenalan oleh mereka."
"...Kamu tadi mengintimidasi orang?"
"...Nggak, kok."
"Beneran?"
"Sudah kubilang nggak, ya nggak!"
Jujur saja, aku sama sekali tidak memikirkan pandangan orang-orang di sekitar. Selama ini aku hanya peka terhadap pandangan yang tertuju kepada Mikami-san dan bukan kepada diriku, tetapi tampaknya Mikami-san pun merasakan hal yang sama.
Mikami-san langsung memalingkan wajahnya seolah baru saja keceplosan, tetapi karena wajahnya tertutup topeng rubah, aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas.
Melihat reaksi ini... dia pasti benar-benar melakukannya.
Mikami-san yang diam-diam mengintimidasi orang-orang di sekitar tanpa sepengetahuanku... bayangannya saja sudah terasa cukup surealis. Namun... berhubung aku sama sekali tidak menyadarinya, kurasa tampang intimidasinya itu pasti terlalu imut sehingga tidak memberikan efek menakutkan sama sekali.
Sembari membawa topeng rubah yang serasi, kami berjalan menyusuri jalanan festival. Meskipun wajah kami jadi tersembunyi seperti ini, aura gadis cantik dari Mikami-san tetap saja meluap-luap seperti biasa.
Karena kami berjalan sambil bergandengan tangan, tidak ada kekhawatiran akan terpisah. Lagipula, andai kata pegangan tangan kami terlepas pun, dengan kehadiran sosoknya yang begitu memancarkan daya pikat kuat seperti ini, aku yakin tidak akan sampai kehilangan jejaknya.
"Ada permainan menembak, menangkap ikan mas, mencetak permen... ah, ada undian berhadiah juga!"
"Untuk undian berhadiah, bukankah sebaiknya dihindari saja?"
"Hadiah utamanya ada kaset game, lho. Aku ingin yang itu!"
"Nanti biar kubelikan saja, ya."
"Kalau begitu boleh, deh. Eh, bentar... aku mau beli pisang cokelat dulu!"
Melihat pandangannya yang bergerak aktif ke sana kemari dari balik lubang topeng rubahnya, terlihat jelas bahwa dia benar-benar sedang menikmati festival ini.
Hanya saja... karena merasa undian berhadiah sebaiknya dihindari, aku pun mencoba menghentikannya secara halus.
Bagaimana sebenarnya sistem undian seperti itu, ya?
Dulu waktu masih kecil, aku juga pernah beberapa kali mencoba karena tergiur dengan hadiah utamanya, tetapi memori yang tersisa hanyalah zonk berturut-turut sampai akhirnya Ibu menghentikanku dengan lembut.
Hadiah utamanya mungkin memang ada, tetapi jumlah kupon undiannya terlampau banyak. Rasanya tidak realistis untuk berharap bisa memenangkan hadiah yang bagus. Selain itu, aku juga ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika Mikami-san mendadak jadi ambisius dan tidak mau kalah.
Mikami-san sebenarnya sangat pandai dalam urusan belanja dan berhemat. Sejak kami tinggal bersama, biaya hidupku berhasil ditekan olehnya. Bahkan orang awam seperti aku pun bisa melihat dengan jelas bahwa pengeluaran yang tidak perlu telah berkurang drastis. Namun, ada kalanya sifatnya berubah drastis dan dia menjadi sangat boros. Momen saat dia membawa masuk tumpukan perabot dan barang elektronik ke rumahku dalam "misi invasi"-nya, atau saat dia membeli baju renang, adalah contoh nyatanya.
Bagi Mikami-san, dia hanya mengeluarkan uang di saat yang memang diperlukan, dan karena hal itu bukanlah bentuk pemborosan yang sia-sia, jadi aku tidak bisa berkomentar apa-apa.
Hanya saja, jika menyangkut barang yang menurutnya sendiri memang dia butuhkan, tali dompetnya akan menjadi sangat longgar. Apalagi dalam situasi festival seperti sekarang ini, aku harus berhati-hati agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
"Waktu kecil dulu, mataku hanya tertuju pada keberadaan hadiah utama saja. Tapi begitu sudah jadi anak SMA, kita dipaksa untuk melihat realitas, ya."
"Apanya yang melihat realitas?"
"Ah, bukan apa-apa. Wah, pisang cokelatnya kelihatan enak. Rasanya bagaimana?"
"Uhum, enaak banged."
Aku tidak sengaja menggumamkan keluh kesah yang merusak mimpi, dan sialnya hal itu sempat terdengar oleh Mikami-san yang baru saja kembali selesai belanja. Namun, karena aku sudah berjanji akan membelikan kaset game-nya secara langsung dan bukan lewat undian, kurasa situasinya akan aman-aman saja.
Mikami-san berbicara sambil mengunyah penuh pisang cokelat di dalam mulutnya hingga membuat pipinya menggembung. Aku masih bisa menangkap apa yang dikatakannya secara samar... tetapi visual wajahnya saat itu sungguh luar biasa imut.
Sebaiknya aku tidak menatapnya terlalu lama.
"Ah, anu... kalau kamu sudah selesai makan itu, bagaimana kalau kita mencoba permainan menembak?"
"Ahm... mari kita bertanding siapa yang bisa mendapatkan hadiah yang lebih besar!~"
"Boleh saja. Aku sudah siap untuk kalah, kok."
"Kenapa menyerah duluan? Ayo lakukan dengan serius, dong."
Tentu saja aku berniat untuk berusaha semampuku, tetapi Hina-chan yang ada di hadapanku ini biasanya selalu mendominasi berkat kekuatan misterius jika menyangkut urusan pertandingan seperti ini.
Oleh karena itu, dengan perasaan yang setengah menyerah atau lebih tepatnya dengan hati yang kosong, aku melangkah menuju stan permainan menembak.
Di deretan rak hadiah, tampak berjejer aneka camilan, mainan kecil, dan untuk hadiah yang berukuran agak besar ada boneka kain. Tidak ketinggalan, di tempat ini pun dipajang hadiah mewah seperti kaset game. Semakin besar ukuran hadiahnya, memang semakin besar pula area target yang bisa ditembak. Namun, karena bobotnya juga pasti lebih berat, hadiah-hadiah seperti itu tampaknya tidak akan mudah jatuh meskipun tembakannya tepat sasaran.
Jangankan menjatuhkannya, aku sendiri bahkan tidak tahu apakah tembakanku bisa kena atau tidak.
"Kalau begitu, biar aku duluan yang maju. Rasanya berat kalau harus menembak belakangan."
"Semangat! Ah, aku ingin boneka kucing hitam yang itu!"
"Aku akan mencoba semampuku... tapi jangan terlalu berharap banyak, ya."
Setelah mengatakan itu, aku menyerahkan uang kepada pemilik stan permainan menembak dan menerima sepucuk pistol mainan. Tampaknya dalam sekali main, kami diberi kesempatan untuk menembak hingga 6 kali. Jika melihat jumlahnya... struktur permainan ini mungkin memang dirancang lebih sulit dari perkiraan.
Yah, hal itu tergantung pada hadiah mana yang menjadi target bidikan. Namun, fakta bahwa kami diberi sampai enam kali kesempatan menembak mengindikasikan bahwa hadiahnya tidak akan bisa didapatkan dengan mudah.
Akan tetapi, bagaimana ya. Memang terdengar kekanak-kanakan, tetapi hal-hal semacam ini entah mengapa selalu berhasil memicu jiwa muda seorang pria. Jika bukan karena kesempatan seperti ini, aku pasti tidak akan pernah menyentuh pistol mainan, dan kurasa psikologi semacam itulah yang membuat stan permainan menembak selalu populer.
"Kucing hitam, ya... Mari kita coba bidik."
Aku belum pernah mencoba permainan menembak sebelumnya, dan aku sama sekali tidak tahu teorinya. Namun, berhubung kekasihku menginginkannya, mari kita coba bidik.
Jujur saja, aku agak kurang percaya diri kalau harus langsung membidik target yang besar... tetapi aku mulai memasang posisi, membidik, lalu menarik pelatuknya.
"...Meleset, ya."
"Rei-kun, tenang saja. Masih ada 5 peluru lagi, kok."
"Aku tahu. Berikutnya pasti kena."
Pelurunya melesat melewati bagian samping boneka kucing hitam itu.
Berkat tembakan tadi, aku jadi tahu seperti apa lintasan peluru yang dihasilkan, lalu aku sedikit memperbaiki arah moncong pistolnya. Tembakan kedua yang kulepaskan di bawah iringan dukungan dari Mikami-san... berhasil mengenai bagian bawah boneka tersebut.
Namun, boneka itu tidak bergeming sedikit pun. Apa karena titik perkenaannya yang kurang bagus? Kalau begitu, mari kita coba membidik area yang agak lebih ke atas.
Dengan cara seperti itu, pada tembakan ketiga dan keempat, aku terus memperbaiki bidikanku ke arah atas. Melihat boneka itu mulai goyah dan guncangannya perlahan-lahan semakin membesar setiap kali terkena peluru, aku menjadi yakin bahwa aku memang harus membidik area atas... tepatnya di bagian kepalanya.
