NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V17 Chapter 2

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 2

Klan Manusia Naga

Bagian 1

Bagian selatan Negara Pertapa Mizuho. 

Di situlah Hutan Senja berada. 

Terbilang cukup luas untuk ukuran sebuah hutan. 

Namun, yang istimewa dari tempat itu hanyalah sebatas itu saja. 

Dilihat dari sudut mana pun, tempat ini tampak seperti hutan biasa pada umumnya. 

“Di sini, tempatnya di sini. Aku masuk ke dalam lewat sini. Lebih tepatnya, aku ditarik masuk, sih.” 

Sieg menunjuk ke arah sebatang pohon yang terbilang tebal. 

Namun, ketika mendekati dan menyentuh pohon tebal itu, tidak terjadi hal apa pun. 

“Aneh ya...” 

Sieg melangkahkan kakinya ke dalam hutan dengan ragu-ragu, tetapi tetap tidak terjadi apa-apa. 

Suasananya tidak ada bedanya dengan hutan biasa. 

“Jangan-jangan ingatanku yang salah?” 

“Tidak, ingatanmu benar. Alasan tidak terjadi apa-apa adalah karena kekuatan yang melindungi hutan ini sedang tidak melemah.” 

Hal ini mungkin hanya bisa dilihat oleh orang yang sangat mahir dalam sihir, tetapi di sekeliling hutan ini terbentang sebuah lapisan tipis yang bersinar. 

Tampaknya lapisan itulah yang menolak masuk. 

Namun jika demikian, bagaimana bisa anak-anak itu masuk? 

“Artinya kalau kekuatannya tidak melemah, kita tidak bisa masuk?” 

“Sejauh yang kulihat, begitu. Mendasarkan fakta bahwa ada anak-anak yang telanjur masuk, harusnya diperhitungkan kalau mereka telah memperkuat lapisan ini.” 

“Kalau begitu, artinya kita tidak bisa melakukan apa-apa?” 

“Tidak juga.” 

Aku menembakkan beberapa peluru sihir ke arah hutan. 

Menjatuhkannya dari langit, serta menembakkannya secara lurus menghantam hutan. 

Namun, semuanya menembus hutan begitu saja. 

Menarik. 

Secara sifat, ini sangat mirip dengan benteng penghalang. 

Namun, berbeda dari penghalang mana pun. 

“Hutan ini seolah ada di sini, tapi di saat yang sama tidak ada di sini.” 

“...Bicara apa sih kamu?” 

“Ini baru hipotesis, tapi hutan ini sepertinya memiliki sisi luar dan sisi dalam. Yang terlihat dan bisa disentuh sekarang adalah sisi luar. Sedangkan tempat tinggal klan Manusia Naga adalah sisi dalam. Untuk masuk ke sisi dalam, tampaknya dibutuhkan sarana yang resmi.” 

“Heh, cuma dari begini saja kamu bisa paham sejauh itu?” 

“Sihir adalah keahlianku. Hanya saja, ini bukanlah sihir. Cuma benda berbeda yang memiliki kemiripan saja.” 

Bukannya mereka memperlihatkan hutan sisi luar menggunakan sihir ilusi. 

Sisi luar itu memang benar-benar ada. 

Hanya saja, sisi dalam berada di tempat yang sedikit bergeser. Lapisan tipis itulah yang menciptakan sisi dalam, tapi entah bagaimana prinsip kerjanya. 

Apakah mereka menggeser dimensi, ataukah menggunakan metode lain yang tidak terbayangkan. 

Rasa ingin tahuku tidak ada habisnya. 

Akan tetapi. 

“Klan Manusia Naga tidak membiarkan orang yang sudah masuk untuk keluar kembali, ‘kan?” 

“Tetua memang berkata begitu. Katanya manusia yang telanjur masuk tidak akan dibiarkan keluar.” 

“Lalu dengan memanfaatkan celah dari kata-kata itu, mereka mengubahmu menjadi beruang. Tampaknya ada orang yang cukup jenaka di sana.” 

“Yah, kalau cuma melihat dari luar sih mungkin kelihatan jenaka. Tapi kalau kamu sendiri yang minum obat, lalu berubah jadi wujud begini setelah mantra mencurigakan dibacakan, kata jenaka saja tidak akan cukup untuk membereskannya.” 

“Mantra itu juga cukup menarik. Begitu kita masuk ke dalam, mari minta mereka mengajariku.” 

“Guaak... Buat apa kamu mempelajari mantra seperti itu?” 

“Bisa digunakan untuk ditembakkan pada orang yang aku benci.” 

“Selera yang buruk sekali. Ini nasihat baik dariku ya, tapi topengmu itu sama sekali tidak punya estetika, tahu?” 

“Tidak masalah. Aku sendiri merasa topeng ini sangat cocok denganku.” 

Melihat diriku yang tidak tergoyahkan, Sieg menghela napas. 

Lalu dia bergumam pelan, oh begitu ya. 

Pembicaraan sempat melenceng, tetapi klan Manusia Naga tidak akan membiarkan orang yang sudah masuk untuk keluar. 

Artinya, orang-orang yang tidak sengaja masuk seperti anak-anak kali ini sudah pernah ada sebelumnya. 

Dalam situasi seperti apa mereka bisa tersesat masuk? 

Itu pasti terjadi saat lapisan tipisnya melemah. 

Jika demikian, kita hanya perlu melemahkan lapisannya, tetapi seperti yang sudah dicoba tadi, semua serangan justru menghantam hutan sisi luar. 

“Lalu? Apa yang mau kamu lakukan?” 

“Cara untuk pergi ke sisi dalam ada dua. Ditarik masuk oleh mereka, atau menyusup masuk saat lapisannya melemah.” 

“Sekarang ‘kan sedang diperkuat? Kalau begitu pilihan kita ditarik masuk oleh mereka, dong.” 

Sambil berkata demikian, Sieg berdiri dengan berkacak pinggang di depan pohon tebal tadi. 

Lalu. 

“Heii!! Loretta! Ini aku! Sieg! Biarkan aku masuk!!” 

Dia berteriak keras memanggil ke arah hutan. 

Namun, tidak ada balasan sama sekali. 

“Kamu ditolak, ya.” 

“Aku tidak ditolak! Kurang ajar sekali!” 

Sieg mulai marah mendengar perkataanku, tetapi fakta bahwa tidak ada respons atas panggilannya adalah sebuah kenyataan. 

Anak-anak itu baru saja tersesat masuk. 

Mereka pasti menyiagakan penjaga di sekitar sini. 

Mereka harusnya sudah memahami situasi kita di sini. 

Apakah wanita yang ditolong Sieg sedang tidak ada, ataukah dia berada di posisi yang tidak bisa bertindak sesuka hati? 

Sambil menduga kemungkinan besar adalah hal yang kedua, aku menghela napas dalam-dalam. 

“Kalau Loretta tidak bergerak, kita tidak punya cara lain lagi, dong!?” 

“Jangan buat aku mengulanginya berkali-kali. Tidak juga.” 

“Lalu mau bagaimana!?” 

“Begini caranya.” 

Perlahan-lahan aku melayang naik ke udara. 

Lalu. 

“Akulah yang memahami hukum perak,

“Akulah yang terpilih oleh perak sejati.

“Bintang Perak datang dari lautan bintang, 

“Menerangi bumi dan membuat langit gentar.

“Kilau peraknya adalah kebenaran para dewa, 

“Gemerlap peraknya adalah berkah dari langit.

“Kilatan perak sekejap. 

“Benderang perak abadi.

“Cahaya perak, bersemayamlah di tanganku, 

“Untuk membinasakan yang congkak...” 

Begitu melantunkan mantra, sebuah bola cahaya perak tercipta di antara kedua telapak tanganku. 

Begitu kuhancurkan, sihir ini akan aktif. 

Daya sihirku membuat tanah bergetar dan pepohonan bergoyang hebat. 

“Wahai klan Manusia Naga yang berada di sisi dalam. Aku tidak tahu apakah kalian mengerti atau tidak, tetapi izinkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah Silver, petualang peringkat SS dari Guild Petualang. Untuk saat ini, kalian boleh menganggapku sebagai penyihir terkuat di benua. Seperti yang bisa kalian lihat, pihak kami telah bersiap dalam posisi menyerang. Bukalah hutannya. Jika tidak, aku akan memusnahkan hutan ini. Jika hutan sisi luar musnah, sisi dalam pun pasti tidak akan bisa terhindar dari dampaknya.” 

Jika mereka bisa menciptakan dunia sisi dalam di mana saja, seharusnya tempat mana pun tidak masalah. 

Alasan mereka secara khusus memilih hutan ini adalah karena tidak sembarang tempat bisa digunakan. 

Hutan sisi dalam pasti menggantungkan keberadaannya pada hutan sisi luar. 

Jika sisi luar menerima kehancuran total, sisi dalam pun tidak akan selamat. 

“Hei!? Apa yang kamu lakukan!?” 

“Aku sedang memanggil mereka.” 

“Masyarakat umum menyebut hal semacam itu sebagai ancaman!? Dasar tidak berotak!” 

Aku terkekeh pelan mendengar teriakan Sieg. 

Namun, aku tidak meruntuhkan posisi menyerangku. 

Jika terdesak, aku tidak keberatan untuk memusnahkan hutan ini. 

Sebab aku tidak punya cukup waktu untuk menganalisisnya secara perlahan.


Bagian 2

Seberapa pun aku tidak punya waktu, ancaman untuk memusnahkan hutan dengan Silvery Ray mungkin memang agak berlebihan. 

Di saat aku sudah mengaktifkan Silvery Ray dan siap meluncurkannya kapan saja, pikiran semacam itu terlintas di benakku. 

Walau jika ditanya apakah ada cara lain, jawabannya tidak ada, tetapi aku harusnya bisa memikirkan langkah yang sedikit lebih berbeda. 

“Hei, hei! Sama sekali tidak ada tanggapan!? Mau bagaimana lagi ini!” 

“Tunggu sebentar lagi.” 

Sambil menjawab Sieg, aku menengadah sedikit ke arah langit. 

Sepertinya aku memang terlalu terburu-buru. 

Kendati demikian, tidak mungkin juga aku bilang “tidak jadi deh”. 

Jika mereka tetap tidak keluar setelah ini, urusan setelahnya akan menjadi sangat merepotkan. 

Yah, dugaanku bahwa jika terjadi sesuatu pada hutan sisi luar maka sisi dalam pun akan terpengaruh sepertinya hampir seratus persen benar. 

Karena itulah ancaman ini mempan. 

Masalahnya adalah jika ada terlalu banyak orang yang menolak untuk tunduk pada ancaman. 

“Kalau sampai kubuat musnah, Orihime juga pasti bakal marah, sih...” 

Mereka adalah ras yang sanggup mengubah Sieg menjadi beruang. 

Bahkan jika hutan sisi luar musnah, mereka pasti bisa meloloskan diri. 

Jadi harusnya tidak akan ada korban jiwa. 

Kecuali jika mereka sangat memusuhi manusia, mereka mungkin akan mengambil langkah dengan meninggalkan anak-anak yang tersesat itu. 

Namun, orang-orang yang tega melakukan hal semacam itu pasti sudah mengeksekusi siapa pun yang tersesat masuk. 

Mengingat Sieg baik-baik saja, kemungkinan ke arah sana terbilang kecil. 

Jika demikian. 

Masalah utamanya adalah tindakan menghancurkan hutan di dalam wilayah Negara Pertapa Mizuho. 

Jika aku melakukannya, aku bisa saja disejajarkan dengan pembuat onar lainnya. 

Sungguh, aku tidak mau dianggap seperti itu. Sambil membatin demikian, aku menunggu beberapa saat. 

Lalu. 

“Akhirnya muncul juga.” 

Tiba-tiba, seorang pria tua muncul dari dalam hutan. 

Seorang ras setengah manusia dengan dua tanduk seperti naga. 

Klan Manusia Naga yang legendaris. 

“Uwah! Si kakek Tetua!” 

“Kukira siapa, ternyata prajurit yang membawa kembali Loretta. Untuk apa kamu kembali? Apalagi dengan membawa penyihir barbar seperti itu.” 

Pria tua yang dipanggil Tetua itu menatapku dengan tajam. 

Aku hanya mengedikkan bahu menanggapi tatapan itu. 

“Yah, soal itu aku minta maaf. Tapi aku ada urusan dengan Loretta. Selain itu, ada anak-anak yang tersesat masuk ke sini, ‘kan? Bisakah kamu tolong selamatkan mereka?” 

