Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Chapter 5
Pemurnian Kutukan Erina
"──Maaf! Tolong buka pintunya!"
Suara ketukan keras memecah kesunyian malam.
Klinik penyembuhan yang telah selesai melayani pasien dan menutup pintunya rapat-rapat kini digemparkan oleh teriakan yang menggema.
"...Ada apa? Klinik sudah tutup untuk hari ini."
Berderit...pintu terbuka sedikit, memperlihatkan seorang suster berkacamata──Mariel.
Sambil mengernyit, ia hendak mengusir tamu itu, tetapi...
"Shuu! Tolong panggil Shuu! Sekarang hanya dia yang bisa kami andalkan!"
"...Seorang petualang, ya. Shuu sudah selesai bekerja dan sedang beristirahat. Silakan pulang."
Orang yang berdiri di sana adalah seorang pendekar pedang berlumuran darah──Glen.
Melihat pakaian yang compang-camping dan wajahnya yang penuh kepanikan, Mariel tanpa sadar mengerutkan kening.
"Kumohon! Aku hanya perlu bicara dengannya! Kami benar-benar tidak punya waktu!"
"...Jadi orang itu punya kenalan petualang."
Mariel bergumam pelan, sementara sedikit kegelisahan muncul di dalam hatinya.
Bagi Mariel, Shuu adalah sosok yang istimewa.
Pertemuan mereka bermula saat ia memarahi Shuu karena menggunakan sihir penyembuhan tanpa izin di jalan, lalu memaksanya bekerja di klinik.
Namun setelah benar-benar mempekerjakannya, ia terus dibuat terkejut.
Jumlah mana yang luar biasa besar, kemampuan penyembuhan yang jauh melampaui biarawan lain, efek sihir yang sangat kuat, dan sifatnya yang tak sanggup mengabaikan orang yang sedang kesusahan.
Walaupun mulutnya kasar, hanya dalam dua hari bekerja ia sudah hampir menjadi sosok terpenting di klinik.
Karena itulah, mengetahui bahwa Shuu memiliki hubungan dengan para petualang membuat Mariel tanpa sadar mengernyit.
Petualang──orang-orang yang kasar, brutal, dan sering meremehkan gereja.
Hubungan gereja dengan mereka sudah lama buruk akibat persoalan biaya pengobatan.
"Astaga... berisik sekali. Ada apa, Mariel? Apa ada pasien darurat──"
"Sh-Shuu..."
Orang yang muncul dari lorong bagian dalam adalah Shuu sendiri.
Mariel menghela napas seolah sudah menyerah.
"Shuu! Syukurlah kau ada! Kumohon... tolong sembuhkan Erina! Tolong selamatkan Erina!"
Begitu melihat Shuu dari celah pintu, Glen langsung berteriak.
Teriakan penuh keputusasaan itu membuat suasana seketika menegang.
◇◇◇
"...Tak kusangka sampai terjadi seperti itu."
Setelah selesai mengobati Seira, aku kembali ke klinik dan menjalankan pekerjaanku seperti biasa—menggunakan sihir penyembuhan dan meresepkan obat.
Namun rupanya, selama aku tidak tahu apa-apa, kejadian yang sangat besar telah terjadi di luar sana.
Orang yang datang memberitahuku adalah Glen.
Setelah hanya berkata kepada Mariel, "Aku keluar sebentar," aku langsung naik ke kereta yang mereka bawa.
Di dalam kereta ada Glen dan Rishia, yang menjelaskan secara singkat semua kejadian beberapa jam terakhir.
Mereka mengetahui keberadaanku dari Iris.
"Bagaimana dengan luka kalian?"
"Sudah diobati Iris. Tidak separah kelihatannya."
"...Sejujurnya, kalau Iris dan Medina tidak datang saat itu, kami semua pasti sudah mati."
Wajah mereka masih pucat.
Pertempuran melawan iblis itu benar-benar membuat mereka merasa sudah berada di ambang kematian. Dan di tengah pertarungan itulah Erina terkena kutukan.
"Erina... melindungiku. Karena itu... kami harus menyelamatkannya...!"
"Sekarang cuma kau yang bisa kami andalkan. Kumohon, Shuu... selamatkan Erina."
"──Tentu."
Mendengar permohonan mereka yang begitu putus asa, aku mengangguk mantap.
Konon kutukan hanya bisa dilepaskan oleh perapalnya sendiri, atau dengan membunuh sang perapal.
Namun kalau dipikir-pikir, orang yang mengutuk Seira seharusnya sudah mati.
...Artinya, bahkan kutukan pun mungkin memiliki pengecualian.
Ada kutukan yang diwariskan melalui garis keturunan, ada pula yang bertahan sangat lama—sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu kutukan biasa.
Kereta akhirnya berhenti di Penginapan Nagiri no Kiritei.
Tempat Iris dan Medina menginap.
Karena tempat tinggal Glen dan yang lain kemungkinan sudah diketahui musuh, Erina dipindahkan ke sana demi keselamatannya.
"──Shuu-sama!"
Saat membuka pintu, Iris, Medina, dan Garo menyambutku sambil menjaga Erina yang terbaring di atas ranjang. Namun wajahnya sama sekali tidak tampak seperti sedang tidur nyenyak.
Kedua tangan dan kedua kakinya diikat hingga tubuhnya terpasung di atas ranjang.
"...'Kutukan Noda Nafsu', ya."
"Benar. Berbeda dengan yang kualami dulu, tampaknya kutukan itu sudah memasuki tahap kedua. Tubuhnya tak lagi bisa dikendalikan, dan kemungkinan ia terus berada dalam keadaan birahi yang sangat kuat."
Kutukan Noda Nafsu memiliki beberapa tahap.
Pada tahap ketiga, kutukan itu dapat menular kepada orang lain melalui kontak dengan selaput lendir, membuat korbannya kehilangan akal sehat dan menyerang lawan jenis.
Menurut penjelasan Iris, Erina masih berada pada tahap kedua. Belum dapat menular, tetapi dorongan nafsunya sudah tidak bisa dikendalikan.
"Shuu... Erina benar-benar bisa..."
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku punya skill 〈Complete Uncurse〉?"
"Iya."
"Kalau begitu seharusnya bisa kusembuhkan. Tapi... ada satu hal yang belum pernah kujelaskan kepada kalian."
Biasanya aku selalu menjelaskan hal itu langsung kepada pasien yang masih sadar.
