NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinsei ni Tsukare Tadorisuita Mura de, Bijotachi ga Ore o Hanasanai de Kurenai V2 Chapter 1

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 1

Tak Perlu Menahan Diri

Selama menjalani hari-hari di rumah keluarga Anzai, tidak pernah sekalipun aku merasa kesepian.


Sejak menjadi orang dewasa dan mulai bekerja, hidup sendirian sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Karena itu, aku selalu berpikir bahwa meski tidak ada siapa pun di sisiku, aku sama sekali tidak akan merasa kesepian... namun.


"...Benar-benar sepi... atau lebih tepatnya, rasanya tidak tenang."


Tak kusangka aku akan mengucapkan hal seperti itu... sejujurnya, ini benar-benar di luar dugaan.


Hari ini bukan hanya Mina yang pergi bekerja, tetapi Reina-san juga akan berada di luar rumah sampai sekitar sore.


Mereka memang mengatakan agar aku tidak sungkan dan menikmati waktuku dengan bebas, tetapi seperti yang baru saja kukatakan, harus sendirian sampai sore membuatku merasa kesepian dan gelisah... namun, aku pun memiringkan kepala karena merasa ada yang aneh.


"Bukan pertama kalinya Mina dan Reina-san sama-sama tidak ada di rumah... lalu kenapa aku merasa sesepi ini?"


Kenapa, ya...?


Namun, tanpa diduga jawabannya segera muncul.


Mungkin karena selama menghabiskan waktu bersama Mina dan yang lainnya, perasaanku terhadap mereka menjadi semakin besar.


Mereka menerima diriku, bahkan mengungkapkan perasaan mereka kepadaku... memang masih banyak yang harus kupikirkan sehingga aku belum bisa sepenuhnya menerima semuanya. Namun, keinginan untuk tetap berada di sisi mereka semakin kuat, dan mungkin itulah yang berubah menjadi rasa sepi yang kurasakan sekarang.


"...Keluar sebentar saja, deh."


Untuk sementara, aku ingin menggerakkan tubuh agar rasa sepi ini sedikit berkurang.


Setelah bersiap seadanya, aku keluar rumah, dan tak lama kemudian menemukan orang yang ingin kutemui.


"Selamat pagi, Shiraishi-san."


"Oh, bukankah itu Takuya-kun? Selamat pagi."


Itu adalah Shiraishi-san, tetangga yang sedang sibuk bekerja di ladang.


Setiap kali bertemu, beliau selalu mengatakan bahwa berkebun adalah sumber semangat hidupnya. Karena itulah, setiap kali keluar rumah, aku hampir selalu bisa menemukannya.


"Di cuaca sepanas ini, ada apa kau keluar?"


"Itu justru kalimatku. Shiraishi-san berkeringat banyak sekali, jangan-jangan memaksakan diri, ya?"


"Tentu saja tidak. Memang panas, tapi tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan berkebun bagiku... tenang saja, aku tidak berniat memaksakan diri."


Walaupun begitu, keringat yang membasahi tubuh Shiraishi-san benar-benar luar biasa banyak.


Dengan cuaca sepanas ini memang wajar berkeringat, tetapi karena beliau sudah lanjut usia, aku tetap merasa khawatir dengan kondisi tubuhnya.


Mungkin menyadari kekhawatiranku, Shiraishi-san mengambil sebotol air mineral dari tas yang diletakkan di dekatnya.


"Aku juga minum air dengan cukup kok, jadi tidak apa-apa."


"Kalau begitu... syukurlah."


"Kau benar-benar anak yang baik, ya, Takuya-kun."


Kupikir ini hal yang biasa saja... namun mungkin karena sekarang aku sudah memiliki kelapangan hati untuk mengkhawatirkan orang lain.


"Jadi, ada apa? Karena Mina-chan dan Reina-chan tidak ada, kau jadi kesepian?"


"Ugh..."


"Hahahaha! Jadi tepat sasaran, ya!"


S-Sampai segitunya tertawa...?


Tawa beliau yang begitu keras membuatku malu hingga memalingkan wajah, tetapi rupanya itu justru membuat beliau semakin geli.


"Tidak perlu tertawa sebanyak itu, kan?"


"Maaf, soalnya lucu sekali."


"............."


Reina-san juga pernah mengatakan hal yang sama, tapi... apa aku memang terlihat selucu itu?


Terlepas dari soal apakah aku lucu atau tidak, karena beliau sudah tahu aku sedang merasa kesepian, sekalian saja kuakui.


"Iya, memang. Aku kesepian, makanya keluar rumah. Lagi pula kalau keluar, aku bisa bertemu Shiraishi-san."


"Astaga... jangan-jangan kau sedang merayuku?"


"Siapa tahu. Aku bantu pekerjaan ladangnya, ya."


"Oh? Benarkah?"


"Iya."


"Kalau begitu, aku terima bantuannya."


Begitulah akhirnya aku membantu pekerjaan di ladang.


Meski begitu, pengetahuanku soal bercocok tanam tidak terlalu banyak, jadi tugasku lebih banyak mengangkat pupuk yang berat dan mencabuti rumput liar.


"Takuya-kun, jangan lupa minum yang banyak juga, ya."


"Siap!"


Setelah itu, kami bekerja dengan begitu serius sampai lupa waktu.


"...Huff, panas sekali."


Sekitar dua puluh menit setelah mulai bekerja, tubuhku sudah basah kuyup oleh keringat.


