NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Jinsei ni Tsukare Tadorisuita Mura de, Bijotachi ga Ore o Hanasanai de Kurenai V2 Chapter 3

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 3

Sisi Reina yang Selama Ini Disembunyikan

"......Hmm."


Sejak tadi aku sudah berkali-kali berganti posisi di tempat tidur.


"...Aku tidak bisa tidur."


Aku benar-benar tidak bisa tidur.


Sama sekali tidak bisa terlelap.


Tak peduli seberapa lama aku memejamkan mata atau berbaring diam, rasa kantuk yang biasanya membawaku ke alam mimpi tak kunjung datang.


"...Ufufu♪"


Namun, meski begitu aku justru terus tersenyum.


Alasannya sangat sederhana. Menjelang sore, saat matahari masih bersinar terang... akhirnya, untuk pertama kalinya dalam arti yang sesungguhnya, aku dan Takuya-san telah menyatukan tubuh kami.


"Ufufu... ufufufu♪"


Ini benar-benar tidak baik. Bahkan aku sendiri sampai merasa senyumku terlihat menjijikkan karena tidak mau berhenti.


"Takuya-san... Takuya-san...♡"


Bukan hanya tawaku yang tak kunjung reda, setiap kali mengingat apa yang kami lakukan, tubuhku langsung memanas.


Sampai-sampai tak bisa lagi dijadikan alasan bahwa ini karena musim panas. Tubuhku semakin panas karena gairah... bahkan tanpa sadar tanganku bergerak ke arah dada dan selangkanganku, seolah ingin melepaskan panas itu.


"Jadi aku ternyata wanita yang semesum ini ya... yah, aku memang putri Ibu, jadi sebenarnya sudah bisa diduga."


Aku memang wanita yang benar-benar mesum.


Kalau mengingat aku mewarisi darah Ibu yang juga sama mesumnya, wajar saja kalau jadinya begini... tetapi sisi diriku seperti ini baru benar-benar terbangun setelah bertemu dengan Takuya-san.


"Takuya-san... tadi benar-benar sudah tidak ragu lagi, ya?♡"


Memang masih terlihat sedikit sungkan, tetapi itu sudah merupakan kemajuan yang sangat besar.


Bagaimanapun, aku dan Ibu selalu berusaha membuatnya tergerak, ditambah lagi Yua juga sempat melakukan hal-hal yang sedikit menggoda dengannya. Mungkin semua itu ikut mendorong Takuya-san untuk akhirnya melangkah maju.


Sejujurnya, kalau setelah sejauh itu Takuya-san tetap tidak menyentuhku, mungkin aku akan sedih dan berpikir bahwa aku memang tidak memiliki daya tarik sebagai wanita.


Namun ternyata aku sama sekali tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.


"...Uhn♡"


Karena Takuya-san sendiri yang membuktikannya.


Memang sejak awal aku sengaja menggodanya agar mau menyentuhku, tetapi ketika akhirnya Takuya-san benar-benar memelukku... aku benar-benar sangat bahagia.


Tatapan Takuya-san saat melihatku bagaikan seekor binatang buas.


Mungkin itu hanya perasaanku saja, tetapi matanya seolah berkata bahwa mangsa bernama Mina ini tidak akan pernah dibiarkannya lolos. Padahal sebenarnya pihak yang berusaha agar dia tidak kabur adalah kami, tetapi saat menjadi pihak yang "diburu", rasa berdebar yang kurasakan benar-benar luar biasa.


"Ya ampun aku ini... lagi-lagi seperti ini... ah♡"


Tanganku... tidak mau berhenti♡.


Semakin aku memikirkan Takuya-san, semakin aku mengingat apa yang kami lakukan, tubuhku terus merasakan kerinduan yang tak tertahankan.


Rasanya aku ingin segera pergi menemuinya saat ini juga.


"Sepertinya aku harus menenangkan diri dulu... aaahn♡"


Beberapa saat kemudian, napasku terengah-engah.


Walaupun merasa sedih saat gelombang kenikmatan itu perlahan menghilang, pada saat yang sama aku juga merasakan kehampaan yang jauh lebih besar dibanding saat bersama Takuya-san.


Satu-satunya pria yang pernah menerima tubuhku hanyalah Takuya-san. Karena itu aku tidak mengenal pria lain.


Namun rasanya begitu menyenangkan, kami saling menginginkan satu sama lain, dan sekarang aku merindukan keberadaannya sampai seperti ini.


Aku tak bisa menahan diri untuk berpikir bahwa itu pasti bukti kalau kecocokan tubuh kami benar-benar luar biasa.


"Bukti dari Takuya-san... benar-benar terukir jauh di dalam tubuhku♡"


Saat aku berbaring telentang, Takuya-san terus bergerak dengan penuh semangat.


Seolah terdengar suara "dochu, dochu", setiap dorongannya menghantam dari atas ke bawah dengan penuh tenaga... dan itu benar-benar terasa luar biasa♡


"Selain itu... fufu."


Sepertinya Takuya-san tidak menyadarinya, tetapi aku menyadarinya.


Di balik pintu yang sedikit terbuka, Ibu mengintip kami... dan menatapku dengan rasa iri dari lubuk hatinya.


Bahkan saat makan malam pun, Ibu terus memandangi Takuya-san dengan tatapan penuh keinginan... kali ini wanita yang selama ini tertidur di dalam dirinya pasti telah terbangun lebih kuat dari sebelumnya.


"Tidak apa-apa, Bu. Ibu juga akan segera merasakan perasaan ini."


Keluarga kami, dan juga Takuya-san, pada akhirnya akan menemukan keseimbangan dalam hubungan yang memang tidak biasa ini.


Memang hubungan seperti ini tidak lazim. Namun karena kami sendiri yang menginginkannya, kami tidak akan membiarkan siapa pun mencampuri urusan kami.


"............"


Aku bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju jendela.


Bayanganku yang masih mengenakan piyama berantakan terpantul di kaca. Meski terdengar aneh kalau aku mengatakannya sendiri, tubuhku benar-benar tumbuh menjadi tubuh yang sangat menggoda.


"Dulu aku tidak pernah memikirkan hal seperti ini, tetapi sejak bertemu Takuya-san aku jadi sering menyadarinya."


Mengakui bahwa diriku adalah wanita yang menarik dan memiliki rasa percaya diri adalah hal yang baik.


Kalau aku sendiri tidak percaya diri, bagaimana mungkin aku bisa menaklukkan pria yang selama ini tenggelam dalam kesedihan?