Namun Erina sedang tidak sadarkan diri. Karena itu, kali ini aku menjelaskannya kepada Glen dan yang lainnya.
...Sejujurnya, Erina memang cantik.
Siapa pun pasti mengakuinya.
Justru karena itulah aku bisa menebak seperti apa metode penyembuhan yang akan diminta skill tersebut.
Aku pun menjelaskan semuanya kepada mereka tanpa menyembunyikan apa pun.
"...J-jadi... kau serius mengatakan itu?"
"Ya. Aku serius. Mungkin kedengarannya keterlaluan... tapi memang begitulah cara kerja skill ini."
"Rishia-sama. Hasil 〈Appraisal〉 milikku juga menunjukkan hal yang sama. Semua yang dikatakan Shuu-sama adalah benar."
"...Begitu ya."
Rishia dan yang lainnya sama-sama mengernyit.
Itu wajar. Karena yang akan dilakukan kepada rekan mereka bukanlah pengobatan biasa.
"Meski begitu... kalau kalian benar-benar ingin menyelamatkan Erina, maka kalianlah yang harus memutuskan atas namanya, karena sekarang dia tidak sadar."
"....."
Ketiganya saling berpandangan sejenak. Lalu mereka mengangguk bersamaan.
"Shuu... kumohon. Erina sudah bertarung bersama kami selama lima tahun. Setelah semuanya selesai, Rishia akan menjelaskan semuanya kepadanya. Jadi... tolong selamatkan dia."
"...Baik."
Di mata Glen tampak tekad yang kuat.
"Kalau begitu... maaf, tapi jangan ada yang tetap di ruangan ini. Mungkin akan memakan waktu sekitar satu jam... dan ini bukan sesuatu yang pantas dilihat."
"Semuanya, mari kita keluar."
Atas ajakan Iris, semua orang diam-diam meninggalkan ruangan.
"──Iris."
Aku memanggil Iris sebelum ia keluar.
"Ada apa?"
"Untuk berjaga-jaga. Bisakah kau memasang penghalang peredam suara?"
"Begitu rupanya. Kalau suara dari dalam terdengar keluar... saat Erina-sama bangun nanti mungkin ia akan pingsan karena malu. Baiklah, akan kupasang."
Dalam ucapannya itu tersirat pengalaman yang pernah ia alami sendiri.
──Perawatan di Gereja Iasis.
Kemungkinan besar, suara erangannya saat itu terdengar hingga ke luar ruangan.
◇◇◇
"Untuk sementara... mana-ku tidak ada masalah."
Sejak pagi aku sudah melakukan pemurnian kutukan pada Seira, sehingga untuk pertama kalinya tubuhku mulai terasa lelah.
Namun di klinik, para biarawan mendapat ramuan pemulih mana secara gratis.
Karena sudah meminumnya, mana-ku kini kembali penuh. Dengan kata lain, meski tubuhku sedikit lelah, kondisi mana-ku benar-benar prima.
Aku menyingsingkan lengan jubah biarawanku dan mengulurkan tangan ke arah Erina yang sedang tertidur.
"...Apa ini karena perbedaan berkah Dewi?"
Kutukan yang menimpa Erina memang berada pada tahap yang lebih rendah daripada yang dialami Iris. Namun metode penyembuhan yang muncul di benakku justru lebih ekstrem.
Konon Iris memiliki berkah Dewi karena merupakan calon Saintess.
Mungkin berkat itulah efek Kutukan Noda Nafsu tidak langsung muncul, sehingga ia masih mampu bertahan hingga mencapai Hutan Iasis.
Sebaliknya, Erina hanyalah seorang pendeta biasa.
Kemungkinan ia tidak memiliki perlindungan semacam itu. Karena itulah skill ini memilih metode penyembuhan tersebut.
──"Remas kedua payudaranya sambil mengisapnya, dan ulangi ciuman yang dalam berkali-kali."
Berbeda dengan metode untuk Iris yang hanya berupa "mengisap kedua payudara sambil meremasnya", kali ini ditambahkan pula ciuman yang mendalam.
"...Mungkin Erina akan membenciku."
Memikirkan apa yang akan terjadi setelah kutukannya sembuh membuat suasana hatiku menjadi muram. Namun ini adalah permintaan Glen dan yang lainnya.
Tak ada pilihan selain melakukannya.
Aku naik ke atas ranjang dan mengulurkan tangan untuk membuka pakaian Erina.
"Ngomong-ngomong... pakaian ini... apa sebenarnya?"
Tiba-tiba ada satu hal yang membuatku penasaran.
Mereka mengatakan bahwa Erina telah menyusup ke kediaman Burdog, tetapi pakaiannya tampak aneh.
Sambil mencari bagaimana cara melepaskan ikatan pakaiannya, akhirnya aku berhasil membuka pakaian yang dikenakannya.
Barulah saat itu aku menyadarinya.
"Bukankah ini... tirai?"
Yang membalut tubuh Erina ternyata adalah tirai berwarna hijau mengilap. Mungkin saja ia telah mengalami sesuatu yang berbahaya.
Aku teringat saat pernah tanpa sengaja melihat Erina telanjang di pemandian air panas sebelum kami tiba di Hares.
Sekarang ia masih mengenakan pakaian dalam, tetapi kulitnya tetap terlihat sangat indah.
Di bagian bawah perutnya tampak pola kutukan sebagai tanda Kutukan Noda Nafsu.
Aku membuka kait bra Erina agar lebih mudah melakukan pengobatan.
"Maafkan aku, Erina..."
Mataku menangkap bagian tubuhnya yang berwarna merah muda, dan tanpa sadar jantungku berdegup sesaat.
Lalu aku memantapkan tekad.
"──〈Complete Uncurse〉."
Cahaya putih lembut menyelimuti kedua tanganku, dan pengobatan pun dimulai.
Bentuk tubuh Erina yang proporsional membuatnya tampak anggun. Dibandingkan Amelia, posturnya terlihat lebih berisi, dan keseluruhan penampilannya memancarkan pesona yang lembut namun tetap menawan.
Berbeda dengan Iris yang memiliki penampilan sangat mencolok, Erina dikenal sebagai pribadi yang serius dan berhati bersih.
Justru karena kesan polos itu, kontras dengan keadaan yang dihadapinya terasa begitu kuat.
"Permisi..."
Pengobatan yang diminta oleh skill tidak cukup hanya dengan menyentuhnya.