Tembakan kelima menyusul. Kasihan juga si boneka, karena pelurunya tepat mengenai bagian wajah. Boneka itu terdorong ke belakang dengan cukup keras... namun tidak sampai jatuh dan malah kembali ke posisi semula. Meski begitu, perkenaannya sudah terasa pas, jadi sepertinya tembakanku akan berhasil jika bisa membidik beberapa milimeter saja lebih ke atas.
"Rei-kun, semangat!"
"Berikutnya akan kuhabisi."
Sembari merespons dukungan dari Mikami-san, mataku tetap tidak beralih dari target.
Aku memantapkan bidikan dan melepaskan tembakan terakhir. Peluru itu mengenai tepat di titik yang kuincar... membuat bonekanya berguncang hebat lalu terjatuh dari atas rak. Sang pemilik stan mengucapkan selamat dan menyerahkan boneka kucing hitam itu kepadaku.
Bisa memenuhi ekspektasinya untuk saat ini adalah hal yang paling kusyukuri. Lagipula, karena ini adalah sebuah boneka, ukurannya pun tergolong cukup besar. Namun, bagaimana dengan kelanjutan pertandingan kami?
"Rei-kun, hebat sekali."
"Yah, untunglah akhirnya bisa jatuh juga. Hina, kamu mau membidik apa?"
"Hmm, karena barang yang kuinginkan sudah didapatkan oleh Rei-kun, aku akan menembak asal saja. Kalau begitu, mohon dukungannya, ya."
"Ya, semangat."
Kini giliran Mikami-san. Dari belakang, aku memperhatikan sosoknya yang menerima pistol mainan dan mencoba memeriksa kondisinya seolah sedang memegang barang yang langka.
Saat aku sedang fokus memperhatikan bagaimana dan apa yang akan dibidiknya... tiba-tiba terdengar rentetan suara tembakan yang berurutan. Itu adalah suara tembakan cepat dari Mikami-san yang menghabiskan seluruh 6 pelurunya sekaligus hanya dengan 1 tangan.
"Seriusan...?"
"Bagaimana? Tembakan fanning shot milikku?"
"Bukan, pistol ini bukan tipe revolver jadi tidak bisa disebut fanning shot, sih... tapi, apa kamu ini seorang jenius?"
"Berkat contoh dari Rei-kun, aku jadi paham bagaimana pelurunya keluar dan bagaimana cara membidiknya secara sekilas, jadi aku agak terlalu bersemangat tadi."
"Ya tapi tidak sampai begitu juga kali... Nggak deng, karena ini Hina, kurasa tidak aneh juga."
Tembakan cepat yang super akurat itu membuatku berpikir jangan-jangan di kehidupan sebelumnya dia adalah seorang sniper yang selalu menghabisi mangsa incarannya tanpa pernah meleset.
Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa takjubku pada kekasihku ini, yang bisa melakukannya dengan begitu mudah menggunakan 1 tangan tanpa perlu memasang posisi ancang-ancang yang berarti, lalu berhasil menyapu bersih enam buah hadiah sekaligus.
Namun, aku memang sempat punya firasat kalau dia akan melakukan hal sejauh itu. Menemukan hal-hal yang sulit dipercayai seperti ini adalah makanan sehari-hari bagiku sebagai kekasihnya, yang pada akhirnya akan selalu selesai dimaklumi hanya dengan satu alasan: "karena dia Mikami-san".
"Lagipula, bisa-bisanya kamu menjatuhkan hadiah yang ukurannya jelas-jelas lebih besar daripada boneka yang kudapatkan... Ini sih aku kalah telak."
"Fufun, Rei-kun sudah memberikan terlalu banyak informasi kepadaku. Berkat hal itu, aku jadi sangat terbantu."
"Begitu, ya. Sial... Cuma 1, ya. Padahal aku ingin menjatuhkan beberapa buah lagi."
"Bukan Cuma 1, lho. Sosok Rei-kun yang sedang memegang pistol dengan serius tadi kelihatan sangat keren, sampai-sampai hatiku rasanya berhasil tertembak dengan telak olehmu. Jadi, hadiahmu ada 2."
"...Kalau begitu, artinya Hina sudah menembak jatuh 7 buah hadiah, dong."
"Benar juga. Kalau begitu... aku merasa sangat senang."
Jumlah hadiah yang kami dapatkan masing-masing bertambah satu di dalam hati, dan entah mengapa hal itu membuatku merasa agak malu.
Karena wajahku rasanya mendadak memanas, maka mencari stan es serut dengan pandangan mataku adalah sebuah tindakan refleks yang tidak bisa kuhindari.
Membeli es serut dengan niat untuk mendinginkan tubuh yang mendadak panas akibat serangan kejutan dari Mikami-san sebenarnya adalah keputusan yang bagus, namun hawa panas ini sama sekali tidak mau turun.
"Rei-kun, minta satu suap."
"Nih."
"Ahm, enyaak."
"Syukurlah kalau begitu."
"Rei-kun, minta 1 suap lagi."
"Nih."
"Dingin dan lezat, ya. Ah, kepalaku sampai terasa cenat-cenut karena dingin."
"Kamu tidak apa-apa?"
"...Aku masih bisa menahannya. Karena sudah berhasil menahannya, minta 1 suap lagi."
"Nih."
Alasannya sudah sangat jelas dan sederhana. Akibat dari "kisah minta satu suap tanpa akhir" dari Hina-chan seperti ini, aku sendiri bahkan belum sempat mencicipi es serut tersebut.
Sebenarnya untuk siapa es serut rasa blue hawaii milikku ini dibeli?
Menyapi Mikami-san yang terus membuka mulutnya yang imut sembari menunggu giliran disuapi tanpa jeda memang memiliki keasyikan tersendiri, jadi aku tidak keberatan-keberatan amat, sih... tapi rasanya tidak adil jika hanya dia sendiri yang merasa segar.
"Rei-kun tidak makan? Kalau tidak makan, minta 1 suap lagi, dong."
"Ayo, bilang 'Aaa'..."
Aku berpura-pura hendak menyuapinya, namun di detik terakhir aku membalikkan sendoknya dan mengarahkan es serut itu ke dalam mulutku sendiri. Ini adalah trik klasik di mana kita berpura-pura ingin menyuapi orang lain padahal sebenarnya untuk dimakan sendiri.
Melakukan hal ini padahal aku tahu kalau ini akan menjadi ciuman tidak langsung memang terasa agak memalukan. Namun, permen kapas yang tadi kami makan pun pada dasarnya sama saja, dan makanan lain yang kami bagi bersama juga termasuk ciuman tidak langsung.
Lagipula, kami juga sudah cukup sering melakukan ciuman yang langsung, jadi rasanya hal seperti ini sudah telat untuk dipermasalahkan sekarang.
Berusaha keras untuk tidak memedulikan hal semacam itu justru malah membuatku menjadi semakin memikirkannya, dan kurasa hal itu sudah tidak bisa dihindari lagi.
Sembari merasakan sensasi dingin, renyah, dan manis yang menyebar di dalam mulutku, entah mengapa aku merasa hawa panas di dalam tubuhku justru malah semakin terperangkap di dalam. Dan mengenai Mikami-san yang baru saja terkena penipuan suapan di detik-detik terakhir... seperti yang sudah diduga, dia langsung merengut kesal.
"Rei-kun? Perbuatan seperti itu tidak boleh, lho?"
"Biarin, dong. Ini kan dibeli karena aku memang ingin memakannya."
"Aku juga ingin makan!"
"Kamu kan sudah makan banyak?"
"Aku mau disuapi lagi~!"
"Nih."
"Aaa... Ah, jangan ditarik dong!"
Aku mengayun-ayunkan sendok di depan mulutnya, lalu dengan cepat menariknya menjauh begitu dia hendak menggigitnya. Dia pun ikut bergerak maju demi mengejar sendok itu.
Bagaimana ya... sosoknya terlihat seperti seekor kucing yang terpikat oleh camilan.
"Jangan jahil, dong."
"Iya, iya, maaf. Jangan marah."
"Syaaah!"
"Hei, jangan mengintimidasi begitu."
Waduh, jadi ini tampang intimidasi yang sempat dibicarakan tadi.
Memang benar sih... saking imutnya, ini sama sekali tidak kelihatan seperti sedang mengintimidasi orang.
"Nih, Hina. Lewat sini."
"Ah, ih... jangan membuatku penasaran begitu!"
Aku mengayunkan sendok es serut ke kanan dan ke kiri di depan wajahnya, dan gerakan kepala Mikami-san yang mengikuti sendok itu tampak bergetar kecil.
Apa dia ini seekor kucing yang sedang digoda dengan mainan bulu di depannya?
Pada akhirnya, dia menahan pergelangan tanganku dengan kedua tangannya, lalu melahap es serut itu dengan wajah bangga seolah ingin berkata, "Kena kau!".
"Enak... mau nambah."
"...ya ampun, makan saja semuanya."
Karena sisa es serutnya pasti akan dihabiskan oleh Mikami-san juga, aku pun berniat memberikan seluruh wadahnya. Namun, Mikami-san yang masih mengulum sendok di mulutnya menggelengkan kepala, menolak untuk menerima wadah tersebut.
Kemudian, sambil tetap membiarkan sendok itu berada di dalam mulutnya, dia memajukan wajahnya dan menggumamkan sesuatu yang samar.
Untuk saat ini, aku mencoba menarik sendok itu dengan pelan agar terlepas, tetapi perlawanannya ternyata cukup kuat.