"Namun ini baru tahap pertama... aku masih akan terus maju, Takuya-san."


Bayanganku di kaca memperlihatkan senyum tipis.


Kalau anak-anak melihat wajahku sekarang, mungkin mereka akan ketakutan... bahkan rekan-rekan sesama guru mungkin akan mengkhawatirkanku.


Tetapi itu memang tidak bisa dihindari.


Sepertinya setiap kali memikirkan orang yang paling kucintai, tanpa sadar aku selalu memasang ekspresi seperti ini.


"Takuya-san tadi bilang ingin membantu persiapan festival. Saat itulah nanti aku akan benar-benar memperkenalkannya kepada semua warga desa."


Saat persiapan festival nanti pasti akan banyak orang berkumpul.


Bagi Takuya-san, semuanya adalah orang yang baru pertama kali ditemui sehingga pasti akan gugup. Namun semua orang di Desa Minori adalah orang-orang baik, jadi rasa gugup itu pasti akan segera hilang.


Dan saat itu dia akan menyadari──bahwa Desa Minori adalah tempat yang jauh lebih hangat dan nyaman daripada yang dibayangkannya.


"Selain itu, sebentar lagi juga akan ada acara bermain di sungai bersama anak-anak. Saat itu aku akan mengajak Takuya-san ikut mendampingi mereka. Kehangatan yang hanya bisa dirasakan bersama anak-anak... lalu aku juga akan mengenakan pakaian renang dan membuatnya semakin... ufufu♪"


Benar-benar tidak baik ya....


Semakin memikirkan hari-hari yang akan datang, aku semakin tidak sabar.


Kalau hanya aku, Ibu, dan Yua, tetap ada batasnya.


Bukan berarti kami tidak mampu, tetapi untuk benar-benar membuat Takuya-san tetap berada di sisi kami, keberadaan orang-orang selain kami juga sangat diperlukan.


"Bersiaplah, Takuya-san──meski kamu mungkin sudah hampir sepenuhnya jatuh ke dalam pelukanku, aku akan mendapatkan tubuh dan hatimu tanpa menyisakan sedikit pun♡"


Ini bukan sesuatu yang buruk bagi Takuya-san.


Justru pasti akan membuatnya bahagia... karena aku akan memastikan kebahagiaan itu bukan hanya berasal dariku, tetapi juga benar-benar dirasakan olehnya dari lubuk hatinya.


"...Meski begitu, aku masih ingin melakukan hal-hal yang lebih mesra dengan Takuya-san."


Pada akhirnya aku hanyalah wanita yang juga kalah oleh keinginanku sendiri, jadi aku benar-benar berharap Takuya-san tidak lagi menahan diri.


Namun... melihat dirinya yang masih sedikit sungkan juga menggemaskan, begitu pula sikapnya yang selalu penuh perhatian dan kebaikan.


Pada akhirnya, apa pun tentang Takuya-san selalu terasa begitu berharga bagiku♡


▼▽


"...Hmmm."


Belakangan ini, ada sesuatu yang terus kupikirkan.


Tak perlu dikatakan lagi, setelah melewati batas dengan Mina, aku sendiri semakin tenggelam dalam hubungan yang dalam bersama mereka. Namun, beberapa hari terakhir ini, aku terus merasakan tatapan seseorang yang tertuju kepadaku.


"Reina-san... ada apa dengannya?"


Yang kupikirkan adalah tentang Reina-san.


Sudah pasti kami sering menghabiskan waktu bersama di siang hari. Saat makan malam maupun ketika bersantai setelahnya pun, kami banyak menghabiskan waktu bersama. 


Namun setiap saat itu, dia selalu menatapku dengan pandangan yang terasa jauh lebih hangat daripada biasanya.


"Ibu benar-benar... ufufu"


Sepertinya Mina tahu sesuatu... hm.


"...Ngomong-ngomong, tetap saja panas ya."


Panas... dan saat ini aku tidak berada di rumah keluarga Anzai, melainkan sedang berada di luar.


Bukan karena suasananya jadi canggung, tetapi terus-menerus menerima tatapan yang begitu penuh gairah darinya membuatku merasa sangat malu.


Kalau terus ditatap seperti itu, tentu aku jadi sadar. Terlebih lagi, pesona dewasa yang dipancarkan Reina-san luar biasa. Bahkan setiap kali dia bergerak sedikit saja, aku pasti tanpa sadar akan mengalihkan pandanganku kepadanya.


"Kek, malam ini kita makan apa ya?"


"Begitulah... masakan Nenek apa pun Kakek suka."


Percakapan pasangan lansia yang berjalan melewatiku membuat sudut bibirku terangkat.


Bukan berarti pikiranku tentang Reina-san menghilang, tetapi percakapan damai itu cukup menenangkan hatiku. Meski sudah tua, tetap bisa menghabiskan waktu bersama orang yang dicintai seperti itu memang...


"Dari dulu Kakek selalu bilang suka apa saja... tolong yang jelas."


"...Maaf ya."


Eh... kok rasanya suasananya mulai jadi aneh?


Meski percakapan mereka berkembang menjadi adu mulut kecil, pasangan lansia itu tetap berjalan pergi.


"Yah, mungkin hubungan seperti itu juga bisa terjadi karena mereka saling percaya."


Walaupun tadi suasananya sempat terasa kurang enak, tetap saja pemandangan itu membuatku iri.


Suatu hari nanti aku juga ingin bersama Mina dan yang lain seperti itu... namun sambil tersenyum kecut aku sadar bahwa keadaanku sekarang jelas bukan sesuatu yang bisa disebut normal.


"Untuk sementara lupakan dulu soal Reina-san... oh, ini tempatnya."


Memaksa melupakan Reina-san yang terlalu menggoda, aku mengangkat pandanganku. Di hadapanku berdiri sebuah kuil.


Aku keluar rumah bukan tanpa tujuan. Aku memang ingin melihat kuil yang akan menjadi lokasi festival nanti.


"Sepi sekali... ya memang wajar sih."


Saat masih di Tokyo, kuil yang kulihat di sepanjang jalan biasanya selalu ada orang. Namun karena ini desa, benar-benar tidak terasa ada tanda-tanda kehidupan.


"......"


Kuil itu sendiri sudah tua dan memancarkan suasana penuh sejarah.


Areanya tidak terlalu luas. Kalau nanti dipasang stan-stan festival dan panggung tempat Mina menari, mungkin akan terasa agak sempit.


"Bagaimana ya... aku memang jarang sekali datang ke kuil. Begitu datang langsung, suasananya terasa cukup misterius."


