Chapter 3
Turnamen Bela Diri Sakral Bagian 2
―Rumah
besar di ujung utara Luzahal.
Itu
adalah sebuah ruangan yang luas dan mewah. Di meja tengah ruangan tersebut,
belasan pria bangsawan tengah menenggak minuman keras sejak siang bolong.
Mereka
adalah para bangsawan faksi Pangeran Pertama Gilbert Loto Amelia, yang terlibat
dalam konspirasi besar. Mereka menyediakan dana dan menjalin kontak dengan
Kekaisaran demi rencana menjual sang putri.
Di
Luzahal yang dekat dengan lokasi kejadian ini, ksatria jagoan faksi Gilbert
tengah mengikuti Turnamen Bela Diri Suci. Dengan dalih memberikan dukungan,
para bangsawan ini telah berkunjung ke Luzahal sejak lama untuk menunggu kabar
baik dari rencana tersebut.
"Apakah
Lord Fracton telah gagal?"
Seorang
pria bertubuh gempal seperti tong sama sekali tidak berusaha menyembunyikan
kekesalannya. Dia membanting gelas logam berisi anggur buah yang penuh ke atas
meja.
"Aku
sudah mengonfirmasinya lewat kenalan pejabat tinggi pemerintahan pusat, dan
Putri Rose benar-benar terlihat di Luzahal ini. Kegagalan rencana itu adalah
fakta yang tak terbantahkan."
Seorang
pria bertubuh kekar dengan rambut pirang yang dicukur rapi dan hanya menyisakan
bagian atasnya saja melipat kedua lengannya. Dia menegaskan hal itu dengan
wajah muram.
"Apakah
ini berarti Kekaisaran berkhianat di saat-saat terakhir? Bagaimanapun juga, kita telah memaksakan
pernikahan keluarga kerajaan tanpa izin Yang Mulia Raja."
"Hukuman
mati bagi Lord Fracton sudah pasti. Semoga saja kita tidak ikut dicurigai...."
Gumam seorang
bangsawan kurus kering dengan wajah sepucat mayat.
"J-jangan
bercanda! Aku hanya ikut-ikutan karena kalian bilang rencana ini pasti
berhasil!"
"Aku juga!
Aku cuma meminjamkan namaku karena katanya ini demi Pangeran Gilbert!"
Kecemasan yang
selama ini ditekan akhirnya meledak dari para bangsawan yang hadir. Jika
pemerintah kerajaan mengetahui fakta keterlibatan mereka, nama keluarga mereka
pasti akan dihancurkan.
Bagi para
bangsawan, ini adalah masalah hidup dan mati yang menentukan nasib mereka.
Wajar saja jika mereka menjadi begitu panik.
"Jangan
panik! Sekalipun Lord Fracton angkat bicara, tidak ada bukti apa pun."
"Menghukum
semua bangsawan di sini hanya bermodal kecurigaan adalah hal mustahil, bahkan
bagi Yang Mulia sekalipun. Lagipula, kita sudah menyiapkan kambing hitamnya,
jadi tidak ada kemungkinan kita akan dihukum!"
Berkat bentakan
keras pria bertubuh tong itu, para bangsawan di sekitarnya kembali tenang.
"Lalu kenapa
Putri Rose bisa berada di Luzahal ini? Lord Rumpa, kamu pasti sudah mengetahui
alasannya, kan?"
Tanya
seorang bangsawan raksasa berambut pirang dengan gaya rambut seperti nanas.
"Gara-gara
si tidak berguna itu."
Jawab
Rumpa, pria bertubuh tong itu, dengan nada meludah.
"Hah?"
"Dia
datang sebagai pendamping si aib Sword Saint yang ikut serta dalam turnamen
bela diri saat ini."
"Aib
Sword Saint? Maksudmu anak menyedihkan yang punya Gift lelucon bernama The
Most Incompetent in the World yang sempat jadi rumor itu?"
Mendengar
ucapan meremehkan dari salah satu bangsawan, bangsawan berambut nanas itu
kembali bertanya kepada Rumpa.
"Memangnya
kenapa dengan si tidak berguna itu? Apa maksudnya pendamping?"
"Intinya,
si tidak berguna itu ikut serta dalam turnamen bergengsi ini sebagai ksatria
pelindung Putri Rose."
Jawaban
Rumpa yang terdengar sangat kesal itu memicu suara kejutan di dalam ruangan.
"Lalu?
Bagaimana hasil dari ksatria andalan Tuan Putri itu?"
"Tidak
perlu ditanya lagi, kan? Pasti dia lari sambil menangis, bukan?"
"Bukan
begitu, mungkin saja dia mengompol lalu pingsan setelah terkena aura intimidasi
dari petarung lain, kan?"
Wajah
Rumpa si bangsawan bertubuh tong memerah penuh rasa jijik.
"Si
tidak berguna itu menang telak di babak penyisihan."
Dia melontarkan
fakta itu dengan ketus.
"Menang
telak? Yang benar saja! Bukannya dia itu orang paling tidak berguna di
dunia!?"
Keraguan
yang wajar dari salah satu bangsawan membuat seisi ruangan menjadi riuh
bagaikan sangkar burung.
"Itu
fakta. Aku sendiri memang tidak melihat pertarungannya secara langsung."
"Tapi
menurut ksatria pelindungku yang ikut babak penyisihan, Kai Heineman sama
sekali tidak lemah, dan dia bersikeras mengatakan hal itu."
"Tidak, itu
mustahil! Pasti ada udang di balik batu!"
"Benar! Dia
pasti melakukan kecurangan!"
Mendengar
rentetan bantahan tersebut, Rumpa mengangguk tegas.
"Aku
juga berpikir begitu. Aku bahkan bisa menebak rencana picik apa yang dilakukan
Putri Rose."
"Asisten
instruktur dari aliran Heineman sempat memprotes panitia bahwa Kai Heineman
menang menggunakan item khusus. Tapi sepertinya protes itu diabaikan karena
kurang bukti."
"Berbuat
curang di Turnamen Bela Diri Suci benar-benar tidak bisa dimaafkan!"
"Ini
kasus yang harus segera dilaporkan! Memangnya apa saja kerja panitia turnamen!?"
Tanpa keraguan
sedikit pun, para bangsawan itu menyimpulkan bahwa Kai Heineman berbuat curang,
dan mulai melontarkan caci maki. Rumpa membuat gestur menahan dengan kedua
tangannya.
"Kandidat
ksatria pelindung Pangeran Gilbert juga berpartisipasi dalam turnamen ini.
Meskipun lawan menggunakan trik kotor, kalah dari ksatria pelindung Tuan Putri
itu bukan sekadar aib biasa, melainkan akan mencoreng wajah Pangeran Gilbert,
jadi kita harus menang bagaimanapun caranya!"
"Aku setuju
dengan pendapat Lord Rumpa, tapi dengan item itu, dia sudah melaju ke babak
turnamen utama, kan? Jika panitia tidak mengakui kecurangannya, ada bahaya
kandidat ksatria kita akan kalah, lho?"
"Hmph! Soal
item miliknya itu, aku sudah memaksa panitia untuk melarang benda apa pun
selain pakaian pertandingan dibawa masuk ke arena."
"Lagi pula,
aku tidak akan membiarkan ksatria didikan kita bertarung melawan sampah tidak
berguna semacam dia, semua persiapan sudah matang!"
Rumpa
mendengus sambil menenggak minumannya dengan wajah yang berkerut jelek.
"Begitu,
ya. Ternyata kekhawatiranku berlebihan."
Bangsawan
berambut nanas itu menghela napas lega dan ikut membasahi tenggorokannya dengan
minuman keras.
Seolah
tertular ketenangan itu, ekspresi pesimis para bangsawan lainnya memudar.
Sambil
terus minum, mereka mulai asyik membicarakan rumor seputar kandidat ksatria
andalan mereka dan si pendekar pedang tidak berguna itu.
◇◆◇
Aku telah melaju
ke turnamen utama, dan menerima penjelasan aturan lebih rinci dari pihak
panitia turnamen.
Demi menyita uang
hadiah jika terjadi diskualifikasi akibat pelanggaran, aturan turnamen ini
menetapkan bahwa uang hadiah akan diberikan sekaligus setelah semua hasil
pertandingan diputuskan.
Di sini,
pengunduran diri sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, baik di dalam maupun di
luar arena.
Biasanya, uang
hadiah untuk kemenangan yang telah diraih akan tetap diberikan. Namun, turnamen
utama ini bisa dibilang sebagai puncak acara.
Jika banyak
peserta yang mengundurkan diri, turnamen utama tidak akan meriah.
Oleh karena itu,
peserta yang masuk turnamen utama pada prinsipnya dilarang mundur sebelum
pertandingan.
Tentu saja, yang
dilarang hanyalah pengunduran diri sebelum pertandingan dimulai.
Selama
pertandingan berlangsung, tindakan seperti menyerah atau keluar arena secara
sukarela tidak dilarang, sehingga ada celah aturan yang serupa.
Sembari membuang
waktu luang sebelum pertandingan, aku mengamati pertarungan para peserta lain. Namun, mereka yang tersisa di
turnamen utama hanyalah orang-orang yang belum matang.
Hanya
beberapa orang seperti petarung Zack dan Bry yang berhasil menarik minatku.
Hal yang
mengejutkan adalah pertandingan antara Zack melawan Riku.
Tentu
saja, kemampuan mereka sebagai seniman bela diri sangatlah jauh berbeda
layaknya anak kecil dan orang dewasa.
Awalnya
aku mengira Riku akan langsung menyerah, tapi meski sekujur tubuhnya penuh
luka, dia terus melawan hingga kehilangan kesadaran.
Mungkin
ini membuktikan bahwa Riku juga memiliki harga diri sebagai seorang petarung.
Bagaimanapun
juga, Riku masih muda. Masa depannya sebagai seniman bela diri bergantung pada
usahanya sendiri.
Terlepas dari
itu, aku akan berhadapan dengan Zack di ronde kedua. Aku berencana bertarung
melawannya, membuatnya mengakui kelayakanku sebagai Royal Guard Rose, lalu
menyerah di tengah pertandingan.
Saat ini, aku
sedang berjalan menuju arena untuk pertandingan ronde pertama turnamen utama.
Hingga detik ini
pun, rumor dan bisik-bisik tidak sedap dari orang-orang di sekitarku terus
terdengar. Mereka benar-benar tidak pernah bosan menilai orang lain.
Tepat setelah
final babak penyisihan, Shiga, asisten instruktur yang datang bersama kelompok
Riku, mengajukan protes atas kemenanganku. Karena protesnya ditolak, dia pasti
menyimpan dendam.
Dia berkeliling
menyebarkan rumor bahwa diriku yang tidak berguna ini berhasil memenangkan
final babak penyisihan menggunakan item terlarang. Berkat rumor luar biasa yang
menyebar ke seluruh penjuru kota itu, aku resmi menjadi tokoh antagonis.
Dan pada
akhirnya, karena panitia turnamen tidak bisa lagi menutup mata, sebagian aturan
diubah, sehingga kami dilarang mengenakan aksesori seperti cincin atau gelang
dan pakaian selain yang ditentukan. Jujur saja aku sama sekali tidak peduli
dengan keributan ini, tapi Rose jadi sangat sensitif, dan menurutku hal itulah
yang sangat merepotkan.
Aku tiba di arena
dan mengganti bajuku dengan pakaian yang disediakan oleh panitia di ruang
ganti. Saat melakukannya, aku memasukkan semua barang yang kukenakan ke dalam Item
Box.
"Hoo, jadi
pakaian ini adalah item pembatas kemampuan, ya."
Pakaian yang
diwajibkan ini sepertinya memiliki efek penurun Strength, Endurance,
dan Agility tingkat rendah. Namun sayangnya, hal itu sama sekali tidak
mempan padaku.
Hmm, apa tidak
masalah jika aku tampil di depan umum tanpa membatasi kemampuanku sama sekali?
Pada dasarnya, perbedaan kekuatan antara yang lemah dan yang kuat di dunia ini
sangatlah ekstrem.
Yah, aku sudah
banyak berlatih menahan diri selama perjalanan menuju Luzahal ini. Selama aku
tahu lawanku lemah, aku rasa aku tidak akan sampai membunuhnya.
Sebaliknya,
karena kemampuanku kemungkinan besar berada di tingkat atas dunia ini, akan
lebih merepotkan jika ada yang menggunakan kemampuan identifikasi padaku
seperti yang Asta lakukan. Apapun itu, fakta bahwa panitia turnamen menyiapkan
pakaian semacam ini membuktikan bahwa mereka tidak ingin aku menang.
Tadinya aku
sempat berpikir untuk menyerah di tengah jalan, tapi niatku berubah. Aku akan
memenangkan turnamen ini bagaimanapun caranya karena sifatku yang suka melawan
arus.
Begitu aku
melangkahkan kaki ke arena yang dikelilingi tribun penonton, sorakan ejekan
yang begitu keras hingga mengguncang udara langsung menyambutku. Sebaliknya,
saat lawanku yang berambut landak dengan tatapan tajam memasuki arena, suasana
menjadi hening secara tidak wajar.
Hmm, pria
berambut landak ini sepertinya juga tidak disukai dengan alasan yang berbeda
denganku. Aku belum melihat pertarungan pria ini.
Namun, melihat
penyihir penyembuh disiagakan tepat di samping panggung melingkar, dia pasti
memiliki gaya bertarung yang sangat brutal.