Aku mendekat untuk melanjutkan prosedur sesuai petunjuk skill.
Meski Erina seharusnya masih tidak sadarkan diri, tubuhnya perlahan bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan selama proses pemurnian kutukan.
Setiap orang memiliki aroma tubuh yang berbeda-beda. Ada yang beraroma jeruk, bunga, atau sabun. Dari tubuh Erina tercium samar aroma herbal yang segar.
Aku melanjutkan prosedur sesuai urutan yang ditunjukkan oleh skill.
Tak lama kemudian, Erina tampaknya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya.
"Ah... uh... nn... ah..."
Kesadarannya belum pulih, tetapi napasnya mulai disertai suara lirih.
Akibat Kutukan Noda Nafsu, tubuhnya terasa panas dan pipinya memerah. Kepekaannya terhadap sentuhan tampaknya juga meningkat.
Aku kemudian mengangkat wajahku.
Wajah Erina yang memerah dan sedikit mengernyit kini hanya berjarak beberapa sentimeter dariku.
Masih ada satu langkah lagi yang ditunjukkan oleh skill, yaitu "mengulangi ciuman yang dalam."
Menurut Dewi Artemisia, skill ini merupakan perwujudan dari keinginanku. Namun aku menolak anggapan itu.
Metode pengobatan yang tidak kuatur sendiri tidak mungkin bisa disebut sebagai kehendakku. Aku yakin akan hal itu.
"Erina... seperti yang sudah kukatakan berkali-kali... maafkan aku…"
Aku dengan lembut menempelkan tangan di pipi Erina yang putih dan mulus.
Aku mendekatkan wajah hingga napas kami saling bersentuhan, lalu perlahan menempelkan bibir.
Sensasi yang lembut, manis, dan sedikit hangat itu membuat tubuhku ikut terbakar.
Hari ini Erina memakai riasan yang lebih tebal. Bibir yang kukecup berwarna merah mencolok, dan aroma yang lebih sensual tercium darinya.
"Nn……nchuu……nnuuh… lidahku, masuk……"
Aku memaksa membuka bibir Erina, menyusupkan lidah di sela-sela gigi putihnya.
Ciuman yang dalam dan saling bersatu──bukan sekadar kecupan biasa, melainkan yang baru sempurna ketika lidah saling bertaut.
Sensasi hangat di dalam mulutnya perlahan merambat kepadaku.
Lidahnya yang lembut dan tidak melawan mengikuti gerakanku, keluar-masuk sesuka hati──seolah seperti hubungan seks tiruan, saling melilit dengan penuh nafsu.
"Nnuuh……nn…juru……chu……n, n……nnuuh!?"
Mulutnya tertutup olehku hingga sulit bernapas, akhirnya Erina sadar kembali. Matanya terbuka lebar, bingung tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Namun jika ia sedang dalam kondisi birahi sama seperti Iris, maka Erina selanjutnya akan──
"Nn! Nn! Juruuh! Laki-laki! Nn, nnuuh!?♡"
Di alam bawah sadarnya, ia mungkin menyadari bahwa itu adalah aku. Tapi birahinya bukan tertuju padaku secara pribadi, melainkan pada keberadaan laki-laki itu sendiri.
Erina seolah merasakan kebahagiaan naluriah karena sedang berciuman denganku. Ia mengisap balik bibirku dan melilitkan lidahnya lebih dalam.
Lidahku ditarik kuat, ciuman yang intens hingga hampir terlepas. Tapi aku takkan kalah.
Aku menurunkan kedua tangan dan mencubit puting Erina dengan kuat.
"Uuuuuuuuh!?♡"
Mungkin karena tubuhnya bergetar karena kenikmatan, intensitas ciumannya sedikit melemah.
Sambil mengatur napas, aku kembali menempelkan bibir dan terus melilitkan lidah. Lalu secara bergantian, aku menggerakkan mulut di payudaranya.
Setiap kali bibirku terlepas, desahan dan suara manis yang tak tertahan keluar dari mulut Erina.
"Uh, uh…… enak…… enak banget!!♡ Lebih, lebih!♡"
"Tak perlu bilang, aku akan melakukannya……"
Aku kembali menggerakkan bibir di dada Erina, memberi rangsangan pelan-pelan berpusat pada putingnya.
"Itu enak!? Putingnya hebat!? Aaah, aaaaah!?♡"
Erina yang biasanya berbicara dengan sopan kini hanya mampu mengeluarkan suara.
Rambut peraknya yang indah berantakan, sensitivitasnya sudah mencapai batas. Apapun yang kulakukan membuatnya tersentak-sentak, dan ia mengeluarkan desahan manis yang hampir seperti teriakan.
Tangannya yang terikat seolah ingin bergerak dengan frustasi, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Dari gerakannya, jelas terlihat betapa kuatnya hasrat untuk memelukku.
"Erina…… aku akan…… menghilangkan kutukannya dengan benar…… jadi, untuk sementara, tahan dulu……"
"Aah!? Aah!? Putingnya jangan!? Terlalu enak! Hisap lebih dalam! Enak banget!?♡"
Sudah tidak ada lagi sosok Erina yang suci dan manis di sana. Tapi Erina yang aku sukai adalah dirinya yang serius, murni, dan penuh rasa keadilan.
Jadi sampai ia kembali normal──
"Suka!? Suka putingnya!?♡ Uh, uh, jangan!? Terlalu enak, jangan!?♡"
Kedua dada Erina yang sudah basah oleh air liur kuisap dan kaua terus-menerus sepuasnya.
Dengan mata yang tak fokus, ia hanya pasrah menerima kenikmatan yang kuberikan, terjerumus ke kedalaman kenikmatan.
Karenanya, hanya dengan dada saja, saat itu pasti akan datang──
"Uuh!? Aah!?♡ Aku keluar!? Aku keluar!? Puting, puting!? Aku keluarrrrrrrrrr!!♡♡♡"
Sesaat kemudian, Erina menggeliat hebat hingga belenggu yang mengikatnya berderak. Tubuhnya melengkung ke belakang sebelum akhirnya terkulai lemas.
Ruangan dipenuhi aroma yang pekat, sementara seprai yang lembap masih menyisakan hawa hangat.
Tubuh Erina bergetar pelan akibat sisa-sisa reaksi dari proses pemurnian kutukan, lalu perlahan berhenti bergerak.
Di wajahnya masih tersisa sedikit rona mabuk, dan kesadarannya kembali tenggelam ke dalam alam mimpi.