Waktu kecil dulu aku sering datang bersama Nenek... dan juga bersama Ayah serta Ibu.


Saat itu, karena jarang datang ke kuil, semuanya terasa menarik. Aku masih ingat betapa kecewanya diriku jika mengambil ramalan keberuntungan dan tidak mendapatkan keberuntungan besar.


"Ahaha... sebenarnya keberuntungan sedang atau kecil juga tidak buruk, tapi dulu bagiku hanya keberuntungan besar yang berharga."


Kalau dipikir sekarang, memang cara berpikir anak kecil... benar-benar membuatku bernostalgia.


Aku sedikit larut dalam kenangan karena tanpa sadar membayangkan keluargaku yang kini hubungannya sudah memburuk denganku. Kalau ditanya apakah aku ingin kembali ke masa itu, mungkin aku akan berpikir sejenak. Namun jika harus segera menjawab, jawabanku pasti tidak.


"...Hah, kenapa aku malah jadi sentimental begini?"


Padahal selama ini aku tidak pernah memikirkan orang tuaku seperti ini. Mungkin semua ini karena lingkungan tempat tinggalku telah berubah.


"Walaupun hubungan kami buruk, mereka tetap keluargaku yang sedarah... mungkin suatu saat aku harus pulang menjenguk mereka."


Yah... bisa berpikir seperti ini mungkin juga pertanda aku telah sedikit dewasa.


Sambil membayangkan wajah kedua orang tuaku yang masih kuingat jelas, kakiku melangkah seolah ditarik menuju bagian dalam kuil.


Aku berjalan lurus melewati halaman kuil yang sepi hingga berdiri di depan bangunan utama.


Entah kenapa rasanya kalau aku terus berdiri di sini, pintunya akan tiba-tiba terbuka sendiri... tentu saja aku tidak mau kejadian horor seperti itu. Tapi justru karena ini tempat suci seperti kuil, rasanya hal seperti itu juga tidak mustahil... tidak, lupakan saja.


"Selagi sudah di sini, sekalian berdoa."


Aku mengeluarkan uang logam lima ratus yen dari dompet lalu melemparkannya ke kotak persembahan.


Sebenarnya cukup memberi sepuluh yen saja, tetapi aku ingin menunjukkan rasa syukur karena telah dipertemukan dengan Mina dan yang lain.


"......"


Aku menepukkan kedua tangan dua kali lalu memejamkan mata.


Yang kupikirkan adalah rasa syukur atas semua yang terjadi sejak aku datang ke sini, serta harapan untuk hari-hari yang akan datang... Mungkin Mina dan yang lain akan marah jika mendengarnya, tetapi justru karena tidak kuucapkan keras-keras, inilah doaku.


Tidak apa-apa jika sesuatu terjadi padaku... apa pun yang terjadi padaku tidak masalah... asalkan jangan sampai kebahagiaan mereka direnggut. Kumohon, Dewa.


"...Baiklah, semoga terkabul."


Sambil berharap doaku sampai kepada Dewa, aku berbalik.


"Hohohoho... serius sekali kau memanjatkan doa, ya?"


"Hah!?"


Suara yang tiba-tiba terdengar dari belakang membuatku terkejut setengah mati.


Saat buru-buru menoleh, kulihat seorang kakek yang berjalan dengan bantuan tongkat.


Sejak kapan dia ada di sana...?


Walaupun tadi aku sedang fokus berdoa, aku sama sekali tidak mendengar langkah kaki ataupun merasakan kehadirannya.


"Oh, apa aku mengagetkanmu? Maaf ya."


"T-tidak... tidak apa-apa."


Sesaat aku sempat mengira beliau orang yang misterius, tetapi melihat ekspresi wajahnya yang merasa bersalah membuatku sedikit lega.


Ini pertama kalinya aku melihat beliau... sebenarnya siapa ya?


"Begitu ya. Syukurlah. Tapi wajahmu baru pertama kali kulihat. Kau siapa?"


"Perkenalkan, nama saya Sumeragi Takuya. Karena suatu alasan, sejak beberapa waktu lalu saya tinggal di rumah keluarga Anzai."


"Oh, jadi kaulah Takuya-kun! Aku sudah mendengar kabarmu. Namaku Donoue."


"Dengar kabar...? Ah, maaf. Senang berkenalan, Donoue-san."


Aku penasaran kabar seperti apa yang beliau dengar, tetapi sekarang bukan saatnya memikirkan itu.


"Senang berkenalan juga, Takuya-kun. Oh ya, aku juga kepala Desa Minori."


"Kepala desa!?"


Ternyata beliau kepala desa!?


Karena spontan mengira beliau orang yang sangat penting, aku langsung membungkukkan kepala. Namun melihat reaksiku, Donoue-san malah tertawa lebar.


"Tak usah sungkan. Kepala desa kecil seperti ini bukan jabatan yang hebat kok! Hohoho!"


"...Kalau begitu... saya akan bersikap biasa saja."


Orangnya santai sekali... tapi kebiasaanku memang langsung membungkuk kalau bertemu orang yang memiliki kedudukan tinggi.


Itu sudah menjadi kebiasaan sejak masih bekerja di perusahaan. Sebagai orang yang hidup bermasyarakat, sebenarnya itu bukan hal yang salah. Hanya saja reaksiku terlalu spontan sampai-sampai mungkin membuat Donoue-san merasa tidak enak.


"Baguslah. Anak muda sepertimu malah lebih cocok memanggilku kakek tua menyebalkan."


"Ehh... masa begitu? Setidaknya aku tidak mungkin berkata sekasar itu kepada orang yang lebih tua."


"Hoho, begitu ya. Kau anak yang baik."


"Kurasa itu biasa saja..."


Donoue-san mengelus janggut putihnya sambil menyipitkan mata. Tatapan yang seolah mampu melihat segala sesuatu itu memancarkan wibawa seseorang yang telah menjalani hidup jauh lebih lama dariku.


"Aku cukup pandai menilai orang. Kalau aku bilang kau anak yang baik, berarti aku tidak mungkin salah."


"......"


"Lagi pula tadi kau berdoa dengan sungguh-sungguh, bukan? Di balik kesungguhan itu, aku juga merasakan kasih sayangmu kepada seseorang... benar, bukan?"


"...Hebat sekali, Donoue-san."


Aku sama sekali tidak menyangka beliau bisa melihat sejauh itu.


"Benar, kan?"


Melihat wajah bangganya yang seolah berkata, "Bagaimana?", aku tak kuasa menahan tawa.


