NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V17 Epilogue & SS

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Epilogue

Kedua pasukan berangkat ke medan perang. 

Saat kabar tersebut sampai kepada kami yang berada di pelabuhan, Menteri Urusan Kelautan Gillesberger tampak panik. 

“G-Gawat! Kita masih belum memiliki tingkat pelatihan yang cukup untuk menghadapi Angkatan Laut Kerajaan...!” 

“Jangan panik. Giliran kita masih agak lama.” 

Strategi dasar Kekaisaran adalah mendesak musuh hingga mengurung diri di Benteng Louisville yang sangat sulit dijatuhkan. 

Dari sanalah barulah armada kapal mendapat giliran, dan sebelum saat itu tiba giliran kita belum ada. 

Bahkan jika kita tiba lebih awal, armada kapal saja tidak akan sanggup menaklukkan benteng, dan karena berada di wilayah musuh pasokan logistik pun akan terbatas. 

Jika tidak ada kepastian bahwa kita sanggup mendesak mereka, pihak kita tidak akan bisa berangkat ke medan perang, begitulah kondisi saat ini. 

“T-Tapi, pasukan utama Pangeran Leonard berjumlah 150.000 prajurit, sedangkan pasukan Kerajaan yang menghadapi berjumlah 100.000 prajurit. Jika ada selisih 50.000 prajurit, ada kemungkinan mereka akan menumbangkannya dengan cepat!” 

“Itu jika pasukan Kerajaan bertindak polos dan keluar bertempur secara terbuka. Pihak lawan tentu sangat sadar adanya selisih kekuatan tempur. Kerajaan tidak sebodoh itu sampai mau menantang pertempuran terbuka dalam kondisi yang setara.” 

“Kalau begitu... menurut Yang Mulia apa yang akan terjadi?”


Menanggapi pertanyaan Gillesberger, aku membentangkan peta Kerajaan yang dikirimkan bersamaan dengan laporan. 

Tujuan Kekaisaran adalah menaklukkan Kerajaan. Sang Putra Mahkota membuang jabatannya saat ini adalah syarat mutlak. Demi itu terjadi, kita perlu mendesak Kerajaan. 

Di sisi lain, Kerajaan selaku pihak bertahan hanya perlu membuat Kekaisaran menyerah untuk melakukan invasi. 

Pada sebagian besar kasus, pihak bertahan jauh lebih menguntungkan ketimbang pihak menyerang. Invasi kali ini pun pasukan Kerajaan berada di posisi yang menguntungkan. 

Mereka memiliki keunggulan medan, dan ada pula benteng-benteng yang bisa digunakan. Terlebih lagi dalam hal pasokan logistik mereka sangat diuntungkan. 

Mana mungkin Anthem tidak menggunakan keunggulan ini. 

Di rute invasi milik pasukan Kekaisaran terdapat banyak kota dan benteng pertahanan. 

Sekilas mungkin sulit untuk dipahami, tetapi tempat-tempat itu saling terhubung satu sama lain. 

“Karena mereka tidak mau keluar bertempur dengan terbuka, pasukan Kekaisaran tentu ingin menyeret keluar pasukan utama Kerajaan. Maka dari itu mereka pasti akan mulai menaklukkan setiap kota. Namun, di antara kota-kota tersebut terhubung oleh benteng pertahanan, sehingga koordinasi yang sangat ketat sangat memungkinkan untuk dilakukan. Kekaisaran tidak punya kelonggaran untuk menaklukkan benteng pertahanan satu per satu dengan pasukan besar berjumlah 150.000 prajurit. Itu akan memakan waktu terlalu lama. Sebab itulah pasukan pasti akan dipecah, tetapi menaklukkan kota yang terus-menerus menerima pasukan bantuan dari sana-sini bukanlah hal yang mudah. Pihak kita pasti akan dipaksa mengalami kerugian yang cukup lumayan.”

“Meskipun dipecah, jumlahnya tetap puluhan ribu prajurit. Apakah kota berskala kecil sanggup bertahan menghadapinya?” 

