NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinsei ni Tsukare Tadorisuita Mura de, Bijotachi ga Ore o Hanasanai de Kurenai V2 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4 

Yua Ingin Menyerahkan Dirinya

Beberapa hari telah berlalu sejak aku menyatu dengan Mina, dan juga Reina-san.


Setelah menyatukan tubuh, rupanya jarak di hati pun secara alami menjadi semakin dekat. Hari-hariku bersama mereka terasa semakin berwarna.


Sebenarnya tidak banyak yang berubah sejak aku datang ke desa ini, tetapi kini kehadiran mereka di sisiku sudah terasa begitu wajar.


"..."


Namun, saat sedang sendirian, ada satu hal yang selalu kupikirkan.


Aku tahu diriku terlalu keras kepala. Mina dan yang lain juga sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku tidak perlu memikirkan hal itu. Tetapi tetap saja aku terus memikirkannya.


"Serius deh... kenapa aku bisa merasakan kebahagiaan yang rasanya mustahil seperti ini?"


Sambil berbaring di kamar dan menatap langit-langit, aku memikirkan hal itu.


Ngomong-ngomong, sejak selesai sarapan aku memang terus seperti ini. Rasanya aku sudah menggumamkan hal yang sama sampai tiga kali.


"Yah, setidaknya tidak separah dulu... kalau soal ini sih, bisa dibilang ada kemajuan."


Meskipun aku masih memikirkannya seperti ini, hal itu sudah tidak lagi menjadi beban di hatiku.


Tidak seperti dulu, perasaan negatifku tidak lagi membesar. Bahkan sekarang aku justru ingin memuji diriku sendiri karena berhasil mendapatkan kehidupan seperti ini.


"Lagi pula... hehe."


Tanpa sadar aku tertawa kecil seperti anak-anak.


Alasannya karena sekarang aku benar-benar merasa bisa berguna bagi Mina, Reina-san... dan keluarga ini.


Ini juga sesuatu yang sering kupikirkan. Namun memikirkan hal-hal yang membahagiakan diriku sendiri tidak pernah buruk. Bahkan mungkin itulah cara terbaik untuk menjaga kesehatan hati.


"Waktu masih kerja di perusahaan, aku sama sekali tidak pernah membantu pekerjaan rumah. Berkat itu sekarang aku jadi bisa memasak lebih banyak masakan."


Karena di dekatku ada Mina dan Reina-san sebagai contoh yang hebat, masakan yang bisa kubuat pun semakin bertambah.


Memang, selama tinggal di rumah ini hampir tidak pernah aku memasak sendirian. Namun merasakan kemampuanku terus bertambah sedikit demi sedikit juga menjadi salah satu kesenangan tersendiri.


"Masak sendiri itu memang penting... yah, walaupun percuma juga kalau mengatakan itu kepada diriku yang dulu."


Memasak sendiri memang penting. Saking pentingnya, aku sampai ingin mengatakannya dua kali.


Bento dan onigiri dari minimarket memang enak, tetapi makanan yang dimasak sendiri jauh lebih lezat dan juga lebih sehat.


Walaupun sibuk atau merasa malas, mungkin kalau dulu aku memaksakan diri untuk memasak sesekali, semangatku juga akan berbeda... ah, tidak juga. Kalau masih bekerja di perusahaan yang dulu, sepertinya tetap tidak akan ada bedanya.


"Jam satu... sebentar lagi ya."


Tak lama lagi waktu menunjukkan pukul satu siang.


Baru saja aku berpikir Mina akan datang memanggilku, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar.


"Takuya-san, sudah waktunya berangkat~."


"Baik."


Sip, datang juga!


Menjawab panggilan Mina, aku mencoba bangkit dengan memanfaatkan tubuhku seperti pegas!


Dengan tubuh dan hati yang belakangan ini terasa begitu ringan, aku yakin sedikit gerakan akrobatik pun pasti bisa kulakukan!


Dengan semangat itu aku mencoba bangkit secepat mungkin, tetapi...


"...Ugh!?"


Tentu saja gagal.


Tubuhku memang sempat terangkat, tetapi tidak berhasil duduk. Punggungku malah menghantam tatami dengan keras hingga terdengar bunyi yang cukup nyaring dan rasa sakit menjalar.


Dasar bodoh...


Sambil memikirkan itu aku keluar kamar, lalu Mina bertanya ada apa.


"Tidak... tadi aku cuma mau mencoba gerakan akrobatik."


"Gerakan akrobatik...?"


"...Lupakan saja."


"Hehe, baiklah."


Pasti dia mengira aku sedang mencoba melakukan sesuatu yang kekanak-kanakan.


Saat kami berjalan menuju pintu depan bersama, Reina-san muncul.


"Cuacanya panas, jadi kalian berdua hati-hati ya. Jangan lupa banyak minum."


"Baik~."


"Siap."


Setelah berbincang sebentar dengan Reina-san, kami pun keluar rumah.


Begitu melangkah ke luar, hawa panas langsung menyergap hingga rasanya ingin mengeluh. Padahal sebentar lagi kami akan banyak bergerak, jadi kalau begini terus bakal repot.


"Panas sekali ya."


"Iya..."


Kira-kira sekarang berapa derajat?