Pistol mainanku sudah direbut, dan sekarang aku yang hanya memegang wadah berisi es serut ini harus bagaimana?
"Mikami-san?"
"Eum~"
"Ah, padahal aku sudah berniat untuk menyuapimu, tapi karena sendoknya tidak ada, jadi tidak bisa, deh. Apa boleh buat, sisa es serutnya langsung kuminum saja kalau begitu."
"Silakan, barang yang kamu cari ada di sini. Ayo suapi aku sepuasnya."
Begitu aku berbicara sambil sesekali melirik Mikami-san yang sengaja mengulum sendoknya dengan ekspresi penuh arti, dia langsung mengembalikan sendok itu. Dia benar-benar sangat jujur pada keinginannya sendiri, sampai-sampai terasa menyegarkan.
"Apa kamu tidak punya pilihan untuk makan sendiri?"
"Aku balik bertanya, menurutmu apa pilihan itu ada?"
"Tadinya aku berharap pilihan itu ada, sih."
"Kamu tidak paham ya, Rei-kun. Memang benar es serut ini lezat, tapi rasanya baru berubah menjadi sangat istimewa karena Rei-kun yang menyuapiku, tahu? Suapan dari Rei-kun itu wajib ada."
"...Oh, ya?"
"Iya! Jadi, cepat suapi aku lagi."
Ucap Mikami-san sambil menggoyangkan jarinya dengan wajah bangga.
Mendengarnya berbicara seolah hal itu adalah sebuah life hack yang berguna sehari-hari memang membuatku bingung... tapi karena dia imut, jadi tidak masalah.
"Nah, ayo bilang 'Aaa'."
"Ahm, berikutnya mari kita beli yang rasa stroberi."
"...Kalau makan terlalu banyak nanti perutmu bisa sakit, jadi beli setengah porsi saja, ya?"
"Aku tidak peduli."
"Hei, pedulikan hal itu, dong."
Lagipula, sejauh ini hampir seluruh es serut rasa blue hawaii milikku sudah dihabiskan olehnya. Sekalipun kami membeli satu porsi tambahan lagi, sebaiknya dia tidak menghabiskan semuanya sendirian. Kecuali jika Mikami-san sendiri memang benar-benar tidak peduli, aku tidak ingin acara utama yang sudah menanti di depan nanti sampai terganggu.
"Tanganmu berhenti, tuh. Ayo cepat, minta 1 suap lagi."
"Iya, iya, aku mengerti. Nih... sayang sekali, cuma tipuan."
"Ah, curang! Berpura-pura ingin menyuapi itu licik. Ayo suapi aku dengan benar!~"
Hawa panas di tubuhku sebenarnya sudah mulai mereda, dan kupikir sebaiknya kami menyudahi makanan dingin ini... namun tampaknya aku memang selalu lemah terhadap desakan sang Tuan Putri.
Tapi tidak apa-apalah... menyuapinya terasa menyenangkan, dan sesekali menarik sendoknya menjauh membuatku bisa melihat reaksinya yang imut, jadi aku tetap diuntungkan.
Memang benar ya jika ada yang mengatakan kalau waktu yang menyenangkan itu berlalu dengan cepat. Jika aku sendirian, aku pasti tidak akan menunjukkan minat sama sekali pada festival seperti ini. Namun, ternyata aku malah sangat menikmatinya.
Ada banyak hal yang membawa nostalgia di stan festival. Bahkan untuk hal-hal yang biasanya kuanggap sebagai tipuan anak-anak sekalipun, jika ada sang Tuan Putri di sampingku yang menikmatinya dengan seluruh tenaga, entah mengapa aku merasa seperti kembali menjadi anak kecil lagi.
Waktu yang menyenangkan itu berlalu dalam sekejap, dan sebentar lagi pesta kembang api akan segera dimulai. Orang-orang di sekitar pun perlahan-lahan mulai bergerak menuju tempat di mana kembang api bisa terlihat dengan jelas. Jika kami baru bergerak di detik-detik terakhir, kami bisa saja terseret oleh arus lautan manusia, jadi sebaiknya kami juga bergerak sedikit lebih awal.
Jujur saja, aku tidak akan menyangkal kalau sosok Mikami-san dalam balutan yukata adalah yang nomor 1, tetapi aku juga harus angkat topi pada Ibu yang sudah membelikan kursi berbayar ini meskipun dia menganggapnya sebagai "tambahan".
Justru karena aku telah menikmati festival ini, aku jadi menaruh harapan besar pada acara utama pesta kembang api nanti. Jika itu diriku yang dulu, aku pasti akan mencibir dan menganggap apa serunya melihat kembang api. Dari sudut pandang mana pun bentuknya akan sama saja, hanya barang silau dan berisik yang sama sekali tidak memiliki keindahan di dalamnya.
Mengingat hal itu... aku pun menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa dengan siapa kita melihat kembang api adalah hal yang paling penting.
"Hina, sebaiknya kita juga mulai bergerak menuju kursi kita sekarang."
"Eh, apa sudah waktunya?"
"Waktunya masih ada, sih, tapi orang-orang di sekitar sudah mulai bergerak. Kalau kita baru pergi di detik-detik terakhir, jalannya pasti akan macet, jadi bukankah lebih baik kalau kita pergi dengan santai dari sekarang?"
"...Benar juga, sih. Kalau sampai terseret arus manusia lalu terpisah, bisa gawat kalau Rei-kun sampai tersesat nanti."
"Kenapa pembicaraanmu didasarkan pada asumsi kalau aku yang akan tersesat...? Rasanya sangat disayangkan, lho?"
"Tenang saja. Aku pasti akan pergi ke pusat informasi dan meminta mereka untuk menyiarkan panggilan untukmu, kok."
"Jangan aneh-aneh. Menemukan lokasi kursi berbayar saja aku pasti tahu, kok."
Memang ada kemungkinan kami akan terseret arus manusia lalu terpisah, tetapi karena tujuan kami sama, aku ingin dia memeriksa area kursi berbayar terlebih dahulu.
Dipanggil lewat pengeras suara di pusat informasi karena tersesat itu memalukan sekali, rasanya bisa membuatku ingin langsung pulang saat itu juga. Aku sudah bukan di usia di mana harus dipanggil karena tersesat lagi, jadi tolong ampuni aku.
Padahal aku baru saja menginjak usia 16 tahun beberapa waktu lalu... Kalau anak umur 6 tahun sih masih mending... tapi ini "Kirishima Rei-kun, usia 16 tahun"? Sama sekali tidak lucu, tahu.
"Sekadar memastikan saja, apa ada masalah?"
"Masalah apa?"
"Misalnya lelah karena berjalan-jalan memakai geta yang tidak biasa kamu pakai, atau kakimu sakit, atau mungkin perutmu kembung karena kekenyangan makanan dingin. Kalau ada sesuatu yang terasa kurang nyaman, katakan saja dengan jujur dan jangan ditahan."
"Saat festival seperti ini, aku berada dalam 'mode kebal', jadi sama sekali tidak ada masalah."
"...Oh, begitu. Baguslah kalau begitu."
Jujur saja, itu adalah jawaban yang membuatku agak bingung harus merespons apa. Namun, karena dia adalah Mikami-san, pada akhirnya aku maklum dan menganggapnya wajar. Ini bukan dalam game, jadi aku tidak paham apa maksudnya "mode kebal" itu. Meski begitu, aku terkejut pada diriku sendiri yang merasa tidak aneh jika ada cheat mode yang hanya bisa diaktifkan oleh Mikami-san seorang.
Tapi ya sudahlah... yang terpenting dia tidak merasakan keluhan apa pun.
Aku mencoba memperhatikan Mikami-san dengan saksama, dan dia tidak tampak seperti orang yang kakinya sedang sakit. Tampaknya dia benar-benar sudah beradaptasi dengan baik dalam memakai geta. Istilah "mode kebal" itu ternyata sangat cocok untuk menggambarkan kondisinya sekarang.
"Kalau begitu, apa ada hal yang masih ingin kamu lakukan? Begitu pesta kembang api selesai, stan-stan festival pasti akan mulai berkemas dan tutup. Jadi kalau ada barang yang ingin dibeli atau sesuatu yang ingin dilakukan, mumpung masih ada sedikit waktu, rasanya masih sempat..."
"Hal yang ingin dilakukan... Ah."
"Ada sesuatu?"
"Ada hal yang lupa kutanyakan pada Rei-kun. Soal cerita bahwa perempuan tidak memakai pakaian dalam di balik yukata... apa Rei-kun tertarik?"
"Itu kan cerita zaman dulu, kan? Bukankah sekarang ini justru lebih umum untuk tetap memakainya?"
"Mau memastikannya?"
Sembari berkata demikian, Mikami-san sedikit melonggarkan dan memperlihatkan bagian kerah dadanya secara sekilas. Meskipun posisi kami sedang berada di bawah bayang-bayang tubuhku, tindakan itu benar-benar sangat berani. Dia seolah-olah sedang menggodaku untuk memastikan sendiri apakah dia benar-benar tidak memakainya atau tidak.
Seketika jantungku sempat berdegup kencang, tetapi aku tahu ini pasti jebakan. Lagipula, meskipun sekarang musim panas, udara di malam hari bisa menjadi sangat dingin, jadi aku lebih suka jika dia tetap memakainya. Aku akan repot kalau dia sampai masuk angin, jadi simpan saja kebiasaan melepas pakaian dengan sembarangan tanpa pertahanan seperti itu saat berada di dalam rumah.
