NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saikyou Degarashi Ouji no An’yaku Teii Arasoi V17 Chapter 4

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka

Chapter 4

Marsekal Sementara

Bagian 1

Selir Kedua Kekaisaran, Amelia. 

Dia adalah sosok yang ditambatkan di dalam hati sang Kaisar, serta selir yang paling dicintai melebihi siapa pun. 

Unggul dalam sihir, dia adalah selir ideal yang selalu bersiaga mendampingi sang Kaisar. 

Begitulah yang orang-orang katakan. 

Namun, ada masa di mana Amelia kehilangan keseimbangan mental dan fisiknya. 

Yaitu ketika dia sedang mengandung Putri Ketiga, Christa. 

Mendadak berteriak histeris, hingga tiba-tiba mulai menuliskan sesuatu. 

Menghadapi perilaku aneh dari Amelia yang biasanya cerdas, istana harem jatuh ke dalam kondisi panik. 

Pelayan wanita diganti, dan para dokter didatangkan tanpa henti. 

Diagnosisnya selalu sama seperti biasa. 

Dia mengalami halusinasi akibat rasa cemas dari kehamilannya. 

Karena kondisi ibu dan janin dalam keadaan stabil, sebaiknya dipantau saja untuk sementara waktu. 

Gara-gara kehamilan. 

Jika dikatakan demikian, orang-orang tidak punya pilihan selain diam. 

Akan tetapi, perilaku aneh Amelia terus berlanjut tanpa henti, hingga akhirnya dia mulai menolak untuk bertemu dengan Kaisar Johannes sekalipun. 

Merasa sangat kewalahan, Johannes mempertaruhkan harapan terakhirnya dengan memanggil kembali dua pangeran yang sedang melakukan inspeksi di wilayah garis depan. 

“Maaf karena memanggil kalian secara mendadak, kalian berdua.” 

“Jika kondisi Ibunda tidak baik, sudah menjadi tugas seorang putra untuk kembali. Terlebih lagi kami adalah putra sulung dan putra kedua. Serahkanlah kepada kami, Ayahanda.” 

“Aku mengandalkan kalian, Wilhelm, Eric.” 

Sebagai ganti dari Kaisar Johannes, Pangeran Pertama Wilhelm dan Pangeran Kedua Eric yang makin sering berada di garis depan. 

Putra-putra kebanggaan sang Kaisar. 

Para pangeran muda di usia belasan akhir yang dipanggil demikian itu adalah sandaran bagi sang Kaisar. 

Jika berada dalam kesulitan, dia akan mengandalkan mereka berdua. 

Akan tetapi. 

“Jangan menerima janji sembarangan, Wilhelm. Bahkan saat dia sama sekali tidak mau menemui Ayahanda, menurutmu Nyonya Amelia mau bertemu dengan kita?” 

“Kita tidak akan tahu kalau belum mencobanya. Aku mendengar bahwa kehamilan itu sangat berat. Mari kita hilangkan kecemasan Nyonya Amelia bersama-sama.” 

“Dalam kondisi seperti ini, aku rasa membiarkannya tenang adalah pilihan terbaik. Jika urusannya makin membelit gara-gara tindakan tidak perlu, aku tidak mau tahu, ya?” 

“Jika disuruh untuk membiarkannya saja, aku akan melakukannya. Namun, bagaimana jika dia menanggung kecemasan yang bahkan tidak bisa diceritakan kepada Ayahanda? Di saat itulah giliran kita!” 

Wilhelm berujar dengan riang. 

Sambil berjalan di belakangnya, Eric menghela napas pelan. 

Selalu melihat segala hal dari sudut pandang yang positif adalah kelebihan yang sulit dicari, tetapi berada di samping orang yang seperti itu sangatlah melelahkan. 

Hal yang menyebalkan adalah, bukannya orang itu tidak bisa berpikir secara matang. 

Dia bisa memberikan perhatian yang cukup kepada lawan bicaranya, dan dia sanggup memprediksi masalah merepotkan setelahnya, tetapi dia tetap saja riang di atas semua itu. 

“Jika kita yang menyelesaikannya, kita akan memicu rasa cemburu Ayahanda, tahu?” 

“Ayahanda tidak selabil itu sampai berpikiran sempit.” 

“Soal Nyonya Amelia adalah pengecualian. Bukan hal aneh bagi seorang putra untuk lengser karena memicu rasa cemburu ayahnya. Jangan terlalu dalam ikut campur.” 

“Jika sampai terjadi begitu, bukannya kamu yang akan menengahinya, Eric?” 

“Jangan melimpahkan semua urusan merepotkan padaku.” 

Sambil saling bertukar percakapan semacam itu, Wilhelm dan Eric melangkah menuju kamar Amelia. 

Kepada Amelia telah disampaikan bahwa mereka berdua mendatangi kamarnya untuk memberi salam atas kepulangan mereka. 

Dan. 

“Tidak ada pengawal...?” 

“Apa maksudnya ini?” 

Di luar kamar sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan. 

Malahan dari dalam kamar pun keberadaan seseorang tidak terasa sama sekali. 

Sambil merasa curiga, Wilhelm mengetuk pintu kamar. 

“...Silakan.” 

Suara lirih terdengar dari dalam kamar. 

Itu adalah suara Amelia. 

Sambil merasa lega atas hal itu, Wilhelm berucap permisi lalu membuka pintu. 

Sontak, Amelia tampak tersenyum di atas tempat tidur. 

“Senang... kalian mau datang... Wilhelm, Eric.” 

“Kami baru saja kembali, Nyonya Amelia.” 

“Kami mendengar bahwa kondisi Anda sedang tidak baik, tetapi kenapa tidak ada seorang pun di kamar ini?” 

Terhadap Eric yang mendadak melontarkan pertanyaan seperti sedang mendesak, Wilhelm menyikutnya dengan sikut. 

Namun, Eric tidak peduli. 

Menjawab pertanyaan Eric yang seperti itu, Amelia membalas sambil tetap tersenyum. 

“Saat mendengar kalian berdua akan datang... aku menyuruh semua orang keluar... Tidak ada siapa-siapa di sekitar kita...” 

“Kenapa Anda sampai menyuruh semua orang keluar? Jika terjadi sesuatu pada tubuh Anda...” 

“Benar juga... karena itulah aku akan menyelesaikannya dengan cepat... Aku hanya bisa menceritakannya kepada kalian berdua.” 

“Jika Anda memiliki kecemasan, kami akan mendengarkannya. Tolong ceritakan apa pun itu kepada kami.” 

Atas dorongan Wilhelm, Amelia mengeluarkan sebuah buku. 

Itu adalah buku yang ditulis oleh Amelia sendiri. 

“Di sini tertulis mimpi buruk yang kulihat selama ini... Meskipun dokter bilang bahwa itu adalah halusinasi akibat kehamilan... aku merasa hal itu berbeda.” 

“Maksud Anda?” 

Amelia mengelus perutnya yang membesar. 

Di dalam perut itu terbaring anak sang Kaisar. 

Harta karun Amelia. 

Dan juga harta karun Kekaisaran. 

Karena itulah, hal ini tidak bisa diceritakan kepada Kaisar. 

Sebab ada kemungkinan anak ini akan disingkirkan sebagai bencana nasional. 

“...Ini adalah sihir yang muncul akibat dari mengandung anak ini... Yang kulihat adalah beberapa alur masa depan... Dalam semua alur itu... Kekaisaran hancur, dan jatuh ke dalam kondisi yang sangat tragis...” 

“Sihir ramalan masa depan... aku hanya pernah melihatnya di dalam literatur.” 

“Aku pun tidak bisa percaya... namun, aku melihatnya. Aku tidak merasa yang kulihat adalah halusinasi. Kekaisaran hancur... dan sosokmu, Wilhelm, selalu tidak ada di mana pun. Lalu... adik-adik kalian yang tumbuh dewasa saling bertikai... Belakangan ini aku bahkan melihat masa depan di mana aku membahayakan Paduka...” 

Tidak masuk akal. 

Dengan perasaan seperti itu, Wilhelm dan Eric saling bertukar pandang. 

Namun, atmosfer di tempat itu tidak memungkinkan mereka untuk melontarkan hal tersebut. 

Amelia sama sekali tidak tampak seperti orang yang hilang akal akibat melihat halusinasi. 

Dia hanya tampak terhenyak oleh situasi saat ini, kendati demikian dia menerimanya. 

Di mata mereka berdua, dia tampak seperti itu. 

“Aku tidak tahu sampai kapan ini akan berlanjut... Hanya saja... di banyak masa depan, Kekaisaran terbelah menjadi dua. Satu dipimpin oleh Leonard, dan yang satu lagi dipimpin oleh Arnold. Kalian boleh menganggap ini sebagai omong kosong dan mengabaikannya... Namun, aku ingin kalian berdua menyimpan buku ini... Lalu lindungilah keluarga kita. Jika sudah mempercayakannya kepada kalian, aku akan sanggup menahan mimpi buruk ini mulai sekarang.” 

Setelah berkata demikian, Amelia memberi isyarat tangan melambaikan Wilhelm dan Eric, lalu menyerahkan bukunya. 

Dan seakan merasa tenang, dia pun tertidur begitu saja. 

Mereka berdua yang tidak sanggup mengikuti alur situasi hanya bisa mengkhawatirkan keadaan Amelia yang tertidur. 

Yang tersisa hanyalah buku di mana Amelia mencatat mimpi-mimpi buruknya. 

Mereka berdua pun memanggil kembali para pelayan wanita Amelia yang disuruh keluar, lalu untuk sementara waktu membaca buku tidak masuk akal tersebut.


Bagian 2

Ibu Kota Kekaisaran, Vilt. 

Aku telah kembali ke tempat ini. 

Tentu saja, tujuannya adalah demi menemui Ayahanda. 

Orang-orang di Kadipaten sempat menahanku. 

Jika aku berada di Kadipaten, pergerakan para bajak laut setidaknya akan sedikit melambat, dan jika sesuatu terjadi, aku bisa langsung meresponsnya. 

Namun, aku tidak bisa memenuhi harapan mereka. 

Sebab perintah Kaisar adalah sesuatu yang mutlak. 

“Apakah Paduka Kaisar mau menerima tuntutan Anda, Tuan Al...?” 

Fine bergumam di dalam kereta kuda. 

Menanggapi hal itu, aku membalasnya dengan datar. 

“Paman pasti sudah menjelaskan keuntungannya. Keuntungan memberikan posisi Marsekal padaku. Tentu saja, Ayahanda bukanlah orang yang tidak bisa memahami hal itu. Karena itulah... pembicaraan selanjutnya pasti akan membawa-bawa perasaan. Kalau sudah begitu, arahnya tidak akan bisa ditebak.” 

“Beliau pasti sangat mengkhawatirkan Anda.” 

“Itu adalah hal yang patut disyukuri. Soalnya beliau masih mau mengkhawatirkan putra yang pemalas ini. Tapi, peran sebagai perisai bagi Leo hanya bisa dilakukan olehku. Karena aku memiliki kemampuan maupun kedudukan yang memenuhi syarat.” 

Jika ada momen di mana aku harus meloncat ke panggung utama, itu adalah demi menarik perhatian ke arahku. 

Tujuannya adalah untuk memalingkan pandangan orang-orang dari Leo. 

Dan persaingan takhta pun sudah memasuki babak akhir. 

Meskipun intrik panjang dari para iblis telah terungkap, hal yang harus kulakukan tidak berubah. 

Aku akan mendudukkan Leo di takhta Kaisar. 

Demi itu, posisi Marsekal sangat diperlukan. 

Momen untuk berdiri di panggung utama saat ini adalah yang paling tepat, dan jika melewatkan saat ini, tidak akan ada lagi kesempatan untuk berdiri di panggung utama. 

Dengan bermunculannya diriku di sini, pandangan banyak orang akan terpusat padaku. 

Semua orang akan menyadari bahwa di balik kesuksesan Leo, ada aku yang mengendalikannya. Mereka yang tadinya samar-samar menyadari hal itu, mau tidak mau akan kian mewaspadaiku. 

Begitu perang di Kerajaan berakhir, kedudukan Leo akan menjadi sangat kukuh. Demi membalikkan keadaan, serta demi mencegah stabilitas Kekaisaran, opsi tindakan yang bisa mereka ambil menjadi sangat terbatas. 

Contoh paling ekstrem dari hal itu adalah pembunuhan. 

Namun, jika aku bermunculan di sini, target pembunuhan akan menjadi dua orang. 

Antara Leonard yang memenangi persaingan takhta dengan momentum bagai membelah bambu, atau Arnold yang mengendalikannya dari balik layar. 

Membunuh dua orang secara bersamaan adalah hal yang sulit. 

Setidaknya mereka harus menyingkirkan salah satunya. 

Saat memikirkan itu, sosok yang paling mudah dibunuh adalah aku, dan sosok yang paling ingin mereka incar pun adalah aku. 

Sebab dalang di balik layar yang selama ini murni bergerak di dalam bayangan terlihat jauh lebih mengancam daripada aktor yang menari di atas panggung. Bagaimanapun juga jika dia adalah dalangnya, dia bisa membuat aktor mana pun bersinar. Bahkan jika menyingkirkan sang aktor, aktor lain bisa saja muncul. Apalagi jika dalang di balik layar itu sendiri bisa berubah menjadi seorang aktor. 

Karena itu. 

Aku membutuhkan sebuah pangkat. 

Pangkat yang secara jelas sanggup membawahi Leo yang berada di posisi saat ini. 

Yang dinamakan Marsekal. 

“Memang benar kalau itu mungkin hal yang hanya bisa dilakukan oleh Tuan Al. Lagipula Tuan Al memiliki kekuatan. Saya tahu betul akan hal itu. Tapi... meskipun tahu, saya tetap merasa cemas. Mengantar Tuan Al yang selalu teleportasi rasanya sangat menyakitkan... Beliau pasti jauh lebih cemas ketimbang saya. Tolong buatlah beliau merasa tenang.” 

“Bicara soal membuat tenang pun... Ini ‘kan sama saja seperti melompat ke dalam kobaran api secara sukarela. Tapi kamu tetap menyuruhku membuat beliau tenang?” 

“Jika Anda bilang... akan pasti kembali, beliau pasti bisa merasa tenang.” 

“Sayang sekali, aku punya prinsip untuk tidak membuat janji yang tidak bisa kutepati. Sehebat apa pun ancaman yang meluncur nanti, itu adalah sesuatu yang dirancang untuk membunuh anggota keluarga kekaisaran. Tidak ada jaminan bahwa aku bisa bertahan hidup.” 

“Sekadar hiburan pun tidak apa-apa. Jika Anda membiarkan beliau berpikir bahwa Anda memiliki keinginan untuk tetap hidup, bahwa Anda tidak pergi untuk mati... itu saja sudah cukup.” 

“Apakah benar seperti itu?” 

“Benar, seperti itu.” 

Mendengar kata-kata Fine, aku menghela napas pelan. 

Apakah kata-kata hiburan memiliki nilai sebesar itu? Aku bertanya pada diriku sendiri, lalu menjawabnya sendiri bahwa tidak, itu tidak ada nilainya. 

Namun, jawaban mandiri itu terdorong mentah-mentah. Pendapat Fine memiliki nilai tersendiri. 

Jujur saja, entah aku hidup atau mati. 

Aku tidak akan pernah kembali ke Kekaisaran. 

Munculnya diriku berarti kemunculan musuh terbesar bagi Leo. 

Tidak ada perlunya membagi suara yang berharga. 

Aku memang memancing pembunuhan dari lawan, tetapi aku tidak berniat mati konyol. 

Hanya saja, aku juga tidak berniat untuk terus hidup di panggung utama. 

Aku tidak boleh tetap hidup. 

Apa pun hasilnya nanti. 

Pangeran Kekaisaran, Arnold, harus mati. 

Karena berpikir demikianlah, aku tidak ingin menemui Ayahanda. 

Sebab di hadapan raut wajah Ayahanda yang cemas, aku tidak punya kepercayaan diri untuk bisa bilang bahwa aku akan pulang dalam keadaan hidup. 

Sambil merasa menyedihkan, aku mengerutkan wajahku lalu memberikan arahan untuk mengubah tujuan perjalanan. 

“Aku... ada tempat yang ingin mampir sebentar.”


* * *


Sebelum menuju ke istana, aku menyempatkan diri mampir ke sebuah kediaman pribadi milik Eric yang berada di ibu kota kekaisaran. 

Dahulu tempat itu adalah lokasi peristirahatan dan pemulihan bagi Rhea, kakak iparku yang merupakan istrinya Eric. Namun kini, karena Rhea pun telah meninggalkan ibu kota kekaisaran, tempat itu hanya digunakan sesekali saja. 

Alasanku menyengaja mampir ke sana adalah karena aku mengetahui keberadaan Eric di tempat itu melalui sihir. 

“Ada urusan apa?” 

“Tidak, aku hanya berpikir untuk memberi salam kepulangan.” 

Kediaman pribadi Eric dikelilingi oleh bunga-bunga. 

Dan Eric tengah merawat bunga-bunga tersebut. 

Tanpa melirik sedikit pun ke arahku yang melangkah masuk ke halaman kediamannya, dia terus mengurus bunga-bunga itu secara tekun. 

Mungkin demi menyambut istrinya yang bisa kembali kapan saja. 

“Hubungan kita rasanya tidak cukup dekat untuk saling memberi salam... tapi ya sudahlah. Baguslah kalau kamu sudah kembali, segeralah pergi menghadap Ayahanda.” 

“Aku akan melakukannya setelah urusanku selesai.” 

Sambil berkata demikian, aku memaksa menyodorkan botol kecil yang kubawa ke tangan Eric. 

Benda itu adalah salah satu dari tiga obat uji coba yang kudapatkan dari sang Tetua. 

Penyakit tidak tersembuhkan yang bahkan tidak sanggup diatasi oleh tabib ternama. 

Selain Ibunda, ada sosok lain di dekatku yang menunjukkan gejala mencurigakan. 

Adalah Rhea, istrinya Eric. 

“Apa ini?” 

“Katanya ini adalah obat langka yang berkhasiat untuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Aku membawanya karena teringat pada Kak Rhea.” 

Hanya mengatakan hal itu, aku membungkuk sekali lalu berbalik arah. 

Akan tetapi. 

“Tidak perlu. Aku dan Rhea tidak membutuhkannya.” 

Sambil berkata demikian, Eric mengembalikan obat itu padaku. 

Karena sama sekali tidak menduga dia akan mengembalikannya, mataku terbelalak. 

Eric yang kukenal adalah sosok pria yang sangat mencintai istrinya. Demi Kak Rhea, dia adalah pria yang bahkan sudi menerima obat dari musuh sekalipun. Dia adalah pria yang seperti itu. 

“Bukannya kamu tinggal mencobanya saja dulu? Siapa tahu bisa sembuh!” 

“Masa-masa seperti itu sudah lewat. Jangan melakukan hal yang tidak perlu.” 

“Tidak perlu...? Sama seperti dia adalah seorang istri bagimu, bagiku dia adalah seorang kakak ipar! Apakah berharap agar dia sembuh adalah hal yang tidak perlu?” 

“Hmph... Jika sudah menyangkut keluarga, kamu selalu lembek. Kamu masih menganggapku sebagai kakakmu? Menyerahlah, Arnold. Aku tidak akan pernah mundur. Takhta yang seharusnya diduduki oleh Wilhelm akan kudapatkan dengan tanganku sendiri. Aku tidak berniat menyerahkannya kepada siapa pun. Di Kekaisaran ini... wujud keluarga ideal yang kamu impikan itu tidak ada di mana pun.” 

“...”

Kata-kata Eric memiliki bobot yang kuat. 

Itu adalah kata-kata yang sarat akan tekad. 

Mendapatkan takhta. 

Aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata semacam itu dari mulut Eric yang selama ini tidak pernah bergerak aktif. 