"...Erina, maafkan aku."
Ada alasan mengapa aku meminta maaf.
Cahaya putih di kedua tanganku masih belum menghilang, seolah masih mendorongku untuk melanjutkan proses pemurnian kutukan.
──Baru lima belas menit berlalu sejak proses itu dimulai.
◇◇◇
Sementara Shuu sedang melakukan pemurnian kutukan pada Erina, lima orang berkumpul di kamar tempat Iris dan Medina menginap.
"...Akhirnya kita bisa sedikit tenang. Maaf, tapi istirahat nanti saja. Lebih baik kita saling berbagi informasi dulu."
Yang membuka pembicaraan adalah Glen.
Bajunya telah compang-camping, dan tamengnya dipenuhi bekas cakaran. Namun berkat sihir penyembuhan Iris, luka-luka di tubuhnya telah pulih.
Meski begitu, kelelahan akibat pertarungan melawan Dorothea masih jelas terlihat. Selain Medina, wajah semua orang tampak pucat.
"Pertama-tama, aku ingin berterima kasih sekaligus meminta maaf kepada Iris dan Medina. ...Terima kasih telah menyelamatkan kami. Dan maaf karena kami bertindak tanpa memberi tahu kalian. Seharusnya kami kembali ke guild lebih dulu."
Sambil tetap duduk, Glen menundukkan kepala dalam-dalam.
Rishia dan Garo pun mengikuti, ikut membungkuk dengan hormat.
"Tidak apa-apa... Memang sulit mencari kalian, tetapi yang terpenting adalah semua orang selamat. Aku sendiri juga terkadang bertindak gegabah karena rasa keadilan, jadi aku mengerti perasaan Glen-sama."
"Syukurlah kalau kau berkata begitu."
Faktanya, Iris sendiri sebelumnya hampir menerobos masuk ke fasilitas bawah tanah karena terbawa emosi.
Namun jika itu dilakukan, bukan tidak mungkin mereka justru akan terjebak tanpa berhasil menangkap Burdog.
"──Jadi, ini alat sihir perekamnya?"
"Iya. Pada akhirnya, tanpa Medina kami tidak akan mendapatkan rekaman ini... Mari kita putar."
"Baik."
Iris menyerahkan alat sihir kecil sebesar anting.
Glen menghadap ke dinding dan mengucapkan,
"〈Putar Rekaman〉."
Cahaya lembut memancar dari alat sihir itu, lalu gambar dan suara mulai diproyeksikan.
"────"
Yang diputar hanyalah rekaman berdurasi beberapa menit.
Isinya memperlihatkan Burdog mondar-mandir di ruang kerjanya sambil bergumam sendiri, kemudian duduk di sofa dan akhirnya tertidur.
"...Aku tidak tahu apakah ini sudah cukup menjadi bukti yang kuat. Namun semua itu adalah pengakuannya sendiri. Dia tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu. Ditambah lagi──"
"Buku pembukuan?"
"Ya. Di buku yang berhasil diambil Medina ini tercatat dengan rinci jumlah transaksi dengan para mitranya. Jika kasus ini dibawa ke pengadilan, bukti ini seharusnya sudah cukup."
"Serius deh, sebanyak apa uang yang dia hasilkan...? Jumlah angkanya benar-benar tidak masuk akal..."
"Bahkan mungkin keuntungannya melampaui perusahaan dagang terbesar di Hares."
Rishia mengernyit sambil melihat buku pembukuan, sedangkan Iris mengangguk dengan wajah serius.
"Untuk sementara, kita titipkan semua ini kepada Guild Master. ...Lalu berikutnya──masalah Dorothea."
Begitu nama itu disebut, suasana ruangan langsung menjadi tegang.
"Kurasa Dorothea bahkan belum mengeluarkan setengah dari kekuatan aslinya. Dia pasti berniat mempermainkan kita dulu sebelum membunuh. Karena itulah kita bisa bertahan selama itu."
"Aku setuju. Kalau dia serius sejak awal, kita semua pasti sudah mati seketika. ...Diremehkan olehnya mungkin satu-satunya keberuntungan kita."
Garo mengangguk menanggapi analisis Glen.
"Yang merepotkan bukan cuma kekuatan dan kecepatannya──tapi juga sihir kegelapan."
"Benar. Semua sihir pendukung yang kuberikan langsung dinetralkan."
Dorothea menggunakan sihir atribut kegelapan.
Jenis sihir itu lebih berfokus pada pelemahan daripada serangan langsung, mengurangi kekuatan, pertahanan, kecepatan, dan berbagai kemampuan lainnya.
Sebanyak apa pun mereka memperkuat diri, efeknya langsung ditimpa oleh sihir Dorothea. Perbedaan kekuatan mereka benar-benar terasa sangat jauh.
"──Meski begitu..."
Iris yang sejak tadi muram tiba-tiba mengangkat wajah. Di matanya tampak secercah harapan yang kuat.
"Aku... percaya bahwa Shuu-sama bisa menang."
"Shuu... bisa menang?"
Glen mengernyit.
"Memang dia kuat. Tapi melawan monster seperti itu..."
"Itu terlalu mustahil."
"Musuh itu bahkan berada di tingkat yang sama sekali berbeda dengan Goblin Queen."
Ketiganya langsung membantah. Namun tatapan Iris sama sekali tidak goyah.
"Alasan pertama adalah karena Belati Racun Api milik Medina-sama berhasil melukainya."
"Belati Racun Api...?"
"Ya. Senjata itu ditempa oleh seorang pandai besi menggunakan bahan khusus milik Shuu-sama. Tepat sebelum kami mundur, Medina-sama berhasil mengenainya sekali. Saat itulah──cakar Dorothea mulai meleleh."
"...Meleleh? Senjata macam apa itu?"
"Yang ingin kusampaikan adalah, sekuat apa pun Dorothea, dia bukan makhluk yang tak terkalahkan. Serangan tetap bisa melukainya."
Itulah secercah harapan pertama yang dikemukakan Iris. Meski begitu, itu saja belum cukup untuk membuat mereka yakin.
"Dan alasan kedua adalah level Dorothea."
"Level lima puluh sembilan... itu benar-benar curang. Tapi apa hubungannya dengan peluang menang?"
"Semakin tinggi level seseorang, semakin sulit level itu meningkat. Bahkan iblis yang mungkin sudah hidup sekitar seratus tahun pun ternyata hanya mencapai level lima puluh sembilan."
