Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 5
Jaring Pengepungan
Bukan hanya dengan Mina dan Reina-san, aku juga menjalin hubungan dengan Yua.
Aku tahu hubungan seperti ini bukanlah sesuatu yang dipandang baik oleh masyarakat pada umumnya. Namun, selama aku bisa merasakan kehangatan dan kebaikan hati mereka, sekalipun orang-orang mencibirku dari belakang, aku tidak peduli.
Tentu saja, aku tidak ingin melihat mereka terluka karena hubungan ini. Itulah sebabnya hubungan kami sama sekali tidak boleh diketahui orang.
"Asalkan kita sendiri yang mengetahuinya, itu sudah cukup."
"Benar. Lagi pula, buat Takkun ini benar-benar harem, kan? ♪"
"Kami juga akan mengajakmu, tapi Takuya-kun juga boleh mengajak kami kapan saja, tahu?"
Hubungan kami adalah milik kami sendiri.
Malah, dibandingkan aku, mereka bertiga jauh lebih bersemangat menjalani hubungan seperti ini. Kurasa yang terbaik bagiku hanyalah mengikuti alur waktu yang sedang berjalan.
"Ini benar-benar masa paling membahagiakan dalam hidupku."
Orang bilang hidup itu ada naik dan turunnya. Kalau melihat diriku sekarang, tidak diragukan lagi aku sedang berdiri di puncak.
Aku jelas tidak ingin terjatuh dari sini. Karena itu, agar hal tersebut tidak terjadi, aku harus menghargai setiap hari yang kujalani sekarang. Bukan hanya terus menerima dari mereka, aku juga ingin memberikan banyak hal kepada mereka.
"Dan lagi... hahaha."
Tanpa sadar sudut bibirku terangkat. Namun alasan senyumku bukan hanya karena Mina dan yang lainnya.
Dalam beberapa hari terakhir, jumlah orang yang kukenal di Desa Minori meningkat dengan sangat pesat.
Berkat membantu persiapan Festival Panen bersama Mina, aku menjadi akrab dengan kepala desa, Donoue-san, istrinya, dan juga penduduk desa lainnya.
Sejak Mina memperkenalkanku dengan cara yang penuh makna, mereka memang sudah tertarik kepadaku. Namun setelah mengenal kepribadianku, mereka mulai membuka hati kepadaku. Memikirkan lingkaran pertemananku yang semakin luas membuatku sangat bahagia.
"Takuya-kun, bagaimana menurutmu desa ini?"
"Kalau dibilang tidak punya apa-apa memang benar, tapi ini desa yang hangat, bukan?"
"Di sini tidak ada orang yang suka menyakiti orang lain."
"Aku juga orang yang datang dari luar, tapi udara di sini benar-benar terasa menyegarkan."
Saat memejamkan mata, percakapanku dengan para penduduk desa kembali terbayang satu per satu.
Aku memang suka berinteraksi dengan orang lain, dan aku lebih suka lagi jika bisa berguna bagi mereka. Bagaimanapun juga, manusia tidak bisa hidup sendirian.
Tentu saja, bukan berarti semua orang seperti itu. Ada kalanya hidup sendirian terasa lebih nyaman.
Namun sekarang aku benar-benar memahami sesuatu. Seandainya aku tetap hidup sendirian... seandainya aku tidak pernah datang ke desa ini, atau tidak pernah bertemu siapa pun dan terus hidup dalam kesepian... kemungkinan besar aku akan menuju akhir yang sangat buruk.
"...Agh, sudahlah!"
Padahal tadi aku sedang memikirkan hal-hal yang menyenangkan. Namun sedikit lengah saja pikiranku langsung mengarah ke hal-hal negatif. Kebiasaan buruk ini benar-benar harus kuperbaiki.
"Kalau aku memasang wajah muram begini, anak-anak pasti jadi ikut khawatir."
Aku menepuk pipiku pelan dan kembali menyemangati diri.
Biasanya aku tidak punya jadwal khusus, tetapi hari ini ada rencana yang cukup penting.
Anak-anak SD tempat Mina mengajar akan bermain di sungai, dan Mina mengajakku ikut menemani mereka.
"Cuacanya panas sekali, jadi bermain air juga tidak buruk, kan? Lagi pula anak-anak juga ingin bertemu dengan Takuya-san."
"Hah?"
"Ingat waktu kita bermain sepak bola bersama mereka? Anak-anak itu bilang ingin bermain lagi dengan Takuya-san. Anak-anak lainnya juga penasaran karena aku sering membicarakanmu."