Rasanya sudah lebih dari tiga puluh derajat. Tapi belakangan ini bahkan ada daerah yang bisa mencapai empat puluh derajat saat musim panas.


Bumi ini sebenarnya sedang kenapa sih? Tolonglah...


"..."


Namun...


Terlepas dari itu semua.


Mina yang berjalan di sampingku sedang mengibaskan bagian dadanya agar angin bisa masuk ke balik pakaiannya, sehingga belahan dadanya yang berisi terlihat jelas.


Meski mengenakan gaun putih yang memberi kesan sejuk, tetap saja pemandangannya sangat menggoda.


"Ada apa?"


"Aku cuma kepikiran kalau dadamu hampir kelihatan."


"Hehe, kalau mau lihat juga tidak apa-apa, kok. Nih, lihat saja."


Aku memang tanpa sadar menyebut "dada" begitu saja, tetapi Mina malah ikut menanggapinya dengan semangat.


Tadi aku bilang hubungan kami semakin dekat. Salah satu buktinya adalah sekarang aku bisa mengatakan hal-hal memalukan seperti ini tanpa terlalu canggung.


Melihat Mina sengaja menggoyangkan dadanya lebih dari yang diperlukan membuatku mulai tergoda.


Namun kami masih punya urusan yang harus dilakukan, jadi jelas tidak mungkin melakukan hal-hal yang aneh sekarang.


"...Ayo, Mina."


"Ah, tunggu aku~!"


Aku harus menahan keinginanku!


Kalau tidak, rasanya aku bakal langsung menarik Mina ke bawah pohon yang teduh dan mulai menyentuhnya.


Apa aku memang semesum ini? Entahlah, tapi sejak hubungan kami melewati batas, aku memang berubah seperti ini. Dan justru perubahan inilah yang paling membuatku kerepotan.


Begitu berjalan sejajar denganku, Mina perlahan menggenggam tanganku.


"Karena cuacanya panas, rasanya berat kalau bergandengan lengan. Tapi kalau sekadar bergandengan tangan tidak apa-apa, kan? Memang tetap terasa hangat sih... apa Takuya-san tidak suka?"


"...Aku tidak keberatan."


"Syukurlah♪"


Mina tersenyum lebar.


Sambil terus bergandengan tangan, kami berjalan menuju tujuan kami, yaitu kuil.


Hari ini adalah hari persiapan Festival Panen. Dan usulanku untuk ikut membantu akhirnya diterima.


"Hei, Mina."


"Iya?"


"Kamu tidak mengancam mereka, kan?"


"Tidak dong! Memangnya aku ini apa?"


Soalnya waktu itu kamu pernah bilang akan membuat mereka mengangguk bagaimanapun caranya dengan wajah yang menyeramkan.


Aku buru-buru meminta maaf kepada Mina yang mulai menggembungkan pipinya, lalu tak lama kemudian kami tiba di kuil.


"Wah..."


"Ramai juga ya."


Kuil yang beberapa waktu lalu masih sepi, hari ini begitu hidup.


Memang jumlah orangnya sebenarnya tidak terlalu banyak. Namun karena sekarang aku sudah terbiasa dengan suasana Desa Minori, rasanya jumlah mereka terlihat sangat banyak.


Saat kami mendekati kerumunan, seketika semua mata tertuju kepada kami.


"Oh, Mina-chan sudah datang."


"Ara ara, wah!"


"Hohoho! Apa akhirnya musim semi datang juga untuk Mina-chan?"


Barulah saat itu aku sadar kalau sejak tadi aku masih menggandeng tangan Mina.


Aku refleks ingin melepaskannya, tetapi genggaman Mina begitu kuat hingga aku tidak bisa menarik tanganku.


"Selamat siang semuanya. Hari ini kami membawa seorang bantuan yang sangat bisa diandalkan♪"


"E-eh... selamat siang."


Aku jadi memberi salam dengan gugup.


Di antara mereka ada beberapa wajah yang pernah kulihat, termasuk Shiraishi-san.


"Bagus sekali kau datang, Takuya-kun. Kau benar-benar tenaga tambahan yang bisa diandalkan."


"Oh? Sampai Mitsu bilang begitu?"


"Jadi kau Takuya-kun! Kami sudah sering dengar tentangmu. Salam kenal."


"Ah, iya!"


Lagi-lagi...


Sebenarnya rumor apa sih yang mereka dengar!?


Untungnya hampir tidak ada yang memandangku dengan aneh. Sebaliknya, semua orang menyambutku dengan ramah sehingga aku merasa sangat lega.


Namun saat itu Mina melemparkan bom besar.


"Kurasa semua orang pasti ingin bertanya macam-macam kepada Takuya-san. Tapi sebelumnya izinkan aku mengatakan satu hal. Takuya-san adalah orang yang sangat penting bagi aku, Ibu, dan juga Yua. Jadi aku ingin semua orang tahu itu sejak awal♪"


"Mina!?"


Apa tidak apa-apa mengatakannya sejelas itu!?


Tentu saja aku senang disebut sebagai orang yang penting. Apalagi ketika Mina mengatakan bahwa bukan hanya dirinya, tetapi juga Reina-san dan Yua merasakan hal yang sama.


Namun kalau memang ingin mengungkapkannya, bukankah sebaiknya disampaikan sedikit lebih samar...?


"Oh? Begitu rupanya... hebat juga anak muda ini."