Hm? Pembawa acara
telah berganti dari wanita berambut pirang itu menjadi seorang pria berjas
hitam. Tampaknya persiapan panitia sudah sangat matang.
"Selanjutnya,
pertandingan kelima di turnamen utama! Pertama, pria ini, pemegang Gift The
Most Incompetent in the World, Kai Heineman!"
"Pria
paling tidak berguna bukan hanya di dunia ini, tapi di seluruh alam semesta! Di
tengah berbagai tuduhan kecurangan seperti penggunaan item ilegal, dia berhasil
melaju ke turnamen utama!!"
Ejekan luar
biasa besar menghujani kepalaku. Tidak banyak alasan bagi pembawa acara untuk
menghina peserta pada momen seperti ini, yang nantinya bisa menimbulkan
masalah.
Pasti ada
campur tangan konflik antara Rose dan pangeran bernama Gilbert di baliknya.
"Jangan
khawatir! Panitia turnamen juga tidak bodoh!"
"Demi
mengatasi keraguan kali ini, pakaian untuk semua peserta telah disiapkan oleh
panitia. Tidak akan ada lagi kecurangan!"
Sorak-sorai
meledak serempak. Pria berjas hitam itu mengangguk puas, lalu menunjuk pria
berambut landak dengan tangan kanannya.
"Orang
yang akan menumbangkan si tidak berguna ini memiliki rekor penghancuran peserta
sebesar 70%! Pemegang Gift tipe Api dan penghancur sejati—Dick
Baum!"
"Kekuatannya
benar-benar tidak diragukan lagi! Nah, bagaimanakah cara dia menghancurkan si
tidak berguna yang licik ini sekarang!?"
Gaya pria
berjas hitam yang membawakan narasi seperti sedang bernyanyi itu membuat
sorakan di arena semakin bergema.
Jadi pembawa
acara membiarkan tindakan menghancurkan sesama peserta? Sepertinya orang ini
sama sekali tidak memiliki harga diri sebagai pembawa acara, terlebih lagi para
penonton juga merayakannya.
Sejujurnya,
mereka adalah tipe orang yang paling kubenci.
Saat aku berjalan
menuju tengah panggung, Dick Baum, pria berambut landak hitam itu, tersenyum
sinis dan mendekatiku.
"Katanya sih
begitu, baru kali ini aku melihat orang yang lebih dibenci dariku."
Dick melontarkan
komentar itu.
"Begitukah?
Itu bisa jadi pengalaman yang bagus buatmu."
"Apa kau
tidak takut padaku?"
Dick mengangkat
alis kanannya yang tebal, menatapku tajam sambil bertanya.
"Takut pada
apa?"
"Padaku,
bodoh. Aku jauh lebih kuat darimu, tahu?"
"Fumu, kita
lihat saja nanti. Kamu tidak akan tahu sebelum mencobanya."
"Tapi dengan
kepercayaan dirimu itu, sepertinya aku bisa sedikit berharap kali ini."
Kekuatan Dick
hanya terasa sekelas lalat kecil bagiku, tapi keakuratan intuisiku patut
dipertanyakan jika berhadapan dengan manusia. Terlebih lagi, nilai seorang
petarung tidak hanya ditentukan oleh Status semata.
Asalkan memiliki
teknik yang unggul, bahkan yang terkuat pun bisa dipaksa berlutut. Itulah hal
yang terukir di dalam jiwaku selama berada di dungeon khusus orang lemah itu.
"Berani juga
kau bicara begitu, sampah! Akan kubuat kau bermandikan darah!"
"Hei,
Wasit, cepat beri aba-aba mulai!"
Pembawa
acara berjas hitam itu mengangguk setuju lalu turun dari panggung. Kemudian,
seorang pria berkepala plontos dalam balutan pakaian formal yang tampaknya
adalah wasit naik ke atas.
Dia menyilangkan
kedua tangannya.
"Fight!"
Dia
merentangkan lengannya secara horizontal serempak dengan teriakannya.
"Terbakarlah,
dasar sampah!!"
Dick
menyelimuti kedua lengan dan kakinya dengan api, lalu menerjang sambil
meneriakkan kalimat itu. Aku menghindari pukulan lurus dari tangan kanannya
dengan mudah, dan menghindar dari tendangan rendahnya hanya dengan gerakan
langkah minimal.
Aku
mencondongkan tubuh ke belakang untuk menghindari pukulan balik dari tangan
kirinya yang berlapis api.
Ini
sungguh mengerikan. Tekniknya bahkan lebih buruk daripada Riku yang masih belum
matang.
Terlebih
lagi, dia sama sekali tidak memiliki stamina yang krusial bagi seorang
petarung. Sangat jelas
terlihat bahwa dia jarang berlatih, dan ini bukanlah seni bela diri, melainkan
pertunjukan jalanan.
Sungguh sulit
dipercaya, tapi jika penjelasan pembawa acara itu benar, boneka kayu ini telah
melumpuhkan banyak seniman bela diri hanya dengan pertunjukan jalanan ini.
"Sial,
kenapa seranganku tidak kena!?"
Dick menatapku
dengan napas tersengal-sengal.
"Itu karena
kamu bukanlah seniman bela diri."
Aku
memberitahukan kebenaran yang tak perlu ditanyakan lagi.
Aku sama sekali
tidak menyangkal seni bela diri yang memanfaatkan Gift atau Skill
tipe api, tapi itu hanya berlaku jika kekuatan tersebut benar-benar dilebur ke
dalam teknik bela diri. Aku tidak akan pernah mengakui amatiran yang hanya
dipermainkan oleh Gift bawaannya seperti dia ini sebagai seorang
petarung.
"Aku ini
adalah—Master Utama dari Aliran Enga Jyanen!!"
"Engaja...?
Aku tidak tahu aliran dengan nama yang bikin lidah tergigit itu, tapi segala
hal tentangmu telah membuktikan bahwa kamu bukanlah seorang petarung."
Aku berjalan
perlahan ke arahnya.
"Jangan
bercanda, aku ini—"
Dengan teknik
langkah kakiku sendiri, aku mendekatinya, mencengkeram wajahnya dengan tangan
kiri, lalu mengangkatnya dengan mudah.
"Ngh!?"
Aku menambahkan
tenaga pada tangan kiriku ke arahnya yang meronta-ronta.
"Gigaaah!!
S-Sakit! L-Lepaskan!!"
Dick
meronta-ronta dengan panik dan menembakkan pilar api ke arahku. Namun, hal
semacam itu sama sekali tidak mempan padaku yang memiliki kemampuan penyerap
panas, jadi aku mengabaikannya dan terus menekan dengan tangan kiriku.
Aku sudah tahu
seberapa kuat dirinya, dia tidak jauh berbeda dengan preman yang pernah
menggangguku dulu. Bahkan tanpa Sarung Tangan Penyegel Dewa, aku yakin tidak
akan membunuhnya jika aku memperlakukannya sesuai dengan standar orang lemah.
"Jangan
khawatir. Kekuatan sekecil ini tidak akan menghancurkan tengkorakmu."
"Belakangan
ini, aku setiap hari berlatih menahan diri menggunakan buah-buahan dan tulang
hewan, jadi aku cukup percaya diri."
Aku menarik sudut
bibirku dan menatapnya dari bawah.
"Iih!!"
Dick memekik
tertahan, wajahnya memucat dipenuhi ketakutan.
"Dengar ya?
Apa yang kulakukan padamu sekarang ini bukanlah seni bela diri atau semacamnya,
ini hanyalah pelepasan kekuatan murni yang bahkan bisa dilakukan oleh amatir
sepertimu."
"Hanya
kekerasan yang tak bernilai. Tapi—ini lebih dari cukup untuk menghancurkan
sampah sepertimu."
Aku mengepalkan
tangan kananku kuat-kuat dan menarik sikuku ke belakang.
"A-Ampu—"
"Aku akan
memberimu satu kesempatan. Mulailah berlatih dari awal lagi!"
Setelah
melontarkan kata-kata itu, aku menghajar sekujur tubuhnya.
Aku
melempar Dick yang sekujur tubuhnya babak belur dan bengkak ke lantai panggung.
"Wasit."
Aku
melirik wasit yang sejak tadi hanya terbengong dengan mulut setengah terbuka.
"P-Pemenangnya,
Kai Heineman!!"
Dia
segera menunjukku dengan tangan kanannya dan berteriak lantang.
Urusanku
sudah selesai. Aku sama sekali tidak punya alasan lagi untuk berada di tempat
ini, sehingga aku melompat turun dari panggung dan meninggalkan arena yang
masih hening mencekam.
◇◆◇
―Ruang
VIP Arena Turnamen Bela Diri Suci.
"Membosankan.
Apa benar lawan selanjutnya adalah ksatria favorit Rose?"
Millefeuille
Renren Lorelei, Putri Kedua dari Kerajaan Elf—Lorelei, bertanya kepada pelayan
Elf di belakangnya sambil menguap.
"Benar, Tuan
Putri. Menilai dari situasinya, saya yakin tidak salah lagi."
Pelayan tua itu
meletakkan tangan kanan di dada dan menjawab dengan penuh hormat.
Karena institusi
pendidikan global tempat Millefeuille bersekolah, Akademi Sihir Dunia Babel,
sedang libur musim panas, dia datang ke Kerajaan Amelia, kampung halaman teman
sekelasnya Rosemary, untuk berlibur secara sembunyi-sembunyi. Sebelumnya,
Rosemary pernah bercerita bahwa acara terbesar di Kerajaan Amelia saat ini
adalah Turnamen Bela Diri Suci ini.
Dan ketika
Millefeuille berkunjung ke Luzahal untuk menonton turnamen ini, dia secara tak
terduga bertemu dengan Rose. Karena tingkah Rose yang mencurigakan saat itu,
dia menyuruh pelayannya melakukan penyelidikan.
Lalu, dia
menemukan informasi bahwa pendekar pedang yang didukung Rose berpartisipasi
dalam turnamen ini, sehingga dia segera datang untuk menonton.
"Inikah
turnamen terbesar di Kerajaan Amelia? Sejujurnya, level turnamen bela diri yang
diselenggarakan Babel jauh lebih tinggi."
Ras Elf
seperti Millefeuille juga diberikan Gift setara dengan ras Manusia. Dan Gift
milik Millefeuille adalah Decoder.
Sebuah Gift
spesial yang bahkan mampu membaca kebenaran mutlak. Turnamen bela diri semacam
ini adalah hiburan terbesar bagi Millefeuille, dan normalnya dia akan menonton
dengan penuh semangat.
Namun, turnamen
utama ini sangatlah mengecewakan. Dia baru melihat beberapa pertandingan, tapi
tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ini adalah level yang terendah.
Terutama
pertandingan dari peserta yang katanya kandidat ksatria pelindung Pangeran
Gilbert itu, benar-benar yang paling parah. Lawan bertarungnya sama sekali
tidak memiliki niat bertarung, dan pertandingan berjalan sepihak karena
lawannya pasti sudah disuap.
"Astaga,
bagaimana bisa mereka tidak merasa malu melakukan tindakan tidak tahu malu
seperti itu."
Apa senangnya
meraih kemenangan tanpa memiliki kemampuan yang mumpuni? Bagi Millefeuille, dia
lebih memilih mati daripada harus menempatkan ksatria tak tahu malu seperti itu
di sisinya.
"Sepertinya
sudah waktunya."
Pembawa acara
yang mengenakan pakaian formal hitam naik ke atas panggung. Lalu, saat
Millefeuille melihat sosok pemuda berambut abu-abu itu muncul dari lorong....
"———————!?"
Rasa ngeri luar
biasa yang belum pernah dia alami seumur hidupnya menembus tubuhnya, dan
pandangannya seketika terdistorsi.
Sensasi tidak
nyaman yang sangat hebat seolah otaknya sedang dikocok membuatnya menutup mulut
untuk mencoba menahannya sekuat tenaga. Namun, dia tidak sanggup menahannya,
lalu merangkak di lantai dan memuntahkan isi perutnya.
"T-Tuan
Putri...?"
Pelayan wanita
yang mendampinginya mengusap punggung Millefeuille, sementara pelayan tua itu
segera menyodorkan segelas air.
"A-A-Apa-apaan
monster ituuuu!!?"
Baru kali ini dia
melihat aura sejahat dan semengerikan itu. Meski wujudnya terlihat seperti
manusia, makhluk itu jelas BUKAN ras Manusia.
Makhluk itu
adalah eksistensi berdimensi sangat tinggi! Raja Roh? Tidak, dia pernah melihat
Raja Roh Angin bernama Jin yang menjalin kontrak dengan kakak perempuannya,
tapi ini jelas berada di dimensi yang berbeda!
Perbedaan antara
monster itu dengan Raja Roh bahkan lebih jauh daripada jarak antara serangga
kecil dan spesies Naga.
(Rose,
sebenarnya entitas macam apa yang kau ajak kontrak!!?)
Sambil
mati-matian menahan rasa mual yang masih menuntut untuk dikeluarkan, dia mulai
mengobservasi monster itu.
Tampaknya,
monster itu dikenali sebagai ras Manusia, dan bahkan diperlakukan sebagai orang
tidak berguna karena memiliki Gift bernama The Most Incompetent in
the World. Lalu, kata yang keluar dari mulut Millefeuille adalah....
"Apa
maksudnya ini?"
Sebuah pertanyaan
penuh keheranan. Di tengah pertarungan, dia sempat melihat sekilas emosi
kemarahan dari sang Transenden itu.