"Begitu ya..."
Percakapan itu terjadi dua hari yang lalu.
Aku masih ingat saat bermain sepak bola bersama anak-anak di tanah lapang. Ternyata mereka ingin bermain lagi denganku. Mendengarnya membuatku benar-benar senang.
Entah lawannya orang dewasa ataupun anak-anak, disukai orang lain memang rasanya menyenangkan.
"Tapi aku ini... pada dasarnya orang dewasa yang kabur dari kehidupan masyarakat."
Kalau dipikir-pikir begitu, apakah aku akan memberi kesan buruk pada anak-anak...? Kekhawatiran itu sempat muncul, tetapi aku tersenyum pahit. Tentu saja aku tidak mungkin menceritakan hal seperti itu kepada mereka.
"Baiklah... untuk sekarang, lebih baik aku berangkat."
Tujuanku adalah sungai yang mengalir tepat di samping sekolah dasar.
Aku pernah melihatnya sekilas saat menjemput Mina, dan samar-samar kuingat airnya sangat jernih.
Lagi pula sungainya juga cukup dangkal, jadi anak-anak kelas rendah pasti bisa bermain dengan aman di sana.
"...Sungai, ya."
Entah karena aku dibesarkan di Tokyo atau bukan, aku belum pernah bermain di sungai. Pengalaman berenangku hanya di kolam renang.
"Sedikit... tidak sabar juga."
Aku hanya diminta menemani, jadi sebenarnya tidak berniat berenang. Namun melihat sungai seindah ini, yang tidak mungkin kutemui di kota, rasanya melihat-lihat saja sudah cukup menyenangkan.
"Ah, suara itu...?"
Sepertinya aku sudah hampir sampai.
Aku mulai mendengar suara riuh anak-anak.
Mereka terdengar sangat bersemangat. Mendengar suara itu membuatku teringat bahwa dulu aku juga pernah melewati masa seperti itu, dan rasa nostalgia pun memenuhi dadaku.
"Anak-anak memang paling cocok kalau bisa bermain sebebas ini ya."
Sering kudengar orang berkata bahwa setelah menikah dan punya anak, cara pandang hidup mereka berubah, atau mereka jadi merasa anak-anak itu sangat menggemaskan. Mungkin perasaan yang kurasakan sekarang juga termasuk salah satunya.
"Ah, ketemu."
Akhirnya aku sampai di tujuan.
Di sungai yang jernih dan dangkal itu, anak-anak sedang bermain, sementara Mina bersama para sensei dan orang tua murid mengawasi mereka.
"...Ini, aku masuk ke sana bagaimana ya?"
Tiba-tiba aku jadi memikirkan hal itu.
Memang ada Mina dan beberapa orang yang kukenal dari persiapan Festival Panen. Namun bagi orang yang tidak mengenalku, aku hanyalah pria asing yang tiba-tiba mendekati anak-anak. Di zaman sekarang, yang penuh berbagai masalah, aku jadi khawatir jangan-jangan malah dianggap mencurigakan dan dilaporkan.
Begitu langkahku terhenti, rasanya sulit untuk mulai bergerak lagi.
Saat aku berdiri mematung selama beberapa puluh detik, Mina rupanya menyadari keberadaanku dan menoleh ke arahku.
"Ah... ahaha..."
Mina melambaikan tangan sambil tersenyum, tetapi ketika melihat aku tidak bergerak, ia memiringkan kepalanya dengan bingung.
Reaksi Mina itu membuat bukan hanya anak-anak, tetapi juga semua orang di sana ikut menoleh ke arahku. Rasanya benar-benar canggung.
Namun orang yang menyelamatkanku justru adalah anak-anak itu sendiri.
"Ah, Kakak!"
"Dia datang!"
"Kakak, ngapain berdiri di situ?"
Tiga anak yang berlari ke arahku setelah keluar dari sungai adalah anak-anak yang dulu bermain sepak bola bersamaku.
"Anzai-sensei sudah bilang kalau Kakak bakal datang! Kami benar-benar menungguin!"
"Iya! Ayo cepat main sama kami!"
"Ke sini! Ke sini!"
"B-Baiklah, tapi tenang dulu!"
Anak-anak ini benar-benar penuh tenaga... sangat penuh tenaga! Mereka setengah memaksaku sambil menarik tanganku menuju tempat Mina berada.
"Terima kasih sudah datang, Takuya-san."
"Iya. Aku sudah berjanji, kan."
"Iya. ♪"
Mina menutup mulutnya dengan tangan sambil tersenyum manis.