Saat tahu beliau kepala desa, aku memang sempat gugup. Namun ternyata tidak perlu. Orang-orang yang tinggal di desa ini benar-benar memiliki hati yang hangat.


Donoue-san berjalan perlahan hingga berdiri di sampingku, lalu menatap bangunan utama kuil.


"Desa ini sudah sangat tua. Anak mudanya sedikit, anak-anak pun tak banyak... tetapi menurutku semangat hidup desa ini masih sangat terasa. Menurutmu bagaimana?"


Begitu ditanya, aku langsung menjawab.


"Aku memang baru datang ke desa ini, tapi meski begitu aku merasa Desa Minori adalah tempat yang sangat indah. Setelah berinteraksi dengan keluarga Anzai dan para tetangga... aku semakin yakin akan hal itu."


"......"


"Aku benar-benar berpikir ini tempat yang sangat baik."


"Hohoho, begitu ya!"


Mendengar jawabanku, Donoue-san tersenyum puas.


Setelah mengobrol ringan sekitar sepuluh menit, kami pun berpisah dan aku berjalan pulang menuju rumah keluarga Anzai.


Namun ketika rumah mulai terlihat, aku tiba-tiba teringat sesuatu yang penting.


"...Bagaimana seharusnya aku bersikap kepada Reina-san?"


Yang kupikirkan tentu saja Reina-san.


Karena pergi ke kuil dan berbincang dengan Donoue-san, aku sempat melupakan masalah itu. Padahal sejak awal aku keluar rumah karena bingung harus menjaga jarak dengannya.


Bukan berarti aku tidak ingin bersamanya. Reina-san yang biasanya maupun Reina-san yang menggoda sama-sama sangat memikat. Aku juga sangat menyukai ketika dia merawatku dengan cara-cara yang mesum, dan aku sudah sepenuhnya menerimanya.


Tetapi tetap saja, Reina-san beberapa hari terakhir ini benar-benar terasa aneh.


"...Haaah, dipikirkan terus juga tidak ada gunanya."


Kupikir nanti malam saja aku bertanya kepada Mina yang sepertinya mengetahui sesuatu. Dengan tekad itu, aku pun membuka pintu rumah.


"Aku pulang...?"


Mengucapkan salam pulang sudah menjadi kebiasaan, tetapi aku memiringkan kepala dengan heran.


Biasanya Reina-san selalu menyambutku, tetapi hari ini tidak. Bahkan rumah terasa sangat sunyi... seolah tidak ada seorang pun di dalam.


"Setahuku mereka tidak bilang mau pergi..."


Tiba-tiba firasat buruk melintas di kepalaku.


Jangan-jangan sesuatu terjadi pada Reina-san...


Begitu pikiran itu muncul, tubuhku langsung bergerak.


"Reina-san!?"


Tempat pertama yang kutuju adalah ruang keluarga... tetapi Reina-san tidak ada. Lalu aku melihat ke dapur, tetap tidak ada. Aku bahkan sempat mengecek toilet, tetapi lampunya mati.


"......"


Sebenarnya dia ada di mana...?


"Di kamar mungkin...?"


Kalau bukan di tempat-tempat itu, tinggal kamarnya yang tersisa.


Aku segera menuju kamar Reina-san, dan ternyata dia memang ada di sana.


"...Eh?"


Namun, aku melihat sesuatu yang sama sekali tak pernah kuduga.


"Takuya-kun... ah... aku juga ingin ngentot denganmu... ingin ngentot denganmu dengan penuh gairah seperti Mina...♡"


Di dalam kamarnya, Reina-san sedang memuaskan dirinya sendiri. Bahkan sambil menyebut namaku, dia menggunakan mainan dewasa.


"..."


Aku tahu ini salah...


Aku tahu mengintip adalah perbuatan yang sangat buruk...


Namun aku sama sekali tidak mampu mengalihkan pandangan dari celah kecil tempat aku mengintip pemandangan itu.


"Benar-benar mesumnya aku ini... tapi tidak bisa dihindari. Bagaimanapun juga aku seorang wanita... aku ingin ngentot dengan Takuya-kun... ingin membuat Takuya-kun merasa lebih nikmat lagi... aku ingin dia menggunakan tubuhku sesuka hatinya sesuai keinginannya...♡"


Sungguh... pemandangan yang luar biasa.


Meski selama ini aku telah melakukan hal-hal mesum dengan Reina-san, semua itu hanyalah karena dia membantuku melampiaskan hasratku. Aku belum pernah sekalipun melihat dirinya kehilangan kendali seperti ini.


Reina-san yang selama ini penuh kasih sayang dan kelembutan kini larut dalam kenikmatan tepat di depan mataku... pemandangan itu terlalu menggoda.


"Takuya-kun...♡ Aku ingin... aku ingin kau memiliku... terimalah wanita yang begitu mesum dan tak berguna ini... ahh... aaah...♡"


Suara yang begitu vulgar, sesuatu yang sama sekali tak pernah kubayangkan keluar dari mulut Reina-san, menggema di dalam kamar.


Mainan yang tadi digerakkannya dengan keras kini didorong semakin dalam. Tubuh Reina-san bergetar hebat, lalu perlahan mengangkat wajahnya... dan menatap ke arahku.


"....."


"....."


Tatapan kami bertemu.


Tak satu kata pun keluar dari mulut kami.


Namun perlahan, wajah Reina-san yang sudah memerah berubah semakin merah. Ia buru-buru mengambil handuk di dekatnya lalu menutupi wajahnya.


Ini pertama kalinya aku melihat seorang wanita sedang memuaskan dirinya sendiri.


Aku sama sekali tak tahu harus berbuat apa hingga tubuhku membeku. Namun berpura-pura tidak melihat lalu pergi begitu saja rasanya juga tidak benar. Setelah menarik napas panjang, aku melangkah masuk ke kamar Reina-san.


"....."


Aroma yang menggoda memenuhi seluruh ruangan.


Harum manis yang biasa tercium dari tubuh Reina-san kini jauh lebih pekat, sampai-sampai hanya menghirupnya beberapa detik saja membuat kepalaku terasa melayang.


"...Reina-san."


Saat kupanggil namanya dari dekat, tubuh Reina-san bergetar kecil.


Wajahnya masih tertutup handuk sehingga aku tak bisa melihat ekspresinya, tetapi bagian tubuh yang tadi disentuhnya sendiri masih terlihat jelas.


Saat aku masih bingung apakah sebaiknya hanya diam menemaninya, Reina-san akhirnya membuka suara.