"‘Hanya’ lima puluh sembilan...? Bukankah itu justru luar biasa?"
Glen dan yang lainnya masih belum memahami maksud Iris.
"Shuu-sama... adalah orang yang istimewa. Glen-sama, dulu Anda juga pernah penasaran dengan level beliau, bukan?"
"Ya. Dengan kemampuan seperti itu, kupikir setidaknya levelnya sekitar empat puluh."
"Karena sepertinya Shuu-sama sendiri tidak berniat merahasiakannya, akan kukatakan. Level beliau adalah──"
Saat Iris mengucapkan angka itu, suasana ruangan langsung membeku. Termasuk Medina, semua orang terdiam.
Itu adalah fakta mengejutkan yang hanya bisa diketahui Iris melalui skill 〈Appraisal〉.
"...Kau serius...? Kalau begitu, mungkinkah──"
"Ya. Aku percaya. Shuu-sama pasti bisa mengalahkan iblis itu."
Keyakinan kuat Iris membuat secercah harapan kembali muncul di wajah Glen dan yang lainnya.
──Saat itulah terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok...
"...Sudah selesai."
Pintu berderit terbuka. Di sana berdiri Shuu yang tubuhnya dipenuhi keringat. Dengan singkat ia mengumumkan bahwa proses pemurnian kutukan telah selesai.
"Shuu! Bagaimana keadaan Erina?!"
"Apa dia sudah sembuh?!"
Glen dan Rishia bertanya hampir bersamaan.
"Ya. Kutukannya sudah berhasil dimurnikan. Tanda kutukan di perutnya juga sudah hilang sepenuhnya."
"...Shuu, terima kasih! Sungguh!"
"Syukurlah... benar-benar syukurlah..."
"Kau terus saja menyelamatkan kami. Dari lubuk hati kami, terima kasih."
Semua anggota Silver Blade bergantian mengucapkan rasa syukur, sementara air mata lega tampak menggenang di mata mereka.
"...Hanya saja, kondisi Erina sekarang masih cukup buruk. Maaf, tapi bisakah para perempuan merawatnya dan mengganti seprainya?"
"Tentu. Serahkan pada kami. Iris, Medina, bisa bantu?"
"Ya, segera."
"B-baik!"
Ketiga wanita itu pun segera menuju kamar tempat Erina beristirahat.
◇◇◇
Proses pemurnian kutukan Erina memakan waktu satu setengah jam.
Setelah sekali kehilangan kesadaran, ia sempat tenang. Namun, setiap kali waktu berlalu, ia kembali terbangun.
Hal itu terus berulang hingga proses pemurnian selesai.
Setelah semuanya berakhir, aku kembali menyelimuti tubuh Erina dengan tirai yang tadi dikenakannya, lalu keluar dari kamar menuju tempat semua orang berkumpul.
"Baiklah... bisakah kalian memberitahuku apa saja yang belum kudengar?"
Selama aku melakukan pemurnian kutukan, Glen dan yang lain pasti sudah meninjau semua informasi yang mereka peroleh.
Aku pun meminta mereka menjelaskannya.
"──Iblis itu ternyata sangat kuat."
"Ya. Kami sama sekali bukan tandingannya. Jauh lebih berbahaya daripada Goblin Queen."
Nama Goblin Queen kembali disebut. Perbedaan kekuatan mereka sudah sangat jelas. Melawan Dorothea pasti akan menjadi pertarungan yang jauh lebih berat.
"Mungkin dia akan mengincar kita lagi suatu saat nanti. Tapi sepertinya dia juga bukan makhluk yang tak terkalahkan."
"Kenapa kau bisa berkata begitu?"
"Itu ada hubungannya dengan Medina."
Di antara kami, level Medina termasuk yang rendah.
Skill 〈Stealth〉 memang sangat berguna, tetapi jelas tidak cukup untuk mengalahkan lawan seperti itu.
"Shuu, kau menyuruh pandai besi membuat senjata yang luar biasa, kan? Medina menggunakannya."
"Ah, benar juga. Pedang panjangku sudah diantar ke klinik."
"Katanya, ketika Medina menyerang cakar Dorothea dengan senjata itu, cakarnya langsung meleleh."
"Serius...? Bahan itu benar-benar mengerikan."
Aku memang sudah menduganya, tetapi senjata buatan pandai besi Goddea ternyata memiliki daya hancur yang luar biasa.
Syukurlah Medina kini memiliki senjata baru.
"Jadi, dia bukan makhluk yang abadi. Dan lagi, Shuu... menurutku kaulah yang bisa mengalahkannya."
"Kau terlalu melebih-lebihkanku."
"Ya, aku juga setuju soal itu. Kecuali kalau kau benar-benar bertarung dengan serius."
Orang terkuat yang pernah kutemui sejauh ini adalah kakek tua itu, lalu mungkin nenek tua itu berada di urutan kedua. Jika Dorothea bahkan lebih kuat dari mereka, tentu dia lawan yang sangat berbahaya...
Lagi pula, dia telah melukai Glen dan yang lainnya hingga berlumuran darah, bahkan sengaja menyiksa mereka tanpa langsung membunuh.
Aku sudah mulai menganggap mereka sebagai teman. Mana mungkin aku memaafkan orang yang memperlakukan teman-temanku seperti itu.
Karena itu—
"──Kalau aku bertemu dengannya, pasti akan kubalas semuanya."
◇◇◇
"Erina, kami masuk ya?"
Dipimpin oleh Rishia, Iris dan Medina membuka pintu kamar Erina.
"A-apa ini... baunya kuat sekali..."
Begitu pintu terbuka, aroma lembap yang khas langsung memenuhi hidung mereka.
Meski mereka menyadari bahwa aroma itu berasal dari cairan tubuh Erina selama proses pemurnian kutukan, Rishia yang merupakan sahabatnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi jijik.
Ketiganya perlahan mendekati tempat tidur. Lalu, mereka terdiam melihat pemandangan di hadapan mereka.
"E-Erina..."
"Rasanya... seperti danau..."
"Benar-benar mirip Danau Zeilyrk."
Danau Zeilyrk yang disebut Iris adalah danau luas yang terletak di dekat Kota Air Lagua, salah satu dari Empat Kota Besar.
Seprai di sekitar bagian bawah tubuh Erina benar-benar basah hingga tampak seperti membentuk sebuah "danau".
