Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Prologue
Bagiku, hidup itu adalah penderitaan.
Segera setelah lulus universitas dan resmi menjadi pekerja, aku langsung mengenal sisi gelap masyarakat.
Perusahaan hitam—aku memang tahu secara pengetahuan, dan itu memang masalah besar di masyarakat modern, tapi aku tidak pernah menyangka hal seburuk itu akan menimpa diriku sendiri.
Aku dulu mengira hidup itu akan berjalan dengan campuran senang dan susah, berpacaran dengan seseorang, menikah, punya anak, membangun keluarga… lalu ketika tua, meninggalkan dunia ini.
Aku selalu berpikir seperti itu, tapi ternyata itu hanya pikiran manis yang naif.
Aku sudah berusaha keras, tapi tidak tahan… akhirnya aku melarikan diri.
Tanpa tujuan, aku melarikan diri, dan di ujung perjalanan itu aku sampai di sebuah tempat bernama Desa Minori.
Di sini, aku mengalami pertemuan yang tak tergantikan, dan cahaya pun menyinari hatiku yang gelap dan terpuruk.
Aku sudah tidak lagi berpikir ingin hidup enak atau ingin sendirian.
Hidup memang tidak bisa diprediksi apa yang akan terjadi, tapi aku ingin memuji dan berterima kasih kepada diriku sendiri yang memilih untuk melarikan diri saat itu.
Terima kasih, diriku pada hari itu…
Sekarang aku sangat bahagia… hatiku penuh dengan perasaan gembira yang luar biasa.
…Hanya saja, ada sedikit kejadian yang tidak terduga… yaitu, para wanita yang merawatku ini ternyata sangat mesum.
Ya ampun… mereka benar-benar mesum. Tapi aku menerimanya… aku bahkan tidak bisa membayangkan melepaskan mereka.
Aku sudah tidak ingin berpisah dari mereka yang telah mengulurkan tangan padaku, dan aku tidak ingin melepaskan tangan mereka itu.
Aku sudah tenggelam jauh ke dalam kedalaman mereka… tapi rasanya sangat nyaman.
Aku tidak bisa melarikan diri… bahkan, aku sama sekali tidak ingin melarikan diri. Aku ingin terus berada di sisi mereka yang tidak hanya menerimaku, tapi juga menginginkanku.
▼▽
"Entahlah… ini rasanya bisa jadi satu volume novel ringan."
Tiba-tiba, sambil menatap langit-langit, aku bergumam.
Baru saja aku bangun, tapi masih jam enam, jadi masih agak terlalu pagi untuk bangun.
"Tubuhku sama sekali tidak merasa lelah… setiap pagi sejak datang ke sini adalah bangun tidur terbaik."
Beberapa hari lalu, aku takut pagi datang… tentu saja, bukan?
Karena begitu bangun, sebentar lagi aku harus berangkat kerja dan dilempar ke neraka itu.
Memang, meski aku punya tabungan, tidak bekerja mungkin dianggap tidak becus sebagai anggota masyarakat… tapi aku tidak menyangka bahwa fakta telah meninggalkan perusahaan dengan bos-bos brengsek itu bisa membuat hatiku menjadi sangat ringan.
"…Bukan, bukan karena itu. Bukan karena meninggalkan perusahaan, tapi karena Mina dan yang lain menyembuhkan aku."
Mina, Reina-san, dan Yua yang aku temui di Desa Minori ini.
Tanpa pertemuan dengan mereka, aku pasti tidak akan bisa menyambut pagi dengan perasaan tenang seperti sekarang.
Hanya karena satu kesalahan kecil dalam menekan tombol… pertemuan dengan Mina yang menjadi awal segalanya dan titik balik hidupku itu mungkin tidak akan terjadi jika aku datang ke desa ini sedikit lebih cepat atau lebih lambat.
"Ada kemungkinan aku hanya mampir ke desa ini tanpa bertemu siapa pun… aku sama sekali tidak mau membayangkannya."
Aku tidak mau memikirkan kemungkinan tidak bertemu Mina dan yang lain.
"…Lagi pula."
Baru saja aku berpikir tidak mau memikirkan hal-hal buruk… aku malah menganggap diriku sendiri sebagai orang mesum. Kenapa? Karena yang muncul di benakku saat itu adalah hal-hal mesum yang dilakukan Mina dan Reina-san padaku.