"...Apa kau jadi kecewa padaku?"


"Eh? Kenapa berpikir begitu?"


"Karena... kau melihatku dalam keadaan yang begitu memalukan."


Memalukan...? Pemandangan ini memalukan?


Memang, mungkin sebagian orang akan berpikir begitu... tidak, lebih tepatnya aku memang tidak ingin orang lain melihat dirinya seperti ini. Namun setidaknya bagiku, sama sekali tidak terlihat memalukan.


"Aku sama sekali tidak berpikir begitu. Jujur saja... yang kupikirkan hanya kalau Reina-san benar-benar sangat menggoda."


"...Benarkah?"


"Iya."


Barulah setelah itu Reina-san menurunkan handuk yang menutupi wajahnya.


Kalau dibilang ia hampir menangis mungkin sedikit berlebihan, tetapi matanya benar-benar berkaca-kaca. Sepertinya ia sungguh menganggap dirinya memalukan.


Tak ada lagi sosok Reina-san yang biasanya begitu dewasa dan selalu memelukku dengan kelembutannya. Yang ada di hadapanku sekarang hanyalah Reina-san yang lucu, gemetar karena malu.


"Reina-san."


"Ah..."


Dia benar-benar lucu.


Sangat lucu.


Dan karena ingin membuatnya tenang, tanpa sadar aku langsung memeluknya.


"Tidak mungkin aku menganggapmu memalukan. Justru menurutku Reina-san sekarang sangat menggoda... dan juga sangat imut."


"I-imut...?"


"Iya... sangat imut."


"...~~~!"


Sepertinya kata "imut" benar-benar mengenai hatinya.


Seluruh tubuhnya gemetar karena malu, tetapi ia sama sekali tidak berusaha melepaskan diri dari pelukanku.


Tubuhku sendiri juga terasa sangat panas. Namun melihat Reina-san seperti ini justru membuatku sedikit lebih tenang, sampai-sampai aku ingin sedikit menggodanya.


"Jadi selama ini Reina-san melihat waktu aku dan Mina bersama, ya?"


"...Iya."


"Itu sebabnya akhir-akhir ini Reina-san terus menatapku seperti itu?"


Reina-san mengangguk kecil.


Setiap kali aku mengatakan sesuatu, ia bereaksi dengan sangat malu. Melihatnya seperti ini benar-benar membuatku gemas.


Meski begitu, aku memutuskan berhenti menggodanya. Bukan karena tidak ingin, tetapi memang aku sendiri sudah hampir kehilangan kendali.


"Sebenarnya aku tadi keluar rumah karena gugup kalau harus berdua saja dengan Reina-san."


"Eh? Begitukah...?"


"Iya... tatapan Reina-san terlalu menggoda, jadi aku jadi gugup."


"...Begitu rupanya."


"Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu tersinggung?"


"Tidak sama sekali. Hanya saja kau terlihat canggung... jadi aku sempat khawatir aku telah melakukan sesuatu yang membuatmu membenciku."


"Hah!? Sama sekali bukan begitu!"


Aku langsung membantah perkataannya.


Kupikir aku berhasil menyembunyikan perasaanku, tetapi ternyata Reina-san tetap menyadarinya... bahkan sampai salah paham seperti itu.


"Yang salah memang aku. Walaupun Reina-san selalu merawatku dengan penuh kasih, aku malah bersikap aneh seperti itu..."


Kalau dipikir-pikir lagi, hubungan kami sebenarnya sudah melewati batas. Jadi memang akulah yang salah karena masih bersikap seperti itu.


"Benarkah? Kalau begitu aku boleh tenang?"


"Iya... maaf sudah membuatmu khawatir."


"...Syukurlah♪"


Akhirnya nada suara Reina-san kembali ceria.


...Meski sejak tadi berusaha tidak memikirkannya, saat memeluknya seperti ini ada dua hal yang terasa begitu jelas.


Yang pertama adalah kelembutan dadanya yang menempel di dadaku.


Yang kedua adalah aroma manis yang menggoda sejak pertama kali aku masuk ke kamar ini.


"...Ufufu."


"Reina-san?"


"Takuya-kun... besar sekali, ya?"


"...Ya jelas begitu."


Mana mungkin tidak dalam situasi seperti ini...!


"Hei... maukah kau juga ngentot denganku?"


Dan tentu saja...


Aku sudah menduga usulan itu akan keluar.


Mendengar bisikannya di telingaku, aku mengangguk tanpa ragu.


"Memang belakangan ini hidupku jadi penuh hal-hal seperti ini. Justru karena itu, kupikir tidak perlu lagi menahan diri... jadi aku ingin bersama Reina-san... aku ingin memelukmu."


Ah...


Hari-hari yang benar-benar penuh kenikmatan.


Usulan yang seperti ini. Dan apa yang akan kami lakukan.


Apa yang kulakukan bersama Mina saja sudah merupakan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Berkali-kali aku berpikir bagaimana mungkin orang sepertiku yang lelah menjalani hidup bisa bersama wanita secantik itu.


Dan sekarang...


Aku bahkan akan ngentot dengan ibunya yang juga tak kalah cantik. Tak diragukan lagi, ini adalah kenyataan.


Tetapi seandainya ada orang yang memukul kepalaku hingga pingsan lalu saat aku bangun berkata, "Semua ini hanyalah mimpi," mungkin aku akan mempercayainya.


"...Aku bahagia sekali, Takuya-kun♡"


"Mungkin terdengar aneh, tapi sebenarnya Reina-san sudah tahu ini akan terjadi, kan?"


"Tentu saja. Begitu Takuya-kun memutuskan tetap tinggal di sini, rasanya kami pasti akan bersatu suatu saat nanti."


"...Aku juga berpikir begitu. Selama tinggal di sini, cepat atau lambat pasti akan terjadi."


"Benar, kan? Hanya masalah cepat atau lambat saja... tetapi kalau berada di pihak yang menunggu, tentu rasanya ingin semuanya terjadi secepat mungkin."


"Berarti... aku membuat Reina-san menunggu terlalu lama?"


"Iya♡"


Reina-san mengangguk pelan lalu melepaskan pelukannya.


Saat kehangatan tubuhnya menjauh, sesaat aku merasa sangat kehilangan. Namun detik berikutnya, bibirnya menyentuh bibirku.


Bukan ciuman ringan. Melainkan ciuman penuh gairah, saling bertaut lidah, seperti yang pertama kali kualami bersama Mina.


"Hm!?"


Sambil terus berciuman, aku didorong hingga rebahan.