"Yah, itu cuma bercanda, kok. Tenang saja, aku memakainya dengan benar."
"...Memang harus begitu, kalau tidak aku bisa repot."
"Eeh? Padahal wajahmu kelihatan tenang-tenang saja, tapi sebenarnya kamu sempat goyah sedikit, kan?"
Mikami-san menongolkan kepalanya sembari menatap wajahku, seolah ingin menikmati dan menggoda reaksi yang kuberikan.
...Jujur saja, aku memang sempat goyah sedikit, sih.
"Berkat yang tadi, hal yang ingin kulakukan sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi, mari kita berjalan ke sana sambil membeli makanan apa saja yang terlihat cocok. Di arah sana sepertinya ada twister potato, minuman tapioka, dan juga pasta goreng."
"Ingatanmu tajam juga, ya..."
"Stan festival seperti ini ada yang menjual jenis makanan yang sama di beberapa tempat berbeda, tapi ada juga stan yang hanya ada satu di seluruh area festival. Agar tidak sampai melewatkan stan yang hanya ada satu itu, aku mengingat letak dan jenis stannya secara garis besar."
Begitu rupanya.
Memang benar, untuk makanan populer seperti permen kapas, permen apel, es serut, dan yakisoba, aku melihat ada beberapa stan yang menjualnya. Namun, untuk makanan yang relatif tidak terlalu populer atau jenis stan yang unik, jumlah toko yang buka tidak akan sebanyak itu.
Karena aku adalah orang yang mendadak diajak pergi tanpa persiapan, aku tidak sempat melakukan riset atau persiapan apa pun sebelumnya. Beruntung, spesifikasi kemampuan bawaan Mikami-san yang terlalu tinggi bisa menutupi kekurangan itu dengan sangat baik. Dia benar-benar sangat membantu.
"Kalau begitu... ayo kita pergi."
"Ah, Rei-kun, berikan salah satu barang bawaanmu kepadaku."
"Tidak apa-apa, ini tidak seberapa berat, kok."
Bagaimanapun juga, barang bawaan kami terus bertambah meski kami hanya bermain-main seperti biasa. Terutama untuk stan permainan yang melibatkan hadiah, tidak perlu ditanya lagi karena Mikami-san telah menunjukkan kehebatannya yang luar biasa di sana.
Berkat akumulasi dari pencapaiannya yang gemilang itu, hadiah yang berhasil kami dapatkan tanpa sadar telah membuat kantong plastik berukuran besar menjadi sangat penuh. Ditambah lagi, kami juga membeli makanan sedikit demi sedikit untuk dibawa ke kursi berbayar nanti, sehingga kedua tanganku kini dalam keadaan benar-benar penuh.
Melihat kondisiku yang seperti itu, Mikami-san mengulurkan tangannya dan mencoba merebut barang bawaanku dengan paksa.
Perlawananku berakhir sia-sia dan barang itu pun berpindah tangan, membuat salah satu tanganku menjadi kosong... namun dalam sekejap, tangan yang kosong itu kembali terisi dan diselimuti oleh kehangatan.
"Dengan begini, kita bisa bergandengan tangan, kan? Daripada membuat kedua tanganmu penuh, lebih baik salah satu tangannya diisi dengan cara seperti ini."
"Benar juga. Kamu tidak salah."
"Jangan sampai tersesat, ya?"
"Tidak akan. Justru kamu sendiri tuh, jangan sampai malah kelayapan ke sana kemari karena tertarik dengan stan yang langka lalu menghilang entah ke mana, ya?"
"...Aku akan berusaha sebaik mungkin. Berusaha sebaik mungkin... ya."
"Hei."
Meskipun dia memberikan jawaban yang membuatku merasa cemas seperti itu, jari-jari dari tangan yang saling bertautan itu tanpa sadar telah terjalin dengan sangat erat.
Tentu saja aku juga tidak berniat untuk melepaskannya... jadi sepertinya kami tidak perlu khawatir akan terpisah lagi.
Begitu kami keluar dari jalur umum dan berjalan menuju area kursi berbayar, kepadatan arus lautan manusia di sekitar kami pun mulai terasa jauh berkurang.
Di area ini terdapat berbagai macam jenis kursi berbayar, mulai dari deretan kursi yang tertata rapi, dua buah kursi yang disediakan khusus untuk pasangan, hingga area tikar besar yang digunakan untuk rombongan atau kelompok.
Di antara semua itu, pilihan yang diambil oleh Ibu adalah... yah, aku sudah bisa menebaknya, yaitu jenis area tikar yang disediakan khusus untuk kapasitas sedikit orang. Benar-benar tidak ada yang bisa mengalahkan kecerdasan Ibu dalam hal ini.
"Kita bisa menikmati stan festival tanpa perlu mencemaskan soal tempat duduk, Ibu benar-benar sangat luar biasa, ya."
"Benar sekali. Berkat hadiah ulang tahun yang sudah disiapkan oleh Mirei-san, aku juga bisa merasa sangat senang hari ini."
"Tapi acara utamanya baru akan dimulai sekarang, kan?"
"...Kembang apinya sebentar lagi akan dimulai, ya."
Kami mengambil posisi duduk di atas tikar dan mengembuskan napas lega. Tikar ini memiliki ukuran yang cukup luas untuk ditempati dengan santai, jadi kemungkinan besar tikar ini memang dirancang untuk kapasitas dua hingga 4 orang.
Karena tentu saja kami hanya berdua, mari kita gunakan tempat ini dengan lapang dan mewah. Kalau suasananya seperti ini, sepertinya kami bahkan bisa sambil berbaring saat melihat kembang api nanti.
"Lagipula... hebat juga, ya. Ternyata stan festival bisa menghasilkan hadiah sebanyak ini."
"Fufun, kamu boleh mendesakku dengan lebih banyak pujian, lho? Bakal lebih bagus lagi kalau kamu menunjukkannya lewat tindakan, bukan cuma lewat kata-kata."
"Iya, iya, aku mengerti. Jangan menggosok-gosokkan kepalamu seperti itu, dong. Telinga dari topeng rubahmu menusukku."
"...Aku tidak peduli. Eh, nggak deng, aku mau dipedulikan."
Justru karena merasakan sendiri betapa luasnya tikar ini, aku jadi bisa memahami betapa luar biasanya jumlah hadiah yang didapatkan oleh Mikami-san yang memenuhi area tersebut. Biasanya, hal-hal seperti ini terasa jauh lebih sulit dari perkiraan, dan aku punya citraan kalau orang-orang harus mencobanya berkali-kali sampai bisa mendapatkannya... tetapi tampaknya akal sehatku itu sama sekali tidak berlaku bagi gadis ini.
Saat aku sedang mengagumi hal tersebut, Hina-chan malah menggosok-gosokkan kepalanya manja demi menuntut penghargaan atas kerja kerasnya. Aroma manis yang menggelitik ujung hidungku tercium bersamaan dengan bagian agak runcing dari telinga topeng rubah yang menusuk dadaku. Karena kami akan segera melihat kembang api dan sepertinya topeng ini sudah tidak diperlukan lagi, aku melepaskan topeng tersebut untuk menatap wajah aslinya.
Begitu aku mengelus kepalanya dengan lembut, dia malah semakin bersandar dan merebahkan tubuhnya ke arahku seolah sedang mendorongkan kepalanya ke tanganku, membuatku hampir saja jengkang ke belakang akibat dorongannya.
"Hei, jangan terburu-buru begitu, tanganku tidak akan lari, kok."
"Nggak, pasti lari. Ini adalah tangan nakal yang kalau tidak dipegang dengan benar bakal langsung membuat pemiliknya tersesat."
"Kamu ini ya... tapi, ya sudahlah."
"Sudah pasrah, ya? Bagus kalau begitu."
Kehangatan dari tubuh Mikami-san yang mengamankan tanganku dan mendekap seluruh lenganku terasa tersalurkan secara langsung. Kalau dilihat-lihat lagi... sosoknya dalam balutan yukata ini benar-benar sangat imut dan sanggup membuat jantungku berdegup kencang.
Saat aku sedang lengah seperti itu... tiba-tiba saja dia membenamkan wajahnya di leherku, dan aku merasakan sensasi seperti sedang diisap.
"Anu... Mikami-san? Apa yang sebenarnya sedang kamu lakukan?"
"Sedang mengisap."
Di tengah posisi tubuh dan berbagai hal lain yang terasa kurang bersahabat, dia terus mengisap leherku dalam waktu yang cukup lama. Padahal di sekeliling kami sebenarnya ada orang yang lalu-lalang dan kami tidak sedang benar-benar berdua saja... tetapi Mikami-san yang sudah menjadi seperti ini tampaknya tidak akan bisa dihentikan.
"...Puhah."
"Sudah puas?"
"Aku minta porsi tambahan."
"Tidak boleh."
"Refleks Rei-kun yang kelihatan sangat menikmatinya itu yang salah, tahu? Kalau kamu berpikir bahwa makhluk yang suka menyengat dan mengisap di musim panas itu cuma nyamuk, kamu salah besar."
"...Ngomong-ngomong, tadi aku sempat dititipi Ibu untuk membeli semprotan obat nyamuk, sih. Mau pakai?"
