NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Isekai Rakuraku Mujinto Life Volume 4 Chapter 3

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 3

Hari Kesebelas

"Cupp... cupp... nnh..."


Saat membuka mata, entah kenapa bagian bawah perutku terasa hangat.


Dengan kepala yang masih linglung karena baru bangun, aku menoleh ke samping, tetapi Roa yang seharusnya tidur bersamaku semalam sudah tidak ada.


Lalu saat menurunkan pandangan, kulihat ada sesuatu yang menonjol besar di sekitar selangkanganku. Bahkan jika itu hanya ereksi pagi, rasanya tidak mungkin bisa sebesar ini.


Aku pun buru-buru menyingkap selimut.


"...Cupp... lerop... Hehe, selamat pagi, Tuan."


Ternyata, Roa sedang meringkuk di antara kedua lututku.


Setelah memberi salam pagi, ia kembali melanjutkan apa yang tadi sedang dilakukannya. Yaitu melayaniku dengan mulutnya.


"Mm... cupp... slurp... slurp... Sejak pagi sudah begitu gagah rupanya."


Sesekali berganti mengecup ujung maupun batangnya dengan lembut, Roa berkata dengan nada yang dipenuhi rasa nikmat.


Benar seperti yang ia katakan, sejak baru bangun tubuhku sudah sangat bersemangat. Dan begitu aku menyadarinya, kenikmatan itu langsung memuncak dengan cepat.


Karena kami seharusnya bangun hampir bersamaan, berarti begitu membuka mata, dia langsung bertindak.


Benar-benar luar biasa—cepat bangun, cekatan, dan tanpa ragu.


Aku duduk sambil memandangi kepala Roa yang bergerak naik turun.


Ia terus melayaniku dengan sungguh-sungguh agar aku merasa senikmat mungkin.


"Roa... sebentar lagi..."


"Slurp... si... silakan... tetap seperti ini..."


Tak lama kemudian kenikmatanku mencapai puncak. Sambil menggenggam erat seprai, aku mengikuti ucapannya dan memuncak di dalam mulut Roa.


Cairan putih keluar deras sejak pagi, membuat seluruh tubuhku bergetar karena sensasinya yang begitu kuat.


"Mm...!"


Roa menerima semuanya tanpa menyisakan sedikit pun. Setelah itu ia perlahan mengangkat wajah sambil menutup mulutnya, lalu membukanya ke arahku seolah memperlihatkan bahwa semuanya telah ia tampung.


Setelah memastikan aku melihatnya, ia menutup mulut kembali dan menelannya hingga habis.


"Glek... Terima kasih atas kerja kerasnya. Bagaimana rasanya?"


Setelah dilayani, malah aku yang mendapat ucapan penyemangat darinya. Rasanya agak aneh.


"A-ah... ya. Rasanya enak..."


Tanpa sadar pandanganku tertuju pada dada Roa.


Semalam kami melakukannya berkali-kali, dan beberapa kali ia bahkan berganti pakaian.


Kalau tidak salah, terakhir kali ia mengenakan seragam maid. Menyesuaikan seleraku, bagian dadanya dibiarkan terbuka saat kami ngentod... dan ternyata sekarang pun ia masih membiarkan dadanya terbuka seperti saat itu.


Melihat sepasang dadanya yang putih dan kenyal, tubuhku tanpa sadar kembali bereaksi.


"Oh? Bahkan tanpa sihir 'Penguatan Vitalitas', Tuan tetap memiliki stamina yang luar biasa. Kalau begitu... bagaimana jika berikutnya saya melayani menggunakan dada saya?"


Roa dengan sengaja mengangkat kedua dadanya, membuatnya bergoyang lembut.


"...Tolong."


Saat aku mengangguk, ia pun tersenyum dengan wajah yang tampak sangat bahagia.


"Dengan senang hati."



"Ya, bersalah."


Itu adalah pembicaraan setelah sarapan.


Sebagai catatan, menu sarapan pagi ini adalah ikan bakar, sup miso, nasi putih, dan acar sayuran.


Dengan adanya ikan, variasi hidangan utama pun bertambah, dan Shion tampak sangat senang.


Namun, itu bukan pokok pembicaraannya.


Roa sedang duduk bersimpuh di ruang tamu dengan sebuah papan tergantung di lehernya.


Di papan itu tertulis: "Saya telah mendahului Ojou-sama dan melakukan posisi wanita di atas."


Chiyu berdiri menatapnya dari atas. Ekspresinya tetap datar, tetapi jelas terlihat sedang tidak senang.


"Maafkan saya, Chiyu Ojou-sama. Karena hanya ingin membuat Tuan bahagia, saya sampai lupa akan perjanjian kita."


"...Ah."


Baru teringat, pikirku. 


Rupanya para gadis memang pernah membuat sebuah kesepakatan.


Sebagai syarat Chiyu menerima hubungan harem ini, semua pengalaman pertama Sousuke dengannya harus menjadi milik Chiyu.


Hubungan dari depan maupun dari belakang memang sudah pernah kami lakukan. Namun, posisi Chiyu berada di atas memang belum pernah.


Kalau dipikir-pikir, berarti semalam Roa memang telah melanggar aturan itu.


Chiyu berdiri di depan Roa sambil menyilangkan tangan, sementara para kekasih yang lain mengelilinginya.


Tiga gadis lainnya tampaknya tidak benar-benar marah. Mereka lebih seperti menunggu keputusan Chiyu.


Kalau Chiyu terlalu mudah memaafkan kali ini, mungkin gadis-gadis lain nanti juga akan berpikir, "Kalau begitu aku juga boleh mendahului."


Dengan kata lain, Chiyu sedang berusaha keras menjaga ketertiban dalam... harem ini—atau lebih tepatnya, dalam kelompok mereka.


"Sebagai hukuman, selama tiga hari kau dilarang bermesraan dengan Sousuke di luar giliran jaga malam."


"T-tidak mungkin... hukuman seberat itu..."


Untuk pertama kalinya, Roa benar-benar tampak panik.


Di pulau tak berpenghuni ini, setiap hari terasa sangat padat. Padahal sudah begitu banyak kejadian yang terjadi, tetapi baru sepuluh hari berlalu.


Hari ini adalah hari kesebelas, jadi jika dilarang hari ini, besok, dan lusa, berarti Roa baru bisa bermesraan denganku lagi pada siang hari di hari keempat belas.


"Chiyu... kurasa tiga hari terlalu lama."


"Iya. Lagi pula, Sousuke yang mesum pasti juga nggak bakal tahan."


"Kali ini kan pelanggaran pertama. Bukankah masih ada alasan untuk meringankan hukumannya?"


Shion, Shouko, dan Minori bergantian membela Roa.


Entah kenapa rasanya mereka bukan sekadar membela Roa, tetapi juga mengkhawatirkan kemungkinan suatu hari nanti menerima hukuman yang sama.


...Ah, mungkin cuma perasaanku saja. Lebih baik aku percaya pada persahabatan mereka.


"Benar juga. Aku terlalu memikirkan Roa sampai lupa mempertimbangkan nafsu Sousuke."


Hei, jangan bilang "nafsu", dong. Orang-orang yang bukan bagian dari kelompok kekasih jadi canggung, tahu.


Hanya Urume yang tertawa riang sambil berkata, "Ahaha."


Sedangkan Luminous-sensei berpura-pura tidak mendengar, meski telinganya sudah memerah.


"Kalau begitu begini saja. Larangan tiga hari tetap berlaku. Tapi yang dilarang hanyalah... jika hanya berdua saja."


"......!"


Ucapan Chiyu membuat semua orang terdiam. 


Artinya, selama tiga hari ke depan, Roa masih boleh melakukan hal-hal mesra denganku... asalkan bersama orang lain.


Setelah tadi membela Roa, tiga gadis itu tentu sulit menolak syarat tersebut.


"Tentu saja, aku tidak ikut."


Karena masih kesal atas pelanggaran perjanjian itu, Chiyu langsung menyatakan pendiriannya.


"Shion-sama, Shouko-sama, Minori-sama. Mohon bantuannya."


Roa membungkuk dengan sopan.


"E-eh..."


"Itu..."


"Bagaimana ya..."


