Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Cerita Sampingan Spesial
Ketua Kelas dan Berteduh dari Hujan
Pada suatu hari.
Aku dan ketua kelas yang serius, Shijou Minori, pergi ke hutan untuk mengumpulkan bahan.
Kayu dan batu sebanyak apa pun tetap berguna, dan saat menjelajah seperti ini kami juga kadang menemukan bahan makanan atau material baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Minori menebang pohon dengan sihirnya, lalu aku menyimpannya ke dalam Inventory milikku.
Saat aku berpikir bahwa hari ini kami sudah berjalan agak terlalu jauh dan hendak kembali ke markas...
Tiba-tiba hujan deras turun mengguyur. Hujannya begitu lebat hingga pandangan ke depan hampir tertutup.
"Ayo berteduh di sana!"
Aku menunjuk siluet sebuah pohon besar yang masih samar terlihat, lalu menggenggam tangan Minori agar kami tidak terpisah.
"Ya! Ayo!"
Karena suara hujan begitu keras, meskipun kami berdiri berdampingan, kami harus berteriak agar bisa saling mendengar.
Sambil memercikkan lumpur di setiap langkah, kami akhirnya berhasil berlindung di bawah pohon itu.
"Hujannya deras sekali."
"Iya..."
Kami berdua sudah basah kuyup.
Saat kulihat Minori, rambutnya menempel pada kulitnya, sementara seragamnya menjadi agak tembus pandang karena basah.
Mungkin karena baru saja menggunakan sihir, tongkat yang pernah kuberikan masih digenggamnya.
Tanpa sadar, ia mengangkat poni basahnya menggunakan ujung tongkat itu.
Pemandangan itu tampak luar biasa memesona hingga aku tanpa sadar terpaku beberapa detik...
Namun aku segera sadar bahwa kami harus mengeringkan tubuh terlebih dahulu.
Aku mengeluarkan sebuah handuk dan menyerahkannya kepadanya.
"Terima kasih."
Setelah menerimanya, ia menjepit rambutnya dengan handuk untuk menyerap air.
Aku juga mengeluarkan handuk milikku sendiri, tetapi hanya mengusap tubuhku secara asal.
"Tiba-tiba sekali hujannya ya."
"Iya. Yang lain pasti akan mengkhawatirkan kita, jadi semoga saja hujannya segera reda."
"Ah, benar juga. Bukankah kita bisa membuat payung? Maksudku, seperti payung yang dipakai pada zaman Edo."
"Benar. Dengan kemampuanmu, Sousuke-san, kurasa kamu bisa membuatnya."
Namun resep pembuatannya tidak muncul. Kadang resep memang tidak muncul karena pengetahuanku sendiri masih kurang.
"Hmm... tidak keluar juga. Ngomong-ngomong, dulu payung tradisional bisa menahan air bagaimana ya?"
"Kalau yang kamu maksud payung Jepang (wagasa), katanya permukaan kertas Jepang dilapisi minyak agar air tidak meresap."
"Oh... begitu rupanya."
Memang hebat Minori. Berkat penjelasannya, resep Payung Jepang (Wagasa) pun muncul.
Saat aku hendak langsung membuatnya, Minori tiba-tiba berkata,
"Rasanya... sedikit membuatku bernostalgia."
"Bernostalgia?"
"Dulu pernah, kan, Sousuke-san meminjamkan payung kepadaku?"
Saat masih di Jepang. Waktu itu aku bertemu dengannya saat ia hendak pulang, tetapi entah siapa yang membawa pulang payungnya sehingga ia kebingungan.
Karena berbagai kejadian, akhirnya aku meminjamkan payungku kepadanya.
"Iya, benar juga. Ngomong-ngomong, sejak kejadian itu sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu."
"Apa itu...?"
"Waktu itu kamu mengatakan kalau dirimu 'bukan perempuan yang imut', kan? Saat itu aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawabmu. Sampai sekarang aku masih sedikit menyesal."
Memang sekarang sudah jauh membaik, tetapi pada masa-masa awal kami berkumpul lagi di pulau terpencil ini, Minori masih sering membandingkan dirinya dengan gadis-gadis lain dan merendahkan dirinya sendiri.
Sepertinya ia memang menganggap dirinya kurang memiliki daya tarik sebagai seorang perempuan.
"T-tolong lupakan itu..."
Minori menundukkan pandangan dengan wajah yang memerah karena malu.
"Menurutku, dari dulu sampai sekarang kamu tetap sangat menarik. Setidaknya... bagiku."
Aku sangat malu hingga rasanya wajahku seperti terbakar. Namun kurasa kalau tidak kukatakan sekarang, kesempatan itu akan hilang.
"...Benarkah?"
Minori menatapku dengan mata yang tampak basah.
"Tentu saja."
"...Aku senang."
Mata Minori menyipit membentuk lengkungan indah.
Ia tersenyum dari lubuk hatinya. Dadaku terasa hangat dan berdebar. Kami saling menatap dalam diam beberapa saat.
"Hacih..."