"Yah, mau bagaimana lagi. Dia memang pria yang baik."


"Aku memang merasa akhir-akhir ini Reina-chan jadi lebih sering tersenyum! Jadi ternyata ini alasannya!"


"Ah, indahnya masa muda ya, Nek."


"Kakek juga dulu tidak kalah hebat, kan?"


"Justru Nenek yang lebih hebat. Entah sudah berapa kali aku dipukul olehnya..."


"Aduh, aku sudah lupa kok♪"


Tidak ada satu pun yang menganggapnya aneh.


Apa ini yang disebut mentalitas orang desa...?


Tidak, tidak mungkin. Meski begitu, karena memang begitulah reaksi mereka, aku hanya bisa menerimanya.


"Lihat, kan? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"...Iya."


Benar-benar di luar dugaan...


"...Eh?"


"Ada apa—"


Sepertinya Mina melihat seseorang di belakangku.


Aku hendak menoleh. Namun tiba-tiba pandanganku menjadi gelap.


"Ayooo, siapa?"


Gelap...seseorang menutup mataku.


Tangannya menutup mataku dengan lembut, dan tanpa perlu melihat pun aku tahu kalau pemilik tangan itu memiliki dada yang besar karena terasa menempel di punggungku.


"Yua?"


"Benar~♪"


Tutup mataku pun dilepas.


Saat aku berbalik, Yua berdiri di sana. Seperti biasa, penampilannya masih bergaya gyaru yang mencolok.


Perutnya terbuka hingga pusarnya terlihat, benar-benar khas gayanya.


"Hari ini Yua juga sedang libur kerja, jadi aku sudah mengajaknya dari kemarin."


"Waktu dengar Takkun bakal datang, aku langsung ikut juga."


Begitu ya...aku benar-benar senang bisa bertemu Yua lagi.


Warga desa pun menyapa Yua yang terus tersenyum ceria, dan tak lama kemudian persiapan menuju Festival Panen pun dimulai.


Seperti yang sudah kuduga, anak muda di sini memang sangat sedikit. Bahkan Mina dan Yua yang berusia dua puluh dua tahun adalah yang termuda di tempat ini.


Selain aku, semua orang berusia di atas tiga puluh tahun. Orang termuda setelahku saja katanya sudah berumur tiga puluh lima tahun.


"Hari ini kami merepotkanmu ya, Takuya-kun."


"Tidak apa-apa kok. Justru aku memang ingin membantu."


Desa itu dipimpin oleh Donoue-san, dan beliau juga ikut membantu persiapan.


Mina tampak terkejut saat mengetahui kalau aku pernah bertemu dengan Donoue-san. Kalau dipikir-pikir lagi, aku memang belum pernah menceritakan pada Mina maupun Reina-san kalau aku sudah bertemu dengannya.


"Sejak awal aku sudah merasa kau ini pemuda yang punya sorot mata bagus."


"Jadi begitu yang terjadi."


"Ya begitulah."


"Kalau mengajakku, aku juga pasti ikut menemani."


"Waktu itu Yua sedang kerja, kan...?"


Walaupun tangan kami terus bekerja, percakapan lebih banyak berlangsung daripada pekerjaan itu sendiri. Rupanya, orang-orang lain pun tak jauh berbeda.


Katanya, persiapan yang didominasi para lansia seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan setiap tahun. Karena itu, aku berinisiatif mengangkat semua barang berat sebisa mungkin.


Mengikuti langkahku, Mina dan Yua juga mengangkat barang-barang berat. Mereka melakukannya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Melihat itu, aku sekali lagi sadar kalau mereka memang tangguh... Aku juga tak boleh kalah.


"Jangan lupa istirahat juga, ya? Nah, Takuya-kun, kalian ke sini."


Baru saja aku menyemangati diri lagi, Shiraishi-san memanggil kami.


Sepertinya beliau sudah menyiapkan teh dingin untuk kami. Di atas nampan sudah tersedia tiga gelas.


"Terima kasih."


Aku menerima gelas itu lalu langsung meneguk habis isinya.


Memang sudah dingin karena disimpan di dalam kotak pendingin, tapi karena es batunya juga dimasukkan dalam jumlah banyak, rasanya benar-benar sedingin es.


"...Haaah!"


"Cara minummu enak dilihat juga ya, Takuya-kun."


Bukan cuma rasa tehnya yang nikmat, dinginnya juga luar biasa! Walaupun memang es batunya agak terlalu banyak, nanti juga bakal mencair jadi air dingin.


"Hei... esnya kebanyakan, ya?"


"Hahaha... aku juga kepikiran begitu."


Ah, ternyata Mina dan Yua juga berpikir begitu.


"Jangan mengeluh, dasar gadis-gadis kecil. Dari dulu kalian memang suka kurang ajar begini, ya?"


"Artinya dulu kami memang masih anak-anak."


"Kalau dipikir-pikir, dulu rambut putih Shiraishi-san juga belum sebanyak sekarang, ya?"


"...Berani juga kau, Yua-chan."


Ups, percikan api langsung beterbangan di antara Yua dan Shiraishi-san.


Aku dan Mina diam-diam menjauh sedikit. Namun, para kakek dan nenek di sekitar tampaknya sudah terbiasa melihat pemandangan seperti ini. Mereka malah tertawa riuh menikmatinya.