Mungkin mereka membayangkan situasi melakukannya bersama-sama denganku, karena wajah ketiganya langsung memerah.


Chiyu kemudian menoleh kepadaku sambil mengacungkan jempol.


Walaupun wajahnya tetap tanpa ekspresi, seolah-olah ia berkata dengan bangga bahwa hukuman untuk Roa sekaligus menjadi kesempatan mengarahkan mereka ke permainan berkelompok.


"Kalau urusannya sudah selesai, bagaimana kalau kita bahas rencana hari ini?"


Yang membuka pembicaraan pada saat yang tepat adalah Yumekai.


"B-benarkah. Ya, ayo."


Aku langsung menyambut usul itu.


"J-jadi...! Hari ini kita akan mencari tujuh siswa laki-laki yang tersisa dan melanjutkan negosiasi dengan mereka, bukan?"


Luminous-sensei berkata dengan nada sedikit lebih tinggi dari biasanya. Kelihatan sekali beliau sedang berusaha mengubah suasana.


"Benar. Pulau ini sangat luas, jadi kalau biasanya pasti sulit... tapi kita punya Fenrir, Mashiro."


Aku mengangguk menanggapi perkataan beliau.


"Tapi Fenrir juga nggak bisa melewati tebing besar, kan? Jadi tetap harus memutar."


Lagi-lagi Yumekai yang mengutarakan pendapatnya.


Memang benar, sebelumnya pernah terjadi situasi seperti itu. Saat itu Yumekai belum bergabung, jadi mungkin ia mendengarnya dari yang lain.


"Benar."


"Terus aku kepikiran. Kalau ada dua Naga Hitam, bukankah mereka bisa mengangkat Fenrir?"


Semua orang langsung memandang Shouko.


"Eh? Hmm... aku harus tanya Micron dulu sih. Tapi kalau memang ada dua Micron, rasanya mengangkat Mashiro bukan hal yang mustahil."


Kalau urusan tali pengangkut dan semacamnya, aku bisa membuatnya sendiri. Jadi dua naga mengangkat Fenrir memang terdengar memungkinkan.


"Kalau begitu..."


"Nah. Entah Shouko memanggil satu Naga Hitam lagi, atau Miyao berubah. Dengan begitu waktu pencarian bisa jauh lebih singkat."


Indra penciuman Mashiro tetap menjadi kunci pencarian. Idenya adalah menyiapkan cara untuk melewati rintangan apabila jalur yang ditempuh terhalang.


"Eh, aku...!?"


Ternyata Yumekai belum membicarakan hal itu sebelumnya, sehingga Miyao tampak terkejut.


"Miyao, apa kau sanggup?"


Saat kutanya, Miyao mengangkat bahunya seperti seekor kucing lalu mengangguk pelan.


"I-iya. Serahkan padaku..."


"Terima kasih. Tapi kalau begitu, berarti kedua makhluk kita sama-sama ikut bertugas ya. Pembagian kekuatan untuk yang tinggal di markas jadi..."


"Kalau Miya ikut, berarti kita punya tiga makhluk fantasi. Kenapa tidak semuanya ikut saja? Lagi pula rumah dan barang-barang bisa disimpan oleh Kuno, jadi tidak akan jadi masalah."


"Begitu ya..."


Mungkin memang lebih baik begitu daripada memecah kelompok.


Aku sebagai pemimpin sekaligus pengurus logistik, Shouko sebagai penjinak monster, Chiyu sebagai penyembuh, Luminous-sensei sebagai negosiator, Shion yang bisa mengenali kebohongan, Minori sebagai penyihir untuk menghadapi monster, dan Miyao yang bisa berubah menjadi naga.


Jumlah orang yang dibutuhkan memang sudah banyak sejak awal. Kalau begitu sekalian saja semua ikut.


"Saya tidak keberatan."


"Aku juga! Kalau riasanku luntur karena keringat, tinggal bilang saja. Aku bisa memperbaikinya dalam sekejap!"


"Tentu saja aku juga tidak masalah."


Karena Roa, Urume, dan Yumekai—yang tadinya kemungkinan akan tinggal menjaga markas—semuanya setuju, akhirnya diputuskan bahwa seluruh anggota akan ikut.


"Baik. Kalau begitu kita berangkat bersama-sama. Setelah urusan ini selesai... kita pergi berenang di laut."



Kami memutuskan untuk menjalin hubungan dengan seluruh orang yang dipindahkan ke pulau ini melalui bentuk kerja sama atau transaksi.


Yang belum menjalin hubungan dengan kami kini tinggal tujuh siswa laki-laki.


Karena hari ini seluruh anggota kelompok akan pergi bersama, sebelum berangkat kami terlebih dahulu menyimpan markas ke dalam penyimpanan.


Kalau sampai keluar dari jangkauan kemampuan "Membentangkan Penghalang" milik Yumekai, ada kemungkinan markas kami diduduki orang lain.


Meski begitu, orang-orang di sekitar sini semuanya sudah menjadi rekan dagang kami, jadi rasanya tak ada yang akan nekat menyerbu markas sambil mengorbankan hubungan baik dengan kami. Selain itu, ada juga kemungkinan markas dihancurkan monster.


Saat ini di pulau ini terdapat Arvank, berang-berang buas, dan Treant, monster pohon.


Tetap saja, meninggalkan markas beserta semua perbekalan terasa mengkhawatirkan.


"Jadi kita bagi kelompoknya gimana?" kata Shouko.


Yang ia maksud tentu Mashiro sang Fenrir dan Micron sang Naga Hitam. Siapa yang akan menaiki yang mana.


"Umm... apa sebaiknya aku berubah wujud sejak awal?" tanya Miyao dengan suara pelan.


Dengan Kemampuan Transformasi, ia juga bisa berubah menjadi makhluk suci.


"Ya. Sebaiknya berubah sekarang sekalian latihan."


"Semakin tinggi tingkat kemahirannya, semakin banyak hal yang bisa dilakukan. Kalau Miyao tidak keberatan, aku juga menyarankan begitu."


Mendengar pendapat Chiyu dan Minori, Miyao mengangguk.


"B-baik."


"Kalau memang berat, jangan dipaksakan ya."


Aku sengaja tersenyum agar ia tahu bahwa menolak pun tidak masalah. Saling membantu itu berarti karena kemauan sendiri. Kalau terasa seperti paksaan, maknanya jadi hilang.


"Nggak kok, aku baik-baik saja. Aku juga harus latihan terbang."


Miyao mengepalkan kedua tangannya untuk menyemangati diri. Detik berikutnya, tubuhnya berubah menjadi naga merah berbulu lembut.


"!"


Saat itu juga Micron melilit tubuhku seolah sedang berjaga-jaga.


Kalau saat Miyao berubah menjadi Fenrir Mashiro menunjukkan rasa penasaran, rupanya kalau Micron reaksinya seperti ini.


"Hahaha, mungkin dia takut Sousuke direbut."


Shouko tertawa lepas. Tingkah Micron terasa begitu menggemaskan hingga aku mengelus bulunya.


"Terus, siapa yang mau naik Miya?"


"Urume, cara ngomongmu."


Yumekai langsung menegur ucapan Urume.


"Maaf-maaf. Tapi harus bilang apa?"


"Misalnya 'minta diantar' atau 'naik di punggungnya'. Banyak pilihan, kan?"


"Serina kelihatannya jutek, tapi soal beginian ternyata serius juga ya. Aku jadi makin suka."


Urume mengacungkan ibu jari dan telunjuk ke arah Yumekai.


"Maaf ya, tapi buatku kamu sebatas cuma teman."


Urume memasang senyum keren, tetapi Yumekai langsung mematahkannya dengan wajah datar.


"Aduh, ditolak..."


Urume menjatuhkan bahunya secara dramatis hingga semua orang tertawa kecil.


Setelah berdiskusi, akhirnya pembagian tunggangannya menjadi seperti ini.


Mashiro: Shouko, Minori, dan Roa.


Micron: Aku, Luminous-sensei, dan Chiyu.


Naga Merah Miyao: Urume, Shion, dan Yumekai.



Agar Miyao tidak terlalu gugup, yang menaiki punggungnya adalah teman-teman sekolah yang sudah akrab dengannya.