“Aturan adalah aturan. Manusia yang tersesat ke dalam hutan tidak akan dibiarkan keluar. Anak-anak itu selamat, tapi tidak bisa dibiarkan keluar. Jika kamu tetap memaksa, tidak ada cara lain selain mengubah wujud mereka seperti halnya dirimu, wahai Prajurit.” 

“Aduh, kalau dibikin seperti aku rasanya agak... Bisakah kamu tolong bebaskan mereka?” 

“Pada dasarnya kami tidak berhubungan dengan dunia luar. Walau wujudmu sudah menjadi binatang, kami biasanya tidak membiarkan siapa pun yang melangkah keluar begitu saja. Hanya karena kamu adalah prajurit yang berjasa menolong Loretta, kami membiarkanmu dan mau diajak bicara seperti ini.” 

“Soal itu... aku sangat berterima kasih, sih... tapi yang mengemban tugas menyelamatkan anak-anak itu adalah si penyihir di sana...” 

Sieg mengalihkan pandangannya kepadaku. 

Sesaat kemudian, sang Tetua kembali mengalihkan pandangannya ke arahku. 

Setelah menatapku sejenak, sang Tetua mengibaskan tangan kirinya secara asal. 

Bersamaan dengan itu, dia membentangkan penghalang ke arah kiri. 

Sebuah guncangan hebat terjadi, dan penghalang milikku hancur berkeping-keping. 

Seperti yang diharapkan dari Tetua klan Manusia Naga. 

Meskipun penghalang itu kubuat asal-asalan sebelum meluncurkan Silvery Ray, dia sanggup menghancurkannya dengan sangat mudah. 

“Hmph... Sihir Kuno. Penyihir yang sangat merepotkan.” 

“Akan kuanggap itu sebagai pujian.” 

“Membangkitkan sihir yang bahkan lima ratus tahun lalu hampir tidak ada penggunanya, kamu pasti sangat diberkahi bakat.” 

“Tidak sampai sejauh itu.” 

Usia harapan hidup ras setengah manusia itu berbeda-beda. 

Ada ras yang memiliki usia mirip manusia, dan ada pula ras yang berumur panjang seperti Elf. 

Tampaknya klan Manusia Naga tergolong ke dalam kelompok yang kedua. 

Jika ditarik dari perkataannya barusan, Tetua ini pernah berpartisipasi dalam perang besar melawan iblis lima ratus tahun yang lalu. 

“Batalkan sihirmu. Aku tidak bisa membiarkan orang yang menggenggam sihir berbahaya semacam itu untuk masuk.” 

“Kamu mau mengizinkan kami masuk?” 

“Jika kusuruh pulang, apa kamu akan pulang?” 

“Tentu saja tidak bisa.” 

“Kalau begitu batalkan sihirmu. Aku tidak berminat bertarung dengan orang yang sanggup menggunakan Sihir Kuno.” 

Tetua berkata demikian sambil mengamati reaksiku. 

Mau tidak mau, aku membatalkan Silvery Ray lalu mendarat di atas tanah. 

Begitu aku mendarat, sang Tetua mulai melangkah ke dalam hutan. 

“Bukannya itu artinya kita disuruh ikut?” 

“Ada yang mencurigakan.” 

“Meskipun curiga, kita tidak punya pilihan selain ikut, ‘kan?” 

Kata-kata Sieg yang berada di bahuku memang benar. 

Meskipun mencurigakan, situasi tidak akan bergerak jika kita tidak mengikutinya. 

Sebab Tetua ini adalah satu-satunya tumpuan kita. 

Karena itulah aku mengekor di belakang Tetua secara perlahan. 

Hingga akhirnya kami tiba di pusat hutan. 

Sesaat kemudian, pijakan di bawah kakiku mulai memancarkan cahaya. 

“Hei!? Apa-apaan ini!?” 

“Kita dijebak.” 

“Jangan merasa dendam. Ini semua demi kelangsungan hidup kami.” 

Bersamaan dengan kata-kata Tetua, aku dan Sieg dipindahkan dalam sekejap. 

Tampaknya ini adalah sihir teleportasi jebakan terpasang. 

Menarik lawan sampai sejauh itu lalu melemparkannya ke suatu tempat pasti merupakan salah satu trik mereka. 

“Kakek tua itu! Beraninya dia!” 

Sieg memprotes dengan suara keras. 

Yah, karena dari awal memang penuh kecurigaan, hal ini sudah sewajarnya terjadi. 

Tetua yang sejak tadi terus-menerus mengagungkan aturan mendadak mau memandu kita. 

Dia pasti berpikir bahwa menyingkirkan kita dengan kekuatan fisik akan sangat merepotkan. 

Kebanyakan lawan mungkin bisa disingkirkan dengan satu pukulan sang Tetua. 

Perangkap ini disiapkan untuk menghadapi lawan yang sanggup menahan serangan semacam itu. 

Pasti masih ada hal lain yang menanti. 

“Maksudku, kenapa rasanya panas sekali!? Ini di mana!?” 

“Dilihat dari suasananya, sepertinya di dalam gunung berapi.” 

Di mana-mana mengalir sungai lahar. 

Karena aku membentangkan penghalang, suasananya hanya terasa sebatas panas, tetapi tempat ini pada dasarnya bukanlah tempat yang bisa ditinggali manusia dengan selamat. 

Dan bicara soal gunung berapi, ada satu hal yang terlintas di benakku. 

“Memindahkan kita ke gunung berapi, apa dia berniat membunuh kita!?” 

“Pasti memang. Untuk membungkam orang kuat yang tidak bisa mereka bungkam sendiri... ini adalah langkah yang bagus.” 

Aku berbalik ke belakang perlahan-lahan. 

Sesaat kemudian, lahar di belakang kami berguncang dan meluap. 

Lalu, sebuah kepala ular merah raksasa muncul dari dalamnya. 

“Hei, hei...” 

“Aku pernah mendengar rumornya. Bahwa ada monster yang tinggal di gunung berapi.” 

“Bisa-bisanya kamu bicara santai begitu! Makhluk itu Hydra, tahu!?” 

Seolah merespons ucapan Sieg, satu demi satu kepala ular merah bermunculan dari dalam lahar. 

Total ada sembilan kepala. 

Di bawahnya terdapat tubuh raksasa. 

Karena tergolong spesies langka, ekologinya tidak terlalu diketahui, namun monster bernama Hydra ini dikatakan sebagai subspesies dari naga. 

Terlebih lagi, individu yang sanggup hidup di dalam lahar jelas-jelas bukan monster biasa. 

“Sungguh... orang tua yang sangat licik.” 

“Hei, hei, hei!! Kita mau bagaimana!?” 

“Jangan menjauh dariku. Kalau kamu keluar dari penghalang, kamu akan mati terpanggang.” 

“Eeh!? Kamu membentangkan penghalang!? Tapi tetap sepanas ini!? Kita bisa mati, tahu!?” 

“Makanya jangan menjauh. Aku tidak bertanggung jawab kalau kamu sampai menjauh.” 

“Cepat lari dari sini! Kamu bisa menggunakan teleportasi, ‘kan!?” 

“Kalau kita pulang begitu saja, Tetua itu hanya akan menyiapkan trik lain. Urusannya tidak akan pernah selesai. Kita harus memberi tahu dia bahwa kita adalah lawan yang mau tidak mau harus dia undang masuk.” 

“Artinya...” 

“Kita basmi monster ini dengan waktu tersingkat, lalu kembali ke hadapan Tetua itu.” 

Setelah berkata demikian, aku bersiap dalam posisi bertarung.


Bagian 3

“AAAAAAHHHHHH!!!!!!” 

Sambil bergerak memutar dengan kecepatan tinggi, aku menebas satu demi satu kepala Hydra. 

Suara teriakan Sieg yang mencengkeram erat bahuku terasa sangat bising. 

“Jangan berisik.” 

“Jangan gegabah!” 

Sieg meluapkan amarah yang sesungguhnya, tetapi pada saat yang bersamaan, serangan Hydra datang menerjang. 

Hydra pada dasarnya memuntahkan lendir beracun. 

Namun, makhluk yang satu ini justru memuntahkan lendir yang menyerupai lahar. 

Mengingat ia adalah individu yang tinggal di dalam lahar, aku tidak terlalu terkejut, tetapi sifat lengket lendir itu sangatlah merepotkan. 

Jika kutahan dengan penghalang, lendir itu akan menempel dan perlahan-lahan melahap penghalangku, sebuah trik yang cukup merepotkan. 

Karena itulah aku harus bergerak dengan kecepatan tinggi dan melenyapkan kepalanya secepat mungkin, tetapi Sieg sungguh berisik. 

“Sungguh merepotkan.” 

Sambil melompat ke atas untuk menghindari lendir lahar, aku mempertimbangkan untuk mengakhirinya dengan sihir tingkat tinggi. 

Namun, jika aku menggunakan sihir tingkat tinggi di tempat seperti ini dan memicu letusan gunung berapi, aku tidak bisa membayangkan seberapa besar kerusakan yang akan dialami oleh ekosistem di sekitarnya. 

Aku bahkan belum tahu pasti di mana tempat ini berada, jadi bersikap menahan diri adalah hal yang bijak. 

Berpikirlah dengan rasional. 

“Cepat lenyapkan dia dengan sihirmu!” 

“Bagaimana jika gunung berapi ini meletus? Gunakan akal sehatmu, akal sehat.” 

“Jangan sok bersikap rasional di saat seperti ini! Makhluk itu makin berbahaya, tahu!? Coba lihat! Kepalanya tumbuh lagi!!” 

Kepala yang seharusnya sudah kutebas kini tumbuh kembali yang baru. 

Kemampuan regenerasi yang sungguh tidak masuk akal. 

Hydra memang memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi, tetapi kepala yang baru saja kutebas tumbuh kembali seketika tetaplah hal yang tidak masuk akal. 

“Monster itu juga tidak masuk akal. Kamu juga bertindak tidak masuk akal saja sekalian!” 

“Di sekitar sini ada makhluk hidup yang sedang berjuang keras untuk bertahan hidup. Kalau bisa, aku tidak ingin menimbulkan korban.” 

“Aku ingin klan Manusia Naga mendengar kata-katamu itu...” 

Yah, dari sudut pandang mereka, aku mungkin tampak seperti monster yang tiba-tiba mengancam akan menghancurkan tempat tinggal mereka, tetapi dari sudut pandang warga Mizuho, mereka adalah penjahat yang telah menculik dan mengurung anak-anak. 

Aku berada di pihak Mizuho. Namun, aku tetap berniat menyelesaikannya secara damai sehingga hanya menggunakan ancaman. 

Sikapku untuk tidak memperbesar kerusakan tidak pernah berubah di mana pun. 

“Mau tidak mau, aku harus menariknya keluar dari lahar, atau menetralkan efek dari lahar itu sendiri.” 

“Makanya! Gunakan saja sihir tingkat tinggi yang sekiranya tidak sampai merusak lingkungan sekitar!” 

“Jangan seenaknya meminta hal sesulit itu.” 

“Kamu sudah berkali-kali melakukan hal yang jauh lebih sulit dari ini, ‘kan!?” 

Sieg yang marah mencoba menepuk bahuku. 

Namun, bernasib buruk, serangan dari Hydra mendadak melayang ke arah kami. 

Ketika aku menghindarinya... 

Sieg terjatuh.


“UWAAAAAAAA!!!!!!” 

“Dasar merepotkan.” 

Aku mengulurkan tangan ke arah Sieg yang sedang terjatuh. 

Sesaat kemudian, sebuah lengan sihir raksasa yang bertransparansi muncul di udara. 

Lengan sihir itu menangkap Sieg tepat sebelum dia dilalap oleh mulut Hydra yang menganga, lalu membawanya kembali ke tempatku. 

“Bagaimana? Apakah perjalanannya menyenangkan?” 

“Aku pikir aku bakal mati...” 

“Baguslah kalau kamu tidak mati.”

“Aku bahkan sudah tidak punya tenaga lagi untuk marah... Karena panas, aku ingin makan es...” 

“Es... Ide bagus.” 

Jika makhluk ini melakukan regenerasi dengan cepat karena mendapat dorongan dari lahar, aku hanya perlu menghilangkan dorongan lahar tersebut. 

Kalau begitu, akan kubekukan saja ia bersama dengan laharnya. 

“Waktu pembekuan telah tiba.

“Langit biru berubah menjadi langit es. 

“Padang rumput menjelma menjadi padang es. 

“Berkumpullah bunga-bunga es. 

“Menarilah kelopak dari langit. 

“Semuanya berubah menjadi warna putih. 

“Semuanya berubah menjadi nol. 

“Berikan mimpi buruk putih ini kepada mereka yang bersalah.