Sebab dia seharusnya berada dalam posisi bahwa takhta itu tentulah sudah menjadi miliknya secara alamiah.


“Aku... mengakui kemampuanmu dan Leonard. Justru karena itulah, buang rasa iba itu dan bertarunglah denganku. Hanya dengan menumbangkan sosok yang berhasil menang, barulah aku sanggup melampaui Wilhelm.” 

“...Sangat disayangkan. Dan ada satu koreksi.” 

“Apa?” 

“Yang kucari adalah keluarga yang biasa. Keluarga yang sangat wajar di mana satu sama lain saling memikirkan. Itulah hal yang kucari.” 

“Bukan hal yang pantas kamu cari dari Keluarga Ardler. Selama ini kita selalu saling membantai sesama darah. Hal itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun.” 

“...”

Eric mungkin benar.

Klan Ardler adalah keluarga kekaisaran. Dari hal itu saja sudah tidak bisa dibilang biasa. 

Padahal demikian, menuntut hal yang biasa tentulah sebuah kemewahan yang berlebihan. 

Hanya saja, di dalam hatiku tetap ada perasaan bahwa hal itu mungkin saja terjadi. 

“Aku atau dirimu mungkin memang tidak akan bisa mengubahnya. Namun, Leo berbeda. Leo akan mengubah Keluarga Ardler mulai sekarang. Leo tidak sama dengan diriku ataupun dirimu.” 

“Kamu mempercayakan impianmu padanya? Hentikan. Jika kamu mempercayakan impian kepada seseorang... impian itu akan hancur berkeping-keping bersama orang tersebut.” 

“Apakah itu cerita berdasarkan pengalamanmu sendiri?” 

“Benar.” 

“Kalau begitu, kamu tenang saja. Leo... akan kujaga dengan tanganku sendiri.” 

“Hmph, siapa pun bisa bilang begitu. Dahulu pun begitu. Semua orang berkata demikian. Namun, tidak ada satu orang pun yang sanggup menjaga impian tersebut.” 

“Katakanlah sesukamu. Aku... tidak sama dengan dirimu.” 

Setelah berkata demikian, aku membalikkan badan membelakangi Eric. 

Sudah tidak ada lagi urusan di tempat ini. 

Jika Eric bilang tidak membutuhkannya, artinya aku harus menyerah untuk memberikan obat ini kepada Kak Rhea. 

Aku sempat berharap obat ini bisa menjadi pemicu untuk sesuatu hal. 

Tidak, bukan begitu. Aku hanya ingin berpikir demikian. 

Namun, kenyataan memang sungguh kejam. 

Memang benar, wujud keluarga yang kucari sepertinya masih belum ada. 

Justru karena itulah, aku harus membuatnya. 

Dengan memperbarui tekad di dalam diri, aku memberi perintah. 

“Pergi ke istana. Aku akan menghadap Ayahanda.”


Bagian 3

“Baguslah kamu sudah kembali, Arnold.” 

“Padahal aku sama sekali tidak berniat untuk kembali, sih.” 

Ini adalah reuni setelah sekian lama. 

Momen ini juga merupakan kepulangan seorang pangeran yang sempat terseret ke dalam masalah di Kadipaten. 

Bahkan jika momen ini menjadi sebuah reuni yang penuh haru, hal itu tidak akan mengejutkan, tetapi baik aku maupun Ayahanda tetap bersikap seperti biasa. 

“Kita sama-sama orang yang sibuk. Langsung saja ke pokok permasalahan. Mengenai tuntutanmu... aku sudah mendengar rinciannya dari Diethelm. Dia menjelaskan keuntungannya dengan teliti, dan telah membujukku berkali-kali. Namun, aku masih ragu untuk memberikan jubah Marsekal kepadamu.” 

“Itu karena Ayahanda khawatir pada keselamatanku, ‘kan?” 

Jika diriku yang seperti biasa, aku pasti akan menjelaskan keuntungannya demi membujuk Ayahanda. 

Itu adalah cara yang sama dengan yang dilakukan oleh Paman. Namun, Paman tidak sanggup membuat Ayahanda diyakinkan. 

Jika diriku sendiri yang menjadi tokoh utamanya menjelaskan keuntungannya secara langsung, tentu akan ada efeknya, tetapi hal itu saja tidak akan bisa membuat Ayahanda benar-benar diyakinkan. 

Aku harus mengetuk hatinya secara emosional. 

Aku paham betul. Merupakan hal yang sangat wajar bagi seorang orang tua untuk mengkhawatirkan anaknya. 

Terlebih lagi, aku sendiri yang secara sukarela mengajukan diri untuk menjadi umpan. 

Pada mulanya, ini adalah siasat yang dirancang oleh beberapa orang termasuk Ayahanda. Aku merasa sangat konyol jika beliau baru ragu-ragu di saat seperti ini. 

Membuatku kian menonjol demi memalingkan cengkeraman pembunuhan dari Leo adalah hal yang sangat alami. 

Sebab bagi Kekaisaran, sosok yang terpenting adalah Leo, bukan aku. 

Hanya saja, hal sejauh itu pasti sudah dipahami oleh Ayahanda. 

Kendati demikian, alasan kenapa beliau tidak kunjung bisa memantapkan hatinya... adalah karena beliau adalah seorang manusia. Dan karena beliau telah berkali-kali merasakan kepedihan akibat kehilangan. 

“Sungguh tidak terduga. Kukira kamu akan menjelaskan keuntungan yang akan didapatkan oleh Kekaisaran?” 

“Awalnya aku berniat melakukan hal itu. Hanya saja... Ayahanda sepertinya sudah sangat mengerti keuntungannya.” 

“Pikiranmu tajam sekali. Aku sangat paham akan keuntungannya. Leonard itu sangat penting. Jika harus menyerahkan Kekaisaran di masa depan... aku berpikir Leonard-lah sosoknya. Jika dia bisa memberikan hasil yang sanggup meyakinkan semua orang dan berhasil menyalip Eric, aku berniat untuk melantiknya menjadi Putra Mahkota. Namun... itu adalah Leonard yang ada saat ini. Leonard yang ditopang olehmu.” 

Ayahanda tahu betul soal itu. 

Leo tidak sampai di titik ini seorang diri. Dia telah ditopang oleh banyak orang. Namun, sosok yang paling menopangnya adalah aku. 

Jika sampai kehilangan diriku, apakah Leo akan tetap sanggup berfungsi sebagai Putra Mahkota? 

Jika dia tidak sanggup berfungsi, membahayakan diriku sama saja artinya dengan membahayakan Leo. 

Ini adalah kekhawatiran yang sangat khas dari Ayahanda yang telah berkali-kali mengalami beban mental akibat kehilangan anggota keluarganya. 

Dan demi mengikis kekhawatiran tersebut, penjelasan berupa keuntungan saja tidak akan cukup. 

“Aku paham betul kekhawatiran Ayahanda. Jika kehilangan diriku... Leo pasti akan menjadi tidak stabil. Dia tidak akan bisa bersikap seperti biasa lagi. Akan tetapi, sosok yang menopang Leo bukan hanya aku seorang. Jika itu adalah Leo pada saat baru bergabung dalam persaingan takhta, mungkin memang begitu, tetapi sekarang sudah berbeda. Di sisi Leo ada orang-orang yang bisa diandalkan. Terutama Leticia, dia pasti akan menopang Leo dengan segenap hatinya. Jika ada dia, Leo tidak akan hancur. Aku sangat yakin.” 

Leticia adalah sosok wanita yang kuat. Dan dia mengawasi Leo dengan sangat baik. 

Mereka berdua adalah pasangan yang pernah melewati rintangan bersama-sama. Bahkan jika rintangan selanjutnya kembali menerpa, mereka berdua pasti akan sanggup melewatinya bersama. 

Dahulu kami selalu bersama. Kami saling mengandalkan satu sama lain, saling mempercayakan punggung, dan saling bersandar. 

Namun, di samping Leo saat ini ada Leticia. 

Sosok yang bisa dijadikan tempat bersandar bukan hanya aku seorang. 

“Memang benar di samping Leonard ada Leticia. Bahkan jika kamu sampai tidak ada, dia mungkin akan tetap menopang Leonard. Namun, barisan di sekitarnya pasti akan goyah. Yang kupertanyakan adalah mengenai kubu milik Leonard. Bisakah kubu itu dipertahankan tanpa dirimu? Sejak dulu, kamulah yang selalu memutar otak demi Leonard. Leonard tidak sesanggup dirimu dalam hal keluwesan. Karena itulah dibutuhkan sosok yang berdiri di tengah-tengah. Sosok itu adalah kamu. Jika sosok penting hilang, sebuah organisasi bisa runtuh dengan sangat mudah. Kamu tidak mungkin tidak mengetahuinya, ‘kan?” 

Aku tahu betul hal itu. Setelah kematian Kakak Sulung, aku diperlihatkan secara jelas Kekaisaran yang jatuh ke dalam kekacauan. 

Sangat mungkin bagi kubu Leo untuk runtuh berawal dari kematianku. 

Jika itu terjadi, Leo tidak akan pernah bisa naik ke posisi Putra Mahkota. Sebab di sana ada Eric yang jelas memiliki kekuatan kubu yang jauh lebih besar daripada Leo. 

“Aku tidak bisa bilang kalau kubunya tidak akan goyah. Hanya saja, Leo memiliki karisma yang cukup untuk menenangkan hal tersebut. Aku memang telah bergerak demi Leo. Di tempat yang bahkan tidak diketahui oleh Ayahanda sekalipun, aku telah melakukan berbagai gerakan di balik layar. Namun, simbol utamanya selalu Leo. Orang-orang yang berkumpul di bawah naungan Leo saat ini akan terus mengikuti Leo. Bahkan jika aku sudah tidak ada lagi.” 

“Apa dasar yang membuatmu bisa berkata sedemikian yakin?” 

“Orang-orang yang menyayangiku juga akan menyayangi Leo. Sebab mereka tahu bahwa aku sangat menyayangi Leo. Bahkan jika aku sampai mati sekalipun, inti dari kubu ini tidak akan goyah. Malahan mereka akan terbakar oleh api pembalasan dendam dan menjadi jauh lebih bersatu.” 

Mendengar kata-kataku, Ayahanda memejamkan matanya dengan raut wajah yang tampak sedikit sedih. 

Aku tahu. 

Ayahanda bukannya ingin mendengar ini. 

Ini hanyalah proses konfirmasi. 

Ayahanda sudah memahami segalanya, tetapi beliau tetap saja merasa ragu. 

Hal yang menghalangi keputusan tepat sebagai seorang Kaisar adalah perasaan belas kasih sebagai seorang ayah. 

Keinginan untuk tidak lagi kehilangan seorang putra bukanlah hal yang buruk. Jika bukan seorang Kaisar, itu adalah perasaan yang seharusnya diizinkan. 

Hanya saja, Ayahanda adalah seorang Kaisar. Beliau berada di posisi di mana beliau harus memikirkan Kekaisaran terlebih dahulu ketimbang putranya sendiri. 

Ayahanda yang ada saat ini tidak memiliki ambisi. 

Hal itulah yang membuatku memantapkan tekad. 

Ayahanda yang kulihat di masa lalu tidaklah seperti ini. 

Kaisar yang bertakhta di atas singgasana yang kudambakan di masa lalu adalah seorang penguasa yang sangat megah. 

Sebuah kenangan masa kecil yang bisa kuingat kapan saja. 

Sosok Kaisar yang melontarkan gertakan tegas terhadap utusan Kekaisaran Suci tetap tersimpan di dalam diriku tanpa pernah memudar. 

Dan aku sendiri yang telah membuat Kaisar yang hebat itu berada dalam kesulitan. 

Karena itulah. 

“Sebenarnya... aku tidak ingin mengatakan ini.” 

Gumamku pelan, lalu menatap lurus ke arah wajah Ayahanda. 

Sosok dermawan besar yang bersama Ibunda telah mengawasiku yang tidak berguna ini. 

Hingga saat ini aku masih belum sanggup membalas budi tersebut sepenuhnya. 

Kepada orang seperti itu, aku tidak ingin melontarkan “kebohongan”. 

Kendati demikian, aku tetap harus mengatakannya. 

Tanpa melontarkan kata-kata ini, tidak akan ada yang bisa melangkah maju.

“...Aku punya prinsip untuk tidak membuat janji yang tidak bisa kutepati. Sebab kurasa, jika sekali saja aku mengingkari janji, kata-kataku sendiri akan menjadi sesuatu yang sangat dangkal. Karena itulah, aku berusaha sebisa mungkin untuk menepati janji yang kubuat dengan sungguh-sungguh. Maka dari itu... aku tidak ingin mengumbar janji apa pun kepada Ayahanda. Namun, jika aku tidak mengumbar janji, Ayahanda pasti akan terus berada dalam keraguan.” 

Aku menarik napas dalam-dalam. 

Kata-kata yang tersimpan di dalam dada tidak kunjung mau keluar. 

Aku ragu untuk mengatakannya. 

Sebab kata-kata yang sudah telanjur diucapkan tidak akan bisa ditarik kembali. 

Kendati demikian, aku tetap memantapkan hatiku. 

“...Arnold... Jika kamu tidak ingin mengatakannya, kamu tidak perlu memaksakan diri, tahu?” 

“Tidak... Ini diperlukan untuk menunjukkan tekadku. Aku akan mengenakan jubah Marsekal, lalu memalingkan perhatian musuh ke arahku demi Leo. Mulai sekarang, aku berniat untuk memberi tahu pihak dalam maupun luar bahwa akulah sosok yang paling berbahaya. Nyawaku pasti akan diincar. Akan tetapi... kepada Ayahanda... bukan kepada Kaisar Kekaisaran, melainkan kepada Ayahanda yang merupakan orang tuaku, aku berjanji. Bahwa aku pasti akan kembali. Aku tidak akan mati. Saat Ayahanda mulai lelah dengan kehidupan lalu tertidur dengan tenang di atas tempat tidur, aku pasti akan berada di sampingmu. Karena itulah... tolong percayalah padaku. Saat ini, demi melewati rintangan, aku membutuhkan posisi Marsekal. Meskipun aku hanyalah Pangeran Sisa tidak berguna... bisakah Ayahanda percaya padaku?” 

Betapa sulitnya hal itu, Ayahanda pun sebenarnya tahu betul. 

Karena itulah beliau menentangnya. 

Meski begitu, ini adalah hal yang diperlukan. 

Aku pergi bukan untuk mati. 

Dengan berjanji akan kembali dalam keadaan hidup, hal itu akan tersampaikan. 

Walaupun aku tahu bahwa itu hanyalah kata-kata hiburan. 

Ada kalanya manusia membutuhkan kata-kata hiburan. 

“...Jujur saja, aku tidak ingin melihatmu berjuang keras. Kamu tinggal bersantai-santai saja di dalam istana. Kamu yang selama ini selalu ditertawakan oleh orang-orang di sekitarmu, tidak perlu terikat oleh hal-hal seperti tanggung jawab keluarga kekaisaran.” 

“Aku berjuang keras bukan demi Kekaisaran. Hanya saja... aku berjuang keras demi keluarga kita. Tenang saja. Begitu semua ini berakhir, aku akan hidup dengan santai dan bebas.” 

Saat aku tersenyum, Ayahanda menggigit bibirnya erat-erat. 

Lalu beliau menundukkan kepalanya, dan tiak lama kemudian kembali mengangkat wajahnya. 

Wajah itu adalah wajah seorang Kaisar yang penuh dengan kewibawaan. 

“Tekadmu... sudah kumengerti dengan sangat baik. Jika putraku sendiri sampai berkata sejauh itu... aku pun harus memantapkan tekadku. Janji bahwa kamu pasti akan kembali, aku tidak akan mengizinkanmu untuk mengingkarinya, paham?” 

“Ya, serahkan padaku.” 

“...Aku tidak pernah menyangka hari di mana aku mengatakan hal semacam ini kepadamu akan tiba... Atas wewenang Kaisar... aku melantik Pangeran Ketujuh, Arnold Lakes Ardler, sebagai Marsekal Sementara. Rincian detailnya biar aku dan Franz yang mengurusnya. Bawa saja jubah biru... dan tongkat Marsekal ini.” 

Setelah berkata demikian, Ayahanda melemparkan tongkat yang diletakkan di samping takhta kepadaku. 

Saat kutangkap, rasanya jauh lebih ringan dari yang kubayangkan. 

Namun, makna yang terkandung di dalam tongkat tersebut sangatlah berat. 

Bagaimanapun juga, sosok yang diizinkan memegang benda ini di dalam Kekaisaran hanyalah seorang Marsekal. 

“...Dengan penuh rasa syukur.”


“...Ini hanyalah Marsekal Sementara. Demi menjaga keseimbangan, Eric pun kemungkinan akan diberikan kedudukan yang setara. Tidak akan ada perbedaan di antara kalian. Hal itu tidak perlu kukatakan pun kamu sudah paham...” 

“Aku mengerti. Tolong tenang saja. Janji itu pasti akan kutepati.” 

Setelah berkata demikian, aku membungkuk memberi salam, lalu melangkah meninggalkan ruang takhta. 

Aku tidak akan menoleh ke belakang lagi. 

Tekadku sudah bulat. 

Sisanya, aku tinggal menjalankannya.


Bagian 4

Keluar dari ruang takhta, aku melangkah menuju ke istana harem. 

Tujuannya adalah untuk menemui Ibunda. 

Akan tetapi. 

“Tuan Al!!” 

“Fine? Ada apa?” 

“Kondisi Nyonya Mitsuba...!” 

Di jalan lurus yang terhubung ke istana harem, mendengar kabar dari Fine membuatku mendadak langsung berlari. 

Jaraknya tidak terlalu jauh sampai harus teleportasi. 

Setelah memperkuat kemampuan fisikku dengan sihir, aku bergegas berlari menembus jalan lurus itu menuju ke kamar Ibunda. 

Begitu membuka pintu, di dalam ruangan tampak para pelayan wanita sedang panik di sekitar tempat tidur. 

“Nyonya! Tabib istana akan segera tiba sebentar lagi! Mohon bertahanlah!” 

“Cepat bawakan air!” 

“Cepat periksa apa saja yang sudah beliau makan!” 

Suara-suara keras saling bersahutan. 

Di atas tempat tidur, Ibunda terlihat mengembuskan napas dengan amat terengah-engah. 

Melihatnya, aku mengembuskan napas dalam-dalam. 

Lalu. 

“Tenanglah. Tidak perlu memanggil tabib istana. Kalian semua juga keluarlah dari ruangan ini.” 

“Y-Yang Mulia Arnold!?” 

“A-Apa maksud Anda!?” 

“Sudahlah... ikuti saja perintahku.” 

Dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan, aku memberi perintah kepada para pelayan wanita. 

Menghadapi sikapku yang sama sekali berbeda dari biasanya, para pelayan wanita itu menahan napas mereka lalu melangkah keluar dari ruangan. 

Setelah memastikan mereka telah keluar, aku segera meminumkan obat kepada Ibunda yang terbaring di atas tempat tidur. 

Aku tidak tahu apakah obat ini akan manjur atau tidak. 

Obat ini hanya sanggup memperlambat gejalanya. Ini bukanlah solusi yang mendasar. 

Jika racun itu benar-benar datang untuk mencabut nyawanya, aku tidak akan sanggup melakukan apa-apa. 

Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhku. 

Napas terengah-engah dari Ibunda masih belum berubah. 

Rasa cemas kian membuncah melihat kondisinya yang tidak kunjung membaik. 

Tanpa tahu harus melakukan apa, aku hanya sanggup menggenggam tangannya. 

Hanya inilah yang tidak pernah berubah. 

Seberapa kuat pun aku tumbuh, aku tetap tidak sanggup menyembuhkan Ibunda. 

Setiap kali kondisi kesehatan Ibunda memburuk, rasa ketidakberdayaan yang luar biasa selalu menyerangku. 

Seberapa besarkah nilai dari seorang putra yang hanya sanggup menggenggam tangan ibunya? 