"Padahal mereka sebenarnya tidak benar-benar bertengkar. Tapi kalau salah satunya sudah mulai, jadinya memang begini."


"Oh…."


"Dulu aku dan Yua sering dimarahi... atau lebih tepatnya menerima hukuman penuh kasih sayang versi Shiraishi-san."


"Begitu ya. Jadi Mina yang sekarang kelihatan anggun juga dulunya anak nakal?"


"‘Kelihatan’ itu maksudnya apa? 'Kelihatan'!? Rasanya kita pernah membahas ini sebelumnya... tapi karena mengalami banyak hal membahagiakan bersama Takuya-san, aku jadi lupa. Ya, memang benar. Dulu aku masih anak-anak, jadi sangat aktif."


"...Haha, begitu ya."


Aku tertawa kecil karena mudah membayangkan seperti apa Mina kecil dulu.


Mina kemudian menarik tanganku. 


Kami menjauh sedikit dari Yua dan Shiraishi-san yang masih bercakap-cakap dengan ramai, lalu berdiri di depan bangunan utama kuil.


Keadaannya sama persis seperti saat aku datang berdoa beberapa hari lalu.


Bangunan itu memancarkan suasana suci, tetapi entah kenapa membuatku membayangkan seolah-olah akan ada seseorang keluar dari dalamnya. Lagi-lagi aku membayangkan hal yang mustahil.


"Bagaimana? Walaupun bangunannya tua, menurutmu suasananya terasa misterius, bukan?"


"Iya... semua kuil memang kelihatannya mirip, tapi tempat ini memang punya suasana aneh seperti yang Mina bilang."


"Kalau menurutmu, seperti apa?"


"Hmm... rasanya kalau diam saja di sini, bakal ada seseorang keluar dari dalam."


"Akan keluar, kok?"


"...Hah?"


Barusan... dia bilang apa?


Aku sadar wajahku pasti terlihat bengong. Tapi kata-kata Mina benar-benar membuatku penasaran.


"Di kuil ini bersemayam seorang dewa. Yah, di kuil mana pun memang biasanya ada dewa yang dipuja, kan?"


"I-iya."


"Dewa di sini adalah dewa yang menghubungkan manusia dengan manusia... hubungan pertemanan, keluarga, ataupun pasangan."


Sambil menatap bangunan utama kuil, Mina melanjutkan ucapannya.


"Kalau salah satu pihak berkhianat dan mencoba memutuskan hubungan... pintu bangunan itu akan terbuka dengan sendirinya, lalu sang dewa akan menampakkan diri untuk menjatuhkan hukuman kepada si pengkhianat."


"...Ehm, itu cuma legenda, kan?"


"Bukan. Dewa itu benar-benar muncul."


"............"


Mina sama sekali tidak terlihat sedang berbohong.


Teman, keluarga, kekasih... semua hubungan memang menghubungkan seseorang dengan orang lain. Tapi karena pengkhianatan, dewa yang dipuja di sini akan muncul?


Membuka pintunya sendiri? Dan benar-benar memiliki wujud?


Saat aku menatap Mina, ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berbohong. Seolah-olah ia hanya mengatakan kebenaran.


Ketika aku masih membeku, Donoue-san yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku meletakkan tangannya di pundakku.


"Apa yang dikatakan Mina-chan memang benar. Kalau ada orang yang melakukan perbuatan tak tahu diri seperti itu, hukuman akan dijatuhkan... dan keesokan paginya pintu kuil ini ditemukan terbuka. Itu kisah yang sudah terkenal."


"............"


Serius...? Eh, serius?


Aku memang bukan tipe yang percaya hantu atau hal-hal seperti itu, jadi tentu saja aku belum bisa mempercayai cerita ini... tapi mereka benar-benar terdengar serius.


Saat aku masih tercengang, Mina mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik pelan.


"Jadi, Takuya-san? Tolong jangan pernah mengkhianati kami, ya? Tentu saja kami juga tidak akan pernah mengkhianatimu♪"


"...Iya."


Aku bahkan tak bisa tersenyum dengan baik....


"Astaga... jangan terlalu menakut-nakuti anak muda begitu."


Di samping Donoue-san berdiri seorang nenek bermata sipit.


"Wahahaha! Maaf, maaf. Aku jadi ingin sedikit mengerjaimu."


"Hehe, maaf ya♪"


"...Eh?"


Kalau begitu...berarti tadi semuanya bohong?


Melihat Mina dan Donoue-san tertawa puas karena berhasil mengerjaiku, aku sempat ingin mengeluh. Namun sebelum itu aku hanya bisa mengembuskan napas panjang.


Sial, aku benar-benar takut tadi....


Soalnya mereka terdengar sangat serius.


Ngomong-ngomong, nenek yang baru bicara itu ternyata adalah istri Donoue-san.


"Baiklah, sudah cukup mengerjai Takuya-kun. Saatnya lanjut persiapan."


Donoue-san pun berjalan pergi.


Di kejauhan, Yua masih berbicara dengan Shiraishi-san. Tapi sekarang mereka sudah tidak saling adu mulut lagi dan suasananya terlihat damai.


Kalau begitu, kami juga sudah cukup beristirahat. Saatnya kembali bekerja.


"Maaf ya, Takuya-kun. Jadi membuatmu mendengar cerita aneh."