Kemarahan itu
diarahkan pada kecoak kecil yang sombong bernama Dick. Mengapa dia membiarkan
sampah tak berharga yang berani bersikap tidak sopan itu tetap hidup?
Apakah itu belas
kasihan? Tidak, dari sudut pandang mana pun, manusia itu sudah keterlaluan jika
hanya diberi belas kasihan.
"Apakah
ini demi Rose?"
Turnamen
ini melarang pembunuhan yang disengaja. Jika dia melakukannya, selain
didiskualifikasi, Rose yang mendukungnya juga akan menerima semacam hukuman,
jadi apakah dia ingin menghindari hal itu?
Begitu
menyadari hal ini, dorongan kuat untuk mencakar tenggorokannya sendiri muncul.
"Kenapa
harus selalu Rose yang mendapatkan semuanya!?"
Dia menjerit
keras. Ya, ini pasti adalah rasa cemburu yang buruk.
Bagi
bangsa Elf, kontrak dengan seorang Transenden dianggap sebagai hal yang paling
suci. Derajat individu yang membuat kontrak tersebut secara langsung akan
menentukan penilaian sang Elf.
Itulah
sebabnya para Elf menghabiskan seluruh hidup mereka untuk mencari sosok
Transenden yang bersedia menjalin kontrak dengan mereka.
Transenden
adalah entitas supernatural yang melampaui Roh, Hewan Buas Ilusi, bahkan
spesies Naga sekalipun. Mereka ibarat sosok absolut maha kuasa layaknya dewa
yang dipuja ras Manusia, sehingga keberadaannya sangat langka.
Bahkan
sangat sedikit Elf yang pernah bertemu dengan mereka. Jumlah mereka yang
berhasil membuat kontrak bisa dihitung dengan jari.
Di antara
semuanya, makhluk itu tidak diragukan lagi adalah Transenden terkuat yang
pernah ditemui dalam sejarah Elf. Kontrak dengan entitas supernatural semacam
itu seharusnya menjadi hak milik Elf.
Namun,
Rosemary yang merupakan ras Manusia—ras yang biasanya dibenci oleh para
Transenden—justru yang menjalin kontrak dengannya. Tidak ada hal yang lebih
tidak masuk akal daripada ini.
Tapi memang
benar, Rose selalu memiliki sisi seperti itu. Saat kelas sihir pemanggilan di
akademi, ketika sesosok Roh yang tidak cocok dengan ras Manusia dipanggil, Roh
tersebut justru hanya menurut pada Rose, manusia yang saat itu sedang menonton
dari kejauhan.
"Tuan Putri,
apakah itu berarti orang tersebut bukanlah Manusia?"
"Stephen,
apakah dia terlihat seperti ras Manusia di matamu?"
"Benar.
Meskipun memalukan untuk diakui..."
Begitu, ya.
Bahkan tekanan luar biasa yang membuat Millefeuille mual tidak disadari oleh
Stephen yang juga sesama Elf.
Artinya, Rose
yang tingkat kepekaannya sebagai manusia jauh di bawah Elf pun pasti merasakan
hal yang sama. Jika demikian, ada kemungkinan Rose masih menganggapnya hanya
sebagai manusia biasa yang kuat.
"Stephen,
selidiki dia secara menyeluruh!! Aku tidak peduli cara apa pun yang kau
gunakan!"
"Sesuai
perintah Anda."
Sambil meletakkan
tangan kanan di dadanya dengan penuh hormat, Stephen keluar dari ruangan.
Bagaimanapun
caranya, aku harus membuat kontrak dengannya. Tidak peduli trik kotor apa pun yang
kubutuhkan.
Jika
kontrak itu berhasil, Millefeuille akan mengukir namanya sebagai kontraktor
dari Transenden terkuat dalam sejarah Elf.
"Rose, kali
ini aku pasti tidak akan kalah!"
Millefeuille
mendeklarasikannya dengan penuh tekad.
◇◆◇
―Ruang VIP Arena
Turnamen Bela Diri Suci.
"Dick Baum
itu... kalah?"
Dari kursi
penonton di ruang VIP, salah satu bangsawan faksi Pangeran Pertama Kerajaan
Amelia, Gilbert Loto Amelia, melontarkan kata-kata yang sama sekali tidak bisa
dipercaya itu.
"Hei, Ketua
Panitia! Apa maksudnya ini!?"
Pemimpin faksi
Gilbert, Marquis Rumpa Barrel, mencengkeram kerah pria paruh baya berambut
pendek di sebelahnya yang masih berdiri melongo menatap arena, dan
meneriakinya.
Pertanyaan Rumpa
ini mengandung dua makna. Pertama, tentu saja soal menonaktifkan item peningkat
kemampuan milik Kai Heineman.
Jika item adalah
sumber kekuatannya yang menakjubkan, maka tindakan ini mutlak diperlukan. Makna
kedua adalah soal pakaian sihir pembatas kemampuan yang disediakan oleh Rumpa,
yang merupakan alat terkutuk yang sengaja dibuat khusus sebagai antisipasi jika
kemenangan Ksatria Suci faksi Gilbert terancam.
Pembuat
pakaian ini adalah seorang mantan budak yang memiliki Gift gila bernama Cursed
Item Creation.
Alat
terkutuk buatannya ini bahkan mampu menurunkan kekuatan fisik Hunter kelas B
bertubuh kekar yang disewa Rumpa menjadi setara dengan kekuatan wanita dan
anak-anak. Si tidak berguna Kai Heineman itu tidak mungkin bisa melawannya.
"Kami
telah melakukan semuanya persis seperti instruksi Lord Rumpa!"
Ketua
Panitia memekik seperti sedang menjerit.
"Tapi
kekuatan fisik yang mampu mengangkat tubuh raksasa Dick dengan mudah itu
sungguh tidak normal."
"Jangan-jangan
dia diam-diam masih memakai item peningkat kemampuannya?"
Mendengar
gumaman salah satu bangsawan itu,
"Si
tidak berguna itu! Berani-beraninya dia berbuat curang lagi!!"
"Ini
tidak bisa dimaafkan! Ketua
Panitia, segera diskualifikasi pengecut itu!"
Suara-suara
persetujuan mulai bermunculan satu per satu.
"Tapi, dari
awal efek kemampuan tipe Api milik Dick Baum sama sekali tidak mempan
padanya."
"Ini bukan
sekadar masalah kekuatan fisik. Tidak, sebelum itu, apakah Kai Heineman
benar-benar pemegang Gift tidak berguna?"
Pria raksasa
berambut nanas itu mengusap butiran keringat sebesar biji jagung yang mengalir
di dahinya, lalu mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri sambil menolak
pendapat mereka.
"Lord
Ananas, apa maksud perkataanmu itu?"
Rumpa bertanya
pada pria berambut nanas, Ananas, mengenai makna sebenarnya dari ucapan
tersebut.
"Kalian
para pejabat sipil tidak akan mengerti. Gerakan itu adalah gerakan seorang ahli bela diri. Terlebih lagi, gerakan
murni dari seseorang yang telah berkali-kali melewati batas antara hidup dan
mati."
"Makanya,
itu pasti gara-gara item—"
"Bukan!
Bukan begitu. Ini bukan masalah seperti itu. Aku ulangi sekali lagi, itu
bukanlah gerakan yang bisa dilakukan oleh orang tidak berguna. Meski berat hati
mengakuinya, jika dibandingkan dengannya, kandidat ksatria pelindung yang kita
dukung benar-benar setara dengan bayi. Ini bahkan tidak pantas disebut
pertandingan."
Ruang VIP
itu menjadi riuh rendah mendengar kata-kata berat dari Earl Ananas.
"Anakku
lebih rendah dari si tidak berguna itu. Apakah itu yang ingin kau katakan?"
Dengan dahi
berkerut, Marquis Rumpa menanyakan hal itu dengan suara bergetar kepada Earl
Ananas.
"Jika
terbatas pada seni bela diri, maka jawabannya adalah iya."
"Dia berasal
dari keluarga bangsawan ksatria kehormatan, yang berarti dia bangsawan palsu
tanpa darah biru seperti kita! Terlebih lagi, dia hanyalah sampah dari segala
sampah yang cuma punya Gift bernama The Most Incompetent in the World,
pemberian yang sudah pasti ditinggalkan oleh Dewa Perang Suci!?"
"Yah...
mungkin memang begitu. Namun, kekuatannya itu asli. Hanya itu yang bisa
kupastikan."
Earl Ananas
bangkit dari tempat duduknya, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh bangsawan
yang hadir.
"Situasinya
sedikit berubah. Mulai hari ini, kami dari keluarga Ananas akan menarik diri
dari perselisihan pewaris takhta kali ini."
Dia meletakkan
tangan kanan di dadanya, membungkuk sopan, lalu keluar dari ruangan.
Kepergiannya memicu keributan penuh kecemasan yang menyelimuti ruang VIP. Wajar
saja hal itu terjadi.
Earl Ananas
dikenal sebagai salah satu faksi militer terkuat di Kerajaan Amelia ini.
Mundurnya Earl Ananas dari faksi Gilbert akan menyebabkan hilangnya pilar
dukungan spiritual dari kubu militer.
Apalagi, rencana
pernikahan antara pangeran Kekaisaran dan Putri Rose sebelumnya telah berakhir
dengan kegagalan. Jika terus begini, sejumlah besar bangsawan bisa saja
menyatakan keluar dari faksi Gilbert.
"Berisik!
Jangan berteriak tidak karuan begitu! Si tidak berguna itu akan dikalahkan di
pertandingan berikutnya melawan Zack Power, jadi tidak akan ada masalah!"
Zack
Power memiliki kekuatan tempur terbaik di dalam kerajaan sebagai petarung muda.
Mereka juga sudah menghubunginya untuk bergabung dengan faksi Gilbert.
Jika
putra Rumpa kalah di final oleh Zack dan bukan oleh si tidak berguna itu,
publik pasti akan tetap mengakuinya sebagai ksatria pelindung Pangeran Gilbert.
"Ketua
Panitia Turnamen, aku ingin membicarakan pertandingan antara Zack Power dan si
tidak berguna itu selanjutnya."
"Baik..."
Ketua
Panitia mengangguk ragu dengan wajah yang dipenuhi kekhawatiran.
Dia sudah
melangkah sejauh ini. Aku tidak akan membiarkannya mundur sekarang. Setidaknya,
aku akan membuatnya berguna.
"Kalau
begitu—"
Rumpa
mulai berbicara demi menyingkirkan si tidak berguna, Kai Heineman.
◇◆◇
Bagian
dalam kuil kuno itu telah hancur sepenuhnya dan berubah drastis.
Terdapat
tangga dengan lantai hitam mengkilap dan karpet merah menyala yang digelar di
atasnya. Di ujung tangga tersebut, sebuah singgasana yang sangat mewah dan
megah menjulang tinggi.
Kemudian,
tepat di tengah lingkaran sihir raksasa yang tergambar di aula bawah tangga,
tergeletak sisa-sisa wujud dari Pepper dan Sugar.
"Kalau
begitu, mari kita mulai~"
Pazuzu
membentuk segel dengan kedua tangannya. Tiba-tiba, rune dari lingkaran sihir
berwarna merah kehitaman di lantai itu melayang ke udara, membentuk sebuah
bola, dan menelan sisa-sisa wujud Sugar dan Pepper. Lalu—.
"Musik,
mulai!"
Saat
Pazuzu meneriakkan hal itu, binatang buas yang berjalan tegak dengan dua kaki
dan mengenakan setelan jas di sekelilingnya mulai bernyanyi dengan suara yang
anehnya serak. Sambil menari tarian pop mengikuti lagu tersebut, Pazuzu mulai
merapalkan mantra yang aneh.
—Kekuatan
terbesar di dunia ini adalah kejahatan♬ Hal yang paling mulia di dunia ini adalah kejahatan♬ Hal yang paling murni di dunia ini adalah
kejahatan♬ Ibu, sekaligus ayah kami. Alasan kami dilahirkan, dan standar nilai
yang mutlak!
—Mari kita tutupi
seluruh dunia ini dengan keputusasaan! Mari kita hancurkan seluruh dunia ini
tanpa sisa! Mari kita mekarkan bunga kejahatan di seluruh penjuru dunia ini!
—Itulah surga
yang diciptakan oleh kejahatan kami! Itulah misi dan alasan keberadaan pasukan
jahat kami!
Lumpur kental
menyembur keluar bagaikan arus deras dari bola yang menelan Sugar dan Pepper.
Lumpur tersebut secara perlahan membentuk sosok seorang wanita kecil. Dan
kemudian,
"Kuhi!
Kuhahahaha! Berhasil! Akhirnya berhasil! Aku juga sudah bermanifestasi di dunia
ini!"
Wanita itu
memiliki dua tanduk besar yang melengkung dan rambut biru muda transparan yang
dikuncir dua. Ia menjelma menjadi sosok gadis cantik yang imut dan meneriakkan
suara indahnya.
Pada saat yang
sama, lumpur yang berhamburan dari bola itu membentuk pasukan besar monster
berseragam militer.
"Hormat
kepada Letnan Jenderal kita yang terhormat!"
Suara Pazuzu
bergema, lalu mereka semua serentak memperbaiki postur tubuh dan meletakkan
tangan kanan di dahi ke arah Tiamat, sang gadis kecil yang menjadi tuan mereka.
"Pazuzu, kau
melakukannya dengan sangat baik!"
"Saya sangat
merasa terhormat menerima pujian Anda."