Seberapa sering pun aku mengelapnya dengan handuk, keringat terus bermunculan tanpa henti. Bahkan pakaianku sampai menempel di punggung karena terlalu basah.


"Shiraishi-san... hebat sekali."


Beliau juga sama-sama bermandikan keringat, tetapi gerakannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.


Tak mau kalah darinya, aku kembali menyemangati diri dan bekerja lebih giat lagi.


"Wah, kehadiranmu benar-benar membantu ya, Takuya-kun."


"Memangnya aku benar-benar berguna?"


"Tentu saja. Kalau sendirian, pekerjaannya tidak mungkin selesai sejauh ini."


"...Haha, syukurlah kalau aku bisa membantu."


Melihat Shiraishi-san tersenyum seperti itu membuatku kembali merasa bahwa bisa berguna bagi seseorang adalah sesuatu yang benar-benar membahagiakan.


"Selain itu... rasanya seperti sedang ditemani cucuku, jadi menyenangkan juga."


"Hm... bolehkah aku bertanya tentang cucu Shiraishi-san?"


"Tentu saja boleh. Cucuku sekarang tinggal di daerah Osaka... entah bisa pulang dua kali setahun atau tidak."


"Itu pasti sepi, ya..."


Dua kali setahun, ya...


Meski begitu, di sisi lain rasanya juga cukup normal.


Kalau nenekku sendiri masih hidup, mungkin aku akan lebih sering menjenguknya... yah, soal itu memang tergantung orangnya masing-masing.


"Bukan berarti aku tidak peduli pada cucuku. Tapi selama masih bisa menghabiskan waktu seperti ini bersama Takuya-kun, aku tidak merasa kesepian."


"............."


Sambil mengusap keringat, Shiraishi-san mengatakan itu.


Senyumnya yang begitu hangat membuat dadaku terasa sesak. Bukan karena beliau menganggapku sebagai pengganti cucunya... melainkan karena beliau benar-benar mempercayaiku sebagai diriku sendiri.


"Kalau begitu, setidaknya selama aku ada di sini, biar aku yang berusaha sebaik mungkin untuk Shiraishi obaa-chan."


"...Hehe, terima kasih."


Setelah itu, aku terus bekerja di samping Shiraishi-san.


Selama bekerja, percakapan kami tidak pernah terputus. Kami berbincang jauh lebih banyak daripada sebelumnya, sehingga aku mengenal beliau lebih dalam. Sebaliknya, beliau juga menceritakan banyak hal tentang desa ini kepadaku.


"Huff... pinggangku mulai sakit."


Namun, aku tidak bisa mengabaikan rasa lelah yang mulai menumpuk di tubuhku.


Belum sampai batas kemampuanku, tetapi karena terus membungkuk dalam posisi yang hampir sama, beban di pinggangku terasa cukup berat.


Mungkin sudah waktunya istirahat sebentar...


Tepat ketika aku berpikir begitu.


"Yahho~ Takkun♪"


"...Eh?"


Semuanya terjadi begitu tiba-tiba.


Begitu suara yang sangat kukenal menggema di telingaku, seseorang menepuk pundakku pelan. Aku pun menoleh.


"...Yua?"


"Iya♪ Sudah lama sejak terakhir kali kita bertemu, ya?"


Yang berdiri di belakangku adalah Yua.


Seperti biasa, ia mengenakan pakaian bergaya gyaru yang cukup terbuka. Namun justru karena cuaca sedang sangat panas, penampilannya malah terlihat menyegarkan.


"............."


Seperti yang Yua katakan, terakhir kali kami bertemu adalah pada hari aku mengatakan akan tetap tinggal di sini.


Memang kami sempat beberapa kali mengobrol lewat telepon pada malam hari, tetapi bertatap muka seperti ini baru pertama kali lagi setelah beberapa hari.


"...Hehe♪"


"...!"


Melihatnya tersenyum lembut, suhu tubuhku yang sudah panas terasa semakin meningkat.


Yua juga salah satu gadis yang telah mengungkapkan perasaannya kepadaku dan membantuku memutus hubungan dengan para atasan brengsek itu.


Penampilannya benar-benar cocok dengan gaya gyaru—ceria, penuh semangat, dan berkepribadian kuat.


Namun, mungkin ini terdengar seperti prasangka karena penampilannya, tetapi sebenarnya ia sangat perhatian dan berhati lembut.


Kalau saja kami bertemu sejak masa sekolah, mungkin ia akan dijuluki sebagai "gyaru yang baik hati kepada para otaku."


"Bukankah itu Yua-chan? Ada apa kemari?"


"Selamat siang, Shiraishi-san. Hari ini aku libur kerja, terus aku juga ingin bertemu Takkun, jadi sekalian jalan-jalan ke sini."


"Ooh, begitu rupanya."


"Aku senang bisa bertemu Shiraishi-san juga, tapi yang paling membuatku puas adalah bisa melihat Takkun yang keren sambil berkeringat seperti ini♪"


Keren, ya...


Mendengar itu tentu saja membuatku senang. Namun di saat yang sama aku juga malu, hingga tanpa sadar mengalihkan pandangan.


"Hahaha! Begitu ya! Mina-chan dan Reina-chan memang sudah punya selera yang bagus, tapi Yua-chan juga ternyata pandai melihat laki-laki. Aku juga diam-diam memperhatikan Takuya-kun tadi, dan memang dia benar-benar keren."