Minori bersin pelan dengan sangat menggemaskan.
Benar juga. Kami masih basah kuyup.
"Kamu tidak apa-apa? Kalau begitu... aku akan membelakangi kamu. Kalau kamu melepas pakaianmu, aku bisa membersihkannya dengan memanfaatkan fungsi penyimpanan dan pengeluaran ulang dari Inventory. Atau kita kembali saja ke markas sambil memakai payung?"
Minori menggeleng pelan. Lalu ia menggenggam tanganku dengan lembut.
"...Tidak. Kalau Sousuke-san tidak keberatan... aku ingin sedikit lebih lama bersamamu."
Suaranya begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh suara hujan. Kalau bukan karena dedaunan yang meredam suara hujan, mungkin aku tidak akan mendengarnya.
"B-baiklah. Lagi pula dengan hujan sederas ini kita juga hanya bisa menebak arah markas."
Meski menjawab demikian, aku bisa merasakan jantungku berdetak semakin cepat.
"Benar. Rasanya seolah-olah... hanya ada aku dan Sousuke-san di dunia ini."
Kami kembali saling menatap.
Kali ini aku mengerti apa yang diinginkannya. Dengan lembut Minori meletakkan tangannya di dadaku.
Wajah kami perlahan saling mendekat. Lalu bibir lembutnya menyentuh bibirku.
"Mm... chu... "
Mata hijau giok Minori tampak berkilau oleh air, dan bayanganku yang terpantul di dalamnya bergoyang bagaikan fatamorgana.
Kami saling melingkarkan tangan di punggung masing-masing sambil berpelukan dan bertukar ciuman.
Pakaian kami yang basah memang terasa dingin. Namun justru karena itu, kami semakin mendekat, seolah saling mencari kehangatan tubuh satu sama lain.
Di sekeliling kami terdengar suara hujan yang mengguyur tanpa henti, suara tetesan hujan yang memantul di dedaunan, dan bunyi rintik yang jatuh ke genangan air.
Di tengah berbagai suara hujan yang mengelilingi kami, hanya napas hangat kami dan suara lembut dari ciuman yang terdengar.
"Chuu... mm... ah... S-Sousuke-san..."
Karena kami berpelukan begitu erat, Minori tentu menyadari reaksi tubuhku. Seolah memberi izin—atau mungkin mengundangku—Minori memanggil namaku.
"...Minori... bolehkah?"
"Y-ya. Karena... aku juga menginginkannya.”
Bagian mana dari gadis yang begitu manis ini yang bisa dibilang tidak menggemaskan?
Orang-orang yang membenci sisi Minori yang terlalu serius benar-benar tidak mengerti apa pun.
Minori berlutut di depanku dan melepaskan celana panjangku yang basah. Bahkan bagian dalam celana dalamku pun sudah basah dan terasa tidak nyaman, jadi rasanya sedikit lebih sejuk setelah terbebas.
"Mm... chuu... mmh... slurp... slurp... Punya Sousuke-san besar sekali..."
Pada awalnya Minori berkata bahwa hal-hal cabul tidak boleh dilakukan, tetapi sekarang ia tidak ragu lagi melakukannya di luar ruangan.
Perubahan itu, ditambah kenyataan bahwa akulah pasangan yang menerima semua itu, membuat gairahku melonjak luar biasa.
Melihat Minori dengan sungguh-sungguh menggerakkan kepalanya maju-mundur, menerima dan mengeluarkan milikku dari mulutnya, membuatku segera mencapai batas.
"Slurp... slurp... mmh... mm... slurp..."
"Minori!"
"Y-ya. Silakan. Sousuke-san... keluarkan sebanyak yang kau mau..."
Tanpa melepaskannya dari mulut, Minori menatapku dengan mata mengangkat ke atas. Pemandangan itu menjadi pemicu hingga cairan putih menyembur keluar.
Semburan demi semburan keluar mengikuti getaran pinggangku, memenuhi mulut Minori.
"Mmh...! Mmh... Ahh..."
Setelah semuanya berhenti, Minori membuka mulutnya seolah memperlihatkan cairan yang telah memenuhi mulutnya. Beberapa detik kemudian, ia mulai menelannya.
"Mmh... Mmh... kof... Mm... Aku senang kau mengeluarkan begitu banyak."
Bukan hanya karena ia menerimanya, bahkan ucapan itu saja sudah cukup membuat semangatku kembali bangkit.
"Minori..."
"Ya..."
Saat melakukannya di luar, biasanya kami selalu melakukannya dari belakang. Jadi kupikir hari ini pun akan sama, tetapi Minori memandangku seolah ingin mengatakan sesuatu.
"Minori?"
"E-ehm... Hari ini... aku ingin melakukannya sambil melihat wajahmu... A-apakah tidak boleh?"
Dadaku terasa sesak, seolah jantungku diremas.
"Tentu boleh. Lagi pula kita sudah sama-sama basah kuyup. Sedikit kotor lagi juga tidak akan ada bedanya."