Tiamat mengangguk
puas ke arah Pazuzu yang sedang berlutut dengan satu kaki.
"Lalu,
bagaimana perkembangan situasinya saat ini?"
"Sekarang,
kami sedang mendesak mereka secara perlahan menggunakan monster-monster di
sekitar sini. Mari kita
berikan keputusasaan secara bertahap, layaknya mencekik ayam pelan-pelan!"
"Aku
serahkan hal itu padamu. Tapi lebih dari itu, bagaimana dengan 'dia'?"
"Tentu saja,
kami sedang menyerang kota-kota terdekat untuk mengamankan mainan yang bisa
menghibur Tiamat-sama."
Tiamat tersenyum
lebar dan wajahnya diwarnai dengan ekspresi ekstasi mendengar jawaban Pazuzu.
"Un
un, benar! Begitu, ya! Aku jadi sangat menantikannya!"
Gadis
kecil itu berputar-putar riang, lalu merentangkan kedua tangannya seolah
menengadah ke langit.
"Nah, ayo
kita lakukan segala bentuk kejahatan! Kita akan membuat mereka merasakan teror
Pasukan Tiamat sampai ke sumsum tulang!"
Tiamat
mengeluarkan perintah besar.
Di tempat dan
waktu ini, pasukan kejahatan mulai berbaris untuk memenuhi tujuan jahat mereka.
Dengan demikian,
insiden yang berpusat di Barse ini semakin jatuh ke dalam kekacauan.
◇◆◇
—Dataran
Gersang di Depan Gerbang Timur Barse
"Hebat
sekali..."
Suara kekaguman
meluncur begitu saja dari mulut Keith. Alasan utamanya adalah dua orang yang
saat ini sedang berlarian di medan perang.
Pria jangkung
bertopeng serigala—Beo, meninju punggung kadal raksasa berkepala dua dengan
tangan kanannya.
Tanpa melirik
sedikit pun ke arah kadal raksasa yang mati dengan isi perut berhamburan itu,
Beo berlari kencang di atas tanah dengan kelincahan layaknya binatang buas.
Dia mendekati
mangsa berikutnya, seekor raksasa bermata satu, lalu mencabik-cabik kepalanya
menjadi potongan daging menggunakan cakar tajam di kedua tangannya.
Di tempat lain,
seekor Ogre sebesar rumah menyerbu ke arah pria paruh baya berambut biru yang
mengenakan zirah putih bersih—Komandan Ksatria Arnold.
Monster itu
berlari sambil membuat tanah berguncang, lalu mengayunkan gada besinya tepat ke
atas kepalanya.
Namun, pedang
besar milik Komandan Ksatria Arnold berubah menjadi merah, dan sejumlah garis
merah menari-nari di udara.
Gada besi yang
diayunkan Ogre itu terpotong menjadi serpihan kecil. Sedetik kemudian, tubuh
Ogre itu juga ikut hancur menjadi potongan daging dan jatuh ke tanah.
"Aku memang
sudah pernah mendengarnya, tapi apa Arnold-sama memang sekuat itu?"
Keith bertanya
kepada Ralph-sama, Ketua Guild yang sedang memimpin di sebelahnya.
"Yah,
begitulah. Meskipun biasanya dia terlihat tenang, dia dulunya sangat ditakuti
di medan perang dan dijuluki sebagai Raja Singa. Makanya, aku meragukan
kewarasan kalian yang bilang kalau bocah bernama Kai itu bisa
mengalahkannya."
Ralph-sama
menatap dengan sebelah mata dan berbicara kepada paman Olga yang juga kembali
ke markas untuk beristirahat seperti Keith. Keith pun merasakan hal yang sama.
Dulu, Keith
pernah mendengar dari gurunya bahwa di dunia ini terdapat entitas yang
melampaui Roh, Naga, maupun Hewan Buas Ilusi, yang disebut sebagai Transcender.
Kabarnya, mereka yang membuat kontrak dengan Transcender akan diberikan
kekuatan supranatural yang melampaui Gift, yang disebut sebagai
Perlindungan Ilahi.
Oleh karena itu,
para penyihir menjadikan kontrak dengan Transcender sebagai tujuan hidup
mereka. Jika memang begitu, Kai mungkin saja telah membuat kontrak dengan
entitas misterius yang menyerupai dewa tersebut.
Semuanya terasa
masuk akal jika dipikirkan seperti itu. Tentu saja, Keith yang telah menjalani
latihan tempur yang keras selama beberapa tahun terakhir ini juga memahaminya.
Pertarungan di
medan yang sebenarnya tidaklah semudah hanya mengandalkan kekuatan murni,
tetapi juga membutuhkan sesuatu seperti insting bertarung. Dalam hal itu,
Pahlawan Mashiro memang luar biasa.
Selain insting
bertarungnya, dia sama sekali tidak ragu untuk merenggut nyawa orang lain,
sesuatu yang sangat penting dalam pertarungan hidup dan mati. Dalam hal ini
saja, Keith sama sekali tidak bisa membayangkan Kai yang lembut itu sanggup
membunuh orang lain.
"Aku juga
setuju dengan pendapat Ralph-sama. Paman Olga, bukankah sebaiknya kita
menundukkan kepala dan meminta Mashiro atau Hijiri untuk datang ke mari?"
Jika mereka
datang, Arnold-sama bisa pergi menyelamatkan Rena. Peluang keberhasilannya
pasti akan meningkat drastis.
"Pahlawan
tidak akan datang. Setidaknya, dia pasti akan mengorbankan Barse ini untuk
melihat perkembangan situasinya."
Keith jauh lebih
memahami sifat Mashiro daripada paman Olga. Dia juga tahu bahwa Mashiro adalah
orang yang bisa mengambil keputusan kejam seperti itu.
Namun, jika Guild
Hunter mengajukan permintaan kepada pemerintah Kerajaan Amelia dan pemerintah
memerintahkannya, Mashiro mungkin akan bergerak dengan enggan. Selain itu—
"Lalu,
bagaimana dengan Rena? Rena adalah anak kesayangan Mashiro, kan? Dia mungkin
saja mau ikut serta dalam penyelamatan."
"Ya, kau
benar. Pahlawan Mashiro mungkin menyukai Rena sebagai seorang manusia. Namun akhir-akhir ini, Rena jadi
terlalu dekat dengan Putri Rose. Dia mungkin tidak akan menyerang Rena, tapi
dia juga tidak akan sengaja datang untuk menyelamatkannya."
"Itu
mungkin saja benar, tapi—"
"Menurutmu,
apa Mashiro bisa dengan mudah mengalahkan orang yang telah menculik Rena?"
Paman Olga
bertanya dengan wajah serius, menyentuh kekhawatiran terbesar Keith saat ini.
"Itu... aku
tidak tahu. Tapi, kalau begitu Kai juga—"
"Soal Kai
tidak perlu dikhawatirkan. Jika kamu dan Ralph-sama melihat sendiri pertarungan
yang melibatkannya, kalian pasti akan langsung mengerti apa yang
kumaksud."
"Namun—"
"Sudah
kubilang, kan. Yang pergi menyelamatkan Rena bukan hanya Kai seorang."
"Maksud
paman para Transcender yang terikat kontrak dengan Kai itu?"
Apakah
Transcender benar-benar mau bergerak hanya karena permintaan dari
kontraktornya? Keith merasa hal semacam itu biasanya membutuhkan bayaran yang
sangat besar.
"Entahlah,
siapa yang tahu. Tapi yang pasti, dalam situasi saat ini, kitalah yang berada
dalam bahaya dan risiko yang jauh lebih tinggi daripada Rena. Kita hanya perlu
melakukan apa yang kita bisa sekarang."
Setelah
mengucapkan hal itu dengan cepat, paman Olga kembali menuju medan pertempuran.
"Keith,
aku juga setengah ragu, tapi insting dan kejelian Johnson serta Olga sebagai
Hunter kelas satu cukup layak untuk dipercaya. Jadi, untuk sekarang, percayalah
pada sahabatmu itu."
Ralph-sama
menepuk punggung Keith dengan pelan.
"Anda...
benar juga."
Lagipula,
apa pun yang Keith katakan, sang Pahlawan tidak akan bergerak. Lebih dari
segalanya, paman Olga sudah menyayangi Kai layaknya anaknya sendiri.
Dia bukanlah
orang yang akan menelantarkan Rena atau Kai begitu saja. Setidaknya, paman Olga
benar-benar menilai dari lubuk hatinya bahwa Barse saat ini jauh lebih
berbahaya daripada situasi Rena.
"Keith, kita
akan segera berangkat!"
Sosok Ilza dari
tim penaklukan yang sama terlihat sedang melambaikan tangannya.
"Kalau
begitu, aku juga harus pamit."
"Ya,
pastikan kamu tidak melakukan hal yang ceroboh."
Ralph-sama
mengingatkannya sambil tersenyum hangat.
"Ya, tentu
saja."
Paman Olga pernah
bilang bahwa krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya sedang mendekati
Barse. Melihat gelagatnya, Keith yakin itu bukanlah kebohongan.
Karena itu, dia
tidak boleh lengah sedikit pun.
Saat itu Keith
memang bertekad demikian, tapi sejujurnya di dalam hatinya, dia berpikir mereka
bisa melewati krisis ini selama ada Beo dan Komandan Ksatria Arnold. Pikiran
itu sempat melintas di benaknya.
Namun, kenapa
monster dari wilayah terdalam itu menyerang kota pada saat yang tepat seperti
ini? Jika dia memikirkan alasannya, dia tidak seharusnya menaruh harapan naif
semacam itu.
Seharusnya dia
mempertahankan kewaspadaannya hingga batas maksimal.
Ya. Pada umumnya,
penderitaan yang sesungguhnya baru akan datang tepat di saat seseorang merasa
telah berhasil melewatinya.
◇◆◇
Setelah
menyelesaikan latihan sore yang sudah menjadi rutinitas harian, aku memeras
pakaian atasku yang basah kuyup oleh keringat. Aku pun berjalan menuju kamar
mandi yang ada di rumah tempat kami menginap saat ini.
Berendam di bak
mandi bukanlah kebiasaan yang umum di Kerajaan Amelia ini. Saat berada di
Dungeon, kami membuat pemandian besar dengan menyalurkan air dari mata air
Elixir yang mengalir tanpa henti di dekat sana.
Kami membangunnya
dengan menjadikan buku gaya hidup yang kami temukan di sana sebagai referensi.
"Humu,
memang paling enak berendam di air panas setelah selesai latihan, ya."
Sebenarnya
aku bisa saja membuatnya di sini jika aku mau, tapi hal itu pasti membutuhkan
dana yang sangat besar. Untuk hal yang satu ini, tidak banyak yang bisa
kulakukan.
Aku harus
segera memikirkan cara untuk mengumpulkan dana. Sembari memikirkan hal itu, aku
akhirnya tiba di depan kamar mandi.
Sekarang
kami telah meninggalkan penginapan umum dan pindah ke sebuah rumah dua lantai
kecil yang sudah tua milik Rose. Rumah ini adalah salah satu dari sedikit harta
warisan yang diterimanya dari ibunya.
Kami
pindah ke mari setelah rumah ini selesai dibersihkan agar layak untuk
ditinggali. Ini adalah apa yang disebut sebagai pemangkasan biaya.
Meski
begitu, sungguh mengejutkan melihat seorang anggota keluarga kerajaan hanya
memiliki aset sebesar ini.
Perkataan
Rose soal dirinya yang tidak punya harta berharga mungkin bukanlah sebuah
bentuk kerendahan hati, melainkan sebuah kenyataan.
Sepertinya
belum ada orang di dalam. Biasanya, ada tanda yang digantung di gagang pintu
jika kamar mandi sedang digunakan.
Setelah
masuk ke ruang ganti dan melepaskan pakaianku, aku membuka pintu kamar mandi
dengan penuh semangat.
“Hah?”
Wanita
cantik bertubuh tinggi itu mematung dengan rambut panjang yang masih basah,
mengeluarkan suara aneh. Tampaknya
iblis ayam ini lupa memasang tanda lagi.
Asta sangat suka
kebersihan dan mandi beberapa kali sehari. Karena itu, dia sudah beberapa kali
berpapasan dengan Rose dan Anna, lalu mendapat teguran.
"Hei, Asta,
bukankah aku sudah bilang berulang kali agar kamu menggantungkan tanda di
gagang pintu saat masuk ke tempat mandi? Cepatlah terbiasa dengan aturan di
rumah ini."
"..."
Asta hanya
menatapku tajam tanpa menjawab, sementara keringat mengucur deras seperti air
terjun dari tubuhnya.
"Hei, kamu
dengar tidak?"
Wajahnya akhirnya
memerah seperti buah yang matang.
"〇×▽◇---!"
Dia
meneriakkan suara aneh yang tak bisa dimengerti sambil melemparkan ember dan
kursi kayu di dekatnya. Pada akhirnya, dia mengusirku keluar dari tempat mandi.
Di
sebelah rumah terdapat sebuah ruang makan kecil, dan kami sering sarapan di
sini. Asta juga ikut dalam
diam, meski pipinya masih sedikit merona merah.
Awalnya Asta
selalu makan di kamarnya sendiri, tapi belakangan ini dia mulai makan bersama
kami. Kami duduk di kursi masing-masing dan memesan makanan.
"Kalau
begitu, mari kita mulai berdoa."
Rose dan Anna
mulai memanjatkan doa kepada Tuhan. Bersyukur kepada Tuhan sebelum makan, ya.