"Tolong segera semprotkan sekarang juga agar serangga-serangga nakal tidak mendekati Rei-kun."
"Serangga" yang dimaksud itu... apa serangga dalam arti yang sebenarnya? Ataukah serangga jenis lain yang membutuhkan taktik intimidasi kebanggaannya?
Namun, meski ini sudah telat, sebaiknya aku memastikannya lebih awal tadi. Tampaknya aku sendiri pun sudah terlanjur merasa terlalu senang.
Yah, melihat pacar seimut ini mengenakan yukata di depan mata, rasanya mustahil untuk tidak menjadi kegirangan...
"Rei-kun, ada apa? Kenapa menatapku lekat-lekat begitu? Apa ada sesuatu yang menempel?"
"Tidak, aku cuma berpikir apa kamu tidak digigit serangga. Sejauh yang kulihat tidak ada bekasnya, dan kulitmu tetap kelihatan mulus seperti biasanya. Syukurlah."
"Aku tidak ingat pernah digigit, dan rasanya juga tidak gatal, sih. Tapi, kalau Rei-kun bersikeras, bagian sekitar perutku rasanya agak sedikit gatal, jadi tidak apa-apa kalau kamu mau membukanya untuk memastikan sendiri, lho?"
"...Nggak bakal kulakukan, tahu! Bagaimanapun juga ini masih di luar ruangan."
"Sayang sekali. Kalau kamu berubah pikiran, beri tahu aku kapan saja, ya."
Karena urusan serangga nakal tadi, tanpa sadar aku malah mencemaskan hal yang rasanya agak berlebihan, tetapi karena dia bisa bercanda seringan ini, tampaknya memang tidak ada masalah apa pun. Bisa gawat urusannya kalau sampai ada hama entah dari mana yang menggigit dan mengisap darah dari kulit putih mulus milik Mikami-san.
"Kalau disengat oleh Rei-kun, aku tidak keberatan, lho?"
"...Itu tawaran yang sangat menarik, tapi aku menolaknya. Bagaimanapun juga di sini ada pandangan orang lain, jadi tolong tahan dirimu sedikit."
"Aku tidak peduli... tadinya aku ingin berkata begitu, tapi apa boleh buat. Artinya, tidak apa-apa kan kalau aku melancarkannya di saat tidak ada seorang pun yang melihat?"
"Nggak... bukankah itu bakal sulit?"
"Tidak juga, kok. Kesempatan emas pasti akan segera datang dalam waktu dekat. Prediksiku selalu sempurna."
"Semoga saja begitu, ya."
Entah dari mana datangnya rasa percaya diri itu masih menjadi misteri, tetapi aku sudah tahu betul kalau Mikami-san selalu luar biasa di saat-saat seperti ini. Dia pasti sedang mengincar waktu yang sama sekali tidak bisa kuprediksi.
Bukannya bermaksud waspada, tetapi sembari memikirkan kapan Mikami-san akan melancarkan aksinya, kami saling bersentuhan sewajarnya, bertukar kata, dan mencicipi makanan yang kami beli di stan festival hingga waktu untuk acara utama pun akhirnya tiba.
"Oh, akhirnya mulai juga, ya."
Waktu pesta kembang api yang sudah dinanti-nanti akhirnya tiba.
Sembari merasa sedikit bersemangat, aku mengalihkan pandangan mataku ke arah langit malam yang bertaburan bintang. Suara desingan yang sudah tidak asing lagi terdengar, membuat harapan semakin membubung tinggi. Dan kemudian, suara dentuman menggelegar, dan sekuntum bunga besar mekar mewarnai langit malam...
Tepat pada saat itulah terjadi.
"Ada celah!"
Bisikan Mikami-san terdengar samar, meskipun sempat tersamarkan oleh suara gemuruh kembang api. Dan──sembari tubuhku didorong hingga telentang di bawah dekapannya, bibirku telah ditutup rapat oleh bibir Mikami-san. Bunga yang merekah di langit runtuh dan melebur ke dalam keheningan malam.
Namun itu hanya sesaat, karena kembang api berikutnya segera melesat naik dan mekar dengan megahnya. Kembang api yang begitu indah itu sekarang hanya bisa terlihat sekitar setengahnya saja karena terhalang oleh bayangan tubuh yang mendekapku. Namun... khusus untuk momen ini, aku tidak memiliki kemewahan untuk mengalihkan pandangan pada hal seperti kembang api, karena fokusku benar-benar telah terpaku sepenuhnya pada Mikami-san.
Celah sepersekian detik saat aku mendongak melihat kembang api berhasil dimanfaatkan olehnya untuk mendorongku jatuh, dan napasku seketika direngut oleh sebuah kecupan yang teramat sangat lama. Tanpa sadar aku telah mendekapnya seolah sedang memeluknya erat, dan tubuh Mikami-san yang tampak menggeliat pasrah bergetar di atasku.
Meski begitu, aku bisa merasakan sebuah tekad yang kuat dari bibirnya yang sama sekali tidak mau terpisah.
Apakah karena aku juga sudah lama mendambakan Mikami-san, kendaliku menjadi goyah? Pikiranku tidak bisa berputar jernih, dan aku hanya bisa pasrah membiarkan diri terbawa oleh sensasi melayang yang kurasakan.
Setelah sekian lama saling mendamba hingga napas kami berdua mencapai batasnya, kami menjauhkan wajah masing-masing sembari masih terlarut dalam sisa-sisa kemesraan.
Tepat pada saat itu, sekuntum kembang api berukuran besar melesat naik dan mekar dengan sangat indahnya. Mikami-san yang tersenyum bangga dengan latar belakang kembang api itu... kelihatan jauh lebih indah, sampai-sampai aku benar-benar terpesona olehnya.
"...Nih, lihat, tidak ada yang melihat kita, kan?"
"Benar juga. Aku benar-benar kagum, tidak kusangka kamu sampai memanfaatkan kembang api sebagai pengalih perhatian."
"Fufun, kamu boleh memujiku dengan lebih banyak lagi, lho?"
Cara menikmati festival bagi setiap orang memang berbeda-beda, tetapi orang-orang yang mengamankan kursi berbayar seperti ini kemungkinan besar karena mereka ingin melihat kembang api dengan tenang.
Artinya, begitu kembang api melesat naik, secara otomatis pandangan mata semua orang akan langsung tertuju ke atas. Terlebih untuk dentuman yang pertama, sudah menjadi hal yang wajar jika orang-orang tidak ingin melewatkannya.
Namun, justru hal itulah yang menjadi incaran Mikami-san. Sebuah serangan kejutan yang sangat sempurna; dia menanti-nanti momen di saat semua orang mendongak ke atas, membiarkan harapan orang-orang membubung tinggi seiring suara desingan sesaat sebelum kembang api meledak, lalu memanfaatkan celah sepersekian detik ketika aku sedang menatap langit malam.
"Lalu... sampai kapan kamu mau terus berposisi seperti ini? Kalau kamu terus mendekap di atasku seperti ini, aku tidak bisa melihat kembang apinya, tahu."
"Aku tidak peduli."
"Benar-benar tidak apa-apa? Kalau begitu, bagaimana kalau kamu tetap kutangkap seperti ini, dan hanya aku sendiri saja yang menikmati kembang apinya?"
Karena posisiku sedang didorong hingga telentang di atas tikar, aku bisa mendongak melihat ke arah langit. Di sisi lain, Mikami-san yang sedang mendekap di atasku memunggungi langit malam.
Jika aku memeluknya erat-erat dan mengunci posisi tubuh Mikami-san seperti ini, maka situasi di mana hanya aku seorang yang bisa menikmati kembang api akan tercipta.
Hmm, melihat kembang api sembari diselimuti oleh aroma manis dan kehangatan samar dari tubuhnya seperti ini ternyata terasa sangat istimewa juga.
"Oh, kembang api yang baru saja mekar itu besar dan indah sekali, ya. Padahal aku ingin memperlihatkannya pada Hina juga~"
"Muuu, Rei-kun curang karena cuma melihat kembang apinya sendirian."
"Tapi, tadi kamu bilang tidak peduli dengan kembang apinya, kan?"
"Eum~ jangan jahil, dong."
"Iya, iya, aku mengerti, jadi jangan memberontak begitu."
Begitu aku bergumam dengan nada menyindir sembari memeluk Mikami-san, mengelus kepalanya, dan membiarkan wajahnya terbenam di dadaku, dia akhirnya mulai menggeliat di dalam pelukanku. Tampaknya waktu di mana dia bisa berkata "tidak peduli" sudah berakhir.
Setelah kulepaskan, Mikami-san ikut merebahkan diri di sampingku dan langsung memeluk lenganku.
"...Indah sekali, ya."
"Benar."
"...Di bagian ini, biasanya ini adalah giliranmu untuk mengucapkan kalimat klasik seperti 'Kamu jauh lebih indah' dengan wajah keren yang sok jagoan."
"Nggak bakal kuucapkan, tahu."
Itu memang kalimat yang klasik sih. Tapi kalimat seperti itu baru terasa pas jika terucap secara alami, bukan karena diminta atau dipaksa untuk mengucapkannya.
Lagipula, apa-apaan itu "wajah keren yang sok jagoan"? Membayangkannya saja sudah membuat rasa malu menjalar di dalam diriku.