Arti keberadaan diriku sendiri rasanya menjadi begitu goyah. 

Di saat seperti itu, seseorang perlahan-lahan menggenggam tanganku yang satunya. 

“Tidak apa-apa. Nyonya Mitsuba tidak akan pernah meninggalkan Tuan Al.” 

“...Fine...” 

Dia pasti berlari kencang untuk menyusulku ke sini. 

Keringat mengucur di tubuhnya, dan napasnya pun tampak terengah-engah. Kendati demikian, Fine tetap tersenyum dengan lembut padaku. 

Melihat senyuman itu, kepalaku perlahan-lahan kembali mendapatkan ketenangannya. 

Di saat yang sama, napas Ibunda pun mulai stabil. 

Obatnya bekerja.

Merasa lega atas hal itu, aku mendudukkan diriku perlahan-lahan di atas kursi yang ada di dekatku. 

“...Mungkin waktu yang kumiliki tidak sebanyak yang kubayangkan...” 

“Meskipun begitu... hal yang harus dilakukan bukannya tidak berubah? Kita hanya punya jalan menuju kemenangan dengan terus melancarkan langkah yang dianggap paling baik. Mungkin terdengar kejam... tetapi dalam situasi seperti ini, orang yang bisa menyelamatkannya hanyalah Tuan Al sendiri.” 

“...Kamu benar-benar tepat.” 

Padahal aku sempat jatuh ke dalam pemikiran berharap seseorang datang menyelamatkanku, tetapi Fine justru menepisnya. 

Itu memang benar. 

Betapa indahnya jika ada seseorang yang datang menyelamatkan secara gagah di tengah krisis. 

Karena aku selalu berada di posisi itu, rasanya aku tidak akan dikutuk hanya karena berharap untuk diselamatkan. 

Namun, bukan berarti aku menyelamatkan semua orang di dunia ini. 

Aku hanya menyelamatkan sebagian kecil saja. Sebagian besar orang melewati rintangan dengan kekuatan mereka sendiri. 

Mereka tetap mengertakkan gigi dan bertahan hidup. 

Walaupun menyerah terasa jauh lebih mudah, mereka berjuang keras karena tidak ingin menyerah. 

Aku lebih kuat dari orang lain, dan aku lebih cerdas dari orang lain. Aku punya kebanggaan akan hal itu. 

Aku juga punya kedudukan. Aku pun diberkahi oleh orang-orang di sekitarku. 

Jika orang sepertiku hanya duduk manis menanti bantuan dari orang lain, itu adalah sebuah kesombongan. 

Lagipula, jika itu aku, ketimbang orang yang duduk manis menanti bantuan, aku lebih ingin menyelamatkan orang yang sedang berjuang mati-matian. 

“Sebenarnya... jika saya sanggup menyelamatkan Anda, saya ingin melakukannya, tapi...” 

“Tidak apa-apa. Kamu sudah sangat membantuku.” 

Menjawab Fine seperti itu, aku berdiri dari kursiku. 

Aku tidak punya waktu untuk panik karena kekurangan waktu, dan aku juga tidak punya waktu untuk duduk di sini menanti bantuan dari siapa pun. 

Jika tidak melakukan apa yang harus dilakukan, tidak akan ada yang bisa kuselamatkan. 

Jika tidak memusnahkan para iblis, aku tidak akan bisa menyelamatkan Ibunda, dan jika tidak menonjolkan keberadaanku dalam pertempuran Kerajaan, aku tidak akan bisa menyelamatkan Leo. 

Hingga segalanya berakhir, aku hanya bisa terus berlari sambil berdoa agar Ibunda bisa bertahan. 

Membuang waktu dengan berdiam diri adalah tindakan yang membuang-buang nyawa Ibunda secara percuma. 

“Fine, tetaplah berada di samping Ibunda. Aku akan pergi menyelesaikan hal-hal yang harus kuselesaikan di ibu kota.” 

“Baik, saya mengerti.” 

Sebagai seorang Marsekal Sementara, aku memiliki tugas untuk menginvasi Kerajaan melalui jalur laut. 

Aku tidak bisa terus-menerus berada di ibu kota kekaisaran. 

Hal-hal yang sebaiknya diselesaikan selagi berada di ibu kota kekaisaran harus kuselesaikan sekarang juga.


* * *


Ruang rahasia Istana Pedang Kaisar. 

Di situlah kakekku tinggal, dan di sana pula aku berada saat ini. 

“Hmm... Ternyata ini adalah konspirasi yang jauh lebih megah dari perkiraanku. Berani-beraninya seekor iblis berbuat sekelakar ini.” 

Semua cerita yang kudengar sejauh ini telah kusampaikan tanpa tersisa kepada Kakek. 

Dan itu satu-satunya tanggapan darinya. 

Untuk ukuran seorang kaisar yang tubuhnya pernah direbut oleh iblis, sudut pandangnya terkesan agak terlalu menggurui, sih. 

“Umat manusia saat ini sudah berada di ambang jalan buntu. Hanya ada dua cara. Antara kita sendiri yang mendatangi tempat mereka lalu membunuhnya, atau membuat mereka sendiri yang datang ke sini lalu membunuhnya.” 

“Jika kita tahu cara pergi ke dunia iblis, kita tidak akan mengalami kesulitan begini. Bahkan literatur kuno sekalipun tidak mencatat cara untuk pergi ke sana. Jika harus memilih, opsi kedualah yang terasa jauh lebih realistis. Jika pihak kita terdesak, mereka pasti akan menampakkan diri dengan penuh rasa bangga.” 

“Maksudmu terdesak itu, seberapa parah?” 

“Jika terdesak hingga ke tingkat di mana Kekaisaran runtuh, mereka pasti akan keluar. Karena yakin bahwa kemenangan hampir berada di tangan mereka.” 

Mendengar kata-kata Kakek, aku menghela napas pelan. 

Terdesak hingga ke tingkat Kekaisaran runtuh adalah sebuah kekacauan yang sangat luar biasa. 

Yah, tapi demi menyeret musuh yang menang hampir secara mutlak jika berada di dunia iblis, memang tidak ada cara lain selain melakukan sejauh itu. 

“Kendati demikian, tidak perlu sampai runtuh sepenuhnya. Cukup sampai setengah dari wilayah Kekaisaran jatuh ke tangan musuh saja. Iblis itu selalu sombong. Dengan begitu saja mereka pasti akan menampakkan diri.” 

“Setengah...” 

Cara yang paling cepat adalah mendudukkan Leo di atas takhta terlebih dahulu, lalu aku menghimpun faksi pemberontak dan mengangkat senjata. Tentu saja, sambil menjalin hubungan dengan para iblis. 

Jika melakukan itu, pihak lawan pasti akan memberi bantuan ke pihak kita. Lagipula pada dasarnya, selama kita sanggup menumbangkan Vepar yang memiliki Otoritas racun penyakit, kita akan menang begitu berhasil menyeretnya keluar. 

Setelah itu, Leo dan yang lainnya mungkin akan dipaksa menjalani pertarungan yang sengit, tetapi selama Vepar berhasil ditumbangkan, kekuatan tempur pihak kita sudah lebih dari cukup. 

Di sana ada Pahlawan, dan ada pula petualang peringkat SS. Tidak ada hal yang mustahil. 

Namun, di sana ada kubu yang sangat mengganggu. 

Sosok yang bersaing memperebutkan posisi Putra Mahkota dengan Leo, yaitu Eric. 

Saat ini Eric bisa dibilang merupakan faksi yang menguasai setengah dari kekuatan Kekaisaran. Jika tidak melakukan sesuatu pada Eric, cara yang kubayangkan tidak akan bisa digunakan. 

“...Menurutmu apakah segalanya sudah dirancang, Kakek?” 

“Soal itu aku tidak tahu. Sebab aku tidak punya bahan untuk menilainya. Namun satu hal yang pasti, persiapan untuk memancing para iblis keluar memang sudah matang. Di antara tiga kekuatan besar di benua, Kekaisaran dan Kerajaan akan saling bertikai. Siapa pun yang menang, pelemahan umat manusia adalah hal yang tidak terelakkan. Bagi para iblis, hal ini pasti terlihat sebagai kesempatan yang sangat bagus.” 

“Menurutmu apakah mereka akan menampakkan diri? Dari dunia iblis?” 

“Itu pun aku tidak tahu. Namun... jika mereka menilai sanggup melakukannya, mereka pasti akan keluar. Kesabaran mereka pun rasanya sudah mencapai batasnya, dan mengenai apakah Otoritas itu sanggup membunuh keturunan sang Pahlawan atau tidak... mereka sendiri pun pasti tidak punya kepastian seratus persen.” 

Bisa membunuh. Taktik yang dirancang memang berakar dari pemikiran seperti itu, tidak salah lagi. 

Namun, tidak ada jaminan seratus persen. Karena itulah, jika beranggapan bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk melenyapkan umat manusia, mereka pasti akan keluar. 

“Yah... ini sangat membantu sebagai referensi. Ngomong-ngomong... kenapa Kakek tidak memberi tahu kalau topeng perak ini adalah barang yang begitu mengerikan?” 

“Soalnya aku sendiri tidak tahu kalau itu adalah barang yang mengerikan. Sebaliknya aku yang mau tanya, apa kamu tidak merasa sesak atau terkekang saat bertarung sambil mengenakan barang yang menekan daya sihir seperti itu?” 

“Aku memang merasa agak terkekang, sih, tapi aku mengira ini hal yang wajar. Kalau Kakek sendiri bagaimana?” 

“Aku tidak pernah bertarung sekuat tenaga sambil mengenakan barang seperti itu. Mana mungkin aku bisa menyadarinya. Kamu saja yang harus menyadari betapa anehnya dirimu sendiri.” 

“Menyebutku aneh karena tidak menyadarinya itu agak...” 

Saat baru pertama kali mempelajari sihir, rasa terkekang seperti saat mengenakan topeng ini memang tidak ada. 

Namun, aku cepat terbiasa. Karena menganggapnya memang harus seperti itu, aku tidak terlalu memikirkannya. 

Sebab meskipun merasa terkekang, kekuatan sihirku tetap meningkat ketimbang saat baru awal-awal belajar. Mana ada orang yang menyangka bahwa dirinya sedang dibatasi padahal dia terus berkembang? 

“Orang yang seperti itulah yang justru seharusnya mengenakan topeng tersebut. Ingatlah baik-baik. Kenyataan bahwa kamu tidak merasa tersiksa mengenakan topeng itu berarti kekuatanmu sanggup menandingi keluarga kekaisaran pada era Sihir Kuno. Jika kamu melepas topeng lalu bertarung sekuat tenaga, hal itu benar-benar akan mengguncang dunia. Pikirkanlah baik-baik saat ingin melepasnya. Jika daya sihir yang selama ini ditekan oleh topeng mendadak meluap keluar, aku tidak tahu apakah hal itu bisa dikembalikan ke wujud semula atau tidak.” 

Kakek memberikan peringatan dengan raut wajah yang sangat serius. 

Aku paham apa yang ingin dikatakannya. 

Orang-orang di peradaban Sihir Kuno melenyapkan keberadaan mereka. 

Sebab mereka terpaksa harus melakukannya. 

Kakek berujar bahwa aku pun bisa menjadi seperti itu. 

Aku sangat menyadarinya. 

Kendati demikian. 

“Jika memang harus begitu... aku tidak akan ragu-ragu.” 

“...Pasti begitu.” 

Seakan tahu bahwa mengatakannya pun akan sia-sia, Kakek tidak mengucapkan apa-apa lagi. 

Bagaimanapun juga dia adalah guruku. Dia tahu betul mengenai diriku. 

Merasa bersyukur, aku pun melangkah meninggalkan ruangan tersebut.


Bagian 5

Hari setelah Ibunda pingsan. 

Demi memberi salam sebelum berangkat ke medan perang, Leo datang ke ibu kota kekaisaran dari perbatasan barat. 

Menyengaja memanggilnya kembali pada masa-masa seperti ini mungkin merupakan salah satu bentuk perhatian Ayahanda kepadaku. 

Tentu saja, di samping itu pasti ada berbagai alasan lainnya. 

Leo adalah panglima yang memimpin pasukan besar berjumlah 150.000 prajurit. 

Seorang kandidat Kaisar yang jika menang, takhta Putra Mahkota pasti akan jatuh ke tangannya. 

Pangeran Pahlawan yang telah menorehkan begitu banyak pencapaian. 

Hanya dengan memperlihatkan wujudnya kepada rakyat saja, dia sudah menjadi keberadaan yang sangat membantu untuk membakar semangat tempur. 

“Kakak! Bagaimana kondisi Ibunda!?” 

“Tenanglah. Saat ini kondisinya sudah stabil, dan Fine ada di sisinya untuk mendampingi. Kalau menurut tabib istana harem, ini disebabkan oleh kelelahan mental. Yah, lagipula dua putranya sedang pergi ke garis depan. Mau bagaimana lagi.” 

Mendengar penjelasanku, wajah Leo menyeringai dalam kepedihan. 

Saat ini Ibunda sedang beristirahat di kamarnya yang ada di istana harem. 

Di bawah penjagaan yang sangat ketat. 

Yang memberikan perintah adalah Ayahanda. 

Saking ketatnya, tingkat penjagaan itu tidak bisa dibandingkan dengan keadaan normal. 

Penjagaannya begitu ketat hingga mengerahkan Kesatria Pengawal. 

Bagi Ayahanda, mimpi buruk pada masa Selir Kedua mungkin sempat terlintas di benaknya. 

Terlebih lagi, Ibunda adalah ibu kandungku dan Leo. 

Ibu dari pangeran kandidat Putra Mahkota yang memimpin pasukan utama berjumlah 150.000 prajurit dari darat, serta Marsekal Sementara yang memimpin invasi dari laut dan akan menjadi panglima tertinggi yang memimpin seluruh pasukan begitu tiba di lokasi. 

Ibu dari dua orang itu. Jika sampai kehilangan nyawanya, hal itu akan memengaruhi semangat tempur. 

Seiring dengan meningkatnya kedudukan kami, kedudukan dan tingkat kepentingan Ibunda pun melambung tinggi. 

“Apa tidak ada yang membahayakan nyawanya...?” 

“Kabar yang kudengar memang begitu... tapi penyebab dari kelelahan mentalnya sudah hampir pasti adalah kita. Rasa cemasnya tentu tidak akan hilang begitu saja.” 

“...Kalau begitu, kita harus mengakhirinya dengan cepat.” 

Kalaulah Kakak saja yang tinggal di sini. 

Kata-kata semacam itu mungkin akan bergumam dari mulut Leo di masa lalu. 

Namun, Leo yang sekarang sudah bisa melihat apa yang harus dilakukannya. 

Jika tidak menang, tidak akan ada masa depan. 

Situasinya bukanlah kondisi di mana kami bisa menyimpan kekuatan. 

“Benar. Aku pun akan memimpin armada gabungan dari Kadipaten. Begitu bergabung, akulah panglima tertinggi yang mengendalikan seluruh pasukan dari garis belakang. Tentu saja, itu cuma formalitas.” 

“Marsekal Sementara. Ternyata Ayahanda mau memberi izin, ya?” 

“Aku sampai harus bersusah payah, tahu. Tapi demi memimpin armada negara lain, sebuah kedudukan memang diperlukan. Lagipula agar kamu bisa bertarung dengan sekuat tenaga, harus ada orang yang mengambil alih urusan merepotkan di garis belakang. Kali ini aku pun bertindak dengan sungguh-sungguh. Panglima tertinggi seluruh pasukan Kerajaan, Pangeran Ketiga Anthem, adalah sosok jenius luar biasa yang langka. Jika kamu lengah, kamu pun bisa kalah.” 

“Jika Kakak sampai sejauh itu, artinya memang benar begitu... Aku pun mendapat peringatan dari Leticia. Katanya jika tubuhnya sehat, Leticia sama sekali tidak akan punya kesempatan untuk tampil dalam perang melawan Persatuan Kerajaan.” 

“Dia memang lawan yang seperti itu. Meskipun kita mengkhawatirkan Ibunda... kelelahan mentalnya tidak akan teratasi kecuali kita mengakhiri perang ini. Untuk saat ini, mari kita hanya memikirkan soal kemenangan. Lagipula jika menang, kita bisa kembali.” 

“Benar. Dalam situasi ini, kita tidak bisa berharap pada perdamaian yang cepat. Soalnya kedua belah pihak sedang bersemangat membara. Jika memungkinkan, aku ingin memberikan pukulan telak dalam satu pertempuran lalu membawa alurnya menuju perdamaian, tapi...” 

“Aku tidak berpikir Putra Mahkota yang haus akan ambisi itu mau menerima hal semacam itu, dan aku juga tidak berpikir Anthem akan bertarung dengan cara yang membuatnya menerima pukulan telak. Tidak ada jalan lain selain melangkah perlahan dan pasti.” 

“Benar juga...” 

Ekspresi wajah Leo tampak sedikit meredup. 

Dia pasti ingin menekan pengorbanan sekecil mungkin. Selain karena sifat Leo sendiri yang lembut, alasan terbesarnya pasti demi Leticia. 

Di bawah naungan Leticia, ada cukup banyak orang-orang dari Kerajaan yang menyayanginya. 

Diawali oleh Leticia sendiri, bagi orang-orang itu, ini berarti bertempur melawan tanah air mereka sendiri. 

Makin sedikit pengorbanan, tentu akan makin baik. 

“Perdamaian adalah hal yang terbaik, tetapi demi mewujudkannya Kekaisaran harus berada di posisi yang menguntungkan. Selama berada di garis depan, kita hanya perlu menumbangkan musuh yang ada di hadapan kita. Hal itulah yang paling mendekatkan kita pada perdamaian. Soal strategi, kita tidak punya pilihan selain menyerahkannya kepada Kanselir.” 

Sambil membuat Leo diyakinkan, aku menghela napas pelan. 

Hal yang harus dilakukan terlalu banyak. 

Kami tidak bisa membiarkan Kerajaan yang kemungkinan besar punya hubungan dengan para iblis. 

Namun, hanya dengan kecurigaan semata, Guild Petualang tidak bisa bergerak. Karena itulah Kekaisaran harus mengupas kedok mereka. Sebab jika tersudutkan, para iblis pasti akan keluar. 

Akan tetapi, mereka bukanlah lawan yang bisa tersudutkan dengan mudah. 

Kerajaan adalah negara besar. 

Anthem yang memimpin adalah seorang jenderal ternama. 

Jumlah maupun kualitas. Mereka adalah musuh kuat yang memiliki keduanya. Ditambah lagi, pihak lawan memiliki benteng kokoh yang dahulu tidak sanggup dijatuhkan oleh Kekaisaran. 

Jika mereka memilih bertahan di dalam benteng, itu akan sangat merepotkan. 

Armada gabungan disiapkan demi hal itu, tetapi tidak ada jaminan seratus persen bahwa benteng itu bisa dijatuhkan dengannya. 

Bahkan armada gabungan itu sendiri menanggung kekhawatiran dari garis belakang berupa para bajak laut. 

Jika perang berkepanjangan, hanya iblis yang akan diuntungkan. 

Tentu saja jika Vepar menampakkan diri itu hal yang sangat bagus, tetapi tidak ada gunanya jika Vepar menampakkan diri di saat aku dan Leo sedang tidak berada di Kekaisaran. 

Perang tidak boleh dibiarkan berkepanjangan, dan di saat Kekaisaran melemah, aku ingin berada di Kekaisaran. 

Ini memang terkesan egois, tetapi ini adalah situasi di mana semuanya tergantung dari apakah kita sanggup terus melancarkan langkah terbaik atau tidak. 

Pertama-tama kita harus menang. 

Pada akhirnya, semuanya berujung ke sana. 

“Saat masih kecil, apa kamu pernah membayangkannya? Bahwa kita akan memimpin pasukan besar lalu menginvasi negara musuh.” 