Aku dan Shouko ditetapkan sejak awal, sedangkan sisanya ditentukan dengan suit.


"Kalau begitu... berangkat!"


Atas aba-aba Shouko, perjalanan kami pun dimulai.



Setelah beberapa lama menempuh perjalanan...


"Ngomong-ngomong, kalau dipikir-pikir Shouko itu yang paling curang, ya?" kata Urume dari atas punggung Naga Merah Miyao.


"Eh? Kok tiba-tiba begitu?"


Shouko memiringkan kepala.


"Soalnya gini. Di game biasanya semua orang mulai jalan kaki, kan? Kalaupun ada kuda, naga itu biasanya baru jadi teman di akhir permainan."


"Serius? Di manga yang direkomendasikan Sousuke sih, naga langsung jadi teman sejak awal."


"Nah... kalau komik isekai sama RPG itu beda lagi."


"Ooh, begitu ya?"


Salah satu daya tarik cerita isekai memang karena makhluk yang seharusnya sangat sulit dijadikan teman justru bisa direkrut dengan mudah.


Sedangkan dalam game, enaknya kita menikmati pemandangan dan kota saat masih berjalan kaki di awal permainan, lalu setelah terbiasa barulah memakai kendaraan cepat agar bisa fokus pada hal-hal lain.


"Mungkin justru karena kita tidak punya prasangka seperti itu. Soalnya kemampuan yang diberikan di pulau ini jelas dipengaruhi oleh sifat masing-masing." kata Yumekai.


Sambil berbicara, ia sibuk memotret menggunakan tablet.


Foto-foto itu nantinya akan dipakai untuk membuat peta. Kelihatannya ia mulai memikirkan cara berkontribusi bagi kelompok secara alami.


Memang tidak harus selalu akrab seperti keluarga, tetapi melihatnya mulai membuka hati tetap membuatku senang.


"Kalau melihat luas pulau ini, menurutku kemampuan bergerak secepat ini memang termasuk yang terbaik."


"Wah, serius? Hebat banget Mashiro, Micron... dan Miya!"


Mendadak dipuji, Naga Merah Miyao terkejut hingga tubuhnya berguncang. Ketiga orang di atas punggungnya buru-buru berpegangan erat.


"Miya!"


Serina mengeluarkan suara melengking yang tidak biasa.


"Tunggu, tunggu! Miya!"


"Haha, Miya-chan kaget karena tiba-tiba dipuji."


Urume panik, sedangkan Shion hanya tersenyum kecut. Yumekai tetap memasang wajah tanpa ekspresi. Namun aku sempat mendengar pekikan kecilnya dan melihat sesuatu yang lucu.


Karena hampir menjatuhkan tabletnya, Yumekai buru-buru mengibaskan kedua tangannya untuk menangkapnya kembali.


Lucu sekali. Tapi kalau kukatakan begitu padanya, mungkin ia malah akan kesal, jadi kusimpan saja dalam hati.


"Meski begitu, menurutku kemampuan Sousuke tetap yang paling hebat."


Setelah memastikan ketiga orang itu baik-baik saja, Shouko kembali berbicara.


"Ya. Kemampuan itu paling cocok untuk bertahan hidup dan berkembang. Untung sekali pemiliknya Sousuke."


Chiyu langsung memujiku.


"Benar! Kalau yang dapat kemampuan itu cowok jahat, pasti sudah jadi raja kejam."


Mungkin Shouko sebenarnya ingin mengatakan tiran.


"Hehe, benar juga. Syukurlah Sousuke-kun orangnya baik."


Shion mengangguk sambil tersenyum.


"Menurut Sensei juga, Kuno-kun adalah orang yang sangat hebat."


Luminous-sensei tampak bangga. Ekspresinya seperti guru yang melihat muridnya memperoleh nilai ujian yang sangat baik.


"Andai semua orang seperti itu."


Minori yang sudah melihat sisi buruk beberapa siswa laki-laki di pulau ini berkata dengan wajah agak muram.


Dua siswa yang pernah merepotkannya memang sudah menyesal dan menerima hukuman. Namun apa yang mereka lakukan tetap tidak bisa dihapus.


"Beruntung sekali saya ditemukan oleh Tuan."


Hari ketika Mashiro menemukan Roa yang pingsan di tepi jalan kini terasa seperti kenangan lama.


Gadis yang bercita-cita menjadi seorang maid itu akhirnya mewujudkan impiannya di pulau tak berpenghuni dunia lain ini. Dan orang yang ia pilih sebagai majikannya adalah aku.


Sekarang sikapnya sebagai seorang maid sudah terasa begitu alami hingga tak lagi terasa aneh.


"Kalau harus memilih raja pulau ini, menurutku kandidat nomor satunya ya Kuno."


Jarang sekali Yumekai mengatakan hal seperti itu.


"Ah, jangan begitu..."


Aku hanya bisa tersenyum kecut, tetapi tidak ada seorang pun yang membantah.


Roa memang sejak dulu mendukung agar aku memimpin pulau ini, dan yang lain pun tampaknya tidak keberatan bila aku menjadi pemimpin.


Aku bersyukur atas kepercayaan mereka, meski sebenarnya aku tidak terlalu tertarik menjadi raja ataupun penguasa pulau.


"Tapi jarang-jarang lho Serina ngomong begitu. Jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta sama Kuno?"


Entah kenapa, suasana di antara para gadis langsung menegang.


"Aku paling nggak suka kalau semua hal selalu dikaitkan dengan urusan cinta."


Yumekai melirik tajam ke arah Urume.


"Maaf, maaf. Kalau begitu, anggap saja kamu mulai menganggap dia teman baik?"


"Nggak juga. Aku cuma bilang begitu karena dia sudah membangun harem seperti seorang raja."


Urume langsung tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha, iya juga! Orang yang paling sering melakukan hal mesra di pulau ini jelas Kuno, kan! Raja Harem!"


Mendengar ucapan itu, keempat kekasihku selain Chiyu langsung tersipu malu.


Chiyu justru terlihat sangat tenang. Sebagai teman masa kecilku, mentalnya benar-benar terlalu kuat.


Sedangkan aku sendiri sangat canggung. Namun karena tidak bisa menyangkalnya, aku hanya bisa diam.


"Bukan cuma yang paling banyak, tapi satu-satunya." gumam Yumekai.


Keberadaan semua siswi yang dipindahkan ke pulau ini kini sudah diketahui.


Para siswi semuanya bergabung dengan kelompokku atau dengan kelompok seorang gadis bernama Suou Ryouka.


Tidak ada satu pun yang bergabung dengan kelompok siswa laki-laki lain, jadi mungkin ucapan Yumekai memang benar.


Kalau dipikir-pikir lagi, situasi ini memang luar biasa.


"Aku penasaran, kapan ya giliranku disentuh Sousuke?"


Urume berkata begitu sambil melemparkan senyum jahil kepadaku. Meskipun tahu dia hanya menggodaku, sebagai laki-laki tetap saja jantungku berdebar.


"A-astaga, Shoubu-san! Memang benar Kuno-kun adalah orang yang terhormat, tapi tolong pilih waktu dan tempat kalau ingin membicarakan hal-hal seperti itu!"


Luminous-sensei berseru. Karena beliau duduk tepat di belakangku, aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi pasti wajahnya sedang memerah.


"Oh, sepertinya Mashiro sudah menemukan orang pertama."


Berkat Mashiro, percakapan canggung itu pun akhirnya terhenti.


Sekarang kami harus fokus mengajak tujuh siswa laki-laki yang tersisa untuk bekerja sama.


"Ngomong-ngomong, tujuh orang yang tersisa itu milih apa saja sih?" tanya Shouko saat kami mengikuti arah bau yang dilacak Mashiro.


"Kalau berdasarkan ucapan mereka di mimpi pertama, yang sudah diketahui adalah 'pesawat terbang', 'kemampuan teleportasi', 'pistol', 'smartphone', 'cola', dan 'keripik kentang'. Masih ada satu orang lagi yang pilihannya belum jelas."