"Kamu benar-benar tidak mau mengucapkannya?"
"...Untuk hal yang sudah sewajarnya seperti itu, rasanya tidak perlu sampai harus diucapkan satu per satu, kan?"
"Begitu, ya. Kalau begitu apa boleh buat."
Kembang api dan Mikami-san. Sama sekali tidak ada gunanya untuk membandingkan mana yang lebih indah di antara keduanya. Karena bagiku, siapa yang nomor satu sudah lama diputuskan di dalam hatiku. Tapi tetap saja, setelah mengatakannya aku jadi merasa agak malu sendiri.
Namun, karena aku sempat melihat ekspresi Mikami-san yang tampak terkejut sesaat sebelum dia mengalihkan kembali pandangan matanya ke arah langit dengan wajah yang memerah malu, kurasa posisi kami sekarang sudah seri.
Tanpa memedulikan rasa malu yang sedang kami rasakan masing-masing, kembang api terus melesat naik silih berganti mewarnai langit malam. Cahaya warna-warni meledak dengan megah, lalu perlahan-lahan menghilang dalam keheningan.
Saat aku sedang terhanyut menatapnya dalam diam, hembusan napas Mikami-san mendadak terasa menyentuh telingaku.
"Rei-kun."
"Ada apa?"
"Aku merasa sangat bahagia."
"Aku juga. Terima kasih untuk hari ini, ya."
Pagi hari tadi aku sempat merasa agak cemas karena tidak melihat keberadaan Mikami-san, ditambah lagi aku harus menjalankan misi misterius yang diberikan oleh Ibu yang telah menculik Mikami-san sehingga membuatku kerepotan. Namun, bahkan setelah dikurangi oleh semua kerepotan itu, kebahagiaan yang kuterima saat ini masih jauh lebih dari cukup.
Ini adalah hadiah ulang tahun terbaik: kencan festival musim panas dan pesta kembang api bersama kekasihku.
"Aku juga bisa mendapatkan pengalaman berharga berupa kencan dengan mengenakan yukata. Padahal ini adalah hadiah ulang tahun untuk Rei-kun, tapi rasanya malah aku saja yang terus-menerus menerima hadiah."
"Kalau bisa diterima, terima saja semuanya. Kalau Hina merasa senang, aku juga akan merasa senang, dan kalau kamu bahagia, aku juga akan merasa bahagia."
"Rei-kun sendiri benar-benar merasa senang, kan?"
"Tentu saja."
Secara garis besar ini memang ditujukan sebagai hadiah ulang tahun dari Ibu untukku, tetapi bukan berarti hanya aku sendiri saja yang boleh menikmatinya. Aku juga ingin agar Mikami-san bisa menikmatinya dengan sepuas hati, dan jika Mikami-san merasa senang, maka aku pun akan ikut merasa senang. Ini adalah sebuah efek sinergi yang sangat luar biasa.
Berkat hal itu, hari ini benar-benar menjadi sebuah kenangan yang tidak akan pernah bisa kulupakan. Waktu setengah hari saat aku terpisah dengan Mikami-san juga menjadi waktu yang baik untuk menyadarkanku kembali tentang seberapa besar rasa cintaku kepadanya. Di tengah kondisi ekstrem akibat sindrom kerinduan terhadap Mikami-san, melihat sosoknya dalam balutan yukata secara langsung di depan mata benar-benar membuat emosiku rasanya hampir meledak.
Berkeliling di stan festival, melihat aksi Mikami-san yang mendominasi permainan, dan kemudian──melihat kembang api bersama-sama sembari berdampingan.
Semuanya benar-benar yang terbaik.
Aku bahkan sampai terus-menerus merasa kegirangan hingga memikirkan hal yang tidak mirip dengan diriku, seperti berharap agar waktu yang membahagiakan ini bisa terus berlanjut selamanya.
Justru karena aku merasa ini sangat menyenangkan, aku jadi merasa kesepian saat menyadari bahwa ini semua akan segera berakhir. Oleh karena itu, setiap detik dari momen ini terasa begitu berharga dan teramat kucintai.
"...Benar-benar indah, ya."
"Apakah aku?"
"Iya. Kamu yang paling indah."
"Aku menang dari kembang api. Karena aku merasa senang, aku mau cium."
"Sekarang?"
"Sekarang. Karena tadi kamu baru saja bilang kalau bisa diterima, terima saja semuanya."
Bagaimana ya... kalau yang ini.
Tampaknya dia merasa cemburu karena aku terlalu sering memuji kembang api itu indah. Padahal yang nomor satu bagiku adalah Mikami-san... dia benar-benar sangat imut.
"Karena aku masih ingin melihat kembang apinya sedikit lagi, jadi cuma 1 kali saja, ya?"
"Begitu rupanya... berarti ciuman ini bakal pakai paket 5 jam, ya?"
"Pesta kembang apinya keburu selesai, lagipula aku bisa mati lemas karena kehabisan napas, tahu?"
"...Aku tidak peduli."
Itu sebenarnya tidak peduli yang mana? Pesta kembang apinya, atau nyawaku...?
Selagi aku membatin seperti itu, sebuah tangan terulur dan memalingkan wajahku ke samping. Di arah tujuannya, bibir Mikami-san rupanya sudah berada dalam posisi siaga, dan aku kembali bisa merasakan kebahagiaan itu.
Menghabiskan waktu yang dilewati dengan ciuman, dan sesekali diselingi kembang api. Jika lengah, kembang apinya bisa-bisa terlupakan entah ke mana dan aku mungkin akan terlalu larut hingga hanya fokus berciuman... tapi kalaupun begitu, terjadilah.
Sembari berpikir bahwa hal seperti itu pun boleh-boleh saja, 5 panca indra yang kukerahkan saat ini terasa bekerja dengan sangat sibuk melebihi yang sudah-sudah. Kembang api yang terakhir memekarkan sekuntum bunga yang teramat besar, lalu perlahan melebur dan menghilang.
Waktu di mana berbagai macam suara berdentum tanpa henti kini telah menyuarakan tanda berakhirnya, meninggalkan langit malam yang kembali diselimuti keheningan. Ada banyak hal yang terlintas di benakku... namun aku merasa tersentuh.
Aku, yang dulunya tidak terlalu menyukai festival seperti ini, ternyata bisa menikmati stan-stan yang ada. Aku, yang dulunya mencibir kembang api dan menganggapnya tidak lebih dari sekadar reaksi nyala api yang bising dan menyilaukan, ternyata bisa menikmati kembang api, bahkan merasakan kesepian saat momen itu berakhir.
Ini semua benar-benar berkat Mikami-san.
Aku kembali menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa justru karena aku bersamanya, aku bisa menikmatinya sampai sebegininya.
Sambil tetap mendongak menatap langit malam yang tidak lagi memekarkan kembang api, aku menggerakkan lenganku sedikit, dan kehangatan langsung terasa di ujung jariku.
Itu adalah tangan Mikami-san yang sedang berbaring telentang di sampingku. Berada dalam jarak di mana kami bisa saling bersentuhan hanya dengan sedikit gerakan, melewatkan waktu dalam diam sembari terhanyut dalam sisa-sisa kemesraan seperti ini ternyata terasa nyaman juga.
Saat aku sedang menatap bintang-bintang di kejauhan, ujung jari yang tadinya bersentuhan mulai merayap naik ke tanganku, lalu menangkupnya dengan pas. Tanpa bertukar sepatah kata pun, dia meremas dan menepuk-nepuk tanganku dengan pelan. Rasanya benar-benar berlalu dalam sekejap semenjak aku dituntun oleh tangan kecil ini untuk kelayapan ke sana kemari.
"Tangan Rei-kun besar, hangat, dan membuatku merasa tenang, jadi aku suka."
"Aku juga suka tangan Hina yang kecil, imut, dan selalu bisa menuntunku pergi ke mana saja ini."
Saat aku membalas genggamannya, tangan Mikami-san langsung terbenam sepenuhnya di dalam tanganku.
Memang benar, ini membuatku merasa tenang. Karena waktu di mana aku bisa bersamanya dan saling bersentuhan setiap hari sudah menjadi seperti hal yang sewajarnya, aku sempat merasa cemas saat waktu bersentuhan itu tidak ada. Namun, berkat hal itu, rasanya kebahagiaan yang kurasakan saat menyadari bahwa aku bisa melakukan hal ini sekarang justru menjadi semakin besar.
Setelah melewatkan beberapa waktu dengan hanya merasakan kebahagiaan dari bintang-bintang di langit malam dan suara embusan napas satu sama lain, gerakan tangannya yang tadinya meremas dan memainkan jemariku perlahan-lahan menjadi tenang.
"Hina...? Kamu tidur, ya...?"
Begitu aku memalingkan wajah ke samping, tampak wajah Mikami-san yang sedang mendengkur halus dengan ekspresi yang kelihatan sangat nyaman.
Mungkin salah satu penyebabnya karena dia sudah diculik oleh Ibu sejak pagi-pagi sekali, ditambah lagi dia juga bergerak dengan sangat ceria sampai sebelum pesta kembang api dimulai, jadi wajar saja kalau dia merasa lelah. Namun, terlepas dari itu semua, aku akan repot kalau dia sampai tertidur di tempat seperti ini.