"Iya, kan! Takkun itu keren banget, dan dia juga orang yang baik!"


"............."


Gawat... kalau terus mendengarnya aku bakal makin malu!


Karena sudah tidak tahan lagi, aku kembali mencabuti rumput liar. Namun suara Yua dan Shiraishi-san begitu keras sehingga mustahil berpura-pura tidak mendengarnya.


Aku tidak mendengar apa-apa... benar, aku tidak mendengar apa-apa.


Sambil terus mensugesti diri sendiri, aku berkonsentrasi mencabuti rumput, tetapi tak lama kemudian Yua ikut berjongkok di sampingku.


"Aku juga ikut membantu."


"Eh?"


"Oh? Tidak apa-apa kah?"


"Tolong izinkan aku membantu... meskipun alasan utamanya cuma karena aku ingin melakukan hal yang sama seperti Takkun♪"


"Hahaha! Benar-benar populer, ya, Takuya-kun."


"............."


Yua tersenyum ceria, sementara Shiraishi-san juga tampak begitu menikmati suasana.


Sejujurnya aku berharap mereka berhenti menggodaku, tetapi aku juga tidak ingin merusak suasana hangat yang mereka ciptakan.


...Tidak, bukan begitu.


Apa pun yang mereka katakan tentangku, entah kenapa aku justru merasa senang mendengarnya... Yang paling membuatku bahagia adalah kenyataan bahwa keberadaanku kini menjadi bagian dari percakapan sehari-hari orang-orang baik yang kukenal di desa ini.


"Takkun... hehe♪"


"...Ada apa?"


"Tidak apa-apa. Ayo lanjut kerja di ladang!"


"Iya... eh, kau benar-benar akan bekerja dengan pakaian seperti itu ya?"


"Yup. Malas juga kalau harus pulang buat ganti baju sekarang kan."


"Begitu, ya..."


Setelah itu Yua ikut bergabung, dan kami kembali tenggelam dalam pekerjaan selama sekitar tiga puluh menit.


Seperti yang sudah berkali-kali kukatakan, hari ini benar-benar panas. Walaupun kami rajin minum air, saat pekerjaan selesai keadaan kami benar-benar mengenaskan.


Bahkan pakaian yang sedikit kotor oleh lumpur terasa tidak ada apa-apanya dibanding tubuh kami yang basah kuyup oleh keringat.


"Wah... Takkun, lihat deh."


"...Parah juga."


"Iya, kan?"


Yua juga basah kuyup seperti diriku.


Pakaiannya menempel erat di kulit hingga warna pakaian dalamnya terlihat jelas. Namun Yua sama sekali tidak tampak malu. Bahkan seolah ingin aku melihatnya, ia justru mendekatiku.


Dadanya memang lebih besar daripada Mina, tetapi masih kalah dibanding Reina-san... Aku tahu menatapnya terus terang itu tidak sopan, tetapi gara-gara interaksi yang agak nakal dengan Mina dan Reina-san belakangan ini, tanpa sadar aku ikut melirik dada Yua.


"Melihatnya terus begitu~... mesum."


"...Maaf."


"Tidak usah minta maaf. Kalau Takkun yang melihat, aku malah senang."


Sambil berkata begitu, Yua membusungkan dadanya seolah ingin menonjolkannya.


Payudaranya yang menggoda bergoyang tepat di depan mataku, membuat pandanganku semakin sulit dialihkan. Namun, yang ada di tempat ini bukan hanya aku dan Yua.


"Astaga... sebenarnya aku sudah menduganya, tapi hubungan Takuya-kun dan Yua-chan benar-benar jadi akrab, ya."


"A-Ahaha..."


"Tentu saja! Soalnya aku suka sama Takkun!"


"Oho!"


Mendengar pengakuan Yua, Shiraishi-san tersenyum lebar lalu mengangguk, kemudian berkata kepadaku.


"Kalau begitu sekalian saja menikahi Mina-chan, Reina-chan, dan Yua-chan."


"Itu... bercanda, kan?"


"Menurutku tidak masalah, kok. Hahaha!"


"............."


Kupikir beliau hanya bercanda, tetapi cara mengatakannya membuatku merasa beliau juga cukup serius....


Namun sekarang, setelah mengetahui perasaan Yua, Mina, dan Reina-san, sejujurnya aku masih belum bisa menentukan pilihan apa yang harus kuambil.


Tetapi... ada satu hal yang pasti.


Aku ingin tetap berada di sini.


Aku ingin berada di sisi mereka yang telah menerimaku dan mengatakan bahwa mereka ingin aku tetap tinggal di sini... Perasaan itu benar-benar nyata. Bahkan kebingungan yang dulu kurasakan perlahan memudar setelah berbagai hal yang kami alami bersama belakangan ini.


"Kalau begitu, terima kasih ya kalian berdua. Kalian benar-benar banyak membantu hari ini."


Setelah membereskan barang-barangnya, Shiraishi-san pun pulang.


Sebenarnya aku ingin membantu membawakan barangnya karena beliau pasti lelah, tetapi beliau berkali-kali menolak sambil mengatakan bahwa tidak perlu.


"Keringatmu banyak juga, ya?"


"Iya... rasanya seperti habis olahraga."


Sudah lama rasanya aku tidak berkeringat sebanyak ini... Ada rasa puas setelah menggerakkan tubuh, tetapi aku juga ingin cepat-cepat mandi supaya segar.