Senyumnya selalu terlihat cantik dan menggemaskan sampai-sampai membuatku terpana. Namun, di saat yang sama aku juga terus memperhatikan anak yang masih menggenggam tanganku.
Kalau sampai karena kelalaianku anak itu terluka, aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.
"...Oh..."
"...Hmm..."
"...Hee..."
Ketiga anak itu mendongak bergantian melihatku dan Mina sambil menyipitkan mata.
"Kakak sama Anzai-sensei pacaran ya?"
"Kalian akrab banget, sih."
"Kalau benar, kalian cocok banget!"
Mendengar ucapan mereka, aku langsung tersedak batuk.
Saat aku batuk-batuk, Mina mengusap punggungku dengan lembut. Melihat itu, anak-anak justru semakin heboh dan mulai bersorak riang.
"Nah, jangan terlalu membuat Takuya-san kesulitan, ya?"
"Iyaaa!"
"Mengerti!"
"Maaf!"
Sama sekali tidak terlihat kalau mereka benar-benar menyesal. Mina hanya menghela napas melihat tingkah mereka.
Tentu saja Mina tidak benar-benar marah, dan aku juga tahu anak-anak itu tidak punya niat buruk.
Aku berjongkok agar tinggi badanku sejajar dengan mereka.
"Sudah lama ya sejak kita main sepak bola bersama. Kalian memang ingin bermain denganku lagi?"
Begitu kutanya, ketiganya langsung mengangguk kuat-kuat.
Mungkin karena melihat suasana hangat di antara kami, anak-anak yang lain juga mulai berdatangan.
"Kami juga mau main!"
"Kakak, Kakak mau berenang?"
"Ayo tangkap ikan bareng!"
"Ayo main kejar-kejaran!"
"Paman!"
"Hei! Tidak boleh memanggil Paman!"
"Kata Ibu, orang yang masih muda suka gengsi!"
Ada juga anak yang punya pengetahuan aneh seperti itu!?
"Siapa tadi yang manggil Paman?!"
"Kyaaa!"
"Dia marah!"
"Lariii!"
Tentu saja aku sama sekali tidak marah.
Anak-anak perempuan itu tertawa riang sambil berlari dan memeluk sensei yang lain seolah meminta perlindungan.
Sensei yang sudah cukup berumur itu menerima pelukan mereka lalu melambaikan tangan ke arahku, seolah berkata, serahkan mereka padaku.
"Hehe, sepertinya Takuya-san memang sudah terbiasa menghadapi anak-anak kecil?"
"Kurasa tidak juga... tapi berinteraksi dengan anak-anak kecil memang menyenangkan. Mungkin memang begitulah sifatku."
"Bukankah itu berarti Takuya-san orang yang baik hati? Menurutku itu sesuatu yang patut dibanggakan."
"Iya... terima kasih, Mina."
"Iya. ♪"
Benar juga... mampu bersikap baik kepada orang lain memang merupakan sesuatu yang luar biasa.
Saat seseorang menyakiti orang lain, itu berarti hatinya sedang miskin. Sebaliknya, saat seseorang bisa bersikap baik kepada orang lain, itu berarti hatinya sedang kaya. Hal itu baru kupahami setelah menjadi dewasa.
Yah, meski hatiku sedang kacau sekalipun, aku tidak pernah berniat melampiaskannya kepada orang lain. Dan yang jelas, saat ini aku bisa berinteraksi dengan anak-anak dengan perasaan yang tulus.
"Eh, Shun-kun, ada apa?"
Mina menyapa anak laki-laki yang sedang menggandeng tanganku.
Begitu ya... jadi anak ini namanya Shun-kun.
Memang kami pernah bermain bersama sebelumnya dan sepertinya dia cukup menyukaiku, tapi kami belum sempat saling memperkenalkan diri.
Shun-kun bergantian menatapku dan Mina sebelum berkata,
"Kalian memang pacaran, ya? Soalnya akrab banget."
"............"
"Ufufu~♪ Menurutmu bagaimana, ya?♪"
Melihat reaksi Mina yang tampak tidak keberatan dengan anggapan itu, aku jadi sedikit malu.
"Kak, ayo cepat main!"
"Ajari aku berenang!"
"Ayo tangkap ikan!"
"Hei! Nggak adil! Cuma bertiga aja yang main!"
"Kami juga mau main!"
Bukan hanya Shun-kun dan anak-anak yang pernah bermain denganku sebelumnya. Anak-anak lain juga menarik tanganku, menarik bajuku, dan berusaha membawaku pergi.