“Absolute Zero.” 

Sebuah bola berwarna putih murni tercipta di hadapanku. 

Bola itu meluncur turun secara perlahan ke arah Hydra.

Kesembilan kepala Hydra mencoba menahannya dengan memuntahkan lendir lahar, tetapi lendir itu menjadi hal pertama yang membeku. 

Sambil menghancurkan lendir yang membeku tersebut, bola putih murni itu menghantam Hydra dengan tepat. 

Seketika. 

Seluruh gunung berapi membeku beserta Hydra di dalamnya. 

Pemandangan di sekeliling berubah drastis menjadi dunia yang serbaputih. 

“Dingin sekali!!” 

“Rupanya kalau dibekukan, kamu tidak bisa melakukan regenerasi lagi.” 

Aku mencoba menebas salah satu kepala Hydra yang membeku sebagai uji coba, dan rupanya kepala itu tidak tumbuh kembali. 

Kemampuan regenerasi Hydra yang begitu gigih tadi sepertinya berakhir begitu dia dibekukan bersama dengan laharnya. 

“Hei! Kalau kamu membekukan gunung berapi, ekosistemnya bakal berubah, tahu!?” 

“...Kehidupan dirancang untuk bisa beradaptasi dengan perubahan alam, jadi tenang saja.” 

“Ah! Kamu baru menyadarinya setelah aku beri tahu, ‘kan?” 

“Semuanya sudah masuk dalam rencanaku.” 

Sambil membalas perkataan Sieg, aku mengangkat salah satu kepala Hydra yang membeku. 

Untuk dijadikan bukti dan gertakan, satu kepala saja rasanya sudah cukup. 

Ternyata menyita waktu lebih lama dari yang kubayangkan. 

Mari kita segera kembali. 

“Hei, hei, apa kamu bisa menggunakan teleportasi padahal tidak tahu ini di mana?” 

“Aku mengetahui seluruh kantor cabang Guild Petualang di benua ini. Dilihat dari gunung berapi raksasa ini, tempat ini pasti berada di dalam wilayah Kekaisaran Suci. Tidak ada masalah.” 

Sambil berkata demikian, aku membawa kepala Hydra dan berpindah tempat menuju kantor cabang Guild Petualang di dalam wilayah Kekaisaran Suci. 

Selama ada titik acuan, aku bisa pergi ke hampir semua tempat menggunakan sihir teleportasi. 

Alasan aku lebih suka melakukan teleportasi dari cabang ibu kota Kekaisaran juga karena hal itu jauh lebih mudah dilakukan di sana. 

Setelah melewati beberapa kantor cabang, kami akhirnya berhasil kembali ke Hutan Senja dengan selamat. 

“Ternyata kita bisa kembali lebih cepat dari dugaan.” 

“Tidak, ini justru menyita waktu terlalu lama. Mari kita lanjutkan urusan kita.” 

Sambil berkata demikian, aku melemparkan kepala Hydra ke tanah lalu kembali melantunkan mantra.


Bagian 4

“Hei, hei! Tunggu sebentar!” 

“Kali ini mereka pasti tidak punya pilihan selain merespons.” 

Tanpa mengindahkan gertakan Sieg yang mencoba menghentikanku, aku bersiap meluncurkan sihir. 

Akan tetapi. 

“Tenanglah! Mari kita bicara dengan damai! Aku yang akan mengusahakannya!” 

“Tidak... sepertinya itu tidak diperlukan lagi.” 

Aku menghentikan persiapan sihirku lalu mengamati keadaan hutan. 

Tempat ini tidak salah lagi adalah Hutan Senja. 

Namun, lapisan yang tadinya menjadikan Hutan Senja sebagai Hutan Senja kini telah lenyap. 

Hutan Senja yang ada sekarang tidak ada bedanya dengan hutan biasa. 

“Ada apa? Apa yang terjadi?” 

“Klan Manusia Naga... sepertinya telah pergi dari hutan ini.” 

Tidak ada kemungkinan lain selain itu. 

Di saat aku sedang bertarung melawan Hydra, mereka sepertinya telah menyelesaikan kepindahan mereka. 

“Pergi dari hutan...” 

“Harus diasumsikan bahwa mereka berpindah dengan sihir teleportasi. Mereka pasti memiliki markas lain selain tempat ini.” 

“Tidak, tidak... waktu kamu bertarung tadi ‘kan tidak terlalu lama...?” 

“Kalau mereka memang sudah bersiap dari awal, hal itu tidak mengherankan. Mengingat mereka hidup bersembunyi, memiliki tempat pengungsian adalah hal yang sangat wajar.” 

Kendati demikian, tindakan mereka sungguh terlalu cepat. 

Ketegasan yang sangat mengerikan. 

Saat aku membatin demikian. 

“Hei! Di dalam hutan! Coba lihat!” 

Sieg menunjuk ke dalam hutan. 

Di sana tergeletak anak-anak yang tersesat. 

“Ada lima orang...” 

“Aku coba periksa sebentar.” 

“Bisa jadi itu jebakan lagi, lho?” 

“Kalau memang jebakan, ya biarlah.” 

Tanpa peduli akan bahaya, Sieg masuk ke dalam hutan dan berlari menghampiri anak-anak itu. 

Setelah memeriksa kondisi kelima anak itu secara saksama. 

“Semuanya masih bernapas! Tidak ada luka luar juga!” 

“Mereka mau melanggar aturan. Ternyata cukup fleksibel juga.” 

“Bisa-bisanya kamu berpikir ke arah sana...” 

“Lalu menurutmu bagaimana?” 

“Ini adalah bentuk pernyataan sikap bahwa mereka tidak ingin berurusan denganmu, bahkan jika harus meninggalkan tempat tinggal dan melanggar aturan. Mereka itu orang-orang yang bahkan tidak berpindah tempat saat Loretta diculik, gadis Manusia Naga yang kutolong dulu, tahu?” 

“Kejam sekali.” 

“Kalau menurutku sih itu tindakan yang bijak. Hei, cepat kita bawa mereka! Di sini mereka bisa masuk angin.” 

“Benar juga.” 

Penyelesaian tugas yang sama sekali tidak terduga. 

Sambil memendam sedikit rasa ganjal atas hasil ini, aku membawa anak-anak itu lalu berpindah tempat.


* * *


“Kerja bagus, Silver.” 

“Aku tidak melakukan apa-apa.” 

Dengan membawa anak-anak tersebut, kami telah kembali ke hadapan Orihime. 

Anak-anak itu kini dalam perlindungan para penghuni kastel dan sedang dirawat. 

Mereka mungkin akan segera terbangun. 

“Justru karena dirimulah klan Manusia Naga mau memberikan kompromi. Banggalah akan hal itu.” 

“Aku sama sekali tidak merasa bangga.” 

“Kamu tampak tidak puas, ya? Tugasmu ‘kan sudah selesai dengan selamat. Bukannya ini hasil yang sangat sempurna bagi seorang petualang?” 

“Aku senang anak-anak itu selamat. Namun, dengan begini kita jadi kehilangan petunjuk tentang keberadaan klan Manusia Naga.” 

“Mereka memang kaum yang hidup bersembunyi. Mau bagaimana lagi.” 

“Situasinya tidak sesederhana itu sampai bisa dipasrahkan begitu saja. Dalam situasi belakangan ini di mana iblis mulai bermunculan, pengetahuan dari lima ratus tahun yang lalu akan sangat berguna. Setidaknya, aku ingin berbicara dengan sang Tetua.” 

“Humm, pemikiran berpandangan jauh ke depan itu memang sangat khas dirimu. Lalu, apa yang akan kamu lakukan?” 

Aku sedikit bungkam menanggapi pertanyaan Orihime. 

Aku tidak punya banyak waktu di sini. 

Jika aku meninggalkan Kadipaten terlalu lama, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. 

Terlebih lagi, Kekaisaran sedang menuju peperangan melawan Kerajaan, dan kawasan di sekitar Kadipaten juga dibayangi oleh masalah perompakan bajak laut Landrunner. 

Namun, jika aku mundur di sini, aku akan kehilangan kesempatan untuk menyelidiki klan Manusia Naga. 

Beraksi sebagai Arnold memang hal yang penting, tetapi aku juga seorang petualang peringkat SS. 

Aku harus memikirkan kontribusiku bagi benua ini. 

Untuk sementara, di Kadipaten ada Henrik yang menyamar sebagai diriku. 

Biarkan dia berusaha sedikit lebih keras lagi. Kekurangannya pasti akan ditopang oleh Fine dan Sebas. 

“Jika kamu mengizinkan... aku ingin menyelidikinya sedikit lebih lama.” 

“Humm, membiarkan seorang petualang peringkat SS menyelidiki isi dalam negeri sesuka hatinya adalah hal yang sulit dilakukan.” 

Perkataan Orihime adalah hal yang sangat wajar bagi seseorang yang mengemban jabatan penting di sebuah negara. 

Senjata pemusnah berwujud manusia yang berkeliaran di dalam negeri dengan dalih melakukan penyelidikan... 

Rakyat pasti akan bertanya-tanya ada apa sebenarnya. 

Hal itu bisa memicu kecurigaan yang tidak perlu, seperti apakah masalahnya masih belum terselesaikan. 

Akan tetapi. 

“Yah, Mizuho juga merupakan bagian dari benua ini. Akan jadi masalah jika aku menolak memberi bantuan di sini. Baiklah, akan kuizinkan menggunakan wewenangku.” 

“Terima kasih.” 

“Namun, usahakan untuk mengurangi populasi monster sebanyak mungkin. Jangan sampai menimbulkan korban, ya? Melukai klan Manusia Naga juga dilarang. Mengingat mereka hidup bersembunyi, pasti ada alasan di baliknya. Karena kamu berniat mengejar mereka, kamu harus menunjukkan iktikad baik agar bisa meraih kepercayaan mereka.” 

“Baiklah.” 

Mendengar kata-kataku, Orihime tersenyum manis. 

Walaupun dia tersenyum, setelah ini dia pasti akan diprotes oleh para menteri. 

Aku tidak boleh membiarkan hal ini berlarut-larut. 

Aku meninggalkan kediaman Orihime lalu kembali ke bangunan utama kastel. 

Kemudian, aku mampir ke ruangan tempat anak-anak dirawat. 

“Bagaimana keadaan mereka?” 

“Masih tidur.” 

“Aku cuma mau bertanya, apa kamu marah?” 

“Marah? Kenapa?” 

“Aturan yang begitu mudah dilanggar hanya karena kedatanganku itu telah mengubah wujudmu menjadi beruang. Apa kamu tidak merasa marah?” 

“Karena aku tidak berpikir kedatanganmu itu hal yang biasa saja. Bagi mereka, pilihannya hanya dua: antara bertahan hidup atau mematuhi aturan. Lagipula, anak-anak dan orang dewasa tidak bisa disamakan begitu saja.” 

“Begitu. Baguslah. Kalau begitu, aku bisa membawamu. Kita akan mencari keberadaan klan Manusia Naga.” 

“Oh? Kesambet angin apa kamu ini?” 

“Ada gunung pertanyaan yang ingin kutanyakan pada mereka. Soal iblis, misalnya.” 

“Mereka ‘kan kesatria veteran yang bertarung di perang besar lima ratus tahun lalu... Kalau begitu, apa kamu mau menanyakannya pada anak-anak itu begitu mereka bangun? Mereka satu-satunya petunjuk kita, lho?” 

“Tidak ada gunanya. Aku sendiri bisa menggunakan sedikit sihir manipulasi ingatan, tetapi ingatan yang kuat tidak akan bisa diubah. Namun, beda ceritanya dengan anak-anak. Ingatan anak-anak selalu samar karena mereka belum sanggup memproses informasi sepenuhnya. Jadi, tidak sulit untuk memanipulasinya.” 

Sieg tidak terkejut mendengar kataku, melainkan dapat memahaminya. 

Menghapus ingatan tentang peristiwa di dalam hutan memang sulit, tetapi mengubahnya menjadi berbeda dari kenyataan adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. 

Jika aku berada di posisi mereka, aku akan memberikan ingatan palsu kepada anak-anak itu untuk memecah konsentrasi pihak lawan. 

Karena itulah, hal itu sebaiknya tidak dijadikan pegangan. 

“Lalu kita mau bagaimana? Kita tidak punya petunjuk apa pun, tahu?” 

“Tidak juga. Hutan Senja itu pastilah lokasi yang sangat disukai oleh klan Manusia Naga. Jika kita mencari tempat yang mirip dengan tempat itu, lambat laun kita pasti akan sampai ke sana.” 