"Tidak apa-apa... cuma sempat kaget saja."


Aku benar-benar kaget....


Yah, sekalipun memang ada legenda seperti itu, kupikir itu tidak jauh berbeda dengan cerita tujuh keajaiban desa—


"Kejadian seperti itu terakhir terjadi sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Sekarang sudah tidak pernah terdengar lagi, jadi tenang saja."


"...Hm?"


"...Eh?"


Istri Donoue-san juga pergi begitu saja.


Aku dan Mina saling berpandangan.


"Lho... kenapa Mina juga kelihatan kaget?"


"Ehm... aku juga tidak tahu kalau ternyata memang pernah benar-benar terjadi...."


"...Jangan-jangan aku masih sedang dikerjai?"


"...Sebenarnya memang begitu niatku...."


Sesaat kemudian, keheningan yang sulit dijelaskan menyelimuti kami berdua.


"A-ayo lanjut bantu persiapannya!"


"I-iya!"


Daripada memikirkannya terlalu dalam, kami pun kembali bekerja.


Setelah itu kami terus melanjutkan persiapan sambil sesekali beristirahat. Sedikit demi sedikit semuanya mulai terbentuk, meski masih membutuhkan waktu lagi.


Saat itu waktu sudah lewat pukul tiga sore. Rupanya untuk hari ini kegiatan dibubarkan sampai di sini.


Orang-orang yang berkumpul mulai pulang satu per satu. Mina dan aku juga pulang, sementara Yua yang sedang tidak ada kegiatan ikut bersama kami.


"...?"


Mina dan Yua berjalan sedikit di belakangku.


Bukan karena mereka menjauhiku, melainkan karena mereka sedang mengobrol diam-diam berdua.


"...Kalian lagi ngomongin apa?"


Mereka sahabat dekat. Wajar kalau ada hal yang tidak ingin mereka ceritakan kepada laki-laki sepertiku.


Aku juga tidak berniat menguping, tapi setidaknya melihat ke arah mereka masih boleh, kan?


"M-maju duluan ya... tapi enak juga."


"Tenang saja. Nanti setelah ini giliran Yua juga, kok?"


"...Iya."


"Aku juga akan mengawasimu."


Sebenarnya mereka sedang membicarakan apa?


Melihat Mina tersenyum senang sementara Yua memerah karena malu, jangan-jangan Mina sedang mengatakan sesuatu yang membuatnya malu?


Yua juga beberapa kali melirik ke arahku...


Ah!? Tiba-tiba aku mendapat firasat.


"...Jangan-jangan."


Mungkinkah Mina sudah menceritakannya?


Bahwa kami berdua sudah tidur bersama....


Kalau memang begitu, sikap Yua dan potongan percakapan yang sempat kudengar jadi masuk akal.


"............"


Memang kami belum pernah menceritakan pada Yua apa yang terjadi di antara kami. Walaupun hubungan kami sudah dekat, itu juga bukan topik yang tiba-tiba dibicarakan begitu saja.


Yah, nanti kalau sudah sampai rumah pasti semuanya akan jelas. Dengan perasaan berdebar, kami pun pulang ke rumah keluarga Anzai.


Begitu masuk ke ruang keluarga, aku langsung menjatuhkan diri untuk mengistirahatkan tubuh.


"...Haaah... capek."


Begitu duduk di lantai, rasa lelah langsung menyerbu seluruh tubuhku.


Sejak datang ke Desa Minori aku memang sering menggerakkan badan, tetapi belum pernah berkali-kali mengangkat barang berat seperti hari ini. Mungkin karena menggunakan otot dengan cara yang berbeda dari biasanya, tubuhku terasa sangat pegal.


"Aku buatkan teh dingin dulu. Tunggu sebentar ya."


"Oh, terima kasih, Mina."


"Sama-sama♪ Oh ya, Yua? Jangan lupa minta baik-baik pada Takuya-san."


"Aku tahu!"


Mendengar ucapan Mina, wajah Yua langsung memerah dan ia menjawab dengan suara keras.


Aku pun semakin yakin apa yang dimaksud dengan "meminta" itu.


"............"


"............"


Yua berdiri di depanku sambil terus menggoyangkan tubuhnya dengan gugup, wajahnya masih merah padam.


Sesekali ia melirikku dengan malu-malu. Dadanya yang bergoyang pelan setiap kali ia bergerak tampak begitu menggoda.


Rasanya aku sedang melihat sesuatu yang lucu sekaligus seksi.


"...Hahaha."


Entah kenapa, pemandangan itu malah membuatku ingin tertawa.


Padahal waktu di rumahnya dulu, justru Yua yang lebih dulu menggodaku di kamar mandi. Melihat gadis yang saat itu begitu berani kini malah semalu ini terasa sedikit bertolak belakang.


"K-kenapa malah ketawa!?"


"Maaf.... cuma kepikiran, waktu di kamar mandi kan Yua yang duluan mendekatiku. Tapi sekarang malah semalu ini."


"...Ya mau bagaimana lagi. Soalnya kalau benar-benar mau melakukannya... begitu saatnya tiba, rasanya tetap malu."


Sambil memainkan kedua telunjuknya di depan wajah, Yua berkata pelan.


