NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanzen Kaiju no Priest V2 Chapter 10

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 10

Menuju Ibu Kota Kerajaan

Pada akhirnya, bahkan setelah Festival Pedang berakhir, aku memutuskan untuk tetap tinggal di Kota Petualang Hares selama sekitar satu bulan lagi.


Beberapa batu sihir wyvern yang kujual kepada Guild menghasilkan total sepuluh koin emas suci.


Jumlah uang yang sama sekali tak pernah kubayangkan di kehidupan sebelumnya membuatku sampai mengucek mata.


Artinya—hanya dengan sekali menggunakan Kutukan Noda Nafsu, aku telah menghamburkan uang dalam jumlah yang luar biasa.


Sekarang kalau dipikir-pikir lagi, rasanya benar-benar sayang. Karena uang itu bisa diambil melalui guild lain, aku hanya menarik jumlah yang kubutuhkan.


Ngomong-ngomong, material dari sepuluh ribu monster yang muncul saat Dungeon Break dibagi rata antara para petualang dan para Ksatria Kuil yang ikut bertarung. 


Aku tidak tahu berapa nilai seluruhnya, tetapi karena sudah menerima banyak uang dari batu sihir wyvern, aku memutuskan menyumbangkan seluruh material monster hasil Dungeon Break kepada Guild Petualang.


Selama aku tinggal di Hares, kejahatan Burdog akhirnya terungkap ke publik, dan petinggi gereja memerintahkan pembubaran seluruh faksinya.


Namun pada akhirnya, identitas orang yang telah mengutuknya dengan kutukan "Keburukan Wajah" tetap tidak pernah diketahui.


Setelah itu, aku teringat pada Mariel dan mengunjungi klinik tempatnya bekerja.


Kupikir ia pasti sangat terpukul karena dikhianati oleh orang yang selama ini dipercayainya, tetapi ternyata ia jauh lebih tegar daripada dugaanku.


Urusan sisa-sisa faksi Burdog rupanya akan ditangani oleh Alaistar.


Para pengikut yang bergabung ke faksi itu karena mengidolakan pria tampan memang tampak kecewa, tetapi kedudukan Alaistar begitu tinggi sehingga sulit dijangkau.


Karena sejak awal ia tidak memiliki faksi sendiri, banyak orang justru merasa bangga bisa bekerja di bawahnya.


Selain itu, ketika kuceritakan tentang para wanita yang sedang kami lindungi di Desa Powan, ia juga bersedia membantu mengurus mereka.


Benar-benar orang yang berhati besar.


Selama bulan itu, aku juga menghabiskan hari-hari yang padat namun memuaskan.


Aku beberapa kali melakukan latihan tanding dengan Glen, dan atas ajakan Seira ikut berlatih bersama para Ksatria Kuil.


Aku juga tidak pernah melupakan latihan setiap pagi demi menguasai teknik sihir tempur.


Meski begitu, selama latihan bersama para Ksatria Kuil, para kesatria wanita terus-menerus menginterogasiku mengenai hubunganku dengan Seira, membuatku cukup kerepotan.


Namun di saat yang sama, aku jadi semakin menyadari betapa dihormatinya Seira.


Satu bulan ternyata terasa jauh lebih lama daripada yang kubayangkan.


Karena itu, momen-momen ketika Erina dan Seira saling mencari kehadiranku tidak berhenti hanya sekali.


Semakin banyak waktu yang kami habiskan bersama, semakin dalam pula ikatan di antara kami.


Di mata mereka berdua, aku benar-benar telah menjadi seseorang yang istimewa.


Seira mengetahui bahwa aku memiliki kemampuan untuk menghapus kutukan. Karena itu, ia juga memahami bahwa aku pernah terlibat dengan wanita lain.


Meski begitu, sikapnya kepadaku tidak pernah berubah.


◇◇◇


"Kalau begitu, sampai jumpa, Glen."


Sebulan kemudian.


Di depan kereta yang telah dipenuhi barang bawaan, kami saling mengucapkan salam perpisahan sebelum berangkat menuju ibu kota kerajaan, Einfilia.


Tempat ini adalah gerbang barat Kota Petualang Hares.


Konon ibu kota berada di arah barat laut dari sini.


Yang datang mengantar adalah seluruh anggota Silver Blade.


Selain itu ada Guild Master Berg, resepsionis Rina, Alaistar, serta dua pandai besi, Goddea dan Karta.


Yang tidak terlihat hanyalah Seira beserta para Ksatria Kuil.


Aku sedikit merasa kesepian, tetapi mungkin mereka memang sibuk bekerja sejak pagi.


"Rasanya bakal sepi... tapi kita ini petualang. Pasti nanti kita bertemu lagi."


"Ya. Semoga saja."


Glen, Rishia, Garo, dan Erina. Mereka semua adalah rekan yang hebat. Perjalanan kami memang penuh gejolak, tetapi sekarang aku benar-benar bersyukur bisa bertemu mereka.