“Mereka pasti tidak berniat untuk bertahan selamanya. Menahan serangan seadanya, lalu mundur ditarik kembali atau menyerahkan diri pun tidak masalah. Instruksi semacam itu pasti sudah dikeluarkan. Peran dari jaringan pertahanan ini bukanlah sebagai dinding. Bukannya menghalangi penyusupan, melainkan merenggut pergerakan dari mereka yang telah masuk menyusup, bisa dibilang ini adalah sarang laba-laba. Makin maju ke depan, pasukan Kekaisaran pasti akan makin tidak sanggup berkutik.” 

“K-Kalau begitu, kita harus segera memberi tahu mereka!” 

“Sudah terlambat. Lagipula Leo bukannya tidak menyadari hal itu. Meskipun menyadarinya, mereka tetap tidak punya pilihan selain terus maju, itulah kekurangan dari membawa pasukan besar berjumlah 150.000 prajurit. Mereka selalu menanggung masalah bahan pangan, dan padahal sudah mengumpulkan 150.000 prajurit, alasan ‘ternyata kami tidak jadi’ tentu tidak akan berlaku. Meskipun tidak menguntungkan, mereka hanya punya pilihan untuk tetap menyerang.” 

Meski begitu, aku tidak berpikir Leo akan hanyut oleh situasi lalu bergerak maju tanpa punya peluang menang, jadi dari pihak Leo sendiri pasti ada suatu siasat. 

Beberapa cara sempat terlintas di benakku, tetapi... mengingat lawannya adalah Anthem, siasat yang biasa-biasa saja justru hanya akan memberikan celah untuk dimanfaatkan olehnya. 

“Artinya, ada kemungkinan giliran kita tidak akan pernah ada, begitu...?” 

“Kemungkinan itu sangat besar. Strategi dasar Kekaisaran berdiri di atas premis bahwa musuh bisa didesak mengurung diri. Jika hal itu hancur, hal yang sanggup dilakukan oleh armada gabungan hampir tidak ada.” 

“B-Bagaimana bisa...” 

“Menteri Urusan Kelautan jangan mengeluarkan suara yang menyedihkan begitu, ah.” 

“M-Mohon maaf sebesar-besarnya... Namun, jika peluang menangnya tipis, apa yang akan Yang Mulia lakukan? Apakah Yang Mulia akan memimpin pasukan bantuan lalu pergi memberikan pertolongan?” 

“Padahal 150.000 prajurit saja gagal, mana mungkin pasukan bantuan berjumlah puluhan ribu prajurit bisa mengubah keadaan. Lagipula tidak mungkin Ayahanda dan Kanselir di ibu kota tidak memperkirakan situasi ini. Karena menilai bahwa meskipun bertempur dengan sengit pasukan pasti sanggup mendesak musuh, makanya mereka bergerak dengan strategi ini. Pasukan bantuan pasti sudah disiapkan.” 

“P-Pasukan bantuan...? Apakah Yang Mulia Lizelotte?” 

“Kak Lize tidak akan bergerak, dan tidak bisa bergerak. Karena dia tidak boleh mengabaikan pertahanan di sebelah timur.” 

“Lantas, siapa yang akan menjadi pasukan bantuan? Apakah mengumpulkan pasukan bangsawan?” 

“Entahlah. Kita hanya perlu melakukan hal yang sanggup kita lakukan. Utusan yang dikirim ke kedua Kadipaten, Albatro dan Rondine, sebentar lagi akan tiba. Kumpulkan armada kapal, lalu siapkan agar bisa berangkat ke medan perang kapan saja. Berfokuslah hanya pada itu saja.” 

“Sungguh tidak masuk akal...” 

Bagi Kekaisaran ini adalah perang yang penting, tetapi bagi Angkatan Laut Kekaisaran ini adalah perang yang jauh lebih penting lagi. 

Panggung untuk beraksi akhirnya telah terpampang di depan mata. 

Jika diberitahu bahwa kesempatan untuk berangkat ke medan perang mungkin akan hilang, mereka tentu akan sangat kepikiran. 

Akan tetapi, dari tempat ini hal yang sanggup dilakukan sangatlah terbatas. 