Mungkin di matanya aku terlihat tenang, padahal sebenarnya aku juga sama malunya. Wajahku panas, dan jantungku berdetak sangat cepat.


"Yua—"


"...Yaah!"


"!? "


Tiba-tiba Yua melompat memelukku.


Aku memang sempat menangkapnya, tetapi tidak mampu menahan dorongan tubuhnya sehingga kami berdua terjatuh, dengan Yua menindihku.


"...Aku juga ingin melakukannya dengan Takkun. Seperti Mina dan Reina-san... lakukan juga denganku."


Mendengar permintaan lirih itu, aku mengangguk.


"Aku juga menginginkannya... aku juga ingin bersama Yua. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak menahan diri lagi? Justru kata-katamu yang memberiku keberanian."


"Kalau begitu... sebenarnya aku bakal lebih senang kalau aku yang pertama, sih."


"Itu... maaf."


"Aku cuma bercanda. Jangan dianggap serius."


Yua menjulurkan lidah kecilnya, lalu menciumku.


"Aku suka... ciuman dengan Takkun... su...ka...."


Sambil terus menciumku, Yua mengucapkan kata-kata yang membuatku bahagia.


Namun saat itu aku menyadari sesuatu. Yua ternyata masih menyimpan sedikit rasa takut terhadap apa yang akan kami lakukan.


Dalam sekejap aku teringat pada pengalaman buruknya dengan laki-laki saat merantau ke Tokyo.


"Mmh... ngh...."


Walaupun ia tenggelam dalam ciuman sepertiku, tubuhnya masih tampak tegang.


Mungkin jauh di lubuk hatinya ia masih takut akan dikhianati setelah membuka perasaannya, atau takut akan mendengar kata-kata yang menyakitkan.


Tentu saja aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu.


Namun karena aku sendiri pernah terluka akibat pekerjaanku, aku bisa memahami rasa takut yang hampir menyerupai trauma itu.


"Yua."


"Heh?"


Kami menghentikan ciuman sejenak, lalu aku membalik posisi tubuh kami.


Kini aku berada di atas sehingga bisa memandang Yua dari dekat. Wajahnya yang sudah hampir sepenuhnya diliputi gairah terlihat jelas di hadapanku.


"Kau manis sekali, Yua."


"...Entah kenapa, hari ini aku aneh. Aku senang sekali, tapi juga malu."


Seolah ingin menghindari tatapanku, Yua mengalihkan pandangannya.


Namun itu hanya sesaat. Ia segera menatapku lagi dengan mata yang begitu kuat... dan tingkahnya itu benar-benar menggemaskan.


Bukan berarti aku sedang terbawa suasana. Hanya saja kali ini aku ingin menjadi orang yang memimpin, ingin membimbing Yua dengan tenang.


"Yua."


"Iya... peluk aku, Takkun♡"


Mendengar kata-kata itu, aku mengulurkan tangan ke arah tubuhnya.


"Mmh..."


Hal pertama yang ingin kusentuh tentu saja dadanya yang besar.


Meski hanya kusentuh dari balik pakaian tipis yang dikenakannya demi mengusir hawa panas, kelembutannya tetap terasa. Bahkan dengan lapisan bra, elastisitasnya masih luar biasa.


"Cium aku... aku ingin kita melakukannya sambil berciuman♡"


"Baik."


Aku tidak benar-benar mengucapkan kalimat "sesuai titah sang putri", tetapi diam-diam aku berpikir kalau itu mungkin kalimat yang ingin kucoba ucapkan suatu hari nanti.


"Hehe, kalian langsung mulai rupanya♪"


Sepertinya Mina sudah kembali. Tadi ia bilang akan membuatkan teh... Aku sempat ingin menoleh ke arahnya, tetapi aku merasakan tekanan tanpa suara.


Itu datang dari Yua yang sedang menciumnya.


"...!"


Seolah-olah ia berkata agar aku hanya memandang dirinya.


"Begitu ya... kalau begitu tehnya diminum nanti saja. Sebentar lagi kalian pasti berkeringat lagi. Oh ya, kalian tidak apa-apa melakukannya di sini. Tadi Ibu menghubungiku. Katanya beliau akan makan bersama temannya, jadi pulangnya akan terlambat."


Berarti... maksudnya kalau tempat ini kotor pun masih ada waktu untuk membersihkannya?


Karena perhatianku tertuju sepenuhnya pada Yua, aku tidak melihat ekspresi Mina. Tapi anggap saja memang begitu maksudnya.


Sambil terus mencium Yua, aku menyelipkan tanganku ke balik pakaiannya.


Karena baru saja berkeringat, kulitnya sedikit lengket. Namun sentuhan itu justru membuatku semakin merasakan betapa halus dan indahnya kulitnya.


"Tangan Takkun lembut sekali... aku memang sudah tahu, tapi semuanya begitu lembut sampai rasanya aku ingin menyerahkan seluruh diriku. Aneh ya... tadi aku berniat memuaskanmu dan membuatmu tergila-gila padaku, tapi sekarang aku malah ingin menyerahkan semuanya padamu."


"...Kalau begitu aku harus memenuhi harapanmu."


"Kalau kau bilang ini berkat pengalamanmu dengan Mina dan Reina-san, aku bakal sedikit kesal... tapi karena ini kau, Takkun, aku maafkan."


"Jangan melontarkan pertanyaan yang sulit kujawab begitu."