"Reina-san ada di rumah?"


"Tidak, katanya baru pulang sore nanti."


"Hmm..."


"Kalau Yua sendiri mau ke mana sekarang?"


"Aku sih mau pulang buat ganti baju... Oh iya, Takkun."


"Hm?"


Seolah baru mendapat ide, Yua menepukkan kedua tangannya.


"Mau main ke rumahku? Mina dan Reina-san juga sedang tidak ada kan, jadi makan siang saja di rumahku."


"Eh..."


"Sekalian mandi di rumahku juga, yuk? Malah kalau mau, sekalian mandi bareng."


"Eh!?"


"Ada urusan lain setelah ini ya?"


"Tidak... sih."


"Kalau begitu sudah beres. Ayo berangkat."


Tanpa menunggu jawabanku, Yua langsung menarik tanganku.


Dan alasan aku tidak menghentikannya mungkin karena jauh di dalam hati, aku merasa senang menerima ajakannya.


Tak lama kemudian kami tiba di rumah keluarga Yame.


Yame-san... nenek Yua, katanya sedang ada urusan sampai lewat tengah hari. Dengan senyum penuh arti, Yua mengatakan bahwa kami bebas melakukan apa saja di rumah.


"Nih, kamar mandinya."


"...Kita benar-benar mandi bersama?"


"Masih ragu juga setelah sampai sini? Ya jelas bareng. Lagi pula aku memang ingin mandi tanpa rahasia apa pun bersama Takkun♪"


Yua mulai melepas pakaiannya.


Tak lama kemudian ia hanya mengenakan pakaian dalam, lalu bahkan pakaian terakhir itu pun dilepasnya begitu saja.


Kini Yua berdiri telanjang bulat di hadapanku tanpa berusaha menutupi bagian tubuhnya, meskipun pipinya tampak memerah karena malu.


"Dengar... Takkun juga lepas bajumu."


"..."


Seorang gadis telanjang memandang ke arahku dari bawah sambil memintaku ikut melepas pakaian... Situasi macam apa ini?


"Aku sudah telanjang, masa Takkun tidak? Rasanya tidak adil, kan?"


"M-Maaf..."


Eh... memang ini situasi yang harus membuatku meminta maaf!?


Tatapan Yua yang terus tertuju padaku akhirnya membuatku menyerah. Aku pun melepas semua pakaian hingga sama sekali tidak mengenakan apa pun.


"...Agak malu juga, ya."


"Ya jelas saja!"


Mendengar jawabanku, Yua tertawa kecil sambil menggaruk pipinya.


"............."


Namun, aku tetap memandang seluruh tubuh Yua yang sedang malu-malu.


Kalau dalam keadaan biasa aku melakukan hal seperti ini, mungkin aku akan ditatap penuh rasa jijik. Tetapi sekarang, hal itu justru diperbolehkan... bahkan sejak Yua mengajakku mandi bersama, rasanya memang bukan situasi yang pantas untuk diprotes.


"Kalau terus begini, kita tidak akan selesai. Cepat mandi biar segar lagi."


"O-Oke!"


Seperti saat menuju rumah Yame tadi, Yua kembali menggandeng tanganku memasuki kamar mandi.


Kamar mandi rumah Yame memang terlihat lebih tua dibanding milik keluarga Anzai, tetapi tetap terasa bersih dan terawat hingga ke sudut-sudutnya.


Aku didudukkan di bangku begitu saja, lalu sesuatu disiramkan ke tubuhku dari pancuran...


"Eh!? Dingin!"


"Hahaha! Lucunya Takkun, sampai kaget begitu♪"


Suara tawa Yua bergema di kamar mandi. Aku memang tidak sampai ikut tertawa, tetapi entah kenapa aku juga tidak ingin mengeluh.


Yang disiramkan ke punggungku bukan air hangat, melainkan air dingin.


Walaupun sekarang musim panas, air dingin tetap saja terasa dingin. Aku sebenarnya ingin protes, tetapi saat menoleh, yang kulihat tepat di depan mata adalah dua tonjolan dadanya yang berisi... Melihatnya dari jarak sedekat ini membuatku merasa protes apa pun akan langsung mendapat hukuman.


"Nah, sekarang baru air hangat, ya."


"...Kuserahkan padamu."


"Hehe, oke♪"


Barulah kemudian air hangat mulai mengalir di punggungku.


Keringat yang melekat di tubuh perlahan hanyut bersama aliran air hangat, membuatku tanpa sadar menghela napas puas.


"Enak, ya."


"Iya."


"Sekalian aku cuci tubuhmu juga."


"Eh... tidak apa-apa?"


"Tentu saja♪ Masa sudah mandi bareng Takkun tapi cuma mandi biasa? Sayang sekali~."


"...Kalau begitu, tolong ya."


"Serahkan padaku."


Yua mengangguk sambil menuangkan sabun mandi ke tangannya hingga berbusa.


"Eh...? Tidak pakai handuk?"


"Hah? Memangnya perlu?"


"...?"


Untuk mencuci badan...?


Baru saja aku berpikir begitu, sesuatu yang lembut dan kenyal menempel di punggungku.


"...!?"


"Hehe, aku akan mencuci tubuhmu memakai seluruh tubuhku sendiri♡"


Aku memang tidak bisa melihat apa yang terjadi di belakangku, tetapi langsung mengerti apa yang sedang dilakukan Yua.