“Kamu mau mencarinya mengandalkan kaki...? Kedengarannya bakal melelahkan sekali.” 

“Tenang saja. Aku sudah punya kenalan yang bisa dimintai bantuan.” 

“Memangnya ada orang aneh yang mau menuruti kemauanmu?” 

“Ada. Muridku sendiri.” 

Sambil berkata demikian, aku menyeringai di balik topengku.


Bagian 5

“Guru! Lama tidak berjumpa!” 

Chloe datang mendekati kami sambil melambaikan tangannya dengan sangat bersemangat. 

Sebagai satu-satunya petualang peringkat tinggi di Mizuho, Chloe sebelumnya sibuk berputar-putar membasmi para monster yang mengamuk di berbagai penjuru. 

Namun, tugas itu akhirnya selesai dan dia bisa bergabung kembali denganku. 

“Tidak sampai bisa dibilang lama tidak berjumpa, sih. Tapi, terima kasih ya di tengah kesibukanmu ini.” 

“Tidak apa-apa! Guru sedang kekurangan orang, ‘kan? Serahkan saja padaku!” 

Setelah berkata demikian, Chloe mengulas senyum polos. 

Lalu. 

“Ngomong-ngomong, orang yang ada di bahumu itu Sieg-san?” 

“Ooh! Nona manis! Akulah pengguna tombak yang namanya digaungkan di seluruh benua! Siegmund Eisler!” 

Sieg memperkenalkan dirinya dengan gaya sok keren. 

“Wah! Beneran beruang yang bisa bicara! Lucu banget ya!” 

“Hentikan, aku jadi malu. Yah, tapi kalau kamu memang memaksa~ aku tidak keberatan kalau cuma dipeluk~”

Dengan niat terselubung yang terpampang jelas, Sieg berniat minta dipeluk oleh Chloe. 

Melihatnya, aku membisikkan sesuatu khusus kepada Sieg. 

“Kamu jago berenang tidak?” 

Aku bisa memindahkannya ke laut kapan saja. 

Sebelum bertemu Chloe, aku sudah mengingatkan Sieg tentang itu. 

Mengingat kembali kata-kata itu, Sieg mendadak bungkam. 

“...”

“Eh, Guru! Apa aku tidak boleh memeluknya?” 

“Dia itu aslinya manusia. Perlakukan dia seperti manusia. Itu tidak sopan.” 

“Begitu ya, benar juga sih.” 

Chloe mengangguk polos menanggapi perkataanku. 

Melihat Chloe yang seperti itu, kali ini Sieg bergumam pelan. 

“Waktu di ibu kota kekaisaran aku tahu kamu punya murid dan sempat memikirkannya juga, tapi... dia ini benar-benar muridmu?” 

“Apa maksudmu?” 

“Sama sekali tidak ada kemiripan di antara kalian.” 

Yang satu sering tersenyum dan banyak bicara, sementara yang satu lagi memakai topeng dan menghindari interaksi dengan orang lain. 

Tentu saja kami tidak tampak mirip. 

Akan tetapi. 

“Hanya karena guru dan murid, bukan berarti kepribadian kami harus mirip, ‘kan?” 

“Tidak, tidak, biasanya sih bakal ada agak mirip-miripnya. Tapi dari anak ini, aku sama sekali tidak merasakan kehaluan atau bahaya yang khas dari dirimu.” 

“Soalnya Chloe ini petualang peringkat S.” 

“Aku tidak sedang membicarakan soal kekuatan. Apa ya? Kenapa ketidaknormalanmu itu tidak menurun padanya? Atau ini masalah pola asuh?” 

“Aku tidak se-tidak-normal itu, kok.” 

“Orang-orang yang tidak normal memang selalu bilang begitu.” 

Diberitahu hal seperti itu oleh orang yang wujud hingga tindak-tanduknya bagaikan gumpalan tidak normal tentu sangat membuatku tidak terima. 

“Eh, Guru! Kali ini tugasnya seperti apa?” 

“Tugas utamanya sendiri sebenarnya sudah selesai. Hanya saja, ada hal yang sedikit menarik minatku.” 

“Bukannya berbahaya kalau Guru meninggalkan ibu kota kekaisaran terlalu lama?” 

“Karena itulah aku ingin menyelesaikannya secepat mungkin. Yang menarik minatku adalah klan Manusia Naga, ras yang berinteraksi denganku dalam tugas kali ini. Mereka adalah ras yang mendadak lenyap lima ratus tahun yang lalu, tetapi ternyata mereka hidup bersembunyi di Mizuho menggunakan kekuatan mereka.” 

“Lalu apa yang ingin Guru lakukan pada orang-orang dari klan Manusia Naga itu?” 

“Aku ingin bicara dengan mereka. Soalnya dalam kontak pertama tadi, mereka menolak untuk diajak bicara.” 

“Bukannya menolak, tapi lebih tepatnya kamu yang buat mereka tidak punya pilihan selain menolak.” 

Sieg menyela dengan kata-kata yang tidak perlu. 

Mendengar selaan itu, ekspresi Chloe berubah menjadi agak cemberut. 

“Maksudnya bagaimana?” 

“...Karena aku terburu-buru, aku sedikit mengancam mereka. Mereka malah kabur.” 

“Wajar saja kalau begitu! Memangnya mau bagaimana lagi!?” 

“Pihak sana menculik lima orang anak, dan aku tidak bisa melakukan kontak dengan cara yang biasa.” 

“Tapi tetap saja, apa tidak ada cara lain? Sekadar memberi tahu ya, ancaman dari Guru itu bukan ancaman biasa, tahu?” 

Chloe menunjukkan raut wajah heran. 

Lalu dia mulai menjelaskan perbedaan antara ancamanku dengan ancaman orang biasa. 

“Dengar ya? Ancamannya orang biasa itu cuma sebatas memperlihatkan bilah senjata seperti ini.” 

Chloe menarik sedikit pedang yang terselip di pinggangnya, memperlihatkan bilahnya. 

Itu adalah bentuk gertakan untuk menunjukkan bahwa dia membawa senjata. 

Ancaman ringan. 

“Lalu ya, ancaman yang digunakan Guru itu...” 

Sesaat kemudian. 

Bilah pedang ganda milik Chloe sudah tertuju tepat di leherku. 

Teknik yang sangat cepat. 

Terlebih lagi, dia belum mengeluarkan seluruh kemampuannya. 

“Ancaman Guru itu berada di tahap setapak sebelum kematian seperti ini. Ancaman itu ‘kan dilakukan untuk membuat lawan tunduk, tapi kalau kasusnya Guru, malah membuat lawan bersiap untuk mati.” 

“Begitu. Tapi kalau dariku, rasanya seperti sekadar memperlihatkan senjata secara ringan.” 

“Meskipun bagi Guru terasa begitu, lawan yang diancam tidak akan berpikir begitu! Guru ‘kan berniat menggunakan sihir? Guru sadar tidak sih kalau Guru itu penyihir terkuat di benua?” 

“Yah, aku sadar kok. Dan juga, bisakah kamu turunkan pedangmu sekarang?” 

Bukannya aku tidak suka ditodong pedang. 

Jika mau, aku bisa menahannya dengan penghalang. 

Yang jadi masalah adalah posisinya. 

Karena pedangnya disilangkan, ujung bilahnya mengarah ke bahuku. 

Dan di bahuku, ada Sieg. 

Sejak tadi, Sieg tampak gemetaran di atas bahuku. 

“Ah! Maafkan aku, Sieg-san.” 

“T-Tidak, kok... aku tidak takut sama sekali.” 

“Padahal tadi gemetaran.” 

“Berisik! Tapi, sekarang aku jadi agak bisa menerima kalau anak ini memang muridmu...” 

“Baguslah kalau begitu.” 

Chloe membungkukkan kepalanya sedikit. 

Bagian inilah yang membedakannya dariku. 

Pada dasarnya, meskipun merasa bersalah, aku tidak akan menundukkan kepala. 

Karena aku tidak punya kebiasaan seperti itu. 

Bagaimanapun juga, aku ini seorang pangeran. 

Tidak ada ceritanya aku menundukkan kepala secara spontan. 

Saat menundukkan kepala, itu dilakukan dengan sadar. 

Karena itulah aku tidak akan menundukkan kepala pada orang yang kupikir tidak perlu ditunduki. 

“Kalau begitu, intinya tugas kita adalah menemukan orang-orang klan Manusia Naga yang sudah Guru buat ketakutan, lalu membawanya ke meja perundingan, ‘kan?” 

“Kurang lebih begitu. Aku sudah menyaring beberapa kemungkinan lokasi kepindahan mereka. Mari kita bagi tugas untuk memburunya.” 

“Emm, bagi tugas sepertinya kurang bagus, deh. Kalau aku jadi klan Manusia Naga dan melihat Guru, aku pasti bakal langsung kabur. Mari kita bergerak bertiga saja.” 

“Jumlah kita agak banyak, lho?” 

“Biar lambat asal selamat. Yah, serahkan saja padaku. Kalau soal menjalin hubungan baik dengan orang lain, aku jauh lebih unggul dari Guru, tahu?” 

“Kurasa sangat jarang ada orang yang lebih buruk darinya dalam hal itu, sih.” 

“Diamlah. Kamu lebih suka gunung berapi daripada laut?” 

“Nah! Itu! Itu dia! Sifat burukmu keluar lagi!” 

Sieg berteriak di atas bahuku, tetapi aku mengabaikannya. 

Dengan begitu, kelompok yang terdiri dari aku, Sieg, dan Chloe pun resmi dibentuk.


Bagian 6

“Ngomong-ngomong, aku mau tanya pada Nona.” 

“Apa itu?” 

“Kenapa kamu ada di Mizuho? Bukannya kamu dipindah tugas untuk memperkuat kekuatan tempur Kekaisaran?” 

Di tengah perjalanan mengelilingi kemungkinan-kemungkinan lokasi, Sieg melontarkan keraguannya kepada Chloe. 

Mendengar hal itu, Chloe tersenyum kecut. 

“Emm, kalau diceritakan bakal panjang, sih...” 

“Tidak sepanjang itu, kok.” 

Aku yang mengetahui situasinya berkata demikian kepada Chloe yang bersikap seolah masalah ini sangat rumit. 

“Apa? Kamu juga tahu?” 

“Awalnya, akulah yang memanggil Chloe ke ibu kota kekaisaran. Karena ada usulan untuk menempatkan petualang peringkat S di ibu kota kekaisaran, aku menyarankan kepada Guildmaster untuk memanggil Chloe.” 

“Heh, lalu? Kenapa nona ini malah kembali ke Mizuho?” 

“Pengganti di pihak Mizuho tidak berguna. Singkatnya begitu.” 

“Aku agak kurang setuju kalau kamu bilang begitu, deh. Soalnya Mizuho itu tempat yang khusus.” 

“Tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa dia tidak berguna sebagai petualang.” 

Kepindahan Chloe ke ibu kota kekaisaran artinya harus ada petualang lain yang dikirim sebagai penggantinya ke Mizuho. 

Namun, petualang pengganti itu tidak berfungsi dengan baik. 

Jika sudah begitu, Chloe tidak bisa dibiarkan berada di ibu kota kekaisaran. 

Setidaknya sampai situasi di Mizuho mereda, dia harus dikembalikan ke tempat asalnya. 

“Pedas sekali. Yah, Mizuho memang punya reputasi buruk sih di kalangan petualang.” 

“Cuacanya mudah berubah dan tanahnya sering gempa, jadi pergerakan monster sangat sulit diprediksi. Aku sih sudah terbiasa, tapi kalau untuk orang baru pasti terasa sangat berat.” 

“Gara-gara markas pusat Guild asal-asalan memilih orang, rencanaku jadi berantakan.” 

“Pilihan yang asal-asalan itu bukannya agak berlebihan? Yang datang menggantikanmu ‘kan petualang peringkat S juga?” 

“Total ada sepuluh orang petualang peringkat A dan AA yang datang, tapi delapan di antaranya malah kabur karena takut gempa.” 

“Itu sih memang asal-asalan.” 

Meski sempat membela markas pusat Guild, Sieg mau tidak mau harus mengakuinya setelah mendengar penjelasan Chloe. 

Chloe sendiri awalnya berada di peringkat AAA. Dan dengan kemampuan itu, dia bisa mengelola Mizuho dengan sangat baik. 

Jadi mereka mungkin berpikir bahwa kekuatan tempur sebesar itu sudah cukup untuk mengatasi keadaan. 

Namun, yang dibutuhkan di Mizuho melebihi sekadar kekuatan tempur, yaitu fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi. 