"Ehehe... ini balas dendam kecil karena kalian mendahuluiku♪"


"...Entah kenapa, semua tentang dirimu terasa menggemaskan."


"Senangnya♡"


Kurasa aku benar-benar tak akan bisa berhenti sampai akhir.


Senyum Yua membangkitkan dua perasaan dalam diriku sekaligus: ingin membuatnya bahagia dan ingin segera merasakan kehangatan tubuhnya.


Aku melepaskan pakaiannya, membuka bra yang dikenakannya, lalu mengecup lembut dadanya.


Saat ujung lidahku menyentuh putingnya yang sudah mengeras, Yua mengeluarkan suara lirih yang manis.


"Ah... itu... enak♡"


Reaksi Yua sangat baik.


Memang aku ingin memimpin, tetapi bukan berarti aku hebat. Semua itu hanya karena aku sudah memiliki pengalaman.


Meski begitu, entah kenapa aku tahu apa yang membuat Yua senang dan bagaimana membuat suasana hatinya semakin terbawa.


Karena itulah tubuhku bergerak dengan sendirinya untuk menyenangkan dirinya.


"Ah... di situ... mmh...♡"


Bukan hanya dadanya, tanganku juga perlahan bergerak ke bagian bawah tubuhnya.


Melihat reaksinya yang jauh lebih kuat daripada saat kusentuh dadanya, aku kembali sadar bahwa di sanalah bagian tubuh yang paling sensitif bagi seorang wanita.


"...Panas."


"Ih... jangan bilang begitu♡"


Bagian dalam tubuh Yua terasa hangat.


Karena malu, tubuhnya sedikit menggeliat sehingga jariku bergesekan dan memberi rangsangan tambahan.


Seolah merasakan sentuhan jariku, Yua mulai menggerakkan pinggangnya perlahan.


"Hei... cepat ya...? Aku sudah siap... jadi kumohon♡"


"Iya."


Melihat jariku saat kutarik kembali, aku memang bisa memahami bahwa ia sudah siap.


"............"


Tetapi... aku benar-benar merasa bahagia.


Aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagi keluarga ini, dan ingin membuat mereka semua bahagia dengan caraku sendiri.


Meski situasinya seperti ini, melihat Yua tersenyum bahagia tetap membuatku sangat senang.


"Yua."


"Iya...♡"


Aku melepaskan celana, lalu kembali memeluknya.


Melihat Yua yang sudah menunggu dengan penuh harap, aku tak ingin membuatnya menunggu lebih lama. Tanpa melupakan kehati-hatian, aku perlahan mendekatkan tubuh kami.


"...Takkun datang♡"


Air mata mengalir di pipinya, tetapi ekspresi dan suaranya penuh kebahagiaan, membuatku sedikit lega.


"Kau baik-baik saja?"


"Iya♡ Aku baik-baik saja♡"


"Syukurlah... kalau begitu."


"Jadikan tubuhku milikmu, Takkun♡"


Tak ada lagi keraguan. Memang sejak awal aku sudah memutuskan untuk tidak menahan diri.


Ucapan Yua barusan seakan melepaskan belenggu terakhir dalam hatiku dan mendorong keinginanku untuk benar-benar mengikat hubungan kami.


"Indah sekali...♡ Milik Takuya-san... begitu... Aku juga ingin dipeluk Takuya-san seperti itu...♡"


Baru saat itulah aku sempat mengalihkan pandangan ke arah Mina.


Pakaiannya sudah berantakan hingga hampir setengah telanjang. Dengan mata berkaca-kaca ia memandang kami sambil meletakkan tangannya di dada dan tubuhnya.


Seolah ingin memperlihatkan semuanya kepadaku, ia tidak lagi menyembunyikan apa pun.


"Ah... ah... mmh...♡♡"


"Aku juga ingin... aku ingin Takuya-san...♡ Ah... ah♡"


Suara mereka berdua memenuhi ruangan.


Sekali lagi aku tak bisa menahan diri untuk berpikir—


Situasi macam apa ini? 


Kalau hanya bersama satu orang mungkin masih bisa dimengerti, tetapi sekarang ada orang lain yang menyaksikan kami sambil meluapkan perasaannya sendiri....


Benar-benar situasi yang sulit dipercaya.


Namun tubuhku tak mampu berhenti.


Tentu saja aku ingin membuat Yua bahagia. Tetapi lebih dari itu, aku sendiri juga tak mampu menahan gejolak perasaanku.


"Yua!"


"Ah!?"


Sambil terus memeluknya, aku mengecup bagian sensitifnya.


Aku ingin terus melihat tubuh Yua yang bergetar hebat, sehingga aku terus memberinya sentuhan dengan ritme yang berubah-ubah.


"......"


Namun meski pikiranku masih bisa bekerja, sebenarnya aku sama sekali tidak punya banyak sisa ketenangan.


Setiap kali aku membuat Yua semakin larut, tubuhnya seolah memelukku semakin erat, hingga rasanya kalau lengah sedikit saja aku akan mencapai batasku.


"Ah... tunggu... aku... ah...♡"


Yua mengeluarkan suara yang jauh lebih keras daripada sebelumnya. Tak lama kemudian ia terdiam dengan wajah yang benar-benar meleleh oleh kebahagiaan.