“Pernah, tentu saja. Seperti Kak Wilhelm dan Kak Eric... aku berpikir kalau kita pun bisa menjadi seperti mereka.” 

“Pernah, ya? Kalau aku tidak pernah. Membayangkanmu pergi ke medan perang sih aku bisa... tapi aku tidak pernah membayangkan diriku sendiri yang pergi.” 

“Begitu? Padahal aku bisa membayangkannya dengan sangat mudah. Soalnya kalau ke Kakak, aku bisa mempercayakan punggungku.” 

“Rasa percayamu padaku itu terasa menakutkan.” 

“Aku percaya Kakak melebihi siapa pun. Karena itulah aku senang Kakak mau pergi ke garis depan, aku jadi merasa tenang. Terima kasih ya, padahal merepotkan tapi Kakak mau keluar dari istana.” 

Leo mengucapkan terima kasih dengan tulus. 

Jika dia tahu alasan sebenarnya kenapa aku pergi ke garis depan, dia pasti akan marah. 

Karena itulah aku tidak bisa menceritakan hal yang sebenarnya. 

“...Soalnya kita ini bersaudara. Aku tidak mungkin bisa bersantai sendirian di dalam istana. Tidak bisa.” 

“Sifat Kakak yang seperti itu, aku menyukainya, lho. Padahal biasanya kelihatan sangat benci dengan tanggung jawab, tapi kalau sudah menyangkut keluarga, rasa tanggung jawabmu langsung meluap keluar, ‘kan?” 

“Berisik. Kalau kamu terus mengejekku, aku tidak akan datang membawa pasukan bantuan, lho?” 

“Tidak masalah, kok. Soalnya yang akan marah nanti cuma Elna.” 

“Begitu menyusul membawa pasukan bantuan, ada kemungkinan semuanya sudah berakhir, sih, kalau dipikir-pikir... Pegang tali kekangnya dengan benar, ya?”

“Aku akan berusaha keras, dengan sungguh-sungguh.” 

Setelah percakapan itu, Leo menyelesaikan salamnya kepada Ayahanda serta menyapa rakyat, lalu kembali ke garis depan.


Bagian 6

Setelah Leo pergi, pemberitahuan mengenai pelantikanku secara resmi sebagai Marsekal Sementara tersebar ke berbagai pihak. 

Di permukaan, alasannya adalah untuk memimpin Angkatan Laut Kekaisaran dan Angkatan Laut Kadipaten, tetapi tujuan sebenarnya adalah untuk mengalihkan perhatian ke arah Arnold Lakes Ardler. 

Tentu saja, tujuan sebenarnya tidak dipublikasikan secara umum. 

Karena itulah, bermunculan penolakan dalam berbagai skala besar maupun kecil. 

Aturan dasarnya, Marsekal berjumlah satu orang di ibu kota kekaisaran dan dua orang di wilayah perbatasan. Mereka adalah jajaran teratas militer kekaisaran sekaligus pengawas umum di lapangan. 

Banyak suara penolakan yang bermunculan atas kenyataan bahwa aku—bukannya Leo yang membanggakan rekor bertempur yang begitu luar biasa—yang menduduki jabatan tersebut, meskipun ini cuma sementara. Bagaimanapun juga, Leo bukanlah seorang Marsekal. Jika bergabung di garis depan, Leo akan berada di bawah komandoku. 

Jika itu Leo tentu bisa dipahami, tetapi kenapa harus aku? 

Karena masalah garis komando, kedudukan Marsekal memang tidak diberikan kepada Leo. Meskipun memiliki pencapaian seluar biasa itu, tampaknya ada banyak orang yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku melompati pencapaian tersebut dengan mudah dan berdiri di atasnya. 

Namun, penjelasan mengenai hal itu pun disampaikan. 

Semua ini demi memimpin Angkatan Laut Kadipaten dengan sempurna. Bagi Arnold yang tidak memiliki rekor pencapaian sekelas Leonard, kedudukan itu tetap diperlukan meskipun cuma formalitas. 

Setelah bergabung di Kerajaan, Arnold akan menjadi panglima tertinggi, tetapi tugasnya murni sebagai pengatur di garis belakang. Komando pasukan di lapangan akan tetap dipegang oleh Leonard. 

Dengan penjelasan semacam itu, Kanselir berhasil membungkam mayoritas orang. 

Meski begitu, pihak yang tetap menaruh rasa tidak puas adalah para pendukung Eric. 

Bagi mereka, situasi ini sungguh menyiksa. 

Sebab aku, yang tadinya hanya dianggap tidak lebih dari pengintil Leo, mendadak menjadi sosok berpengaruh di militer yang sejajar dengan Eric dan Leo. 

Menanggapi hal itu, Ayahanda memberikan kedudukan yang disebut Menteri Urusan Militer kepada Eric. 

Ini adalah jabatan khusus di masa perang yang mirip dengan penasihat militer. Sebuah posisi yang sanggup memberikan saran maupun masukan militer secara langsung kepada Kaisar dari jarak paling dekat. 

Harusnya Marsekal yang berada di ibu kota kekaisaran yang mengemban tugas tersebut, tetapi kali ini tugas dan jabatan itu sengaja diberikan kepada Eric. 

Demi menjaga keseimbangan. 

Karenanya, para pendukung Eric pun akhirnya bungkam. Sebab bagi Eric sendiri, keuntungan yang didapat sudah lebih dari cukup. 

Dengan berbagai proses tersebut, berkat kerja keras Ayahanda dan Kanselir, aku berhasil menduduki posisi Marsekal Sementara dengan selamat. 

Marsekal Sementara yang sekadar formalitas. 

Tugas pertamaku adalah melakukan inspeksi Angkatan Laut Kekaisaran. 

“Pangeran Al! Terima kasih banyak sudah berkenan datang! Saya sudah menunggu-nunggu kedatangan Pangeran Al dari tadi!!” 

Kota pelabuhan Woltas milik Kekaisaran yang menjadi markas besar Angkatan Laut Kekaisaran. 

Di sana, sosok yang menyambutku paling awal adalah Menteri Teknologi Kuber. 

Alasan kenapa Kuber berada di sini adalah karena dia terlibat dalam pengembangan kapal model baru menyusul kapal unggulan Kaiser Alphonse. 

Benda yang dikembangkannya adalah kapal-kapal perang yang berkaitan dengan kapal unggulan Alphonse.

 Karena kapal unggulan Alphonse selesai lebih awal, kapal itu dikirim terlebih dahulu ke Kadipaten, padahal sebenarnya sejak awal kapal-kapal ini dirancang untuk dioperasikan secara berpasangan. 

“Mahakarya yang kubuat dengan segenap jiwa ini! Saya sangat, sangat ingin memperkenalkannya kepada Pangeran Al! Karena sudah tidak sabar lagi, saya langsung datang menyambut Anda!” 

“Terima kasih, Menteri Kuber.” 

“Tidak, tidak, bukan hal yang sebesar itu... Tapi, jubah itu rasanya tidak cocok untuk Anda.” 

Melihat jubah biru khusus Marsekal yang kucopot-pasang ini, Kuber mengutarakan kesannya dengan jujur. 

Karena aku sendiri tidak berpikir jubah ini cocok untukku, aku sangat setuju dengan pendapatnya. 

“Aku sendiri merasa tidak pantas mengenakannya. Memakainya dengan anggun pun rasanya tidak mungkin bagiku.” 

“Begitu, ya, pendapat yang sangat khas Pangeran Al. Yah, itu jauh lebih baik ketimbang Anda mendadak berlagak sombong karena menjadi Marsekal. Nah, mari lewat sini.” 

Sambil berkata demikian, Kuber berniat membawaku bergegas menuju ke pelabuhan. 

Namun, aku menahannya. 

“Maaf, tapi bisakah kamu berada di belakangku?” 

“Lho? Apakah ada yang mengganggu Anda?” 

“Bagaimanapun juga aku ini seorang Marsekal.” 

Sambil berkata demikian, aku melangkah ke depan Kuber. 

Mengabaikan Kuber yang tampak kebingungan, aku melangkah masuk ke dalam pelabuhan. 

Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. 

Ini adalah tradisi, dan sebelum Kuber datang, utusan pembawa pesan sudah tiba lebih dulu. 

Ini juga merupakan sebuah ritual. Demi membakar semangat tempur. 

Saat masuk ke pelabuhan, para prajurit dan perwira yang berbaris rapi telah membentuk sebuah jalan. 

Di ujung paling dalam. 

Menteri Urusan Kelautan, Gillesberger, sedang berdiri di sana. 

Dan. 

“Seluruh prajurit dan perwira Angkatan Laut Kekaisaran!! Kepada Marsekal Arnold... beri hormat!!” 

Bersamaan dengan aba-aba tersebut, para prajurit dan perwira yang berdiri di pelabuhan secara serentak memberi hormat kepadaku. 

Jalan lurus terbentang menuju ke tempat Gillesberger. 

Aku melangkah menyusuri jalan itu sambil membalas hormat mereka. 

“Terima kasih atas sambutannya. Menteri Urusan Kelautan.” 

“Memiringkan tubuh dan menyambut Yang Mulia Marsekal yang baru dilantik bersama seluruh prajurit dan perwira adalah sebuah tradisi. Tentu saja, menyambut Yang Mulia dengan megah bukan hanya karena alasan itu saja. Itu karena Yang Mulia adalah Marsekal pertama yang memimpin Angkatan Laut Kekaisaran kita. Di Kekaisaran, posisi angkatan laut terbilang tersisih. Namun, mulai sekarang adalah era angkatan laut. Kami semua berharap Yang Mulia bisa menjadi simbol dari hal tersebut.” 

“Jangan terlalu berharap padaku. Aku cuma Marsekal Sementara. Tentu saja, hal yang harus kulakukan tetap akan kulakukan. Lagipula alasan kalian tersisih hanya karena tidak diberkahi oleh medan pertempuran. Jika bisa menunjukkan keberadaan kalian dalam perang ini, tingkat kepentingan angkatan laut akan melonjak naik. Kalian tidak perlu bergantung padaku. Jika ingin bergantung, bergantunglah pada kemampuan kalian sendiri yang telah dilatih.” 

“Memang benar... sungguh memalukan. Mari kita rebut tempat kita sendiri dengan tangan kita sendiri. Tolong lupakan apa yang saya katakan tadi.” 

“Tidak apa-apa. Menteri Kuber! Sambutannya sudah selesai. Aku ingin mendengar soal kapal model baru itu. Tolong pandu aku.” 

“Baik, saya mengerti!” 

Kuber yang tadinya menyaksikan sambutan dengan raut wajah bosan, mendadak berubah terang secara jelas begitu aku menyapanya. 

Melihat hal itu, Menteri Urusan Kelautan Gillesberger mengerutkan wajahnya, tetapi menuntut tata krama dari Kuber adalah hal yang tidak perlu. 

Yang dituntut darinya hanyalah bakat semata, dan karena memiliki bakat itulah Kuber berada di posisi Menteri Teknologi. 

Hanya saja, alasan Gillesberger mengerutkan wajahnya sepertinya bukan cuma karena hal itu saja. 

“Yang Mulia. Ini rahasia di antara kita saja, tapi...” 

“Ada apa?” 

“Kapal model baru itu adalah produk gagal. Sama sekali bukan barang yang bisa digunakan.” 

“Segala sesuatu tergantung dari pemakaiannya. Aku pun dulunya disebut Pangeran Sisa, dan sampai sekarang pun masih disebut begitu, tetapi saat ini aku adalah seorang Marsekal Sementara.” 

Sambil tertawa kecil dan menepuk bahu Gillesberger, aku melangkah mengikut dari belakang Kuber.


Bagian 7

Mengikuti Kuber, aku tiba di area tempat kapal-kapal berlabuh. 

Jumlahnya ada lima kapal. 

Salah satu di antaranya sangat mirip dengan kapal unggulan Alphonse, tetapi ukurannya lebih kecil daripada Alphonse. 

Empat sisanya mirip dengan kapal standar Kekaisaran, tetapi jelas-jelas berukuran raksasa. 

Alphonse sendiri sudah tergolong dalam kategori kapal besar, tetapi empat kapal ini bahkan jauh lebih besar daripada Alphonse. 

“Pangeran Al! Inilah mahakaryaku! Kapal pendamping khusus untuk kapal unggulan Alphonse! Karena belum ada namanya, aku ingin Pangeran Al yang memberinya nama!” 

“Menteri Urusan Kelautan. Jika dilihat dari luar, bukannya tingkat penyelesaiannya lumayan bagus?” 

“Itu hanya dari luarnya saja. Jika saya jelaskan, yang berada di tengah itu adalah model uji coba saat membangun kapal unggulan Alphonse, dan bentuknya murni sekadar tampilan luar semata. Empat kapal tersisa, seperti yang dikatakan oleh Menteri Teknologi Kuber, adalah ‘kapal pendamping’.” 

Gillesberger memberi penekanan pada kata kapal pendamping. 

Dari penampilannya, aku sudah bisa menebak maknanya secara garis besar. Tapi, mari kudengar saja penjelasannya. 

“Apa maksud dari kata ‘kapal pendamping’ itu?” 

“Pertanyaan yang sangat bagus! Untuk itu, silakan Pangeran lihat bagian depan model uji coba Alphonse yang berada di tengah!” 

Kuber mulai menjelaskan dengan penuh semangat. 

Saat kulihat sesuai arahannya, di bagian haluan model uji coba itu terdapat menara meriam yang sangat besar. Itu adalah jenis meriam sihir yang belum pernah kulihat sebelumnya. 

“Meriam Sihir Terpusat Tipe 99. Nama panggilannya adalah Halilintar! Benda ini konsumsi daya sihirnya terlalu besar, sehingga tidak bisa ditembakkan oleh Alphonse sendirian. Namun, masalah itu berhasil kuselesaikan dengan empat kapal pendamping ini! Dengan menerima pasokan daya sihir dari empat kapal yang dilengkapi tungku daya sihir berukuran lebih besar daripada milik Alphonse, Halilintar ini bisa ditembakkan! Ini benar-benar senjata pemungkas yang sanggup membalikkan peta pertempuran!!!!” 

“Begitu.” 

Jadi karena itulah kapal-kapal ini berukuran begitu raksasa. Hanya saja, berkat hal itu, kita tidak bisa berharap pada kecepatannya. Benda yang dipasang pada Alphonse adalah barang yang juga mempertimbangkan kecepatan. 

Selagi bertempur di lautan yang tanpa halangan apa pun, kecepatan kapal adalah hal yang sangat penting. 

Jadi kapal pendamping ini adalah hasil dari membuang semua hal itu. 

“Yang Mulia. Senjata ini...” 

“Aku tahu. Benda ini produk gagal, ‘kan? Apakah uji coba penembakan sudah dilakukan?” 

“Kami telah melakukan uji coba penembakan dengan memasangnya pada model uji coba. Saya mengakui dahsyatnya daya hancur benda itu, tetapi kapal model uji coba tersebut hancur separuh. Sampai sekarang pun masih dalam perbaikan. Daya entakannya terlalu besar, sehingga jika tidak dihubungkan dengan empat kapal lainnya, penembakan akan sangat sulit dilakukan.” 

“Artinya kapal ini cuma jadi sasaran empuk, ‘kan?” 

“Tidak, tidak! Cara penggunaan Halilintar adalah dengan menghantamkannya bersamaan dengan dimulainya pertempuran! Kita bisa mendesak armada musuh hingga hancur separuh dalam satu kali pukulan!” 

“Memang benar kalau tidak ada cara penggunaan lain selain itu. Tapi, kekurangannya tidak cuma itu saja, ‘kan?” 

Saat aku menatap ke arah Gillesberger, dia mengangguk dalam-dalam. 

Serangan pembuka pada awal pertempuran. Jika daya hancurnya terjamin, hal itu tidak akan menjadi masalah. 

Kendati demikian, Gillesberger tetap menyebutnya sebagai produk gagal. 

Pasti ada kekurangan yang sangat jelas. 

“Tanpa empat kapal ini, Halilintar tidak bisa ditembakkan. Namun, meskipun ada empat kapal ini, daya sihir yang dibutuhkan untuk Halilintar tetap saja pas-pasan. Artinya, empat kapal ini tidak bisa dipasangi meriam sihir. Selain itu kecepatannya lambat, sehingga begitu pertempuran dimulai, mereka akan langsung tertinggal di belakang paling awal. Mereka bahkan tidak akan bisa mendekati musuh.” 

“Singkatnya, ini benar-benar kapal yang dibuat hanya demi Halilintar. Meskipun bisa memberikan kerusakan pada musuh, di saat yang sama empat kapal di pihak kita jadi tidak berguna...” 

Jumlah personel terbatas. 

Terlebih lagi, jarak menuju Kerajaan sangatlah jauh. 

Untuk menggerakkan satu kapal saja, kita perlu mengumpulkan awak kapal yang terlatih secara memadai. 

Dan mereka semua akan dilumpuhkan tanpa sisa. 

Itu memang benar-benar sebuah kekurangan. 

“Akan tetapi! Kekurangan itu tertutupi oleh kelebihannya yang sangat melimpah! Yaitu daya hancurnya!” 

“Memusatkan kekuatan tempur secara berlebihan pada satu kapal itu luar biasa tidak masuk akal! Lagipula sejak awal yang kami minta adalah kapal pengawal, bukan kapal pendamping! Jangan mengubah rencana armada kami hanya demi hobimu!” 

“Kalau ada anggaran yang cukup untuk membuat kapal pengawal, aku pasti sudah membuatnya~ Alphonse saja anggarannya sudah pas-pasan, apa kamu tidak berpikir kalau membuat kapal pengawal baru itu hal yang mustahil? Menteri Urusan Kelautan. Karena itulah, di dalam anggaran yang ada ini, aku menghasilkan pencapaian terbesar.” 

“Setelah menembakkan Halilintar, siapa yang sudi menaiki kapal lambat yang tidak bisa melakukan apa-apa? Saya tidak sudi menjadikan bawahan saya yang berharga sebagai sasaran empuk secara cuma-cuma!” 

“Tinggal mundur saja ke belakang. Bukan masalah besar, ‘kan?” 

“Di atas laut itu kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi! Makanya aku benci teknisi!” 

“Jangan cuma bisa protes saja! Kalau ada anggaran, aku pasti sudah membuat kapal pengawal yang sempurna! Jangan menuntut hal yang mewah padahal tidak ada anggaran!!” 

Saling membalas dengan kata-kata tajam. 

Pertengkaran yang cukup buruk untuk ukuran sesama menteri. 

Akan tetapi, Kekaisaran saat ini tidak memiliki kemewahan untuk membiarkan kapal pengangguran begitu saja. 

Karena sudah telanjur dibuat, kita harus memikirkan cara untuk memanfaatkannya. 

Berpikir demikian, aku melangkah masuk ke dalam kapal pendamping tanpa memedulikan mereka berdua yang sedang adu mulut. 

Karena tidak dirancang untuk memuat meriam sihir, bagian dalamnya jauh lebih kosong daripada tampilannya dari luar. 

Bisa dibilang ini hampir menyerupai kapal pengangkut. 

Jika ini adalah misi pengangkutan personel tentu akan sangat bagus, tetapi tugas armada gabungan adalah melenyapkan Angkatan Laut Kerajaan. 

Personel bisa dikirim sebanyak apa pun melalui jalur darat. 

Selagi targetnya berada di atas laut, mengangkut pasukan darat sebanyak apa pun tidak akan ada artinya. 

Lagipula selain jalannya lambat, ukurannya sebagai sasaran juga sangat besar, sehingga mereka pasti akan dihujani tembakan beruntun sebelum sempat mendekat. 

“Hmm, ini bukan saatnya terikat oleh hal-hal yang lumrah...” 

Aku punya satu gagasan. 

Tapi, aku tidak tahu apakah itu memungkinkan atau tidak. 

Tidak ada cara lain selain mencobanya, tetapi kita juga tidak punya banyak waktu. 

Ada kemungkinan segalanya akan berujung gagal. 