Sebagai catatan, siswa laki-laki yang sudah menjalin kerja sama dengan kami memilih 'pemantik api', 'korek api', 'pisau', 'garpu', 'panci', 'baju renang', 'golok', 'tombak ikan', dan 'pisau survival'.


Kami sudah melihat semuanya secara langsung, dan kemampuan Shion juga telah memastikan bahwa mereka berkata jujur.


Sekali lagi aku bersyukur telah memilih Kemampuan Crafting.


"Wah... aku nggak mungkin bisa mengingat sebanyak itu." kata Urume dengan nada kagum.


"Itu bukan cuma hasil usahaku sendiri. Aku mendengarkan informasi dari semua orang lalu mencocokkannya."


Lagi pula, itu hanyalah apa yang mereka ucapkan, belum tentu benar-benar barang yang mereka bawa.


Shion sudah membuktikan bahwa pemilihan barang bisa dilakukan hanya dengan membayangkannya dalam hati.


Jadi, untuk tujuh orang yang akan kami temui nanti, belum bisa dipastikan apa yang benar-benar mereka bawa.


...Tidak, ada satu yang bisa dipastikan.


"Pistolnya sudah disita saat event pertama, jadi Tsutsui-kun seharusnya sudah tidak memilikinya lagi."


Minori menambahkan.


Nama siswa yang membawa pistol itu adalah Tsutsui Kenji.


"...Aku ingat sekarang! Di event kedua dia sempat berteriak yang jahat banget ke Sousuke, kan!?"


Shouko menggembungkan pipinya. Kalau tidak salah, dia memang menyuruhku mati atau semacamnya.


"...Sejujurnya aku tidak ingin menolongnya."


Meskipun wajah Chiyu tetap tanpa ekspresi, ia tampak sedang kesal.


"Yah, bagaimanapun juga dia merasa kemampuannya direbut. Wajar kalau dia membenciku."


Saat event pertama aku memang menyembunyikan diri.


Namun kalau bersama Mashiro, tentu mudah ditebak bahwa aku berasal dari kelompok yang sama.


Aku tidak tahu apa maksud sebenarnya, tetapi mungkin memang dia menyerang setelah sadar bahwa itu aku. Secara pribadi, aku tidak terlalu memikirkannya. 


Bagaimanapun juga, saat itu tubuh asli kami tidak benar-benar terluka. Dalam situasi seperti itu, mencoba mengalahkan musuh adalah hal yang wajar.


Lagi pula dia sendiri kemudian dihantam Micron hingga terbang jauh ke langit. Pasti sangat menakutkan.


"Kamu memang baik hati seperti biasa, Kuno." gumam Yumekai.


Nada suaranya terdengar pasrah, tetapi entah kenapa juga terasa lembut.


"Oh, kita sudah hampir sampai."


Ketiga makhluk suci itu mulai memperlambat kecepatan.


"Chiyu, tolong gunakan Penenang. Sensei, mohon negosiasinya. Shion, beri tahu kalau ada yang berbohong. Serina, kalau terjadi sesuatu segera pasang penghalang."


Semua mengangguk.


"Baik. Saatnya bernegosiasi."



Dari tujuh orang itu, empat orang berhasil menjadi rekan kerja sama tanpa masalah.


Keempatnya hidup dalam kondisi yang bahkan terasa menyedihkan, sehingga kami kembali menyadari betapa beruntungnya keadaan kami sendiri.


Ternyata cukup banyak siswa yang membentuk kelompok berisi dua atau tiga orang. Alasannya karena mereka bekerja sama saat event pertama.


Sebaliknya, ada juga kelompok yang meskipun sudah terbentuk, mereka tetap beraktivitas sendiri-sendiri.


Katanya mereka hanya sepakat bekerja sama ketika event berlangsung. Kini tinggal tiga orang lagi.


Yang pertama adalah Tobita Shou, pemilik pilihan pesawat terbang.


Ia adalah seorang siswa bertubuh tinggi dengan rambut panjang. Markasnya adalah sebuah pesawat jet yang diparkir di tanah lapang.


Sebagai sesama laki-laki, aku sedikit bersemangat melihatnya. Namun entah sebenarnya dirancang untuk mengangkut berapa orang, ukurannya benar-benar seperti pesawat penumpang.


Berbeda dengan siswa laki-laki lainnya, Tobita cukup rasional dan mendengarkan penjelasan Luminous-sensei dengan serius.


"Hmm... aku mengerti penjelasannya. Kalau begitu, boleh aku mengajukan satu permintaan? Bisakah aku juga tinggal di markas kalian—"


"Tidak bisa."


Chiyu langsung memotong tanpa ampun.


"B-begitu ya... Kalau begitu, apakah ada gadis yang ingin ikut denganku?"


Tak seorang pun mengangkat tangan.


"Ugh..."


Tobita berlutut di tanah sambil menundukkan kepala.


"Aku kalah telak, Kuno-kun."


"Y-ya..."


Kalau semua anggota kelompok tidak setuju, kami memang tidak bisa menerima anggota baru.


Ini bukan hanya soal kemampuan atau barang bawaan. Kemauan serta kecocokan satu sama lain juga penting.


"Eh, ngomong-ngomong, kamu memang bisa menerbangkan pesawat itu?"


Urume melemparkan pertanyaan kepada Tobita. Aku juga penasaran dengan hal itu.


"Hmm... tidak bisa."


Sambil menyibakkan rambutnya, Tobita menjawab dengan wajah penuh gaya.


Kalau tidak salah, saat di mimpi dulu dia berkata akan menerbangkan pesawat itu untuk pulang.


Karena kemampuan itu tidak tercermin di sini, berarti dia hanya membayangkan memiliki pesawat, bukan kemampuan untuk mengendalikannya dengan bebas.


"Di dalam pesawat ada perbekalan?"


Aku ikut bertanya.


"Aku juga berharap begitu, tapi tidak ada. Sepertinya yang diberikan hanya badan pesawatnya saja."


"Begitu ya. Waktu memilih dulu, apakah kamu memang membayangkan ada perbekalan di dalamnya?"


"Tidak."


"Begitu rupanya."


Pesawat itu juga tidak bisa dimasukkan ke penyimpanan maupun dikeluarkan lagi. Kalau rusak pun, bagian yang hancur tidak akan pulih sendiri.


Karena sayang kalau ditinggalkan, Tobita akhirnya terus tinggal di sekitar pesawat itu.


Sebagai tempat berteduh dari hujan dan angin, pesawat itu memang masih berguna untuk kehidupan di pulau tak berpenghuni...


"Baiklah... kalau begitu kami pergi dulu."


Aku merasa suasananya mulai agak canggung, jadi segera meninggalkan tempat itu.



Setelah itu, kami berpindah tempat dengan menunggangi para makhluk fantasi.


"Apa yang dia katakan tadi ternyata bukan bohong."


Shion melaporkan.


"Sepertinya dia juga bukan orang jahat. Bahkan tanpa perlu memakai kemampuan 'Penenangan' milik Chiyu, dia sudah cukup tenang."


"Sou-kun, penilaianmu terlalu lunak cuma karena pesawatnya keren."


Chiyu berkata dengan sedikit nada jengkel.


"Pesawat memang tidak masalah, tapi kenapa harus pesawat jet penumpang...?"


Minori tampak kebingungan.


"Yang aneh itu cuma Kuno. Orang biasa ya memang seperti itu. Lagi pula, siapa yang bisa membayangkan bertahan hidup di pulau terpencil dengan membawa benda seperti itu?"


"Benar seperti yang dikatakan Serina-sama."


Roa mengangguk menyetujui ucapan Yumekai.


"Ahaha... Aku juga sama seperti Tobita ya. Di pulau terpencil begini masih saja memikirkan apakah riasanku bagus atau tidak."


Tatapan Urume menjadi kosong.


"Kemampuanmu sangat membantu kami, Urume!"


Shouko mencoba menghiburnya, tetapi...


"Itu juga karena Kuno sudah membuatkan kosmetik untukku. Kalau tidak ada Kuno, kemampuanku sama sekali tidak ada nilainya."


Urume yang biasanya ceria rupanya juga memiliki kegelisahan.