Justru karena lingkungannya mudah berubah, kualitas sebagai seorang petualang benar-benar diuji. Menjadi kuat saja tidaklah cukup. 

“Markas pusat yang panik langsung mengajukan permintaan pemanggilan kembali kepada Chloe. Soalnya kalau dibiarkan, Mizuho bisa jatuh ke dalam kepanikan.” 

“Karena ada permintaan resmi juga dari Putri Pertapa, aku tidak punya alasan untuk menolak kembali.” 

“Wajar saja kalau begitu. Soalnya kamu itu seperti obat yang manjur. Apa kamu jadi sengotot ini gara-gara rencanamu memanggil muridmu untuk bersiap melawan iblis jadi berantakan?” 

“Aku tidak menjadi sengotot itu hanya karena hal sepele.” 

Meski berkata demikian, aku sebenarnya memang kesal. 

Sebab markas pusat Guild yang panik mengambil keputusan untuk mengembalikan Chloe tanpa membicarakannya terlebih dahulu denganku. 

Yah, walaupun itu adalah keputusan yang sangat wajar, sih. 

Aku baru mengetahui segalanya setelah Chloe berada dalam perjalanan pulang. 

“Gara-gara keputusannya tidak disampaikan ke Guru dulu. Guru itu ‘kan gampang kesal kalau disisihkan begitu saja.” 

“Pria yang berpikiran sempit.” 

“Aku punya rencanaku sendiri di sini. Aku cuma tidak suka mereka mengambil langkah yang buruk.” 

Jika ada Chloe, aku bisa meninggalkan ibu kota kekaisaran dengan tenang. Padahal begitu, dia malah dipulangkan begitu saja tanpa persetujuanku. 

Tentu saja aku jengkel. 

Lagipula ke depannya, intensitasku meninggalkan ibu kota kekaisaran pasti akan makin bertambah. 

“Yah, monsternya ‘kan sudah mereda, kurasa sebentar lagi aku sudah bisa pergi ke ibu kota kekaisaran. Walau kalau belum ada penggantinya, pembicaraan ini tidak akan ada ujungnya, sih.” 

“Setidaknya kalau ada seseorang yang sanggup memimpin orang-orang-orang peringkat A dengan baik, ceritanya akan berbeda.” 

Monster di Mizuho tidak sekuat itu. 

Selama ada seseorang yang bisa menjalankan kepemimpinan dengan baik, para petualang peringkat A saja harusnya sudah cukup untuk mengatasinya. 

Masalahnya, petualang yang sanggup menunjukkan kepemimpinan seperti itu selalu dibutuhkan di berbagai tempat, sehingga tidak ada yang senggang. 

Pada akhirnya, ini hanyalah meminta sesuatu yang tidak ada. 

Apa memang tidak ada, ya? 

Petualang berpengalaman yang bisa menggantikan posisi Chloe. Kalau ada, aku bisa pergi ke Kerajaan dengan tenang. 

Saat aku sedang membatin demikian, kami tiba di lokasi kemungkinan pertama. 

Sebuah hutan yang memiliki kondisi hampir serupa dengan Hutan Senja. 

Hutan Senja adalah tempat yang menampung daya sihir dalam jumlah yang sangat besar. 

Jika bukan di tempat semacam itu, akan sangat sulit untuk menggunakan berbagai formula sihir. 

Karena itulah kita bisa menyempitkan lokasinya. 

“Sejauh yang kulihat, tidak ada yang aneh.” 

“Benar. Kendati demikian...” 

“Mereka mungkin memang pernah berada di sini.” 

Kami ini pengguna Sihir Kuno yang langka di benua. 

Aku dan Chloe berbeda dari para penyihir lainnya. 

Kami bisa merasakan perubahan daya sihir yang sangat tipis sekalipun. 

Di hutan itu terdapat sebuah jejak. 

Meskipun mereka sudah pergi, klan Manusia Naga tidak salah lagi pernah berada di sini. 

“Sepertinya mereka sudah pindah lagi.” 

“Apa mereka menyadari kalau kita datang mencari mereka?” 

Sambil berbicara, aku bersedekap dan mulai berpikir. 

Jika begini terus, ini bisa berubah menjadi aksi kejar-kejaran. 

Aku tidak punya waktu untuk melayani hal semacam itu. 

“Chloe, apa kamu punya ide bagus?” 

“Emm, ada satu hal yang ingin kucoba, sih.” 

“Kalau begitu, mari kita gunakan cara itu.”


Bagian 7

“Klan Manusia Naga benar-benar mewaspadai Guru, dan aku rasa kalau Guru bergerak, mereka pasti akan ikut berpindah. Kalau kita terus-terusan main kejar-kejaran begini tidak akan ada habisnya, jadi mau tidak mau kita harus meminta Guru untuk menyembunyikan keberadaan Guru, sih.” 

“Meskipun menghilangkan keberadaannya, bagaimana caranya? Kalau ada orang setingkat Silver, pastinya mereka akan menyadarinya. Apa kita mau menjauh dari Mizuho?” 

“Meskipun dibilang ada sihir teleportasi, kalau terlalu jauh, perjalanan akan memakan waktu. Makanya Guru harus tetap berada di Mizuho.” 

Usulan Chloe itu adalah sesuatu yang tidak masuk akal. 

Selama aku berada di Mizuho, keberadaanku akan terus ketahuan oleh klan Manusia Naga. 

Kalau mereka adalah kelompok yang lengah dalam hal itu, kita pasti sudah menemukan mereka sejak lama. 

Cara mereka kabur seolah menganggapku sebagai Raja Iblis atau semacamnya. 

“Meskipun berada di Mizuho, menyembunyikan keberadaan adalah hal yang mustahil bahkan bagiku, tahu?” 

“Iya, makanya kita minta bantuan saja. Di Mizuho ‘kan ada pengguna penghalang terbaik, bukan?” 

Sambil berkata demikian, Chloe mengulas senyum yang ramah.


* * *


“Putri Pertapa! Tolonglah kami!”

“Uhum! Baiklah! Katakan saja apa yang kalian inginkan!”

Orihime, yang senang diandalkan, sangat menyukai tipe orang seperti Chloe yang meminta bantuan dengan jujur dan tulus. 

Ketika Chloe berkata, “Kami sangat membutuhkan kekuatan Putri Pertapa,” dia segera menemuinya. Dan saat Chloe memohon, “Tolonglah kami,” dia langsung mengangguk setuju. 

Walaupun aku sempat berpikir bahwa dia ini terlalu gampang dibujuk, orang yang bersangkutan tampak sangat puas. 

“Seperti yang diharapkan dari Putri Pertapa! Jiwa Anda sungguh besar!” 

“Uhum! Uhum!” 

Chloe sangat pandai menyanjung orang lain. 

Jika sanjungan itu dilontarkan dengan senyuman yang begitu polos, sebagian besar orang tidak akan merasa risih. 

Apalagi bagi orang yang berpikiran sederhana seperti Orihime. 

Dia mengangguk berkali-kali mendengar perkataan Chloe. 

Namun, sepertinya dia masih ingin dipuji lebih banyak lagi. 

“Jika itu orang-orang berpengaruh di negara lain, mereka bahkan tidak akan sudi menemui kami. Anda memang pantas menjadi satu dari sedikit orang yang dimintai bantuan oleh Guru.” 

“Benar! Benar! Kalau soal penghalang, akulah yang nomor satu di benua ini! Tapi! Aku tidak akan pelit menggunakan kekuatan ini! Jika dibutuhkan, aku akan meminjamkan kekuatanku sebanyak apa pun! Sebab jiwaku ini sangat besar!” 

Rasa puas yang luar biasa terpampang jelas di wajahnya. 

Saat aku membatin betapa menyenangkannya hidup jika hal sekecil ini saja sudah bisa membuatnya merasa puas, Chloe memberiku isyarat lewat pandangan matanya. 

Dia pasti bermaksud menyuruhku untuk ikut memohon. 

“...Aku ingin meminjam kekuatanmu.” 

Melihat Orihime yang makin besar kepala, rasanya aku ingin menjatuhkan harga dirinya, tetapi aku tidak mungkin merusak suasana yang sudah susah payah dibangun oleh Chloe. 

Karena itulah aku memintanya dengan patuh. 

Sontak, suasana hati Orihime menjadi makin bagus. 

“Uhum! Serahkan saja padaku!” 

“Kalau begitu, aku ingin Anda mengurung Guru dengan penghalang. Agar klan Manusia Naga tidak bisa melacak keberadaan Guru.” 

“Humm, ini memang urusan yang membutuhkan kekuatanku. Akan tetapi, aku tidak tahu sejauh mana klan Manusia Naga itu bisa merasakan keberadaan Silver.” 

“Sepertinya mereka tidak mengawasiku secara langsung. Kemungkinan besar mereka melacak energi sihirku. Pokoknya, aku ingin kamu memblokir energi sihirku.” 

“Permintaan yang sulit. Tapi! Bagiku, ini perkara sepele!” 

Setelah berkata demikian, Orihime mengurungku dengan sebuah penghalang berbentuk kubus. 

Satu lapisnya saja sudah setara dengan penghalang tingkat tertinggi. 

Dan dia membuatnya menjadi lima lapis. 

Bahkan aku pun pasti akan kerepotan untuk menghancurkannya. 

“Dengan begini, klan Manusia Naga tidak akan bisa merasakan keberadaan Silver. Lalu? Bagaimana caramu memancing keluar klan Manusia Naga yang mengira Silver sudah pergi?” 

“Soal itu, kemungkinan mereka akan kembali ke Hutan Senja.” 

“Meskipun mereka sudah kabur dari sana?” 

“Kami sudah meninjau beberapa lokasi yang memungkinkan, tapi tidak ada tempat yang lebih cocok untuk bersembunyi selain Hutan Senja.” 

Tidak banyak wilayah yang kaya akan energi sihir di Mizuho. 

Karena tempat-tempat itu sudah digunakan oleh Putri Pertapa. 

Oleh karena itulah, Chloe memperkirakan bahwa mereka akan kembali ke Hutan Senja. 

Tanah itu terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja. 

Terlebih lagi, proses perpindahan mereka dari tempat lain juga sangat cepat. Itu menandakan bahwa mereka tidak berniat menetap di sana. 

Mereka hanya menggunakannya sebagai tempat pengungsian sementara. 

Chloe membaca situasinya seperti itu, dan aku pun setuju dengannya. 

Lagipula aku tidak akan berada di Mizuho selamanya. 

Suatu saat nanti aku pasti akan pergi. Mereka hanya perlu bersembunyi sampai saat itu tiba. Kurang lebih seperti itulah strategi mereka. 

Karena itulah, aku harus berpura-pura menghilang. 

“Kalau begitu, aku dan Sieg-san akan pergi memantau situasi di sana.” 

“Ya, kalau bisa secepatnya.” 

Aku mengatakannya dengan wajah yang berkedut di balik topengku. 

Alasannya adalah bentuk penghalang ini. 

Melihat kesempatan emas ini, Orihime mengubah bentuk penghalangnya. 

Menjadi kandang anjing. 

“Heh heh heh! Kamu tidak bisa berkutik sekarang! Silver! Duduk!” 

“Sepertinya kami memang harus bergegas.” 

“Yee, yee.” 

Sampai sejauh mana kesabaranku bisa bertahan. 

Ini adalah tantangan semacam itu. 

Orihime menganggapku tidak lebih dari sekadar mainan yang tiba-tiba jatuh ke tangannya. 

Dia yakin betul aku tidak akan melawan balik, dan kenyataannya aku memang tidak bisa melawan.


Namun, jika kesabaranku sampai habis, aku mungkin akan menghancurkan penghalang ini. 

Kalau sampai terjadi, semuanya akan berakhir. 

“Putri Pertapa... Guru itu ternyata agak gampang naik darah, jadi tolong jangan terlalu berlebihan, ya.” 

“Uhum! Aku tahu! Kalau tidak suka kandang anjing, bagaimana kalau kandang kuda? Akan kuberikan kamu hak untuk menjadi kuda kesayanganku!” 

“Chloe, cepatlah pergi.”

“Sama sekali tidak boleh mengamuk, lho? Melampiaskannya pada klan Manusia Naga juga dilarang. Tahan ya?” 

“Akan kuusahakan.” 

Sambil memeras kata-kata terbaik yang bisa kuberikan, aku mengalihkan pandangan dari Orihime yang tersenyum lebar. 

Soalnya kalau terus-terusan melihat senyumnya itu, rasanya aku ingin memukul wajahnya.


Bagian 8

Chloe dan Sieg yang tiba di Hutan Senja memastikan bahwa lapisan tipis di hutan itu telah terpasang kembali. 