Pemikiran yang
sangat khas orang Amelia. Tentu saja, kami tidak memiliki keyakinan yang mulia
seperti itu.
Faf
mengayun-ayunkan kakinya sambil meneteskan air liur, menatap piring berisi
daging di depannya sambil menunggu izinku.
Sementara itu,
Asta sesekali mencuri pandang ke arahku. Namun, saat aku menoleh padanya, dia
buru-buru memalingkan wajah.
Apa sih maumu
itu....
"Nah, mari
kita makan."
Ucapan Rose
setelah selesai berdoa menjadi tanda bagi kami. Kami pun mulai menyantap
hidangan masing-masing.
"Kai,
selamat atas kemenanganmu di babak pertama turnamen. Karena tujuan kita sudah
tercapai, bagaimana kalau kamu mundur di tengah pertandingan berikutnya dan
kita kembali ke kota Barse?"
Selesai sarapan,
Rose tiba-tiba mengajukan usul yang tak terduga. Entah apa alasannya, tapi
pikiran gadis ini sepertinya sedang tidak berada di sini.
Melihatnya
membicarakan hal ini, sepertinya tinggal lebih lama di kota ini akan membawa
kerugian baginya.
"Hmm,
aku tidak akan mundur sampai akhir."
Sampai
pertarunganku dengan Dick Baum sebelumnya, aku sempat berpikir untuk kalah saja
dan mengakhiri semua ini. Namun, sikap panitia turnamen mengubah pikiranku.
Sekalian
untuk memberi pelajaran, aku berniat untuk terus berpartisipasi sampai akhir.
"Tapi,
aku juga mengkhawatirkan anak budak itu...."
"Tidak,
kita masih punya banyak waktu sampai batas akhirnya, dan kita sudah membayar
mereka. Anak itu pasti sedang diperlakukan layaknya seorang bangsawan."
Pemilik
toko itu bersikap sangat profesional dalam berbisnis. Lagipula, dia tidak
terlihat sebodoh itu untuk memalsukan sesuatu yang akan langsung ketahuan jika
ditanyakan pada anak itu sendiri.
Aku
sangat yakin kalau gadis budak itu sedang mendapat perlakuan yang layak saat
ini.
"Tapi, itu
belum pasti, kan?"
Rose ini, kenapa
dia bersikeras sekali. Sepertinya
dia benar-benar sudah tidak betah berada di kota ini.
"Kalau
mereka sampai membatalkan kontrak sepihak, aku akan menghancurkan mereka
habis-habisan. Itu saja."
Aku akan
bertanggung jawab penuh untuk melenyapkan organisasi mereka dari dunia ini
tanpa sisa.
"Hancurkan
mereka!!"
Aku mengelus
kepala Faf yang sedang mengangkat tangan kanannya yang memegang garpu. Gadis
itu menyipitkan matanya seperti seekor kucing.
"Kalau
begitu---"
Tepat saat Rose
hendak membuka mulutnya,
"Rose, aku
mencarimu."
Seorang wanita
Elf bertelinga panjang mendekati meja kami sambil mengangkat tangan kanannya.
Usianya mungkin sekitar empat belas atau lima belas tahun, sama seperti Rose.
Wajahnya yang
masih kekanak-kanakan membuatnya lebih cocok disebut imut daripada cantik.
Rambut peraknya yang lurus sebahu dan tubuh mungilnya sangat serasi dengan
pakaian simpelnya.
(Cih!)
Hei Rose, kamu
baru saja berdecak kesal, kan?
"Milfi, ada
perlu apa?"
Sejujurnya, nada
suara Rose yang dibuat-buat ini membuatku merinding. Faf yang duduk di
sebelahku menyadari keanehan ini dan langsung bergelayut padaku.
Aku pun mengelus
kepalanya untuk menenangkannya.
"Tentu saja,
aku ingin menyapa pria di sebelahmu ini."
Wanita berambut
perak yang dipanggil Milfi itu mengalihkan pandangannya dari Rose. Dia menoleh
ke arahku, mengangkat sedikit ujung roknya, lalu berkata,
"Aku
Millefeuille Renren Lorelei. Salam kenal."
Dia menunduk
memberi hormat padaku.
"Aku Kai
Heineman. Jangan terlalu takut. Aku tidak akan memakanmu."
Wanita ini memang
tersenyum, tapi wajahnya pucat pasi dan seluruh tubuhnya gemetar pelan. Padahal
sejak dulu, rasanya belum pernah ada yang bilang kalau tampangku ini
menakutkan.
"Ti-tidak,
aku sama sekali tidak takut!! Aku cuma sedikit gugup karena demam
panggung!"
Jelas sekali dia
cuma pura-pura berani, tapi aku tidak perlu repot-repot mengatakannya.
"Lalu? Ada
perlu apa? Kamu ke sini bukan cuma mau menyapa, kan?"
Saat ini, aku
adalah penjahat nomor satu di kota ini. Mana mungkin ada orang yang datang hanya untuk
menyapaku. Dia pasti punya
suatu permintaan.
"Maukah kamu
menjalin kontrak denganku?"
"Kai---"
Aku mengangkat
tangan kananku untuk menahan Rose yang baru saja akan membuka mulut.
"Tiba-tiba
membicarakan soal kontrak, ya? Memangnya tentang apa?"
Aku
bertanya langsung pada Millefeuille.
"Ini
adalah kontrak di mana aku akan memberikan imbalan, sebagai gantinya kamu harus
mengabulkan permintaanku."
Hm? Aku
kurang paham, tapi dari alur pembicaraannya, ini pasti bukan kontrak tertulis.
Kalau begitu, apakah ini kontrak sihir?
Ngomong-ngomong,
aku pernah membaca di buku tentang sihir atribut yang mengikat janji tertentu
antara manusia dan makhluk bukan manusia. Jangan-jangan dia bermaksud melakukan
itu?
Kalau
iya, berarti wanita ini salah mengira aku sebagai makhluk bukan manusia. Yah,
bagaimanapun juga, hal seperti kontrak sihir mustahil bagiku yang tidak bisa
menggunakan sihir atribut.
"Maaf, tapi
itu mustahil."
"Begitu,
ya...."
Millefeuille
menundukkan bahunya dengan wajah seperti dunia sudah kiamat. Dia adalah seorang
Elf.
Aku sudah ingin
mengunjungi negara Elf, Lorelei, sejak sebelum aku ditelan oleh dungeon itu.
Apalagi dia adalah kenalan Rose yang menyandang nama Lorelei.
Kemungkinan besar
dia adalah kerabat keluarga kerajaan. Kalau begitu, aku harus menghindari
hubungan yang buruk dengannya di sini.
"Jangan
terlalu murung begitu. Aku ini manusia, dan karena Gift berupa Orang
Paling Tidak Berguna di Dunia, aku hanya bisa menggunakan sihir tanpa atribut.
Aku tidak bisa menjalin kontrak sihir apa pun."
"Manusia?
Kamu?"
"Benar.
Iya, kan, kalian berdua?"
Saat aku bertanya
pada Faf dan Asta.
"Tuan adalah
manusia?"
Faf, kenapa nada
bicaramu bertanya begitu? Seharusnya kamu membenarkannya dengan tegas, kan!
"Master, apa
kamu benar-benar berniat bersikeras menyebut dirimu sebagai manusia?"
Asta malah
menyangkalnya mentah-mentah dengan wajah terheran-heran.
"Hei,
memangnya aku terlihat seperti makhluk lain?"
"Dari ujung
kuku kaki sampai ujung kepala, kamu hanya terlihat seperti monster."
Faf dan
Millefeuille mengangguk kuat-kuat setuju. Perasaan senasib apa pula di antara
mereka berdua ini.
"Aku
berhubungan baik dengan ibunda Kai, dan aku dengar ayahnya adalah orang
Kerajaan. Kai sudah pasti seorang manusia."
Rose dan Ibuku
saling kenal, ya. Ibuku yang linglung itu pasti sudah menceritakan banyak hal
tentang masa laluku pada Rose.
Bisa dipastikan,
rahasia memalukanku di masa lalu pun sudah bocor semuanya padanya.
"Kamu
benar-benar... manusia?"
Mendengar
pertanyaan ragu-ragu dari Millefeuille itu,
"Kan sudah
kubilang dari tadi."
Aku
membenarkannya seolah itu hal yang mutlak.
"Begitu,
ya...."
Dia meletakkan
tangan di dagunya dan mulai berpikir keras.
"Baiklah.
Rose, urusan tentang pria ini terlalu besar untuk kusimpan sendiri. Aku akan
membicarakannya dengan para guru."
Setelah
mengatakan hal itu pada Rose,
"Mi, Milfi,
tunggu sebentar---"
"Kalau
begitu, Tuan Kai, sampai jumpa lagi!"
Millefeuille
mengangkat tangan kanannya dan melenggang keluar dari ruang makan tanpa
mempedulikan teriakan Rose yang berusaha menghentikannya. Berbeda dengan saat
dia gemetaran ketakutan tadi, langkahnya kini terasa begitu ringan.
Sebaliknya, Rose
malah memegangi kepalanya dengan pusing. Aku menoleh pada Anna untuk mencari
tahu tentang tingkah aneh mereka, tapi dia hanya mengangkat tangannya dan
mengangkat bahu dengan wajah bingung.
Tampaknya
Anna juga tidak mengerti. Kalau begitu, memikirkannya hanya akan membuang
waktu. Aku tidak paham dengan jalan pikiran anak muda zaman sekarang, cukup
anggap saja begitu.
"Nah, kalau
begitu, kami akan kembali ke kamar di rumah. Anna, kuserahkan sisanya
padamu."
Aku melirik Rose
yang masih menggumamkan sesuatu, lalu menyampaikan pesan itu pada Anna.
"Ya.
Serahkan padaku."
Dia
tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Dalam beberapa hari ini, dia jadi jauh
lebih penurut. Padahal belum lama ini, dia selalu membuang muka dengan ekspresi
kesal dan hanya merespons dengan anggukan.
Intinya,
dia sama seperti Faf dan Asta, seseorang yang sangat pemalu di depan orang
baru.
Aku
berdiri dari kursi, menggandeng tangan Faf yang mengucek mata karena
kekenyangan, lalu meninggalkan ruang makan untuk kembali ke kamar di rumah.
◇◆◇
Aku tiba
di arena untuk putaran kedua melawan Zack Power.
Setelah
menjalani pemeriksaan fisik yang ketat oleh beberapa panitia turnamen, aku
kembali diinstruksikan untuk memakai pakaian pembatas kemampuan.
Hm.
Sepertinya pihak penyelenggara punya alasan yang sangat kuat untuk tidak
membiarkanku menang.
Jika
tidak, mereka tidak akan bersikeras menyiapkan pakaian seperti ini.
Di tengah
sorakan ejekan yang menggelegar, aku memasuki arena dan naik ke panggung
pertarungan. Di hadapanku, berdiri sosok pria berambut merah dengan penampilan
liar—Zack Power—yang memancarkan aura mengintimidasi.
Aku sudah
melihat pertandingan Zack sebelumnya. Meski masih belum matang, tekniknya
sebagai seniman bela diri setidaknya sudah mencapai tingkat dasar.
Bagi diriku
yang sudah muak melawan para amatir, pertarungan melawan Zack yang merupakan
seniman bela diri ini lumayan kunantikan. Namun, penjelasan pembawa acara
tentang pertandingan kali ini langsung menggantikan rasa antusiasku dengan
kekesalan.
"Hei,
pembawa acara, apa kamu gila bicara seperti itu?"
Urat-urat
menonjol di dahi Zack yang mengamuk. Dia bertanya dengan nada tinggi pada
pembawa acara pria paruh baya berambut hitam itu.
"Ya,
ini semua adalah langkah untuk mencegah kecurangan dari si tidak berguna
itu!"
Pembawa
acara itu mengumumkannya dengan penuh kebanggaan. Katanya, demi mencegah
kecurangan, aku dilarang memegang pedang kayu, dan aku akan langsung
didiskualifikasi begitu wasit melihatku berbuat curang.
Kalau
begini aturannya, kekalahanku sepenuhnya bergantung pada kehendak wasit. Yah, turnamen semacam ini tidak punya arti
lain bagiku selain untuk mencari uang.
Jadi, kalau cuma
itu saja, aku tidak masalah. Masalahnya, jika kecuranganku disahkan, aku akan
dikenakan penalti dan tidak mendapat bayaran sepeser pun.
Artinya, agar aku
bisa kalah dengan aman, aku harus sengaja mengalah dari Zack. Aku meragukan
kewarasan panitia turnamen yang merancang aturan tak tahu malu ini.
Terlebih lagi,
apakah kemenangan dalam turnamen yang dipenuhi kecurangan seperti ini pantas
untuk dirayakan dengan tulus?
"Jangan
bercanda! Ini adalah pertandingan antar seniman bela diri! Ini bukan taman
bermain untuk para amatir seperti kalian!!"
Mendengar amarah
Zack yang mengguncang udara, pembawa acara itu memaksakan senyum di pipinya
yang kaku.
"Kalau
begitu, aku akan berganti posisi dengan wasit!!"
Setelah
meneriakkan hal itu, dia lari menuruni panggung pertarungan. Sebagai gantinya,
seorang wasit bertubuh besar layaknya beruang naik ke atas panggung.
"Fight!"
Wasit memberi
aba-aba dimulainya pertandingan, lalu buru-buru menyingkir ke tepi arena. Dari
tatapannya yang hanya tertuju padaku, sepertinya dia memang tidak punya niat
membiarkan pertandingan berjalan dengan adil.