"Medina, bisa tolong ambilkan seprai yang baru?"
"B-baik!"
"Iris, mari kita pindahkan Erina ke lantai dulu."
"Ya."
(Erina-sama... keadaannya bahkan lebih parah daripada saat aku dulu... Sebenarnya seperti apa proses pemurnian yang dilakukan Shuu-sama...? Hanya mencium aroma ini saja membuat dadaku terasa hangat... Tidak, sekarang bukan saatnya memikirkan itu. Kegelapan yang menyelimuti kota ini harus segera dihentikan...)
Rishia dan Iris bersama-sama mengangkat Erina dengan hati-hati dari tempat tidur.
Setelah membaringkannya di lantai, mereka menggunakan sihir 〈Purification〉 untuk membersihkan tubuhnya dengan lembut.
Sekitar belasan menit kemudian—
"...Uh..."
Erina perlahan membuka matanya.
"Selamat pagi, Erina. Meskipun sekarang sebenarnya sudah hampir tengah malam."
"R-Rishia...?"
"Ya, ini aku. Bagaimana? Nyaman tidur di pangkuanku?"
"Ah... ya... sangat nyaman..."
Kesadarannya masih sedikit kabur, tetapi begitu melihat wajah Rishia, ia tersenyum lega.
"Jangan dipaksakan. Bangunlah perlahan."
"Baik..."
Erina perlahan duduk sambil melihat sekeliling.
Tak lama kemudian, ia melihat Iris dan Medina, serta menyadari dirinya masih mengenakan tirai hijau itu.
"Erina, kau menerima kutukan Dorothea saat melindungiku. Kau masih ingat?"
"Kalau tidak salah... aku menyusup ke rumah besar itu... hampir diserang Gilbe... diselamatkan Medina... menggunakan alat sihir perekam... lalu melarikan diri..."
"Bagian itu sudah diceritakan Medina. Aku benar-benar ingin membunuh Gilbe, tapi sekarang kondisi dirimulah yang lebih penting."
Erina mengerutkan kening sambil berusaha mengingat.
"Begitu keluar dari rumah besar itu, aku melihat Rishia menjadi sasaran... lalu tanpa sadar aku berlari..."
"Erina, terima kasih. Berkatmu aku selamat."
"Tidak... selama Rishia baik-baik saja..."
"Lalu, kau ingat apa yang terjadi setelah itu?"
Sambil melirik Iris dan Medina, Rishia bertanya dengan hati-hati.
"Tiba-tiba tubuhku terasa sangat panas... lalu ada benturan di leherku..."
"M-maafkan aku...!"
Medina menundukkan kepala dengan rasa bersalah.
"Tidak... setelah itu, saat aku sadar lagi... mulut dan dadaku terasa sangat nyaman... lalu... Shuu-sama..."
"Shuu?"
"Shuu-sama... ah... eh? Aku... e-ehhh!?"
Seketika wajah Erina berubah merah padam.
"J-jangan bilang aku... melakukan hal seperti itu..."
"Tenanglah, Erina. Aku tidak tahu semua rinciannya, tapi sepertinya itu memang diperlukan untuk memurnikan kutukanmu. Jadi... jangan menyalahkan Shuu."
Mendengar penjelasan Rishia, Erina berusaha mengangguk walaupun masih kebingungan. Namun Iris menatapnya lurus dan bertanya,
"Erina-sama... apakah rasanya menyenangkan?"
"......"
Erina menatap wajah Iris. Lalu seketika semua ingatannya kembali. Apa yang dilakukan Shuu kepadanya. Dan bagaimana dirinya saat itu.
"T-tidaaaakkkkkkkkk!!"
Erina menjerit sekeras-kerasnya dengan wajah merah padam.
Iris hanya tersenyum sambil mengamatinya, sedangkan Rishia menghela napas panjang.
Jeritan itu bahkan menembus dinding hingga terdengar ke kamar sebelah.
"...Jadi makin susah buat ketemu muka."
Mendengar teriakan itu, Shuu hanya bergumam dengan ekspresi yang rumit.
◇◇◇
"──Shuu, Erina ingin mengucapkan terima kasih secara langsung. Maukah kau menemuinya?"
Setelah Rishia, Iris, dan Medina selesai merawat Erina serta mengganti seprai, mereka kembali ke kamar kami.
Rishia lalu menyampaikan hal itu.
"...Baik."
Sepertinya Erina sedang sendirian di kamarnya.
Aku pun berdiri dan menuju ke sana.
"Erina, aku masuk."
"S-silakan..."
Tok... tok...setelah mengetuk pintu, terdengar jawaban dengan suara yang sedikit bergetar.
Aku membuka pintu dan masuk.
Udara di dalam kamar terasa bersih. Mungkin Iris telah menggunakan sihir pemurnian.
Aroma yang sebelumnya memenuhi ruangan kini sudah benar-benar hilang, sementara angin malam berembus masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.
Erina tampaknya meminjam pakaian penginapan, mengenakan gaun sederhana dari kain linen berwarna krem.
"Silakan... duduk."
"...Baik."
Aku mengikuti ajakannya dan duduk di kursi di depan meja bundar.
Sejujurnya, rasanya canggung untuk saling menatap.
Perasaannya berbeda dibandingkan saat bersama Amelia, Iris, Medina, ataupun Seira.
Erina adalah pendeta dari kelompok petualang Silver Blade yang pernah kutolong dalam perjalanan menuju Hares.
Kami memang tidak lama bepergian bersama, tetapi sudah cukup banyak berbincang. Karena itulah hubungan kami berada di posisi yang agak sulit dijelaskan.
"...Terima kasih banyak... karena telah menghilangkan kutukanku. Rishia juga sudah menceritakan semuanya. Syukurlah Shuu-san berada di dekat kami saat itu..."
"...Kalian sudah seperti teman bagiku. Kebetulan aku memang bisa menghilangkan kutukan, jadi aku melakukannya. Hanya itu."
"Meski begitu... aku tetap ingin mengucapkan terima kasih secara langsung."
Erina mengangkat wajahnya yang semula tertunduk dan menatapku lurus. Pipinya sedikit memerah, sementara matanya tampak bergetar.
Walaupun Rishia dan yang lain sudah menjelaskan mengenai proses pemurnian kutukan, hanya Erina sendirilah yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi selama itu.
"Iya, perasaanmu sudah tersampaikan. ...Kalau begitu, aku harus kembali ke klinik."