Ia tidak mengoleskan sabun ke handuk, melainkan ke tubuhnya sendiri... tepatnya ke dadanya, lalu memelukku dari belakang.


Adegan seperti ini benar-benar seperti yang sering muncul di manga romantis.


"Gimana...? Enak?"


"...Iya."


Aku mengangguk jujur. Selain kelembutan dadanya yang terasa di punggungku, sensasi licin dari sabun membuat semuanya terasa semakin nyaman.


Yua juga menggerakkan tubuhnya naik turun, dan setiap gerakannya disertai desahan pelan... Sejujurnya, tubuhku mulai bereaksi karena semua itu.


"Aku sudah lama ingin mencoba melakukan hal seperti ini. Melakukannya kepada seseorang yang benar-benar kupercaya... lalu merasakan sendiri seberapa bahagianya aku."


"............."


"Sejujurnya hasilnya di luar dugaanku... Soalnya sekarang aku benar-benar bahagia. Bisa melakukan hal yang membuat jantung berdebar seperti ini bersama Takkun."


Lengan Yua melingkari perutku. Sambil memelukku erat, ia terus menggerakkan tubuhnya, membuat kehangatan dan kelembutannya terus terasa jelas di punggungku.


"Kalau Takkun sendiri bagaimana? Tidak suka yang begini?"


"...Mana mungkin aku tidak suka."


"Benar, kan?♡"


Kalau aku menjawab tidak suka di saat seperti ini, itu benar-benar berarti aku tidak peka terhadap suasana.


"Ingat apa yang pernah kukatakan hari itu? Aku akan memuaskan Takkun dengan seluruh diriku... Aku tidak akan pernah membiarkanmu menyesal karena memutuskan tetap tinggal di desa ini."


"Iya... aku ingat."


"Kau pasti sudah tahu kenapa aku melakukan semua ini, kan? Aku menyukai Takkun... dan aku yakin perasaanku tidak kalah besarnya dibanding Mina maupun Reina-san."


Saat mendengar kata "menyukai", jantungku berdetak kencang.


Bersamaan dengan rasa bahagia yang sama seperti saat Mina mengungkapkan perasaannya kepadaku, kebahagiaan karena diinginkan seseorang juga memenuhi hatiku.


"Tenang saja—Takkun tinggal tenggelam dalam kasih sayang kami... Memang kau pernah bilang suatu hari nanti akan pergi, tapi tekad manusia itu rapuh. Jadi silahkan saja terus berpikir begitu. Karena nanti, akulah yang akan menghancurkan tekad itu sampai berkeping-keping♡"


"...Padahal biasanya tekad yang rapuh itu hal yang buruk."


"Memang sih, tapi dalam situasi ini justru bagus, kan? Soalnya Takkun pasti merasa sangat bahagia dengan keadaan sekarang."


Ucapan itu terdengar begitu yakin, seolah-olah Yua bisa membaca isi hatiku.


Sementara kami berbicara, Yua tetap memeluk dan menggesekkan tubuhnya padaku, membuat gairahku sama sekali tidak sempat mereda.


"Ngomong-ngomong... ini benar-benar mengejutkan. Aku juga merasa sangat senang... hanya dengan begini saja... hanya dengan merasakan keberadaan Takkun saja rasanya aku sudah hampir tidak bisa menahan diri."


Setelah berbisik di dekat telingaku, Yua perlahan berpindah ke depan.


Ia berjongkok di hadapanku yang masih duduk di kursi. Wajahnya langsung memerah saat melihat tubuh bagian bawahku, tetapi ia sama sekali tidak mengalihkan pandangan.


Aku sendiri tentu juga malu, tetapi karena gairahku sudah terbangkitkan oleh Yua, mustahil lagi menyembunyikannya dengan tangan.


"Ini pasti terasa tidak nyaman, ya? Biar kubantu supaya terasa lebih lega."


Sambil mengusapnya dengan lembut, Yua berkata begitu. Aku pun tanpa sadar bertanya.


"Aku memang tidak pantas mengatakannya... tapi kau benar-benar tahu apa artinya ini?"


"Ya jelas tahu. Aku melakukan ini karena aku ingin bersama Takkun... karena aku ingin membuat Takkun merasa bahagia."


Lalu Yua menambahkan.


"Oh ya, aku juga tahu kalau Takkun sudah melakukan hal seperti ini bersama Mina dan Reina-san. Mina yang memberitahuku."


"Serius...?"


"Serius banget."


Yua mengangguk. Di matanya seolah menyala semangat yang terang.


Dengan ekspresi yang sedikit menantang, tatapannya terus tertuju ke arahku... dan bukan hanya melihat, ia juga terus membelai dengan lembut sehingga rangsangan itu tidak pernah berhenti.


"Melihat mereka berdua bisa membuat Takkun bahagia sementara aku tidak bisa... jujur saja, itu membuatku cukup kesal."


"Jangan-jangan... itu sebabnya hari ini kau mengajakku mandi ke sini?"


"Tepat sekali♪ Aku juga ingin berdiri di garis start yang sama... meskipun menyebut ini sebagai garis start memang agak aneh. Tapi kita semua sudah dewasa, jadi menurutku hal seperti ini juga tidak masalah."


"Kalau dipikir-pikir, hubungan kita jadi terasa sangat bebas."


"Memang sih... tapi ya sudah, tidak apa-apa juga, kan?"