Namun, jika memungkinkan, kita akan sanggup mengendalikan jalannya pertempuran laut dengan sangat menguntungkan. 

“Kelebihannya adalah ruang yang sangat luas. Karena merupakan kapal besar, meskipun lambat tetapi kapal ini jauh lebih stabil ketimbang kapal lainnya. Ditambah lagi setelah serangan pembuka, kapal ini tidak akan ikut bertempur.” 

Syarat-syaratnya sudah terpenuhi. 

Kalau begitu tidak ada pilihan lain selain mencobanya. 

“Kirim utusan berkuda ke ibu kota kekaisaran. Atas wewenang Marsekal Sementara, aku meminta pengerahan Kesatria Pengawal Keenam. Menteri Urusan Kelautan! Di mana keberadaan kapal unggulan Alphonse saat ini?” 

“B-Baik! Kapal unggulan Alphonse saat ini diyakini sedang berlayar menuju pelabuhan ini. Lokasi pastinya tidak diketahui, tetapi diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari ke depan.” 

“Bagus. Menteri Teknologi. Bisakah kamu merombak kapal pendamping ini dengan cepat?” 

“Itu tergantung pada bagian mana yang akan dirombak.” 

“Aku ingin kamu mengubah bagian dalamnya. Buatlah senyaman mungkin untuk ditinggali.” 

“Bukan hal yang tidak bisa dilakukan, tapi memangnya siapa yang berniat Pangeran naikkan ke kapal ini?” 

“Elang Surgawi. Jika memungkinkan, aku juga minta dibuatkan pintu palka yang bisa dibuka-tutup. Mulai saat ini, kapal pendamping ini akan diubah menjadi kapal pengangkut kekuatan tempur udara. Tentu saja, itu jika Elang Surgawi sanggup menyesuaikan diri dengan kapal.” 

Mendengar usulanku, wajah Gillesberger tampak menegang, sedangkan wajah Kuber berbinar-binar penuh ketertarikan. 

Aku sendiri tahu kalau aku sedang melontarkan hal yang tidak masuk akal, tetapi karena tidak ada solusi lain selain ini, mau bagaimana lagi. 

Sisanya tinggal dicoba dan dilihat bagaimana hasilnya nanti. 

Elang Surgawi juga makhluk hidup. Tentu akan ada kecocokan dan ketidakcocokan. Aku mendengar bahwa di Persatuan Kerajaan ada kapal untuk mengangkut naga terbang, tetapi itu murni untuk pengangkutan. 

Bukan barang yang digunakan untuk meluncurkan serangan dari atas laut. 

Namun, Finn dan Nova sanggup mendarat di atas kapal. 

Pelayaran jangka panjang mungkin akan beda cerita, tetapi peluang itu ada. 

Jika bisa menyerang dari udara dalam pertempuran laut yang bersifat dua dimensi, tidak ada hal yang lebih menguntungkan daripada itu. 

Jika dikombinasikan dengan Halilintar, kita mungkin bisa membereskan armada musuh secara sepihak. 

“Bergembiralah, Menteri Urusan Kelautan. Siapa tahu era angkatan laut akan benar-benar datang, ‘kan?”

Sambil berkata demikian, aku pun tersenyum menyeringai.


Bagian 8

“Persiapan penembakan Halilintar dimulai.” 

“Persiapan penembakan Halilintar!! Hubungkan dengan setiap kapal!” 

Di lepas pantai, aku duduk di kursi yang telah disiapkan di kapal unggulan Alphonse. 

Begitu aku memberikan perintah, kapten kapal langsung menyampaikan instruksi kepada seluruh awak kapal. 

Berpusat pada kapal unggulan Alphonse, kapal-kapal pendamping mulai terhubung satu demi satu dengan urutan depan kanan, depan kiri, belakang kanan, dan belakang kiri. 

Demi menahan entakan Halilintar, kapal-kapal pendamping menurunkan jangkar mereka setelah terhubung untuk bersiap menghadapi entakannya. 

“Penghubungan selesai! Pasokan daya sihir menuju Halilintar pun sudah mencukupi!” 

“Halilintar siap ditembakkan! Seluruh awak bersiap untuk penembakan!” 

Kapten kapal menatap ke arahku. 

Perintah penembakan berada di tanganku. 

Sambil mengangguk pelan, aku memberi aba-aba. 

“Tembak.” 

“Halilintar, tembak!!”


Bersamaan dengan aba-aba sang kapten, Halilintar... tidak ditembakkan. 

Tungku daya sihir bukanlah alat yang sanggup menghasilkan daya sihir secara mandiri. Benda itu murni sekadar alat untuk menampung daya sihir. Sekali ditembakkan, butuh waktu beberapa hari hingga daya sihirnya terisi kembali. 

Terlebih lagi, laras meriam Halilintar adalah barang yang membutuhkan perawatan setiap kali ditembakkan. 

Mana mungkin kami menembakkannya secara cuma-cuma dalam latihan. 

Kami bertindak berdasarkan anggapan seolah-olah meriam tersebut telah ditembakkan. 

“Halilintar mengenai armada musuh! Kerusakan sangat parah!” 

“Lepaskan penghubungan. Alphonse maju ke depan. Kapal pendamping segera terus-menerus luncurkan kekuatan tempur udara ke langit.” 

“Dimengerti! Lepaskan penghubungan! Alphonse akan maju ke depan mulai sekarang!” 

Setelah melepaskan penghubungan dengan kapal-kapal pendamping, Alphonse mulai melangkah maju. 

Di sisi lain, dari kapal-kapal pendamping, Pasukan Kesatria Pengawal Keenam mulai meluncur ke langit secara berturut-turut. 

Akan tetapi. 

“Lepas landas Kapal Keempat terhenti...” 

Saat kulihat, tampaknya terjadi masalah pada kapal pendamping yang berada di belakang kiri, sehingga Elang Surgawi sama sekali tidak kunjung lepas landas ke langit. 

Melihatnya, Kapal Ketiga yang berada di belakang kanan pun menghentikan peluncuran Elang Surgawi ke langit. 

Kapten kapal melirik sedikit ke arahku. 

Hal yang dipikirkannya tentu sama denganku. 

“Alphonse tetap maju ke depan. Beri instruksi kepada pasukan Elang Surgawi yang berada di udara untuk menyerang armada musuh. Armada musuh sedang kacau akibat serangan Halilintar. Kita hantam mereka selagi ada kesempatan.”

“Dimengerti! Maju dengan kecepatan penuh!” 

Mengabaikan kapal pendamping yang terhenti, Alphonse terus melangkah maju ke depan. 

Pasukan Elang Surgawi yang sudah meluncur ke langit dan bersiaga pun memahami maksudnya, lalu mulai menaikkan ketinggian dan maju ke depan untuk menyerang armada musuh. 

Hingga di sini seluruh rangkaian prosesnya. 

“Bagaimana tindakan kita selanjutnya? Yang Mulia?” 

“Kembali ke pelabuhan. Dalam kondisi begini, melanjutkannya pun sia-sia.” 

“Dimengerti! Putar balik ke pelabuhan!” 

Latihan pun dinyatakan berakhir, lalu Alphonse beserta empat kapal pendamping bergerak kembali menuju ke pelabuhan.


* * *


Kesatria Pengawal Keenam, pasukan Elang Surgawi, baru saja bergabung kemarin. 

Namun karena tidak ada waktu, latihan menggunakan kapal pendamping yang baru selesai dirombak dan bahkan belum bernama itu langsung dimulai saat itu juga. 

Mungkin karena belum terbiasa dengan kondisi di atas kapal, para Elang Surgawi tampak tidak tenang, dan para awak kapal pun berjuang keras menghadapi pekerjaan yang belum pernah mereka lakukan, yaitu meluncurkan Elang Surgawi dari kapal ke langit. 

Meski begitu, ini sudah hari kedua. 

Ini tidak bisa diselesaikan begitu saja dengan alasan belum terbiasa. 

“Apa yang terjadi?” 

“Siap! Elang Surgawi tidak mau mendengarkan perintah dan kami tidak sanggup meluncurkannya ke langit, sehingga terjadi keterlambatan.” 

Kapal Keempat yang menjadi tempat pertama kali munculnya masalah. Kapten kapal tersebut menjawab pertanyaanku di pelabuhan. 

“Apa langkah penanganan saat situasi seperti itu terjadi?” 

“Kami akan memasukkan kembali Elang Surgawi yang menolak untuk lepas landas ke dalam, lalu menyiapkan lepas landas untuk Elang Surgawi lainnya.” 

“Apa kamu sudah melakukannya?” 

“Saya sudah memberikan instruksi, tetapi tidak bisa dibilang telah terlaksana dengan baik. Diperlukan penyesuaian pada struktur kapal agar mekanisme pergantian bisa berjalan lancar. Selain itu, saya rasa diperlukan pula inovasi agar guncangan saat lepas landas bisa kian berkurang.” 

“Bagus.” 

Mereka menganalisis kegagalan sendiri dan memahami dengan baik apa saja yang diperlukan. 

Elang Surgawi adalah makhluk hidup. 

Berusaha semaksimal mungkin agar mereka bisa lepas landas tanpa stres adalah hal yang dituntut dari seorang kapten kapal pendamping. 

Kapten Kapal Keempat sepertinya memahami hal tersebut. 

Akan tetapi. 

“Kalau begitu aku bertanya, kenapa Kapal Ketiga menghentikan lepas landas?” 

“Siap! Karena Kapal Keempat tidak sanggup meluncurkan Elang Surgawi, saya berpikir latihan akan diulang dari awal. Saya rasa tidak boleh menguras tenaga Elang Surgawi untuk lepas landas yang sia-sia.” 

“Kamu pikir di medan pertempuran ada kata ulang dari awal?” 

Menanggapi cara bicaranya yang seolah-olah menyatakan bahwa itu adalah keputusan yang benar, aku menatap tajam kapten Kapal Ketiga. 

Dia pasti sama sekali tidak mengira akan ditatap setajam itu olehku. Kapten Kapal Ketiga langsung menegakkan punggungnya. 

“M-Mohon maaf sebesar-besarnya!!” 

“Ini latihan militer. Ini bukanlah pertunjukan main-main di mana kalian menyelaraskan peluncuran Elang Surgawi ke langit lalu mendapatkan tepuk tangan. Tidak ada kata penghentian tanpa adanya instruksi dari pihak ini. Pasukan musuh berada tepat di depan mata, dan kapal unggulan sedang menjalankan misi. Hal yang harus kalian lakukan adalah meluncurkan Elang Surgawi dengan sekuat tenaga lalu menopang kapal unggulan. Apakah saat pertempuran sebenarnya nanti kamu juga akan berhenti jika terjadi masalah pada kapal di sebelahmu?” 

“T-Tidak... Mohon maaf sebesar-besarnya!” 

“Permintaan maaf tidak diperlukan. Gillesberger!!” 

Aku memanggil Menteri Urusan Kelautan Gillesberger yang berada di dekatku dengan suara keras. 

Gillesberger sendiri pasti sudah tahu kalau tajamnya pengawasan akan mengarah padanya. 

Seakan memantapkan tekad dengan berpikir waktunya telah tiba, dia berdiri di hadapanku. 

“Siap! Saya di sini!” 

“Bukannya aku sudah memerintahkan untuk menyiapkan kapten kapal pilihan? Apakah kapten yang menghentikan latihan atas keputusan sendiri bisa disebut kapten pilihan? Jika memang begitu, sepertinya aku telah salah sangka secara besar-besaran. Aku harus menyerah untuk menyusun strategi yang berpusat pada Angkatan Laut Kekaisaran.” 

“Mohon maaf sebesar-besarnya, Yang Mulia! Ini semua tanggung jawab saya!” 

“Jika bicara soal tanggung jawab, kerjakan tugasmu dengan benar. Siapkan kapten kapal lain. Kapten kapal yang sanggup dengan cepat memahami penggunaan kapal pendamping yang khusus ini dan bertindak dengan benar.” 

“Dimengerti!” 

Kapten Kapal Ketiga yang diberitahu untuk lepas dari jabatannya di depan mata tampak tercengang. 

Wajahnya menunjukkan ekspresi seolah tidak percaya hanya karena hal sepele seperti itu, tetapi aku tidak bisa mempercayakan kapal pendamping kepada orang yang tidak sanggup melakukan hal itu. 

“Karena kamu sepertinya tidak paham, mari kujelaskan. Kapal yang kamu naiki bukanlah produk gagal ataupun barang cacat. Ini adalah kapal khusus yang memuat Elang Surgawi yang sangat berharga di Kekaisaran, dan dinaiki oleh Kesatria Pengawal. Kesalahan penilaian bisa saja langsung berdampak pada kekalahan, kapal ini adalah kapal itu. Aku tidak bisa mempercayakannya kepada orang yang tidak memiliki kesiapan tekad.” 

Setelah menjelaskan alasannya, aku melangkah pergi. 

Tujuan yang kutuju adalah Kuber yang sedang mendengarkan usulan perbaikan dari Pasukan Kesatria Pengawal Keenam. 

“Ya, ya, dimengerti. Aku akan memperbaikinya secepat mungkin. Ah, mengenai pembesaran pintu palka, saat ini sedang kukerjakan.” 

“Kuber! Jika pintu palka untuk Elang Surgawi melompat keluar dari dalam lambung kapal hanya ada satu, lepas landas akan memakan waktu terlalu lama, dan tidak akan berfungsi saat terjadi masalah. Buatlah menjadi dua tanpa menurunkan daya tahan kapal.” 

“Dua!? Yang Mulia Al!? Padahal ada empat kapal!?” 

“Kamu sendiri yang membuatnya. Bertanggung jawablah untuk menjadikannya barang yang bisa digunakan.” 

“Y-Yang Mulia... belakangan ini aku kurang tidur...” 

“Pasukan Kesatria Pengawal Keenam pun hampir tidak tidur. Sangat penting bagi mereka untuk terbiasa, tetapi sangat penting pula untuk membuatnya kian nyaman. Kamu ini Menteri Teknologi, jadi bekerja keraslah.” 

“...Baik...” 

Menanggapi tuntutanku, Kuber membalas dengan ekspresi seolah jiwanya telah melayang keluar. 

Melihat diriku yang seperti itu, para awak kapal pendamping berdiri tegak dengan sikap sempurna dalam ketegangan. 

Itu karena mereka tidak tahu kapan petir akan menyambar mereka. 

“Anda benar-benar tampak seperti iblis.” 

“Apa kamu takut, Kapten?” 

“Saya sih tidak terlalu. Soalnya saya percaya diri.” 

Kapten kapal Alphonse mendekat lalu mengajakku berbicara dengan suara pelan. 

Dia pasti paham kalau aku sengaja mengambil sikap tegas demi mendisiplinkan mereka. 

Meskipun dihormati karena statusku sebagai Marsekal Sementara, di suatu tempat ada atmosfer seolah-olah mereka memandang rendah diriku. Murni atmosfer bahwa aku hanyalah Pangeran Sisa. 

Kita tidak akan bisa bertempur dengan atmosfer semacam itu. 

Maka dari itu, demi menyapu bersih atmosfer tersebut, aku tidak memberikan ampun kepada orang-orang di sekitarku. 

Yah, lebih tepatnya aku memang tidak bisa memberi ampun, sih. 

Jika tidak sanggup dijadikan barang yang bisa digunakan, kita tidak akan bisa berlayar. 

“Para awak kapal Alphonse semuanya adalah prajurit pilihan. Apakah kejam jika menuntut yang sama dari mereka?” 

“Mungkin kejam, tetapi mau bagaimana lagi. Soalnya itu memang diperlukan.” 

“Benar juga. Mari buat mereka mencapai tingkat yang bisa digunakan bagaimana pun caranya.” 

“Apakah sempat?” 

“Itu semua tergantung pada adikku.” 

Pergerakan armada gabungan akan berubah tergantung pada pergerakan 150.000 prajurit yang dipimpin oleh Leo. 

Jika mereka masih melakukan percekcokan kecil di dekat perbatasan, kita tidak akan bisa memberi bantuan. 

Bagaimanapun juga, kita tidak akan mendapat giliran jika mereka tidak mendesak masuk pasukan Kerajaan. 

Sampai saat itu tiba, masih ada sedikit waktu kelonggaran. 

Kita hanya punya pilihan untuk merampungkannya selama rentang waktu tersebut. 

“Ah, benar juga, Kapten. Sudah saatnya kita memberi nama untuk kapal-kapal pendamping. Apa kamu punya usulan?” 

“Ditanyakan begitu pun saya bingung. Bukankah sebaiknya Yang Mulia beri nama sesuka hati Anda?” 

“Kalau begitu, bagaimana kalau kuberi nama Johannes atau semacamnya.” 

“Yang itu... saya sangat mohon untuk tidak menggunakannya...”


Bagian 9

Latihan di atas laut terus berlanjut. 

Guna menantang hal yang belum pernah dilakukan oleh siapa pun, di lapangan selalu terjadi saling lempar pendapat dan berbagai perbaikan pun terus diterapkan. 

Di tengah situasi tersebut, sebuah kabar buruk disampaikan padaku. 

“Kelompok Landrunner bahkan menolak permintaan dari Guild Petualang...” 

“Mungkin tahap negosiasi memang sudah lewat...” 

Mendengar kata-kata Gillesberger, aku menghela napas pelan. 

Kelompok Landrunner sama sekali tidak berniat untuk berbincang. 

Pada akhirnya, bahkan jika hendak melakukan pembicaraan, mungkin perlu ada baku hantam terlebih dahulu sebelum hal itu terjadi. 

“Apa kata Kadipaten Albatro?” 

“Kabarnya mereka sedang mempertimbangkan untuk mengerahkan armada demi melakukan pembasmian setelah berkoordinasi dengan Kadipaten Rondine.” 

“Jika timbul kerusakan, bergabungnya mereka ke pihak kita akan terlambat, dan itu akan mengganggu jalannya operasi...” 

Masalah yang merepotkan justru muncul sebelum pertempuran penentuan melawan Kerajaan. 

Aku paham kalau sebagai negara yang berpusat pada perdagangan laut, hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. 

Namun, kita tidak punya waktu untuk meladeni para bajak laut dengan santai. 

“Gillesberger. Berapa hari yang dibutuhkan untuk menjatuhkan markas Landrunner?” 

“Sayang sekali, kemungkinan akan memakan waktu dalam hitungan tahun. Berbeda dengan daratan, mengepung pulau secara total itu sangat sulit. Lain ceritanya jika menggunakan serangan frontal dengan kekuatan penuh, tetapi kedua Kadipaten tidak memiliki kekuatan tempur darat yang sangat dominan. Bagian dalam pulau adalah wilayah kekuasaan kelompok Landrunner. Menjatuhkannya bukanlah hal yang sepele.” 

Mendengar analisis Gillesberger, bahuku terkulai. 

Sebab aku tidak punya bahan untuk membantahnya. 

Kekuatan tempur kita kurang, dan waktu pun kurang. 

Kendati demikian, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. 

Cara yang paling mudah adalah pergi sebagai Silver lalu menghantamkan sihir ke pulau itu, tetapi jika melakukan hal semacam itu, koordinasi antarnegara akan hancur. 

Jika orang-orang sampai berpikir bahwa petualang peringkat SS akan menjatuhkan sanksi pada negara yang merusak keselarasan langkah, reputasi Guild Petualang pasti akan jatuh ke titik terendah. 

Diperlukan cara lain selain itu. 

“Aku akan memikirkannya sebentar... Ngomong-ngomong, kelompok Landrunner menyebut negara mereka sendiri dengan nama apa?” 

“Kalau tidak salah Negeri Undine. Itu adalah benteng terakhir yang didirikan oleh Count yang berhasil bertahan hidup.” 

“Peri laut... Yah, mereka lebih mirip roh jahat ketimbang roh halus, sih.” 

Mereka telah dirasuki oleh rasa dendam. 