"Mina dan Reina-san itu terlalu mesum… sial."
Masih… kalau dibilang begitu agak aneh, tapi aku memang belum melakukan hubungan intim yang sesungguhnya.
Tapi setiap kali aku merasa bergairah terhadap mereka, seolah mereka tahu, mereka selalu melayani dan menyembuhkan aku.
Aku sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu terlalu cabul untuk disebut penyembuhan, tapi sensasi dari mulut dan dada mereka sungguh luar biasa enak, selalu membawaku ke dunia mimpi dengan lembut.
"…?"
Saat itu, terdengar langkah kaki dari balik pintu.
Begitu aku menyadari bahwa langkah itu milik Mina atau Reina-san, entah kenapa aku langsung pura-pura tidur.
"Takuya-san, sudah bangun?"
Suara yang terdengar adalah suara Mina.
Aku tidak menjawab panggilan itu dan terus pura-pura tidur dengan mata tertutup… bahkan aku sendiri tidak mengerti kenapa aku memilih berpura-pura tidur.
"Aku masuk ya…? Aku masuk lho?"
Dengan bunyi klik, pintu terbuka, dan satu kehadiran memasuki ruangan.
Kehadiran itu mendekat dengan pelan, seolah melangkah hati-hati di atas tatami, lalu berhenti tepat di sampingku.
"…Fufu, wajah tidurnya lucu sekali♪ Apakah ini bukti bahwa rumah ini sudah menjadi tempat yang membuat Takuya-san merasa aman?"
"…………"
Memang benar… memang benar sekali.
Aku selalu berusaha untuk tidak melupakan rasa terima kasih dan berusaha membalas budi mereka dengan banyak hal, tapi sering kali mereka malah tertawa dan bilang aku terlalu memikirkannya.
"Mungkin aku tidur sebentar di sampingnya…"
Mina berkata demikian, lalu sepertinya berbaring tepat di sampingku. Nafasnya, serta aroma manis yang samar-samar tercium, menggelitik hidungku.
Karena kami sudah sering menghabiskan waktu dengan jarak yang sangat dekat, aroma ini terasa seperti sudah menjadi bagian dari tubuhku sendiri.
Aku tidak terlalu paham soal parfum, tapi aku tahu body soap dan shampo apa yang dia pakai.
Lagi pula kami pakai kamar mandi yang sama, jadi aku juga pakai yang sama… ah, itu sekarang tidak penting.
"…………"
"Kamu sama sekali nggak bergerak ya… Memandangi wajah tidur juga enak, tapi aku lebih suka melihat matanya sambil bicara… gitu♪"
Maaf Mina… seharusnya aku tidak pura-pura tidur sejak awal.
Karena itu aku kehilangan timing untuk bangun… lagi pula aku memang payah berbohong dan aktingnya juga buruk, jadi kalau aku membuka mata sekarang dan berpura-pura baru bangun, pasti langsung ketahuan.
…Meski pura-pura tidur seperti ini mungkin juga sudah ketahuan, tapi seperti yang tadi kukatakan, kehilangan timing untuk bangun itu terlalu menyakitkan.
"Lagi pula… fufu♪ Tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan bisa melayani Takuya-san. Aku ingin melayani lebih banyak lagi… ingin melakukan hal-hal yang jauh lebih enak lagi♡"
Kata-kata yang dibisikkan di telingaku membuat tubuhku hampir bergetar.
Karena mata tertutup, mungkin ada kegembiraan yang tak terlihat, tapi kata-kata Mina yang tiba-tiba menjadi genit itu… secara langsung sangat buruk untuk bagian bawah tubuhku.
Apalagi aku baru saja membayangkan hal mesum bersama mereka.
Kalau aku lengah sedikit saja, dengan posisi ini dia pasti langsung menemukan bukti gairahku… tapi kalau sampai begitu dalam keadaan ini, bagaimana?
"……Ah, tidak boleh. Kalau berada di samping Takuya-san… kalau mencium aroma Takuya-san, tubuhku jadi panas… padahal sebentar lagi aku harus bersiap-siap berangkat ke sekolah, tapi malah mengeluarkan aroma mesum begini… aku ini wanita yang tidak tahu malu ya…♡"
Dia mulai mengatakan hal-hal yang semakin mesum!?