Saat ini, merangkai armada kapal adalah tugas yang sangat mendesak. 

Pada mulanya, ada rencana bagiku untuk pergi sendiri ke kedua Kadipaten dan mengambil alih armada dari masing-masing negara, tetapi karena ada masalah kapal pendamping aku tidak bisa bergerak dari sini. 

Aku tidak bisa pergi untuk menolong Leo. 

Hanya saja, pasukan bantuan itu benar-benar ada. Hal-hal yang sekiranya akan dilakukan oleh Ayahanda maupun Kanselir sudah bisa kubayangkan secara garis besar. 

“Gila-gilanya Anthem sekalipun, dia pasti akan kesulitan jika harus menghadapi Leo dan orang itu berdua sekaligus.” 

Sambil bergumam pelan seperti itu, aku menatap ke langit utara.


Bonus E-Book Cerita Pendek: Kata-Kata Sihir

“Pinggangmu terlalu tinggi! Turunkan lagi!” 

Latihan Pasukan Kesatria Pengawal Ketiga. 

Elna membimbing para bawahannya dengan jauh lebih keras ketimbang biasanya. 

Tidak hanya latihan dasar, dia bahkan melakukan duel simulasi sendiri melawan mereka, lalu menusuk titik lemah para prajurit untuk menanamkan pelajaran secara mendalam. 

Melihatnya, seorang kesatria muda bergumam. 

“A-Ada apa dengan Kapten...?” 

Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang ditujukan pada siapa pun, melainkan murni gumaman kebingungan. 

Kendati demikian, yang menjawab pertanyaan tersebut adalah sang Wakil Kapten Mark. 

“Kalau terus mengobrol nanti dimarahi, lho~?”

“S-Siap! Mohon maaf!” 

“Tidak, tidak apa-apa. Dengarkan sambil terus mengayunkan pedangmu. Seperti yang kamu lihat, suasana hati Kapten sedang sangat buruk. Kamu tahu kenapa?” 

“Apa karena kami tidak berguna...? Padahal sebentar lagi kita akan menginvasi Kerajaan bersama Pangeran Leonard, tetapi kami tidak bisa diandalkan...” 

“Yah, alasan itu ada juga. Justru karena sangat menyayangi teman masa kecilnya, beliau tentu ingin melakukan persiapan sebaik mungkin. Lagipula kalaupun bukan karena itu, Pangeran Leonard adalah kandidat kuat Kaisar berikutnya. Kejadian seperti yang menimpa mendiang Putra Mahkota dahulu tidak boleh terulang lagi. Kita ditempatkan di sisi beliau pun murni demi hal tersebut. Akan tetapi, alasannya tidak hanya sebatas itu saja.” 

Mark melanjutkan obrolannya sambil berpura-pura memberi bimbingan kepada sang kesatria muda. 

Sebab selagi mengajari seperti ini, dia bisa terhindar dari siksaan bimbingan Elna. 

“Apakah ini bukan cuma masalah kita saja...?” 

“Menurutmu siapa sosok yang paling sanggup memengaruhi suasana hati Kapten?” 

“...Pangeran Arnold?” 

“Tepat sekali. Apa kamu ingat kalau beberapa hari lalu Pangeran Arnold pulang darurat?” 

“Tentu saja ingat. Soalnya hal itu menjadi bahan pembicaraan...” 

Jika hanya pulang dari Kadipaten Albatro, hal itu tidak akan menjadi bahan pembicaraan. 

Yang menjadi bahan pembicaraan adalah kejadian setelahnya. Baru saja dikira pulang, dia mendadak diangkat menjadi Marsekal dan menempatkan Angkatan Laut Kekaisaran di bawah komandonya. 

Pencapaiannya memang benar-benar ada. 

Hal itu pasti diakui oleh siapa pun. Bahkan orang-orang yang dulunya memandang rendah dirinya sebagai Pangeran Sisa pun tidak sanggup berpura-pura tidak tahu saat melihat pencapaian yang ditorehkannya. 

Akan tetapi, melampaui Leonard lalu menjadi Marsekal adalah hal yang sangat tidak masuk akal. 