Siapa sangka suatu hari aku bakal jadi sepopuler ini di kalangan anak-anak....
"Masih banyak waktu kok. Kita main satu per satu, ya."
"Iya!"
"Yeay!"
"Hore!"
Meski begitu, apa staminaku sanggup menghadapi anak sebanyak ini?
Kekhawatiranku ternyata benar. Setelah menemani semua anak yang ingin bermain denganku, aku benar-benar kelelahan.
"Astaga... anak-anak ini energinya kebangetan."
"Kakak lemah banget!"
"Jangan-jangan sebenarnya paman, ya?"
"Siapa yang barusan bilang paman!?"
"Kyaaa~~!"
"Waaah!"
Kalau Shun-kun dan teman-temannya memang sudah akrab denganku sejak main bola dulu.
Tapi anak-anak perempuan ini terus saja menggodaku dengan memanggilku "Paman". Anehnya, aku sama sekali tidak kesal... mungkin karena mereka benar-benar anak-anak yang menggemaskan.
"Hei kalian! Jangan ganggu Kakak!"
"Kami yang akan melawan!"
"Kami lindungi Kakak!"
"...Kalian."
Shun-kun dan teman-temannya berdiri di depanku untuk melindungiku dari anak-anak perempuan.
Inilah persahabatan sesama laki-laki...! Entah kenapa aku merasa pernah mengalami hal seperti ini saat masih sekolah, tapi tetap saja aku terharu.
"Apa sih!"
"Mau lawan kami, ya!?"
"Ayo kalau berani!"
Anak-anak perempuan sama sekali tidak gentar.
Melihat semangat mereka...
"...Maaf."
"Kami nggak akan ngapa-ngapain."
"Maaf ya, Kak."
"HEI!?"
Kalian ini! Cuma karena lawannya perempuan langsung ciut begitu!?
Saat Shun-kun dan teman-temannya mundur dengan ragu-ragu, anak-anak perempuan mendengus puas.
Memang ya....
Di usia berapa pun, perempuan itu kuat.
Aku sendiri juga tidak pernah bisa menang melawan Mina dan yang lain. Rasanya sampai kapan pun juga tidak akan bisa.
Kini tak ada lagi yang melindungiku.
Mina sedang menemani anak-anak lain, dan memang sekarang anak-anak ini menjadi tanggung jawabku.
Kalau begitu... aku harus berjuang!
"Hei, paman! Lanjut main yu—eh!?"
Anak perempuan yang menjadi pemimpin kelompok, Takeru-chan, mendekat sambil menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung dan menatapku dari bawah.
Namun tiba-tiba ia tersandung batu.
"Takeru-chan!"
Tanpa kusangka, tubuhku bergerak begitu cepat.
Aku segera berdiri di depannya dan berhasil menangkap tubuh kecilnya sebelum ia terjatuh. Karena masih anak-anak, tubuhnya sangat ringan. Hampir tidak ada benturan sama sekali.
"Kau... tidak apa-apa?"
Aku memastikan keadaannya.
Syukurlah, sepertinya dia tidak terluka.
"Ah... iya...."
"Kamu tidak apa-apa!?"
Mina juga berlari menghampiri untuk memastikan keadaannya.
Di tengah tatapan khawatir Shun-kun dan anak-anak lainnya, Takeru-chan perlahan menjauh dariku.
"...Terima kasih, paman."
"Iya. Syukurlah kau tidak terluka."
Entah karena malu sudah kutolong atau karena hampir terjatuh, wajah Takeru-chan memerah saat mengucapkan terima kasih.
Aku pun mengusap kepalanya.
"Nah, nah. Tapi akan lebih senang kalau kau memanggilku Kakak, bukan paman."
"M-mana mau! Paman tetap paman!"
Takeru-chan menepis tanganku dari kepalanya, menjulurkan lidah dengan lucu, lalu berlari pergi.
"Haha... jangan-jangan sekarang dia jadi membenciku."
"Kurasa tidak begitu. Malah menurutku kebalikannya."
"Benarkah? Kalau begitu aku senang."
Dilihat dari reaksinya, memang sepertinya dia tidak membenciku.
Ucapan terima kasihnya tadi juga terasa tulus. Terlepas dari panggilan "Paman", kurasa pada dasarnya dia anak yang baik.
"Hehe, ternyata Takuya-san memang pandai menghadapi anak kecil, ya?"
"Pandai, ya...? Aku sendiri kurang tahu. Tapi kalau memang begitu, berarti aku menemukan sisi diriku yang baru."