"Aku sih tidak berpikir begitu. Tapi andaikan memang benar, bukankah kemampuanmu jadi berharga karena bertemu Sousuke-kun? Jadi tidak perlu berkecil hati, kan? Siapa tahu nanti kamu malah menjadi satu-satunya penata rias di pulau ini."


Shion, yang juga pernah merasa bimbang tentang kontribusi kemampuannya, menghibur Urume dengan lembut.


"Atau berkontribusi sebagai anggota harem."


Chiyu kembali melontarkan ucapan seperti itu. Disemangati oleh mereka berdua, Urume pun kembali tersenyum.


"Kalau begitu, aku memang harus jadi pacar yang keenam...!"


"A-ahaha..."


"Mm, semangat yang bagus."


"E-ehm. Syukurlah masih ada laki-laki lain yang tetap rasional."


Luminous-sensei mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Rasional, ya. Memang sih diajak bicara bisa, tapi bukannya dia terus-terusan melirik dada kita?"


Yumekai bergumam dengan wajah kesal.


"Iya, melirik banget. Bahkan sampai rasanya Sousuke waktu di Jepang kelihatan sopan dibanding dia."


"Mungkin karena dia laki-laki, ya. Tapi tetap saja rasanya tidak menyenangkan. Ah, tapi Sousuke-kun berbeda, ya?"


"Benar. Kalau hanya sekilas melihat karena refleks masih bisa dimaklumi, tetapi terus memandangi setelah itu bukanlah hal yang patut dipuji. T-tentu saja lain cerita kalau pihak wanitanya mengizinkan."


"Padahal tubuh ini adalah milik Tuan, berani-beraninya dia memandang dengan tatapan kurang sopan..."


Shouko, Shion, Minori, dan Roa—keempat gadis yang sudah menjadi kekasihku—ikut menanggapi.


Aku merasa senang sekaligus malu.


"Mm, dulu memang menyebalkan, tapi kalau cuma melihat saja sekarang aku tidak keberatan."


Chiyu tiba-tiba berkata begitu.


"Perubahan perasaan?"


Saat kutanya, Chiyu mengeluarkan suara seolah tersenyum... meski wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


"Semakin banyak pria lain melihat dadaku, semakin Sou-kun bisa merasa bangga sambil berpikir, ‘Tapi itu semua milikku.’"


"Memangnya ada yang berpikir sejahat itu...?!"


Jangan tatap aku dengan ekspresi seolah berkata, "Ternyata bisa juga berpikir seperti itu...!" begitu.


"Bukan begitu. Aku senang dan bangga kalau Sou-kun dipuji. Jadi, apa kamu tidak suka kalau orang lain menganggapku menarik?"


Kalau sudah ditanya seperti itu, aku tidak bisa menjawab main-main.


"Bukan... bukan berarti aku tidak suka."


"Artinya ya begitu."


"Apa memang begitu, ya..."


Meski masih belum sepenuhnya menerima logikanya, aku mencoba memikirkannya.


Wajah cantik yang membuat siapa pun menoleh, ditambah dada yang montok. Kepribadiannya juga merupakan salah satu daya tariknya, tetapi bagaimanapun juga, bagi orang lain dia hanyalah sosok yang boleh dipandang dari kejauhan.


Dan sekarang, gadis itu adalah pacarku. Kalau aku bilang dalam hati tidak merasa senang akan hal itu, berarti aku berbohong.


Apalagi sekarang aku bahkan memiliki lima orang kekasih.


"Ah, bagaimana kalau kita makan siang di sana?"


Shouko menunjuk ke sebuah padang rumput yang luas.


Tempat itu mirip dengan lokasi markas kami, memberikan kesan terbuka dan lapang. Melihat tangan satunya memegang perutnya, sepertinya dia sudah lapar.


"Ayo."


Kami sudah berhasil menjalin kerja sama dengan empat dari tujuh orang. Kurasa tidak masalah beristirahat sejenak di sini.


Mungkin semua juga berpikiran sama, karena tidak ada yang menyatakan keberatan.


Sesampainya di padang rumput, kami turun dari Mashiro, Micron, dan Naga Merah milik Miyao.


Miyao juga kembali ke wujud aslinya.


"Hehe, makan siangnya sudah kusiapkan sebelumnya, jadi nantikan saja ya."


Shion tersenyum.


Aku mengangguk, lalu mengeluarkan bekal makan siang yang sebelumnya kutitipkan kepadaku dan kusimpan di dalam Inventory.



Kami memutuskan untuk makan siang di padang rumput.


Agar terasa seperti sedang berpiknik, kami menggelar sebuah tikar besar, lalu semuanya melepas sepatu dan naik ke atasnya.


Karena tidak memiliki alas piknik, kami menggunakan tikar sebagai penggantinya. Kami duduk melingkar, kemudian meletakkan makan siang di tengah.


Di dalam keranjang tersusun rapi...


"Sandwich! Keren, Shi-chan! Benar-benar seperti piknik!"


Shouko berseru gembira.


"Mm. Piknik di pulau terpencil dunia lain."


"Hehe, aku membuat berbagai macam, jadi silakan pilih yang kalian suka."


Aku juga meletakkan minuman di tengah. Roa berkata bahwa ia akan menyeduhkan minuman hangat seperti teh herbal.


Air panas sudah kusimpan di dalam Inventory, jadi ia akan menggunakannya.


Yang pertama kupilih adalah sandwich katsu daging babi hutan.


Rotinya lembut, sayurannya renyah, saus yang menyelimuti lapisan tepung gorengnya terasa nikmat, sementara dagingnya tebal dan penuh cita rasa.


Karena langsung dimasukkan ke dalam Inventory setelah selesai dibuat, rasanya sama seperti baru saja matang.


Setiap kali mengunyah, otakku seolah dipenuhi rasa bahagia, hingga tanpa sadar aku mengeluarkan suara kagum.


"Enak sekali!"


"Hehe, terima kasih. Aku senang kamu menyukainya."


Melihat reaksiku, Shion menunjukkan senyum yang benar-benar dipenuhi kebahagiaan.


"Shi-chan memang yang terbaik!"


Sandwich buah yang menggunakan krim kocok dari susu domba dan berbagai macam buah memiliki banyak variasi, sehingga terlihat sangat menggugah selera.


Shouko memegang dua sandwich buah dengan rasa yang berbeda di kedua tangannya sambil bersorak riang.


Melihat itu, Urume tertawa.


"Itu ide bagus!"


Lalu ia ikut menirunya.


"Memang benar-benar enak."


Minori duduk dengan posisi kaki dilipat ke samping ala perempuan, lalu menyantap sandwich dengan gerakan yang anggun.


Selain itu ada juga sandwich berisi bacon, sayuran, keju susu domba, salad telur, dan berbagai kombinasi lain yang sedikit berbeda, hingga jumlahnya hampir mencapai sepuluh jenis.


"Masakan Shion benar-benar sudah menjadi sesuatu yang tidak tergantikan."


Yumekai berkata demikian. Wajahnya tampak kagum, meski juga sedikit terlihat iri.


"Terima kasih. Tapi aku bisa membuat sebanyak ini juga berkat bantuan Roa-chan."


"Aku merasa terhormat."


Sambil membungkukkan kepala dengan anggun, Roa meletakkan minuman di depan semua orang.


Mungkin ia menggunakan kemampuan 'Mengetahui Apa yang Diinginkan Seseorang', karena minuman yang disajikannya tampaknya tepat sesuai dengan apa yang sedang diinginkan masing-masing orang.


Ngomong-ngomong, aku jadi teringat kalau dulu saat masih di Jepang aku sangat menyukai susu kopi dan minuman bersoda.


Mungkin karena aku memikirkan hal itu, Roa sedikit bereaksi. Namun pada akhirnya ia tidak mengatakan apa pun dan tetap melanjutkan pekerjaannya menyajikan minuman.


Setelah semua orang mendapatkan minuman, Roa pun akhirnya ikut makan.


Aku ingin menghormati keinginannya untuk tetap menjadi seorang pelayan, tetapi pada saat yang sama ia juga merupakan rekan kami, jadi aku ingin ia tetap makan dengan baik.


"Sou-kun, berikutnya makan yang ini."


Sambil berkata begitu, Chiyu mengambil sebuah sandwich telur.