Meskipun sekarang musim panas, udara setelah matahari terbenam akan terasa agak dingin. Aku tidak tahu pasti apa yang dikenakan oleh Mikami-san di balik yukatanya, tetapi tergantung pada situasinya, ada kemungkinan dia bisa saja masuk angin.
"Hina, apa kamu masih bisa bertahan sampai kita pulang ke rumah?"
"Suuu... suuu..."
"Tampaknya mustahil, ya. Nah, sekarang harus bagaimana, nih...?"
Bagaimana cara membawa pulang Tuan Putri Hina yang telah berpetualang ke dunia mimpi ini...?
Memang tidak bisa disangkal bahwa sosok Mikami-san dalam balutan yukata menjadi terlihat lebih berkilau karena ini adalah sebuah kejutan. Namun jika sudah jadi begini, di dalam hati aku agak berharap agar diberi tahu lebih awal sebelumnya.
Aku baru menyadari kalau kami akan pergi ke festival adalah saat berada di dalam kereta. Karena aku adalah orang yang menuju ke tempat yang ditentukan oleh Ibu tanpa tahu ke mana akan dibawa pergi, pikiranku tidak sempat berputar sampai ke urusan jalan pulang nanti.
Bagaimana cara Mikami-san bisa sampai ke tempat ini? Karena dia pergi bersama Ibu, kemungkinan besar dia diantar jemput menggunakan mobil.
Melakukan perjalanan dengan kereta sambil menggendong Mikami-san yang tertidur... bukannya tidak mungkin sih, tetapi mengingat keretanya pasti akan cukup padat, pilihan itu rasanya kurang ideal. Apalagi barang bawaan kami juga banyak berkat ulah seseorang yang terlalu bersemangat memborong semua hadiah.
Meski begitu, menunggu terlalu lama di sini juga bukan pilihan yang realistis. Untuk saat ini, mari coba telepon Ibu saja dahulu. Siapa tahu dia mau datang menjemput.
"Halo, Ibu?"
"Ara~ ada apa? Mau menyampaikan kesan-kesan soal hadiah ulang tahunmu?"
"Nggak... maksudku, hadiahnya memang yang terbaik, sih."
“Tentu saja~ Habisnya Hina-chan imut sekali, dan yukata itu juga sangat cocok dan kelihatan luar biasa dipakainya. Kalau saja ini bukan hadiah ulang tahun untuk Rei, aku pasti sudah ikut berkeliling bersama kalian~”
"...Apa itu potret pemandangan neraka?"
Kencan pesta kembang api bersama Ibu itu adalah sejenis siksaan, tahu.
Jika hal seperti itu sampai terjadi, ini tidak akan terasa seperti sebuah hadiah ulang tahun lagi. Di dalam hati aku benar-benar merasa sangat bersyukur karena dia memilih untuk pergi dan meninggalkan Mikami-san bersamaku.
"Bagaimana dengan Hina-chan? Apa dia bisa menikmatinya tanpa terluka?"
"Kalau soal itu tidak ada masalah."
"Baguslah kalau begitu. Lalu, Hina-channya mana?"
"Dia kelelahan dan ketiduran. Ini kan karena dia sudah diajak kelayapan oleh Ibu sejak pagi. Makanya aku bingung bagaimana cara pulangnya. Ibu, bisa datang menjemput kami tidak?"
"Ara, maaf ya. Ibu terlanjur minum-minum sedikit nih, sambil menjadikan sosok Mikami-san yang memakai yukata sebagai teman minum."
Minum-minum sedikit... berarti dia sudah minum minuman beralkohol, dong.
Tadinya aku ingin memprotes apa-apaan yang dia jadikan sebagai teman minum itu, tetapi karena ada juga orang yang menikmati minuman beralkohol sambil memandangi hal-hal yang indah seperti saat tradisi melihat bunga sakura (hanami), jika dipikir-pikir hal itu bisa dimaklumi juga.
Terlepas dari hal itu, karena aku tidak boleh membiarkannya menyetir di bawah pengaruh alkohol, maka rencana untuk meminta Ibu datang menjemput otomatis hangus.
"Rei kan juga anak laki-laki, masa menggendong pacar sendiri saja tidak bisa? Tapi, jangan memanfaatkan situasinya yang sedang tertidur dengan menggendongnya di belakang lalu menikmati bagian dada, pantat, atau semacamnya, ya."
"Uhuk... geho. Hei, apa Ibu sedang mabuk?"
"Ibu tidak mabuk, kok~"
Mungkin maksudnya ingin mengingatkan, tetapi menyebutkan bagian tubuh secara spesifik seperti itu malah membuatnya terdengar terlalu vulgar.
Bisa-bisanya dia membicarakan hal seperti itu kepada anak kandung sendiri, dia benar-benar sudah sangat mabuk. Kalau begini, Ibu sepertinya sama sekali tidak bisa diandalkan.
"Ah, atau bagaimana kalau kalian menginap di hotel saja?"
"Bodoh ya. Kami ini masih di bawah umur, tahu?"
"Ara~ Ibu kan cuma bilang menginap di hotel saja~ Rei ternyata berpikiran mesum, ya. Tapi, karena kamu anak laki-laki, wajar saja sih~"
"...Menyebalkan."
"Lagipula kalian kan tinggal bersama, jadi tidak masalah kan kalau tidur 1 ranjang?"
"Masalahnya bukan di situ, kan."
“Ah, jangan lupa melepas yukatanya dengan benar agar tidak kusut, ya~”
"Ibu dengar tidak, sih?"
"Dengar, kok, dengar. Tapi, karena masih di bawah umur, jangan terlalu berapi-api dan lakukan sewajarnya saja, ya. Ibu memercayaimu, lho~"
"Berisik. Cepat minum air sana lalu tidur. Sudah dulu, ya."
Cara bicaranya yang menyebalkan itu benar-benar mirip om-om paruh baya, mungkin karena efek mabuknya yang parah. Diajak bicara pun rasanya tidak menyambung.
Untuk saat ini, tampaknya dia tidak akan bisa datang menjemput, dan terus melanjutkan telepon pun hanya akan membuatku menjadi bahan ledekan Ibu yang sedang mabuk, jadi aku langsung memutus sambungannya.
"Sial... harusnya aku tidak usah berharap pada Ibu..."
Tidak disangka akan jadi begini... padahal tadi aku baru saja bersyukur atas hadiah yang bagus ini, tetapi entah mengapa rasa terima kasihku mendadak terkikis secara perlahan.
Sialan... jangan mengatakan hal-hal yang memicu pikiran yang tidak-tidak, dong... Apa yang sebenarnya dia harapkan dari anak kelas 1 SMA? Tolong tahu diri sedikit, kenapa.
Sembari merutuk di dalam hati seperti itu, aku mengalihkan pandangan mataku ke arah Mikami-san.
Padahal kami sedang berada di luar ruangan, tetapi dia tertidur dengan wajah yang kelihatan sangat tenang tanpa beban. Wajah tidurnya yang imut itu sebenarnya seperti biasa, tetapi entah karena perkataan aneh dari Ibu tadi, sosoknya kini malah kelihatan sangat seksi di mataku dan aku tidak bisa menghindarinya.
Sial... padahal aku tidak bermaksud seperti itu, tetapi aku malah telanjur melihatnya dengan pandangan yang aneh.
Aku membencimu, Ibu...
"...Mari kita berjuang."
Untuk mencegat taksi pun aku harus bergerak dari tempat ini terlebih dahulu. Kalau menggendong di belakang... rasanya sulit, ya. Lain cerita kalau dia baru tidur setelah digendong, tetapi menggendong orang yang posisinya sudah tertidur dari awal itu tidak mudah. Lagipula, tidak mungkin juga aku membawanya di atas pundak seperti sedang memanggul sekarung beras, jadi lewat metode eliminasi, menggendongnya dengan gaya ala tuan putri adalah pilihan yang paling stabil. Cara itu juga memudahkanku untuk membawa barang bawaan selain menggendong Mikami-san.
Aku merapikan barang-barang kami, lalu mengangkat tubuh Mikami-san. Seketika itu juga, lengannya langsung melingkari leherku dengan begitu cepat sampai-sampai aku curiga jangan-jangan dia sebenarnya sedang terjaga.
Jujur saja, ini sangat membantu. Tapi──
(Rasanya mendebarkan sekali.)
Bukannya ini pertama kalinya tubuh kami saling bersentuhan, dan rasanya sudah telat untuk memikirkan hal semacam ini setelah kami sering berpelukan dan berciuman. Namun, mungkin karena saat ini pikiranku sedang terpicu ke arah yang aneh, aku menjadi sangat gugup dan merasa tidak keruan.
Kelembutan dan aroma wangi yang tersalurkan saat mendekap tubuhnya benar-benar sangat tidak baik bagi kesehatanku.
Tapi, mungkin masih mendingan karena posisinya bukan digendong di belakang. Kalau digendong di belakang, aku pasti akan menjadi semakin terpikirkan oleh ucapan Ibu yang sedang mabuk tadi.
(Aduh, panasnya...)
Gara-gara hal itu, jantungku kini berdegup dengan sangat kencang. Wajahku terasa panas, dan tenggorokanku pun rasanya kering kerontang──mari kita anggap saja kalau ini semua adalah kesalahan musim panas.
Kami akhirnya berhasil mencegat taksi dan memintanya untuk mengantar kami menuju apartemen tempat kami tinggal.