Kepedihan akibat kehilangan negara yang membuat mereka menjadi seperti itu, dan terasa sulit untuk menyangkalnya. 

Kendati demikian, menerima perbuatan mereka pun merupakan hal yang sulit. 

“Kirim utusan ke Kadipaten. Katakan bahwa aku ingin mereka menunda pengerahan armada untuk sementara waktu.” 

“Anda punya rencana?” 

“Akan kupikirkan mulai dari sekarang.”


* * *


Mengumpulkan para kapten dari setiap kapal, aku memikirkan sebuah siasat. 

Namun, pendapat mereka masing-masing hampir sepenuhnya sama. 

“Saya rasa penyerangan dalam satu pukulan menggunakan Halilintar adalah hal yang paling diharapkan.” 

“Mengenai itu aku pun setuju, tetapi kelompok Landrunner sudah pasti terhubung dengan Kerajaan. Aku sebisa mungkin tidak ingin membocorkan informasi mengenai kemampuan kita ke pihak lawan.” 

Karena tidak ingin membuat Kadipaten mengerahkan armada mereka, ada baiknya jika masalah kelompok Landrunner dibereskan oleh pihak Kekaisaran sendiri. 

Beruntungnya, Kekaisaran memiliki daya serang berlebih yang sanggup melakukan hal tersebut. 

Namun, benda itu pada dasarnya adalah kartu as yang disiapkan untuk menghadapi Kerajaan. 

Aku ingin menghindari pemakaiannya di sini yang berisiko membocorkan informasi. 

Justru karena itulah. 

“Kondisi yang paling diharapkan adalah membuat situasi di mana informasi tidak akan bocor ke luar, lalu memaksa mereka duduk di meja perundingan dengan gertakan Halilintar. Namun, lawan kita adalah negara bajak laut. Jika kita menembakkan Halilintar tanpa rencana, kapal-kapal yang membawa informasi tersebut hanya akan melaju menuju Kerajaan.” 

“Artinya, kita harus melakukan sesuatu terhadap kapal-kapal mereka terlebih dahulu, begitu?”

“Memang begitu. Berdasarkan informasi, mereka menggunakan kapal-kapal berukuran kecil yang mengutamakan kecepatan. Melakukan pemblokiran informasi di atas laut melawan musuh yang seperti itu bukanlah hal yang realistis." 

“Kalau begitu, mari kita musnahkan kapal-kapal musuh dalam pertempuran armada!” 

Mendengar kata-kata Gillesberger, aku menghela napas. 

Jika bisa melakukannya, kita tidak akan mengalami kesulitan begini. 

Bisa dibilang itu adalah siasat terbaik, tetapi tidak ada alasan bagi musuh untuk masuk ke dalam jebakan semacam itu. 

“Aku pun sangat ingin melakukannya, tetapi lawan kita adalah bajak laut. Mana mungkin mereka mau meladeni pertempuran armada secara terhormat.” 

Karena itulah, bagaimana caranya membuat kapal-kapal pihak lawan menjadi tidak berkutik. 

Maksudku adalah ingin membicarakan poin tersebut, tetapi tidak ada pendapat yang bermunculan mengenai hal itu. 

Mau bagaimana lagi. 

Di sini tidak ada bajak laut. Yang ada di sini hanyalah para prajurit Angkatan Laut Kekaisaran. 

Musuh bagi prajurit adalah sesama prajurit. 

Karena itulah mereka tanpa sadar menuntut pola pikir yang sama dari pihak lawan. 

“Lalu, apa yang harus kita lakukan...” 

“Yang Mulia, bisakah saya menyela sebentar?” 

“Ada apa, Kapten Lambert?” 

“Saya tidak tahu apakah ini bisa menjadi rujukan atau tidak, tetapi saya punya satu usulan siasat.” 

“Katakan saja tanpa ragu. Karena kita sedang jalan buntu, apa pun akan sangat membantu.” 

Lambert, Kapten Kesatria Pengawal Keenam yang dari tadi menyimak rapat dalam diam di sisiku, membuka suara. 

Dia sepertinya tahu diri bahwa ini bukanlah tempat bagi seorang Kesatria Pengawal untuk angkat bicara, tetapi dia tampaknya sudah gemas dengan rapat yang sama sekali tidak mengalami kemajuan ini. 

“Lawan kita adalah bajak laut. Menghadapi mereka dalam kondisi tersebar adalah hal yang sulit. Namun, bajak laut tetaplah bajak laut. Bagaimana jika kita memanfaatkan naluri alamiah mereka?” 

“Apa maksudnya, Kapten Lambert?” 

“Naluri alamiah bajak laut...?” 

Para kapten kapal tampak kebingungan. 

Namun, aku memahami dengan sangat baik apa yang ingin disampaikan oleh Lambert. 

Arah yang bagus. 

Itu benar-benar cara yang baik. 

“Usulan yang sangat bagus, Kapten Lambert.” 

“Terima kasih banyak. Namun, saya sendiri tidak sanggup menyusun hingga ke bagian-bagian yang terperinci.” 

“Yah, serahkan saja padaku. Hal-hal semacamnya adalah pekerjaanku. Nah, mari kita bergegas menggarapnya.” 

“Y-Yang Mulia... bisakah Anda memberi penjelasan kepada kami...?” 

Gillesberger yang sama sekali tidak paham apa yang sedang terjadi melontarkan pertanyaan. 

Namun, seakan menganggapnya sebagai kesempatan yang sangat pas, aku mengukir senyuman. 

“Rahasia. Kalian semua, segera bersiap untuk latihan!” 

Begitu aku memberi instruksi, para kapten kapal mulai bergerak dengan terburu-buru. 

Ada risiko bocornya informasi, dan demi mengelabui musuh pula, sebaiknya aku tidak menceritakan apa pun kepada mereka sampai detik-detik terakhir. 

Bajak laut tetaplah bajak laut. 

Jika harta karun terpampang di depan mata mereka, mereka pasti akan datang. 

Kalau begitu, kita tinggal menyebarkan informasi mengenai harta karun tersebut. 

Jika itu adalah harta karun yang tidak akan mungkin bisa direbut jika kapal-kapal kecil mereka bergerak secara terpisah-pisah... 

Mereka pun pasti akan berkumpul dan datang bersama-sama. 

“Sebas.” 

“Saya di sini.” 

Sebas muncul tanpa suara. 

Tugas Sebas saat ini adalah bolak-balik antara ibu kota kekaisaran dan tempat ini, demi menyampaikan kondisi di ibu kota kekaisaran serta keadaan kesehatan Ibunda padaku. 

Karena itulah aku sebenarnya tidak ingin menggerakkannya, tetapi mau bagaimana lagi. 

“Sebarkan informasinya.” 

“Informasi yang seperti apa?” 

Mereka bergerak didorong oleh rasa benci kepada Kekaisaran Suci. 

Karena itulah, informasi yang akan membuat mereka bergerak pun sangat mudah ditebak. 

“Informasi bahwa Kekaisaran akan memberikan bantuan bahan pangan secara berskala besar kepada Kekaisaran Suci, dan sebagai imbalannya, pasukan Kekaisaran Suci akan ikut serta dalam perang melawan Kerajaan.” 

“Saya rasa akan lebih memancing perhatian jika bilang kita menyerahkan senjata baru kepada Kekaisaran Suci?” 

“Di dalam diri mereka tidak ada perasaan bertindak demi Kerajaan. Mereka murni bergandengan tangan hanya karena sama-sama bermusuhan dengan Kekaisaran Suci. Merebut barang tidak jelas seperti senjata baru tidak akan memberikan keuntungan bagi mereka sendiri. Maka dari itu, lebih baik menyodorkan sesuatu yang realistis dan memberikan keuntungan bagi mereka.” 

“Baiklah. Saya mengerti.” 

Seakan diyakinkan, Sebas mengangguk lalu melenyapkan keberadaannya. 

Sisanya, kita tinggal berdoa agar mereka masuk ke dalam jebakan ini. 

Lagipula kita tidak bisa terus-menerus menahan pengerahan armada Kadipaten.


Bagian 10

Beberapa hari kemudian. 

Menyamar di dalam kegelapan malam, sejumlah besar kapal kecil bergerak mendekati area teluk. 

Demi memancing musuh masuk, kami tidak mengerahkan kapal patroli. 

Akan tetapi, bukannya kami tidak menyiapkan apa pun. 

Beberapa kapal termasuk Alphonse sudah bersiap untuk bisa bergerak kapan saja. 

“Kabarnya begitu mendapatkan informasi, sang Count sendiri yang merupakan jajaran teratas Undine memimpin armada kapal untuk berlayar ke medan perang. Jumlahnya 80 kapal lebih. Sudah bisa dipastikan bahwa mereka mengerahkan seluruh pasukan.” 

“80... jumlah yang cukup lumayan.” 

“Meskipun begitu, semuanya adalah kapal kecil. Kapal cepat langsing yang dilengkapi layar dan dayung. Lincah bermanuver dan yang pasti sangat cepat. Namun, persenjataannya lemah dan ringkih.” 

Di dalam kapal Alphonse, aku menyampaikannya. 

Akan tetapi, sang kapten mengerutkan wajahnya. 

“Dengan segala hormat, pertempuran di dalam teluk yang sempit dan dangkal adalah panggung bagi kapal cepat yang lemah dan ringkih itu. Jika kita adalah singa, maka pihak lawan adalah hiena.” 

“Bisakah kita menginjak-injak mereka hingga hancur?”

“Selagi kita menghancurkan satu kapal, kita akan dikerumuni oleh mereka lalu semuanya berakhir. Meriam sihir pun tidak bisa diharapkan karena sasaran mereka terlalu kecil, jadi mohon persiapkan diri untuk pertempuran jarak dekat di atas kapal.” 

“Kabarnya meskipun sudah dewasa, tinggi badan kaum Landrunner hanya seukuran anak kecil manusia. Mereka juga tidak kekar seperti kurcaci. Bukannya pertempuran jarak dekat adalah hal yang diharapkan?” 

“Mereka itu bajak laut. Mereka tidak akan bertarung dengan terhormat. Mereka akan menyerang satu orang dengan banyak orang. Pada dasarnya, kapal cepat berukuran kecil tidak bisa menampung banyak orang. Akan tetapi, karena tubuh mereka kecil, kapal itu bisa menampung jumlah yang cukup untuk melakukan pertempuran jarak dekat. Meskipun tubuh mereka kecil, mereka memiliki kemampuan gerak yang tinggi ditambah lagi mata mereka tajam di malam hari. Jujur saja, saya tidak ingin bertarung.” 

“Pesimis sekali. Padahal sebelum operasi dimulai kamu kelihatan tenang-tenang saja, ada apa?” 

Saat menjelaskan operasinya, sang kapten mengangguk bahwa tidak ada masalah. 

Memancing musuh ke dalam teluk, lalu melakukan serbuan ke arah musuh menggunakan beberapa kapal yang telah disiapkan untuk berlayar terlebih dahulu. Musuh yang tersentak akan dihadapkan pada dua pilihan, yaitu mengincar kapal yang mulai bergerak, atau mengabaikannya lalu mendarat di daratan. 

Jika mereka mendarat, tidak akan ada masalah. 

Di daratan ada para prajurit yang berada dalam posisi siap bertempur. 

Jumlah mereka melebihi seribu orang. 

Menembusnya adalah hal yang mustahil. 

Yang menjadi masalah adalah jika mereka mengincar kapal yang mulai bergerak. 

Perkembangannya pasti akan menjadi seperti yang dikatakan oleh sang kapten tadi. 

Hingga kapal-kapal lainnya selesai menyiapkan pelayaran dalam rentang waktu tertentu, kapal-kapal yang mulai bergerak harus terus bertahan. 

Inti dari operasi kali ini adalah memancing musuh masuk, lalu menenggelamkan banyak kapal mereka. 

Jika itu berhasil dicapai, kita akan sanggup memaksa mereka duduk di meja perundingan. 

Justru karena itulah, aku mengharapkan perjuangan gigih dari para awak kapal Alphonse. 

“Alasan saya tenang tentu saja karena berpikir bahwa para Kesatria Pengawal akan naik ke kapal sebagai pengawal Yang Mulia. Kesatria Pengawal akan membalas dan memukul mundur musuh yang salah sangka lalu menyusup masuk. Bukankah saya pikir operasinya seperti itu?” 

“Tentu saja operasinya memang seperti itu, ‘kan?” 

“Lantas, kenapa tidak ada Kesatria Pengawal di sini?” 

“Jika bisa menyembunyikan informasi, tentu akan lebih baik jika disembunyikan. Lagipula menurunkan Kesatria Elang Surgawi dari tunggangannya hanya akan memberikan efek yang tipis. Prinsipku adalah menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.” 

“Prinsip yang sangat luar biasa, tetapi mohon maklum karena hal itu tidak menjamin keselamatan Yang Mulia.” 

“Tidak masalah.” 

Mendengar kata-kataku, sang kapten menghela napas pelan. 

Lalu. 

“Sudah waktunya. Berlayar!”


* * *


Kapal Kekaisaran yang berlayar dari pelabuhan berjumlah 8 kapal, termasuk Alphonse. 

Kapal-kapal tersebut tergolong kapal perang ukuran menengah ke atas, dan daya tembaknya dengan mudah mengungguli 80 kapal musuh. 

Akan tetapi. 

“3 kapal dari lambung kiri! Mereka menerjang ke arah kita!” 

“Pokoknya tembak terus! Jangan biarkan mereka mendekat!” 

“Tanpa menggunakan pencahayaan sedikit pun, mereka mengincar kita dengan sangat akurat. Seperti yang diharapkan dari bajak laut.” 

“Apakah ini saatnya untuk memuji!? Situasinya sudah sangat buruk!” 

“Tidak juga. Situasi yang jauh lebih buruk sudah sangat kuperhitungkan. Kita berhasil berlayar dengan selamat, dan kita bertempur dengan sengit. Seperti yang diharapkan dari Kapten.” 

“Saya merasa terhormat atas pujian Anda, tapi! Sialan! Mereka datang dari sebelah kanan! Hindari! Jangan biarkan mereka menyejajarkan kapal!” 

Taktik musuh sangat sederhana, yaitu mendekat lalu menyusup masuk. 

Karena sudah mengetahui hal itu, kapal-kapal Kekaisaran melarikan diri memutar demi mencegah mereka mendekat. 

Sebab tugas kapal-kapal ini adalah mengulur waktu. 

Akan tetapi, jika terus seperti ini, perkembangan yang kuharapkan tidak akan terjadi. 

“Kapten.” 

“Ada apa!?” 

“Aku ingin mengambil alih hak komando.” 

“Silakan! Karena Yang Mulia adalah Marsekal! Tolong pegang komandonya tanpa perlu meminta izin dari saya!” 

“Di atas kapal, kapten adalah pimpinan tertinggi.” 

“Ternyata Anda sangat taat aturan! Silakan! Jika bisa mengatasi situasi ini, saya sangat menyambutnya!” 

“Bagus. Beri pemberitahuan ke semua kapal dengan sinyal cahaya. Ikuti aku, begitu.” 

“Dimengerti!” 

Dengan sigap, instruksiku dibagikan ke seluruh kapal menggunakan sinyal cahaya dari alat sihir. 

8 kapal yang berlayar ini dinaiki oleh para prajurit pilihan Angkatan Laut Kekaisaran. 

Pergerakan mereka sangat cepat. 

Bahkan dalam situasi seperti ini, mereka tetap mengikuti Alphonse dengan patuh sesuai instruksi. 

Barisan kapal membujuk lurus secara vertikal. Jika terus begini, lambung kapal akan digerogoti oleh musuh. 

“Siapkan meriam sihir.” 

“Tembakannya tidak akan kena!” 

“Tidak perlu kena. Pokoknya tembakkan ke permukaan laut di sebelah kiri dan kanan secara terus-menerus.” 

“Baiklah! Kalian dengar itu!? Tidak perlu kena! Tembak!” 

Alphonse menembakkan meriam sihir yang kuat ke permukaan laut di sebelah kiri dan kanan. 

Tembakan itu menimbulkan ombak, sehingga formasi kapal-kapal kecil Landrunner menjadi kacau. 

Ringannya bobot memang menjadi senjata mereka, tetapi saat ini keringanan itulah yang berbalik menjadi bumerang. 

Mengikuti Alphonse, kapal-kapal lainnya mulai melakukan hal yang sama. 

Berkat itu, kelompok Landrunner kehilangan kesempatan untuk mendekati kami. 

“Kemudi kiri penuh. Menghindar ke kiri.” 

“Kemudi kiri penuh!” 

Dengan mengubah haluan ke kiri, sekelompok kapal musuh yang berniat menerjang dari arah kanan agak miring bergegas mengubah haluan mereka. 

Sebab mereka telanjur masuk ke dalam garis tembak meriam sihir yang terus dimuntahkan secara bertubi-tubi. 

“Berikutnya mereka datang dari kiri.” 

“Kemudi kanan penuh! Tampaknya mata Yang Mulia juga sangat tajam di malam hari, ya!?” 

“Cuma tebakanku saja.” 

“Di dunia ini, orang yang sanggup melakukan itu dipanggil jenius!” 

“Jangan melontarkan hal yang membuatku senang begitu, ah.” 

Bicara soal tebakan itu bohong. 

Penghalang milikku sudah terbentang di seluruh area ini. 

Keadaan kapal musuh tentu bisa kuketahui dengan amat jelas. 

Aku bukanlah orang yang begitu percaya diri sampai berani mengabaikan persiapan dalam pertempuran laut yang tidak kubiasai. 

Aku menyusun strategi semacam ini justru karena yakin seratus persen bisa menang. 

Di mata orang-orang sekitar ini mungkin terlihat murni pertaruhan, tetapi di mataku kemenangan sudah terlihat dengan sangat jelas. 

“Kapal musuh mulai mundur!” 

“Apakah mereka menyerah?” 

“Tidak, mereka pasti memutuskan untuk mendarat ke daratan.” 

Sambil melarikan diri, kami sebenarnya mengincar area lepas pantai. 

Sebab jika pergi ke sana, kapal musuh akan kehilangan keunggulan medan. 

Dan karena takut kehilangan keunggulan tersebut, musuh memilih untuk tetap berada di dalam teluk. 

“Orang-orang bodoh.” 

“Saya setuju dengan itu. Cari gara-gara dengan Kekaisaran itu benar-benar perbuatan yang gila.” 

“Bukan itu maksudku. Berpikir bahwa mereka bisa naik ke daratan itulah yang sangat konyol.” 

“Apa maksud Anda?” 

“Seperti yang kukatakan. Siapkan meriam sihir! Pusatkan ke sisi kanan barisan musuh!” 

Aku memberikan instruksi, lalu seluruh kapal memusatkan tembakan meriam sihir ke sisi kanan musuh. 

Kendati demikian, ada pun jarak dan sasarannya kecil. 

Kelompok Landrunner menghindar ke kiri demi meluputkan diri dari tembakan serentak kami. 

“Berikutnya pusatkan ke kiri!” 

Memperhitungkan saat kapal-kapal mereka mengelompok rapat, aku memindahkan tembakan ke kiri. 

Namun, kelompok Landrunner kembali menunjukkan kebolehan mereka dalam menghindar. 

Kerusakan yang berarti sama sekali tidak terlihat. 

“Mereka benar-benar sangat gesit. Tidak ada tembakan yang kena.” 

“Sudah cukup, kok.” 

Sejak awal tujuannya memang bukan untuk akurasi tembakan. 

Tujuannya adalah membuat mereka mengelompok rapat. 

Jika mereka tersebar secara acak di atas laut pada malam hari, menentukan sasaran akan menjadi hal yang sangat sulit. 

Soalnya mereka belum terbiasa dengan area laut ini. 

“Sudah saatnya.” 

“Saatnya apa?” 

“Serangan utama dari kita.” 

Begitu kata-kata itu diucapkan, dari langit bertaburan bola-bola api yang tidak terhitung jumlahnya, lalu mulai membakar kapal-kapal Landrunner. 