"Kalau begitu nanti pasti akan menjadi ayah yang hebat♪"
"Jadi ayah yang hebat...!"
"Ah, kamu jadi malu, ya?♪"
Ya jelas malu kalau tiba-tiba dibilang begitu!
Karena aku sudah tahu perasaan Mina... dan juga perasaan mereka semua, aku mengerti benar apa makna ucapan "ayah yang hebat" itu.
Yah, meski aku dibuat malu oleh ucapan Mina, tentu saja bukan hanya kami berdua yang ada di sini.
"...Ah."
"...Uwah."
Memang agak aneh kalau aku sendiri yang mengatakannya, tapi suasana di antara aku dan Mina pasti terlihat sangat akrab.
Kami memperlihatkannya begitu terang-terangan, jadi wajar kalau semua mata tertuju kepada kami.
Tapi sebenarnya... Mina memperkenalkanku kepada mereka sebagai apa?
"Eh..."
"Hm?"
Saat itu Mina tampaknya menyadari sesuatu.
Aku mengikuti arah pandangannya. Di sana ada Takeru-chan dan teman-temannya. Takeru-chan yang berdiri paling depan sedang menatap kami dengan tajam.
Tatapannya memang penuh rasa tidak suka, tetapi pipinya yang menggembung membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
"Ya ampun... Takuya-san benar-benar populer, ya."
"...Hah?"
Jangan-jangan tatapan anak itu karena alasan seperti itu...?
Aku ingin langsung menyangkal, tapi rasanya apa pun yang kukatakan hanya akan menjadi bahan godaan Mina.
Jadi aku memilih diam.
"Kak, ayo main lagi!"
"Aku masih belum puas mainnya!"
"Ayo, Kak!"
Namun, ketenangan itu hanya berlangsung sesaat.
Sambil tersenyum kecut melihat Shun-kun dan yang lainnya menarik-narik tanganku agar terus bermain, aku kembali menjauh dari Mina dan menemani mereka serta anak-anak yang lain bermain.
Memang benar, saat sedang bersenang-senang waktu terasa berlalu begitu cepat. Bermain bersama anak-anak pun tidak terkecuali. Ketika waktu untuk bubar semakin dekat, entah kenapa aku merasa sedikit sedih.
Terlebih lagi...Shun-kun, yang menjadi paling akrab denganku, menggenggam tanganku sambil berkata,
"Main sama Kakak itu seru. Anzai-sensei bilang Kakak datang dari tempat yang jauh... nanti suatu saat Kakak bakal pulang?"
"Itu..."
"Eh? Kakak mau pulang?"
"Kenapa? Kenapa?"
Mendengar perkataan Shun-kun, anak-anak yang lain pun ikut berkumpul.
Kenapa ya... padahal kami baru menghabiskan sedikit waktu bersama, tapi mereka sudah menyukaiku sampai seperti ini.
Meski begitu, melihat anak-anak yang berhati polos menyukaiku sedalam ini membuatku benar-benar bahagia.
Aku bingung harus menjawab apa, lalu mengalihkan pandangan kepada Mina.
Tanpa mengatakan apa pun, ia hanya tersenyum lembut, seolah sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan.
"............"
Ah, benar juga....
Jawabannya sudah kutentukan sejak lama.
Aku menyesuaikan tinggi badanku dengan mereka, lalu berkata,
"Aku... tidak berniat pulang. Soalnya aku sudah menyukai desa ini."
"Benarkah?"
"Yeay!"
"Hore!"
Astaga... jangan senang sebesar itu.
Dadaku saja sudah terasa hangat gara-gara kalian, kalau reaksinya seperti ini, aku harus mati-matian menahan air mata agar tidak keluar.
Mendengar jawabanku, Shun-kun dan teman-temannya saling melakukan tos dengan gembira.
"Oh... jadi paman bakal tetap tinggal di sini ya.... Kalau gitu nanti kalau aku lagi senggang, aku bakal main sama paman!"
"Aku juga!"
"Mau bagaimana lagi, ya!"
Di luar dugaan, Takeru-chan dan teman-temannya juga tampak senang.
Setelah pertukaran yang menghangatkan hati itu, acara pun selesai dan semua anak pulang ke rumah masing-masing.
"Mendadak jadi sepi, ya."
"Iya."
Kini yang tersisa hanya aku dan Mina.
Sungai yang tadi begitu ramai kini diselimuti keheningan. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gemericik aliran air.
"Suara yang bikin ngantuk, ya."
"Iya. Rasanya kalau mau, kita bisa langsung tidur siang."