Di kehidupan sebelumnya aku hanya memiliki satu orang teman. Karena itu, mempunyai orang-orang yang bisa kusebut sebagai rekan adalah harta yang tak ternilai bagiku.


"Aku sudah menulis surat rekomendasi untuk Akademi Gereja. Dengan ini kau pasti bisa pindah tanpa masalah."


"Ugh..."


"Shuu-sama! Mulai sekarang Anda bisa belajar lebih banyak tentang gereja!"


Saat Alaistar menyerahkan surat rekomendasi itu, aku hanya bisa mengerang.


Sejujurnya, aku sudah tidak ingin belajar lagi.


Memang aku berniat masuk karena ajakan Iris dan demi urusan Dewi Artemisia, tetapi membayangkannya saja sudah membuatku murung.


"Kalau dapat material bagus lagi, jangan lupa bawa kemari!"


"Siap!"


"Tentu saja!"


Setelah berpamitan dengan kedua pandai besi itu, sebuah suara terdengar dari belakang.


"Shuu-sama! Kalau begitu, kita berangkat!"


Yang duduk di kursi kusir adalah pedagang Mogumo.


Kali ini kami tidak mengendarai kereta sendiri, melainkan ikut bersama Mogumo yang kebetulan memang hendak pergi ke ibu kota.


Aku naik ke kereta bersama Iris dan Medina, lalu melambaikan tangan kepada Glen dan yang lainnya.


Namun saat itulah sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.


Entah sejak kapan, Erina tiba-tiba naik ke dalam kereta seolah-olah itu memang sudah sewajarnya.


Sebenarnya sejak tadi ia memang sangat pendiam, jadi aku sempat merasa ada yang aneh.


"Eh...?"


Saat aku kebingungan, Rishia menjelaskan dari belakang.


"Belakangan ini kami terus bekerja tanpa istirahat! Jadi kami memutuskan mengambil cuti sebentar! Tolong jaga Erina, ya!"


"Ehhhh!?"


Aku tak kuasa berteriak karena terkejut.


Glen dan Garo hanya menatap kami dengan senyum hangat. Erina tersenyum manis.


"Mulai sekarang mohon bantuannya ya, Shuu-san.♡"


"O-oh..."


Aku hanya bisa tersenyum kecut.


...Kurasa perasaan cinta Erina ternyata jauh lebih besar daripada yang kubayangkan.


Begitulah, kami pun meninggalkan Hares dengan kereta.


Namun kejutan belum berakhir.


Di samping kereta kami muncul sebuah kereta lain dengan hiasan yang megah. Di belakangnya masih ada beberapa kereta lagi.


Yang duduk di kursi kusir adalah...Seira.


"Hehe... kau kira aku akan membiarkanmu meninggalkan Hares tanpa diriku?"


"Hah...!?"


Senyum tipis dan tatapan matanya membuat bulu kudukku merinding.


"...Bercanda. Kami sedang menjalankan tugas mengawal pemindahan Burdog."


"O-oh, begitu ya..."


Meski begitu, yang membuatku takut adalah lelucon itu terdengar setengah serius.


Walaupun semua berawal dari proses penghapusan kutukan, aku memang sudah terlalu banyak terlibat dengan berbagai wanita.


Kadang aku sampai khawatir suatu hari nanti ada yang akan menusukku dari belakang.


Kalau bisa, aku ingin menjalani hidup dengan damai.


Dug!


"Apa itu!?"


Tiba-tiba terdengar benturan keras dari atap kereta.


"Master memang populer sekali ya."


Begitu mendengar suara itu, aku langsung tahu siapa pemiliknya.


Dorothea.


Benar juga, ia pernah mengatakan bahwa sihir teleportasi memiliki batas jarak. Berarti ia tidak mungkin terus bersembunyi.


Memang identitasnya harus dirahasiakan dari para Ksatria Kuil, tetapi karena ras Dark Elf memang benar-benar ada di dunia ini, untuk sementara kami bisa menggunakan alasan itu.


Perjalanan menuju ibu kota akan memakan waktu beberapa minggu. Kami akan melewati beberapa desa dan kota kecil, sambil sesekali berkemah di perjalanan.


Saat aku menoleh ke belakang, gerbang besar Hares sudah tampak samar di kejauhan.


Sosok Glen dan yang lainnya pun sudah tak terlihat lagi.


Begitulah, perjalanan kami menuju ibu kota kerajaan pun dimulai.


Yang akan menemaniku adalah Iris, Medina, Erina, dan Dorothea. Serta rombongan Kesatria Kuil yang dipimpin oleh Seira.


Kalau suatu hari nanti aku kembali ke Hares, aku ingin mencoba menjelajahi dungeon di sana.


Aku bertanya-tanya, kejadian seperti apa yang menanti kami di ibu kota Einfilia.


Memikirkannya saja sudah membuat dadaku dipenuhi rasa antusias.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close