Yua mengatakannya dengan begitu santai hingga rasanya percuma saja kalau aku terus memikirkannya.


Sambil tersenyum cerah menatapku, ia seolah bertanya lewat matanya apa yang kuinginkan.


"Yua... boleh kuminta bantuanmu?"


"Oke. Sudah kubilang kan, serahkan saja padaku♪"


Ia mengalihkan pandangannya dari wajahku dan memusatkan perhatian ke bawah.


Tanpa terlihat ragu, ia mulai dengan sentuhan lembut, lalu perlahan melanjutkannya dengan penuh perhatian.


Kehangatan yang kurasakan membuatku tanpa sadar teringat pada pengalaman bersama Mina dan Reina-san. Sensasi itu kembali membangkitkan kenangan yang sudah tertanam kuat dalam tubuhku.


"..."


Suasana menjadi dipenuhi napas dan suara lirih Yua.


Entah sejak kapan, bahkan suara-suara seperti itu pun mulai terasa akrab bagiku. Saat seperti ini, Mina biasanya akan tersenyum senang kalau kepalanya dielus. 


Aku penasaran bagaimana reaksi Yua, jadi perlahan kuletakkan tanganku di atas kepalanya.


"...♪♪"


"...Lucu sekali."


Yua ternyata menunjukkan reaksi yang sama seperti Mina.


Mungkin itu justru membuat semangatnya semakin besar, karena ia menjadi semakin sungguh-sungguh... dan tak lama kemudian aku mencapai batas kemampuanku.


"Ugh... pahit."


"Haha... ya, memang begitu."


Meskipun aku tahu itu pasti tidak enak, tetap saja Mina dan Reina-san yang selalu bisa tersenyum dan berkata rasanya enak memang luar biasa... ah, bukan berarti mereka aneh.


"Gimana...? Enak?"


"Iya... benar-benar luar biasa."


Begitu mendengar jawabanku, Yua langsung memelukku dengan gembira.


Sejujurnya, sekali lagi aku kembali dilanda perasaan yang sama. Benarkah waktu yang kuhabiskan bersama gadis secantik Yua ini benar-benar nyata?


Setelah Mina dan Reina-san, kini aku juga menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Yua.


Sejak datang ke Desa Minori, semuanya berubah begitu cepat. Hidupku dipenuhi berbagai kebahagiaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, seolah semua pengalaman yang selama ini tidak pernah kumiliki kini disajikan satu per satu di hadapanku.


"...Hei, Yua."


"Hm? Wajahmu kelihatan seperti sedang berpikir apa tidak apa-apa kalau terus membiarkan semuanya mengalir begini."


"...Kau ini cenayang?"


Bagaimana bisa dia tahu apa yang sedang kupikirkan!?


"Jadi benar, ya. Memang hal-hal seperti ini tidak bisa dibilang biasa. Wajar kok kalau Takkun merasa bingung."


"...Iya."


"Kami memang melakukan semua yang kami bisa supaya Takkun tidak pergi. Sementara Takkun sendiri juga belum benar-benar mengambil keputusan. Jadi kalau kau merasa ragu apakah semua ini baik atau tidak, itu juga wajar."


"............."


"Tapi dipikirkan terus juga tidak ada gunanya. Kami akan terus mendekati Takkun apa pun yang terjadi. Jadi... menyerahlah saja♡"


"Ugh..."


Kelembutan yang menempel di dadaku, ditambah godaan manis yang diucapkan dalam keadaan seperti itu...


Dan puncaknya adalah senyumnya yang indah saat menatapku dari dekat. Semua itu benar-benar memberikan serangan telak pada hatiku.


Setelah itu kami benar-benar membersihkan tubuh dengan pancuran, lalu keluar dari kamar mandi.


"Rasanya seperti terlahir kembali ya."


"Benar... serius, rasanya segar sekali."


"Syukurlah. Ngomong-ngomong... tadi juga terasa menyenangkan, kan?"


"...Iya."


"Hehe♪"


"Aku juga tidak menyangka kau sudah menyiapkan pakaian untukku."


"Yah, aku memang berpikir pasti akan ada saat-saat seperti hari ini di mana Takkun membutuhkan baju ganti. Makanya aku sudah membelinya dan menyiapkannya."


"Begitu ya."


Kalau memang terjadi hal seperti hari ini, adanya pakaian ganti memang sangat membantu.


Tapi sampai menyiapkan kemeja, celana, bahkan pakaian dalam... menurutku itu benar-benar dipersiapkan dengan sangat matang.


Sementara pakaian Yua sendiri masih mirip seperti saat di luar tadi, tetapi karena hari ini ia tidak berniat keluar rumah lagi, ia hanya mengenakan sehelai kemeja longgar seperti Reina-san, sehingga penampilannya cukup terbuka.


"Hari ini pulang pakai itu saja, ya. Bajumu yang penuh keringat akan kucuci di sini, nanti kukembalikan."


"Baik. Terima kasih untuk semuanya."


"Tidak perlu sungkan. Semua ini demi Takkun kok♪"


Yua tersenyum puas sambil memeluk lenganku. 


Kelembutan yang tadi terus kurasakan kini kembali menyentuhku. Walaupun berusaha menahannya, sudut bibirku perlahan terangkat.


Melihat ekspresiku, Yua pun berkata.


"Takkun, sekarang kamu jadi lebih sering tersenyum, ya."


"Eh?"


Mendengar kata-kata yang tak terduga itu, mataku membelalak.