"B-benarkah? Kalau begitu... mari kita..."
Aku perlahan membaringkan Minori ke tanah. Biasanya aku menghindari hal itu karena seragam dan rambutnya akan terkena lumpur, tetapi justru karena itulah rasanya menjadi begitu istimewa. Rambut Minori mengembang ke segala arah, sementara air dan lumpur memercik.
"Kesempatan langka kita hanya berdua saja... Jadi... aku ingin kau memanjakanku sebanyak mungkin."
Minori tampak begitu menggemaskan. Setelah mengecupnya, aku mengangkat roknya dan melepaskan pakaian dalamnya.
Saat aku mendekatkan wajah ke bagian intimnya, Minori tampak sedikit terkejut sesaat, tetapi ia tidak menolak. Aku mengusap bagian itu dengan lidahku, menemukan bagian yang paling peka, lalu melanjutkannya sambil memperhatikan reaksinya.
"Mm... ah... Sousuke-san... di situ...!”
Pinggang Minori bergetar, sementara ia mengerang karena kenikmatan.
Melihat reaksinya seperti itu membuat gairahku semakin memuncak, dan gerakanku pun menjadi semakin bersemangat.
"Ah... mm... ah, ah... mm...!"
Pinggul Minori terangkat, lalu tubuhnya bergetar hebat.
"Haa... haa... haa... Pandanganku seperti berkilat-kilat.... Apa Sousuke-san juga selalu merasakan perasaan seperti ini?"
Melihat Minori yang bernapas tersengal-sengal, aku merasa tak sanggup menahan diri lebih lama lagi.
"Minori... boleh?"
"Y-ya, Sousuke-san. Silakan..."
Minori membuka kedua kakinya agar aku lebih mudah mendekat. Saat aku berlutut di antara kedua kakinya, aku mengenakan kondom pada batangku, lalu menempelkan ujungnya pada bagian intimnya yang telah basah oleh cairan cinta. Setelah memasukkannya sedikit, perlahan-lahan aku mendorongnya semakin dalam.
"Mmh...! Sou... Sousuke-san..."
Minori mengulurkan kedua tangannya seolah menyambutku. Aku perlahan mendorong pinggulku hingga masuk sepenuhnya ke dalam dirinya, lalu memeluknya erat seakan menutupi seluruh tubuhnya.
"Di dalam diriku kini penuh denganmu, Sousuke-san.... Apa rasanya benar-benar menyenangkan?"
"Ya. Rasanya luar biasa."
"Aku senang. Tolong... nikmatilah sepuasnya..."
Sambil terus berciuman dengan Minori, aku terus menggerakkan pinggulku berulang kali.
Seiring bunyi hentakan yang berulang, kenikmatan kami semakin memuncak. Suara hujan yang tadi begitu keras kini sama sekali tidak terdengar lagi; yang tersisa hanyalah suara percikan air dari tubuh kami dan desahan manis Minori.
Seperti yang tadi dikatakan Minori, rasanya seolah-olah hanya kami berdua yang ada di dunia ini.
Entah baik atau buruk jika yang kami lakukan di dunia yang hanya berisi kami berdua ini adalah bercinta, tetapi satu hal yang pasti: rasanya sungguh membahagiakan.
Entah sudah berapa lama kami terus seperti itu.
Aku ingin terus seperti ini selamanya, tetapi kenikmatan yang terus memuncak akhirnya mencapai titik di mana tak bisa lagi dibendung.
"Ah... ah... ah... Di dalamku terasa membesar.... Ka-kamu akan mengeluarkannya, ya? Silakan.... Di dalam diriku... keluarkan semuanya...."
"Minori!"
Dengan dorongan terakhir, aku mencapai bagian terdalam di dalam dirinya, lalu melepaskan semuanya. Aku bisa merasakan cairan putih yang menyembur deras memenuhi ujung kondom hingga mengembung seperti balon.
"Ah...! ...Keluar.... Banyak sekali.... spermanya... begitu banyak...."
Meski pikiranku dipenuhi oleh rasa lega setelah semuanya berakhir, mata Minori yang tampak sayu begitu memikat hingga aku kembali mengecup bibirnya.
Minori pun membalas dengan lembut. Setelah itu kami tetap saling berpelukan beberapa saat, menikmati sisa-sisa momen yang hangat.
"Mm... Sousuke-san, ternyata kamu sudah kembali bersemangat ya."
"...Maaf."
"Tidak. Aku justru senang.... Lagi pula hujannya sepertinya masih belum berhenti."
"...Benar juga. Kita masih berteduh."
"Hehe, setidaknya untuk saat ini... Sousuke-san hanya milikku."
Minori tersenyum sambil mengatakan itu. Senyumnya tampak begitu anggun sekaligus memikat.
Aku kembali bergerak di dalam pelukannya. Bibir Minori kembali mengeluarkan suara lirih yang manis.
Suara yang kami hasilkan tertelan oleh derasnya hujan, sehingga tak akan terdengar oleh siapa pun selain kami sendiri.



Post a Comment