Aku tidak tahu persis apa yang dimaksud dengan "aroma mesum", tapi menurutku itu adalah aroma manis yang keluar dari Mina dan Reina-san.
"Takuya-san…♡"
Dengan pelan tapi pasti, Mina semakin mendekat.
Semakin kuat aroma dan kehadirannya, semakin berarti jarak di antara kami mendekati nol… dan akhirnya, Mina sepertinya sudah berada di jarak yang sangat rapat, hampir menempel.
"Tubuh yang kokoh sekali…♡ Aku selalu membayangkannya lho? Dipeluk erat oleh tubuh ini… dipeluk begitu kuat sampai sakit, lalu tubuhku disukai sesuka hati… ah, luar biasa♡"
Saat hembusan napas Mina menyentuh pipiku, tangannya mulai merayap di tubuhku.
Cara menyentuhnya sangat cabul, dan meski aku selalu berpikir begitu, sulit dipercaya bahwa Mina yang tampak sangat sopan dan bersih ini melakukan hal seperti ini.
Tangan itu kemudian turun ke bagian bawah tubuhku.
"…Ufufu♡"
Sambil menyentuh lembut di atas celana, Mina membuka mulut.
"Aku punya banyak hal yang ingin dilakukan lebih banyak dengan Takuya-san. Misalnya berhubungan seks denganmu… aku ingin melakukan banyak hal."
"…………"
"Tapi, berada bersamamu saja sudah membuatku puas. Kamu melakukan begitu banyak hal seolah-olah sudah lama tinggal di rumah ini. Kamu sangat bisa diandalkan… apakah kamu tahu betapa bahagianya aku dan Ibu dengan kehadiranmu?"
Dia mencium pipiku dengan bunyi cup, lalu tangannya masuk ke dalam celanaku.
Sudah beberapa hari sejak pertama kali dia melayaniku, dan karena sudah dilakukan beberapa kali, gerakan tangannya sudah sangat terlatih.
Sensasi diperlakukan dengan lembut dan berharga tentu saja membuat tubuhku bereaksi.
"Sudah besar ya…♡ Mau aku buat enak?"
"…………"
…Akhirnya aku menyerah. Pura-pura tidur sudah tidak mungkin.
Namun… sebelum aku menyerah dan membuka mata, Mina lebih dulu berkata dengan nada yakin:
"Lalu, Takuya-san? Sampai kapan kamu mau pura-pura tidur gitu?"
"Uh!?"
Aku memang sudah menduga, tapi ternyata benar-benar ketahuan.
Aku menyerah dan membuka mata, Mina tersenyum manis sambil menatapku.
"Ehm… ternyata ketahuan ya?"
"Tentu saja. Aku sudah tahu sejak masuk ke kamar."
"Serius?"
"Serius. Lagi pula, aku bisa membaca semua hal tentang Takuya-san lho? Aku selalu memperhatikan Takuya-san, dan aku tahu persis apa yang kamu inginkan."
Kalau sudah sejauh itu agak menyeramkan sih…
Tapi aku merasa senang karena dia memikirkanku sampai sejauh itu, dan aku malah ingin mendengar lebih banyak kata-kata seperti itu darinya.
"Kalau begitu, Takuya-san, apa yang kamu inginkan?"
Ini pertanyaan yang sering diajukan akhir-akhir ini. Tidak hanya Mina, Reina-san juga sering bertanya hal yang sama, dan jawabanku selalu sama.
"…Bisakah kamu buat aku lega?"
Dengan jawaban yang masih disertai rasa malu, dia mengangguk dengan senang.
"Kalau begitu, aku ambil ya♡"
Dia berpindah ke antara kakiku, membuka mulut lebar, lalu langsung menyedotnya.
Kelembapan hangat yang terasa dari bagian sensitif itu terasa agak panas, tapi segera lenyap digantikan oleh kenikmatan yang menyebar ke seluruh tubuh.
Suara yang terlalu vulgar untuk didengar di pagi hari.
Suara air jub-jub, suara vakum juruuur bergantian memainkan melodi mesum yang membuat suasana hatiku semakin naik.