"Waktu pertama kali kita bertemu, atau bahkan saat kita bertemu lagi setelah itu, Takkun selalu memasang wajah muram... tapi sekarang kamu terlihat jauh lebih ringan."


"...Lebih ringan, ya."


"Iya. Selain karena sudah memutuskan hubungan dengan para atasan itu, kurasa menghabiskan waktu bersama Mina dan yang lainnya juga banyak memulihkan hatimu, kan? Malah menurutku, Takkun yang sekarang penuh ekspresi seperti inilah Takkun yang sebenarnya."


Mendengar itu, aku mengangguk.


Saat pertama datang ke desa ini, hatiku selalu dipenuhi kemurungan. Namun sekarang, perasaan seperti itu sudah jauh berkurang.


Memang aku masih sesekali memimpikannya, jadi mungkin luka itu masih tersisa sebagai trauma. Meski begitu, dibanding dulu aku jadi lebih sering tertawa, dan bisa menunjukkan reaksi yang lebih besar saat bersama mereka juga menjadi bukti kalau perasaanku mulai membaik.


"Itu pasti berkat Yua dan yang lainnya."


"Kalau begitu syukurlah. Tapi semakin kamu pulih seperti sekarang, bukankah tinggal menunggu waktu sampai kamu tidak bisa lagi meninggalkan kami?"


"Itu..."


"Tenang saja. Daripada terus bersikap keras kepala, aku akan membuat tubuhmu mengerti kalau bersandar pada kami jauh lebih berarti."


Semakin ia berbicara, suaranya semakin penuh tekanan. Bersamaan dengan itu, telunjuk dan jari tengahnya yang menyentuh pipiku mengusapnya dengan gerakan yang seolah menggoda.


Benar-benar seperti seorang gyaru... yah, meski aku belum pernah digoda gyaru seperti ini, cara Yua mendekatiku terasa berbeda dari Mina maupun Reina-san.


"Aku... benar-benar belum pernah menyukai seseorang sedalam ini. Makanya aku terus terang saja menyerangmu tanpa berputar-putar."


"............."


"Lagi pula tidak ada alasan bagiku untuk tidak jatuh cinta. Bersamamu itu menyenangkan, dan aku ingin melakukan apa saja untukmu, bahkan hal-hal yang mesra sekalipun... Merasa cocok satu sama lain juga alasan yang cukup kuat, kan?"


"Iya..."


Seperti seorang guru yang sedang menjelaskan sesuatu kepada anak kecil, Yua mengangkat telunjuknya lalu melanjutkan dengan tenang.


"Perasaan yang muncul, waktu yang kita habiskan bersama... semua itu memang penting. Tapi bukan cuma itu. Aku... bukan, bukan cuma aku. Mina dan Reina-san juga sudah mengenal dirimu lebih dalam, makanya kami menjadi seperti ini."


"Karena kalian sudah mengenalku lebih banyak..."


"Benar. Meski terluka karena pekerjaan, kamu tidak pernah lupa peduli pada orang lain. Cara kamu berbicara tentang nenekmu yang sangat dekat denganmu, cara kamu menemani Shiraishi-san tadi... bahkan waktu kamu menolongku juga sama. Kami mengenal Takkun apa adanya, dan setelah itu tetap menginginkan Takkun sepenuh hati."


Kata-kata Yua seolah menerima seluruh keberadaanku.


Mina dan Reina-san memang selalu mengatakan hal yang sama, tetapi sekarang Yua juga mengatakannya langsung kepadaku.


Semua itu membuat rasa percaya diriku tumbuh sedikit demi sedikit... mungkin itulah salah satu alasan kenapa hatiku mulai pulih. Aku benar-benar terharu memikirkan betapa besar perhatian mereka kepadaku.


"...Terima kasih, Yua."


"Sama-sama♪"


Bersamaan dengan rasa bahagia yang kurasakan, Yua juga tampak begitu senang.


...Mungkin agak sombong kalau aku menganggap ekspresinya begitu karena diriku, tetapi begitulah yang kulihat.


Sejak tadi ia terus memeluk lenganku sambil menatapku.


Karena jarak kami begitu dekat, aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah Yua. Kami saling menatap seolah waktu berhenti...


Lalu terdengar suara yang ceria.


"Astaga! Wah, aku melihat pemandangan yang bagus, ya!"


"Eh!?"


"Uwah!?"


Suara orang ketiga yang tiba-tiba terdengar membuat aku dan Yua serempak menoleh.


Tentu saja suara itu terasa akrab, karena yang berdiri di sana adalah Yame-san, yang rupanya baru saja pulang.


Bukannya beliau baru pulang setelah lewat tengah hari...?


Yame-san meletakkan barang bawaannya, lalu menghela napas pelan sambil melihat kami berdua dengan senyum penuh arti.


"Aku memang kaget Takuya-kun datang ke sini, tapi tidak menyangka bisa melihat pemandangan seperti ini. Hebat juga, Yua."


"Maaf mengganggu..."


"N-Nenek..."


"Kau tadi juga bilang sudah jadi lebih akrab dengannya, kan? Hahaha! Kalau lawannya Takuya-kun, aku bisa tenang."


Sambil tertawa riang, Yame-san berjalan masuk ke dapur.


Aku dan Yua hanya bisa memandangi punggungnya dengan wajah terpaku, lalu saling berpandangan.


Tak lama kemudian, tanpa sadar kami sama-sama tersenyum kecil.