Itu adalah Pasukan Elang Surgawi yang sudah kubiarkan bersiaga di udara terlebih dahulu. 

Membuat musuh mengelompok rapat, lalu melancarkan serangan kejutan dari udara. 

Itulah strategiku. 

Meskipun yang mengetahui gambaran utuh dari rencana ini cuma Kapten Lambert seorang. 

“Jika Anda membiarkan mereka bersiaga, tolong beri tahu saya...” 

“Mereka itu pasukan serangan kejutan. Bukan pengawalku. Kalau kamu sampai bergantung pada mereka, strateginya tidak akan bisa berjalan.” 

“Memang benar begitu, tetapi jika Anda memberi tahu saya, saya bisa bertempur dengan hati yang tenang.” 

“Tidak masalah. Soalnya aku percaya pada para kapten kapal, jadi hatiku sangat tenang.” 

“Mendengar perkataan dari Yang Mulia Marsekal seperti itu membuat saya ingin meneteskan air mata. Lantas, apakah kita juga akan ikut bergabung? Mumpung sasarannya jadi sangat mudah diincar.” 

Musuh mulai terbakar menerima hantaman bola-bola api. 

Karena posisi mereka mengelompok rapat, keberadaan musuh menjadi sangat mudah terlihat. 

Jika menembakkan meriam sihir di saat seperti ini, kita pasti bisa memberikan kerusakan yang sangat besar. 

Akan tetapi. 

“Tujuannya adalah penghancuran kapal, bukan pembantaian. Itu pun sudah kusampaikan kepada Pasukan Elang Surgawi. Kita tinggal bersiaga seperti ini, lalu mengawasi agar musuh tidak melarikan diri saja sudah cukup.” 

“Dimengerti.” 

Menenggelamkan semua kapal tentu merupakan hal yang mustahil, tetapi menenggelamkan mayoritas kapal mereka adalah hal yang sangat mungkin. 

Musuh berada di dalam teluk. 

Tidak ada jalan bagi mereka untuk melarikan diri. 

“Ah, benar juga. Kapten, tolong siapkan pula tindakan penyelamatan.” 

“Apa kita akan menolong mereka? Apa yang akan Anda lakukan jika mereka melakukan serangan balasan?” 

“Mereka itu bajak laut. Mereka bertempur bukan karena rasa setia pada negara, melainkan karena rasa benci pada Kekaisaran Suci. Jika kita menjamin keselamatan mereka, mereka tidak akan mengamuk. Kalau kamu khawatir, kita bisa mengulur waktu saja dulu, ‘kan?” 

Membiarkan mereka terapung-apung terlebih dahulu. 

Mendengar usulan tersebut, sang kapten menghela napas pelan. 

“Tidak perlu. Mari kita tolong mereka.” 

“Bagus.”


Bagian 11

Hampir semua kapal berhasil dihancurkan, dan kapal-kapal yang tersisa pun disita. 

Mungkin ada beberapa kapal yang berhasil melarikan diri, tetapi bisa dibilang kekuatan tempur laut milik Undine sudah hampir hancur total. 

“Aku Marsekal Kekaisaran, Arnold Lakes Ardler. Keselamatan kalian semua akan kujamin atas nama Paduka Kaisar. 

Seorang pria Landrunner berusia lanjut menatapku dengan tajam. 

Hingga beberapa saat lalu dia berada di atas laut, dan saat ini dia sedang membalut tubuhnya dengan handuk untuk menghangatkan diri. 

Pria Landrunner tua inilah Raja Count Goffredo, sosok yang memimpin Negeri Undine. 

Yah, sebutan Count sendiri merupakan gelar kebangsawanannya dari negara yang pernah ada di masa lalu. 

Saat ini akan lebih tepat jika menyebutnya sebagai pimpinan bajak laut. 

Pengakuan dari dirinya sendiri pun kemungkinan besar seperti itu, tetapi jika begitu hal itu akan menyulitkanku. 

“Apa yang akan kamu lakukan pada kami? Menyerahkan kami ke Kekaisaran Suci?” 

“Aku tidak akan melakukan itu. Mulai sekarang kalian semua akan kukirim kembali ke pulau kalian.” 

“Apa...?” 

“Jangan sampai salah paham. Bukan kami yang menyerang terlebih dahulu. Kalian sendirilah yang datang menyerang. Karena kami menyadarinya, kami melakukan persiapan, tetapi jika kalian tidak menyerang, pihak kami tidak akan melakukan apa-apa. Kami hanya menjaga pelabuhan negara kami sendiri, dan Kekaisaran kami tidak memiliki alasan bertempur yang lebih dari itu.” 

“Maksudmu kalian tidak punya rasa permusuhan pada kami? Mana bisa kami memercayai orang-orang yang bersekutu dengan Kekaisaran Suci!” 

“Lakukan saja sesukamu. Pihak kami pun akan melakukan sesuka hati. Namun, aku tidak menganggap kalian semua sebagai bajak laut. Saat ini aku sedang berbicara dengan menganggapmu sebagai kepala negara. Selama kalian tidak bertindak sebagai perompak, melainkan sebagai bagian dari sebuah negara, aku akan terus mempertahankan sikap ini.” 

“Maksudmu kamu mengakui kami sebagai sebuah negara...?” 

“Sebelum menempuh prosedur resmi, ini murni masalah penafsiran dariku, tetapi Angkatan Laut Kekaisaran pun memiliki harga diri. Jika serangan sampai menembus pelabuhan hanya oleh sekelompok bajak laut dan kami harus meminta bantuan Kesatria Pengawal, angkatan laut akan kehilangan nilai keberadaannya. Namun jika lawannya adalah negara kelautan yang lihai, harga diri kami tentu bisa dipertahankan.” 

Menghormati dan menaikkan tingkatan harga diri pihak lawan. 

Melihat Raja Count Goffredo yang tampaknya tidak terlalu membenci perlakuan itu, aku merasakan sebuah hasil yang positif. 

Kita tidak akan bisa bernegosiasi dengan orang-orang yang jiwanya telah merana dan menganggap diri mereka sendiri sebagai bajak laut. 

Akan tetapi, jika itu adalah orang-orang yang menganggap bahwa mereka adalah sebuah negara yang hanya belum diakui saja, maka perundingan akan bisa dilakukan. 

“Aku sudah menyiapkan kamar pribadi untukmu. Silakan beristirahat di sana untuk sementara waktu.” 

“...Kamu akan membiarkan kami pulang secara cuma-cuma?” 

“Tentu saja aku juga punya pemikiran tersendiri. Namun, diskusi itu baru akan dilakukan setelah kita tiba di pulau kalian.” 

Setelah melontarkan kata-kata yang tidak memicu konflik, aku mengukir senyuman lalu memandu Raja Count menuju ke kamar pribadinya.


* * *


Melalui masa pelayaran yang sengit dan perlahan, kira-kira seminggu berlalu. 

Kami akhirnya tiba di sebuah pulau yang terletak agak di sebelah timur kedua Kadipaten. 

Di sinilah Negeri Undine. 

“Terima kasih atas perjalanan panjangnya yang melelahkan, Raja Count.” 

“Meskipun kamu memperlakukan kami dengan sangat baik, rasa dendam kami tidak akan hilang. Kami akan tetap menganggap siapa pun yang bersekutu dengan Kekaisaran Suci sebagai musuh seperti biasa.” 

Itu adalah sebuah deklarasi yang didasari oleh rasa dendam. 

Karena itulah aku mengangguk pelan. 

“Boleh saja. Asalkan kamu memang memiliki kesiapan tekad.” 

“Kami punya tekad.” 

“Begitu. Maksudmu kamu punya kesiapan tekad untuk menjadikan Kekaisaran kami sebagai musuh, begitu ‘kan?” 

Aku mengangkat tangan kananku. 

Seketika itu pula, para prajurit yang bersiaga langsung menangkap sang Raja Count. 

“A-Apa yang kalian lakukan!?” 

“Karena berbahaya, tolong tetaplah berada di sana. Kapten, bagaimana persiapannya?” 

“Sudah siap.” 

“Bagus. Persiapan penembakan Halilintar dimulai.” 

“Persiapan penembakan Halilintar!! Hubungkan dengan setiap kapal!” 

Terpisah dari kapal yang mengangkut para tawanan Landrunner, Alphonse membawa serta kapal-kapal pendamping. 

Hal itu dilakukan demi melayangkan satu pukulan ini kepada mereka. 

“Penghubungan selesai! Pasokan daya sihir menuju Halilintar pun sudah mencukupi!” 

“Halilintar siap ditembakkan! Seluruh awak bersiap untuk penembakan!” 

Tanpa tahu apa yang sedang terjadi, raut kecemasan yang amat jelas terpancar di wajah sang Raja Count. 

Mengabaikannya, aku memberi instruksi dengan tenang. 

“Tembak.” 

“Halilintar, tembak!!” 

Bersamaan dengan suara dentuman dahsyat, kilatan cahaya yang sangat kuat ditembakkan dari meriam di haluan kapal. 

Kilatan itu melaju kian cepat, menyapu tipis tepi pulau. 

Jika sampai menghantam pulau secara langsung, tidak sulit untuk membayangkan seberapa besarnya kerusakan yang akan ditimbulkan. 

“Yang tadi itu gertakan. Tergantung dari jawabanmu, tembakan kedua akan menghantam pulau secara langsung.” 

Itu bohong. Tembakan kedua tidak akan bisa diluncurkan dalam waktu dekat. 

Kendati demikian, sang Raja Count tidak akan tahu hal semacam itu. 

“A-Apa yang kalian inginkan...?” 

“Yang melontarkan pertanyaan adalah pihak kami. Apa kamu ini pimpinan dari sebuah negara? Atau pimpinan dari sekelompok bajak laut?” 

“A-Aku...” 

“Jika tidak bisa menjawab, pulau ini yang akan menjadi korbannya, lho?” 

“A-Aku adalah pimpinan negara! Meskipun mungkin tidak terlihat seperti itu! Kami memiliki rasa bangga sebagai penyintas kaum Landrunner! Alasan kami melakukan tindakan pembajakan pun murni karena hanya itulah satu-satunya cara untuk melawan! Selagi pulau kecil ini tidak memiliki sumber daya, tidak ada cara lain selain merebut dari orang lain!” 

Yang diluapkan olehnya adalah kondisi dalam negeri yang sangat getir. 

Demi bertahan hidup, dan demi sedikit saja melancarkan perlawanan terhadap Kekaisaran Suci. 

Hal yang sanggup mereka lakukan mungkin memang sangat sedikit. 

“Kalau begitu, kalian menyerang Kekaisaran kami sebagai sebuah negara. Apakah penafsiran itu sudah tepat?” 

“I-Itu...” 

“Kalian telah kalah. Jika begitu artinya kalian adalah negara yang kalah perang. Tolong putuskan sekarang juga apakah kalian akan menyerah atau tidak. Jika tidak menyerah, pihak kami pun akan terus melanjutkan serangan sampai kalian menyerah.” 

“K-Kami menyerah! Kami akan menyerah, jadi kumohon... jangan sentuh pulau itu... Yang ada di pulau itu hanyalah anak-anak dan wanita...” 

Hingga saat ini, Kekaisaran Suci maupun Kadipaten selalu membiarkan kelompok Landrunner begitu saja. 

Lagipula kekuatan tempur laut kaum Landrunner memang sangat merepotkan, dan melakukan operasi pendaratan dengan mengangkut kekuatan tempur darat pun merupakan hal yang memakan banyak kerepotan. 

Karena itulah mereka dibiarkan begitu saja. 

Namun saat ini, kekuatan tempur laut yang dibanggakan sudah hampir tidak tersisa lagi, dan menguasai pulau pun akan menjadi hal yang sangat mudah selama ada Halilintar. 

Karena mengerti, sang Raja Count akhirnya membuang gengsinya. 

Sebab dia tahu bahwa jika memaksakan gengsi di sini, korban akan berjatuhan. 

“Kalau begitu, kami sebagai negara pemenang perang akan menyampaikan tuntutan kepada negaramu yang kalah perang. Pertama-tama, dilarang melakukan tindakan pembajakan apa pun mulai saat ini. Setelah itu, seluruh bantuan bahan pangan yang dibutuhkan akan ditanggung oleh Kekaisaran. Melalui seluruh rangkaian proses ini, Kekaisaran akan mengakui negaramu sebagai negara resmi, serta akan mendorong negara-negara lain untuk mengambil tindakan yang sama. Yang kami minta dari kalian sangat sederhana. Aku ingin kalian tidak mengkhianati kepercayaan Kekaisaran.” 

Tolong perlakukan mereka dengan lembut. 

Kata-kata dari Orihime itu kembali terngiang di benakku. 

Mereka hanyalah orang-orang yang diusir dari tanah air mereka. 

Mereka hanya salah dalam memilih cara untuk melancarkan perlawanan. 

“Apa yang... kamu katakan...? Menolong negara yang kalah perang...?” 

“Kekaisaran kami... tidak, ayahku dahulu pernah menolong kaum dwarf. Sejak saat itu, Kekaisaran selalu mengambil posisi untuk melindungi ras setengah manusia. Hal itu tidak pernah berubah hingga saat ini. Kami memang tidak bisa menolong perompak yang melakukan tindakan pembajakan secara sembarangan, tetapi jika itu adalah negara ras setengah manusia yang berjuang keras untuk bertahan hidup, kami sanggup menolongnya. Melancarkan perlawanan terhadap Kekaisaran Suci dengan cara membajak pun rasanya sudah mencapai batasnya, ‘kan? Bagaimana kalau selanjutnya melancarkan perlawanan di panggung politik? Karena memiliki tujuan yang sama, saat ini Kekaisaran dan Kekaisaran Suci memang sedang bersekutu. Sebab bersatu melawan musuh benua adalah aturan yang berlaku di benua ini. Aku sangat berharap negeri kalian pun mau masuk ke dalam bingkai aturan tersebut.” 

“Setelah musuh benua berhasil dibereskan... apakah Kekaisaran akan berpihak pada kami...?” 

“Tentu saja. Pertama-tama, kalian akan melakukan kontak dengan kaum dwarf yang tinggal di wilayah otonom Kekaisaran, lalu setelah itu kalian akan melakukan kontak pula dengan Mizuho. Bangkitlah bersama-sama, lalu lontarkan kecaman kepada Kekaisaran Suci. Kamu mungkin berpikir apa yang akan berubah dengan hal semacam itu, tetapi jika kalian bertarung dengan cara seperti itu, Kekaisaran akan sanggup memberikan dorongan dari belakang.” 

Sangat mudah untuk bilang agar mereka bersikap tenang selagi kami bertempur melawan Kerajaan. 

Kendati demikian, hal itu tidak akan menyelesaikan apa pun, dan pasti akan berujung sebagai janji manis di bibir saja. 

Yang terpenting adalah menatap jauh ke depan. 

“Tujuan kalian harusnya bukan sekadar mengganggu Kekaisaran Suci. Demi merebut kembali tanah air yang telah hilang, maukah kalian bertarung bersama? Aku tahu ini adalah jalan yang sangat terjal, tetapi kurasa ini adalah jalan yang sangat layak untuk ditapaki.” 

Begitu selesai menyampaikan apa yang ingin kukatakan, aku menanti kata-kata dari Raja Count. 

Semua ini dilakukan demi momen ini. 

Jika kekuatan tempur laut mereka masih utuh, kata-kataku tidak akan sampai ke hatinya. 

Jika berpikir mereka tinggal bertahan di dalam pulau saja, kata-kataku pun tidak akan pernah sampai. 

Tombak maupun perisai milik mereka telah kucabut. 

Setelah melakukan itu, aku menyodorkan jalan berikutnya kepada mereka. 

Jika menolak ini, tidak ada yang bisa dilakukan lagi. 

Ketulusan yang cukup sudah kutunjukkan. 

Lebih dari ini hanya akan menjadi sebuah kelunakan. 

Maka dari itu, sampai di sinilah batas kemampuanku. 

Jika menolak, aku hanya punya pilihan untuk bilang bahwa karena kalian adalah bajak laut, kami akan membereskan kalian sebagai bajak laut. 

Aku mohon jangan sampai membuatku mengatakan itu. 

Aku tidak tahu berapa banyak kepala yang akan melayang, dan itu pasti akan memicu guncangan di berbagai negara. 

Terlebih lagi hal itu meninggalkan kesan yang sangat buruk, sehingga secara pribadi aku tidak menyukainya. 

“...”

“...”

“...Apakah kami akan dimaafkan?” 

“Itu semua tergantung dari tindakan kalian mulai dari sekarang.” 

“...Kami telah kehilangan kapal, dan menjadikan Kekaisaran sebagai musuh. Bahkan jika bertahan di sini pun masa depan sudah terlihat jelas... Kalau begitu menapaki jalan yang berbeda pun dilakukan demi bertahan hidup... Kami akan menyerah kepada Kekaisaran. Kami menerima seluruh tuntutan itu, dan akan bertindak sesuai perkataan Kekaisaran. Kami serahkan semuanya kepadamu.” 

“Terima kasih banyak, Raja Count.” 

Saat aku mengulurkan tangan, sang Raja Count menggenggam tanganku dengan tangannya yang kecil. 

“Yang seharusnya berterima kasih adalah aku. Sejak tanah air kami dihancurkan, aku membenci seluruh manusia... Namun, kamu telah mengingatkanku kembali bahwa di luar sana tetap ada orang yang hangat.” 

Setelah berkata demikian, sang Raja Count melepaskan genggamannya lalu menundukkan kepalanya. 

Dengan begini, masalah berhasil diselesaikan dengan tuntas. 

Tidak ada kekhawatiran mengenai bocornya informasi, dan perdagangan Kadipaten pun tidak akan berdampak. Ini menjadi sebuah bentuk memutus kekhawatiran dari garis belakang, tetapi diskusi ke depan bagaimanapun juga hanyalah cerita di masa depan. 

Hal yang kuceritakan kepada sang Raja Count adalah cerita jika kami berhasil menang. 

Jika kalah, Kekaisaran tidak akan punya kemewahan untuk memikirkan hal itu. 

Bagaimanapun juga, ini pertempuran pembuka. 

Pertempuran sesungguhnya baru akan dimulai dari sini.


Bagian 12

Jumlah total 150.000 prajurit. 

Hingga saat ini Kekaisaran terus-menerus dihujani oleh serangan Kerajaan. 

Akan tetapi, seakan ingin menunjukkan bahwa masa-masa bertahan telah usai, sang Kaisar memusatkan dan mengerahkan kekuatan tempurnya. 

Yang memimpin pasukan adalah sang Pangeran Pahlawan, Leonard. 

Sosok yang memperkuat kedua sisinya adalah para jenderal yang aktif bertempur dalam perang saudara, ditambah dengan Elna dari Keluarga Pahlawan Armsberg, serta Theodore yang memimpin Pasukan Kesatria Pengawal Kedua. 

Di samping itu, ada pula eks-prajurit Kerajaan yang menyerahkan diri karena menaruh rasa setia pada Leticia. 

Sebagian besar dari mereka adalah Kesatria Griffon, yang merupakan kekuatan tempur udara sangat berharga. 

Kekuatan tempur sudah lebih dari cukup. 

Jika membawa pasukan sebesar ini, tidak ada alasan bagi mereka untuk kalah. Banyak orang berpikiran demikian. 

Akan tetapi. 

“Hmm... Jalur menuju kemenangan sama sekali tidak terlihat.” 

Leonard yang bertindak sebagai panglima tertinggi sedang bersedekap dada sambil menatap peta yang terbentang di atas meja. 

Peta yang terbentang itu adalah peta bagian dalam Kerajaan. Beberapa rute baris-berbaris telah diperhitungkan, tetapi semuanya merupakan rute yang menyisakan rasa tidak puas bagi Leonard. 

“Padahal sebentar lagi kita akan berangkat ke medan perang, apa sih yang sedang kamu bingungkan?” 