Sambil menggerakkan kepalanya, Mina menatapku tanpa berkedip. Dari matanya, aku bisa merasakan kalau dia sedang meminta pendapatku. Aku mengangguk sambil mengusap kepalanya.
"Enak sekali, Mina."
"♪♪"
Saat itu juga, jelas terasa bagaimana kekuatan gerakannya berubah drastis.
Kadang rangsangannya begitu lembut, lalu seketika berubah menjadi sangat kuat. Kenikmatan yang membuat pinggangku nyaris terangkat itu hampir membuatku tak mampu menahan suara.
"Mina...!"
"...!♡"
Seperti balon yang mengembang hingga akhirnya meledak, gelombang hasrat yang telah melampaui batas tumpah keluar ke dalam Mina.
Beberapa detik... lalu puluhan detik, gelombang kenikmatan itu terus berlanjut.
Kurasa sebentar lagi sensasi ini akan mereda...
Namun baru saja aku berpikir begitu, tiba-tiba datang hisapan terkuat hari ini.
"Kuoh!?"
"...♡♡"
Aku hampir berdiri karena refleks, tetapi Mina segera melingkarkan kedua lengannya erat di pinggangku, lalu semakin menempelkan wajahnya ke tubuhku.
"M-Mina...!"
Mina sama sekali tidak melepaskan diri dan terus melanjutkannya.
Baru setelah aku benar-benar selesai, dia akhirnya menjauh, menggerakkan mulutnya beberapa saat...
Glek.
Dia menelannya.
"Ufufu♪ Terima kasih atas hidangan paginya♪"
Mina berkata begitu dengan wajah yang benar-benar puas.
"A-Ahaha... terima kasih, Mina."
"Iya♪"
Pagi yang terlalu menggairahkan ini bermula dari pura-puraku yang masih tidur, tetapi sebenarnya rangsangan seperti ini sudah menjadi bagian dari hari-hariku bersama mereka.
Di dalam kehidupan seperti ini tidak ada penderitaan. Bahkan, aku sampai berkali-kali bertanya pada diri sendiri apakah pantas bagiku menerima semua ini...
Keinginan seorang pria di dalam diriku benar-benar dipenuhi dengan cara yang begitu membahagiakan.
Dan waktu bersama Mina ini hanyalah awal dari satu hari.
Setelah selesai berganti pakaian, aku menuju ruang keluarga.
Di sana, Reina-san sedang menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Takuya-kun."
"Selamat pagi."
Dibanding aroma lezat makanan yang tersaji di meja, perhatianku justru tertuju pada pakaiannya yang tetap hanya berupa camisole tipis seperti biasa.
Saat dia menoleh, belahan dadanya yang besar bergoyang pelan. Tanpa sadar aku terus menatapnya, membuat Reina-san terkekeh.
"Sedikit terlalu lama melihatnya, ya? Yah, aku tidak keberatan kalau yang melihat adalah Takuya-kun."
"M-Maaf..."
"Tidak perlu minta maaf. Kau boleh melihat sesukamu, bahkan menyentuhku sesuka hati juga tidak masalah."
Sambil tersenyum penuh godaan, Reina-san berdiri tepat di depanku.
Harumnya sama manisnya dengan Mina, tetapi kalau soal pesona yang menggoda, rasanya Reina-san bahkan melampaui Mina.
"...Hmm?"
"Reina-san?"
Tiba-tiba Reina-san mengendus-endus. Dia mendekat dan menghirup aromaku, lalu berbisik di dekat telingaku.
"Kukira Mina lama sekali sejak masuk ke kamarmu... jadi dia sudah melayanimu, ya?"
"Itu..."
Jangan-jangan dia tahu hanya dari baunya...!?
Meski terdengar mustahil, Mina juga sering menyadari hal-hal kecil seperti itu.
Seperti sekarang Reina-san bisa menebaknya, begitu pula setelah aku bersama Reina, Mina juga sering langsung menyadarinya.
"Itu... Reina-san dan Mina memang cepat sekali menyadarinya, ya."
Saat aku bertanya begitu, senyum Reina semakin dalam.
Dengan wajah seolah sedang mabuk oleh perasaan, dia melingkarkan kedua tangannya ke belakang leherku.
Jarak kami kini begitu dekat hingga kami bisa langsung berciuman.
"Aku tahu segalanya tentangmu. Karena aku selalu memperhatikanmu... jauh lebih lama daripada yang kau bayangkan."