"Eh... hahaha."


"...Yang barusan agak memalukan juga."


Melihat Yua menundukkan wajahnya, aku mengangguk karena merasakan hal yang sama.


Sebenarnya dibanding apa yang kami lakukan di kamar mandi tadi, ini tidak terlalu memalukan... tetapi kata-kata itu kutelan kembali.


"Tapi bukannya nenek bilang baru pulang setelah lewat tengah hari...?"


"Mungkin urusannya selesai lebih cepat?"


"...Yah, kalau sudah terlanjur ketahuan juga tidak bisa apa-apa. Lagi pula nanti juga pasti bakal sering melihat kita seperti ini, jadi percuma dipikirkan."


"Sering melihat...?"


"Ya iyalah. Mulai sekarang setiap kali Takkun datang ke rumah ini dan bermesraan denganku, pasti bakal ketahuan juga."


Dia mengatakannya seolah itu sudah menjadi keputusan pasti....


Tak lama kemudian tibalah waktu makan siang. Saat menikmati kari yang disiapkan, aku menjelaskan kepada Yame-san kenapa aku datang ke rumah ini.


Apa pun hubungan kami sekarang, Yame-san tahu bahwa pertemuan pertama kami dulu berlangsung dengan sangat buruk. Karena itulah beliau merasa sangat senang melihat kami kini bisa akur seperti ini.


"Takuya-kun, datanglah kapan saja, ya. Meski Yua sedang tidak di rumah juga tidak apa-apa."


"Baik."


"Tunggu! Kalau aku tidak ada, itu tidak boleh dong!?"


"Apa yang kau bicarakan? Aku juga ingin mengobrol dengan Takuya-kun."


"...Hmph!"


Aku memang senang mendengar ajakan Yame-san, tetapi Yua malah mengembungkan pipinya dengan wajah tidak puas.


"...Haha."


Tentu saja ini bukan pertengkaran, hanya percakapan akrab keluarga yang sangat dekat.


Melihat interaksi Yame-san dan Yua membuatku teringat pada diriku sendiri dan nenekku dulu.


Perasaan nostalgia membuatku tanpa sadar tersenyum. Melihat ekspresiku, Yame-san yang tadi mengalihkan pandangannya kembali menatapku.


"Takuya-kun, sekarang senyummu jadi jauh lebih bagus ya."


"Eh?"


"Jauh lebih baik daripada waktu pertama kali aku melihatmu. Rasanya seperti semua beban yang selama ini menempel padamu akhirnya hilang."


"............."


Haha... Yame-san mengatakan hal yang sama seperti Yua.


Mungkin karena mereka keluarga, tetapi lebih dari itu, orang-orang yang mengenalku sekarang bisa langsung melihat kalau aku memang sudah jauh lebih baik.


"Kurasa itu semua karena aku datang ke Desa Minori... Sejujurnya, di saat yang sama aku juga merasa takut. Memang sudah pasti aku akan meninggalkan Tokyo, tapi kalau waktu itu aku tidak sempat singgah ke sini... sungguh."


Namun kenyataannya tidak seperti itu.


Aku dibimbing datang ke desa ini, bertemu Mina dan yang lainnya... dan sekarang bisa menjalani hari-hari dengan hati yang tenang. Terlepas dari semua hal mesra yang terjadi, aku bahkan tidak ingin membayangkan dunia di mana aku tidak pernah datang ke desa ini.


"Aku... benar-benar bersyukur sudah datang ke Desa Minori."


"Takkun!"


"Hahaha! Begitu ya!"


Yua langsung memelukku, sementara Yame-san mengusap kepalaku.


Sensasi ini...Maaf, Yua, tetapi usapan tangan Yame-san di kepalaku terasa begitu akrab. Kenangan lama bersama nenekku kembali muncul dengan begitu jelas.


(Aku...)


Pada hari aku memutuskan akan tetap tinggal di desa ini, aku sempat berkata bahwa suatu saat nanti aku akan pergi.


Sekarang aku bisa mengatakannya dengan jelas... waktu itu aku hanya berpikir tidak boleh terus bergantung pada orang lain. Namun dibanding terus bersikap keras kepala seperti itu, bukankah lebih baik jujur mengikuti apa yang benar-benar kuinginkan?


"............."


Meski begitu, semakin kupikirkan, semakin ada satu hal yang terus terlintas di benakku.


Kalau Mina, Reina-san... bahkan Yua terus mendekatiku seperti ini, mungkin sudah waktunya aku berhenti menahan diri dan mulai mendekati mereka juga... mungkin tidak apa-apa jika aku mengikuti keinginan hatiku sendiri.


"Takkun? Wajahmu merah, lho."


"...Tidak apa-apa kok."


Aku menggeleng untuk menutupinya, tetapi Yua yang tampak curiga justru semakin merapatkan tubuhnya.


...Melihat mereka terus mendekatiku seperti ini... kepada mereka yang telah menjadi penyelamatku... aku tidak bisa lagi menahan diri untuk berpikir bahwa mungkin aku juga boleh mengikuti naluriku dan melakukan apa yang benar-benar kuinginkan.


Berada di sisi mereka saja sebenarnya sudah membuatku bahagia...


Namun aku juga ingin menjalin hubungan yang lebih dalam lagi dengan Mina dan yang lainnya.


Keinginan itu kini tumbuh semakin kuat di dalam hatiku.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close