“Elna... Rute invasi yang diperhitungkan itu rasanya agak, yah...” 

Elna yang berada di posisi wakil panglima melontarkan sapaan pada Leo yang sedang kebingungan. 

Rute invasi yang telah didiskusikan berkali-kali. Ini adalah rute yang diputuskan dalam rapat militer sebagai satu-satunya pilihan. 

“Kalau tidak suka, kenapa tidak bilang saja?” 

“Bukannya aku tidak suka. Aku tahu memang cuma ini satu-satunya jalan. Tapi, susunan posisi musuh terlalu sempurna, sampai-sampai aku merasa tidak akan sanggup menembusnya.” 

“Bukan berarti kamu punya usulan perbaikan, tapi cuma merasa cemas secara samar-samar, begitu. Padahal kamu itu panglima tertinggi yang memimpin 150.000 prajurit, tapi lemah lembut sekali, sih.” 

“Aku tentu bisa menjadi penakut. Bagaimanapun juga aku menanggung nyawa 150.000 orang di tanganku.” 

“Mungkin terdengar kejam, tapi... jika kamu merasakan bobot nyawa setiap orang satu per satu, kamu tidak akan sanggup melakukan perang, tahu?” 

Mendengar kata-kata Elna, Leo tersenyum kecil. 

Melihat senyuman yang entah kenapa mirip dengan Al itu, mata Elna agak membelalak sedikit. 

“Aku tahu. Orang yang berpikiran wajar tidak akan sanggup melakukan perang. Lagipula menyuruh para prajurit untuk pergi mati adalah pekerjaanku. Tapi... menciptakan situasi agar mereka tidak mati pun merupakan pekerjaanku. Meskipun mati adalah hal yang wajar, itu bukan alasan untuk tidak memberikan perhatian. Karena jika tidak menang pengorbanan hanya akan terus bertambah, aku akan mengincar kemenangan. Berapa pun pengorbanan yang harus dibayar. Tapi, aku tidak akan mengabaikan usaha untuk menekan pengorbanan. Itulah harga diri milikku sebagai seorang komandan.” 

“...Perkataanku tadi berlebihan. Maafkan aku.” 

“Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi tenang saja. Aku tahu betul bahwa musuh kita bukanlah lawan yang begitu mudah sampai bisa dimenangkan dengan pemikiran lunak.” 

Setelah berkata demikian, Leo kembali menjatuhkan pandangannya ke peta. 

Rencana invasi Kekaisaran sangat sederhana. 

Menginvasi dengan pasukan utama berjumlah 150.000 prajurit. Memukul mundur pasukan Kerajaan yang datang menghadang, lalu membuat musuh mundur ditarik kembali. 

Jika mundur ditarik kembali, musuh akan mengurung diri di benteng yang mereka banggakan. 

Namanya adalah Benteng Louisville. 

Sebuah benteng raksasa yang dilengkapi pelabuhan, dan demi menginvasi ibu kota Kerajaan, benteng ini harus ditembus bagaimana pun caranya. 

Mengabaikannya secara teknis memungkinkan, tetapi jika begitu hal itu sama saja dengan membiarkan jalur pasokan bahan logistik terbuka. Di tengah jalan menuju ibu kota, mereka pasti akan menerima serangan jepit. 

Bahkan jika hendak menjatuhkannya dengan taktik pengepungan bahan pangan, blokade sangat sulit dilakukan karena pasokan logistik terus masuk dari laut. 

Kesatria Griffon pun selalu meluncur ke medan perang, sehingga kekuatan tempur yang setengah-setengah tidak akan sanggup menahannya. 

Sebuah benteng yang sangat sulit dijatuhkan. 

Dahulu Kekaisaran pun pernah menantangnya, tetapi gagal menjatuhkannya dan berujung terjebak dalam rawa pertempuran. 

Strategi Kekaisaran adalah membuat pasukan Kerajaan mengurung diri di sana. 

Memusnahkan pasukan Kerajaan sebelum mereka mundur menarik diri adalah hal yang sulit. Sebab mundur mengurung diri di benteng menghadapi invasi dari Kekaisaran adalah taktik dasar dari Kerajaan. 

Jika mereka pada akhirnya akan mengurung diri, mereka tinggal bergerak dengan memperhitungkan hal tersebut. 

Menjepit mereka dengan kekuatan tempur darat dan kekuatan tempur laut, lalu memusnahkan pasukan utama Kerajaan. 

Itulah strategi yang disusun oleh Kekaisaran. Sangat sederhana, tetapi demi hal itu, kekuatan tempur yang amat besar dikerahkan baik di darat maupun di laut. 

Dalam jumlah angka, taktik aneh tidak diperlukan. Itulah rencana invasi milik Kekaisaran. 

Namun, justru karena itulah Leo merasa bingung. 

“Jenderal musuh, Anthem, memahami strategi Kekaisaran. Karena itulah dia membentangkan garis pertahanan yang sangat ketat. Garis pertahanan Kerajaan telah diperbarui secara total. Agar tidak ada kota yang terisolasi, di antaranya dipasangi benteng-benteng pertahanan baru. Dengan penataan di mana pasukan bantuan bisa datang kapan saja, tidak ada tempat yang mudah untuk diserang.” 

“Meskipun begitu, bukannya strateginya memang tidak ada cara lain selain terus maju?” 

“Benar. Itulah bagian yang menyebalkan. Pihak kita hanya punya pilihan untuk terus maju ke depan. Anthem pun sungguh mengerti, makanya dia membentangkan garis pertahanan yang sangat tangguh. Jika harus menembusnya, pihak kita akan kelelahan. Jika pasukan utama 150.000 prajurit ini tidak sanggup membuat pasukan Kerajaan mundur ditarik kembali, strategi dasar Kekaisaran akan hancur total. Karena paham akan hal itu, Anthem pasti tidak punya niat untuk bertempur dengan terbuka.” 

“Singkatnya dia berniat menggerogoti kekuatan tempur kita secara perlahan-lahan.” 

Mendengar kata-kata Elna, Leo mengangguk. 

Dalam rapat militer pun pembicaraan yang sama sempat dibahas. Kendati demikian, dengan pertimbangan bahwa pada akhirnya Anthem akan keluar bertempur, rute invasi yang wajar pun ditetapkan. Sebab pihak Kekaisaran memiliki kekuatan tempur yang cukup bahkan jika tergerus sedikit. 

Namun, Leo tidak bisa berpikir bahwa lawan yang begitu diwaspadai oleh Al akan keluar bertempur dengan terbuka hanya dengan tingkatan semacam itu. 

Meski begitu, dia pun tidak punya usulan perbaikan. 

“Elna, kalau Kakak, kira-kira apa yang akan dilakukannya?” 

“Kamu bertanya padaku? Bukannya kamu yang lebih paham ketimbang aku?” 

“Aku ingin mendengar jawaban darimu.” 

“Begitu ya... Jika lawannya adalah musuh yang tidak mau keluar, Al pasti akan menggunakan cara yang memaksa mereka tidak punya pilihan selain keluar.” 

“Jika bisa melakukannya kita tidak akan mengalami kesulitan, sih.” 

“Aku pun kalau bisa memikirkannya tidak akan mengalami kesulitan, tahu. Tapi kalau Al... dia selalu menggunakan langkah yang membuat orang berpikir ‘ternyata menggunakan cara itu’. Soalnya dia suka menyerang dari luar nalar lawan.” 

Mendengar jawaban Elna, Leo bersedekap dada lalu tenggelam dalam pemikiran. 

Untuk sementara waktu invasi secara normal memang tidak menjadi masalah, tetapi pada akhirnya Anthem harus diseret keluar. 

Sebelum saat itu tiba, dia harus sanggup memikirkannya. 

Sebuah langkah pergerakan seperti yang dilancarkan oleh Al.


Bagian 13

“Seluruh pasukan!! Maju!!” 

Menunggangi seekor griffon hitam, Leo memberikan perintah ke seluruh pasukan besar berjumlah 150.000 prajurit dari atas udara. 

Langkah demi langkah, para prajurit terus bergerak maju. 

Dimulai dari pemberontakan di ibu kota kekaisaran hingga terjadinya perang melawan Kerajaan, momen ini adalah saat di mana Kekaisaran—yang sebelumnya selalu berfokus pada pertahanan di perbatasan—mulai menginvasi wilayah Kerajaan berskala penuh seolah menyatakan bahwa masa-masa bertahan telah usai. 

Persatuan Kerajaan Egret, Negara Bagian Cornix, Kerajaan Perlan. 

Tiga negara yang membentuk aliansi dan menyerang ke Kekaisaran. 

Persatuan Kerajaan dan Negara Bagian sudah selesai. 

Yang tersisa hanyalah Kerajaan. 

Bagi prajurit Kekaisaran yang selama ini terus bertahan, ini adalah kesempatan untuk melancarkan serangan balasan. 

Teganya kalian melakukan itu pada kami. 

Dengan ini tamatlah riwayat kalian. 

Sambil menampung pemikiran seperti itu, para prajurit terus melangkah maju. 

Dasar kepercayaan diri mereka adalah pasukan besar berjumlah 150.000 prajurit. 

Dan jenderal yang memimpinnya adalah sang Pangeran Pahlawan, Leonard. 

Wakil panglimanya adalah sang kembalinya Pahlawan, Elna. 

Demi mengawal Leonard, Theodore yang memimpin Pasukan Kesatria Pengawal Kedua turut ambil bagian. 

Padahal dua kapten Pasukan Kesatria Pengawal tingkat atas ikut bertempur, para jenderal yang memimpin setiap divisi pun semuanya adalah orang-orang yang namanya melambung tinggi dalam perang saudara. 

Sosok teratas di antara mereka, Harnisch, bertindak memimpin pasukan garda depan. 

“Jenderal memimpin sendiri pasukan garda depan dari armada sebesar ini... Jenderal Estmann pun pasti akan merasa bangga.” 

“Pertempuran bahkan belum dimulai. Jangan lengah.” 

Meskipun dengan lisan menasihati bawahannya, Harnisch sendiri pun terbilang jauh dari kata tenang. 

Pada mulanya, Harnisch yang bertindak sebagai wakil Jenderal Estmann termasuk dalam jajaran elite di militer. Akan tetapi, seberapa elite pun seseorang, tidak akan ada pemuda di usia dua puluhan yang dipercayakan memimpin pasukan garda depan dari armada berjumlah lebih dari 100.000 ribu prajurit. Sebab harus ada syarat seperti anggota keluarga kekaisaran, bangsawan tinggi, atau sosok yang telah menorehkan hasil pertempuran yang sangat megah. 

Dalam pertempuran melawan Gordon di wilayah utara, Harnisch bertempur di bawah naungan Leo. Meskipun hanya sebagian kecil, keterlibatannya bertempur di pihak Leo saat perpecahan militer berhasil memenangkan rasa percaya kepadanya. 

Sebuah penunjukan langsung yang bisa terjadi justru karena berada di masa-masa perang. 

Bersamaan dengan rasa membara akibat hal itu, ada pula rasa cemas yang hadir secara samar-samar. 

Jenderal yang kaya akan pengalaman hampir tidak ada yang ikut serta dalam pertempuran ini. Para jenderal yang ikut serta seluruhnya adalah orang-orang yang baru saja menorehkan pencapaian akhir-akhir ini. 

Kalau dibilang mengutamakan kemampuan memang terdengar bagus, tetapi pemilihan anggota yang memudahkan pergerakan Leo ini terlihat sangat jelas. 

Jika ada hal yang kurang, hal itu adalah pengalaman. 

Menurut pendapat Harnisch, mereka seharusnya membawa serta beberapa jenderal yang dahulu pernah menyerang Kerajaan. Bahkan jika sosok tersebut berujung menjadi duri bagi Leo sekalipun, pengalaman masa lalu mereka pasti akan sangat berguna. 

“Memikirkannya sekarang pun tidak ada artinya...” 

Baris-berbaris sudah telanjur dimulai. 

Memikirkan susunan organisasi di saat seperti ini pun tidak ada gunanya. 

Sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa jika pengalaman benar-benar dibutuhkan seseorang pasti akan dipanggil, Harnisch menarik napas dalam-dalam. 

Di belakang dirinya terhampar total 150.000 prajurit Kekaisaran. 

Jika dirinya tumbang, 150.000 prajurit di belakangnya pun akan ikut hancur. 

Pasukan garda depan adalah hal yang semacam itu. Kendati demikian, tidak boleh ada rasa gentar. Sebab membakar semangat rekan adalah peran dari pasukan garda depan pula. 

Harus menjadi sosok yang kuat, dan juga bijaksana. 

Tanggung jawabnya berbeda dengan jenderal-jenderal lainnya. 

“Baiklah... Majukan pasukan berkuda ke depan! Mulai dari sini adalah wilayah negara musuh! Jangan abaikan pengintaian! Tetap pertahankan kondisi di mana pasukan pengintai selalu berada di depan! Kita adalah pasukan garda depan! Ketahuilah bahwa kemenangan maupun kekalahan tergantung pada pergerakan kita!!” 

Mengenai tindakan dari setiap divisi, Leo menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada jenderal yang memimpin. 

Sebab jika harus meminta petunjuk kepada panglima tertinggi hanya demi mengerahkan pasukan pengintai, 150.000 prajurit ini tidak akan sanggup berfungsi. 

Sengaja memilih jenderal-jenderal yang masih muda murni karena mengutamakan daya penilaian di lapangan. 

Ketimbang pengalaman, daya penilaian dan ketegasan bertindak secara instan jauh lebih diutamakan. Sebagai hasil dari mengutamakan hal tersebut, para jenderal muda pun terpilih. 

Kenapa itu dilakukan? 

Jika musuh lemah, mereka bisa ditumbangkan dengan jumlah kekuatan material. Jika tidak bisa ditumbangkan dengan jumlah kekuatan material, itu artinya komandan pihak musuh adalah sosok yang sangat tangguh. 

Jika menjadi seperti itu, daya penilaian di tingkat lapangan akan sangat dituntut. 

Itu adalah pemilihan anggota yang dilakukan dengan memperhitungkan situasi terdesak. 

Dan hal itu sama sekali tidak salah. 

Lawan mereka adalah sosok yang sangat diwaspadai oleh Arnold, yaitu Anthem. 

Selagi terbang melintasi langit, Leonard memantapkan tekadnya diam-diam. 

Bahwa dirinya akan dipaksa berada dalam posisi terdesak.


* * *


“Apakah mereka sudah bergerak?” 

“Siap, panglima tertingginya adalah Leonard. Wakil panglimanya adalah anak ajaib dari Armsberg. Bisa dibilang ini adalah susunan pasukan yang sangat bersungguh-sungguh.” 

Jenderal ternama dari pasukan Kerajaan, Baland. 

Seorang veteran kawakan yang menjabat sebagai wakil panglima pasukan penghadang Kekaisaran, dan juga jenderal yang membasmi pasukan penyihir terlebih dahulu atas instruksi Anthem. 

“Bersungguh-sungguh... Jika Kekaisaran bersungguh-sungguh, Putri Jenderal pasti akan keluar. Jika wanita itu datang memimpin Pasukan Pertahanan Perbatasan Timur, jujur saja peluang kemenangan mungkin tidak akan ada untuk kita.” 

“Anda bercanda. Di hadapan Anda, Putri Jenderal pun bukan lawan yang perlu dikhawatirkan.” 

“Jangan memandang remeh keluarga Kekaisaran. Jenderal terkuat di dalam Keluarga Ardler adalah Putri Jenderal. Mempertimbangkan rekor pencapaian yang ditinggalkannya, kita seharusnya bersyukur dia tidak datang. Tentu saja... bukan berarti Leonard itu berada di tingkatan yang lebih rendah.” 

“Dia tidak memiliki rekor pencapaian dalam ekspedisi luar. Meskipun selalu menang dalam pertempuran di dalam wilayah Kekaisaran, hal itu pun bukan berarti dia memimpin pasukan besar seperti kali ini. Wakil panglima yang harus menopangnya pun si anak ajaib Armsberg. Pihak di sana sama sekali tidak memiliki rekor pencapaian memimpin pasukan. Keberanian pribadi dan kemampuan memimpin adalah dua hal yang berbeda.” 

Baland mengutarakan pendapat yang sangat wajar. 

Tidak punya rekor pencapaian maupun pengalaman. Kalau begitu pasti ada celah yang bisa dimanfaatkan. 

Hal itu tidak salah. 

Memang tidak salah, tetapi... 

“Jangan menilai Ardler atau Armsberg dengan akal sehat. Kamu bisa tersandung nanti. Walaupun mereka tidak punya pengalaman, pengalaman itu telah terukir di dalam darah mereka. Terlebih lagi... Leonard dan Elna adalah adik serta teman masa kecil dari orang itu. Alasan itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat kita waspada.” 

“Orang itu... siapa yang Anda maksud?” 

“Pangeran Ketujuh Kekaisaran, Arnold. Di Kadipaten aku telah dipecundangi olehnya. Mungkin saja, dia adalah sosok yang jauh lebih lihai ketimbang Putri Jenderal. Kerajaan mungkin harus berterima kasih. Kepada pangeran yang memilih untuk dipanggil sebagai Pangeran Sisa berguna itu.” 

“Apakah dia sekuat itu...?” 

Menanggapi pertanyaan Baland, Anthem mengangguk. 

Anthem memiliki sebuah impian. 

Hal itu adalah masa depan yang sangat mungkin terjadi. 

“Dahulu... di Kekaisaran ada Wilhelm. Aku yakin tanpa ragu bahwa akulah yang akan menghentikan jalan penaklukannya... tetapi kami berdua sama-sama tumbang. Namun... aku bagaimanapun juga berhasil bangkit kembali. Meskipun itu di luar kehendakku. Dan di hadapanku saat ini, adik-adik Wilhelm berdiri menghalangi. Sungguh aneh, mereka adalah pangeran-pangeran yang berusaha meneruskan jejak Wilhelm. Meskipun berbeda dari apa yang kuharapkan... ini tidak buruk.” 

“Kalau begitu, mari kita halangi para penerus Wilhelm lalu tunjukkan keunggulan Anda. Bahwa seandainya Wilhelm masih hidup sekalipun, dia tetap tidak akan sanggup menapaki jalan penaklukan tersebut.” 

“Benar. Itulah alasan keberadaanku saat ini. Hanya saja... agak sedikit disayangkan.” 

Bukan karena fakta bahwa Wilhelm telah tewas. 

Yang memimpin pasukan besar berjumlah 150.000 prajurit ini adalah Leonard. Bukan Arnold. 

Di Kadipaten dia telah kalah. Namun, saat itu kondisi masing-masing pihak memiliki berbagai pembatasan. 

Di sini berbeda. 

“Apakah karena Arnold bukan jenderal musuh?” 

“Benar. Di dalam diriku ada keinginan untuk menuntaskan pertempuran dengan memimpin pasukan besar bersamanya. Soalnya aku tidak bisa mengakhirinya dalam keadaan kalah begitu saja.” 

Sebagai panglima tertinggi yang memimpin pasukan Kerajaan, ada perasaan bersyukur karena dia tidak keluar bertempur, tetapi sebagai individu bernama Anthem, ada pula perasaan ingin bertempur dengannya. 

Namun, sebagai panglima tertinggi dia tidak boleh mengutamakan perasaan pribadi. 

Terlebih lagi. 

“Yah, bagaimanapun juga dia pasti akan datang dari laut. Jika aku menyerang adiknya, dia pasti akan berusaha melakukan sesuatu. Jika menjadi begitu, bertempur kembali bukanlah sebuah mimpi.” 

Sambil tersenyum menyeringai, Anthem berdiri dari kursinya. 

Lalu dia mengibaskan jubahnya dan memberi aba-aba. 

“Kita sambut Leonard!! Berangkat ke medan perang!!” 

Dengan begini, demi menyambut dan menghantam pasukan invasi, 100.000 prajurit Kerajaan berangkat ke medan perang di bawah pimpinan Anthem.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close