"Oh, ini sandwich telur khas keluarga Iyama, ya."


Ini bukan sekadar sandwich telur biasa. Isinya adalah telur dadar tebal yang bercita rasa manis, dan rasanya benar-benar lezat.


"Enak, enak. Memang aku paling suka yang ini."


"Mm. Untuk masakan berbahan telur, aku cukup percaya diri."


Ibu Chiyu memang memiliki banyak sekali variasi masakan berbahan telur.


"Sousuke-kun. Aku juga ingin kamu mencicipi yang ini."


"Sou-kun. Jangan bilang kamu mau mengakhiri sandwich penuh cinta dari teman masa kecilmu cuma dengan satu saja... ya?"


Shion dengan senyum cerah, sementara Chiyu dengan wajah datarnya yang biasa, sama-sama mendekatkan sandwich sambil berkata,


"Aaah..."


Walaupun mulutku sudah penuh sesak oleh makanan, aku tetap menerima keduanya.


"Shion jadi jauh lebih berani, ya.... Tapi memang benar, Kuno dan Shion sekarang sudah menjadi sepasang kekasih..."


Miyao bergumam pelan sambil pipinya memerah.


"Hiks... hiks... Sandwich buatan Yomiumi-san benar-benar enak.... Sensei mungkin, bahkan setelah kembali ke Jepang nanti, sudah tidak bisa lagi puas dengan sandwich dari minimarket."


Luminous-sensei terus melahap sandwich dengan ekspresi yang rumit.


Setelah makan siang selesai...


"Hei, selagi kita semua sedang berkumpul, bagaimana kalau kita bermain sebentar?"


Orang yang mengusulkan itu adalah Urume.


"Bagus juga. Mau main apa?"


Shouko langsung antusias.


"Hmm, sebenarnya lari-lari saja juga tidak masalah."


Melihat hamparan padang rumput yang begitu luas, aku bisa memahami kenapa orang jadi ingin berlari.


"Kalau aku, olahraga agak..."


Saat Shion hendak menolak dengan halus, Chiyu langsung menyela.


"Tidak masalah. Aku akan menggunakan 'Penyembuhan Tingkat Dasar'."


"Bukan sekarang sih... tapi aku juga ingin main voli."


Usulan itu memang terdengar seperti Miyao yang merupakan anggota klub voli.


Hmm. Mungkin tidak bisa persis sama, tapi apakah kami bisa membuat bola voli dengan sihir? Nanti akan kucoba konsultasikan dengan Minori.


"Kalau waktu istirahat siang zaman SD, main kejar-kejaran juga seru."


Sambil menggali kenangan yang terasa begitu jauh, aku mengatakannya.


"Mm. Kedengarannya seru. Bisa kembali merasakan masa kecil."


"Kalau kekurangan stamina bisa diatasi dengan 'Penyembuhan Tingkat Dasar' atau 'Penyembuhan Tingkat Menengah' milik Chiyu-san. Demi keadilan, bagaimana kalau kemampuan selain itu dilarang digunakan?"


Tak disangka, Minori tampaknya cukup tertarik bermain kejar-kejaran. Atau mungkin yang sebenarnya menarik perhatiannya hanyalah aturan permainannya.


"...Aku boleh ikut, tapi tentukan batas waktunya ya. Lima atau sepuluh menit begitu."


"Aku akan menemani kalian semua."


"U-um... apa Sensei juga harus ikut?"


"Tentu dong, Lumi-chan! Sekalian saja, daripada ganti penjaga dengan menyentuh, bagaimana kalau pakai pelukan?"


Usulan Urume memunculkan pro dan kontra, tetapi pada akhirnya pihak yang setuju lebih banyak sehingga aturan itu pun dipakai.


Waktu permainan ditetapkan sepuluh menit. Sebagai orang yang mengusulkan, Urume menjadi penjaga pertama.


"Fuhaha! Ayo mulai!"


Urume berlari dengan penuh semangat, tetapi...


"Tunggu... k-kenapa kalian semua cepat sekali?"


Karena Chiyu terus memberikan sihir penyembuhan kepada semua orang, tidak ada yang kehabisan stamina. Jadinya, yang menentukan hanyalah kecepatan berlari, dan Urume memiliki kecepatan yang biasa saja.


"Gimana? Tinggal tiga menit lagi, lho."


Yumekai berkata sambil memperlihatkan layar timer di tabletnya.


"Uuuh... Ah, benar juga, Kuno!"


Namaku tiba-tiba dipanggil. Sedikit terkejut, aku pun menjawab.


"Ada apa? Maaf, tapi aku tidak bisa sengaja membiarkan diriku tertangkap."


"Eeh? Padahal aku ingin memeluk Kuno. Atau... kamu tidak mau kalau yang memeluk itu aku?"


Saat dia mengatakan itu dengan mata berkaca-kaca, sebagai seorang pria, aku memang lemah terhadap hal seperti itu.


"Guh..."


"Kesempatan!"


Memanfaatkan saat aku berhenti, Urume langsung memelukku dari depan.


"Nih, peluk~"


Tubuhnya menekan erat ke arahku, membuat dadanya terhimpit di dadaku.


Tubuh Urume terasa sangat lembut dan hangat.


"Itu curang, Urume!"


Shouko langsung memprotes.


"Nahaha! Ini namanya strategi yang dipikirkan matang-matang, kan?"


Shinryo Enbou—strategi yang penuh perhitungan, ya.


"Sial... ternyata Shoubu itu tipe ahli strategi."


Aku sengaja memasang ekspresi sangat kesal.


"Soalnya semua orang juga tahu kalau Sousuke itu mesum!"


"Ahahaha!"


Mendengar celetukan Shouko, Urume tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


"Baiklah, sekarang giliranku yang jadi penjaga."


Jadi sekarang aku harus memeluk seseorang, ya.


Meski sedikit memalukan, karena itu adalah aturan permainan, mau bagaimana lagi. Benar-benar aturan yang tidak bisa dihindari. Benar-benar.


Saat aku hendak melihat siapa yang berada paling dekat denganku...


"Mm."


Chiyu berdiri sambil merentangkan kedua tangannya ke arahku. Seolah-olah sedang menunggu untuk dipeluk.


"Hehe. Ayo, Sousuke-kun. Tangkap aku."


Shion pun ikut menyusul.


"Kalian curang—ah, terserah! Aku juga! Nih, Sousuke, ke sini!"


Shouko, meski wajahnya memerah, ikut merentangkan kedua tangannya menyambutku.


"E-ehm... kalau begitu... aku juga akan senang kalau Sousuke-san yang menangkapku."


Minori ikut meniru, tetapi mungkin karena malu, kedua lengannya tidak terbuka sepenuhnya.


"Silakan, Tuan. Peluklah pelayan pribadi Anda ini dengan kedua lengan Anda."


Roa merentangkan kedua tangannya lebar-lebar tanpa sedikit pun terlihat malu.


Ini bukan lagi soal memilih siapa yang menjadi penjaga berikutnya, melainkan memilih ingin memeluk kekasih yang mana. Keringat dingin mulai mengalir di wajahku.


Siapa pun yang kupilih, sudah pasti empat gadis lainnya akan merasa tidak senang.


Ketegangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya membuat tubuhku gemetar.


Kalau memilih Chiyu, yang menganggap dirinya sebagai istri utama, mungkin semuanya akan berakhir paling damai.


Namun, apakah benar aku harus mengambil pilihan aman yang sudah begitu jelas itu?


Mungkin... meskipun nanti aku dibilang payah, ada pilihan yang memang harus kuambil.


Aku menyilangkan tangan dan tetap berdiri di tempat. Lalu, alarm tanda waktu habis berbunyi dari tablet milik Yumekai.


Setelah menunggu Yumekai mematikannya, aku memandang kelima gadis itu satu per satu, lalu berkata,


"Aku tidak mungkin menangkap kalian semua sekaligus. Karena itu... aku tidak bisa bergerak."


Mungkin mereka akan menganggapku plin-plan, tetapi ini bukan karena aku tidak bisa memilih.


Justru inilah pilihanku. Dengan perasaan seperti seorang terpidana yang sedang menunggu putusan, aku menunggu beberapa detik.