"Tidur siang, ya... kalau rebahan di tengah alam begini, sepertinya langsung tertidur."
"Takuya-san."
"Hm?"
Saat itu Mina menggenggam tanganku.
"Mau ikut ke sana?"
"Ke sana?"
"Tadi kita tidak ke sana demi keselamatan anak-anak, tapi di sana airnya sedikit lebih dalam. Aku jadi ingin berenang sebentar."
"Oh begitu... memang kalau ada anak-anak, agak sulit pergi ke tempat yang dalam."
"Baiklah. Aku akan menemanimu, Putri."
"Iya♪ Tolong ya♪"
Lalu kami pun berjalan sedikit lebih jauh.
Semakin maju, air sungai semakin dalam. Warna hijaunya yang pekat pun secara visual memperlihatkan kedalamannya.
"Benar juga. Berbahaya kalau anak-anak berenang di sini."
"Itulah sebabnya meski mereka ingin ke sini, aku selalu melarang mereka."
Mina mengembuskan napas pelan, lalu mulai melepas pakaiannya.
Selama bermain bersama anak-anak tadi, Mina tetap mengenakan pakaian sehingga aku belum sempat melihat pakaian renangnya.
Meski kausnya yang basah membuat pakaian renangnya sedikit terlihat, baru sekarang seluruh penampilannya benar-benar terlihat.
"Oh...."
"Bagaimana?"
Mina mengenakan bikini putih sederhana. Warna putih bersih itu sangat cocok dengannya dan memancarkan kesan anggun. Namun, lekuk tubuhnya yang begitu indah justru menghapus kesan polos itu dalam arti yang baik.
"Cocok sekali... dan juga seksi."
"Aku senang kau menjawab dengan jujur♪ Sebenarnya sempat terpikir memakai yang lebih berani, tapi melihat reaksimu, ternyata yang ini sudah cukup ya♪"
Pakaian renang yang lebih berani....
Tentu saja aku penasaran seperti apa jadinya, tetapi bukan berarti aku berbohong saat mengatakan bahwa pakaian renang sederhana seperti ini justru lebih kusukai.
"Tatapanmu lebih panas daripada matahari, ya."
"...Ya jelas. Mana mungkin aku tidak memandangimu."
"Ufufu♪ Lain kali kita ajak Ibu dan Yua juga, lalu pergi ke laut, ya? Tidak, kita pasti akan pergi."
Ke laut, ya....
Membayangkannya saja sudah membuatku bersemangat.
Apa pun yang akan kulakukan mulai sekarang, aku akan selalu bersama mereka....memikirkan hal itu membuat hatiku dipenuhi antusiasme seperti anak kecil.
"Kalau begitu, izinkan aku sedikit bersenang-senang."
Di hadapanku yang masih terpaku memandanginya, Mina melangkah masuk ke dalam sungai.
"............"
Aku hanya berdiri diam memandangnya.
Pemandangan itu terlalu indah.
Di tengah pepohonan dan permukaan air yang tampak begitu memukau, seorang wanita cantik sedang bermain air.
Bagaikan peri air... atau mungkin siluman cantik yang sedang menggodaku.
"Ah, iya... bisa-bisanya aku memikirkan hal aneh begini. Mungkin aku memang kelelahan karena cuaca panas."
Apa alasan aku tak bisa mengalihkan pandangan dari Mina yang mengenakan pakaian renang juga karena aku lelah...?
Sesekali Mina melontarkan tatapan menggoda, bahkan berpose dengan anggun seolah ingin memamerkan dadanya.
"...Ah. Kalau sudah dipancing begini, mana mungkin aku tidak menghampirinya."
Aku pun melepas baju atasku dan melangkah masuk ke dalam air untuk menghampiri Mina.
"Mina."
"Ah♡"
Aku segera menghampirinya dan memeluk tubuhnya yang sehat dan indah.
"Duh~, Takuya-san... ini kan di luar?"
"Siapa suruh Mina menggoda seperti itu?"
"Memang sih... sebenarnya memang itu yang kuharapkan."
Nah, benar kan dugaanku. Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu kutahan. Aku pun mengikuti keinginanku dan mulai mengusap tubuh Mina.
"Berbeda dengan tempat tadi, di sini tidak akan ada yang melihat kita. Jalannya juga jauh, jadi tidak akan ada mobil yang lewat... jadi, jangan sungkan, ya?"
"Memang itu niatku."
"Mmh!?"
Aku langsung membungkam bibirnya dengan ciuman.
Bahkan Mina yang sudah mengharapkan dan memperkirakan ini pun tampaknya terkejut karena aku bergerak begitu cepat.