Begitu intens...bahkan sulit bernapas!


Kalau bersama Mina dulu kami sama-sama baru pertama kali melakukannya sehingga masih bisa mengendalikan diri.


Namun ciuman Reina-san jauh lebih bergairah.


Bukan karena ia sudah terbiasa, melainkan karena selama ini ia begitu lama memendam keinginan itu.


"Aduh... aku benar-benar jadi begitu rakus ya."


"Reina-san...?"


"Dengar... aku sudah tidak sanggup menahan diri lagi. Kita sama-sama sudah siap... boleh, kan?"


Sambil berkata begitu, Reina-san dengan cepat melepaskan celanaku. Ia berada di atasku, mengangkat pinggangnya sedikit, lalu menatapku dengan penuh harap.


...Benar.


Aku juga sudah tidak sanggup menahan diri.


"Iya, tidak masalah—"


Sebelum sempat menyelesaikan kalimatku, Reina-san langsung bergerak.


"Whoa!?"


"Ah... aaah... ahh...♡"


Rangsangan yang luar biasa membuatku tanpa sadar menyadari sesuatu.


Reina-san...Jauh lebih mesum daripada yang pernah kubayangkan.


"Ufufu... sensasi ini... indah sekali♡"


"....."


"Aku bisa merasakan Takuya-kun di dalam diriku... luar biasa♡"


Aku tak bisa mengalihkan pandangan dari wajah Reina-san yang dipenuhi kenikmatan.


Sifat lucunya yang tadi benar-benar lenyap. Yang terlihat sekarang hanyalah ekspresi penuh gairah.


Bukan karena ia anggun.


Bukan karena ia cantik.


Aku benar-benar terpikat oleh wanita yang begitu menggoda di hadapanku.


"Takuya-kun."


"Y-ya!"


"Akan kubuat kau merasa sangat nikmat, ya?"


Sambil menjilat bibirnya, Reina-san mulai menggerakkan pinggangnya.


Suara tubuh yang saling berbenturan bercampur dengan suara basah memenuhi kamar.


"...Ahh♡ Benar... sensasi ini... sudah lama kulupakan...♡"


"Uah..."


"Ufufu♡ Enak? Sebegitu enaknya? Tunjukkan lebih banyak lagi... biarkan tubuhku membuatmu merasa semakin nikmat♡"


Suara Reina-san tetap dipenuhi kelembutan.


Ia membelai kepalaku. Pipiku. Bibirku. Bahuku. Tangannya membelai seluruh tubuhku dengan penuh kasih. Namun… gerakan pinggang Reina-san sama sekali tidak lembut.


"Takuya-kun♡ Takuya-kun♡ Takuya-kun♡"


Suara benturan yang keras terus menggema di seluruh kamar.


Rangsangan yang diberikannya begitu kuat hingga rasanya aku akan mencapai batasku kapan saja jika tidak mati-matian menahannya.


"Ah... ah... aaahn♡ Enaknyaa...♡"


Apa ini...


Benarkah wanita ini adalah Reina-san yang kukenal? 


Jangan-jangan dia sebenarnya orang lain yang hanya memiliki wajah yang sama... atau bahkan makhluk seperti succubus yang hanya ada di anime dan manga?


Begitu luar biasanya sosok yang diperlihatkan Reina-san saat ini.


"Reina-san... ini benar-benar gawat... terlalu menggoda."


"Ufufu♡ Hanya di depanmu saja... hanya Takuya-kun yang bisa membuat tubuhku bereaksi seperti ini♡ Tolong... mulai sekarang pun teruslah mengisi kekosongan di hatiku...♡ Penuhi seluruh lubang di hatiku...♡ Aku akan melakukan apa saja... demi dirimu aku bisa melakukan apa pun...♡"


Sambil berkata begitu, Reina-san tersenyum nakal dan kembali mempercepat gerakan pinggangnya.


Rambut hitamnya berkibar.


Dadanya yang besar bergoyang mengikuti setiap gerakan.


Setiap kali aku mencoba menikmati pemandangan di hadapanku, gelombang kenikmatan yang luar biasa kembali menyerang tubuhku.


Hubunganku dengan Mina sudah terasa sangat nikmat. Namun bersama Reina-san, kenikmatannya juga sama sekali tidak masuk akal...!


"Ahh... hn... aaah...♡"


Suara erangnya semakin keras. 


Namun tiba-tiba gerakannya berhenti.


Aku memandangnya dengan heran. 


Reina-san lalu meraih tanganku yang tadi menganggur dan membimbingnya ke dadanya.


"Tolong... remas dadaku. Lebih kuat lagi♡"


Ia menginginkan kenikmatan yang lebih besar.


Aku mengangguk lalu meremas dadanya dengan cukup kuat.


Tidak….menyebutnya "meremas" saja terasa kurang tepat.


Aku menggenggamnya begitu kuat hingga rasanya bekas tanganku akan tertinggal di sana.


"Kuat sekali...♡ Tapi aku suka...♡"


"Seberapa mesumnya sebenarnya Reina-san sih...?"


"Itu pujian bagiku...♡ Karena kalau di depanmu, aku bisa menjadi jauh lebih menggoda lagi...♡"


Reina-san menghentikan gerakan pinggangnya dan sepenuhnya menikmati sentuhan dari tanganku.


Bukan hanya meremas. Saat aku juga mulai memainkan ujung dadanya, wajahnya tampak semakin bahagia.


Aku pun berpikir bahwa aku tidak ingin hanya menerima.


Aku juga ingin membuat Reina-san merasa nikmat dengan tanganku sendiri.


Tepat saat pikiran itu muncul...


"Eh?"


"♡♡"


Kedua tanganku ditahan di samping kepalaku. Lalu Reina-san merendahkan tubuhnya hingga sepenuhnya menindihku... dan begitu saja kembali menciumnya.


Tenaganya tidak terlalu kuat, jadi sebenarnya aku bisa melepaskan diri kapan saja. Namun kali ini aku memutuskan membiarkan Reina-san melakukan sesukanya.


"Hmm... mmh...chuu♡"


Bahkan di sela-sela ciuman yang begitu intens, gerakan pinggangnya sama sekali tidak melambat.


Aku sampai ingin bertanya dari mana ia mendapatkan stamina sebanyak itu. Gairah Reina-san sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang.


Di tengah gairah seksual itu, tak lama kemudian aku mencapai batasku.


"...Haa... haa..."