"...Mm. Kamu mulai pantas menjadi pemimpin harem."


"Hehe, Sousuke-kun mengatakan yang sebenarnya. Dia benar-benar menyayangi kita semua."


"J-jika memang begitu... ya tidak apa-apa."


"Berarti... aku juga... sama berharganya dengan yang lain..."


"Kasih sayang yang berat sebelah hanya akan menimbulkan perselisihan. Benar-benar pantas untuk Tuan."


Syukurlah, tampaknya tak ada satu pun dari mereka yang tersinggung.


"Ngomong-ngomong, kalau memang begitu, kenapa kalian malah mengujinya?"


Yumekai bergumam sambil menatap kelima gadis itu dengan wajah pasrah.


"Serina memang belum paham. Seorang perempuan itu sesekali perlu diyakinkan kalau dirinya benar-benar dicintai. Kalau tidak, mereka jadi cemas."


Urume mengangkat bahu seolah berkata "ya begitulah."


"Padahal kamu sendiri belum pernah punya pacar, tapi ngomongnya seolah paling mengerti."


"Itu jangan diungkit dong!"


Melihat mereka berdua, rasanya Urume dan Yumekai sebenarnya akrab sekali.


"Enak ya... kalau tadi aku juga memberanikan diri... ah, tapi..."


Miyao kembali bergumam pelan pada dirinya sendiri.


"Ugh... s-silau sekali.... I-ini... inikah masa muda..."


Luminous-sensei menutupi wajahnya dengan tangan, seolah melindungi diri dari sinar matahari yang terlalu menyilaukan.


Padahal menurutku beliau juga masih cukup muda...


Begitulah, waktu istirahat pun berakhir. Kami pun berangkat untuk membujuk dua orang yang masih tersisa.



"Sialan! Jangan bercanda!"


Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut Kenji Tsutsui, siswa yang telah kehilangan Pistol miliknya. Begitu melihat kami, ia langsung melarikan diri.


"Eh? Kenapa dia malah kabur?!"


"Hmm... mungkin karena dia punya kenangan buruk dengan makhluk fantasi."


Shion menjawab pertanyaan Shouko.


"...Masih di luar jangkauan 'Penenangan'. Kita harus mendekat sedikit lagi."


Chiyu bergumam.


"Biarkan saja, tidak apa-apa, kan..."


Yumekai berkata dengan malas.


"T-tidak boleh! Kalau kita bicara baik-baik, dia pasti akan mengerti!"


Luminous-sensei segera menanggapi ucapan Serina.


"Sousuke-san."


Minori menoleh kepadaku, seolah menunggu instruksi.


"Kita kejar dia. Naiki Micron sampai tepat di atasnya. Setelah itu Chiyu gunakan 'Penenangan'."


"Mm. Mengerti."


Kalau hanya berlari lurus, kami pasti bisa langsung menyusul. Namun Tsutsui berlari menerobos hutan yang dipenuhi pepohonan lebat, sehingga bahkan Micron pun tidak bisa langsung mempersingkat jarak dalam sekejap.


Meski begitu, hanya masalah waktu sampai kami berhasil menyusulnya.


"Sudah dalam jangkauan—'Penenangan'."


Tubuh Tsutsui memancarkan cahaya redup sesaat. Lalu perlahan-lahan ia mulai memperlambat langkahnya.


"...Kenapa tadi aku takut setengah mati, ya?"


Sepertinya memang karena ketakutan terhadap Mashiro dan Micron, ia sampai melarikan diri. Begitu rasa takutnya mereda, ia pun berhenti.


"Tsutsui-kun, maukah kamu mendengarkan kami?"


Masih berada di atas Naga Hitam Micron, Luminous-sensei memanggilnya.


"Hah? Bukannya ini Luminous-chan? Kenapa kamu naik naga hitam itu..."


"T-tolong panggil aku Asahi-sensei. Yang lebih penting, ada hal yang harus kita bicarakan."


"Tunggu dulu, Sensei. Sebelum bicara, kita harus meninggalkan tempat ini."


Aku memotong perkataan beliau. Beberapa rekanku sudah menyadari situasinya dan bersiap menghadapi pertempuran.


"Kuno-kun? Ada apa?"


Tampaknya Sensei terlalu fokus kepada Tsutsui hingga tidak menyadarinya.


"Sensei... tempat ini adalah sumber air."


Saat ini, hanya ada dua jenis monster aneh yang berkeliaran di pulau terpencil ini.


Arvank dan Treant. Keduanya hidup di sekitar sumber air.


Dan tepat di depan kami terbentang perairan yang begitu luas hingga pantas disebut sebuah danau.


Sebelas orang, termasuk Tsutsui, baru saja datang ke tempat itu. Mustahil para monster tidak bereaksi.


Meski tak ada angin, pepohonan di sekitar mulai bergemerisik.


Permukaan air pun mulai memercik.


Pepohonan itu mencabut akarnya sendiri dari tanah, lalu menggunakannya seperti kaki untuk bergerak.


Cabang-cabangnya menggeliat seperti tentakel, sementara pada batangnya muncul sesuatu yang menyerupai wajah manusia.


Arvank juga merayap naik ke daratan. Namun jumlah mereka sama sekali tidak wajar. Begitu banyak hingga hampir memenuhi seluruh pandangan.


"A-ah... a..."


"Tsutsui! Cepat naik ke sini!"


Aku mengulurkan tangan kepadanya. Namun mungkin karena kakinya sudah lemas akibat ketakutan, ia terduduk di tanah dan tidak mampu bergerak.


"Chiyu! Perkuat aku!"


Hanya mengatakan itu, aku langsung melompat turun dari punggung Micron.


"Sou-kun...!? 'Penguatan Kekuatan Fisik'!"


Meski suaranya terdengar panik—sesuatu yang jarang terjadi—Chiyu segera merapalkan sihir penguat.


Seluruh tubuhku memancarkan cahaya redup, dan tenaga yang luar biasa memenuhi tubuhku.


Aku mengangkat Tsutsui ke pundakku, lalu melemparkannya ke punggung Micron.


"Sensei, tolong pegang dia agar tidak jatuh."


"B-baik...! K-Kuno-kun, kamu juga cepat!"


Micron dan Naga Merah milik Miyao bisa meloloskan diri dengan terbang ke langit. Namun keadaan Mashiro si Fenrir jauh lebih berbahaya.


Treant yang jumlahnya tak terhitung sudah bergerak menutup jalur mundur kami.


Aku sempat ragu. 


Mungkin untuk sementara kami bisa meminta Yumekai membuat penghalang yang melindungi kami saja.


Lalu, dari tempat yang aman, kami terus menyerang para monster menggunakan sihir Minori sampai mereka habis.


Benar. Dengan anggota seperti ini, seharusnya tidak perlu panik. Namun kenyataannya tidak berjalan semudah yang kubayangkan.


Karena mengkhawatirkan Shouko dan yang lain yang menunggangi Mashiro, Naga Merah Miyao tidak terbang terlalu tinggi.


Saat itulah...seekor Treant menjulurkan cabangnya dan melilit ekor sang naga merah.


Terkejut oleh serangan mendadak itu, naga merah memutar tubuhnya dengan keras untuk melepaskan diri. Akibatnya, cabang Treant itu pun putus.


Namun—


"Ah!"


Urume dan Shion yang menunggangi Naga Merah Miyao secara refleks berpegangan erat. Namun, Yumekai terlambat bereaksi.


Tablet yang dibawanya hampir terjatuh, dan ia tanpa sadar mencoba menangkapnya. Akibatnya, ia tidak lagi bisa berpegangan pada Naga Merah Miyao...lalu terjatuh.


Seandainya hanya itu, mungkin masih tidak terlalu buruk.


Yang sial adalah, saat jatuh ia justru dipukul oleh salah satu dahan Treant. Tubuhnya pun terpental di udara.


Yang paling buruk, arah tubuhnya terpental justru menuju.....gerombolan Arvank.


Jeritan pun terdengar dari teman-temanku.


"Aku yang akan pergi! Kalian hancurkan para monster dari dalam penghalang!"


Hanya menyampaikan rencana semula, aku langsung berlari ke arah gerombolan Arvank.