Tadinya aku sempat khawatir apakah bisa mendapatkan taksi atau tidak, tetapi tampaknya armada taksi sudah bersiap-siap untuk mengantisipasi acara festival seperti ini, sehingga aku bisa mencegatnya dengan lebih mudah dari perkiraan.
Yah, saat jumlah pengguna jasa diperkirakan akan melonjak, itu memang menjadi masa panen bagi mereka. Karena kami masih di bawah umur, kami hanya menikmati festival dan kembang api secara wajar, tetapi orang-orang dewasa pasti ada yang minum minuman beralkohol juga. Mengingat akan ada orang-orang yang berakhir mabuk berat seperti seseorang yang kukenal, taksi jelas menjadi ladang bisnis yang menguntungkan.
Jujur saja, pulang ke rumah menggunakan taksi akan memberikan dampak yang cukup besar bagi dompetku, tetapi hal itu masih bisa diatasi dengan menggunakan sisa uang jajan tambahan yang diberikan oleh Ibu. Jangan-jangan, dia sengaja memberiku uang lebih karena sudah memperkirakan situasi akan menjadi seperti ini...?
Meski tubuhnya berguncang di dalam taksi, kondisi Mikami-san masih tetap sama seperti sebelumnya. Dia merebahkan kepalanya di pundakku dengan ekspresi yang kelihatan sangat nyaman.
(Imutnya...)
Kontak fisik yang seperti ini sebenarnya adalah hal yang biasa bagi kami. Padahal saling bersentuhan sudah mulai menjadi hal yang sewajarnya, tetapi gara-gara racauan orang mabuk tadi, pikiranku jadi terus-menerus terpicu.
Beban yang bersandar di pundakku terasa nyaman, namun di saat yang sama juga benar-benar membuatku gugup.
Yah, meskipun aku sudah mulai terbiasa sampai pada batas tertentu, bagaimanapun juga Mikami-san adalah seorang gadis yang luar biasa cantik. Rasanya tidak mungkin bagiku untuk bisa terbiasa sepenuhnya, dan dia pasti akan terus mengguncang hatiku tanpa ragu seperti ini di masa-depan nanti.
Aku jadi khawatir sampai kapan jantungku ini akan sanggup bertahan.
"Eung... uh?"
"Oh, kamu sudah bangun?"
"...Di mana ini?"
"Di dalam taksi."
"Tujuannya ke mana? Apa ke love hotel?"
"Mana mungkin, bodoh."
Bisa-bisanya pertanyaan pertama yang keluar dari mulut orang yang baru bangun tidur adalah hal semacam itu... jangan-jangan dia juga sedang mabuk?
Apa minuman amazake yang kami minum di stan festival tadi bisa membuat mabuk? Reaksinya benar-benar persis sama seperti Ibu yang sedang mabuk, tahu.
"Pak Sopir, maaf, tolong ubah tujuannya, ya."
"Hei, jangan! Pak, mohon maaf, jangan dihiraukan karena dia cuma bercanda saja."
"Kita tidak jadi ke sana?"
"...Nggak bakal."
Dia benar-benar tidak boleh lengah sedikit pun.
Bukannya aku tidak mau pergi ke sana, tetapi karena kami masih di bawah umur, kami tidak akan diizinkan masuk, tahu.
Tolong ampuni aku, hal seperti itu hanya akan membuat tarif taksinya semakin membengkak saja...
"......Boleh saja, lho, kalau kamu mau 'membawaku pulang'?"
Tangan Mikami-san bersandar di paha asalku, lalu dia membisikkan hal itu tepat di samping telingaku. Suara yang manis disertai hembusan napasnya terasa menggelitik.
Arti kata "membawa pulang" dalam pikiran Mikami-san mungkin berbeda, tetapi saat ini aku memang sedang berusaha membawanya pulang ke rumah, jadi kalau dia bisa menerima penjelasan itu......tampaknya tidak mungkin, sih.
"Rei-kun, aku mau istirahat."
"Nanti setelah sampai di rumah, kita istirahat sepuasnya, ya."
"......Pelit."
Dia terus-menerus merajuk seperti itu selama beberapa saat, tetapi aku tidak punya pilihan selain menolaknya dengan halus.
Jantungku berdegup semakin kencang saat dia terus merangsek mendekat, sambil meminta waktu istirahat yang maknanya jelas bukan arti kata yang sebenarnya. Bahkan keadaan menjadi semakin parah ketika dia akhirnya menempelkan seluruh tubuhnya rapat-rapat ke tubuhku, lalu berusaha mengecup leherku.
Bisa-bisa leherku kena 'gigitan serangga' lagi, jadi aku harus menjauhkan dan memberi hukuman kepada serangga nakal ini. Lagipula, tolong ingat kalau saat ini kami sedang berada di dalam taksi. Kami tidak sedang berduaan saja, karena ada Pak Sopir di depan. Rasanya benar-benar canggung, tahu.
Saat aku mencoba mengatasinya sewajar mungkin, aku bisa melihat pantulan pipi Mikami-san yang mengerucut lewat kaca jendela. Dia memukul-mukul tubuhku dengan pelan sambil merajuk, tetapi sama sekali tidak terasa sakit. Ini murni candaan biasa di antara kami. Atau mungkin, ini adalah caranya menunjukkan kalau dia ingin lebih diperhatikan lagi.
"Anu...... Hina-san?"
"Jangan pedulikan aku."
"Meskipun kamu bilang begitu......bisa tidak kamu menahannya dulu sampai kita tiba di rumah?"
"Apa aku boleh menjawab antara 'tidak' atau 'no'?"
"......Tolong jawab dengan 'ya' atau 'yes' saja."
"Jangan pakai kosakata yang sulit, dong. Aku tidak paham maksudnya."
"Begitu ya......ternyata sulit, toh......"
Bisa-bisanya dia sama sekali tidak segan melakukan kontak fisik di tempat yang ada orang asingnya seperti ini, aku benar-benar harus angkat topi.
Tapi, tolong pedulikan posisiku sedikit saja. Kalau dia terus mendesakku ke sisi samping seperti ini, tubuhku lama-lama bisa terjepit di antara Mikami-san dan pintu taksi.
Terhimpit di antara sesuatu yang empuk dan sesuatu yang keras, sisi yang satu memang terasa surga, tetapi sisi yang satunya lagi mulai terasa agak menyiksa.
Di saat aku sedang berusaha bertahan dari jepitan yang menyiksa baik secara fisik maupun mental itu, perlahan-lahan tekanan dari Mikami-san mulai melemah.
Ketika aku meliriknya dengan sudut mataku, kepalanya tampak mulai terkantuk-kantuk ke sana kemari. Dia pasti memang sudah sangat lelah. Sudah sewajarnya dia beristirahat dengan tenang tanpa memaksakan diri. Maksudku......bukan istirahat yang aneh-aneh, melainkan tidur dengan normal.
Dia menggumamkan sesuatu dengan artikulasi yang tidak jelas akibat rasa kantuk......lalu kepalanya langsung rebah ke arahku seolah-olah kehabisan baterai. Kepalanya mendarat dengan pelan di atas pahaku, lalu dia kembali tertidur dengan lelap sambil menggenggam jemari tanganku dengan erat.
Saat aku mencoba menggerakkan tanganku yang menempel pada pipinya yang kenyal, tubuhnya agak mengkerut seolah merasa sedikit geli, dan segel pada tanganku pun menjadi semakin kokoh tak tergoyahkan.
Kalau cuma sekadar bergandengan tangan atau mengelus kepala seperti ini, aku rela melakukannya sebanyak apa pun yang kamu mau, jadi tidurlah dengan tenang.
Sungguh, aku sangat memohon dengan sangat. Kalau bisa, tidurlah yang nyenyak sampai kita tiba di rumah nanti.
"......Isti......rahat."
"Nggak bakal."
Bisa-bisanya aku malah tidak sengaja merespons mengigau yang seperti itu, dan seketika itu juga pipi Mikami-san langsung mengerucut lagi. Tampaknya dia sedang merajuk karena merasa ditolak di dalam mimpinya.
Ketika aku menekan pipinya yang menggembung itu, terdengar suara embusan napas kecil yang imut.
Saat aku menempelkan jariku di bibirnya yang sensual, jari itu langsung dikulum ke dalam mulutnya dan diisap perlahan. Tampaknya hal itu berhasil menyenangkan hatinya dan meredakan kekesalannya, karena ekspresi wajahnya yang semula sibuk kini berubah menjadi sangat damai.
......Sosoknya benar-benar mengingatkanku pada seorang bayi yang langsung berhenti menangis setelah diberi empeng. Ini benar-benar kelewat imut.
(Tetaplah jadi anak yang baik seperti itu, ya.)
Karena dia sudah telanjur tertidur dengan lelap, aku sangat berharap dia bisa terus beristirahat dengan tenang seperti ini. Sebab, repot juga urusannya kalau dia mendadak terbangun lalu mulai menangis dan rewel seperti anak kecil lagi nanti.
Demi mencegah hal itu terjadi, merelakan satu atau dua jariku menjadi keriput karena dikulum pun masih masuk dalam batas toleransi. Tapi......kombinasi antara isapan jari dan gigitan kecil yang lembut ini entah bagaimana......rasanya benar-benar tidak baik untuk banyak hal.




Post a Comment