Suasana dan kata-katanya mengingatkanku pada Mina tadi.
Aku sudah mengerti.
Baik Mina maupun Reina-san, mereka mencurahkan perasaan yang begitu besar kepadaku. Dan aku sendiri benar-benar bahagia menerima semuanya.
"Jadi, kau bersama Mina tadi?"
Aku yang sempat melamun akhirnya kembali ke kenyataan.
Meski tersenyum manis, ada sedikit kegelapan di matanya. Entah kenapa itu terasa sedikit menyeramkan, tetapi wanita di depanku ini tetap sangat cantik.
"Iya..."
"Begitu... dia lebih dulu dariku, ya. Tapi berikutnya giliranku. Aku akan membuatmu merasa sangat nyaman, jadi nantikan saja."
Mendengar itu, tentu saja aku mengangguk.
Namun...
Ternyata Reina sedikit cemburu saat itu. Perasaan itu terlihat jelas setelah Mina berangkat bekerja.
"Emm... Reina-san?"
"Ada apa?"
Reina-san memeluk lenganku erat sambil menempel padaku.
Begitu Mina keluar rumah, Reina-san mengajakku bersantai bersamanya. Namun aku bisa merasakan tekadnya yang jelas seolah berkata bahwa aku tidak boleh menolak.
"Dada Reina-san benar-benar... menempel."
"Memang sengaja kutempelkan."
Ah... jawaban yang sudah bisa diduga.
Dengan senyum lebar, Reina-san semakin menekan dadanya yang besar ke tubuhku.
Aku tahu dia sengaja melakukannya agar aku terangsang. Namun ternyata dia tidak langsung mengajakku melakukan hal yang lebih jauh.
Sepertinya meski terus menempel seperti ini, Reina-san hanya ingin menikmati waktu santai sambil berpelukan.
"...Haa."
"Ada apa?"
Di tengah suasana itu, Reina-san tiba-tiba menghela napas.
Aku menatapnya, lalu dia berbicara dengan ekspresi sedikit murung.
"...Entahlah apakah kata 'kekanak-kanakan' cocok atau tidak. Tapi aku merasa menyedihkan karena bisa sampai cemburu pada putriku sendiri."
"..."
"Maaf, ya? Takuya-kun tetap ada di sini. Bagaimanapun juga aku dan Mina akan selalu berada di sisimu... bahkan kau sendiri sudah bilang akan tetap tinggal di sini."
Reina-san tersenyum lemah.
Namun bagiku, senyumnya justru terlihat sangat manis.
Sama seperti Mina, Reina biasanya selalu tenang dan sering membuatku bingung dalam arti yang menyenangkan.
Karena itulah melihat sisi dirinya yang seperti ini terasa seperti menemukan celah yang begitu menggemaskan.
"... Reina-san, lucu sekali."
"Eh...?"
"Bagiku Reina punya pesona seperti seorang kakak perempuan... jadi melihatmu seperti ini... entah kenapa menurutku sangat menggemaskan."
"Haruskah aku senang mendengarnya?"
Reina-san menggembungkan pipinya lalu memalingkan wajah. Sesaat tadi aku sempat melihat pipinya mengendur karena senang dipanggil lucu.
Meski sekarang dia tidak mau menatapku, aku tetap merasa dia sangat menggemaskan. Lagi pula, sekarang hanya ada kami berdua di sini.
Kalau terus diam tanpa bicara, rasanya sepi.
"Reina-san?"
"Hmph."
Bahkan sengaja mengucapkan "hmph" pun terdengar lucu.
"Apa yang harus kulakukan supaya dimaafkan?"
Reina-san langsung menoleh.
"Kalau kau membiarkanku memanjakanmu, aku akan memaafkanmu."
"...Eh?"
Aku benar-benar tidak menyangka jawaban seperti itu.
Jawaban yang begitu terus terang mengikuti keinginannya. Dan melihat kembali aura menggoda yang dipancarkan Reina, tubuhku jelas bereaksi.
"Tubuhmu jujur sekali, ya? Jadi... ingin dimaafkan? Kalau begitu biarkan aku memanjakanmu."
Sambil berkata begitu, Reina mulai melepaskan camisole-nya.
Kulit putihnya yang indah pun terlihat.