Namun, tak lama kemudian ia membalas ciumanku dengan lidahnya.
"Mmh... ah...♡"
Sebagai seorang pria, aku tahu betul bahwa sangat sulit menahan diri ketika hidangan yang diinginkan sudah berada tepat di depan mata.
Padahal belum lama ini aku masih bisa mengendalikan diriku dengan mati-matian. Namun kenikmatan yang terasa begitu menggoda perlahan mengikis kewarasanku.
Seorang pria dan seorang wanita saling menyatukan tubuh, saling memenuhi satu sama lain. Dan tindakan itu terasa begitu membahagiakan hingga, sekali dimulai, rasanya mustahil untuk berhenti.
"Mina..."
"Takuya-san..."
Kami melepaskan ciuman sejenak dan saling memanggil nama.
Wajah Mina di hadapanku sudah memerah dan jelas dipenuhi gairah. Dan pria yang terpantul di matanya... pasti juga memiliki ekspresi yang sama.
"Aku menginginkanmu."
"Aku menginginkanmu."
"............"
"............"
"...Haha."
"Hehe♪"
Setelah saling tertawa, kami kembali berciuman.
Tubuh kami yang sudah sepenuhnya terbakar gairah terasa panas dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Namun karena tubuh kami terendam air hingga setinggi pinggang, rasa dingin air sungai terasa sangat nyaman.
"Ayo kita ke balik batu itu. Di sana lebih sepi."
"Iya."
Sekali lagi Mina menggandeng tanganku dan membawaku lebih jauh ke dalam.
Tempat tadi sebenarnya sudah cukup sunyi, tetapi di sini suasananya lebih tenang lagi karena sedikit lebih gelap.
"Aku memang tahu apa yang akan kita lakukan... tapi di sisi lain aku juga ingin menikmati melihat Mina memakai pakaian renang."
"Aku memang ingin kamu melihatku... tapi lebih dari itu, aku ingin segera mencintaimu lebih dalam, Takuya-san♡"
"...Kau jadi gadis yang nakal ya."
"Aku sadar kalau sisi diriku yang seperti ini memang selama ini tertidur. Tapi yang membangunkannya adalah Takuya-san, lho? Jadi kamu harus bertanggung jawab♡"
Kata bertanggung jawab itu...
Terasa begitu berat di pundakku. Namun bukan berarti aku ingin menghindarinya. Dan aku juga tidak merasa beban itu terlalu berat untuk kupikul.
Aku justru ingin menerimanya dengan sepenuh hati. Karena itulah yang kubutuhkan untuk tetap berada di sisi Mina dan yang lainnya.
Karena itulah perasaanku kepada mereka.
"Mina...!"
"Kyaa♡"
Untuk menunjukkan tekad dan perasaanku.
Sekarang yang ingin kulakukan hanyalah mencintainya, menyatukan tubuh kami, dan meluapkan seluruh perasaan yang selama ini kutahan.
"Aku sangat bahagia."
"Bahagia?"
"Iya. Karena kau mau menunjukkan seluruh perasaanmu kepadaku tanpa menyembunyikan apa pun."
"............"
"Aku tahu hubungan kita tidak seperti hubungan biasa. Tapi seperti yang selalu kukatakan, selama kami menginginkannya, itu sudah cukup. Jadi, Takuya-san... hari ini juga, biarkan aku merasakan dirimu sepenuhnya♡"
Mendengar kata-kata itu, aku pun mencintainya sepenuh hati.
Jika orang yang bergerak lebih aktif adalah orang yang lebih menginginkan pasangannya, maka cara Mina membalas setiap sentuhanku benar-benar jauh berbeda dari dirinya yang biasanya.
Karena itulah aku merasa sangat bahagia saat menyadari bahwa ia juga menginginkanku sama besarnya.
"Aku suka♡ Aku sangat suka♡ Takuya-san♡"
"Aku juga... Aku juga mencintaimu, Mina!"
Bukan hanya tubuh kami yang saling bertemu.
Kata-kata kami pun saling bertabrakan. Semakin kami mengungkapkan perasaan, semakin besar pula dorongan untuk saling menginginkan.
"Mmh... aku suka sekali... dipeluk erat seperti ini membuatku sangat bahagia♡"
Suara Mina yang semakin tinggi membuatku sadar bahwa aku pun sudah hampir mencapai batas.
"Mina, sebentar lagi..."
"Iya♡ Berikan semuanya padaku♡ Aku akan menerima seluruh dirimu♡"
"...!"
Aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk terakhir kalinya...
Lalu, tepat sebelum mencapai batas, aku melepaskan diri darinya.
"Akan kuterima semuanya♡"
Mina segera berlutut di depanku.
Tak lama kemudian aku pun menyerahkan seluruh perasaanku kepadanya.
"Hehe... ah~♪"
"...Kau benar-benar menggoda."
Melihat ekspresi Mina setelah itu, hanya itulah komentar jujur yang bisa keluar dariku.
Sesudah semuanya selesai, kami sama-sama merasa lega, lalu duduk menikmati suara aliran sungai dengan tenang.
"............"
Aku melirik Mina yang duduk di sampingku.
Gairah kami memang sudah mereda dan pikiranku juga sudah tenang. Namun justru sekarang ada satu hal yang kembali menarik perhatianku.
Yaitu pakaian renang Mina.
Aku memang sudah tahu bahwa dadanya besar. Namun sekarang aku malah terus memperhatikan bagaimana kain bikini dan tali tipisnya menopang tubuhnya.
Aneh... tadi aku tidak terlalu memikirkannya, tetapi sekarang justru sulit mengalihkan pandangan.
"Eh? Ada apa?"
"...Tidak, bukan apa-apa. Mau pulang?"
"Iya, ayo."
Aku berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
Setelah saling bertukar ciuman singkat, kami pun meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah keluarga Anzai, aku tiba-tiba teringat sesuatu.
"Mina."
"Ada apa?"
"Alasan kau mengajakku ke sini hari ini memang karena Shun-kun dan yang lain ingin bermain denganku. Tapi lebih dari itu... kau juga ingin aku tahu betapa menyenangkannya berinteraksi dengan anak-anak itu, kan?"
"...Jadi kamu menyadarinya?"
Aku tersenyum kecil.
"Entahlah, cuma firasat saja. Sama seperti saat membantu persiapan festival, kupikir kau ingin membuatku semakin mencintai Desa Minori lewat pengalaman seperti ini."
"Iya... benar sekali. Jadi, bagaimana menurutmu?"
"Yah... yang bisa kukatakan cuma satu. Aku benar-benar jatuh ke dalam rencanamu."
"Syukurlah♪"
Sebenarnya aku sudah menemukan banyak hal yang kusukai dari Desa Minori. Namun hari ini aku kembali menemukan alasan baru untuk menyukainya.
Terutama hubungan dengan anak-anak itu. Mereka begitu menyukaiku, bahkan kami sampai saling berjanji.
Mungkin semua itu memang sudah diperhitungkan oleh Mina sejak awal, tetapi hasilnya benar-benar memenuhi hatiku.
"Belum selesai sampai di sini, lho. Beberapa hari lagi masih ada festival. Mari kita buat lebih banyak kenangan."
"Festival, ya... aku juga menantikannya."
"Bahkan setelah festival pun masih banyak lagi yang menunggu. Selama Takuya-san tetap bersama kami, hari-hari yang menyenangkan dan penuh kebahagiaan akan terus menantimu♪"
Entah kenapa, kata-katanya terasa begitu meyakinkan. Bukan hanya menerima kebahagiaan, aku juga ingin menjadi orang yang bisa memberikannya.
Sambil melihat Mina yang tersenyum di sampingku, aku memikirkan hal itu.
Tentu saja bukan hanya untuk Mina. Aku juga ingin melakukan hal yang sama untuk Reina-san dan Yua.
Yah, bahkan tanpa perlu berjanji kepada anak-anak tadi, aku sudah sepenuhnya terjebak dalam kepungan yang dibangun oleh mereka bertiga.
Makhluk yang terperangkap biasanya akan berjuang mati-matian untuk melarikan diri.
Namun aku tidak akan melakukannya.
Karena memang inilah yang kuinginkan.
"Mina, ada sesuatu yang ingin kau minta dariku?"
"Mendadak sekali?"
"Entahlah, tiba-tiba saja terpikir. Jadi?"
"Kalau begitu... sebelum tidur nanti, cintailah aku sekali lagi."
"O-oh... hanya itu?"
"Kalau Ibu juga mau, bertiga pun tidak masalah kok♪"
Dan saat itu aku kembali menyadari.
Kepungan yang mereka buat bukan sekadar sangkar biasa. Melainkan sangkar tanpa jalan keluar yang dibangun dari kasih sayang.
Sambil memandangi Mina yang tersenyum penuh pesona seolah membayangkan malam nanti, aku kembali meyakini hal itu.




Post a Comment