“Tepat sasaran.” 

“Benar sekali. Karena hawa keberadaan Guru melenyap, mereka pasti berpikir bahwa Guru telah kembali menggunakan sihir teleportasi.” 

Sambil berkata demikian, Chloe melangkah perlahan menuju Hutan Senja. 

Ketika berada di jarak yang cukup dekat, dia meletakkan pedang ganda yang terselip di kedua pinggangnya ke atas tanah. 

“Nama saya Chloe. Saya seorang petualang peringkat S yang berbasis di Mizuho. Saya datang bukan untuk memicu perselisihan. Ada hal yang ingin saya bicarakan, termasuk mengenai Sieg-san yang ada di sini.” 

Pertama-tama, dia harus melunakkan kewaspadaan mereka. 

Jika mereka kabur lagi, masalah ini tidak akan pernah ada habisnya. 

Selain itu, mengejar orang-orang yang hidup bersembunyi juga bertentangan dengan prinsip Chloe. 

Mereka memiliki wilayah kekuasaannya sendiri. 

Hutan Senja adalah hutan yang berbahaya, begitulah cerita yang diwariskan secara turun-temurun oleh warga sekitar. Pihak yang melanggar hal itu adalah anak-anak tersebut. 

Mizuho adalah tanah yang berbahaya. Justru karena adanya penghalang dari Putri Pertapa, manusia bisa hidup dengan normal. 

Keluar dari naungan manfaat itu sama saja dengan tindakan bunuh diri. 

Manusia memiliki wilayah kekuasaannya sendiri, begitu pula dengan monster maupun klan Manusia Naga. 

Jika tidak saling menghormati, wajar saja kalau terjadi bentrokan. Jika wilayah kekuasaan disusupi, tentu akan disingkirkan. Manusia pun telah memburu monster dengan cara seperti itu. 

Klan Manusia Naga pun hanya melakukan hal yang sama. 

Karena itulah, Chloe memohon maaf secara jujur kepada klan Manusia Naga. 

“Pertama-tama, terima kasih telah membebaskan anak-anak itu. Saya juga memohon maaf atas ketidaksopanan pihak kami. Penyihir Silver sama sekali tidak berniat untuk memusnahkan hutan ini. Itu hanyalah sebuah ancaman belaka. Dia sendiri tidak bermaksud buruk. Mohon maafkan kami.” 

Ancaman seperti akan kubunuh adalah hal yang biasa. 

Namun, tergantung siapa yang mengatakannya, hal itu bisa memicu imajinasi orang yang mendengar. 

Bagi orang awam, mereka bisa tertawa dan berpikir bagaimana cara dia membunuhku? Namun jika yang mengatakannya adalah Silver, mereka akan menjadi sangat serius dan berpikir bagaimana cara dia membunuhku... 

Sebab tindakan membunuh adalah perkara sepele bagi Silver. 

Batas hal yang sanggup dia wujudkan sangat berbeda dari orang biasa. 

Memberi tahu akan memusnahkan hutan adalah bentuk gertakan untuk menunjukkan bahwa dia mungkin saja menyerang. 

Namun jika Silver yang mengucapkannya, itu menjadi sebuah deklarasi pemusnahan yang jelas bahwa dia bisa saja melakukannya satu detik kemudian. 

Perasaan orang yang bersangkutan tidak ada hubungannya. Ini adalah masalah apakah pihak yang diberi tahu sanggup membayangkan hal itu atau tidak. 

Dan Silver memiliki rekam jejak serta kekuatan yang cukup untuk membuat siapa pun membayangkannya. 

Wajar saja jika klan Manusia Naga memilih untuk melarikan diri. 

“Guild Petualang kami telah beberapa kali bertempur melawan iblis, dan saat ini kami sedang mencari informasi mengenai iblis. Bisakah kami mendengarkan cerita dari Tetua yang pernah berpartisipasi dalam perang besar lima ratus tahun yang lalu? Di saat yang sama, kami juga sedang mencari cara untuk mengembalikan wujud Sieg-san. Saya tahu kalian memiliki aturan yang ketat, tetapi kami sangat memohon bantuan kalian.” 

Jika mereka hidup bersembunyi, mereka mungkin tidak memahami situasi benua saat ini. 

Karena itulah Chloe menjelaskan situasinya. 

Iblis adalah musuh bagi seluruh makhluk yang tinggal di benua ini. 

Informasi mengenai iblis yang mulai bermunculan kembali berpotensi untuk menggerakkan klan Manusia Naga. 

Saat dia sedang membatin demikian, tiba-tiba seorang wanita muncul dari dalam hutan. 

Usianya sekitar belasan tahun akhir. 

Rambut ungu yang panjang serta dua buah tanduk. 

Dia adalah seorang wanita cantik yang memancarkan aura misterius. 

“Ooh! Loretta! Sudah lama tidak berjumpa!” 

“Sieg!” 

Wanita yang dipanggil Loretta itu melambaikan satu tangannya lalu berlari menghampiri Sieg dan memeluknya. 

“Baguslah kamu selamat...!” 

“Kamu berlebihan sekali. Cuma jadi beruang gak bakal membunuhku.” 

“Syukurlah...” 

Loretta bergumam dengan raut wajah yang benar-benar lega dari lubuk hatinya. 

Mengekor di belakang Loretta, seorang wanita lain keluar dari dalam hutan. 

Penampilannya sangat mirip dengan Loretta. 

Perbedaannya hanya terletak pada gaya rambutnya yang dikuncir kuda. 

“Yoo-hoo, Sieg!” 

“Geh! Rubetta!?” 

“Bagaimana? Kehidupan sebagai anak beruang?” 

“Tidak menyenangkan! Cepat kembalikan aku jadi manusia!” 

“Eeh, padahal imut lho.” 

Loretta adalah wanita yang ditolong oleh Sieg, sedangkan Rubetta adalah wanita yang mengubah Sieg menjadi beruang. 

Mereka berdua adalah kakak beradik. 

Namun, karena dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, kepribadian mereka sangat berolak-belakang. 

Berbeda dengan Loretta yang pendiam, Rubetta memiliki kepribadian yang polos dan ceria. 

“Soal imut sih memang benar. Aku juga lumayan menyukainya, tapi bagaimanapun juga wujud manusia jauh lebih praktis dalam berbagai hal. Ah, benar juga! Bagaimana dengan sang Tetua!? Kakek tua itu! Beraninya dia pura-pura memberi izin masuk ke hutan, tapi malah melempar kita ke gunung berapi!” 

Sieg berteriak mengeluh bahwa dirinya hampir mati, tetapi Loretta dan Rubetta hanya bisa tersenyum kecut. 

“Bersama penyihir itu, mana mungkin kamu bisa mati.” 

Dari balik hutan, sang Tetua muncul dari sana. Chloe membungkukkan badannya memberi hormat kepada Tetua tersebut. 

“Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda. Saya Chloe, seorang petualang dari Mizuho.” 

“Aku tahu. Aku beberapa kali melihatmu membasmi monster di sekitar sini. Karenanya, beberapa kali tugas kami jadi lebih ringan.” 

“Begitu ya. Baguslah kalau begitu.” 

“...Loretta dan Rubetta sesekali menyusup keluar hutan untuk melihat-lihat dunia luar. Mereka bilang sering mendengar namamu. Karena mereka berdua bilang kamu bisa dipercaya, aku menampakkan diri seperti ini. Jadi kuperjelas saja, yang kami percayai hanyalah sang Prajurit dan dirimu yang telah melindungi Mizuho.” 

“Begitu rupanya... Terima kasih karena telah memercayai kami. Namun, sosok yang ingin berbicara dengan Anda bukanlah saya.” 

Tetua mengangguk menanggapi perkataan Chloe. 

Dia sudah memahami hal tersebut. 

Sebabnya adalah... 

“Sosok yang mewakili benua ini untuk bertarung melawan iblis adalah Guru saya, Silver. Silver-lah sosok yang paling tepat untuk berbicara dengan Tetua. Bisakah Anda melupakan ketidaksopanan kami sebelumnya? Saya memang telah melindungi Mizuho, tetapi Silver telah melindungi benua ini. Mengingat jasanya itu, mohon pertimbangkanlah.” 

“...Aku tidak keberatan untuk berbicara. Soalnya kaumku juga membenci hidup dalam pelarian. Daripada terus-menerus dikejar, lebih baik kami menyelesaikannya di sini.” 

“Saya sangat berterima kasih.” 

“Namun, ada syaratnya. Karena suatu alasan, kami tidak bisa berada di luar dalam waktu yang lama. Jadi jika ingin berbicara, itu harus dilakukan di dalam hutan.” 

“Loretta ‘kan berada di luar dalam waktu yang lama?” 

“Ada pengecualian. Selama dia dalam kondisi selamat, tidak masalah. Namun mengenai Silver, hal itu tidak bisa dipastikan. Itu semua gara-gara topengnya.”

“Tidak mungkin...” 

“Minta Silver membuka topengnya. Pembicaraan baru bisa dimulai setelah itu.” 

Sambil membatin bahwa permintaan itu rasanya agak sulit diwujudkan, Chloe mengangguk. 

Sebab untuk saat ini, mengangguk adalah satu-satunya pilihan yang dia miliki.


Bagian 9

Di dalam penghalang Orihime, aku yang bosan mengisi waktu luang dengan duduk bersila. 

Orihime mulai berbicara kepadaku dengan suara yang tenang. 

“Apa kamu tahu tentang ras Landrunner, Silver?” 

“Tentu saja aku tahu. Mereka adalah ras setengah manusia yang negaranya dihancurkan oleh Kerajaan Suci, dan sekarang hidup menjadi bajak laut, ‘kan?” 

“Tepat sekali. Tempat tinggal mereka direbut, kehilangan negara, lalu mereka memilih untuk melakukan perlawanan kecil demi mempertahankan harga diri mereka. Merekalah orang-orang itu, meskipun aku sudah berkali-kali menyuruh mereka untuk datang ke Mizuho.” 

“Itu baru pertama kali kudengar.”

“Soalnya ini rahasia. Kalau sampai terdengar oleh Kerajaan Suci, urusannya akan jadi rumit.” 

Tentu saja demikian. 

Bukan hanya Kerajaan Suci saja. 

Seluruh negara yang menjadi korban serangan bajak laut pasti akan menyalahkan Mizuho. 

Pihak pelaku kejahatan yang pertama memanglah Kerajaan Suci. 

Namun, pelaku kejahatan saat ini telah berpindah ke tangan para Landrunner. 

Sebab orang-orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan invasi Kerajaan Suci kini ikut menjadi korban. 

“Para ras setengah manusia merasa tersisih di benua ini. Karena itulah mereka menjadi sangat nekat demi melindungi tempat tinggal mereka. Yah, terlepas dari latar belakang semacam itu, kesadaran wilayah yang kuat di antara para ras setengah manusia juga menjadi salah satu penyebabnya, sih.” 

“Maksudmu klan Manusia Naga juga sama?” 

“Entahlah. Namun aku ingin kamu memahami bahwa ada watak yang seperti itu. Aku tahu kamu punya pemikiran dan akal sehatmu sendiri. Hanya saja, aku ingin kamu memperlakukan mereka dengan sedikit lebih lembut. Cukup sedikit saja.” 

“Aku merasa sudah memperlakukan mereka dengan lembut, sih... tapi maksudmu ‘perasaan’ aku saja tidaklah cukup. Aku mengerti. Aku akan berusaha lebih keras lagi.” 

Merasa puas dengan jawabanku, Orihime berdiri dengan anggun lalu melangkah masuk ke dalam penghalang. 

Lalu. 

“Kamu ini ternyata lembut juga. Palingkanlah kelembutan itu kepadaku juga!” 

“...Aku harus melakukan apa?” 

“Manjakan aku!”


* * *


“Umm... ini ke sini, lalu...” 

“Kalau begitu, milikku ke sini.” 

“Aaaah!?!? Bidakku!?” 

Di hadapan Orihime yang berteriak histeris, bidak kesatria yang dibentuk dari penghalang hancur. 

Yang menghancurkannya adalah bidak kesatriaku. Ini juga dibentuk dari penghalang. 

Bagi penyihir biasa, teknik ini mungkin terlalu rumit hingga tidak bisa mereka pahami. 

Pada dasarnya, penghalang bukanlah sesuatu yang diubah-ubah bentuknya. Pertama adalah kekerasan, lalu luasnya. 

Tidak ada kebutuhan untuk mengasah fleksibilitas. Namun, bagi orang sepertiku dan Orihime, mengubah bentuknya sesuka hati adalah hal yang terbilang cukup mudah. 