Bukan cuma orang-orang militer, bahkan rakyat di ibu kota kekaisaran pun dibuat gempar oleh pengumuman yang mengejutkan tersebut. 

“Lantas, apa hubungannya itu dengan buruknya suasana hati Kapten...?” 

“Kapten menilai Pangeran Arnold sangat tinggi. Beliau mendukungnya melebihi siapa pun, dan memercayainya melebihi siapa pun. Karena itulah saat mendengar pelantikan menjadi Marsekal, beliau berpikir ‘akhirnya momen ini tiba!’” 

Dia hanya sedang tidak bersungguh-sungguh. Dia punya kemampuan. Teman masa kecil yang dipercayainya dengan tekun itu akhirnya membuat orang-orang di sekitarnya bungkam, lalu menduduki posisi yang pantas untuk kemampuannya. 

Rasa bangga, dan juga rasa bahagia merayap di dadanya. 

Hal itu pun sanggup dibayangkan oleh sang kesatria muda. 

Justru karena itulah sebuah keraguan muncul di benaknya. 

“Lalu kenapa suasana hatinya bisa buruk...?” 

“Benar juga. Sukses besarnya teman masa kecil adalah hal yang harusnya disyukuri. Tapi, di situlah rumitnya perasaan seorang gadis... Sang Pangeran justru berangkat tanpa memperlihatkan wujud gagahnya itu kepada Kapten.” 

“Ah...” 

Seakan telah mengerti seluruh kebenarannya, sang kesatria muda menundukkan bahunya. 

Padahal yang paling menanti-nantikannya adalah dirinya sendiri, tetapi dirinya tidak sanggup melihat wujud tersebut. Sang Pangeran bahkan tidak menyisihkan waktu untuk itu. 

Hal itulah yang membuat Elna merasa tidak senang. 

“Sang Pangeran pun memang kurang peka kalau soal hal-hal seperti itu. Yah, anak muda memang biasanya seperti itu, sih.” 

Sambil terkekeh pelan, Mark menghentikan bimbingannya kepada sang kesatria muda. 

Sebab mengulur waktu sudah tidak diperlukan lagi. 

“Kapten, bagaimana kalau kita sudahi saja untuk hari ini?” 

“Apa yang kamu katakan? Ini baru saja mau dimulai!” 

“Sebenarnya foto sihir Yang Mulia Arnold sebentar lagi akan tiba di kediaman. Tentu saja foto saat beliau mengenakan jubah biru.” 

“Eh!? Apa maksudmu!?” 

“Karena saya sendiri ingin melihat wujud gagah beliau, saya meminta beliau untuk mengirimkan foto sihir. Hanya saja, beliau tidak kunjung memberikan izin, hingga akhirnya beliau menyetujuinya dengan syarat ‘jika itu untuk diperlihatkan kepada Elna’. Yang Mulia yang itu bertindak demi Kapten, lho.” 

“Al bertindak demi aku... Mampus kamu, Al... mau bagaimana lagi!” 

Itu adalah kata-kata sihir. 

Hanya dengan kata-kata sekelas itu saja, suasana hati Elna membaik secara drastis dalam seketika. 

Latihan pun langsung dinyatakan berakhir saat itu juga, lalu Elna bergegas pulang menuju ke kediamannya. 

Melihat punggungnya yang menjauh dari belakang, Mark bergumam. 

“Nah, sepertinya aku harus menulis surat untuk Yang Mulia.” 

Kenyataan sebenarnya agak sedikit berbeda. 

Demi membujuk suasana hati Elna, Mark-lah yang memohon-mohon kepada Arnold. 

Jika sampai ketahuan, masalahnya tidak akan selesai hanya dengan dimarahi. 

Dia harus membuat Arnold bersekongkol dengannya dengan rapi. 

Lagipula pangeran yang satu itu memang sudah jago mengelak sejak dulu.


Previous Chapter | ToC | 

1

1 comment

  • Proxy
    Proxy
    19/8/26 11:13
    Aduh tanggung banget kirain udah mulai perangnya
    Reply
close