Zack sempat
memelototi tenda panitia dengan tatapan mengerikan, lalu berkata,
"Konyol.
Batal! Batal! Anggap saja aku kalah."
Dia menggelengkan
kepalanya dan bersiap turun dari panggung pertarungan.
"Kai
Heineman, kamu baru saja melakukan gerakan yang mencurigakan!!"
Mungkin wasit
sangat panik mendengar pernyataan menyerah dari Zack. Dia menunjuk ke arahku sambil berteriak
lantang.
"Aku
bahkan tidak bergerak sama sekali, lho?"
"Tidak,
barusan kamu membuat gerakan mencurigakan! Dengan ini, Kai Heineman dinyatakan
kalah karena pelanggaran!!"
Dia meneriakkan
lelucon selucu itu dengan suara nyaring.
"Begitulah
katanya."
Aku tidak punya
banyak waktu luang untuk terus meladeni lelucon murahan ini. Masih ada waktu
sebelum batas akhirnya, jadi aku harus mencari cara lain untuk mengumpulkan
uang.
Aku
mengangkat tangan kananku ke arah Zack, berbalik, dan mulai melangkah pergi.
Namun,
"Guaahh!!"
Erangan
wasit mengguncang gendang telingaku. Saat aku menoleh dari balik bahu, wasit
itu sudah tergeletak telentang dengan wajah hancur, tubuhnya kejang-kejang
seperti katak sekarat.
"Karena
aku mengangkat tangan pada wasit, aku juga didiskualifikasi, kan? Bagaimana?
Maukah kamu bertarung sesama orang yang didiskualifikasi?"
Dia
menantangku bertarung, ya.
"Aku
sih tidak keberatan."
Aku melirik ke
arah panitia.
"Ma, mana
bisa begitu! Kalian berdua didiskualifikasi. Segera keluar dari arena!"
Pembawa acara
meneriaki kami dengan sikap merendahkan.
"Begitulah
katanya, lho?"
"Ya, mari
kita pindah tempat. Lagipula, orang-orang ini tidak pantas menyaksikan
pertarungan kita. Biar saja mereka terus bersorak untuk pertandingan setingan
seperti biasanya."
Ucapan Zack yang
dilontarkan seperti membuang ludah itu memicu keributan yang penuh kebingungan
di antara penonton. Tidak sepertiku, pertandingan Zack cukup populer.
Kekuatannya yang
murni menaklukkan lawan hanya dengan fisiknya yang terlatih mampu menarik
perhatian penonton. Penolakan keras dari Zack tentu saja membuat mereka
kebingungan.
Namun, maaf saja
untuk para penonton---.
"Aku
sependapat denganmu."
Aku mengedarkan
pandangan ke sekeliling penonton, lalu menyuarakan persetujuanku.
Pada hakikatnya,
seni bela diri adalah pertaruhan nyawa dengan orang lain. Ini bukanlah
pertunjukan dan tidak butuh penonton.
Terlebih lagi,
banyak peserta turnamen ini yang sejak awal tidak berniat untuk bertarung. Bisa
dibilang ini cuma sandiwara.
Sejujurnya,
orang-orang yang senang dengan permainan semacam ini mustahil bisa memahami
pertarungan kami. Menontonnya hanya akan sia-sia belaka.
Namun sebelum
itu, biar kuselesaikan masalah merepotkan ini. Bagaimanapun juga, ini semua
bermula dari konflik politik antara Rose dan pangeran bodoh itu.
Aku tidak akan
membiarkan seniman bela diri berbakat seperti Zack menerima penalti hanya
karena masalah yang sangat konyol.
Aku menghampiri
wasit yang masih merintih kesakitan. Aku mengeluarkan Medium Potion,
membuka tutupnya, lalu menyiramkannya ke tubuhnya.
Luka-lukanya pun
pulih dalam sekejap. Aku punya stok ramuan tingkat ini sampai tak terhitung
jumlahnya.
Selama ada
bahan-bahannya, meraciknya pun tidak terlalu sulit. Menyia-nyiakannya di sini
sama sekali tak membuatku rugi.
Berbeda
dengan Healing Slime, ramuan ini masih menyisakan bekas luka. Tapi, aku
tidak punya kewajiban untuk merawat wasit ini sampai sejauh itu.
"Item
konyol macam apa itu? Lukanya
langsung sembuh dalam sekejap?"
"Ayo
kita pergi."
Aku mulai
berjalan tanpa menjawab pertanyaan Zack yang terdengar heran. Namun,
"Tidak
perlu pindah tempat. Biar aku yang jadi wasitnya."
Seorang
kakek tua berambut putih yang kedua matanya tertutup oleh alis putih tebalnya
bersuara. Kakek itu membelai janggut panjangnya dengan tangan kanan sambil
melompat ringan ke atas panggung, dan mendeklarasikan hal itu.
Gawat.
Aku tak menyangka akan bertemu pria ini di sini....
"Lama
tidak berjumpa."
Aku
menundukkan kepala sedikit, menyapa dengan formalitas yang kaku.
Pria itu adalah
Guru Besar Teknik Pedang Aliran Kaien—Aaron Kaien. Di masa lalu, Kakek pernah
membawaku menemuinya beberapa kali.
"Hm, sudah
lama, ya."
Aaron tersenyum
sambil mengangkat tangan kanannya, membuat suasana arena mendadak hening yang
tak wajar.
"Tuan Aaron,
si tidak berguna itu telah berbuat curang, dan Zack juga telah
menyerangku---"
Wasit yang sudah
pulih tadi menunjuk kami berdua sambil marah-marah membabi buta. Namun,
"Diam! Kamu
kukeluarkan dari perguruan!"
Dengan wajah
semengerikan iblis, Aaron meneriakkan kata-kata pemecatan kepada wasit bertubuh
beruang itu.
"Hah? Ke,
kenapa saya dikeluarkan!?"
"Beraninya
kamu, apa kamu bermaksud menyuruhku menjelaskan semuanya padamu?"
"..."
Darah di wajah
wasit bertubuh besar itu langsung surut, berubah pucat pasi dalam sekejap saat
dia menunduk gemetar. Tentu saja.
Fakta bahwa aku
tidak melakukan kecurangan sudah jelas terlihat di mata kakek ini.
"Entah
berapa banyak bayaran yang kau terima, tapi kamu sudah terlalu jauh menodai
seni bela diri. Kamu
bukan lagi seorang seniman bela diri! Cepat pergi dari sini!!"
Sambil
terhuyung-huyung, wasit bertubuh seperti beruang itu menuruni tangga batu
panggung pertarungan dan menghilang di balik lorong.
"Kai,
Zack, maafkan aku. Orang itu berasal dari aliranku."
"Tidak
apa-apa."
"Ya."
Saat aku
dan Zack mengangguk, Aaron menghela napas pendek. Ia kemudian mengarahkan
tatapan tajam bagaikan elang ke tenda panitia.
"Lagipula,
turnamen ini adalah acara yang diselenggarakan oleh aliranku. Hei, ketua panitia turnamen, nanti kamu
harus memberikan penjelasan yang bisa kuterima, kan?"
Dia
berseru dengan suara yang berat dan mengancam. Pembawa acara yang tadinya
bersikap sangat angkuh dan para panitia yang berjaga di tenda, semuanya
menunduk ketakutan.
Hmm,
tampaknya hanya kakek ini yang suasananya mirip dengan kakekku, sehingga
membuatku merasa canggung. Apa
mungkin ini juga karena memori masa lalu Kai Heineman?
"Kek, kau
mau jadi wasit, kan? Kalau begitu, ayo cepat mulai."
Aaron Kaien
dikenal sebagai salah satu pendekar pedang terkuat yang setara dengan kakekku. Di dunia ini, dia berada di puncak
seni bela diri.
Sungguh, orang
ini sama sekali tidak kenal takut, ya. Yah, bagiku, meskipun dia lemah, aku
tidak membenci orang bodoh yang tergila-gila pada seni bela diri seperti ini.
Sudah kuputuskan,
dialah yang akan jadi penerus Royal Guard Rose.
"Hm, benar
juga. Kita, para seniman bela diri, hanya berbicara lewat kemampuan kita. Tadi
itu memang tidak pantas."
Dia tertawa
terbahak-bahak, lalu mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius dan mengangkat
tangan kanannya.
"Bertarunglah
sesuka kalian!!"
Dan---mendengar
seruan Aaron sebagai aba-aba, kami pun memulai pertarungan.
◇◆◇
Dari tepi
panggung pertarungan, Aaron memandang kosong ke arah pertempuran yang sangat
tidak masuk akal ini.
Tendangan
dan pukulan Zack terus-menerus mengenai ruang hampa.
"Uwoh!?"
Mungkin
karena dia melangkah terlalu dalam. Kai Heineman menyapu kakinya, membuatnya
berputar beberapa kali di udara sebelum punggungnya menghantam tanah.
Saat Zack
segera bangkit dan menerjang dengan berani, Kai Heineman menghindar hanya
dengan menggeser sedikit titik berat tubuhnya.
Apakah itu sebuah
prediksi? Pasti begitu. Tak ada kemungkinan lain.
Mungkin dia
membaca ekspresi Zack, arah pandangannya, pergerakan otot di sekujur tubuhnya,
dan semua informasi lain untuk memprediksi gerakan selanjutnya. Prediksi itu
telah ditingkatkan hingga mencapai batas penglihatan masa depan.
"Ah...."
Suara kekaguman
yang serak lolos dari mulutnya. Benar.
Kemampuan
memprediksi adalah dasar yang paling penting bagi seorang seniman bela diri,
sekaligus rahasia tertinggi di seluruh seni bela diri. Dalam artian tertentu,
inilah ranah ideal yang dicita-citakan oleh para seniman bela diri seperti
Aaron.
Semua seniman
bela diri, termasuk Aaron, terus berlatih setiap hari demi mencapai titik ini
setidaknya sekali seumur hidup. Apa yang diperlihatkan oleh Kai Heineman saat
ini adalah ranah tertinggi yang hanya ada dalam dongeng bagi para seniman bela
diri.
"Itukah...."
Tanpa sadar, air
mata mengalir dari kedua matanya. Dia tak menyangka bisa melihat hal itu secara
langsung dengan mata kepalanya sendiri semasa hidup.
Zack melancarkan
tendangan memutar kaki kanan yang mengarah ke kepala Kai Heineman, tapi tentu
saja berhasil dihindari. Zack kemudian berputar di udara bagaikan gasing,
menempelkan telapak tangan kanannya ke tanah, lalu melepaskan tendangan kanan
dengan tenaga sentrifugal penuh.
Gelombang kejut
yang tercipta dari kaki kanan Zack mengoyak lantai batu panggung pertarungan
hingga hancur berantakan. Namun, Kai Heineman sudah berada di belakang Zack.
"Guaahh!!"
Dia menendang
tanah sambil mengaum bagaikan binatang buas untuk menjaga jarak, tapi Kai
Heineman menendangnya ke atas, membuatnya berputar-putar dan terlempar ke ujung
panggung pertarungan. Zack bangkit berdiri sambil terhuyung.
Tak ada rasa
sesal atau kebingungan di wajahnya, hanya luapan kegembiraan karena bisa
menantang sosok kuat yang mustahil dikalahkan.
"Apa aku iri
padanya...."
Ya. Aaron pasti
merasa iri pada Zack. Bisa
bertarung dengan sosok yang berada di ranah Dewa Bela Diri.
Itu
adalah kehormatan bagi seorang seniman bela diri, sekaligus impian terbesar
mereka. Dia hanya merasa frustrasi karena orang itu bukanlah dirinya saat ini.
"Sial."
Merekrut
Dewa Bela Diri, Kai Heineman, ke dalam aliran Kaien? Benar-benar konyol.
Itu sama
saja dengan seorang instruktur yang memohon jadi murid dari seseorang yang baru
pertama kali memegang pedang. Tak ada yang lebih menggelikan dari ini.
Sudah
setengah jam berlalu. Namun, melihat keadaannya, Zack tidak akan berhenti.
Dewa Bela
Diri itu juga tidak akan mengabaikan semangat Zack. Dia pasti akan terus meladeninya sampai Zack tidak
bisa menggerakkan satu ujung jari pun.
"Tak ada
yang bisa menghentikannya, ya."
Itu adalah hasrat
terbesar Zack saat ini. Aaron sama sekali tidak bisa mengakhiri pertarungan
itu. Dia akan menyaksikannya sampai akhir.
Tepat saat dia
duduk bersila di atas panggung pertarungan, sudut matanya menangkap dua pemuda
yang berlari dari arah lorong. Keduanya mendekati panggung pertarungan sambil diseret dan ditahan oleh
beberapa panitia turnamen.
Aaron
baru saja berdiri untuk menyingkirkan pengganggu tak tahu adat itu, namun
tiba-tiba kedua pemuda tersebut bersujud di tanah.
"Kai
Heineman! Kota Barse sedang dalam bahaya! Kumohon! Tolong kami!!"
Pria berambut
pirang itu menempelkan dahinya ke tanah sambil menjerit.
Untuk pertama
kalinya, Kai Heineman mengalihkan pandangannya dari Zack dan menatap dua orang
yang berada di dekat panggung pertarungan. Zack, yang tampaknya juga merasakan
aura mencekam, berhenti bergerak dan melipat tangannya, mengamati apa yang akan
terjadi selanjutnya.
"Apa yang
terjadi? Ceritakan padaku secara detail."