"Hebat... aku benar-benar...♡"


Aku sempat terpaku melihat ekspresinya hingga gerakanku ikut berhenti. Namun Yua justru menggoyangkan tubuhnya pelan seolah meminta lebih.


"Kau benar-benar menggoda, Yua."


"Karena aku sedang bersama Takkun♡ Wajar kalau jadi begini♡"


...Terlalu manis. 


Sisi dirinya yang begitu manja benar-benar berbeda dari Mina maupun Reina-san.


Sama sekali tak tersisa bayangan Yua yang dulu pertama kali kutemui dengan sikap keras kepalanya.


"Aku juga sudah hampir tidak tahan, Yua!"


"Iya! Datanglah!♡"


Setelah itu aku terus memeluknya sampai semuanya berakhir.


Tak lama kemudian aku mencapai batas, lalu memeluk tubuh Yua erat-erat.


Yua juga langsung melingkarkan kedua lengannya di punggungku dan tidak mau melepaskanku.


"Haa... Nghh..."


"Haa♡ Haa...♡"


Kami saling menatap dalam diam, menikmati sisa kehangatan sambil bertukar ciuman.


Beberapa menit kemudian barulah kami berpisah. Yua masih terengah-engah ketika Mina mendekatinya dan berbisik pelan.


"Jadi, bagaimana?"


Sebagai jawaban, Yua mengacungkan jempol.


"Luar biasa banget♡"


Ucapan itu memang ditujukan kepada Mina, tetapi bagiku juga merupakan kata-kata yang membahagiakan.


Setelah benar-benar tenang, aku menjauh dari Yua.


Dan justru karena pikiranku sudah kembali jernih, aku akhirnya memperhatikan keadaan ruang keluarga.


"...Wah."


Ruang tamu benar-benar berantakan. Bukan hanya karena aku dan Yua, tetapi juga di sekitar Mina....


Walaupun suasana hati kami belum sepenuhnya tenang, kami segera mulai membersihkan ruangan agar tidak dimarahi Reina-san.


"............"


Kini aku telah menjalin hubungan dengan ketiga gadis yang menginginkanku.


Saat pertama kali bersama Mina, aku merasa tak akan bisa meninggalkannya.


Saat bersama Reina-san, aku sadar tak mungkin bisa melarikan diri.


Dan sekarang, setelah bersama Yua... tidak, bahkan sejak jauh sebelumnya, bukankah aku memang sudah ingin tetap tinggal di sini?


"Hmm hmm hmm~♪"


Yua yang tadi bersama denganku kini sedang membersihkan ruangan sambil bersenandung riang.


Melihatnya begitu ceria, aku tahu dari lubuk hatinya ia benar-benar bahagia.


"Takuya-san."


"!?"


Saat aku terus memperhatikannya, Mina tiba-tiba memelukku dari belakang.


Tubuhnya yang lembut menempel di punggungku, sementara napas hangatnya menyentuh telingaku.


"Sudah berkali-kali kukatakan, tapi sekarang kau benar-benar tidak bisa meninggalkan kami lagi, ya~"


Nada suaranya terdengar begitu dalam hingga membuat punggungku merinding.


Namun aku sama sekali tidak merasa takut.

Sebaliknya, aku justru merasa nyaman.


Mungkin karena jauh di dalam hati, aku memang sudah tidak berniat menolak mereka lagi. Karena itu aku mengangguk secara alami.


"Iya...."


"Ufufu♪"


Sejak datang ke desa ini aku terus berkata bahwa aku tidak tahu bagaimana masa depanku nanti. Dan sampai sekarang pun perasaanku masih sama.


Setelah menjalin hubungan dengan Mina, Reina-san, dan Yua, aku tak bisa berhenti bertanya-tanya bagaimana masa depan kami nantinya.


Saat kulirik, Mina tersenyum lembut kepadaku. Namun di balik senyum itu, matanya dipenuhi tekad yang tak tergoyahkan.


"Takuya-san akan selalu berada di sisi kami♡"


"Benar. Takkun akan terus bersama kami selamanya♡"


Bukan hanya Mina. Entah sejak kapan Yua juga sudah memelukku dari depan.


Di matanya kulihat perasaan yang sama seperti Mina.


Aku bisa merasakan betapa besar keinginan mereka agar aku tetap bersama mereka.


"...Iya."


Entah kenapa, menerima perasaan itu justru membuatku bahagia.


Mungkin dalam arti tertentu aku juga sudah berubah. Namun dibandingkan neraka yang pernah kualami dahulu, tempatku memang ada di sini.


Kalau begitu... sekalipun aku berubah, aku tidak keberatan.


Sambil dipeluk Mina dan Yua, aku pun mengambil keputusan itu.


...Ngomong-ngomong. Kami benar-benar membuat ruang keluarga menjadi sangat berantakan. 


Walaupun sudah berusaha mati-matian membersihkannya, tetap saja tidak mungkin menghilangkan semua bekasnya.


"Kalian ini... benar-benar, ya."


"M-maaf...."


"Maaf...."


"Auu... maaf...."


Bahkan Reina-san yang biasanya penyabar pun tampak kesal melihat tatami yang basah dan berantakan.


Walaupun beliau tidak benar-benar marah, kami bertiga pun berjanji dalam hati bahwa lain kali harus lebih memperhatikan tempatnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close