“Emm... aku pulang, Guru.” 

“Cepat sekali. Apakah berjalan lancar?” 

“Iya... aku berhasil melakukan kontak. Dibandingkan itu... kenapa Putri Pertapa ada di dalam penghalang?” 

Wajah Chloe memancarkan kebingungan. 

Yah, wajar saja. 

Sebelum Chloe berangkat, Orihime bersenang-senang dengan mengurungku. 

Dia sudah berniat menjadikanku mainannya dan menikmati momen saat memprovokasiku. 

Akan tetapi. 

“Tanya saja langsung pada orangnya.” 

“Putri Pertapa, ada apa sebenarnya?” 

“Bagus sekali kamu menanyakannya! Saat itu aku masih muda. Aku mengurung Silver di dalam penghalang lalu merasa bangga. Namun... aku segera menyadarinya. Saat berada di luar penghalang, hanya aku yang berbicara dan rasanya sungguh hampa.” 

“...”

“Pria bertopeng ini sama sekali tidak menanggapi apa pun yang kulakukan dari luar penghalang. Padahal seharusnya aku yang bersenang-senang, tetapi malah terkesan aku yang berjuang keras demi mendapatkan tanggapan darinya. Mengira itu salah, aku pun memutuskan untuk ikut masuk ke dalam penghalang. Dengan begini posisi kami setara, dan percakapan pun bisa mengalir.” 

“Artinya, mengurung Guru di dalam penghalang itu memang menyenangkan di awal, tapi kamu langsung bosan...?” 

“Benar. Singkatnya, aku bosan.” 

Bisa dibilang ini memang sangat khas Orihime. 

Meskipun dia memprovokasiku dari balik penghalang, hal itu hanya akan membuatku tidak nyaman. 

Pada awalnya reaksi itu tampak menarik baginya, tetapi perlahan-lahan beralih menjadi biasa saja. 

Lalu dia masuk ke dalam penghalang hanya untuk bermain denganku. 

Entah karena dia terlalu santai dengan ritmenya sendiri, atau memang polos dan ceria. 

Awalnya ini adalah permainan adu kekuatan penghalang, tetapi karena dia tidak punya peluang menang, dia mengubahnya menjadi permainan membuat bidak dengan penghalang seperti ini. 

Dengan begini, permaianan kekuatan yang tidak masuk akal tidak bisa dilakukan. 

“Kalau begitu, tunggulah sebentar! Karena mulai sekarang aku akan mengalahkan Silver!” 

“Coba saja kalau bisa.” 

Aku sudah menguasai jalannya permainan di papan. 

Pembalikan keadaan tidak akan mungkin terjadi dari posisi ini. 

Begitulah yang kupikirkan, tetapi... 

“Raja milikku tidak terkalahkan!” 

Tiba-tiba, raja milik Orihime mulai bergerak dan menghancurkan bidak-bidakku. 

Dia memperkuat Raja-nya seorang diri. 

“Hei...” 

“Hancurkanlah jika kamu sanggup menghancurkannya! Selama Sang Raja tidak kalah, tidak ada kata kalah! Fuhahaha!!” 

Mungkin aku yang dangkal karena berharap dia akan mematuhi aturan. 

Bidak-bidakku yang tadinya menguasai papan permainan hancur satu demi satu. 

Pada akhirnya, hanya Raja-ku dan Raja milik Orihime yang tersisa. 

Lalu... 

“Ini pukulan terakhir!” 

“Tidak, ini sudah berakhir.” 

Aku menginjak-injak Raja milik Orihime hingga hancur. 

Melihat hal itu, Orihime menjerit keras. 

“AAAAAAAAH!?!? Raja milikku!? Apa yang kamu lakukan!?” 

“Aku hanya menghancurkan Sang Raja, ‘kan?” 

“Aturannya ‘kan bertarung sesama bidak! Itu pelanggaran aturan!” 

“Bukannya kamu duluan yang mulai?” 

“Nuu... Tapi menyerang secara langsung itu licik namanya!” 

“Kalau begitu, anggap saja seri.” 

Setelah berkata demikian, aku mengakhiri permainan. 

Jika sampai kalah oleh permainan kekuatan semacam itu, gengsiku akan dipertaruhkan. 

Kalau hasilnya seri, harga diriku tidak akan terluka. 

Orihime yang tidak bisa berkutik mau tidak mau menerima tawaran hasil seri tersebut. 

“Padahal tinggal sedikit lagi...” 

“Kenapa Guru bisa tidak dewasa begitu, sih.” 

“Soalnya aku tidak suka kalah. Lalu? Syarat apa yang diajukan pihak sana?” 

“Bagaimana Guru bisa tahu kalau mereka mengajukan syarat?” 

“Dikejar terus-menerus pasti sangat melelahkan. Mereka pasti mengajukan semacam syarat untuk menghentikannya. Mengingat teleportasi mereka melibatkan seluruh markas, pihak yang mengejar jelas lebih diuntungkan.” 

“Tepat sekali. Mereka kelihatan sangat muak. Atas dasar itu, sang Tetua bilang dia akan memercayaimu jika Guru mau membuka topeng.” 

Aku tersenyum kecut mendengar ucapan Chloe. 

Jika bicara soal kepercayaan, penawaran pihak sana sangatlah masuk akal. 

Siapa pun tidak akan bisa memercayai orang yang menyembunyikan wajahnya. 

“Apakah harus begitu?” 

“Sepertinya ada alasannya. Kalau mau bicara harus di dalam hutan, dan kalau mau masuk ke dalam hutan harus membuka topeng.” 

“Jika memang begitu masalahnya, mau bagaimana lagi. Akan kuterima.” 

Mendengar kataku, mata Chloe terbelalak lebar, sementara Orihime mengeluarkan suara terkejut. 

“Apaaa!? Kamu mau membuka topengmu!?” 

“Hal yang berkaitan dengan iblis adalah masalah seluruh benua. Sedangkan aku yang menyembunyikan wajah adalah masalah pribadi. Keduanya tidak bisa dibandingkan di atas timbangan.” 

Kesempatan untuk berbicara dengan orang yang pernah berpartisipasi dalam perang besar lima ratus tahun lalu mungkin tidak akan pernah datang lagi di masa depan. 

Informasi yang bisa didapatkan di sini sangatlah berharga. Sang Tetua kemungkinan besar memiliki informasi yang jauh melebihi bayanganku. 

Mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada perang besar di masa lalu. 

Sebab dia adalah saksi hidup dari peristiwa itu. 

“Apa aku boleh ikut melihatnya juga!?” 

“Jangan ikut.” 

“Kenapa!?” 

“Aku menolak orang yang datang cuma berlandaskan rasa penasaran.” 

Sambil berkata demikian, aku menyuruh Orihime membatalkan penghalangnya lalu mulai melangkah. 

Kemudian aku mengalihkan pandangan kepada Chloe dan Sieg. 

“Kalian mau ikut?” 

“Emm, aku tidak usah deh.” 

“Kamu tidak tertarik?” 

“Aku tertarik sih, tapi... kalau memang perlu, Guru pasti bakal memberi tahu aku, ‘kan?” 

“Benar juga. Bagaimana denganmu?” 

“Aku juga absen saja, deh. Sebagai gantinya, tolong tanyakan cara agar aku bisa kembali jadi manusia.” 

“Ternyata di luar dugaanku. Kukira kamu bakal ikut?” 

Sieg adalah pihak yang bersangkutan secara langsung. 

Jika dia bilang ingin ikut mendengarkan, aku tidak akan bisa menolaknya. 

Akan tetapi. 

“Kalau aku yang ada di posisi memberi tahu, aku akan melihatnya dengan bangga. Tapi yang berbicara ‘kan sang Tetua. Hak itu ada di tangan Tetua. Biarlah misteri itu tetap tersimpan saja.” 

“Kamu orang yang punya prinsip, ya. Yah, kalau begitu aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu, aku pergi dulu.” 

Setelah berkata demikian, aku berpindah tempat menuju Hutan Senja.


* * *


Begitu tiba di Hutan Senja, sang Tetua keluar dari dalam hutan. 

“Kudengar jika aku membuka topengku, kalian akan mengizinkanku masuk ke dalam hutan?” 

“Jika kamu membuka topengmu dan keadaanmu dipastikan selamat, tentu saja.” 

“Selamat dari apa?” 

“Kami bersembunyi bukan untuk menghindari manusia. Selama lima ratus tahun kami menghindari kontak dengan dunia luar adalah demi melarikan diri dari Otoritas iblis.” 

“Kalian melarikan diri selama lima ratus tahun? Otoritas seperti apa itu?” 

“Otoritas berupa penyakit. Salah satu bawahan terdekat Raja Iblis, iblis bernama Vepar, menjatuhkan hujan hitam saat dia kembali ke dunia iblis. Hujan beracun. Hanya saja, racun itu tidak mempan terhadap orang-orang yang memiliki darah yang kuat. Namun, bagian paling merepotkan dari racun itu adalah kenyataan bahwa racun tersebut berkembang sedikit demi sedikit. Dimulai dari orang yang lemah terlebih dahulu, hingga akhirnya menular sebagai penyakit ke orang yang kuat. Kami yang tahu betul karakteristik Vepar memilih untuk bersembunyi. Sebab kami bisa memprediksi bahwa racun itu lambat laun akan mendekati kami.” 

Mendengar penjelasan sang Tetua, aku menghela napas pelan. 

Agar bisa seakurat dan setenang mungkin, aku menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. 

Lalu. 

“Kenapa kalian tidak mengambil tindakan penanganan?” 

“Tidak ada cara untuk mengatasinya. Gejalanya sendiri hampir tidak ada bedanya dengan flu biasa, ditambah lagi untuk melenyapkan racun itu secara total, tidak ada cara lain selain membunuh Vepar. Namun, makhluk itu telah kembali ke dunia iblis. Kami juga tidak tahu di dalam tubuh siapa racun itu bersembunyi. Sebab hujan hitam itu turun di berbagai penjuru benua. Kemudian, kami memilih untuk bersembunyi, sementara orang-orang utama yang bertarung melawan Raja Iblis memilih untuk melakukan pemulihan. Kemungkinan ada begitu banyak saat itu. Kami yang bersembunyi mungkin bisa menemukan solusinya. Perkembangan racunnya juga mungkin akan berjalan sangat lambat. Pada titik waktu itu, racun tersebut bukanlah ancaman sama sekali.” 

“Aku sudah membaca banyak sekali buku, tetapi penyakit seperti itu tidak tertulis di mana pun?” 

“Mau bagaimana lagi kalau hal itu tidak tersampaikan. Yang mengetahuinya hanyalah segelintir orang. Segelintir orang itu pun kehilangan nyawa mereka di masa kekacauan setelah iblis pergi. Nah, karena kamu sudah tahu alasannya, bukalah topengmu. Begitu melihatnya, aku akan tahu apakah kamu selamat atau tidak.” 

Atas dorongan sang Tetua, aku melepas topeng perakku. 

Sontak, mata sang Tetua terbelalak sedikit, hingga akhirnya dia menunjukkan raut wajah yang serba salah dan penuh duka. 

“Dugaanku benar... kamu keturunan darah Ardler...” 

“Aku Pangeran Ketujuh Kekaisaran, Arnold Lakes Ardler. Apa aku terjangkit penyakit itu?” 

“Racun itu bersembunyi di dalam darahmu. Namun, jika kamu adalah seorang Ardler, ceritanya akan berbeda. Mari, masuklah ke dalam hutan. Sebab darah Ardler jauh lebih kuat ketimbang darah kami.” 

Setelah berkata demikian, sang Tetua berbalik arah. 

Lalu. 

“Tidak kukira racun itu sudah sampai ke darah Ardler dalam lima ratus tahun... Padahal dalam prediksiku, itu membutuhkan waktu seribu tahun.” 

“Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya?” 

“Kami juga sudah meneliti ini sejak lama. Para Raja pada masa itu, termasuk sang Kaisar, telah mempercayakan semuanya kepada kami. Namun, kami tidak sempat... Nasib umat manusia kini tinggal menghitung hari.” 

“Apa maksudmu?” 

“Racun yang dilepaskan oleh Vepar adalah sesuatu yang ditujukan untuk memusnahkan garis keturunan darah terkuat. Garis keturunan itu bernama Armsberg. Jika racun itu sudah sampai ke Ardler, lambat laun racun itu juga akan sampai ke Armsberg. Jika kehilangan pemegang Pedang Suci, kekuatan tempur umat manusia akan terkikis secara signifikan. Saat itulah... yang sedang ditunggu-tunggu oleh sisa-sisa pengikut iblis.”