"Ahh...♡ Ah... mmh...♡"


Aneh...padahal aku hampir tidak bergerak, tetapi tubuhku sudah terasa lelah. Butiran keringat mengalir dari dahi Reina-san, lalu menetes ke pipiku.


"Bagaimana menurutmu...?"


"Itu... luar biasa."


Aku benar-benar terkejut melihat sisi Reina-san yang belum pernah kulihat sebelumnya. Namun ngentot dengannya benar-benar terasa begitu nikmat, sampai-sampai aku ingin mengulanginya lagi.


"...Ternyata ngentot memang luar biasa."


"Benar, kan? Sudah lama aku tidak melakukannya, jadi aku tidak bisa mengendalikan diri♪"


"...Reina-san juga benar-benar luar biasa ya."


"Ufufu♪"


Dengan senyum yang begitu bahagia, akhirnya Reina-san turun dari atas tubuhku. Namun saat itu, waktu yang menyenangkan ini ternyata belum berakhir.


"Terakhir, biar aku membersihkannya untukmu."


"...Baik."


Reina-san...


Sampai akhir pun tetap saja begitu menggoda.


Sesuai permintaannya, ia pun "membersihkanku". Namun rasanya terlalu nikmat hingga tanpa sadar aku kembali mencapai klimaks sekali lagi.


Padahal aku sedang lengah. Meski begitu, sejak awal seharusnya aku sudah tahu apa yang akan terjadi saat ia mulai menyentuhku dengan dalih membersihkan.


Akibatnya, sisa-sisa tenagaku pun benar-benar habis.


"...Hei, Takuya-kun."


"Iya?"


"Apa kau jadi benar-benar ilfeel padaku...?"


"Eh?"


"Jawablah sejujurnya... Aku memang tidak menyesal, tapi setelah kupikir lagi... tadi aku benar-benar kehilangan kendali."


"Ah..."


Begitu ya...setelah kembali tenang, rupanya ia jadi malu.


"Kalau melihat reaksiku tadi, harusnya Reina-san tahu jawabannya. Aku sama sekali tidak ilfeel. Justru menurutku sisi Reina-san yang seperti tadi juga sangat menarik."


"Benarkah...?"


Saat aku mengangguk mantap, Reina-san menghela napas lega.


"Astaga... biasanya justru aku yang selalu menggoda Takuya-kun. Kalau setelah itu aku sendiri malah gemetar ketakutan, bukankah jadi lucu."


"Ahaha... memang. Reina-san selalu terlihat percaya diri dan anggun, itu salah satu pesonamu. Tapi melihat sisi yang biasanya tidak pernah kulihat tadi juga sangat menggemaskan."


"Lucu, ya...? Padahal bahkan aku sendiri kaget karena merasa begitu liar. Bagaimana menurutmu soal itu?"


"Hah!? ...Iya, itu benar-benar luar biasa."


Sungguh...yang bisa kukatakan hanya "luar biasa".


Bukan hanya saat kami menyatu tadi, tetapi bahkan waktu menikmati sisa-sisa kehangatan setelahnya pun membuat hatiku terasa begitu penuh.


Bahkan mungkin...


Justru momen seperti inilah yang paling kusukai.


"Sudah sore ya... rasanya malas sekali kalau harus memakai baju lagi."


"Iya... sebenarnya aku juga ingin mandi."


"Aku juga. Tapi aku masih ingin begini sebentar lagi."


"Aku juga."


Ternyata bukan hanya aku yang masih ingin menikmati momen setelahnya.


Namun kalau boleh memilih, dibanding memeluk Reina-san seperti ini...aku lebih ingin dipeluk olehnya.


"Takuya-kun, wajahmu kelihatan ingin dimanja di dadaku, lho."


"...Eh?"


"Ara? Salah ya?"


"...Tidak juga."


Nah, muncul lagi. Kemampuan mereka bertiga—Mina, Yua, dan Reina-san—yang entah bagaimana selalu bisa menebak isi pikiranku.


"Kok bisa tahu?"


"Entahlah. Aku cuma merasa begitu."


"......"


"Nah, sini."


Terpikat oleh kelembutan dalam ajakannya, aku pun membenamkan wajahku ke dadanya.


Kelembutan yang membungkus seluruh wajahku dan aroma manis yang memenuhi hidung membuat tubuhku langsung rileks.


"... lembutnya."


"Ufufu, manja sekali ya~."


"Kalau diperlakukan begini oleh Reina-san, siapa pun pasti akan..."


"Aku hanya akan melakukan ini padamu. Selamanya."


"Ah... iya!"


Padahal itu kalimat yang membuatku bahagia. Entah kenapa tekanan dari kata-kata itu juga terasa luar biasa.


Ia benar-benar mengatakan bahwa dirinya tidak akan memandang pria lain selain diriku.


Aku sangat senang mendengarnya. Namun di saat yang sama, aku kembali bertanya-tanya kenapa mereka bisa menyayangiku sedalam ini.


"...Haa."


"Eh... kenapa menghela napas?"


Mendengar Reina-san menghela napas, aku langsung bertanya.


Wajahku masih terbenam di antara dadanya, tetapi napas panjang itu membuatku penasaran.


"Aku sudah bilang, kan? Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan."


"......"


"Kau pasti sedang berpikir, 'Kenapa kami bisa mencintaimu sampai seperti ini?' Padahal kau sendiri bilang tidak akan menahan diri lagi, tapi akhirnya kembali memikirkan hal yang sama."


"...Maaf."


Benar-benar tidak berkutik...


Ia benar-benar mengetahui semuanya.


"Sumeragi Takuya."


"I-iya!"


"Bukankah berkali-kali kami sudah mengatakan bahwa kami menyukaimu? Bahwa kami mencintaimu sebagai seorang pria? Jadi percuma terus mempertanyakan hal itu... cukup yakin saja bahwa kami benar-benar mencintaimu."


"...Baik."


Aku mengangguk mendengar kata-katanya yang seolah sedang menasihatiku.


Aku sendiri sadar sudah terlalu sering memikirkan hal itu. Namun setiap kali lengah, pertanyaan itu selalu muncul begitu saja.


"Maaf... aku terus memikirkan hal yang sama berulang-ulang. Mulai sekarang aku akan berusaha mengurangi kebiasaan itu."


"Begitulah seharusnya."


"...Reina-san memang baik sekali."


"Ufufu♪"


Namun aku tiba-tiba tertawa kecil. Alasannya adalah karena tadi ia memanggilku dengan nama lengkap.


"Tadi waktu Reina-san memanggil nama lengkapku... aku jadi ingat waktu dipanggil sensei di sekolah."