Aku berdiri dari kursi, berusaha menyembunyikan rasa canggung. Namun—
"T-tunggu dulu!"
Erina berseru jauh lebih keras daripada yang kuduga, membuatku berhenti melangkah.
"Aku... mengingat semuanya...!"
"...Begitu ya. Iris juga sepertinya masih mengingat semuanya."
Suaranya gemetar. Kedua tangannya mengepal erat. Erina memaksakan diri untuk terus berbicara.
"A-aku... kepada Shuu-san... banyak pengalaman pertama... m-memang tidak sampai... tahap terakhir... tapi setelah mengalami hal seperti itu..."
Dengan terbata-bata, namun tetap mengumpulkan keberanian, ia melanjutkan kata-katanya.
"Aku tahu Shuu-san benar-benar mati-matian berusaha menyelamatkanku... tapi... ciuman... d-dan dadaku... juga..."
Mendengarnya diucapkan secara langsung membuat wajahku ikut memanas.
"Hampir semua... bagian penting tubuhku... sudah dilihat olehmu!"
Memang ia tidak memperlihatkan bagian bawah tubuhnya, tetapi bagi seorang wanita, itu tetap merupakan bagian yang sangat berharga.
"...Maaf. Meski tak bisa dihindari, aku tetap melihatnya."
"B-bukan begitu! Bukan itu yang kumaksud! Aku bukan ingin kau meminta maaf...!"
Erina memegangi dadanya sambil berteriak dengan wajah semerah tomat.
"Aku... ingin kau bertanggung jawab!!"
"Kenapa!?"
Tanpa sadar aku berteriak dengan suara aneh.
Arah pembicaraan tiba-tiba berubah ke arah yang sama sekali tak terduga.
"Bukankah kau pendeta dari 'Silver Blade'? Jadi orang sepertiku... Memang, apa yang kulakukan pasti sangat berarti bagi seorang gadis, tapi..."
"...Sebenarnya, saat perjalanan menuju Hares... aku melihat Shuu-san, Iris-san, dan Medina-san di dalam kereta."
"...Eh... ah..."
Serius? Jadi malam itu, saat Iris meninggalkan pos penjagaan dan kembali ke kereta, ternyata Erina melihatnya.
Aku memang berpikir Erina, yang berjaga bersamanya, mungkin akan curiga. Tapi aku sama sekali tak menyangka kalau ia benar-benar melihatnya.
"Sejak saat itu... ada sesuatu yang berubah dalam diriku. Tubuh Shuu-san... ekspresi Iris-san... pemandangan itu terus terbayang di kepalaku.... Karena itulah, saat hampir diserang Gilbe di rumah besar itu... aku sempat berpikir... kalau memang harus terjadi, lebih baik dengan Shuu-san..."
Gilbe. Penjaga yang memeriksa kami saat memasuki kota.
Aku sudah mendengar semuanya dari Glen. Dikhianati oleh orang yang dipercaya memang hal yang paling menyakitkan.
"...Itulah sebabnya aku seperti sekarang. Saat Shuu-san menyentuhku... saat bibirku dicium... aku benar-benar merasa bahagia."
"...Begitu ya..."
"Aku memang bilang soal tanggung jawab... tapi jangan menganggapnya terlalu berat.... Aku hanya... ingin tubuhku diwarnai olehmu...."
"Erina..."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Erina perlahan berdiri.
Ia melangkah mendekat, meraih kerah jubah biarawanku, lalu menarikku ke arahnya.
"...Mm..."
Semuanya terjadi begitu mendadak hingga aku terlambat bereaksi.
Bibir kami saling bertemu. Sentuhan yang lembut, disertai hembusan napas yang hangat, berpadu menjadi satu.
"...Haa..."
Saat bibir kami terpisah, benang tipis air liur masih menghubungkan keduanya.
Pipi Erina merah padam, sementara matanya yang basah bergetar lembut.
"...Untuk saat ini, yang paling penting adalah menyingkirkan kegelapan yang menyelimuti kota ini. Tapi setelah semuanya berakhir... maukah kau meluangkan sedikit waktumu untukku?"
Sambil menggenggam lengan jubahku, Erina mengatakannya dengan tenang.
Itu lebih terdengar sebagai permohonan untuk melanjutkan hubungan yang lahir dari proses penghapusan kutukan, daripada sekadar pernyataan cinta.
"Aku... juga sudah menjalin hubungan seperti itu dengan Iris dan Medina. Aku bukan pria yang tahu diri."
Meski semuanya terjadi karena keadaan, yang kulakukan memang tak ubahnya seorang pria yang berganti-ganti pasangan.
Kalau Rikka mengetahuinya, dia pasti akan memandangku dengan jijik.
...Meski begitu, semua ini juga merupakan efek samping dari skill yang kumiliki.
"Aku tidak keberatan. Sejak awal pun aku tidak merasa berhak memonopoli Shuu-san.... Lagi pula... aku sudah menyukaimu."
"Erina... Kalau begitu, setelah semua urusan ini selesai, aku akan meluangkan waktu untukmu. Bagaimana?"
"...Ya!"
Mendengar jawabanku, Erina memperlihatkan senyum yang begitu cerah. Senyum itu begitu manis hingga membuat jantungku berdebar.
Namun, aku masih belum benar-benar mengenal siapa Erina sebenarnya. Kalau nanti ada kesempatan, aku ingin mengenalnya lebih dalam secara perlahan.
Setelah itu, aku bergabung kembali dengan Glen dan yang lainnya untuk membahas langkah selanjutnya.
Karena harus waspada terhadap kemungkinan serangan Dorothea, mereka memutuskan hanya beraktivitas pada siang hari, sedangkan malam harinya akan beristirahat di kamar kosong milik guild.
Mereka juga berencana menyerahkan seluruh bukti yang berhasil didapat kepada Guild Master. Sementara tugasku adalah menyelesaikan sisa penghapusan kutukan Seira.
Setelah semuanya selesai, aku berniat menceritakan seluruh kejadian yang menimpa kota ini kepadanya.
──Sebagai seorang Ksatria Kuil, mustahil baginya untuk membiarkan kegelapan seperti ini terus berlanjut.
◇◇◇
──Keesokan harinya, siang hari.
Seorang pria bertubuh besar dengan wajah menyerupai babi dan pakaian yang berantakan mendorong pintu Guild Petualang hingga terbuka.