Sambil memperkirakan Arvank mana saja yang akan menghalangi jalanku menuju Yumekai, aku mengeluarkan sesuatu dari Inventory.


Air mendidih. Bahkan air yang telah dibuat mendidih bergolak menggunakan sihir api milik Minori.


Biasanya air itu akan diencerkan dengan air biasa sebelum dipakai mandi, tetapi kali ini tidak ada belas kasihan.


Arvank yang tersiram air mendidih menjerit kesakitan sambil berguling-guling.


Dengan tubuh yang telah diperkuat sihir, aku menerjang dan menyingkirkan mereka, lalu pada saat yang tepat menghentakkan kaki ke tanah dan melompat tinggi.


Rasanya seperti adegan dalam film pahlawan super.


Aku melesat tinggi layaknya seekor burung dan dengan cepat mendekati Serina yang sedang terjatuh.


"Yumekai!"


"K-Kuno!?"


"Ulurkan tanganmu!"


Meski panik, ia tetap mengulurkan tangannya ke arahku.


Aku berteriak.


"Gapailah...!"


Begitu ujung jari kami bersentuhan, aku menariknya kuat-kuat ke arahku dan menangkapnya dalam pelukan.


Tubuhnya gemetar. 


Sekarang tinggal mendarat. Tanah semakin mendekat dengan cepat. Arvank di sekeliling kami berpencar seolah menghindari kami, menciptakan sedikit ruang kosong.


Aku mendarat dengan kedua kaki di sana.


Kubayangkan benturan yang datang dari telapak kaki dialihkan dengan menekuk lutut. Entah cara itu benar atau tidak, tetapi meski benturannya begitu kuat hingga sepatuku tenggelam hampir setengah ke dalam tanah, tubuhku tetap mampu menahannya.


Mungkin berkat sihir Chiyu yang memperkuat tubuhku.


"Hah... hah... e-eh... K-Kuno... kenapa... b-bagaimana caranya..."


Seolah tidak pernah menyangka akan selamat, Serina menatapku dengan wajah penuh ketidakpercayaan.


"Kamu tidak apa-apa?"


Saat itu juga, wajahnya berubah pucat, seolah baru menyadari kesalahannya sendiri.


"A-aku... maaf... maaf..."


Mungkin karena masih syok, ia sama sekali tidak seperti biasanya. Namun saat ini aku tidak punya waktu untuk menenangkannya.


"Yumekai, buat dua penghalang. Satu untuk melindungi teman-teman kita, dan..."


Saat itulah...seluruh Arvank yang mengepung kami melompat serempak.


Mereka berusaha menggigit kami, namun sesaat sebelum mencapai kami, tubuh mereka terpental oleh sesuatu yang tak kasatmata.


"...Ya, aku tahu. Satu lagi untuk melindungi kita yang terpisah dari yang lain, kan?"


"Seperti yang kuduga."


Ia segera berhasil mengatasi kepanikannya dan memahami situasinya. Kalau begitu, tak masalah meski kami dikepung monster sebanyak apa pun.


Teman-teman yang lain cukup menyerang para monster dari luar penghalang sampai semuanya habis. Sementara aku dan Yumekai tinggal bertahan di dalam penghalang kecil ini.


"Nah, sekarang sudah aman. Yumekai, kamu terluka?"


"I-iya... tanganku juga masih bisa digerakkan. Tapi mungkin karena efek adrenalin."


Kadang rasa sakit memang baru terasa setelah beberapa saat.


"Semoga kita bisa bertemu Chiyu sebelum efek adrenalinnya hilang."


Syukurlah, sepertinya ia tidak mengalami luka serius.


Tadi aku benar-benar khawatir, tetapi sekarang akhirnya bisa sedikit bernapas lega.


Begitu yang lainnya mengetahui penghalang Yumekai masih aktif, mereka pasti mengerti bahwa kami berdua selamat.


Penghalang itu memungkinkan orang di dalam melihat ke luar, tetapi orang di luar tidak bisa melihat ke dalam.


Karena kami berada di dalam penghalang yang berbeda, aku dan Yumekai tidak bisa melihat teman-teman, begitu pula sebaliknya.


Namun selama kami sama-sama selamat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"...Hei, Kuno."


Suara lengkingan Arvank yang tadi terdengar tiba-tiba menghilang. Mungkin Yumekai menolak masuknya suara ke dalam penghalang.


"Ada apa?"


"Kenapa... kamu nekat sampai sejauh itu? Bagaimana kalau tadi aku pingsan... atau bahkan sudah mati?"


Aku tidak ingin membayangkan ada teman yang mati.


Kalau ia hanya pingsan, mungkin aku akan menggendongnya kembali menuju teman-teman.


Aku bisa membentuk batu-batu yang ada di Inventory menjadi bongkahan batu raksasa lalu menjatuhkannya ke sekitar kami untuk menghancurkan Arvank, kemudian memanfaatkan tubuhku yang diperkuat untuk berlari di atas bongkahan batu itu hingga bergabung kembali dengan yang lain.


Treant yang menghalangi jalan mundur bisa dibereskan dengan sihir Minori dan Luminous-sensei, sehingga tercipta jalan bagi Mashiro untuk berlari.


Memang tetap berbahaya dan mungkin aku akan terluka. Namun untungnya kami memiliki Chiyu dengan sihir penyembuhannya.


Sekarang aku bisa memikirkan rencana seperti itu, tetapi saat tadi semuanya terjadi, aku hanya bertindak berdasarkan naluri.


Lagi pula, bukan rencana seperti itu yang ingin didengar Serina sekarang.


"Refleks saja. Tubuhku bergerak sendiri."


Karena itu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya.


"...!"


Tubuh Yumekai bergetar.


Baru saat itu aku sadar bahwa aku masih menggendongnya dengan gaya putri.


"Maaf, aku turunkan sekarang."


Begitu aku menurunkannya, seluruh tenaga di tubuhku seolah lenyap, dan aku terduduk di tanah.


Kurasa aku tidak terluka, mungkin hanya karena ketegangannya sudah hilang.


"Haha... kalau akhirnya begini, jadi tidak keren sama sekali."


Aku tertawa untuk mencairkan suasana, tetapi Yumekai tetap diam.


Ia perlahan berlutut di antara kedua kakiku, menopang tubuhnya dengan kedua tangan, lalu mendekat.


Aku kebingungan melihat tindakannya yang tiba-tiba.


Tadi aku tidak sempat memikirkannya, tetapi sekarang aku kembali menyadari dengan jelas kehangatan tubuh dan hembusan napasnya.


"...Yumekai?"


Ia menatapku. Wajahnya memerah, sementara matanya tampak berkaca-kaca.


"Hei... sekarang kamu mau bagaimana mempertanggungjawabkannya?"


Entah hanya perasaanku atau tidak, tetapi suaranya terdengar begitu hangat.


"Aku ini tidak suka membiarkan utang budi begitu saja. Tapi kalau utangnya adalah menyelamatkan nyawaku... bagaimana aku harus membalasnya?"


Benar juga. Yumekai memang tipe orang seperti itu.


"...Tidak usah dipikirkan."


"Tidak bisa. Selama ini saja aku sudah banyak berutang budi padamu. Sekarang ditambah kamu menyelamatkan nyawaku... berarti... satu-satunya cara membalasnya adalah menggunakan sisa hidupku, kan?"


Seandainya suaranya memiliki bentuk, mungkin bentuknya seperti kain yang menyerap air hingga terasa begitu berat.


Begitulah kesan yang kurasakan.


Kata-katanya terdengar lembut, tetapi juga dipenuhi tekad.


Yumekai perlahan mendekatkan wajahnya.


Teman sekelasku yang selama ini selalu menyendiri...

Kini sedang menginginkanku...


"...Yu-Yumekai..."


Padahal situasi kami sebenarnya sudah aman, tetapi tetap saja aku menelan ludah dengan gugup.


"Sampai semua monster dibasmi oleh yang lain, kita juga tidak ada pekerjaan. Jadi... biarkan aku membalas budiku."


Lalu ia menatapku dengan wajah gelisah.


"Atau... kalau yang melakukannya itu aku... tidak boleh?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close