Kai Heineman pun
menanyakan hal itu dengan tenang.
◇◆◇
Saat kami beradu
tinju, aku menyadarinya. Sama seperti sang Kaisar Pedang baru, Zack juga
memiliki bakat seni bela diri sejak lahir.
Bagi diriku yang
tak memiliki bakat sama sekali, pertarungan dengan Zack yang penuh bakat,
benar-benar menyenangkan. Sudah lama hatiku tidak berdebar seperti ini.
Mungkin karena
terlalu fokus, aku tidak menyadari ada yang memanggil namaku. Saat aku menoleh
ke arah sumber suara itu, terlihat dua pria yang sedang menempelkan dahi mereka
ke tanah.
Aku ingat
orang-orang ini. Mereka adalah para Hunter yang pernah menggangguku.
Pria
tinggi berambut pirang dengan tatapan tajam itu, Raiga, jelas-jelas
merendahkanku. Jadi, apa situasi yang membuat Raiga bersikap begitu merendahkan
dirinya di hadapanku ini?
Sepertinya
ini akan menjadi masalah yang sangat merepotkan.
"Apa
yang terjadi? Ceritakan padaku secara detail."
"Ka, karena
diriku, teman-temanku...! Kota ini...!"
Raiga memaksakan
kata-katanya dengan suara serak, tak mampu menahan gejolak emosi dan
kepanikannya, air matanya berlinang. Menggantikan Raiga yang terlalu
bersemangat hingga tak bisa bicara dengan baik, pria berambut hitam pendek yang
mengenakan tudung di sebelahnya berkata,
"Tindakan
ceroboh kami telah membuat kota Barse dalam bahaya. Kumohon, pinjamkan kami
kekuatanmu!"
Dia memberiku
penjelasan tambahan yang singkat. Krisis kota Barse, ya. Ada Arnold dan gadis budak itu di sana.
Mengabaikannya
jelas bukan sebuah pilihan. Ya ampun, aku benar-benar selalu terjebak dalam
masalah pelik.
Tak lama
kemudian, resepsionis kota Barse, Mia, berlari mendekati panggung pertarungan
dengan napas tersengal-sengal.
"Tuan
Kai, Guild Master Hunter Barse---Ralph Excel, memohon bantuanmu untuk
membasmi monster kelas National Class! Kami memohon bantuanmu
segera!"
Mendengar
teriakan keras Mia, kehebohan seketika menyebar ke seluruh arena, seperti suara
gemuruh hutan yang tertiup angin.
"Aku
mundur dari pertandingan ini."
Aku
menyampaikan hal itu pada kakek tua Aaron, lalu menuruni panggung pertarungan
dan menghampiri ketiga orang itu.
"Ayo
berangkat. Aku ingin tahu detail situasinya."
Aku memberi
perintah dan mulai berjalan.
Di depan arena
bela diri, Rose dan yang lainnya yang dibawa oleh Asta sudah bersiap siaga,
ditemani oleh gadis Elf, Millefeuille. Kami pun berjalan bersama menuju
alun-alun terdekat.
Tuan Aaron dan
Zack juga ikut, tapi karena ini bukan hal yang perlu dirahasiakan, aku tidak
menolaknya.
Kami mendengar
situasinya dari mereka bertiga di alun-alun. Dan sekarang, aku baru saja
selesai membaca surat yang diserahkan oleh Mia.
"Maaf!
Maafkan aku!"
Aku berbalik
menghadap Raiga yang terus mengulangi kata-kata permintaan maaf berkali-kali
sambil meneteskan air mata.
"Setiap
tindakan pasti membawa konsekuensi yang harus dipertanggungjawabkan. Kematian
teman-teman kalian kali ini adalah tanggung jawab kalian berdua. Kalian
mengerti itu, kan?"
Aku membeberkan
kenyataan yang sangat kejam bagi mereka berdua.
"Ya! Kau
benar! Seandainya aku tidak termakan godaan mencurigakan itu demi mencari
ketenaran--tidak, bukan hanya itu! Akulah yang menghasut semuanya dan membawa
mereka ke tempat berbahaya seperti itu! Ini sama saja dengan aku yang membunuh
mereka!"
Raiga berteriak
histeris.
"Aku juga
sama! Pada akhirnya, aku tidak mempertaruhkan nyawaku untuk menghentikan Raiga
dan yang lainnya! Padahal
ada banyak cara lain, seperti melapor ke Guild... Mungkin, jauh di dalam lubuk
hatiku, aku berharap kalau itu kami, kami bisa mencapai kejayaan itu."
Sambil meneteskan
air mata penyesalan, Hook juga memaksa suaranya keluar.
"Benar.
Kalian berdua harus hidup dengan memikul dosa berat atas tanggung jawab
kematian teman kalian mulai sekarang. Tapi ingat satu hal! Bagi seorang Hunter,
ambisi adalah hal yang mutlak diperlukan! Kita mempertaruhkan nyawa demi ambisi
itu! Sekalipun pada akhirnya kita gagal, kehilangan segalanya, dan hancur
menyedihkan!"
Bagi kami, baik
prajurit maupun Hunter, keduanya memiliki sifat untuk memperoleh
kehormatan dan kekayaan dengan mempertaruhkan bahaya. Dilihat dari sudut
pandang itu, tindakan Raiga dan Hook yang mempertaruhkan nyawa untuk
berpetualang demi mencari ketenaran sama sekali tidak salah sebagai seorang Hunter.
Hanya saja,
mereka harus memikul tanggung jawab atas hasil dari tindakan mereka sendiri.
Tentu saja, ada
kesalahan fatal yang jelas dilakukan Raiga karena dengan mudahnya mempercayai
kata-kata orang tak dikenal. Meskipun begitu, mereka telah menantang
petualangan yang mempertaruhkan nyawa.
Jika fakta itu
saja disangkal sepenuhnya, dan petualangan yang tak sepadan dengan kemampuan
diri dianggap memalukan lalu ditolak, maka tidak akan ada lagi orang yang
mempertaruhkan nyawanya untuk berpetualang. Apalagi, bagi kami para prajurit
dan Hunter, menilai sejauh mana batas kemampuan diri adalah hal yang
paling sulit dilakukan.
"Tapi,
gara-gara aku, Barce sekarang dalam bahaya--"
"Kau
salah, Bocah! Bahaya yang menimpa Barce saat ini disebabkan karena Guild
merahasiakan fakta penting tentang 'Kuil Kuno'! Benar, kan?"
Saat aku
bertanya pada Mia, dia mengangguk pelan dengan wajah serius.
"Benar
sekali. Jika Guild mengumumkan kebenaran tentang kuil itu sejak awal kepada
publik, insiden ini tidak akan pernah terjadi dari awal!"
Pasti pemerintah
Kerajaan Amelia yang enggan mempublikasikannya. Jika seandainya ada serangan
teroris bunuh diri dari negara lain yang membuat monster terburuk terlepas, itu
akan menjadi bencana besar.
Mereka pasti akan
melawannya mati-matian. Namun, bagi Guild yang membawahi para Hunter di
Barce, ini adalah pilihan di mana mereka tidak boleh mengalah.
Karena mereka
menyetujuinya, kesalahan ada pada Guild.
"Tapi,
seandainya aku tidak ditipu oleh orang mencurigakan itu, hal ini tidak akan
terjadi!"
Intinya, pemuda
bernama Raiga ini hanya ingin dicela oleh orang lain agar merasa lebih baik.
Tapi, tidak ada satupun petinggi Hunter Guild Barce yang menyalahkan Raiga dan
Hook dengan keras.
Wajar saja.
Karena kali ini, Raiga dan timnya tidak melanggar kode etik sebagai Hunter.
Ini membuatku
sedikit kesal. Mungkin, karena aku melihat diriku di masa lalu, yang hanya bisa
meratapi ketidakberdayaan dalam menghadapi tragedi, di dalam diri mereka berdua
saat ini.
"Kau sangat
menyesalinya?"
"Tentu saja
aku menyesal!"
Kepada
Raiga yang menjawab tanpa ragu itu,
"Apa
yang kau sesali?"
Aku
bertanya dengan tenang.
"Aku
menyesal karena terjebak dalam perangkap menyedihkan hanya demi gengsi
konyolku! Dan meskipun aku melihat teman yang lebih berharga dari nyawaku
sendiri dimakan, aku sangat tidak bisa memaafkan diriku yang lemah ini, yang
hanya bisa ketakutan dan melarikan diri!"
Raiga
memaksakan suaranya keluar.
Benar-benar
mirip. Terutama pada bagian
di mana dia tidak bisa memaafkan kelemahannya sendiri.
Meskipun, tidak
seperti diriku di masa lalu, fakta bahwa dia belum menyerah pada kelemahannya
sendiri masih bisa diselamatkan. Benar juga, mungkin tidak ada salahnya
melakukan hal yang sedikit di luar kebiasaanku.
"Kalau
begitu, selesaikan urusanmu sendiri!"
"Urusan?"
Aku tidak
menjawabnya, lalu.
"Girimekhala!"
"Hamba
di sisi Anda!"
Monster
berhidung panjang tiba-tiba muncul. Zack melompat mundur dan bersiaga,
sementara Mille-feuille menjerit pelan dan jatuh terduduk.
Tuan Aaron juga
membelalakkan matanya dan mulutnya menganga lebar.
"Kau tahu
tentang masalah ini, kan?"
Untuk
berjaga-jaga, aku menugaskan Girimekhala untuk mengawasi insiden yang terjadi
di sekitar Barce, dan menginstruksikannya untuk melapor jika ada kejanggalan.
"Tentu saja,
persiapannya sudah matang."
Aku yakin setelah
mendengar perkataannya barusan. Mustahil Girimekhala tidak tahu tentang
keributan besar ini.
Orang ini punya
kecenderungan untuk salah menilai niatku. Pasti kebiasaan buruknya itu muncul
lagi.
Pokoknya, kalau
begitu cerita selanjutnya akan menjadi yang paling buruk dan mengerikan bagi
mereka dalam segala hal.
"Ada
beberapa hal yang ingin kutanyakan. Apa Rena aman?"
Ini adalah
kekhawatiran utamaku, tapi jika itu Girimekhala...
"Beliau
sedang beristirahat di tempat yang menurut hamba adalah tempat paling aman di
dunia ini."
Seperti dugaanku.
Girimekhala sangat setia pada keinginanku.
Rena aman
bukanlah sekadar kiasan, melainkan kenyataan. Jika begitu, aku sama sekali
tidak perlu lagi bertindak terburu-buru.
Dengan begini,
aku bisa merancang ulang cerita untuk menghancurkan sampah-sampah yang telah
membuatku kesal hingga ke jiwa mereka.
"Apa
kau punya petunjuk tentang orang-orang yang menculik Rena?"
"Organisasi
tempat sampah bernama Jirma itu bernaung."
"Jirma? Ah,
si pengecut sampah itu. Kalau cuma sekelompok sampah selevel dia, aku bisa
mengurusnya sesukaku..."
Ya, aku mendapat
ide yang bagus. Sampah bernama Jirma itu entah kenapa sangat sombong.
Aku akan
melakukan hal yang paling dibenci oleh orang-orang tipe seperti itu.
Sisanya
adalah sampah-sampah yang telah membunuh teman-teman Raiga.
"Entah
kenapa, firasatku sangat buruk."
Sambil
menatapku yang sedang berpikir keras, Asta menggumamkan itu dengan ekspresi
yang sangat muak.
"Ya, rasanya
kita akan menerjang jauh dari prediksi terburuk lagi."
Rose yang
memegangi kepalanya menyetujuinya dengan wajah penuh penderitaan, sambil
mengucapkan perumpamaan yang tidak masuk akal itu.
"Masih ada
sisa dua hari sebelum batas waktu Rena yang mereka tentukan. Sebelum waktu itu
tiba, bisakah kau melatih Raiga dan Hook sampai ke tingkat di mana mereka bisa
mengalahkan monster bernama Pazuzu itu?"
Girimekhala
membelalakkan matanya karena terkejut, lalu mematung seolah baru saja disambar
petir.
"Master,
itu adalah hal yang benar-benar mustahil bagi si monyet ini."
Sebagai
ganti Girimekhala yang masih mematung, Asta yang berwajah muak langsung
menjawabnya.
Begitu, ya. Kalau
begitu--.
"Girimekhala,
aku perintahkan sekali lagi. Buat Raiga dan Hook ini menjadi lebih kuat dari
sampah pengecut yang menjebak mereka! Dan juga, laporkan detail tentang
penculik Rena kepadaku!"
Aku memberi
perintah pada Girimekhala yang seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Lagipula,
lawannya hanyalah sampah setingkat Jirma yang super lemah itu.
Jika kau mengulur
waktu di dalam wilayah kekuasaan Norn, waktu dua hari sudah lebih dari cukup
untuk tingkat seperti itu.
"Sesuai
dugaan dari Tuan kami yang agung dan Tuan Kepercayaan dan Harapan! Kami yang
hanya sekadar serangga kerdil ini tidak akan pernah terpikirkan skenario
semacam itu! Perintah Anda akan hamba laksanakan dengan penuh hormat! Mulai
sekarang selama dua hari penuh, hamba akan melatih mereka dengan segenap jiwa
dan raga!"
Melihat
Girimekhala yang berseru sambil menyilangkan tangan dan meneteskan air mata,
semua orang semakin menatapnya dengan aneh.