Penampilannya yang mencolok membuat para petualang yang sedang beristirahat di ruang makan tanpa sadar menghentikan aktivitas mereka dan menoleh, seolah sedang melihat sesuatu yang langka.
"Berg... Guild Master memanggilku. Bisakah kau menyampaikan kedatanganku?"
"K-Kepada Guild Master!? B-baik! Silakan tunggu sebentar!"
Resepsionis Rina membelalakkan matanya karena terkejut, lalu buru-buru berlari menaiki tangga menuju ruang kerja di lantai atas.
Tak lama kemudian ia kembali, sedikit terengah-engah.
"...Silakan lewat sini."
"Ya, terima kasih."
Saat pintu ruang kerja yang ditunjukkan terbuka, suasana ruangan seketika menjadi berat.
Di dalam sudah menunggu pria bertubuh kekar—Guild Master Berg. Merasa tertekan oleh postur dan aura kedua pria itu, Rina segera meletakkan teh lalu buru-buru meninggalkan ruangan.
"Wajahmu yang seperti orc masih sama saja, Alaistar."
"Kepala botakmu yang seperti padang pasir juga tidak berubah, Berg."
Keduanya saling melontarkan candaan dan tertawa singkat.
Namun tawa itu terasa dingin. Keheningan berat antara dua orang yang menyimpan dendam selama bertahun-tahun segera kembali memenuhi ruangan.
"...Sudah lama aku tak mendengar kabar darimu. Kalau sampai kau memanggilku, pasti bukan perkara sepele."
"Benar. Duduklah. Meski harus kuakui... pakaianmu itu benar-benar keterlaluan."
"Penampilanku sekarang sudah cukup. Tak perlu dipermasalahkan."
Saat dua pria bertubuh besar itu duduk di sofa, terdengar bunyi berderit.
Berg kemudian meletakkan sebuah alat sihir kecil berbentuk kristal di atas meja.
"Itu apa?"
"Kau akan tahu sendiri.... Pemutaran Rekaman."
Saat Berg menyentuhnya dengan ujung jari sambil mengucapkan mantra, sebuah rekaman muncul di dinding.
Sampai rekaman selesai diputar, Alaistar tidak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya menatapnya dalam diam. Setelah beberapa saat, ia mengembuskan napas panjang.
"...Burdog, ya. Aku memang pernah mendengar rumor bahwa dia menghasilkan banyak uang, tapi tak kusangka sampai sejauh ini."
"Setidaknya yang sudah kuketahui meliputi bisnis prostitusi bawah tanah, pembiakan goblin, pesta mesum di rumahnya, sampai hubungan rahasia dengan Kekaisaran dan para iblis.... Aneh rasanya semua itu bisa tetap tersembunyi selama ini."
"Kekaisaran dan iblis... itu memang mengkhawatirkan. Tapi sampai sejauh itu..."
"Itulah sebabnya, meski enggan, aku memanggilmu."
Nada suara Berg dipenuhi kepahitan.
Fakta bahwa pria yang terkenal membenci Gereja itu justru memanggil Alaistar menunjukkan betapa gentingnya situasi saat ini.
"Dua puluh tahun yang lalu... saat kau mengatakan akan keluar dari kelompok dan kembali ke Gereja, aku benar-benar ingin menghajarmu sampai mati."
"Aku memiliki keyakinanku sendiri. Dan keyakinan itu tidak akan berubah, siapa pun lawannya."
"Hah. Kalau keyakinan bisa dipakai untuk mengisi perut, hidup pasti jauh lebih mudah. Biaya pengobatan juga terus naik tanpa henti."
"Perdebatan itu tidak akan pernah ada habisnya. Mari kembali ke pokok pembicaraan."
Dulu mereka pernah bertualang bersama.
Mereka bertemu tiga puluh tahun yang lalu, berpisah dua puluh tahun yang lalu, lalu berdiri di pihak yang saling berseberangan.
Namun sekarang, mereka menghadapi musuh yang sama.
"...Baiklah. Akan kuceritakan dulu apa yang kuketahui. Semuanya bermula saat seorang pria bernama Shuu datang membawa seorang kandidat Saintess."
"Shu? Kandidat Saintess?"
"Ya. Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya. Para petualang peringkat B dari guild kami pergi menghancurkan sarang goblin. Tapi mereka bertemu spesies baru yang tidak masuk akal—Goblin Queen. Orang yang menyelamatkan mereka katanya adalah pria bernama Shuu itu."
"...Hah... hahahaha!"
"Hei... ini bukan bagian yang lucu."
Alaistar tertawa hingga perutnya berguncang.
Namun tawanya bukan karena geli, melainkan karena campuran keterkejutan dan keyakinan.
(Jadi benar... anak muda itu memang mendapat berkah Dewi. Tapi kenapa dia berada di klinik penyembuhan...? Dan bahkan bersama Iris...? Hmm... menarik.)
"Maaf. Lanjutkan."
"Di dalam gua itu, para wanita yang dikutuk dengan 'Pengubahan Wujud'—yakni berubah menjadi berwajah babi—ditawan. Detailnya masih belum jelas, tetapi semuanya berhasil dibebaskan dari kutukan oleh seseorang. Saat ini mereka sedang dirawat di gereja Desa Powan."
"...Kutukan wajah babi, ya. Bagiku mungkin sudah biasa, tapi bagi para wanita itu pasti sangat kejam. Tapi jika kutukan itu benar-benar bisa dihapus... mungkinkah itu sebuah skill...? Jangan-jangan... anak muda itu... apakah kasus Seira juga..."
"Jangan menyela pembicaraan."
"Hm, maaf."
Saat percakapan mereka selesai, cangkir teh di hadapan keduanya telah kosong.
"──Singkatnya, hanya kau yang bisa menggerakkan para Ksatria Kuil."
"...Bahkan bagiku ini bukan perkara mudah. Lawannya adalah seorang Uskup Agung.... Tapi akan kucoba."
"Tak kusangka akan tiba hari ketika aku harus mengandalkanmu.... Sisanya kuserahkan padamu."
"Baik."
Alaistar perlahan berdiri, mengambil alat sihir perekam dan buku besar di atas meja.
Berg hanya terdiam memandangi punggungnya hingga sosok itu menghilang di balik pintu.
──Saat dua orang yang telah lama bermusuhan itu kembali bekerja sama, kegelapan yang menyelimuti kota pun mulai berguncang dengan perlahan.




Post a Comment