"Oh begitu? Mumpung ada kesempatan, ceritakan banyak hal tentang masa kecilmu, ya?"


"Tentu."


Aku sebenarnya berniat bangun agar lebih mudah mengobrol. Namun Reina-san sama sekali tidak mengendurkan pelukannya.


Akhirnya kami terus mengobrol sementara wajahku masih berada di sela-sela dadanya.


Ini pertama kalinya, di usiaku sekarang, aku menceritakan masa laluku sedetail itu.


Karena ceritanya berasal dari masa sebelum hubunganku memburuk dengan kedua orang tuaku, sebagian besar hanyalah kenangan indah.


"Ufufu... memang menyenangkan ya. Setelah ngentot, saling berbincang dengan tenang seperti ini... aku sendiri sangat bahagia. Yang paling membuatku senang adalah perlahan-lahan potongan dirimu yang belum kukenal mulai tersusun menjadi utuh."


"...Kalau begitu, aku juga ingin mendengar banyak cerita tentang Reina-san."


"Ara ara... setelah membuatmu bercerita sebanyak itu, rasanya aku tidak mungkin menolak."


Sebagai balasan karena aku telah menceritakan masa laluku, Reina-san pun menceritakan banyak hal tentang dirinya.


Tentu saja, termasuk banyak cerita tentang Mina saat masih kecil.


Hal-hal seperti itu benar-benar hanya bisa kudengar dalam situasi seperti sekarang, dan aku sangat menikmatinya.


"...Ufufu... ufufufu♪"


"...Ada apa?"


Sebenarnya ada satu hal yang sejak tadi membuatku penasaran.


Seperti sekarang, Reina-san sering kali tersenyum sendiri bahkan saat pembicaraannya bukan sesuatu yang lucu.


"Maaf ya... aku hanya merasa momen ini benar-benar indah. Setelah kita menyatu, saat kita sama-sama berada dalam keadaan paling apa adanya... saat hati kita sama-sama tenang, dan saling mengobrol tentang masa lalu masing-masing. Hanya karena bisa menghabiskan waktu seperti ini saja aku sudah merasa sangat bahagia."


Reina-san mengatakannya tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan kepuasan di wajahnya.


Aku pun tanpa sadar ikut tersenyum.


Namun tepat saat itu...


"Hehe, Takuya-san dan Ibu benar-benar berada dalam posisi yang menarik ya."


"Hah!?"


"Ara?"


Suara itu terdengar dari belakang.


Jangan-jangan... Mina!? Aku buru-buru melepaskan pelukan Reina-san lalu menoleh.


Benar saja. Yang berdiri di depan pintu kamar adalah Mina.


"Selamat datang kembali, Mina."


"Aku pulang, Bu."


"..."


Tidak...mereka malah mengobrol dengan santainya. Padahal aku dan Reina-san sama-sama belum mengenakan pakaian.


Mina sama sekali tidak terlihat terganggu dan tetap berbicara dengan ibunya seperti biasa.


Reina-san pun sama sekali tidak berusaha menutupi tubuhnya.


"Syukurlah. Sekarang Ibu benar-benar sudah menjadi wanita Takuya-san ya."


"Ufufu, sekarang aku sudah sama sepertimu♪"


"......"


Gawat...


Aku benar-benar tidak bisa menyela pembicaraan mereka. Obrolan para wanita terus berlanjut tanpa mempedulikanku.


Namun dibanding tidak bisa ikut mengobrol, yang lebih membuatku tidak tenang adalah fakta bahwa aku masih telanjang.


Saat sedang memikirkan bagaimana cara keluar dari situasi ini, Mina tiba-tiba menoleh kepadaku.


"Maaf ya, Takuya-san. Aku jadi terlalu asyik mengobrol dengan Ibu."


"Tidak... tidak apa-apa."


Memang tidak apa-apa. Tapi aku benar-benar ingin memakai baju... atau setidaknya mandi dulu.


Karena Mina juga mudah menebak isi pikiranku seperti Reina-san, aku mencoba menyampaikan keinginanku lewat tatapan.


Namun setelah berpikir sejenak...


Mina malah mulai membuka kancing bajunya.


"Mina...? Kenapa malah buka baju?"


"Eh? Kukira tatapan Takuya-san tadi berarti ingin melakukannya denganku juga."


"Bukan."


"...Cih~"


Yah...sepertinya mereka juga tidak selalu bisa membaca pikiranku dengan sempurna. 


Lagi pula, Reina-san sudah benar-benar menguras tenagaku. Kalau sekarang harus melayani Mina juga, rasanya aku benar-benar akan tumbang.


Tidak...dengan Reina-san yang juga ada di sini...


Apa mungkin hanya akan berhenti di Mina saja?

Eh… mendadak aku jadi sedikit takut.


"Aku dan Takuya-kun juga memang harus mandi dulu."


"Ah, jadi maksudmu ingin mandi ya?"


"Iya... maaf, tadi seharusnya aku langsung bilang."


Setelah itu, akhirnya kami benar-benar pergi mandi.


Karena tubuh kami sama-sama lengket oleh keringat, aku dan Reina-san mandi bersama. Namun kali ini tidak terjadi hal-hal yang menggoda.


Kami hanya berendam dan menghangatkan tubuh bersama.


"..."


"Ara, jangan-jangan masih kurang puas?"


"T-tidak kok!"


Aneh. Padahal tadi aku justru merasa lega karena tidak terjadi apa-apa.


Apa jangan-jangan, seperti kata Reina-san, tubuhku malah merasa kurang? Kalau benar begitu...


Seberapa dalam aku sudah terbawa suasana ini?


"Mulai sekarang aku juga bisa bersamamu kapan saja. Setelah sejauh ini, kau tidak mungkin bilang hubungan kita akan kembali seperti dulu, hanya sebatas aku merawatmu, kan?"


"...Iya."


"Ufufu♡"


Aku telah ngentot dengan Mina. Dan kini aku juga telah menyatu dengan Reina-san.


Sejak datang ke sini, semuanya berubah begitu cepat hingga tanpa kusadari aku semakin tenggelam dalam pesona mereka.


"Berikutnya tinggal Yua, ya? Setelah itu kita berempat bersama-sama juga pasti bisa♡"


Mendengar perkataan Mina, yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum kecut.


Aku...benar-benar tidak akan kehabisan tenaga, kan?


Awalnya kupikir itu hanya lelucon.


Namun entah kenapa, sekarang rasanya kemungkinan itu mulai terasa sedikit lebih nyata hingga membuat bulu kudukku merinding.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close