Dia membuka kait bra-nya dan memperlihatkan dadanya yang berisi. Sambil menopang dadanya dengan kedua tangan, Reina berkata,
"Nih, aku akan membuatmu merasa nyaman dengan payudaraku♡ Kau suka, kan? Suka diperlakukan seperti itu di sini♡"
"...Iya."
Meski belum lama sejak Mina memanjakanku, kenyataan bahwa sekarang Reina-san juga akan melakukannya membuatku bahagia.
Aku tidak menyesal sedikit pun.
Namun di sisi lain, kehidupan yang begitu diberkati ini justru terasa sedikit menakutkan.
Meski begitu, aku tidak bisa menolak mereka.
Karena memang aku menginginkannya.
Setelah melewati hari-hari yang penuh penderitaan, akhirnya aku berhasil meraih kebahagiaan ini.
Aku memang belum sepenuhnya terbiasa dan masih ada sedikit keraguan.
Namun justru karena pernah menderita, keinginanku untuk memiliki semua ini semakin hari semakin besar.
"Tidak perlu menahan diri... inginkan kami lebih lagi. Kami juga menginginkanmu, dan kami akan menerima seluruh hasratmu♡"
Kewarasan yang membuatku ingin menahan diri dengan mudah dilucuti.
Setelah itu, Reina-san pun memanjakanku dengan penuh kelembutan.
"...Fufu♪"
"Ada apa?"
"Tidak... mungkin dulu pernah kukatakan. Aku senang karena ternyata aku masih bisa merasakan gairah sebagai seorang wanita. Kalau aku tidak bertemu Takuya-kun, mungkin aku tidak akan pernah mengingat perasaan ini lagi... jadi..."
"...?"
"Tolong jangan pernah pergi dari sini, ya?"
"...Iya."
Reina-san memiringkan kepalanya pelan. Matanya yang terbuka lebar seolah kehilangan fokus.
Menakutkan...
Seharusnya memang menakutkan. Namun bisikan menggoda yang tak mampu kutolak itu justru membuat rasa bersemangat dan harapanku semakin membesar.
"...Sekarang mulai terasa panas sekali, ya."
"Ah... benar juga."
Musim panas memang sudah tiba.
Dulu saat masih tinggal di apartemen, aku selalu menyalakan AC sangat dingin. Namun ruang keluarga rumah ini memiliki sirkulasi udara yang bagus, jadi cukup membuka jendela saja sudah terasa sejuk.
Meski begitu, sedikit bergerak saja tubuh langsung berkeringat.
"Dua minggu lagi juga akan ada festival musim panas. Penampilan Mina memakai pakaian miko benar-benar cantik, jadi kau boleh menantikannya."
"Wah...!"
Jadi akhirnya aku bisa melihat Mina mengenakan pakaian miko seperti yang selama ini hanya kudengar.
Aku benar-benar menantikannya.
"Kalau dipikir-pikir, rasanya mengharukan. Seharusnya setelah miko sebelumnya berhenti, tarian miko juga akan berakhir. Tapi Mina bersikeras ingin melanjutkannya, jadi tradisi itu tetap hidup sampai sekarang."
"Mungkin dia tidak ingin tradisi desa ini hilang begitu saja?"
"Mungkin begitu. Entah dia mewarisi sifat itu dari siapa."
Bukankah dari Reina sendiri?
Saat membicarakan Mina, wajah Reina selalu dipenuhi kebanggaan. Mendengarnya membuatku ikut merasa senang.
"Aku dan Yua-chan juga mungkin akan memakai yukata, jadi pastikan kau melihat kami baik-baik."
"B-Baik!"
Sejak datang ke Desa Minori, kehidupanku di sini sebenarnya baru saja dimulai.
Masih banyak hal yang akan kualami di desa ini.
Dan bisa melewati semua itu bersama Mina dan yang lainnya membuat hatiku dipenuhi kebahagiaan hingga aku tak mampu menyembunyikan senyum.
Hari-hari bahagia yang kudapatkan setelah melarikan diri dari pekerjaan, dari atasan brengsekku, dan dari Kanzaki-san.
Aku ingin menikmati semuanya lebih dan lebih lagi. Itu tekad yang tertanam kuat di dalam hatiku.




Post a Comment