Bagian 10

Setelah mengenakan kembali topengku, aku melangkah masuk ke dalam hutan mengikuti petunjuk dari sang Tetua. 

Setelah sejenak dihinggapi perasaan seolah-olah masuk ke dalam air, Hutan Senja yang tadinya hanyalah hutan biasa yang sangat wajar, berubah drastis. 

Meski sangat menyatu dengan alam, di sana terdapat sebuah desa. 

Desa klan Manusia Naga. 

“Kami menyiapkan tempat pengungsian di berbagai penjuru, tetapi kami sudah tinggal di sini cukup lama. Semuanya menyukai kehidupan di tempat ini.” 

“Kalau begitu, aku minta maaf atas apa yang telah kulakukan. Soalnya aku ingin segera membawa kembali anak-anak itu. Ini memang salah kita berdua, tapi tolong maafkan aku.” 

“Aku tidak berniat menyalahkanmu. Apalagi setelah mengetahui kedudukanmu yang sebenarnya.” 

Sambil berpapasan dengan beberapa orang klan Manusia Naga dan dipandangi dengan tatapan aneh oleh mereka, aku diantarkan menuju rumah sang Tetua. 

“Tidak akan ada yang masuk tanpa izin. Di sini kita bisa bicara dengan santai.” 

“Kalau begitu, aku ingin langsung menanyakannya. Kemungkinan besar ibuku sedang dihinggapi penyakit itu. Namun, ibuku adalah rakyat biasa. Kenapa dia bisa terjangkit? Bukannya itu racun yang menyasar orang-orang kuat?” 

“Hal yang sudah diketahui adalah bahwa racun milik Vepar itu berpikir. Racun itu bukanlah gumpalan tanpa bentuk, melainkan sebuah entitas tersendiri. Masing-masing racun belajar sembari bergerak menuju target akhir, yaitu garis keturunan sang Pahlawan. Karena itulah evolusi racun tersebut memiliki perbedaan pada tiap individu. Hanya saja, jika itu ibumu, momen saat dia mendapatkan penyakit itu kemungkinan besar adalah sewaktu mengandung. Penyakit ini tidak langsung kambuh. Sama seperti dirimu yang saat ini belum menunjukkan gejala. Ada masa inkubasinya. Jika seorang anak yang memiliki daya sihir sebesar dirimu ada di dalam kandungan... tidak heran jika sang ibu menjadi target dari racun tersebut.” 

Itu adalah jawaban yang garis besarnya sudah kubayangkan. 

Di saat yang sama, ada bagian dari diriku yang menyesali kenyataan bahwa perkiraanku tidak dibantah. 

Artinya... ini semua salahku. 

“Jika penyakit itu kambuh... apa yang akan terjadi?” 

“Secara perlahan tubuh akan melemah, dan pada akhirnya akan merenggut nyawa. Tidak ada cara untuk menyembuhkannya secara total. Kemudian racun itu akan menjadi makin kuat, lalu berpindah ke orang lain. Begitu seterusnya secara berulang-ulang.” 

“Apakah tidak ada cara untuk memperpanjang usia?” 

“Bukannya tidak ada cara, tapi... apa gunanya melakukan itu? Racun penyakit yang membawa daya sihir masif telah sampai padamu, seorang petualang peringkat SS. Klan Ardler sudah tidak memiliki masa depan lagi. Begitu pula dengan klan Armsberg. Kekaisaran yang menguasai wilayah daratan yang luas akan runtuh. Memanfaatkan kekacauan itu, para iblis pasti akan datang menyerang. Jika hal itu terjadi, semuanya akan berakhir.” 

“Maksudmu aku harus menyerah...? Gara-gara racun yang disebarkan lima ratus tahun yang lalu, aku harus menyerahkan segalanya? Kalau saja aku tahu lebih awal!” 

“Apa yang akan kamu lakukan setelah tahu? Entah catatan sejarah tersampaikan atau tidak, hasilnya tidak akan berubah. Lagipula meski catatan sejarah sepertinya tidak tersampaikan, langkah penanganan sebenarnya telah diambil. Klan Ardler mengasah darah mereka agar racun tidak bisa mendekat. Lalu mereka melindungi klan Armsberg agar darah mereka tidak menipis. Hal-hal yang bisa dilakukan sudah dilakukan.” 

Aku membisu mendengar kata-kata sang Tetua. 

Klan Ardler terus memasukkan darah yang lebih kuat ke dalam garis keturunan mereka. 

Kukira itu dilakukan demi bersiap menghadapi invasi ulang iblis yang diperkirakan akan terjadi di masa depan, tetapi ternyata hal itu juga merupakan langkah penanganan terhadap racun. 

Dan karena keberadaan racun itulah, klan Armsberg menerima posisi sebagai Keluarga Pahlawan. 

Agar garis keturunan darah kuat yang sanggup mengendalikan Pedang Suci tidak punah, dan juga tidak menipis. 

“...Jika membunuh Vepar, apakah racun itu akan lenyap...?” 

“Hal itu sudah tidak diragukan lagi. Otoritas iblis akan lenyap begitu iblis yang bersangkutan musnah. Namun, Vepar adalah iblis agung yang menjadi satu-satunya yang gagal dibasmi oleh sang Pahlawan. Saat Raja Iblis tumbang, Vepar bersama iblis-iblis yang tersisa melarikan diri ke dunia iblis sembari menanggung luka parah. Luka parah yang akan membuat siapa pun berpikir dia sudah mati jika saja hujan hitam tidak turun. Kenyataan bahwa kami sempat berpikir para bawahan terdekat Raja Iblis telah musnah total sebelum hujan hitam turun menunjukkan betapa sengit dan tuntasnya sang Pahlawan menghabisi para pembantu Raja Iblis tersebut. Vepar yang kabur demi menyelamatkan nyawanya tentu tidak akan keluar dari dunia iblis kecuali terjadi sesuatu yang sangat luar biasa.” 

Mendengar kata-kata sang Tetua, aku mengangguk sekali. 

Kalau begitu, hal yang harus dilakukan hanya satu. 

“Beri tahu aku cara pergi ke dunia iblis. Aku sendiri yang akan membasminya.” 

“Lubang yang menghubungkan ke dunia iblis pada dasarnya berjalan satu arah. Pemanggilan bisa dilakukan, tetapi kita tidak bisa pergi ke sana dari sini. Bahkan para iblis pun memanfaatkan fakta bahwa mereka dipanggil untuk melakukan invasi. Kecuali kamu dipanggil dari sana, pergi ke dunia iblis adalah hal yang mustahil.” 

“Lalu bagaimana cara mereka kembali!?” 

“Saat dipanggil, mereka memperbesar lubangnya. Dari situlah para iblis berdatangan secara beruntun. Namun, setelah Vepar mundur, lubang itu ditutup. Oleh sang Pahlawan.” 

“Padahal ada lubang... kenapa pasukan pembalasan tidak dikirimkan!?” 

“Benua tidak memiliki sisa kekuatan untuk melakukan hal itu! Sang Pahlawan sempat mengajukan diri untuk membasminya, tetapi kami menghentikannya! Untuk menutup lubang itu, dibutuhkan satu pukulan yang sangat kuat dari luar. Yang sanggup melakukan hal itu hanyalah Pedang Suci milik sang Pahlawan. Jika sampai sang Pahlawan kalah di dunia iblis, kita tidak hanya akan kehilangan sang Pahlawan dan Pedang Suci, tetapi lubang itu juga tidak akan bisa ditutup lagi. Kita tidak bisa mengambil risiko berbahaya seperti itu!” 

Raut wajahnya menunjukkan dengan jelas bahwa itu adalah sebuah keputusan yang sangat sulit. 

Namun, hasilnya adalah situasi saat ini. 

Aku ingin dia juga memahami posisiku yang tanpa disadari telah dihinggapi racun, dan nasib umat manusia yang dikatakan tinggal menghitung hari. 

“Aku tidak menyangka racun itu akan sampai ke klan Ardler secepat ini. Penelitian mengenai Otoritas racun penyakit ini terus dilanjutkan. Namun, yang berhasil diciptakan dalam waktu lima ratus tahun hanyalah obat untuk meringankan gejalanya saja. Pembasmian secara total masih belum berhasil dilakukan.” 

“Ada obat yang bisa meringankan gejalanya!?” 

“Klan Manusia Naga kami adalah ras yang unggul dalam ilmu pengobatan. Jika ada lima ratus tahun lagi, membasminya secara total bukanlah sebuah mimpi. Namun, kita kekurangan waktu. Yang bisa kami buat hanyalah obat untuk meringankan gejala belakangan ini. Bahkan jika bisa memperpanjang usia sedikit saja, itu tidak akan berarti banyak.” 

Racun yang telah mencapai klan Ardler ini lambat laun akan mengarah kepada klan Armsberg yang merupakan harapan umat manusia. 

Itulah batas waktu yang sebenarnya. 

Dan di dalam darahku, racun penyakit itu sudah ada. 

Dengan kata lain. 

“Batas waktunya adalah sampai aku mati karena penyakit ini, ‘kan?” 

“Jika sampai itu terjadi, sudah bisa dipastikan semuanya akan terlambat. Sebab setelah sosok tangguh sepertimu, tidak ada lagi tujuan lain selain klan Armsberg.” 

“Namun, hal itu bisa diperlambat. Benar, ‘kan? Jika ada waktu, tidak ada masalah. Di rentang waktu itu, kita hanya perlu mencari solusinya.” 

“Apakah di dalam kamusmu tidak ada kata menyerah? Inilah kenapa klan Ardler itu...” 

Sang Tetua menunjukkan ekspresi heran. 

Namun, todak lama kemudian dia menyunggingkan senyum tipis. 

“Seberapa jenius pun dirimu, pengembangan obat membutuhkan waktu. Daripada menyempurnakan obat, lebih baik memikirkan cara lain.” 

“Cara untuk pergi ke dunia iblis?” 

“Atau cara untuk menyeret Vepar keluar dari dunia iblis juga boleh. Selama sumbernya dihancurkan, racun ini akan lenyap.” 

Bicara saja memang mudah. 

Justru karena tidak bisa melakukannya aku merasa kesulitan. 

“Apa kamu punya ide?”

“Astaga... Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengan klan Ardler, tetapi kalian ini tetaplah keluarga yang sangat menguras tenaga... Kalau tidak salah, kamu bilang para iblis sudah mulai bermunculan, ‘kan?” 

“Ya. Kami sudah membasmi beberapa ekor iblis... tetapi aku yakin masih ada yang tersisa di luar sana.” 

“Jika beberapa dari mereka bergerak secara bersamaan, kemungkinan memang masih ada yang tersisa. Kalau mereka menganggap ini sebagai kesempatan emas dan mulai bergerak... ini mungkin bisa menjadi sebuah peluang.” 

“Apa maksudmu?” 

“Seperti yang kukatakan. Jika berada di posisi unggul secara mutlak, Vepar pun pasti akan menampakkan diri dari dunia iblis. Kaisar masa itu pernah mengusulkan ide tersebut, tetapi cara itu tidak bisa digunakan karena iblis yang hidup sangat lama tidak akan mengendurkan kewaspadaannya secepat itu. Lagipula, cara yang sengaja menyerahkan keunggulan kepada pihak lawan adalah pedang bermata dua.” 

“Namun, sekarang tidak masalah. Waktu berlalu begitu lama, dan umat manusia sudah tidak punya banyak waktu lagi...” 

Sampai di titik itu, pemikiranku mendadak membeku. 

Memang benar bahwa situasi saat ini adalah sebuah krisis sekaligus peluang. 

Namun, perkembangan situasi yang sedemikian rupa tidak akan terjadi begitu saja. 

Bagaimana jika... ini hanya hipotesisku

Bagaimana jika situasi ini sebenarnya telah dirancang? 

Pelemahan Kekaisaran Adrasia, negara kuat yang bertakhta di pusat benua, akan menjadi pemicu kerusuhan. 

Akibat berbagai kekacauan yang kerap terjadi belakangan ini, Kekaisaran melemah, dan kini sudah berada di ambang perang secara menyeluruh dengan Kerajaan. 

Menang atau kalah, kedua belah pihak akan sama-sama terluka. 

Dalam kerangka besar umat manusia, hal itu tidak lebih dari sekadar penurunan kekuatan tempur. 

Bagi para iblis, ini adalah kesempatan emas. 

Peluang invasi yang sangat sempurna. 

Namun jika demikian, sebuah tunas untuk membalikkan keadaan dalam satu pukulan justru bermunculan bagi umat manusia. 

Dan dalang di balik peluang pembalikan keadaan dalam satu pukulan ini...


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close