"Ini
yang terburuk... Apa jadinya jika kau memberikan perintah bagai memberikan ikan
pada kucing kepada para orang aneh yang sama sekali tidak tahu diri ini... Aku
bahkan tidak bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya."
Asta
menggumamkan hal yang tidak masuk akal sambil bercucuran keringat seperti air
terjun dan kedua tangannya gemetar. Seperti biasa, dia selalu bertingkah aneh,
tapi sekarang aku benar-benar tidak peduli dengan tingkah laku pengecutnya.
Aku harus
memikirkan ceritanya. Mereka menculik Rena dan melukai Keith.
Bagi
diriku yang sekarang, itu adalah tindakan yang paling tidak menyenangkan dan
tidak bisa dimaafkan. Hatiku tidak seluas itu untuk bisa menertawakannya dan
menganggapnya lalu.
Aku takkan puas
kalau bukan cerita yang sarat akan kehancuran pekat dan ketakutan sebagai
balasan atas perbuatan mereka.
"Ini
adalah informasi tentang mereka."
Saat
Girimekhala mengatakannya, aku berbalik melihat Shirayuki yang muncul di
belakang. Shirayuki mengangguk pelan dan menyerahkan beberapa gulungan
kepadaku.
Aku
membuka gulungan-gulungan itu dan memeriksa isinya dengan teliti.
"Kemampuan
menyerap lawan dan merebut kemampuannya yang dimiliki ketua mereka, ya. Ini
mungkin bisa dimanfaatkan."
Aku sangat paham
hal yang paling dibenci oleh orang-orang yang memiliki keyakinan mutlak pada
kemampuan mereka sendiri. Lagipula, entah kenapa, easy dungeon itu
dipenuhi monster-monster yang terlalu percaya diri seperti itu.
Bersiaplah!
Sifatku ini memang luar biasa buruk! Aku akan melakukannya secara menyeluruh.
Dan, jika dalam
ceritaku kali ini mereka bisa memenuhi semua syarat yang kutetapkan, aku akan
memberikan mereka pengampunan.
Sekarang, ada
Keith dan Arnold di Barce. Sebaiknya aku segera menyelesaikan salah satu
masalah.
"Asta, apa
kau tahu sesuatu tentang monster bernama Pazuzu yang dipanggil dari 'Kuil
Kuno'?"
"Aku memang
tahu."
Sudah kuduga.
Dari sikap Asta, aku merasa dia punya semacam ikatan nasib dengan monster
bernama Pazuzu itu.
"Seberapa
kuat dia? Tidak, aku tidak akan bertanya."
Lagipula, sejak
mereka menyerang teman masa kecilku, takdir mereka hanya ada satu. Memikirkan
seberapa kuat mereka sekarang hanyalah buang-buang waktu.
Lagipula--itu
jauh lebih mendebarkan. Tak kusangka aku masih memiliki emosi yang sama sekali
tidak produktif seperti ini.
Apapun itu,
karena keamanan Rena sudah terjamin, prioritas saat ini adalah melindungi
Keith. Tentu saja, Girimekhala pasti sudah menyiapkan tindakan pencegahan, tapi
selama kita belum tahu kekuatan asli lawan, ada bahaya bahwa Girimekhala dan
yang lainnya tidak akan mampu menanganinya.
Mari kita mulai
secepatnya.
"Kalau
begitu, mari kita mulai serangan balik kita!"
Aku merentangkan
kedua tanganku dan mendeklarasikannya. Shirayuki berlutut dengan satu kaki,
menundukkan kepalanya dalam-dalam, lalu sosoknya menghilang.
"Meskipun
kau bilang akan menyerang balik, dari sini ke Barce membutuhkan waktu
setidaknya dua hari perjalanan kereta kuda siang dan malam. Apa
rencanamu?"
Mendengar
pertanyaan Rose, sudut bibirku otomatis terangkat.
"Tentu saja
aku punya cara."
Aku mengeluarkan
'Buku Penaklukan' dari Item Box, membuka halaman yang sesuai, dan meng-Release-nya.
Burung raksasa
misterius muncul di depan mata. Bos lantai 700--Phoenix.
Burung hantu
abadi yang memalsukan nama burung suci.
Burung aneh yang
terus berceloteh "Abadi, abadi" seperti anak burung yang meminta
makan, tetapi setelah benar-benar kucincang sampai mati, dia langsung ke alam
baka dengan mudah. Benar-benar
burung monster pengecut.
"Oh
Tuan yang agung nan menakutkan. Mohon berikan perintah Anda."
Phoenix,
yang menyebut dirinya burung suci, menundukkan kepalanya hingga hampir
menyentuh tanah.
Mille-feuille
terus berlutut dengan satu kaki dan menundukkan kepalanya dalam-dalam sejak
Girimekhala dan yang lainnya muncul. Sambil gemetar di seluruh tubuh,
(A-apakah
ada Transcender sehebat ini yang melayaninya!? Pemahamanku benar-benar terlalu naif! Tuan Kai
adalah--)
Dia menggumamkan
sesuatu. Dia juga lebih menjijikkan dari Asta, ya.
Abaikan saja. Ya.
Itu yang terbaik.
"Bawa
aku ke tempat yang kuperintahkan. Yang akan ikut denganku--"
"Tentu saja
aku juga ikut."
Rose mengajukan
diri sebelum kata-kataku selesai. Zack, Tuan Aaron, dan Mia juga menyetujuinya
tanpa kata, dan Mille-feuille pun menunjukkan persetujuannya.
Jika keadaannya
seperti ini, menyuruh mereka untuk tidak ikut juga akan percuma. Sekarang waktu
sangat berharga.
"A-kami--"
Aku menghentikan
Raiga yang baru saja membuka mulutnya dengan tangan kananku, lalu,
"Kalian
akan bertindak terpisah. Girimekhala, aku mengandalkanmu, ya?"
"Dimengerti!
Sesuai kehendak Anda!"
Begitu
Girimekhala menundukkan kepalanya, sosok Raiga dan Hook menghilang bersamanya.
"Kai-san,
bagaimana dengan Raiga dan Hook?"
Mia
mencengkeram jas luarku dan menatapku dengan sedikit kecemasan.
"Jangan
khawatir. Aku hanya memberi mereka sarana untuk bangkit kembali."
Aku meletakkan
telapak tangan kananku di kepalanya dan memberitahunya,
"Kau
sangat baik hati, ya."
Entah
kenapa Rose menanyakan hal sepele itu dengan ekspresi yang sekilas terlihat
seperti senyuman palsu. Sepertinya dia sedang bad mood sekarang.
Baru-baru
ini aku menyadari, dia selalu membuat senyum palsu saat dia sangat tidak puas
dengan situasi saat ini. Yah, ini bukan waktunya untuk memikirkan hal itu.
"Tuan,
Faf mengantuk."
Faf
menggosok-gosokkan matanya sambil menempel padaku. Kalau dipikir-pikir, ini
sudah hampir waktunya tidur siang.
"Anna, kalau
kita sudah sampai, tolong tidurkan Faf, ya. Aku harus menyelesaikan
urusanku."
"Serahkan
padaku!"
Mungkin
karena senang diandalkan, Anna mengacungkan jempolnya dengan wajah
berseri-seri.
"Kalau
begitu, Phoenix, berangkat."
"Sesuai
perintah Tuan kami."
Seluruh tubuh
kami melayang, lalu kami berpindah dan mendarat di punggung Phoenix. Phoenix
menguasai elemen angin, api, dan regenerasi.
Mungkin ini
adalah kekuatan anginnya.
"Dari sini,
pergilah ke kota di utara, Barce."
"Dimengerti!"
Phoenix--burung
monster yang menyebut dirinya abadi--mengepakkan sayapnya, melayang di udara,
dan mulai terbang dengan kecepatan tinggi.
◇◆◇
Saat Raiga dan
Hook tersadar, mereka sudah berada di tanah tandus tanpa sebatang pohon pun.
"Tempat
apa ini... Hii!?"
Saat
mereka melihat ke sekeliling, tiba-tiba muncul monster-monster yang
mengelilingi mereka.
Dan di
tengahnya, berdiri monster berhidung panjang yang disebut Girimekhala yang
sebelumnya berlutut di hadapan Kai Heineman.
"Ini adalah
perintah langsung dari Tuan kita yang agung kepada fraksi kita. Latih dua ekor
ini sampai ke batas maksimal mereka dalam waktu dua hari di dunia nyata!"
Girimekhala
menengadah ke langit dan meninggikan suaranya hingga menggetarkan udara.
Setelah hening sesaat, sorak-sorai pun meledak.
"Oh,
syukur, puji syukur."
Dari yang
menangis sambil berdoa,
"Aku
merasa sangat frustrasi sampai hampir gila karena 'Semangat Bela Diri' Nemea
lebih dulu melangkah maju!"
"Dengan ini,
kita juga bisa memenuhi harapan Tuan!"
Ada yang melolong
dengan napas terengah-engah karena kegirangan. Dan--.
"Bahkan
untuk kelas kita, Tuan tidak pernah memberikan perintah latihan sampai batas
maksimal! Ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya! Ini juga merupakan
bukti bahwa Beliau sangat mempercayai kita!"
Ada yang
berceloteh cepat sambil menyemburkan air liur dengan mata yang tidak lagi
fokus.
"Norn,
perlambat aliran waktu hingga sepersepuluh ribu dari waktu normal!"
Saat Girimekhala
memberi perintah kepada Norn, seorang gadis yang sebagian besar wajahnya
tertutup rambut putih bersih,
"Hamba bisha
melakukannya, tapi mental manushia tidak akan bertashan untuk hiduph shelama
sheribu tahun. Apa tidak mashalah?"
Dia mengingatkan
Girimekhala dengan sedikit kebingungan.
"Benar juga,
Girimekhala? Kudengar Nemea juga pada akhirnya hanya melatihnya selama beberapa
dekade akibat kelelahan mental, kan?"
Menanggapi
keraguan monster bermata delapan itu,
"Kalau soal
itu, kita hanya perlu memperbaiki mentalnya. Satori, yang merupakan ahli
pengendalian pikiran, pasti bisa menyelesaikan misi itu dengan baik."
Untuk
sesaat, para monster itu mematung dengan ekspresi tercengang, lalu,
"Begitu
rupanya! Kalau kita memulihkan kelelahan mentalnya menggunakan Satori, kita
memang bisa mengatasi masalah waktu!"
Sosok tanpa wajah
yang mulus berseru kegirangan.
"Meskipun
begitu, mereka hanyalah ras manusia. Sama seperti kerabat terdekat mereka, ras
Elf, batas maksimalnya adalah seribu dua ratus atau seribu tiga ratus tahun.
Ya, meskipun ada sedikit perbedaan pada setiap individu."
"Kurasa kau
benar. Untuk berjaga-jaga, mari kita jadikan seribu tahun sebagai batas
maksimalnya."
"Hamba
rasa itu yang terbaik. Lalu,
bagaimana cara kita melatihnya? Memperoleh tingkat dewa sudah pasti, tapi
mungkinkah berkah dewa juga perlu?"
Sosok
manusia putih bersih itu bergumam sendiri sambil meletakkan tangan di dagu.
"Umu. Tapi
berkah yang bisa dimiliki manusia sangat terbatas. Kita perlu memilihnya dengan cermat."
"Girimekhala,
aku tidak akan memaafkanmu kalau kau mencuri start!"
Mendengar
kata-kata monster bermata satu yang terlihat sangat jahat yang menguping dari
belakang,
"Benar! Ini
adalah perintah dari Tuan yang agung. Aku juga sama sekali takkan mundur!"
Monster-monster
lain juga berseru setuju.
"Aku
mengerti. Karena itulah kita
akan memilih dengan cermat. Berkah apa yang paling pantas untuk mereka
ini."
Sekali lagi,
sorakan bergemuruh seperti badai.
"Yang
pasti, sekarang bukanlah waktunya untuk berlatih. Kita perlu mengubah total
sifat pengecut mereka. Bolehkah aku yang melakukannya?"
"Tidak
masalah. Kalau hanya beberapa dekade, aku akan menunggumu."
Mendengar
kata-kata dari sosok manusia putih yang melayang itu, monster-monster lain pun
menunjukkan persetujuannya tanpa kata.
"Mari kita
mulai! Keinginan Tuan yang kita percayai! Tak peduli cara apa pun! Tak perlu
menoleh ke belakang! Mari kita ciptakan! Monster terhebat kita!"
Girimekhala
kembali menengadah ke langit dan meninggikan suaranya yang memekakkan telinga.
"Aku
tidak mengerti, tolong jelaskan..."
Permohonan putus
asa Raiga itu seketika meredup saat ditatap tajam oleh Girimekhala dari depan.
Mata ketiga
Girimekhala berubah menjadi merah, ia meletakkan kedua tangannya di pinggang,
lalu.
"Aku adalah
Girimekhala! Mulai sekarang, aku akan menyiksa kalian tanpa ampun sampai napas
kalian habis! Persiapan mental? Tidak perlu! Bagaimanapun juga, bagi kalian
yang lemah dan cacat, hal semacam itu sama sekali tidak berguna! Tentu saja,
aku tidak akan pernah memberi kalian hak untuk melarikan diri! Tahan saja, dan
bencilah aku! Bencilah aku! Itulah kebahagiaan tertinggiku dalam sejarah!"
Dia melontarkan
dialog yang tiada lain hanyalah mimpi buruk semata.
Itu adalah awal dari perjalanan neraka Raiga dan Hook yang sangat panjang, yang akan berlangsung selama lebih dari seribu tahun.



Post a Comment